The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan Cerpen yang ditulis bersama para guru hebat di seluruh Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kepe227102, 2022-12-13 21:50:07

HISTOIRE D'AMOUR

Kumpulan Cerpen yang ditulis bersama para guru hebat di seluruh Indonesia

Histoire D’amour
Setahun kemudian, Farida diterima sebagai Pegawai
Negeri Sipil. Terjwablah doa-doanya selama ini. Namun,
Farida tidak ditempatkan di Sekolah Dasar. Akan tetapi, di
Sekolah Menengah Pertama sebagai guru Bahasa Inggris.
Dibalik kebahagiaan, masih juga ada ganjalan karena harus
mengajar Bahasa Inggris, bukan mengajar Sekolah Dasar.
Tiga tahun kemudian, Farida mengikuti pre-test PPG lagi dan
lulus, bahkan mengikuti tes Program Guru Penggerak juga
lulus. Dia menyadari betul bahwa kesabaran akan indah pada
waktunya. Ketaatan kepada kedua orang tua juga sangat
berperan di dalam berlangsungnya kesuksesan seseorang.
Farida yakin ini semua pasti berkat doa kedua orang tuanya,
sehingga dia bisa seperti saat ini.

Jombang, 10 Juli 2022

Bionarasi Penulis
Mahfudlotul Farida, S,Pd. adalah seorang ibu dengan tiga
putra yang berdomisili di Jombang - Jawa Timur. Perempuan
hitam manis ini hobinya memasak. Baginya, menulis merupakan
salah satu cara meluapkan ide yang banyak bermunculan di
kepala, dengan harapan tulisan-tulisannya dapat dinikmati banyak
orang dan membawa manfaat. Mottonya adalah ‘Teruslah
berusaha pantang menyerah dan selalu disiplin dalam segala hal’.

51


Histoire D’amour

Kisah Ibu dengan
Kedua Putri Cantiknya

Riyahya Lestari, S.Pd.

D i hari Minggu yang cerah, kami riang
gembira karena tinggal hitungan jari,
suami—juga papanya anak-ank—akan pulang. Kami
berpisah sementara waktu, yaitu satu bulan lamanya.
Suami berjuang mencari nafkah dipulau seberang, tepatnya
di Kalimantan selatan, sedang kami tinggal di Pulau Jawa.

52


Histoire D’amour
Beliau bekerja sebagai Karyawan disalah satu Tambang batu
bara di PT BUMA.

Beliau sosok yang suka tantangan,gigih, dan pekerja
keras demi kluarga. Sejak kami belum menikah, kami sudah
terbiasa berjauha. Sehingga saat ini, kamipun terbiasa
berjauhan, begitu juga dengan ana-anak.

―Ma, tinggal dua hari lagi, ya,Papa pulang?‖tanya
anak-anak.

―Mama, Mama, besok kita jemput Papa jam berapa,
Ma? Aku sudah tidak sabar ini, pengen ketemu Papa?‖ kata
anak pertama, Alesha namanya.

―Iya, Ma, jam berapa Papa besok pulangnya,Ma?‖
saut sang adik.

―Besok Selasa, jam satu, ya, kita jemput Papa.
Setelah Kakak dan Adik pulang sekolah,‖ jawabku.

―Di bandara mana besok Ma jemputnya?‖
―Naik pesawat apa Papa?‖
―Papa kangen aku juga tidak, ya, Ma?‖Pertanyaan
demi pertanyaan mereka tanyakan bergantian karena saking
antusiasnya.
Saat pagi menunjukkan pukul 05.00 WIB, di
Kalimantan sudah jam 06.00. Ponselku berbunyi. Tanda si
Papa sedang menghubungi.
―Pagi Mama, Kaka, Adek, ayuk … bangun.
SalatSubuh dulu, ya.‖

53


Histoire D’amour
―Ayuk, ikut Papa jalan-jalan ketambang,‖ sapa Papa
disetiap pagi kami.
Meski kami terpisah ruang dan jarak, komunikasi
selalu terjaga setiap waktu, canda tawapun senantiasa hadir
dalam keluarga kami dengan dibantunya alat komunikasi
yang semakin canggih saat ini.
Ketika suami sedang bergegas menuju ketambang,
akupun menuju dapur, memulai rutinitas pagiku; beres-beres
dan mengurus anak- anak. Anak pertama dan ke dua hanya
berjarak dua tahun, sehingga cukup menguras kesabaran
untukku saat menghadapi pagi hari karena aku juga bekerja.
―Mama, gendong.‖ Sang adik memanggil dengan
merengeknya.
―Mama aku juga gendong,‖saut sang kakak.
Keduanya tak ada yang mau mengalah,terkadang
bingung harus bagaimana untuk menghadapi tantrum mereka.
―Mama, aku gak mau mandi, aku gak mau sekolah,
aku mau beli mainan di toko sana itu. Ayuk, beli mainan
sekarang.‖Sang adik nangis sejadi-jadinya minta mainan.
―Mama, ayuk, mandiin aku dulu, aku mau berangkat
pagi, aku ga mau terlambat lagi seperti kemarin!‖ teriak si
Kaka.
Liat rumah masih berantakan, kedua anak saling
punya mau sendiri. Di situ seorang ibu rasanya bercampur
aduk. Apa yang harus dilakukan terlebih dahulu? Sedang aku
juga harus bersiap pagi untuk bekerja. Hal itu sering terjadi

54


Histoire D’amour
disetiap pagiku dan akupun harus bisa memainkan peranku
dengan sebaik mungkin.

Hari berganti hari, masalah silih berganti terlewati,
kekuatan doa yang senantiasa kuyakini, cepat atau lambat
ketantruman anak-anak akan cepat terlewati tanpa disadari.
Bersyukur aku mempunyai suami yang bijak, yang selalu
setia mendengar keluhku, juga bahagiaku. Komunikasi selalu
terjalin dengan baik, saling support, menghibur, menjaga,juga
menyayangi satu sama lain. Pastinya karena itu kuncinya.

―Sabar, ya, Ma, anak-anak pinter, kok,Ma. Pasti nanti
segera hilang tantrumnya.‖Itulah kata-kata yang selalu
menguatkanku.

Hari Selasapun tiba, anak sudah tidak sabar untuk
segera menjemput papanya ke bandara.Girang sekali anak-
anak sesampainya. Lari-larian, kejar-kejaraan, kesana kemari,
sembari menanti sang papa.

―Papa dimana, Ma, kok, belum kelihatan, ya?‖tanya
anak-anak.

―Bentar, ya, Sayang, Papa baru perjalanan menuju
pintu keluar,‖ jawabku.

―Oo gitu. Kalau gitu, aku sama Adik maindulu,
ya,Ma?‖

―Ok, tapi hati-hati ya,‖pesanku, karena tidak ingin
mereka berlari-lari lepas kendali yang berujung tangis.

Setelah beberapa menit berlalu, datanglah sang papa.
―Hore, Papa datang, Dek.‖

55


Histoire D’amour
―Di mana, Ma?‖ tanya sang adek.
―Itu, Dek, disebelah sana. Ayuk, lari!‖
Dengan tawa dan riang gembira kami menemuinya.
Kebahagiaan ini terasa sempurna saat bisa berkumpul
bersama. Saat suami cuti, kami memanfaatkan waktu sebaik
mungkin untuk bersama-sama, untuk meningkatkan bounding
di antaranya, terlebih dengan anak-anak. Kami habiskan
waktu dengan jalan-jalan kemall, ketempat wisata, juga
berkunjung ke rumah sanak saudara. Bahagia sekali
pastinya. Saat anak tantrum pun, kami sabar bergantian
menenangkannya.
―Mama, Kakak rebut mainanku.‖
―Enggak Mama, ini mainanku.‖
Saat keduanya rebutan mainan yang sama, padahal
saat ditoko mereka memilih mainan sendiri-sendiri yang
berbeda, sudah dipesan untuk beli yang sama agar
tidakberebut, tidak mau. Lah, benar adanya. Sampai rumah,
berebut. Hal-hal kecil yang sering buatku geleng-geleng,
harus gimana. Tak jarang ku teteskan airmataku di
sudutkamar. Sering kusalahkan diriku yang merasa tak
mampu menjadi ibu yang baik seperti lainnya, punya anak
yang punya nafsu makan bagus, ceria, rukun-rukun tak
seperti anak-anakku. Tak jarang omongan buruk dari orang
lain datang juga padaku.
Namun, seorang ibu harus kuat, ikhlas, sabar
menghadapinya.Setelah beberapa tahun kemudian, saat sang

56


Histoire D’amour
kakak umur enam tahun, kedewasaannya pun brubah semakin
baik. Sudah mulai mengerti dengan arahan dan nasihat orang
tua. Sujud syukur rasa ini, meski sang adek masih sesekali
tantrum, paling tidak si Kaka sudah bisa mengalah.Saat
melihat video-video lama yang ada diponselku, keduanya pun
tersipu malu.

