Histoire D’amour
keluarga. Tak selang lama pernikahan kita, Allah
menganugerahkan kami seorang anak laki-laki yang begitu
lucu dan aktif. Kisah saya berawal saat anak saya berusia dua
setengah tahun. Saya seorang guru dengan jam kerja yang
terbilang padat yaitu mulai dari jam tujuh pagi sampai jam
empat sore. Aktifitas itu membuat saya harus mencari
seorang pengasuh untuk anak saya yang masih balita.
Kebetulan saya tinggal di lingkungan yang tidak
begitu banyak sosialisasi dengan sekitar karena rumah kita
jauh dengan tetangga. Hal tersebut membuat anak saya tidak
mendapat sosialisasi yang baik dengan teman. Ternyata hal
itu berdampak pada proses tumbuh kembang. Anak saya
tidak banyak berinteraksi dan proses itu tidak saya pahami
dengan baik karena mungkin ketidakpekaan saya dan
tingginya aktifitas saya.
Sampai pada suatu hari, malam itu anak saya
mengalami panas dan demam hingga dia mengalami kejang.
Saya dan suami sangat panik dan segera membawa ke rumah
sakit. Alhamdulilah semua baik walaupun kita harus
menunggu anak menjalani perawatan di rumah sakit.
Dari sana, saya merasa hati saya sangat hancur. Saya
merasa lengah tidak menjaga dia. Tak hanya itu, lanjut ke
kasus lain. Dokter anak mendiagnosa anak saya mengalami
keterlambatan berbicara. Hasil observasi menunjukkan
bahwa anak tidak mengalami perkembangan bahasa yang
baik di usianya. Saya tidak berpikiran anak saya mengalami
201
Histoire D’amour
keterlambatan bicara karena saat usianya dia paham istruksi
dan bisa mengucapkan kata mama, papa. Tetapi saya lupa
untuk selalu memperhatikan perkembangan dia. Mungkin
karena saat itu saya bekerja secara penuh.
Usia dua setengah tahun bagi seorang anak harus bisa
berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama. Hal itu tidak
terjadi pada anak saya. Dia hanya bisa kominukasi satu arah.
Saya sangat terpukul dan menggangap diri saya tidak becus
menjadi seorang ibu.
Dari situlah saya mendapatkan sebuah motivasi dari
suami. Dia selalu berusaha meyakinkan saya dan meminta
saya untuk berhenti bekerja dan fokus ke anak. Saat itu saya
merasa khawatir bagaimana bisa saya berhenti, sedangkan
biaya terapi anak sangat tinggi. Lalu bagaimana untuk ke
depannya?
Kemudian saat itu saya mengajukan guru jam terbang
dengan beban mengajar dikurangi. Yang terpenting saya bisa
masuk. Saya mendapat jadwal hanya dua hari saja dari jam
tujuh hingga jam sebelas siang.
Anggapan saya mengenai biaya dari mana jika anak
harus terapi dengan biaya, yang kita anggap sangat besar itu
ternyata salah. Allah memang Maha Penyayang. Rezeki
datang dari mana saja. Kami hanya bisa berdoa dan yakin
berserah diri.
Pandemi berlangsung. Kebetulan suami punya usaha
kain seprei. Dari sanalah saya belajar berjualan secara daring.
202
Histoire D’amour
Alhasil, luar biasa. Kami mampu menjalani terapi anak
berkebutuhan khusus rutin setiap pagi, dari hari Senin hingga
Jumat tanpa putus selama dua tahun.
Rumah kami ke tempat terapi memakan waktu satu
jam dengan mengunakan motor. Saya hanya berangkat
berdua dengan anak. Ia selalu dalam gendongan saya di atas
motor. Saya harus kuat demi putra kami.
Kebetulan terapi yang anak ikuti punya tiga macam
terapi yaitu terapi perilaku, terapi konsentrasi, dan terapi
motorik. Satu tahun saya ikut terapi secara rutin. Hasilnya
tidak begitu kelihatan. Anak masih merasa emosional. Dia
mengamuk karena mungkin tidak bisa mengungkapkan apa
yang dia inginkan.
Selagi terapi, kami tetap melakukan konsultasi dengan
dokter. Saran dari pihak dokter dan terapi anak harus diet
gula, gluten, dan gandum setiap hari. Saya sangat bingung
karena harus menyiapkan menu. Awalnya anak saya tidak
mau, tetapi akhirnya dia mau mengerti.
Di sini saya belajar bukan hanya makanan yang saya
harus perhatikan, tetapi juga kasih sayang yang harus saya
berikan. Pola asuh yang baik. Kami berdua berusaha untuk
saling membantu mengatur sosialisi dan mengajari anak.
Sampai akhirnya sudah tiga kali kami bergonta-ganti
terapis. Anak mengamuk saat mendapat terapi yang dirasa
tidak bisa dikuasai dan terlalu kaku.
203
Histoire D’amour
Pada saat pandemi, situasi bertambah susah karena
sekolah ditutup dan terapi pun ditutup. Saya sangat merasa
bingung. Jika terlalu dibiarkan, kondisi emosional anak bisa
lebih buruk. Hingga akhirnya saya dan suami mempunyai ide
mencarikan sekolah paud dekat rumah. Sekolah tersebut buka
hanya dua jam selama pandemi.
Saya berinisiatif untuk memasukan ke sekolah
tersebut agar dia mendapat sosialisasi dengan teman dan
interaksi antarsesama. Hal itu berdampak baik untuk anak
saya. Dia merasa senang. Dia bisa bergabung dengan yang
lain. Dia bermain dengan teman sebaya.
Ada satu guru yang begitu sayang pada anak saya. Ia
begitu perhatian. Saat diberikan materi menggambar, anak
saya mau mengikuti. Dia sangat dekat dengan guru tersebut.
Dari hal tersebut, guru tersebut menyampaikan bahwa anak
saya normal, baik-baik saja. Hanya harus sering diajak
sekolah.
Sampai saat ini sudah dua tahun terlampaui. Anak
saya berumur lima tahun sekolah dan terapi masih berjalan.
Semua bisa terlewati meskipun saya harus mengorbankan
semuanya. Yang utama adalah seorang anak karena dia
adalah hidup saya.
Klaten, 5 Mei 2022
204
Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Asri Puji Rahayu, S.Pd. adalah seorang ibu yang di
anugerahi satu orang putra yang begitu aktif, hidup menetap di
sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Pengagum jalan-jalan ini
mempunyai sebuah kesukaan terhadap kegiatan travellingkealam
terbuka, menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang
dicintai. Kegiatannya menghayal dan kemudian menuangkan ke
sebuah cerita membuatnya mempunyai sebuah angan-angan
semoga kelak pekerjaannya sebagai seorang guru akan selalu
konsisten dan membuatnya bermanfaat bagi orang lain.
205
Histoire D’amour
Janin Dua Bulanku
Silvi Arriyanti, S.Pd.
S epenggal perjalanan hidupku yang menjadi
sebuah kisah. Mengajarkanku untuk mengerti
bahwa langkah demi langkah yang kita lalui dalam hidup ini
adalah kehendak-Nya. Mengutip sebuah ayat suci Al-Qur'an,
Surah Ath-Thariq ayat 5-7, ―Maka hendaklah manusia
memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan
dari air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang
sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.‖
206
Histoire D’amour
Sesuatu yang baru saja terjadi padaku. Lebih tepatnya
kukatakan bahwa ini adalah kehendak dari Tuhanku. Sebuah
anugerah sekaligus ujian. Aku menyaksikan sendiri
bagaimana proses kehidupan itu berbentuk. Benarlah apa
yang dikatakan banyak orang bahwa setiap musibah pasti ada
hikmahnya.
Berawal dari kabar yang membuat aku dan suamiku
bahagia karena diberikan anugerah terindah, aku hamil.
Perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata sama
saat pertama kali hamil anak sulungku lima tahun yang lalu.
Dua garis merah yang tertera pada alat pendeteksi
kehamilan. Kaget, senang, terharu dan seolah tak percaya
atau apalah rasanya, yang jelas aku sekarang hamil. Artinya
sebentar lagi Abang akan punya adek. Sebentar lagi akan ada
tangisan bayi. Sebentar lagi akan ada bayi lucu yang
menghiasi keluarga kami.
Ah, bahagianya. Antara percaya dan tidak, kami
selanjutnya memastikannya ke dokter Sp.Og. Setibanya di
dokter Sp.Og, aku di-USG untuk memastikan kehamilanku.
Setelah di-USG ternyata aku benar-benar hamil.
