The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan Cerpen yang ditulis bersama para guru hebat di seluruh Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kepe227102, 2022-12-13 21:50:07

HISTOIRE D'AMOUR

Kumpulan Cerpen yang ditulis bersama para guru hebat di seluruh Indonesia

Histoire D’amour
―Dek, makan dulu ya. Ibu udah masak,‖ ucapku.
Anak keduaku langsung mengangguk dan memakan
makanan yang sudah aku buat. Di sela anakku makan, aku
pun mulai menyiapkan diri untuk pergi.Setelah mengantarkan
anakku sekolah dan menemaninya tampil, aku berangkat
kerja mulai dari jam 09.30. Seperti biasa aku mengisi absen
lalu menyapa murid-murid.
Di sebuah ruangan dengan nuansa warna-warni, lima
belas anak yang sedang asyik dengan dunianya masing-
masing langsung menyapaku ketika aku memasuki ruangan
tersebut.
―Hai, Bu Rian. Selamat pagi, Bu Rian,‖ ucap anak-
anak yang ada di ruangan itu satu per satu mulai menyapaku.
―Assalamualaikum. Hai anak anakku, selamat pagi,‖
sapaku dengan ceria.
Anak-anak terlihat semangat hari ini. Melihat mereka
bahagia, membuat aku ikut bersemangat. Ada satu anak
perempuan bermata sipit yang mengangkat tangannya dan
bertanya, ―Ibu, kenapa kesiangan?‖
―Ibu tadi ada urusan dulu. Maaf ya. Kalian jadi
nunggu Ibu,‖ jawabku.
Sekolah selesai pukul 11.00 siang. Karena ada rapat
dan urusan di sekolah, aku baru bisa pulang ke rumah pukul
03.00 sore.Saat pulang ke rumah, yang aku lakukan adalah
menyiapkan makanan untuk sore hari, dan melakukan
pekerjaan rumah yang belum selesai.

251


Histoire D’amour
Setelah selesai, aku mulai membersihkan diriku dan
beristirahat. Dan biasanya karena kelelahan, aku langsung
tertidur karena besoknya akan melakukan rutinitas yang
kurang lebih sama.Saat mengajar anak-anak di usia dini,
banyak hal yang harus diperhatikan. Salah satunya suasana
hati saat kita mengajar. Tidak jarang saat kita banyak
masalah di rumah, kita sebagai guru harus tetap tersenyum di
depan murid.
Contohnya aku yang memiliki dua peran sekaligus.
Terkadang sebelum berangkat mengajar, banyak hal yang
terjadi di rumah. Tetapi saat sampai di sekolah dan melihat
murid murid yang menyapaku dengan ceria, membuat aku
melupakan masalah yang terjadi.

Purwakarta, 9 Juli 2022

Bionarasi Penulis
Rian Purwanti, S.Pd. Perempuan kelahiran 15 Maret
tahun 1983 yang mempunyai dua anak yang masih sekolah ini,
dan memiliki dua peran penting di hidupnya. Selain menjadi guru,
dia juga adalah seorang ibu. Kuliah di saat sedang hamil, dan tetap
aktif mengajar saat memiliki bayi adalah bukti bahwa dia sangat
bersungguh-sungguh bekerja di bidang ini. Moto hidupnya adalah,
“Bahagia karena bersyukur, bukan bersyukur karena bahagia.”

252


Histoire D’amour

Menjemput Matahari Terbit

Ratna Sari, S.Pd.

I ni sepenggal kisah mengajarku, yang
merupakan kali pertamanya aku mengajar di
sebuah sekolah dasar yang lumayan jauh dari rumah.
Perjalanan dimulai dengan bermacam drama di rumah. Mulai
dari sulitnya membangunkan tidur, memandikan, menyuapi
bahkan tangisan dan jeritan ketika pamit pergi. Sungguh
drama di pagi hari yang sangat menyita energi dan suasana
hati. Ditambah jarak yang ditempuh tidak kurang dari

253


Histoire D’amour
setengah jam untuk tiba di sekolah. Melawan segala
kemacetan dan terjalnya lubang pada badan jalan, belum lagi
ketika langit menangis. Sungguh air itu terasa seperti air es
yang menusuk tulang. Untungnya badan ini masih
mempunyai lemak yang tebal di sana sini sehingga tidak
terlalu masuk angin.

Mengapa kuberi judul seperti itu? Tiap hari sekolah
aku memulainya saat matahari mulai bersinar. Saat itu
banyak pengajar yang lain masih bisa mengurus anak-anak
dan suaminya. Namun berbeda dengan aku yang sudah harus
memacu motorku untuk sampai di sana. Ditambah lagi jam
pulang di mana matahari sangat bersemangat berbagi
panasnya yang membuat penglihatan sangat terik dan pedas,
serta rasa haus yang harus dinikmati untuk sampai kembali di
rumah.

Namun semua hal itu terbayar sudah dengan semua
yang aku dapatkan di sekolah. Aku berada di lingkungan SD
PB3 kurang lebih hampir satu tahun. Di lingkungan sekolah
ini saya mengajar bidang studi Bahasa Inggris untuk kelas
satu sampai kelas enam. Selama bergabung di PB3, banyak
hal yang seru dan menarik yang aku dapatkan. Sekolah yang
berada di bawah Yayasan Daarul Hikmah ini merupakan
sekolah yang berakreditasi A dan berkualitas. Di sini aku
banyak belajar, bukan hanya tentang pendidikannya namun
juga tentang akhlak yang sangat mendidik ke arah yang baik.
Setiap manusia memiliki keunikan masing-masing. Di sini

254


Histoire D’amour
aku banyak belajar tentang ilmu keagamaan yang
memedulikan siswa, guru, karyawan maupun manajemen.
Semua sangat mendukung ke arah yang positif.

Aku sangat bersyukur diberikan kesempatan dan
amanah untuk bisa menjadi salah satu bagian dari PB3. Di
sekolah ini banyak hal menarik yang aku dapatkan, salah
satunya saat pertama kali aku di PB3. Pada saat awal masuk,
banyak sekali guru maupun karyawan yang sangat ramah dan
selalu mengucapkan salam di setiap bertemu di pagi hari.
Yang mungkin baru ini aku rasakan. Jika di sekolah lama,
sapaan tersebut hanya ada di depan gerbang. Hanya
menundukkan kepala saat bertemu secara individu namun di
sini berbeda.

Begitu menariknya hal yang sederhana ini. Menurutku
ini merupakan contoh akhlak yang patut diikuti. Salah
satunya merupakan contoh untuk siswa dan siswi agar sopan,
santun dan ramah terhadap lingkungan.Hal menarik
berikutnya, ketika belajar secara daring, di mana saat aku
belum bisa menggunakan aplikasi penunjang selama
pembelajaran daring, di sini aku belajar untuk dapat
mengikuti alur pembelajaran via daring seperti yang sudah
ustad dan ustazah terapkan. Alhamdulilah sangatlah
membantu walaupun tidak bertemu siswa dan siswi secara
langsung.

Penerapan pembelajaran ini bisa dengan memutarkan
sebuah video, kemudian ada pembahasan di PPT dan LKPD.

255


Histoire D’amour
Sangat membantu siswa dan siswa untuk memahami
pembelajaran. Mereka menjadi sangat bersemangat dalam
mengikuti pembelajaran, bahkan sekarang sudah PTM. Hal
menarik berikutnya, siswa/siswi di PB3 merupakan anak-
anak yang luar biasa dengan akhlak dan prestasi yang hebat.
Di sini tidak hanya siswa/siswa yang diharapkan untuk bagus
dalam bidang keagamaannya, namun juga guru dan
karyawannya pun ikut serta dalam proyek kebaikan yang
akan menjadikan bertambahnya pahala kita. Dengan adanya
kegiatan liqo dan halaqoh, aku banyak belajar bahwa dalam
kesibukan apa pun kita harus mengusahakan untuk
mendahulukan ibadah. Dan alhamdulillah sesama rekan di
sini saling mengingatkan kebaikan-kebaikan yang harus
dilaksanakan.

Anak-anak yang luar biasa di usia yang masih sangat
muda, sudah banyak prestasi, seperti sudah hafal juz 30 dan
29, bahkan ada yang lebih. Terkadang jika mengingat diri
sendiri, dulu ketika aku masih seusia yang sama, aku belum
sampai sebaik ini akhlaknya. Anak-anak saleh ini sudah
banyak mendapatkan prestasi. Mereka sangat
menginspirasiku. Ini menjadi semangat bagiku untuk bisa
memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik ke
depannya. Dan semoga anak-anakku nanti menjadi penghafal
Al-Qur‘an seperti anak-anak hebat yang ada di PB3.