―Ma, itu bener aku dulu sering nangis minta mainan
terus?‖

―Iya, Mbak, dulu sebelum berangkat sekolah, itu ke
alpa dulu pasti, pulang jajan ke istana kado, sore minta naik
odong-odong, hampir tiap hari nangis terus,‖jawabku.

―Ma, masak, sih,Ma, aku pelit gitu sama Ade?‖
―Tu, De, kamu dulu juga sering nangis aja, sering
bolos sekolah, sering gulung-gulung dilantai.‖
Keduanya saling kaget lihat masa kecilnya yang luar
biasa.Namun, saat ini si Kaka kelas dua SD, sedangkan
adenya kelas TKB. Luar biasa sekali nikmat Tuhan yang
diberikan. Anak-anak semakin pinter, mudah diarahkan,
mudah mengerti apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak.
Seolah tidak ingin buat mamanya menangis sedih lagi.
―Mbak, ayo bangun, ayo mandi, sekolah, biar kita dan
Mama gak sering terlambat lagi, kasian Mama nanti, Mbak.‖
sang adek menasehati si Kaka.
―De, ayobantu Mama bere-beres, aku lap meja, kursi,
kamu nyuci piring, yuk, biar cepat selesai.‖

57


Histoire D’amour
―Mbak,Mbak, ayo salat dulu, ini MamaPapa juga
salat.Ayo, bareng.‖
―Mbak, ayo, mainan bareng, yuk, biar Mama bisa
nyelesein tugasnya.‖
Kalimat- kalimat itu yang saat ini sering kudengar.
Bahagia, haru, melihat kedewasaannya berdua. Tak
menyangka secepat ini smua terlewati.Semua berkat kekuatan
doa, Cinta kasih Ilahi, juga suami. Tangis yang sering
kuteteskan disudut ruangpun, sekarang berubah jadi tetes air
mata bahagia.

Klaten 05 Juli 2022

Bionarasi Penulis
Riyahya, S.Pd. lahir di Klaten, Ibu dari dua anak cantik
yang hebat dan saleha. Menyelesaikan program Pendidikan S1 di
Universitas Widya Dharma Klaten tahun 2011. Mulai mengajar di
SMA Muhammadiyah 8 Bayat, dan sekarang mengajar di SMA
Berbudi GAntiwarno Klaten. Antologi Cerpen “Jalan Takdirku” dan
Puisi “Kidung Cinta Untuk Peserta Didik” merupakan karya
perdananya dalam dunia menulis yang diterbitkan bersama
dengan guru-guru hebat dari berbagai daerah di Indonesia.
Motto Hidup: Selalu berbuat baiklah kepada siapapun
karena semua kebaikan yang kita tanam, akan kembali ke diri kita,
juga anak, ataupun keluarga kita nantinya.

58


Histoire D’amour

Jejak Langkahku

Sylvia Rizki Amalia, S.Pd.

“P ah, Lia lulus SMA ini kuliah, ya,‖ ucap
seorang gadis SMA yang sudah hampir
lulus ditahun 2009.
Sang ayah hanya menghela napas panjang dan
menjawab, ―Nak, kamu tau, kan, orangtuamu ini hanya
seorang pedagang bakso? Kamu boleh kuliah, tapi harus
dikampus negeri, ya, karena kalau swasta, orangtuamu tidak
punya biaya.‖

59


Histoire D’amour
Kurang lebih seperti itulah percakapan awal dalam
perjalanan panjang yang akhirnya membawaku menjadi
seorang guru. Sejak saat itu, aku sangat bersungguh-sungguh
belajar untuk masuk kekampus impian, aku hanya
mempunyai satu kesempatan untuk bisa kuliah,yaitu lulus
SNMPTN. Singkat cerita, aku lulus dikampus pilihan. Aku
menjalani hari-hari perkuliahan dengan hidup seadanya dari
uang kiriman orang tua, pulang pergi kekampus dengan jarak
yang lumayan jauhpun aku tempuh dengan berjalan kaki.
Akhirnya, setelah semester empat, aku pun bisa membeli
sepeda motor karena mengajar bimbel.
Selama aku kuliah, begitu banyak cibiran untuk orang
tua dari orang sekitarnya. Banyak yang meremehkan mereka
dengan mengatakan, ―Untuk apa anak perempuan
disekolahkan tinggi-tinggi, kalau akhirnya sumur,dapur, dan
kasur.‖
―Oalah, Mas, udah tau susah, kok, ya, nekat nguliahin
anaknya. Aku aja punya kebun gak berani kuliahin anak.
Mencret sampean nanti.‖
Dan masih banyak cibiran menyakitkan yang justru
membuat orang tua semakin semangat bekerja dan
mendoakan yang baik-baik untuk anaknya. Mereka selalu
yakin bahwa anak perempuannya ini bisa membanggakan.
Tepat diakhir tahun 2013, akupun lulus kuliah dan
mulai memikirkan untuk mencari pekerjaan. Aku mencoba
datang bersilaturahmi kerumah kepala sekolah SMP didesaku

60


Histoire D’amour
dan mencoba bertanya adakah lowongan pekerjaan sesuai
jurusanku? Ternyata beliau menolak mentah-mentah lamaran
lisanku dengan begitu panjang penjelasannya.

Setelah penolakan yang pertama, maka akupun
menyadari inilah dunia kerja yang sesungguhnya. Begitu
keras kehidupan didunia kerja, baik itu persaingan, maupun
penolakannya. Dengan modal saat kuliah pernah ikut
mengajar bimbel, maka aku berinisiatif untuk membuka
bimbel di rumah dan melamar kerja didesa sebelah—yang
cukup jauh dan medan jalan yang cukup sulit dilewati.
Alhamdulillah, bimbel yang aku buka diterima baik dengan
murid yang cukup lumayan banyak. Setelah dua bulan
berjalan, ada lowongan pekerjaan disekolah SD yang ada
didesaku. Guruku datang untuk memintaku mengajar disana,
meskipun ijazahku adalah bahasa Inggris untuk mengajar
SMP. Akupun pindah mengajar disekolah ini.

Setelah lima tahun berlalu, diakhir tahun 2018, aku
ikut tes CPNS. Aku sangat optimis bisa lulus,sesuai Mottoku
‗Manjadda Wa jadda‘. Setelah pendaftaran administrasi,
sampai sebelum tes SKD, adalah waktuku untuk mempelajari
kembali materi yang sudah lima tahun tidak pernah dipelajari.
Aku sangat takut mengecewakan orang-orang terdekat yang
sudah mendoakan dan mengharapkan aku lulus dalam tes ini.
Orang tua, suami, adik-adik, dan anakku adalah circle
terdekat yang sangat berjasa dalam perjalanan hidupku.

61


Histoire D’amour
Waktu tes SKD pun tiba, aku meminta restu dari
semua keluarga dan juga anak-anak bimbel yang aku naungi,
agar mendoakan semua lancar dan mudah. Tidak ada satupun
yang bisa menolongku ketika tes selain Allah. Aku meminta
pada Allah yang Maha Membolak-balikkan Hati manusia,
agar menetapkan hatiku untuk menjawab soal yang benar.
Pukul 15.00 kami mulai memasuki ruangan dingin aula hotel.
Sebelum masuk ruangan, aku menelepon orang rumah untuk
mendoakanku yang akan tes tanpa HP dan selesai sampai
malam. Mereka mendoakan dari rumah, sementara aku
berjuang diruang ujian.
Detik berganti menit. Selama menunggu, aku tidak
berhenti selalu berdzikir. Setelah menyelesaikan ratusan
soal,waktu habis dan skorpun keluar dilayar komputer. Aku
bisa melewati PassingGrade dari tiga jenis soal yang ada.
Ingin rasanya menjerit didalam ruangan tersebut karena
terharunya. Aku menangis melihat skor yang ada. Ya Allah,
aku lulus. Aku keluar dari ruangan dengan senang hati,
sedangkan peserta lain lemas karna tidak lulus. Buru-buru
aku mengambil HP yang dititipkan kepada petugas dan
menghubungi keluarga, merekapun menangis haru
mendengarnya.
Ternyata ujian untuk kelulusan SKD belum cukup
sampai disitu. Disaat aku senang dengan kelulusanku, tidak
ada satupun orang yang aku kenal dan ikut test yang lulus
juga. Ya, itu adalah tahun pertama dengan

62


Histoire D’amour
PassingGradetinggi, sehingga banyak orang yang tidak dapat
mencapainya. Untuk dikotaku hanya ada 35 orang yang lulus
dan salah satunya adalah aku. Peraturan baru untuk
menurunkan PassingGrade pun keluardan terjaringlah
peserta untuk SKB. Alhamdulillah, aku satu-satunya yang
lulus PassingGrade di sekolah pilihanku, dimana artinya aku
dapat lanjut tes SKB tanpa ada saingan. Kami sekeluarga
menangis terharu, betapa Allah sudah mendengar doa-doa
kami. Allah permudah jalanku untuk tes CPNS tersebut.

