Petualangan Huckleberry Finn 341
http://facebook.com/indonesiapustaka “J im , setelah beberapa lam a, engkau tak akan takut pada
ular-ular itu. Kau bisa m enjinakkannya.”
“Menjinakkan ular!”
“Ya, m udah sekali. Setiap binatang selalu punya rasa terim a
kasih untuk kebaikan hati kita, karena belaian kita, dan mereka
tak akan punya kehendak untuk m enyakiti orang yang m em belai-
belai mereka. Setiap buku akan membenarkan kata-kataku ini.
Kau bisa m encobanya. Hanya itulah yang kum inta, coba saja
untuk dua atau tiga hari. Kau akan heran bagaim ana ular-ular
itu akan mencintaimu, tak ingin jauh lagi darimu, dan malah
m em biarkan dirinya kau lingkarkan di leher serta kau m asukkan
kepalanya ke dalam m ulutm u.”
“Oh, Tuan Tom , jangan berkata begitu. Aku tak tahan m en-
dengarnya. Dia m em perbolehkan aku m em asukkan kepalanya
ke dalam m ulutku, sebagai rasa terim a kasih, bukan ? Aku
yakin ia akan m enunggu lam a sekali sam pai aku m inta agar ia
m em asukkan kepalanya ke dalam m ulutku. Aku pun tak ingin dia
tidur bersamaku.”
“J im , jangan begitu tolol. Seorang tawanan harus m em punyai
hewan peliharaan. Mem ang, sam pai saat ini belum ada yang
mencoba memelihara ular keluntang, karena itu sebagai orang
pertam a kau akan m enjadi sangat term asyhur.”
“Tuan Tom , aku tak ingin kem asyhuran sem acam itu. Bila
ular itu m enggigit dagu J im , di m ana letak kem asyhuran itu?
Tidak, Tuan, aku tak ingin berbuat serupa itu.”
“Terkutuk, tapi bukankah kau bisa m encobanya? Aku hanya
ingin agar kau m encobanya, bila gagal tak usah kau teruskan.”
“Soalnya bukan gagal atau tidak, Tuan Tom , sekali ular
keluntang itu menggigitku, beres sudah, tak usah Tuan repot-
repot lagi. Apa pun yang Tuan kehendaki akan kukerjakan, tapi
kalau Tuan dan Huck membawa ular keluntang kemari, lebih baik
aku saja yang pergi.”
342 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka “Baiklah! Baiklah! Keras kepala benar kau ini. Akan kam i
carikan ular tali untukm u, kita ikatkan kancing baju di ekornya
dan kita anggap saja ular keluntang. Rasanya hanya itu yang bisa
kita kerjakan dalam hal ini.”
“Kalau hanya m em elihara ular tali aku tak keberatan, tapi
sebenarnya tanpa ular itu pun aku m asih bisa hidup. Berat juga
kiranya jadi tawanan ini.”
“Mem ang berat, sebab kau jadi tawanan m enurut cara yang
benar. Ada tikus di sini, J im ?”
“Tidak, Tuan, seekor pun tidak.”
“Akan kam i bawakan beberapa ekor untukm u.”
“Wah, Tuan Tom , aku tak inginkan tikus! J angan-jangan
aku diganggu mereka terus, bila aku tidur pasti mereka berlarian
di tubuhku, menggigit kakiku. Tidak, Tuan, lebih baik aku akan
memelihata ular tali, tapi jangan suruh aku memelihara tikus.”
“Sem ua tawanan yang baik m em elihara tikus, J im , jadi kau
pun harus. J angan m em bantah lagi. Tak pernah ada tawanan yang
tak memelihara tikus. Tak pernah ada. Tikus-tikus itu mereka
latih, mereka belai-belai, mereka ajar berbagai kepandaian,
hingga mereka sangat bersahabat dengan si tawanan. Tapi kau
harus m ain m usik untuk m ereka. Ada alat m usik apa di sini?”
“Biasanya aku m ain m usik dengan m eniup secarik kertas
yang kutem patkan di sisir. Dan aku juga punya sebuah kecapi
yahudi. Tapi agaknya tikus tak suka m endengar suara kecapi.”
“Siapa bilan g. Tikus tak peduli alat m usik apa yan g
disem bunyikan. Kecapi cukup baik bagi seekor tikus. Sem ua
binatang suka akan musik, terutama dalam penjara. Teristimewa
bila m usik yang dim ainkan m usik sedih. Bukankah hanya m usik
sedih yang bisa kau m ainkan dengan kecapi yahudi? Tikus-tikus
pasti akan datang, ingin tahu m engapa kau bersedih. Ya, beres
sudah kau kini. Sebelum tidur atau sesudah bangun duduklah
sebentar, m ainkan lagu “Mata Rantai Terakhir Patah Sudah”.
Tak sampai dua menit, mata tikus, ular, dan laba-laba akan
Petualangan Huckleberry Finn 343
http://facebook.com/indonesiapustaka datang untuk mengetahui mengapa kau bersedih. Mereka akan
mengerumunimu, bergembira ria.”
“Ya, m ereka akan bergem bira ria, Tuan Tom , tapi apakah J im
ini juga akan gembira ria? Sama sekali tak masuk di akal. Tapi
baiklah, bila aku harus membuat binatang-binatang itu teman,
baiklah, akan kuhibur mereka daripada aku harus bertengkar
dengan mereka.”
Tom berpikir-pikir sebentar, kalau-kalau ada yang kelewatan.
Kem udian ia berkata, “Oh ya, ham pir lupa. Kau bisa m enanam
bunga di sini, J im?”
“Aku tak tahu, m ungkin bisa, Tuan Tom . Tapi tem pat ini
begitu gelap, dan aku tak tahu apa gunanya bunga, kecuali
membuat capai dan lelah saja.”
“Bagaim anapun, coba saja. Beberapa orang tawanan berhasil
m engerjakannya.”
“Pokok kem bang m ullen yang seperti ekor m acan itu m ungkin
bisa tum buh di sini, Tuan Tom , tapi rasanya tak sebanding
hasilnya dengan tenaga yang dipakai untuk m enanam nya.”
“Om ong kosong. Akan kam i bawakan kau pokok m ullen itu
yang m asih kecil. Kau tanam di sudut itu, kau pelihara baik-baik.
J angan sebut m ullen, dalam penjara nam anya yang benar adalah
pitchiola. Dan harus kau sirami dengan air matamu.”
“Astaga, Tuan Tom , saban hari aku diberi banyak sekali air
su m u r .”
“Kau tak boleh m enggunakan air sum ur, harus kau siram i
dengan air m ata. Itulah kebiasaan yang berlaku.”
“Tuan Tom , kau kira aku bisa m em buat pokok m ullen itu
tumbuh dua kali lebih cepat dengan air sumur daripada pokok
m ullen yang dipelihara dengan air m ata.”
“Bukan begitu, tapi suatu keharusan, peraturan.”
“Pasti m ati pokok itu di tanganku, Tuan Tom , sebab aku
sangat jarang sekali menangis.”
344 Mark Twain
Tom term enung, berpikir-pikir. Kem udian ia berkata bahwa
J im harus mencoba mencucurkan air mata dengan bantuan
bawang putih. Tom berjanji akan menaruh sebutir bawang di kopi
J im besok pagi. J im m enyahut ia lebih suka bila kopinya ditaruhi
tembakau saja. J im juga berkeluh-kesah berkepanjangan karena
ia harus banyak bekerja, m enanam m ullen, m em ainkan kecapi
untuk tikus, membelai-belai dan membujuk laba-laba, ular dan
sebagainya, selain itu ia juga harus m em buat pena. m encukil
tulisan di batu gerinda, m enulis catatan harian, dan lainnya,
yang betul-betul sangat berat terasa olehnya. Menjadi tawanan
lebih banyak m em punyai tanggung jawab, kesulitan, serta
kekhawatiran daripada bekerja apa saja yang pernah dialam inya.
Begitu banyak keluh-kesah J im hingga habis kesabaran Tom . Kata
Tom , J im m em iliki kesem patan-kesem patan paling indah yang
bisa dipunyai oleh seorang tawanan di m ana pun juga di dunia
ini, m endapat kesem patan besar untuk m enjadi term asyhur,
tetapi agaknya kesem patan-kesem patan itu akan terbuang sia-sia.
Mendengar itu J im m enyatakan penyesalannya, ia berjanji untuk
tidak berkeluh-kesah lagi. Aku dan Tom pergi pulang.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka TOM MENULIS SURAT KALENG
PAGI HARINYA kam i pergi ke desa, m em beli perangkap tikus
yang terbuat dari kawat. Kam i bawa perangkap tikus itu ke
gudang di bawah tanah, kam i pasang di depan lubang yang paling
banyak tikusnya. Sum bat lubang itu kam i buka, dan dalam sejam
saja kami berhasil menangkap lima belas ekor tikus besar-besar.
Kam i bawa perangkap tikus yang telah penuh itu ke kam ar Bibi
Sally, kam i taruh di bawah tem pat tidurnya, sebab kam i kira
itulah tem pat persem bunyian yang paling baik. Tapi sem entara
kam i m encari laba-laba, putra Pam an Silas yang m asih kecil,
yang bernam a Thom as Franklin Benjam in J efferson Eleander
Phelps m asuk ke kam ar ibunya, dan m enem ukan perangkap
tikus tadi. Dibukanya pintu perangkap untuk m elihat apakah
tikus-tikus itu m au keluar. Dan ternyata m em ang tikus-tikus itu
m au keluar. Waktu itulah Bibi Sally m asuk. Ketika kam i pulang
dari m encari laba-laba, kam i dapati Bibi Sally m arah-m arah di
atas tem pat tidur sam bil m enjerit-jerit sekeras suaranya. Untuk
346 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka kelalaian kami itu, kami diberi hadiah gebukan dengan tongkat
pem ukul. Baru setelah bersusah-payah selam a dua jam kam i bisa
mendapatkan lima belas atau enam belas ekor tikus, tikus-tikus
kecil. Betul-betul sialan Si Thom as Franklin itu. Belum pernah
aku m elihat tikus-tikus sebagus hasil tangkapan kam i yang
pertama tadi.
Kam i m em punyai persediaan cukup berbagai jenis binatang
seperti laba-laba, katak, ulat, dan binatang-binatang kecil lainnya.
Kam i sudah ham pir berhasil m endapatkan sarang lebah, tapi
gagal karena lebah-lebah sedang berada di dalam nya. Kam i
tunggu saja sehingga lebah-lebah itu keluar, sebab hanya ada dua
kemungkinan: kami membuat mereka lelah di dalam sarang, atau
m ereka yang m em buat kam i lelah duduk m enunggu. Ternyata
m ereka yang m enang, terpaksa kam i pergi dengan seluruh tubuh
kesemutan, dan untuk beberapa lama terasa sakit pantat kami
bila duduk. Kam i cukup berhasil m engum pulkan ular. Kam i
menangkap kira-kira dua lusin ekor ular tali dan ular rumah.
