The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by purinugroho77, 2022-03-07 01:30:15

Petualangan Huckleberry Finn

Petualangan Huckleberry Finn

Petualangan Huckleberry Finn 191

http://facebook.com/indonesiapustaka orang lain, tak lebih. Mengapa anggota pengadilan kalian tak
berani menggantung seorang pembunuh? Sebab mereka takut
kalau-kalau kawan dari orang yang digantung itu akan m enem bak
m ereka dari belakang dalam kegelapan yang m em ang pasti
akan terjadi. Karena itu selam anya pengadilan m em bebaskan
pem bunuh. Dan pada m alam harinya seorang jantan dengan
diikuti oleh seratus penakut bertopeng, m engam bil orang yang
dibebaskan oleh pengadilan itu untuk digantung. Kesalahan
kalian kali ini ialah, kalian tidak diiringi oleh seorang yang betul-
betul lelaki, betul-betul jantan. Dan juga kalian tidak datang di
hari gelap dan lupa m em bawa topeng. Kalian telah m em bawa
separuh lelaki itu, Buck Harkness itu, dan bila ia tak m engajak
kalian, kalian pasti sudah lari m engepit ekor! Sebenarnya kalian
tak ingin datang kemari. Rata-rata orang takut akan kesulitan dan
bencana. Kalian tak inginkan kesulitan dan bencana. Tapi bila
seorang banci seperti Buck Harkness itu berteriak ‘Gantung dia!
Gantung dia!’ kalian takut untuk m undur, takut kalau terbuka
kedok kalian sebagai pengecut. Maka kalian pun membalas
teriakan itu, dengan berpegang pada jas orang. Yang paling
harus dikasihani di dunia ini adalah suatu gerombolan liar,
seperti juga sebuah pasukan yang juga m enyerupai gerom bolan
liar. Gerombolan liar itu tak bertarung dengan keberanian hati
masing-masing, tetapi dengan keberanian karena mereka terdiri
dari banyak orang. Itu bila suatu pasukan tentara. Dalam suatu
gerombolan liar seperti kalian, tanpa seorang lelaki sebagai
pem im pin, keadaannya betul-betul kasihan! Kini, apa yang harus
kalian kerjakan adalah, gulung ekor kalian, jepitkan di antara
kaki, dan pulanglah, bersem bunyilah dalam lubang-lubang
sarang kalian. Bila kalian akan diadakan penggantungan, adakan
di waktu m alam , yang sesuai dengan watak orang daerah Selatan
ini. Datang juga dengan bertopeng, dan suruh seseorang yang
betul-betul lelaki untuk m em im pin kalian. Sekarang, pergi! Bawa

192 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka juga banci-banci kalian bersam am u!” Sherburn m engangkat
senjatanya, m enyiapkan picunya.

Serentak sem ua orang m undur dan buyar, bertebaran ke
segala arah. Buck Harness juga ikut pergi, tam pak m alu-m alu.
Bila aku m au, aku berani tinggal terus di tem pat itu. Tapi aku kira
tak ada gunanya, jadi aku pun ikut pergi.

Aku pergi ke tem pat sirkus. Mondar-m adir di bagian belakang
sam pai penjaganya lengah. Kem udian aku m enyeruak m asuk
lewat bagian bawah tenda. Aku m asih m em iliki uang dua puluh
dolar emas dan beberapa dolar lagi, tapi kukira lebih baik bila
uang itu aku simpan saja, sebab kita tak tahu kapan kita sangat
m em butuhkan uang nanti, apalagi di negeri asing ini. Kita harus
hati-hati. Bukan aku tak m au m engeluarkan uang untuk m elihat
sirkus, tapi bila masih ada jalan lain untuk apa membuang-buang
u a n g.

Sirkus itu betul-betul hebat. Tak ada yang m engalahkan
waktu semua penunggang kuda masuk ke dalam lapangan
berdua-dua, pria dan wanita berpasangan. Para pria hanya
memakai celana dan baju dalam, tanpa sepatu tanpa sanggurdi,
tangannya diletakkan di atas paha, kelihatannya tak sedikit pun
m erasakan kesukaran dalam m engendarai kuda. Kira-kira ada
dua puluh orang pria. Wanitanya berkulit segar, sem ua cantik-
cantik sekali bagaikan sekum pulan ratu, pakaiannya berharga
jutaan dolar, penuh dengan kerlipan intan permata. Indah sekali.
Tak pernah aku m elihat keindahan seperti itu. Kem udian satu per
satu mereka berdiri, sementara kuda terus berlari mereka meliuk-
liukkan tubuh, gerakannya lem but dan indah. Para pem ain pria
bertubuh tinggi-tinggi, tegap, tampan, kepala mereka naik turun
mengikuti gerakan kuda. Dan gaun para pemain wanita bagaikan
daun bunga-bunga m awar berkibaran atau payung-payung yang
sangat indah.

Kuda m ereka berlari m akin cepat. Para penunggangnya
menari-nari di atas punggung kuda masing-masing. Mula-mula

Petualangan Huckleberry Finn 193

http://facebook.com/indonesiapustaka m engangkat satu kaki, kem udian ganti kaki yang lain. Kuda berlari
makin cepat. Pelatih berdiri di tengah gelanggang, melecutkan
cam buknya sam bil berseru, “Hai! Hai!” Di belakangnya seorang
badut m elucu. Kini sem ua orang m elepaskan tali kendali kuda
masing-masing. Para penunggang wanita menggenggamkan
tangan, dirapatkan di paha. Para pria bersedekap, sementara
kuda-kuda berpacu bagaikan gila. Dan satu per satu keluar
dari gelanggang, setiap kali membungkuk memberi hormat
dengan gerakan yang indah. Suara tepuk tangan gem uruh
mengguncangkan tenda permainan sirkus itu.

Pertunjukan-pertunjukan lainnya tak kalah hebat. Dan
badutnya betul-betul sangat lucu. Apa saja yang dikatakan pelatih
padanya selalu dijawabnya cepat, tepat, dan lucu. Bagaim ana
ia m em ikirkan begitu banyak jawaban yang tiba-tiba dan tepat,
aku tak bisa membuat jawaban seperti itu. Mendadak dari
tempat penonton muncul seorang pemabuk. Ia ingin naik kuda
juga, katanya ia pun bisa naik kuda seperti para pem ain. Para
petugas sirkus m encoba m enyuruhnya kem bali ke tem patnya,
tapi ia tak mau. Terjadi pertengkaran hingga pertunjukkan
berhenti. Semua penonton jadi kesal, berteriak-teriak memaki
pemabuk itu. Si pemabuk makin marah, ia berteriak-teriak
mengejek. Para penonton mulai marah juga, beberapa orang
lelaki m elom pat turun ke gelanggang sam bil berteriak, “Pukul
dia! Lem par ke luar!” Ribut sekali, beberapa orang wanita m ulai
menjerit. Pemilik sirkus itu mengharap jangan terjadi keributan.
Ia mau memberi kesempatan naik kuda pada si pemabuk asal
saja orang itu berjanji untuk tidak ribut lagi, dan bila ia jatuh
janganlah m enyalahkan orang-orang sirkus. Sem ua penonton
tertawa, berpendapat bahwa keputusan itu m em ang baik. Begitu
pem abuk tadi berada di pelana, kuda yang ditungganginya
m elom pat-lom pat bagaikan gila, dipegang dengan susah payah
oleh dua orang petugas sirkus. Si pemabuk merangkul leher kuda,

194 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka tiap kali kuda itu m elonjak, kedua kakinya terlem par ke udara.
Semua penonton berdiri, berteriak-teriak, tertawa hingga air
m ata bercucuran. Kedua petugas sirkus tadi agaknya kewalahan,
pegangnya lepas, dan kudanya berlari bagaikan anak panah lepas
dari busurnya. Kuda tadi perpacu m engelilingi gelanggang, dengan
si pem abuk bergantung di lehernya, kaki kirinya bergantian
ham pir m enyentuh tanah di kiri atau kanan sisi kuda. Para
penonton bagaikan gila m elihat itu. Bagiku kejadian itu tak lucu
sama sekali, tubuhku gemetar mengkhawatirkan keselamatan
penunggang kuda tolol itu. Tapi akhirnya si pem abuk berhasil
m eraih tali kendali walaupun tubuhnya m asih terjuntai. Dan
tiba-tiba ia melompat berdiri di atas pelana! Sementara itu,
kudanya berlari bagaikan kebakaran ekor. Si penunggang terus
saja berdiri, tak peduli betapa tingkah kudanya, seolah-olah ia tak
pernah m abuk dalam hidupnya dan kem udian m ulai m encopoti
pakaiannya. Ternyata ia m em akai pakaian berlapis-lapis. Ada
kira-kira tujuh belas pasang pakaian dilepaskan dari tubuhnya.
Ketika pakaian-pakaian itu habis tam pak ia bertubuh bagus,
langsing, dengan pakaian ketat yang sangat indah ! Kudanya
makin ganas karena dicambuk dan setelah beberapa lama ia
membungkuk memberi hormat, keluar dari gelanggang, masuk
ke tem pat ganti pakaian. Kem bali tenda besar itu bergetar oleh
jeritan para penonton yang m erasa gem bira dan tertipu.

Tetapi yang tam pak sangat kecewa adalah si pelatih.
Ternyata pem abuk tadi salah seorang anak buahnya! Agaknya
ia m engarang lelucon itu tanpa m em beri tahu siapa pun. Bila
saja aku yang m enjadi pelatih itu, tak bisa kubayangkan m aluku,
diupah seribu dolar pun aku tak akan m erasa gem bira lagi. Aku
tak tahu, m ungkin ada sirkus lain yang lebih indah dari sirkus
yang kutonton itu, tapi bagiku sirkus ini tak ada bandingannya
lagi. Aku berjanji bila kapan berjum pa lagi dengan rom bongan
sirkus ini, aku akan m em bayar ongkos m asuk.

Petualangan Huckleberry Finn 195

http://facebook.com/indonesiapustaka Malam harin ya, giliran kam i m engadakan pertunjukan.
Nam un yang m enonton hanyalah dua belas orang, hasilnya hanya
cukup untuk m enutup biaya. Lagi pula para penonton itu tertawa
terus, hingga sang pangeran m arah. Betapapun, sem ua orang
m eninggalkan tem patnya sebelum pertunjukan selesai, kecuali
seorang anak yang tertidur.

Sang pangeran berkata agaknya orang-orang tolol Arkansas itu
tak bisa m enghargai Shakespeare. Agaknya m ereka m eninginkan
suatu kom edi m urahan. Baiklah, kata sang pangeran selanjutnya,
aku akan memenuhi selera mereka.

Pagi harinya sang pangeran m em beli kertas-kertas pem -
bungkus dan cat hitam . Di tiap kertas yang berukuran besar itu ia
m em buat suatu pengum um an. Kam i m enem pelkan pengum um an
itu di beberapa tempat di desa. Dengan huruf besar-besar tertulis
pada kertas-kertas itu:

DI GEDUNG PENGADILAN!
HANYA UNTUK TIGA MALAM!
Para pem ain sandiwara yang term asyhur di seluruh dunia:

DAVID GARRICK SI MUDA!
DAN

EDMUND KEAN SI TUA!
Anggota perkum pulan sandiwara di

London dan Daratan Eropa,
Mempersembahkan suatu cerita tragedi mengharukan

J ERAPAH SANG RAJ A
atau

KEAJ AIBAN KERAJ AAN!!!
Ongkos masuk 50 sen.

KAUM WANITA DAN ANAK-ANAK
DILARANG KERAS MASUK/ MENONTON.

196 Mark Twain

Baris terakhir itu ditulis dengan huruf-huruf raksasa.
“Nah,” kata sang pangeran waktu m enuliskan baris terakhir
tadi, “bila ini tidak m em buat m ereka terpikat, anggap saja aku tak
pernah m enginjakkan kaki di Arkansas!”

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka KENEKATAN SANG RAJA DAN
SANG PANGERAN

SEPANJ ANG HARI raja dan pangeran am at sibuk, m em persiapkan
panggung, tirai, dan memasang sebaris lilin untuk penerangan
panggung. Dan m alam nya, gedung itu segera penuh sesak dengan
penonton, sem uanya lelaki. Setelah tem pat itu tak dapat m em uat
lagi, sang pangeran menutup pintu, dan masuk ke panggung lewat
jalan belakang. Di depan layar panggung ia berpidato. Mem uji-
m uji lakon yang akan dim ainkannya, m engatakan bahwa lakon
itu adalah lakon yang paling m enyeram kan. J uga ia m em bual
tentang Edm und Kean si Tua, yang akan m em egang peran utam a
dalam lakon tersebut. Akhirnya, ketika sem ua orang sudah sangat
ingin m enyaksikan lakon yang dibualkannya itu, ia m enggulung
layar ke atas. Masuklah sang raja, m erangkak bertingkah bagaikan
kuda. Ia telanjang bulat, seluruh tubuhnya dicat berbagai warna,
garis-garis dan lingkaran-lingkaran, cemerlang seperti pelangi.
Dan, tak usah kukatakan lagi bagaimana ia berdandan, tapi

198 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka betul-betul am at lucu. Para penonton rasanya akan m ati karena
tertawa. Setelah agak lama sang raja bertingkah gila di atas
panggung, ia masuk ke dalam. Para penonton terus saja tertawa
terbahak-bahak, bertepuk tangan, berteriak-teriak sampai sang
raja keluar lagi untuk bertingkah kembali. Dua kali lagi sang raja
terpaksa keluar untuk memenuhi permintaan para penonton
yang terus saja tertawa. Mem ang, rasanya seekor sapi pun akan
tertawa melihat tingkah laku bajingan tua itu.

