The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

7 Hari Menembus Waktu (Charon) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alfiperpus, 2022-09-26 20:52:49

7 Hari Menembus Waktu (Charon) (z-lib.org)

7 Hari Menembus Waktu (Charon) (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka

Charon

NOW A MAJOR MOTION PICTURE

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta

Ketentuan Pidana:
Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan
Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1
(satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta
rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau
menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak
cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

http://facebook.com/indonesiapustaka Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta

http://facebook.com/indonesiapustaka 7 HaRI MeNeMbUs WaKTU
oleh: Charon
6 15 1 50 002

© Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Gedung Gramedia Blok I, Lt. 5

Jl. Palmerah Barat 29–33, Jakarta 10270
Cover oleh MD Pictures

Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
anggota IKAPI, Jakarta, Maret 2010

www.gramediapustakautama.com
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

ISBN 978 - 602 - 03 - 1215 - 6
Cetakan keenam: November 2012

Cetakan ketujuh: Mei 2015
176 hlm; 20 cm

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan

Untuk keluargaku,
Mami, Papi, Opa, dan Dede
Suporter terheboh sejagat raya.

Untuk Grandma & Grandpa
yang berada di atas sana…
Terima kasih karena telah memperlihatkan

arti sebuah cinta sejati.

Untuk Mbak Ike,
terima kasih untuk hari-harinya mengedit naskah ini.

Untuk kalian yang pernah mengalami tahun 80-an,
selamat bernostalgia!

Charon

http://facebook.com/indonesiapustaka

http://facebook.com/indonesiapustaka Satu

6 Juli 20 0 8
Ka b u r!!

Marissa memandang jalanan dari kaca jendela mobil

tanpa antusias. Hari ini Papi dan Mam i m engajaknya
pergi ke pesta, padahal dia lebih suka ada di rumah.
Mobil Papi memasuki sebuah gedung, dan tak berapa
lama kemudian berhenti. Terdengar suara pintu mobil
dibuka dari arah depannya. Lalu ketukan di kaca jendela
m obil m em buyarkan lam unannya.

”Kau tidak m au turun?” tanya Papi. ”Kita sudah sam -
pai.”

Marissa memandang Papi sambil mendesah. Dengan
m alas dibukanya pintu m obil.

”Bisakah Rissa pulang saja?” tanya Marissa, setengah
memohon.

Mam i langsung berkata dengan kesal, ”Marissa, kita
sudah membicarakan hal ini di rumah. Acara ini penting
untuk Papi.”

Papi menyentuh pundak Marissa. ”Papi tahu kau tidak
ingin ada di sini, kau tidak ingin bertemu mereka. Me-

7

http://facebook.com/indonesiapustaka ngurung diri di kamar tidak akan memperbaiki keadaan.
Cepat atau lam bat kau harus m en ghadapi m ereka.
Bukankah lebih cepat lebih baik?”

Alasan utam a Marissa tidak m au m enghadiri pesta ini
karena dia akan bertemu dengan Michael dan Selina. Satu
bulan yang lalu, Michael m em utuskan dirinya. Marissa
tidak habis pikir m engapa Michael tega m elakukannya,
padahal mereka sudah berpacaran selama tiga tahun.
Rasa sakit hati Marissa semakin parah ketika Michael
m alah jadian dengan Selina, m usuh terbesarnya selam a
in i.

Hari ini Selina pasti akan menghadiri pesta bersama
orangtuanya. Sebagai sesam a pengacara, Papi dan papa
Selina sering bertemu dan mereka berteman baik.

Akan tetapi tidak dem ikian halnya dengan anak-anak
m ereka. Marissa dan Selina sudah tidak m enyukai satu
sama lain saat pertama kali mereka bertemu. Selina ter-
lalu sombong, mau menang sendiri, dan sering mengolok-
oloknya. Yang lebih m enyebalkan, Selina pandai sekali
berbohong tanpa rasa bersalah.

Saat pertama kali jadian dengan Michael, Marissa
senang sekali m elihat Selina cem buru kepadanya. Kini,
tiga tahun kemudian Selina membalas rasa cemburu itu.

Pandangan Marissa beralih pada sebuah papan karang-
an bunga di depan gedung. Dia m em baca tulisan yang
tertera di papan itu. Selam at atas dua puluh tahun ber-
diriny a Gedung ALBATROSS.

Mami menengok ke belakang, dan memandang putri-
nya dengan putus asa. ”Marissa, ayo m asuk!”

Dengan langkah berat Marissa memasuki gedung. Me-

8

http://facebook.com/indonesiapustaka reka naik lift m enuju lantai tiga. Di dalam lift, Mam i
m enatap anaknya dengan lem but. ”Mam i tahu kau tidak
ingin bertem u m ereka. Akan tetapi, apa yang Papi kata-
kan benar, Marissa. Kau harus menghadapi mereka. Lagi
pula, Mami dan Papi tidak membesarkan seorang pe-
ngecut, kan?”

Mam i m engelus ram but anaknya penuh kelem butan.
”Mengurung diri di kam ar bukan jalan keluar.”

”Aku tahu,” kata Marissa akhirnya.
Pintu lift terbuka, ketiganya keluar dari lift dan ber-
jalan menuju hall. Sesaat setelah Marissa melangkah ke
dalam tem pat acara, m atanya m enatap Selina dan
Michael tak jauh di depannya. Marissa m endesah kesal.
Selina sengaja datang lebih awal untuk m enghinanya,
padahal biasanya dia selalu telat.
Aku benar-benar benci dia! desah Marissa dalam hati.
Dengan senyum m anis, Selina m em andang Marissa,
sementara tangannya menggelayut manja kepada Michael.
Michael m elihat kedatangan Marissa, dan ia hanya
tertunduk malu. Napas Marissa terhenti sesaat. Aku tidak
bisa m elakukannya, katanya dalam hati, terlalu m enyakit-
kan.
”Mam i,” katanya kem udian. ”Aku m au ke toilet dulu.”
Setengah berlari, Marissa meninggalkan tempat acara
dan masuk ke toilet yang berada tak jauh dari sana. Di
dalam toilet, air m ata Marissa jatuh. ”Aku benar-benar
benci m ereka!” bisiknya sam bil m enangis. ”Aku m em -
bencimu, Michael. Tega sekali kau melakukan ini
padaku.”
Selam a beberapa m enit hanya tangis Marissa yang

9

http://facebook.com/indonesiapustaka terdengar di dalam toilet, lalu isakan itu mereda. Marissa
menatap wajahnya dalam cermin. Ia mengambil tisu dari
toilet dan m enghapus air m atanya. Mata dan hidungnya
m erah. Aku tidak sekuat y ang Papi bay angkan. Aku
tidak bisa m elakukan ini, aku harus pergi.

Dengan tekad bulat, Marissa keluar dari toilet dan
berjalan ke arah tangga di hadapannya. Dia ingin pulang
dan m enangis sepuasnya di rum ah. Dilihatnya jam
dinding besar di aula gedung menunjukkan pukul enam
sore. Pandangannya lalu tertuju pada lukisan di dekat
tangga. Marissa berjalan mendekat. Lukisan sebesar satu
kali satu m eter itu hanya berupa lingkaran-lingkaran
merah dengan latar belakang berwarna hitam.

Dia m em baca keterangan di bawahnya.

Judul Lukisan: Menem bus W aktu
Tahun Dibuat: Tidak diketahui, diperkirakan sekitar
abad 17-18
Pelukis: Tidak diketahui
Keterangan:
Konon, lukisan ini dipercay a bisa m engabulkan se-
buah perm ohonan.

Marissa tertawa pendek. ”Mengabulkan perm ohonan?”
katanya, tidak percaya. ”Tidak ada hal seperti itu di dunia
ini. Saat ini aku sebal kepada Papi dan Mam i. Apakah
mereka tidak pernah merasakan bagaimana menjadi
seorang remaja dan sakit hati? Tidakkah mereka mengerti
bahwa aku butuh waktu untuk sembuh? Mereka benar-
benar tidak mengerti apa yang ada dalam hatiku. Pacarku

10

http://facebook.com/indonesiapustaka meninggalkanku. Sangat menyakitkan. Sekarang aku tidak
punya pacar.”

Suara Marissa sudah m endekati histeria. ”Aku benci
Michael, aku benci Selina! Aku benci sem uanya! Aku
benci tem pat ini! Aku berharap tem pat ini ditutup saja
sehingga aku tidak perlu menghadiri acara ini, dan ber-
tem u dengan orang-orang yang m enyakiti hatiku!”

Napas Marissa terengah-engah, lalu akal sehat merasuki-
nya. ”Apa yang baru saja kulakukan?” tanyanya perlahan.
”Aku berbicara pada sebuah lukisan. Tampaknya pikiran-
ku sudah benar-benar kacau.”

Marissa m em balikkan badannya, dan m elangkah m e-
nuruni tangga. Tiba-tiba seluruh ruangan bergetar hebat.
Ada apa ini?! Marissa panik. Getaran itu sem akin lam a
semakin kuat. ”Ya, am pun!” teriaknya dalam hati. ”Gem -
pa bum i!!”

Marissa terjatuh, kacamatanya terlepas. Marissa meman-
dang langit-langit di atasnya dengan ketakutan. Secara
releks diangkatnya tangannya untuk melindungi kepala,
lalu dia m enutup m atanya.