Kam i taruh ular-ular itu di dalam sebuah karung, kam i sim pan di
kam ar kam i sebab waktu m akan m alam telah tiba. Kam i sangat
lelah, dan lapar. Selesai makan, kami dapati tak ada seekor ular
pun dalam karung, ternyata karung itu kurang rapat m uncungnya
hingga ular-ular tadi keluar semua. Tapi tak apa sebab pasti ular-
ular itu belum keluar dari rumah. J adi beberapa di antara mereka
pasti bisa kam i tangkap lagi. Benar dugaan kam i. Sekali-sekali
jatuh seekor ular dari rusuk atap, dan pada um um nya ular-ular
itu jatuh ke piring, atau ke punggung kami atau leher, atau
tem pat-tem pat yang bukan sem estinya. Ular-ular itu kulitnya
indah sekali, dan sam a sekali tak berbahaya, nam un Bibi Sally
sam a sekali tak am bil pusing, segala m acam ular sam a baginya,
dan bagaim anapun ia selalu m em benci m ereka. Bila ada seekor
ular m enjatuhinya, tak peduli ia sedang m em egang apa, barang
yang dipegangnya itu pasti dibantingkannya dan ia angkat kaki
Petualangan Huckleberry Finn 347
http://facebook.com/indonesiapustaka secepat m ungkin. Belum pernah aku m elihat seorang wanita
seperti itu. Setiap kali berteriak, kita bisa mendengarkan teriakan
itu dari J erikho, Israel. Bagaim anapun dipaksa, ia tak akan m au
m em egang ular-ular itu dengan jepit. Bila didapatinya seekor ular
di tem pat tidurnya, ia akan m elom pat turun dan lari, m enjerit-
jerit seolah-olah rum ah sedang terbakar. Ketakutannya benar-
benar mengganggu pikiran Paman Silas, hingga Paman Silas
berkata alangkah baiknya bila ular tak pernah diciptakan Tuhan.
Bahkan sem inggu setelah rum ah bersih dari ular, Bibi Sally
tak pernah bisa tenang. Bila ia sedang term enung m em ikirkan
sesuatu, kem udian kita sentuh lehernya dengan bulu, sudah
pasti ia akan melonjak dan lari. Sungguh ganjil. Tapi kata Tom
m em ang begitulah kebiasaan wanita, katanya wanita diciptakan
m em punyai sifat begitu, entah dengan m aksud apa.
Setiap kali ada ular jatuh di dekat Bibi Sally, pasti kam i
dapat gebukan. Katanya gebukan itu bukanlah apa-apa bila di-
bandingkan dengan gebukan yang akan kam i terim a bila kam i
m em bawa ular lagi ke dalam rum ah. Aku tak peduli gebukan itu,
sebab memang hampir tak terasa, tapi aku betul-betul sedih karena
ular-ular itu lari setelah jerih payah kam i m engum pulkan m ereka.
Tapi akhirnya terkum pul juga binatang-binatang yang kam i
perlukan. Dan betul-betul hebat pondok J im bila ia memainkan
m usik dan binatang-binatang m engerum uninya. J im tak senang
pada laba-laba, dan laba-laba juga tak senang pada J im, maka
m ereka selalu m encari kesem patan untuk m engganggu J im . Kata
J im , kini ham pir tak ada tem pat baginya untuk tidur, begitu
penuh ruangan itu dengan batu jentera, ular, dan tikus. Walaupun
tak sesem pit itu, pastilah sukar baginya untuk tidur, sebab
pondok itu kini tak pernah tenang lagi, terus saja ram ai. Sebabnya
ialah karena binatang-binatang itu tak pernah tidur dalam waktu
yang bersam aan, bila ular-ular tidur tikus-tikus m engganggu, dan
bila tikus-tikus tidur, ular-ular berjaga-jaga. J adi J im selalu saja
348 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka berhadapan dengan salah satu dari kelompok binatang itu; selalu
saja ada yang lagi di bawahnya, di depannya, atau berm ain sirkus
di dadanya. Dan bila ia berm aksud pindah tem pat tidur, laba-laba
akan m enyerangnya pada saat ia bergeser. Kata J im , bila ia bisa
keluar, tak mau lagi ia jadi tawanan, walaupun digaji berapa saja.
Tiga m inggu selesailah segala pekerjaan kam i. Kem eja Pam an
Silas telah kami kirimkan pada J im dengan melalui sebuah kue.
Kini setiap kali seekor tikus m enggigit J im , ia bangun dan m enulis
catatan hariannya sem entara tintanya m asih segar. Pena telah
jadi, begitu juga kesan-kesan dan lambang telah diukirkan di batu
gerinda. Kaki tem pat tidur J im telah kam i gergaji, m enjadi dua,
serbuknya kam i m akan, dan hebat sekali sakit perut yang tim bul
karenanya. Kam i kira kam i akan m ati, tetapi ternyata tidak.
Serbuk gergaji itu adalah serbuk yang paling tak tercernakan. Tom
juga berkata begitu. Tapi seperti kataku tadi, semua pekerjaan
kami beres sudah. Dan kami telah kehabisan tenaga, terutama
J im. Paman Silas telah dua kali menulis surat pada perusahaan
pertanian di sebelah hilir New Orleans, minta agar mereka
m engam bil negro m ereka yang tertangkap di sini. Tetapi tentu
saja surat-surat itu tak dapat jawaban, sebab m em ang alam at yang
ditulis di surat itu tak ada. Paman Silas mengambil keputusan
untuk m em asang iklan di beberapa surat kabar St. Louis dan New
Orleans. Waktu dikatakannya keinginan m em asang iklan di surat
kabar St. Louis itu, hatiku berdebar keras, dan aku berpendapat
bahwa kini kami tak boleh membuang-buang waktu lagi. Tom
berkata bahwa tiba saatnya kini untuk m enulis surat-surat kaleng.
“Surat kaleng? Apa itu?” tanyaku.
“Peringatan pada sem ua orang bahwa sesuatu akan terjadi.
Banyak caranya. Tetapi selalu saja ada seseorang yang m engetahui
rahasia seorang tawanan dan memberitahukan kepada penjara.
Waktu Louis XVI akan m elarikan diri dari Toolertes, seorang
gadis pelayan m em buka rahasianya. Itu cara yang baik, begitu
Petualangan Huckleberry Finn 349
http://facebook.com/indonesiapustaka juga cara dengan mempergunakan surat kaleng. J adi kita akan
mempergunakan kedua cara tersebut. Sudah pula jadi kebiasaan
ibu si tawanan bertukar pakaian dengannya. Si ibu tinggal di
dalam dan si tawanan lari dengan m em akai pakaian ibunya. Kita
pun akan berbuat begitu.”
“Tapi dengar, Tom . Untuk apa kita m em peringatkan orang-
orang bahwa sesuatu akan terjadi? Biarlah m ereka m enem ukan
sendiri bahwa ada hal penting akan terjadi, itu urusan mereka.”
“Ya, aku tahu, tapi kita tak bisa m engandalkan m ereka. Dari
perm ulaan, kitalah yang harus m engerjakan segala sesuatunya.
Orang-orang ini begitu m udah percaya dan tolol sekali, sesuatu
pun tak ada yang m enerbitkan kecurigaan m ereka. J adi bila
m ereka tak kita peringatkan, tak akan ada yang m enghalang-
halangi kita, dan setelah kita bersusah payah m erancangkan
pelarian ini akhirnya tak akan terjadi apa-apa, tak ada kesulitan
apa pun, nihil.”
“Bagiku lebih baik bila kita tak m endapatkan kesulitan,
Tom .”
“Cih!” kata Tom , seakan-akan jijik.
“Aku tak akan m engeluh, Tom , apa pun yang kau inginkan
akan sesuai dengan keinginanku. Lalu bagaim ana kau bisa
m em peroleh seorang gadis pelayan?”
“Kau yang akan jadi gadis pelayan itu. Tengah m alam kita
curi pakaian gadis pelayan Bibi Sally.”
“Wah, Tom , esok hari akan terjadi keributan kalau begitu.
Sebab sangat m ungkin sekali pakaian itu satu-satunya pakaian
yang dim ilikinya.”
“Aku tahu, tetapi kau hanya m em erlukan pakaian itu untuk
selam a lim a belas m enit, yaitu untuk m em bawa surat kaleng itu
dan memasukkan ke bawah pintu depan.”
“Baiklah. Akan kulakukan itu. Tapi bukankah dengan ber-
pakaian biasa aku juga bisa membawa serta memasukkan surat
itu?”
350 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka “Bukankah dengan begitu kau sam a sekali tak tam pak seperti
seorang gadis pelayan?”
“Ya, tetapi juga tak ada yang m enyaksikan apakah aku
kelihatan seperti gadis pelayan atau tidak.”
“Itu bukan soaln ya. Yan g harus kita kerjakan adalah
m engikuti segala peraturan yang ada, dan tak m em pedulikan
apakah ada yang m elihat atau tidak. Apakah kau sam a sekali tak
punya pendirian?”
“Baiklah, aku tak akan m em bantah lagi. Aku jadi pelayan itu.
Lalu siapa yang akan jadi ibu J im ?”
“Akulah ibunya. Akan kucuri sebuah gaun Bibi Sally.”
“Kalau begitu kau harus tinggal dalam pondok J im bila J im
dan aku lari?”
“Bukan begitu. Akan kuisi pakaian J im dengan jeram i, dan
kubaringkan di tem pat tidurnya untuk m em erankan ibunya. Ia
akan m em akai gaun yang sebelum nya kupakai dan kita m elarikan
diri bersam a-sam a. Bila seorang tawanan term asyhur m elarikan
diri disebut orang suatu penghindaran, begitu juga bila seorang
raja m elarikan diri, m isalnya. Hal yang sam a bila anaknya
melarikan diri, baik anak sah atau tak sah.”
Maka Tom m enulis surat kaleng yang dim aksudkannya.
Malam itu, dengan m engenakan pakaian si gadis pelayan,
kum asukkan surat tadi ke bawah pintu depan seperti yang
diperintahkan Tom . Surat itu berbunyi:
Aw as! Bahay a akan tiba. W aspadalah selalu.
Sahabat tak dikenal.
Malam berikutnya kam i tem pelkan sebuah gam bar di pintu
depan, gam bar yang dibuat Tom dengan darah, gam bar tengkorak
dan tulang bersilang. Malam berikutnya lagi kam i tem pelkan
gam bar peti m ati di pintu belakang. Belum pernah kulihat
Petualangan Huckleberry Finn 351
http://facebook.com/indonesiapustaka suatu keluarga yang begitu gelisah. Mereka ketakutan, seakan-
akan rum ah itu penuh dengan hantu yang m engancam m ereka
dari balik setiap barang, dari bawah setiap tempat tidur dan
bergelayutan di udara. Bila sebuah pintu terhem pas, Bibi Sally
m elom pat dan berseru: “Ouh!” Bila ada suatu barang jatuh, ia
m elom pat dan berseru: “Ouh!” Bila ia kita sentuh pada saat ia
terlena, ia pun berbuat serupa. Ia tak bisa tenang ke mana pun
ia menghadap, sebab ia selalu mengira bahwa ada sesuatu di
belakangnya. J adi ia selalu berputar-putar secara tiba-tiba, sem bil
berseru: “Ouh!” Sebelum ia m encapai dua pertiga putaran, ia
telah berputar kembali dan berseru lagi. Ia tak berani tidur, tetapi
juga tak berani berjaga. J adi sem uanya berjalan seperti yang kam i
rancangkan. Kata Tom , tak pernah ia m elihat suatu rencana yang
berjalan begitu memuaskan. Semua itu menunjukkan bahwa
rencana kam i tepat pada sasarannya.
