The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kumpulan Cerpen yang ditulis bersama para guru hebat di seluruh Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kepe227102, 2022-12-13 21:50:07

HISTOIRE D'AMOUR

Kumpulan Cerpen yang ditulis bersama para guru hebat di seluruh Indonesia

Histoire D’amour
Ternyata ibuku tertabrak mobil di saat aku lomba.
Aku sangat sedih sekali dan aku tidak menyangka jika sepatu
pemberian ibu akan menjadi kenang-kenangan terakhir
untukku.
―Belajar dengan rajin ya, Nak. Kamu harus bisa
meraih cita-citamu,‖ pesan dari ibu yang selalu aku ingat
selalu.
Beberapa tahun berlalu dan kini aku telah menjadi
seorang guru biologi. Aku sangat bersedih karena tidak bisa
mengejar cita-citaku untuk menjadi dokter karena
keterbatasan ekonomi. Sangat sulit untuk mendapatkan
beasiswa kedokteran. Namun, keberuntungan masih berpihak
padaku. Beasiswa pendidikan biologi berhasil kudapatkan
melalui serangkaian tes dan dokumen. Aku tersadar akan diri
ini. Aku hanyalah makhluk dengan segala keinginan dan
impianku. Impian yang selalu terwujud di tidurku, tetapi nihil
ketika aku membuka mata.
Kini, Tika menjadi guru matematika di sekolah
tempat kami menimba ilmu dan berbagi kisah. Sedangkan
aku, walaupun aku bukanlah dokter, aku senang dan bangga
dengan profesi yang aku jalani, yakni guru. Bukankah kita
menjadi kaya pengetahuan dan menjadi diri kita sekarang
karena guru? Aku yakin, ini adalah jalan terbaik dan aku
tidak pernah menyalahkan mimpi di tidurku. Impian, sesuatu
yang abstrak, tetapi mempunyai energi besar untuk

301


Histoire D’amour
mewujudkannya. Energi yang bisa membuatmu percaya diri
menjalani kehidupan.

Kediri, 10 Juli 2022
Bionarasi Penulis
Nur Syifa Fauziyah, S.Pd.I., lahir di Kediri, 11 Juli 1992,
seseorang yang berusaha menjadi ibu yang baik bagi putri
kecilnya. Hobi mengajar menjadikannya menjadi seorang pendidik
di salah satu SMP di Kediri. Kecintaannya terhadap dunia
pendidikan, mendorongnya untuk menulis sebagai sarana
mengasah ketrampilan dan menuangkan isi kepalanya. Besar
harapan untuk terus belajar sehingga terciptanya sepenggal
cerpen berjudul “Pupus Impianku”.

302


Histoire D’amour

Satu Langkah

Yunus Tanthowi, S.Pd.

H iruk pikuk orang di sekeliling dengan
berbagai macam keperluan memenuhi
penglihatanku. Menenteng tas, koper bahkan kardus. Khas
penumpang angkutan umum di Indonesia. Kuperhatian raut
wajah mereka, ada yang penuh semangat memulai
petualangan baru, mungkin untuk menempuh pendidikan atau
bekerja di kota-kota besar.
Beberapa sudah terbiasa akan perjalanan seperti ini
karena mungkin hanya sepekan mereka akan kembali lagi.

303


Histoire D’amour
Atau seperti seorang lelaki yang terlihat berbinar matanya
karena harus meninggalkan istri dan anak yang masih kecil
untuk pergi mencari pengidupan. Beberapa kali kulihat pipi
anak kecil itu diciumi ayahnya, mungkin untuk menabung
rindu nanti ketika ia berjauhan dari sang ayah. Ya,
pemandangan yang cukup mengharukan, tapi apa mau dikata.
Bukankah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan mesti
ada yang dikorbankan?.

Kulihat jam keberangkatanku di tiket yang sudah
kugenggam sedari tadi. Kurang tiga puluh menit. Lamunanku
kembali teringat akan sosok wanita yang usianya menuju
senja itu.