Sudah terlihat kantung janinnya walaupun masih
terlihat sangat kecil. Katanya janin usia enam minggu
berukuran sebesar biji kacang hijau. Oleh dokter aku diberi
vitamin penambah darah, vitamin lengkap asam folat, omega
3 dan obat asam lambung, karena aku punya riwayat penyakit
asam lambung. Untuk itu aku sangat memproteksi janin ini,
207
Histoire D’amour
aku mengkonsumsi vitamin saja. Aku takut minum obat
lainnya karena khawatir berpengaruh pada kehamilan. Aku
tidak mengkonsumsi obat asam lambung. Aku berusaha
untuk menjaga pola makan yang benar agar janinku tumbuh
kembang dengan baik.
Semenjak itu aku tidak banyak berpergian, hanya
mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan dan merawat anak
dengan penuh rasa bahagia. Namun sesuatu hal yang tak
pernah terduga terjadi. Dua hari setelah tahu aku hamil, saat
hendak berkemih, aku melihat ada flek-flek darah yang
lumayan banyak.
Saat itu juga hatiku rusuh tak karuan karena aku
pernah juga mengalami flek saat hamil anak pertama. Pada
saat hamil anak pertama hanya muncul flek ringan saat usia
kehamilan dua bulan. Dan kehamilanku tetap bertahan. Aku
memfokuskan diri agar tidak banyak melakukan aktifitas
berat. Aku istirahat total. Kali ini, dua sampai tiga hari masih
keluar flek darah bahkan bertambah banyak. Aku berniat
hendak konsultasi ke dokter, tetapi hari Minggu dokter tidak
buka praktek.
Sudah tiga hari pekerjaan rumah dikerjakan oleh
seorang mantan karyawanku dulu. Semua dia yang kerjakan.
Aku hanya istirahat. Tiduran. Parahnya untuk jalan ke kamar
mandi pun fleknya langsung keluar. Hatiku was-was tak
karuan. Dalam hati berharap semoga tidak terjadi apa apa
pada janinku. Aku berdoa di dalam hati, ―Ya Allah jika ini
208
Histoire D’amour
terbaik bagiku pertahankanlah, tapi jika belum yang terbaik
bagiku, Engkau yang tahu yang terbaik bagi hamba-Mu.‖
Pada akhirnya, Senin pagi jam empat aku terbangun
dengan kondisi perut yang sangat mulas sampai ke pinggang
yang tak berhenti. Jam enam pagi mulai keluar darah yang
lumayan banyak hingga tiga kali ganti pembalut. Rasa sakit
di perut yang semakin bertambah dan belum berhenti selama
empat jam.
Pada jam delapan, aku ke dokter untuk melihat
kondisi rahimku. Sesampainya di klinik dokter, ternyata
kondisi janin sudah tak terlihat. Antara sedih dan pasrah. Aku
ikhlaskan yang terjadi padaku. Dokter menyarankan untuk
melakukan tindakan kuret, tetapi aku menolak untuk dikuret.
Usia janin masih kurang dari dua bulan. Jika lebih dari tiga
bulan mungkin tidak apa-apa melakukan tindakan kuret
karena sudah sangat melekat plasentanya ke dinding rahim.
Tapi sebenarnya aku takut dan belum siap untuk dikuret.
Sepulang dari dokter, aku istirahat untuk
menenangkan diri. Sedih menghampiri. Tapi kuyakinkan
pada diriku bahwa ini adalah kehendak Allah. Apa pun yang
Dia kehendaki pasti terjadi.
Lalu saat aku berkemih, aku terkejut melihat
gumpalan-gumpalan darah seperti agar-agar sebesar setengah
kepalan tangan, serta sebuah kantung ketuban yang
berukuran sepertiga buah rambutan. Di dalamnya berisi air
ketuban dan kulihat ada sosok makhluk yang sangat kecil
209
Histoire D’amour
berwarna putih dengan bagian kepala yang lebih besar dari
bagian bawah, yang meruncing seperti ekor. Di bagian kepala
ada dua titik hitam yang memudar, bakal mata.
Ukuran bakal janin kira kira enam sampai tujuh
milimeter yang melengkung. Sangat kecil sebesar biji kacang
hijau. Allahu Akbar. Serasa tak percaya aku melihat secara
langsung bagaimana rupa kita dulu. Di benakku aku berkata,
―Benar Allah itu Mahakuasa. Manusia itu sangat hina bahkan
sangat lemah. Allah yang menciptakan kita seperti yang
difirmankan-Nya di Al-Qur'an bahwa bermula dari air mani
yang ditumpahkan. Lalu Dia menciptakannya menjadi
segumpal darah, lalu segumpal darah menjadi segumpal
daging, lalu dijadikannya tulang belulang dan lalu dibalut
dengan daging sehingga manusia diciptakan sempurna
sehingga bisa hidup menjalankan kehidupannya.‖
―Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang
melekat (darah), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan
tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk
yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling
baik.‖ Surah Al-Mukminun ayat 14.
Siapa yang berkuasa menciptakan seperti itu sehingga
terbentuklah kita yang bisa membaca, bisa bekerja dan
melakukan segala hal seperti ini? Sekali lagi, aku yang
langsung menyaksikan keajaiban penciptaan itu, begitu
210
Histoire D’amour
kecilnya kita dulu, begitu lemahnya kita dulu. Dan sekarang
betapa kita banyak berbuat sesuatu yang maksiat? Yang
mengabaikan kewajiban dan perintah-Nya. Yang sangat
sibuk mengejar indahnya dunia. Astaghfirullahaladzim.
Untuk apa kita diciptakan? Pernahkah kita bertanya
pada diri sendiri seperti itu? Ah, bahkan kita menganggap
dunia adalah segala-galanya. Tidak!Semua pasti akan sirna
dan tidak ada yang dibanggakan.
Dari kejadian ini, aku semakin menyadari bahwa
sebuah kehidupan sudah ada yang mengaturnya. Setiap
kehidupan itu berharga. Semakin aku menyadari betapa
bersyukurnya kita telah diberi amanah yaitu anak. Karena
dengan kejadian ini bahwa tidak mudah yang namanya
wanita mengandung anak dengan perjuangan dan
pengorbanan yang luar biasa. Bagaimana dia sangat berhati-
hati menjaga buah hatinya. Dia yang paling merasakan
bagaimana rasa kehilangan sesuatu yang ada di bagian
dirinya.
Kembali ke makhluk kecil tak berdaya. Dulu rupa kita
seperti itu. Bahkan sempurnanya rupamu saat ini, cantik
tampankah dirimu saat ini, hebatnya dirimu saat ini, kayanya
dirimu saat ini, itu adalah berkat Tuhan yang Maha
Menciptakan. Berkat Tuhan yang sangat menyayangi dirimu,
berkat Tuhan yang memudahkan urusanmu.
Kembali kuperhatikan sosok mungil kecil yang masih
mengambang di dalam air ketuban yang belum pecah. Ah,
211
Histoire D’amour
Nak. Jika Allah menghendaki hidup, engkau akan menjadi
bayi yang lucu pastinya, tetapi Allah berkehendak lain.Jam
sepuluh pagi, papanya menguburnya di halaman belakang
rumah. Sosok suami tercinta yang pengertian karena saat
istrinya tiduran, tidak bisa melakukan aktifitas berat, dia
melakukan apa pun yang tidak bisa kulakukan saat itu.
Selain pengobatan medis, aku juga melakukan
pengobatan tradisional yaitu meminum air rebusan daun
pepaya dan daun beluntas yang dibuat oleh mertuaku yang
sangat baik. Hari itu tanggal 12 Februari 2019, hari di mana
aku mengalami hal yang bagiku sangat menyedihkan. Aku
tetap beristirahat. Nyeri masih terasa, kepala masih pening,
berharap rahimku bersih seperti sediakala ke depannya.
Seminggu setelahnya, aku melakukan pemeriksaan
USG. Kembali ke dokter Spog untuk memastikan.
Alhamdulillah setelah dua kali melakukan USG, dokter
memastikan bahwa rahimku sudah bersih. Aku memahami
bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Sejatinya kita
harus bersabar jika terkena musibah dan bersyukur jika
mendapat nikmat.
Tujuh belas bulan setelah mengalami peristiwa
keguguran. Tepatnya hari ini, 23 Juli 2019, Allah
menganugerahkan bayi laki-laki mungil dalam pelukanku.
Digantikan sebagai hikmah terindah dari Allah yang
menyingkap rahasia-Nya. Allah yang menggantikan sesuatu
212
Histoire D’amour
yang menyedihkan dengan kebahagian. Karena aku tahu
waktu akan menjawab semuanya.
