The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by purinugroho77, 2022-03-07 01:30:15

Petualangan Huckleberry Finn

Petualangan Huckleberry Finn

Petualangan Huckleberry Finn 291

http://facebook.com/indonesiapustaka kini aku dintinggalkan-Nya sendiri. Aku sadar, tak berguna
m em bohong terus, aku terpaksa m enyerah. Pikirku, sekali ini
terpaksa lagi aku m engandalkan pada kebenaran. Aku sudah
m em buka m ulut hendak m engaku, tetapi m endadak disergapnya
tanganku, didorongnya aku ke belakang tem pat tidur dan katanya,
“Itu dia datang! Tundukkan kepalam u, lebih rendah lagi. Nah,
cukup, kau tak bisa dilihat lagi. J angan sampai ia melihatmu. Dia
akan kuperm ainkan. Anak-anak, jangan berkata sepatah pun!”

Keadaan ku lebih run yam lagi tapi kupikir tak usah
khawatir, kini yang kukerjakan hanyalah bersem bunyi baik-baik,
m enyiapkan diri untuk nanti bila halilintar m enyam bar.

Aku m elihat sekilas seorang tuan tua m asuk, kem udian ia
tertutup oleh tem pat tidur. Nyonya Phelps m elom pat pada tuan
itu, katanya, “Sudah datang dia?”

“Belum !” jawab suam inya.
“Minta am pun! Apa yang m ungkin terjadi padanya?”
“Tak bisa kubayangkan. Tapi betul-betul aku jadi sangat
gelisa h .”
“Gelisah! Aku sudah ham pir jadi gila! Ia pasti datang hari ini.
Aku tahu betul! Pasti kau berselisih jalan dengannya.”
“Tak m ungkin aku berselisih jalan dengannya, Sally, kau tahu
itu.”
“Tapi, aduh, aduh, apa nanti kata Sis! Pasti ia datang hari ini!
Pasti kau tak m elihatnya! Ia....”
“Oh, jangan m em buat hatiku bertam bah sedih! Aku sangat
sedih. Aku sam a sekali tak tahu apa yang telah terjadi, habis
akalku, dan aku tak akan malu mengaku bahwa aku pun merasa
takut. Tapi yang pasti ia tak datang hari ini. Sebab tak m ungkin
aku tak m elihatnya. Sally, betul-betul m engerikan, sangat
m engerikan, agaknya kapal itu m endapat suatu kecelakaan....”
“Wah, Silas! Lihat itu! Di jalan! Ada orang datang!
Tuan Silas Phelps melompat ke jendela di kepala tempat
tidur. Ini m em beri kesem patan pada Nyonya Phelps. Cepat-cepat

292 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka ia m em bungkuk di kaki tem pat tidur, m enyeretku keluar. Waktu
Tuan Phelps berpaling, Nyonya Phelps tersenyum lebar dan
m atanya bercahaya-cahaya bagaikan rum ah terbakar. Tuan tua
itu m elongo, kem udian bertanya, “Siapa itu?”

“Coba terka!”
“Aku tak tahu. Siapa dia?”
“Tom Sawyer!”
Astaga! Ham pir saja aku roboh! Tapi tak ada waktu untuk
m enukar siasat, Tuan Phelps telah m enyam bar tanganku,
menjabat erat-erat dan mengguncang-guncang terus. Selama
itu Nyonya Phelps m enari-nari di sekeliling kam i, tertawa dan
m enangis. Kem udian m ereka m enghujani aku dengan berbagai
pertanyaan tentang Sid dan Mary dan keluarga Sawyer lainnya.
Kegem biraan m ereka sam a sekali tak bisa dibandingkan
den gan kegem biraanku. Bagaikan lahir kem bali, aku begitu
gem bira bisa m engetahui siapa aku sebenarnya. Selam a dua
jam kedua orang itu bagaikan beku mendengarkan ceritaku,
sam pai sakit rahangku karena telah bercerita. Kuceritakan segala
peristiwa yang terjadi pada keluargaku—m aksudku keluarga
Sawyer. J uga kini aku bisa bercerita panjang lebar bagaim ana
kami di kapal mengalami silinder pecah di muara Sungai Putih.
Tiga hari kapal terpaksa berhenti untuk m em perbaikinya. Cerita
itu cukup m eyakinkan sebab orang-orang itu tak akan tahu
apakah cukup waktu tiga hari untuk memperbaiki sebuah tabung
uap. Bahkan akan lebih bagus bila tadi kukatakan bahwa kapal
kami disambar halilintar.
Selesai bercerita itu, hatiku terbagi dua, separuh lega separuh
gelisah. Lega karena untuk m em erankan Tom Sawyer tak akan
ada kesukaran bagiku. Gelisah karena sayup-sayup kudengar
suara m esin kapal uap sedang m enghilir sungai. Bagaim ana kalau
Tom Sawyer naik kapal itu? Bagaim ana kalau ia m uncul di pintu
dan meneriakkan namaku sebelum sempat aku mengejapkan
m ata padanya?

Petualangan Huckleberry Finn 293

Itu tak boleh terjadi, sam a sekali tidak. Aku harus m enjem put
dia. Maka aku berkata pada keluarga itu hendak pergi ke pelabuhan
untuk mengambil barang-barangku. Tuan Phelps ingin pergi
bersamaku, tapi kucegah, kukatakan aku bisa mengendalikan
kuda dan aku tak ingin ia bercapai-lelah untukku.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka RIWAYAT SANG RAJA DAN SANG
PANGERAN BERAKHIR SEDIH

DENGAN NAIK kereta, kukendalikan sendiri, aku berangkat
m enuju kota. Baru separuh jalan, kulihat sebuah kereta lain
m endatangi, dan benar juga, Tom Sawyer yang ada di dalam nya.
Aku berhenti, m enunggu hingga kereta itu dekat. Setelah dekat
aku berteriak, “Berhenti dulu!” Kusir m enghentikan kereta,
Tom Sawyer m elongo terus lalu, dua tiga kali ia m enelan ludah
baru kem udian berkata, “J angan ganggu aku. Tak pernah kau
kuganggu, untuk apa kau kembali dan menggangguku?”

“Aku tidak kem bali, aku tak pernah pergi,” jawabku.
Mendengar suaraku, ia agak berkurang takutnya, tapi rasanya
belum begitu puas, katanya, “J angan m em perm ainkanku, sebab
aku pun tak akan m em perm ainkanm u. Berkatalah benar, kau
bukan hantu?”
“Bu ka n .”
“Hm , aku... aku... hm , kalau begitu baiklah, tapi aku tak bisa
mengerti, apakah kau tak terbunuh sama sekali?”

Petualangan Huckleberry Finn 295

http://facebook.com/indonesiapustaka “Tidak. Aku sam a sekali tak terbunuh. Kutipu sem ua orang.
Kem arilah dan sentuh tanganku, biar kau percaya.”

Tom m endekatiku, dan m enyentuhku. Kini ia benar-benar
percaya. Begitu gem bira ia m elihatku hidup kem bali hingga
tak tahu apa yang akan dikerjakannya. Dan saat itu juga ia
ingin tahu segala yang telah terjadi, sebab pengalam anku
m erupakan suatu petualangan besar yang penuh rahasia baginya,
sesuatu yang sangat digem arinya. Tapi kukatakan hal itu bisa
diceritakan nanti saja, kusuruh kusirnya m enunggu sem entara
kam i m enyingkir agak jauh. Kuceritakan persoalan yang sedang
kuhadapi, kutanyakan apa yang harus kam i kerjakan. Ia m inta
agar kuberi waktu semenit untuk berpikir. Setelah waktu itu
berlalu, ia berkata, “Beres! Aku tahu. Bawa koperku, anggap saja
itu punyam u. Kem balilah, hanya jangan cepat-cepat agar kau tiba
di rum ah tepat pada waktu yang seharusnya kupergunakan untuk
pergi ke pelabuhan dan kem bali. Aku akan pergi ke kota dan
kembali lagi ke sana nanti, aku akan tiba di rumah itu kira-kira
seperempat jam setelah kau. Dan mula-mula kau harus pura-pura
tak mengenalku.”

“Baiklah. Tapi tunggu dulu. Ada lagi satu persoalan, suatu
persoalan yang hanya aku yang m engetahui. Ada seorang negro
di sini yang akan kucari dari perbudakan, nam anya J im . Milik
Nona Watson.”

“Apa? Bukankah J im ....” ia tertegun, berpikir-pikir.
“Aku tahu apa yang akan kau katakan,” kataku. “Kau pasti
akan berkata bahwa yang kukerjakan itu adalah suatu pekerjaan
yang paling hina, tapi aku tak peduli. Aku m em ang hina, dan aku
akan m encuri dia, aku hanya ingin agar kau tutup m ulut saja dan
memegang rahasia ini. Maukah kau?”
Matanya bercahaya, sahutnya, “Aku akan m enolong engkau
m encurinya.”
Kalaupun aku tertem bak, aku tak akan seterkejut itu. Kata-
kata yang paling m engejutkan, dan percayalah, harga diri Tom

296 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Sawyer turun banyak sekali dalam pandanganku. Hanya aku tak
bisa m em percayai kata-katanya. Tom Sawyer, seorang pencuri
n egr o!

“Bah,” kataku, “pasti kau berolok-olok.”
“Aku tak berolok-olok.”
“Baiklah. Aku tak peduli, apakah kau berolok-olok atau
tidak. Aku hanya ingin, bila kau nanti m endengar sesuatu tentang
seorang negro yang m elarikan diri, jangan lupa untuk ingat
bahwa kau tak tahu apa-apa tentang dia, aku pun begitu juga.”
Tom m engam bil kopernya, dipindahkan ke keretaku.
Kem udian kam i berpisah. Tapi tentu saja aku lupa sam a sekali
untuk menjalankan kereta pelan-pelan, sebab aku begitu gembira
dan terlalu banyak pikiran. Aku sam pai di rum ah jauh lebih cepat
dari seharusnya untuk jarak itu. Tuan Phelps ada di pintu, dan
ia berkata heran, “Astaga, hebat sekali! Siapa m engira kuda ini
bisa begitu cepat? Mestinya kita hitung waktunya tadi. Dan ia tak
berkeringat sam a sekali, seram but pun tidak. Hebat sekali. Kini
seratus dolar pun tak akan kuberikan kuda itu, tidak, walaupun
sebelum nya sudah kutawarkan lim a belas dolar, sebab kukira
itulah m em ang harganya.”
Hanya itu yang dikatakannya. Ia adalah orang yang paling tak
punya prasangka, orang yang paling baik yang pernah kujum pai.
Tak heran, sebab bukan saja ia seorang petani, tapi merangkap
m enjadi pendeta pula. Ia m em punyai sebuah gereja kecil, di
belakang tanah pertaniannya, dibangun sendiri dan biayanya
ditanggungnya sendiri. Ia pun tak m inta bayaran untuk khotbah-
khotbahnya yang m em ang bernilai. Banyak sekali pendeta petani
seperti itu, di daerah Selatan ini.
Kira-kira setengah jam kem udian Tom m uncul, berhenti
dekat tangga pagar depan. Bibi Sally m elihatnya dari jendela,
sebab tem pat itu hanya sejauh lim a puluh yard dari jendela.

Petualangan Huckleberry Finn 297

http://facebook.com/indonesiapustaka “Wah, ada orang datang! Siapa itu? Aku yakin dia orang asing.
J im m y,” serunya dengan gugup, “cepat suruh Lize m enyiapkan
piring satu lagi untuk makan siang.”

Semua orang bergegas ke pintu depan, sebab seorang asing
tidaklah bisa didapat sekali dalam setahun, jadi perhatian pada
seorang asing lebih besar daripada terhadap demam kuning.
Tom telah m elewati pagar, m enuju rum ah, keretanya berputar
dan berpacu ke arah desa, sementara kami semua berjejal-jejal di
pintu. Tom m em akai pakaian baru, dan ditonton banyak orang,
sesuatu yang paling disukainya. Dalam keadaan serupa itu tak
sukar baginya untuk bergaya. Ia tidak berjalan m alu-m alu, tapi
tenang dan seolah-olah ia adalah orang penting. Sesam painya
di depan kam i, hati-hati ia m engangkat topinya, seolah-olah
topi itu sedang di tiduri sekelompok kupu-kupu dan ia tak mau
m em bangunkan m ereka. Kem udian ia bertanya, “Apakah ini
rum ah Tuan Archibald Nichols?”

“Bukan, Nak,” kata Tuan Phelps. “Sayang sekali kusirm u telah
menipumu. Rumah Nichols masih tiga mil lagi. Mari masuk.”

Tom berpaling, m elihat ke jalan, “Ah, terlam bat ia sudah
jauh.”