―Hati-hati di jalan, jangan lupa berdoa. Baca
sholawat. Kabari ibu nanti kalau sudah sampai!‖ pesannya
melalui SMS barusan.

Keputusan melanjutkan pendidikan di kota yang
cukup jauh memang cukup berat buatku, mengingat dari kecil
aku tidak terbiasa jauh dari rumah. Dari ibu yang sendirian
harus membesarkanku karena ayah yang telah berpulang.

―Mau ke mana, Dek?‖ tanya laki-laki yang entah
sejak kapan duduk di sebelahku.

―Bandung, Pak,‖ jawabku singkat.
―Bapak mau ke mana?‖ tanyaku menyambung
pembicaraan.
Selang beberapa saat sampai obrolan kami mencair,
datanglah seorang perempuan seusiaku. Sosok yang sedari

304


Histoire D’amour
tadi diceritakan oleh bapak itu. Jam keberangkatan keretaku
tiba, aku terpaksa mengakhiri perbincangan kami.
Perbincangan tentang kebanggaan orang tua akan
keberhasilan anaknya, yang mungkin ibu rasakan kali ini.
Meskipun harus berjauhan, tidak dapat menemani di usia
senjanya. Yah, mungkin untuk sementara waktu sampai gelar
sarjana kudapat.

Rangkaian gerbong yang setia membawa penumpang
datang, aku masuk diiringi gerimis yang mulai turun. Entah
mengapa suasana sore ini sungguh lengkap. Membuat
langkah semakin berat antara terus melangkah atau kembali
pulang. Namun, kebanggaan ibu atas pencapaianku kali ini
terus mendorong kakiku untuk terus melangkah.
Mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan di salah
satu kampus favorit di Jawa Barat merupakan suatu yang
cukup istimewa. Meskipun banyak orang di sana yang
mendapat kesempatan yang sama, tetapi yang membedakan
adalah bagaimana perjuangan dan latar belakang kita masing-
masing.

Menoleh sedikit ke belakang. Sejujurnya sejak di
bangku SMA, aku tidak terlalu ingin menempuh kuliah di
luar kota. Karena berbagai hal yang sedikit membuat anganku
berat.

―Kuliah di mana abis lulus?‖ tanya John padaku
sembari kami berjalan menuju kelas setelah selesai makan
siang di kantin.

305


Histoire D’amour
Saat itu sering jam kosong, karena kami memang
telah menyelesaikan ujian nasional.
―Gak tau, John. Di sini aja paling!‖ jawabku.
―Aku jadi di Surabaya,‖ sambungnya.
Memang sejak duduk di kelas tiga SMA, temanku
satu ini sudah sangat berniat melanjutkan pendidikan di salah
satu universitas favorit di Kota Surabaya. Tak mengapa,
memang John termasuk siswa cerdas di kelasku. Tak jarang
aku pun sering meminta dijelaskan tentang materi pelajaran
yang belum aku pahami.
John memang bukan nama aslinya, tapi nama julukan
yang dia dapat, entah siapa yang pertama kali menamainya.
Untuk siswa laki-laki, aku rasa itu hal yang lumrah, bahkan
ada yang mendapat nama julukan dengan nama orang tua.
Tapi tak pernah menjadi suatu masalah. Entah karena
memang kami semua sangat akrab atau sudah pasrah
terhadap julukan yang disematkan. Luar biasa memang.
Untuk menempuh pendidikan di kota sendiri memang
sudah aku rencanakan, bukan karena kemampuanku yang
kurang. Sebenarnya secara akademik kemampuanku bisa
dibilang tidak terlalu buruk. Yah, setidaknya sepuluh besar
masih masuk di dalamnya. Melihat sekolah kami juga
termasuk sekolah favorit. Banyak siswa berprestasi di sana.
Menjadi ikan kecil di kolam yang besar daripada ikan besar
di kolam yang kecil. Mungkin itu analogi yang bisa sedikit
menggambarkan.

