Histoire D’amour
ama ingin membuat ikan asap untuk dibawa koko pulang ke
Singapura. Awalnya aku malas kalau harus berjalan bersama
mantan pacar Mas Pram ini. Apalagi kalau sampai ketemu Bu
Darmi, bisa habis aku dihinanya karena Nanda adalah calon
menantu yang tertukar.
Di pasar sebelum ke lapak Pak Min, Nanda meminta
ijin untuk membeli jeruk Brastagi, inilah kesempatanku untuk
membeli ikan asap di lapak Pak Min. Belum sampai di lapak,
aku sudah melihat pemandangan yang sangat aneh, Bu Darmi
bertengkar mulut dengan Nanda. Entah apa masalahnya.
―Eh perempuan sialan! Ngapain kamu ke sini? Tak
sudi aku menerimamu lagi. Aku sudah punya menantu yang
istimewa. Dia cantik, lemah lembut dan sopan, tidak seperti
kamu yang sombong ini,‖ teriak Bu Darmi membahana.
―Siapa juga yang mau jadi mantu elu! Orang miskin
dan kampungan!‖ maki Nanda.
―Oh ya, satu lagi. Cuma punya mantu Cina kere saja
bangga!‖ imbuhnya.
Plak!!!
Sebuah tamparan mendarat cantik di pipi Nanda,
sejurus dia meringis dan terdiam. Bu Darmi berteriak kalau
aku seribu kali lebih baik dibandingkan dirinya. Nanda tetap
meladeni emosi Bu Darmi, akhirnya kuputuskan untuk
memanggil ama, koko dan Mas Pram. Aku takut kalau
sesuatu terjadi pada mertua dan calon kakak iparku.
101
Histoire D’amour
Nanda mengeluarkan sumpah serapah untuk
keluargaku. Ko Liem segera maju dan menampar calon
istrinya. Dia segera mengajak Nanda pulang sementara ama
meminta Mas Pram untuk menenangkan Bu Darmi. Aku ikut
ama pulang karena takut terkena amukan Bu Darmi. Detik itu
juga Ko Liem memutuskan hubungannya dengan Nanda yang
dianggapnya sudah menghina keluarga kami.
Sementara itu, semenjak kejadian di pasar, Bu Darmi
sikapnya berubah baik padaku. Atas anjuran ama, aku
diminta untuk menjaga mertua. Ternyata selama ini, Bu
Darmi sangat menyayangiku hanya saja dia terbawa emosi
karena Nanda dulu pernah menghina keluarganya yang
miskin. Dia melarang Mas Pram menikahiku karena takut aku
punya sifat seperti Nanda. Ternyata mertuaku menyayangiku.
Hanya saja cara mengungkapkan rasa sayangnya itu sedikit
berbeda dengan mertua pada umumnya. Perihal kepergian
Mas Pram dari rumah itu dikarenakan dia kasihan kalau
melihat ama harus hidup sendirian sementara ibunya masih
punya pembantu yang selalu menjaganya. Berbeda dengan
ama yang hanya memiliki aku dan Ko Liem.
Bionarasi Penulis
Eliyana, S.Pd. adalah seorang ibu dengan dua orang anak
yang berdomisili di Kotabumi – Lampung Utara. Dia pecinta
makanan pedas dan top coffee. Memiliki kegemaran membaca
dan menulis sejak SMP. Baginya, membaca merupakan salah satu
102
Histoire D’amour
jembatan untuk mendapatkan banyak ilmu pengetahuan dan
menulis merupakan salah satu cara meluapkan ide yang banyak
bermunculan di kepala. Harapannya, tulisannya bisa dinikmati
banyak orang dan membawa manfaat. Motto hidupnya,
“Dekatkanlah dengan Sang Pencipta agar kau dapatkan dunia.”
103
Histoire D’amour
Kisah Perjalananku
Menjadi ASN
Cucu Karnelis, S.Pd.
B urung berkicau di pagi yang sejuk diantara
rimbunnya barisan pohon pinus, selalu terasa
damai dan segar berjalan di batu koral diantara pohon-pohon
yang dedaunannya bersuara merdu dikala angin mengelus
ngelus daun daunnya yang kecil dan tajam, seperti mereka
membisik-bisikan sesuatu di daun telingaku, anganku terbius
104
Histoire D’amour
oleh sentuhan semilir, hatiku bergumam disinilah aku mulai
merajut dan menapaki mimpiku untuk menjadi ASN, seorang
pengabdi negara demi bangsaku tercinta. Aku mulai hariku
bersama semangat di dadaku, bayangan anak didiku seperti
sebuah layar di anganku, mereka selalu membuatku rindu
akan tawa dan canda kepolosannya.
Kumulai mengenal mereka dari tahun 2010, wajah-
wajah itu menatap, terdiam seakan mengatakan, ―Hai, Bu,
apa kabar? Ajarilah kami membaca dan menulis!‖
Aku tersenyum bangga menyapa mereka, ―Selamat
pagi, Anak-Anak. Apa kabar kalian hari ini?‖
―Baik,Bu.‖
―Alhamdulillah, jika kalian baik! Jika ada yang sakit,
kita doakan semoga lekas sembuh, ya, Nak!‖
―Iya, Bu, aamiin.‖
Itulah sapaan yang selalu terngiang dan membuat
hatiku rindu kepada wajah-wajah tanpa dosa itu. Betapa
alaminya sikap mereka, mereka selalu membuatku bahagia
dan terhibur.
Aku seorang sarjana Bahasa Inggris dan karierku
dimulai disebuah Sekolah Dasar kelas rendah disebuah
daerah terpencil, perbatasan Kabupaten Sukabumi dan
Kabupaten Cianjur Selatan. Di sanalah aku mendedikasikan
diri dengan semangat yang tak pernah padam, sebuah profesi
yang kugeluti adalah sebuah gairah hidup yang kujalani
dengan senang hati dan penuh tanggung jawab. Tak pernah
105
Histoire D’amour
sekalipun aku mundur dari medan perjuangan selama hampir
12 tahun dan beberapa piala penghargaan terpampang
dilemari sebagai bukti pengabdianku terhadap bangsa
ini. Hari demi hari kulalui bersama anak-anak didiku yang
selalu ceria dan lugu, merekalah yang menghantarkanku
meraih mimpiku, kata kata mereka bagaikan doa yang selalu
menetes seperti embun pagi yang segar dan menyejukan hati.
Senyum mereka itulah tak akan pernah kulupakan.
Mungkin diantara kalian tidak percaya dikala aku
menuaikan cerita ini,air mataku tak henti-hentinya menetes.
Mengingat semua yang kami lalui bersama disekolah dasar,
kenangan demi kenangan tak mungkin bisa hilang dalam
benak. Ini perjalanan yang paling berharga dalam kisah
hidupku sebagai guru Sekolah Dasar yang bermimpi menjadi
guru Bahasa Inggris berstatus ASN.
Merekalah yang membuat impianku hingga aku
sejauh ini, menjadi seorang ASN. kisahkau tak mungkin
terukir tanpa mereka, aku menjadi idola bagi mereka
layaknya cermin di hadapan mereka. Segala gerak-gerik dan
ucapanku mereka perhatikan untuk ditiru.
Sebelas tahun sudah Jalanan yang terjal itu aku lalui,
terkadang membuatku harus berjalan kaki di tengah
perjalanan kesekolah. Tahun-tahun berlalu, tiada terasa aku
telah menapaki turunan yang berlumpur itu ditemani
sepasang sepatu hitam dan baju seragam gading yang
perlahan using dimakan waktu. Aku tak mampu membeli
106
Histoire D’amour
seragam yang baru karena pendapatanku tidak seberapa dan
bahkan untuk ongkosku saja mesti nombok. Terkadang
dimusim penghujan aku harus rela bertelanjang kaki karena
lumpur bercampur tanah menutupi jalan yang kecil setiap
hari mentari menyapaku seakan berkata, ―Ayo semangat,
anak anak menunggumu!‖
Di sepangjang perjalanan lamunanku melayang, aku
harus lulus tes PPPK tahun ini, semoga langkah kakiku ini
menjadi bukti perjuanganku selama ini. Tak sabar
kumenunggu pengumuman untuk ujian tahap satu dibuka.
Kutunggu berita itu dengan sabar dan cemas. ―Ya
Allah…berkahilah perjuangan ini, jadikanlah apa yang aku
lakukan menjadi tiang keberhasilanku, akan aku anggap
sebagai sebuah anugerah dan penghargaan darimu ya Allah.
