The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Penalaran, 2023-12-23 23:23:51

Buku Lentera Karya

3 kemasan biodegradable packaging. Lumut daun sebagai bahan dasar pembuatan biodegradable packaging diharapkan dapat menjadi solusi yang tepat untuk memperpanjang umur simpan buah dan sayuran serta menggantikan kemasan buah dan sayuran yang sulit terdegradasi. BAB II ISI Lukitasari (2018) menyatakan bahwa lumut daun memiliki struktur tumbuhan yang membentang luas, tumbuh secara berkelompok, dan saling terikat satu sama lain. Karakter tersebut yang membuat lumut daun dapat lebih mudah menahan dan menyerap air dalam jumlah optimum dan jangka waktu lama dibandingkan dengan jenis lumut lainnya. Lumut daun memiliki sifat poikilohydric yang memungkinkan lumut daun mampu berperan sebagai water retention dan water storage sekitar 200% hingga 3000% dari berat keringnya (Elumeeva et al., 2011 dalam Andreevna, 2021). Kemampuan lumut daun dalam menyerap air dapat berlangsung dengan cepat dan membebaskan air secara perlahan ke lingkungan sekitar (Lukitasari, 2019). Selain sifat poikilohydric yang dimiliki, lumut daun juga memiliki sifat endohidrik. Sifat lumut endohidrik ini yang mengakibatkan rhizoid dari lumut daun berperan besar dalam potensi penyerapan air. Selain itu juga rhizoid yang dimiliki oleh lumut daun memiliki kapabilitas dalam menembus pori-pori batuan, hal ini pula yang mengakibatkan lumut daun dapat menyerap air pada batuan (Sujadmiko & Amalia, 2021). Menurut Kein et al. (2021), daya serap air yang tinggi pada lumut daun disebabkan oleh adanya sel hialin penyimpan air. Keberadaan sel hialin berfungsi untuk menyerap air dalam jumlah besar. Potensi lumut daun dengan kemampuannya sebagai water retention dan water storage dapat dikembangkan dan digunakan sebagai solusi kemasan biodegradable bagi buah dan sayur. Kemasan suatu produk memiliki peran penting dalam ketahanan produk, perlindungan produk dari kontaminasi benda asing maupun lingkungan, hingga umur simpan produk pangan (Di Matteo et al., 2021). Buah dan sayur rentan terhadap kontaminasi yang menyebabkan kebusukan. Kemasan biodegradable packaging dapat menjadi solusi karena mampu melindungi buah dan sayur dari kontaminasi, memperpanjang umur 295


4 simpan, dan lebih ramah lingkungan. Biodegradable packaging merupakan inovasi terbaru dalam upaya menyeimbangkan perkembangan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi (Prakash et al., 2019). Material yang bersifat biodegradable sebagai bahan dasar pembuatan kemasan dapat diperoleh dari tumbuhan, hewan, bahkan mikroba. Kemudahan untuk terdegradasi di lingkungan melalui proses kimia maupun biokimia alami, serta produksi yang ekonomis dan berkelanjutan menjadi fokus utama bahan baku yang dimanfaatkan menjadi biodegradable packaging (Sani et al., 2021). Penggunaan lumut daun sebagai bahan dasar pembuatan biodegradable packaging memiliki potensi memecahkan permasalahan-permasalahan lingkungan apabila penggunaannya masif bagi masyarakat dibandingkan penggunaan plastik. Biodegradable packaging dari lumut daun menjadi hal yang sangat diperlukan mengingat kondisi lingkungan beberapa tahun belakangan ini. Menurut Sutrisnawati & Purwahita (2018), bahwa plastik adalah bahan yang sangat sulit terurai yang membutuhkan setidaknya ratusan tahun untuk terurai. Upaya mempercepat proses degradasi dengan membakar plastik bahkan menyebabkan bahaya bagi sekitar karena plastik mengandung zat yang berbahaya. Sedangkan, lumut daun akan terurai secara alami karena termasuk bahan organik. Biodegradable packaging berbahan dasar lumut daun dapat diperoleh dengan beberapa tahapan yaitu persiapan, pengujian potensi lumut daun sebagai biodegradable packaging, dan pengujian efektivitas lumut daun sebagai biodegradable packaging. Tahap persiapan dilakukan dengan pengambilan lumut daun dari lingkungan menggunakan bantuan scraper dan dimasukkan ke dalam ember. Sampel lumut yang telah dikumpulkan disusun berjajar untuk kemudian dikering-anginkan. Teknik kering angin bertujuan untuk menguapkan air pada sampel dengan memanfaatkan laju aliran udara atau suhu ruang tanpa terpengaruh kenaikan temperatur (Fardi et al., 2022). Kemudian, sampel buah dan sayuran yang akan digunakan disiapkan dengan cara dicuci bersih di bawah air mengalir dan dikeringkan dengan paper towel. Tahap pengujian potensi dilakukan dengan pengamatan parameter morfologi meliputi: kesegaran, bentuk, tingkat pembusukan, warna, tekstur, dan organoleptik (rasa) pada sampel buah dan sayuran yang telah dibungkus oleh lumut daun yang sudah dikeringkan. Tahap 296


5 pengujian efektivitas dilakukan dengan memberi beberapa perlakuan temperatur dan beberapa perlakuan material pembungkus pada buah dan sayuran yang bertujuan mengetahui tingkat pembusukan buah dan sayuran, ketahanan berdasarkan umur simpan, bobot buah dan sayuran, serta persentase kerusakan pada buah dan sayuran. Hal tersebut dapat menunjukan efektivitas material yang diujikan dalam memperpanjang umur simpan buah dan sayur. BAB III PENUTUP Permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini terutama akumulasi limbah plastik yang sulit terdegradasi memerlukan peran berbagai elemen masyarakat dalam menanggulangi permasalahan tersebut. Inovasi biodegradable packaging dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi limbah plastik. Biodegradable packaging berbahan dasar lumut daun berpotensi sebagai kemasan ramah lingkungan yang dapat digunakan untuk kemasan buah dan sayur. Lumut daun memiliki kemampuan water retention dan water storage oleh sifat poikiloydric, serta endohidrik yang memungkinkan dalam menyerap air. 297


