The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-01-12 04:26:16

Kudus Kota Suci di Jawa

Kudus Kota Suci di Jawa

Keywords: kudus,kota,jawa,suci

Ashadi

KUDUS

KOTA SUCI
di jawa

kajian sejarah-antropologi-arsitektur

Arsitektur UMJ Press

KUDUS

KOTA SUCI DI JAWA

kajian sejarah-antropologi-arsitektur

ASHADI

Penerbit Arsitektur UMJ Press
2019



KUDUS KOTA SUCI DI JAWA
Kajian Sejarah-Antropologi-Arsitektur

|arsitekturUMJpress|
|

Penulis: ASHADI

CETAKAN PERTAMA, Nopember 2019

Hak Cipta Pada Penulis
Hak Cipta Penulis dilindungi Undang-Undang Hak Cipta 2002
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan
cara apapun tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Desain Sampul : Abu Ghozi
Tata Letak : Abu Ghozi

Perpustakaan Nasional – Katalog Dalam Terbitan (KDT)
ASHADI
Kudus Kota Suci di Jawa
Kajian Sejarah-Antropologi-Arsitektur
Jumlah Halaman 244

ISBN 978-602-5428-31-9

Diterbitkan Oleh Arsitektur UMJ Press
Jln. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510
Tetp. 021-4256024, Fax. 021-4256023
E-mail: [email protected]
Gambar Sampul: Masjid Menara Kudus (Dokumentasi Ashadi, 2015)
Dicetak dan dijilid di Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan

__________________________________________________________
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
Sanksi Pelanggaran Pasal 72 :

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
atau pasal 49 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana
penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/
atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah),
atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau
denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan
atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda
paling banyak Rp. 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah).

ABSTRAK

Kudus – Al-Quds, dalam Bahasa Arab berarti suci. Kudus adalah
satu-satunya kota di Jawa yang berasal dari Bahasa Arab. Tulisan
ini bertujuan memahami Kudus sebagai sebuah kota suci di Jawa,
dengan menggunakan pendekatan sejarah, antropologi dan
arsitektur. Pendekatan sejarah digunakan untuk menjelaskan
tentang asal-usul dan sejarah keberadaan, pendekatan
antropologi untuk menjelaskan fenomena kehidupan masyarakat,
terutama kehidupan keagamaan, termasuk khaul dan tabu, dan
pendekatan arsitektur untuk menjelaskan visual arsitektural dan
fungsinya. Beberapa hasil pembahasan menunjukkan bahwa
fenomena “kesucian” Kota Kudus memang sengaja diciptakan
dan terus-menerus dipelihara oleh masyarakat pendukungnya
dalam rangka penokohan Ja’far Shadiq sebagai Sunan Kudus,
seorang wali di tanah Jawa.
Kata Kunci: Arsitektur, Khaul, Kota Suci, Kudus, Tabu



KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, buku berjudul Kudus Kota Suci di Jawa,
Kajian Sejarah-Antropologi-Arsitektur dapat diselesaikan.
Buku ini merupakan kompilasi dari beberapa hasil penelitian
yang pernah dilakukan tentang Kudus dan kehidupan
masyarakatnya.

Buku ini disusun, isi pembahasannya sebagian
bersandarkan pada laporan hasil penelitian: “Mencari Korelasi
antara Arsitektur Massjid dengan Rumah Tinggal Tradisional
di Kudus Jawa Tengah”, Laporan Penelitian (2000); “Tata
Ruang Arsitektur Kauman: Sebuah Kajian Antropologi-
Arsitektur”, Laporan Tesis (2004); dan “Makna Sinkretisme
Bentuk pada Arsitektur Mesjid-Mesjid Walisanga”, Laporan
Disertasi (2016).

Semoga buku ini dapat menjadi pelengkap khasanah
ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi para pembaca.

Jakarta, Nopember 2019
Penulis

i

ii

PENGANTAR PENERBIT

Alhamdulillah, buku Ashadi yang berjudul Kudus Kota Suci di
Jawa, Kajian Sejarah-Antropologi-Arsitektur dapat
diterbitkan. Buku ini merupakan kompilasi dari beberapa hasil
penelitian yang pernah dilakukan oleh penulis tentang Kudus
dan kehidupan masyarakatnya.

Dalam buku ini, penulis berusaha memahamkan
bagaimana Kudus sebagai sebuah kota di Jawa yang secara
periodik “disucikan” oleh masyarakat pendukungnya.

Isi buku ini sebagian bersandarkan pada laporan hasil
penelitian yang penulis pernah lakukan, yakni: “Mencari
Korelasi antara Arsitektur Massjid dengan Rumah Tinggal
Tradisional di Kudus Jawa Tengah”(2000); “Tata Ruang
Arsitektur Kauman: Sebuah Kajian Antropologi-
Arsitektur”(2004); dan “Makna Sinkretisme Bentuk pada
Arsitektur Mesjid-Mesjid Walisanga”(2016).

Kelebihan buku ini adalah kelengkapan gambar-gambar
(photo) yang diambil pada waktu-waktu yang berlainan (saat
penelitian dilaksanakan: tahun 1999-2000, 2003-2004, dan
2015-2016).

Kehadiran buku ini menjadi salah satu sumbangan
penting bagi khasanah ilmu pengetahuan.

Jakarta, Nopember 2019
Penerbit

iii

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK Hal.
KATA PENGANTAR
PENGANTAR PENERBIT i
DAFTAR ISI iii
v

BAB 1 1
KUDUS KOTA LAMA 1
1.1 Latar Belakang Sejarah: Kota-Kota Kuno di Jawa 5
1.2 Permulaan Kudus 14
1.3 Asal-Usul Nama Kudus 20
1.4 Menelusuri Keberadaan Masyarakat Kudus Kuno 25
1.5 Mengenang Kejayaan Kudus

BAB 2 41
JA’FAR SHADIQ SANG WALI PENDIRI KOTA KUDUS 41
2.1 Riwayat Singkat Pendiri Kota Kudus 51
2.2 Ja’far Shadiq Anggota Dewan Dakwah Walisongo

BAB 3 57
KEHIDUPAN MASYARAKAT KUDUS 59
3.1 Kekerabatan 69
3.2 Kehidupan Ekonomi

v

vi 72

3.3 Kehidupan Keagamaan 79

BAB 4 93
TATA RUANG PERMUKIMAN KOTA LAMA KUDUS 93
KULON 109
111
BAB 5 115
JEJAK MASJID-MASJID KUNO 118
5.1 Masjid Menara Kudus 120
5.2 Masjid Maduraksan
5.3 Masjid Bubar 125
5.4 Masjid Nganguk Wali 125
5.5 Masjid Kenepan 130
5.6 Masjid Langgar Dalem 132
135
BAB 6 147
JEJAK ARSITEKTUR RUMAH ADAT 154
6.1 Ada Pengaruh Cina? 164
6.2 Kekhasan Rumah Adat Kudus
6.3 Menelusuri Ukiran Rumah Adat Kudus 167
6.4 Tata Ruang Rumah Adat Kudus
6.5 Konstruksi Bangunan 183
6.6 Ragam Motif Ukiran
6.7 Sirkulasi Ruang

BAB 7
KOMPLEKS MAKAM SUNAN KUDUS

BAB 8
MENARA KUDUS

vii

BAB 9 209
TEATER TAHUNAN: KHAUL
225
BAB 10 231
TABU SUNAN KUDUS: LARANGAN MENYEMBELIH
DAN MEMAKAN DAGING SAPI

DAFTAR PUSTAKA

vii

BAB 1
KUDUS KOTA LAMA

1.1 Latar Belakang Sejarah: Kota-Kota Kuno di Jawa
Pada masa-masa akhir Kerajaan Majapahit, banyak hal yang kita
ketahui dari berita-berita Tionghoa tentang keadaan kota-kota
kuno di Jawa. Berita Tionghoa yang sangat penting adalah
uraian Ma-Huan dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan (1416),
yang memberitakan sebagai berikut (Groeneveldt, 1960:43-53):

Jawa memiliki empat kota yang kesemuanya tidak
memiliki dinding pembatas dan pelindung kota.
Orang-orang asing yang mengunjungi Jawa akan
melalui keempat kota tersebut, yaitu secara
berturut-turut: Tuban – Gresik – Surabaya –
Majapahit. Kapal-kapal asing yang datang ke Jawa,
terlebih dahulu berlabuh di kota Tuban. Kota ini
didiami oleh lebih dari seribu keluarga, dengan
seorang pemimpin (adipati?); banyak dari keluarga-
keluarga ini adalah etnis Tionghoa dari Canton dan
Chang-chou. Berlayar ke arah Timur selama
kurang lebih setengah hari, sampailah di kota
Gresik. Sebenarnya pantai Gresik adalah pantai
yang tandus, tetapi kapal-kapal asing harus
berlabuh di sini sebelum melanjutkan perjalanan
ke Majapahit. Kota ini didiami oleh sekitar seribu
keluarga Tionghoa dari Canton yang kaya raya dan
sejumlah besar orang-orang dari berbagai tempat
untuk melakukan kegiatan perdagangan. Berbagai
jenis barang dari emas, batu permata dan barang-
barang dari manca negara dijual di sini dan rakyat

1

2

kota Gresik sangat kaya raya. Berlayar ke arah
Selatan sekitar tujuh mil, sampailah di kota
Surabaya. Kapal-kapal berhenti di dekat mulut
sebuah sungai yang di depannya terdapat sebuah
pulau (madura?) yang dipenuhi oleh tumbuh-
tumbuhan dan banyak monyet berekor panjang.
Dari Surabaya, dengan menggunakan perahu-
perahu kecil, menyusuri sungai sekitar 25 mil,
sampailah di sebuah marketplace yang dinamakan
Chang-ku (Canggu). Dari sini orang-orang harus
berjalan kaki ke arah Selatan selama sekitar satu
setengah hari untuk sampai di kota Majapahit
(Trowulan?). Majapahit adalah tempat dimana raja
tinggal. Tempat kediaman raja berdinding batu
bata keliling dengan ketinggian lebih dari 30 kaki
dan panjang lebih dari 100 kaki; dia memiliki dua
buah gerbang masuk. Rumah-rumah yang ada di
dalamnya adalah rumah panggung dengan
keinggian sekitar 30-40 kaki, berlantai papan
ditutup dengan lapik rotan yang berpola; di sinilah
orang-orang duduk dengan kaki bersila.