11

http://facebook.com/indonesiapustaka Dua

2 9 Ju n i 19 8 8 ?!
Yan g Be n ar Saja!

Entah berapa lama Marissa tertelungkup. Lantai gedung

sudah tidak bergetar lagi. Perlahan-lahan Marissa mem-
buka m atanya. Hal pertam a yang disadarinya adalah
seluruh gedung gelap gulita. Marissa mencoba memakai
kacamatanya untuk melihat keadaan, namun kacamatanya
sudah retak, tidak bisa digunakan lagi. Dengan putus asa,
Marissa m enyusuri gedung dengan perlahan-lahan.

”Halo!” teriaknya dengan ragu. ”Ada orang di sini?”
Interior gedung tampak berbeda. Pintu ke ruang acara
tertutup. Marissa lalu membukanya. Keadaan di dalamnya
gelap gulita. ”Halo!” teriaknya lagi. ”Mam i! Papi! Kalian
ada di dalam ?!”
Di m ana sem ua orang?! teriaknya dalam hati, dengan
putus asa. Kenapa gedung ini gelap gulita?
Apakah sem ua orang sudah di luar gedung? Hatinya
bertanya-tanya. Marissa memutuskan keluar dari gedung,
ia m enuruni tangga. Di depan pintu m asuk hanya satu
lam pu neon yang berpijar.

12

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Halo!!” teriaknya lagi, dengan lebih keras.
Tiba-tiba ada cahaya senter di kejauhan m endekati
Marissa. Suara anjing menggonggong mengikuti arah ca-
haya senter itu. Marissa ketakutan.
”Siapa di sana?” tanya suara dari balik kegelapan. ”J a-
ngan bergerak!”
Suara anjing menyalak semakin kencang, dan terdengar
semakin mendekati tempat Marissa berada. Tanpa ber-
pikir panjang, Marissa lari sekencang-kencangnya keluar
dari gedung. Di luar tam pak kawat tinggi, yang m e-
ngelilingi gedung. Tanpa memandang lagi ke belakang,
Marissa terus berlari menuju pintu yang juga terbuat dari
kawat, dan m em bukanya. Seketika tatapan Marissa ter-
tuju pada papan putih di depannya, dengan tulisan besar-
besar:

GEDUNG ALBATROSS.
AKAN DIBUKA TANGGAL 6 J ULI 1988

Kening Marissa berkerut. Hah? Ada apa ini? Apakah
ini hanya lelucon? Mim pi buruk? Tubuhnya m erinding.
Marissa m em percepat langkahnya sam pai ke jalan raya.
Napasnya terengah-engah.

Lebih baik aku pulang ke rum ah, kata Marissa dalam
hati. Untung saja rum ah Marissa dan Gedung Albatross
m em ang tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan yang dilalui-
nya, Marissa kebingungan. Mobil-m obil yang dilihatnya
tidak seperti biasanya.

Aku ada di m ana? teriaknya dalam hati. Perlahan tapi
pasti, Marissa berjalan m enyusuri jalan utam a, lalu dia

13

http://facebook.com/indonesiapustaka berbelok m enuju jalan ke rum ahnya. Hari m asih sore,
Marissa melihat anak-anak perempuan sedang bermain
lom pat tali. Aneh, katanya dalam hati. Mengapa bany ak
anak-anak di sini?

Marissa m eneruskan perjalanannya. Tak berapa lam a
kemudian ia melihat lapangan luas terbentang di
sam pingnya. Marissa sem akin bingung.

”Sejak kapan ada lapangan di situ?” kata Marissa per-
lahan. ”Bukankah di situ lokasi superm arket?”

Beberapa anak laki-laki tampak tertawa sambil bermain
kelereng di tanah lapang. Marissa menggeleng-geleng.
Apakah pikiranku m enjadi kacau sejak gem pa bum i
tadi?

Marissa menahan napas, lalu berjalan lagi menuju
rum ahnya. H atinya lega m elihat rum ah yang am at
familier baginya. Ketika sampai di depan gerbang Marissa
mencoba memencet bel, namun bel itu tidak ada di tem-
patnya. Ia m encoba m asuk, nam un sebuah gem bok m e-
ngunci pintu itu. Apakah Mam i dan Papi belum pulang?
tanyanya dalam hati. Marissa sem akin bingung. Marissa
akhirnya berjalan m em utar ke sam ping rum ah dan
menemukan lubang yang tersembunyi di balik pepohonan.
Ia menemukan lubang itu ketika berusia sepuluh tahun.
Sejak itu ia sering kabur untuk pergi bermain melalui
lubang tua itu, ketika orangtuanya tidak mengizinkannya
keluar rumah.

Ketika merangkak masuk ke dalam lubang itu, Marissa
tidak m em perhitungkan tinggi badannya. Kini dia bukan
lagi gadis kecil berusia sepuluh tahun. Di usianya yang
beranjak dewasa, tinggi badannya pun telah bertam bah.

14

http://facebook.com/indonesiapustaka Setengah badan bagian atas bisa masuk dengan mudah,
namun ia mengalami kesulitan ketika mendorong masuk
tubuh bagian bawahnya. Marissa membalikkan badannya,
dan telentang di atas tanah, lalu menggunakan tangannya
untuk maju. Ketika akhirnya dia berhasil berdiri di depan
rum ah itu beberapa saat kem udian, baju pesta putihnya
sudah kotor berlepotan tanah.

Marissa m em andang rum ahnya. Rasany a ada y ang
beda? tan yan ya dalam hati. Bentuk rum ah m asih
sam a, nam un catny a berbeda, pekaranganny a juga
berbeda.

Terdengar suara anjing besar menggonggong dari da-
lam rumah. Ya, am pun! keluh Marissa dalam hati. Masa
aku harus berurusan dengan anjing galak dua kali?

Lampu depan rumah dinyalakan. ”Siapa di luar?” teriak
sang penghuni rumah.

Astaga, pikir Marissa panik, itu bukan suara Papi. Se-
pertinya aku m asuk ke rum ah orang, bukan rum ahku.

J eritan keras penghuni rumah terdengar sampai ke
halam an. ”Papi!” teriak seorang wanita. ”Sepertinya ada
m aling di depan rum ah kita!”

Arghhhh! Marissa ketakutan dan semakin panik. Aku
disangka m aling?!!

”Mam i diam saja di rum ah!” Terdengar suara seorang
pria dari dalam rumah. ”Mana pemukul bola? Sini… beri-
kan pada Papi!”

Gaw at! Aku harus kaburrr! Marissa berlari ke arah
lubang yang tadi dim asukinya. Setelah keluar dari sana,
dia berlari sekencang-kencangnya.

Setelah setengah jam berlari tak tentu arah, Marissa

15

http://facebook.com/indonesiapustaka berhenti untuk mengambil napas dalam-dalam. Aku ha-
rus ke m ana lagi? tanyanya dalam hati. Mengapa sem ua-
nya begitu berbeda? Di m ana rum ahku?

Ia mencoba mengamati lingkungan sekitarnya. Aku ada
di mana?

Matanya kemudian melihat sosok anak laki-laki sedang
m enyeberangi jalan. Tak berapa jauh dari sana sebuah
mobil berkecepatan tinggi melaju kencang menuju anak
itu. Marissa pun berlari dan berteriak, ”Hei, kamu! Hati-
hati! Ada m obil!”

Anak kecil itu tidak m enggubris teriakan Marissa. De-
ngan sekuat tenaga, Marissa berlari dan menarik ke luar
anak itu dari jalanan. Keduanya jatuh di seberang jalan
dalam keadaan berpelukan. Sem entara, m obil yang tadi
tetap melaju melewati mereka dengan kencang.

Marissa terengah-engah.
”Lepaskan aku!” teriak anak itu.
Marissa melepaskan pelukannya dan menatap anak itu,
”Kau tidak apa-apa?”
Anak itu m em andang Marissa dengan cem berut, lalu
berdiri. Marissa juga mencoba berdiri dengan susah pa-
yah. Kakinya lecet. Hak tinggi m em ang tidak diciptakan
untuk berlari, keluh Marissa dalam hati.
”Hei, Anak kecil,” kata Marissa lagi, ”kau tidak apa-
apa?”
Anak kecil itu tidak menjawab, bahkan dia malah pergi
meninggalkan Marissa.
Marissa kesal setengah mati. Dasar anak tidak tahu
berterim a kasih.

16

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Hei! Tunggu!” teriak Marissa, sambil berlari mengejar
anak itu.

Marissa menyentuh pundak anak kecil itu, dan berkata
dengan m arah, ”Hei! Seharusnya kau berterim a kasih
karena aku sudah m enyelam atkanm u.”

Anak kecil itu menyingkirkan tangan Marissa dari pun-
daknya. ”J angan sentuh aku!”

Marissa m enahan napas m enahan am arah. ”Oke. Oke.
Aku tidak akan menyentuhmu lagi. Aku hanya ingin tahu
apakah kau baik-baik saja. Tidak ada yang terluka,
kan?”

Anak itu menoleh ke arah Marissa tanpa antusias. ”Aku
tidak butuh perhatianm u!” Kem udian, dia berjalan lagi.