Kin i tiba saatn ya un tuk pukulan yan g terakhir, yan g
m enentukan. Pagi berikutnya, sebelum fajar m enyingsing, kam i
mempersiapkan sepucuk surat lagi. Tapi agak bingung juga kami
bagaim ana m enyam paikan surat itu, sebab kini baik pintu depan
maupun pintu belakang dijaga masing-masing oleh seorang
negro. Tom turun lewat penangkal petir untuk melihat-lihat.
Ternyata negro yang berjaga di pintu belakang tertidur. Tom
m enyelipkan surat itu di belakang tengkuk negro itu. Surat tadi
b er b u n yi:
Jangan m em buka rahasiaku. Aku ingin m enjadi sahabatm u.
Ada segerom bolan pem bunuh dari daerah Indian y ang
berm aksud untuk m em bebaskan negro pelarian y ang kini kau
taw an. Selam a ini gerom bolan y ang sudah sangat nekat itu
m encoba untuk m enakut-nakutim u, agar kau sekeluarga tak
ada y ang berani keluar rum ah dan m enghalang-halangi tujuan
m ereka. Aku salah seorang anggota gerom bolan itu, tetapi aku
352 Mark Twain
telah beragam a dan ingin kem bali m enurut kehidupan y ang tak
bergelim ang dosa. Akan kubocorkan rahasia gerom bolan kejam
itu. Mereka akan m eny elundup dari arah utara, m eny usur
pagar, di tengah m alam tepat. Dengan sebuah kunci palsu
m ereka akan m asuk ke pondok negro itu dan m em bebaskannya.
Tugasku berjaga-jaga, di kejauhan. Bila ada bahay a, aku
diharuskan m eniup suatu terom pet seng. Tetapi aku tak akan
m elakukan itu. Aku akan m engem bik seperti dom ba segera
setelah m ereka m asuk ke dalam pondok. Saat itu pastilah
m ereka sedang sibuk m elepaskan rantai y ang m engikat kaki
si negro, saat y ang tepat bagi kalian untuk m eny elinap m asuk
dan m engunci pintuny a serta m em bunuh m ereka sesuka hati
kalian. Jangan berbuat sesuatu y ang bertentangan dengan
nasihatku ini, sebab ini hany a akan m em buat m ereka curiga
dan m em batalkan segala rencanany a. Aku tak m enginginkan
hadiah, aku hanya ingin berbuat sesuatu yang kuanggap benar.
Sahabat tak dikenal.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka KEKALUTAN DAN RENCANA
YANG SANGAT BERHASIL
SELESAI MAKAN pagi, aku dan Tom pergi ke sungai. Dengan
membawa bekal untuk makan siang, kami bermain-main,
berperahu, m engail, dan m enyiapkan rakit untuk keperluan
m alam nanti. Kam i pulang pada waktu m akan m alam . Keluarga
Phelps tampak sangat bingung dan khawatir, hingga seolah-
olah mereka tak tahu apakah mereka berdiri dengan kaki atau
dengan kepala. Segera setelah kami selesai makan malam, kami
diperintahkan untuk tidur, tanpa memberi tahu kesulitan apa
yang sedang m ereka hadapi. J uga tak ada yang bercerita tentang
surat yang diketem ukan di leher negro penjaga m alam , tapi
rasanya m em ang tak perlu, sebab kam i telah tahu, begitu juga
orang lain. Kam i berada di pertengahan tangga waktu Bibi Sally
berpaling pada kam i sebentar lalu pergi entah ke m ana. Cepat-
cepat kami turun ke gudang di bawah tanah, membuka lemari
dan m engam bil bahan m akanan sebanyak-banyaknya untuk kam i
354 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka bawa ke kam ar. Kira-kira setengah sebelas m alam kam i bangkit
dari tem pat tidur. Tom m engenakan baju Bibi Sally yang telah
dicurinya. Ia siap akan berangkat dengan m em bawa m akanan
tadi, tapi dilihatnya ada yang kurang. “Mana m enteganya?”
“Kutaruh di atas kue jagung, segum pal besar.”
“Agaknya tertinggal, tak ada di sini.”
“Tak apa-apa bukan, tanpa m entega.”
“Mem ang tak enak tanpa m entega. Pergilah kau ke gudang,
dan am bil. Kem udian susul aku. Aku akan pergi dulu sebab aku
harus membuat orang-orangan dari jerami untuk menggantikan
ibu J im dan segera setelah aku sampai di sana aku akan
m en gem b ik.”
Ia pergi keluar, aku pergi ke gudang. Gumpalan mentega
itu ternyata m asih di tem patnya sem ula. Kuam bil juga potongan
kue jagung. Kum atikan lilin dan aku m enaiki tangga bertingkat,
tiba-tiba m uncul Bibi Sally dengan m em bawa lilin. Cepat-cepat
kue jagung dan mentega itu kutaruh di bawah topi, di atas kepala.
Kubenam kan topiku dalam -dalam . Saat itu Bibi Sally m elihatku
dan bertanya, “Kau dari gudang?”
“Ya, Bibi.”
“Mengapa kau di sana?”
“Tidak apa-apa.”
“Tidak apa-apa?”
“Sam a sekali tidak, Bibi.”
“Lalu apa m aksudm u ke gudang m alam -m alam begini?”
“Aku tidak tahu, Bibi.”
“Kau tidak tahu? J angan jawab seperti itu, Tom . Aku ingin
tahu apa yang kau kerjakan di gudang itu.”
“Aku tak berbuat apa-apa, Bibi Sally, dem i Tuhan tidak.”
Biasanya aku akan dilepaskan begitu saja. Tapi kukira setelah
terjadi beitu banyak kejadian ganjil, Bibi Sally akan curiga sekali.
Dengan suara yang tak bisa ditawar-tawar lagi ia berkata, “Pergi
Petualangan Huckleberry Finn 355
http://facebook.com/indonesiapustaka ke ruang tamu, dan tetap di tempat itu sampai aku datang lagi.
Kukira kau baru saja berbuat sesuatu yang bukan urusanm u. Aku
akan segera m enem ukan apa yang telah kau kerjakan di sana.”
Aku m em buka pintu ruang tam u, dan Bibi yang ke gudang.
Astaga, ternyata ruang tam u itu telah penuh orang! Kira-kira
lima belas orang ada di situ, masing-masing membawa senjata.
Tubuhku jadi begitu lemas hingga aku terpaksa menjatuhkan diri
ke sebuah kursi. Orang-orang itu duduk berkeliling, berbicara
dengan suara perlahan. Tampak semua orang gelisah, tapi berbuat
seolah-olah mereka tenang saja. Tapi aku tahu benar mereka
gelisah, sebab sebentar-sebentar mereka mencopot dan memakai
kembali topi mereka, geruk-garuk kepala, pindah tempat duduk,
dan berm ain-m ain dengan kancing bajunya. Aku sendiri tak
bisa duduk tenang, dan tak berani m em buka topiku. Alangkah
senangnya bila Bibi Sally cepat datang dan m enggebukiku hingga
persoalan ini selesai dan aku bisa cepat-cepat pergi ke Tom
untuk mengatakan bahwa rencana kami berhasil baik, tapi kami
bagaikan m engusik sebuah serang lebah. Akan kukatakan agar ia
tak membuang-buang waktu lagi, sebelum kelompok orang-orang
itu bergerak dan mengepung kami.
Akhirnya Bibi Sally datang juga. Berbagai-bagai pertanyaan
diajukan padaku, dan semua kujawab dengan membohong, karena
pikiranku begitu kacau. Aku sangat takut sebab beberapa orang
telah mengusulkan untuk berangkat dan menunggu kedatangan
rombongan penjahat itu, sebab tengah malam tinggal beberapa
m enit lagi. Beberapa orang lainnya m inta agar m ereka m enunggu
tanda suara em bikan dom ba. Sem entara itu Bibi Sally juga m asih
m enyerangku dengan berbagai pertanyaan, hingga gem etar
seluruh tubuhku menahan kegelisahan. Hawa di tempat itu terasa
m akin panas hingga akhirnya m entega di bawah topiku m ulai
meleleh, mencari, merambati belakang kepalaku, lewat belakang
telinga ke leher. Waktu seseorang berkata, “Baiklah, kalau begitu
356 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka aku akan berangkat sekarang juga, kutunggu di dalam pondok itu
dan akan kutembak penjahat-penjahat itu waktu mereka masuk,”
ham pir saja aku terguling jatuh. “He! Anak itu dem am otak, dem i
Tuhan! Dan otaknya m erem bes keluar!” seru orang-orang.
Sem ua orang berlarian. Akhirnya Bibi Sally datang juga,
lalu m endekatiku, m enyam bar topiku hingga tam pak kini roti
dan sisa m enteganya. Melihat ini Bibi Sally jadi tertawa gem bira,
m erangkul dan m em elukku erat-erat sam bil berkata, “Oh, betapa
kau sudah mengejutkan hatiku! Dan betapa gembira aku karena
dugaanku yang buruk tak terbukti. Kam i sedang m engalam i
kesialan yang datang bertubi-tubi bagaikan hujan lebat, Nak,
kukira tadi kesialan itu akan bertambah dengan kehilangan
engkau, sebab cairan itu betul-betul mirip sekali dengan otak.
Seandainya otakm u.... Ya am pun! Ya am pun! Mengapa tak kau
katakan dari tadi bahwa kau ke gudang itu mengambil roti dan
m entega. Aku tak akan am bil pusing, Nak. Kini pergilah ke
kam arm u, dan jangan kau terlihat lagi olehku sebelum pagi tiba!”
Sekejap saja aku telah berada di kamarku dan meluncur ke
tanah lewat penangkal petir, berlari dalam kegelapan menuju
pondok J im . Aku m asuk ke dalam sengkuap, m enerobos m asuk
terowongan. Begitu tergesa-gesa aku hingga kata-kataku sukar
terucapkan. Dengan tergesa-gesa kuterangkan pada Tom apa
yang terjadi. Kudesak agar kam i segera berangkat, tak m em buang
waktu semenit pun sebab rumah telah penuh orang bersenjata!
“Betul begitu?” m ata Tom bercahaya. ”Wah, Huck, bila kita
bisa m em perpanjang waktunya, pastilah aku bisa m endatangkan
lebih dari dua ratus orang. Bila saja....”
“Cepat! Cepat!” tukasku, “m ana J im ?”
“Di dekat sikum u. Bila kau ulurkan tanganm u, kau akan bisa
m enyentuhnya. Dia telah berpakaian. Sem ua telah siap. Kini kita
akan m enyelinap keluar dan akan kubunyikan em bikan dom ba.”
Tapi saat itu kam i dengar suara langkah orang banyak
m endatangi. Kem udian suara orang m em eriksa gem bok pintu,
Petualangan Huckleberry Finn 357
http://facebook.com/indonesiapustaka dan seseorang berkata, “Apa kataku! Kita terlalu cepat kem ari.
Mereka belum datan g. Pin tu m asih terkun ci. Begin i saja,
beberapa orang di antara kalian masuk ke dalam, dan kukunci
lagi pintunya, kalian tunggu hingga penjahat-penjahat itu m asuk.
Lainnya m em encar, pasang telinga kalau-kalau m ereka datang.”
