dengan generasi milenial. Perkembangan ini berdampak juga terhadap dunia
pendidikan dimana guru tidak dapat lagi mengajar seperti mengajar generasi
sebelumnya karena generasi yang diajar sudah berbeda.
Indonesia kini sedang bersiap karena sedang berada di pintu revolusi
industri 4.0 dimana seluruh sisi kehidupan manusia akan mengarah pada
digitalisasi. Pendidikan tidak lepas dari perkembangan teknologi, karena
pendidikan diharapkan mencetak sumber daya manusia yang siap dalam
menghadapi kemajuan industri 4.0 sehingga masyarakat tidak hanya menjadi
penonton bahkan tergilas dengan adanya perkembangan teknologi yang sangat
pesat. Buku dapat digantikan dengan teknologi, kini konten pembelajaran
sudah tersedia di internet dan siswa dapat dengan mudah untuk mencari konten
sesuai dengan kebutuhannya.
Namun demikian, tetap ada peran guru yang tidak bisa digantikan
meskipun posisi guru mengalami pergeseran dari sebelumnya, peran guru
sangat penting dalam mengarahkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh
peserta didik. Guru diminta untuk dapat bertransformasi baik secara teknikal
maupun sosio-kultural. Oleh karena itu guru perlu mengidentifikasi
karakteristiknya seperti apa sehingga dapat mentransformasikan diri pada era
digital saat ini.
Pembenahan karakter guru terasa sangat penting dalam melakukan
perubahan dunia pendidikan, jangan sampai guru sudah berada pada industri
4.0 tetapi karakter guru masih 3.0 tentunya output dunia pendidikan tidak akan
diterima oleh dunia industri karena bagaimanapun juga dunia pendidikan harus
mampu mengikuti perkembangan dunia industri.
Sebagai salah satu contohnya adalah dalam hal menggunakan metode
pengajaran, masih banyak guru yang dalam proses pembelajarannya lebih
banyak menggunakan metode ceramah, sama seperti metode yang dulu dia
terima di kelas sedangkan saat ini metode ceramah sudah kurang relevan lagi
dengan perkembangan zaman karena yang dididik adalah generasi milenial
yang memiliki akses yang cukup luas terhadap akses informasi.
12
Adapun karakter yang diharapkan oleh seorang Guru abad 21 diantaranya :
a. Pembelajar Sepanjang Hayat
Perkembangan teknologi diikuti oleh munculnya pengetahuan-
pengetahuan baru, tentu guru harus memahami dengan baik perkembangan-
perkembangan pengetahuan tersebut khusususnya yang berkaitan dengan
materi ajar yang diampuh oleh guru. Sebagai contoh, seorang Guru
Matematika ketika menyelesaikan soal/kasus matematika menjawab hanya
dengan satu cara saja padahal dengan perkembangan teknologi tentu ada
beberapa cara yang mungkin dapat digunakan oleh guru yang fungsinya
tidak hanya sekedar mencari jawaban dari soal tetapi mampu untuk
mengasah pola pikir dari peserta didiknya.Untuk menjadi Guru di abad 21
dapat dikatakan seorang Guru harus belajar untuk mengajar, jika seorang
Guru tidak belajar bagaimana seorang Guru meminta peserta didiknya untuk
belajar.
b. Melek Dengan Perkembangan Teknologi
Guru harus mampu menggunakan teknologi secara maksimal dalam
membantu (bukan membebani) proses pendidikan yang dilakukan.
Kini telah banyak hadir aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan oleh guru
dalam membantu guru dalam mempermudah proses pembelajaran yang
tentunya penggunaan teknologi ini akan membawa proses pembelajaran
mengarah pada pendidikan abad 21.
c. Mampu Menggali Potensi Diri Peserta Didik
Guru abad 21 tidak hanya mampu untuk sharing knowledge semata
tetapi harus mampu menggali potensi dari peserta didiknya. Selama ini
dalam pendidikan kita kurang diperhatikan karena Guru hanya fokus pada
pengetahuan semata. Guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang
variatif dan tidak monoton.
d. Mengajar Tanpa Sekat Ruang Kelas
Proses pembelajaran tidak hanya terbatas pada ruang kelas semata
tetapi Guru harus mampu memediasi peserta didik untuk dapat belajar kapan
13
saja dan dimana saja. Ini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi seperti
dengan menggunakan aplikasi yang mempermudah siswa mengakses materi
yang dipelajari maupun yang akan dipelajari oleh peserta didik seperti
dengan menggunakan aplikasi yang berbasi LMS (Learning Management
System) seperti Edmodo, Google Classroom dan lain-lain.
e. Kreatif dan Inovatif
Guru harus mampu mengelola pembelajaran secara kreatif dan
inovatif sehingga siswa tertarik akan materi pelajaran yang akan dipelajari.
Guru harus mampu membuat desain instruksional yang dapat
mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik baik itu dari mulai
apersepi, penyampaian materi, penilaian, hingga evaluasi dari proses
pembelajaran.
Efektifitas pembelajaran salah satunya dicapai melalui pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi sehingga syarat guru efektif di abad 21
adalah memiliki keterampilan mengintegrasikan TIK dalam proses
pembelajaran. Guru efektif berfokus kepada proses sehingga terjadi proses
belajar mendalam dan mengutamakan pengembangan keterampilan
metakognisi dan transfer keterampilan belajar menggunakan TIK.
Abad 21 menuntut peran guru yang semakin tinggi dan optimal. Sebagai
konsekuensinya, guru yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman semakin
tertinggal sehingga tidak bisa memainkan perannya secara optimal dalam
mengemban tugas dan menjalankan profesinya. Guru abad 21 memiliki
karakteristik spesifik dibanding dengan guru pada era sebelumnya. Karakteristik
yang dimaksud diantaranya:
a. Memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi disertai kualitas keimanan dan
ketakwaan yang mantap.
b. Mampu memanfaatkan iptek sesuai tuntutan lingkungan sosial dan budaya di
sekitarnya.
c. Berperilaku profesional tinggi dalam mengemban tugas dan menjalankan
profesi.
14
d. Memiliki wawasan ke depan yang luas dan tidak picik dalam memandang
berbagai permasalahan.
e. Memiliki keteladanan moral serta rasa estetika yang tinggi.
f. Mengembangkan prinsip kerja bersaing dan bersanding.
Untuk dapat berperilaku profesional dalam mengemban tugas dan
menjalankan profesi maka terdapat lima faktor yang harus senantiasa dipelihara,
yaitu:
a. Sikap keinginan untuk mewujudkan kinerja ideal
b. Sikap memelihara citra profesi
c. Sikap selalu ada keinginan untuk mengejar kesempatan-kesempatan
profesionalisme.
d. Sikap mental selalu ingin mengejar kualitas cita-cita profesi
e. Sikap mental yang mempunyai kebanggaan profesi
Kelima faktor sikap mental ini memungkinkan profesionalisme guru
menjadi berkembang. Karakter ideal serta perilaku profesional tersebut tidak
mungkin dapat dicapai apabila di dalam menjalankan profesinya sang guru tidak
didasarkan pada panggilan jiwa, sepenuh hati, dan ikhlas. Selain dari itu,
menghadapi tantangan abad 21 diperlukan guru yang bertipe great teacher
benar-benar seorang profesional. Tilaar (1998) memberikan ciri-ciri agar
seorang guru terkelompok ke dalam guru yang profesional, yaitu;
a. Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang
b. Memiliki keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik
c. Memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat
d. Sikap profesionalnya berkembang secara berkesinambungan
e. Menguasai subjek (kandungan kurikulum)
f. Mahir dan berketrampilan dalam pedagogi (pengajaran & pembelajaran)
g. Memahami perkembangan murid-murid dan menyayangi mereka
h. Memahami psikologi pembelajaran (cognitive psychology)
i. Memiliki kemahiran konseling
15
B. Kompetensi Guru Abad 21
Guru memiliki peran strategis dalam bidang pendidikan, bahkan sumber
daya pendidikan lain yang memadai sering kali kurang berarti apabila tidak
didukung oleh guru yang berkualitas, dan begitu juga sebaliknya. Dengan kata lain,
guru merupakan ujung tombak dalam upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil
pendidikan. Dalam berbagai kasus, kualitas sistem pendidikan secara keseluruhan
berkaitan dengan kualitas guru (Beeby, 1969).
Berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen, pasal 10 ayat (1) dikatakan bahwa “Kompetensi guru sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 meliputi: Kompetensi Pedagogik, Kompetensi
Kepribadian, Kompetensi Sosial, dan Kompetensi Profesional yang diperoleh
melalui Pendidikan Profesi”.
1. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta
didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya. (Darmadi, 2015). Secara umum kompetensi inti pedagogik menurut
Pujiriyanto (2019). meliputi:
Pertama; menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,
sosial, kultural, emosional, dan intelektual, merupakan kompetensi inti pertama
yang harus dimiliki oleh guru. Indikator penguasaan kompetensi ini ditunjukan
dengan kemampuan; (a) memahami karakteristik peserta didik yang berkaitan
dengan aspek fisik, intelektual, sosial-emosional, moral, spiritual, dan latar
belakang sosial-budaya, (b) mengidentifikasi potensi peserta didik dalam mata
pelajaran, (c) mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik dalam mata
pelajaran, (d) mengidentifikasi kesulitan peserta didik.
Kedua; menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik sebagai kompetensi inti pedagogi. Indikator penguasaan kompetensi ini
ditunjukan dengan kemampuan; (a) memahami berbagai teori belajar dan prinsip-
prinsip pembelajaran yang mendidik, (b) menerapkan berbagai pendekatan,
16
strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif, (c)
menerapkan pendekatan pembelajaran berdasarkan jenjang dan karateristik bidang
studi.
Ketiga; mengembangkan kurikulum terkait dengan mata pelajaran/bidang
studi yang diampu merupakan kompetensi yang sudah semestinya dikuasai oleh
guru. Indikatornya seperti; (a) memahami prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum, (b) menentukan tujuan pelajaran, (c) menentukan pengalaman belajar
yang sesuai untuk mencapai tujuan pelajaran, (d) memilih materi pembelajaran
terkait pengalaman belajar dan tujuan pembelajaran, (e) menata materi
pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik
peserta didik, (f) mengembangkan indikator dan instrumen penilaian. Kompetensi
ini dilakukan oleh guru dalam bentuk penyusunan RPP.
Keempat; menyelenggarakan pembelajaran mendidik dengan indikator; (a)
memahami prinsip-prinsip perancangan pembelajaran yang mendidik, (b)
mengembangkan komponen-komponen rancangan pembelajaran, (c) menyusun
rancangan pembelajaran yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam kelas,
laboratorium, maupun lapangan, (d) melaksanakan pembelajaran yang mendidik di
kelas, di laboratorium, dan di lapangan, (e) menggunakan media pembelajaran
sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran secara utuh, (f) mengambil keputusan transaksional dalam
pembelajaran sesuai dengan situasi yang berkembang.
Kelima; memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
kepentingan pembelajaran. Kemajuan teknologi dan komunikasi saat ini sudah
menjadi keharusan bagi guru memiliki kemampuan dalam memanfaatkan TIK.
Kerangka TPACK pada Modul 2 Kegiatan Belajar 1 bisa dijadikan kerangkan
dalam mengintegrasikan TIK.
Keenam; memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki yang ditunjukan guru dengan;
(a) menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk mendorong peserta didik
mencapai prestasi belajar secara optimal, (b) menyediakan berbagai kegiatan
17
pembelajaran untuk mengaktualisasikan potensi peserta didik, termasuk
kreatifitasnya.
Ketujuh; berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta
didik, merupakan kompetensi pedagogi yang penting dimiliki oleh guru, seperti; (a)
memahami berbagai strategi komunikasi yang efektif, empatik, dan santun, lisan
maupun tulisan, (b) berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan
peserta didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi pembelajaran yang
terbangun secara siklikal dari (1) penyiapan kondisi psikologis peserta didik, (2)
memberikan pertanyaan atau tugas sebagai ajakan kepada peserta didik untuk ambil
bagian, (c) respons peserta didik, (d) reaksi guru terhadap respons peserta didik,
dan seterusnya.
