The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by purinugroho77, 2022-03-07 01:30:15

Petualangan Huckleberry Finn

Petualangan Huckleberry Finn

http://facebook.com/indonesiapustaka AKU BERHASIL MENGELABUI
BAPAK DAN MELARIKAN DIRI

“BANGUN! SEDANG apa kau!”
Aku m em buka m ata dan m elihat sekeliling. Mula-m ula tak

tahu aku berada di m ana. Matahari telah terbit. Agaknya aku
jatuh tertidur. Bapak berdiri di depanku, wajahnya m uram dan
agaknya juga sakit.

“Untuk apa senapan ini?” ia bertanya.
Kupikir pastilah ia telah lupa akan perbuatannya sem alam ,
m aka aku m enjawab, “Ada orang m encoba untuk m asuk. Aku
bersiap-siap untuk m enyam butnya.”
“Mengapa tak kau bangunkan aku?”
“Telah kucoba, tapi Bapak sam a sekali tak bergerak.”
“Nah, baiklah. J angan ngom ong saja di situ, keluarlah dan
lihat kalau-kalau ada ikan di kail kita untuk sarapan. Aku akan
m enyusul nanti.”
Bapak m em buka pintu dan aku keluar m enuju ke tepi sungai.
Kulihat banyak sekali batang-batang kayu hanyut, m aka aku tahu

http://facebook.com/indonesiapustaka 42 Mark Twain

bahwa air sungai telah naik. Bila saja aku berada di kota, sudah
pasti aku banyak m endapat uang. Kenaikan air sungai pada bulan
J uni selalu menguntungkan aku, sebab begitu air sungai naik,
banyak sekali batang kayu dan kayu-kayu bekas rakit hanyut,
kadang-kadang dua belas batang balok kayu sekaligus telah
terikat rapi hingga dengan m udah bisa kubawa ke penjual kayu
api atau ke tempat penggergajian untuk kujual.

Aku berjalan sepanjang tepi sungai, sebelah m ata m em -
perhatikan kalau-kalau Bapak keluar, yan g sebelah lagi
m em perhatikan barang-barang yang hanyut di sungai. Tiba-tiba
tampak olehku sebuah biduk ramping, bagus sekali, dengan
panjang kira-kira em pat m eter, hanyut cepat bagaikan seekor
bebek. Tak berpikir panjang lagi aku terjun ke sungai, tanpa
membuka pakaian terlebih dahulu, berenang ke arah biduk itu.
Tadinya kukira itu hanya suatu tipuan, biasanya seseorang tidur
diam -diam di dasar biduk dan m enghanyutkan diri, nanti bila ada
seseorang mendekat, orang tadi akan bangkit dan menertawakan
si pendatang. Nam un ternyata kali ini tidak. Betul-betul sebuah
biduk yang hanyut! Aku cepat naik ke dalam nya dan berdayung ke
tepi. Pikirku, Bapak pasti sangat gem bira m endapat ini. Harganya
pastilah tak kurang dari sepuluh dolar. Tapi ketika aku sampai ke
tepi, Bapak belum kelihatan. Aku m endayung biduk itu m asuk
ke sebuah anak sungai kecil yang tertutup rapat oleh tum buhan
sulur-suluran, dan muncullah sebuah pikiran lain di otakku.
Lebih baik kusem bunyikan saja biduk itu, hingga nanti bila aku
berhasil lari tak perlu aku susah payah berjalan kaki, nam un
m enghilir sungai ini dengan biduk. Kira-kira lim a puluh m il saja
bebas sudah.

Tem pat aku m enyem bunyikan biduk itu dekat sekali dengan
pondok, dan aku m erasa takut kalau-kalau Bapak m engetahui
perbuatanku, tapi ternyata tidak. Dari balik sem ak-sem ak kulihat
Bapak berada di ujung jalan setapak, sedang m engincar seekor
burung dengan bedilnya. J adi ia sam a sekali tak m elihatku.

Petualangan Huckleberry Finn 43

http://facebook.com/indonesiapustaka Waktu Bapak m endekat, aku sedang sibuk m enarik sebuah
tali kail. Aku dim arahinya karena terlalu lam a, tapi kujawab
bahwa aku baru saja terjatuh ke sungai. Aku tahu ia pasti akan
bertanya m engapa pakaianku basah kuyup, jadi jawabannya
sudah tersedia. Kam i m endapat lim a ekor ikan besar dan pulang.

Selesai sarapan, kam i berbaring untuk tidur. Aku berpikir
alangkah baiknya bila saja aku m endapatkan suatu cara agar Bapak
m aupun Nyonya J anda tak dapat m engikuti jejakku. Itu akan lebih
daripada m enyandarkan nasib, karena m ungkin sebelum nya apa
saja bisa terjadi. Beberapa saat aku tak m endapatkan jalan yang
cukup baik, sam pai saat Bapak bangkit untuk m inum air dan
berkata, “Bila orang yang kem arin datang lagi, bangunkan aku,
m engerti? Orang itu pasti akan berbuat kurang ajar di sini. Akan
kutem bak dia. Bangunkan aku bila ia datang lagi!”

Bapak segera tertidur lagi, tapi kata-katanya tadi m em beri
suatu ilham padaku. Kini aku bisa lari tanpa seorang pun akan
mengikuti aku.

Kam i terbangun kira-kira pukul dua belas. Berdua kam i pergi
ke tepi sungai. Air telah pasang tinggi sekali, dan berbagai kayu
tam pak hanyut. Tam pak sebagian dari rakit balok kayu hanyut,
terdiri dari sem bilan batang kayu yang diikat erat. Bapak dan aku
segera turun ke biduk untuk m engejar rakit itu, lalu m enariknya
ke pinggir. Kem udian kam i m akan siang. Orang lain pastilah
m enunggu dulu kalau-kalau ada lagi rakit kayu yang hanyut, tetapi
Bapak tidak, sem bilan balok kayu itu sudah cukup baginya untuk
segera pergi ke kota dan m enjualnya. Maka kira-kira setengah
em pat, aku dikuncinya di dalam rum ah, dan ia berangkat ke
kota di seberang sungai, naik perahunya dan m enyeret rakit
tadi. Kukira ia tak akan pulang nanti m alam . Kutunggu sam pai
ia berada jauh di tengah sungai baru kukeluarkan gergajiku dan
m ulai bekerja. Sebelum Bapak m encapai pantai seberang, aku
telah berada di luar pondok. Bapak dan rakitnya hanya setitik
hitam di kejauhan.

http://facebook.com/indonesiapustaka 44 Mark Twain

Kuam bil karung tem pat jagung, kubawa ke bidukku yang
tersem bunyi di balik sem ak-sem ak rapat. Selesai m enaruh karung
itu, aku mulai mengangkuti barang-barang lain dari rumah.
Daging, guci wiski, sem ua gula dan kopi yang ada, sem ua m esiu
serta kertas sumbat peluru. Ember dan tempat air juga kuambil,
gayung dan sebuah cangkir seng, gergajiku dan dua lem bar
selim ut, tem pat penggorengan dan ceret kopi. Aku am bil juga
tali-tali kail, korek api, dan lain-lain. Pokoknya sem ua benda yang
berharga lebih dari satu sen. Pondok itu kubersihkan dari semua
barang. Aku m em erlukan sebuah kapak, tetapi hanya ada satu
kapak, yaitu kapak di tem pat kayu bakar, dan kapak itu terpaksa
harus kutinggalkan. Paling akhir kuam bil senapan Bapak.

Tanah di sekitar rum ah banyak sekali m enunjukkan bekas-
bekas kesibukanku tadi, setelah m enyereti barang-barang dari
lubang yang kubuat di dinding. Kuhilangkan jejak-jejak itu sebaik
mungkin dengan menaburkan debu, hingga tanah bekas maupun
serbuk gergaji tak terlihat lagi. Kupasang lagi balok kayu dinding
yang tadi kupotong di tem patnya sem ula, kutaruh dua buah batu
di bawahnya dan sebuah lagi untuk pengganjal karena tem pat
itu kini agak m elengkung dan tak m enyentuh tanah. Dari jarak
empat atau lima kaki tak akan tampak bahwa tempat itu pernah
digergaji, lagi pula tempat itu berada di belakang pondok, jadi
kecil kemungkinan akan diselidiki orang.

Dari pondok ke biduk tanahnya berum put, jadi di situ aku tak
m eninggalkan jejak. Aku m em perhatikan berkeliling. Aku pergi
ke tepi sungai, m em perhatikan ke seberang. Sem uanya beres,
tak ada tanda-tanda bahaya. Dengan m em bawa bedil Bapak,
aku m asuk ke dalam hutan. Aku sedang m encari burung ketika
m endadak kulihat seekor babi liar. Babi peliharaan cepat sekali
menjadi babi liar di daerah itu, asal saja lepas dari peternakan
segera juga m enjadi liar. Aku tem bak babi itu dan kubawa ke
pondok.

Petualangan Huckleberry Finn 45

http://facebook.com/indonesiapustaka Dengan kapak, kuhancurkan pintu pondok. Kubawa babi
tadi m asuk sam pai dekat m eja. Di situ kugorok lehernya, dan
kubiarkan darahnya m em basahi lantai tanah pondok. Kem udian
kuambil sebuah karung tua, kupenuhi dengan batu, cukup untuk
bisa kuseret-seret dari tempat babi ke luar, melalui hutan ke
sungai. Kulem parkan karung berisi batu itu ke sungai hingga
terbenam dan tak akan tim bul lagi. Dari jejaknya, orang akan
mengira bahwa sesuatu benda berat telah diseret dari dalam
rum ah. Alangkah senangnya kalau waktu itu Tom Sawyer ada, ia
pasti suka pada kejadian-kejadian semacam ini, dan ada-ada saja
pikirannya untuk m em perindah rencana yang sedang kujalankan.
Tak ada yang lebih pandai daripada Tom Sawyer dalam hal
membuat rencana-rencana pelik.

Terakhir, kucabuti beberapa helai rambutku, membasahi
mata kapak dengan darah, dan menempelkan rambutku pada
m ata kapak itu. Kapak itu kulem parkan ke sudut rum ah. Kuangkat
babi tadi, kudekap di dadaku dan kubungkus dengan jaket agar
darahnya tak m enetes. Babi itu pun kubuang ke sungai. Kini aku
m endapat suatu pikiran lagi. Kuam bil karung jagung dan gergajiku
dari biduk, kubawa kem bali ke pondok, ke tem pat biasanya
karung itu berada. Dengan gergaji, kubuat sebuah lubang kecil
di karung itu, di dasarnya. Terpaksa kupakai gergajiku karena
sama sekali tak ada pisau atau garpu dalam pondok itu, untuk
m akan atau m asak. Bapak selalu m enggunakan pisau lipatnya.
Kem udian kubawa karung itu kira-kira seratus yard m elalui
semak-semak ke sebelah timur rumah di mana terdapat sebuah
danau dangkal yang lebarnya kira-kira lim a m il, penuh dengan
rum put purun dan belibis bila m usim nya. Di seberang danau
terdapat sebuah anak sungai yang entah berm uara di m ana, tetapi
tidak di Sungai Mississippi. Sepanjang perjalanan itu beberapa
butir jagung keluar dari karung lewat lubang yang kubuat, hingga
bisa m enunjukkan arah yang tadi kutem puh. Di dekat danau

http://facebook.com/indonesiapustaka 46 Mark Twain

kujatuhkan batu asahan Bapak, seakan-akan tak sengaja. Dan
kututup lagi lubang di karung serta kubawa kembali ke perahuku,
juga gergajiku kubawa kembali.

Hari telah m ulai gelap. Kubawa bidukku m em asuki sungai,
kem udian berlabuh di balik tanam an-tanam an yang m enggantung
dari atas tebing. Kutunggu terbitnya bulan. Setelah m engikatkan
perahu ke sebuah dahan semak-semak, aku makan. Selesai makan
aku tidur-tiduran di dasar biduk, merokok dan berpikir-pikir.
Pastilah orang-orang nanti akan mengikuti jejak karung batu ke
sungai, kem udian m encari m ayatku di sungai itu. J ejak karung
jagung mereka ikuti, mungkin juga mereka akan terus mencari
sepanjang anak sungai danau untuk m encari pencuri yang telah
m engam bil barang-barang di pondok serta m em bunuhku. Yang
mereka cari di sungai tak akan lain daripada bangkaiku, dan
akhirnya m ereka akan bosan m encari dan tak m em ikirkan aku
lagi. Nah, beres sudah, aku bisa tinggal di mana saja aku mau.
Pulau J ackson cukup baik bagiku. Aku tahu betul keadaan pulau
itu dan tak akan ada orang pergi ke kota m alam hari. Benar,
pilihanku sudah tetap, Pulau J ackson.

Aku am at lelah, tanpa kuketahui aku tertidur. Aku m elihat
berkeliling, agak takut. Kem udian aku ingat. Sungai raksasa itu
tam paknya lebar sekali. Bulan bersinar begitu terang sehingga
aku bisa m enghitung kayu-kayu yang hanyut beberapa ratus yard
dari tepi sungai. Sunyi, rasanya m alam telah berjalan lam a sekali.

