a. Pendahuluan. Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu
pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi
dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam
proses pembelajaran.
b. Inti. Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD.
Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi
aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis siswa. Kegiatan inti ini dilakukan secara sistematis dan sistemik
melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Menurut Nursyam
(2009: 1), eksplorasi adalah kegiatan pembelajaran yang didesain agar
tercipta suasana kondusif yang memungkinkan siswa dapat melakukan
aktivitas fisik yang memaksimalkan penggunaan panca indera dengan
berbagai cara, media, dan pengalaman yang bermakna dalam menemukan
ide, gagasan, konsep, dan/atau prinsip sesuai dengan kompetensi mata
pelajaran. Elaborasi adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan
kesempatan peserta didik mengembangkan ide, gagasan, dan kreasi dalam
mengekspresikan konsepsi kognitif melalui berbagai cara baik lisan
maupun tulisan sehingga timbul kepercayaan diri yang tinggi tentang
kemampuan dan eksistensi dirinya. Konfirmasi adalah kegiatan
pembelajaran yang diperlukan agar konsepsi kognitif yang dikonstruksi
dalam kegiatan eksplorasi dan elaborasi dapat diyakinkan dan diperkuat
sehingga timbul motivasi yang tinggi untuk mengembangkan kegiatan
eksplorasi dan elaborasi lebih lanjut.
c. Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas
pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman/kesimpulan,
penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
Tugas Utama Guru dalam Pembelajaran
41
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
Dalam undang-undang guru dan dosen, ada tujuh tugas utama guru. Ketujuh
tugas tersebut adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Apa saja maksud dari ketujuh tugas utama
guru tersebut?
1. Mendidik
Mendidik adalah mengajak, memotivasi, mendukung, membantu dan
menginspirasi orang lain untuk melakukan tindakan positif yang bermanfaat bagi
dirinya dan orang lain atau lingkungan. Mendidik lebih menitik beratkan pada
kebiasaan dan keteladanan.
2. Mengajar
Mengajar adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh guru untuk membantu atau
memudahkan siswa melakukan kegiatan belajar. Prosesnya dilakukan dengan
memberikan contoh kepada siswa atau mempraktikkan keterampilan tertentu atau
menerapkan konsep yang diberikan kepada siswa agar menjadi kecakapan yang
dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Membimbing
Suatu proses yang dilakukan oleh guru untuk menyampaikan bahan ajar untuk
mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dengan pendekatan tertentu yang
sesuai dengan karakter siswa. Membimbing juga dimaksudkan untuk membantu
siswa agar menemukan potensi dan kapasitasnya, menemukan bakat dan minat
yang dimilikinya sehingga sesuai dengan masa perkembangan dan
pertumbuhannya.
4. Mengarahkan
Mengarahkan adalah suatu kegiatan yang dilakukan guru kepada peserta didik
agar dapat mengikuti apa yang harus dilakukan agar tujuan dapat
tercapai. Mengarahkan bukan berarti memaksa, kebebasan peserta didik tetap
dihormati dengan tujuan agar tumbuh kreativitas dan inisiatif peserta didik secara
mandiri.
5. Melatih 42
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
Menurut Sarief (2008), melatih pada hakekatnya adalah suatu proses kegiatan
untuk membantu orang lain (atlet) mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya
dalam usahanya mencapai tujuan tertentu. Dalam dunia pendidikan tugas guru
adalah melatih siswa terhadap fisik, mental, emosi dan keterampilan atau bakat.
6. Menilai
Menurut (BSNP 2007: 9), penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk
memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar
peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga
menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Tugas guru
adalah menilai siswa pada aspek keterampilan, sikap dan pengetahuan. Tujuannya
untuk mengukur sejauhmana kompetensi siswa setelah proses belajar mengajar
selesai dilaksanakan.
7. Mengevaluasi
Mengevaluasi dapat dimaknai sebagai suatu proses yang sistematis untuk
menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan program telah
tercapai (Gronlund, 1985, Djaali dan Pudji M). Evaluasi ditujukan untuk
mendapatkan data dan informasi yang dijadikan dasar untuk mengetahui taraf
kemajuan, perkembangan, dan pencapaian belajar siswa, serta keefektifan
pengajaran guru. Evaluasi pembelajaran mencakup kegiatan pengukuran dan
penilaian.
E. Tugas Pokok Guru Abad 21
Jika kita mengacu pada Keputusan Menteri Negara PAN Nomor: 83 Tahun
1993 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, serta mengacu pada
Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan dan Kepala Badan
Administrasi Kepegawaian Negara nomor : 0433/P/1993 dan Nomor : 25 Tahun
1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya,
Dijelaskan di sana bahwa tupoksi guru adalah sebagai pejabat fungsional dengan
tugas utama mengajar pada jalur pendidikan sekolah yang meliputi TK, Pendidikan
Dasar dan Menengah, atau Bimbingan dan Pendidikan Dasar dan Menengah (pasal
2 ayat 1).
43
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
Sementara pada pasal 3 ayat dijelaskan bahwa tupoksi guru terbagi menjadi dua,
yaitu guru yang mengajar dan guru yang menjadi pembimbing siswa (Guru BP),
masing-masing memiliki tugas pokok sebagai berikut :
1. Tupoksi Guru Mata Pelajaran (pasal 3 ayat 1);
a. Menyusun program pengajaran,
b. Penyajikan program pengajaran,
c. Evaluasi belajar,
d. Analisis hasil belajar serta menyusun program perbaikan dan pengayaan
terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Tupoksi Guru mata pelajaran (pasal 3 ayat 1):
a. Menyusun program bimbingan,
b. Penyajikan program bimbingan,
c. Evaluasi pelaksanaan bimbingan,
d. Analisis hasil pelaksanaan bimbingan dan tindak lanjut dalam program
bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
Implementasi Peran Guru dalam Pendidikan Abad 21 di Masa Pandemi
Guru abad 21 dituntut tidak hanya mampu mengajar dan mengelola kegiatan kelas
dengan efektif, namun juga dituntut untuk mampu membangun hubungan yang
efektif dengan siswa dan komunitas sekolah, menggunakan teknologi untuk
mendukung peningkatan mutu pengajaran, serta melakukan refleksi dan perbaikan
praktek pembelajarannya secara terus menerus. Oleh karena itu, guru
membutuhkan kondisi pembelajaran yang kondusif di sekolah sebagai wahana
pembelajaran profesional yang berkelanjutan dan berkesinambungan.
Pembimbingan memiliki karakteristik yang sesuai dengan tuntutan model dan
strategi pengembangan guru yang efektif di era sekarang. Dalam pembelajaran
abad 21, guru harus menstimulus peserta didik agar mampu belajar secara
Creativity, Collaboration, Critical Thingking, dan Communication atau yang lebih
poluler dikenal istilah 4C.
44
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
Guru harus merubah paradigma yang tidak hanya berfokus kepada konten namun
berfokus pula pada pengembangan kreatifitas dan keterampilan belajar
mandiri. Peran guru lebih sebagai mentor, fasilitator, kolaborator sumber daya
dan mitra belajar.Guru harus menjemput penerapan model-model pembelajaran
yang sesuai seperti belajar penemuan (discovery learning), pembelajaran berbasis
proyek, pembelajaran berbasis masalah dan penyelidikan, belajar berdasarkan
pengalaman sendiri, pembelajaran kontekstual, bermain peran dan simulasi,
pembelajaran kooperatif, pembelajaran kolaboratif, maupun diskusi kelompok
kecil.
Abad 21 benar-benar membutuhkan guru yang profilnya efektif, professional dan
memesona yang cocok untuk menghadapi tantangan abad 21.Kompetensi guru
yang sudah dirumuskan pemerintah meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi
profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi pedagogik perlu
dikontekstualisasikan dan dilakukan penyesuaian sehingga mampu
mempersiapkan dan memprediksi kebutuhan belajar peserta didik abad 21 dan
tuntutan masyarakat abad 21.
Selama kurang lebih satu setengah tahun, situasi kondisi kita berada dalam
pandemi Covid-19, sehinga berdampak pula pada dunia pendidikan. Pembelajaran
dilakukan secara daring dan segela keterbatasannya.Banyak kasus yang
ditemukan, peserta didik merasa jenuh dengan materi yang disampaikan satu arah
oleh guru. Karena keterbatasan guru dalam menyampaikan materi. Banyak
permasalahan terjadi ketika di lapangan, bukan hanya soal kuota internet, jaringan
sering terputus, namun minat peserta didik dalam pembelajaran daring pun
berkurang.
Pada jenjang pendidikan dasar, ibu mendampingi anaknya untuk mengerjakan
tugas-tugas sekolah, tak jarang ketika seorang ibu mendampingi anaknya belajar
merasa kesal karena anak kurang disiplin.Begitu pula dengan anak di jenjang
menengah, banyak dari mereka yang mengabaikan pembelajaran saat daring.
Lebih nyaman menggunakan gawai untuk bermain games daripada
45
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
pembelajaran.Kembali lagi bahwa ini menjadi tugas terberat seorang guru ketika
harus menjadi guru yang memesona serta professional di masa pandemi.
Tugas dan Fungsi Guru Abad 21 diantaranya, merencanakan pembelajaran atau
pembimbingan, melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan, menilai hasil
pembelajaran atau pembimbingan, membimbing dan melatih peserta didik,
melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok
sesuai dengan beban kerja guru. Guru perlu kreatif dan inovatif di dalam
pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya bahkan dituntut mampu memprediksi
perkembangan tugas pokok dan fungsinya.
Ketika guru sudah kreatif dan inovatif dalam pembelajaran seyogyanya hal tersebut
dapat menarik minat dan perhatian peserta didik untuk kembali secara maksimal
mengikuti pembelajaran, tak terlepas itu secara daring atau luring. Dengan cara
membuka hati yaitu menggunakan hati, itu kunci utama. Dengan maksud, untuk
menjadi guru yang professional nan memesona dihadapan peserta didik, kita
terlebih dahulu mengetahui bagaimana karakteristik peserta didik kita. Oleh
karenanya kita perlu melakukan observasi, kemudian kita identifikasi lalu kita akan
membuat sebuah rencana aksi dalam metode pembelajaran. Karena, jelas setiap
peserta didik itu memiliki karakteristik dan latar belakang berbeda.Jika kita sudah
dapat membuka hati peserta didik, mereka akan secara terbuka menerima materi
serta didikan karakter yang disampaikan oleh gurunya. Ketiga semua unsur sudah
bersinergi, maka tujuan pembelajaran abada 21 ini akan tercapai dengan maksimal.
