The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-01-12 04:26:16

Kudus Kota Suci di Jawa

Kudus Kota Suci di Jawa

Keywords: kudus,kota,jawa,suci

137
menurut sebagian masyarakat setempat, menjelaskan tentang
status pemilikan rumah. Apabila letaknya di sebelah kanan
menunjukkan bahwa yang membangun rumah adalah pihak laki-
laki, sedangkan bila letaknya di sebelah kiri berarti dibangun
oleh pihak perempuan; dan jika tiangnya ada dua, di sebelah
kanan dan kiri berarti rumah dibangun bersama suami istri.
Ketentuan letak sanggah di sebelah kiri atau kanan memang
masih rancu tetapi keberadaannya bisa diterima akal, yaitu
dalam rangka mengantisipasi masalah-masalah yang akan
timbul berkaitan dengan pembagian waris. (Gambar 6.4 dan
Gambar 6.5).

Gambar 6.3 Tata Ruang Rumah Adat Kudus
(Ashadi, 2017)

138

Gambar 6.4 Gambar sketsa sanggah di Jagasatru Rumah Adat Kudus
(Ashadi, 2017)

139

Gambar 6.5 Sanggah di Jagasatru Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

140

Pada awalnya jagasatru hanya untuk menerima tamu
laki-laki, sedangkan tamu perempuan diterima di pawon yang
memang didisain relatif luas. Oleh karenanya, disamping adanya
pintu tengah yang menuju ke omah njero, di bagian samping
kanan atau kiri atau dua-duanya terdapat pintu yang
menghubungkan jagasatru dengan pawon. Di bagian depan
terdapat pintu inep yang dilengkapi dengan kunci gembok dari
logam kuningan, sebagai pintu utama masuk ke jagasatru,
terletak di tengah, dan di samping kanan dan kirinya terdapat
pintu sorong. Pintu yang disebut terakhir ada dua buah, bagian
dalam dan luar. Pintu sorong bagian luar pada umumnya lebih
pendek yang lebih dikenal dengan pintu kere (Gambar 6.6). Pada
kenyataannya, pintu tengah dan pintu inep jarang dibuka;
aktifitas sehari-hari mempergunakan pintu sorong dan pintu
penghubung jagasatru dan pawon.

Gambar 6.6 Pintu Sorong (Pintu Kere) pada Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

141

Lantai jagasatru terbuat dari ubin tegel dengan pola-pola
tertentu dan terkesan bersih; ketinggian peil lantai dari tanah
halaman adalah kurang lebih 50 cm. Untuk naik ke lantai
jagasatru dari halaman dibuatkan trap dengan finishing yang
sama dengan lantai jagasatru.

Antara jagasatru dengan omah njero dan pawon dibatasi
oleh gebyok, dinding panel kayu yang dipenuhi dengan ukiran.
Pada salah satu bagian gebyok, pembatas antara jagasatru dan
omah njero terdapat jendela kecil yang berjeruji kayu; dahulu
berfungsi untuk melihat bagi perempuan kepada calon suaminya
yang sedang bertamu.

Furniture yang ada di dalam jagasatru meliputi dua
perangkat meja kursi tamu; satu dengan model pendek untuk
tamu wanita, terletak di sebelah kiri atau kanan yang dekat
dengan pintu yang menghubungkan ke pawon, dan seperangkat
yang lain terletak di seberangnya, untuk tamu laki-laki. (Gambar
6.7).

Tepat di depan pintu utama (tengah) terdapat ancik-ancik
atau pijakan kaki yang terbuat dari kayu berukir, sebab terdapat
perbedaan tinggi antara peil lantai jagasatru dan omah njero,
yaitu sekitar 70 cm. (Gambar 6.8).

Omah njero
Omah Njero adalah ruang dalam rumah tinggal
tradisional Kudus. Di tengah-tengah omah njero terdapat empat
buah tiang soko guru yang menjadi pendukung utama struktur
dan konstruksi atap. Lantai terbuat dari susunan papan kayu
jati atau disebut dengan gladag, dengan peil lantai kurang lebih
120 cm dari peil halaman.

142

Gambar 6.7 Interior Jagasatru Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

Gambar 6.8 Ancik-ancik di Jagasatru Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

143

Pada bagian tengah hingga ke belakang omah njero,
kadang-kadang terdapat peninggian peil lantai lagi kurang lebih
10 - 20 cm, lebih menyerupai amben yang luas tanpa kaki. Di
dalam omah njero terdapat gedhongan, sebuah ruangan atau
bilik yang berukuran kurang lebih 3m x 4m atau 3m x 5m,
letaknya di bagian tengah dan agak mundur ke belakang5.
Gebyok muka gedhongan juga dipenuhi ukiran dengan berbagai
ragam motifnya. Pintunya dilengkapi dengan gembok untuk
lebih memperkuat keamanan. Ada kalanya di dalam gedhongan
terdapat sebuah kamar rahasia yang ukurannya relatif kecil dan
dilengkapi dengan pintu sorong atau geser yang ukurannya juga
sangat kecil. Letak pintu ini, ada yang di bagian belakang dan
ada juga yang justru di bagian bawah atau lantai gedhongan.
Pada awalnya ruang ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
barang-barang berharga. Tidak sembarang orang boleh masuk
ke dalam gedhongan. Sehingga muncul jawaban di benak kita
bahwa salah satu faktor yang mendorong para creator rumah
tinggal tradisional Kudus menggunakan gladag di omah njero
dan atau di gedhongan adalah dalam rangka memudahkan
pengamanan harta benda miliknya.

Mungkin timbul pertanyaan, di mana anggota keluarga
yang lain tidur? Pada masa sekarang telah dibuatkan ruang-
ruang tidur di samping kanan dan kiri gedhongan. Bagaimana
dengan masa dahulu? Kita bisa membandingkan dengan kondisi
yang sama pada rumah tinggal tradisional Jawa di bagian

5 Pada rumah tradisional Jawa bagian Selatan, ruang dalam dinamakan griya
ageng, sedangkan bilik atau ruang yang berada di griya ageng dinamakan
senthong. Ada tiga senthong : tengen – tengah – kiwo. Bandingkan dengan
krobongan, pelaminan bagi sepasang pengantin Cina.

144

Selatan. Bagi keluarga yang tidak mampu membuat kamar di
sebelah kanan dan atau kiri senthong, orang tua tidur
mengambil tempat di salah satu bagian omah njero (bukan di
gedhongan) dimana pembatas ruangnya berupa sketsel-sketsel
atau aling-aling. Hal inipun berlaku bagi anak gadis yang sudah
dewasa. Bagi anak laki-laki, bersama-sama tidur di atas sebuah
amben atau bale-bale yang lebar yang ada di salah satu bagian
omah njero.

Pada rumah tinggal tradisional Kudus, di sebelah kiri dan
atau kanan omah njero terdapat pintu yang menghubungkan ke
pawon. Pintu berukuran agak besar dan pada separo bagian atas
didisain seperti jendela, sehingga orang di omah njero dan pawon
bisa saling berkomunikasi tanpa harus membuka pintunya,
tetapi cukup membuka daun jendela di bagian atas pintu.

Furniture yang terdapat di omah njero antara lain dua
buah kotak kecil atau botekan di sebelah kanan dan kiri depan
gedhongan berfungsi untuk menyimpan alat-alat kecantikan,
dan sebuah lagi untuk menyimpan obat-obatan dan jamu. Di
depannya terdapat satu atau dua buah meja marmer yang
dilengkapi kursi, sebagai meja berhias anak-anak gadis.
Menempel gebyok di samping kanan dan atau kiri terdapat
almari untuk menyimpan pakaian dan yang lain untuk
menyimpan barang pecah belah.

