http://facebook.com/indonesiapustaka ”Aku bukan orang yang pandai m enulis kata-kata
indah, puisi atau kata-kata romantis. Terus terang semua
kata-kata itu tidak ada gunanya. Kau lebih dari deretan
kata-kata itu. Kata-kata itu tidaklah penting. Kaulah yang
terpenting. Perasaanku kepadam u adalah nyata. Aku
hanya bisa m engatakan bahwa aku m encintaim u, Diana.
Percayalah kepadaku, aku tidak pernah m enyukai gadis
lain selain dirimu. Setiap hari kita bersama, aku senang
sekali. Dalam mimpi pun aku tidak percaya gadis secantik
kau mau keluar denganku.”
Diana terdiam mendengar semua penjelasan itu.
Ferry berkata lagi, ”Aku hanya ingin m engungkapkan
perasaanku dan m enjelaskan sem uanya. Aku tidak akan
memaksamu untuk mencintaiku ataupun menerimaku.
Aku hanya ingin kau bahagia. Apa pun pilihanm u, aku
akan selalu mendukungmu.”
Ferry m endesah. ”Hanya itu yang ingin aku katakan.”
Melihat tidak ada jawaban dari Diana, Ferry me-
nunduk lem as. Diana tidak m em aafkanku, katanya da-
lam hati.
”Aku sudah m enjelaskan sem uanya, Diana,” lanjut
Ferry perlahan. ”Semoga kau selalu berbahagia.” Kakinya
beranjak melangkah pergi.
”Tunggu dulu!!” teriak Diana
Ferry menoleh lagi.
”Seenaknya saja kau pergi begitu saja!” teriak Diana. Ia
membuka pintu pagar rumahnya dan berjalan mendekati
Ferry. ”Apa kau tidak tahu bahwa aku menderita semalam-
an? Dasar idiot! Aku juga m enyukaim u. Itulah sebabnya
aku merasa sakit hati.”
150
http://facebook.com/indonesiapustaka Ferry langsung memeluk Diana. ”Terima kasih kau mau
m en er im a ku .”
Diana tersenyum dalam pelukan Ferry. ”J ustru seharus-
nya aku yang mengatakannya. Kau satu-satunya pria yang
bisa m enerim aku apa adanya.”
Ferry tersenyum bahagia. Akhirnya, dia bisa mendapat-
kan hati gadis pujaannya.
***
Marissa m em buka m atanya perlahan. Rasanya ia telah
tertidur selam a berhari-hari. Badannya lem as. Apa y ang
terjadi? katanya, sam bil bangkit dari ranjang. Sehelai
kertas di atas meja menarik perhatian Marissa. Ia mem-
b a ca n ya .
Kak Marissa,
Aku pergi m enem ui ayah Kakak.
Kakak jangan khaw atir, aku pasti akan m em bereskan
sem uanya.
W iliam
”Oh, Wiliam ,” keluh Marissa, sam bil berlari ke luar
kam arnya. Sepeda yang biasanya terparkir di halam an
tidak ada di tempatnya. Marissa tahu Wiliam pergi mem-
bawanya. Ia keluar dari rumah dan berlari menuju rumah-
n ya .
Di tengah jalan, Marissa berhenti. Ia melihat Wiliam
sedang dikerumuni segerombolan anak, tak jauh dari tem-
patnya berdiri.
151
http://facebook.com/indonesiapustaka Marissa bergegas m endekati m ereka dan m enyelam at-
kan Wiliam.
***
Wiliam sudah bersiap-siap menerima pukulan. Saat
seorang anak yang bertubuh paling besar m endekatinya,
Wiliam m enyadari bahwa dia ingin m elawan. Dia tidak
mau diperlakukan seperti ini lagi. Wiliam membuka
kedua tangannya dan m enatap anak di depannya.
”Apa!” teriak anak itu. ”Berani kau m em andangku
seperti itu?”
”Kau hanya seorang pengecut, yang bisanya m ain ke-
royokan. Kalau berani, ayo lawan aku, satu lawan satu,”
tegas Wiliam.
Anak itu tertawa terbahak-bahak. ”Ha… ha… ha, kau-
pikir aku tidak berani? Lucu sekali. Kau ingin berkelahi
denganku? Baiklah aku ladeni!”
Anak itu segera m engam bil ancang-ancang. Dia m e-
ngepalkan tangannya dan m engayunkannya ke m uka
Wiliam . Wiliam m enunduk, m enghindari ayunan tangan
anak itu, lalu dia m enendang kaki lawannya keras-keras.
Anak itu langsung jatuh terduduk dan meringis kesakit-
an. Anak-anak yang lain hanya bisa diam m elihat per-
kelahian itu.
”J angan ganggu aku lagi,” kata Wiliam memperingatkan.
Ia menatap anak-anak yang lain. ”Kalau kalian tidak mau
bernasib sam a seperti dia, sebaiknya kalian m enyingkir.”
Di belakangnya, Marissa memperhatikan semua adegan
152
http://facebook.com/indonesiapustaka itu dengan bangga. Wiliam telah berhasil membela diri-
nya sendiri.
