The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

7 Hari Menembus Waktu (Charon) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alfiperpus, 2022-09-26 20:52:49

7 Hari Menembus Waktu (Charon) (z-lib.org)

7 Hari Menembus Waktu (Charon) (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka enam hari. Marissa mendesah. Apakah aku sanggup
m elakukanny a dalam w aktu sesingkat itu?

Tiba-tiba sebuah jari m enusuk punggungnya.
”Arrgghhh!” teriak Marissa kaget.
Di belakangnya, Wiliam m enutup kupingnya dengan
kesal. ”Teriakan Kakak keras sekali.”
Marissa mengusap-usap dadanya untuk meredakan ke-
kagetannya. ”Salahmu sendiri, tiba-tiba membuatku kaget.
Bukankah kau sedang menyanyi di kamarmu? Untuk apa
kau ke sini?”
Wiliam m endengus kesal. ”Aku m elihat ada orang di
pekaranganku. Aku kira rum ahku kem alingan.”
”Heh, kausangka aku m aling?” tanya Marissa kesal.
”Sebenarnya apa yang Kakak lakukan di sini m alam -
m alam begini?” tanya Wiliam bingung.
”Aku sedang m enatap bintang,” sahut Marissa. ”Aku
rasa langit di masa kini ataupun di masa depan pasti
tidak berubah, ya kan?”
Wiliam m engangkat bahunya, seakan tidak peduli.
Tiba-tiba Marissa memukul pundak Wiliam dan ber-
teriak, ”Hei, ada bintang jatuh! Ayo ucapkan keinginan-
m u!”
Wiliam hampir saja tersungkur jatuh oleh pukulan
tangan Marissa di pundaknya. Ia lalu memandang cewek
di depannya dengan kesal. ”Itu kan cum a takhayul saja.
Mana ada bintang yang bisa m em enuhi keinginan
or a n g?”
”Masa bodoh,” kata Marisa. ”Pokoknya, aku berharap
aku bisa kembali ke masa depan, dan tidak perlu ber-
urusan denganmu lagi. Oh ya, aku juga ingin punya pacar

50

http://facebook.com/indonesiapustaka yang ganteng banget, pintar, baik hati, perhatian, m e-
ngerti aku apa adanya.”

”Oi!” teriak Wiliam, mengingatkan Marissa. ”Bintangnya
sudah tidak kelihatan lagi. Sepertinya keinginan Kakak
tidak akan terpenuhi. Lagi pula, m ana ada cowok sem -
purna seperti yang Kakak inginkan? Perm intaan Kakak
tidak m asuk akal. Pasti bintangnya juga kecapekan m en-
dengar perm intaan Kakak yang panjang begitu.”

Marissa m enarik napas dengan kesal. ”Nam anya juga
permintaan. Bukankah kita harus berharap yang setinggi-
tingginya? Ya, sudah. Kalau kau tidak percaya, kau kan
tidak perlu menggangguku membuat permintaan. Nah,
sekarang aku harus menunggu bintang jatuh lagi.”

Setelah itu, Wiliam terdiam seribu basa. Dulu dia
percaya bahwa ia bisa mengajukan permintaan ketika ada
bintang jatuh. Sekarang sudah tidak lagi. Dua tahun yang
lalu, ia m em inta kepada sang bintang agar orangtuanya
kem bali kepadanya. Ternyata, perm intaan itu tidak
pernah terkabulkan. Akhirnya, ia berhenti m em inta.

Ditatapnya Marissa yang sedang mencari bintang jatuh
berikutnya di langit. William m enunduk, lalu m elangkah
m asuk ke rum ahnya perlahan-lahan.

51

http://facebook.com/indonesiapustaka Empat

1 Ju li 19 8 8
Su rat Cin ta

Marissa terbangun dengan kepala pening. Semalam ia

mencoba menatap langit, berharap bintang jatuh akan
terjadi lagi. Setelah menunggu satu jam, bintang jatuh tak
kunjung tiba. Akhirnya, Marissa kembali ke kamar tidur-
nya dengan perasaan kesal. Kini, kepalanya berdenyut-
denyut. Pasti gara-gara tidur kem alam an dan m asuk
angin. Bangkit dari tem pat tidurnya, Marissa m engam bil
kacam ata, m engenakannya, dan m enatap beker di sam -
ping tempat tidur.

Apa?! teriaknya, sudah pukul sem bilan?
Marissa berlari ke luar kamar dan melihat Wiliam se-
dang nonton TV. ”Wiliam,” panggilnya. ”Kau belum pergi
les?”
”Hari ini aku les piano pukul sepuluh,” kata Wiliam .
Marissa menarik napas lega. Tiba-tiba Marissa teringat,
”Wiliam , bukankah kau sedang liburan sekolah? Kenapa
harus les setiap hari?”
Wiliam hanya m engangkat bahu, lalu kem bali m e-
m andangi layar televisi.

52

http://facebook.com/indonesiapustaka Marissa m endesah. Pikirannya kem bali tertuju pada
tugas penting yang harus ia lakukan. Hari ini ia harus
pergi menemui Papi lagi, dan meyakinkannya agar segera
berkencan dengan Mami. ”Aku mandi dulu,” kata Marissa.
”Nanti aku antar kau les.”

Marissa mengenakan celana jins pucat dan kemeja ibu
Wiliam . Lengan kem eja itu terlalu panjang. Karena itu
Marissa melipatnya sampai ke atas siku karena ia melihat
Papi m engenakan kem ejanya seperti itu.

Waktu turun untuk sarapan, Marissa tidak melihat
Tante Sarah lagi. ”Tante Sarah m asih belum bangun?”
tanyanya kepada Wiliam .

Wiliam mengangkat bahu. ”Kemarin sepertinya Tante
tidak pulang. Ayo, kalau sudah selesai, antar aku les!”
Wiliam jalan ke luar rumah, dan Marissa mengikuti-
n ya .

Kali ini tempat les Wiliam agak jauh. J adi, mereka me-
mutuskan naik mikrolet saja. Dalam perjalanan mereka
bertem u dengan segerom bolan anak yang kem arin
m enyerang Wiliam . Marissa m elirik m ereka dengan
tatapan dingin, lalu anak-anak itu m enyingkir.

”Kau selesai pukul berapa?” tanya Marissa, sesampainya
di tempat les.

”Pukul dua belas,” kata Wiliam .
”Oke,” kata Marissa, ”nanti kujem put. Hari ini aku
harus pergi menemui Papi lagi. Dadah....”

***

53

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Papiii! Ehmm, Ferry!” panggil Marissa, sambil melongok
ke dalam ruang kuliah Papi.

Di tengah kelas, Papi mendongak dan mencari arah
datangnya suara yang m em anggil nam anya. Kebetulan
kelas masih kosong, kecuali dirinya yang hari itu memang
hadir lebih awal.

Marissa tersenyum m elihat Papi, lalu m elangkah m aju
m endekati m eja Papi dan duduk di kursi sebelahnya.

”Masih ingat aku, kan?” tanya Marissa, sam bil ter-
senyum m anis.

Ferry m elihat gadis di sebelahnya dan m engangguk.
”Kau gadis yang aku selam atkan kem arin.”

”Ya, benar.” Marissa tersenyum lebar. ”J adi… kali ini
aku datang untuk m em bantu Pap… ehm m … kau, Ferry.”

”Mem bantu apa?” tanya Ferry, sam bil beringsut m en-
jauh dari gadis di sebelahnya.

”Mem bantum u m endekati Diana tentu saja. Kau m e-
nyukainya, kan?” kata Marissa, mendekatkan diri ke bang-
ku Papi.

Ferry beringsut m enjauh lagi. ”Bagaim ana kau bisa
tahu?” tanyanya.

”Itu tidak penting,” kata Marissa, tidak menggubris per-
tanyaan Ferry. ”Yang penting sekarang aku m au m em -
bantumu. J adi, kita harus menemui Diana, dan kau harus
m engungkapkan perasaanm u padanya hari ini.”

Ferry m enggeleng ngeri. ”Tidak m ungkin. Aku… aku…
gugup sekali bila berdekatan dengannya.”

”Oleh karena itulah, aku akan m em bantum u,” Marissa
m enegaskan. ”Kau harus m engatasi rasa gugupm u itu.
Ayolah, Diana kan gadis yang kausukai. Masa kau tidak

54

http://facebook.com/indonesiapustaka ingin mengatakan isi hatimu kepadanya selamanya? Tidak
mungkin, kan?”

”Pergilah!” kata Ferry, m engusir Marissa. ”Aku tidak
butuh bantuanmu.” Ia kemudian kembali menulis sesuatu
di sehelai kertas.

Marissa m em iringkan kepalanya untuk m elihat apa
yang ditulis Papi. Saat Papi sedang lengah, Marissa meng-
am bil kertas itu dan m em bacanya.

”Hah! Rupanya kau sedang m enulis surat cinta,” kata
Marissa, sambil memegang surat Papi.

Papi berusaha meraih kembali surat di tangan Marissa,
namun Marissa lebih gesit dan menghindarinya. ”Kembali-
kan padaku!” teriak Ferry panik.

”Aku akan kem balikan,” kata Marissa tenang, ”setelah
aku m em bacanya, ya.”

”Tolong, jangan baca,” kata Ferry m em elas.
”Dengar, Ferry,” kata Marissa serius, ”aku benar-benar
ingin membantumu mendapatkan Diana. J adi, kau duduk
saja dan biarkan aku m em baca. Aku akan m em berikan
opini sebagai seorang perempuan.”
Ferry akhirnya berdiam diri dan m em biarkan Marissa
m em baca surat yang ditulisnya. Melihat kepanikan Papi
mereda, Marissa membaca surat itu.

”Untuk Diana,”
Jikalau kau adalah bunga m atahari,
aku rela m enjadi lebahny a.
Jikalau kau adalah rem bulan y ang m eny inari bum i,
biarlah aku m enjadi bintang di sisim u.
Madu di tangan kananm u, racun di tangan kirim u,

55

http://facebook.com/indonesiapustaka Aku akan m enerim a apa pun yang kauberikan kepada-
ku.

Diana… m aukah kau jadi pacarku?

Yang selalu m encintaim u,
Fer r y

Marissa terheran-heran membaca isi surat cinta Papi.
”Bagaim ana?” tanya Papi, tidak sabar di sebelahnya.

”Bagus tidak?”
Marissa memutar bola matanya, lalu memandang Papi.