Jika dalam berita Tionghoa di atas, kota Tuban tidak
mempunyai pagar tembok keliling, maka Tome Pires (tahun
1512-1515) seperti dikutip oleh Tjandrasasmita, memberitakan
bahwa Kota Tuban dikelilingi oleh pagar tembok bata yang
dibakar api dan panas matahari. Di sekitar tembok keliling
tersebut terdapat perairan, sedangkan di bagian daratan pada
keliling itu tumbuh pohon-pohon dan semak-semak
(Tjandrasasmita, 2000:64). Bisa jadi keberadaan tembok keliling
kota yang disaksikan Tome Pires adalah antisipasi terhadap
gangguan keamanan yang semakin meningkat; ia berfungsi
sebagai benteng kota.

Di pesisir Utara Jawa terutama di bagian Timur, sejak
abad ke-11 M, abad-abad ke-14 dan 15 M, orang-orang muslim

3

mulai membentuk perkampungan-perkampungan di Gresik,
Tuban dan Sedayu bahkan di ibukota Majapahit sendiri. Dan
sejak awal abad ke-16 M, tumbuhlah kota-kota pelabuhan yang
dikuasai oleh muslim seperti kota Gresik, Tuban dan Surabaya
(Tjandrasasmita, 2000:38).

Di Jawa, abad ke-16 M, menyerupai sebuah tahap pokok
dalam sejarah jaringan perniagaan. Selama kira-kira enam puluh
tahun, dari tahun 1527 hingga 1588, kekuasaan agraris dari
pedalaman yang sampai saat itu unggul di bagian tengah pulau
Jawa, lalu di bagian Timurnya, sama sekali ditundukkan dan
disingkirkan oleh kekuasaan niaga dari pesisir.

Daerah kunci pesisir pada waktu itu terletak kira-kira di
bagian tengahnya, sebelah-menyebelah selat yang ketika itu
masih memisahkan gunung Muria dari tanah daratan Jawa dan
yang merupakan jalan lintas alami tempat kapal-kapal dapat
berlabuh (Lombard, 1996:52). Kegiatan perekonomian, politik
dan keagamaan dikendalikan dari pusat kerajaan Islam Jawa,
yaitu Demak yang diperintah oleh Sultan Trenggono (1504-
1546). Pada periode ini, masyarakat-masyarakat dagang
kosmopolit pesisir, seperti Jepara, Juwana, Pati, Rembang,
Tuban dan Surabaya di bagian Tengah dan Timur, kemudian
Cirebon dan Banten di bagian Barat mengalami zaman
keemasannya.

Kota-kota kuno di Jawa muncul, tumbuh dan berkembang
tidak hanya di daerah pesisir tetapi juga di daerah pedalaman
Jawa. Betapapun berbeda karakteristik dan situasi kota-kota itu,
semuanya mempunyai satu hal yang sama: kota-kota itu terletak
berdekatan dengan pusat-pusat pemerintahan para bangsawan
yang menawarkan keamanan bagi kota-kota itu. Kota-kota

4

pantai, seperti Surabaya, Gresik, Pati, Demak, Jepara, Cirebon
dan Banten dibangun berdasarkan suatu pola yang tetap. Pusat
kerajaan, yang sejauh mungkin mengikuti pola Jawa,
mendominasi keseluruhan kota. Wilayah ini menurut aturan
terpisah dari kota para pedagang asing. Para pedagang dan
pekerja ahli dikelompokkan dalam berbagai wilayah, menurut
negara asal mereka di bawah kepala kelompok mereka. Kepala
kelompok orang asing itu merupakan bawahan dari tokoh kota
pelabuhan. Dengan demikian, koloni-koloni asing di wilayah
pantai tidak independen; mereka pun mencari perlindungan
otoritas kerajaan. Dalam kasus kota-kota di daerah pedalaman,
seperti Pajang, Kota Gede, Plered, Kartasura, Surakarta dan
Yogyakarta, kota-kota itu tumbuh di sekitar keraton yang ada.
Fungsi kota-kota itu adalah memberikan berbagai macam
barang dan jasa untuk keraton, sementara kota-kota itu juga
menikmati kemegahan yang melimpah dari istana kerajaan
(Wertheim, 1999:133-134).

Kehidupan masyarakat kota-kota pesisir lebih dinamis
jika dibandingkan dengan kota-kota pedalaman meskipun tetap
merupakan masyarakat tradisional. Lapisan-lapisan
penduduknya antara lain terdiri dari golongan pedagang,
golongan nelayan, golongan budak, golongan pekarya atau
tukang, golongan bangsawan atau raja-raja serta anggota
birokrat. Golongan petani di dalam kota-kota tersebut tidak
banyak, tetapi justru mungkin mereka itu berfungsi sebagai
pemilik sawah atau ladang, kebun yang letaknya di luar kota.
Golongan-golongan masyarakat di dalam kota-kota terutama di
pusat-pusat kerajaan biasanya mempunyai perkampungan-
perkampungan sendiri-sendiri yang didasarkan atas kedudukan,
keagamaan, kebangsaan dan kekaryaan, seperti kampung-

5

kampung Pecinan, Pekojan, Pakauman, Kademangan,
Kapatihan, Kasatrian, dan Pangukiran (Tjandrasasmita, 2000:
41-42).

Secara umum, kota-kota tua di Jawa tidak muncul dan
berkembang secara spontan dari kemauan komunal para
pedagang dan pekerja ahli. Lokasi, desain, dan ukuran kota-kota
itu bergantung pada kemauan raja. Situasi yang
menguntungkan, baik secara ekonomis maupun strategis, pada
persimpangan jalan atau berdekatan dengan pelabuhan alam,
dapat mempengaruhi keputusannya. Rencana kota yang asli
dapat dikenal dengan mudah dalam tata kota keraton Jawa
lama, ada alun-alun di pusat kota dengan bangunan-bangunan
penting yang diatur di sekelilingnya menurut cara tradisional,
menurut empat arah mata angin. Jalan utama melintas satu
sama lain dalam sudut lurus (Wertheim, 1999:134).

1.2 Permulaan Kudus
Wilayah yang sekarang disebut Kudus, pada zaman dahulu
sekitar abad ke-8 dan 9 M, pada masa pemerintahan raja-raja
Syailendra masih berupa selat yang memisahkan ‘pulau’ Muria
dengan pulau Jawa. Amen Budiman dalam bukunya Semarang
Riwayatmu Dulu jilid I pada halaman antara 2-3 menampilkan
sebuah peta wilayah bagian Utara Jawa Tengah pada masa
pemerintahan raja-raja Syailendra yang bersumber dari buku
Indonesia dan Asia Tenggara (III) : Kerajaan Syailendra
karangan R. Moh. Ali dan The Geology of Indonesia oleh R.W.
van Bemmelen, seorang ahli geologi Belanda. Pada keterangan
peta ditulis bahwa gunung Muria masih terletak di sebuah
pulau; keadaan itu berlangsung sampai pada abad ke-18 M,

6

dimana kapal-kapal masih bisa berlayar melalui selat yang
memisahkan pulau itu dengan perbukitan Rembang. Akan tetapi
dikemudian hari selat itu tertutup oleh pengukuban lumpur
yang berasal dari daerah yang kemudian bernama Demak
menuju ke daerah Rembang melalui Kudus dan Pati
(Budiman,1978: tanpa halaman). Selat itu agaknya cukup lebar
dan dapat dilayari dengan baik, sehingga kapal-kapal dagang
dari Semarang dapat mengambil jalan pintas untuk berlayar ke
Rembang. Tetapi sejak abad ke-17 M jalan pintas itu tidak dapat
lagi dilayari (De Graaf,1985:37)1.

Ternyata tanah di dataran Selatan Gunung Muria ini
cocok untuk persawahan dan sejak itu daerah ini mulai ramai
dihuni penduduk: dengan begitu berdirilah kota-kota Demak,
Pati, Juwana, dan kemudian Kudus. Ini terjadi pada periode
jatuhnya kerajaan Hindu Majapahit di Jawa Timur
(Husken,1999:63). Koentjaraningrat dalam bukunya
Kebudayaan Jawa halaman 55 juga menyajikan peta Jawa
Tengah bagian Utara pada sekitar abad ke-15 M. Pada peta
terlihat bahwa kota Kudus berada agak di tengah daratan (dari
proses kukuban Lumpur), sedangkan kota-kota seperti Demak,
Pati, dan Juwana terletak di pesisir pantai Utara Jawa Tengah.
Pigeaud dalam bukunya yang termashur Java in The Fourteenth

1 Dalam catatan kakinya, De Graaf memberitahukan bahwa pada abad ke-17 M,
selama musim hujan orang dapat berlayar dengan sampan lewat tanah yang
tergenang air mulai dari Jepara sampai Pati di tepi sungai Juwana. Dalam sebuah
wawancara dengan Bapak Rabiman, pegawai Dinas Purbakala Jawa Tengah, yang
sedang merenovasi salah satu bagian makam Sunan Kudus pada tahun 2002,
menurut cerita beberapa orang Kauman yang tinggal tepat di belakang kompleks
masjid Menara dan makam Sunan Kudus, bahwa mereka pada suatu waktu
melakukan pengeboran tanah untuk keperluan sumur, ternyata setelah kedalaman
8 meter, mata bor menabrak kayu dan tanahnya berpasir. Mereka menduga kayu
yang ditabrak mata bor dan tersimpan di dalam tanah tersebut adalah badan
sebuah kapal yang sedang ‘naas’ pada zaman dahulu.

