The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kelas3kece, 2022-08-04 00:30:26

Modul Materi Ajar Guru Abad 21

Modul Materi Ajar Guru Abad 21

51

Berkenaan dengan model-model pembelajaran abad 21 yang
dipandang potensial untuk mengintegrasikan teknologi dan luwes
diterapkan pada berbagai tingkatan usia, jenjang pendidikan dan bidang
studi, Saudara dapat menyesuaikan dengan kondisi sekolah. Model-model
pembelajaran dimaksud antara lain;
1. Discovery learning;

Sumber : Google.com

52

Belajar melalui penelusuran, penelitian, penemuan, dan pembuktian.
Discovery learning mengarahkan peserta didik untuk menemukan sendiri
pengetahuan yang ingin disampaikan dalam pembelajaran. Penjelasan
tersebut senada dengan pendapat Hanafiah (2012, hlm.77) yang menyatakan
bahwa model pembelajaran discovery learning adalah rangkaian kegiatan
pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan
peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan
logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan
keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku.

Berbeda dengan model pembelajaran konvensional, discovery
learning atau pembelajaran penemuan lebih berpusat pada peserta didik,
bukan guru. Pengalaman langsung dan proses pembelajaran menjadi
patokan utama dalam pelaksanaannya.

Seperti yang diungkapkan oleh Syah (2017) bahwa model discovery
learning merupakan model yang lebih menekankan pada pengalaman
langsung siswa dan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar
(Syah, 2017).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa discovery
learning adalah model pembelajaran yang membantu peserta didik untuk
mengalami dan menemukan pengetahuannya sendiri sebagai wujud murni
dalam proses pendidikan yang memberikan pengalaman yang mengubah
perilaku sehingga dapat memaksimalkan potensi diri. Sebagai upaya untuk
memastikan kesahihan pengertian discovery learning, berikut adalah
beberapa pendapat ahli mengenai pengertian discovery learning.

Discovery Learning Menurut Para Ahli
1) Arends

Discovery Learning adalah model pembelajaran yang menekankan proses
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan pengalaman belajar
secara aktif yang akan membimbing peserta didik untuk menemukan dan

53

mengemukakan gagasannya terkait topik yang dipelajari (Arends, 2015,
hlm. 402).
2) Rusman
Model pembelajaran discovery learning didefinisikan oleh Rusman (dalam
Ertikanto, 2016) sebagai sebuah model pembelajaran yang mendukung
seorang individu atau kelompok untuk menemukan pengetahuannya sendiri
berdasarkan dengan pengalaman yang didapatkannya oleh setiap individu.
3) Daryanto dan Karim
Discovery learning adalah model mengajar yang dilaksanakan oleh guru
dengan cara mengatur proses belajar dengan sedemikian rupa sehingga
siswa mendapatkan pengetahuan yang sebelumnya belum diketahui dan
sebelumnya dengan cara tidak disampaikan terlebih dahulu akan tetapi
siswa menemukannya secara mandiri (Daryanto dan Karim, 2017).
4) Saefuddin dan Berdiati
Model Pembelajaran discovery learning didefinisikan sebagai proses
pembelajaran yang terjadi bila pembelajar tidak disajikan dengan pelajaran
dalam bentuk finalnya, tetapi melalui proses menemukan (Saefuddin &
Berdiati, 2014, hlm. 56).
5) Richard
Menurut Richard dalam Roestiyah N.K. (2012, hlm. 20) Model
pembelajaran discovery learning ialah suatu cara mengajar yang melibatkan
peserta didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan
diskusi, seminar, membaca sendiri dan mecoba sendiri, agar anak dapat
belajar mandiri dengan cara menemukannya sendiri.
Langkah Langkah Model Pembelajaran Discovery Learning

Menurut Syah (2017, hlm. 243) langkah atau tahapan dan prosedur
pelaksanaan Discovery learning adalah sebagai berikut:
1. Stimulation (stimulus),
memulai kegiatan proses mengajar belajar dengan mengajukan pertanyaan,
anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada
persiapan peecahan masalah;

54

2. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah),
yakni memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak
mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran,
kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis
(jawaban sementara atas pertanyaan masalah);

3. Data collection (pengumpulan data),
Memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau
tidaaknya hipotesis;

4. Data processing (pengolahan data),
Mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa melalui
wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan;

5. Verification (pembuktian),
yakni melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau
tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi, dihubungkan dengan hasil data
processing;

6. Generalization (generalisasi),
menarik sebuah simpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku
untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan
hasil verifikasi.
Contoh dalam pembelajaran guru menugaskan peserta didik untuk
menelusuri faktor penyebab terjadinya banjir di daerah setempat. Peserta
didik bekerja secara berkelompok menelurusi informasi dengan
mewawancarai penduduk disertai pelacakan informasi di internet
(bimbingan disesuaikan tingkatan usia) dan kemudian diminta untuk
membuat kesimpulan dilanjutkan presentasi.

Untuk materi lebih jelas tentang Discovery
Learning bisa klik tautan ini https://serupa.id/discovery-
learning/ atau QR code di samping.

55

2. Pembelajaran berbasis proyek

proyek memiliki target tertentu dalam bentuk produk dan peserta
didik merencanakan cara untuk mencapai target dengan dipandu oleh
pertanyaan menantang. Contohnya pada peserta didik SMK Kewirausahaan
diberikan pertanyaan produk kreatif berbahan lokal seperti apakah yang
memiliki nilai tambah secara ekonomis? Peserta didik bisa mengikuti
tahapan pembelajaran seperti eksplorasi ide, mengembangkan gagasan,
merealisasikan gagasan menjadi prototipe produk, melakukan uji coba

Istilah pembelajaran berbasis proyek merupakan istilah
pembelajaran yang diterjemahkan dari istilah dalam bahasa Inggris project
based learning. Menurut BIE 1999 dalam Trianto (2014) project based
learning adalah model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan
pemecahan masalah dan memberi peluang siswa bekerja secara otonom
mengkonstruksi belajar mereka sendiri dan puncaknya menghasilkan
produk karya siswa bernilai realistik. Sedangkan Hasnawati (2015),
menyatakan bahwa model pembelajaran yang menggunakan proyek sebagai
kegiatan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Penekanan pembelajaran terletak pada
aktivitas-aktivitas siswa untuk menghasilkan produk dengan menerapkan
keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan
mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata.
Produk yang dimaksud adalah hasil projek dalam bentuk desain, skema,
karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan nilai-nilai. Pendekatan
ini memperkenankan siswa untuk bekerja sama secara mandiri maupun
berkelompok dalam mengkontsruksikan produk nyata.

Model pembelajaran berbasis proyek (PBP) adalah model
pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses
pembelajaran melalui kegiatan penelitian untuk mengerjakan dan
menyelesaikan suatu proyek tertentu. Walaupun model pembelajaran
berbasis proyek dapat dikatakan sebagai model lama, tetapi model ini

56

memiliki banyak keunggulan dibandingkan model pembelajaran lain
sehingga model PBP banyak digunakan dan terus dikembangkan. Salah satu
keunggulan tersebut adalah bahwa model PBP dinilai merupakan salah satu
model pembelajran yang sangat baik dalam mengembangkan berbagai
keterampilan dasar yang harus dimiliki siswa termasuk keteramplan
berpikir, keterampilan membuat keputusan, kemampuan berkreativitas,
kemampuan memecahkan masalah, dan sekaligus dipandang efektif untuk
mengembangkan rasa percaya diri dan manajemen diri para siswa (Abidin,
2014).

Sedangkan model pembelajaran berbasis proyek (project based
learning) adalah sebuah model pembelajaran yang menggunakan proyek
(kegiatan) sebagai inti pembelajaran. Dalam kegiatan ini, siswa melakukan
eksplorasi, penilaian, interpretasi, dan sintesis informasi untuk memperoleh
berbagai hasil belajar (pengetahuan, keterampilan, dan sikap).

Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Proyek

Langkah-langkah pembelajaran berbasis proyek telah dirumuskan
secara beragam oleh beberapa ahli pembelajaran. Langkah-langkah
pembelajaran berbasis proyek berikut merupakan hasil pengembangan yang
dilakukan atas langkah-langkah terdahulu. Langkah-langkah pembelajaran
berbasis proyek tersebut disajikan dalam sebagai berikut:
➢ Praproyek
Tahapan ini merupakan kegiatan yang dilakukan guru di luar jam pelajaran.
Pada tahap ini guru merancang deskripsi proyek, menentukan batu pijakan
proyek, menyiapkan media, berbagai sumber belajar, dan kondisi
pembelajaran.

➢ Fase 1: Menganalisis Masalah

57

Pada tahap ini siswa melakukan pengamatan terhadap objek tertentu.
Berdasarkan pengamatannya tersebut siswa mengidentifikasi masalah dan
membuat rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan.
➢ Fase 2: Membuat Desain dan Jadwal Pelaksanaan Proyek
Pada tahap ini siswa secara kolaboratif baik dengan anggota kelompok
ataupun dengan guru mulai merancang proyek yang akan mereka buat,
menentukan penjadwalan pengerjaan proyek, dan melakukan aktivitas
persiapan lainnya.
➢ Fase 3: Melaksanakan Penelitian
Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan penelitian awal sebagai model
dasar bagi hasil yang akan dikembangkan. Berdasarkan kegiatan penelitian
tersebut siswa mengumpulkan data dan selanjutnya menganalisis data
tersebut sesuai dengan teknik analisis data yang relevan dengan penelitian
yang dilakukan.
➢ Fase 4: Menyusun Draf/Prototipe Produk
Pada tahap ini siswa mulai membuat produk awal sebagaimana rencana dan
hasil penelitian yang dilakukannya.
➢ Fase 5: Mengukur, Menilai dan Memperbaiki Produk
Pada tahap ini siswa melihat kembali produk awal yang dibuat, mencari
kelemahan dan memperbaiki produk tersebut. Dalam prakteknya, kegiatan
mengukur dan menilai produk dapat dilakukan dengan meminta pendapat
atau kritik dari anggota kelompok lain ataupun pendapat guru.
➢ Fase 6: Finalisasi dan Publikasi Produk
Pada tahap ini siswa melakukan finalisasi produk. Setelah diyakini sesuai
dengan harapan, produk kemudian dipublikasikan.
➢ Pasca Proyek
Pada tahap ini guru menilai, memberikan penguatan, masukan, dan saran
perbaikan atas produk yang telah dihasilkan oleh siswa.

