27
dipelajari, sumber-sumber belajar serta metode yang akan dipelajari, kapan,
bagaimana serta dalam hal apa keberhasilan yang akan diuji
Menurut Knowless (1975), belajar mandiri adalah suatu proses dimana
individu mengambil inisiatif dengan atau tanpa bantuan dari orang lain untuk
mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri, merumuskan atau menentukan tujuan
belajarnya sendiri, mengidentifikasi sumber-sumber belajar, memilih dan
melaksanakan strategi belajarnya, serta mengevaluasi hasil belajarnya sendiri.
Menurut Haris Mujiman, belajar mandiri adalah kegiatan belajar yang
diawali dengan kesadaran adanya masalah, disusul dengan timbulnya niat
melakukan kegiatan belajar secara sengaja untuk menguasai sesuatu kompetensi
yang diperlukan guna mengatasi masalah
Dari pendapat beberapa ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar
mandiri adalah kegiatan belajar aktif, yang didorong oleh niat atau motif untuk
menguasai sesuatu kompetensi guna mengatasi sesuatu masalah, dan dibangun
dengan betul pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki
Penjelasan untuk batasan tersebut diatas adalah sebagai berikut :
a. Kegiatan belajar aktif merupakan kegiatan belajar yang memiliki ciri
keaktifan pembelajar, persistensi, keterarahan, dan kreativitas untuk
mencapai tujuan.
b. Motif, atau niat, untuk menguasai sesuatu kompetensi adalah kekuatan
pendorong kegiatan belajar secara intensif, persistem, terarah dan kreatif.
c. Kompetensi adalah pengetahuan, atau ketrampilan, yang dapat digunakan
untuk memecahkan masalah.
d. Dengan pengetahuan yang telah dimiliki pembelajar mengolah informasi
yang diperoleh dari sumber belajar, sehingga menjadi pengetahuan ataupun
keterampilan baryang dibutuhkannya.
e. Tujuan belajar hingga evaluasi hasil belajar, ditetapkan sendiri oleh
pembelajar, sehingga ia sepenuhnya menjadi pengendali kegiatan
belajarnya. Dalm status pelatihan dalam sistem pendidikan
28
formaltradisional, tujuan akhir belajar dari setiap unit penugasan dapat
ditetapkan oleh pengajar, tetapi tujuan-tujuan antaranya ditetapkan sendiri
oleh pembelajar
Dari batasan itu dapat diperoleh gambaran bahwa seseorang yang sedang
menjalankan kegiatan belajar mandiri lebih ditandai, dan ditentukan, oleh motif
yang mendorongnya belajar. Bukan oleh kenampakan fisik kegiatan belajarnya.
Pembelajar tersebut secara fisik bisa sedang belajar sendirian, belajar kelompok
dengan kawan-kawannya atau bahkan sedang dalam situasi belajar klasikal dalam
kelas tradisonal. Akan tetapi, bila motif yang mendorong kegiatan belajarnya
adalah motif untuk menguasai sesuatu kompetensi yang ia inginkan, maka ia sedang
menjalankan belajar mandiri. Belajar mandiri jenis ini dapat pula disebut sebagai
Self Motivated Learning.
Belajar mandiri memungkinkan siswa belajar secara mandiri dari bahan
cetak, siaran maupun bahan pra rekam yang telah terlebih dahulu disiapkan, istilah
mandiri menegaskan bahwa kendali belajar serta keluwesan waktu maupun tempat
belajar terletak pada pembelajar yang belajar.
Belajar mandiri memiliki 3 dimensi yaitu dimensi sosial, dimensi
pedagogis, dan dimensi psikologis.
a. Belajar mandiri dilihat dari dimensi sosial bukan belajar dengan mengisolasi
diri (isolation learner). Kata isolation bukan berarti secara fisik harus
terpisah namun lebih menekankan adanya kebebasan belajar dalam
menentukan tujuan, aktifitas, dan cara evaluasinya.
b. Belajar mandiri sendiri dilihat dari dimensi pedagogis mengedepankan
aktifitas fisik dan keterlibatan dalam komunitas. Contoh; mengikuti seminar,
forum ilmiah, workshop, dan sebagainya. Belajar mandiri dilihat dari dimensi
pedagogis (aktifitas belajar) ditandai adanya aktifitas dalam mengidentifikasi
dan mencari sumber belajar yang mendukung pencapaian kompetensi.
Contoh; untuk meningkatkan kompetensi diri dalam hal aplikasi komputer
29
guru dapat mengikuti diklat teknis aplikasi komputer dan tidak
memprioritaskan kegiatan seminar tentang model pembelajaran.
c. Dimensi psikologis berkenaan dengan proses mental terkait pengambilan
keputusan dan inisiatif dalam ruang otonominya dalam menentukan aktifitas
belajar.
Dengan demikian, belajar mandiri sebagai metode yang dapat
didefinisikan sebagai suatu pembelajar yang memposisikan pembelajar sebagai
penanggung jawab, pemegang kendali, pengambil keputusan atau inisiatif dalam
memenuhi dan mencapai keberhasilan belajarnya sendiri dengan atau tanpa bantuan
dari orang lain
2. Keterampilan Belajar Mandiri
Keterampilan dalam belajar mandiri memuat tiga konsep utama yaitu; (a)
belajar bebas (independent learning), (b) ketidakbergantungan, dan (c) kontrol
psikologis.
a. Konsep pertama belajar bebas berarti keputusan-keputusan tentang tujuan,
isi, usaha-usaha, waktu, evaluasi dan sebagainya dalam belajar. Adanya
unsur kebebasan sehingga pebelajar memahami kebutuhan dan standar
belajarnya sendiri, sehingga bantuan dari pihak lain bisa diterima ataupun
tidak
b. Konsep kedua pebelajar tidak tergantung guru dan atau dosen sehingga
diperlukan keterampilan dalam mencari informasi mulai dari memilih,
menyeleksi, menilai, dan memanfaatkan informasi
c. Adanya kontrol psikologis terhadap elemen-elemen penting dari aktifitas
belajar oleh pebelajar secara bebas bukan oleh elemen-elemen dalam
kurikulum.
3. Ciri-ciri Belajar Mandiri
Metode belajar yang sesuai dengan kecepatan sendiri juga disebut belajar
mandiri atau belajar dengan mengarahkan diri sendiri. Meskipun istilah tersebut
30
mempunyai arti yang berbeda, diantara ciri-ciri yang penting bagi pembelajar
secara umum adalah:
a. Piramid Tujuan
Telah disinggung di atas bahwa dalam belajar mandiri terbentuk struktur
tujuan belajar (yang identik dengan struktur kompetensi) berbentuk
piramid. Besar dan bentuk piramid sangat bervariasi di antara para
pembelajar. Sangat banyak faktor yang berpengaruh. Di antaranya adalah
kekuatan motivasi belajar, kemampuan belajar, dan ketersediaan sumber
belajar. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa semakin kuat motivasi
belajar, semakin tinggi kemampuan belajar, dan semakin tersedia sumber
belajar. Secara umum dapat dikatakan, bahwa keadaan ini menunjukkan
kemungkinan semakin tingginya kualitas kegiatan belajar, dan semakin
banyaknya kompetensi yang diperoleh.
b. Sumber dan Media Belajar
Belajar mandiri dapat menggunakan berbagai sumber dan media belajar.
