Petualangan Huckleberry Finn 241
http://facebook.com/indonesiapustaka itu dengan ketiga gadis majikan mereka. Semua menangis tak
henti-hentinya, m em buat hatiku jadi m akin tak enak. Gadis-gadis
itu tak pernah m enyangka bahwa keluarga budak m ereka akan
dicerai-beraikan atau dijual ke luar kota. Tak akan terhapus dari
kenanganku betapa gadis-gadis m alang dan budak-budaknya itu
saling memeluk dan menangis bersama. Hatiku sudah tak tahan
lagi, dan pasti aku akan membuka rahasia bila saja aku tahu
bahwa pembelian itu tidak sah, jadi tak lama lagi pasti orang-
orang negro itu akan berkumpul kembali.
Penjualan itu m em buat sedikit keributan di kota. Banyak
orang cukup berani m enyatakan bahwa m em isahkan keluarga
budak negro itu keji sekali. Nama kedua penipu jadi sedikit suram,
tapi si bajingan itu tak akan ambil pusing, tak mau mendengarkan
nasihat sang pangeran yang betul-betul sangat gelisah.
Hari berikutnya adalah hari lelangan um um . Pagi-pagi, raja
dan pangeran naik ke bilikku dan membangunkanku. Dari wajah
m ereka aku tahu ada sesuatu yang tak beres.
“Apakah kau pergi ke kam arku m alam kem arin dulu?” tanya
raja.
“Tidak, Sri Baginda,” jawabku dengan panggilan yang selalu
kupakai bila kam i hanya bertiga.
“Kem arin atau m alam tadi, kau ke sana?”
“Tidak, Sri Baginda.”
“Betul? Kau tak berdusta?”
“Dem i Tuhan, Tuanku,” jawabku berdusta, “aku berkata
sebenarnya. Sejak Nona Mary J ane m enunjukkan kam ar itu pada
Tuanku dan Tuan Pangeran, tak pernah aku menginjak kamar
itu.”
“Kau m elihat seseorang m asuk ke sana?” tanya sang pange-
ran.
“Tidak, Yang Mulia, seingatku tidak.”
“Berpikirlah dulu sebelum m enjawab.”
242 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka Aku berpikir-pikir, dan m enem ukan suatu jalan, kataku,
“Yah, kulihat orang-orang negro itu m asuk ke sana beberapa kali.”
Kedua orang itu terlonjak sedikit, tam paknya sam a sekali
hal itu tak pernah mereka duga, tapi kemudian mereka berbuat
seolah-olah telah m enduganya. Sang pangeran bertanya, “Apa?
Sem uanya pernah m asuk ke sana?”
“Tidak, setidak-tidaknya tak pernah m ereka m asuk bersam a-
sama, maksudku aku tak pernah melihat mereka keluar bersama-
sama, kecuali sekali.”
“Hah? Kapan itu?”
“Pada hari pem akam an. Pagi hari. Tidak pagi-pagi benar,
sebab aku bangun terlambat. Waktu aku sedang menuruni
tangga, kulihat mereka.”
“Benar? Teruskan, teruskan! Apa yang m ereka kerjakan?
Bagaim ana m ereka bertindak?”
“Mereka tidak m engerjakan apa-apa. J uga tak bertindak
apa-apa, sejauh yang kulihat. Mereka berjalan berjingkat, jadi
kukira agaknya m ereka akan m em bersihkan kam ar Sri Baginda
tapi Baginda belum bangun, jadinya m ereka m enyelinap keluar
karena takut kalau-kalau tidur Baginda terganggu.”
“Astaga, ini nam anya kesialan!” seru sang raja. Kedua orang
tampak seakan-akan sakit mendadak dan linglung. Mereka
termenung, menggaruk-garuk kepala beberapa saat, dan tiba-
tiba sang pangeran tertawa m enggum am dan berkata, “Betul-
betul pandai budak-budak itu bersandiwara! Mereka berbuat
seolah-olah sedih karena harus pergi dari daerah ini. Dan aku
pun sam pai percaya bahwa m ereka sedih, begitu juga engkau,
begitu juga semua orang. J angan berkata padaku lagi bahwa
orang negro tak punya bakat untuk m ain sandiwara. Cara m ereka
bermain hari itu betul-betul bisa menipu semua orang! Menurut
hem atku, orang-orang negro bisa dipergunakan dengan baik. Bila
saja aku punya m odal dan punya gedung sandiwara, aku tak akan
Petualangan Huckleberry Finn 243
http://facebook.com/indonesiapustaka membutuhkan cerita lain kecuali kejadian hari itu dan kita jual
sem ua orang itu cum a-cum a! Ya, secara cum a-cum a, sebab kita
belum mendapatkan wesel itu.”
“Wesel itu ada di bank, siap untuk kita am bil. Tak usah
khawatir.”
“Kalau begitu, baiklah, kita harus bersyukur.”
Dengan pura-pura m alu aku bertanya, “Apakah ada yang
tidak beres?”
San g raja berpalin g padaku dan m em ben tak, “Bukan
urusanm u! Kau tutup m ulut saja, dan urus sendiri urusanm u bila
kau m em punyai urusan. Selam a kau ada di sini, jangan lupa itu,
d en ga r ?”
Kem udian ia berkata pada sang pangeran, “Terpaksa harus
kita terima saja kesialan ini, dan tak berkata apa-apa pada siapa
p u n .”
Waktu mereka menuruni tangga, pangeran tertawa bergumam
lagi, “Penjualan cepat dan sedikit laba! Usaha yang sangat bagus,
ya!”
San g raja berpalin g, m en ggeram , “Aku sudah berusaha
sebaik-baiknya dalam m enjual barang-barang warisan itu dengan
cepat. Bila labanya tak ada, kurang banyak, dan tak ada yang bisa
kita bawa, apakah itu kesalahanku saja, dan kau tak bersalah
sama sekali?”
“Setidak-tidaknya barang-barang itu akan m asih ada di
dalam rumah ini, sedang kita sudah jauh dari tempat ini, bila saja
nasihatku ada yang m au m endengarnya.”
Sang raja m em bentaknya lagi, seolah-olah tak m em bahaya-
kan dirinya, kem udian kem bali m em arahi aku lagi. Dim arahinya
aku karena tak segera m em beritahukan padanya bahwa orang-
orang negro itu keluar dari kam arnya dan bertingkah sangat
m encurigakan, katanya, setiap orang tolol akan segera tahu
bahwa ada yang tak beres. Kem udian sang raja m em aki-m aki
244 Mark Twain
dirinya sendiri, m engatakan bahwa ini sem ua disebabkan karena
ia tidur terlalu larut sehingga paginya ia terlalu lam bat bangun.
Ia tak akan berbuat begitu lagi. Begitulah, kedua orang itu terus
saja bertengkar. Aku sangat gem bira bisa m elem parkan segala
kesalahan pada orang-orang negro itu tanpa mereka harus
menerima hukuman.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka DUSTA TAK MENGUNTUNGKAN
WAKTU UNTUK bangun tiba. Aku turun dan m enuju ke tangga
yang m enuju ke bagian bawah rum ah. Waktu m elewati kam ar
ketiga gadis Wilks, kulihat pintu terbuka. Tampak olehku Mary
J ane duduk bersim puh dekat koper ram butnya, m em bereskan
pakaian, bersiap-siap untuk pergi ke Inggris. Tapi ia tak berbuat
sesuatu waktu aku lewat itu. Di pangkuannya terlipat sebuah gaun,
tangannya m enutupi m uka, m enangis. Aku terharu sekali m elihat
keadaannya, kukira sem ua orang akan m em punyai perasaan yang
serupa dalam keadaan itu. Aku m asuk dan berkata, “Nona Mary
J ane. Kau tak tahan m elihat orang lain bersedih. Aku begitu pula,
walaupun tak selam anya. Coba katakan apa yang m enyedihkan
h a t im u .”
Mary J ane m enceritakan kesedihannya. Seperti telah kuduga,
orang-orang negro itulah penyebabnya. Katanya perjalanan yang
m enyenangkan ke Inggris ini tak m enarik hatinya lagi. Ia tak tahu
bagaimana ia akan merasa bahagia di Inggris, bila ia tahu bahwa
246 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka keluarga negro itu tak akan bisa berkumpul lagi untuk selama-
lam anya. Agaknya m akin lam a gadis itu bertam bah sedih juga,
sam pai akhirnya tangisnya m enjadi-jadi, ia m engangkat tangannya
dan berkata, “Aduhai, rasakan pecah hatiku m em ikirkan betapa
mereka, bahkan tak akan bisa lagi bertemu muka, untuk selama-
lam anya!”
“Tetapi m ereka akan berkum pul lagi dan hanya dalam waktu
dua m inggu lagi, aku tahu betul itu!” kataku.
Astaga! Aku telah lancang bicara! Dan sebelum aku bisa
m enghindar, aku telah dipeluknya, dan ia m inta agar aku
mengatakan kalimat tadi sekali lagi dan sekali lagi dan sekali lagi.
Sesaat aku sangat bingung. Kum inta agar dia m em beri kesem -
patan padaku untuk berpikir. Mary J ane menunggu, tak sabar,
gelisah dan tampak sangat cantik, tetapi tampak juga bahagia
dan lega seperti orang yang sakit gigi selesai dicabut. Kupikir,
seseorang yang m enceritakan keadaan sebenarnya pada waktu
ia sudah am at tersudut, akan m enghadapi bahaya, walaupun aku
begitu yakin, sebab belum berpengalam an dalam hal itu. Tapi
dalam keadaan ini, agaknya lebih m enguntungkan bila kukatakan
hal yan g seben arn ya daripada harus berdusta. Aku harus
memikirkan lagi persoalan ini bila ada waktu, sebab rumit sekali
tam paknya– belum pernah aku m enghadapi persoalan serum it
ini. Akhirnya kuputuskan untuk m encobanya, akan kucoba untuk
tidak berdusta kali ini, walaupun keadaannya seperti kita duduk
di atas tong m esiu yang kita sulut sum bunya untuk m elihat
sam pai di m ana kita akan terlem par oleh ledakannya.
“Nona Mary J ane, apakah ada suatu tem pat di luar kota ini
yang bisa nona tinggali untuk kita-kira tiga atau em pat hari?”
t a n ya ku .
“Ya. Tem pat Tuan Lothrop. Kenapa?”
“J angan bertanya m engapa dulu. Bila kukatakan padam u
bahwa orang-orang negro itu akan berkumpul kembali paling
Petualangan Huckleberry Finn 247
http://facebook.com/indonesiapustaka lambat dua minggu lagi dan kubuktikan bagaimana aku bisa
seyakin itu, m aukah kau pergi ke rum ah Tuan Lothrop dan tinggal
selama empat hari?”
“Em pat hari!” kata Mary J ane. “Setahun pun aku sanggup.”
“Baiklah. Aku hanya m em butuhkan kesediaanm u saja untuk
bisa kupercaya. Kesediaanm u lebih berharga daripada sum pah
orang lain.” Mary J ane tersenyum dengan pipi m em erah hingga
tam pak sangat cantik. Aku berkata lagi, “Bila kau tak berkeberatan,
akan kututup pintu dan kukunci.”
Selesai menutup dan mengunci pintu, aku duduk lagi,
dan berkata, “J angan kau berteriak, jangan kau m enjerit. Kau
m enerim a kabar ini dengan bersikap jantan. Akan kukatakan
suatu kebenaran, dan kau harus bersiap saja untuk itu, Nona
Mary J ane, sebab ini adalah kabar paling buruk dan sangat pahit,
tapi terpaksa kukatakan juga. Pam an-pam an ini sebenarnya
bukanlah pam anm u! Mereka hanyalah sepasang penipu ulung.
Nah, itulah bagian yang terburuk dari kabar ini. Kini kau bisa
m enerim a yang lainnya dengan lebih m udah.”
Tentu saja kata-kataku itu sangat m engguncangkan hatinya,
tapi tak ada jalan mundur lagi bagiku, jadi kuceritakan saja
sem uanya. Makin lam a m atanya m akin berapi-api. Kuceritakan
sem uanya, dari saat kam i m em bawa si orang tolol ke kapal uap
sam pai saat ia m elem parkan dirinya ke dalam pelukan sang raja
di pintu depan dan sang raja m encium nya enam atau tujuh belas
kali saat itu. Mary J ane melompat dengan wajah semerah langit
di senja hari, “Bangsat itu! Ayo, jangan buang waktu sedikit pun,
kita lumuri mereka dengan aspal dan kita lekati dengan bulu, lalu
kita buang ke sungai!”
“Ayolah, tapi kapan? Sebelum kau pergi ke rum ah Tuan
Lothrop atau....”
“Oh!” Mary J ane terkejut, duduk lagi. “Apa yang kupikirkan!