Untuk materi lebih jelas tentang Model
pembelajaran Berbasis Proyek, Silahkan scan QR code di
samping.

58

3. Pembelajaran berbasis masalah dan penyelidikan;

Belajar berdasarkan masalah dengan solusi “open ended”, melalui
penelusuran dan penyelidikan sehingga dapat ditemukan banyak solusi
masalah.

Wardani (2007:27) mengatakan, “Model pembelajaran berbasis
masalah dapat menyajikan masalah autentik dan bermakna sehingga siswa
dapat melakukan penyelidikan dan menemukan sendiri”. Dan model
pembelajaran berbasis masalah menurut Suradijono (dalam Pitriani,
2014:32) adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai
langkah awal dalam mengumpulkan data dan mengintegrasikan
pengetahuan baru”. Adapun pendapat Bern dan Erickson (dalam
Komalasari, 2001:5) pembelajaran berbasis masalah adalah: Model
pembelajaran yang melibatkan siswa dalam memecahkan masalah dengan
mengintegrasi berbagai konsep dan keterampilan dari berbagai disiplin
ilmu. Strategi ini meliputi mengumpulkan dan menyatukan informasi, dan
mempresentasikan penemuan. Adapun pendapat Riyanto (2010:285)
mengatakan, “Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model
pembelajaran yang dirancang dan dikembangkan untuk mengembangkan
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah”. Menurut Arends (dalam
Trianto, 2007:68) pembelajaran berbasis masalah adalah: Suatu model
pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik
dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri,
mengembangkan inkuiri dan keterampilan berfikir tingkat tinggi,
mengembangkan kemandirian dan percaya diri.

Contohnya mengatasi masalah pencemaran udara akibat asap
kendaraan bermotor. Peserta didik bisa mengeksplorasi lingkungan
memanfaatkan sumber-sumber fisik diperkaya sumber-sumber digital,
menggali pengalaman orang lain atau contoh nyata penyelesaian masalah
dari beragam sudut pandang. Peserta didik terlatih untuk menghasilkan

59

gagasan baru, kreatif, berpikir tingkat tinggi, kritis, berlatih komunikasi,
berbagi, lebih terbuka bersosialisasi dalam konteks pemecahan masalah.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah.

Arends (dalam Hariyanto dan Warsono, 2012, h. 401)
mengemukakan sintaks pembelajaran berbasis masalah yaitu: a. Orientasi
siswa pada masalah Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, menjelaskan
logistik (bahan dan alat) apa yang diperlukan bagi penyelesaian masalah
serta memberikan motivasi kepada siswa agar menaruh perhatian terhadap
aktivitas penyelesaian masalah. b. Mengorganisasi siswa. Guru membantu
siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan pembelajaran agar relevan
dengan penyelesaian masalah. c. Membimbing penyelidikan indvidu
maupun kelompok Guru mendorong siswa untuk mencari informasi yang
sesuai, melakukan eksperimen, dan mencari penjelasan dan pemecahan
masalah. d. Mengembangkan dan menyajikan hasil. Guru membantu siswa
dalam perencanaan dan perwujudan hasil yang sesuai dengan tugas yang
diberikan; e. Menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan
masalah. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap hasil
penyelidikannya serta proses-proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Untuk materi lebih jelas tentang Model pembelajaran
Berbasis Proyek, Silahkan klik
http://repository.unpas.ac.id/15456/5/BAB%20II.pdf
atau scan QR code di samping.
4. Belajar berdasarkan pengalaman sendiri (Self Directed Learning/SDL)

SDL merupakan proses di mana insiatif belajar dengan/atau tanpa
bantuan pihak lain dilakukan oleh peserta didik sendiri mulai dari
mendiagnosis kebutuhan belajar sendiri, merumuskan tujuan,
mengidentifikasi sumber, memilih dan menjalankan strategi belajar, dan
mengevaluasi belajarnya sendiri. Contoh guru bisa membantu peserta didik
mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik atau mulai dari

60

kemampuan apa yang ingin dikuasai. Misalnya ingin menguasai cara
melukis menggunakan software corel draw maka guru bisa membantu
peserta didik merumuskan tujuan-tujuan penting yang dapat membantu
mencapai tujuannya. Peserta didik belajar mandiri mengeskplorasi
tutorialnya melalui youtube, menerapkan, dan mengevaluasi
kemampuannya.

5. Pembelajaran kontekstual (melakukan);

Guru mengaitkan materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata
peserta didik sehingga memungkinkan peserta didik menangkap makna dari
yang pelajari, mengkaitkan pengetahuan baru dengan pegetahuan dan
pengalaman yang sudah dimiliki.

Model kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan
mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari. Model Kontekstual sebagai suatu
proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam
bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya
dengan konteks kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan
pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut,
sistem CTL, akan menuntun siswa ke semua komponen utama CTL, yaitu
melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti,
mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif,
memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan
menggunakan penilaian sebenarnya

Contoh dalam pembelajaran bentuk-bentuk tulang daun guru
menugaskan kepada peserta didik secara berkelompok mengeksplorasi
melalui internet. Guru menginginkan peserta didik dapat memperoleh
pengalaman bermakna yang mendalam dan dapat mengkaitkan apa yang
dipelajari dengan kehidupan nyata. Pada PAUD dan sekolah dasar kelas

61

rendah bisa saja peserta didik belum bisa membedakan secara nyata
perbedaan kelenturan dan kekuatan tulang daun dari setiap bentuk yang
berbeda, sehingga diperlukan pengalaman langsung.
Untuk lebih jelas silahkan scan QR code di bawah ini!

6. Bermain peran dan simulasi
Sumber : Google.com

peserta didik bisa diajak untuk bermain peran dan menirukan
adegan, gerak/model/pola/prosedur tertentu. Misalnya seorang guru
menggunakan tayangan video dari youtube, peserta didik diminta
mencermati alur cerita dan peran dari tokoh-tokoh yang ada kemudian
berlatih sesuai tokoh yang diperankan. Pada tataran lebih kompleks
membuat cerita sendiri kemudian memperagakannya dengan bermain
peran.

7. Pembelajaran kooperatif;

62

Merupakan bentuk pembelajaran berdasarkan faham kontruktivistik.
Peserta didik berkelompok kecil dengan tugas yang sama saling
bekerjasama dan membantu untuk mencapai tujuan bersama.

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
mengutamakan eksistensi kelompok. Setiap siswa dalam kelompok
memiliki tingkat kemampuan yang berbeda (tinggi, sedang dan rendah) dan
jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda
dan memperhatikan kesetaraan gender. Model pembelajaran kooperatif
mengutamakan kolaborasi dalam memecahkan masalah untuk menerapkan
pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut Eggen dan Kauchak dalam Wardhani (2005), model
pembelajaran merupakan pedoman dalam bentuk program atau instruksi
untuk strategi pengajaran yang dirancang agar mencapai pembelajaran.
Pedoman tersebut berisi tanggung jawab guru dalam merencanakan,
melaksanakan, serta mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Salah satu model
pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru ialah model pembelajaran
kooperatif.

Menurut Nur (2000), Seluruh model pembelajaran ditandai
dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan.
Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model
pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta
struktur penghargaan model pembelajaran yang lain.

8. Pembelajaran kolaboratif;

Merupakan belajar dalam tim dengan tugas yang berbeda untuk
mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kolaboratif lebih cocok untuk
peserta didik yang sudah menjelang dewasa. Kolaborasi bisa dilakukan
dengan bantuan teknologi misalnya melalui dialog elektronik, teknologi
untuk menengahi dan memonitor interaksi, dimana masing-masing pihak
memegang kendali dirinya dalam berkomunikasi untuk mencapai tujuan

63

bersama. Fasilitasi bisa diberikan oleh guru, ketua kelompok pelatih online
maupun mentor.

9. Diskusi kelompok kecil

Diskusi kelompok kecil diorientasikan untuk berbagai pengetahuan dan
pengalaman serta untuk melatih komunikasi lompok kecil tujuannya agar
peserta didik memiliki ketrampilan memecahkan masalah terkait materi
pokok dan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai model pembelajaran di atas memberikan peluang
pengintegrasian teknologi dalam prosesnya, namun Saudara harus memiliki
paket pengetahuan yang terkait dengan penguasaan konten, penguasaan
aspek pedagogis dan penguasaan aspek teknologi. Guna memudahkan dan
memberikan gambaran cara mengintegrasikan teknologi telah
dikembangkan suatu kerangka untuk pengintegrasian teknologi dalam
pembelajaran yang dikenal dengan TPACK. Saudara tentu semakin
bersemangat dan penasaran dengan TPACK. Marilah kita simak bersama-
sama!