“Ya, ia telah jauh, Nak, dan kau harus m asuk serta m akan
siang dengan kami. Nanti kami antarkan kau ke rumah Nichols.”

“Oh, tak usah repot-repot. Tak terpikirkan hal itu olehku.
Aku akan berjalan saja, jarak tiga m il bukanlah jarak yang terlalu
jauh.”

“Tapi tak akan kam i perkenankan kau berjalan kaki, itu
bertentangan dengan keram ahan orang Selatan. Ayo, m asuklah!”

“Ya, m asuklah!” ajak Bibi Sally, “sam a sekali tak m erepotkan
kam i. Kam i harus tinggal sebentar di sini. J alan ke rum ah Nichols
sangat berdebu, kau tak boleh berjalan kaki ke sana. Dan lagi,
telah kuperintahkan untuk menambah piring di meja makan

298 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka waktu kulihat kau datang, jadi, jangan membuat kami kecewa.
Masuklah, dan jangan kikuk lagi.”

Tom m engucapkan terim a kasih dengan gaya yang indah,
m eyerah atas keram ahan dan m asuk. Di dalam , ia berkata bahwa
ia datang dari Hicksville, Ohio, nam anya William Thom pson—
diucapkannya nam a itu sam bil m em bungkuk m em beri horm at.

Begitulah, kam i duduk di ruang tam u. Tom berbicara panjang
lebar tentang Hicksville, yang hanya ada dalam khayalannya.
Aku gelisah, aku tak tahu bagaim ana dengan cara ini ia bisa
m enolongku sam pai tiba-tiba ia berdiri dan m encium Bibi Sally
tepat di m ulutnya, kem udian kem bali duduk dan m eneruskan
ceritanya. Tapi Bibi Sally m elom pat berdiri, m enghapus m ulutnya
dengan punggung tangan dan berseru, “Kurang ajar!”

Tom berbuat seolah -olah terh in a, berkata, “Nyon ya
m em buatku heran!”

“Kau heran? Hah, kau kira aku ini siapa? Mau rasanya kau
ku.... He, apa maksudmu menciumku?”

“Aku tak berm aksud apa-apa Nyonya,” kata Tom m alu, “aku
tak berm aksud buruk. Ku... ku... kukira Nyonya akan m erasa
senang karenanya.”

“Anak tolol!” Bibi Sally m enyam bar tongkat pem intal, ham pir
saja ia tak kuat m enahan hati untuk m em ukul Tom . “Mengapa
kau berpikir aku akan merasa senang karena kau cium?”

“Aku tak tahu. Hanya, m ereka... m ereka... m ereka berkata
begitu padaku.”

“Mereka m engatakan padam u aku akan m erasa senang?
Siapa pun yang m engatakan itu pastilah orang gila lagi. Tak
pernah kudengar yang sem acam ini. Siapa m ereka itu?”

“Sem ua orang! Mereka sem ua berkata begitu, Nyonya.”
Payah sekali Bibi Sally m en ahan am arah, dan setelah
m enyabarkan diri untuk tidak m encakar m uka Tom ia berkata,

Petualangan Huckleberry Finn 299

http://facebook.com/indonesiapustaka “Siapa yang kau m aksud dengan sem ua orang? Katakan nam a-
nya! Kalau tidak akan berkurang seorang gila di dunia ini.”

Tom berdiri, tam pak kecewa ia m em perm ainkan topinya.
“Maafkan aku, ini sam a sekali di luar dugaan. Kata m ereka, cium -
lah dia, dia pasti senang. Sem ua m engatakannya, setiap orang.
Tapi m aafkan aku, Nyonya, aku tak akan m encium Nyonya lagi,
betul-betul tidak.”

“Kau tak akan, bukan? Sudah pasti kau tak akan berani
m encobanya lagi.”

“Tidak, Nyonya, aku tak akan m encium Nyonya lagi, kecuali
bila Nyonya yang m inta dulu.”

“Sam pai aku m inta dulu! Ya am pun! Tak pernah kualam i
kegilaan ini selam a hidupku! Walaupun tinggal kau satu-satunya
manusia di bumi ini, tak akan kuminta cium darimu atau dari
orang-orang sem acam engkau!”

“Oh, heran sekali. Aku tak bisa m engerti. Kata m ereka kau
akan senang, dan kukira Nyonya akan m erasa senang. Tapi....”
Ia berhenti berbicara, m enoleh perlahan ke sekitarnya, seolah-
olah mencari pandang bersahabat dari orang-orang di situ.
Terpandang olehnya m ata Tuan Phelps, dan ia bertanya, “Apakah
Tuan tidak sependapat denganku bahwa ia akan senang bila
ku ciu m ?”

“Wah, tidak. Aku... aku... hm , tidak, kukira tidak.”
Dengan air muka seperti semula ia menoleh ke arahku dan
berkata, “Tom , apakah kau tidak m engira bahwa Bibi Sally akan
m em buka tangannya, m em elukku dan berkata, Sid Sawyer....”
“Astaga!” Bibi Sally m eraih Tom .
“Kau anak kurang ajar! Begitu rupa m enipu orang....” Ia
akan memeluk Tom, tapi Tom mengelakkan diri sambil berseru,
“Tidak! Tidak sebelum Bibi m inta dulu!”
Bibi Sally tak m em buan g waktu, m in ta pada Tom ,
kem udian ia m em eluk serta m encium nya habis-habisan sebelum

300 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka m em berikannya pada Pam an Silas untuk m enghabiskan apa
yang m asih ada. Dan setelah agak reda Bibi Sally berkata, “Ya,
am pun! Belum pernah aku m engalam i seperti ini! Betul-betul
m enakjubkan! Kam i sam a sekali tak tahu bahwa kau akan turut
kemari. Sis tak pernah menulis bahwa kau akan ikut.”

“Mem ang tadinya hanya Tom yang pergi,” kata Tom , “tapi
aku terus saja m em ohon untuk ikut, dan pada akhirnya aku
diperbolehkan Bibi. Dalam perjalanan Tom dan aku m erancang
sesuatu yang tak terduga-duga untuk Bibi, yaitu dia dulu yang
datang dan aku kemudian, berbuat seolah-olah orang asing.
Tapi agaknya itu suatu kesalahan besar, Bibi Sally. Tem pat ini
bukanlah tem pat yang sehat bagi seorang asing.”

“Bukan , han ya un tuk oran g-oran g kuran g ajar, Sid.
Seharusnya kau harus ditam pari, belum pernah aku sem arah
itu tadi. Tapi aku tak peduli lagi kini, aku tak peduli apa pun
nam anya, seribu satu hal m acam itu bisa kutanggungkan asal
saja kau bisa sam pai di sini dengan selam at. Betapa ram ainya
kita tadi! Aku tak m enyangka, betul-betul aku bagaikan terpukau
waktu kau m encium ku!”

Kam i m akan siang di gang lebar yang m enghubungkan
rum ah dengan dapur. Dan m akanan yang terhidang cukup
banyak dim akan oleh tujuh anggota keluarga bersam a-sam a!
Dagingnya juga segar, bukan seperti di rum ah tangga biasa
dengan daging yang telah disim pan di dalam lem ari sem alam
suntuk, hingga pagi harinya terasa seperti m akanan bagi orang
pemakan manusia. Paman Silas berdoa panjang sekali, namun tak
apa, doa itu tak membuat makanan dingin, seperti biasa terjadi
bila doa-doa diucapkan.

Sepanjang sore kami bercakap-cakap lagi. Tom dan aku selalu
memasang telinga, namun tak sepatah kata pun tentang negro
pelarian diucapkan, dan kami takut untuk memulai pembicaraan
ke arah itu. Tapi waktu makan malam salah seorang anak

Petualangan Huckleberry Finn 301

http://facebook.com/indonesiapustaka keluarga Phelps itu bertanya, “Ayah, bolehkan Tom , Sid, dan aku
menonton pertunjukan nanti malam?”

“Tidak,” jawab Silas, “kukira tak akan ada pertunjukan. Dan
walaupun ada, kau tak akan diperbolehkan masuk. Negro pelarian
itu bercerita padaku dan pada Burton tentang pertunjukan itu,
yang hanya suatu tipuan saja. Burton akan m em beri tahu sem ua
orang, jadi kukira malam ini juga para penipu itu akan diusir dari
kota.”

Apa yang kukhawatirkan terjadi. Dan aku tak bisa m en-
cega h n ya .

Tom dan aku tidur sekam ar dan setem pat tidur. Kam i
katakan amat lelah; segera setelah makan malam selesai kami
ucapkan selamat malam dan kami pergi ke tempat tidur kami, di
tingkat atas. Pintu kami kunci dan kami keluar dari jendela, turun
ke tanah dengan memanjat penangkal petir, berangkat ke kota.
Kukira tak akan ada orang yang akan m em beri tahu pada sang
raja dan sang pangeran akan bahaya yang m engancam m ereka.
Bila aku tak cepat, m ereka pasti akan m endapat kesulitan besar.

Sam bil berjalan, Tom m em beritahukan apa yang terjadi
setelah orang m enyangka aku terbunuh. Segera setelah kejadian
itu lenyap, Bapak tak pernah m uncul lagi. Dan seluruh kota jadi
ribut ketika J im m elarikan diri. Aku bercerita pada Tom tentang
penipu-penipu ‘Keajaiban Kerajaan’ kam i, serta perjalananku
dengan rakit seringkas mungkin. Waktu kami sampai di tengah
kota, kira-kira pukul setengah sembilan, kami lihat segerombolan
orang berteriak-teriak dengan membawa obor, sambil memukul-
mukul piring seng dan meniup terompet. Ribut sekali. Tom dan
aku melompat ke pinggir, untuk membiarkan mereka lewat.
Dan kami lihat sang pangeran dan sang raja terkangkang pada
sebatang kayu palang. Aku tahu m ereka adalah sang raja dan
sang pangeran, walaupun seluruh tubuhnya telah dilum uri ter
dan dilekati bulu ayam , sam a sekali seperti bukan m anusia. Sedih

302 Mark Twain

hatiku. Aku kasihan pada kedua bangsat itu. Bagaim anapun tak
bisa aku m erasa benci pada m ereka. Keduanya sangat m engerikan
kini. Manusia kadang-kadang bisa berbuat kejam sekali pada
sesam anya.

J adi kam i sudah terlam bat, tak bisa m enolong m ereka. Kam i
bertanya pada seseorang yang kebetulan di belakang. Ia berkata
semua orang pergi ke gedung pertunjukan dengan pura-pura
tak tahu apa-apa. Mereka menuggu sampai sang raja berbuat
gila-gilaan di panggung. Seorang m em beri isyarat, sem ua orang
melompat ke panggung dan meringkus kedua bangsat itu.

Tom dan aku berjalan perlahan pulang. Aku tak segem bira
tadi, aku m erasa sedih, seolah-olah akulah yang harus disalahkan
dalam kejadian ini. Walaupun aku tak berbuat apa-apa. Tapi
memang begitulah, tak peduli kita berbuat salah atau benar,
hati nurani kita tak pernah m em benarkan. Bila aku m em punyai
seekor anjing kuning yang sam a sekali tak tahu akan hati nurani
seseorang, akan kuracun dia. Hati nurani m enem pati tem pat yang
paling atas dalam hidup m anusia, tapi sesungguhnya tak berguna
sam a sekali. Tom Sawyer setuju sepenuhnya dengan pendapatku.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka KAMI MENGHIBUR HATI JIM

KAMI TAK lagi berbicara, tenggelam dalam pikiran m asing-
m asing. Tiba-tiba Tom berkata, “Dengar, Huck! Sungguh tolol
kita. Aku berani bertaruh aku tahu di m ana J im berada.”

“Masa! Di m ana?”
“Di gubuk dekat pem buangan abu. Dengar! Waktu kita
makan siang tadi, kau lihat seorang negro pergi ke tempat itu
dengan membawa makanan, bukan?”
“Ya.”
“Kau pikir untuk apa m akanan itu?”
“Untuk anjing.”
“Aku pun berpikir begitu. Tapi bukan untuk anjing.”
“Men ga p a ?”
“Sebab kulihat ada sem angkanya.”
“Mem ang begitu, aku juga lihat itu. Wah, waktu itu tak terpikir
olehku bahwa tak mungkin seekor anjing makan semangka. Itulah
bukti bahwa walaupun mata kita terbuka lebar, tapi kadang-
kadang kita tak bisa melihat.”

