The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

7 Hari Menembus Waktu (Charon) (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alfiperpus, 2022-09-26 20:52:49

7 Hari Menembus Waktu (Charon) (z-lib.org)

7 Hari Menembus Waktu (Charon) (z-lib.org)

http://facebook.com/indonesiapustaka Wiliam m enggeleng. ”Tante Sarah satu-satunya adik
Papa. Ia tidak pernah peduli kepadaku. Setiap hari aku
selalu m elihatnya pulang m alam dan m abuk.”

Kali ini Marissa benar-benar m erasa kasihan kepada
Wiliam . Dia hanyalah seorang bocah yang kesepian.
”Apakah tidak ada saudara mamamu yang bisa menjaga-
mu?”

Wiliam menggeleng. ”Mama berasal dari panti asuhan.
Aku tidak punya siapa-siapa.”

Marissa m enatap Wiliam dengan tegas. ”Itu tidak
benar. Untuk saat ini kau masih punya aku, kan? Walau-
pun kau tidak ingin mengakuinya, namun aku tahu tante-
m u juga m enyayangim u.” Hany a saja dia tidak pernah
m em perlihatkanny a kepadam u.

Wiliam mengambil pensilnya kembali, dan melanjutkan
PR-nya. ”Kau juga akan pergi m eninggalkanku,” katanya
p er la h a n .

”Apa?” tanya Marissa, tidak m endengar.
”Tidak apa-apa,” kata Wiliam .
Marissa tidak tahu bagaim ana caranya m enghibur
Wiliam. Ia hanya bisa menemaninya. Setelah sekian lama
ditunggui saat m engerjakan PR, Wiliam akhirnya kesal.
”Kakak pergi saja. Aku sedang m engerjakan PR.”
”Aku tahu,” kata Marissa. ”Aku akan memeriksa PR-mu
setelah kau selesai m engerjakannya.”
”Kalau begit u , jan gan d ekat -d ekat aku !” p r ot es
Wilia m .
Marissa beringsut menjauhi Wiliam. Ia melihat koleksi
buku di lemari Wiliam. Tangannya mengambil salah satu
buku itu. Enid Blyton. Lim a Sekaw an.

10 0

http://facebook.com/indonesiapustaka Marissa tersenyum . Ia juga m em iliki koleksi lengkap
buku itu di lem arinya. Sam bil m enunggu Wiliam m e-
ngerjakan PR, Marissa membaca buku itu.

”Kak, aku sudah selesai,” kata Wiliam, beberapa waktu
kem u d ia n .

Marissa m enaruh buku yang sedang dibacanya di
tem patnya sem ula. ”Oke. Kalau begitu sekarang aku
periksa.”

Marissa melihat angka-angka di buku tulis Wiliam. Per-
kalian, pengurangan, penambahan, dan pembagian. Angka-
nya besar-besar. Untuk perkalian, ada tiga digit angka
dikalikan dengan dua digit angka, lalu untuk pembagian
puluhan ribu dibagi dengan ratusan. Di bawah terdapat
form ula untuk m enghitung luas lingkaran, kerucut,
prism a, dan yang lainnya. Sepertinya ada yang aneh de-
ngan tugas matematika Wiliam.

”Wiliam ,” kata Marissa, ingin m endapatkan jawaban
atas keanehan itu, ”PR-m u ini seperti bukan PR m ate-
m atika untuk anak seusiam u, ya? Kau kan baru delapan
tahun, berarti… kalau tidak salah… kau masih kelas 3 SD,
kan? Bukankah kelas 3 SD baru diajari perkalian?”

”Memang,” jawab Wiliam tenang, ”PR matematika yang
kubuat untuk kelas 5 SD.”

”Hah? Kelas 5 SD?” tanya Marissa, sem akin bingung.
Wiliam m engangguk. ”Ya. Sekarang aku kelas 5 SD.
Aku loncat dua kelas.”
Marissa melongo. Jadi, terny ata anak sok pintar ini
m em ang sebetulny a…benar-benar pintar? Ini hal lain
lagi yang lebih m eyakinkan Marissa bahwa Wiliam m e-

10 1

http://facebook.com/indonesiapustaka m ang lebih hebat dari anak seusianya, yang kem udian
berpengaruh terhadap caranya bersikap dan berbicara.

”Kakak periksa saja, aku m au m ain gam e dulu,” kata
Wiliam, beranjak meninggalkan Marissa.

”Wiliam, tunggu!” kata Marissa. ”Kau punya kalkulator
tidak?”

”Punya,” kata Wiliam. ”Kakak tidak boleh menggunakan
kalkulator untuk memeriksa PR-ku. Tidak adil, masa
Kakak enak-enak pakai kalkulator sedangkan aku ber-
susah payah m engerjakannya tanpa bantuan apa pun?”

Marissa mengumpat dalam hati.
Setengah jam kemudian, teriakan Wiliam dari ruang
tam u m em buyarkan konsentrasi Marissa, yang sedang
berkutat dengan angka-angka.
”Kak?! Sudah belum?!” teriaknya. ”Periksanya lama se-
kali?! Aku saja sudah loncat sepuluh level m ain Space
I n v a d er s!”
Marissa m enggerutu kesal. Dibawanya buku PR Wiliam.
”Ini,” kata Marissa, sam bil m enunjuk buku itu. ”Ada
yang salah satu nom or.”
Wiliam m elihat sekilas. ”Tidak ada yang salah.”
Marissa ngotot. ”Salah! Harusnya hasil akhirnya empat
ratus empat puluh satu.”
Wiliam memandang Marissa dengan kesal. ”Hasil akhir-
nya benar. 442. Coba Kakak hitung ulang. Enam kali
tujuh kan empat puluh dua, bukan empat puluh satu.
Ditam bah em pat ratus, ya jadi em pat ratus em pat puluh
dua.”
Marissa mencoba menghitung dan memeriksa ulang PR

10 2

http://facebook.com/indonesiapustaka Wiliam. Ia merasa kesal karena perkataan Wiliam be-
nar.

Dengan santai Wiliam m enyindir. ”Kakak tidak lulus
SMA, ya?”

”Apa?!” teriak Marissa. ”Enak saja. Begini-begini bulan
depan aku sudah jadi mahasiswi.”

Wiliam m enatap Marissa tidak percaya.
”Terserah kau m au percaya atau tidak,” kata Marissa
cem berut, sam bil m elangkah ke kam arnya.
Dasar… keluhnya dalam hati, ini anak tidak bisa diberi
rasa sim pati. Tadi aku sem pat kasihan kepadanya karena
dia kesepian, eh, dia sekarang m alah m enghinaku.

***

Diana m enggandeng tangan Ferry di dalam lift Ratu
Plaza.

”Aku tidak pernah bosan menaiki lift kapsul ini,” kata-
n ya .