5. TPACK Kerangka Integrasi Teknologi Dalam Pembelajaran Abad 21

Irna Aviyanti (2020) Menurut Misra dan Koehler dalam penerapan
kurikulum 2013, diharapkan guru mampu memanfaatkan dan menggunakan
teknologi, menguasai teknologi, dan menerapkan teknologi dalam proses
pembelajaran. Seorang guru harus mempunyai Kemampuan Teknological
Pedagogical Content Knowledge yang telah disebut oleh isu pembelajaran
terkini. TPACK yaitu suatu gabungan kerangka konseptual dari
pengetahuan konten (materi), pedagogi dan teknologi yang saling
berhubungan. Tecnological Pedagogical Content Knowledge (TPACK),
adalah pemahaman yang dibutuhkan oleh guru dalam memanfaatkan
teknologi secara tepat ke dalam kegiatan belajar mengajar di berbagai
konten materi, serta mengajarkan materi menggunakan teknologi dan
metode pedagogi yang sesuai. TPACK merupakan kerangka kerja yang

64
mencoba memahami hungungan antara pemanfaatan teknologi
(Teknological Knowledge), pengetahuan tentang pengajaran (Pedagogical
Knowledge), dan materi pelajaran (Kontent Konowledge). Pada TPACK,
untuk membuat pelajaran menjadi lebih efektif dan efisien maka dibuthkan
pengintegrasian teknologi dalam pembelajaran oleh guru. Hal ini
menunjukkan bahwa TPACK merupakan factor penting yang bisa
digunakan sebagai acuan untuk memperbaiki dan bahan evaluasi kualitas
Pendidikan.

a. Pengertian TPACK

Gambar penggunaan Teknologi
Sumber s.id/Zuut

Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) adalah gambaran unik
bagaimana guru mengintegrasikan teknologi, metode dan materi ajar menjadi suatu
kesatuan yang selaras. Komponen pengetahuan teknologi, pedagogi, dan konten merupakan
tiga gabungan yang utuh dalam TPACK, yang bertujuan untuk menumbuhkan pengetahuan
dasar ketika seseorang belajar memahami bagaimana teknologi bisa meningkatkan
kesempatan dan pengalaman belajar siswa, sekaligus untuk mengetahui pedagogi yang
benar dalam meningkatkan isi dalam pembelajaran dan mempelajari materi pelajaran
(Ariani, 2015:82).

TPACK merupakan hubungan tiga pengetahuan (teknologi, pedagogi, dan konten)

65

untuk dikuasai oleh guru yang diperlihatkan dalamsebuah kerangka konseptual. Dimana
konten adalah informasi yang disampaikan dalam pembelajaran, dan pembahasan pedagogi
yaitu mengenai pengelolaan siswa oleh guru dalam pembelajaran sedangkan teknologi
adalah keseluruhan sarana yang diperlukan untuk kelangsunganpembelajaran (Saputra,
2019:8).

Saudara tentu sudah memiliki pengetahuan (Knowledge/K) caramembelajarkan
(Pedagogy/P) dan menguasai materi pembelajaran sesuai bidang (Content/C)) dikenal
dengan istilah Pedagogy Content Knowledge (PCK). Istilah PCK pertama kali
diperkenalkan oleh Shulman pada tahun 1986. Namun, PCK tidak sekedar irisan atau
gabungan pengetahuan tentang pedagogi dan penguasaan materi namun diperkuat oleh
pengalaman-pengalaman guru (tacit knowledge).Penelitian menunjukkan persepsi calon
guru terhadap TPACK sangat dipengaruhi oleh pengalaman mengikuti perkuliahan terkait
pengetahuan tentang teknologi danpengetahuan tentang pedagogi dan teknologi (Koh,
et.al, 2013) Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan
pengaruh besar terhadap proses pembelajaran sehingga abad 21 mendorong Saudara
untuk memiliki pengetahuan terkait teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Istilah
PCK berkembang menjadi TPCK dimana “T” adalah teknologi. Guna memudahkan
penyebutannya TPCK dirubah menjadi TPACK dan berkembang melibatkan banyak
domain pengetahuan di dalamnya.

b. Pendekatan TPACK Dalam Pembelajaran

Gambar: Pendekatan TPACK dalam pembelajaran abad 21

66

Sumber : s.id/Zuq4

Yosep Hasibuan (2020) Salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru
dalam pembelajaran di abad 21 adalah kemampuan merancang
pembelajaran dengan menerapkan prinsip memadukan pengetahuan materi
ajar, pedagogik, serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau yang
dikenal dengan TPACK.

TPACK juga merupakan pendekatan pembelajaran yang sangat relevan
di masa pembelajaran daring saat ini. Hal ini, karena pendekatan TPACK
memadukan aspek pengetahuan (Knowledge/K), cara membelajarkan
(Pedagogy/P), penguasaan materi pembelajaran sesuai bidang (Content/C)
dengan TIK (Technology/T).

Pendekatan TPACK merupakan pendekatan yang dikembangkan dari
pendekatan Pedagogy Content Knowledge (PCK) yang pertama kali
dikenalkan oleh Shulman pada tahun 1986. Namun, pendekatan PCK tidak
sekedar irisan atau gabungan pengetahuan tentang pedagogi dan
penguasaan materi namun diperkuat oleh pengalaman-pengalaman guru.

Gambar: Pendekatan TPACK memadukan aspek Knoledge,Pedagogy,
content dengan technology

67

Sumber: Sumber : s.id/Zuq4
Dalam masa pandemi covid-19 saat ini, dimana proses pembelajaran
telah dialihkan dari ruang kelas ke dalam jaringan (daring), Teknologi telah
mengambil peran sangat penting. Karena itu, guru-guru perlu
mengintegrasikan Teknologi ke dalam pendekatan PCK sehingga menjadi
TPCK. Untuk memudahkan penyebutannya, TPCK kemudian diubah
menjadi TPACK.
Penelitian oleh Koh (2013) menunjukkan bahwa persepsi calon guru
terhadap TPACK sangat dipengaruhi oleh pengalaman mengikuti
perkuliahan terkait pengetahuan tentang teknologi dan pengetahuan tentang
pedagogi dan teknologi.
Perkembangan TIK saat ini telah memberikan pengaruh besar
terhadap proses pembelajaran sehingga abad 21 mendorong semua guru dan
praktisi pendidikan untuk memiliki pengetahuan yang luas terhadap TIK.

Gambar ilustrasi belajar secara online
Sumber s.id/Zuut

Pada dasarnya, konsep pendekatan pembelajaran TPACK
melibatkan 7 domain pengetahuan.

Pertama, domain pengetahuan materi (content knowledge/CK).
Domain ini merupakan penguasaan yang harus dimiliki guru terkait bidang

68

studi atau materi pembelajaran yang diampu. Seorang guru matematika
harus memahami dengan baik materi-materi pembelajaran yang ada di
Matematika.

Kedua, domain pengetahuan pedagogis (pedagogical
knowledge/PK). Pengetahuan ini merupakan pengetahuan dasar guru terkait
proses dan strategi pembelajaran. Secara sederhana, strategi pembelajaran
dapat diartikan sebagai usaha guru untuk menerapkan dan mengelola
berbagai metode pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Ketiga, domain pengetahuan teknologi (technological
knowledge/TK). Domain ini terkait pengetahuan guru dalam menggunakan
teknologi digital baik hardware maupun software. Pengetahuan teknologi
tidak hanya soal bisa mengoperasikan komputer saja. Pengetahuan tentang
software atau aplikasi terbaru juga sangat diperlukan seperti aplikasi-
aplikasi web meeting dan software-software video editor.

Keempat, domain pengetahuan pedagogi dan materi (pedagogical
content knowledge/PCK). Ini merupakan gabungan pengetahuan tentang
bidang studi atau materi pembelajaran dengan proses dan strategi
pembelajaran. Materi pembelajaran tertentu akan dapat dicapai dengan baik
jika guru menerapkan strategi pembelajaran tertentu pula. Dan satu strategi
pembelajaran, belum tentu cocok diterapkan untuk semua materi
pembelajaran.

Kelima, domain pengetahuan teknologi dan materi (technological
content knowledge/TCK). Domain ini terkait pengetahuan guru tentang
teknologi digital dan pengetahuan bidang studi atau materi pembelajaran.
Pada materi menggambar grafik di mata pelajaran matematika misalnya,
penggunaan Geogebra akan sangat menolong guru untuk
memvisualisasikan grafik secara digital dalam proses pembelajaran.

Keenam, domain pengetahuan tentang teknologi dan pedagogi
(technological paedagogical knowledge/TPK). Domain ini terkait

69

pengetahuan tentang teknologi digital dan pengetahuan mengenai proses
dan strategi pembelajaran. Untuk keperluan proses evaluasi pembelajaran
secara daring misalnya, dimana guru tidak mungkin melaksanakan
penilaian secara langsung. Penggunaan Google Form akan sangat menolong
guru untuk memberikan asesmen secara daring kepada siswa.

Ketujuh, domain pengetahuan tentang teknologi, pedagogi, dan
materi (technological, pedagogical, content knowledge/TPCK).

Domain inilah yang sangat diharapkan terjadi, dimana guru memiliki
pengetahuan yang komprehensif tentang teknologi digital, pengetahuan
tentang proses dan strategi pembelajaran, serta pengetahuan tentang bidang
studi atau materi pembelajaran.

Domain terakhir inilah yang merupakan kerangka pengembangan
penerapan TPACK. Dimana guru dapat mengintegrasikan teknologi ke
dalam proses pembelajaran yang melibatkan paket-paket pengatahuan
tentang teknologi, materi, dan proses atau strategi pembelajaran.

Paket-paket pengetahuan ini saling bersinggungan dan menghasilkan
irisan- irisan menjadi paket pengetahuan baru yang perlu dikembangkan
guru dalam pembelajaran di abad 21. Paduan TPACK yang baik akan
menolong guru bisa mengajarkan materi tertentu dengan baik pula.