Sedikit cerita tentang pengajaran di kelas, sebenarnya
amatlah menyenangkan dan bahagia ketika aku bisa bertemu

256


Histoire D’amour
dan berbagi ilmu kepada para siswa. Menanggapi berbagai
pertanyaan, tanggapan, masukan, bahkan segala perangai dan
tindak tutur mereka yang banyak sekali membuatku tertawa.
Ikut serta mengokohkan nilai-nilai Islam dan kebaikan untuk
bekal hidup mereka juga, merupakan suatu pengalaman yang
sangat berharga dan tak mudah didapat. Di usia mereka yang
sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang, namun
keadaan keluarga dan lingkungan sekitar yang kurang
mendukung, akan tumbuh kembangnya, membuat mereka
mengeluarkan segala tingkah yang sangat lucu dan
membahagiakan. Belum lagi ketika mereka belum mengerti
materi yang kita sampaikan, maka kita wajib merancang
pembelajaran yang inovatif, efisien dan menarik serta mudah
diterima oleh mereka.

Dalam perjalanan mengajar mereka di kelas tidaklah
selalu indah. Suatu hari, ada kejadian di mana dua orang
siswa terlibat perseteruan dan berkelahi di dalam pelajaranku.
Wah itu adalah pemandangan yang sangat menyeramkan dan
mengejutkan. Untungnya hal ini bisa langsung ditangani
sehingga dengan berbagai upaya keduanya bisa rukun
kembali.

Namun ini semua merupakan garis hidup ataupun
sepotong perjalanan nasib yang telah Allah takdirkan padaku.
Aku harus kuat, banyak asa yang selama ini tertunda, maka
semangatku tidak lain dengan segala pengorbanan ini, aku
harus dapat meraih asa-asa itu. Aku tidak boleh menyerah,

257


Histoire D’amour
aku tidak boleh mundur dan takut. Semuanya sudah Allah
atur untukku. Allah pasti memberikan segalanya yang terbaik
untukku.

Bionarasi Penulis
Nama pemberian orang tua Ratna Sari, lahir di Bandar
Lampung pada 4 November 1987 silam. Seorang ibu dari empat
orang putri, pecinta mie ayam dan senang travelling. Karirnya
sebagai guru bahasa Inggris merupakan suatu hal yang sudah
dinantikannya sejak lama. Di mana sebelumnya, karirnya dimulai
sebagai guru kelas selama 6 tahun. Dan kini menjalani amanah
mengajar Bahasa Ingris untuk kelas 1 sampai kelas 6 dengan
penuh cinta. Motto hidupnya adalah, “Sebaik-baik manusia adalah
yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

258


Histoire D’amour

Melangitkan Asa

Reviana Aulia Sandi, S.Pd.

E mbun itu seakan enggan untuk jatuh, ia masih
terkumpul lembut tepat di ujung daun, yang
kian merunduk menahan beban yang kian berat. Sang embun
tidak pernah memilih tempat di mana ia muncul. Baik ia
atapun daun tempat ia berpijak, tak pernah tahu bilamana ia
akan menguap atau jatuh ke tanah dan hilang.

259


Histoire D’amour
Dari balik tirai jendela sepasang mata indah tak
berhenti memandang proses alamiah itu. Lama dinantinya
dan akhirnya embun itu pun jatuh ke tanah, hilang meresap
membawa asa untuk kehidupan baru.
Pemilik mata indah itu adalah seorang perempuan
muda bernama Santi. Santi merupakan anak keempat dari
empat bersaudara. Sejak kecil Santi terbiasa hidup sederhana.
Saat anak-anak seusianya bisa dengan mudah membeli
jajanan yang lewat di depan rumah, berbeda dengan Santi dan
saudara-saudaranya. Mereka tak dibiasakan oleh bapak untuk
membeli jajanan di luar. Bahkan seringkali Santi, dan
saudaranya merasa dongkol tidak diperbolehkan jajan, tetapi
tak satu pun dari anak-anak bapak yang berani membantah
bapak. Karena bapak merupakan orang yang tegas dalam
mendidik anaknya.
Bapak merupakan seorang guru di salah satu sekolah
dasar di kabupaten tetangga. Tempat kerja bapak jauh,
sehingga Santi dan keluarganya jarang bertemu bapak. Alat
transportasi pada masa itu masih jarang, hanya sesekali mobil
tambang akan masuk membawa penumpang. Santi kecil
belum memahami hal tersebut. Yang ia tahu saudara-
saudaranya akan selalu bergegas keluar jika ada mobil yang
lewat depan rumah. Berharap bapak pulang. Dan tak jarang
mereka akan kembali ke rumah dengan wajah murung.
Ternyata bukan bapak yang datang.

260


Histoire D’amour
Ibunya merupakan seorang wanita yang lembut dan
sabar. Seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan harinya
untuk mendidik, menjaga rumah serta anak-anak seorang diri.
Rumah keluarga Santi berada tak jauh dari rumah kerabat
ibunya. Ironisnya banyak dari kerabat ibunya seperti
mengucilkan keluarga Santi.
Dibandingkan yang lain, hanya keluarga Santi yang
ekonominya dipandang rendah. Saat kerabat lain sudah
memiliki rumah gedongan, keluarga Santi masih setia dengan
gubuk papan mereka. Tak jarang kata-kata menyakitkan
kerap mereka lontarkan kepada keluarga Santi.
Mulai dari menghina gaji bapak yang kecil, menyebut
orang miskin. Bahkan mereka sering memeriksa tas Ibu Santi
saat hendak pulang ketika berkunjung ke rumah kerabatnya.
Miris memang, tapi itulah yang terjadi dan dihadapi oleh
keluarga Santi.
Namun, ibu selalu mengajarkan kepada mereka untuk
tidak menanam kebencian terhadap orang lain dan selalu
mengingatkan anak-anaknya untuk senantiasa bersyukur
dengan yang apa yang mereka miliki.
Hari-hari berganti, bulan berganti tahun. Tepat pada
saat Santi masuk sekolah dasar, bapak berhasil mengurus
pindah kerja di dalam kabupaten. Santi dan saudaranya
sangat bahagia bisa berkumpul dan bersenda gurau dengan
bapak. Wajah ibu pun makin hari makin berseri karena tak
lagi menahan beban sendiri. Ada bapak tempat berbagi.

261


Histoire D’amour
Dengan keterbatasan biaya yang ada, orang tua Santi
berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga tamat SMA
dan beberapa menjadi sarjana. Bapak pernah berkata, ―Bapak
mungkin tidak bisa mewariskan apapun kepada kalian selain
pendidikan, jadikanlah pendidikan ini bekal untuk
kehidupan.‖
Kata-kata bapak itu selalu melekat erat di benak Santi.
Itulah yang membuat Santi giat belajar, sehingga ia tumbuh
percaya diri. Menjadi seorang gadis tak pernah takut untuk
bermimpi, sehingga mampu mendapatkan beasiswa di
kampusnya pada masa itu.
Pada pagi itu, ia sengaja membuka jendela kamarnya,
dengan harapan ia akan mendengarkan kicau burung dan
merasakan panasnya mentari, yang berarak naik mendongak
tinggi untuk pembalasan hujan lebat semalam. Aroma bau
tanah yang basah pun masih tercium khas di hidung gadis
muda itu. Ia memejamkan mata, menikmati keindahan alam
yang ada, menghirup udara sambil mengenang sang embun
yang dilihatnya tadi. Perlahan ia mengembuskan napas.
Timbul secercah senyum di bibirnya.
Terlihat dorongan semangat ia dapatkan dari sang
embun. Ia pun menyadari dalam kepantasan, ia perlu belajar
dari embun. Sederhana, menyejukkan namun tidak merusak
dedaunan tempat di mana ia berpijak. Embun pagi itu seakan
berbisik memintanya untuk segera berlari meninggalkan luka
dan menjemput bahagia.