Engkaulah yang melihat segala jerih payahku dan
perjuanganku.‖ Hatiku bergumam seraya berjalan.
Tibalah saat yang kutunggu tunggu tes PPPK segera
dibuka, aku persiapkan diriku dengan matang. Aku berupaya
dengan segenap kemampuanku untuk bisa lolos, tak lupa kita
berdoa bersama dikelas sebelumnya. Aku merasa doa anak-
anak polos itulah semangatku dan salah satu kunci
kesuksesanku. Kumulai dengan pengisian data online,
meskipun kendala itu selalu setia, tapi semangatku tak
pantang menyerah, satu demi satu prosesnya kulalui.
Kupersiapkan diri dengan segenap kemampuannku,
belajar materi dengan tekun, kupersiapkan mental dan
107
Histoire D’amour
pikiran, tak lupa minta doa kedua orang tua dan anak semata
wayangku tercinta, mereka orang yang terdekat dihatiku dan
aku membawa misimereka dalam asaku ini. Hanya satu yang
aku tuju, aku sukses menjadi ASN tahap satu, tahun ini. Jika
aku mengikuti tahap dua, maka sainganku begitu berat.
Apalagi di tahap ketiga.
HatiH tes pun sudah tiba, tanggal 23 September—hari
Selasa, aku mulai mengikuti tes pada sesi kedua, tertulis di
SMK Negeri Gunung Guruh dan ini pertama kalinya
menginjakan kakiku di SMK itu.
Aku berangkat ke kota bersama anak
sematawayangku untuk menginap di Penginapan PGRI
karena esok harinya kita akan langsung menuju lokasi tes di
bawah gunung. Pada malam sebelum tes itu berlangsung,aku
melihat banyak pelangi di langit, seperti sebuah lukisan nan
sangat indah dan warna-warni.Sangat menakjubkan sekaligus
membuat aku heran. ―Kok, ada pelangi dipagi hari? Dan
berasal darimanakah mereka?‖
Kutelusuri jalan untuk mencari sumbernya dan kulihat
dari kejauhan ada sebuah air terjun yang begitu bening
hingga bisa kami lihat batuan yang putih terhampar
dibawahnya. Ternyata pelangi itu berasal dari air terjun. Aku
begitu terheran-heran melihatnya, dan kemudian terjaga. ―Oh,
itu sebuah mimpi yang indah.‖
Pada pukul 02.00, kuikuti tes dengan tertib dan
semangat.Berlangsung sekitar dua jam. Tes bahasa
108
Histoire D’amour
Inggrislumayan menguras pikiran, tapi aku berupaya untuk
bisa memahaminya dan kuselesaikan lima menit lebih awal
sebelum waktu berakhir. Aku takut untuk melihat hasilnya
karena kulihat wajah teman-teman sekelas begitu murung
setelah mereka selesai mengerjakan tes itu.
―Ayo, Bu! Lihat hasil yang Ibu kerjakan, siapa tahu
Ibu lolos!‖ Ibu yang duduk sebelahku berkata.
―Ah takut! Nanti saya gak lolo PG! Nanti saja di
rumah nunggu pengumuman sajalah, jawabku.
―Tidak apa-apa, Bu.Pasrah sajalah, kan, Ibu sudah
selesai mengerjakannya,‖ lanjut dia.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk melihat
monitor komputer dan membuka hasil
tes.Alhamdulillahwasyukurillah, aku di sesi itu berada di
urutan pertama dengan nilai tertinggi di kelasdan aku ternyata
lolos.
Aku segera berhambur keluar untuk memberitahu
anakku yang sudah menunggu di luar, aku tersenyum
bersama airmata terurai dipipiku.
―Ca, Mamah lolos, nilai Mamah bagus, Ca!‖
Betapa senangnya anaku dan kami pun berpelukan
Bahagia. Kami langsung pulang ke kampung menjelang
malam hari, di bawah guyuran hujan yang deras kami pulang
berdua. Tiada terasa penat, lelah, dan takut. Malam itu hati
kami hanya merasa Bahagia dan bangga dengan keberhasilan
itu.
109
Histoire D’amour
Setelah semua proses pengumpulan dokumentasi, tes
kesehatan, pembuatan SKCK dan yang lainnya selesai, aku
mulai menuju proses pemberkasan. Selama hampir enam
bulan lamanya, terasa ringan semua kujalani setelah itu.
Kini aku telah menjadi ASN dan bertugas di SMP
Negeri 2 Cidadap, Kabupaten Sukabumi. Aku berjanji akan
mengemban amanat ini dengan baik dan menjaga profesiku
dengan segenap kemampuanku. Pendidikan bagiku adalah
sebuah gairah hidup dan kujalani dengan suka cita, demi
NKRI aku berjuang untuk mengemban amanahnya dalam
mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.
Menjalani sebuah profesi tidak terlepas dari rasa
ikhlas dan senang dalam menjalaninya, seperti pepatah, ―Do
what you love and love what you do”.
Bionarasi Penulis
Cucu Karnelis, S.Pd. lahir di Sukabumi pada 17 Juli 1972.
Lulusan Akademi Bahasa Asing Jakarta tahun 1995 dan
melanjutkan kuliah di STKIP Kusuma Negara Jakarta Timur dan
lulus tahun 2003. Ia mengajar di SMP Islam Sudirman kota
Sukabumi tahun 2004 hingga 2006. Kemudian menjadi guru
Bahasa Inggris di SMKN YBPI Cidadap sejak 2010 hingga 2022 dan
karir yang terkini adalah mengajar di SMPN 2 Cidadap Kabupaten
Sukabumi, berstatus ASN.
110
Histoire D’amour
Darimu (siswaku) Aku Belajar
Diana Nora Putri, S.Pd.
A ku adalah seorang guru yang bertugas
diSekolah Menengah Kejuruan didaerahku.
Menjadi seorang guru membuatku banyak bersyukur bahwa
banyak siswaku tidak seberuntung diriku dalam menempuh
pendidikan setingkat SekolahMenengah Atas. Anak-anak
yang sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan adalah siswa
yang ingin selesai sekolah mempunyai keahlian dan bisa
bekerja dan berdikari. Namun, tidak semua bisa terapkan
111
Histoire D’amour
keinginan guru,sekolah, pemerintah, bila sudah berhadapan
dengan masalah keluarga, himpitan ekonomi, dan sosial
masyarakat. Ini hanyalah sebagian kecil kisahku ketika
menjadi guru mereka.
Ismail, dia adalah siswaku ketika mengajar
dikampung, dia siswa yang paling rajin dan sopan diantara
siswaku yang lainnya. Dia suka dengan pelajaran bahasa
Inggris yang aku ajarkan, walaupun sedikit kurang lancar
seperti teman-temannya. Namun, mempunyai keinginan
belajar yang kuat. Dia suka membantu guru-guru disekolah
dan sangat ringan tangan. Dia tinggal jauh dari
perkampungan, disebuah gubuk sawah bersama adik
perempuannya yang masih sekolah di Sekolah Dasar dan
kedua orangtuanya.
Selama empat tahun terakhir, ibunya menderita
penyakit yang mengharuskan beliau tidur ditempat tidur.
Untuk kebutuhan sehari-hari, ayahnya dan dia bekerja. Untuk
kesekolah Ismail bersama adiknya menggunakan perahu kayu
yang dikayuh diperantara sungai yang menghubungkan
kekampung tempat dia dan adiknya bersekolah. Kurang lebih
setengah jam mereka berjalan memasuki perkampungan.
Begitulah setiap harinya Ismail berjuang kesekolah.
Pernah sekali Ismail telat kesekolah ketika air sungai
meluap dan arus kencang karena perahu membawa mereka
sangat jauh dan ditolong oleh warga kampung yang
melihatnya. Setelah ibunya meninggal, dia dan adiknya tetap
112
Histoire D’amour
semangat melanjutkan sekolah. Kini, dia telah menjadi guru
disekolah tersebut. Darinya aku belajar tetap semangat
menjalani hidup dan mensyukuri setiap keadaan.
Mutiadi yang selalu aku panggil Muti adalah seorang
anak lelaki manja, yang selalu dituruti keinginannya oleh
ayah dan kakaknya. setelah dari Sekolah Dasar, ia ditinggal
ibunya. Ayahnya hanya seorang nelayan yang pergi kelaut
berbulan-bulan. Dia tinggal dan diasuh oleh kakaknya. Kini
kakaknya sudah bekerluarga dan mempunyai bayi kecil.