7
Century, jilid V, (suplemen) dan Antoinette M. Barrett Jones
dalam buku Early Tenth Century, Java From The Inscriptions
menyajikan peta pulau Jawa. Di bagian Utara Jawa Tengah jelas
tergambar aliran-aliran sungai Tuntang atau sungai Demak
yang melewati Demak dan bermuara di laut Jawa, sungai Serang
dan percabangannya yaitu sungai Lusi yang bermuara di laut
Jawa antara Demak dan Jepara, dan sungai Gelis yang melewati
kota Kudus, hilirnya bertemu dengan sungai Serang. Dalam peta
tidak tergambar adanya sungai Juwana. (Gambar 1.1 dan
Gambar 1.2).

Gambar 1.1 Peta Wilayah Jawa Tengah bagian Utara, sekitar Abad 7-8 M.
(http://pustakadigitalindonesia.blogspot.com, akses 6 Mei 2019)

8

Gambar 1.2 Peta “Pulau” Muria.
(https://ihdaihda.wordpress.com, akses 6 Mei 2019)

Kudus kurang berperan saat permulaan Islam masuk dan
kemudian berkembang pesat di tanah Jawa pada awal abad ke-
15 M. Peranan penting justru dilakukan oleh kota-kota dagang di
pantai Utara Jawa lainnya yang semakin lama semakin makmur
dan kuat; dan melahirkan syahbandar-syahbandar yang
kebanyakan orang asing. Kedudukan sebagai syahbandar yang
bersifat turun menurun kemudian melahirkan semacam
penguasa kota pelabuhan yang selalu melakukan hubungan
dengan pusat (Kerajaan Majapahit) untuk membuat
kedudukannya menjadi syah dan aman.

Dari permulaan Agama Islam sudah mempunyai
pengaruh di kalangan menengah, kaum pedagang dan buruh di
bandar-bandar kota pelabuhan pesisir Utara Jawa. Agama Islam
bagi golongan menengah yang berdagang itu telah menciptakan

9

tata tertib dan keamanan serta menonjolkan kerukunan di
antara mereka. Orang-orang asing yang beragama Islam, dari
bermacam-macam bangsa, bertempat tinggal di kampung
tersendiri di bandar-bandar, membuat rumah mereka menjadi
kubu pertahanan untuk menghindari akibat yang lebih buruk
dari orang-orang ‘kafir’ yang telah tersisih kedudukannya. Dan
di manapun di kota-kota bandar bila telah terbentuk masyarakat
Islam, masjid niscaya segera dibangun; itu merupakan suatu
keharusan sebab masjid menduduki tempat yang penting dalam
kehidupan masyarakat muslim; ia merupakan pusat pertemuan
orang-orang beriman dan menjadi lambang kesatuan jama’ah.

Pada mulanya para penguasa baru Islam itu, masih
mengakui kedaulatan raja Hindu-Jawa di Majapahit; namun
sejak perempat terakhir abad ke-15 M hingga pertengahan abad
ke-16 M, mereka satu persatu berpaling dan memberikan
dukungan kepada kerajaan Islam Demak yang diproklamirkan
pada tahun 1478, oleh Raden Patah, seorang keturunan Cina.
Puncaknya adalah pada tahun 1527, ketika ibukota Kerajaan
Majapahit berhasil direbut pasukan Demak2. Sejarah mencatat
bahwa dalam penyerangan ke pusat Kerajaan Majapahit tersebut
dilakukan oleh pasukan dari kalangan santri militan di bawah
pimpinan seorang ulama dari Ngudung3 yang kelak bergelar
Sunan Ngudung dan putranya yang bernama Ja’far Shadiq yang
kemudian bergelar Sunan Kudus. Rupanya penyerangan ke

2 Keberhasilan pasukan Demak merebut ibukota kerajaan Majapahit juga
diceritakan dalam Babad Tanah Jawa. Setelah Majapahit runtuh, pasukan Demak
masuk ke dalam istana. Harta benda keraton dan berbagai macam alat dirampas,
diboyong ke Demak.

3 Tempat yang bernama Ngudung hingga sekarang letaknya belum diketahui; ada
yang menghubungkannya dengan Kudus.

10

jantung pertahanan Kerajaan Majapahit berlangsung beberapa
tahun. Dalam pertempuran di Wirasaba, Jawa Timur, ulama
tersebut menemui syahidnya; kemudian pimpinan pasukan
langsung dipegang oleh Ja’far Shadiq. Diperkirakan peristiwa ini
terjadi pada tahun 1524; hingga peperangan berakhir pada tahun
1527. Setelah sukses dalam misinya ke Jawa Timur, Ja’far
Shadiq menggantikan kedudukan ayahnya sebagai imam masjid
Agung Demak. Namun hal ini tidak lama karena mungkin
dengan alasan untuk lepas dari hiruk pikuk politik dan
kekuasaan, kemudian dia meninggalkan Demak menuju ke arah
Timur ke suatu tempat yang kemudian dikenal dengan nama
Kudus. Menetapnya tokoh ini di Kudus diperkirakan terjadi
beberapa tahun sebelum tahun 15494.

Tahun 1549, sebenarnya adalah tahun berdirinya Masjid
Menara Kudus sebagaimana yang tertera pada inskripsi di atas
mihrab masjid. Tentang masjid ini akan dibahas secara agak
rinci di bagian belakang. Pembangunan kompleks masjid ini
tidaklah mungkin diselesaikan dalam waktu hanya satu atau dua
tahun, mengingat dalam pelaksanaannya harus dilakukan
pembakaran batu bata terlebih dahulu sebagai bahan utama
bangunan dinding keliling masjid yang pada lazimnya dilakukan
di musim kemarau. Dan lagi, menurut cerita setempat bahwa
Masjid Menara Kudus bukanlah masjid pertama yang didirikan

4 Sebab-sebab kepindahan Ja’far Shadiq dari Demak ke Kudus juga diduga adanya
perbedaan pendapat dengan raja perihal penetapan awal bulan Ramadhan. Sebab
lain yang mungkin masuk akal adalah karena kehadiran seorang tokoh ulama yang
mendapat restu Syeh Nurullah (Sunan Gunung Jati) dari Cirebon ke Demak pada
tahun 1543, yaitu Raden Syahid (Sunan Kalijaga). Kelebihan-kelebihan yang
diberikan oleh raja kepada tokoh ini telah membuat Ja’far Shadiq gerah. Apabila
alasan terakhir ini dianggap benar maka Ja’far Shadiq pindah dan menetap di
Kudus paling awal pada tahun 1543, tahun dimana Sultan Trenggono masih
berkuasa di Demak (De Graaf,1985:113-114).

11

oleh Ja’far Shadiq; melainkan sebuah masjid yang kini dikenal
dengan masjid Nganguk Wali yang terletak agak jauh ke arah
Timur dari Masjid Menara Kudus, menyeberangi sungai Gelis.
Sehingga diduga Ja’far Shadiq menetap di tempatnya yang baru
beberapa tahun sebelum Masjid Menara Kudus berdiri tahun
1549; atau sebelumnya pernah menyinggahi tempat yang kelak
bernama Kudus semasa dia mengabdi pada Kerajaan Islam
Demak. Alasan yang dapat diberikan adalah pertama, kematian
Sultan Trenggono, raja Demak ketiga saat melakukan
penyerangan ke ujung Jawa Timur pada tahun 1546 telah
menyebabkan terpecah belahnya Kerajaan Islam Demak akibat
perebutan kekuasaan oleh keluarga Sultan; kekacauan telah
terjadi di pusat kerajaan. Adalah hal yang masuk akal jika Ja’far
Shadiq tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam kemelut keluarga
kerajaan. Alasan kedua, dalam mendesain kompleks masjid yang
begitu unik, tidak ada duanya di bumi nusantara ini, dibutuhkan
suatu kajian-kajian yang matang dan mendalam, dan hal ini
membutuhkan waktu dan data lapangan yang cukup memadai
terutama tentang kondisi sosio-kultural, adat istiadat
masyarakat setempat. Alasan ketiga, letak daerah Ngudung
(tempat kedudukan ayah Ja’far Shadiq) sebagai salah satu basis
pemusatan pasukan perang pendukung setia Kerajaan Islam
Demak dalam rangka merebut ibukota Kerajaan Majapahit,
walaupun belum diketahui secara pasti, namun hampir dapat
dipastikan terletak di sebelah Timur Demak. Sehingga tidak
menutup kemungkinan bahwa dalam kurun waktu atau setidak-
tidaknya setelah berakhirnya peperangan di Jawa Timur pernah
menetap di Kudus.

12

Menurut cerita setempat, yang mula-mula menggarap
tanah yang kemudian bernama Kudus adalah Kiai Telingsing,
seorang Tionghoa Muslim. Rupanya dia selain mubaligh Islam
juga seorang pemahat dan seniman yang terkenal. Nama
Telingsing oleh pembuat cerita diartikan sebagai nama Tionghoa
dari kata The Ling Sing (Salam,1977:41). Berarti bahwa Ja’far
Shadiq adalah generasi kedua setelah Telingsing dalam
menggarap tanah Kudus?