6 DAFTAR PUSTAKA Amalia, N.N. & Sujadmiko, H. 2021. Keanekaragaman Bryophyta di Candi Plaosan, Jawa Tengah. Berkata Ilmiah Biologi. 13 (3): 25-35. Andreevna, M.Y. 2021. Water Holding Capacity of Some Bryophyta Species. Thesis. National Research Tomsk State University. Azwad, R., Tavita, G. E., & Prayogo, H. 2020. Jenis-Jenis Lumut (Bryophyta) di Hutan Sekunder Desa Sepandan Kecamatan Batang Lupar Kabupaten Kapuas Hulu. Jurnal Hutan Lestari. 8(2): 230-238. Di Matteo, G., Di Matteo, P., Sambucci, M., Tirillò, J., Giusti, A.M., Vinci, G., Gobbi, L., Prencipe, S.A., Salvo, A., Ingallina, C. & Spano, M. 2021. Commercial Bio-Packaging to Preserve the Quality and Extend the Shelf-Life of Vegetables: The Case-Study of Pumpkin Samples Studied by a Multimethodological Approach. Foods. 10 (10): 2440. Fardi, A.R.A. & Raharjo, S.J. 2022. Pengaruh Metode Pengeringan Kering Angin dan Oven Terhadap Karakteristik Simplisia Bunga Kecombrang (Etlingera elatior). Metamorfosa. 9(2): 379-389. Lukitasari, M. 2018. Mengenal Tumbuhan Lumut (Bryophyta) Deskripsi, Klasifikasi, Potensi dan Cara Mempelajarinya. CV. AE Media Grafika. Magetan. Lukitasari, M., 2019. Mengenal Tumbuhan Lumut (Bryophyta). CV. AE Media Grafika. Magetan. Mulyani, E., Perwati, L.K. & Murningsih. 2015. Lumut Daun Epifit di Zona Tropik Kawasan Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Bioma. 16 (2):76-82. Nadhifah, A., Ikhsan, N., Suharja, Muslim & Yudi, S., 2018. Keanekaragaman lumut (Musci) berukuran besar pada zona montana Kawasan Hutan Lindung Gunung Sibuatan, Sumatera Utara. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon. 2 Desember 2018, Sumatera Utara, Indonesia. pp. 101-106. Prakash, G., Choudhary, S., Kumar, A., Garza-Reyes, J.A., Khan, S.A.R. & Panda, T.K. 2019. Do Altruistic and Egoistic Values Influence Consumers’ Attitudes and Purchase Intentions Towards Eco-Friendly Packaged Products? An Empirical Investigation. Journal of Retailing and Consumer Services. 50: 163- 169. 298


7 Sani, M.A., Azizi-Lalabadi, M., Tavassoli, M., Mohammadi, K. dan McClements, D.J., 2021. Recent Advances in the Development of Smart and Active Biodegradable packaging Materials. Nanomaterials. 11(5): 1331. Setiarto, R.H.B. 2020. Teknologi Pengemasan Pangan Antimikroba yang Ramah Lingkungan. Guepedia. Bogor. Sujadmiko, H. & Vintara, P.S. 2021. Tumbuhan Lumut di Kampus UGM. UGM Press. Yogyakarta. Sutrisnawati, N.K. & Purwahita, R.M. 2018. Fenomena Sampah dan Pariwisata Bali. Jurnal Ilmiah Hospitality Management. 9(1): 49-56. 299


300


PENGABDIAN MASYARAKAT Judul Anggota Tim Griya Inovatif: Kaderisasi Karang Taruna Terdidik Upaya Meningkatkan Potensi Peternakan Kambing Etawa Dari Hulu Ke Hilir di Desa Windujaya Banyumas 1. Puji Astuti (UKMPR 2021) 2. Jalalludin (UKMPR 2020) 3. Dea Mudrikah (UKMPR 2020) 4. Uut Ela Triana (UKMPR 2020) 5. Aqilah Rahma A. (UKMPR 2021) 6. Fahmi Khairul Y. (UKMPR 2021) 7. Regita Ibdaul K. (UKMPR 2021) 8. Vina Helmi N. I. (UKMPR 2021) 9. Nurdila Haerani (UKMPR 2022) 10. Alif Ardandi (UKMPR 2022) 11. Netika Alifiyah (UKMPR 2022) 12. Puan Anindya (UKMPR 2022) 13. Alfi Nuraeni (UKMPR 2022) 14. Khansa Naila (UKMPR 2022) 301


LOMBA INOVASI PROGRAM PEMBERDAYAAN DAN PEMBANGUNAN DESA (LIP3D) GRIYA INOVATIF: KADERISASI KARANG TARUNA TERDIDIK UPAYA MENINGKATKAN POTENSI PETERNAKAN KAMBING ETAWA DARI HULU KE HILIR DI DESA WINDUJAYA BANYUMAS “Budidaya” Oleh: Puji Astuti A1D021006 2021 Jalalludin D1A020017 2020 Dea Mudrikah B1A020003 2020 Uut Ela Triana A1F020016 2020 Aqilah Rahma A. A1F021033 2021 Fahmi Khairul Yusuf A1D021131 2021 Regita Ibdaul Khasanah P. A1D021128 2021 Vina Helmi Nur I. K1B021022 2021 Nurdila Haerani A1A022010 2022 Alif Ardandi A1D022160 2022 Netika Alifiyah I1D022044 2022 Puan Anindya I1D022082 2022 Alfi Nuraeni I1C022044 2022 Khansa Naila Tsany C.P. I1A022105 2022 UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN 2023 302