Begitu pun dalam keadaan pandemi ini, guru tentu sangat berperan dalam
pembelajaran peserta didik. Untuk mengembalikan konsentarsi dan semangat
belajar peserta didiknya, guru terus membimbing tanpa Lelah, dan bekerjasama
dengan orang tua peserta didik dalam memberikan pengawasan serta memotivasi
peserta didiknya.Sehingga, dapat ditarik simpulan bahwa guru memiliki peran
penting dalam pembelajaran abad 21 ini, baik secara luring maupun daring. Karena
keberadaan guru tidak dapat tergantikan oleh mesin apapun. Guru tetaplah guru,
yang bukan sekedar pelantara mentransfer ilmu, namun guru adalah seorang
46
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
pahlawan untuk mencetak generasi ini berakhlak dan berkarakter baik yaitu dengan
cara mendidiknya sepenuh hati.
F. Fungsi Guru berdasarkan Undang-Undang
Fungsi guru digolongkan menjadi
2 macam, yakni fungsi guru
sebagai tenaga profesional dan
fungsi guru dalam proses
pembelajaran. Fungsi guru
sebagai tenaga profesional dalam
proses pembelajaran antara lain
fungsi profesional dalam arti guru
harus meneruskan atau mewariskan keterampilan, ilmu, serta pengalaman yang
dimilikinya kepada peserta didiknya, sehingga fungsi kemanusiaan dalam arti
berusaha mengembangkan atau membina segala potensi bakat atau pembawaan
yang ada pada diri peserta didik dapat membentuk wajah ilahi dalam dirinya.
Fungsi guru dalam proses pembelajaran ditinjau dari berbagai aspek, yaitu
menciptakan lingkungan atau suasana belajar yang nyaman dan kondusif bagi
peserta didik, memberi penguatan dalam mengemukakan materi pembelajaran
kepada peserta didik,serta pembaharuan diri dan pengembangan seluruh komponen
pembelajaran, karena guru yang kreatif akan lebih mampu untuk mengontrol dan
menciptakan suasana nyaman kelasnya. Sehingga peserta didik dapat belajar
dengan maksimal dan optimal tanpa megalami suatu hambatan (Hasyim, 2014)
Fungsi guru yang dimaksudkan disini juga sudah termasuk dalam tugas guru
yang telah dijabarkan diatas, namun terdapat beberapa fungsi lain yang terkandung
dalam poin d dan e Pasal 20 Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen serta poin a, b dan c Pasal 40 Ayat (2) Undnag-Undang No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni :
1. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa;
2. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode
etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika;
47
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
3. Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan,
kreatif, dinamis dan dialogis;
4. Memelihara komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu
pendidikan; dan
5. Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan
kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Guru merupakan salah satu profesi dari tenaga kependidikan. Guru bertugas
untuk mengajar dimana mengajar merupakan pelaksanaan proses pembelajaran dan
menjadi proses yang paling penting dalam penyelenggaraan pendidikan.
Pengabdian guru dalam dunia pendidikan yang sangat besar tersebut sangat
memberikan kontribusi yang tinggi dalam rangka mencapai tujuan untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai yang tertera pada pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945.
Guru sebagai sebuah profesi tenaga kependidikan memiliki hak dan kewajiban
yang menyangkut dunia pendidikan yang digeluti. Hak guru merupakan apa-apa
saja yang didapatkan oleh seseorang yang memiliki profesi guru, dan kewajiban
guru adalah apa-apa saja yang harus dilaksanakan seorang guru dalam menjalankan
profesinya. Hak dan kewajiban guru ini dituangkan dalam Undang-Undang Nomor
14 tahun 2005 tentang guru dan dosen sehingga setiap guru mandapatkan
perlindungan terhadap hak yang dimiliki dan kewajiban yang harus dilaksanakan.
III. PENTUTUP
A. KESIMPULAN
Guru adalah jabatan dan profesi yang membutuhkan keahlian khusus.
Terdapat berbagai macam syarat, tugas, fungsi, kompetensi, serta kode etik
48
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
yang harus di tempuh dan dikuasai untuk menjadi seorang guru.Pendidikan
menurut UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara
Guru merupakan profesi seperti profesi lain yaitu: dokter, akuntan,
pengacara, sehingga proses pembuktian profesionalitasnya perlu dilakukan.
Seseorang yang akan menjadi akuntan harus mengikuti pendidikan profesi
akuntan terlebih dahulu. Begitu pula untuk profesi lainnya termasuk profesi
Guru. Dasar hukum dalam pelaksanaan sertifikasi Guru adalah Undang-
Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD). Selain
UUGD, landasan hukum lainnya adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi
Guru Dalam Jabatan yang ditetapkan pada tanggal 4 Mei 2007
Calon guru juga diwajibkan untuk menguasai 4 kompetensi yang harus
dimiliki oleh seorang guru. Kompetensi tersebut ialah kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.
Tugas guru sebenarnya merupakan pengabdian baik yang terkait dengan
dinas maupun di luar. Secara luas ada tiga jenis tugas guru, yakni: (1). Tugas
terkait bidang profesi, (2). Tugas terkait kemanusiaan, dan (3). Tugas terkait
dalam bidang kemasyarakatan.
Tugas utama guru menurut Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD)
Nomor 14 tahun 2015 pasal 1 ayat (1) menyatakan guru adalah pendidik
professional dengan tugas utama guru mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah
49
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
B. TES FORMATIF
Pilihlah jawaban yang benar
1. Contoh penyesuaian peran guru dalam melaksanakan pembelajaran abad
21 adalah….
a. Guru menjadi mitra belajar bagi peserta didik
b. Guru berperan menjadi sumber belajar utama
c. Guru mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi
d. Guru bertindak sebagai pusat pembelajaran
e. Guru berperan sebagai pengawas penggunaan TIK
2. Berikut ini adalah contoh penyesuaian tugas pokok guru dalam
melaksanakan pembelajaran dalam menghadapi pembelajaran abad 21,
yaitu…..
Pilih salah satu:
a. Menganalisis kekuatan dan kelemahan suatu model pembelajaran
b. Menerapkan model pembelajaran yang berorientasi pengembangan
HOTS
c. Menjadi tenaga ahli di bidang TIK untuk kepentingan pembelajaran
d. Menerapkan aplikasi untuk menyusun program semester
e. Menggunakan program aplikasi untuk mengelola nilai peserta didik
3. Guru abad 21 memiliki tugas pokok membimbing peserta didik agar
tidak terjerumus kepada pemanfaatan teknologi yang salah. Tindakan
yang dapat dilakukan guru antara lain…
a. Mengalihkan perhatian anak melalui kegiatan olah raga
b. Guru menghadirkan media pembelajaran yang menarik
c. Penggunaan teknologi informasi hanya untuk guru
d. Mendampingi anak dalam mengeksplorasi sumber digital
e. Melarang penggunaan smartphone di kelas
4. Guru merupakan profesi dengan keahlian khusus. Pernyataan ini mengandung
makna….
50
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
a. Memiliki kode etik profesi yang dapat dipertanggungjawabkan
b. Keahliannya diperoleh melalui proses pendidikan yang lama
c. Hanya segelintir orang yang layak menjadi guru professional
d. Profesi guru harus bersertifikat pendidik dan memperoleh tunjangan
e. Memiliki ikatan organisasi profesi sebagai wadah
5. Bu Weny Hapsari dari SD Taman Hidayah mendampingi peserta didiknya
mengunjungi panti ashuan. Bu Weny melihat salah satu peserta didik
bernama Lina diam termenung setelah mendengar kisah sedih salah seorang
penghuni panti asuhan bernama Andi. Bu Weny mendampingi Lina yang
sedang menghayati sesuatu. Bu Weny sebenarnya sedang mealksanakan tugas
yang disebut…..
a. Mendidik
b. Melatih
c. Mengajar
d. Membimbing
e. Membina
6. Pernyataan berikut paling tempat menggambarkan tugas guru di masa yang
akan datang adalah …..
Pilih salah satu:
a. Guru bertindak sebagai konsultan pembelajaran berbasis teknologi
b. Guru menjadi kolaborator sumber daya dan fasilitator pembelajaran
c. Guru mengandalkan teknologi sebagai pengganti peran guru
d. Peran guru semakin ringan karena banyak terbantu oleh teknmologi
e. Guru lebih berfokus membantu peserta didik menguasai materi
7. Saudara selaku guru memberikan mengajak peserta didik merefleksikan cara
belajarnya. Kegiatan ini termasuk jenis penilaian….
Pilih salah satu:
a. Assesment of learning
b. Assesment to learning
c. Assesment as learning
d. Assesment for learning
51
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
8. Menyusun program semester merupakan tugas pokok guru dalam hal……
Pilih salah satu:
a. Menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan
b. Merencanakan pembelajaran atau pembimbingan
c. Melakukan penilaian pembelajaran
d. Melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan
e. Membimbing dan melatih peserta didik
9. danya rasa tanggung jawab, sikap responsif dan inovatif terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bentuk
pelaksanaan dari fungsi guru sebagai berikut ….
Pilih salah satu:
a. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa
b. Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif,
dinamis dan dialogis;
c. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik
guru, serta nilai-nilai agama dan etika;
d. Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan
sesuai kepercayaan yang diberikan
kepadanya
e. Memelihara komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu
pendidikan
10. Hal-hal berikut merupakan aspek yang potensial dikembangkan dalam
pengkajian kurikulum, kecuali ….
Pilih salah satu:
a. Kedalaman materi, ruang lingkup, keluasan materi dan relevansi materi
b. Kesesuaian materi dan kompetensi menjawab tantangan masa depan
c. Integrasi materi dan kesesuaian materi dengan kompetensi
d. Kesinambungan materi, kemasan materi, dan strategi penyampaian
e. Urutan materi dan ruang lingkup materi
52
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
KUNCI JAWABAN
1. A
2. B
3. D
4. B
5. D
6. B
7. C
8. B
9. E
10. D
53
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
GLOSARIUM
Akomodasi : sarana untuk menyediakan jasa pelayanan penginapan
yang dapat dilengkapi dengan pelayanan makan dan
minum serta jasa lainnya
Asessment as learning : Penilaian saat pembelajaran berlangsung melibatkan
peserta didik seperti menentukan kriteria, aspek yang
di nilai, instrumen penilaian
Assessment for : Penilaian proses pembelajaran belajar saat
learning pembelajaran masih berlangsung
Assessment of learning : Mengukur pencapaian hasil belajar setelah
pembelajaran berlangsung
Charming : penampilan fisik seperti kulit putih bersinar, badan
langsing dan tinggi semampai, senyuman menawan,
dan lain sebagainyaa
co learner : Situasi dimana terdapat dua atau lebih orang belajar
atau berusaha untuk belajar sesuatu secara bersama-
sama
Cyber security : adalah proses perlindungan sistem, data, jaringan, dan
program dari ancaman atau serangan digital.Biasanya,
serangan ini dilakukan oleh pihak tak bertanggung
jawab untuk berbagai macam hal.Beberapa contohnya
adalah mengakses informasi sensitif, atau bahkan
mengubah dan menghancurkan data penting.Motifnya
bisa jadi untuk mengganggu sebuah bisnis, atau bisa
juga untuk memeras uang dalam jumlah yang biasanya
tidak sedikit
Diktaktor : seorang pemimpin negara yang memerintah secara
pemerintah sendiri menindas rakyatnya.