Aku m enguap sepuas-puasnya dan m enggeliat. Baru saja
akan kulepaskan tambahan perahu, kudengar suatu suara di
air. Aku m enahan napas. Segera juga aku tahu suara apa itu.
Suara yang ditim bulkan oleh kayu pendayung di lubang dayung.
Aku m engintai dari balik sem ak-sem ak, kulihat di kejauhan
sebuah perahu. Masih jauh, tak bisa kulihat berapa orang ada di
dalam nya. Ketika tepat berada di seberangku, kulihat ternyata
hanya ada seorang m anusia di perahu itu. Mungkin itu bapakku,

Petualangan Huckleberry Finn 47

http://facebook.com/indonesiapustaka pikirku, walaupun tak kuharapkan ia telah muncul kembali.
Perahu itu m enghanyut m elewatiku, kem udian berputar m asuk
ke aliran sungai yang tak deras dan m ulai berdayung ke m udik.
Ia melewatiku lagi, kini dekat sekali hingga bila aku mau bisa
kusentuh dia dengan ujung senapan. Ternyata orang itu betul-
betul Bapak. Dari gayanya berdayung, tahulah aku bahwa dia
tidak mabuk.

Aku tak m em buan g waktu lagi. Sem en it kem udian
bidukku telah hanyut ke hilir, dalam bayang-bayang tebing
sungai. Kubiarkan hanyut hingga dua setengah m il, baru aku
m em belokkannya ke tengah sungai. Aku akan m elewati tem pat
perahu tambangan, hingga besar kemungkinan aku akan terlihat
oleh orang-orang di tepian. Kutem patkan bidukku di antara
kayu-kayu hanyut di tengah sungai, kem udian aku berbaring di
dasarnya, m em biarkannya hanyut lagi. Sam bil beristirahat, aku
merokok dengan pipaku lagi. Di atasku langit jernih sekali, tanpa
awan sepotong pun. Bila kita m em andang langit pada terang
bulan, dalam sekali tam paknya langit itu. Belum pernah kuketahui
hal itu sebelum nya. Dan betapa jauhnya kita m endengar suara-
suara yang m eram bat di air. Kudengar orang-orang berbicara di
pelabuhan kapal tambang, tiap kata kudengar jelas. Seseorang
berkata bahwa kini tiba m usim nya siang-siang bertam bah
pan jan g dan m alam -m alam bertam bah pen dek. Kawan n ya
m enyahut bahwa dia kira m alam ini bukanlah salah satu dari
m alam -m alam yang pendek itu. Mereka berdua tertawa terbahak-
bahak akan ucapan ini. Sekali lagi kalimat itu diucapkan dan
sekali lagi mereka tertawa. Mereka membangunkan seseorang
dan kalim at itu diucapkan sekali lagi. Nam un orang yang baru
terbangun itu tak ikut tertawa, bahkan membentak dan minta
agar ia tak diganggu lagi. Orang yang pertam a berkata ia akan
m engatakan kalim at tadi pada istrinya, pasti istrinya itu kagum
akan kecerdikannya. Nam un itu sebenarnya belum apa-apa, bila

http://facebook.com/indonesiapustaka 48 Mark Twain

dibandingkan dengan kata-kata yang pernah diucapkannya di
waktu ia m asih m uda. Kudengar seorang berkata bahwa m alam
telah pukul tiga pagi, ia berharap fajar akan segera datang dan
matahari tidak menunggu seminggu lagi untuk terbit. Setelah itu
percakapan tadi m akin lam a m akin jauh hingga akhirnya tak bisa
kum engerti lagi. Aku m asih bisa m endengar suara gum am dan
tawa m ereka nam un kedengarannya sangat jauh sekali.

Aku kini berada jauh di bawah pelabuhan kapal tam bang.
Aku bangkit, kulihat Pulau J ackson kira-kira dua setengah m il di
sebelah hilir. Berdiri di tengah sungai, hutannya lebat, besar dan
kukuh bagaikan sebuah kapal uap tanpa lampu. Gosong pasir di
ujung pulau tak tam pak, tertutup air yang pasang.

Tak membutuhkan waktu lama untuk mencapai pulau itu.
Ujung pulau kulewati dengan sangat cepat, karena arus yang kuat.
Segera juga aku sam pai ke bagian sungai yang tenang airnya dan
berlabuh di pantai pulau yang m enghadap ke daerah Illinois. Aku
m asukkan bidukku ke sebuah teluk kecil di pantai pulau yang
telah kukenal. Teluk itu pun tertutup semak-semak, hingga dari
pantai tak akan tampak sungai di seberang perahuku.

Aku naik ke darat, duduk di batang pohon rebah di kepala
pulau, m erenungi sungai yang penuh dengan kayu hanyut dan
kota di seberangnya, tiga m il dari tem patku. Dari kota tam pak
tiga atau em pat kelipan lam pu. Sebuah rakit perusahaan kayu
tampak satu mil di arah mudik, sedang mengikuti arus ke hilir
dengan sebuah lentera di tengahnya. Aku m em perhatikannya
terus, dan ketika rakit itu berseberangan denganku, aku dengar
seseorang di rakit itu berteriak, “Dayung buritan, hei! Belokkan
ke arah kanan!” jelas sekali seakan-akan orang itu ada di sisiku.

Langit m ulai kelabu. Aku m asuk ke dalam hutan dan tidur.

http://facebook.com/indonesiapustaka AKU MENOLONG JIM,
BUDAK NONA WATSON

MATAHARI TELAH tinggi waktu aku bangun, sekitar pukul
delapan kukira. Aku berbaring-baring di rum put, di tem pat
teduh, memikirkan pengalamanku, merasa lepas lelahku. Hatiku
senang dan puas. Aku bisa m elihat m atahari lewat dua atau
tiga buah celah di antara daun-daunan rimbun di sekelilingku.
Pohon-pohon besar yang m engelilingiku, m em buat tem pat
itu sedikit gelap. Beberapa lingkaran cahaya sam pai ke tanah,
kadang-kadang bergoyang-goyang bertukar tem pat m enunjukkan
bahwa ada angin lalu mengguncangkan daun-daun di atas.
Sepasang tupai bertengger di kaki sebatang pohon, dengan ramah
mengajakku bercakap-cakap.

Aku begitu gem bira hingga m erasa sangat m alas, tak ingin
bangun untuk m em buat sarapan. Aku sudah ham pir tertidur lagi
waktu kudengar sebuah suara berat, “Buum !” di arah m udik. Aku
mengangkat kepala, memasang telinga. Segera juga kudengar

50 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka lagi suara itu. Aku m elom pat berdiri, m elihat keluar dari antara
sem ak-sem ak yan g m en gelilin giku. Kulihat segum pal asap
m engem bang di atas air di seberang tem pat tam bangan. Kapal
tam bang itu m enghilir sungai, penuh penum pang. Aku tahu kini
apa yang sedang terjadi. “Buum !” Dari sam ping kapal tam bang itu
m enyem bur segum pal asap putih. Mereka sedang m enem bakkan
m eriam di atas air untuk m em buat m ayatku m uncul.

Aku m erasa sangat lapar, tapi tak m enguntungkan bagiku
m em buat api, asapnya bisa terlihat oleh orang-orang di kapal
tam bang. Karena itu aku duduk-duduk saja di situ, m em perhatikan
asap m eriam dan m endengarkan dentum annya. Di tem pat itu
lebar sungai mencapai satu mil, cuaca di pagi musim panas itu
cerah, jadi senang juga bagiku memperhatikan mereka berusaha
m encari m ayatku, asal saja aku m em punyai sesuatu untuk
kum akan. Aku jadi teringat, biasanya untuk m enim bulkan m ayat
juga digunakan roti yang diberi air rasa dan dihanyutkan, dengan
kepercayaan bahwa roti tersebut akan berhenti hanyut tepat
di atas tem pat m ayat orang yang dicari. Aku pun bersiap-siap,
m em asang m ata kalau-kalau salah satu dari roti-roti itu hanyut di
dekatku. Aku berpindah tem pat, ke pantai pulau yang m enghadap
ke Illinois untuk m encoba keuntunganku. Dan ternyata aku tak
kecewa. Sepotong besar roti ganda tampak terapung mendekat.
hampir saja roti itu bisa kuambil dengan sebatang tongkat tapi
kakiku tergelincir dan roti tersebut terus hanyut. Tentu saja aku
berada di tepian arus sungai yang paling dekat dengan pantai
pulau. Kem udian m uncul lagi sepotong roti yang lain, dan kali ini
aku berhasil. Kuam bil sum batnya untuk m engeluarkan air rasa
di dalam nya, dan aku m ulai m akan. Roti paling enak, yang biasa
dim akan orang-orang kaya.

Aku bersem bunyi lagi di sem ak-sem ak sam bil m akan roti,
memperhatikan kapal tambang dan merasa sangat puas. Timbul
suatu pikiran padaku. Aku tahu bahwa roti ini sebelum dilem par

Petualangan Huckleberry Finn 51

http://facebook.com/indonesiapustaka ke air didoakan lebih dahulu, m ungkin oleh Nyonya J anda atau
oleh Tuan Pendeta untuk bisa m enem ui aku. Dan ternyata betul-
betul roti itu m enem ukan aku. Kesim pulanku adalah sebuah
doa akan berhasil bila yang m endoakan orang-orang sebangsa
Nyonya J anda dan Tuan Pendeta, tapi bila yang berdoa orang
semacam aku pasti tak akan berhasil.

Kunyalakan pipaku. Alangkah nikm atnya m engisap pipa
m elihat orang m encari bangkaiku. Kini kapal tam bang itu ber-
hanyut-hanyut m engikuti arus. Kukira aku akan bisa m elihat
siapa saja yang ada di kapal itu, sebab arus akan m em bawanya
dekat sekali denganku, di tem pat aku m engam bil roti. Aku ber-
baring di balik sebatang pohon kayu rebah di pantai. Di antara
cabang-cabangnya aku bisa m elihat m ereka.

Akhirnya kapal itu tiba, berhanyut begitu dekat hingga bila
saja mereka mau memasang papan, dengan mudah mereka bisa
naik ke darat. Ham pir sem ua orang ada di kapal itu. Bapak,
Hakim Thatcher, Bessie Thatcher, J oe Harper, Tom Sawyer,
Bibi Polly, Sid, Mary, dan banyak lagi. Sem ua orang ribut
m em bicarakan soal diriku, sam pai kapten kapal m enyela dengan
berteriak, “Awas! Lihat baik-baik! Arus sangat dekat sekali ke
pantai di tempat ini, mungkin ia terdampar dan terkait di antara
sem ak-sem ak itu. Mudah-m udahan m em ang begitu!”

Tapi aku tak berharap demikian. Orang-orang itu semua
berkerum un di pagar kapal, tepat di depan m ataku. Aku bisa
melihat mereka dengan jelas, tapi mereka tak bisa melihatku.
Kem udian kapten kapal berteriak, “Minggir!” Meriam berdentum
dengan sangat hebat di depanku hingga pekak rasanya telingaku,
serta buta m ataku oleh asapnya, dan kukira aku pun m am pus.
Bila saja m eriam itu betul-betul berisi peluru, sudah pasti m ereka
akan m endapatkan m ayat yang m ereka cari. Aku bersyukur bahwa
aku tak m endapat cedera sam a sekali. Kapal itu m eneruskan
perjalanan, lenyap di balik tikungan pulau. Aku m asih bisa

http://facebook.com/indonesiapustaka 52 Mark Twain

mendengar suara dentuman meriam, makin lama makin jauh
dan setelah satu jam baru suara itu tak kudengar lagi. Pulau
J ackson panjangnya tiga m il. Kukira kapal itu telah m encapai
ujung bagian hilir pulau, dan telah putus asa. Tetapi ternyata
tidak. Mereka memutari ujung pulau dan mulai memudik sungai
lalu m enem bakkan m eriam nya. Aku m enyeberangi pulau untuk
m elihat m ereka lagi. Ketika m ereka m endekati kepala pulau,
mereka tak menembakkan meriam lagi, berbelok ke arah pantai
Missouri dan pulang.

Kini aku yakin bahwa tak akan ada lagi yang m encariku.
Barang-barang kuam bil dari biduk, kubawa ke tengah-tengah
semak. Dengan selimut kubuat semacam tenda untuk melindungi
barang-barang. Kupancing seekor ikan dan kubersihkan ikan itu
dengan gergaji. Menjelang m atahari terbenam , kunyalakan api
untuk memasak makanan untuk malam nanti. Selesai memasak
kupasang kail lagi, untuk sarapan besok.

Ketika m alam tiba, aku duduk di dekat api unggun, m engisap
pipa dan merasa lega. Tapi lama-kelamaan aku merasa sangat
kesepian . Aku pergi ke pan tai, m en den garkan desauan air,
m enghitung bintang dan kayu serta rakit hanyut. Akhirnya aku
pergi tidur. Tak ada cara yang lebih baik untuk m elewatkan waktu
daripada tidur bila merasa sangat kesepian.

Begitulah keadaanku selam a tiga hari tiga m alam . Tak ada
perubahan. Tapi pada hari keempat aku bermaksud menjelajahi
pulau. Bisa dibilang pulau itu seluruhnya m enjadi m ilikku, jadi
wajarlah bila aku ingin m engetahui seluk-beluknya. Tetapi m ak-
sudku yang sebenarnya adalah untuk m elupakan rasa kesepianku.
Ternyata di pulau itu banyak sekali tum buh sem ak-sem ak buah
arbei tengah berm asakan. J uga banyak terdapat anggur m usim
panas yang berwarna hijau, dan buah fram bos. Arbei hitam m ulai
berputik, cukup banyak untuk persedian kelak.