Untuk hidup menetap di Kudus, mula-mula Ja’far Shadiq
memperoleh penghasilan dari tanah-tanah ladang di sekitarnya
yang diolah oleh para pengikutnya dari barisan santri yang telah
ikut berperang melawan pasukan ‘kafir’ Majapahit dan para
kawula. Boleh jadi dia sebagai panglima perang Kerajaan Demak
memiliki kawula-kawula yang semula milik para penguasa ‘kafir’
di daerah Majapahit yang telah ditaklukkannya (De
Graaf,1985:116-117). Jiwa dagang yang dimiliki oleh Ja’far
Shadiq telah ikut membantu kehidupannya di daerah ‘garapan’
yang baru.

Di tempatnya yang baru, Ja’far Shadiq selain mendirikan
sebuah masjid berpagar keliling batu bata dengan menaranya
yang menyerupai candi, juga membangun sebuah tempat
kediaman bagi dirinya dan keluarganya; mirip keraton
dilengkapi dengan sebuah masjid yang berukuran lebih kecil,
yang sekarang bernama Masjid Suranata ( De Graaf,1985:120).
Tetapi tetap menemui kesulitan untuk menentukan secara tepat
lokasi di mana kediaman Ja’far Shadiq sebab kurangnya data
arkeologis. Ada dugaan bahwa lokasi di sekitar Masjid Langgar
Dalem di kampung (desa) Langgar Dalem sekarang, sebelah
Utara Masjid Menara Kudus, adalah tempat kediamannya saat

13

itu5. Mungkin yang dimaksud De Graaf dengan Masjid Suranata
adalah Masjid Langgar Dalem ini, karena di wilayah Kudus Kota
Lama tidak ditemukan nama Masjid Suranata. Sementara
keberadaan bangunan batu menara raksasa Kudus juga menarik
untuk didiskusikan lebih lanjut.

Selanjutnya, Kudus menjadi pusat agama Islam yang
tersohor di Nusantara; santrinya tidak hanya berasal dari sekitar
Kudus dan pulau Jawa tetapi juga dari daerah-daerah di luar
pulau Jawa seperti pulau Sumatra dan Lombok, Nusa Tenggara
Barat. Saat itu Kudus bisa dibandingan dengan pusat
keagamaan di Giri dan Gresik, Jawa Timur. Kedudukan Kudus
sebagai pusat keagamaan Islam yang dipimpin oleh tokoh
kharismatik Sunan Kudus (dan keturunannya) tetap mendapat
tempat di dalam perpolitikan kerajaan-kerajaan Demak, Pajang,
dan awal dinasti Mataram.

Hampir dapat dipastikan bahwa daerah yang sekarang
terdapat kompleks Masjid Menara Kudus dan makam keramat
Sunan Kudus, adalah pusat kota Kudus Kuno. Wilayah ini
terletak sekitar satu kilometer, menyeberangi sungai Gelis, dari
pusat kota Kudus modern ke arah Barat. Kompleks masjid
dikelilingi dinding tembok dari susunan bata merah tanpa
plesteran. Dipandang sekilas, kompleks ini lebih menyerupai
sebuah pura dengan beberapa candi bentar dan kori agung nya,
menempati areal kurang lebih 0,7 hektar, di wilayah desa
Kauman.

5 Langgar berasal dari kata Sanggar, merupakan unsur kultur Asli Jawa
(Animisme dan Dinamisme), sebuah bangunan untuk tempat bertemu, berkumpul,
yang bersifat sakral; setelah Islam datang berubah fungsi sebagai bangunan Islam.

14

Apabila boleh memberikan istilah lingkaran sekedar
menunjukkan kedekatannya dengan pusat kota Kudus Kuno,
maka berturut-turut dapat disebutkan perkampungan atau desa-
desa sebagai berikut : lingkaran pertama, mencakup Kauman,
sebagian Damaran (bagian Timur), sebagian Kerjasan (bagian
Selatan) dan Maduraksan; lingkaran kedua, mencakup sebagian
Damaran (bagian Barat), sebagian Kerjasan (bagian Utara),
Langgar Dalem, Demangan, Jagalan; lingkaran ketiga,
mencakup Kajeksan, Krandon, Demaan (di seberang sungai
Gelis, termasuk Kudus Wetan), Sunggingan, dan Purwosari.

1.3 Asal Usul Nama Kudus
Data autentik yang masih bisa digunakan sebagai sandaran
untuk menelusuri asal usul nama Kudus yakni sebuah Inskripsi
yang terdapat di atas pengimaman Masjid Menara Kudus
(Gambar 1.3).

Gambar 1.3 Inskripsi Masjid Menara Kudus.
(http://www.nu.or.id, akses 6 Mei 2019)

15

Inskripsi yang berbahasa Arab dengan susunan hurufnya
yang sudah tidak jelas, kurang lebih bunyinya sebagai berikut :

“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Aqaama bina-al
masjid al Aqsha wal balad al Quds khaliifatu
haadzad dahr habru (aali) Muhammad, yasytari (?)
izzan fii jannah alkhuldi ……qurban min
arrahman bibalad al Quds (?) ansya-a haadzal
masjid al Manar (?) almusammaa bil aqsha
khaliifatullahi fil ardli ……al-‘ulyaa wal mujtahid
as-sayyid al ‘arif al Kamil al Fadlil al Maqsus bi-‘
inaayati ……al Qaadlii Ja’far ash-Shadiq
……sanah sittin wa khomsiina wa tis’im mi’atin
minal hijrah annabawiyyah wa sallallaahu ‘alaa
sayyidinaa Muhammadin wa ashhaabihii
ajma’iin”
yang artinya kurang lebih :

“Dengan nama Allaah Yang Maha Pengasih dan
Penyayang. Telah mendirikan masjid Al Aqsha dan
negeri Al Quds ini Khalifah pada zaman ulama dari
keturunan Muhammad untuk membeli kemuliaan
sorga yang kekal ……untuk mendekatkan diri
kepada Yang Maha Pengasih di negeri Al Quds (?)
membina masjid Al Manar (?) yang dinamakan Al
Aqsha khalifah Allaah di bumi ini …… yang agung
dan mujtahid tuan yang arif sempurna utama
khusus dengan pemeliharaan …… penghulu Ja’far
ash-Shadiq …… pada sembilan ratus limapuluh
enam dari hijrahnya Nabi Muhammad SAW dan
para sahabatnya semua”

16

Di dalam Inskripsi terdapat nama-nama seperti Al-Aqsha,
Al-Manar, Al-Quds, dan Ja’far Shadiq, dan disebutkan pula
angka tahun 956 Hijriyah, yang satu sama lain sangat berkaitan.

Kata Al-Aqsha dan Al-Manar adalah nama masjid; Al-
Quds adalah nama wilayah atau negeri dimana bangunan masjid
berada; Ja’far Shadiq adalah pendiri masjid dan sekaligus
pembangun negeri atau wilayah; dan tahun 956 H atau
bertepatan dengan tahun 1549 M adalah tahun berdirinya
masjid. Ada tiga nama dalam bahasa Arab yang perlu dikaji,
yaitu Al-Aqsha, Al-Manar dan Al-Quds.

Penggunaan kata Al-Aqsha untuk nama masjid
mengingatkan kita pada bangunan masjid bersejarah bagi umat
Islam sedunia yang terdapat di Baitul Maqdis, Palestina; masjid
dimana pernah Nabi Muhammad SAW melakukan Isra’ dan
melakukan shalat berjamaah dengan para Nabi lainnya. Masjid
yang dianggap merupakan peninggalan Nabi Sulaiman AS itu
dahulu pernah menjadi arah Kiblat bagi orang-orang Islam
dalam melakukan shalat sebelum kemudian dipindahkan ke arah
Kabah di Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi. Mengapa
digunakan nama Al-Aqsha ? Konon, menurut cerita setempat,
ketika Ja’far Shadiq mengunjungi majid Al-Aqsha di Baitul
Maqdis dalam rangka menunaikan ibadah Haji menerima hadiah
dari seseorang oleh sebab kefakihannya atau kepintarannya
dalam ilmu-ilmu agama yaitu berupa sebuah batu, yang
kemudian batu ini diletakkan di atas pengimaman masjid yang
dia bangun setelah kembali ke tempat asalnya.

Masjid yang didirikan oleh Ja’far Shadiq juga bernama Al-
Manar. Kata Al-Manar berasal dari kata dasar nar yang berarti
api atau cahaya yang kemudian mendapat awalan ma yang
menunjuk sebuah tempat, sedangkan Al adalah sebagai imbuhan

17

yang memperkuat penyebutan sebuah benda. Dengan demikian
arti kata Al-Manar adalah tempat menaruh cahaya (yang
dimaksud adalah mercusuar). Belakangan kata ini digunakan
untuk nama sebuah bangunan tinggi sebagai pelengkap
bangunan masjid yang fungsinya untuk memanggil atau
mengumpulkan orang-orang Islam dalam rangka ibadah shalat.
Al-Manar berarti Menara. Mengapa menggunakan nama Al-
Manar ? Apakah nama ini juga diperoleh dari sebuah nama
tempat atau bangunan di Timur Tengah sebagaimana kata Al-
Aqsha ? Atau apakah masjid Al-Aqsha di Jerusalem juga disebut
masjid Al-Manar ? Penyebutan nama Al-Manar yang berarti
menara untuk sebuah nama masjid mengindikasikan bahwa
telah adanya sebuah bangunan menara yang tentu saja bukan
menara biasa dimana letaknya tidak jauh dari masjidnya ketika
inskripsi dibuat sebagai peringatan pendirian masjid.