304 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka “Hm , negro itu m em buka kunci rantai pintu waktu ia m asuk,
dan mengunci lagi waktu ia keluar. Waktu kita selesai makan, ia
m em berikan sebuah kunci pada pam an. Kunci yang sam a, pasti.
Semangka menunjukkan orang, kunci menunjukkan tawanan.
Dan di tanah pertanian yang kecil ini tak m ungkin ada dua orang
tawanan, apalagi di tem pat orang yang baik hati ini. Tawanan itu
J im . Baiklah, aku gem bira sekali bisa m enem ukan dia dengan cara
detektif. Cara lainnya tak kuhargai sesen pun. Kini berpikirlah,
rancangkan suatu siasat untuk mencuri J im, dan aku berbuat
begitu juga. Kita pilih rancangan yang terbaik.”

Betapa cerdiknya Tom ! Bila aku m em punyai kepala Tom
Sawyer, tak akan kujual kepala itu walaupun aku ditawari jadi
pangeran, jadi perwira kapal uap, jadi badut sirkus, atau jadi
apa saja yang terpikir olehku. Aku m ulai berpikir, hanya untuk
m elewatkan waktu saja, aku tahu pasti rancangan yang terbaik
datang dari dia. Tak lam a Tom bertanya, “Siap?”

“Ya,” jawabku.
“Baiklah, beberkan rencanam u.”
“Rencanaku begini. Bisa kita selidiki apakah J im betul ada di
tem pat itu. Kem udian kita am bil perahu, dan kita bawa kem ari
rakitku. Malam gelap pertam a yang kita alam i, kita curi kunci
pintu dari saku Paman Silas waktu ia tidur, kemudian kita pergi
ke sungai dengan J im , berhanyut ke hilir, m engadakan perjalanan
m alam hari saja, siang hari kita sem bunyi seperti yang telah
kulakukan sebelum nya dengan J im . Nah, bukankah rencana itu
bisa dilakukan?”
“Dilakukan? Tentu saja, m udah sekali, sem udah tikus-tikus
berkelahi. Tetapi terlalu sederhana, tak ada apa-apanya. Apa
faedah rencana yang terlalu sederhana seperti itu. Wah, Huck,
walaupun berhasil, rencana seperti itu tak akan menjadi bahan
pembicaraan orang, segera dilupakan seperti kalau ada maling
m asuk pabrik sabun!”

Petualangan Huckleberry Finn 305

http://facebook.com/indonesiapustaka Sudah kuduga dari sem ula, jadi aku diam saja. Aku tahu,
kalau rencananya dibeberkan, tak akan ada keberatan seperti itu.

Betul juga diceritakan rencananya. Sekejap saja aku tahu
bahwa rencana itu dalam hal gaya berharga lim a belas kali dari
rencanaku. Sama seperti rencanaku, J im akan bisa bebas lagi,
ditambah kemungkinan bahwa kami semua akan terbunuh.
Aku puas, kukatakan lebih dahulu rencana itu, sebab aku tahu
pasti rencana itu akan terus mengalami perubahan-perubahan
sem entara dijalankan dengan tam bahan-tam bahan m enyeram kan
bila ada kesem patan. Nanti akan ternyata bahwa dugaan ini betul.

Tetapi aku m erasa pasti akan suatu hal, yaitu bahwa Tom
betul-betul akan membantu aku mencuri seorang negro dari
perbudakan. Ham pir tak bisa kupercaya. Tom term asuk keluarga
yang terhorm at di kota asal kam i. Nam anya akan jatuh begitu
juga keluarganya bila ia betul-betul m em bantu aku m encuri J im .
Ia juga cerdik, bukan seorang tolol. Ia tahu m ana yang benar,
m ana yang salah. Ia baik hati, tidak kejam . Tapi kini tanpa m alu-
m alu ia ikut dalam perkara ini, yang pasti akan m em beri m alu
padanya, pada keluarganya. Aku tak m engerti sam a sekali. Tak
m asuk akal, dan kukatakan pula hal itu padanya. Sebagai seorang
sahabatnya kuperingatkan akan akibat yang harus ditanggungnya
nanti. Tapi ia m enukasku dengan bertanya, “Kau kira aku tak tahu
akan apa yang kukerjakan? Bukankah biasanya aku tahu apa yang
ku ker ja ka n ?”

“Ya.”
“Bukankah aku pernah berkata bahwa aku akan m em bantum u
mencuri J im?”
“J im ?”
“Ya, apa lagi?”
H anya itulah yang dikatakan, dan kukatakan. Tak ada
gunanya berkata lebih banyak lagi, sebab bila ia berkata akan
m engerjakan sesuatu, pastilah dikerjakannya. Hanya aku tak

306 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka mengerti bagaimana ia mau mengerjakan sesuatu sehina ini. Tapi
biarlah aku tak akan peduli lagi. Bila ia m em ang ingin apa dayaku.

Sam pai di rum ah, rum ah telah gelap dan sunyi. Kam i pergi
ke gubuk dekat pem buangan abu untuk m em eriksanya. Kam i
m enyeberangi halam an, untuk m elihat apa yang akan diperbuat
oleh anjing-anjing di halaman itu. Mereka telah mengenal kami,
dan tak m engeluarkan suara selain yang biasa dikeluarkan oleh
anjing-anjing desa di malam hari. Sampai di gubuk itu, kami
periksa bagian depan dan kedua sisinya. Di sini, sebelah Utara,
terdapat lubang jendela yang ditutup dengan papan-papan yang
dipakukan ke dinding, jauh dari tanah. Kataku, “Ini dia. Lubang
itu cukup besar untuk keluar J im bila papannya kita rusak.”

“Terlalu m udah, sem udah m ain kucing-kucingan. Aku harap
kita bisa m enem ukan cara yang lebih sulit dari itu, Huck.”

“Bagaim ana kalau dindingnya kita gergaji, seperti waktu aku
melarikan diri dulu?”

“Itu lebih bagus. Cukup penuh rahasia, sulit dan bagus. Tapi
akan kita cari jalan yang dua kali lebih bagus dari itu. Kita punya
banyak waktu. Mari kita lihat belakangnya.”

Di belakang, di antara gubuk dan pagar belakang terdapat
sebuah sengkuap yang bersandar ke dinding gubuk, sengkuap
itu berdinding papan hingga menjadi semacam gudang kecil.
Panjangnya sam a dengan panjang gubuk, tapi lebih sem pit,
lebarnya kita-kira hanya enam kaki. Pintunya di sebelah selatan,
digembok. Tom mendekat ke periuk pembuat sabun, mencari-
cari sebentar dan kem bali dengan m em bawa tongkat besi yang
digunakan untuk mengangkat tutup periuk. Dengan besi itu Tom
m engungkit paku tem pat gem bok hingga rantainya terjatuh.
Kam i buka pintu dan m asuk. Dalam nyala korek api, kam i lihat
bahwa gudang itu tak ada pintu penghubungnya dengan gubuk
balok kayu. Tak ada lantainya, isinya hanyalah beberapa benda
karatan, bajak, sekop, linggis, dan bajak yang sudah patah. Nyala

Petualangan Huckleberry Finn 307

http://facebook.com/indonesiapustaka korek padam, kami keluar, kami pakukan kembali tempat gembok
seperti sem ula. Tom gem bira. Katanya, “Kini beres sudah. Kita
gali dia keluar. Memakan waktu kira-kira seminggu.”

Kam i pergi ke rum ah. Aku m asuk lewat pintu belakang,
sem ua pintu tidak dikunci, hanya dikaitkan dengan tali kulit rusa.
Tetapi cara itu tidaklah m enarik dalam pandangan Tom Sawyer.
Tak ada jalan lain baginya kecuali m em anjat penangkal petir. Tiga
kali ia jatuh waktu baru m encapai setengah jalan, yang terakhir
kepalanya ham pir pecah. Ia sudah putus asa, tetapi setelah
beristirahat dicobanya sekali lagi, dan kali ini ia berhasil.

Pagi sekali kami bangun, pergi ke pondok-pondok orang negro
untuk membelai-belai anjing-anjing penjaga dan berkenalan
dengan negro yang m em beri m akan J im , bila benar J im yang ada
dalam pondok itu. Budak-budak itu baru saja selesai sarapan,
akan berangkat ke ladang. Negro yang kem arin m em beri m akan
J im , jika benar-benar J im yang diberi m akan, sedang m enaruh
roti, daging dan lainnya pada sebuah piring seng. Sem entara
semua berangkat, ia mengambil kunci dari rumah.

Negro itu m ukanya lucu sekali, ram butnya diikat kecil-kecil
dengan benang, untuk m enghalau roh-roh jahat. Katanya m alam -
m alam ini ia selalu diganggu roh-roh jahat, m em buatnya m elihat
berbagai peristiwa aneh. Tak pernah ia begitu sering diganggu
oleh roh-roh jahat selam a ini. Begitu senangnya ia m enceritakan
segala kesulitan sam pai lupa ia akan pekerjaannya. J adi Tom
m enukasnya dengan pertanyaan, “Untuk apa m akanan ini? Untuk
a n jin g?”

Sebuah senyum an m akin lam a m akin m elebur di wajah
negro itu, sam pai akhirnya ia m enjawab, “Ya, Tuan Sid, seekor
anjing. Anjing aneh lagi. Ingin m elihatnya?”

“Ya.”
Aku m enggam it Tom dan berbisik, “Kau akan ke sana pagi
ini? Ini bukan rencana kita.”
“Mem ang bukan, tetapi inilah rencana kita saat ini.”

308 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Terkutuk dia, aku terpaksa ikut walaupun hatiku gelisah. Di
dalam pondok itu gelap, kami hampir tak bisa melihat apa-apa.
Tapi J im betul-betul ada di situ, ia bisa melihat kami dan berseru,
“Wah, Huck! Dan astaga! Bukankah ini Tuan Tom ?”

Tepat seperti yang kuduga akan terjadi. Aku tak tahu apa yang
akan kukerjakan, sebab negro pembawa makanan tadi melompat
m asuk dan bertanya, “Ya am pun! Apakah dia m engenal Tuan-
tuan?”

Kini kam i bisa m elihat dengan baik Tom m enatap pandangan
negro itu, seolah-olah heran, bertanya, “Siapa kenal pada kam i?”

“Negro pelarian ini!”
“Kukira tidak. Bagaim ana sam pai kau berpikir begitu?”
“Bagaim ana? Bukankah baru saja ia berseru bahwa ia kenal
Tu a n -t u a n ?”
Tom tam pak m akin bin gun g. “An eh sekali. Siapa yan g
berseru? Kapan ia berseru? Apa yang ia serukan?” Ia berpaling
padaku, dengan am at tenang bertanya, “Apakah kau m endengar
seseorang berseru?”
Tentu saja hanya ada satu jawaban untuk itu, jadi aku berkata,
“Tidak. Aku tak m endengar seorang pun berseru apa-apa.”
Tom berpaling pada J im , m em perhatikannya seolah-olah tak
pernah ia m elihatnya, dan bertanya, “Apakah kau berseru?”
“Tidak, Tuan, aku tidak berkata apa-apa, Tuan.”
“Sepatah pun tidak?”
“Tidak, Tuan, sepatah pun tidak.”
“Pernahkah kau m elihat kam i sebelum nya?”
“Tidak, Tuan, sepanjang pengetahuanku tidak.”
Kini Tom berpaling pada negro pem bawa m akanan, yang
tam pak sangat sedih dan gelisah, bertanya, “Kenapa kau ini?
Mengapa kau pikir ada seseorang berteriak?”
“Oh, pastilah hantu-hantu itu lagi, Tuan, m au rasanya aku
mati. Mereka selalu menggangguku, Tuan, menakut-nakuti

Petualangan Huckleberry Finn 309

hingga aku hampir mati. J angan katakan pada siapa pun, Tuan,
Tuan Silas pasti akan memarahiku, sebab ia bilang tak ada hantu-
hantu di dunia ini. Bila saja Tuan Silas ada di sini, apa yang akan
dikatakannya? Pasti tak bisa ia m em bantah adanya hantu kali
ini. Tapi m em ang begitu selalu, orang-orang yang tak percaya,
tak akan pernah punya kesem patan untuk m em buktikan bahwa
m ereka keliru. Mereka tak akan m au m em buktikannya sendiri,
dan bila diberi tahu, m ereka tak akan percaya.”

Tom memberi negro itu uang sepuluh sen, berjanji untuk
tak m engatakan kejadian itu pada siapa pun dan m enyuruhnya
m em beli benang untuk m engikat ram butnya, kem udian ia
berpaling pada J im dan katanya, “Mudah-m udahan Pam an Silas
m enggantung negro ini, seandainya aku berhasil m enangkap
seorang negro yang begitu tak tahu terim a kasih hingga tega
melarikan diri, pasti kugantung dia.” Waktu negro itu pergi keluar
untuk m elihat apakah uang yang diterim anya dari Tom itu tidak
palsu, Tom berbisik pada J im , “Pura-puralah tak kenal kam i. Bila
malam-malam kau dengar suara orang menggali, kamilah itu,
akan kami bebaskan kau.”