Ekstrakurikuler : Kegiatan non-pelajaran formal yang dimana
dilaksanakan oleh peserta didik baik siswa/i dan santri
54
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
Hoax bahkan oleh mahasiswa sebagai mata pelajaran diluar
hoax analyzer jam belajar kurikulum standar
Inovatif : Menurut KBBI, hoaks adalah sebuah informasi
Inovator bohong. Menurut KBBI para pelaku penyebaran hoaks
mengumpulkan berita yang lalu lala di banyak milis
Instruktur : merupakan proses sosial yang menggabungkan dua
Intake
Integrasi atau lebih kebudayaan yang berbeda (peleburan)
Intrakurikuler menjadi kebudayaan baru.
KKM : usaha seseorang dengan mendayagunakan pemikiran,
kemampuan imajinasi, berbagai stimulan, dan individu
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21 yang mengelilinginya dalam menghasilkan produk
baru, baik bagi dirinya sendiri ataupun lingkungannya
: seorang inovator adalah seseorang yang
memperkenalkan gagasan, ide, metode atau
aspirasinya yang masih terkenal baru dan belum
pernah dimiliki atau disampaikan oleh orang lain
sebelumnya. Orang-orang yang melakukan hal ini
layak dikategorikan sebagai seorang inovator atau
penemu.
orang yg bertugas mengajarkan sesuatu dan sekaligus
memberikan latihan dan bimbingannya; pengajar;
pelatih; pengasuh
: karakteristik peserta didik
: Pembaruan sampai menjadi suatu kesatuan yang utuh
: Segala kegiatan proses belajar mengajar yang
dilakukan disekolah sesuai dengan struktur program
kurikulum yang berlaku untuk menggapai tujuan
minimal tiap pelajaran
: kriteria ketuntasan minimal merupakan kriteria
ketuntasan belajar yang ditentukan oleh satuan
pendidikan dengan mengacu pada standar kompetensi
55
KKO lulusan, mempertimbangkan karakteristik peserta
Kokurikuler didik, karakteristik mata pelajaran, dan kondisi satuan
Kompleksitas pendidikan.
: Kata Kerja Operasional adalah kata kerja yang dapat
Kompotensi Dasar diukur mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan
Kompotensi Inti : Kegiatan yang dilakukan oleh siswa dimaksudkan
Komprehensif untuk lebih memperdalam, memahami dan menghayati
Konselor materi pelajaran yang telah dipelajari dalam kegiatan
intrakurikuler didalam kelas
Life skills : tingkat kesulitan dari setiap mata pelajaran bisa
ditentukan oleh guru mata pelajaran melalui forum
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat
sekolah, memperhatikan hasil analisis jumlah KD,
kedalaman KD, keluasan KD, dan perlu tidaknya
pengetahuan prasyarat.
: kemampuan spesifik yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang terkait muatan
atau mata pelajaran
: menggambarkan mengenai kompetensi dalam aspek
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang yang harus
dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah,
kelas dan mata pelajaran.
: Suatu hal yang bersifat menyeluruh
adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam
melakukan . Berlatar belakang pendidikan minimal
sarjana strata 1 (S1) dari jurusan Psikologi
Pendidikan, Bimbingan Dan Konseling (BK), Salah
satu organisasi profesi konseling bernama Asosiasi
Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN).
: keterampilan atau kecakapan hidup
56
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
Literasi : istilah umum yang merujuk kepada seperangkat
Menyemai kemampuan dan keterampilan individu dalam
Model ASSURE membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan
Nasionalisme memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu
yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pamong belajar Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari
kemampuan berbahasa
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
: Arti kata menyamai dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) adalah me.nya.mai [v] (1)
menyerupai; sama dng: wajah gadis itu — wajah
ibunya; (2)membandingi; menandingi: aku akan
giat belajar agar kelak dapat — kepandaian
mereka; kekayaannya tidak ada yg -nya
: analisis karakteristik peserta didik (Analyze learner),
menyatakan tujuan (State objective), memilih metode
dan media (Select methods and media), Penggunaan
media (Utilize media), melibatkan peserta didik
berinteraksi dengan media (Require learner
participation), melakukan evaluasi (Evaluation).
: : paham kebangsaan yang tumbuh karena adanya
persamaan nasib dan sejarah serta kepentingan untuk
hidup bersama sebagai suatu bangsa yang merdeka,
bersatu, berdaulat, demokratis dan maju dalam satu
kesatuan bangsa dan negara serta cita-cita bersama
guna mencapai, memelihara dan mengabdi identitas,
persatuan, kemakmuran dan kekuatan atau kekuasaan
negara bangsa yang bersangkutan
adalah pendidik dengan tugas utama melakukan
kegiatan belajar mengajar, pengkajian program, dan
pengembangan model Pendidikan Nonformal dan
57
Pembelajaran lnformal (PNFI) pada Unit Pelaksana Teknis
neuroscience (UPT)/Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan
Prosem satuan PNFI.
Prota : pembelajaran yang memberdayakan kemampuan otak
dengan cara menciptakan lingkungan belajar yang
Relevansi menantang, menyenangkan, bermakna, dan
Responsive mendorong siswa menjadi aktif.
: program semester merupakan Program yang memuat
RPP garis-garis besar yang akan dilaksanakan dan dicapai
Silabus dalam satu semester.
: program Tahuna adalah program yang memuat garis-
Supervisor garis besar yang hendak dicapai dalam jangka waktu 1
tahun yang selanjutnya menjadi acuan untuk
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21 mengembangkan program semester, program
mingguan, program harian, penyusunan silabus, dan
penyusunan RPP.
: mempunyai kaitan dan berhubungan erat dengan
pokok masalah yang sedang dihadapi
: konsep ilmu komputer yang mengacu pada
kemampuan tertentu dari sitem atau unit fungsional
untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dalam
waktu tertentu.
: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran merupakan
rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu
pertemuan atau lebih
: penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar
ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi
untuk penilaian.
: Penyelia atau supervisor adalah sebuah posisi dalam
perusahaan yang memiliki wewenang untuk
58
Tutor memberikan arahan kepada karyawan atau tenaga
Yuridis kerja, serta mengendalikan jalannya suatu aktivitas
kerja untuk memastikan capaian perusahaan dapat
diraih sesuai dengan target yang ditetapkan
: Arti kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) adalah tu.tor [n] (1) orang yg memberi
pelajaran (membimbing) kpd seseorang atau
sejumlah kecil siswa (di rumah, bukan di sekolah);
(2) dosen yg membimbing sejumlah mahasiswa dl
pelajarannya
: Unsur Yuridis merupakan nama lain dari hukum itu
sendiri dan yuridis lebih banyak dipergunakan untuk
menegaskan aspek kekuatan hukum atau landasan dari
suatu hal yang telah diatur secara mengikat oleh
hukum.
59
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
DAFTAR PUSTAKA
Agung triyono 2020. Tupoksi Guru; Tugas Pokok dan Fungsi Pendidik Abad 21
https://www.haidunia.com/tugas-pokok-dan-fungsi-guru-abad-21-tupoksi/
(diakses 8 maret 2022)
Brady, Laurie (1990). Curriculum development (3rd edition). London: Prentice
Hall
Clark, A.2010. "Coupling, Constitution, and the Cognitive Kinds; A reply to Adams
and Aizawa." In the extended Mind, edited by R. Menary, 81-100. MIT
Press/Bradford
http://voice-teacher.blogspot.co.id/2015/06/tugas-utama-guru-dalam-
pembelajaran.html (diakses 08 Maret 2022)
http://web-suplemen.ut.ac.id/mkdk4005/isi_1_2.htm (diakses 08 Maret 2022)
https://enygita44.blogspot.com/2016/12/tugas-dan-fungsi-guru-menurut-
undang.html (diakses 08 Maret 2022)
https://ilmu-pendidikan.net/profesi-kependidikan/guru/hak-dan-kewajiban-
profesi-seorang-guru (diakses 08 Maret 2022)
https://portalmadura.com/4-kompetensi-guru-yang-wajib-guru-dan-calon-guru-
miliki-258364/ (diakses 08 Maret 2022)
https://repository.bbg.ac.id/bitstream/1101/1/FY_Modul_2_print.pdf (diakses 08
Maret 2022)
https://www.mmalikibrohim.com/2016/03/tugas-dan-fungsi-guru-menurut-
peraturan.html (diakses 08 Maret 2022)
Kunandar (2011). langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembang
Profesi Guru
Mager, R. F. (1984). Preparing instructional objectives (2nd edition). Lake
Publishing Company: Belmont, California
Miller, John W & . McKenna, Michael C (2016). World Literacy. How Countries
Rank and Why It Matters. New York : Routledge.
60
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
doi.org/10.4324/9781315693934 Morrison, G. R., Ross, S. M., Kalman, H.
K., & Kemp, J. E. (2013). Designing Effective Instruction (7th ed.). Hoboken,
NJ: John Wiley & Sons, Inc.
Permendikbud nomor 15 tahun 2018 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru, Kepala
Sekolah, dan Pengawas Sekolah
Permendikbud Nomor 37 tahun 2018 tentang perubahan atas peraturan menteri
Pendidikan dan kebudayaan Nomor 24 tahun 2016 tentang kompetensi inti
dan kompetensi dasar pelajaran pada kurikulum 2013 pada pendidikan dasar
dan Pendidikan menengah
Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007
sereliciouz .2020. Prota Promes: Pengertian, Fungsi, Langkah Penyusunan
https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/prota-promes/ (diakses 8 maret
2022)
Tyler, R.W. (1949) Basic principles of curriculum and instruction. Chicago: The
University of Chicago Press.
Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005.
Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005.
61
Tugas Pokok dan Fungsi Guru Abad 21
i
ii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan materi
ajar modul Pedagogi 2 Peran Guru dalam Pembelajaran abad 21 pada Kegiatan
Belajar 4 dengan judul “Strategi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan”.
Materi ajar ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Pendidikan
Profesi Guru (PPG) Prajabatan Angkatan 2 pada Universitas Negeri Makassar.
Materi ajar ini dikembangkan menjadi 6 pokok materi diantarnya:
• Konsep dan Paradigma Pengembangan Profesi Berkelanjutan
• Guru sebagai Profesional yang Refleksif
• Konsep Belajar Mandiri dalam Pengembangan Profesi Berkelanjutan
• Komponen dan Keterampilan Belajar Mandiri
• Strategi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
• Implementasi Pengembangan Profesi Berkelanjutan
Selama penyusunan materi ajar ini, penulis banyak menerima bantuan dan
dukungan sehingga dapat menyusun materi ajar ini. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada pihak yang telah membantu
terselesaikannya materi ajar ini.
