The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Penalaran, 2023-12-23 23:23:51

Buku Lentera Karya

6 2.4 Analisis Kelayakan Usaha Tabel 1. Arus Kas (Cashflow) Analisis finansial bertujuan untuk mengetahui apakah bisnis yang dijalankan layak atau tidak. Cash in atau merupakan penerimaan (100 unit x Rp 15.000 = Rp 1.500.000) dengan asumsi penjualan bulan ke-1 hingga bulan ke-2 sebanyak 40%, bulan ke-3 sampai bulan ke-4 sebanyak 50%, bulan ke-5 sampai bulan ke-6 sebanyak 70%, bulan ke-7 sampai bulan ke-8 sebanyak 90%, dan bulan berikutnya penjualan mencapai 100% dari target. Asumsi ini dibuat 51


7 berdasarkan kondisi pasar produk kecantikan saat ini. Adapun cash out atau pengeluaran terdiri dari biaya investasi, biaya variabel dan biaya tetap. Analisis finansial yang dilakukan melalui analisis usaha selama 2 tahun yaitu sebagai berikut : 1. BEP Rupiah adalah jumlah penerimaan yang harus diterima untuk memperoleh titik impas. Rumus BEP Rupiah adalah BEP harga dengan nominal Rp 2.083.000,00 artinya titik impas, dan melalui analisis usaha kami selama setahun sudah melebihi BEP yaitu sebesar Rp 7.208.400,00. Maka bisa dikatakan bisnis ini menguntungkan. 2. BEP produk adalah jumlah barang yang harus diterima untuk memperoleh titik impas. Rumus BEP produk adalah BEP produk dengan 26 unit artinya titik impas jika produk terjual sejumlah tersebut. Produk yang dijual pada usaha kami yaitu 100 unit, maka dapat dikatakan usaha kami menguntungkan. 3. Analisis Return Cost Ratio (R/C Ratio) merupakan perbandingan antara total penjualan dengan total biaya produksi kemudian dikalikan 100%. Maka hasil yang diperoleh melalui usaha kami yaitu sebesar 3,2%, yang berarti menguntungkan karena nilai R/C > 1. 4. Payback Period (PBP) adalah waktu pengembalian modal. Berdasarkan tabel analisis cashflow, nilai cummulatif present value yang bernilai positif ada di bulan ke-2 artinya di bulan kedua adalah waktu pengembalian modal. BAB 3 METODE PELAKSANAAN 3.1 Alat dan Bahan Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam produk sheet mask CHITOVERA Tabel 2. Alat dan Bahan No. Alat Bahan 1. Vakum plastik Chitosan kulit udang (Caridea) 2. Pengaduk Lidah buaya (Aloe vera) 3. Gelas ukur Air mawar 4. Wadah stainless steel Sheet mask 3.2 Proses Pembuatan Pembuatan sheet mask dari formulasi chitosan udang lokal (Caridea) dan ekstrak lidah buaya (Aloe vera) untuk regenerasi kulit wajah, diawali dengan persiapan alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses produksi. Proses produksi mencakup beberapa tahap: 52


8 1. Mencampurkan chitosan udang (Caridea) sebanyak 1 gram, ekstrak lidah buaya (Aloe vera) sebanyak 14 gram, dan air mawar 7 ml sampai semua bahan homogen. 2. Sheet mask direndam ke dalam bahan-bahan yang sudah dicampurkan selama 15 menit. 3. Sheet mask yang sudah direndam kemudian dimasukkan ke dalam kemasan yang sudah diberi label “Chitovera”. Untuk pengujian produk dilakukan melalui uji coba laboratorium berdasarkan hasil pengamatan dari sampel produk dan hasil uji iritasi pada kulit sukarelawan. 3.3 Tahapan Pelaksanaan Produksi Proses produksi meliputi: 1. Mempersiapkan alat dan bahan untuk membuat sampel. 2. Mendesain logo brand yang akan ditempelkan pada produk sheet mask Chitovera. 3. Mempersiapkan alat dan bahan untuk produksi. 4. Membuat dan mengemas bahan produksi. 5. Finishing dan pengecekan produk. 6. Packing produk. 3.4 Pemasaran dan Penjualan Pemasaran dan penjualan dilakukan sesuai dengan strategi pemasaran dan target penjualan, serta diatur oleh manajer pemasaran atau marketing. BAB 4 BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1 Anggaran Biaya Tabel 3. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya No. Jenis Pengeluaran Sumber Dana Besaran Dana (Rp) 1. Bahan habis pakai Belmawa 5.800.000 Perguruan Tinggi 843.000 Instansi Lain (bila ada) 2. Sewa dan Jasa Belmawa 800.000 Perguruan Tinggi 500.000 Instansi Lain (bila ada) 3. Transportasi lokal Belmawa 1.500.000 Perguruan Tinggi 300.000 53


9 Instansi Lain (bila ada) 4. Lain-lain Belmawa 1.900.000 Perguruan Tinggi 357.000 Instansi Lain (bila ada) Jumlah 12.000.000 Rekap Sumber Dana Belmawa 10.000.000 Perguruan Tinggi 2.000.000 Instansi Lain (bila ada) Jumlah 12.000.000 4.2 Jadwal Kegiatan Tabel 4. Jadwal Kegiatan No Jenis Kegiatan Bulan Penanggung Jawab 1 2 3 4 1 Tahap Praproduksi Zurna Maisya A. a. Koordinasi Tim b. Konsultasi c. Survei Pasar 2 Tahap Pelaksanaan Devia Angelina S. Salsabiila Aisy a. Produksi dan Pasca Produksi b.Pemasaran c. Keuangan 3 Tahap Akhir Alfi Nuraeni M. Farrel R. A. a. Monitoring dan Evaluasi b. Laporan Kemajuan dan Laporan Akhir c. Pengembangan Usaha 54


10 DAFTAR PUSTAKA Dompeipen, E.J., Kaimudin, M., Dewa, R.P. 2016. Isolasi kitin dan kitosan dari limbah kulit udang. Majalah Biam, 12(1), 32-39. Putri, F.R., Sri, T. 2012. Efektifitas salep kitosan terhadap penyembuhan luka bakar kimia pada Rattus norvegicus. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 24 -30. Emma, S., Soeseno, N., Adiarto, T. 2010. Sintesis Kitosan, Poli (2-amino-2- deoksi- D-Glukosa), Skala Pilot Project dari Limbah Udang sebagai Bahan Baku Alternatif Pembuatan Biopolimer, Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia. Murnalis, Merita Yanita. (2019). Manfaat Lidah Buaya sebagai Masker untuk Perawatan Kulit Tangan Kering. Jurnal Pendidikan dan Keluarga, 11: 2549-9823. Suptijah, P., Jacoeb, A.M., dan Deviyanti, N. 2012. Karakterisasi dan Bioavailabilitas Nanokalsium Cangkang Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei). Journal. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan, FPIK, Institut Pertanian Bogor. Kelly, C.G., Agbagbo, F.K., Holtzapple, M.T. 2005. Lime treatment of shrimp head waste for the generation of highly digestible animal feed. J ofBioresource Technology. (97):1320-1515. Shelma R., Paul, W., Sharma C.P. 2008. Chitin Nanofibre Reinforced Thin Chitosan Films for Wound Healing Application. Trends Biomat. Art. Org., 22(2), 111-115. Kurnianingsih, A. 2004. Tanggap tanaman lidah buaya (Aloe vera Chinensis) terhadap pemberian mikroba dan abu janjang kelapa sawit di lahan gambut. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. 55


i DAFTAR ISI DAFTAR ISI.......................................................................................................i DAFTAR TABEL ..............................................................................................ii DAFTAR GAMBAR.........................................................................................iii BAB 1. PENDAHULUAN..................................................................................1 1.1 Latar Belakang..............................................................................................1 1.2 Tujuan ..........................................................................................................2 1.3 Manfaat.........................................................................................................2 1.4 Luaran ..........................................................................................................2 BAB 2. SKENARIO KONTEN .........................................................................3 2.1 Sinopsis ........................................................................................................3 2.2 Shooting Script..............................................................................................3 BAB 3. TAHAP PELAKSANAAN....................................................................6 3.1 Produksi........................................................................................................6 3.2 Pasca Produksi..............................................................................................7 3.3 Evaluasi ........................................................................................................8 BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ..................................................9 4.1 Anggaran Biaya ............................................................................................9 4.2 Jadwal Kegiatan............................................................................................9 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 10 LAMPIRAN ..................................................................................................... 11 Lampiran 1. Biodata Ketua, Anggota dan Dosen Pembimbing ........................... 11 Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan........................................................ 23 Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Pelaksana dan Pembagian Tugas ............. 24 Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Pelaksana .................................................. 25 Lampiran 5. Gambaran Pemecahan Masalah ...................................................... 26 56


ii DAFTAR TABEL Tabel 3.1. Tahap Produksi.................................................................................. 6 Tabel 3.2. Pasca Produksi .................................................................................. 7 Tabel 4.1. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya ............................................. 9 Tabel 4.2. Jadwal Kegiatan ................................................................................ 9 57


iii DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Scene 1 ................................................................................ 26 Gambar 2. Scene 2 ................................................................................ 26 Gambar 3. Scene 3 ................................................................................ 26 Gambar 4. Scene 4 ................................................................................ 27 Gambar 5. Scene 5 ................................................................................ 27 Gambar 6. Halaman Masuk ............................................................................... 27 Gambar 7. Pendaftaran ...................................................................................... 27 Gambar 8. Halaman Awal ................................................................................. 27 Gambar 9. Opsi Bahasa ..................................................................................... 28 Gambar 10. S&K .............................................................................................. 28 Gambar 11. Sertifikasi ...................................................................................... 28 Gambar 12. Pelatihan ........................................................................................ 28 Gambar 13. Detail Lowongan ........................................................................... 28 Gambar 14. Lowongan ...................................................................................... 28 58


1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pekerja Rumah Tangga (PRT) masih dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak padahal pekerjaannya memberikan kontribusi besar bagi kehidupan dan keberlangsungan kehidupan rumah tangga. Selain itu, PRT adalah salah satu pekerjaan yang jasanya banyak digunakan dikarenakan meningkatknya mobilitas masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari jumlah PRT di Indonesia diperkirakan sekitar 4,2 juta orang yang jumlahnya sudah semakin meningkat hingga saat ini (ILO dan Universitas Indonesia, 2015). Meskipun keberadaan PRT sangat diperlukan, gaji yang didapatkan kecil bahkan 20-30 persen di bawah UMR dan sangat tergantung kebaikan majikan. Berikut ini adalah rata-rata gaji PRT diberbagai kota di Indonesia diantaranya yaitu di Semarang rata-rata gaji perbulan Rp 600 ribu, di Makassar sekitar Rp 600-700 ribu, di Medan sekitar Rp 500-600 ribu, di Lampung sekitar Rp 400-500 ribu, serta di Yogyakarta berkisar Rp 700-800 ribu (Fadiyah Alaidrus, 2019). Selain gaji di bawah UMR, ternyata hak-hak PRT pun banyak tidak terpenuhi. Hal ini dikarenakan pekerjaannya tidak dihargai baik secara sosial maupun ekonomi, tidak diakui sebagai skill dan tidak diperhitungkan sebagai pekerjaan penting. Di Indonesia sendiri, PRT merupakan salah satu dari jenis pekerjaan sektor informal. Salah satu kelemahan utama dari sektor informal yaitu masih lemahnya perlindungan terhadap pekerja dalam berbagai aspek dikarenakan sampai saat ini belum ada payung hukum yang memberikan kepastian hukum. Terutama bagi PRT yang Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) sudah sering masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas), tetapi tidak juga dibahas oleh anggota dewan untuk kemudian disahkan menjadi UndangUndang (Egi Adyatama, 2021). Akibat ketiadaan payung hukum tentang PRT menimbulkan berbagai masalah sosial diantaranya yaitu pertama, masalah kontrak kerja yang menyebabkan PRT tidak memiliki status pekerjaan yang jelas sehingga rawan diberhentikan secara sepihak. Kedua, masalah jam kerja yang menyebabkan PRT memiliki jam kerja panjang (tidak dibatasi waktu), tidak ada istirahat, dan tidak ada hari libur. Ketiga, masalah jaminan sosial yang menyebabkan PRT tidak ada memiliki jaminan sosial berupa kesehatan PBI maupun ketenagakerjaan. Selain itu, rawan terjadi diskriminasi, kekerasan, pelecehan dan perendahan terhadap profesi (Nurhadi Sucahyo, 2020). Jika dibandingkan dengan perlindungan PRT yang bekerja di luar negeri/migran maka terlihat jelas perbedaannya. Perlindungan PRT di Indonesia masih berupa Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) sedangkan perlindungan PRT kerja di luar negeri sudah tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Pasal 7 dan 8 (Serafica Gischa, 2021). 59