J angan pedulikan kata-kata tadi, kumohon jangan-jangan kau
248 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka tak akan m em pedulikan kata-kataku tadi, bukan?” Diletakkannya
tangannya yang selem but sutra itu pada tanganku, begitu rupa
hingga kujawab aku akan merasa lebih baik mati daripada
m en gin gat-in gat kata-katan ya tadi. “Aku begitu tak bisa
m engendalikan am arahku.” kata Mary J ane selanjutnya, “kini
teruskan. Aku tak akan berbuat tanpa otak lagi, dan apa saja
katamu akan kukerjakan.”
“Baiklah,” aku berkata, “kedua orang itu betul-betul suatu
kom plotan yang paling jahat, dan aku terpaksa ikut m ereka untuk
sem entara waktu, tak peduli aku m au atau tidak—lebih baik tak
kukatakan padam u sebabnya. Bila kau berm aksud m em bekuk
keduanya, aku tahu kota ini akan m em bebaskan aku dari cengke-
ram an keduanya. Tapi akan ada orang lain yang tak kau kenal
yang akan m endapat kesulitan besar karenanya. Kita harus
menolong orang itu, bukan? Tentu saja, jadi tak boleh kedua
orang itu kita bekuk sekarang juga.”
Waktu aku berkata itu, aku mendapat suatu cara bagaimana
aku dan J im bisa membebaskan diri dari kedua orang penipu itu,
membuat mereka terpenjara di kota ini, sementara aku dan J im
kabur. Tapi aku tak ingin kabur hari itu juga, di siang hari. Tak
ingin aku m enjalankan rakit di siang hari dengan hanya aku saja
yang harus m enjawab pertanyaan-pertanyaan bila kam i kupergok
orang. J adi terpaksa rencanaku baru bisa dijalankan nanti malam.
“Nona Mary J ane, akan kukatakan apa yang harus kita
kerjakan. Kau pun tak usah tinggal terlalu lam a di rum ah Tuan
Lothrop. Berapa jauhkah rum ahnya itu dari sini?”
“Kira-kira em pat m il, di desa.”
“Cukup, kukira. Pergilah ke sana, dan jangan m em buka
rahasia ini sampai kira-kira jam sembilan malam nanti. Saat ini
suruhlah orang mengantarkanmu pulang, katakan ada sesuatu
yang terpaksa kau kerjakan m alam ini juga. Bila kau sam pai
ke rumah ini sebelum pukul sebelas, pasang lilin di jendela ini.
Petualangan Huckleberry Finn 249
http://facebook.com/indonesiapustaka Bila aku tak m uncul sam pai pukul sebelas, dan bila tak m uncul-
muncul lagi, itu berarti aku telah pergi dan tak akan mendapat
bahaya lagi. Saat itulah kau sebarkan rahasia ini, dan kau
penjarakan kedua penipu itu.
“Bagus! Akan kukerjakan rencana itu.”
“Dan bila ternyata aku tak bisa lari, tertangkap bersam a
mereka, kau harus membelaku dengan berkata bahwa telah
kuceritakan sem ua ini sebelum rahasia m ereka terbongkar. Kalau
bisa kau harus m enyelam atkan aku.”
“Menyelam atkanm u? Tentu saja! Akan kujaga jangan sam pai
sehelai rambutmu disentuh orang,” sahut Mary J ane dengan
cuping hidung berkem bang dan m ata m enyala.
“Bila aku berhasil lari, aku tak akan ada di sini untuk
m em buktikan bahwa kedua orang ini hanyalah penipu belaka.
Walaupun aku ada di sini, aku pun tak akan bisa mengerjakan hal
itu, tak akan ada yang m em percayaiku. Aku hanya bisa bersum pah
bahwa mereka itu penipu dan gelandangan. Tapi ada orang-orang
yang bisa m em beri bukti lebih baik lagi, orang-orang yang tak
akan begitu m udah diragukan kata-katanya. Akan kutunjukkan
bagaim ana kau bisa m enghubungi orang-orang tersebut. Coba,
m inta pena dan kertas. Nah: “Keajaiban Kerajaan, Bricksville”.
Sim pan kertas ini, jangan sam pai hilang. Bila pengadilan ingin
tahu lebih banyak tentang kedua orang ini, suruh seseorang pergi
ke Bricksville, katakan pada orang-orang di sana bahwa orang-
orang yang m em ainkan ‘Keajaiban Kerajaan’ ada di sini dan
m inta beberapa orang saksi. Rasanya dalam sekejap m ata seisi
kota itu akan ada di sini, Nona Mary, dan m ereka akan datang
dengan penuh kemarahan pula.”
Kukira sudah beres sem uanya, jadi aku pun berkata: “J angan
khawatir lagi, Nona Mary, biarkan pelelangan ini berlangsung
terus. Tak akan ada yang harus m em bayar sam pai sehari setelah
lelang karena sem pitnya waktu. Kedua penipu itu tak akan pergi
250 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka dari sini sebelum uangnya m ereka dapat sem ua. Dan bila rencana
kita berjalan lancar, mereka tak akan mendapatkan uang sama
sekali. Orang-orang negro itu juga akan m engalam i hal yang
sam a– penjualannya akan dinyatakan tak berlaku, m ereka akan
kembali lagi kemari. Uang untuk orang-orang negro itu tak akan
bisa m ereka am bil, Nona Mary, m ereka kini sangat tersudut.”
“Baiklah kalau begitu. Aku akan segera sarapan dan langsung
pergi ke rum ah Tuan Lothrop.”
“J angan begitu, Nona Mary J ane, jangan. Pergilah sebelum
sa r a p a n .”
“Men ga p a ?”
“Tahukah kau kenapa harus pergi dulu?”
“Oh, ya, tak terpikir olehku, dan setelah kupikirkan rasanya
aku tak tahu. Kenapa?”
“Sebab Nona bukanlah orang yang pandai bersandiwara.
Mukam u bagaikan buku yang terbuka, setiap orang dengan
m udah bisa m engetahui apa yang sedang kau pukirkan. Kau kira
kau bisa menghadapi kedua orang pamanmu itu waktu sarapan,
di mana mereka akan memberi ciuman selamat pagi padamu
d a n ....”
“Oh, jangan teruskan lagi. Ya, aku akan pergi sebelum
sarapan. Aku akan gem bira karenanya. Tapi bagaim ana saudara-
saudaraku?”
“Mereka tak akan apa-apa, m ereka harus m en an ggun g
kegilaan ini untuk beberapa saat lagi. Kedua orang itu akan curiga
bila kalian bertiga pergi bersam a-sam a. Aku tak ingin kau pam it
pada mereka, pada saudara-saudaramu, atau siapa pun juga di
kota ini. Bila seseorang m enyapa engkau dan bertanya bagaim ana
kabar pam an-pam anm u, wajahm u jangan sam pai m enyatakan
ada sesuatu yang tak beres. J adi pergilah sekarang juga, Nona
Mary J ane, akan kuurus saudara-saudaram u. Akan kusuruh
Nona Susan m enyam paikan salam horm at dan cintam u pada
Petualangan Huckleberry Finn 251
http://facebook.com/indonesiapustaka kedua pamanmu, dan akan kukatakan bahwa kau pergi beberapa
jam untuk beristirahat atau untuk mengunjungi seorang teman
sampai malam nanti.”
“Katakan bahwa aku m en gun jun gi seoran g tem an , tapi
jangan katakan aku berkirim salam hormat dan cintaku pada
kedua bangsat itu.”
“Baiklah,” kataku, “tak apalah m enipunya sedikit.” Berbohong
sedikit tak apa, m alah bohong yang sedikit itulah yang biasanya
melicinkan jalan di daerah Selatan ini. Dustaku akan membuat
hati Mary J ane lega dan aku sendiri tak akan rugi karenanya.
Kem udian aku berkata, “Ada satu hal lagi, kantung uang itu.”
“Telah dim iliki m ereka. Betapa m alunya aku bila m engingat
bagaimana cara mereka memiliki kantung uang itu.”
“Dalam hal ini kau keliru. Kantung uang tersebut tak ada
pada mereka.”
“Astaga, lalu siapa yang m em bawanya?”
“Aku juga tak tahu. Dulu aku tahu, sebab kucuri dari m ereka.
Kucuri untuk kuberikan padam u. Aku tahu di m ana kusem bu-
nyikan, tapi aku takut kalau kantung itu kini tak ada di tem pat itu
lagi. Aku am at m enyesal, Nona Mary J ane, am at sangat m enyesal
sekali. Telah kuusahakan sekuatku, demi Tuhan! Hampir saja aku
tertangkap basah oleh mereka, dan terpaksa kutaruh di tempat
yang m ula-m ula kutem ui, kem udian aku lari. Ternyata tem pat itu
bukanlah tem pat yang baik.”
“Oh, jan gan m en yesali dirim u, tak kuperken an kan kau
m enyesali dirim u, kau terpaksa, jadi bukan salahm u. Di m ana
kau sem bunyikan waktu itu?”
Aku tak ingin Mary J ane jadi sedih lagi. Tak dapat aku
m em aksa diriku berkata, yang akan m em buat ia m em bayangkan
m ayat itu m em eluk kantung uang di perutnya. Sem enit aku diam
saja, kem udian kataku, “Lebih baik tak kukatakan padam u, Nona
Mary J ane, bila Nona tak berkeberatan. Tapi akan kutulis pada
252 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka secarik kertas dan bisa kau baca nanti dalam perjalanan ke rumah
Tuan Lothrop, bagaim ana?”
“Ba ikla h .”
Kutulis: “Kutaruh di dalam peti m ati. Saat itu kau sedang
m enangis, di tengah m alam . Aku berada di belakang pintu, dan
sangat sedih m elihat keadaannya.”
Air m ataku tergen an g sedikit m en gen an g ia m en an gis
seorang diri di tengah malam itu, sedang kedua setan penipu itu
tidur nyenyak di bawah atap rum ahnya, kulihat bahwa m atanya
pun penuh air m ata. Dijabatnya tanganku dan katanya, “Selam at
berpisah. Akan kukerjakan sem ua yang kau nasihatkan. Bila aku
tak bertemu lagi denganmu, aku tak akan lupa padamu, dan
sam pai kapan pun aku akan selalu m engenangm u. Aku pun akan
berdoa untukm u!” Lalu ia berangkat.
Berdoa untukku! Kukira bila ia tahu betapa banyak dosaku,
pastilah ia akan m encari pekerjaan yang lebih ringan daripada
berdoa untukku. Tetapi kukira ia akan betul-betul mengerjakan
apa yang dikatakannya, tak peduli betapa beratnya. Bahkan
kukira ia cukup punya kekerasan hati untuk m endoakan
keselam atan Yudas, bila saja hal itu terpikir olehnya—ia tak
akan pedulikan segala rintangan yang ada. Menurut pendapatku,
hanya Mary J ane gadis yang berhati baja di dunia ini. Ini bukan
san jun gan , begitulah m em an g. Apalagi kalau diban din gkan
tentang kecantikan serta kebaikan hati, tak akan ada yang bisa
mengalahkan Mary J ane. Sejak ia keluar dari kamar itu, tak
pernah lagi aku bertem u dengannya. Tapi jutaan kali gam baran
wajahnya m uncul dalam kenanganku, saat ia keluar dan saat ia
berkata bahwa ia akan berdoa untukku. Bila kutahu bahwa doaku
bisa diterima Tuhan, maka sudah pasti aku pun akan berdoa
untuknya, apa pun rintangan yang akan kuhadapi.
Agaknya Mary J ane keluar lewat pintu belakang, tak seorang
pun m elihatnya. Ketika aku bertem u Susan dan si Sum bing, aku
Petualangan Huckleberry Finn 253
http://facebook.com/indonesiapustaka bertanya, “Siapa itu yang tinggal di seberang sungai, yang sering
kalian kunjungi?”
“Banyak sekali, tapi yang paling sering ialah keluarga Proctor.”
“Tepat, itulah nam anya.” kataku. “Ham pir aku lupa. Nona
Mary J ane berpesan bahwa ia akan ke tempat mereka, ia sangat
tergesa-gesa hingga tak sempat berpamit pada kalian. Salah
seorang di antara mereka sakit.”
“Yang m ana?”
“Aku tak tahu. Aku tahu, tapi lupa, kalau tak salah nam a-
n ya ....”
“J angan-jangan Hanner?”
“Astaga, m em ang itulah. Hanner yang sakit, aku ingat kini.”
“Ya am pun, m inggu kem arin ia m asih segar bugar. Beratkah
sa kit n ya ?”
“Bukan berat lagi. Kata Non a J an e sem alam -m alam an
keluarganya tak bisa tidur, berjaga-jaga. Dan m ereka berpikir
Hanner tak mungkin hidup lama lagi.”
“Aduh! Sakit apa dia?”
Tak terpikir olehku nam a penyakit yang cukup berat, langsung
kujawab saja, “Penyakit gondok.”