Mereka betul-betul masuk, tapi begitu gelap pondok itu
hingga kami tak terlihat. Hampir saja kami terinjak waktu
masuk ke bawah tempat tidur. Tanpa suara kami mulai masuk
terowongan, satu per satu. J im dulu, lalu aku, baru kemudian
Tom , sesuai urutan yang telah dirancangkan Tom . Kam i telah
berada di dalam sengkuap. Di luar, kami dengar suara kaki orang-
orang itu. Kam i m erangkak ke pintu, Tom m engintai ke luar
lewat lubang di pintu itu. Tapi tak bisa melihat apa-apa sebab di
luar pun sangat gelap. Tom menunggu hingga suara kaki-kaki itu
m enjauh, kem udian digam itnya J im , berbisik m em beri tanda,
agar J im m enyelinap keluar, disusul oleh aku, dan Tom terakhir.
Tom m enem pelkan telinganya di lubang pintu, m em asang telinga.
Lam a juga suara kaki-kaki itu berkeliaran di sekeliling pondok.
Nam un akhirnya Tom m em beri tanda. Kam i m enyelinap keluar,
membungkuk-bungkuk, menahan napas, tak mengeluarkan suara
sedikit pun. Satu per satu kami menuju pagar. J im dan aku
selam at m elewatinya. Tapi celana Tom terkait pada secerpih kayu
di pagar. Seseorang datang mendekat, terpaksa Tom menarik saja
celananya itu. Serpihan kayu itu patah berderak. Tom m elom pat
turun m engejar kam i pada saat seseorang berseru, “Siapa itu?
J awab, kalau tidak kutembak.”
Kam i tak m enjawab, m alah lari secepat kam i dapat. Terdengar
keributan, disusul oleh letusan banyak sekali senapan. Kam i rasa
peluru berdesingan di sekeliling kami. Terdengar seseorang
berteriak lagi, “Itu m ereka pergi ke sungai! Kejar! Lepaskan
a n jin g!”
Mereka m engejar beram ai-ram ai. Kam i bisa m endengar
dengan jelas, mereka memakai sepatu bot dan berteriak-teriak.
358 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka Kam i bertelanjang kaki dan sam a sekali tak m em buka m ulut.
Kam i m engikuti jalan yang m enuju ke penggergajian. Ketika
kami kira mereka sudah terlalu dekat, kami masuk ke dalam
semak-semak di tepi jalan. Mereka lewat, dan kami keluar,
berlari di belakang mereka. Tadi anjing-anjing dibungkam agar
para penjahat tidak takut, namun kini semua anjing dilepaskan.
Anjing-anjing itu m enyerbu kam i dengan suara gegap gem pita.
Tapi m ereka sudah kenal pada kam i. Kam i berhenti m enunggu
mereka. Waktu anjing-anjing itu melihat bahwa kami bukan
orang asing, dan kecewa karena keributan mereka sia-sia, mereka
berhenti sebentar untuk memandang ramah pada kami, lalu
m enyerbu rom bongan orang-orang yang bersorak-sorai tadi.
Kam i sendiri lari ke arah m udik, m engikuti para pengejar hingga
sam pai ke dekat penggergajian kayu. Kam i m asuk ke dalam
sem ak-sem ak, m enerobosnya hingga sam pai ke tem pat perahu
yang kam i sem bunyikan. Kam i berdayung sekuat tenaga, secepat
mungkin ke tengah sungai, tapi tetap menjaga agar tak terdengar
bunyi apa-apa. Baru kem udian dengan tenang dan hati lega
kam i berdayung ke arah tem pat rakit di pulau. Kam i m asih
saja mendengar teriak serta salak anjing dari kejauhan, sampai
akhirnya suara-suara itu tak terdengar lagi. Tiba di rakit, aku
berkata pada J im , “J im , kini kau jadi orang m erdeka lagi, dan
kuharap kau tak akan pernah lagi kembali ke perbudakan.”
“Dan betapa bagusnya pem bebasanku ini, Huck. Direncana-
kan dengan bagus dan dilaksanakan dengan bagus juga. Tak akan
ada orang lain yang bisa m em buat rencana begitu indah dan
rumit seperti ini.”
Kam i sangat gem bira, tapi yang paling gem bira adalah Tom ,
sebab sebutir peluru telah bersarang di betisnya.
Hilang kegembiraan J im dan aku waktu tahu hal itu.
Tam paknya luka Tom sangat m enyakitkan, dan darahnya
m engucur. Kam i baringkan ia di dalam gubuk, kam i robek sehelai
Petualangan Huckleberry Finn 359
http://facebook.com/indonesiapustaka baju sang pangeran untuk bebat, tapi Tom berkata, “Berikan
padaku kain-kain itu, biar kubebat sendiri. J angan membuang-
buang waktu, jangan berhenti di sini, setelah kita berhasil
menghindar dengan begitu bagus. Pegang kemudi, lepaskan
tam batan, m ari berangkat. Kawan-kawan, betapa gem ilangnya
hasil kerja kita ini! Betul-betul gem ilang! Bila kita berada di zam an
Louis XVI, tak m ungkin ia sam pai diberi gelar ‘Putra Orang Suci
Louis, naik ke surga’, seperti disebutkan dalam riwayat hidupnya.
Tidak, Tuan, dengan perbuatan kita ini m aka Louis tak akan
mendapat pujian apa-apa, ia akan terdesak oleh kita, terdesak
hingga keluar perhitungan! Kita belum m engerahkan segenap
kekuatan kita lagi! Ayo, kawan, pegang kem udi! Pegang kem udi!”
Tapi J im dan aku tak m enghiraukannya, kam i berdua
berunding dan berpikir. Setelah semenit aku berkata pada J im,
“Katakan, J im .”
“Begini, Huck,” jawab J im , “m isalkan saja Tuan Tom yang
sedang kita bebaskan dari tawanan. Salah seorang dari kita kena
peluru. Apakah Tuan Tom akan berkata ‘J angan hiraukan yang
kena peluru, ayo lari, selam atkan aku. J angan cari dokter untuk
m engobati dia!’ Apakah begitu yang akan dilakukan oleh Tom
Sawyer? Pasti tidak, berani bertaruh! Nah, apakah J im akan
berkata seperti itu? Tidak, Tuan, aku tak akan beranjak dari
tempat ini sebelum ia dirawat dokter, walaupun untuk itu aku
harus m enunggu sam pai em pat puluh tahun!”
Aku tahu sekalipun J im kulitnya hitam , tapi hatinya putih.
Sudah kuduga ia akan berkata begitu, jadi aku berkata pada Tom
bahwa aku akan menjemput dokter. Tom ribut sekali menentang
pendapat kami, tapi J im dan aku tak mau mengalah. Tom
akan merangkak keluar untuk melepaskan tambatan rakit, kami
halang-halangi dia. Dim aki-m akinya kam i habis-habisan, tapi tak
kami pedulikan.
Waktu ia m elihat aku m enyiapkan perahu, ia berkata,
“Baiklah, bila kau m asih m au pergi juga, tahu cara-cara yang
360 Mark Twain
harus kau ikuti sepenuhnya bila kau sam pai di desa. Setelah
m asuk ke rum ah dokter, tutup pintunya, dan bebat m ata dokter
itu. Suruh dia bersumpah untuk merahasiakan tempat ini, dan
taruh sekantung em as di tangannya. Tuntun dia berputar-putar
lewat gang-gang gelap, baru kau bawa dia ke perahu. Kau bawa
kemari, tetapi dengan lebih dulu mengambil jalan berputar-
putar pula di antara pulau-pulau itu. Geledah dia agar ia tak bisa
m enandai rakit ini dengan kapur. Nah, begitulah cara yang paling
tepat dalam keadaan seperti ini.”
Kusanggupi saja perm intaan itu. Aku berpesan kepada J im
agar bersem bunyi di hutan pulau itu bila dokter datang, dan tak
keluar lagi. Aku berangkat ke desa.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka PASTILAH DIBANTU
PARA HANTU
DOKTER ITU sudah tua, seorang tua yang tam paknya berhati
sangat baik. Waktu aku datang ke rum ahnya, ia sedang tidur,
tapi segera bangun setelah di dengarnya ada yang m em butuhkan
tenaganya. Aku berkata bahwa aku dan saudaraku berburu di
Pulau Spanyol sore kem arin, dan m alam ini berkem ah di sebuah
rakit yang kam i tem ukan di pulau itu. Tengah m alam saudaraku
m erendam senjatanya, hingga m eletus dan peluru bersarang di
betisnya. Aku m inta dia segera ikut denganku untuk m erawat
saudaraku itu, tanpa mengatakan apa-apa tentang kejadian
itu pada siapa pun, sebab malam ini kami akan pulang dan
mengejutkan keluarga kami.
“Siapa keluargam u?” tanya dokter itu.
“Keluarga Phelps, di sebelah hilir.”
“Oh,” dia diam sejenak, bertanya lagi, “bagaim ana saudaram u
tadi tertembak?”
362 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka “Dia m im pi. Dan im pian itulah yang m enem baknya.”
“Mim pi aneh.”
Dokter itu m enyalakan lentera, m engam bil tasnya, dan
berangkat bersamaku. Waktu melihat perahuku, ia jadi ragu-
ragu, katanya perahu itu m em ang cukup besar untuk seorang,
tapi tak cukup besar untuk dua orang.
“Tak usah takut, Tuan,” kataku, “perahu ini cukup untuk tiga
orang. Kam i bertiga m em akainya.”
“Bertiga? Siapa saja?”
“Aku, Sid dan... dan... dan senjata-senjata kam i.”
“Oh .”
Dijulurkannya kakinya ke tubir perahu, digoyang-goyangkan.
Ia m enggelengkan kepala, m encari perahu yang lebih besar. Tapi
semua perahu dirantai. J adi perahu itu akan digunakan sendiri
oleh dokter tersebut. Aku bisa m enunggu di tepi sungai itu sam pai
ia kem bali, atau aku bisa m encari perahu lain yang m ungkin tak
dirantai, atau bisa juga aku pulang ke rum ah untuk m enyiapkan
agar mereka lebih terkejut lagi waktu saudaraku pulang nanti,
dem ikian nasihatnya.
Aku m enggelengkan kepala, lebih baik aku m enunggu saja.
Kuterangkan pada dokter itu bagaim ana cara m enem ukan rakit
kami. Ia berangkat.
Begitu dokter itu sudah agak jauh, terpikir olehku bahwa
mungkin sekali luka Tom tak akan bisa segera disembuhkan.
Bagaim ana kalau untuk m enyem buhkan luka itu diperlukan tiga
atau em pat hari? Apa yang akan kam i kerjakan? Pasti dokter
itu m em buka rahasia kam i. Tidak, aku tahu apa yang harus
kukerjakan. Aku akan m enunggu di tepi itu. Bila dokter itu datang
dan berkata bahwa ia masih harus merawat Tom lagi, aku pun
akan pergi bersam anya, tak peduli aku harus berenang untuk
itu. Kem udian aku akan m engikatnya di rakit, dan kam i bawa ia
ikut m enghilir. Nanti bila ia sudah berhasil m enyem buhkan Tom ,
Petualangan Huckleberry Finn 363
http://facebook.com/indonesiapustaka akan kam i bayar dia sesuai dengan perm intaannya, atau kam i
berikan sem ua m ilik kam i padanya.
Putusanku tetap, aku naik ke tum pukan kayu untuk tidur.
