6 = 665,18 BEP Rupiah = 1−( / ) = 5.960.000 1−(6.040/15.000) = 9.977.678,57 Diketahui titik impas (BEP) diperoleh jika diproduksi 665,18 unit dan penerimaan Rp9.977.678,57 per empat bulan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini menguntungkan karena target penjualan melebihi titik impas yaitu 1.000 unit dan penerimaan Rp15.000.000,00 selama empat bulan usaha. Tabel 5. Arus Kas Keberlanjutan Usaha (Cashflow) Keterangan: 1. Pada satu bulan pertama di caturwulan ke-1 difokuskan dalam penyusunan proposal sehingga pembuatan produk dilakukan 3 bulan berikutnya. 2. Perhitungan biaya pada caturwulan ke-1 adalah besaran biaya pada Tabel 3. Analisis Finansial Usaha yang dikali 3 total produksi, sedangkan caturwulan ke2 sampai 6 besaran biaya pada Tabel 3. Analisis Finansial Usaha yang dikali 4 total produksi (kecuali biaya perlengkapan dan peralatan serta biaya sewa). 3. Biaya perlengkapan dan peralatan dilakukan setiap 1 tahun. Uraian Caturwulan (dalam Ribu Rp) 1 2 3 4 5 6 Kas Masuk Penerimaan Penjualan 11.250 15.000 15.000 15.000 15.000 15.000 Total Arus Kas Masuk 11.250 15.000 15.000 15.000 15.000 15.000 Kas Keluar Biaya Tetap Perlengkpan dan Peralatan 2.670 - - 2.670 - - Biaya Sewa 1.800 1.800 1.800 1.800 1.800 1.800 Biaya PDAM + Listrik 300 400 400 400 400 400 Biaya Promosi 375 500 500 500 500 500 ATK 56,25 75 75 75 75 75 Protokol Kesehatan 86,25 115 115 115 115 115 Kuota Internet 300 400 400 400 400 400 Biaya Variabel Bahan Baku 3.247,5 4.330 4.330 4.330 4.330 4.330 Perjalanan Total 1.282,5 1.710 1.710 1.710 1.710 1.710 Total Arus Kas Keluar 10.117,5 9.330 9.330 12.000 9.330 9.330 Proyeksi Keuntungan 1.132,5 5.670 5.670 3.000 5.670 5.670 Kumulatif Keuntungan 26.812,5 101
7 BAB 3. METODE PELAKSANAAN 3.1. Teknik Pembuatan Komoditas Usaha Pembuatan produk dilakukan di salah satu rumah anggota tim secara luring yang berdomisili di kota Purwokerto dan akan selalu memperhatikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dalam proses pembuatan produk. Adapun tahapan dalam pembuatan produk garam gurih rendah natrium berbahan garam rebus, rumput laut hijau dan ekstrak genjer adalah sebagai berikut: 1. Tahap pra-produksi, mencakup koordinasi tim, konsultasi, survei pengadaan barang di toko-toko offline ataupun online yang menyediakan bahan baku produksi, publikasi konten dan promosi, serta kerja sama mitra. 2. Tahap produksi mencakup kegiatan proses pembuatan produk yakni pembuatan ekstrak rumput laut hijau dan genjer kemudian pencampuran dengan garam rebus 15⁰ Be, pencampuran, pencetakan, dan pengemasan. Proses produksi dirinci pada Lampiran 6. 3. Tahap evaluasi, meliputi pengecekan kualitas produk, evaluasi hasil produksi, dan pengembangan usaha. 3.2 Strategi dan Teknik Pemasaran Strategi pemasaran dilakukan secara offline dan online melalui media digital. Teknik pemasaran Losspaper menggunakan teknik 5A’s marketing yaitu jenis pemasaran yang berorientasi terhadap konsumen berdasarkan daya tarik akan sebuah merek tertentu. Adapun langkah pemasaran dengan terknik ini adalah sebagai berikut. A. Tahap Awarness Tahap ini berfokus untuk membuat konsumen memiliki daya tarik terhadap produk Losspaper. Platform online, seperti Instagram, WhatsApp, TikTok, dan marketplace (Shopee, Tokopedia, dan Lazada) akan digunakan sebagai media pemasaran. Konten kreatif seputar manfaat produk, penyebab hipertensi, stunting, dan lainnya akan dibuat untuk mengenalkan produk. Selanjutnya konten disebarkan melalui fitur media sosial yang dioptimalkan melalui iklan berbayar seperti Instagram Ads dan TikTok Ads, fitur Chat Bot Blast pada WhatsApp bisnis, optimalisasi hashtag pada postingan Instagram dan TikTok, serta optimalisasi kata kunci pada marketplace agar produk mudah ditemukan. Selain itu, Losspaper juga akan menggunakan sistem kerjasama mitra berupa reseller. Pada pemasaran offline, produk akan dipasarkan pada pasar modern seperti supermarket. B. Tahap Apeal Media sosial sebagai penghubung calon konsumen akan dibuat aktif, komunikatif, dan informatif. Seluruh media sosial dan marketplace akan saling bertautan untuk memudahkan konsumen membeli produk. Layanan fitur chat (direct message) pada seluruh media sosial dan marketplace akan dioptimalkan agar komunikasi dengan konsumen terjaga. Pada informasi produk juga akan 102
8 dicantumkan informasi media sosial dan customer service, sehingga konsumen dapat terhubung dengan kami melalui produk yang dipasarkan. C. Tahap Aks Pada tahap ini interaksi dengan konsumen harus ditingkatkan. Brand kami akan membuat customer service serta social media officer untuk menjaga interaksi dengan calon konsumen seperti follow up konsumen yang sudah bertanya tentang produk untuk jadi atau tidaknya membeli produk. D. Tahap Act Pada tahap ini calon konsumen akan membeli produk, sehingga kesesuaian produk dan ketentuan produk harus sangat diperhatikan. Kualitas produk, ketepatan pengiriman, respon penjual, dan lainnya harus sesuai agar konsumen puas dengan produk dan pelayanan yang diberikan. E. Tahap Advocate Pada tahap ini konsumen akan ditarik untuk merekomendasikan produk yang telah dibeli kepada orang lain melalui media sosial. Cara yang dilakukan adalah dengan memberikan hadiah berupa diskon di pembelian selanjutnya jika membuat konten media sosial berupa foto atau video terkait produk yang telah dibeli. 3.3 Rencana Keberlanjutan Usaha Pada tahun pertama, Losspaper akan mengurus NIB (Nomor Induk Berusaha) agar memudahkan usaha kedepannya dalam mengurus administrasi yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha. Selain itu, kadar nilai gizi dan hasil kepuasan/hedonik tahap awal dilakukan untuk keperluan izin edar dan sertifikasi halal. Pada tahun kedua dan selanjutnya kami akan membuat badan usaha, memperluas pasar produk kami sampai ke luar pulau melalui hibah pembinaan wirausaha. BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1 Anggaran Biaya Tabel 6. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya No. Jenis Pengeluaran Sumber Dana Besaran Dana (Rp) 1. Bahan habis pakai Belmawa 6.000.000 Perguruan Tinggi 1.000.000 Instansi Lain (bila ada) - 2. Sewa dan Jasa Belmawa 1.440.000 Perguruan Tinggi 360.000 Instansi Lain (bila ada) - 3. Transportasi lokal Belmawa 1.368.000 Perguruan Tinggi 342.000 Instansi Lain (bila ada) - 4. Lain-lain Belmawa 1.192.000 Perguruan Tinggi 298.000 Instansi Lain (bila ada) - 103
9 Jumlah 12.000.000 Rekap Sumber Dana Belmawa 10.000.000 Perguruan Tinggi 2.000.000 Instansi Lain (bila ada) - Jumlah 12.000.000 104
10 4.2 Jadwal Kegiatan Tabel 7. Jadwal Kegiatan N o Jadwal Kegiatan Bulan Person Penangg ung Jawab 1 2 3 4 5 1 Tahap Persiapan a. Penyusuna n Aqilah R. b. Koordinasi Tim Adrian P. c. Konsultasi, Survey, dan Pengadaan Barang Ailsa S.K. 2 Tahap Pelaksanaan a. Produksi Keisha S. b. Pemasaran Alfi N. c. Keuangan Aqilah R. 3 Tahap Akhir a. Monitoring dan Evaluasi Adrian P. b. Laporan Kemajuan dan Laporan Akhir Ailsa S.K. c. Pengemban gan Usaha Keisha S. DAFTAR PUSTAKA Chaidir, L., Kristi Y., dan Budy Q. 2016. Eksplorasi dan Karakterisasi Tanaman Genjer (Limnocharis Flava (L.) Buch) di Kabupaten Pangandaran Berdasarkan Karakter Morfologi dan Agronomi. Jurnal Agro. 3(2): 53-66. 105
11 Darmawan, H., Abdullah T., dan Nadimin. 2018. Asupan Natrium dan Status Gizi Terhadap Tingkat Hipertensi pada Pasien Rawat Jalan di RSUD Kota Makassar. Media Gizi Pangan. 25(1): 11-17. Kementerian Kesehatan RI. 2018. Warta KESMAS: Cegah Stunting itu Penting. https://kesmas.kemkes.go.id/konten/105/0/082314-warta-kesmas-edisi-2- 2018. Diakses tanggal 20 Februari 2023. Kurniawan, R., Nurjanah, Agoes J., Asadatun A., dan Rizsa P. 2019. Karakteristik Garam Fungsional dari Rumput Laut Hijau Ulva lactuca. JPHPI. 22(3): 573-580. Nengsih dan Warastuti.2019. Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Bayi dan Balita di Desa Ciambar Kecamatan Ciambar Kabupaten Sukabumi Tahun 2019. Jurnal Ilmiah Kesehatan & Kebidanan. IX(1): 1-13. Novianti, A., Mustika, A.B., dan Mulyani, E.Y. (2021). Pengetahuan Gizi, Asupan Natrium, Kalium, Vitamin D Berhubungan dengan Tekanan Darah Ibu Hamil. Darussalam Nutrition Journal. 5(2): 90-100. Nurjanah, Abdullah A, dan Nufus C. 2018. Karakteristik Sediaan Garam Ulva lactuca dari Perairan Sekotong Nusa Tenggara Barat Bagi Pasien Hipertensi. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 21(1): 109-117. Nurjanah, Jacoeb A.M., Nugraha R., Permatasari M., dan Sejati T.K.A. 2014. Perubahan Komposisi Kimia, Aktivitas Antioksidan, Vitamin C, dan Mineral Tanaman Genjer (Limnocharis flava) Akibat Pengukusan. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan. 3(3): 185-195. Prihatini, S., Dewi P., dan Elisa J. 2016. Asupan Natrium Penduduk Indonesia: Analisis Data Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014. Journal of the Indonesian Nutrition Association. 39(1): 15-24. Rasyid, A. 2017. Evaluation of Nutritional Composition of the Dried Seaweed Ulva lactuca from Pameungpeuk Waters, Indonesia. Tropical Life Sciences Research. 28(2): 119–125. Rizaty, M.A . 2022. BPS: Jumlah Penduduk Indonesia Sebanyak 275,77 Juta pada 2022. URL: https://dataindonesia.id/ragam/detail/bps-jumlah-pendudukindonesia-sebanyak-27577-juta-pada-2022. Diakses tanggal 27 Februari 2023. Setiawati, I., Yudi S., Teguh J., dan Djeimy K. 2021. Diversifikasi Produk Garam Rebus Fortifikasi Kelor pada Kelompok Usaha Garam Rakyat Mekarsari, Desa Pandansari, Kec. Brebes. Prosiding Seminar Nasional dan Call for Papers. 12-14 Oktober 2021, Purwokerto, Indonesia. pp. 507-513. 106