Kedelapan; menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses serta hasil
belajar. Kompetensi evaluasi sangat penting dikuasai oleh guru, karena evaluasi
menjadi alat ukur keberhasilan bagi guru dan peserta didik dalam mengikuti proses
pembelajaran. Indikator kompetensi ini meliputi; (a) memahami prinsipprinsip
penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar sesuai dengan karakteristik mata
pelajaran yang diampu, (b) menentukan aspek-aspek proses dan hasil belajar yang
penting untuk dinilai dan dievaluasi sesuai dengan karakteristik mata pelajaran
yang diampu, (c) menentukan prosedur penilaian dan evaluasi proses dan hasil
belajar, (d) mengembangkan instrumen penilaian dan evaluasi proses dan hasil
belajar, (e) mengadministrasikan penilaian proses dan hasil belajar secara
berkesinambungan dengan mengunakan berbagai instrument, (f) menganalisis hasil
penilaian proses dan hasil belajar untuk berbagai tujuan, (g) melakukan evaluasi
proses dan hasil belajar.
Kesembilan; guru juga harus mampu memanfaatkan hasil penilaian dan
evaluasi untuk kepentingan pembelajaran, seperti; (a) menggunakan informasi hasil
penilaian dan evaluasi untuk menentukan ketuntasan belajar, (b) menggunakan
informasi hasil penilaian dan evaluasi untuk merancang program remedial dan
pengayaan, (c) mengkomunikasikan hasil penilaian dan evaluasi kepada pemangku
18
kepentingan, (d) memanfaatkan informasi hasil penilaian dan evaluasi
pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Kesepuluh; kompetensi terakhir dari pedogogi yaitu kemampuan guru
dalam melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran,
indikator kompetensi ini ditunjukkan dengan; (a) melakukan refleksi terhadap
pembelajaran yang telah dilaksanakan, (b) memanfaatkan hasil refleksi untuk
perbaikan dan pengembangan mata pelajaran, (c) melakukan penelitian tindakan
kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mata pelajaran.
2. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang
mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa,
menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi pedagogik
merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan
pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Secara substantif kompetensi
ini mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan
pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik
untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. (Kartowagiran.
2011). Kompetensi kepribadian merupakan personal yang mencerminkan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa menjadi teladan bagi
peserta didik dan berakhak mulia. Secara rinci kompetensi kepribadian diuraikan
menjadi sub-kompetensi sebagai berikut. Secara umum kompetensi kepribadian
menurut Pujiriyanto (2019). meliputi:
Pertama; bertindak sesuai norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan
nasional Indonesia, seperti; (a) menghargai peserta didik tanpa membedakan
keyakinan yang dianut, suku, adat-istiadat, daerah asal, dan gender, (b) bersikap
sesuai dengan norma agama yang dianut, hukum dan norma sosial yang berlaku
dalam masyarakat, serta kebudayaan nasional Indonesia yang beragam.
Kedua; menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan
teladan bagi peserta didik dan masyarakat, seperti; (a) berperilaku jujur, tegas, dan
manusiawi, (b) berperilaku yang mencerminkan ketakwaan dan akhlak mulia, (c)
19
berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta didik dan anggota masyarakat di
sekitarnya.
Ketiga; menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif,
dan berwibawa, seperti; (a) menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap dan
stabil, (b) menampilkan diri sebagai pribadi yang dewasa, arif, dan berwibawa.
Seorang guru harus tampil memesona, memiliki rasa cinta tanah air, tegas, disiplin
dan menjalankan profesi sebagai panggilan jiwa.
Keempat; Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa
bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri, seperti; (a) menunjukkan etos kerja dan
tanggung jawab yang tinggi, (b) bangga menjadi guru dan percaya pada diri sendiri,
Bekerja mandiri secara professional. Selain itu pada abad 21 guru juga penting
menjadi pebelajar mandiri.
Kelima; Menjunjung tinggi kode etik profesi guru, seperti; (a) memahami
kode etik profesi guru, (b) menerapkan kode etik profesi guru, (c) berperilaku sesuai
dengan kode etik guru.
3. Kompetensi Sosial
Menurut Buchari Alma (2008:142), kompetensi sosial adalah kemampuan
guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan
sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Seorang guru harus berusaha
mengembangkan komunikasi dengan orang tua peserta didik sehingga terjalin
komunikasi dua arah yang berkelanjutan. Dengan adanya komunikasi dua arah,
peserta didik dapat dipantau secara lebih baik dan dapat mengembangkan
karakternya secara lebih efektif pula. Suharsimi juga memberikan argumennya
mengenai kompetensi sosial, menurutnya kompetensi sosial haruslah dimiliki
seorang guru, yang mana guru harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi
dengan siswa, sesama guru, kepala sekolah, dan masyarakat sekitarnya.
Dalam standar Nasional pendidikan, pasal 28 ayat (3) butir d, dikemukakan
bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai
bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan
20
peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik,
dan masyarakat sekitar. Hal tersebut diuraikan lebih lanjut dalam RPP tentang guru,
bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari
masyarakat yang sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk berkomunikasi
secara lisan, tulisan, maupun isyarat, menggunakan teknologi komunikasi dan
informasi secara fungsional, bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama
pendidik, tenaga kependidikan, serta orang tua/ wali peserta didik, bergaul secara
santun dengan masyarakat sekitar.
Kompetensi menurut Slamet yang dikutip oleh Syaiful Sagala dalam
bukunya kemampuan Profesional Guru dan tenaga Kependidikan terdiri dari sub
kompetensi yaitu:
a. Memahami dan menghargai perbedaan serta memiliki kemampuan mengelola
konflik dan benturan
b. Melaksanakan kerja sama secara harmonis
c. Membangun kerja team (team work) yang kompak, cerdas, dinamis, dan lincah
d. Melaksanakan komunikasi secara efektif dan menyenangkan
e. Memiliki kemampuan memahami dan mengnternalisasikan perubahan
lingkungan yang berpengaruh terhadap tugasnya
f. Memiliki kemampuan menundukkan dirinya dalam sistem nilai yang berlaku
di masyarakat.
Berdasarkan beberapa pengertian kompetensi sosial di atas, dapat
disimpulkan bahwa kompetensi sosial guru adalah kemampuan dan kecakapan
seorang guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif pada pelaksanaan
proses pembelajaran serta masyarakat sekitar.
a. Ruang Lingkup Kompetensi Sosial Guru
Berkaitan dengan ruang lingkup kompetensi sosial guru, Sanusi (1991)
mengungkapkan bahwa “kompetensi sosial mencakup kemampuan untuk
menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu
membawakan tugasnya sebagai guru”. Permendiknas No. 16 tahun 2007 terdapat 5
21
kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh guru yang diuraikan secara terperinci
sebagai berikut:
1) Terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta didik
2) Bersikap simpatik
3) Dapat bekerja sama dengan dewan pendidikan / komite sekolah
4) Pandai bergaul dengan teman kerja dan mitra pendidikan
5) Memahami dunia sekitarnya (lingkungannya)
b. Karakteristik Guru yang memiliki kompetensi Sosial
Menurut Musaheri, ada dua karakteristik guru yang memiliki kompetensi
sosial, yaitu:
1) Berkomunikasi secara santun
Les Giblin menawarkan lima cara terampil dalam melakukan komunikasi
dengan santun, yaitu :
a) Ketahuilah apa yang ingin anda katakan
b) Katakanlah dan duduklah
c) Pandanglah pendengar
d) Bicarakan apa yang menarik minat pendengar
e) Janganlah membuat sebuah pidato.
2) Bergaul secara efektif
Bergaul secara efektif mencakup mengembangkan hubungan secara efektif
dengan siswa. Dengan bergaul dengan siswa, haruslah menggunakan prinsip
saling menghormati, mengasah, mengasuh, dan mengasihi. Ada 7 kompetensi
sosial yang harus dimiliki agar guru dapat berkomunikasi dan bergaul secara
efektif, baik disekolah maupun di masyarakat, yakni :
a) Memiliki pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama
b) Memiliki pengetahuan tentang budaya dan tradisi
c) Memiliki pengetahuan tentang inti demokrasi
d) Memiliki pengetahuan tentang estetika
e) Memiliki apresiasi dan kesadaran sosial
f) Memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan
22
g) Setia terhadap harkat dan martabat manusia.
Adapun hal-hal yang menentukan keberhasilan komunikasi dalam
kompetensi sosial seorang guru adalah:
1) Audience atau sasaran komunikasi, yakni dalam berkomunikasi hendaknya
memperhatikan siapa sasarannya sehingga sang komunikator bisa
menyesuaikan gaya dan “irama” komunikasi menurut karakteristik sasaran.
Berkomunikasi dengan siswa SD tentu berbeda dengan siswa SMP dan SMA.
2) Behaviour atau perilaku, yakni perilaku apa yang diharapkan dari sasaran
setelah berlangsung dan selesainya komunikasi. Misalnya seorang guru sejarah
sebagai komunikator ketika sedang berlangsung dan setelah selesai
menjelaskan Peristiwa Pangeran Diponegoro, perilaku siswa apa yang
diharapkan. Apakah siswa menjadi sedih dan menangis merenungi nasib
bangsanya, atau siswa mengepalkan tangan seolah-olah akan menerjang
penjajah Belanda. Hal ini sangat berkait dengan keberhasilan komunikasi guru
sejarah tersebut.
3) Condition atau kondisi, yakni dalam kondisi yang seperti apa ketika
komunikasi sedang berlangsung. Misalnya ketika guru Matematika mau
menjelaskan rumus-rumus yang sulit harus. Seorang guru harus mengetahui
kondisi siswa tersebut, apakah sedang gembira atau sedang sedih, atau sedang
kantuk karena semalam ada acara. Dengan memahami kondisi seperti ini maka
guru dapat menentukan strategi apa yang ia gunakan agar nantinya apa yang
diajarkan bisa diterima oleh siswa.
4) Degree atau tingkatan, yakni sampai tingkatan manakah target bahan
komunikasi yang harus dikuasai oleh sasaran itu sendiri. Misalnya saja ketika
seorang guru Bahasa Inggris menjelaskan kata kerja menurut satuan
waktunya, past tense, present tense dan future tense, berapa jumlah minimal
kata kerja yang harus dihafal oleh siswa pada hari itu. Jumlah minimal kata
kerja yang dikuasai oleh siswa dapat dijadikan sebagai alat ukur keberhasilan
guru Bahasa Inggris tersebut. Apabila tercapai berarti ia berhasil, sebaliknya
apabila tidak tercapai berarti ia gagal.
23
c. Pentingnya Kompetensi Sosial
Dalam menjalani kehidupan, guru menjadi seorang tokoh dan panutan bagi
peserta didik dan lingkungan sekitarnya. Abduhzen mengungkapkan bahwa “Imam
Al-Ghazali menempatkan profesi guru pada posisi tertinggi dan termulia dalam
berbagai tingkat pekerjaan masyarakat. Guru mengemban dua misi sekaligus, yaitu
tugas keagamaan dan tugas sosiopolitik”. Yang dimaksud dengan tugas keagamaan
menurut Al-Ghazali adalah tugas guru ketika ia melakukan kebaikan dengan
menyampaikan ilmu pengetahuan kepada manusia guru merupakan makhluk
termulia di muka bumi. Sedangkan yang dimaksud dengan tugas sosiopolitik adalah
bahwa guru membangun, memimpin, dan menjadi teladan yang menegakkan
keteraturan, kerukunan, dan menjamin keberlangsungan masyarakat (dalam
Mulyasa, 2007: 174).
Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus
memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan
kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibanding
profesi lainnya. Ungkapan yang sering digunakan adalah bahwa “guru bisa digugu
dan ditiru”. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan yang disampaikan guru bisa
dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani. Untuk
itu, guru haruslah mengenal nilai-nilai yang dianut dan berkembang di masyarakat
tempat melaksanakan tugas dan bertempat tinggal. Apabila ada nilai yang
bertentangan dengan nilai yang dianutnya, maka haruslah ia menyikapinya dengan
hal yang tepat sehingga tidak terjadi benturan nilai antara guru dengan masyarakat.
Apabila terjadi benturan antara keduanya maka akan berakibat pada terganggunya
proses pendidikan. Oleh karena itu, seorang guru haruslah memiliki kompetensi
sosial agar nantinya apabila terjadi perbedaan nilai dengan masyarakat, ia dapat
menyelesaikannya dengan baik sehingga tidak menghambat proses pendidikan.
4. Kompetensi Profesional
Kompetensi Profesional Guru adalah kemampuan atau keterampilan yang
wajib dimiliki supaya tugas-tugas keguruan bisa diselesaikan dengan baik.
Keterampilannya berkaitan dengan hal-hal yang cukup teknis, dan akan berkaitan
24
langsung dengan kinerja guru. Adapun indikator Kompetensi Profesional Guru
diantaranya adalah:
a. Menguasai materi pelajaran yang diampu, berikut struktur, konsep, dan pola
pikir keilmuannya.
b. Menguasai Standar Kompetensi (SK) pelajaran, Kompetensi Dasar (KD)
pelajaran, dan tujuan pembelajaran dari suatu pelajaran yang diampu.
c. Mampu mengembangkan materi pelajaran dengan kreatif sehingga bisa
memberi pengetahuan dengan lebih luas dan mendalam bagi peserta didik.
d. Mampu bertindak reflektif demi mengembangkan keprofesionalan secara
kontinu.
e. Mampu memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam proses
pembelajaran dan juga pengembangan diri.
Dengan menguasai kemampuan dan keahlian khusus seperti yang sudah
dijelaskan di atas, diharapkan fungsi dan tugas guru bisa dilaksanakan dengan baik.
Dengan demikian, guru mampu membimbing seluruh peserta didiknya untuk
mencapai standar kompetensi yang sudah ditentukan dalam Standar Nasional
Pendidikan.
Ada dua hal yang perlu diketahui, dipahami dan dukuasai sehubungan
dengan kompetensiprofessional yaitu (1) kemampuan dasar guru dan (2)
keterampilan dasar guru , keduanya yang harus dimiliki seorang guru dan
merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguatan materi pembelajaran
bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi
materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi
materi kurikulum tersebut serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru.
Masing-masing kompetensi itu memiliki subkompetensi dan indikator isensial
sesuai dengan jumlah bidang studi atau rumpum matapelajaran. Pada kemampuan
dasar ada beberapa pandangan para ahli mengenai kompetensi professional, seperti
yang dikemukakan Cooper, yaitu : (1) mempunyai pengetahuan tentang belajar dan
tingkah laku manusia; (2) mempunyai pengetahuan dan menguasai mata pelajaran/
bidang studi yang dibinanya; (3) mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri,
25
sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya, dan (4) mempunyai
keterampilan dalam teknik mengajar.
C. Kompetensi Guru Abad 21 yang Memesona
1. Definisi guru memesona
Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “pesona”
merupakan kata benda yang memiliki arti daya tarik atau daya pikat. Sementara
untuk kata “memesona” merupakan kata kerja yang berarti menarik perhatian atau
membuat kagum. Kata “memesona” jika dikonstruksi dalam sebuah kalimat, dan
disandingkan dengan kata benda dapat pula bermakna sifat yaitu sangat menarik
perhatian dan mengagumkan.
Guru yang memesona adalah guru yang penjelasannya mudah dipahami,
penguasaan keilmuan benar, canggih menguasai teknologi, guru bisa menjadi
teman belajar, pandai membuat metafora atau perumpamaan, humoris namun tegas
dan disiplin, mau mendengar peserta didik, berempati atas kondisi peserta didik,
pandai mengelola kelas, dan memiliki rasa kesepenuhatian dan menyadari apa yang
dilakukan. Kemampuan menarik perhatian siswa merupakan kompetensi penting
dari seorang guru. Dengan terbangunnya perhatian siswa, maka proses
pembelajaran dapat lebih mudah terlaksana.
Hal tersebut dapat menarik perhatian peserta didik. Selain memesona untuk
memotivasi peserta didik, seorang guru harus pandai memanfaatkan media
pembelajaran, alat dan bahan pembelajaran. Kompetensi guru untuk memfasilitasi
dan menginspirasi peserta didik, serta menumbuhkan kreativitasnya. Abad 21 yang
ditandai dengan kehadiran era media (digital age) sangat berpengaruh pada
pengelolaan pembelajaran dan perubahan karakteristik peserta didik. Pembelajaran
abad 21 menjadi keharusan untuk mengintegrasikan teknologi informasi dan
komunikasi, serta pengelolaan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pola
pembelajaran berpusat pada guru (teacher centred) menjadi pembelajaran yang
berpusat pada peserta didik (student centred) karena sumber belajar digital dan
lingkungan yang bisa dieksplorasi melimpah. Guru tipe 4 berperan sebagai
26
fasilitator, mediator, motivator sekaligus leader dalam proses pembelajaran. Pola
pembelajaran konvensional bisa dipahami sebagai pembelajaran dimana guru
banyak memberikan ceramah (transfer of knowledge) sedangkan peserta didik lebih
banyak mendengar, mencatat dan menghafal. Kemampuan pedogogi dengan pola
konvensional dipandang sudah kurang tepat dengan era saat ini. Metode dan media
yang tepat berdampak pada pembajaran yang aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan. Pelaksanaan pembelajaran menurut Abdul Majid (2013) meliputi
kemampuan-kemampuan membuka pelajaran, menyajikan materi, menggunakan
metode/ media, menggunakan alat peraga, menggunakan bahasa yang komunikatif,
memotivasi peserta didik, mengorganisasi kegiatan, berintraksi dengan peserta
didik secara komunikatif, menyimpulkan pembelajaran, memberikan umpan balik,
memberikan penilaian, dan menggunakan waktu secara cermat. Kemampuan-
kemampuan tersebut akan sangat bergantung pada pilihan metode pembelajaran
yang digunakan dengan mengintegrasikan teknologi dalam pelaksanaanya.
Selain memesona untuk memotivasi peserta didik guru pandai
memanfaatkan media pembelajaran, alat dan bahan pembelajaran, dan sarana
lainnya. Kompetensi guru untuk memfasilitasi dan menginpirasi peserta didik
dalam belajar dan menumbuhkan kreatifitas tentunya harus diawali dengan
penguasaan materi yang baik dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut
dalam pembelajaran, menggunakan teknologi untuk memfasilitasi pengalaman
belajar yang menumbuhkan kreatifitas peserta didik melalui pembelajaran dengan
lingkungan tatap muka maupun lingkungan virtual. Di era digital ini, guru
diharapkan mampu mendesain, mengembangkan dan mengevaluasi pembelajaran
secara autentik melalui pengalaman belajar dengan menggabungkan alat evaluasi
terkini dan mengoptimalkan isi dan lingkungan pembelajaran untuk
mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku peserta didik. Guru juga
diharapkan mampu menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan proses kerja
yang representatif dari seorang profesional yang inovatif dalam masyarakat global
dan digital, dengan menunjukan sistem teknologi untuk mentrasfer pengetahuan
dalam berbagai situasi. Selain dari itu tuntutan berkolaborasi dengan peserta didik,
27
teman profesi, orang tua dan komunitas dengan memanfaatkan tool digital dan
peralatan untuk mendukung kesuksesan peserta didik dalam belajar. Selanjutnya
kemampuan guru abad 21 juga harus memahami isu-isu lokal dan global dan
tanggap terhadap perubahan budaya digital yang berkembang dan menunjukkan
tindakan dengan menjunjung tinggi etika dalam praktik profesionalnya.
Kompetensi ini penting dimiliki oleh guru era digital, karena pengetahuan dan
informasi sangat cepat baik lokal maupun global yang terkadang belum tentu sesuai
dengan norma dan belum tentu teruji kebenarannya, karena itu informasi dan
pengetahuan tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan ketika akan dijadikan
sebagai bahan kajian dalam pembelajaran.
Keberhasilan dalam pembelajaran di kelas tidak hanya ditentukan oleh
faktor kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran. Faktor lain yang tidak
kalah penting adalah kehadiran sosok guru yang memiliki pesona bagi siswanya.
Pesona atau daya tarik guru memiliki potensi besar untuk menarik perhatian siswa,
sehingga interaksi pembelajaran dapat berjalan dengan optimal, materi
pembelajaran dapat tersampaiakan dengan lancar, dan tujuan pembelajaran dapat
tercapai. Hal tersebut dapat terjadi karena siswa yang tertarik dengan sang guru
akan memiliki motivasi dan tergerak untuk memfokuskan dirinya pada proses
pembelajaran. Kesiapan belajar inilah yang membuat siswa lebih mudah
dikondisikan dan dikelola pada saat pembelajaran berlangsung.
Menjadi guru yang memesona tidak dapat dibentuk melalui proses yang
instan, karena membutuhkan proses belajar yang panjang dan praktik intensif yang
berkelanjutan dalam keprofesian guru. Tidak jarang di antara kita ketika berjumpa
dengan sahabat lama satu sekolahan, akan membicarakan berbagai kenangan
termasuk mengenang sosok guru-guru yang memesona di masa lalu.
Performa guru dalam mengajar yang memperlihatkan berbagai aspek yang
menarik perhatian, menjadikan profil guru tersebut melekat kuat di dalam memori
siswanya bahkan hingga waktu yang lama. Guru yang memesona adalah sosok yang
memiliki image (citra diri) yang mengagumkan, yang melekat dalam diri guru
sebagai dampak profesionalitasnya dalam bekerja.
28
Aspek-aspek pembentuk guru yang memesona antara lain:
1. Penampilan diri: sebagai seorang yang diteladani, akan sulit bagi guru untuk
meminta siswanya menjaga kebersihan dan kerapian sementara dirinya sendiri
tidak memperlihatkan hal tersebut.
2. Menguasai materi pembelajaran: siswa menganggap guru lebih pandai dan
lebih tahu dari orang tuanya. Oleh karena itu guru yang menguasai materi
dengan baik dan dapat membimbing siswanya memecahkan berbagai masalah
pembelajaran.
3. Memahami karakter setiap siswa: guru yang mampu memahami karakteristik
akan dianggap sebagai milik semua siswa karena dapat "melayani"
keberagaman keinginan siswa dalam proses pembelajaran.
4. Memfasilitasi siswa mengembangkan diri: kemauan guru untuk memfasilitasi
siswanya mengembangkan diri.
5. Terampil berkomunikasi: guru yang terampil memanfaatkan berbagai bentuk
komunikasi dan melakukannya dengan gaya yang sesuai dengan kebutuhan
siswa.
6. Mudah bergaul: guru yang mudah bergaul dengan berbagai kalangan akan
banyak mudah dikenal oleh lingkungannya.
7. Murah hati: guru yang memiliki sikap murah hati adalah guru yang penuh kasih
sayang dan bersedia membantu siswanya yang sedang menghadapi
permasalahan.
8. Sabar: guru yang sabar bermakna guru yang memiliki sifat tenang tidak mudah
marah dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan berbagai tindakan.
9. Simpatik: berusaha untuk ikut merasakan apa yang dirasakan siswanya.
10. Santun: kehalusan dan kebaikan mencakup dalam budi bahasa maupun
tingkah lakunya.
11. Berakhlak baik: berperilaku terpuji dan memiliki adab yang baik serta tidak
melakukan tindakan yang buruk.
12. Arif dan bijaksana: mengedepankan pertimbangan dan pemikiran untuk
mengambil keputusan yang tepat sehingga mendatangkan kebaikan
29
13. Mantap: kesungguhan guru dalam menjalankan profesinya dengan penuh
kebanggaan dan tanggung jawab.