262


Histoire D’amour
―San, Santi! Kemari, Dik.‖ Terdengar suara kakak
perempuannya memanggil dari bilik kamar sebelah. Santi
segera bergegas menghampiri kakaknya.
―Iya, Kak. Ada apa, Kak?‖ tanya Santi pada kakaknya
yang dilihatnya sedang menatap layar laptop pagi itu.
―Hari ini pengumuman kelulusan tes CPNS akan
keluar, Dik. Sebelum kita berangkat kerja, sempatkan salat
dhuha dulu ya,‖ ujar kakaknya kepada Santi.
―Baik, Kak. Semoga Allah memberikan rezeki itu
pada kita, Kak,‖ ujar Santi sambil menggenggam tangan
kakaknya.
Santi dan kakaknya bekerja di intansi yang sama
sebagai honorer. Santi dan kakaknya mengikuti jejak bapak
menjadi guru. Di mata mereka, guru merupakan pekerjaan
yang mulia. Dari kecil Santi ingin menjadi guru. Ia sangat
mengidolakan bapaknya. Ia ingin seperti bapak, memiliki hati
yang besar untuk membantu membentuk pikiran kecil.
Bapak sudah pensiun sejak dua tahun yang lalu.
Mendengar bahwa Santi dan kakaknya mengikuti seleksi
CPNS, membuat bapak sangat antusias. Hampir setiap pagi,
sehabis subuh, bapak pergi maraton berjalan tanpa alas kaki
sambil berzikir untuk keberhasilan kedua putrinya.
Begitu pula dengan ibu, mengetahui bahwa hari ini
adalah pengumuman akhir hasil seleksi, ibu sengaja berpuasa
untuk Santi dan kakaknya. Cinta manusia manakah yang

263


Histoire D’amour
lebih indah selain cinta kedua orang tua untuk anaknya.
MasyaAllah

Sesampai di tempat kerja, Santi dan kakak beraktifitas
seperti biasa. Menantikan detik-detik pengumuman keluar.

―Allahu Akbar!‖ ucap kakaknya ketika membuka
pengumuman tersebut. Santi yang berada di sampingnya pun
langsung menoleh dengan perasaan berdebar. Karena
keterbatasan jaringan, pemberitahuan di layar laptop miliknya
belum menampilkan apa-apa. Ia segera melihat layar laptop
milik kakaknya.

―Alhamdulillah, Kak. Selamat.‖ Santi memeluk
kakaknya. Kakak masih tertegun sembari melihat layar yang
ada di hadapannya berulang-ulang. Hati Santi pun makin
berdebar menunggu hasil miliknya.

―Ya Allah hamba pasrahkan pada-Mu. Apa pun
hasilnya, inilah yang terbaik untuk hamba ya Allah,‖ ucap
Santi lirih. Tak berselang lama layar di hadapan Santi pun
telah menampilkan pengumuman tersebut.

―Kak, Santi lulus!‖ ucap Santi bergetar seperti tak
percaya apa yang dilihatnya. Kakak langsung memeluk Santi.
Tak terasa air mata bahagia membasahi wajah ayu Santi dan
kakaknya. Rekan-rekan guru yang hadir pun silih berganti
memeluk dan mengucap selamat kepada mereka.

Dengan perasaan penuh suka cita, mereka pulang ke
rumah. Sungguh janji Allah itu pasti. Allah akan mengangkat
derajat orang-orang yang berilmu dan berbuat baik. Terima

264


Histoire D’amour
kasih bapak dan ibu untuk didikanmu selama ini. Santi
menyadari keberhasilan ini bukanlah karena ia yang hebat,
melainkan berkat asa yang melangit lewat doa untuknya dari
orang-orang yang tulus mencintainya.

Bangko, 08 Juli 2022

Bionarasi Penulis
Reviana Aulia Sandi. Sering disapa dengan Ibu Revi.
Dilahirkan di Bangko pada tanggal 26 April 1994 yang saat ini
berdomisili di Bungo. Seorang pendidik berlatar belakang jurusan
bahasa Inggris ini mengajar di salah satu Sekolah Menegah
Pertama di Kabupaten Bungo. Ia merupakan pecinta usaha
mandiri kreatif dalam bidang seni kerajinan, yang sejak lama
bermimpi ingin menjadi seorang penulis.Ia memberanikan diri
bermain dengan aksara dengan membuat sebuah cerita pendek
berjudul “Melangitkan Asa”. Motto hidupnya adalah tetap
berprasangka baiklah kepada Allah dengan apa pun yang terjadi
dalam hidup. Upayakan yang terbaik, selebihnya serahkan kepada
Allah. Allah sebaik-baiknya pengatur tak pernah keliru ataupun
aniaya.Penulis bisa dihubungi melalui: [email protected]

265


Histoire D’amour

Menggapai Asa

Siska Eliza, S.Pd.

A ngin malam berembus kencang membawa
dinginnya malam, tetapi ia belum mau
menutup jendela kamarnya. Gadis berusia tujuh belas tahun
bernama Dinda. Ia sedang melamun sendiri duduk di kursi
dekat jendela kamarnya yang terbuka lebar. Ia termenung
menatap ke langit, melihat bintang-bintang yang bertaburan
seraya meratapi hidupnya yang malang.

266


Histoire D’amour
―Mengapa nasibku begini, Tuhan? Aku ingin seperti

teman-temanku yang menikmati masa mudanya dengan

bahagia.‖

Tanpa sadar pipinya pun terasa hangat dibasahi oleh

air mata yang keluar dari kedua bola matanya yang indah itu.

Keheningan malam itu kemudian pecah saat terdengar
teriakan dari arah dapur rumahnya, ―Nak Dinda, Dina ke sini
sebentar!‖

Dinda seketika langsung menutup jendela kamarnya

dan bergegas menuju dapur sambil kedua tangannya menyeka

air mata yang membasahi pipinya. Ternyata suara itu berasal

dari ibunya yang sedang membuat kue di dapur.
―Jadi perempuan jangan malas, Nak. Ayok bantu ibu

bikin adonan kue untuk besok. Supaya besok tinggal
digoreng saja,‖ ucap ibu kepadanya.

―Adikmu Dina mana? Panggil dia suruh bantu juga!‖

sambung ibunya.
―Adik sudah tidur, Buk. Biar Dinda saja yang bantu.

Dia sudah kecapean. Kasihan kalau dibangunin,‖ jawab

Dinda sambil tersenyum hangat pada Ibunya.

Gadis itu pun membantu ibunya hingga jarum jam

tepat menunjukkan pukul 22.00. Pekerjaannya pun selesai

dan akhirnya mereka beristirahat. Lingkar penyamar

kelabu sudah mulai menampakkan diri. Seperti biasa, Dinda

dan Dina sudah lebih dulu tersadar sebelum mentari menyapa

mereka. Sudah menjadi kebiasaan bagi kedua kakak beradik

267


Histoire D’amour
ini, bangun lebih awal untuk membantu ibunya mengemasi
kue-kue, yang akan mereka bawa ke sekolah untuk dijual.

Setelah kue-kue terbungkus rapi, barulah mereka
bersiap mengenakan seragam sekolah dan bergegas menuju
sekolah diantar oleh bapaknya menggunakan sepeda
motor.Kakak beradik ini, yang jarak umurnya hanya dua
tahun, bersekolah di sekolah yang sama. Dina, sang adik
menduduki kelas X. Sedangkan Dinda, sang kakak sudah
menginjak bangku kelas XII. Mereka berdua adalah murid
teladan di sekolahnya. Walaupun mereka berdua berjualan di
sekolah, tetapi tidak mengganggu mereka dalam belajar.
Kedua kakak beradik ini juga termasuk siswi yang pintar.

Mereka sama-sama menyandang peringkat pertama di
kelas. Tak tanggung-tanggung, Dina merupakan ketua OSIS
di sekolah tersebut. Sedangkan Dinda juga sering ikut serta
dalam perlombaan mewakili sekolahnya. Jadi, tak heran jika
di sekolah mereka terkenal dan banyak guru yang menyukai
mereka.Menjadi hal yang wajar untuk anak seusia mereka,
terkadang merasa lelah dan jenuh dengan rutinitas berjualan
kue-kue di sekolah. Di tengah teman-teman seusia mereka
yang sibuk bermain, tetapi mereka harus membantu ibunya di
rumah, dan bukan hanya di rumah saja, di sekolah pun
mereka harus berjualan. Datang paling awal dengan harapan,
sebelum bel masuk berbunyi, sudah banyak kue-kue yang
terjual. Pada jam istirahat, mereka juga tidak sempat ke
kantin seperti teman-teman yang lain.