Ini anak, kata Marissa dalam hati, jutek abis.
Marissa mengikuti anak itu dari belakang. Setelah lima
m enit berlalu, anak itu m em balikkan badannya. ”Kenapa
kau mengikutiku?”
Marissa m endekati anak itu. ”Kau punya nam a, kan?”
Anak itu m enatap Marissa dengan curiga. ”Aku tidak
boleh memberitahukan namaku kepada orang tidak di-
ken a l.”
Marissa geram . ”Orang tidak dikenal? Aku baru saja
m enyelam atkan hidupm u.”
Anak kecil itu m engangkat bahu. ”Aku tidak m em inta-
mu, kan?”
Am arah Marissa m eledak. ”Dasar anak tidak tahu ber-
terima kasih! Tidak diajari sopan santun oleh orangtuamu
ya?”
Pandangan sedingin es anak itu menatap mata Marissa.
”Kedua orangtuaku sudah m eninggal!” katanya ketus.

17

http://facebook.com/indonesiapustaka Marissa merasa bersalah. ”Maafkan aku. Aku tidak ber-
m aksud m enyakiti perasaanm u. Aku hanya ingin m e-
ngetahui apakah kau baik-baik saja.”

Anak itu m enatap Marissa dari atas ke bawah, lalu
m em balikkan badannya dan berjalan lagi.

Aku dicuekin? batin Marissa tidak percaya. Saat hendak
mengejar anak itu, perut Marissa berkeroncongan. Dia
baru ingat dia belum makan.

Anak itu berhenti setelah beberapa langkah, dan berdiri
di depan salah satu rum ah. Ketika dia akan m em buka
pintu, Marissa m encegatnya.

”Hei,” kata Marissa dengan m anis, ”aku tahu kau
marah kepadaku. Begini saja, kenalkan, namaku Marissa.
Bolehkah aku singgah sebentar di rumahmu? Aku benar-
benar haus.”

Anak itu menatap Marissa lagi dengan tajam. ”Rumah-
ku bukan tempat orang telantar.”

Orang telantar?! teriak Marissa kesal. Oke. Cukup su-
dah!

”Kau harus m engizinkan aku m asuk!” teriak Marissa.
”Aku benar-benar kelaparan. Kau berutang padaku!”

”Tidak!” kata anak itu tegas.
Tatapan Marissa berubah m em ohon. ”Tolonglah! Aku
m ohon!”
”Tidak!” kata anak itu cepat.
Marissa tertunduk m enyerah. Ia sudah tidak punya
tenaga lagi. Dia berjalan ke depan gerbang dan duduk di
sana. Air m atanya keluar dan ia m enangis keras.
”Aku benci sem ua ini!” teriak Marissa. ”Aku tidak

18

http://facebook.com/indonesiapustaka tahu ada di m ana. Aku tidak punya rum ah. Aku tidak
punya uang. Orangtuaku m enghilang. Kakiku sakit ka-
rena berlari dari tadi. Aku disangka m aling. Apa yang
sebenarnya terjadi? Mengapa nasibku sial sekali? Aku
diputus pacarku. Musuhku m erebutnya dari tanganku.
Aku hanya ingin kabur dari sana. Aku m elihat sebuah
lukisan konyol, dan tiba-tiba terjadi gem pa bum i. Di
sinilah aku sekarang. Entah di mana ini, aku tidak me-
ngenal siapa pun.”

Marissa akhirnya berhenti berteriak karena kelelahan.
Ia m em egangi lututnya dan m enjatuhkan kepalanya di
sana. Setelah itu, yang terdengar hanyalah isak tangis-
n ya .

Anak itu m em andang gadis di depannya tanpa ber-
suara. Dilihatnya lutut gadis itu terluka karena m enye-
lam atkannya tadi. Dia lalu berjalan m endekat.

”Kau boleh tinggal di rum ahku,” kata anak itu per-
la h a n .

Marissa m engangkat kepalanya. ”Benarkah?” Secercah
harapan m uncul hatinya. ”Aku akan m elakukan apa
p u n .”

”Benarkah?” tanya anak itu.
Marissa m engangguk. ”Apa pun yang kauinginkan.”
”Kau bisa m asak?” tanya anak itu lagi.
Marissa menggeleng cepat. ”Aku tidak bisa dekat-dekat
dengan kuali panas.”
”Bagaim ana kalau m encuci?” tanyanya lagi.
”Tanganku tidak bisa kena deterjen,” sahut Marissa lagi
sambil menelan ludah.
”Bersih-bersih?” tanya anak itu lagi dengan kesal.

19

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Aku alergi debu,” kata Marissa, sambil menutup mata-
n ya .

Anak itu mendesah kesal. ”Dasar tidak berguna!” kata-
nya. ”Tadinya aku pikir kau bisa m em bantu Bi Ijah. Se-
ka r a n g…”

Marissa bangkit berdiri. ”Aku bisa belajar… sungguh….
Aku bisa m em bantunya. Tolong bantu aku!”

Anak itu m enarik napas, dan akhirnya m engangguk.
”Baiklah. Kau boleh tinggal. Akan tetapi… kalau kau mem-
buatku marah, kau harus keluar.”

Marissa tersenyum lega. ”Oke.” Ia m em eluk anak itu
dengan antusias.

Anak itu berusaha m elepaskan diri. ”J angan peluk
aku!” katanya kesal. ”Aku tidak suka disentuh!”

Marissa langsung melepaskan pelukannya. ”Maaf. Tidak
akan kuulangi. Terim a kasih. Aku sudah tidak tahu m au
ke m ana lagi….”

Anak itu m em buka pintu gerbang rum ahnya, dan
Marissa m engikutinya dari belakang.

”Den Wiliam baru pulang?” tanya seorang wanita tua
di depannya.

”Ya, Bi Ijah,” kata anak itu, yang ternyata bernam a
Wiliam . ”Tante Sarah ada di rum ah?”

Bi Ijah mengangguk. ”Sepertinya mau pergi lagi, Den.”
Wiliam m enoleh kepada Marissa. ”Ikut aku!”

Wiliam m em buka pintu depan rum ahnya, lalu m asuk.
”Wiliam ,” kata suara seorang wanita, ”kau baru pu-
la n g?”
Wiliam m enjawab, ”Ya, Tante.”
Seorang wanita tinggi semampai berjalan ke hadapan

20

http://facebook.com/indonesiapustaka Wiliam dan Marissa.
Marissa menatap wanita itu. Dandanannya sangat tebal.

Anting-anting besar nyantel di telinganya. Ia mengenakan
celana jins pudar dan kaus berwarna-warni.

Dandanan w anita ini benar-benar norak, kata Marissa
dalam hati.

”Siapa ini?” tanyanya, m enunjuk kepada Marissa.
”Tante Sarah,” kata Wiliam. ”Kenalkan ini Marissa, dia
anak teman Mama dari panti asuhan. Dia baru saja da-
tang di J akarta, dan akan tinggal di sini selama libur-
a n .”
Marissa terkejut dan merasa heran mendengar per-
kataan Wiliam . Rupanya anak kecil yang dia tolong ini
benar-benar pintar berbohong. Selain itu, ucapan-ucap-
annya tidak mencerminkan layaknya anak berusia delapan
tahun. Kalau saja Marissa tidak berhadapan langsung
dengan Wiliam, mungkin ia akan mengira bahwa anak
yang berbicara itu seum ur dengan dirinya.
Tante Sarah memandangi Marissa dari atas sampai ke
bawah.
”Pakaian apa yang dikenakannya?” tanya Tante Sarah.
”Kotor sekali.”
Wiliam menatap tantenya dengan tenang. ”Dia kan dari
kam pung, Tante. Apa yang bisa Tante harapkan?”
Marissa harus mengakui Wiliam benar-benar meyakin-
kan dalam berbohong.
”Ya, baiklah. Terserah,” kata Tante Sarah, kehilangan
m inat. ”Kau tem pati saja kam ar tam u.”
Tante Sarah lalu membungkuk, dia mencubit kedua

21

http://facebook.com/indonesiapustaka pipi Wiliam dengan gemas. ”Tante pergi dulu. Kau jangan
nakal, ya.”

Wiliam m em alingkan wajahnya, berusaha m elepaskan
pipinya dari jem ari tantenya.

Tante Sarah hanya tersenyum, dan berlalu dari hadap-
an Wiliam. Tak lama kemudian, suara mobil dari halaman
depan terdengar, menandakan kepergian Tante Sarah.

Perut Marissa berkeroncongan lagi.
”Bi Ijah!” teriak Wiliam ke arah dapur.
Tak lam a kem udian Bi Ijah tergopoh-gopoh ke ruang
tam u. ”Ada apa, Den?” tanyanya sopan.
”Bi Ijah…,” kata Wiliam, lalu menoleh kepada Marissa,
”Ini Marissa, anak tem an Mam a dari panti asuhan.”
Bi Ijah mengangguk perlahan ke arah Marissa. Marissa
balas mengangguk.
”Sepertinya Marissa kelaparan,” kata Wiliam lagi.
”Tolong siapkan m akanan untuk dia ya, Bi.”
”Ya, Den,” kata Bi Ijah, sam bil berlalu m asuk ke da-
pur.
Wiliam m enyuruh Marissa duduk m enunggu di ruang
makan. Marissa mengambil gelas yang ada di meja makan
dan menuangkan air ke dalamnya. Ia minum hampir dua
gelas penuh.
Tak berapa lam a kem udian, Bi Ijah datang m em bawa
makanan. Wajah Marissa berseri-seri melihatnya. Ia meng-
ambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk-pauk serta
sayur-m ayur yang ada di depannya. Ketika akan m e-
nyuapkan sesendok nasi ke m ulutnya, Marissa m elihat
Wiliam m em perhatikannya.
”Kau tidak m akan?” tanya Marisa heran.

