87
bahkan cicit, dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan, jelas
memunculkan masalah-masalah yang berkaitan dengan
pemenuhan kebutuhan utama atau primer. Tidak akan
selamanya satu rumah bisa ditempati oleh dua atau tiga
keluarga; tidak ada jalan lain kecuali menjual rumah
peninggalan nenek moyang mereka. Sehingga tidak heran
apabila rumah adat Kudus ‘terbang’ ke kota-kota lain termasuk
Jakarta, bahkan ada yang sampai ke luar negeri. Pembeli pada
umumnya hanya menghendaki rumahnya saja. Di atas lahan
rumah adat yang telah terjual, kemudian didirikan bangunan
rumah baru oleh salah satu ahli waris yang mendapatkan bagian
lahan itu dalam kesepakatan pembagian warisan dengan ahli
waris lainnya. Batas-batas rumah kemudian dibuat jelas dan
tegas. Dinding rumah dibuat dari tembok dan atau batas tapak
dibuatkan pagar tembok tinggi. Ruang luar atau lahan di antara
bangunan rumah adat dan km/wc yang dulunya berfungsi
sebagai jalan umum, sekarang tidak lagi. Pada umumnya, lahan
ini menjadi bagian warisan yang diberikan kepada ahli waris
lainnya. Ruang di antara bangunan rumah adat dan km/wc
dijadikan ruang-ruang fungsional berdasarkan kebutuhan-
kebutuhan keluarga tersebut. Bahkan di atas lahan, yang semula
menjadi jalan umum itu, ada yang didirikan dua buah rumah
baru, oleh karena ahli warisnya banyak. Kalaupun ada lahan
kosong, baik itu berupa latar maupun kebonan (setelah proses
pewarisan) yang belum dimanfaatkan, maka lahan kosong itu
segera dikilung oleh pemiliknya yang baru; seolah-olah dia ingin
memastikan bahwa lahan miliknya tidak bisa diserobot oleh
orang lain yang sebenarnya masih kerabatnya sendiri. Desakan
ekonomi telah menghilangkan tenggang rasa sesama tetangga
88
bahkan sesama kerabat sendiri. Jadi bisa dibayangkan
bagaimana sesak dan padatnya ruang permukiman Kauman
sekarang ini.
Bagi keluarga yang tidak memiliki masalah krusial
dengan hak waris, mereka masih menjaga kondisi rumah adat
peninggalan nenek moyangnya, hanya saja sekarang batas tapak
dibuatkan pagar tembok tinggi. Ruang di antara bangunan
rumah dan km/wc difungsikan sebagai latar untuk menerima
tamu, bermain anak, dan bercengkerama antar anggota
keluarga. Dengan adanya tembok masif tersebut, orang luar
tidak bisa melihat apa yang ada di dalamnya.(Gambar 4.1 dan
Gambar 4.2)
Gambar 4.1 Pola Permukiman di Kota Lama Kudus Kulon.
89
Gambar 4.2 Jalan atau lorong sempit di Kota Lama Kudus Kulon
(Dokumentasi Ashadi, 1999).
Bagi orang-orang Kudus Kulon, keberadaan kilungan
dalam tata ruang rumah tinggalnya juga merupakan simbol
privacy penghuninya. Sarwono dalam Psikologi Lingkungan,
90
mendefinisikan privacy sebagai keinginan atau kecenderungan
pada diri seseorang untuk tidak diganggu kesendiriannya
(Sarwono, 1992:7). Ada enam jenis privacy yang terbagi dalam
dua golongan. Golongan pertama, adalah keinginan untuk tidak
diganggu secara fisik, yang diwujudkan melalui: keinginan untuk
menyendiri; keinginan untuk menjauh dari gangguan suara
tetangga atau kebisingan lalu-lintas; dan keinginan untuk intim
dengan orang-orang tertentu saja (misalnya keluarganya).
Golongan kedua, adalah keinginan untuk menjaga kerahasiaan
diri sendiri, yang diwujudkan melalui: keinginan untuk
merahasiakan jati diri; keinginan untuk tidak mengungkapkan
diri terlalu banyak kepada orang lain; dan keinginan untuk tidak
terlibat dengan tetangga (Sarwono, 1992:71-72).
Erat hubungannya dengan privacy adalah teritotialitas,
yang keduanya merupakan perwujudan ego yang tidak ingin
diganggu. Teritorialitas bagi orang-orang Kauman menjadi hal
yang penting. Menurut Holahan (1982), seperti dikutip Sarwono,
teritorialitas adalah suatu pola tingkah laku yang ada
hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau
sekelompok orang atas sebuah tempat atau suatu lokasi
geografis. Pola tingkah laki ini mencakup personalisasi dan
pertahanan terhadap gangguan dari luar (Sarwono, 1992:73).
Konflik-konflik teritorialitas bisa terjadi karena memang
manusia cenderung bertingkah laku tertentu dalam mewujudkan
kepemilikan atau haknya atas teritori tertentu, yang kadang
kala ia tidak memperhatikan atau bahkan melanggar
kepemilikan atau hak orang lain.
Pola figure-ground solid dan void yang membentuk
konfigurasi dan struktur Kota Lama Kudus (Kudus Kulon)
menjadi satu bagian dengan kehidupan sosio-kultural
91
masyarakatnya yang bercirikan Islami, dengan pusatnya yaitu
Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus.
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup, keluarga-
keluarga di sekitar Mesjid Menara Kudus dengan menggunakan
pengetahuan kulturalnya yang diperoleh dari pengalaman dan
proses belajar, telah merubah tata ruang permukimannya. Yang
semula mereka memiliki ruang terbuka dengan pola rumah
tinggal deretnya, kemudian merubah menjadi ruang yang
berkesan tertutup dengan dinding tembok tinggi di sana-sini.
Generasi terdahulu telah menciptakan dan membentuk
ruang-ruang arsitektur, dengan dinding-dinding pembatas ruang
dibuat secara tegas dan jelas. Sementara generasi sekarang,
sikap dan perilakunya dibentuk oleh ruang-ruang tersebut.
Apabila generasi sekarang memiliki keinginan dan kemampuan
(ekonomi) yang cukup, tidak menutup kemungkinan akan
menghilangkan dinding tembok tinggi yang mengelilingi
rumahnya. Hal ini bisa terjadi karena di antara ruang-ruang
arsitektur dan orang-orang yang melakukan aktivitas di
dalamnya senantiasa terdapat suatu hubungan timbal balik.
92
BAB 5
JEJAK MASJID-MASJID KUNO
Di Kudus hadir banyak masjid, yang memiliki nilai sejarah, dan
hingga sekarang masih tetap berdiri dan masih berfungsi sebagai
sebuah bangunan tempat peribadatan kaum muslim, di
antaranya dapat disebutkan masjid-masjid: Menara Kudus,
Maduraksan, Bubar, Nganguk Wali, Kenepan, dan Langgar
Dalem.
5.1 Masjid Menara Kudus
Berdasarkan inskripsi yang terdapat di atas mihrab masjid,
tahun pendirian masjid ini adalah 1549 M oleh seorang tokoh
yang disebutkan namanya sebagai kadhi masjid adalah Ja’far
Shadiq. Nama masjid menurut inskripsi yaitu Masjid Almanar
atau Al-Aqsa, sedangkan tempat dimana masjid berada
dinamakan Al-Quds yang kemudian oleh masyarakat Jawa
menyebutnya Kudus dan masjidnya lebih dikenal dengan Masjid
Menara Kudus.
Di bagian depan sebelah kanan masjid terdapat menara
yang lebih mirip sebuah candi. Admiral Antonio Hurdt dalam
ekspedisinya dari Jepara menuju ke Kediri pada tahun 1758-
1759 M sempat mampir di Kudus dan mengagumi menara ini.
Bahan bangunan yang digunakan baik pada masjid maupun
93
94
menara adalah batu bata merah tanpa pelesteran; begitu pula
dinding keliling masjid.