i DAFTAR ISI DAFTAR ISI............................................................................................................ i DAFTAR TABEL.................................................................................................... i BAB 1. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1 1.2 Tujuan Khusus Riset ..................................................................................... 2 1.3 Manfaat Riset ................................................................................................ 2 1.4 Urgensi Riset ................................................................................................. 2 1.5 Temuan yang Ditargetkan ............................................................................. 2 1.6 Kontribusi Riset Terhadap Ilmu Pengetahuan............................................... 3 1.7 Luaran Penelitian........................................................................................... 3 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 3 2.1 Tanaman Kedelai........................................................................................... 3 2.2 Daya simpan benih ........................................................................................ 3 2.3 Coating Benih................................................................................................ 3 2.4 Media Alginat................................................................................................ 4 2.5 Agens Hayati ................................................................................................. 4 BAB 3. METODE RISET....................................................................................... 4 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan.................................................................... 4 3.2 Alat dan Bahan .............................................................................................. 4 3.3 Cara Kerja Riset ............................................................................................ 5 BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN ...................................................... 7 4.1 Anggaran Biaya ............................................................................................. 7 4.2 Jadwal Kegiatan............................................................................................. 8 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 8 Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota serta Dosen Pendamping ................. 11 Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan ...................................................... 22 Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Pelaksana dan Pembagian Tugas.......... 25 Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Pelaksana................................................ 26 DAFTAR TABEL Tabel 1. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya..................................................... 7 Tabel 2. Jadwal Kegiatan ........................................................................................ 8 107
1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketahanan pangan saat ini masih menjadi tantangan besar hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia. Penyediaan bahan pangan harus sesuai dengan kebutuhan pangan. Kebutuhan terhadap pangan akan semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk (Permadi, 2015; Fertiwi, 2018). Pasokan bahan pangan yang berasal dari tanaman di Indonesia meliputi padi, jagung dan kedelai yang harus tersedia cukup untuk masyarakat. Kedelai adalah bahan pangan yang dikonsumsi dirumah tangga dan industri. Kedelai menjadi penting sebagai sumber pangan fungsional ditinjau dari kandungan gizi. Berdasarkan basis bobot kering, kedelai mengandung sekitar 40% protein, 20% minyak, 35% karbohidrat larut (sukrosa, stachyose, rafinosa) dan karbohidrat tidak larut (serat makanan), dan 5% abu (Krisnawati, 2017). Meskipun tidak mengandung vitamin B12 dan vitamin C, kedelai merupakan sumber vitamin B yang lebih baik dibandingkan dengan komoditas golongan biji-bijian lain. Sejak 5 tahun terakhir, konsumsi kedelai dan produk olahannya cenderung bertambah. Konsumsi kedelai secara nasional pada tahun 2018-2019 mencapai 13,16 kg/kapita/tahun, namun tidak mengalami kenaikan justru penurunan sebesar 4,39% dari 6,73 kg/kapita/tahun hingga 6,43 kg/kapita/tahun. Produksi kedelai di Indonesia juga mengalami fluktuasi pada tahun 2014-2018. Data konsumsi dan produksi kedelai tersebut menunjukkan bahwa produksi kedelai dalam negeri harus ditingkatkan, karena sebagian besar kedelai masih berasal dari impor. Impor kedelai Indonesia pada tahun 2015-2020 rata-rata sebanyak 2 juta ton pertahun dengan impor terbanyak pada tahun 2017 sebesar 2.671.914 ton (Setyawan dan Huda, 2022). Produksi kedelai di Indonesia dihadapkan pada masalah penyimpanan benih. Benih akan mengalami kemunduran mutu ketika disimpan yang ditandai dengan penurunan vigor maupun viabilitas benih. Hal ini juga termasuk ke dalam faktor pembatas produksi kedelai di daerah tropis hingga mengurangi kualitas benih (Mustika et al., 2014). Produksi kedelai di Indonesia juga memiliki masalah lainnya yaitu rendahnya daya hasil kedelai akibat gangguan penyakit tanaman (Pratama et al., 2013), salah satunya adalah patogen tular benih. Patogen tular benih salah satunya Fusarium sp. Patogen ini dilaporkan memiliki persentase asosiasi pada benih kedelai sebesar 38% dibandingkan dengan Aspergillus sp. yang hanya memiliki persentase asosiasi sebesar 14% (Ramdan dan Kalsum, 2017). Masalah tersebut akan berdampak pada hasil produksi dan menurunkan kualitas benih kedelai sehingga menjadi perhatian untuk ditemukan solusi agar mendapatkan waktu penyimpanan benih tanpa mengalami kemunduran benih dan pencegahan dini terhadap infeksi patogen tular benih. Solusi yang saat ini digunakan yaitu dengan menggunakan fungisida karena beberapa jenis fungisida berbahan aktif dapat berguna dalam menghambat perkembangan patogen, 108
2 sedangkan interval waktu aplikasi berperan sebagai cadangan ketersediaan jenis fungisida yang digunakan pada tanaman kedelai (Sarwono, 2013). Petani kedelai pada umumnya masih mengandalkan penggunaan fungisida sintetis. Dampak negatif pestisida terhadap lingkungan yaitu pencemaran tanah yang dapat mematikan kehidupan organisme tanah (Lestari et al., 2018). Pemecahan masalah ini adalah pengembangan fungisida hayati. Selama ini, fungsida hayati diaplikasikan pada tanaman dan belum banyak diaplikasikan pada benih kedelai. Terdapat beberapa macam fungisida hayati yang dapat digunakan dalam mengatasi penyakit pada kedelai serta menambah masa waktu simpan tersebut, sehingga diperlukan cara yang tepat untuk memilih formulasi fungisida hayati terbaik. Aplikasi formulasi dapat dilakukan dengan coating pada benih dengan menggunakan media seperti natrium alginat yang ditambahkan konsorsium mikroba. Seed coating dapat menjadi pengganti fungisida untuk melindungi benih kedelai dari pengaruh buruk lingkungan selama penyimpanan dan penyakit benih. Seed coating juga dapat berfungsi sebagai pembawa zat aditif, dan memperbaiki penampilan benih (Sari et al., 2013). 1.2 Tujuan Khusus Riset 1. Mengetahui formulasi coating benih kedelai yang tepat dengan menggunakan konsorsium mikroba sebagai pencegahan penyakit benih. 2. Mengetahui pengaruh coating hayati terhadap daya simpan benih. 3. Mengetahui pengaruh coating terhadap perkecambahan benih. 1.3 Manfaat Riset Memperoleh informasi mengenai coating benih dengan berbahan dasar natrium alginat dan bahan aktif mikroba antagonis dan penambat nitrogen sehingga diperoleh benih mutu yang tahan terhadap serangan penyakit dan memiliki daya simpan lebih lama. 1.4 Urgensi Riset Urgensi dalam riset ini adalah semakin meningkatnya kebutuhan akan kedelai, namun dalam proses produksi benih terdapat kendala, yaitu adanya penyakit tular benih dan proses perkecambahan benih kedelai yang cepat. Coating benih pada kedelai dapat dijadikan solusi untuk mencegah terjadinya penularan penyakit melalui benih dan percepatan perkecambahan benih serta menjaga kualitas mutu benih kedelai. 1.5 Temuan yang Ditargetkan Temuan yang ditargetkan dalam riset ini antara lain mampu mendapatkan formula coating hayati yang efektif untuk mencegah benih dari penyakit dan mampu menambah daya simpan guna menjaga mutu dalam produksi benih serta mengurangi dampak residu fungisida dalam tanah saat penggunaan pelapis benih pada umumnya. 109
3 1.6 Kontribusi Riset Terhadap Ilmu Pengetahuan Kontribusi riset ini terhadap ilmu pengetahuan antara lain: 1). Eksplorasi mikroba antagonis yang dapat melindungi benih kedelai dengan menggunakan media natrium alginat, 2). Diperoleh informasi mengenai coating hayati terhadap perlindungan penyakit tular benih dan menjaga mutu benih kedelai serta dapat mengurangi tingkat residu fungisida sintetis yang digunakan. 1.7 Luaran Penelitian Luaran dari riset ini antara lain laporan kemajuan, laporan akhir, akun media sosial, publikasi media massa website universitas, dan artikel ilmiah dengan judul “Nature Coating based on Antagonist Microbial Consortium for Protection and Growth Quality of Soybean's Seed” yang akan dipublikasikan di Jurnal Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture yang terindeks Sinta 1. BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kedelai Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) merupakan tumbuhan penyerbuk sendiri yang mana memiliki bunga dengan kelamin lengkap atau hermaphrodite. Polong yang dihasilkan oleh tanaman kedelai lebih sedikit daripada bunga yang dihasilkan. Kedelai memiliki dua warna di bagian yang berbeda dengan warna hijau tua dan warna hijau keperakan yang sedikit lebih pucat di bagian abaksial daun (NCSoy, 2022). Perkecambahan dapat terjadi dikisaran 10-20 hari pada suhu 12 hingga 20°C dengan polong hijau dan terjadi ketika panen edamame sekitar 80-100 hari setelah semai (Regina, 2022). 2.2 Penyakit Benih Patogen tular benih diartikan sebagai patogen yang berasal dari dalam maupun luar benih dan berpotensi menjadi bakal penyakit pada tanaman (Ramdan et al., 2022). Patogen tular benih yang terbawa dari kedelai adalah Fusarium sp. Infeksi jamur ini mencapai 34-50% pada penyimpanan (Ramesh et al., 2013), dan tingkat infeksi sebesar 49% pada benih kedelai varietas Grobogan (Pujiarto et al., 2018). 2.3 Daya simpan benih Suhu simpan kedelai selama musim dingin mendekati -1,11°C di negara yang terletak di bumi bagian utara dan 4°C atau lebih rendah di negara bagian selatan. Selama musim semi dan musim panas, suhu optimal sekitar 4-15°C dan diangin-anginkan sehingga tercapai suhu terendah. Suhu akan mengurangi aktivitas jamur dan serangga dalam meningkatkan masa penyimpanan kedelai (Hellevang, 2018). Selain itu, daya simpan akan efektif jika tahapan dilakukan dan memastikan bahwa benih dengan kualitas awal setinggi mungkin serta kadar air yang aman ditempatkan di gudang penyimpanan (FAO, 2018). 2.4 Coating Benih Pelapisan benih dianggap sebagai alat yang layak untuk mengantarkan jamur Mikoriza Albuskular dan PGPR secara tepat dan luas ke tanaman yang 110
