1
2
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...........................................................................................................2
KATA PENGANTAR ........................................................................................ 3
I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 4
A. Deskripsi Singkat................................................................................... 5
B. Tujuan Pembelajaran ............................................................................ 6
C. Petunjuk Belajar..................................................................................... 6
II. INTI ........................................................................................................... 6
A. Capaian Pembelajaran ........................................................................... 6
B. Sub-Capaian Pembelajaran.................................................................... 6
C. Uraian Materi......................................................................................... 7
1. Identifikasi Fenomena dan karakteristik pembelajaran abad 21 .... 7
2. Identifikasi Karakterisik peserta didik abad 21 ...................................... 24
3. Identifikasi Peran guru dalam dalam pembelajaran abad 21 ............ 28
4. Identifikasi Model-model pembelajaran abad 21.................................... 45
5. Identifikasi TPACK kerangka integrasi teknologi dalam pembelajaran abad
21........................................................................................................... 63
III. PENUTUP.................................................................................................. 80
A. Rangkuman............................................................................................ 80
B. Tes Formatif........................................................................................... 81
C. Kunci Jawaban....................................................................................... 83
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 84
GLOSARIUM ........................................................................................... 85
3
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena atas berkat
Rahmat dan Nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan bahan ajar
Pedagogik. pada materi KB 1. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN ABAD 21
Penyusunan bahan ajar ini merupakan salah satu tuntutan tugas peserta PPG
Prajabatan Tahun 2022.
Penulis menyadari bahwa bahan ajar ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu,saran dan kritik yang sifatnya membangun selalu kami harapkan
demi kesempurnaan bahan ajar ini sehingga bisa memberikan manfaat yang besar
kepada peserta didik dan guru dalam memajukan pendidikan.
Makassar, 09 Maret 2022
Kelompok 1
4
I. PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi telah berpengaruh besar terhadap proses pendidikan
sehingga berdampak terhadap perubahan peran guru. Sebagaimana Saudara rasakan,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad 21 telah mengubah karakteristik
peserta didik sehingga memerlukan orientasi dan cara pembelajaran yang inovatif.
Penyesuaian peran guru perlu dilakukan utamanya karena adanya perubahan
karakteristik peserta didik generasi mileneal menjadi karakteristik generasi z, istilah
yang mewakili generasi abad 21.
Kita tentu sudah merasakan adanya perubahan-perubahan pembelajaran abad
21 meliputi perubahan pada pola pembelajaran, perubahan orientasi kebutuhan, dan
perubahan kebiasaan-kebiasaan belajar peserta didik abad 21. Nah, pada Modul 2
Kegiatan Belajar 1 bersama-sama kita pelajari lebih lanjut mengenai fenomena
pembelajaran abad 21, karakteristik peserta didik abad 21, pengaruh perkembangan
teknologi dalam pembelajaran abad 21, model-model pembelajaran potensial abad 21,
dan peran guru dalam pembelajaran abad 21.
Pada bagian akhir Saudara diperkenalkan dengan TPACK sebuah kerangka
untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran yang menggabungkan
pengetahuan tentang pedagogi, pengetahuan tentang konten, dan pengetahuan tentang
teknologi. Saudara tentu sudah memiliki pengalaman terkait kemampuan pedagogi
maupun penguasaan konten, namun di satu sisi abad 21 menawarkan teknologi yang
dapat dimanfaatkan untuk mempertinggi mutu pembelajaran. Atas dasar itulah TPACK
perlu dipelajari sehingga Saudara lebih siap dalam mengintegrasikan teknologi ke
dalam pembelajaran.
5
A. DESKRIPSI SINGKAT
Gambar 1. Peta konsep materi karakteristik pembelajaran abad 21
Masih ingatkah bapak ibu suasana ruang kelas kita dahulu sewaktu
kita mengenyam pendidikan dibangku sekolah dasar ? masih ingat
pulakah bagaimana system pembelajarannya pada saat itu. ? mungkin
masih terbayang diingatan kita ruang kelas yang berlantai tembok,
lengkap dengan meja dan kursinya. Papan tulis hitam dan kotak kapur
serta penghapus papan tulisnya. Terbayang pula bagaimana bapak ibu
guru kita dahulu menjelaskan pelajaran kepada kita dengan metode
ceramah. Apa yang keluar dari ucapannya adalah ilmu yang sangat
bermanfaat. Masih ingat pula tumpukan buku yang harus kit abaca setiap
hari.
6
Sekarang coba bapak ibu perhatikan keadaan sekaran ini,
bagaimana situasi keadaan sekolah dan ruang kelas. Pada abad 21 ini
ruang kelas jauh berbeda dengan kelas kita dahulu, saat ini ruang kelas
berlantai keramik licin bersih, lengkap dengan computer, lcd, proyektor
dan media pembelajaran lainnya. Metode pembelajaran yang
menyenangkan, tidak terbatas pada guru dan tumpukan buku. Nah itu
adalah sedikit fenomena pembelajaran abad ke 21. Untuk penjelasan lebih
lengkapnya akan dipaparkan pada pembahasan uraian materi.
B. TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran pada Kegiatan Belajar ini adalah diharapkan
setelah mempelajari materi ini pembaca dapat mengidentifikasi dan
mengetahui: fenomena, karakteristik, peran guru, model pembelajaran, dan
peran teknologi dalam pembelajaran abad 21.
C. PETUNJUK BELAJAR
Agar saudara memperoleh hasil sesuai yang diharapkan setelah mempelajari
materi ajar ini, ikutilah petunjuk belajar berikut ini :
1. Sebelum memulai mempelajari materi pelajaran ini, terlebih dahulu kita
berdo’a sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
2. Bacalah dengan baik dan cermat setiap bagian-bagian pada materi
pelajaran ini.
3. Jika ada yang kurang dipahami dan dikuasai, ditanyakan kepada
guru/dosen.
4. Mantapkan pemahaman kalian melalui diskusi, dan menganalisis berbagai
permasalahan yang sesuai dengan materi pada kegiatan belajar ini.
5. Selesaikan tugas formatif yang ada pada materi pelajaran ini.
II. INTI
7
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN
Untuk lebih memperdalam materi Pedagogik Kb 1. Karakteristik
Pembelajaran Abad 21 maka capaian pembelajaran pada bahasan kali
ini adalah:
1. Menganalisis fenomena dan karakteristik pembelajaran abad 21
2. Menganalisis karakteristik peserta didik abad 21
3. Memperkirakan penyesuaian peran guru dalam pembelajaran abad 21
4. Menganalisis potensi model-model pembelajaran abad 21
5. Memperkirakan gambaran penerapan TPACK sebagai kerangka
integrasi teknologi dalam pembelalajaran abad 21
B. URAIAN MATERI
1. MENGANALISIS FENOMENA DAN KARAKTERISTIK
PEMBELAJARAN ABAD 21
a. Fenomena Perubahan Pembelajaran Abad 21
1) Kelas Konvensional Menjadi Kelas Multimedia
Masih ingatkah bapak ibu suasana ruang kelas kita dahulu sewaktu
kita mengenyam pendidikan dibangku sekolah dasar ? masih ingat
pulakah bagaimana system pembelajarannya pada saat itu. ? mungkin
masih terbayang diingatan kita ruang kelas yang berlantai tembok,
lengkap dengan meja dan kursinya. Papan tulis hitam dan kotak kapur
serta penghapus papan tulisnya. Terbayang pula bagaimana bapak ibu
guru kita dahulu menjelaskan pelajaran kepada kita dengan metode
ceramah. Apa yang keluar dari ucapannya adalah ilmu yang sangat
bermanfaat. Masih ingat pula tumpukan buku yang harus kit abaca setiap
hari.
Sekarang coba bapak ibu perhatikan keadaan sekaran ini, bagaimana
situasi keadaan sekolah dan ruang kelas. Pada abad 21 ini ruang kelas jauh
berbeda dengan kelas kita dahulu, saat ini ruang kelas berlantai keramik
licin bersih, lengkap dengan computer, lcd, proyektor dan media
pembelajaran lainnya. Metode pembelajaran yang menyenangkan, tidak
8
terbatas pada guru dan tumpukan buku. Nah itu adalah sedikit fenomena
pembelajaran abad ke 21.
a) Kelas konvensional
Ruang kelas konvensional adalah ruang kelas yang berisi meja
atau bangku, kursi, dan papan tulis yang terpampang di depan kelas
dengan sekotak kapur dan sebuah penghapus. Ruang kelas seperti ini
sangat lumrah ditemui pada zaman tahun 2000an. Dan didaerah daerah
pelosok. Dan system / model pembelajarannya pun masih secara
konvensional. Seperti pembelajaran berpusat pada guru, sumber
informasi hanya guru dan buku buka teks bacaan.
• Model pembelajaran konvensional
Gambar 2. Ilustrasi pembelajaran konvensional. Sumber : https://s.id/ZtHp
Pembelajaran konvensional adalah suatu konsep belajar yang
digunakan guru dalam membahas suatu pokok materi yang telah biasa
digunakan dalam proses pembelajaran.
“Menurut Ahmadi (dalam Widiantari, 2012:24) “model
pembelajaran konvensional menyandarkan pada hafalan
belaka, penyampain informasi lebih banyak dilakukan oleh
guru, siswa secara pasif menerima informasi, pembelajaran
sangat abstrak dan teoritis serta tidak bersadar pada realitas
kehidupan, memberikan hanya tumpukan beragam
informasi kepada siswa, cenderung fokus pada bidang
tertentu, waktu belajar siswa sebagaian besar digunakan
9
untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah guru,
dan mengisi latihan (kerja individual)”. Sedangkan menurut
Santyasa (dalam Widiantari, 2012) model pembelajaran
konvensional adalah “pembelajaran yang lazim atau sudah
biasa diterapkan, seperti kegiatan sehari-hari di kelas oleh
guru. Desain pembelajaran bersifat linear dan dirancang
part to whole”.
Pembelajaran konvensional masih dilaksanakan atas asumsi
bahwa suatu pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran
guru ke siswa. Metode pengajaran secara konvensional selama ini lebih
ditekankan pada tugas guru untuk memberikan intruksi atau ceramah
selama proses pembelajaran berlangsung, sementara itu siswa hanya
menerima pembelajaran secara pasif.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, bahwa pembelajaran
konvensional adalah pembelajaran yang sudah biasa dilakukan oleh
guru di kelas, pembelajaran berlangsung terpusat pada guru sebagai
pusat informasi, dan siswa hanya menerima materi secara pasif.