14. Jujur: menjamin bahwa segala informasi yang dikatakan oleh guru memiliki
nilai kebenaran.
15. Terampil dalam menggunakan teknologi dalam pembelajaran: kemampuan
kreatifnya dalam memanfaatkan sumber belajar dan menggunakan media,
sesuai dengan konteks lingkungannya dan memenuhi kebutuhan sesuai
perkembangan jaman.
Sehingga pembelajaran abad 21 menuntut guru agar mampu
mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi, serta pengelolaan
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, bukan lagi berpusat pada guru.
Pembelajaran berpusat pada guru dipandang sudah kurang tepat untuk diterapkan
pada era media seperti zaman sekarang ini. Guru abad 21 berperan sebagai
fasilitator, mediator, motivator sekaligus leader dalam proses pembelajaran.
Walaupun metode pembelajaran berpusat pada peserta didik dan mengintegrasi
teknologi ke dalam pembelajaran, guru harus tetap berperan aktif dalam kegiatan
belajar mengajar. Selain itu guru juga perlu mengelola pembelajaran abad 21 agar
tidak menoton. Pengelolaan pembelajaran diawali dengan menyusun perancanaan
pembelajaran berdasarkan pemahaman terhadap karakteristik peserta didik,
memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran,
mengintegrasikan berbagai sumber belajar berbasis digital dan non-digital,
mengintegrasikan pembelajaran dengan teknologi, memilih strategi pembelajaran
yang sesuai dengan potensi dan karakter peserta didik, dan metode metode
pembelajarannya berpusat pada peserta didik.
Namun juga harus menjadi teman belajar yang menyenangkan pagi peserta
didik, pandai membuat analogi dan metafora sebagai strategi dalam menyampaikan
materi sehingga peserta didik mudah memahami materi yang disampaikan. Guru
memesona harus terlihat canggih sehingga generasi z merasa bahwa ada sesuatu
yang perlu dipelajari dari gurunya, humoris namun tegas dan disiplin, pandai
berempati dan menyayangi peserta didik, serta memiliki rasa sepenuh hati dan
30
menyadari apa yang dilakukan adalah panggilan jiwa. Guru memesona merupakan
guru yang ideal. Untuk menjadi guru yang ideal, maka diperlukan proses belajar
yang lama dan tidak pernah berhenti. Oleh sebab itu, guru perlu keluar dari zona
nyaman dan mampu melakukan penyesuaian dengan zaman yang semakin canggih.
Belajar bisa dilakukan secara mandiri atapun dengan sering-sering mengikuti
kegiatan-kegiatan pengembangan diri.
Kompetensi karakteristik dasar dari individu yang memungkinkan seseorang
mengeluarkan kinerja terbaiknya dalam melaksanakan pekerjaannya. Dijelaskan lebih lanjut dari
bahasan aspek terkandung pada Konsep Kompetensi, bahwa kompetensi merupakan
karakteristik yang mendasari seseorang berkaitan dengan efektivitas kinerja individu dalam
pekerjaannya. Oleh karena itu, guru sebagai pendidik di sekolah, haruslah memiliki kompetensi
terbaik di bidangnya dalam melakukan pekerjaannya. Hal ini terutama menjadi tuntutan karena
makin majunya peradaban manusia dan teknologi yang ada di dalamnya, agar guru menjadi
profesional dalam pelaksanaan pekerjaannya. Oleh karena itu guru harus memiliki kompetensi
dasar dari guru profesional sebagai guru modern abad 21 dengan ciri antara lain:
Oleh karena itu guru harus memiliki kompetensi dasar dari guru
profesional sebagai guru modern abad 21 dengan ciri antara lain:
1. Menguasai bahan ajar yang akan disampaikan kepada siswa atau peserta
didiknya.
2. Mengelola program belajar mengajar, yakni menetapkan tujuan
pembelajaran, memilih dan mengembangkan bahan pembelajaran, memilih
dan mengembangkan strategi belajar mengajar, memilih dan mengembangkan
media pengajaran yang sesuai, memilih dan memanfaatkan sumber belajar.
3. Mengelola kelas. Guru yang profesioanal akan mampu mengelola dan
mengatur suasana kelas dengan baik dan menata kelas dengan media atau alat
peraga pengajaran yang disediakan.
4. Menggunakan media/ sumber belajar. Guru harus mampu menggunakan
berbagai media belajar baik berupa media audio, visual, audio visual. Media
pembelajaran yang bisa digunakan bisa berupa slide, video, radio, flash card
dan lain sebagainya.
5. Menguasai landasan kependidikan. Mengenal tujuan pendidikan nacional
untuk mencapai tujuan pendidikan, mengenal fungsi sekolah dalam
31
masyarakat, mengenal prinsip- prinsip psikologi pendidikan yang dapat
dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar.
6. Mengelola interaksi belajar- mengajar, yakni menciptakan iklim belajar
yang tepat, dengan menciptakan keaktifan siswa dalam belajar, sehingga
pengetahuan siswa terus bertambah dan ada keinginan terus menerus untuk
belajar dan mengeksplorasi pengetahuan mereka.
7. Menilai prestasi belajar. Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah
dilaksanakan. menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran, menilai
proses belajar mengajar
8. Mengenal fungsi dan layanan bimbingan penyuluhan. Guru harus bisa
membimbing murid yang mengalami kesulitan belajar, siswa yang berkelainan
dan berbakat khusus serta bisa membimbing murid untuk menghargai
pekerjaan di masyarakat.
9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah. Guru harus
mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah sekaligus melaksanan kegiatan
tersebut.
10. Memahami dan menafsirkan hasil penelitian guna keperluan pengajaran.
Kemampuan guru ini adalah untuk mengkaji konsep dasar penelitian ilmuwan
dan melakukan penelitian sederhana.
Guru perlu memahami kompetensi pedagogi guru abad 21 karena sesuai
dengan kemajuan zaman, di era yang serba online dan digital, pendidikan haruslah
segera bertransformasi atau berubah ke arah yang lebih maju agar tidak tertinggal
dengan negara lain. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam
suatu negara. Kemajuan suatu negara tidak lepas dari kemajuan pendidikan.
Semakin tertinggal pendidikan suatu negara maka semakin terbelakanglah negara
tersebut. Guru adalah salah satu bagian yang terpenting dalam pengembangkan
pendidikan di Indonesia, tanpa guru pendidikan tidak akan maju dan berkembang
dengan baik. Guru yang professional akan mampu membawa pendidikan ke arah
yang lebih baik. Dalam peraturan pemerintah tentang kompetensi guru, UU No
14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa guru
32
mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal
yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undang.
Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru
hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik,
kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan
untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu. Peran
guru secara utuh sebagai pendidik, pengajar, pembimbing,
“orang tua” di sekolah tidak akan bisa digantikan sepenuhnya
dengan kecanggihan teknologi. Karena sentuhan seorang guru
kepada para peserta didik memiliki kekhasan yang tidak bisa dilakukan oleh
sembarang orang atau digantikan teknologi. Meskipun profesi guru tidak
mendapatkan pengaruh secara signifikan dengan adanya revolusi industri 4.0,
namun guru tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, guru harus terus meng-
upgrade diri agar bisa menjadi guru yang mampu menghasilkan sumber daya
manusia yang lebih berkualitas.
Scan QR code yang ada di samping atau kunjungi link berikut untuk
mengetahui lebih jelas sumber dari https://s.id/-ZsfT
Zaman boleh berubah, sistem pun pasti akan berubah, namun peran guru tidak dapat
tergantikan oleh mesin atau teknologi. Di abad 21 pekerjaan guru merupakan perkerjaan yang
kompelks dan tidak mudah dengan seiring dengan perubahan besar dan cepat pada lingkungan
sekolah yang didorong oleh kemajuan ilmu dan teknologi. Perubahan demokrasi globalisasi dan
lingkungan kompetensi guru abad 21, guru profesional tidak lagi sekedar guru yang mampu
mengajar dengan baik melainkan guru yang mampu menjadi pembelajaran dan agen perubahan
sekolah dan juga mampu menjalin dan mengembangkan hubungan untuk peningkatan mutu
pemebelajaran di sekolahnya.
Untuk itu, guru membutuhkan pengembangan profesional yang efektif yaitu
pembimbingan. Pembimbingan merupakan salah satu strategi efektif untuk peningkatan
profesionalitas guru abad 21. Melaui pembimbingan, mungkin terbangun hubungan profesional dan
juga komunitas pembelajaran profesional disekolah yang efektif untuk meningkatkan mutu
pembelajaran dan pembelajaran di sekolah. Pelaksanaan pembimbingan yang efektif perlu
mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi mutu hubungan pembimbingan seperti : struktur
33
organisasi pembimbingan, kontrak kerja, mutu pembimbingan, aktivitas dalam sesi-sesi awal hingga
akhir pembimbingan. Untuk menguatkan fungsi dan manfaatnya, pembimbingan perlu di
programkan. Hal ini membutuhkan perubahan struktur, budaya dan juga dukungan kepemimpinan
dari sekolah dan juga institusi terkait.
Pada abad 21, manusia mengalami perkembangan ilmu pengetahuan dalam segala bidang.
Salah satu yang menonjol adalah bidang informasi dan komunikasi. Hal ini seolah membuat dunia
semakin sempat karena segala informasi dari penjuru dunia mampu diakses dengan instan dan cepat
oleh siapapun dan dimana pun. Disisi lain pada abad 21 ini permasalahan yang dihadapi manusia
adalah semakin kompleks, seperti pemanasan global, krisis ekonomi, terorisme, rasisme, drup abuse,
human trafficking, rendahnya kesadaran multikultural, kesenjangan mutu pendidikan, dan lain
sebagainya.
Era ini juga ditandai dengan semakin ketatnya persaingan di berbagai bidang antar negara
dan antar bangsa. Keseluruhan hal tersebut mengisyaratkan bahwa pada abad 21 ini dibutuhkan
persiapan yang matang dan mantap baik konsep maupun penerapan untuk membentuk sumber daya
manusia yang unggul. Untuk itu, lembaga pendidikan dan guru sebagai unsur yang paling dominan
memiliki peran yang tidak ringan dalam upaya peningkatan sumber daya manusia pada abad 21.
Guru pada abad 21 ditantang untuk melakukan akselarasi terhadap perkembangan informasi dan
komunikasi. Kemajuan teknologi informasi telah meningkatkan fleksibilitas dalam pemerolehan
ilmu pengetahuan bagi setiap individu maupun siswa. Konsekuensinya, guru dituntut mampu
mengembangkan pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan
lingkungan. Selain itu, tersedia pada informasi yang melimpah mengenai pendidikan. Kondisi ini
meningkatkan alternatif pilihan pendidikan bagi orang tua dan masyarakat. Hali ini berimbas pada
peningkatan tuntutan mutu pendidikan oleh masyarakat.
Di abad 21 telah terjadi transformasi besar pada aspek sosial, ekonomi,
politik dan budaya (Hargreaves, 1997, 2000) yang didorong oleh empat kekuatan
besar yang saling terkait yaitu kemajuan ilmu dan teknologi, perubahan demograsi,
globalisasi dan lingkungan (Mulford, 2008). Sebagai contoh, kemajuan teknologi
komunikasi dan biaya transportasi yang semakin murah telah memicu globalisasi
dan menciptakan ekonomi global, komunitas global, dan juga budaya global.
Masyarakat industrial berubah menjadi masyarakat pengetahuan (Beare, 2001).