4 berbeda. Salah satu tanaman pertanian yang telah dieksplorasi adalah kacang tunggak yang dipantau dalam rumah kaca dan diberi perlakuan pelapisan benih. Perkecambahan kacang tunggak tak terpengaruh oleh pelapisan benih. Benih membutuhkan sekitar 6 hari setelah tanam (HST) untuk berkecambah, 46 hari setelah berkecambah untuk berbunga dan akan mengalami pematangan pada 19 hari selanjutnya yang mana lama waktu-waktu tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara perlakuan yang berbeda (Ma et al., 2019). 2.5 Media Alginat Media alginat yang terbuat dari bahan dasar natrium alginat (Na A) merupakan bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan kapsul atau sebagai pelapis pada makanan. Alginat adalah salah satu senyawa polisakarida alami yang diekstrak dari rumput laut cokelat. Senyawa ini berperan di dalam industri makanan sebagai pengental maupun sebagai bahan aditif. Bahan ini memiliki kemiripan dengan kitosan yang juga dapat diproses dengan mudah menggunakan pelarut hidrofilik seperti air dan tidak beracun (Baysal et al., 2013). Bahan ini dapat digunakan dalam bidang pertanian untuk melakukan pelapisan benih agar disimpan dalam jangka waktu lama tanpa kehilangan manfaatnya (Skrzypczak et al., 2021). 2.6 Agen Hayati Strategi pengelolaan penyakit tanaman telah dibuktikan oleh agen mikroba yang merangsang pertumbuhan (PGPR/PGPF), kinerja tanaman, dan meningkatkan hasil. Selain itu, mikroba ini dapat menekan penyakit tanaman dengan memproduksi enzim penghambat dan menginduksi respon imun pada tanaman (ElSaadony et al., 2022; Hashem et al., 2019) yang salah satunya adalah Bacillus subtilis dan terbukti dapat menghambat pertumbuhan Penicillium sp. dan Rhizopus stolonifer pada tanaman tomat (Punja et al., 2016). BAB 3. METODE RISET 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Riset akan dilaksanakan berdasarkan waktu dan tempat yang telah ditentukan. Riset akan dilaksanakan selama empat bulan. Tempat riset akan dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. 3.2 Alat dan Bahan Bahan yang digunakan adalah benih kedelai varietas grobogan, beras, natrium alginat, kentang, tauge, yeast extract, H2O2, Na2HPO4, pepton, KH2PO4, KOH, gliserol, MgSO47H2O, K2HPO4, CaCl2, akuades, alkohol 96%, tisu, botol plastik, plastik wrap, sabun cuci tangan, tanah perakaran bambu, tanah perakaran kedelai, sukrosa dan agar. Alat yang digunakan dalam riset ini yaitu cawan petri, tabung reaksi, gelas ukur, gelas beaker, pH meter, bunsen, gelas drygalski, jarum ose, mikropipet, pipet tetes, erlenmeyer, bor gabus, spatula, sarung tangan lateks, timbangan digital, 111
5 magnetic stirrer, mikroskop, oven, penghitung koloni, vortex, syring, kertas merang, polybag, penggaris, gunting dan alat tulis. 3.3 Variabel Riset Variabel riset yang digunakan adalah variabel bebas berupa konsentrasi natrium alginat, variabel terikat berupa kedelai varietas grobogan, dan variabel kontrol berupa metode uji kompatibilitas, kadar air benih, vigor benih, dan efektivitas formulasi secara langsung di rumah kaca. 3.4 Tahapan Riset Yang Akan Dilaksanakan Tahapan riset meliputi persiapan alat dan bahan di Laboratorium Perlindungan Tanaman. Selanjutnya dilakukan isolasi dan identifikasi mikroba antagonis dan jamur Fusarium sp. patogenik. Kemudian dilakukan uji kompatibilitas antar mikroba dengan patogen benih pada media natrium alginat sesuai dengan konsentrasi yang dibuat. Setelah itu, perlakuan benih kedelai dan penyimpanan untuk mengetahui mutu benih dilakukan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman, serta dilakukan pengujian langsung di rumah kaca untuk mengetahui efektivitas formulasi. 3.5 Prosedur Kerja Riset 3.5.1 Isolasi Mikroba Isolasi mikroba dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu dengan pengambilan sampel tanah dan isolasi pada media. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada tanah perakaran bambu di daerah lahan salin dan bintil akar kedelai. Isolasi mikroba Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens dilakukan dengan menggunakan media NA, media YPGA, dan beras khusus untuk mendapatkan jamur Trichoderma sp. pada daerah perakaran bambu yang akan diseleksi untuk mendapatkan spesies Trichoderma harzianum. Metode isolasi jamur Trichoderma sp. mengacu pada metode yang digunakan Nurliana dan Anggraini et al. (2018). Sedangkan isolasi bakteri Rhizobium menggunakan metode isolasi bakteri pada bintil akar kedelai yang mengacu pada Rohmani et al. (2020). 3.5.2 Identifikasi Mikroba Kultur murni bakteri ditumbuhkan pada media NA dan diinkubasi pada suhu 30⁰C selama 24 jam. Koloni bakteri yang tumbuh pada cawan petri diamati bentuk, tepi, permukaan, dan warnanya. Selanjutnya dilakukan uji gram untuk mengetahui jenis bakteri berdasarkan struktur peptidoglikannya. Selain itu, dilakukan uji biokimia bakteri yang meliputi uji hidrolisis pati dan uji katalase (Chairani et al., 2016; Handayani dan Zulfiati, 2020). Setelah teridentifikasi, kemudian isolat bakteri dilakukan uji kompatibilitas pada media NA dan Na A. 3.5.3 Isolasi Patogen Fusarium sp. Isolasi patogen tular benih Fusarium sp. dilakukan dengan benih kedelai menggunakan metode blotter test. Benih kedelai disterilisasi pada permukaan menggunakan NaOCl 1% selama 1 menit yang selanjutnya dicuci dengan air steril sebanyak 3 kali lalu dikeringanginkan (Wahyuni, 2019). Setelah itu, benih dimasukkan ke dalam cawan petri yang berisi 3 lembar kertas saring yang telah 112
6 dilembabkan dengan akuades berturut-turut sebanyak 25, 10, dan 25 benih serta diulang sebanyak empat kali (Ramdan dan Kalsum, 2017). 3.5.4 Uji Kompatibilitas Mikroba Pengujian dilakukan dengan menggoreskan isolat yang sudah didapatkan pada media NA dengan metode streak dan pada Na A dengan paper disc untuk mengetahui kompatibilitas antar mikroba. Hal ini dilakukan untuk diamati pembentukan zona hambat di antara dua isolat yang saling bersinggungan. Isolat dikatakan kompatibel apabila tidak terdapat zona hambat pada daerah pertemuan kedua isolat (Hartanti, 2020). Uji cakram cawan dilakukan untuk menguji fungisida berbahan aktif metalaksil. Uji dilakukan dengan 11 perlakuan sudah termasuk perlakuan kontrol (fungisida berbahan aktif metalaksil) yang ditumbuhkan antar mikroba dan patogen serta diulang sebanyak tiga kali. 3.5.5 Formulasi Coating Kedelai Pembuatan formulasi dilakukan dengan menggunakan komposisi natrium alginat dengan beberapa persentase yaitu 0%, 2%, 3%, 4%, dan 5% yang didalamnya juga dikulturkan mikroba yang sudah lolos uji kompatibel dan diulang sebanyak tiga kali. Setelah itu, formulasi yang sudah diseleksi diinokulasikan dengan benih kedelai dengan metode perendaman disimpan dengan lama waktu 0, 1, 2, 3 bulan dan dilanjutkan dengan uji daya kecambah benih (Ramdan et al., 2022). Daya kecambah normal sebesar >80% (Kepmentan, 2016). Kemudian dilihat perubahan fisik benih setelah selesai simpan. 3.5.6 Uji Kadar Air Benih Pengujian terhadap kadar air benih dilakukan dengan metode secara langsung, yaitu benih dikeringkan dalam oven. Benih dan cawan yang akan dioven sebelumnya ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui berat sebelum dioven. Setelah itu, penentuan kadar air dilakukan dengan dimasukkan ke dalam oven pada suhu 130oC selama 2 jam. Metode oven yang digunakan yaitu metode dengan suhu tinggi. Perhitungan dilakukan setelah selesai dioven dengan rumus berikut. Ka = M2−M3 M3−M1 x 100% (Yulyatin dan Diratmaja, 2015). 3.5.7 Uji Viabilitas Benih Uji viabilitas dilakukan dengan menggunakan metode uji daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum yang telah dilakukan proses coating (Madyasari et al., 2017). Analisis daya berkecambah benih dapat dihitung menggunakan metode UKDdp (uji kertas digulung didirikan dalam plastik). Benih diletakkan di atas kertas merang sebanyak 100 butir dan diulang sebanyak empat kali dan selanjutnya diletakkan di dalam germinator (Yulyatin dan Diratmaja, 2015; Kusumastuti et al., 2017). Hasil pengujian diamati dengan kriteria kecambah normal, abnormal dan mati (Sari, 2017). 3.5.8 Uji Vigor Benih Uji vigor benih kedelai dilakukan untuk mengetahui indeks vigor benih dan kecepatan tumbuh yang sudah diinokulasi dengan media Na A terseleksi. Metode 113
7 yang dilakukan yaitu dengan metode UKDDP (uji kertas digulung didirikan dalam plastik). Uji dilakukan dengan cara memberikan perlakuan benih dibasahi dengan larutan NaCl dengan sprayer untuk menciptakan kondisi suboptimum (Tustiyani et al., 2016). 3.5.9 Uji Efektivitas Formulasi Coating Benih Uji efektivitas formulasi coating benih dilakukan di rumah kaca, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Uji coating dilakukan dengan formulasi terbaik yang diinokulasikan ±7 g benih kedelai dan diulang sebanyak 3 kali. Kemudian dilihat perkembangan fase vegetatif dan generatif. Data dianalisis menggunakan ANNOVA, apabila hasilnya nyata dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 5% untuk menentukan perlakuan terbaik. 3.6 Luaran dan Indikator Pencapaian Luaran dari riset adalah mendapatkan formulasi yang optimal untuk meningkatkan mutu benih kedelai varietas grobogan. Selain itu, mendapatkan hasil dari inokulasi formulasi pada benih kedelai terhadap produktivitas kedelai di lapang. 3.7 Penafsiran Data dan Penyimpulan Hasil Riset Penafsiran data yang dilakukan yaitu analisis kadar air, vigor, dan viabilitas benih, dan parameter pertumbuhan serta kontrol sebelum dan sesudah diberi perlakuan coating. Hasil riset disimpulkan dengan melihat perbedaan yang signifikan (p<0,05) dari hasil analisis data pada kelompok uji dan kontrol terhadap mutu dan perlindungan dari patogen Fusarium sp. terbawa benih. BAB 4. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1 Anggaran Biaya Tabel 1. Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya No Jenis Pengeluaran Sumber Dana Besaran Dana (Rp) 1 Bahan habis pakai Belmawa 6.557.000 Perguruan Tinggi 590.000 Instansi Lain 0 2 Sewa dan jasa Belmawa 1.000.000 Perguruan Tinggi 500.000 Instansi Lain 0 3 Transportasi lokal Belmawa 1.200.000 Perguruan Tinggi 300.000 Instansi Lain 0 4 Lain-lain Belmawa 1.185.000 Perguruan Tinggi 600.000 Instansi Lain 0 Jumlah 11.932.000 114
8 Rekap Sumber Dana Belmawa 9.942.000 Perguruan Tinggi 1.990.000 Instansi Lain 0 Jumlah 11.932.000 4.2 Jadwal Kegiatan Tabel 2. Jadwal Kegiatan No Jenis Kegiatan Bulan Penanggungjawab 1 2 3 4 5 1 Penyiapan alat dan bahan Adzin Abbiyu Khaerulloh 2 Isolasi dan identifikasi bakteri Oryza Tiva Kusumamiarsih 3 Uji Kompatibilitas Oryza Tiva Kusumamiarsih 4 Pembuatan Formulasi Ghani Husni Fata 5 Uji Kadar Air Benih Ghani Husni Fata 6 Uji Viabilitas Benih Rafiq Ridwansyah 7 Uji Vigor Benih Adzin Abbiyu Khaerulloh 8 Uji Efektivitas Formulasi Rafiq Ridwansyah 9 Analisis Data Dina Rahmawati 10 Pembuatan Akun Media Sosial, Penyusunan Laporan Akhir dan Publikasi Dina Rahmawati DAFTAR PUSTAKA C, K., Aroguz, A.Z., Adiguzel, Z. dan Baysal, B.M. 2013. Chitosan/alginate crosslinked hydrogels: preparation, characterization and application for cell growth purposes. International journal of biological macromolecules, 59(1): 342-348. Chairani, O., Budiarti, R.S. dan Kartika, W.D. 2016. Identifikasi Bakteri Tanah di Kebun Botani Biologi Fkip Universitas Jambi. Jurnal Bio-site. 2(1): 27–33. El-Saadony, M. T., Saad, A. M., Soliman, S. M., Salem, H. M., Ahmed, A. I., Mahmood, M., El-Tahan, A. M., M. Ebrahim, A. A., Abd El-Mageed, T. A., Negm, S. H., Selim, S., Babalghith, A. O., Elrys, A. S., El-Tarabily, K. A. dan AbuQamar, S. F. 2022. Plant growth-promoting microorganisms as biocontrol agents of plant diseases: Mechanisms, challenges and future perspectives, Frontiers. URL: https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpls.2022.923880/full (Diakses tanggal 31 Januari 2023). FAO. 2018. Seeds toolkit - Module 6: Seed storage. Rome. 112. 115