• Secara umum ciri-ciri model pembelajaran konvensional adalah
sebagai berikut.
(1) Siswa adalah penerima informasi secara pasif, dimana siswa
menerima pengetahuan dari guru dan pengetahuan diasumsikan
sebagai badan dari informasi dan keterampilan yang dimiliki keluaran
sesuai dengan standar,
(2) Belajar secara individual,
(3) Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis,
(4) Perilaku dibangun atas kebiasaan,
(5) Kebenaran bersifat absolute dan pengetahuan bersifat final,
(6) Guru adalah penetu jalannya proses pembelajaran,
(7) Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik,
(8) Interaksi di antara siswa kurang,
(9) Tidak ada kelompok-kelompok kooperatif,
(10) Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan,
10
(11) Pemantauan melalui observasi dan intervensi sering tidak
dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok sedang berlangsung,
(12) Guru sering tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi
dalam kelompok-kelompok belajar.
• Menurut syahrul (2013), langkah-langkah pembelajaran konvensional
sebagai berikut:
1. Menyampaikan tujuan. Guru menyampaikan semua tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut.
2. Menyajikan informasi. Guru menyajikan informasi kepada siswa
secara tahap demi tahap dengan metode ceramah.
3. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. Guru
mengecek keberhasilan siswa dan memberikan umpan balik
• Kelebihan pembelajaran konvensional adalah
Kelebihan metode pembelajaran konvensional:
1. Berbagai informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain
2. Menyampaikan informasi dengan cepat.
3. Membangkitkan minat akan informasi.
4. Mengajaripeserta didik yang cara belajar terbaiknya dengar
mendengarkan.
5. Mudah digunakan dalam proses belajar.
• Kekurangan Pembelajaran Konvensional
Kekurangan metode pembelajaran konvensional:
1. Kegiatan belajar adalah memindahkan pengetahuan dari guru ke
peserta didik. Tugas guru adalah memberi tugas dan tugas peserta
didik adalah menerima.
2. Pembelajaran konvensional cenderung mengkotak-kotakkan
peserta didik.
3. Kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pada hasil daripada
proses
b) Kelas Multimedia
11
Kelas multimedia : ruang kelas yang sudah dilengkapi papan
tulis elektrik, komputer tablet, iPAD, PDA, smartphone, dan perangkat
canggih lainnya yang dilengkapi jaringan internet berkecepatan tinggi.
Gambar 3. Ilustrasi pembelajaran multimedia. Sumber : https://s.id/ZtII
Multimedia Pembelajaran Adalah media pembelajaran yang
menggabungkan beberapa elemen media seperti teks, grafik, animasi,
audio maupun video yang tersusun secara sistematis, dimana informasi
yang disampaikan melalui elemen-elemen tersebut mengandung pesan
pembelajaran. Proses pembelajaran yang melibatkan media sebagai
salah satu faktor untuk menyajikan dan menyampaikan informasi
berupa materi pelajaran kepada siswa dan juga menciptakan
pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.
Secara umum manfaat yang dapat diperoleh multimedia
pembelajaran adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih
interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurang, kualitas belajar
siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan
di mana saja dan kapan saja, serta sikap belajar siswa dapat
ditingkatkan.
Di bawah ini adalah daftar lain tentang keunggulan dari
multimedia pembelajaran interaktif dalam pembelajaran, yaitu:
12
1) Pembelajaran akan terasa lebih interaktif dan inovatif. Guru sebagai
pendidik dituntut agar selalu kreatif serta inovatif dalam
medapatkan terobosan pembelajaran.
2) Dengan penggunaan multimedia dapat menggabungkan berbagai
media seperti teks, audio, gambar, video, animasi dan lain lain,
dalam satu kesatuan yang mendukung satu sama lain untuk
tercapainya tujuan pembelajaran.
3) Motivasi siswa dalam belajar selama proses pembelajaran dapat
meningkat sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat
tercapai.
4) Dapat memudahkan dalam memvisualisasikan materi sulit jika
menggunakan alat konvensional atau alat peraga.
5) Melatih siswa untuk belajar mandiri dalam mencari dan
mendapatkan ilmu pengetahuan.
Pada intinya Fenomena Perubahan Pembelajaran Kelas
konvensional menjadi kelas multimedia pada Abad 21 ini dipengaruhi
oleh adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dan
penyesuaian terhadapa model model pembelajaran yang dianggap lebih
mampu memberikan pemmbelajaran yang sesuai dengan tuntutan
zaman.
2) Buku Paket Menjadi Sumber Belajar Digital
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangat pesat.
Seluruh aspek kehidupan, mulai dari aspek sosial, politik, budaya,
pendidikan, dan sebagainya, tidak terlepas dari pengaruh perkembangan
teknologi. Teknologi bermakna pengembangan dan penerapan berbagai
peralatan atau sistem untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang
dihadapi oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.
13
Gambar 4. Ilustrasi sumber belajar digital. Sumber : https://s.id/-ZtM9
Salah satu pengaruh signifikan teknologi terhadap pembelajaran
abad 21 adalah adanya kemudahan akses atau aksesibilitas terhadap
sumber belajar digital. Salah satunya adalah keberadaan buku
elektronis (e-book) yang terus dipublikasikan oleh para penerbit.
Penggunaan buku paket dalam pembelajaran kini telah berganti dengan
penggunaan sumber belajar digital. Salh satu contohnya adalah E-book.
E-book pada intinya adalah sebuah buku yang didesain ke dalam bentuk
elektronis. Pembaca memerlukan sarana seperti komputer,
netbook/laptop, smartphone, atau tab untuk membaca produk elektronis
tersebut.
Pemanfaatan big data sebagai sumber belajar menjadi keniscayaan
pembelajaran abad 21. Berfokus kepada materi penting, namun fokus
kepada pengembangan keterampilan belajar menjadi lebih penting.
Peserta didik harus belajar cara melacak, menganalisis, mensintesis,
mengubah, mendekontruksi bahkan menciptakan lalu membagikan
pengetahuan kepada orang lain. Fokus guru sebenarnya memberikan
kesempatan peserta didik untuk menghubungkan materi yang dipelajari
dengan dunia nyata.
Salah satu pengaruh signifikan teknologi terhadap pembelajaran
abad 21 adalah adanya kemudahan akses atau aksesibilitas terhadap
14
sumber belajar digital untuk memenuhi beragam kebutuhan peserta
didik
3) Sumber Daya Manusia Menjadi Kreativitas Tinggi
Abad 21 berpusat pada perkembangan Era Revolusi Industri 4.0
yang mengedepankan pengetahuan sebagai tombak utama. Namun,
dengan pengetahuan saja tidak cukup untuk mewujudkan Era
Revolusi Industri 4.0, karena perlu adanya keseimbangan antara
pengetahuan dengan keterampilan sebagai dasar dari sumber daya
manusia yang berkualitas pada perkembangan zaman. Mengasah
keterampilan melalui pembiasaan diri dan pemenuhan kebutuhan
hidup dalam berbagai macam hal yang didasari oleh pengetahuan.
Pembelajaran abad ke 21 diharapkan dapat membuka lebih lebar
kesempatan kerja dan memperluas lapangan kerja bagi masyarakat
Indonesia sebagai sumber daya manusia yang berkualitas dan
unggul. Untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas,
maka dibutuhkan tenaga pendidik yang siap mengajar dan mendidik
melalui pembelajaran abad 21
yang tentunya diharuskan relevan dengan perkembangan Era Revolusi
Industri 4.0.
a) Pembelajaran dan Praktek Abad ke -21
Abad 21 disebut sebagai abad pengetahuan. Pada abad 21 ini
ditandai dengan berkembangnya teknologi dan informasi yang cukup
pesat dalam segala aspek kehidupan, akibatnya pada abad ini
mengalami perubahan-perubahan yang cukup signifikan dalam
berbagai bidang kehidupan. Abad 21 ini memiliki tuntutan yang
sangat tinggi untuk menciptakan sumber daya manusia yang
berkualitas, tuntutan ini menyebabkan perubahan dalam tata
kehidupan manusia di abad 21, sehingga manusia di abad ini dituntut
untuk memiliki keterampilan yang berinovasi dan berkarakteristik.
Menurut Agustini (2018: 6) Revolusi industri 4.0 juga disebut sebagai
revolusi industri yang akan mengubah pola dan relasi antara manusia
15
dengan mesin. Oleh karena itu, untuk menghadapi berbagai tantangan
dan tuntutan pada abad global saat ini perlunya pembelajaran dan
praktek di abad 21 untuk mempersiapkan generasi abad 21 yang
berkualitas.
Pembelajaran abad ke-21 ialah pembelajaran yang mempersiapkan
generasi abad 21 untuk menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan
global, yang dimana pada abad ini kemajuan teknologi dan informasi
berkembang sangat pesat dan mempengaruhi segala bidang kehidupan
manusia, salah satunya dalam bidang pendidikan. Pendidikan merupakan
suatu bagia dari usaha untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan
manusia dalam memajukan pembangunan bangsa dan negara.
Pendidikan di abad 21 telah mengalami perubahan yang ditandai
dengan mengembangkan literasi baru, seperti literasi digital, literasi
informasi, dan literasi media. Pembelajaran di abad 21 berorientasikan
kepada kegiatan untuk melatih keterampilan pada peserta didik dengan
mengarah kepada proses pembelajaran. Pembelajaran dapat diartikan
sebagai upaya guru untuk memberikan stimulus, bimbingan, pengarahan
dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Pembelajaran
dalam definisi ini bukanlah sebuah proses pembelajaran pengetahuan,
melainkan proses pembentukan pengetahuan oleh siswa melalui kinerja
kognitifnya (Wijaya, 2016: 270). Oleh karena itu, sistem
pembelajaran di abad 21 ini sebenarnya bukan lagi berpusat pada
pendidik (teacher-centered learning), melainkan berpusat kepada peserta
didik (student-centered learning). Hal ini bertujuan untuk memberikan
peserta didik keterampilan dalam kecakapan berpikir dan belajar di abad
21 ini, atau yang dikenal dengan istilah “The 4C Skills”yang dirumuskan
oleh Framework Partnership of 21stCentury Skills, meliputi: (1)
Communication/Komunikasi;
(2) Collaboration/Kolaborasi; (3) Critical Thinking and Problem Solvin
g/Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah; dan (4) Creative and
Innovative/Daya Cipta dan Inovasi (Nabilah, Nana, 2020: 3). Dalam
16
penerapannya secara langsung menuntut peserta didik untuk beraktivitas
tanpa dibatasi ruang dan waktu (Kuncahyono, 2020: 155).