Ferry hanya tersenyum .
Di depan mereka, si penjaga lift memandang keduanya
dengan kesal. Lift ini sudah turun-naik ham pir sepuluh
kali, namun mereka tidak keluar juga.
”Kalian mau turun di lantai berapa?” tanyanya kemudi-
an, sambil cemberut.
”Sepertinya kita sudah kelam aan naik lift ini,” Diana
berbisik pada Ferry.
Ferry m engacungkan telunjuknya. ”Satu kali lagi ya,
Pak!”

10 3

http://facebook.com/indonesiapustaka Si petugas lift m enggeleng.
Diana berbisik lagi kepada Ferry, ”Terim a kasih.”

***

”Kau memang benar-benar baik, Ferry,” kata Diana, pada
saat mereka makan siang bersama.

Ferry tersipu malu. ”Apa pun akan aku lakukan untuk-
m u .”

Diana tersenyum lebar, namun senyuman itu kemudian
hilang. Dari belakang mereka, tampak J immy mendekati
dengan ekspresi marah. Wajahnya terlihat garang, apalagi
dia memakai jaket kulit hitam. Penampilan pemuda itu
terlihat angker.

”J adi, kau di sini rupanya!” teriaknya.
Ferry dan Diana berdiri.
”J im m y, sebaiknya kau pergi saja!” kata Diana kesal.
”Kan aku sudah bilang, kita tidak punya hubungan
lagi!”
”Kau lebih suka bersam a dengan orang seperti dia?!”
teriak J im m y tidak percaya, sam bil m enunjuk Ferry.
Diana m em benarkan.”Ya. Dia tidak egois seperti kau.
Aku m enungguim u latihan breakdance sam pai em pat
jam, namun ketika kau menemaniku antre di toko kaset
kau tidak sabar, padahal kita di sana hanya satu jam .
Dalam perjalanan pulang kau marah dan ngebut,
walaupun sudah kukatakan aku tidak mau kau ngebut.
Kau m em ang egois, kau tidak peduli kepadaku. Kau ha-
nya peduli kepada dirim u sendiri!”

10 4

http://facebook.com/indonesiapustaka J im m y kesal m endengar perkataan Diana. ”Aku tidak
suka mendengar perkataanmu itu, Diana. Kau lebih suka
bersama dengan seorang pengecut seperti dia. Yah, baik-
lah kalau itu m aum u. Kau m em ang wanita yang suka
mempermainkan pria.”

Kepalan tangan Ferry seketika itu juga m enghantam
wajah J im m y. J im m y berteriak kesakitan. Dia m e-
mandang Ferry dengan kesal, lalu balas memukul wajah
Ferry. Pukulan keras J im m y m em buat Ferry terjeng-
ka n g.

”Hentikan!!” teriak Diana. ”J immy, sebaiknya kau pergi!
Aku tidak m au bertem u denganm u lagi!”

”Oh, tenang saja,” katanya sam bil tertawa sinis. ”Aku
akan pergi. Seleramu payah sekali, Diana. Berpacaran de-
ngan pengecut seperti dia.”

Setelah berkata demikian, J immy pergi meninggalkan
mereka berdua.

Diana membantu Ferry berdiri, lalu berteriak keras,
”Mengapa kau harus m em ukul J im m y?!”

Ferry terkejut m endengar am arah Diana. ”Diana…”
”Kau benar-benar bodoh!!” lanjut Diana lagi. ”Mengapa
kau harus memukulnya? Karena dia menghinamu? Lihat-
lah akibatnya! Kau tahu, kau bukan tandingan J im m y
dalam hal m enghajar orang! Kenapa kau harus sok jago-
an, hah?!”
Ferry m endekati Diana. ”Aku tidak m em ukul J im m y
karena dia menghinaku.”
”Lalu, karena apa?” tanya Diana bingung.
”Aku m em ukulnya karena dia m enghinam u,” kata
Ferry, sam bil m enatap Diana dengan lem but.

10 5

http://facebook.com/indonesiapustaka Perkataan itu m em buat Diana tersentuh. ”Kau tahu,
kau benar-benar idiot memukul J immy seperti itu.”

Ferry tersenyum. ”Aku tahu, namun aku tidak keberat-
a n .”

Diana merangkul tangan Ferry dan mengajaknya pergi,
”Ayo, kita pulang!”

Ferry berkata, ”Bagaim ana kalau kita naik lift lagi
sebelum pulang?”

Diana hanya tersenyum dan m engangguk.

***

Hari sudah m enjelang sore. Wiliam m enyalakan televisi.
Dia membawa sebuah buku gambar.

”Kau m au apa?” tanya Marissa heran.
”Mau belajar m enggam bar dengan Pak Tino Sidin,”
kata Wiliam.
Tak lam a kem udian di layar televisi m uncul acara
”Gem ar Menggam bar”. Pem bawa acaranya seorang pria
bertopi baret.

***

Di layar TV tampak Pak Tino Sidin, sang pembawa acara,
sedang menerangkan cara menggambar seekor kucing
mulai dari kepala, badan, sampai ekornya. Wiliam meng-
ikuti langkah itu satu per satu.

10 6

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Wiliam ,” seru Marissa, ”aku m inta kertas gam barm u.
Aku juga ingin ikut m enggam bar.”

Wiliam kesal karena permintaan Marissa mengganggu-
nya, namun akhirnya dia memberi sehelai kertas gambar
pada Marissa.

Marissa juga mengikuti petunjuk menggambar Pak
Tino Sidin di layar televisi. Aku tidak m eny angka m eng-
gam bar bisa sem udah ini. Sejak dulu aku m em ang tidak
puny a bakat m enggam bar. Topi setelah m engikuti
langkah-langkah Pak Tino Sidin kok jadi m udah sekali.
Aku jadi m em bay angkan, sepuluh tahun lagi lukisanku
dipasang di galeri-galeri seni, dan aku jadi senim an
ternam a seperti Picasso atau Van Gogh.

Wiliam memperhatikan Marissa dengan curiga. Ke-
m arin Kakak salah m akan obat kali, y a? Kok hari ini
seny um -seny um sendiri seperti orang gila!

Setelah acara menggambar selesai, Marissa melihat ha-
sil lukisannya dengan bangga. Penasaran, Wiliam melihat
hasil karyanya dan mengernyit. ”Kakak!” serunya. ”Kakak
menggambar kucing atau cacing?”

”Apa?!” sentak Marissa marah. ”Ini anak… urghh… aku
m enggam barnya dengan susah payah, tahu? Mem ang
gambarmu lebih bagus? Coba sini aku lihat!” Marissa me-
rebut kertas gambar dari tangan Wiliam, dan melihat
gam bar yang dilukis Wiliam .