268


Histoire D’amour
Mereka sibuk menawarkan kue-kue ke temannya dari
kelas ke kelas. Mereka tidak segan-segan menawarkan kue-
kue tersebut sampai ke ruang guru. Tidak ada rasa malu bagi
kedua kakak beradik ini, yang ada di pikiran mereka adalah
bagaimana agar kue-kuenya habis laku, tanpa ada satu pun
sisa yang dibawa pulang ke rumah. Hari demi hari mereka
lewati dengan rutinitas yang sama. Hingga pada akhirnya,
keluarga mereka mendapatkan sebuah musibah. Membuat
keluarga mereka berada pada titik terendah. Ayahandanya
dilarikan ke rumah sakit karena sebuah kecelakaan yang
menimpa. Karena butuh biaya, maka semua barang berharga
yang mereka punya, habis terjual, termasuk motor yang
merupakan kendaraan satu-satunya yang mereka miliki.
―Nggak apa-apa, Pak. Motornya dijual saja, yang
penting bapak bisa sembuh,‖ ucap Dina seraya mengelus
kepala bapaknya.
―Iya, kami masih bisa jalan kaki pergi ke sekolah,
Pak!‖ sambung Dinda atas ucapan adiknya itu.
Seketika air mata lelaki paruh baya tersebut mengalir
dari sela-sela matanya, melihat betapa tegarnya hati anak-
anak yang ia cinta. Tak berapa lama kemudian terdengar
suara lelaki yang menjawab dari luar sambil berjalan
menghampiri mereka. ―Jangan khawatir, nanti paman
pinjamkan motor. Tapi motornya udah jadul. Kalau kalian
mau pakai, nanti paman antar ke rumah. Ternyata lelaki itu
adalah paman mereka, adik dari ibunya.

269


Histoire D’amour
Seminggu setelah sang bapak pulang ke rumah, kedua
kakak beradik ini kembali melanjutkan rutinitas mereka yaitu
berjualan kue di sekolah. Namun kali ini ada yang berbeda,
bukan lagi bapak yang mengantarkan mereka ke sekolah.
Mereka harus mengendarai motor sendiri. Motor astrea jadul
yang dipinjami oleh paman mereka.
Saat jam pelajaran berlangsung, rintik hujan terdengar
turun mengenai genteng sekolah. Dina yang pada saat itu
sedang fokus memperhatikan guru menjelaskan pelajaran,
seketika pikirannya buyar, saat menatap keluar kelas melihat
pekarangan sekolah mulai digenangi oleh air hujan. Ia
teringat perkataan pamannya, ―Motornya jangan kena air yaa.
Kalau kena air, mesinnya bakalan mati. Nanti susah
ngidupinnya.‖Kemudian Dina meminta izin pada gurunya.
Bergegas menuju kelas kakaknya dan memanggil kakaknya.
―Ada apa, Dek? Kamu manggil Kakak?‖ tanya Dinda
kepada Dina.
―Itu, Kak. Motornya gak bisa kena hujan. Kakak
pindah ya ke parkiran yang ada atapnya.‖
Dina pun memberikan kunci motor pada kakaknya,
kemudian berlari meninggalkan kakaknya dan kembali ke
kelas.Ketika Dinda, sang kakak hendak memindahkan motor,
benar saja kekhawatiran mereka terjadi. Motor tersebut sudah
tidak bisa dihidupkan lagi. Akhirnya saat pulang sekolah,
mereka mendorong motor hingga menuju bengkel terdekat.

270


Histoire D’amour
―Benar-benar pengalaman yang tidak bisa dilupakan
yaa,‖ ucap Dina sembari menghela napas panjang.
―Iya, Dek. Nanti kalau kita sukses, motor paman ini
akan jadi saksi sejarah perjuangan hidup kita,‖ jawab Dinda
sambil tertawa.

Hari berganti bulan, bulan pun berganti tahun.
Dinda yang pada saat itu menginjak bangku kelas XII, kini
akan memasuki dunia perkuliahan. Benar saja, berkat
kegigihan dan semangatnya, akhirnya ia diterima di salah
satu Universitas ternama di kotanya dengan jurusan tata boga.
Biaya kuliah sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Dua
tahun kemudian, Dina sang adik pun juga diterima dan
memperoleh bea siswa di universitas impiannya dengan
jurusan kedokteran.

Hari-hari pun mereka lewati dengan semangat dan
penuh suka cita. Kini Dinda sudah memiliki beberapa kafe
dan toko kue berkat dari kerja kerasnya. Dina pun sudah
menjadi dokter terkenal di kotanya. Ayah dan ibunya
sungguh sangat bangga memiliki anak seperti mereka. Kini
sesekali mereka kembali melihat ke belakang, mengingat
perjuangan hidup yang telah dilalui. Tak sia-sia kita menari
dalam hujan, menyanyi dalam badai, kini hangatnya sinar
mentari telah kita rasakan.

271


Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Siska Eliza, adalah seorang PNS sekaligus ibu rumah
tangga dengan memiliki dua orang anak, yang lahir di Koto Baru
Hiang 37 tahun yang lalu. Sekarang menetap di Angkasa Pura
Hiang Kecamatan, Sitinjau Laut kabupaten Kerinci, Jambi.
Menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Negeri Padang (UNP)
dengan jurusan Pendidikan Biologi. Perempuan dengan hobi
membaca dan traveling. Siska Eliza pernah mengajar di SMA
Darma Bhakti Sungai Penuh sebagai tenaga honorer. Kemudian
mencoba mengikuti tes CPNS dan alhamdulillah bisa lulus PNS
pada tahun 2010 dan ditugaskan di SMA Negeri 3 Sungai Penuh
hingga sekarang ini.

272


Histoire D’amour

Temanku, Si Pengkhianat

Euis, S.S., M.M.Pd.

A ku sangat malu. Siapa yang tega
mengumbar itu di mading? Kan tentunya
seantero kampus tahu masa laluku,‖ ucap Anggia sambil
menahan tangis dan marah.
―Tenanglah, Gia. Kita akan cari jalan keluarnya
dengan kepala dingin ya. Jangan sampai karena kita
emosional seperti ini, kita jadi salah sasaran menuduh orang,‖
ucap Zaskia, menenangkan salah satu sahabatnya yang
sedang memanas itu.

273


Histoire D’amour
Anggia? Ya Anggia adalah salah satu dari teman
berlima kami. Dia gadis cantik berhidung mancung, bermata
sipit, berambut panjang kepirangan dan berkulit bersih.
Tentunya dia menjadi tenar seantero kampus dengan
ketegasan dan kemolekan tubuhnya. Tetapi dia sangat
beremosional tinggi dibanding kami berempat. Kami
menjalin pertemanan yang sudah cukup lumayan lama.
―Pokoknya aku akan membuat perhitungan dengan
orang itu. Jika aku tahu siapa yang berani melakukan ini
padaku!‖ tegas Anggia kesal sambil mengepal-ngepal
tangannya.
Suasana mendadak hening. Salsa, Zaskia, Wulan, dan
Monica merenung memikirkan cara untuk menenangkan
Anggia yang sedang dibakar api kemarahan. Bagaimana
mungkin dia tak marah jika masa lalunya diumbar dengan
gamblang. Yang menyatakan Anggia pernah mengalami
gangguan jiwa, ditambah lagi seantero anak kampus yang
kian menatapnya sinis. Si Anggia cantik yang biasanya
terlihat sangar dan menakutkan bagi sebagian anak kampus.
Kini lunglai dengan wajah sedih, marah, dan penuh
penasaran siapa pelakunya.
―Bukannya aku menuduh, tapi tidak ada orang lain
yang tahu banyak tentang si Anggia selain kita saat itu.
Bahkan hanya kita berlima di ruangan sepi itu. Benar kan?‖
desak Salsa.

274


Histoire D’amour
―Tapi tidak mungkin rasanya salah satu dari kita
membocorkan itu, bukankah kita sudah berteman sejak
SMA?‖ respon Salsa.
―Lalu, siapa? Lesmana? Yang kau tuduh itu? Ah
rasanya gak mungkin. Lagian dia jarang sekali bertemu
wicara dengan kita, bahkan mungkin tidak sama sekali,‖
bantah Monika dengan datarnya.
Salsa berusaha meyakinkan sahabat-sahabatnya untuk
tidak gegabah dalam menuduh orang secara sembarangan.
Apalagi menyebutkan nama. Persoalan ini rumit bagi mereka
yang harus mengetahui siapa orang di balik pengumbaran ini.
Bagaimanapun itu sebuah harga diri yang harus
dipertahankan sahabatnya.
―Gia, kau sudah cek CCTV di depan mading itu?‖
tanya Zaskia.
―Sudah, namun sial si bengek itu agak pintar rupanya,
sehingga ia tidak meninggalkan jejak sedikit pun,‖ jawab
Anggia dengan kesalnya.
Tiba-tiba ponsel Monica berdering, kulirik muncul di
layarnya inisial K. Dia pun bergegas pergi mengangkat
telepon itu. Kemudian dia kembali dan berpamitan untuk
pulang dengan alasan kekasihnya menunggu di rumah.
―Temen-temen apa yang dikatakan Monica itu benar
juga, sebaiknya kita harus berhati-hati dengan si Lesmana.
Walaupun dia dingin bagaikan gunung salak, tapi aku selalu
memergokinya sedang memperhatikan kita,‖ ucap Wulan.