“Gondok nenekm u! Masakan orang sakit gondok diajak
berjaga-jaga sepanjang m alam !”
“Mengapa tidak? Ini adalah gondok jenis baru. Berbeda
dengan gondok lainnya, kata Nona Mary J ane.”
“Apa bedanya?”
“Bercam pur dengan penyakit-penyakit lain.”
“Penyakit apa saja?”
“Banyak, cam pur sakit cam pak, batuk kering, sakit perut,
sakit kuning, demam otak, dan entah apa lagi.”
“Astaga! Dan itu dinam akan sakit gondok?”
“Begitulah kata Nona Mary J ane.”
“Men gapa pen yakit yan g begitu ban yak itu din am akan
gon d ok?”
254 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka “Sebab m em an g gon dok. Bukan kah sem ua itu dim ulai
dengan gondok?”
“Tapi toh itu tolol sekali. Misaln ya seseoran g teran tuk
kakinya, jari jem polnya sakit. Kem udian ia tanpa sengaja m inum
racun, jatuh ke dalam sum ur, lehernya patah dan otaknya hancur,
m am pus. Lalu ada orang bertanya, kenapa orang itu m ati.
Seseorang m enjawab, ia m ati karena ibu jari kakinya terantuk.
Bukankah itu suatu jawaban yang tolol? Bukankah dalam hal
ini juga suatu ketololan bila penyakit yang begitu banyak itu
dinam akan gondok? Menularkah penyakit itu?”
“Men ular? Wah, om on gm u! Bila kau berjalan dalam
kegelapan, di depanmu terletak sebuah garu, kalau kau tak
terinjak salah satu giginya, kau akan terinjak gigi yang lain
bukan? Dan kalau kau sudah terinjak salah satu giginya, kau
tak akan bisa melepaskan diri tanpa seluruh garu itu tertarik
olehmu, bukan? Nah, demikian juga gondok jenis baru ini, boleh
dikatakan sem acam garu—bukan garu yang lam ban kerjanya lagi,
sekali kena tak kan mudah lepas.”
“Mengerikan sekali kalau begitu,” kata si sum bing, ”akan
kukatakan pada Pam an Harvey dan....”
“Oh ya, tentu saja, tentu saja. Akan kukatakan pada Pam an
Harvey!” aku m engejeknya. “Oh ya, tentu saja, aku tak akan
membuang-buang waktu lagi.”
“Lalu kenapa?”
“Pikirkan dulu. Bukankah pam anm u harus segera ke Inggris?
Dan kau kira mereka akan tega meninggalkan engkau semua
di sini? Kau kira m ereka akan m em biarkan kalian m engadakan
perjalanan ke Inggris? Tanpa ditem ani m ereka? Kau tahu m ereka
tak akan berbuat begitu. Nah, pam anm u Harvey adalah seorang
pendeta, bukan? Apakah seorang pendeta akan m enipu seorang
juru tulis kapal? Hanya untuk m em ungkinkan Nona Mary J ane
Petualangan Huckleberry Finn 255
http://facebook.com/indonesiapustaka naik ke kapal? Kau tahu, hal itu tak akan m ungkin terjadi. Paling-
paling yang akan diperbuatnya adalah berkata ‘Sayang sekali, tapi
rasanya gerejaku di Inggris terpaksa m enungguku lebih lam a lagi,
sebab keponakanku ada kemungkinan telah kejangkitan salah
satu penyakit gondok, jadi sudah m enjadi kewajibanku untuk
menunggu di sini sampai tiga bulan, untuk mengetahui apakah
keponakanku kejangkitan atau tidak.’ Tapi tak usah kau pikirkan
lagi, cepatlah pergi ke pam anm u Harvey....”
“Bah! Dan karena itu kam i harus m enghabiskan waktu di sini
menunggu sampai ada kepastian bahwa Mary J ane kejangkitan
atau tidak, sedang sesungguhnya kam i akan sudah berada di
I n ggr is?”
“Setidak-tidaknya kau bisa m engatakan kejadian ini pada
para tetangga.”
“Kau ini betul-betul tolol! Tak tahukah kau bahwa m ereka
pasti akan m em beri tahu Pam an Harvey? J alan yang terbaik
adalah tidak memberi tahu siapa pun tentang hal ini.”
“Kukira kau betul, ya, aku yakin kau benar.”
“Tapi kukira kita harus m em beri tahu Pam an Harvey bahwa
Mary J ane pergi untuk beberapa waktu, supaya dia tidak gelisah?”
“Ya, Nona Mary J ane m em ang berpesan padaku. Katanya,
‘Suruh adik-adikku m en yam paikan salam dan horm at, dan
cintaku serta cium untuk Pam an Harvey dan Pam an William ,
katakan aku pergi ke seberang, ke rum ah Tuan-tuan—siapa yang
sering ditulis dalam surat pam anm u Peter—itu keluarga kaya
ya n g....”
“Maksudm u keluarga Lothrop, bukan?”
“Oh, ya sulit betul nam a-nam a di sini, susah diingat! Ya,
Nona Mary J ane berkata ia akan pergi ke rum ah Tuan Lothrop,
minta agar mereka datang waktu lelang. Ia akan minta agar
Tuan Lothrop m em beli rum ah ini, sebab m enurut pendapatnya,
256 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka pam annya Peter akan lebih senang bila rum ah ini dim iliki
keluarga itu daripada orang lain. Ia akan berada di sana sampai
m ereka m enyanggupi perm intaannya itu. Dan bila ia tak terlalu
lelah, ia akan pulang malam ini. Tapi kalau terpaksa besok pagi
ia akan kembali kemari lagi. Nona Mary J ane berpesan kalian
tak boleh m engatakan apa-apa tentang keluarga Proctor, hanya
tentang keluarga Lothrop saja, yang sam a benarnya, sebab toh ia
memang akan mengunjungi mereka juga untuk berbicara tentang
rum ah ini. Aku tahu betul, sebab ia sendiri yang berkata begitu.”
“Baiklah!” kedua orang gadis itu m enunggu pam an-pam an
m ereka untuk m enyam paikan salam horm at, cinta, dan cium
Mary J ane, dan mengatakan pesan gadis itu.
Semua beres kini. Susan dan si Sumbing tak akan bicara
apa-apa sebab mereka ingin pergi ke Inggris. Sang raja dan sang
pangeran lebih senang bila Mary J ane tak ada, daripada gadis itu
sem pat dipengaruhi oleh Dokter Robinson. Aku gem bira, kukira
rencanaku berjalan sangat lancar, bahkan Tom Sawyer agaknya
tak akan bisa membuat suatu rencana secerdik itu. Tentu saja ia
akan m em beri gaya yang cukup m engagum kan pada rencananya,
suatu hal yang tak dapat kutiru sebab aku tak terbiasa akan hal
itu.
Lelang diadakan di lapangan, m enjelang sore. Sang raja hadir
juga, bergaya sepenuh hati di sam ping tukang lelang, setiap saat
m engocehkan sesuatu ungkapan dari Kitab Suci, atau kata-kata
m utiara lainnya. Sang pangeran m em bawakan tingkah bisu-
tulinya, berusaha keras untuk m enarik perhatian um um .
Lam a-kelam aan barang yang akan dijual berangsur habis,
tinggal beberapa bidang tanah kecil di perkuburan. Sang raja juga
ingin menjual tanah-tanah itu. Tak pernah aku melihat seseorang
rakus seperti dia.
Di saat-saat lelang hampir berakhir, sebuah kapal uap
berlabuh. Dua menit kemudian datanglah segerombolan orang,
Petualangan Huckleberry Finn 257
berteriak-teriak, tertawa-tawa, berseru-seru: “In ilah, in ilah
lawanm u! Ini ada sepasang lagi ahli waris si tua Peter! Ayo,
pasang taruhan, pilih m ana yang asli!”
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka AKU MENGHINDARI BADAI
ORANG-ORANG ITU m engiringi seorang tuan tua yang tam pan
dan rapi serta seorang yang lebih m uda, juga tam pan dan rapi,
tangannya digantung dengan kain pem bebat. Ya am pun, betapa
orang-orang itu berteriak-teriak dan tertawa bising sekali. Tapi
aku tak tahu di m ana letak kelucuannya, dan kukira sang raja
dan sang pangeran akan m erasa sangat cem as. Tapi ternyata
tidak. Mereka sama sekali tidak terlihat pucat sedikit pun. Sang
pangeran berbuat seolah-olah tak tahu sam a sekali apa yang
terjadi, terus saja bertingkah bisu-tuli dan tampak bahagia
dan lega. Sem entara itu sang raja hanya term enung, wajahnya
m uram , seolah-olah hatinya sangat sedih m em ikirkan betapa
jahatnya orang-orang yang m em perlakukan dirinya. Oh, pandai
sekali sang raja berm ain sandiwara. Banyak sekali pem uka
kota yang berkerum un di sekitar sang raja untuk m enunjukkan
di pihak m ana m ereka berada. Tuan tua yang baru datang itu
tam pak sangat heran, kem udian ia m ulai bicara, dan suaranya
Petualangan Huckleberry Finn 259
http://facebook.com/indonesiapustaka tepat seperti orang Inggris, bukan seperti cara bicara sang raja,
walaupun sang raja juga bagus bicaranya tapi hanya tiruan.
Tak bisa kutuliskan di sini kata-kata tuan itu, atau menirukan
bunyinya, tapi waktu ia berbicara pada orang banyak kata-
katanya sebagai berikut: “Ini betul-betul sesuatu yang tak kuduga
sebelum nya, harus kuakui secar jujur. Aku tak bersiap-siap untuk
menghadapi keadaan seperti ini, sebab aku dan saudaraku ini
juga baru saja mendapat sedikit kesulitan, ia terjatuh hingga
lengannya patah dan barang-barang kam i keliru diturunkan
di kota di sebelah atas kota ini. Aku saudara Peter Wilks yang
bernam a Harvey, dan ini saudaranya yang bernam a William , yang
tak bisa m endengar dan tak bisa bicara—dan kini tak pula bisa
m em beri isyarat, sebab terpaksa hanya m enggunakan sebelah
tangan saja. Kini betul-betul m engatakan apa adanya, dan sehari
dua lagi bila barang-barang kami tiba, akan kami buktikan hal itu.
Tapi sam pai saat itu aku tak akan banyak bicara lagi, aku akan
pergi ke hotel, dan menunggu.”
Tuan itu dan si bisu-tuli berbalik untuk pergi, dan sang raja
tertawa m engejek, “Tangannya patah, m udah sekali bukan? Dan
m em perm udah ia berm ain sandiwara, agaknya ia belum begitu
tahu cara berisyarat. Barang-barangnya keliru diturunkan! Sangat
bagus sekali, sangat cerdik, setidak-tidaknya dalam keadaan
seperti ini!”
Ia tertawa lagi, begitu juga semua orang, kecuali tiga atau
empat orang, atau mungkin setengah lusin orang. Salah satu di
antara yang tak tertawa itu adalah Dokter Robinson; seorang tuan
lagi berwajah tajam, membawa tas kain model kuno terbuat dari
kain perm adani, yang agaknya juga baru turun dari kapal uap,
kini berbicara perlahan dengan Dokter Robinson, sekali-sekali
m enoleh pada sang raja dan m enganggukkan kepala. Itulah Levi
Bell, si ahli hukum yang baru pulang dari Louisville. Seorang
lagi yang bertubuh tinggi besar, wajahnya kasar, yang tadi
260 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka dengan penuh perhatian mendengarkan kata-kata si tuan tua,
kini ganti m endengarkan kata-kata sang raja. Begitu sang raja
selesai berbicara, raksasa ini bertanya: “He, lihat kem ari, bila kau
m em ang Harvey Wilks, kapan kau tiba di kota ini?”
“Sehari sebelum pem akam an, kawan,” jawab sang raja.
“Waktunya, kutanya waktunya.”
“Sore hari, kira-kira sejam atau dua jam sebelum m atahari
t er ben am .”
“Kau naik apa?”
“Naik kapal Susan Powell dari Cincinnati.”
“Kalau begitu, m engapa kau berada di Ujung, pagi hari, naik
p er a h u !”
“Aku tak berada di Ujung, pagi hari itu.”
“Du s t a !”
Beberapa orang m elom pat m endekati si raksasa, m inta agar
tak berbicara begitu pada seorang tua yang juga seorang pendeta.
“Pendeta om ong kosong! Ia seorang penipu dan pem bohong!
Ia berada di Ujung pagi itu. Aku ingin tinggal di Ujung. Nah, aku
ada di sana, dan ia ada di sana. Aku lihat di sana. Ia naik perahu,
dengan Tom Collins dan seorang anak lagi.”
Dokter Robinson m aju, bertanya, “Tahukah kau siapa anak
itu, Hines? Bisa kau kenali lagi bila kau lihat dia?”