Sore hari yang cerah di Klinik Melati. Saat sedang
menyusui bayi mungilku. Alunan lagu kesukaanku terngiang
di telinga, Opick duet dengan Melly Guslow, ―Dihempas
gelombang. Dilemparkan angin. Terkisah bersedih bahagia.
Di indah dunia. Yang berakhir sunyi. Langkah kaki di dalam
rencana-Nya. Semua berjalan dalam kehendak-Nya. Napas
hidup cinta dan segalanya.‖
Sungai Penuh, 23 Juli 2019
Bionarasi Penulis
Silvi Arriyanti, S.Pd. lahir di kota Sungai Penuh,
merupakan ibu dari 2 orang putra. Menyelesaikan pendidikan
dasar di SD 224 Karya Bakti pada tahun 1997, melanjutkan
pendidikan di SMPN 3 Sungai Penuh tahun 2000 dan SMAN 2
Sungai Penuh tahun 2003 serta melanjutkan kuliah di Universitas
Lampung bidang studi Pendidikan Biologi. Silvi yang sngat
menyukai Biologi ini, pernah memenangkan lomba Guru Favorit
Jambi Ekspres yang diselenggarakan Madia Cetak Jambi Ekspres
dan pernah melakukan studi banding sekolah di negeri Cina pada
tahun 2012. Membaca dan travelling merupakan hobinya. Motto
guru IPA ni adalah “setelah kesulitan aka nada kemudahan.”
213
Histoire D’amour
Pergeseran Manajemen
Dwiati, S.E.
A ku adalah seorang guru swasta di pinggir
kota Klaten. Mulai tahun ajaran ini terjadi
perubahan sistem manajemen yang semula dipegang oleh
yayasan lokal kini dipegang oleh yayasan pusat. Harapan
kami tentu saja kesejahteraan kami akan meningkat. Langkah
awal di sekolah kami dilakukan penataan ulang manajemen
SDM. Sekarang diberlakukan absen jari meskipun hal ini
sudah lama diterapkan di sekolah lain.
214
Histoire D’amour
Ini bagiku adalah sebuah perubahan besar. Dulu
sebelum diterapkan, kita sebagai guru tidak tetap, boleh
datang sesuai dengan jam mengajar. Kini sebelum jam tujuh
sudah harus sampai sekolah dan pulang setelah semua
kegiatan di sekolah selesai. Kepala sekolah diganti, kepala
sekolah sebaik itu diganti tanpa melihat jasa yang telah
dilakukannya. Mengapa tidak melihat kenyataan di lapangan,
hanya mendengarkan omongan orang.
Karena aku adalah seorang ibu rumah tangga yang
ditinggal kerja suaminya di luar negeri, dengan dua anak
kecil. Yang besar berumur enam tahun bernama Venezia.
Yang kecil berumur tiga tahun bernama Petra. Di setiap pagi
selalu ada saja drama.
Seperti hari ini, anakku yang kedua bangun ketika
aku hendak menunaikan salat Subuh. Ia ingin memakai
mukena sambil nangis-nangis. Ingin mandi, aku mandikan.
Setelah mandi, minta baju harus sesuai yang dia suka. Kalau
dikasih yang lain, ia tidak mau. Tetap pada pendiriannya.
Usai memakai baju minta dibuatkan susu. Tidak berhenti di
situ. Ketika minum susu, kebiasaannya sambil memegang
rambutku, alhasil aku tidak bisa apa-apa. Setelah habis
minum susu, baru aku bisa salat Subuh.
Usai salat Subuh, aku menuju dapur untuk masak air
dan menyediakan hidangan ala kadar, karena kebetulan kami
baru membangun rumah di lantai dua. Jadi sejak bulan puasa
sampai saat ini, rumahku selalu diramaikan oleh pak tukang.
215
Histoire D’amour
Dan setiap pagi aku selalu harus menyediakan hidangan dan
minuman untuk pak tukang serta masak untuk kedua anakku.
Semua itu harus selesai sebelum pukul 06.30 WIB. Ketika
aku repot, alhamdulillah kakak iparku datang membantu.
Setiap aku kerja, anakku diasuh kakak ipar.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.30 WIB, aku
mulai bersiap untuk berangkat sekolah. Beruntung sekolah
tempat aku kerja tidak jauh. Jadi aku tidak butuh waktu lama
untuk bisa sampai ke sekolah. Sampai di sekolah pukul 06.55
WIB. ―Alhamdulillah, aku tidak telat,‖ kataku dalam hati.
Setelah parkir, aku menuju laintai dua gedung
sekolah. Di mana mesin absen jari ada di situ. Tak ada
seorang pun di dalam kantor TU. Aku hanya bertemu Mbak
Puji yang kebetulan lagi membersihkan area kantor TU.
Sesudah absen, aku segera menuju bawah balkon.
Tempat tersebut adalah tempat kerjaku. Ketika di tangga aku
bertemu temanku. Ia bertanya mau ke mana, aku menjawab
akan menuju area piket.
―Oh,‖ kata dia.
Sampai di tempat piket belum ada siapa pun. Cuma
aku sendiri di situ. Di sela-sela waktuku, kugunakan untuk
menulis cerpen ini. Waktu telah menunjukkan pukul 07.30
WIB. Belum ada juga teman maupun siswa petugas piket
yang datang. Selang sepuluh menit kemudian, siswaku
bernama Anisa datang kemudian disusul temannya Melani.
Setelah kami ngobrol agak lama, perut kami lapar. Belum
216
Histoire D’amour
sarapan. Anak-anak hendak membeli bakwan. Akhirnya aku
menitip pada mereka.
Setelah mereka pergi, datang murid-muridku yang
lain sehingga sekolah kami terasa ramai. Sambil menunggu
bakwan, ada beberapa wali murid yang datang untuk daftar
ulang. Setelah sepi, aku mencari tempat yang enak buat
sarapan. Yang dibawakan muridku tadi.
Wuih, segarnya. Memulihkan energiku yang sempat
agak kliyengan karena belum sempat sarapan. Usai sarapan,
aku kembali ke tempat piket sambil mengobrol ke sana
kemari bersama teman-teman dan anak-anak yang piket.
Akhirnya waktu menunjukkan pukul 12.10 WIB, aku dan
teman-teman menuju lantai atas. Melakukan absen jari dan
pulang menuju rumah masing-masing.
Sampai di rumah, anakku telah menunggu untuk
diantar les. Ia menangis karena takut terlambat. Kok ibunya
belum pulang-pulang, padahal sudah jam 12.30. Kukatakan
padanya bahwa aku segera siap-siap.Aku langsung bergegas
ke kamar sambil menyapa ibu mertuaku yang kebetulan
datang kerumah. Aku segera salat dan ganti baju, serta
mengambil sekantong jeruk untuk ibu mertua. Aku pamit
padanya hendak mengantar Nezia les. Setelah berpamitan,
aku segera mengambil motor dan berangkat bersama Nezia.
Dalam perjalannan, aku memotivasi diri sendiri agar
menjadi wanita yang cerdas, tangguh, dan berwibawa. Tidak
terasa sudah sampai depan tempat les. Setelah memarkirkan
217
Histoire D’amour
motor, kukatakan pada anakku untuk segera masuk dan
mengucapkan salam.
Sembari menunggu anak, aku mengobrol ke sana-sini
bersama ibu-ibu yang juga lagi menunggu anaknya les.
Waktu tidak terasa sudah empat puluh menit berjalan.
Anakku sudah keluar dari tempat les. Akhirnya kami pulang.
Di tengah perjalanan, anakku meminta bakso, tapi
dimakan di tempat. Kupilih warung bakso yang ada di dekat
rumah. Sampai di sana Nezia memesan bakso dan es campur.
Dengan lahapnya anak itu memakan bakso. Bakso adalah
makanan favoritnya. Sesudah menghabiskan bakso,
berpindah menikmati es campur. Mungkin sudah terlalu
kenyang, jadi tidak habis. Akhirnya oleh abangnya dibungkus
untuk dibawa pulang.
Sampai di rumah, Petra telah menantiku dengan
sebotol susu di mulutnya. Ia berkata bahwa aku nakal. Kata
Petra,―enggak diajak nganterin Mbak.‖
Kuraih anakku sambil kugendong dan kucium sambil
mengatakan, ―Ibu minta maaf. Tadi adik mau diajakin, tapi
lagi tidur. Kan adik ditemeni Budhe, Uti sama Mas.‖
―Aah, tapi Ibu nakal,‖ ucap Petra. Ia tidak mau
menerima alasanku.