ii HALAMAN PENGESAHAN SUBPROPOSAL 303


iii DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN SUBPROPOSAL ................................................... ii DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii DAFTAR TABEL.................................................................................................. iv DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. v RINGKASAN ........................................................................................................ vi A. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1 B. SOLUSI PERMASALAHAN ......................................................................... 3 C. TUJUAN.......................................................................................................... 4 D. INDIKATOR KEBERHASILAN PROGRAM............................................... 4 E. LUARAN......................................................................................................... 5 F. MANFAAT...................................................................................................... 6 G. METODE PELAKSANAAN .......................................................................... 6 H. JADWAL KEGIATAN ................................................................................. 14 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 16 LAMPIRAN.......................................................................................................... 17 Lampiran 1. Biodata Ketua Tim Pelaksana....................................................... 17 Lampiran 2. Biodata Dosen Pembimbing ......................................................... 19 Lampiran 3. Surat Pernyataan Kesediaan Kerja Sama dengan Pemerintah Desa Windujaya ......................................................................................................... 24 Lampiran 4. Surat Pernyataan Kesediaan Kerja Sama dengan Karang Taruna Desa Windujaya ................................................................................................ 25 Lampiran 5. Rancangan Biaya .......................................................................... 26 I. RANCANGAN BIAYA ................................................................................ 26 Lampiran 6. Kurikulum Pembelajaran Nonformal............................................ 29 Lampiran 7. Desain Logo “Griya Inovatif” dan Kemasan Produk ................... 39 304


iv DAFTA TABEL Tabel 1. Indikator Keberhasilan Program............................................................... 4 Tabel 2. Roadmap kegiatan..................................................................................... 6 Tabel 3. Jadwal Kegiatan ...................................................................................... 14 Tabel 4. Rancangan Biaya..................................................................................... 25 305


v DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Diskusi Karang Taruna Desa Windujaya ........... Error! Bookmark not defined. Gambar 2. Potensi Sumber Daya Pakan Ternak ....Error! Bookmark not defined. Gambar 3. Survei Kandang Kambing Etawa .........Error! Bookmark not defined. Gambar 4. Detail Kandang Kambing Etawa........................................................... 1 Gambar 5. Bentang Alam Desa Windujaya ............................................................ 1 Gambar 6. Limbah Pertanian Tidak Dimanfaatkan ................................................ 1 Gambar 7. Peta Lokasi Mitra .................................................................................. 1 306


vi RINGKASAN Desa Windujaya merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Desa ini memiliki luas wilayah sebesar 314,270 ha dengan ketinggian 600 mdpl dan curah hujan sekitar 5.000 mm/tahun. Salah satu komoditas yang dikembangkan 10 bulan terakhir di desa ini adalah peternakan Kambing Etawa dengan jumlah ternak sebanyak 15 ekor. Namun, pengelolaan peternakan kambing Etawa di Desa Windujaya belum diolah dengan optimum dikarenakan masih dilakukan secara konvensional dan menggunkan ketrampilan budaya ternak secara turun menurun. Budidaya Kambing Etawa masih memiliki banyak kendala diantaranya pemanfaatan Kambing Etawa hanya dalam bentuk jual beli ternak, pengelolaan pakan ternak belum mampu memenuhi kebutuhan nutrisi, feses belum terkelola dengan baik, serta rendahnya pengetahuan terkait ternak dan minat kaum muda terhadap bidang peternakan. Oleh karena itu dibuat sebuah program Griya Inovatif untuk mengkaderisasi karang taruna di Desa Windujaya untuk mewujudkan budidaya kambing perah, manajemen susu, dan pengolahan limbah secara terintegrasi (integrated farming) serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya karang taruna. Intervensi yang akan diberikan berupa kaderisasi 823 orang Karang Taruna Desa Windujaya melalui pelatihan kemampuan peternak. Program ini bekerja sama dan menjalin kerjasama dengan PKK dan Bumdes Desa Windujaya untuk mendukung kegiatan program. Monitoring terkait implementasi pelatihan yang telah dilakukan dengan tolak ukur kemajuan dan hambatan yang terjadi selama pelaksanaan program dilakukan setiap bulan. Agenda kegiatan yang dilakukan setelah menyelesaikan laporan berupa controlling. Pengukuran indikator keberhasilan dilaksanakan dengan cara mengumpulkan data pendukung yang akan diukur sebelum dan sesudah pelaksanaan program yang dilaksanakan di Desa Windujaya. Luaran yang diharapkan dari program ini adalah adanya pengolahan produk ternak, pengelolaan limbah, publikasi jurnal ilmiah, dan modul panduan ternak. Kata kunci: Griya Inovatif, Kambing Etawa, Karang Taruna, Windujaya. 307


1 A. PENDAHULUAN Desa Windujaya terletak di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Desa tersebut berjarak kurang lebih 33,8 kilometer arah utara dari pusat Kabupaten Banyumas. Berdasarkan data desa, ketinggian Desa Windujaya berada pada 600 mdpl dengan curah hujan sekitar 5.000 mm/tahun dan temperatur rata-rata 26-27oC sehingga pasokan airnya melimpah. Luas Desa Windujaya 314,270 ha, meliputi lahan pekarangan, sawah, dan lain-lain (Pradana et al., 2022). Komposisi penduduk Desa Windujaya terbesar yaitu kelompok usia produktif 15-60 tahun. Mata pencaharian warga Desa Windujaya diantaranya adalah petani, buruh tani, pedagang, karyawan swasta, dan peternak. Namun, belum banyak masyarakat yang melirik bidang peternakan, padahal Desa Windujaya memiliki potensi besar di bidang peternakan serta adanya dukungan dari program peternakan Kambing Etawa milik desa pada tahun 2022, ketersediaan pakan yang melimpah, dan kondisi lingkungan mendukung untuk pemeliharaan ternak terutama kambing. Gambar 1. Diskusi Karang Taruna Desa Windujaya Gambar 2. Potensi Sumber Daya Pakan Ternak Gambar 3. Survei Kandang Kambing Etawa Gambar 4. Detail Kandang Kambing Etawa Gambar 5. Bentang Alam Desa Windujaya Gambar 6. Limbah Pertanian Tidak Dimanfaatkan Gambar 7. Peta Lokasi Mitra 308