Wiliam meraih sepedanya, dan berjalan melewati lawan-
nya. Matanya m enatap seorang gadis yang berdiri tak
jauh di depannya, lalu dia tersenyum lebar. ”Kakak!”
teriaknya, sam bil berlari. ”Kakak sudah bangun.”
”Aku sudah baikan sekarang,” kata Marissa ketika
Wiliam sam pai di depannya. ”Aksi yang bagus sekali.”
Wiliam tersenyum . ”Ya. Kali ini aku punya alasan un-
tuk menghajar mereka.”
Marissa m enepuk-nepuk kepala Wiliam . ”Apakah kau
m enem ui ayahku?”
Wiliam m engangguk. ”Dia sudah pergi m enem ui ibu
Kakak. Aku rasa dia berhasil.”
”Ya, dia berhasil,” ulang Marissa sam bil tersenyum .
”Ayo kita pergi ke pantai!” ajak Marissa.
Wiliam m endongak. ”Sungguh?”
Marissa m engangguk. ”Ya, aku ingin m enghabiskan
hari ini bermain denganmu di pantai, bagaimana?”
”Bukankah Kakak harus pulang hari ini?” tanya Wiliam.
”Gedung baru itu kan bukanya hari ini.”
”Lukisan itu tidak akan ke mana-mana,” sahut Marissa.
”Aku akan ke sana sesudah kita berm ain di pantai.”
Wiliam tersenyum . ”Baiklah. Kalau begitu, aku m andi
dulu dan ganti baju. Habis itu, kita pergi ke pantai, ya.”
Marissa mengangguk.
***
Marissa m engenakan gaun putih m iliknya yang ia
153
http://facebook.com/indonesiapustaka kenakan sem inggu yang lalu. Hari ini ia akan kem bali.
Ada perasaan sedih menggelayuti hatinya. Marissa duduk
di meja kamar, mengambil selembar kertas, lalu menulis
surat.
Tante Sarah,
Saya akan pergi hari ini. Saya tidak tahu kapan kita
bisa bertem u lagi. Ada beberapa hal tentang W iliam
yang ingin saya sam paikan.
1. Jangan pernah suruh W iliam ikut lom ba m e-
ny any i. Suarany a sangat parah. Apalagi kalau
m endengar dan m eny any i m alam -m alam , bisa
m em buat kepala pening keesokan hariny a.
2. Bila W iliam sakit, tem ani dia. Dia m asih m erindu-
kan kedua orangtuanya.
3. Jangan pernah memberi Wiliam masakan gosong.
Dia bisa m endeteksiny a dengan cepat, sejago apa
pun Tante m enyem bunyikan kegosongan m akanan
itu.
4. Jangan pernah m engam bil satu pun m ainan yang
ada di lem ari W iliam . Entah bagaim ana, W iliam
bisa tahu, padahal ada ratusan m ainan di situ.
5. Yang terakhir, W iliam tidak suka disentuh. Akan
tetapi, sesekali kalau sedang sedih Tante boleh m e-
m eluknya. W iliam tidak akan m encoba m elepaskan
pelukan itu.
Tidak sulit untuk m eny ukai W iliam . Say a hany a m em -
butuhkan tujuh hari untuk itu. Tante m asih puny a ba-
nyak w aktu bersam anya. Habiskan w aktu dengannya,
154
http://facebook.com/indonesiapustaka dan Tante akan m eny adari bahw a W iliam anak y ang
hebat. Bahkan lebih hebat dari say a.
Terim a kasih karena telah m engizinkan say a tinggal
di sini.
M a r issa
Marissa m elipat surat itu dan m em bawanya turun. Ia
m enem ui Bi Ijah dan berpam itan kepadanya. ”Selam at
tin ggal, Bi Ijah,” kata Marissa. ”Terim a kasih atas
bantuannya selam a ini.”
”Selam at tinggal, Non!” kata Bi Ijah. ”J aga diri baik-
baik.”
”Terim a kasih, Bi.”
Marissa m em eluk Bi Ijah dengan erat. Sesudahnya ia
memberikan surat yang ditulisnya kepada Bi Ijah. ”Tolong
Bibi berikan surat ini pada Tante Sarah. Sepertinya Tante
tidak ada di rumah hari ini.”
Bi Ijah m engangguk. ”Ya, Non. Nanti Bibi sam pai-
ka n .”
”Kak Marissa,” panggil Wiliam dari ruang tam u. ”Ayo
kita pergi!”
”Saya pergi dulu, Bi,” kata Marissa.
”Hati-hati!” seru Bi Ijah.
***
Marissa m engajak Wiliam ke rum ah ibunya terlebih da-
hulu sebelum mereka pergi ke pantai. Di sana, Marissa
155
http://facebook.com/indonesiapustaka melihat papi dan maminya sedang berpegangan tangan di
depan pekarangan rumah. Mereka tersenyum dan tertawa
bersama.
”Aku akan m enem ui kalian lagi di m asa depan,” kata
Marissa perlahan.
Setelah itu, Marissa pergi ke pantai bersama Wiliam.
Mereka berlarian di atas pasir dengan bertelanjang kaki.