275


Histoire D’amour
Mereka termenung dalam lamunan masing-masing.
Waktu menunjukkan pukul 05.00 sore. Mereka pun pulang
dengan membawa pikiran masing-masing. Keesokan harinya,
sosok Anggia tak ditemukan batang hidungnya di kampus.
―Tumben, dia gak masuk,‖ ucap Zaskia.
―Paling juga dia lagi menyendiri dirundung malu dan
menarik diri dari orang-orang,‖ balas Monica yang membuat
kami kaget dan melihat ke arahnya.
―Bagaimanapun dia teman kita. Teman seperjuangan
kita. Ga bagus kau berbicara seperti itu,‖ balas Wulan tidak
setuju sambil menoleh.
―Lah ko lo yang sewot sih, orang gue cuma nebak
doang,‖ ucap Monica datar.
―Stop! Kenapa jadi kalian yang bertengkar, kita harus
fokus ngembaliin mood Anggia yang layu itu,‖ ucap Zaskia
menenangkan mereka.
―Temen-temen aku tadi dapet info di kosannya pun
Anggia gak ada,‖ tambah Zaskia.
Seusai kuliah, mereka langsung mencari Anggia,
kecuali Monica tidak bersamanya. Mereka tak menemukan
titik terang di mana keberadaan Anggia. Karena rasa lelah,
mereka hampir menyerah. Tetapi, tiba-tiba Salsa teringat
suatu tempat yang pernah ia dan Anggia kunjungi.
―Itu, iya itu rumah pohon.‖

276


Histoire D’amour
Mereka pun bergegas ke arah sana. Hmmm, ternyata
dugaannya benar, jika Anggia ada dengan mata memerah
penuh dengan tangisan.
―Gia, ngapain di sini? Kami mencarimu ke mana-
mana,‖ tanya Salsa dengan penuh kelembutan.
―Aku malu dengan masa laluku,‖ sesal Anggia
―Tenanglah Gia! Kami selalu bersamamu. Kita cari
solusinya bareng-bareng ya.‖ Salsa memeluk erat Anggia
yang nampak terpukul dan akhirnya mereka pun pulang ke
kosannya yang tak jauh dari sana.Di tengah perjalanan seusai
mengantar Anggia, Salsa melihat Monica yang nampak
sedang asyik duduk bercanda ria dengan seorang gadis
berambut hitam sebahu. Makin dekat nampak wajah wanita
itu tidaklah asing baginya. Dia adalah Kartika. Ya Kartika
musuh bebuyutan Anggia.
―Mengapa mereka berdua sangat begitu akrab?‖ pikir
Salsa.
Dengan penuh rasa penasaran, Salsa pun
menghampiri mereka dengan sembunyi-sembunyi dan
menyimak obrolan riangnya.
―Gimana, Mon? Lo berhasil ngancurin si gila Anggia
itu?‖ tanya Kartika sambil tertawa.
―Oh pasti, Tik. Bahkan dia sekarang udah gak masuk
kampus, tentunya dia malu dicap wanita yang punya
gangguan jiwa,‖ ucap Monica sambil tertawa lepas dan
nampak puas di wajahnya

277


Histoire D’amour
Sontak Salsa begitu sangat terkejut dan tidak percaya
dengan apa yang didengarnya. Tak menyangka Monica si
gadis lugu itu memiliki hati yang tidak baik. Sebagai tanda
bukti, Salsa pun memotret pertemuan mereka berdua. Hari
demi hari ketidakbaikan dari seorang Monica sedikit demi
sedikit terlihat jelas di mata Salsa. Langkah demi langkahnya
selalu diawasi Salsa. Semakin hari kelakuannya semakin
mengolok-olok Anggia. Hingga pada suatu hari, si Anggia
menyaksikan dengan mata kepalanya jika si gadis lugu itu
memberikan lembaran kopian poster dan menyuruh si
Lesmana untuk menempelkan di mading atau di semua sudut
kampus tercintanya. Wulan pun semakin geram, ia tak tahan
melihat kelakuan Monica yang semakin menjadi itu.
―Dasar gadis lugu yang tidak tahu malu, berani-
beraninya dia. Gak sadar lo! Kalo bukan gue berempat yang
nyelametin lo saat itu, mungkin lo dah tamat,‖ bentak Wulan
dengan wajah geramnya.
―Puas lo nyakitin gue! Puas! Gua nggak nyangka. Gua
tertipu dengan keluguan lo,‖ bentak Anggia sambil menahan
tangis dan marahnya.
―Mulai Sekarang jangan pernah lo masuk ke
pertemanan kita. Maaf, kami gak butuh lo, pengkhianat,‖
tambah Anggia dengan kesalnya.
Di sisi lain, warga kampus menyaksikan semuanya.
Tak disangka teman terdekat bisa menghancurkan secara
perlahan. Anggia pun pergi. Dengan merasa bersalah,

278


Histoire D’amour
Lesmana bergegas menghampiri Anggia sambil berusaha
menjelaskan semuanya. Dia mengaku terpaksa melakukan
semua itu, karena dia sedang dilanda kebingungan dalam hal
pengobatan adiknya yang sedang sakit parah. Monica dan
Kartika memanfaatkan keadaan itu, dengan amat sangat
terpaksa Lesmana menerima tawarannya.

Menurut cerita Anggia, si Kartika itu dulu sahabat
dekatnya yang sekarang menjadi pendendam atas wafat
ayahnya yang disebabkan oleh ayah Anggia yang tak sengaja
menabrak mobilnya.Dua bulan setelah kejadian
terbongkarnya pengkhianatan itu, Anggia beserta ketiga
temannya menyaksikan kepergian Monica ke lain kampus
atas kasus perundungan. Semenjak itu pula, tak pernah
berkomunikasi lagi dengannya. Sayangnya, tidak ada kata
maaf yang terlontar dari mulut Monica sampai saat itu.

Ternyata ada yang menyatakan jika Monica dan
Kartika sudah bersahabat sebelum Monica masuk ke
pertemanan Anggia. Kini, pertemanan mereka tinggal
berempat, solid seperti sedia kala, tanpa kehadiran Monica.

Bionarasi Penulis
Euis berdomisili di Cianjur, sebagai pengajar Bahasa
Inggris di salah satu SMA di Cianjur. Dia adalah seorang ibu dari
lima anak yang sempat menunda hobinya sebagai penulis. Dengan
bergabung di salah satu grup menulis cerpen dan salah satu grup
yang difasilitasi oleh Bapak Hakimul H. Pada akhirnya, dia

279


Histoire D’amour
memberanikan diri untuk mencoba menulis kembali. Dengan
harapan tulisannya dapat bermanfaat. Motonya, “Terus berusaha,
dengan izin Allah pasti bisa.”

280


Histoire D’amour

Segelas Coffelatte

Irma Irianti, M.Pd.

K opi tak berarti pahit, buktinya coffe latte
dengan tambahan gula bisa manis. Coffe

latte minuman kesukaan Syafa. Ia dapat menghabiskan waktu

berjam-jam sambil membaca novel dan menikmati segelas

coffe latte di cafe ―Mentari‖ milik sepupunya Jojo.Segala hal

yang berhubungan dengan kopi pasti ada filosofinya, namun

sayang Syafa hanya menyukai kopi yang manis, terutama

coffe latte. Syafa tidak menyukai kopi pahit.