2 Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil survei, program peternakan Kambing Etawa milik desa terletak di RT 4 RW 1. Program tersebut telah berjalan selama kurang lebih 10 bulan dengan jumlah ternak sebanyak 15 ekor Kambing Etawa yang terdiri dari 6 anakan, 8 indukan, dan 1 pejantan. Namun, pengelolaan peternakan Kambing Etawa di desa tersebut belum dilakukan dengan baik. Hal ini dikarenakan pengelola bukan merupakan tenaga kerja terlatih yang ahli dalam bidang peternakan sehingga budidaya kambing perah, manajemen susu, dan pengelolaan limbah belum optimal dan dilakukan secara konvensional berdasarkan pengetahuan dan keterampilan budidaya ternak yang ada secara turun temurun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Purwaningsih et al., (2020), produksi daging kambing Kabupaten Banyumas pada tahun 2019 sebanyak 1.127.200 kg dan produksi susu kambing sebesar 55.700 liter dengan prediksi tahun 2015-2025 terjadi peningkatan permintaan pasar sebesar 16%. Hal itu menjadi peluang besar bagi Desa Windujaya yang memiliki potensi peternakan Kambing Etawa. Namun, pemanfaatan Kambing Etawa hanya terbatas dalam bentuk daging, sedangkan susu belum dimanfaatkan oleh masyarakat. Pengelolaan pakan ternak yang dilakukan juga belum mampu memenuhi kebutuhan nutrisi Kambing Etawa untuk menghasilkan daging dan susu yang berkualitas karena pakan yang diberikan hanya berupa hijauan segar. Feses ternak yang ada di Desa Windujaya juga belum terkelola dengan baik. Pengelolaan feses terbatas hanya dilakukan dengan pembersihan kandang, pengumpulan feses, dan sebagian kecil dimanfaatkan sebagai pupuk oleh masyarakat setempat. Pengelolaan feses yang kurang baik berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan permasalahan sosial. Dampak negatif dari penumpukan feses dapat berpengaruh terhadap kesehatan ternak, manajemen reproduksi terganggu, dan susu dapat dengan mudah terkontaminasi bakteri (Karyono dan Setiawan, 2022). Menurut penelitian Wijaksono et al., (2016), ratarata kambing dewasa menghasilkan feses padat sebanyak 0,5 kg per hari. Artinya, dari 15 ekor kambing terdapat sekitar 7,5 kg feses kambing peternakan di Desa Windujaya. Potensi feses kambing sebagai kompos jika dikelola dengan baik 309


3 dapat mendukung terciptanya zero waste, meminimalkan input pertanian, serta memberikan keuntungan bagi peternak di bidang ekonomi. Rendahnya pengetahuan terkait ternak dan minat kaum muda menyebabkan perkembangan sektor peternakan menjadi kurang optimal. Peternak perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang dapat diperoleh melalui pendidikan non formal, pelatihan, dan pengalaman beternak (Muatip et al., 2021). Berdasarkan permasalahan tersebut, kami menginisiasi program “Griya Inovatif” yang menjadi solusi atas problematika peternakan di Desa Windujaya. “Griya Inovatif: Kaderisasi Karang Taruna Terdidik Upaya Meningkatkan Potensi Peternakan Kambing Etawa dari Hulu ke Hilir di Desa Windujaya Banyumas”, dibentuk untuk mewujudkan budidaya kambing perah, manajemen susu, dan pengolahan limbah secara terintegrasi (integrated farming) untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya Karang Taruna Karya 12 Desa Windujaya. B. SOLUSI PERMASALAHAN Berdasarkan uraian dalam pendahuluan dan suvei yang telah dilakukan, maka permasalahan yang dirumuskan dalam proposal ini adalah: 1. Sekitar 90% potensi peternakan yang ada di Desa Windujaya belum dimanfaatkan secara optimal. 2. Tercatat 70% kualitas sumber daya manusia di desa belum setara dengan potensi peternakan yang ada. 3. Hampir 100% pengelolaan program peternakan Kambing Etawa di desa dilakukan secara konvensional. 4. Kambing Etawa sebagai kambing dwiguna baru dimanfaatkan dalam bentuk daging sedangkan potensi susu belum dikembangkan sama sekali. 5. Feses Kambing Etawa baru dikelola sekitar 20%. Griya Inovatif sebagai upaya kaderisasi karang taruna terdidik menjadi solusi mengatasi permasalahan tersebut dengan memanfaatkan potensi peternakan Kambing Etawa dari hulu ke hilir. Di sisi lain, potensi sumber daya manusia karang taruna yang memiliki kemauan untuk berkembang menjadi dasar inisiasi program ini. Pengembangan potensi peternakan yang ada melalui budidaya kambing perah, manajemen susu, dan pengelolaan limbah dilakukan sebagai langkah dalam meningkatkan kualitas kader karang taruna. Pelatihan disertai 310


4 dengan praktik akan diisi oleh narasumber yang ahli dalam bidangnya di bawah pengawasan fasilitator. Pembentukan Griya Inovatif melibatkan karang taruna dan pemerintah desa dalam setiap pengambilan keputusan dengan harapan keberkelanjutan pengembangan potensi peternakan Kambing Etawa di Desa Windujaya dapat tercapai. C. TUJUAN Tujuan dari pelaksanaan program ini adalah untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang telah teridentifikasi sebelumnya, yaitu: 1. Mengoptimalkan potensi peternakan yang ada di Desa Windujaya. 2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam pengelolaan peternakan Kambing Etawa pada pembentukan Griya Inovatif di Desa Windujaya dalam pemanfaatan ternak dari hulu ke hilir. 3. Meningkatkan minat masyarakat untuk menjadikan ternak sebagai penghasilan tambahan dengan indikator bertambahnya 5-10 orang peternak muda baru. 4. Tersusunnya rancangan kurikulum pembelajaran untuk peternak dalam mewujudkan Desa Windujaya sebagai sentral budidaya Kambing Etawa terintegrasi dengan sistem distribusi susu dan kompos yang baik. 5. Pengaplikasian IPTEK dalam budidaya Kambing Etawa, manajemen susu, pengelolaan limbah melalui pendidikan non formal, dan pelatihan. 6. Meningkatkan nilai ekonomis feses kambing menjadi produk seperti kompos untuk mendukung terciptanya zero waste, serta meminimalkan input pertanian. D. INDIKATOR KEBERHASILAN PROGRAM Tabel 1. Indikator Keberhasilan Program No Indikator sebelum program Indikator keberhasilan setelah program 1 Tidak terdapat wadah peningkatan dan pengelolaan sumber daya manusia dalam bidang peternakan Kambing Etawa dalam bentuk lembaga Terbentuknya Griya Inovatif 2 Kurangnya jumlah dan minat pemuda untuk menjadi peternak Kambing Etawa Bertambahnya 5-10 petenak muda baru dari karang taruna Desa Windujaya dengan rentang usia 15-35 tahun 3 Tidak adanya pedoman bagi Tersusunnya rancangan kurikulum 311