Kem udian sang pangeran m enurunkan layar, m em bungkuk
pada para penonton, dan berkata bahwa tragedi itu akan
dipertontonkan dua malam lagi. Terpaksa, sebab akan diper-
tunjukkan di London dan karcis-karcisnya telah terjual habis. Ia
m em bungkuk lagi dan berkata agaknya pertunjukkannya telah
m em buat para penonton cukup terhibur m enyaksikan, karena
itu ia mohon agar semua mengatakan tentang pertunjukan tadi
pada yang belum m enonton, dan m enganjurkan agar m ereka juga
menonton.

Dua puluh suara bertanya, “Apa? Apakah pertunjukan sudah
habis? Hanya itu tadi?”

Sang pangeran berkata, “Ya.” Keributan terjadi. Setiap orang
berseru dengan m arah, “Kita tertipu!” Mereka sudah bergerak ke
panggung untuk merenggut para dramawan itu. Tetapi seorang
bertubuh besar, tampan, melompat berdiri ke atas sebuah bangku
dan berteriak, “Tunggu! Dengar kataku, Tuan-tuan!” Orang-
orang diam , untuk m endengarkan. “Kita telah tertipu, m em ang,
tertipu dengan licik sekali. Tapi kita tak ingin menjadi bahan
tertawaan seluruh kota karenanya. Bila orang lain tahu kejadian
ini, seumur hidup kita akan menjadi ejekan semua orang, karena
ketololan kita hingga sampai tertipu. J adi kita harus menutup
mulut tentang hal ini. Harus kita puji pertunjukan ini sehingga
orang-orang lain pun tertipu juga. J adi setelah itu seluruh isi
kota m engalam i nasib yang sam a. Sam a-sam a tolol dan tertipu.

Petualangan Huckleberry Finn 199

http://facebook.com/indonesiapustaka Bukankah betul kataku ini?” (“Betul! Betul! Tuan Hakim benar!”
teriak sem ua orang.) “Nah, kalau begitu, jangan katakan pada
siapa pun bahwa kita telah tertipu. Pulanglah. Nasihatkan pada
sem ua orang agar m enonton pertunjukan ini!”

Hari berikutnya, yang tedengar di kota itu hanyalah tentang
kebagusan pertunjukan sang pangeran. Malam nya, ruangan
penuh sesak lagi, dan kami berhasil menipu para penonton
seperti m alam sebelum nya. Selesai pertunjukan kam i pulang ke
rakit, untuk m akan m alam . Kira-kira tengah m alam , J im dan
aku diperintahkan m em bawa rakit itu ke tengah, berhanyut dan
berlabuh lagi kira-kira dua mil di bawah kota.

Malam ketiga, ruang itu penuh sesak lagi, dan yang datang
bukan orang-orang baru, tapi orang-orang yang telah nonton
pada m alam -m alam sebelum nya. Aku dan sang pangeran berdiri
dekat pintu, m enarik ongkos m asuk. Kulihat orang-orang yang
m asuk sem uanya m em bawa sesuatu, dalam kantung baju atau
di balik jaket m asing-m asing. Dan benda-benda yang dibawa
mereka itu bukanlah wangi-wangian, aku tahu pasti, jauh dari itu.
Hidungku m encium banyak sekali telur busuk, kubis busuk, dan
yang sem acam itu. Dan aku berani bertaruh, pasti ada enam puluh
empat bangkai kucing lewat masuk. Sebentar aku masuk ke ruang
campur aduk. Waktu ruang sudah tak bisa memuat orang lagi,
sang pangeran mengupah seorang pemuda untuk menjaga pintu,
kemudian ia pergi ke bagian belakang gedung, ke pintu masuk
panggung. Aku m engikutinya. Tetapi begitu kam i m em belok di
sudut, dan berada dalam kegelapan, ia berkata, “Kini berjalanlah
cepat-cepat hingga kau lewati semua rumah, kemudian larilah ke
rakit seolah-olah dikejar hantu!”

Aku m enuruti perintah itu. Ia pun berbuat serupa. Kam i
berdua tiba di rakit pada saat yang sam a. Dan kurang dari dua
detik, rakit kami telah meluncur ke hilir, tanpa memasang lentera,
makin lama makin ke tengah sungai, tak seorang pun berkata-

200 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka kata. Kukira sang raja akan repot sekali sendirian m enghadapi
para penonton itu, tapi ternyata tidak. Segera juga ia m erangkak
keluar dari gubuk dan bertanya, “Bagaim ana hasilnya m alam ini,
P a n ger a n ?”

Ternyata ia sam a sekali tidak pergi ke kota.
Kam i sam a sekali tak m em asang lentera sebelum jarak
sepuluh mil kami lampaui. Setelah itu, lampu kami pasang, dan
kami makan malam. Sang raja dan sang pangeran tak henti-
hentinya tertawa, m engingat bagaim ana m ereka m em perdaya
orang banyak itu. Sang pangeran berkata:
“Sudah kukira, penonton rom bongan pertam a akan m enutup
mulut. Mereka pasti akan membiarkan dulu orang-orang lain
tertipu juga. Tolol sekali. Aku pun tahu juga bahwa pada m alam
ketiganya m ereka akan m em balas, m engira bahwa m alam itu tiba
giliran mereka. Memang malam itu giliran mereka. Ingin sekali
aku mengetahui bagaimana mereka mempergunakan kesempatan
itu. Agaknya m ereka akan berpikir, banyak sekali perbekalan
yang m ereka bawa.”
Kedua bajingan itu berhasil m engum pulkan em pat ratus
enam puluh lim a dolar dalam tiga m alam . Belum pernah kulihat
orang m engum pulkan uang sebanyak itu dalam waktu yang
begitu singkat.
Waktu sang raja dan sang pangeran telah mendengkur, J im
bertanya padaku, “Apakah kau tak m erasa heran akan tingkah
laku kedua bangsawan tinggi itu, Huck?”
“Tidak,” jawabku.
“Mengapa tidak, Huck?”
“Sebab m em ang begitulah para bangsawan. Mereka selalu
kegila -gila a n .”
“Tetapi Huck, raja dan pangeran ini kerjanya hanyalah
m enipu orang saja. Mereka hanyalah penipu belaka.”
“Itulah yang ingin kukatakan. Sem ua raja hanyalah bajingan-
bajingan belaka, setidak-tidaknya sejauh yang aku ingat.”

Petualangan Huckleberry Finn 201

http://facebook.com/indonesiapustaka “Benarkah dem ikian, Huck?”
“Baca sekali saja tentang raja-raja itu, kau akan percaya.
Misalnya Henry VIII. Dibandingkan dengannya, raja kita ini
hanyalah seorang pengawas Sekolah Minggu saja. Dan lihat saja
Charles II, Louis XIV, Louis XV, dan J am es II. J uga Edward II,
Richard III, dan empat puluhan lagi, di samping raja-raja Saxon
yang m erajalela dalam zam annya. Wah, kau akan heran m elihat
Henry VIII waktu ia sedang berkuasa. Ia m em ang am at kuasa.
Ia kawin setiap hari, dan keesokan harinya dipenggalnya kepala
istrinya itu. Dan dikerjakannya ini sem ua seperti ia m em esan telur
saja. ‘Panggil Nell Gwynn!’ perintahnya. Nell Gwynn m enghadap.
Esok harinya, ‘Penggal kepalanya!’ dan dipenggallah kepala Nell
Gwynn. ‘Panggil J ane Shore!’ katanya. J ane Shore datang. Esok
harinya, ‘Penggal kepalanya,’ dipenggallah kepala J ane Shore.
‘Bunyikan lonceng untuk Rosam un Cantik!” Rosam un Cantik
m en jawab pan ggilan itu. Esok harin ya ‘Pen ggal kepalan ya!’
Dan setiap istrinya diharuskan m enceritakan suatu dongeng
padanya tiap m alam . Dikum pulkannya dongeng-dongeng itu
hingga mencapai jumlah seribu satu dongeng, dijadikan buku
dan diberi judul Buku Hari Kiam at, yang m erupakan suatu judul
yang cocok sekali. Kau sam a sekali tak tahu tingkah laku raja-
raja, J im , aku telah banyak sekali m em baca tentang m ereka.
Kukira kedua orang yang ada pada kita ini, tingkah lakunya boleh
dianggap sangat suci, dibandingkan dengan raja-raja dalam
sejarah. Coba, waktu Henry ingin berperang dengan negara kita,
apa yang diperbuatnya? Apakah ia m em beri surat tantangan
agar kita m endapat kesem patan m enyusun kekuatan? Tidak.
Tiba-tiba saja ia m em buang sem ua teh yang ada di pelabuhan
Boston ke laut, m engum um kan suatu Proklam asi Kem erdekaan,
dan m enantang kita untuk bertem pur terus. Itulah caranya, tak
pernah memberi kesempatan pada siapa pun. Ia menaruh curiga
pada ayahnya, Pangeran Wellington. Nah, apa yang diperbuatnya?

202 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Minta agar ayahnya itu m em bela diri? tidak, dibenam kannya
ayahnya itu ke dalam sebuah tong berisi anggur, persis kalau
kita m em benam kan kucing di sungai. Bila ada orang m enaruh
uang di dekatnya, apa yang dikerjakannya? Dicopetnya uang
tersebut. Bila ia dibayar untuk m engerjakan sesuatu, dan orang
yang m em bayar itu tak m enungguinya, apa yang dikerjakannya?
Ia tak akan mengerjakan pekerjaan tadi. Setiap kali ia membuka
m ulut, yang keluar hanyalah dusta sem ata. Itulah Henry. Bila
yang ada pada kita Henry, dia pasti m enipu penduduk kota itu
lebih buruk lagi. Aku tak berm aksud m engatakan bahwa raja kita
ini bagaikan anak dom ba yang suci, m aksudnya m ereka bukanlah
apa-apa bila dibandingkan dengan bajingan besar m acam Henry.
Kesim pulannya, seorang raja adalah raja, tak akan bisa berubah
lagi, jadi kita harus maklum. Mereka semua berhati jahat.
Memang begitulah bakat mereka.”

“Tapi yang dua ini busuk sekali, Huck, tingkah lakunya.”
“Mereka sem ua begitu, J im . Kita tak bisa m em buat seorang
raja berbau wangi, begitu dikatakan dalam sejarah.”
“Kalau sang pangeran, kadang-kadang baik juga hatinya.”
“Seorang pangeran m em ang berbeda, tapi tak besar bedanya.
Pangeran kita ini m em ang terlalu lunak. Bila seorang pangeran
m abuk, tak bisa kita bedakan yang m ana pangeran yang m ana
raja.”
“Betapapun aku tak ingin m enerim a keluarga bangsawan
lagi, Huck, ini saja sudah hampir tak tahan aku.”
“Aku pun begitu juga, J im . Tapi apa boleh buat, m ereka telah
jadi tanggungan kita, jadi kita harus selalu ingat bahwa mereka
raja dan pangeran, kita harus m aklum akan segala tindakannya.
Alangkah senangnya bila kita berada di suatu negara yang sam a
sekali tak punya raja.”
Apa gunanya m em beri tahu J im bahwa kedua orang ini sebe-
tulnya bukan raja dan pangeran yang sebenarnya? Tak akan ada

Petualangan Huckleberry Finn 203

http://facebook.com/indonesiapustaka faedahnya. Lagi pula m ereka m em ang tak beda dengan raja dan
pangeran sebenarnya.

Aku tidur. J im tak m em bangunkanku waktu giliranku berjaga
tiba. Ia sering begitu. Waktu aku bangun tepat sebelum matahari
terbit, ia m asih duduk di tem patnya, kepala di antara lutut,
m engeluh dan bersedih. Aku pura-pura tidak tahu. Aku tahu, ia
m em ikirkan istri dan anak-anaknya, jauh di sebelah hulu sungai.
Ia rindu pada mereka, belum pernah ia mengadakan perjalanan
sedem ikian jauh. Dan aku yakin seperti orang kulit putih, J im
pun m encintai keluarganya. Mem ang tam paknya tak m asuk akal,
tapi begitulah. Sering di waktu m alam bila dikiranya aku tidur
ia berkeluh kesah, “Elizabeth-ku sayang, J honny kecilku yang
m alang! Rasanya tak tertahan lagi bagiku. Mungkin kita tak akan
berjum pa lagi, tak akan lagi!” J im m em ang seorang negro yang
sangat baik.