9 Fertiwi, G. 2018. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Volume Impor Kedelai di Indonesia Tahun 1999-2016. Advanced Optical Materials, 7(1):1-9. Handayani, G.N. dan Zulfiati, Z. 2020. Isolasi Mikroba Penghasil Antibiotik dari Pasir Pantai Lemo-Lemo Kabupaten Bulukumba Dalam Menghambat Beberapa Bakteri Patogen. Jurnal Kesehatan, 13(1):21-27. Hartanti, D. A. S. 2020. Isolasi dan uji sinergisme bakteri endofit tanaman padi (Oryza sativa L.) untuk konsorsium biofertilizer. Agroradix: Jurnal Ilmu Pertanian. 3(2), 23-30. Hashem, A., Tabassum, B. dan Abd-Allah, E.F. 2019. Bacillus subtilis: a plantgrowth promoting rhizobacterium that also impacts biotic stress. Saudi journal of biological sciences. 26(6): 1291-1297. Hellevang, K. 2018. Better Soybean Storage Starts with Good Harvest Moisture. URL: https://cropwatch.unl.edu/2018/enhancing-soybean-storage-startsharvest-moisture. Diakses pada 27 Januari 2023. Kementerian Pertanian. 2016. Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 1316/HK.150/C/12/2016 tentang perubahan atas Keputusan Menteri Pertanian Nomor 355/HK.130/C/05/2015 Tentang Pedoman Teknis Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan. Jakarta: 40. Krisnawati, A. 2017. Kedelai sebagai sumber pangan fungsional soybean as source of functional food. Iptek Tanaman Pangan. 12(1): 57-65. Kusumastuti, S.N. dan Widajati, E. 2017. Perlakuan Benih diantara Periode Penyimpanan untuk Meningkatkan Daya Simpan Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merr.). Buletin Agrohorti. 5(2): 242-250. Lestari, I., Umboh, S. D. dan Pelealu, J. J. 2018. Tingkat populasi jamur tanah akibat perlakuan fungisida mankozeb di pertanaman sayur kubis (Brassica oleracea var. capitata) Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Jurnal Bios Logos. 8(1): 1-7. Madyasari, I., Budiman, C., Manohara, D. dan Ilyas, S. 2017. Efektivitas seed coating dan biopriming dengan rizobakteri dalam mempertahankan viabilitas benih cabai dan rizobakteri selama penyimpanan. Jurnal Hortikultura Indonesia. 8(3): 192-202. Mustika, S., Suhartanto, M. R., dan Qadir, A. 2014. Kemunduran benih kedelai akibat pengusangan cepat menggunakan alat IPB 77-1 MM dan penyimpanan alami. Buletin Agrohorti. 2(1): 1-10. NCSoy. 2022. Growing Soybeans. https://ncsoy.org/media-resources/growingsoybeans/. Diakses pada 27 Januari 2023. Nurliana, N. dan Anggraini, N. 2018. Eksplorasi dan identifikasi Trichoderma sp lokal dari rizosfer bambu dengan metode perangkap media nasi. Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan. 2(2): 41-44. 116
10 Pratama, W. R., Jusak, J. dan Sudarmaningtyas, P. 2013. Rancang Bangun Aplikasi Sistem Pakar untuk Menentukan Penyakit pada Tanaman Kedelai. Thesis, Universitas Dinamika: Surabaya. Pujiarto, D., Soekarno, B.P.W. dan Maddu, A. 2018. Deteksi cepat Fusarium sp. pada benih kedelai menggunakan metode spektroskopi fluoresens. Jurnal Fitopatologi Indonesia. 14(3): 97-97. Punja, Z., Rodriguez, G. dan Tirajoh, A. 2016. Effects of Bacillus subtilis strain QST 713 and storage temperatures on post-harvest disease development on greenhouse tomatoes. Crop Protection. 84(1): 98-104. Ramdan, E.P. dan Kalsum, U. 2017. Inventarisasi cendawan terbawa benih padi, kedelai, dan cabai. Jurnal Pertanian Presisi (Journal of Precision Agriculture). 1(1): 1-15. Ramdan, E. P., Kanny, P. I., Pribadi, E. M. dan Budiman, B. 2022. Peranan suhu dan kelembaban selama penyimpanan benih kedelai terhadap daya kecambah dan infeksi patogen tular benih. Jurnal Agrotek Tropika. 10(3): 389-394. Ramesh, B. V., Hiremath, S. V., Naik, M. K., Amaresh, Y. S., Lokesh, B. K. dan Vasudevan, S. N. 2013. Study of seed mycoflora of soybean from north eastern karnataka. Karnataka Journal of Agricultural Sciences. 26(1):58-62. Regina. 2022. Soybean: How to grow, harvest dan use. URL: https://plantura.garden/uk/vegetables/soybeans/soybean-overview. Diakses pada 27 Januari 2023. Rohmani, R.W. dan Erdiansyah, I. 2020. Karakteristik bakteri Rhizobium japonicum bintil akar kedelai pada cekaman salinitas bertingkat. In Agropross: National Conference Proceedings of Agriculture. pp. 101-107. Sari, M., Widajati, E., dan Asih, P. R. 2013. Seed coating sebagai pengganti fungsi polong pada penyimpanan benih kacang tanah. Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy). 41(3): 215-220. Sari, W., dan Faisal, M. F. 2017. Pengaruh media penyimpanan benih terhadap viabilitas dan vigor benih padi pandanwangi. Agroscience. 7(2): 300-310. Skrzypczak, D., Jarzembowski, Ł., Izydorczyk, G., Mikula, K., Hoppe, V., Mielko, K.A., Pudełko-Malik, N., Młynarz, P., Chojnacka, K. dan Witek-Krowiak, A., 2021. Hydrogel alginate seed coating as an innovative method for delivering nutrients at the early stages of plant growth. Polymers. 13(23): 42-33. Tustiyani, I., Pratama, R. A. dan Nurdiana, D. 2016. Pengujian viabilitas dan vigor dari tiga jenis kacang-kacangan yang beredar di pasaran daerah Samarang, Garut. Jurnal Agroekoteknologi. 8(1): 16-21. Wahyuni, S. dan Noviani, N. 2019, February. Isolasi Jamur Endofit dan Uji Penghambatan dengan Jamur Patogen Fusarium Oxysporum sebagai Agen Pengendali Hayati pada Tanaman Kedelai Secara Invitro. Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian. Februari 2019. 2(1): pp. 712-719. Yulyatin, A. dan Diratmaja, I. A. 2015. Pengaruh ukuran benih kedelai terhadap kualitas benih. Jurnal Pertanian Agros. 17(2): 166-172. 117
i DAFTAR ISI DAFTAR ISI.........................................................................................................i BAB. 1 PENDAHULUAN ..................................................................................1 BAB. 2 GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA .......................................2 2.1. Kondisi Umum Lingkungan Kegiatan Usaha ....................................2 2.2. Gambaran Umum Rencana Usaha .....................................................3 2.3. Potensi Sumber Daya dan Peluang Pasar ...........................................3 2.4. Analisis Kelayakan .............................................................................4 BAB. 3 METODE PELAKSANAAN ................................................................5 3.1. Proses Pembuatan Serasi Body Acne .................................................5 3.2. Target Pasar ........................................................................................7 3.3. Strategi Penjualan dan Pemasaran .....................................................7 BAB. 4 BIAYA DAN JADWAL PELAKSANAAN .........................................8 4.1. Anggaran Biaya ..............................................................................................8 4.2. Jadwal Kegiatan .............................................................................................8 DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................9 LAMPIRAN .........................................................................................................10 118
1 Serasi Body Acne : Sabun Alami Perpaduan Serai Sirih sebagai Antibakteri bagi Kulit Ahmad Faizi1 , Muhammad Fadilul Firdaus2 , Muhammad Iqbal Firlani3 , Robi Aziz Arifianto4 , Zalva Dwi Alfiati5 1Agroteknologi Fakultas Pertanian, 2Agroteknologi Fakultas Pertanian, 3Kimia Fakultas MIPA, 4Agroteknologi Fakultas Pertanian, 5Agroteknologi Fakultas Pertanian BAB 1. PEDAHULUAN Indonesia berada di wilayah beriklim tropis yang bersuhu udara tinggi sepanjang tahunya. Suhu udara yang tinggi serta aktivitas masyarakat yang padat membuat kondisi tubuh menjadi cepat berkeringat atau kulit menjadi lembap atau basah. Hal ini tersebut akan memicu timbulnya berbagai penyakit kulit pada tubuh manusia. Penyakit kulit dapat timbul secara langsung pada tubuh atau melalui kontak langsung dengan penderita. Menurut Zuhrotun (2009) penyakit pada kulit umumnya disebabkan oleh bakteri dari genus Staphylococus. Penyakit kuliah pada umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Penyakit kulit yang disebabkan oleh patogen bakteri seperti jerawat punggung merupakan masalah yang sering dihadapi masyarakat Indonesia. Jerawat dapat timbul karena adanya tumbunya organisme bakteri pada kulit. Pengobatan jerawat punggung tidak jauh beda dengan pengobatan jerawat pada wajah. Pengobatan ditujukan untuk menurunkan produksi sebum, menurunkan inflamasi pada kulit, memperbaiki abnormalitas folikel,dan menurunkan jumlah koloni Propionibacterium acnes (organisme bakteri kulit). Pemberian zat atau bahan aktif tertentu seperti antibakteri dapat menurunkan efektifitas dari Propionibacterium acnes (Sinaga, A. P., et. al. 2021). Zat atau bahan aktif dapat berupa pemanfaatan tanaman obat yang memiliki kandungan bakteri endofit. Bakteri endofit diindikasikan mampu menghasilkan senyawa antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen (Safira, U. M,. et al. 2014). Salah satu tanaman obat yang dapat dijadikan sumber bakteri endofit adalah sirih hijau (Piper betle L.) dan serai (Cymbopogon citratus). Dengan demikian, dibutuhkan inovasi untuk pengaplikasian pemanfaatan tanaman obat agar dijadikan produk guna. Selain itu, pembuatan inovasi dengan pemanfaatan tanaman obat dapat meningkatkan nilai jual dan kualitas produk yang dihasilkan. Inovasi yang diciptakan harus selinier dengan kandungan yang ada dalam tanaman obat tersebut. Inovasi dapat berupa pembuatan sabun antibakteri bagi tubuh. Produk inovasi yang kami buat merupakan hasil pemikiran inisiatif berdasarkan kondisi lapang munculnya permasalahan berbagai penyakit kulit. Kami membuat produk perawatan kulit berupa sabun Serasi Body Acne. Sabun ini 119