22

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Aku tidak lapar,” kata Wiliam perlahan.
Marissa makan dengan lahap tanpa memedulikan
tatapan Wiliam . Seum ur hidupnya ia belum pernah m e-
rasa kelaparan seperti saat ini. Saat nasi di piringnya
habis, Marissa menambah lagi, namun lauk-pauk dan
sayur-m ayur di hadapannya sudah ham pir habis.
”Em , Wiliam ,” kata Marissa serbasalah, ”boleh m inta
Bi Ijah m asak sayurnya lagi tidak?”
Wiliam melihat ke arah piring Marissa sambil men-
desah. ”Kakak rakus sekali,” kom entarnya.
Dikatai demikian, Marissa sedikit tersinggung. Makan-
nya dari dulu memang banyak. Akan tetapi, baru kali ini
dia dibilang rakus, terlebih lagi oleh seorang bocah.
Marissa berusaha bersabar, ia tidak boleh melawan ka-
rena takut diusir dari rum ah ini. Ia tersenyum m anis
pada bocah itu. ”Aku m em ang m akannya banyak.”
Wiliam terdiam beberapa saat, nam un akhirnya dia
m enyuruh Bi Ijah m em asak lagi. Setelah perut Marissa
kenyang, Wiliam m engajaknya ke kam ar tam u.
”Kakak bisa tidur di kam ar ini,” kata Wiliam .
Marissa masuk ke kamar itu. Di sana terdapat satu
ranjang, lem ari, dan m eja rias. ”Terim a kasih,” kata
Marissa, lalu dia memandang ke luar jendela. Sebuah
mobil terparkir di luar. Marissa tahu itu mobil keluaran
tahun lama. Ia pernah melihat foto mobil itu. Rasa ingin
tahunya tergelitik karena ia m erasa keluarga William cu-
kup berada, tapi kenapa m obilnya m obil keluaran tahun
la m a .
”Wiliam,” katanya, sambil mengernyit. ”Hari ini tanggal
berapa?”

23

http://facebook.com/indonesiapustaka Wiliam m enunjuk pada kalender yang terpasang di
dinding kam ar. ”Hari ini tanggal 29 J uni…”

Pandangan Marissa tertuju pada kalender di dinding.
Matanya m enatap tanggal yang disebut Wiliam dengan
rasa tidak percaya.

”1988,” lanjut Wiliam lagi.
”29 J uni 1988?!” teriak Marissa. ”29 J uni 1988? Yang
benar saja! Tidak m ungkin!”
Wiliam memandang Marissa dengan penasaran.
”Terakhir kali aku ada di tahun 20 0 8,” lanjut Marissa
lagi. ”Tepatnya tanggal 6 J uli 20 0 8.”
”Kakak om ong apa sih?” tanya Wiliam bingung.
Marissa akhirnya m enatap Wiliam . ”Tidakkah kau
mengerti, Wiliam? Aku terlempar ke masa lalu, dua puluh
tahun dari masa tempatku berasal.”
”Tidak ada yang nam anya perjalanan waktu,” kata
Wiliam menegaskan.
”Hal itu terjadi padaku!” teriak Marissa putus asa. ”Aku
bukan berasal dari tahun ini… aku malah belum lahir di
tahun ini….”
Wiliam tidak mem ercayai satu pun perkataan Marissa.
”Aku rasa Kakak perlu istirahat.”
Marissa m endesah. ”Kau tidak percaya, kan? Aku
sendiri pun bahkan tidak m em ercayainya. Tunggu… aku
bisa membuktikan bahwa aku berasal dari tahun 2008.”
Sedikit rasa penasaran timbul di hati Wiliam. ”Oh, ya?”
tanyanya. ”Bagaim ana?”
Marissa terlihat berpikir keras. ”Hm m , di m asa depan
m obil yang diparkir di halam an depan rum ahm u sudah

24

http://facebook.com/indonesiapustaka menjadi barang langka. Orang-orang di masaku mobilnya
lebih canggih.”

Wiliam m enggeleng tidak percaya. ”Kakak akan m e-
ngatakan bahwa m obilnya bisa terbang?”

Marissa m enelan ludah. ”Tidak.”
”Kalau begitu, apa bedanya dengan m obil tahun ini?”
tanya Wiliam .
”Pokoknya, modelnya beda!” teriak Marissa ngotot. ”Di
m asaku juga ada internet, iPod…”
”Ai pot?” tanya Wiliam bingung. ”Pot bunga?”
”Bukan,” kata Marissa tidak sabar. ”iPod adalah se-
macam alat untuk mendengarkan lagu, kita bisa mem-
bawanya ke m ana-m ana. Bentuknya ringan dan kecil.”
”Di m asa ini juga ada alat yang kam i sebut w alkm an,
untuk mendengarkan lagu. Alat ini bisa dibawa ke mana-
mana juga,” kata Wiliam, memberi penjelasan.
”Itu berbeda,” kata Marissa putus asa. ”W alkm an-m u
perlu kaset, bukan? Nah, di masa depan kita tidak me-
m erlukan kaset lagi, kita hanya m enyim pannya dalam
ile-ile mp3.”
”Kakak bisa saja m engarang hal-hal itu,” kata Wiliam ,
m asih tidak percaya.
Marissa tidak putus asa. ”Tunggu, di m asa depan ada
yang nam anya kom puter.”
Wiliam mengajak Marissa ke ruang tamu. Di sana dia
m em buka kain yang m enutupi sebuah benda.
”Sekarang, aku juga punya kom puter,” kata Wiliam .
Pandangan Marissa tertuju pada komputer di depannya.
”Ya, m em ang. Akan tetapi, kom puter di m asaku lebih
ca n ggih .”

25

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kom puter ini sudah term asuk yang paling canggih,”
kata Wiliam , tidak m au kalah. ”Ini keluaran terbaru.
Sudah em pat warna, tidak hanya satu warna seperti
dulu.”

Marissa tertawa. ”Kom puter di m asaku punya jutaan
wa r n a .”

”Itu kan hanya kata Kakak,” sanggah Wiliam . ”Tidak
membuktikan apa pun.”

Marissa m enepuk kepalanya dengan kedua tangannya
sebagai tanda frustrasi.

Wiliam m elihat hal itu sam bil tersenyum kecil. Saat
Marissa m elihatnya lagi, senyum itu sudah hilang dari
b ib ir n ya .

”Mengaku saja, Kak,” kata Wiliam , ”Kakak kabur dari
rumah, kan?”

”Tidak!” sanggah Marissa, ”aku tidak kabur dari ru-
m ah.” Ya, am pun, keluhnya dalam hati, apa pun y ang
aku katakan, W iliam pasti tidak percaya. Mana m ungkin
dia percay a bahw a barang-barang y ang aku sebutkan
belum ada di m asany a? Lagi pula, apa y ang aku laku-
kan? Mem beri penjelasan tentang benda-benda m asa
depan pada seorang anak kecil? Mana m ungkin dia m e-
n g er t i?

Tiba-tiba pandangan Marissa tertuju pada televisi di
depannya, lalu dia tersenyum . ”Wiliam , aku akan m em -
buktikan bahwa aku memang datang dari masa depan,”
katanya yakin. ”Kaulihat televisi di depanm u? Di m asa
Kakak, gam bar televisi sudah berwarna. Tidak hitam
putih lagi.”

Wiliam m engedip-ngedipkan m atanya beberapa kali,

26

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Wow,” katanya kem udian. ”Kakak sepertinya m em ang
datang dari masa depan.”

Marissa tersenyum lebar. Nah kan, apa kataku? kata
Marissa, penuh kemenangan dalam hati.

Wiliam melangkah menuju televisi, dan menghidupkan-
nya. Marissa m elihat gam bar di televisi dan terkejut.

”Kam i sudah punya televisi berwarna dari kapan-
kapan,” kata Wiliam tenang, dan menatap Marissa seakan
dirinya adalah m anusia paling bloon sedunia.

Arghhh sial! kata Marissa kesal. Aku diperm alukan
oleh anak kecil.

”Wiliam !” kata Marissa kesal. ”Berapa um urm u?
30 ?”

”Um urku delapan tahun!” kata Wiliam galak.
”Umurku delapan belas tahun!” kata Marissa, tidak ka-
lah galak. ”Aku lebih tua darimu sepuluh tahun. J adi, aku
pastinya lebih berpengalam an dan lebih tahu tentang
segala hal. Kau harus m endengar kata-kataku!”
Wiliam m enguap. ”Aku capek,” katanya m alas. ”Aku
m au tidur dulu. Lebih baik Kakak juga istirahat. Siapa
tahu besok pagi pikiran Kakak sudah kem bali nor-
m a l.”
Ini anak benar-benar m eny ebalkan. Kalau bukan ka-
rena aku tinggal di rum ahnya, sudah pasti aku beri dia
pelajaran. Marissa cemberut melihat Wiliam masuk ke
kam arnya tanpa m em perhatikan dirinya lagi.
Malam itu Marissa berusaha memikirkan semua kejadi-
an yang dialam inya. Tetap saja dia m erasa bahwa apa
yang dialaminya tidak masuk akal. Marissa meringkuk di
atas ranjang dan memejamkan matanya. Ini sem ua pasti

27

http://facebook.com/indonesiapustaka cum a m im pi, katanya berusaha m eyakinkan dirinya sen-
diri. Besok pagi saat aku terbangun… sem uany a akan
kem bali seperti sem ula.