Tapi kali ini entah bagaim an aku berhasil m engajaknya
berbicara tentang istri dan anak-anaknya. Dan akhirnya ia
berkata, “Apa yang m em buatku sedih kali ini, tadi kudengar suara
seperti seseorang sedang memukul, menampar, di rumah di tepi
pantai itu. Aku jadi teringat betapa kejinya aku m em perlakukan
Elizabeth, anakku yang m asih kecil. Waktu itu ia sedang berum ur
em pat tahun, baru saja sem buh dari m alaria yang am at berat.
Suatu hari ia berdiri dekatku, dan aku berkata padanya, ‘Tutup
pintu!’, tapi ia sam a sekali tak beranjak dari tem patnya, m alah
tersenyum -senyum padaku. Aku jadi m arah, kubentak ia dengan
suara keras, ‘Tak dengarkah kau? Tutup pintu!’Ia m asih saja diam ,
terus tersenyum . Marahku tak tertahan lagi, sam bil m em bentak
‘Kuhajar kau, tak m enuruti kataku!’ kutam par sisi kepalanya
hingga ia jatuh terguling. Setelah itu aku pergi ke kam ar yang
lain. Waktu aku kembali lagi setelah sepuluh menit, kulihat pintu
masih saja terbuka, dan anak itu duduk di depan pintu tersebut,
m enundukkan kepala, bersedih, pipinya basah oleh air m ata.

204 Mark Twain

Betapa m arahnya aku. Kudekati anak itu, akan kuhajar, tapi tepat
saat itu—pintu itu m enutup ke arah dalam —tepat saat itu angin
bertiup keras, menghempaskan pintu hingga tertutup dengan
keras di belakang Elizabeth. Suaranya keras sekali, tapi anak itu
bergerak pun tidak! Sesak napasku. Dan aku... aku... oh, entah
apa yang kurasakan waktu itu. Diam -diam aku m asuk, m engam bil
jalan berkeliling hingga aku sampai ke belakang pintu di belakang
Elizabeth. Tubuhku gem etar. Kubuka pintu perlahan, kujulurkan
kepalaku tanpa suara di belakang anak itu, dan mendadak
kubentak dia ‘Baaa!’ sekeras aku bisa. Tapi, ia tak bergerak sam a
sekali! Oh, Huck, seketika itu juga aku menangis, kupeluk dia dan
aku berkata. ‘Oh, anakku sayang, anakku m alang! Sem oga Tuhan
Yang Maha Kuasa m engam puni si J im tua ini, sebab ia tak akan
bisa m engam puni dirinya sendiri, selam a ia hidup!’ Oh, ternyata
ia telah jadi bisu tuli, Huck, karena penyakit m alaria, jadi bisu
tuli! Dan aku m alah m enghajarnya!”

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka SANG RAJA JADI PENDETA

H ARI BERIKUTNYA, m en jelan g m alam , kam i berlabuh di
sebuah gosong yang penuh sem ak dedalu di tengah sungai. Di
kedua sisi sungai terdapat desa. Sang pangeran dan sang raja
merundingkan siasat untuk menipu orang-orang kedua desa itu.
J im berkata pada sang pangeran, minta agar dia jangan terlalu
lam a ditinggalkan, sebab tak tertahankan baginya lam a-lam a
sendirian di rakit dengan kaki tangan terikat. Memang, setiap
kali J im kami tinggalkan, kami ikat dia, untuk berjaga-jaga
kalau ada seseorang m endatangi rakit kam i. Kalau ia tak terikat,
m aka orang akan m enyangka bahwa ia bukanlah seorang negro
pelarian yang sudah tertangkap. Sang pangeran berkata m em ang
tak enak diikat sepanjang hari, ia berjanji untuk memikirkan cara
pem ecahan kesulitan J im itu yang terbaik.

Sang pangeran ternyata m em ang sangat cerdik, sebentar saja
telah ditem ukannya cara itu. J im disuruhnya m em akai pakaian
sandiwara Raja Lear—sebuah gaun panjang terbuat dari kain m ori

206 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka layar, disuruhnya juga J im m em akai ram but palsu putih panjang
lengkap dengan jenggot berjulai, keduanya dibuat dari ram but
kuda. Dengan alat rias sandiwaranya, sang pangeran m engecat
muka, tangan, telinga, dan leher J im dengan warna biru. Setelah
selesai, J im tam pak seperti orang yang telah terbenam selam a
sem bilan hari. Mengerikan sekali tam paknya. Sang pangeran
kemudian menulis di sebuah papan:

ORANG ARAB SAKIT!!!
TAK BERBAHAYA BILA TAK KUMAT GILA.

Papan itu dipakukan pada sebatang tongkat, dan didirikan
em pat atau lim a kaki di depan gubuk. J im m erasa puas. Baginya
itu lebih baik daripada berbaring terikat tiap hari, dan gemetar
tiap ada suatu suara. Sang pangeran berkata kini J im boleh
berbuat apa saja bila ditinggal. Bila seseorang datang m endekat,
J im hanya harus m elom pat keluar dari gubuk, berteriak sekali
atau bertingkah bagaikan binatang buas. Menurut perkiraan
sang pangeran pastilah pendatang itu akan lari ketakutan dan tak
berani m endekati lagi. Aku pun m engira dem ikian. Tapi kiraku
orang itu tak akan menunggu sampai J im berteriak. J im bukan
saja kelihatan seperti orang mati, lebih dari itu.

Kedua bangsat itu ingin m encoba m em ainkan ‘Keajaiban
Kerajaan’ lagi, sebab sandiwara itu banyak m endatangkan uang.
Tapi m ereka khawatir kalau-kalau beritanya telah sam pai ke
tem pat itu. Lam a m ereka berunding, tak m enem ukan cara lain
untuk m endapatkan uang. Akhirn ya sang pangeran berkata
ia akan pergi ke desa itu di tepi sungai yang term asuk daerah
Arkansas untuk m elihat-lihat dulu sam bil m encari akal. Sang
raja pun berkata ia akan mengunjungi desa lain, tanpa rencana,
m enyerahkan nasib pada takdir untuk m enuntunnya ke suatu
sum ber keuntungan, dengan jalan penipuan m estinya, pikirku.
Pada pemberhentian terakhir sebelum ini, kami semua telah

Petualangan Huckleberry Finn 207

http://facebook.com/indonesiapustaka m em beli baju baru. Kini sang raja m em akai pakaian barunya,
dan aku pun disuruhnya berbuat serupa. Aku terpaksa m enuruti
perintah itu. Pakaian sang raja serba hitam, dalam pakaian itu
ia tam pak tam pan dan gagah. Belum pernah aku m enyaksikan
betapa pakaian bisa m engubah orang. Sebelum nya ia tam pak
seperti bangsat tua yang paling kum al. Tapi kini bila ia m engangkat
topi kulit beaver putihnya, m em bungkuk m em beri horm at, ia
tam pak agung dan suci, bagaikan Nabi Nuh yang baru turun
dari perahunya. J im m em bersihkan perahu, aku m enyiapkan
dayungku. Di sebelah hilir, kira-kira tiga m il di atas desa yang
akan kami tuju, sebuah kapal uap besar sedang berlabuh. Sudah
berada di tem pat itu kira-kira dua jam yang lalu, m em uat barang.
Kata sang raja, “Melihat caraku berpakaian, pastilah aku datang
dari St. Louis atau Cincinnati, atau kota besar lainnya. Karena
itu, dayunglah ke arah kapal uap itu, Huckleberry, kita akan naik
kapal itu ke desa.”

Aku tak usah diperintah dua kali untuk naik kapal uap.
Perahu kudayung hingga m encapai tepi sungai kira-kira setengah
m il di atas desa, setelah itu aku berdayung ke arah udik di
bagian arus yang tenang. Tak berapa lam a kam i m elihat seorang
pem uda desa yang tam paknya bodoh, duduk di batang kayu
rebah m engusap keringat di m ukanya. Hari m em ang panas, dan
pem uda itu agaknya baru saja beristirahat dari m enjinjing dua
buah koper kain besar yang terletak di dekatnya.

“Belokkan ke darat,” perintah sang raja. Perintah itu ku-
laksanakan. Sang raja bertanya pada pem uda tadi, “Kau m au ke
mana, anak muda?”

“Ke pelabuhan kapal uap. Aku akan pergi ke Orleans.”
“Ayo, naik,” ajak sang raja. “Oh, tunggu, biar pelayanku ini
menolongmu mengangkat koper-koper itu. Turunlah ke darat dan
bantu tuan itu, Adolphus.” Tanpa diberi tahu aku m engerti bahwa
saat itu nam aku adalah Adolphus.

208 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Perintahnya itu pun kukerjakan. Kem udian kam i bertiga
berangkat m em udik sungai. Anak m uda itu kelihatan sangat
berterim a kasih, katanya berat sekali m em bawa barang-barang
dalam hawa sepanas itu. Ia bertanya ke m ana sang raja akan pergi.
Sang raja berkata ia datang dari atas sungai, mendarat di desa di
seberang sungai pagi tadi. Kini ia akan berkunjung ke seorang
tem an yang berada di sebuah tanah pertanian beberapa m il di
sebelah udik. Anak m uda itu berkata, “Pertam a kali kulihat Tuan,
aku berkata pada diriku sendiri, ‘Itulah Tuan Wilks, tak salah lagi,
ia ham pir datang tepat pada waktunya.’ Tetapi kem udian aku
berkata lagi, ‘Tak m ungkin itu Tuan Wilks, m asakan ia berdayung
ke hulu sungai’ Tuan bukannya dia, bukan?”

“Bukan, nam aku Blodgett. Elexander Blodgett. Tuan Pendeta
Elexander Blodgett lebih tepat, kukira, sebab aku adalah salah
seorang pelayan Tuhan. Betapapun aku ikut m erasa sedih bahwa
Tuan Wilks tak bisa datang tepat waktunya, sebab m ungkin ka-
rena keterlam batannya itu ia akan kehilangan sesuatu. Mudah-
mudahan saja tidak.”

“Mem ang ia tak kehilangan suatu harta karenanya, sebab
harta itu lam bat atau cepat pasti akan diperolehnya. Tetapi
ia tidaklah bisa m enyaksikan kem atian saudaranya, Peter.
Mungkin juga ia tak akan peduli karenanya, tak ada orang yang
bisa m engetahui hal itu dengan tepat, hanya saudaranya tadi,
Peter, sangat ingin m elihatnya lagi sebelum ajalnya sam pai.
Peter m enjelang ajalnya, selam a tiga m inggu, tak lain yang
dipercakapannya kecuali saudaranya itu. Mereka berpisah pada
waktu m asih sesam a kanak-kanak. Begitu juga saudaranya yang
lain, William , yang m enderita cacat bisu-tuli. William berum ur
kira-kira tiga puluh atau tiga puluh lim a tahun. Peter dan George
sajalah yang m eninggalkan tanah kelahirannya dan datang ke
negeri ini. George satu-satunya saudara m ereka yang kawin. Ia

Petualangan Huckleberry Finn 209

http://facebook.com/indonesiapustaka dan istrinya m eninggal dunia tahun lalu. Kini yang m asih hidup
tinggal Harvey dan William s, dan, seperti kataku tadi, m ereka
terlambat datang kemari.”

“Apakah m ereka telah diberi kabar?”
“Oh, ya, sebulan atau dua bulan yang lalu, waktu Peter
pertama kali menderita sakit. Waktu itu Peter mendapat irasat
bahwa kali ini ia tak akan bisa sembuh lagi. Ia telah sangat tua,
anak-anak George terlalu m uda untuk m enem aninya dengan
baik, kecuali Mary J ane si ram but m erah. Agaknya setelah
George dan istrinya m eninggal dunia, Peter m erasa kesepian
dan tak ingin hidup lebih lam a lagi. Keras sekali keinginannya
untuk bertem u kem bali dengan Harvey, dan William juga, sebab
ia term asuk orang yang tak sam pai hati untuk m em buat surat
wasiat. Ia m eninggalkan suatu surat untuk Harvey, dan di surat
itu dikatakannya pada Harvey di m ana ia m enyem bunyikan
uangnya dan bagaim ana ia ingin harta bendanya dibagikan
sehingga sem ua anak gadis George terjam in hidupnya, sebab
George tak m eninggalkan warisan sedikit pun. Hanya surat itulah
yang ditulis oleh Peter.”
“Kenapa kira-kira Harvey belum juga datang? Di m ana ia
t in gga l?”
“Oh, ia tinggal di Inggris, Shefield, jadi pendeta di sana.
Sam a sekali belum pernah ke negeri ini. Agaknya ia tak punya
waktu, lagi pula boleh jadi surat untuknya itu tak sam pai.”
“Kasihan Peter, tak tercapai keinginannya untuk m elihat
kem bali saudara-saudaranya. Kau akan pergi ke Orleans?”
“Ya, tapi itu hanya sebagian saja dari perjalananku. Aku akan
pergi naik kapal laut, hari Rabu depan, ke Rio de J aneiro, ke
rumah pamanku.”
“J auh sekali perjalanan yang akan kau tem puh. Tapi pasti
m enyenangkan, ingin juga aku ikut. Apakah Mary J ane itu yang
tertua? Berapa um ur yang lain?”