Setelah lulus CPNS dan kami pindah domisili
ditempat yang kami pilih, akhir tahun 2019, ada panggilan tes
untuk mengikuti PPG. Banyak teman yang tidak terima
karena ternyata SK pertama mengajarku tahun 2013 terhitung
didapodik untuk dapat mengikuti tes ini. Meskipun dulu tidak
linier, tapi karna penempatan sekarang sudah linier, maka
bisa. Alhamdulillah 2021 masuk PPG angkatan keempat.
Namun, karena berkas administrasi ada yang kurang, maka
terpanggil lagi ditahun 2022.

Dari perjalanan panjang yang aku lewati untuk
menjadi guru, banyak pelajaran yang aku dapatkan. Hal yang
paling utama adalah selalu meminta rida orang tua, suami,
dan orang terdekat. Karena kita tidak tahu, doa siapa yang
diijabah. Jangan sombong, jangan merasa sudah yang paling
hebat, tetap rendahkan diri kita dihadapan yang Maha
Pencipta karena Allah tidak suka hambanya yang sombong,
meskipun hanya sebesar biji zarah. Ikhtiar yang maksimal,

63


Histoire D’amour
kemudian serahkan seluruh hasilnya hanya kepada Allah.
Kalau memang niat kita baik, dan Allah meridai, Insyaallah
semua akan dipermudah. Hikmah berikutnya adalah tidak ada
sesuatu yang sia-sia kalau kita ikhlas melakukannya. Dulu
sempat berpikir untuk mengambil kuliah PGSD lagi, karena
sudah begitu nyaman disekolah lamadan juga takut SK
mengajar selama SD tersebut akan terhitung sia-sia. Tenyata
semua bisa dipakai ketika PPG. Itulah sedikit jejak
perjalananku untuk menjadi guru, yang sudah bisa
membanggakan orangtua. Terima kasih.

Rokan Hulu, 10 Juli 2022

Bionarasi Penulis
Sylvia Rizki Amalia, S.Pd. adalah anak pertama dari 4
bersaudara dimana kini sudah menjadi seorang ibu muda 1 anak,
yang berdomisili di Rokan Hulu, Riau. Wanita yang suka
menyendiri dan mendengarkan musik ini hobi membaca. Motto
hidupnya adalah, “Manjadda Wa jadda, siapa yang bersungguh-
sungguh akan berhasil.”

64


Histoire D’amour

Ibu yang Pemarah

Santi Manda Sari, S.Pd.I.

“C epat kau bangun!‖
―Kau sapu rumah ini sampai bersih, cuci
piring, dan setrika baju ini semua. Waktu aku pulang semua
harus sudah beres,‖ pekik Ibu kepadaku.
Lalu,Ibu berlalu meninggalkan rumah menuju pasar.
Memang Ibu terkenal sebagai orang yang sangat
pemarah. Ibu dulu mengusir abangku dari rumah beserta
istrinya ditengah malam. Sumpah serapah keluar begitu

65


Histoire D’amour
dahsyat, dari wanita paruh baya yang ditinggal oleh ayahku
untuk wanita lain beberapa tahun lalu ini. Emosinya tidak
karuan dan tak hentinya ia menyumpahi abangku.

―Semoga kalian bercerai! Semoga kau
ditangkap polisi! Kau bukan anakku lagi!‖ pekiknya.

Abangku keluar dari rumah dengan tetesan air mata
sembari memeluk sebuah bantal tidurnya. Lalu, ia disusul
oleh istrinya yang membawa tas jinjing. Mereka keluar dari
rumah tepat pada pukul sebelas malam, setelah abangku
berselisih paham dengan Ibu.Mereka tak tahu akan pergi
kemana dengan berjalan kaki. Tak lama kemudian, mereka
menginap di salah satu rumah teman abangku. Aku tak tahu
mengapa ini terjadi.

Adik lelakiku juga sering menjadi sasaran kemarahan
Ibu. Terkandang ia dipukul dan dicubit. Terkadang setelah
memakai baju seragam SMP, aku dan adikku dicerca hingga
kami berlalu dari penglihatannya. Tak lama setelah kami
berlalu, Ibu berjualan mie goreng kepada anak-anak SD di
dekat rumah kami. Ibu selalu tersenyum ceria dan ramah
kepada mereka. Terkadang aku sempat berpikir mengapa Ibu
sangat ramah kepada orang lain, tetapi sangat kejam
kepadakami, anak-anaknya.

Hari ini hari pembagian ijazah SMP-ku. Ibu dan aku
datang bersama kesekolah. Kami berangkat kesana dengan
menumpang becak tetanggaku, Pak Dedi.

66


Histoire D’amour
―Ibu, aku ingin mondok di Pasantren Mudi Mesra.‖
Aku berkata pelan kepada Ibu.
―Bolehkan, Bu?‖
―Kita tidak ada biaya, Nak. Lihatlah ayahmu, apa
pernah ada kirim uang untuk kita?‖ujar Ibu.
Aku tertunduk dan meneteskan air mata. Aku hanya
terdiam hingga kami tiba di rumah. Aku masuk ke kamar
tidurku. Kamar yang sangat biasa untuk disebut kamar.
Hanya ada kasur bekas di lantai yang kasar dan beberapa
kotak kardus bekas minuman kemasan, tempat aku
menyimpan baju bersih. Aku menangisi takdir ini.
Keesokan harinya, aku melihat Ibu berbincang dengan
pamanku di ruang tengah rumah. Pamanku adalah orang yang
mapan.
―Kamu ingin mondok, ya?‖ tanya Paman padaku.
―Iya,Paman, aku ingin belajar ilmu agama lebih serius
lagi. Aku ingin menjadi Guru Agama,‖ jawabku pelan
sembari menunduk.
―Pergilah, biar Paman yang biayai.‖Paman
menambahkan.
Aku tak percaya dengan apa yang kudengar. Rasanya
seperti angin syurga. Aku sangat bahagia seperti ingin
melompat- lompat riang .
―Siapkanlah barang-barangmu Nisa, minggu depan
kita akan mendaftar dan langsung mondok disana. Paman

67


Histoire D’amour
sudah telepon salah satu teman Paman di sana.‖ Paman
berkata padaku.

Hari yang kunanti pun telah tiba. Aku dan Ibu
menunggu Paman di depan rumah dengan beberapa tas
jinjing.

―Kakak, kalau di sana, nanti sering- sering telepon
Ibu, ya.‖ Ibu berkata dengan mata berkaca-kaca.

Tak pernah kulihat Ibu berbicara selembut itu. Aku
tersentuh dan tak pernah melupakan saat–saat itu. Tak lama
kemudian,Paman tiba dan kami pun berangkat.Setelah tiga
jam perjalanan, kami tiba di tempat tujuan. Lalu, aku
mendaftar dan dites mengaji. Seluruh rangkaian tes sudah aku
selesaikan, lalu aku langsung diantar ke kamarku.Setelah
merapikan semua barang-barang, aku memeluk Ibu.

―Ibu, Kakak belajar di sini, ya, nanti Kakak akan
sering-sering telepon Ibu,‖bisikku pada Ibu.

Ibu memelukku dengan tetesan air mata.
―Belajar yang rajin, ya, Nak. Ibu akan selalu
merindukanmu,‖ bisik Ibu sambil terisak.
Ibu dan Paman pun lalu pulang.
Aku sangat senang bisa mondok disini. Selain bisa
menuntut ilmu, aku juga bisa terbebas dari repetan Ibu,
pikirku. Hari demi hari ku alui. Tak terasa satu tahun berlalu.
Akhirnya libur bulan Ramadhan pun telah tiba. Aku pun
bersiap-siap untuk pulang. Tak lama kemudian, Ibu
meneleponku.