306


Histoire D’amour
―Loh kenapa?‖ tanyanya sedikit kaget. Mungkin ia
tidak mengira kalau aku tidak sedikit pun berambisi kuliah di
luar kota layaknya teman-teman kami yang lain.
―Ibuku mau sama siapa John kalau aku keluar kota?‖
―Mas mbakku semua sudah di luar kota, kasian nanti
ibu sendiri di rumah.‖
Terlihat sederhana memang, tetapi bagiku yang
mengalami itu cukup sulit. Pernah suatu kali karena ada tugas
di sekolah yang harus segera diselesaikan dan menyebabkan
aku harus pulang larut malam, tanpa bisa memberi kabar
pada ibu. Ketika pulang, ternyata ibu menunggu di teras
sampai larut. Momen yang terkesan hingga aku beranjak
dewasa.
Kulihat nilaiku di rapor dan ijazah, cukup sebagai
modal awal mengikuti tes perguruan tinggi. SNMPTN waktu
itu merupakan jalur pertama yang ada. Belum kuputuskan
hendak ke mana pendidikanku selanjutnya. Ingin menjadi apa
aku nanti pun belum terpikirkan. Sebagai seorang guru, ibu
sedikit memberi gambaran tentang profesinya.
Suasana di sekolah hari itu sedikit sunyi, bertepatan
dengan libur semester dan hanya sedikit siswa yang masuk
untuk mengurus keperluan kelulusan. Aku sendiri hendak
meminta legalisir ijazah dari pihak sekolah.
Kuulurkan tangan seraya sedikit membungkukkan
badan, kuraih tangan itu dan kucium. Bu Ningsih, tak sengaja
aku berpapasan dengan beliau. Salah satu guru yang aku

307


Histoire D’amour
segani, bukan karena galak atau tegasnya, tapi sebaliknya
beliau mengajar kami dengan lemah lembut, sopan. Tapi
yang paling aku suka adalah kata-kata yang keluar dari beliau
penuh dengan motivasi.

―O … kamu, Nak. Gimana mau melanjutkan kuliah di
mana?‖ tanya Bu Ningsih. Kusebutkan salah satu nama
perguruan tinggi di luar, yang selalu menjadi favorit.

―Ya kalau mau hidup mulia jadilah guru, kalau mau
sukses ya jadi pengusaha,‖kata Bu Ningsih.

Mungkin Bu Ningsih memang diberikan anugerah
kata penuh pesan dan motivasi di situasi apa pun bahkan di
luar jam mengajar. Sudah aku putuskan untuk berani
melanjutkan pendidikan di luar kota, berjauhan dari ibu.
Sebab ibu sendiri yang selalu mendorongku. Memastikan
beliau baik-baik saja ketika aku tidak di rumah.

Kukerjakan soal SNMPTN itu tanpa beban, kujawab
dengan yakin atas kemampuan sendiri. Tibalah hasilnya saat
ini, saat di mana aku berjalan menuju tempat berjuang
selanjutnya. Melanjutkan asa ibu, harapan-harapannya.

Harapan yang selalu dipanjatkan di sepertiga
malamnya akan keberhasilan anak-anaknya. Terbukalah pintu
gerbong itu, kupijakkan langkah pertama di kota ini. Kota di
mana aku akan mulai berjuang dengan dimulai dari satu
langkah.

Kediri, 10 Juli 2022

308


Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Yunus Tanthowi, S.Pd. lahir di Kediri 19 Oktober 1992
silam, anak terakhir dari empat bersaudara. Cerpen berjudul “Satu
Langkah” merupakan karya pertamanya untuk menulis cerita yang
ditulis berdasarkan pengalaman. Menjadi seorang guru
merupakan suatu profesi yang menuntutnya harus terus selalu
belajar termasuk dalam menulis.