210 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka “Mary J ane sem bilan belas, Susan lim a belas. J oanna kira-
kira em pat belas. J oanna itulah yang sering m enyum bangkan
tenaga untuk pekerjaan am al, bibirnya sum bing.”

“Kasihan, dan kini m ereka tak bertem an lagi di dunia yang
kejam ini.”

“H m , tapi keadaan m ereka cukup baik. Peter pun ya
banyak sekali sahabat yang pasti tak akan m em biarkan para
keponakannya itu m enderita. Misalnya saja Hobson, si Pendeta
Baptis. Kem udian Pendeta Lot Hovey. J uga Ben Rucker, Abner
Shackleford, Dokter Robinson, dan ahli hukum Levi Bell. Dan
istri-istri sem ua orang itu, juga Nyonya J anda Bartley, itulah
sahabat-sahabat Peter yang terkarib. Ia sering m enulis tentang
m ereka dalam surat-suratnya ke Inggris, jadi Harvey pasti akan
tahu siapa saja yang bisa dianggapnya sahabat bila ia tiba di sini.”

Si tua itu terus saja bertanya, hingga seolah-olah m em om pa
habis segala yang diketahui si pem uda. Ia bertanya tentang
ham pir sem ua orang dan sem ua hal yang ada di kota, juga
tentang keluarga Wilks. Ia juga bertanya tentang pekerjaan Peter
(tukang sam ak), George (tukang kayu), dan Harvey (pendeta),
dan tentang banyak hal lagi. Kem udian ia bertanya, “Mengapa
kau berjalan kaki ke hulu untuk naik kapal uap itu?”

“Kapal itu kapal besar dari Orleans. Aku takut ia tak m au
berhenti di desa. Kapal besar biasanya tak m au berhenti bila kita
panggil. Kapal Cincinnati m ungkin m au berhenti, tapi ini kapal
St. Louis.”

“Apakah Peter Wilks itu kaya?”
“Oh, ya, sangat kaya. Ia punya banyak sekali rum ah dan
tanah. Menurut dugaan, uangnya ada sekitar tiga atau em pat ribu
dolar, yang disem bunyikan entah di m ana.”
“Kapan dia m eninggal?”
“Malam tadi.”
“Penguburannya besok, m ungkin?”
“Ya, m enjelang tengah hari.”

Petualangan Huckleberry Finn 211

http://facebook.com/indonesiapustaka “Oh, sedih sekali. Tapi suatu waktu kita m em ang harus pergi.
J adi kita harus bersiap-siap, bila kita telah bersiap, kita tak usah
khawatir lagi.”

“Ya, Tuan, itulah cara terbaik. Ibuku selalu m engatakan
begitu juga.”

Waktu kami mencapai kapal uap itu, ia hampir selesai
menaikkan muatan. Tak berapa lama ia berangkat. Sang raja sama
sekali tak berkata apa-apa tentang kapal itu, jadi itu berarti bahwa
akhirnya aku tak bisa naik kapal. Seperginya kapal tadi, sang raja
m enyuruhku berdayung terus ke arah hulu kira-kira satu m il, ke
sebuah tem pat yang sepi. Ia naik ke darat dan berkata:

“Cepat pulang dan panggil sang pangeran, bawa kem ari,
suruh ia m em bawa tas-tas yang baru juga. Bila ia telah pergi
ke seberang, susul, sedang apa pun juga ia harus segera datang
kem ari. Berangkatlah!”

Aku tahu apa yang akan dikerjakannya. Tapi aku tak berkata
sepatah pun. Waktu sang pangeran telah kubawa ke tempat itu,
perahu kam i sem bunyikan baik-baik. Sang raja dan sang pangeran
duduk di atas sebatang pohon rebah. Sang raja menceritakan
setiap patah kata yang diucapkan oleh anak m uda tadi. Dan selam a
itu ia berbicara m eniru gaya orang Inggris. walaupun canggung,
tam paknya ia berhasil. Aku tak bisa m enirukannya, dan aku tak
akan mencoba, namun betul-betul baik sekali ia memainkan
perannya. Kem udian ia bertanya pada sang pangeran, “Bisakah
kau m eniru seseorang yang bisu dan tuli, Pangeran?”

Kata san g pan geran , tan ggun g beres saja, ia sudah
berpengalaman dalam membawakan peran bisu-tuli di panggung
sandiwara. Kini m ereka tinggal m enantikan lewatnya sebuah
kapal uap.

Pertengahan sore, dua buah kapal uap lewat, tapi kapal-
kapal itu datang dari tem pat yang tak berapa jauh. Akhirnya
sebuah kapal besar muncul, raja dan pangeran melambai-lambai,

212 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka m em beri tanda bahwa m ereka ingin m enum pang. Kapal itu
m engirim kan sekocinya untuk m enjem put m ereka, dan aku
juga. Ternyata itu adalah kapal Cincinnati. Ketika orang kapal
tahu bahwa kam i hanya ingin m enum pang em pat atau lim a m il
ke hilir, mereka marah besar, memaki-maki dan mengancam
tak akan mau menurunkan kami. Sang Raja tenang-tenang
saja berkata, “Bila serom bongan tuan besar sanggup m em bayar
masing-masing satu dolar untuk tiap mil, diambil dan diantar
dengan sekoci, apakah kapal uap itu sanggup m em bawanya?”

Orang-orang kapal itu hilang m arahnya m endengar itu,
dan setuju untuk m em bawa kam i. Sesam painya kam i di desa,
kam i diantarnya ke pantai dengan sekoci. Di tepi sungai telah
menunggu kira-kira dua lusin manusia, mereka berkumpul di
tem pat itu, tertarik akan penum pang yang diantarkan dengan
sekoci ke darat dari sebuah kapal besar.

Waktu sang raja bertanya pada m ereka, “Adakah di antara
Tuan-tuan ini yang bisa m enunjukkan rum ah Tuan Peter Wilks?”
Orang-orang itu saling pandang dan saling menganggukkan
kepala, seolah-olah berkata: “Benar kataku, bukan?” Kem udian
salah seorang m enjawab pertanyaan sang raja dengan suara yang
dilem butkan, “Maaf, Tuan, yang bisa kam i kerjakan hanyalah
menunjukkan rumah di mana ia pernah hidup kemarin.”

Sang raja bagaikan disam bar petir, m enyatukan diri ke
pelukan orang yang berkata itu, dengan janggut bersandar ke
bawahnya, ia m enangis, “Aduh! Oooh! Saudaraku yang m alang, ia
telah pergi, kam i tak sem pat m elihatnya lagi, oh, oh, ini tak bisa
kam i tanggungkan lagi!”

Si tua berpaling, membuat suara tak keruan dan memberi
tanda-tanda kegila-gilaan pada sang pangeran dengan tangannya.
Ya am pun, sang pangeran tam pak sangat terkejut hingga tas
yang dipegangnya terjatuh! Ia pun m enangis keras sekali. Aku
tak habis mengerti bagaimana kedua orang itu begitu pandai
m em bawakan perannya.

Petualangan Huckleberry Finn 213

Orang-orang berkerumun mengelilingi kedua penipu itu,
m encoba m enghibur m ereka. Beberapa orang m em biarkan dirinya
jadi sandaran tubuh kedua orang tadi yang terus saja m enangis.
Beberapa orang lagi m enceritakan keadaan saudaranya di saat-
saat terakhir hidupnya. Setiap kali sang raja m enerjem ahkan
cerita-cerita itu kepada sang pangeran dengan tanda-tanda
gerakan tangan. Kedua orang itu m enghabiskan air m ata m ere-
ka, meratapi kematian si tukang samak Peter Wilks seolah-olah
m ereka m eratapi kem atian kedua belas orang Rasul. Betul-betul
tak akan mungkin aku menemui kejadian serupa itu untuk kedua
kalinya. Perbuatan m ereka cukup untuk m em buat setiap orang
malu bila ia termasuk golongan manusia.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka HUJAN AIR MATA

KABAR TENTANG kedatangan m ereka itu cepat sekali tersebar ke
seluruh kota. Dari segala jurusan tampak orang-orang berlarian
m endekat; ada yang berlari sam bil m engenakan pakaiannya.
Segera saja kami berada di tengah-tengah segerombolan orang,
suara langkah mereka bagaikan derap langkah para prajurit.
Setiap jendela dan halaman rumah penuh manusia, dan setiap saat
seseorang berteriak bertanya dari balik pagar, “Itulah m ereka?”

“Ben a r !”
Waktu kam i telah sam pai di rum ah yang kam i tuju, jalan di
depannya penuh sesak dengan m anusia. Di depan pintu berdiri
tiga orang gadis. Mary J ane memang berambut merah, tapi ia
sangat cantik, wajahnya bagaikan bercahaya, begitu gem bira
para pam annya datang. Sang raja m engem bangkan tangannya,
dan Mary J ane m elom pat ke dalam pelukannya, sem entara si
sumbing melompat pada sang pangeran. Dan mulailah hujan air
m ata. Sem ua orang m enangis, sedikitnya sem ua wanita, m enangis

Petualangan Huckleberry Finn 215

http://facebook.com/indonesiapustaka gem bira karena keluarga yang terpisah jauh kini bertem u kem bali
dengan mesra.

Sang raja diam -diam m em beri isyarat pada sang pangeran—
aku m elihat isyarat itu—kem udian m elihat berkeliling, sam pai
dilihatnya peti m ayat di sudut kam ar, di atas dua buah kursi. Dia
dan sang pangeran, saling bergandengan sem entara tangan yang
lain menutup mata, berjalan perlahan dan khidmat mendekati peti
m ati itu. Sem ua orang m enyisih, sem ua suara terhenti, beberapa
orang berseru, “Sssst!” Sem ua pria m encopot topi m asing-m asing,
m enundukkan kepala. Begitu sunyi keadaannya, hingga bilapun
ada jarum jatuh pasti akan terdengar. Sang pangeran dan sang raja
melihat ke dalam peti mati, sekejap kemudian mereka menangis
m eraung-raung, begitu keras agaknya hingga bisa terdengar di
Orleans. Mereka saling peluk kini, saling menopang dagu pada
bahu, dan ya am pun, belum pernah aku m elihat dua orang lelaki
mencucurkan air mata begitu deras, selama tiga atau empat
menit, seperti kedua orang itu. Dan harus diingat bahwa semua
hadirin juga berbuat serupa, betul-betul tempat itu jadi lembab
oleh air m ata! Kem udian sang raja dan sang pangeran berlutut di
kedua sisi peti mati itu, menumpangkan dahi mereka pada bibit
peti dan pura-pura berdoa. Ini lebih membuat suasana kesedihan
makin berat menimpa hadirin, kini semua orang tanpa kecuali
menangis keras sekali tersedu-sedu. Gadis-gadis tadi juga, dan
hampir semua wanita bangkit bediri, tanpa bersuara mendekati
ketiga gadis tersebut, dengan khidmat mencium dahi mereka,
menengadah ke langit sebentar dengan air mata bercucuran. Tak
pernah aku m elihat sesuatu yang begitu m em ualkan.

Setelah agak lama sang raja bangkit, mendekati para tamu dan
dengan suara terputus-putus m engucapkan pidato. Pidato yang
penuh air m ata dan om ong-kosong, tentang cobaan berat yang
harus diderita olehnya dan saudaranya yang kehilangan saudara
tercinta. Penderitaan batin karena ternyata setelah m elakukan

216 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka perjalanan em pat ribu m il, ia tak bisa m enjum pai saudaranya itu
dalam keadaan hidup. Tapi penderitaannya itu sangat diperingan
oleh keakraban sem ua orang yang m encoba m enghiburnya, serta
oleh air m ata suci yang m ereka cucurkan. Ia berterim a kasih
pada m ereka, rasa terim a kasih tulus yang keluar dari hatinya
dan hati almarhum, sebab tak bisa ia mengucapkan rasa terima
kasih tersebut, tak ada kata-kata yang bisa m enggam barkannya.
Dem ikian seterusnya, kata-katanya m alahan m em buat hatiku
am at sakit. Sam pai akhirnya ia m engucapkan “Am in” m enutup
pidatonya, kem bali m enangis m eraung-raung.

Begitu sang raja selesai berpidato, seseorang di antara hadirin
itu m ulai m enyanyi, diikuti oleh sem ua orang dengan penuh pera-
saan. Menyenangkan sekali kedengarannya, seperti saat hendak
pulang dari gereja. Lagunya m em ang indah, dan sesudah m elihat
om ong-kosong yang dikatakan oleh sang raja, lagu tadi terdengar
begitu jujur dan sedap didengar.