Sebenarnya ada ruang di antara dinding atau gebyok
belakang omah njero dengan dinding tembok pembatas halaman;
lebar kurang lebih 1 meter. Fungsi ruang kurang jelas, tetapi di
sebagian rumah tinggal tradisional ada yang memfungsikan
sebagai gudang atau dengan sedikit perluasan difungsikan
sebagai pawon. Kemungkinan keberadaan ruangan tersebut
pada mulanya memang disengaja, sebagai barrier space antara

145
gedhongan dengan dinding terluar bangunan rumah yaitu
dinding tembok halaman yang disatukan menjadi dinding rumah
bagian belakang, untuk keperluan keamanan. Tidak mungkin,
dinding ruangan tempat menyimpan barang-barang berharga
berhubungan langsung dengan ruang luar.

Di sebagian rumah tinggal tradisional, gebyok omah njero
bagian belakang atau samping yang tidak berbatasan dengan
pawon dibuat melengkung keluar, tidak berdiri lurus
sebagaimana layaknya sebuah bangunan. Hal ini dimaksudkan
agar pemilik rumah banyak rezekinya. (Gambar 6.9).

Gambar 6.9 Gambar sketsa gebyok lengkung pada Rumah Adat Kudus
(Ashadi, 2017)

146

Pawon
Pawon artinya dapur. Rumah tinggal tradisional Kudus
pada umumnya memiliki pawon berukuran besar; sehingga
dapat dibagi menjadi dua, yaitu pawon alit (kecil) berfungsi
sebagai tempat memasak dan ruang makan dan pawon ageng
(besar) berfungsi sebagai ruang keluarga; yang pada awalnya
juga untuk menerima tamu perempuan.
Pada bagian atas pawon, biasanya juga difungsikan
sebagai gudang, tempat menyimpan beras atau lumbung padi.
Letak pawon bisa di kanan dan atau kiri, berhimpit bangunan
rumah inti dengan struktur dan konstruksi atap yang berbeda;
pada umumnya berbentuk atap kampung atau ada yang
mengatakan bentuk kampung gajah ngombe.
Pada kenyataannya, anggota keluarga Kudus Kulon
melakukan aktifitas sehari-hari sebagian besar di pawon. Selain
adanya pintu yang menghubungkan dengan jagasatru dan omah
njero, di bagian depan pawon juga terdapat sebuah pintu yang
fungsinya untuk aktifitas keluar masuk servis. Bahan lantainya
dari tanah liat yang sudah dicetak dan dibakar, namun semakin
berkembangnya waktu dan perubahan pandangan dari pemilik
rumah, bahan lantai sudah berganti dengan ubin tegel atau
keramik. Peil lantai pawon lebih rendah dari peil jagasatru atau
minimal sama.
Kamar mandi
Kamar mandi pada umumnya menyatu dengan
keberadaan sumur dan letaknya terpisah dengan bangunan
rumah; di depan pawon. Apabila pawon nya ada 2 buah, di kiri
dan kanan rumah inti, maka letak kamar mandi dan sumur di
depan pawon yang aktif, yang berfungsi sehari-hari.

147

Kamar mandi berupa bangunan tersendiri. Dahulu,
kamar mandi hanya dibatasi oleh dinding-dinding setinggi
sedikit di atas orang dewasa, dengan sebuah pintu di sebelah
Timur, tanpa penutup atap. Jika ada orang yang
mempergunakan kamar mandi, maka dia menaruh kain nya di
atas tembok sebagai ‘pemberitahuan’ bahwa kamar mandi
sedang dipakai.

6.5 Konstruksi Bangunan
Struktur dan konstruksi utama rumah tinggal tradisional Kudus
adalah 4 buah soko guru yang terletak di bagian tengah omah
njero yang menopang brunjung di atasnya. Pemidangan di
bawah brunjung sebagai kompartemen yang membentuk
tumpang piramida atau uleng memiliki bentuk empat
persegipanjang dimana di keempat pojoknya terdapat soko guru.
Konstruksi atap joglo pencu menyerupai atap joglo kepuhan
limolasan pada rumah tinggal tradisional Jawa bagian Selatan
dengan penambahan emperan di bagian depan. Konstruksi pada
bagian emperan terlihat unik dan menimbulkan banyak
penafsiran karena adanya sanggah di bagian tengah.

Pada bentuk atap joglo pencu, selain 4 buah soko guru
terdapat pula 14 buah soko pengarak atau pengikut. Tiang atau
soko pengarak memiliki jarak yang tidak sama terhadap bidang
pemidangan; deretan tiang pengarak pada bagian depan lebih
dekat dengan bidang pemidangan.

Penempatan soko pengarak lebih berdasarkan pada
bidang dindingnya, sebab tiang-tiang ini menyatu dengan
dinding atau gebyok. Keberadaan lobang pintu utama (tengah)
sangat berpengaruh terhadap penempatan soko pengarak di

148

bagian depan (gebyok tengah). Rupanya kusen pintu tengah,
ambang kanan dan kirinya, sekaligus berperan sebagai tiang
atau soko struktural. Pada kedua tiang ini pulalah dipasangkan
konsol penyangga blandar panjang di jagasatru; oleh karenanya
keberadaan sanggah di jagasatru sangat mutlak karena tidak
mungkin kedua konsol tersebut mampu menahan berat dan
momen blandar. Sedangkan bidang dinding atau gebyok di
sebelah kanan dan kiri pintu tengah, masing-masing
ditempatkan tiga tiang penguat gebyok. Hal ini adalah wajar,
mengingat gebyok tersebut dipenuhi ukiran dan terbuat dari
kayu jati; meskipun sebagai pengisi ruangan, tetapi beban
gebyoknya sendiri sangat berat sehingga perlu penguat-penguat.
Tiang-tiang ini tidak struktural. Jarak antar tiang adalah hasil
bagi dari panjang gebyok, kurang lebih 2-3 m.

Soko pengarak pada bagian belakang, samping kanan dan
kiri konstruksi atap joglo pencu, penempatannya juga
berdasarkan pembagian yang sama terhadap panjang gebyok.
Jarak antar soko kurang lebih hampir sama yaitu 2-3 m.

Khusus untuk gebyok lengkung diantara soko pengarak
ditambahkan tiang-tiang penguat gebyok yang masing-masing
tiang berjarak kurang lebih 50 cm. Tiang-tiang ini tidak
struktural. Hanya sebagai penguat bidang lengkung. Jadi,
jumlah dan penempatan soko pengarak sangat bergantung pada
letak dan panjang gebyok, disamping keberadaan keempat soko
guru.

Pada atap joglo kepuhan limolasan, tiang-tiang pengarak
jumlahnya 12 buah, keempat deretan tiang pengarak, bagian
depan, belakang, samping kanan, dan kiri memiliki jarak yang
sama terhadap bidang pemidangan. Jarak antar tiang pada satu
bagian (atau bidang) tidak sama satu sama lain, tergantung

149

ukuran pemidangan yang mana di keempat sudutnya terdapat
soko guru; tidak berdasarkan hasil bagi yang sama terhadap
panjang bidang yang dibentuk oleh deretan tiang, sebagaimana
pada atap joglo rumah tinggal tradisional Kudus. Semua soko
pengarak yang berjumlah 12 buah berfungsi struktural; tidak
lazim menambah tiang-tiang penguat dinding atau gebyok
mengingat beban dinding relatif ringan dan memang bertujuan
memudahkan pembongkaran dinding bila diperlukan ruangan
yang lebih luas. Dan tidak selalu deretan tiang-tiang pengarak
menjadi satu dengan gebyok.