5 masyarakat dalam beternak dan pengelolaan produk hasil ternak pembelajaran beternak dan pengelolaan produk hasil ternak Kambing Etawa 4 Penerapan IPTEK dalam manajemen ternak Kambing Etawa belum efektif Penerapan IPTEK dalam beternak Kambing Etawa dan pengelolaan produk hasil ternak melalui pelatihan pemeliharaan ternak, manajemen kandang, manajemen pakan, manajemen kesehatan dan sanitasi, manajemen pengadaan hijauan, manajemen susu, manajemen limbah, serta pemasaran. 5 Rendahnya pengetahuan dan keterampilan mengenai teknologi pengolahan pakan Terselenggaranya pelatihan pembuatan silase sebagai alternatif pakan ternak bernutrisi yang berkelanjutan 6 Belum terdapat penerapan digitalisasi pemasaran produk hasil ternak Kambing Etawa Terciptanya sistem digitalisasi pada pemasaran hasil ternak Kambing Etawa E. LUARAN 1. Buku pengembangan soft skills Sanggar Tani Muda di Desa Windujaya 2. Ringkasan eksekutif program Griya Inovatif 3. Video kegiatan pelaksanaan program yang diunggah di YouTube Griya Inovatif, UKMPR, dan Universitas Jenderal Soedirman; dan 4. Profil dan poster pelaksanaan program yang diunggah dan dipublikasikan melalui website UKMPR Universitas Jenderal Soedirman dan di media sosial Instagram Sanggar Ternak Muda karang taruna di Desa Windujaya 5. Produk hasil ternak Kambing Etawa; 6. Artikel ilmiah pengabdian masyarakat yang dipublikasikan dalam Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS) Sinta 2; 7. Publikasi artikel media redaksi banyumas atau radar banyumas; 8. Terbentuknya modul panduan ternak Kambing Etawa sebanyak 20 eksemplar; 9. Manajemen susu dan turunannya meliputi susu murni, yogurt, dan kefir yang bekerjasama dengan franchise minuman; 10. Manajemen pengolahan limbah ternak berupa kompos sesuai Permentan; dan 11. Terbentuknya jejaring kemitraan yang dibuktikan dengan perjanjian kerja sama tertulis antara tim pelaksana dengan mitra. 312


6 F. MANFAAT 1. Bagi masyarakat desa, dapat mengembangkan dan mengoptimalkan pengaplikasian IPTEK di bidang peternakan Kambing Etawa untuk mendukung perekonomian masyarakat. 2. Bagi mitra kerja, tercipta generasi muda yang terampil dan mumpuni dalam memanfaatkan potensi lokal yang ada. 3. Bagi mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang dimiliki serta dapat menjadi sarana pembelajaran sebagai bekal makasiswa ketika terjun di masyarakat yang sesuai dengan penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi. G. METODE PELAKSANAAN 1. Roadmap kegiatan selama 1-5 tahun Tabel 2. Roadmap kegiatan Tahun Kegiatan Capaian 2023 Observasi dan survei minat, identifikasi masalah, menjalin kerja sama dengan mitra (karang taruna), perencanaan ide dan kurikulum kegiatan, sosialisasi, pembentukan Griya Inovatif, penyuluhan dan monitoring, pelatihan penanganan susu hasil perah, perintisan kemitraan maupun investor, perluasan distribusi ternak dan hasil ternak Terbentuknya “Griya Inovatif” Terlaksananya kurikulum program Memeperluas pola pikir mitra terhadap sistem peternakan Bertambahnya minat pemuda dalam memajukan peternakan Desa Windujaya Memaksimalkan kinerja dari mitra dan menambah kuantitas pengelola sebanyak 35% dari total yang ada Mendapatkan mitra ternak dan hasil ternak Implementasi penanganan susu 2024 Melakukan controling dan evaluasi kegiatan pengelolaan budidaya, manajemen susu dan pupuk kompos, diadakannya study banding terhadap peternak perah modern, diversifikasi produk, penguatan kelembagaan “Griya Inovatif”, mendapatkan mitra dan pasar tetap, memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai pihak baik dari segi pemeliharaan, pengolahan hasil ternak dan limbah, serta pemasaran. Desa Windujaya menjadi desa binaan Universitas Jenderal Soedirman Karang taruna menjadi penggerak pemuda terhadap potensi SDA Peternak di Desa Windujaya sudah mengaplikasikan pemeliharaan secara modern. Memanfaatkan hasil ternak menjadi produk khas Desa Windujaya Manajemen ternak sudah terstruktur mulai dari aspek pemeliharaan, pengolahan, pemanfaatan hasil samping ternak, dan pemasaran. Terbentuknya usaha teknologi silase dengan konsep isi ulang 313