“Kukira bisa, aku tak tahu. Nah, itu dia! Aku bisa m engenali-
nya dengan m udah.”
Akulah yang ditunjuknya. Dokter Robinson berkata, “Kawan-
kawan! Aku tak tahu apakah orang-orang yang baru datang tadi
palsu, tapi aku yakin bahwa pasangan yang ini pasti palsu. Aku
pikir menjadi tugas kita untuk mengurus agar mereka tak bisa
kabur dari sini sebelum perkara ini selesai. Marilah Hines, dan
sem uanya juga. Kita bawa orang-orang ini ke hotel, dan kita
hadapkan dengan pasangan yang baru datang. Kukira kita akan
mengetahui sesuatu sebelum pemeriksaan kita ini berakhir.”
Petualangan Huckleberry Finn 261
http://facebook.com/indonesiapustaka Semua orang bersorak gembira, kecuali sahabat-sahabat
sang raja m ungkin. Kam i sem ua berangkat. Waktu itu sudah
menjelang matahari terbenam. Dokter Robinson menggandeng
tanganku, ia cukup ram ah, tapi sam a sekali tak dilepaskannya
t a n ga n ku .
Kam i sem ua berkum pul di sebuah ruang besar di hotel,
dan kedua orang yang baru datang itu disuruh hadir. Lilin-lilin
dinyalakan. Mula-m ula Dokter Robinson berbicara, “Aku tak
ingin berlaku terlalu kejam pada kedua orang ini, tapi aku kira
m ereka hanyalah sepasang penipu. Bila benar, sangat boleh jadi
m ereka m em punyai pem bantu-pem bantu yang tak kita ketahui.
Bila itu benar, bukankah sangat m ungkin para pem bantu m ereka
ini kabur dengan membawa kantung uang Peter Wilks? Sangat
m ungkin. Bila kedua orang ini bukan penipu, pasti m ereka
tak akan berkeberatan untuk m enyuruh am bil uang itu dan
m em perbolehkan kita m enyim pannya sam pai terbukti bahwa
m ereka benar. Bukankah begitu?”
Sem ua oran g setuju. Kupikir pastilah gerom bolan ku
sudah sangat tersudut dari m ula pertam anya. Tapi sang raja
tak terlihat kaget, ia tam pak sedih dan berkata, “Tuan-tuan,
alangkah senangnya bila uang itu m asih ada padaku, sebab aku
tak berkeberatan sam a sekali akan pem eriksaan ini, yang adil,
terbuka dan teliti. Tapi, ooh, uang itu tak ada lagi padaku, kalau
tak percaya boleh digeledah seluruh isi rum ah.”
“Di m ana kalau begitu uang tersebut?”
“Waktu keponakanku m em berikannya padaku, kusim pan
di dalam kasur jerami tempat tidurkku, tak ingin kusimpan di
bank, sebab kam i hanya sebentar saja di sini. Lagi pula kukira
tem pat penyim pananku itu cukup am an, sam a sekali tak terpikir
olehku bahwa budak-budak negro di sini tidaklah sejujur pelayan-
pelayan kam i di Inggris. Orang-orang negro itu m encurinya,
pagi berikutnya, waktu aku ke ruang bawah. Waktu aku m enjual
262 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka m ereka, aku belum tahu akan kehilangan itu. Pelayanku bisa
menceritakan hal itu, Tuan-tuan.”
Dokter Robinson dan beberapa orang berseru, “Bah!” dan
kulihat sem ua orang tak m em percayai kata-kata sang raja.
Seseorang bertanya padaku apakah kulihat orang-orang negro
itu m encuri uang tersebut. Kujawab tidak, tapi kulihat m ereka
berjingkat keluar dari kam ar. Kukatakan, aku tak m encurigai
mereka, kukira orang-orang negro takut kalau-kalau tuanku
terbangun. Hanya itulah yang ditanyakan orang-orang padaku,
kemudian tiba-tiba Dokter Robinson berpaling padaku dan
bertanya, “Apakah kau juga orang Inggris?”
Kujawab, “Ya,” ini m em buat ia dan banyak orang lain tertawa
dan berseru, “Cih!”
Pem eriksaan dim ulai. Kam i betul-betul m engalam i saat-saat
gawat, pertanyaan bertubi-tubi, jam -jam berlalu tanpa ada yang
memperhatikan, tak seorang pun ingat akan makan malam—
mereka sama sekali tak mau melepaskan kami dari cengkeraman.
Sang raja diperiksa untuk bercerita, kem udian tuan tua yang
baru datang itu. Dan semua orang kecuali beberapa orang tolol
akan yakin bahwa tuan tua itu m engatakan hal yang sebenarnya,
sedangkan sang raja hanya berdusta. Akhirnya aku juga disuruh
bercerita, apa saja yang kuketahui. Sang raja m elirik tajam ,
jadi tahulah aku pihak m ana yang harus kupilih. Aku bercerita
tentang Shefield, bagaimana kami hidup di sana, dan tentang
keluarga Wilks di Inggris, dan seterusnya. Tapi aku tak usah
bercerita terlalu lama, sebab Dokter Robinson tertawa terus dan
akhirnya ahli hukum Levi Bell berkata padaku: “Duduk sajalah,
Nak, jangan paksakan dirim u. Kukira kau tak biasa berdusta, tak
terlalu baik kau m elakukannya. Tapi agaknya ada bakatm u, jadi
yang kau perlukan hanyalah latihan yang cukup banyak.”
Aku tak peduli akan pujiannya, nam un gem bira juga hatiku
sebab aku tak diganggu lagi. Dokter Robinson berkata pada ahli
Petualangan Huckleberry Finn 263
http://facebook.com/indonesiapustaka hukum itu, “Andaikata kau sejak sem ula ada di kota ini, Levi
Bell....”
Sang raja m enukas pem bicaraannya, m engulurkan tangan
pada Levi Bell dan berkata, “Astaga! J adi inikah sahabat karib
saudaraku yang m alang itu, yang sering ditulisnya dalam surat-
su r a t n ya ?”
Kedua orang itu berjabat tangan dengan hangat. Si ahli
hukum tersenyum dan tam pak lega, keduanya berbicara beberapa
saat. Kem udian m ereka pergi ke sam ping dan berbicara berbisik-
bisik, akhirnya terdengar si ahli hukum berkata, “Baiklah, beres
sudah. Tulis pesanmu itu, juga pesan saudaramu William, akan
kukirimkan sekarang juga hingga mereka akan tahu bahwa
segalanya telah beres.”
Seseorang memberikan kertas dan setangkai pena. Sang raja
duduk, m em iringkan kepala dan m enggigit lidahnya, m enulis
sesuatu, kemudian memberikan pena itu pada sang pangeran.
Dan kali ini sang pangeran tam pak sedikit pucat. Tapi diam bilnya
juga pena itu dan m ulai m enulis. Levi Bell berpaling pada
pasangan tuan yang baru datang tadi dan berkata, “Tuan dan
saudaramu juga harus menulis di sini, sebaris atau dua baris, dan
tanda tangani pula.”
Si tuan tua m enulis, tapi tak ada orang yang bisa m em baca
tulisan itu. Levi Bell tam pak sangat heran, katanya, “Minta
am pun! Ini di luar dugaan!” Ia m engeluarkan beberapa lem bar
surat tua dari sakunya, m em eriksa tulisannya, m em eriksa tulisan
si tuan tua dan memeriksa tulisan sang raja dan sang pangeran,
kem udian ia berkata, “Surat-surat ini dari Harvey Wilks. Dan lihat
kedua tulisan ini, semua orang akan bisa melihat bahwa orang-
orang ini bukanlah yang m enulis surat-surat Harvey Wilks (sang
raja dan sang pangeran tampak sekali kaget karena telah tertipu
oleh si ahli hukum ). Kini lihat tulisan tuan tua ini. Sem ua orang
juga akan tahu bahwa bukan dia yang m enulis surat-surat Harvey
264 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka Wilks—m alah tulisannya boleh dikata bukan tulisan, m elainkan
hanya cakar ayam saja. Kini m ari kita lihat surat-surat dari....”
“Tunggu!” si tuan tua m enukas. “Beri kesem patan padaku
untuk menerangkan. Tak seorang pun bisa membaca tulisanku
kecuali saudaraku William ini, jadi ialah yang biasanya m enuliskan
surat-suratku. Tulisan yang tuan bawa itu adalah tulisannya,
bukan tulisanku.”
“Waaah!” kata si ahli hukum . “Ini betul-betul sulit. Aku
pun punya surat-surat dari William di sini, jadi coba suruh dia
m enulis sebaris saja supaya bisa kam i lihat dan kam i banding....”
“Ia tak bisa m enulis dengan tangan kirinya,” kata si tuan tua,
kalau ia bisa m enggunakan tangan kanannya, akan terlihat bahwa
ialah yang m enulis surat-surat William dan suratku juga. Coba
perhatikan kedua surat itu, pasti akan nyata bahwa keduanya
ditulis oleh tangan yang sam a.
Si ahli hukum m engerjakan perm intaannya, dan berkata,
“Kukira m em ang benar, walaupun tak nyata, tapi terlihat lebih
banyak persam aan tulisan daripada yang kuperhatikan sebelum
peristiwa ini. Wah, wah, wah, tadinya kukira dengan ini persoalan
bisa selesai, tapi ternyata tidak. Setidak-tidaknya baru selesai
sebagian. Suatu hal telah terbukti, kedua orang ini bukanlah
Harvey dan William Wilks!” Ia m enganggukkan kepala pada sang
raja dan sang pangeran.
Coba, apa yang terjadi? Si keledai tua itu tak m au m enyerah!
Sam a sekali tidak. Katanya, percobaan tulisan tadi bukanlah
suatu cara yang adil. Katanya, William m em ang seorang yang
paling suka bercanda, sejak mula pertama ia memegang pena,
sudah disangkanya bahwa William tak akan m encoba untuk
m enulis dengan baik. Begitulah, terus saja ia m engoceh, hingga
m akin lam a m akin m eyakinkan bahwa m em ang dirinyalah
Harvey Wilks yang asli. Tetapi si tuan tua tadi m enukas, berkata,
“Terpikir olehku sesuatu yang m em ungkinkan bisa dipakai untuk
m enyelesaikan persoalan ini. Apakah di sini ada orang-orang,
Petualangan Huckleberry Finn 265
http://facebook.com/indonesiapustaka yang telah m enolong m enyiapkan tubuh saudaraku, m enyiapkan
tubuh almarhum Peter Wilks untuk dimakamkan?”
“Ya,” seseorang m enjawab, “aku dan Ab Turner, kam i berdua
ada di sini.”
Si tuan tua berpaling pada sang raja, bertanya, “Mungkin
tuan bisa m engatakan padaku, apa yang tergam bar dengan rajah
di dada Peter Wilks?”
Pertanyaan yang tiba-tiba itu sam a sekali tak m em buat sang
raja terkejut! Menurut pendapatku pertanyaan serupa itu pastilah
akan membuat si tua itu terguling, sebab bagaimana ia bisa
m engetahui. Wajah sang raja agak m em ucat, tanpa diketahuinya.
Sunyi sekali seketika di ruangan itu. Sem ua orang m engeluarkan
kepala dan m em perhatikan sang raja, jawaban apakah yang
hendak diberikan. Semua mendengarkan penuh perhatian akan
apa yang dikatakannya nanti. Pikirku, kini pastilah ia m enyerah,
tak berguna lagi untuk berdusta. Tapi betulkah begitu? Hampir
tak bisa dipercaya, ia tidak juga m enyerah! Agaknya ia ingin
agar pemeriksaan ini berlarut-larut hingga semua orang lelah
dan pulang, dan nanti bila orang-orang tinggal sedikit, ia dan
sang pangeran akan melarikan diri. Sesaat sang raja terdiam,
kem udian sam bil tersenyum ia berkata, “Hm , pertanyaan yang
sangat sukar, he? Ya, Tuan, aku tahu apa yang tergam bar di
dadanya. Sebatang anak panah, kecil, tipis, biru. Itulah. Dan bila
tak dilihat dari dekat, gam bar itu tak akan tam pak. Nah, apa yang
katamu sekarang, he?”
Ya am pun, betapa berani penipu itu. Si tuan tua cepat
berpaling pada Ab Turner dan kawannya, dengan m ata bercahaya
seolah-olah kini ia berhasil mengalahkan sang raja. Ia berkata,
“Kau dengar kata-katanya! Betulkah tergam bar seperti itu di dada
Peter Wilks?”
Kedua orang itu berkata keras, “Kam i tak m elihat tanda se-
perti itu.”
266 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka “Bagus!” kata si tuan tua. “Nah, yang kau lihat di dadanya
adalah huruf-huruf P, B (singkatan nam a tengahnya yang tak
dipakainya lagi sejak m uda), dan W, kecil-kecil dan sam ar-sam ar,
di antara huruf-huruf itu ada garis-garis pendek, jadi seperti ini
P—B—W,” dituliskannya pada secarik kertas. “Nah, bukankah
dem ikian yang kalian lihat?”