Pengajar, tutor, kawan, pakar, praktisi,dan siapapun yang memiliki
informasi dan ketrampilan yang diperlukan pembelajar dapat menjadi
sumber belajar. Paket-paket belajar yang berisi self instruction materials,
buku teks, hingga teknologi informasi lanjut, dapat digunakan sebagai
media belajar dalam belajar mandiri. Ketersediaan sumber dan media
belajar turut menentukan kekuatan motivasi belajar. Apabila sumber dan
bahan belajar tersedia dalam jumlah dan kualitas yang cukup di dalam
mesyarakat, kegiatan belajar mandiri menjadi terdukun Lebih-lebih bila
penguasaan kompetensi yang 26 bermanfaat bagi kehidupan masyarakat
mendapatkan reward yang sepadan, maka belajar mandiri akan berkembang
menjadi bagian dari budaya masyarakat.
c. Tempat Belajar
Belajar mandiri dapat dilakukan di sekolah, di rumah, di perpustakaan, di
warnet, dan di mana pun tempat yang memungkinkan berlangsungnya
kegiatan belajar. Akan tetapi, memang ada tempat-tempat belajar tertentu
31
yang paling sering digunakan pembelajar, yaitu rumah dan sekolah.
Lingkungan belajar di tempat-tempat tersebut perlu mendapatkan perhatian,
sehingga pembelajar merasa nyaman melakukan kegiatan belajar.
d. Waktu Belajar Belajar mandiri dapat dilaksanakan pada setiap waktu yang
dikehendaki pembelajar, di antara waktu yang digunakan untuk kegiatan-
kegiatan lain. Masing-masing pembelajar memiliki preserensi waktu
sendiri-sendiri, sesuai dengan ketersediaan waktu yang ada padanya.
e. Tempo dan Irama Belajar
Kecepatan belajar dan intensitas kegiatan belajar ditentukan sendiri oleh
pembelajar, sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan kesempatan yang
tersedia.
f. Cara Belajar
Pembelajar memiliki cara belajar yang tepat untuk dirinya sendiri. Ini
antara lain terkait dengan tipe pembelajar, apakah ia termasuk auditif,
visual, kinestetik, atau tipe campuran. Pembelajar mandiri perlu
menemukan tipe dirinya, serta cara belajar yang cocok dengan keadaan dan
kemampuannya sendiri.
g. Evaluasi
Hasil Belajar Evaluasi hasil belajar mandiri dilakukan oleh pembelajar
sendiri. Dengan membandingkan antara tujuan belajar dan hasil yang
dicapainya, pembelajar akan mengetahui sejauh mana keberhasilannya.
Hasil selfevaluation yang dilakukan berulang-kali akan turut membentuk
kekuatan motivasi belajar yang lebih lanjut. Pada umumnya kegagalan yang
terus menerus dapat menurunkan kekuatan motivasi belajar. Sebaliknya
keberhasilan-keberhasilan akan memperkuat motivasi belajar.
4. Syarat-syarat Belajar Mandiri
Syarat-syarat belajar mandiri, diantaranya :
a. Adanya motivasi
belajar Untuk melakukan belajar aktif, motivasi belajar merupakan
syarat yang harus dikembangkan dahulu. Tanpa motivasi belajar yang
32
cukup kuat untuk menguasai sesuatu kompetensi, belajar mandiri tidak
mungkin dijalankan tetapi sebaliknya, belajar mandiri diperkirakan akan
dapat menumbuhkan motivasi belajar. Pengembangan motivasi belajar
merupakan bagian tersulit dalam penyiapan dan penumbuhan kemampuan
belajar mandiri, sebab upaya pengembangan motivasi belajar
mempersyaratkan ketersediaan informasi tentang untung-ruginya belajar
dan kemampuan pembelajar mengolah informasi tersebut dengan benar.
Informasi tentang keuntungan dan kerugian melakukan kegiatan belajar.
b. Adanya masalah
Syarat kedua adalah harusnya ada masalah yang menarik dan
bermakna bagi siswa. Masalah harus riil, actual dan memiliki kaitan 31
dengan kehidupan, sehingga akan memudahkan siswa untuk mencari
jawabannya dan pembelajar pun lebih semangat untuk memecahkan
masalahnya. Belajar mandiri ini memberikan kebebasan kepada pembelajar
untuk mencari, mengidentifikasikan, memecahkan, mencari solusi
membandingkan, dan menilai sesuatu masalah yang berkaitan dengan
dirinya
c. Menghargai pendapat pembelajar
Masih banyak sekali pembelajaran yang mana guru mendominasi
kelas, sebagian pembelajar menerima apa yang diperintahkan oleh
pengajar. Padahal banyak pembelajar yang memiliki kemampuan yang
berbeda-beda, dan banyak juga siswa yang aktif, kreatif, dinamis, idealis
yang merupakan hasil dari belajar mandiri pembelajar tersebut.
d. Peran pengajar
Peran pengajar merupakan dalah satu syarat belajar mandiri
1) Pengajar sebagai Demostrator
Dalam perananya sebagai demonstrator hendaknya pengajar
senantiasa mengembangkan dalam artian meningkatkan kemampuannya
dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini sangat menentukan hasil
belajar yang dicapai oleh siswa.
2) Pengajar sebagai Organisator
33
Guru sebagai organisator, pengelola akademik, silabus, jadwal
pelajaran, dll. Komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar,
semua diorganisasikan dengan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai
efektivitas, dan efisien belajar pada diri pembelajar
3) Pengajar sebagai Motivator
Peranan pengajar sebagai motivator ini penting artinya dalam rangka
meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar.
4) Pengajar sebagai Pengarah
Dalam hal ini, pengajar harus dapat membimbing dan mengarahkan
kegiatan belajar pembelajar sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
5) Pengajar sebagai Transmitter Dalam kegiatan mengajar pengajar juga
akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan
pengetahuan.
5.Proses Belajar Mandiri
Belajar mandiri memberikan otonomi kepada pembelajar dalam
menentukan arah atau tujuan belajarnya, sumber belajar, program belajar, dan
materi yang dipelajarinya. Belajar mandiri ini memiliki upaya untuk
mengembangkan kebesaran kepada pembelajar dalam mendapatkan informasi dan
pengetahuan yang tidak dikendalikan oleh orang lain. Belajar seperti ini tidak
semua pembelajar menyukainya, ada sebagian pembelajar yang lebih menyukai
belajar dengan diatur atau dikendalikan oleh pengajar dan sebagian lainnya lebih
suka diatur oleh dirinya sendiri dengan metode belajar mandiri.
Proses belajar mandiri akan membawa perubahan positif terhadap
intelektualitas mereka dan mampu berdiri sendiri, serta menjadi dirinya sendiri.
Pengajar bukan pengendali dalam proses belajar, akan tetapi pengajar hanya
sebagai penasehat yang memberikan pengarahan kepada pembelajar.
Sedangkan dalam proses belajar mandiri ini ada beberapa langkah-langkah
yang akan dilakukan oleh pembelajar baik satu orang atau kelompok yaitu :
a. Menetapkan tujuan
34
Pembelajar memilih atau berpartisipasi dalam memilih, untuk
bekerja demi sebuah tujuan penting, baik yang tampak maupun yang tidak
tampak, yang bermakna bagi dirinya maupun orang lain. Tujuan bukanlah
akhir dan semuanya. Tujuan itu akan memberikan kesempatan untuk
menerapkan keahlian profesional akademik kedalam kehidupan sehari-hari.