”Surat ini kesannya, hm m m …” gom bal, picisan…
”… terlalu berlebihan,” lanjut Marissa, berusaha supaya

pendapatnya tidak terdengar m erendahkan. Ia harus
ingat, walau bagaim anapun pria di hadapannya ini akan
m enjadi papinya di m asa yang akan datang. Yang tidak
ia sadari, ternyata papinya sangat payah, tidak bisa mem-
buat surat cinta.

”Berlebihan?” tanya Papi. ”Aku sudah m encoba m eng-
ungkapkan perasaanku lewat surat itu. Menurut artikel
yang aku baca di m ajalah-m ajalah, surat seperti itu m e-
narik perhatian wanita.”

Aduh, Papi baca m ajalah apa sih! Ini sih surat cinta
picisan. Aku saja sekali baca sudah tahu.

”Apa ini artinya, m adu dan racun?” tanya Marissa bi-
n gu n g.

”Ehm m , itu diam bil dari lagunya Bang Arie yang ter-
kenal, Madu dan Racun,” kata Papi. ”Masa kau tidak
tahu?”

56

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Begini saja,” kata Marissa, sambil geleng-geleng. ”Aku
akan buat surat cinta yang baru. Aku rasa kita butuh
surat cinta yang tidak berlebihan. J adi, ceritakanlah
kepadaku tentang Diana. Aku akan m enulis surat cinta
berdasarkan apa yang kaurasakan, bagaimana? Kalau kau
tidak suka, kau bisa memberikan surat cinta yang kautulis
sen d ir i.”

”Apa yang harus aku ceritakan?” tanya Ferry. ”Aku jelas-
jelas mencintai Diana.”

”Ya, aku tahu,” kata Marissa tidak sabar. ”Maksudku,
m isalnya kau bisa m enceritakan tentang pertam a kali
Pap… ehm m … kau bertem u. Apa yang kausuka dari
Diana? Hal-hal seperti itulah.”

Papi tam pak berpikir, ”Yah, aku bertem u dengannya
sepuluh tahun yang lalu ketika m asih SD. Menurutku ia
gadis paling cantik di sekolah!” Bibir Papi tersenyum
teringat kenangan m anis m asa kecil m ereka. ”Sam pai
sekarang pun dia m asih gadis paling cantik yang pernah
aku tem ui. Aku suka senyum nya, tatapannya, sem uanya.
Aku suka memandangnya, dan tak sekali pun aku merasa
bosan. Kau tahu, ketika kau m encintai seseorang, kau
ingin m enghabiskan sisa hidupm u dengannya.”

Marissa terpana. Ia tahu orangtuanya saling mencintai.
Mendengar perasaan Papi langsung dari mulutnya sendiri,
membuat Marissa tersentuh. Papi memang benar-benar
mencintai Mami.

”Itulah yang bisa aku ceritakan,” lanjut Papi lagi. ”Aku
memang tidak pandai menggunakan kata-kata romantis.”

Marissa m engangguk dan m enyentuh tangan Papi.
”Tidak apa-apa. Aku sudah m engerti. Kau benar-benar

57

http://facebook.com/indonesiapustaka mencintainya. Aku berharap aku bisa merasakan hal yang
sam a.”

Tiba-tiba dari luar terdengar bunyi m esin m otor dan
decitan rem disusul teriakan, ”Diana, tunggu!”

Papi dan Marissa keluar dari kelas, dan melihat Mami
sedang berjalan m enjauhi pem uda yang m engendarai
sepeda motor.

”Pokoknya, aku tidak m au m elihatm u lagi!” teriak
Diana. ”Pergi!!”

”Diana!” teriak pem uda itu ngotot.
”Kita putusssss!!” teriak Diana keras-keras.
Pemuda itu memegang tangan Diana, dan memintanya
untuk tinggal. ”Lepaskan tanganku!” teriak Diana lagi.
”J angan pernah m enyentuhku lagi!”
Marissa melihat Mami berjalan ke ruang kuliahnya me-
ninggalkan pemuda itu sendirian. Tak berapa lama deru
motor kembali membahana, lalu lenyap. Pemuda itu telah
pergi.
Marissa tersenyum sam bil m eloncat-loncat. ”Ini ke-
sem patanm u,” katanya kepada Papi, sam bil m enepuk
punggungnya. ”Diana baru saja putus dengan pacarnya.
Sekarang kau bisa menemuinya dan menyatakan perasaan-
m u .”
Papi m enggeleng. ”Aku rasa tidak sem udah itu,” kata-
nya. ”Diana sedang terluka.”
”Tidakkah kau ingin m enghiburnya?” tanya Marissa
kesal.
”Tentu saja,” kata Papi lem but, ”akan tetapi, sekarang
ia butuh waktu untuk sembuh. Saat ini dia pasti berpikir
sem ua pria adalah m akhluk yang harus dihindari. Aku

58

http://facebook.com/indonesiapustaka akan berbicara dengannya besok. Oh ya, aku harus kem -
bali ke ruangan. Kuliah akan segera dim ulai.”

Marissa tersenyum perlahan. ”Aku akan membuatkanmu
surat cinta yang hebat. Besok aku akan m em bawanya
kemari. Aku yakin Diana pasti akan terharu membacanya
dan menerima kencanmu.”

Papi hanya tersenyum , lalu m asuk ke ruang kuliah.

***

Marissa berdiri di depan tempat les piano Wiliam sambil
mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai. Pikirannya penuh
dengan kata-kata yang akan dia tulis untuk surat cinta
Papi. Wiliam m elihat Marissa yang tam pak sedang ber-
pikir keras hingga tidak m eyadari kehadirannya.

”Kakak sedang m em ikirkan apa?” tanyanya
Pertanyaan Wiliam m engejutkan Marissa. ”Oh, hai
Wiliam , lesnya sudah selesai ya?”
Wiliam m engangguk. ”Aku lapar. Ayo kita cari m a-
ka n !”
Marissa menyetujuinya. Mereka makan di warung ping-
gir jalan.
”Tadi,” kata Marissa, di tengah m akan siang m ereka,
”aku bertemu Papi lagi, dan aku akan membantunya mem-
buat surat cinta.”
Wiliam memandang Marissa tanpa semangat, dan
kem bali m elanjutkan m akannya.
Kesal karena m erasa tidak diindahkan, Marissa cem -
berut. ”Wiliam ? Kau m endengarkan aku, kan?”

59

http://facebook.com/indonesiapustaka Wiliam menarik napas, dan meletakkan sendok-garpu-
nya. ”Ya. Aku rasa surat cinta terlalu aneh kalau ditulis
orang lain. Bukankah sebaiknya ’papim u’ membuat surat
cinta sendiri?”

”Dia sudah buat,” kata Marissa lagi, ”namun buatannya
tidak bagus. Oleh sebab itulah, aku akan membantu mem-
b u a t ka n n ya .”

Tidak terdengar tanggapan apa-apa.
”J adi, bagaim ana m enurutm u?” tanya Marissa berse-
m a n ga t .
Wiliam m engangkat bahunya. ”Aku tidak akan m en-
cam puri apa pun yang bukan urusanku.”
Marissa merasa kesal. Ini anak m em ang tidak bisa
diajak bicara baik-baik, gerutunya dalam hati.
”Kalau Kakak sudah selesai m akan,” kata Wiliam ,
m elihat piring kosong Marissa, ”sebaiknya kita pergi
sekarang. Aku m asih ada les.”
Wiliam beranjak berdiri. Marissa m em bayar m akanan
m ereka, lalu m engikutinya.
”Tunggu, Wiliam ,” kata Marissa. ”Kau m asih ada les
apa lagi?”
”Karate,” kata Wiliam .
Mereka naik bus kota ke tempat les karate Wiliam. Se-
panjang jalan, Marissa tak habis pikir apa benar Wiliam
bisa karate. Kalau benar, m engapa dia tidak m elawan
anak-anak nakal yang m engganggunya waktu itu.
”Wiliam ,” katanya di dalam bus, ”kau sudah belajar
karate berapa lama?”
Wiliam m enatap Marissa. ”Dua tahun.”
Marissa m enelan ludah. ”Kalau kau sudah belajar

60

http://facebook.com/indonesiapustaka begitu lama, mengapa kau tidak melawan anak-anak yang
mengganggumu waktu itu?”

Wiliam m endengus. ”Aku tidak punya alasan untuk
melawan mereka.”

”J adi, kau m em biarkan m ereka m em ukulm u,” kata
Marissa, tidak setuju.

”Mereka berenam, dan aku hanya sendiri,” kata Wiliam,
m enerangkan kepada Marissa. ”Kalaupun aku bisa m e-
ngalahkan salah satu dari m ereka, yang lain pasti akan
bergegas m em ukulku juga. J adi, tidak ada bedanya.”

Marissa m enarik napas lagi. ”Tidakkah kegiatan lesm u
ini terlalu banyak? Kau kan m asih kecil, m engapa kau
harus les sebanyak ini?”

”Kata Mam a, selagi m uda kita harus m encoba sem ua-
nya.” Mimik Wiliam tampak seakan ia sedang mengingat
m asa-m asa ketika m am anya m asih hidup. ”Mam a ingin
aku m encoba sem uanya, dan m enem ukan satu kegiatan
yang paling aku sukai.”

Marissa mengangguk. ”Kalau begitu, mengapa kau tidak
konsentrasi di satu kegiatan yang paling kausukai saja?”

Wiliam mengangkat bahu, ”Karena sampai saat ini aku
belum m enem ukan kegiatan yang paling aku sukai. Kita
sudah sam pai. Ayo!”

Marissa mengikuti langkah Wiliam menuju tempat
latihan karatenya. Setelah satu jam m enunggu, Marissa
mulai melihat-lihat ke luar tempat les. Di sepanjang jalan
dekat tempat les Wiliam, banyak sekali penjaja makanan.
Mata Marissa bercahaya. Dia menelusuri penjaja makanan
itu satu per satu. Di sana banyak sekali dijual m akanan
yang belum pernah ia cicipi.

61

http://facebook.com/indonesiapustaka Ada berbagai macam cokelat, yang berbentuk batangan,
wafer, keping uang logam em as. ”Bang,” kata Marisa,
sam bil m enunjuk sem uanya. ”Aku m au beli cokelat-
cokelat ini. Harganya berapa, ya?”

Si abang penjual m akanan berkata, ”Cokelat batangan
ini harganya Rp 25,0 0 per buah, yang wafer Rp 50 ,0 0 .
Kalau yang berbentuk uang logam em as Rp 25,0 0 dapat
empat buah.”

Marissa semakin tersenyum lebar. ”Murah sekali. Saya
m au sem uanya, ya.”

Setelah transaksi jual-beli selesai, Marissa membuka
jajanan yang baru dibelinya satu per satu dan memakan-
nya. ”Hm m m enak sekali.”