Karena kakaknya sibuk dengan keluarganya, kini Mutiadi
mulai bekerja di gudang kabel, kerjanya menggulung kabel-
kabel.
Muti sering telat pulang dan telat bangun sehingga
tidak kesekolah. Dia juga sering kena pukulan dari suami
kakaknya bila dia membela kakaknya yang dimarahi
suaminya. Dia siswaku, sementara aku wali kelasnya, setelah
dua tahun tinggal kelas. Dia sering menelepon dan menangis
kepadaku.
Suatu hari Muti meneleponku, dia tidak bisa
bersekolah lagi karena ia dipenjara. Sebab, tempatnya bekerja
merupakan pemasok kabel curian. Muti dipenjara selama tiga
tahun dan dipotong masa tahanan karena kelakuanya yang
baik.
Selama dipenjara, dia sering meneleponku,
menanyakan kabar. Selama dipenjara, kakak dan ayahnya
tidak menjeguknya, tapi dia tegar karena dia merasa lebih
113
Histoire D’amour
baik seperti itu. Akan tetapi, di tahun kedua, hubungan
keluaga mereka semakin membaik. Setelah keluar penjara,
dia tidak pernah meneleponku dan kini tiba-tiba dilebaran
Idul Fitri, dia kerumah membawa sepaket parcel lebaran dan
undangan perkawinannya. Darinya aku belajar tidak semua
keinginan harus kita dapatkan dan kadang kala mengalah
lebih baik sehingga semua orang bahagia.
Soniadi, dia siswaku, tapi aku tidak mengenalnya
karena tidak mengajar dikelas dan jurusannya. Namun, suatu
hari sekolah mendapatkan info pengumuman dari kepala
sekolah. Dia mendapatkan hadiah umroh gratis dari undian
Vaksin Covid-19 oleh POLDA Aceh.
Soni adalah siswa yang tinggal diasrama sekolah.
Dari keterangan pengurus asrama, sejak diantarkan oleh
ayahnya—pertama masuk sekolah—hingga kelas dua, tidak
pernah orangtua menjeguknya.Ayahnya juga merupakan
seorang buruh tani sawit di kampungnya. Untuk Kebutuhan
dan jajan setiap hari, berasal dari uang kerja membantu
pekerjaan yang diberikan guru-guru ataupun sekolah. Seperti;
membuat pagar dan sebagainya.Tidak jarang pengurus
asrama membantunya.
Ketika pertama kali Soni kekantor DewanGuru, dia
memperkenalkan diri. Tinggi tegap,kulit hitam, dengan baju
sekolah yang lusuh dan kancing yang lepas, sehingga dia
selalu memegang bajunya agar tidak terbuka,
Tingkahlakunya sopan, selalu berbicara dengan santun
114
Histoire D’amour
kepada guru. Saat itu aku mengambil nomor HP-nya, untuk
suatu hari sebelum berangkat, ingin menyumbangkan sedikit
bekal diperjalanan. Setelah beberapa hari, dia meneleponku
karena sedang corona dan wajib karantin. Biaya untuk
karantika tidak ditanggung travel perjalanan, pihaknya dan
pemberi hadiah hanya memberikan asuransi kesehatan dan
biaya perjalanan yang istimewa. Dana tambahan Untuk
keberangkatan sebesar Tujuh Juta Rupiah. Soni sudah
mengadukan hal tersebut kepada saudara-saudara dan
ayahnya.Dengan berat hati, dia mengundurkan diri dan
menawarkan hadiah tersebut kepada guru-gurunya.
Melihat kekecewaannya, aku merasa dia yang
terpanggil dan dia yang harus berangkat. Dengan dibantu
sekolah, teman-teman guru, aku, dan GuruAgama—Ibu
Rosmiati—dengan nekat mendaftarkannya dan
mengantarkanya untuk pergi manasik.Alhamdulilah, dana
yang terkumpul diluar dugaaan kami. Akhirnya dia bisa
berangkat umroh. Setelah pulang,Soni menceritakan pertama
kali naik pesawat dan melihat gedung-gedung yang tinggi.
Melihat MekkahAlMukarrohmah. Dia bercerita dengan
senang dan penuh kebahagian. Dari Soni aku belajar tidak
ada yang tidak mungkin di dunia ini. ketika Allahsudah
berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin. Selalu berdoa
dan tidak berputus asa karena kita tidak tau jalan yang mana
yang telah Allah pilih untuk membantu kita.
115
Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Diana Nora Putri, Ibu dari dua orang Putra yang mengajar
di SekolahMenengah Kejuruan. Selain Mengajar, Diana aktif
belajar menulis cerpen. Dia memang sangat menyukai fiksi.
Beberapa cerpennya terbit dalam bentuk antologi, beberapa lagi
masih dia tulis. berikut sejumlah antologi yang memuat cerita
karangan Diana; Pasrah, Takdir Cinta, Teman Tapi Menikah, Dear
Mom,40 Dogeng Istimewa, Retak, Menggapai Cinta Ipah,
Romantika Generasi Sandwich,Memeluk Luka Merengkuh
bahagia, CatandFlower, serta Aku, Kamu, dan Kopi, Dear Anakku.
Jejaknya Diana terlihat pada akun instagram ;
@diananoraputri atau facebook; Diana Nora.
116
Histoire D’amour
Luka Sepotong Hati
Solihah, S. Pd.
N amaku Shilla, aku sedang duduk di kursi
teras rumah, meratapi objek di depan
sana.Tanpa disadari, aku menangis. Tiba-tiba, ada seseorang
yang menghampiri, dia adalah Lala—tetangganya yang
belum lama pindah.
―Kenapa kamu menangis?‖ tanya Lala
―Aku teringat kejadian itu,‖jawabku.
―Kejadian apa yang sampai membuat kamu sedih?‖
kejar Lala dengan raut bingung.
117
Histoire D’amour
―Kecelakan,‖ jawabku.
Lala terkejut mendengarnya.
―Kalau kamu mau berbagi kesedihan kamu sama aku,
nggakapa-apa, aku akan dengarkan.‖
Aku memandang Lala sesaat. Benarkah teman
baruku itu akan mendengarkan curahan hatiku? Terlihat Lala
tersenyum dengan tulus. Malam itu, aku berusaha untuk
memejamkan mata sambil berdzikir karena aku benar-benar
tidak bisa tidur. Akhirnya, aku putuskan untuk ke kamar
Kakak. Perlahan kuketuk pintu kamarnya.
―Ada apa, Dik?‖
Kakak membuka pintu kamarnya dan heran
memandangku.
―Ga bisa tidur, Kak. Boleh tidur bareng Kakak, ya?
Mungkin kalau ada temannya aku bisa tidur.‖
Aku pun masuk ke kamar Kakak kemudian langsung
berbaring di kasur.
―Sepertinya, aku ga bisa tidur karena terlalu senang.‖
Kakak mengernyitkan alisnya menatapku heran.
―Apa yang membuatmu sesenang itu?‖ tanya Kakak.
―Ishhh ... memang Kakak ga senang? Kita, kan, besok
liburan bareng ke Yogyakarta‖ jawabku kesal.
―Senanglah pastinya karena besok pertama kali kita
liburan bareng Ayah ke Yogyakarta,‖ jawab Kakak.
Hingga dini hari, aku dan Kakak ngobrol. Akhirnya,
kami pun tidur dengan pulas. Saat mentari pagi menyapa, Ibu
118
Histoire D’amour
mengetuk pintu kamar Kakak. Kami bergeming karena tidur
dengan nyenyaknya. SepertinyaIbu mendorong pintu kamar
Kakak karena tidak ada sahutan. Mungkin Ibuterkejut
mendapatkan aku tidur di kamar Kakak.
Aku bangun dengan enggan setelah terasa sinar
matahari masuk lewat jendela. Sisa ngantuk masih tersisa di
mataku. Aku bergegas mandi. Usai mandi turun ke bawah
sambil menjinjing tas yang sudah disiapkan untuk dibawa
hari ini.
―Shilla taruh tasnya di mobil setelah itu sarapan!‖kata
Ibu.
―Iya, Bu,‖ jawabku.
―Aku senang banget kita bisa liburan lagi bareng
Ayah setelah bertahun-tahun. Semoga kita bisa liburan terus
berempat, ya, Bu.‖
Ibu tersenyum mendengarnya. Ayah
tersenyum mendengar ucapanku.
―Ayah juga senang banget. Maaf, ya, kita baru bisa
liburan bareng lagi.‖ucap ayah lembut.