Aku berkeliaran di dalam rim ba lebat itu begitu lam a hingga
menurut perkiraanku aku sudah tak jauh lagi dari ujung pulau

Petualangan Huckleberry Finn 53

http://facebook.com/indonesiapustaka sebelah hilir. Aku m em bawa bedil, tapi tak m enem bak apa
pun. Bedil itu hanya untuk m elindungi diri, dan m ungkin juga
aku akan berburu dekat-dekat kemahku. Saat itu, aku hampir
saja m enginjak seekor ular yang cukup besar. Ular tersebut
segera meluncur pergi memasuki semak-semak dan rumput.
Aku m engejarnya dengan bedil siap m elepaskan peluru. Dan
mendadak saja aku melihat sebuah bekas api unggun di tanah.
Masih berasap!

Rasa pecah dadaku oleh debaran jan tun gku. Aku tak
m enunggu lagi. Kulepaskan lagi pelatuk bedil, dan cepat-cepat
berjingkat m enyingkir. Sekali-sekali aku berhenti di sem ak-sem ak
lebat, memasang telinga tapi napasku begitu keras hingga aku tak
bisa mendengar apa-apa. Setiap berjalan beberapa langkah, aku
berhenti m em asang telinga. Bila aku m elihat sebuah tunggul
kayu, kukira itu adalah m anusia. Bila aku m enginjak patah
sebatang dahan kering, kurasa seakan-akan seseorang memotong
napasku jadi dua dan aku hanya m endapat sepotong, potongan
yang terpendek lagi.

Sam pai di kem ah, hatiku m asih belum tenang. Bukannya aku
penakut, nam un saat itu bukan waktu yang tepat untuk berbuat
sem brono. Kum asukkan lagi sem ua barangku ke dalam perahu
agar tersem bunyi, kum atikan api dan kutebarkan abunya supaya
tam pak seolah-olah api unggun dari tahun yang lalu. Kem udian
aku memanjat sebatang pohon.

Dua jam aku berada di puncak pohon itu, namun tak ada
sesuatu yang m encurigakan, hanya dalam khayalanku berbagai
peristiwa berlintasan. Aku tak bisa tinggal selam a-lam anya di
puncak pohon, akhirnya aku turun. Nam un tak pernah lagi aku
berada di tempat terbuka, dan mataku selalu kupasang. Terpaksa
aku hanya m akan buah arbei dan sisa sarapan tadi.

Waktu m alam tiba, aku jadi sangat kelaparan. Kutunggu
sampai keadaan sangat gelap, kumasuki perahuku dan aku
berdayung ke arah pantai Illinois yang hanya seperem pat m il

http://facebook.com/indonesiapustaka 54 Mark Twain

jauhnya. Segera aku m asuk rim ba di tem pat itu dan m asak
m akanan untuk m akan m alam . Baru saja aku berpikir untuk
tinggal di tempat itu sepanjang malam, kudengar suara depak kaki
kuda m endekat, kem udian suara orang. Cepat-cepat kum asukkan
lagi barang-barangku ke dalam perahu, kemudian merambat di
antara pohon-pohon untuk m elihat siapa yang datang. Belum
jauh aku berjalan kudengar seseorang berkata, “Lebih baik kita
berm alam di sini. Kita cari tem pat yang baik, kuda kita telah am at
lelah. Mari kita lihat berkeliling.”

Aku tak m enunggu lagi, segera berdayung m enjauh tanpa
bersuara kem bali ke tem patku berlabuh di Pulau J ackson. Aku
tidur di dalam perahu.

Tapi aku tak bisa tidur tenang di perahu. Setiap saat aku
terbangun karena kupikir seseorang sedang mencekik leherku.
Maka tidurku m alah m em buat badanku m erasa tak enak. Akhir-
nya aku berpendapat bahwa bila keadaanku begini selam anya,
aku akan sangat tersiksa, maka kuputuskan untuk melihat siapa
sebenarnya yang ada di pulau itu selain aku. Apa pun yang akan
terjadi, harus kuketahui orang itu. Hatiku agak tenang setelah
kuambil keputusan tersebut.

Kuam bil dayungku, dan perahu kudorong m eninggalkan
pantai sedikit, berhanyut-hanyut di bayang-bayang sem ak. Bulan
bersinar, di luar daerah bayang-bayang terangnya bagaikan siang.
Aku m engikuti arus selam a kira-kira satu jam , sem ua yang ada
tenang dan sunyi. Kucapai ujung pulau ketika kurasa angin dingin
bertiup m enandakan pagi akan tiba. Kubelokkan perahuku ke
pantai, aku naik ke darat dengan m em bawa senapanku. Aku duduk
di batang kayu rebah, m em perhatikan sekelilingku dari balik
daun-daunan. Bulan terbenam , gelap m eliputi sungai. Tapi segera
juga kulihat cahaya pucat m enerangi puncak-puncak pohon. Pagi
tiba. Kuangkat senapanku dan aku pergi ke tem pat bekas api
unggun kemarin, sekali-sekali berhenti untuk memasang telinga.

Petualangan Huckleberry Finn 55

http://facebook.com/indonesiapustaka Aku tak beruntung, agaknya aku telah lupa tem patnya. Tapi lam a-
kelam aan tam pak olehku setitik cahaya api jauh di antara pohon-
pohon. Sangat hati-hati kudekati cahaya itu. Setelah dekat, aku
melihat seseorang berbaring di tanah. Seluruh tubuhku gemetar
ketakutan. Orang itu m em bungkus kepalanya dengan selim ut, dan
kepala itu sangat dekat sekali ke api unggun. Aku bersem bunyi di
balik sem ak-sem ak kira-kira enam kaki darinya, dan m em buka
selim utnya. Ternyata J im , budak Nona Watson! Betapa gem bira
hatiku, aku m elom pat keluar dan berteriak, “Halo, J im !”

J im melonjak, memandangku dengan mata liar, kemudian ia
berlutut m enyusun tangan, berkata, “J angan ganggu aku, jangan!
Tak pernah aku m engganggu hantu, aku selalu m enyukai orang-
orang yang telah m eninggal dan m em beri bantuan bilam ana aku
bisa. Pergilah kembali ke sungai, tempatmu. J angan ganggu lagi
si J im tua ini. Aku selalu berbuat baik padam u.”

Segera aku m enerangkan bahwa aku sebetulnya tidaklah
m eninggal dunia. Aku begitu gem bira bertem u dengan J im .
Aku tak akan m erasa kesepian lagi kini. Kukatakan bahwa aku
tak akan takut ia m enceritakan tem pat persem bunyianku pada
orang lain. Banyak lagi bicaraku, nam un dia diam saja. Akhirnya
aku berkata, “Hari telah siang. Mari kita sarapan. Nyalakan api
u n ggu n .”

“Untuk apa m enyalakan api? Untuk m em asak buah-buahan?
Arbei dan lainnya? Tapi kulihat kau m em bawa senapan. Mungkin
kita bisa makan daging kini.”

“Buah arbei dan lainnya? Hanya itukah yang kau m akan?”
“Tak bisa kudapat lain dari itu.”
“Wah, sudah berapa lam a kau ada di sini?”
“Aku kem ari pada m alam engkau terbunuh.”
“Apa? Selam a itu?”
“Ya, betul.”
“Dan yang kau m akan hanya buah-buahan itu?”

56 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka “Hanya itu.”
“Astaga, m estinya kau sudah sangat kelaparan.”
“Kukira aku bisa m enghabiskan seekor kuda sekali m akan.
Berapa lam a kau ada di pulau ini?”
“Sejak m alam aku terbunuh.”
“Wah! Lalu kau m akan apa? Tapi kau punya bedil. Ya, kau
punya bedil. Bagus sekali. Kau cari sesuatu, akan kunyalakan api.”
Kam i berdua pergi ke tem pat aku m enam batkan perahu.
Sem entara J im m em buat api di tem pat terbuka yang dikelilingi
semak-semak, aku mengambil jagung, daging, kopi, cerek
kopi, penggorengan, gula, dan cangkir seng. Barang-barang itu
m em buat m ata J im terbelalak, ia m engira sem uanya itu kudapat
dari ilm u sihir. Aku berhasil m engail seekor ikan besar, J im
m em bersihkannya dengan pisaunya.
Kam i segera m akan sarapan begitu m asakan itu terangkat
dari atas api. Dan ketika kam i telah kekenyangan, kam i berbaring-
baring di rumput.
Setelah agak lam a J im bertanya, “Huck, bila kau tidak m ati,
lalu siapa yang terbunuh di pondok bapakm u m alam itu?”
Kuceritakan sem ua dari awal hingga akhir. J im am at kagum
akan kecerdikanku. Katanya, bahkan Tom Sawyer tak akan bisa
membuat rencana sebagus itu.
“Mengapa kau kem ari, J im , dan dengan apa?” tanyaku
kem u d ia n .
Ia kelihatan gelisah. Sesaat tak berkata apa-apa, kemudian ia
m enjawab, “Lebih baik tak kukatakan, Huck.”
“Kenapa, J im ?”
“Banyak sekali alasannya. Tapi kau tak akan m engkhianati
aku bila aku ceritakan?”
“Terkutuklah aku bila berbuat begitu, J im .”
“Aku percaya, Huck. Aku... aku m elarikan diri.”
“J im !”

Petualangan Huckleberry Finn 57

http://facebook.com/indonesiapustaka “Ingat, kau berjanji untuk tidak m engatakannya, Huck, kau
tahu itu.”

“Mem ang, aku berjanji. Dan akan kutepati janjiku itu. Dem i
Tuhan! Biarlah aku dikatakan orang Pem bebas Budak yang hina,
biarlah semua orang memandang jijik padaku karena aku tutup
m ulut... tapi biarlah. Aku tak akan m engkhianatim u, bagai-
m anapun juga tak akan. Nah, ceritakan apa yang terjadi.”

“Begini, Huck. Nona Watson terlalu keras m em perlakukan
diriku, namun ia selalu berkata tak akan pernah menjualku
ke daerah Selatan. Ke Orleans. Akhir-akhir ini kulihat ada
seorang saudagar budak sering kali berkunjung ke rumah, aku
jadi gelisah. Suatu m alam , jauh m alam sekali, aku m erayap
ke pintu yang belum tertutup rapat. Kudengar Nona Watson
berkata pada Nyonya J anda bahwa sebetulnya ia tak ingin
menjualku ke Orleans, namun aku telah ditawar orang delapan
ratus dolar, suatu jum lah yang am at banyak hingga m em buat
hatinya bim bang. Nyonya J anda m em bujuk agar Nona Watson
tidak menjualku, namun tak kutunggu lagi akhir percakapan itu,
cepat-cepat aku lari dari sana. Aku lari ke kaki bukit, berharap
bisa m encuri sebuah perahu. Tetapi ternyata m asih banyak
orang berkeliaran, m aka aku bersem bunyi di toko tem baga tua
di tepi sungai, m enunggu keadaan m enjadi sepi. Aku berada di
tem pat itu sepanjang m alam . Tak pernah sepi tem pat itu. Kira-
kira pukul enam pagi perahu-perahu mulai berkeliaran. Dan
kira-kira pukul delapan atau sem bilan, setiap perahu yang lewat
m em bicarakan betapa ayahm u datang ke kota dan m engatakan
bahwa engkau terbunuh. Akhirnya perahu-perahu yang penuh
dengan penum pang tuan-tuan dan nyonya-nyonya m ulai ram ai,
m ereka ingin m elihat engkau terbunuh. Kadang-kadang sebelum
m enyeberang, m ereka beristirahat dekat tem patku bersem bunyi.
Dari percakapan mereka aku amat sedih tapi sekarang tidak lagi.
Aku berada di tem pat itu sepanjang hari. Perutku lapar, nam un

58 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka aku tak m erasa takut. Aku tahu bahwa Nona Watson dan Nyonya
J anda akan pergi ke pertemuan gereja segera setelah sarapan dan
pertem uan itu akan m em akan waktu sehari penuh. Keduanya
tahu bahwa biasanya aku pagi-pagi sekali telah berangkat m eng-
gembalakan ternak, jadi mereka tak akan heran bila aku tak
kelihatan sebelum m alam . Budak-budak yang lain tak akan tahu
aku tiada, sebab begitu Nona dan Nyonya pergi, m ereka pun
pasti pergi bersenang-senang. Ketika m alam tiba, aku keluar,
m enyusuri tepi sungai ke arah m udik sam pai kira-kira dua m il,
di tem pat yang tak ada rum ah. Aku telah m em punyai rencana
ke m ana aku akan pergi. Kau tahu, bila aku terus berjalan kaki,
jejakku akan bisa diikuti oleh anjing. Bila aku m encuri perahu
untuk m enyeberang, orang yang kehilangan perahu pastilah ribut
hingga orang tahu bahwa aku m enyeberangi sungai, dan di m ana
perahu itu mendarat bisa dimulai lagi pencarian jejakku dengan
anjing. Aku m em utuskan untuk m em akai rakit, yang tak akan
meninggalkan jejak. Dari belokan sungai kulihat sebuah lampu.
Aku m asuk ke sungai, dengan m enggunakan sebatang kayu aku
berenang sam pai ke tengah sungai. Berenang di antara kayu-
kayu hanyut, m enundukkan kepala, aku m enentang arus sam pai
rakit itu tiba. Aku berenang ke buritan rakit, berpegang di situ.
Sungai agak berkabut, keadaan gelap, maka aku memanjat naik
dan berbaring di papan lantai rakit. Orang-orang rakit itu semua
berkum pul di sekitar lam pu di haluan. Air sungai sedang naik, dan
arus kencang, jadi menurut perkiraanku, menjelang pagi aku akan
telah berada dua puluh mil di sebelah hilir sungai di mana aku
m enyelinap ke pantai dan bersem bunyi di hutan daerah Illinois.
Tetapi ternyata aku tak beruntung. Menjelang kepala pulau ini,
seseorang membawa lentera ke arah buritan. Tak guna bagiku
menunggu lebih lama, aku meluncur masuk air dan berenang
ke pulau ini. Kukira aku bisa m endarat sesukaku, ternyata tidak,
tepinya terlalu tinggi. Aku baru bisa m endarat dekat ujung pulau.