68


Histoire D’amour
―Nak, Abang ditangkap polisi tadi malam.‖ Ibu
berbicara sambil menangis.
Rasanya sesak napasku mendengar kabar abangku.
―Abang kenapa ditangkap polisi,Bu?‖ tanyaku.
―Nak, sebenarnya dulu waktu Ibu mengusir abangmu.
Itu karena abangmu menjual sabu-sabu. Ibu marah pada
Abang dan istrinya. Ibu ingin abangmu berhenti, tapi istrinya
malah mendukung abangmu. Istrinya ingin abang punya
banyak uang, walau harus melakukan pekerjaan haram.‖Ibu
menjelaskan kepadaku dengan suara serak.
Aku tersentak mendengar penjelasan Ibu. Apa yang
sudah aku pikirkan selama ini tentang Ibu, adalah salah. Ibu
ternyata marah-marah pada Abang adalah karena ulah Abang
sendiri. Pikiranku melayang jauh, teringat keadaanku selama
ini saat mondok. Aku sangat mandiri disini kerana telah
terbiasa dengan pekerjaan rumah sehari-hari. Ternyata ini
adalah cara Ibu mendidik kami.
Keesokan harinya, setelah tiba di rumah, Ibu dan aku
langsung bersiap–siap untuk berangkat ke polres. Kami
membawa nasi dan lauk seadanya untuk abangku. Kutatap
wajah ibuku yang tak muda lagi. Wajahnya semakin
menghitam karena terbakar cahaya matahari setiap hari. Flek
hitam pun nyaris memenuhi seluruh wajahnya yang tak
terawat. Matanya semakin sayu dan meneteskan air mata.
Dia adalah sosok wanita yang tegar.

69


Histoire D’amour
―Bu, maafkan Abang. Abang gak percaya dengan
ucapan Ibu. Maafkan Abang, Bu.‖Abang menangis di balik
jeruji besi.Abangku harus menghabiskan bulan Ramadhan ini
dibalik sel. Ibu hanya bisa memandang Abang dengan penuh
air mata. Akupun menagis melihat abangku. Kutatap Ibu
yang sedang tersedu-sedu, hatiku bertanya, ―Hingga kapan
Ibu akan menderita seperti ini?‖

Lhokseumawe, 9 Juli 2022

Bionarasi Penulis
Santi Manda Sari, S.Pd.I.adalah seorang guru Bahasa
Inggris disalah satu SMP diLhokseumawe, Aceh. Selain
kesibukannya mengajar, dia juga mengelola sebuah Lembaga
Bimbingan Belajar Untuk anak- anak kurang mampu di kotanya.
Ibu dari seorang putra ini juga sangat suka dengan literasi dan
dunia pendidikan. Mottonya; Pendidikan adalah kunci kesuksesan.

70


Histoire D’amour

Namaku Ayu

Dewi Ayu Asti, S.Pd.

“A yu anak lacur! Ayu anak lacur!‖
Teriakan teman-teman sepermainanku
masih saja terngiang di telinga ini. Biasanya aku langsung
sembunyi di bawah meja kamar rias simbok karena hanya
disitulah aku bisa menangis dengan tenang. Sudah kesekian
kalinya hatiku sakit mendengar olok-olokan itu. Apa benar
tudingan mereka? Tak berapa lama ibu masuk kamar bersama
lelaki yang biasa kupanggil Om Bram. Aku yang saat itu

71


Histoire D’amour
masih berusia lima tahun sama sekali tidak paham apa yang
mereka lakukan.

Barulah saat ini aku mengerti, mengapa dulu mereka
sering menyebut anak lacur. Ibuku menjajakan tubuhnya
untuk para lelaki hidung belang. Itulah mengapa kami
dikucilkan, bahkan diusir dari kampong sendiri. Pasca
meninggalnya bapak, kehidupan kami menjadi sulit. Bapak
yang hanya menjadi bayan di kampong sama sekali tidak
meninggalkan warisan yang berarti.

Di kampung, bapak tidak terima gaji melainkan
memperoleh bengkok (sebidang tanah sebagai pengganti
gaji). Kehidupan semakin sulit saat aku dan ibu diusir oleh
eyang kakung yang memang dari awal tidak setuju dengan
pernikahan ibu dan bapak. Lengkaplah sudah penderitaan ibu
saat itu.

Kalau ada yang bertanya mengapa ibu lebih memilih
menjual diri ketimbang menjadi pembantu, itu dikarenakan
saat ibu menjadi pembantu, dia pernah diperkosa oleh Pak
Pangat, majikannya. Bahkan ibu ditelanjangi dan diarak
keliling kampong. Hal ini menjadikan eyang kakung
meradang dan akhirnya mengusir kami.

Nestapa demi nestapa menghampiri kami, namun hal
itu tidak menjadikan ibu menyerah pada kehidupan. Dia
selalu melindungi aku dan memberi yang terbaik untuk putri
semata wayangnya ini. Di saat aku sedang asik mengenang
masa laluku, tiba-tiba sebuah tangan memegang pundakku.

72


Histoire D’amour
―Yu, ayo masuk. Jangan melamun saja. Bapak dan ibu
sudah menunggu,‖ bisik Mas Bimo, kekasihku.
Tanpa menjawab, aku segera masuk rumah megah itu
diiringi Mas Bimo. Aku masih belum yakin kalau
keluarganya akan menerimaku tanpa syarat. Siapapun yang
tahu masa laluku dan orang tuaku pasti akan mundur. Ah
kolot sekali mereka. Kuhela nafas berat dan tetap tersenyum
di hadapan Mas Bimo. Sementara itu, Mas Bimo
menggenggam erat tanganku. Betapa terkejutnya diri ini saat
melihat Om Bram berdiri di samping mamanya Mas Bimo.
Ragu-ragu aku melangkah mendekati mereka, terlebih
saat melihat raut muka Om Bram yang sangatlah tidak
mengenakkan. Bukan hanya aku yang terkejut di sini tapi Om
Bram juga kaget. Sepanjang obrolan kami, Om Bram tetap
menunjukkan rasa tidak sukanya padaku. Sampai pada saat
berpamitan pulang, dia mengancamku dan meminta agar
tidak mendekati putranya lagi.
Bahkan belum sampai rumah pun, Om Bram sudah
duluan menghampiri ibu dan memaki-maki ibu dengan
bahasa binatang.Sementara ibu hanya bisa menangis tanpa
berani menjawab. Memang selama ini Om Bram sudah
menikahi ibu secara siri. Bahkan kuliahku juga Om Bram
yang membiayai.
―Ini dia si anak sialan! Didik anakmu, Nur! Jangan
sampai dia lupa asal usulnya! Hanya anak pelacur bermimpi

73


Histoire D’amour
jadi tuan putri! Mulai hari ini aku talak kamu!‖ teriak Om
Bram begitu melihatku datang.

―Mas, kau boleh ceraikan aku. Bahkan membunuhku
sekalipun tapi jangan kau pisahkan Ayu dan Bimo. Mereka
saling mencintai, Mas. Aku akan mundur dari hidupmu, aku
ikhlas,‖ isak ibu.

Tanpa menjawab, Om Bram mendorong ibu hingga
terjatuh dan segera memacu mobilnya dengan kencang. Aku
segera menghampiri ibu dan memeluknya. Beliau kaget
melihat kedatanganku. Berulangkali ibu meminta maaf
padaku.

Semenjak kejadian itu, ibu sama sekali tidak pernah
bertemu dengan Om Bram, uang kuliah pun juga dihentikan.
Kami benar-benar memulai hidup dari nol lagi. Aku bekerja
paruh waktu untuk biaya kuliah, sementara ibu mulai
membuka warung kecil-kecilan dan mulai meninggalkan
dunia hitam.

Hidup kami benar-benar terasa nikmat meski dalam
segala keterbatasan finansial, yang penting kami masih bisa
makan dan tetap kuliah. Hari ini, aku wisuda. Airmata ibu
mengalir deras saat melihatku memakai toga dan di wisuda.

―Selamat, ya, Yu. Ibu bangga padamu. Ibu juga minta
maaf karena sudah bikin Ayu berpisah dari Bimo. Maafkan,
ibu,‖ ucapnya sesenggukan.

―Sudahlah, Bu. Ayu nggak marah, Ayu bangga jadi
putri ibu,‖ jawabku sambil memeluk erat tubuh kurusnya.

74


Histoire D’amour
Memang semenjak Om Bram mengacak-acak rumah
siang itu, Bimo menghilang bak ditelan bumi. Sayangnya,
aku tidak begitu ambil pusing akan hal ini. Bagiku, sudah
bukan hal baru kalau harus kehilangan seseorang yang aku
sayang. Seusai wisuda, aku segera melamar pekerjaan dan
diterima sebagai perawat di RS bergengsi di Surabaya.
Segera kuboyong ibu untuk ikut denganku dan memulai
hidup baru.
Di kota ini aku kembali menemukan cinta. Aku
mengenal Mas Huda, lelaki soleh yang siap menuntunku ke
surga. Atas restu ibu dan keluarga besar Mas Huda, kami
menikah dengan sederhana. Ibu mertua begitu menyayangiku
meski beliau tahu kalau besannya mantan wanita penghibur.
Keluarga ini benar-benar menerima kami tanpa syarat. Mas
Huda sendiri pemilik perusahaan property yang sukses di
Surabaya. Meski bergelimang harta tapi dia hidup dengan
bersahaja.
Memang takdir Tuhan itu kita tidak akan pernah tahu,
aku dipertemukan kembali dengan Mas Bimo dalam sebuah
kesempatan yang cukup unik. Hari itu, perusahaan suamiku
akan bekerja sama dengan perusahaan Om Bram, kebetulan
Mas Huda hari itu kurang enak badan dan mendelegasikan
padaku untuk hadir dalam jamuan makan perusahaan
ditemani ibu.
Aku yang sejak sore sibuk memilih baju sopan untuk
hadir di sana hanya bias membuat suamiku tertawa.