Iparku pamit mau pulang bersama ibuku. Petra ingin
ikut. Kubolehkan saja agar tidak mengganggu. Kakaknya
sudah pergi main. Aku hendak mengikuti diklat daring sambil
menyalin sertifikat.
218
Histoire D’amour
Selang satu jam, Petra datang bersama kakak iparku.
Petra sudah mandi dan Nezia juga sudah pulang dari main.
Aku mengajak Nezia mengobrol sambil mendengarkan
diklat, tetapi ternyata Nezia sudah tertidur. Aku bertanya
pada Petra, ―Embak bobo. Adik mau apa? Susu atau maem.‖
―Adik mau hape.‖
Ya, Allah. Ponsel melulu.
―Nezia belum mandi udah bobok. Nanti bangun jam
berapa dan pasti ngajak bergadang,‖ kataku dalam hati.
Petra asyik sekali menonton film kartun pada ponsel,
sambil sesekali mengigit ubi yang ada di tangannya.
Mumpung ada kakakku, aku salat Asar dan mandi. Kemudian
membereskan peralatan minum pak tukang sambil bertanya
pada kakak ipar, apakah suamiku sudah menelepon mertuaku.
Katanya sudah, tapi suamiku malah ketiduran. Mungkin
saking lelah karena ia bekerja di tempat baru. Ia masih
beradaptasi.
Tak terasa waktu menjelang magrib kakakku pamit
hendak pulang. Segera kututup pintu dan jendela rumah.
Petra minta dibuatkan susu. Setelah habis, minta lagi.
Kusiapkan makan untuk Petra usai minum susu agar cepat
tidur. Eh baru satu kali menyuapi Petra, Nezia bangun.
Akhirnya aku menyuapi mereka berdua. Kukatakan pada
Nezia setelah makan harus mandi.
―Iya, Bu,‖kata Nezia.
219
Histoire D’amour
Setelah itu, aku mengerjakan tugas sekolah Nezia.
Yang telah kujanjikan akan kubuat malam ini, yaitu membuat
kartu ID karena besok pagi di sekolah Nezia diadakan MOS.
Kubentuk buah nanas, kugunting dan kutulis nama Nezia dan
asal sekolahnya. Setelah selesai, aku membuat piscok dan
isian untuk kue krakers. Yang akan aku hidangkan untuk pak
tukang esok pagi.
Rupanya Petra sudah mengantuk. Kubuatkan susu
untuknya sambil kutemani tidur. Belum habis susunya, Petra
sudah tertidur. Setelah tertidur, aku dan Nezia membereskan
ruangan. Akhirnya kami masuk kamar untuk tidur. Aku baru
teringat ternyata tadi aku belum salat Isya.
Aku segera mengambil air wudu dan meminta Nezia
untuk segera salat juga. Usai salat, tak lupa aku membaca Al-
Mulk. Setelah itu, kami berangkat tidur untuk istirahat.
Karena besok pagi harus bangun pagi-pagi sekali, agar bisa
menyiapkan hidangan untuk pak tukang. Mengantar anak
sekolah. Aku sendiri juga tidak ingin terlambat ke sekolah
agar tidak melanggar aturan manajemen baru.
Klaten, 8 Juli 2022
Bionarasi Penulis
Dwiati, S.E., ibu dengan dua putra yang berprofesi sebagai
guru SMA swasta di Klaten, Jawa Tengah. Hobi memasak, baru
belajar menulis cerpen. Motonya, “Jadilah orang yang bermanfaat
bagi orang lain.”
220
Histoire D’amour
Tukinah yang Malang
Hermanto, S. Pd.
T ukinah merupakan gadis cantik yang
dijodohkan dengan orang gila. Konon,
katanya, orang gila yang bernama Sudirman bisa sembuh
kalau dinikahkan dengannya.Sore menjelang magrib terlihat
seorang gadis cantik berusia lima belas tahunan dengan
rambut panjang berkepang dua sedang duduk di golodog
(bagian rumah yang terletak di depan pintu ruang depan yang
terbuat dari papan kayu). Ia bernama Tukinah yang sedari
kecil sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya dan diasuh
221
Histoire D’amour
oleh kakak kandung yang bernama Iros. Tukinah memiliki
cita-cita yang mulia yaitu ingin menjadi seorang guru hebat
dan bisa mendirikan sekolah khusus anak-anak yang tidak
mampu. Namun itu semua sebatas cita-cita dan impiannya
saja yang tidak mungkin terwujud dengan kondisi dan
keadaannya yang serba kekurangan.
Sambil menatapi ijazah SMP-nya, Tukinah merenung
memikirkan masa depan. Lalu dari kejauhan terdengar suara
kakaknya memanggil-manggil.
―Tukinah. Hei, Tukinah. Ngapain kamu melamun
sendirian di sana?‖ tanya kakak Tukinah yang bernama Iros
dengan nada tinggi.
Lalu Kak Iros menghampiri Tukinah dan mengulang
perkataannya,
―Hei Tukinah, ngapain kamu melamun sendirian?
Sudah buang saja cita-cita dan impianmu menjadi guru.
Kamu tidaklah mungkin bisa mewujudkannya, ingat kita ini
hanya orang miskin dan kakak pun sudah tidak sanggup lagi
membiayaimu untuk melanjutkan sekolah.‖
Tukinah pun menjawab dengan isak tangis melepas
semua impiannya. Sekarang ia menyadari bahwa untuk
menjadi seorang guru itu tidaklah mudah, butuh perjuangan
dan biaya yang cukup. Sementara ketika ia masih SMP pun
sering kekurangan, apalagi ke jenjang yang lebih tinggi.
Kalau dipaksakan pastinya akan putus di tengah jalan.
222
Histoire D’amour
Setelah percakapan keduanya selesai, tiba-tiba ada
suami Kak Iros yang bernama Sukanta ingin membicarakan
masa depan Tukinah. Dari pembicaraan itu ternyata Sukanta
bermaksud untuk menjodohkan Tukinah yang cantik itu
dengan orang kaya. Jelas Tukinah tidak setuju karena usia dia
masih belia dan masih banyak yang harus ia lakukan sebelum
menikah, namun kakak kandung Tukinah yang bernama Kak
Iros itu tetap memaksa dengan berbagai argumen untuk
meyakinkan Tukinah. Di dalam pikiran kakaknya, hanyalah
kekayaan dan ingin mengubah nasib miskinnya tanpa
memedulikan perasaan adik kandungnya. Tukinah pun
dengan terpaksa memenuhi keinginan kakaknya yang selama
ini sudah mengurus, membiayai hidupnya dan ia juga berniat
ingin membalas semua yang sudah diberikan Kak Iros
padanya.
Keesokan hari, Tukinah bersama kakaknya berangkat
ke kota menemui keluarga yang ingin dijodohkan dengannya
yaitu pemuda sakit ingatan yang bernama Sudirman. Setiba di
sana, Tukinah disambut baik dengan suka cita oleh ayah
Sudirman. Sebentar lagi anaknya akan segera dinikahkan dan
berkata bahwa siapa saja yang mau menikahi Sudirman, yang
sakit ingatan itu, maka semua kekayaannya akan menjadi
milik calon mantunya. Namun rupanya Tukinah masih ragu
dan merasa ketakutan ketika melihat pemuda itu. Seperti
biasa Kak Iros meyakinkan Tukinah bahwa pemuda itu pasti
sembuh jika sudah menikah. Semua ini adalah kesempatan
223
Histoire D’amour
emas yang tidak boleh disia-siakan. Akhirnya Tukinah pun
merasa tenang dan bersedia menikah dengan Sudirman.
Pernikahan pun terjadi dengan pesta yang sangat
meriah, kedua keluarga mempelai sangat bahagia
menyaksikan pernikahan tersebut, terkecuali Tukinah yang
terus-terusan meneteskan air mata. Ia sedih impiannya
menjadi guru akan hilang begitu saja. Namun niat Tukinah
untuk melanjutkan sekolah masih menggeb-gebu.
Setelah acara pernikahan itu selesai, Tukinah
memberanikan diri menagih janji kepada keluarga suaminya
bahwa setelah menikah semua harta akan diberikan padanya.
Namun apa dikata keluarga Sudirman tidak serta
merta memberikan semua hartanya kepada Tukinah, ―Saya
akan memberikan semua harta saya padamu, tetapi nanti
ketika Sudirman sudah sembuh total dan sekarang kamu
bersama Sudirman tempati dulu rumah yang berada di
pegunungan yang sudah saya sediakan demi kesembuhan
Sudirman‖, kata ayah Sudirman kepada Tukinah. Tukinah
hanya bisa mengelus dadanya sendiri menerima keputusan
itu.