Cokelat-cokelat itu habis dalam waktu sepuluh m enit.
Berikutnya Marissa m engincar perm en. Oh, katanya
dalam hati, aku belum pernah m elihat perm en-perm en
ini. Apa ini nam any a? Cocorico, Chicklets, Pindy Pop,
perm en karet Yosan. W ah, aku harus m encoba sem ua-
nya!

Dari dalam ruangan latihan karate, Wiliam menatap
Marissa yang sedang bingung m em ilih m ana di antara
dua permen yang akan ia makan terlebih dahulu. Setelah
tersenyum kecil, Marissa m em buka kedua bungkus
perm en itu dan m em akan keduanya sekaligus.

Wiliam tertawa.
Dari belakangnya, seseorang m em perhatikan Wiliam
dan berkata, ”Kau tahu, ini pertam a kalinya Sensei m e-
lihatmu tertawa.”
Wiliam berbalik, dan m enghadapi guru karatenya.

62

http://facebook.com/indonesiapustaka Sensei tersenyum sam bil m em berikan sabuk kuning
kepada Wiliam . ”Selam at, Wiliam . Hari ini kau telah
berhasil memperoleh sabuk kuning.”

Wiliam membungkuk memberi hormat. ”Terima kasih,
Sensei.” Diterim anya sabuk itu dengan sedikit perasaan
bangga, lalu ia melihat ke arah Marissa lagi. Di Tangan-
nya ada perm en bergagang putih.

”Dia kakakm u?” tanya Sensei.
Wiliam langsung m enggeleng. ”Bukan. Dia cum a gadis
yang sangat rakus.”
Sensei tersenyum m endengar penjelasan Wiliam .
”Seringlah tertawa, Wiliam .”
Wiliam tidak berkata apa-apa mendengar perkataan
gurunya. ”Saya pulang dulu, Sensei.”
Sensei mengangguk.

Saat keluar dari ruang latihan karate, Wiliam melihat
Marissa m asih m engunyah perm en di m ulutnya. Marissa
m enatapnya, lalu m engeluarkan perm en itu dari m ulut-
n ya .

”Wiliam ,” serunya gem bira, ”kau tahu, m akanan di
m asam u enak-enak sem ua. Banyak sekali yang belum
pernah aku coba. Perm en dan cokelatnya… ehm m … se-
muanya enak.” Marissa memasukkan sebuah permen lagi
ke m ulutnya.

”Kakak m akan berapa banyak?” tanya Wiliam , heran
melihat bungkus permen dan cokelat berserakan di
la n t a i.

Marissa membungkuk untuk mengambil bungkus-
bungkus itu dan m em buangnya ke tem pat sam pah, lalu

63

http://facebook.com/indonesiapustaka tersenyum tanpa rasa bersalah kepada Wiliam. ”Pokoknya,
banyak. Aku m encoba sem uanya.” Ia m enyodorkan satu
perm en kepada Wiliam . ”Kau m au?”

Wiliam m enggeleng. ”Perm en bisa m em buatm u sakit
gigi.”

”Aku tahu,” kata Marissa ceria. ”Tapi itu tetap saja ti-
dak mencegahku untuk memakannya.” Marissa mengulum
lagi permen yang ada di tangannya sambil menutup mata,
”Enak… sekali.”

Kali ini Wiliam m enatap Marissa dengan serius. Gadis
di hadapannya jelas sangat m enikm ati perm en dan
cokelat yang dim akannya. ”Kau m em ang belum pernah
m em akan perm en dan cokelat-cokelat itu sebelum nya?”
tanya Wiliam , m encoba m enegaskan.

”Ya,” kata Marissa. ”J ajanan di masamu memang enak-
enak, dan murah.”

Mungkin dia m em ang berasal dari m asa depan, kata
Wiliam dalam hati. Karena, aku dan anak-anak yang lain
merasa jajanan tersebut tidak aneh, biasa-biasa saja.

”Ayo kita pulang!” kata Wiliam .

***

Marissa meremas kertas di hadapannya menjadi gumpal-
an bola dan melemparnya ke keranjang sampah. Gumpal-
an kertas itu jatuh di luar keranjang, menemani puluhan
gum palan kertas yang ada di sana.

Marissa m endesah frustrasi, ”Ah, sulit sekali. Aku be-
lum mendapat ide.”

64

http://facebook.com/indonesiapustaka Dibenam kannya kepalanya ke m eja. Setelah dalam
posisi demikian selama beberapa saat, Marissa menyerah.
Dia melihat sebuah radio-tape di depan meja. Ia me-
nyetelnya untuk m endengarkan siaran radio. Hanya ada
satu siaran, yaitu Radio Pram bors. Marissa m encoba
m encari-cari channel lain, nam un tidak ada suara yang
keluar selain saluran radio tersebut.

Marissa keluar dari kam arnya, dan m asuk ke kam ar
Wiliam . ”Wiliam , radio di kam arku rusak.”

Wiliam m enoleh kepada Marissa dengan kesal. ”Ketuk
pintu dulu sebelum masuk.”

”Upss, m aaf,” kata Marissa. ”Radioku rusak. Pinjam
radiom u, ya?”

Marissa m encoba m enyalakan radio di kam ar Wiliam .
Hasilnya tetap sam a. Satu saluran radio. Radio Pram -
bors.

”Wiliam,” kata Marissa bingung. ”Kok nggak ada salur-
an radio lainnya?”

”Mem ang hanya satu saluran saja. Radio Pram bors,”
jawab Wiliam.

”Di masaku radio punya banyak saluran,” kata Marissa.
”Ya, sudahlah. Aku tidak jadi m endengarkan radio.”

Saat Marissa hendak beranjak dari kamar Wiliam,
pandangannya tertuju pada lem ari m ainan di sebelah
pintu. Ada berpuluh-puluh m ainan m obil, robot, m otor,
dan m asih banyak m ainan yang belum pernah dia lihat
sebelum nya.

”Wow,” kata Marissa. ”Wiliam , m ainanm u banyak se-
kali.”

65

http://facebook.com/indonesiapustaka Marissa juga m elihat kaleng berisi kelereng, Kelereng-
kelereng m ilik Wiliam warnanya indah-indah.

”Wiliam,” kata Marissa, ”aku boleh minta kelereng yang
in i?”

Wiliam bangkit berdiri, mengambil kelereng itu dari
tangan Marissa dan m em asukkan ke kalengnya lagi.
”Tidak boleh.”

”Ayolah,” pinta Marissa. ”Kau kan masih punya banyak.
Ratusan m alah. Boleh, ya?”

Wiliam tetap bergeming. ”Tidak. Aku tidak suka mem -
bagi mainanku dengan orang lain.”

Ditolak dengan ketus seperti itu, Marissa menjulurkan
lidahnya. ”Dasar pelit!”

Wiliam m enyuruh Marissa keluar dari kam arnya.
”Kakak nonton TV saja sana! J angan ganggu aku!”

Dengan malas Marissa masuk ke ruang tamu dan me-
nyalakan televisi. Acara berita terpam pang di depannya.
Marissa m encoba m enggantinya dengan saluran lain,
namun tidak berhasil.

”Wiliam !” teriaknya ke kam ar Wiliam .
”Apa lagi?” tanya Wiliam , akhirnya keluar dari kam ar-
nya dan berjalan ke ruang tam u.
”J angan katakan padaku bahwa TV-mu hanya ada satu
saluran juga,” kata Marissa putus asa.
”Dari dulu sampai sekarang salurannya memang hanya
itu. TVRI. Tidak ada yang lain. Memang ada apa?” tanya
Wiliam heran.
”Di m asaku…” kata Marissa. Ia ingin m enerangkan,
nam un akhirnya m enyerah. ”…ah sudahlah, dijelaskan
juga kau tidak akan mengerti.”

66

http://facebook.com/indonesiapustaka Tiba-tiba Marissa m em egangi perutnya. Ia m engernyit
kesa kit a n .

”Kakak kenapa?” tanya Wiliam khawatir.
”Perutku sakit,” kata Marissa, lalu berlari ke kam ar
m a n d i.
Lim a belas m enit kem udian, Marissa tersenyum lega.
Wiliam m em andangnya dengan sinis. ”Gara-gara ke-
banyakan m akan siang tadi, ya?”
Marissa tidak meladeni ucapan Wiliam. Dan senyuman
lega Marissa hanya bertahan sesaat, perutnya melilit lagi.
Ia bergegas kembali ke kamar mandi.
”Makanya, kalau m akan jangan terlalu rakus,” kata
Wiliam di belakangnya.
Ketika Marissa keluar dari kam ar m andi untuk kedua
kalinya, Wiliam sedang duduk di depan kom puter.
”Kau sedang apa?” tanya Marissa, sam bil m endekati
Wilia m .
”Main Space Invaders,” kata Wiliam .
Marissa melihat barisan pesawat kecil-kecil dan senjata
yang m erajalela ke sana kem ari. ”Di m asaku,” kata
Marissa lagi, ”gam e kom puter sudah canggih. Tidak se-
perti ini lagi. Gambarnya sudah bagus. Bahkan ada gam e
portable yang bisa dibawa ke m ana-m ana. Nam anya
PSP.”
Wiliam membuka laci meja komputernya. ”Di masa ini
juga ada m ainan yang bisa dibawa ke m ana-m ana,”
katanya tidak m au kalah. ”Ini, nam anya Gem Bot.”
Wiliam memperlihatkan gam e berbentuk persegi
panjang. Di atasnya tertulis: Gam e & W atch Parachute.
Hm m m Gem Bot, katanya dalam hati. Hanya ada beberapa

67

http://facebook.com/indonesiapustaka tom bol di gam e itu. Wiliam m enyalakan gam e itu dan
m enyuruh Marissa m em ainkannya.

”Tugasmu hanya menyelamatkan penerjun payung dari
pesawat. Kau bisa m enggerakkan perahu penyelam at ini
ke kanan dan ke kiri.” Wiliam memberi contoh, lalu
Marissa m enggantikannya berm ain.

”Ini terlalu m udah,” kata Marissa m erem ehkan.
”Coba saja dulu,” kata Wiliam .
Marissa m em ainkan gam e itu awalnya dengan m alas-
m alasan. Lam a-lam a para penerjun payung itu sem akin
cepat datangnya, dan m em buatnya kewalahan. Gam e
over. Nilai yang diraih Marissa hanya 150 . Marissa m e-
lihat angka tertinggi yang diraih Wiliam . Apa? Em pat
ratus dua belas? teriaknya dalam hati. Sial. Masa aku
kalah dengan anak kecil?
Kali kedua Marissa berm ain dengan serius, nam un
tetap saja menjelang malam dia tidak berhasil melewati
angka Wiliam . Anak ini benar-benar hebat! Lebih hebat
dari anak seusianya! Ini salah satu hal yang akhirnya bisa
menjawab keheranan Marissa tentang sikap dan cara
berbicara Wiliam yang m elebihi anak seum urnya.