Sang raja m ulai berbicara lagi. Katanya ia dan sem ua kepona-
kannya akan sangat gem bira bila beberapa sahabat karib keluarga
almarhum mau hadir di rumah itu untuk makan malam nanti,
m em bantu m em persiapkan jenazah. Bila saja alm arhum yang
terbaring di situ bisa berkata, ia akan tahu siapa yang diundang,
sebab nama-nama mereka sudah sering disebut dalam surat-
suratnya, seperti: Tuan Pendeta Hobson, Pendeta Lot Hovey,
Tuan Ben Rucker, Abner Shackleford, Levi Bell, Dokter Robinson,
sem ua beserta istri m ereka, dan Nyonya J anda Bartley.

Pendeta Hobson dan Dokter Robinson sedang melakukan
suatu pekerjaan di pinggir kota—m aksudku, dokter m engirim kan
seorang pasiennya ke tem pat lain, sedang pendeta m em beri
petunjuk pada pasien tadi akan jalan yang harus ditem puhnya.
Ahli Hukum Levi Bell sedang pergi ke Louisville untuk urusan
dinas. Yang lain hadir di situ, sem ua m aju dan berjabat tangan
dengan sang raja, berterim a kasih padanya dan berbicara sedikit.

Petualangan Huckleberry Finn 217

http://facebook.com/indonesiapustaka Kem udian m ereka berjabat tangan dengan sang pangeran, yang
tak berkata apa-apa, hanya tersenyum dan m enganggukkan kepala
bagaikan sekumpulan orang tolol, sementara sang pangeran
m em buat berbagai tanda dengan tangannya dan m ulutnya m enge-
luarkan suara “Goo-goo... goo-goo-goo” terus-m enerus.

Sang raja tak berhenti di situ saja, ia berhasil mena-
nyakan tentang ham pir sem ua orang dan sem ua anjing di kota,
m enanyakan dengan m em anggil nam a m ereka. J uga tentang
beberapa kejadian kecil yang terjadi di kota, pada keluarga George
atau Peter. Ia selalu berkata bahwa sem ua itu diketahuinya dari
surat Peter. Tapi itu hanyalah dusta. Aku tahu benar, sem uanya
diketahuinya dari orang m uda goblok yang kam i bawa ke kapal
uap tadi.

Kem udian Mary J ane m engam bil surat yang ditinggalkan
almarhum. Sang raja membaca surat itu keras-keras, sambil
menangis. Surat tadi menerangkan bahwa rumah tinggal dan
uang sejumlah tiga ribu dolar emas diberikan kepada ketiga orang
gadis itu. Perusahaan penyam akan (yang m asih m endatangkan
hasil), beberapa buah rumah dan tanah (seharga tujuh ribu
dolar), serta uang tiga ribu dolar diberikan kepada Harvey dan
William. Dikatakan juga bahwa keenam ribu dolar emas itu
disem bunyikan di gudang bawah tanah. Kedua bajingan berkata
m ereka akan m engam bil uang tersebut agar sem uanya diketahui
oleh umum, bahwa pembagian harta akan berlangsung dengan
seadil-adilnya. Aku disuruhnya ikut untuk m em bawa lilin. Setelah
pintu gudang kami tutup, mereka mencari dan menemukan
karung berisi uang em as itu. Dicurahkan m ereka isinya ke lantai.
Indah sekali kelihatannya taburan uang em as itu, dan m ata sang
raja bercahaya-cahaya.

“Oh, ini betul-betul di luar dugaan! Di luar dugaanku! Wah,
Bilge, ini m engalahkan hasil kita dalam perm ainan sandiwara
ajaib dulu, bukan?”

218 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Sang pangeran membenarkan. Mereka bermain-main dengan
uang em as itu, m enggerincingkannya ke lantai, dan sang raja
berkata, “Tak ada gunanya berbicara banyak, m em ang kita sangat
beruntung m enjadi saudara seorang kaya, dan m enjadi wakil
dari para ahli warisnya. Itulah yang harus kita kerjakan, Bilge.
Ini hasilnya kalau kita m em percayakan nasib pada takdir. Selalu
jalan yang paling baik yang pernah kucoba selam a ini.”

Orang biasa akan merasa puas dengan melihat tumpukan
itu; tak begitu dengan m ereka, m ereka harus m enghitungnya.
Dan ternyata jum lahnya kurang em pat ratus lim a belas dolar dari
jum lah yang disebutkan, yaitu enam ribu.

“Terkutuk dia. Dipakai untuk apa yang em pat ratus lim a
belas dolar itu?”

Mereka m erasa khawatir sebentar, m enyelidiki ke segala
tem pat. Kem udian sang pangeran berkata, “Ia sedang sakit, dan
agaknya salah hitung, begitulah kukira. Cara yang terbaik adalah
kita biarkan saja, dan tak m engatakan pada siapa pun. Kita toh
sudah dapat cukup banyak.”

“Ya, m em ang kita sudah dapat cukup banyak. Tapi bukan itu
yang kupikirkan. Kita harus berbuat pura-pura sangat jujur dan
adil, serta terbuka. Kita harus m em bawa uang ini ke atas sana dan
m enghitungnya di depan orang banyak, agar m ereka tak m enaruh
curiga. Alm arhum m engatakan bahwa jum lahnya enam ribu
dolar, apa kata orang nanti bila– ”

“Tun ggu,” kata san g pan geran , “baik kita tam bah i
kekurangannya.” Ia m engeluarkan uang em as dari kantungnya.

“Pikiran yang sangat bagus, Pangeran, kau betul-betul punya
otak cem erlang,” kata sang raja, “ternyata keajaiban m enolong kita
lagi.” Ia pun m engeluarkan uang em asnya. Karena pengeluaran
itu, boleh dikata kedua orang tersebut tak punya uang lagi, nam un
kini jumlah uang di hadapan mereka tepat enam ribu dolar.

Petualangan Huckleberry Finn 219

http://facebook.com/indonesiapustaka “Dengar,” kata sang pangeran, “aku punya pikiran lain. Kita
bawa sem ua ini ke atas, m enghitungnya di depan orang banyak,
dan m em berikan sem uanya pada ketiga orang gadis itu.”

“Astaga, Pangeran! Ingin sekali aku m em elukm u! Pikiran
yang terhebat yang bisa dipikirkan m anusia. Betul-betul kau
punya otak yang paling luas biasa. Oh, inilah cara terbaik untuk
m enghilangkan segala kecurigaan yang m asih ada. Biarlah m ereka
mencurigai kita kini, tapi caramu ini akan bisa menghapuskan
sem ua!”

Kam i naik ke atas. Sem ua orang berkum pul m engelilingi m eja.
Sang raja m enghitung uang yang baru didapatnya. Menum puknya
tiap tiga ratus dolar, menjadi dua puluh tumpukan rapi. Semua
memandang tumpukan itu dengan pandangan lapar, beberapa
orang menjilat-jilat bibir. Selesai dihitung, uang tadi dimasukkan
kembali ke dalam karung. Sang raja membusungkan dada lagi,
siap untuk mengucapkan pidato.

“Kawan -kawan sem ua. Saudara kam i yan g terbarin g di
sana itu telah sangat berm urah hati pada orang-orang yang
ditinggalkannya di lem bah duka. Ia telah berm urah hati pada
anak-anak ini, yang dicintai dan dilindunginya, yang telah
ditinggalkan ayah dan ibu m ereka. Ya, kita yang tahu benar sifat
alm arhum , akan m erasa yakin bahwa sebenarnya alm arhum
ingin berbuat lebih murah hati lagi. Tapi ia merasa takut, takut
perbuatannya akan m elukai hati saudara-saudara yang am at
dicintainya, yaitu Harvey dan William . Bukankah dem ikian? Tak
perlu bagiku m em ikirkan pertanyaan itu lebih lanjut, sebab aku
yakin dem ikianlah halnya. Nah, saudara-saudara, m acam apakah
ini yang begitu tak berjantung untuk m enghalangi m aksud yang
begitu m ulia? Pam an-pam an m acam apakah kam i ini yang tega
m eram pok—ya, sekali lagi m eram pok—tiga orang anak-anak
m anis yang begitu dicintai oleh alm arhum ? Aku am at kenal
akan hati William —setidak-tidaknya dem ikianlah dugaanku—

220 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka ia– tunggu, baik kutanya dia,” sang raja berpaling pada sang
pangeran, m em beri berbagai isyarat dengan tangannya. Sang
pangeran m em perhatikan isyarat-isyarat itu, beberapa saat
wajahnya tak berubah, seakan-akan tak m engerti. Kem udian
tiba-tiba wajah itu jadi gembira, ia melompat, mengeluarkan
suara tak keruan, dengan gembira memeluk sang raja lima
belas kali. Sesudah dilepaskan sang pangeran, sang raja berkata,
“Aku telah tahu, kukira itu tadi cukup m eyakinkan sem ua orang
tentang pendapatnya. Nah, inilah, Mary J ane, Susan, dan J oanna,
am billah uang ini– am bil sem uanya! Ini adalah pem berian dari
dia yang terbaring di sana itu, sudah dingin kini, tapi pasti juga
akan ikut bergembira akan peristiwa ini.”

Mary J ane memeluk sang raja, Susan dan si Sumbing
m em eluk san g pangeran . Belum pern ah aku m elihat oran g
berpelukan dan berciuman begitu gembira. Semua orang mulai
mencucurkan air mata lagi, dan semua orang ingin berjabat
tangan dengan kedua bajingan itu sam pai agaknya tangan m ereka
akan putus. Setiap kali berjabat tangan orang-orang itu berkata,
“Betapa sucinya jiwa Tuan, betapa indahnya, oh, betapa agungnya
perbuatan Tuan!”

Setelah itu semua orang ribut membicarakan almarhum lagi.
Tentang kebaikan hatinya, dan tentang betapa sedihnya m ereka
ditinggalkan almarhum. Tanpa diketahui siapa pun seseorang
bertubuh besar dan berahang menonjol masuk, memasang
telinga dan m em perhatikan sem ua yang sedang terjadi. Ia tak
berkata sepatah pun, dan tak ada orang yang m enyapanya
sebab waktu itu sang raja sedang berbicara lagi dan semua
orang sibuk m endengarkan. Sang raja sedang berkata, “...karena
m ereka adalah sahabat-sahabat karib alm arhum . Karena itulah
mereka semua kuundang untuk makan malam nanti. Tetapi
besok, kuingin agar semua datang, semua saja, sebab almarhum
m enghorm ati sem ua orang, m enyukai sem ua orang, m aka sangat
wajar bila orgies– pesta pem akam annya– terbuka bagi um um .”

Petualangan Huckleberry Finn 221

http://facebook.com/indonesiapustaka Begitulah, ia terus saja m engoceh dan berceloteh, agaknya
sangat senang m endengarkannya sendiri. Setiap ada kesem patan
ia selalu m engatakan ‘orgies’ lagi, sam pai sang pangeran tak
tahan lagi. Ia m enulis pada secarik kertas: “OBSEQUIES– upacara
pem akam an– goblok, pandir, bebal!” Kertas itu dilipatnya kecil-
kecil, dengan mengeluarkan suara goo-goo-goo ia mengeluarkan
kertas tadi pada sang raja lewat atas kepala orang-orang di
sekelilingnya. Sang raja m em bacanya, m em asukkan kem bali
ke sakun ya dan berkata, “William yan g m alan g, walaupun
cacat, hatinya betul-betul m ulia. Ia m inta padaku agar sem ua
orang diundang ke pemakaman, minta padaku agar diharapkan
kehadirannya. Tapi ia tak usah khawatir, m em ang m aksudku
d em ikia n .”

Ia terus berbicara, sangat tenang, dan kembali mengucapkan
‘orgies’ lagi. Waktu ia m engucapkan kata itu untuk ketiga kalinya,
ia m enam bahkan, “Aku m em akai istilah ‘orgies’, bukan karena itu
adalah istilah yang biasa dipakai, istilah yang biasa dipakai adalah
‘obsequies’, tetapi karena orgies lebih tepat untuk digunakan.
Obsequies kini tak pernah dipakai di Inggris, tak digunakan lagi.
Kini di Inggris dipergunakan kata orgies. Orgies dipakai sebab
lebih m enggam barkan apa yang kita m aksud. Kata itu berasal
dari kata Yunani: orgo, yang berarti di luar, terbuka atau tersinar;
dan kata Yunani: jeesum , yang berarti m enanam , m enutupi, jadi:
m em asukkan. Nah, nyata kini bahwa orgies pem akam an berarti
pemakaman terbuka atau pemakaman umum.”

Tak pernah aku berjumpa dengan orang begitu licik! Orang
tinggi besar yang baru datang tadi tiba-tiba tertawa terbahak-
bahak keras sekali. Semua orang terkejut, semua orang berseru,
“Astaga, Dokter, jangan berbuat tak sopan!”

