Histoire D’amour
Gita Cinta Masa SMA
Dahlia, S.Pd.
“L i, mama malam ini tidak pulang. Baik-baik
di rumah, ya. Jangan macam-macam!‖
pesan mamanya.
―Iya, Ma. Tenang saja, Lia ndak bakal aneh-aneh
kok,‖ jawab Dahlia.
Dahlia, putri seorang konglomerat yang hartanya
tidak akan habis tujuh turunan. Dia sudah terbiasa ditinggal
oleh kedua orangtuanya, entah sekedar meeting ataupun
151
Histoire D’amour
perjalanan dinas. Setengah berlari, Dahlia segera mengambil
tasnya dan kunci mobil. Tak lupa, dia juga meneriaki Bik
Sumi dan Pak Maman, pembantu setianya.
―Bik! Pak! Sini dulu, deh!‘ perintahnya.
―Iya, Non,‖ jawab mereka bebarengan.
―Liam au menginap di rumah Unik. Nanti kalau papa
pulang, bilangin ya, Lia pergi ke Bandung,‖ ucapnya.
―Tapi, Non. Nanti kalau papa marah, gimana? Bibi
kan takut,‖ ucap Bik Sumi.
―Halah tenang saja, cukup suruh papa nginap di
rumah tante Susi, simpanannya. Bilangin juga ndak usah
macem-macem sama Lia atau Lia bongkar semuanya ke
mama,‖ pesannya.
Tanpa menunggu jawaban kedua abdinya, dia segera
melangkah meninggalkan rumah mewahnya, sedangkan deru
knalpot mobilnya memecah kesunyian jalanan kota. Dahlia
sudah bosan ketemu papanya, semenjak dia mendapati
papanya keluar hotel bersama sekretarisnya. Ya, papanya
telah mengkhianati mamanya. Sementara dibalik itu, Dahlia
tidak pernah tahu kalau mamanya juga melakukan hal yang
sama dengan papanya. Bersenang-senang dengan berondong
di luar rumah.
Mobil pun berhenti di rumah sahabatnya, Unik.
Terlihat Unik sudah siap menunggu di teras bersama ibunya.
Dahlia sudah berjanji akan mengantar Unik dan ibunya
pulang ke Bandung di liburan sekolah kali ini. Senyum
152
Histoire D’amour
mengembang di bibir Unik saat melihat Dahlia turun dari
mobilnya.
―Lia, maaf ya, kalau tante repotin kamu,‖ ucap ibunya
Unik.
―Nggak apa-apa tante, santai saja, kita kan libur,‖
jawab Lia sekenanya.
Dahlia sangat iri dengan kehidupan Unik yang selalu
memperoleh perhatian dari ibunya, hal ini bertolak belakang
dengan dirinya. Dua jam perjalanan mereka sampai juga di
Bandung. Lia merasakan kebahagiaan yang luar biasa sampai
akhirmya ada telepon dari papanya yang memintanya pulang
karena dia akan pergi mengurus proyek yang di Bandung.
Serta merta dia menolak perintah papanya.
Saat dia masuk ke rumah kakek Unik, matanya tertuju
di foto yang ada di meja. Ada foto papanya dan ibunya Unik
di sana. Betapa terkejutnya Dahlia melihat foto itu. Diam-
diam dia memfoto dan mengirimkannya pada papanya.
Papanya tak kalah terkejut, ingatannya kembali ke masa
SMA-nya, di mana untuk pertama kalinya dia mengenal
cinta. Sayangnya, masa muda yang seharusnya indah harus
ternoda dengan nafsu liarnya. Tanpa sengaja dia menghamili
teman SMA-nya yang bernama Sulastri.
Orang tua papanya melarang putra mereka menkahi
gadis malang itu dan malah menikahkan Suryo, papanya
Dahlia, dengan Siska. Tidak hanya sampai di situ, keluarga
153
Histoire D’amour
papanya juga meminta Sulastri menggugurkan bayi yang ada
dikandungannya.
―Pa, apa papa kenal dengan ibunya Unik? Dia teman
papa?‖ tanya Dahlia menyelidik.
―Sudah jangan dibahas lagi, Sulastri itu hanyalah
masa lalu papa yang tidak pntas diingat. Sekarang sudah ada
mamamu dan kamu, milik papa,‖ jawab papanya.
Bukan Dahlia namanya kalau tidak ingin tahu, ketika
tidak mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan, dia
beralih bertanya kepada mamanya. Sayangnya, mamanya
sama sekali tidak mengenal Sulastri. Namun, hal ini tidak
menjadikannya patah arang. Dia juga bertanya kepada ibunya
Unik. Dari sanalah Dahlia tahu kalau orang yang di foto
kemarin adalah kekasih masa SMA-nya. Saat Dahlia bertanya
tentang perasaan ibunya Unik, beliau hanya menjawab ingin
sekali bertemu dengan kekasihnya itu walau sekejap.
Pertemuan segera disusun oleh Dahlia dengan
harapan, dia ingin segera memperoleh jawaban atas ragunya
selama ini, selama ini dia berpikir kalau Unik itu kakak satu
ayah dengannya. Kalau memang demikian adanya, alangkah
bahagianya. Tinggal bagaimana nanti dia akan membujuk
mamanya untuk bisa menerima Unik dan ibunya masuk ke
keluarga mereka.
―Ma, sibuk nggak?‖ tanyanya.
―Ada apa nih? Tumben nanya kesibukan mama. Ada
apa sayang?‖ tanya mamanya,
154
Histoire D’amour
―Kalau mama ndak sibuk, nanti sore kita akan
kedatangan tamu penting,‖ jawabnya.
Mamanya spontan menggeleng, dia penasaran,
siapakah tamu itu. Namun, putrinya masih menyimpan teka-
teki tentang itu. Baru sore harinya, semua terjawab. Dahlia
membawa Sulastri untuk bertemu dengan papanya. Hal ini
menjadikan mamanya histeris karena perempuan itulah yang
menjadi sumber kehancuran keharmonisan keluarga mereka.
Sementara papanya segera memeluk Sulastri, perempuan
yang sudah sekian puluh tahun dirindukannya. Sebenarnya
ada apakah antara keduanya? Benarkah Unik itu saudara
kandung Dahlia?
Bionarasi Penulis
Dahlia, S.Pd. lahir di Labuan Bajo, NTT, 3 Juni 1989.
Alumni S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Negeri
Alauddin, Makassar. Sekarang bekerja sebagai seorang PNS sesuai
cita-cita masa kecilnya. Meskipun menjadi seorang pendidik di
SMPN 4 Sano Nggoang dan ibu dari empat orang anak, ia tetap
menyempatkan diri untuk membaca novel dan komik di sela-sela
waktu luangnya. Motto hidupnya, “jangan menyerah sesulit
apapun keadaannya, jalani dan nikmati setiap prosesnya. Semua
akan indah pada waktunya.”
155
Histoire D’amour
Kebahagiaan yang Tertunda
Sisca Marlina Elisabeth, S.Pd.
H ari, baru saja berganti. Udara di pagi hari
yang masih sejuk, ditambah dinginnya
kamar karena mesin pendingin ruangan tak mampu
membangunkan Caitlyn dari tidurnya. Caitlyn memang
sengaja tidak mau bangun pagi karena hari itu adalah hari
liburnya. Ia sangat menikmati hari-hari libur pada hari raya
Idul Fitri ini.
―Caitlyn … bangun!‖ teriak Bu Ami dari
depan pintu kamar Caitlyn.
156
Histoire D’amour
Setelah beberapa kali seruan, Cailtyn pun bangun
seraya menggerutu.―Ada apa, sih, Bu Ami? Aku masih
ngantuk,‖ serunya dari dalam selimut.
―I-itu, kenapa pagar terbuka dan motor pinkmu sudah
tidak ada di halaman?‖tanya Bu Ami dengan terbata-bata.
Seperti ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Caitlyn
dengan cepat melihat ke sebelahnya. Suaminya masih tidur
dengan lelap karena seperti biasanya Nicky pulang larut
malam. Motor yang baru saja dibeli, tidak mungkin dipakai
orang lain selain dirinya dan suaminya karena mereka hanya
tinggal berlima, dua diantaranya anak-anak.