Marissa tidak peduli gaunnya kotor lagi. Mereka m en-
dirikan istana pasir, dan merasa sedih ketika istana itu
hanyut dibawa om bak. ”Benar, kan! Kataku tadi juga
apa. Kakak m em buatnya terlalu dekat ke laut,” kata
Wilia m .
”Ya, sudahlah,” kata Marissa. ”Ayo, kita buat lagi! Kali
ini yang agak jauhan dari laut, bagaim ana?”
Wiliam mengangguk.
Ketika Marissa kelaparan, Wiliam mengajaknya makan
di tepi pantai. Sesudahnya Marissa m em beli beberapa
permen karet dan cokelat yang dijual di sana. ”Aku tidak
akan merasakan makanan ini lagi di masa depan,” kata-
n ya .
”Mengapa?” tanya Wiliam
”Makanan ini sudah tidak ada lagi di m asa depan,”
kata Marissa. ”Itulah sebabnya aku akan memuaskan diri
dengan m em akannya sekarang juga.”
”J angan kebanyakan m akan!” kata Wiliam . ”Ingat ter-
akhir kali Kakak m akan banyak sewaktu ke PRJ itu?
Pulangnya Kakak sakit perut, kan?”
Marissa hanya tertawa tanpa mengindahkan perkataan
Wiliam. Ia membuat gelembung bola dengan permen
156
http://facebook.com/indonesiapustaka karetnya. Ia juga m em buat tato di tangan satunya lagi.
Kali ini bergam bar bunga. Sekarang di kedua tangannya
ada dua tato, bunga dan kupu-kupu. Ia tahu itu bukan
tato permanen, setidaknya ada bagian dari masa ini yang
dia bawa ke masa depan nanti.
”Sini!” katanya, sam bil m enarik tangan Wiliam . ”Aku
tato tanganmu juga.”
Wiliam m enarik tangannya dari Marissa. ”Aku tidak
m au! Kakak terlalu kekanak-kanakan!” teriaknya, sam bil
berlari.
Marissa berlari mengejar William. ”Hei, Wiliam… tung-
gu !”
Di sore hari, keduanya duduk dan m elihat m atahari
terbenam.
”Indah sekali,” kata Wiliam .
”Ya,” seru Marissa, sam bil m enatap m entari di depan-
nya, lalu tatapannya beralih kepada Wiliam . ”Wiliam ,
terima kasih karena kau telah mengizinkan aku tinggal di
r u m ah m u .”
”Sam a-sam a,” kata Wiliam . ”Kakak juga telah m enye-
la m a t ka n ku .”
Kali ini tatapan m ata Marissa beralih serius. ”Wiliam ,
berhentilah m enjadi dewasa. Kau m asih anak-anak. Se-
harusnya kau m enikm ati m asa kanak-kanakm u. Masa
mudamu cuma datang satu kali. Kau hidup di masa yang
hebat. Nikm atilah sem ua ini. Pilih satu kegiatan yang
kausukai. Habiskan waktumu dengan bermain dan men-
coba hal-hal baru. Mulailah berteman dengan anak-anak
seusiamu. Ada hal-hal yang lebih baik dilakukan bersama
daripada sendirian.”
157
http://facebook.com/indonesiapustaka Wiliam m enatap Marissa dengan lem but. ”Aku tahu.
Aku akan m encoba m engikuti perkataan Kakak.”
”Satu hal lagi,” lanjut Marissa.
”Apa?” tanya Wiliam .
”Berjanjilah kepadaku bahwa kau akan memberi tante-
mu kesempatan. Ia benar-benar menyayangimu.” Marissa
m enggerakkan jari kelingkingnya.
”Bagaim ana Kakak bisa yakin?” sahut Wiliam ketus.
Marissa mendesah. ”Mungkin kau benar, aku tidak pu-
nya bakat apa pun selain m akan, nam un kau tidak perlu
punya bakat hebat untuk m engetahui apakah seseorang
m enyayangi keluarganya. Percayalah kepadaku, tantem u
am at m enyayangim u. Tolong, berilah dia kesem patan!
Berjanjilah kepadaku, ya?”
Wiliam terdiam beberapa saat, lalu jari kelingkingnya
m elingkari jari kelingking Marissa. ”Oke. Aku berjanji.”
”Baguslah, kalau begitu,” kata Marissa, sam bil ter-
senyum dan berdiri. ”Aku lega m endengarnya. Aku jadi
tidak terlalu sedih meninggalkanmu di masa ini.”
Tiba-tiba Wiliam meraih tangan Marissa dan meng-
genggam nya. ”Bisakah Kakak tidak pergi? Tinggallah di
sini saja.”
”Wiliam ,” seru Marissa perlahan.
”Aku akan memberikan semua mainanku untuk Kakak!”
ucapnya serius. ”Kakak boleh m ain Space Invaders
sepuasnya, aku tidak akan m engganggu Kakak. Tiap hari
Kakak boleh makan makanan mana pun yang Kakak suka.
J angan pergi!”
Marissa jongkok di depan Wiliam . ”Wiliam , bukannya
158
http://facebook.com/indonesiapustaka aku tidak ingin. Aku ingin sekali tinggal bersam am u,
namun ini bukan masaku.”