Saat pembelajar mencapai tujuan yang berarti dalam kehidupan sehari-hari,
proses tersebut membantu mereka mencapai standar akademik yang tinggi.
b. Membuat rencana
Pembelajar menetapkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan
mereka. Merencanakan disini meliputi melihat lebih jauh ke depan dan
memutuskan bagaimana cara untujk berhasil. Rencana yang diputuskan
siswa tergantung pada apakah mereka ingin menyelesaikan masalah,
menentukan persoalan, atau menciptakan suatu proyek. Rencana yang
dibuat seseorang bergantung pada tujuannya. Baik tujuan tersebut
melibatkan penyelesaian masalah, menyelesaikan persoalan tersebut,
semuannya membutuhkan pengambilan tindakan, mengajukan pertanyaan,
membuat pilihan, mengumpulkan dan menganalisa informasi, serta berfikir
secara kritis, dan kritis. Kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut
memungkinkan keberhasilan pembelajaran mandiri.
c. Mengikuti rencana dan mengukur kemajuan diri
Dari semula, pembelajar tidak hanya menyadari tujuan mereka,
tetapi mereka juga harus menyadari keahlian akademik mereka yang harus
dikembangkan serta kecakapan yang diperoleh dalam proses belajar
mandiri. Selain proses tersebut mereka harus mengevaluasi seberapa baik
rencana mereka berjalan.
d. Membuahkan hasil akhir
Membuahkan hasil akhir Pembelajar mendapatkan suatu hasil baik
yang tampak maupun yang tidak tampak bagi mereka. Ada ribuan cara
untuk menampilkan hasil-hasil dari pembelajaran mandiri. Yang paling
jelas adalah sebuah kelompok mungkin menghasilkan portofolio, dan dapat
pula memberikan informasi menggunakan grafik, tampil untuk
35
mempresentasikan hasil belajar mereka dan siap dikomentari oleh
pembelajar yang lainnya.
e. Menunjukkan kecakapan melalui penilaian autentik
Para pembelajar menunjukkan kecakapan terutama dalam tugas-
tugas yang mandiri dan autentik. Dengan menggunakan standart nilai dan
penunjuk penilaian untuk menilai portofolio, jurnal, presentasi, dan
penampilan pembelajar sehingga pengajar dapat memperkirakan tingkat
pencapaian akademik mereka. Sebagai tambahan penilaian autentik
menunjukkan sedalam apakah proses belajar mengajar yang diperoleh
siswa dari pembelajaran mandiri tersebut. Proses belajar mandiri adalah
proses yang kaya, bervariasi, dan menantang. Keefektifan bergantung
tidak hanya pada pengetahuan dan dedikasi pembelajar, tetapi juga
dedikasi dan keahlian pengajar.
6. Kelebihan dan Kelemahan Belajar Mandiri
a. Kelebihan
Terdapat berbagai fakta yang menyatakan bahwa siswa yang ikut dalam
program belajar mandiri belajar lebih keras, lebih banyak, dan mampu lebih lama
mengingat hal yang dipelajarinya dibandingkan dengan siswa yang mengikuti
kelas konvensional. Belajar mandiri memberikan sejumlah keunggulan unik
sebagai metode pengajaran :
1. Pola ini memberikan kesempatan, baik kepada siswa yang lamban maupun
yang cepat, untuk menyelesaikan pelajaran sesuai dengan tingkat
kemampuan masing-masing dalam, kondisi belajar yang cocok.
2. Rasa percaya diri dan tanggung jawab pribadi yang dituntut dari siswa oleh
program belajar mandiri mungkin dapat berlanjut sebagai kebiasaan dalam
kegiatan pendidikan lain, tanggung jawab atas pekerjaan, dan tingkah laku
pribadi.
36
3. Program belajar mandiri dapat menyebabkan lebih banyak perhatian
tercurah kepada siswa perseorangan dan memberi kesempatan yang lebih
luas untuk berlangsungnya interaksi antar siswa.
4. Kegiatan dan tanggung jawab pengajar yang terlibat dalam program
belajar mandiri berubah karena waktu untuk penyajian menjadi berkurang
dan ia mempunyai waktu lebih banyak untuk memantau siswa dalam
pertemuan kelompok dan untuk konsultasi perseorangan.
5. Siswa cenderung lebih menyukai metode belajar mandiri daripada metode
tradisional karena sejumlah keunggulan yang dinyatakan diatas.
b. Kelemahan
Terdapat juga beberapa kelemahan belajar mandiri yang harus diketahui :
1. Mungkin kurang terjadi interaksi antara pengajar dengan pembelajar atau
antara pembelajar dengan pembelajar apabila program belajar mandiri
dipakai sebagai metode satu-satunya dalam mengajar. Kerena itu, perlu
direncanakan kegiatan kelompok kecil antara pengajar dan pembelajar
secara berjangka.
2. Program mandiri tidak cocok untuk semua pembelajar atau semua pengajar.
Amatan menunjukkan bahwa karena perbedaan gaya belajar dan mengajar,
kira-kira 20% mahasiswa perguruan tinggi lebih menyukai belajar dalam
kelompok melalui ceramah dan kegiatan interaksi daripada melalui kegiatan
perseorangan.
3. Kurangnya disiplin diri, ditambah lagi dengan kemalasan, menyebabkan
kelambatan penyelesaian program oleh beberapa siswa. Kebiasaan dan pola
perilaku baru perlu dikembangkan sebelum dapat berhasil dalam belajar
mandiri. Karena alasan ini, lebih baik menetapkan batas waktu (mingguan
atau bulanan) yang dapat disesuaikan oleh siswa menurut kecepatannya
masing-masing.
4. Metode belajar mandiri sering menuntut kerja sama dan perencanaan tim
yang rinci di antara staf pengajar yang terlibat. Juga, koordinasi dengan
pelayanan penunjang (sarana, media, percetakan, dll) mungkin diperlukan
37
atau bahkan merupakan suatu keharusan. Semuanya ini berlawanan dengan
ciri pengajaran tradisional yang hanya dilakukan oleh seorang guru saja.
e. Strategi pengembangan keprofesian berkelanjutan
1. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Peraturan Menteri pemberdayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi No.16/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Pasal
1 ayat (5) menyebutkan pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah
pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan,
bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya. Alur
pengembangan profesi guru dapat diilustrasikan melalui berikut ini
Gambar 1. Alur Pembinaan dan Pengembangan Profesi Guru
Sumber : Modul 2 Pedagogik oleh Pujirianto
Menurut Permennegpan Nomor 16 Tahun 2009 pengembangan keprofesian
berkelanjutan (PKB) terdiri dari 3 komponen, yaitu pengembangan diri, publikasi
ilmiah, dan karya inovatif.
38
Gambar 2. Komponen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
Sumber : http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/
a. Pengembangan Diri
Pengembangan diri merupakan upaya-upaya yang dilakukan oleh
seorang guru dalam rangka meningkatkan profesionalismenya. Menurut
Pujiriyanto (2019: 145) seorang guru diakui profesional apabila; 1)
memiliki penguasaan 4 kompetensi secara utuh, yang meliputi kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan
kompetensi sosial 2) mampu melaksanakan tugas-tugas pokok dan tugas
tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah 3) mampu
melaksanakan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB).
Kegiatan Pengembangan diri dapat dilakukan dengan cara diklat
fungsional dan kegiatan kolektif.. Diklat fungsional berupa kegiatan dalam
mengikuti pendidikan atau pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan
keprofesian dalam kurun waktu tertentu yang bisa dilakukan dengan daring
penuh, kombinasi maupun tatap muka. Sedangkan kegiatan kolektif adalah
kegiatan dalam mengikuti pertemuan ilmiah atau mengikuti kegiatan
bersama baik di sekolah maupun di luar sekolah yang bertujuan untuk
meningkatkan keprofesian guru. Jenis kegiatan diklat dapat berupa kursus,
39
pelatihan, penataran, maupun berbagai bentuk diklat yang lain sedangkan
jenis kegiatan kolektif dapat berupa :
1) mengikuti lokakarya, atau kegiatan kelompok musyawarah kerja guru
atau in house training untuk penyusunan perangkat kurikulum dan/atau
kegiatan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi,
penilaian, pengembangan media pembelajaran dan/atau kegiatan
lainnya untuk kegiatan pengembangan keprofesian guru
2) mengikuti, baik sebagai pembahas, maupun sebagai peserta pada
seminar, diskusi terbatas,simposium atau bentuk pertemuan ilmiah
lainnya
3) mengikuti kegiatan kolektif lain yang sesuai tugas dan kewajiban guru
terkait dengan pengembangan keprofesiannya.