7 2025 Melakukan controling dan evaluasi terhadap kegiatan program yang sudah dijalankan oleh masyarakat Desa Windujaya, melakukan penambahan relasi untuk memperkuat kelembagaan “Griya Inovatif” berbasis zero waste hasil limbah ternak maupun tani. Meningkatkan kepercayaan mitra dan investor untuk menanamkan saham Peternak sudah terlatih dalam membiasakan program peternakan berbasis zero waste. Olahan susu dan produk kompos sudah memiliki merk dagang secara legal. 2026 Melakukan controling dan evaluasi terhadap kegiatan program yang sudah dijalankan oleh masyarakat Desa Windujaya, jejaring pemeliharaan sudah berubah menjadi usaha pembibitan maupun penggemukan, teknologi pengolahan pakan sudah modern, usaha susu memiliki pelanggan dan pasar yang tetap, UMKM hasil pengolahan ternak berskala besar dan kompos sudah komersil. Program peternakan Desa Windujaya sudah melek digital sebagai wujud peternak 5.0. Terbentuknya kelembagaan ternak dan hasil olahan ternak di Desa Windujaya. Brand kompos maupun susu sudah dikenal oleh Barlingmascakeb 2027 Pemusatan sentra peternakan kambing di Desa Windujaya, proses pengolahan susu sudah modern, penambahan olahan susu berupa sabun jangka panjang. Terciptanya pasar ternak di Desa Windujaya Terciptanya aneka ragam olahan ternak untuk meningkatkan UMKM Desa Windujaya Terciptanya produk olahan sabun susu Kambing Etawa. Terciptanya sentra peternakan maupun hasil ternak terutama susu dan kompor di Banyumas. 2. Tahap-tahap kegiatan a. Identifikasi potensi Desa Windujaya memiliki potensi usaha di bidang peternakan yang sudah berkembang. Peternakan yang dimiliki desa tersebut dibangun dengan kandang yang modern dan berisi 15 ekor kambing peranakan etawa. Kandang dikelola oleh dua orang Karang Taruna Desa Windujaya dengan sistem pemeliharaan yang masih dilakukan secara konvensional. Masyarakat Desa Windujaya belum menjadikan sisi peternakan yang ada sebagai profesi utama dalam mata pencaharian, hal tersebut dikarenakan 314


8 masih kurangnya pengetahuan yang mendalam terkait pemaksimalan hasil peternakan yang ada dan kurangnya penyuluhan serta pemberdayaan mengenai cara beternak yang baik. Langkah yang perlu diambil dapat dilakukan dengan mengenalkan sistem manajemen pemeliharaan ternak terintegrasi, penanganan susu, pemanfaatan limbah untuk menciptakan lingkungan desa yang zero waste, serta distribusi hasil peternakan. b. Hasil identifikasi kebutuhan masyarakat Permasalahan yang perlu diperhatikan di Desa Windujaya yaitu rendahnya sumber daya manusia khususnya dalam bidang peternakan serta kurangnya minat pemuda desa dalam beternak dan mengembangkan potensi peternakan yang ada disekitar mereka. Berdasarkan identifikasi potensi, maka diperlukan penyuluhan dan pemberdayaan terkait pengetahuan dalam mengelola hasil peternakan yang ada terutama dalam penanganan susu yang memiliki potensi sekitar 90%. Penyuluhan dan pemberdayaan yang perlu dilaksanakan seperti peningkatan pengetahuan untuk menentukan indukan ternak, anakan ternak, serta pakan ternak yang berkualitas; pelatihan penanganan susu yang mampu meningkatkan kualitas susu dan penguatan kemitraan distribusi susu; serta pengelolaan feses menjadi kompos yang berkualitas. Program tersebut dapat meningkatkan kemampuan peternak dalam memaksimalkan potensi peternakan yang ada, dan nantinya mampu menciptakan suatu nilai tambah, membuka lapangan kerja baru, memperluas jaringan sosial, meningkatkan taraf ekonomi, dan menciptakan rintisan Desa Windujaya sebagai desa sentra kambing terutama Kambing Etawa, yang berkembang pesat serta mampu mengolah seluruh aspek yang dihasilkan dari peternakan. c. Deskripsi ringkas khalayak sasaran Khalayak sasaran program ini meliputi pemuda Desa Windujaya dengan rentang usia 15-35 tahun. Seluruh pemuda Desa Windujaya dengan jumlah 823 orang tergabung dalam organisasi karang taruna desa yang bernama Karang Taruna 12 Desa Windujaya yang dijalankan oleh 32 orang sebagai pengurus dan diketuai oleh Andika dengan susunan 315


9 pengurus terlampir. Saat ini, peternak Desa Windujaya masih tergabung ke dalam satu kelompok ternak yang masih menjalankan sistem bagi hasil. Nantinya dari pengurus karang taruna dan kelompok ternak yang ada di Desa Windujaya, ditargetkan sebanyak 30 orang mendapatkan pembinaan dan pelatihan di program Griya Inovatif. Seluruh pelatihan dan pembinaan yang dilakukan, bertujuan untuk meningkatkan dan memaksimalkan potensi peternakan yang ada di Desa Windujaya. Peternakan Desa Windujaya diharapkan dapat menyuplai berbagai macam hasil pemanfaatan budidaya ternak di pasar, terutama mengenai pengolahan hasil dari hulu ke hilir mengenai Kambing Etawa. Selain itu, khalayak sasaran program ini juga menyasar kepada pengurus dan anggora PKK, serta Bumdes yang ada pada Desa Windujaya. d. Bentuk intervensi yang akan diberikan, Intervensi yang akan diberikan yaitu pembentukan Griya Inovatif dengan kepengurusan berasal dari Karang Taruna Desa Windujaya yang ditunjang melalui pelatihan-pelatihan kemampuan peternak supaya terus berkembang dan memajukan desa. Pelatihan yang dilakukan meliputi pengelolaan ternak khususnya Kambing Etawa, manajemen ternak (indukan, anakan, dan pakan), penanganan susu (pelatihan pemerahan, identifikasi hasil susu, pemasaran, dan evaluasi) dan juga kompos (pengelolaan feses ternak). Pelatihan ini bertujuan untuk melatih dan meningkatkan skill peternak dan Karang Taruna dalam bidang pengolahan ternak, hasil ternak, serta pemanfaatan limbah hasil ternak di Desa Windujaya untuk mendukung kemajuan desa tersebut. e. Perintisan kemitraan Program ini bekerja sama dan menjalin mitra dengan karang taruna desa Windujaya sebagai tokoh penggerak utama Griya Inovatif, PKK Desa Windujaya, dan Bumdes Desa Windujaya untuk mendukung kegiatan program. Proses pelaksanaan program dilakukan dengan cara penandatanganan MoU bersama UKM yang bersifat alam dan pengabdian masyarakat di Universitas Jenderal Soedirman, Industri Pengolahan Susu Banyumas, Dinas Lingkungan Hidup; Dinas Perindustrian dan 316