309


Histoire D’amour

Hapsari

Sun Indira S, S.Pd.

S uara gamelan masih mengalun mengiringi
tarian seorang penari. Sedangkan waranggana
masih sibuk melantunkan bait demi bait kidung penghantar
tidur. Di pojok ruangan sepasang kembar mayang berdiri
kokoh untuk acara esok hari. Malam Midodareni kali ini
terasa sedikit berbeda bila dibandingkan tempat lain. Esok
hari adalah pernikahan Hapsari dan Lukito.

310


Histoire D’amour
Sudah bukan rahasia lagi kalau pernikahan mereka tak
lebih hanya di atas selembar kertas. Lukito, si tuan tanah,
sudah sejak lama menaruh hati pada Hapsari, anak buruh
tandur yang sedang menggarap sebidang tanah miliknya.
Dengan iming-iming sawah satu patok saja, Lukito berhasil
menikahi Hapsari.
Di sudut kamar pengantin, Hapsari masih terisak,
mengingat Lukito bukanlah lelaki yang dia cintai. Janji
sehidup sematinya hanya untuk Singgih seorang. Sementara
Palupi masih sibuk menenangkan Hapsari, lagi-lagi Pak
Dewo masuk dan memarahi putrinya itu.
―Wis, ora usah kakean nangis. Semua sudah terlanjur,
esok pagi kamu akan resmi menjadi nyonya Lukito. Hapus
air matamu, jangan sampai mengundang tanya semua tamu
yang hadir!‖ perintah ayahnya.
―Sari ndak sudi nikah sama Lukito, Pak. Sari hanya
mencintai Mas Singgih.‖
Isak tangis Sari semakin menjadi. Dia tidak sanggup
membayangkan kalau sampai Singgih pulang dan mendapati
dirinya sudah menjadi milik orang. Itu akan sangat
menyakitkan dan Hapsari tidak ingin itu terjadi. Pak Dewo
hanya diam dan segera berlalu dari kamar pengantin bersama
Palupi.
Di luar kamar masih banyak tamu-tamu berdatangan.
Mereka semua berpesta mala mini. Segala macam hidangan
tersaji. Di kediaman Lukito juga menyelenggarakan pesta tak

311


Histoire D’amour
kalah meriah. Namun, di sana juga ada airmata dari istri
pertama Lukito yang sedang mengandung enam bulan.
Lukito pun sedang memarahi istrinya.

―Sudah, ndak perlu nangis. Aku janji bakal adil sama
kedua istriku. Kamu tetap yang nomer satu dan Hapsari
menjadi kesayanganku. Tenang saja, aku ndak bakalan
ceraikan kamu selama kamu masih bisa memuaskan
hasratku,‖ ujar Lukito.

―Biadab kamu, Mas! Kamu ndak kasihan sama anak
dalam perutku ini?‖ tanya Ningsih.

―Diam! Justru karena kamu sedang hamil maka tidak
perlu melayani hasratku. Biarkan aku bersenang-senang
dengan istri baruku,‖ imbuhnya.

Airmata dari dua wanita malam itu tumpah hanya
karena keegoisan Lukito. Sementara Tompel dan Badrun
mendekati tuannya sembari membisikkan sesuatu. Tawa
membahana menandai kebahagiaan Lukito malam itu.
Hapsari masih sabar menantikan kedatangan Singgih seperti
janjinya. Singgih tidak terima kalau Hapsari menikah dengan
orang lain. Malam ini dia memutuskan pulang, namun
sayang, penantian tinggal penantian. Lukito telah mengutus
anteknya untuk melukai Singgih di gapura desa, sehingga dia
tidak bisa sampai ke rumah Hapsari.

Hingga menjelang dini hari, tidak ada tanda-tanda
kedatangan Singgih. Hapsari mendengarkan alunan suara
Singgih yang dikirim ke ponselnya tempo hari.