Caitlyn dengan sigap bangun dari tempat tidurdan
memastikan keterangan Bu Ami. Ia keluar dari kamar menuju
halaman rumah, dimana ia biasa memarkirkan motornya
disana. Melihat kondisi pagar yang setengah terbuka dan
hanya ada motor Nicky disana, Caitlyn berlari menuju pagar
sembari melihat sekelilingnya. Seketika itu ia tersungkur dan
raut wajahnya memperlihatkan kesedihan.
―Motorku hilang.‖ Caitlyn menangis sambil menutup
matanya.
Motor yang baru tiga bulan ia beli, hilang dicuri.
Daerah tempatnya tinggal memang terkenal dengan aksi
curanmor.
―Saya pikir kamu pergi menggunakan motor itu, tapi
setelah saya lihat sendalmu dan sendal Nicky masih ada, saya
jadi bertanya-tanya,‖ terang Bu Ami.
157
Histoire D’amour
Bu Ami adalah tante Caitlyn yang membantu Caitlyn
sehari-hari. Ia selalu bangun lebih pagi untuk memasak dan
membersihkan rumah.
Caitlyn bergegas masuk ke dalam rumah dan
membangunkan suaminya yang sedang tidur pulas di
kamarnya.
―Sayang, bangun! Motorku hilang,‖ kata Caitlyn
sambil tersedu.
Beberapa detik kemudian nicky membuka matanya.
―Ada apa, Sayang?‖ tanya nicky dengan suara parau
―Motorku ga ada di parkiran, motorku hilang,‖ jawab
Caitlyn dengan nada keras, berharap Nicky cepat sadar dan
menangkap maksudnya.
―Hah? Motormu hilang?‖
―Tadi pagi aku pulang kantor motormu masih ada.
Masa hilang?‖
―Jam berapa kamu pulang?‖ Caitlyn memotong
ucapan Nicky dengan cepat
―Jam dua Subuh,‖Jawab Nicky.
―Kan, aku sudah bilang, tolong masukin motornya ke
dalam rumah,‖ tangis Caitlyn.
Nicky hanya bisa diam. Ia tidak bisa berkata-kata
melihat istrinya shock sembari mencerna apa yang sedang
terjadi. Caitlyn memang memberikan tugas padanya untuk
memasukkan motor ke dalam rumah setiap hari, tetapi karena
ia suka pulang larut malam, bahkan Subuh dan sudah terlalu
158
Histoire D’amour
lelah bekerja seharian, maka Ia tidak bisa melakukannya.
Nicky menjadi merasa bersalah.
―Kamu kunci pagarnya, ga, sih, waktu kamu pulang?‖
tanya Caitlyn lagi dengan nada keras.
―Hmm… sepertinya aku lupa kunci pagarnya,‖ jawab
nicky dengan ragu-ragu.
Nicky makin merasa bersalah. Lalu, ia memeluk
istrinya itu berharap kondisinya semakin tenang.
―Maafin aku, Sayang. Ini kesalahanku. Kita lapor
polisi, ya, abis ini. Kamu tenang, ya.‖
―Kita relakan motor itu, mungkin yang mengambilnya
lebih membutuhkannya dan semoga malingnya cepat
tobat!‖ucap Nicky dengan nada kesal sambil membelai
rambut Caitlyn.
***
Dua, tiga bulan berlalu semenjak kejadian motor
hilang, banyak yang terjadi pada keluarga kecil Nicky dan
Caitlyn. Setelah mereka berbahagia merayakan pernikahan
adik Caitlyn, beberapa kejadian tidak mengenakan menerpa
Caitlyn. Anjing peliharaan kesayangan Nicky mati setelah
ditinggal seharian di rumah. Nicky memang sayang sekali
dengan Aulus. Setiap pagi sebelum berangkat kerja atau
setiap weekend, Nicky selalu mengajak main dan merawat
Aulus dengan baik. Bahkan, makanan Aulus dibeli dengan
sangat mahal karena untuk memelihara anjing jenis syberian
159
Histoire D’amour
husky memang perlu perawatan ekstra. Perlu seminggu untuk
Nicky berduka kehilangan Aulus.
―Sudahlah, Sayang, jangan bersedih lama-lama.‖
―Kamu sudah berikan yang terbaik untuk Aulus,
bahkan kamu sudah mengantarkannya ke dokter
hewan, mendapatkan infusan dan dikubur dengan layak.‖
“You’ve done great, I’m proud of you!”hibur Caitlyn
Ia sangat mengetahui kesedihan yang dialami
suaminya itu. Aulus adalah pelepas beban Nicky setelah
seharian bekerja di kantor. Ia bisa menghabiskan waktu
berjam-jam bermain, memberi makan, dan memandikan
Aulus.
Nicky, Caitlyn, dan anaknya berusaha menjalani hari-
hari seperti biasa lagi, mencoba menata hati dan melupakan
apa yang sudah terjadi. Walaupun mereka mengalami
kerugian materi, tetapi mereka sadar bahwa uang bisa dicari,
keselamatan diri itu yang lebih utama. Mereka bersyukur
masih diberikan kesehatan dan napas kehidupan dari Yang
Maha Kuasa.
Suatu ketika, Nicky dan Caitlyn sedang mengobrol di
ruang tamu sambil menonton TV, membicarakan kehilangan
motor dan anjing kesayangan Nicky. Dua hal tersebut
seringkali masih menjadi topik hangat ketika mereka
bersantai.
―Untung ketika maling itu datang, kita semua tidak
ada yang bangun.‖
160
Histoire D’amour
―Aku ga bisa bayangin kalo maling itu membawa
senjata tajam dan melukai satu diantara kita,‖ ucap
Caitlyn dengan raut muka penuh syukur.
***
Sebulan kemudian, kehidupan keluarga kecil Nicky
dan Caitlyn diberikan sebuah kabar bahagia. Hidup memang
selalu membawa warna yang berbeda. Tidak selalu suka,
tetapi juga tidak selamanya duka. Caitlyn dinyatakan hamil
lima minggu oleh dokter obgyn setelah sebelumnya mencoba
test-pack beberapa kali dan hasilnya samar-samar. Hal ini
juga didukung dengan haid yang tak kunjung datang pada
bulan itu. Mereka sangat senang dengan kehadiran calon adik
Gerald. Tiga tahun jarak antara Gerald dan adiknya bila lahir
nanti. Mereka memang tidak merencakan kehamilan
secepatnya karena Caitlyn tidak menggunakan alat
kontrasepsi apapun. Namun, Nicky dan Caitlyn pun sudah
siap bila mereka akan memiliki anak lagi.
***
Tidak terasa delapan bulan sudah usia kehamilan
Caitlyn. Sebulan lagi keluarga kecil mereka akan diramaikan
dengan tangisan seorang bayi perempuan. Nicky dan Caitlyn
sudah tidak sabar menunggu kehadiran anak kedua mereka.
Begitupun dengan Gerald, Ia selalu menanyakan kapan
adiknya itu akan lahir.
161
Histoire D’amour
Di tengah-tengah kebahagiaan mereka, Caitlyn
kehilangan handphone-nya ketika menuju rumah orang
tuanya, menggunakan Transjakarta. Ia tidak sadar selalu
memegang dan melihat ke arah handphone-nya selama dalam
perjalanan. Hal itu mengundang kejahatan. Ketika Nicky,
Caitlyn, dan Gerald sudah sampai di koridor yang dituju dan
bergegas keluar pintu bus Transjakarta, handphone Caitlyn
diambil pencopet. Memang kondisinya saat itu banyak orang
juga yang ingin keluar pada koridor itu. Caitlyn baru sadar
setelah transjakarta yang ditumpanginya pergi dan Ia hendak
mengambil handphone-nya yang ditaruh di kantong
sweaternya, tetapi tidak ada. Diceknya berulang kali di
kantong dan di dalam tasnya.Tetap tidak ada. Hal ini menjadi
pengalaman yang sangat berharga, bukan hanya untuk
Caitlyn dan keluarga kecilnya untuk selalu berhati-hati.
Sampailah Caitlyn di usia kehamilan yang ke-38
minggu. Ia memutuskan untuk memakai cara operasi caesar
untuk melahirkan anak keduanya. Ini adalah operasi caesar
kedua bagi Caitlyn karena Gerald dilahirkan juga dengan cara
yang sama. Mereka sangat berbahagia dengan kelahiran
Gianina. Gianina lahir dengan sehat dan sempurna. Kulitnya
hitam manis seperti Nicky dan matanya bulat seperti Caitlyn.