Kekhasan Masjid Menara Kudus, selain memiliki menara
yang mirip bangunan suci Hindu, memiliki dinding tembok
keliling sebagai penyengker dari susunan batu bata merah tanpa
pelesteran, juga adanya sebuah kori bentar sebagai pintu
gerbang memasuki prosesi masjid dan dua buah kori agung yang
sekarang berada di dalam bangunan masjid.
Unsur-unsur kori bentar dan kori agung mengingatkan
kepada kita kepada seni tata bangunan Hindu untuk sebuah
bangunan pura (tempat suci umat Hindu Dharma) atau puri
(istana, rumah bagi golongan ksatria). Pada prinsipnya fungsi
dan bentuk kori bentar dan kori agung tidak berbeda, hanya saja
kori bentar tidak memiliki pintu dan atap, berupa sebuah kori
yang terbelah dua di tengahnya dimana celah diantara keduanya
menjadi pintu masuk. Jenis unsur-unsur bangunan ini masih
bisa kita jumpai pada bangunan adat masyarakat Bali.
Dari arah mana saja kita datang, pertama kali yang
kelihatan secara monumental adalah bangunan menara. Masih
untung, dari arah depan tepatnya dari arah areal parkir di dekat
pohon beringin Maduraksan, bangunan masjid dengan atap
tumpang tiganya terlihat walaupun kurang terlihat jelas, sebagai
background bangunan menara. Dari dekat, dari depan masjid,
kita akan menemui pintu masuk berupa kori-kori kecil dan kori
bentar dalam kompleks yang dikelilingi tembok penyengker dari
batu bata merah. Terlihat pula dua buah kolom bulat yang agak
besar di bagian paling depan masjid, berdiameter 1 meter di
bagian bawah, agak mengecil ke atas. Kedua kolom ini tidak
struktural, di bagian paling atasnya dibentuk menyerupai kubah
kecil. Mungkin penggagasnya ingin memberikan kesan adanya
95
dua buah menara langsing tepat didepan bangunan masjid yang
bisa berfungsi sebagai pintu masuk; hal ini diperkuat dengan
adanya anak tangga atau trap untuk naik ke lantai masjid di
antara kedua kolom.
Serambi masjid paling depan, sebelum kori agung
pertama, memiliki jejeran kolom beton (bertulang) berbentuk
bulat namun diameternya lebih kecil dibanding kedua kolom di
bagian depan, berjumlah 18 buah; rupanya kolom-kolom ini
untuk mendukung konstruksi atap di atasnya yang berupa dak
beton dimana di bagian tengahnya di tempatkan sebuah kubah
atau dome dari bahan logam alumunium berwarna putih,
bentuknya bukan merupakan setengah bulatan melainkan agak
meruncing ke atas.
Menyambung serambi pertama (beratap kubah) adalah
serambi kedua dimana kedua ruangan menyatu. Serambi ini
beratap bentuk pelana atau kampung tumpang dua, memanjang
dari Barat ke Timur; konstruksinya didukung oleh 8 kolom kayu
berbentuk segi empat. Di serambi kedua ini terdapat kori agung
pertama lengkap dengan konstruksi pintu kayunya yang sudah
tidak berfungsi sebagai pintu masuk lagi. Bentuknya memiliki
kepala yang bertingkat dan menjulang tinggi.
Di sebelah Barat serambi kedua adalah serambi ketiga
dimana terdapat pembatas ruang. Atap serambi berbentuk
limasan melintang Utara ke Selatan. Konstruksi atap limasan
yang menaungi serambi ketiga ini didukung oleh jajaran kolom
kayu berbentuk segi empat yang jumlahnya 16 buah.
Pada bagian paling Barat adalah ruang utama untuk
shalat. Di dalam ruangan ini terdapat kori agung kedua dan
empat buah tiang sokoguru yang mendukung atap berbentuk
96
tajug tumpang tiga. Bentuk kori agung lebih kecil dan banyak
ornamennya. Selain 4 buah sokoguru di bagian tengah ruangan,
terdapat pula 4 buah tiang lagi di bagian samping-sampingnya,
sehingga jumlah keseluruhan adalah 8 tiang. Di bagian depan
ruangan terdapat pengimaman (mihrab). Di atas pengimaman
inilah terdapat inskripsi yang bersejarah. (Gambar 5.1-5.8)
Masjid Menara Kudus dapat digolongkan sebagai masjid
makam, artinya bangunan masjid menyatu dengan area makam
dalam satu kompleks. Salah satu makam adalah makam Sunan
Kudus, yang setiap harinya menjadi tujuan para peziarah. Area
makam berada persis di sebelah Barat ruang utama masjid.
Gerbang masuk para peziarah berada di sebelah Selatan dari
gerbang masuk para jama’ah masjid. Kedua gerbang berada di
sisi Timur kompleks.
Gambar 5.1 Masjid Menara Kudus.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
97
Gambar 5.2 Kori Bentar, Gerbang Prosesi Masjid.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
Gambar 5.3 Kori Agung, Gerbang Prosesi Makam.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
98
Gambar 5.4 Menara Kudus.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
99
Gambar 5.5 Kori Agung di Serambi Masjid.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
Gambar 5.6 Serambi Masjid.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
100
Gambar 5.7 Kori Agung di Ruang Utama Masjid.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
Gambar 5.8 Inskripsi di atas Pengimaman Masjid.
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
101
Kompleks Masjid Menara Kudus, yang dahulunya diduga
sebagai pusat kota Kudus Kuno, terletak di wilayah Kudus
Kulon (barat), menempati areal sekurang-kurangnya 0,5 hektar1;
tidak termasuk areal pemakaman umum di belakangnya. Areal
seluas ini diperuntukan bagi dua fungsi, yaitu fungsi masjid dan
fungsi makam yang masing-masing menempati luasan yang
hampir sama besarnya. Fungsi masjid menempati areal kurang
lebih 2200 m2 dan fungsi makam menempati areal kurang lebih
2300 m2. Kompleks masjid Menara Kudus bisa dibagi menjadi 10
zona, dimana satu zona untuk aktivitas masjid dan sembilan
zona untuk aktivitas makam.
Pada zona I terdapat bangunan masjid (dan tempat
wudlu), madarasah, menara, dan dua buah kori agung yang
sekarang berada di dalam masjid (akibat dari perluasan masjid).
Di depan masjid terdapat sebuah candi bentar yang merupakan
gerbang utama untuk prosesi fungsi masjid.
Zona II berada di sebelah selatan zona I dimana tidak ada
bangunan di dalamnya. Bagi seseorang yang akan melakukan
ziarah ke makam harus masuk ke dalam zona ini melewati
sebuah kori agung2, yang terletak di bagian depan. Jadi prosesi
fungsi masjid dan makam memiliki pintu masuk yang berbeda.
1 Pengukuran dilakukan pada bulan Maret 1999, dibantu oleh rekan-rekan
mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Pancasila, Jakarta,
yaitu : Devi Fitriah Sari, Svetla Rahayu P.P, Rita Trijatha Dewata, Irfan Ardi
Tasya, Nadia Puspita, Heddy Poernomo, Wahyu Mulyadi, Santi Rahmawati, Erwin
Firmansyah, Christine, Hesti Yuswita S. Berdasarkan pengukuran yang kami
lakukan, luas seluruh kompleks masjid Menara Kudus, tidak termasuk areal
pemakaman umum yang berada di belakangnya, kurang lebih 4.500 m2.
2 Kori agung, gerbang utama untuk prosesi makam, oleh sebagian masyarakat
setempat dianggap keramat. Ada kepercayaan apabila ada pejabat atau pimpinan
daerah atau bahkan nasional memasuki gerbang ini maka kedudukannya akan
jatuh atau hilang.