Perubahan lingkungan misalnya pemanasan global telah berdampak pada
kebutuhan peningkatan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat terhadap
lingkungan. Kekuatan-kekuatan ini juga berdampak pada dunia pendidikan
khususnya persekolahan (Mulford, 2008). Seiring perubahan demografi, siswa-
34
siswa di sekolah lebih beragam secara budaya, agama/ keyakinan, dan juga
bahasanya. Kemajuan teknologi informasi-intemet- telah meningkatkan
fleksibelitas dalam pemerolehan ilmu pengetahuan bagi setiap individu baik guru
ataupun siswa. Konsekuensinya, guru-guru dituntut mampu mengembangkan
pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesui dengan perkembangan lingkungan
sebagai kompetensi guru abad 21. Ilmu pengetahuan tidak lagi terbatas milik para
‘ahli’ atau guru. Selain itu, tersedia informasi yang melimah tentang pendidikan.
Kondisi ini meningkatkan altematif pilihan pendidikan bagi orang tua dan
masyarakat dan bersamaan dengan hal ini adalah peningkatan tuntutan mutu
pendidikan oleh masyarakat. Globalisasi yang telah membuat dunia seakan tanpa
batas (a borderless world) memicu perbandingan internasional antar sekolah,
kurikulum, metode penilaian, dan prestasi siswa. Contohnya adalah program
perbandingan internasional pada prestasi akademik siswa seperti TIMMS: Third
International Mathematic and Science Study dan juga Program for International
Student Assesment (PISA). Sekolah didesak untuk unggul dan kompetitif (Beare,
2001) serta dihadapkan pada isu-isu seperti identitas, perbedaan, aturan-
aturan/hukum, keadilan, modal sosial, dan kualitas hidup, dan sebagainya. Berbagai
perubahan atau krisis lingkungan yang terjadi memunculkan kebutuhan pendidikan
lingkungan di sekolah untuk meningkatkan kepekaan, kesadaran dan tanggung
jawab siswa terhadap lingkungan (Mulford, 2008). Seiring perubahan demografi,
siswa-siswa di sekolah lebih beragam secara budaya, agama/ keyakinan, dan juga
bahasanya. Kemajuan teknologi informasi-intemet- telah meningkatkan
fleksibelitas dalam pemerolehan ilmu pengetahuan bagi setiap individu baik guru
ataupun siswa.
Konsekuensinya, guru-guru dituntut mampu mengembangkan pendekatan
dan strategi pembelajaran yang sesui dengan perkembangan lingkungan sebagai
kompetensi guru abad 21. Ilmu pengetahuan tidak lagi terbatas milik para ‘ahli’
atau guru. Selain itu, tersedia informasi yang melimah tentang pendidikan. Kondisi
ini meningkatkan altematif pilihan pendidikan bagi orang tua dan masyarakat dan
bersamaan dengan hal ini adalah peningkatan tuntutan mutu pendidikan oleh
35
masyarakat. Globalisasi yang telah membuat dunia seakan tanpa batas (a borderless
world) memicu perbandingan internasional antar sekolah, kurikulum, metode
penilaian, dan prestasi siswa. Contohnya adalah program perbandingan
internasional pada prestasi akademik siswa seperti TIMMS: Third International
Mathematic and Science Study dan juga Program for International Student
Assesment (PISA). Sekolah didesak untuk unggul dan kompetitif (Beare, 2001)
serta dihadapkan pada isu-isu seperti identitas, perbedaan, aturan-aturan/hukum,
keadilan, modal sosial, dan kualitas hidup, dan sebagainya. Berbagai perubahan
atau krisis lingkungan yang terjadi memunculkan kebutuhan pendidikan
lingkungan di sekolah untuk meningkatkan kepekaan, kesadaran dan tanggung
jawab siswa terhadap lingkungan (Mulford, 2008). Menyoroti pada aspek kebijakan
persekolahan, Beare (2001) mengungkapkan bahwa sejak akhir abad 20 hampir
sebagian besar sekolah di seluruh dunia memilih pendekatan ekonomi pasar.
Sekolah diperlakukan layaknya perusahaan yang menyediakan produk
(pembelajaran) kepada konsumennya (siswa dan orang tua). Sekolah diharapkan
memberikan kontribusi pada daya kompetisi ekonomi bangsa. Sekolah harus
‘menjual diri mereka’, menemukan ‘tempat’ di pasar dan berkompetisi. Sekolah
dituntut responsif pada komunitas lokal mereka melalui beragam pendekatan yang
memungkinkan konsumen memilih layanan sekolah yang akan mereka beli.
Sekolah diperlakukan sebagai perusahan yang berdiri sendiri-yang oleh Hargreaves
(1997) disebut privatisasi pendidikan. Mereka memiliki kewenangan mengelola
sekolah mereka secara mandiri (self managing) dan mempertanggungjawabkan
pengelolaannya secara professional kepada stake-holders.
Sekolah dituntut berkompetisi untuk memperoleh sumber dana terutama
dari pemerintah. Sekolah yang menyediakan ‘produk’ yang laku di pasar dinilai
lebih layak untuk berkembang, dan sebaliknya, sekolah yang menyediakana
‘produk’ yang buruk – tidak laku- akan ditinggalkan. Oleh karena itu, sekolah dan
guru-guru dituntut selalu memonitor kinerja sekolahnya untuk mengetahui mutu
layanan pendidikan mereka, dan menunjukkan nilai tambah yang dicapai siswa-
siswanya. Perubahan lingkungan sekolah dan juga pendekatan ekonomi pasar
36
dalam persekolahan tersebut berimplikasi pada berkembangnya
tuntutan profesionalitas guru. Guru profesional abad 21 dengan
setandar kompetensi guru abad 21 bukanlah guru yang sekedar
mampu mengajar dengan baik. Guru profesional abad 21 adalah
guru yang mampu menjadi pembelajar sepanjang karir untuk
peningkatan keefektifan proses pembelajaran siswa seiring dengan perkembangan
lingkungan; mampu bekerja dengan belajar dari, dan mengajar sebagai upaya
menghadapi kompleksitas tantangan sekolah dan pengajaran; mengajar
berlandaskan standar profesional mengajar untuk menjamin mutu pembelajaran,
serta memiliki berkomunikasi baik langsung maupun menggunakan teknologi
secara efektif dengan orang tua untuk mendukung pengembangan sekolah.
Scan QR code yang ada di samping atau kunjungi link berikut untuk
mengetahui lebih jelas sumber dari https://s.id/Zs5l
Guru abad 21 adalah guru tipe 4 yang menjalankan peran berbeda dengan
guru konvensional. Peran guru abad 21 sebagai fasilitator, mediator, kolaborator,
dan motivator dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang efektif dan
menyenangkan sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memfasilitasi
pembelajaran.
Kemampuan tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman yang
membentuk paradigma. Paradigma yang melandasi tindakan guru menentukan akan
menjadi guru efektif atau guru yang tidak efektif. Guru efektif abad 21 mempunyai
pemahaman bahwa peserta didik bukanlah gelas kosong yang harus diisi terus-
menerus, namun peserta didik senantiasa berinteraksi dengan data dan informasi.
Guru efektif tidak berfokus pada penyajian pengetahuan sebatas sebagai fakta dan
konten, namun mempunyai orientasi pengembangan keterampilan penting abad 21,
yaitu berpikir kritis, kreatif, komunikasi, dan kolaborasi. Guru yang efektif juga
aktif memahami konteks berpikir peserta didik dalam
mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Selain
itu, guru efektif mengajarkan materi pelajaran secara
mendalam dengan banyak contoh dan fondasi kuat
37
pengetahuan faktual. Guru efektif selain memahami materi juga menguasai strategi
pembelajaran yang memudahkan peserta didik belajar. Lebih penting lagi, guru
efektif memiliki tingkat melek TIK yang memadai. Efektivitas pembelajaran abad
21 salah satu caranya dicapai melalui pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi.
Scan QR code yang ada di samping atau kunjungi link berikut untuk
mengetahui lebih jelas sumber dari https://s.id/-ZqnC
Menjadi Guru Memesona Abad 21. Peserta didik di abad 21 merupakan
generasi yang senantiasa berinteraksi dengan data dan informasi. Guru harus
mampu melakukan penyesuaian fungsi dan tugas pokok sebagai pendidik agar
dapat mengikuti tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
kebutuhan peserta didik untuk mencapai kompetensi abad 21. Pembelajaran abad
21 menuntut guru agar mampu mengintegrasikan teknologi informasi dan
komunikasi, serta pengelolaan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik,
bukan lagi berpusat pada guru. Pembelajaran berpusat sekarang ini.
Dunia pendidikan nampaknya perlu terus mentransformasi diri agar bisa
menyesuaikan sesuai kebutuhan abad 21 dan mempersiapkan peserta didik
memasuki dunia baru. Diperlukan sosok guru yang mampu menjalankan peran
kompleks dan mampu menyesuaikan dengan tuntutan kompetensi guru abad 21.
Selain itu guru tersebut idealnya merupakan seorang sosok atau profil guru yang
efektif dalam memfasilitasi pembelajaran abad 21. Itulah mengapa menjadi penting
bagi kita untuk memiliki gambaran jelas profil seorang guru abad 21 yang benar-
benar diharapkan oleh peserta didik abad 21 dan siap mengantarkan peserta didik
memasuki dunia baru. Pemerintah telah menetapkan 4 kompetensi namun secara
penampilan kita perlu tampil memesona di hadapan peserta didik karena dapat
memberikan sentuhan langsung yang berpengaruh kuat terhadap motivasi belajar
peserta didik. Guru memesona yang selalu penuh semangat, canggih, humoris,
cerdas membuat analogi dan metafora, mampu berempati dan memahami konteks
berpikir peserta didik. Abad 21 menuntut peran guru yang semakin tinggi dan
optimal. Sebagai konsekuensinya, guru yang tidak bisa mengikuti perkembangan
38
zaman semakin tertinggal sehingga tidak bisa memainkan perannya secara optimal
dalam mengemban tugas dan menjalankan profesinya. Guru abad 21 memiliki
karakteristik spesifik dibanding dengan guru pada era sebelumnya ( Sumber : Profil
dan Kompetensi Guru Abad 21 “ Modul PPG Dalam Jabatan 2020”).
Rumusan kompetensi guru yang dikembangkan di Indonesia sudah tertuang
dalam Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1)
kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan
profesi. Artinya diselengarakannya Pendidikan Profesi Guru (PPG) dimaksudkan
agar guru memiliki kompetensi sebagaimana yang dimaksud dalam Undangundang
tersebut. Guru yang memiliki kompetensi memadai sangat menentukan
keberhasilan tercapainya tujuan pendidikan. Penjelasan kompetensi guru
selanjutnya dituangkan dalam peraturan menteri Pendidikan Nasional No 16 tahun
2007 tentang kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berbunyi bahwa
setiap guru wajib memenuhi kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang
berlaku secara nasional.
Kualifikasi akademik Guru atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki
kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
dalam bidang pendidikan (D-IV/S1) yang diperoleh dari program studi yang
terakreditasi. Adapun kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik,
kepribadian, sosial, dan profesional.
Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru yang berkenaan
dengan pemahaman terhadap peserta didik dan pengelolaan pembeajaran mulai dari
merencanakan, melaksanakan sampai dengan mengevaluasi. Kompetensi
kepribadian merupakan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap,
stabil, dewasa, arif, canggih, humoris namun tegas, dan berwibawa selalu
memesona bagi peserta didik. Kompetensi sosial berkenaan dengan kemampuan
pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara
efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidian, orang tua
peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesional merupakan
39
kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran secara luas
dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi pembelajaran, dan
substansi keilmuan yang menaungi materi dalam kurikulum, serta menambah
wawasan keilmuan.
Abad 21 yang ditandai dengan kehadiran era media (digital age) sangat
berpengaruh pada pengelolaan pembelajaran dan perubahan karakteristik peserta
didik. Pembelajaran abad 21 menjadi keharusan untuk mengintegrasikan teknologi
informasi dan komunikasi, serta pengelolaan pembelajaran yang berpusat pada
peserta didik. Pola pembelajaran berpusat pada guru (teacher centred) menjadi
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centred) karena sumber
belajar digital dan lingkungan yang bisa dieksplorasi melimpah. Guru tipe 4
berperan sebagai fasilitator, mediator, motivator sekaligus leader dalam proses
pembelajaran. Pola pembelajaran konvensional bisa dipahami sebagai
pembelajaran dimana guru banyak memberikan ceramah (transfer of knowledge)
sedangkan peserta didik lebih banyak mendengar, mencatat dan menghafal.