Sebuah tempat tinggal yang terbuat dari kayu menjadi
tempat tinggal Tukinah bersama suaminya. Hari demi hari
dilalui Tukinah sampai ia mengandung dan mempunyai anak,
tetapi suaminya masih belum juga sembuh. Hanyalah
penderitaan, juga siksaan yang didapat Tukinah. Tidak ada
kebahagiaan yang dirasakan Tukinah, badannya kurus, kumal
224
Histoire D’amour
tidak terurus, wajahnya biru-biru bekas tamparan dan siksaan
dari suaminya yang tidak kunjung sembuh. Tukinah sudah
tidak tahan lagi dengan keadaannya dan ingin pergi
meninggalkan semuanya, tetapi tempat tinggal yang
ditempatinya jauh ke mana-mana karena berada di atas bukit.
Jauh dari pemukiman ataupun pedesaan.
Di dalam rumah yang ditempati Tukinah terdapat satu
tempat tidur, kursi dan bangku yang ditutupi dengan kain
hitam. Di atas bangku tersebut Tukinah selalu menyimpan
damar (lampu cempor atau penerang sederhana yang terbuat
dari kaleng atau botol bekas). Suasana rumah gelap dan
terlihat Tukinah sedang menyalakan damar sambil
meninabobokan bayinya.
―Nina bobo oh Nina bobo. Kalau tidak bobo digigit
nyamuk.‖
Rupanya malam itu Tukinah sudah tidak kuat lagi
menanggung beban hidupnya dan ingin mengakhiri
penderitaannya karena memang tempat itu seperti neraka
baginya. Yang tak pernah memberikan kesenangan dan
kebahagiaan.
Malam itu angin bertiup kencang sekali, membuat
lampu-lampu cempor berjatuhan dan minyaknya berceceran
di atas papan kayu, Kemudian Sudirman berlari keluar sambil
tertawa, mengulang-ulang, ―Ha, ha, ha, ha, angin oh angin.‖
Hanya Tukinah bersama bayinya yang tertidur karena
kedinginan dan menarik selimut menutupi seluruh badannya.
225
Histoire D’amour
Lama kelamaan suasana malam itu jadi mencekam dan
terjadi kebakaran yang menghanguskan tempat tinggal
Tukinah bersama bayinya.
Tukinah yang malang akhirnya meninnggal dunia
terbakar hangus bersama cita-cita dan impiannya.
Tasikmalaya, 09 Juli 2022
Bionarasi Penulis
Hermanto, S. Pd. lahir di Tasikmalaya, menyelesaikan
kuliah S1 di Universitas Siliwangi Tasikmalaya dengan mengambil
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Aktif
mengajar Bahasa Indonesia di SMKS Al-Muawanah, juga sangat
menyukai menulis ketimbang berbicara, terutama menulis artikel,
puisi dan cerita pendek.
226
Histoire D’amour
Di Atas Cinta Masih Ada Cinta
Alfwinna Schrampfer, S.Pd.
S aya berpikir sejenak harus mulai dari mana
karena ada batas minimal dan maksimal kata
dalam tulisan asal ini. Kisah ini sering diceritakan, tapi baru
kali ini kutuliskan. Percayalah ini tidak layak dan tidak
pantas untuk dibaca apalagi dijadikan inspirasi. Ada
kejujuran bertabur kebohongan di setiap makna tersiratnya
dan setiap barisnya. Saya hanyalah pemula dalam menulis,
jadi aturan tulisan atau cerpen saya tidak paham.
227
Histoire D’amour
Mungkin bagi orang lain ini hanya sebuah kisah yang
tidak bisa dijadikan inspirasi, tapi para filsafat dan para ahli
mencoba menafsirkan tentang definisi cinta, semua
mendekati makna, tapi saya punya cara sendiri
menafsirkanya.
***
Earl Galen, lahir 10 Februari 1989 anak pertama dari
keluarga Tawanna. Nama Earl terinsipirasi dari film Viking
yang sangat digemari oleh bapaknya.
Kisah ini diawali dari kisah cinta Galen yang selalu
bertepuk sebelah tangan. Membuatnya menyerah tentang
cinta. Pada tahun 2008 semua jadi berbeda. Galen mencintai
dan dicintai oleh seorang perempuan berambut hitam ikal
bertubuh mungil. Seperti perasaan dua insan yang dimabuk
cinta, banyak yang Galen korbankan demi bersama pujaan
hatinya ini. Masa indah di mana mereka merasa tidak bisa
hidup tanpa satu sama lain. Memang benar lima tahun
mereka bersama seakan tak terpisahkan. Entah karena
pengaruh apa, Galen dalam hubungan percintaan ini beberapa
kali melukai perasaan kekasih hatinya. Dia mengkhianatinya
dengan menjalin kasih dengan beberapa wanita.
Beberapa kali ketahuan oleh kekasihnya, tetapi entah
karena kekuatan apa, Galen selalu termaafkan. Mungkinkah
itu kekuatan cinta? Kita tidak pernah tahu. Belum ada
selingkuhan yang bisa membuat Galen lepas dari dia, Galen
228
Histoire D’amour
tetap memilih dia dan dia selalu memaafkan Galen.
Kedengarannya jahat bukan? Iya, tapi Galen hanya
menjalankan naluri alami dalam hatinya. Banyak dari
selingkuhannya yang lebih cantik, tapi Galen tetap kembali
kepada dia. Mungkin keterlaluan jika dikatakan itu naluri
lelaki, tapi begitulah kenyataannya.
Sampai pada tahun 2013 semua berubah, kali ini
benar benar berubah. Galen jatuh cinta lagi dan ini benar
berbeda, persis seperti gelombang laut di tepi pantai yang
menarik Galen ke tengah laut, bahkan mencoba berenang ke
pantai pun tidak bisa. Dalam waktu singkat Galen
menyatakan sikap untuk melepas kekasih hatinya yang telah
lima tahun menjalani suka dan duka dalam kisah mereka.
Galen sempat menceritakan keputusannya kepada
sahabatnya, Bima. Sahabat yang sangat dia percaya. Bima
memberikan saran untuk tidak meninggalkan pacar lamanya
demi seseorang yang baru dia kenal. Hal itu sempat
menggoyahkan keputusannya. Sebagai sahabat, nasihatnya
benar. Masuk akal dan hampir merubah pilihan Galen.
Beberapa waktu Galen terus mencoba untuk menjauh,
tapi perasaan itu terus menerus menghantuinya. Galen tidak
bisa berhenti memikirkan wanita itu. Rasa cinta yang belum
pernah dia rasakan sekuat ini, bahkan mendengar suaranya
saja seperti mendengar suara hati Galen. Akhirnya Galen
memutuskan untuk mengikuti kata hatinya.
229
Histoire D’amour
Selama Galen bersama kekasih lamanya, sebaik apa
pun dia, secinta apa pun dia padanya, tetap ada bagian yang
hilang dari dirinya yang tidak dia temukan di diri kekasihnya.
Galen tidak tahu apa yang hilang bahkan almarhum paman
Galen pernah meramalkan kalau Galen dan kekasihnya tidak
akan berjodoh.
Entah cinta seperti apa yang Galen rasakan ini,
apakah cuma Galen atau ada juga orang lain yang pernah
mengalaminya. Galen berpikir kekasih lamanya tidak akan
tergantikan oleh wanita mana pun. Banyak upaya yang
dilakukan kekasih lamanya agar Galen kembali padanya, tapi
memang sihir kekasih barunya lebih kuat.
Awal-awal Galen menjalin cinta kasih dengan kekasih
barunya, dia mengaku belum pernah pacaran dan belum
pernah jatuh cinta sebelumnya. Dengan gampangnya Galen
membohongi dia dan dengan mudahnya dia percaya itu.
Entah apa maksud Galen berbohong kepada wanita yang
membuatnya tergila-gila ini. Akhirnya tiba saat di mana
kekasih barunya mengetahui semua fakta tentang Galen.
Sedih? Marah? Kecewa? Itu sudah pasti. Galen hanya bisa
pasrah dan menjelaskan maksud dia berbohong.
Ternyata Galen berbohong bukan tanpa alasan. Cinta
yang sebelumnya yang dia anggap cinta ternyata bukan cinta.
Bersama kekasih barunya, dia merasakan lebih daripada rasa
cinta sebelumnya. Rasa cinta itu tembus di dalam jantung.
230
Histoire D’amour
Sejak saat itu Galen menceritakan setiap kisah dari masa
lalunya tanpa kebohongan sedikit pun.