75


Histoire D’amour
―Kamu ngapain, sayang? Masih berdiri di situ?‖ tanya
Mas Huda.
―Ayu bingung, Mas. Harus pakai baju yang mana,‖
jawabku.
―Kamu itu ndak usah pakai baju baru juga sudah ayu.
Mas juga sayang sama kamu apa adanya,‖ bisik Mas Huda di
telingaku.
Aku hanya bisa tersipu malu menerima pujian
suamiku. Usai berdandan, kami segera berangkat ke hotel
diantar sopir. Turun dari mobil, aku dan ibu terkejut saat
melihat siapa yang menyambut kedatangan kami. Ternyata
Om Bram dan istrinya sudah berdiri di depan pintu hotel. Ibu
sampai ragu untuk turun dari mobil, namun aku
menguatkannya. Kami segera turun dan menghampiri
mereka.
―Perkenalkan, namaku Ayu. Aku istri dari pemilik
PT. Huda Agency,‖ ucapku sambil mengulurkan tangan ke
Om Bram.
―Ayu? Kamu, Ayu? Mantan pacarnya Bimo? Kamu,
Ayu? Anak pelacur yang sudah menghancurkan hidup putra
kesayangan kami karena selingkuh?‖ tanya istri Om Bram.
―Maaf, ibuku bukan pelacur seperti yang anda
tuduhkan. Ibuku menjadi pelacur karena Pak Bram yang
menjadikannya seperti itu,‖ bisikku di telinga wanita cantik
itu.

76


Histoire D’amour
Aku segera melenggang masuk tanpa menghiraukan
Om Bram dan istrinya yang tengah bertengkar mulut karena
ucapanku. Sekarang aku tidak mau dipandang rendah lagi.
Namaku Ayu, seorang perawat yang bersuamikan pengusaha
sukses. Mulai saat ini tak akan kubiarkan seorang pun
menghinaku apalagi menghina ibu.

Bionarasi Penulis
Dewi Ayu Asti, S.Pd. lahir di Luwu Utara, 23 Januari 1989.
Alumni S1 Pendidikan Bahasa Inggris. Jangan memulai sesuatu jika
ada keraguan, dalam setiap kesulitan baginya pasti aka nada
kemudahan.Jangan takut gagal di setiap tantangan. Baginya
menulis adalah berbagi cerita pengalaman, untuk itu dia akan
terus menulis. Selain menulis, ia sangat suka dunia cooking,
menonton beberapa tutorial membuat sesuatu, membaca cerpen
serta puisi.

77


Histoire D’amour

Saat Anakku Pulang Telat

Ika Kurniawati, S.Pd.

S iang ini anakku pulang sekolah terlambat dan
tidak seperti biasanya, dia langsung masuk
kamar dan menutup pintu. Aku hanya bias melihatnya tanpa
bertanya. Biasanya kalau seperti ini, dia sedang ada masalah.
Yang bias kulakukan hanya menunggu sampai dia bercerita.
Sampai jam empat sore, Tania belum juga keluar kamar. Hal
ini membuatku curiga dan segera melihatnya ke kamar.
―Nduk, apa kamu tidur?‖ tanyaku.

78


Histoire D’amour
Hening tidak ada sahutan dan aku pun mendekat ke
ranjangnya untuk memeriksa. Astaghfirullah, badan Tania
demam, saat aku membuka selimutnya, mataku tertumbuk
pada sebuah luka dan beberapa lebam di lengan dan kaki
kanannya. Aku hanya bias menghela nafas dalam. Untuk
membangunkan Tania yang terlelap dan bertanya, rasanya
kok nggak tega.
Kuputuskan untuk menunggu dia bangun dengan
tetap duduk di sisi ranjangnya. Sekitar jam lima, Tania
bangun. Aku segera memeluknya sambil menangis.
Sementara anak itu bingung dengan sikapku dan sedikit
meringis saat tubuhnya kudekap.
―Tania kenapa? Sini cerita sama bunda,‖ ucapku.
―Tania nggak apa-apa. Bunda kok nangis?‖ tanyanya.
―Bolehkah bunda bertanya? Tapi bunda harap Tania
menjawabnya dengan jujur,‖ lanjutku.
Anak itu mengangguk. Cerita meluncur dari bibirnya.
Hari ini Tania dipinjami laptop sama Wibi, kawannya.
Berhubung Tania masih memakai laptopnya, dia tidak
mengijinkan Wibi untuk meminjamnya. Wibi marah dan
segera membanting laptop Tania, bukan hanya itu, Wibi juga
mendorong dan meninju anak gadisku. Spontan tangisku
pecah karena tidak bias membayangkan betapa sakitnya saat
Tania dianiaya.
―Tania, sayang. Kenapa nggak melapor ke guru?‘
tanyaku.

79


Histoire D’amour
―Enggak, Bund. Tania nggak mau dicap sebagai
anakcepu (tukang lapor),‖ jawabnya sambil meringis.
Lagi-lagi kupeluk erat anak gadisku ini, di saat sakit
pun, dia tetap masih ingin terlihat tegar. Ah, Tania yang
malang. Tania juga mengatakan agar aku tidak marah karena
laptopnya rusak. Bagiku laptop hanyalah benda yang kalau
rusak masih bias kami beli. Lalu, bagaimana dengan mental
Tania yang sudah dikoyak oleh Wibi? Sepertinya aku tidak
boleh hanya diam saja. Segera kuhubungi Bu Yuli, wali kelas
Tania. Kuceritakan setiap detail kejadian yang menimpa
anakku hari ini dengan berurai air mata.
―Ibu, saya minta ibu tenang. Mereka hanya anak-
anak. Mungkin saja Wibi tidak sengaja merusakkan
laptopnya Tania. Mereka itu berteman, nanti juga bakal rukun
lagi.‖
Ucapan bu Yuli membuat harga diriku tertampar,
tanpa menjawab segera kuakhiri panggilan telepon itu tanpa
mengucap salam. Semalaman aku tidak bias tidur
memikirkan masalah ini. Ayah Tania juga marah dengan
kejadian yang menipa putri kami.
―Laptop rusak masih bias beli lagi, Yah. Kalau Tania
sakit atau meninggal, apa bias kita beli lagi?‖ tanyaku sambil
menangis.
―Iya, Bu. Ayah paham perasaan ibu. Besok ibu
sebaiknya menemui Bu Yuli untuk menyelesaikan masalah
ini dan jangan pakai emosi,‖ pesan suamiku.

80


Histoire D’amour
Malam ini Tania juga tidak bias tidur, dia mengeluh
sekujur tubuhnya ngilu dan sakit. Dia kami bawa ke RS
karena takut ada yang cidera. Saran dokter, Tania harus
dirawat inap dulu. Tentu saja hal ini membuatku urung
ketemu Bu Yuli karena kesehatan Tania lebih penting.
Seminggu kemudian, Tania baru diijinkan pulang oleh dokter
dan diwajibkan kontrol.
Sayang, Tania tidak punya cukup keberanian untuk
kembali masuk sekolah, dia masih trauma bertemu dengan
Wibi. Terpaksa aku mengantarnya. Sekalian berbincang
dengan Bu Yuli yang sama sekali tidak menjenguk Tania saat
di opname. Entah ada apa. Hari ini aku sudah membuat janji
untuk bertemu Bu Yuli dan bundanya Wibi. Usai mengantar
Tania ke kelas, aku bergegas ke ruang guru, ternyata Bu Yuli
dan bundanya Wibi sudah menunggu di sana.
―Pagi, Bu. Silakan duduk. Perkenalkan ini bundanya
Wibi dan Wibi,‖ sambut Bu Yuli.
Kulihat tidak ada penyesalan di wajah Wibi usai
menganiaya Tania. Pun pula bundanya yang menunjukkan
rasa tidak sukanya dan menganggap kalau apa yang
dilakukan putranya itu hanyalah masalah sepele. Aku
sampaikan apa yang menjadi ganjalan di hatiku.
Berhubung kejadiannya sudah seminggu, kuminta
Wibi meminta maaf ke Tania agar putriku itu tidak takut lagi
padanya. Sayang mereka menolak mentah-mentah

81


Histoire D’amour
permintaanku. Bahkan bundanya Wibi mengejekku terlalu
baper dengan kenakalan putranya.