Kemampuan pedogogi dengan pola konvensional dipandang sudah kurang tepat
dengan era saat ini.
Metode dan media yang tepat berdampak pada pembajaran yang aktif,
kreatif, efektif dan menyenangkan. Pelaksanaan pembelajaran menurut Abdul
Majid (2013) meliputi kemampuan-kemampuan membuka pelajaran, menyajikan
materi, menggunakan metode/ media, menggunakan alat peraga, menggunakan
bahasa yang komunikatif, memotivasi peserta didik, mengorganisasi kegiatan,
berintraksi dengan peserta didik secara komunikatif, menyimpulkan pembelajaran,
memberikan umpan balik, memberikan penilaian, dan menggunakan waktu secara
cermat. Kemampuan-kemampuan tersebut akan sangat bergantung pada pilihan
metode pembelajaran yang digunakan dengan mengintegrasikan teknologi dalam
pelaksanaanya. Selain memesona untuk memotivasi peserta didik guru pandai
memanfaatkan media pembelajaran, alat dan bahan pembelajaran, dan sarana
lainnya. Kompetensi guru untuk memfasilitasi dan menginpirasi peserta didik
dalam belajar dan menumbuhkan kreatifitas tentunya harus diawali dengan
40
penguasaan materi yang baik dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut
dalam pembelajaran, menggunakan teknologi untuk memfasilitasi pengalaman
belajar yang menumbuhkan kreatifitas peserta didik melalui pembelajaran dengan
lingkungan tatap muka maupun lingkungan virtual.
Di era digital ini, guru diharapkan mampu mendesain, mengembangkan dan
mengevaluasi pembelajaran secara autentik melalui pengalaman belajar dengan
menggabungkan alat evaluasi terkini dan mengoptimalkan isi dan lingkungan
pembelajaran untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku
peserta didik. Guru juga diharapkan mampu menunjukkan pengetahuan,
keterampilan, dan proses kerja yang representatif dari seorang profesional yang
inovatif dalam masyarakat global dan digital, dengan menunjukan sistem teknologi
untuk mentrasfer pengetahuan dalam berbagai situasi. Selain dari itu tuntutan
berkolaborasi dengan peserta didik, teman profesi, orang tua dan komunitas dengan
memanfaatkan tool digital dan peralatan untuk mendukung kesuksesan peserta
didik dalam belajar. Selanjutnya kemampuan guru abad 21 juga harus memahami
isu-isu lokal dan global dan tanggap terhadap perubahan budaya digital yang
berkembang dan menunjukkan tindakan dengan menjunjung tinggi etika dalam
praktik profesionalnya.
Kompetensi ini penting dimiliki oleh guru era digital, karena pengetahuan
dan informasi sangat cepat baik lokal maupun global yang terkadang belum tentu
sesuai dengan norma dan belum tentu teruji kebenarannya, karena itu informasi dan
pengetahuan tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan ketika akan dijadikan
sebagai bahan kajian dalam pembelajaran.
Scan QR code yang ada di samping atau kunjungi link berikut
untuk mengetahui lebih jelas sumber dari https://s.id/-Zsqc
D. Implementasi Kompetensi Guru Abad 21
Guru pada saat ini menghadapi tantangan jauh lebih kompleks bila
dibandingkan dengan era sebelumnya. Guru menghadapi peserta didik yang jauh
lebih beragam, materi pelajaran yang lebih kompleks dan sulit, standar proses
41
pembelajaran dan juga tuntutan capaian kemampuan berfikir siswa yang lebih
tinggi (Darling, 2006). Tantangan dalam pembelajaran abad 21 dan perubahan
kurikulum 2013 menuntut kemampuan pedagogis guru sebagai pengajar untuk
lebih mampu mendesain pembelajaran yang lebih efektif dan innovatif.
Perkembangan media teknologi informasi menjadi salah satu landasan pokok dalam
perkembangan pembelajaran abad 21. (Karim, 2017) Guru abad 21 dituntut tidak
hanya mampu mengajar dan mengelola kegiatan kelas dengan efektif, namun juga
dituntut untuk mampu membangun hubungan yang efektif dengan siswa dan
komunitas sekolah, menggunakan teknologi untuk mendukung peningkatan mutu
pengajaran, serta melakukan refleksi dan perbaikan praktek pembelajarannya
secara terus menerus (Darling, 2006). Untuk itu guna untuk memberikan
pendidikan yang berkualitas kepada peserta didik di zaman informasi ini menuntut
guru untuk memiliki keterampilan teknologi yang dibutuhkan agar dapat
memanfaatkan kekuatan komputer dan teknologi yang terkait dengannya untuk
pengajaran yang efektif.
1. Konsep Pendidikan Abad 21
Menurut Daryanto dan Syaiful Karim (2017) Tiga konsep pendidikan yang
diadaptasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
dalam mengembangkan Kurikulum Sekolah (SD), Sekolah Menengah (SMP),
Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam
rangka mengembangkan pendidikan menuju Indonesia Kreatif tahun 2045. Ketiga
konsep tersebut adalah 21st Century Skills, scientific approach, authentic learning
dan authentic assessment.
Kurikulum 2013 mengusung tema: menghasilkan insan Indonesia yang
produktif, kreatif, inovatif, dan afektif (berkarakter), melalui penguatan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan secara terintegrasi. (Mulyasa, 2015). Guru harus
dapat mengembangkan potensi peserta didik secara optimal melalui berbagai
rancangan inovasi pembelajaran yang kreatif yang dapat mengembangkan
kreativitas peserta didik. Kehidupan dan karir pada abad 21 membutuhkan
kemampuan untuk 1) fleksibel dan adaptif; 2) berinisiatif dan mandiri; 3) memiliki
42
ketrampilan sosial dan budaya; 4) produktif dan akuntabel; serta 5) memiliki
kepemimpinan dan tanggung jawab. (Sani, 2017).
2. Pembelajaran Abad 21
Sejak munculnya gerakan global yang menyerukan model pembelajaran
baru untuk abad ke-21, telah berkembang pendapat bahwa pendidikan formal harus
diubah. Perubahan ini penting untuk memunculkan bentuk-bentuk pembelajaran
baru yang dibutuhkan dalam mengatasi tantangan global yang kompleks.
Identifikasi kompetensi siswa yang perlu dikembangkan merupakan hal yang
sangat penting untuk menghadapi abad ke-21. Siswa harus mengasah keterampilan
dan meningkatkan belajar untuk dapat mengatasi tantangan global, seperti
keterampilan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi secara efektif, berinovasi
dan memecahkan masalah melalui negosiasi dan kolaborasi. Namun demikian, dari
sisi pedagogi belum disesuaikan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Pengalaman belajar ini harus memberdayakan siswa sebagai individu dan
warga negara sekaligus sebagai agen perubahan yang bertanggung jawab, kreatif,
inovatif dan mampu berkontribusi untuk masyarakat, bangsa, dan dunia. Di antara
ragam kompetensi dan keterampilan yang diharapkan berkembang pada siswa
sehingga perlu diajarkan pada siswa di abad ke-21 di antaranya adalah
personalisasi, kolaborasi, komunikasi, pembelajaran informal, produktivitas dan
content creation. Elemen tersebut juga merupakan kunci dari visi keseluruhan
pembelajaran abad ke-21. Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSN) merumuskan
16 prinsip pembelajaran yang harus dirumuskan dalam proses pendidikan abad ke-
21. Sedangkan Permendikbud No 65 tahun 2013 mengemukakan 14 prinsip
pembelajaran, terkait dengan implementasi Kurikulum 2013 Sementara itu,
Jennifer Nicols menyederhanakannya ke dalam 4 prinsip yaitu: 1) Instruction
should be student-centered, 2) Education should be collaborative, 3) Learning
should have context, 4) Schools should be integrated with society. (Karim, 2017).
a. Instruction should be student-centered
Pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan yang berpusat pada
siswa. Siswa sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan
43
minat dan potensinya. Siswa lah yang secara aktif meningkatkan pengetahuan,
potensi dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan
berfikirnya, serta diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata
yang terjadi di masyarakat. Hal ini bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar
kepada siswa sepenuhnya namun intervensi guru masih tetap diperlukan.
Guru berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan
pengetahuan awal (prior knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi
baru yang akan dipelajarinya, memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai
dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing, dan mendorong siswa untuk
bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya. Guru juga berperan
sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan
dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
b. Education should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain, yang
berbeda latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Siswa perlu didorong untuk
bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya dalam menggali informasi dan
membangun makna, menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana
mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka. Sekolah
(termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga
pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi
dan pengalaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah
dikembangkannya, dan bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya
agar menjadi lebih baik.
c. Learning should have context
Materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa karena
pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap
kehidupan siswa di luar sekolah. Guru perlu mengembangkan metode pembelajaran
yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru juga
perlu membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa
44
yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-
harinya.
d. Schools should be integrated with society
Sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam
lingkungan sosialnya, dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara
yang bertanggung jawab. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan
program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan,
lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi
panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak
lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat
tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai belahan
dunia.
Keterampilan abad 21 merupakan serangkaian keterampilan yang
selayaknya dimiliki secara terintegrasi oleh individu, yang terdiri atas keterampilan
memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja dalam tim, menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi, melakukan inovasi, dan berpikir kreatif pada tema-tema
atau isu-isu kontekstual secara efektif dan efisien (Trilling & Fadel, 2009). Untuk
mengantisipasi kebutuhan abad 21 pergeseran cara belajar dengan perubahan
metode pembelajaran harus dilakukan dengan mendasarkan pada empat ciri abad
21, yakni informasi, komputasi, otomasi dan komunikasi sebagaimana di tunjukkan
dalam gambar 1 berikut:
45
Gambar 1. Paradigma Pembelajaran Abad 21 (Kemendikbud, 2013) (Sani, 2017)
3. Peran Guru Abad 21
Pembelajaran abad ke-21 menuntut banyak hal dari seorang guru khususnya
yang berkaitan dengan kemampuan dan keterampilan. Dalam perannya yang
pertama, guru menyiapkan peserta didik untuk mampu memiliki keterampilan abad
21. Seorang guru perlu menguasai berbagai bidang, mahir dalam hal pedagogi
termasuk inovasi dalam pengajaran dan pembelajaran, memahami psikologi
pembelajaran dan memiliki keterampilan konseling, mengikuti perkembangan
tentang kebijakan kurikulum dan isu pendidikan, mampu mendesain pembelajaran,
mampu memanfaatkan media dan teknologi baru dalam pembelajaran, dan tetap
menerapkan nilai-nilai untuk pembentukan kepribadian dan akhlak yang baik.
46
Guru merupakan pendidik profesional yang harus melaksanakan tugasnya
dengan baik dan bermutu. Pendidikan yang bermutu dapat menghasilkan pribadi
yang utuh dengan pembelajaran yang mengembangkan kreativitas peserta didik dan
melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill/HOTS)
Pembelajaran abad ke-21 memiliki Tujuan utama yakni membangun
kemampuan belajar peserta didik dan mendukung perkembangan mereka menjadi
pembelajar sepanjang hayat, aktif, mandiri. Peran penting seorang guru abad ke-21
sebagai role model untuk kepercayaan, keterbukaan, ketekunan dan komitmen bagi
siswanya dalam menghadapi ketidakpastian di abad ke-21.