Waktu aku terbangun, metahari telah berada di atas kepalaku!
Cepat-cepat aku berlari ke rum ah dokter, tapi ternyata ia belum
pulang. Agaknya keadaan Tom buruk sekali, jadi aku harus cepat-
cepat ke rakit kam i. Aku berlari. Dan di tikungan aku m enubruk
perut seseorang, Paman Silas!
“Astaga, Tom !” seru Pam an Silas, “anak nakal, ke m ana kau
dan Sid? Ke m ana saja kau pergi? Bibim u sangat gelisah.”
“Kam i tak apa-apa. Kam i m engikuti orang-orang itu dan
anjing-anjing. Tetapi kam i tertinggal. Kam i kira m ereka lari ke
sungai. Kam i m enyeberang dengan naik perahu, tetapi ternyata di
sana sepi. Kam i m enyusur ke arah hulu, sam pai kam i lelah. Kam i
tidur di perahu, baru bangun sejam yang lalu. Kam i m enyeberang
kem ari untuk m engetahui berita tentang negro yang lari itu. Sid
pergi ke kantor pos untuk m aksud yang sam a, aku pulang dulu
untuk mengambil makanan, nanti kami pulang.”
Pam an m engajakku ke kantor pos untuk m encari ‘Sid’. Seperti
yang kudalihkan, Sid tak ada di tem pat itu. Pam an m endapat
sepucuk surat dari kantor pos. Kam i m enunggu beberapa lam a
di kantor pos itu. Kem udian pam an berkata, biar Sid berjalan
kaki pulang atau naik perahu kalau ia selesai bergelandangan,
sedang kami akan naik kereta pulang. Tak bisa kubujuk ia agar
aku diperbolehkannya m enunggu di kantor pos. Aku harus pulang
agar Bibi Sally tak m erasa khawatir lagi.
Sesam pain ya di rum ah, Bibi begitu gem bira hin gga ia
menangis dan tertawa bersamaan, memelukku dan memukuliku,
pukulan-pukulan yang ham pir tak terasa itu. Katanya bila nanti
Sid pulang ia pun akan menerima pukulan serupa pula.
Rum ah penuh sesak dengan para tetangga yang datang
dengan istri mereka untuk makan siang bersama. Hiruk-pikuk
sekali, semua orang berbicara tak mau bergantian.
364 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka Si Nyonya Tua Hotchkiss adalah pem bicara yang paling
m enjengkelkan yang pernah ketem ui, lidahnya tak pernah
berhenti bergoyang. Katanya, “Wah, Nyonya Phelps, aku telah
m enggeledah pondok itu, kukira pastilah negro itu gila. Aku
berkata begitu pada Nyonya Dam rell, bukankah begitu, Nyonya
Dam rell? Kataku: ‘Negro itu gila,’ kataku. Itulah yang kukatakan
waktu itu. Kalian sem ua jadi saksi, aku berkata bahwa negro
itu gila, sem ua hal m em buktikan bahwa ia gila. Coba saja batu
gerinda itu. Bagaim ana m ungkin seorang waras m enulis kalim at-
kalim at begitu rupa? Seperti yang tertulis di batu gerinda itu? Di
sini seseorang telah hancur hatinya. Dan di sini si anu ditawan
tiga puluh tujuh tahun dan seterusnya... anak sah dari Louis entah
siapa, dan om ong-om ong lainnya. Ia am at gila, itulah kata-kata
perm ulaanku, kata-kata pertengahanku, dan kata-kataku yang
terakhir... kapan saja aku akan berkata bahwa negro itu gila—
segila Nebukadnezar, kataku.”
“Dan coba lihat tangga yang terbuat dari robekan kain itu,
Nyonya Hotchkiss,” sebut si nyonya tua Dam rell, “dem i Tuhan,
aku tak tahu untuk apa benda itu.”
“Tepat, ya, seperti itulah kata-kata yang kuucapkan baru
sem enit yang lalu pada Nyonya Utterback, bukankah begitu,
Nyonya Utterback? Dia bertanya untuk apa tangga kain itu, tanya
dia; dan kataku, ya, lihat tangga itu, kataku—dem i Tuhan untuk
apa tangga yang terbuat dari kain itu, kataku. Dia berkata lagi,
Nyonya Hotchkiss, katanya....”
“Tetapi bagaim ana bisa ia m em asukkan batu gerinda sebesar
itu ke sana? Siapa yang m enggali terowongan itu? Dan siapa....”
“Itulah kata-kataku tadi, Saudara Penrod! Aku tadi berkata—
tolong am bilkan air gula itu—kataku tadi pada Nyonya Dunlap,
baru saja, ‘Bagaim ana bisa batu gerinda besar itu dibawa m asuk
ke sana?’ kataku. Tanpa bantuan, kalian harus ingat itu, tanpa
bantuan! Itulah yang aneh. ‘J angan katakan padaku,’ kataku, ia
Petualangan Huckleberry Finn 365
http://facebook.com/indonesiapustaka tak m endapat bantuan untuk itu. Pasti ia banyak sekali m endapat
bantuan, pasti lebih selusin orang m em bantunya dan bila saja
kutahu siapa saja yang m em bantunya, ia akan kukuliti hidup-
hidup, lagi pula, kataku....”
“Selusin, katam u, bahkan em pat puluh orang rasanya tak
akan bisa m engerjakan apa saja yang ada di pondok itu. Lihat
saja gergaji dari pisau roti itu, dan yang lainnya, betapa rapi
buatannya. Lihat saja bagaim ana kaki tem pat tidur digergaji
dengan gergaji dari pisau itu, seminggu kerja untuk enam orang!
Lihat saja orang-orangan yang dibuat dari jeram i di tem pat tidur,
lih a t ....”
“Kali ini kau yang m engatakannya, Saudara Hightower!
Tepat seperti yang kukatakan pada Saudara Phelps barusan, kalau
tak percaya tanya saja padanya. Dia bertanya padaku, apa yang
kau pikirkan tentang ini, Nyonya Hotchkiss? tanyanya. Berpikir
tentang apa, Saudara Phelps? tanyaku. Tentang kaki tem pat tidur
yang digergaji seperti itu, katanya. Berpikir tentang itu? kataku.
Aku yakin aku belum pernah m elihat sebuah kaki tem pat tidur
terpotong dengan sendirinya seperti itu, pasti ada orang yang
m enggergajinya, kataku; itulah pikiranku, diterim a atau tidak tak
apa, mungkin juga tak berharga pikiran itu, kataku, tapi itulah
kenyataannya, itulah pendapatku, kataku, dan bila ada yang
punya pendapat lebih baik, katakan saja, kataku. Itulah yang
kukatakan. Aku berkata pada Nyonya Dunlap, kataku....”
“Wah, aku yakin benar pastilah tiap hari banyak negro berada
di tempat itu selama empat minggu ini untuk mengerjakan semua
itu, Nyonya Phelps. Lihat ke m eja itu, setiap inci dipenuhi dengan
tulisan-tulisan rahasia Afrika, yang ditulis dengan darah! Aku
yakin segerom bolan besar orang negro tiap m alam ada di tem pat
itu. Mau aku m em beri uang dua dolar pada siapa saja yang bisa
membacakan tulisan rahasia dengan darah itu dan untuk negro
yang m enulisnya, aku akan m enyediakan cam buk untuk m ereka,
cambukan hingga mereka....”
366 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka “Dia ditolong, Saudara Maples? Anda tak akan berpikir begitu
bila anda ada di rumah ini beberapa waktu berselang. Semua
yang bisa dicuri, dicuri, walaupun sem ua orang di dalam rum ah
ini berjaga-jaga. Kem eja itu dicuri dari tali jem uran. Dan sprei
untuk membuat tangga tali itu, entah berapa kali telah mereka
curi, kadang-kadang hilang, kadang-kadang ada. J uga tepung,
lilin, tempat lilin, sendok, baskom pemanas, dan seribu macam
benda lainnya yang kini tak kuingat lagi, juga baju kain m oriku.
Padahal siang-malam aku, Silas, Tom, dan Sid selalu berjaga-jaga,
seperti yang kukatakan tadi. Tapi tak seorang pun di antara kam i
m engetahui siapa yang m engerjakan sem ua pencurian itu. Dan
kini, pada menit-menit terakhir, gerombolan pembebas negro itu
telah berhasil m enipu kita, bukan saja hanya kita yang tertipu,
tetapi juga rombongan penjahat dari daerah Indian itu. Mereka
berhasil mencuri negro itu dari bawah hidung kita, walaupun kita
jaga dengan enam belas orang dan dua puluh dua ekor anjing.
Kukatakan, ini betul-betul suatu kejadian yang am at luar biasa.
Bahkan hantu pun tak akan bisa m engerjakan sebaik ini, dan
secerdik ini. Dan aku yakin pasti penolong negro itu adalah hantu-
hantu, sebab, kalian tahu anjing-anjing kam i, tak ada anjing yang
lebih baik dari mereka di daerah ini, tapi anjing-anjing itu sama
sekali tak pernah m enem ukan jejak m ereka! Kalian terangkan hal
itu padaku, bila dapat, siapa saja!”
“Wah itu m em ang....”
“Astaga, belum pernah aku....”
“Am pun! Aku tak akan....”
“Pencuri juga....”
“Dem i Tuhan, aku tak akan berani, aku tak akan berani
tinggal di rumah....”
“Takut? Oh, tak terkira lagi takutku. Aku tak berani tidur, tak
berani bangun, tak berani m erebahkan diri, atau duduk, Nyonya
Ridgeway. Bahkan m ereka berani m encuri. Wah, wah, bisa
Petualangan Huckleberry Finn 367
http://facebook.com/indonesiapustaka kalian kirakan betapa takutnya aku tengah m alam tadi, kukira
m ereka akan m encuri salah satu dari keluarga kam i. Agaknya
aku sudah tak bisa berpikir dengan waras lagi, begitu takutnya
aku. Kini, di siang hari ini, tam paknya perbuatanku sangat tolol,
tapi tengah malam tadi terpikir olehku, dua orang keponakanku
sedang tidur di ruang atas, di kam ar yang sepi, bagaim ana kalau
mereka dicuri? Waktu itu tak berpikir lagi aku naik ke atas, dan
kukunci pintu m ereka dari luar. Benar! Kukira orang lain juga
akan berbuat serupa, dalam keadaan seperti aku. Sebab bila kita
ketakutan, saban hari ketakutan dan keadaan kita makin lama
makin buruk, akal kita tak keruan, dan kita mulai mengerjakan
hal-hal yang kegilaan, akhirnya kita akan berpikir dem ikian:
andaikan aku seorang anak lelaki, tinggal senidrian di kam ar yang
sunyi itu, pintunya tak terkunci, dan, dan....” Bibi Sally berhenti
berbicara, pandang m atanya keheranan, ia berpaling perlahan
sam pai akhirnya terpandang olehnya aku. Aku terpaksa bangkit
dan berjalan-jalan.