Brengsek! serunya kesal. Gam bar W iliam lebih m e-
ny erupai kucing daripada gam barku. Masa aku kalah
dengan anak delapan tahun sih!

”Ehm m ,” seru Marissa berkelit, ”gam barm u m em ang
lebih baik, nam un seni kan tidak bisa hanya dilihat dari

10 7

http://facebook.com/indonesiapustaka bentuknya. Seni juga harus dilihat dari segi artistiknya.
Harus pakai perasaan.”

Wiliam memandang Marissa dengan tampang tidak
percaya. ”Kalau memang tidak punya bakat menggambar,
m engaku saja. Kelihatannya Kakak m em ang tidak punya
bakat lain selain makan.”

Marissa hendak membalas kata-katanya, namun akhir-
nya ia diam saja. Ini anak pintar sekali m em buatku ke-
sal. Ia lalu m em utuskan untuk tidak m elayani ucapan
Wiliam , dan m elanjutkan m enonton televisi.

Di akhir acara, Pak Tino Sidin menunjukkan gambar
anak-anak yang dikirim kepadanya, lalu berkata ”Bagus”.

Saat Marissa melihat gambar terjelek yang terpampang
di depan TV, Pak Tino Sidin tetap berkata ”Bagus”, dia
lalu berkata,

”Wiliam , Pak Tino Sidin tidak pernah berkata ’J elek’,
ya?”

Wiliam menggeleng.
”J adi, kalau karyaku dikirim ke Pak Tino Sidin pasti
aku akan dinilai bagus juga, kan?” katanya, sam bil
tersenyum bahagia.
”Ya,” kata Wiliam . ”Itu karena Pak Tino Sidin kasihan
kepada Kakak, bukan karena gam bar Kakak bagus.”
Urghhhh! Marissa m engepalkan tangannya dengan
kesal.
”Sudah, ah. Aku m au m andi dulu.” Wiliam bergegas
keluar dari ruang tam u, m eninggalkan Marissa yang ge-
ram setengah mati.

***

10 8

http://facebook.com/indonesiapustaka Ketika pukul setengah tujuh malam tiba, mereka kembali
m enonton televisi. Kali ini acaranya berjudul ACI, yang
bercerita tentang tiga sekawan Am ir, Cici, dan Ito.

Marissa harus mengakui ilm-ilm di masa ini dibuat
sangat sederhana, nam un ceritanya m enyentuh.

Malam harinya Wiliam m enonton episode terakhir
Megalom an. Marissa masuk ke kamar Wiliam, dan
tatapannya tertuju pada robot berlengan satu yang dia
jatuhkan kemarin. Marissa benar-benar merasa ber-
sa la h .

”Wiliam ,” katanya, ”aku benar-benar m inta m aaf ya.”
”Aku tidak m au m em bicarakan itu lagi,” kata Wiliam ,
sam bil m em asukkan kaset video Megalom an-nya.
”Kalau begitu, kau sudah m em aafkan aku, ya kan?”
kata Marissa, sam bil tertawa. ”Kelerengm u yang biru ini
boleh untukku?”
Wiliam menjawab dengan ketus, ”Tidak boleh. Aku kan
sudah berkata bahwa aku tidak suka memberikan mainan-
ku kepada orang lain.”
Marissa m enjulurkan lidahnya karena kesal, lalu pergi
m a n d i.
Setelah selesai berganti baju, Marissa kembali lagi ke
kam ar Wiliam . Lam pu di kam ar Wiliam tidak m enyala.
Marissa curiga, bukankah dia sedang m enonton video?
Mengapa lam pu kam arny a gelap begini?
”Wiliam ,” panggilnya perlahan. Ia m elihat Wiliam se-
dang tidur di ranjangnya, dan bergegas m endekatinya.
”Ada apa, Wiliam ?” tanya Marissa panik, sam bil m e-
nyalakan lam pu. ”Kau sakit?”
Wiliam bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Tubuh-

10 9

http://facebook.com/indonesiapustaka nya berkeringat. Marissa m eraba keningnya. Rasa panas
m enjalari telapak tangannya. Wiliam dem am .

”Wiliam ,” panggil Marissa, berusaha m em bangunkan-
nya.”Kau dem am . Kau harus m inum obat dulu.”

Wiliam m enatap Marissa dengan lem as. ”Sudah…”
Marissa m elihat bungkus obat yang sudah terbuka.
”Baiklah, kalau begitu kau istirahat, ya,” katanya, sam bil
m enyelim uti Wiliam dengan selim ut bergam bar robot.
Marissa masuk ke dapur dan mengambil sebaskom air
serta handuk kecil, lalu bergegas kembali ke kamar
Wiliam. Ia mengompres kening Wiliam dengan air dingin
terus-m enerus selam a jam -jam berikutnya.
Dalam tidurnya, Wiliam m engigau gelisah, ”Mam a…
Papa… jangan pergi…!”
Marissa benar-benar m erasa sedih. Keluarga Wiliam
tidak ada satu pun di rumah. Tante Sarah sedang meng-
inap di Puncak. Orangtua Wiliam sudah meninggal, pada-
hal Wiliam membutuhkan mereka.
Marissa m enggenggam tangan Wiliam erat-erat. ”Aku
bukan orangtuamu, namun aku akan menjagamu, Wiliam.
Sekarang tenanglah dan tidurlah yang nyaman,” katanya,
sambil mengelus-elus rambut Wiliam.
Entah berapa lama Marissa mengompres kening
Wiliam. Menjelang tengah malam, panas anak lelaki itu
sudah turun dan Wiliam terlihat tertidur nyenyak.
Marissa m erasa lega. Ia m enguap, m atanya tidak kuat
lagi membuka. Tak berapa lama kemudian, ia tertidur
sambil duduk di tepi ranjang Wiliam.

110

http://facebook.com/indonesiapustaka Tujuh

4 Ju li 19 8 8
PRJ

Suara dengkuran seseorang membangunkan Wiliam dari

tidurnya. Dilihatnya Marissa tertidur di sam ping tem pat
tidurnya. Dia ingat, kem arin m alam badannya sangat
panas. Kelihatannya Marissa m engom presnya dan m e-
nem aninya sem alam an. Wiliam m enatap Marissa per-
lahan. Dengkuran Marissa terdengar semakin keras.
Wiliam mendesah.

”Kak, bangun,” kata Wiliam . ”Sudah pukul sem bilan
pagi.”

Marissa membuka matanya, dan menguap. ”Oh, Wiliam,
kau sudah bangun?” Ia meraba kening Wiliam. ”Demammu
sudah turun.”