Kata ‘Menara’ yang dikaitkan dengan keberadaan masjid
kuno dan nama kota Kudus perlu mendapat perhatian; ada dua
kemungkinan asal katanya, pertama, merupakan perubahan
nama dari Al-Manar sesuai dengan apa yang tertulis pada
Inskripsi, kedua, merupakan sebutan kepada adanya sebuah
menara (mirip candi) yang berada di sebelah tenggara masjid
sekarang. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa kata menara
berasal dari kata Al-Manar. Namun adanya kemungkinan kedua
juga tidak bisa diabaikan. Hal ini bisa didasarkan pada kebiasaan
orang-orang terdahulu dalam hal menyebut sesuatu nama, yakni
dengan menghubungkannya dengan hal-hal yang “mencuri
penglihatannya” pada sebagian besar masa kehidupannya.

Menurut Slametmuljana, dalam soal meneliti asal-usul
nama, berpikir secara muluk-muluk sering kali tidak diperlukan,

18

karena pemberian nama kepada sesuatu tempat (bisa berupa
tapak maupun bangunan) sering berlangsung secara sederhana
sekali. Sebagai contoh, suatu daerah yang banyak ditumbuhi
pohon turi dinamakan Karangturi, yang ditumbuhi banyak
pohon asem dinamakan Karangasem, yang banyak batunya
dinamakan Pulowatu, dsb (Slametmuljana, 1979:155).

Rupanya bangunan besar yang bentuknya mirip sebuah
candi Hindu yang terletak di kawasan pusat kota Kudus Kuno
lebih menarik perhatian masyarakat Kudus pada saat itu
ketimbang keberadaan masjid itu sendiri. Hal mana juga
dilakukan oleh seorang Belanda, Anthonio Hurdt, yang pernah
singgah di kota Kudus Kuno pada tahun 1678 M. Dia hanya
mengomentari keberadaan bangunan tersebut, tidak lebih, tidak
juga terhadap sebuah masjid yang konon didirikan oleh Ja’far
Shadiq lebih dari satu seperempat abad sebelumnya.

Oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya, masjid yang
konon didirikan oleh Ja’far Shadiq itu dikenal Masjid Menara
Kudus. Nama Masjid Menara Kudus seolah-olah mengandung
arti masjidnya menara, masjid milik menara, sebagaimana pula
bila kata-kata tersebut di balik menjadi menara Masjid Kudus
yang mengandung arti menaranya Masjid Kudus, menara milik
masjid. Tetapi arti dari Masjid Menara Kudus yang mungkin bisa
diterima adalah masjid yang punya hubungan dengan sebuah
“Menara Batu” yang bentuknya menyerupai candi di kota Kudus
Kuno. Setidaknya tentu bangunan menara tersebut lebih berarti
ketimbang bangunan masjidnya dimata masyarakat Kudus
Kuno. Hal ini bisa dibandingkan dengan sebuah masjid kuno di
Banten yang juga memiliki sebuah menara yang antik; mengapa
lebih populer dengan sebutan masjid Banten? bukan masjid
Menara Banten?

19

Sebagaimana telah disinggung di depan bahwa tingkat
pemikiran dan pemahaman masyarakat Jawa tradisional tentang
istilah-istilah yang asing bagi dirinya masih sangat rendah.
Sebaliknya mereka lebih suka berfikir secara sederhana tanpa
sesuatu yang muluk-muluk.

Kata-kata seperti Al-Aqsha dan Al-Manar mungkin sulit
dieja dan diucapkan oleh masyarakat awam Kudus tempo dulu.
Sehingga tidak heran apabila masyarakat lebih mengenal nama
Masjid Menara Kudus. Bisa jadi kata menara mereka peroleh
dari perubahan kata Al-Manar, tetapi juga tidak mudah
dipungkiri karena adanya sebuah bangunan menara itu sendiri.
Dengan demikian jelas bahwa ketika masjid dibangun pada
tahun 1549 M ternyata bangunan menara sudah ada atau sudah
berdiri. Dengan kata lain bangunan menara sudah ada sebelum
tahun 1549 M.

Kata di dalam Inskripsi bersejarah yang perlu mendapat
perhatian selanjutnya adalah Al-Quds. Kata yang berasal dari
bahasa Arab ini berarti suci. Tidak diragukan bahwa kata Al-
Quds kemudian oleh lidah masyarakat Jawa berubah menjadi
Kudus. Ja’far Shadiq yang dikenal sebagai salah satu anggota
Walisanga yang tegas dalam urusan Aqidah atau Ketuhanan
merasa perlu untuk “mensucikan” wilayah yang menjadi sasaran
dakwahnya. Wilayah ini diyakini dahulu merupakan tempat
tumbuh suburnya kultur asli Jawa (Animisme/Dinamisme); hal
yang lazim untuk sebuah wilayah di lereng gunung dimana oleh
masyarakat Jawa kuno gunung dianggap sebagai tempat
bersemayamnya para dewa.

20

1.4 Menelusuri Keberadaan Masyarakat Kudus Kuno
Nama yang lebih tua untuk Kudus adalah Tajug (De Graaf, 1985:
115). Kata tajug berarti bangunan yang memiliki denah bujur
sangkar bertiang empat buah dan atapnya terdiri dari empat
bidang datar yang saling bertemu meruncing ke atas. Bangunan
ini pada umumnya dijumpai pada bentuk makam (cungkup) dan
masjid atau langgar. Namun ada yang menghubungkan nama
tajug dengan hal-hal yang dianggap keramat. Di tempat itu
mungkin sebelumnya telah ada orang-orang bermukim yang
beragama Animisme, dan mungkin pula telah ada persinggungan
dengan orang-orang yang berada di hutan-hutan gunung Muria.

Apabila kita memperhatikan kondisi geologi di sekitar
Kudus dengan adanya aliran sungai di bagian Selatan yaitu
sungai Juwana yang bermuara ke laut Jawa lewat kota Juwana
dan sungai Serang yang bermuara juga di laut Jawa di antara
Demak dan Jepara dimana aliran kedua sungai tersebut dari
arah Selatan, dari pegunungan Kendeng, Jawa Tengah; maka
kota Demak, Pati dan Juwana dalam proses pembentukannya
dapat diduga berasal dari daratan Jawa. Di kota Kudus sendiri
terdapat aliran sungai yaitu sungai Gelis yang membagi kota
menjadi dua bagian, kota lama dan kota baru, dimana aliran air
dari arah Utara ke Selatan, berasal dari dataran tinggi Muria
menuju pertemuannya dengan sungai Serang di bagian Selatan
Kudus; hal ini menunjukkan adanya dugaan kuat bahwa pada
proses pembentukannya, Kudus berasal dari daratan Muria. Dan
mungkin ‘tanah’ Kudus menjadi daratan yang lebih akhir
keberadaanya, tetapi lebih awal dalam proses penyatuan antara
pulau Jawa dengan ‘pulau’ Muria. Jika hal ini dianggap benar
maka Kudus tidak pernah menjadi kota bandar atau kota
pelabuhan sebagaimana kota-kota di pesisir pantai Utara Jawa

21

lainnya. Lebih jauh, Kudus bisa jadi merupakan lahan baru bagi
orang-orang dari ‘pulau’ Muria. Keberadaan bangunan menara
besar yang sekarang terletak di sebelah Tenggara masjid boleh
jadi ada kaitannya dengan orang-orang ini.

Patut diduga sepertinya bangunan menara Kudus yang
bentuknya mirip candi lebih sebagai sebuah bangunan tetenger
bagi masyarakat yang baru saja membentuk sebuah
permukiman. Dan sangat kecil kemungkinannya bahwa dahulu,
sebelum Islam masuk dan menyebar merata di Kudus Kulon,
telah ada masyarakat Hindu di sana. Di dalam berbagai uraian
sejarah Jawa pun belum pernah disinggung keberadaan
komunitas Hindu di wilayah Kudus dan sekitarnya, kecuali
wilayah pusat-pusat kerajaan di Jawa.

Sejarah Jawa kuno yang disusun berdasarkan penemuan-
penemuan ahli purbakala, berupa piagam-piagam dan monumen-
monumen dan candi-candi peninggalan raja-raja yang berkuasa
di Jawa memperkuat bahwa, sejarah Jawa kuno yang diketahui
hanyalah sejarah raja-raja Jawa (Herusatoto, 2001).

Adapun keadaan masyarakat pada dewasa ini, tidak dapat
diketahui kecuali yang berada di lingkungan keraton.
Pengaruhnya kebudayaan Hindu sama sekali belum meresap
sampai ke desa-desa sehingga belum ada perubahan terhadap
kehidupan dan pikiran rakyat, seperti yang kita kenal di kelak
kemudian hari. Perbedaan antara keraton dan desa pasti banyak
sekali, dan kebahagiaan sebagai akibat kebudayaan Hindu untuk
sementara waktu hanyalah dikenyam oleh raja-raja.

Sementara itu, di wilayah Jepara sekarang, yang diduga
pernah ada sebuah kerajaan pada abad ke-7 M, apabila hal itu
untuk memperkuat anggapan bahwa bahwa masyarakat Hindu

22

sudah ada di sekitar gunung Muria, ternyata masih banyak
menimbulkan perdebatan. Salah satunya adalah Slametmuljana
yang menganggap bahwa kerajaan Kalingga atau Keling atau
Holing yang pernah ada pada abad ke-7 M terletak di daerah
sekitar lembah Sungai Brantas sekarang, di bagian Timur pulau
Jawa (Slametmuljana, 1981).