J im hanya punya waktu sekejap untuk m enjabat dan
mengguncang tangan kami, sebab negro tadi segera kembali.
Kam i katakan pada negro itu bilam ana saja ia ingin, kam i akan
m enem aninya ke gubuk itu. Negro itu m erasa senang, terutam a
bila hari gelap, saat hantu-hantu paling kejam m enyiksanya, ia
senang sekali bila berkawan ke tempat itu.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka RENCANA GELAP DAN RUMIT

SEJ AM LAGI waktu sarapan . Kam i pergi ke hutan . Tom
berkata bahwa untuk meninggalkan kami memerlukan sedikit
cahaya. Sebuah lentera cahayanya terlalu terang, dan m ungkin
m em bahayakan kam i. Kam i harus m engum pulkan banyak sekali
kayu-kayu busuk yang disebut api rubah, yang dalam kegelapan
bisa memancarkan suatu sinar lembut seperti sinar kunang-
ku n a n g.

Kam i berhasil m engum pulkan sebanyak yang bisa kam i bawa
dengan tangan. Kam i sem bunyikan di antara sem ak-sem ak. Kam i
istirahat, tapi Tom tam pak belum puas katanya, “Wah, rencana
kita m asih terlalu m udah, terlalu biasa. Nyata sekali sangat
sulit untuk m em buat suatu rencana yang pelik. Tak ada penjaga
yang harus dibius, alangkah senangnya bila ada penjaga. Seekor
anjing pun tiada, untuk diberi obat tidur. Dan J im diikat dengan
rantai yang panjangnya sepuluh kaki, satu kakinya saja, ke kaki
tem pat tidurnya. Bila saja kita angkat kaki tem pat tidur itu, J im
bebas sudah. Pam an Silas pun percaya pada sem ua orang, kunci

Petualangan Huckleberry Finn 311

http://facebook.com/indonesiapustaka diberikannya pada negro tolol itu, dan tak seorang pun yang
m engawasinya. Dengan m udah J im bisa m enerobos jendelanya,
tapi tak guna untuk berpergian dengan rantai sepuluh kaki.
Terkutuk, Huck, ini adalah keadaan yang paling tolol yang pernah
kujum pai. Kita terpaksa harus m em buat sem ua hal jadi sukar.
Terpaksa, harus kita kerjakan sebaik-baiknya dengan bahan yang
ada. Tapi ini juga suatu kehormatan bagi kita, lebih baik bila
kita membebaskan J im dengan menempuh berbagai kesulitan
yang kita buat sendiri, dan bukan dibuat oleh orang-orang yang
sesungguhnya wajib m em buatnya. Kita harus m erencanakan
segala kesulitan dari akal kita sendiri! Kita harus m em buat
segala hal berbahaya bagi kita. Contohnya tentang lentera itu,
kita harus berbuat seolah-olah berbahaya m em akai lentera. Tapi
sesungguhnya walaupun kita m em akai seribu obor besar, tak
akan ada bahaya bagi kita sam a sekali. Oh ya, sebelum lupa, kita
harus mencari gergaji.”

“Untuk apa gergaji itu?”
“Untuk apa? Bukankah kita harus m enggergaji kaki tem pat
tidur J im agar rantainya lepas?”
“Tapi baru saja kau katakan bahwa dengan m engangkat
tempat tidur itu saja bebaslah J im.”
“Tolol benar kau ini, Huck. Kau selalu bisa saja m encari
jalan yang paling m udah untuk m em ecahkan sesuatu persoalan.
Apakah kau sam a sekali tak pernah m em baca buku? Apakah
kau tak pernah dengar nam a pahlawan-pahlawan seperti Baron
Trenck, atau Casanova atau Benvenuto Chelleny atau Henry IV
atau lainnya? Siapa pernah m endengar ada tawanan lolos dengan
begitu mudah? Tidak. Menurut cara para ahli dalam hal ini kaki
tempat tidur itu harus kita gergaji jadi dua, kemudian dipasang
kembali seperti semula. Serbuk-serbuk bekas penggergajian
harus kita telan, agar sam a sekali tak bisa diketem ukan. Bekasnya
kita tutupi dengan tanah dan lem ak, hingga bahkan m ata yang

312 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka paling tajam pun tak akan bisa m elihatnya. Sem ua m engira
bahwa kaki tempat tidur itu sama sekali masih tidak berubah.
Nanti, bila tiba saatnya untuk lari, kita tendang kaki itu, dan
lepaslah rantai. Tinggal kita sangkutkan tangga tali ke dinding
pagar, m enuruninya dan m enjejakkan kaki kita di parit yang
m engelilingi benteng itu—dan tangga tali sem bilan belas kaki
m asih terlalu pendek—kuda dan para pem bantu kita telah sedia.
Mereka mengangkat kita, menaikkan kita ke atas kuda dan
berpacu kita pulang ke tanah asal kita, ke Langudoc atau Navarre
atau tem pat-tem pat lain. Hebat sekali, Huck! Bila saja gubuk bilik
kayu ini dikelilingi parit dalam . Kalau saja waktunya cukup, bisa
kita buat parit itu.”

“Untuk apa parit bila ia akan kita buatkan terowongan di
bawah tanah untuk keluar?”

Tom tak mendengar kata-kataku. Ia telah lupa segala-
galanya. Ia bertopang dagu, berpikir. Akhirnya ia m engeluh,
m enggelengkan kepala, m engeluh lagi dan berkata, “Rasanya tak
perlu, tidak itu sama sekali tak perlu.”

“Apa yang tak perlu?” tanyaku.
“Menggergaji kaki J im .”
“Astaga! Tentu saja tak perlu itu. Kenapa kau ingin m eng-
gergaji kakinya?”
“Sebab beberapa orang ahli telah m elakukannya. Mereka tak
bisa m em buka rantainya, jadi m ereka potong saja tangan m ereka
dan lari. Agaknya m em otong kaki lebih hebat lagi. Tapi biarlah.
Tak terlalu m utlak, lagi pula J im hanyalah seorang negro, ia tak
akan m au m engerti apa alasannya, jadi biarlah, walaupun begitu
adat di Eropa. Tapi kita harus merobek-robek sprei, lalu kita buat
tali tangga. Mudah saja. Kita kirim tangga tali itu kepada J im
dengan jalan m em asukkannya ke dalam kue untuknya, begitulah
biasa dilakukan orang. Banyak pula kue yang lebih tidak enak
daripada kue tangga tali yang kita buat.”
“Ya am pun, Tom Sawyer! Untuk apa tangga tali itu bagi J im ?”

Petualangan Huckleberry Finn 313

http://facebook.com/indonesiapustaka “Ia harus m enggunakannya! Tolol sekali kau ini, Huck,
katakan saja kau tak tahu apa-apa dalam persoalan ini. J im harus
m em punyai sebuah tangga tali, sem ua tawanan m em ilikinya.”

“Ya, tapi apa yang bisa dibuat oleh J im dengan tangga tali?”
“Apa yang dibuatnya dengan tangga tali itu? Bukankah ia
bisa m enyem bunyikannya di bawah tem pat tidurnya? Itulah yang
biasa dikerjakan orang, jadi J im pun juga harus begitu. Huck,
agaknya kau tak m au m engikuti cara-cara yang telah um um .
Bukankah tangga tali itu bisa dipakai sebagai kunci rahasia
pelariannya? Sebagai jejak? Bukankah orang-orang yang akan
m engejarnya selalu m em butuhkan suatu jejak? Begitulah. J adi
untuk apa kau tak mau meninggalkan jejak? Sungguh bagus!
Belum pernah aku m endengar hal seperti itu.”
“Bila m em ang begitu cara yang sudah um um , baiklah, biarlah
J im m endapatkan sebuah tangga tali, aku bukanlah orang yang
suka m enentang apa yang sudah um um . Tapi, Tom Sawyer,
bila kita gunakan sprei kita, kita robek-robek untuk kita jadikan
tangga tali, pasti kita akan berurusan dengan Bibi Sally. Menurut
pendapatku, tangga dari dahan-dahan kayu tak sem ahal itu
harganya, tak perlu m erusak barang, dan cukup bagus untuk isi
sebuah kue serta cukup baik untuk disem bunyikan di bawah kasur
seperti juga sebuah tangga kain. J im juga tak punya pengalam an,
jadi toh ia tak tahu apa bedanya tanggal tali dan....”
“Minta am pun, Huck! Bila aku sebodoh engkau, aku akan
tutup mulut saja. Siapa pernah mendengar seorang tawanan
penting m eloloskan diri dengan m enggunakan tangga kayu?
Betul-betul tak m asuk akal!”
“Baiklah, Tom , terserah engkaulah. Tapi bila saja kau m au
m enerim a nasihatku, lebih baik bukan sprei yang kita gunakan,
biarlah kupinjam sprei dari dari tali jemuran.”
Tom berkata usulku itu baik juga, dan ini membuat ia
m endapat suatu pikiran lagi, katanya, “Pinjam juga sebuah
kem eja .”

314 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka “Untuk apa kem eja itu, Tom ?”
“Untuk catatan harian J im .”
“Catatan harian nenekm u. J im tak bisa m enulis.”
“Mungkin ia tak bisa m enulis, tapi bukankah ia bisa m em buat
tanda-tanda di kem eja itu, bila kita m em buatkannya pena dari
sendok tembaga atau penangkap besi tong.”
“Wah, Tom , kita bisa m em buatkannya pena dari bulu angsa,
lebih baik lagi.”
“Tawanan tak m em punyai angsa, tak ada angsa yang ber-
keliaran di dalam selnya, tolol! Mereka selalu m em buat pena
dari bahan yang paling keras, paling sukar, potongan tem pat lilin
kuningan atau sebangsanya yang bisa m ereka dapat. Berm inggu-
m inggu dan berbulan-bulan m ereka m em buatnya sebab harus
mereka asah di dinding. Walaupun mereka bisa mendapatkan
pena bulu angsa, tak m ungkin m ereka m em akainya.”
“Lalu, dari apa tintanya kita buat?”
“Banyak yang m em akai karat besi dan air m ata. Tapi itu
terlalu um um , dan biasa dipakai oleh kaum wanita. Ahli-ahli
yang terbaik m enggunakan darah m ereka sendiri. J im bisa
m engerjakan itu. Bila ia ingin m engirim kan pesan-pesan pendek
penuh rahasia agar dunia tahu di mana ia dipenjara, ia bisa
m enulis pesan itu di balik piring seng dan m elem parkannya
keluar jendela. Si Topeng Besi punya kebiasaan ini.”
“J im tak punya piring seng, ia diberi m akan dengan talam .”
“Kita akan m em berinya piring seng.”
“Tak akan ada orang yang bisa m em bawa piring-piring itu.”
“Itu bukan urusannya, Huck Finn. Ia hanya m enulis di piring
dan m elem parkannya ke luar. Tak ada yang harus m em bacanya.
Kebanyakan kita m em ang tak akan bisa m em baca tulisan seorang
t a wa n a n .”
“Ya, tapi piring orang lain, bukan?”

Petualangan Huckleberry Finn 315

http://facebook.com/indonesiapustaka “Lalu kenapa? Apa peduli seorang tawanan tentang piring
orang lain.”

Kata-katan ya terputus sebab terom pet un tuk sarapan
berbunyi. Kam i berlari ke rum ah.

Pagi itu aku berhasil meminjam selembar kain sprei dan
sehelai kem eja dari tali jem uran. Barang-barang itu kum asukkan
dalam sebuah karung. Kayu api rubah juga kum asukkan dalam
baran g itu. Tadi kugun akan kata ‘m em in jam ’ sebab itulah
istilah yang selalu digunakan Bapak. Tapi kata Tom itu bukan
m em injam , tapi m encuri. Karena ia m ewakili tawanan, m aka
m encuri dihalalkan, dan orang pun tak akan m enyalahkan
seorang tawanan yang m encuri untuk bisa lari. Itu sudah hak
seorang tawanan, kata Tom, jadi selama kami mewakili seorang
tawanan kam i punya hak penuh untuk m encuri apa saja di tem pat
ini, yang kira-kira berguna untuk m elarikan diri dari penjara.
Bila kam i tak m ewakili seorang tawanan, m aka lain halnya. Kata
Tom , hanya seorang yang berhati jahat saja yang m au m encuri,
padahal dia bukanlah seorang tawanan. J adi kami berhak untuk
m encuri apa saja yang bisa kam i curi. Tapi satu hari, setelah
penentuan tentang hak curi seorang tawanan itu, aku mencuri
semangka dari ladang para budak negro. Tom memarahiku
habis-habisan. Disuruhnya aku m em beri orang-orang negro itu
uang sepuluh sen tanpa memberi tahu untuk apa uang tersebut.
Kata Tom , yang boleh kita curi adalah sesuatu yang sangat kita
perlukan. Aku berkata bahwa aku m em erlukan sem angka itu.
Tapi kata Tom semangka itu kuperlukan bukan untuk melarikan
diri dari penjara, itulah perbedaannya. Bila aku m encuri sebilah
pisau dan kuselundupkan pada J im untuk membunuh penjaga,
itu dibenarkan. Aku tak m au m em perbincangkan hal itu lagi,
walaupun aku masih belum mengerti apa untungku menjadi wakil
seorang tawanan, bila setiap kali aku harus mempertimbangkan

316 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka baik dan buruk pada saat aku punya kesem patan untuk m encuri
buah semangka.