2 Tentu saja hal tersebut dapat menimbulkan kesenjangan antar profesi Pekerja Rumah Tangga (PRT). Banyaknya permasalahan mengenai perlindungan dan kesejahteraan PRT di Indonesia ternyata tidak sesuai dengan tujuan SDGs ke-8 dan ke-10 yaitu pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak (decent work and economic growth) dan mengurangi kesenjangan (reduced inequalities). Oleh karena itu, dibutuhkan solusi yang dapat diusahakan dalam jangka pendek yaitu berupa aplikasi user friendly yang tidak hanya berisi pelatihan dan pendidikan tetapi juga terdapat penyaluran resmi dan pengaduan agar PRT mendapatkan perlindungan serta kesejahteraan sebagai pekerja. Sebagaimana prinsip pembangunan berkelanjutan (SDGs) yaitu “tidak seorangpun ditinggalkan” termasuk para PRT (KAPAL Perempuan, 2020). 1.2 Tujuan Tujuan dari pembuatan PKM-VGK ini, yaitu: a. Memberi informasi mengenai kondisi Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Indonesia. b. Memberi pandangan atas solusi untuk mengatasi permasalahan perlindungan dan kesejahteraan Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang terjadi. 1.3 Manfaat Manfaat yang diharapkan bagi khalayak sasaran, antara lain: a. Anggota kelompok Bagi anggota kelompok, ini sangat berguna untuk: 1) Melatih jiwa kritis dan peduli terhadap permasalahan yang ada. 2) Menciptakan gagasan yang diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan yang ada. b. Pemerintah Bagi pemerintah, ini sangat berguna untuk: 1) Menjadi pertimbangan untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) yang masih juga digantungkan. 2) Menjadi gambaran mengenai inovasi yang dapat diberikan khususnya dalam pendidikan dan pelatihan bagi Pekerja Rumah Tangga (PRT). c. Pekerja Rumah Tangga (PRT) Bagi Pekerja Rumah Tangga (PRT), ini sangat berguna untuk memperjuangkan pekerjaan layak dan memperoleh perlindungan serta kesejahteraan. 1.4 Luaran Luaran yang diharapkan dari PKM-VGK ini antara lain yaitu laporan kemajuan, laporan akhir, video YouTube, dan akun media sosial. 60


3 BAB 2. SKENARIO KONTEN 2.1 Sinopsis Cerita dimulai dengan kondisi pekerja rumah tangga di Indonesia yang masih mengalami banyak tantangan dan kesulitan seperti upah PRT yang kecil, ketidakjelasan mengenai kontrak kerja, tidak ada kepastian jam kerja, tidak ada jaminan sosial, seringkali mengalami diskriminasi dan pelecehan seksual yang membuat mereka merasa tidak aman dan terintimidasi, dan terjadi kesenjangan antara perlindungan PRT di Indonesia dengan perlindungan PRT di luar negeri. Hal ini diakibatkan dari ketiadaan payung hukum tentang PRT. Kondisi ini membuat pekerja rumah tangga menjadi sangat rentan terhadap kemiskinan dan kesulitan ekonomi yang besar. Diperlukan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat untuk memperbaiki kondisi pekerja rumah tangga dan memberikan perlindungan yang memadai bagi mereka. Oleh karena itu, digagas sebuah inovasi baru dengan mengangkat Sustainable Development Goals (SDGs) ke-8 dan ke-10 dengan membuat sebuah aplikasi “WellMaid: Aplikasi User Friendly Sebagai Solusi Guna Meningkatkan Kesejahteraan Pekerja Rumah Tangga” sebagai sarana untuk menyejahterakan dan melindungi Pekerja Rumah Tangga (PRT). 2.2 Shooting Script a. Adegan 1-Int. Lab. Multimedia Kreatif FEB Unsoed Seseorang sedang membahas kondisi PRT di Indonesia dengan gaya video talking head, diselingi dengan visualisasi data PRT di Indonesia dan video penggambaran PRT dari sumber lain. Narator “Pada saat ini pekerja rumah tangga di Indonesia masih mengalami banyak tantangan dan kesulitan. Pekerja rumah tangga seringkali dianggap sebelah mata dan kurang dihargai oleh masyarakat. Banyak pekerja rumah tangga yang tidak memiliki jaminan sosial dan hak-hak kerja yang memadai. Mereka juga seringkali tidak mendapatkan gaji yang sesuai dengan upah minimum dan bekerja dalam kondisi yang tidak sehat dan tidak aman.” “Pekerja rumah tangga seringkali mengalami diskriminasi dan pelecehan seksual yang membuat mereka merasa tidak aman dan terintimidasi. Mereka juga kurang mendapatkan akses pendidikan dan pelatihan keterampilan yang memadai sehingga sulit untuk naik kelas sosial.” “Selain itu, pekerja rumah tangga juga seringkali dipaksa untuk bekerja tanpa jam kerja yang teratur dan tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Hal ini menyebabkan banyak pekerja rumah tangga yang mengalami kelelahan dan stres yang berkepanjangan.” “Kondisi ini membuat pekerja rumah tangga menjadi sangat rentan terhadap kemiskinan dan kesulitan ekonomi yang besar. Diperlukan perhatian 61


4 serius dari pemerintah dan masyarakat untuk memperbaiki kondisi pekerja rumah tangga dan memberikan perlindungan yang memadai bagi mereka.” b. Adegan 2-Ext. FEB Unsoed Narator bertanya jawab mengenai permasalahan PRT di Indonesia melalui ahlinya. Narator “Apa saja permasalahan utama yang dihadapi oleh pekerja rumah tangga di Indonesia?” “Bagaimana pandangan ahli terhadap upah minimum pekerja rumah tangga di Indonesia yang masih rendah?” “Bagaimana pekerja rumah tangga dapat mendapatkan perlindungan hukum dan hak-hak kerja yang memadai?” c. Adegan 3-Int. Rumah Salah Satu Majikan Di Purwokerto Narator bertanya jawab mengenai permasalahan PRT di Indonesia melalui PRT salah satu majikan di Purwokerto Narator “Apa saja permasalahan yang sering dialami oleh pekerja rumah tangga di tempat kerja?” “Apakah Anda pernah tidak diperlakukan secara adil atau Anda merasa tidak aman di tempat kerja?” “Apa saja harapan Anda terhadap majikan dan pemerintah dalam meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan pekerja rumah tangga di Indonesia?” d. Adegan 4-Int. Lab. Multimedia Kreatif FEB Unsoed Narator menjelaskan solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh PRT. Pada bagian ini divisualisasikan kemudahan penggunaan aplikasi WellMaid bagi pemberi kerja dan pencari kerja/PRT. Narator “Oleh karena itu, digagas sebuah inovasi baru dengan mengangkat Sustainable Development Goals (SDGs) ke-8 dan ke-10 dengan membuat sebuah aplikasi “WellMaid: Aplikasi User Friendly Sebagai Solusi Guna Meningkatkan Kesejahteraan Pekerja Rumah Tangga” sebagai sarana untuk menyejahterakan dan melindungi Pekerja Rumah Tangga (PRT).” “Aplikasi ini didesain mudah digunakan (user friendly) dan berbasis website yang dapat digunakan dengan perangkat portabel (smartphone dan desktop). Aplikasi ini dilengkapi dengan berbagai fitur, diantaranya yaitu: 1) Pelatihan dan Sertifikasi BNSP Pelatihan dilakukan menggunakan blended learning. Untuk pelatihan berupa pembelajaran dilakukan secara online dengan tujuan agar dapat dilakukan dimana saja sedangkan untuk praktik dilakukan di basecamp tiap daerah. Sertifikasi akan terhubung langsung dengan LPK dan BNSP. 62


5 2) Penyaluran tenaga kerja resmi Digunakan sebagai sarana penyaluran yang resmi dari pemerintah guna mempertemukan pemberi kerja dengan pencari kerja. Selain itu, pemberi kerja dapat memilih pencari kerja sesuai dengan keinginan dan dapat melihat testimoni dari pemberi keja lainnya. 3) Layanan aduan perlindungan Digunakan untuk mengadukan permasalahan yang didapatkan selama kerja, layanan akan terhubung langsung dengan Pemerintah Daerah (PemDa) dan Kementerian Ketenagakerjaaan Republik Indonesia (Kemnaker). Tujuan dari layanan ini adalah agar PRT memperoleh perlindungan dengan cepat dan jelas. 4) Komunitas Pekerja Rumah Tangga (PRT) Digunakan sebagai forum yang dapat digunakan sebagai wadah atau tempat untuk bertukar pikiran. Selain itu, juga membangun silahturahmi dan persaudaraan antar pekerja.” “Tidak hanya menawarkan 4 fitur utama. Aplikasi “WellMaid” dirancang melalui fitur “tingkatan” yang disesuaikan dengan kompentensi yang dimiliki oleh pekerja rumah tangga itu sendiri. Bila pekerja rumah tangga belum memiliki sertifikasi kompetensi, maka secara otomatis akan masuk pada “tingkatan 0”. Pada tingkatan ini, user belum aktif untuk mencari lowongan pekerjaan dan harus melewati proses sertifikasi melalui fitur yang telah disediakan. Bila user telah memiliki sertifikasi akan dibagi menjadi 2 tingkatan, yaitu tingkatan 1 dan tingkatan 2. Tingkatan 1 untuk user yang baru memiliki sertifikasi dan Tingkatan 2 untuk user yang sudah memiliki sertifikasi yang beragam. Pada Tingkatan 1 dan Tingkatan 2 ini, user bisa mencari lowongan pekerjaan sesuai yang disediakan di dalam aplikasi. Dengan adanya fitur sertifikasi dan tingkatan ini maka diharapkan PRT dapat memiliki keterampilan yang memadai sehingga meningkatkan nilai jual PRT di pasar kerja” e. Adegan 5-Int. Lab. Multimedia Kreatif FEB Unsoed Narator memberikan closing statement. Narator “Permasalahan PRT di Indonesia dapat tertuntaskan dengan bantuan dari pemerintah sebagai eksekutor penyelamat kesejahteraan PRT. Kami percaya dengan WellMaid adalah aplikasi revolusioner sebagai solusi permasalahan PRT di Indonesia. karna WellMaid, better maid, better work for better life.” 63


6 BAB 3. TAHAP PELAKSANAAN 3.1 Produksi Tabel 3.1 Tahap Produksi Scene 1 Waktu Bulan ke-2 Minggu ke-2 Lokasi Lab. Multimedia Kreatif FEB Unsoed Wardrobe Kostum casual Properti Kursi Peralatan Tripod, lighting, kamera, perekam suara, stabilizer Durasi 48 detik Shot Keterangan Teknik Shot Video dan Audio Subject 1 Muncul intro video Editing Animasi dan musik pembuka - 2 Narator menjelaskan tentang kondisi PRT di Indonesia MS, CU; Eye Level; Static Narator melakukan gaya video talking head dan alunan musik dramatis Narator 3 Penjelasan tentang data PRT di Indonesia Editing Animasi data PRT di Indonesia dan VO serta alunan musik dramatis Narator 4 Stock footage tentang kondisi PRT Editing Stock footage digunakan untuk visualisasi lebih mendalam, VO serta alunan musik dramatis - Scene 2 Waktu Bulan ke-2 Minggu ke-3 Lokasi FEB Unsoed Wardrobe Kostum casual Properti Kursi, meja kecil Peralatan Tripod, lighting, kamera, perekam suara Durasi 48 detik Shot Keterangan Teknik Shot Video dan Audio Subject 1 Tanya jawab dengan ahli WS, MS, CU; Eye Level; Static Ahli dan penanya duduk di depan kamera, alunan musik dramatis Ahli dan Penanya Scene 3 Waktu Bulan ke-2 Minggu ke-3 Lokasi Rumah salah satu majikan di Purwokerto Wardrobe Kostum casual Properti Kursi, meja kecil Peralatan Tripod, lighting, kamera, perekam suara 64