***

Sem entara itu, di sebuah diskotek….
Entah sudah berapa lama Sarah menggoyangkan tubuh-

nya m engikuti iram a m usik. Tetap saja perasaan ke-
hilangan di hatinya tidak kunjung hilang. Malah semakin
bertambah. Ia berhenti berdansa dan pergi memesan

68

http://facebook.com/indonesiapustaka minuman beralkohol. Setelah minuman itu ada di depan-
nya, Sarah m eneguk isinya hingga habis.

Kenangannya kembali pada tahun-tahun di masa kecil-
nya. Waktu kakaknya selalu m enjaganya sejak kedua
orangtua mereka meninggal dalam kecelakaan kapal
laut. Saat itu mereka tinggal bersama Nenek. Kakaknya
telah bertindak sebagai pelindungnya, sekaligus sebagai
tem annya. Kini kakaknya tidak ada lagi untuk m elin-
d u n gin ya .

Mengapa ini sem ua terjadi? teriaknya dalam hati. Per-
tam a orangtuaku, lalu kakakku. Mengapa m ereka sem ua
harus pergi dari sisiku?

Ia tidak tahu harus m enyalahkan siapa. Kini, Sarah
tidak sanggup m enatap wajah keponakannya, Wiliam .
Wajah anak itu benar-benar m irip kakaknya. Bahkan
tatapan matanya juga sama. Tatapan mata keponakannya
tidak pernah lem but, seperti kakaknya. Oleh karena itu,
Sarah selalu berusaha m enghindarinya sedapat m ung-
kin .

Pelariannya adalah minuman yang saat ini dipegangnya.
Akan tetapi, sebanyak apa pun dia m enenggak m inum -
annya, tetap ia tidak bisa m elupakan persoalannya. Ia
menjatuhkan wajahnya ke meja dan menangis. ”Kakak…,”
katanya perlahan. ”Mengapa kau pergi meninggalkan aku?
Aku sam a sekali tidak tahu bagaim ana cara m engasuh
anak. Kakak kan tahu aku tidak suka anak kecil.” Air
m ata m ulai m engalir m em basahi pipinya.

”Hei… kau tidak apa-apa?” tanya bartender di depan-
n ya .

Sarah seakan tersadar dan bangkit dari kursinya, lalu

69

http://facebook.com/indonesiapustaka berjalan ke luar diskotek. Hari sudah gelap. Sarah me-
mutuskan untuk naik taksi dari depan diskotek karena
kepalanya sudah terasa m elayang.

***

Satu jam kemudian, Sarah sampai di rumah dalam ke-
adaan sempoyongan. Ia segera masuk ke rumah. Dilihat-
nya Marissa dan Wiliam m enatapnya dengan bingung.
Perasaan sedih muncul kembali saat menatap Wiliam,
lalu ia terkulai di sofa di depannya.

Marissa dan Wiliam melihat Sarah terjatuh ke sofa dan
tertidur. Marissa mendekati Tante Sarah. ”Dia tidak apa-
apa?” tanya Marissa kepada Wiliam .

”Dia hanya tertidur,” kata Wiliam .
Marissa m enyuruh Wiliam m em bantunya m engangkat
Tante Sarah dan membaringkannya di kamarnya. Setelah
itu, barulah Marissa sadar bahwa dia belum m enyelesai-
kan menulis surat cinta.
”Aduh, aku kelupaan!” teriaknya panik. ”Aku kan harus
membuat surat cinta untuk Papi.”
Marissa berlari ke kam arnya, dan m enutup pintu. Kali
ini Marissa benar-benar serius merangkai kata-kata untuk
surat cintanya. Sambil menulis, ia memikirkan Mami dan
Papi dan mulai merindukan mereka.
”Ayolah, Marissa,” katanya kepada dirinya sendiri. ”Kau
bisa m elakukannya.”
Marissa menarik napas beberapa kali dan mulai me-

70

http://facebook.com/indonesiapustaka nulis. Setengah jam kemudian surat cinta itu selesai.
Marissa tersenyum lega. Ia m enjatuhkan diri ke ranjang
dan langsung tertidur ketika kepalanya m enyentuh
b a n t a l.

***

Sementara itu, Wiliam bergerak-gerak gelisah di dalam
tidurnya. Dia berm im pi bertem u papa dan m am anya.
Tapi bukannya m endekat, keduanya m alah m enjauh.
”Tidak!” kata Wiliam terengah-engah. ”Papa! Mam a! J a-
ngan pergi! Tidak!”

Wiliam berusaha mengejar keduanya, namun tetap saja
sekencang apa pun dia berlari m am a dan papanya se-
makin lama semakin jauh. Wiliam berteriak kencang.
”Tidak… Mam a… Papa… jangan tinggalkan aku!”

Wiliam terbangun dari mimpinya dengan tubuh berke-
ringat. J antungnya berdegup kencang. Ia lalu m elihat
ruangan di sekelilingnya. Terny ata cum a m im pi, katanya
dalam hati. Ia berjalan ke luar kamar untuk mengambil
m inum an, lalu tatapannya beralih ke kam ar Marissa. Ia
berjalan m endekatinya, kem udian m engetuk pintunya.

”Kakak,” katanya perlahan. ”Kau sudah tidur?”
Tidak mendapat jawaban dari kamar, Wiliam membuka
pintunya perlahan dan m asuk ke dalam kam ar tidur
Marissa.
Dilihatnya Marissa tidur tertelungkup. Wiliam berniat
keluar kamar, kakinya tidak sengaja menyentuh kaki meja

71

http://facebook.com/indonesiapustaka dan menjatuhkan sehelai kertas. Wiliam tidak tega mem -
bangunkan gadis itu. Namun ketika Wiliam mengambil
kertas itu dan baru membaca kalimat pertama, dia dikejut-
kan oleh suara di belakangnya. J antung Wiliam seperti
berhenti, dia segera m enjatuhkan surat yang dipegang-
n ya .

Ternyata Marissa bergerak dalam tidurnya, tubuhnya
kini telentang. ”Nyam … nyam … nyam ....” Begitu suara
yang keluar dari m ulutnya.

J antung Wiliam kem bali berdetak norm al. ”Dasar
Kakak,” katanya perlahan. ”Di alam mimpi pun yang ter-
pikir hanya m akanan.”

William kembali membaca surat tersebut. Seusai mem-
bacanya, dia m em andang Marissa yang sedang tertidur
selama beberapa saat, meletakkan surat itu kembali ke
atas meja, dan mematikan lampu kamar.

72

http://facebook.com/indonesiapustaka Lima

2 Ju li 19 8 8
Kencan Pertam a Papi dan Mam i

Marissa bangun keesokan paginya dengan penuh

semangat. Hari ini ia harus menyerahkan surat cinta yang
sudah dibuatnya dengan susah payah kepada Papi.

Papi pasti senang jika m em baca surat ini, pikir
Marissa, sam bil m andi dan bersiul-siul gem bira. Pokok-
ny a, hari ini Papi dan Mam i harus kencan.

Marissa memakai jins dan kaus bergaris-garis penuh
warna, dan bergegas ke ruang m akan. Dilihatnya Wiliam
sedang sarapan dengan tenang.

”Selam at pagi!”seru Marissa sam bil tersenyum . ”Hari
yang indah, bukan?”

”Cepat m akan!” kata Wiliam ketus. ”Ingat, aku ada les
pagi ini!”

Marissa hanya tersenyum m endengar perkataan anak
itu. Hari ini suasana hati Marissa sedang gembira. Tak ada
satu hal pun yang bisa m engubahnya.

Seusai mengantar Wiliam ke tempat les matematika,
Marissa bergegas menuju kampus Papi dan Mami. Mata-

73

http://facebook.com/indonesiapustaka nya bersinar saat m elihat Papi sedang duduk di bangku
taman.

”Ferry,” panggil Marissa, sambil menyentuh pundaknya.
”Aku sudah m em buatkan surat cinta untukm u.”

Ferry tampak terkejut. Dia tidak menyangka gadis yang
diselam atkannya benar-benar bersedia m em bantunya
membuat surat cinta.

”Kau benar-benar membuatnya?” tanya Ferry tidak ya-
kin .

”Tentu saja.” Marissa mengeluarkan sepucuk surat dari
sakunya. ”Bacalah!”

Ferry m engam bil surat itu, m em bukanya, lalu m em -
b a ca n ya .

Untuk Diana,
Aku suka senyum m u.
Aku suka tatapanm u.
Aku suka gayam u.
Aku suka sem uanya tentangm u.

Aku sudah m engenalm u selam a sepuluh tahun,
Selam a itu pula kau sudah m enjadi bagian dalam hati-
ku.
Diana… m aukah kau m akan m alam denganku hari
in i?
Jaw ablah, ”Ya.”
Aku berjanji akan menghabiskan 36.500 makan ma-
lam berikutny a bersam am u.

Yang m encintaim u,
Fer r y

74

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Aku suka surat ini,” kata Ferry, seusai m em bacanya.
Marissa tersenyum lebar. ”Aku senang Pa… ehm … kau
menyukainya. J adi, tunggu apa lagi? Ayo kita pergi temui
Ma… ehm … Diana!”
”Diana hari ini tidak kuliah,” kata Ferry.
Marissa jatuh terduduk di samping Ferry tanpa se-
mangat, ”Yaaahhh, padahal aku sudah membuat surat ini
seh a r ia n .”
Melihat tam pang Marissa yang kecewa, Ferry berkata
lagi, ”Aku bisa m eneleponnya dan m engajaknya kencan.”
Bibir Marissa tersenyum lagi, digenggam nya tangan
Papi. ”Ya, lakukan itu. Telepon dia! Ayo!”
”Tapi lepaskan tanganku dulu,” kata Papi, sam bil
m em andangi tangannya.
”Eh… ya, m aaf.” Marissa m elepaskan pegangannya.
Papi beranjak pergi dari bangku.
”Kau m au ke m ana?” tanya Marissa bingung. ”Bukan-
kah kau mau menelepon?”
Kini giliran Papi yang bingung. ”Aku m em ang m au ke
telepon umum.”
Oh… y a, kata Marissa dalam hati, di m asa ini belum
ada HP.
Marissa mengikuti Papi ke telepon umum. Papi me-
ngeluarkan sekeping uang logam dan memasukkannya ke
telepon. Tangannya sudah m ulai berkeringat ketika
memutar nomor telepon Mami. Papi lalu meletakkan
gagang telepon ke tem patnya lagi.
”Kenapa tidak jadi?” protes Marissa. ”Ayo! Telepon
d ia !”