102
Dari zona I bisa masuk ke zona II lewat sebuah kori agung di
bagian samping. Di dalam zona II, biasa orang-orang menjajakan
asesoris, buku, dan makanan bagi para pengunjung makam
(namun sekarang ini di zona ini sudah tidak diperbolehkan lagi
ada kegiatan selain untuk sirkulasi peziarah dan parkir roda
dua). Di sebelah barat zona II terdapat zona III yang berfungsi
sebagai areal parkir untuk kendaraan roda dua (motor dan
sepeda).
Di sebelah barat zona III terdapat zona IV yang di
dalamnya terdapat dua buah bale-bale(sementara ini sebagai
tempat penitipan barang-barang bawaan pengunjung seperti tas,
payung, sepatu, dsb), dan sebuah bangunan beratap tajug yang
berfungsi sebagai “pusat informasi”. Di sebelah pojok barat laut
terdapat tempat wudlu berupa sebuah sumur tua.
Zona V - X yang terletak di sebelah utara zona IV dan di
sebelah barat zona I merupakan zona-zona pekuburan. Mulai
memasuki zona ke V hingga ke X, pengunjung tidak
diperbolehkan mengenakan alas kaki, dan dianjurkan untuk
bersuci (berwudlu) terlebih dahulu.
Pada prosesi fungsi makam yang prosesnya dilaksanakan
secara berurutan, dari zona II hingga X, para pengunjung harus
melewati kori agung di tiap-tiap memasuki zona berikutnya,
kecuali dari zona V ke VI (melewati candi bentar) dan dari zona
IX ke X (sebenarnya areal keduanya menjadi satu, sebagian
terbuka dan sebagian lagi beratap). Dari zona VII, pengunjung
bisa masuk ke zona VIII, dimana cungkup milik Sunan Kudus
berada, atau langsung ke zona IX. (Gambar 5.9-5.20).
Luas zona I: 2.146,32 m2; zona II: 464,38 m2; zona III:
101,65 m2; zona IV: 223,34 m2; zona V: 231,00 m2; zona VI: 497,
103
70 m2; zona VII: 58, 40 m2; zona VIII: 443, 70 m2; zona IX: 174,
23 m2; dan zona X: 60,80 m2.
Zona VIII
Zona VI
Zona VII Zona I
Zona IX
Zona X
Zona V Zona II
Zona IV Zona III
Gambar 5.9 Denah (Zona) Kompleks Masjid Menara Kudus.
(Elaborasi dari Ashadi, 2016: 123 dan Ashadi, 2000: 58)
Gambar 5.10 Suasana Zona II Kompleks Masjid Menara Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
104 Sirkulasi keluar
Cungkup makam Sunan
Kudus
Aling - aling Menara
Tajug
Sirkulasi masuk
Area parkir
Gambar 5.11 Prosesi Fungsi Makam Sunan Kudus.
(Elaborasi dari Ashadi, 2016: 123)
Gambar 5.12 Suasana Zona V Kompleks Masjid Menara Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
105
Gambar 5.13 Suasana Zona VI Kompleks Masjid Menara Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
Gambar 5.14 Suasana Zona VII Kompleks Masjid Menara Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
106
Gambar 5.15 Suasana Zona VIII Kompleks Masjid Menara Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
Gambar 5.16 Suasana di cungkup makam Sunan Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
107
Tempat wudlu
wanita
Pawestren
Mihrab Serambi
Ruang utama
Tempat wudlu Menara
pria Area parkir
Gambar 5.17 Prosesi Fungsi Masjid.
(Elaborasi dari Ashadi, 2016: 123)
Gambar 5.18 Suasana di serambi (luar) Masjid Menara Kudus.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
108
Gambar 5.19 Suasana di serambi (luar) Masjid Menara Kudus.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
Gambar 5.20 Suasana di ruang utama Masjid Menara Kudus: hening
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
109
5.2 Masjid Maduraksan
Lokasi Masjid Maduraksan tidak jauh dari Masjid Menara
Kudus, arah Timur-Tenggara, tidak lebih dari 5 menit berjalan
kaki; di sebelah Selatan areal parkir yang luasnya tidak begitu
besar bagi pengunjung (peziarah) dari luar kota. Di areal ini
terdapat sebuah pohon beringin yang cukup besar dan rimbun.
Jarak Masjid Maduraksan terhadap pohon beringin lebih kurang
11 meter. Konon areal ini merupakan bagian dari sebuah alun-
alun. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa keberadaan
sebuah masjid dan alun-alun pada konsep tata bina kota di Jawa
adalah saling melengkapi. Dengan demikian, areal di depan
Masjid Menara Kudus hingga areal parkir di depan Masjid
Maduraksan dahulunya menyatu, merupakan sebuah tanah
lapang yang agak luas. Tetapi data arkeologis yang dapat
memperkuat hipotesa ini tidak ada. Apabila dilihat dari latar
belakang keberadaan Kota Kudus, maka tidak sukar untuk
menyatakan bahwa alun-alun dalam arti tanah lapang yang luas
dimana sebuah masjid harus berdiri di sebelah Baratnya, tidak
pernah ada di Kota Kudus Kuno.
Namun areal tanah yang sekarang digunakan untuk
parkir, di depan Masjid Maduraksan, diduga umurnya lebih tua
dari Masjid Menara Kudus. Pohon beringin yang rimbun yang
terdapat di areal ini tentu saja umurnya tidak sampai ratusan
tahun. Mengingat betapa pentingnya arti sebuah pohon beringin
bagi kepercayaan asli masyarakat Jawa, terutama dikaitkan
dengan hal-hal yang keramat, tidak menutup kemungkinan
bahwa di areal ini dahulunya pernah ada pohon beringin yang
usianya jauh lebih tua. Dan areal yang sekarang difungsikan
sebagai fasilitas parkir dahulu sebagai tempat berkumpul
110
masyarakat untuk kegiatan-kegiatan ritual. Apabila hal ini
dianggap benar, tidak menutup kemungkinan pula bahwa
bangunan Masjid Maduraksan yang letaknya tidak jauh dari
pohon beringin tersebut adalah peninggalan sebelum Islam yang
telah diganti fungsinya, yaitu sebuah sanggar (kemudian
berubah nama menjadi langgar) untuk aktivitas publik
masyarakat pra-Islam. Walaupun tidak ada data yang pasti,
keberadaan sanggar ini bisa jadi berkait erat dengan dakwah
Ja’far Shadiq di daerah Kudus.
Di sisi-sisi jalan dari Masjid Menara Kudus menuju areal
parkir dipenuhi kios-kios dan toko-toko asesoris yang dijajakan
untuk para pengunjung Masjid Menara dan Makam Sunan
Kudus. Di bawah rindangnya pohon beringin di areal parkir
banyak para pedagang makanan yang siap menyambut
pengunjung atau peziarah yang baru saja turun dari
kendaraannya. Pada tahun enam puluhan, areal ini berfungsi
sebagai pasar. Meskipun kecil, pasar ini bisa melayani
kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar. Waktu pasaran
adalah dari pagi hingga sore, sekitar pukul 16.00 wib.
Masjid Maduraksan berukuran kecil, mungkin lebih tepat
bila di sebut langgar ketimbang masjid. Letaknya agak
tersembunya, meskipun persis di depannya terdapat aktivitas
perparkiran, namun sedikit orang yang mengetahui
keberadaannya. Masjid ini beratap tumpang dua dengan sebuah
mustoko di puncaknya. Di depannya terdapat serambi beratap
limasan. Pada gambar masjid yang lebih awal, pada sepanjang
pertemuan keempat bidang atap tumpang bagian atas terdapat
hiasan-hiasan dalam bentuknya yang mencuat ke atas. Kondisi
fisik Masjid Maduraksan, sekarang ini terkesan bagus dan
111
bersih, sepertinya baru selesai direnovasi. Atapnya berwarna
biru dan lantainya dari keramik berwarna putih. (Gambar 5.21).
Gambar 5.21 Masjid Maduraksan.