312


Histoire D’amour
Iki tulising kidungku
Kanggo siro, hapsarining kalbu
Eseme kang manis madu
Dasar ayu parasmu kang tanpo layu

Nimas….
Sesotyaning ati yomung ndiko kang sawiji
Langit bumi kang hanyekseni
Nalikane ngucap janji ono lathi

Hapsari pun tertidur karena lelah menantikan
kedatangan Singgih. Air matanya telah kering. Sampai
akhirnya, subuh menjelang. Semua orang sudah bersiap-siap
untuk pesta hari ini. Semua orang sibuk dengan tugasnya
masing-masing. Hingga tiba giliran tukang paes yang hendak
merias pengantin pun datang. Saat dia memasuki kamar
pengantin untuk melaksanakan tugasnya, dia tiba-tiba
menjerit kencang.

Tubuh Hapsari terbujur kaku tanpa busana. Darah di
mana-mana. Pagi itu akad batal karena pengantin perempuan
meninggal dunia setelah diperkosa. Entah siapa manusia
biadab yang tega melakukan semua itu. Sementara tangis tak
terbendung menghiasi rumah itu, jauh di perbatasan desa
polisi juga menemukan jasad Singgih yang juga tanpa
busana. Polisi segera melakukan olah TKP di dua tempat.
Anehnya lagi darah yang ditemukan di tubuh Singgih adalah

313


Histoire D’amour
darah Hapsari. Bagaimana mungkin? Buakankah malam itu
Hapsari terlelap di kamar pengantinnya.

Seminggu kemudian, polisi menyatakan kalau
Singgihlah yang sudah membunuh dan memperkosa Hapsari
dan kasus pun ditutup. Malam itu, di rumah Lukito, Ningsih
tampak tersenyum puas mendengar pernyataan polisi yang
sudah menutup kasus kematian Hapsari. Sementara Lukito
sendiri menjadi setengah gila karena kematian Hapsari, calon
istrinya. Dia teramat sangat mencintai Hapsari. Sedangkan
Hapsari sendiri memegang janji setianya pada Singgih,
hingga keduanya bersama-sama pergi kea lam baka.

Bionarasi Penulis
Sun Indira S, S.Pd. adalah seorang IRT sekaligus guru
Bahasa Inggris SMP yang berdomisili di Simalungun, Sumatera
Utara. Perempuan pecinta durian ini punya hobi korespondensi
dan membaca. Baginya, menulis merupakan salah satu bentuk
relaksasi pikiran sejenak dari hiruk pikuk rutinitas, dengan
harapan tulisan-tulisannya bisa menghibur dan bermanfaat bagi
orang lain. Motto hidupnya, “Long life education atau pendidikan
sepanjang hayat.”

314


Histoire D’amour

Berharap ASN

Soraya Setiawati, S.Pd.

H ari itu adalah hari yang bersejarah dalam
hidupku.1 Juli 2009 adalah hari pertama
mengajar disebuah SMK Negeri di Pasuruan.Pengalaman yang
tidak terlupakan. Aku mengajar dikelas X KKY (Teknik
Konstruksi Kayu).Kulangkahkan kaki dengan penuh
keyakinan.Memasuki kelas, mulai memperkenalkan diri
menggunakan Bahasa Inggris full.Apa yang terjadi? murid-murid
hanya diam, mereka bilang ―tak ngerteh, Buk.‖ Kupandangi jam

315


Histoire D’amour
tangan menit demi menit lambat sekali. Kapan 2x45 menit ini
berakhir.Sampai akhirnya bel berbunyi.