―Sudah ya, Mama Tania. Jangan diperpanjang lagi
masalah ini. Kalau anda minta ganti rugi, ini ada cek sepuluh
juta, silakan diterima dan masalah selesai. Ini kan hanya
masalah selesai, dua anak bertengkar. Toh besok mereka
pasti baikan kembali,‖ ucapnya tanpa menoleh padaku.

Ya, Rabb. Serendah itukah attitude mereka? Hanya
sekedar kata maaf saja mereka sulit mengucapkannya.
Kecewa rasanya dengan sikap yang mereka tunjukkan.
Bahkan di samping pintu keluar, kudengar Wibi nyeletuk.

―Makanya tante jangan aneh-aneh, dikira mama saya
tidak mampu ngasih tante duit?‖

Dadaku rasanya ingin meledak, di hadapan suamiku
tangis ini pecah. Aku tidak bisa menerima perlakuan mereka.
Atas inisiatif suamiku, Tania kami pindahkan sekolah untuk
mengobati traumanya. Aku hanya bisa berdoa agar Allah
senantiasa membukakan mata hati Bu Yuli, bundanya Wibi
dan juga Wibi. Sehingga mereka tidak menjadi orang yang
zalim.

Setelah setahun kepindahan Tania, aku mendengar
berita kalau Wibi ditabrak geng motor dan suami Bu Yuli
kena PHK. Sore ini, aku mengajak Tania dan ayahnya untuk
membesuk Wibi. Kami sudah berusaha memaafkan dan
melupakan segala perbuatannya. Biarlah Allah sebaik-baik
penegur bagi orang yang salah. Sesampainya di RS, begitu

82


Histoire D’amour
kami masuk ke kamar Wibi, bundanya langsung menangis
dan memelukku. Dia meminta maaf karena sudah
merendahkanku.

―Mama Tania, atas nama Wibi dan saya pribadi.
Maafkan sikap saya saat itu. Allah sudah menegur kami lewat
kejadian ini,‖ ucapnya pilu.

―Iya, Bunda. Semoga Wibi cepat sembuh dan bisa
sekolah lagi,‖ jawabku.

Ya. Wibi sudah menerima hukumannya dengan
kehilangan salah satu kakinya karena tergilas motor. Dia
sekarang cacat permanen. Untuk itu marilah kita bersikap
baik agar juga memperoleh kebaikan di manapun kita berada.

Bionarasi Penulis
Ika Kurniawati, S.Pd. lahir di Cirebon, 25 Mei 1984. Ia
menempuh program S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas
Swadaya Gunung Jati sejak 2002 dan lulus 4 tahun berikutnya.
Karir pertamanya dimulai di SDN Weru Kidul 2 Cirebon di tahun
1990 – 1996. Kemudian melanjutkan karirnya sebagai guru Bahasa
Inggris di SMPN 2 Plered tahun 2019 – 2020. Ia sangat suka
menulis, terutama menulis artikel, puisi dan cerpen.

83


Histoire D’amour

Rindu Asa

Wike Novianda, S. Pd.

S eberkas cahaya dari balik tirai jendela menimpa
wajah putih nan bersih seraya menjadi alarm
untuk bangun pagi itu. Perempuan yang berusia 27 tahun itu
tampaknya masih enggan untuk membuka matanya. Ia masih
mengerjap dan mengumpulkan semua tenaga yang tersisa
untuk membuka mata dan membangkitkan badan untuk turun
dari kasurnya. Akhirnya setelah bergulat dengan
keinginannya untuk melanjutkan tidur atau pergi bekerja,

84


Histoire D’amour
perempuan itu mantap melangkahkan kaki dan pergi bekerja
dengan masih membungkus rasa malasnya.

Siapa menyangka, perempuan cantik bernama Mira
atau akrab dipanggil Ira itu bekerja sebagai penjual ikan di
pasar yang tak jauh dari rumahnya. Ira merupakan sosok
perempuan yang cantik, kulitnya putih, dan memiliki gigi
gingsul yang membuatnya terlihat manis. Ia juga pintar, dulu
ia adalah primadona di sekolah. Hanya saja nasibnya tidak
begitu beruntung.

―Huuuft, panas sekali cuaca hari ini. Sudah jam segini
jualanku belum ada yang beli!‖ ucap Ira sambil menggerutu.

Hari ini di pasar memang agak sepi, tidak seperti hari
biasanya. Tak heran jika Ira kesal karena jualannya belum
juga ada pembeli. Sudah beberapa jam ia termenung sendiri
menatap ke arah ikan-ikan yang berada di depannya sambil
sesekali ia mengibaskan kain untuk mengusir lalat-lalat yang
hinggap di atas ikan-ikan itu.

Tak beberapa lama setelah Ira menggerutu kesal,
mulailah beberapa pembeli berdatangan untuk membeli ikan-
ikan jualannya, walaupun satu diantaranya ada yang hanya
menawarkan saja tanpa membeli, tetapi hatinya sudah cukup
gembira karena ikan-ikan yang ada dihadapannya kini tinggal
beberapa ekor saja.

Saat pembeli mulai sepi, untuk menghibur dirinya
yang telah penat seharian berjualan, Ira menyempatkan diri
bermain gadget yang sudah dari tadi menganggur di saku

85


Histoire D’amour
celananya. Saat membuka Instagram, ia melihat aktivitas
teman-temannya yang mereka bagi di akun Instagram
mereka. Sepertinya teman-teman Ira hidupnya berkecukupan
semua dan karier mereka juga berjaya, berbeda dengan
dirinya yang hanya seorang penjual ikan di pasar. Ia merasa
rendah dan malu, oleh sebab itulah Ira jarang sekali
membagikan aktivitasnya di media sosial karena tidak ingin
dilihat oleh teman-temannya, biarlah ia hanya menjadi
penonton kesuksesan-kesuksesan yang telah diperoleh teman-
temannya.

Saat Ira scroll Instagram, tiba-tiba pandangannya
terhenti pada sebuah postingan yang membuat ia semakin iri
dan semakin merasa minder. Benar saja, yang ia lihat itu
adalah postingan Lia, sahabatbaiknya Ira. Persahabatan
mereka bukan sekadar kata yang ditulis pada kertas tak
bermakna, tapi persahabatan mereka merupakan ikatan suci
yang diperoleh di atas dua hati. Ira dan Lia sudah menjadi
sahabat sejak kecil, waktu di SD mereka satu sekolah, di
SMP satu sekolah, dan sampai SMA pun satu sekolah. Hanya
saja, ketika lulus SMA, mereka memutuskan jalan hidup
masing-masing. Ira memutuskan untuk menikah, tetapi
sayangnya pernikahannya kandas ditengah jalan karena
suaminya pergi meninggalkannya. Sehingga kini Ira
menyambung hidup dengan berjualan ikan di pasar.
Sedangkan Lia setelah tamat SMA ia memutuskan untuk
melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Hingga kini ia telah

86


Histoire D’amour
berhasil menyandang gelar dokter dan telah bekerja di salah
satu rumah sakit yang ada di kota kelahirannya, Lia juga
sudah menikah dengan temannya yang sama-sama dokter,
mereka telah mempunyai satu orang anak perempuan yang
masih berusia satu tahun. Perpisahan sekolah saat SMA dulu
merupakan pertemuan terakhir Ira dan Dina karena setelah itu
mereka tidak pernah bertemu dan tidak pernah pula
berkomunikasi lagi.

Ingin rasanya Ira menyapa sahabatnya itu di sosial
media. Namun, rasa malu dan rendah diri membuatnya
mengurungkan niatnya itu. Dulu sering Lia mencoba
berkomunikasi dengan Ira, tapi tidak pernah dibalas oleh Lia
dan sekarang Ira pun merasa bersalah dan malu untuk
memulai berkomunikasi kembali dengan sahabatnya itu.

―Enak banget hidup Lia, punya pekerjaan yang bagus
dan keluarga yang sempurna!‖ ucap Ira dalam hati.

―Kenapa nasib kami berbeda, Tuhan? Padahal aku
dan Lia dulu ibarat jantung dan denyutan, tidak bisa
dipisahkan. Kenapa nasibku tidak seberuntung Lia?‖
sambungnya dengan raut muka yang sedih.