Kekasih baru Galen menumpahkan curahan hatinya
kepada ibunya mengenai masa lalu Galen. Ibunya
mengatakan tidak ada laki-laki yang sempurna. Dan itu yang
meyakinkan dia bahwa Galen adalah sosok yang sempurna
buat dia. Cinta itu buta, yaa mungkin itu berlaku buat kekasih
baru Galen. Seperti apa pun teman-temannya menasehatinya
agar meninggalkan Galen, ia tidak peduli. Mungkin inilah
cinta, di saat kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan
pasangan kita di masa lalu.
Saat Galen menjalani masa pacaran bersamanya. Dia
sempat membaca kutipan yang mengatakan kurang lebih
seperti ini, ―Jika kau jatuh cinta pada dua orang sekaligus,
pilihlah yang kedua. Karena jika kau benar-benar cinta yang
pertama, kau tidak mungkin jatuh cinta pada yang kedua.‖
Galen kadang bertanya jika ini cinta, maka yang lalu
itu apa? Inikah yang di sebut lebih dari pada cinta. Ya, benar.
Ini lebih dari cinta,
Seiring berjalannya waktu, banyak hal berubah dalam
diri Galen. Semua kebiasaannya berubah banyak. Dia seperti
terlahir kembali di dunia ini, kali ini dia setia dan korbankan
segalanya untuk dia, kekasih baru Galen.
Dua tahun mereka menjalin kasih dan akhirnya
menikah. Mereka dikaruniai tiga titipan Tuhan yang paling
berharga. Itulah kisah cinta Galen dan kekasih barunya.
231
Histoire D’amour
―Untuk pacar, aku berikan hati dan pikiranku.
Untukcalon istriku, aku berikan segalanya.‖
Mebali, 09 Juli 2022
Bionarasi Penulis
Alfwinna Schrampfer, S.Pd.akrab disapa Winna adalah
seorang ibu dengan tiga anak yang berdomisili di Taliwan,
Sulawesi Tengah. Perempuan pecinta bakso ini punya hobi baca
dan menyanyi. Sekarang dia berprofesi sebagai guru di salah satu
sekolah negeri di Sulawesi Tengah, tepatnya di Morowali Utara.
Baginya, menulis merupakan salah satu cara meluapkan ide.
Dengan harapan bisa dinikmati banyak orang dan memberikan
dampak positif. Motonya adalah, “Usaha yang gigih tak akan
pernah menghianati hasil.” Berjuanglah sekeras-kerasnya sampai
kamu berhasil meraih impianmu.
232
Histoire D’amour
Aku dan Pendidikan
Anak Usia Dini
Istianah. S.Pd.
B ulan Agustus tahun 2008, aku dan keluargaku
pindah dari Bekasi ke Purwakarta. Sudah
terbiasa dari kecil kami berpindah-pindah. Saat itu aku
sedang menyelesaikan sekolah di salah satu Universitas Islam
Negeri di Jakarta jurusan Pendidikan Agama Islam dan
sedang menyusun tugas akhir. Agak kesulitan karena aku
233
Histoire D’amour
tidak kos dan perjalanan dari rumah ke kampus sangat jauh,
bahkan menunggu kendaraannya pun sangat lama.
Purwakarta dulu masih sepi, belum ramai seperti sekarang.
Dua bulan kemudian aku dinyatakan lulus. Beberapa
bulan setelahnya, aku mulai bingung apa yang harus
dilakukan. Dalam hati aku berkata, ―Masa iya lulusan sarjana
nganggur?‖
Saat itu keadaan ekonomi orang tua juga tidak begitu
baik. Akhirnya aku memutuskan untuk melamar mengajar ke
beberapa sekolah yang ada di Purwakarta. Mulai dari jenjang
SD sampai SMA aku datangi, menyesuaikan dengan prodi
yang aku pilih. Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan.
Aku kira karena divsini pedesaan, banyak sekolah yang
membutuhkan guru pengajar agama islam. Ternyata aku
salah. Semua sekolah yang aku datangi menolak dengan
alasan yang sama.
―Maaf. Kami tidak menerima guru honor, sebelum
guru honor yang ada di sekolah ini diangkat menjadi PNS.‖
Akhirnya aku berpikir ya sudahlah mengajar di
Raudhatul Athfal (RA) atau Taman Kanak-kanak (TK) saja,
karena hanya jenjang itu yang belum aku coba.
Dan aku pun melamar di salah satu RA. Saat aku
datang dan bertemu dengan kepala sekolah RA tersebut, aku
pun mengutarakan maksud kedatanganku.
―Assalamualiakum.‖
234
Histoire D’amour
―Waalaikumussalam. Ada perlu apa?‖ lanjutnya
bertanya.
―Maaf, Pak. Mau bertanya, di sini ada lowongan guru
tidak?‖
―Iya kami memang butuh guru, karena ada guru yang
sedang cuti hamil. Sekarang hanya ada satu guru yang
mengajar.‖ Bapak itu menjelaskan. Kemudian bertanya lagi.
―Lulusan dari mana?‖
Aku menyebutkan nama kampusku dan menyerahkan
surat lamaranku. Setelah dibaca, Kepala Sekolah RA tersebut
berkata, ―Hm. Tapi di sekolah ini kemungkinan tidak bisa
memberi honor besar, karena jumlah muridnya sedikit,
sekitar 15 anak. Itu pun hanya beberapa yang aktif. Kita juga
tidak punya gedung sendiri. Gedung yang sekarang
digunakan adalah milik Majelis Talim.‖
Setelah mendengar penjelasan beliau aku pun
menyanggupi.
Satu bulan aku jalani, ternyata tidak mudah dengan
honor yang sangat kecil. Aku harus berjalan kaki sekitar satu
kilometer perjalanan pulang untuk menghemat ongkos. Orang
tuaku pun sempat menegurku, ―Is, kamu ngajar gajinya ga
sesuai dengan biaya kuliah yang dikeluarkan.‖ Tapi aku tidak
menyerah dan terus mengajar di sana.
Dengan keterbatasan pengetahuan tentang Pendidikan
Anak Usia Dini, aku mulai belajar dari teman mengajarku di
sana. Selain itu, aku pun mengalami kendala bahasa. Di
235
Histoire D’amour
Purwakarta bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda,
sedangkan aku adalah darah madura yang lahir di Jakarta.
Ada kejadian yang menurutku lucu dan membuatku malu.
Saat kegiatan bernyanyi di depan anak-anak, seorang anak
perempuan berkata, ―Ibu nangtung atuh!‖
Aku berpikir keras sambil mengerenyitkan dahi,
―Nangtung? Itu apa artinya?‖
Beberapa detik kemudian salah satu orang tua yang
sedang menunggu anaknya melihat kebingunganku dan
memberitahu, ―Ibu berdiri.‖
Aku pun langsung berkata sambil tersenyum malu,
―Oh, iya. Ayo, ayo. Berdiri semuanya.‖
Enam bulan kemudian aku memutuskan berhenti.
Pindah mengajar di sekolah dekat rumah, dengan jenjang
yang sama yaitu Raudhatul Athfal. Di sekolah yang baru ini
jarak rumah dan sekolah dapat ditempuh dengan berjalan
kaki. Di sini juga banyak pengalaman menarik yang aku
dapatkan bersama anak-anak dan orang tua. Ada kejadian
yang sampai hari ini membuatku terharu.
Pagi itu hujan deras, jam sudah menunjukkan pukul
06.30 WIB. Aku menunggu hujan agak reda sampai sekitar
pukul 06.45 WIB dan memutuskan untuk berangkat.
Sesampainya di sekolah, keadaan masih sepi.
―Assalamualaikum.‖
―Waalaikumussalam.‖ Bapak Rus menjawab salamku.
Beliau pemilik RA tersebut.
236
Histoire D’amour
―Kok masih sepi, Pak? Anak-anak gak masuk?‖
tanyaku. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 07.30,
waktunya masuk ke kelas.
Kemudian Pak Rus menjawab, ―Di sini mah biasa,
Bu! Kalau hujan deras pada gak masuk.‖
―Ooo, gitu!‖ jawabku heran.
Kemudian terdengar suara anak dan orang tua
berdatangan. Salah satu orang tua berkata, ―Tadinya gak mau
masuk, Pak. Tapi liat Bu Isti lewat di depan rumah, jadi
mikir. Kasihan Bu Isti hujan-hujan datang mengajar, tapi
muridnya gak ada.‖
Ada pengalaman lain yang melekat dan berkesan
sampai saat ini. Syifa namanya, ia berusia empat tahun. Saat
kegiatan pembelajaran, ia selalu ditemani neneknya. Padahal
anak yang lain setelah satu bulan sudah tidak ditunggui.