Seperti yang kukatakan tadi, pagi itu kam i tunggu hingga
semua orang pergi bekerja dan tak seorang pun tampak di
halaman. Tom membawa karung tua tempat barang-barang itu
ke sengkuap di belakang pondok J im, sementara aku berdiri di
kejauhan untuk berjaga-jaga. Setelah agak lama Tom keluar dan
kam i duduk-duduk di tum pukan kayu api. Tom berkata, “Sem ua
beres kini, kecuali alat-alatnya, tetapi itu m udah nanti.”

“Alat-alat?” tanyaku.
“Ya.”
“Alat-alat untuk apa?”
“Untuk m enggali. Untuk apa lagi? Kau kira kita akan m enggali
tanah dengan gigi kita?”
“Apakah alat-alat di sengkuap itu, linggis, sekop, dan lainnya
tak bisa dipakai, walaupun memang telah sedikit rusak?”
Ia memandangku dengan pandangan mengasihani seolah-
olah ketololanku cukup untuk m em buatnya m enangis.
“Huck Finn, Huck Finn. Pernahkah kau dengar tentang
seorang tawanan yang m am punyai sekop dan cangkul serta alat-
alat m odern lainnya untuk m em buat terowongan buat m elarikan
diri? Kini aku akan bertanya padam u, bila kau punya otak untuk
berpikir, pahlawan m acam apa yang m em pergunakan sekop dan
pacul untuk melarikan diri? Wah, kenapa tidak dipinjami kunci
saja dia! Cangkul dan sekop, hm , seorang raja pun tak akan diberi
alat-alat macam itu.”
“Kalau begitu, alat apa yang akan kita gunakan?”
“Dengan pisau roti.”
“Untuk m enggali fondasi di bawah pondok itu?”
“Ya.”
“Itu pekerjaan yang tolol sekali, Tom .”
“Tak peduli tolol atau tidak, itulah cara yang benar, cara yang
um um dipakai. Tak ada cara lain yang pernah kudengar, sedang

Petualangan Huckleberry Finn 317

http://facebook.com/indonesiapustaka semua buku tentang hal ini telah kubaca. Mereka selalu menggali
dengan pisau roti, dan tak menembus tanah, harus kau ingat itu,
biasanya m enem bus batu karang! Mereka baru berhasil setelah
menggali berminggu-minggu dan berbulan-bulan. Malah seorang
tawanan di sel terbawah di Castle Deef, di Pelabuhan Marseilles,
m enggali dengan cara yang sam a sam pai berapa tahun, coba, kau
kira?”

“Aku tak tahu.”
“Terka saja.”
“Aku tak tahu. Mungkin sebulan setengah.”
“Tiga puluh tujuh tahun, dan ia keluar di daratan Cina.
Itulah! Alangkah senangnya bila fondasi dasar benteng ini terbuat
dari batu karang.”
“J im tak kenal siapa pun di Cina.”
“Lalu kenapa? Orang yang kuceritakan tadi juga tak kenal
orang lain. Tetapi kau selalu m enyim pang dari persoalan yang
pokok. Mengapa kau tak m engikuti jalan pikiran yang benar?”
“Baiklah, aku tak peduli di m ana ia keluar, asal saja ia keluar.
J im sudah terlalu tua untuk menggali dengan pisau roti. Ia tak
akan berumur cukup panjang untuk itu.”
“Um urnya cukup. Kau kira untuk m enggali lantai tanah saja
memerlukan waktu tiga puluh tujuh tahun?”
“Berapa lam anya, Tom ?”
“Kita tak boleh terlalu lam a, sebab m ungkin tak akan m e-
makan waktu lama bagi Paman Silas untuk mendengar berita
dari New Orleans bahwa J im tidak berasal dari sana. Setelah ia
menerima berita itu mungkin ia akan memasang iklan tentang J im.
J adi kita tak boleh terlalu lam a m enggalinya. Sebetulnya paling
baik bila kita menggunakan waktu dua tahun, tetapi tak dapat.
Karena keadaan begitu tidak m eyakinkan, kita atur dem ikian: kita
menggali secepat mungkin, dan setelah terowongan selesai kita
anggap bahwa kita telah mempergunakan waktu tiga puluh tujuh

318 Mark Twain

tahun. Bila saja ada bahaya, J im bisa cepat-cepat kita keluarkan.
Sebelum itu, tidak. Ya, kukira itulah jalan yang terbaik.”

“Ya, Tom , itu baru m asuk akal.” kataku. “Berpura-pura
tidak merugikan siapa pun, berpura-pura tidak menimbulkan
kesulitan, dan bila kau tak berkeberatan, m au rasanya aku
berpura-pura bahwa kita menggunakan waktu seratus lima puluh
tahun. Tak akan m em beratkanku. Baiklah kalau begitu, aku akan
meminjam dua bilah pisau roti.”

“Pinjam tiga bilah. Yang satu kita jadikan gergaji.”
“Tom , bila saja tak m enyim pang dari yang um um , bolehkah
aku m engusulkan untuk m enggunakan gergaji tua yang m enancap
di papan di belakang rumah pengasapan itu?”
“Berat sekali m em beri pelajaran padam u, Huck,” kata Tom
dengan sedih. “Lari sajalah, am bil tiga bilah pisau roti.”
Aku kerjakan perintah itu.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka MENCOBA MENOLONG JIM

SEGERA SETELAH kam i kira sem ua orang tidur, kam i turun ke
luar dengan m enggunakan penangkal petir. Kam i m asuk ke dalam
sengkuap di belakang pondok J im , pintu kam i tutup. Kayu api
rubah kam i keluarkan. Kam i akan m ulai bekerja dari pertengahan
balok terbawah dinding pondok J im; kami bersihkan tempat
itu, kira-kira sepanjang em pat atau lim a kaki. Kata Tom , kam i
kini tepat berada di belakang tem pat tidur J im . Bila terowongan
selesai kami buat, maka mulut terowongan itu akan berada di
bawah tem pat tidur, jadi tak akan ada yang m engetahui. Alas
tempat tidur J im hampir mencapai tanah. Sampai menjelang
tengah malam kami menggali dengan pisau roti kami. Segera juga
tangan kami lecet-lecet, sementara hasil kerja kami belum juga
tampak.

“Ini bukan pekerjaan tiga puluh tujuh tahun, Tom Sawyer,”
kataku, “ini akan m em akan waktu tiga puluh delapan tahun.”

Tom tak m enyahut. Ia hanya m enarik napas panjang,
berhenti bekerja dan berpikir-pikir. Kem udian ia berkata, “Tak

320 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka ada gunanya, Huck, tak akan berhasil. Bila kita yang m enjadi
tawanan, pasti akan berhasil, sebab kita punya banyak sekali
waktu, tak usah tergesa-gesa. Lagi pula kita hanya akan punya
kesempatan menggali beberapa menit saja sehari, pada waktu
penjaga diganti, jadi tak mungkin tangan kita lecet-lecet begini,
dan kita bisa terus menggali sepanjang tahun, bertahun-tahun,
m engerjakannya tepat seperti seharusnya. Tapi kini, kita harus
cepat-cepat, kita tak boleh membuang-buang waktu. Semalam lagi
seperti ini, akan terpaksa beristirahat seminggu untuk menunggu
sampai tangan kita sembuh, tanpa istirahat itu jangan harap kita
bisa memegang sebilah pisau roti.

“Lalu apa yang kita kerjakan, Tom ?”
“Kuberi tahu kau. Sesungguhnya ini bukan jalan yang benar,
m enyalahi cara yang ada, dan aku sam a sekali tak setuju. Tapi
terpaksa, hanya ada satu jalan. Kita akan m enggali dengan
cangkul, dan berpura-pura menggunakan pisau roti.”
“Ini baru usul yang bagus!” kataku gem bira, “otakm u m akin
lam a m akin waras, Tom Sawyer. Cangkul adalah alat yang
tepat, tak peduli m enyalahi tata cara atau tidak. Aku sendiri
tak peduli tentang tata cara itu. Bila aku ingin m encuri seorang
negro, sebuah semangka, atau sebuah buku Sekolah Minggu, aku
tak peduli bagaim ana caranya, asal keinginanku tercapai. Yang
kuinginkan adalah negro itu, yang kuinginkan adalah sem angka
itu, atau yang kunginkan adalah buku Sekolah Minggu itu. Bila
alat yang paling m udah didapat adalah cangkul, m aka aku akan
mempergunakan cangkul itu untuk menggali negro itu atau
semangka itu atau buku Sekolah Minggu itu. Masa bodoh apa kata
para ahli tentang perbuatanku.”
“Hm , cukup alasan kenapa kita harus m em akai cangkul dan
berpura-pura dalam hal ini, bila tak ada alasan, aku tak akan
setuju, dan aku tak akan tinggal diam saja m elihat peraturan yang
ada dilanggar, sebab benar adalah benar dan salah adalah salah.

Petualangan Huckleberry Finn 321

http://facebook.com/indonesiapustaka Seseorang tak berhak untuk berbuat salah, bila ia tahu m ana yang
salah dan m ana yang benar. Mungkin cukup baik bagim u untuk
m enggali J im . Tanpa berpura-pura, sebab agaknya kau tak tahu
antara benar dan salah, tapi aku tidak, sebab aku tahu yang lebih
baik daripada suatu ketololan. Nah, berikan aku sebilah pisau
roti.”

Pisau roti itu terletak di dekatnya. Kuberikan pisauku.
Dibuangnya pisau itu dan berkata lagi, “Beri aku sebilah pisau
roti.”

Aku bingung, tapi kem udian berpikir, dan tahu apa yang
harus kuperbuat. Aku m encari-cari di antara barang-barang
rongsokan di tempat itu sampai kutemukan sebuah cangkul,
kuberikan pada Tom . Tom m enerim anya dan m ulai bekerja tanpa
berkata-kata lagi.

Begitulah ia selalu. Teliti dan tetap tepat pada pendiriannya.
Aku pun m engam bil sebuah sekop. Selam a setengah jam
kami bekerja keras. Terpaksa berhenti karena tak kuat lagi. Tapi
kini nyata hasilnya, sebuah lubang telah terbuat, Kam i pulang.
Aku telah berada di kam ar, aku m asuk lewat pintu belakang.
Dari jendela kulihat Tom berusaha untuk naik lewat penangkal
petir. Tapi tak pernah berhasil, sebab tangannya yang lecet-lecet
itu tak m em ungkinkan ia bisa berpegangan dengan kuat. Akhir-
nya ia berseru padaku, “Aku tak bisa naik. Kau punya pikiran
bagaim ana baiknya aku naik?”
“Ya,” sahutku. “Tapi kukira m enyim pang dari kebiasaan dan
peraturan. Naiklah melalui tangga, lewat pintu belakang, dan
berpura-puralah kau naik lewat penangkal petir.”
Usulku itu dikerjakannya.
Hari berikutnya, Tom berhasil m encuri sebuah sendok tim ah
dan sebuah tempat lilin kuningan untuk membuat pena bagi J im.
J uga dicurinya enam buah lilin. Sem entara itu aku berkeliaran
di dekat pondok-pondok budak negro, waktu ada kesempatan

322 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka kucuri tiga buah piring seng. Kata Tom , itu tak cukup. Kujawab
dengan m engatakan tak akan ada orang yang m em baca piring-
piring itu setelah dilem par J im ke luar, sebab jatuhnya pasti
di dalam semak-semak di bawah lubang jendela J im, jadi bisa
kita ambil lagi untuk diberikan kembali pada J im. Tom puas,
kem udian berkata lagi, “Kini harus kita pikirkan bagaim ana cara
mengirimkan barang-barang ini kepada J im.”

“Tentu saja lewat lubang yang akan selesai kita gali nanti,”
jawabku.

Tom hanya m erengut, berkata bahwa usul ini tolol sekali. Ia
berpikir-pikir, kemudian berkata bahwa ia telah menemukan dua
atau tiga cara yang baik, tapi belum waktunya untuk ditentukan
m ana yang akan dipakai. Kini yang perlu adalah m em beri tahu
J im lebih dahulu.