”Kakak m enjagaku sem alam an?” tanya Wiliam .
Marissa m engangguk, lalu m enguap lagi. ”Kau dem am
tinggi dan mengigau. J adi, aku menemanimu di sini.”
Dengan perlahan Wiliam berkata, ”Terim a kasih.”
Marissa baru sadar bahwa inilah pertama kali Wiliam
berkata terim a kasih kepadanya. Ia m erasa gem bira se-

111

http://facebook.com/indonesiapustaka hingga tanpa sadar tangannya m enyentuh baskom air
kom presan sem alam dan m enyenggolnya. Isinya tum pah
ke selimut Wiliam.

”Arggghhhh!” teriak Wiliam. ”Selimutku!” Lalu tampang
cemberutnya kembali lagi. ”Kenapa Kakak selalu m erusak
barang-barang kesayanganku?”

Marissa m enggigit jarinya. ”Maaf! Maaf! Maaf!” kata-
nya, sambil membawa baskom air kompresan itu. ”Nanti
aku suruh Bi Ijah m encuci selim utm u, ya.”

Wiliam hanya m enggerutu.
”Karena kau baru sem buh,” kata Marissa lagi, ”bagai-
mana kalau pagi ini kau tidak les dulu? Istirahat saja.
Kau m au m akan apa? Bubur, ya?”
Wiliam hanya m engangguk.
Marissa keluar kam ar dan bergegas m enem ui Bi Ijah.
”Bi,” kata Marissa, ”tolong m asakkan bubur untuk
Wiliam , ya? Sem alam dia dem am .”
Bi Ijah tam pak khawatir. ”Den Wiliam sakit?”
”Sekarang sudah m endingan,” kata Marissa.
”Syukurlah kalau begitu,” kata Bi Ijah lega.
Pagi itu Marissa m enghabiskan waktunya di kam ar
Wiliam . Saat Marissa akan m enyuapi bubur, Wiliam
menolak. ”Aku kan bukan anak kecil lagi,” katanya protes.
”Aku tidak perlu disuapi.”
Akhirnya, Marissa m em biarkan Wiliam m akan sen-
diri.
”Kak,” katanya setelah m akan, ”aku ingin nonton epi-
sode terakhir Megalom an, semalam belum sempat me-
n on t on .”
Marissa mengikuti permintaan Wiliam, dan menemani-

112

http://facebook.com/indonesiapustaka nya m enonton. Lam a-kelam aan, Marissa ikut terhanyut
dalam cerita ilm itu. Di akhir ilm, Marissa berkomentar
sam bil m enggeleng-geleng. ”Ya, am pun! Kok bisa ya
Kapten Dagger, m usuh buyutan Megalom an, ternyata
saudara kem barnya?”

”Ya,” kata Wiliam setuju. ”Aku juga tidak m enyangka.”
”Aku rasa m en on ton n ya sudah dulu. Kau h arus
istirahat.”
Wiliam berbaring di tempat tidurnya lagi, dan Marissa
m em atikan lam pu kam ar. ”Selam at tidur, Wiliam .”
Wiliam menguap, tak berapa lama kemudian dia ter-
tidur.

***

Satu jam kemudian, mobil Tante Sarah memasuki ha-
laman rumah. Marissa menyambutnya dan memberitahu-
kan keadaan Wiliam.

”Sekarang dia di m ana?” tanya Tante Sarah.
”Sedang tidur di kam arnya,” jawab Marissa.
”Baguslah, kalau begitu,” Tante Sarah berjalan ke ka-
marnya. ”Aku capek sekali. Terima kasih kau sudah men-
jaga Wiliam . Aku m au tidur dulu.”
Setelah Tante Sarah masuk ke kamarnya, Marissa me-
nyalakan televisi di ruang tam u. Ia m erasa sangat bo-
san. Sore ini ia ingin sekali pergi ke PRJ , siapa tahu
bisa bertem u dengan orangtuanya.
Akhirnya, untuk mengusir kebosanan Marissa menyala-

113

http://facebook.com/indonesiapustaka kan kom puter Wiliam . Ia m em ainkan gam e yang sering
dimainkan Wiliam, Space Invaders.

Kok jalanny a pelan sekali, y a? Ah, ini kan m em ang
kom puter zam an jebot, apa y ang bisa kuharapkan?

Sejam kem udian Wiliam terbangun. Tubuhnya sudah
terasa segar. Dia turun dari ranjang dan keluar dari
kam arnya. Dilihatnya Marissa sedang berkutat dengan
serius di depan komputer.

Pesawat warna-warni m em enuhi layar, dan Marissa
asyik m enekan key board sehingga tidak m enyadari ke-
datangan Wiliam di belakangnya.

”Kakak kok m alah m ain Space In v aders?” tan ya
Wilia m .

Marisssa berbalik sebentar, lalu m atanya kem bali lagi
pada layar kom puter, ”Oh… hai, Wiliam ! Sudah bangun
rupanya. Aku bosan. Siaran TV-nya juga m em bosankan.
J adi, aku m ain kom puter saja. Aku lihat kau sering
m em ainkan gam e ini, aku jadi ingin m encobanya. Kok
lam bat sekali, ya?”

Wiliam menekan tombol Turbo, lalu permainan itu
menjadi semakin cepat.

Pantas dari tadi jalanny a lam bat banget, teriak
Marissa kesal dalam hati.

”Kak, aku juga ingin m ain,” kata Wiliam .
”Nanti ya, sebentar lagi. Kakak lagi tanggung,” kata
Marissa tanpa memperhatikan Wiliam. Tangannya dengan
lincah bergerak-gerak m enem baki pesawat m usuh yang
tidak ada habisnya.
Satu jam kemudian…

114

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kak! Sekarang giliran aku yang m ain dong!” teriak
Wiliam, tidak sabar.

”Sebentar lagi,” kata Marissa.
Setengah jam setelah itu…
”Kak!! Kapan selesainya?!” teriak Wiliam keras-keras.
Marissa m alah tidak m enyadari teriakan itu.
Setengah jam berikutnya…
”Ahhhh… ahhhh… arghhhhh!” teriak Marissa. ”Ahhhh,
gam e over! Aku tidak terim a, aku m au m ain lagi!”
Wiliam langsung berteriak, ”Kak! Sekarang giliranku!”
”Izinkan aku m ain satu kali lagi, ya?” pinta Marissa
m a n is.
Wiliam tidak mengindahkan perkataan Marissa, dia
menarik gadis itu turun dari kursi.
Marissa m erengut kesal. Akhirnya, ia pergi m andi ka-
rena cuaca panas sekali. Selesai mandi, Marissa melihat
jam di dinding m enunjukkan pukul em pat sore. PRJ
bukany a sore, kan? Pukul 17.0 0 atau pukul 18.0 0 ? tanya
Marissa dalam hati. Pokokny a, aku harus pergi!
Marissa mengajak Wiliam pergi ke PRJ .
”Tidak m au,” kata Wiliam .
”Wiliam, kau kan sudah sembuh,” kata Marissa merayu.
”Daripada bosan di rum ah lebih baik pergi ke PRJ , ya
kan?”
”Ada apa?” tanya Tante Sarah, menyela percakapan me-
reka. Tam paknya Tante Sarah baru saja bangun tidur.
”Begini, Tante,” kata Marissa. ”Saya ingin m engajak
Wiliam ke PRJ untuk ganti suasana. Bosan kan di rumah
terus. Eh, Wiliam tidak mau.”