Penulis menyadari bahwa dalam tersusunnya materi ajar ini masih jauh dari
sempurna karena adanya keterbatasan ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Oleh
karena itu, semua kritik dan saran yang bersifat membangun akan penulis terima
dengan senang hati. Penulis berharap, semoga penyusunan materi ajar ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan.
Soppeng, Maret 2022
iii
Kelompok 4
DAFTAR ISI
Halaman Sampul ........................................................................................... i
Kata Pengantar ................................................................................................ ii
Daftar Isi ........................................................................................................ iii
Pendahuluan .................................................................................................. 1
1. Deskripsi Singkat ................................................................................ 1
2. Capaian Pembelajaran ......................................................................... 2
Inti ................................................................................................................... 3
1. Konsep dan Paradigma Pengembangan Profesi Berkelanjutan .......... 3
2. Guru sebagai Profesional yang Refleksif ............................................ 9
3. Konsep belajar mandiri dalam pengembangan profesi berkelanjutan 19
4. Komponen dan keterampilan belajar mandiri ..................................... 26
5. Strategi pengembangan keprofesian berkelanjutan ............................. 37
6. Implementasi pengembangan profesi berkelanjutan ........................... 48
7. Latihan .................................................................................................... 54
Penutup ............................................................................................................. 55
1. Rangkuman ............................................................................................ 55
2. Tes Formatif ........................................................................................... 55
Glosarium ........................................................................................................... 56
Daftar Pustaka
1
MODUL SUPLEMEN
Jenis-jenis Aplikasi Pembelajaran Berbasis TIK
A. Pendahuluan
1. Deskripsi singkat
Esensi dan eksistensi makna strategis profesi guru telah diakui
dalam Undang-undang (UU) No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Hal yang mulia guru mengemban tugas sejati bagi proses kemanusiaan,
pemanusiaan, pencerdasan, pembudayaan, dan pembangunan karakter
bangsa di tengah berkembangnya tuntutan kompetensi abad 21. Guru
adalah profesi dengan keahlian khusus yang memerlukan proses
pendidikan lama sebelum menjadi guru sekaligus seorang profesional yang
terus mau belajar sepanjang hayat (life long education). Artinya meskipun
sudah memangku jabatan, guru wajib mengembangkan diri secara
berkelanjutan. Apa relevansinya? Tantangan dunia pendidikan sangat
dinamis, sehingga dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab guru
harus terus melakukan pemutakhiran kompetensinya dan keluar dari zona
tidak nyaman. Bukankah Saudara merasa tidak nyaman apabila kompetensi
Saudara tidak dapat memenuhi kebutuhan peserta didik abad 21? Kita para
guru tentu tidak ingin dianggap “pendongeng pengetahuan” yang tidak
menarik atau terpaksa didengarkan oleh peserta didik. Guru merupakan
2
profesional yang amelaksanakan tugas mengajar sekaligus profesional
yang terus belajar.
Saudara sebaiknya merenungkan dan merefleksikan apa yang
sedang dibaca dengan konteks keseharian dalam menjalankan tugas
sebagai guru. Misalnya apakah berefleksi setelah selesai mengajar
merupakan kegiatan rutin yang sudah saya lakukan? Apakah saya bisa
menemukan kelemahan saya? Apakah saya sudah merencanakan kegiatan
untuk mengatasi kelemahan tersebut?
2. Capaian Pembelajaran
Materi yang perlu untuk dipahami dengan baik tentang “Ragam
Karakteristik Peserta Didik” oleh bapak/ibu dalam implementasinya pada
lingkungan sekolah :
a. Konsep dan Paradigma Pengembangan Profesi Berkelanjutan
b. Guru sebagai Profesional yang Refleksif
c. Konsep belajar mandiri dalam pengembangan profesi berkelanjutan
d. Komponen dan keterampilan belajar mandiri
e. Strategi pengembangan keprofesian berkelanjutan
f. Implementasi pengembangan profesi berkelanjutan
Capaian pembelajaran pada Modul Suplemen ini adalah “Mampu
menguasai hakikat dari waktu, pemaknaan sejarah dala kehidupan sehari-
hari dan metode yang digunakan dalam sejarah” dan secara terperinci
terdapat pada subcapaian pembelajaran berikut ini :
a. Mampu memahami Konsep dan Paradigma Pengembangan Profesi
Berkelanjutan.
b. Mampu memahami guru sebagai profesional yang reflektif.
c. Mampu menguraikan komponen dan keterampilan belajar mandiri.
d. Mampu menguraikan strategi pengembangan keprofesian
berkelanjutan.
e. Mampu mengimplementasikan pengembangan profesi berkelanjutan.
3
B. Inti
Berlandaskan pada subcapaian pembelajaran yang telah dijabarkan
sebelumnya, maka secara berurut bagian ini akan membahas dan menguraikan
materi tentang (a) Konsep dan Paradigma Pengembangan Profesi
Berkelanjutan, (b) Guru sebagai Profesional yang Refleksif, (c) Konsep belajar
mandiri dalam pengembangan profesi berkelanjutan, (d) Komponen dan
keterampilan belajar mandiri, (e) Strategi pengembangan keprofesian
berkelanjutan, dan (f) Implementasi pengembangan profesi berkelanjutan.
a. Konsep dan Paradigma Pengembangan Profesi Berkelanjutan
Guru merupakan profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai seorang
pendidik (Daryanto & Tasrial, 2015), karena tugas guru seperti mengelola proses
belajar mengajar sehingga siswa mampu meningkatkan hasil belajarnya, baik
akademik maupun non akademik, tidak bisa dikatakan mudah. Dengan peran
tersebut, guru mememiliki peran sentral dalam usaha peningkatan mutu pendidikan
secara keseluruhan (Rusdarti dkk, 2018).
Tugas guru diuraikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa guru adalah pendidik profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dengan tugas dan
peran sentral tersebut, tidak heran jika isu “pengembangan profesionalitas guru”
menjadi kesepakatan luas di antara para pembuat kebijakan, akademisi dan
pendidik pada bangsa-bangsa di seluruh dunia yang sedang mereformasi sistem
pendidikannya (Bautista & Ruiz, 2015).
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen, seorang guru professional setidaknya memiliki kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional. (Rahyasih et al., 2020)
4
Arifin (2000) mengemukakan guru Indonesia yang profesional
dipersyaratkan mempunyai:
1. Dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat
teknologi dan masyarakat ilmu pengetahuan di abad 21
2. Penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan yaitu
ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-
konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan
bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis
pendidikan masyarakat Indonesia
3. Pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan (Setyorini, 2007)
Profesi guru merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan
berkesinambungan antara LPTK dengan praktek pendidikan. Kekerdilan profesi
guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya program pre-service dan in-
service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen pendidikan yang
lemah.
Profesi guru menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen harus memiliki prinsip-prinsip profesional seperti tercantum pada pasal
5 ayat 1, yaitu: “Profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang
memerlukan prinsip-prinsip profesional sebagai berikut:
1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme
2. Memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan sesuai dengan
bidang tugasnya
3. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya
4. Mematuhi kode etik profesi
5. Memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas
6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerjanya
7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara
berkelanjutan
5
8. Memperoleh perlindungan hukum dalam rnelaksanakan tugas profesionalnya
9. Memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum
Kemajuan teknologi informasi seperti yang terjadi saat ini tidak bisa
menggantikan peran seorang guru, karena itu alih-alih terjadi disrupsi pendidikan,
guru harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan
empat kompetensi yang telah disebutkan sebelumnya melalui pengembangan
profesionalitas guru, lebih khusus lagi memanfaatkan kemajuan teknologi
informasi yang super cepat tersebut untuk meningkatkan kualitas proses belajar
mengajar pada setiap satuan pendidikan dalam rangka mempersiapkan sumber daya
manusia (SDM) yang unggul dengan kompetensi global (Syahrul, 2018). Hal ini
sebagaimana menurut Coetzer (2001) bahwa pengembangan keprofesian
berkelanjutan (PKB) guru mengacu pada setiap kegiatan yang bertujuan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru melalui orientasi, pelatihan dan
dukungan.
Ada beberapa bentuk kegiatan pengembangan profesionalitas guru,
sebagaimana dalam buku pedoman kegiatan pengembangan keprofesian
berkelanjutan (PKB) bagi guru pembelajar dijelaskan bahwa pengembangan
keprofesian berkelanjutan tersebut dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri,
publikasi ilmiah dan/ atau karya inovatif (Kemendikbud RI, 2016).
No. Unsur Pengembangan Cakupan
Keprofesian
Berkelanjutan • Mengikuti diklat fungsional
• Melaksanakan kegiatan kolektif
1. Pengembangan Diri
guru
2. Publikasi Ilmiah • Membuat publikasi ilmiah dari hasil
3. Karya Inovatif penelitian
• Membuat publikasi buku
• Menemukan teknologi tepat guna
6
• Menemukan/menciptakan karya
seni
• Membuat/memodifikasi alat
pembelajaran
• Mengikuti pengembangan,
penyusunan standar, pedoman, soal
dan sejenisnya
Tabel 1. Pengembangan Profesionalitas Guru
Salah satu kemampuan dan tantangan pada guru abad 21 yang penting
adalah kemampuan beradaptasi (adaptability), memahami disiplin ilmu dari
berbagai konteks, dan peka terhadap perkembangan kebutuhan peserta didik dan
masyarakat. Guru harus memiliki daya inovasi dan kreatifitas yang tinggi dalam
memformulasikan, mengkonstruk, menyusun, memodifikasi dan menyajikan
informasi agar mudah dipahami sebagai suatu pengetahuan.
Guru perlu meletakkan “life long education” sebagai paradigma dalam
beraktifitas menjalankan profesinya. Guru adalah seorang professional dan agen
pembaharuan seharusnya tidak menunggu tawaran pihak luar dalam upaya
melakukan pengembangan diri. Pengembangan profesi berkelanjutan bermakna
adanya aktifitas belajar seorang profesional dalam mengembangkan pengetahuan
dan kemampuan dirinya secara aktif dan penuh kesadaran dan bersifat terus
menerus.
Guru abad 21 harus menggeser paradigma “pengembangan” kedalam
konsep “belajar” dan dari pandangan “atomistik” digeser kedalam pandangan
“holistik”. Pengembangan profesionalisme guru akan sangat baik manakala tidak
terpisah dari faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu tugas pokok.
Perlu untuk dipahami seorang profesional konsep belajarnya adalah; (1)
belajar dari pengalaman dan terjadi secara siklikal yang oleh Rogoff (1995) disebut
microgenetic development moment by moment (experiential learning cycle), (2)
belajar dari tindakan reflektif; disebut sebagai pusatnya praktek keprofesionalan
7
karena melalui aktifitas reflektif transformasi pengalaman menjadi aktifitas belajar,
(3) belajar dimediasi oleh konteks; belajar selalu terjadi dalam konteks bukan
sekedar fisik namun juga interaksi sosial dan konteks ini yang menurut (Studies &
Education, 1998) dianggap satu yang paling berpengaruh penting atas refleksi dan
belajar.