Malam nya kam i turun lewat penangkal petir kira-kira pada
pukul sepuluh. Kam i bawa sebatang lilin yang kam i curi. Dari
bawah lubang jendela pondok J im kami dengar J im mendengkur
keras. Kam i m elem parkan lilin tadi m asuk lewat lubang jendela itu.
J atuhnya lilin tak m em utuskan dengkuran J im . Setelah itu kam i
mulai bekerja lagi. Dua setengah jam kemudian terowongan itu
selesai sudah. Kam i m erangkak m asuk, m uncul di bawah tem pat
tidur J im . Kam i m eraba-raba lantai, sam pai kam i tem ukan lilin
tadi. Kam i nyalakan, dan kam i berdiri di sam paing tem pat tidur
memperhatikan J im. J im tampak sehat dan terurus. Hati-hati
kami bangunkan dia. Ia begitu gembira hingga hampir menangis,
kam i dipanggilnya dengan kata-kata sayang, dan disuruhnya
kam i m encari tatah untuk m em utuskan rantai di kakinya. Tapi
Tom m enunjukkan bahwa usul J im itu sam a sekali m enyalahi
peraturan. Diceritakannya seluruh rencana itu bisa saja diubah
setiap saat bila J im terancam bahaya. J im kam i yakinkan bahwa
ia pasti akan kami bebaskan, jadi tak usah khawatir lagi. J im
akhirnya setuju juga akan rencana kam i itu. Beberapa lam a kam i

Petualangan Huckleberry Finn 323

http://facebook.com/indonesiapustaka bercakap-cakap m em bicarakan m asa lam pau. Kem udian Tom
m enanyakan banyak hal pada J im . Kata J im setiap hari atau dua
hari sekali Pam an Silas m engajaknya berdoa bersam a, sedang
Bibi Sally sering m engunjunginya untuk m elihat apakah ia cukup
terurus, cukup m akan. Kedua orang itu sangat baik padanya, kata
J im . Tom berkata, “Kini aku tahu cara yang terkirim lewat Pam an
Silas dan Bibi Sally.”

“J angan, jangan kerjakan yang sem acam itu. Pikiran tergila
yang pernah kudengar!” kataku. Tapi Tom tak m em pedulikan,
terus saja ia m enguraikan rencananya. Begitulah caranya kalau
rencananya sudah pasti.

Tom berkata pada J im bahwa tangga tali dan barang-barang
besar lainnya akan diselundupkannya lewat Nat, negro yang
selalu membawa makanan untuk J im. J adi J im harus selalu
waspada, jangan tampak terkejut, dan jangan sampai Nat melihat
ia m engam bil barang-barang itu. Barang-barang kecil akan kam i
selipkan di saku jas Pam an Silas, J im harus m encopetnya.
Lainnya akan kam i ikat di tali celem ek Bibi Sally, atau di saku
celemek itu bila ada kesempatan. Diceritakan Tom juga kegunaan
barang-barang itu. Sedangkan J im harus membuat catatan harian
di kem eja putih yang diberikannya, m enulis dengan darah dan
sebagainya. Sem ua di ceritakannya. J im sam a sekali tak m engerti
kegunaan semua itu, tapi karena kami berkulit putih jadi ia
mengira bahwa semua itu memang sangat diperlukan serta harus
dikerjakannya. J im puas, berjanji untuk m engerjakan segala
perintah Tom.

J im banyak sekali m em punyai sisa bonggol jagung dan
tem bakau, jadi senang sekali kam i berada di tem pat itu. Kem udian
merangkak keluar melalui lubang dan pulang, dengan tangan
kam i seolah-olah baru dikunyah-kunyah anjing. Tom gem bira
hatinya. Katanya inilah perm ainan yang paling m enyenangkan
dalam hidupnya, juga paling banyak m em pergunakan akal. Bila

324 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka saja kehendaknya bisa berlaku, pastilah sepanjang hidup kam i
akan terus mewariskan rencana-rencana itu untuk dikerjakan
oleh anak-anak kam i. Tom percaya bahwa m akin lam a J im akan
m akin m enyukai peran yang dilakukannya. Bila J im bisa ditawan
untuk delapan puluh tahun, maka kami akan membuat sejarah,
dan nama kami akan tergabung pada kelompok nama-nama
orang term ashyur.

Pagi harinya kam i pergi ke tem pat kayu api. Kam i potong-
potong tempat lilin dengan kapak hingga jadi beberapa potong
kecil. Potongan-potongan itu serta sendok timah dimasukkan
Tom ke dalam sakunya. Kam i pergi ke pondok orang-orang
negro. Sementara aku memikat perhatian Nat, Tom memasukkan
potongan tem pat lilin ke dalam sebuah kue jagung yang sudah
terletak di atas talam m akanan untuk J im . Kam i m engantarkan
Nat untuk m elihat bagaim ana J im m enerim a kam i itu. Bagus
sekali. Waktu J im m enggigit kue itu, ham pir saja sem ua giginya
hancur. Tapi air m uka J im tak berubah sedikit pun, ia hanya
berbuat seolah-olah tergigit sebutir kerikil yang biasa terjadi bila
makan kue atau roti. Tapi setelah peristiwa itu, J im tak pernah
m enggigit langsung m akanannya, selalu lebih dulu dicocoknya
tiga atau em pat kali dengan garpunya.

Waktu kam i sem ua berdiri di dalam pondok yang rem ang-
remang itu, tiba-tiba alas tempat tidur J im menggelembung,
dan seekor anjing keluar dari bawah tem pat tidur. Kem udian
m uncul lagi yang lain, hingga sekejap saja di tem pat itu telah
ada sebelas ekor anjing, berdesak-desak hingga sukar bagi
kam i untuk bernapas. Astaga, agaknya kam i lupa m enutup
pintu sengkuap, dan anjing-anjing itu m asuk lewat lubang yang
kam i gali! Nat hanya berteriak sekali, “Hantu!” dan roboh ke
lantai, mengerang-erang bagaikan orang sekarat. Tom membuka
pintu pondok, m enyam bar sepotong daging dari piring J im dan

Petualangan Huckleberry Finn 325

http://facebook.com/indonesiapustaka m elem parkannya ke luar. Anjing-anjing itu m engejar daging
tersebut. Dua detik kemudian Tom juga keluar dan beberapa saat
setelah itu kem bali m asuk, m enutup pintu. Aku yakin ia tadi keluar
untuk m enutup pintu sengkuap. Kini ia m engurus Nat, m em bujuk
serta m em belai-belainya, m enanyakan apakah ia m elihat sesuatu
lagi. Nat bangkit, m engedip-ngedipkan m ata dan berkata, “Tuan
Sid, pasti Tuan akan m engatakan bahwa aku seorang yang sangat
tolol. Tapi berani mati aku baru saja melihat sejuta ekor anjing,
atau iblis atau entah apa. Aku tidak berdusta, Tuan Sid. Aku
bahkan telah m enyentuh, aku m enyentuh m ereka, Tuan, m ereka
mengelilingiku. Oh, kenapa aku tadi tidak menerkam salah satu
di antara mereka, coba saja, sekali saja aku bisa mencengkeram
mereka. Tapi aku ingin agar mereka tak mengganggu aku lagi.”

“Dengar kataku, Nat, dengar apa yang terpikir olehku,” kata
Tom . “Coba, m engapa hantu-hantu itu selalu datang kem ari
tepat pada waktu sarapan negro itu? Karena m ereka lapar,
itulah sebabnya. Buat sebuah kue hantu, dan m ereka tak akan
mengganggumu lagi.”

“Tapi, Tuan Sid, bagaim ana aku bisa m em buat sebuah kue
hantu bila aku tak tahu caranya? Belum pernah kudengar tentang
kue hantu.”

“Kalau begitu, biarlah kubuatkan engkau sebuah.”
“Betul begitu, sayang? Betul akan kau buatkan, Tuan Sid? Oh,
rela aku mencuci tanah tempatmu berpijak.”
“Akan kubuatkan, hanya untukm u, sebab kau begitu baik
hati memperbolehkan kami melihat negro ini. Tapi kau harus
berhati-hati. Bila kam i sedang m em buat kue hantu itu, kau tak
boleh m enghadap kam i. Dan apa pun yang kam i taruh di talam
makanan, anggap saja tidak ada. Dan jangan melihat kalau J im
sedang m engangkat m akanan dari talam nya, sebab sesuatu
akan terjadi, entah apa. Yang paling penting, jangan kau pegang
barang-barang untuk para hantu itu.”

326 Mark Twain

“Mem egangnya, Tuan Sid? Apa yang Tuan katakan ini?
Walaupun diupah sepuluh ratus ribu juta dolar, aku tak akan mau
m erabanya.”

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka JIM MENDAPAT KUE HANTU

BERES SUDAH. Kam i pergi ke tem pat tum pukan sam pah di
halaman belakang. Tempat itu penuh dengan sepatu-sepatu
tua, botol-botol pecah, barang-barang seng yang telah rusak,
dan sebagainya. Kam i aduk-aduk hingga kam i tem ukan sebuah
baskom seng. Kam i tutup lubang-lubang pada baskom itu sedapat-
dapatnya, sebab baskom itu akan kam i gunakan untuk m em buat
roti. Kam i sim pan baskom tadi di gudang di bawah tanah setelah
kam i isi dengan tepung curian. Kem udian kam i m enunggu waktu
sarapan. Tom m enem ukan dua batang paku besar, yang katanya
cukup baik untuk menuliskan kesedihan seorang tawanan di
dinding penjaranya. Salah sebuah paku itu dim asukkannya ke
dalam saku celem ek Bibi Sally yang tergantung di sebuah kursi.
Satunya lagi kam i selipkan di pita yang m elilit topi Pam an Silas
yang waktu itu terletak di atas bufet. Kam i dengar dari anak-anak
bahwa ayah m ereka akan m engunjungi si negro pelarian pagi ini.
Waktu pergi ke meja makan Tom berhasil memasukkan sendok

328 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka tim ahnya ke saku jas Pam an Silas. Kam i duduk, m enunggu
datangnya Bibi Sally.

Bibi Sally datang dengan m uka m erah, m arah, dan begitu
murka hingga hampir tak bisa menunggu doa selesai diucapkan.
Segera setelah doa selesai ia mengaduk kopi dengan satu tangan
dan m engetuk kepada seorang anak yang terdekat dengan jari
tangan yang lain sam bil berkata, “Telah kucari ke m ana-m ana,
tapi sam a sekali tak bisa kum engerti apa yang telah terjadi
dengan bajum u!”

Hatiku bagaikan rontok jatuh di antara paru-paru, jantung
dan isi perutku. Pada saat yang sam a sebutir jagung m asuk
tersekat dalam ternggorokanku. Aku terbatuk hingga butir jagung
itu terlempar ke luar, melintasi meja, mendarat tepat di mata
seorang anak yang saat itu juga m elingkar bagaikan cacing di
mata kail. Tom juga pucat sesaat, dan selama seperempat menit
ribut sekali di m eja itu. Bila saja ada yang m enawarku, separuh
harga saja aku akan mau asal aku bisa bebas dari meja itu. Tapi
setelah itu keadaan tenang kembali, kekacauan tadi disebabkan
persoalan yang diajukan Bibi Sally begitu m endadak.

“Mem ang aneh sekali,” kata Pam an Silas, “aku tak m engerti
juga. Aku tahu betul baju itu telah kutanggalkan sebab....”

“Sebab yang kau pakai hanyalah sehelai kem eja! Dengarkan
saja kata-katanya! Aku tahu bahwa kau telah m enanggalkan
baju itu, dengan cara yang lebih baik daripada cara otakm u yang
tumpul itu, sebab kemarin kulihat baju tersebut di tali jemuran,
kulihat dengan mata kepalaku sendiri! Tapi kini baju itu hilang!
Dan terpaksa kau harus memakai baju lanel merah itu sampai
aku punya waktu untuk m em buatkan sebuah baju baru lagi
untukm u. Baju yang ketiga dalam waktu dua tahun! Waktuku
habis hanya untuk m em buat bajum u saja, dan entah kau apakan
saja sem ua bajum u itu. Sesungguhnya kau sudah harus bisa
m engurus baju itu lebih baik!”

Petualangan Huckleberry Finn 329

http://facebook.com/indonesiapustaka “Aku tahu, Sally, telah kucoba dengan sebaik-baiknya. Tapi
jangan hanya m enyalahkan aku, sebab aku hanya berurusan
den gan baju bila sedan g kupakai! Kukira aku tak pern ah
m enghilangkan sebuah baju yang sedang kupakai, satu pun tak
p er n a h .”

