The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-01-12 04:26:16

Kudus Kota Suci di Jawa

Kudus Kota Suci di Jawa

Keywords: kudus,kota,jawa,suci

37

Gambar 1.5 Rumah Kapal Kudus tempo dulu
(https://property-kudus.blogspot.com, akses 3 Nopember 2019)

Gambar 1.6 Rumah Kapal Kudus dalam keadaan rusak berat dan mangkrak
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

38
Pada zamannya, bangunan yang memang berdiri dengan

gagah ini sanggup menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat
kota kudus dan sekitarnya. Bangunan Omah Kapal ini menjadi
salah satu landmark Kota Kudus saat itu. Bahkan hingga tahun
70-an masyarakat Kudus selalu menyebut “daerah Omah Kapal”
untuk merujuk daerah di belakang Menara Kudus serta
kelurahan Damaran dan sekitarnya.

Bangunan-bangunan kuno buatan dan peninggalan M
Nitisemito memang terkenal dengan kegagahan dan
keindahannya. Selain bangunan Omah Kapal, bangunan Rumah
Kembar Nitisemito adalah contoh lainnya. (Gambar 1.7 dan
Gambar 1.8).

Gambar 1.7 Rumah Kembar di sebelah barat Kaligelis
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

39

Gambar 1.8 Rumah Kembar di sebelah timur Kaligelis
(Dokumentasi Ashadi, 1999)

Rumah Kembar atau Omah Kembar dibangun masa
kolonial Belanda dengan mengapit Sungai Gelis (Kaligelis). Jika
dilihat dari arah utara, atau dari jembatan Kaligelis, terlihat
seperti rumah yang terbelah sungai. Rumah di sebelah barat,
secara administratif masuk ke Desa Demaan, sedangkan di
sebelah timur, masuk ke Desa Janggalan.

Seiring kejatuhan usaha M Nitisemito, bangunan Rumah
Kembar kemudian kurang dirawat dan mangkrak. Bahkan saat
ini kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal bangunan kuno
di kota Kudus yang sangat unik dengan nilai arsitektur yang
sangat tinggi ini memiliki potensi yang sangat besar untuk
dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata. Khususnya wisata
bangunan sejarah

40
Namun ada beberapa rumah gedongan, peninggalan

konglomerat Kudus zaman dulu, yang sampai sekarang masih
terawat rapi oleh pemiliknya (ahli warisnya). Furnitur
interiornya juga masih dalam kondisi baik. Pada suatu
kesempatan, penulis diterima oleh pemilik rumah gedongan di
desa Janggalan, Kudus Kulon. Suasana interiornya, khususnya
ruang tamu, bergaya Indis, sangat rapi dan bersih. (Gambar
1.9).

Gambar 1.9 Interior Ruang Tamu Rumah Gedongan Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 2002)

BAB 2
JA’FAR SHADIQ SANG WALI PENDIRI

KOTA KUDUS

2.1 Riwayat Singkat Pendiri Kota Kudus
Nama Ja’far Shadiq jelas disebut di dalam inskripsi yang
terdapat di atas mihrab Masjid Menara Kudus. Asal-usul dan
silsilah tokoh yang satu ini hingga sekarang masih simpang siur,
namun ada dugaan kuat bahwa dia keturunan Arab (Persia?).
Tentang tahun kelahirannya masih misteri, tidak ada
keterangan atau berita lesan maupun tulisan yang bisa dijadikan
sandaran. Sedangkan wafatnya diperkirakan pada tahun Saka
1550 atau Masehi 1628 (Djajadiningrat, 1983:146; Salam,
1967:28). Tahun inipun masih diragukan. Tahun-tahun sekitar
1587 atau 1588 hingga sebelum tahun 1605 bisa diajukan sebagai
tahun-tahun terakhir kehidupan Ja’far Shadiq. Sedangkan
tahun 1628 sebagaimana disebutkan di atas agaknya terlalu ke
belakang. Tahun ini adalah saat genting-gentingnya Kerajaan
Mataram karena Raja Sultan Agung sedang mengadakan
pengepungan terhadap Kota Batavia.

Menurut cerita-cerita Jawa, nama asli Sunan Kudus
adalah Ja’far Shadiq bin Raden Usman Haji (Sunan Ngudung)
bin Raja Pandita bin Ibrahim Asmoro bin Muhammad
Jumadilkubra bin Zaini Al-Husein bin Zaini Al-Kubra bin Zainul

41

42

Alim bin Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib.
Silsilah yang bisa sampai kepada Ali bin Abu Thalib, mantu dan
keponakan Rasulullah SAW sungguh sulit untuk ditelusuri
kebenarannya dan hal ini tidak harus diterima bulat-bulat.
Tidak sedikit silsilah orang-orang suci atau Wali disandarkan
kepada Ali bin Abu Thalib. Yang jelas bapak Sunan Kudus
adalah Sunan Ngudung. Tempat yang bernama Ngudung hingga
sekarang letaknya belum diketahui; ada yang
menghubungkannya dengan Kudus.

Menurut dugaan Parlindungan dalam Teks Catatan
Tahunan Melayu nya, Ja’far Shadiq identik dengan Ja Tik Su,
seorang kapten kapal Ta Cih yang mengalami kerusakan kapal
dan diperbaiki di galangan kapal Semarang (Parlindungan,
2007:650, lampiran XXXI). Dalam Komentar nya, De Graaf tidak
bisa menerima persangkaan Parlindungan, bahwa Ja Tik Su dan
Sunan Kudus adalah sama orangnya (De Graaf, 1998:109).
Menurut cerita, Sunan Kudus pernah mengislamkan seorang
Cina bernama Wintang, nakoda kapal dagang yang terdampar di
tepi Pantai Jepara. Tak lama kemudian dia mendirikan
pedukuhan di tepi jalan antara Kudus dan Jepara. Bahkan
kemudian orang Cina yang baru masuk Islam ini dinikahkan
dengan salah seorang putri Sultan Trenggono. Daerah tersebut
berkembang dengan pesat dan terkenal dengan nama
Kalinyamat. Kemungkinan, Ja Tik Su dan Wintang berada
dalam satu kapal yang terdampar, dengan tanggung jawab yang
berbeda, yang satu sebagai kapten dan lainnya sebagai nakoda
kapal; satu hal yang menambah nilai penolakan terhadap
pendapat Parlindungan.

Sunan Kudus, oleh Prof. Dr. Soetjipto Wirjosuparto dan
Prof. Poerbatjaraka, yang kemudian diamini oleh Solichin Salam,

43

adalah sama orangnya dengan Adipati Unus, Pangeran Sabrang
Lor. Nama Adipati Unus itu adalah ucapan keliru dari orang-
orang Portugis untuk menyebut Adipati Kudus. Jadi, Unus itu
adalah sinonim dengan Kudus (Salam,1977:26). Sebenarnya hal
ini sulit dipahami dan bertolak belakang dengan apa yang telah
ditulis oleh Solichin Salam sendiri dalam buku Dja’far Shadiq
Sunan Kudus, yang menceritakan panjang lebar tentang tokoh
ini. Tentang tahun meninggalnya saja sudah tidak saling
mendukung. Ja’far Shadiq alias Sunan Kudus, menurut Solichin
Salam, wafat diperkirakan pada tahun 1628, sedangkan Adipati
Unus (Yunus) alias Pangeran Sabrang Lor, menurut catatan
sejarah, wafat diperkirakan pada tahun 1518.

Ja’far Shadiq selain sebagai mubaligh, juga menjadi
Senopati Kerajaan Demak. Direbutnya Ibukota Kerajaan
Majapahit pada tahun 1527 oleh Kerajaan Islam Demak tidak
terlepas dari peran Ja’far Shadiq dan bapaknya (Sunan
Ngudung); yang menjadikan sang bapak syahid di medan perang.

Sejarah mencatat bahwa dalam penyerangan ke pusat
Kerajaan Majapahit tersebut dilakukan oleh pasukan dari
kalangan santri militan di bawah pimpinan seorang Ulama dari
Ngudung yang kelak bergelar Sunan Ngudung dan putranya
yang bernama Ja’far Shadiq yang kemudian bergelar Sunan
Kudus. Rupanya penyerangan ke jantung pertahanan pasukan
Majapahit berlangsung beberapa tahun. Dalam pertempuran di
Wirasaba, Ulama tersebut menemui syahidnya; kemudian
pimpinan pasukan langsung dipegang oleh Ja’far Shadiq.
Diperkirakan peristiwa ini terjadi pada tahun 1524 M; hingga
peperangan berakhir pada tahun 1527 M.

44
Di kompleks pemakaman Troloyo di Trowulan, Jawa

Timur dapat dijumpai makam yang diduga dan diyakini oleh
sebagian masyarakat Jawa sebagai makam Sunan Ngudung.
Nisan makam Sunan Ngudung terdapat di dalam bangunan
cungkup besar (Gambar 2.1 dan Gambar 2.2).

Gambar 2.1 Cungkup makam Sunan Ngudung di Trowulan
(Dokumentasi Ashadi, 2019)

Gambar 2.2 Nisan makam Sunan Ngudung di Trowulan
(Dokumentasi Ashadi, 2019)

45

Setelah sukses dalam misinya ke Jawa Timur, Ja’far
Shadiq menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Imam masjid
Agung Demak. Namun hal ini tidak lama karena mungkin
dengan alasan untuk lebih mencurahkan kehidupannya dalam
ridlo Allah, lepas dari hiruk pikuk politik dan kekuasaan,
kemudian dia meninggalkan Demak menuju ke arah Timur ke
suatu tempat yang kemudian dikenal dengan nama Kudus.
Menetapnya tokoh ini di Kudus diperkirakan terjadi beberapa
tahun sebelum tahun 1549 M.

Ja’far Shadiq meminta pada Sultan Trenggono agar
diijinkan pindah ke Kudus (dikemudian hari mendapat julukan
Sunan Kudus), lebih kurang 26 km sebelah Timur Laut Kota
Demak. Menurut cerita-cerita Babad, kepindahan Ja’far Shadiq
ke Kudus disebabkan adanya perbedaan pandangan dengan
penguasa Demak tentang penentuan waktu permulaan puasa
Bulan Ramadlan. Sepertinya alasan ini kurang relevan, namun
apa yang terjadi pada zaman Demak juga menimpa umat Islam
pada zaman sekarang yang sudah maju. Umat Islam hampir
selalu berpecah belah dalam menyikapi hal ini.

Menurut De Graaf, kepindahan Ja’far Shadiq dari Demak
ke Kudus disebabkan rasa tidak puasnya kepada Raden Syahid
seorang ulama keturunan bangsawan di Kota Tuban yang
kemudian datang ke Demak. Dengan berbekal restu dari Syeh
Penasehat kerajaan, Raden Syahid diterima dengan tangan
terbuka oleh Sultan, bahkan penyambutannya sangat luar biasa.
Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada tahun 1543, didasarkan
pada saat atau tahun kedatangan Raden Syahid ke Demak (De
Graaf,1985:114).