2 memiliki kandungan antibakteri senyawa turunan fenol yang dihasilkan dari minyak atsiri pada serai dan sirih. Selain itu, produk yang kami tawarkan memiliki keunggulan dibanding dengan produk sejenis lainnya. Bahan yang kami gunakan terbuat dari bahan alami sehingga aman bagi kulit dalam jangka waktu pemakaian yang panjang. Harga yang kami tawarkan juga tergolong cukup terjangkau sehingga sesuai dengan target pasar masyarakat golongan menengah kebawah dan mahasiswa yang memiliki permasalahan terhadap penyakit kulit BAB. 2 GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA 2.1 Kondisi Umum Lingkungan Kegiatan Usaha Daun sirih (Piper betle) merupakan tanaman yang termasuk ke dalam kelas Magnolipsida dengan ordo Piperales dan famili Piperaceae. Tanaman ini dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan dan anti bakeri alami. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bustanussalam et al (2015) menunjukkan bahwa daun sirih dapat digunakan sebagai antibakteri penyebab penyakit kulit seperti Staphylococcus aureus karena kandungan minyak atsiri yang mengandung senyawa turunan fenol. Selain dari daun sirih, senyawa turunan fenol juga terkandung pada minyak atsiri yang berasal dari tanaman serai (Rita, W. S., et al 2018). Serai (Cymbopogon citratus) adalah tanaman dari kelas Liliopsida dengan ordo Poales dan famili Poaceae. Tanaman ini juga dapat digunakan sebagai antibakteri, sejalan dengan yang dilakukan oleh Erlyn Putri (2016) yang menyatakan bahwa tanaman serai mengandung senyawa alkaloid yang merupakan senyawa fraksi etil asetat yang berfungsi sebagai antibakteri. Senyawa ini terbukti efektif membunuh bakteri Staphylococus aureus strain A dan B, Staphylococus albus, Pseudomonas sp, Proteus sp, Escherichia coli, dan Bacillus ssubtili. Senyawa ini bekerja dengan cara merusak komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga menyebabkan dinding sel tidak erbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian pada sel bakteri. Minyak atsiri memiliki komponen yang terdiri dari betle phenol dan beberapa derivatnyadiantaranya euganol allypyrocatechine 26,8-42,5%, cineol 2,4- 4,8%, mehyl euganol 4,2-15,8%, caryophyllen 3-9,8%, hidroksi kavikol, kavikol 7,2-16,7%, kabivetol 2,7-6,2%, estragol, ilypryrokatekol 9,6%, karvakol 2,25,6%, alkaloid, flavonoid, triterpenoid atau steroid, saponin, terpen, fenilpropan, terpinen, diastase 0,8-1,8%, dan tannin 1-1,3%.10 Pada konsentrasi 0,1-1% phenol bersifat bakteriostatik, sedangkan pada konsentrasi 1-2% phenol bersifat bakteriosida (Fuadsi, S., 2014). Kombinasi minyak atsiri dari serai dan sirih sebagai antibakteri dapat dimanfaatkan sebagai produk berupa sabun alami yang baik bagi kulit. Produk ini merupakan inovasi untuk memanfaatkan tanaman obat menjadi produk bodycare sehingga menambah nilai jual dari bahan baku yang digunakan. Produk ini dikemas dengan menggunakan kardus ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi 120
3 pencemaran karena kardus tidak memerlukan waktu yang lama untuk terurai. Produk berupa sabun ini juga tidak mengandung bahan kimia sintetis sehingga dapat meminimalisir risiko bahaya yang berdampak bagi kesehatan kulit. 2.2 Gambaran Umum Rencana Usaha Kami merancang sebuah produk sabun alami antibakteri yang ampuh untuk menekan laju pertumbuhan bakteri penyebab penyakit kulit. Bahan baku yang kami gunakan adalah tanaman serai dan sirih sehingga produk kami tidak mengandung kimia sintetis yang berbahaya jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Kemasan dari produk kami menggunakan kardus daur ulang yang ramah lingkungan. Desain dari produk kami dirancang secara minimalis namun tetap mengedepankan mutu dan kualitas. Selain itu harga yang kami tawarkan dapat dijangkau oleh berbagai kalangan masyarakat. 2.3 Potensi Sumber Daya dan Peluang Pasar Kondisi iklim Indonesia yang tropis dan bersuhu relatif tinggi membuat bakteri lebih cepat tumbuh karena tubuh mudah berkeringat. Hal ini menimbulkan masalah berupa penyakit kulit yang timbul di kalangan masyarakat. Penyakit kulit tersebut dapat berupa bisul, impetigo, back acne, dan lain sebagainya. Berbagai penyakit tersebut dapat ditekan dengan serangkaian perawatan. Namun, dalam perawatan membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Masalah tersebut kami lihat sebagai peluang usaha sabun antibakteri alami sebagai alternatif perawatan kulit yang lebih ekonomis. Kami juga memanfaatkan bahan baku yang ketersediaannya melimpah. Kandungan senyawa aktif yang dimiliki oleh Serasi Body Soap mampu mengatasi jerawat punggung dan mencegah jerawat tersebut timbul kembali. Harganya lebih terjangkau dan lebih aman karena bebas dari kandungan detergent. Analisis Pesaing : Nama Produk Harga Kemasan Bentuk Manfaat Sacre Skin Originally Goat Milk Rp 65.000,00 Dilapisi oleh plastik tipis. Berbentuk bulat dan padat. Bermanfaat mengatasi kulit yang mengelupas dan melembutkan kulit. Sabun Papaya Rp 12.000,00 Dikemas dengan menggunakan box kecil. Berbentuk persegi panjang dan padat. Membantu memudarkan bekas luka dan dapat mencerahkan. Serasi Body Acne Rp 6.300,00 Dikemas dengan kardus ramah lingkungan Berbentuk persegi panjang dan padat. Dapat mengatasi jerawat punggung dan melembutkan kulit. 121
4 2.4 Analisis Kelayakan Usaha 1. Penentuan Harga Penjualan Harga jual untuk setiap produk adalah Rp.6.300 2. Variable Cost per kemasan No Jenis Barang Jumlah Satuan Harga Total Harga 1. Air distilasi 250 gram Rp. 1.625 Rp. 1.625 2. Soda api (NaOH) 122 gram Rp. 4.500 Rp. 4.500 3. Minyak kelapa sawit 450 gram Rp. 4.000 Rp. 4.000 4. Minyak zaitun 450 gram Rp. 40.000 Rp. 40.000 5. Ekstrak daun sirih 2 sdm Rp. 5.000 Rp. 5.000 6. Ekstrak serai 2 sdm Rp. 10.000 Rp. 10.000 7. Kemasan 15 buah Rp. 3.750 Rp. 3.750 Total Rp. 68.875 Variable cost per satuan : 68.875/ 15 = Rp. 4.591 3. Break Even Point (BEP) Harga jual : 6.300 Biaya variabel per unit : . 4.591 Biaya tetap selama 1 periode : 450.000 A. BEP per bulan dalam unit = biaya tetap/(harga jual-biaya variabel) = Rp. 450.000/(6.300-4.591) = 418 unit B. BEP per bulan dalam rupiah = BEP per bulan dalam unit × harga jual = 418 × 6.300 = Rp. 2.633.400 4. Pay-back period Bulan Arus Kas Masuk (Rp) Keuntungan (Rp) Unit Terjual (2.633.400) 1 315.000 -2.318.400 50 2 315.000 -2.003.400 50 3 315.000 -1.668.400 50 4 315.000 -1.373.400 50 5 315.000 -1.058.400 50 6 315.000 -743.400 50 7 315.000 -428.400 50 8 315.000 -113.400 50 9 315.000 201.600 50 10 315.000 516.600 50 11 315.000 831.600 50 12 315.000 1.146.600 50 Total 3.780.000 Pay-back period = 9 bulan 122
5 5. Laporan arus kas URAIAN Tahun Total tahun 0 I II III IV V KAS MASUK Dalam Rp i. Pendanaan 7.000.000 0 0 0 0 0 ii. Penerimaan Penjualan 0 3.780.000 5.780.000 9.780.000 15.780.000 23.780.0000 Total Arus Kas Masuk 6.961.250 10.741.250 12.741.250 16.741.250 22.741.250 30.741.250 100.667.500 KAS KELUAR Dalam Rp i. Biaya Variabe l 0 2.500.000 5.500.000 9.500.000 10.500.000 12.500.000 ii. Biaya Tetap 0 7.620.000 5.400.000 5.400.000 5.400.000 5.400.000 iii. Distribusi 0 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 iv. Pemasaran 0 200.000 200.000 200.000 200.000 200.000 Total Arus Kas Keluar - 10.490.000 11.300.000 15.300.000 19.300.0000 23.300.0000 Proyeksi Keuntungan 6.961.250 221.250 1.441.250 1.441.250 3.441.250 7.441.250 20.947.500 BAB. 3 METODE PELAKSANAAN 3.1 Proses Pembuatan Serasi Body Acne 3.1.1. Tahap Persiapan A. Persiapan Tempat Tempat pelaksanaan produksi Serasi Body Acne ini beralamat di Jalan Kenanga, Grendeng, Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. B. Persiapan peralatan Peralatan yang dibutuhkan selama produksi dengan estimasi 15 buah sabun batang yaitu sebagai berikut : Nama peralatan Jumlah Keterangan Blender Tangan 1 buah Alat untuk mencampur bahan pembuat sabun Cetakan ukuran 1200 gram 6 buah Sebagai pencetak sabun Timbangan 1 buah Sebagai pengukur massa pada pembuatan sabun 123
6 Gelas plastik ukur 2 buah Sebagai pengukur volume larutan dan pelarut pada pembuatan sabun Alat pemotong sabun 1 buah Sebagai pemotong sabun yang telah mengeras Rak simpan 1 buah Untuk menyimpan sabun Keranjang plastik 12 buah Sebagai alas sabun yang disimpan di rak Masker 1 box Sebagai alat pelindung diri Sarung tangan karet 3 pasang Sebagai alat pelindung diri Kardus daur ulang 45 buah Sebagai pelindung produk dari Kerusakan Wadah 3 buah Sebagai tempat mencampur Adonan Thermometer 1 buah Sebagai pengukur suhu C. Persiapan Bahan Bahan yang dibutuhkan selama produksi (1.200 gram) untuk menghasilkan 15 buah sabun batang, dengan estimasi 80 gram perbatang yaitu : Nama Bahan Jumlah Keterangan Air distilasi 250 gram Sebagai pelarut soda api dalam pembuatan sabun Soda api (NaOH) 122 gram Sebagai basa yang berperan dalam proses saponifikasi Minyak kelapa sawit 450 gram Sebagai bahan dasar sabun Minyak zaitun 450 gram Sebagai bahan campuran penyeimbang minyak sawit Ekstrak daun sirih 2 sdm Sebagai minyak atsiri yang berperan sebagai antiseptic Ekstrak serai 2 sdm Sebagai minyak atsiri yang berperan sebagai antiseptic 124
7 3.1.2. Tahap Pelaksanaan A. Perancangan Produk 1. Mengidentifikasi bahan dan alat yang diperlukan untuk membuat produk 2. Mencari referensi dan penggunaan bahan-bahan pembuatan produk 3. Melakukan identifikasi dan melakukan uji coba produk 4. Mencari bahan lain sebagai pembanding, kemudian menetapkan bahan mana yang akan digunakan membuat sabun anitbakteri B. Pembuatan Produk 3.2 Target Pasar Target pasar dari produk sabun kami adalah masyarakat golongan menengah kebawah di daerah Purwokwerto dan sekitarnya untuk selanjutnya diperluas hingga ke seluruh Indonesia dengan rentang usia 7 tahun-lansia. Produk yang kami tawarkan juga ditujukan untuk orang dengan masalah penyakit kulit. Khasiat yang berada pada produk kami berupa antibakteri menjadi daya tarik bagi konsumen. Harga yang terjangkau membuat konsumen mudah untuk mendapatkan produk yang kami tawarkan. 3.3 Strategi Penjualan dan Pemasaran Penjualan dan pemasaran dari produk kami dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan direct marketing atau produk ditawarkan langsung kepada konsumen. Penjualan dan pemasaran juga dilakukan secara digital melalui kerja sama dengan influencer muda untuk mempromosikan produk kami di instagram, youtube, dan media sosial media lainya. Pengadu kan hingga mengent al Pelarutan soda api (NaOH) dalam air distilasi Pencampuran larutan lye dengan minyak sawit dan zaitun Pencampu ran minyak atsiri Pencampuran dengan hand blender Penyiapa n bahan & alat Pengemasan sabun Pencetak an adonan sabun Pemotongan sabun yang sudah mengeras Penyimpanan sabun pada suhu ruang 125
8 BAB. 4 BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN 4.1 Anggaran Biaya Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya No. Jenis Pengeluaran Sumber Dana Besaran Dana (Rp) 1. Bahan Habis Pakai Belmawa Rp.3.132.000 Perguruan tinggi Rp.1.044.750 Instansi lain (jika ada) 0 2. Sewa dan Jasa Belmawa Rp.780.000 Perguruan tinggi Rp.264.187,5 Instansi lain (jika ada) 0 3. Transportasi Jalan Belmawa Rp.520.000 Perguruan tinggi Rp.176.125 Instansi lain (jika ada) 0 4. Lain-lain Belmawa Rp.780.000 Perguruan tinggi Rp.264.187,5 Instansi lain (jika ada) 0 Jumlah Rekap Sumber Dana Belmawa Rp.5.212.000 Perguruan tinggi Rp.1.749.250 Instansi lain (jika ada) 0 Jumlah Rp.6.961.250 4.2 Jadwal Kegiatan Berikut jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan selama 2 bulan ke depan No. Jenis Kegiatan Minggu Penanggung Jawab 1 2 3 4 1 Penyedia Peralatan Robi Aziz Arifianto 2 Penyediaan Bahan Muhamad Fadilul Firdaus 3 Pembuatan Desain Label Kemasan Robi Aziz Arifianto 4 Produksi Muhammad Fadilul Firdaus 5 Promosi, Pemasaran, dan penjualan Muhammad Iqbal Firlani 6 Penyusunan laporan kemajuan Zalva Dwi Alfiati 7 Evaluasi Ahmad Faizi 126