Abner Shackleford berkata pada orang itu, “Hei, Robinson,
belum lah kau dengar berita? Inilah Harvey Wilks!”

222 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Senyum sang raja m elebar, ia m engacungkan tangannya
dan berkata gem bira, “Oh, inikah sahabat karib dan perawat
kesehatan saudaraku? Aku...”

“J angan sentuh aku!” bentak dokter itu. “Kau kira kau
berbicara seperti orang Inggris, he? Tiruan terburuk yang pernah
kudengar! Dan kau m engaku jadi saudara Peter Wilks! Kalian
p en ip u !”

Ribut seketika! Semua orang mengelilingi dokter itu, mencoba
m enenangkannya. Sem ua m encoba m enerangkan padanya lebih
dari empat puluh hal untuk menunjukkan bahwa kedua orang
ini saudara Peter. Harvey ini juga tahu nam a sem ua orang, nam a
semua anjing. Mereka memohon dan memohon agar dokter itu tak
m enyakiti hati Harvey dan perasaan ketiga orang gadis itu. Tapi
sem ua tak berguna. Dokter tadi dengan nekat tak m au percaya,
katanya setiap orang yang m engaku orang Inggris tapi tak bisa
m enirukan bahasanya sebaik dia adalah bajingan dan penipu.
Gadis-gadis itu bergantung di kedua tangan sang raja. Mereka
menangis. Tiba-tiba Dokter Robinson berpaling pada mereka
dan berkata, “Aku sahabat ayah kalian, pun sahabat kalian.
Kuperingatkan kalian sebagai seorang sahabat. Sebagai seorang
sahabat yang jujur dan tak m enginginkan kalian terjerum us
dalam kesulitan dan kesusahan. J angan percaya pada kedua
orang ini, jangan bergaul dengan mereka, gelandangan tolol
dengan bahasa Inggris dan Yunani gila, seperti katanya tadi. Ia
adalah pem alsu yang paling goblok yang pernah kujum pai. Ia
datang kem ari dengan nam a-nam a yang entah diam bilnya dari
mana. J uga beberapa kejadian. Dan itu kalian sangka sebagai
bukti. Kalian tertipu, dem ikian juga beberapa kawan di sini yang
secara tolol telah m em bantu kedua penipu ini m eyakinkan kalian.
Seharusnya kawan-kawan harus berpikir lebih dalam . Mary J ane
Wilks, kau tahu aku sahabatm u, kau tahu aku sahabatm u yang
tak pernah m engenal pam rih dalam bersahabat denganm u. Kini

Petualangan Huckleberry Finn 223

dengarkan. Usir kedua penipu yang tak patut dikasihani ini, aku
minta kau mengerjakan kataku ini. Maukah kau?”

Mary J ane menegakkan kepala, ia jadi bertambah cantik
berlipat ganda. Katanya, “Inilah jawabku!” Diangkatnya karung
uang berisi enam ribu dolar tadi dan ditaruhnya di tangan sang
raja, dan berkata, “Am billah yang enam ribu dolar ini. Atur
pem akam annya bagi kam i, aku dan adik-adikku, sesuka Pam an.
Kam i tak m em butuhkan tanda terim a kasih untuk uang ini.”

Kem udian ia m em eluk sang raja di satu sisi, Susan dan si
Sum bing di sisi yang lain. Sem ua orang bertepuk tangan dan
m enghentakkan kaki ke lantai hingga gem uruh suaranya. Sang
raja tersenyum bangga.

Dokter Robinson berkata, “Baiklah kalau begitu. Aku cuci
tangan akan peristiwa ini. Tapi ingat. Suatu waktu akan datang
m asanya, kalian akan jadi sakit setiap kali kalian ingat peristiwa
hari ini.” Ia berpaling, keluar.

“Baiklah, Dokter,” sang raja berkata m engejek, ”J ika ada
yang sakit, kam i akan m em anggil Tuan!” Sem ua orang tertawa
m endengar jawaban ini yang dianggap sangat tepat.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka AKU MENCURI HASIL
RAMPOKAN SANG RAJA

SETELAH SEMUA orang pergi, sang raja bertanya pada Mary
Jane tentang kamar mereka. Mary Jane berkata ada sebuah
kam ar kosong yang bisa dipakai oleh Pam an William , kam arnya
sendiri diberikannya pada Pam an Harvey. Kam arnya itu lebih
besar dari kam ar lainnya, ia akan tidur bersam a adiknya di
sebuah dipan. Di loteng terdapat sebuah bilik kecil dengan sebuah
kamar jerami. Sang raja berkata bilik di loteng itu cukup untuk
pelayannya, yaitu aku.

Mary J ane m enunjukkan kam ar-kam ar, yang walaupun
sederhana tapi sangat m enyenangkan. Bila pakaian dan beberapa
barangnya yang lain m engganggu Pam an H arvey, ia akan
m engam bil sem uanya itu. Tapi sang raja berkata bahwa ia tak
terganggu oleh barang-barang itu. Baju, gaun, dan pakaian lain
milik Mary J ane itu digantung berderet di dinding, ditutupi oleh
tirai yang terbuat dari kain m ori, terjuntai hingga ke lantai. Di

Petualangan Huckleberry Finn 225

http://facebook.com/indonesiapustaka suatu sudut terdapat koper ram but yang sudah tua, dan di sudut
lainnya sebuah kotak gitar. J uga terlihat benda-benda tetek
bengek yang selalu m em enuhi kam ar seorang gadis. Kata sang
raja barang-barang itu m alah m em buatnya m erasa kerasan, jadi
tak usah dipindah tem patnya. Kam ar sang pangeran lebih kecil,
tetapi cukup bagus. Begitu pun kam arku.

Malam nya kam i m engadakan suatu perjam uan m akan
m alam . Meriah sekali. Sem ua yang diundang datang. Aku berdiri
di belakang sang raja dan sang pangeran, m elayani m ereka, orang-
orang lain dilayani oleh budak-budak negro. Mary J ane duduk di
kepala m eja, Susan di sam pingnya. Mereka tak habis-habisnya
berkata bahwa biskuitnya jelek, m akanan sim panannya tak enak,
ayam panggangnya liat, dan cacat-cacat lainnya, cara yang biasa
digunakan oleh kaum wanita untuk memancing-mancing pujian.
Para tam u yang tahu bahwa sem ua yang terhidang itu tak bisa
dicela lagi berkata, “Oh, bagaim ana kau bisa m em buat biskuit
sebagus ini?” dan ”Dari m ana kau beli acar yang lezat ini?”
dan lain-lain om ong-kosong yang selalu diucapkan orang pada
jamuan semacam itu.

Waktu jamuan makan selesai, aku dan si Sumbing makan
di dapur, m akan yang tersisa dari jam uan tersebut, sem entara
saudara-saudaranya m em bantu para pelayan m em bersihkan alat-
alat makan. Si Sumbing menguras segala pengetahuan tentang
Inggris. Dan kerap kali aku m engalam i detik-detik berbahaya.

“Pernahkah kau m elihat Sang Raja?” tanyanya.
“Siapa? William IV? Tentu saja. Ia anggota gereja kam i.” Aku
tahu bahwa William telah m angkat bertahun-tahun yang lalu, tapi
tak kukatakan hal itu. Ketika kukatakan bahwa sang Raja pergi ke
gereja kam i, ia bertanya:
“Apa? Setiap Minggu ia datang?”
“Ya, setiap Minggu. Bangkunya tepat berseberangan dengan
bangku kami, di sebelah mimbar.”

226 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka “Bukankah ia tinggal di London?”
“Mem ang. Di m ana lagi?”
“Tapi, bukankah kau tinggal di Shefield?”
Aku terjebak. Aku pura-pura tercekik karena m enelan tulang
ayam , agar punya kesem patan untuk berpikir. Kem udian aku
berkata:
“Yang kumaksud, bila ia ada di Shefield setiap Minggu selalu
pergi ke gereja kam i. Yaitu pada m usim panas. Waktu itu ia ke
Shefield untuk mandi air laut.”
“Oh, bualmu! Sheield tidak berada di tepi laut!”
“Siapa yang m engatakan begitu?”
“Ka u !”
“Tak pernah aku berkata begitu.”
“P er n a h .”
“Tid a k.”
“P er n a h .”
“Aku tak m engatakan begitu.”
“Lalu apa yang kau katakan?”
“Aku berkata ia datang ke Shefield untuk mandi air laut.”
“Nah, bagaim ana ia bisa m andi air laut bila tidak di tepi
laut?”
“Lihat kem ari,” kataku. “Pern ahkah kau m elihat air di
Congress yang ditaruh di dalam tong?”
“Ten t u .”
“Nah, apakah kau haus ke Congress untuk m endapatkan air
itu?”
“Tentu saja tidak.”
“Begitu juga William IV. Untuk m andi air laut ia tak usah
pergi ke laut.”
“Kalau tidak, bagaim ana?”
“Ia m engam bil air laut itu seperti orang-orang sini m engam bil
air Congress, bertong-tong. Di istananya di Sheield disediakan

Petualangan Huckleberry Finn 227

http://facebook.com/indonesiapustaka perapian untuk memanaskan air itu. Di tepi laut tak akan bisa
orang m em anaskan begitu banyak air. Tak ada alatnya, sedang
William ingin agar air lautnya panas.”

“Aku m engerti kini. Kenapa tak kau katakan sedari tadi, jadi
tak usah membuang-buang waktu.”

Dengan perkataannya itu tahulah aku telah lolos dari lubang
jarum . Hatiku tenteram lagi, dan gem bira. Kem udian si Sum bing
bertanya lagi, “Apakah kau juga pergi ke gereja?”

“Ya, setiap Minggu.”
“Di m ana kau duduk?”
“Di bangku kam i.”
“Bangku siapa?”
“Bangku kam i. Bangku pam anm u, Harvey.”
“Bangkunya? Untuk apa bangku baginya?”
“Untuk duduk. Untuk apa lagi?”
“Wah, bukankah ia ada di m im barnya?”
Terkutuk! Aku lupa bahwa ia seorang pendeta. Aku terjebak
lagi. J adi terpaksa berpura-pura tertelan tulang lagi untuk
berpikir. Kem udian kataku, “Astaga, kau kira di gereja kam i
hanya ada seorang pendeta?”
“Untuk apa banyak-banyak?”
“Untuk apa? Berkhotbah di depan raja hanya dengan seorang
pendeta? Belum pernah kulihat seorang gadis seperti engkau. Ada
tujuh belas orang pendeta di gereja kami.”
“Tujuh belas! Ya am pun! Tak akan tahan aku m enghadiri
gereja seperti itu, walaupun terpaksa habis dalam seminggu.”
“Wah, m ereka tak berkhotbah sem ua dalam sehari itu. Hanya
seor a n g.”
“Nah, lalu apa kerja yang lainnya?”
“Oh, tak ban yak kerjan ya. Berkelilin g, m en gum pulkan
sum bangan, dan kerja sam pingan lainnya. Tapi kebanyakan
m ereka hanya m enganggur.”

228 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka “Lalu untuk apa sebanyak itu?”
“Agar lebih sem purna. Astaga, apakah kau tak tahu apa-apa
sama sekali?”
”Aku tak in gin m en getahui ketololan sem acam itu.
Bagaim anakah pelayan diperlakukan di Inggris? Lebih baik
daripada perlakuan orang di sini terhadap budak-budak negro?”
“Tidak! Seorang pelayan sam a sekali tak dianggap m anusia di
sana. Mereka diperlakukan lebih jelek daripada anjing.”
“Tidak diberi hiburan seperti kita di sini, m isalnya Natal,
minggu tahun baru, dan ulang tahun kemerdekaan tanggal empat
J uli?”
“Oh, nyata sekali bahwa kau belum pernah ke Inggris. Mereka
sam a sekali tak punya hari libur dari awal tahun sam pai akhir.
Mereka tak boleh ke sirkus, ke gedung sandiwara, ke pertunjukan
orang negro, atau ke mana saja.”
“J uga ke gereja?”
“J uga ke gereja!”
“Tapi kau selalu pergi ke gereja.”
Astaga, aku lupa bahwa aku jadi pelayan si tua itu. Cepat-
cepat kubuat jawaban berbelit-belit untuk menerangkan bahwa
aku ini bujang, yang banyak berbeda dari seorang pelayan biasa.
Seorang bujang malah diharuskan pergi ke gereja, mau atau tidak,
dan harus duduk bersam a keluarga tuannya. Tapi agaknya sulit
sekali m eyakinkan anak itu. Ia bertanya, “Dem i kejujuran, apakah
kau tidak menceritakan kebohongan saja semua ini padaku?”
“Dem i kejujuran!”
“Sam a sekali kau tak berdusta?”
“Sam a sekali. Tak pernah aku berdusta sekali pun.”
“Letakkan tanganm u di buku ini, katakan bahwa kau tak
berdusta.”
Kulihat buku yang dim aksud hanyalah buku kam us, jadi
kuletakkan tanganku pada buku itu dan kukatakan apa yang

Petualangan Huckleberry Finn 229

http://facebook.com/indonesiapustaka dim intanya. Mendengar itu J oanna terlihat sedikit lega, dan
berkata, “Baiklah, kalau begitu akan kupercayai beberapa bagian
dari ceritamu. Mudah-mudahan Tuhan memperkenankan aku
p e r ca ya .”