46

Sejarah sempat mencatat dan memperlihatkan secara
transparan adanya pertentangan antara Ja’far Shadiq dan Raden
Syahid. Yaitu terjadinya peperangan antara Arya Penangsang
(murid Ja’far Shadiq) dengan Pangeran Prawoto (murid Raden
Syahid) dalam usaha memperebutkan takhta Kerajaan Demak
yang pada akhirnya dimenangkan oleh Pangeran Prawoto.

Peninggalan Ja’far Shadiq yang sampai sekarang masih
bisa dilihat adalah sebuah masjid yang namanya Masjid Menara
Kudus, dibangun kemungkinan pada tahun 1549 sesuai
keterangan yang ada di atas mihrab masjid. Yang unik adalah
bentuk menaranya menyerupai candi Jawa Timuran dengan
bahan dari batu bata merah. Beberapa penelitian telah
dilakukan untuk mengetahui lebih banyak keberadaan menara
ini.

Tahun 1549 M, sebenarnya adalah tahun berdirinya
Masjid Menara Kudus sebagaimana yang tertera pada inskripsi
di atas mihrab masjid. Tentang masjid ini akan dibahas secara
agak mendetail di bagian belakang. Komplek masjid ini tidaklah
mungkin diselesaikan dalam waktu hanya satu atau dua tahun,
mengingat dalam pelaksanaannya harus dilakukan pembakaran
batu bata terlebih dahulu sebagai bahan utama bangunan
dinding keliling masjid yang pada lazimnya dilakukan di musim
kemarau. Dan lagi, menurut cerita setempat bahwa Masjid
Menara Kudus bukanlah masjid pertama yang didirikan oleh
Ja’far Shadiq; melainkan sebuah masjid yang kini dikenal
dengan Masjid Nganguk Wali yang terletak agak jauh ke arah
Timur, menyeberangi Sungai Gelis.

Patut diduga kuat bahwa Ja’far Shadiq menetap di
tempatnya yang baru beberapa tahun sebelum Masjid Menara
Kudus berdiri tahun 1549 M; atau sebelumnya pernah

47

menyinggahi tempat yang kelak bernama Kudus semasa dia
mengabdi pada kerajaan Demak. Ada beberapa alasan yang
dapat dikemukakan. Pertama, kematian Sultan Trenggana, raja
Demak ketiga saat melakukan penyerangan ke ujung Jawa
Timur pada tahun 1546 M telah menyebabkan terpecah
belahnya kerajaan Demak akibat perebutan kekuasaan oleh
keluarga Sultan; kekacauan telah terjadi di pusat kerajaan.
Adalah hal yang masuk akal jika Ja’far Shadiq tidak ingin
terlibat terlalu jauh dalam kemelut keluarga kerajaan. Alasan
kedua, dalam merancang komplek masjid yang begitu unik, tidak
ada duanya di bumi nusantara ini, dibutuhkan suatu kajian-
kajian yang matang dan mendalam, dan hal ini membutuhkan
waktu dan data lapangan yang cukup memadai terutama tentang
kondisi sosial budaya, adat istiadat masyarakat setempat. Alasan
ketiga, letak daerah Ngudung (tempat kedudukan Ayah Ja’far
Shadiq) sebagai salah satu basis pemusatan pasukan perang
pendukung setia kerajaan Demak dalam rangka merebut ibukota
Kerajaan Majapahit, walaupun belum diketahui secara pasti,
namun hampir dapat dipastikan terletak di sebelah timur
Demak. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa dalam
kurun waktu atau setidak-tidaknya setelah berakhirnya
peperangan di Jawa Timur pernah menetap di Kudus.

Ketika terjadi perselisihan antara Jaka Tingkir seorang
penguasa Pajang daerah pedalaman, ipar raja Demak (Sunan
Prawata) dengan Arya Penangsang seorang penguasa Jipang
Panolan, keponakan raja Demak yang telah menyuruh
membunuh sang raja beserta istrinya dan penguasa Jepara Ki
Kalinyamat (suami Ratu Kalinyamat, saudara raja), Sunan
Kudus menduduki posisi yang penting. Peristiwa ini terjadi pada

48

tahun 1549 M. Diceritakan, Sunan Kudus sempat memanggil
Jaka Tingkir dan Arya Penangsang yang berseteru itu ke
istananya. Di alun-alun Kudus keduanya sempat bersitegang,
namun Sunan Kudus segera keluar dari istana dan
mendamaikan keduanya. Tetapi di kemudian hari perang tidak
bisa dihindarkan hingga kemenangan diperoleh Jaka Tingkir,
yang kemudian memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke
daerah Pajang dan dia menjadi Sultan Pajang pertama1.

Pada tahun 1587 M, Sultan Pajang pertama wafat.
Sebelum wafat Sunan Kudus sebagai seorang pemimpin rohani
yang sangat berpengaruh dipanggil ke Pajang untuk dimintai
nasehatnya tentang siapa yang pantas menggantikannya. Dia
menyarankan agar yang menjadi raja Pajang adalah Aria
Pangiri, penguasa Demak (kemenakan Sunan Prawata),
sedangkan Pangeran Benawa, putranya yang masih muda
diangkat menjadi penguasa Jipang Panolan. Tetapi karena
ketidakmampuan Aria Pangiri mengakomodasi berbagai
kepentingan di kerajaan Pajang, akhirnya Pajang bisa
dikalahkan oleh Mataram di bawah pimpinan Senapati, putra Ki
Ageng Pemanahan, pada tahun 1588 M. Dan mulailah babak
baru masa kerajaan Mataram Islam yang penguasanya benar-
benar tidak ada hubungan darah maupun perkawinan dengan
penguasa Demak. Dan hal ini kelak menimbulkan konsekuensi
yang buruk bagi daerah-daerah di pesisir utara Jawa dari
ekspansi Mataram di bawah raja diraja Sultan Agung. Hanya

1 Kemenangan Pajang atas Jipang juga berkat andil seorang tokoh yang bernama
Ki Ageng Pemanahan; atas jasa-jasanya dia diberi hadiah sebidang tanah di daerah
Mataram. Kelak keturunannya menjadikan Mataram menjadi sebuah kerajaan
besar dan termasyhur.

49

Cirebon dan Kudus wilayah-wilayah di pesisir utara Jawa yang
tidak diserang oleh Kerajaan Mataram2.

Setelah tahun 1587 atau 1588, nama Sunan Kudus tidak
ada beritanya, namun terlalu gegabah bila menduga tahun-
tahun tersebut sebagai tahun tahun terakhir kehidupan Sunan
Kudus atau Ja’far Shadiq, tetapi juga bukan hal yang tidak
mungkin. Memang pada awal-awal masa Kerajaan Mataram
nama Kudus disebut-sebut, tetapi bukan nama Sunan Kudus.

Pada masa pemerintahan Panembahan Seda Ing Krapyak
(1601-1613 M), pengganti Panembahan Senapati, terjadi
pemberontakan yang dilakukan oleh Adipati Demak, Pangeran
Puger yang nama kecilnya Raden Mas Kentol Kajuron, saudara
tua Raja dari ibu yang berbeda. Pemberontakan terjadi pada
tahun 1602-1605 M. Setelah pemberontakan bisa dipadamkan
dan Pangeran Puger tertangkap kemudian dibawa akan
dihadapkan kepada Raja; namun di tengah jalan Raja
memerintahkan agar Pangeran Puger dibawa ke Kudus untuk
menetap di sebelah utara candi sebagai santri dan di bawah
pengawasan bupati setempat (De Graaf,1986:1-6). Keterangan
De Graaf yang bersumber pada Serat Kandha tersebut sangat
perlu dicermati.

2 Pada zaman Raja Sultan Agung (1613-1645M) terjadi pemberontakan terutama
oleh daerah-daerah pesisir utara Jawa tetapi bisa ditumpas dengan kejam oleh raja,
bahkan sejarah mencatat terjadinya kehancuran yang hebat pada kota-kota di
daerah tersebut. Sehingga adalah hal yang mendesak untuk membentengi kota
dari serangan orang-orang pedalaman dengan membangun atau memperkuat lagi
pagar tembok yang tinggi mengelilingi kota, dan pula rumah-rumah para pedagang
yang umumnya non pribumi alias orang asing atau setidak-tidaknya golongan
keturunan dengan mendirikan tembok yang lebih kuat dan agak tinggi untuk
rumahnya. Kota Kudus yang mempunyai latar belakang sedikit berbeda tidak
perlu melakukan pembentengan terhadap serangan dari pedalaman yang memang
tidak pernah terjadi. Raja-raja dari Mataram agaknya telah bertindak sangat keras
di pusat-pusat peradaban Islam yang lebih tua di pesisir.

50

Kata “candi” jelas ditujukan untuk sebuah bangunan
masjid kuno dengan sebuah menaranya yang mirip candi, yaitu
Masjid Menara Kudus sekarang (pada kesempatan lain, Masjid
Demak juga dikatakan candi Demak). Kalimat “menetap di
sebelah utara candi sebagai santri” menunjuk suatu tempat
sebelah utara Masjid Menara Kudus sebagai tempat mondok
sebagai hukuman yang diberikan Raja Mataram kepadanya.
Kemungkinan Kampung Langgar Dalem sekarang adalah tempat
yang dimaksud. “Di bawah pengawasan Bupati setempat”
memberitahu kepada kita bahwa pertama, Kudus sudah berada
di bawah kontrol Mataram dengan menempatkan seorang bupati
sebagai penguasa Kudus. Kedua, peranan Sunan Kudus sama
sekali sudah tidak ada; walaupun diakui bahwa kedudukan
Kudus sebagai salah satu kota pusat keagamaan Islam di tanah
Jawa masih berlanjut setelah itu.

Dimanakah lokasi kabupaten saat itu? pertanyaan ini
jelas sulit dijawab mengingat bukti-bukti peninggalan baik
sejarah maupun arkeologis tidak ada. Kampung Langgar Dalem
sebagai lokasi tempat kabupaten mempunyai nilai kemungkinan
yang hampir sama dengan letak kediaman Sunan Kudus. Istilah-
istilah yang berasal dari bahasa jawa kemungkinan mulai
dihidupkan pada masa Kerajaan Mataram yang memang lebih
dekat dengan kebudayaan asli (Jawa). Apabila didasarkan pada
kemenangan Mataram atas Pajang, maka paling awal pengaruh
karisma ulama Kudus mulai berkurang atau bahkan dikatakan
berakhir tentunya pada tahun 1588 M. Dengan demikian tahun-
tahun di antara 1587 atau 1588 hingga sebelum tahun 1605 bisa
diajukan sebagai tahun-tahun terakhir kehidupan Ja’far Shadiq
atau Sunan Kudus. Sedangkan tahun 1550 saka atau 1628 M
sebagaimana disebutkan di bagian depan agaknya terlalu ke

51

belakang. Tahun ini adalah saat genting-gentingnya Mataram
karena raja Sultan Agung sedang melakukan pengepungan
terhadap kota Batavia; tidak ada catatan sejarah yang
memberitahukan kepada kita peran Kudus pada pengepungan
pertama itu (pengepungan kedua pada tahun 1629 M).