Implementasi Pengembangan Profesi Berkelanjutan
Pengembangan keprofesian keberlanjutan (PKB) merupakan kewajiban
guru untuk meningkatkan kinerja dan kompetensinya yang dilaksanakan secara
mandiri atau kegiatan kolektif guru dengan kegiatan, yaitu: pengembangan diri,
kegiatan publikasi ilmiah, dan karya inovatif (Permendiknas nomor 35 Tahun
2010). Peningkatan profesional guru harus dikembangkan untuk menghadapi
tantangan tugas yang berat dalam pembelajarann peserta didik (Irwansyah, 2021).
Pengembangan profesional tersebut dengan berbagai kegiatan pendidikan,
pelatihan, penelitian tindakan kelas dan berbagai kegiatan atau tindakan yang
mendukung kinerja guru (Suyanto, 2013). Kegiatan pengembangan diri yang
dilaksanakan guru untuk meningkatkan kompetensi dan keprofesiannya melalui
pendidikan dan pelatihan (diklat) dan kegiatan fungsional guru baik secara mandiri
atau melalui kegiatan kolektif dalam kurun waktu 1 (satu) tahun. Kegiatan tersebut
berupa kursus, pelatihan, penataran, maupun berbagai bentuk diklat yang lain.
Kegiatan kolektif guru dapat dilakukan melalui musyawarah guru serumpun mata
pelajaran di sekolah atau bekerja sama dengan sekolah lain (MGMP, KKG) macam
kegiatan berupa lokakarya, seminar, koloqium, diskusi panel atau bentuk
pertemuan ilmiah lainnya. (Apiyani et al., 2022)
Gambar 2. Kegiatan MGMP Gambar 3. Kegiatan KKG
Sumber: https://s.id/ZsAH Sumber: https://s.id/-ZsD4
8
Presentasi pada forum ilmiah dalam hal ini guru bertindak sebagai
pemrasaran dan/atau nara sumber pada seminar, lokakarya, koloqium atau diskusi
ilmiah, baik yang diselenggarakan pada tingkat sekolah, MGMP, kabupaten/kota,
provinsi, nasional, maupun internasional. Publikasi ilmiah berupa hasil penelitian
atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal, publikasi ilmiah dapat berupa karya
tulis hasil penelitian, makalah tinjauan ilmiah di bidang pendidikan formal dan
pembelajaran, tulisan ilmiah populer dan artikel ilmiah dalam bidang pendidikan.
Karya ilmiah ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah tertentu atau minimal telah
diterbitkan dan diseminarkan di sekolah masing-masing yang disahkan oleh kepala
sekolah dan disimpan di perpustakaan sekolah. Publikasi buku teks pelajaran, buku
pengayaan atau pedoman guru, baik sebagai buku utama maupun buku pelengkap,
modul/diktat pembelajaran per semester, buku dalam bidang pendidikan, karya
terjemahan, dan buku pedoman guru. Keaslian buku ditunjukkan dengan
pernyataan keaslian dari kepala sekolah atau dinas pendidikan setempat bagi guru
yang mendapatkan tugas tambahan sebagai kepala sekolah.
Kelancaran atau keberhasilan awal implementasi kegiatan pengembangan
keprofesian berkelanjutan guru-guru dapat dilihat hasil refleksi kegiatan
pengembangan keprofesian yang sedang dilaksanakan dari awal tahun pelajaran
sampai akhir tahun pelajaran, yaitu: kesesuaian kegiatan peningkatan kompetensi
sesauai pengembangan keprofesian berkelanjutan berdasarkan portofolio atau
dokumen hasil refleksi yang dimiliki guru-guru, usaha-usaha guru yang telah
dilaksanakan dalam pengembangan diri yang dilakukan selama 1 (satu) tahun,
dampak kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan terhadap kompetensi
guru, sekolah dan siswa.
Kepala sekolah sebagai manajer di sekolah yaitu berperan sebagi motivator,
supervisor, dan evaluator kegiatan menyusun program dan melaksanakan PKB
guru-guru, kepala sekolah sebagai motivator yaitu berperan mendorong guru-guru
melaksanakan kegiatan PKB untuk mencapai kompetensi pedagogik, sosial,
kepribadaian dan keprofesian (Kemendiknas, 2010: 40). Kepala sekolah sebagai
supervisor di sekolah berperan membantu dan membina guru untuk lebih
9
profesional dalam berbagai kegiatan sehingga kualitas pembelajaran lebih baik
(Doni, 2014).
Berdasarkan pada pendapat tersebut bahwa kepala sekolah sebagai
supervisor, motivator dan evaluator dalam kegiatan pengembangan keprofesian
berkelanjutan (PKB) berperan untuk mengawasi kegiatan pengembangan
keprofesian berkelanjutan yang dilaksanakan guru-guru (Na’im, 2021), Kepala
sekolah berperan sebagai evaluator yaitu berperan menilai kinerja guru dan meneliti
evaluasi diri guru sebagai dasar merekomendasi program dan pelaksanaan
pengembangan keprofesian berkelanjutan guru sehingga dapat berjalan lancar
sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu meningkatkan profesional guru.
b. Guru sebagai Profesional yang Refleksif
Tidak jarang kita menjumpai disekitar kita guru dengan pengalaman
mengajar lebih dari 25 tahun. Tidak diragukan lagi pengalaman yang diperolehnya
sangat banyak. Apalagi jika mereka selalu mengupdate pengetahuan dengan
berbagai cara seperti membaca buku-buku terbaru tentang pengajaran dan
pendidikan, mengikuti seminar/koferensi baik tingkat nasional maupun
intrnasional, mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi (misal, S2 dan S3),
bahkan seritifkat pendidikpun sudah diperolehnya sebagai salah satu indikator
keprofesionalannya. Jika mengacu pada apa yang sudah disampaikan sebelumnya
bahwa received knowledge dan experential knowledge sudah dimiliki, mungkin
saja kita akan mencapai kondisi tersebut, atau sebagaian dari kita sudah melampaui
pengalaman mengajar selama itu. Atau mungkin di antara kita baru saja menapak
peran sebagai tenaga pendidik atau guru.
Berapapun lama kita mengajar pernahkah kita secara jujur mengajukan
berbagai pertanyaan kepada diri kita sendiri, seperti: Apakah siswa saya memahami
apa yang saya jelaskan? Apakah siswa saya senang dengan cara saya mengajar?
Apakah yang saya lakukan sesuai dengan rencana yang sudah saya buat? Apakah
materi yang saya perkenalkan sudah sesuai dengan tujuan mereka belajar atau
sesuai dengan kebutuhan mereka? Apakah sikap dan perilaku saya sudah dapat
10
menjadi contoh yang baik baik siswa saya? Apakah siswa saya senang ketika saya
mengajar? Masih perlukah saya meningkatkan dan memperbaharui pengetahun
saya tentang materi yang diajarkan? Apa saja yang sudah saya lakukan dan yang
akan saya lakukan untuk meningkatkan keprofesionalan saya setelah sertifikat
pendidik saya peroleh?
Mungkin masih banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran kita
tentang apa saja yang sudah kita lakukan dalam mengajar, dan apa yang sudah
diperoleh oleh siswa kita. Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga sering muncul
ketika kita menghadapi berbagai masalah dalam mengajar. Dalam menjawab
pertanyaan tersebut kita perlu secara objektif dan jujur merefleksikan kembali apa
yang sudah kita kerjakan. Apakah ilmu yang kita miliki telah membantu siswa kita
mencapai apa yang mereka harapkan dan butuhkan dalam belajar.
Menjadi guru yang reflektif, menurut Harmer (2007: 410) adalah terus
berkaca pada apa yang sudah dilakukan. Terus berfikir apa yang kita lakukan dan
mengapa. Hal serupa juga dinyatakan oleh Richards & Lockhart (1996) bahwa cara
atau pendekatan yang dilakukan oleh guru dimana ia mengeksplorasi apa yang
dilakukan dan mengapa melakukannya merupakan bagian dari pendekatan reflektif
dalam pengajaran. Sementara itu, Wallace (1991) menyebutkan bahwa proses
reflektif ( Lihat Figur 3) merupakan “proses yang terus berjalan (kontinyu) dalam
merefleksikan ‘received knowledge’ dan ‘experiential knowledge’ dalam konteks
tindakan profesional (practice)”
Danielson (2013) menyebut refleksi diri diperlukan guru untuk melakukan
penyesuaian-penyesuaian, sementara Carbaugh, B., Marzano R., & Toth (2013)
menyatakan refleksi diri berguna untuk merefleksikan kinerja guru. Danielson juga
mengemukakan kerangka evaluasi kinerja guru meliputi 4 domain yaitu ; (1)
Perencanaan dan persiapan, (2) Lingkungan kelas, (3) Pembelajaran, dan (4)
Tanggungjawab pengembangan profesionalisme diri. Carbaugh et. al (2013) juga
mengemukakan 4 domain yang memuat 60 elemen penilaian pada guru dan
sekaligus bisa dimanfaatkan untuk menilai profesionalisme guru. Keempat domain
adalah; (1) strategi pembelajaran di kelas dan pengelolaan perilaku yang memiliki
11
elemen terbanyak, (2) perencanaan dan persiapan, (3) refleksi pembelajaran, dan
(4) Temu kolegial dan profesionalisme.
Meskipun banyak guru merasa tidak banyak memiliki banyak waktu untuk
melakukan refleksi dan menganggapnya membuang-buang waktu, dengan
melakukan refleksi dalam menjalani profesinya guru akan mendapatkan
keuntungan. Beberapa diantaranya adalah: (1) dapat membantu mencapai
pemahaman yang lebih baik tentang berbagai asumsi tentang mengajar dan
pemahaman tentang pelaksanaannya, (2) dapat memperkaya pemahaman konsep
tentang megajar dan proses belajar mengajar, (3) menjadi dasar untuk self-
evaluation yang merupakan komponen penting dalam pengembangan
profesionalitas (Richards & Lockhart, 1996: 2). McKay (2002: 5) menambahkan
beberapa keuntungan lainnya, yaitu (1) memberikan kesempatan kepada guru untuk
lebih kreatif karena tidak tergantung kepada rutinitas mengajar yang hanya
mengandalkan pengalaman mengajar sebelumnya dan tidak menyesuaikan dengan
perubahan kondisi kelas, (2) mengajar lebih terarah dan tidak terburu-buru karena
apa yang sudah dilakukan dikaji ulang dan diambil rencana yang lebih baik, dan (3)
dengan selalu melakukan refleksi maka guru akan selalu mempertimbangkan
faktor-faktor terkait dalam proses pembelajaran, seperti karakteristik siswa, minat
mereka, dan kurikulum, sehingga akan menghasilkan kelas yang lebih efektif.