Tet … teeeeeeeeettttt.
Tanda jam pelajaran berakhir.Aku hanya mampu berucap
dalam hati, Alhamdulillah, dan keluar kelas dengan lega.Salah satu
teman bertanya tentang kesan pertamaku masuk kelas KKY.
―Gimana bu,mengajar kelas KKY?‖ tanya Bu Zea.
―Lumayan menguras tenaga dan saya nervous karena baru
pertama kali mengajar,‖ jawabku jujur.
―Iya bu, banyak siswa kita menggunakan Bahasa
Madura.Mereka sulit memahami Bahasa Inggris jika gurunya tidak
menerjemahkan kedalam Bahasa Indonesia terlebih dahulu,‖
sambung Bu Zea.
―Oh, begitu,‖ jawabku sembari tertawa tapi dalam hati.
Mengajar adalah panggilan hati.Aku senang mengajar dan
tidak pernah mengeluh dengan gaji yang kuperoleh. Aku masih
ingat gaji pertama sebagai guru honor ialah
Rp480.000.Alhamdulillahaku masih bersyukur.Tak terasa sudah 1
tahun aku mengajar dan muncul keinginan untuk mendaftar Tes
CPNS
Tahun 2010 adalah tahun pertama mengikuti Tes CPNS
Paper based. Aku melamar sebagai guru Bahasa Inggris di sekolah
yang terletak di kota, berharap lulus dan bisa pindah mengajar di
kota. Kualitas di kota lebih bagus, baik itu fasilitas mengajar
maupun input siswanya.Tes sudah kulalui dan tibalah saat
pengumuman. Setelah cek di koran Jawa Pos tidak ada namaku di
situ. Aku tidak lulus namun tidak patah semangat.

316


Histoire D’amour
Tahun 2012, aku mencoba mendaftar tes CPNS lagi
memilih formasi Kemenag. Aku berharap lulus tes dan menjadi
ASN.Qadarullah aku tidak lulus, lagi-lagi tidak patah
arang.Mencoba lagi tahun berikutnya.Tahun 2013 dan 2014, aku
tidak mengikuti tes CPNS karena untuk mapelku tidak dibuka
kalaupun ada harus keluar pulau.
Tahun 2015 aku juga mendaftar tes CPNS, memilih
formasi di Pulau Kalimantan.Ada pergolakan batin, sanggupkah
aku?Sanggupkah aku hidup jauh dari ibuku?Apakah ibuku
mengizinkan untuk mengikuti tes CPNS di Kalimantan?Jika benar
diterima, sanggupkah aku berpisah darinya?Peluang untuk menjadi
PNS di Kalimantan terbuka lebar, banyak lowongan untuk Guru
Bahasa Inggris.Aku sempat galau padahal belum menjalani.Saat
mengutarakan niat mengikuti tes CPNS kepada,beliau enggan
mengiyakan dengan berbagai alasan, akhirnya aku batal untuk
mendaftar tes CPNS pada tahun itu.
Tahun 2017 aku mencoba lagi, memilih formasi di kota
Malang.Aku mendapat jadwal tes sesi I, itu artinya harus berangkat
pagi.Aku memutuskan untuk booking salah satu guest
house.Untung aku belum sempat mengkonfirmasi, ternyata adikku
menawarkan bantuan supaya aku bisa menginap dikosannya.
Akupun setuju dan berangkat naik bus menuju kota Malang, tidak
pernah terpikir sebelumnya bus yang saya tumpangi mogok di
Jalan Tol.Hal ini membuatku sedikit panik, untung bus bisa
berjalan kembali.Sesampainya di kosan adikku, aku segera bersih-
bersih, salat, makan, belajar dan istirahat.
Keesokan paginya aku berangkat ke tempat tes naik
grab.Aku mengerjakan tes dengan semangat dan berharap hasilnya

317


Histoire D’amour
bagus.Saat nilai muncul, nilai TIU-ku belum mencukupi.Jangan
putus asa, kata-kata itulah yang menguatkan diri ini untuk tetap
berdoa dan berusaha.