7 Durasi 48 detik Shot Keterangan Teknik Shot Video dan Audio Subject 1 Tanya jawab dengan PRT WS, MS, CU; Eye Level; Static PRT dan penanya duduk di depan kamera, alunan musik dramatis PRT dan Penanya Scene 4 Waktu Bulan ke-2 Minggu ke-3 Lokasi Lab. Multimedia Kreatif FEB Unsoed Wardrobe Kostum casual Properti Kursi, meja kecil Peralatan Tripod, lighting, kamera, perekam suara Durasi 86 detik Shot Keterangan Teknik Shot Video dan Audio Subject 1 Narator menjelaskan solusi permasalahan PRT WS, MS, CU; Eye Level; Static Narator melakukan gaya video talking head dan alunan musik dramatis Narator 2 Visualisasi kemudahan penggunaan aplikasi WellMaid Editing Visualisasi aplikasi, VO serta alunan musik dramatis Narator Scene 5 Waktu Bulan ke-2 Minggu ke-2 Lokasi Lab. Multimedia Kreatif FEB Unsoed Wardrobe Kostum casual Properti Kursi Peralatan Tripod, lighting, kamera, perekam suara, stabilizer Durasi 10 detik Shot Keterangan Teknik Shot Video dan Audio Subject 1 Narator duduk di depan kamera MS, CU; Eye Level; Static Narator melakukan gaya video talking head dan alunan musik dramatis Narator 3.2 Pasca Produksi Tabel 3.2 Pasca Produksi Tahap Waktu Software Keterangan Pemilihan Video Bulan ke-3 Minggu ke-1 MPC-HC Memilih video yang akan digunakan. Editing Bulan ke-3 Minggu ke-1 s/d Minggu ke-3 Adobe Premiere Pro, Adobe After Effect, Teknik editing dokumenter dengan gaya vintage. Video dijadikan satu sesuai dengan naskah, diselipkan stock video 65


8 dan Adobe Illustrator dan video animasi agar video terlihat lebih menarik. Penyuntingan Suara Bulan ke-3 Minggu ke-1 s/d Minggu ke-3 Adobe Premiere Pro dan Adobe Audition Editing suara dilakukan dengan mengatur gain, reverb, dan menambahkan noise reduction. Kemudian untuk backsound akan menggunakan gaya dramatis, untuk efek suara bisa disesuaikan dengan visualisasi dalam video. Color Correction dan Color Grading Bulan ke-3 Minggu ke-3 Adobe Premiere Pro dan Red Giant Magic Bullet Gaya color correction dan color grading yang digunakan dalam video dokumenter ini yaitu bergaya sinematik dan vintage look. Rendering Bulan ke-3 Minggu ke-4 Adobe Media Encoder Tahapan akhir yang bertujuan untuk menggabungkan foto, video serta audio yang sudah diedit. Kemu-dian siap untuk diunggah ke Youtube. 3.3 Evaluasi Evaluasi yang akan dilakukan meliputi pengecekan seluruh aspek mulai dari praproduksi, produksi hingga pascaproduksi. Apabila terdapat kesalahan, maka akan dilakukan perbaikan. 66


9 BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1 Anggaran Biaya Berikut ini adalah anggaran biaya untuk memproduksi video, diantaranya: Tabel 4.1 Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya No Jenis Pengeluaran Sumber Dana Besaran Dana (Rp) 1 Bahan habis pakai Belmawa 3.605.000 Perguruan Tinggi 300.000 2 Sewa dan jasa Belmawa 855.000 Perguruan Tinggi 270.000 3 Transportasi local Belmawa 1.200.000 Perguruan Tinggi 300.000 4 Lain-lain Belmawa 990.000 Perguruan Tinggi 130.000 Jumlah 7.650.000 Rekap Sumber Dana Belmawa 6.650.000 Perguruan Tinggi 1.000.000 Jumlah 7.650.000 4.2 Jadwal Kegiatan Tabel 4.2 Jadwal Kegiatan No Jenis Kegiatan Bulan Penanggungjawab 1 2 3 4 1 Riset awal dan analisis Muhammad Raja Dinar Albani 2 Menyusun skenario Agung Prasetyo 3 Menyusun storyboard Agung Prasetyo 4 Persiapan peralatan Hanna Zakiy Raihan 5 Pengambilan gambar dan video Hanna Zakiy Raihan 6 Proses editing Bagus Destriawan Putra 7 Menyusun laporan Anindya Lunar Hidayah 8 Review dan evaluasi Semua 9 Mengunggah video ke YouTube Anindya Lunar Hidayah 67


10 DAFTAR PUSTAKA Adyatama, E. 2021. 17 Tahun RUU Perlindungan PRT Digantung, Bagaimana Nasibnya Kini?. URL: https://nasional.tempo.co/read/1472874/17-tahunruu-perlindungan-prt-digantung-bagaimana-nasibnya-kini/full&view=ok. Diakses pada 13 Maret 2022. Alaidrus, F. 2019. Nasib Pekerja Rumah Tangga dan Mengapa Mereka Perlu Dilindungi. URL: https://tirto.id/nasib-pekerja-rumah-tangga-dan-mengapamereka-perlu-dilindungi-ehpT. Diakses pada 11 Maret 2022. Dewan Perwakilan Rakyat. 2020. Urgensi dan Pokok-Pokok Penyusunan (R)UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga. URL: http://www.dpr.go.id/ dokakd/dokumen/RJ5-20200226-054930-5717.pdf. Diakses pada 11 Maret 2022. Gischa, S. 2021. Apa itu Pekerja Migran?. URL: https://www.kompas.com/skola/ read/2021/09/02/153000769/apa-itu-pekerja-migran-?page=all. Diakses pada 15 Maret 2022. KAPAL Perempuan. 2020. Hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) Internasional - KAPAL Perempuan. URL: https://kapalperempuan.org/hari-pekerja-rumahtangga-prt-internasional/. Diakses pada 17 Maret 2022. Sucahyo, N. 2020. PRT: Pekerja, Tetapi Bukan Pekerja. URL: https://www. voaindonesia.com/a/prt-pekerja-tetapi-bukan-pekerja-/5695609.html. Diakses pada 13 Maret 2022. 68


i DAFTAR ISI DAFTAR ISI............................................................................................................ i DAFTAR TABEL................................................................................................... ii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iii BAB 1. PENDAHULUAN ......................................................................................1 1.1 Latar Belakang ..........................................................................................1 1.2 Jenis dan Spesifikasi Teknis......................................................................2 1.3 Luaran........................................................................................................3 BAB 2. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA ............................................3 2.1 Kondisi Umum Lingkungan dan Potensi Sumber Daya............................3 2.3 Analisis Ekonomi Usaha ...........................................................................4 BAB 3. METODE PELAKSANAAN .....................................................................6 3.1 Teknik Membuat Komoditas Usaha..........................................................6 3.2 Strategi Penjualan dan Pemasaran.............................................................7 3.3 Rencana Keberlanjutan Usaha...................................................................8 BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN .......................................................9 4.1 Anggaran Biaya.........................................................................................9 4.2 Jadwal Kegiatan ........................................................................................9 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................10 LAMPIRAN...........................................................................................................11 Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota, serta Dosen Pendamping.....................11 Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan...........................................................21 Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Pelaksana dan Pembagian Tugas...............23 Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Pelaksana ....................................................25 69


ii DAFTAR TABEL Tabel 1. Competitor Mapping Produk Bone-Tab ....................................................4 Tabel 2. Cash In (Pemasukan) Per Empat Bulan.....................................................4 Tabel 3. Cash Out (Pengeluaran) Per Empat Bulan.................................................5 Tabel 4. HPP Produk Bone-Tab dan Bone-Tab Kids ..............................................5 Tabel 5. Arus Kas yang Menunjukkan Keberlanjutan Usaha ..................................5 Tabel 6. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya......................................................9 Tabel 7. Jadwal kegiatan..........................................................................................9 70


iii DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Perbandingan Penggunaan Tablet Effervescent di Masyarakat..............2 Gambar 2. Desain Kemasan Sachet Bone-Tab Kids................................................7 Gambar 3. Desain Kemasan Tabung Bone-Tab.......................................................7 71


1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tulang merupakan penopang tubuh yang harus dijaga. Kemunculan berbagai masalah tulang seperti asam urat, osteoporosis, hingga rematik patut diperhatikan agar tidak menjadi penyakit kronis seperti kanker tulang. Kanker tulang merupakan salah satu dari berbagai masalah tulang yang dapat terjadi pada seseorang. Jumlah penderita kanker tulang pada tahun 2019 berdasarkan usia sebagian besar penderita berusia dewasa (> 18 tahun) sebanyak 71.9% (Hanif, 2021). Menurut WHO, faktor pola makan mencakup sampai 20% dari penyebab munculnya kanker tulang di negara-negara berkembang seperti Indonesia (Aty, 2022). Maka dari itu, perlu adanya kebiasaan baru untuk memulai hidup sehat ditambah dengan asupan tambahan seperti suplemen untuk menjaga kesehatan tulang dan mencegah terjadinya kanker tulang. Di Indonesia banyak beredar produk suplemen untuk menjaga kesehatan tulang. Namun, produk-produk tersebut tidak semuanya dapat dikonsumsi oleh anakanak berumur 10 tahun. Produk suplemen untuk memelihara kesehatan tulang sebagian besar berbahan dasar vitamin D saja. Study Calgary menunjukkan bahwa dosis penggunaan vitamin D yang tinggi dalam jangka panjang dapat menurunkan BMD dan kualitas tulang (Bouillon, dkk., 2022). Maka dari itu, merawat kesehatan tulang tidak hanya membutuhkan vitamin D saja, tetapi juga vitamin dan mineral lain. Dari adanya permasalahan tersebut, penulis menggagas suatu ide berupa produk suplemen untuk merawat kesehatan tulang dan mencegah terjadinya kanker tulang yang terinspirasi dari banyaknya tumbuhan pedada dan sirsak di lingkungan sekitar. Buah pedada tidak beracun, namun jarang dikonsumsi langsung. Buah ini memiliki kandungan vitamin A, B, B2, dan C untuk memelihara kesehatan tulang serta daya tahan tubuh (Alharanu dan Eviana, 2020). Terdapat pula kandungan flavonoid sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas (Dari, Ananda, dan Junita, 2020). Sedangkan, daun sirsak mengandung vitamin C, anti inflamasi, kalsium, dan fosfor untuk menjaga kesehatan tulang (Ummah dan Badrus, 2022). Daun ini juga mengandung acetogenin yang bersifat sitotoksik terhadap sel kanker (Pertiwi, Arisanty, dan Linosefa, 2020). Kandungan tersebut baik dikonsumsi untuk menjaga kesehatan sekaligus mencegah terjadinya berbagai masalah tulang. Produk suplemen berbentuk kapsul sering kali membuat resah sebagian orang karena mempunyai rasa pahit dan bentuk tidak praktis sehingga kurang diminati. Pengolahan produk suplemen tidak hanya berbentuk kapsul, tetapi juga bisa dalam bentuk tablet effervescent. Analisis minat menggunakan Google Trend 72