9 8 Penyusunan Laporan Akhir Zalva Dwi Alfiati DAFTAR PUSTAKA Bustanussalam, B., Apriasi, D., Suhardi, E., & Jaenudin, D. (2015). Efektivitas Antibakteri Ekstrak Daun Sirih (Piper betle Linn) Terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923. Fitofarmaka: Jurnal ilmiah farmasi, 5(2), 58-64. Erlyn, P. (2016). Efektivitas Antibakteri Fraksi Aktif Serai (Cymbopogon citratus) terhadap Bakteri Streptococcus mutans. Jurnal Syifa’Medika, 6(2), 111 125 Fuadi, S. (2014). Efektivitas ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus pyogenes in vitro.Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Rita, W. S., Vinapriliani, N. P. E., & Gunawan, I. W. G. (2018). Formulasi Sediaan Sabun Padat Minyak Atsiri Serai Dapur (Cymbopogon citratus DC.) Sebagai Antibakteri Terhadap Escherichia coli Dan Staphylococcus aureus. Cakra Kimia, 6(2), 152-160. Safira, U. M., Pasaribu, F. H., & Bintang, M. (2014). Isolasi bakteri endofit dari tanaman sirih hijau (Piper betle L.) dan potensinya sebagai penghasil senyawa antibakteri. Current biochemistry, 1(1), 51-57. Sinaga, a. p., rajagukguk, a. m., sitanggang, r. p., tamba, n. d., & ulhaq, n. z. (2021). pemanfaatan buah nanas menjadi gel untuk mengobati jerawat punggung dalam upaya meningkatkan kreativitas karang taruna tiga binanga. Zuhrotun, R. Hendriani, S. A. F. Kusuma, (2009). Pemanfaatan ekstrak air kelopak bunga rosella (Hibiscus Sabdriffa. L) asal kabupaten Bandung Barat sebagai antiinfeksi terhadap beberapa genus bakteri staphylococcus [online]. 127
128
P2MW Kategori Judul Anggota Tim Manufaktur dan Teknologi Terapan Glossy Hair Mask Produk Hair Treatment Berbahan Aktif Alami dari Buah Pare Sebagai Solusi Praktis Menuju Tren Glow Up Rambut Sehat (Peserta KMI Expo) 1. Sandra Novitasari 2. Nur Annisa Wulandari 3. Lusi Setiawati 4. Muflikhatun (UKMPR 2022) 5. Satria Eka Aji 129
PROPOSAL PROGRAM PEMBINAAN MAHASISWA WIRAUSAHA (P2MW) Glossy Hair Care Kategori Usaha : Manufaktur dan Teknologi Terapan Disusun Oleh : Ketua Mahila Asana A1A021021 Anggota 1 Nur Annisa Wulandari F1A020030 Anggota 2 Lusi Setiawati I1B020014 Anggota 3 Sandra Novitasari K1A020053 Anggota 4 Fitri Nur Istiana C1B021049 Dosen Pembimbing Indah Setiawati, S.P., M.P NIDN 0002118505 UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2023 130
1 LEMBAR PENGESAHAN Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha 2023 Judul Usaha : Glossy Hair Mask Produk Hair Treatment Berbahan Aktif Alami dari Buah Pare Sebagai Solusi Praktis Menuju Tren Glow Up Rambut Sehat Ketua Pengusul a. Nama Lengkap : Mahila Asana b. NIM/NPM : A1A021021 c. Fakultas : Pertanian d. Nomor HP : 085640049370 e. Alamat surel (email) : [email protected] Anggota 1 Pengusul a. Nama Lengkap : Nur Annisa Wulandari b. NIM : F1A020030 c. Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Anggota 2 Pengusul a. Nama Lengkap : Lusi Setiawati b. NIM : I1B020014 c. Fakultas : Ilmu-Ilmu Kesehatan Anggota 3 Pengusul a. Nama Lengkap : Sandra Novitasari b. NIM : K1A020053 c. Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Anggota 4 Pengusul a. Nama Lengkap : Fitri Nur Istiana b. NIM : C1B021049 c. Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Dana yang diusulkan : Rp. 20.000.000 Purwokerto, 14 Maret 2023 Menyetujui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unsoed, (Dr. Norman Arie Prayogo, S.Pi, M.Si.) NIP. 198209072008121002 Ketua Pengusul, (Mahila Asana) NIM A1A021021 131
2 I. Latar Belakang 1.1 Latar Belakang Indonesia berada di iklim tropis yang berudara panas sehingga mengakibatkan kulit mudah berkeringat terutama pada area yang lembab. Rambut wanita berhijab lebih mudah berkeringat. Perlu adanya perawatan rambut untuk memelihara kesehatan rambut untuk mempertahankan kondisi rambut agar tetap baik. Penggunaan sampo yang terus-menerus tanpa didampingi treatment lain berpotensi membuat rambut rusak karena efek samping dari bahan SLS/SLES (pembusa sintetik) yang merupakan bahan utama sampo. Berdasarkan pengamatan secara langsung, semua produk sampo yang ada di pasaran mengandung SLS/SLES. Dari permasalahan ini kami membuat produk yang berguna untuk mengatasi berbagai masalah rambut dan membantu menjaga rambut agar tetap sehat dan mudah dilakukan sendiri di rumah. Produk ini yaitu hair mask yang bahan dasarnya berasal dari pare. Produk kami adalah Glossy Hair Mask. Glossy Hair Mask bisa menjadi sahabat dan solusi bagi wanita untuk mengatasi permasalah rambut mereka. Produk inovasi dikembangkan dari kebutuhan masyarakat terutama wanita berhijab yang hidup yang membutuhkan perawatan rambut. Pare memiliki potensi yang berguna untuk menyuburkan dan menjaga kesehatan kulit kepala dan rambut (Rasyadi, et al., 2020). Pare juga mengandung vitamin C yang dapat menumbuhkan rambut dengan cepat sehi ngga dapat digunakan untuk mengatasi kerontokan pada rambut dan merangsang pertumbuhan rambut (Hasanah, 2019). Selain itu, pare juga terdapat kandungan flavonoid yang berkhasiat sebagai penyubur rambut (Hendriani and Tamat, 2019). Sifat antioksidan pare berguna untuk menjaga kesehatan kulit kepala sehingga dapat membuat kulit dan rambut lebih bernutrisi. Berdasarkan penelitian Anisa dan Prima (2021), pare memiliki kandungan vitamin C 35.7 mg/100 g dan flavonoid 165 mg/100 g. Kami sudah melakukan uji mutu di Laboratorium Jurusan Farmasi Universitas Jenderal Soedirman untuk menguji kandungan pare sesuai manfaatnya yang mengandung vitamin C dan flavonoid yang dapat bermanfaat untuk 132
3 membantu mengatasi kerontokan pada rambut. Banyaknya kandungan yang terdapat pada pare dan rendahnya minat masyarakat terhadap pare melatarbelakangi kami memilih pare sebagai bahan dasar produk hair mask kami. 1.2 Profil Usaha Glossy Hair Care didirikan di Purwokerto pada tanggal 25 November 2020 dan mulai memproduksi produk masker rambut yang diberi nama Glossy Hair Mask pada bulan Mei 2021 dengan berlokasi di Langgongsari RT 1/3 ,Cilongok, Banyumas. Glossy Hair Care termasuk jenis usaha mikro yang bergerak pada bidang manufaktur dengan penerapan teknologi sederhana dan ramah lingkungan untuk meningkatkan nilai tambah dari pare. Kami mengubah pare yang biasanya hanya diolah sebagai sayuran untuk dikonsumsi menjadi sebuah produk hair mask yang berguna untuk mengatasi masalah rambut. Glossy Hair Mask sudah kami pasarkan sejak bulan Mei 2021 dengan target pasar saat ini Purwokerto dan sekitarnya lalu kini produk Glossy Hair Mask sudah memasuki wilayah Bandung, Bekasi dan Batang. Produk Glossy Hair Mask pada awalnya berbentuk pot dengan ukuran 250 gr dan kini kami sudah berinovasi mengeluarkan versi mini yaitu dalam bentuk sachet agar lebih memudahkan dalam pemakaian dan travel friendly. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk upaya untuk terus menghadirkan produk yang diinginkan oleh konsumen dan dapat bersaing dipasar. 1.3 Visi Misi Visi dan misi merupakan rumusan strategi perusahaan yang akan menghimpun seluruh potensi dalam perusahaan untuk bekerja serius dan fokus terus bergerak maju menuju cita-cita bersama. Visi: Menjadi perusahaan hair treatment rambut yang terbaik dengan terus menjalankan riset dan melakukan pengembangan produk agar dapat bermanfaat dan dapat memenuhi kebutuhan konsumen. 133
4 Misi: ● Turut serta memberikan kontribusi atas peningkatan kualitas hidup manusia dengan menyediakan produk hair treatment yang bermutu tinggi dengan hasil riset dan teknologi yang terbaik. ● Mengembangkan ide kreatif dan melakukan inovasi untuk mengembangkan produk yang bermutu tinggi yang dapat mengatasi berbagai masalah rambut serta produk yang ramah lingkungan dengan bahan-bahan organik yang tidak berbahaya bagi tubuh sehingga memiliki nilai unggul di mata konsumen. Gambar 1. Logo Perusahaan 1.4 Struktur Organisasi Glossy Hair Care memiliki struktur organisasi sebagai berikut: Mahila Asana sebagai Project Leader dengan tanggung jawab menyusun strategi tim serta mengkoordinasikan tim untuk mencapai tujuan atau visi misi yang telah disepakati bersama, Nur Annisa Wulandari sebagai Chief Executive Officer, Fitri Nur Istiana sebagai Chief Marketing and Finance Officer, Lusi Setiawati sebagai Chief Technical Officer yang mengatur 134
5 penggunaan dan pengembangan produk dan Sandra Novitasari sebagai Chief Operation Officer yang mengatur operasional produksi. Gambar 2. Struktur Organisasi Glossy Hair Care 1.5 Sejarah dan Perkembangan Usaha Produk ini dibuat melalui riset pasar dan konsumen. Uji hedonik dilakukan sebagai tahap awal/uji coba produk untuk mengetahui formula yang paling diminati konsumen. Untuk mendukung mutu, kami telah melakukan uji kandungan secara laboratorium, hasil uji laboratorium yang telah kami lakukan untuk mendukung klaim produk yakni mengandung vitamin C, antioksidan, dan saponin/antibakteri. Setelah menemukan formula yang terbaik, kami mulai melakukan produksi lalu kami pasarkan di area Purwokerto. Setelah beberapa bulan launching produk, pemasaran meluas hingga di daerah Kebumen, Batang, Bandung, Cikarang dan Bekasi. Kegiatan uji coba produk, uji kandungan dan launching produk dilakukan tim melalui pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan tahun 2021 dan sukses sampai ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Sejalan dengan mulai banyaknya konsumen yang tertarik dengan produk Glossy Hair Mask, kami terus melakukan pengembangan produk dengan melakukan inovasi kemasan dalam bentuk sachet sehingga lebih memudahkan dalam pemakaian dan travel 135
6 friendly. Selain itu kami juga terus melakukan terobosan dengan mengembangkan hair treatment lainnya yaitu sampo. Glossy Hair Mask awalnya kami pasarkan dengan kemasan pot ukuran 250 gram. Inovasi dan terobosan baru dilakukan dengan membuat produk dalam kemasan sachet sehingga lebih memudahkan dalam pemakaian oleh konsumen. Kami telah bekerja sama dengan PT Indo Asha Herbaltama sebagai suplier bahan baku alami bersertifikat analisis (Certificate of Analysis) dan kami sudah bermitra dengan empat salon yakni Salon Matrix, Salon Salma Muslimah, Salon Jimmy, dan Salon Yunita yang berada di sekitar Purwokerto sebagai daerah pemasaran offline. Pada tahun 2022 Produk Glossy Hair Mask menerima dana hibah melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha dan mampu menjadikan Produk Glossy Hair Mask hadir pada ajang KMI Award XIII. Melalui program tersebut produk Glossy Hair Mask telah mampu memproduksi dengan desain produk yang bersifat universal mengikuti perkembangan tren produk pada masanya dan telah membuat pengajuan sebuah nama perusahaan dengan nama CV. Peria Beauty Indonesia. Sehingga seiring berkembangnya berbagai inovasi bisnis secara cepat melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) pada tahun ini Glossy Hair Mask ingin memperluas dan memperbesar peluang pasar melalui legalitas produk untuk izin edar, pengembangan pasar dan saluran distribusi yang lebih difokuskan, serta penambahan inovasi produk yang sejalan dengan visi dan misi Glossy Hair Care yaitu pada produk hair treatment dengan bahan aktif alami sebagai solusi praktis menuju tren glow up rambut sehat. II. Deskripsi Usaha 2.1 Tujuan Mulia (Noble Purpose) "Usaha Hair Treatment bagi Sahabat Wanita yang Praktis dan Berbahan Aktif Alami Dibuat dari Buah Pare Lokal dalam Mendukung Tren Glow Up Rambut Sehat" Pare (Momordica charantina L.) banyak tersedia dan mudah didapatkan. Namun, belum banyak dimanfaatkan karena minat konsumen 136