Sumber : s.id/Zuq4

70

Pada dasarnya, desain pembelajaran yang dirancang oleh guru selalu
bertujuan memudahkan proses belajar peserta didik. Karena itu, guru
seharusnya tidak cepat berpuas diri untuk mengembangkan perangkat dan
desain pembelajaran tetapi terus melakukan inovasi-inovasi pembelajaran
demi meningkatkan dan mencapai tujuan pembelajaran.

Konsep TPACK melibatkan 7 domain pengetahuan dikarenakan ada irisan atau
sintesa baru, yaitu;

a). Pengetahuan materi (content knowledge/CK) yaitu penguasaan bidang
studi atau materi pembelajaran.

b). Pengetahuan pedagogis (pedagogical knowledge/PK) yaitu pengetahuan
tentang proses dan strategi pembelajaran.

c). Pengetahuan teknologi (technological knowledge/TK) yaitu pengetahuan
bagaiamana menggunakan teknologi digital.

d). Pengetahuan pedagogi dan materi (pedagogical content knowledge/PCK)
yaitu gabungan pengetahuan tentang bidang studi atau materi pembelajaran
dengan proses dan strategi pembelajaran.

e). Pengetahuan teknologi dan materi (technological content knowledge/TCK)
yaitu pengetahuan tentang teknologi digital dan pengetahuan bidang studi
atau materi pembelajaran.

f). Pengetahuan tentang teknologi dan pedagogi (technological paedagogical
knowledge/TPK) yaitu pengetahuan tentang teknologi digital dan
pengetahuan mengenai proses dan strategi pembelajaran.

g). Pengetahuan tentang teknologi, pedagogi, dan materi (technological,
pedagogical, content knowledge/TPCK) yaitu pengetahuan tentang
teknologidigital, pengetahuan tentang proses dan strategi pembelajaran,
pengetahuan tentang bidang studi atau materi pembelajaran.

TPACK merupakan kerangka pengintegrasian teknologi ke dalam proses
pembelajaran yang melibatkan paket-paket pengatahuan tentang teknologi, materi,dan
proses atau strategi pembelajaran. Paket-paket pengetahuan bersinggungan menghasilkan
irisan- irisan menjadi paket pengetahuan baru seperti diilustrasikanmelalui gambar

71

Gambar 6. TPACK kerangka integrasi teknologi dalam pembelajaran
Sumber : https://images.app.goo.gl/2DPpuPtYcuidLzCm9

TPACK sesungguhnya masih merupakan kerangka umum sehingga guru
harus menterjemahkannya ke dalam tataran praktis. Yeh (2014) mencoba
memberikan gambaran penerapan TPACK secara praktis dalam
pembelajaran yang mencakup 8 domain penerapan TPACK.

Gambar: Kerangka Integrasi Teknologi TPACK secara Praktis
1. Menggunakan TIK untuk proses penilaian peserta didik

72

Penerapan praktis yang dapat dilakukan guru misalnya menggunakan
Microsoft Excel untuk mengolah nilai, menggunakan aplikasi kuis online
untuk menilai pemahaman peserta didik, menggunakan grup chatting untuk
memahami karakter peserta didik melalui cara berkomunikasi di medsos
dan sebagainya.

2. Menggunakan TIK untuk memahami materi Pembelajaran

Penerapan praktis yang dapat dilakukan oleh guru adalah mengemas materi
abstrak ke dalam animasi video, mensimulasikan prinsip kerja mesin
menggunakan animasi, memberikan rujukan tautan untuk belajar lebih
lanjut, menggunakan platform web meeting untuk berdiskusi dan
sebagainya

3. Mengintegrasikan TIK untuk Memahami peserta didik

Contoh penerapan praktis yang dapat dilakukan oleh seorang guru adalah
meminta peserta didik memvisualisasikan idenya dengan menggunakan
corel draw, menggunakan whatsapp, email atau aplikasi survey online untuk
menampung keluhan peserta didik, menyediakan forum konsultasi secara
online dan sebagainya.

4. Mengintegrasikan TIK dalam Rancangan Kurikulum Termasuk
Kebijakan

Sekolah dapat mendorong guru dalam rangka mengembangkan sumber
belajar digital seperti e-modul atau video pembelajara, diskusi rutin,
pengembangan konten digital, memasukkan program peningkatan
kompetensi TIK bagi guru dll.

5. Mengintegrasikan TIK untuk menyajikan data

Penerapan praktis yang dapat dilakukan misalnya menggunakan TIK untuk
menyajikan data akademik seperti raport digital, data induk peserta didik,
data mutase peserta didik, membuat grafik

73

6. Mengintegrasikan TIK dalam strategi pembelajaran

Contohnya mengembangkan pembelajaran berbasis web, mengelola forum
diskusi online, melaksanakan teleconference, menggunakan video
pembelajaran untuk memotivasi peserta didik dan sebagainya.

7. Menerapkan TIK untuk pengelolaan pembelajaran

Contohnya menggunakan TIk untuk presensi online, memasukkan dan
mengolah nilai peserta didik, menggunakan sistem informasi akademik dan
sebagainya.

8. Mengintegrasikan TIK dalam konteks mengajar

Contohnya menyediakan pilihan pembelajaran berbasis online,
menciptakan lingkungan pembelajaran yang kaya sumber digital,
memanfaatkan sumber belajar berbasis teknologi dan sebagainya.

Berdasarkan contoh-contoh pengintegrasian TIK dengan kerangka TPACK
sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan sekolah. Saudara tentu memiliki
pengetahuan formal, pengalaman, cara pandang, dan sistem kepercayaan mengenai
teknologi. Saudara tetap harus meletakkan karakteristik peserta didik sebagai pijakan
dalam menentukan strategi pembelajaran. Karakteristik generasi z yang akkrab dengan
teknologi dan dunia digital sebaiknya dipandang sebagai modalitas belajar sehingga guru
bersikap bijak dalam mengintegrasikan TIK dalamkelas. Saudara perlu memahami bahwa
dengan memanfaatkan kerangka TPACK harus menjadi bagian upaya mentransformasi
diri menuju sosok ideal guru abad 21yang akan kita bahas pada bagian lain modul ini.

c. Komponen TPACK
Menurut Saputra (2019:9-11), TPACK terbentuk dari tujuh komponen,
yaitu:

1. Technological Knowledge (TK)
adalah pengetahuan mengenai berbagai teknologi yang ada. Teknologi
sederhana (kertas,pensil) merupakan awal dari pengetahuan teknologi
sebelum ke teknologidigital (video, audia, internet, dan software aplikasi
untuk pembelajaran). Cara menginstal dan menghapus perangkat

74

peripheral (perangkat keras komputer tambahan yang dihubungkan dengan
komputer contohnya printer, keybord, modem, dan lain-lain), software
program, serta membuat dan menyimpan dokumen merupakan bagian
pengetahuan pembahasan TK. Hal yang penting bagi domain TK yaitu
kemampuan untuk beradaptasi dan mempelajari teknologi baru.

2. Pedagogical Knowledge (PK)
adalah pengetahuan mengenai praktik dan teori belajar mengajar yaitu
terdiri dari proses, tujuan, strategi dan metode pembelajaran, penilaian dan
lainnya. Selain itu juga terdiri dari pengetahuan untuk mengelola kelas,
mengenali atau mengetahui karakteristik peserta didik, dan pengembangan
RPP.

3. Content Knowledge (CK)
adalah pengetahuan mengenai materi yang akan diberikan kepada peserta
didik. Guru sangat membutuhkan pengetahuan konten karena konten
disiapkan untuk tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Shulman
menjelaskan bahwa pengetahuan tentang konsep, ide, teori, fakta umum,
kerangka yang menggabungkan dan menghubungkan ide pengetahuan
mengenai buktidan pembuktian serta praktik dan pendekatan yang sesuai
dalam mengembangkan pengetahuan tersebut merupakan bagian dari
pengetahuan konten.

4. Technological Content Knowledge (TCK)
merupakan pengetahuanmengenai cara konten dan teknologi yang saling
mempengaruhi dan berkaitan. TCK membahas pengetahuan tentang
bagaimana teknologi bisa membuat gambaran baru dalam konten khusus
dan apa yang harus guru lakukan untuk merubah cara siswa memahami
konsep dan belajar dalam suatu materi tertentu dengan menggunakan
teknologi tertentu, selain mengetahui tentang cara dalam mengintergrasikan
teknologi, guru juga harus mengetahui materi yang akan diajarkan.

75

5. Pedagogical Content Knowledge (PCK)
adalah pemahaman mengenai pedagogi yang bisa diterapkan dalam
mengajar suatu materi. Pengetahuan tentang bagaimana elemen konten bisa
disusun untuk mengajar yang lebih baik dan juga pengetahuan mengenai
pendekatan mengajar yang sesuai dengan konten yaitu bagian dari PCK.
Pengetahuan ini juga melibatkan strategi pengajaran yang sesuai untuk
representasi konseptual dalam kesulitan belajar dan mengatasi
kesalahpahaman, serta menumbuhkan pemahaman yang berarti
(Meaningful Understanding). Pengetahuan tentang apa yang siswa bawa ke
dalam situasi ketika belajar misalnya miskonsepsi juga bagian cakupan
PCK.

6. Tecnological Pedagogical Knowledge (TPK)
merupakan suatu pengetahuan tentang bagaimana pembelajaran dan
pengajaran bisa berubah ketika dalam pembelajaran menggunakan
teknologi tertentu. TPK termasuk pemahaman guru tentang kemampuan
pedagogis dan keterbatasan alat teknologi supaya guru bisa memadukan
teknologi dengan strategi dan desain pembelajaran yang tepat. Dalam
mewujudkan TPK sangat dibutuhkan pengetahuan mendalam tentang
kekurangan dan kelebihan teknologi dalam konteks pembelajaran.