Aku akan bisa m enerangkan pada Bibi Sally, m engapa aku
tidak ada di kam ar itu pagi ini, untuk itu aku harus m enyendiri
sesaat dan berpikir. Tapi aku tak berani terlalu jauh pergi, sebab
pasti Bibi akan m enyuruh orang m enyusulku. Waktu tam u-
tam u telah pulang, aku m asuk ke rum ah, m engatakan pada Bibi
bahwa keributan orang-orang tadi malam membuat aku dan
Sid terbangun. Pintu terkunci, sedang kami ingin melihat apa
yang jadi sum ber keributan, jadi kam i turun ke bawah lewat
penangkal petir, tapi karenanya kam i berdua luka sedikit hingga
berjanji untuk tidak turun lagi lewat jalan itu. Aku m elanjutkan
ceritaku itu dengan cerita yang telah kukatakan pada Pam an
Silas sebelum nya. Bibi Sally berkata bahwa ia bisa m engam puni
kam i, sebab m em ang wajar tindakan seperti yang kam i lakukan
itu dilakukan oleh anak-anak seumur kami, semua anak lelaki
m em ang penuh pikiran gila, sepanjang pengetahuannya. J adi
368 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka sepanjang tak ada yang cedera, ia m erasa harus bersyukur karena
kami masih hidup bersama, tak usah lagi ia cerewet akan hal-hal
yang telah lam pau. Bibi Sally m encium ku, m em belai kepalaku,
kemudian ia termenung-menung. Tapi tak lama, tiba-tiba ia
m elom pat, berseru, “Astaga! Hari telah ham pir m alam , Sid belum
juga pulang! Apa yang terjadi dengan anak itu?”
Kukira itu suatu kesem patan yang baik, cepat-cepat aku
berkata, “Biar aku ke kota untuk m encarinya, Bibi.”
“Tidak! Tak boleh, kau jangan pergi. Cukup satu saja yang
hilang kali ini. Bila sam pai m akan m alam ia belum datang, biar
pam anm u yang m enyusulnya.”
Sam pai m akan m alam ternyata betul-betul ‘Sid’ tak m uncul.
Begitu m akan m alam selesai, Pam an Silas berangkat.
Menjelang jam sepuluh malam Paman pulang, lebih khawatir
lagi, sebab ternyata ia sam a sekali tak bisa m enem ukan jejak Tom .
Kekhawatiran Bibi Sally jadi berlipat ganda, pam an m enghiburnya
dengan mengatakan memang begitulah kenakalan anak lelaki,
dan supaya Bibi tak usah khawatir, besok pagi ia pasti m uncul
dalam keadaan sehat walaiat. Bibi Sally merasa bahwa kata-kata
Pam an benar juga. Betapa pun m alam nanti ia tak akan tidur,
kalau-kalau Tom pulang, dan ia akan terus m enyalakan lam pu.
Waktu aku pergi tidur, Bibi Sally m engantarku, dengan
m am bawa lilinnya. Diaturnya tidurku, dan sikapnya bagaikan
seorang ibu yang sangat m enyayangiku. Aku jadi m erasa sangat
m enyesal dan berdosa, tak berani aku m em andang m atanya. Ia
duduk di tepi tempat tidur, berbicara lama sekali, mempercakapkan
betapa baik hati Sid. Rasanya tak puas-puas Bibi m em uji dia, dan
sekali-sekali bertanya padaku apakah m ungkin ia tersesat, luka,
atau mungkin terbenam, mungkin saat itu juga ia sedang terbaring
basah kuyup dan tak bergerak lagi, entah di m ana, sedang dalam
pederitaan atau m ungkin juga telah m ati. Bibi Sally m eneteskan
air m ata m em bayangkan kem ungkinan itu. Kukatakan pada Bibi,
Petualangan Huckleberry Finn 369
Sid pasti selam at, dan besok pagi pasti telah ada di rum ah. Bibi
jadi sangat gembira, meremas tanganku dan menciumku, serta
m enyuruhku berkata seperti tadi sekali lagi sebab kata-kata tadi
sangat m enghiburnya.
Waktu Bibi Sally akan m eninggalkan kam arku, ia m enatap
m ataku, dengan pandang tetap dan lem but, seraya katanya,
“Pintum u tak akan kukunci, Tom , begitu juga jendela, sedang di
luar itu penangkal petir masih bisa kau gunakan. Tapi aku mohon
jangan hendaknya kau pergi, Tom , jangan. Maukah kau berjanji
padaku, Tom? Demi aku?”
Demi Tuhan aku sangat ingin sekali pergi melihat keadaan
Tom, dan sudah bermaksud untuk pergi. Tapi mendengar kata-
kata Bibi itu, niatku kubatalkan. Diupah berapa pun tak akan m au
aku m enyalahi janjiku pada wanita tua itu.
Bibi Sally m em enuhi pikiranku, Tom juga dem ikian, jadi
tak bisa aku tidur nyenyak. Dua kali aku telah keluar jendela,
m eluncur hingga ke tanah, m enyelinap ke depan rum ah. Kulihat
Bibi duduk di dekat jendela, lilinnya m enyala, dan m atanya terus
tertuju ke jalan, air m ata m em basahi pipinya. Betapa senangnya
bila aku bisa m enghiburnya, tapi aku tak bisa. Bisaku hanya
bersum pah dalam hati bahwa aku tak akan m em buatnya sedih
lagi. Ketiga kalinya aku terbangun dan turun ke luar, fajar telah
m enyingsing.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka MENGAPA JIM TAK JADI
DIGANTUNG
SEBELUM SARAPAN, Pam an Silas pergi ke kota lagi, tapi m asih
juga tak m endapat kabar sedikit pun tentang Tom . Kem udian
Pam an dan Bibi duduk berdua di m eja, sam a-sam a term enung,
tak berkata sepatah pun, dan tam pak sangat bersedih. Kopi
mereka sampai dingin, dan mereka tak mau makan sama
sekali. Setelah lam a berdiam diri, Pam an Silas bertanya, “Sudah
kuberikan padamu surat itu?”
“Surat apa?”
“Yang kem arin kudapat dari kantor pos.”
“Tidak, kau tak m em berikan surat apa pun.”
“Kalau begitu aku lupa.”
Pam an m encari-cari di sem ua sakunya, kem udian bangkit
entah ke mana, kembali lagi dengan membawa sepucuk surat
yang diberikannya pada Bibi. Bibi m em baca dan berseru, “Astaga,
dari St. Petersburg, dari Sis!”
Petualangan Huckleberry Finn 371
http://facebook.com/indonesiapustaka Kukira aku harus berjalan-jalan lagi sedikit untuk m em ikirkan
suatu siasat, tapi aku tak bisa beranjak dari tempatku duduk.
Nam un sebelum Bibi sem pat m em buka surat itu, ia bangkit
terkejut dan lari. Surat itu jatuh. Aku juga m enyusul Bibi, sebab
kulihat Tom Sawyer dibawa m asuk halam an, digotong di atas
kasur, diikuti oleh dokter yang m erawatnya, dan J im yang m asih
m em akai pakaian Bibi Sally, tangannya diikat di punggungnya,
dan banyak lagi orang yang m engiringkan. Sam bil lari, kusam bar
surat tadi, kusem bunyikan di tem pat yang paling dekat denganku,
dan aku m engejar Bibi. Bibi Sally m elem parkan diri ke tubuh
Tom , m enangis, dan berkata, “Oh, dia telah m ati, dia telah m ati,
aku tahu dia m ati!”
Saat itu Tom m em alingkan kepalanya sedikit, dan
m em bisikkan sesuatu yang tak bisa diartikan, tanda bahwa
kesadarannya sedang terganggu. Bibi Sally m enengadah dengan
tangan terangkat tinggi-tinggi dan berseru, “Dia m asih hidup,
terim a kasih ya Tuhan! Cukup itu bagiku!” Dicium nya Tom cepat-
cepat, kemudian berlari ke dalam rumah, mengeluarkan perintah
ke sana-kem ari dan pada siapa saja untuk m enyiapkan sebuah
kamar bagi Tom.
Aku m engikuti orang banyak itu, untuk m elihat apa yang
akan mereka perbuat pada J im, sementara dokter dan Paman
Silas mengikuti Tom masuk ke dalam rumah. Orang-orang itu
sangat m arah. Beberapa orang berm aksud untuk m enggantung
J im, untuk dijadikan contoh bagi orang-orang negro di daerah
itu agar tak berbuat onar seperti J im, dengan menimbulkan
keributan begitu besar dan membuat sebuah keluarga ketakutan
siang dan m alam . Beberapa orang lagi tak setuju m aksud ini,
sebab J im bukanlah negro daerah itu, dan pem iliknya suatu hari
akan datang. Bila ia digantung, m aka sem ua orang akan terpaksa
m em bayar ganti kerugian nanti. Alasan ini m em buat orang-orang
yang paling ingin m enggantung seorang negro sedikit m ereda
372 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka am arahnya. Mem ang, orang-orang berbuat salah biasanya paling
segan untuk m em bayar ganti kerugian.
Betapapun J im terus saja dim aki-m aki, dan ditem pelengnya
beberapa kali. J im diam saja, dan tak sekali pun menunjukkan
tanda bahwa ia kenal denganku. Ia dibawa kem bali ke pondoknya
sem ula, disuruh m em akai kem bali pakaiannya, dan dirantai lagi,
tidak dirantai pada tem pat tidurnya, tapi pada sebuah gelang besi
yang dihunjam kan ke balok dasar dinding pondok itu. Bukan
hanya kakinya, tangannya pun diikat dengan rantai besar, dan
ia harus puas dengan roti dan air saja sam pai nanti tuannya
datang atau sam pai ia dijual di pasar lelang. Lubang yang kam i
gali telah ditutup, dan menurut rencana setiap malam dua orang
petani akan ditugaskan menjaga J im dengan bersenjata, serta
seekor anjing penjaga yang am at galak diikatkan di tem pat itu
setiap siang. Setelah selesai mengerjakan segala persiapan untuk
rencana mereka itu, semua orang kembali memaki-maki J im
sebagai salam perpisahan. Tepat waktu itu dokter yang m engobati
Tom keluar, m em perhatikan m ereka dan berkata, “J an gan
berlaku terlalu kasar padanya, Tuan-tuan, sebab ia bukanlah
seorang negro yang jahat. Waktu aku sam pai ke tem pat anak
itu terbaring, ternyata aku tak bisa m engam bil pelurunya tanpa
bantuan lain. Anak itu keadannya juga sangat parah, jadi tak bisa
kutinggalkan untuk mencari bantuan, sementara makin lama
m akin tak keruan ia m engigau, sam pai-sam pai akhirnya ia tak
m em perbolehkan aku m endekatinya. Ia berkata bila aku m em beri
tanda pada rakitnya m aka aku akan dibunuhnya. Banyak lagi
om ongannya yang kegila-gilaan seperti itu, dan aku sam a sekali
tak bisa berbuat apa-apa padanya. Maka aku berkata, bahwa
aku akan m encari bantuan, apa pun yang akan terjadi. Begitu
selesai aku berkata, negro ini merangkak masuk, menawarkan
bantuannya. Dan ia betul-betul m em bantuku dengan sangat
baik. Tentu saja aku segera tahu pasti bahwa dialah negro yang
Petualangan Huckleberry Finn 373
http://facebook.com/indonesiapustaka m elarikan diri itu. Dan betapa terjepitnya keadaanku! Sepanjang
m alam dan siang! Betul-betul terjepit! Aku m asih punya pasien
lain, yang harus kulihat saat itu juga. Bila aku pergi, pasti negro
pelarian itu akan lenyap dan aku akan disalahkan orang. Tapi
tak sebuah perahu pun terlihat lewat cukup dekat hingga bisa
kupanggil. Begitulah keadaanku sam pai pagi ini. Selam a itu tak
pernah kulihat seorang juru rawat yang sebaik dan sepatuh negro
ini, walaupun untuk itu ia m em pertaruhkan kebebasannya. Dia
juga am at lelah, nyata sekali ia baru saja bekerja keras. Aku suka
pada negro itu karena alasan-alasan tadi. Tuan-tuan, seorang
negro seperti dia berharga paling rendah seribu dolar, ditambah
perawatan yang baik juga. Kebutuhanku waktu itu cukup, anak
itu juga berangsur baik, nanti bila ia mendapat perawatan di
rum ah, lebih baik lagi m ungkin. Karena keadaan yang sunyi aku
terpaksa gelisah, sebab tanggunganku jadi berganda, menjaga si
anak dan m enjaga si negro. Baru pada pagi ini ada sebuah perahu
lewat, dan untung sekali negro itu sedang tidur terduduk karena
lelahnya. Diam -diam ia kuikat, m udah saja. Dan karena si anak
sedang tidur pula, dayung kubebat dengan kain agar tak bersuara
sem entara perahu m enarik rakitnya. Waktu terbangun, negro ini
sam a sekali tak m elawan atau berkata sepatah pun. Ia negro yang
baik, Tuan-tuan, itulah pendapatku.”