Petualangan Huckleberry Finn 59

http://facebook.com/indonesiapustaka Aku m asuk ke dalam hutan, dan pikirku aku tak akan berm ain-
main dengan rakit lagi selama mereka selalu berkeliling dengan
lenteranya. Untung pipa, tem bakau, dan korekku ada di topiku,
dan tidak basah, jadi keadaanku cukup baik juga.”

“J adi selam a ini kau tak m endapatkan roti atau daging untuk
makananmu? Mengapa kau tak mencari balam lumpur?”

“Bagaim an a aku bisa m en an gkapn ya? Aku tak bisa
m enyergapnya, dan tak bisa m elem parnya dengan batu. Lagi pula
tak bisa m alam -m alam aku m enangkapnya, bila siang bahaya
bagiku untuk menampakkan diri di pantai.”

“Mem ang benar. J adi kau terpaksa tinggal terus di dalam
hutan . Apakah kau juga m en den gar tem bakan -tem bakan
m er ia m ?”

“Oh, ya. Aku tahu m ereka m encarim u. Kulihat m ereka
berlalu, kuintai dari balik semak-semak.”

Beberapa ekor burung m uda terbang rendah, dan beberapa
kali hinggap di tanah. Kata J im , itu alam at hujan akan tiba.
Biasanya bila anak-anak ayam berbuat begitu, hujan akan turun,
jadi bila burung berbuat serupa akibatnya juga sam a. Aku sudah
hendak menangkap burung-burung itu, namun dicegah oleh
J im . Menangkap burung m em bawa akibat buruk, m aut. Kata
J im , pernah waktu ayahnya sakit keras seorang saudaranya
m enangkap burung. Neneknya berkata bahwa ayahnya pasti m ati,
dan ternyata benar.

Kata J im , m enghitung-hitung apa yang akan kita m asak
untuk m akan siang juga m em bawa akibat buruk. Hal yang
sama terjadi bila kita mengibaskan alas meja setelah matahari
terbenam . Kata J im , bila seorang pem elihara tawon m eninggal,
tawon-tawon harus diberi tahu tentang hal itu sebelum matahari
terbit esok harinya, kalau tidak tawon-tawon itu akan jadi lem ak
dan akhirnya ikut m ati juga. Kata J im , tawon-tawon tak akan
m enyengat orang-orang tolol. Tapi aku tak percaya itu, sudah

60 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka kucoba, ternyata m ereka tak m au m enyengat aku, padahal aku
bukan orang tolol.

Beberapa pantangan kuketahui, tapi J im m engetahui sem ua
pantangan yang ada. Aku berkata padanya bahwa kebanyakan
pertanda m erupakan tanda akan datangnya nasib buruk, kutanya-
kan apakah untuk nasib baik juga ada pertandanya.

“Sedikit sekali, dan tak guna untuk diketahui. Untuk apa
kita harus tahu bahwa suatu nasib baik akan datang? Ingin
m encegahnya?” jawab J im . “Bila tangan dan dada kita berbulu,
itu berarti bahwa kita akan kaya. Tanda-tanda serupa itu ada juga
perlunya. Sebab, m ungkin kau harus m iskin untuk waktu yang
lam a sekali. Bila kau tak tahu tanda yang m enunjukkan bahwa
akhirnya kau akan jadi kaya, m ungkin kau akan putus asa dan
bunuh diri sebelum kekayaan itu kau dapat.”

“Apakah tangan dan dadam u berbulu, J im ?”
“Untuk apa kau bertanya? Bukankah kau bisa m elihatnya
sen d ir i?”
“Nah, lalu, apakah kau kaya?”
“Tidak. Tapi aku pernah kaya dan akan jadi kaya lagi. Sekali
aku m em punyai uang em pat belas dolar. Tetapi uang itu kupakai
untuk mengadu untung, dan aku bangkrut.”
“Mengadu untung dalam hal apa, J im ?”
“Kutanam kan sebagai m odal.”
“Modal m acam apa?”
“Modal hidup, yaitu tern ak. Yan g sepuluh dolar itu
kutanamkan pada seekor sapi. Tapi aku tak akan menanam modal
lagi, sapi itu mati dalam peliharaanku.”
“J adi kau rugi sepuluh dolar?”
“Tidak seluruhnya. Rugi sem bilan dolar. Sebab kulit sapi itu
kujual satu dolar sepuluh sen.”
“J adi uangm u tinggal lim a dolar sepuluh sen. Kau adu
untung lagi, J im?”

Petualangan Huckleberry Finn 61

http://facebook.com/indonesiapustaka “Ya. Kau tahu negro berkaki satu budak Tuan Bradish?
Dia berm aksud m endirikan sem acam bank. Katanya barang
siapa yang m enyim pan uang sedolar padanya, di akhir tahun
akan m endapatkan em pat dolar. Banyak negro yang m enyim pan
padanya, tapi uang m ereka tak banyak. Hanya akulah yang
beruang banyak. Maka kuancam si kaki satu itu, bila ia tak m au
m enaikkan bunganya, aku akan m em buat bank sendiri dan
m em bangkrutkan banknya. Tentu saja si kaki satu takut, lagi
pula katanya tak baik bila ada dua bank, langganannya tak akan
cukup. Maka ia m au m enerim a uangku yang lim a dolar itu, yang
pada akhir tahun akan m enjadi tiga puluh lim a dolar, katanya.
Kusim pan uangku padanya. Kem udian kupikir lebih baik uangku
yang akan jadi tiga puluh lim a dolar itu kujalankan lagi. Ada
seorang negro bernam a Bob yang berhasil m endapatkan sebuah
rakit pengangkut kayu tanpa diketahui oleh tuannya. Kubeli rakit
itu darinya, tidak kubayar, hanya kusuruh ia m engam bil uangku
yang tiga puluh lim a dolar itu dari si kaki satu nanti di akhir
tahun. Tetapi m alam harinya rakit itu dicuri orang, dan keesokan
harinya si kaki satu berkata bahwa banknya bangkrut. J adi tak
seorang pun di antara kam i yang m endapatkan uang.”

“Yang sepuluh sen kau apakan, J im ?”
“Tadinya akan kubelanjakan, tapi kem udian aku berm im pi.
Mim pi itu m enyuruhku m em berikan uang sepuluh sen tersebut
pada seorang negro bernam a Ballam , si Keledai Ballam kam i
biasa m enyebutnya. Dia adalah salah satu dari orang-orang
bebal, tahu kau, tetapi kata orang ia selalu beruntung. Mimpiku
berkata bahwa Ballam bisa m enanam uang itu hingga bisa
m enjadi banyak. Ballam m engam bil uangku. Pada waktu ia ke
gereja, ia mendengar Tuan Pendeta berkata bahwa barang siapa
memberikan sedekah pada orang miskin sama saja dengan
m em injam kan uang pada Tuhan yang nanti akan m engem balikan
uang itu seratus kali lipat. Maka begitu keluar dari gereja, Ballam

62 Mark Twain

memberikan uang tersebut pada seorang miskin dan menunggu
apa yang akan terjadi.”

“Apa yang terjadi, J im ?”
“Tak apa-apa. Aku tak bisa m engam bil uangku kem bali
dari Ballam , begitu pula Ballam tak bisa m endapatkan uangnya
kem bali. Lain kali aku tak akan m au m em injam kan uang tanpa
barang tanggungan. Akan dibayar seratus kali lipat, kata pendeta
itu! Wah, bila saja aku bisa m endapatkan uangku yang sepuluh
sen itu kembali, cukup pantaslah bagiku untuk bergembira
karena sempat meminjamkan uang pada Tuhan.”
“Tapi tak apa bukan, J im , karena kau tahu bahwa suatu hari
kau akan m enjadi orang kaya.”
“Ya, dan sekarang pun bisa dikatakan aku kaya. Coba, kini
tubuhku menjadi milikku sendiri, dan aku berharga delapan ratus
dolar! Alangkah senangnya bila aku m em iliki uangku sebegitu
banyak, aku tak akan punya keinginan lain lagi.”

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka RUMAH KEMATIAN HANYUT

AKU INGIN sekali pergi dan m elihat sebuah tem pat tepat di
tengah-tengah pulau, yang kutem ukan waktu aku m enjelajah
beberapa hari yang lalu. Tak lam a tem pat itu telah kam i tem ukan,
sebab panjang pulau itu hanya tiga m il sedang lebarnya hanya
seperempat mil.

Tem pat yang kum aksud itu m erupakan punggung sebuah
bukit yang cukup tinggi, kira-kira dua belas m eter tingginya.
Sukar juga sam pai ke puncaknya, sisinya terjal dan penuh sem ak.
Kam i m enjelajahi bukit dengan teliti sam pai akhirnya kam i tem ui
sebuah gua cukup besar di antara batu-batu karang dekat puncak,
menghadap ke arah Illinois. Gua itu sebesar dua atau tiga buah
kam ar dijadikan satu dan J im bisa berdiri tegak di dalam nya.
Sejuk sekali di dalam gua. J im ingin agar barang-barang disimpan
di gua, tapi kukatakan tentunya akan m elelahkan sekali bila tiap
kali kami harus naik turun.

J im berkata, bila perahu telah kam i sem bunyikan di tem pat
yang baik dan barang-barang ada di dalam gua, akan m udah bagi

http://facebook.com/indonesiapustaka 64 Mark Twain

kam i untuk m elarikan diri ke sana bila ada orang yang datang ke
pulau itu. Dan kami tak akan bisa ditemukan tanpa menggunakan
anjing. Dan lagi, kata J im selanjutnya, bukankah burung-burung
kecil tadi menandakan bahwa hari akan hujan?

J adilah kam i kem bali, m engam bil perahu dan m endayungnya
hingga kam i berada di dekat gua. Barang-barang kam i naikkan,
dan perahu kam i sem bunyikan baik-baik di antara sem ak-sem ak
dedalu. Setelah mengambil ikan dari mata kail dan memasang
kail lagi, kami mempersiapkan makan siang.

Pintu gua itu cukup lebar untuk diguling sebuah tong besar.
Di pinggirnya, lantai gua m enonjol sedikit ke luar, sangat datar
dan m erupakan tem pat yang baik untuk m em buat api unggun. Di
situlah kami memasak makanan.

Selimut kami tebarkan di dalam gua, kami pakai sebagai
perm adan i, dan kam i m akan sian g di san a. Baran g-baran g
lainnya kam i taruh di bagian belakang gua. Segera juga langit
m enjadi gelap, guntur m ulai terdengar dibarengi kilat. Agaknya
ramalan burung-burung tadi benar. Hujan mulai turun, deras
sekali, bercam pur angin keras. Hujan angin yang selalu turun
di musim panas. Segera saja kami tak bisa melihat keluar
gua, hujan bagaikan tirai tebal hingga puncak-puncak pohon
samar-samar sekali terlihat. Sesekali tiupan angin begitu hebat
hingga pohon-pohon membungkuk dan daun-daun berbalikan
m enam pakkan bagian yang kepucatan, disusul oleh tiupan yang
lebih hebat, membuat dahan-dahan bagaikan gila berguncang-
guncang. Dan bila keadaan sudah terlalu gelap, mendadak saja
psst... by ar! Kilat m enyam bar m em buat hari terang benderang,
hingga tam pak nyata betapa puncak-puncak pohon di kejauhan
juga meronta-ronta dilanda badai. Sedikit lagi gelap berkuasa
dan kem udian tibalah suara halilintar dahsyat, disusul oleh suara
geluduk, berdentam-dentam makin lama makin jauh, seperti

Petualangan Huckleberry Finn 65

http://facebook.com/indonesiapustaka suara yang tim bul bila sebuah tong digelundungkan turun lewat
tangga-tangga panjang.

“J im , senang sekali rasanya,” kataku, “aku tak ingin pindah
tem pat lagi. Tolong am bilkan sepotong ikan dan roti jagung yang
p a n a s.”

“Nah, untung kau bertem u dengan J im , apa jadinya kalau
tidak. Kau m asih berada di hutan di sana tanpa m akanan
dan m ungkin juga terbenam . Itulah yang akan terjadi padam u,
Sayang, bila tak ada J im . Ayam tahu akan datangnya hujan,
begitu juga burung-burung, Nak.”

Air sungai naik terus selam a dua belas hari, sam pai akhirnya
pantai sungai tak terlihat lagi. Di tempat-tempat rendah air telah
m encapai tinggi satu atau satu setengah m eter. Begitu juga di
daerah Illinois, yang kini pantainya m undur sam pai beberapa m il.
Pantai daerah Missouri m asih tetap jaraknya dari pulau, yaitu
setengah mil, sebab pantai tersebut terdiri dari tebing-tebing
t in ggi.