115

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kalian pergi saja,” kata Tante Sarah pada Marissa dan
Wiliam . ”Tante akan pergi m enem ui tem an Tante, nanti
sekalian Tante antar ke PRJ .”

Marissa tersenyum lebar. ”Terim a kasih, Tante. Nah,
Wiliam , ayo kita pergi ke PRJ .”

Wiliam menatap Marissa dengan kesal.
Sore itu sebelum pergi Marissa melihat-lihat lemari
pakaian orangtua Wiliam dan menemukan gaun kuning
terusan dengan tangan menggelembung di kedua sisinya.
Sederetan manik-manik menghiasi baju bagian depan.
Marissa kem udian m em akainya. Untuk sepatunya,
Marissa memilih sepatu kulit berwarna hitam.
Dua jam kemudian, Marissa, Wiliam, dan Tante Sarah
sudah berada dalam perjalanan menuju PRJ . Suasana
PRJ sudah ramai ketika Marissa dan Wiliam turun dari
m ob il.
”Ini uang jajan kalian,” kata Tante Sarah, m em berikan
beberapa lembar uang sepuluh ribuan pada Marissa.
”Nanti kalian pulang sendiri, ya.”
”Terim a kasih, Tante,” kata Marissa senang. ”Ayo
Wiliam, kita masuk.”
Wiliam mengikuti Marissa dari belakang.
”Wah, ram ai sekali.” Marissa m elihat keram aian orang
di sekitarnya dengan antusias. ”Kau tahu, Wiliam, di masa
depan PRJ masih ada lho.”
”Ben a r ka h ?”
”Ya, benar. Tem patnya saja yang berbeda.”
”Oh, lihat itu!” seru Marissa. ”Ada banyak sekali makan-
an yang dijual. Ayo kita m akan!”

116

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kakak, yang dipikirkan hanya m akan an m elulu.”
Wiliam mengikuti Marissa ke area tempat makan.

Marissa duduk. ”Mana bisa perut kosong dipakai jalan-
jalan. Mas, saya pesan m i bakso dan nasi goreng. Wiliam ,
kau mau apa?”

Wiliam hanya m enggeleng. ”Aku belum lapar. Kakak
makan saja dulu.”

Marissa menghabiskan nasi goreng di piringnya sampai
perutnya terasa penuh. Ia m enutup m ulutnya dan ber-
sen d a wa .

”Apa Kakak yakin bisa m enghabiskan m i baksonya?”
Wiliam menatap curiga.

Marissa hanya tersenyum . ”Tenang saja, perutku m e-
m ang besar. Pasti aku bisa m enghabiskannya.”

Baru pertam a kali Wiliam m elihat gadis begitu rakus.
”Kau yakin tidak m au m akan, Wiliam ?” tanya Marissa
sekali lagi.
Wiliam m enggeleng. ”Melihat Kakak m akan saja aku
sudah kenyang.”
Marissa benar-benar m enghabiskan m i baksonya.
”Sekarang m ari kita jalan-jalan!”
Setelah beberapa saat berjalan-jalan, Marissa berhenti
di sebuah stand m akanan. ”Lihat itu, Wiliam ! Katanya
kalau beli satu dapat undian langsung. Ayo kita beli!”
Marissa m em beli satu kantong plastik m akanan. Akan
tetapi, saat mengambil undian hadiah, dia tidak ber-
u n t u n g.
”Beli satu lagi,” kata Marissa penasaran.
”Kakak,” protes Wiliam. ”Beli makanan banyak-banyak,
siapa yang akan m akan?”

117

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kau tenang saja. Nanti aku m akan sem uanya,” kata
Marissa. ”Lagi pula, kan tidak harus dim akan hari
in i.”

Untuk kali kedua mereka mendapatkan sebuah tempat
pensil. Marissa m enjerit gem bira. ”Nah lihat, tem pat
pensil ini bagus sekali,” kata Marissa. ”Untukm u saja,
Wilia m .”

”Tidak m au,” kata Wiliam . ”Aku sudah punya tem pat
pensil Robot Voltus.”

”Ya, sudah,” kata Marissa, menyimpan kaleng pensil itu
ke dalam plastik.

”Kak,” ujar Wiliam tiba-tiba, ”aku ingin ke WC dulu.”
”Oke!” kata Marissa, sambil mencari-cari WC. ”Itu dia!
Aku tunggu di luar, ya.”
Wiliam berlari masuk ke WC dengan terburu-buru.
Sambil menunggu, Marissa melihat-lihat stand di sekitar
situ. Pandangannya tertuju pada Robot Voltus yang mirip
dengan milik Wiliam.
”Mas, saya ingin beli robot ini,” kata Marissa, sam bil
tersenyum . Ia bisa m em berikan robot ini sebagai peng-
ganti robot bertangan satu di lemari Wiliam.
Sesudah m em belinya, Marissa m enyem bunyikannya di
salah satu kantong plastik yang berisi m akanan. Ia ingin
memberi kejutan untuk Wiliam.
Wiliam keluar dari WC, keduanya kemudian melanjut-
kan perjalanan.
Marissa m em beli banyak perm en dan m akanan, m en-
coba satu per satu, membujuk Wiliam untuk mencobanya
juga.

118

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kak, aku capek!” teriak Wiliam, setelah berputar-putar
selam a satu jam . ”Kita duduk dulu, ya.”

Kebetulan di dekat mereka ada bangku, Marissa duduk
sambil membawa semua yang tadi dia beli. Marissa men-
dongak ke atas dan m em andang bintang-bintang yang
bertebaran di angkasa.

”Sudah lam a aku tidak m erasa sebahagia ini,” kata
Marissa. ”Hei, Wiliam ! Kau senang kan hari ini?”

”Ya, begitulah,” jawab Wiliam pendek.
Marissa hanya tertawa m endengarnya. ”Kau m em ang
anak yang susah sekali diajak bersenang-senang.”
Tiba-tiba ia melihat Papi dan Mami berada tak jauh
dari tem pat duduknya. Mereka sedang ada di stand
aksesori.
”Wiliam ,” katanya gem bira, ”itu Mam i dan Papi. Aku
mau melihat mereka.”
”Ya, am pun,” keluh Wiliam kesal, ”kita m au m em ata-
matai mereka lagi?”
”Stttt,” bisik Marissa, ”aku hanya ingin tahu m ereka
sedang apa. Ayo kita dekati m ereka!”