7. Tecnological Pedagogical Content Knowledge (TPACK)
adalah pemahaman yang dibutuhkan oleh guru dalam memanfaatkan
teknologisecara tepat ke dalam kegiatan belajar mengajar di berbagai konten
materi, serta mengajarkan materi menggunakan teknologi dan metode
pedagogi yang sesuai. TPACK adalah dasar dari kegiatan mengajar yang
baik menggunakan teknologi dan membutuhkan pemahaman representasi
konsep menggunakan teknologi, teknik pedagogi yang menggunakan
teknologi secara konstruktif untuk mengajarkan konten, pengetahuan
tentang apa yang membuat konsep mudah atau sulit untukdipelajari dan

76

bagaimana teknologi bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi siswa, serta pengetahuan bagaimana teknologi dapat digunakan
dalam membangun pengetahuan yang ada.

d. Pengertian Penerapan TPACK Dalam Pembelajaran
Penerapan TPACK dalam pembelajaran adalah tindakan yang

dilakukan oleh guru yang diarahkan demi tercapainya tujuan dengan
mengintegrasikan pengetahuan teknologi, pengetahuan pedagogi, dan
pengetahuan konten. Penerapan TPACK dalam pembelajaran dianggap
sebagai perbuatan mempraktekkan kerangka kerja yang berpotensi dapat
memberikan arah baru bagi guru dalam memecahkan masalah terkait
dengan mengintegrasikan TIK ke dalam kegiatan belajar mengajar di ruang
kelas. Penerapan TPACK dalam pembelajaran yang meliputi tujuh
komponen menjelaskan hubungan tiga pengetahuan (teknologi, pedagogi
dan konten) yaitu Technological Knowledge (CK), Pedagogical
Knowledge (PK), Content Knowledge (CK), Technological Content
Knowledge (TCK), Pedagogical Content Knowledge (PCK),
Technological Pedagogical Knowledge (TPK), dan Technological
Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Dalam menerapkan TPACK
dalam pembelajaran guru dapat mengkombinasikan setiap komponen
tersebut dalam merancang kegiatan pembelajaran. Contoh guru merancang
kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan media berbasis TIK, dengan
menerapkan metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa, dan
memberikan materi dengan konsep yang benar.

e. TPACK Untuk Pembelajaran Abad 21

Menurut Mishra & Koesler (2007) Total PACKage atau biasa disebut
TPACK merupakan suatu kerangka umum untuk memudahkan
pembelajaran dalam tataran praktis. Pembelajaran dalam kompetensi

77

keahlian dapat diutarakan dalam gambaran berikut : 1) Refleksi diri
penguasaan aspek pedagogic pada abad 21, dengan memberikan arahan dan
bimbingan pada salah satu mata pelajaran PMKR pada diesel common rail,
guru diharapkan mampu membimbing dan mengarahkan pada mata
pelajaran kompleks dan detail. 2) Penguasaan aspek teknologi, penguasaan
aspek teknologi disini dititik beratkan pada metode penyampaian kepada
peserta didik dan sejauh mana keefektifan perangkat pendukung tersebut. 3)
Penguasaan materi pembelajaran pada diesel common rail juga diharuskan
ada pada pendidik sehingga kedalaman materi dan penguasaan teknologi
diharapkan menjadi bekal untuk peningkatan kemampuan pada peserta
didik, 4) Prinsip belajar produktif pada peserta didik, ketersediaan perangkat
pembelajaran pendukung seperti HP atupun Laptop, harus mampu
diarahkan sehingga tidak rawan bermain game, serta penyajian verbal dan
visual dalam video pembelajaran atau segmen-segmen kecil. 5)
Pembelajaran system injeksi common rail diesel sangat kompleks dan
kompetensi ini merupakan lanjutan dari diesel konvensional, unit kendaraan
juga masih banyak yang belum tersedia, namun media pembelajaran yang
sudah ada dimanfaatkan sebaik-baiknya. 6) Konten pembelajaran yang
digunakan berupa video pembelajaran, PPT, LKPD, Modul, dan instrument
penilaian yang dilakukan secara terarah dan terbimbing diharapkan dapat
meningkatkan kompetensi keahian peserta didik dalam pembelajaran. 7)
Eksplorasi penggunaan media yang bervariasi, dalam pembelajaran
pendidik akan memberikan sejumlah instruksi kerja saat melaksanakan
kegiatan mendiagnosis kerusakan system injeksi common rail diesel,
disertai data pendukung, visual gambar, instruksi kerja, video pendukung
dan langkah-langkah. Penerapan pada siswa dilihat pada gagasan imajinatif
peserta didik dan tingkat eksplorasinya. Pembelajaran berbasis kelompok
dan berbasis problem based learning sehingga diharapkan siswa memiliki
pemahaman berbasis pengalaman dimana learning by doing dalam
pembelajaran dirasakan memberikan efek yang baik, serta peserta didik

78

mampu mengeksplorasi sumber, menalar, mengamati, menilai, menemukan
dan memecahkan masalah pada pembelajaran kompetensi keahlian.

III. PENUTUP
A. Rangkuman Kegiatan Belajar
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa
banyak konsekwensi bagi dunia pendidikan, salah satunya perubahan
paradigma guru. Perubahan karakteristik peserta didik, format materi
pembelajaran, pola interaksi pembelajaran, dan orientasi baru abad 21
memerlukan ruang-ruang kelas lebih interaktif. Kelas-kelas akan
semakin banyak yang terkoneksi jaringan internet berkecepatan tinggi
yang mudah mengakses “big data”. Berkembangnya massive open online
course (MOOC) memungkinkan orang belajar tanpa batas dan dapat
diakses melalui perangkat pribadi seperti handphone, tablet, laptop,
PDA, maupun perangkat bergerak lainnya. Tanda-tanda era disrupsi
sudah nyata yang dicirikan; (1) belajar tidak lagi terbatas pada paket-
paket pengetahuan, (2) pola belajar lebih informal, (3) orientasi belajar
mandiri (self motivated learning) dan (4) banyak cara untuk belajar
dengan banyak sumber. SDM dengan daya inovasi, daya belajar dan
kreatifitas tinggi menjadi incaran banyak organisasi. Jenis keterampilan
yang dibutuhkan adalah terwadahi dalam 4C (Creativity, Collaboration,
Critical Thingking, dan Communication). Pada sisi peserta didik terjadi
pergeseran karakteristik. Generasi z menghendaki kebebasan belajar,
menyukai hal baru yang praktis, selalu terkoneksi internet, lebih
menyukai visual daripada verbal, rentang perhatian pendek, suka
berinteraksi dengan banyak media, suka berkolaborasi dan berbagi
namun tetap terjaga privasinya. Guru harus merubah paradigma yang
tidak hanya berfokus kepada konten namun berfokus pula pada

79

pengembangan kreatifitas dan keterampilan belajar mandiri. Peran guru
lebih sebagai mentor, fasilitator, kolaborator sumber daya dan mitra
belajar. Guru harus menjemput penerapan model-model pembelajaran
yang sesuai seperti belajar penemuan (discovery learning), pembelajaran
berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah dan penyelidikan,
belajar berdasarkan pengalaman sendiri, pembelajaran kontekstual,
bermain peran dan simulasi, pembelajaran kooperatif, pembelajaran
kolaboratif, maupun diskusi kelompok kecil. Peserta didik harus
dikembalikan haknya sebagai subyek pembelajaran yang aktif. Guru
harus mau memulai untuk dapat mengintegrasikan teknologi dengan
kerangka integrasi yang melibatkan pengetahuan pedagogi), penguasaan
materi, dan teknologi yang dikenal dengan TPACK. Penerapan praktis
TPACK mencakup 8 domain yaitu; (1) menilai peserta didik, (2)
memahamkan materi, (3) memahami peserta didik, (4) merancang
kurikulum, (5) merepresentasikan data, (6) mengelola pembelajaran, (7)
mendukung strategi pembelajaran, (8) pengelolaan pembelajaran dan
integrasi dalam konteks mengajar secara lebih luas.

B. Tes Formatif
Nah untuk mengukur pemahaman bapak ibu mengenai modul ini,
selesaikanlah tes formatif dibawah ini !

1. Pernyataan berikut yang merupakan fenomena pembelajaran abad 21 yang
menyebabkan era disrupsi pendidikan adalah…..

a. Semakin meningkatnya kemampuan TIK peserta didik

b. Peningkatan jumlah kepemilikan perangkat TIK

c. Berkembangnya massive online open course

d. Banyaknya media pembelajaran berkualitas

e. Standar kompetensi guru yang meningkat
2. Guru dalam memfasilitasi pembelajaran abad 21 sebaiknya….

a. Mengutamakan agar peserta didik menguasai materi

80

b. Memfokuskan diri kepada penguasaan materi pembelajaran

c. Memfokuskan diri kepada penguasaan aplikasi komputer kontemporer

d. Menekankan kepada pengembangan keterampilan belajar

e. Menjadi pengendali utama terhadap materi pembelajaran
3. Generasi z memiliki rentang perhatian yang pendek. Manakah pernyataan
berikut mencerminkan strategi paling tepat untuk melayani generasi z adalah….

a. Mengurangi jam pelajaran dan tatap muka
b. Menambah materi pembelajaran berupa bacaan
c. Mengemas materi ke dalam topik-topik kecil
d. Mengganti buku cetak dengan buku elektronik
e. Meminta peserta didik untuk tetap fokus kepada guru
4. Rendahnya partisipasi peserta didik di kelas mendorong seorang guru
menyediakan google drive agar karya peserta didik dapat tersimpan dengan baik
sehingga memudahkan teman lainnya dalam memberikan sumbang saran terkait
karya temannya. Hal ini merupakan pengintegrasikan teknologi pada
domain…..
a. Penilaian terhadap peserta didik

b. Pemahaman terhadap peserta didik

c. Strategi pembelajaran

d. Pemahaman materi pembelajaran

e. Pengelolaan pembelajaran
5. Seorang guru menggunakan animasi video untuk menjelasksan materi prinsip
kerja hukum Newton. Tindakan guru merupakan penerapan TPACK dalam
domain…..

a. Rancangan kurikulum
b. Pengelolaan pembelajaran

c. Upaya memahami peserta didik

81

d. Memahami materi pembelajaran

e. Merepresentasikan data

C. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF
1. c
2. d
3. c
4. c
5. d

82

DAFTAR PUSTAKA

Agustini, K. L. (2018). Persaingan Industri 4.0 di ASEAN: Dimana Posisi
Indonesia. Yogyakarta: Forbil Institute.