Siang hari biasanya kam i m enjelajahi pulau dengan naik
perahu. Sejuk sekali berada di antara pohon-pohon, walaupun
m atahari sedang besinar terik. Kam i berkelok-kelok di antara
pohon-pohon dan kadang-kadang terpaksa mundur dan mencari
jalan lain bila pohon terlalu rapat. Di tiap pohon yang tum bang
tam pak kelinci-kelinci, ular dan binatang lainnya. Pada waktu
banjir menguasai pulau kami selama sehari-dua hari, binatang-
binatang itu menjadi jinak karena kelaparan, dan bila didekati
tak akan m enghindar kecuali ular dan kura-kura yang segera
m enyelinap m asuk ke dalam air. Bukit tem pat gua kam i penuh
dengan binatang, hingga kalau mau mudah saja bagi kami untuk
menternakkan mereka.

Suatu malam kami berhasil menggaet sebagian kecil rakit
penebang kayu. Rakit itu terbuat dari papan-papan pinus pilihan,
lebarnya 3,60 m eter dan panjangnya kira-kira em pat setengah

66 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka m eter, lantainya kira-kira lim a belas sentim eter dari perm ukaan
air, sangat rata.

Pada suatu kali, menjelang pagi, kami berada di kepala
pulau. Dan kam i m elihat sebuah hanyut lewat bagian barat pulau.
Rum ah itu dua tingkat, dari kayu dan sangat condong. Kam i
berdayung m endekat dan naik, m em anjat ke jendela tingkat
atas, tetapi hari masih terlalu gelap hingga kami tak bisa melihat
apa-apa. Maka kami ikatkan perahu kami di rumah itu dan kami
tunggu terangnya hari.

Sebelum sampai ke kaki pulau, matahari telah muncul. Dari
jendela kami melihat sebuah tempat tidur, sebuah meja, dua buah
kursi dan berbagai barang berserakan di lantai serta beberapa
pakaian tergantung di dinding. Di sudut yang jauh dari jendela
ada sesuatu di lantai yang m irip orang berbaring. J im berseru,
“Halo, he!”

Orang itu tak bergerak. Aku berseru, dan J im berkata, “Orang
itu tidak tidur, ia m ati. Kau tunggu di sini.”

J im masuk, membungkuk melihat orang itu dan berkata,
“Benar, ia m ati. Ya, tertem bak punggungnya, telanjang bulat lagi.
Kukira ia telah m ati dua atau tiga hari yang lalu. Masuklah, Huck,
tapi jangan lihat wajahnya, sangat m enyeram kan.”

Aku tak m elihat m ayat itu sam a sekali. J im m enutupi m uka
m ayat tadi dengan beberapa potong kain, tapi m estinya tak perlu,
sebab aku toh tak ingin m elihatnya. Di lantai berserakan kartu-
kartu kumal, botol-botol wiski, dua buah topeng terbuat dari
kain, dan di dinding terdapat banyak sekali gam bar-gam bar tak
senonoh dari arang. Dua baju wanita dari kain kaliko, topi kain,
dan beberapa pakaian dalam wanita bergantungan di dinding,
dan beberapa pakaian pria juga. Barang-barang itu kam i angkut
ke perahu, m ungkin ada m anfaatnya kelak. Aku juga m engam bil
sebuah topi pandan yang m enggeletak di lantai. Ada juga sebuah
botol susu dengan sam bat kain untuk diisap oleh bayi. Kalau botol

Petualangan Huckleberry Finn 67

http://facebook.com/indonesiapustaka itu tidak retak pastilah kam i bawa juga. Ada peti kayu dan koper,
keduanya terbuka, kosong, kecuali beberapa benda yang tak ada
harganya. Melihat barang-barang yang bertebaran itu, kam i kira
penghuni rumah tersebut meninggalkan rumah dalam keadaan
sangat tergesa-gesa dan tak bermaksud membawa semua barang
m iliknya.

Kam i m endapatkan sebuah lentera, sebilah pisau jagal tanpa
gagang, sebilah pisau Barlow yang harganya dua puluh sen—
masih baru, beberapa lilin, sebuah tempat lilin, sebuah tempat
air, sebuah cangkir seng, sehelai selimut tua, sebuah tas sutera
berisi jarum , peniti, kancing baju, benang dan sebagainya; juga
kam i tem ukan seutas tali kail yang besarnya sebesar kelingkingku
dengan beberapa mata kail raksasa. Selain itu kami dapatkan:
segulung kulit kijang, kalung anjing dari kulit, sebuah sepatu
kuda, beberapa botol obat tanpa merek; dan pada waktu kami
akan meninggalkan rumah itu aku menemukan sebuah sisir kuda,
sedang J im menemukan sebuah penggesek biola dan sebuah
kelom . Kelom itu talinya sudah putus, tapi m asih baik walaupun
terlalu besar untukku dan terlalu kecil untuk J im, pun tak bisa
kam i tem ukan pasangannya.

Selanjutnya kam i m endapat keuntungan yang sangat
lum ayan juga. Kam i berada kira-kira seperem pat m il dari kaki
pulau waktu kami siap untuk berangkat. Hari telah benderang.
Terpaksa kusuruh J im tidur di dasar perahu dan kututupi dengan
selim ut tua tadi. Bila ia duduk dari kejauhan pun akan kelihatan
bahwa ia adalah seorang negro. Aku berdayung ke pantai Illinois
dan terpaksa berhanyut setengah m il. Setelah itu aku m em udik
sungai dengan m enyusur pantai di air tenang. Tak kutem ui
seorang m anusia pun. Kam i tiba kem bali dengan selam at.

http://facebook.com/indonesiapustaka PANTANGAN TERHADAP
KULIT ULAR

SELESAI SARAPAN, aku ingin m em bicarakan tentang orang
m ati di rum ah hanyut itu, m em perkirakan kenapa ia terbunuh.
Nam un J im tak m au berbicara tentang orang m ati, katanya
mendatangkan nasib buruk. Salah-salah hantu orang itu akan
datang m engganggu kam i. Kata J im , seseorang yang tak dikubur
m ayatnya akan lebih besar kem ungkinan untuk m enjadi hantu
daripada orang yang dikubur. Itu m asuk di akalku, jadi aku tak
berbicara lagi tentang m ayat tersebut, nam un dalam otakku
aku selalu saja ingin tahu bagaimana orang itu tertembak, dan
mengapa ia ditembak serta oleh siapa.

Kam i m enggeledah pakaian-pakaian yang kam i dapat dan
kami temukan uang delapan dolar perak terjahit di lipatan sebuah
baju luar yang terbuat dari kain selim ut. J im m enduga orang
di rumah itu mencuri baju tersebut, kalau tidak pasti mereka
m engetahui bahwa di dalam baju itu ada uangnya. Aku berkata

Petualangan Huckleberry Finn 69

http://facebook.com/indonesiapustaka mungkin orang-orang itu membunuh pemilik baju, tapi J im tak
mau membicarakan kemungkinan itu.

“Nah, bagaim ana kini pendapatm u,” kataku kem udian, “kau
bilang waktu aku mengambil kulit ular dari puncak bukit kemarin
dulu kita akan m endapatkan nasib buruk. Kukatakan m em egang
kulit ular adalah pantangan yang paling besar di dunia. Nam un
apa buktinya, kita m alahan m endapatkan barang-barang ini dan
ditam bah pula uang delapan dolar. Alangkah senangnya bila kita
mendapatkan nasib buruk seperti ini tiap hari.”

“J angan takut, Sayang, jangan takut. J angan terlalu girang.
Nasib buruk yang disebabkan oleh kulit ular itu akan tiba juga
nanti. Pasti tiba.”

Tern yata kem udian kata-kata J im itu ben ar. Kam i
membicarakan hal itu pada hari Selasa. Pada hari J umat, sesudah
makan siang kami berbaring-baring di rumput di atas bukit.
Ternyata kam i tak m em bawa tem bakau. Aku pergi ke gua untuk
m engam bil tem bakau. Kudapatkan seekor ular keluntang di
sana. Kubunuh ular itu, kulingkarkan dekat bangku di bagian
kaki selim ut J im , pasti J im akan sangat terkejut m elihatnya
nanti. Tapi m alam harinya aku telah lupa sam a sekali akan ular
itu. Ketika J im m erebahkan diri untuk tidur dan aku sedang
m enyalakan lilin, betina ular yang kubunuh ternyata berada di
selim ut J im dan m enggigitnya.

J im m elom pat dan m enjerit. Ketika lilin m enyala, terlihat
ular betina itu telah bersiap-siap untuk menggigit lagi. Sekejap
saja ia kubunuh dengan tongkat, sem entara J im m enyam bar guci
wiski Bapak dan m em inum nya.

J im selalu bertelenjang kaki, dan si ular menggigit tepat
di tum itnya. Itulah akibat ketololanku tak m engingat bahwa
bila seekor ular m ati m aka pasangannya akan datang untuk
m elingkarinya. J im m enyuruhku m em otong ular itu dan
m elem parkannya jauh-jauh. Kem udian aku disuruhnya m engupas

http://facebook.com/indonesiapustaka 70 Mark Twain

kulit dan memotong sedikit tubuh ular untuk dipanggang serta
dimakan. Ini merupakan obat mujarab bila digigit ular, kata
J im . Keluntang ular itu pun harus kupotong dan kuikatkan di
pergelangan tangan J im yang katanya bisa m enolong. Diam -diam
kuambil bangkai kedua ular tadi dan kubuang ke dalam semak-
sem ak. Aku tak ingin J im tahu bahwa kecelakaan itu adalah
akibat kelalaianku.

J im terus-m enerus m inum dari guci Bapak, sekali-sekali
m enjerit-jerit dan m eronta-ronta. Bila ia sadar, ia m eneguk wiski
lagi. Kakinya m ulai bengkak, besar sekali, nam un akhirnya J im
mabuk juga dan kukira ia tak akan merasakan sakit. Namun
bagiku lebih baik aku digigit ular daripada harus minum wiski
Ba p a k .

J im terpaksa berbaring terus selama empat hari empat
m alam , sam pai akhirnya bengkaknya kem pis dan ia m erasa sehat
kem bali. Aku kini berjanji untuk tidak m em egang kulit ular lagi
setelah tahu akibatnya. J im berkata m ungkin sekarang aku akan
percaya akan kata-katanya. Mem egang kulit ular m erupakan
pantangan terbesar, akibat buruknya bukan hanya sekali, tetapi
pasti m asih ada lagi. Kata J im , lebih baik ia m elihat bulan baru
lewat bahu kirinya seribu kali daripada m em egang kulit ular.
Aku pun jadi punya perasaan serupa, walaupun aku pernah
berpendapat bahwa melihat bulan lewat baju kiri adalah kelalaian
yang paling sem brono yang bisa dilakukan oleh seseorang. Si tua
Hank Bunker pernah m elakukannya dan m em bual tentang hal itu,
kurang dari dua tahun setelah itu ia mabuk dan jatuh dari menara
tem bak sehingga m ayatnya begitu gepeng; terpaksa sebagai peti
m atinya dipakai orang dua buah pintu gudang, dan dengan dijepit
di antara kedua pintu itulah ia dikubur. Begitulah kata orang, aku
sendiri tak m elihatnya. Bapak yang bercerita padaku. Betapapun,
itulah akibat melihat bulan baru lewat bahu kiri.

Petualangan Huckleberry Finn 71

http://facebook.com/indonesiapustaka Hari-hari cepat berlalu, dan air m ulai turun lagi. Yang m ula-
m ula kam i kerjakan adalah m em asang tali kail raksasa yang
kam i tem ukan di rum ah hanyut. Seekor kelinci yang telah kam i
kuliti kami gunakan sebagai umpan pada salah satu mata kail.
Dengan kail itu kami berhasil menangkap ikan sebesar manusia,
panjangnya dua m eter, beratnya lebih dari dua ratus pon. Kam i
tak bisa m enariknya, salah-salah kam i bisa dilem parkannya ke
Illinois. Kam i biarkan dia m eronta-ronta terus sam pai akhirnya
m ati. Dari dalam perutnya kam i dapatkan sebuah kancing baju
tem baga, sebuah bola, dan banyak barang-barang kecil lainnya.
Dengan kapak yang kam i dapat dari rum ah hanyut, kam i belah
bola tadi. Ternyata di dalam nya terdapat sebuah gulungan benang.
Menurut perkiraan J im pastilah gulungan benang itu sudah terlalu
lama berada di dalam perut ikan tadi hingga terbungkus menjadi
bola. Ikan itu adalah ikan terbesar yang pernah ditangkap di
Mississippi, kukira, J im pun belum pernah melihat ikan sebesar
itu. Pasti kam i m endapat uang banyak bila kam i bawa ke desa.
Biasanya ikan sebesar ini dijual dengan tim bangan, orang-orang
m em belinya sepotong-sepotong. Dagingnya seputih salju dan
sangat enak.

Pagi harinya aku m erasa sedikit bosan tinggal di pulau itu,
aku ingin mencari berita ke tepi sungai. J im setuju tetapi ia
m enyarankan agar aku pergi ke desa bila hari telah gelap saja.
Kem udian setelah m enim bang-nim bang ia m engusulkan agar aku
m em akai salah satu pakaian yang kam i dapat, berdandan sebagai
seorang gadis. Usul yang baik! Kugulung celanaku dan dengan
dibantu J im kukenakan gaun. Gaun itu pas sekali. Kupakai
topi kain, m aka lengkaplah aku, seperti cerobong kom por. Kata
J im, di siang hari pun akan susah mengenaliku. Sepanjang hari
kupakai terus baju itu untuk m em biasakan diri. Lam a-kelam aan
aku pun terbiasa, hanya m enurut J im , aku tidak bisa berjalan
seperti seorang gadis, lagi pula aku terlalu sering merogoh-rogoh
saku celanaku.