Ini adalah akhir yang sangat membahagiakan untuk keluarga
kecil mereka. Tidak sebanding dengan kehilangan yang
sebelumnya mereka derita.
Jakarta, 9 Juli 2022
162
Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Sisca Marlina Elisabeth, S. Pd. Lahir di Jakarta berhasil
menyelesaikan dan memenuhi syarat Pendidikan jenjang S1
Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Katolik
Atma Jaya Jakarta. Pengajar di SMP Negeri 277, Jakarta.
163
Histoire D’amour
Indah pada Waktunya
Ramayulis Rahman, S.Pd.
A lhamdulillah, terima kasih ya Allah, telah
Engkau ijabah doa-doa hamba. Dengan
penuh rasa tak percaya dan berulang kali, Mayra menatap
layar ponselnya. Dia baca berulang-ulang kalimat tersebut
‗Selamat Anda Lolos Seleksi dan menempati Formasi‘.
Bergegas Mayra menelepon suaminya yang sedang bekerja
sebagai buruh di sebuah pabrik NataDeCoco di kota tempat
tinggalnya.
―Assalammu‘alaikum.‖ Terdengar suara suaminya.
164
Histoire D’amour
―Wa‘alaikummussalam, Uda!‖Setengah berteriak
Mayra memanggil suaminya.―Alhamdulillah aku lulus tes
P3K. Aku menempati formasi.‖
―MasyaAllah, Tabarakalla, Alhamdulillah, ya Allah.‖
Suaminya begitu senang mendengar khabar baik tersebut.
―Selamat, Dek, akhirnya kamu lolos juga dites yang
kedua ini. Uda ga sabaran pengen meluk dan gendong kamu,
Dek. Peluk cium dari jauh aja dulu, ya, Dek …muach!‖ ucap
Ardi dari jauh.
―Iya, Uda, makasih Uda. Semua ini tak lepas dari doa,
dukungan, dan bimbingan dari Uda juga. Muach juga!‖ jawab
Mayra.
―Uda aku kerumah Ibu dulu, ya, Uda. Mau ngasih
kabar ke Ibu. Udah dulu, ya, Uda. Assalammualaikum.‖
―Ya udah, buruan kasih khabar ke Ibu.
Waalaikummussalam.‖
Setengah berlari Mayra menemui ibunya yang tinggal
tak jauh dari rumahnya. Mereka membangun rumah kecil di
samping rumah sang ibu. Pernikahannya dengan Uda Ardi
yang sudah berjalan lima tahun belum juga dikarunia
momongan. Allah belum memberi amanah kepada mereka
berdua.
Ibu Mayra tinggal bersama adik bungsunya yang
masih duduk di bangku SMP. Semenjak ayahnya meninggal,
ibunya sering sakit-sakitan. Makanya, Mayra tidak berani
meninggalkan ibunya. Uda Ardipun juga tak mau
165
Histoire D’amour
mengontrak jauh dari Ibu. Kalau mengontrak dekat dengan
kerjaan Uda Ardi, otomatis Mayra pindah mengajar.
Sedangkan dia sudah betah dan nyaman di sekolah yang
sekarang.
Sampai di depan rumah ibunya, Mayra langsung
menemui ibu yang tengah berbaring di kamar. Mayra
langsung memeluk ibunya sambil menangis dengan suara
bergetar dia berucap,―Assalamualaikum, Ibu. Aku lulus
seleksi P3K, Bu. Terima kasih Ibu atas semua doa Ibu selama
ini. TanpaIbu, aku tak akan seperti ini.‖
―Wa’alaikummussalam. Apa, Nak? Kamu lulus?‖ Ibu
menyakinkan kembali ucapan anak perempuannya dan
menatap mata anaknya.
―Iya, Bu. Aku lulus,‖jawab Mayra sambil tersenyum
dan bibirnya bergetar. Ibu kembali merangkul Mayra dan
merekapun berpelukan dalam rasa haru dan bahagia.
Hari sudah menunjukan pukul lima sore, Mayra
menanti kepulangan Uda Ardi dari kerjanya. Sambil duduk di
ruang tamu, Lamunan Mayra kembali ke 10 tahun yang
silam saat dia memutuskan untuk honor dan mengabdi di
sekolah dekat rumahnya. Sekolah tersebut kekurangan guru,
saat itu dia baru menamatkan SMA.Sekolah kekurangan
guru, maka kepala sekolah meminta Mayra untuk membantu
mengajar di sekolah tersebut. Namun, hanya sukarela dan
uang lelahnya diberikan sesuai dengan kemampuan anggaran
sekolah.
166
Histoire D’amour
Sebelumnya, Mayra sempat menolak karena dia ingin
mengikuti jejak sepupunya yang merantau dan bekerja di
kota metropolitan. Dia ingin sekali membahagiakan ibunya.
Ayahnya berpulang saat Mayra berusia 14 tahun dan adik
laki-lakinya Radit baru berusia empat tahun. Ayahnya
meninggal karena penyakit diabetes yang dideritanya. Sejak
itulah ibu menghidupi dia dan adiknya dari pensiunan sang
ayah. Walaupun tidak seberapa, tapiAlhamdulillah, sangat
cukup dan bisa menyekolahkan mereka berdua. Ibupun
memutuskan tidak mau menikah lagi, ibu hanya fokus ingin
membesarkan anaknya.
Karena sang ibu tidak menginginkan anaknya jauh-
jauh darinya, ibu Mayra sedikit memaksa Mayra untuk honor
di sekolah tersebut. Ibunya pun menganjurkan Mayra untuk
kuliah ambil jurusan Pendidikan Sekolah Dasar. Akhirnya,
Mayra pun menerima saran sang ibu dan tawaran kepala
sekolah tersebut. Mayra sangat berharap, bisa mengajar
sambil kuliah. Untunglah ada Universitas Terbuka yang
jadwal perkuliahannya dua kali seminggu, yaitu; Sabtu dan
Minggu. Mayra memutuskan kuliah di Universitas Terbuka
karena tidak menganggu jam sekolahnya.
Hari Sabtu Mayra menjadwalkan anak didiknya
belajar Penjaskes dan PAI, jadi anak didiknya tidak tertinggal
jam pelajaran bersamanya. Lima tahun kuliah di Universitas
Terbuka dilalui Mayra dengan penuh perjuangan. Mayra
berusaha untuk mendapatkan nilai A pada setiap mata
167
Histoire D’amour
kuliah. Setiap hari pulang sekolah Mayra rajin sekali belajar
dan banyak membaca modul-modul yang di berikan. Hari-
harinya hanya sibuk mengajar dan belajar. Pagi mengajar di
sekolah sorenya mengajar mengaji di surau, malamnya
belajar membaca dan memahami setiap modul. Jarang sekali
Mayra bisa ikut kumpul-kumpul dengan temannya. Yang ada
dalam pikirannya hanya ingin cepat-cepat menamatkan
kuliahnya. Alhamdulillah, pengorbanannya tidak sia-
sia.Empat tahun dia bisa menamatkan kuliahnya dengan nilai
yang sangat memuaskan. IP-nya tertinggi diantara teman-
temannya.
Setelah tamat kuliah, ibunya pun menganjurkan
Mayra untuk menikah. Ibu menjodohkan Mayra dengan anak
teman almarhum ayahnya, yaitu Uda Ardi. Ibu sudah lama
mengenal Uda Ardi karena waktu kecil Uda Ardi sering
dibawa ayahnya main kerumah. Uda Ardi anaknya pendiam,
rajin beribadah, bertanggung jawab dan juga gagah. Ibunya
sudah lama mengidamkan Uda Ardi jadi menantu. Mayra
sendiri juga sudah kenal dengan Uda Ardi, tapi tidak begitu
dekat. Sebenarnya diam-diam Mayra juga menaruh hati pada
Uda Ardi, tapi dia selalu bisa menjaga hati dan perasaannya.
‖Ara, sini, Nak. Ibu mau bicara sebentar,‖panggil
ibunya siang itu saat Ara pulang dari sekolah.
―Iya, Bu,‖ jawab Ara sambil duduk disamping ibunya.