”Aku tahu,” ucap Wiliam perlahan. ”Aku hanya ber-
harap Kakak tidak perlu pergi.”
Dua jam kemudian, Marissa menatap Gedung Albatross
sam bil m enarik napas. Gedung itu sudah dipenuhi pe-
ngunjung. ”Aku akan m asuk sekarang,” katanya kepada
Wiliam . ”Kau bisa pulang sendiri, kan?”
Wiliam mendengus. ”Aku kan bisa menjaga diriku sen-
diri.”
”Ya, aku tahu,” kata Marissa. ”J aga dirim u baik-baik,
Wilia m .”
Marissa melangkah pergi.
”Orang itu tidak berhak m endapatkan Kakak!” teriak
Wiliam di belakangnya. Marissa m enoleh ke belakang.
”Apa m aksudm u?”
”Orang yang memutuskan Kakak di masa depan. Pacar
Kakak,” kata Wiliam terbata-bata, ”dia… dia tidak berhak
m endapatkan Kakak. Kakak berhak m endapatkan se-
seorang yang jauh lebih baik darinya.”
Marissa tersenyum perlahan. ”Terim a kasih.” Marissa
baru m enyadari bahwa selam a satu m inggu ini ia tidak
memikirkan Michael dan Selina sama sekali. Rasa sakit
di hatinya akibat diputuskan Michael tidak dirasakannya
lagi.
Marissa berjalan kem bali ke arah Wiliam . ”Aku tahu
kau tidak suka disentuh, namun…” Tiba-tiba Marissa me-
m eluknya.
”Terima kasih, Wiliam,” kata Marissa lagi, lalu melepas-
159
http://facebook.com/indonesiapustaka kan pelukannya. Tangannya menepuk kepala Wiliam per-
lahan. ”Selam at tinggal, Wiliam .”
Wiliam melihat Marissa berjalan menuju gedung, dan
tak berapa lama kemudian ia tidak terlihat lagi. Di dalam
gedung, Marissa pergi menaiki anak tangga ke lantai
tem pat lukisan ”Menem bus Waktu” dipajang.
Ia bernapas lega ketika menemukan lukisan itu.
Marissa berjalan m endekatinya.
”Aku tahu kau yang mengirimku ke masa ini,” katanya
perlahan. ”Kau ingin aku m elihat orangtuaku di m asa
m uda, bukan? Sepertinya kau juga m engirim ku ke m asa
ini untuk m enyelam atkan Wiliam . Aku sudah m engerti
seka r a n g.”
Marissa m enarik napas perlahan. ”Tolong kem balikan
aku ke m asaku! Aku m ohon, kem balikan aku ke m asaku
yang sem ula!”
Tak berapa lama kemudian, ruangan gedung bergetar
hebat. Marissa m enutup m atanya. Ia akan kem bali.
***
Wiliam memandang seberkas cahaya putih yang menyala
dari lantai tiga, yang tak lama kemudian padam. Dia me-
nunggu setengah jam berikutnya di depan gedung. Ketika
sosok Marissa tidak muncul-muncul di pintu depan,
Wiliam yakin Marissa telah kem bali ke m asanya.
”Selam at tinggal, Marissa,” ucapnya perlahan.
***
160
http://facebook.com/indonesiapustaka Ketika Wiliam pulang ke rum ahnya m alam itu, Tante
Sarah sudah m enunggunya dengan berderai air m ata.
Tangannya m em egang sehelai surat. ”Wiliam ,” ujarnya
sam bil berjalan m endekatinya. ”Maafkan Tante.”
Tante Sarah memeluk Wiliam. ”Selama ini Tante gagal
m erawatm u. Maafkan Tante. Tante akan m encoba ber-
ubah dan merawatmu mulai sekarang.”
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, Wiliam
m em balas pelukan tantenya.
”J adi, Marissa sudah pergi?” tanya Tante Sarah, bebe-
rapa saat kemudian.
Wiliam mengangguk.
”Tante tahu kau senang berm ain bersam anya. Bagai-
mana kalau kauajak dia kemari lagi kapan-kapan?” usul
Tante Sarah.
Wiliam m enggeleng. ”Dia tidak akan kem bali lagi.”
”Mengapa?” tanya Tante Sarah bingung.
”Dia sudah kem bali ke m asanya.” Pandangan Wiliam
menerawang jauh.
Tante Sarah bingung mendengar jawaban Wiliam.
”Kalau begitu, bagaimana kalau Tante mulai menemani-
m u les m ulai besok?” tanyanya, sam bil tersenyum .
Wiliam terkejut m endengar usul itu. ”Sungguh?”
Baru kali ini Wiliam m elihat tantenya tersenyum tulus
kepadanya, dan hatinya m enghangat setelah m elihat se-
nyum an itu.
Tante Sarah mengangguk. ”Aku ingin mengenalmu dari
awal lagi. J adi… hm…” Tante Sarah berjongkok di hadap-
an Wiliam . ”Halo,” katanya kem udian, sam bil m engulur-
kan tangannya, ”nam aku Sarah. Aku adalah tante yang
161
http://facebook.com/indonesiapustaka payah. Selalu mabuk dan tidak pernah ada di rumah. Aku
sudah m enyia-nyiakan hidupku. Mulai saat ini aku
berjanji, aku akan m enjaga keponakanku!”