7 terhadap pare cenderung lebih sedikit dan hanya digunakan sebagai sumber makanan yang hanya itu itu saja (baca: sayur pare). Dibalik rasa pare yang pahit ternyata mengandung banyak manfaat yang berguna untuk menyuburkan rambut dan menyehatkan kulit kepala. Kandungan senyawa aktif dalam buah pare yaitu flavonoid, lektin, saponin, polifenol, vitamin C, glikosida cucurbitacin, momordicin dan charantin (Fathonah, 2019). Flavonoid memiliki aktivitas antibakteri dan antivirus, sehingga dapat mempercepat pertumbuhan rambut serta mencegah kerontokan. Saponin memiliki kemampuan untuk membentuk busa yang dapat membersihkan kulit dari kotoran serta memiliki sifat sebagai counter iritan yang dapat meningkatkan sirkulasi darah perifer sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan rambut (Farhan, et al., 2022). Penelitian Febriani (2014) menyatakan bahwa, buah pare mempunyai daya antifungi dengan zona hambat 6,33 mm terhadap Candida albicans. Jamur tersebut salah satu jamur penyebab ketombe yang dipicu pertumbuhannya oleh keadaan seperti suhu, kelembaban, kadar minyak yang tinggi, dan penurunan imunitas tubuh (Khusnul., 2020). Penggunaan pare sebagai bahan baku utama bisa meningkatkan nilai jual dari pare itu sendiri sekaligus membawa dampak positif bagi petani pare karena mampu menambah lapangan pekerjaan bagi para petani. Harga 1 kg pare yang dijual di pasar mencapai Rp13.000. Harga jual hair mask pare Rp15.000/kemasan. Nilai tambah pare menjadi hair mask pare bisa mencapai Rp187.000 per kg pare. Selain itu, adanya produk Glossy Hair Mask ini juga dapat membantu melestarikan kearifan lokal serta mengurangi produk impor produk yang banyak mengandung bahan kimia. Produk kosmetik umumnya tinggi bahan kimia yang berasal dari impor. Dengan bekerja sama dengan petani dan pedagang sayur di daerah sekitar tempat tinggal, kami turut meningkatkan nilai jual buah yang dikenal pahit dan kurang digemari kaum muda. Kandungan bahan alami pada produk hair treatment yang kami tawarkan akan menjadi pionir bagi wirausaha muda yang kreatif dan solutif bagi keberlanjutan lingkungan. Produk hair mask kami berbahan alami karena menggunakan teknik emulsi lotion organik dan mudah dibilas serta diserap oleh permukaan bumi. 137
8 Teknik emulsi lotion organik belum dilakukan oleh perusahaan kosmetik hair treatment sehingga kami yakin bisa menjadi pelopor wirausaha mahasiswa yang memanfaatkan tanaman lokal dan mengedepankan kandungan bahan alami untuk kecantikan. Semakin banyak permintaan konsumen terhadap produk ini maka akan menambah lapangan pekerjaan sehingga akan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat Indonesia terutama di daerah sekitar Purwokerto yang harapannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perekonomiannya. 2.1 Konsumen Potensial 2.1.1 Analisi STP (Segmenting, Targeting, Positioning) ● Segmenting Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim sehingga banyak wanita yang menggunakan hijab. Wanita dengan usia 15-45 tahun cenderung memiliki gaya hidup aktif, memiliki kesibukan yang tinggi, hingga sering beraktifitas di luar ruangan namun seringkali masalah rambut mengganggu aktivitasnya seperti rontok dan berketombe. Banyak faktor yang mempengaruhi kerusakan rambut salah satunya adalah iklim di Indonesia yang cenderung berudara panas. Oleh karena itu, Glossy Hair Care memberikan salah satu solusi hair care untuk wanita berhijab untuk mengatasi berbagai masalah rambut. Glossy Hair Care bisa diaplikasikan untuk berbagai jenis rambut, termasuk rambut kering, keriting, halus, hingga rambut yang mudah rusak. Glossy Hair Care terbuat dari bahan alami sehingga cocok untuk menjaga kesehatan rambut dan kecantikan. Selain itu, Glossy Hair Care juga mudah diaplikasikan dan harga yang terjangkau sehingga cocok untuk para wanita yang memiliki kesibukan yang tinggi. ● Targeting Wanita berusia 15-45 tahun banyak memiliki kesibukan yang tinggi dan beraktifitas diluar ruangan banyak yang mengalami kerusakan pada rambut seperti rontok dan berketombe. Tak jarang banyak wanita yang malas untuk melakukan perawatan rambut baik dirumah atau di salon karena waktu yang terbatas dan biaya yang mahal. Selain itu, perawatan pada rambut juga berpengaruh pada kerusakan 138
9 rambut karena ketidakcocokan dengan kandungan bahannya hingga banyak yang tidak puas dengan perawatan rambut yang saat ini digunakan. Oleh karena ini, diperlukan konsultasi mengenai kesehatan rambut, produk hair care yang praktis digunakan, dan kandungan produk hair treatment yang alami untuk menjaga kesehatan rambut sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan memiliki rambut yang sehat berkilau. Glossy Hair Care menghadirkan produk hair treatment yang akan membantu menjaga kesehatan rambut para wanita. Produk Glossy Hair Mask terbuat dari bahan aktif alami dari buah pare dan praktis ketika diaplikasikan yang akan membantu menjaga kesehatan rambut. Produk Glossy Hair Care ditargetkan akan tersedia di berbagai salon dan toko kosmetik. ● Positioning Gambar 3. Positioning Mapping Produk Hair Care Berdasarkan gambar di atas, posisi produk Glossy Hair Mask terletak pada kuadran 1 dimana produk Glossy Hair Mask memiliki harga yang terjangkau daripada merek produk sejenis yang berada di pasaran tetapi masih mengutamakan kualitas bagi calon konsumen potensial. Penggunaan bahan lokal alami juga menjadi salah satu keunggulan produk Glossy Hair Care untuk dapat meningkatkan konsumen potensial dari Glossy Hair Care. 2.1.2 Karakteristik Calon Konsumen Potensial Kita hidup di iklim tropis yang cenderung berudara panas mengakibatkan banyak berkeringat dan banyaknya debu sehingga perlu adanya perawatan rambut guna memelihara kesehatan rambut, mempertahankan kondisi rambut agar tetap baik dan dapat mencegah timbulnya masalah pada rambut akibat faktor usia, pengaruh lingkungan dan 139
10 sinar matahari. Terlebih Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim sehingga banyak dari perempuan Indonesia yang menggunakan hijab. Di tengah kondisi iklim Indonesia yang berudara banyak perempuan pengguna hijab yang mengeluhkan kulit kepala mereka lebih lembab sehingga banyak mengalami permasalahan rambut seperti rambut rontok dan berketombe. Permasalahan rambut lebih banyak terjadi bagi para perempuan yang menggunakan hijab, banyak dari mereka yang mengeluhkan bahwa penggunaan hijab seharian apalagi jika digunakan saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari membuat rambut mereka mengalami masalah ketombe dan kerontokan. Berangkat dari permasalahan ini kami menawarkan produk yang nantinya akan berguna untuk mengatasi masalah rambut dan membantu menjaga rambut agar tetap sehat yang diperuntukkan bagi perempuan yang menggunakan hijab. Selain pengguna hijab, produk kami juga bisa digunakan bagi perempuan non-hijab. Perempuan non-hijab yang ingin menjaga kesehatan rambut mereka, terutama yang sering melakukan proses pewarnaan atau penataan rambut sehingga dapat merusak struktur rambut. Konsumen yang tidak berhijab juga cenderung lebih memperhatikan tampilan rambut mereka karena rambut terbuka dan terlihat oleh orang lain. Rambut mereka juga sering terpapar sinar matahari secara langsung sehingga mengalami beberapa masalah rambut karena hal tersebut. Sehingga produk Glossy Hair Mask ini menjadi solusi bagi mereka guna membantu menutrisi dan melembabkan rambut serta membuat rambut tampak lebih sehat. 2.1.2 Problem atau Masalah Calon Konsumen Potensial Berdasarkan survei yang telah kami lakukan terhadap 101 responden wanita sebagai segmen konsumen, sebanyak 66,2% mengeluhkan masalah rambut rontok, 55,4% mengeluhkan rambut berketombe, 25,7% mengeluhkan rambut kering, serta 16,2% mengeluhkan rambut bercabang. Meskipun banyak mengalami masalah rambut, sebesar 95,9% responden menyatakan hanya menggunakan sampo untuk perawatan rambut dan hanya 4,1% dari mereka yang melakukan perawatan rambut 140
11 hingga ke salon. Penyebabnya adalah tingginya biaya treatment di salon dan ketidaktahuan responden bagaimana cara perawatan rambut yang praktis di rumah. Padahal, penggunaan sampo yang terus-menerus tanpa didampingi treatment lain berpotensi membuat rambut rusak karena efek samping dari bahan SLS/SLES (pembusa sintetik) yang umumnya menjadi bahan utama dari sampo yang mereka gunakan. Gambar 2. Hasil survey permasalahan rambut Gambar 3. Hasil survey perawatan rambut Berdasarkan permasalahan tersebut, kami membuat produk yang berguna untuk mengatasi berbagai masalah rambut dan membantu menjaga rambut agar tetap sehat dan praktis karena dapat dilakukan sendiri di rumah. Produk kami bisa menjadi solusi bagi wanita pengguna hijab dan non-hijab yang memiliki masalah rambut seperti rambut rontok dan berketombe. Mereka tetap bisa menjaga kesehatan kulit kepala tanpa perlu repot ke salon 141
12 dengan biaya yang mahal. Produk kami bisa digunakan dengan praktis dan dari rumah. 2.1.3 Potensi Pasar Produk hair mask dari pare ini akan memiliki daya jual yang tinggi karena produk ini belum dijumpai sebelumnya. Pare ini juga belum banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan dan kecantikan secara optimal. Pasar yang kami tuju adalah wanita dewasa yang memiliki masalah rambut seperti rambut rontok dan berketombe, khususnya para pengguna hijab. Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas (2020), jumlah perempuan bekerja sebanyak 335.511 orang. Sedangkan kita mengasumsikan sebanyak 50% dari perempuan bekerja itu mengalami masalah rambut, sehingga target pasar kami sebanyak 167.455 orang. Kami asumsikan peluang pasar kami 1% dari target pasar yakni sejumlah 1.677 orang. Berdasarkan data dan asumsi tersebut, produk kami sangat berpotensi karena memiliki peluang pasar yang besar. Tabel 1. Peluang Pasar Deskripsi Jumlah Jumlah perempuan bekerja di Kabupaten Banyumas (2019) 335.511 orang Target pasar (diasumsikan 50% mengalami masalah rambut) 167.755 orang Peluang pasar (1% dari target pasar dengan asumsi sebanyak 99% membeli produk pesaing) 1.677 orang Target penjualan per tahun 250 buah 2.3 Produk 2.3.1 Foto Produk Produk hair mask memiliki bentuk krim dengan aroma segar dari buah-buahan. Produk dengan berat bersih 75 gram dikemas dalam wadah standing pouch sehingga travel friendly yang memudahkan dalam pemakaian, penyimpanan dan mudah dibawa. 142