Pembelajaran abad 21 ini tidak dapat dipisahkan dengan tuntutan
pembelajaran abad 21 yaitu integrasi teknologi sebagai media
pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan belajar. Dalam hal
ini, bahwa dalam bidang pendidikan di abad 21 ini menuntut adanya
perubahan baik dalam bahan ajar, media pembelajaran, fasilitas,
maupun model pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik untuk
menghadapi tuntutan global yang semakin ketat.
Frydenberg & Andone dalam (Wijaya, Sudjimat, 2016: 267)
menjelaskan bahwa untuk menghadapi pembelajaran di abad 21 ialah
setiap orang harus memilikiketerampilan berpikir kritis, pengetahuan
dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media dan
menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Syahputra (2018: 1279-
1280) berpendapat bahwa dalam pembelajaran abad 21 memiliki empat
prinsip pokok diantaranya:
a) Instruction should be student-centeredPeserta didik ditempatkan
sebagai subjek pembelajaran secara aktif untuk mengembangkan
minat dan potensi yang dimilikinya. Jadi peserta didik tidak lagi
dituntut sebagai pendengar atau penghafal materi yang diberikan oleh
pendidik, melainkan peserta didik sebagai pusat dari
pembelajaranuntuk meningkatkan perkembangan dalam berpikir,
pengetahuan, dan keterampilan.
b)Education should be collaborativePeserta harus diajarkan untuk
berkolaborasi denganorang lain dengan latar budaya dan nilai-nilai
yang berbeda, yang bertujuan agar peserta didik mampu bekerja
produktif dengan orang lain, menjalankan tanggung jawab terhadap
dirinya dan orang lain, menghargai perspektif yang berbeda, serta
menempatkan empati pada tempatnya.
c)Learning should have context Pendidik harus mengembangkan metode
pembelajaran yang berhubungan dengan dunia nyata, yang bertujuan
17
agar peserta didik mampu menemukan makna, nilai, dan
keyakinannya atas apa yang telah dipelajarinya kemudian
mengimplementasikannya ke dalam dunia nyata.
d) Schools should be integrated with society.
Dalam upaya mempersiapkan peserta didik yang bertanggung jawab
dan peduli terhadap sekitar, maka dari itu sekolah seharusnya
memfasilitasi peserta didiknya untuk terlibat dalam lingkungan sosial,
hal ini bertujuan agar melatih peserta didik dalam kepekaan empati
dan kepedulian sosialnya terhadap lingkungan sekitar.
Dalam praktek pembelajaran di abad 21 ini, pendidik memiliki
peranan penting, hal ini dikarenakan pendidik dituntut untuk mampu
dalam merancang sebuah sistem pembelajaran yang sesuai dengan
abad 21 ini dalam segi kurikulum maupun proses belajar-mengajar
nya. Pendidik harus mampu menguasai berbagai keterampilan yang
dapat menjadikan peserta didiknya menjadi pribadi yang memiliki
keterampilan dalam berpikir kritis untuk memecahkan sebuah
masalah, kolaborasi, komunikasi, kreatif dan inovasi, serta teknologi
dan konsep. Oleh karena itu, pembelajaran di abad 21 ini lebih
mengintegrasikan terhadap pengetahuan, keterampilan, serta penguasaan
dalam teknologi dan informasi. Untuk menciptakan peserta didik
dengan kecakapan tersebut, maka penerapannya melalui model
pembelajaran yang sesuai. Ada 7 model pembelajaran yang
disarankan untuk pembelajaran di abad 21 ini, diantaranya: (1) Discovery
Learning; (2) Inquiry Learning; (3) Problem Based Learning; (4) Project
Based Learning; (5) Production Based Learning; (6) Teaching Factory;
(7) Model Blended Learning (Barus,2019). Dengan Model pembelajaran
bertujuan untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan pencapaian tujuan
pembelajaran dan juga dengan menerapkan salah satu model
pembelajaran ke dalam proses pembelajaran, maka diharapkan dapat
meningkatkan kualitas dalam pembelajaran sehingga dapat membantu
18
peserta didik dalam menciptakan kecakapan dalam berpikir kritis,
kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi.
b) Keterampilan dalam Pembelajaran Abad ke- 21
Keterampilan merupakan kemampuan dasar yang harus dilatih,
diasah, dan dikembangkan secara terus menerus (berkelanjutan)
sehingga menjadi potensial dalam melakukan sesuatu. Untuk
mengembangkan keterampilan diperlukan proses pengasahan akal atau
pemikiran, sehingga mendorong timbulnya keterampilan khusus pada
diri manusia. Keterampilan juga dapat mengikuti zaman yang ada,
dimana keterampilan ini dapat beradaptasi sesuai perkembangan
pikiran dan masalah-masalah yang sedang dialami.
Keterampilan juga berkaitan dengan karakter moral anak yang
sudah diajarkan dalam pendidikan keluarga pada saat dini. Dalam
pendidikan keluarga sangat penting untuk menanamkan karakter anak
dalam tantangan di era revolusi industri 4.0, orang tua perlu
memberikan teladan berupa sikap atau perilaku yang patut untuk
dicontoh yang mengandung nilai-nilai karakter, seperti sifat jujur,
benar, ikhlas, adil, dan nilai-nilai karakter lainnya (Litasari, 2019:
216).
Agar kemampuan bisa optimal, diperlukan serangkaian proses.
Keahlian khusus yang secara mendasar dimiliki seseorang pada aspek
atau bidang tertentu, kemudian dilatih melalui latihan yang dilakukan
secara terus menerus, permasalahan yang datang terus menerus selain
itu juga didukung dengan proses belajar secara tekun dan pemahaman
yang meluas.
Ada berbagai organisasi yang mencoba melihat berbagai macam
keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi abad ke 21. Terdapat
organisasi yang berhasil mengembangkan keterampilan yang diperlukan
di abad 21, berikut salah satu organisasi dan hasil pengembanganya.
Wagner & Change leadership Group dalam (Zubaidah, 2016 :2)
mengidentifikasi keterampilan yang perlu dilakukan oleh siswa dalam
19
menghadapi kehidupan dan dunia kerja di abad ke 21 ada tujuh
keterampilan, yaitu kemampuan berpikir kritis dan pemecahan
masalah, kolaborasi dan kepemimpinan, ketangkasan dan kemampuan
beradaptasi, inisiatif dan berjiwa entrepreneur, mampu berkomunikasi
efektif baik secara oral maupun tertulis, mampu mengakses dan
menganalisa informasi, dan memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi.
Kehidupan di abad 21 ini menuntut keterampilan yang harus
dikuasai seseorang, sehingga diharapkan pendidikan dapat
mempersiapkan siswa untuk menguasai berbagai keterampilan.
Saavendra dan Opfer dalam (Zubaidah, 2016 : 9) menyarankan sembilan
prinsip untuk mengajarkan keterampilan abad ke-21: (1) membuat
pembelajaran relevan dengan 'big picture';(2) mengajar dengan disiplin;
(3) mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih rendah dan lebih
tinggi untuk mendorong pemahaman dalam konteks yang berbeda; (4)
mendorong transfer pembelajaran; (5) membelajarkan bagaimana
'belajar untuk belajar' atau metakognisi; (6) memperbaiki
kesalahpahaman secara langsung; (7) menggalakkan kerja sama tim; (8)
memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran; dan (9)
meningkatkan kreativitas siswa.
Keterampilan penting abad ke 21 mengandung keterampilan khusus
yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran, yaitu The 4C Skills yang
berarti, berpikir kritis, pemecahan masalah, metakognisi,
berkomunikasi, berkolaborasi, inovasi dan kreatif, literasi informasi,
dan yang lainnya. King, et al. dalam (Redhana, 2019: 2241)
Keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan untuk
melakukan berbagai analisis, penilaian, evaluasi, rekonstruksi,
pengambilan keputusan yang mengarah pada tindakan yang rasional dan
logis. Pemecahan masalah merupakan bagian dari berpikir kritisyang
dilakukan untuk menyelesaikan suatu masalah dengan cara lebih
kompleks. Bruning, Schraw dan Ronning dalam (Anggo, 2011: 36),
Metakognisi secara sederhana didefinisikan sebagai berpikir tentang
20
apa yang dipikirkan sendiri. Metakognisi secara umum berkaitan
dengan dua dimensi berpikir, yaitu (1) self-awareness of cognition,
yaitu pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang berpikirnya sendiri,
dan (2) self-regulation of cognition, yaitu kemampuan seseorang
menggunakan kesadarannya untuk mengatur proses kognitifnya sendiri.
Komunikasi adalah sebuah proses memberikan informasi baik berupa
pesan, ide, atau gagasan baik secara tertulis maupun tidak tertulis.
Kolaborasi merupakan bentuk kerja sama dalam memecahkan masalah
untuk mencapai satu tujuan. Inovasi adalah menciptakan ide-ide baru
yang sebelumnya tidak pernah ada, sedangkan kreatif adalah sebuah
ide yang dimodifikasi atau dikreasikan sehingga menjadi karya yang
baru. Literasi informasi terdiri dari mengakses dan menilai informasi
meliputi (1) mengakses informasi secara efisien dan efektif, dan (2)
mengevaluasi informasi secara kritis. Menggunakan dan mengelola
informasi meliputi (1) menggunakan informasi secara akurat dan
kreatif untuk sejumlah isu atau masalah, (2) mengelola aliran
informasi dari sejumlah sumber, dan (3) memahami isu-isu etik/legal
dalam mengakses dan menggunakan informasi (Redhana, 2019: 2245).
Pencapaian keterampilan abad ke 21 bisa dilakukan dengan
meningkatkan kualitas pembelajaran, dan peran pendidik dalam
melaksanakan pembelajaran abad 21 sangat penting untuk
mewujudkan masa depan peserta didik yang lebih baik. Selain itu
guru pun harus memiliki keterampilan dan inovasi terbaru dalam
menghadapi pembelajaran abad ke 21.