Akhirnya aku berinisiatif untuk mendekati Syifa dengan
perlahan. Awalnya memang sangat susah, tapi dengan
berjalannya waktu, akhirnya berhasil.
Syifa sudah mau ditinggal dan tidak ditemani
neneknya lagi. Bahkan saat berangkat ke sekolah pun tak
mau diantar oleh neneknya. Ia selalu menungguku lewat. Jika
ada yang mengajaknya berangkat bersama, ia selalu menolak
dengan alasan, ―Aku mau bareng sama ibu guru aja.‖ Ada
kepuasan dalam hati karena dapat menjalin kedekatan dengan
anak tersebut.
237
Histoire D’amour
Dua tahun berlalu, keinginanku mengajar sesuai
dengan prodi yang aku ambil belum surut. Akhirnya aku
mengundurkan diri dan melamar di Madrasah Ibtidaiiyah.
Setelah mengikuti serangkaian tes, alhamdulillah aku
diterima. Selain Madrasah Ibtidaiiyah, ternyata yayasannya
memiliki dua lembaga pendidikan lain yaitu Taman Kanak-
Kanak dan Madrasah Diniyah Takmilyah Awwaliyah. Di sini
aku mengajar kelas 1 MI angkatan pertama. Ada perasaan
senang, takut, khawatir yang bercampur aduk karena tidak
punya pengalaman sebelumnya dan sekolah ini baru berdiri.
Satu minggu mengajar, aku dipanggil oleh kepala MI.
Beliau berkata, ―Bu Isti saya pindahkan Ke Taman Kanak-
Kanak ya.‖
―Kenapa, Pak?‖ Aku menanyakan alasannya.
―TK butuh tenaga pengajar, dan Bu Isti sebelumnya
sudah pernah mengajar di RA, jadi mohon kesediaannya,‖
jelasnya.
Akhirnya dengan berat hati aku menerimanya. Ada
perasaan kecewa, sedih, dan marah. Dalam hati berkata,
―Kenapa dipindah? Aku bukan lulusan Pendidikan Anak Usia
Dini.‖
Dengan terpaksa akhirnya aku jalani. Dan berpikir,
―Mungkin ini yang harus aku jalani, dan Allah punya rencana
lain untukku.‖ Postingan di salah satu media sosial juga
menguatkan tekad dan mengubah niatku. Postingan itu
berbunyi, ―Ajari anak-anakmu surat Al-Fatihah sebelum
238
Histoire D’amour
orang lain mengajarkannya, karena itu akan menjadi bagian
dari salat di sepanjang hidup mereka.‖
Mulai saat itu aku berpikir, ―Aku akan menjadi orang
lain yang mengajarkan mereka surat Al-Fatihah itu.‖
Tidak terasa ternyata sudah sembilan tahun aku di TK
ini. Banyak pengalaman dan ilmu yang aku dapatkan di sini.
Sempat juga ditawarkan untuk kembali mengajar di MI, tapi
aku tolak. Menurutku menyenangkan berada di tengah-tengah
anak usia dini dengan tingkah lucu dan kepolosan mereka.
Celoteh-celoteh mereka kadang membuatku terkikik geli.
Dan dari mereka juga aku belajar tentang ketulusan,
kejujuran dan kesabaran. Setelah melihat situs dengan judul,
―Pada tahun 2020 guru yang tidak linier, tidak diijinkan
mengajar.‖ Aku memutuskan kuliah kembali mengambil S1
kesetaraan PG PAUD.
Purwakarta, 09 Juli 2022
Bionarasi Penulis
Istianah, S.Pd.,adalah anak ketiga dari 5 bersaudara.
Perempuan pecinta kopi ini berdarah madura yang lahir di Jakarta
dan saat ini berdomisili di Purwakarta, Jawa Barat. Ia senang
berada di tengah-tengah buku yang berjajar rapi di rak.
Kegemarannya membaca buku pengembangan diri membuatnya
bermimpi untuk menulis dan menerbitkan karyanya. Moto
hidupnya, “Libatkan Allah dalam setiap urusanmu, maka kau akan
239
Histoire D’amour
mendapat ketenangan.” Antologi cerpen “Aku dan Pendidikan
Anak Usia Dini” adalah karya pertamanya yang diterbitkan
bersama guru-guru penulis dari berbagai daerah di Indonesia.
240
Histoire D’amour
Senja
Dwi Suciasriani, S.Pd.
M atahari merah mengintip di antara
dedaunan. Arloji kecil di tangan
menunjukkan pukul 17.40. Aku mempercepat laju motor
untuk segera sampai di rumah. Langkah kecil menyambutku.
Dua laki-laki yang membuat aku begini. Kok begitu? Ya
karena aku mencintai mereka. Suami bekerja serabutan,
melamar bekerja namun belum beruntung. Bersyukur ia mau
mengerjakan apa saja yang dimintai orang.
241
Histoire D’amour
―Selagi pekerjaan itu halal, jangan malu ya, Dek.
Karena Mas begini!‖ Mendengarnya aku terharu.
Hidup tidaklah mudah. Terlahir dari keluarga
sederhana. Ayah seorang guru dan ibu pedagang kecil, aku
bersaudara melanjutkan pendidikan sampai S1. Orang tua
berpesan, ―Ayah dan ibu bukan orang kaya, tidak bisa
memberikan warisan harta. Hanya dengan sekolah ini bekal
masa depan kalian nanti.‖ Begitulah karakterku terbentuk.
Bukan kemiskinan yang perlu ditakuti, namun takutlah jika
malas dan menyerah dengan keadaan.
Sebelumnya, suami bekerja di sebuah perusahaan,
kami membangun rumah tangga. Berjanji untuk bekerja sama
dan setia. Aku bekerja sebagai guru honorer. Setahun
menikah dikaruniai seorang anak laki-laki. Dari tabungannya,
suami membangun rumah sederhana. Segalanya aku syukuri.
Sampai suatu hari ia demam dan dehidrasi, harus diinfus.
Itulah aku tahu ada laki-laki yang takut jarum suntik. Ia pucat
hendak kabur ketika suster mempersiapkan jarum suntik di
pergelangan tangannya.
―Mas malu dilihat anaknya, masa takut disuntik sih!‖
ujarku sekenanya.
―Bukan, itu jarumnya besar banget!‖ Mukanya
memelas
Suster sampai menyerah karena tidak bisa
memasukkan jarum infus di urat besarnya. Dokter turun
242
Histoire D’amour
tangan, bahkan ada dua dokter yang mengupayakan infus bisa
masuk dan menempel di pergelangan tangan suamiku.
―Pak jangan begini, bapak mau sembuh tidak?
Sayangkan sama istrinya?‖ tanya seorang dokter laki-laki
yang hampir habis kesabaran menghadapi suamiku. Jadi
kasihan berkali-kali pergelangan tangannya harus ditusuk
jarum.
Selentingan berita beberapa perusahaan mengalami
kerugian, tentu berdampak pada karyawannya. Kami berdua
berfirasat itu akan terjadi. Ya, suami diberi pesangon dan
dirumahkan. Uang pesangon ditambah sedikit pinjaman bank,
kami belikan sebidang tanah perkebunan karet. Nekat
memang, hasil panen karet untuk cicilan bank dan BBM ke
sekolah. Gaji honorer yang tidak seberapa untuk keperluan
balita kami. Tak jarang susu formulanya terlalaikan. Upah
serabutan suami untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, hidup
adalah perjuangan.
Hari ini, motorku mogok. Jalanan berlumpur yang
ditempuh karena hujan dan sampai di rumah saat matahari
beranjak sore.
―Bersih-bersih, Dek. Istirahat. Itu Mas masak tadi.‖
Lembut suami menegurku yang bersandar menjulurkan kaki
yang penat. Sekarang suami pun merangkap kerja rumah jika
aku terlambat pulang atau sibuk untuk urusan sekolah.
―Iya, Mas. Makasih ya.‖ sahutku. Sebelumnya aku
sudah mengabarinya jika ban motorku bocor dan harus
243
Histoire D’amour
menembal dulu di bengkel. Melangkah gontai. Dilemanya
guru honorer. Digaji tiga bulan sekali. Kerja tiada bedanya
dengan guru PNS yang per bulan cair. Hal ini memotivasi,
―Aku harus PNS.‖
Menjadi kuat bukan berarti kamu tidak pernah lelah.
Itu hanya berarti kamu memiliki kekuatan untuk bangkit
kembali setelah beristirahat.