“Apa yang tak bisa kau percayai, J o?” tanya Mary J ane yang
datang bersam a Susan. “Salah sekali dan tak baik bila kau berkata
begitu padanya. Ia seorang asing di sini, jauh dari keluarganya.
Maukah kau diperlakukan seperti itu?”

“Begitulah kau selalu, Maim . Selalu m enolong seseorang
sebelum orang itu terluka hatinya. Ia tak kuapa-apakan. Kukira
ia menceritakan beberapa isapan jempol, dan kukatakan aku tak
m au percaya cerita seluruhnya.”

“Tak peduli apakah kau m enyakiti hatinya, sedikit atau ba-
nyak. Ia berada di rum ah kita dan seorang asing, tak pantas bila
kau berkata begitu. Coba, kalau kau jadi dia, bukankah kau akan
m alu? Karena itu kau tak boleh m engatakan sesuatu yang bisa
membuat malu orang lain.”

“Tapi, Maim , ia berkata....”
“Tak peduli apa katanya, itu tak penting. Yang penting kau
harus m em perlakukannya dengan baik. Kau tak boleh m enga-
takan apa-apa yang m em buatnya teringat bahwa ia tak berada di
negerinya sendiri dan tak berada di antara bangsanya.”
Aku berkata pada diriku sendiri, inilah gadis yang akan
kubiarkan dirampok oleh kedua binatang melata itu.
Susan ikut-ikutan memarahi J oanna, hingga si Sumbing itu
mati kutu.
Kataku pada diriku lagi, inilah yang kubiarkan lagi diram pok
bajingan tua itu.
Kem bali Mary J ane am bil giliran, kini dengan nasihat-
nasihat yang m anis dan lem but, yang m em ang m erupakan
kebiasaannya bila berbicara. Serangan terakhir ini m erem ukkan
hati si Sumbing. Terpaksa ia menangis.

230 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka “Sudahlah,” kata kedua saudaranya, “kini m intalah m aaf
p a d a n ya .”

Si Sumbing meminta maaf padaku, tulus sekali. Senang
untuk m endengarkan kata-katanya. Betapa senangnya bila aku
bisa meceritakan seribu dusta lagi agar ia mau minta maaf pula.

Dan terpikir pula olehku, ini satu lagi yang kubiarkan
diram pok uangnya. Selesai J oanna m inta m aaf, bertiga m ereka
berusaha m enyenangkan hatiku, agar aku kerasan dan tahu
bahwa aku berada di antara sahabat-sahabat. Makin lama aku
makin benci pada diriku sendiri, terasa betapa berdosa dan
jahatnya aku ini. Aku m engam bil keputusan, apa pun yang akan
terjadi, akan kuambil uang itu dari sang raja dan sang pangeran.

Dengan keputusan itu aku melepaskan diri dari ketiga
gadis itu dengan dalih akan pergi tidur, artinya aku akan tidur
tapi entah kapan. Setelah sendirian, kupikirkan apa yang akan
kukerjakan. Apakah tidak lebih baik bila diam -diam aku pergi ke
Dokter Robinson dan membuka rahasia para penipu itu? Tidak,
tak akan baik jadinya. Dokter itu m ungkin akan m engatakan
siapa yang telah m em buka rahasia, dan sang raja serta sang
pangeran pasti akan m em balas dendam padaku. Bagaim ana
kalau diam-diam aku memberitahukan Mary J ane? Tidak, aku
tak berani. Wajah gadis itu sangat polos. Sang pangeran dan sang
raja pasti akan tahu bahwa sesuatu yang tak beres telah terjadi,
dan m ereka akan pergi dengan m em bawa uang ram pokannya.
Bila Mary J ane m inta bantuan untuk m enangkap kedua penipu
itu, pasti aku akan ikut menerima hukuman sebelum ia sempat
m enerangkan duduk perkaranya. Tidak, bahwa ada satu cara
yang baik. Entah bagaim ana aku harus m encuri uang itu, tanpa
ada yang m encurigaiku. Sang raja dan sang pangeran tak akan
tergesa-gesa meninggalkan tempat ini, sebab mereka pasti tak
akan sam pai hati m eninggalkan sum ber kekayaan yang dem ikian
baiknya, m ereka akan m em eras habis sem ua yang ada. J adi

Petualangan Huckleberry Finn 231

http://facebook.com/indonesiapustaka akan banyak kesem patan bagiku untuk m engam bil uang itu.
Akan kucuri dan kusem bunyikan di suatu tem pat. Kelak bila
aku telah jauh berada di hilir sungai, aku akan berkirim surat
pada Mary J ane m enunjukkan tem pat persem bunyian uangnya.
Tapi agaknya lebih baik bila uang itu kusem bunyikan m alam ini.
Aku tak bisa m enduga berapa banyak yang sudah diketahui oleh
Dokter Robinson, mungkin ia berhasil menakut-nakuti kedua
penipu itu hingga mereka melarikan diri lebih cepat.

J adi, sekaranglah saatnya untuk m encari dan m enggeledah
kam ar m ereka. Gang di tingkat atas gelap, tapi bisa kutentukan
kam ar sang pangeran. Aku m eraba-raba di dalam nya sam pai
aku teringat bahwa tak mungkin sang raja mau menitipkan
uangnya pada orang lain, jadi kutinggalkan kam ar sang pangeran,
pergi ke kamar raja. Di sana aku pun meraba-raba dalam gelap.
Rasanya tanpa m enggunakan lilin tak m ungkin tujuanku tercapai,
tetapi tentu saja aku tak berani m enyalakan lilin. J adi aku cari
cara yang lebih m udah, yaitu m enunggu sam pai m ereka m asuk
dan m engintai di m ana tem pat m ereka m enyem bunyikan uang
itu. Baru saja aku berpikir begitu, kudengar suara langkah
kaki m endekat. Kupikir aku harus segera m enyusup ke bawah
tem pat tidur. Tapi ternyata tem pat tidur itu tidak di tem pat
yang kuperkirakan. Tanganku bukan m enyentuh tem pat tidur,
m elainkan m enyentuh tirai kain yang dipakai untuk m enutupi
pakaian Mary J ane. Tak ada waktu lagi, aku m enyuruk m asuk di
antara gaun-gaun yang banyak itu dan m enahan napas.

Sang raja dan sang pangeran m asuk, m enutup pintu. Yang
dikerjakan sang pangeran mula-mula ialah melihat ke bawah
tem pat tidur. Gem bira sekali aku tadi tak bersem bunyi di sana.
Mem ang bawah tem pat tidur adalah tem pat yang terpikir m ula-
m ula bila kita akan bersem bunyi. Kedua orang itu duduk, dan
sang raja bertanya, “Ada apa? Cepat katakan dengan ringkas,
sebab lebih baik bila kita berada di bawah sana membuat orang

232 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka makin berduka daripada kita di sini sehingga orang-orang itu bisa
membicarakan kita.”

“Begini, Capet. Aku m erasa khawatir. Dokter itu m engganggu
pikiranku. Aku punya usul yang baik.”

“Apa itu, Pangeran?”
“Lebih baik bila kita m eninggalkan tem pat ini jam tiga
nanti, cepat-cepat m enghilir sungai dengan apa yang telah kita
dapat. Lagi pula uang itu kita dapat dengan cara halal, diberikan
ke kepala kita, bahkan boleh kata dilemparkan ke kepala kita,
walaupun sebelum nya kita punya rencana untuk m encurinya
kem bali. Aku m engusulkan m eninggalkan tem pat ini dengan
segera.”
Aku jadi bingung. Satu atau dua jam yang lalu tak banyak
tim bul persoalan, tetapi rencana yang begitu m endadak itu
m em buat rencanaku sendiri buyar. Sang raja m em bentak, “Apa?
Tanpa m enjual harta yang lain? Pergi bagaikan sepasang orang
tolol yang m eninggalkan harta berharga delapan atau sem bilan
ribu dolar yang sudah m enunggu untuk diciduk? Sem uanya
mudah dijual pula.”
Sang pangeran m enggerutu, katanya sekarang uang em as
sudah cukup baginya, ia tak ingin lebih kaya lagi. Ia tak ingin
m eram pok para yatim piatu itu sam pai licin tandas.
“Oh, om on gm u!” tukas san g raja. “Kita tak m eram pok
m ereka sam pai licin tandas. Yang kita curi dari m ereka hanya
uang ini. Orang yang m em beli harta benda itulah nanti yang
akan m enanggung rugi, sebab segera setelah ternyata bahwa kita
bukanlah pem ilik yang sebenarnya—yang akan segera diketahui
begitu kita lenyap—penjualan akan batal m enurut hukum , sem ua
akan dikem balikan pada pem iliknya. Anak yatim piatu ini akan
m endapatkan kem bali rum ahnya, dan itu cukup bagi m ereka.
Mereka masih muda dan kuat, masih bisa bekerja untuk mencari
nafkah. Pikir saja, m asih banyak orang yang tak sebaik m ereka
keadaan hidupnya.”

Petualangan Huckleberry Finn 233

http://facebook.com/indonesiapustaka Akhirnya sang raja berhasil m eyakinkan sang pangeran,
walaupun sang pangeran masih berpendapat sangat tolol untuk
tinggal di tem pat itu lebih lam a dengan terus dibayang-bayangi
oleh Dokter Robinson.

“Terkutuklah dokter itu. Tapi untuk apa kita pedulikan dia?
Bukankah kita telah m endapat dukungan dari banyak sekali
orang di kota ini? Bukankah jum lah yang percaya pada kita jauh
lebih banyak daripada yang tidak percaya?”

Mereka berdua siap untuk turun ke bawah, ketika sang
pangeran berkata, “Tunggu, kukira tem pat kita m enyim pan uang
itu tak begitu baik.”

Bagus, pikirku. Kukira tadi aku tak akan m udah m enem ukan
di m ana m ereka yang m enyim pan uang itu.

“Men ga p a ?”
“Mulai besok Mary J ane akan selalu berpakaian berkabung.
J adi ia tak akan memakai pakaian-pakaian bagus ini. Pasti ia akan
m enyuruh budak negronya untuk m em bereskan pakaian-pakaian
ini dan m em asukkannya ke dalam peti. Apa kau kira seorang
negro bisa menjumpai sekarung uang tanpa meminjam beberapa
dolar darinya?”
“Otakm u berjalan dengan baik, Pangeran,” kata sang raja.
Ia meraba-raba di bawah tirai dua atau tiga kaki dari tempatku
bersem bunyi. Aku m erapatkan diri ke dinding, m encoba untuk
berdiam diri walau kurasakan seluruh tubuhku gem etar. Apa yang
akan dilakukan m ereka bila aku ketahuan, apa yang kukatakan
pada m ereka bila aku tertangkap, apa yang akan kukerjakan.
Tapi sang raja telah m enem ukan kantung uangnya sebelum aku
selesai berpikir, dan agaknya ia tak m enaruh curiga bahwa aku
berada di situ. Kantung itu dim asukkannya ke dalam kasur jeram i
yang terletak di bawah kasur bulu, m em asukkannya satu atau
dua kaki di antara jerami-jerami itu. Mereka puas dengan tempat
itu, sebab seorang budak hanya akan m em bereskan kasur bulu,

234 Mark Twain

sedang kasur jeram i hanya akan dibalik dua kali dalam setahun,
jadi tak ada bahaya uang itu akan ditem ukan tanpa sengaja.

Tapi aku lebih sigap. Sebelum kedua orang itu mencapai
pertengahan tangga ke bawah, kantung uang itu telah kuambil.
Aku m eraba-raba dalam kegelapan m enuju bilikku di loteng,
m enyem bunyikan uang itu di sana sebelum aku m endapatkan
tem pat persem bunyian lain yang lebih baik. Kukira tem pat
persem bunyian yang baik ialah di luar rum ah, sebab bila
kehilangan ini sudah diketahui, kedua orang itu pasti akan
m enggeledah seluruh rum ah. Aku tahu itu. Aku tidur tanpa
membuka pakaianku. Tapi aku tak bisa tertidur, begitu gelisah
aku untuk m enyelesaikan rencanaku. Akhirnya kudengar raja
dan pangeran naik ke tingkat atas. Aku berguling dari kasurku,
meletakkan daguku di puncak tangga bilik, menunggu kalau-
kalau terjadi sesuatu. Tetapi tak terjadi apa-apa.