Menurut Kristiawan, dkk dalam (Khasanah dan Herina, 2019: 1000)
memaparkan bahwa pendidikan merupakan upaya pengembangan
potensi manusiawi dari para peserta didik, baik berupa fisik dan cipta
maupun karsa agar potensi tersebut menjadi nyata dan dapat
berfungsi bagi perjalan kehidupan.
Maka dari itu peserta didik sudah sepantasnya mendapat haknya
untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya melalui hal-hal yang
21
disukai dan diminati peserta didik, tentunya dengan bantuan dan
bimbingan guru yang seharusnya berperan aktif membantu peserta didik
tersebut dalam pengembangan potensi serta membantu mewujudkan
impian peserta didik dengan memberikan mereka bekal, yaitu ilmu.
c) Pengembangan SDM di Abad 21
Sumber daya manusia adalah sumber daya paling penting yang
harus dimiliki sebuah negara, khusus nya untuk Indonesia. Yang
mana sumber daya manusia di Indonesia masih sangat kurang. Sumber
daya manusia yang perludikembangkan adalah dalam segi kognitif,
afektif dan psikomotorik, atau sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan
dan keterampilan. Selain kuantitas, kualitas juga menjadi sorotan utama
dari fungsi sumber daya manusia itu sendiri. Sumber daya manusia
yang diinginkan pada abad ke 21 di Indonesia ini.
adalah tangguh, berwawasan tinggi dan juga terampil.
Semakin maju suatu negara, maka semakin banyak pula sumber
daya manusia yang berkualitas yang dimiliki oleh negara tersebut.
Kualitas ini sangat berpengaruhdari pola Pendidikan nasional, karena
Pendidikan merupakan fondasi pertama bagi seseorang dalam memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baik. Tujuan pendidikan
tidak lain daripada membangun manusia-manusia yang unggul dan
juga dapat survive menghadapi berbagai masalah yang dihadapi.
Abad 21 ini sudah sangat berbeda dengan abad 20. Pada abad
21 ini perkembangan teknologi sudah sangat pesat, meliputi berbagai
aspek kehidupan saat ini yang berhubungan dengan teknologi,
begitupun dengan pendidikanpada abad 21 dituntut untuk
menggunakan pengetahuan (knowledge) sebagai peran utama dalam
perkembangan sumber daya manusia di era abad 21. Pada abad 21
meminta kualitas sumber daya manusia yang lebih baik dan bisa
mengikuti zaman yang ada.
Umumnya perkembangan yang terjadi di abad 21 berkaitan dengan
tergantikannya tenaga manusia dengan teknologi dan berbagai macam
22
alat robotik yang canggih. Namun terlepas dari segala teknologi,
semua perkembangan ini adalah hasil dari pemikiran, pengetahuan
dan buatan manusia itu sendiri, yang menjadikan teknologi berkembang
sangat pesat. Artinya secanggih apapun dunia berkembang, itu pasti
ada campur tangan dari sumber daya manusia.
Hal ini sependapat dengan Gates,1996 dalam (Wijaya, Sudjimat,
2016: 264) beliau mengemukakan bahwa, Saat ini, pendidikan berada di
masa pengetahuan (knowledge age) dengan percepatan peningkatan
pengetahuan yang luar biasa. Percepatan peningkatan pengetahuan ini
didukung oleh penerapan media dan teknologi digital yang disebut
dengan information superhighway.
Namun, apakah negara Indonesia sudah menjadi negara yang
memiliki kemampuan tersebut? Jika dilihat dari Badan Pusat Statistik
(BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) persentase pada Agustus
2018-Agustus 2020 mengalami peningkatan sebesar 7,07 persen angka
pengangguran di Indonesia, ditambah lagi dengan kondisi pandemi
covid-19 saat ini, dari total penduduk usia kerja sebanyak 203,97 juta
orang, persentase penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19
sebanyak 14.28 persen. Dengan 7,07 persen angka pengangguran ini,
menunjukan bahwa negara Indonesia masih kurang mampu dalam
mengembangkan Sumber Daya Manusia.
Untuk mencapai Indonesia yang maju diperlukan seorang pendidik
yang siap dalam menciptakan sumber daya manusia berkualitas, yang
mampu untuk bersaing, dan memiliki keterampilan dalam bekerja.
Menurut Aprillinda dalam (Hariyanto, Jannah, 2020: 78) menjelaskan
bahwa pada era ini guru seharusnya benar-benar menjadi guru yang
profesional, agar mampu menghadapi tantangan. Untuk itu, kompetensi
kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial, serta
kompetensi pedagogik seorang guru perlu dikembangkan sehingga
mampu mendidik siswa yang mempunyai kemampuan memprediksi dan
menanggulangi. hal ini sependapat dengan (Hasibuan, Prastowo, 2019:
23
40) yang berpendapat bahwa guru yang bertugas membentuk
intelektual cerdas harus dapat menunjukkan kemampuan
pedagogiknya. Oleh karena itu guru diharuskan membaca situasi dan
kondisi zaman yang ada, agar dapat merealisasikan “Konsep Ilmu”
sesuai dengan abadnya.
Abad 21 berkaitan dengan pengetahuan yang berkembang pesat
pada bidang informasi, media, serta teknologi, maka peran guru
dalam Pendidikan abad 21 ini adalah menjadi guru profesional yang
dapat berinteraksi dan beradaptasi sesuai dengan zamannya, karena
peserta didik yang diajarkannya adalah peserta didik yang ada pada
abad 21 ini, maka guru pun harus menyesuaikan diri dengan zaman
yang dialami oleh peserta didiknya dan sesuai dengan karakter
pendidikan.
Menurut Mufisoh dalam (Ahlah, Melianah,2020 : 808) menjelaskan
bahwa ciri khas atau karakter mengacu kepada serangkaian tindakan
berupa (a). Behavior (perilaku), (b). Attitudes(sikap), (c).
Motivations(motivasi), (d) Skill (keterampilan). Maka inti dari
pengembangan sumber daya manusia pada abad 21 yaitu berpacu
pada Pendidikan. Guru menjadi tombak utama dalam pendidikan
yang dapat menciptakan sumber daya manusia berkualitas, mampu
bersaing secara sehat melalui kemampuan dan keterampilan yang
dimiliki nya.
Selain profesionalisme, guru juga dituntut untuk menjadi seorang
pengajar yang berkualitas dan produktif serta memiliki sertifikat yang
bisa meyakinkan bahwa guru tersebut sudah layak untuk mengajar pada
bidang yang diampunya. Hal ini sependapat dengan (Yusuf dan
Mukhadis, 2018: 131) bahwa Guru Produktif adalah guru yang memiliki
sertifikat kompetensi yang sesuai dengan bidang yang diajarkan,
misalkan guru yang mengajar pengelasan harus mempunyai sertifikat
yang menyatakan kompetensinya dalam bidang pengelasan. Adanya
sertifikat kompetensiakan lebih meyakinkan untuk terbimbingnya
24
peserta didik menjadi sumber daya manusia yang memiliki
kompetensi yang sama seperti guunya atau bahkan melebihi
kemampuan guru tersebut. Lebih jelasnya bisa mengunjungi link :
http://bitly.ws/p6Fm
2. MENGANALISIS KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK ABAD 21
Abad 21 merupakan masa dimana ilmu pengetahuan dan teknologi
berkembang dengan pesat yang membuat komunikasi menjadi lebih mudah
karena tidak lagi mengenal batas jarak dan waktu. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di abad 21 ini juga berpengaruh secara luas di
berbagai bidang kehidupan masyarakat. Sehingga muncul norma,
pandangan, kebiasaan dan perilaku yang baru, yang mana disebut dengan
gaya hidup modern. Hal ini juga berpengaruh pada karakteristik siswa yang
semakin bervariasi dan tentunya lebih modern.
Siswa di abad 21 merupakan bagian dari generasi z atau milenial. Apa
itu generasi z? Generasi z adalah anak-anak yang lahir setelah tahun 1995,
beberapa sumber juga ada yang mengatakan tahun 1997.
Generasi z berada pada rentang usia 14- 19 tahun dan memiliki
banyak sebutan seperti generasi I, Generation Next, New Silent Generation,
Homelander, generasi youtube, generasi net, dan sebagainya (Giunta,
2017). Shenila Janmohamed (2016) dalam buku Generation M: Young
Muslim Changing The World menyebutnya dengan istilah generasi M, yaitu
kalangan muda yang religius namun sekaligus modern. Rideout et.al, (2010)
menggunakan istilah generasi M2 dimana pada usia 8-18 tahun generasi ini
25
lebih banyak menghabiskan waktu berinteraksi dengan media genre baru
(new media) seperti komputer, internet dan video games.
Generasi z besar kemungkinannya tidak sempat menjalani
kehidupan analog, namun langsung masuk dalam lingkungan digital.
Silahkan Saudara buktikan dan amati, jarang dijumpai generasi z masih
mendengarkan siaran radio, memutar CD, memutar kaset video, dan
menonton televisi. Interaksi dengan media generasi sebelumnya (old media)
seperti televisi, media cetak, dan musik audio mulai berkurang
intensitasnya.
Keahlian generasi z di bidang teknologi tidak muncul sendiri.
Lingkungan sekitar mereka juga mendorong mereka mengusai teknologi.
Saat ini, balita sudah menenal video youtube, dan anak SD sudah belajar
dari google. Di masa pandemi apa lagi. Mereka belajar menggunakan video
conference, didorong untuk belajar menggunakan komputer, dan mungkin
beradaptasi dengan sistem e-learning seperti Google Classroom.