Perlu disadari oleh para guru bahwa kegiatan refleksi tidak hanya dilakukan
oleh guru dengan lama dan pengalaman mengajar yang masih sedikit. Para guru
yang sudah bekerja puluhan tahun juga perlu menyadari pentingnya dan manfaat
dari refleksi sebagai proses pembelajaran yang terus menerus (continuous learning).
Pratiwi, D. (2012) menyatakan bahwa dengan melakukan refleksi, para guru senior
bisa melihat bahwa kegiatan refleksi ini dapat menjadi jembatan antara teori dan
pelaksanaannya. Mereka juga dapat melihat permasalahan, situasi,dan kondisi
pembelajaran dari berbagai perspektif sehingga tidak akan dengan terburu-buru
menyalahkan siswa akan kegagalan proses belajar mengajar, misalnya siswa malas,
kemampuan siswa rendah, dan sebagainya.
12
1. Profil guru reflektif
Sudahkah kita menjadi guru yang reflektif? Marilah kita melihat beberapa
profil guru yang selalu melaksanakan refleksi, dan sebaliknya guru yang belum
melaksanakan refleksi.
Table 1. Perbedaan profil guru yang reflektif dan guru yang tidak reflektif
( Lang & Wong, 2009: 230)
Guru yang tidak reflektif (Zeichner Guru yang reflektif (Zeichner dan
dan Liston, 1996 Liston, 1996)
Otomatis menerima begitu saja Mengamati dengan penuh kehati-
informasi tentang suatu masalah yang hatian, menelaah, menelaah kembali
secara umum diyakini Secara sempit dan berusaha menyelesaikan
memaknai permasalahan yang terjadi permasalahan yang terjadi di dalam
Lupa bahwa ada banyak cara untuk kelas Sadar dan selalu menanyakan
memahami setiap permasalahan asumsi atau nilai-nilai yang dibawa ke
Melaksanakan segala asumsi yang kelas Melihat kepada konteks dan
muncul tanpa mempertanyakan budaya tempat mengajar Terlibat
kembali/menelaah kembali Jarang dalam pengembangan kurikulum dan
melaksanakan apa yang orang lain segala upaya untuk mengubah kondisi
harapkan darinya. sekolah
McKay (2002) McKay (2002)
Terbelenggu dalam rutinitas, begitu Berkomitmen untuk terus melakukan
saja melaksanakan apa yang peningkatan. Melaksanakan tindakan
disebutkan dalam buku teks dan apa yang sesuai dengan pemahaman atau
yang orang lain telah lakukan pengetahuan yang baru
Dengan melihat profil guru diatas kita bisa bertanya kembali atau merefleksi
apa yang sudah kita lakukan, bagaimana kita menghadapi berbagai persoalan
terutama persoalan yang terjadi di dalam kelas dan bagaimana kita mengupayakan
perbaikan kualitas, baik kualitas mengajar kita maupun kualitas siswa. Sehingga
kita perlu melaksanakan refleksi pembelajaran. Marzano menggunakan istilah
“refleksi pembelajaran” sebagai domain tersendiri. Refleksi merupakan bagian dari
13
kerangka evaluasi kinerja guru. Kerngka evaluasi menurut Danielson dan Marzano
disajikan melalui table 2
Tabel 2. Kerangka Evaluasi Kinerja Guru Danielson dan Marzano
Danielson Marzano
DOMAIN 1 Perencanaan dan persiapan Strategi pengelolaan kelas dan
1. Menguasai materi dan car perilaku
mengajarkannya /pedagogi 1. Mengkomunikasikan tujuan
(subjecspecific pedagogy) pembelajaran dan umpan balik
2. Pengetahuan karakteristik peserta 2. Membantu peserta didik
didik berinteraksi dengan
3. Merumuskan tujuan pembelajaran pengetahuan baru
4. Pengetahuan berbagai sumber 3. Membantu peserta didik
belajar menerapkan dan memperdalam
5. Merancang kegiatan pembelajaran pengetahuan baru
6. Merancang sistem penilaian 4. Pelibatan peserta didik
5. Menyusun aturan dan prosedur
6. Mentaati prosedur dan aturan
7. Membangun dan
mempertahankan
8. hubungan yang efektif dengan
peserta didik
DOMAIN 2 Lingkungan kelas Perencanaan dan persiapan
1. Menciptakan lingkungan 1. Perencanaan dan penyiapan
pembelajaran yang saling unit- unit pelajaran
menghargai dan akrab 2. Perencanaan dan penyiapan
2. Mempertahankan budaya belajar menggunakan sumber dan
3. Prosedur mengelola kelas teknologi
4. Mengelola perilaku peserta didik 3. Perencanaan dan penyiapan
5. Mengorganisir sarana fisik kebutuhan khusus peserta
didik,misal bahasa
4. Perencanaan dan penyiapan bagi
peserta didik berkebuituhan
khusus
5. Perencanaan dan penyiapan bagi
peserta didik berkebuituhan
khusus
6. Perencanaan dan penyiapan bagi
peserta didik yang kurang
mendapatkan dukungan
bersekolah
14
DOMAIN 3 Pembelajaran Refleksi pembelajaran
1. Cara berkomunikasi dengan peserta
1. Evaluasi kinerja pribadi
didik
2. Menggunakan teknik tanya jawab 2. Merencanakaan dan
dan diskusi melaksanakan program
3. Pelibatan peserta didik dalam
pengembangan profesionalisme
pembelajaran
4. Menggunakan penilaian selama diri
DOMAIN 4 proses pembelajaran (assessment Temu kolegial dan profesionalisme
for learning) dan mendorong 1. Mengembangkan lingkungan
peserta didik menilai proses
belajarnya sendiri positif
6. Menunjukkan keluwesan dan 2. Mengembangkan saling tukar
respon yang baik kepada peserta
didik ide dan strategi
Tanggungjawab profesionalisme diri 3. Melaksanakan pengembangan
1. Melakukan refelksi pembelajaran
(yang telah dilakukan) wilayah dan sekolah
2. Memiliki catatan akurat mengenai
pembelajaran
3. Komunikasi dengan orangtua
peserta didik
3. Berpartisipasi dalam komunitas
belajar
4. Tumbuh dan berkembang secara
profesional
5. Menunjukkan profesionalisme
dalam bekerja
Refleksi telah menjadi konsep kunci dalam pendidikan guru di banyak
negara (Korthagen & Vasalos, 2005). Sikap reflektif merupakan aktifitas yang
selalu menjadi bagian dari pelaksanaan tugas pokok guru yaitu melaksanakan
penilaian. Refleksi diri serbenarnya bagian dari dari proses belajar (assessment as
learning). Proses ini terjadi secara terus menerus sebagaimana disebutkan di atas
sebagai siklus belajar dari pengalaman dan menjadi pengalaman baru.
2. Strategi dalam refleksi
Dalam setiap pembelajaran yang terjadi di kelas, pastilah banyak peristiwa
yang terjadi. Guru hendaknya dapat menelaah bahwa segala peristiwa yang terjadi
di kelas dapat digunakan untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam
tentang mengajar. Hanya saja kita sering gagal dalam menggunakan peristiwa yang
terjadi tersebut untuk merefleksikan apa yang sudah terjadi. Pratiwi, D. (2012).
Mengemukakan ada banyak cara yang bisa digunakan oleh guru untuk
15
memanfaatkan semua informasi atau data dari peristiwa yang terjadi untuk
mengembangkan kualitas atau menyelesaikan permasalahan, yaitu melalui teaching
journals, lesson reports, surveys and questionnaires, audio and video recordings,
observation, dan action research. Apapun cara yang kita lakukan dalam
mempelajari apa yang sudah terjadi selama pembelajaran berlangsung, secara garis
besar terdapat beberapa langkah utama yang perlu dilakukan, yaitu (a)
mengidentifikasi masalah yang terjadi di kelas, (b) membuat asumsi penyebabnya,
(c) mencari data atau informasi yang menjadi sumber permasalahan, (d) mengkaji
permasalahan dan sumber permasalahan untuk dicari solusinya, dan (e) mencari
solusi untuk permasalahan tersebut. Langkah-langkah tersebut memang tampak
seperti ketika kita melakukan penelitian, hanya saja dalam pelaksanaannya di kelas
setiap hari strategi yang digunakan lebih sederhana, mudah dilakukan, dan tidak
memerlukan biaya yang tinggi, misalnya dengan menulis daily teaching journal dan
daily lesson reports.
York-Barr, dkk (Lang & Wong, 2009: 239- 240) mengajukan empat
langkah sederhana dalam melakukan refleksi terutama bagi para pemula. Masing-
masing langkah dilengkapi dengan pertanyaan bantuan. Berikut keempat langkah
tersebut.
Langkah 1: Apa yang sudah terjadi? (Deskripsi permasalahan)
- Apa yang sudah saya kerjakan?
- Apa yang orang lain sudah kerjakan?
- Apa yang terjadi disekitar kita?
Langkah 2: Mengapa permasalah tersebut dapat terjadi? (Analisis dan
Interpretasi)
- Mengapa saya memilih tindakan tersebut?
Langkah 3: So what? (Pemaknaan dan penerapan secara menyeluruh)
- Apa yang sudah saya pelajari dari peristiwa yang terjadi?
- Bagaimana peristiwa tersebut dapat mengubah cara berfikir, bersikap
dan berinteraksi?
- Apakah memang saya perlu melakukan refleksi?
- Masih adakah pertanyaan-pertanyaan lain yang harus saya pikirkan?
16
Langkah 4: Sekarang apa yang harus saya lakukan? (Implikasi untuk
tindakan)
- Bagaimana saya harus bersikap untuk mengatasi masalah tersebut?
- Jika suatu saat peristiwa tersebut terjadi, apa yang harus saya ingat dan
lakukan?
- Apakah saya perlu melibatkan orang lain untuk merefleksi peristiwa
tersebut?
Selain ITU Saudara dapat menggunakan model refleksi untuk melakukan
aktifitas refleksi seperti model Gibbs (1988) yang sederhana dan jelas Langkah-
langkahnya serta bisa diterapkan dalam konteks guru melaksanakan tugas sehari-
hari yang diilustrasikan melalui gambar 1.