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
5.3 Masjid Bubar
Lokasi masjid ini tidak jauh dari areal parkir, agak ke Timur,
menyeberang jalan raya kemudian melewati jalan sempit dengan
dinding-dinding tinggi rumah penduduk, yang hanya pas untuk
satu mobil berukuran kecil; jaraknya mungkin tidak lebih dari
300 meter. Fisik masjid berupa susunan dinding bata merah
tanpa plesteran, di sana sini ditumbuhi lumut, setinggi lebih
kurang 175 meter, dengan ukuran lebih kurang 2,75 x 2,75
meter. Tidak ada tanda-tanda dahulunya bangunan ini
mempunyai atap. Di sebelah kiri ruangan yang berukuran 2,75 x
2,75 meter terdapat reruntuhan dari susunan bata merah.
Mungkin reruntuhan ini dahulunya merupakan salah satu
112
dinding pembatas untuk ruang di sebelahnya. Tanda-tanda yang
menunjukkan bahwa bangunan ini memang sebuah masjid atau
langgar yang tidak selesai dibangun tidak ditemukan di lokasi (di
lapangan). Untuk masuk ke dalam ruangan (opened sky) lewat
“pintu” yang terdapat di bagian pojok kiri belakang (ada dua)
seukuran lebar badan orang. Letak kedua “pintu” berdekatan,
satu untuk masuk dari depan, satu lagi untuk masuk dari
samping kiri.
Di bagian pojok kiri depan terdapat ceruk yang lantainya
dinaikkan lebih kurang 0,5 meter dari permukaan tanah.
Ukuran ceruk ini lebih kurang 0,6 x 0,7 meter. Apabila ceruk ini
(rencananya) dianggap sebagai tempat Imam atau pengimaman,
tentu saja sangat tidak masuk akal. Pertama karena posisi
pengimaman yang letaknya di pojok ruangan (tidak di tengah
sebagaimana lazimnya) dan ditinggikan telah menyalahi kaidah-
kaidah Islam dimana posisi Imam dalam shalat tidak boleh lebih
tinggi dari makmum (jamaah di belakangnya). Kedua,
dimensinya terlalu kecil untuk satu gerakan shalat. Dugaan
bahwa ceruk sebagai mimbar, tempat berdirinya seorang
pemimpin agama untuk memberikan wejangan kepada
jamaahnya lebih bisa diterima. Tetapi inipun baru dugaan, sebab
adalah sulit dipercaya bahwa orang-orang Islam pada waktu itu
membangun masjid dengan material yang tahan lama dan tidak
sederhana hanya untuk menampung tidak lebih dari satu shaf
jamaah, sekitar enam orang ditambah seorang imam di depan.
Jika melihat bentuk dan letaknya, mungkin ceruk ini dahulunya
sebagai tempat menempatkan sesaji untuk kegiatan ritual
masyarakat Jawa asli. (Gambar 5.22-5.25). Menurut Solichin
Salam, bangunan ini bukan sebuah masjid atau langgar,
melainkan mendekati biara ataupun tempat pertapaan para
113
Budhist pada jaman dahulu yang kemudian belakangan
dibongkar oleh umat Islam (Salam, 1977:39).
Gambar 5.22 “Ruang Dalam” Masjid Bubar.
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
Gambar 5.23 Batu Lingga dan Yoni di Masjid Bubar.
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
114
Gambar 5.24 Hiasan ornamen pada dinding Masjid Bubar.
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
Gambar 5.25 Hiasan ornamen pada dinding Masjid Bubar.
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
115
Di bagian depan sebelah kanan masjid terdapat dua buah
batu gunung yang agak besar yang bentuknya menyerupai
Lingga dan Yoni. Unsur-unsur Lingga dan Yoni adalah bagian
dari kehidupan masyarakat suatu desa atau wilayah pada masa
lampau, jaman sebelum Islam. Keberadaan sebuah Lingga di
suatu tempat menunjukkan bahwa daerah tersebut telah
berpenghuni atau telah menjadi perkampungan.
Di Masjid Bubar atau Bubrah, masih sering dilakukan
persembahan korban berupa bebek panggang kepada roh
(danyang) bagi sebagaian penghuni-penghuni baru masyarakat
Kudus (Castles,1982:102).
Ragam hias yang berupa pahatan pada dinding-dinding
dari tumpukan batu bata merah tanpa pelester Masjid Bubar
mirip dengan apa yang terdapat pada bangunan Menara Kudus.
Motif-motif bunga dan daun tanaman serta bidang-bidang
geometri menghiasai permukaan dinding bangunan. Kemiripan
ini bisa menimbulkan dugaan bahwa kedua bangunan (Masjid
Bubar dan Menara Kudus) dibangun pada masa yang tidak jauh
berbeda satu sama lain.
Masjid Bubar tidak pernah benar-benar menjadi sebuah
masjid, dalam arti ia digunakan untuk mewadahi kegiatan-
kegiatan peribadatan umat Islam.
5.4 Masjid Nganguk Wali
Masjid ini letaknya jauh dari Masjid Menara Kudus, bahkan di
luar wilayah Kota Kudus Kuno, menyeberang Sungai Gelis, yang
berarti termasuk wilayah Kudus Wetan.
Menurut cerita setempat, Masjid Nganguk Wali adalah
masjid pertama yang didirikan oleh Sunan Kudus. Nama Masjid
116
Nganguk Wali diambil dari kisah ingak-inguk (tengok sana
tengok sini) Kyai Telingsing, dan kedatangan Sunan Kudus di
lokasi tersebut. Sedangkan nama Wali merupakan penekanan,
bahwa masjid tersebut didirikan oleh seorang wali yakni Sunan
Kudus. Namun pendapat ini kurang didukung data-data yang
valid.
Dengan naik becak, kita membutuhkan waktu sekitar 15
menit dari lokasi Masjid Menara Kudus, melewati simpang
tujuh, pusat Kota Kudus modern.
Kondisi fisik bangunan sepertinya baru saja direnovasi
dan diperluas; tidak memperlihatkan sesuatu yang istimewa,
hanya di bagian dalam ruangan masjid terdapat tulisan yang
menyatakan bahwa masjid ini dibangun oleh Sunan Kudus.
Bentuk atap hampir tidak kelihatan aslinya, sebab serambi
masjid di bagian depan telah dibuatkan model atap kekinian,
bukan bentuk limasan sebagaimana lazimnya.
Atap bangunan utama berupa tumpang dua. Dari jarak
yang agak jauh, pada tampak depan hanya terlihat bagian atap
tumpang yang paling atas, seolah-olah bertengger di atas tembok
mendatar. Pada puncak atap yang sekarang, sebagaimana juga
terlihat pada gambar yang lebih awal terdapat mustoko dan
jejeran hiasan yang bentuknya mencuat ke atas sepanjang
pertemuan keempat bidang atap tumpang bagian atas. Lantai
bangunan dari keramik berwarna keputihan.
Di bagian depan masih terdapat halaman yang di batasi
dengan pagar dari susunan jeruji besi setinggi lebih kurang satu
meter. (Gambar 5.26 dan Gambar 5.27)
117
Gambar 5.26 Masjid Nganguk Wali.
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
Gambar 5.27 Interior Ruang Utama Masjid Nganguk Wali.
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
118
5.5 Masjid Kenepan
Di sebelah Utara Masjid Menara Kudus, lebih kurang 100 meter,
di tengah-tengah pemukiman Kampung Kauman yang padat
terdapat sebuah masjid, namanya Masjid Kenepan. Kata
“kenepan” berasal dari kata “nginep” yang artinya bermalam,
jadi Masjid Kenepan berarti masjid yang pernah disinggahi dan
di pakai untuk bermalam (oleh seseorang yang mempunyai
kedudukan penting pada saat itu).