Fenomena ini bukan hanya merubah “apa” yang dipelajari, namun
merubah cara “bagaimana” generasi z ini mempelajarinya. Di Indonesia
generasi z bisa dikatagorikan mereka yang lahir sekitar tahun 1995 setelah
layanan internet pertama oleh Indonet di Indonesia tersedia pada tahun
26
1994. Kesenjangan digital tidak lagi sekedar ditentukan faktor ekonomi
seperti kepemilikan handphone, namun lebih disebabkan perbedaan tingkat
literasi lintas antara generasi guru dan generasi peserta didik. Seperti apakah
karakteristik generasi z? Mari kita cermati bersama-sama!
a. Generasi z menyukai kebebasan dalam belajar (self directed learning) mulai
dari mendiagnosa kebutuhan belajar, menentukan tujuan belajar,
mengidentifikasi sumber belajar, memilih strategi belajar, dan
mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.
b. Generasi z suka mempelajari hal-hal baru yang praktis sehingga mudah
beralih fokus belajarnya meskipun memiliki kecukupan waktu untuk
mempelajarinya.
c. Merasa nyaman dengan lingkungan yang terhubung dengan jaringan
internet karena memenuhi hasrat berselancar, berkreasi, berkolaborasi, dan
membantu berbagi informasi sebagai bentuk partisipasi.
d. Generasi z lebih suka berkomunikasi dengan gambar images, ikon, dan
simbolsimbol daripada teks. Generasi z tidak betah berlama-lama untuk
mendengarkan ceramah guru, sehingga lebih tertarik bereksplorasi daripada
mendengarkan penjelasan guru.
e. Memiliki rentang perhatian pendek (short attention span) atau dengan kata
lain sulit untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Generasi z terbiasa
bersentuhan dengan teknologi tinggi dengan aksesibilitas cepat misalnya
smartphone. Rentang perhatian manusia semakin pendek ada di kisaran 8
detik (Glum, 2015).
f. Berinteraksi secara kompleks dengan media seperti smartphone, televisi,
laptop, desktop, dan iPod. Silahkan Saudara amati adakah fenomena
seorang peserta didik mengetik dengan laptop sambil melacak informasi
lewat smartphone sekaligus menonton televisi?
g. Generasi z lebih suka membangun eksistensi di media sosial daripada di
lingkungan nyata dan cenderung memilih menggunakan aplikasi seperti
Snapchat, Secret dan Whisper daripada whatsapp.
27
Guna lebih memahami karakteristik generasi z silahkan Saudara
saksikan tayangan video di https://youtu.be/VRGHd0Bi9Ww atau bisa scan
code berikut.
Kemudian renungkanlah apakah peserta didik-peserta didik yang
ada di daerah masing-masing ada kecenderungan karakteristik yang sama?
Berdasarkan video tersebut Saudara renungkan dan pikirkan
sejenak, lalu mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut; 1.
Apakah Saudara dalam keseharian menghadapi peserta didik yang memiliki
ciri-ciri serta harapan yang sama dengan yang ada di video? Apabila
berbeda karena Saudara bertugas di daerah terpencil, apakah fenomena
dalam video diyakini juga akan terjadi pada peserta didik di daerah Saudara?
2. Menurut Saudara sebaiknya kita mempertahankan cara mengajar selama
ini atau menyesuaikan dengan melakukan perubahan atau antisipasi? 3.
Apakah peserta didik mengekpresikan kejenuhannya dengan bermain game
dan berselancar di dunia maya yang tidak edukatif? 4. Apakah Saudara
menganggap kegemaran generasi z sebagai gangguan yang harus
diberhentikan atau dipandang modalitas belajar yang harus disalurkan? 5.
Perubahan-perubahan apa saja yang perlu dilakukan sesuai kondisi Saudara
dan kondisi peserta didik di daerah masing-masing? 6. Peran apa yang
seharusnya dilakukan Saudara dalam memfasilitasi peserta didik abad 21?
3. Peran Guru dalam pembelajaran abad 21
A. Mengajarkan Keterampilan Abad 21
28
Gambar Ilustrasi pembelajaran abad 21. Sumber: https://bit.ly/35ZMVTd
Pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang
mempersiapkan generasi yang memiliki keterampilan abad 21(berpikir
kritis dan pemecahan masalah, komunikasi, kolaborasi, 6 kreativitas dan
inovasi). Namun, apakah benar ketrampilan abad 21 merupakan sesuatu
yang baru? Sejatinya keterampilan abad 21 bukan hal yang baru dalam
dunia pendidikan. Socrates yang hidup pada (470-399 SM) mengajarkan
keterampilan berpikir melalui dialog. John Dewey pada abad 20 (1933)
telah mengenalkan pemberdayaan berpikir kritis melalui problem solving.
Sebenarnya, yang baru adalah perubahan dalam perekonomian dunia,
berarti bahwa keberhasilan kolektif dan individu tergantung pada memiliki
keterampilan tersebut.
Bila masa lalu keterampilan-keterampilan tersebut tidak sengaja
dirancang dalam pembelajaran, maka sekarang keterampilan-keterampilan
tersebut harus diajarkan dengan sengaja dan efektif" sedini mungkin dan
berkesinambungan. Apa yang diperlukan untuk memastikan bahwa siswa
memiliki akses ke pendidikan yang sengaja membekali keterampilan abad
21? Upaya yang telah dilakukan pemerintah Indonesia melalui
penyempurnaan kurikulum dan peningkatan kualitas sumber daya manusia
tenaga pendidik (Guru).
29
Penyempurnaan kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013
membawa konsekwensi perubahan pada standar pendidikan dasar dan
menengah. Dari delapan standar pendidikan, 4 standar mengalami
perubahan yaitu standar kelulusan, standar proses, standar isi, dan standar
penilaian.
Perubahan standar pendidikan tersebut terkait tuntutan kompetensi
yang akan dicapai (standar kelulusan) dalam pendidikan di Indonesia, yaitu
mempunyai sikap spiritual dan sosial, berilmu, cakap dan kreatif sebagai
modal pembangunan dan daya saing dengan bangsa lain. Standar isi disusun
seimbang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Keterampilan ditekankan pada keterampilan berpikir menuju terbentuknya
kreativitas. Kemampuan psikomotorik adalah penunjang keterampilan.
Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme,
prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian
pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk
mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar
peserta didik mencakup kompetensi sikap,pengetahuan, dan keterampilan
yang dilakukan secara berimbang sehingga dapat digunakan untuk
menentukan posisi relatif setiap peserta didik terhadap standar yang telah
ditetapkan. Perubahan standar proses dalam kurikulum 2013 berkaitan
dengan perubahan proses pembelajaran yaitu dari siswa diberi tahu menuju
mengajak siswa mencari tahu.
Menurut Permen Dikbud No 65 tahun 2013 tentang standar proses,
kompetensi pembelajaran dapat dicapai melalui aktivitas mengamati,
menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta yang selanjutnya
dikenal dengan istilah pendekatan saintifik. Menurut Dyer, dkk. 2009
kreativitas tidak diturunkan tetapi dapat dikembangkan melalui pendidikan.
Kreativitas dapat dilatihkan dalam proses pembelajaran melalui kegiatan
mengamati, mempertanyakan, mencoba, mengasosiasi, dan
mengomunikasikan. Juga disampaikan bahwa Pembelajaran berbasis
30
kecerdasan tidak akan memberikan hasil siginifikan (hanya peningkatan
50%) dibandingkan yang berbasis kreativitas (sampai 200%). Kreativitas
merupakan salah satu kompetensi yang akan dicapai dalam pendidikan di
Indonesia. Selain itu pembelajaran diarahkan untuk kemampuan berpikir,
bernalar dan bekerja ilmiah melalui pembelajaran inkuiri.
Harus kita akui, ujung tombak pelaksana kurikulum adalah guru.
Guru mempunyai peran strageis dalam menyiapkan generasi emas dengan
keterampilan abad 21. Namun, sudah siapkah kita sebagai guru untuk
membekali generasi emas? Sebagai guru yang professional, selain dituntut
menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam (kompetensi
professional) juga dituntut memahami perkembangan kognitif murid,
merancang pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran serta evaluasi hasil
belajar sekaligus pengembangan murid (kompetensi pedagogi). Sejalan
dengan hal di atas, seorang guru harus terus meningkatkan 7
profesionalismenya melalui berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan
kemampuannya dalam mengelola pembelajaran maupun kemampuan lain
dalam upaya menjadikan peserta didik memiliki keterampilan belajar,
mencakup keterampilan dalam memperoleh pengetahuan (learning to
know), keterampilan dalam pengembangan jati diri (learning to be),
keterampilan dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu (learning to do), dan
keterampilan untuk dapat hidup berdampingan dengan sesama secara
harmonis (learning to livetogether). Pemerintah melalui Kemdikbud atau
Departemen lain sudah melakukan upaya-upaya peningkatan
profesionalisme guru, misalnya: bea siswa studi lanjut, sertifikasi guru
(PLPG dan PPG), dan pelatihan-pelatihan (in servis training).
Terkait dengan menyiapkan generasi emas, maka guru dituntut
mampu menerapkan model atau strategi pembelajaran yang ditengarai dapat
memberdayakan keterampilan abad 21. Melalui Permen Dikbud No 65
tahun 2013 tentang standar proses pemerintah menyarankan perlu
diterapkan pembelajaran berbasis penelitian (discovery/inquiry learning),
31
dan berbasis pemecahan masalah(project based learning) untuk mendorong
kemampuan peserta didik untuk menghasilkan karya kontekstual, baik
individual maupun kelompok.
Model pembelajaran dengan guru menyampaikan pengetahuan
faktual melalui ceramah dan buku teks, tidak melatih siswa menerapkan
pengetahuan untuk konteks baru, berkomunikasi dengan cara yang
kompleks, dan memecahkan masalah atau mengembangkan kreativitas.
Singkatnya, pembelajaran yang demikian bukan cara yang paling efektif
untuk mengajarkan keterampilan abad 21.
Modul pembelajaran menurut kurikulum 2013 ada dua, yaitu
pembelajaran langsung dan pembelajaran tidak langsung. Proses
pembelajaran langsung adalah proses pendidikan dimana peserta didik
mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan
psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang
dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran.
Proses pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan
langsung atau yang disebut dengan instructional effect. Pembelajaran tidak
langsung adalah proses pendidikan yang terjadi selama proses pembelajaran
langsung tetapi tidak dirancang dalam kegiatan khusus. Pembelajaran tidak
langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap. Pengembangan
sikap sebagai proses pengembangan moral dan perilaku dilakukan oleh
seluruh mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan yang terjadi di kelas,
sekolah, dan masyarakat. Dalam sebuah proses belajar, peranan guru
sebagai sosok yang“digugu dan ditiru” adalah penting. ‘Perilaku’ seorang
guru akan menjadi komunikasi (penyampaian pesan) paling efektif dan
pengaruhnya sangat besar pada peserta didik. Perilaku inilah yang akan
menjadi ‘teladan’ bagi kehidupan sosial peserta didik.