Gambar 1. Model refleksi Gibbs (1988)
a) Membuat deskripsi
Deskripsikan pengalaman secara detail tanpa membuat kesimpulan lebih
dahulu. Contoh; peserta didik tidak fokus mengikuti pembelajaran di kelas. Hal
demikian terjadi hamper setiap hari. Namun, peserta didik sangat antusias
manakala diajak mengakses internet di laboratorium komputer. Saya selaku
guru sudah berusaha memusatkan perhatian dengan memanfaatkan media
powerpoint, demikian pula kepala sekolah sudah menindaklanjuti dengan
memberikan nasehat. Namun, peserta didik tetap merasa pembelajran saya
kurang menarik
b) Cobalah memahami dan merasakan situasi
17
Berdasarkan deskripsi situasi guru perlu berpikir logis dan sadar untuk
memahami situasi. Berdasarkan situasi tersebut cobalah rasakan dan fahami
bagaimana perasaaan Saudara sebelum hal tersebut terjadi? Bagaimana Ketika
terjadi? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh peserta didik? Bagaimana
perasaan peserta didik ketika saya tidak menggunakan powerpoint? Kenapa
powerpoint saya tidak dapat memusatkan perhatian?
c) Mengevaluasi situasi
Cobalah tanyakan kepada diri sendiri apakah proses pembelajaran yang
Saudara lakukan sudah baik atau belum? Manakah komponen pembelajaran
yang berjalan baik dan manakah yang belum berjalan baik? Cobalah lebih
detail menjawab pertanyaan berikut; Manakah yang berjalan baik dan
mendukung pencapaian pembelajaran secara efektif? Mengapa demikian?
Misalnya peserta didik antusias menggunakan perangkat TIK, peserta didik
suka berkolaborasi, peserta didik bersemangat jika berinteraksi langsung
dengan perangkat. Manakah yang tidak berjalan? Jika peserta didik hanya
mendengarkan paparan meskipun melalui powerpoint, mereka tetap masih
banyak duduk dan mendengarkan. Mengapa? Oh…ternyata peserta didik perlu
berinteraksi langsung dan bekerja kelompok. Apa kontribusi yang sudah saya
lakukan dan juga orang lain?
d) Tahap analisis
Tahap analisis sebenarnya Saudara sudah belajar dari situasi, menilai
hal yang positif dan hal yang negatif dari suatu pengalaman. Saudara bisa
menuliskan hal-hal yang seharusnya dilakukan apabila menghadapi situasi.
Contoh; berdasarkan situasi seharusnya saya mengembangkan model-model
pembelajaran yang mengintegrasikan TIK di dalam kelas namun melibatkan
peserta didik untuk aktif berinteraksi dengan media.
e) Kesimpulan
Pada tahap ini guru perlu untuk mengambil jarak dan mencoba menilai
diri sendiri sehingga bisa diambil kesimpulan yang ojektif dan bermanfaat.
Pertanyaan– pertanyaan berikut dapat membantu untuk menarik kesimpulan;
18
1) Aktifitas apa saja yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran?
Contoh jawaban; dengan diterapkan model pembelajaran berbasis TIK
peserta didik lebih aktif namun tetap bisa bekerjasama dalam kelompok
2) Aktifitas apa saja yang berdampak negatif terhadap pencapaian tujuan
pembelajaran? Contoh jawaban; apabila peserta didik tidak berinteraksi
langsung dengan media dan tidak disertai aktifitas nyata
3) Tindakan apa yang perlu Saudara lakukan apabila menghadapi situasi
tersebut? Contoh jawaban; saya perlu menerapkan model pembelajaran
yang mengintegrasikan TIK namun menempatkan peserta didik sebagai
subyek aktif mengkontruksi pengetahuan. Peserta didik harus saya berikan
kesempatan untuk bekerjasama dan memiliki tanggungjawab belajar. Saya
perlu mengurangi dominasi dalam pembelajaran, tetapi berfokus kepada
pencapaian kompetensi dan keterampilan abad 21.
4) Keterampilan apakah yang perlu Saudara kuasai untuk dapat menghadapi
situasi tersebut? Contoh jawaban; Saya nampaknya perlu memperdalam
strategi dalam mengintegrasikan TIK dalam pembelajaran, menguasai
model-model pembelajaran abad 21, dan bagaimana mengembangkan
berbagai kompetensi abad 21.
f) Menyusun rencana aksi
Sebagai tindaklanjut langkah 5 perlu dikembangkan suatu tindakan
(sesuai prioritas), namun untuk melaksanakan Saudara perlu memiliki
motivasi instrinsik atau membangun niat. Niat ini dirumuskan dalam hati
ataupun Saudara tuliskan Contoh; saya berniat untuk menguasai model-
model pembelajaran yang mengintegrasikan TIK, saya perlu mempelajari
konsep dasar TPACK. Pada kondisi muncul suatu niat untuk menguasai
kompetensi tertentu. Konsekwensi dari upaya merealisasikan niat tersebut
Saudara perlu mengalokasikan waktu dan sumber daya dalam kata lain
memerlukan pengorbanan. Rencana aksi perlu diujudkan dalam tindakan
dengan memilih kegiatan yang paling relevan dengan kebutuhan
19
pengembangan kompetensi Saudara. Contoh kegiatan misalnya
melanjutkan sekolah, mengikuti pelatihan, membaca buku, berkonsultasi
kepada ahli, membaca modul, mengikuti diklat, mempelajari tenologi baru,
menghadiri forum diskusi, dan sebagainya.
Ciri lain seorang professional adalah memiliki motivasi belajar
mandiri, sehingga pada pembahasan berikut kita pelajari konsep belajar
mandiri beserta komponen-komponen di dalamnya. Guna memastikan
Saudara dapat menerapkan berpikir reflektif cobalah Saudara menerapkan
keenam langkah refleksi tersebut sesuai konteks dan masalah di kelas
masing-masing. Pada akhirnya apabila sering dilakukan maka Saudara akan
dapat merancang strategi pengembangan profesinalisme diri secara lebih
sistematis karena berhasil mengidentifikasi berbagai kebutuhan belajarnya.
c. Konsep belajar mandiri dalam pengembangan profesi berkelanjutan
Belajar mandiri merupakan kegiatan belajar aktif yang didorong oleh
niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna untuk menyelesaikan
suatu masalah, hal tersebut dibangun dengan bekal pengetahuan atau
kompetensi yang telah dimiliki. Pembelajaran Mandiri adalah proses dimana
siswa dilibatkan dalam mengidentifikasi apa yang perlu untuk dipelajari dan
menjadi pemegang kendali dalam menemukan dan mengorganisir jawaban.
Hal ini berbeda dengan belajar sendiri (Kirkman, 2007:180)
Menurut Haris Mudjiman (2011) belajar mandiri secara konseptual
merupakan kegiatan belajar aktif, yang didorong motivasi untuk menguasai
kompetensi dan dibangun dengan bekal pengetahuan yang dimiliki. Saudara
selaku guru menetapkan kompetensi, tujuan, dan cara untuk mencapainya
sesuai kondisi Anda sendiri.
Jadi Belajar mandiri (self-motivated learning) merupakan proses
mental yang bertujuan untuk menguasai kompetensi tertentu, diikuti oleh
aktifitas-aktifitas perilaku mengidentifikasi dan mencari informasi di mana
pebelajar secara sadar menerima tanggung jawab dalam membuat keputusan
20
atas tujuan, usaha-usaha dan perannya sebagai agen perubahan terhadap
dirinya sendiri. Secara konseptual belajar mandiri merupakan kegiatan belajar
aktif, yang didorong motif menguasai kompetensi yang dibangun dengan bekal
pengetahuan yang dimiliki. Secara teknis penetapan kompetensi, tujuan dan
cara untuk mencapainya ditetapkan oleh pebelajar sendiri sesuai kondisi
dirinya. Pebelajar memiliki otonomi dalam hal mengatur irama, waktu, cara,
kecepatan, gaya, sumber belajar termasuk evaluasi hasil belajarnya. Pebelajar
berhak menolak atau menerima faktor-faktor eksternal, dan tidak bersifat
determinan terhadap keputusan orientasi belajarnya. Karenanya belajar
mandiri merupakan khas belajarnya orang dewasa dengan paradigma
kontruktivistik sebagai dasar berpijaknya.
Dari pengertian di atas belajar mandiri memiliki komponen paradigma,
motivasi, strategi dan tujuan. Ada beberapa istilah sejenis dengan belajar
mandiri (self-motivated learning) tetapi memiliki penekanan yang berbeda
seperti self- directed learning, self-managed learning dan self-regulated
learning. Sesungguhnya satu sama lain memiliki dimensi pembahasan yang
relatif sama meliputi dimensi sosial (isolation learner), dimensi paedagogis
(aktifitas belajar) dan dimensi psikologis (proses mental pebelajar).
1) Dimensi sosial (learner isolation)
Dimensi sosial (learner isolation) berkaitan dengan otonomi belajar
(autonomous learning) yang didefinisikan Chene (1983) sebagai kebebasan
dalam belajar. Artinya bahwa pebelajar diberikan otonomi untuk berinisiatif
dan membuat keputusan atas penentuan tujuan belajar, strategi belajar, memilih
sumber belajar, mengorientasikan diri terhadap jenis aktifitas belajar, kontrol
proses belajar dan evaluasi atas hasil belajarnya sendiri. Kata ”isolation” tidak
berkonotasi bahwa secara fisik pebelajar melakukan kegiatan belajar sendiri,
karena dalam praktek pembelajaran belajar mandiri justru mengedepankan
dimensi sosial dalam penampakan fisik atas aktifitas belajarnya. Persoalannya
dosen atau guru sering kurang memberikan kepercayaan kepada pebelajar
21
bahwa dengan otonomi belajar yang dimiliki akan bisa meningkatkan
kemandirian belajarnya.
2) dimensi paedagogis (aktifitas belajar)
Dimensi paedagogis merupakan penampakan fisik dari pebelajar ditandai
oleh perilaku dan aktifitas dalam mengidentifikasi dan mencari sumber belajar
relevan untuk mendukung tujuan belajarnya. Sayangnya, dalam praktek
pembelajaran di Indonesia pengembangan belajar mandiri dari dimensi
paedagogis aktifitasnya lebih banyak dikendalikan oleh sistem yang
mengharuskan pebelajar untuk aktif belajar. Meskipun banyak yang
menggunakan pendekatan student centered dengan paradigma pembelajaran
kontruktivistik tetapi dalam prakteknya tujuan mencapai kompetensi tetap
menjadi sistem kendali. Strategi, pendekatan, metode dan model pembelajaran
yang dipergunakan masih difungsikan sebagai alat kontrol bukan sebagai
sarana dalam mencapai kompetensi. Pusat perhatian masih kurang diarahkan
kepada apa yang disebut motivasi belajar lanjut (continued learning) yang
dilandasi oleh motif intrinsik secara sadar dalam mencapai tujuan secara
otonom. Hal ini memang sulit dalam sistem pendidikan yang menggunakan
berbagai jenjang pendidikan. Namun, dalam setiap jenjang pendidikan untuk
mencapai kompetensi finalnya tetap ada berbagai tujuan antara yang harus
dicapai. Dalam setiap ujungnya pebelajar secara ideal mencapai kompetensi
sekaligus memiliki motivasi belajar lanjut. Usaha-usaha untuk memotivasi
belajar hasilnya jarang sekali menggembirakan karena lebih banyak bersumber
faktor ekstrinsik dan bersifat menekan. Penggunaan sistem rewards and
punishment masih mendominasi pada banyak praktek pembelajaran di sekolah
termasuk di perguruan tinggi daripada mengembangkan akuntabilitas belajar
pada pebelajar. Sekalipun lebih maju dengan memberikan stimulus atas dasar
respon tetapi manajemen kontigensi sistem ini tetap berada pada kendali dosen
atau guru. Bukan berarti bahwa sistem ini tidak perlu namun, memberikan
gambaran bahwa upaya-upaya pengembangan belajar mandiri nampaknya
belum menjadi center of excellent dalam praktek pembelajaran.