281


Histoire D’amour
Berbanding terbalik dengan sosok Zaki, ia sangat
menyukai kopi pahit. Filosofi kopi pahit yang membuatnya
semakin cinta pada kopi pahit tersebut.Seperti filosofi kopi
kata Milli pada film ―Milli & Nathan‖ mengatakan bahwa
cinta itu seperti kopi, bisa diminum dengan cepat, tapi
risikonya panas, bisa juga diminum pelan-pelan tapi
risikonya cepat dingin.Menurut Zaki, cinta itu terlalu rumit,
segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta akan selalu
membuatnya rumit. Ia hanya ingin bertemu seorang wanita
yang membuatnya tidak tambah rumit.
―Kak Jojo, coffe lattenya satu.‖
Zaki langsung menoleh menghadap pelanggan lain
saat mendengar seseorang memesan coffe latte. Seorang
gadis imut dan bertubuh mungil, dengan lesung pipi di kedua
belah pipi, yang membuat siapa saja yang melihat bisa
langsung jatuh hati. Tersenyum padanya kemudian kembali
fokus menatap pesanannya yang sedang diracik oleh kakak
sepupunya.
―Jangan lupa gulanya yang banyak ya, Kak.‖
―Ok, cantik. Ditunggu ya,‖ kata Kak Jojo.
Syafa duduk di bar cafe sambil membaca novel laris
yang telah lama ingin dibacanya.
―Mas, minta bill-nya,‖ kata Zaki menyudahi acara
bersantainya di cafe Mentari. Zaki pun mengeluarkan
beberapa lembar uang untuk membayar, kemudian tersenyum
pada Jojo.

282


Histoire D’amour
―Tumben cepat Mas hari ini.‖
―Iya, Mas,‖ jawab Zaki dengan muka datarnya
―Siapa laki-laki barusan, Kak?‖ Jiwa kepo Syafa
mulai bekerja.
―Dia Zaki, pelanggan kakak juga, biasanya dia dating
pada saat malam hari, tapi sudah sekitar satu bulan ini dia
selalu dating menjelang jam-jam sore hari,‖ jelas Jojo.
Keesokan hari, hujan turun dengan deras. Membuat
Syafa nekat menerobos hujan demi dapat sampai di cafe
kakak sepupunya.Saat Syafa masuk, keadaan cafe lumayan
lengang, karena faktor hujan. Syafa sibuk membersihkan
sisa-sisa air yang jatuh di bajunya.
―Kak, biasa ya coffe latte satu,‖ ujar Syafa sambil
duduk di bar cafe.
―Wih, Syafa. Kakak kira hari ini libur datang ke cafe
karena hujan.‖
―Pasti ke sini dong, Kak.‖
Tak lama kemudia Zaki masuk ke dalam cafe dengan
kondisi yang cukup memprihatinkan. Pakaian yang
dikenakannya basah karena terkena air hujan.
―Eh, Mas Zaki, kehujanan ya?‖ sapa Jojo
―Iya, Kopinya satu ya seperti biasa, tanpa gula,‖ ucap
Zaki. Kemudian ia duduk di sebelah Syafa.
―Pantesan saja keliatan pahit mukanya, minumannya
juga pahit terus,‖ ucap Syafa.

283


Histoire D’amour
Zaki menoleh kepada Syafa, dahinya mengerenyit
bingung. Dia tidak tahu siapa gadis di sebelahnya, namun
sibuk mengomentari.
―Tidak ada salahnya sekali-kali minum kopi manis
biar perasaan lebih baik.‖
Zaki meletakkan ponselnya yang sempat
dimainkannya ketika kopi pesanannya datang.
―Terima kasih, ― ujar Zaki.
Zaki kemudian langsung meminumnya tanpa ditiup
terlebih dahulu.
―Awas, panas,‖ kata Syafa refleks karena tatapannya
tak pernah lepas menatap Zaki.
Zaki menoleh menghadap Syafa, ―Kamu
memperhatikanku?‖
―Tidak. Hanya mengingatkan saja kalau kopinya
panas. Minumnya pelan-pelan,‖ kata Syafa.
―Kalau minumnya pelan-pelan, nanti kopinya jadi
dingin.‖
―Tidak dong, kita dapat mengontrolnya. Jangan
sampai dingin dan jangan sampai terlalu panas. Minum kopi
harus menggunakan perasaan, biar tambah nikmat,‖ ujar
Syafa dengan bijak,
Zaki terdiam mendengar ucapan Syafa, ia tiba-tiba
teringat filosofi kopi dari Andrea yang mengatakan, ―Kopi
senikmat apapun takkan nikmat jika kita meminumnya tanpa

284


Histoire D’amour
perasaan, gunakan hati. Kopi seburuk apa pun akan terasa
nikmat.‖

―Mas, Mas. Masnya melamun?‖
―Tidak‖
―Iya, Masnya tadi melamun kok.‖

Zaki kembali meminum kopinya, tapi secara perlahan,

benar yang diucapkan gadis ini, kopinya nikmat kalau kita

meminumnya secara perlahan-lahan.
―Kamu sangat suka minum kopi ya?‖ Kali ini Zaki

yang bertanya kepada Syafa.
―Aku hanya menyukai jenis coffe latte yang ditambah

banyak gula biar tidak pahit.‖
―Hanya itu?‖
―Iya, aku hanya menyukai coffe latte,‖ jawab Syafa.
―Kenapa?‖
―Ya tidak tahu, hanya suka saja.‖

Mereka terus mengobrol seperti kawan lama yang

baru berjumpa lagi. Trerlihat akrab tanpa ada kecanggungan.
―Oh, jadi begini kelakuanmu selama ini?‖ Zaki

menunjuk Berlian tunangannya yang sedang bersama laki-

laki lain.
―Loh, kok ada kamu di sini.‖
―Tidak usah berbasa-basi, siapa laki-laki ini?‖ tanya

Zaki pada laki-laki yang berdiri di samping Berlian.

Berlian tak mampu untuk menjawab, wajahnya

terlihat pucat karena ketakutan.

285


Histoire D’amour
―Cukup, kamu tak perlu menjawabnya. Mulai
sekarang kita batalkan rencana pernikahan. Kita tidak
memiliki hubungan apa-apa lagi. Aku kecewa denganmu,
Berlian!‖ Zaki langsung meningalkan Berlian dengan teman
laki-lakinya.
Perasaan yang sedih dan kecewa membawanya masuk
ke dalam cafe Mentari. Zaki memesan kopi pahit tanpa gula,
hatinya terasa sakit dan kecewa, tunangannya
mengkhianatinya dengan laki-laki lain, bahkan mereka
berencana akan menikah beberapa bulan lagi.
Tiba-tiba Syafa menghampirinya di meja bar.
―Biasanya kopi dapat membuat orang lebih baik, tapi
kalau kopi pahit justru membuat pikiran kita tambah buruk.
Coba deh sekali-kali minum coffe latte ini.‖
Zaki kembali menatap Syafa, kemudian mengambil
gelas coffe latte itu dan meminumnya sedikit.
―Bagaimana rasanya? Enak kan?‖ Syafa bertanya
dengan penuh semangat.
Zaki tersenyum kikuk mendengar pertanyaan Syafa.
―Enak dan manis,‖ jawab Zaki.
―Nah kan, aku juga bilang apa, coffe latte itu enak,‖
ucap Syafa sambil duduk di samping Zaki.
Semenjak kejadian itu, Zaki dan Syafa semakin dekat,
perlahan namun pasti, luka di hatinya sembuh, karena
keberadaan Syafa di sampingnya.

286


Histoire D’amour
Hidup ini layaknya seperti kopi pahit. Terasa pahit di
lidah, namun harus tetap dinikmati. Sepahit apapun hidup ini,
harus tetap kita jalani. Waktu tak akan berhenti untuk
menunggu kita beristirahat sejenak. Jalani hidup ini, tak perlu
berkeluh kesah seolah-olah hidup kita yang paling malang di
dunia ini.

Bionarasi Penulis
Irma Irianti, M.Pd. atau Irma lahir di Petung, pada
tanggal 13 Agustus 1991. Merupakan anak kedua dari 3
bersaudara. Menyelesaikan pendidikan Magister di Universitas
Muhammadiyah Malang pada tahun 2016. Mulai mengajar di SMA
Negeri 4 Penajam Paser Utara sejak Januari 2018 hingga sekarang
dengan bidang strudi Bahasa Indonesia. “Mulailah dengan
menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman
dan perasaanmu sendiri.” J.K. Rowling.

287


Histoire D’amour

Kita Berbeda

Raudatul Jannah, S.Pd.

L itzy Tiffany, seorang gadis cantik yang
berusia dua puluh dua tahun. Litzy sedang
menjalani hubungan dengan seorang pria dewasa berusia tiga
puluh tahun yang bernama Muhammad Syafakillah al Fatah
atau yang sering disapa Fatah. Sebenarnya selain perbedaan
usia yang cukup jauh, nyatanya perbedaan keyakinanlah yang
menghambat hubungan keduanya.
Litzy yang seorang kristiani yang taat beribadah dan
selalu mengikuti kegiatan keagaaman yang dilaksanakan di

288


Histoire D’amour
gereja dekat tempat tinggalnya. Sementara seorang al Fatah
yang terpaut delapan tahun dengan Litzy, merupakan seorang
muslim yang taat beribadah dan dikenal sebagai pribadi yang
saleh.