Apabila kita menggunakan masyarakat Hindu Bali
sebagai rujukan, dimana mereka adalah masyarakat Hindu
Majapahit yang terdesak ke arah Timur oleh pasukan Islam baik
pada zaman Demak maupun zaman mataram Islam, maka kita
setidak-tidaknya dapat menemukan sekelompok masyarakat,
walaupun sedikit jumlahnya, yang tidak menerima agama Islam
dan memilih untuk menyingkir di sekitar wilayah Kudus. Tetapi
setelah menelusuri wilayah di sekitar Kudus, seperti di bagian
Selatan-Tenggara, di sekitar pegunungan Prawoto, dan di bagian
Utara, di sekitar makam keramat Sunan Muria, tidak ditemukan
komunitas Hindu.

Di desa Mandaan, tepat di sebelah Selatan makam Sunan
Muria, di daerah Colo, terdapat kelompok masyarakat beragama
Budha aliran Teravada. Menurut informasi dari salah seorang
pemimpin jama’ah, bahwa keberadaan agama Budha Teravada
ini secara resmi di daerah Mandaan dan Colo baru pada tahun
1960-an, setelah ada himbauan dari pemerintah kepada segenap
warga negara agar memeluk salah satu agama resmi. Seorang
ibu tua berusia sekitar 60 tahun, menceritakan bahwa dia dan
keluarganya menganut agama Budha itu secara resmi sejak
tahun 1960-an. Sebelumnya, sekitar tahun 1940-an, orang-orang
di sekitar sini banyak yang mengaku beragama Budo; dan agama
ini dianggap oleh mereka sebagai agama nenek moyang. Dahulu,
mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan agama Islam, seperti

23

riyoyo, perayaan hari raya Fitri umat Islam, tetapi mereka tidak
mengaku beragama Islam. Istilah agama Budo kemungkinan
menunjuk kepada agama asli masyarakat setempat, yaitu
Animisme, yang pada waktu kemudian sedikit banyak telah
bersinggungan dengan agama Islam. Agama Budo yang tidak ada
kaitannya dengan Budhisme karena ia tidak mengakui Sidharta
Gautama atau Sang Budha sebagai figur utama pemujaannya
maupun terhadap ajaran pencerahannya, ternyata ditemui pula
oleh Clifford Geertz di Mojokuto (1981). Dan juga agama ini
dapat dijumpai dalam sistem keyakinan orang-orang Sasak di
Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebelum kedatangan pengaruh
asing di Lombok, Boda merupakan kepercayaan asli orang
Sasak. Orang Sasak pada waktu itu, yang menganut kepercayaan
ini disebut sebagai Sasak Boda.

Sangat menarik apa yang pernah diceritakan oleh bapak
Kornen, seorang mantan modin di Kudus Kulon, yang usianya
sudah tergolong tua (79 tahun). Dia bercerita, menurut cerita
orang-orang tua, dahulu di sekitar masjid yang kemudian dikenal
dengan Masjid Langgar Dalem (sekitar 200 meter di sebelah
Utara masjid Menara Kudus) dihuni komunitas Budo.

Bangunan menara itu selain sebagai tetenger juga sebagai
simbol persatuan jama’ah masyarakat Kudus kuno. Ia adalah
axis mundi, sebuah pilar kosmik, yang menghubungkan bumi
tempat berpijak manusia sekarang dengan surga sebagai
tempatnya setelah meninggal dunia; ia dipahami sebagai tangga
menuju surga. Pilar sakral itu, tentulah dahulunya terletak di
tengah-tengah hunian penduduk; ia sebagai Pusat Dunia.
Bangunan menara bagi masyarakat Kudus kuno dianggap
sebagai pengganti gunung Muria yang sakral, yang mungkin

24

dulunya menjadi tempat tinggal dan pemujaan bagi sebagian dari
mereka. Sehingga, bangunan menara pun, di samping sebagai
tetenger juga merupakan pusat peribadatan masyarakat Kudus
kuno. Oleh karenanya, ruang di sekitar kaki bangunan menara
memiliki perbedaan nilai kualitas dengan ruang-ruang di
luarnya.; itulah ruang sakral, yang kehadirannya membuat
dirinya terpisah dari lingkungan kosmik yang melingkupinya
dan membuatnya berbeda secara kualitatif. Kondisi lingkungan
yang padat di sekitar masjid Menara sekarang ini bisa
menunjukkan bahwa tempat itu, dari dulu hingga sekarang,
menjadi Pusat Dunia. Hal ini juga menjadi pembenaran
kesimpulan brilian Mircea Eliade (2002), yang menyatakan
bahwa manusia religius berusaha hidup sedekat mungkin
dengan Pusat Dunia.

Agama Hindu yang dihadirkan di wilayah Kudus,
kemungkinan besar berkaitan dengan penokohan Ja’far Shadiq
sebagai Sunan Kudus. Dan sejak kapan usaha-usaha untuk
menempatkan Ja’far Shadiq sebagai tokoh panutan yang harus
dihormati dan diikuti jejaknya oleh masyarakat Kudus dan
sekitarnya ? Hal ini bisa ditelusuri dari angka-angka tahun yang
tertera di bagian-bagian bangunan kompleks masjid Menara dan
makam keramat Sunan Kudus. Selain angka tahun 1549 Masehi
yang sudah dijelaskan di bagian muka, pada salah satu tiyang
atap (dari kayu) menara terdapat candra sengkala berbunyi
Gapura Rusak Ewahing Jagat yang menunjuk angka tahun
Jawa 1609 atau 1685 M; di salah satu anak tangga (kayu)
menara tertera angka tahun 1313 H atau 1895 M; pada gapura
kori, sebelah Timur bangunan tajug tertera angka tahun 1216 H
atau 1801 M; pada gapura kori, sebelah Utara bangunan tajug
tertera angka tahun 1210 H atau 1795 M; di atas tiang atap

25

bangunan tajug tetera angka tahun 1145 H atau 1732 M; di
bagian depan pintu masuk makam Sunan Kudus tertera angka
tahun Jawa1895 atau 1296 H atau 1878 M; di bagian muka dan
belakang gapura kori di serambi masjid tertera angka tahun
Jawa 1727 (di sebelah Barat) dan 1215 H (di sebelah Timur)
yang keduanya menunjuk angka tahun 1800 M.

Berdasarkan angka-angka tahun yang telah disebutkan,
patut diduga bahwa usaha-usaha para sesepuh masyarakat
Kudus Kuno dalam rangka penokohan Ja’far Shadiq sebagai
Sunan Kudus telah dimulai sekitar abad ke-18 M, yaitu dengan
menciptakan dan menjadikan kegiatan makam (ziarah) sebagai
salah satu kegiatan penting. Pada masa permulaan ini, jelas
bangunan masjid tidak atau belum diketahui keberadaannya.
Bahkan, sebenarnya pada masa menjelang tahun 1918 pun, tidak
ada keterangan baik tertulis maupun lisan yang menggambarkan
keberadaan Masjid Menara Kudus. Sejak kapan cungkup makam
Sunan Kudus mulai ada, sulit untuk dijawab karena tidak ada
data-data yang bisa digunakan rujukan. Yang jelas kesadaran
akan penghormatan terhadap wali yang telah meninggal dunia
mulai muncul.

1.5 Mengenang Kejayaan Kudus
Perubahan kehidupan masyarakat Kudus secara signifikan
terjadi sejak paruh kedua abad ke-19 M; sebagaimana juga
terjadi di kota kota di wilayah pesisir pantai Utara Jawa, bahkan
juga daerah-daerah lain di tanah Jawa akibat dari kondisi yang
relatif ‘aman’ bagi kekuasaan Belanda dibanding abad-abad
sebelumnya6. Segala upaya dikerahkan untuk mengeksploitasi

26

tanah Jawa, terutama demi keuntungan ekonomi Belanda, dan
sejak diberlakukannya perdagangan liberal pada tahun 18707,
banyak pendatang dari Eropa tiba di Jawa.

Cara berfikir dan peradaban masyarakat kota telah
terpengaruh kuat oleh kontak dengan orang-orang Eropa.
Beberapa elemen kultural yang berasal dari peradaban borjuis
Eropa, seperti individualisme dan rasionalisme, mendapatkan
tempat dikalangan bangsawan, khususnya dikalangan mudanya.
Memang terlalu dini untuk menyebut kultur pesisir Utara Jawa
sebagai kultur borjuis perkotaan, tetapi tampak bahwa hal yang
terjadi merupakan awal dari perkembangan itu. Upaya meniru
kultur Barat tidak terbatas pada lapisan atas dalam masyarakat
Indonesia pada umumnya. Jumlah orang Eropa yang semakin
banyak sehingga juga tampak di wilayah pedesaan, gambar-
gambar iklan Barat, dan kemudian bioskop telah menciptakan
model-model yang menarik terutama bagi kaum muda. Gaun
Eropa, pulpen, dan gigi emas menjadi simbol pembedaan. Baik
kaum wanita maupun gadis-gadis Indonesia tidak ketinggalan
mengikuti westernisasi; kebiasaan hidup Barat dan ide-ide
mengenai perkawinan dan kematian telah merasuk ke dalam
masyarakat (Weirtheim,1999:161-162 dan 231-237).

Kota Kudus dibangun selama akhir abad ke-18 M hingga
awal abad ke-19 M di lokasi baru, lebih kurang satu kilometer ke

6 Setelah berakhirnya Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro tahun
1825-1830, dimulailah masa penjajahan yang sebenarnya dalam sejarah Jawa.
Untuk yang pertama kalinya pihak Belanda mampu mengeksploitasi dan
menguasai seluruh tanah Jawa, dan tidak ada satupun tantangan yang serius
terhadap kekuasaan mereka sampai abad ke-20 M (Ricklefs,1991:182).