22
3) dimensi psikologis (proses mental pebelajar).
Dalam dimensi psikologis proses mental yang berkaitan dengan
keputusan- keputusan dan inisiatif pebelajar dalam ruang otonominya terhadap
aktifitas belajar tidak pernah diidentifikasi, dianalisis dan difasilitasi lanjut.
Deci dan Ryan (1985) mengatakan bahwa dosen atau guru yang lebih
berorientasi otonom lebih bisa mendorong pebelajar untuk mengembangkan
motivasi instrinsik dan pengaturan belajar atas dirinya dan menimbulkan
persepsi terhadap rasa mampu dan kemauan diri untuk belajar.
Pengembangan belajar mandiri yang menyentuh ketiga dimensi dalam
praktek pembelajaran tidak boleh berjalan setengah hati. Manifestasinya
pemberian tugas-tugas belajar tidak sekedar berorientasi harapan agar
pebelajar menjadi aktif, namun lebih dari itu pebelajar menjadi otonom dan
meningkat kapabiltias belajarnya. Pada posisi ini dosen atau guru harus
mereposisi diri dari menjadi kendali atas nama sistem, kurikulum dan silabus
serta rencana lain yang telah ditetapkan menjadi fasilitator dalam dimensi
paedagogis, sosial dan psikologis. Dosen ataupun guru bukan penulis lagu
tetapi pengatur orkestra pembelajaran yang membangkitkan motivasi dan daya
improvisasi.
Ukuran-ukuran keberhasilan yang merujuk kepada kompetensi dan
tujuan yang telah dinyatakan adalah tidaklah salah, tetapi ruang-ruang otonomi
belajar yang diberikan kepada pebelajar tidak seharusnya dilihat dari kacamata
kuda. Dosen atau guru harus banyak mengidentifikasi pengalaman dan
pengetahuan pebelajar dalam kawasan otonomi belajarnya menjadi sumber
informasi dalam mengembangkan motivasi instrinsik untuk belajar lanjut.
Rancangan pembelajaran harus ditetapkan atas dasar kontruktivistik berbasis
”real world”, menangani proyek, berperan sebagai ahli sebagai pemecah
masalah. Strategi- strategi pembelajaran yang efektif harus memberikan ruang
bagi pebelajar untuk menelaah persoalan dari berbagai sudut pandang. Guru
dan dosen harus memiliki asumsi epistimologis bahwa pengetahuan itu
dikonstruksi oleh pebelajar sendiri. Hal terpenting bagaimana membantu
23
pebelajar mengenali aktifitas dan proses berpikirnya, dan berdasarkan
pengalaman berpikirnya pebelajar dibantu untuk menemukan strategi berpikir
yang paling ”efektif” dan ”produktif”. Kata efektif mengindikasikan betapa
pentingnya mengupayakan pebelajar untuk memiliki strategi belajar dan
menjadi pebelajar mandiri yang efektif.
Pengembangan kemampuan atau ketrampilan yang diperlukan baik
teknis maupun kognitif dalam belajar mutlak diperlukan. Pada dunia perguruan
tinggi potensi pengembangan belajar mandiri sangatlah besar. Pada orang
dewasa spektrum belajar mandiri bisa dimulai dari aktifitas yang bersifat
rekreatif, berkaitan dengan pekerjaan maupun merupakan aktifitas akademik.
Mengembangkan belajar mandiri dalam arti sesungguhnya adalah
mengupayakan bagaimana membantu pebelajar agar bisa menjadi pebelajar
mandiri yang efektif dan sukses. Selain ketrampilan teknis, kemampuan
kognitif memiliki peran besar untuk mensukseskan belajar mandiri sehingga
pengembangannya tidak hanya bersifat permukaan namun melibatkan
keterampilan-keterampilan metakognisi. Ketrampilan-ketrampilan kognisi
seperti strategi kognisi bisa dikembangkan lanjut menjadi level kemampuan-
kemampuan metakognisi.
Dalam praktek pembelajaran, kita masih didominasi oleh bentuk
pembelajaran formal tradisional dengan situasi-situasi;
a) pebelajar diminta untuk belajar sesuatu yang tidak menarik
b) pebelajar tidak memiliki kontrol atau pilihan belajar,
c) minimnya ketrampilan dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai
sukses
d) kurangnya dukungan eksternal dan sumber daya seperti bantuan dari guru
atau dosen, orang dewasa, orangtua yang menghargai, memberikan dorongan
dan kesempatan-kesempatan belajar yang memenuhi kepuasan psikologis.
24
Penetapan kompetensi sebagai tujuan belajar, dan cara pencapaiannya
baik penetapan waktu belajar, tempat belajar, sumber belajar maupun evaluasi
hasil belajar dilakukan oleh pembelajaran mandiri. Selain komponen-
komponen utama dalam konsep belajar mandiri, ada beberapa ciri-ciri lain
yang menandai belajar mandiri, antara lain:
1) Pyramid Tujuan, semakin tinggi kualitas kegiatan belajar, akan semakin
banyak kompetensi yang diperoleh.
2) Sumber belajar dari guru, tutor, kawan dll dan Media Belajar antara lain:
paket- paket belajar yang berisi self instructional material, buku teks, hingga
teknologi informasi lanjut.
3) Belajar mandiri dapat dilakukan dimanapun tempat yang memungkinkan
berlangsungnya kegiatan belajar dan dapat dilaksanakan setiap waktu
4) Pembelajar memiliki cara belajar yang tepat untuk dirinya sendiri (auditif,
visual, kinestetik, atau tipe campuran)
5) Belajar mandiri juga dapat dijalankan dalam sistem pendidikan formal,
nonformal, ataupun bentuk-bentuk belajar campuran.
Belajar mandiri meletakkan kompetensi sebagai sistem kontrol dalam
proses belajar, bukan ditentukan oleh pihak pihak lain atau sistem. Guru yang
memiliki motivasi belajar mandiri tidak tergantung program atau dorongan
pihak luar namun secara sadar aktif mengidentifikasi kesenjangan diri.
Berikutnya mengambil keputusan, membangun niat, mengalokasikan sumber
daya, merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, dan mengevaluasi.
Saudara terus mengupayakan untuk menguasai strategi belajar mandiri yang
efektif. Belajar mandiri berada di bawah payung kontruktivistik yang memiliki
komponen-komponen sebagai berikut;
1) Niat; belajar mandiri selalu didahului adanya niat untuk menguasai kompetensi
tertentu. Contoh; “saya harus bisa”.
Indikator niat yang sekaligus menjadi indikator Belajar Mandiri antara lain:
Persistence : lama, terus menerus, dan tidak berhenti
Consistence : ajeg, disiplin, dan tidak malas-malasan
25
Systematic : terencana dan berorientasi pada kompetensi
Goal Orientedness : fokus untuk mencapai tujuan
Innovative : mencari jalan keluar baru
Follow-up clarity : tindak lanjut kegiatan selalu jelas
Learning for Live : dilakukan sepanjang hidup
2) Alokasi sumber daya; ada pengorbanan baik waktu, biaya maupun tenaga
dalam rangka mewujudkan niatnya ke dalam tindakan.
3) Tindakan; merupakan wujud fisik berupa kegiatan atau perbuatan
melaksanakan belajar mandiri. Contoh; mengikuti diklat, berlatih, membaca,
dan sebagainya.
4) Kompetensi; merupakan tujuan yang hendak dicapai atau dikuasai berperan
sebagai kontrol atas tindakan belajar mandiri
Belajar mandiri dapat membangun kemandirian belajar yang sangat
diperlukan bagi pengembangan profesi berkelanjutan. Kemandirian belajar
dicirikan oleh kondisi-kondisi sebagai berikut;
a) Anda menetapkan sendiri kompetensi-kompetensi yang diarahkan untuk
menuju pencapaian tujuan-tujuan akhir.
b) Adanya proses pembelajaran yang ditetapkan sendiri oleh peserta didik.
c) Adanya input belajar yang ditetapkan dan dicari sendiri tanpa
menggantungkan diri pada orang lain.
d) Adanya kegiatan evaluasi diri (self evaluation) yang Anda lakukan.
e) Adanya kegiatan refleksi terhadap proses belajar mandiri.
f) Adanya tinjauan terhadap pengalaman-pengalaman masa lalu
g) Adanya upaya untuk menumbuhkan motivasi diri.
h) Adanya kegiatan belajar aktif dalam rangka mencapai tujuan
Selain itu belajar mandiri harus dilakukan dengan cara;
(1) tekun, terus menerus dan tidak berhenti,
26
(2) konsisten, ajeg, disiplin dan tidak bermalasan,
(3) terencana dan berorientasi pada kompetensi,
(4) fokus kepada pencapaian tujuan,
(5) inovatif atau menggunakan cara-cara baru,
(6) ada tindaklanjut yang jelas, dan
(8) dilakukan sepanjang hidup.
d. Komponen dan keterampilan belajar mandiri
1. Pengertian Belajar Mandiri
Sampai saat ini, belajar mandiri dikenal sebagai salah satu metode
pembelajaran yang diterapkan dalam pendidikan terbuka. Tidak semua orang
memahami dengan baik pengertian belajar mandiri, bahkan akademisi. Berdasarkan
pengalaman peneliti, beberapa akademisi (mahasiswa) masih banyak yang
memahami betul istilah yang terkait dengan belajar mandiri seperti belajar
individual, belajar sendiri, belajar terbuka atau jarak jauh. Ada bebepara pertanyaan
yang muncul dikalangan akademisi berkaitan dengan pengertian belajar mandiri.
Berangkat dari persoalan itu, mata peneliti akan mencoba merumuskan pengertian
belajar mandiri melalui pendapat beberapa tokoh
Menurut Wedem Menurut Wedemeyer (1963) menjelaskan bahwa belajar
mandiri adalah cara belajar yang memberikan derajat kebebasan, tanggung jawab,
dan kewenangan yang lebih besar kepada pembelajar dalam melaksanakan dan
merencanakan kegiatan-kegiatan belajarnya
Menurut Rowntree (1992), mengutip pernyataan Lewis dan Spenser
(1986) menjelaskan behwa belajar mandiri adalah adanya komitmen untuk
membantu pembelajar memperoleh kemandirian dalam menentukan keputusan
sendiri tentang tujuan atau hasil belajar yang dicapai, mata ajar dan tema yang akan