2.2 Ja’far Shadiq Anggota Dewan Dakwah Walisongo
Dalam buku Mengislamkan Tanah Jawa karangan Widji
Saksono (1995:22-23), penyunting telah memberikan catatan
kaki tentang istilah Walisongo yang bersumber pada Asnan
Wahyudi dan Abu Khalid MA, dalam Kisah Walisongo Para
Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa. Disebutkan bahwa
Walisongo merupakan nama suatu lembaga bagi Dewan Dakwah,
dan kata sembilan diidentifikasikan dengan sembilan fungsi
koordinatif dalam lembaga dakwah itu. Dan Lembaga Dakwah
Walisongo paling tidak telah mengalami empat kali periode
sidang pergantian pengurus. Pendapat ini, menurut Penyunting
buku tersebut, selaras dengan gagasan Widji Saksono. Pada
bahasan tentang Alat dan Fasilitas Dakwah ia mencoba
membuktikan bahwa Walisongo (kecuali Syeh Siti Jenar)
merupakan kesatuan dan memenuhi kualifikasi keorganisasian
yang utuh.

Walisongo periode pertama (tahun 1404) beranggotakan:
1. Maulana Malik Ibrahim, seorang ahli mengatur negara, yang
berasal dari Turki. Ia berdakwah di Gresik, Jawa Timur, dan
meninggal pada tahun 1419.
2. Maulana Ishak, seorang ahli pengobatan, yang berasal dari
Samarkand. Ia berdakwah di wilayah Blambangan, Jawa Timur,
tapi kemudian pindah ke Pasai, dan meninggal di sana.

52

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubra, seorang juru dakwah
keliling, yang berasal dari Mesir. Ia meninggal dan makamnya
ada di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, seorang juru dakwah
keliling, yang berasal dari Maghrib (Maroko). Ia meninggal pada
tahun 1465 di Klaten, Jawa Tengah.
5. Maulana Malik Isra’il, seorang ahli mengatur negara, yang
berasal dari Turki. Ia meninggal pada 1435 dan dimakamkan di
Cilegon, Banten.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, seorang ahli pengobatan,
yang berasal dari Persia (Iran). Ia meninggal tahun 1435 dan
dimakamkan di Gunung Satri.
7. Maulana Hasanuddin, seorang juru dakwah keliling, yang
berasal dari Palestina. Ia meninggal tahun 1462 dan
dimakamkan di samping masjid Banten lama.
8. Maulana Aliyuddin, seorang juru dakwah keliling, yang
berasal dari Palestina. Ia meninggal tahun 1462 dan
dimakamkan di samping masjid Banten lama.
9. Syeh Subakir, seorang yang menumbali tanah angker yang
dihuni jin-jin jahat. Ia berasal dari Persia. Setelah berhasil
menumbali banyak tanah di Jawa, ia pulang kembali ke Persia
dan meninggal di sana pada tahun 1462.

Walisongo periode kedua (tahun 1421) beranggotakan:
1. Raden Rahmat Ali Rahmatullah, berasal dari Campa, yang
datang ke Jawa tahun 1421, menggantikan Maulana Malik
Ibrahim, yang meninggal tahun 1919. Ia berdakwah di wilayah
Ampel Denta, Surabaya, Jawa Timur, hingga meninggalnya,
sehingga dikenal sebagai Sunan Ampel.
2. Maulana Ishak.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubra.

53

4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi.
5. Maulana Malik Isra’il.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar.
7. Maulana Hasanuddin.
8. Maulana Aliyuddin.
9. Syeh Subakir.

Walisongo periode ketiga (tahun 1436) beranggotakan:
1. Sayyid Ja’far Shadiq, berasal dari Palestina, yang datang ke
Jawa tahun 1436, menggantikan Maulana Malik Isra’il, yang
meninggal tahun 1435. Ia tinggal di Kudus hingga
meninggalnya, sehingga dikenal sebagai Sunan Kudus.
2. Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan Sunan Gunung Jati,
berasal dari Palestina, yang datang ke Jawa pada tahun 1436,
menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar, yang meninggal
tahun 1435.
3. Raden Rahmat Ali Rahmatullah.
4. Maulana Ishak.
5. Maulana Ahmad Jumadil Kubra.
6. Maulana Muhammad Al-Maghrabi.
7. Maulana Hasanuddin.
8. Maulana Aliyuddin.
9. Syeh Subakir.

Walisongo periode keempat (tahun 1463) beranggotakan:
1. Syeh Maulana A’inul Yaqin atau dikenal dengan Raden Paku,
putra Maulana Ishak, menggantikan bapaknya yang telah pergi
ke Pasai. Raden Paku tinggal dan meninggal di bukit Giri,
Gresik, Jawa Timur, sehingga dikenal dengan Sunan Giri.

54

2. Raden Syahid atau dikenal dengan Sunan Kalijaga, berasal
dari Tuban, Jawa Timur, menggantikan Syeh Subakir yang telah
kembali ke Persia.
3. Raden Makdum Ibrahim atau dikenal dengan Sunan Bonang.
Raden Makdum Ibrahim adalah putra dari Raden Rahmat Ali
Rahmatullah, menggantikan Maulana Hasanuddin yang
meninggal tahun 1462.
4. Raden Qasim atau dikenal dengan Sunan Drajat, putra dari
Raden Rahmat Ali Rahmatullah, menggantikan Maulana
Aliyuddin yang meninggal tahun 1462.
5. Raden Rahmat Ali Rahmatullah.
6. Sayyid Ja’far Shadiq.
7. Syarif Hidayatullah.
8. Maulana Ahmad Jumadil Kubra.
9. Maulana Muhammad Al-Maghrabi.

Walisongo periode kelima (tahun 1466) beranggotakan:
1. Raden Hasan atau dikenal dengan Raden Patah, raja pertama
di kerajaan Islam Demak, seorang murid dari Raden Rahmat Ali
Rahmatullah. Raden Hasan menggantikan Maulana Ahmad
Jumadil Kubra yang telah meninggal.
2. Fathullah Khan, putra Syarif Hidayatullah, menggantikan
bapaknya yang telah meninggal.
3. Syeh Maulana A’inul Yaqin.
4. Raden Syahid.
5. Raden Makdum Ibrahim.
6. Raden Qasim.
7. Raden Rahmat Ali Rahmatullah.
8. Sayyid Ja’far Shadiq.
9. Maulana Muhammad Al-Maghrabi.

Walisongo periode keenam (tahun 1478) beranggotakan:

55

1. Raden Umar Said, putra Raden Syahid, menggantikan Raden
Hasan yang menjadi raja/sultan di Demak. Raden Umar Said
berdakwah di lereng gunung Muria, sehinga ia dikenal dengan
Sunan Muria.
2. Fathullah Khan.
3. Syeh Maulana A’inul Yaqin.
4. Raden Syahid.
5. Raden Makdum Ibrahim.
6. Raden Qasim.
7. Raden Rahmat Ali Rahmatullah.
8. Sayyid Ja’far Shadiq.
9. Maulana Muhammad Al-Maghrabi.

Tokoh-tokoh Walisongo yang dikenal luas oleh
masyarakat Jawa, yaitu: Maulana Malik Ibrahim (dimakamkan
di Gresik), Raden Rahmat Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
(dimakamkan di Ampel, Surabaya), Raden Makdum Ibrahim
(Sunan Bonang) (dimakamkan di Tuban), Raden A’inul Yaqin
(Sunan Giri) (dimakamkan di Gresik), Raden Qasim (Sunan
Drajat) (dimakamkan di Lamongan), Raden Syahid (Sunan
Kalijaga) (dimakamkan di Kadilangu, Demak), Raden Umar Said
(Sunan Muria) (dimakamkan di Colo, Kudus), Sayyid Ja'far
Shadiq (Sunan Kudus) (dimakamkan di Kudus), dan Syarif
Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) (dimakamkan di Cirebon).

Berdasarkan keterangan di atas, Ja’far Shadiq adalah
salah satu anggota Dewan Dakwah Walisongo Periode Ketiga,
yang kedudukannya menggantikan kedudukan anggota yang
sudah meninggal, Maulana Malik Isra’il.

56

BAB 3
KEHIDUPAN MASYARAKAT KUDUS

Kota Kudus merupakan salah satu Daerah Tingkat II di Propinsi
Jawa Tengah yang terletak di punggung bukit Muria sebelah
Selatan, berbatasan di sebelah Barat dengan Dati II Jepara, di
sebelah Selatan dengan Dati II Demak dan Dati II Grobogan, dan
di sebelah Timur dengan Dati II Pati. Jarak dari ibukota
propinsi, Semarang, ke Kudus lebih kurang 51 km ke arah
Timur, jarak dari Demak 26 km ke arah Timur, jarak dari Jepara
38 km ke arah Selatan, jarak dari Pati 24 km ke arah Barat
(Salam,1994:21).

Kabupaten Dati II Kudus terletak di antara 110 36’ dan
110 59’ Bujur Timur serta diantara 6 51’ dan 7 16’ Lintang
Selatan, dengan ketinggian 55 meter di atas permukaan air laut.
Luas daerahnya lebih kurang 422,21 km2, bagian Selatan berupa
dataran rendah untuk persawahan, bagian Utara berupa lereng
Gunung Muria.

Kota Kudus dibelah oleh aliran Sungai Gelis yang airnya
mengalir dari Utara ke Selatan, menjadi dua bagian yaitu Kudus
Kulon yang letaknya di sebelah Barat sungai dan Kudus Wetan
yang letaknya di sebelah Timur sungai. Kudus Kulon masih
tradisional, dihuni oleh penduduk asli, sedangkan Kudus Wetan
telah menjadi pusat pemerintahan, komersial, industri modern

57

58

dan aktivitas transportasi yang semakin meningkat seiring

dengan bertambahnya populasi.

Orang-orang Kudus sangat menyadari bahwa kota mereka
terdiri dari dua bagian, yaitu Kudus Kulon, disebut kota tua dan
tempat makam Wali, dan Kudus Wetan, tempat kediaman Bupati
dan kantor pemerintahan, sekarang menjadi kota yang lebih
besar dan lebih sibuk (Gambar 3.1). Di Kudus Kulon,
penduduknya yang mayoritas Islam santri dianggap jauh lebih
shaleh, lebih kaya dan jumlah kejahatan lebih sedikit karena
mereka dapat menjaga rumahnya dengan aman, dibanding

dengan wilayah Kudus Wetan. Tali perkawinan dan

kekeluargaan nampak lebih kuat di antara orang-orang Kudus
Kulon; unsur-unsur Islam lebih dominan menyisihkan tradisi
Jawa.

Komplek Masjid Sungai Gelis Kantor Bupati
Menara Kudus (Kaligelis) (di Kudus Wetan)
(di Kudus Kulon)

Gambar 3.1 Peta Wilayah Kota Kudus
(Eksplorasi lanjut dari Wikimapia, akses 1 Nopember 2019)

59

3.1 Kekerabatan
Pada mula terbentuknya masyarakat Kota Lama Kudus (Kudus
Kulon), terjalin hubungan pertalian darah antar keluarga
muslim; mereka memiliki semacam norma perkawinan
endogami. Di kalangan orang-orang yang berharta, umumnya
mereka, mengawinkan anaknya dengan famili mereka sendiri
yang sama-sama kaya dengan maksud agar harta bendanya tidak
jatuh ke tangan orang lain. Berkaitan dengan hal ini, ada
ungkapan sindiran oleh orang-orang Kudus Wetan terhadap
saudaranya yang ada di Kudus Kulon : ‘bondo ora keliyo’ (harta
tidak jatuh ke tangan orang lain).