Gaya bangunan mengingatkan kepada kita pada
bangunan kolonial; dengan jendela-jendelanya yang lebar dan
tinggi, dindingnya terkesan kuat. Bentuk atapnya terbagi dua,
bagian depan (di atas ruang shalat utama) beratap tumpang dua,
dan bagian belakang beratap pelana memanjang ke depan
bertemu dengan atap tumpang bagian bawah (seperti atap-atap
satasiun KA), dan sebuah serambi beratap seng.
Di bagian puncak atap tumpangnya terdapat mustoko; di
sepanjang pertemuan keempat bidang atap tumpang bagian atas
dan di bubungan atap pelana terdapat jejeran hiasan yang
bentuknya mencuat ke atas. Di bagian atas dinding depan, di
bawah atap pelana, berbentuk gunungan (sopi-sopi) terdapat
tulisan-tulisan dengan huruf Arab, sayang terlalu kecil untuk
bisa dicermati. Tetapi masih bisa diidentifikasi, yakni terdiri atas
susunan angka-angka yang menunjukkan tahun Hijriyah 1236
atau Masehi 1818. Dari gaya yang ditampilkan tidak berlebihan
bila kita menduga bahwa bangunan ini didirikan pada jaman
Kolonial Belanda.
Satu hal yang unik adalah soko guru (empat tiang utama
penyangga atap tumpang) posisinya tidak persis lurus vertikal
melainkan keempatnya sedikit condong ke pusat. Jadi ukuran
119
jarak antar kolom di bagian atas lebih kecil dibanding dengan
bagian bawah. Secara ilmu gaya, konstruksi seperti ini lebih
memperkuat posisi soko guru dan atap yang ditopangnya.
(Gambar 5.28 dan Gambar 5.29).
Gambar 5.28 Masjid Kenepan; terhalang oleh padatnya permukiman.
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
Gambar 5.29 Soko Guru Masjid Kenepan.
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
120
Masjid Kenepan, dahulu, setiap ba’da shalat Subuh
digunakan oleh K.H. Sya’roni, tokoh ulama Kudus yang disegani,
mengajar mengaji Al-Qur’an bagi anak-anak Kudus Kulon.
Setiap bangku diberi nomor; beliau selalu menaruh Al-Qur’an di
atas bangku untuk memberi batas awal bagi anak-anak untuk
mulai giliran mengaji. Beliau menaruh Al-Qur’an pada pukul
03.00 wib, kemudian pulang sambil menunggu waktu shalat
Subuh tiba. Dari meja itu, K.H. Sya’roni, ba’da shalat Subuh,
mulai mengajar ngaji satu persatu. Jika anak-anak datang
belakangan, maka jatah ngajinya juga belakangan. Karena
khawatir terlambat masuk sekolah, sebab murid yang ngaji
jumlahnya sangat banyak, dan harus satu per satu, maka mereka
berusaha pada pukul 03.00 wib sudah harus ada di masjid
Kenepan. Biasanya, pukul 03.00 wib, jaman dulu ditandai
dengan bunyi nyaring kereta api di stasiun Wergu yang akan
berangkat ke luar kota. Suara ini dijadikan pertanda bahwa K.H.
Sya’roni sebentar lagi datang dan menaruh Al-Qur’annya.
5.6 Masjid Langgar Dalem
Masjid Langgar Dalem terletak di desa Langgar Dalem, kurang
lebih 200 meter di sebelah Utara Masjid Menara Kudus. Langgar
Dalem mempunyai arti langgar (masjid kecil-mushalla) dan
Dalem (pribadi-Sunan Kudus). Jadi dapat dikatakan bahwa
Langgar Dalem berarti langgar pribadi milik Sunan Kudus. Jika
ini dianggap benar, maka kediaman Sunan Kudus mestinya
tidak jauh dari langgarnya.
Bangunan utama, ruang shalat utama, berdenah bujur
sangkar berukuran kira-kira 18 x 18 m dengan atap tajug
tumpang tiga yang didukung oleh empat tiang soko guru; bagian
puncak atap terdapat mustoko. Di sebelah depan (Timur)
121
terdapat serambi dalam berdenah segi empat berukuran kira-
kira 10 x 18 m dengan atap limasan memanjang arah Utara –
Selatan. Di sebelah Timur dan Selatan serambi dalam adalah
serambi luar yang bersifat setengah terbuka. Pada sisi Timur
serambi luar terdapat pintu masuk berupa dinding berlobang
tanpa daun pintu, selebar 3 m, dengan tiga tanjakan anak tangga
yang menghubungkan pelataran atau halaman masjid dengan
serambi luar masjid. Tepat di sela-sela tanjakan yang kedua,
pada anak tangga sisi vertikal, terdapat relief bersejarah berupa
sengkalan memet. Panel relief terbuat dari batu berwarna
kekuning-kuningan dan berbentuk segi enam panjang. Reliefnya
berbentuk timbul menggambarkan dua ekor naga yang saling
melilit dan sekaligus melilit sebatang trisula yang berujung
ganda. Diduga sengkalan memet itu berbunyi : ‘Trisula Tinulet
Naga’ yang menunjukkan angka tahun Hijriyah 863 atau Masehi
1458. (Gambar 5.30).
Gambar 5.30 Sengkalan Memet: Trisula Pinulet Naga yang terdapat pada trap
tangga teras Masjid Langgar Dalem.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
122
Di sebelah Utara ruang utama adalah pawestren, tempat
shalat kaum perempuan, berdenah segi empat berukuran kira-
kira 8 x 18 m. Di sebelah Timur pawestren dan di sebelah Utara
serambi dalam terdapat tempat wudlu bagi kaum perempuan,
luasnya kira-kira 8 x 10 m. Bagian pawestren menyambung
dengan tempat wudlu perempuan dinaungi atap berbentuk
limasan memanjang arah Timur – Barat. Kemudian di sebelah
Selatan ruang utama atau bangunan utama terdapat tempat
wudlu bagi kaum laki-laki, berdenah bujur sangkar, luasnya
kira-kira 8 x 8 m dan beratap tajug tumpang dua; pada bagian
puncak terdapat mustoko. (Gambar 5.31-5.33).
Gambar 5.31 Masjid Langgar Dalem.
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
123
Gambar 5.32 Masjid Langgar Dalem; pada bagian trap anak tangga pada teras
masjid terlihat jelas pahatan sengkalan memet
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
Gambar 5.33 Bentuk Atap (Ruang Utama) Masjid Langgar Dalem-Tumpang Dua;
pada bagian puncaknya terdapat mustaka
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
124
Serambi dalam, pada dinding sisi Timur terdapat tiga
pintu, menghubungkan serambi luar bagian Timur (depan)
dengan serambi dalam, pada sisi Selatan terdapat satu pintu,
menghubungkan serambi luar bagian Selatan (samping) dengan
serambi dalam, pada sisi Utara terdapat satu pintu,
menghubungkan tempat wudlu perempuan dengan serambi
dalam, pada sisi Barat terdapat tiga pintu, menghubungkan
serambi dalam dengan ruang utama shalat. Khusus dinding
pemisah antara serambi dalam dengan ruang shalat utama
berupa dinding kerawang, dan pintunya di bagian tengah berupa
gapura kori; pintu ini dianggap bagian dari masjid yang masih
asli. Bidang dinding di antara ketiga pintu masuk tersebut
ditempatkan panel-panel berornamen indah dengan bentuk
hiasan bermacam-macam, seperti bentuk belah ketupat, sulur-
suluran, dan tumpal. (Gambar 5.34).
Gambar 5.34 Dinding serambi dalam Masjid Langgar Dalem, dilihat dari ruang
utama masjid; terdapat tiga pintu masuk ke dalam ruang utama, pintu tengahnya
berbentuk unik berupa kori agung.
(http://seputarkudus.com, akses 1 Nopember 2019)
BAB 6
JEJAK ARSITEKTUR RUMAH ADAT
Bangunan rumah tempat tinggal masyarakat Kudus terutama di
daerah Kudus Kulon sungguh amat berkesan tradisional dan
berbeda dengan bangunan sejenis di daerah Kudus Wetan.