75

http://facebook.com/indonesiapustaka Papi m enelan ludah. ”Bagaim ana kalau dia tidak tahu
siapa aku? Bagaim ana kalau dia m enolak ajakanku?”

Yah, keluh Marissa lagi. Papi m em ang pay ah nih!
”Aku saja yang putar nom ornya, ya. Pap... eh… kau…
tinggal bicara saja. Berapa nom ornya?” tanya Marissa.
Tangan Papi menghalangi Marissa. ”J angan! Aku ingin
m elakukannya sendiri.”
”Kalau begitu, cepat lakukan!” Kesabaran Marissa
nyaris habis.
Papi mengangkat gagang telepon lagi dan mulai me-
mutar nomor telepon Mami. Marissa berdiri mendekati
Papi agar bisa m endengar pem bicaraan keduanya. Tak
berapa lama kemudian suara nada sambung terdengar.
Papi menarik napas cepat-cepat.
”Halo,” kata suara di seberang.
Akhirny a! Marissa tersenyum senang. Moga-m oga itu
Mam i. Sepertiny a itu suara Mam i. Inilah saatny a!
”Ehm ,” kata Papi. ”Maaf. Salah sam bung.” Papi ter-
tunduk, diletakkannya lagi gagang telepon.
Apa?! teriak Marissa kesal. Papi! Di m ana keberanian-
m u? Masa bicara dengan Mam i saja tidak berani?
”Aku tidak bisa melakukannya. Aku gugup sekali,” kata
Papi terbata-bata.
Kedua tangan Marissa menyentuh bahu Papi, memaksa
kepala Papi m enghadapnya.
”Dengar, Ferry, lebih baik kau mencoba daripada tidak
sam a sekali,” kata Marissa keras. ”Dengan begitu, kau
tidak akan hidup dengan penyesalan. J adi, angkat telepon
itu dan telepon dia!”

76

http://facebook.com/indonesiapustaka Papi tertegun m endengar perkataan Marissa. ”Ya, kau
benar. Kalau tidak mencobanya, kau tidak akan tahu. Per-
kataan yang bagus.”

”Kau yang m engatakannya,” kata Marissa keceplosan.
”Hah?” Papi tam pak bingung.
Aduh, salah om ong deh, keluh Marissa, ”Ehm… begini.
Ayahku yang m engatakan itu.”
Ferry tersenyum . ”Ayahm u pasti orang yang hebat.”
”Tentu saja,” kata Marissa, lalu m enatap Papi. ”Yang
pasti, dia tidak akan takut menelepon seseorang yang dia
cintai untuk pergi dengannya.”
Setelah mendengar perkataan Marissa, Papi mengangkat
telepon tanpa ragu dan memutar nomor telepon Mami.
”Halo,” katanya setelah tersambung. ”Diana? Ini, Ferry.
Aku ingin tahu apakah hari ini kau ada waktu untuk
m enem uiku? Ehm … ya. Aku ingin m em berikan sesuatu
untukm u sore ini. Oke, pukul tiga. Aku pasti datang ke
rumahmu.” Papi menutup teleponnya. Sesaat dia terdiam,
lalu dia meloncat-loncat di samping telepon sambil ter-
senyum lebar. ”Dia mau menemuiku dan aku akan meng-
ajaknya pergi.”
Marissa ikut senang. ”Bagus,” katanya. ”Kau akan meng-
ajaknya ke m ana?”
”Aku akan m engajaknya ke bioskop,” kata Ferry.
”Ide yang bagus,” kata Marissa.
Papi m enatap Marissa. ”Terim a kasih atas bantuan-
m u .”
Marissa mengangguk. ”Aku senang bisa membantumu.”
Ia melihat jam tangan Papi, dan sadar bahwa ia sudah
telat menjemput Wiliam.

77

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Aku harus pergi!” kata Marissa terburu-buru. ”Semoga
kencan kalian sukses.”

***

”Kau terlam bat!” tuduh Wiliam .
”Aku tahu. Maafkan aku, Wiliam ,” kata Marissa, m e-

melas dan kehabisan napas. ”Aku tadi menemui Papi lagi.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang Mam i dan Papi
akan berkencan.”

Wiliam cem berut m elihat Marissa yang tersenyum
lebar. ”Apa kau tahu berapa lam a aku m enunggum u di
sini? Les bahasa Inggrisku akan dim ulai sebentar lagi.
Ayo kita pergi!”

”Hah?” teriak Marissa protes. ”Tidak ada acara m akan
siang dulu?”

Wiliam m endengus. ”Ini sudah pukul berapa?”
Marissa menginjak pedal sepedanya dengan loyo. Perut-
nya sudah kelaparan. Sepeda berhenti di sebuah gedung
dan Wiliam turun. Melihat tam pang Marissa yang ke-
capekan, hati Wiliam sedikit tergerak.
”Ada kantin di dalam gedung,” kata Wiliam perlahan.
”Kau bisa m akan di sana.”
Senyum an kem bali m enghiasi wajah Marissa. Ia m e-
m arkir sepedanya dan berjalan ke arah kantin. Selam a
m enunggu Wiliam , wajah Marissa berseri-seri. Misinya
untuk m enyatukan Papi dan Mam i sudah berhasil, se-
karang tinggal m elihat perkem bangan selanjutnya.
Marissa menunggu dengan bosan. J am dinding di

78

http://facebook.com/indonesiapustaka kantin sudah menunjukkan pukul dua lewat sepuluh
menit, namun Wiliam belum selesai juga. Lima menit ke-
mudian, Wiliam baru keluar dari ruang les.

Marissa m engajaknya bergegas ke sepeda.
”Ada apa?” tanya Wiliam .
”Aku mau mengajakmu ke suatu tempat,” kata Marissa
cepat.
”Ke m ana?” Wiliam protes. ”Aku m au pulang!”
”Dengar, Wiliam ,” kata Marissa, sedikit m engancam .
”Aku kan sudah bilang bahwa aku lebih tua darim u se-
puluh tahun. J adi, kau harus mengikuti perkataanku.
Pegang pinggangku erat-erat. Kita akan ngebut!”
”Hah, apa?” tanya Wiliam . ”Arghhhh!!”
Marissa m engendarai sepedanya dengan cepat.
”Kak, pelan-pelan,” kata Wiliam .
”Tidak bisa!” Marissa ngotot.
Rem sepeda mendecit. Tak jauh dari tempat mereka
berhenti, sebuah rumah besar bercat cokelat berdiri te-
gak.
”Sekarang kita m au apa?” tanya Wiliam , setelah ber-
hasil m eredakan jantungnya yang berdegup kencang.
”Sekarang,” kata Marissa, ”kita m enunggu.”
”Menunggu apa?” tanya Wiliam penasaran.
Suara sepeda motor mendekati area rumah itu.
”Itu,” tunjuk Marissa, sam bil tersenyum .
”Kita ada di m ana?” tanya Wiliam keras-keras.
”Sttt!” Marissa m em bawa sepedanya sedikit m enjauh.
”J angan berisik!”
”Kalau begitu, jawab dulu pertanyaanku,” kata Wiliam
kesal. ”Kita ada di m ana?”

79

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Itu rum ah ibuku. Hari ini Papi akan datang untuk
mengajak Mami kencan.”

Wiliam m enutup m atanya, m engam bil napas, lalu
m em bukanya lagi. ”Untuk apa kita ada di sini?”

”Tentu saja untuk melihat mereka,” kata Marissa. ”Aku
ingin m em astikan kencan m ereka berjalan lancar. Ah,
lihat! Mam i sudah keluar m enem ui Papi. Ayo, Papi!
Kerahkan seluruh kem am puanm u. Ya, benar! Berikan
surat cinta itu kepada Mam i!”

***

Ferry memberikan surat cinta di tangannya kepada Diana
dengan gugup.

”Ini untukm u,” katanya perlahan.
Diana membaca surat itu dengan sedikit rasa ingin
tahu. Ya, am pun! Terny ata selam a ini Ferry m eny ukai-
ny a, katanya dalam hati. Ia lalu memandang pemuda itu.
Dirinya dan Ferry m em ang sudah bertem an sejak lam a,
namun selama ini ia tidak tahu bahwa Ferry diam-diam
m enyukainya.
”Bagaimana menurutmu?” tanya Ferry perlahan. ”Apa-
kah kau mau menerimaku?”
Diana menarik napas, dan melipat kertas di hadapan-
nya. ”Kau tahu, selama ini aku selalu menganggapmu te-
m an .”
Wajah Ferry langsung kecewa.
”Setelah m elihat isi suratm u,” lanjut Diana, ”aku rasa,
aku ingin memberimu kesempatan.”

80

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Benarkah?” Ferry tersenyum bahagia.
Diana mengangguk.
”Terim a kasih,” kata Ferry lagi. ”Kau pasti tidak akan
m enyesalinya.”
”Aku harap begitu,” kata Diana.
”J adi, sekarang kalau kuajak kau ke bioskop, kau
m au?” tanya Ferry penuh harap.
Diana tersenyum . Ia m enatap wajah Ferry. Entah m e-
ngapa setiap kali m elihat w ajahny a y ang penuh
seny um an itu, aku m erasa ny am an, pikirnya.
Sementara itu, di dalam hati Ferry berteriak gembira.
Akhirny a, setelah bertahun-tahun aku bisa kencan de-
ngan Diana. Hari ini adalah hari paling m em bahagia-
kan seum ur hidupku.

***

Dari kejauhan, Marissa melihat Mami membonceng mo-
tor Papi.

Ya, am pun… berhasil! Papi berhasil kencan dengan
Mam i. Hooorreee!! Marissa tertawa lebar.

”J angan pulang kem alam an!” teriak suara di belakang
mereka.

Papi m em balikkan badan dan tersenyum . ”Ya, Oom !
Kam i tidak akan pulang terlalu m alam .”

Papi dan Mami kemudian pergi.
Marissa turun dari sepeda. Tatapannya terfokus pada
pria yang ada di rum ah itu, yang tadi m enegur Papi.
”Wiliam , tolong pegang sepeda ini sebentar,” kata

81

http://facebook.com/indonesiapustaka Marissa. Wiliam buru-buru mengambil alih sepeda dari
tangan Marissa.