13 Gambar 4. Foto produk Glossy Hair Mask dalam kemasan 2.3.2 Keunikan dan Diferensiasi Produk Analisis kompetitor dilakukan melalui observasi di pasar kosmetik dan dilakukan survei ke konsumen secara langsung serta melakukan observasi di marketplace Shopee. Hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat 2 merek sebagai market leader produk hair mask yakni L’OREAL dan Makarizo. Kompetitor hair mask natural didapatkan dari pengamatan di marketplace yaitu Hair Mask Ourmuzzle. Ketiga merek tersebut diambil sebagai pembanding sekaligus sebagai kompetitor supaya mendapatkan analisis peluang pasar dari hair mask pare. Hair mask pare yang berkonsep bahan alami dan merupakan inovasi yang belum ada sebelumnya menambah nilai jual untuk produk kami. Selain itu produk kami menggunakan bahan lokal. Dengan penggunaan bahan lokal ini dapat menjadi salah satu keunggulan produk dari Glossy Hair Care. Penggunaan bahan lokal dapat mendukung ekonomi masyarakat lokal, mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan dari proses distribusi bahan baku baik polusi ataupun penambahan bahan kimia, serta mampu meningkatkan citra produk Glossy Hair Care sebagai salah satu perusahan yang peduli terhadap lingkungan dan ekonomi lokal guna meningkatkan loyalitas pelanggan dan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan tersebut. 143
14 Berikut merupakan analisis perbandingan dari kompetitor dan produk kami berdasarkan hasil riset pasar. Gambar 5 Analisis Kompetitor Kategori Hair Mask Pare, Makarizo, L'Oreal dan Ourmuzzle Produk Glossy Hair Mask memiliki keunggulan dalam hal kemasan yang travel size, mengandung bahan alami, harga terjangkau, dan adanya bonus pembelian. Selain itu kami sedang mengupayakan legalitas dengan sudah berkonsultasi dengan LOKA POM Banyumas dan telah dilakukan pengujian seperti uji homogenitas, uji organoleptik, uji daya lekat, uji daya sebar, uji fitokimia, dan uji hedonis. Gambar 6. Uji Produk 2.3.3 Permasalahan dan Kebutuhan Konsumen 144
15 Banyaknya pengguna hijab yang mengeluhkan permasalahan rambut yang mereka alami namun sangat sedikit dari mereka yang melakukan perawatan rambut. Alasannya karena perawatan rambut itu ribet dan mahal karena harus ke salon. Sedangkan Glossy Hair Mask menawarkan produk hair treatment yang murah dan praktis digunakan dari rumah. Produk kami juga berbeda dengan produk yang beredar di pasar karena produk kami berasal dari bahan alami dan sampo yang tidak mengandung SLS sehingga aman digunakan dan tidak mencemari lingkungan. Banyak konsumen saat ini yang lebih banyak memilih produk yang berasal dari bahan alami karena bagi mereka yang berbahan alami lebih terpercaya untuk mengurangi permasalahan rambut. Konsumen saat ini juga lebih memilih produk perawatan kulit dengan banyak mempertimbangkan label natural, dan bahan baku natural. Mereka beranggapan produk natural lebih alami untuk mengatasi permasalahan kulit yang disebabkan oleh polusi dan iklim yang terjadi di Indonesia. 2.4 Sumber Daya Sumber daya fisik yang dibutuhkan untuk memproduksi Glossy Hair Mask, diantaranya alat, bahan dan sumber daya manusia. Alat yang dibutuhkan berupa saringan, pisau, blender, oven, kertas saring, batang pengaduk kaca, pipet plastik, timbangan digital, gelas ukur, kompor, dan gas. Sedangkan bahan yang dibutuhkan berupa pare, vegetable glycerin, cethyl alcohol, aquades, empigen CM, phenoxyethanol dan white oil. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam memproduksi produk Glossy Hair Mask sudah kami siapkan dan sesuai dengan standar pembuatan produk Hair Mask, pengetahuan tentang standar tersebut kami ketahui dengan berkonsultasi dengan pihak BPOM Lokasi Banyumas. Selain itu, kerja sama dengan beberapa supplier bahan baku bersertifikat analisis dan formulasi bahan aktif dengan PT Indo Asha Herbaltama Yogyakarta. Sumber daya non-fisik yang dibutuhkan adalah keterampilan dan pengalaman anggota dalam memproduksi hair mask, kerja sama dengan 145
16 rekan sesama tim dan kemitraan. Glossy Hair Care memiliki struktur organisasi sebagai berikut: 1. Mahila Asana dengan bidang ilmu Agribisnis memiliki keahlian dalam manajemen bisnis dan kepemimpinan yang baik sebagai Project Leader untuk membantu mengkoordinasikan tim untuk mencapai tujuan atau visi misi yang telah disepakati bersama; 2. Nur Annisa Wulandari dengan bidang ilmu Sosiologi memiliki keahlian komunikasi dan analisa masalah yang baik berperan sebagai Chief Executive Officer; 3. Fitri Nur Istiana dengan bidang ilmu Manajemen memiliki keahlian manajemen keuangan dan strategi pemasaran sebagai Chief Marketing Officer yang mengatur pemasaran produk; 4. Lusi Setiawati dengan bidang ilmu keperawatan memiliki keahlian riset produk sebagai Chief Technical Officer yang mengatur penggunaan dan pengembangan produk dan 5. Sandra Novitasari dengan bidang ilmu kimia memiliki keahlian membuat formula produk sebagai Chief Operation Officer yang mengatur operasional produksi. Pembagian tugas dalam organisasi ini berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka dapatkan sesuai dengan jurusan kuliah yang sedang ditempuh sekaligus kemampuan softskill masing-masing anggota. Beberapa anggota tim sudah berkesempatan mengikuti pelatihan ataupun workshop mengenai manajemen usaha dan digital marketing yang dilaksanakan oleh pihak Universitas Jenderal Soedirman dengan mengundang para ahli dan praktisi yang juga membantu tim dalam menyelesaikan masalah dan tantangan dalam berwirausaha. Sehingga melalui pelatihan dan pengalaman tersebut anggota tim telah memiliki ilmu dan pengetahuan lebih terkait berwirausaha dan memiliki keyakinan besar untuk dapat mengembangkan usaha Glossy Hair Care ini menuju usaha bertumbuh yang sukses dan berkembang baik. 2.5 Pemasaran 146
17 Pemasaran dilakukan dengan menggunakan strategi pemasaran yang efektif dan menarik konsumen dengan menggunakan sosial media dan e-commerce. Berikut strategi pemasaran yang kami gunakan menggunakan analisi 4P; ● Product (Produk), Glossy Hair Care adalah produk hair treatment yang terbuat dari bahan lokal aktif alami yaitu buah pare. Untuk produk Glossy Hair Mask memiliki manfaat sebagai salah satu solusi praktis untuk mencegah dan memperbaiki kondisi rambut yang rusak, mengembalikan kelembaban, serta mampu mengurangi rambut rontok. Gambar 7. Analisis google trends Pernyatan diatas didukung dari hasil analisis google trends (Gambar 7) yang menunjukkan bahwa peminat dari produk hair care merncapai angka 100 yang berarti bahwa peminat produk hair care dapat dikatakan tinggi. Oleh karena itu, Glossy Hair Care melalui produk Glossy Hair Mask hadir sebagai produk hair care solusi praktis wanita Indonesia dalam mewujudkan tren glow up rambut sehat. ● Price (Harga), produk Glossy Hair Mask memiliki harga terjangkau yang sebesar Rp 15.000/pcs dengan rekomendasi untuk dua kali pemakaian. Sehingga dengan harga yang terjangkau dan juga bersaing mampu memudahkan konsumen dalam membeli produk, namun tetap menjaga kualitas produk yang dihasilkan. ● Place (Tempat), pemasaran untuk produk Glossy Hair Mask yaitu dapat dijual di toko kosmetik dan jual salon-salon di sekitar purwokerto melalui kerja sama mitra. Kami juga memiliki akun 147
18 sosial media dan juga e-commerce guna memudahkan konsumen dalam membeli produk ataupun bertanya. ● Promotion (Promosi), promosi yang kami lakukan yaitu melalui sosial media dengan menguploud konten-konten produk, melakukan publikasi media massa, dan melakukan kerjasama dengan influencer. Selain itu, kami mengadakan promo atau diskon produk dan juga pemberian bonus souvenir kepada pelanggan untuk menarik minat konsumen dan meningkatkan kesadaran mereka tentang produk dari Glossy Hair Care. Teknik pemasaran yang dilakukan: 1. Shopee, dan Lazada: teknik yang dilakukan yaitu memberikan diskon pada saat event tertentu, juga akan ada voucher gratis ongkir dengan minimal pembelian Rp.0,00 dan voucher diskon jika ada pembelian >5 produk. Untuk link e-commerce sebagai berikut: Shopee: https://shopee.co.id/glossyhairmask?smtt=0.0.3 Lazada: https://www.lazada.co.id/shop/glossyhairmask/?spm=a2o4j. pdp_revamp_css.seller.1.29cd572fMbjecF&itemId=5568642106&ch annelSource=pdp 2. WhatsApp Business: teknik yang dilakukan adalah memberikan keterangan info produk pada bio WhatsApp dan akan terus update ketersedian produk lewat story WhatsApp. 3. Instagram dan TikTok: teknik yang dilakukan yaitu dengan membuat akun instagram khusus yang pada bio akan kami masukan informasi tentang kontak WhatsApp dan link yang akan langsung terhubung dengan Shopee dan Lazada agar mempermudah konsumen untuk menghubungi dan memesan produk. Pada bagian feed dan sorotan akan kami masukan testimoni pelanggan, foto dan video yang memuat isi keunggulan produk. Untuk link sosial media kami sebagai berikut: Instagram: https://instagram.com/glossyhairmask?igshid=YmMyMT A2M2Y= 148
19 Gambar 8. Tampilan Akun Sosial Media Glossy Hair Care 4. Facebook: teknik yang dilakukan adalah posting foto maupun video yang menjelaskan keunggulan produk. Dan penggunaan Facebook Ads yang akan direncanakan untuk tahap pemasaran selanjutnya menggunakan Meta Business Ads. 5. Kemitraan: teknik yang dilakukan adalah dengan bekerja sama dengan beberapa salon di daerah Purwokerto. Gambar 9. Kemitraan 6. Siaran Radio Gambar 10. Siaran Radio 7. Publikasi Media Massa dan testimoni 149
20 Gambar 11. Publikasi dan Testimoni. Strategi Perluasan Pasar yang dilakukan: 1. Menyediakan berbagai ukuran dan kemasan untuk produk Glossy Hair Mask, sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang berbeda, baik dari yang ingin mencoba produk baru hingga yang ingin membeli dalam jumlah besar untuk digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. 2. Memperluas jaringan kerjasama dengan salon rambut dan juga toko kosmetik yang ada di Purwokerto untuk merekomendasikan produk Glossy Hair Care kepada pelanggan mereka. Sehingga dengan strategi ini dapat membantu menjangkau konsumen yang lebih spesifik dan berminat pada produk Glossy Hair Mask. Untuk salon dan toko kosmetik yang menjadi target mitra kerja sama Glossy Hair Mask diantaranya, Glams Hair & Beauty Salon, Salon Galih, Ivana Salon, Haza Beauty Skincare and Bodycare, Gemini Cosmetics Shop, Belle Cosmetics, dan Boghan Beauty. 3. Melakukan promosi dan pemasaran produk secara luas melalui sosial media yang dimiliki Glossy Hair Care dengan menambah target audience baik melalui kolaborasi produk kecantikan lain, kolaborasi ambassador produk, dan juga kolaborasi dengan komunitas-komunitas yang berpotensi menambah target konsumen potensial Glossy Hair Care. 4. Memberikan bonus souvenir ataupun perlengkapan yang berhubungan dengan penggunaan produk dari Glossy Hair Care seperti halnya, ikat rambut, tempat masker rambut, dan juga pouch tempat produk Glossy Hair Mask treatment yang dapat bermanfaat bagi konsumen. Strategi Customer Relationship Management (CRM) yang dilakukan: 150