Bidang pemidangan pada konstruksi atap joglo pencu
dibentuk oleh balok-balok horisontal yang saling
menghubungkan dan memperkuat posisi soko guru. Dua buah
balok memanjang yang paling atas (di bawah tumpang sari)
disebut tutup kepuh (seperti blandar pada atap bentuk limasan)
dan dua buah balok melintang yang menghubungkan dua tutup
kepuh dinamakan pengeret. Kedua jenis balok ini, tutup kepuh
dan pengeret disambungkan dengan sistim catokan pada bagian
ujung atas soko guru; balok-balok dipasang dengan posisi tidur.
Kurang lebih 20-30 cm di bawahnya dipasang balok-balok
stabilisator lagi, yaitu balok memanjang di bawah tutup kepuh
dinamakan sunduk dan balok melintang di bawah pengeret
dinamakan kili-kili.

Pertemuan antara soko guru terhadap sunduk dan kili-
kili menggunakan sistim sambungan purus, dengan posisi balok-
balok berdiri; sangat dimungkinkan menggunakan balok-balok
dengan penampang bujursangkar. Untuk menghindari momen
pada tutup kepuh dan pengeret yang disebabkan oleh selain posisi
balok yang lemah (tidur) juga adanya kendala bentangan, maka

150

ditengah-tengah antara tutup kepuh dan pengeret di satu pihak
dengan sunduk dan kili-kili di pihak lain di beri ganjel atau
sesanten. (Gambar 6.10 dan Gambar 6.11).

Kadang-kadang di bagian tengah pemidangan
ditambahkan satu balok melintang seperti pengeret yang
dinamakan dada peksi. Balok ini tidak ditumpu oleh tiang;
berfungsi sebagai penopang ander dan sebagai pajangan di
tengah ruangan sehingga banyak yang diukir indah; tidak jarang
juga sebagai tempat menggantungkan lampu. Dan dada peksi
berfungsi juga sebagai balok pembagi pemidangan untuk
menciptakan dua buah uleng.

Pada konstruksi tumpang bagian paling atas terdapat
penanggap, balok pada kedua sisi memanjang; fungsinya seperti
blandar pada rumah bentuk atap limasan dan pada kedua sisi
pendeknya (melintang) terdapat penangkur yang fungsinya
menyerupai pengeret pada rumah bentuk atap limasan. Keempat
balok saling berhubungan menggunakan sistim sambungan
catokan. Karena konstruksi tumpang menciptakan bentuk
piramida terbalik pada struktur atap joglo, maka bidang empat
persegi panjang yang dibentuk oleh penanggap dan penangkur
luasannya tentu saja lebih besar daripada bidang pemidangan.

Tepat di atas penanggap dan penangkur terdapat balok
keliling yang disebut takir dimana lebar dimensi baloknya lebih
kecil dibanding dengan balok-balok di bawahnya. Pada
prinsipnya ketiganya secara bersama-sama menjadi tumpuan:
usuk atap brunjung (bidang atap yang memanjang) bagian
bawah, usuk atap kejen atau cocor (bidang atap yang pendek)
bagian bawah, usuk atap penanggap (bidang atap yang
memanjang) bagian atas, dan usuk atap penangkur (bidang atap
yang pendek) bagian atas.

151

Gambar 6.10 Detail Konstruksi Soko Guru (pada bagian atas) Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 2015)

Gambar 6.11 Detail Konstruksi Soko Guru (pada bagian bawah) Rumah Adat
Kudus: tiyang berdiri di atas umpak
(Dokumentasi Ashadi, 2015)

152

Di atas tiang-tiang pengarak terdapat blandar pengarak
pada dua sisi memanjang (bagian depan dan belakang) dan
pengeret pengarak pada dua sisi yang pendek (bagian samping
kanan dan kiri). Kurang lebih 20 cm di bawahnya terdapat
sunduk (balok memanjang) dan kili-kili (balok melintang).

Keistimewaan konstruksi rumah tinggal tradisional
Kudus dibandingkan dengan apa yang terdapat di daerah Pati
dan Demak, dan bahkan dengan kebanyakan konstruksi atap
joglo rumah tinggal tradisional Jawa lainnya, yaitu pada
konstruksi atap joglo pencu rumah tinggal tradisional Kudus,
deretan 4 buah tiang pengarak bagian depan ditempatkan lebih
ke dalam, mendekati soko guru; bergeser kurang lebih 1 m dari
tempat yang semestinya. Sulit menelusuri latar belakang
mengapa para creator melakukan hal yang demikian. Sebagai
konsekuensinya, untuk menopang usuk atap penanggap bagian
bawah dan usuk atap emperan bagian atas perlu ditempatkan
blandar yang didukung oleh dua buah tiang di ujung-ujungnya.
Pada sebagian rumah, sepertinya di bawah blandar juga
dipasang sunduk yang keduanya menjadi ‘satu’ oleh elemen
ukiran. Karena bentangannya terlalu besar, kurang lebih 8-10
meter (sesuai ukuran sisi panjang rumah inti) maka mutlak
diberi tiang penyangga tambahan di tengahnya. Tiang inilah
yang dikenal dengan sanggah. Letaknya tidak tepat di tengah-
tengah blandar atau sunduk mengingat keberadaan pintu
tengah yang menuju ke omah njero juga tepat di tengah.

Sebenarnya blandar atau sunduk juga ditopang oleh dua
buah konsol yang menumpu pada tiang-tiang (sebenarnya kusen
pintu) di samping kiri dan kanan pintu tengah. Tetapi, keduanya
tidak akan mampu menahan beban blandar dan sunduk, kecuali
ada tambahan pendukung lain. Pada beberapa kasus, terlihat

153

konsol penopang blandar dan sunduk tersebut memang sudah
sedikit doyong, sehingga blandar dan sunduk terlihat melendut.

Pada bagian paling depan, terdapat deretan 6 buah tiang
emperan. Tiang-tiang ini ukuran besarnya tidak sama; 2 buah
tiang yang berada di sudut kanan dan kiri dimensinya lebih kecil
dibanding 4 tiang yang berada di antara kedua tiang tersebut.
Hal ini disebabkan keempat tiang membentuk tiga lobang pintu
masuk yang masing-masing memiliki pintu sorong. Tiang-tiang
ini sekaligus menjadi kusen pintu masuk (ambang vertikal).
Lobang pintu yang ditengah dilengkapi dengan pintu berdaun
dua pada sisi dalam. Lobang pintu di sebelah kanan dan kirinya
dilengkapi dengan pintu panil sorong pada sisi dalam dan pintu
sorong kere pada sisi luar.

Pada bagian atas tiang-tiang emperan terdapat blandar
dan pada sebagian rumah juga ada sunduk di bawahnya.
Blandar emperan berfungsi sebagai tumpuan usuk atap emperan
bagian bawah.

Konstruksi atap pawon yang letaknya berhimpit, di
sebelah kanan dan atau kiri dengan rumah inti, menggunakan
konstruksi atap kampung, tampil dengan kebiasaannya. Pada
bagian depan, ditambahkan konstruksi atap konsol untuk
menaungi teras yang sempit, memanjang menyatu dengan teras
rumah inti. Sehingga muncullah bentuk atap yang dikenal
dengan atap kampung gajah ngombe (gajah minum).

Konstruksi rumah tinggal tradisional Kudus sepertinya
dirancang dengan sistim bagian per bagian yang memungkinkan
terjadinya bongkar pasang rumah, atau lebih dikenal dengan
sistim knock down. Menurut beberapa hasil penelitian, sistim ini
diterapkan untuk mengantisipasi apabila pemilik rumah

154

mengadakan hajatan misalnya pernikahan, bagian-bagian
tertentu rumah seperti gebyok bisa dibongkar untuk
mendapatkan ruang yang lebih luas.