”Ada apa?” tanya Wiliam bingung. ”Kakak m au ke
mana?”

Marissa tidak mengindahkan perkataan Wiliam, ia ber-
gegas ke rum ah Mam i. Sem akin dekat langkahnya, hati
Marissa semakin rindu.

”Perm isi, Oom ,” kata Marissa di depan pintu.
”Ya?” tanya sang pria. ”Siapa, ya?”
”Saya Marissa,” kata Marissa perlahan. Cucu kakek.
”Tem an Diana.”
”Oh, tem an Diana,” katanya, sam bil m engangguk.
”Diana baru saja pergi.”
Marisa membuka pintu gerbang, lalu masuk. Tiba-tiba
dia m em eluk pria di hadapannya.
Selama dua menit Marissa tidak melepaskan pelukan
itu.
”Ehm m … ehm m m m ,” kata papa Dian a, m en coba
menarik perhatian orang yang memeluknya. ”Nak, sampai
kapan kau akan memeluk Oom?”
Marissa langsung m elepaskan pelukannya. Matanya
berkaca-kaca. ”Terim a kasih.”
Papa Diana memandang Marissa keheranan. ”Mungkin
kau bisa menemui Diana di kampus hari Senin.”
Marissa m engangguk. ”Ya. Terim a kasih, Oom ! Saya
pergi dulu.”
”Ya,” kata Papa Diana, m asih setengah kebingungan.
”Hati-hati di jalan!”
Marissa tersenyum sekali lagi, dan bergegas pergi.

82

http://facebook.com/indonesiapustaka Wiliam m elihat Marissa berjalan kem bali ke arahnya.
”Ada apa?” tanya Wiliam . ”Mengapa Kakak pergi ke
sana?”

Marissa berhenti melangkah, lalu berjongkok. ”Aku me-
m eluknya,” katanya perlahan, air m ata m engalir m em -
basahi pipinya.

Melihat Marissa m enangis, Wiliam jadi cem as. ”Kakak
kenapa?” tanyanya.

”Aku baru saja m em eluk kakekku!” kata Marissa. ”Se-
tahuku, aku selalu m em andang Kakek sebagai pria tua
yang beruban dan m em akai gigi palsu. Kini, aku m elihat
kewibawaannya. Kakek m asih m uda sekali.”

Marissa menghapus air matanya setelah beberapa saat.
”Kakek m eninggal tiga tahun yang lalu di rum ah sakit.
Terkadang aku m asih m erindukannya. Aku cucu favorit-
nya, kau tahu? Kakek selalu m em anjakanku.”

”Kakak m endapat kesem patan bertem u dengannya
lagi,” kata Wiliam . ”Aku rasa Kakak cukup beruntung.”
Seandainy a aku juga bisa m endapat kesem patan ber-
tem u dengan orangtuaku.

Marissa berdiri. ”Ya, kau benar.”
”Kita bisa pulang sekarang?” tanya Wiliam akhirnya.
”Ya, ayo kita pulang,” kata Marissa.
Wiliam menarik napas lega.
”Setelah itu, kita pergi ke bioskop,” kata Marissa lagi.
”Apaaaa?” Nada suara Wiliam penuh protes.

***

83

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Apa Kakak yakin memata-matai orang yang pacaran ide
yang bagus?” keluh Wiliam , yang sedang duduk di
sam ping Marissa di bangku bioskop. Wiliam sebenarnya
m alas m enem ani Marissa ke bioskop. Apalagi di rum ah
tadi Marissa m em intanya berpakaian sedikit lebih resm i
dan memakai topi agar tampak lebih dewasa dari
umurnya. Yang juga menjengkelkan, tadi sebelum masuk
ke dalam gedung bioskop Marissa memintanya menunggu
sampai ilm telah diputar dan lampu-lampu dimatikan
agar Wiliam bisa masuk dengan mudah.

”Sstt!” Marissa m enyuruh Wiliam diam . Sam bil m eng-
amati pasangan yang berada dua bangku di bawah mereka,
ia berkata, ”Aku hanya ingin m em astikan bahwa kencan
m ereka lancar. Lagi pula, aku kan tidak m em ata-m atai
orang lain. Mereka berdua adalah ayah dan ibuku di masa
depan. J adi, pasti mereka tidak keberatan, kan?”

Wiliam mengomel. ”Tentu saja mereka tidak keberatan.
Mereka kan tidak tahu Kakak ada di sini m engawasi.”

”Sudahlah, Wiliam ,” kata Marissa. ”Kau duduk saja
dan nikmati ilmnya. Aku masih punya tugas.”

Wiliam menggeleng, dan duduk diam memandang layar
bioskop. Pandangan Marissa tidak lepas dari kedua orang-
tuanya. Ia m elihat Papi m enawarkan m inum an kepada
Mam i, dan Mam i m enerim anya. Dari atas, Marissa ter-
senyum . Setelah lim a belas m enit, tangan Papi m encoba
merangkul pundak Mami. Tiba-tiba Mami menengok ke
arah Papi, dan Papi pun m engurungkan niatnya dengan
pura-pura menguap.

Yah! seru Marissa kecewa. Gagal total deh usaha Papi
m erangkul Mam i. Ay o dong, Papi! Coba lagi!

84

http://facebook.com/indonesiapustaka Setelah menunggu setengah jam dengan mata tak kenal
lelah m engam ati keduanya, Marissa akhirnya m enyerah
dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Yah, Papi kok
usahany a hany a segitu saja?

Tiba-tiba Marissa duduk tegak kembali. Tunggu…
tunggu… bukankah itu tangan Mam i? Ya, am pun!
Tangan Mam i m enggenggam tangan Papi. Akhirny a,
m ereka bersentuhan juga. Mam i m em ang lebih berani
dan lebih hebat daripada Papi.

Marissa bertepuk tangan perlahan. Rencananya untuk
m em buat keduanya bersatu sudah berhasil. Kini tinggal
memastikan saja bahwa hubungan mereka tetap lancar
seperti ini.

Setelah senang melihat kedua orangtuanya berpegangan
tangan, barulah Marissa melihat ke arah layar bioskop. Ia
baru sadar ternyata ilm yang sedang dia tonton adalah
ilm horor. Ketika sang hantu berbaju putih memenuhi
layar, Marissa m enjerit sekencang-kencangnya sam bil
m enggenggam tangan di sebelahnya dengan erat.

Teriakannya yang keras membuat semua orang meman-
dang ke arahnya. Term asuk kedua orangtuanya.

Ah, gaw at! Marissa langsung merosot dari bangkunya,
dan jongkok untuk menghindari tatapan kedua orang-
tuanya. Beberapa saat dia menyembunyikan diri, sebelum
akhirnya berani kem bali duduk di bangkunya.

”Kak,” gerutu Wiliam kesal. ”Sampai kapan Kakak me-
m egangi jari tanganku? Bisa-bisa jariku patah sem ua
n ih !”

Marissa m elepaskan cengkeram annya pada tangan
Wilia m .

85

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Maaf. Maaf,” bisik Marissa.
Wiliam cem berut. Ia m engusap-usap jari tangannya
yang tadi dicengkeram erat oleh Marissa. Marissa hanya
tersenyum kecil m elihat tingkah Wiliam . Tatapannya
kem bali ke layar bioskop. Setelah m enatap selam a se-
puluh menit, Marissa mulai mengantuk, dan ia me-
nguap tanpa sadar. Tak berapa lama kemudian dia
tertidur pulas. Di sebelahnya Wiliam memperhatikannya
dengan kesal. Kok bisa-bisany a dia tertidur, padahal
beberapa m enit y ang lalu dia berteriak seperti orang
gila?

***

”Dari mana kau tahu aku suka nonton ilm horor?” tanya
Diana berbisik ke telinga Ferry.

Ferry tersipu malu. ”Kau menulisnya di buku kenangan
sewaktu SD.”

Diana terkejut, ternyata Ferry m asih m engingat hal
yang sudah lam a berlalu, dan perlahan-lahan hatinya
tersentuh.

Melihat makanan di tangan Diana hampir habis, Ferry
berkata, ”Kau m au lagi? Tunggu di sini ya, aku belikan
lagi.”

Ketika Ferry hendak beranjak dari kursi, Diana m eng-
hentikannya. ”Tidak usah. Aku sudah kenyang.”

Ferry kembali duduk.
Diana menatap Ferry kembali. Dia sangat berbeda
dengan Jim m y . Saat aku kencan dengan Jim m y , dia

86

http://facebook.com/indonesiapustaka hanya m akan sendiri tanpa m enaw arkan m akanannya
padaku, pikirnya. Dengan perlahan jemarinya menyentuh
tangan Ferry dan menggenggamnya. Diana mengarahkan
pandangannya ke layar bioskop sambil berpikir sekali lagi
betapa pas genggam an tangan pria di sebelahnya.

Setelah Diana m enggenggam tangannya untuk yang
kedua kalinya, Ferry benar-benar tidak bisa berkonsentrasi
karena jantungnya berdegup kencang.

***

Tusukan jari di lengan membuat Marissa terbangun. Dia
m enatap Wiliam . ”Ada apa?” tanyanya.

”Film nya sudah habis,” kata Wiliam .
Marissa langsung bangkit berdiri. ”Apa? Filmnya sudah
selesai?” Matanya m em andang seluruh ruangan yang
ham pir kosong, lalu ia m enatap bangku yang tadi di-
duduki Mam i dan Papi. Bangku itu kini sudah kosong.
”Ke m ana Mam i dan Papi?” tanya Marissa lagi.
”Mereka sudah keluar dari tadi,” kata Wiliam tenang.
”Aduh… aduh.” Marissa panik dan berlari ke luar
bioskop. ”Mengapa kau tidak membangunkan aku?” teriak-
nya ke arah Wiliam di belakangnya. ”Apakah kau melihat
mereka? Bagaimana? Apakah kencan mereka oke? Mereka
pulang tidak bertengkar, kan?”
Wiliam m engangkat bahunya.
”Wiliam!” teriak Marissa tidak sabar. ”J awab pertanya-
a n ku !”
”Mereka tidak terlihat bertengkar,” kata Wiliam . ”Se-

87

http://facebook.com/indonesiapustaka lebihnya aku tidak tahu, aku tidak m em perhatikan. Lagi
pula, siapa yang seharusnya mengawasi mereka, aku atau
Kakak? Kakak m alah ketiduran.”

Marissa terdiam m enahan m alu. ”Ya, deh. Maaf. Ya,
sudah. Kita pulang saja, sudah m alam .”