2 terhadap produk telah dilakukan dengan membandingkan produk menggunakan kata yang lebih populer di masyarakat dibandingkan dengan kapsul dan minuman serbuk sebagai sediaan produk pesaing. Gambar 1. Perbandingan Penggunaan Tablet Effervescent di Masyarakat Pada gambar tersebut terlihat bahwa tablet effervescent lebih unggul dibanding dengan kapsul dan minuman serbuk. Hal ini dikarenakan tablet effervescent memiliki bentuk praktis dan mudah dibawa sehingga banyak disukai orang. Selain itu, tablet effervescent cepat larut di dalam air tanpa harus diaduk seperti minuman serbuk. Dengan demikian, produk Bone-Tab hadir dalam bentuk tablet effervescent untuk berbagai kalangan, mulai dari umur 10-40 tahun dengan varian rasa yang enak. Selain bertujuan untuk memaksimalkan potensi buah pedada dan daun sirsak sebagai suplemen, Bone-Tab juga dibuat dalam kemasan ekonomis sehingga masyarakat dapat menjangkaunya dengan mudah. 1.2 Jenis dan Spesifikasi Teknis Inovasi yang akan dijual adalah produk suplemen tulang Bone-Tab yang dibuat dari buah pedada dan daun sirsak. Secara teknis, pembuatan produk suplemen Bone-Tab dilakukan di Laboratorium Farmasetika dengan daya dukung bahan baku tersedia melimpah dan mudah didapat. Dalam tiap tablet Bone-Tab mengandung vitamin A, B, B2, C, dan anti inflamasi, kalsium, serta fosfor untuk memelihara kesehatan tulang. Selain itu, juga terdapat kandungan flavonoid dan acetogenin yang mampu melawan radikal bebas dan antikanker. Selain itu, penggunaan buah pedada dan daun sirsak merupakan bahan herbal yang mendukung kearifan lokal. Bone-Tab dikemas dalam bentuk tablet effervescent ekonomis sehingga memiliki nilai praktis bagi konsumen. Produk ini dapat dikonsumi oleh anak-anak mulai usia 10 tahun hingga dewasa. Produk BoneTab dijual dalam dua ukuran, yaitu kemasan sachet dan tabung untuk dewasa juga anak-anak dengan varian rasa mint dan jeruk. Harga yang ditawarkan tergolong ekonomis, mulai harga Rp29.000 untuk produk sachet dan Rp48.000 73


3 untuk produk tabung. 1.3 Luaran 1) Menghasilkan laporan kemajuan. 2) Menghasilkan laporan akhir. 3) Menghasilkan produk berupa imunostimulan tablet effervescent dari buah pedada dan daun sirsak yang memiliki mutu baik dan kualitas lebih kuat. 4) Menghasilkan artikel ilmiah yang akan diunggah ke Simbelmawa. 5) Menghasilkan akun media sosial berupa Instagram, WhatsApp dan market place yang diiklankan. BAB 2. GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA 2.1 Kondisi Umum Lingkungan dan Potensi Sumber Daya Buah pedada merupakan buah mangrove yang hidup di perairan payau. Bagian dasarnya dibungkus kelopak bunga, mempunyai aroma yang sedap, rasa asam, dan tidak beracun. Buah pedada berbentuk bulat, ujung bertangkai, dan berwarna hijau. Dari segi ketersediaan buah pedada sangat melimpah dan bagi masyarakat pesisir mudah mendapatkan buah mangrove tanpa mengeluarkan biaya yang banyak. Buah pedada banyak ditemui di daerah pantai selatan tepatnya di daerah Cilacap. Upaya pemanfaatan buah mangrove sebagai sumber pangan masih terbatas pada program pemberdayaan penduduk yang hidup di area hutan mangrove. Pengetahuan tentang manfaat mangrove dan keterampilan pengolahannya perlu lebih ditingkatkan supaya pemanfaatannya lebih optimal. Produk olahan dari buah mangrove memiliki prospek yang bagus jika diproduksi dengan standar mutu dan didukung oleh promosi yang baik. Untuk memanfaatkan kandungan gizinya, buah pedada dapat diolah menjadi produk olahan pangan yang bermanfaat untuk kesehatan salah satunya untuk pencegahan kanker tulang. Buah pedada ini bisa diformulasikan dengan ekstrak daun sirsak yang mengandung senyawa acetogenin yang bermanfaat mencegah berbagai penyakit dan berperan serta dalam melindungi sistem kekebalan tubuh serta mencegah infeksi yang mematikan dan mampu melawan dua belas jenis sel kanker. Daun sirsak merupakan salah satu bagian dari tanaman herbal yang banyak dimanfaatkan di bidang kesehatan. Daun sirsak memiliki bentuk telur atau lanset, ujung runcing, tepi rata, pangkal meruncing, pertulangan menyirip, dan berwarna hijau kekuningan. Daun sirsak bisa didapatkan dari petani pohon sirsak yang bisa ditemui di daerah Pati, Jawa Tengah. 2.2 Peluang Pasar Peluang pasar bagi produk ini adalah masyarakat yang beresiko menderita penyakit kanker tulang, baik itu anak-anak maupun orang dewasa. Kanker tulang 74


4 beresiko tinggi dari gaya hidup yang tidak sehat. Selain itu, tulang yang telah terpapar radiasi juga memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker tulang. Dalam usaha ini kami menyajikan produk suplemen herbal berbentuk tablet effervescent. Adanya produk suplemen herbal bagi penderita kanker yang di pasaran, penulis yakin bahwa produk Bone-Tab memiliki peluang besar di pasaran karena produk ini diformulasikan dalam bentuk tablet effervescent sehingga lebih praktis dan aman bagi lambung ketika dikonsumsi. Analisis peluang pasar dilakukan sebagai berikut: a. Jumlah penduduk di Banyumas umur 10-40 tahun = 730.887 b. Peluang pasar (pembeli produk) 1% x 730.887= 7.309 Jadi, total target pasar sebanyak 7.309 penduduk. c. Target penjualan per tahun = 1.320 (660 produk Bone-Tab dan 660 produk Bone-Tab Kids) Tabel 1. Competitor Mapping Produk Bone-Tab Kekuatan Produk Produk Bone-Tab Carcinovit Madu Max Qnc Gamat Fleksibel ✓ x x ✓ Harga Murah ✓ x x x Kandungan Herbal ✓ ✓ ✓ x Sasaran Anakanak dan Dewasa ✓ x x x Ada Varian Rasa ✓ x x x Berdasarkan hal-hal di atas, target penjualan Bone-Tab sangat mungkin dicapai usaha ini karena peluang pasar lebih besar daripada target penjualan. Selain itu, apabila penjualan online dilakukan secara optimal maka berpeluang besar untuk terserap pasar di luar Kabupaten Banyumas. 2.3 Analisis Ekonomi Usaha Analisis ekonomi usaha bertujuan untuk mengevaluasi pendanaan dan arus kas untuk memastikan apakah usaha tersebut layak atau tidak. Cash in (pemasukan) merupakan hasil penjualan empat bulan pertama. Tabel 2. Cash In (Pemasukan) Per Empat Bulan Produk Jumlah Harga Satuan Total Bone-Tab (Rasa mint isi 10 tablet) 220 48.000 10.560.000 Bone-Tab Kids (Rasa jeruk isi 5 tablet) 220 29.000 6.380.000 Total (440 produk) 16.940.000 75


5 Adapun cash out (pengeluaran) terdiri dari biaya investasi, biaya tetap, dan biaya variable. Tabel 3. Cash Out (Pengeluaran) Per Empat Bulan Deskripsi Total Biaya Investasi 2.253.000 Biaya Tetap 4.610.000 Biaya Variabel (Untuk produksi 4 bulan) 5.103.000 Total 11.966.000 Tabel 4. HPP Produk Bone-Tab dan Bone-Tab Kids BEP Unit = Biaya tetap/ (Harga jual – Biaya variabel per unit) = Rp4.610.000/ (Rp77.000 – Rp11.598) = 70 unit BEP Rupiah = Biaya Tetap/(1 – (Biaya variabel per unit/Harga Jual)) = Rp4.610.000/(1 – (Rp11.598/Rp77.000)) = Rp5.423.529 Analisis finansial dilakukan melalui analisis usaha selama 24 bulan dengan asumsi suku bunga per tahun sebesar 8% sehingga discount rate yang digunakan per bulan adalah 1%. Berdasarkan tabel cash flow, analisis finansial usaha yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut: Tabel 5. Arus Kas yang Menunjukkan Keberlanjutan Usaha URAIAN BULAN (per-empat bulan) 0 I II III IV V VI CASH INFLOWS Dalam ribu rupiah Penerimaan Penjualan 16.940 16.940 16.940 16.940 16.940 16.940 Total Arus Masuk 16.940 16.940 16.940 16.940 16.940 16.940 CASH OUTFLOWS Biaya Investasi 2.253 Biaya Variabel 5.103 5.103 5.103 5.103 5.103 5.103 Biaya Tetap 4.610 4.610 4.610 4.610 4.610 4.610 HPP Bone-Tab HPP Bone-Tab Kids = Total Biaya/Jumlah unit produksi = Rp7.943.000/220 = Rp36.105 = Total Biaya/Jumlah unit produksi = Rp4.023.000/220 = Rp27.195 76


6 Pajak penjualan (PPH Final 0,5%) 18 18 18 18 18 18 Total Arus Keluar 2.253 9.731 9.731 9.731 9.731 9.731 9.731 NET CASH FLOW (A-B) 2.253 7.209 7.209 7.209 7.209 7.209 7.209 Discount Factor 1% 1 0,99 0,98 0,97 0,96 0,95 0,94 Present Value (DF 1%) 2.253 7.136,91 7.064,82 6.992,7 3 6.920,6 4 6.848,5 5 6.776,46 Cumulative PV 2.253 4.883,91 11.948,7 3 18.941, 46 25.862, 1 32.710, 65 39.487,1 1 BAB 3. METODE PELAKSANAAN 3.1 Teknik Membuat Komoditas Usaha Proses pembuatan produk Bone-Tab akan dilakukan di Gedung Integrated Academic Building, tepatnya di Laboratorium Farmasetika Universitas Jenderal Soedirman. Berikut adalah tahapan pembuatan produk tablet effervescent buah pedada dan daun sirsak. 1) Persiapkan alat dan bahan yang diperlukan: Peralatan yang diperlukan meliputi mortir, stamper, oven, loyang, ayakan dengan nomor mesh 16, kertas perkamen, spatula, sudip, pisau, blender, dll. Bahan yang dipersiapkan meliputi buah pedada, daun sirsak, natrium bikarbonat, asam sitrat, asam tartrat, Polietilen Glikol 6000, Polivinilpirolidon, Maltodekstrin, pewarna, dan perisa jeruk/perisa mint. 2) Pisahkan bagian kulit buah pedada dan dagingnya. Cuci bersih buah pedada dan daun sirsak. Potong buah pedada menjadi bagian-bagian kecil. 3) Tempatkan potongan buah pedada dan daun sirsak masing-masing ke dalam loyang yang berbeda. Masukkan loyang kedalam oven, lalu panggang hingga kadar air pada buah pedada menjadi kurang dari 10%, dan daun sirsak menjadi kering. 4) Blender simplisia buah pedada menjadi serbuk buah pedada. Lakukan hal yang sama pada daun sirsak sehingga menjadi serbuk daun sirsak. 5) Buatlah campuran masing-masing bahan (asam dan basa) dalam mortir yang terpisah. Campurkan bahan aktif (serbuk pedada dan daun sirsak) ke dalam campuran asam dan basa tersebut, aduk dengan stamper hingga homogen. 6) Ayak campuran bahan menggunakan ayakan bernomor mesh 16. 77