168
Histoire D’amour
―Ara kamu sudah selesai kuliah dan usiamu pun kini
sudah dewasa. Menurut Ibu, kamu sudah pantas untuk
berumah tangga, Nak.‖
Mayra hanya menunduk diam, mendengarkan ucapan
ibunya.
―Sekarang Ibu tanya, apakah Ara punya teman pria
spesial? Kalau ada, silakan kenalkan ke Ibu, suruh dia
silaturahmi ke sini.‖
Dengan lirih dan setengah berbisik Ara menjawab,
―Nggak, Bu. Ara enggak punya teman pria spesial, karena
Ara takut dosa, Bu. Ara nggak mau Ayah di sana
menanggung dosa-dosa Ara. Ara ingin kita semua bahagia
dan bisa berkumpul di surganya Allah, Bu.‖
―MasyaAlla. Tabarakallahu. Alhamdulillah, ya Allah.
Kau anugrahkan hamba anak-anak yang soleh dan soleha.
Terima kasih Ara, kamu bisa menjaga hati dan perasaan
kamu. Ibu sangat bersyukur memiliki kamu, Nak. Berarti
kamu bersedia, kan, kalau Ibu jodohkan dengan Ardi,
anaknya Pak Sulaiman. Temannya alamrhum Ayah.‖
Mayra menunduk malu dan tidak berani menjawab.
Akhirnya ibunya berkata, ―Kalau diam, artinya ‗iya‘,‖kata
ibunya, sambil tersenyum dan mencubit pipi anak gadisnya.
―Aduh Ibu. Sakit, Bu,‖jawab Ara sambil tersenyum
malu.
―Assalammualaikum.‖ Lamunan Mayra tersentak saat
mendengar suara yang selalu dirindukannya. Mayra langsung
169
Histoire D’amour
berlari membukakan pintu. Saat melihat pasangan halalnya,
dia langsung memeluk dan menciuminya sambil lompat-
lompat seperti anak kecil. Dia berkata,
―Wa’alaikummussalam. Aku lulus, Uda. Aku lulus, Uda!‖
―Alhamdulillah, Sayang. Perjuanganmu nggak sia-sia
untuk meraih asa yang sudah kau ukir. Jangan lupa selalu
bersyukur pada Allah. Semua akan indah pada waktunya.‖
Padang Pariaman, 13 Juli 2022
Bionarasi Penulis
Ramayulis Rahman, S.Pd. Lahir di Pariaman Sumatera
Barat pada tanggal 12 Mei 1977 menyelesaikan studi S1 Bahasa
Inggris di STKIP YDB Lubuk Alung dan S1 PGSD di Universitas
Terbuka Pengajar di SDN 22 VII Koto Sungai Sarik, Kabupaten
Padang Pariaman. Ibu ini sangat supel, periang, dan murah
senyum .Motto hidup “Jangan Pernah Menyerah. Selalu berusaha
dan berdoa agar tercapai segala asa.”
170
Histoire D’amour
Pedagang Cilok Keliling
Menjadi Guru
Wiyanto, S.Pd.I, S.Pd.
D i suatu pagi yang cerah, diiringi suara kicauan
burung, tampak tiga orang laki-laki sedang
menyiapkan dagangan. Mereka sedang membersihkan
gerobak, menyiapkan kompor, dan merapikan cilok. Mereka
adalah Rino, Dodo, dan Anto. Dodo dan Anto merupakan
anak kembar. Mereka beserta orang orang tua mereka
merupakan perantauan dari Purwokerto. Mereka sekeluarga
171
Histoire D’amour
sudah hampir lima tahun merantau di Bogor untuk mencoba
mengubah nasib.
―Alhamdulillah, selesai juga nih,‖ kata Anto.
―Alhamdulillah, kalau begitu tinggal salat duha,‖
balas ibu Anto yang sejak tadi juga ikut membantu
menyiapkan perlengkapan dagangan anak-anaknya.
―Baik, Bu,‖ jawab Anto.
―Bu, Anto berangkat dulu ya,‖ pamit Anto sambil
mencium tangan ibunya.
―Iya, To. Semoga dagangan hari ini laris ya,‖ jawab
ibunya.
―Aamiin,‖ jawab Anto sambil berangkat memikul
gerobak cilok. Tak lama setelah Anto berangkat, kedua
kakaknya yaitu Rino dan Dodo pun berangkat berdagang.
Anto pun menyusuri gang demi gang sambil memikul
gerobak. Tidak lupa sambil membunyikan kayu kecil yang
dibawanya. Sesekali beberapa orang datang membelinya.
Salah satu pembeli berkata, ―Mas, ini ciloknya enak sekali,
sama seperti baso.‖
―Alhamdulillah. Ini saya bikin dari daging sapi
dicampur daging ayam, Bu.‖ Anto menimpali.
Anto kembali berjalan menuju sebuah sekolah. Di
sana adalah tempat yang biasa ia jadikan pangkalan jualan.
Di mana anak-anak akan banyak yang membeli ketika jam
istirahat. Setelah sampai di sekolah, terlihat beberapa
pedagang sudah siap dengan dagangan.
172
Histoire D’amour
Ada pedagang cimol, batagor, siomay, dan minuman.
Anto melihat sekeliling untuk mencari tempat menaruh
gerobak cilok. Pandangan Anto terhenti saat ada pedagang
baru, yaitu pedagang cireng yang mempunyai berbagai varian
rasa seperti ayam, ayam pedas, dan sosis. Anto segera
mengambil tempat di depan gerbang sekolah, di bawah pohon
yang rindang.
Bel tanda jam istirahat berbunyi. Anak-anak sekolah
berhamburan untuk membeli jajan. Ternyata anak-anak
sekolah banyak sekali yang ingin membeli cireng. Hanya
beberapa saja yang membeli cilok Anto. Tak terasa waktu
istirahat anak-anak sudah hampir habis, Anto melihat jam
tangannya menunjukkan pukul 09.25 WIB. Sementara ia
melihat ciloknya masih cukup banyak.
Ia bergegas berkeliling kembali dan berharap ciloknya
akan segera habis. Mengingat jam sebelas, ia harus segera
pulang. Bersiap berangkat kuliah.
Di samping berjualan cilok, Anto dan Dodo juga
masih melanjutkan pendidikan untuk meraih cita-cita yaitu
menjadi guru. Mereka kuliah di STAI Laa Roiba program
studi Pendidikan Agama Islam.
Alasan Anto ingin menjadi guru adalah agar kelak
bisa menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Kebutuhan
dunia bisa ia dapatkan tatkala mendapat gaji. Pahala akhirat
bisa ia dapatkan tatkala ia mendidik anak-anak menjadi anak
yang cerdas dan bertakwa pada Allah SWT.
173
Histoire D’amour
Anto terus berkeliling untuk menjajakan cilok, tetapi
hari ini ternyata sangat sepi sehingga ciloknya masih banyak.
Ia pun duduk istirahat sambil mengingat awal perjuangan
untuk kuliah. Saat itu ia mengungkapkan kepada orang
tuanya bahwa ia ingin melanjutkan pendidikan.
Alhamdulillah kedua orang tuanya menyetujui, kemudian
ayahnya mengantarkan ia ke tetangga yang kebetulan
menjadi dosen. Bernama Pak Waki. Saat bertemu Pak Waki,
Anto mengungkapkan kegelisahannya pada Pak Waki.
―Pak, saya masih khawatir. Nanti ketika kuliah tidak
bisa mengikuti dengan baik. Karena saya masih kurang
paham dengan teknologi. Saya tidak bisa menggunakan
komputer.‖
Pak Waki pun memberikan motivasi, ―Insyaallah,
nanti akan bisa. Yang penting kamu terus berusaha untuk
belajar.‖
Pernah suatu ketika ada tugas untuk membuat
makalah, Anto dan Dodo pun pergi ke warnet. Di sana
mereka kebingungan cara untuk salin tempel sebuah artikel
atau sekadar mengembalikan halaman situs yang baru dibuka.
Akhirnya mereka pun minta tolong ke penjaga warnet.
Namun bukannya ditolong malah ditegur penjaga
warnet, ―Lain kali kalau ke warnet, bawa teman yang sudah
bisa.‖
Semenjak itu Anto dan Dodo bertekad untuk membeli
komputer. Belajar mengoperasikan komputer dan cara
174
Histoire D’amour
mencari informasi di internet. Orang tuanya segera
membelikan komputer.