7 Undang-undang agraria tahun 1870 membuka Jawa bagi perusahaan swasta.
Hanya orang-orang Indonesialah yang memiliki tanah, tetapi orang-orang asing
boleh menyewanya dari pemerintah atau dari para pemilik pribumi
(Ricklefs,1991:182).

27

arah Timur pusat kota lama, menyeberangi sungai Gelis. Lay out
dasar dan pola permukiman kota yang baru adalah sebagai
berikut: kota berorientasi pada alun-alun yang di tengahnya
terdapat pohon beringin; sebuah masjid besar terletak di sebelah
Barat, di sekelilingnya terdapat kampung Kauman (Wetan);
perkantoran, kabupaten, dan rumah tempat tinggal bupati
terletak di sebelah Utara; pasar kota terletak di sebelah Timur;
pertokoan dan bangunan-bangunan publik yang lain terletak di
sebelah Selatan. Pada lapis areal berikutnya terdapat pula
rumah tempat tinggal untuk sekretaris bupati, kepala sekolah
umum Belanda, notaris, jaksa, dokter, kepala pegadean
pemerintah, pengusaha-pengusaha Belanda dan Eropa. Di bagian
lain dibangun sekolah umum, gereja untuk orang-orang Belanda
dan Eropa, rumah-rumah untuk pegawai Indo-Eropa dan
intelektual Jawa; terdapat pula pertokoan dan tempat tinggal
orang-orang Cina, Arab, India, dan Persia. Pada lapis areal yang
paling luar (jauh dari alun-alun) adalah perkampungan atau
desa-desa. Stasiun kereta api dan kompleks perumahan pegawai
jawatan kereta api terletak agak terpisah dari pusat kota,
sebagaimana pula letak pabrik gula dan kompleks perumahan
pegawai pabrik (Wikantari,1994:59-60).

Hampir bersamaan dengan berkembangnya pusat kota
baru Kudus (Kudus Wetan), juga sedang dalam awal
pertumbuhan dan perkembangan sektor ekonomi di wilayah
pusat kota lama (Kudus Kulon), terutama sejak munculnya
beberapa industri rokok.

Pada awalnya, dikenal rokok klobot yaitu tembakau yang
digulung dengan kulit buah jagung, hingga pada tahun 1870
seorang yang bernama Haji Djasmari, pribumi dari Kudus,

28

dengan jiwa dagang yang diwariskan oleh pendahulunya
mempopulerkan dan memperdagangkan secara luas rokok
cengkeh (tembakau dicampur dengan cengkeh). Karena suara
meretih yang terdengar ketika rokok dibakar, maka dikenallah
rokok kretek (Castles,1982:60-61). Sekitar tahun 1904, Haji Moh.
Ilyas telah memproduksi rokok kretek secara massal, yang
kemudian diikuti oleh Haji Moh. Abdul Rasul dan teman-
temannya (Salam,1994:77-78). Pada tahun 1908, Nitisemito
mendirikan pabrik rokok kretek yang agak besar di wilayah
Kudus Wetan mengingat keterbatasan lahan di Kudus Kulon.
Pabrik ini dengan segera menarik buruh-buruh, terutama kaum
wanita, dari desa-desa sekitarnya. Sedangkan gudang tembakau
dibangun di wilayah Kudus Kulon (Wikantari,1994:132-133).
Niti Semito membangun dua buah rumah mewah yang sama
bentuknya, masing-masing terletak seberang-menyeberang
sungai Gelis; yang satu di wilayah Kudus Kulon, dan yang satu
lagi di wilayah Kudus Wetan; keduanya bergaya Eropa. Hingga
sekarang kedua bangunan masih ada, tapi keadaannya
memprihatinkan.

Pertumbuhan industri rokok kretek yang cepat di antara
Perang Dunia I dengan Perang Dunia II memungkinkan
munculnya sejumlah merk Indonesia yang pemiliknya dikenal
sebagai ‘raja kretek’, perwujudan yang jarang terjadi pada masa
kekuasaan Belanda. Walaupun mengalami fluktuasi, pada tahun-
tahun terakhir sebelum Perang Dunia II industri rokok kretek
mencapai tingkat produksi tertinggi. Kondisi yang melemahkan
industri rokok kretek Kudus terjadi semasa pendudukan kembali
Belanda di Indonesia pada tahun 1945-1949 (Castles,1982:61-62).

Pada tahun 1949-1950, ketika bentuk pemerintahan
berubah menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat), Kudus di

29

bawah seorang bupati federal. Dan ketika pada tahun 1950
bentuk pemerintahan berubah lagi menjadi negara Kesatuan
Republik Indonesia, Kudus mendapatkan statusnya kembali
sebagai sebuah kabupaten, yaitu dengan dikeluarkannya
Undang-Undang No.13 tahun 1950 tentang Pemerintah Daerah
Kabupaten di Jawa Tengah. Pada tahun enam puluhan kondisi
kota Kudus masih tidak stabil akibat pemberontakan PKI pada
tahun 1965. Kota Kudus mulai bangkit dan mengalami
perkembangan yang relatif cepat sejak akhir tahun delapan
puluhan (Wikantari,1994:134-137; Salam,1994:17).

Kudus sangat strategis letaknya, karena merupakan
simpul perlintasan yang menghubungkan kota-kota sekitarnya,
yaitu di bagian Timur, seperti Pati, Juwana, Tayu, Rembang,
Blora dan Cepu, dan kota-kota di bagian Utara seperti Mayong,
Jepara, dan Bangsri, dengan kota Semarang sebagai ibukota
propinsi, yang jaraknya dari Kudus sekitar 51 kilometer ke arah
Barat.

Secara geografis, Kudus terletak di antara 11036’ dan
11059’ Bujur Timur dan di antara 651’ dan 716’ Lintang
Selatan. Ketinggian tanahnya rata-rata 55 meter dari
permukaan air laut dengan iklim tropis dan bertemperatur
sedang. Luas wilayah Kudus 425, 16 km2; bagian selatan berupa
dataran rendah untuk pertanian, sedangkan bagian utara berupa
lereng gunung Muria. Curah hujan relatif rendah yaitu rata-rata
di bawah 300 mm per tahun dan lama waktu hujan rata-rata 150
hari per tahun. Suhu udara maksimum jatuh pada bulan
September 29,4 C, sedangkan suhu terendah jatuh pada bulan
Juli 17,6 C.

30

Secara administratif, Kudus menyandang status
kabupaten, atau disebut dengan istilah sekarang daerah
swatantra tingkat II, termasuk dalam karesidenan Pati.
Kabupaten Kudus terbagi menjadi tiga wilayah pembantu bupati
(kawedanan), yaitu : (1) wilayah pembantu bupati Kota yang
terdiri atas kecamatan Kota dengan 25 desa, kecamatan Jati
dengan 14 desa, dan kecamatan Undaan dengan 14 desa; (2)
wilayah pembantu bupati Cendono yang terdiri atas kecamatan
Bae dengan 10 desa, kecamatan Gebog dengan 11 desa, dan
kecamatan Kaliwungu dengan 15 desa; dan (3) wilayah
pembantu bupati Tenggeles yang terdiri atas kecamatan Jekulo
dengan 12 desa, kecamatan Mejobo dengan 11 desa, dan
kecamatan Dawe dengan 18 desa. Wilayah kabupaten Kudus
berbatasan disebelah timur dengan kabupaten Pati, disebelah
selatan dengan kabupaten Grobogan dan Demak, dan di sebelah
barat dengan kabupaten Jepara. Dibandingkan dengan
kabupaten-kabupaten lainnya di Jawa Tengah, luas wilayah
kabupaten Kudus paling kecil. (Gambar 1.4).

Hingga akhir tahun 1960-an, alun-alun kota Kudus
menjadi pusat persimpangan, dimana setiap angkutan kota dari
Semarang ke kota-kota tersebut atau sebaliknya pasti melewati
alun-alun. Sebelum mengalami perpindahan dua kali, terminal
bis dan angkutan kota Kudus memang terletak tepat di sebelah
Selatan alun-alun ini, yang sekarang berdiri Mal Kudus.

Dahulu, alun-alun kota Kudus dibelah menjadi dua oleh
jalan memanjang arah Utara - Selatan; jalan ini menjadi akses
yang kuat ke arah pendapa kabupaten Kudus yang persis
terletak di sebelah Utara alun-alun. Tepat di tengah-tengah
alun-alun terdapat dua pohon beringin yang keduanya
dipisahkan oleh jalan tersebut.

31

Gambar 1.4 Peta Wilayah Kabupaten Kudus
(A.C. NIX & Co, 1949: 78)

32

Pada tahun 1969, dalam rangka pembangunan kota,
kedua pohon bringin di tengah-tengah Alun-alun dihilangkan
dan alun-alun yang seolah-olah pecah menjadi dua disatukan;
kawasan ini kemudian menjadi pusat pemerintahan dan terkenal
dengan sebutan kawasan simpang tujuh. Bersamaan dengan itu,
terminal bis dan angkutan kota dipindah ke arah Selatan, di
lokasi baru yang sekarang menjadi taman kota, di depan pusat
perbelanjaan Matahari; sebelum akhirnya dipindah lagi ke lokasi
terminal yang sekarang, di dekat perbatasan dengan kabupaten
Demak, pada awal tahun 1990-an.

Kecamatan Kota, yang merupakan wilayah pusat kota
(kota baru dan kota lama), terdiri atas 25 desa yang wilayahnya
sebagian termasuk dalam wilayah Kudus Kulon (kota lama), dan
sebagian lagi di Kudus Wetan (kota baru).