Kegiatan pengembangan diri yang mencakup diklat fungsional dan
kegiatan kolektif guru tersebut harus mengutamakan kebutuhan guru untuk
pencapaian standar dan/atau peningkatan kompetensi profesi khususnya
berkaitan dengan melaksanakan layanan pembelajaran. Kebutuhan guru
untuk mencapai atau meningkatkan kompetensinya dapat mencakup :
1) kompetensi menyelidiki dan memahami konteks dimana guru
melaksanakan kegiatan belajar mengajar
2) Penguasaan materi dan kurikulum;
3) Penguasaan metode pembelajaran
4) Kompetensi melakukan evaluasi peserta didik dan pembelajaran
5) Penguasaan Teknologi Informatika dan Komputer (TIK)
6) Kompetensi menghadapi inovasi dalam sistem pendidikan di Indonesia
7) Kompetensi menghadapi tuntutan teori terkini
8) kompetensi lain yang terkait dengan pelaksanaan tugas-tugas tambahan
atau tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah
b. Publikasi ilmiah
Daryanto (2011) menyebutkan bahwa publikasi ilmiah adalah karya tulis
ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk
kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di
40
sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi
ilmiah meliputi 3 kelompok yaitu: presentasi pada forum ilmiah, publikasi
ilmiah berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal,
dan publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan atau pedoman guru.
1) Presentasi pada forum ilmiah
Kepala Sekolah dan Guru seringkali diundang untuk mengikuti
pertemuan ilmiah. Tidak jarang, mereka juga diminta untuk
memberikan presentasi, baik sebagai pemrasaran atau pembahas pada
pertemuan ilmiah tersebut. Untuk keperluan itu, guru harus membuat
prasaran ilmiah. Prasaran ilmiah adalah sebuah tulisan ilmiah berbentuk
makalah yang berisi ringkasan laporan hasil penelitian, gagasan, ulasan,
atau tinjauan ilmiah. Forum ilmiah bisa berupa seminar, sarasehan,
simposium, workshop, lokakarya, konferensi, maupun diskusi.
2) Publikasi hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan
formal
Publikasi hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan
formal Publikasi ilmiah guru dapat dipublikasikan dalam bentuk
laporan hasil penelitian (misalnya laporan Penelitian Tindakan
Kelas/PTK) atau berupa tinjauan/ gagasan ilmiah yang ditulis berdasar
pada pengalaman dan sesuai dengan tugas pokok serta fungsi guru.
Publikasi ilmiah bagi guru di atas, terdiri dari empat kelompok, yakni:
a) Laporan Hasil Penelitian
Laporan hasil penelitian adalah Publikasi ilmiah berisi laporan hasil
penelitian yang dilakukan guru pada bidang pendidikan atau
sekolah dan sesuai dengan tupoksinya, antara lain dapat berupa
laporan Penelitian Tindakan Kelas/ PTK.
b) Tinjauan Ilmiah Makalah
tinjauan ilmiah adalah publikasi guru yang berisi ide/gagasan guru
dalam upaya mengatasi berbagai masalah pendidikan formal dan
sekolah yang ada di satuan pendidikan dimana ia bertugas.
c) Tulisan Ilmiah Populer
41
Karya ilmiah populer adalah tulisan yang dipublikasikan di media
massa (koran, majalah, atau sejenisnya). Karya ilmiah populer
dalam kaitan dengan upaya pengembangan profesi ini merupakan
kelompok tulisan yang lebih banyak mengandung isi pengetahuan,
berupa ide, atau gagasan pengalaman penulis yang menyangkut
bidang pendidikan pada satuan pendidikan penulis bersangkutan.
d) Artikel Ilmiah
Artikel ilmiah dalam bidang pendidikan adalah tulisan yang berisi
gagasan atau tinjauan ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan
pembelajaran ataupun sekolah di satuan pendidikan yang dimuat di
jurnal ilmiah
3) Publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, pedoman guru dan
buku bidang pendidikan.
a) Buku pelajaran
Buku pelajaran adalah buku berisi pengetahuan untuk bidang ilmu
atau mata pelajaran tertentu dan diperuntukkan bagi siswa pada
suatu jenjang pendidikan atau sebagai bahan pegangan mengajar
guru, baik sebagai buku utama atau pelengkap. Buku dapat ditulis
guru secara individu atau berkelompok.
b) Modul/ Diklat Pembelajaran
Modul adalah materi pelajaran yang disusun dan disajikan secara
tertulis sedemikian rupa sehingga pembacanya diharapkan dapat
menyerap sendiri materi tersebut. Diktat adalah catatan tertulis
suatu mata pelajaran atau bidang studi yang dipersiapkan guru
untuk mempermudah/ memperkaya materi mata pelajaran/ bidang
studi yang disampaikan oleh guru dalam proses kegiatan belajar
mengajar.
c) Buku dalam bidang pendidikan
Buku bidang pendidikan berisi uraian tentang pendidikan secara
umum, dengan sasaran tidak hanya peserta didik dan memuat
informasi umum. Tidak seperti buku pelajaran yang memiliki
42
sasaran peserta didik pada jenjang tertentu dengan tujuan peserta
didik memahami materi pelajaran.
d) Buku Pedoman Guru
Buku Pedoman Guru atau adalah buku tulisan guru yang berisi
rencana kerja tahunan guru. Isi rencana kerja tersebut meliputi
upaya dalam meningkatkan/memperbaiki kegiatan perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi proses pembelajaran. Pada rancangan itu
harus pula disajikan rencana kegiatan Pengembangan Profesi Guru
yang akan dilakukan, sekaligus kepala sekolah dan/atau pengawas
sekolah dapat untuk mengevaluasi kinerja guru bersangkutan
dalam melaksanakan tugas dan fungsinya termasuk realisasi
rencana pengembangan profesinya
e) Karya terjemahan
Untuk kepentingan pembelajaran, guru tidak jarang memerlukan
karya terjemahan. Karya terjemahan adalah tulisan yang dihasilkan
dari penerjemahan buku pelajaran atau buku dalam bidang
pendidikan dari bahasa asing atau bahasa daerah ke Bahasa
Indonesia, atau sebaliknya dari Bahasa Indonesia ke bahasa asing
atau bahasa daerah. Buku yang diterjemahkan tersebut diperlukan
untuk menunjang proses pembelajaran yang dilakukan guru
bersangkutan. Untuk itu, perlu adanya surat pernyataan dari kepala
sekolah/madrasah yang menjelaskan perlunya karya terjemahan
tersebut untuk menunjang proses pembelajaran guru bersangkutan.
Yang diterjemahkan adalah keseluruhan isi buku secara lengkap
dan bukan merupakan bagian dari buku, atau suatu tulisan pendek,
artikel, atau jenis tulisan lain di luar bidang pendidikan.