“Tidak!” jawab Ab Turner dan kawannya, “di dadanya tak ada
gam bar apa pun juga!”
J awaban ini membuat semua orang gempar! Mereka dengan
suara bulat berseru serem pak, “Sem uanya penipu! Mari kita
benamkan! Mari kita tenggelamkan! Mari kita ikat di roda
pedati!” Ribut sekali, sem ua orang berteriak-teriak. Tapi si ahli
hukum menghentikan semua itu dengan melompat ke atas meja
dan berteriak keras sekali, “Tuan-tuan! Tuan-tuan! Dengarkan!
Sepatah kata saja, hanya sepatah kata saja, harap diam ! Masih
ada satu cara untuk m em buktikan. Mari kita gali lagi m ayat Peter
Wilks, dan kita lihat!”
Semua orang setuju.
“Hooreee!” sorak-sorai orang-orang dan m ereka sudah akan
berangkat waktu Levi Bell dan Dokter Robinson berseru, “Tunggu!
Tunggu! Tahan sem ua orang ini, keem patnya dan si anak itu juga!
Bawa m ereka ikut kita!”
Aku sangat ketakutan. Tapi tak bisa lolos lagi. Kam i sem ua
dicengkeram , dipaksa ikut ke pekuburan, yang jauhnya satu
setengah m il di sebelah hilir. Rasanya sem ua isi kota ikut
rom bongan itu, derap kakinya sangat ribut. Waktu itu kira-kira
pukul sembilan malam.
Ketika m elewati rum ah, tim bul sesalku m engapa Mary J ane
kusuruh pergi. Bila saja ia ada, dengan m engejapkan m ata saja
pasti ia akan menolongku.
Kam i m em bajiri jalan di tepi sungai, berbuat liar sekali
bagaikan sekelom pok binatang buas. Keadaan m akin seram
Petualangan Huckleberry Finn 267
http://facebook.com/indonesiapustaka sebab langit m ulai m endung, kilat m ulai bersam baran. Angin
m ulai berdesau di antara dedaunan. Inilah kesulitan yang paling
buruk dan paling m enakutkan dari segala yang pernah kualam i.
Aku bagaikan terpukau. Sem ua berjalan jauh dari apa yang telah
kurencanakan. Tidak seperti yang kuharapkan, tak lagi bisa aku
ikut m enonton keram aian yang m estinya terjadi bila aku m au, tak
ada Mary J ane yang bisa m enolongku dalam keadaan terdesak.
Kini antara aku dan kem atian hanyalah terpisah oleh gam bar
rajah di dada sesosok m ayat. Bila gam bar rajah itu tak ada?
Tak berani kupikirkan apa yang akan terjadi, tapi aku pun tak
bisa m em ikirkan hal lainnya. Hari m akin gelap juga, m estinya itu
m erupakan saat yang tepat untuk m eloloskan diri, tapi tanganku
dicengeram oleh raksasa itu, Hines, dan untuk melepaskan diri
dari cengkeram an itu rasanya sam a dengan m elepaskan diri dari
cengkeram an Goliath. Ia m enyeretku, hingga aku terpaksa lari
untuk m engikuti kecepatan langkahnya.
Gerombolan kami membajiri tempat pemakaman. Sesampai-
nya di kuburan, baru sem ua orang sadar bahwa walaupun m ereka
m em punyai sekop seratus kali dari jum lah yang diperlukan, tapi
tak seorang pun yang punya pikiran untuk m em bawa lentera. Tapi
itu tak jadi halangan. Sekop-sekop mulai terhunjam ke tanah,
dengan penerangan kilat dari langit. Sementara itu seseorang
disuruh lari untuk mengambil lentera.
Orang-orang itu menggali bagaikan gila. Malam sangat gelap,
hujan m ulai turun. Angin berem bus kencang, kilat m akin sering
m enyam bar, halilintar m enggelegar. Sem ua itu tak ada yang
m em perhatikan. Yang terpikir hanyalah apa yang akan m ereka
lihat. Bila kilat m enyam bar, sesaat terlihat wajah orang-orang itu,
dan gum palan tanah yang terlem par keluar dari kuburan, sesaat
kemudian hitam pekat, tak terlihat apa-apa.
Akhirnya peti m ati berhasil diangkat keluar, sekeru-sekerup
tutupnya m ulai dibuka. Alangkah ributnya! Sem ua berdesak-
268 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka desakan maju, saling dorong, saling sikut untuk bisa melihat lebih
dekat. Seram sekali, berdesak-desakan dalam keadaan begitu
gelap. Tanganku sangat sakit dalam cengkeram an Hines yang
juga berdesak-desakan, lupa bahwa aku masih ada di dunia ini.
Hines sampai terengah-engah kehabisan napas.
Mendadak sebuah kilat m enyam bar, m enyinarkan cahaya
yang terang benderang sesaat. Seseorang berteriak, “Astaga!
Kantung uang em as itu ada di dadanya!”
Seperti orang-orang lainnya, H ines m enjerit kaget,
m elepaskan tanganku dan sekuat tenaga m enyeruak di antara
orang banyak untuk bisa m enyaksikan kebenaran teriakan tadi.
Tak bisa digam barkan bagaim ana aku m enyelinap keluar dari
gerombolan itu dan lari dalam kegelapan menuju ke jalan.
Hanya aku sendiri yang berda di jalan itu, dan rasanya aku
terbang, begitu cepat aku berlari. J alan amat gelap, sebentar-
sebentar diterangi kilat. Hujan menderu, angin menghempas,
halilintar m enyam bar. Sem ua tak kupedulikan, aku lari terus.
Kota sepi, tak seorang pun terlihat dalam hujan badai
ini, jadi aku tak perlu mencari jalan-jalan samping, terus saja
berlari di jalan besar. Mendekati rumah keluarga Wilks, aku
m em asang m ata. Tak ada cahaya sam a sekali di rum ah itu, hatiku
sedikit kecewa, tak tahu kenapa. Tapi akhirnya waktu rum ah itu
ham pir kulewati, kulihat sekilas cahaya di jendela kam ar Mary
J ane! Dadaku rasanya akan m eledak karena gem bira. Sebentar
kemudian rumah itu telah jauh di belakangku, ditelan kegelapan.
Tak akan kulihat lagi rum ah itu selam anya di dunia ini.
Begitu kurasa aku telah cukup jauh ke hulu untuk bisa
m encapai gosong tem pat persem bunyian rakit kam i, aku m ulai
m em asang m ata m encari-cari perahu yang tak terikat untuk
kupinjam . Pertam a kali cahaya kilat m enunjukkan perahu yang
hanya terikat dengan tali, aku m elom pat ke dalam nya, sesaat
kem udian telah m eluncur ke tengah sungai. Rakit itu tersem bunyi
Petualangan Huckleberry Finn 269
jauh di tengah sungai, tapi aku tak membuang-buang waktu,
berdayung sekuatku. Maka ketika aku sam pai, rasanya tak akan
kuat lagi aku berdiri bila tak mengumpulkan napas dulu. Namun
itu tak kulakukan, aku m elom pat ke rakit dan berseru, “Keluar,
J im , luncurkan rakit! Bersyukurlah kita telah lepas dari m ereka!”
J im keluar, mendekatiku dengan tangan terbuka lebar,
begitu gem bira hatinya. Nam un ketika tam pak olehku wajahnya
di kilatan cahaya, hatiku serasa terlonjak ke m ulut, dan aku
terlem par ke air. Aku telah lupa bahwa ia m erupakan gabungan
si tua Raja Lear dan orang Arab yang m ati terbenam . betul-betul
membuatku tak bisa bernapas! J im cepat mengangkat aku dari
air, dan sudah hendak m em eluk dan m engucapkan syukur lagi,
sebab ia juga sangat gembira kami bisa lolos dari sang raja dan
sang pangeran. Cepat-cepat aku berkata, “Besok saja, J im ! Besok
saja! Lepaskan ikatan, luncurkan cepat!”
Dalam dua detik saja kami telah meninggalkan tempat itu,
dan betul-betul gem bira karena bisa bebas lagi! Kini sungai luas
itu menjadi milik kami lagi. Tak terasa aku melonjak-lonjak
kegirangan. Tapi baru dua kali aku melonjak, kudengar suatu
suara yang sangat kukenal. Aku m enahan napas, m em asang
telinga, dan m enunggu. Benar saja, waktu kilat m enyam bar
kulihat m ereka datang, berkayuh m ati-m atian hingga perahu
mereka meluncur cepat. Sang raja dan sang pangeran!
Aku terkulai ke geladak, tak bisa berbuat apa-apa. Masih
untung aku bisa menahan diri untuk tidak menangis.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka EMAS MENOLONG KEDUA
PENIPU
BEGITU IA m elom pat ke geladak rakit, sang raja m encengkeram
leher bajuku dan m enggeram , “Mencoba m eninggalkan kam i, he,
anjing! Bosan kam i kawani lagi, he?”
“Tidak, Sri Baginda,” jawabku, “tidak... aduh, jangan, Sri
Ba gin d a !”
“Cepat kalau begitu, un tuk apa kau m elun curkan rakit
tanpa m enunggu kam i? Katakan, kalau tidak kuguncangkan isi
perutm u!”
“Akan kuceritakan sebenarnya, Sri Baginda. Orang yang
m enahanku sangat baik hatinya, dan selalu berkata bahwa ia
punya anak sebesar aku yang m ati tahun lalu. Ia tak tega m elihatku
dalam keadaan yang begitu berbahaya. J adi waktu sem ua orang
terkejut melihat emas itu, dan berdesakan untuk melihat peti
m atinya, ia berbisik padaku ‘Larilah, pasti kau akan digantung!’
Tak bisa kuberbuat lain, dan aku tak mau digantung bila saja
Petualangan Huckleberry Finn 271
http://facebook.com/indonesiapustaka masih ada kesempatan untuk lari. J adi aku berlari tanpa berhenti
lagi sampai kutemui sebuah perahu. Dan waktu aku sampai di
sini, kusuruh J im bergegas, kalau tidak aku akan ditangkap dan
digantung. Aku berkata padanya m ungkin sekali paduka dan sang
pangeran telah tak bernyawa lagi saat itu. Aku betul-betul sedih,
begitu juga J im . Alangkah gem biranya kam i waktu paduka dan
sang pangeran m uncul. Kalau tak percaya, boleh tanya J im .”
J im m em benarkan kata-kataku, tapi sang raja m em bentaknya,
dan berkata, “Oh, begitukah kejadiannya, he?” dan diguncangnya
aku keras-keras lagi, dan mengancam akan membenamkan
aku. Tapi sang pangeran m enyela, “Lepaskan anak itu, tolol!
Apakah kau akan berbuat lain seandainya kau dia? Apakah kau
m encarinya dulu waktu kau akan m elarikan diri? Aku tak ingat
kau berbuat begitu.”
Sang raja m elepaskan aku, dan m em aki-m aki kota yang
baru kam i tinggalkan dan sem ua orang yang ada di dalam nya.
Tapi kem bali sang pangeran m enyela, “Tutup m ulut, lebih baik
kau m aki dirim u sendiri, sebab kaulah yang paling berhak
untuk dimaki. Sejak permulaan kau tak pernah berbuat tidak
tolol, kecuali waktu kau dengan tenang dan berani mengatakan
tentang gam bar panah biru itu. Hanya itulah yang betul-betul
cerdik, betul-betul hebat, dan itu jugalah yang m enolong kita.
Kalau tidak, m ungkin kita akan dipenjarakan sam pai barang-
barang orang Inggris itu tiba, dan kemudian, rumah penjara!
Kecerdikanm u m em buat m ereka sem ua pergi ke pekuburan, dan
kantung uang itu tak melepaskan pegangan terhadap kita untuk
bisa melihat, malam ini kita sudah tidur di tiang gantungan, lama
sekali, lebih lam a daripada yang kita perlukan.”
Selam a sem enit m ereka diam , berpikir. Kem udian seoalah
acuh tak acuh sang raja berkata: “Hm ! dan kita kira orang-orang
negro itulah yang m encuri.”
Dadaku berdebar keras seketika.
272 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka “Ya,” sahut sang pangeran, perlahan, acuh tak acuh dan
sedikit m engejek, “kita kira.”
Setelah setengah m enit, sang raja m enggeram . “Setidak-
tidaknya akulah yang punya perkiraan begitu.”
“Sebaliknya, akulah!” sahut sang pangeran dengan lagu yang
sama.
“Dengar Bilgewater,” kata sang raja sedikit m arah, “apa
maksudmu?”
“Kebetulan kau bertan ya begitu, kau tak berkeberatan
bukan kalau aku bertanya serupa padam u?” balas sang pangeran
m en d esis.