Setelah terjadi pergaulan perdagangan dengan luar
daerah, sejak sekitar tahun 1950-an, maka mulailah terjadi
perkawinan exogami, yang kemudian menciptakan sistem
kekerabatan luas dan longgar. Hal ini adalah konsekuensi dari
sebuah perkawinan, sebagaimana yang dinyatakan Herskovits
(1990:90), bahwa dalam tiap-tiap masyarakat, dengan struktur
keluarga apapun, perkawinan memerlukan penyesuaian yang
menyangkut banyak hal; perkawinan bukan saja menimbulkan
sejumlah tanggung jawab baru, tetapi hubungan baru dan akrab
dengan orang lain harus pula dijalin.

Di lingkungan masyarakat Kota Lama Kudus menganut
sistem kekerabatan yang juga dianut orang Jawa pada
umumnya; demikian pula istilah-istilah kekerabatan yang
digunakan. Anggota kelompok kekerabatan diperhitungkan
berdasarkan prinsip generasional dan bilateral. Artinya bahwa
perhitungan itu didasarkan pada garis generasi (keturunan) laki-
laki maupun perempuan.

60

Sebuah keluarga dalam masyarakat Kota Lama Kudus
sebagian besar berbentuk keluarga inti atau batih (nuclear
family) yang terdiri atas suami, istri dan anak-anaknya yang
menempati satu rumah tinggal; beberapa diantaranya ditambah
dengan orang-orang yang masih memiliki hubungan
kekerabatan, antara lain ayah, ibu dan saudara (kakak atau
adik). Keluarga inti sering pula dikenal dengan istilah
kulowarga. Berdasarkan pengamatan, tidak ditemukan
keponakan dari kedua atau salah satu pasangan suami istri yang
ikut bergabung dalam keluarga inti. Rupanya anggota keluarga
di Kudus Kulon yang terpenting yaitu suami, istri dan anak-
anaknya, ditambah orang tua (ibu dan bapak) dan saudara. Dan
pada umumnya saudara yang ikut tinggal dalam satu keluarga
inti memiliki status belum menikah. Kemungkinan besar kondisi
dimana posisi saudara dalam keluarga berkaitan dengan status
rumah yang ditempati bisa dianggap penting. Satu keluarga inti
dikepalai oleh satu kepala somah (kepala rumah); ia bisa laki-
laki atau perempuan (suami atau istri), tergantung pihak siapa
yang memiliki rumah itu (beberapa rumah di Kudus Kulon
statusnya sebagai harta warisan). Saudara yang ikut tinggal
dalam satu keluarga inti, meskipun memiliki hak waris terhadap
rumah itu, biasanya dia tidak menjadi kepala somah. Namun,
apabila kepala somah yang masih memiliki hubungan saudara
meninggal, maka yang menggantikan posisi sebagai kepala
somah bukan istri atau anaknya, melainkan saudaranya yang
memiliki hak waris rumah itu, laki-laki atau perempuan. Dalam
posisi seperti ini, biasanya istri (dan anak-anaknya) yang telah
ditinggal mati suaminya itu akan pindah ke rumah orang
tuanya. Satu hal yang menarik, bahwa di Kudus Kulon dan
sekitarnya tidak sedikit orang-orang yang masih membujang

61

dalam usia lanjut baik laki-laki maupun perempuan (ada yang
usianya lebih dari 50 tahun).

Di Kudus Kulon, dalam satu rumah tinggal sebagian besar
ditinggali oleh satu keluarga inti. Sedangkan keluarga luas
dalam arti dua atau tiga keluarga inti yang tinggal dalam satu
rumah jumlahnya tidak banyak. Dalam keluarga luas ini masing-
masing keluarga mewujudkan suatu kelompok sosial yang
berdiri sendiri-sendiri. Satu keluarga luas dikepalai oleh satu
kepala somah, tetapi masing-masing keluarga itu tetap dikepalai
oleh satu kepala keluarga (kk). Jadi dalam satu keluarga luas
bisa jadi terdapat dua atau tiga kepala keluarga (kk), tergantung
jumlah keluarga yang tinggal dalam satu rumah itu.

Pada umumnya seorang anak dalam keluarga di Kudus
Kulon apabila telah mengadakan hubungan perkawinan atau
telah berkeluarga, maka dia akan segera mewujudkan hak
warisnya, bisa membangun rumah di atas sebidang tanah
pekarangan atau langsung menempati atau merenovasi bagian
dari rumah yang ditempati keluarga itu yang menjadi hak
warisnya. Hal ini bisa dilakukan karena dalam soal pewarisan,
tidak jarang terjadi anak-anak menerima hak waris dari orang
tuanya selagi keduanya atau salah satunya masih hidup.
Kemudian mereka menempati rumah baru yang masih berada
dalam lingkungan rumah tinggal orang tuanya (dalam kilungan).
Dalam kasus ini keluarga inti yang baru, bisa dari anak
perempuan yang menetap secara uxorilokal, atau bisa juga dari
anak laki-laki, yang menetap secara virilokal. Menurut
Koentjaraningrat, kelompok kekerabatan yang terdiri dari
keluarga-keluarga inti seperti ini, yang tempat tinggalnya saling
berdekatan, tergolong keluarga luas. Keluarga luas ini dikepalai

62

oleh seorang kepala somah yang merupakan anggota pria tertua
(Koentjaraningrat, 1998:105-115). Namun yang terjadi di Kudus
Kulon dalam keluarga luas semacam itu, masing-masing
keluarga inti tetap dikepalai oleh seorang kepala somah. Seolah
berlaku kaidah umum bahwa sebuah keluarga inti yang sudah
mampu menempati rumah tinggal sendiri dikepalai oleh seorang
kepala somah.

Di Kudus Kulon dapat dijumpai beberapa keluarga inti
atau keluarga luas yang masih memiliki hubungan kekerabatan
yang disatukan dalam sebuah kilungan. Beberapa keluarga itu
hidup bersama-sama di dalam satu kilungan dengan rumah
tinggalnya masing-masing. Sehingga dalam satu kilungan tidak
hanya terdapat satu rumah tinggal, tetapi terkadang dua atau
tiga rumah tinggal. Mereka memiliki dapur dan kamar mandi
sendiri-sendiri. Namun dalam satu kilungan pada umumnya
hanya memiliki sebuah sumur dan sebuah latar yang
dimanfaatkan secara bersama-sama.

Selain bentuk keluarga inti dan keluarga luas, di Kudus
Kulon dijumpai pula bentuk kelompok kekerabatan yang disebut
sanak sadherek atau sanak sadulur (nak dulur). Bentuk
kelompok kekerabatan ini, dalam ilmu antropologi disebut
kindred. Sanak sadulur ini merupakan suatu kesatuan kaum
kerabat yang terdiri dari saudara kandung, saudara sepupu dari
pihak ayah maupun ibu, paman-paman dan bibi-bibi dari pihak
ayah maupun ibu, serta saudara-saudara dari pihak istri. Mereka
yang menjadi anggota kelompok kekerabatan ini biasanya
bertempat tinggal tidak saling berjauhan, masih dalam wilayah
kabupaten Kudus, yang dalam satu hari mereka bisa langsung
pulang ke rumah apabila ada pertemuan.

63

Di lingkungan Kudus Kulon, anggota kelompok
kekerabatan sanak sadulur berkumpul pada waktu-waktu
tertentu, yaitu : (1) dalam acara ta’ziyah (melawat) ketika salah
satu anggota keluarga meninggal dunia; (2) dalam acara
perkawinan yang diselenggarakan oleh salah satu anggota; (3)
dalam acara syawalan – halal bi halal yang biasanya
diselenggarakan pada awal bulan Syawal tahun Hijriyah; dan (4)
dalam acara hajatan besar salah seorang anggotanya, misalnya
dalam rangka pemilihan kepala desa dimana salah satu anggota
kekerabatan ini mencalonkan diri menjadi kepala desa. Pada
umumnya dalam acara-acara seperti ini, hampir seluruh anggota
kelompok kekerabatan hadir dan berkumpul. Dalam acara yang
berkaitan dengan peristiwa kelahiran dan khitanan juga dihadiri
oleh sebagian kecil anggota kelompok kekerabatan ini.

Dalam hubungan sosial, tingkatan usia dan status
seseorang dalam sistem kekerabatannya menjadi acuan
tatakrama bagi semua anggota keluarga di lingkungan
masyarakat Kudus pada umunya. Pergaulan sosial mereka
berlangsung dalam suasana saling ngajeni atau menghormati.
Orang atau anggota keluarga yang lebih tua atau dituakan
mendapat posisi utama untuk lebih dihormati dari orang atau
anggota keluarga yang lebih muda. Suasana saling ngajeni
tampak melalui penggunaan bahasa dalam pergaulan sehari-
hari. Dalam keluarga inti, orang-orang yang disapa dengan
istilah mas (dari kata kakangmas) dan mbak (dari kata mbakyu)
memang lebih tua umurnya, dan mereka yang disapa dengan
istilah dhik (dari kata adhik) memang sesungguhnya lebih muda

64

umurnya daripada Ego1. Namun di luar lingkungan keluarga
inti, seseorang yang disapa dengan istilah mas dan mbak adalah
antara lain anak laki-laki dan perempuan dari kakak kandung
orang tua Ego, meskipun pada kenyataannya usianya lebih muda
daripada Ego. Demikian juga sebaliknya, panggilan dhik
digunakan untuk menyapa anak laki-laki ataupun perempuan
dari adik kandung orang tua Ego, meskipun kadang kala usianya
lebih tua daripada Ego. Penggunaan bahasa Jawa ngoko,
menyebut nama langsung (njangkar) lazim dipakai bapak
kepada anak dan kakak kepada adik kandung 2. Dalam pergaulan
suami istri, bagi yang belum mempunyai anak, seorang istri akan
memanggil suaminya dengan mas dan seorang suami akan
memanggil dhik kepada istrinya, meskipun usia istri mungkin
lebih tua. Bagi mereka yang sudah punya anak, biasanya apabila
sedang bersama anaknya, seorang istri akan memanggil pak
(bapak) kepada suaminya dan seorang suami akan memanggil bu
(ibu) kepada istrinya. Panggilan ini sebenarnya adalah
membahasakan anak kepada orang tuanya. Panggilan pak dan
bu dalam pergaulan suami istri ini sering berlanjut seiring
dengan tambahnya usia, baik keduanya sedang bersama anak
maupun tidak.

Penggunaan istilah-istilah kekerabatan di Kudus Kulon
tidak hanya berlaku bagi semua kerabat yang sesungguhnya,
tetapi seringkali juga bagi orang lain yang bukan kerabatnya.

1 Dalam menganalisa istilah-istilah kekerabatan, seseorang menjumpai adanya
hubungan-hubungan antara pihak-pihak yang menempati posisi yang berlawanan.
Pihak yang menggunakan istilah tertentu, di dalam analisa disebut Ego
(Koentjaraningrat, 1984:448, cat. Kaki).