Guru perlu memperkuat keingintahuan intelektual siswa, keterampilan
mengidentifikasi dan memecahkan masalah, dan kemampuan mereka untuk
membangun pengetahuan baru dengan orang lain. Guru yang ahli dalam mencari
tahu bersama-sama dengan siswa mereka, tahu bagaimana melakukan sesuatu, tahu
bagaimana cara untuk mengetahui sesuatu atau bagaimana menggunakan sesuatu
untuk melakukan sesuatu yang baru secara baik dan benar. Guru diharapkan mampu
dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang bertumpu dan
melaksanakan empat pilar belajar yang dianjurkan oleh Komisi Internasional
UNESCO untuk Pendidikan, yaitu: 1) Learning to Know, 2) Learning to Do, 3)
Learning to Be, dan 4) Learning to Live Together. (Karim, 2017).
a. Learning to Know
Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan
memanfaatkan materi pengetahuan. Penguasaan materi merupakan salah satu hal
penting bagi siswa di abad ke-21. Siswa juga harus memiliki kemauan untuk belajar
sepanjang hayat. Hal ini berarti siswa harus secara berkesinambungan menilai
kemampuan diri tentang apa yang telah diketahui dan terus merasa perlu
memperkuat pemahaman untuk kesuksesan kehidupannya kelak. Siswa harus siap
untuk selalu belajar ketika menghadapi situasi baru yang memerlukan keterampilan
baru. Pembelajaran di abad ke-21 hendaknya lebih menekankan pada tema
pembelajaran interdisipliner. Empat tema khusus yang relevan dengan kehidupan
modern adalah: 1) kesadaran global; 2) literasi finansial, ekonomi, bisnis, dan
47
kewirausahaan; 3) literasi kewarganegaraan; dan 4) literasi kesehatan. Tema-tema
ini perlu dibelajarkan di sekolah untuk mempersiapkan siswa menghadapi
kehidupan dan dunia kerja di masa mendatang dengan lebih baik.
b. Learning to Do
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang
berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Siswa maupun
orang dewasa sama-sama memerlukan pengetahuan akademik dan terapan, dapat
menghubungkan pengetahuan dan keterampilan, kreatif dan adaptif, serta mampu
mentrasformasikan semua aspek tersebut ke dalam keterampilan yang berharga.
c. Learning to Be
Keterampilan akademik dan kognitif memang keterampilan yang penting
bagi seorang siswa, namun bukan merupakan satu-satunya keterampilan yang
diperlukan siswa untuk menjadi sukses. Siswa yang memiliki kompetensi kognitif
yang fundamental merupakan pribadi yang berkualitas dan beridentitas. Siswa
seperti ini mampu menanggapi kegagalan serta konflik dan krisis, serta siap
menghadapi dan mengatasi masalah sulit di abad ke-21. Secara khusus, generasi
muda harus mampu bekerja dan belajar bersama dengan beragam kelompok dalam
berbagai jenis pekerjaan dan lingkungan sosial, dan mampu beradaptasi dengan
perubahan zaman.
d. Learning to Live Together
Berbagai bukti menunjukkan bahwa siswa yang bekerja secara kooperatif
dapat mencapai level kemampuan yang lebih tinggi jika ditinjau dari hasil
pemikiran dan kemampuan untuk menyimpan informasi dalam jangka waktu yang
panjang dari pada siswa yang bekerja secara individu. Belajar bersama akan
memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat aktif dalam diskusi, senantiasa
memantau strategi dan pencapaian belajar mereka dan menjadi pemikir kritis.
4. Keterampilan yang Dibutuhkan Guru Menghadapi Abad 21
Untuk dapat bersaing di abad 21 Jenis keterampilan apa saja yang harus
dimiliki oleh lulusan? Ketrampilan yang dibutuhkan di abad 21 bersifat lebih
internasional, multikultural dan saling berhubungan. Teknologi informasi dan
48
komunikasi (TIK) telah mengubah cara belajar, sifat pekerjaan yang dapat
dilakukan, dan makna hubungan sosial. Pada abad terakhir ini telah terjadi
pergeseran yang signifikan dari layanan manufaktur kepada layanan yang
menekankan pada informasi dan pengetahuan (Scott, 2015). Saat ini, indikator
keberhasilan lebih didasarkan pada kemampuan untuk berkomunikasi, berbagi, dan
menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang kompleks, dapat
beradaptasi dan berinovasi dalam menanggapi tuntutan baru dan mengubah
keadaan, serta memperluas kekuatan. Daryanto dan Karim (2017) dalam Bukunya
Pembelajaran Abad 21 disebutkan bahwa: Menurut International Society for
Technology in Education, karakteristik keterampilan guru abad 21 dimana era
informasi menjadi ciri utamanya, membagi keterampilan guru abad 21 kedalam 5
kategori, yaitu:
a. Mampu memfasilitasi dan menginspirasi belajar dan kreatifitas peserta didik,
dengan indikator diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Mendorong, mendukung dan memodelkan penemuan dan pemikiran kreatif
dan inovatif.
2) Melibatkan peserta didik dalam menggali isu dunia nyata (real word) dan
memecahkan permasalahan otentik menggunakan tool dan sumbersumber
digital.
3) Mendorong refleksi peserta didik menggunakan tool kolaboratif untuk
menunjukkan dan mengklarifikasi pemahaman, pemikiran, perencanaan
konseptual dan proses kreatif peserta didik.
4) Memodelkan konstruksi pengetahuan kolaboratif dengan cara melibatkan
diri belajar dengan peserta didik, kolega, dan orang-orang lain baik melalui
aktivitas tatap muka maupun melalui lingkungan virtual.
b. Merancang dan mengembangkan pengalaman belajar dan assesmen era digital,
dengan indikator sebagai berikut:
1) Merancang atau mengadaptasi pengalaman belajar yang tepat yang
mengintegrasikan toos dan sumber digital untuk mendorong belajar dan
kreatifitas peserta didik.
49
2) Mengembangkan lingkungan belajar yang kaya akan teknologi yang
memungkinkan semua peserta didik merasa ingin tahu dan menjadi
partisipasi aktif dalam menyusun tujuan belajarnya, mengelolah belajarnya
sendiri dan mengukur perkembangan belajarnya sendiri.
3) Melakukan kostuminasi dan personalisasi aktif belajar yang dapat
memenuhi strategi kerja gaya belajar dan kemampuan menggunakan tools
dan sumber-sumber digital yang beragam.
4) Menyediakan alat evaluasi formatif dan sumatif yang bervariasi sesuai
dengan standar teknologi dan konten yang dapat memberikan informasi
yang berguna bagi proses belajar peserta didik maupun pembelajaran
secara umum.
c. Menjadi model cara belajar dan bekerja di era digital, dengan indikator sebagai
berikut:
1) Menunjukkan kemahiran dalam sistem teknologi dan mentransfer
pengetahuan ke teknologi dan situasi yang baru.
2) Berkolaborasi dengan peserta didik, sejawat, dan komunitas menggunakan
tool-tool dan sumber digital untuk mendorong keberhasilan dan inovasi
peserta didik.
3) Mengomunikasikan ide/gagasan secara efektif kepada peserta didik, orang
tua, dan sejawat menggunakan aneka ragam format media digital
4) Mencontohkan dan memfasilitasi penggunaan secara efektif dari pada tool-
tool digital terkini untuk menganalisis, mengevaluasi dan memanfaatkan
sumber informasi tersebut untuk mendukung penelitian dan belajar.
d. Mendorong dan menjadi model tanggung jawab dan masyarakat digital,
dengan indikator diantaranya sebagai berikut:
1) Mendorong, mencontohkan, dan mengajar secara sehat, legal dan etis
dalam menggunakan teknologi informasi digital, termasuk menghargai hak
cipta, hak kekayaan intelektual dan dokumentasi sumber belajar.
2) Memenuhi kebutuhan pembelajar yang beragam dengan menggunakan
strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan
50
memberikan akses yang memadai terhadap tool-tool digital dan sumber
belajar digital lainnya.
3) Mendorong dan mencontohkan etika digital tanggung jawab interaksi
sosial terkait dengan penggunaan teknologi informasi.
4) Mengembangkan dan mencontohkan pengembangan budaya dan kesadaran
global melalui keterlibatan/partisipasi dengan kolega dan peserta didik dari
budaya lain menggunakan tool komunikasi dan kolaborasi digital.
e. Berpartisipasi dalam pengembangan dan kepemimpinan profesional, dengan
indikator sebagai berikut:
1) Berpartisipasi dalam komunitas lokal dan global untuk menggali penerapan
teknologi kreatif untuk meningkatkan pembelajaran.
2) Menunjukkan kepemimpinan dengan mendemonstrasikan visi infusi
teknologi, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan bersama dan
penggabungan komunitas, dan mengembangkan keterampilan
kepemimpinan teknologi kepada orang lain.
3) Mengevaluasi dan merefleksikan penelitian-penelitian dan praktek
profesional terkini terkait dengan penggunaan efekti dari pada tool-tool dan
sumber digital untuk mendorong keberhasilan pembelajaran.
4) Berkontribusi terhadap efektifitas, vitalitas, dan pembaharuan diri terkait
dengan profesi guru baik di sekolah maupun dalam komunitas.
5. Implementasi Pembelajaran Abad 21 di Indonesia
Salah satu cara untuk meningkatkan pedidikan nasional indonesia yaitu
dengan merevisi atau merombak kurikulum sekolah, Indonesia saat ini
menggunakan kurikulum 2013 yang diterapkan secara nasional di jenjang
pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum 2013 ini telah diimplementasikan di
abad ke-21 saat perkembangan teknologi berkembang dengan sangat pesat dan
kemudahan mengakses informasi. Abad ke-21 merupakan era berkompetisi, siswa
dituntut untuk memiliki kemampuan bagaimana belajar dan berfikir dengan cerdas
dan selektif dalam memilih informasi yang valid dan relevan (Halpern, 2003 ) oleh
sebab itu pada tahun 2013 kurikulum di revisi demi meningkatkan kualitas
51
pendidikan nasional Indonesia yang memiliki perhatian terhadap 3 hal spesifik
yaitu mempersiapkan populasi anak muda Indonesia yang besar untuk pasar tenaga
kerja di masa depan, memperkuat kesadaran siswa dan apresiasi terhadap masalah
sosial budaya dan lingkungan di Indonesia, dan meningkatkan kinerja siswa
Indonesia pada berbagai perbandingan internasional (Faisal, 2019).
Selain melalui kuriklum 2013, pemerintah indonesia juga
mengimplementasikan pembelajaran abad 21 dari program penguatan pendidikan
karakter disekolah yang diharapkan dapat menumbuhkan karakter siswa untuk
dapat berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi, dan berkolaborasi, yang
mampu bersaing di abad 21. Hal itu sesuai dengan empat kompetensi yang harus
dimiliki siswa di abad 21 yang disebut 4C, yaitu Critical Thinking and Problem
Solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas),
Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Ability to Work
Collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama) (Kemendikbud, 2017).
Usaha lainnya yang dilakukan pemerintah dalam rangka mnggalakkan
pendidikan abad 21 yaitu dengan menyediakan layanan belajar gratis berbasis
digital yang dikelola oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan
dan Kebudayaan (Pustekkom) yang dinamai portal Rumah belajar (Widayat, 2018).
Salah satu penelitian yang telah dilakukan terkait dengan implementasi
pembelajaran abad 21 di Indonesia. Penerapan pembelajaran abad-21 di Indonesia
masih harus ditingkatkan sebab belum dilakukan secara optimal. Berdasarkan hasil
penelitian yang telah dia lakukan terhadap siswa SMA siswa tidak menenujukkan
kemampuan dalam keterampilan berfikir kritis dan keterampilan pemecahan
masalah. Penilaian terhadap keterampilan berpikir kritis pada siswa terbatas pada
kemampuan kognitif siswa, moyoritas siswa hanya mampu mencapai level C3
dalam taksonomi blooms. Selain itu Guru-guru membutuhkan beberapa lathan
untuk mengembangkan intrumen keterampilan berfikir kritis dan instrument
keterampilan memecahkan masalah.