Hubungan mereka telah terjalin selama satu tahun.
Dalam kurun waktu tersebut mereka menjalaninya dengan
nyaman, tanpa memikirkan akan ke mana hubungannya akan
bermuara. Mereka hanya yakin bahwa kalau memang jodoh
tidak akan ke mana. Namun, setelah lama timbul pertanyaan
dan menjadi beban dalam pikiran, akankah kedua orang
tuanya maupun orang tua Fatah merestui hubungan mereka?

Saat ini Litzy sedang berada di kamarnya ditemani
seorang sahabat yang bernama Anggun. Anggun adalah
sahabat Litzy yang mengetahui hubungannya dengan Fatah.

―Hubunganmu sudah terlalu lama dengan Fatah. Apa
yang akan kamu lakukan terkait hubungan kalian? Apa mau
seperti ini terus? Ingat waktu terus berjalan, cepat atau lambat
orang tuamu pasti akan tahu hubunganmu dengan Fatah.‖
Anggun mencerca Litzy dengan berbagai pertanyaan, yang
Litzy sendiri pun tidak tahu jawabannya.

―Aku bingung buat jawab pertanyaanmu, Nggun. Aku
sendiri pun bingung ingin menjelaskan kepada orang tuaku.
Kamu kan tau sendiri orang tuaku memegang teguh
agamanya.‖

Ya, orang tua Litzy selain terkenal dengan berbagai
usahanya di bidang properti, juga dikenal sebagai orang yang

289


Histoire D’amour
taat pada agamanya, selalu memegang teguh pada keyakinan

yang dianutnya. Sebenarnya selama menjalin hubungan

dengan Fatah, diam-diam Litzy mempelajari agama Islam,

belajar tata cara salat, wudu, dan mengaji.
―Kamu berencana pindah keyakinan, dan mengikuti

keyakinan Fatah?‖ tanya Anggun lagi.

Litzy menatap Aggun sahabatnya itu dengan

pandangan yang sulit diartikan.
―Kalau untuk berpindah keyakinan, aku belum

memutuskan. Bagaimana ke depannya nanti kita lihat saja.
Semua tergantung keputusan dari orang tuaku,‖ jelas Litzy.

―Mengapa tidak kamu yakinkan saja Fatah untuk

mengikuti keyakinanmu? Atau kalian menikah dengan tetap
pada keyakinan masing-masing?‖

―Sepertinya itu tidak mungkin, kamu tahu sendiri

bagaimana Fatah taat terhadap Tuhan-Nya. Dan untuk

menikah beda keyakinaan, agamanya jelas-jelas melarang hal
itu.‖ Litzy menjawab dengan frustasi.

―Aku bingung deh denganmu. Apa kelebihan Fatah

sampai-sampai kamu menerimanya? Padahal banyak laki-laki

lain yang seiman dengan kita yang juga menyukaimu. Kamu
malah memilih Fatah.‖

Litzy menatap Anggun. ―Tapi kamu tau kan, bahwa
cinta tidak dapat dipaksakan?‖ tanyanya dan diangguki oleh
Anggun. ―Bersama dengan Fatah, aku merasa lebih nyaman
dibanding dengan yang lain.‖

290


Histoire D’amour
―Bagaimana kalau nanti Fatah memintamu untuk
mengikuti keyakinannya?‖
―Memangnya apa yang salah dengan keyakinan
Fatah? Semua keyakinan selalu mengajarkan kebaikan.‖
―Tapi, bagaimana dengan reaksi orang tuamu kalau
mereka tau kamu berhubungan dengan Fatah?‖
Litzy menggeleng pelan. ―Mereka belum tau. Aku

sedang berpikir bagaimana cara memberitahukan mereka
tentang hubunganku dengan Fatah.‖

―Bagaimana kalau kamu bawa saja Fatah ke rumah,

kenalkan dengan orang tuamu. Kalau memang dia serius,

pasti dia mau diajak ke rumah. Siapa tau dengan melihat

sikap Fatah yang baik dan sopan, orang tuamu mau
menerimanya,‖ ujar Anggun.

―Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi apa Fatah
mau?‖

―Kalau dia serius, seharusnya tidak masalah untuk
diajak ke rumah,‖ kata Anggun.

Saat ini Litzy sedang menunggu Fatah di cafe

langganan mereka.
―Sudah lama menunggu? Maaf ya, tadi masih ada

pekerjaan yang harus diselesaikan,‖ ujar Fatah langsung

duduk di depan meja Litzy.
―Aku juga baru datang, Mas. Aku sudah memesankan

makananmu.‖
―Terima kasih,‖ ujar Fatah.

291


Histoire D’amour
―Mas, aku ingin bertanya sesuatu padamu.‖

Fatah yang sedang menikmati makannya, berhenti

sejenak, mengalihkan pandangannya di seberang meja,

menatap Litzy dengan seksama.
―Mau bertanya apa?‖
―Tapi Mas jangan tersinggung ya,‖ kata Litzy dan

diangguki oleh Fatah.
―Mas serius tidak menjalin hubungan denganku?‖
―Mas tidak ada niat untuk menjalin hubungan yang

main-main. Usia Mas sudah tidak pantas untuk main-main
lagi.‖

―Aku hanya berpikir cara memberitahukan hubungan
kita pada orang tuaku.‖

―Apa rencanamu?‖
―Mas datang ke rumah, perkenalkan diri kepada orang
tuaku.‖

Fatah terdiam sejenak.
―Baiklah, kapan Mas bisa berkunjung?‖
―Pekerjaanmu apa, Fatah?‖tanya ayah Litzy.
―Saya hanya seorang karyawan swasta, Om.‖
―Di mana?‖
―Di perusahaan yang bergerak di bidang IT, Om.‖
Fatah mengangguk-angguk.―Berapa usiamu?‖
―Tiga puluh tahun, Om,‖ucap Fatah jujur.

Calista, ibunya Litzy terkejut mendengar jawaban

Fatah.

292


Histoire D’amour
―Perbedaan usia kalian delapan tahun. Litzy masih
dua puluh dua tahun. Lalu, apa kamu serius dengan Litzy?‖
Pandangan Devan tak pernah kendor menatap Fatah penuh
intimidasi.
―Iya, Om. Karena saya serius, maka saya
memberanikan diri untuk datang menemui kalian,‖ jelas
Fatah.
―Tapi kalian berbeda keyakinan, atau kamu ingin
Litzy mengikuti agamamu?‖ Devan menghela napas dalam
sebelum melanjutkan bertanya. ―Atau kamu yang berpindah
keyakinan?‖
―Maaf, Om. Kalau saya yang berpindah keyakinan itu
sepertinya tidak mungkin. Kalau kami memang berjodoh
pasti ada jalan keluar terhadap masalah ini,‖ ungkap Fatah.
Orang tua Litzy dapat melihat jelas keseriusan Fatah
kepada Litzy, begitu juga Litzy. Ia bisa tahu saat
memerhatikan tatapan Litzy kepada Fatah.
―Kalau memang seperti itu, kami serahkan semuanya
kepada Litzy. Apabila ia mau mengikuti keyakinanmu, kami
tidak dapat menghalangi,‖ ungkap ayah Litzy dengan bijak.
―Iya, tante pikir kebahagian Litzy yang terpenting.
Kalau pun kami melarang, malah membuat Litzy menjadi
sedih, dan itu akan berakibat di kemudian hari.‖ Calista turut
memberikan pendapatnya.

293


Histoire D’amour
―Terimakasih, Om dan tante atas kepercayaannya
terhadap saya. Saya berjanji akan berusaha untuk
membahagiakan Litzy.‖
Hanya berselang beberapa hari dari kunjungan Fatah
ke rumah Litzy, kini ia kembali berkunjung dengan
membawa serta kedua orang tuanya. Menyampaikan niat baik
untuk melamar Litzy.
Orang tua Litzy tidak menolak niat baik itu. Masalah
berpindah keyakinan, mereka serahkan sepenuhnya pada
Litzy. Litzy tampak berpikir. Ini adalah keputusan penting
dalam hidupnya.
―Saya setuju.‖ Jawaban Litzy tanpa keraguan.
Membuat Fatah dan orang tuanya bernapas lega.
Rencana pernikahan mulai disusun. Meski masih
dalam tahap perencanaa, berita itu menyebar dengan cepat.
Gunjingan untuk Litzy semakin merebak. Tidak banyak dari
mereka menyudutkan keputusan Litzy untuk berpindah
keyakinan.
Akhirnya hari yang telah ditentukan pun tiba. Fatah
dengan lantang mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu
dan kedua orang tuanya maupun orang tua Litzy. Kini
mereka telah sah di mata hukum dan agama sebagai pasangan
suami istri.
Jika memang jodoh, godaan apa pun menghalangi
tidak akan goyah.