2 Untuk kondisi-kondisi tertentu, seperti seorang Khatib Jum’at atau seorang Kyai
yang memberikan ceramah atau pengajian dihadapan orang banyak, akan
menggunakan bahasa Jawa kromo yang sesekali diselingi dengan bahasa Jawa
ngoko.

65

Setiap orang yang dianggap berasal dari generasi yang sama
disapa dengan istilah singkatan untuk saudara kandung yang
lebih tua, yaitu mas dan mbak (mbakyu). Teman dekat dapat
dipanggil dengan namanya saja (njangkar). Sedangkan untuk
orang yang kira-kira seumur dengan orang tua Ego disapa
dengan istilah-istilah singkatan untuk orang tua, yakni pak
(bapak) atau bu (ibu), sebaliknya orang-orang yang umurnya
kurang lebih sama dengan anak Ego disapa dengan istilah nak.
Sementara itu anak-anak kecil biasanya disapa dengan istilah
nok (dari kata dhenok) untuk anak perempuan dan nang (dari
kata dhanang) untuk anak laki-laki, terkadang tanpa menyebut
nama di belakangnya.

Penggunaan bahasa jawa yang berjenjang, dari tingkatan
ngoko hingga kromo, secara jelas memperlihatkan kefeodalan
masyarakat Jawa yang diwariskan oleh dinasti Mataram Islam,
terutama oleh raja Sultan Agung dalam upaya memantapkan
posisinya sebagai raja diraja di tanah Jawa. Feodalisme tak lain
ialah suatu mental attitude, sikap mental terhadap sesama
dengan mengadakan sikap khusus karena adanya pembedaan
dalam usia atau kedudukan. Dalam hal ini bahasa Jawa berbuat
sangat terperinci. Perbendaharaan kata orang lebih tua dalam
usia berbeda dengan perbendaharaan kata orang lebih muda
dalam usia. Perbedaan dalam perbendaharaan kata ini terdapat
pula karena adanya perbedaan dalam tingkat kebangsawanan
dan juga karena adanya perbedaan dalam kedudukan sebagai
priyayi. Bahasa yang digunakan oleh seorang pangeran bila ia
berbicara dengan orang biasa berbeda dengan bahasa yang
dipakai orang biasa bila ia berbicara dengan seorang pangeran.

66

Si pangeran akan menggunakan bahasa ngoko dan si orang biasa
akan menggunakan bahasa kromo (Hardjowirogo, 1989:11-12).

Dalam keluarga di lingkungan Kudus Kulon, figur ibu,
memegang peranan penting dalam pengasuhan atau proses
sosialisasi anak. Apabila keluarga itu memiliki usaha home
industry, si ibu memiliki tugas ganda, selain mengasuh anaknya,
dia juga harus mengawasi dan mengontrol pekerjaan buruh-
buruh wanitanya. Sementara suaminya berdagang ke pasar,
bahkan ke luar kota. Namun segala keputusan yang berkaitan
dengan perkembangan dan pembentukan kepribadian si anak,
misalnya kemana anak harus disekolahkan, tetap di bawah
kendali si bapak, meskipun dia banyak melakukan kegiatan di
luar rumah.

Sebenarnya, faktor siapa yang menjadi figur sentral,
apakah ibu atau bapak, dalam pembentukan kepribadian anak
tergantung kepada siapa di dalam keluarga itu yang memiliki
saham terbesar dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Dalam
kasus di atas, pihak laki-laki atau suamilah yang memiliki saham
terbesar dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Rumah yang
ditempati dan usaha yang digeluti sekarang ini adalah warisan
dari orang tua pihak laki-laki atau suami. Dalam kasus yang
sebaliknya, dapat jumpai di sebuah keluarga di Desa Langgar
Dalem, pihak istri yang bekerja keras di luar rumah, pergi ke
luar kota berdagang kain bordir, untuk menghidupi keluarganya,
sementara sang suami tidak bekerja. Rumah yang ditempati dan
usaha kain bordir yang sekarang ini digeluti adalah warisan dari
orang tua pihak perempuan atau istri. Dalam kasus ini, segala
sesuatu yang berkaitan dengan keluarga itu, termasuk
kepentingan anak-anaknya, berada di bawah kendali pihak
perempuan.

67

Hingga tahun 1960-an, di Kudus Kulon, anak-anak
perempuan yang telah menginjak usia remaja masih dipingit.
Mereka dilarang keluar rumah kecuali ditemani dengan
muhrimnya (anggota keluarga sendiri). Larangan ini
dimaksudkan agar anak-anak perempuan terhindar dari
pergaulan dengan pemuda-pemuda yang bukan muhrimnya.
Orang tua memiliki andil yang sangat besar dalam memilihkan
jodoh bagi anak-anaknya. Para gadis itu sambil menunggu jodoh
yang dicarikan oleh orang tuanya, sejauh mungkin harus banyak
diam di dalam rumah. Menurut Suharso (1992) seperti dikutip
Triyanto, berlaku anggapan bahwa kesediaan anak gadis dan
pemuda untuk dijodohkan dalam pernikahannya adalah suatu
tanda bukti balas budi dan manifestasi sikap taat pada orang tua
(Triyanto, 2001:120-121). Sebagai akibat dari pola perkawinan
tersebut, hingga sekarang masih banyak kaum perempuan usia
di atas empat puluhan tahun yang belum juga memiliki suami.

Dalam persoalan pembagian warisan di keluarga-keluarga
Kudus Kulon berlaku dua cara. Cara pertama: satu bagian untuk
anak perempuan dan dua bagian untuk anak laki-laki. Cara
pembagian ini merujuk kepada dua sumber, yakni merujuk
kepada syari’at Islam dan tradisi Jawa yang terkenal dengan
istilah sepikul sagendhongan. Syari’at Islam itu bersumber dari
firman Allah dalam kitab suci Al-Qur’an yang berbunyi
(terjemahan): “Allah telah mewasiatkan kepadamu tentang
(bagian) anak-anakmu, untuk seorang laki-laki seumpama
bagian dua orang perempuan… (inilah) suatu keperluan
(ketetapan) dari Allah. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui
dan lagi Mahabijaksana” (Q.S. An Nisa’ : 11).

68

Sedangkan sepikul sagendhongan artinya anak laki-laki
memperoleh warisan sebesar dua kalinya bagian yang diperoleh
anak perempuan, atau anak laki-laki mendapat dua per tiga
bagian dan anak perempuan mendapat sepertiga bagian. Hal ini
didasarkan atas kebiasaan di desa yang orang laki-lakinya kalau
membawa barang selalu dipikul, barang-barang ditempatkan
pada dua tomblok kemudian digantungkan dengan tali yang
dikaitkan dengan pikulan. Sedangkan orang perempuan kalau
membawa barang selalu digendhong, barang ditempatkan dalam
sebuah bakul kemudian digendhong dengan menggunakan kain
selendang di punggungnya. Kebiasaan ini sampai sekarang
masih diperlihatkan oleh ibu-ibu penjual jamu gendhongan.

Cara kedua adalah dengan asas bahwa semua anak, baik
perempuan maupun laki-laki, mendapat warisan yang sama
besarnya. Cara ini terlaksana melalui musyawarah antar
pemegang hak waris.

Pembagian warisan di keluarga-keluarga Kudus Kulon,
pada kenyataannya terlalu rumit dilaksanakan, sehingga tidak
jarang terjadi perselisihan di antara keluarga pemegang hak
waris. Hal ini disebabkan oleh kondisi harta warisan yang sudah
tua umurnya, yang pada umumnya berupa peninggalan rumah
adat beserta tanah pekarangannya yang sudah berumur dua
atau tiga generasi, sementara jumlah pihak-pihak yang merasa
memiliki dan berkepentingan terhadap hak waris semakin
banyak jumlahnya.

Untuk menghindari hal-hal yang bisa menciptakan
perselisihan dan bahkan permusuhan di antara anggota
keluarga, maka beberapa keluarga pemilik yang sah atas rumah
adat dan tanah pekarangan di Kudus Kulon memberikan bagian

69

harta yang dimiliki kepada anak-anaknya ketika mereka, orang
tua pemilik waris masih hidup.

3.2 Kehidupan Ekonomi
Dalam perspektif lokal, masyarakat Kudus dipersepsikan sebagai
komunitas yang bercirikan kehidupan sosial santri-muslim
dengan tradisi ekonomi yang bertumpu pada perdagangan dan
industri.

Peningkatan kemakmuran masyarakat Kudus secara
signifikan dimulai pada abad ke-18 M ketika Kudus muncul
sebagai pusat perdagangan beras dan tekstil. Orang-orang Kudus
kuno banyak yang berusaha berdagang konveksi pakaian jadi ke
luar kota; dan sebagian kecil lainnya melakukan penimbunan
beras di masa panen untuk kemudian dijual di masa paceklik.
Kegiatan perdagangan, yang memperdagangkan hasil-hasil dari
home industri seperti kaos, pakaian, jubah, kerudung, dll, ke luar
kota masih dijalankan oleh sebagian masyarakat Kudus hingga
sekarang.

Kekayaan orang-orang Kudus Kulon tidak hanya didapat
dari perdagangan konveksi pakaian jadi, perdagangan padi,
maupun menjadi tuan tanah, tetapi juga dari hasil jual beli
perhiasan (emas dan perak).

Kemakmuran orang-orang Kudus Kulon tidak berhenti di
situ, pada awal abad ke-20 M, di samping kegiatan perdagangan
konveksi pakaian jadi, jual beli emas dan perak, dan
perdagangan beras yang sudah lama digeluti, mereka juga mulai
berusaha dan berdagang rokok kretek. Ternyata, usaha yang
belakangan ini telah melambungkan mereka ke puncak
kejayaan; perusahaan-perusahaan yang mereka miliki semakin

70

menjadi besar. Pada saat itu, satu keluarga bisa memiliki empat
atau lima perusahaan.

Pertumbuhan industri rokok kretek yang cepat di antara
Perang Dunia I dan Perang Dunia II memungkinkan munculnya
sejumlah merk Indonesia yang pemiliknya dikenal sebagai raja
kretek Indonesia, seperti M. Nitisemito, HM. Moeslich, HM.
Ashadie, dan M. Atmowijoyo. Rumah-rumah bergaya villa
(rumah gedong) dibangun di antara rumah-rumah adat, atau
sekedar merenovasi rumah adat mereka dengan
mengkombinasikan unsur-unsur tradisional Jawa dengan unsur-
unsur Eropa. Unsur tradisional rumah tinggal mereka akan
nampak pada bentuk atapnya yang masih joglo pencu, dan unsur
Eropa diperlihatkan pada model pintu dan jendela tinggi dengan
dinding tembok. Kemakmuran ini juga diwujudkan dengan
semakin banyaknya kaum muslim yang menunaikan ibadah haji
ke Tanah Suci Mekah dan membangun masjid-masjid di
lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Menurut Castles, kondisi yang melemahkan industri
rokok kretek Kudus terjadi semasa pendudukan kembali Belanda
di Indonesia pada tahun 1945-1949. Salah satu faktor penyebab
mundurnya usaha mereka adalah bahwa mereka gagal untuk
tetap menguasai saham industri dalam persaingan dengan
golongan Cina. Dalam beberapa hal perselisihan keluarga atas
warisan mengurangi kekayaan mereka (Castles, 1982).