Seseorang m enyahut, “Kedengarannya bagus sekali, dokter,
aku percaya.”
Orang-orang lainnya juga m em perlunak sikap m ereka.
Betapa berterim a kasih aku pada dokter itu, sudah sejak sem ula
kuduga bahwa ia baik hati. Orang-orang itu semua sepakat
bahwa J im sedikit banyak telah berjasa, dan wajib m enjadapat
sedikit keringanan. Saat itu pula semua orang berjanji tidak akan
memaki-maki J im lagi.
Orang-orang itu pergi setelah mengunci pintu bilik J im.
Alangkah baiknya bila untuk kebaikan hati J im itu ia tidak hanya
374 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka m endapat keringanan seperti yang diucapkan orang-orang tadi,
tapi sam pai juga pada pelepasan rantai-rantai yang berat dan
pem berian m akanan yang tidak hanya terdiri dari roti dan air,
tapi juga daging dan sayur. Tapi kukira tidaklah baik bila aku
ikut cam pur. Lagi pula aku juga lupa untuk m engatakan bahwa
Sid tertembak waktu aku dan Sid berperahu mengejar negro
pelarian. Aku cukup punya banyak waktu. Bibi Sally ham pir tak
pernah keluar dari kamar Tom, sedang setiap kali aku melihat
Pam an Silas terhuyung-huyung keluar dari kam ar itu aku selalu
m en gh in d a r .
Pagi harinya kudengar keadaan Tom bertam bah baik. Bibi
Sally telah m eninggalkan kam ar itu untuk tidur. Aku m enyelinap
ke kamar Tom, dan bila ia bangun kami berdua akan merencanakan
suatu dongeng yang cukup m asuk akal. Tapi ternyata ia tidur,
tidur nyenyak. Wajahnya pucat, tak m erah m em bara seperti pada
waktu ia tiba. Aku duduk di dekat tem pat tidur, m enunggu ia
bangun. Kira-kira setengah jam kem udian Bibi Sally m enyelinap
m asuk. Aku tersudut! Tapi ia tak berkata apa-apa, m em beri
isyarat agar aku tak ribut, lalu duduk di sam pingku. Ia berbisik
m en gatakan bahwa kin i hatin ya ten an g lagi. Keadaan Tom
berangsur baik. Ia tidur sangat tenang dan lam a; Bibi berani
bertaruh sepuluh lawan satu bila nanti Tom bangun, pikirannya
akan kembali waras seperti biasa.
Begitulah, kam i berdua diam -diam m enunggu, dan akhirnya
Tom bergerak sedikit, membuka mata, melihat berkeliling dan
berseru, “Halo! Astaga, aku di rum ah! Apa yang terjadi? Di m ana
rakit kita?”
“Beres,” sahutku.
“Dan J im ?”
“Begitu juga,” kataku, tak berani terlalu jelas. Tapi Tom tak
m em perhatikan suaraku, m alah berkata, “Bagus! Hebat! Kini
sem ua beres dan kita selam at! Sudah kau katakan pada Bibi?”
Petualangan Huckleberry Finn 375
http://facebook.com/indonesiapustaka Aku akan berkata ‘ya’, tapi Bibi m enyela, “Tentang apa, Sid?”
“Tentang bagaim ana sem ua itu kam i laksanakan.”
“Sem ua apa?”
“Wah, ya sem uanya. Hanya ada satu hal yang paling luar
biasa akhir-akhir ini, yaitu bagaim ana kam i m em bebaskan budak
pelarian itu, kam i yang m em bebaskan, aku dan Tom .”
“Astaga! Mem bebaskan budak. Apa yang kau bicarakan, Nak,
pasti kau bingung lagi, pasti kau m engigau lagi!”
“Tidak! Aku tahu apa yang kukatakan! Kam i betul-betul telah
m em bebaskan negro itu. Aku dan Tom . Kam i yang m erancangkan
segala siasat, kam i yang m engerjakan siasat-siasat itu. Dan betapa
bagusnya rencana-rencana tersebut!” Tom tak bisa dihentikan
lagi, ceritanya m eluncur tak terputuskan dari m ulutnya. Bibi Sally
mendengarkan terus dengan penuh perhatian, dan kupikir lebih
baik bila aku tak coba-coba ikut bercerita. “Minta am pun Bibi,
berat sekali kerja yang kam i lakukan. Berm inggu-m inggu. Berjam -
jam tiap m alam , waktu seisi rum ah tidur sem ua. Kam i juga harus
mencuri lilin, sprei, baju bibi, sendok, piring seng, pisau roti,
baskom pem anas, batu gerinda, dan m asih banyak lagi. Bibi tak
akan tahu bagaim ana beratnya m em buat gergaji, pena, tulisan
di batu gerinda itu, dan lain-lainnya, dan juga Bibi tak akan bisa
memperkirakan betapa kami sangat gembira mengerjakan semua
itu. Kam i juga yang m em buat gam bar peti m ati dan lainnya, juga
surat-surat kaleng itu. Kam i harus naik turun lewat penangkal
petir, membuat terowongan di bawah pondok J im dengan jalan
m em asukkannya dalam sebuah kue, kam i kirim kan sendok dan
barang-barang kecil dengan jalan m em asukkannya ke dalam saku
celem ek Bibi....”
“Ya am pun!”
“...dan kam i penuhi pondok itu dengan tikus, ular dan
bin atan g-bin atan g lain n ya un tuk m en em an i J im . Kem udian
Bibi m enahan Tom di sini dengan m entega di bawah topinya
376 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka hingga hampir-hampir saja semua rencana kami gagal, sebab
orang-orang telah datang sebelum kami semua keluar dari dalam
pondok. Kam i terpaksa bergerak cepat, hingga m ereka bisa
m endengar dan m enem bak serta m engejar kam i. Aku tertem bak.
Kam i bersem bunyi di pinggir jalan, sam pai para pengejar itu
lewat. Ketika anjing-anjing m endatangi kam i, m ereka tak tertarik,
m alah m engejar kelom pok orang-orang yang sangat ribut itu.
Kam i berhasil m asuk ke perahu, dan selam at m encapai rakit.
J im kini bebas, dan sem ua ini kam i kerjakan sendiri! Bukankah
sangat luar biasa, Bibi!”
“Belum pernah aku m endengar hal sem acam ini seum ur
hidupku! J adi sem ua ini gara-gara kau! Bajingan cilik! Sem ua
ketegangan dalam rum ah ini, penyebab kegilaan sem ua orang,
yang m enakut-nakuti kam i hingga ham pir m ati, sem ua ini kau!
Kalau kuturuti hatiku, kukuliti kau sekarang juga! Hh, dan setiap
malam aku di sini... oh, cepatlah sembuh, bangsat cilik, agar kau
bisa tahu rasa nanti!”
Tapi Tom begitu bangga dan gembira hingga ia sama
sekali tak m em perhatikan Bibi Sally, terus saja ia m engoceh,
sam bil sekali-sekali Bibi Sally m enyela, dan m enyeburkan api
kem arahannya, kadang-kadang m ereka berdua sam a-sam a
berbicara, ributnya m engalahkan suatu rapat para kucing. Dan
akhirnya Bibi Sally berkata, “Baiklah, baiklah, kini kau bisa
menikmati kegembiraanmu, tapi awas kalau kau berani sekali lagi
mengusik-usik dia lagi....”
“Mengusik siapa?” Tom m em utuskan ceritanya, senyum nya
segera lenyap, digantikan rasa heran.
“Siapa lagi kalau bukan negro pelarian itu? Kau kira siapa?”
“Tom ,” Tom berpaling dan m em andangku dengan pandang
tajam , “bukankah katam u tadi J im selam at? Apakah ia tertangkap
lagi?”
“Dia?” tanya Bibi Sally. “Negro yang lari itu? Pasti, tak usah
khawatir, ia telah tertangkap lagi, ditahan lagi di dalam pondok,
Petualangan Huckleberry Finn 377
http://facebook.com/indonesiapustaka hanya diberi m akan roti dan air, diikat dengan rantai besar
sam pai tuannya datang atau ia terjual di pelelangan.”
Tom bangkit, berdiri tegak di tem pat tidur, m atanya bagaikan
berapi, cuping hidungnya kem bang kem pis, berkata keras padaku,
“Mereka tak punya hak untuk m enawannya! Cepat! J angan buang
waktu lagi! Lepaskan dia! Dia bukan budak, dia bebas, sebebas
setiap m akhluk yang berjalan di atas bum i ini!”
“Apa yang kau m aksud, Nak?”
“Setiap kataku bukanlah isapan jem pol, Bibi Sally! Bila tak
ada yang berangkat untuk m em bebaskan J im , aku yang akan
pergi. Aku m engenalnya sejak aku kecil, begitu juga Tom ini.
Nona Watson m eninggal dua bulan yang lalu, dia begitu m alu
karena punya m aksud untuk m enjual J im ke daerah Selatan, hal
ini dikatakannya sendiri, dan dalam surat wasiatnya disebutkan
bahwa J im dinyatakan bebas dari perbudakan.”
“Lalu untuk apa kau ingin m em bebaskannya lagi, kalau kau
tahu bahwa dia sudah bebas?”
“Itulah soalnya, tapi m em ang akan begitulah pertanyaan dari
seorang wanita. Wah, Bibi, Bibi tak tahu bagaim ana hausnya aku
akan petualangan, rasanya m au aku m enyeberangi danau darah
asal saja.... Astaga, Bibi Polly!”
Benar-benar Bibi Polly! Muncul berdiri di pintu, m anis dan
tersenyum bahagia bagaikan patung m alaikat yang terbuat dari
kue. Bibi Polly!
Bibi Sally m elom pat, m em eluk saudaranya itu. Mem eluknya
erat-erat hingga kukira copotlah kepala Bibi Polly. Tak lupa
air mata mulai membanjir. Dan sementara mereka sibuk, aku
m endapat waktu cukup untuk bersem bunyi di bawah tem pat
tidur, sebab kukira ini keadaan akan sangat gawat bagi kami.