―Ga papa, Yah. Ayah sibuk kerja, kan, jadi aku
ngertikok.‖
Ayah mengangguk pelan.
―Cepat habiskan makanannya. Setelah sarapan, kita
langsung berangkat ke stasiun,‖ujar Ayah lagi.
Sepanjang jalan aku benar benar tidak bisa diam dan
terus bercerita, mengungkapkan betapa senangnya aku.Tiba
119
Histoire D’amour
di stasiun, Ayah menurunkan barang- barang bawaan kami
dan langsung menuju tempat tunggu. Ibu mengusap kepalaku
dan Kakak bergantian, sambil menunggu kereta datang. Tak
lama kemudian, terdengar pemberitahuan bahwa kereta kami
akan segera tiba. Sesaat lagi, Kereta Api Batik akan
diberangkatkan dari Stasiun Senen menuju Yogyakarta.
“Alhamdulillah,‖ ucapku dalam hati sambil
tersenyum.
Setelah menunjukkan tiket kepada petugas, kami
masuk ke dalam kereta. Mencari tempat duduk sesuai dengan
nomor yang tertera pada tiket. Meletakkan koper-koper di
bagasi. Menunggu lima belas menit, kereta mulai bergerak
perlahan. Di dalam kereta, kami menyusun jadwal tempat-
tempat apa saja yang kami kunjungi.
Selama perjalanan, semua baik baik saja, tidak ada
kendala, kami sudah melewati empat stasiun, semua lancar
dan menyenangkan.Tiba-tiba, terdengar teriakan panik para
penumpang. Ternyata tabrakan tepat di depan gerbong yang
kami naiki. Seluruh penumpang panik termasuk keluargaku.
Ayah langsung menggendong aku, sementaraIbu
menggandeng Kakak.
Kami jalan ke arah belakang. Penumpang berlarian di
dalam kereta. Aku menangis sekencang-kencangnya dalam
pelukan Ayah. Wajah Ibu dan Kakak terlihat cemas. Kalut.
Tidak tau apa yang harus dilakukan. Suasana semakin ricuh,
ada beberapa orang penumpang yang nekat loncat dari kereta.
120
Histoire D’amour
Sedangkan kami masih tetap di dalam kereta. Kami berdoa
semoga semua selamat. Tiba-tiba benturan keras terdengar.
―Ayah! Ibu! Arrghhh! Allahu Akbar!‖Suara inilah
yang aku dengar.
Aku melihat Ayah,ibu, dan kakak yang sudah
berlumuran darah, begitupun aku yang sudah terjepit oleh
bagian kereta. Aku benar-benar takut keretanya penuh
dengan orang yang berlumuran darah. Aku hanya bisa
menangis. Kereta hancur. Beberapa menit kemudian bantuan
datang. Riuh ambulan dari luar dan polisi datang ke lokasi
kejadian. Aku hanya bisa diam melihat semuanya.
Tim evakuasi datang mendekati. Aku sangat takut
dan gemetar seluruh badan. Akhirnya tim evakuasi berhasil
mengangkat bagian kereta yang terguling. Penumpang yang
terjebak bisa diselamatkan. Aku tidak berhenti
menangis. Dari mulutku tiada henti menyebut Ayah, ibu,
dan kakak. Aku melihat kakak dibawa oleh petugas, ternyata
kakak sudah tidak ada. Aku menghampiri kakak, tapi tidak
bisa karena kaki yang sangat sakit.
Aku menangis pilu, ternyata Ayah dan Ibu juga tidak
selamat. Tinggallah aku sendiri yang selamat. Kemudian, aku
dibawa ke rumah sakit untuk diberi penanganan, tapi
aku sangat takut dan kejadian itu masih terbayang.
Sampai di rumah sakit aku diperiksa dan diobati oleh
dokter. Aku hanya termenung dan menangis. Dokter itu
mengajak aku berbicara siapa tau itu bisa menenangkan.
121
Histoire D’amour
―Hi, Gadis Cantik, nama kamu siapa? Boleh saya tau
nama kamu?‖
Aku mendengarnya, tapi tidak kuat untuk bicara.
Dokter itu tersenyum dan membawa aku dengan kursi roda
ke bagian psikologi. Dokter merasa aku ini tidak baik- baik
saja. Trauma. Mengalami gangguan.
Aku dirawat oleh seorang psikiater. Keesokan
harinya, pemakaman Ayah, ibu, dan kakak. Aku hadir di
pemakaman mereka, tetapi hanya bisa melihat dan menangis
tanpa suara. Setelah selesai bercerita, aku menangis makin
kencang. Lala langsung memelukku, mencoba
menenangkan.
Peristiwa itu terjadi setahun yang lalu. Kini aku jauh
lebih baik, walau masih sering teringat akan kejadian
itu. Seorang perawat mendatangiku dan terkejut melihatku
menangis. Ia menghampiri.―Kita masuk. Matahari sudah
hampir terbenam.‖
Aku mengangguk. Perawat itu langsung berpamitan
pada Lala, lalu masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas.
Aku pun berbaring dibantu olehnya. Aku mulai menutup
mata dan terlelap.
Jakarta, 11 Juli 2022
122
Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Solihah, S. Pd. Lahir di Jakarta berhasil menyelesaikan dan
memenuhi syarat Pendidikan jenjang S1 Program Studi Pendidikan
Bahasa Indonesia di IKIP Jakarta. Pengajar di SMP Negeri 277,
Jakarta.
123
Histoire D’amour
Demi Kau, Ibu
Burhanudin, S.Pd., M.Pd.
K isah perjuangan hidupku dimulai saat aku
tamat SMP, saat itu aku harus rela menunda
sekolah ke jenjang berikutnya karena terbentur masalah
ekonomi. Saat tengah malam tiba, sekitar pukul 02.00 WIB,
aku harus segera bangun untuk mempersiapkan dagangan
buah kelapa untuk dijual bersama bapakku di pasar, saat itu
ekonomi keluargaku sedang tidak baik-baik saja. Bapakku
tersangkut bisnis ‗pohon mas‘ yang membuatnya harus
berpikir keras, mencari nafkah setelah uang tabungan yang
124
Histoire D’amour
selama ini dikumpulkan terkuras habis karena bisnis tersebut.
Aku sebagai anak pertamanya tak tinggal diam begitu saja,
aku ikut membantunya untuk bisa mencukupi kebutuhan
keluarga. Satu hal lagi yang membuatku harus menunda
sekolah saat itu, aku mempunyai adik tunarungu yang harus
aku antar ke sekolah yang lumayan jauh dari rumah.
Setahun berlalu, guruku datang ke rumah
membujukuntuk sekolah lagi. Akupun mengikuti saran dari
beliau, tapi semua tak mudah, aku harus pergi ke pasar
dahulu. Ketika waktu pagi aku bergegas mandi di kamar
mandi umum yang ada di pasar, aku memakai seragamku di
pasar itu dan aku berangkat menuju SMK. Aku tak boleh
menyerah, aku harus bangkit karena pendidikan sangatlah
penting untuk masa depanku nanti.
Perjuangan aku lalui selama dua tahun lamanya. Aku
harus pergi ke pasar dengan membawa perlengkapan sekolah.
Aku sering terlambat datang, bahkan pernah mengalami
kecelakaan karena terlalu terburu-buru menuju ke sekolah.
Kelas tiga SMK aku berhenti jualan ke pasar, karena bapakku
memutuskan merantau ke Malaysia demi memperbaiki
ekonomi keluarga. Akhirnya, aku tak kurang akal, aku
berusaha membantu ibuku dengan cara membuka bimbel
untuk anak-anak tetanggaku.
Kabar kurang baik terdengar oleh ibuku, di saat
kondisi ekonomi belum memulih, ayahku menikah lagi di
Malaysia. Bagai ditusuk hati ini, setiap hari penagih hutang
125
Histoire D’amour
datang silih berganti dan ayahku tak pernah mengirimkan
uang saat itu. Beberapa bulan tak menghubungi keluarga, aku
sedih melihat Ibu yang sedang terpuruk. bagaimanapun
caranya, adik-adikku harus tetap bersekolah, meskipun
terkadang tak ada uang sama sekali.