***

Diana jatuh hati pada sebuah kalung hitam dengan inisial
huruf dari perak yang m enggantung di tengahnya. ”Aku
suka kalung ini,” katanya pada pem uda di sebelahnya.

Ferry tersenyum . ”Beli saja kalau kau suka, biar aku
yang bayar.”

119

http://facebook.com/indonesiapustaka Tangan Diana m engam bil sebuah kalung lagi. ”Begini
saja. Kita beli dua kalung ini. Yang berinisial D untuk
Diana dan F untuk Ferry. Kau pakai yang berinisial D,
sedangkan aku akan m em akai yang berinisial F. Bagai-
mana?”

”Baiklah!” kata Ferry. Dia m em asang kalung berinisial
D di lehernya. Setelah itu, dia m em bantu m em asangkan
kalung yang berinisial F di leher Diana.

Diana m em andang Ferry dengan senang. ”Kau tahu,
Ferry. Kau benar-benar pria terbaik yang pernah aku
kenal. Aku nyam an sekali bila pergi bersam am u.”

Ferry tersipu m alu. ”Aku juga senang bersam am u.”
”Kalau begitu,” usul Diana. ”Bagaim ana kalau besok
kita pergi lagi? Ke m ana, ya? Bagaim ana kalau ke Gajah
Mada?”
”Besok aku ada kuliah,” ujar Ferry. ”Dari pukul satu
sampai pukul tiga sore.”
”Kalau begitu, aku akan menemuimu di kampus seusai
kuliah dan kita bisa berangkat bersama-sama,” saran
Dia n a .
”Ide yang bagus.” Ferry tersenyum senang.

***

Marissa m elihat kem esraan di antara keduanya, dan ter-
senyum . Ia pernah m elihat kalung itu di m asa depan.
Satu di kotak perhiasan Mam i, dan yang satu lagi di laci
m eja kerja Papi. Rupanya keduanya m asih m enyim pan
kalung yang berum ur dua puluh tahun itu.

120

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Mereka masih menyimpan kalung itu,” ungkapnya per-
lahan pada Wiliam . ”Mereka benar-benar saling m en-
cin t a i.”

Wiliam memandang Marissa, lalu kepada kedua orang-
tuanya. ”Mereka beruntung,” katanya.

Marissa m em andang langit di atasnya dan m endesah.
”Kapan ya aku bisa m endapatkan cinta seperti m ereka?
Aku tidak m au patah hati lagi.”

”Kakak pasti akan m endapatkannya suatu saat,” seru
Wiliam, berusaha menghibur.

Marissa menatap Wiliam curiga. Hei, tunggu dulu!
Bocah ini terny ata selain bisa berkom entar sinis, dia
bisa juga berkom entar m anis, dan anehny a perkataan
W iliam m enenteram kan hatiny a.

”Wiliam , m enurutm u aku bisa m endapatkan cinta
seperti orangtuaku?”

Wiliam mengangkat bahu. ”Bisa saja, kalau Kakak tidak
rakus makan.”

”Hei,” potong Marissa. ”Kau m enyindirku, ya?”
”Aku kan hanya m engatakan kenyataan,” kata Wiliam .
Tawa kedua orangtuanya m engalihkan perhatian
Marissa. Ia melihat Papi sedang membeli makanan dan
m em berikannya kepada Mam i. Mam i m em akannya dan
m enyuapi Papi. Saat ada sisa saus di m ulut Papi, Mam i
m em bersihkannya dengan sapu tangannya.
Marissa tersenyum lega m elihat itu.
”Aku benar-benar m erindukan m ereka. Aku ingin ber-
lari ke sana dan memeluk mereka, namun aku tidak bisa
m elakukannya, bukan?”

121

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kakak akan bertem u m ereka sebentar lagi,” kata
Wiliam perlahan. ”Bukankah Kakak m engatakan, saat
gedung itu dibuka Kakak bisa kem bali ke m asa de-
pan?”

Marissa m enatap Wiliam dengan saksam a. ”Sekarang
kau percaya bahwa aku berasal dari m asa depan? Sejak
kapan?”

”Sejak Kakak melahap semua permen dan cokelat waktu
itu. Kakak terkesan seperti baru pertam a kali m em akan-
nya,” kata Wiliam .

”Aku senang kau m em ercayaiku, Wiliam .”
”Lagi pula,” lanjut Wiliam , ”Kakak tidak pandai ber-
b oh on g.”
Marissa tersenyum . ”Ya, kau benar soal itu.”
”Bisakah kita berjalan-jalan lagi?” tanya Wiliam .
”Ayo!” ajak Marissa.

***

”Ayo, Wiliam ! Tem bak terus!!” teriak Marissa bersem a-
n ga t .

Beberapa saat yang lalu m ereka tiba di sebuah arena
gam e komputer. Saat arena itu mengadakan lomba gam e
Space Invaders, Marissa langsung meminta Wiliam
mengikuti perlombaan itu. Siapa pun yang bisa mencetak
angka paling tinggi selama sepuluh menit, dialah peme-
n a n gn ya .

Di sinilah mereka sekarang. Marissa tak henti-hentinya
memberi semangat di sebelah Wiliam.

122

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kakak!” teriak Wiliam, menyela di sela-sela permainan-
n ya .

”Hah? Apa?” tanya Marissa.
”J angan teriak-teriak di depan kupingku. Aku jadi tidak
bisa konsentrasi,” jawab Wiliam ketus.
”Maaf,” kata Marissa lagi. ”Aku tidak akan berteriak-
teriak lagi.”
Saat sepuluh menit berlalu dan perlombaan dianggap
selesai, salah seorang petugas arena memeriksa angka di
m asing-m asing kom puter. Kem udian, ia m engum um kan
bahwa Wiliam -lah pem enangnya.
Marissa bertepuk tangan dan meloncat-loncat gembira.
Wiliam mendapat jam tangan dan dua lusin cokelat
wa fe r .
”Wiliam , kau hebat!” seru Marissa, ketika m ereka ke-
luar dari arena itu.
”Kak, sudah m alam nih. Aku ngantuk. Pulang yuk,”
ka t a n ya .
Marissa m engangguk, lalu keduanya berjalan pulang.

***

Marissa memasuki kamar Wiliam beberapa jam setelah-
nya. ”Wiliam,” katanya. ”Aku punya hadiah untukmu.” Ia
m engeluarkan robot Voltus baru dan m em berikannya
kepada Wiliam.

”Bagaimana?” tanyanya. ”Sama persis kan dengan milik-
mu?”