Berikut disampaikan ‘9 resep’ bagaimana mengajar keterampilan
abad 21.
32
1) Buatlah relevan dengan kehidupan siswa.
Agar efektif, pembelajaran apapun harus relevan dengan kehidupan
siswa. Menghafal pengetahuan faktual membuat materi pelajaran
tampaknya tidak relevan dengan kehidupan siswa. Salah satu cara untuk
membuat pembelajaran relevan dengan kehidupan, guru dapat memulai
dengan menyampaikan topik yang menarik atau menantang. Isu-isu yang
aktual yang terjadi di masyarakat, misalnya perubahan iklim bagi daerah
mereka dan daerah lain dengan karakteristik geografis yang sama adalah
contoh topik yang menarik dan menantang. Topik yang menantang
memerlukan keterlibatan siswa dengan isu-isu kompleks.
2) Ajarkan melalui disiplin ilmu.
Belajar ilmu pengetahuan tidak hanya belajar konten materi
pengetahuannya. Siswa perlu tahu bahwa mereka mempelajari setiap
disiplin ilmu karena ilmu tersebut penting. Demikian juga siswa juga perlu
tahu bagaimana para ahli menciptakan pengetahuan baru 8 dengan metode
ilmiah, bagaimana para ilmuwan melakukan percobaan, bagaimana mereka
mencapai kesimpulan. Masing-masing langkah ini erat dengan
pengembangan keterampilan abad ke-21 3) Mengembangkan keterampilan
berpikir tingkat rendah dan tinggi dalam waktu yang sama.
Siswa perlu memahami hubungan antara variabel yang diberikan
dan bagaimana menerapkan pemahaman ini untuk konteks yang berbeda.
4) Mendorong transfer belajar.
Siswa perlu belajar menerapkan keterampilan, konsep, pengetahuan,
sikap atau strategi yang mereka kembangkan dalam satu konteks dan situasi
ke dalam konteks dan situasi yang lain. Kegiatan berikut adalah salah satu
cara melatih siswa mentransfer belajarnya:
33
(a) membimbing siswa untuk melakukan brainstorming tentang cara-cara
menerapkan keterampilan, sikap, atau konsep yang telah dikembangkan
untuk situasi yang lain,
(b) Mintalah siswa untuk membuat analogi antara topik yang berbeda, seperti
antara ekosistem dan pasar keuangan. Pakar pendidikan Shanghai percaya
bahwa pelatihan siswa untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan
untuk masalah nyata memberikan kontribusi terhadap keberhasilan mereka
pada PISA 2009.
5) Ajarkan siswa untuk belajar bagaimana belajar (metakognisi).
Peters (2000) menyatakan bahwa metakognisi adalah kecakapan
siswa untuk menyadari dan memonitor proses belajarnya. Lee dan Baylor
(2006) mendiskripsikan keterampilan metakognisi menjadi 4 dimensi yaitu
planning, regulating, evaluating, dan revising. Planning menyangkut
kesadaran mengidentifikasi apa yang telah diketahui, menentukan tujuan
belajar, mempertimbangkan alat bantu belajar, dan mempertimbangkan
bentuk tugas. Regulating meliputi mengontrol kemajuan belajar, kemajuan
menyelesaikan tugas, dan kemajuan tujuan belajar yang telah didapat.
Evaluating meliputi penilaian terhadap pengetahuan yang baru didapat,
menyeting tujuan, dan menyeleksi bahan belajar. Revising meliputi
modifikasi rencana tujuan sebelumnya, strategi-strategi, dan
pendekatanpendekatan belajar lainnya.
6) Memperbaiki miskonsepsi.
Banyak orang yang salah konsep tentang bagaimana dunia bekerja.
Kesalahan konsep itu bertahan sampai mereka memiliki kesempatan untuk
mengembangkan penjelasan alternatif.
7) Mendorong kerja sama dalam kelompok .
34
Kemampuan untuk bekerja sama adalah keterampilan abad ke-21
yang penting. Kolaborasi juga diperlukan agar pembelajaran optimal. Siswa
belajar dalam kelompok lebih baik dari pada belajar individual. Belajar
berpasangan atau kelompok merupakan cara yang ideal bagi siswa untuk
mengembangkan metakognisi dan keterampilan komunikasi, serta
memperbaiki miskonsepsi. Ada banyak cara yang dilakukan guru untuk
merancang pembelajaran yang mendorong bekerjasama dalam kelompok.
Siswa dapat mendiskusikan konsep secara berpasangan atau kelompok dan
berbagi apa yang mereka pahami. Siswa dapat mengembangkan argumen
dalam debat. Siswa dapat bermain peran.
8) Memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran.
Teknologi menawarkan potensi pada siswa dengan cara-cara baru
untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah, berpikir kritis,
dan keterampilan komunikasi; berlatih menangani miskonsepsi; dan
berkolaborasi dengan rekan-rekan pada topik yang relevan dengan
kehidupan mereka. Forum berbasis web di mana siswa dan rekan-rekan
mereka dari seluruh dunia dapat berinteraksi, berbagi, debat, dan belajar dari
satu sama lain. Internet itu sendiri juga menyediakan forum untuk
mengembangkan keterampilan abad ke-21 dan 9 pengetahuan. Sifat sumber
yang tak terhitung jumlahnya, memberi kesempatan untuk belajar menilai
sumber-sumber yang reliabel dan valid.
9) Mengembangkan kreativitas siswa.
Guru juga dapat memfasilitasi berkembangnya kreativitas siswa
dengan mendorong, mengidentifikasi, dan membantu siswa untuk
mengembangkan mental positif tentang kemampuan untuk
mengembangkan kreativitas siswa. Mengidentifikasi kreativitas dapat
membantu siswa untuk mengenali sendiri kemampuan kreatif . Guru dapat
35
membimbing secara langsung tentang proses kreatif dan memberikan
kontribusi untuk pengembangan kreativitas. Pengembangan kreativitas
dapat dipelajari melalui masing-masing disiplin ilmu, bukan hanya melalui
seni. Model pembelajaran yang memenuhi ‘resep’ di atas antara lain
pembelajaran inkuiri, problem based learning, dan project base learning.
B. Peranan Guru Abad 21
Gambar 2. Sumber: https://bit.ly/3CsEaNp
Pembelajaran abad ke-21 menuntut banyak hal dari seorang guru
khususnya yang berkaitan dengan kemampuan dan keterampilan. Dalam
perannya yang pertama, guru menyiapkan peserta didik untuk mampu
memiliki keterampilan abad 21. Seorang guru perlu menguasai berbagai
bidang, mahir
dalam hal pedagogi termasuk inovasi dalam pengajaran dan pembelajaran,
memahami psikologi pembelajaran dan memiliki keterampilan
konseling, mengikuti perkembangan tentang kebijakan kurikulum dan isu
pendidikan, mampu mendesain pembelajaran, mampu memanfaatkan media
dan teknologi
baru dalam pembelajaran, dan tetap menerapkan nilai-nilai untuk pembentukan
kepribadian dan akhlak yang baik.
Guru merupakan pendidik profesional yang harus melaksanakan
tugasnya dengan baik dan bermutu. Pendidikan yang bermutu dapat
menghasilkan pribadi yang utuh dengan pembelajaran yang
36
mengembangkan kreativitas peserta didik dan melatih kemampuan berpikir
tingkat tinggi (Higher
Order Thinking Skill/HOTS)
Pembelajaran abad ke-21 memiliki Tujuan utama yakni
membangun kemampuan belajar peserta didik dan mendukung
perkembangan mereka
menjadi pembelajar sepanjang hayat, aktif, mandiri. Peran penting seorang
guru abad ke-21 sebagai role model untuk kepercayaan, keterbukaan,
ketekunan dan komitmen bagi siswanya dalam menghadapi ketidakpastian di
abad ke-21.
Guru perlu memperkuat keingintahuan intelektual siswa,
keterampilan
mengidentifikasi dan memecahkan masalah, dan kemampuan mereka untuk
membangun pengetahuan baru dengan orang lain. Guru yang ahli dalam
mencari tahu bersama-sama dengan siswa mereka, tahu bagaimana melakukan
sesuatu, tahu bagaimana cara untuk mengetahui sesuatu atau bagaimana
menggunakan
sesuatu untuk melakukan sesuatu yang baru secara baik dan benar. Guru
diharapkan mampu dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang
bertumpu dan melaksanakan empat pilar belajar yang dianjurkan oleh
Komisi Internasional UNESCO untuk Pendidikan, yaitu: 1) Learning to
Know, 2)Learning to Do, 3) Learning to Be, and 4) Learning to Live Together.
(Karim, 2017)
37
Gambar 3. Sumber: https://bit.ly/3sU1C2Q
1) Learning to Know
Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh,
memperdalam dan memanfaatkan materi pengetahuan. Penguasaan materi
merupakan salah satu hal penting bagi siswa di abad ke-21. Siswa juga harus
memiliki kemauan untuk belajar sepanjang hayat. Hal ini berarti siswa harus
secara berkesinambungan menilai kemampuan diri tentang apa yang
telah diketahui dan terus merasa perlu memperkuat pemahaman untuk
kesuksesan kehidupannya kelak. Siswa harus siap untuk selalu belajar
ketika menghadapi situasi baru yang memerlukan keterampilan
baru.
Pembelajaran di abad ke-21 hendaknya lebih menekankan pada
tema pembelajaran interdisipliner. Empat tema khusus yang relevan dengan
kehidupan modern adalah: 1) kesadaran global; 2) literasi finansial,
ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan; 3) literasi kewarganegaraan; dan 4)
literasi kesehatan. Tema-tema ini perlu dibelajarkan di sekolah untuk
mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan dan dunia kerja di masa
mendatang dengan lebih baik.
38
2) Learning to Do
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat
yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya.
Siswa maupun orang dewasa sama-sama memerlukan pengetahuan akademik
dan terapan, dapat menghubungkan pengetahuan dan keterampilan, kreatif dan
adaptif, serta mampu mentrasformasikan semua aspek tersebut ke dalam
keterampilan yang berharga.