“Bah!” sahut sang raja, sangat m enghina, “tapi aku tak tahu
m ungkin waktu itu kau sedang tidur dan tak tahu apa yang sedang
kau kerjakan.”
“Oh, terus terang saja!” sang pangeran m arah kini. “Kau kira
aku ini tolol? Kau kira aku tak tahu siapa yang m enyem bunyikan
uang itu di dalam peti mati?”
“Ya, Tuan! Aku tahu bahwa kau tahu. Sebab kau sendiri yang
m enyem bunyikan uang itu di sana!”
“Kau berdusta!” san g pan geran m en ubruk san g raja,
m encengkeram lehernya sam pai ia berteriak, “Aduh, lepaskan!
Lepaskan leherku! Kutarik kem bali kata-kataku!”
“Akui dulu bahwa kaulah yang m enyem bunyikan uang di
sana. Dengan maksud suatu hari kau akan meninggalkanku,
kem bali ke tem pat itu dan m enggalinya hinga sem ua bisa kau
miliki sendiri.”
“Tunggu, Pangeran, tunggu! J awablah pertanyaanku ini
dengan sejujur-jujurnya, bila bukan kau yang m encuri dan
m enyem bunyikan di peti m ati, jawablah, aku percaya akan kata-
katamu serta kutarik semua kata-kataku kembali.”
“Kau bajingan tua! Kau tahu bukan aku yang m encuri! Nah!”
“Aku percaya padam u, Pangeran. Tapi jawab pertanyaanku
ini, satu saja, jangan m arah dulu. Apakah tak terpikir olehm u
untuk m encuri dan m enyem buyikan uang itu?”
Petualangan Huckleberry Finn 273
http://facebook.com/indonesiapustaka Sang pangeran terdiam sejenak, kem udian berkata, “Hm ,
tak peduli aku bila tim bul m aksudku yang sedem ikian, pokoknya
maksud itu tak kukerjakan. Tapi kau bukan saja terpikir olehmu,
tapi juga kau kerjakan!”
“Mati pun aku m au bila aku yang m engerjakan, Pangeran.
Memang terpikir olehku, tapi kau, maksudku orang lain, telah
m en d a h u lu iku .”
“Dusta! Kau yang m engerjakan, dan kau harus m engaku,
kalau tidak....”
Napas sang raja tersengal-sengal, kemudian ia berteriak,
“Cukup! Aku m engaku!”
Aku sangat gem bira m endengar ia m engaku, hatiku jadi
lebih lega. Sang pangeran m elepaskan tangannya dan berkata,
“Bila kau pungkiri lagi, kubenam kan kau! Bagus sekali untukm u,
m erengek-rengek ingin m enelan sem ua kekayaan, cocok sekali
dengan caram u bertindak. Belum pernah aku m engenal orang
seserakah engkau. Dan kupercayai kau seolah-olah kau ayahku
sendiri. Kau haruslah m alu, tenang-tenang saja m elem parkan
segala kesalahan pada orang-orang negro yang tak berdosa,
tanpa sedikit pun menunjukkan rasa kasihan. Malu sekali aku
sam pai bisa kau tipu begitu rupa. Terkutuk engkau! Kini aku tahu
mengapa kau begitu ingin menambah kekurangan pada uang
itu, kau ingin m encaplok juga uang yang kudapat dari ‘Keajaiban
Kerajaan’ dan lainnya juga. Kau ingin m encaplok sem uanya!”
“Tapi, Pangeran,” sahut sang raja m alu-m alu dan m asih
tersedu-sedu, “bukan aku yang punya pikiran untuk m engganti
kekurangan jum lah uang di kantung uang itu, m alahan kaulah!”
“Diam ! Aku tak ingin dengar suaram u lagi! Kini kau tahu
akibat keserakahanmu! Orang-orang itu mendapatkan kembali
uangnya, ditam bah dengan uang kita, sem ua, kecuali dua atau
tiga sen lainnya. Pergi tidur kau, bila kau berani m engatakan
tentang kekurangan uang di kantung itu, awas!”
274 Mark Twain
Sang raja m erayap m asuk ke gubuk, m enghibur diri dengan
m inum an keras. Tak lam a ia disusul oleh sang pangeran yang
juga m eneguk isi botolnya sendiri. Tak sam pai setengah jam ,
kedua orang itu telah bersahabat karib lagi. Makin banyak m ereka
m inum , m akin erat persahabatan m ereka, hingga akhirnya m ereka
mendengkur dengan saling berpelukan. Mereka sangat mabuk.
Tapi sang raja tidak cukup m abuk untuk berani m enyangkal
bahwa bukan ia yang m enyem bunyikan uang ram pasan m ereka.
Aku jadi lega dan puas karenanya. Tentu saja waktu keduanya
telah tidur nyenyak, aku bercerita panjang lebar kepada J im
tentang semua kejadian di kota itu.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka DUSTA TAK DAPAT DIDOAKAN
BERHARI-HARI KAMI terus berlayar, sam a sekali tak berhenti.
Kini kam i berada jauh di daerah Selatan, udara sangat panas, dan
kam i telah am at jauh sekali dari rum ah. Kam i jum pai kini pohon-
pohon yang berlum ut Spanyol, berjurai-jurai bagaikan jenggot
kelabu, panjang-panjang. Baru kali itu kulihat lum ut m acam itu,
hutan tam paknya jadi lebih seram . Kedua penipu itu kini m erasa
bahwa mereka telah cukup jauh untuk bisa memulai kegiatan lagi.
Mula-m ula m ereka m em beri kuliah tentang bahayanya
m inum an keras, tapi hasilnya tak cukup untuk m em buat m ereka
m abuk. Di desa berikutnya m ereka m encoba m endirikan suatu
sekolah dansa. Nam un m ereka ternyata tak bisa berdansa lebih
baik daripada seekor kanguru, baru saja akan mulai memberi
contoh suatu langkah, para hadirin mengusir mereka. Di tempat
lain lagi mereka mencoba memberi pelajaran cara mengucapkan
kata-kata, namun belum sampai pelajaran berakhir semua orang
bangkit memaki-maki mereka. Mereka juga diusir dari tempat ini.
276 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka Mereka mencoba berkhotbah, main hiptonis, jadi dokter,
m eram al dan entah apa lagi setiap ada kesem patan. Tapi agaknya
nasib sial selalu m em buntuti m ereka, hingga akhirnya m ereka
betul-betul bangkrut, terpaksa tak keluar lagi dari rakit. Tiap hari
bepikir dan berpikir, kadang-kadang setengah hari tak berbicara
sepatah pun, tampak sedih dan putus asa.
Tapi lam a-kelam aan terjadi suatu perubahan. Kedua orang
mulai sering berbicara berbisik-bisik di dalam gubuk, kadang-
kadang sampai dua atau tiga jam sekali waktu. J im dan aku jadi
gelisah. Kam i pikir pastilah m ereka sedang m erencanakan suatu
rencana yang lebih jahat dari sebelum nya. Kam i perbincangkan
diam -diam , kira-kira apa yang akan m ereka kerjakan. Akhirnya
kami sampai pada kesimpulan bahwa mereka akan merampok
rum ah atau toko atau akan m em buat uang palsu, atau yang
sem acam itu. Karena itu kam i jadi sangat ketakutan, kam i berjanji
untuk tidak ikut cam pur dalam urusan serupa itu, apa pun yang
terjadi. Bila ada kesem patan, betapapun kecilnya kesem patan itu,
akan kami tinggalkan kedua orang itu.
Suatu pagi, pagi-pagi sekali, kam i sem bunyikan rakit kam i
di sebuah tempat terlindung kira-kira dua mil di bawah sebuah
kota kecil bernam a Pikesville. Sang raja naik ke darat, untuk
m em asang telinga apakah berita tentang ‘Keajaiban Kerajaan’
telah m encapai tem pat itu. (“Maksudm u m encari rum ah untuk
kau ram pok,” kata hatiku, “dan kalau kau selesai m eram pok
dan kem bali kem ari, kau akan bingung, tak tahu apa yang telah
terjadi akan diriku, J im dan rakit ini, dan kau akan kebingungan
bagaim ana harus m em bawa lari hasil curianm u itu.”) Kam i
disuruhnya tinggal dulu bersem bunyi di rakit. Bila sam pai tengah
hari ia tak kem bali, berarti segalanya beres, aku dan pangeran
disuruhnya m enyusul ke darat.
Kam i m enunggu. Sang pangeran tam pak sangat gelisah,
wajahnya m uram selalu. Kam i dibentak-bentaknya, tak pernah
Petualangan Huckleberry Finn 277
http://facebook.com/indonesiapustaka ada hasil kerja kam i yang sesuai dengan keinginannya. Apa saja
kerja kam i pasti disalahkannya. Sesuatu sedang akan terjadi,
pikirku. Aku gem bira waktu tengah hari tiba dan sang raja tak
m uncul. Agaknya akan ada perubahan bagi kam i, dan m ungkin
inilah kesem patan yang telah kam i nanti-nantikan. Sang pangeran
dan aku naik ke darat, pergi ke desa untuk mencari sang raja.
Setelah agak lama mencari, kami temukan sang raja di kamar
belakang sebuah kedai minum murahan, sedang mabuk, digoda
oleh banyak sekali orang-orang penganggur.
Sang raja m em aki-m aki dan m engancam para penggodanya,
tapi ia sudah terlalu banyak m inum hingga bergerak pun
am at sukar. Sang pangeran m ulai ikut m em aki-m akinya,
m engatakannya sebagai keledai tua yang tolol. Sang raja
m em balas. Keduanya segera bertengkar ram ai. Aku m enyelinap
keluar, dan berlari secepat kakiku bisa sepanjang jalan di tepi
sungai. Inilah kesem patan yang kam i nantikan itu! Kuputuskan
bahwa akan berabad-abad lagi baru sang raja dan sang pangeran
bisa bertem u dengan aku dan J im lagi. Aku sam pai di rakit
dengan napas hampir habis tapi hati penuh kegembiraan, aku
berteriak, “Lepaskan tam batan, J im ! Kini kita bebas!”
Tapi tak ada yang m enjawab, tak ada yang keluar dari gubuk.
J im telah pergi! Aku berteriak, dan berteriak sekali lagi. Aku
berlari ke sana-kemari di dalam hutan, sekali-sekali berseru dan
m enjerit, tapi tak ada hasilnya, J im betul-betul tiada. Aku duduk
menangis. Tak bisa kutahan lagi tangisan itu. Tapi aku tak bisa
duduk diam terlalu lam a. Kutinggalkan hutan, berjalan di pinggir
sungai, m em ikirkan apa yang harus kukerjakan. Aku bertem u
dengan seorang anak sebayaku, kutanyakan apakah ia bertem u
dengan seorang negro, ia m enjawab, “Ya.”
“Di m ana?” tanyaku.
“Di tem pat Silas Phelps. Dua m il di sebelah hilir. Ia negro
pelarian, dan kini tertangkap. Kau m encarinya?”
278 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka “Tentu saja tidak. Aku bertem u dengannya di dalam hutan,
sejam atau dua jam yang lalu, ia m engancam akan m engeluarkan
isi perutku bila aku berteriak. Disuruhnya aku berbaring dan tak
beranjak dari tem patku. Terpaksa kukerjakan. Lam a sekali aku di
dalam hutan, takut keluar.”
“Kau tak perlu takut lagi, ia telah tertangkap. Ia lari dari
suatu daerah di Selatan.”
“Bagus sekali kalau ia sudah tertangkap.”
“Tentu saja. Disediakan hadiah dua ratus dolar untuk siapa
yang bisa m enangkapnya. Enak sekali, dapat uang sebanyak itu
dengan mudah.”
“Ya, enak sekali. Bila saja aku cukup besar, akulah yang akan
m endapat hadiah itu. Siapa yang m enangkapnya?”
“Seorang lelaki tua, orang asing, dan dijualnya hak atas negro
itu dengan harga empat puluh dolar, sebab ia harus bepergian ke
hulu sungai dan tak bisa m enunggu. Coba pikirkan, kalau aku,
walau tujuh tahun pun akan kutunggu sampai hadiah itu bisa
ku t er im a .”
“Aku pun begitu pula. Tapi m ungkin juga kesem patan untuk
m endapatkan hadiah itu sangat kecil, m ungkin ada sesuatu yang
tak beres dalam hal ini.”
“Beres sekali. Aku sen diri ikut m em baca pen gum um an
tentang negro itu. Pengumuman itu tepat sekali menggambarkan
si negro. Dikatakan juga tem pat asalnya, dari sebuah tem pat
dekat New Orleans. Tidak, Tuan, tak ada kesulitan. Tak ada
kecurigaan tentang kemungkinan kecurangan di sini. Eh, coba
beri aku sekunyah tem bakau. Punya?”