Dengan pikiran seperti itu, Marissa tertidur pulas.

28

http://facebook.com/indonesiapustaka Tiga

3 0 Ju n i 19 8 8
Se lam at D atan g d i Fas h io n ’8 8

Suara ayam berkokok membangunkan Marissa. Matanya

m asih tertutup, nam un m ulutnya m enguap lebar. Sejak
kapan Papi pelihara ay am di rum ah? Berisik sekali,
keluhnya m asih setengah m engantuk. Tunggu dulu…,
pikirnya setelah alam dunia m im pi m enjauhinya. Kasur
ini keras sekali, bantalny a juga… ini bukan tem pat
tidurku.

Marissa langsung m em buka m atanya, lalu m elihat
kalender di depannya. Angkanya masih menunjukkan 29.
Marissa kem bali m enutup m atanya dengan kesal. Ini
bukan m im pi, katanya kesal, aku benar-benar ada di
tahun 1988. Setelah berdiam diri beberapa saat, Marissa
bangun dari tem pat tidurnya. Ia baru tersadar saat m e-
lihat cerm in di depannya, ternyata dirinya m asih m e-
ngenakan baju pesta putihnya, yang berlepotan tanah.
Aku harus ganti baju, tekadnya. Tetapi, aku tidak puny a
baju.

Marissa membuka pintu kamar dan melihat ke luar

29

http://facebook.com/indonesiapustaka ruangan. Masih sepi. Ia melangkah menuju kamar Wiliam
dan m engetuk pintunya perlahan. ”Wiliam ,” panggilnya
pelan-pelan. ”Kau sudah bangun?”

Ketika beberapa saat tidak ada jawaban, Marissa men-
coba m em buka pin tu kam ar Wiliam . ”Psttt… pstt…
Wiliam ,” panggilnya lagi. ”Kau sudah bangun?”

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Wiliam muncul dengan
wajah tanpa ekspresi. ”Ada apa?” tanyanya.

Marissa berdiri tegak. ”Hm m m , begini… kau punya
baju ganti untukku? Kaulihat bajuku, kan? Kotor sekali.
Aku tahu aku merepotkanmu, namun aku tidak mungkin
memakai baju ini lagi, kan?”

Wiliam keluar dari kam ar, dan m enyuruh Marissa
m engikutinya ke kam ar di lantai dua. Wiliam m asuk ke
kam ar itu dan m em buka lem ari pakaian yang ada di
dalamnya. ”Pilih saja sendiri,” kata Wiliam. ”Ini baju-baju
almarhumah Mama.”

Marissa m em andang foto keluarga yang ada di kam ar
itu. Seorang pria tampan beserta istrinya yang cantik, lalu
ada Wiliam yang tersenyum m anis, diapit keduanya. Sa-
yang sekali keduanya sudah m eninggal, padahal kelihat-
annya m ereka baik sekali.

”Kau tidak keberatan aku m em akai baju m am am u?”
tanya Marissa hati-hati.

”J angan bikin kotor,” jawab Wiliam .
Marissa menarik napas. ”Aku akan memakainya dengan
hati-hati, Wiliam.”
Setelah itu, Marissa dibiarkan sendiri memilih baju
yang ada di lemari. Setelah membolak-balik pakaian bebe-

30

http://facebook.com/indonesiapustaka rapa kali, Marissa mendesah. Benar-benar beda dengan
m ode pakaian di tahun 20 0 8, katanya. Apa boleh buat,
daripada tidak ganti baju.

Marissa akhirnya m em ilih sehelai rok panjang ber-
warna hitam dan blus yang m em akai busa di kedua
pundaknya. Kem udian ia m andi dan m engenakan baju
serta rok itu. Marissa m enatap dirinya di cerm in sam bil
mengernyit. Benar-benar tidak sesuai denganku, katanya
sam bil m encoba m em perbaiki tatanan bajunya. Marissa
mencoba memakai sepatu hak tingginya, namun ternyata
kakinya m asih lecet bekas kem arin. Ia m asuk ke kam ar
orangtua Wiliam lagi dan m encari-cari sepatu. Ada
sepasang sepatu sport usang di dalam lemari. Marissa
m em akainya, walaupun ternyata setelah dipakai sepatu
sport itu kebesaran satu nom or. Ia tidak peduli, yang
penting dia bisa bergerak dengan bebas.

Marissa mendekati meja rias dan menemukan kotak
kacamata di sana. Ia membukanya dan menemukan kaca-
mata berbingkai cokelat. Dengan hati-hati ia memakainya.
W alaupun m odel kacam ata ini ketinggalan zam an,
katanya dalam hati, setidakny a ukuran kacam ata ini
sesuai dengan m ataku.

Marissa m em andang dirinya sekali lagi di cerm in dan
tertawa. Aku pasti akan m enjadi bahan tertaw aan jika
m engenakan pakaian seperti ini di m asaku.

Ketika Marissa m em asuki ruang m akan beberapa saat
kem udian, Bi Ijah sedang m enata lauk-pauk di m eja.
”Selam at pagi, Bi Ijah,” kata Marissa.

”Selam at pagi, Non Marissa,” kata Bi Ijah.
”Ke m ana Wiliam dan Tante Sarah?” tanya Marissa,

31

http://facebook.com/indonesiapustaka sam bil m em andangi m eja m akan yang tidak ada peng-
h u n in ya .

”Den Wiliam sudah pergi les,” kata Bi Ijah. ”Kalau Non
Sarah belum bangun. Non Marissa ingin makan dulu-
an?”

Marissa m engangguk. Perutnya m em ang sudah lapar.
Seusai m akan, Marissa m ulai m em ikirkan apa yang ter-
jadi padanya. Ia sudah bisa menerima bahwa ia memang
ada di masa lalu, namun tidak mengerti bagaimana hal
ini bisa terjadi. Ia berhenti berpikir. Tentu saja, katanya
dalam hati, lukisan di gedung itu. Hal terakhir y ang aku
ingat adalah aku sedang berbicara di depan lukisan itu.
Tiba-tiba terjadi gem pa bum i, lalu aku ada di m asa lalu.
Aku harus pergi ke gedung itu lagi. Aku harus m enem u-
kan lukisan itu dan kem bali ke m asaku.

”Bi Ijah... apakah keluarga William punya m obil atau
m otor yang bisa saya pakai?”

”Cum a Non Sarah yang punya m obil... tapi... ada
sepeda bekas ayah Den William di depan.”

Senang telah m endapatkan jawaban dari Bi Ijah,
Marissa bergegas ke luar ruangan. Sebuah sepeda ter-
sandar di tembok tak jauh dari pintu gerbang. Marissa
m engam bil sepeda itu dan m encoba m engendarainya.

Setelah sem pat sem poyongan beberapa kali karena
sudah lam a tak bersepeda, akhirnya Marissa bisa m e-
ngendarai sepeda itu dengan lancar. Marissa melihat
Wiliam di kejauhan. Anak itu tam paknya sedang di-
kerumuni oleh segerombolan anak kecil. Salah seorang
anak m engam bil tas Wiliam dan m enjatuhkannya, lalu
anak itu merenggut pakaian Wiliam.

32

http://facebook.com/indonesiapustaka Melihat m asalah yang akan dialam i Wiliam , Marissa
m em percepat laju sepedanya. ”Hei!” teriaknya pada ge-
rom bolan anak di depannya. ”Lepaskan dia!”

Anak-anak itu langsung bubar ketika melihat ada orang
dewasa di depan mereka. Marissa turun dari sepeda dan
m endekati Wiliam . ”Kau tidak apa-apa, Wiliam ?”

Wiliam m engam bil tasnya, dan m em akainya kem bali.
”Aku tidak apa-apa.”

Marissa benar-benar khawatir. ”Apakah m ereka m e-
m ukulm u? Apa yang m ereka inginkan?”

”Mereka tidak menyukaiku,” kata Wiliam. ”Mereka juga
menginginkan uang jajanku.”

Marissa prihatin. ”Ayo, aku antar kau ke tem pat les-
m u!” kata Marissa, sam bil m em egang tangan Wiliam .
Tatapan Marissa tertuju pada lebam-lebam di lengan
Wilia m .

”Ya, ampun!” serunya kaget. ”Mereka memukulmu. Aku
akan memperingatkan mereka!” Marissa hendak mengejar
anak-anak nakal itu, namun Wiliam menarik bajunya dan
m enghentikannya.

”Biarkan saja,” kata Wiliam .
”Tetapi…,” protes Marissa.
”Aku tidak m au telat ke tem pat lesku.” kata Wiliam ,
sambil memandang Marissa.
Marissa m em bungkuk hingga m atanya sejajar dengan
Wiliam . ”Aku akan m enem anim u les setiap hari. Kau
tidak perlu khawatir lagi kepada mereka, Wiliam.”
”Kakak tidak perlu m elakukannya,” kata Wiliam per-
la h a n .
”Hei, aku sudah m akan dan tidur gratis di rum ahm u,”

33

http://facebook.com/indonesiapustaka kata Marissa, sam bil tersenyum kecil. ”Setidaknya aku
bisa membalas kebaikanmu dengan melakukan ini untuk-
m u. Ayo, aku boncengi kau.”