Tahun 2020 aku mendaftar tes memilih CPNS Kemenag
formasi hubungan masyarakat.Tempat tesnya di Surabaya.Jadwal
tesku sesi 3.Menjelang siang akupun berangkat mengendarai
bus.Sampai di terminal Bungurasih aku memilih naik grab karena
tidak tahu alamat gedungnya. Aku mengerjakan tes dengan sangat
hati-hati, soal TWK,Tes kepribadian bisa kukerjakan,di soal
TIUada numeric, figural, rumus-rumus lumayan buatku
pusingsehingga kehabisan waktu mengerjakan. Saat skor muncul,
skor TIU-ku di bawah PG dan aku harus berjuang lagi di tahun
berikutnya.

Tahun 2021 aku berjuang kembali memilih formasi guru
Bahasa Inggris di SMKN Singgahan Tuban karena di Kota
Pasuruan hanya buka 1 formasi. Peluang untuk diterima tes tahap 1
kecil.Alhamdulillah masih punya saudara yang menolong, booking
tempat penginapan dekat dengan tempat tes.Keesokan paginya
akunaik bentor menuju tempat tes. Di sini lagi-lagi masalah
muncul saat bentor yang kunaiki memilih jalan lain yang lebih
jauh. Aku baru sadar harusnya turun didepan SMKN Singgahan
bukan di depan SMAN 1 Tuban.Aku kebingungan karena tidak
begitu mengenal Kota Tuban, mau naik angkot tapi tidak tahu
arahnya.

Saat itulah aku melihat ada ibu-ibu yang sudah
melaksanakan Tes P3K.Kami tidak saling mengenal dan ibu itu
menyapaku.

―Ibu kenapa kelihatan gelisah?‖ tanyanya.

318


Histoire D’amour
―Saya bingung bu, 30 menitlagi tes P3K akan dimulai tapi
bukan di tempat ini.Saya tadi naik bentor malah dibelokkan ke
sini,‖ jawabku bingung.
―Oh begitu ceritanya. Sebentar lagi suami saya datang biar
nanti saya minta untuk mengantar ibu ke SMKN Singgahan
supaya ibu bisa megikuti tes,‖ lanjutnya.
―Terimakasih banyak, Bu. Pertolongan Allah SWT selalu
datang di saat yang tepat,‖ ucapku sembari bersyukur.
Alhamdulillah sampai di tempat tes aku belum
terlambat.Aku mengerjakan soal dengan teliti.Sampai waktuku
habis mengerjakan soal teknis dan kehabisan waktu mengerjakan
soal pedagogik.Hatiku berdebar kencang , ada rasa takut jika tidak
lulus. Aku klik finish dan skor pun keluar. Nilai teknis masih
belum PG. Aku pulang ke Pasuruan naik bus.Pada tahap II memilih
formasi di SMKN Jabon Sidoarjo.Skor teknisku kurang 20 point
untuk PG. Aku tidak menyerah, tetappositive thinking dan
husnudzon.Tahun 2022 aku masih berharap untuk bisa diangkat
ASN P3K.

Bionarasi Penulis
Soraya Setiawati, S.Pd.Lahir di Surabaya, Jawa timur pada
tanggal 16 September 1987.Anak sulung dari 3
bersaudara.Menyelesaikan program S1 Pendidikan Bahasa Inggris
di UNESA (Universitas Negeri Surabaya) tahun 2009.Mulai
mengajar di SMKN WINONGAN sejak tahun 2009 sampai
sekarang.Mottonya adalah Man Jadda Wa Jadda.Pesan dari
Pramoedya Ananta Toer yang menginspirasinya terjun dalam
dunia menulis yakni “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi

319


Histoire D’amour
selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan
dari sejarah.Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.Antologi
Cerpen”Berharap ASN” dan Puisi “Untukmu Pengabdianku”
merupakan karya perdananya dalam dunia menulis yang
diterbitkan bersama dengan guru-guru hebat dari berbagai daerah
di Indonesia.

320


Click to View FlipBook Version