***

Dua jam kemudian, Marissa masuk ke kamar Wiliam.
”Wiliam ,” katanya, sam bil m asuk. ”Kau sedang apa?”

”Aku akan nonton video Megalom an,” kata Wiliam .
Marissa duduk di ranjang Wiliam, dan siap merebahkan
tubuhnya saat Wiliam berkata keras, ”J angan berbaring
di ranjangku!” tegurnya. ”Nanti berantakan!”
Marissa cemberut, namun ia bangkit dari ranjang
Wiliam dan duduk di lantai. Karena bosan tidak ada
kerjaan, Marissa menemani Wiliam.
”Tolong Kakak m asukkan kaset video ini, ya,” kata
Wiliam . ”Aku akan am bil m akanan dulu.”
Marissa mengamati gambar video di depannya. Seorang
superhero berbaju merah dan berambut keemasan.
Mungkin seperti ini superhero m asa dulu, kata Marissa
dalam hati. Ia lalu memperhatikan video play er di depan-
nya. Marissa m enekan tom bol pow er, lalu dia ke-
bingungan. Matanya m encari-cari tom bol open, nam un
tidak m enem ukannya. Wiliam m asuk kem bali ke kam ar,
dan Marissa langsung bertanya, ”Wiliam, video player-mu
tidak ada tom bol untuk m em buka, ya?”
Wiliam bingung. ”Tom bol buka untuk apa?”

88

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Untuk m em asukkan kaset videonya!” kata Marissa
putus asa.

Wiliam mengambil kaset video dari tangan Marissa. Dia
membungkuk di depan video play er. Marissa memperhati-
kan Wiliam memasukkan video itu pada lubang segi empat
yang ada di sebelah kiri, lalu m enekan kaset videonya.

Oh… rupany a cara m em asukkanny a seperti itu, kata
Marissa dalam hati.

Wiliam m enatap Marissa dan m enyindir, ”Katanya
Kakak dari m asa depan, m em asukkan kaset video saja
tidak bisa!”

”Mana aku tahu?!” kata Marissa, tidak m au kalah. ”Di
m asaku kaset video sudah tidak ada lagi. Sudah diganti-
kan CD.”

”Hah? CD? Apa itu? Celana Dalam ?” tanya Wiliam .
”Bukan. Com pact Disc. Bentuknya bundar seperti
piringan plastik,” kata Marissa, menjelaskan.
”Ya, terserah apa kata Kakak sajalah. Sekarang jangan
ribut, ilmnya sudah mulai!” kata Wiliam.
Menit-menit berikutnya, Marissa mengikuti petualangan
superhero berbaju m erah bernam a Takeshi, yang bisa
berubah jadi raksasa dan ram butnya bisa m engeluarkan
api. Si M egalom an m engalahkan m usuhnya dengan
m em utar-m utarkan kepalanya dan m engarahkan ram but
apinya ke m usuh.
Marissa tertawa tertahan. ”Apa jagoannya tidak pusing,
kepalanya berputar-putar terus seperti itu?”
Wiliam menatap dingin. Ia tidak rela Marissa menghina
pahlawannya. ”Itu senjata andalan Megalom an, Megalo
Fir e.”

89

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Oke. Oke.” Marissa tidak berkom entar lagi. Ia ke-
mudian melihat-lihat koleksi mainan Wiliam. Sebuah
m ainan dari kayu yang berbentuk pipih bundar dengan
lubang di tengah berisi lilitan tali m enarik perhatiannya.
Marissa penasaran, mainan apa lagi ini?

”Wiliam ,” panggilnya. ”Mainan apa ini?”
Wiliam m elihat sekilas ke arah Marissa. ”Yoyo.”
Marissa m encoba m enarik tali yang m elilit yoyo itu,
dan seketika itu juga yoyo jatuh m elesat ke bawah,
mengenai salah satu mainan robot Wiliam. Mainan itu
bergoyang-goyang sebentar sebelum akhirnya jatuh ke
lantai. Lengan robot itu patah.
”Hei, kau… kau!” teriak Wiliam, sambil berlari ke arah
Marissa. ”Robot Voltuskuuuuuuuu!”
Marissa memandang Wiliam dengan rasa bersalah.
”Wiliam , aku benar-benar m inta m aaf. Aku tidak se-
n ga ja .”
”Keluar!!” teriak Wiliam m arah.
”Wiliam ,” kata Marissa, m encoba m em bujuknya lagi.
”Aku bilang keluar dari kam arku!” teriak Wiliam .
Marissa mundur dan keluar dari kamar Wiliam. Ia
benar-benar menyesal telah mematahkan mainan Wiliam,
walaupun sebetulnya dia tidak sengaja. Mengapa aku
tidak berhati-hati? Aku kan tahu W iliam tidak suka
m ainanny a disentuh, apalagi jika sam pai rusak.
Semalaman Marissa tidak bisa tidur memikirkan cara
untuk m em bujuk Wiliam supaya tidak m arah lagi pada-
nya. Akhirnya, ia mendapat ide untuk melakukan sesuatu
bagi Wiliam . Marissa yakin, kalau niatnya tulus, Wiliam
pasti akan m em aafkannya.

90

http://facebook.com/indonesiapustaka Suara barang jatuh di lantai bawah membuat Marissa
curiga. Ia bergegas turun dari tempat tidurnya dan mem -
buka pintu kam arnya dengan perlahan. Dilihatnya Tante
Sarah sedang berjalan m enaiki tangga. Pandangannya
berhenti di depan pintu kamar Wiliam. Saat Tante Sarah
berjalan masuk ke kamar Wiliam, Marissa berjingkat
melangkah ke luar kamarnya. Apa y ang dilakukan Tante
Sarah di kam ar W iliam m alam -m alam begini? pikirnya
penasaran.

Tante Sarah terdiam memandangi Wiliam selama be-
berapa saat. Desahan Wiliam m em buatnya m em andangi
wajah keponakannya itu. Ia melihat selimut keponakannya
jatuh ke lantai. Tante Sarah duduk di samping ranjang,
m em ungut selim ut itu, kem udian m enyelim uti Wiliam
kembali. Tante Sarah berusaha menghentikan isakan
tangisnya dengan m enutup m ulutnya. Di belakang pintu
yang terbuka, Marissa m em perhatikan sem ua itu.

Selama beberapa saat Marissa melihat Tante Sarah me-
nangis tertahan. Setelah tangisnya m ereda, tangan Tante
Sarah bergerak m enyentuh ram but keponakannya dan
m engelusnya.

Marissa tersenyum dalam hati, dan berbalik kembali ke
kamarnya. Ternyata Tante Sarah m enyayangi keponakan-
ny a, pikirnya, hany a saja ia tidak pernah m em per-
lihatkanny a di hadapan W iliam .

91

http://facebook.com/indonesiapustaka Enam

3 Ju li 19 8 8
H ari Min ggu Tah u n ’8 8

Marissa bangun pagi-pagi sekali. Hari ini ia berniat mema-

sak untuk Wiliam , dengan harapan Wiliam akan m em aaf-
kannya karena telah merusak robot mainannya kemarin. Bi
Ijah sudah ada di dapur saat Marissa masuk ke sana.

”Pagi, Bi,” sapa Marissa, sam bil tersenyum .
”Pagi, Non,” balas Bi Ijah. ”Tum ben pagi-pagi Non
sudah bangun.”
Marissa tertawa sebentar, lalu berkata, ”Begini, Bi…
Bibi tahu apa m akanan kesukaan Wiliam ?”
”Den Wiliam suka ham pir sem ua m asakan,” kata Bi
Ijah. ”Sayur asem , sop, pepes ikan, ham pir sem uanya.”
Aku m ana bisa m em asak sem ua itu? Selam a ini kan
aku belum pernah pegang pisau, pikir Marissa.
”Bi, tidak ada yang mudah, ya? Maksudku yang praktis
dan gam pang dibuat?” tanya Marissa berharap.
”Oh.” Bi Ijah tersenyum m em am erkan giginya yang
sudah hilang ham pir sebagian. ”Sem ua gam pang, Non.
Mem ang Den Wiliam ingin m akan apa? Nanti Bibi yang
m asak.”

92

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Bukan begitu, Bi,” Marissa berusaha m enjelaskan.
”Hari ini saya yang akan m asak untuk Wiliam . Apakah
ada m asakan yang dibuat tanpa harus m enggunakan
pisau, Bi? Yang m udah saja.”

Bi Ijah tam pak berpikir keras. ”Masakan yang tidak
pakai pisau ya, Non?”

Marissa mengangguk-angguk cepat.
”Ah, telur dadar,” kata Bi Ijah. ”Tidak perlu pakai
pisau, dan Den Wiliam suka telur dadar.”
Marissa m em eluk Bi Ijah dengan spontan. ”Terim a
kasih, Bi. Nah, sekarang tolong Bibi ajari, ya.”
”Oh… ya, Non,” sahut Bi Ijah. ”Telurnya sudah habis
kem arin. Siang ini Bibi baru m au beli telur.”
Marissa kecewa beberapa saat, nam un sem angatnya
tidak reda. ”Begini, Bi. Biar saya saja yang beli telur ke
pasar. Bagaim ana?”
”Tidak usah, Non,” kata Bi Ijah. ”Biar Bibi saja yang ke
pasar.”
”Tidak apa-apa, Bi,” Marissa tersenyum . ”Lagi pula,
saya tidak ada kerjaan. Bibi beritahu saja pasarnya di
m ana, sekalian kalau ada barang-barang lain yang akan
dibeli. J adi, nanti saya sekalian beli sem uanya di pasar.”
”Bibi jadi m erepotkan Non,” kata Bi Ijah.
”Tidak apa-apa,” tegas Marissa lagi. ”Lagi pula, saya
ingin melihat pasar di sini, sekaligus olahraga naik se-
peda.”
Melihat keteguhan hati Marissa, Bi Ijah akhirnya mem-
beritahu letak pasar dan barang-barang yang akan di-
beli.
Kaki Marissa m ulai m engayuh sepeda ke luar rum ah,

93

http://facebook.com/indonesiapustaka bibirnya bersiul-siul gem bira. W iliam pasti akan ter-
sentuh begitu m elihatku bersusah pay ah m em asak
untukny a, kata Marissa dalam hati, lalu dia akan m e-
m aafkan aku. Ya am pun, Marissa, kau m em ang
pandai… ha… ha… ha!

Ternyata pasarnya sudah penuh orang. Apalagi di hari
Minggu begini. Marissa sampai berdesak-desakan dengan
para ibu rumah tangga. Setelah berkutat selama dua jam
dan keringat m ulai m engalir di keningnya, Marissa
berhasil m endapatkan sem ua yang dibutuhkan, terutam a
telur.