123

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Untuk apa beli robot yang sam a?” tanya Wiliam .
”Milikm u kan aku rusak. J adi, aku beli penggantinya,”
kata Marissa.
Wiliam m engam bil robot yang ada di tangan Marissa
dan m enaruhnya di sam ping robot yang rusak. ”Terim a
kasih,” katanya.
Marissa tersenyum . ”Ehm m m , ada satu hal lagi yang
ingin aku minta.”
”Mau apa lagi?” tanya Wiliam curiga.
”Aku m inta cokelat wafernya, ya?”
”Tidak boleh,” kata Wiliam. ”Kakak kan sudah beli ba-
nyak m akanan. Wafer cokelat itu punyaku. Aku m e-
m enangkannya.”
”Aku tahu,” kata Marissa. ”Begini saja, aku tukar m a-
kanan yang aku beli dengan cokelat wafernya ya, bagai-
m ana? Atau… satu deh, aku m inta satu saja.”
Wiliam tetap m enggeleng. ”Tidak bisa.”
Ditolak seperti itu, Marissa cemberut lagi. Ini anak
pelit sekali! Apa dia tidak tahu bahw a aku tidak akan
pernah lagi m enikm ati cokelat itu. Di m asa depan
cokelat itu sudah tidak ada.
Marissa melihat kelereng biru yang diincarnya di lemari
m ainan Wiliam . Melihat Wiliam sedang fokus m em akai
arloji barunya, Marissa m engam bil kelereng itu dan
berjalan ke luar kamar. W iliam tidak akan kehilangan
kelereng ini. Lagi pula, dia m asih puny a bany ak, ratus-
an m alah, katanya dalam hati.
Marissa meletakkan kelereng itu di laci meja kamarnya.
Aku akan m em baw a kelereng ini pulang bersam aku.

124

http://facebook.com/indonesiapustaka Tiba-tiba perutnya terasa sakit. Marissa membuka pintu
kamar, lalu berlari ke kamar mandi.

Mendengar suara langkah Marissa, Wiliam menengok
ke luar kamar. Dilihatnya Marissa berlari ke kamar mandi
sam bil m em egangi perutnya.

”Itulah akibatnya kalau m akan terlalu banyak!” teriak
Wilia m .

”Diam , Wiliam !!” geram Marissa.
”Aku kan sudah beritahu. Kakak rakus sih!” seru
Wilia m .
”Tutup m ulutm u! Aduh… aduh… sakit sekali!” teriak
Marissa. ”J angan m enggangguku lagi, Wiliam .”
”Kakak tidak m au cokelat waferku?” goda Wiliam .
”Wiliam !” teriak Marissa keras-keras. ”Pergilah ke
kam arm u dan jangan ganggu aku lagi!”
Wiliam masuk kembali ke kamar, lalu dia tertawa
cekikika n .

***

Marissa m em egangi perutnya dengan lega. Akhirnya,
setelah dua jam di kam ar m andi, perutnya bisa tenang
juga. Tiba-tiba pintu depan terbuka. Tante Sarah masuk
ke dalam rumah dengan langkah sempoyongan. Sesampai-
nya di tangga atas, kakinya sudah m ulai goyah. Untung
saja Marissa ada di situ, ia memegangi tangan Tante
Sarah dan m em apahnya ke kam arnya.

Setengah sadar, Tante Sarah bergumam tidak jelas.
”Kau siapa, hah?”

125

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Saya Marissa, Tante,” kata Marissa. ”Tante m engizin-
kan saya m enginap di sini beberapa hari yang lalu.”

Tante Sarah m engangguk. ”Oh… ya… ya.”
Marissa merebahkan Tante Sarah di atas tempat tidur-
nya dan menyelimutinya. Saat akan berlalu, Marissa men-
dengar suara tangisan di belakangnya.
”Tante tidak apa-apa?” tanya Marissa khawatir.
Isakan tangis Tante Sarah sem akin kencang. ”Apakah
kau tahu…,” isaknya, ”bagaim ana rasanya kehilangan
seorang kakak yang selalu m elindungim u? Aku benar-
benar merindukan dia. Kenapa dia harus pergi? Orangtua-
ku… kakakku… sem uanya m enghilang dari hadapanku.
Aku tidak bisa hidup sendirian seperti ini.”
Marissa m enatap Tante Sarah dengan prihatin. ”Saya
tidak punya kakak. J adi, saya tidak tahu rasanya kehilang-
an kakak, namun Tante tidak sendirian. Tante masih
punya Wiliam .”
”Anak itu,” seru Tante Sarah. ”Anak itu m irip sekali
dengan kakakku…. Sakit… sekali rasanya.”
Marissa menghela napas. ”Sebaiknya Tante lebih sering
meluangkan waktu bersama Wiliam.”
”Anak itu m em benciku,” katanya kesal.
Marissa m enggeleng. ”Tidak! Wiliam tidak m em benci
Tante, dan saya yakin Tante juga tidak m em bencinya.”
”Kau tidak tahu apa-apa,” kata Tante Sarah kesal, mata-
nya perlahan m em buka. Kesadarannya berangsur-angsur
p u lih .
Marissa menelan ludah. ”Saya memang bukan keluarga
Tante, namun tidak perlu harus menjadi bagian keluarga
untuk m engatakan bahwa Tante juga m enyayanginya.

126

http://facebook.com/indonesiapustaka Kalau saja Tan te m au m eluan gkan waktu bersam a
Wilia m .”

”Kau tidak berhak berkata seperti itu kepadaku,” suara
Tante Sarah terdengar ketus. ”Kau tidak tahu rasanya ke-
hilangan sem uanya.”

Marissa terdiam sesaat dan m enunduk. Kem udian, ia
memberanikan diri menatap Tante Sarah.

”Tante memang telah kehilangan kakak,” katanya tegas.
”Tapi Wiliam?! Dia sudah kehilangan kedua orangtuanya.
Apakah Tante pernah memikirkan itu? Wiliam juga pasti
merasa kehilangan. Sekarang, secara perlahan-lahan apa-
kah Wiliam juga harus kehilangan Tante?”

Tante Sarah terdiam mendengar perkataan Marissa. Ia
kem bali m enutup m atanya. ”Pergilah!” katanya.

Marissa berjalan ke luar kamar dan mematikan lampu.
”Selam at m alam ,” katanya, sebelum m enutup pintu
kamar.

127

http://facebook.com/indonesiapustaka Delapan

5 Ju li 19 8 8
Perso n a No n -Grata

Besok aku pulang! seru Marissa dalam hati. Ia bangun

dengan hati gem bira. Hari ini adalah hari terakhirnya di
masa lalu. Besok Gedung Albatross akan dibuka. Lukisan
itu pasti akan ada di sana, dan ia akan kembali ke masa
depan. Walaupun begitu, Marissa merasa sedih karena ia
akan meninggalkan Wiliam. Hari ini, ia ingin berpamitan
dengan Papi, lalu sesudahnya ia akan m em bawa Wiliam
berjalan-jalan. Soal tem pat, biar Wiliam saja yang
m em ilih .