Aku m engintai ke luar, kulihat Bibi Polly m elepaskan diri dari
pelukan saudaranya, m em andang tajam pada Tom lewat atas
kacam atanya, pandang tajam seakan hendak m enghancurkan
378 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka Tom . Baru kem udian ia berkata, “Ya, ya, kukira lebih baik bila kau
palingkan kepalamu, Tom, memang lebih baik begitu.”
“Oh, astaga!” seru Bibi Sally, “apakah wajahnya begitu
berubah? Ia bukan Tom, ia Sid. Tom... Tom... wah, di mana Tom
tadi? Baru saja ia ada di sini.”
“Kau m aksud di m ana Huck Finn, itulah yang kau m aksud.
Rasanya setelah sekian lam a m em besarkan seorang bangsat cilik
seperti Tom ini tak akan bisa aku lupa padanya, aneh sekali bila
itu terjadi. Keluar dari bawah tem pat tidur, Huck Finn!”
Aku keluar. Tapi tanpa tenaga rasanya.
Bibi Sally m erupakan orang yang paling bingung di dunia
ini waktu itu, kecuali Paman Silas, tentu. Paman Silas jadi
seperti orang m abuk waktu sem uanya diterangkan padanya. Dan
sepanjang hari tak tahu ia apa yang diperbuatnya; m alam harinya
waktu diadakan pertemuan doa, ia berkhotbah sedemikian
m em bingungkan sehingga kewarasan otaknya diragukan orang,
bahkan orang yang tertua sekalipun tak bisa m engerti isi doa itu.
Bibi Polly m enceritakan apa dan siapa aku ini sebenarnya.
Kem udian ganti aku bercerita, bagaim ana sam pai aku berada
dalam keadaan yang sangat terjepit hingga waktu Nyonya Phelps,
Bibi Sally, m enyela, berkata, “Oh, kau boleh terus m em anggilku
Bibi Sally, aku telah terbiasa kini, dan tak perlu diubah lagi,”
sehingga waktu Bibi Sally m enyangkaku Tom Sawyer, aku terpaksa
tak menolak, tak ada jalan lain kecuali menerima saja anggapan
itu, lagi pula aku tahu Tom tak akan m enyalahkanku. Sebab aku
tahu ia am at suka pada hal-hal yang rum it dan penuh rahasia, dan
pasti ia akan m em buatnya suatu petualangan untuk m em uaskan
hatinya. Dugaanku betul, ia datang dan m engaku sebagai Sid
untuk m em peringan tanggung jawab yang harus kupikul.
Bibi Polly m em benarkan kata-kata Tom tentang isi wasiat
Nyonya Watson yang m em bebaskan J im selam a-lam anya dari
Petualangan Huckleberry Finn 379
http://facebook.com/indonesiapustaka perbudakan. J adi benarlah, Tom telah bersusah payah m em eras
tenaga dan pikiran untuk m em bebaskan seorang negro yang
sebenarnya sudah bebas! Makanya walaupun kubujuk-bujuk dulu
tetap saja ia berkinginan membebaskan J im tanpa takut nanti
nam anya dan nam a keluarganya runtuh di m ata orang banyak.
Bibi Polly berkata, waktu Bibi Sally berkirim surat bahwa
Tom dan Sid telah tiba dengan selam at, ia berkata pada dirinya
sendiri, “Lihatlah! Seharusnya telah kuduga sejak sem ula, ku-
lepaskan anak itu pergi jauh seorang diri, dan entah apa yang
sedang diperbuatnya kini di tem pat yang jauh itu. Terpaksa
aku m engadakan perjalanan sebelas ratus m il, hanya untuk
mengetahui bangsat cilik itu kini sedang berbuat apa, sebab kau
tak pernah menjawab surat-suratku.”
“Tapi, aku tak pernah m enerim a surat darim u,” sela Bibi
Sally.
“Ah, m asa! Dua kali aku berkirim surat, m enanyakan apa
yang kau m aksudkan dengan m engatakan bahwa Sid ada di sini.”
“Surat-surat itu tak pernah kuterim a.”
Bibi Polly perlahan m em alingkan kepalanya, m em andang
tajam pada Tom dan m em bentak, “Kau, Tom !”
“Ada apa?” tanya Tom terputus-putus.
“J angan bertanya ada apa, kau anak kurang ajar, berikan
surat-surat itu!”
“Surat-surat m ana, Bibi?”
“Surat-suratku! Bila tidak kau akan ku....”
“Ada di koperku! Nah, jangan gusar lagi. Surat-surat itu
belum kubuka, m asih seperti waktu kudapat dari kantor pos. Aku
tahu surat-surat itu akan membuat keadaan kami makin panas,
jadi bila saja Bibi tak tergesa-gesa datang aku akan....”
“Kau betul-betul harus kukuliti hidup-hidup! aku juga
berkirim surat mengatakan bahwa aku akan datang, mungkin ia
juga yang....”
380 Mark Twain
“Tidak, surat terakhirm u itu datang kem arin, aku belum
m em bacanya, tapi sudah kuterim a.”
Aku berani bertaruh dua dolar, pasti Bibi Sally tak tahu di
mana surat itu kini. Tapi kukira lebih baik bila aku diam saja.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka TAK ADA LAGI YANG HARUS
DITULIS
SAAT AKU sem pat berdua dengan Tom , kutanyakan padanya
tentang m aksud sebenarnya dengan ‘waktu penghiburan’, apa
m aksudnya, dan apa yang akan kam i perbuat andaikan rencana-
nya itu berhasil dengan sem purna, dan ia berhasil m em bebaskan
J im , kam i bertiga akan berhanyut dengan rakit sam pai ke m uara
sungai, bertualang terus di sepanjang perjalanan. Bila kam i
telah m encapai m ulut sungai, akan diberitahukannya pada J im
bahwa sebenarnya sejak sem ula ia telah bebas, kem udian akan
dibawanya J im dengan naik kapal uap di kelas satu pulang ke
St. Petersburg, serta akan diberinya J im uang sebagai pengganti
waktunya yang hilang karena petualangan kam i. Sebelum nya
Tom akan menulis surat ke rumah, hingga kedatangan J im akan
disambut meriah oleh orang-orang negro di kota itu, dengan
arak-arakan obor dan orkes tiup, pastilah dengan begitu J im akan
m encapai gelar ‘pahlawan’, begitu juga kam i. Tapi kukira lebih
baik bila akhir kejadian itu seperti yang telah terjadi saja.
382 Mark Twain
http://facebook.com/indonesiapustaka Tak membuang waktu lagi J im dibebaskan dari segala
rantainya. Dan waktu Bibi Polly, Pam an Silas, dan Bibi Sally
m engetahui betapa baiknya J im m em bantu dokter m erawat Tom ,
m ereka sangat m em anjakan negro itu. Segala yang diperlukan
J im diberi, m akan ia boleh sebanyak-banyaknya dan sekehendak
seleranya, serta tak diperbolehkan J im bekerja sedikit pun.
J im boleh pula m enunggu Tom di kam arnya, dan bertiga kam i
berbicara panjang lebar. Tom memberi J im uang empat puluh
dolar, untuk kesudiannya m enjadi tawanan kam i dengan penuh
sabar dan m engerjalan segala apa yang kam i kehendaki. Uang
itu m em buat J im ham pir m ati kegirangan, katanya, “Nah, Huck,
apa kataku, kau ingat waktu kita di Pulau J ackson, dan kukatakan
bahwa karena dadaku berbulu lebat aku akan kaya, entah kapan?
Dan benar sekali, ini buktinya. Aku katakan padam u bahwa
aku pernah kaya, dan akan kaya lagi, dan ini buktinya. Kini
jangan bantah lagi aku m enerangkan tanda-tanda ajaib yang bisa
m eram alkan nasib kita, sebab aku yakin pertanda-pertanda itu
benar, buktinya ini, Huck!”
Tom punya rencana baru, ia m engajak aku dan J im
m engem bara ke daerah Indian, m enyelinap lari dari rum ah
Paman, mengumpulkan perbekalan, kemudian bertualang di
antara orang-orang Indian untuk selam a dua atau tiga m inggu. Aku
setuju saja, tetapi aku katakan aku tak punya uang untuk m em beli
perbekalan, dan kukira uangku di rumah telah dihabiskan oleh
Bapak, setelah diam bilnya dari Hakim Thatcher dihabiskannya
untuk mabuk-mabuk.
“Tidak,” kata Tom . “Uangm u m asih ada, enam ribu dolar
dan banyak lagi lebihnya. Bapakm u tak pernah m uncul kem bali.
Setidak-tidaknya waktu aku berangkat kem ari, belum ada berita
tentang dia.”
“Ia tak akan kem bali lagi, Huck,” kata J im penuh arti.
“Kenapa, J im ?” tanyaku.
Petualangan Huckleberry Finn 383
“J angan tanya kenapa, Huck, tapi ia tak akan kem bali lagi.”
Kudesak terus dia hingga akhirnya ia berkata, “Kau ingat
rum ah yang hanyut waktu kita berada di Pulau J ackson dulu?
Kau ingat di rum ah itu ada orang m ati, tertutup selim ut, aku
masuk mendahuluimu untuk melihat siapa dia, dan kemudian
tak kuperkenankan kau m elihatnya? Nah, kini kau boleh yakin
bahwa uangmu masih tetap seperti dulu, sebab orang mati itu
adalah bapakmu.”
Tom kini sudah ham pir sem buh. Peluru yang m engenai
betisnya kini digantungkannya di leher pada rantai arlojinya.
H abis sudah, tak ada lagi yang harus kutulis, dan ini
m em buatku gem bira, sebab ternyata kini bahwa m em buat buku
itu suatu pekerjaan yang am at sulit. Kalau dari dulu aku tahu,
aku tak akan m enulis lagi. O, ya, agaknya aku akan terpaksa lari
m eninggalkan daerah ini lebih dulu dari Tom atau J im , sebab Bibi
Sally telah m enyatakan m aksudnya untuk m engam bilku sebagai
anak dan m endidikku jadi orang beradab. Rasanya aku tak akan
tahan bila keinginan Bibi Sally terpenuhi. Aku pernah m engalam i
hal yang sam a dengan Nyonya J anda Douglas.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka marK TWaIn
PeTUaLanGan hUCKLeBerrY FInn
Karya klasik Amerika karangan Mark Twain ini merupakan
sekuel buku Petualangan Tom Sawyer. Huckleberry Finn si
gelandangan diangkat anak oleh Nyonya Janda dan dididik
menjadi orang terhormat. Tapi Huck idak betah dengan segala tata
krama yang dianggapnya terlalu kaku. Ditambah dengan kedatangan
kembali ayahnya yang pemabuk, Huck memutuskan untuk kabur.
Dimulailah petualangan Huck bersama Jim, seorang budak negro
yang juga sedang melarikan diri. Mereka berlayar menyusuri Sungai
Mississippi, bertemu dengan orang-orang baru, dan berkali-kali lolos
dari maut.
SASTRA
KPG: 59 16 01203
KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA)
Gedung Kompas Gramedia, Blok 1 Lt. 3, Jl. Palmerah Barat 29-37,Jakarta 10270
Telp. 021-53650110, 53650111 ext. 3359; Fax. 53698044, www.penerbitkpg.com
KepustakaanPopulerGramedia; @penerbitkpg; penerbitkpg