7 7) Tuangkan campuran tersebut ke dalam loyang yang sudah dilapisi kertas perkamen. Masukkan ke dalam oven pada suhu 60°. 8) Lakukan pengayakan dengan menggunakan ayakan bernomor mesh 16. Ayak hingga granul effervescent terpisah dengan granul lainnya. 9) Lakukan uji fisik sediaan granul effervescent meliputi uji waktu alir, uji sudut diam, uji pH, serta uji waktu larut. Apabila granul effervescent sudah lolos dalam tahap uji stabilitas fisik, granul effervescent dapat dibuat sebagai tablet effervescent, dengan proses pembuatan manual. 10) Kemas dalam botol tabung untuk dewasa dan sachet bagi anak-anak, serta diberi label produk. Gambar 2. Desain Kemasan Sachet Bone-Tab Kids Gambar 3. Desain Kemasan Tabung Bone-Tab 3.2 Strategi Penjualan dan Pemasaran a. Promosi secara online melalui media sosial Intensitas penggunaan internet yang semakin meningkat dalam masyarakat menjadi sebuah kesempatan dalam proses promosi produk. Promosi produk dilakukan melalui berbagai aplikasi sosial media, meliputi Instagram dengan nama akun @bone_tab dan promosi melalui WhatsApp b. Bekerja sama dengan mitra usaha Proses pemasaran dan promosi produk dilakukan dengan bekerja sama dengan mitra usaha, yaitu minimarket yang berada di sekitar Purwokerto. 78


8 Dengan mitra usaha yang tersebar luas, diharapkan produk akan menjangkau lebih dalam di masyarakat. Sehingga produk akan semakin dikenal dan menarik minat masyarakat untuk membeli produk tersebut. c. Penjualan melalui market place Pada masa sekarang, masyarakat sudah tidak asing lagi dengan situs perbelanjaan online. Belanja online dinilai lebih efektif dan efisien karena dapat menghemat waktu dan tenaga. Penjualan produk secara online akan memudahkan masyarakat ketika ingin membeli produk. Selain itu, jangkauan situs perbelanjaan online akan lebih luas karena dapat dikirim ke seluruh Indonesia. Oleh karena itu, penjualan melalui market place akan memberikan potensi yang besar untuk menarik minat konsumen. d. Giveaway dan diskon produk Dengan memberikan produk secara gratis masyarakat akan mengenal tentang produk dan menjadi tertarik dengan produk tersebut. Selain itu, adanya pemberian diskon produk akan menambah ketertarikan masyarakat, khususnya oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan produk tersebut. 3.3 Rencana Keberlanjutan Usaha Dalam mengembangkan usaha produk Bone-Tab terdapat perencanaan usaha sehingga akan menjamin keberlanjutan usaha agar mampu berkembang dan bersaing dengan produk lainnya di pasaran. Perencanaan usaha pada tahun pertama yaitu dengan dilakukan launching produk dan melakukan pemasaran produk di daerah Purwokerto. Pemasaran produk juga dilakukan hingga menyebar di wilayah Banyumas, meliputi Purwokerto Utara, Purwokerto Selatan, Ajibarang, dan lainnya. Kemudian, pada tahun kedua diajukan perizinan usaha dan izin edar produk, sehingga dengan adanya legalitas produk tingkat kepercayaan konsumen akan meningkat dan berdampak pada penjualan produk. Pada tahun ketiga, perluasan pemasaran semakin menyebar hingga ke luar wilayah Banyumas seperti kota/kabupaten di sekitarnya. Selain itu, pada tahun ketiga ini juga disediakan layanan konsultasi produk melalui via WhatsApp. Kemudian, pada tahun berikutnya akan bekerja sama dengan influencer terkenal yang memiliki pengetahuan di bidang kesehatan. Pada tahun kelima membagikan tips-tips kesehatan, podcast dengan narasumber terkenal, dan video kreatif yang akan diunggah di akun media sosial. 79


9 BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1 Anggaran Biaya Tabel 6. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya No Jenis Pengeluaran Sumber Dana Besaran Dana 1. Bahan habis pakai Belmawa Rp6.081.000 Perguruan Tinggi Rp800.000 Instansi Lain Rp - 2. Sewa dan jasa Belmawa Rp1.328.000 Perguruan Tinggi Rp372.000 Instansi Lain Rp - 3. Transportasi lokal Belmawa Rp1.257.000 Perguruan Tinggi Rp553.000 Instansi Lain Rp - 4. Lain-lain Belmawa Rp1.309.000 Perguruan Tinggi Rp266.000 Instansi Lain Rp - Jumlah Rp11.966.000 Rekap Sumber Dana Belmawa Rp9.975.000 Perguruan Tinggi Rp1.991.000 Instansi Lain Rp - Jumlah Rp11.966.000 4.2 Jadwal Kegiatan Tabel 7. Jadwal kegiatan No Jenis Kegiatan Bulan Person Penanggung 1 2 3 4 5 Jawab 1 Persiapan: Administrasi Linda Aulia Nuraini Alat dan bahan Laely Hidayah 2 Pelaksanaan: Proses Produksi Ai Munawaroh S. Promosi dan Publikasi Khairina Rahmania P. Pemasaran hasil produk Vina Helmi Nur Istiqomah 3 Monitoring dan Evaluasi Khairina Rahmania P. 4 Laporan Akhir Khairina Rahmania P. 80


10 DAFTAR PUSTAKA Alharanu, P.R. dan Eviana, N. 2020. Peanfaatan Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) pada Pembuatan Permen Jelly. Jurnal EDUTURISMA. 4(2): 53-64. Aty, Y.M.V. 2022. Gaya Hidup Penderita Kanker. Elex Media Komputindo. Bouillon, R., Manousaki, D., Rosen, C., Trajanoska, K., Rivadeneira, F., dan Richards, J. B. 2022. The Health Effects of Vitamin D Supplementation: Evidence from Human Studies. Nature Reviews Endocrinologi. 18: 96- 110 Dari, D.W., Ananda, M., dan Junita, D. 2020. Karakteristik Kimia Sari Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) selama Penyimpanan. Jurnal Teknologi Pertanian Andalas. 24(2): 189-195. Febriani, D., Mulyanti, D. dan Rismawati, E. 2015. Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata Linn). Prosiding Farmasi. 1(2): 475-480. Hanif, M.R. 2021. Angka Kejadian Pasien Tumor Tulang yang Telah Melakukan Pemeriksaan Foto X-rays di Instalasi Radiologi di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Periode Tahun 2013-2018. MANUJU: Malahayati Nursing Journal. 3(4): 571-577. Manalu, R.D.E., Salamah, E., Retiaty, F. dan Kurniawati, N. 2013. Kandungan Zat Gizi Makro dan Vitamin Produk Buah Pedada (Sonneratia caseolaris). Nutrition and Food Research. 36(2): 135-140. Nadzif, F.Q., Rafyda, Z.N., Puspitasari, R.D. dan Harwoko. 2021. Formulasi dan Evaluasi Sifat Fisik Granul Efervesen Buah Ciplukan. Purwokerto. Jurusan Farmasi Unsoed. 10 menit. Pertiwi, W., Arisanty, D., dan Linosefa. 2020. Pengaruh Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata lin) Terhadap Viabilitas Cell Line Kanker Payudara T47D Secara In Vitro. Jurnal Kesehatan Andalas. 9(1): 165–170. Rusmanah, E., Irawan, A.W. dan Andria, F. 2019. Implementasi Digital Marketing Guna Peningkatan Peluang Pasar Produksi Hasil Ternak Puyuh Masyarakat Desa Galuga. Jurnal ABM Mengabdi. 6(1): 14-25. Ummah, K. dan Badrus, A.R. 2022. Efektivitas Air Rebusan Daun Sirsak (Annona muricata linn) Terhadap Penurunan Batuk Pilek pada Balita Usia 1-5 Tahun di PMB Ny. Dewi Juhar, S.St. Desa Mrandung Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan. Jurnal Ilmiah Obsign. 14(2): 180-186. 81


i DAFTAR ISI DAFTAR ISI............................................................................................................ i BAB 1. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 3 1.3 Tujuan Khusus Riset ............................................................................. 3 1.4 Manfaat Riset ........................................................................................ 4 1.5 Keutamaan Riset ................................................................................... 4 1.6 Temuan yang Ditargetkan..................................................................... 4 1.7 Kontribusi Riset terhadap Ilmu Pengetahuan........................................ 4 1.8 Luaran Riset .......................................................................................... 4 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 4 2.1 Riset Terkait.......................................................................................... 4 2.2 Landasan Teori...................................................................................... 5 BAB 3. METODE RISET....................................................................................... 5 3.1 Fokus Riset............................................................................................ 6 3.2 Disain Riset........................................................................................... 6 3.3 Lokasi Riset........................................................................................... 6 3.4 Teknik Pemilihan Informan .................................................................. 6 3.5 Sumber Data.......................................................................................... 7 3.6 Metode Pengumpulan dan Teknik Analisis Data.................................. 7 3.7 Keabsahan Data..................................................................................... 7 3.8 Prosedur Riset ....................................................................................... 7 3.9 Penyimpulan Hasil Riset....................................................................... 8 BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ...................................................... 8 4.1 Anggaran Biaya..................................................................................... 8 4.2 Jadwal Kegiatan .................................................................................... 9 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 9 LAMPIRAN-LAMPIRAN.................................................................................... 11 Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota serta Dosen Pendamping..................... 11 Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan.......................................................... 22 Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Penyusun dan Pembagian Tugas.............. 23 Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Pelaksana ................................................... 25 82


1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam konteks hubungan dan tanggung jawabnya terhadap publik, salah satu kewajiban pemerintah adalah menyelesaikan masalah publik. Masalah publik merupakan permasalahan, nilai, kebutuhan, atau kepentingan masyarakat atau publik yang belum terpenuhi dan tidak dapat mereka penuhi sendiri. Ciri-ciri masalah publik adalah dapat diidentifikasikan, diperbaiki atau dicapai melalui tindakan publik oleh government atau governance. Sayangnya, terbatasnya sumber daya kebijakan yang dimiliki pemerintah berbanding terbalik dengan banyaknya dan kompleksitas masalah publik. Pemerintah pun harus membuat skala prioritas untuk memecahkan permasalahan publik dengan mengalokasikan sumber daya terbatas melalui sebuah kebijakan publik. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan publik. Apabila pemecahan masalah publik perlu keberlanjutan, maka kebijakan atau program tersebut juga diharapkan terus berlanjut atau sustainable. Salah satu contoh masalah publik yang pemecahannya memerlukan keberlanjutan kebiajakan atau program adalah kemiskinan. Pemberdayaan masyarakat merupakan prasyarat mutlak atau pendekatan/ strategi yang dianggap paling tepat untuk penanggulangan kemiskinan (Nugroho, 2011; Triani, 2020). Namun, faktanya beberapa program pemberdayaan tidak sustainable. Program yang dimaksud antara lain adalah Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) yang merupakan program pengentasan kemiskinan di era Orde Baru serta Program Nasional Pemberdayaan Mayarakat (PNPM) di sebagian kelurahan atau desa setelah program dinyatakan selesai secara program pada akhir 2014. Kegagalan dalam program pengentasan masyarakat miskin yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat penting untuk dikaji agar diketahui penyebab kegagalannya sehingga sustainabilitas program yang diharapkan dapat terwujud. Sebagaimana dinyatakan Nugroho (2011) dan Triani (2020) di atas, program pengentasan masyarakat miskin yang dianggap tepat adalah yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat, sebagaimana PNPM. Terdapat dua model PNPM, yaitu PNPM Mandiri Perdesaan dan PNPM Mandiri Perkotaan. Kedua program tersebut dimulai pada tahun 2007 dan dihentikan secara program pada akhir 2014. Selama tujuh tahun berjalan sudah banyak sumber daya kebijakan yang dialokasikan. Dimulai ketika masih bernama Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) dan kemudian berubah menjadi PNPM Mandiri Perkotaan, setiap kelurahan menerima dana minimal Rp250 juta. Tetapi, outcome dan impact dari dana besar yang dialokasikan tidak sesuai dengan harapan karena banyak PNPM Mandiri Perkotaan yang tidak sustainable di kelurahan penerima program. Di Kabupaten Banyumas terdapat 3.509 kelompok masyarakat miskin perkotaan, yang nantinya membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), yang diberdayakan melalui PNPM Mandiri Perkotaan. Tetapi, hanya 685 atau 83