72 Mark Twain

Begitu hari gelap, aku berangkat ke arah pantai Illinois.
Dekat di bawah pelabuhan kapal, aku menunjukkan perahuku ke
seberang, dan aliran arus sungai m enyebabkan aku m endarat di
tepi kota sebelah hilir. Setelah mengikat perahu aku naik ke darat.
Dari sebuah pondok yang tam pak tak berpenghuni kelihatan
cahaya lam pu. Aku jadi heran, lalu m endekat dan m engintai dari
jendela. Kulihat seorang wanita berum ur kita-kira em pat puluh
tahun sedang m erajut dekat lilin di m eja. Aku tak kenal wajahnya,
agaknya ia orang baru, sebab sem ua orang di kota itu dikenal
dengan baik. Untung juga, sebab saat itu timbul rasa takutku
kalau-kalau ada orang yang m engenaliku, m ungkin m engenal
suaraku. Walaupun wanita ini orang baru, pasti ia akan tahu apa
saja yang terjadi di kota, bila saja ia telah berada di tem pat ini
kira-kira dua hari yang lalu. J adi kuketuk pintu dan kuingatkan
sekali lagi diriku bahwa kali ini aku adalah seorang wanita.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka KAMI DIKEJAR

“MASUKLAH !” KATA wan ita itu. Aku m asuk. Ia berkata,
“Duduklah.” Aku duduk. Ia m em perhatikan aku dengan m atanya
yang bersinar-sinar dan bertanya: “Siapakah nam am u?”

“Sarah William s.”
“Di m ana kau tinggal? Dekat dari sini?”
“Tidak, Nyonya. Rum ahku di Hookervile, tujuh m il ke sebelah
hilir. Dari sana aku berjalan kaki terus, dan kini aku amat lelah.”
“Dan lapar juga, kukira. Akan kuam bilkan sesuatu untukm u.
“Tak usah Nyonya. Dua m il perjalanan m em buatku begitu
lapar hingga terpaksa berhenti di sebuah rum ah petani. Kini aku
tak lapar lagi. Itulah yang m em buatku begini terlam bat. Ibuku
sakit, kam i kehabisan uang dan segalanya. Aku akan pergi ke
rum ah pam anku, Abner Moore. Ia tinggal di tepi lain kota ini,
kata Ibu. Aku belum pernah kem ari, apa Nyonya kenal pam anku
itu?”

http://facebook.com/indonesiapustaka 74 Mark Twain

“Tidak, aku belum kenal banyak orang di sini, baru dua
minggu aku tinggal di tempat ini. J auh juga ke ujung lain kota,
lebih baik kau bermalam saja, copotlah topimu.”

“Tidak, aku akan beristirahat sebentar dan m eneruskan
perjalanan. Aku tak m erasa takut akan kegelapan.”

Wanita itu berkata, ia tak akan membiarkanku berjalan
sendiri. Satu setengah jam lagi suam inya akan datang dan
akan disuruhnya m engantarkan. Kem udian ia berbicara panjang
lebar tentang suam inya, tentang sanak keluarganya di bagian
hilir sungai dan dibagian mudik, dan tentang keadaan mereka
sebelum pindah kem ari yang jauh lebih baik. Menurut nyonya
itu, sangat salah bagi mereka untuk pindah ke kota ini dan
seterusnya dan seterusnya, hingga aku berpikir keliru sekali
datang padanya untuk m engetahui keadaan kota. Tetapi akhirnya
pembicaraan beralih pada bapakku dan peristiwa pembunuhan
terhadap diriku. Ia berbicara tentang aku dan Tom Sawyer yang
m enem ukan uang dua belas ribu dolar (m enurut katanya m alah
dua puluh ribu dolar), tentang Bapak dan betapa kejam nya dia,
serta tentang pembunuhan terhadapku.

“Siapa yang m em bunuhnya?” tanyaku. “Berita pem bunuhan
itu juga sam pai ke Hookerville, tetapi tak ada yang bisa m enduga
siapa yang m em bunuh Huck Finn.”

“Hm , banyak orang yang m enganggap dirinya pandai di sini,
m engira bahwa yang m em bunuh adalah bapaknya sendiri.”

“Astaga! Betulkah itu?”
“H am pir sem ua oran g berpikiran dem ikian m ula-m ula.
Nyaris ayah Huck Finn digantung karena itu. Tetapi sebelum
malam terakhir, semua orang berubah pikiran, mereka menduga
pem bunuh Huck ialah seorang budak negro bernam a J im yang
melarikan diri.”
“Astaga! Ia....”
Ham pir saja aku lupa. Cepat-cepat aku m enutup m ulut.
Untung wanita itu tak tahu bahwa aku baru saja membuka mulut.

Petualangan Huckleberry Finn 75

http://facebook.com/indonesiapustaka Ia berkata terus, “Negro itu m elarikan diri tepat pada m alam
Huck Finn dibunuh orang. Maka barang siapa yang m enem ukan
negro itu diberi hadiah, tiga ratus dolar. J uga ada hadiah untuk
yang m enem ukan ayah Huck, dua ratus dolar. Bapak Finn yang
m em bawa berita tentang kem atian anaknya ke kota, ia ikut
m encari m ayat dengan naik kapal tam bang, tapi begitu pencarian
m ayat selesai, ia m enghilang. Malam itu orang-orang sudah siap
untuk m enggantungnya, tapi ia m enghilang. Hari berikutnya
ternyata J im juga tak ada, rupanya negro itu m enghilang sejak
pukul sepuluh pada malam Huck Finn terbunuh. Maka dakwaan
orang jatuh pada si negro. Selagi orang ramai mendakwa si
negro, bapak Huck muncul, memaki-maki Hakim Thatcher dan
minta uang untuk bekal mencari negro itu ke Illinois. Tuan
Hakim m em berinya sedikit uang, tapi uang itu digunakannya
untuk mabuk-mabukan. Ia mabuk hingga lewat tengah malam
bersam a dua orang asing yang berwajah kejam . Setelah itu
ketiganya m enghilang. Ia tak pernah tam pak lagi, dan tak ada
yang m engharapnya m uncul kem bali, sebab kini orang-orang
punya dugaan bahwa dialah yang m em bunuh anaknya sendiri,
agar bisa m enguasai uang anaknya tanpa repot berurusan dengan
pengadilan. Ia mencoba menipu orang dengan mengatur segala
sesuatu hingga tam paknya Huck Finn dibunuh oleh peram pok.
Kata orang, Bapak Finn itu cukup cerdik, bila ia kem bali setahun
lagi maka ia tak bisa dituntut oleh pengadilan, sebab tak ada bukti
yang nyata. J adi bila keadaan telah tenang, tanpa susah payah ia
bisa m enguasai uang anaknya.”

“Ya, kukira m em an g begitu. Tak kulihat kem un gkin an
lainnya. Apakah m asih ada orang yang m enyangka bahwa negro
itu yang m em bunuh Huck Finn?”

“Ada juga, tapi tak sem ua orang. Banyak juga yang berpikir
begitu. Apabila negro itu tertangkap, ia bisa dipakai untuk
m en ga ku .”

http://facebook.com/indonesiapustaka 76 Mark Twain

“Astaga, apakah orang m asih m engejarnya?”
“Alangkah tololnya, engkau, Nak. Apakah tiga ratus dolar
bisa kita tem ukan cum a-cum a setiap hari? Ada banyak orang
yang punya dugaan bahwa negro itu berada tak jauh dari sini. Aku
salah seorang yang punya pikiran dem ikian, tetapi tak kukatakan
hal itu pada orang lain. Beberapa hari yang lalu aku berbicara
dengan suam i-istri tua yang tinggal di rum ah sebelah. Dan
kebetulan mereka berkata bahwa tak seorang pun pernah pergi
ke Pulau J ackson. Aku bertanya apakah tak ada orang tinggal
di pulau itu. Tidak ada, jawab m ereka. Aku tak berbicara lagi,
tapi aku berpikir keras. Aku m erasa yakin bahwa sehari-dua hari
sebelum itu, aku melihat asap mengepul dari bagian dekat kepala
pulau itu. Mungkin sekali negro itu bersem bunyi di sana, pikirku.
Betapapun tak ada ruginya bila tem pat itu digeledah. Tak pernah
kulihat asap lagi, bila itu asap api unggun si negro, mungkin ia
telah pergi. Namun suamiku akan berangkat memeriksa pulau
itu. Suamiku dan seorang lagi. Hari ini suamiku baru pulang dari
m udik, dan segera kuberi tahu tentang perkiraanku dua jam yang
lalu.”
Aku jadi begitu gelisah hingga aku tak bisa duduk tenang.
Aku harus m engerjakan sesuatu dengan tanganku, m aka kuam bil
sebuah jarum dan kumasukkan benang ke lubang jarum. Tanganku
gem etar, lam a sekali baru berhasil. Ketika wanita itu berhenti
berbicara, aku m engangkat kepala, ternyata ia m em andangku
dengan penuh perhatian, bahkan tersenyum sedikit. Kutaruh
kembali jarum dan benang tadi, dan aku pura-pura tertarik pada
pendapatnya dan berkata, “Tiga ratus dolar m em ang uang yang
sangat banyak. Alangkah senangnya bila ibuku bisa m em iliki
uang itu. Apakah suam i Nyonya akan pergi ke pulau itu m alam
in i?”
“Oh, ya. Ia sedang ke kota dengan orang yang kuceritakan
tadi untuk mencari perahu dan meminjam senapan satu lagi.
Tengah m alam nanti m ereka akan m enyeberang ke pulau itu.”

Petualangan Huckleberry Finn 77

http://facebook.com/indonesiapustaka “Bukankah m ereka bisa m elihat lebih jelas bila hari siang?”
“Benar. Tapi si negro juga bisa m elihat lebih jelas. Lewat
tengah m alam kem ungkinan besar negro itu sedang tidur nyenyak.
Malam -m alam lebih m udah untuk m encari unggun apinya, bila
ada.”
“Oh ya, tak terpikir olehku tadi.”
Sementara itu wanita tadi terus memperhatikan diriku
hingga aku m akin gelisah. Akhirnya ia bertanya, “Siapa nam am u
tadi, Sayang?”
“M... Mary William s.”
Aku jadi bingung sendiri, rasanya tadi aku tidak m enyebut
nam a Mary. Aku tak berani m engangkat m uka, teringat olehku
tadi aku m enyebut Sarah. J adi aku m erasa tersudut dan takut
kalau hal itu diketahui oleh nyonya itu. Betapa tertetekannya
hatiku kala ia berkata, “Sayangku, kukira kau tadi berkata bahwa
nam am u adalah Sarah. Bukankah dem ikian tadi, Nak?”
“Oh ya, Nyonya, m em ang benar. Sarah Mary William s. Sarah
adalah nam a pertam aku. Ada yang m em anggilku Sarah, ada yang
m em anggilku Mary.”
“Oh, begitukah?”
“Benar, Nyonya.”
Aku m erasa sedikit lega, tapi alangkah senangnya bila aku
bisa cepat-cepat m eninggalkan tem pat itu. Aku m asih belum
berani mengangkat muka.
Wanita itu mulai berbicara lagi, berbicara tentang keadaan
buruk yang harus m ereka derita, betapa m iskin keadaan m ereka
dan betapa tikus-tikus di rumah itu begitu berani hingga seolah-
olah tikus-tikus itulah yang m em iliku rum ah. Lam a-lam a aku
tak gelisah lagi m endengar pem bicaraan yang sam a sekali tak
m enyangkut diriku.
Betul juga kata nyonya itu tentang tikus. Di sudut kam ar
ada sebuah lubang dan sering kali sebuah kepala tikus muncul di
situ. Kata wanita itu, ia terpaksa m enyediakan sesuatu untuk alat

http://facebook.com/indonesiapustaka 78 Mark Twain

pelempar tikus-tikus itu, kalau tidak binatang-binatang itu akan
lebih m erajalela. Ditunjukkannya sepotong tem baga yang dipuntir
hingga m erupakan sim pul. Katanya, ia cukup jitu m elem parkan
benda itu, nam un sehari-dua hari yang lalu tangannya keseleo
hingga tak bisa dipastikan apakah lem parannya m asih jitu. Tapi
ia tak takut untuk mencoba, tepat saat itu muncul seekor tikus dan
sekuat tenaga ia lem par. Lem paran itu jauh sekali dari sasaran,
dan si wanita terpaksa m enjerit, “Ouh!” kesakitan. Disuruhnya
aku mencoba melempar. Walaupun aku ingin segera pergi
sebelum suam inya tiba, tak kuperlihatkan hal itu padanya. Tikus
yang m uncul kem udian pasti akan m am pus kena lem paranku
bila ia tak cepat-cepat m asuk lubang kem bali. Nyonya itu m em uji
lem paranku, dan ia yakin pasti pada lem paran kedua aku akan
berhasil. Diam bilnya gum palan tem baga itu, juga setukal benang
yang akan digulungnya. Dia m inta bantuanku m em egangi benang
itu. Kuacungkan kedua tanganku, dilingkarkannya tukalan benang
tadi di situ. Sam bil bekerja ia berbicara lagi tentang suam inya.
Mendadak ia berkata, “Perhatikan juga tikus-tikus itu. Lebih baik
kau sim pan tem baga ini di pangkuanm u, Sayang.”