Wiliam tersenyum lem but. Ia akan m encoba m enepati
janjinya kepada Marissa dengan m enyam but uluran
tangan tantenya. ”Halo, Tante. Namaku Wiliam. Umurku
delapan tahun. Film favoritku Megalom an, dan m ainan
robot favoritku bernam a Voltus.”
Tante Sarah tertawa. ”Mulai hari ini, ayo kita membuat
kenangan baru!”
Wiliam mengangguk. Matanya menatap tangannya yang
bertato. Pikirannya beralih ke pantai sore tadi. Saat
Marissa mengejarnya dan akhirnya berhasil membuat tato
itu di tangannya. Ia tahu, ia akan m em buat kenangan
baru dengan tantenya. Sem entara itu, kenangan dengan
Marissa akan selalu disim pannya.
162
http://facebook.com/indonesiapustaka Sepuluh
6 Juli 20 0 8
Kem bali ke Masa Depan
Marissa membuka matanya perlahan-lahan. Dia melihat
ke sekelilingnya. Ia telah kem bali ke m asa depan. J am
dinding di aula gedung menunjukkan pukul enam sore.
Marissa berlari menuju kamar mandi dan melihat
pantulan wajahnya di cerm in. Kacam ata beningnya tidak
rusak. Bajunya tidak kotor. Ia m elihat kedua tangannya.
Tidak ada tato kupu-kupu dan bunga di sana. Seakan-
akan perjalanan waktu selama tujuh hari itu seperti
mimpi. Marissa tahu itu bukan mimpi. Ia merasakannya.
Ia ada di tahun 1988 selam a tujuh hari. Bertem u orang-
tuanya di m asa m uda. Bertem u Wiliam .
Marissa keluar dari kam ar kecil, dan baru m enyadari
bahwa lukisan di dekat tangga sudah hilang. Tidak ada
bekasnya sama sekali. Ia menyentuh dinding tempat lukis-
an itu tadinya dipajang. ”Terim a kasih,” ujarnya perlahan.
Saat hendak kem bali ke tem pat pertem uan, m atanya
terpaku. Selina datang ke arahnya sam bil tersenyum pe-
nuh kemenangan.
163
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Hai, Marissa,” katanya.”Aku tidak tahu kau ada di
sini? Wah, jangan-jangan kau m enghindari kam i, ya?”
Tadiny a y a. Sekarang tidak, kata Marissa dalam hati.
Aneh, pikirnya lagi, aku tidak m em iliki perasaan benci
lagi kepada Selina, padahal tujuh hari y ang lalu aku
ingin sekali m enjam bak ram butny a. Sekarang aku
hany a m erasa sedikit jengkel.
”Tidak!” kata Marissa tegas. ”Aku baru saja akan masuk
ke acara pesta. Perm isi, Selina!”
”Oh, Marissa,” panggil Selina lagi, ”apakah kau punya
tips-tips khusus untuk m enghadapi Michael? Karena kau
sudah… ehm m … berapa lam a ya,” ketiga jari tangannya
bergoyang di hadapan Marissa, ”tiga tahun bersam anya,
bukan? Ck… ck… ck… waktu yang cukup lam a.”
Marissa hanya tersenyum pendek. Ia tidak akan m e-
ladeni ejekan Selina lagi. Ada hal-hal yang lebih penting
selain m engurusi Selina. ”Tidak. Aku tidak punya tips
khusus,” ujarnya, sambil berbalik dan melangkah. Ia baru
berjalan dua langkah ketika berbalik lagi. ”Aku pikir-pikir,
Selina, aku m em ang punya satu tips khusus untukm u.”
”Oh, ya?” tanya Selina, ia tersenyum licik. ”Apa itu?”
”Kau dan Michael sangat cocok satu sam a lain,” jawab
Marissa tenang. ”Hanya satu tips dariku. Kalau Michael
bisa m em utuskan aku dengan begitu m udahnya, cepat
atau lambat dia bisa melakukan hal yang sama kepadamu.
Bukankah begitu? Walau bagaim anapun, kudoakan kau
rukun selalu dengannya. Seperti sudah kukatakan tadi,
kalian pasangan yang serasi.”
Marissa m eninggalkan Selina yang m eringis geram di
belakangnya. Bibirnya m enyunggingkan senyum an kecil.
164
http://facebook.com/indonesiapustaka Lega rasany a, katanya dalam hati, tidak ada rasa benci,
tidak ada rasa sakit hati. Sem ua perasaan itu hilang
dari hatiku.
Sosok Mami dan Papi terlihat oleh Marissa di kejauhan.
Ia berlari m engham piri m ereka dan m em eluk keduanya
dengan cepat. Papi dan Mami terkejut mendapat reaksi
seperti itu dari Marissa.
”Marissa?” tanya Papi. ”Ada apa?”
Marissa hanya m enggeleng. ”Tidak ada apa-apa. Rissa
hanya m erindukan Mam i dan Papi. Rasanya sudah lam a
sekali.”