6.6 Ragam Motif Ukiran
Sebelum memasuki jagasatru, terdapat teras depan rumah yang
relatif sangat sempit selebar panjang konsol kurang lebih 1
meter dan memanjang sepanjang muka rumah inti ditambah
pawon. Lantai teras bertrap dua atau tiga dari bahan yang sama
dengan lantai di jagasatru, yaitu ubin tegel atau keramik,
terkesan bersih. Pada rumah tinggal tradisional yang creator nya
kaya, konsol-konsol terbuat dari kayu jati yang diukir dengan
motif daun dan bunga; bentuknya ada yang seperti belalai gajah;
sebagai wujud mempertahankan ragam hias Hindu Jawa.

Lobang pintu masuk ke jagasatru ada tiga buah yang
masing-masing mempunyai lebar kurang lebih 1-1,75 meter;
letaknya berjejer. Lobang pintu yang di tengah berdaun pintu
dua dilengkapi dengan kunci gembok di bagian dalam; pintu ini
jarang dibuka, disebut pula pintu inep. Daun pintunya tidak
banyak ukiran. Tetapi di depan bagian atas pintu (bukan bagian
dari daun pintu) terdapat ornamen ukiran bermotif daun dan
bunga. Elemen ini seolah-olah sebagai kepalanya lobang pintu.
Kondisi seperti ini mengingatkan kita kepada bentuk ornamen
kala di atas lobang masuk candi. Lobang pintu di sebelah kanan
dan kiri pintu inep ditutup dan dibuka dengan perantaraan pintu
sorong.

Ada dua pintu sorong, yaitu di sebelah luar disebut pintu
kere dan di sebelah dalam berupa pintu berpanil. Berarti ada 4
buah pintu sorong di rumah inti. Pintu kere mempunyai panjang
kurang lebih 1,5-2 meter dan tinggi 2,25 meter, namun separo

155

bagian atasnya berlobang, hanya rangkanya saja; rangka paling
atas juga berfungsi sebagai ‘penggeser’ pintu, sebab pada bagian
bawah pintu sepertinya tidak terdapat rel, sehingga sifatnya
menggantung. Separo bagian pintu bagian bawah dibagi menjadi
dua bidang oleh adanya tiga ambang yaitu atas, tengah, dan
bawah. Dua bidang diisi dengan jeruji kayu yang disusun berdiri.
Pada ambang atas terdapat hiasan ukir dengan motif daun dan
bunga; ambang tengah terdapat hiasan ukir dengan motif
burung phoenix atau sebagian orang menyebut burung hong
(Gambar 6.12); dan pada ambang bagian bawah terdapat hiasan
ukir dengan motif swastika dan di sebagian rumah bermotif
arabesk.

Pada pintu masuk ke pawon, pada sebagian rumah juga
terdapat sebuah pintu kere namun ukurannya lebih kecil
dibanding pintu kere pada jagasatru.

Motif burung hong menurut cerita setempat adalah
pengaruh dari kultur Cina. Tetapi hiasan-hiasan dengan motif
burung sebenarnya juga sudah ada dalam peradaban Islam,
terutama Islam Timur Tengah; bahkan pada jaman Hindu Jawa,
bentuk motif burung juga sudah ada. Menurut bapak Arsono6,
seorang seniman patung, dan dosen senior di jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta, bahwa

6 Nama lengkap Arsono adalah R.M. Suarsono BFA, namun lebih terkenal dengan
nama Arsono seorang pematung. Sudah banyak hasil karyanya dan sudah
dipublikasikan baik oleh media cetak dalam maupun luar negeri, diantaranya
adalah patung setengah badan Chairil Anwar di lapangan Monas dan patung alif
lam mim di Museum Istiqlal.. Sekarang, bapak Arsono selain sebagai anggota
Badan Pelaksana dan Pengawas Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, juga aktif
mengajar mata kuliah Estetika Bentuk di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Jakarta. Wawancara dilakukan di kantornya, di
Museum Istiqlal, TMII, pada tanggal 5 November 1999.

156
ragam hias dengan motif burung phoenix berasal dari Persia
(Iran). Motif swastika sudah ditemukan pada jaman kultur Jawa
Asli, Animisme dan Dinamisme, yang selalu mengalami
perkembangan sejalan dengan adanya pengaruh kultur yang
datang kemudian. Sedangkan motif arabesk berasal dari
pengaruh kultur Islam.

Gambar 6.12 Hiasan Ukiran Burung Hong pada Pintu Kere Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 2015)

Pintu sorong pada bagian dalam berupa pintu berpanil
dengan ornamen geometri bentuk segiempat dikombinasikan
dengan bentuk mendekati setengah lingkaran di atasnya; seperti
bentuk pintu atau jendela masjid, sehingga ada yang
mengatakan motif masjid. Kondisi ini seperti pada gebyok bagian
depan, di kanan dan kiri lobang pintu, yaitu terdapat hiasan
dengan motif masjid polos, tanpa ukiran. Motif masjid diduga

157

kuat berasal dari pengaruh Islam terutama pada bangunan
masjidnya itu sendiri.

Di dalam ruang tamu atau jagasatru, sebagian besar
bidang permukaan keempat gebyok nya dipenuhi dengan ragam
hias ukiran. Pada umumnya motif-motif yang diukir adalah
bentuk tanaman, daun, dan bunga. Tetapi ada juga motif-motif
yang khusus yang bisa menunjukkan latar belakang bentuk
ragam hiasnya.

Pada gebyok tengah, di kanan dan kiri pintu tengah,
terdapat susunan bentuk ragam hias dengan motif masjid
dimana bidang dalamnya dipenuhi ukiran bermotif tanaman.
Pada salah satu panil gebyok, bidang dengan motif masjid
dirancang menjadi sebuah jendela kecil (berjeruji kayu dengan
posisi berdiri) yang bisa dibuka dan ditutup; dinamakan juga
jendela intip. Pada bagian-bagian tertentu, dibuat ukiran-ukiran
tembus yang kemudian di sisi baliknya (bagian belakang)
ditambahkan background berupa kertas berwarna kuning emas,
sehingga terlihat lebih menonjol ukirannya.

Pada setiap permukaan bidang tiang-tiang yang terlihat,
penuh dengan ukiran dari bagian bawah hingga atas. Motif
ukirannya berupa sulur-suluran tanaman dan daun beserta
bunga melati, dan pada bagian atas terdapat hiasan ukir
geometri berupa pertalian garis yang tidak berpangkal dan tidak
berujung dalam sebuah bidang segienam panjang (posisi tidur).

Di bagian paling atas tiang terdapat ragam hias dengan
motif kelopak daun yang bentuknya seperti jari-jari manusia;
jumlah kelopaknya ganjil, tiga, lima, ataupun tujuh. Tetapi
kebanyakan yang ada, jumlah kelopaknya lima buah. Pada
bagian tengah tiang terdapat hiasan kombinasi bentuk bujur

158

sangkar dan belah ketupat yang bidang dalamnya dipenuhi
ukiran.

Sisi-sisi tiang di sebelah luar yang berhubungan dengan
ruang luar, pada umumnya pada rumah-rumah dengan tipe
berderet, juga diukir dengan indah meskipun tidak seluruh
permukaan. Dari luar terlihat bahwa ternyata gebyok atau
dinding yang berhubungan dengan ruang luar dibuat
melengkung, yaitu gebyok samping kanan atau kiri dan atau
belakang. Untuk mempersempit bidang lengkungan
ditambahkan tiga buah tiang (tidak struktural) pada masing-
masing antara dua tiang yang sudah ada; dengan demikian
sekilas jumlah tiang-tiang pada gebyok lengkung di bagian
belakang, samping kanan dan kiri, yang struktural adalah 12
buah dan yang non struktural adalah 33 buah. Bahan gebyok
yang melengkung dari papan kayu dengan tebal kurang lebih 1
cm, tinggi bidang gebyok sekitar 1,75 meter, panjang kurang
lebih 2 meter, diperkuat dengan tiang-tiang yang jaraknya 50
cm.