Setamatnya dari SMK, dengan bemodal BONEK aku
mendaftarkan diri ke Perguruan tinggi di kotaku. Aku tak
bisa meninggalkan ibu dan adik-adikku jika aku harus kuliah
di luar kota. Saat itu aku juga melamar menjadi guru honorer
di SekolahDasar di dekat rumahku. Pagidi sekolah, siang di
kampus, pulang dari kampus aku harus mengajari anak-anak
yang sudah siap menunggu di rumah. Begitulah aktivitasku
setiap hari dari pagi sampai malam hari, aku harus terus
bangkit demi ibu dan adik-adikku.
Hari berganti hari. Meskipun kami hidup serba
kekurangan, tapi ibuku sadar ini semua cobaan dari Tuhan.
Ibu juga harus bekerja, meskipun hanya buruh tani serabutan.
Saat itu yang kupikirkan hanyalah ibu dan adik-adikku.
Meskipun diluar sana teman-temanku sudah asyik dengan
dunianya. Waktuku hanya tersita dengan belajar dan bekerja
sampai tak kenal istilah nongkrong, ngopi bareng teman.
Tugas kuliahpun kadang terabaikan karena pekerjaanku yang
menyita waktuku hingga larut malam.
Sampai pada saat aku sudah masuk semester tujuh,
aku sedang menjalani KKN di sebuah desa yang terletak di
126
Histoire D’amour
pegunungan. Setiap hari aku bolak-balik kesana karena tak
bisa menginap, aku tak bisa meniggalkan pekerjaanku.
Hari berlalu, KKN sudah hampir usai, tapi aku masih
sibuk dengan pekerjaanku mengajar anak-anak di bimbingan
belajar. Teman-teman mengerti dengan keadaanku, mereka
selalu membantu tugasku. Saat itu hampir penutupan KKN,
aku di rumah mengajari anak-anak dan aku terkesima dengan
seorang murid yang tiba-tiba bisa mengerjakan tugasnya
tanpa menunggu kuajari.
Aku bertanya padanya, siapa yang membimbing dia
mengerjakan tugasnya? Dia menjawab,―Sudaraku, Pak, dari
Sidoarjo.‖
Aku iseng meminta nomor HP-nya saat itu. Ya, aku
hanya ingin sebatas mengenalnya. Aku sapa dia lewat SMS,
aku ucapkan salam yang dilanjutkan dengan kata-kata
pujangga yang kudapat dari teman-temanku. Dia tak
membalas SMS-ku.Ya, mungkin dia menganggap hanya
SMS nyasar dari orang yang tidak dikenal.
Hari berikutnya, aku mengenalkan diriku, aku bilang
bahwa aku mendapat nomor HP-nya dari adik sepupunya
yang les dirumahku. Dia mulai menjawab SMS itu. Dia
sering bertanya tentang pelajaran adik sepupunya. Saat itu
belum ada perasaan yang serius karena aku menganggapnya
sekedar teman.
Hari berlalu, aku semakin dekat dengan gadis itu. Aku
sering meminta bimbingannya dalam hal mengaji karena dia
127
Histoire D’amour
ternyata sedang dalam pengabdian mengajar mengaji di
desaku. Aku menceritakan hal itu pada ibuku, ibuku
tersenyum memandangku. Aku merasa ada kebahagiaan yang
lama aku temui setelah bertahun-tahun bapakku pergi
merantau. Berangsur-angsur bapakku mulai sadar dan ingat
dengan keluarganya. Bapak mendengar kabar tentang
kedekatanku dengan seorang gadis dan Bapak menyuruhku
untuk menikahinya saat itu juga.
Aku bingung, aku masih kuliah dan pekerjaanku
masih sepeti ini. Akhirnya dengan penuh tekat aku pergi ke
Sidoarjo selepas penutupan KKN, aku menemui keluarga
gadis itu dan aku melamarnya. Aku masih tidak percaya
dengan keberanianku saat itu, aku hanya berusaha
mewujudkan permintaan orang tuaku. Setelah tiga bulan,
kamipun menikah dan aku masih melanjutkan kuliah.
Tepat sebelum aku wisuda, aku dikaruniahi anak
laki-laki yang tampan. Sungguh semua diluar angan-anganku.
Saat itu istriku mulai kuliah, walaupun dia juga harus
mencari pengalaman sebagai guru honorer di sebuah sekolah
swasta. Begitulah setiap hari yang kami lalui. Dari habis
Subuh, aku sudah memberi les, pagi ke SD, pulang langsung
kembali les sampai malam.
Tahun 2014, ada seorang teman menyarankanku
untuk kuliah lagi jurusan PGSD, karena aku mengajar di SD
dan ijazah Matematika belum linier. Akhirnya aku kuliah
PGSD dan lulus tahun 2016. Dengan penuh perjuangan, aku
128
Histoire D’amour
harus wisuda di Tangerang karena aku ingin segera mendapat
ijazah. Tak lega begitu saja, tahun 2018 aku melanjutkan S2
PGSD walaupun istriku kurang setuju karena dia takut aku
tak mampu membayar uang per semester yang menurut kami
itu mahal.
Tahun 2019, aku sempat terpuruk karena aku tidak
lulus tes CPNS. Aku pasrah saat itu, mungkin aku harus
konsen dalam melanjutkan S2. Tahun 2020, aku lulus S2 dan
Alhamdulillah… di tahun itu juga aku lulus dalam tes CPNS
di SDN 5 Kalibatur yang dekat dengan Pantai Sine.
Rencana Allah memang begitu indah dibanding
rencana manusia. Saat aku lulus tes CPNS, bertepatan dengan
kelahiran anakku yang ke empat, sungguh rezeki yang tidak
disangka-sangka. Jalan terjal telah aku lewati, sekarang aku
juga masih harus berjuang.
Tak berhenti disitu, aku daftar program Calon Guru
Penggerak angkatan empat. Istriku sempat melarangku
karena kesibukanku yang terlalu padat, dia mengkhawatirkan
kesehatanku. Aku berusahan meyakinkannya, aku yakinkan
dia sebuah perjuangan pada akhirnya akan berbuah manis.
Saat ini aku sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil dan aku
lulus pre-test PPG. Alhamdulillah, dalam sebait doaku,
kumohon agar aku selalu amanah dalam pekerjaan. Semua
rezeki yang aku terima bisa berkah untuk agamaku,
keluargaku, dan orang-orang yang membutuhkan.
129
Histoire D’amour
Tak ada perjuangan yang sia-sia, 15 tahun aku harus
menjadi tenaga honorer yang gajinya menurutku hanya bisa
untuk beli bensin. Sekarang ekonomi keluargaku berangsur-
angsur membaik, walaupun ibuku harus berjuang juga
dinegeri seberang bersama bapakku. Padahal, disana ada istri
kedua dari bapakku, tapi ibuku tetap sabar, kuat, dan tegar
menghadapinya.
Ada sebuah mimpi yang ingin diwujudkan melalui
perjalanan yang tak mudah. Aku masih teringat jelas saat
kecil aku harus hidup dengan seorang nenek karena ibuku
harus merantau. Nenekku sangat sabar mengajariku, setiap
tengah malam pukul 03.00 aku dibangunkannya untuk
salatTahajud dan dilanjutkan belajar. Saat itu lampu masih
menggunakan lampu minyak, tetapi beliau dengan sabar
mengajariku.
Terima kasih untuk orang-orang yang sudah
menemaniku berjuang dari nol; ibuku, istriku, adik-adikku
yang merasakan perjuangan bersamaku. Perjuanganku belum
berakhir sampai disini, cita-citaku masih panjang. Belajar dan
terus belajar, karena belajar tak mengenal usia, belajar
sepanjang hayat.
Tulungagung, 07 Juli 2022
130
Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Burhanudin, S.Pd.,M.Pd. lahir di Tulungagung tanggal 05
Mei 1988. Lulus S1 dari STKIP PGRI Tulungagung Jurusan
Pendidikan Matematika Tahun 2011 dan S1 Universitas Terbuka
dengan Jurusan PGSD tahun 2016. Lalu, melanjutkan kuliah S2 di
Universitas Terbuka dengan Jurusan Magister Pendidikan Dasar,
lulus tahun 2020. Saat ini mengajar di SD N Kalibatur 5, Kec.
Kalidawir, Kab. Tulungagung. Mottonya ‘Jalani, Nikmati, Syukuri’.
Pembaca bisa lebih dekat dengan penulis lewat akun sosial media
instagramnya @Hanna Burhan Anna.
131
Histoire D’amour
Attitude
Siti Nuryati, S.Pd.
“B u Nury, ya? Apa kabar ibu?‖ sapa seorang
pemuda tanggung.