Aku tak punya, m aka anak itu segera pergi. Aku kem bali
ke rakit, duduk di dalam gubuk dan berpikir-pikir. Tapi tak ada
yang bisa kupikirkan. Aku berpikir hingga kepalaku sakit, tak bisa
kulihat jalan keluar dari kesulitan ini. Setelah perjalanan yang
dem ikian jauhnya, setelah kam i bersusah payah m elayani kedua
Petualangan Huckleberry Finn 279
http://facebook.com/indonesiapustaka bangsat itu, ternyata jerih payah kam i hilang percum a. Sem ua
impian kami hilang musnah. Tak kukira mereka sampai hati
m enipu J im dem ikian kejam , m em buatnya m enjadi budak untuk
seluruh sisa hidupnya, di antara orang-orang asing pula, hanya
dengan uang empat puluh dolar!
Sekali pernah akan berkata pada diriku sendiri, bila memang
J im terpaksa harus jadi budak, m aka baginya lebih baik seribu
kali jadi budak di rum ah tem pat ia bisa dekat dengan keluarganya,
daripada di negeri asing. Kuputuskan berkirim surat kepada
Tom Sawyer, agar ia m em beri tahu pada Nona Watson di m ana
J im berada. Tapi keputusan itu segera pula kucabut karena dua
alasan: Nona Watson akan marah dan jijik pada J im, karena
kejahatan dan rasa tak tahu terima kasih, jadi pasti segera saja
ia akan dijual ke hilir sungai; bilapun tidak begitu, seorang negro
yang tak kenal terim a kasih akan dibenci dan dihina oleh seluruh
isi kota, hingga J im akan selalu m enderita batin karenanya. Lagi
pula apa yang akan terjadi pada diriku! Akan tersiar luas bahwa
Huck Finn m enolong seorang negro m elarikan diri! Rasanya m alu
yang kutanggung akan lebih berat daripada bila aku harus m enjilat
sepatu orang-orang kotaku. Begitulah kebiasaan dunia, seseorang
berbuat sesuatu yang m em alukan, dan ia tak ingin m enanggung
akibatnya, berpikir bahwa selam a ia bisa bersem bunyi m aka
ia tak usah malu. Tepat seperti keadaanku. Makin kupikirkan
m akin kurasa hati nuraniku m enyiksa, m akin nyata betapa jahat,
tak tahu malu dan keras kepala aku ini. Dan seketika aku sadar
bahwa ini sem ua adalah tam paran keras dari Yang Maha Kuasa,
yang selalu m em perhatikan segala tingkah laku m akhluknya,
sebagai hukuman atas perbuatanku mencuri budak seorang
wanita tua yang tak pernah m enggangguku. Inilah bukti bahwa
Dia yang selalu waspada tak akan m em perkenankan segala
kejahatan berlangsung. Mengingat ini sem ua, lem as rasanya
seluruh tubuhku. Aku begitu ketakutan. Kucoba m enghibur diri
280 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka dengan berkata bahwa memang aku telah salah didik dari semula,
jadi bukan aku yang harus m em ikul segala tanggung jawab, tetapi
sesuatu di hatiku selalu m em bantah ‘Kau punya kesem patan
untuk belajar di Sekolah Minggu, dan bila kau belajar dengan baik
pasti kau tahu bahwa hadiah untuk perbuatanmu ini adalah api
yang abadi!’
Aku gem etar. Ham pir kuputuskan untuk berdoa, untuk
m encoba apakah aku bisa m engubah diriku sendiri. Aku berlutut.
Tapi tak sepatah kata pun keluar dari m ulutku. Mengapa? Karena
aku tahu, tak guna untuk m enyem bunyikan sesuatu dari Dia. Dan
juga dariku. Aku tahu betul m engapa doaku tak bisa keluar. Sebab
hatiku bercabang. Aku berpura-pura m elepaskan diri dari dosa,
tetapi jauh di dalam hati kusim pan suatu dosa yang paling besar.
Aku m encoba m em buat m ulutku m engatakan aku akan berjalan
di jalan yang benar, berkirim surat pada pem ilik J im dan m enga-
takan di m ana ia berada. Kutulis surat itu. Kem udian terkenang
aku betapa baik sikap J im terhadapku, dan saat-saat bahaya yang
kami alami berdua. Ia selalu memanggilku dengan kata-kata kasih
sayang, selalu berbuat apa saja yang bisa m enyenangkan hatiku;
akhirnya terkenang olehku waktu aku m engatakan pada dua
orang yang m endekati rakit, bahwa di rakit ada penyakit cacar.
Betapa gem biranya J im waktu itu, dikatakannya bahwa akulah
sahabatnya yang terbaik, satu-satunya sahabat di dunia ini, dan
tepat saat itu terpandang olehku surat yang baru saja ditulis.
Ham pir saja. Kuam bil kertas itu, kubaca sekali lagi. Tanganku
gemetar, sebab aku harus menentukan antara dua pilihan,
kutahan itu. Aku pelajari baik-baik kedua pilihan tersebut, sam bil
m enahan napas, kem udian aku berkata, “Baiklah kalau begitu,
aku akan pergi ke neraka!”
Kurobek surat tersebut. Pikiran jahat, dan kata-kata jahat,
tapi sudah terlanjur kuucapkan. Tak akan kuubah lagi kata-kata
itu, tak akan kupikirkan lagi apakah aku akan menjadi anak
Petualangan Huckleberry Finn 281
http://facebook.com/indonesiapustaka baik. Kukosongkan pikiran sem acam itu dari otakku. Aku akan
kem bali ke jalan yang jahat, tak ada pilihan lain, sebab begitulah
aku dibesarkan. Untuk memulai lagi, aku akan mencuri J im dari
perbudakan lagi. Bila ada pikiran yang lebih jahat lagi, pasti akan
kukerjakan pula, sebab kupikir kini tak usah kepalang tanggung,
kalau m au jadi nakal, harus yang paling nakal pula.
Aku m em ikirkan jalan untuk m encuri J im . Beberapa cara
kutinjau, sam pai akhirnya kudapat suatu cara yang agaknya tepat.
Aku m encari-cari pulau hutan di sebelah hilir. Aku m enunggu
sam pai cukup gelap, untuk m enghanyutkan rakitku ke pulau
itu. Kusem bunyikan rakit sesam painya di sana, dan aku tidur.
Aku bangun lagi sebelum fajar m enyingsing. Setelah sarapan
kukenakan pakaianku yang baru, pakaian lainnya kubungkus
dengan kain. Aku naik perahu m enuju pantai, m endarat di bawah
tem pat yang kukirakan tanah m ilik Phelps. Kusem bunyikan
bungkusan pakaianku di hutan. Kuisi perahuku dengan batu
dan kutenggelam kan di tem pat yang bisa kutem ui kem bali
bila kuperlukan, kira-kira seperempat mil di sebelah hilir
penggergajian kayu yang berm esin uap di tepi sungai itu.
Aku pergi ke jalan, m enyusuri jalan itu hingga kulihat sebuah
papan nam a yang berbunyi ‘Penggergajian Phelps’. Kem udian
kulihat rumah-rumah pertanian di tanah Phelps itu, dua atau
tiga ratus yard dari tem pat itu. Kupasang m ataku baik-baik. Tak
tampak seorang manusia pun di tanah pertanian itu, walaupun
kini hari telah siang. Tapi malah kebetulan, sebab saat itu aku
tak ingin dilihat orang, aku hanya ingin m engetahui letak tanah
pertanian itu. Menurut rencanaku, aku akan masuk ke tanah
pertanian itu dari arah desa, jadi dari hulu. Puas melihat-lihat
di kota kulihat sang pangeran, sedang memakukan selembar
pengum um an untuk pertunjukan ‘Keajaiban Karajaan’ lagi—tiga
kali pertunjukan—seperti dulu. Berani benar m ereka, penipu-
penipu itu! Aku kepergok, tak ada waktu untuk m enyingkir
282 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka lagi. Sang pangeran tam pak terkejut, berkata, “Halo! Dari m ana
kau datang?” kem udian dengan gem bira ia bertanya, “Di m ana
rakitnya? Kau sem bunyikan di tem pat yang baik?”
“He, aku ingin bertanya tentang rakit itu, Yang Mulia.”
“Kau pikir tahukah aku di m ana rakit itu?” kini ia tak tam pak
gem bira lagi. “Apa yang m em buatm u berpikir begitu?”
“Waktu kem arin kulihat sang raja m abuk di kedai itu,
kupikir akan lama sekali untuk menunggu hingga ia sadar.
Untuk menghabiskan waktu aku berkeliaran di kota. Seseorang
m enjanjikanku sepuluh sen untuk m endayungkan perahunya
ke seberang sungai dan kem balinya m em bawa seekor biri-biri.
Aku setuju, dan ikut orang itu. Waktu kam i tarik kam bing itu ke
dalam perahu, aku m enarik dan orang itu m endorong, tali yang
kupegang lepas, kambing itu lari. Terpaksa harus kami kejar
sam pai lelah, sebab kam i tak m em bawa anjing. Baru tertangkap
setelah hari gelap, kami bawa ke seberang dan aku kembali ke
rakit. Waktu kulihat rakit tak ada, aku berpikir ‘m ereka dalam
bahaya, dan terpaksa pergi, dan m ereka m em bawa negroku,
satu-satunya negro yang kupunyai di dunia ini. Kini aku di negeri
asing, tak punya harta m ilik lagi, tak punya pekerjaan, m aka
terpaksa aku m enangis. Aku tidur di hutan sepanjang m alam . Apa
yang terjadi dengan rakitku? Dan J im yang m alang itu?”
“Aku tak tahu, setidak-tidaknya tentang rakit itu. Si tua tolol
itu berhasil mengadakan suatu penjualan dan ia mendapat uang
empat puluh dolar. Waktu kita temukan dia di kedai, semua
uangnya habis dipakai bertaruh, kecuali yang telah dibelikanya
wiski. Dan ketika ia kubawa pulang larut malam kemarin, kami
tem ui rakit telah tiada, kam i berkata ‘Bajingan cilik itu telah
mencuri rakit kami, meninggalkan kami, dan lari ke hilir sungai.”
“Aku tak akan m eninggalkan negroku, bukan? Negro m ilikku
satu-satunya di dunia, satu-satunya m ilikku!”
Petualangan Huckleberry Finn 283
http://facebook.com/indonesiapustaka “Tak pernah terpikir hal itu oleh kam i. Kam i kira ia juga
negro kam i, ya, begitulah. Kau tahu sendiri kam i telah m enem puh
banyak kesulitan untuknya. J adi waktu kam i lihat rakit sudah
tak ada dan kam i pun tak punya uang, tak ada yang bisa kam i
kerjakan selain m encoba m em ainkan ‘Keajaiban Kerajaan’ lagi.
Dan tenggorokanku sejak kemarin telah sekering tabung mesiu.
Mana uangm u yang sepuluh sen itu? Berikan padaku.”
Aku m asih punya uang yang cukup banyak, jadi kuberikan
yang sepuluh sen itu, tapi kum inta dengan sangat agar ia m em beli
makanan saja, dan memberiku sedikit sebab uang itulah uangku
yang terakhir dan aku tak m akan sejak kem arin. Ia diam saja,
tiba-tiba berpaling padaku dan bertanya, “Kau kira, m ungkinkah
negro itu m em buka rahasia kam i? Kam i kuliti dia bila ia berani
berbuat begitu.”
“Bagaim ana ia berani? Bukankah ia m elarikan diri?”
“Tidak! Si tua tolol itu telah m enjualnya, dan tak m au
m em bagi hasil penjualannya denganku.”
“Menjualnya?” tanyaku. Aku m ulai m enangis. “Ia negroku!
Dan penjualan itu berarti uangku. Di m ana dia? Kem balikan
n egr oku !”
“Kau tak akan bisa m en gam bil kem bali n egrom u itu!
J adi jangan m enangis lagi! Dan, eh, tunggu! Kau pikir kau
akan membuka rahasia kami? Terkutuk, bagaimana aku bisa
m em percayaim u?”
Ia m em andangku dengan pandangan m ata yang sangat
m enakutkanku. Aku terus saja tersedu-sedu dan m enjawab, “Aku
tak ingin m em buka rahasia siapa pun, dan aku tak punya waktu
untuk itu. Aku harus m encari negroku.”
Sang pangeran tampak gelisah, memandang terus dengan
kertas-kertas pengum um an di tangannya, dahinya berkerut.
Akhirnya ia berkata, “Baiklah, kukatakan sesuatu padam u. Kam i
harus berada di kota ini kira-kira tiga hari. Bila aku berjanji
284 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka bahwa baik kau maupun negromu itu tak akan membuka rahasia
kami, akan kuberi tahu di mana bisa kau temui negro itu.”