Anggo, M. (2011).Anggo, M. (2011). Pemecahan masalah matematika
kontekstual untuk meningkatkan kemampuan metakognisi siswa. Edumatica:
Jurnal Pendidikan Matematika. 1(2), 35-42.

Aoun, J.E. (2017). Robot-proof: higher education in the age of artificial
intelligence.US: MIT Press.

Ahlah, Melianah. (2020). Membangun Karakter Siswa Melalui Literasi
Digital Dalam Menghadapi Pendidikan Abad 21 Era Society 5.0. In
ProsidingSeminar Nasional Program Pascasarjana Universitas PGRI
Palembang, 805-814.

Barus, Diana Rosa. (2019). Model-Model Pembelajaran Yang Disarankan Untuk
Tingkat SMK Dalam Menghadapi Abad 21.

Hariyanto, A. B., & Jannah, U. R. (2020). Revolusi Guru Dalam Pembelajaran
Abad 21. Sigma, 5(2), 77-84.

Hasibuan, Prastowo. (2019). Konsep Pendidikan Abad 21: Kepemimpinan dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia SD/MI. Jurnal MAGISTRA, 10(1), 26-
50. 40Lectura: Jurnal Pendidikan, Vol.12 No. 1, Februari2021

Kuncahyono, Suwandayani, B. I, Muzakki, A. (2020). Aplikasi E-Test“That
Quiz” Sebagai Digitalisasi Pembelajaran Abad 21 Di Sekolah Indonesia
Bangkok. Lectura : Jurnal Pendidikan,11(2), 153-166.

Kemendikbud. No.0490/U/1992. Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Khasanah, U.,& Herina, H. (2019). Membangun Karakter Siswa Melalui
Literasi Digital Dalam Menghadapi Pendidikan Abad 21 (Revolusi Industri

83

4.0). In Prosiding Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas PGRI
Palembang, 12(1),999-1015.

Lase, D. (2019). Pendidikan Di Era Revolusi Industri 4.0. Sundermann: Jurnal
Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora Dan Kebudayaan, 1(1), 28-43.

Litasari, V. N., Pramukti, R. H., Farikhah, N. A., & Hidayah, R. The
Importance Of Family Education To Instill Children’s Moral Character In The
Era Of Industrial Revolution 4.0. In Social, Humanities, and Educational
Studies (SHEs): Conference Series,2(1), 213-218.

Muhali. (2019). Pembelajaran Inovatif Abad Ke-21. Penelitian dan Pengkajian
Ilmu Pendidikan: e-Saintika, 3(2), 25-50.

Mulyani, D., Ghufron, S., Akhwani, A., & Kasiyun, S. (2020). Peningkatan
Karakter Gotong Royong di Sekolah Dasar.Lectura : Jurnal Pendidikan,11(2),
225-238.

Nabilah, Nana. (2020). Pengembangan Keterampilan Abad 21 Dalam
Pembelajaran Fisika Di Sekolah Menengah Atas Menggunakan Model Creative
Problem Solving. 3.

Redhana, I.W. (2019). Mengembangkan keterampilan abad ke-21 dalam
pembelajaran kimia. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 13(1), 2239-
2253.Syahputra. (2018). Pembelajaran Abad 21 Dan Penerapannya Di
Indonesia.Prosiding Seminar Nasional SINASTEKMAPAN (E-Journal),1, 1276-
1283.

Wijaya, E. Y., Sudjimat, D. A., Nyoto, A., & Malang, U. N. (2016).
Transformasi pendidikan abad 21 sebagai tuntutan pengembangan sumber daya
manusia di era global. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika.
1(26), 263-278.

Yusuf, Mukhadis. (2018). Model Pengembangan Profesionalitas Guru Sesuai
Tuntutan Revitalisasi Pendidikan Vokasi Di Indonesia. Lectura : Jurnal
Pendidikan, 9(2), 130-139.

84

Zubaidah,S. (2016, December). Keterampilan abad ke-21: Keterampilan yang
diajarkan melalui pembelajaran. In Seminar Nasional Pendidikan2(2), 1-17

85

GLOSARIUM

• Big data: Big data adalah kumpulan data yang sangat besar, kompleks dan

terus bertambah setiap waktu. Data ini dihasilkan dari aktivitas internet yang

makin rutin dilakukan, baik untuk tujuan pribadi, pendidikan maupun

bisnis.

• Disrupsi : Secara bahasa, disruption artinya gangguan atau kekacauan;

gangguan atau masalah yang mengganggu suatu peristiwa, aktivitas, atau

proses (disturbance or problems which interrupt an event, activity, or

process).

• Generasi z : Anak-anak yang lahir setelah tahun 1995

• Generation Next : Generasi berikutnya

• Generasi M : Kepribadian dinamis, kreatif, konsumer yang

bergairah dan bangga akan iman mereka.

• Homelander : Menggambarkan generasi setelah

Millennials/Penduduk asli

• Kehidupan analog : Kehidupan yang serupa tapi tidak sama dalam

berbagai teknologi awal yang menyerupai bentuk asli, misalnya komunikasi

tatap muka, koran, brosur.

• Kelas multimedia : Ruang kelas yang sudah dilengkapi papan tulis elektrik,

komputer tablet, iPAD, PDA, smartphone, dan perangkat canggih lainnya

yang dilengkapi jaringan internet berkecepatan tinggi.

• Massive open online course (MOOC) : MOOCs merupakan metode belajar-

jarak-jauh dengan skala-besar, gratis dan bisa diakses siapa saja dan di mana

saja mereka berada di dunia.

• Milenial : Berkaitan dengan generasi yang lahir antara 1980

dan 2000-an

• Multimedia Pembelajaran : media pembelajaran yang menggabungkan

beberapa elemen media seperti teks, grafik, animasi, audio maupun video

yang tersusun secara sistematis, dimana informasi yang disampaikan

melalui elemen-elemen tersebut mengandung pesan pembelajaran.

86

• New Silent Generation : Generasi yang percaya pada konsep duty

before pleasure

• Pembelajaran konvensional : pembelajaran yang sudah biasa dilakukan

oleh guru di kelas, pembelajaran berlangsung terpusat pada guru sebagai

pusat informasi, dan siswa hanya menerima materi secara pasif.

• Program Palapa Ring : Palapa Ring merupakan proyek infrastruktur

telekomunikasi berupa pembangunan serat optik di seluruh Indonesia

sepanjang 36.000 kilometer.

• Ruang kelas konvensional : Ruang kelas yang berisi meja atau bangku,

kursi, dan papan tulis yang terpampang di depan kelas dengan sekotak kapur

dan sebuah penghapus.

i

KATA PENGANTAR
Pujian dan syukur disampaikan kepada Tuhan Yang Masa Kuasa karena
penyertaan dan kasih-Nya sungguh nyata dalam hidup ini. Terkhusus dalam
penyelesaian materi ajar ini. Materi ajar yang penulis susun adalah Profil dan
Kompetensi Guru Abad 21.
Materi ajar ini membahas tentang profil guru efektif abad 21, kompetensi
guru abad 21, dan kompetensi guru abad 21 yang memesona. Penulis menggunakan
berbagai referensi dalam menyusun materi ajar ini. Baik berupa e-book, jurnal,
makalah, dll.
Melalui ini, penulis berterima kasih kepada seluruh pihak yang turut
membantu dalam proses penyelesaian materi ajar ini. Penulis menyadari masih
banyak kekurangan dalam materi ajar ini. Melalui kesempatan ini, penulis berharap
pembaca dapat menyampaikan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan
materi ajar ini.

Soppeng, 8 Maret 2022

Penulis

ii

DAFTAR ISI

SAMPUL ............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR .......................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................iii
PENDAHULUAN.............................................................................................. 1

1. DESKRIPSI SINGKAT .........................................................................3
2. CAPAIAN PEMBELAJARAN .............................................................. 3
URAIAN MATERI ........................................................................................... 4
A. PROFIL GURU EFEKTIF ABAD 21 .................................................4
B. KOMPETENSI GURU ABAD 21...................................................... 15
C. KOMPETENSI GURU ABAD 21 YANG MEMESONA................ 25
D. IMPLEMENTASI KOMPETENSI GURU ABAD 21..................... 40
LATIHAN ........................................................................................................53
PENUTUP ........................................................................................................ 54
A. RANGKUMAN ................................................................................... 54
B. TES FORMATIF ................................................................................ 55
KUNCI JAWABAN ........................................................................................ 58
GLOSARIUM.................................................................................................. 59
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 65

iii

PENDAHULUAN

Selama dekade terakhir ini , pendidikan berfokus pada pengajaran ‘3R’ yaitu
Membaca (reading), menulis (writing) dan Arithmatic (ilmu hitung) (Teo, 2019).
Model ini didasarkan pada pembelajaran yang berfokus terhadap guru (teacher
centered). Dalam penedekatan tradisional ini, guru mengajarkan materi melalui
pengulangan, membuat siswa mengucapkan atau menulis hal-hal yang sama secara
terus menerus yang membuat membuat pembelajaran di kelas kurang menarik.
Kemudian guru menilai pengetahuan yang diperoleh siswa dengan menggunakan
test dan quiz pada akhir pertemuan atau akhir tahun dalam rangka mengidentifikasi
tingkat pembelajaran siswa. (Alismail dan McGuire. 2105).