Sam bil berkata dilem parkannya gum palan tim bel itu ke
pangkuanku, kurapatkan pahaku untuk m enyam butnya. Ia
m eneruskan pem bicaraannya. Nam un hanya kita-kira sem enit,
diam bilnya tukalan benang di tanganku, sam bil m enatapku ia
bertanya, “Nah, kini katakan nam am u yang sebenarnya.”

“Ba... bagaim ana, Nyonya?”
“Nam am u sebenarnya Bill, Tom , atau Bob? Atau apa?”
Mestinya tubuhku gem etar bagaikan daun ditiup badai, dan
beberapa saat aku tak tahu harus berbuat apa. Kem udian aku
berkata, “J angan ganggu gadis m alang seperti aku ini, Nyonya.
Bila aku m erepotkan saja di sini, lebih baik aku....”
“Tidak, jangan pergi dulu. Duduklah, tetaplah di tem patku.
Aku tak akan m enyakitim u, aku tak akan m em buka rahasiam u.

Petualangan Huckleberry Finn 79

http://facebook.com/indonesiapustaka Katakan saja rahasiam u, percayalah, aku tak akan m em bukanya
pada siapa pun, dan lagi m ungkin aku bisa m enolongm u. Begitu
juga suam iku bila kau m enghendakinya. Aku tahu, kau m urid
pertukangan yang m elarikan diri, bukankah begitu? Itu bukan
apa-apa. Tak perlu aku m erasa terlalu berdosa karenanya. Pastilah
kau telah diperlakukan dengan sangat buruk. Selamatlah engkau
kiranya, Nak, aku tak akan m engkhianatim u. Ayolah katakan apa
yang telah terjadi.”

Aku sadar bahwa tak ada gunanya m enyem bunyikan rahasia
lebih lam a. Akan kuceritakan sem uanya dengan sejujur-jujurnya
asal saja ia m enepati janjinya. Kukatakan ayah dan ibuku telah
meninggal dunia, dan undang-undang menetapkan aku harus
menjadi anak semang merangkap murid pada seorang petani
kejam tiga puluh m il di sebelah hilir sungai. Aku diperlakukannya
begitu buruk hingga aku tak betah lagi. Petani itu sedang pergi
untuk dua hari, maka kuambil kesempatan melarikan diri dan
m encuri pakaian bekas anak perem puannya. Tiga m alam aku
telah berjalan, m enjalani jarak tiga puluh m il itu. Aku terpaksa
berjalan di m alam hari dan siang harinya tidur dan bersem bunyi.
Kantung berisi roti dan daging yang kubawa dari rum ah telah
kosong kini, tapi tak pernah aku kelaparan. Aku percaya pam anku
Abner Moore akan m au m em eliharaku, itulah sebanya aku datang
ke kota Goshen ini.

“Goshen, Nak? Astaga, ini bukan Goshen. Ini St. Petersburg.
Goshen m asih sepuluh m il lagi. Siapa yang m engatakan padam u
bahwa ini Goshen?”

“Seorang lelaki yang kutem ui m enjelang pagi tadi, pada waktu
akan m asuk hutan untuk tidur. Katanya pada persim pangan
jalan aku harus belok kanan, dan setelah lima mil akan kucapai
Gosh en .”

“Ia sedang m abuk, m ungkin, yang dikatakannya sam a sekali
sa la h .”

80 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka “Mem ang tam paknya ia m abuk, tapi tak apalah. Aku akan
berangkat sekarang, dan sebelum pagi pasti telah sampai di
Gosh en .”

“Tunggu sebentar, kubungkuskan sedikit m akanan untukm u.
Pasti akan kau perlukan nanti.”

Ia m enyiapkan m akanan dan tiba-tiba bertanya, “Coba, bila
seekor sapi berbaring dan akan berdiri, bagian yang m ana yang
lebih dulu bangkit? Cepat jawab, tak usah berpikir. Bagian m ana?”

“Bagian ekornya, Nyonya?
“Seekor kuda?”
“Bagian kepalanya.”
“Bagian sebelah m ana dari sebatang pohon lum ut-lum ut
terus tumbuh?”
“Bagian sebelah utaranya.”
“Bila lim a belas ekor sapi m erum put di lereng sebuah bukit,
berapa ekor dari mereka makan dengan kepala menghadap ke
satu arah?”
“Sem uanya, Nyonya, lim a belas ekor”
“Tepat sem ua, agaknya kau betul-betul pernah hidup di
daerah pertanian. Tadinya kukira kau m enipuku lagi. Siapa
nam am u yang sebenarnya?”
“George Peters, Nyonya.”
“Nah, cobalah m en gin gat-in gat n am am u den gan betul,
George. J angan-jangan bila ditanya lagi kau bilang nam am u
George Alexander. Dan jangan berlaku sebagai gadis di depan
wanita. Kau sam a sekali tak bisa m eniru seorang gadis, bila di
hadapan kaum pria mungkin masih bisa, tapi di depan wanita
tidak. Diberkati uban kiranya engkau, Nak, bila kau m em asukkan
benang ke lubang jarum, jangan kau gerakkan jarum ke arah
benang, tapi benang ke arah jarum . Begitulah cara seorang wanita,
sedang kebalikannya adalah cara lelaki m em asukkan benang
ke jarum . Waktu kau m elem par, berdirilah berjinjit, ayunkan

Petualangan Huckleberry Finn 81

http://facebook.com/indonesiapustaka tanganmu dari atas kepala sekaku mungkin, jangan kenakan
sasaranm u, lebih baik bila yang kau lem parkan itu jatuh enam
atau tujuh kaki dari sasaran. Gerakkan tanganmu kaku-kaku
dari bahu, seolah-olah ada engsel di tempat itu untuk memutar
lengan, itulah cara perem puan m elem par dengan tangannya. Dan
juga ingatlah, bila seorang gadis hendak m enerim a sesuatu yang
dilem parkan ke pangkuannya, ia m alah m erenggangkan pahanya,
membuka, tidak seperti kau tadi menangkupkan paha. Sejak kau
memasukkan benang tadi aku sudah tahu bahwa kau seorang
anak lelaki, lain-lainnya kucobakan untuk m eyakinkan diriku.
Nah, berangkatlah kini ke pam anmu, Sarah Mary Williams George
Alexander Peters, dan bila kau m endapatkan kesulitan, cepat-
cepat kirim berita pada Nyonya Edith Loftus, itulah nam aku, dan
akan kucoba nanti untuk menolongmu. Ikutilah terus jalan di tepi
sungai ini, dan kali pakailah sepatu, jalan ini terlalu berbatu-batu
hingga sampai di Goshen pastilah kakimu akan hancur.”

Aku m engikuti jalan sungai yang ditunjukkannya itu sejauh
kira-kira lim a puluh yard, kem udian aku m engam bil jalan berputar
dan m enyelinap ke dalam perahuku yang sedikit berada di bawah
rum ah nyonya tadi. Aku m eninggalkan pantai dengan tergesa-
gesa. Aku m em udik sungai sam pai cukup jauh untuk m encapai
kepala Pulau J ackson, lalu kuseberangkan perahu. Kubuka topiku
agar kepalaku lebih bebas. Kira-kira di tengah sungai kudengar
lonceng berbunyi. Aku berhenti untuk m endengarkan. Sayup-
sayup terdengar di atas air sungai sebelah kali. Sesam painya
di kepala pulau, aku tak membuang waktu untuk mengatur
napas, walaupun aku sangat terengah-engah, aku cepat-cepat
m enyelusup m asuk ke hutan, ke tem pat dulu aku berkem ah
sebelum bertem u J im . Cepat-cepat kubuat sebuah api unggun
besar di tempat kering dan ketinggian.

Kem udian aku m elom pat ke dalam perahu, kukayuh ke
tem pat persem bunyian kam i, satu setengah m il di sebelah hilir,

82 Mark Twain

sekuat aku bisa. Aku m elom pat ke daratan, m enem bus rim ba dan
m enaiki bukit tem pat gua kam i berada. J im sedang tidur nyenyak.
Kubangunkan dia, “J im , bangun! Cepat! Tak ada waktu lagi! Kita
d ike ja r !”

J im tak bertanya, tak berkata sepatah pun. Setengah jam kam i
m em indahkan sem ua m ilik kam i ke atas rakit. Cara J im bekerja
m enunjukkan betapa besar rasa takutnya. Selesai berkem as,
rakit kam i m eluncur keluar dari tem pat persem bunyian di
antara sem ak-sem ak dedalu. Selam a bekerja tadi kam i hanya
m enggunakan lilin, itu pun hanya terbatas di dalam gua. Api
unggun di luar gua telah kumatikan ketika aku tiba tadi.

Aku berdayung m enjauhi pantai. Tak kulihat apa-apa, tak
kulihat sebuah perahu pun. Nam un aku tak yakin. Bulan tiada.
Rakit kam i terus m eluncur, hanyut dalam kegelapan, m elam paui
kaki pulau. Tak sepatah kata keluar dari mulut kami.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka JANGAN CARI KESULITAN

KIRA-KIRA PUKUL satu m alam barulah kam i m elam paui Pulau
J ackson, dan rakit kam i hanyut perlahan sekali. Bila sebuah
perahu mendekati kami, menurut rencana kami berdua akan
m elom pat dari rakit ke perahu dan cepat-cepat berkayuh ke
pantai Illinois. Untung saja tak sebuah perahu pun terlihat sebab
ternyata senapan, kail, dan sem ua m akanan tak berada di rakit.
Kam i tadi terlam pau tergesa-gesa. Sungguh tidak bijaksana untuk
menaruh semua barang di rakit, sedang perahu kosong.

Bila benar ada orang m endatangi pulau kam i, pastilah m ereka
akan m endatangi unggun yang kubuat, dan m enunggu di sekitar
tem pat itu untuk bisa m enyergap J im . Biar m ereka sem alam an
m enunggui api unggun itu. Pokoknya m ereka jauh dari kam i. Dan
bila tipuanku dengan api unggun itu tak berhasil, jangan salahkan
aku. Tak bisa kupikirkan tipuan yang lebih keji dari itu.

Ketika fajar m enyingsing, kam i berlabuh di sebuah gosong
pasir yang penuh ditum buhi oleh pohon kapas. Gosong pasir itu

http://facebook.com/indonesiapustaka 84 Mark Twain

berada di tikungan sungai, di pantai Illinois. Rakit dan perahu
kami ikat, dan dengan kapak kami potong dahan-dahan pohon
kapas untuk menutupi rakit sehingga dari kejauhan tak akan
tam pak, sedang yang tam pak seolah-olah di tem pat itu baru
terjadi tanah longsor.

Di pantai Missouri tanah berbukit-bukit, di pantai Illinois
hutan rim ba. Arus lalu lintas di tem pat itu berada di tepi daerah
Missouri, jadi kami tak usah mengkhawatirkan kalau-kalau
kami kepergok orang. Sepanjang hari kami berada di tempat itu,
m em perhatikan rakit-rakit dan kapal-kapal uap yang m enghilir
sungai m eluncur di tepian Missouri, dan kapal-kapal uap yang
m em udik sungai m elawan arus di tengah sungai. Kuceritakan
pada J im pengalamanku waktu bercakap-cakap dengan wanita
sem alam . Kata J im wanita itu sungguh-sungguh cerdik. Bila
wanita itu sendiri yang m engejar kam i, kata J im , pastilah ia tak
akan tertipu oleh api unggunku, pasti ia akan datang dengan
m em bawa anjing pencari jejak. Mengapa ia tak m enyuruh
suam inya m em bawa anjing, tanyaku. J im berani bertaruh bahwa
pasti pada waktu orang-orang itu akan berangkat, si wanita
cerdik tersebut akan mengingatkan mereka untuk membawa
anjing, itulah sebabnya m ereka terlam bat datang, m ereka harus
m em injam anjing-anjing itu dulu. Kalau tidak, pasti kam i tak
akan bisa lolos dengan demikian mudah, sampai berhasil berada
enam atau tujuh belas mil di bagian hilir sungai.

Ketika hari m ulai gelap, kam i m enongolkan kepala keluar dari
sem ak-sem ak, m elihat ke segala arah. Am an! J im m em bongkar
beberapa papan lantai rakit untuk membuat semacam gubuk di
atas rakit itu, tempat berteduh bila hari panas atau hujan, juga
untuk tem pat m enyim pan barang-barang. Lantai gubuk itu berada
satu kaki di atas lantai rakit, sehingga barang-barang di atasnya
tak tercapai oleh sem buran air yang disebabkan oleh lalunya
sebuah kapal uap. Tepat di tengah gubuk kami beri lapisan tanah

Petualangan Huckleberry Finn 85

http://facebook.com/indonesiapustaka setinggi lim a atau enam inci, dengan bingkai di sekelilingnya agar
lapisan tanah tersebut tak buyar. Lapisan tanah tersebut akan
kami gunakan sebagai tempat api unggun untuk pemanas tubuh
bila udara dingin. Cahaya api kam i perhitungkan tak akan bisa
terlihat dari jauh karena tertutup oleh dinding gubuk. Kam i juga
m em buat sebuah dayung kem udi, untuk persediaan bila dayung
yang lam a patah. Sebuah tongkat yang bercabang ujungnya kam i
dirikan di lantai rakit, untuk m enggantungkan lentera. Lentera
itu akan m enghindarkan kam i dari bahaya tertubruk oleh kapal
uap yang sedang m enghilir sungai. Untuk kapal yang sedang
berlayar ke m udik, kam i tak usah khawatir sebab air m asih tinggi,
pangkalan sungai tiada, dan kapal-kapal itu tak menggunakan
aluran lalu lintas perahu tetapi mengambil jalan di tengah sungai.