Dengan ragu Wiliam naik ke boncengan sepeda. Wiliam
m em beritahu arah ke tem pat lesnya, dan Marissa
m engayuh sepedanya dengan cepat. Setibanya di tem pat
les, Wiliam turun dari sepeda.

”Aku akan m enjem putm u lagi,” kata Marissa. ”Pukul
berapa kau selesai les?”

”Pukul dua belas,” kata Wiliam .
”Aku akan ada di sini pukul dua belas,” kata Marissa.
”Wiliam, tunggu! Sebenarnya aku segan memintanya dari-
mu. Bolehkah aku minta uang? Siapa tahu aku lapar dan
butuh beli makanan.”
Wiliam berhenti melangkah, lalu mendengus kesal,
”Kalau begitu, apa bedanya Kakak dengan anak-anak
tadi?”
Marissa merasa sedikit bersalah. ”Aku kan memintanya
dengan m anis, boleh ya? Tidak usah banyak-banyak.”
Wiliam merogoh sakunya dan memberikan dua lembar
uang lim a ratusan berwarna hijau kepada Marissa. ”Ini,”
ka t a n ya .
Marissa menerima uang dari Wiliam. Seribu rupiah.
Bisa jajan apa dengan seribu rupiah? Beli m inum an
doang. Ini anak pelit banget. ”Hmm, Wiliam, apakah kau
tidak terlalu pelit? Maksudku, uang ini hanya cukup
untuk m em beli m inum an,” katanya kem udian
Wiliam m endengus kesal. ”Dengan seribu rupiah, kau
bisa m em bayar bensin m otor selam a sem inggu.”
Marissa tercengang mendengar penjelasan Wiliam. Oh,

34

http://facebook.com/indonesiapustaka ya. Aku ada di tahun 1988, pasti sem ua harga juga beda
dengan di m asaku.

”Ya… ya,” kata Marissa m engakui. ”Aku lupa aku se-
karang ada di tahun 1988. Maaf deh, Wiliam .”

Wiliam mencibir, lalu berlari memasuki gedung.
Marissa menarik napas, dan melanjutkan perjalanannya
ke Gedung Albatross. Hati-hati dia m em arkir sepedanya
tak jauh dari gedung itu, lalu berjalan perlahan sambil
memperhatikan petugas keamanan yang ada di sana. Saat
petugas itu sedang lengah, Marissa m enyusup m asuk. Ia
berlari ke lantai tiga, dan m encari lukisan yang pernah
dilihat di masanya. Ternyata lukisan itu tidak ditemukan-
nya di mana-mana di dalam gedung itu. Marissa mencari
sekali lagi dengan putus asa. H asilnya tetap sam a.
Kelelahan, Marissa duduk di lantai dan m enutup m ata-
n ya .
Ayo berpikir, Marissa! katanya pada diri sendiri. Meng-
apa lukisan itu tidak ada di sini? Tunggu… w aktu itu di
baw ah keterangan lukisan terdapat catatan tanggal… 6
Juli 1988. Ya, itu dia… lukisan itu baru akan dipasang
tanggal 6 Juli 1988, tepat dengan pem bukaan gedung
ini. Hari ini tanggal 30 Juni 1988, berarti enam hari
lagi lukisan itu akan ada di sini. Itu artiny a, enam hari
lagi aku baru bisa pulang.
Marissa tersenyum sendiri. Ia tidak sabar ingin m e-
ngatakan hal ini kepada Wiliam . Akan tetapi, katanya
lagi, W iliam tidak percay a bahw a aku datang dari
m asa depan. Tidak ada seorang pun yang m em ercayai-
ku. Tunggu dulu… m ungkin Papi dan Mam i akan per-
cay a kepadaku kalau aku m engatakanny a. Aku harus

35

http://facebook.com/indonesiapustaka pergi m enem ui Papi dan Mam i. Tahun 1988, berarti
Papi dan Mam i m asih kuliah, kan? Aku bisa m enem ui
m ereka di kam pusny a. Mam i dan Papi pasti akan m e-
m ercay aiku.

Dengan ide itu di kepalanya, Marissa menuruni tangga
dan keluar dari gedung dengan hati-hati. Ia mengendarai
sepedanya kem bali dan bergegas m enuju kam pus orang-
t u a n ya .

Marissa sampai di depan kampus setengah jam ke-
m udian dengan keringat m engalir di sekujur tubuhnya.
Napasnya terengah-engah. Setelah m em arkir sepedanya
di sam ping m otor-m otor bebek yang berjajar di sana, ia
pun m elaksanakan niatnya m encari Papi. Ia m em asuki
area Fakultas Hukum, dan melihat ke dalam ruang-ruang
kuliah yang ada di sana. Papi tidak ada di m ana-m ana.
Marissa lalu beranjak mencari Mami di Fakultas Eko-
nomi, lagi-lagi dia gagal menemukan Mami di sana.

Apakah m ereka berdua tidak kuliah hari ini? tanyanya
dalam hati, sambil berjalan. Ia melihat sebuah gedung
yang sedang direnovasi, palang-palang besi terbentang
dari bawah hingga atas gedung. Ada sebuah bangku tak
jauh dari sana. Marissa duduk di sana untuk beristirahat
terlebih dahulu.

Tiba-tiba sebuah sepeda motor hitam memasuki area
kam pus. Pengendaranya m enghentikan sepeda m otornya
tak jauh dari tempat Marissa duduk. Suara decitan rem
membuat semua orang melihat ke arah pengendara motor
itu. Di belakangnya, sang penum pang turun dari bon-
cengan dengan tenang. Sekilas Marissa melihat seorang
gadis dengan celana jins hijau dan kaus kuning tersenyum

36

http://facebook.com/indonesiapustaka kepada pengendara sepeda motor itu. Rambutnya panjang
sebahu, dan m em akai poni. Kedua telinganya m em akai
sepasan g an tin g besar. Kosm etik tebal den gan ey e
shadow biru m enghiasi parasnya.

Ada apa sih dengan cew ek-cew ek di tahun 1988? ta-
nya Marissa, sam bil m em perhatikan gadis itu dan gadis-
gadis yang lain. Model ram but m ereka ham pir sam a.
Terutam a selera berpakaian y ang norak. Jins hijau dan
kaus kuning… benar-benar tidak cocok.

Para gadis yang lain bergegas m engham piri gadis tadi.
”Hai, Diana! Wah, baju baru, ya?”

Marissa melongo. Diana? Diana? Itu kan nam a Mam i.
Tunggu, tunggu… tidak m ungkin! Marissa memperhatikan
wajah gadis itu dari bangkunya. Oh, tidak! Itu m em ang
benar-benar Mam i. Astaga!

Gadis yang bernama Diana itu memandang pengendara
sepeda motor dan berkata, ”Dah,” katanya. ”Nanti pulang
kuliah jem put aku lagi, ya.” Diana tersenyum dan m e-
ngedipkan m atanya.

Pengendara sepeda motor itu naik kembali ke motornya
dan beranjak pergi. Diana dan tem an-tem annya berjalan
ke dalam kampus. Seorang pria lewat di hadapan mereka,
dan Diana bersiul keras diiringi teriakan, ”Hai, cowok!”

Marissa ternganga saking terkejutnya. Ya, am pun!
Mam i kok centil banget. Dua tahun yang lalu, ketika
Marissa sem bunyi-sem bunyi m em akai kosm etik, Mam i
m arah besar. Sekarang, ternyata Mam i m alah pakai kos-
m etik yang berlebihan. Benar-benar jauh dari gam baran
Mam i yang dia kenal.

Diana dan teman-teman wanitanya duduk tak jauh dari

37

http://facebook.com/indonesiapustaka bangku yang diduduki Marissa. Sam pai saat itu, Marissa
m asih belum bisa m engatasi rasa terkejutnya. Ia m e-
m andang. Mam i dengan rasa tidak percaya.

Tiba-tiba pandangan mata Diana bertemu dengan
Marissa. Marissa m encoba tersenyum , nam un Diana
malah tertawa lebar. Ia lalu berkata kepada teman-teman-
nya, ”Ya, ampun! Cewek di depan kita itu selera pakaian-
nya aneh sekali. Benar-benar tidak cocok.”

Diejek seperti itu, Marissa cemberut kesal. Tidak dulu
tidak sekarang. Kom entar Mam i soal caraku berpakaian
tetap tidak berubah. Aku harus m endekatinya dan m em -
buat Mam i percay a kepadaku.

***

Ferry tidak pernah bosan memandang Diana. Dia sudah
mencintai Diana sejak SD, dan perasaan itu tidak pernah
berubah. Hari ini melihat Diana berboncengan dengan
pria lain, hatinya sedikit cem buru. Akan tetapi, dia tidak
bisa berbuat apa-apa karena setiap kali dia ada di dekat
gadis pujaannya itu, dia tidak bisa berbicara. Hari ini
Diana mengenakan baju baru. Ferry mengakui bahwa
Diana memang cantik mengenakan baju apa pun.

Suara palang besi yang jatuh membuyarkan pandangan
Ferry dari Diana. Ferry melihat seorang gadis sedang
duduk tepat di bawahnya. Ia langsung berlari ke arah
gadis itu dan m enubruknya. Ia m enarik tangan gadis itu
agar terhindar dari tertimpa palang besi.

38

http://facebook.com/indonesiapustaka ***

Marissa baru saja akan mendekati Mami, saat seseorang
m enubruknya dan m enarik tangannya hingga jatuh.
Marissa melihat sebuah palang besi jatuh menimpa bang-
ku yang tadi dia duduki.