Rumah adat Kudus yang tersebar hampir merata di
wilayah Kudus Kulon, bukanlah sekedar wujud benda mati yang
berdiri tegak di atas tanah, tetapi keberadaannya lebih dipenuhi
oleh simbol-simbol yang memang sengaja diciptakan oleh
pemiliknya – builder (yang sekaligus sebagai owner). Bentuk
atap rumah adat Kudus dinamakan joglo pencu, oleh karena ia

71

menjulang tinggi ke angkasa Tingginya pencu bisa dianggap
sebagai salah satu indikasi kemakmuran pemiliknya; semakin
tinggi pencu nya berarti pemilik rumah tersebut tergolong kaya.
Simbol kedigdayaan dan keunggulan ini dianggap sudah pantas
untuk menandingi simbol-simbol keagungan dan kekuasaan
yang diperlihatkan oleh rumah-rumah joglo milik generasi awal
para aristokrat Kudus di Kudus Wetan, yang memang secara
tingkatan sosial lebih tinggi dibandingkan dengan para pedagang
pribumi di Kudus Kulon.

Tidak hanya itu, simbol kemenangan dan kebanggaan
juga diperlihatkan dalam bentuk harta kekayaan. Di samping
dalam bentuk ukiran yang menghiasi gebyok rumahnya, juga
berupa emas dan berlian yang dimiliki oleh keluarga-keluarga
pedagang di Kudus Kulon. Harta perhiasan emas dan berlian
tidak untuk dijual, melainkan untuk prestise keluarga dan
diwariskan kepada keturunannya. Jenis perhiasan yang langka,
karena diwariskan secara turun-temurun setidak-tidaknya tiga
generasi, tentunya nilainya sangat mahal dan akan
menimbulkan kebanggaan selain bagi pemakainya juga bagi
keluarganya. Sehingga terjadi saling berlomba untuk
mendapatkan harta perhiasan sebanyak-banyaknya di antara
keluarga-keluarga di Kudus Kulon. Meskipun kemudian,
persaingan antar keluarga pedagang di Kudus Kulon menjadi
jauh lebih menonjol. Jelas bahwa kultur masyarakat Kudus
Kulon terbentuk karena adanya dorongan-dorongan dari dalam
diri anggota kelompok etnik ini untuk menghadapi rangsangan-
rangsangan dari luar, yang ditimbulkan oleh perilaku para
aristokrat Kudus yang memandang rendah kepada mereka.

72

Seiring dengan berputarnya waktu, makin lama kekayaan
yang dimiliki para pedagang Kudus Kulon semakin menyusut,
dan kehidupan ekonomi sebagian dari mereka mengalami
kemerosotan sampai pada tingkat yang memprihatinkan. Di
beberapa desa di Kudus Kulon, tidak sedikit warganya yang
tergolong miskin. Kita akan merasa sulit menilai apakah dia
termasuk orang kaya, sedang atau miskin bila hanya melihat
dinding tembok luar bangunan rumahnya tanpa mengetahui
bagian dalamnya. Pada umumnya mereka tidak ingin orang lain
mengetahui bahwa dirinya miskin, termasuk tetangganya
sendiri.

Kondisi perekonomian komunitas Kauman saat ini bisa
dilihat pada komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian,
yang memperlihatkan bahwa sebagian besar penduduk bekerja
sebagai pegadang (dan pengusaha kecil-kecilan) dan buruh
Industri.

3.3. Kehidupan Keagamaan
Triyanto mengemukakan bahwa wilayah Kudus Kulon, oleh
karena sebagian besar penduduknya beragama Islam, maka
tidak mengherankan jika mendapat sebutan sebagai suatu
kawasan kaum santri dengan desa Kauman sebagai pusatnya
(Triyanto, 2001:50). Pendapat Triyanto tersebut tidaklah
berlebihan, di samping seratus persen penduduk desa Kauman
beragama Islam, juga di desa itu terdapat pusat kegiatan
keagamaan masyarakat Kudus, yaitu kompleks Masjid Menara
dan Makam Suci Sunan Kudus. Para santri dari berbagai pondok
pesantren yang ada di wilayah Kudus Kulon menjadikan
kompleks itu sebagai pondok keduanya.

73

Istilah santri3 digunakan untuk menunjuk pada murid-
murid yang menuntut ilmu pendidikan agama terutama di
pondok pesantren. Di Kudus Kulon selain terdapat banyak
pondok pesantren juga ada madrasah-madrasah4. Bagi keluarga-
keluarga di Kudus Kulon pada umumnya menyekolahkan putra
putrinya di madrasah-madrasah yang ada di sekitar tempat
tinggalnya. Madrasah-madrasah ini memberikan pengajaran
agama dan pengetahuan umum yang prosentasenya berbeda
antara madrasah satu dengan lainnya. Sebagai contoh, di
madrasah Qudsiyah, perbandingannya yakni 60 % untuk
pelajaran agama dan 40 % untuk pengetahuan umum. Murid-
murid madrasah di wilayah Kudus Kulon juga banyak yang
berasal dari daerah-daerah di sekitar Kudus, seperti Demak,
Jepara dan Pati. Kebanyakan mereka ini, bersama teman-
temannya berdua atau bertiga menyewa kamar (indekos) di
rumah-rumah penduduk setempat. Jam pelajaran madrasah
dimulai pukul tujuh pagi dan selesai pukul satu siang. Pada sore

3 Istilah santri adalah salah satu dari tiga varian kultur Jawa yang diberikan oleh
Clifford Geertz dalam bukunya yang terkenal The Religion of Java (1960) yang
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Abangan, Santri,
Priyayi dalam Masyarakat Jawa (1981). Menurut Geertz, istilah santri digunakan
untuk mereka yang beragama Islam dan taat dalam peribadatan pokok, terutama
sembahyang lima waktu dan puasa Ramadlan (1981: 289-304). Koentjaraningrat
menambahkan, bagi seorang santri yang mampu (minimal dalam hal biaya),
melaksanakan ibadah haji ke Mekah adalah menjadi kewajiban yang harus
dipenuhi (periksa Koentjaraningrat, 1984:392-293).

4 Di wilayah Kudus Kulon, ada lebih dari seratus pondok pesantren dan madrasah
besar dan kecil. Di antaranya yang tertua dan terkenal, ialah: (1) Madrasah
‘Aliyatus-Saniyah Mu’awanatul Muslimin di Dusun Kenepan Desa Kerjasan,
didirikan oleh perkumpulan Serikat Islam (SI) tahun 1915; (2) Madrasah Qudsiyah
di Dusun Kauman, didirikan oleh K.H.R. Asnawi tahun 1919; (3) dan Madrasah
Tasywiqut-Tullab Salafiyah di Dusun Bale Tengahan, Desa Langgar Dalem,
didirikan oleh K.H.A. Khaliq tahun 1928 (Yunus, 1985:253-254).

74

hari, setelah shalat ‘asar hingga menjelang shalat magrib,
beberapa madrasah membuka pengajaran khusus agama bagi
anak-anak keluarga setempat yang pada pagi harinya menuntut
ilmu di sekolah-sekolah umum. Bagi mereka yang sekolah di
madrasah, terutama yang berasal dari luar daerah, waktu sore
hari digunakan untuk memperdalam ilmu agamanya di pondok-
pondok pesantren yang ada di wilayah Kudus Kulon. Pada
umumnya pondok-pondok pesantren tersebut milik perorangan,
yakni milik seorang kyai masyhur atau keluarganya, yang santri-
santrinya hampir semuanya berasal dari luar daerah. Selain dari
daerah sekitar Kudus, santri-santri itu juga berasal dari daerah-
daerah seperti Bogor, Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan,
Solo, Tuban dan Gresik. Sekedar contoh, di sini bisa disebutkan
pondok pesantren milik Kyai Ma’ruf Irsyad, di Desa Langgar
Dalem, santrinya sekitar 350 orang (putra dan putri), pondok
pesantren milik Kyai Hisyam di Desa Janggalan, santrinya
sekitar 150 orang (semuanya putra) dan pondok Huffadh
Yanbu’ul Qur’an milik Kyai Arwani Amin di Desa Kajeksan,
santrinya berjumlah sekitar 300 orang (putra dan putri).
Pondok-pondok pesantren di Kudus Kulon terkenal dengan ngaji
Qur’an nya (hapalan Qur’an).

Setiap pondok pesantren menyediakan keperluan tempat
tidur dan makan bagi santri-santrinya. Para santri yang
menetap atau tinggal di pondok pesantren dinamakan santri
mukim. Namun tidak sedikit dari mereka yang memilih makan
dan tidur di luar pondok, yaitu dengan cara indekos atau
kontrak kamar di rumah-rumah milik penduduk di sekitar
pondok pesantren; mereka ini dikenal dengan santri ‘kalong’
artinya tidak mukim di dalam pondok pesantren. Alasan mereka
cukup sederhana, mereka ingin bebas tidak terikat dengan

75

aturan-aturan pondok. Hampir semua santri ‘kalong’ adalah
santri putra. Mereka inilah yang sering mondar-mandir di gang-
gang sempit di Kudus Kulon menjelang shalat lima waktu tiba.

Dan dalam kehidupan keagamaan di Kauman dan
sekitarnya, para santri ‘kalong’, yang jumlahnya ratusan orang,
sangat kentara sekali. Hampir sepanjang hari mereka
menghapalkan kitab Al-Qur’an yang kemana-mana selaku
dibawanya (ukuran kecil). Pada umumnya mereka lebih memilih
tempat di mushalla-mushalla yang banyak tersebar di wilayah
Kudus Kulon dan di serambi Masjid Menara untuk kegiatan
menghapal kitab Al-Qur’an. Terkadang sebagian dari mereka
melakukannya di cungkup makam Sunan Kudus. Mereka
diwajibkan menyetor hapalan Qur’an nya kepada kyai pengasuh
pondok pesantren pada waktu-waktu yang telah ditentukan,
yakni waktu setelah shalat ‘asar, magrib dan subuh.

Kegiatan kehidupan keagamaan sehari-hari di lingkungan
Kudus Kulon tidak bisa dilepaskan dari aktifitas para santri
yang ada di wilayah itu. Bahkan sebenarnya, merekalah yang
memberikan andil besar dalam pembentukan citra Kudus
sebagai kota santri. Mereka ini, dalam setiap kegiatan sholat
lima waktu – ‘isya, subuh, dhuhur, ‘asar dan magrib – lebih
banyak membanjiri musholla-musholla dan Masjid Menara
ketimbang warga setempat.