Dalam perjalanan pulang, Marissa mampir dulu ke
rum ah Papi. Ia m enghentikan sepedanya dan m elihat
rum ahnya. Sebentar lagi, pikirnya, sebentar lagi aku
akan pulang.

Suara gerbang dibuka mengalihkan pikiran Marissa.
Sebuah motor bebek keluar dari sana. Marissa tertawa,
lalu m engayuh sepedanya m endekati Papi.

”Hai, Ferry!” teriaknya dari kejauhan.
Papi celingak-celinguk m encari tahu siapa yang m e-
m anggilnya. Sepeda Marissa sam pai di dekat sepeda
m otor Papi. ”Hai,” sapa Marissa. ”Pagi-pagi begini kau
mau ke mana?”
Papi terkejut. ”Ehm , aku m au ketem u Diana.”
”Bagus! Bagus!” seru Marissa riang. ”J adi, kencan ke-
marin berhasil, kan?”
Papi m engangguk. ”Mengapa kau bisa ada di sini?”
Marissa terdiam sebentar untuk memikirkan jawaban
yang tepat. ”Eh… rum ahku dekat-dekat sini. Aku baru
pulang dari pasar.”

94

http://facebook.com/indonesiapustaka Papi melihat barang belanjaan di keranjang depan se-
peda, dan m engangguk. ”Oh… begitu.”

”J adi,” kata Marissa, ingin tahu, ”hari ini kau dan
Diana akan ke mana?”

”Siang ini aku akan pergi ke Ratu Plaza,” kata Papi.
”Kata Diana dia ingin m encoba lift di sana. Besok kam i
akan ke PRJ .”

Marissa bertepuk tangan. ”Bagus!” serunya antusias.
Papi m elihat jam tangannya. ”Aku harus pergi seka-
rang. Diana sudah menunggu.”
”Oke.” Marissa m engangguk. ”Sem oga kencannya ber-
hasil, ya.”
”Terima kasih,” kata Papi, segera berlalu dengan motor-
n ya .
Sesam painya di rum ah Wiliam , suasana hati Marissa
sem akin gem bira. Sam bil m enyanyi riang, Marissa ber-
jalan ke dapur dan m em berikan sem ua belanjaannya ke-
pada Bi Ijah.
”Sekarang, tolong ajari saya cara m em asak telur dadar
ya, Bi,” katanya.
Setengah jam kemudian, enam telur gosong sudah ter-
kumpul dalam sebuah mangkuk.
”Non,” kata Bi Ijah. ”Biar Bibi saja yang m asak.”
Marissa m enggeleng. ”Kalau Bibi yang m asak, nanti
Wiliam tidak akan menghargai usahaku.”
Sial, gerutu Marissa, setelah mencoba tanpa sukses
untuk kesekian kalinya. Aku m em ang tidak puny a bakat
m em asak. Mem buat telur dadar y ang m udah saja tidak
bisa kulakukan. Pay ah.
Suara pintu terbuka terdengar.

95

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Sepertinya Den Wiliam sudah bangun,” kata Bi Ijah.
”Bi Ijah, jangan sampai Wiliam ke dapur,” kata Marissa
panik. ”Aku belum selesai m asak. Tolong halangi dia.
Suruh dia menunggu di ruang makan saja.”
Bi Ijah mengangguk cepat mendengar perintah Marissa.
Ia keluar untuk berbicara dengan Wiliam. Marissa men-
desah lega. Tiba-tiba ia tersadar dan pandangannya ter-
tuju pada telur dadar di penggorengan. Alam ak! teriaknya
dalam hati. Gosong lagi deh. Oke… oke… jangan panik,
yang gosong kan hanya bagian baw ah. Jadi, aku
sem buny ikan saja bagian itu.
Marissa keluar dari dapur dengan senyum lebar.
”Wiliam ,” katanya. ”Tebak! Aku m asak apa hari ini?”
Wiliam terlihat m asih m arah. Marissa m enyodorkan
telur dadar hasil gorengannya di hadapan Wiliam. ”Aku
sengaja bangun pagi-pagi memasakkan ini untukmu.
Aku benar-benar m inta m aaf soal kem arin. Soal robot
itu.”
Wiliam m elihat telur di depannya tanpa selera.
”Aku ambilkan nasinya, ya,” kata Marissa, sambil meng-
ambil piring untuk Wiliam. Setelah nasi, sendok, dan
garpu tertata di depan Wiliam , Marissa m enyuruhnya
makan.
”Ayolah, Wiliam ,” pintanya m anis. ”Aku benar-benar
sudah berusaha m em asaknya. Makan ya… sedikitttt
saja.”
Bi Ijah kasihan melihat Marissa, karena itu ia ikut me-
nambahkan, ”Non Marissa tadi pagi pergi ke pasar mem-
beli telur untuk Den Wiliam.”
Setelah mendengar perkataan Bi Ijah, akhirnya Wiliam

96

http://facebook.com/indonesiapustaka m engam bil sendok dan garpunya lalu m em akan telur
dadar yang dim asak Marissa.

”Bagaim ana?” Marissa penasaran. ”Enak tidak?”
Wiliam menelan telur di mulutnya. ”Keasinan,” katanya
pendek.
Marissa merasa lega. Ia berpikir Wiliam tidak akan tahu
bahwa telurnya sedikit gosong. Nam un ketika Wiliam
hendak m em otong telurnya lagi, ia m elihat sedikit warna
hitam di bagian bawah. Gaw at! Gaw at! Gaw at! teriak
Marissa panik.
Wiliam membalikkan telur itu, dan tahulah ia kini
bahwa telur gorengnya gosong.
”Kakak memasak telur gosong buatku?!” teriaknya pada
Marissa.
Marissa m erasa bersalah. ”Aku sudah m encoba m e-
masaknya berulang kali. Yang ini tidak terlalu gosong. Ya,
kan? Aku benar-benar memasaknya sendiri, spesial untuk-
m u. Yang penting niatnya. Benar kan, Wiliam ?”
Wiliam berkata dengan ketus, ”Telur gosong tetap saja
telur gosong.”
Marissa duduk lem as di hadapan Wiliam . ”Wiliam …,”
katanya, tiba-tiba jadi serius. ”Aku benar-benar m inta
m aaf sudah m em atahkan robotm u kem arin. Aku tidak
sengaja. Kalau kau m arah kepadaku dan ingin aku pergi
dari rumahmu, aku akan pergi.”
Wiliam tidak mengomentari perkataan Marissa, namun
dia m enghabiskan sem ua telur gosong di piringnya.
Marissa menganggap itu sebagai ungkapan perdamaian.
”Terim a kasih, Wiliam ,” kata Marissa bersungguh-
su n ggu h .

97

http://facebook.com/indonesiapustaka Wiliam hanya m endengus.
Setelah sarapan, Marissa menemani Wiliam nonton TV.
Acara si Uny il sedang tayang. Marissa ikut tertawa m e-
lihat kelucuan tayangan itu. Sepanjang pagi itu, Marissa
menghabiskan waktunya dengan menonton. Banyak acara
yang cukup menghibur, walaupun hanya ada satu saluran
televisi. Siang hari, Marissa menonton acara Ria Jenaka.
Marissa tertawa terbahak-bahak m elihat betapa lucunya
para punakawan yang ada di acara itu.
Setelah menonton televisi, Marissa ingin pergi ke Ratu
Plaza untuk melihat keadaan kedua orangtuanya. Sewaktu
mengusulkan hal itu kepada Wiliam, Wiliam menolak
mentah-mentah.
”Tidak m au,” katanya. ”Untuk apa ke sana?”
Untuk m elihat orangtuaku. Kalim at itu sebenarnya
ingin ia lontarkan untuk m enjawab pertanyaan Wiliam .
Akan tetapi, Marissa m alah berkata, ”Kan tidak enak di
rumah terus.”
Wiliam menatap Marissa curiga. Hati Marissa tidak te-
nang setiap kali Wiliam menatapnya seperti itu. ”J angan-
jangan,” tebak Wiliam , ”Kakak akan m engikuti m ereka
lagi, ya?”
Sial. Ketahuan. ”Wiliam,” sanggah Marissa, ”aku hanya
ingin tahu.”
Wiliam m enggeleng. ”Pokoknya, aku tidak m au pergi.
Aku mau bikin PR.” Setelah itu Wiliam berlalu ke kamar-
nya dan m enutup pintu.
”Ya sudah,” keluh Marissa. ”Kalau kau tidak mau pergi,
aku pergi sendiri saja.”
Marissa kem bali ke kam arnya untuk bersiap-siap, se-

98

http://facebook.com/indonesiapustaka telah itu ia m em buka pintu depan. Langkahnya terhenti
ketika Tante Sarah m em anggilnya.

”Marissa,” katanya.
Marissa memandang Tante Sarah, yang sepertinya baru
bangun tidur. ”Wiliam di m ana?” tanyanya.
”Di kamar, Tante,” kata Marissa. ”Sedang mengerjakan
PR.”
”Bagus! Bagus,” kata Tante Sarah. ”Begini, Marissa.
Nanti sore Tante mau ke Puncak dan menginap. Tolong
kauperiksa PR-nya dan tolong jaga Wiliam juga. Sekarang
Tante mau mandi dulu.”
Marissa terpaksa m em batalkan kepergiannya ke Ratu
Plaza. Ia m engetuk pintu kam ar Wiliam dan m asuk.
”Tante Sarah akan pergi ke puncak dan m enginap,”
kata Marissa memberitahu Wiliam.
Wiliam hanya m engangkat bahu, tidak peduli. ”Dia
memintaku mengecek PR-mu dan menjagamu hari ini.”
”Aku tidak perlu dijaga. Aku bisa m engurus diriku
sendiri,” kata Wiliam ketus.
Marissa menarik napas. ”Wiliam, jangan berkata seperti
itu. Kau kan m asih kecil. Lagi pula, Tante Sarah ber-
m aksud baik. Dia perhatian kepadam u. Kau tidak tahu
kalau semalam tantemu… ”
Wiliam m enjatuhkan pensilnya, dan m enatap Marissa,
”Satu-satunya hal yang diinginkan Tante Sarah hanya
uang. Dia akan terus mendapatkan uang kalau menjagaku.
Itu memang ketentuan surat wasiat Papa.”
Marissa terduduk di sebelah Wiliam. ”Wiliam,” katanya
sedih. ”Aku yakin bukan itu alasannya. J auh di lubuk
hatinya Tante Sarah m enyayangim u.”

99


Click to View FlipBook Version