10 Perdagangan Pemerintah Kabupaten Banyumas; Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan (BP3K) Kabupaten Banyumas; serta Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Banyumas sebagai lembaga pemerintahan yang berkaitan dengan program yang akan dilaksanakan guna mendapat saran dan pembinaan untuk mempermudah pelaksanaan kegiatan serta mendukung keberlangsungan kegiatan kedepannya. f. Indikator keberhasilan dan metode pengukuran Indikator keberhasilan dilakukan dengan beberapa program seperti: 1. Terbentuknya Sanggar Tani Muda “Griya Inovatif”. 2. Memaksimalkan potensi karang taruna dengan menambah kuantitas pengelola sebanyak 35% dari total yang sudah ada. 3. Terlaksana seluruh kurikulum yang meliputi manajemen beternak kambing, pengolahan hasil ternak dan pemanfaatan limbah peternakan. 4. Pengenalan sistem pemeliharan ternak yang dilakukan dengan pemilihan indukan dan anakan yang masih produktif untuk mempermudah kegiatan budidaya ternak perah sebagai langkah awal. 5. Recording ternak meliputi pencatatan PBBH, jumlah susu yang dihasilkan perhari, dan pencatatan bulan birahi indukan untuk memperbaiki manajemen reproduksi sehingga diharapkan perdelapan bulan ternak dapat melahirkan anak yang dilakukan dengan sistem sosialisasi. 6. Terlaksana pelatihan manajemen kandang meliputi manajemen kesehatan dan manajemen pakan. Manajemen kesehatan dilakukan dengan tiga kali pelatihan, yaitu biosecurity, vaksinasi, dan sanitasi. Manajemen pakan dilakukan 1 kali pelatihan, yaitu pelatihan pembuatan teknologi pakan berupa silase untuk meningkatkan kualitas hasil ternak yaitu susu dan daging. 7. Terselenggara penanganan susu menjadi produk sabun untuk jangka panjang dan susu murni untuk jangka pendek yang mampu didistribusikan kepada distributor di wilayah Barlingmascakeb yang mampu bersaing dari segi kualitasnya. 317


11 8. Terealisasi dua kali pelatihan pembuatan kompos aerob dari feses dengan teknologi dan waktu yang relatif lebih cepat. 9. Terbentuk pasar ternak di Desa Windujaya dan legalitas kompos untuk pemasaran yang lebih luas. Metode pengukuran keberhasilan program tersebut dapat dilihat dari: 1. Bertambahnya jumlah peternak muda di Desa Windujaya yang berasal dari karang taruna desa tersebut. 2. Meningkatnya jumlah peserta yang hadir dalam setiap pelatihan dari hari sebelumnya. 3. Meningkatnya pemahaman peternak mengenai sistem pemeliharaan dengan pengisian kuesioner setiap telah dilaksanakan pelatihan. 4. Desa memiliki relasi distributor bibit kambing, olahan susu, dan pupuk kompos yang mampu bekerjasama secara kontinu. 5. Memiliki brand yang mampu bersaing dengan pembuatan legalitas produk. g. Pelaksanaan program 1. Melakukan keberlanjutan Karang Taruna dan kelompok ternak di Desa Windujaya 2. Melakukan penguatan kelembagaan. 3. Melakukan persiapan alat dan bahan yang akan digunakan selama menjalankan program. 4. Melakukan sosialisasi pengenalan “Griya Inovatif” 5. Melakukan segmentasi kelompok untuk memastikan fokus pemberian materi, pelatihan, dan praktik. 6. Melakukan pelatihan penilaian dan pemilihan induk, pemilihan bibit, pelatihan manajemen perkandangan dan pemeliharaan, pelatihan manajemen pakan, pelatihan manajemen sanitasi dan kesehatan, pelatihan penanganan susu, pelatihan pengolahan limbah, pelatihan penguatan kemitraan, dan pelatihan pemasaran berbasis digital. 7. Melakukan monitoring terhadap keberhasilan pelatihan maupun praktik yang telah dilaksanakan sebelumnya. 318


12 8. Mengadakan lokakarya hasil program kegiatan di Desa Windujaya. 9. Evaluasi pelaksanaan. 10. Melakukan monitoring berkelanjutan. 11. Melakukan pelaporan hasil dari pelaksanaan program. h. Bentuk dukungan pemerintah lokal Bentuk dukungan pemerintah lokal adalah tersedianya kandang dengan kapasitas kambing 30 ekor yang sudah diisi Kambing Etawa sebanyak 15 ekor untuk dilakukan program budidaya ternak perah, ladang kosong untuk pembuatan kompos seluas 10 m2 , aula balai desa untuk pelatihan kegiatan sistem pemeliharaan hewan ternak, dan partisipasi pemuda karang taruna sebagai pelaku sumber daya manusia yang akan diberdayakan. i. Bentuk pembinaan kelompok sasaran Bentuk pembinaan kelompok sasaran adalah dilakukan dengan membina karang taruna dalam manajemen peternakan Kambing Etawa yang meliputi manajemen pembibitan, perindukan, dan teknologi pakan; penanganan susu; dan pembuatan sistem instalasi kompos. j. Monitoring dan evaluasi Monitoring dilakukan setiap bulan dengan teknik wawancara kepada para peternak muda dari karang taruna terkait implementasi pelatihan yang telah dilakukan dengan tolak ukur kemajuan dan hambatan yang terjadi selama pelaksanaan program. Analisis dari kesimpulan wawancara tersebut untuk pengaplikasian manajemen kandang, manajemen ternak, dan manajemen penanganan susu. Evaluasi keberlanjutan untuk peningkatan indikator keberhasilan yang telah dan belum direalisasikan. k. Lokakarya hasil dengan menghadirkan stakeholder Lokakarya hasil dilakukan pada bulan November dengan mengundang berbagai kelompok kepentingan seperti Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Banyumas; Industri Pengolahan Susu Banyumas, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan, dan Ketahanan Pangan (BP3K) Kabupaten Banyumas; Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kabupaten Banyumas; dan Dinas Lingkungan 319