―Mas, aku daftar CPNS, tapi bingung‖
―Memangnya kenapa? Mikir Mas dan anak ya?‖
―Iyalah, Mas. Mudah-mudahan lulus. Nah kalau dapat
jauh bagaimana?‖
―Kabarnya bisa milih formasi, jadi kalau lulus
ditempatkan sesuai pilihnnya, Dek.‖
―Iya itu kalau lulus nilai yang ditetapkan, Mas‖
―Insyaallah. Mas yakin kamu bisa. Banyak belajar.‖
―Iya, Mas.‖
Rezeki tidak tertukar selagi berusaha, Allah berikan
terbaik dari doa dan usaha. Hari itu tiba, kabar kelulusan
CPNS. Aku lulus bahkan ditempatkan tidak jauh. Hanya tiga
jam perjalanan motor dari tempat asalku. Bersyukur berada di
antara orang-orang yang selalu menyemangati, ―Fabi ayyi
aalaa‘i Rabbikuma Tukadziban.‖
Kuboyong keluarga menempati perumahan dinas.
Lumayan dapat menghemat biaya BBM. Bahkan anakku bisa
mengikuti taman paud di dekatnya. Suami berkebun,
sementara kehidupan kami sudah sempurna. Duduk
244
Histoire D’amour
bercengkerama mengamati senja, sampai matahari beranjak
ke peraduan.
―Nak, besok jajan di sekolah Ibu ya. Banyak jajanan
karena ada bazar.‖ Selesai makan malam, aku memulai
pembicaraan.
―Ayah kenapa makannya sedikit?‖
Dia hanya tersenyum, hatiku tidak enak dan
mendekatinya.
―Loh, ayah panas. Minum parasetamol ya.‖
―Iya,‖ sahutnya lirih
Kubereskan tempat tidur, anakku dengan perhatian
menyelimuti ayahnya.
Keesokan harinya, aku harus mondar-mandir rumah
dan sekolah, memastikan kompres di keningnya tetap
lembab. Air putih dalam botol kudekatkan agar ketika haus
dia dapat minum tanpa menungguku. Tiga hari sudah
terbaring sakit, mengingat dulu ia sangat takut dengan jarum
suntik.
Aku bingung harus bagaimana. Terpikir menelepon
orang tua agar menjemput anakku. Agak kerepotan juga
mengurus balita, sementara suami sakit dan aku tetap harus
bekerja.
Pagi itu sebelum sekolah, kumasakkan sup, kemudian
bergegas berangkat. Kebetulan di sekolah rapat membahas
hal-hal yang dianggap perlu untuk kemajuan sekolah. Aku
pun lupa, sampai kegiatan selesai dan buru-buru pulang.
245
Histoire D’amour
Suami masih berbaring. Aku mulai cemas. Sudah lima hari ia
sakit. Makan sedikit dan menggigil. Kuselimuti. Tidak bisa
begini, ia harus mendapat penanganan yang lebih baik.
―Mas, ke rumah sakit yuk.‖
Dia menggeleng lemah
―Ini bukan demam biasa, Mas.‖
Ia hanya diam
―Mas jangan khawatir, kita sudah BPJS. Inyaallah
gratis, Mas.‖
Ia menganguk
―Masyaallah.‖ Aku bergegas meminta pertolongan
tetangga mencarikan kendaraan membawa kami ke rumah
sakit.
Di rumah sakit, drama jarum suntik membuatku tidak
tega. Suami berontak lemah. Aku memeluknya. Setelah
berhasil, ia mulai tenang, mungkin diberi penenang oleh
dokter.
Dua hari di rumah sakit pakaiannya selalu basah
berkeringat,
―Sakit apa suami saya?‖ Aku bertanya pada suster,
sambil mengganti baju suamiku.
―Kami hanya memberi obat, Bu. Nanti dokter akan
cek kelenjar ludahnya.‖
―Hah?‖ Aku tidak tidak begitu paham maksudnya.
Semburat langit jingga menyapaku di balik jendela
yang terbuka. Kali ini aku tidak tertarik. Kututup jendela dan
246
Histoire D’amour
merapatkan tirainya. Petang berganti malam, terlelap. Sayup
suaranya merintih, terkesiap melihat tubuh suamiku
berguncang hebat. Aku dekap tubuhnya basah oleh peluh.
Sudut mata menitik hangat. Hatiku takut. Pelan
kubisikkan kalimat takzim, terbata-bata. Bibirnya berdesis
mengikutiku.
―Mas kuat, Mas.‖ Kutelan perasaanku, sambil terus
menuntunnya mengucapkan kalimat takzim. Perlahan ia
melemah mengendurkan jemarinya yang kugenggam.
Ia sudah pergi.
―Innalilahi wa innalilahi rojiun.‖ Segala yang
bernyawa pasti mati, aku tahu Allah mengujiku sebegitu
beratnya karena aku mampu. Aku rasakan tubuhku limbung.
Entah berapa lama, membuatku mengerutkan kening,
mengingat apa yang sedang terjadi.Menjerit.
―Mas jangan tinggalin aku! Bangun, Mas!‖ Suster
cepat menahanku, menggoyang-goyangkan jasad suami yang
membeku.
Seminggu berlalu, aku kembali di kehidupanku.
Untuk bekerja. Begitu juga balitaku yang kembali berbaur
ceria di antara teman-temannya. Kehidupan tetap harus
berjalan, impian tetap harus diwujudkan. Seperti mentari
yang mempertahankan meganya, menampilkan semburat
cahaya yang begitu indah. Kita harus berjaya di kala senja,
karena malam pasti tiba.
Ma. Delang, 9 Juli 2022
247
Histoire D’amour
Bionarasi Penulis
Dwi Suciasriani, S.Pd. lebih dikenal dengan Ibu Ani,
seorang guru Bahasa Indonesia di SMP 4 Tanah Tumbuh, salah
satu sekolah terpencil kabupaten Bungo, Jambi. Ibu dari seorang
anak yang memiliki hobi membaca komik ini, mencoba menulis
untuk kali pertama dengan judul cerita pendek SENJA, cerita yang
mengisahkan perjuangan wanita yang berkarir namun tetap
mencintai keluarganya. Tulisan ini menjadi pemicu semangatnya
untuk melahirkan karya-karya tulis lainnya.Menurutnya, “Dengan
membaca, kita dapat mengenal dunia, dengan menulis, kita akan
dikenal dunia.”
Motto, “Cobalah menulis, walau hanya satu kata dan
mewakili semua rasa.”
248
Histoire D’amour
Dua Peran Penting
Rian Purwanti, S.Pd.
B angun jam tiga pagi sudah jadi rutinitas
setiap hari bagiku, punya dua anak yang
masih bersekolah dan profesiku menjadi guru membuatku
memiliki dua peran penting sekaligus. Yaitu menjadi ibu dan
guru di saat yang bersamaan.
Rutinitas dimulai dari jam tiga pagi. Kegiatan pertama
yang aku mulai adalah mencuci baju. Mencuci baju empat
orang di rumah cukup memakan waktu. Di sela-sela mencuci
249
Histoire D’amour
baju, aku biasanya melakukan hal lain. Entah itu menyapu,
mencuci piring atau menyiapkan materi yang kurang ataupun
membuat media untuk mengajar hari itu.
Jika ada waktu lebih, aku memasak. Tetapi jika tidak,
aku akan membeli makanan di luar untuk sarapan anak-anak
sebelum berangkat ke sekolah.
Kegiatan selanjutnya adalah membangunkan anak-
anak untuk berangkat sekolah. Setiap pagi pasti selalu tersaji
cerita yang berbeda-beda. Contohnya hari itu, kita semua
harus berangkat pagi karena ada acara penting di sekolah
anakku.
―Bu, aku gausah makan yah. Nanti di sana aku beli
makan,‖ ucap anak pertamaku yang sedang terburu-buru
karena hari ini adalah hari kelulusannya.
―Makan dulu, Kak. Ibu udah masak,‖ ucapku dengan
perasaan khawatir.
Perasaanku campur aduk saat itu. Perasaan khawatir
dan kecewa. Di tengah kesibukan aku menyempatkan
memasak untuk mereka.Sekarang waktunya anak keduaku
yang masih kelas 5 SD sedang bersiap-siap. Dia akan tampil
di acara sekolah. Aku berencana izin dua jam untuk
menemani anak keduaku tampil. Aku meminta tolong kepada
teman sejawatku untuk mengajar anak muridku di sekolah,
selama aku izin menemani anakku di sekolahnya. Ini momen
penting buat anakku. Ia ingin ibunya menyemangatinya
seperti teman-teman sekolahnya.
250