Ira dan Lia dulunya memang sahabat sejati yang tidak
pernah terpisah, sudah seperti ibarat dua jantung satu
denyutan. Namun, pada saat dulu, memang Ira lebih unggul
dalam segala hal dibanding Lia. Ira merupakan primadona di
sekolahnya, sedangkan Lia tidak. Ira memiliki wajah yang
cantik, sedangkan Lia tidak secantik Ira. Ira juga merupakan

87


Histoire D’amour
anak yang pintar dan cerdas di sekolahnya, sedangkan Lia
hanya siswi yang biasa saja. Keunggulan yang dimiliki Ira
inilah yang membuatnya banyak disukai oleh laki-laki di
sekolahnya, tak jarang mereka sering bertengkar untuk
berebutan ingin mendapatkan hati Ira. Namun, karena
kelebihan yang ia miliki ini, membuatnya lupa diri akan
tanggung jawabnya sebagai siswa. Ira menjadi lalai dan
sering tidak mengerjakan tugas karena asyik berpacaran
dengan lawan jenis dan bahkan sering tidak masuk sekolah.

Pada saat itu, Lia sebagai sahabat kerap kali
menasihati Ira agar tidak terlalu larut dalam hubungan asmara
karena ia masih di bawah umur, tetapi nasihat dari Lia tidak
didengarkan oleh Ira. Sampai pada akhirnya, setelah lulus
SMA, Ira melakukan suatu kesalahan fatal hingga Ia
harus menikah dan tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
Namun, beberapa bulan setelah menikah, Ira kerap menerima
perlakuan kasar dari suaminya yang mengakibatkan ia
keguguran. Setelah beberapa tahun menikah, suaminya pergi
meninggalkannya.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang memukul meja.
―Astagfirullahal’azim,‖ ucap Ira seraya menunjukkan
wajah yang terkejut.
―Mbak kenapa melamun? Dari tadi saya panggil
nggak nyaut,‖ jawab wanita yang tadi memukul meja.
―Eeh, maaf, Mbak, ada apa?‖ jawab Ira sambil
tertawa malu.

88


Histoire D’amour
―Saya mau beli ikannya, Mbak!‖ jawab wanita itu.
Ira pun langsung memasukkan HP yang masih
digenggamannya ke saku celananya dan kembali melayani
pembeli yang berada di hadapannya. Sudah terlalu lama ia
melamun mengingat masa lalunya. Kini ia menyesali
kesalahan yang pernah ia lakukan dahulu. Namun, itu tidak
membuatnya putus asa dengan kehidupan. Ia akan terus
berjuang dan berusaha memperbaiki hidupnya dan mencoba
selalu menikmati hidup. Karena hidup akan tetap terus
berjalan tanpa peduli apa yang kita rasakan, Tuhan pun tidak
akan mengubah nasib kita kecuali kita sendiri yang berusaha
mengubahnya.

Sungai Penuh, 10 Juli 2022

Bionarasi Penulis
Wike Novianda, S.Pd., adalah seorang wanita berumur 41
tahun yang berprofesi sebagai seorang guru dan ibu rumah tangga
dengan tiga orang anak. Wanita ini menyelesaikan pendidikan S1-
nya di Universitas Bung Hatta, Kota Padang, tahun 2005. Menulis
merupakan salah satu cara agar ia dapat mengembangkan ide-ide
kreatif dan menenangkan dirinya, dengan kata lain menulis adalah
hobinya. Perjalanan karier wanita ini berawal sebagai guru
honorer selama lima tahun pada sebuah Madrasah yang terletak
di Kota Sungai Penuh, sebelum akhirnya ia menjadi seorang
Pegawai Negeri Sipil sebagai guru disebuah Sekolah Menengah

89


Histoire D’amour
Atas. Motto hidupnya adalah;‘Hiduplah seolah engkau mati besok.
Belajarlah seolah kau hidup selamanya’.Ia dapat dihubungi
melalui e-mail [email protected].

90


Histoire D’amour

Tantangan Kehidupan

Ardinawati, M. Pd.

P erjuangan alur hidup dilalui dengan penuh
tantangan. Jika mungkin yang lain bisa
mendapatkan dengan mudah, lain halnya dengan Dina.
Semua berjalan penuh cerita yang merangkai kehidupannya
menjadi pribadi yang tangguh. Dina, seorang perempuan
anak pertama dari tiga bersaudara yang dibesarkan dari
keluarga guru, menjadi harapan orangtua untuk dapat
meneruskan profesi guru. Ingin meneruskan di sebuah

91


Histoire D’amour
sekolah kedinasan di Jakarta, usaha tak membuahkan hasil.
Mugkin disinilah harapan orang tua yang sebenarnya
menjawab kegagalan sebelumnya. Mendaftar kuliah di
sebuah kampus di Yogyakarta jurusan pendidikan Bahasa
Inggris melalui jalur rapor, tanpa kendala diterima melalui
jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) pada
tahun 2004.

Dina tidak hanya mau menikmati perkuliahan, tetapi
juga ingin menggali pengalaman. Dina melamar sebagai guru
part-timer melalui lowongan kerja yang ditempel pada papan
pengumuman di kampus. Keinginannya untuk mendapatkan
penghasilan sendiri melalui mengajar mulai ia jalani. Tidak
punya kendaraan, Dina menerima dukungan dari orang tua
berupa sebuah sepeda merk Jie Yang berwarna merah muda.
Ya, sepeda perempuan dengan keranjang didepannya.
Hampir semua teman kampus bermotor, tanpa malu Dina
bersepeda ke kampus, ke sekolah, dan ke lembaga bahasa
tempat mengajar dengan jarak mulai dari yang dekat sampai
jauh.

Pernah suatu ketika Dina harus mengajar dan saat itu
hujan. Apakah Dina mengurungkan niatnya? Tidak. Dina
bersepeda dengan menggunakan jas hujan. Tas berisi buku,
materi mengajar, dan sepatu ia masukkan ke dalam tas kresek
besar berwarna hitam. Hujan mengguyur. Dina kayuh
sepedanya, air hujan yang dingin membasahi mukanya.
Melewati jalan raya bersama para pengendara motor dan

92


Histoire D’amour
mobil, melewati lampu lalu lintas. Sepeda keranjang Dina
tetap melaju menuju tempat mengajar. Tawaran mengajar
pun makin banyak, tetapi Dina tidak mau membebani orang
tua dengan meminta sepeda motor. Lokasi mengajar yang
cukup jauh dapat dia lalui dengan motor pinjaman. Beruntung
ada teman kos yang baik hati yang mau membantu
meminjami. Tak ada biaya sewa, cukup bensin full saat
kembali.

Alhamdulillah penghasilan dari mengajar sudah
terkumpul. Memang belum cukup untuk membeli motor baru,
tapi sudah ada modal untuk meminta bantuan kepada orang
tua. Begitulah Dina, tidak pernah meminta sesuatu tanpa
usaha. Tahun 2010 sebuah motor menjadi pelengkap.
Keinginan memiliki sepeda motor terwujud salah satunya
berkat dukungan dari sang bapak. Masih belum lupa dari
ingatan, walaupun kondisi kesehatan yang tidak membaik
bapak yang mencarikan dan memilihkan motor hingga
mengantarkan sampai tempat kos. Motor itu pun masih
dipakai sampai sekarang. Motor yang selalu setia menemani
perjalanan Dina mengajar dan menyelesaikan kuliahnya.
Hingga akhirnya, Allah berkehendak lain. Bapak meninggal
di tahun yang sama. Rasa sedih dan kecewa bercampur jadi
satu. Dina merasa belum bisa membahagiakan dan
membanggakan kedua orang tuanya.

Kesedihan yang berlarut membuat semangat surut.
Dina mulai bangkit kembali. Dina meminta restu sang ibu

93


Histoire D’amour
untuk melamar lowongan guru di luar Jawa. Dina
meyakinkan ibunya bahwa semua akan baik-baik saja. Tak
mudah memang, melepas anak perempuan jauh dari rumah
untuk merantau. Diterima sebagai guru, pengalaman
mengajar terus ia lalui. Mengajar di sebuah sekolah yang
berlokasi di area pertambangan batubara di Kalimantan
menjadi pengalaman tersendiri. Tak hanya mengajar murid,
Dina juga berkesempatan mengajar para guru dan karyawan
di sekolah tersebut. Sambil mengajar Dina pun mengeksplor
banyak lokasi dan kebudayaan di sana. Aahh, sungguh
pengalaman yang sangat berkesan.

Waktu berlalu. Dina menyadari perlu wawasan dan
tantangan baru. Setelah cukup mengenyam pengalaman dan
mengumpulkan tabungan, Dina memutuskan untuk pulang.
Dina melanjutkan kuliah dengan biaya mandiri pada tahun
2010 dan berumah tangga pada tahun 2011. Bertambahlah
kesibukannya, mulai dari kuliah, bekerja, dan menata rumah
tangga dengan tiga orang anak dalam kurun waktu lima
tahun. Perjuangan membayar kuliah tak semudah yang
dibayangkan. Tidak mau membebani orang tua, Dina
mengajukan pinjaman di koperasi tempat bekerja. Dana
digunakan untuk membayar SPP semester. Simpanan logam
mulia yang ia peroleh dari hasil mengajar sebelumnya pun
dengan rela ia jual untuk membiayai kuliah. Semua dilakukan
dengan memaksimalkan usaha mandiri tanpa harus
bergantung pada orang tua. Kuliah pun selesai walau tidak

94


Histoire D’amour
sesuai target waktu. Dina bersyukur dengan dukungan suami
dapat menyelesaikan studinya walaupun ada kekecewaan
tersendiri dalam hatinya, belum bisa mewujudkan harapan
orang tua untuk menjadi guru melalui seleksi tes Aparatur
Sipil Negara (ASN).