Anto dan Dodo membeli buku tentang komputer dan
internet. Mereka mempelajari dengan sungguh-sungguh,
kemudian mereka mempraktikkan langsung. Berkat
kegigihannya, mereka berhasil mengoperasikan komputer
dan mencari beberapa artikel untuk memenuhi tugas
makalah.
―Mas, beli ciloknya dong,‖ seru seorang pembeli yang
membuat Anto tersadar dari lamunan.
―Oh iya. Berapa, Mba?‖ Anto segera melayani
pembeli itu.
―Saya mau borong semua. Soalnya pas saya bawa
cilok ini ke kantor dan teman-teman mencicipi, ternyata
mereka suka. Mereka pesan untuk bawa lagi ke kantor,‖
jawab pembeli itu.
―Alhamdulillah.‖ Mata Anto berbinar-binar
menandakan ia sangat senang sekali. Karena dagangannya
akan segera habis dan bisa segera berangkat kuliah.
Pukul 11.00 WIB, Anto sudah sampai rumah lalu
mandi. Bersiap-siap berangkat kuliah. Tak lama, saudara
kembarnya pulang. Mereka berboncengan naik motor
berangkat ke kampus. Jarak rumah mereka ke kampus cukup
jauh. Kurang lebih dua jam perjalanan.
Mereka pulang kuliah sampai rumah sekitar pukul
19.00 WIB. Biasanya kalau ada tugas mereka akan
175
Histoire D’amour
mengerjakan sampai larut malam, kemudian bangun pukul
02.00 WIB untuk salat tahajud dan berbagi tugas. Anto yang
pergi ke pasar untuk belanja bahan-bahan pembuatan cilok,
Dodo yang menyiapkan air panas di rumah, Rino yang
membuat bumbu. Begitulah aktivitas Anto dan Dodo sehari-
hari. Sehingga saat kuliah, mereka sering tertidur di tengah-
tengah dosen sedang memberikan materi karena kelelahan.
Empat tahun berlalu, kini Anto dan Dodo sudah lulus
kuliah dan mengajar di SDIT Insantama, Bogor. Bahkan
mereka sempat diamanahi menjadi tim yang memvalidasi
media pembelajaran yang telah dibuat rekan-rekan guru.
Sebelumnya Anto dan Dodo sering diremehkan bahwa ia
tidak akan menjadi guru. Namun berkat kerja keras disertai
doa, cita-cita Anto dan Dodo untuk menjadi guru dapat
terwujud.
Bogor, 5 Juli 2022
Bionarasi Penulis
Wiyanto, S.Pd.I, S.Pd lahir di Banyumas, Jawa tengah.
Telah berhasil menyelesaikan dan memenuhi syarat Pendidikan
jenjang S1 Program Pendidikan Agama Islam di STAI Laa Roiba
(sekarang IAIN Laa Roiba) Bogor dan S1 Program Pendidikan guru
SD di Universitas Terbuka. Merupakan anak bungsu dari tiga
bersaudara dan mempunyai saudara kembar. Mengajar di MI Al
Ittihad pada tahun 2013 – 2015 kemudian mengajar di SDIT
Insantama Bogor pada tahun 2015 sampai sekarang. Menikah
176
Histoire D’amour
dengan Nevtika Herni dan dikaruniai seorang putra bernama Arfan
Hanif Fathul Islam Chaniago. Bagi yang ingin melihat media
pembelajaran yang telah saya buat, silakan klik Link bio:
https://linkfly.to/wiyantoabuhanif
177
Histoire D’amour
Bu Guru Nunik
Krispa Elan ParamuditaE., S.Pd.
A ku bukanlah sosok murid yang bisa dibilang
cemerlang. Aku tidak pernah menempati
peringkat sepuluh besar, apalagi tiga besar ketika berada di
SMA. Peringkat membanggakanku adalah di posisi lima
belas besar. Itu pun cuma dua kali.
Suatu hari, aku dipanggil ke depan kelas oleh guru
kimia karena nilaiku berada di urutan nomor dua dari
belakang. Alias terendah kedua. Otomatis, aku harus
178
Histoire D’amour
membuat perjanjian di hadapan teman-teman, bahwa aku
tidak akan melamun dan memperhatikan dengan penuh
khidmat saat guru sedang menerangkan pembelajaran di
depan kelas. Ini membuatku membenci pelajaran hitungan
dan segala sesuatu yang berkaitan dengan rumus.
Guru-guru IPA adalah yang paling kutakuti. Aku
tidak membenci mereka, namun setiap bertemu guru-guru,
pikiran bahwa mereka memandang remeh aku selalu terlintas.
Tentu saja, itu cuma perasaan. Kegagalan dan hukuman yang
selalu kuterima dari mereka, membuatku kecil hati. Setiap
ada pelajaran hitungan dan ada rumusnya, aku mendadak
mual.
Namun semuanya berubah, saat Bu Nunik mengajar
di kelasku. Saat itu aku duduk di kelas 3 SMA. Bu Nunik
adalah guru fisika yang terkenal tegas. Dari raut wajahnya,
beliau terkesan galak. Awalnya aku merasa tidak akan bisa
menyukai Bu Nunik, dan aku akan selalu mendapat omelan
darinya di setiap latihan atau ujian. Tapi, semua pandanganku
tentangnya berubah di hari pertama kami bertatap muka.
―Nah anak-anak. Hari ini Ibu mau menantang kalian
untuk mencari asal dari rumus fisika berikut.‖ Bu Nunik
menuliskan sebuah rumus fisika di papan tulis. Setelah
selesai, beliau lalu mengedarkan pandangan kepada seisi
kelas.
―Kalian sudah duduk di kelas 3, dan pasti kalian
sudah familiar dengan semua simbol dan rumus ini. Nah, hari
179
Histoire D’amour
ini Ibu ingin salah satu di antara kalian untuk maju ke depan
dan menjelaskan asal dari rumus ini. Siapa yang ingin
mencoba?‖ Beliau tersenyum pada kami semua dengan penuh
harap. Sesaat kami semua menyesalkan kenapa Daniel, si
jago fisika kelas kami, tak datang hari ini dan menyelamatkan
kami semua dari terkaman dan omelan Bu Nunik.
―Nggak ada yang bisa sama sekali?‖ tanyanya lagi.
Kami semua menunduk. Jantungku berdegup kencang
tak karuan. Ingin rasanya aku menghilang saja dari kelas.
―Baiklah. Kita mulai dari deretan paling depan. Yang
di ujung. Siapa namanya, Nak? Ayo maju.‖
―Arif, Bu.‖ Aku mendengar salah satu temanku
menjawab.
―Bukan kamu, Nak. Yang di ujung kiri,‖ kata Bu
Nunik dengan suara tegasnya yang khas.
Aku terkesiap. Yang dimaksud Bu Nunik pasti aku.
Aduh! Kenapa harus aku sih?
Aku mengangkat wajah. Bu Nunik memandangku
dengan wajah tersenyum.
―Krispa, Bu,‖ jawabku lirih.
―Ayo, Kris, maju. Jelaskan asal dari rumus di depan.
Kamu pasti bisa dong.‖ Bu Nunik menyodorkan spidol hitam
ke arahku. Aku menggigit bibir bawah, sembari melirik Asep,
teman satu meja denganku. Laki-laki tambun itu memberi
isyarat kepadaku untuk maju dengan gerak bibirnya. Aku
180
Histoire D’amour
menghela napas berat dan berdiri, sedikit ragu untuk maju ke
depan kelas.
Aku kini berdiri menghadap papan tulis. Sama sekali
tidak terlintas sedikit pun apa yang akan aku tuliskan. Ya
Tuhan, aku menyesal karena selama ini tidak belajar dengan
keras untuk menaklukkan pelajaran fisika ini. Aku mohon
ampun.
Setelah menuliskan lambang sama dengan di papan
tulis dan berpikir keras untuk mengingat salah satu rumus
Fisika yang pernah kupelajari, aku kembali menghadap Bu
Nunik dengan wajah memelas. Aku menggeleng tanda
menyerah.
Tidak seperti yang kuduga, Bu Nunik melempar
senyum padaku.
―Nggak apa-apa,‖ katanya. Dia lalu menyuruhku
kembali ke tempat duduk. Aku segera berjalan kembali ke
bangku. Aku sempat melirik ke teman sekelasku. Tatapan
mereka sama seperti biasanya, menganggapku tidak mampu.