13 Hidup. Lokakarya dilakukan oleh Griya Inovatif bersama para pemuda karang taruna yang mengikuti pelatihan. Selain itu diadakan pameran hasil ternak dan hasil olahan dari susu Kambing Etawa. l. Audiensi ke pemerintah setempat untuk mempresentasikan capaian hasil kegiatan dan menjajaki potensi keberlanjutan Bulan Januari dilaksanakan audiensi ke pemerintah dengan menghadirkan berbagai kepentingan seperti Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Banyumas; Industri Pengolahan Susu Banyumas, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan, dan Ketahanan Pangan (BP3K) Kabupaten Banyumas; Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kabupaten Banyumas; dan Dinas Lingkungan Hidup. Tujuan dilaksanakan audiensi agar dapat mencapai hasil kegiatan dan menjajaki potensi berkelanjutan terutama pada Griya Inovatif dan warga Desa Windujaya. m. Pengolahan data dan penulisan laporan Penyusunan laporan dilakukan dengan metode primer dan sekunder. Metode primer didapatkan dari survei langsung, wawancara, dan administrasi desa. Sedangkan, metode sekunder didapatkan dari artikel, jurnal, koran, maupun siaran media elektronik terkait kasus peternakan di Banyumas. Pelaporan yaang kami susun berupa laporan awal, laporan kemajuan, dan laporan hasil, tentunya sesuai dengan syarat maupun panduan. n. Kegiatan yang akan dilakukan setelah laporan selesai Agenda kegiatan yang dilakukan setelah menyelesaikan laporan berupa controlling kegiatan pemeliharaan ternak, pengolahan hasil ternak dan limbah ternak, serta pemantauan target pemasaran yang dijalankan oleh desa binaan. Tujuan controlling yaitu agar pelaksanaan program sesuai dengan rencana kurikulum. Sedangkan, kegiatan monitoring yang dilakukan setelah pelaporan antara lain laporan keuangan dari pengelolaan ternak, kualitas dan kuantitas ternak yang dihasilkan, pengolahan hasil samping ternak, pengolahan susu, serta pemasaran. Pelaksana monitoring dilakukan oleh keseluruhan anggota Ormawa Unit Kegiatan Mahasiswa 320


14 Penalaran dan Riset (UKMPR) Unsoed yang dibantu oleh Lembaga desa terkait. Kegiatan monitoring bermaksud untuk memastikan keberhasilan program “Griya Inovatif” di Desa Windujaya. o. Pemutakhiran data sasaran 2 bulan pasca pelaksanaan program Pengukuran indikator keberhasilan dilaksanakan dengan cara mengumpulkan data pendukung yang akan diukur sebelum dan sesudah pelaksanaan program yang dilaksanakan di Desa Windujaya. Adapun datadata yang dibutuhkan berupa pengetahuan khalayak sasaran, pendapatan khalayak sasaran, dan data terkait kemitraan. H. JADWAL KEGIATAN Tabel 3. Jadwal Kegiatan No Kegiatan 2023 Maret September November Desember Januari Februari 1 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 Persetujuan kerjasama dengan mitra Penguatan organisasi Sosialisasi program kepada mitra Persiapan peralatan dan bahan Pelatihan manajemen ternak untuk pemilihan dan pemeliharaan induk Pelatihan manajemen perkawinan Pelatihan manajemen pengadaan hijauan dengan teknologi pakan (silase) 321


15 Pelatihan manajemen kesehatan dan sanitasi Pengenalan dan pelatihan pemerahan Pelatihan penanganan susu Pelatihan manajemen pasar dan distribusi susu Evaluasi pengelolaan susu Study banding pengelolaan susu antarpeternak Pemasaran dan distribusi susu Pelatihan manajemen limbah Pembuatan instalasi kompos Pengujian kompos ke tanaman Evaluasi pengujian kompos Hak panten produk Pemasaran kompos Melakukan evaluasi dan pengawasan 322


16 DAFTAR PUSTAKA Karyono, T., & Setiawan, B. D. 2022. Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan tatalaksana kesehatan dan kebersihan kandang kambing di Desa Air Satan Kecamatan Muara Beliti Kabupaten Musi Rawas. Jurnal Masda, 1(1): 30-37. Wijaksono, R. A., Subiantoro, R., & Utoyo, B.,2016. Pengaruh lama fermentasi pada kualitas pupuk kandang kambing. Jurnal Agro Industri Perkebunan, 88-96. Pradana, O. A., Widiastuti, E., Rosiana, M., & Candratrilaksita, W. 2022, July. Efektivitas penggunaan dana desa dalam bidang pemberdayaan masyarakat sub bidang pertanian dan peternakan Desa Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas Tahun 2021. In Midyear International Conference, 1(1). Purwaningsih, H., Nuskhi, M., Sochec, M., & Muatip, K. 2020, July. Permintaan produksi daging kambing domba di kabupaten banyumas. In Prosiding Seminar Nasional Teknologi Agribisnis Peternakan (STAP), 7: 114-118. Muatip, K., Safitri, L., Purwaningsih, H., Nuskhi, M., Setyaningrum, A. and Nazmudin, A.M. 2021, June. Potensi ekonomi pengolahan feses kambing menjadi kompos di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. In Prosiding Seminar Nasional Teknologi Agribisnis Peternakan (STAP), 8: 688-697. 323


324


POSTER Judul Anggota Tim Bone Tab: Inovasi Tablet Effervescent Buah Pedada dan Daun Sirsak sebagai Imunostimulan Guna Mencegah Penyakit Kanker Tulang 1. Khairina Rahmania Prayoga Putri (UKMPR 2022) 2. Linda Aulia Nuraini 3. Ai Munawaroh Sa’adatul Maspudah 4. Vina Helmi Nur Istiqomah (UKMPR 2021) 5. Fakhri Dwi Alexsyah Belajarin.id: Platform Berbasis Website Sebagai Sarana Tutor Finder 1. Zeha Kirana (UKMPR 2020) 2. Aqilah Rahma Adiningrum (UKMPR 2021) 3. Uut Ela Triana (UKMPR 2020) 4. Jalalludin (UKMPR 2020) 325


326


327


328


Click to View FlipBook Version