Pintu tengah yang menghubungkan jagasatru dengan
omah njero berupa pintu berdaun dua tanpa ukiran yang berarti.
Pada bagian luar ambang atas kusen pintu terdapat elemen
ruang yang penuh dengan ukiran bermotif tanaman; tepat
dibagian tengah berbentuk seperti kepala, seakan-akan sebagai
kepalanya pintu; seperti keberadaan kala pada candi. Pada
ambang kanan dan kiri kusen terdapat konsol; konstruksi
bentuk segitiga penguatnya dipenuhi ukiran motif sulur gelung
atau ada juga yang mengatakan sebagai stilasi dari ukel rambut
sang Budha. Di antara dua konsol, menyatu dengan blandar atau
sunduk, terdapat juga elemen ruang yang diukir dengan sangat
indah dengan motif tanaman dimana tepat pada bagian

159
tengahnya muncul ukiran berbentuk buah nanas atau ada yang
menyebutnya sarang lebah dengan wujudnya yang mendekati
naturalis, sangat mengagumkan (Gambar 6.13).

Gambar 6.13 Bentuk hiasan Ukiran Nanasan pada Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

Filosofi bentuk nanas atau sarang lebah, menurut bapak
Bukhari adalah perlambang banyaknya rizki yang akan datang
kepada pemilik rumah dan diharapkan rumah bisa menyimpan
rizki dengan baik. Pada ancik-ancik yang diletakkan di depan

160

pintu tengah juga dijumpai ragam hias ukiran dengan motif
tanaman, di bagian tengah muncul motif mahkota dan di bagian
kedua pinggirnya muncul motif ular naga. Motif mahkota jelas
berasal dari kultur Eropa, dan sepasang ular naga dari kultur
Cina (Gambar 6.14).

Gambar 6.14 Ukiran motif ular naga pada ancik-ancik Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

Di ruang dalam atau omah njero, ragam hias berupa
ukiran banyak dijumpai pada gebyok bagian depan gedongan.
Sebagaimana gebyok-gebyok tengah dan depan, gebyok pada
gedongan pada prinsipnya berupa panil-panil dengan susunan
hiasan motif masjid yang sebagian bidang dalamnya dihias
dengan ukiran. Elemen ruang yang berupa ragam hias ukiran
ditambahkan di depan bagian atas dan sebagian samping kanan
dan kiri pintu masuk ke dalam gedongan. Motif-motif yang bisa
dilihat adalah motif sulur-suluran tanaman yang keluar dari pot,
daun dan bunga melati, dan munculnya sebuah bentuk piala di
bagian tengah. Motif piala, kemungkinan besar berasal dari
pengaruh Eropa. Di sebagian rumah juga muncul motif binatang
yaitu kijang; melambangkan kelincahan dalam usaha.

161
Tiang-tiang utama atau soko guru sengaja dibiarkan
polos, begitu pula umpaknya; hal yang juga membedakan dengan
rumah joglo di Jawa Tengah bagian Selatan. Menurut cerita
setempat, pada salah satu tiang telah diberi rajah untuk
menghindari kejahatan orang yang ingin masuk ke dalam omah
njero dan gedongan. Wujud rajah tidak kelihatan, karena berupa
unsur-unsur non fisik. Kapitil keempat tiang diberi ornamen
berupa susunan lapisan bentuk bintang delapan atau dikenal
dengan ragamaya yaitu di antara balok-balok tutup kepuh dan
pengeret di satu pihak dan sunduk dan kili-kili di pihak lain
(Gambar 6.15). Di tengah-tengah, di antara dua tiang soko guru
yang memanjang ditempatkan sesanten yang penuh ukiran;
posisinya segaris dengan kapitil. Pada ujung-ujung kedelapan
balok horisontal terdapat hiasan dengan motif tumpal.

Gambar 6.15 Hiasan Ragamaya pada Soko Guru Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

162

Uleng pada pemidangan disusun lapis demi lapis ke atas
semakin mengecil; setiap lapis atau tumpang mempunyai nama
sendiri-sendiri dan ornamen yang berlainan. Jumlah lapisan
menunjukkan tingkat derajat dan kemampuan ekonomi,
biasanya ganjil dan paling banyak 9 buah (Gambar 6.16).
Menurut bapak Bukhari, urut-urutan dan nama-nama lapisan
atau tumpang pada uleng adalah sbb :

Lapisan pertama : Lowo gemandul
Lapisan kedua : Buto mesem
Lapisan ketiga : Blarak sineret
Lapisan keempat : Walang gumpung
Lapisan kelima : Sinom widodo
Lapisan keenam : Pandan waringin
Lapisan ketujuh : Sinom waringin
Lapisan kedelapan : Mlati putih atau Bang binthulu
Lapisan kesembilan : Sinom panutup

Ornamen-ornamen rumah tinggal tradisional Kudus juga
terdapat pada bagian penutup atapnya. Di tengah-tengah
bubungan terdapat ornamen yang telah distilir berupa hiasan
dengan motif makutho; di beberapa rumah berupa motif
gunungan. Di kanan dan kirinya berjejer hiasan-hiasan seperti
motif wayang atau burung atau ayam jago. (Gambar 6.17).
Wujudnya bisa berupa hanya stilasi bentuk sayap burung atau
cengger ayam jago. Pada pertemuan keempat bidang atapnya
juga terdapat jejeran hiasan-hiasan dengan posisi berdiri. Ragam
hias inilah yang oleh Slamet Muljana dianggap hasil pengaruh
dari kultur Cina, membandingkannya dengan keberadaan motif
naga di atas atap bangunan tradisional Cina.

163

Gambar 6.16 Hiasan Uleng Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

164

Gambar 6.17 Hiasan berjejer di atas atap Rumah Adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

6.7 Sirkulasi Ruang
Sirkulasi pada rumah tinggal tradisional Kudus mempunyai
keunikan tersendiri yang tidak terjadi pada rumah tinggal
tradisional Jawa yang lain. Dimulai dari pintu halaman,
seseorang yang ingin bertamu langsung dapat menuju teras yang
sempit dan melepas alas kaki untuk kemudian diterima pemilik
rumah di jagasatru, masuk lewat salah satu pintu sorong, bukan
pintu inep. Jika tamunya perempuan, sudah dikenal baik, bisa
langsung ke pawon lewat pintu tersendiri, tidak masuk ke
jagasatru. Pada awalnya, menurut cerita setempat, tamu yang
datang biasanya membasuh kaki terlebih dahulu di kamar mandi
sebelum masuk jagasatru. Ruang tamu atau jagasatru dibagi
menjadi dua ruang penerima tamu, bagian yang dekat dengan
dapur dengan perlengkapan meja kursi yang pendek untuk tamu

165

perempuan ditemani oleh ibu pemilik rumah, sedangkan tamu
laki-laki ditemani oleh bapak pemilik rumah di bagian lain di
jagasatru, masih dalam satu ruangan, tidak ada pembatas ruang
antara keduanya. Pemberian suguhan atau minuman dilayani
lewat pintu samping yang menghubungkan jagasatru dengan
pawon.

Sirkulasi sehari-hari pemilik rumah lebih memanfaatkan
pawon; keluar masuk lewat pintu pawon (bagian depan), dari
pawon bisa langsung ke omah njero lewat pintu yang
menghubungkan keduanya. Letak kamar mandi di depan pawon
ikut menciptakan akses langsung dalam zona servis. Kamar
mandi, walaupun letaknya terpisah dengan rumah inti dan
pawon, namun privasi pemilik rumah yang melakukan aktifitas
rutin masih tetap ada, tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan
orang lain, sebab adanya dinding tembok keliling halaman yang
relatif tinggi.