Penilaian karya tulis menggunakan kriteria yang umum dalam
penulisan karya publikasi ilmiah. Di samping itu, dalam laporan kegiatan
PKB, harus memenuhi persyaratan “APIK” yang artinya sebagai berikut
:
43
1) Asli, laporan yang dibuat benar-benar merupakan karya asli
penyusunnya, bukan merupakan plagiat, jiplakan, atau disusun
dengan niat dan prosedur yang tidak jujur.
2) Perlu, hal yang dilaporkan atau gagasan yang dituliskan, harus
sesuatu yang diperlukan dan mempunyai manfaat dalam
menunjang pengembangan keprofesian dari guru yang
bersangkutan. Manfaat tersebut diutamakan untuk memperbaiki
mutu pembelajaran di satuan pendidikan guru bersangkutan.
3) Ilmiah, laporan disajikan dengan memakai kerangka isi dan
mempunyai kebenaran yang sesuai dengan kaidah-kaidah
kebenaran ilmiah dan mengkuti kerangka isi yang telah ditetapkan.
4) Konsisten, isi laporan harus sesuai dengan tugas pokok
penyusunnya. Bila penulisnya seorang guru, maka isi laporan
haruslah berada pada bidang tugas guru yang bersangkutan, dan
memasalahkan tentang tugas pembelajaran yang sesuai dengan
tugasnya di sekolahnya
c. Karya Inovatif
Karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan,
modifikasi atau penemuan baru sebagai kontribusi guru terhadap
peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan
dunia pendidikan. karya inovatif dapat berupa penemuan teknologi tepat
guna, penemuan atau pengembangan karya seni, pembuatan atau modifikasi
alat pelajaran atau peraga atau praktikum, penyusunan standar, pedoman,
soal dan sejenisnya pada tingkat nasional maupun provinsi (Daryanto,
2011). Karya inovatif, terdiri dari 4 (empat) kelompok, yakni:
1) Menemukan teknologi tepat guna. Teknologi tepat guna yang
selanjutnya disebut karya sains/teknologi adalah karya hasil
rancangan/pengembangan/percobaan sains dan atau teknologi yang
dibuat atau dihasilkan dengan menggunakan bahan, sistem, atau
metodologi tertentu dan dimanfaatkan untuk pendidikan atau
masyarakat sehingga pendidkan terbantu kelancarannya atau
masyarakat terbantu kehidupannya. Jenis karya teknologi: a) media
44
pembelajaran/bahan ajar interaktif berbasis komputer untuk setiap
standar kompetensi atau beberapa kompetensi dasar, b) program
aplikasi komputer untuk setiap aplikasi, c) alat/mesin
yang bermanfaat untuk pendidikan atau masyarakat untuk setiap unit
alat/mesin, d) bahan tertentu hasil penemuan baru atau hasil
modifikasi tertentu untuk setiap jenis bahan, e) konstruksi dengan
bahan tertentu yang dirancang untuk keperluan bidang pendidikan
atau kemasyarakatan untuk setiap konstruksi, f) hasil
eksperimen/percobaan sains/teknologi untuk setiap hasil eksperimen,
g) hasil pengembangan metodologi/evaluasi pembelajaran.
2) Menemukan atau menciptakan karya seni adalah proses perefleksian
nilai-nilai dan gagasan manusia yang diekspresikan secara estetik
dalam berbagai bentuk seperti rupa, gerak, bunyi, kata yang mampu
memberi makna transendental baik spiritual maupun intelektual bagi
manusia dan kemanusiaan misalnya seni sastra (novel, kumpulan
cerpen, kumpulan puisi, naskah drama/teater/film), seni kria (benda
suvenir, kria kulit, kria logam, kria keramik, kria tekstil, kria kayu,
kria tekstil), seni rupa (lukisan, patung, ukiran, baliho, busana), seni
pertunjukkan (tari, drama, film, karawitan), seni fotografi, seni musik
(mengarang lagu, pertunjukkan musik), desain grafis (desain sampul,
desain antar muka web site) dan sebagainya.
3) Membuat atau memodifikasi alat pelajaran
4) Mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman soal dan
sejenisnya.
Ketiga strategi pengembangan tersebut perlu dilaksanakan secara terus
menerus untuk menciptakan guru yang benar-benar profesional bukan hanya
untuk memenuhi angka kredit. Meskipun angka kredit sudah terpenuhi guru
akan terbiasa untuk mengembangkan diri sehingga tujuan pengembangan
keprofesian berkelanjutan dapat tercapai. Adapun Mekanisme pelaksanaan
Pengembangan keprofesionalan Berkelanjutan diilustrasikan pada gambar
berikut ini
45
Gambar 3 Mekanisme Pelaksanaan PKB
Sumber : https://blogdope.com/
Berikut berturut-turut disajikan contoh format 1 sampai dengan format 3 untuk
pelaksanaan pengembangan keprofesian berkelajutan. Pertama format evaluasi
diri disajikan melalui gambar 4.
Gambar 4 Format Hasil Evaluasi Diri
Sumber : Modul 2 Pedagogik oleh Pujirianto
46
Suplemen Evaluasi Diri dan Perencanaan Kegiatan PKB (diisikan di 2c pada
format 1 pada gambar 4) disajikan melalui gambar 5
Gambar 5. Suplemen Format 1 Pengembangan Kompetensi yang
Dibutuhkan
Sumber : Modul 2 Pedagogik oleh Pujirianto
Selanjutnya rencana yang sudah disepakati dituangkan ke dalam format 2
menjadi rerncana final kegiatan PKB yang diisi oleh Koordinator PKB. Setiap
satuan pendidikan pada akhirnya memiliki program PKB yang merupakan
kumpulan dari Program PKB setiap guru. Contoh format 2 disajikan melalui
gambar 6.
Gambar 6 Rencana Final PKB
47
Sumber : Modul 2 Pedagogik oleh Pujirianto
Pengembangan keprofesian berkelanjutan bersifat berkelanjutan dan proses
refleksi adalah bersiklus. Format 3 berikut adalah contoh yang dapat
dipergunakan untuk melakukan refleksi setelah pelaksanaan PKB. Format
3 adalah berupa refleksi guru setelah melaksanakan program PKB seperti
diilustrasikan pada gambar 7
Gambar 7. Format Refleksi Guru setelah Pelaksanaan PK
Sumber : Modul 2 Pedagogik oleh Pujirianto
f. Implementasi pengembangan profesi berkelanjutan
Sesuai tanggung jawabnya bahwa guru adalah tenaga pendidik tenaga
profesional yang memiliki peran besar dalam upaya peningkatan mutu pendidikan
dan tujuan pendidikan sebagaimana dijelaskan dalam undang-undang nomor 14
tahun 2005 tentang guru dan dosen bahwa: “pendidik profesional dengan tugas
48
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Setiap perubahan berbagai
kebijakan di bidang pendidikan bertumpu pada sumber daya manusia yaitu
pendidik atau guru karena peran guru sangat strategis dan merupakan faktor utama
untuk menentukan mutu pendidikan karena guru berhadapan langsung 3 dengan
peserta didik atau siswa di kelas melalui proses pembelajaran (Kusnandar, 2007).
Untuk memahami lebih jauh tentang
Implementasi Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan (PKB), coba simak video berikut!
Scan QR Code berikut untuk melihat video!