2 19.5% KSM yang kegiatan pemberdayaannya masih berjalan. Dana PNPM Mandiri Perkotaan Kabupaten Banyumas mencapai Rp73.745.000.000,00 yang digunakan untuk kegiatan prasarana, lingkungan, dan ekonomi. Total modal bergulir di KSM sebesar Rp13.615.591.934,00 dengan jumlah simpanan sebesar Rp445.220.595,00 dan pinjaman sebesar Rp13.126.258.309,00. Namun demikian, terdapat wilayah sasaran PNPM Mandiri Perkotaan yang pemberdayaan masyarakatnya masih sustainable pasca-dihentikannya program tersebut, yaitu di Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran. Meskipun secara administratif pemerintahan Sambeng Wetan adalah sebuah desa, namun lokasinya yang relatif dekat dengan Kota Purwokerto dan karakteristiknya yang sudah seperti daerah perkotaan, maka ditetapkan tidak menerima PNPM Mandiri Perdesaan, tetapi PNPM Mandiri Perkotaan. Melalui PNPM Mandiri Perkotaan, desa ini menerima modal sebesar Rp21.350.408,00 pada tahun 2009. Dengan modal tersebut PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran terus berjalan hingga saat ini, meskipun tidak lagi memperoleh dana dari pusat dan secara program telah dihentikan. Sustainabilitas PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran terlihat dari adanya program-program KSM yang ada desa tersebut. Program-program tersebut di antaranya adalah pinjaman bergulir untuk masyarakat, bantuan untuk pembangunan fasilitas umum, seperti sekolah sekitar, pemeliharaan penerangan jalan, pemeliharaan saluran irigasi, serta bantuan bencana, seperti kebakaran rumah warga. Berikut data perkembangan PNPM di Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran per Desember tahun 2018-2022. Tabel 1.1. Data Perkembangan PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan Tahun Jumlah Laba (Rp) 2013 16.022.543 2014 23.963.758 2015 34.449.675 2016 40.146.613 2017 49.722.270 2018 53.819.155 2019 52.921.721 2020 33.962.013 2021 21.664.540 2022 23.284.711 Sumber: Data Perkembangan Laba PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan Data di atas menunjukan bahwa PNPM Mandiri Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran mendapatkan laba semenjak awal berjalan. Bahkan, laba yang didapatkan meningkat setiap tahunnya. Penurunan laba hanya terjadi pada tahun 2019 sampai 2021 karena adanya pandemi Covid-19. Namun, jika dilihat 84


3 dari jumlah laba per bulan pada tahun tersebut pun PNPM Mandiri Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Sumbang mengalami kenaikan laba. PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran yang masih sustainable di tengah banyaknya program serupa yang unsustainable menarik untuk dikaji. Adapun argumen yang mendasarinya adalah: (1) PNPM Mandiri Perkotaan didesain untuk masyarakat perkotaan, yang jika dari sisi struktur sosial dan kulturnya berbeda dengan masyarakat perdesaan. Meski Desa Sambeng Wetan secara geografis relatif dekat dengan Purwokerto, namun kultur pedesaannya masih relatif kental; (2) Pelaksanaan program ketika program tersebut masih berjalan tentu berbeda dengan pelaksanaan program, yang secara program telah dihentikan. Ketika program masih berjalan, perhatian dan pengawasan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi senantiasa menyertainya, yang tentu berbeda dengan program yang sudah dinyatakan berhenti atau selesai. PNPM Mandiri Perkotaan telah dinyatakan selesai secara program pada akhir tahun 2014, namun PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan Kecamatan Kembaran tetap berjalan meskipun tidak lagi mendapat dana dari pemerintah pusat, tidak ada lagi pemantauan atau pengawasan, dan seterusnya. Patut diduga ada makna tertentu atas PNPM Mandiri Perkotaan, baik oleh pengelola program maupun anggota-anggota KSM; (3) PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan Kecamatan Kembaran yang masih sustainable diperlukan informasi teoritiknya agar bisa direplikasi pada program dan lokasi pelaksanaan program yang relatif tidak jauh berbeda dengan Desa Sambeng Wetan. Replikasi pada program serupa dalam upaya perwujudan sustainabilitas program pemberdayaan masyarakat akan berpotensi untuk mengentaskan masyarakat miskin. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dikaji melalui riset ini adalah: a. Bagaimana pelaksanaan desain PNPM Mandiri Perkotaan di kawasan perdesaan? b. Apa makna PNPM Mandiri Perkotaan bagi pelaksana program dan anggota KSM Desa Sambeng Wetan? c. Mengapa PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran tetap sustainable? 1.3 Tujuan Khusus Riset Sesuai dengan rumusan masalah yang dikaji, tujuan riset ini adalah: a. Menjelaskan pelaksanaan desain PNPM Mandiri Perkotaan di kawasan perdesaan. b. Menjelaskan makna PNPM Mandiri Perkotaan bagi pelaksana program dan anggota KSM Desa Sambeng Wetan. c. Menjelaskan penyebab PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran tetap sustainable hingga sekarang ini. 85


4 1.4 Manfaat Riset Riset ini diharapkan dapat menjadi media literasi dan menambah wawasan bagi peneliti serta masyarakat umum. Riset ini juga diharapkan dapat menjadi input strategis bagi pemerintah dalam upaya mewujudkan sustainabilitas PNPM Mandiri Perkotaan pada khususnya dan program pemberdayaan masyarakat pada umumnya. Dengan sustainablenya program pemberdayaan masyarakat maka akan dapat mendukung sustainabilitas penanggulangan kemiskinan sehingga dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan penanggulangan kemiskinan nasional dan pencapaian tujuan nomor satu SDGs yaitu “mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di mana pun”. 1.5 Keutamaan Riset Sustainabilitas PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan di tengah banyaknya program serupa yang tidak sustainable menarik untuk dikaji. Selain memperkaya studi program pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan berkelanjutan, riset ini diharapkan mampu menemukan faktor-faktor teoritik lokal penyebab sustainabilitas PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan Kecamatan Kembaran. 1.6 Temuan yang Ditargetkan Riset ini ditargetkan mampu menghasilkan temuan berupa faktor-faktor teoritik lokal penyebab sustainabilitas PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan Kecamatan Kembaran untuk diterapkan/direplikasi pada program serupa di tempat-tempat lainnya yang memiliki kemiripan dengan lokasi riset. 1.7 Kontribusi Riset Terhadap Ilmu Pengetahuan Riset ini diharapkan mampu memperkaya riset mengenai kemiskinan serta program pemberdayaan masyarakat berkelanjutan, melalui temuannya berupa faktor-faktor teoritik lokal penyebab sustainabilitas PNPM Mandiri Perkotaan. 1.8 Luaran Riset Luaran riset ini adalah: (1) laporan kemajuan, (2) laporan akhir, (3) artikel ilmiah yang dipublikasikan di Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang terakreditasi Sinta 2, serta dicatatkan dalam Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) Kemenhukham, serta (4) Akun media sosial berupa Instagram. BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Riset Terkait Santoso (2013) menjelaskan pelaksanaan Program P2KP atau PNPM Mandiri Perkotaan tidak dapat berjalan dengan baik tanpa partisipasi masyarakat setempat. Bantuan yang digulirkan dalam Program P2KP atau PNPM Mandiri Perkotaan, khususnya untuk kegiatan fisik telah mampu mendorong masyarakat untuk memberikan swadaya baik dalam bentuk iuran tunai (rupiah), tenaga kerja, dan konsumsi Penelitian lain yang dilakukan oleh Dwiyanto dan Jemadi (2013) yang menemukan bahwa temuan evaluatif terhadap proses pemberdayaan masyarakat di Desa Sastrodirjan menunjukkan bahwa proses pemberdayaan 86


5 yang dilakukan telah sesuai dengan tahapan pemberdayaan yang tentukan dalam PNPM Mandiri Perkotaan maupun dengan literatur-literatur mengenai pemberdayaan masyarakat. Sedangkan temuan evaluatif terhadap hasil menunjukkan bahwa proses pemberdayaan yang telah berjalan selama 3 tahun telah berhasil mengubah tingkat kesadaran masyarakat dan meningkatkan pemahamannya untuk turut serta berperan dalam pembangunan di komunitasnya, namun untuk mencapai tingkat kemandirian dan derajat keberdayaan yang sesungguhnya masih diperlukan pembelajaran lebih lanjut yang harus dilakukan secara kontinyu dan terpadu. Riset Ruslan (2015) mengenai replikasi PNPM Mandiri Perkotaan, menyimpulkan berbagai tahapan kegiatan dalam PNPM Mandiri Perkotaan di Kota Medan telah berjalan sesuai dengan fungsinya dan perlu penguatanpenguatan secara optimal sehingga diharapkan PNPM Mandiri Perkotaan bukan sekadar penyalur dana bantuan dalam bentuk Bantuan Langsung Masyarakat (BLM), namum pada program yang menekankan upaya penanggulangan kemiskinan dengan basis atau modal dasar kemandirian masyarakat. Kemandirian yang dibangun program ini akan berkelanjutan jika pemerintah daerah ikut memberikan dukungan nyata kepada masyarakat melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang merupakan kelembagaan lokal yang dibangun oleh masyarakat itu sendiri. Riset Muslim (2017) di Yogyakarta menghasilkan temuan bahwa penyebab kegagalan PNPM adalah burukunya kinerja fasilitator dan ketidakmampuan stakeholder dalam memahami tujuan PNPM. Berdasarkan uraian di atas, kebaruan dari riset ini: (1) desain PNPM Mandiri Perkotaan yang dilaksanakan di Desa Sambeng Wetan; (2) konteks pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan pada saat program sudah dinyatakan selesai, yang tentu berbeda dengan pelaksanaan program di mana program tersebut masih dalam waktu pelaksaan program secara resmi. 2.2 Landasan Teori 1. Sustainabilitas kebijakan publik Gerston mendefinisikan kebijakan publik sebagai upaya pemerintah untuk mengatasi masalah publik. Pembuatan kebijakan publik melalui serangkaian proses, yang terdiri dari agenda setting, formulasi dan legitimasi kebijakan, implementasi kebijakan, evaluasi kebijakan dan keputusan masa depan kebijakan publik (Ripley dan Easton). Evaluasi kebijakan menghasilkan pertimbangan mengenai efektivitas kebijakan yaitu apakah dapat mengatasi masalah publik yang dituju dan memungkinkan untuk diterapkan secara sustainable. Sementara itu, istilah sustainabilitas berasal dari bahasa Inggris sustainability, yaitu konsep yang menggambarkan proses dinamis secara terusmenerus sehingga menghasilkan sistem berkelanjutan yang bertahan dalam jangka panjang. Dalam konteks kebijakan publik, sustainabilitas berarti sebuah kebijakan harus mempunyai sisi keberlanjutan sehingga dapat 87