”Lam a apanya?” tanya Mam i bingung. ”Kau kan baru
pergi sepuluh m enit yang lalu.”
”Aku tahu,” kata Marissa, sambil m elepaskan pelukan-
nya. Sepuluh m enit untuk Mam i, tapi tujuh hari di m asa
lalu untukku.
”Kau yakin kau tidak apa-apa?” tanya Papi khawatir.
”Aku yakin!” jawab Marissa mantap. ”Pap… Rissa mau
ke ruang sebelah dulu ya, mau cari makanan. Rissa sudah
lapar.”
Papi tertawa. ”Dasar, dari dulu yang kaupikirkan hanya
m akanan. Ya sudah, pergi sana!”
”Oh, ada satu hal lagi,” kata Marissa kepada orangtua-
n ya .
”Apa lagi?” tanya Mam i penasaran.
”Pap,” kata Marissa kepada Papi.
”Apa?” tanya ayahnya bingung.
”J angan pernah m em buat surat cinta,” kata Marissa,
sam bil tersenyum . Kem udian, beralih kepada Mam i.
165
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Mam , ey e shadow biru sangat… sangat tidak cocok de-
ngan wajah Mami.”
”Hah?” Keduanya m elongo.
Marissa hanya tersenyum lebar dan pergi meninggalkan
Papi dan Mami.
Papi dan Mami saling berhadapan.
”Apa m aksudnya itu tadi, Pi?” tanya Mam i.
”Entahlah, Mi,” kata Papi. ”Hm , rasanya Papi pernah
kenal dengan seseorang yang m irip dengannya.”
”Benarkah?” tanya Mam i. ”Siapa?”
Papi menggeleng. ”Tidak tahu, sudah lama sekali. Papi
tidak bisa m engingatnya. Ayo kita m enem ui tem an Papi
yang lain!”
Mam i m enggandeng tangan Papi. ”Ayo!” katanya.
***
Dalam perjalanan ke ruang makan, Marissa bertemu
dengan Michael. Ditatapnya bekas pacarnya selam a tiga
tahun itu. Marissa tidak m erasa sakit hati lagi. Baginya,
sekarang Michael adalah sosok asing. Ia tidak membenci-
nya, dan ia juga tidak m encintainya lagi.
”Marissa,” sapa Michael lebih dahulu. ”Aku benar-benar
m inta m aaf bila aku sudah m enyakitim u. Aku...”
Marissa langsung menghentikan ucapan Michael, ”Kau
tidak perlu m enjelaskan sem uanya, Michael. Aku m e-
n ger t i.”
”Tetapi...” Michael ngotot.
”Kau tahu, Michael,” kata Marissa, sambil menatapnya
166
http://facebook.com/indonesiapustaka tajam , ”aku senang kau m em utuskanku. Sungguh. Kau
dan Selina memang cocok.”
”Marissa,” protes Michael lagi.
”Seseorang pernah berkata kepadaku bahwa aku berhak
mendapatkan cowok yang jauh lebih baik darimu.” Pikir-
an Marissa m elayang kepada Wiliam . ”Dia benar. Aku
berhak m endapatkan cowok yang lebih baik. Selam at
tinggal, Michael. Sesudah hari ini, aku harap aku tidak
bertemu denganmu lagi.”
Marissa berjalan melewati Michael tanpa memandang
ke arahnya.
Di ruang makan Marissa melihat aneka macam masak-
an, dan perutnya mulai berbunyi. Ya, am pun! Aku lapar
sekali! serunya dalam hati.
Marissa m engam bil piring dan m ulai m engisinya de-
ngan sem ua m akanan yang ada di m eja m akan pertam a.
Mengingat acara pertemuan di sebelah belum dimulai,
belum ada satu tam u pun yang ada di ruang m akan itu.
Bagi Marissa ini kesem patan untuk m elahap sem ua
m akanan enak yang ada di sana tanpa diganggu siapa
pun.
Lim a belas m enit kem udian perutnya sudah terisi pe-
nuh, namun Marissa masih ingin mencicipi lagi. Ia tidak
puas bila belum mencoba semuanya. Dia membawa piring-
nya yang sudah kosong ke m eja m akan yang satu lagi.
Dengan hati gem bira dan bibir penuh senyum , ia m eng-
am bil satu dem i satu m akanan yang ada di m eja itu.
”Sebaiknya kau tidak m akan lagi kalau tidak ingin
perutm u sakit,” kata suara dari belakangnya.
Siapa itu? protes Marissa dalam hati. Siapa y ang be-
167
http://facebook.com/indonesiapustaka rani m enyuruhku berhenti m akan. Apa orang itu tidak
tahu, tidak seorang pun y ang bisa m enghalangiku
m akan banyak?
Marissa m enaruh piringnya. Dengan geram ia m enatap
orang di belakangnya. Seorang pem uda. Dia m engenakan
jas hitam, celana hitam, dan kemeja biru bergaris putih
tanpa dasi. Marissa terkesima. Wajah pria itu sangat tam -
pan dan posturnya tinggi gagah. Tapi Marissa tetap saja
tidak suka bila ada orang yang m enasihatinya seperti itu.