Semua rumah tinggal tradisional Kudus yang tersebar di
Kudus Kulon, terutama di desa atau kampung Kauman dan
sekitarnya berorientasi ke arah Selatan atau tepatnya
mengalami deviasi 9 derajat ke arah Barat. Menurut cerita
setempat, rumah-rumah di sekitar masjid Menara Kudus ingin
menghormati Kanjeng Sunan Kudus dimana cungkupnya
menghadap ke arah Selatan. Ada pula yang beranggapan bahwa
arah hadap atau orientasi rumah tidak menantang Kanjeng
Sunan Muria yang letak makamnya di sebelah Utara Kudus, di
bukit Muria. Apabila dicermati, ternyata di wilayah Jawa, tidak
sedikit rumah-rumah penduduk yang menghadap ke arah
Selatan, tentu saja dengan berbagai alasan dan latar
belakangnya. Mungkin timbul pertanyaan mengapa bisa ada

166
keseragaman orientasi dengan keanekaragaman latar belakang?
(Gambar 6.18).

Gambar 6.18 Orientasi tata letak lingkungan permukiman di sekitar Masjid
Menara Kudus
(Ashadi, 2000)

BAB 7
KOMPLEKS MAKAM SUNAN KUDUS

Dengan adanya kompleks makam Sunan Kudus yang menjadi
satu areal dengan bangunan masjid, sebagaimana pula
bangunan-bangunan masjid Wali di Jawa lainnya, maka
kompleks masjid yang berada di kota Kudus kuno itu bisa
digolongkan ke dalam masjid Makam. Keberadaan makam di
areal masjid erat kaitannya dengan alam pikiran masyarakat asli
Jawa yang masih menganggap arwah tokoh yang meninggal bisa
berhubungan dengan mereka yang masih hidup lewat suatu
upacara peribadatan. Suasana masjid Makam sangat berlainan
dengan masjid-masjid biasa. Kekeramatan dan kesakralan lebih
menonjol pada masjid Makam; tidak ada keseimbangan antara
aktifitas akhirat dan dunia, antara sakral dan profan. Sehingga
tidak jarang, pengunjung dari luar daerah yang datang ke
Kudus, lebih mengutamakan berziarah ke makam Sunan Kudus
ketimbang mengunjungi masjidnya.

Tentang sejarah keberadaan kompleks makam Sunan
Kudus, hingga kini belum ditemukan data-data yang bisa
dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Tetapi bisa diduga
dibangun setelah bangunan masjid dan menara. Ada beberapa
keterangan yang sedikit banyak bisa digunakan meraba
keberadaan bangunan-bangunan yang ada di dalam kompleks
makam.

167

168
Di dalam kompleks makam terdapat bangunan-bagunan

selain nisan-nisan kuburan, juga gapura-gapura, dan bangunan
berbentuk tajug. Bangunan tajug ini terletak di sebelah selatan
cungkup Sunan Kudus, yang berfungsi sebagi “information
centre”, berada di zona IV kompleks masjid Menara Kudus.
(Gambar 7.1 dan Gambar 7.2). Di sebelah utara dan timur
bangunan tajug terdapat gapura kori.

Gambar 7.1 Bangunan Tajug dalam kompleks Makam Sunan Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 2015)

Gambar 7.2 Gambar Tampak Bangunan Tajug
(Dokumen Ashadi, 2013)

169
Pada gapura kori di depan (sebelah timur) bangunan
tajug terdapat keterangan berangka tahun 1216 H atau 1801 M;
dan pada pintu gapura kori di sebelah utarannya berangka tahun
1210 H atau 1795 M. (Gambar 7.3 dan Gambar 7.4).

Gambar 7.3 Gapura Kori di sebelah timur Bangunan Tajug
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

170

Gambar 7.4 Gapura Kori di sebelah utara Bangunan Tajug
(Dokumentasi Ashadi, 2015)

171

Di atas tiang atap bangunan tajug juga terdapat
keterangan berangka tahun 1145 H atau 1732 M. Di bagian
depan pintu masuk makam (cungkup) Sunan Kudus terukir
dengan kalimat asma’ul husna serta berangka tahun 1895 Saka
atau 1296 H atau 1878 M. Dan di bagian salah satu dinding
pembatas yang berada di depan salah satu nisan (makam
Pangeran Poncowati), terdapat keterangan berangka tahun 1228
H atau 1813 M (Salam,1977:36-39).

Keberadaan gapura-gapura pada kompleks makam orang-
orang Islam rupanya sudah menjadi lazim di Jawa. Hal ini bisa
dijumpai pada kompleks masjid makam di Mantingan, di
Sendang Duwur dan juga di Tembayat1. (Gambar 7.5-7.7).

1 Makam Kiai Pandan Arang di Tembayat, bagian selatan Jawa Tengah, atau lebih
dikenal dengan Sunan Tembayat, pada tahun 1633 M pernah diziarahi oleh Raja
Diraja Sultan Agung dari kerajaan Mataram. Disamping melakukan upacara
penghormatan kepada pemilik makam, Sultan juga memerintahkan mendirikan
beberapa bangunan di tempat yang baru dikunjungi itu, yaitu berupa bangunan-
bangunan paseban, gapura-gapura, dan tembok keliling kompleks makam dari
susunan batu. Pada bangunan gapura diterakan candra sengkala yang berbunyi
Wisaya Anata Wisiking Ratu dan juga keterangan berangka tahun 1555 Saka atau
1633 M(Graaf,1986:208).

172

Gambar 7.5 Gapura Makam Ratu Kalinyamat di Mantingan, Jepara
(Dokumentasi Ashadi, 2015)

Gambar 7.6 Gapura Makam Sunan Sendang di Sendang Duwur, Lamongan
(Dokumentasi Ashadi, 2015)

173

Gambar 7.7 Gapura Makam Sunan Bayat di Tembayat, Klaten
(Dokumentasi Ashadi, 1997)

Kekunoan kompleks makam Sunan Kudus ditunjukkan
dengan adanya bangunan-bangunan gapura, baik berupa candi
bentar maupun kori, dan tembok penyekat atau penyengker
yang membatasi antara zone satu dengan lainnya, yang tersusun
atas batu bata merah tanpa plesteran. Di salah satu sudut zone
IV, di sebelah barat laut bangunan tajug, terdapat perigi sebagai
tempat untuk mengambil air wudlu. Ketika Penulis
mengamatinya, ternyata perigi ini berupa sebuah sumur.
Kemungkinan keberadaannya berkaitan dengan aktifitas ziarah
ke cungkup makam Sunan Kudus.

Bangunan gapura kori yang ada di kompleks makam
bentuknya hampir seragam, baik bagian kaki, badan, maupun
kepala; miskin ornamen, hanya berupa kombinasi dari dimensi
bangunan dengan bentuk pelipit-pelipitnya yang disusun secara

174

rapi dan menarik. Pada bagian kaki pada umumnya besar,
mengecil pada bagian tengah badan bangunan, dan agak
membesar pada bagian atas badan bagunan, dan pada bagian
kepala secara bertingkat agak mengecil ke atas, namun tidak
menjulang tinggi; dari tampak muka, sekilas bagian kepala
terlihat seperti bentuk trapesium atau secara tiga dimensi mirip
dengan bentuk nisan. Pada sudut-sudut pinggir bagian kepala
terdapat beberapa ornamen-ornamen (gegodeg), mungkin
ornamen lainnya sudah hilang termakan waktu. Di samping
kanan dan kiri bagunan-bangunan gapura kori dan candi bentar
menyatu dengan dinding atau tembok penyengker. Gapura kori
pada umumnya mempunyai dua buah daun pintu yang terbuat
dari kayu jati di bagian tengahnya. Lantai dasar pintu relatif
tidak ditinggikan; kalaupun terjadi peninggian sekedar
memperkuat fungsi pintu sebagai batas antara “ruang” satu
dengan lainnya, dan tidak lebih dari 30 cm. Dan hal ini juga
menghindari daun pintu tergenang oleh air. (Gambar 7.8).