Penampilannya yang lusuh membuat aku sedikit risih
dan hanya melempar seulas senyum tipis padanya. Aku terus
berlalu dari tempat itu tanpa merespon kembali
pertanyaannya. Huft! Hari yang cukup melelahkan bagiku.
Semenjak aku mutasi ke kota ini, semua terasa asing. Belum
lagi kesibukan suami yang padat, menjadikanku perempuan
mandiri tanpa tergantung pada suami.
132
Histoire D’amour
―Lho … bunda sudah pulang? Baru saja ayah mau
jemput,‖ ucap suamiku sesaat setelah aku masuk rumah.
―Sudah, Yah. Bunda capek sekali hari ini. Belanja di
pasar tradisional sangat merepotkan, mana jalanan becek
kalau hujan gini. Ditambah tadi ada preman menghampiri
bunda. Ah … semoga kita hanya sebentar tinggal di sini,‖
jawabku.
Kalau sudah demikian, aku biasanya akan panjang
mengeluarkan keluhan di hati. Suamiku hanya bisa senyum
dalam merespon semuanya. Adem memang saat melihat
suami tersenyum. Kami sudah sepuluh tahun menikah dan
belum diberi momongan, jadi di manapun kami berada hanya
ada sepi. Kalau sudah begini aku langsung kangen padamama
di Surabaya.
Berhubung senja mulai turun, aku segera menyiapkan
makan malam untuk kami berdua. Tinggal di desa yang sepi
membuat kami malas untuk mencari makan malam di luar.
Jarak desa kami ke pusat kota lumayan jauh, hal ini pula yang
membuat pengajuan mutasiku menjadi mudah. Kekurangan
tenaga pendidik membuat aku diterima dengan baik di desa
ini.
―Makasih, ya, Bund. Sudah mau menemani ke mana
pun ayah pergi, beruntungnya ayah memperoleh istri sebaik
bunda,‖ ucap suamiku sambil memeluk hangat.
Kalau sudah seperti ini biasanya rasa lelah seharian
karena harus menempuh perjalanan puluhan kilo saat
133
Histoire D’amour
mengajar langsung sirna. Malam ini kami langsung tidur usai
makan malam karena esok hari harus kembali beraktivitas
dengan kesibukan masing-masing. Paginya, suamiku baru
ingat kalau ada undangan untuk menghadiri lepas sambut
dokter baru di wilayah kerjanya. Selaku Komandan tentu saja
suami diundang secara khusus. Dia memintaku untuk cepat
pulang dan mengosongkan jadwal hari ini. Jadilah aku ijin
mendahului pulang ke kepala sekolah.
Di desa kami kedatangan dokter sangat dinantikan,
terlebih dengan maraknya wabah penyakit akhir-akhir ini.
Suami menjemputku ke sekolah dan kami segera menuju ke
Puskesmas tempat berlangsungnya acara. Baru saja turun dari
mobil, aku seperti melihat sosok yang taka sing. Dia murid
terpandai di sekolah saat aku mengabdi di sebuah SMA di
Surabaya. Ragu-ragu kuhampiri juga sosok berseragam putih
itu.
―Azam, ya?‖ tanyaku.
Seketika dia menoleh saat kutepuk bahunya. Sejenak
dia mengernyitkan dahinya seperti berusaha mengingat
sesuatu yang entah apa. Aku masih menunggu jawabannya,
sementara suamiku masih sibuk menyapa tamu yang lain.
Pemuda tanggung itu terdiam dan tampak bingung.
―Maaf, ibu siapa ya? Iya, saya Azam tapi apa kita
pernah bertemu sebelumnya?‖ tanyanya.
134
Histoire D’amour
―Mashaallah … ini beneran Azam yang dulu sekolah
di SMAN 3 Surabaya? Ingat ibu ndak? Bu Nury, wali kelas
kamu di kelas tiga IPA,‖ jawabku.
―O … maaf saya lupa,‖ jawabnya sambil berlalu.
Aku hanya tertegun melihat jawaban pemuda itu.
Segera kuhampiri suami dan duduk di sebelahnya dengan
perasaan sedikit kecewa saat ada murid yang tidak ingat
gurunya. Sepertinya suamiku bisa membaca pikiranku dan
hanya tersenyum. Diapun memelukku. Di tengah acara
barulah aku tahu kalau Azam, muridku dulu, menjadi dokter
di Puskesmas ini. Acara yang seharusnya istimewa terasa
membosankan di mataku. Untung semua segera berakhir dan
kami segera pulang. Di dalam mobil aku mengeluh ke suami.
―Yah, kok ada ya mantan murid tidak kenal gurunya
padahal gurunya ingat sama muridnya. Apalagi dia murid
terpandai di kelas bunda dulu,‖ keluhku.
―Wajar itu bund, yang ndak wajar itu kalau ada murid
cowok menikahi gurunya,‖ ucap suamiku sambil terkekeh.
Aku semakin kesal melihat kerling manja suamiku.
Baru sekitar lima ratus meter, ban kami mengalami pecah ban
dan apesnya di daerah terpencil begini tidak ada bengkel.
Lengkaplah sudah penderitaanku, mana badan rasanya capek
sekali. Suami berusaha menghubungi anak buahnya agar
menjemput kami tapi tidak ada yang mengangkat teleponnya.
Tak berapa lama dua orang pemuda naik motor
berboncengan melewati kami berdua, salah satunya menoleh
135
Histoire D’amour
dan menepuk punggung kawannya untuk putar balik ke
tempat kami berdiri. Kawan yang membonceng segera
mengikuti perintahnya dan mereka menghampiri kami.
―Bu Nury? Ada apa, Bu? Kok berdiri di sini?‖ tanya
salah satu diantara mereka.
Saat aku perhatikan, ternyata dia pemuda berandalan
yang menyapaku di pasar kemarin. Melihat raut muka
kesalku, suami segera menghampiri kami.
―Dek, kok bisa kenal istri saya?‖ tanya suami.
―Gimana nggak kenal, Pak. Bu Nury ini guru SMA
saya saat di Surabaya, Pak. Kebetulan saya buka bengkel di
daerah sini. Maklum, pak. Buka bengkel kalau di Surabaya
banyak saingan, makanya saya pilih transmigrasi ke sini. Oh
ya, ini kenapa bapak sama ibu berdiri di sini?‖ tanyanya
sopan.
Suami segera memberi penjelasan kalau mobil kami
mengalami pecah ban. Atas inisiatif pemuda itu, kami
disuruh memakai motornya. Dia dan kawannya yang akan
mengganti ban dan mengantarkan mobil ke rumah. Kami
setuju mengingat hari sudah sore dan jalanan yang sepi.
Benar saja keesokan harinya dua pemuda itu sudah datang
subuh-subuh ke rumah untuk mengantar mobil kami yang
sudah diganti ban dan sudah dicuci pula.
Saat mereka masuk rumah, suami mengajak ngobrol
dan menanyakan bagaimana dia masih ingat padaku
sementara bisa jadi aku sudah lupa padanya. Dia hanya
136
Histoire D’amour
tersenyum dan bilang kalau hal itu wajar terjadi karena
seorang guru bisa jadi lupa muridnya karena yang dia ajar
ada ratusan siswa bahkan ribuan dalam beberapa angkatan.
Sementara murid akan dengan mudah mengingat guru,
apalagi bila guru itu istimewa dan sudah menempati hati
muridnya.
Dari pengakuannya, di matanya, aku adalah guru yang
bijaksana dan tidak pernah membedakan muridnya. Selalu
memaafkan setiap kali muridnya membuat masalah dan tidak
bosan memberi nasehat. Tanpa terasa airmataku luruh
mendengar ucapannya. Aku tidak sehebat itu, aku hanyalah
manusia biasa yang terkadang lalai. Buktinya aku lebih
mudah mengingat murid berprestasi dibandingkan mengingat
dia yang nakal.
Aku segera keluar menemuinya dan meminta maaf
karena sudah bersikap sinis waktu kemarin di pasar. Dia
hanya tersenyum dan tetap menghormati seolah tidak terjadi
apa-apa. Sebuah tamparan buat diriku sendiri karena
menganggap siswa yang pintar pastilah mempunyai attitude
yang bagus dan siswa nakal itu akan selalu bad attitude.
Hikmah dari kejadian ini adalah membuat aku
semakin mengerti dan paham bahwasanya di mana pun kita
berada, adab itu yang utama dan barulah ilmu. Selembar
kertas prestasi tidak akan menjadikan murid itu beradab
bagus pun pula sebaliknya.