294


Histoire D’amour
Pada akhirnya, Litzy menjalani kehidupannya dengan
bahagia. Suami idaman yang diimpikannya ada pada sosok
Fatah. Litzy sungguh seorang gadis yang beruntung.

Penajam Paser Utara, 6 Juli 2022

Bionarasi Penulis
Raudatul Jannah, S,Pd. lahir di Petung, Penajam Paser
Utara tanggal 24 Mei 1987. Anak pertama dari tiga bersaudara.
Menyelesaikan program S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia di Universitar Tri Dharma Balikpapan pada tahun 2013.
Mulai mengajar di SMP Muhammadiyah 2 Penajam Paser Utara
pada tahun 2013—2022. Dan pada tahun 2022 sampai sekarang
mengajar di SMP Negeri 8 Penajam Paser Utara dengan bidang
studi bahasa Indonesia. Stephen King pernah berkata, “Kita tidak
harus menunggu datangnya inspirasi itu, kita sendirilah yang
menciptakannya.” Maka dari itu teruslah berkarya.

295


Histoire D’amour

Pupus Impianku

Nur SyifaFauziyah, S.Pd.I.

C ahaya matahari mulai bersinar dari arah timur.
Aku segera bersiap-siap untuk berangkat
sekolah.
―Zahra, ayo sarapan.‖
Ibu memanggilku untuk mengajak sarapan. Hari ini
ibu memasak sayur sop dengan lauk tempe, tak lupa ditemani
dengan sambal terasi. Aku melahap makanan yang dibuat
ibuku dengan nikmat. Setelah selesai makan, aku segera

296


Histoire D’amour
memakai sepatu dan siap-siap berangkat ke sekolah.
Sebenarnya, aku ingin sekali memiliki sepatu baru karena
sepatuku sudah usang dan jebol.

Aku tidak berani meminta kepada orang tuaku, karena
ayahku hanya seorang tukang becak dan ibuku seorang buruh
cuci. Dari mulai duduk di bangku SMA, aku berangkat
sekolah diantar ayahku menggunakan becak hingga saat ini
aku kelas XI SMA. Aku tidak merasa malu walaupun di kelas
aku sering menjadi objek perundungan teman-temanku.

Sesampai di sekolah, aku berpamitan kepada ayah dan
langsung menuju kelas. Aku duduk sebangku dengan Tika
yang merupakan teman terbaikku yang selalu ada dan
mendukungku dalam belajar. Bel istirahat berbunyi. Pada saat
hendak keluar kelas, tiba-tiba Lia menghampiriku. Lia adalah
murid yang sangat jahil di kelas.

―Sepatu butut kok dipake, gak mampu beli, ya.‖
Lia meledekku sambil menginjak sepatuku. Aku
hanya bisa diam dan segera pergi menuju perpustakaan. Saat
di perpustakaan, Tika datang dan mencoba menghiburku.
Tika mengajakku ke kantin, tetapi aku menolaknya. Aku
tidak mau merepotkan Tika yang sering mentraktirku karena
dia tahu jika aku jarang diberi uang saku. Akhirnya, aku dan
Tika menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan dengan
membaca-baca buku.
Saat bel kembali berbunyi, kami kembali menuju
kelas dan pelajaran selanjutnya segera dimulai. Sebelum

297


Histoire D’amour
dimulai, Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa akan
ada lomba sains tingkat kabupaten. Maka dari itu, akan ada
seleksi tingkat sekolah.

Sepulang sekolah aku dan Tika belajar bersama agar
bisa lolos seleksi. Tika ingin mengikuti lomba matematika
karena dia senang sekali berhitung, sedangkan aku memilih
lomba biologi karena aku suka dengan pelajaran itu. Kelak
aku ingin menjadi seorang dokter. Sebuah profesi yang selalu
hadir di setiap mimpiku, tetapi terdengar mustahil bagi
keadaan dan orang-orang yang menertawakanku.

Beberapa hari kemudian seleksi dilaksanakan,
ternyata Lia juga ikut seleksi lomba biologi dan duduk dekat
denganku. Lia mencoba untuk meminta jawaban padaku,
tetapi aku menolaknya sehinga dia merasa kesal.

Keesokan harinya pengumuman hasil seleksi telah
diumumkan di mading sekolah. Alhamdulillah, aku dan Tika
lolos lomba sesuai yang kita harapkan. Karena setiap lomba
hanya mengirimkan satu peserta sehingga Lia tidak lolos. Lia
marah padaku dan dengan tega dia mendorongku sampai aku
terjatuh. Aku lagi-lagi hanya bisa diam.Sepulang sekolah,
aku memberitahukan kepada ayah dan ibu jika aku akan
mengikuti lomba tingkat kabupaten. Mereka merasa senang
dan bangga kepadaku. ―Belajar dengan rajin ya, Nak. Kamu
harus bisa meraih cita-citamu.‖

Hari demi hari aku belajar dengan giat. Beberapa
buku biologi di perpustakaan aku pinjam. Bu Resti, guru

298


Histoire D’amour
biologiku dengan sabar membimbing untuk persiapan lomba.
Tika juga belajar dengan giat bersama guru pembimbingnya
yaitu Bu Layla.

Sepulang sekolah aku dan Tika juga menyempatkan
untuk belajar bersama. Terkadang di rumahku, terkadang
juga di rumah Tika. Dan hari yang telah ditunggu-tunggu
telah tiba, hari di mana lomba sains tingkat kabupaten
dilaksanakan.

Mentari terasa begitu hangat dan alam pun seakan-
akan mendukung keinginanku. Hari yang menjadi batu
pijakan untuk mewujudkan impianku. Pagi itu, aku segera
bersiap untuk berangkat ke sekolah lebih awal karena tempat
lombanya lumayan jauh dari sekolah.

Pada saat hendak berpamitan dengan ibu, tiba-tiba ibu
memberikan sebuah kardus. Ketika kubuka, isinya adalah
sepatu. Aku merasa sangat senang sekali dan aku langsung
memeluk ibu. Aku langsung memakai sepatu tersebut dan
segera berangkat ke sekolah, seperti biasa diantar dengan
ayah menggunakan becak kesayangannya. Sesampai di
sekolah, terdapat minibus yang siap untuk mengantarkan
peserta lomba. Di perjalanan, aku bercerita kepada Tika jika
aku dibelikan sepatu baru oleh ibu.

Setiba di tempat lomba, semua peserta diarahkan ke
aula untuk mengikuti pembukaan. Setelah pembukaan selesai
para peserta menuju ruangan masing-masing. Aku masuk ke
dalam ruang lomba dan soal dibagikan. Aku mengerjakan

299


Histoire D’amour
soal dengan penuh hati-hati. Aku yakin, ibu di rumah sedang
mendoakanku saat ini.Setelah selesai, aku mengumpulkan
hasil jawabanku dengan penuh keraguan dan aku hanya bisa
berpasrah kepada Allah. Setelah beberapa jam, hasil lomba
diumumkan dan diambil tiga pemenang.

Akan tetapi, hanya juara pertama yang akan
melenggang ke tingkat provinsi. Saat diumumkan juara
lomba matematika, nama Tika disebut dengan menempati
juara kedua. Senyum sumringah terpancar dari wajah
cantiknya. Pelukan hangat kuberikan sebagai rasa bahagiaku
untuk kerja kerasnya.

Pada saat giliran lomba biologi diumumkan, juara tiga
dan dua diumumkan dan bukan namaku yang disebut.
Rasanya hilang harapanku untuk mendapatkan juara, tapi
pada saat juara pertama diumumkan, aku tidak menyangka
bahwa namaku yang dipanggil. Sungguh senang rasanya bisa
mendapat juara pertama. Rasa syukur tak terhingga
kuucapkan.

Aku merasa senang dan segera ingin memberitahukan
kemenanganku pada ayah dan ibu. Sesampai di rumah, aku
merasa heran kenapa di rumah banyak orang dan terdapat
bendera kuning di depan rumah. Aku segera berlari dan
menuju ke dalam dan ternyata ibu sudah terlentang dalam
keadaan tidak bernyawa. Aku menangis dan memeluk ibuku
untuk terakhir kalinya.

300


Click to View FlipBook Version