Selain bangunan-bangunan gapura, di dalam kompleks
makam juga terdapat bagunan cungkup dan tajug. Di dalam
bangunan cungkup terdapat krobongan, yaitu ruangan sakral
tempat nisan Sunan Kudus; hampir seluruhnya diselimuti kain
mori (berwarna putih) dan kain berwarna hijau, dengan di sana
sini, di bagian atas, digantungkan ugel-ugel dari kain mori. Di
sekeliling krobongan terdapat pagar besi; dan pintu masuknya
berada di sebelah selatan. Bentuk atapnya adalah tajug tumpang
dua dengan sebuah mustaka (dari logam alumunium) pada
bagian puncak atap; dan bahan penutup atap dari sirap.
Sedangkan bangunan tajug lebih mirip dengan sebuah bale-bale,
memiliki 8 buah tiang pada keempat sisi-sisinya (4 buah berada
di keempat sudutnya ditambah 4 buah di tengah-tengah masing-

175
masing antara dua tiang) dan 4 buah di tengah bangunan.
Lantainya dari bahan keramik, ditinggikan kurang lebih 30 cm
dari permukaan tanah. Seperti namanya, bangunan ini beratap
tajug dengan tumpang dua, bahan penutup atap dari sirap; di
bagian puncak atap ditempatkan mustaka. Bangunan tajug bisa
dibandingkan dengan sebuah paseban.

Gambar 7.8 Gambar salah satu gapura Makam Sunan Kudus
(Dokumen Ashadi, 2005)

176

Pada bangunan tajug, diantara konstruksi dua balok
horisontal rangkap yang terletak di bagian atas tiang-tiang
(sebagai terusan dari tiang-tiang bangunan), terdapat ornamen
dengan ukiran-ukiran motif bintang bersudut delapan yang
disusun secara bertingkat; ragam hiasnya dinamakan ragamaya.
Apabila diteliti secara cermat, ragam hias ragamaya adalah
merupakan elemen tempelan, bukan bersifat konstruksional.
Balok-balok tiang berdimensi kurang lebih 12 x 12 cm; blandar
dan pengeret, serta sunduk dan kili-kili berukuran 8 x 12 cm.
Balok blandar dan pengeret dipasang secara tidur, sedangkan
sunduk dan kili-kili dipasang dengan posisi berdiri. Baik balok-
balok tiang maupun balok-balok horisontal, masing-masing
dibiarkan polos tanpa adanya ukiran-ukiran. Ornamen di bagian
atap berupa sebuah mustaka di puncak atap, dan deretan
ornamen yang bentuknya tegak di sepanjang pertemuan
keempat bidang atap. (Gambar 7.9 dan 7.10). Ornamen-ornamen
ini juga menghiasi atap bangunan cungkup makam Sunan
Kudus. Ornamen dengan bentuknya yang tegak, yang disusun
dengan berjejer juga terdapat di atas atap bangunan berbentuk
limasan yang menaungi sebagian nisan-nisan kuburan yang ada
dalam kompleks makam.

Pada dinding perigi yang terbuat dari batu bata merah,
sebagai tempat berwudlu sebelum memasuki zone pekuburan
(zone V), terdapat ornamen berupa hiasan dengan motif bunga
tanaman, yang ditampilkan secara timbul, berbentuk
menyerupai daun waru yang disusun terbalik ke bawah.
Ternyata ornamen dengan motif ini juga terdapat pada kursi
untuk Khatib di masjid Agung Demak. Bentuknya sekilas mirip
mata panah atau tombak. Di atas perigi juga dijumpai porselin-
porselin piring atau mangkuk. (Gambar 7.11).

177

Gambar 7.9 Gambar Potongan Bangunan Tajug di kompleks Makam Sunan Kudus
(Dokumen Ashadi, 2013)

Gambar 7.10 Gambar Detail Konstruksi Bangunan Tajug di kompleks Makam
Sunan Kudus

(Dokumen Ashadi, 2013)

178

Gambar 7.11 Perigi di dekat Bangunan Tajug di kompleks Makam Sunan Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

Pada gapura kori, sebagai entrance ke cungkup makam
Sunan Kudus, terdapat ragam hias ukiran yang sangat menarik
pada pintunya. Konstruksi pintu semua dari bahan kayu jati.
Hiasan pada kusen di kanan dan kiri pintu berupa ukiran
bermotif sulur-sulur daun dan bunga. Di bagian tengah kusen
tersebut terdapat hiasan dengan motif rozet dalam bidang belah
ketupat, sedangkan pada bagian atasnya terdapat hiasan
berbentuk padma yang seolah-olah menopang kusen atas. Pada
bagian tepi daun pintu dihiasi dengan motif rozet dalam bingkai
segiempat. Di bagian tengah daun pintu terdapat hiasan motif
rozet dalam bingkai lingkaran. Lobang angin di atas pintu
berbentuk setengah lingkaran, yang penuh dengan hiasan relief
tembus bermotif sulur-sulur daun dan bunga. Pada bagian tepi
bentuk setengah lingkaran tertera tulisan-tulisan Arab.

179

Sirkulasi yang terjadi dalam prosesi makam lebih terarah
dan runtut dibanding dengan prosesi masjid. Melewati pintu
masuk yang berupa gapura kori (berpintu) yang berada di
sebelah timur, di sebelah selatan gapura candi bentar utama
(main entrance), pengunjung berarti sudah mulai melakukan
prosesi makam. Di zone paling depan (II) bisa dijumpai beberapa
penjaja makanan dan asesoris serta buku-buku agama yang
dijajakan secara lesehan. Bagi masyarakat Kauman, zone ini
masih dianggap publik sebab gang-gang (ada 2 buah) yang
menuju ke perkampungan mereka bisa melewatinya. Hal ini
sama seperti yang terjadi pada bagian utara bangunan masjid.
Pengunjung makam dari zone II bisa langsung menuju bangunan
tajug (zone IV) dengan melewati gapura candi bentar dan kori.
Bagi mereka yang mengendarai sepeda atau sepeda motor diberi
tempat untuk memarkir kendaraannya di areal antara zone II
dan IV (zone III). Di depan bangunan tajug terdapat dua buah
bale kecil di kanan dan kiri gapura kori, sebagai tempat
penitipan barang-barang bawaan. Di bagunan tajug, para
pengunjung (rombongan) terlebih dahulu di beri penjelasan oleh
petugas tentang riwayat kompleks masjid Menara Kudus dan
tokoh pendirinya, Sunan Kudus beserta keturunannya. Dan juga
mereka diberi wejangan sebagai bekal untuk berziarah ke
cungkup makam Sunan Kudus. Dari zone IV ini setiap
pengunjung dianjurkan untuk bersuci (berwudlu) di sebuah
perigi di sebelah barat laut bangunan tajug, di dekat pintu
masuk ke areal pekuburan. Pintu masuk ke areal pekuburan
(zone Vdan VI) berupa gapura kori (berpintu) berada di sebelah
utara bangunan tajug. Di depan gapura kori ini terdapat dinding
atau tembok aling-aling (sketsel), sehingga bagian dalam areal

180

pekuburan tidak terlihat dari luar (zone IV). Memasuki areal
pekuburan, pengunjung dengan tanpa alas kaki melalui jalan
setapak (lebar 1 m) yang di kanan dan kirinya banyak nisan-
nisan; sebagian ada yang dinaungi dengan bangunan-bangunan
beratap limasan, menuju ke zone VII, sebagai areal “penerima”
sebelum masuk ke areal cungkup makam Sunan. Dari zone V ke
VI, pengunjung melewati sebuah gapura candi bentar. Di sebelah
barat zone VI terdapat gapura kori sebagai pintu masuk ke zone
VII. Dari sini pengunjung berbelok ke arah utara, dengan
melewati gapura candi bentar, sampailah mereka di areal
cungkup makam Sunan (zone VIII). Di depan gapura candi
bentar terdapat juga tembok aling-aling. Degradasi sifat
kesakralan dari masing-masing zone jelas terasa pada prosesi
makam2.