Secara administratif, desa-desa yang berada di wilayah
Kudus Kulon yaitu Kauman, Damaran, Kerjasan, Langgar
Dalem, Janggalan, Demangan, Sunggingan, Purwosari,
Kajeksan, Krandon, dan Singocandi. Sedangkan desa-desa yang
terletak di wilayah Kudus Wetan yaitu Panjunan, Wergukulon,
Werguwetan, Mlatikidul, Mlatilor, Mlatinorowito, Nganguk,
Kramat, Demaan, Barongan, Glantengan, Kaliputu, Burikan,
dan Rendeng.

Kudus, selain secara harfiah berarti suci, dikenal pula
sebagai kota wali dan kota kretek. Di Kudus terdapat dua
makam wali dari sembilan wali (wali sanga) yang ada, yaitu
makam Sunan Kudus yang dikaitkan dengan masjid kuno
Menara dan makam Sunan Muria yang dikaitkan dengan
gunung keramat Muria. Kedua tempat ini oleh pemerintah
daerah Kudus dijadikan andalan wisata religius Kudus. Masjid
kuno Menara dan dua makam suci – Sunan Kudus dan Sunan

33

Muria – hingga sekarang menjadi salah satu tempat ziarah di
Jawa yang setiap harinya tidak sepi oleh pengunjung. Peziarah
tidak hanya berasal dari sekitar kota Kudus, tetapi juga dari
berbagai pelosok tanah Jawa, baik perorangan maupun
kelompok-kelompok pengajian yang terkoordinir.

Disebut sebagai kota kretek sebab di Kudus terdapat
beberapa perusahaan rokok kretek terkenal, seperti Jarum,
Nojorono, Sukun, Jambu Bol, Langsep dan Kelampok, yang
seolah-olah melanjutkan kejayaan perusahaan-perusahaan rokok
kretek sebelumnya pada awal abad ke-20 M, seperti Bola Tiga
(milik M. Nitisemito), Delima (milik HM. Ashadie), dan Tebu
Cengkeh (milik HM. Muslich). Perkembangan dan kejayaan
industri rokok Kudus dapat dilihat di Museum Kretek yang
terletak di Jalan Getas Pejaten, Kudus. Sejak industri rokok
lahir di Kudus, tahun 1890-an, kabupaten Kudus menjadi
barometer perkembangan industri rokok di Indonesia di samping
Kediri dan Malang di Jawa Timur.

Di Kudus hingga tahun enam puluhan masih terlihat
adanya tiga golongan masyarakat8. Golongan pertama adalah
pegawai dan mereka yang meniru cara hidup pegawai (guru,
dokter, mantri kesehatan, ahli hukum dan sebagainya). Mereka
ini disebut golongan priyayi karena pada masa Kolonial, mereka
bekerja sebagai pejabat dan pegawai pemerintah (pegawai
negeri)9. Mereka banyak bertempat tinggal di wilayah sekitar

8 Menurut D.H. Burger, struktur masyarakat Jawa lama adalah sebagai berikut:
pertama para raja, kedua para kepala propinsi (kira-kira sama dengan bupati
sekarang), ketiga kepala desa, dan keempat orang banyak yang terdiri dari
penduduk desa (Burger, 1977:20).

9 Menurut Clifford Geertz, golongan priyayi adalah elit pegawai negeri yang ujung
akar-akarnya terletak pada kraton Hindu-Jawa sebelum masa Kolonial,

34

kota baru (Kudus Wetan). Golongan kedua adalah pedagang atau
pengusaha (wong dagang), di antaranya yang lebih berhasil
adalah santri. Kebanyakan mereka bertempat tinggal di kota
lama (Kudus Kulon). Golongan ketiga adalah orang rendahan
(wong cilik), termasuk kaum buruh, pelayan rumah tangga,
petani, dan orang yang menganggur. Mereka tersebar di daerah-
daerah pertanian di sekitar kota Kudus. Sebagian terbesar dari
mereka adalah buruh pabrik rokok. Orang Cina merupakan satu
golongan yang berbeda, meskipun mereka dapat dimasukkan ke
dalam golongan pedagang, tetapi secara kultural perbedaannya
sangat menyolok. Golongan pegawai walaupun jumlahnya lebih
sedikit tetapi banyak memegang peranan penting di kota dan
menjadi golongan terhormat dibandingkan dengan golongan
pedagang yang jumlahnya lebih banyak dan lebih kaya raya.
Pada masa Kolonial golongan pedagang kurang mendapat
penghormatan yang layak (Castles, 1967:88-89).

Di antara pengusaha pribumi Kudus, tiga golongan dapat
dilihat dengan jelas. Pertama-tama adalah golongan keluarga
yang saling bertalian di Kudus Kulon yang telah terjadi dalam
industri rokok kretek sejak permulaan terbentuknya industri itu
sekitar akhir abad ke-19 M. Sekarang ini kepentingan mereka

memelihara dan mengembangkan etiket kraton yang sangat halus, kesenian yang
sangat kompleks, dan mistisisme Hindu (Geertz, 1981:305-471). Karena kelompok
sosial priyayi ini pada waktu sebelum Perang Dunia II menjadi pemegang
kekuasaan, maka pola kulturnya pernah menjadi pola umum. Tingkah laku dan
pandangan hidupnya menjadi ukuran umum bagi tingkah laku dan pandangan
hidup yang baik dan yang ideal (Kartodirdjo, 1987:9). Pada waktu sebelum Perang
Dunia II dibedakan antara priyayi pangreh praja (sekarang diganti pamong praja)
dan priyayi bukan pangreh praja. Golongan pertama adalah para pejabat
Pemerintah Daerah, yaitu orang-orang yang terpenting dan yang paling tinggi
gengsinya di antara para priyayi lainnya, yang disebabkan oleh sifat
kebangsawanan mereka. Golongan kedua adalah golongan orang-orang terpelajar,
yang berasal dari daerah pedesaan atau daerah golongan tiyang alit (wong cilik) di
kota yang berhasil mencapai kedudukan pegawai negeri melalui pendidikan
(Koentjaraningrat, 1984:234).

35

dalam industri relatif lebih kecil daripada periode Kolonial.
Banyak orang yang berbicara tentang orang-orang Kudus Kulon
menghubungkannya dengan keluarga ini. Sebagian terbesar
mereka tinggal di rumah-rumah besar dan sering sudah kuno
dekat pusat kota tua itu. Dalam generasi terdahulu, ketika
mereka membangun kekayaan mereka, mereka sederhana,
bekerja keras, usahawan yang lihai dan santri yang saleh. Dalam
periode puncak kemakmuran mereka (dua dasawarsa terakhir
zaman Kolonial) mereka cenderung berkembang menjadi
bangsawan borjuis yang sadar akan dirinya bertentangan dengan
pegawai (priyayi) dan golongan elit Islam (kiai) di kota itu. Sejak
revolusi, sebagian terbesar dari keluarga ini dalam bidang
ekonomi mundur; rumah-rumah mereka yang besar rusak dan
tidak terpelihara, pabrik mereka ditutup. Mereka terdesak oleh
pengusaha-pengusaha Cina. Dalam beberapa hal perselisihan
keluarga atas harta warisan telah mengurangi kekayaan mereka.
Golongan kedua adalah pengusaha pabrik kretek pribumi terdiri
dari orang-orang baru yang berhasil sejak Perang Dunia II.
Mereka adalah penduduk kampung yang tinggal beberapa mil
dari kota; ada di antaranya yang menjalin hubungan
kekeluargaan dengan golongan utama keluarga pengusaha
Kudus Kulon melalui perkawinan. Golongan ketiga adalah
pengusaha pabrik kretek pribumi yang terdiri dari 150 atau lebih
yang tidak pernah mencapai keberhasilan. Mereka terpencar di
seluruh kota Kudus dan dekat kampung-kampung. Beberapa
dari mereka tidak mempunyai karyawan di luar keluarga mereka
sendiri (Castles, 1982:94-98).

Beberapa bangunan peninggalan para konglomerat Kudus
pada masa kejayaannya, di antaranya adalah rumah kapal dan

36

rumah kembar, yang konon dibangun oleh raja rokok kretek
Kudus, namanya M. Nitisemito.

Yang dimaksud dengan Rumah Kapal atau Omah Kapal
ini adalah sebuah bangunan besar yang memiliki bentuk
konstruksi dan ukuran, sama persis seperti sebuah kapal
penumpang.

Bangunan (rumah) dengan bentuk unik ini berlokasi di
Kelurahan Damaran Kudus; ia merupakan salah satu bangunan
kuno yang sebenarnya masih termasuk salah satu bangunan
bersejarah di kota Kudus.

Rumah kapal ini dibangun pada tahun 1930 oleh seorang
pengusaha rokok tersukses dan terbesar di kota Kudus pada
waktu itu, yakni M. Nitisemito, dan memiliki gaya arsitektur
artdeco dengan sedikit pengaruh dari gaya “Streamline modern.”

Eloknya, bangunan Rumah Kapal tersebut dibuat persis
seperti bentuk konstruksi kapal yang ditumpanginya sewaktu
perjalanan Nitisemito ke Mekkah. Meskipun dikombinasikan
dengan sentuhan gaya bangunan modern (waktu itu)
(https://situsbudaya.id, akses 3 Nopember 2019).

Namun, sayangnya, kondisi bangunan antik tersebut
sudah tidak terawat lagi. Atap bangunan telah roboh, beberapa
bagian dinding roboh, dan hampir tidak berbentuk lagi. Bahkan,
sisa bangunan itu, kini dipenuhi dengan tumbuhan rumput dan
ilalanga. Omah Kapal, kini tidak bisa dilihat lagi dari luar,
karena tertutup tembok yang mengelilingi bangunan.
Berdasarkan pengamatan, kini, tempat tersebut dibuat untuk
gudang pengolahan kayu. (Gambar 1.5 dan 1.6).


Click to View FlipBook Version