“Bukan salahm u bila kau tak pernah m enghilangkan baju
yang sedang kau pakai, Silas, bila kau bisa pasti sudah kau
hilangkan juga. Dan bukan hanya baju yang hilang, sebuah
sendok juga. Tadinya ada sepuluh buah sendok, kini tinggal
sembilan. Mungkin bajumu dibawa lari anak sapi, tapi aku
m erasa yakin bahwa sendok itu bukanlah hilang karena dibawa
anak sapi. Bukan itu saja yang hilang....”

“Apa lagi, Sally?”
“Apa lagi! Enam batang lilin! Mungkin tikus-tikus yang
mencuri lilin itu, aku heran, mengapa sampai saat ini rumah
kita ini belum dihabiskan mereka karena kau selalu menunda-
nunda untuk m enutupi lubang-lubang tikus itu. Bila tikus-tikus
itu sedikit cerdik mereka akan lebih selamat membuat sarang
di ram butm u, Silas, sebab kau tak akan m enyadarinya. Tapi aku
tahu betul kau tak akan bisa m enyalahkan tikus-tikus itu.”
“Sally, aku m em an g bersalah, kuakui itu. Aku selalu
berhalangan, tapi tak akan kubiarkan esok hari berlalu tanpa
kututupi lubang-lubang tikus itu.”
“Oh, jangan tergesa-gesa, tahun depan saja tak apa. Matilda
An gelin a Aram in ta PH ELPS!” tudun g jari besi Bibi Sally
m enghantam jari anaknya yang sedang terulur untuk m encuri
gula dari tem pat gula. Tangan itu tertarik kem bali secepatnya.
Lize, budak wanita negro, saat itu m uncul dan berkata, “Nyonya,
sehelai sprei hilang.”
“Sprei hilang? Ya am pun!” seru Bibi Sally.
“Hari ini juga akan kusum bat lubang-lubang tikus itu,” kata
Paman Silas dengan sedih.

330 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka “Oh, tutup m ulut!” bentak Bibi Sally. “Kau kira tikus-tikus itu
yang m encuri sprei tersebut? Di m ana hilangnya, Lize?”

“Saya tak tahu, Nyonya. Kem arin m asih ada di tali jem uran,
tapi kini tak ada lagi. Lenyap.”

“Pastilah kiam at akan tiba! Belum pernah aku alam i kejadian
seperti ini. Baju, sprei, sendok, enam batang li....”

“Nyonya,” seorang gadis, pem bantu rum ah tangga, m uncul,
“tem pat lilin hilang satu.”

“Pergi kau dari sini sebelum kupukul dengan penggorengan
ka u !”

Bibi Sally bagaikan m endidih karena m arahnya. Hatiku tak
keruan. Bila ada kesem patan, aku telah lari dan bersem bunyi
ke hutan sampai cuaca baik kembali. Ia terus saja mengomel,
m engobrak-abrik keadaan dunia ini seorang diri sem entara yang
lain tak berani bercuit sedikit pun, tunduk dan makan dengan
diam -diam . Tiba-tiba rentetan kata-kata Bibi Sally terhenti,
m ulutnya m enganga, kedua tangan terangkat. Pam an Silas dengan
wajah tolol m em perhatikan sendok yang baru saja dikeluarkan
dari sakunya. Bila aku jadi Pam an Silas, rasanya aku baru akan
lega bila bisa m enyingkir saat itu juga ke Yerusalem atau tem pat
jauh lainnya.

“Sudah kuduga!” seru Bibi Sally, “selam a ini sendok itu ada
di sakum u! Dan pasti barang-barang lainnya juga ada di sana.
Bagaim ana sendok itu bisa berada di sakum u?”

“Aku sam a sekali tak tahu, Sally,” jawab Pam an Silas dengan
sangat bingung, “kalau tahu pasti sudah kukatakan. Sebelum
sarapan tadi aku sedang m em pelajari Kisah Rasul-rasul ayat
tujuh belas. Mungkin tanpa kusadari kutaruh sendok ini di
sakuku, sedang yang akan kum asukkan sebenarnya adalah Kitab
Injilku. Nanti kulihat. Bila Injilku m asih di tem pat sem ula, berarti
Injil itu belum kumasukkan ke dalam saku. Itu berarti bahwa Injil
itu kuletakkan dan sendok ini kumasukkan. J adi....”

“Oh, dem i Tuhan! Biarkan aku beristirahat! Pergi kalian,

Petualangan Huckleberry Finn 331

http://facebook.com/indonesiapustaka pergilah kalian sem uanya, jangan dekati aku lagi sebelum hatiku
tenang kembali.”

J angankan kata-kata itu diucapkan, walaupun baru
dipikirkan pasti perintah semacam itu akan terdengar jelas
olehku. Dan m isalkan aku sudah m ati, rasanya aku akan bangkit
dan melakukan perintah tersebut. Waktu kami melintas ruang
tam u, Pam an Silas sedang m engangkat topinya. Paku yang kam i
selipkan jatuh ke lantai. Diam bilnya paku tersebut, diletakkan
di atas perapian tanpa berkata sepatah pun, dan ia keluar. Tom
m elihatnya, teringat akan peristiwa sendok tadi, katanya, “Ia
tak bisa dipercaya, tak guna m engirim sesuatu m elalui dia.
Tapi betul-betul ia telah menolong kita karena sendok itu,
walaupun di luar pengetahuannya. Baiklah, kita tolong dia tanpa
sepengetahuannya pula. Kita sum bat lubang-lubang tikus itu.”

Ternyata lubang-lubang tikus itu banyak sekali, di dalam
gudang di bawah tanah. Sejam baru kerja kami selesai, tapi kerja
kam i itu betul-betul m em uaskan, kuat dan rapi. Baru saja selesai,
kam i dengar seseorang m enuruni tangga ke tem pat itu. Cepat-
cepat kam i m atikan lilin dan bersem bunyi. Yang datang itu Pam an
Silas, sebelah tangan m em bawa lilin, tangan lainnya m em bawa
kain-kain untuk sumbat, berjalan dengan mata kosong seakan-
akan m elam un. Dari satu lubang ia pergi ke lubang berikutnya,
sam pai sem ua lubang selesai diperiksanya. Akhirnya ia berdiri
diam , kira-kira lim a m enit term enung sem entara tangannya
m em bersihkan lilin-lilin yang m enetes. Setelah itu ia berpaling,
terdengar ia berkata seorang diri, “Tak bisa kum engerti. Tak bisa
kuingat, kapan aku m enyum bat lubang-lubang itu. Kini aku bisa
mengatakan pada Sally bahwa aku tak bisa disalahkan dalam hal
tikus-tikus itu. Tapi biarlah sudah. Andaikata kukatakan, tak akan
memperbaiki suasana.”

Perlahan ia menaiki tangga kembali, sambil terus
m enggum am . Ia seorang tua yang sangat baik hatinya.

332 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Tom m erasa repot juga karena sendoknya tak ada, ia
berpikir m encari cara untuk m engam bil lagi sendok itu. Akhirnya
didapatnya cara yang dianggapnya bagus, dan aku diberi tahu.
Kam i keluar dari gudan g, berm ain -m ain dekat keran jan g
sendok. Waktu Bibi Sally m asuk, Tom pura-pura m enghitung
sendok-sendok itu dengan m enjajarkannya ke sam ping. Aku
m enyelusupkan sebuah di antaranya ke dalam lengan bajuku, dan
Tom berkata, “Wah, sendoknya m asih saja kurang satu. Ini hanya
sem bilan!”

“Pergi kau berm ain!” bentak Bibi Sally, “jangan ganggu aku
lagi. Aku lebih tahu, telah kuhitung sendiri.”

“Aku telah m en ghitun gn ya dua kali, Bibi, dan han ya
sem b ila n .”

Kesabarannya tam pak habis, tapi dihitungnya juga sendok-
sendok itu. “Astaga! Mem ang hanya sem bilan! Ke m ana yang...
persetan, biarlah kuhitung lagi.”

Kuluncurkan keluar sendok yang ada di lengan bajuku, dan
selesai m enghitung Bibi Sally berkata, “Hh, sialan betul, kau. Ini,
bukankah ini sepuluh?” Tam paknya ia kesal dan m arah sekaligus.

“Tapi, Bibi, kukira tak ada sepuluh sendok di situ?”
“Otak udang! Bukankah kau lihat aku m enghitungnya tadi?”
“Aku tahu, tapi....”
“Biar kuhitung lagi.”
Aku sem bunyikan satu lagi, hingga kini tinggal sem bilan
seperti tadi. Betapa kacaunya Bibi Sally, ham pir-ham pir gila!
Berkali-kali dihitun gn ya sen dok-sen dok itu, kadan g-kadan g
begitu bingung hingga keranjang sendok dihitungnya juga sebagai
sendok. Begitulah, tiga kali m enghitung hasilnya benar, dan tiga
kali lagi salah. Bibi tak tahan lagi, dibantingnya tem pat sendok
ke dinding di depannya, sam bil m em bentak kam i, m enyuruh
kam i pergi. Kalau sam pai kam i m engganggunya lagi sebelum
m akan siang, kam i akan dikulitinya, katanya. J adi kam i berhasil

Petualangan Huckleberry Finn 333

http://facebook.com/indonesiapustaka m endapatkan kem bali sendok yang kam i perlukan, yang kam i
m asukkan ke saku celem ek Bibi Sally waktu ia sedang m em beri
perintah untuk kabur pada kami itu. Sebelum tengah hari J im
m enerim a kirim an kam i itu, juga paku besar yang kam i m asukkan
ke kantung Bibi sebelum sarapan tadi. Kam i m erasa am at lega
kini. Hasil yang kam i dapat berharga dua kali lipat daripada jerih
payah yang kam i keluarkan, sebab kini Bibi Sally tak akan berani
lagi m enghitung sendoknya, walaupun diancam hukum an m ati
sekalipun. Lagi pula biarpun ia berani m enghitung, ia tak akan
percaya akan hasil hitungannya itu, walau pun benar. Bila selam a
tiga hari ia bisa kami goda dalam menghitung sendok, pasti ia
akan m engancam akan m em bunuh sem ua orang yang berani
m enyuruh ia m enghitung sendok.

Malam itu kami kembalikan sprei ke tali jemuran, dan
m encuri sprei lainnya dari lem ari. Selam a dua hari kam i ulang-
ulang, m encuri dan m engem balikan lagi serta sebaliknya,
hingga akhirnya Bibi Sally tak tahu lagi berapa sprei yang
dipunyainya—tak peduli lagi—dan tak akan m enyiksa hatinya
dengan m enghitung-hitung sprei lagi sepanjang hidupnya. Lebih
baik m ati daripada m enghitung sprei, katanya.

Kini kam i tak bisa dicurigai lagi. Sprei, baju, sendok, dan
lilin dibereskan oleh anak sapi, tikus dan kebingungan Bibi Sally
dalam menghitung, sedang tentang tempat lilin itu kami tak
pedulikan, akhirnya Bibi akan lupa juga.

Tapi pembuatan kue untuk J im betul-betul bukan suatu
pekerjaan ringan. Kam i m em asaknya di dalam hutan. Akhirnya
kami berhasil juga dengan memuaskan, tapi menghabiskan
waktu lebih dari sehari. J uga lebih dari tiga baskom tepung kami
habiskan, di samping kulit beberapa anggota badan kami hangus,
m ata m erah karena asap. Soalnya kam i ingin m em buat sebuah
kue besar yang di dalam nya kosong. Berulang kali kue yang telah
jadi luluh lantak hingga terpaksa kam i buat lagi. Tapi akhirnya

334 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka kam i m endapat suatu cara yang tepat, yaitu akan kam i m asak
tangga tali kam i bersam a-sam a dengan tepungnya. Sem alam
suntuk kami merobek-robek sprei untuk dijadikan serpihan-
serpihan kecil yang kem udian kam i pilin. Mem buatnya di dalam
pondok J im, dengan bantuan penuh dari J im. Menjelang pagi,
jadilah sebuah tangga tali yang am at bagus. Kam i anggap telah
menghabiskan waktu sembilan bulan untuk membuat tangga
tersebut.

Menjelang tengah hari kami bawa tangga tali itu ke hutan,
untuk di m asak di dalam kue. Tapi ternyata tak m uat. Mem ang
karena terbuat dari sehelai sprei besar, rasanya tangga tali itu
akan cukup untuk membuat empat puluh buah kue, sedang
sisanya m asih cukup untuk sup atau sosis atau apa saja yang kam i
kehendaki. Bahkan tak akan habis rasanya untuk m akan siang.