―Ibu akan berikan kalian semua waktu empat hari
untuk belajar kembali tentang asal dan turunan rumus di
papan tulis. Minggu depan jika tidak ada yang bisa, kalian
semua akan ibu beri hukuman. Paham?‖
Kami serentak bersuara saat bel tanda istirahat
berbunyi, ―Paham, Bu.‖
Entah kenapa, setelah Bu Nunik memberikan kami
tantangan di pertemuan pertama, aku termotivasi untuk
181
Histoire D’amour
menaklukkan rumus fisika itu. Setiap malam aku selalu
mengulang-ulang menjelaskan asal rumus tersebut.
Berlembar-lembar kertas penuh coretan tanganku,
menuliskan penjabaran rumus dan tanpa henti mulutku
menjelaskan. Seolah-olah aku sedang berperan sebagai guru,
dengan murid-murid tak kasat mata di hadapanku.
Kurasa, sikap dan senyuman Bu Nunik yang tidak
memandang remeh aku saat aku gagal, menjadi motivasiku
kali ini. Semuanya terasa mudah bagiku, tidak seperti
biasanya.
Hari Rabu tiba. Aku bersemangat sekali hari ini. Aku
ingin pelajaran-pelajaran lainnya berakhir cepat dan segera
belajar dengan Bu Nunik di jam terakhir. Aku sudah tidak
sabar untuk maju ke depan kelas, menjabarkan pemahamanku
dari apa yang telah kupelajari. Aku ingin Bu Nunik
tersenyum lagi padaku.
―Baiklah anak-anak,‖ kata Bu Nunik membuka
pembelajaran kami hari itu. ―Sudah siap menjawab tantangan
Ibu minggu lalu?‖
―Siap, Bu,‖ jawab kami semua, terdengar kurang
antusias.
―Baik. Siapa yang ingin menjadi yang pertama?‖
tantang Bu Nunik.
Tanpa buang waktu, aku segera mengacungkan jari.
Senyum Bu Nunik merekah lagi. Beliau memberi isyarat
untuk maju ke depan. Beliau menyodorkan spidol. Dengan
182
Histoire D’amour
percaya diri aku maju dan mulai menuliskan rumus di papan
tulis.
Aku mulai menjelaskan turunan rumus dengan runut
dan lancar. Aku bisa merasakan semua mata memperhatikan
dengan seksama saat aku menjelaskan. Tak terkecuali Bu
Nunik. Tak ada suara kecuali suaraku yang menjelaskan dan
bunyi spidol yang bergesekan dengan papan tulis. Semuanya
terasa cepat dan tanpa hambatan, berbeda sekali dengan hari-
hari sebelumnya. Aku biasanya mati kutu jika diminta
menjelaskan rumus atau mengerjakan soal fisika di depan
kelas.
Aku membuat dua garis yang menandakan bahwa
penjelasanku telah selesai. Riuh tepuk tangan menggelegar di
dalam kelas. Saat aku melempar pandang pada Bu Nunik,
beliau tersenyum lebar padaku. Kudengar beliau berkata lirih,
seraya mengangkat kedua jempol padaku, ―Bagus sekali.‖
Aku tersenyum lebar. Berusaha tidak menangis di
hadapan beliau.
Aku berjalan kembali ke bangku, kulihat Asep juga
tersenyum bangga. Tentu saja, aku yang terkenal payah
dalam pelajaran fisika tiba-tiba bisa menjelaskan dengan
lancar, baru kali ini terjadi.
―Nah anak-anak. Apa yang bisa kalian pelajari hari
ini?‖ tanya Bu Nunik saat kami semua sudah kembali tenang.
―Ini semua bukan tentang seberapa cerdasnya kamu,
tapi seberapa gigihnya kalian mencoba dan mengejar apa
183
Histoire D’amour
yang kalian inginkan. Tidak ada anak bodoh, yang ada adalah
mereka yang tidak mau mencoba. Kalian lihat, temanmu
yang kemarin tidak bisa mengerjakan tantangan ini, pada hari
ini bisa menjelaskan dengan sangat jelas pada kita semua. Ibu
harap kalian tidak pernah berhenti berusaha hingga kalian
menaklukan setiap tantangan yang ditawarkan dunia,‖ jelas
Bu Nunik di akhir pembelajaran, seraya melempar senyum
padaku. Aku membalas senyumnya lagi.
Kata-kata beliau ini benar-benar mengubah hidupku
sejak saat itu. Aku yang terbiasa diremehkan dan
meremehkan diriku sendiri, mulai belajar untuk percaya
bahwa aku mampu melewati segala ujian yang diberikan
padaku. Saat aku merasa ingin menyerah dalam menggapai
impian, kuingat kata-kata Bu Nunik dan caranya tersenyum.
Ya, senyum Bu Nunik membuatku percaya diri lagi.
Kayu Aro, 5 Juli 2022
Untuk Bu Sustri Farida, Guru dan Motivatorku.
Bionarasi Penulis
Krispa Elan Paramudita. lahir di Sungai Penuh, pada
tanggal 22 Juli 1992. Ibu dari dua balita ini memiliki kegemaran
membaca dan menulis sejak SMP. Baginya, menulis adalah salah
satu bentuk healing terampuh. Wanita yang berkarir sebagai Guru
Bahasa Inggris di SMP Negeri 40 Satu Atap Kerinci dan ibu rumah
tangga ini selalu bermimpi untuk menerbitkan tulisan-tulisannya.
184
Histoire D’amour
Motonya adalah Man Jadda Wa Jadda. “Bu Guru Nunik” adalah
karya pertama yang diterbitkan dalam antologi cerpen bersama
guru-guru penulis dari berbagai daerah lainnya.
185
Histoire D’amour
Jalan Takdirku
Yusriadi, S.Pd.
J am sudah menunjukkan pukul 10.00 WITA. Aku
masih terlelap tidur. Kelelahan menempuh
perjalanan pulang dari Sorong, Papua ke kampung
halamanku Bone, Sulawesi Selatan selama tiga belas jam. Di
sana aku bekerja sebagai asisten juru masak di salah satu
Resort di Raja Ampat. Berhenti karena merasa tidak nyaman
dengan sistem kerja orang Italia yang menjadi pemilik Resort
tersebut. Sebelum bekerja di tempat itu, aku sudah mencoba
bekerja di beberapa tempat. Menjadi kasir di salah satu mal di
186
Histoire D’amour
Balikpapan dan bekerja di beberapa swalayan dan
minimarket di kota Makasar. Namun tidak satu pun yang
membuatku betah.
Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah
hingga perguruan tinggi, aku selalu bercita-cita untuk bekerja
di Jepang. Bahkan sempat ingin mengambil jurusan sastra
Jepang. Budaya Jepang yang sangat unik membuatku
penasaran dan ingin sekali mengunjungi negeri tempat
matahari terbit itu. Namun perekonomian orang tuaku yang
hanya seorang petani tidak mendukung dan dengan berat hati
mengambil jurusan keguruan di salah satu perguruan tinggi di
Watampone, satu-satunya jurusan yang SPP-nya bisa
terjangkau. Namun, sejak dulu aku sama sekali tidak
memiliki keinginan untuk menjadi seorang guru.
Pagi itu jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WITA,
aku terbangun mendengar getaran ponsel yang tidak berhenti
berdering. Sepertinya orang yang menelepon punya hal
penting yang harus disampaikan. Aku berusaha meraih
ponsel di atas meja yang tidak jauh dari tempatku berbaring.
―Halo,‖ sahutku tanpa memperhatikan siapa yang
menelpon.
―Halo kawan, apa kabar?‖ balas orang itu.
―Alhamdulillah baik, siapa ya?‖
―Wah, wah masa sudah lupa sama teman sendiri.
Kelamaan di Papua sih, jadi yang di Sulawesi dilupakan.
Saya nih, Adit. Kamu sekarang di mana? Masih di Papua?‖
187
Histoire D’amour
―Oh, kamu kawan, dah pulang. Nih aku dah di
kampung.‖
―Udah kerja di kampung? Kerja apaan kamu?‖
―Masih nganggur, kawan. Baru saja pulang dari
Papua. Gak betah kerja di sana. Bosnya aneh,‖ curhatku.