Bangunan yang lebih dikenal dengan nama rumah adat atau
tradisional Kudus ini bahkan mempunyai latarbelakang yang
juga tidak sama dengan rumah-rumah tradisional Jawa di
daerah pedalaman, baik bentuk atapnya maupun organisasi dan
elemen-elemen ruangnya. Pertama kali yang jelas terlihat secara
fisik adalah bentuk atap joglo rumah adat Kudus yang lebih
tinggi dan sedikit meruncing ke atas. Masyarakat setempat
menyebutnya joglo pencu. Di sepanjang bumbungan atap dan
sepanjang pertemuan keempat bidang atap biasanya diberi
ornamen-ornamen dengan bentuknya yang mencuat ke atas, dari
kejauhan kelihatan seperti sirip. (Gambar 6.1).
6.1 Ada Pengaruh Cina?
Menurut Slametmuljana, adanya hiasan-hiasan pada
bumbungan atap dengan bentuknya yang mencuat ke atas baik
pada rumah-rumah adat yang terdapat di sepanjang jalan dari
Demak ke Kudus maupun masjid-masjid kuno yang terdapat di
kedua kota itu seperti Masjid Agung Demak, Masjid Menara
125
126
Kudus, Masjid Nganguk Wali, dan Masjid Maduraksan, yang juga
dibandingkan dengan apa yang terdapat di Palembamg, Sumatra
Selatan, maka hal ini dapat menunjukkan bahwa pengaruh
kultur Cina sangat kentara. Keberadaan ornamen-ornamen pada
bumbungan atap bangunan-bangunan Cina rupa-rupanya sudah
lebih awal, terutama dengan bentuknya yang memvisualisasikan
ular naga. Di dalam kultur Cina, naga atau liong mempunyai
peran sebagai lambang kekuatan dan lambang dari segala hal
yang baik. Perwujudan naga ada dimana-mana: di atas tahta
Kaisar Cina, di atas bubungan rumah, di atas klenteng-klenteng
Cina, sebagai hiasan lampu dan sebagainya (Slametmuljana,
1983:132-136). Pendapat ini sangat menarik untuk didiskusikan.
Gambar 6.1 Rumah Adat Joglo Pencu di Kudus Kulon
(Dokumentasi Ashadi, 2015)
127
Adanya kemiripan pola hias atap antara bangunan
tradisional di wilayah Demak-Kudus dengan Masjid Agung
Palembang telah mendorong Slametmuljana
menghubungkannya dengan peranan orang-orang Cina. Patut
dicatat bahwa Penguasa Demak dan Palembang pada awal
kebangkitan Islam di tanah Jawa, diduga masih punya hubungan
kekerabatan, yaitu sama-sama dari keturunan Cina. Gaya atau
model bangunan Masjid Agung Palembang sangat jelas
memperlihatkan pengaruh corak Cina; selain terdapatnya jejeran
ornamen dengan bentuk mencuat ke atas juga pada bagian ujung
pertemuan keempat bidang atapnya sedikit melengkung ke atas;
bentuk melengkung tersebut juga terdapat pada bangunan
Masjid Agung Sumenep, Madura. Dan memang bentuk atap
seperti itu banyak dijumpai pada bagungan-bangunan, baik
rumah maupun tempat perbadatan milik orang-orang Cina.
Tetapi bentuk atap Masjid Agung Demak, Masjid Menara
Kudus, Masjid Maduraksan, dan Masjid Nganguk Wali, tidak
memiliki bubungan dan atau pada bagian ujung pertemuan
keempat bidang atap yang melengkung ke atas. Dan pada
bangunan Masjid Agung Demak tidak didapati ornamen berjejer
dengan bentuk mencuat keatas ataupun cengger ayam jago di
sepanjang pertemuan keempat bidang atapnya (menurut gambar
kuno). Begitu pula, di atas atap rumah-rumah milik orang-orang
Cina tidak ditemukan ornamen-ornamen berjejer. Sehingga
untuk memastikan bahwa hiasan di atas atap bangunan
tradisional, terutama di Kudus, berhubungan dengan peran
orang-orang keturunan Cina pada masa dahulu masih perlu
pembuktian lebih lanjut.
128
Ada dugaan kuat bahwa hiasan di atas bangunan masjid
dan rumah tinggal tradisional Kudus berhubungan erat dengan
kultur setempat, yang sudah ada sebelumnya. Bangunan yang
dianggap tua adalah dua buah kori agung yang sekarang berada
di dalam Masjid Menara Kudus, dinding-dinding tembok
penyengker yang mengelilingi masjid, dan bangunan Menara. Di
antara ketiganya, kemungkinan, berdasarkan sudut pandang
manusia yang normal, keberadaan dua buah kori agung tersebut
telah menyita perhatian masyarakat pada waktu dahulu, selain
tentunya bangunan Menara itu sendiri. Apabila kita perhatikan,
baik kori agung di dekat pengimaman masjid maupun kori agung
di serambi masjid, pada bagian kepalanya yang bertingkat,
mengecil ke atas, di setiap lapis di sepanjang pertemuan keempat
bidang kepala yang miring (bentuk kepala seperti nisan
menjulang; puncaknya mendatar, di tengahnya ditempatkan
sebuah ‘genta’) dijumpai hiasan yang dinamakan gegodeg,
ditempatkan secara berjejer berdasarkan lapisannya. Bentuknya
mencuat ke atas (ke dalam). Pada kori agung di serambi masjid,
hiasan ini sebagian sudah tidak ada, namun bekas-bekasnya
masih kelihatan.
Dan berdasarkan gambar kuno, di atas atap rumah-
rumah penduduk di ibukota Majapahit, Trowulan, juga terdapat
ornamen yang disusun berjejer. Hal ini juga diperkuat dengan
bangunan-bangunan tradisional di Trowulan yang pada atapnya
terdapat susunan hiasan berjejer, seperti misalnya bangunan-
bangunan cungkup makam di kompleks pemakaman Troloyo,
Trowulan. Oleh karenanya, tidak menutup kemungkinan bahwa
susunan hiasan berjejer di atas atap baik bangunan masjid
maupun rumah tinggal tradisional Kudus mengikuti pola hiasan
yang terdapat pada kepala kedua kori agung yang sekarang
129
berada di dalam bangunan Masjid Menara Kudus. Dalam hal ini,
kemungkinan latar belakang estetika lebih menonjol.
Dan berkaitan dengan Masjid Agung Palembang yang
dibangun dua abad sesudah Masjid Menara Kudus, yang juga
memiliki ornamen berjejer di atas atapnya, kemungkinan meniru
apa yang terdapat di Kudus, mengingat pemimpin agama di
Kudus dan Palembang masih memiliki hubungan kekerabatan.
Hal ini diperkuat dengan adanya makam-makam atas nama
Panembahan Palembang dan Pangeran Palembang di kompleks
makam Masjid Menara Kudus.
Sebagai perbandingan, di desa Mulyorejo, wilayah Demak,
kebanyakan rumah joglo juga memiliki jejeran hiasan atau
ornamen pada sepanjang bubungan dan pertemuan keempat
bidang atapnya. Bahan hiasan-hiasan ini sejenis dengan bahan
atap yang digunakan, yaitu genteng. Hiasan pada bumbungan, di
tengah-tengah berbentuk gunungan, di kanan kirinya berbentuk
gajah atau kayon dan kadang-kadang wayangan. Sedangkan di
sepanjang pertemuan keempat bidang atap bentuk hiasannya
adalah ayam jago yang disusun berjejer. Sehingga bila diamati
dari jauh, hiasan-hiasan diatas atap rumah tradisional baik di
Kudus maupun di desa Mulyorejo, Demak seperti bentuk sirip
yang mencuat keatas.
Di daerah Juwana dan Pati, rumah tradisional yang
beratap joglo tidak seperti yang ada di Kudus maupun Demak.