137
Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Siti Nuryati, S.Pd. lahir di Atar Bawang, 23 September
1988, adalah ibu dengan 2 putra yang berdomisili di Lampung
Barat. Wanita penyuka warna ungu ini punya hobi membaca dan
mendengarkan musik. Ia menyelesaikan pendidikan S1-nya pada
tahun 2012 dan saat ini menekuni karir sebagai guru Bahasa
Inggris di SMPN Batu Ketulis. Di waktu senggangnya, ia
menyempatkan menulis cerita-cerita pendek atau pengalaman
pribadinya.
138
Histoire D’amour
Karma
Fenti Karmalita, S.Pd.
L angit mulai gelap, hujan deras dan petir masih
terus menyambar, sementara itu Mbok Kasmi
masih berteduh di gardu penggir desa. Ah andai saja Mbok
Kasmi mendengarkan larangan suaminya tentu saat ini dia
sudah duduk di depan keren (tungku api) sambil memegang
secangkir teh manis di tangannya sembari makan singkong
rebus yang mengepul. Tak berapa lama tampak di kejauhan
suara delman yang ditarik dua ekor kuda. Meski samar, Mbok
139
Histoire D’amour
Kasmi yakin kalau penumpang delman ada tiga orang berikut
kusirnya.
Saat delman melintas di hadapannya, Mbok Kasmi
melihat bu Lurah duduk di sana bersama Asih. Mereka sama
sekali tidak menoleh, bahkan tidak tahu kalau Mbok Kasmi
ada di dalam gardu itu. Ada sesuatu yang aneh di sana, Asih
terlihat meronta dan berusaha melepaskan diri dari sesuatu.
Melihat hal ini, Mbok Kasmi batal untuk menyapa mereka.
Tak berapa lama, delman itu berlalu dari hadapannya.
Seketika itu juga, hujan deras berhenti tiba-tiba dan langit
kembali cerah. Aneh sekali, berbeda dengan sebelum delman
milik bu Lurah melintas. Mbok Kasmi segera mengambil
capilnya dan berlari pulang. Dia Nampak ketakutan.
Sesampainya di rumah, dia langsung mandi dan tak
menghiraukan pertanyaan suaminya perihal ke mana saja dia
seharian ini.
Usai mandi barulah Mbok Kasmi bercerita kalau tadi
di sawah dia terjebak hujan deras di pinggir desa dan harus
berteduh. Sementara suaminya hanya terkekeh dan
menganggap kalau istrinya sedang berhalusinasi karena di
rumah mereka tidak hujan sama sekali. Lagi-lagi Mbok
Kasmi marah dan segera meninggalkan suaminya karena
azan magrib sudah berkumandang. Dia segera mengambil
mukena lusuhnya untuk segera menunaikan kewajibannya.
Baru saja salam, terdengar suara kentongan titir yang
menandakan kalau ada rajapati di desa. Berduyun-duyun
140
Histoire D’amour
warga menuju arah sumber suara untuk mengetahui apa yang
terjadi. Di gardu pinggir desa ditemukan sesosok mayat yang
tak lain adalah Asih. Mbok Kasmi yang melihat jeazah Asih
segera menepi dari kerumunan. Baju yang dikenakan Asih
sama persis yang dia lihat tadi sore. Berdegup dada Mbok
Kasmi melihat semua itu. Ternyata suaminya mengetahui
ketakutannya, dia segera menarik tangan istrinya untuk
pulang, sesampainya di rumah, barulah suaminya
menanyainya.
―Mbok, apa kamu tahu tentang kematian Asih?‖
tanyanya menyelidik.
―Pak, tadi simbok lihat Asih melintasi gardu pinggir
desa naik delmannya Bu Lurah. Dia baik-baik saja, Pak,‖
jawab Mbok Kasmi gemetar.
―Jangan pernah kamu buka mulut akan hal ini, ya,
Mbok. Bahaya! Kamu tahu sendiri Bu Lurah, to. Dia tidak
bakal suka kalau ada orang yang mencampuri urusannya,‖
pinta suaminya.
―Yo, Pak. Simbok juga takut. Salah-salah nanti malah
simbok mati konyol,‖ jawab Mbok Kasmi.
Asih adalah kembang desa di Sumberejo yang sudah
menolak lamaran Den Mas Budi, putra semata wayang Bu
Lurah yang memiliki keterbelakangan mental. Seisi desa juga
tahu kalau Bu Lurah itu orang yang kejam dan tidak pandang
bulu. Siapa saja yang menentangnya maka harus mati.
Kematian Asih kali ini juga menguap seperti kasus
141
Histoire D’amour
sebelumnya. Bahkan pemilik anak gadis mulai resah kalau
sampai puti mereka dipinang oleh Bu Lurah. Demikian juga
halnya dengan Mbok Kasmi, dia memiliki seorang putri yang
tak kalah manis dengan Asih.
Astuti namanya. Dia selama ini tinggal di persantren
untuk belajar ilmu agama. Mbok Kasmi dan suaminya
sengaja mengirimnya untuk belajar di tempat Kyai Nawawi.
Sekarang tiba saatnya Astuti pulang untuk bertemu simbok
dan bapaknya. Penuh suka cita dia pulang ke Sumberejo
meski kedua orangtuanya melarang karena gentingnya
masalah yang ada di desa.
Benar saja ketakutan Mbok Kasmi, seminggu setelah
kepulangan Astuti, Bu Lurah datang ke rumahnya untuk
melamar putri mereka. Keringat dingin keluar dari tubuh
keduanya namun tidak demikian halnya dengan Astuti. Dia
meminta ke Bu Lurah untuk diijinkan tinggal di rumahnya
selama dua hari menjelang pernikahan. Bu Lurah langsung
menyetujuinya, senyum seringai menghiasi bibirnya.
―Nduk, apa kamu mau mati konyol seperti Asih dan
mbakyumu Widuri?‖ tanya Mbok Kasmi yang sudah
kehilangan anak pertamanya juga karena Bu Lurah.
―Simbok dan bapak tenang saja. Sekarang waktunya
Bu Lurah memperoleh karma karena perbuatannya. Akan
kubalaskan sakit hati kakakku yang telah mereka ambil
nyawanya. Perbanyak doa untuk Astuti saja,‖ jawab putrinya.
142
Histoire D’amour
Berita pinangan Bu Lurah untuk Astuti santer
terdengar di desa Sumberejo. Sebagian tetangga
mengingatkan Mbok Kasmi dan suaminya, bahkan
mengingatkan Astuti sendiri. Namun Astuti tidak menggubris
sama sekali. Sebelum dipingit di rumah Bu Lurah, dia sudah
mengkontak Kyai Nawawi untuk meminta bantuan
menumpas kejahatan Bu Lurah yang sudah menumbalkan
banyak gadis untuk kepentingan pribadinya.
Hari ini, untuk pertama kalinya Astuti menginjakkan
kakinya di rumah Bu Lurah, hawa negative sudah dia rasakan
sejak memasuki gerbang rumahnya. Lagi-lagi Astuti hanya
tersenyum saat melihat dua penjaga berwujudraksasa yang
menjaga gerbang rumah megah itu. Penjaga itu bukan
manusia melainkan bangsa lelembut. Astuti mengucap salam
dan hal ini membuat kedua penjaga itu marah, sayang mereka
kalah oleh taburan garam doa dari Astuti.
Mereka kepanasan dan tidak berani mendekat ke
Astuti. Bu Lurah sendiri belum menyadari akan kemampuan
Astuti. Sesampainya di dalam beliau memerintahkan pada
Astuti untuk tetap di dalam kamar usai jam delapan malam
dan tidak boleh membantah. Astuti sendiri hanya bisa
mengiyakan. Pun saat Astuti diperkenalkan dengan Den Mas
Budi, dia langsung memegang tangan lelaki yang akan
menjadi suaminya itu seraya berbisik.
―Mas, tunggu aku membebaskanmu.‖
143
Histoire D’amour
Tatapan kosong Den Mas Budi membuat bahagia
ibunya, yang ternyata hanyalah seorang ibu tiri. Bu Lurah
segera menarik tangan Astuti dan membawanya masuk ke
kamar berukuran delapan kali empat meter yang sangat
mewah. Setelah itu Bu Lurah pergi dan menutup pintu kamar
Astuti. Baru saja hendak berganti baju, sepasang mata
mengintip dari luar dan Astuti tahu itu milik siapa.
―Masuk, Den Mas. Mari duduk bersamaku,‖ ucap
Astuti.