6 diimplementasikan dalam jangka panjang untuk menyelesaikan masalah publik yang diperkirakan akan terus muncul ke depannya. 2. Pemberdayaan Masyarakat Menurut Sumaryadi (2005) pemberdayaan masyarakat merupakan usaha menyiapkan masyarakat sekitar dengan mendorong kelembagaan masyarakat agar dapat mewujudkan kemajuan, kemandirian, serta kesejahteraan dalam keadilan sosial yang berkelanjutan. Adapun dasar pemberdayaan masyarakat menurut Sumaryadi yaitu: a. Mengupayakan pengembangan masyarakat agar lebih maju dari masyarakat lemah, rentan, kelompok wanita yang didiskriminasikan atau dikesampingkan. b. Melakukan pemberdayaan kelompok masyarakat secara sosial ekonomi sehingga terciptanya masyarakat yang lebih mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya serta berperan dalam pengembangan masyarakat. BAB 3. METODE RISET 3.1 Fokus Riset Riset ini memfokuskan pada: a. Pelaksanaan desain PNPM Mandiri Perkotaan di kawasan perdesaan menurut perspektif informan. b. Makna PNPM Mandiri Perkotaan bagi pelaksana program dan anggota KSM Desa Sambeng Wetan menurut perspektif informan. c. Penyebab PNPM Mandiri Perkotaan Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran tetap sustainable menurut perspektif informan. 3.2 Disain Riset Riset ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Moleong (2015) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. 3.3 Lokasi Riset Riset ini akan dilaksanakan di Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Latar belakang pemilihan lokasi tersebut adalah PNPM Desa Sambeng Wetan, Kecamatan Kembaran masih sustainable pasca-berakhirnya program. 3.4 Teknik Pemilihan Informan Informan awal akan dipilih secara purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan karakteristik tertentu. Informan selanjutnya, akan menggunakan teknik snowball sampling, yaitu pemilihan informan secara bergulir yang mana informan diperoleh dari rujukan informan yang sudah memenuhi kualifikasi sebelumnya. 88


7 3.5 Sumber Data Sesuai dengan permasalahan dan fokus riset yang hendak dikaji, sumber data dalam riset ini adalah (Arikunto, 2006): 1. Person (Informan). Informan awal dipilih secara purposive atas dasar pada subyek yang menguasai permasalahan yang berkaitan dengan judul, permasalahan maupun fokus riset. Informan selanjutnya, didasarkan atas snowball sampling. Informan terakhir didasarkan pada saturasi data. 2. Place (Tempat dan Peristiwa), meliputi lokasi riset, keadaan sosial budaya maupun perilaku dan kejadian yang berkaitan dengan fokus riset. 3. Paper (Dokumen yang berkaitan dengan fokus riset). 3.6 Metode Pengumpulan dan Teknik Analisis Data Riset ini akan menggunakan 3 metode pengumpulan data, yaitu: 1. Wawancara mendalam, dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan terbuka serta dilakukan secara lentur dan longgar, agar dapat menggali dan menangkap kejujuran informan dalam memberikan informasi yang benar. 2. Observasi, dilakukan untuk memperoleh data dan informasi mengenai aktivitas keseharian yang dilakukan oleh warga di desa lokasi riset, baik aktivitas sosial maupun budaya di sana. 3. Studi dokumentasi, dilakukan untuk memperoleh data dari dokumen dan arsip. Setelah data terkumpul, kemudian dianalisis dengan model analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Hubermen diterapkan melalui tiga alur, yaitu: (1) Reduksi data; (2) Penyajian data; dan (3) Penarikan kesimpulan/verifikasi 3.7 Keabsahan Data Standar keabsahan data dalam riset ini terdiri dari kredibilitas data, uji transferability, uji depenability, dan uji confirmability 3.8 Prosedur Riset 1. Persiapan riset, terdiri dari menyusun rancangan riset, pra-survei, pengurusan perizinan dan administrasi, serta penyusunan instrumen riset. Luaran dari tahap ini adalah proposal penelitian, surat izin penelitian, dan pedoman wawancara dengan indikator capaian berupa tersusunnya proposal penelitian, diperolehnya surat izin penelitian, tersusunnya pedoman wawancara. 2. Pengumpulan data, terdiri dari melakukan pengumpulan data dengan menggunakan instrumen yang telah disiapkan dari sumber data serta sumber informasi lainnya. Luaran dari tahap ini adalah data sesuai fokus penelitian mulai dari wawancara dan studi dokumentasi dari setiap kegiatan penelitian dengan indikator capaian berupa diperolehnya data sesuai fokus penelitian hingga mencapai tahap saturasi data dan dokumentasi kegiatan penelitian. 3. Pengolahan dan analisis data, terdiri dari melakukan pengolahan dan analisis terhadap data yang telah diperoleh dari lapangan dan pustaka. 89


8 Luaran dari tahap ini adalah hasil analisis dan deskripsi komprehensif fokus penelitian dengan indikator capaian berupa tersusunnya hasil analisis dan deskripsi fokus penelitian secara komprehensif. 4. Penyusunan laporan penelitian, terdiri dari menyusun laporan kemajuan dan laporan akhir penelitian beserta artikel ilmiah. Luaran dari tahap ini adalah Laporan kemajuan dan laporan akhir penelitian beserta artikel ilmiah dengan indikator capaian berupa Tersusunnya laporan kemajuan dan laporan akhir penelitian beserta artikel ilmiah. 5. Publikasi hasil penelitian. Luaran dari tahap ini adalah Publikasi artikel di Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH) terakreditasi Sinta 2, pencatatan dalam Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), serta dokumentasi dan publikasi melalui akun media sosial dengan indikator capaian Artikel ilmiah terpublikasikan di Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (JISH) terakreditasi Sinta 2, pencatatan dalam Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), serta dokumentasi dan publikasi melalui akun media sosial. 3.9 Penyimpulan Hasil Riset Penarikan kesimpulan dilakukan setelah data tersaji. Kesimpulan yang ditarik segera diverifikasi dengan cara melihat dan mempertanyakan kembali sambil melihat catatan di lapangan agar memperoleh pemahaman yang lebih cepat dan tepat. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan cara mendiskusikannya. BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1 Anggaran Biaya Tabel 4.1. Anggaran Biaya No Jenis Pengeluaran Sumber Dana Besaran Dana (Rp) 1. Bahan habis pakai Belmawa 4.200.000 Perguruan Tinggi 550.000 Instansi Lain (jika ada) - 2. Sewa dan Jasa Belmawa 1.100.000 Perguruan Tinggi 100.000 Instansi Lain (jika ada) - 3. Transportasi Lokal Belmawa 3.000.000 Perguruan Tinggi 250.000 Instansi Lain (jika ada) - 4. Lain-lain Belmawa 1.000.000 Perguruan Tinggi 350.000 Instansi Lain (jika ada) - JUMLAH 10.550.000 Rekap Sumber Dana Belmawa 9.300.000 Perguruan Tinggi 1.250.000 Instansi Lain (jika ada) - 90


9 Jumlah 10.550.000 4.2 Jadwal Kegiatan Tabel 4.2. Jadwal Kegiatan DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Ed Revisi VI. Jakarta: Penerbit PT Rineka Cipta. Dwiyanto, B.S. dan Jemadi. 2013. Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Kapasitas dalam Penanggulangan Kemiskinan melalui PNPM Mandiri Perkotaan. Jurnal Maksipreneur. 3 (1):36-61. https://www.researchgate.net/publication/323002115_Pemberdayaan_Mas yarakat_dan_Pengembangan_Kapasitas_dalam_Penanggulangan_Kemiski nan_melalui_PNPM_Mandiri_Perkotaan Moleong, L.J. 2015. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung: Penerbit PT Remaja Rosdakarya Offset. No Jenis Kegiatan Bulan Penanggungjawab 1 2 3 4 5 1. Persiapan Penelitian Latifah Nur`Aini 2. Penyusunan Instrumen Latifah Nur`Aini dan Andini Tiara Putri 3. Pelaksanaan Tindakan Ika Yulianti 4. Pengumpulan Data Ika Yulianti dan Dita Berliana Putri 5. Penentuan Analisis Data Tria Mukti Citraningrum 6. Penyusunan laporan penelitian Dita Berliana Putri dan Andini Tiara Putri 7. Postingan Sosial Media Latifah Nur`Aini 91


10 Muslim, A. 2017. Analisis Kegagalan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat dalam Membangun Kemandirian Masyarakat Miskin (Studi Kasus di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jurnal Penyuluhan. 13 (1):79-87. https://digilib.uinsuka.ac.id/id/eprint/25482/1/Aziz%20Muslim%20-%20Kegagalan%20 PNPM.pdf Nugroho, H. 2011. Negara, Pasar, dan Keadilan Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ruslan, D. 2015. Analisis replikasi program penanggulangan kemiskinan mandiri perkotaan. QE Journal. 04 (03):176-200. https://jurnal.unimed.ac.id/2012/ index.php/qe/article/download/17471/13060 Santoso, S. 2013. Dukungan swadaya masyarakat dalam program P2KP atau PNPM Mandiri Perkotaan. Ekuilibrium Jurnal Ilmiah Bidang Ekonomi. 8 (2):1-12. https://journal.umpo.ac.id/index.php/ekuilibrium/article/view/39/ 36# Triani, Y. 2020. Analisis pengetasan kemiskinan di Kota Palembang. Al-Infaq: Jurnal Ekonomi Islam. 11 (02):159-178. https://www.jurnalfaiuikabogor.org/index.php/alinfaq/article/view/635 92


i DAFTAR ISI DAFTAR ISI ........................................................................................................i DAFTAR TABEL ...............................................................................................ii DAFTAR GAMBAR..........................................................................................iii BAB 1. PENDAHULUAN .................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1 1.2 Jenis dan Spesifikasi Teknis ....................................................................... 2 1.3. Luaran ....................................................................................................... 2 BAB 2. GAMBARAN RENCANA USAHA ....................................................... 3 2.1 Kondisi Umum Lingkungan........................................................................ 3 2.2. Peluang Pasar ............................................................................................ 3 2.3. Analisis Pesaing ........................................................................................ 4 2.4 Analisis Ekonomi Usaha............................................................................. 5 BAB 3. METODE PELAKSANAAN .................................................................. 7 3.1. Teknik Pembuatan Komoditas Usaha......................................................... 7 3.2 Strategi dan Teknik Pemasaran ................................................................... 7 3.3 Rencana Keberlanjutan Usaha .................................................................... 8 BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN .................................................... 8 4.1 Anggaran Biaya.......................................................................................... 8 4.2 Jadwal Kegiatan ....................................................................................... 10 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 10 LAMPIRAN ...................................................................................................... 12 Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota, serta Dosen Pendamping ................ 12 Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan .................................................... 25 Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Pelaksana dan Pembagian Tugas.......... 28 Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Pelaksana .............................................. 30 Lampiran 5. Dokumentasi Produk dan Kemasan............................................. 31 Lampiran 6. Proses Pembuatan Produk........................................................... 34 Lampiran 7. Sumber Data Primer melalui Kuesioner ...................................... 37 93


ii DAFTAR TABEL Tabel 1. Potensi Pasar.......................................................................................... 3 Tabel 2. Analisis Perilaku Responden terhadap Konsumsi Garam ........................ 4 Tabel 3. Analisis Kompetitor ............................................................................... 4 Tabel 4. Analisis Finansial Usaha ........................................................................ 5 Tabel 5. Arus Kas Keberlanjutan Usaha (Cashflow)............................................. 6 Tabel 6. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya ................................................... 8 Tabel 7. Jadwal Kegiatan ................................................................................... 10 94


iii DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Mockup Produk................................................................................... 2 95