3) Learning to Be
Keterampilan akademik dan kognitif memang keterampilan yang
penting bagi seorang siswa, namun bukan merupakan satu-satunya
keterampilan yang diperlukan siswa untuk menjadi sukses. Siswa yang
memiliki kompetensi kognitif yang fundamental merupakan pribadi yang
berkualitas dan beridentitas. Siswa seperti ini mampu menanggapi
kegagalan serta konflik dan krisis, serta siap menghadapi dan mengatasi
masalah sulit di abad ke-21. Secara khusus, generasi muda harus mampu
bekerja dan belajar bersama dengan beragam kelompok dalam berbagai jenis
pekerjaan dan lingkungan sosial, dan mampu beradaptasi dengan perubahan
zaman.
4) Learning to Live Together
Berbagai bukti menunjukkan bahwa siswa yang bekerja secara
kooperatif dapat mencapai level kemampuan yang lebih tinggi jika ditinjau
dari hasil pemikiran dan kemampuan untuk menyimpan informasi dalam
jangka waktu yang panjang dari pada siswa yang bekerja secara individu.
Belajar bersama akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat aktif
dalam diskusi, senantiasa memantau strategi dan pencapaian belajar mereka
dan menjadi pemikir kritis.
39
Gambar 4. Sumber: https://bit.ly/3hRhahA
Peran Guru dalam Pembelajaran Abad 21 Saudara mahasiswa, mari
kita lanjutkan pembahasan mengenai peran Saudara dalam pembelajaran abad
21. Tentu peran guru abad 21 menjadi lebih menarik sekaligus menjadi lebih
menantang. Kehadiran guru dalam pembelajaran abad 21 sangat diperlukan
untuk menjamin terjadinya proses pembelajaran yang bermakna, berkarakter,
dan memiliki orientasi pengembangan keterampilan-keterampilan penting
abad 21. Saudara disarankan tidak sekedar berfokus menyajikan materi, fakta,
data, hasil riset, teori, cerita, dan rumus-rumus semata karena cara-cara
demikian akan segera akan menjadi usang. Mengapa? Peserta didik dapat
melacak informasi dan beragam pengetahuan memanfaatkan sumber-sumber
digital kapanpun dan dimanapun melalui mesin pencari.
Bagi Saudara yang masih berada di daerah yang terpencil dan tidak ada
akses jaringan tetap perlu mengantisipasi karena dalam waktu dekat semua
40
daerah akan terhubung dengan jaringan internet dan handphone telah menjadi
bagian hidup keseharian peserta didik. Saudara selaku guru tetap perlu
mengantisipasi perkembangan teknologi dan mentransformasi diri dari
pembelajaran berpusat pada guru menjadi lebih berpusat pada peserta didik,
dimana peserta didik dan Saudara sama-sama aktif. Saudara penting
memberikan kesempatan peserta didik mengkontruksi pengetahuannya sendiri
melalui kesempatan mengakses “big data” namun tetap dalam bimbingan
Saudara. Generasi z akan cepat menemukan berbagai sumber belajar digital
karena sangat terbiasa mengoperasikan beragam perangkat akses informasi
digital. Di satu sisi generasi z tetap memerlukan bantuan dalam hal;
(a) cara memvalidasi informasi,
(b) cara mensintesa informasi,
(c) cara mengambil manfaat dari informasi,
(d) cara mengkomunikasikan informasi kepada orang lain dengan baik,
(e) menggabungkan informasi secara kolaboratif, dan
(f) cara menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah yang
produktif.
Aksesibilitas informasi yang semakin mudah mendorong
pengembangan dan penyesuaian kurikulum dengan porsi penekanan
pengembangan keterampilan belajar daripada sekedar penyampaian fakta-
fakta. Contoh pada pembelajaran dengan tema “peta” guru dapat mengajukan
pertanyaan “manakah rute terpendek dari sekolah menuju kantor kecamatan?”
Peserta didik dapat membuka google map kemudian mengetikkan nama tempat
atau lokasi yang dituju. Berdasarkan hasil eksplorasi peserta didik bisa
didorong rasa ingin tahunya dengan meminta peserta didik membuka tayangan
animasi mobil sedang berjalan menuju suatu tempat. Peserta didik didorong
mencari hubungan antara jarak tempuh dan waktu tempuh. Elaborasi
selanjutnya diarahkan kepada pembahasan mengenai kondisi lalu lintas,
kepadatan lalu lintas, tips keselamatan di jalan raya, sistem rambu-rambu lalu
41
lintas, dan sebagainya. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah
pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi, misalnya;
1) Bagaimana cara mendapatkan rute terpendek dan tercepat?
2) Jenis kendaraan apa yang paling cocok dipergunakan?
3) Bagaimana merancang jadwal perjalanan agar terhindar dari kemacetan?
4) Sistem lalulintas seperti apa yang dapat mengurangi kemacetan di jalan
raya?
Coba Saudara perhatikan apakah pertanyaan-pertanyaan di atas mendorong
peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi (High Order Thingking
Skill/HOTS)? Saudara tentu ingat taksonomi hasil belajar yang meletakkan
kemampuan mencipta (create) merupakan pengalaman belajar yang paling
tinggi. Bukankah mencipta merupakan puncak hasil belajar paling memuaskan
bagi manusia? Bayangkan kepuasan yang dirasakan peserta didik apabila
mereka mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat dan mendapatkan
banyak apresiasi. Upaya pertama yang penting bagi guru adalah merubah cara
pandang terhadap generasi z. Guru perlu meyakini bahwa generasi z memiliki
potensi kreatif yang dapat menghasilkan gagasan cemerlang apabila diberikan
kesempatan berkreasi. Peserta didik perlu diberi kepercayaan dalam melacak,
menemukan, mengelola, menerapkan, menganalisis, mensintesis,
mengevaluasi, dan menciptakan sesuatu dengan memanfaatkan beragam
perangkat dan sumber yang dimiliki.
42
Gambar 5. Taksonomi Belajar Ranah Kognitif
Sumber: https://bit.ly/3vTgQqS
Peserta didik perlu diberi kesempatan berkreasi menjadi produsen
pengetahuan dan berbagi pengetahuan melalui beragam media sosial seperti
web blog, episode program di internet (podcasting), google drive, snapchat,
video streaming, audio streaming, dan sebagainya. Masyarakat prosumen
dengan sendirinya dapat terbentuk apabila peserta didik sejak awal
dikondisikan untuk terbiasa mencipta dan menjadi subyek yang aktif dalam
proses pembelajaran.
Saudara mungkin mempertanyakan, keterampilan apa saja yang diperoleh
apabila peserta didik diberikan kesempatan memanfaatkan “big data” dengan
berselancar di internet? Peserta didik perlu berlatih untuk menjadi produsen
pengetahuan yang mampu mengungkapkan kembali informasi dan
pengetahuan menggunakan kata-kata sendiri (mem-parafrase), menguji
kredibilitas informasi, membuat atribut informasi, memilih langganan
penyedia informasi yang sesuai, memperhalus kalimat, mengedit,
mengunggah, merefleksikan, membuat tag, menunjukkan lokasi, membangun
jaringan, memberi komentar, menguji kebenaran informasi dan sebagainya.
Banyak hal bisa dipelajari dan proses yang potensial mengembangkan
keterampilan peserta didik.
43
Bagaimana dengan integritas tanggungjawab, konsistensi, dan integritas?
Generasi z belajar dari teman, orang-orang baru, dan dengan dirinya sendiri.
Ada banyak aktivitas dan mode belajar potensial yang memenuhi beragam
gaya dan preferensi belajar generasi z. Lakukan beberapa hal sederhana yang
dapat membangun iklim positif bagi generasi z, yaitu;
1) Kurangi kebiasaan berdiri di depan kelas dan di tengah kelas sebagai
satusatunya sumber dan pusat perhatian. Ingatlah teknologi digital adalah
infrastruktur belajar yang digemari bagi generasi z.
2) Guru lebih berperan dan bertindak sebagai mentor pendamping,
pembimbing, dan pelatih dengan kebijaksanaan, pengetahuan, dan
pengalaman. Lakukan monitoring kemajuan dan pemahaman konsep-
konsep kunci hasil eksplorasi oleh peserta didik di dunia digital. Penuhi
hasrat peserta didik berselancar di dunia maya atau beraktivitas nyata
untuk dapat menimbulkan antusiasme. Kurangi kebiasaan meminta
peserta didik sekedar mendengarkan penjelasan guru.
3) Memotivasi peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dipilih
melalui inspirasi-inspirasi baru. Contohnya guru menyediakan forum
berdiskusi secara online melalui instagram, facebook atau whatsapp group
di sore hari sehingga menjadi perbincangan menyenangkan dipagi harinya
atau pertemuan berikutnya.
4) Peran guru adalah memberikan saran atas proses dan hasil belajar peserta
didik sehingga perlu memfokuskan diri kepada monitoring proses belajar
peserta didik. Misalnya guru menyediakan wadah untuk mengunggah
karya peserta didik kemudian guru memberikan komentar konstruktif
secara berkala.
Kemudian apa konsekwensinya bagi guru abad 21? Konsekwensinya
Saudara harus lebih luwes membuat rancangan pembelajaran karena
bukan saja peserta didik memiliki kebutuhan, minat, aspirasi dan
kemampuan yang berbeda, namun secara alamiah mereka adalah generasi
44
modern yang memerlukan cara belajar berbeda. Apa dan bagaimana
mereka?
1) Generasi z abad 21 memerlukan tugas-tugas dan atau aktivitas
pembelajaran yang bervariasi.
2) Abad 21 memerlukan konteks dan lingkungan belajar yang berbeda
dengan kelas konvensional yaitu lingkungan dunia maya
3) Transisi dapat dimulai dari kelas konvensional dengan mengubah metode
pembelajaran sesuai kebutuhan generasi z dan dunia masa depan.
Perubahan 21 dimaksud adalah menekankan pengintegrasian teknologi ke
dalam kelas sesuai kondisi, kesiapan, dan aksesibilitas perangkat TIK.
4) Perlu dicatat, jangan lupa memanfaatkan sumber belajar lingkungan fisik
dan dikombinasikan dengan sumber belajar digital. Ingatlah sumber
digital bersifat memperkaya namun interaksi dengan lingkungan fisik
adalah sumber belajar yang kaya.