1) Prinsip-Prinsip dan Tujuan Pelaksanaan PKB
PKB harus dapat
mematuhi prinsip-prinsip sebagai
berikut :
a) PKB harus fokus kepada
keberhasilan peserta didik atau
berbasis hasil belajar peserta
didik
b) Setiap guru berhak mendapat
kesempatan untuk
mengembangkan diri yang perlu
diimplementasikan secara teratur, sistematis, dan berkelanjutan
c) Sekolah wajib menyediakan kesempatan kepada setiap guru untuk
mengikuti program PKB dengan minimal jumlah jam per tahun sesuai
dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009
d) Bagi guru yang tidak memperlihatkan peningkatan setelah diberi
kesempatan untuk mengikuti program PKB sesuai dengan kebutuhannya,
49
maka dimungkinkan diberikan sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan
e) Cakupan materi untuk kegiatan PKB harus terfokus pada pembelajaran
peserta didik, kaya dengan materi akademik, proses pembelajaran,
penelitian pendidikan terkini, dan teknologi dan/atau seni
f) Proses PKB bagi guru harus dimulai dari guru sendiri
g) PKB yang baik harus berkontribusi untuk mewujudkan visi, misi, dan nilai-
nilai yang berlaku di sekolah dan/atau kabupaten/kota
h) Sedapat mungkin kegiatan PKB dilaksanakan di sekolah atau dengan
sekolah di sekitarnya (misalnya di gugus KKG atau MGMP)
i) PKB harus mendorong pengakuan profesi guru menjadi lapangan pekerjaan
yang bermartabat dan memiliki makna bagi masyarakat dalam pencerdasan
bangsa.
Gambar ...: PKG KKG
Menurut Indrawati (2013), tujuan utama dari pengembangan profesional
guru melalui PKB adalah peningkatan pembelajaran siswa. Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB) ini penting karena berkaitan dengan :
a) Optimalisasi pelayanan terhadap klien dalam hal ini siswa
b) Bukti dari profesionalisme
c) Prasyarat pekerjaan
d) Meningkatkan keterampilan kerja guru secara individual
e) Memperluas pengalaman guru untuk keperluan perkembangan karir atau
promosi
50
f) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman profesional guru secara
individual
g) Meningkatkan pendidikan pribadi atau pendidikan umum individu guru
h) Membuat guru merasa dihargai
i) Meningkatkan rasa puas terhadap pekerjaan
j) Meningkatkan pandangan positif mengenai pekerjaan
k) Memungkinkan guru mengantisipasi dan bersiap untuk menghadapi
perubahan
l) Mengklarifikasi keseluruhan kebijakan sekolah atau departemen.
2) Implementasi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru
Pengembangan keprofesian keberlanjutan (PKB) merupakan
kewajiban guru untuk meningkatkan kinerja dan kompetensinya yang
dilaksanakan secara mandiri atau kegiatan kolektif guru dengan kegiatan,
yaitu: Pengembangan diri, kegiatan publikasi ilmiah, dan karya inovatif
(Permendiknas nomor 35, 2010). Peningkatan profesional guru harus
dikembangkan untuk mengahadapi tantangan tugas yang berat dalam
pembelajarann peserta didik, pengembangan profesional tersebut dengan
berbagai kegiatan pendidikan, pelatihan, penelitian tindakan kelas dan berbagai
kegiatan atau tindakan yang mendukung kinerja guru (Suyanto, 2013).
Beberapa hasil pelatihan guru yang diadakan direktorat jenderal guru
dan tenaga kependidikan utamanya pelatihan atau bimtek tingkat nasional
sebagian besar materinya diarahkan ke Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan (PKB) bagi guru. Hal ini membuktikan bahwa PKB sangat
penting untuk diimplementasikan didunia pendidikan khususnya di satuan
pendidikan berbagai level. PKB adalah bentuk pembelajaran berkelanjutan
bagi guru yang merupakan kendaraan utama dalam upaya membawa perubahan
yang diinginkan berkaitan dengan keberhasilan siswa.
Kegiatan pengembangan diri yang dilaksanakan guru untuk
meningkatkan kompetensi dan keprofesiannya melalui pendidikan dan
pelatihan (diklat) dan kegiatan fungsional guru baik secara mandiri atau
51
melalui kegiatan kolektif dalam kurun waktu 1 (satu) tahun. Kegiatan tersebut
berupa kursus, pelatihan, penataran, maupun berbagai bentuk diklat yang lain.
Kegiatan kolektif guru dapat dilakukan melalui musyawarah guru serumpun
mata pelajaran di sekolah atau bekerja sama dengan sekolah lain (MGMP,
KKG) macam kegiatan berupa: Lokakarya, seminar, koloqium, diskusi panel,
atau bentuk pertemuan ilmiah lainnya.
Kelancaran atau keberhasilan awal implementasi kegiatan
pengembangan keprofesian berkelanjutan guru-guru dapat dilihat hasil refleksi
kegiatan pengembangan keprofesian yang sedang dilaksanakan dari awal tahun
pelajaran sampai akhir tahun pelajaran, yaitu: Kesesuaian kegiatan peningkatan
kompetensi sesauai pengembangan keprofesian berkelanjutan berdasarkan
portofolio atau dokumen hasil refleksi yang dimiliki guru-guru, usaha-usaha
guru yang telah dilaksanakan dalam pengembangarn diri yang dilakukan
selama 1 (satu) tahun, dampak kegiatan pengembangan keprofesian
berkelanjutan terhadap kompetensi guru, sekolah dan siswa.
3) Efektivitas Implementasi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru
Di Indonesia, gaung PKB guru semakin kencang pada era pemerintahan
Kabinet Kerja Pemerintahan Joko Widodo ini karena perintah PKB tertuang
dalam lampiran Peraturan Presidan RI No. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN
2015-2019. Pada Buku II Agenda Pembangunan Bidang, khususnya arah
kebijakan dan strategi pembangunan bidang pendidikan salah satunya adalah
“meningkatkan profesionalisme, kualitas, dan akuntabilitas guru dan tenaga
kependidikan” diantaranyamelalui: (1) pelaksanaan pengembangan
profesional berkesinambungan bagi guru dalam jabatan melalui latihan berkala
dan merata, serta penguatan KKG/MGMP, dan (2) pelaksanaan pembinaan
karir, peningkatan kualifikasi, pengembangan profesi/kompetensi bagi tenaga
kependidikan termasuk kepala sekolah dan pengawas.
Secara teori, PKB adalah kesempatan yang diberikan kepada guru,
tenaga profesional lain, dan personil pendukung untuk mendapatkan
pengetahuan-pengetahuan dan sikapsikap baru, yang akan membawa pada
52
perubahan perilaku, sehingga meningkatkan prestasi siswa. PKB merupakan
aktivitas atau proses untuk memelihara atau memperbaiki keterampilan, sikap,
pemahaman, atau kinerja tenaga profesional dan personil pendukung dalam
peran masa kini maupun yang akan datang.
Selanjutnya Seyfarth dan Rebore (2002) mengemukakan bahwa
program PKB seperti ini memberikan kesempatan bagi guru untuk: Pertama,
memperbarui keterampilan dan pengetahuan dalam suatu bidang studi.
Perluasan/peningkatan pengetahuan menimbulkan kebutuhan untuk
menginterpretasikan dan menyusun kembali (restrukturisasi) pengetahuan
yang terdahulu. Guru tidak dapat terus terpaku pada hasil belajar dari masa lalu
tentang suatu bidang studi.
Kedua, memenuhi tuntutan masyarakat.Masyarakat terus menerus
berubah. Guru perlu memahami dan menafsirkan tuntutan-tuntutan baru ini dan
membawa ke dalam pembelajaran di sekolah. Secara khusus,guru perlu
mengetahui hasil-hasil penelitian tentang proses pembelajaran dan metode-
metode baru dalam mengajar. Sama halnya dengan tenaga professional lain,
guru juga berkeinginan meningkatkan diri dalam bidangnya. Keterbatasan
waktu sering kali menjadi kendala, dan program pengembangan staf dapat
memenuhi kebutuhan tersebut.