―Terus rencana kamu apaan?‖
―Hmmm. Rencana mau ke Bali sih, siapa tau di sana
bisa dapat kerjaan yang lebih baik.‖
―Kamu ini niat cari kerja atau keliling Indonesia. Dari
Kalimantan, balik Makassar, terus ke Papua, lah ini mau ke
Bali lagi. Dahlah kamu ke sini aja deh. Lagi butuh guru di
tempatku mengajar. Biar ada teman aku disini.‖
―Lah kamu tau sendiri kan. Kalau aku gak mau jadi
guru.‖
―Iya, tapi apa salahnya sih coba dulu, siapa tau
cocok.‖
―Aku mikir dulu deh.‖
―Yaudah pikirin dulu baik-baik. Semoga bisa ya.‖
Kata mikir adalah caraku menolak ajakan Adit,
karena dari dulu aku memang tidak memiliki keinginan untuk
menjadi seorang guru. Profesi yang kuanggap sulit karena
punya tanggung jawab besar untuk mendidik anak orang
menjadi pribadi yang lebih baik, sedangkan diriku sendiri
masih belum bisa dikatakan baik. Apalagi menjadi teladan
bagi orang lain.
188
Histoire D’amour
Tak lama terdengar suara ibuku memanggil dari luar
kamar. ―Adi bangun, makan. Ibu sudah siapkan di atas meja,
nanti dingin.‖
―Oke, bu.‖
Aku pun bergegas menuju meja makan. Di sana ibu
sudah menunggu.
―Di, habis ini mau cari kerja di mana lagi? Sudah
jangan jauh-jauh lagi ya. Ibu ini sudah tua, pengen dekat
dengan semua anak-anak Ibu. Tuh si Doni, kerja gak jauh-
jauh, juga bisa beli motor sekarang.‖
Aku hanya bisa terdiam, ada perasaan sedih dan
jengkel karena dibandingkan dengan anak lain. Tak lama
setelah selesai makan, aku duduk termenung di teras rumah
dengan pikiran dan tatapan kosong. Memikirkan perkataan
ibu dan mencoba mendatangkan ide cemerlang yang akan
kulakukan ke depannya. Namun usaha itu buyar saat kakak
perempuan datang duduk di depanku.
―Di, tau gak. Kamu jadi bahan gibah orang-orang di
kampung,‖ ejeknya.
―Apaan sih,‖ timpalku.
―Eh bener, Di. Mereka itu bilang, lulusan S1 kok
kerja di toko, kerja jadi tukang masak, ga sekolah juga bisa
kerja gituan. Percuma dong kuliah.‖
―Terserah deh mereka mau bilang apa, saya sih bodoh
amat.‖
189
Histoire D’amour
Perkataan kakakku menjadi tambahan beban pikiran.
Belum menemukan ide untuk ke depannya, ditambah lagi
omongan orang kampung yang sirik membuat aku merasa
tidak betah berlama-lama di kampung, tanpa pekerjaan yang
jelas.
Aku pun berpikir dengan tawaran si Adit
sebelumnya. Pikirku yang terpenting punya pekerjaan dulu
untuk menghindari gunjingan orang. Malamnya aku
menghubungi Adit dan menanyakan tentang tawarannya.
―Hei, kawan. Gimana nih tawaran kamu tadi, di sana
betul-betul butuh guru ya?‖
―Iya, jadi gimana, kamu mau nggak?‖
―Kalau boleh tau, mengajar di mana entar?‖
―Di Morowali, Sulawesi Tengah. Kalau kamu mau ke
sini nanti aku jemput, kita sama-sama berangkat. Tapi kamu
tahu sendiri kan, gaji guru itu gak sebesar gaji kerja di
swasta. Kecil banget.‖
―Gitu ya, bukan masalah gaji sih kawan, yang penting
aku kerja dulu. Gak betah tingal di kampung nih. Tapi aku ga
punya pengalaman mengajar.‖
―Nggak apa-apa, coba aja dulu. Pasti bisa.‖
―Ya udah deh. Tapi jemput ya.‖
―Oke, siip.‖
Sebulan menunggu, Adit datang menjemputku dan
kami berangkat ke Morowali bersama. Sesampai di sana, aku
diterima mengajar di salah satu Sekolah Menengah Atas.
190
Histoire D’amour
Setelah setahun berjalan sebagai guru honor, aku diangkat
menjadi guru kontrak daerah. Entah mengapa saya merasa
betah mengajar dan bertahan di tempat ini. Hingga di akhir
tahun 2018, aku mengikuti tes seleksi CPNS dan berhasil
lulus. Sekarang aku bekerja sebagai PNS di salah satu
Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Morowali,
Sulawesi Tengah sejak tahun 2019 sampai sekarang.
Hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya.
Jangankan jadi PNS, jadi guru pun dulu aku ogah. Tapi
kenyataan berkata lain, mungkin ini jalan yang ditakdirkan
bagiku. Tidak pernah betah bekerja di luar sana, tidak betah
tinggal di kampung dan akhirnya diberi jalan ke tempat ini.
Tempat yang menjadi takdirku untuk memulai karir sebagai
guru. Profesi yang dulu saya hindari, namun sekarang
menjadi kebanggaan bagiku dan keluargaku.
Aku bahagia bisa mengajar generasi penerus bangsa.
Bertemu dengan guru-guru hebat lainnya dan berkontribusi
dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Aku yakin bahwa
ada takdir Allah yang tidak bisa kita hindari. Di balik semua
itu ada hikmah yang bisa kita petik dan menjadikannya
sebagai renungan.
Morowali, 5 Juli 2022
191
Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Yusriadi, S.Pd. lahir di Bone, Sulawesi Selatan tanggal 15
April 1991. Anak bungsu dari tiga bersaudara. Menyelesaikan
program S1 Pendidikan Bahasa Inggris di STKIP Muhammadiyah
Bone tahun 2013. Mulai mengajar di SMAN 1 Bungku Pesisir,
Kabupaten Morowali tahun 2016 - 2018, dan sejak tahun 2019
hingga sekarang mengajar Bahasa Inggris di SMPN 2 Bungku
Selatan. Pesan Ali Bin Abi Thalib yang membuatnya terjun dalam
dunia menulis yakni, “Semua penulis akan mati, hanya
karyanyalah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang
membahagiakan dirimu diakhirat nanti. Antologi cerpen “Jalan
Takdirku” dan puisi “Rindu” merupakan karya perdananya dalam
dunia menulis yang diterbitkan bersama dengan guru-guru
hebat dari berbagai daerah di Indonesia.
192
Histoire D’amour
Tentang Rasa
Devi Setya Utami, S.Pd.
D i teras rumah kecil ini aku dan suamiku
duduk berdua di suatu senja. Tangannya
melingkar hangat di pundakku, sedangkan aku dengan
nyaman menyandar di bahunya. Secangkir teh hangat di
tangan kami sembari menikmati rintik hujan yang membuat
suasana semakin syahdu. Tak ada kata, hanya rasa.
―Mama,‖ panggil anakku yang tiba-tiba
mengagetkanku. Ternyata saat itu aku sedang melamun.
193
Histoire D’amour
―Ya, Dek? Kenapa?‖ tanyaku.
―Mama, ayo main,‖ pintanya merengek untuk
kutemani bermain.
―Ya, Dek,‖ jawabku seraya berjalan mengikuti
langkah kecilnya yang menarik tanganku masuk ke dalam
rumah. Di ruang tamu kulihat sosok suamiku. Benar, sedari
tadi dia duduk di ruang tengah itu dengan ponsel di tangan. Ia
masih sibuk bekerja. Kutarik napas dalam mendapati
kenyataan sosok yang menemaniku di teras tadi hanya
lamunanku saja.
Namaku adalah Nadia, ibu muda berusia 26 tahun dari
seorang anak laki-laki bernama Reno Adi Wirata. Saat ini
usianya dua tahun. Hari-hariku dipenuhi oleh kesibukan
menemaninya bermain.
Aku adalah seorang ibu rumah tangga. Dulu, aku
bekerja di sebuah kantor swasta dengan gaji yang lumayan
besar. Namun, Ketika aku dinyatakan hamil, timbullah
pertanyaan-pertanyaan yang entah dari mana akan kucari
jawabannya. Bagaimana aku akan membesarkan anakku?
Bagaimana jika anakku tidak merasakan kehadiranku di
hidupnya? Bagaimana jika kelak ia lebih menyayangi
pengasuhnya? Semua pertanyaan itu menghantuiku.