”Kau tidak apa-apa?” tanya pem uda yang m enubruk-
n ya .

Marissa m enelan ludahnya dan m engangguk. ”Terim a
kasih,” kata Marissa. Tatapannya tertuju pada pem uda
yang telah m enyelam atkannya. Dia m engenakan celana
jins dan kem eja yang digulung hingga siku.

Diana berjalan ke arah m ereka. ”Hai, Ferry.”
Ferry ? ungkap Marissa dalam hati. Itu berarti, pem uda
ini… Papi?
Marissa kini memandang pemuda itu dengan cermat.
Mem ang benar Papi.
Papi membantu Marissa berdiri. Wajah Papi tertunduk
m alu, lalu m enjawab dengan tergagap-gagap, ”Ehm m ….
Ha… lo, Di… Di… Diana.”
Diana tersenyum manis. ”Kau benar-benar hebat sudah
m enyelam atkannya.”
Mendengar pujian Diana, wajah Ferry semakin me-
m erah. ”Te… te… terim a kasih, Diana.”
”Aku m asuk kelas dahulu,” kata Diana. ”Sam pai jum -
pa.”
Ferry tersenyum gugup. ”Sam pai jum pa.”
Marissa memandang Papi dengan setengah jengkel.
Papi kok jadi pem alu seperti itu? Bukankah Papi paling

39

http://facebook.com/indonesiapustaka jago berdebat di pengadilan? Masa om ong dengan
Mam i saja gelagapan seperti itu?

”Aku senang kau tidak apa-apa,” kata Ferry kepada
Marissa. ”Maaf, aku harus kuliah.”

”Hei, tunggu! Papi!” teriak Marissa. Papi sudah berlari
m enuju ruang kuliahnya.

Marissa kembali berjalan menuju parkiran sepeda.
Sepertiny a aku tidak bisa berharap bany ak bahw a Papi
dan Mam i akan m em ercay aiku. Mereka bahkan belum
pacaran. Kalau aku om ong, ‘Hai Mam … Pap… sebenar-
ny a aku ini anakm u di m asa depan... Ha… ha… lucu
sekali… pasti m ereka tidak akan percay a.

Perut Marissa berkeroncongan lagi. Ia teringat pada
Wiliam. Astaga, aku ham pir lupa, aku kan harus m en-
jem put dia.

Marissa bergegas mengendarai sepedanya, dan pergi ke
tempat les Wiliam.

***

Wiliam baru saja keluar dari depan pintu, saat sepeda
Marissa memasuki area tempat les. Perjalanan bolak-balik
dari tem pat les ke kam pus dan sebaliknya m em buat
Marissa kecapekan.

”Wiliam,” katanya, sambil terengah-engah. ”Kita makan
dulu, yuk!”

Wiliam m enatap Marissa dengan curiga. ”Kakak ke
mana saja sih?”

40

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Aku akan menceritakannya kepadamu setelah makan,”
kata Marissa.

Mereka makan mi bakso di warung dekat situ. Marissa
terkejut m engetahui betapa m urahnya harga m akanan di
tahun 1988. Dua m angkuk m i bakso hanya lim a ratus
rupiah.

”Ben ar-ben ar m urah,” kata Marissa. ”Di m asaku,
Wiliam, dengan uang lima ratus tidak cukup untuk mem-
beli satu mangkuk mi bakso. Mumpung murah, bagai-
m ana kalau aku tam bah satu m angkuk lagi, ya? Bang,
tam bah satu m angkuk lagi!”

Wiliam hanya m endesah m elihat kerakusan Marissa.
Usai makan mi bakso, Marissa mengajak Wiliam me-
lewati rum ahnya.
”Kita mau ke mana?” tanya Wiliam. ”Arah jalan pulang
bukan lewat sini.”
”Aku tahu,” kata Marissa. ”Aku m au m enunjukkan se-
suatu padamu.”
Mereka tiba di depan sebuah rumah. Wiliam menatap
Marissa penuh tanda tanya. J ari telunjuk Marissa m e-
nunjuk rum ah itu. ”Kau lihat rum ah dengan gerbang
hijau itu?” tanyanya. ”Itu rum ahku, m aksudku rum ahku
di masa depan.”
”Kalau itu rumahmu, mengapa kau tidak pulang saja?”
tanya Wiliam .
”Aku kan sudah katakan,” gerutu Marissa. ”Itu rumah-
ku di masa depan. Di masa ini, tidak ada seorang pun
yang mengenalku. Terakhir kali aku ke sana, aku disangka
m aling oleh Kakek. Aku rasa itu Kakek. Kakek m encoba

41

http://facebook.com/indonesiapustaka m engejarku dengan pem ukul bola. Kau tidak percaya,
ya?”

Wiliam menggeleng. ”Aku rasa Kakak hanya mengarang
saja.”

Marissa m enarik napas, ”Kau tahu gedung baru yang
akan dibuka di jalan raya itu?”

”Gedung Albatross?” tanya Wiliam .
Marissa m engangguk. ”Aku rasa aku ada di tahun ini
karena lukisan yang ada di dalam gedung itu. Aku sendiri
sulit m em ercayainya. Di m asa depan saat aku ada di
gedung itu, aku m elihat lukisan aneh dan m endekatinya.
Di situ tertulis bahwa lukisan itu bisa mengabulkan se-
buah permintaan. Tanpa sadar aku mengucapkan keingin-
anku. Aku tadi ke sana, lukisan itu belum dipasang. Aku
yakin lukisan itu akan dipasang tanggal 6 J uli, saat pem-
bukaan gedung itu. Itu artinya, aku akan pulang enam
hari lagi.”
Wiliam terdiam mendengar perkataan Marissa.
Marissa m enatap Wiliam . ”Aku tidak peduli kau per-
caya atau tidak. Aku akan membuktikannya padamu tang-
gal 6 J uli nanti.”
Suara sepeda motor mendekati rumah itu. Marissa ter-
senyum .
”Kaulihat pengendara sepeda m otor itu?” katanya ke-
pada Wiliam . ”Itu ayahku. Aku baru saja bertem u
dengannya di kam pus. Aku bertem u ibuku juga. Mereka
tidak seperti yang aku harapkan, namun aku benar-benar
m erindukan m ereka. Hari ini Papi telah m enyelam at-
kanku. Tadi aku nyaris tertimpa palang besi. Aku rasa di

42

http://facebook.com/indonesiapustaka mana pun aku berada, Papi selalu melindungiku. Ayo kita
p u la n g!”

Marissa m enatap rum ahnya sekali lagi, lalu m engayuh
sepedanya. Di belakangnya, Wiliam m em perhatikan
rum ah itu dan si pengendara sepeda m otor yang sedang
m asuk ke dalam rum ah. Wiliam tidak tahu apakah yang
dikatakan Marissa benar atau tidak. Akan tetapi, ekspresi
Marissa tadi benar-benar m eyakinkan.

***

Diana m em andang pria di hadapannya dengan bosan.
Sepulang kuliah, J im m y, pacarnya selam a tiga bulan itu,
m enjem putnya dan langsung m em bawanya ke tem pat
latihan breakdance. Sudah dua jam berlalu, J immy dan
tem an-tem annya m asih terus m enggerak-gerakkan kaki
dan tangannya. Sem akin lam a Diana sem akin m erasa
kesal. Saat latihan breakdance berlangsung, J immy sama
sekali tidak m em edulikan n ya. Akhirn ya ia bergegas
mendekati J immy dan menarik jaket jins yang dikenakan-
nya. ”J im m y, aku lapar!” teriaknya. ”Bisakah kau ber-
h en t i?”

J im m y m enatap Diana dengan kesal. ”Aku belum se-
lesai.”

Diana juga tidak m au kalah. ”Aku benar-benar lapar.
Lagi pula, apa pentingnya latihan ’konyol’ seperti ini?”

”Konyol?!” teriak J im m y. ”Apa kau tidak tahu ini se-
dang trend?”

Aku tahu, kata Diana dalam hati, nam un m elihatm u

43

http://facebook.com/indonesiapustaka dan tem an-tem anm u latihan breakdance seperti m elihat
segerom bolan binatang liar y ang bergerak tak keruan.
Tadiny a aku pikir Jim m y terlihat keren dengan m otor
hitam nya, nam un sekarang… argh!

”Ya sudah,” kata Diana akhirnya. ”Kalau kau tidak mau
m akan, ya sudah. Aku m akan sendiri saja.”

”Terserah!” bentak J im m y. ”Silakan saja. Aku belum
lapar. Lagi pula, aku belum selesai latihan.”

”Aku benci kau, J im m y!” teriak Diana sam bil berlari.
J im m y sekarang benar-benar m enyesal karena telah
m em bentak Diana. Tiga bulan yang lalu, saat dia m e-
ngenalkan Diana kepada tem an-tem annya, dia m erasa
sangat bangga. Teman-temannya mengakui bahwa pacar-
nya m em ang benar-benar cantik.
J im m y lalu berlari m enyusul Diana. ”Diana, Tunggu!”
ser u n ya .
”Apa?!” teriak Diana kesal.
”Aku akan m enem anim u m akan,” katanya, sam bil
m erayu. ”Setelah itu, aku akan m enem anim u pergi ke
toko m usik yang kauinginkan, bagaim ana?”
Diana m em andang J im m y dengan kesal. Akan tetapi,
akhirnya dia luluh juga oleh tatapan pem uda itu. ”Baik-
lah. Kau tidak boleh ingkar janji, ya. Kau harus m e-
nemaniku malam ini, oke?”
”Oke,” kata J im m y sam bil tersenyum lebar.