Kehidupan keagamaan di wilayah Kudus Kulon lebih
terasa terutama oleh adanya kegiatan pengajian-pengajian
agama yang banyak diselenggarakan. Ada dua macam kegiatan
pengajian agama yang diselenggarakan oleh masjid-masjid dan
mushalla-mushalla di wilayah Kudus Kulon, yang pertama
pengajian umum dan kedua pengajian kitab. Pengajian umum

76

biasanya diselenggarakan dalam rangka memperingati hari-hari
besar agama Islam, seperti Maulud Nabi, Isro’ Mi’roj, Nuzulul
Qur’an dan lain-lain. Sementara itu pengajian kitab
diselenggarakan pada hari-hari tertentu dan tetap dalam
sepekan dan diasuh oleh kyai-kyai ternama. KH. Sya’roni
Ahmadi mengasuh pengajian Kitab Tafsir Jalalain pada Senin
pagi, ba’da shalat subuh di Masjid Mu’ammar desa Janggalan;
Rabu, ba’da shalat magrib di mushalla milik KH. Nurkholis Desa
Janggalan; dan Jum’at, ba’da shalat subuh di Masjid Menara
Desa Kauman. Ulama lain, KH. Ma’aruf Irsyad mengasuh
pengajian Kitab Tafsir Irsyadul ‘Ibad pada Kamis, ba’da shalat
magrib di mushalla milik bapak Mudrik Desa Janggalan; dan
Senin, ba’da shalat magrib di Masjid Menara Desa Kauman.
Sementara itu, KH. Khoiru Zyad mengasuh pengajian Kitab
Tafsir Rihadushalihin pada Selasa dan Sabtu ba’da shalat
magrib di Masjid Langgar Dalem desa Desa Langgar Dalem.

Ada satu kegiatan pengajian kitab yang selalu dihadiri
oleh jama’ah melimpah, yaitu pengajian kitab yang diasuh oleh
KH. Sya’roni Ahmadi setiap Jum’at ba’da shalat subuh di Masjid
Menara. Jumlah orang-orang yang hadir dalam kegiatan
pengajian kitab ini lebih banyak dibanding dengan kegiatan-
kegiatan ibadah agama Islam lainnya yang diselenggarakan di
Masjid Menara seperti shalat Jum’at, shalat Idul fitri dan Idul
Adha, dan pengajian-pengajian umum. Acara pengajian ini
dihadiri oleh tidak kurang dari 2.500 orang yang datang dari
berbagai daerah di sekitar Kudus. Sebagian besar dari mereka
sudah datang sejak hari Kamis sore hingga fajar hari Jum’at,
baik dengan berjalan kaki, dengan sepeda maupun dengan
sepeda motor; mereka sekalian melakukan ziarah ke makam
Sunan Kudus. Jama’ah yang tidak tertampung di masjid,

77

terutama yang datangnya pada saat acara dimulai, terpaksa
berdiri atau duduk di atas kendaraannya yang diparkir di jalan
Menara dan jalan Madureksan, di depan kompleks masjid
Menara dan makam Sunan Kudus.

Kegiatan pengajian Jum’at subuh sudah dimulai sejak
masa KHR. Asnawi. Salah satu kegiatan KHR. Asnawi semasa
hidupya, setelah keluar dari penjara (ia adalah salah satu orang
yang ditangkap Belanda dalam peristiwa kerusuhan anti Cina
tahun 1918), ialah memberikan pengajian Kitab Hadits Bukhari
Muslim, dilaksanakan setiap Jum’at fajar dan setiap sesudah
shalat subuh selama Bulan Ramadlan bertempat di Masjid
Menara Kudus. Setelah KHR. Asnawi wafat (akhir 1959)
pengajian ini kemudian dilanjutkan oleh KH. Arwani. Namun
oleh karena kesibukannya, kemudian KH. Arwani
mengundurkan diri dan digantikan oleh kyai Afdhoni. Setelah
kyai Afdhoni wafat lalu diteruskan oleh KH. Sya’roni Ahmadi
sampai sekarang.

Berbeda dengan pengajian kitab, dalam kegiatan
pengajian umum dalam rangka memperingati hari-hari besar
Islam, meskipun yang berbicara adalah kyai-kyai yang selama ini
memberikan pengajian kitab, seperti KH. Sya’roni Ahmadi, KH.
Khoiru Zyad, dan KH. Ma’ruf Irsyad, namun orang-orang yang
hadir sangat sedikit; mereka pada umumnya adalah para santri
dan beberapa warga setempat. Misalnya, pada pelaksanaan
kegiatan pengajian umum dalam rangka peringatan Maulud
Nabi Muhammad SAW yang baru lalu, dihadiri tidak lebih dari
400 orang.

Pada umumya dalam kegiatan-kegiatan pengajian, baik
pengajian kitab maupun pengajian umum, dan kegiatan shalat

78

hari raya (Fitri dan Adha), tidak ada sambutan-sambutan,
termasuk dari pihak desa maupun pihak kecamatan. Satu-
satunya kegiatan yang ada sambutan dari pihak pemerintah
(kabupaten) adalah upacara tradisi buka luwur makam Sunan
Kudus atau dikenal juga khaul Sunan Kudus, yang
diselenggarakan pada tanggal 10 Muharram tahun Hijriyah.

Dalam kehidupan sehari-hari, ritual-ritual yang
bernafaskan ‘kepercayaan lama’ masih banyak dilakukan oleh
masyarakat Kudus Kulon, seperti penggunaan ‘petungan’ dalam
hal pendirian dan pembongkaran bangunan rumah, pernikahan,
dan lain-lain. Namun, hal-hal yang berbau ‘kepercayaan lama’
itu sedikit demi sedikit mulai berkurang.

BAB 4
TATA RUANG PERMUKIMAN KOTA

LAMA KUDUS KULON

Permukiman, menurut Vincent (1983) seperti dikutip Mulyati,
merupakan sekelompok rumah yang terorganisasi dalam suatu
sistem sosio-kultural (dia menyebut sosial-budaya) dan religius
yang tercermin pada fisik lingkungannya. Organisasi ruang yang
terbentuk akan memperlihatkan hirarki ruang dari faktor
teritorial yang diinginkan (Mulyati, 1995:46).

Wilayah Kota Lama Kudus Kulon merupakan
permukiman bersejarah, tempat cikal bakal kota Kudus yang
mempunyai akar keagamaan yang masih hidup dengan masjid
kuno dan makam keramat Sunan Kudus, serta kehidupan
santrinya.

Menurut Trancik, dalam suatu perancangan kota atau
lingkungan, titik tolak konseptual merupakan rangkaian dari
figure-ground, linkage dan place theory (Trancik, 1986:97-124).
Figure-ground theory, yaitu suatu integrasi yang kukuh antar
massa bangunan dan ruang sehingga membentuk kesatuan
antara solid dan void. Di sini yang sangat dominan adalah
peranan ruang luar atau void yang terbentuk oleh bangunan-
bangunan sebagai dinding ruang luar tersebut. Dan kualitas
ruang luar sangat dipengaruhi oleh figur bangunan-bangunan
tersebut, yang mana tampak-tampak bangunan merupakan

79

80

dinding ruang luar. Komunikasi antar private dan public domain
tercipta langsung. Ruang yang mengurung (enclosure)
merupakan void yang paling dominan, berskala manusia (dalam
lingkup sudut pandang mata orang, sekitar 15-30 derajat). Void
berupa ruang luar berskala interior, yang mana ruang tersebut
seperti di dalam bangunan. Sehingga ruang-ruang luar yang
enclosure tersebut terasa seperti ruang dalam (interior), dan oleh
karena itu keakraban antara bangunan sebagai private domain
dan ruang luar sebagai public domain menyatu. Linkage theory,
yaitu suatu kesatuan arsitektur kota yang terbentuk oleh
komposisi antar bangunan yang berderet dalam line atau garis
linier. Hubungan antar bangunan membentuk kombinasi yang
harmonis. Kekuatan landmark pada simpul dan akhir jalur
merupakan klimaks dalam linkage system. Place theory, yaitu
suatu kesatuan kota yang tidak hanya berlandaskan pada
konfigurasi fisik morfologi, namun kesatuan antara aspek fisik
morfologi ruang dan masyarakat atau manusia, karena pada
hakekatnya urban design adalah bertujuan memberi wadah
kehidupan secara baik bagi pengguna ruang kota baik private
maupun public. Oleh karena itu, suatu space baru akan menjadi
place setelah ia menjadi bagian kehidupan masyarakat atau
manusia yang menggunakannya.

Kondisi fisik lingkungan permukiman Kota Lama Kudus
Kulon, secara kasat mata nampak padat, sesak, tidak teratur,
banyak lorong-lorong sempit yang tidak jelas ujung pangkalnya,
sehingga orang yang baru pertama kali memasuki wilayah ini
pasti akan kebingungan untuk mencari alamat yang dituju; di
sana-sini pandangan mata terhalang oleh dinding tembok tinggi.
Struktur lingkungan ini didominasi oleh lorong-lorong sempit
yang terbentuk oleh sistem perletakan bangunan tradisional

81

yang membentuk sistem tata ruang yang khas dalam suatu blok
besar lingkungan permukiman.

Permukiman di wilayah Kudus Kulon dapat dibedakan:
permukiman terbuka dan permukiman tertutup. Permukiman
terbuka tercipta oleh kumpulan rumah-rumah tinggal, baik
rumah tunggal (berdiri sendiri-sendiri) maupun rumah
berkelompok atau deret (masih dalam satu kekerabatan), yang
antara rumah satu dan lainnya tidak ada pembatas yang tegas,
melainkan berupa pagar hidup (tanaman). Tata ruang
permukiman yang terbuka ini memungkinkan penghuninya
lebih leluasa bergerak dari sudut ruang satu ke sudut ruang
lainnya, sebab selain pandangannya tidak terhalang juga masih
banyak dijumpai ruang-ruang terbuka. Ruang-ruang terbuka ini
sebenarnya adalah latar dan kebonan rumah penduduk yang bisa
dimanfaatkan oleh warga sebagai jalan ‘petolongan’.
Permukiman terbuka di wilayah Kudus Kulon masih bisa
dijumpai di desa-desa Kerjasan bagian Utara, Damaran bagian
Barat, Langgar Dalem bagian Timur Laut, Sunggingan bagian
Tenggara dan Kajeksan bagian Utara. Pada awalnya
permukiman-permukiman di wilayah Kudus Kulon bersifat
terbuka seperti yang ada di daerah-daerah lain di Jawa.
Sementara itu, permukiman tertutup adalah permukiman yang
dibentuk oleh kumpulan rumah-rumah yang telah dikilung,
yaitu diberi pembatas tembok tinggi yang mengelilingi rumah,
baik rumah tunggal (berdiri sendiri-sendiri) maupun rumah
berkelompok atau deret. Dalam permukiman tertutup ini,
pergerakan manusia terbatas, sebab pandangannya terhalang
dan tiadanya ruang-ruang terbuka yang bisa bersifat publik.
Jalan ‘petolongan’ yang selama ini merupakan ruang terbuka

82

dan menjadi jalan publik menjadi hilang karena ia telah
dikilung; ia telah menjadi ruang privat. Tipe permukiman
tertutup ini bisa dijumpai di desa-desa Kauman, Kerjasan bagian
Selatan, Damaran bagian Timur, Langgar Dalem bagian Selatan
dan Barat, Janggalan, Demangan bagian Utara dan Sunggingan
bagian Barat Laut.