Pilihan untuk berhenti bekerja juga terlintas, komplit
dengan permasalahan yang mengikutinya. Bagaimana jika
aku bosan seharian di rumah? Bagaimana kalau ternyata
suamiku pelit saat aku meminta uang untuk memenuhi
194
Histoire D’amour
kebutuhan pribadiku? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak habis
berseliweran di benak, hingga akhirnya anakku lahir dengan
perjuangan yang luar biasa. Belum pernah aku merasakan
rasa sakit yang melebihi rasa sakit itu.
Kulihat wajah polosnya. Aku menggumam, ―Ganteng
seperti papanya.‖ Tangan mungilnya berusaha meraihku,
kugenggam tangan-tangan yang masih berkuku lunak itu.
Kupandangi matanya yang indah, mana mungkin aku akan
sanggup melepasnya ke tangan orang asing?
―Tidak!!! Aku sendiri yang akan mengasuhnya!!!‖
tekadku dalam hati. Sejak saat itulah kuputuskan untuk
pensiun dini.
Dito Wirata adalah suamiku. Mas Dito biasa aku
memanggilnya. Dulu kami berpacaran delapan tahun
sebelum akhirnya menikah. Dulu ia seorang romantis yang
selalu menunjukkan rasa sayangnya padaku. Mulai dari
perjuangan mendapatkanku, hingga cara memperlakukan saat
aku menjadi kekasihnya.
Aku masih ingat setiap hari ia lewat di depan kelas
hanya untuk melihat dan tersenyum kepadaku saat waktu
istirahat tiba, meskipun saat itu aku sudah berkali-kali
menolaknya. Atau saat ia memainkan gitar dan menyanyikan
lagu romantis di pertunjukan api unggun perkemahan sekolah
kami. Sesekali ia melempar pandangan ke arahku seolah
berkata bahwa lagu itu untukku. Ah, masa-masa cinta monyet
yang terasa begitu manis.
195
Histoire D’amour
Saat menjadi kekasihku dulu, Mas Dito juga selalu
memperlakukanku dengan manis. Menurunkan pijakan kaki
saat aku mau naik ke boncengan motornya, membukakan
pintu toko saat kami berbelanja, tidak mau melepas
genggaman tangannya saat kami jalan, dan banyak hal-hal
sederhana yang membuatku terus jatuh cinta padanya.
Dulu. Itu dulu. Setelah menikah, semua terasa
berbeda. Mas Dito tidak berubah drastis layaknya di sinetron,
ia masih tetap jadi lelaki baik yang menyayangiku dan Reno.
Mas Dito bekerja keras siang dan malam demi kami.
Seluruh harinya ia habiskan untuk bekerja. Saat
punya waktu luang pun ia akan dengan senang hati menemani
Reno bermain. Bisa dibilang sepanjang harinya ia habiskan
untuk kami. Ia adalah suami yang bertanggung jawab
untukku dan papa yang luar biasa untuk Reno.
Tapi, semua itu terasa kurang bagiku. Rasa itu. Rasa
yang dulu kurasakan. Rasa deg-degan setiap akan
menemuinya. Rasa dispesialkan. Rasa berbunga-bunga saat ia
mengucapkan cinta. Rasa itu. Ya, aku sangat merindukan rasa
itu.
Aku terbangun di suatu pagi karena suara dari kamar
mandi. Ternyata Mas Dito sudah bangun. Aku mencoba
menyusulnya namun ternyata ia sudah memulai salat Subuh.
Sejenak aku terdiam, ada rasa kecewa yang muncul di hatiku.
Usapan lembut di pipi, panggilan sayang serta kecupan kecil
di kening untuk membangunkan pasangan bagi siapa pun
196
Histoire D’amour
yang terbangun lebih dulu, lalu salat dan mengaji bersama
setiap hari. Itu yang dulu ada di khayalanku jika aku
memikirkan pernikahan. Tapi mengapa pernikahanku tidak
seperti itu? Mengapa Mas Dito tidak membangunkanku dan
mengajakku salat bersama?
―Kamu udah bangun?‖ tanya Mas Dito yang hanya
kusambut dengan anggukan.
―Segera ambil wudu, lalu salat,‖ lanjutnya.
Mas Dito melanjutkan membaca Alquran di
sampingku. Selesai salat, kusalami dan kucium tangannya
sebagai tanda baktiku kepadanya. Dia pun mencium
keningku. Namun lagi-lagi aku merasa bahwa rasa ini
berbeda dengan rasa saat dulu ia mencium keningku. Apa
yang salah? Apa mungkin aku sudah tidak mencintai suamiku
lagi? Apa aku akan terus hidup dengan orang yang sudah
tidak kucintai lagi selamanya? Mungkinkah kami akan
bercerai suatu hari nanti?
Malam itu, ponselku berdering. Suara yang sangat
kukenal memanggilku dengan sendu. Suara perempuan muda
sebayaku yang sangat dekat denganku, Emilia, sahabatku. Ia
menangis pilu saat kutanya kabar. Ia bercerita bahwa
suaminya telah berselingkuh dan kini mereka sedang dalam
proses perceraian. Aku tercengang mendengar berita itu. Tak
kusangka hubungan mereka yang terlihat begitu mesra,
bahkan di depan umum itu akan kandas dengan cara seperti
ini.
197
Histoire D’amour
Tiba-tiba aku tersadar bahwa malam sudah larut,
namun kenapa Mas Dito belum juga pulang? Apa mungkin
Mas Dito juga berselingkuh di belakangku? Pikiranku
melayang membayangkan apa yang terjadi jika pernikahan
kami juga menghadapi jurang perceraian.
Sesaat setelah kututup telepon dari Emilia, ponselku
kembali berdering. Kali ini dari nomor Mas Dito. Kuangkat
segera, namun suara yang terdengar bukanlah suaranya.
Entah suara siapa ini. Laki-laki ini mengatakan bahwa Mas
Dito mengalami kecelakaan dan saat ini berada di ICU rumah
sakit di tengah kota. Jantungku terasa berhenti berdetak.
Napasku tertahan. Aku tak mampu bersuara.
Kugenggam tangan lelaki yang sudah bertahun-tahun
menemani hidupku ini. Ia sedang berjuang di ruang ICU.
Pipiku basah oleh air mata yang terus berderai. Kuingat
semua yang telah kami lalui. Selama bersamaku ia tak pernah
berlaku kasar kepadaku, bahkan tak pernah meninggikan
suaranya terhadapku. Ia sangat menyayangi kami. Jangankan
untuk berselingkuh seperti suami sahabatku. Siang malamnya
telah ia habiskan untuk bekerja demi kami. Hingga sering
sakit maagnya kambuh karena telat makan, saking sibuknya
bekerja.
Tiba-tiba aku merasakannya. Ya, aku kembali
merasakan rasa itu. Rasa cinta, rasa sayang, dan rasa takut
kehilangan sosok lelaki ini. Jantungku kembali berdetak
198
Histoire D’amour
kencang, aku tak mau berpisah dengannya. Aku masih sangat
mencintainya seperti dulu.
Klaten, 06 Juli 2022
Bionarasi Penulis
Devi Setya Utami, S.Pd. Lahir di Klaten pada 1 Maret
1991. Ibu dari dua anak yang sedang aktif-aktifnya. Berkarir
sebagai Ibu rumah tangga sekaligus guru Bahasa Inggris jenjang
Sekolah Menengah Pertama. Melalui “Tentang Rasa” ini ia
memberanikan diri untuk menerbitkan karya antologi cerpen
pertama bersama teman-teman sejawatnya.
199
Histoire D’amour
Putraku, Anugerahku
Asri Puji Rahayu, S.Pd.
S aya adalah seorang guru bahasa Inggris di
sekolah swasta di daerah Klaten. Sampai
sekarang saya masih seorang pengajar di sekolah swasta.
Saya suka dengan dunia pendidikan. Sebagai guru banyak
sekali tantangan, tetapi sudah hampir sepuluh tahun saya
jalani. Karena sebuah panggilan jiwa dan orang tua saya
menginginkan saya menjadi seorang guru. Ternyata terwujud.
Alhamdulilah, saya sudah menikah dan dipertemukan
dengan seorang suami yang begitu peduli dan mencintai
200