Beberapa kendala krusial yang dihadapi pendidikan Indonesia dalam
penerapan pembelajaran abad-21 berasal dari kualitas siswa dan kualitas guru-
52
gurunya.. Berdasarkan data Unesco dalam Global Education Monitoring (GEM)
Report (2016), pendidikan di Indonesia menempati peringkat ke 10 dari 14 negara
berkembang dan kualitas guru menempati urutan ke 14 dari 14 negara berkembang
di dunia. Hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) di bidang pedagogik dan profesional
tahun 2015 menunjukkan bahwa rata rata nasional untuk kedua bidang kompetensi
tersebut adalah 53,02. Angka ini masih di bawah standar kompetensi minimal
(SKM) nasional, yaitu 55. Bahkan kompetensi pedagogik yang menjadi kompetensi
utama guru, rata-rata nasional hanya mencapai 48,94 (Kemdikbud, 2018). Hal ini
mengindikasikan bahwa kompetensi guru di Indonesia masih rendah. Guru akan
sulit menerima perubahan jika kompetensinya rendah Yunus (2018).
Selain itu dilihat dari realisasi pembelajaran formal, guru fokus pada materi
yang disarankan oleh kurikulum dan mereka pikir itu sudah cukup. Praktis, guru
cenderung menggunakan buku paket sekolah atau menggunakan bahan buku teks.
Dalam orientasi hasil belajar, para guru bergantung pada skor konkret kognitif. Jika
evaluasi hasil akhir siswa menunjukkan skor optimal lebih dari yang ditentukan
KKM (nilai lulus), itu berarti bahwa proses pembelajaran berhasil. Kondisi tersebut
dipengaruhi oleh paradigma lama bahwa kurikulum harus diikuti berdasarkan
prinsip taat. Paradigma ini membawa implikasi bahwa kreativitas guru akan
membuat proses belajar mengajar kurikulum (Rokhman, Yuliati. 2010) Hal itu
dianggap sebagai sesuatu yang salah dalam konteks pendidikan abad 21.
Dari segi kualitas siswa Berdasarkan data Hasil PISA 2015 kualitas siswa
Indonesia menempati ranking 64 dari 72 negara yang mengikuti seleksi pisa
(Programme International Students Assasment) (Pisa, 2015) data lainnya yang
dapat menjadi indicator kualitas pendidikan Indonesia yaitu dari hasil pencapaian
rata-rata nilai UNBK nasional tahun 2019 pada tingkat SMP hanya sebesar 53,18
dari 100, dan tingkat sma sebesar 53,16 dari 100 (Puspendik.kemdikbud, 2019).
Dari data-data tersebut terlihat jelas bagaimana kondisi pendidikan Indonesia.
Relevansi pendidikan dalam hal substansial terhadap kebutuhan masyarakat masih
dianggap rendah (Sukasni, 2017). Pencapaian yang rendah ini mengindikasikan
bahwa siswa memerlukan peningkatan dalam pengalaman pendidikan untuk
53
memperluas kemampuan mereka dalam pembelajaran dan untuk meningkatkan
hasil ujian (Faisal,2019) terkait dengan rendahnya pencapaianya kualitas siswa
Indonesia pisa merekomendasikan agar siswa Indonesia meningkatkan
pemanfaatan literasi digital yang merupakan suatu komponen penting dalam
penerapan pembelajaran abad 21.
LATIHAN
1. Salah satu indikator Kompetensi Pedagogik adalah memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. Nah coba
bapak/ibu jelaskan bagaimana bentuk penerapan indicator tersebut jika sekolah
yang bapak/ibu tempati berada pada kawasan yang masih sulit untuk di akses
teknologi internet!
2. Agar menambah pemahaman Bapak/Ibu diskusikanlah mengenai mengapa
kompetensi sosial dan kompetensi Profesional penting dimiliki oleh seorang
guru!
PENUTUP
A. Rangkuman
Tugas dan fungsi guru sebagai pendidik adalah mempersiapkan siswa untuk
bekerja, dan menjadi warga negara yang baik yang mampu menghadapi kehidupan
di abad ke-21. Tuntutan dalam mengembangkan tugas ini semakin kompleks, bukan
hanya menyangkut kemampuan yang bersifat intelektual, melainkan juga
keterampilan untuk menggunakan dan memanfaatkan teknologi. Dengan kata lain
bentuk-bentuk pembelajaran baru diperlukan untuk mengatasi tantangan global
yang kompleks ke depan. Juga menggaris bawahi pentingnya keterampilan kerja
pribadi abad ke dua puluh satu seperti inisiatif, ketahanan, tanggung jawab,
pengambilan risiko, dan kreativitas; keterampilan sosial seperti kerja tim, jaringan,
empati dan kasih sayang; dan keterampilan belajar seperti mengelola, mengatur,
keterampilan meta-kognitif. Diperlukan pendekatan baru yang dapat
mengakomodasi karakteristik siswa saat ini dalam pembelajaran di kelas. Guru
54
dituntut mampu untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 yang telah membuka
kesempatan untuk berinovasi dalam pembelajaran dengan berbagai pendekatan,
model, strategi, metode, penilaian dan segala hal terkait, yang efektif dalam
penyiapan kompetensi dan keterampilan siswa menuju abad ke-21. Guru mampu
merencanakan, memimpin, mengelola, dan merancang lingkungan belajar yang
efektif, inovatif dan kolaboratif.
Pengalaman dan penguasaan pada bidang yang diajarkannya dan didukung
dengan penguasan metode dan penggunaan pendekataan serta strategi pembelajaran
melalui optimalisasi peran siswa dengan memanfaatkan sarana teknologi baik
secara individu, maupun secara bersama. Dalam hal ini guru harus memiliki
keterampilan yang kuat dalam teknologi dan penggunaan teknologi sebagai alat
pengajaran yang efektif, serta mengoptimalkan penggunaan sumber daya digital
dalam pengajarannya.
Guru harus mampu mengasah keterampilan dan meningkatkan motivasi
belajar siswa untuk dapat mengatasi tantangan global, dengan meningkatkan
keterampilan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi secara efektif, berinovasi
dan memecahkan masalah melalui negosiasi dan kolaborasi.
B. Tes Formatif
Pilihlah jawaban yang paling tepat!
1. Salah satu ciri dari great teacher, yaitu……
a. Guru hanya menjelaskan dengan metode ceramah
b. Guru memahami materi tetapi belum mampu memberikan pemahaman
kepada siswa
c. Guru selalu merefleksi diri untuk memberikan pembelajaran yang
interaktif kepada siswa
d. Pembelajaran berpusat kepada guru
2. Paradigma dan keyakinan guru mempengaruhi cara guru bertindak. Berikut
merupakan cara pandang guru abad 21 tentang pembelajran abad 21 yang
paling tepat adalah …
55
a. Pembelajaran berpusat peserta didik dengan guru tetap aktif
b. Pembelajaran harus berpusat pada peserta didik aktif
c. Pembelajaran lebih berorientasi untuk menguasai konten
d. Guru aktif memfasilitasi peserta didik, peseta didik merespon
3. Kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil,
dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan
berakhlak mulia termasuk dalam kompetensi…
a. Pedagodik
b. Profesional
c. Kepribadian
d. Sosial
4. Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik
pembelajaran yang mendidik secara kreatif, termasuk kompetensi
pedagogic pada indikator…
a. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik sebagai kompetensi inti pedagogik
b. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
kepentingan pembelajaran
c. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki
d. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta
didik
5. Yang termasuk mediatisasi dalam belajar abad 21 adalah ....
a. kehadiran media online yang menunjang pelajaran
b. guru yang selalu aktif masuk kelas
c. siswa yang rajin facebookan
d. merencanakan fasilitas belajar
6. Berkomunikasi dengan orang tua peserta didik dan masyarakat secara
santun, empatik, dan efektif, serta mengikutsertakan orang tua dan
56
masyarakat dalam program pembelajaran guna mengatasi kesulitan belajar
peserta didik, merupakan kompetensi ....
a. Pedagogik
b. Kepribadian
c. Sosial
d. Profesional
e. Humanis
7. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi
dan mengembangkan diri termasuk dalam kompetensi ....
a. Pedagogik
b. Kepribadian
c. Sosial
d. Profesional
e. Intelektual
8. Guru juga diharapkan mampu menunjukkan pengetahuan, keterampilan,
dan proses kerja yang representatif dari seorang profesional yang inovatif .
Di era digital ini, guru diharapkan mampu ...
a. mendesain, mengembangkan dan mengevaluasi pembelajaran secara
autentik
b. mencermati
c. memahami
d. mengerjakan soal
9. Guru harus memiliki kompetensi dasar dari guru profesional sebagai guru
modern abad 21 dengan ciri antara lain:
a. Terlambat ke sekolah
b. Menguasai bahan ajar
c. Tidak memberikan materi ke peserta didik
d. Pulangnya cepat dari sekolah
10. Berikut aspek penting dalam pengelolaan pembelajaran abad 21, Kecuali ....
a. Merancang pembelajaran yang kreatif dan inovatif
57
b.menghindari penggunaan Smartphone yang berlebihan dalam
pembelajaran
c. Menerapkan kemmapuan berpikir tingkat tinggi
d. menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi
58
KUNCI JAWABAN
1. C
2. A
3. C
4. A
5. A
6. C
7. D
8. A
9. B
10. B
59
GLOSARIUM
Guru Medioker : guru biasa, cara mengajar monoton,
(Mediocre Teacher) pembelajaran berpusat pada guru, susah
Guru yang baik (Good menerima kritik, dan menutup diri.
Teacher)
: guru yang baik, guru yang bagus, guru tipe baik
Guru superior memiliki kemampuan ceramah dan menjelaskan
(Demonstrates) berdasarkan hasil analisis bukan sekadar
membaca ulang dan menghafal meskipun dilihat
Great teacher (Inspires) dari gaya mengajarnya masih cenderung
berpusat guru.
Kompetensi
Esensial : guru unggul, interaksi pembelajarannya tidak
lagi hanya terjadi antara guru dengan peserta
didik, namun di antara peserta didik dan peserta
didik dengan sumber belajar, suka
memanfaatkan media pembelajaran sehingga
materi pembelajaran mudah diingat dan
dipahami oleh peserta didik, mampu
menciptakan pembelajaran yang berbasis
peserta didik namun dirinya tetap aktif.
: guru yang hebat, menghargai murid-muridnya,
menciptakan rasa kebersamaan dan saling
memiliki. hangat, mudah dihubungi, peduli,
entusias, gemar belajar; menginspirasi murid
dengan hasrat besarnya pada pendidikan dan
pembelajaran.
: perpaduan dari pengetahuan, keterampilan dan
kepribadian seseorang, untuk dapat
meningkatkan kinerjanya dan menunjukkan
peranannya bagi keberhasilan organisasinya.
: perlu sekali; mendasar; hakiki
Guru efektif : Guru efektif adalah guru yang bisa memotivasi
Etos kerja peserta didik untuk belajar dan meningkatkan
Psikologi
Konseling semangat belajar yang tumbuh dari kesadaran
Kompetensi diri peserta didi, bukan karena takut pada
Rumusan kompetensi
guru gurunya.
Kompetensi guru
: seberapa tingginya semangat yang dimiliki
seorang karyawan dalam bekerja. Tidak hanya
untuk mencapai target kerjanya sendiri, tetapi
juga target tim atau organisasi.
: disiplin ilmu yang mempelajari lebih dalam
mengenai mental, pikiran, dan perilaku
manusia.
: suatu hubungan yang bersifat membantu yaitu
adanya interaksi antara konselor dan klien dalam
suatu kondisi yang membuat konseli terbantu
dalam mencapai perubahan
dan belajar membuat keputusan sendiri serta
bertanggung jawab atas keputusan yang ia
ambil.
: Kompetensi dapat diartikan kewenangan dan
: kecakapan atau kemampuan seseorang dalam
melaksanakan tugas atau pekerjaan sesuai
dengan jabatan yang disandangnya.
: Tertuang dalam Undang-undang No.14 tahun
2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1)
: Meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional yang diperoleh melalui pendidikan
profesi