Aku terus berjaga sam pai rum ah benar-benar sunyi. Lalu aku
turun tanpa mengeluarkan suara.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka MAYAT PETER MENYIMPAN
UANGNYA KEMBALI

AKU MERAMBAT hingga ke pintu kam ar kedua orang itu, dan
m em asang telinga. Mereka berdua telah tidur. Aku berjingkat,
berhati-hati sekali, dan mencapai tingkat bawah dengan selamat.
Tak ada suara apa pun. Aku m engintai m elalui sebuah celah di
pintu ruang tengah. Kulihat orang-orang yang m enjaga m ayat
sudah tidur pulas di kursi masing-masing. Pintu ke ruang tamu
tem pat peti m ayat, terbuka. Aku m elewati ruang tengah, yaitu
ruang m akan m alam tadi. Kulihat tak ada seorang pun di ruang
tam u kecuali m ayat Peter, jadi aku m asuk ruang tam u itu m enuju
ke pintu. Tapi ternyata pintu depan terkunci dan kuncinya tak
ada di tem patnya. Tepat saat itu kudengar seseorang m enuruni
tangga di belakangku. Aku m elihat ke sekeliling ruang tam u itu,
m encari tem pat persem bunyian untuk uangku. Satu-satunya
yang tam pak olehku hanyalah peti itu. Tutup peti m ati itu tergeser
kira-kira satu kaki, hingga terlihat wajah almarhum, tertutup

236 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka oleh selem bar kain basah, dan kain kafannya. Aku selundupkan
kantung uang tadi jauh di bawah tutup peti mati, di bawah tangan
alm arhum yang bersilang. Berdebar hatiku, tersentuh olehku
tangannya yang dingin itu. Aku berlari kem udian, ke balik pintu.

Yan g datan g tern yata Mary J an e. Perlahan sekali ia
m endekati peti m ati dan berlutut, m elihat pada wajah pam annya.
Ia mengangkat sapu tangan, mulai menangis, walaupun tak ku-
dengar suaranya dan ia m em belakangiku. Aku m enyelinap keluar,
waktu m elewati kam ar m akan kupikir aku harus m eyakinkan diri
bahwa para penjaga tadi tak m elihatku m asuk. Kuintai m ereka
dari celah pintu. Tapi sem ua beres. Tak ada di antara m ereka yang
bergerak.

Aku m enyelinap m asuk ke bilikku, pikiranku kacau sebab
rencanaku buyar berantakan setelah aku bersusah payah dan
m enem puh bahaya untuk m elaksanakannya. Bila saja uang itu
tak akan berpindah dari tem patnya, bereslah, bila aku telah
berada seratus mil atau dua ratus mil di hilir aku bisa menulis
surat pada Mary J ane agar ia m em buka kem bali kubur pam annya
untuk m endapatkan uangnya. Tapi rasanya tak akan terjadi
seperti rancanganku. Uang itu akan ditemukan pada saat tutup
peti m ati itu akan dipaku. J adi setelah aku bersusah payah, uang
itu akan kembali ke tangan raja, dan akan lebih sulit lagi untuk
dicuri. Tentu saja aku ingin turun kembali untuk memindahkan
uang tersebut, tapi aku tak berani. Menit-menit berlalu dengan
cepat, hari mulai mendekati pagi, para penjaga pasti sudah ada
yang terbangun, besar kem ungkinan aku akan tertangkap dengan
enam ribu dolar di tanganku karena tak ada yang m em erintahkan
padaku untuk m enyim pan uang itu. Aku tak ingin terlibat dalam
kejadian seperti itu.

Ketika pagi harinya aku turun, ruang tam u telah ditutup, para
penjaga telah pergi. Tak ada seorang pun kecuali anggota keluarga
dan Nyonya J anda Bertley serta gerom bolanku. Kuperhatikan

Petualangan Huckleberry Finn 237

http://facebook.com/indonesiapustaka wajah mereka untuk mengetahui apakah telah terjadi sesuatu
yang luar biasa. Tapi tak tam pak apa-apa pada wajah m ereka.

Menjelang tengah hari, pengurus jenazah dan pem bantunya
datang. Mereka m enaruh peti m ayat itu di tengah ruangan, di atas
dua buah kursi. Mereka juga mengatur semua kursi dalam rumah
itu berderet-deret, berlapis-lapis. Kursi-kursi tetangga dipinjam
untuk keperluan serupa hingga ruang makan, ruang tamu dan
seram bi penuh. Kulihat, tutup peti m ayat m asih tetap seperti tadi
m alam , tapi aku tak berani m elihat ke dalam nya, sebab terlalu
banyak orang.

Orang-orang m ulai berdatangan. Kedua bajingan dan para
gadis Wilks duduk di barisan kursi terdepan, dekat kepala peti
m ayat. Selam a satu setengah jam orang berjalan perlahan satu
persatu m enengok jenazah alm arhum . Ada yang m eneteskan air
m ata, hening dan khidm at. Hanya terdengar sedu sedan para
gadis Wilks itu dan kedua orang penipu di samping mereka,
kelima orang itu menundukkan kepala, menutupi mata dengan
sapu tangan. Suara lainnya hanyalah suara geseran kaki dan
suara orang m em bersitkan hidung. Agaknya orang paling senang
membersitkan hidung pada upacara-upacara pemakaman
daripada di tempat-tempat lain dengan perkecualian di gereja.

Waktu tem pat duduk telah penuh sem ua, pengurus jenazah
m enyelinap ke sana-kem ari, m engatur agar sem ua orang bisa
duduk dengan senang dan lega, mengatur semua persiapan, de-
ngan gerak geriknya yang selem but gerak-gerik kucing. Pengurus
jenazah itu tak pernah m engeluarkan perkataan sepatah pun,
digiringnya orang-orang ke tem pat-tem pat yang telah disediakan,
pendatang-pendatang terlam bat dijejal-jejalkannya di tem pat
yang tadinya tam pak tak m uat lagi, dibukanya jalan-jalan yang
dibutuhkan oleh orang-orang yang berkelom pok. Sem ua itu
dikerjakannya hanya dengan anggukan dan isyarat tangan;
tangan yang m em akai sarung tangan hitam . Setelah sem ua

238 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka dirasanya beres, baru ia m engam bil tem patnya sendiri, bersandar
ke dinding. Tak pernah kulihat orang yang begitu lincah tapi
lembut, bisa bergerak licin dan selalu waspada. Dan tak ada orang
yang tersenyum padanya.

Sebuah harm onika yang telah agak sum bang suaranya
dipinjam dari tetangga. Ketika sem uanya siap, seorang wanita
m uda duduk dan m ulai m em ainkannya. Suara harm onika itu
berderit-derit bagaikan suara orang sakit. Dengan diiringi
harm onika itu, sem ua orang m enyanyi. Menurut pendapatku,
hanya Peter-lah yang beruntung karena tak harus m enyanyi
m engikuti harm onika itu. Selesai m enyanyi, Tuan Pendeta
Hobson m em ulai khotbahnya, perlahan dan penuh khidm at.
Tepat pada saat yang sam a suatu keributan m aha hebat terdengar
dari arah gudang di bawah tanah. Suara seekor anjing, tapi
ributnya tak kepalang tanggung, dan tak m au berhenti pula.
Sang pendeta terpaksa menunggu, termenung dekat kepala peti
m ayat, sebab suaranya tak akan terdengar karena terbenam
oleh suara ribut anjing itu. Sem ua bingung, tak tahu apa yang
akan dikerjakan. Tetapi segera terlihat pengurus jenazah yang
berkaki panjang itu m em beri isyarat ‘J angan khawatir, serahkan
saja padaku’ pada Tuan Pendeta. Tanpa bersuara ia mulai
m enyusuri tem bok, hanya bahunya saja yang terlihat di atas
kepala orang banyak itu. Ia terus m enyusuri tem bok ruangan itu,
sementara keributan makin lama makin hebat di dalam gudang
di bawah tanah. Akhirnya dua dinding telah dilewati si pengurus
jenazah, dan ia lenyap m asuk ke dalam gudang. Kira-kira dua
detik kemudian semua orang mendengar suara gedebuk, diikuti
oleh suara lolongan dan dengkingan yang luar biasa kerasnya.
Sesudah itu keadaan sunyi senyap. Tuan Pendeta m eneruskan
khotbahnya, m enyam bung kata-kata khidm atnya yang terputus
tadi. Satu atau dua m enit berlalu, baru pengurus jenazah tadi
m uncul, punggung dan bahunya tam pak m eluncur di atas kepala

Petualangan Huckleberry Finn 239

http://facebook.com/indonesiapustaka orang banyak, m enyusuri tiga dinding ruangan itu, baru ia
berdiri tegak setinggi tubuh yang sebenarnya, dengan m enutupi
mulut dengan tangan, ia menjulurkan kepala hingga mencapai
dekat telinga tuan pendeta, berbisik dengan suara keras hingga
sem ua orang m endengar, “Anjing itu m enangkap seekor tikus!”
Ia membungkuk lagi, meluncur sepanjang dinding kembali ke
tem pat duduknya. Bisikannya tadi untuk m em uaskan hati sem ua
orang yang m em ang ingin tahu apa yang m enyebabkan anjing
di gudang itu begitu ribut. Suatu perbuatan sederhana, yang tak
membuat rugi siapa pun, tapi berdasarkan perbuatan sederhana
itulah seseorang akan menjadi terkenal. Setelah waktu itu tak ada
yang lebih dihorm ati orang di kota kecil itu kecuali si pengurus
jen a za h .

Khotbah pem akam an cukup baik, nam un terlalu panjang
dan melelahkan. Setelah khotbah selesai, sang raja ikut-ikut
berkhotbah dengan om ong kosongnya seperti biasa. Akhirnya
selesai juga pidatonya, si pengurus jenazah m enyelinap ke
dekat m ayat, m ulai m em asang sekerup dan m em utarnya hingga
terpancang kuat. Aku gelisah, kuperhatikan baik-baik pengurus
jenazah itu. Tapi ia tak banyak tingkah, m endorong tutup peti
hingga rapat, dan m em asang sekerupnya. Astaga, jadi aku tak
tahu apakah uang m asih ada di sana atau tidak. Bagaim ana
kalau seseorang telah mengambil uang itu dengan diam-diam?
Apakah aku m asih perlu atau tidak m enulis surat pada Mary
J ane? Misalkan ia menerima suratku, kemudian menggali kubur
pam annya, tapi ternyata uang itu tak ada, apa pikirannya tentang
diriku? Terkutuk! Pasti aku akan diburu dan dipenjarakan. Yah,
paling baik aku tutup mulut saja, tak menulis apa-apa. Rencanaku
betul-betul kacau, kini m akin berantakan lagi. Betapa senangnya
bila aku tak begitu usil untuk ikut campur urusan ini.

Peter selesai dikubur, kam i pulang. Aku m ulai m em per-
hatikan setiap wajah lagi. Terpaksa, aku gelisah terus. Tetapi
wajah-wajah itu tak m engisyaratkan apa-apa padaku.

240 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Sore harinya sang raja berkunjung pada para tetangga,
bercengkeram a dengan m ereka dan m em buat dirinya m akin
dikenal. Ia juga m engatakan pada sem ua orang bahwa jem aatnya
di Inggris akan gelisah m enunggunya, karena itu ia akan
membereskan semua persoalan harta warisan Peter, kemudian
bergegas pulang. Ia sangat m enyesal tak bisa tinggal terlalu lam a,
begitu juga sem ua orang yang diajaknya bicara. Orang-orang itu
juga ingin agar sang raja dan sang pangeran tinggal lebih lama
di situ, namun mereka maklum bahwa hal itu tak mungkin.
Sang raja berkata tentu saja ia dan William akan mengajak Mary
J ane, Susan, dan J oanna pulang ke Inggris. Ini membuat semua
orang gembira, sebab dengan begitu para gadis itu akan terjamin
hidupnya, lagi pula m ereka akan hidup di antara sanak keluarga
m ereka sendiri. Ketiga gadis itu juga sangat gem bira, hingga
m ereka sam a sekali lupa akan segala kesedihan yang pernah
mereka derita. Gadis-gadis itu malah mendesak sang raja untuk
menjual semua benda warisan secepat dan sekehendak penipu-
penipu itu. Begitu gem bira dan bahagia ketiga gadis tadi, sakit
rasanya hatiku m engetahui bahwa sebenarnya m ereka ditipu
m entah-m entah. Tapi aku tak punya cara baik untuk m engubah
apa yang sedang terjadi.

Ya am pun, betul-betul saat itu juga raja m engum um kan
bahwa rumah, semua budak negro, dan semua harta benda
akan dilelang. Hari penjualannya dua hari setelah pem akam an,
tapi yang berm inat bisa m em beli barang-barang yang m ereka
kehendaki sebelum waktu itu.

Sehari setelah upacara pemakaman, kegembiraan para
gadis itu mendapat goncangan pertama. Dua orang saudagar
budak datang, sang raja m enjual sem ua negro yang ada dengan
harga yang pantas dan akan dibayar dengan wesel tiga hari
kemudian. Dua anak negro dikirim ke Memphis, ibu mereka ke
Orleans. Mengharukan sekali perpisahan antara budak negro


Click to View FlipBook Version