***

Hari sudah menjelang sore ketika Marissa dan Wiliam

44

http://facebook.com/indonesiapustaka tiba di rum ah. ”Sebaiknya Kakak m andi,” kata Wiliam .
”Nanti kita akan pergi ke toko kaset.”

”Kau ingin beli kaset?” tanya Marissa.
”Apakah Kakak tidak tahu?” tanya Wiliam . ”Hari ini
adalah hari terakhir harga kaset Rp 2.750 ,0 0 . Besok su-
dah naik jadi Rp 4.50 0 ,0 0 . Aku akan membeli kaset lagu
Megalom an.”
Marissa bergegas m asuk ke rum ah, ”Oke,” katanya.
”Aku akan m engantarm u ke toko kaset.”
Di kamar mandi, dia merasa pernah mendengar apa
yang dikatakan Wiliam tadi. Akan tetapi, benaknya tak
mampu mengingat. Sore itu dia mengenakan celana jins
ibu Wiliam dan blus warna bergaris-garis.
Mereka pergi ke toko kaset naik bus kota. Sesampainya
di depan toko kaset, sudah banyak orang. Wiliam berlari
dan berusaha masuk ke toko kaset itu.
”Wiliam, tunggu!” kata Marissa, sambil berlari mengejar-
n ya .
Di dalam toko, kerumunan orang semakin banyak. Ber-
jalan di antara m ereka sungguh bukan hal yang m udah.
Karena Wiliam m asih kecil, dia dapat dengan m udah
bergerak ke sana-sini.
Tiba-tiba Marissa melihat Mami sedang memilih-milih
kaset tak jauh dari sana. Apa y ang Mam i lakukan di
sini? tanyanya. Marissa beringsut-ingsut di antara rak
kaset dan bersem bunyi di sebuah rak dekat Mam i.
”Diana,” kata suara bernada kesal. ”Sam pai kapan aku
harus di sini?”
Marissa mengintip dari balik rak dengan hati-hati. Ya,

45

http://facebook.com/indonesiapustaka am pun! Itu kan pem uda berjaket kulit hitam di kam pus
siang tadi, y ang m em boncengi Mam i.

Marissa menatap Mami dan pemuda berjaket kulit
itu dengan saksam a. Pikirannya m em beku. M am i
seharusny a datang kem ari dengan Papi, katanya
dalam hati. Itulah sebabny a, m engapa perkataan
W iliam soal toko kaset tadi m engusikku. Mam i pernah
berkata bahw a kencan pertam a kali dengan Papi
adalah antre di toko kaset. Mam i juga berkata bahw a
sem ua orang m enyerbu toko m usik karena harga
kaset akan naik. Akan tetapi, m engapa sekarang
Mam i m alah bersam a pem uda itu? Bukan dengan
Papi? Seharusny a Mam i kencan dengan Papi hari ini.
Tunggu… tunggu… aku harus m engingat perkataan
Mam i lagi. Mam i berkata bahw a siangny a sebelum
kencan pertam a kali, Papi m eny elam atkanny a, kan?
Tapi tadi siang Papi…. Ya, am pun! Papi m eny elam at-
kanku, bukan Mam i. Seharusnya Mam i yang duduk
di bangku kam pus tadi siang, bukan aku. Papi
seharusny a m eny elam atkan Mam i, bukan aku. Astaga!
Aku m enghancurkan kesem patan Mam i dan Papi
untuk bersam a. Kalau Mam i dan Papi tidak bersam a-
sam a, itu artinya aku tidak akan ada.

Marissa m enggeleng-geleng. ”Aku harus m enyatukan
keduanya,” katanya perlahan. ”Ini sem ua kesalahanku.
Besok aku harus m em bantu Papi m endapatkan Mam i
kem b a li.”

Di depan rak tempat Marissa bersembunyi, Diana men-
dengus kesal ke arah pasangannya. ”J im m y,” katanya,
”tadi kau berjanji akan m enem aniku ke sini, kan? Aku

46

http://facebook.com/indonesiapustaka sudah menemanimu latihan breakdance siang tadi selama
berjam-jam. Sekarang giliranmu menemaniku antre.”

”Diana,” kata J im m y, ”kakiku sudah pegal.”
Diana berkata sinis, ”Kau tidak pegal saat latihan break-
dance. Pokoknya, kau tunggu di situ!”
Diana pergi meninggalkan J immy sendirian untuk me-
m ilih-m ilih kaset. Marissa m enundukkan tubuhnya m e-
nyem bunyikan diri. Lalu m enatap J im m y dengan kesal.
Perlahan-lahan ia mendekati pemuda itu dari belakang.
Desakan pengunjung yang ram ai m em buat Marissa agak
sulit berjalan ke arah J immy, namun akhirnya ia berhasil
mendekati jummy dari belakang.
Marissa m engepalkan tangannya, ia sudah gatal ingin
memukul punggung pria itu. Setelah berpikir beberapa
saat, ia m engurungkan niatnya. Berani-beraniny a kau
m em buat Mam i kesal. Lihat saja, rasakan akibatny a!
Tanpa rasa bersalah, Marissa m enyenggol J im m y de-
ngan sengaja, lalu berlari menjauh secepat kilat. Ia men-
dengar suara kaset berjatuhan dan sebuah teriakan.
”Siapa yang barusan m endorongku, hah?”
Marissa tersenyum puas. Kemudian, dilihatnya seorang
pria m endekati J im m y.
”Hei, anak muda,” kata pria itu, ”kau sudah menjatuh-
kan kaset-kaset ini. J adi, kau harus m em bereskannya.”
”Tetapi, Pak...” sanggah J im m y.
Tatapan garang sang m anajer toko m em buat nyali
J immy menciut. Akhirnya dia menuruti perintah pria itu,
m em bereskan kaset-kaset yang berserakan di lantai ke
raknya kem bali.

47

http://facebook.com/indonesiapustaka Melihat itu, Marissa terkikik geli. Itulah akibatny a ka-
lau kau m em buat m am iku kesal. Tidak boleh ada se-
orang pun y ang m eny akiti keluargaku. Aku tidak rela
kau jadi pacar Mam i. Bagaim anapun juga, Mam i h a r u s
jadian dengan Papi.

Kemudian, tersadar dirinya sudah agak lama meninggal-
kan William, Marissa berusaha mencari Wiliam di ke-
ram aian. Ia m enem ukannya sedang antre di kasir untuk
m em bayar.

”Wiliam,” kata Marissa, berusaha curhat. ”Aku bertemu
Mami. Aku rasa aku mengacaukan sejarah pacaran Mami
dan Papi.”

”Hah? Apa? Kakak om ong apa?” tanya Wiliam , di sela
hiruk-pikuk musik yang keras. ”Aku tidak bisa mendengar
Kakak.”

Tatapan Marissa jatuh pada sebuah kaset di tangan
Wiliam . Marissa berteriak keras, ”Astaga, Wiliam ! Kau
capek-capek datang ke sini hanya untuk beli satu kaset?”

Orang-orang yang antre di belakang Wiliam terdiam
mendengar teriakan Marissa. Marissa tertunduk menahan
m alu. ”Maaf,” katanya kepada Wiliam dengan m anis.
”Kau antre saja, ya. Aku tunggu di luar.”

Marissa m em balikkan punggungnya dan keluar dari
toko kaset. Di belakangnya, Wiliam m enatap punggung
Marissa. Di bibirnya tersungging seulas senyum .

***

”Aku harus pergi ke kampus dan bertemu dengan Papi

48

http://facebook.com/indonesiapustaka besok,” tekad Marissa. Ia dan William sudah pulang
dari toko kaset dan kini sedang ada di kamarnya. Dari
tadi Marissa m ondar-m andir terus. ”Aku harus m em -
bantu Papi,” katanya lagi. Marissa menjatuhkan badan-
nya ke tem pat tidur dan berusaha tidur. Ketika akan
m enutup m atanya, terdengar sebuah lagu dari kaset di
penjuru rum ah, diikuti suara Wiliam yang m enyanyi
dengan keras.

Yuke y uke y uke m egalom an
Doko m adem o susum e
….
Megalon FIRE
Megalom an w a y ukuze
Megalom an w a y aruze
Megalom an honô no senshi

Marissa mengambil bantal di kepalanya, dan melempar-
nya ke pintu kam ar. ”Wiliaaaam m m !” teriaknya. ”Be-
riiisssiiik! Aku m au tidur!”

Marissa m engam bil bantal satunya lagi dan m eletak-
kannya di atas kupingnya. Setelah bolak-balik di tem pat
tidur selama satu jam dan rasa kantuk tidak juga kunjung
datang, Marissa akhirnya berjalan ke luar kam ar.

Ia berjalan ke arah pekarangan rumah dan melihat
langit di atasnya. J utaan bintang bertebaran di sana. Apa-
kah Mam i dan Papi juga sedang m enatap langit y ang
sam a di m asa depan? keluhnya dalam hati. Aku benar-
benar ingin pulang. Akan tetapi, tidak sebelum aku
m eny atukan Mam i dan Papi kem bali. W aktuny a hany a

49


Click to View FlipBook Version