Hiasan pada bubungan, hanya berupa penonjolan-penonjolan di
sudut-sudutnya; adapula, penonjolan dibuat disepanjang
bubungan. Hiasan ini terbuat dari adukan semen dan pasir dan
bentuknya relatif sederhana, sepertinya tidak mewakili bentuk-
bentuk yang telah disebutkan di atas. (Gambar 6.2).
130
Gambar 6.2 Rumah Tradisional di Dusun Bakaran Kulon, Pati: pada atapnya
tidak terdapat hiasan berjejer seperti yang ada pada rumah-rumah adat Kudus
(Dokumentasi Ashadi, 1999)
6.2 Kekhasan Rumah Adat Kudus
Salah satu faktor yang menyebabkan rumah tinggal tradisional
Kudus memiliki kekhasan tersendiri yaitu penuhnya ukiran pada
elemen-elemen rumah. Menurut cerita setempat, seni ukir
Kudus diwariskan oleh seorang Cina bernama Telingsing yang
diduga pernah tinggal di kampung atau desa Sunggingan
sekarang, jauh sebelum Ja’far Shadiq datang ke Kudus. Menurut
Solichin Salam, Sunggingan berasal dari sebuah nama Cina Sun
Ging An, salah seorang imigran muslim yang bersama-sama
dengan Kiai Telingsing datang ke Kudus. Selain sebagai
mubaligh mereka juga ahli dalam seni ukiran. Tempat dimana
Sun Ging An dan rekan-rekannya pernah menetap dinamakan
Sunggingan. Kata Sunggingan juga berarti Ukiran;
menyungging1 berarti mengukir (Salam, 1994:80).
131
Tidak bisa dipungkiri, ukiran Kudus dalam dua
dasawarsa belakangan ini telah mengalami perkembangan yang
sangat cepat. Tokoh-tokoh seperti bapak Bukhari dan Noor
Mustaqim atau lebih dikenal dengan nama pendeknya Taqim
sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kudus, bahkan nama
Taqim sudah menasional. Taqim yang lahir pada tahun 1958
selain dikenal sebagai pengukir juga lihai didalam membuat
keramik, mengolah tembaga, membentuk patung, melukis, dan
membuat gambar-gambar desain; dan dia sering mengadakan
atau mengikuti pameran di beberapa tempat termasuk di
ibukota Jakarta.
Rumah-rumah penduduk, terutama di Kudus Kulon, di
dalam dinding tembok yang tinggi pada umumnya terdapat
bengkel kerja. Dari luar tidak terlalu kelihatan adanya aktivitas
kerajinan tangan ini. Menurut bapak Bukhari, sekarang ini,
ukiran Kudus sudah menerobos ke dalam karya tiga dimensi
atau fase ruang. Hasil yang bisa dilihat adalah ukiran pada
elemen-elemen bangunan pendapa kabupaten Kudus. Ukiran
dengan motif bunga dan daun tanaman disajikan dengan begitu
indah tidak sekedar pahatan-pahatan yang menonjol dan
tenggelam pada sebuah permukaan bidang kayu melainkan
sebuah penyajian ‘ukiran dalam ukiran’, peningkatan pesat dari
Zonder Boss, relief yang bisa lepas dari dasarnya.
1 Menyungging adalah suatu cara memberi hiasan atau lukisan pada barang-
barang kerajinan dari bambu atau kayu, rotan dsb, dengan cara dibakar. Kalau
mengukir kayu menggunakan peralatan yang tajam, maka pada menyungging
memakai paku besi, batu atau batok kelapa yang sudah dibakar dalam api hingga
memerah yang kemudian dibuatnya lukisan-lukisan pada bambu yang kering atau
kayu. Lukisan atau gambar-gambar yang diterakan pada media yang akan
disungging tidak memerlukan pola-pola terlebih dahulu misalnya dengan pensil
atau lainnya. Hiasan-hiasannya secara langsung dilukis dengan paku yang
dipanaskan (Adisendjaja,tanpa tahun,hal.107-108).
132
Rumah tinggal tradisional Kudus tidak bisa dilepaskan
dari ukiran, oleh karenanya adalah tidak mungkin
membicarakan keduanya tanpa menelusuri latar belakang
keberadaannya. Selain dugaan bahwa ukiran Kudus dibawa dan
dikembangkan oleh Kiai Telingsing bersama-sama rekannya
yang selama ini masih dipercaya oleh rakyat setempat, tidak ada
keterangan atau data tertulis tentang keberadaan ukiran Kudus.
6.3 Menelusuri Ukiran Rumah Adat Kudus
Pada tahun enam puluhan, apabila disebut kata ukiran maka
orang segera akan mengarahkan perhatiannya ke ukiran Jepara,
bukan ukiran Kudus. Ditambahkan pula bahwa ukiran Jepara
sangat terkenal di Kudus pada waktu itu. Dan menurut
informasi yang didapat dari orang-orang setempat bahwa konon
ukiran pada rumah tinggal tradisional Kudus dikerjakan oleh
orang sewaan dari Jepara.
Apabila kita bicara tentang ukiran Jepara, tidak bisa
mengesampingkan sebuah nama yang telah menjadi tokoh
pahlawan nasional kelahiran Mayong, Jepara. Dialah R.A.
Kartini putri bupati Jepara Sosroningrat, yang lahir pada
tanggal 21 April 1879.
Usaha Kartini untuk memajukan seni ukir Jepara telah
diakui oleh dunia terutama bangsa Eropa pada akhir abad ke-19
M. Dia sangat mengetahui kondisi kehidupan penduduk di
sekitar Jepara karena seringnya bersama dua saudaranya,
Roekmini dan Kardinah di ajak oleh ayahnya berkeliling dari
satu desa ke desa lainnya. Pada usianya yang belum genap 20
133
tahun, R.A. Kartini telah menjadikan buah karya ukiran Jepara
go international pada tahun 18982.
Unsur seni ukir yang telah melambungkan kota Jepara
yang paling utama adalah tersedianya bahan baku yang
berkualitas bagus yaitu kayu jati yang banyak terdapat di Jepara
2 Tempat yang menjadi cikal bakal ukiran Jepara adalah desa Belakang Gunung
yang letaknya di belakang bekas Fort Portugis yang berdiri di sebuah gunung.
Menurut R.A. Kartini dalam suratnya yang dikirim kepada sahabatnya, Stella
Harstshalt di Belanda (berkenalan lewat surat terbuka pada tahun 1899), bahwa di
sanalah tempat pengukir-pengukir kayu yang paling berseni. Rumah-rumah desa
yang reot menjadi tempat mereka bekerja dengan peralatan yang masih primitif.
Kesenian ini asli dari kultur Jawa, sudah sejak jaman kuno dan dipelajari terus-
menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak kecil dengan
setengah atau seluruhnya telanjang, badannya kotor seperti habis mandi di
lumpur, karena sebagian besar menggembala hewan kerbau, sering bermain-main
dengan melakukan corat-coret di tanah maupun di dinding-dinding rumah dengan
alat sebatang kayu atau batu yang runcing dengan mana mereka membikin motif-
motif binatang seperti leong atau burung. Pengukir-pengukir, membuat gambaran
(desain) dahulu pada kertas, lalu gambaran itu diukirkan pada kayu. Ketika
lembaga sejenis koperasi “Oost en West” didirikan oleh pemerintahan Hindia
Belanda, R.A. Kartini mulai mengoptimalkan dan memasarkan hasil karya seni
ukir Jepara ke berbagai kota terutama Semarang dan Batavia. Kemudian dia
meminta bantuan seseorang yang bernama Singowiryo untuk ditugasi sebagai
koordinator pelaksana proyek pengadaan barang-barang ukiran seperti tempat
rokok, tempat jahitan, meja kecil, dsb yang akan dipasarkan lewat pameran-
pameran. Setelah selesai barang-barang itu dikirim ke Semarang dan Batavia
melalui jasa “Oost en West”. Selanjutnya, karena kualitas ukiran yang begitu
mengagumkan, banyak pesanan yang ditujukan kepada R.A. Kartini. Bahkan
bupati sendiri memesan seperangkat meubel komplit dengan ukir-ukirannya
sangat bagus, sebagian dalam ukiran relief, sebagian lagi dipahat mendalam.