Ketiga, meningkatkan pengetahuan dalam materi dan media/sarana
pembelajaran.Pengajaran dengan dibantu komputer dan internet dapat
menghasilkan inovasi-inovasi yang potensial untuk meningkatkan kualitas
pengajaran di kelas.
PKB sudah diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional
melalui Dirjen PMPTK sejak tahun 2011. Namun kenyataannya banyak
pemerintah kabupaten/kota yang belum menerapkan PKB ini secara baik.
Banyak guru yang belum tahun apa itu PKB dan bagimana menjalankannya.
PKB bagi guru menjadi sangat penting karena kenyataannya hanya sekitar 5%
guru yang berpelung mengikuti pengembangan profesi secara terlembaga.
Setiap guru berpeluang mengikuti pengembangan profesi sebanyak satu kali
dalam 20 tahun, jika kesempatan diberikan secara merata (Danim, 2011).
53
Terdapat empat strategi pengembangan profesional guru yang banyak
diterapkan di banyak negara maju. Keempatnya adalah: (a) menetapkan standar
nasional profesional guru (standard of professional practice), (b)
membiasakan para guru dengan hasil-hasil penelitian terbaru (efidence
informed practice) dan membiasakan guru melakukan penelitian, (c)
manajemen kinerja dan penggajian berdasarkan kinerja (performance
management and performance-related pay), dan (d) menjadi komunitas belajar
profesional (professional learning communities).
Kelemahan-kelaman yang menyebabkan belum efektifnya
implementasi PKB baik pada tingkat kabupaten/kota, KKG/MGMP, dan
sekolah antara lain: kurangnya sosialisasi tentang PKB, belum adanya nara
sumber yang kompeten tentang PKB, belum ada dukungan dana dari
pemerintah kabupaten/kota, tidak adanya layanan kondultasi dari nara sumber,
tidak adanya pendampingan di tingkat KKG/MGMP, tidak adanya
pendampingan di tingkat sekolah, belum adanya anggaran di tingkat
KKG/MGMP, belum adanya anggaran di tingkat sekolah, belum adanya
monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan, serta kurangnya koordinasi dari
dinas pendidikan kabupaten, KKG/MGMP, dan sekolah.
Pelaksanaan PKB akan dapat berjalan secara efektif apabila
kelemahan-kelemahan tersebut di atas dapat diatasi dengan membuat
perencanaan yang baik. Proses perencanaan yang dimulai dari pembentukan
timdengan anggota yang kompeten, penganggaran, melakukan pelatihan yang
baik, adanya pendampingan dalam pelaksanaan, dan adanya monitoring serta
evaluasi secara terus menerus akan dapat mendukung implementasi PKB yang
efektif. Hal penting lainnya agar implementasi PKB dapat berjalan efektif
adalah perlu adanya komitmen yang kuat dari semua pihak yang terlibat dalam
implementasi PKB.
Langkah awal agar PKB dapat berjalan secara efektif adalah adanya
studi awal yang disebut traning need assessment (penilaian kebutuhan
pelatihan) dari setiap guru berdasarkan kompetensi yang telah dimiliki saat ini.
Kebutuhan pelatihan ini salah satunya didasarkan pada hasil uji kompetensi
54
guru (UKG) yang setiap tahun telah diujikan kepada guru dengan tunjangan
profesi.
Kegiatan-kegiatan di PKB harus diarahkan melalui unsur
pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif akan dapat dilakukan
dengan baik. Pangembangan diri bisa melalui diklat fungsional dan kegiatan
kolektif guru. Publikasi ilmiah bisa melalui publikasi ilmiah atas hasil
penelitian atau gagasan inovatif bidang pendidikan dan publikasi buku teks
pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru. Karya inovatif mencakup
menemukan teknologi tepat guna menemukan/ menciptakan karya seni,
membuat/ memodifikasi alat pelajaran/ peraga/ praktikum, dan mengikuti
pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya.
7. Latihan
Silahkan bapak ibu melakukan analisis terhadap guru abad 21, dilihat pada
aspek :
- Pengetahuan pendidikan umum
- Penerapan HOTS pada pembelajaran
- Penggunaan media pembelajaran
- Pemanfaatan media pembelajaran
- Inisiatif pengembangan keprofesian guru
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dan kirimkan jawaban kalian
pada link link berikut ini https://s.id/YTNs atau bisa dengan men-scan
barcode di samping. Jika Anda dapat menjawab
pertanyan-pertanyaan di atas dengan baik, maka
Anda dapat melanjutkan pembelajaran berikutnya.
55
C. Penutup
1. Rangkuman
Salah satu ciri seorang profesional adalah terus mengembangkan diri
secara aktif dan berkelanjutan, menghargai pengalaman dan memiliki sifat
reflektif. Paradigma guru dari professional teaching berubah menjadi
professional learning, artinya guru bukan sekedar mengajar namun juga belajar
yang berkelanjutan (continuous professional learning). Guru adalah praktisi
yang reflektif merupakan bagian kunci dalam evaluasi kinerja guru di banyak
negara. Refleksi dimulai dari mendekripsikan pengalaman, memahami dan
merasakan situasi, mengevaluasi dan menganalisis, sampai kepada kesimpulan
dan menyusun rencana aksi. Guru harus mampu mengenali kesenjangan
kompetensi dirinya sebagai bahan menyusun rencana pengembangan diri dan
melakukan belajar mandiri.
karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai
bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di
sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum. Publikasi ilmiah
meliputi 3 kelompok yaitu: presentasi pada forum ilmiah, publikasi ilmiah
berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal, dan
publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan atau pedoman guru.
2. Tes Formatif
Setelah membaca modul serta melakukan latihan pada
modul ini. Silahkan bapak ibu untuk melakukan tes
formatif dalam rangka mengetahui tingkat kemampuan
bapak ibu dalam memahami modul ini. Bapak ibu dapat
men-scan barcode di samping untuk memulai tes formatif.
56
GLOSARIUM
1. Afektif : ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.
2. Assesment as Learning : penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran
berlangsung dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam kegiatan
penilaian tersebut.
3. Assesment for Learning : penilaian yang dilakukan selama proses pembelajaran
berlangsung dan biasanya digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan
proses belajar mengajar
4. Assesment of Learning : penilaian yang dilaksanakan setelah proses
pembelajaran selesai.
5. Atomistik : Berkaitan dengan analisis sampai ke bagian yang sekecil-kecilnya
sehingga melupakan bahwa bagian-bagian itu ada hubungannya; Teliti sekali:
6. Catatan Anekdot : catatan tentang kejadian yang berkaitan dengan masalah
yang sedang menjadi pusat perhatian pengamat, terutama catatan tingkah laku
individu.
7. Domain : wilayah; daerah; ranah
8. Elaborasi: kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa
mengembangkan ide, gagasan, dan kreasi dalam mengekspresikan konsepsi
kognitif melalui berbagai cara baik lisan maupun tulisan.
9. Estetis: suatu keadaan yang berhubungan dengan sensasi keindahan
10. Etis: Tindakan yang harus dilakukan oleh manusia sesuai dengan moral pada
umumnya
11. Evaluasi: Pengukuran atau perbaikan suatu kegiatan, seperti membandingkan
hasil kegiatan dan menganalisisnya
12. Independent Learning : Belajar mandiri dengan bebas
13. Instrumen Evaluasi: Alat (ukur) yang digunakan untuk mengumpulkan atau
mengolah informasi mengenai pencapaian hasil belajar peserta didik.