Tapi kam i tak m em butuhkan m akanan lainnya itu. Yang
kam i butuhkan hanyalah kue itu, jadi kam i am bil saja tangga tali
secukupnya, sisanya kam i buang. Kue-kue yang gagal dan yang
berhasil tidaklah kami masak di baskom, sebab kami takut kalau
soldernya leleh oleh panas api. Kam i pakai pem anas kuningan
m ilik Pam an Silas. Baskom pem anas itu sangat dihargainya,
sebab benda itu merupakan warisan turun-temurun, pernah
dim iliki oleh salah seorang nenek m oyangnya yang berlayar
dengan William si Penakluk, dari Inggris ke negeri ini, dengan
naik kapal Maylower atau kapal kuno lainnya, lupa aku
nam anya. Baskom pem anas ini disim pannya di loteng, dengan
barang-barang lain yang dianggapnya berharga. Berharga bukan
karena kegunaannya, sebab sem uanya tak bisa digunakan lagi,
tapi karena kunonya. Diam -diam kam i am bil baskom pem anas
bertangkai kayu panjang itu, kam i bawa ke hutan. Kue pertam a
yang kam i buat sam a sekali tak berupa kue, sebab kam i belum
berpengalam an. Tapi kue yang terakhir indah sekali. Baskom
pemanas itu kami lapisi adonan, kami panaskan di atas bara.

Petualangan Huckleberry Finn 335

Tangga tali kami masukkan, kami beri lapisan adonan lagi di
atasnya, tutup kam i pasang, di atas tutup kam i beri bara panas.
Kam i tak kepanasan sebab kam i tinggal m em egang tangkai
baskom yang lim a kaki panjangnya itu sam bil berteduh. Lim a
belas menit kemudian selesailah sudah, sangat memuaskan untuk
dilihat. Tapi siapa pun yang m em akannya paling sedikit harus
m enyediakan dua tong besar cukit gigi sebab sudah pasti giginya
akan dibelit-belit oleh tangga tali itu. Dan sudah pasti juga ia akan
m enderita sakit perut bahkan sam pai akhir hidupnya.

Nat sama sekali tak melihat waktu kue itu kami taruh di
talam makanan J im. Di bawah makanan itu kami taruh pula tiga
buah piring seng, jadi kini barang-barang J im lengkap sudah.

Segera setelah J im sedirian, dipecahkannya kue itu, tangga
talinya diam bil dan disem bunyikan di bawah kasur. Berbagai tanda
digoreskannya di bawah kasur yang kem udian dilem parkannya ke
luar lewat lubang jendela.

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka DI SINI HATI SEORANG TAWANAN
PECAH

MEMBUAT PENA adalah pekerjaan yang paling sukar, begitu juga
membuat gergaji. Tapi menurut J im lebih sukar lagi membuat
tulisan, yaitu tulisan yang harus digoreskannya di dinding. Tom
mengharuskan J im berbuat demikian, sebab tak pernah ada
kejadian seorang tawanan penting tak menulis sesuatu di dinding
dan m enggam barkan lam bang kebangsawanannya.

“Lihat saja Putri J ane Grey,” kata Tom , “atau Giliford Dudley.
Atau si tua Northum erland. Huck, m eskipun bagaim ana sukarnya,
harus juga dikerjakan, sebab bagaimana kau bisa cari jalan lain?
J im harus m eninggalkan coretan tulisan dan lam bangnya. Sem ua
berbuat bagitu.”

“Tapi, Tuan Tom , aku sam a sekali tak punya lam bang.” kata
J im.

“Ya, J im benar, Tom , ia tak punyai lam bang,” kataku,
“m engerti saja tidak.”

Petualangan Huckleberry Finn 337

http://facebook.com/indonesiapustaka “Aku tahu. Tapi berani bertaruh sebelum ia keluar dari sini
ia akan m em punyai sebuah lam bang,” kata Tom . “Sebab larinya
dari sini dengan m engikuti segala peraturan yang ada, tanpa
m enyalahi peraturan sedikit pun.”

Demikianlah, sementara aku dan J im masing-masing
membuat pena dengan menggosokkan sendok kuningan ke
sebuah batu bata, Tom memikirkan rancangan lambang untuk
J im . Akhirnya ia berkata bahwa ia telah m endapat banyak
sekali ilham untuk lambang-lambang itu hingga bingung mana
yang akan dipilihnya. Tapi ada satu yang kira-kira pantas untuk
dipilih, katanya, “Lam bang itu akan berbentuk sebuah perisai.
Di bagian kanan bawah kita lukiskan sebuah lengkungan or,
di bagian fess gambar jin jahat, dalam m urrey dengan seekor
anjing sebagai lam bang tuduhan um um . Di bawah kakinya kita
gambarkan rantai sebagai lambang perbudakan. Seekor burung
dalam vert, dan tiga garis m enyolok dalam latar belakang azure.
J im tadi berdiri menantang, dan kita buat dengan gambar timbul.
Di bagian crest, kita gambarkan seorang negro pelarian, sable,
bungkusan pakaiannya di ujung tongkat pada bar sinister, dua
gule m enjaga penduduknya, m elam bangkan Huck dan aku, dan
sem boyan lam bang itu berbunyi: Maggiore fretta, m inore otto.
Kudapat dari sebuah buku, artinya: Makin tergesa-gesa, m akin
la m b a t .”

“Minta am pun, tapi apa arti kata-kata yang lain itu?” tanyaku.
“Tak ada waktu untuk m enerangkan. Kita harus segera
m enyelesaikan pekerjaan kita.”
“Biarlah sebagian saja, m isalnya, apakah arti fess itu?”
”Fess... fess... kau tak usah tahu arti fess. Akan kuterangkan
pada J im cara m em buatnya.”
“Wah, Tom , m asak kau tak m au m enerangkan padaku?” aku
bertanya terus. “Baiklah, apakah bar sinister?”
“Oh. Aku tak tahu. Bagaim anapun J im harus m em punyai
sebuah lam bang seperti juga para bangsawan lainnya.”

338 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka Begitulah kebiasaan Tom , bila tak berkenan di hatinya
untuk menerangkan sesuatu, walaupun seminggu kita kejar terus
dengan pertanyaan, tak akan diterangkannya.

J adi rancangan lambang itu sudah bisa dianggap selesai.
Kini ia m em ikirkan rancangan terakhir, m erencanakan pesan-
pesan m engharukan yang harus ditulis oleh J im di dinding
pondok. Katanya sem ua tawanan selalu m eninggalkan pesan
seperti itu, jadi J im juga tak terkecuali. Tom cepat saja berhasil
m engarang beberapa kalim at, dituliskannya pada secarik kertas
dan dibacakan pada kami, demikian:

1. Di sini hati seorang taw anan pecah.
2. Di sini seorang taw anan y ang m alang, dilupakan oleh
dunia dan sem ua sahabatnya, m ati m erana karena kesedihan.
3. Di sini sebuah hati y ang selalu kesepian hancur, jiw a y ang
telah beristirahat setelah m enjalani m asa tahanan seorang diri
selam a tiga puluh tujuh tahun.
4. Di sini tak berkaw an dan tak bertem pat tinggal, setelah
tiga puluh tujuh tahun m enjalani m asa tahanan y ang pahit,
seorang bangsaw an asing, putra kandung Louis XIV, m angkat.

Suara Tom gemetar waktu membacakan semua itu, hampir
saja ia meneteskan air mata. Selesai membaca ia tak tahu
m ana yang akan dipilihnya untuk ditulis oleh J im , sem ua
begitu bagus. Akhirnya ia m em utuskan m enyuruh J im m enulis
sem uanya. Menurut J im , ia akan m em erlukan waktu setahun
untuk menuliskan itu semua di dinding balok itu dengan sebatang
paku. Dan lagi ia tak bisa menulis, tapi Tom berkata ia akan
menuliskan semua kata-kata tadi dalam huruf cetak, jadi J im
tinggal m encontoh saja. Segera juga ia berkata lagi, “Tunggu,
setelah kupikir-pikir, dinding balok ini tak sesuai dengan maksud
kita. Tawanan kerajaan tak pernah ditawan dalam sebuah penjara

Petualangan Huckleberry Finn 339

http://facebook.com/indonesiapustaka berdinding balok, biasanya dindingnya terbuat dari batu, dan
pada batu itulah m ereka m eninggalkan pesan-pesannya. Baiklah,
kalau begitu akan kita bawa sebuah batu kemari, dan J im harus
menuliskan kata-kata tadi pada batu itu.”

J im berkata batu lebih buruk daripada dinding balok, untuk
menuliskan semua itu ia akan membutuhkan waktu cukup lama
hingga ia tak akan bisa keluar dari penjara dengan selamat.
Tom m enghiburnya dengan m engatakan bahwa aku akan
m em bantunya m enulis. Tom m em eriksa apa kem ajuan yang
kami capai dalam pembuatan pena. Memang pekerjaan berat,
bila ada kem ajuan tak terlihat sam a sekali, kecuali tanganku yang
sudah sakit bertam bah sakit lagi. Melihat itu Tom berkata, “Aku
tahu bagaimana cara memecahkan persoalan ini. Pesan-pesan itu
akan kita tulis di batu, begitu juga lam bangnya. Sam bil m enyelam
minum air. Di penggergajian kulit ada sebuah batu asah, batu
gerinda besar. Cukup besar untuk keperluan kita tadi, lagi pula
kita bisa jadikan batu asahan untuk membuat pena.”

Suatu pikiran yang baik, dan ternyata kem udian batu gerinda
itu juga sangat hebat. Tapi kam i telah sepakat untuk m encurinya,
tak bisa ditawar-tawar lagi. Belum lewat tengah m alam . Kam i
keluar, meninggalkan J im bekerja sendiri. Mudah sekali mencuri
batu gerinda itu, tapi sukar m em bawanya ke pondok. Mula-m ula
kam i gelindingkan, suatu pekerjaan yang sulit. Setelah bersusah
payah, sering kali batu gerinda itu ham pir m enim pa kam i. Bila
saja tertimpa, pasti hancur tulang-tulang kami. Tom berkata
sebelum mencapai pondok pasti salah seorang di antara kami
akan jadi korban. Baru setengah jalan kam i terpaksa takluk,
tenaga habis dan tubuh m andi keringat. Kam i segera sadar
bahwa tanpa bantuan, kerja kam i akan sia-sia. Kam i panggil J im
untuk m em bantu. Mudah saja J im m engangkat tem pat tidurnya,
m elepaskan gelang rantai di kaki tem pat tidurnya, m elepaskan
gelang rantai di kaki tem pat tidur itu. Rantainya yang panjang

340 Mark Twain

http://facebook.com/indonesiapustaka dibelit-belitkannya di leher, kem udian kam i m erangkak keluar
lewat terowongan yang kam i gali. Dengan bantuan J im m udah
saja kami menggelindingkan batu gerinda besar itu ke pondok.
Yang bekerja hanya aku dan J im , Tom m em beri perintah. Mem ang
dalam memberi perintah Tom mengalahkan semua anak. Ia tahu
cara mengerjakan apa saja.

Terowongan yang kam i buat sangat besar, tapi ternyata
tidak cukup besar untuk lewat batu gerinda itu. J im segera
mengambil cangkul dan membuat lubang itu lebih besar lagi
hingga batu gerinda bisa masuk. Tom menggoreskan kalimat-
kalim at yang dikarangnya tadi di batu gerinda tersebut, kem udian
J im menatah bekas goresan Tom dengan paku dan sebuah kunci
pintu besi besar sebagai palu. J im harus bekerja terus sampai
lilinnya m ati. Bila lilin padam , ia boleh tidur, batu gerinda itu
harus disem bunyikannya di bawah kasurnya. Kam i m enolong J im
m em asukkan gelang rantainya kem bali ke kaki tem pat tidur, dan
bersiap-siap untuk pulang. Tapi Tom memikirkan sesuatu lagi,
dan bertanya pada J im , “J im , di sini ada laba-laba?”

“Tidak, Tuan, dan aku bersyukur karena itu.”
“Baiklah. Akan kam i carikan bebrapa ekor untukm u.”
“Selam atlah kiranya kau, Sayang. Aku sam a sekali tak ingin
ada laba-laba di sini. Aku takut pada laba-laba, lebih baik
berkawan dengan ular keluntang daripada dekat dengan laba-
laba.”
Tom berpikir lagi sebentar, “Baik juga itu. Dan kukira itu
juga pernah dilakukan orang. Masuk akal. Ya, pikiran yang sangat
bagus. Di mana bisa kau pelihara?”
“Pelihara apa, Tuan Tom ?”
“Ular-ular keluntang itu.”
“Astaga, Tuan Tom ! Bila ada ular keluntang m asuk kem ari,
aku akan melarikan diri keluar dengan jalan menubruk dinding
balok itu, yakin, dengan kepalaku!”


Click to View FlipBook Version