”Mengapa kau berkata seperti itu?” tanya Marissa
ketus.
Pemuda itu berjalan mendekati Marissa, dan berhenti
beberapa langkah di depannya. ”Mengingat aku lebih tua
sepuluh tahun darimu, maka kau harus menuruti semua
p er ka t a a n ku .”
Marissa m enjatuhkan tangannya. J antungnya berhenti
berdetak. Tatapannya tidak lepas dari pemuda itu. Tatap-
an m ata itu, seru Marissa dalam hati, aku m engenal-
nya.
”Wi… liam ?” tanyanya perlahan.
Pem uda itu tersenyum . ”Hai, Marissa. Lam a kita tidak
bertemu. Sudah dua puluh tahun, bukan?”
Kali ini Marissa yakin, pria di hadapannya adalah
Wiliam . ”Ya, am pun! Kaukah itu, Wiliam ? Aku tidak m e-
nyangka sam a sekali. Bagaim ana kau bisa ada di sini?
Terakhir aku melihatmu, tinggimu tidak lebih dari bahu-
ku.”
Wiliam tersenyum. ”Aku bukan anak-anak lagi, Marissa.”
”Ya, aku tahu,” kata Marissa, menatap Wiliam dari atas
sampai bawah.
168
http://facebook.com/indonesiapustaka ”Hari ketika kau pergi, aku pulang dan m elihat Tante
Sarah sedang menangis. Dia meminta maaf kepadaku dan
m erawatku sejak saat itu. Kau m em buat surat itu untuk-
nya, ya?”
Marissa m engangguk. ”Aku lega Tante Sarah bisa m e-
ngerti. Bagaim ana keadaan dia sekarang?”
”Dia baik-baik saja,” kata Wiliam , sam bil tersenyum .
”Beberapa tahun yang lalu Tante menikah dengan seorang
pria asing, dan kini ia tinggal di luar negeri. Dia sudah
menemukan kebahagiaan.”
Marissa tersenyum . ”Aku lega m endengarnya.”
Wiliam m aju selangkah lagi. ”J adi, kau m au m eng-
habiskan 36.50 0 m akan m alam berikutnya denganku?”
Marissa hanya bisa terpaku. ”Kau m em baca suratku?”
Wiliam m engangguk. ”Ya.”
Marissa tersenyum lagi. ”Kau tahu, Wiliam, aku m asih
kuliah. Aku juga ingin berkarier. Aku rasa...”
Wiliam m enghentikan ucapannya, dengan m elangkah
maju dan memeluk Marissa.
Marissa terkejut m endapat pelukan yang tiba-tiba
seperti itu.
”Hei, aku tidak akan ke m ana-m ana. Aku sudah m e-
nunggum u selam a dua puluh tahun,” ujar Wiliam . ”Apa-
lah artinya beberapa tahun lagi,” lalu ia melepaskan peluk-
a n n ya .
Pipi Marissa bersem u m erah. ”Aku benar-benar m e-
rindukanmu, Wiliam.”
”Ya, aku juga,” kata Wiliam , lalu ia m erogoh saku
celananya dan m eletakkan sebuah benda di tangan
Marissa. ”Ini untukm u.”
169
http://facebook.com/indonesiapustaka Marissa m enatap tangannya dan m elihat sebuah ke-
lereng biru. Kelereng yang pernah ia curi diam-diam dari
kamar Wiliam.
Marissa tertawa lebar. ”Ya, am pun. Kau m asih punya
kelereng ini? Bukankah kau pernah berkata bahwa kau
tidak suka memberikan mainanmu kepada orang lain?”
Wiliam berkata dengan serius. ”Seseorang telah m eng-
ubah pikiranku.”
”Benarkah?” tanya Marissa. ”Siapa?”
Wiliam berkata lagi, ”Dua puluh tahun yang lalu aku
bertemu seorang gadis aneh. Aku tidak mengerti satu pun
alat teknologi m asa depan yang disebutkannya. Kini,
semuanya masuk akal. Dia menyelamatkanku dan meng-
ubah hidupku. Kau m engubah hidupku, Marissa.”
Marissa tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa
m enyebut nam anya. ”Wiliam .”
”Kali ini aku tidak akan m elepaskanm u pergi lagi,
Marissa,” tekad Wiliam. ”Aku akan menunggumu sampai
kau siap.”
Marissa m enatap Wiliam dengan serius. ”Aku juga
tidak akan pergi ke mana-mana lagi.”
Wiliam tersenyum . ”Ada satu hal lagi yang ingin ku-
utarakan. Di suratmu untuk Tante, kau mengatakan suara-
ku sum bang. Biar kutegaskan, suaraku tidak sum bang.”
Marissa langsung protes. ”Suaram u m em ang tidak
enak. Mem buat kepalaku pusing. Ada hal-hal yang m e-
mang tidak bisa berubah, suaramu adalah salah satu-
n ya .”
”Kau juga m asih suka m akan banyak,” tim pal Wiliam .
”Ah ,” tiba-tiba sebuah ada m en gusik percakapan
170
http://facebook.com/indonesiapustaka mereka. ”Di sini rupanya kau, Wiliam. Aku mencarimu ke
m an a-m an a.”