14. Isolation Learner : Kebebasan belajar dalam menentukan tujuan, aktivitas dan
cara evaluasinya
15. Kognitif : kemampuan untuk berfikir
16. Koherensi : keserasian atau perpaduan makna
17. Kompilasi : kumpulan yang tersusun secara teratur (tentang daftar informasi,
karangan dan sebagainya)
18. Kontruktivistik : Tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari.
19. Kontrol psikologis :Adanya kontrol psikologis terhadap elemen-elemen penting
dari aktivitas belajar oleh pebelajar secara bebas bukan oleh elemen-elemen
dalam kurikulum.
20. Kredibilitas : kualitas, kapabilitas atau kekuatan untuk menimbulkan
kepercayaan ( perihal dapat dipercaya)
21. Lesson Study suatu pendekatan peningkatan pembelajaran pembelajaran
yang dilakukan lebih dari satu orang guru
22. Life long education : sikap, perilaku dan dalam penerapan terutama bagai para
pendidik. seumur hidup disini mempunyai pengertian bahwa manusia dapat
belajar dimana saja baik yang bersifat formal, nonformal, maupun informal.
57
23. Memori : daya ingat atau kemampuan individu untuk menyimpan informasi,
informasi tersebut dapat dipanggil kembali untuk dapat dipergunakan beberapa
waktu kemudian
24. Metakognitif : kemampuan untuk mengontrol ranah atau aspek kognitif
25. MOOC : Program Pembelajaran jarak jauh menggunakan media Internet.
26. Pardangan holistik : secara keseluruhan; suatu pandangan yang dilakukan secara
memyeluruh tanpa mengabaikan konsep-konsep lain.
27. Paradigma : cenderung merujuk kepada dunia pola pikir atau pun teknis
penyelesaian masalah yang dilakukan oleh manusia.
28. Pedagogis : Ilmu mendidik (aktifitas belajar)
29. Pekerti luhur: Suatu tingkah laku yang didasari oleh niat, kehendak, pikiran yang
baik dan dilakukan dengan cara yang baik pula
30. Pemrasaran : Orang yang memberikan prasaran
31. PKB ( Program Keprofesian Berkelanjutan) : proses penyelenggaraan kegiatan
belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan baik pedagogik
maupun profesional dalam melaksanakan tugas profesinya serta memiliki
performa sebagai pendidik dan pemimpin bagi peserta didiknya
32. PKG (Penilaian Kinerja Guru) : penilaian yang dilaksanakan pada tiap butir
tugas pokok guru yang bertujuan untuk pembinaan karir, jabatan dan
kepangkatannya.
33. PPK (Penilaian Prestasi Kerja) : suatu proses penilaian secara sistematis yang
dilakukan oleh penilai terhadap sasaran kerja pegawai dan perilaku kerja
34. Personality traits : Ciri Kepribadian
35. Prasaran : Buah pikiran yang diajukan dalam suatu pertemuan seperti
konferensi, muktamar dan dimaksudkan sebagai bahan untuk menyusun hasil
pertemuan dan sebagainya
36. Profesionalisme : Mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu
profesi atau orang yang profesional; berhubungan dengan profesi dan
memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.
37. Program Induksi : kegiatan orientasi, pelatihan di tempat kerja,
pengembangan dan praktik pemecahan berbagai permasalahan dalam proses
pembelajaran bagi guru pemula
38. Prosiding : kumpulan makalah dalam seminar yang telah dibukukan
39. Reflective Thinker : pertimbangan yang aktif, gigih, dan hati-hati terhadap
suatu keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diharapkan, dari dasar-dasar
yang mendukung pengetahuan itu, dan kesimpulan lebih lanjut dari mana
pengetahuan itu mengarah
40. Refleksi diri: sebuah proses melihat kembali pengalaman yang telah dijalani
untuk dapat menarik lessons learned bagi diri sendiri dan dilanjutkan dengan
penyusunan sebuah action plan
41. Sarasehan : pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat
(prasaran) para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu
42. Self Evaluations : Evaluasi diri ; Penilaian Diri
43. Self- Motivated Learning : (belajar Mandiri) Kegiatan belajar aktif, yang
didorong oleh niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi.
44. Seni Kriya: Salah satu cabang seni rupa yang menghasilkan benda kerajinan
yang bernilai seni dan membutuhkan keahlian tangan yang tinggi untuk
membuatnya
45. Sensori : stimulus atau rangsangan yang datang dari dalam maupun luar tubuh
58
46. Siklikal: Memiliki alur atau tersusun
47. Simposium : pertemuan dengan beberapa pembicara yang mengemukakan
pidato singkat tentang topik tertentu atau tentang beberapa aspek dari topik
yang sama
48. SKP (Sasaran Kinerja Guru) : beban kerja yang harus dicapai atau dipenuhi
oleh PNS guru dan atau guru yang mengembang tugas tambahan lain dalam
jangka waktu 1 tahun
49. Subject Specific Pedagogic : pengemasan materi bidang studi menjadi
seperangkat pembelajaran yang komprehensif dan mendidik
50. Tacit knowladge : Pengetahuan yang terdapat di dalam otak atau pikiran
seseorang sesuai dengan pemahaman dan pengalaman orang itu sendiri
51. Team Teaching : mengajar bertim atau mengajar dalam tim ; suatu strategi
52. Temu Kolegial : agenda tahunan para pimpinan dan dosen jurusan teknologi
pendidikan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia
53. Text Scanning : Membaca dan mengidentifikasi hal -hal penting secara sekilas.
54. Tindakan reflektif : (Reflektif) gerakan badan di luar kemauan; secara refleks.
Tindakan reflektif merupakan suatu tindakan yang berada di luar kemauan
pribadi seseorang yang dilakukan secara refleks.
55. TPACK : (Technological Pedagogic Content Knowledge) merupakan
pembelajaran yang menggunakan penerapan gabungan sistem pendidikan
yang mengedepankan teknologi dan aplikasi (konten) tertentu dalam
pembelajaran
56. UKG (Ujian Kompetensi Guru) : ujian bagi guru untuk mengukur kompetensi
yang berkaitan dengan bidang studi dasar serta pedagogik yang menjadi ruang
lingkup guru
59
DAFTAR PUSTAKA
Academia.https://www.academia.edu/36947458/PENGEMBANGAN_PROFESI_
GURU_SECARA_BERKELANJUTAN diakses pada 08 Maret 2022
pukul 20.00
Chene, A (1983). The Concept of autonomy in adult education: A philosophical
discussion. Adult Education Quartely, 34:38-47
Daryanto. 2013. Guru Profesional. Yogyakarta: Penerbit Gava Media.
Deci, E.L. and R.M. Ryan (1985). Intrinsic Motivation and self-Determination in
Human Behavior. New York: Plenum Press.
Elaine B. Johnson. (2007). Contextual Teaching and Learning : Menjadikan
Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna,. Bandung :
Mizan Learning Center.
Haris Mudjiman. (2008). Belajar Mandiri. Surakarta : UNS Press.
Jerold E Kemp. ( 1994). Proses Perancangan Pengajaran. Bandung : ITB.
Kirkman, S., Coughin., & Kromrey, J. 2007. Correlates of satisfaction and
success in self-directed learning:relationship with school experience,
course format, and internet use. International Journal of Self-Directed
Learning. 4(1). Halaman 39 s/d 52
Mudjiman, Haris (2006). Belajar Mandiri. Solo: LPP UNS dan UNS Press
Moh. Uzer Usman. (2006). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Pujiriyanto . 2019. Peran Guru dalam Pembelajaran Abad 21.
Jakarta: Kemendikbud
Sardiman. (1990). Interaksi dan Motivasi Belajar Mandiri. Jakarta: Rajawali.