1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan angka prevalensi balita stunting di Indonesia sebesar 24,4% dan masih tergolong kronis (Kementrian Kesehatan, 2018). Salah satu penyebab stunting adalah hipertensi pada ibu hamil (Kementerian Kesehatan, 2018). Penelitian Nengsih dan Warastuti (2019) menunjukkan bahwa balita yang ibunya mengalami status hipertensi saat hamil berisiko 4,967 kali lipat terkena stunting. Hipertensi disebabkan oleh tingginya konsumsi natrium pada garam (Darmawan et al., 2018). Studi menunjukkan bahwa sekitar 52,7% penduduk Indonesia mengonsumsi natrium > 2000 mg/hari (Prihatini, et al., 2016). Berdasarkan penelitian Novianti et al. (2021), hasil recall 2x24 jam pada 50 responden ibu hamil menunjukkan bahwa konsumsi makanan gurih seperti snack ringan dan bumbu instan menyumbang kadar natrium yang tinggi. Hipertensi khususnya pada ibu hamil dapat dicegah dengan memanfaatkan potensi lokal seperti komoditas garam rebus, rumput laut hijau (Ulva lactuca L.), dan genjer (L. flava). Garam dapat dimodifikasi kadar natriumnya dan dengan teknik merebus air laut yang merupakan kearifan lokal pesisir Jawa Tengah yang berhasil membuat garam rendah natrium tanpa bahan kimia. Jenis garam yang diproduksi dengan teknik perebusan air laut menghasilkan garam yang halus dan tetap asin. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi garam rendah natrium adalah air laut dengan kadar 15 derajat baume meter (Setiawati et al., 2021). Tren masyarakat terhadap produk yang lebih sehat merupakan peluang terbesar bagi usaha garam rebus karena memiliki ciri khas berupa garam yang dibuat tanpa pemurnian (Setiawati, 2020). Rumput laut hijau (Ulva lactuca L.) juga dapat digunakan untuk menurunkan kadar natrium serta memberikan rasa gurih pada garam rebus karena memiliki kandungan natrium 364 mg/100 g, zat besi 14.0 mg/100 g, serta kandungan iodium sebesar 1,72 µg/g (Rasyid, 2017). Selain itu, tanaman genjer ditambahkan karena mengandung gizi cukup lengkap, yaitu protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, serta tinggi kalium (6.786,18 mg/100 g) dan rendah natrium (574,34 mg/100 g) (Chaidir, et al., 2016; Nurjanah et al., 2014). Penambahan tanaman genjer dengan rasio 1:1 pada garam rumput laut ternyata dapat menurunkan rasio Na:K garam rumput laut menjadi 0,59 yang sesuai dengan kriteria garam diet yaitu di bawah 60% (Nurjanah et al., 2018). Berdasarkan permasalahan dan potensi yang ada, kami menawarkan inovasi produk garam gurih rendah natrium berbahan garam rebus, rumput laut hijau, dan genjer sebagai solusi dalam menekan angka konsumsi garam dan penyedap sebagai upaya menurunkan prevalensi hipertensi khususnya pada ibu hamil (penyebab stunting). Berdasarkan riset pasar melalui kuisioner, ketertarikan konsumen terhadap bentuk garam beragam, yaitu 17 responden tertarik bentuk edible paper, 20 responden tertarik bentuk bubuk, dan 19 responden tertarik bentuk likuid semprot. Oleh karena itu, kami berinovasi membuat tiga varian bentuk, yaitu edible paper (kertas), likuid 96


2 semprot, dan bubuk. Selain itu, melalui riset pasar diketahui bahwa 45 dari 56 responden kesulitan menghitung konsumsi natrium pada garam per hari, sehingga diperlukan produk garam gurih dengan kadar natrium yang spesifik. 1.2 Jenis dan Spesifikasi Teknis Produk Losspaper merupakan garam gurih rendah natrium berbentuk edible paper, likuid, dan bubuk. Losspaper berbahan garam rebus, rumput laut hijau, dan genjer yang dapar mencegah dan mengatasi hipertensi pada ibu hamil penyebab stunting. Produk Losspaper menawarkan produk yang terbuat dari bahan alami yaitu rumput laut hijau (Ulva lactuca L.) dan tanaman genjer yang memiliki zat gizi kalium tinggi dan kandungan natrium pencegah hipertansi. Varian berbentuk lembaran (edible paper) akan memudahkan pengguna dalam mengukur konsumsi natrium. Varian likuid dan bubuk juga tersedia agar konsumen dapat menggunakan Losspaper pada jenis makanan tertentu. Selain itu, produk Losspaper dikemas menggunakan bahan berkualitas dan terhindar dari kontaminasi luar sehingga mutu dan kualitas produk terjaga. Kemasan produk didesain dengan Qr code sebagai sarana edukasi terkait penyakit kardiovaskuler dan sosial media Losspaper. Varian lembaran dikemas dengan berat 100 gram per kotak dengan harga Rp7.500,00 dan berat 300 gram per kotak dengan harga Rp15.000,00. Pada ukuran kemasan 100 gram, tiap lembarnya memiliki berat bersih 2 gram yang mengandung 35 mg natrium. Sedangkan pada ukuran kemasan 300 gram, tiap lembarnya memiliki berat 4 gram yang mengandung 70 mg natrium. Varian Losspaper bubuk dikemas 300 gram per kotak dengan harga Rp15.000,00, yang mengandung 35 mg natrium per 2 gram atau ¼ sendok teh. Varian Losspaper likuid dikemas dalam ukuran 200 ml dengan harga Rp15.000,00. Pada 10 kali semprot Losspaper likuid sama dengan 35 mg natrium. Gambar produk dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Mockup Produk 1.3. Luaran Luaran yang akan dihasilkan yaitu laporan kemajuan, laporan akhir, produk Losspaper berbasis profit dengan legalitas keamanan dan akun media sosial yang berisi konten edukasi kesehatan yang diiklankan. 97


3 BAB 2. GAMBARAN RENCANA USAHA 2.1 Kondisi Umum Lingkungan Produk akan dibuat menggunakan air laut yang direbus dengan tambahan rumput laut hijau (Ulva lactuca L.) dan genjer (L. flava). Air laut 15⁰ Be yang direbus akan menghasilkan kristal garam halus yang rendah natrium (Setiawati et al., 2021). Total produksi rumput laut di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 16,17 ton (Kurniawan, et al., 2019). Salah satu jenisnya adalah rumput laut hijau Ulva sp. yang mudah tumbuh di daerah Pantai Selatan Jawa yang pemanfaatannya hanya sebatas sebagai pakan, peyek, dan keripik. Genjer (Limnocharis flava (L.) Buch) merupakan tanaman yang tumbuh liar di area persawahan, rawa, atau sungai yang keberadaannya sering dianggap sebagai gulma. Melihat banyaknya potensi ditemukannya bahan tersebut di Indonesia, maka diperlukan adanya pengolahan bahan untuk meningkatkan nilai tambah dari segi kebermanfaatan dan ekonomi. Dalam keberlanjutan usaha diperlukan potensi bahan, teknologi untuk mempermudah proses pembuatan dan pemasaran, dan manajemen sumber daya manusia untuk tata kelola tim dan sebagai pelaku usaha. 2.2. Peluang Pasar Peluang pasar Losspaper adalah sebagai garam sehat, enak, murah, dan praktis bagi penderita hipertensi khususnya pada ibu hamil dan kelompok umur yang berisiko tinggi menderita hipertensi yakni usia > 45 tahun. Estimasi peluang pasar dilakukan berdasarkan data kelahiran di Indonesia tahun 2022 sedangkan estimasi prevalensi hipertensi di Indonesia dilakukan berdasarkan data penduduk tahun 2022. Peluang pasar produk kami dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Potensi Pasar Deskripsi Jumlah Jumlah angka kelahiran tahun 2022 (Rizaty, 2022) 4.450.000 Jiwa Asumsi prevalensi hipertensi Indonesia tahun 2022 menurut persen prevalensi hipertensi berdasarkan kelompok umur dan jumlah penduduk 2018 dengan 20.048.166 Jiwa penderita hipertensi kelompok umur 45-59 tahun = 21,2% x 49.188.700 Jiwa. Penderita hipertensi kelompok umur > 60 tahun = 32,5% x 29.660.500 Jiwa (Kementerian Kesehatan, 2022; Badan Pusat Statistik, 2022). Analisis potensi pasar (Asumsi pembelian 1%) 244.981 Jiwa Analisis potensi penerimaan per tahun Rp2.939.772.000,00 Analisis potensi penerimaan per bulan Rp244.981.000,00 Analisis target penerimaan per bulan 250 x Rp15.000,00 = Rp3.750.000,00 Berdasarkan Tabel 1, target penerimaan jauh lebih sedikit dari potensi penerimaan yang menunjukkan peluang produk sangat besar dan menguntungkan di pasar. Hal 98


4 ini diperkuat dengan sumber data primer yang kami gunakan pada Tabel 2 dari hasil survei perilaku konsumen terhadap konsumsi garam dan bumbu penyedap yang menunjukkan tingginya estimasi penerimaan produk. Tabel 2. Analisis Perilaku Responden terhadap Konsumsi Garam Analisis Perilaku Responden Hasil Responden dengan intensistas sering konsumsi bumbu penyedap 26.8% Responden tidak pernah mengkonsumsi garam rendah natrium 64.3% Responden pernah mengonsumsi bumbu penyedap rendah natrium 64.3% Reponden dengan intensitas tidak pernah mengonsumsi garam rendah natrium 44.6% Reponden dengan intensitas tidak pernah mengonsumsi bumbu penyedap rendah natrium 46.4% Responden dengan ketertarikan sangat tertarik jika garam dan bumbu rendah natrium dijadikan dalam satu produk 33.9% Responden yang mengetahui produk garam atau bumbu rendah natrium 53.% Sumber: Data primer survei perilaku konsumen terhadap konsumsi garam dan bumbu penyedap 2.3. Analisis Pesaing Peluang Losspaper yaitu garam rendah natrium gurih berbentuk lembaran, likuid, dan bubuk yang menawarkan konsep sehat, enak, praktis, dan murah sebagai kekuatan produk. Konsep tersebut menjadi kekuatan dan keunikan pada produk ini sehingga dapat bersaing di pasaran. Analisis pesaing produk Losspaper dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Analisis Kompetitor Kekuatan Produk Produk Losspaper Nutri Garam LoSoSa Miwon Rendah natrium ✓ ✓ ✓ x Harga murah ✓ x ✓ ✓ Garam gurih ✓ x x ✓ Memiliki takaran penggunaan ✓ x x x Memiliki zat gizi lainnya ✓ x x x Varian bentuk ✓ x x x Merek Nutri Garam ukuran 300 gram yang memiliki harga Rp50.000,00 dan LoSoSa ukuran 250 gram yang memiliki harga Rp25.000,00. Kemudian, garam gurih yang telah beredar yaitu merek Garam Miwon ukuran 300 gram memiliki harga Rp8.600,00. Berdasarkan riset pasar yang kami lakukan, sebanyak 50% responden menginginkan garam dan bumbu penyedap rendah natrium dengan harga murah. Harga yang sesuai menurut 73% responden yaitu pada kisaran harga Rp15.000,00-Rp20.000,00 per 300 gram. Jika dibandingkan dengan produk pesaing, produk kami lebih unggul karena dapat mengemas garam gurih rendah 99


5 natrium dalam berbagai bentuk dan kemasan praktis serta memiliki harga lebih terjangkau yaitu Rp15.000,00 untuk bentuk lembaran (edible paper) dan bubuk ukuran 300 gram, serta bentuk likuid ukuran 150 ml. Selain itu, kandungan gizi produk kami lebih tinggi daripada kompetitor. 2.4 Analisis Ekonomi Usaha Analisis ekonomi usaha digunakan untuk mengetahui estimasi pendanaan dan arus kas sehingga dapat diketahui kelayakan bisnis yang dijalankan. Pemasukan diasumsikan penjualan pada caturwulan ke-1 sebesar 75%, dan caturwulan selanjutnya sebesar 100%. Adapun pengeluaran terdiri dari biaya investasi, biaya tetap, dan biaya variabel. Tabel 4. Analisis Finansial Usaha Harga Pokok Penjualan = ℎ = 12.000.000 1.000 = 12.000 Harga jual per unit = HPP + Laba = 12.000 + (25% x 11.500) = 15.000 Pendapatan per bulan = Harga jual per unit x Jumlah unit produksi = 15.000 x 250 = 3.750.000 Biaya variabel per unit = ℎ = 6.040.000 1.000 = 6.040 BEP per unit = ( − ) = 5.960.000 (15.000−6.040) No. Jenis Biaya Total (Rp) 1 Biaya Tetap Perlengkapan dan Peralatan 2.670.000 Biaya Sewa 1.800.000 Biaya PDAM + Listrik 400.000 Biaya Promosi 500.000 ATK 75.000 Protokol Kesehatan 115.000 Kuota Internet 400.000 SUB TOTAL 5.960.000 2 Biaya Variabel Bahan Baku 4.330.000 Perjalanan Total 1.710.000 SUB TOTAL 6.040.000 GRAND TOTAL 12.000.000 100


Click to View FlipBook Version