Marissa menoleh ke belakang Wiliam. Papi tampak
sedang tersenyum sam bil m enggandeng tangan Mam i.
”Ke m ana saja kau?” tanya Papi lagi kepada Wiliam .
Wiliam hanya tersenyum . ”Saya punya urusan penting
sebelum m enem ui Oom ,” katanya m enjelaskan. Tatapan
m atanya beralih kepada Marissa. Marissa hanya bisa
diam kebingungan. Papi m engenal W iliam ? tanyanya
dalam hati.
”Oh,” kata Papi, seakan baru menyadari Marissa ada di
sana, ”Kebetulan kau ada di sini, Marissa.”
”Wiliam,” kata Papi kepada Wiliam, ”kenalkan ini anak
Oom, Marissa.” Pandangan Papi kemudian beralih kepada
Marissa. ”Marissa, ini Wiliam , klien baru Papi. Wiliam
baru saja kem bali dari luar negeri. Bukankah begitu,
Wilia m ?”
”Ya, Oom !” kata Wiliam m engangguk.
”Senang berkenalan denganm u, Wiliam ,” seru Mam i,
sam bil m elepaskan tangannya dari Papi dan bersalam an
dengan Wiliam.
”Senang berkenalan dengan Anda juga, Tante,” kata
Wiliam sopan.
Mami melirik kepada Marissa dan berdecak kesal.
”Marissa,” katanya kesal. ”Di mana sopan santunmu? Ini
klien Papi. Ayo salam i dia.”
Marissa terlihat serbasalah. Yang benar saja! teriaknya
dalam hati. Beberapa m enit y ang lalu W iliam baru saja
m em elukny a, sekarang Mam i m inta aku m eny alam iny a?
Tadi Papi bilang apa? Klien Papi? W iliam , klien Papi?
171
http://facebook.com/indonesiapustaka Wiliam tidak kuasa m enahan tawa. Akhirnya, dia ter-
batuk-batuk beberapa kali untuk menyembunyikan tawa-
nya. ”Tidak apa-apa. Saya sudah m engenalnya.”
”Benarkah?” tanya Mam i bingung.
Wiliam m engangguk, lalu berkata lagi, ”Dua puluh
tahun yang lalu.”
Papi dan Mam i m engernyit bersam aan.
Wiliam menatap Marissa. Marissa menggenggam ke-
lereng di tangannya dengan erat, lalu m enatap Wiliam .
Pandangan keduanya bertemu. Mereka tersenyum penuh
arti.
172
http://facebook.com/indonesiapustaka Tentang Penulis
Charon, anak tengah dari tiga
bersaudara, lahir di Sukabumi 19
Juni 1980. Suka menulis sejak
SMA, tapi baru mengirimkan nas-
kah sesudah bekerja.
Sejak kecil Charon sudah me-
nyukai buku, mulai dari komik
sampai novel. Mulai dari biograi,
thriller, mitologi, roman, sampai fantasi. Dia bisa bertahan di
toko buku lebih dari tiga jam. Charon juga menyukai semua
jenis ilm, kecuali ilm horor. Dia juga pecandu cokelat.
Charon pertama kali bergabung dengan GPU tahun 2008
dan telah menerbitkan 4 buku, yaitu: 3600 Detik, 7 Hari Me-
nembus Waktu, 1000 Musim Mengejar Bintang, dan Trio
Weirdo.
Orang-orang terpenting dalam hidup Charon adalah ke-
luarga, karena mereka suporter terhebat dalam perjalanan
hidupnya.
Charon suka musik klasik, terutama karya Chopin. Bagi
Charon, menulis merupakan hobi. Saat yang paling bahagia
baginya adalah ketika penggemarnya memberikan komentar
dan saran atas bukunya—dan tentu saja melihat bukunya di-
pajang di toko buku.
Jika ingin mengirim saran dan kritik, Charon bisa dihubungi
lewat Twitter @WriterCharon, e-mail: charon_2519@
yahoo.com, Facebook: Charon styx, dan blog http://
charon2519.blogspot.com.
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka Untuk pembelian online:
e-mail: [email protected]
website: www.gramedia.com
Untuk pembelian e-book:
www.gramediana.com
www.getscoop.com
GRAMEDIA penerbit buku utama
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka Marissa kesal ketika harus ikut ayahnya ke Gedung
Albatross, karena itu berarti ia akan bertemu Michael,
mantan pacarnya, dan Selina, musuh bebuyutan yang telah
merebut Michael dari sisinya.
Frustrasi oleh situasi, tak sadar Marissa menangis di
depan sebuah lukisan dan bergumam seandainya saja ia bisa
menghilang.
Dan ia… betul-betul menghilang! Terlempar ke masa dua
puluh tahun silam, saat ia belum lahir, saat orangtuanya
masih belum berpacaran.
Bersama William, anak kecil yang ditemuinya di masa itu,
Marissa mengalami hal-hal lucu dan menyenangkan, hal-hal
yang akan mengubah kehidupan gadis itu dan William di
masa depan.
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I, Lantai 5
Jl. Palmerah Barat 29-37
Jakarta 10270
www.gramediapustakautama.com