Aku berjanji. Dan ia berkata, “Seorang petani bernam a Silas
Ph—” ia tertegun. Kukira tadinya ia akan m engatakan hal yang
sebenarnya, nam un agaknya pikirannya berubah. J adi ia tak
m em percayaiku, ia ingin agar aku tak berada di tem pat itu paling
sedikit untuk tiga hari. Segera ia m eneruskan kata-katanya,
”Yang m em belinya bernam a Abram Foster, Abram G. Foster, ia
tinggal em pat puluh m il di pedalam an, di jalan yang m enuju ke
Lafayette.”
“Baiklah. Aku akan bisa m encapai tem pat itu dengan berjalan
selam a tiga hari. Aku akan berangkat nanti sore.”
“Tidak, berangkatlah sekarang juga. Dan jangan m em buang-
buang waktu lagi, atau mengoceh di sepanjang jalan. Tutup
mulutmu erat-erat dan terus saja berjalan. Dengan begitu kau tak
akan dapat kesulitan dari kami. Dengar?”
Itulah perintah yang sudah lam a kunanti-nantikan. Aku ingin
bebas untuk menjalankan rencanaku.
“Cepat pergi!” katanya. “Bisa kau katakan apa saja pada Tuan
Foster. Mungkin ia bisa percaya bahwa kaulah pem ilik J im —ada
orang tolol yang tak m em butuhkan surat-surat sah—sedikitnya
begitulah yang kudengar tentang kota-kota di Selatan ini. Katakan
padanya bahwa pengum um an dan hadiah tentang J im hanyalah
palsu, m ungkin ia bisa percaya bila kau katakan alasannya.
Pergilah kini, katakan apa saja, tapi jangan kau buka mulutmu
antara tempat ini dan tempat tujuanmu.”
Aku berangkat, ke arah pedalam an. Aku m erasa bahwa sang
pangeran terus m em perhatikanku. Tapi aku tahu akhirnya ia
akan lelah. Aku terus berjalan di jalan yang lurus itu sam pai kira-
kira satu mil, kemudian berhenti dan berjalan kembali dengan
lewat hutan ke arah tem pat pertanian keluarga Phelps. Kukira
Petualangan Huckleberry Finn 285
paling baik bila rencanaku kukerjakan sekarang juga, sebelum
m ulut J im terbuka. Aku tak ingin J im m em buka rahasia sebelum
sang raja dan sang pangeran sem pat m eloloskan diri. Aku tak
ingin mendapat kesulitan dari orang-orang macam mereka itu.
Aku ingin sekali bebas dari m ereka.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka AKU MENDAPAT NAMA BARU
RUMAH PERUSAHAAN pertanian itu sangat sunyi bagaikan
suasana di hari Minggu, hawanya panas, m atahari terik. Sem ua
pekerja telah pergi ke ladang. Terdengar semacam suara kumbang
m endengung, yang m em buat suasana seakan-akan sem ua orang
di situ telah m ati. Bila ada angin berem bus hingga daun-daun
berdesau, akan kita rasakan suatu suasana seperti suasana
berkabung, sebab kita akan mengira bahwa jiwa orang mati
berbisik-bisik, orang-orang yang telah m ati puluhan tahun, dan
m em bicarakan diri kita. Pada um um nya keadaan sem acam itu
membuat seseorang merasa ingin mati pula.
Pertanian milik Phelps ini seperti pertanian kapas kecil
lainnya, tak ada bedanya. Halam an rum ahnya berpagar kayu,
luasnya dua are. Balok-balok kayu digergaji tidak sam a panjang
dan diatur berderet bersandar pada pagar tersebut, untuk tangga
bila kita ingin melewati pagar atau untuk tempat para wanita
m enopang bila ingin naik kuda. Di halam an yang luas itu di sana-
Petualangan Huckleberry Finn 287
http://facebook.com/indonesiapustaka sini tampak beberapa petak rumput, tapi sebagian besar gundul,
bagaikan sebuah topi tua tengkurap tanpa tepi. Rumah balok
kem bar disatukan, untuk tinggal orang-orang kulit putih. Celah-
celah dindingnya dilapis tanah liat atau sem en kem udian dikapur.
Dapurnya dari balok bulat, dihubungkan ke rum ah dengan
gang lebar yang beratap. Di seberang rum ah pengasap terlihat
berderet tiga buah pondok kayu untuk para budak negro. J auh di
dekat pagar belakang terlihat sebuah pondok lagi. Ada beberapa
bangunan lainnya di seberang halam an. Ada periuk besar untuk
membuat sabun di dekat gubuk kecil tadi. Di dekat pintu dapur
terlihat sebuah bangku yang di atasnya terletak em ber dan
kantung air. Nam pak anjing tidur di sinar m atahari. Beberapa
ekor anjing lainnya tidur di m ana-m ana. Di sudut terdapat tiga
batang pohon naungan, beberapa semak arbei di dekat pagar.
Di luar pagar tampak sebuah kebun, sepetak kebun semangka,
kem udian ladang-ladang kapas, selanjutnya hutan.
Aku m elom pati pagar den gan m en ggun akan tan gga di
pagar belakang, dekat tempat abu, kemudian berjalan ke arah
dapur. Beberapa saat kem udian kudengar suara roda pintalan,
melengking naik turun, membuat aku sangat ketakutan sebab
suara itu membuat suasana begitu seram.
Tapi aku terus saja berjalan, tak punya rencana yang pasti,
m enyerahkan nasib ke tangan Tuhan. Aku percaya bila tiba
waktunya nanti Yang Maha Kuasa akan m enuntutku dengan kata-
kata yang tepat.
Baru saja aku m encapai setengah jalan, anjing-anjing itu
terbangun dan berlari mendekatiku. Tentu saja aku berhenti,
m enghadapi m ereka dan diam tak bergerak. Ributnya m ereka
itu! Dalam seperempat detik saja aku menjadi semacam sumbu
roda-roda yang terbuat dari kum pulan anjing itu. Lim a belas
ekor melingkariku rapat-rapat, leher dan hidung mereka terjulur,
288 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka m elolong. Masih banyak lagi yang datang m endekat, dari setiap
arah anjing-anjing berlarian berterbangan mendatangi.
Seorang wanita negro berlari keluar dapur, membawa
sebatang tongkat penggiling, berteriak, “Pergi! Kau, Can! Kau,
Belan g! Pergi!” Den gan tan gkas ton gkatn ya itu diayun kan ,
m em ukuli anjing anjing itu. Anjing-anjing itu berdengkingan,
lari bertebaran. Sebentar kemudian mereka kembali, menggerak-
gerakkan ekor, m engajak bersahabat denganku. Anjing-anjing
m em ang tak terlalu berbahaya.
Di belakang wanita negro itu muncul seorang anak
negro perempuan dan dua orang anak negro lelaki. Mereka
bergantungan di gaun ibunya, m engintai ke arahku dengan m alu-
malu seperti kebiasaan anak negro. Dari dalam rumah, seorang
wanita kulit putih berlari keluar, mendekat. Ia berumur kira-kira
empat puluh lima atau lima puluh tahun, tak bertopi, membawa
tongkat pem intal. Di belakangnya berlarian anak-anak kulit putih,
berbuat seperti anak-anak negro tadi. Wanita itu tersenyum lebar,
m endekat dan bertanya, “Kau ini, bukan?”
Tanpa kupikir aku m enjawab, “Ya, Nyonya.”
Aku disam butn ya, dipeluk erat-erat. Kedua tan gan ku
dijabatnya, diguncang-guncangkan. Air m atanya m engalir, dan
rasanya ia tak puas-puas m em eluk dan m engguncang diriku,
seraya katanya, “Kau sam a sekali tak m irip ibum u seperti yang
kuduga sem ula, tapi tak apa. Aku sangat gem bira m elihatm u!
J angan takut, aku tak akan m em akanm u! Anak-anak, inilah
sepupum u, Tom . Ayo, katakan selam at datang!”
Tetapi anak-anak itu m alah m enyem bunyikan kepala, dan
memasukkan tangan ke dalam mulut masing-masing serta
bersem bunyi di belakang wanita itu. Maka nyonya itu berkata
lagi, “Lize, cepat, siapkan sarapan yang hangat untuknya juga,
atau mungkin kau sudah sarapan di kapal?”
Petualangan Huckleberry Finn 289
http://facebook.com/indonesiapustaka Aku m enjawab sudah. Ia m engajakku ke rum ah, m enyeret
tanganku, dan anak-anak itu m engikuti. Sesam painya di rum ah,
aku didudukkan di sebuah kursi lipat, ia duduk di bangku
kecil rendah di depan kakiku, memegangi kedua tanganku dan
m em andangiku sepuas-puasnya.
“Kini bisa kupandangi wajahm u dengan puas, oh, betapa aku
telah lam a sekali m erindukanm u. Akhirnya setelah ham pir habis
harapanku, kau datang juga. Kam i telah m enunggu sejak dua hari
yang lalu. Kenapa kau terlam bat? Kapalm u kandas?”
“Ya, Nyonya, kap....”
“J angan panggil aku nyonya, panggil aku Bibi Sally. Di m ana
ka n d a sn ya ?”
Sesaat aku tak tahu apa yang akan kukatakan, sebab aku tak
tahu apakah kapal itu sedang dalam perjalanan ke hilir atau ke
m udik. Tapi aku m engira bahwa kapal yang dim aksud itu sedang
memudik sungai, dari New Orleans. Tapi perkiraan itu tak bisa
menolongku, sebab aku tak tahu nama gosong-gosong pasir
di sebelar hilir kota. Terpaksa harus kubuat suatu nama atau
kukatakan saja aku lupa, atau... aku dapat akal, kataku, “Bukan
karena kandas kam i terlam bat, tetapi karena pecahnya salah satu
silinder uap.”
“Astaga! Ada yang luka?”
“Tidak, Nyonya, hanya seorang negro terbunuh.”
“Masih untung. Kadang-kadang kecelakaan itu m em bawa
korban banyak. Dan tahun yang lalu, di hari Natal, pam anm u naik
kapal dari New Orleans. Kapalnya bernam a Lally Rook, silinder-
nya pecah, m elukai seseorang. Mungkin orang itu kem udian m ati.
Ia seorang Baptist. Pam anm u Silas kenal seseorang di Baton
Rouge dan kenal akan keluarga orang itu. Ya, aku ingat sekarang,
orang itu m em ang m ati. Lukanya m em busuk. Dipotong, tapi tak
m enolong nyawanya. Ya, lukanya m em busuk. Seluruh tubuhnya
jadi biru, ia m ati dengan harapan keselam atan yang dijanjikan
290 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka Tuhan. Hebat sekali tubuhnya waktu m ati itu. Pam anm u setiap
hari pergi ke kota untuk menjemputmu. Saat ini ia juga pergi ke
sana, sudah sejam yang lalu. Sebentar lagi ia akan tiba kem bali.
Mungkin kau bertem u dengannya di jalan, seorang lelaki agak tua
d en ga n ....”
“Tidak aku tak m elihat siapa pun, Bibi Sally. Kapal berlabuh
tepat pada saat m atahari terbit. Kutinggalkan pakaian di perahu
dermaga dan aku berjalan-jalan ke kota serta ke daerah pedalaman
untuk menghabiskan waktu dan agar tak terlalu pagi sampai
kemari. J adi aku kemari lewat jalan balakang.”
“Kepada siapa kau berikan barang-barangm u?”
“Tak seorang pun.”
“Wah, Nak, pasti dicuri orang nanti.”
“Tak m ungkin, kusem bunyikan dengan sangat baik.”
“Mengapa sepagi itu kau sudah dapat sarapan?”
Bahaya, pikirku, tapi kujawab saja, “Kapten kapal m elihat aku
berdiri seorang diri, disuruhnya aku m akan dulu sebelum pergi ke
darat. Aku diberinya m akan di ruang m akan para perwira.”
Aku begitu gelisah hingga tak bisa m endengarkan dengan
baik. Selam a itu pikiranku tertuju pada anak-anak yang ada di
situ. Bila saja aku bisa m em bawa m ereka m enyingkir sebentar
untuk kutanyai siapa sebenarnya aku ini, m ungkin akan sedikit
lega hatiku. Tapi aku sama sekali tak dapat kesempatan. Segera
juga nyonya itu m em buat keringat dinginku berpancaran, “Tapi
kita sudah terlalu jauh m enyim pang. Kau sam a sekali belum
berkata apa-apa tentang Sis, atau keluarga yang lain. Kini biarlah
aku yang tutup m ulut dan kau yang berbicara, ceritakan sem uanya
saja, ceritakan tentang m ereka sem ua, setiap orang. Ceritakan
bagaim ana keadaan m ereka, apa yang m ereka kerjakan kini, apa
yang m ereka inginkan agar kau ceritakan padaku dan sem ua saja
yang terpikir olehm u.”
Aku betul-betul tersudut, sam a sekali tak bisa bergerak.
Sam pai saat ini Yang Maha Kuasa telah m endam pingiku, tapi