Malam kedua, kam i berhanyut-hanyut selam a tujuh atau
delapan jam , dengan arus yang berkecepatan kira-kira em pat m il
per jam . Kerja kam i selam a itu hanyalah m enangkap ikan, om ong-
omong, dan sekali-sekali berenang-renang untuk menghilangkan
rasa kantuk. Keagungan sungai raksasa yang m engalir tenang itu
serta langit luas berbintang di atas kami bila kami telentang di
lantai rakit m em buat kam i jadi pendiam , setengah takut. Kam i
jarang sekali tertawa keras. Sedikit sekali bicara. Udara dan cuaca
baik sekali, kami tak mendapat gangguan pada malam-malam
b er iku t n ya .

Tiap m alam kam i lewati kota-kota. Kadang-kadang jauh
sekali di punggung bukit-bukit, yang terlihat jelas. Malam kelim a
kam i lewati kota St. Louis. Betapa cem erlangnya! Seakan lam pu-
lampu seluruh dunia terkumpul di tempat itu. Pernah kudengar
orang berkata di St. Petersburg bahwa St. Louis berpenduduk
dua puluh atau tiga puluh ribu orang. Dulu aku tak percaya, tapi
setelah m elihat lam pu-lam pu kota, terpaksa aku percaya. Kam i
m elewati kum pulan ribuan cahaya yang indah itu sekitar pukul
dua m alam . Sunyi sekali waktu itu, tak terdengar satu suara pun.

86 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Tiap m alam setelah m elewati St. Louis, kira-kira pukul
sepuluh, aku m enyelinap ke darat, m em asuki desa-desa kecil,
untuk membeli bahan makanan seharga sepuluh atau lima belas
sen. Kadang-kadang kusam bar juga ayam -ayam yang belum
pulang ke kandangnya. Itu sesuai dengan nasihat bapakku,
yaitu am billah ayam bila ada kesem patan, sebab bila kita
sendiri tak m em erlukannya, toh bisa kita berikan pada orang
lain yang m ungkin m em butuhkan ayam tersebut, yang berarti
orang itu akan berutang budi pada kita, utang budi yang tak
akan terlupakan. Tapi selama ini belum pernah aku melihat
Bapak m em berikan ayam hasil curiannya pada orang lain, selalu
dihabiskannya sendiri.

Pagi-pagi m enjelang terbitnya m atahari biasanya juga
kugunakan untuk menjelajah di ladang-ladang, meminjam
semangka, labu, atau jagung-jagung muda atau hasil ladang
lainnya yang bisa dim akan. Mem injam itu istilah Bapak, dan
katanya hal tersebut bukanlah perbuatan jahat, sebab walaupun
kita m engam bil tanpa seizin yang em punya, dalam hati kita punya
m aksud untuk m em bayarnya kelak. Tapi kata Nyonya J anda,
perbuatan semacam itu adalah suatu pencurian, dan terlarang
bagi orang-orang yang sopan. J im berpendapat bahwa baik
Nyonya J anda m aupun Bapak benar, jadi harus diam bil jalan
tengah. Dari daftar kebutuhan yang ada, kam i akan m em injam
dua atau tiga macam jika ada kesempatan, setelah itu kami
berjanji untuk tidak lagi meminjam benda-benda itu sehingga
kam i punya alasan untuk m em injam benda-benda lainnya. Suatu
m alam kam i rundingkan m asak-m asak apa yang tidak akan kam i
pinjam , satu per satu kam i pertim bangkan dari daftar hasil kebun
yang panjang. Akhirnya m enjelang pagi kam i putuskan bahwa
kam i tak akan m em injam apel kepiting dan persim on. Aku am at
gembira akan putusan tersebut, sebab aku tak suka akan apel
kepiting dan buah persimon baru akan masak kira-kira tiga bulan
yang akan datang.

Petualangan Huckleberry Finn 87

http://facebook.com/indonesiapustaka Bila ada kesem patan, kam i juga m enem bak unggas-unggas
air yang terlalu pagi bangun atau terlalu sore tidur. Kehidupan
kam i di rakit itu boleh dikata cukup m enyenangkan.

Malam kelim a di dekat St. Louis lewat tengah m alam kam i
ditim pa badai hebat. Badai teriring kilat dan halilintar, sem entara
hujan juga turun dengan lebatnya. Kam i berlindung dalam
gubuk, m em biarkan rakit kam i berjalan sem aunya. Bila saja
kilat m enyam bar, kam i bisa m elihat jelas sungai raksasa itu yang
dipagari oleh tebing-tebing tinggi di sisinya. Tiba-tiba aku m elihat
seseuatu. “Lihat J im , itu!” teriakku pada J im . Sebuah kapal uap
terdam par di batu karang! Kam i sedang hanyut tepat ke arah kapal
rusak itu. Cahaya kilat m em buat kam i bisa m elihatnya dengan
sangat jelas. Kapal tersebut sangat m iring, sebagian geladak
atasnya m asih berada di atas air. Cahaya kilat m enam pakkan
cerobong asap yang bersih serta sebuah kursi dengan sebuah topi
tergantung di sandarannya dekat lonceng besar.

Di m alam yang gelap dan hujan badai terdapat sebuah kapal
rusak yang tam paknya kosong dan ditinggalkan, hati anak-anak
m ana yang tak akan penuh keinginan untuk m enyelidiki kapal
rusak yang penuh rahasia itu. Aku ingin naik ke kapal tersebut,
m elihat-lihat apa yang ada. Aku berkata pada J im , “Mari kita
naik, J im.”

Mula-m ula J im sam a sekali tak m au. “Aku tak in gin
m em buang waktu di kapal rusak itu. Keadaan kita sam pai saat
ini cukup baik. J angan cari-cari kesulitan. Mungkin sekali di situ
ada penjaganya.”

“Penjaga nenekm u!” tukasku. “Tak ada lagi yang perlu dijaga
di kapal itu kecuali ruang pandu dan ruang pesta. Dan siapa mau
berjaga di perahu itu yang setiap saat bisa pecah, hanyut dan
hancur?” J im diam saja. “Dan lagi,” kataku selanjutnya, “m ungkin
kita bisa meminjam barang-barang dari kamar kapten. Serutu
yang berharga lim a sen satu, m isalnya. Kapten kapal uap selalu

88 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka kaya, gaji m ereka enam puluh dolar sebulan, dan m ereka tak
sayang untuk m engham bur-ham burkan uang itu. Bawa sebatang
lilin lagi, J im , aku tak akan m erasa puas sebelum m enyelidiki
kapal ini. Coba, m ungkinkah Tom Sawyer m elepaskan begitu saja
kesem patan seperti ini? Tak m ungkin. Keadaan seperti ini akan
dianggapnya sebagai suatu petualangan yang tak ada bandingnya,
dan ia pasti naik ke kapal itu walaupun jiwanya akan terancam
karenanya. Dan betapa ia akan m enantang bahaya untuk dirinya!”

J im m enggerutu, tapi akhirnya ia setuju. Kam i m eram bat
dalam kegelapan, m eyusuri sisi kapal m enuju ruang pesta yang
berjendela banyak itu, m eraba-raba dengan kaki keadaan yang
begitu gelap. Segera juga kami berhasil mencapai ujung depan
tingkap kaca ruang itu. Kam i naik ke atas tingkap itu dan
beberapa langkah kemudian sampai ke pintu kamar kapten. Rakit
telah kami ikat di derek sebelah kanan kapal uap itu. Pintu kamar
kapten terbuka, dan astaga! Kam i dengar suara-suara m anusia
dari ujung ruang pesta! Bahkan terlihat kelipan lilin!

J im berbisik m engatakan bahwa perutnya tiba-tiba
sangat terasa sakit. Ia ingin turun ke rakit, dan minta agar aku
m engikutinya. Aku pun takut juga, tapi baru saja akan m elangkah
kudengar dari ujung ruangan itu suara m enjerit, “J angan, oh,
jangan, kawan! Aku bersum pah tak akan m em buka rahasia!”

Sebuah suara lain, yang juga nyaring, terdengar berkata,
“Kau dusta, J im Turner. Kau selalu bertingkah begini. Kau selalu
m inta bagian lebih banyak dan selalu m endapatkannya, karena
kau berjanji untuk tidak membuka rahasia. Tetapi kami telah
bosan pada sum pahm u itu. Kaulah anjing yang paling berbahaya
dan paling tak bisa dipercaya di negeri ini.”

Waktu itu J im sudah tak ada di dekatku, ia telah pergi ke rakit,
agaknya. Hatiku dipenuhi oleh rasa ingin tahu, kukatakan pada
diriku sendiri tentunya Tom Sawyer tak akan m undur ketakutan
dalam keadaan seperti ini, dan aku pun tidak. Aku m erangkak di

Petualangan Huckleberry Finn 89

http://facebook.com/indonesiapustaka gang, dalam kegelapan, sam pai aku hanya dipisahkan oleh sebuah
kamar dari ruang bersilang tempat senang-senang itu. Di dalam
ruang tersebut kulihat seorang lelaki terbaring di lantai, diikat
kaki-tangannya. Di depannya berdiri dua orang lelaki lain, seorang
m em bawa lentera yang lem ah nyalanya, seorang m em bawa pistol.
Yang m em bawa pistol berkata sam bil m engacungkan pistolnya ke
kepala orang yang terbaring, “Lega sekali bisa m em bunuhm u, dan
m em ang itulah yang akan kulakukan, pengkhianat busuk!”

Orang yang terbaring itu m erintih-rintih, “Oh, jangan, Bill,
aku tak akan membuka rahasia.”

Si pem bawa lentera tertawa, “Tepat sekali, kau m em ang
tak akan bisa membuka rahasia lagi. Dengar, betapa ia
m inta dikasihani! Tapi kalau saja bukan kita yang lebih dulu
m engalahkannya, pasti kita berdua telah dibunuhnya tanpa
sebab. Hanya karena kita m inta hak kita! Kukira kau tak akan
bisa m engancam orang lagi, J im Turner. Sim pan pistolm u, Bill!”

“Un tuk apa, J ake Packard? Aku in gin m em bun uhn ya,
bukankah ia juga membunuh si Tua Hatield tanpa belas kasihan
sedikit pun? Orang ini wajib kita bunuh!”

“Tapi aku tak ingin terbunuh, aku punya alasan untuk itu.”
“Kiranya Tuhan m em berkati engkau, J ake Packard! Takkan
kulupakan engkau seum ur hidupku!” seru orang yang terbaring di
lantai mengiba-iba.
Packard tak m em perhatikannya, ia m enggantungkan lentera
di paku kem udian m elangkah ke arah aku bersem bunyi, m em beri
isyarat pada Bill untuk ikut. Aku terpaksa m erangkak secepatnya
mundur, namun kapal itu begitu miring hingga amat sukar bagiku
untuk bisa bergerak cepat. Terpaksa aku masuk sebuah kamar
untuk m enghindari tubrukan dengan kedua orang itu. Keduanya
berjalan dengan m eraba-raba dalam gelap, dan ternyata Packard
m asuk juga ke kam ar yang kum asuki sam bil berkata, “Mari,
m asuk kem ari!”

90 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Bill m enyusul m asuk. Tapi sebelum m ereka berdua m asuk,
aku telah memanjat ke bagian atas sebuah tempat tidur bersusun.
Betapa m enyesal aku telah naik ke kapal rusak itu. J ake dan Bill
berdiri di tepi tem pat tidur, bersandar dan berbicara. Aku tak
bisa m elihat keduanya, tapi bisa kukira-kira di m ana m ereka
berada dari bau wiski yang agaknya baru saja m ereka m inum .
Aku gem bira bahwa aku tak m inum wiski, nam un seandainya
aku minum pun mereka tak akan mengetahui tempatku, sebab
aku sam a sekali tak bernapas. Aku takut sekali! Lagi pula orang
tak akan bisa bernapas bila mendengarkan percakapan kedua
orang itu. Mereka berbicara perlahan, bersungguh-sungguh.
Bill in gin sekali m em bun uh Turn er. Katan ya, “Dia pern ah
berkata akan membuka rahasia kita, suatu kali hal itu pasti
dilakukannya. Bilapun kita beri dia bagian kita sem ua, itu tak
akan m enghalanginya untuk m engadukan kita begitu dia bebas.
Biarlah kubunuh saja dia.”

“Aku pun berm aksud begitu,” sahut Packard tenang.
“Terkutuk! Kukira tadi kau tak ingin ia dibunuh. Kalau
begitu, mari kita bereskan saja sekarang.”
“Tun ggu dulu, aku belum selesai berkata. Den garkan .
Menem baknya m em ang cukup gam pang. Tapi ada jalan yang
lebih baik dan tak terlalu ribut. Lagi pula apa gunanya m enam bah
daftar kesalahan kita bila hal itu bisa kita hindari.”
“Mem ang, tapi bagaim ana m aksudm u? Bagaim ana cara kita
m em bunuhnya?”
“Begini. Kita bereskan sem ua barang-barang yang ada di
kapal ini dan kita sem bunyikan di pantai. Kita pergi diam -diam .
Kita tunggu di pantai. Dalam dua jam saja kapal ini akan hancur
dan hanyut. Nah! Ia akan m ati terbenam . Dan itu lebih baik
daripada kita yang m em bunuhnya secara langsung. Aku sam a
sekali tak setuju untuk membunuh seseorang, jika masih ada


Click to View FlipBook Version