Tata ruang permukiman Kota Lama Kudus Kulon, secara
garis besar terbentuk oleh dinding-dinding tembok tinggi yang
menjadi batas lahan dan bangunan, yaitu: kilungan-kilungan
dari rumah tinggal berpola kelompok atau deret tertutup, rumah
tinggal berpola tunggal dan kompleks masjid dan makam Sunan
Kudus.

Terciptanyanya tata ruang permukiman Kudus Kulon
bisa ditelusuri dari awal keberadaan dan transformasi rumah-
rumah adat yang tersebar di wilayah Kudus Kulon, yang
beberapa diantaranya sudah ada sejak tiga dasa warsa abad ke-
19 Masehi.

Pembuatan kilungan-kilungan yang berupa tembok-
tembok tinggi pada sebagian rumah-rumah adat Kudus
diperkirakan sudah ada sejak masa keemasan di bidang ekonomi
keluarga-keluarga pengusaha muslim Kudus Kulon; dan ia
dimaksudkan oleh penghuninya sebagai usaha mengamankan
harta benda, keluarga serta kerahasiaan perusahaan yang
dimilikinya dari tindakan kejahatan yang tidak diinginkan.
Faktor keamanan menjadi mutlak diperlukan, terutama sejak
peristiwa kerusuhan anti Cina di Kudus pada tahun 1918 yang
mengakibatkan beberapa rumah, tidak hanya milik orang-orang
keturunan Cina tapi juga milik sebagian pengusaha muslim di

83

Kudus Kulon, yang hangus dibakar dan harta bendanya dijarah1.

Ditambah lagi bahwa rumah sering ditinggal oleh pemiliknya

untuk pergi berdagang ke luar kota berhari-hari dan bahkan ada

yang berminggu-minggu. Dalam kasus ini, sebagian besar

kilungan-kilungan itu di dalamnya terdapat beberapa rumah

1 Awal mula peristiwa kerusuhan anti Cina di Kudus pada tahun 1918, seperti
diceritakan oleh bapak Chamdan, ketua RW desa Kauman, adalah sebagai berikut:
Di tengah-tengah umat Islam (sebagian besar santri) mengadakan gotong royong
untuk membangun masjid Menara yang dikerjakan siang dan malam, orang-orang
keturunan Cina mengadakan pawai. Material bangunan diambilkan dari sungai
Gelis, rutenya melewati jalan Sunan Kudus, kemudian belok ke kanan ke jalan
Menara. Ketika anak-anak santri yang sedang membawa material dari sungai Gelis
tiba di jalan Sunan Kudus, berpapasan (bertemu) dengan rombongan orang-orang
keturunan Cina yang sedang berpawai. Dalam pawai itu, pemimpinnya membawa
tongkat dan mengenakan kupluk atau peci (yang biasa dipakai santri),
memperagakan orang yang sedang minum dan memperlihatkan tingkah polah
seperti orang yang sedang mabuk sambil memeluk seorang wanita. Melihat
kejadian ini, para santri yang sedang membawa material menjadi sangat marah,
mereka menganggap orang-orang keturunan Cina itu telah melakukan penghinaan
terhadap para santri dan kyai. Akhirnya, bentrokan antara kedua kelompok tidak
terhindarkan, yang kemudian diikuti dengan pembakaran rumah-rumah milik
orang-orang keturunan Cina di sepanjang jalan Sunan Kudus. Peristiwa ini
dimanfaatkan oleh pihak ketiga yang melakukan penjarahan tidak hanya terhadap
milik orang-orang keturunan Cina tetapi juga milik sebagian pengusaha muslim
pribumi. Salah satu korban pribumi dalam peristiwa kerusuhan itu adalah rumah
orang tua salah seorang kyai besar, yaitu KH. Arwani Amin, yang terletak di
perempatan jalan Menara.

Menurut Rosehan Anwar, peristiwa kerusuhan anti Cina di Kudus tahun 1918,
tidaklah berdiri sendiri, tapi ada kaitannya dengan peristiwa-peristiwa serupa yang
terjadi di beberapa tempat di Jawa, seperti di Surabaya, Tuban, Rembang, Solo,
Semarang dan Bandung. Perlakuan Belanda yang menganak-emaskan orang-orang
keturunan Cina telah menambah kebencian orang-rang pribumi. Seperti diketahui,
pada permulaan abad ke-XX M, orang-orang keturunan Cina telah berhasil
memperoleh konsesi penting dari pemerintah Kolonial Belanda seperti
penghapusan ‘Surat Pas’ (surat larangan) bagi orang-orang keturunan Cina yang
akan bepergian ke luar daerah. Konsesi lainnya adalah pendirian sekolah Cina-
Belanda (HCS) oleh pemerintah Kolonial pada tahun 1908 dan pengakuan yang
sama bagi orang keturunanCina dalam kedudukan hukum dengan golongan orang
Eropa dalam hukum perdata dan hukum dagang. Bahkan kelahiran Serikat Islam
(SI) antara lain dilatarbelakangi oleh persaingan dagang antara pengusaha-
pengusaha pribumi dengan golongan pengusaha keturunan Cina. Dan sebagian
besar anggota SI Kudus adalah para pengusaha muslim di Kudus Kulon (Anwar,
1986:71).

84

yang dihuni oleh keluarga-keluarga yang masih memiliki
hubungan kekerabatan. Kilungan-kilungan seperti ini, yang
sekarang masih bisa dilihat, adalah milik keluarga-keluarga yang
pernah sukses di bidang usaha rokok kretek pada dasa warsa
ketiga abad ke-20 Masehi. Di dalam kilungan, selain ada satu
atau beberapa rumah tinggal, juga terdapat gudang
penyimpanan tembakau dan bangunan tempat pengolahan
bahan baku menjadi rokok.

Keberadaan kilungan, pada awalnya juga merupakan
simbol persaingan antar keluarga-keluarga pengusaha muslim di
Kudus Kulon. Sehingga kerahasiaan perusahaan menjadi hal
yang penting, hal ini bisa terwujud salah satunya dengan cara
menutup lingkungan rumahnya atau membuat kilungan, agar
aktivitas yang terjadi di dalamnya tidak terlihat oleh pesaingnya.
Di antara mereka terjadi saling berlomba untuk mendapatkan
harta benda (emas dan perhiasan lainnya) sebanyak-banyaknya.

Tata ruang permukiman Kota Lama Kudus Kulon yang
dibentuk oleh kilungan dari rumah-rumah tinggal berpola
tunggal ditandai dengan keberadaan rumah yang berdiri sendiri
di atas tanah dengan batas lahan (pekarangan) dan bangunan
yang jelas berupa dinding tembok. Pola permukiman ini
merupakan perkembangan dari pola permukiman terbuka
dengan rumah-rumah tinggal tunggal dan berkelompok atau
deret terbuka (tanpa pembatas jelas). Perubahan pola
permukiman, dari terbuka menjadi tertutup, selain karena
faktor keamanan dan kerahasiaan, ia juga disebabkan oleh
faktor kemunduran di bidang ekonomi keluarga-keluarga
Kauman.

Adanya batas-batas kepemilikan secara tegas telah
menciptakan lingkungan permukiman yang terkesan semrawut

85

dan tidak teratur; hal ini mudah dimengerti sebab setiap orang
memiliki lahan yang tidak sama bentuk dan luasannya.
Perubahan pola permukiman Kauman dapat ditelusuri seperti
penjelasan di bawah ini.

Salah satu ciri yang membedakan rumah adat Kudus
dengan rumah tradisional Jawa lainnya adalah keberadaan
km/wc. Pada umumnya rumah tradisional Jawa memiliki km/wc
di bagian belakang pada sisi kiri rumah, sehingga orang Jawa
biasa menyebut pekiwan (kiwo=kiri). Sedangkan km/wc pada
rumah adat Kudus menempati posisi di bagian depan, segaris
dengan pawon atau dapur utama yang terletak di sebelah kiri
atau kanan rumah induk. Karena hampir semua rumah adat
menghadap ke arah selatan, maka km/wc berada di sebelah
selatan. Pada umumnya di sebelah km/wc terdapat pula gudang
dan sisir (bangunan atau ruang untuk usaha). Jarak antara
rumah dan km/wc berkisar antara 4 - 8 meter. Antara rumah
satu dengan rumah lainnya dalam satu deret terdapat lorong
sempit selebar 0,8 – 1 meter. Lorong ini sebenarnya adalah
tritisan masing-masing rumah; kemudian ia berfungsi sebagai
‘jalan tikus’. Masing-masing ruang luar pada kelompok rumah
deret itu saling berhubungan dan terbuka, tidak ada dinding
pembatas. Ruang luar antara bangunan rumah dan km/wc, yang
memanjang sesuai dengan deretan rumah inilah yang berfungsi
sebagai jalan umum. Dan keluarga-keluarga yang menempati
masing-masing rumah itu tidak merasa keberatan. Orang-orang
Kauman menyebut jalan ini sebagai jalan ‘petolongan’.

Dalam konteks hubungan antara solid dan void, di
kawasan permukiman di Kudus Kulon mempunyai karakter
yang tidak sepenuhnya sama dengan figure-ground theory nya

86

Trancik yang lebih melihat kota-kota Eropa sebagai wilayah
kajiannya. Namun, di wilayah Kudus Kulon, void yang terbentuk
oleh massa-massa bangunan lebih merupakan ruang privat yang
berada di dalam batas tembok pagar pekarangan sehingga
merupakan internal private void. Suatu void besar di depan
kompleks masjid dan makam Sunan Kudus adalah satu-satunya
void yang berkarakter tradisional di wilayah Kota Lama, yang
dibentuk oleh tampak dinding luar bagian depan kompleks,
tampak bangunan menara dan masjid, dan beberapa rumah
tradisional yang terletak di depan kompleks.

Sebenarnya, jalan ‘petolongan’ yang ada di kawasan
permukiman Kota Lama adalah merupakan internal private void,
suatu ruang privat yang berada di dalam batas lahan rumah
tinggal. Lingkungan permukiman sebenarnya tidak memiliki
public void, atau ruang publik, melainkan yang ada adalah
lorong-lorong sempit yang terbentuk oleh tembok tinggi
pembatas rumah. Internal private void itu yang juga sebagai
latar menjadi pusat orientasi rumah-rumah deret dan bangunan-
bangunan penunjang lainnya yang ada di depannya seperti
km/wc, gudang, dan sisir. Antara rumah satu dengan lainnya,
yang penghuninya masih memiliki hubungan kekerabatan,
hanya dibatasi oleh pagar tanaman. Seiring dengan mundurnya
perekonomian orang-orang Kauman di satu pihak dan semakin
meningkatnya kebutuhan hidup keluarga di pihak lain, maka
mulailah dibangun rumah-rumah yang dikelilingi dengan
tembok masif yang tinggi. Tembok masif ini bisa merupakan
pagar halaman atau menjadi satu bagian dengan bangunan
rumah tinggal.

Sebagai generasi yang mendapat rumah secara ‘gratis’
dari orang tuanya, kemudian mereka mempunyai anak, cucu,


Click to View FlipBook Version