Namun sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi dan arus globalisasi dia abad ke-21 ini diperlukan pembaruan dalam
dunia pendidikan sebagai suatu kebutuhan dalam rangka menghadapi pemasalahan
yang juga akan semakin kompleks khususnya dalam menghadapi revolusi industri
4.0. Sebab Pendidikan merupakan dasar dan kekuatan penting dari ekonomi, sosial,
dan perkembangan manusia, pendidikan adalah jantung dari perubahan yang secara
dramatis mempengaruhi dunia dalam bidang sains, teknologi, ekonomi, dan
budaya. Itulah alasan di balik perubahan sosial dan kemajuan ilmiah (Bakhtiari,
2011).

Fenomena dan karakteristik khas yang terkait dengan globalisasi dan
perkembangan Teknologi informasi dan komunikasi mencakup pertumbuhan
jaringan global (misalnya internet, komunikasi elektronik di seluruh dunia, dan
transportasi), transfer dan interflow global dalam bidang teknologi, ekonomi, sosial,
politik, budaya, dan pembelajaran, aliansi internasional dan kompetisi, kolaborasi
dan pertukaran internasional, desa global, integrasi multi-budaya, dan penggunaan
standar dan tolok ukur internasional (Bakhtiari, 2011).

Akibat dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat
tersebut memaksa peningkatan pelatihan dan peningkatan kualifikasi tenaga
professional, kompetensi manajemen dan invasi dalam sIstem informasi yang

1

mendorong modal intelektual dan pengembangan pertumbuhan ekonomi (Kowal
dkk, 2016). Oleh sebab itu pendidikan memiliki peranan yang sangan krusial untuk
berevolusi dan menanggapi tuntutan dalam menghasilkan manusia yang
berorientasi industri dan dunia kerja untuk kebutuhan pembelajaran di sekolah
maupun kehidupan sosial siswa di masa depan. Sistem dan model pendidikan harus
digeser ke pendidikan berorientasi masa depan (future-oriented). Pendekatan
pendidikan berorientasi masa depan (future-oriented) juga di istilahkan dengan
pembelajaran abad 21 menekankan pentingnya inisiatif individu dan modal
intelektual warga negara. Pendidikan berorientasi masa depan (future-oriented)
terikat erat dengan ide-ide tentang teknologi digital di dunia saat ini dan peranannya
dalam membentuk pengajaran dan pembelajaran (Benade dkk, 2013) dalam
perubahan yang cepat dan dunia yang terkoneksi secara digital yang dapat mencapai
peningkatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, personalisasi, berbasis
penyelidikan (inquiry), pembelajaran kolaborasi dan otentik (Osborne, 2013). Oleh
karenanya Pendidikan berorientasi masa depan (future-oriented) mendukung
perubahan paradigma di pendidikan dan transformasi pengajaran dan pembelajaran
dengan cara yang lebih responsive terhadap kebutuhan dan minat belajar
millennium baru (Bolstad dkk, 2013).

Pembelajaran abad 21 diklaim sebagai solusi untuk mempersiapkan
generasi bangsa dalam menghadapi revoulusi industry 4.0. dalam sistem pendidikan
ini setiap pelaku pendidikan baik guru maupun siswa dituntuk memiliki soft skill
dan keterampilan abad 21 yang secara luas mencakup pemikiran kritis, kreatif, dan
inventif; keterampilan informasi, interaktif, dan komunikasi; keaksaraan
kewarganegaraan, kesadaran global dan keterampilan lintas budaya.

Lantas, apakah pembelajaran abad 21 ini dapat menjangkau semua satuan
pendidikan? Bagaimana implementasi kompetensi guru abad 21 dalam
pembelajaran? Mari mendalami materi ajar ini.

2

1. Deskripsi Singkat
Peranan dan tugas guru telah berkembang sejalan dengan perkembangan

jaman, menjadi guru pada era ini tidak sama dengan menjadi guru sepuluh atau lima
belas tahun yang lalu. Terdapat kebutuhan siswa yang meningkat yang harus
dipenuhi di dalam kelas, kurikulum terus menerus berubah, tuntutan untuk
melakukan inovasi dan reformasi juga semakin meningkat. Selain itu tanggung
jawab guru juga semakin beragam, dari meluangkan waktu untuk konsultasi orang
tua dan berkomunikasi dengan kolega untuk pengembangan pengajaran.
Perubahan-perubahan ini tentu berdampak pada guru yang awalnya hanya sebagai
pekerjaan menjadi profesi yang menjadi salah satu pusat dalam pendidikan.

Selain tantangan tersebut, secara spesifik menjadi guru di negara
berkembang akan menghadapi berbagai persoalan seperti sarana dan prasarana,
kondisi politik yang tidak menentu, tingkat buta huruf, inflasi, kualitas pendidikan
yang rendah secara umum dan khususnya kualitas pendidikan guru. Indonesia
sebagai salah satu negara berkembang juga mengalami permasalahan-
permasalahan tersebut, khususnya permasalahan tentang kualitas pendidikan dan
pelatihan guru untuk menjadikan guru seorang profesional.

2. Capaian Pembelajaran
Capaian pembelajaran yang diharapkan pada materi ajar ini adalah

memahami implementasi kompetensi guru abad 21. Adapun subcapaian
pembelajaran yaitu:
a. Mengidentifikasi profil guru efektif abad 21.
b. Menganalisis kompetensi guru abad 21.
c. Menganalisis kompetensi guru abad 21 yang memesona.
d. Mengimplementasikan kompetensi guru abad 21.

3

URAIAN MATERI

A. Profil Guru Efektif Abad 21
Kata Profil menurut Bahasa Indonesia adalah pandangan, gambaran,

sketsa biografi, grafik atau ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal khusus.
Guru atau pendidik dalam pasal 1 ayat 6 undang-undang No. 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa “Pendidik adalah tenaga
berkependidikan berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususan serta
berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab
terhadap pendidikan siswa, baik secara individual ataupun klasikal, baik di
sekolah maupun di luar sekolah. Seseorang yang menjadi pelatih, pembimbing
maupun pengaruh dalam suatu aktivitas dapat dikatakan sebagai seorang guru.
Guru merupakan sebuah kata yang banyak digunakan untuk menyebutkan
seseorang yang dijadikan panutan. Sosok guru menyiratkan pengaruh yang luar

4

biasa terhadap siswa-siswanya, sehingga baik tidaknya seorang siswa sangat
ditentukan oleh guru.

Guru dalam arti profesi mempunyai tugas mengajar dan mendidik dalam
konteks pendidikan. Menurut UU RI No.14 Tahun 2005 tentang Guru: “Guru
adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan
pendidikan menengah”. Guru merupakan orang yang pertama mencerdaskan
manusia, orang yang memberi bekal pengetahuan, pengalaman dan
menanamkan nilai-nilai budaya dan agama tehadap anak didik, dalam proses
pendidikan guru memegang peran penting setelah orang tua dan keluarga di
rumah. Oleh karena itu sosok guru yang dibutuhkan adalah seseorang yang
mampu membantu siswa membangun pengetahuan sehinggga dapat mencapai
tujuan pendidikan.

Perlu diakui, selama ini sekolah-sekolah telah terjebak dalam
materialisme kurikulum pendidikan. Kebanyakan guru hanya berorientasi pada
aspek kognitif dari proses belajar mengajar. Guru hanya sebagai agen
pendidikan yang bertugas meyuapi pengetahuan pada anak-anak, tanpa berpikir
potensi apa yang terdapat pada siswanya. Siswa terbatas pada sistem yang
mengekang mereka. Mereka tidak bisa berkembang sesuai dengan minat dan
potensinya karena terperangkap oleh orientasi kognitif.

Jika kita melihat dari sisi guru, masalah utama bagi guru dalam dunia
pendidikan bukan lagi tertumpu pada kesejahteraan guru. Dulu, memang perlu
diakui bahwa pendapatan seorang guru yang relatif kecil bisa menjadi serangan
psikologis bagi profesi seorang guru. Walaupun bisa dibilang saat ini masih ada
banyak guru yang masih merasakan hal itu, namun kita perlu melihat
juga adanya tunjangan sertifikasi guru adalah upaya pemerintah menutup celah
ketidaksejahteraan guru. Selain itu, dengan kemajuan teknologi yang semakin
pesat, bisa dimanfaatkan guru untuk mengasah kreatifitas mereka.

5

Apakah anda pernah mengikuti pembelajaran yang mudah dipahami dan
menyenangkan? Pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sangat
bergantung pada kemampuan guru dalam memfasilitasi pembelajaran. Cara guru
bertindak dan bekerja sangat ditentukan oleh pengetahuan, pengalaman, dan
sistem kepercayaan terhadap pembelajaran itu sendiri. Ketiga hal tersebut
membentuk pola pikir atau paradigma yang melandasi setiap tindakan guru,
apakah dia akan menjadi guru yang efektif atau menjadi guru yang tidak efektif.
Guru efektif selalu berangkat dari pemahaman bahwa peserta didik bukanlah
gelas kosong yang harus diisi terus-menerus. Namun guru efektif di abad 21
memahami betul bahwa peserta didik merupakan generasi z yang senantiasa
berinteraksi dengan data dan informasi. Guru efektif tidak berfokus kepada
penyajian pengetahuan sebatas sebagai fakta dan atau konten saja, namun
memiliki orientasi kepengembangan keterampilan penting abad 21.