Letak cungkup makam Sunan yang di pojok sebelah barat
laut kompleks masjid, memungkinkan terjadinya sirkulasi yang
panjang. Dimulai dari pintu masuk makam, pengunjung harus
berjalan ke arah barat sejauh kurang lebih 65 m untuk sampai di
bangunan tajug. Dari sini, pengunjung berjalan lagi ke arah
utara sejauh kurang lebih 35 m hingga pintu masuk ke areal
cungkup makam (belok ke arah barat). Untuk mencapai cungkup
makam Sunan, pengunjung masih harus berjalan ke arah utara
lagi sekitar 10 m. Jadi jarak yang di jalani oleh pengunjung
makam dari pintu masuk hingga bangunan cungkup makam
Sunan kurang lebih 110 m. Letaknya yang di sebelah barat laut
bangunan masjid, memunculkan anggapan-anggapan bahwa

2 Di zone IX, di antara nisan-nisan yang dinaungi bangunan, Penulis sempat
menjumpai dua orang santri dari pesantren masjid Menara Kudus yang sedang
belajar, menghafal isi sebuah kitab. Suara hafalannya saling bebarengan dengan
suara-suara dzikir para pengunjung cungkup makam. Rupanya mereka
menganggap tempat-tempat itu dapat memberikan berkah kepandaian.

181

letak cungkup terhadap masjid memang disengaja mengarah ke
Kiblat.

Sirkulasi pada prosesi makam hanya berupa satu jalur,
sehingga terjadinya cross antara pengunjung yang menuju ke
arah bangunan cungkup dan yang telah selesai berziarah dari
cungkup makam, tidak dapat dihindarkan. Namun untuk
menghindari bertemunya para peziarah antara yang datang dan
yang pulang, maka pada waktu-waktu tertentu, pintu belakang
dibuka yang mengarahkan peziarah yang pulang menuju jalur
terpisah dengan yang datang.

182

BAB 8
MENARA KUDUS

Data autentik yang masih bisa digunakan sebagai sandaran
sejarah bangunan Menara Kudus mau tidak mau harus merujuk
pada inskripsi yang terdapat di atas pengimaman masjid.
Walaupun secara tersurat tidak disebutkan namanya, tetapi
kata-kata yang terungkap di dalam inskripsi dapat didiskusikan
lebih lanjut dalam upaya menemukan identitasnya.

Di dalam inskripsi terdapat nama-nama seperti Al-Aqsha,
Al-Manar, Al-Quds, dan Ja’far Shadiq dan disebutkan pula angka
tahun 956 Hijriyah, yang satu sama lain sangat berkaitan. Al-
Manar adalah nama masjid yang didirikan oleh Ja’far Shadiq.

Al-Manar berarti Menara. Penyebutan nama Al-Manar
yang berarti menara untuk sebuah nama masjid
mengindikasikan bahwa telah adanya sebuah bangunan menara
yang tentu saja bukan menara biasa dimana letaknya tidak jauh
dari masjidnya ketika inskripsi dibuat sebagai peringatan
pendirian masjid.

Berdasarkan keterangan yang ada di inskrpsi, bisa diduga
bahwa ketika masjid dibangun pada tahun 1549 M, bangunan
menara sudah ada atau sudah berdiri. Dengan kata lain
bangunan menara mulai didirikan sebelum tahun 1549 M.

Data autentik yang berkaitan dengan bangunan Menara
juga ditemukan pada tiang atap menara berupa sebuah Candra

183

184

Sengkala berbunyi Gapura Rusak Ewahing Jagad yang
menunjukan angka tahun 1609 Saka atau 1685 M. Rupanya
tahun ini memperingati perbaikan atap menara yang telah mulai
rusak (Salam,1977:35). Hal ini menunjukan bahwa ruang di
bawah atap menara bersifat fungsional, yaitu untuk tempat
kenthongan dan bedug.

Kenthongan terbuat dari bahan kayu jati, berbentuk bulat
panjang yang dilobangi bagian tengahnya, sedangkan bedug
adalah drum besar yang penutupnya terbuat dari kulit binatang,
yang dipukul berkali kali menandai waktu shalat telah tiba. Pada
umumnya, setelah kenthongan dan bedug dipukul atau ditabuh,
segera kemudian diikuti dengan kumandang adzan oleh
Muadzin. Sebenarnya fungsi kenthongan dan bedug adalah
sama.

Untuk sampai ke atas bangunan menara seseorang harus
menaiki sebuah tangga terbuat dari kayu jati. Pada tangga kayu
ini terdapat pahatan yang menunjukan angka tahun 1313 H.
atau bertepatan dengan tahun 1895 M. Tahun ini memperingati
pembuatan tangga kayu tersebut.

Konon, menurut cerita setempat, di bawah Menara
Kudus, dahulu terdapat sumber air yang dikenal dengan “banyu
penguripan”, air kehidupan. Sesudah datangnya Islam, air
kehidupan tersebut ditutup oleh Sunan Kudus dengan
mendirikan sebuah bangunan Menara yang bentuknya seperti
candi. Adanya sumber air di sekitar berdirinya Menara pada
zaman dahulu cukup menarik perhatian. Sebab keberadaan
sumber air bagi sebuah masjid adalah mutlak. Sejauh ini, tanda-
tanda adanya sumber air yang menunjang aktifitas shalat lima
waktu sehari pada awal berdirinya masjid sulit diidentifikasikan.

185

Bangunan Menara Kudus dengan keanggunan dan
keindahannya telah menjadi obyek perdebatan di kalangan
ilmuwan terutama berkaitan dengan kedudukannya sebagai
bangunan peribadatan; apakah pada awalnya merupakan
bangunan peribadatan orang-orang sebelum Islam (Hindu)
ataukah sejak berdirinya sudah menjadi simbol peribadatan
Islam. Bagi mereka yang lebih condong pada pendapat pertama,
sebagian besar menganggap bahwa bangunan Menara Kudus
semula sebuah candi yang kemudian berubah fungsi. Hal ini bisa
dibandingkan dengan bangunan candi di Jawa Timur. Bentuk
bangunan Menara Kudus sekilas memang mirip candi Jago di
Malang Jawa Timur. Yang lebih mirip sebenarnya adalah dengan
candi Sawentar di Blitar, Jawa Timur. (Gambar 8.1 dan Gambar
8.2).

Gambar 8.1 Candi Jago di Malang, Jawa Timur
(Dokumentasi Ashadi, 2019)

186

Gambar 8.2 Candi Sawentar di Blitar, Jawa Timur
(Dokumentasi Ashadi, 2015)

Apabila dikaitkan dengan fungsinya sebagai tempat untuk
memanggil dan mengumpulkan orang, bangunan ini bisa
dibandingkan dengan bale Kul Kul di Bali (Gambar 8.3).
Pendapat kedua didasarkan pada kenyataan sementara ini
bahwa orientasi bangunan Menara Kudus sama persis dengan
orientasi bangunan masjid. Hal yang tentu saja menjadi landasan
dasar bagi pengabsahan pendapat kedua.


Click to View FlipBook Version