Faktor lain yang penting sebagai renungan guru harus benar-benar
mencintai bidang ataupun mata pelajaran yang menjadi
tanggungjawabnya dan guru harus mencintai peserta didiknya.
Untuk menambah pemahaman Saudara tentang peran guru dalam
pembelajaran abad 21 silahkan tonton video yang ada
dibawah ini dengan mengscan QR Code atau dengan
mengklik link ini https://bit.ly/3ty8wKg
4. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN ABAD 21
Dalam dunia pendidikan belajar dan pembelajaran tidak hanya
terjadi di sekolah saja, tetapi di tiga pusat yang lazim dikenal dengan tri
pusat pendidikan. Tri pusat pendidikan adalah tempat di mana anak
mendapatkan pengajaran baik secara langsung maupun tidak langsung
dalam kehidupan keluarga (informal), sekolah (fomal) maupun masyarakat
(non formal). Seseorang dikatakan belajar jika dalam dirinya terjadi aktifitas
yang mengakibatkan perubahan tingkah laku dan dapat diamati relatif lama.
45
Dalam proses belajar, setiap siswa harus diupayakan untuk terlibat secara
aktif guna mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini memerlukan bantuan dari
guru untuk memotivasi dan mendorong agar siswa dalam proses belajar
terlibat secara totalitas. Guru harus menguasai baik materi maupun strategi
dalam pembelajaran.
1. Definisi Pembelajaran
Gambar 1
Sumber : Google.com
Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang
untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan
kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian
kejadiankejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel,
1991). Pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama
dengan maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna (Gagne,
1985).
Oleh karena itu pembelajaran perlu dirancang, ditetapkan tujuannya
sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya (Miarso, 1993)
Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik, metode, dan
pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan, peserta didik,
materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan
efektif. Strategi pembelajaran merupakan suatu seni dan ilmu untuk
membawa pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah
46
ditetapkan dapat dicapai secara efesien dan efektif (T. Raka Joni, 1992).
Cara-cara yang dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi
sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman
belajar kepada peserta didik (Gerlach and Ely). Strategi belajar mengajar
tidak hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan, melainkan juga termasuk
di dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya (Dick and Carey).
Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor
internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan
dengan pribadi guru sebagai pengelola kelas. Guru harus dapat
melaksanakan proses pembelajaran, oleh sebab itu guru harus memiliki
persiapan mental, kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab, penguasaan
bahan, kondisi fisik, dan motivasi kerja. Faktor eksternal adalah kondisi
yang timbul atau datang dari luar pribadi guru, antara lain keluarga dan
lingkungan pergaulan di masyarakat. Faktor lingkungan, yang dimaksud
adalah faktor lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan sekolah.
Jadi, Pembelajaran dapat diartikan proses belajar mengajar atau
pengorganisasian, penciptaan, pengaturan suatu kondisi lingkungan yang
sebaik-baiknya yang memungkinkan terjadinya belajar pada siswa.
2. Model Pembelajaran
Model dapat dipandang sebagai upaya dan untuk mengkonkretkan
sebuah teori sekaligus juga merupakan sebuah analogi dan representasi dari
variable-variabel yang terdapat di dalam teori tersebut.1 Sedangkan
menurut Robins, “A model is an abstraction of reality; a simplified
representation of some real-world phenomeno2 Maksud dari definisi
tersebut, model merupakan representasi dari beberapa fenomena yang ada
di dunia nyata. Model juga merupakan suatu rancangan yang dibuat khusus
dengan menggunakan langkah-langkah yang sistematis untuk diterapkan
dalam suatu kegiatan. Selain itu juga model sering disebut dengan desain
47
yang dirancang sedemikian rupa untuk kemudian diterapkan dan
dilaksankan. Penulis simpulkan Model adalah sesuatu yang
menggambarkan adanya pola berpikir. Sebuah model biasanya
menggambarkan keseluruhan konsep yang saling berkaitan.
Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat
digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka
panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing
pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan
pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang
sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.3 Menurut Zubaedi
model pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan
untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan member petunjuk bagi
guru dikelas. 4Suprijono dalam Zubaedi mengatakan, model pembelajaran
adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas dan tutorial.
Berdasarkan pengertian di atas penulis menyimpulkan model
pembelajaran merupakan petunjuk bagi pendidik dalam merencanakan
pembelajaran di kelas, mulai dari mempersiapkan perangkat pembelajaran,
media dan alat bantu, sampai alat evaluasi yang mengarah pada upaya
pencapaian tujuan pelajaran. Dengan kata lain Model Pembelajaran adalah
“Suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu”
dan di dalam pola tersebut terdapat karakteristik berupa tahapan kegiatan
guru-siswa atau dikenal dengan istilah sintaks dalam peristiwa
pembelajaran.
3. Pendidikan Abad 21
48
Ciri abad 21 menurut Kemendikbud adalah tersedianya informasi
dimana saja dan kapan saja (informasi}, adanya implementasi penggunaan
mesin (komputasi}, mampu menjangkau segala pekerjaan rutin
(otomatisasi) dan bisa dilakukan dari mana saja dan kemana saja
(komunikasi). Ditemukan bahwa dalam kurun waktu
20 tahun terakhir telah terjadi pergeseran pembangunan pendidikan ke
arah ICT sebagai salah satu strategi
manajemen pendidikan abad 21 yang di dalamnya meliputi tata kelol
a kelembagaan dan sumber daya manusia ( Soderstrom, From, Lovqvist,
& Tornquist, 2011) 1 . Abad ini memerlukan transformasi pendidikan secara
menyeluruh sehingga terbangun kualitas guru yang mampu memajukan
pengetahuan, pelatihan, ekuitas siswa dan prestasi siswa (Darling-
Hammond, 2006 ; Azam & Kingdon, 2014).
Ciri abad 21 menurut Hernawan (dalam Hidayat dan Patras) 2 adalah
meningkatnya interaksi antar warga dunia baik secara langsung maupun
tidak langsung, semakin banyaknya informasi yang tersedia dan dapat
diperoleh, meluasnya cakrawala intelektual, munculnya arus keterbukaan
dan demokkratisasi baik dalam politik maupun ekonomi, memanjangnya
jarak budaya antara generasi tua dan generasi muda, meningkatnya
kepedulian akan perlunya dijaga keseimbangan dunia, meningkatnya
kesadaran akan saling ketergantungan ekonomis, dan mengaburnya batas
kedaulatan budaya tertentu karena tidak terbendungnya informasi.
Hidayat & Pat ras 3 selanjutnya menjelaskan kebutuhan
pendidikan abad 21 menurut Patrick Slattery dalam bukunya yang
berjudul “Curriculum Development In The Postmodern” yaitu
pendidikan yang berdasarkan pada beberapa konsep berikut:
1. Pendidikan harus diarahkan pada perubahan sosial, pemberdayaan
komunitas, pembebasan pikiran, tubuh dan spirit (mengacu pada konsep
yang dikembangkan oleh Dorothy}
49
2. Pendidikan harus berlandaskan pada 7 hal utama (mengacu pada konsep
yang dikembangkan oleh Thich Nhat Hanh}, yaitu tidak terikat pada teori,
ideology, dan agama; jangan berpikir sempit bahwa pengetahuan yang
dimiliki adalah yang paling bena r; tidak memaksakan kehendak pada orang
lain baik dengan kekuasaan, ancaman, propaganda maupun pendidik an;
peduli terhadap sesame; jangan memelihara kebencian dan amarah; jangan
kehilangan jatidiri; jangan bekerja di tempat yang menghancurkan manusia
dan alam.
3. Konteks pembelajaran, pengembangan kurikulm dan penelitian diterapkan
sebagai kesempatan untuk menghubungkan siswa dengan alam semesta
(mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh David Ort)
4. Membuat guru merasa sejahtera dalam kegiatan pembelajaran (mengacu
pada konsep yang dikembangkan oleh Dietrich Bonhoeffer)
21th century readiness merupakan kesiapan dalam menyambut abad
21. UNESCO telah membuat 4 (empat) pilar pendidikan untuk
menyongsong abad 21, yaitu:
1. Learning to how (belajar untuk mengetahui)
2. Learning to do (belajar untuk melakukan)
3. Learning to be (belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu
mandiri yang berkepribadian)
4. Learning to live together (belajar untuk hidup bersama)
5. Pendidikan yang membangun kompetensi “partnership 21st Century
Learning” yaitu framework pembelajaran abad 21 yang menuntut peserta
didik memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan dibidang
teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran, inovasi,
keterampilan hidup dan
Kompetensi “partnership 21st Century Learning” mengacu pad
a format pendidikan abad 21 yang diusung oleh Hermawan (2006), yaitu:
1. Cyber (e-learning) dimana pembelajaran dilakukan dengan
mengoptimalkan penggunaan
50
2. Open and distance learning dimana pembe lajara abad 21 dapat dilakukan
dengan model pembelajaran jarak jauh, tidak terbatas dan dilakukan dengan
memanfaatkan bantuan teknologi informasi dan komunikasi
3. Quantum Learning, yaitu menerapkan metode belajar yang
disesuaikan dengan cara kerja
4. Cooperative Learning, yaitu pembelajaran yang menggunakan kelompok
sebagai upaya menumbuhkan kerjasama antar
5. Society Technology Science, yaitu konsep interdisipliner yang diterapkan
untuk mengintegrasikan permasalahan dalam
ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat.
6. Accelerated Learning, yaitu mengembangkan kemampuan dalam menyerap
dan memahami informasi secara cepat sehingga dapat meningkatkan
kemampuan belajar secara lebih efektif.
4. Model-Model Pembelajaran Abad 21
Sebelum membahas model-model pembelajaran abad 21 ada
baiknya dipahami terlebih dahulu kerucut pengalaman belajar Edgar Dale.
Hal ini penting karena pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi atau
bahkan dimediasi oleh teknologi tetap diperuntukkan bagi kemaslahatan
peserta didik dan memberikan pembelajaran bermakna. Pada anak usia dini
tentu dapat membantu menstimuli aspek-aspek perkembangan sesuai tugas-
tugas perkembangannya. Berdasarkan kerucut pengalaman Edgar Dale
pengalaman langsung tetap merupakan pengalaman belajar yang paling
tinggi, sehingga pemanfaatan sumber-sumber digital tetap perlu diikuti
dengan pengalaman langsung denga memanfaatkan sumber belajar fisik.