Memang belum rezeki untuk dapat menjadi ASN.
Namun, semangat mengajar dan berkarya terus ada. Dengan
modal semangat dan keyakinan, Dina melamar di sebuah
sekolah swasta sekaligus sekolah Islam ternama di
Yogyakarta yang menyediakan layanan sekolah dari TK, SD,
SMP sampai SMA. Ada lowongan guru bahasa, Dina tak
ragu mencoba. Ada beberapa tahapan seleksi, ia jalani
dengan penuh optimis. Memang hanya ada satu formasi, tapi
jika Allah sudah berkehendak tak ada yang bisa menghalangi.
Dina diterima. Ketugasannya sebagai seorang guru ia jalani
tahun demi tahun, hingga akhirnya Dina terpanggil untuk
mengikuti seleksi Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk yang
pertama kalinya. Allah pun berkehendak Dina lolos seleksi
akademik. Perjuangan masih belum selesai. Dina siap
menjalani setiap rangkaian peristiwa dengan ikhlas.

Apa yang kita inginkan, apa yang orang tua kita
inginkan tidak terwujud karena Allah lebih tahu apa yang kita
butuhkan, bukan sekadar apa yang kita inginkan. Jalani
semua skenario dariNya dengan penuh rasa syukur, niscaya
akan bertambah nikmat untuk kita. Akhirnya, impian,

95


Histoire D’amour
harapan, tantangan, dan perjuangan membaur menjadi satu
untuk sebuah kesuksesan di masa depan.

Sleman, 10 Juli 2022

Bionarasi Penulis
Ardinawati, M.Pd., adalah seorang ibu dengan tiga anak
yang berdomisili di Sleman - DIY. Hobinya mengeksplor wisata
kuliner bersama keluarga. Menjalankan peran seorang working-
mom menjadi tantangan tersendiri. Baginya, menghasilkan karya
adalah cara untuk menginspirasi anak-anaknya. Dengan menulis,
dapat menyalurkan perasaan, emosi, sekaligus ide dengan
harapan tulisannya tidak hanya dinikmati orang lain, memberikan
dampak positif bagi pembaca, tetapi juga memberikan efek
transfer semangat kepada anak-anaknya untuk dapat
berkarya. Mottonya adalah “Anything happens for a reason”,
yang selalu menuntun penulis untuk menerima dan menjalani
setiap skenario dariNya dengan meyakini bahwa apa yang sudah
digariskan adalah yang terbaik untuk kita.

96


Histoire D’amour

Ternyata Mertuaku
Menyayangiku

Eliyana,S.Pd.

“M in, cepat ke pasar. Sebentar lagi koko
pulang,‖ ucap ama padaku.
Tanpa diperintah dua kali segera kukeluarkan sepeda
pancalku. Tiap kali mendengar koko disebut, entah mengapa
aku menjadi girang bukan kepalang. Kalau koko pulang, itu
tandanya aku akan dapat banyak hadiah. Pakaian indah, pita

97


Histoire D’amour
dan kuteks lucu. Kali ini ama memintaku membeli ikan
kembung kesukaan koko. Kami akan memasak gulai ikan.

―Mey, mau ke mana? Kok ngebut macam dikejar
setan,‖ ucap Aliong mengejekku.

Tanpa menjawab pertanyaan Aliong, aku memacu
sepeda ke arah pasar. Di pasar segera aku memilih ikan
kembung segar pesanan ama. Pak Min sudah hapal tiap kali
beli ikan kembung sudah pasti koko pulang dari perantauan.
Saat sedang memilih ikan, aku melihat sebuah mobil mewah
melintas di pasar dan mengundang decak kagum setiap orang.

―Wah, Min. Besok ibu akan cari mantu bermobil
mewah seperti itu buat Westri. Bukan orang Cina macam
dia,‖ ucap Bu Darmi sembari menunjuk ke arahku.

―Maaf, Bu. Jangan panggil saya Cina. Nama saya
Meymey. Nanti ama bisa marah ke ibu,‖ sungutku.

―Ah persetan dengan amamu itu. Cina pelit! Maunya
beli apapun nawar!‖ teriaknya.

Ada rasa sedih terselip dalam hatiku mendengar ama
dijelek-jelekkan tapi aku juga malas rebut dengan Bu Darmi.
Biar bagaimanapun dia tetap ibunya Mas Pramudya, lelaki
yang saat ini telah sah menjadi suamiku. Demi aku, Mas
Pram rela keluar dari keluarganya karena mereka tidak bisa
menerima kehadiranku.

Tidak hanya sampai di situ saja. Sindiran selalu
mereka lontarkan tiap kali aku ke pasar dan singgah di lapak
mereka. Sudah berulangkali pula Mas Pram melarangku ke

98


Histoire D’amour
lapak Bu Darmi, mertuaku. Demi ama, tak kuhiraukan
larangan suamiku dan tetap dating saat koko pulang atau ama
ingin makan ikan kembung asap. Semua itu karena ikan yang
dijual Bu Darmi adalah ikan segar dan pilihan.

―Ci Mey, ini ikannya. Salam ya buat Den Bagus,‖
ucap Pak Min membuyarkan lamunanku.

Segera kubayar ikan yang sudah dibersihkan itu dan
berlalu pulang. Sementara Bu Darmi masih berteriak dengan
memanggilku, Cina. Sesampainya di rumah aku segera ke
dapur tanpa memberitahu ama perlakuan mertua tercinta.
Ternyata benar dugaanku, mobil yang melintas di tengah
pasar adalah mobil Ko Liem.

―Mey, kenapa kamu di dapur? Itu kokomu datang
bawa calon istrinya,‖ ucap ama.

Aku segera ke ruang tamu untuk bertemu dengan
kakak tertuaku, betapa terkejutnya diri ini saat melihat calon
istri Ko Liem adalah mantan pacar Mas Pram. Aku simpan
rasa terkejutku tanpa berani memberitahu ama. Biarlah ama
dengan kebahagiaannya. Nanti kalau Mas Pram pulang, dia
pasti juga akan terkejut. Setelah berbasa basi yang memang
basi, sampailah aku pada pertanyaan tentang keseriusan koko
dalam memperistri Nanda, nama gadis itu.

―Serius dong, Ti. Kamu tahu sendiri kalau koko tidak
suka mainin anak orang. Jadi gimana, Ma? Kapan kita akan
melamar Nanda,‖ desak Ko Liem.

99


Histoire D’amour
Kenapa hatiku tiba-tiba khawatir? Ada apa ini?
Kubuang jauh-jauh pikran buruk di otakku karena aku yakin
cinta Mas Pram hanya untukku meski kami beda ras. Mas
Pram sangat gigih memperjuangkan cinta kami dan rela tidak
diakui oleh keluarganya. Saat Mas Pram pulang dari kantor,
dia juga kaget melihat Nanda ada di rumah kami. Namun,
Mas Pram berusaha bersikap wajar meski Nanda baru tahu
kalau dia suamiku.
―Mas Pram ini pasti suami idaman ya, Ti,‖ ucap
Nanda menghilangkan kekikukan.
―Iya, Mbak. Dia sangat menyayangi saya sepenuh
hati,‖ jawabku sambil menggenggam tangannya.
―Kamu harus hati-hati lho, Ti. Jangan sampai hanya
dimanfaatkan sama mertua tak tahu diuntung,‖ ucap Nanda.
Ada sedikit amarah di mata suamiku, namun dia tetap
terlihat tenang. Aku segera pamit untuk tidur ke ama, koko
dan calon istrinya. Aku tidak mau kalau Mas Pram akan
semakin tersiksa dengan semua tudingan Nanda. Di kamar
barulah Mas Pram menumpahkan amarahnya, dia mengutuk
Nanda dan ucapannya. Aku hanya bisa memeluknya agar
tenang. Di lain sisi, Nanda sepertinya mencari celah untuk
menjatuhkan Mas Pram. Entah apa masalah mereka berdua
tapi yang jelas aku merasa kasihan pada suamiku.
Seminggu sudah koko menghabiskan cutinya di
rumah kami dan besok waktunya dia pulang ke negaranya.
Pagi ini ama memintaku mengajak Nanda ke pasar. Kali ini

100


Click to View FlipBook Version