Sebelum membahas profil guru efekti abad 21 mari sejenak mengenal 4
tipe guru dimana Saudara merupakan pemilik salah satu tipe dari 4 tipe yang
dipaparkan.
a. Tipe pertama disebut Guru Medioker (Mediocre Teacher)

Pertama kali kita mendengar kata “medioker” saja rasanya tingkatan
kategori guru ini sangat rendah sekali. masih banyak lagi.Guru tipe medioker
sering menjengkelkan bagi sebagian besar peserta didik. Ciri guru medioker
adalah monoton, mata lebih banyak melihat buku dan membacanya, selalu
duduk atau berdiri di depan ruang kelas, pendapatnya seolah merupakan
kebenaran mutlak, dan peserta didik lebih banyak mendengar suara guru.

6

Cobalah Saudara hitung persentase apakah lebih banyak mendengarkan peserta
didik atau lebih banyak menceramahi peserta didik? Guru tipe medioker hanya
menggugurkan kewajiban, susah menerima kritik, dan menutup diri. Guru tipe
ini bisa berdampak negatif secara luas, kurang disenangi peserta didik dan
orangtua, sampai menurunnya rasa hormat kepada guru. Dampak luas kepada
peserta didik adalah timbul rasa malas dan bosan di sekolah sebagai
pelariannya akan megekpresikan energinya di luar sekolah yang bisa
berpotensi negatif. Guru ini juga kemungkinan dikomplain oleh orang tua
siswa, bahkan mungkin sampai ke arah penurunan rasa hormat siswa kepada
guru. Bagi Saudara yang masih berada pada tahap ini silahkan segera berubah
karena menjadi guru medioker tidaklah nyaman karena akan digilas jaman dan
menjadi bahan gunjingan generasi z. Salah satu contohnya, saya masih banyak
melihat guru yang telah menggunakan media belajar Microsoft Power
Point namun apa yang ditampilkannya hanya berupa teks yang panjang seperti
buku dan dibaca ulang.
b. Guru yang baik (good teacher)

Guru dalam kategori ini selangkah lebih baik. Guru tipe baik memiliki
kemampuan ceramah dan menjelaskan berdasarkan hasil analisis bukan
sekedar membaca ulang dan menghafal meskipun dilihat dari gaya
mengajarnya masih cenderung berpusat guru. Selain itu, gaya mengajarnya
juga masih bersifat teacher center. Suatu fakta sekaligus merupakan tragedi

7

dimana masih banyak guru yang memahami materi pembelajaran dengan baik
namun gagal memahami peserta didik. Guru tipe ini sebatas terampil
memahami materi pembelajaran (content knowledge) dan mentransfer
pengetahuan yang sebenarnya bisa digantikan oleh teknologi. Guru tipe ini juga
harus segera berubah dari sekedar menuangkan pengetahuan menjadi
berorientasi mengembangkan keterampilan baru abad 21 dengan cara yang
baru dalam memfasilitasi pembelajaran.

c. Guru superior (demonstrates)

Apabila Saudara dapat membuat suasana kelas menjadi lebih interaktif
dan kreatif, semua peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk
menyampaikan pendapat maka Saudara termasuk guru yang superior. Interaksi
pembelajaran tidak lagi hanya terjadi guru dengan peserta didik, namun di
antara peserta didik dan peserta didik dengan sumber belajar. Guru superior
suka memanfaatkan media pembelajaran sehingga materi pembelajaran mudah
diingat dan dipahami oleh peserta didik. Guru superior sudah mampu
menciptakan pembelajaran yang berbasis peserta didik namun dirinya tetap
aktif.

Guru pada jenis ini sudah jauh lebih baik dibanding 2 jenis sebelumnya.
Dalam proses pembelajaran guru superior selalu membawa alat-alat
pembelajaran untuk disajikan kepada siswa. Alat-alat demonstrasi pada jaman

8

sekarang sangat penting sekali keberadaannya, baik itu yang bersifat teknologi
ataupun konvensional (sederhana). Siswa pun lebih mampu mengingat jika
materi-materinya diwakili oleh suatu peragaan yang unik, sehingga siswa tidak
hanya mampu menyebutkan materinya tapi juga sudah mampu mengetahui
seperti apa bentuk secara visual materi yang mereka pelajari. Selain itu, guru
superior juga sudah menggunakan active learning yang dimaksudkan bahwa
saat proses pembelajaran harus menciptakan peran serta siswa seluas-luasnya.
Misalnya keberanian untuk mengajukan pertanyaan, mengemukakan gagasan
dan mencari data dan informasi yang mereka perlukan untuk memecahkan
masalah.
d. Great teacher (inspires).

Guru dengan tipe great sangat dibutuhkan oleh bangsa dan dirindukan
selalu oleh peserta didik. Guru tipe ini seolah memiliki x-factor dimana setiap
proses pembelajarannya selalu dilandasi oleh panggilan jiwa, ibadah, dan
merasa berdosa apabila tidak mampu menginspirasi peserta didiknya. Guru tipe
ini banyak melakukan refleksi diri dan berupaya terus untuk membangun
kompetensinya. Guru tipe ini sepenuh hati dan bermurah hati, tampil
memesona namun canggih dalam artian memiliki literasi TIK yang baik,
pandai beranalogi, bermetafora, dapat menyelami perasaan peserta didik,
ramah dan berwibawa.

Jenis guru ini lah yang sangat dibutuhkan bangsa ini maupun di
belahan dunia manapun. Jenis guru yang selalu diharapkan oleh semua siswa.
Guru yang mempunyai x-factor dalam setiap proses pembelajarannya, guru

9

yang menjadikan pekerjaannya adalah ibadah, dan guru yang merasa berdosa
jika tidak bisa menginspirasi siswanya.

Great Teacher mampu menentukan dan menemukan arah dan masa
depan siswa yang dampaknya otomatis guru itu akan menjadi teladan siswa
dalam menjalani kehidupannya baik di sekolah, rumah, lingkungan, dan masa
depannya kelak. Untuk itu, kehadiran great teacher sangatlah penting untuk
melahirkan siswa yang berkarakter mulia.

Guru terbaik (great teacher) adalah guru yang mampu menemukan dan
memunculkan potensi siswa sehingga potensi siswa tersebut bisa menjadi
profesinya di kemudian hari. Setidaknya, untuk menjadi guru terbaik
diperlukan tiga hal penting yang harus dipersiapkan guru, yaitu: 1. Motivasi, 2.
Pengetahuan dan 3. Keterampilan.

Pada era digital yang komplek, di tengah perubahan masyarakat yang
sangat cepat, sangat penting bagi guru terlibat dalam kegiatan penyelidikan dan
penyelesaian masalah bersama dalam komunitas belajar. Guru perlu menjaga
komitmen diri dengan merefleksikan kompetensi dirinya, memonitor, dan
meningkatkan profesionalisme diri. Ada beberapa kompetensi esensial bagi
para guru khususnya guru efektif di Indonesia terkait abad 21.

a. Guru efektif berangkat dari pemahaman peserta didiknya bukan gelas
kosong karena generasi z memiliki aksesibilitas yang lebih baik
terhadap sumber belajar digital/online. Guru efektif tidak berfokus
kepada penyajian fakta dan konten, namun mengarah pengembangan
keterampilan belajar peserta didik.

b. Aktif memahami konteks berpikir peserta didik dan mengembangkan
pertanyaan-pertanyaan spesifik sebagai kunci dalam pengembangan
kemampuan belajar terkait penggunaan TIK sekaligus mendorong
kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui beberapa kegiatan sebagai
berikut;.
1) Menyediakan tugas-tugas pembelajaran yang memungkinkan
dapat mengungkap pemikiran peserta didik.

10

2) Menilai perkembangan kemampuan belajar peserta didik terkait
keterlibatannya dalam pembelajaran yang mengintegrasikan TIK.
Guru dapat memberikan bimbingan apabila peserta didik
kebingungan berhadapan dengan kompleksitas informasi.

3) Memonitor belajar peserta didik atas dasar; (a) peserta didik
kurang efisien dan gagal untuk menemukan nilai potensial TIK.
(b) Berhadapan dengan informasi yang banyak bisa menyebabkan
peserta didik tergoda dari tugas pembelajarannya.

4) Guru efektif mampu menyediakan tugas pembelajaran menarik
untuk mengamati kemampuan peserta didik dalam proses
pembelajaran berbasis TIK.

5) Menyediakan umpan balik selama peserta didik terlibat dalam
proses pembelajaran dilandasi kesadaran umpan balik akan
berharga untuk mengembangkan efektivitas cara belajar peserta
didik.

6) Memiliki pra-konsepsi pemahaman konseptual penting bagi
perkembangan cara belajar berbasis TIK karena memudahkan
transfer pengalaman belajar.

c. Guru efektif mengajarkan materi pelajaran secara mendalam dengan
banyak contoh dan memberikan fondasi yang kuat akan pengetahuan
faktual.

d. Guru efektif lebih fokus pengembangan keterampilan metakognisi
dan mengintegrasikan keterampilan metakognisi dalam kurikulum
untuk beragam bidang studi.

e. Guru efektif selain memahami materi (content) juga menguasai
beragam strategi pembelajaran yang memudahkan peserta didik
belajar. Guru efektif memiliki tingkat melek TIK yang memadai.

Perkembangan zaman yang diiringi dengan perkembangan teknologi
telah membawa dampak perubahan yang sangat besar dalam kehidupan
bermasyarakat termasuk dalam pola pikir generasi saat ini atau sering disebut

11


Click to View FlipBook Version