Seketika lelaki terbelakang mental itu masuk ke
kamar calon istrinya. Dia tersenyum manis sekali, segera
Astuti membaca doa untuk Den Mas Budi.
Allohumma ya munazzilu kitab, wa mujriyas sahib,
wa hazimal ahzab, ihzimhum wanshurna’alaihim.
Den Mas Budi menjerit sekuat tenaga dan membuat
Bu Lurah segera masuk ke kamar mereka. Plak! Sebuah
tamparan mendarat di pipi Astuti. Dia terkejut.
―Bocah tengik! Kau apakan putraku?‖ tanyanya sinis.
―Tenang saja, Bu. Den Mas tidak apa-apa,‖ jawab
Astuti singkat.
Mata Bu Lurah nyalang dan menyiratkan kebencian.
Dia segera menarik putranya keluar kamar dan memintanya
untuk tidak masuk lagi ke sana. Sejurus kemudian, Astuti
segera mengambil air wudlu. Dia ingin segera menuntaskan
segalanya. Dia menggelar sajadah panjangnya. Sementara
Kyai Nawawi dan seluruh santrinya telah siap dengan ritual
144
Histoire D’amour
doa, begitu juga dengan Mbok Kasmi dan suaminya. Mereka
bahkan meminta bantuan tetangga kanan kiri untuk ikut
membaca doa.
Malam itu, seluruh desa berdzikir dan melakukan
pagar desa. Rumah Bu Lurah terguncang hebat, jeritan
perempuan terdengar menyayat hati. Astuti yang masih
berada di dalam kamarnya sama sekali tidak tahu kalau
sekelilingnya sudah porak poranda. Rumah Bu Lurah hancur
dan sekarang Bu Lurah menerima karmanya. Dia menjadi
gila, sementara putranya, Den Mas Budi, tersadar dari
sakitnya dan kembali menjadi manusia normal. Karma
memang tak semanis kurma. Dari Den Mas Budi, seisi desa
tahu kalau Bu Lurah dulu mantan pacar Den Mas Budi yang
dia tinggalkan karena suka akan guna-guna.
Bionarasi Penulis
Fenti Karmalita, S.Pd. adalah seorang ibu rumah tangga
dengan dua putra yang berdomisili di Rorotan, Jakarta Utara.
Perempuan pecinta coklat ini mempunyai hobi membaca dan
olahraga. Baginya, menulis merupakan salah satu cara meluapkan
ide yang banyak bermunculan di kepala, dengan harapan tulisan-
tulisannya bisa dinikmati banyak orang dan membawa manfaat.
Motto hidupnya, “muda berkarya, tua jaya, wafat masuk surga.”
145
Histoire D’amour
Aku ingin pulang
Kurnia Septiani, S.Pd.
“P apa, kapan pulang?‖
Suara Amora yang selalu merindukan
kehadiranku di sisinya. Sudah dua tahun aku berpisah dengan
Karmila, istriku. Kesalahan dia cukup fatal, ini yang
membuat aku berpisah dengan putri kami satu-satunya. Usia
Amora yang masih lima tahun membuat hak asuhnya jatuh di
tangan Karmila, meski berbagai upaya telah kulakukan untuk
memperoleh hak asuh itu.
146
Histoire D’amour
Malam ini, seperti biasa aku harus lembur untuk
mengawasi pengiriman barang yang harus siap masuk ke
kapal besok pagi. Entah mengapa di sela-sela waktu istirahat
tiba-tiba ingatanku tertuju pada foto gadis kecil yang menjadi
wallpaper di ponselku. Dulu kami bahagia sampai akhirnya
aku menemukan Karmila memiliki cinta yang lain.
Marahkah aku kala itu? Tidak! Pantang bagiku untuk
mengemis cinta, saat itu Karmila lebih memilih lelaki itu dan
meninggalkan kami. Awalnya Amora ikut denganku, barulah
saat dia berusia lima tahun, namun saat Karmila menikah
dengan pujaan hatinya, dia menemui aku dan meminta
Amora untuk tinggal bersamanya.
Aku ingat betul saat itu dia melakukan berbagai cara
untuk memisahkan kami sampai akhirnya aku pun menyerah
dan harus berpisah dengan Amora. Sakit tapi tak berdarah,
itulah yang kurasakan saat itu. Amora menangis dan berteriak
ingin ikut aku tapi putusan pengadilan sudah menetapkan
dengan siapa dia harus tinggal.
Untungnya, komunikasiku dengan Amora lancer
sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjadi kaya agar
bisa mendapat hak asuh Amora. Kami berpisah benua,
mereka di Asia dan aku di Eropa. Eindhoven adalah kota
yang kupilih untuk mencari modal mengambil hak asuh
Amora. Dua tahun sudah aku bekerja di sini. Jangan ditanya
soal kerinduanku pada buah hatiku.
147
Histoire D’amour
Terakhir kami menelepon sudah semiggu yang lalu
sebelum memasuki musim semi. Keceriaan Amora menjadi
pengobat rasa lelahku. Tadi pagi, Karmila memberitahu kalau
Amora sudah dua hari demam. Sorenya kembali Karmila
menelepon kalau kondisi Amora drop. Ingin rasanya
menangis dan berteriak kencang mendengar kondisi buah
hatiku, lagi-lagi aku malu karena aku seorang lelaki. Besok
pagi aku akan mengajukan cuti ke perusahaan untuk pulang
ke Indonesia.
―Waan, wat en je aan het doen? Maak je werk snel
af!‖ teriak Mr. Park.
―Ja meneer,‖ jawabku kaget.
Sejenak aku tersadar dari lamunan dengan perintah
Mr. Park yang memintaku segera menyelesaikan pekerjaan.
Sekelebat, aku melihat bayangan Amora sedang berdiri di
bawah pohon Ek di samping gudang. Aku segera berlari ke
arahnya, sayang Amora langsung hilang. Serindu itukah aku
pada putri kecilku?
―Tunggu papa pulang, Nak,‖ gumamku.
Usai bekerja, aku langsung pulang tanpa mampir ke
rumah Marry seperti biasa. Yang ada di pikiranku hanyalah
Amora, putriku. Aku segera menghubungi ponsel Karmila
tapi tidak ada jawaban. Setengah putus asa, aku tertidur.
Dalam tidur kulihat Amora begitu cantik menghampiri dan
mengajak aku pulang.
148
Histoire D’amour
―Papa, Amora mau pulang bareng sama papa. Ayo,
Pa,‖ ucapnya.
Belum sempat aku mengiyakan ajakannya, tiba-tiba
terdengar suara monitor rekam jantung di sampingku. Mataku
terbuka, di sampingku sudah berdiri Marry dan Harry,
suaminya. Mereka tampak bahagia melihatku membuka
mata. Menurut penuturan mereka, aku sudah koma lima hari.
Bagaimana bisa? Tak berapa lama sheriff masuk dan
menanyakan padaku asal muasal kecelakaan yang
menimpaku. Dari sheriff pula aku tahu kalau Amora
meninggal dalam kecelakaan itu bersama Karmila.
Kepalaku sakit, gagal mengingat semuanya. Atas
inisiatif sheriff aku ditempatkan di ruangan khusus. Bahkan
kamarku berlabel merah, di mana kamar itu khusus untuk
pembunuh kelas satu. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Aku ingin pulang! Aku ingin berjumpa dengan Amora dan
Karmila.
Setelah seminggu, aku baru tahu dari Harry kalau aku
yang menyebabkan Karmila dan Amora mati. Bahkan sheriff
mengajakku mengunjungi makan mereka. Sialnya, saat aku
berusaha untuk mengingat semuanya, yang ada hanya kelabu
dan tanpa jawaban. Bahkan oleh rumah sakit, aku dinyatakan
menderita depresi karena telah membunuh anak dan istriku.
Di saat aku masih bingung, lagi-lagi aku melihat Amora
melambai ke arahku seolah menjemputku untuk
meninggalkan tempat itu. Ya, aku ingin pulang!
149
Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Kurnia Septiani, S.Pd. adalah seorang ibu dengan dua
putra yang berdomisili di Jambi. Seorang perempuan aktif dan
energik yang mempunyai hobi travelling. Baginya travelling adalah
kegiatan yang dapat menambah kecintaannya terhadap budaya
yang ada di Indonesia. Dengan travelling, ia bisa menghilangkan
kejenuhan dalam aktifitas bekerja. Motto hidupnya, “di setiap
kesulitan pasti ada kemudahan.”
150