Bupati Demak (masih ada hubungan keluarga dengan R.A. Kartini), Pangeran Ario
Hadiningrat, juga memesan banyak papan berukir untuk dipasang di serambi
belakang kabupaten. Pesanan dari orang-orang Eropa juga berdatangan. Pada
mulanya para pengukir tidak mau, karena takut kutukan roh-roh, membuat motif-
moif berbentuk wayang, sebagaimana yang banyak diminta oleh pemesan-pemesan
Eropa. Menurut kepercayaan pada umumnya masyarakat setempat, bahwa
menggambar bentuk wayang yang dianggap keramat itu berdosa dan akan
mendapat hukumannya. Setelah bupati sendiri turun tangan dengan akan
menanggung segala akibatnya, maka seni ukir Jepara mulai babak baru dengan
motif-motif wayang. Pada tahun 1898, pada peresmian Putri Wilhelmina menjadi
ratu kerajaan Belanda, di Amsterdam, sang Putri telah mengagumi dan kemudian
minta dikirim barang-barang dengan ukiran Jepara (Soeroto,1977:99-106;
Keesing,1999).
134
dan sekitar gunung Muria. Tidak berlebihan apabila
menobatkan kota Jepara dan daerah sekitarnya sebagai wilayah
kelahiran seni ukir Jawa. Tetapi tidak mudah untuk mengetahui
kapan seni kriya ini mulai ada di wilayah Jepara3.
Sejak pertengahan Abad ke-18 M, terutama setelah
Kompeni Belanda berhasil menguasai daerah pesisir Utara Jawa
dari kerajaan Mataram, terdapat beberapa kegiatan
perekonomian baru di kabupaten-kabupaten di wilayah Jepara,
salah satunya adalah adanya sebuah penggergajian kayu di
Jepara4. Kayu merupakan salah satu produk yang paling
menguntungkan VOC pada periode ini. Banyak desa yang
dilibatkan pada pemotongan dan pengangkutan kayu yang
selanjutnya dikerjakan digalangan kapal kepunyaan VOC. Apa
yang dikatakan kerja blandongan ini merupakan beban berat
yang ditanggung penduduk desa (Husken,1998:69). Tempat
penggergajian kayu adalah salah satu faktor vital dalam
mendapatkan potongan-potongan kayu yang bagus. Tidak sedikit
sisa-sisa kayu dari proses penggergajian yang mungkin bisa
dimanfaatkan untuk media ukir yang ukurannya tidak terlalu
besar. Sehingga sangat wajar bila kita menempatkan keberadaan
fasilitas penggergajian kayu pada prioritas pertama bagi karya
ukiran Jepara, apalagi untuk proyek-proyek dalam skala besar
seperti yang pernah dilakukan oleh R.A. Kartini.
3 Salah satu kompleks istana raja atau ratu di tanah Jawa pada abad ke-16 M, yang
memiliki kampung Kriyan adalah istana Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara.
Reruntuhan keraton Kalinyamat telah dilukiskan oleh Dr. Bosch berdasarkan
keterangan Th. C. Leeuwendaal bahwa daerah itu terdapat tempat-tempat yang
bernama Kriyan, Pecinan, Kauman, dan Sitinggil (De Graaf,1985:125, cat.kaki
no.110). Bandingkan dengan Kudus Kulon, pusat kota Kudus Kuno.
4 Dirk van Hogendorp, residen Jepara (1791-1794 M), pada tahun-tahun akhir VOC
demi kepentingan pribadi dalam berbagai usaha yang terkait erat dengan VOC,
juga telah membangun sebuah usaha peggergajian kayu sendiri
(Husken,1998:101,cat.kaki).
135
Masuk akal bila diajukan pendapat bahwa ukiran yang
ada pada elemen-elemen rumah tinggal tradisional Kudus adalah
note bene ukiran Jepara, mengingat hanya orang-orang yang
tergolong super kaya (pada waktu itu) yang mampu membangun
rumah tinggal tradisional Kudus yang penuh dengan ukiran jati.
6.4 Tata Ruang Rumah Adat Kudus
Inti dari rumah tinggal tradisional Kudus adalah ruang yang
dinamakan jagasatru, sebagai ruang tamu dan omah njero,
sebagai ruang dalam. Atap yang menaungi omah njero berbentuk
joglo pencu, dan atap jagasatru merupakan sor-soran atau
pemanjangan atap joglo di bagian depan. Dinamakan joglo pencu
karena bentuk atap joglo pada rumah tinggal tradisional Kudus
tinggi menjulang ke atas. Ketinggian atap joglo adalah sebagai
indikasi tingkat kemakmuran pemiliknya, semakin tinggi
joglonya menunjukkan pemiliknya seorang yang kaya. Kesan
tinggi pada atap joglo, menurut saya, mungkin juga sebagai
konsekuensi dari sempitnya luasan yang dinaungi atap. Ternyata
luasan rumah inti tradisional Kudus satu dengan yang lain tidak
jauh berbeda. ‘Keseragaman’ ini mestinya bisa menjadi bahan
kajian lebih lanjut. Untuk menghasilkan bentuk rumah yang
monumental dan memiliki nilai keagungan seperti bentuk
rumah joglo milik para aristokrat Kudus (bupati cs.) pada saat
itu, faktor ketinggian bangunan merupakan suatu keharusan.
Lahan di pusat kota lama (Kudus Kulon), ternyata sudah terlalu
sempit, banyak masyarakat yang berusaha bermukim dekat
dengan bangunan masjid kuno Menara Kudus. Akibatnya lahan
perumahan juga menjadi mahal dan semakin padat. Disamping
136
juga bahwa keunggulan rumah bukan dilihat dari besarnya,
tetapi lebih kepada kekayaan ukirannya.
Di lingkungan perumahan, di sebelah Selatan masjid kuno
Menara Kudus, banyak terdapat rumah tinggal tradisional tipe
tunggal tertutup. Lingkungan yang sudah padat bertambah
padat dengan adanya dinding tembok tinggi, sekitar 2 - 2,5
meter, yang mengelilingi bangunan rumah. Ruang antara rumah
yang satu dengan lainnya berubah menjadi lorong-lorong sempit
yang relatif gelap; lebarnya kurang lebih 1 meter. Pintu masuk
ke pekarangan rumah agak kecil dan pada umumnya tidak
tembus pandang, tetapi ada juga yang bagian atasnya tembus
pandang berjeruji besi. Di bagian atas atau samping pintu luar
disediakan bel untuk menyatakan permisi masuk atau
kulonuwun pada pemilik rumah. Jendela yang kebetulan berada
pada dinding rumah yang berbatasan dengan lorong-lorong,
letaknya agak tinggi. Pada lingkungan perumahan tipe berderet,
antara rumah satu dengan lainnya, berjarak kurang dari 1
meter, tidak ada batas tembok. Mungkin pemilik rumah yang
berderet ini masih memiliki hubungan kekerabatan.
Sistim pembagian ruang pada rumah tinggal tradisional
Kudus tergolong sederhana, yaitu meliputi jagasatru, omah njero
(di dalamnya terdapat senthong dan gedhongan), pawon, dan
kamar mandi (biasanya dilengkapi dengan sumur) (Ashadi, 2017)
(Gambar 6.3).
Jagasatru
Jagasatru berarti menjaga dari (serangan atau perbuatan
jahat) lawan. Dalam tata ruang rumah adat Kudus berfungsi
sebagai ruang tamu. Di ruang ini terdapat satu atau dua tiang
yang disebut sanggah, letaknya di depan sebelah kanan dan atau
kiri pintu utama (masuk ke omah njero). Letak posisi tiang,