”Selam at Pagi, Wiliam ,” sapanya, saat akan sarapan.
Berlainan dengan suasana hati Marissa yang ceria,
Wiliam malah terlihat murung. ”Hei, kenapa tampangmu
m urung begitu?” Marissa duduk di sebelahnya. ”Cerialah
sedikit. Aku tahu, kau pasti sedih aku m au pergi, ya.”
Wiliam tidak berbicara apa pun.
”Bagaim ana kalau sore ini kita m ain sepuasnya. Kau
yang tentukan tem patnya,” Marissa berkata lagi. ”Wiliam ,
aku tahu kau sedih, namun kau harus mengerti bahwa...”
”Main?” sela Wiliam .

128

http://facebook.com/indonesiapustaka Marissa mengangguk sambil mengambil nasi dan sayur
dari m eja m akan, ”Ya. Kau m au ke m ana?”

”Entahlah,” kata Wiliam .
”Hei, tidak usah sedih begitu,” kata Marissa.
Perkataan Wiliam yang berikutnya mengejutkan Marissa.
”Aku m au kelereng biruku dikem balikan.”
”Hah? Kelereng biru apa?” tanya Marissa, berlagak
tidak tahu.
”Kakak m engam bilnya sem alam ,” tuduh Wiliam .
”Aku… ehm … aku tidak m engam bilnya,” Marissa ber-
usaha menyangkal. Sial! Kenapa dia bisa tahu? Kan ada
ratusan kelereng di kaleng itu.
”Tadi pagi aku lihat sudah tidak ada,” Wiliam berkata,
sam bil m enyipitkan m atanya. ”Pasti Kakak yang am bil.
Ya, kan?”
Apa sih y ang W iliam lakukan setiap pagi? Melihat
m ainannya satu per satu?
”Tidak,” kata Marissa m encoba m eyakinkan Wiliam .
”Aku tidak mengambil.” Ia memasang tampang tidak ber-
sa la h .
”Aku kan pernah mengatakan, Kakak bukan pembohong
yang baik.” Wiliam m enyorongkan telapak tangannya di
depan Marissa. ”Ayo, kem balikan!”
Marissa m eletakkan garpu dan sendoknya, lalu berlari
ke kam arnya. ”Oke! Oke! Aku am bil.”
”Ini,” katanya beberapa saat kemudian, sambil meletak-
kan kelereng biru itu di tangan Wiliam.
Wiliam m engam bil kelerengnya, lalu m eneruskan
m akannya, diikuti dentingan garpu dan sendok Marissa.

129

http://facebook.com/indonesiapustaka ***

Arena kolam renang ram ai dengan pengunjung. Marissa
duduk di salah satu kursi, jem arinya dengan lincah m e-
m ainkan Gem Bot yang dibawanya tadi pagi. Pagi ini,
Wiliam les berenang. Sesekali pandangannya tertuju pada
Wiliam, melambaikan tangannya, lalu berkonsentrasi ber-
m ain Gem Bot lagi.

Setelah mencapai angka empat ratus, Marissa ter-
senyum -senyum sendiri. Sebentar lagi aku akan m e-
ny am ai angka tertinggi W iliam . Angka berhenti di empat
ratus lim a puluh. Marissa bangkit dari kursinya dan ber-
teriak. ”Wiliam, aku mengalahkan angkamu! Akhirnya, aku
m engalahkanm u juga!”

Ia ingin memperlihatkan pencapaian angka itu kepada
Wiliam, namun ia tidak melihat Wiliam di mana pun. ”Di
m ana dia?” tanyanya. ”Ah, itu dia, baru m uncul ke per-
m u kaan .”

Marissa berlari ke tepi kolam renang. ”Lihat!!” Ia m e-
nunjukkan Gem Bot di tangannya ke arah Wiliam . ”Aku
berhasil m engalahkan angka tertinggim u. Aku m em ang
h eb a t !”

Wiliam m em basuh air dari m ukanya dan m elihat
Gem Bot di tangan Marissa. ”J angan senang dulu,” kata-
nya. ”Kakak baru main Game A.” Ia lalu menekan tombol
Gam e B. ”Gam e B lebih sulit dari Gam e A.”

Marissa kaget m elihat angka tertingginya. Tujuh ratus
tiga puluh lima. Marissa mencoba memainkan Game B
selama beberapa menit.

”Apa ini? Kok parasutnya bisa m enyangkut di pohon

130

http://facebook.com/indonesiapustaka segala?” tanya Marissa bingung. Hanya dalam waktu lima
menit, Marissa sudah gam e over.

”Kakak coba kalahkan angka tertinggiku, ya,” kata
Wiliam perlahan, lalu kembali berenang.

Marissa duduk kembali di tempatnya semula, dan men-
coba berm ain Gam e B. Setelah satu jam dan angka yang
bisa diraihnya hanya dua ratus, ia m enyerah. Matanya
melihat seorang penjual es krim, dan ia pun membeli-
n ya .

”Es krim ini enak sekali,” katanya, sam bil m elihat
m ereknya. W oody . ”Aku belum pernah m encobanya.”

Setelah menghabiskan tiga cup, ia beralih pada permen
karet yang dibelinya sem alam di PRJ . Ternyata pada
bungkus permen karet itu ada gambar untuk tato. Marissa
langsung meletakkan bungkus permen karet itu pada
tangannya, dan m engolesinya dengan air. Sebuah tato
kupu-kupu kecil kini tertera di tangannya.

”Bagus sekali,” katanya puas.
Mereka makan siang di warung dekat kolam renang.
”Aku akan mengantarmu pulang,” kata Marissa di sela-
sela m akan siang m ereka. ”Aku akan m engucapkan se-
lamat tinggal kepada Papi. Setelah itu kita pergi main,
b a ga im a n a ?”
Wiliam m engangkat bahu. ”Terserah.”

***

”Ferry,” seru Marissa di depan kelas Papi.
Papi menoleh.

131

http://facebook.com/indonesiapustaka Marissa berjalan mendekati Papi, ”Bagaimana hubung-
anm u dengan Diana? Baik-baik saja?”

Papi m engangguk senang. ”Hari ini Diana akan da-
tang, dan aku ingin mengungkapkan perasaanku kepada-
n ya .”

”Oh, bagus,” kata Marissa berseri-seri. ”Aku yakin kau
bisa m engatakannya. Ehm … sebenarnya aku datang ke
sini ingin m engucapkan selam at tinggal. Besok aku akan
pergi.”

”Oh!” seru Papi. ”Aku harap aku bisa bertemu dengan-
mu lagi.”

Marissa tersenyum. Tentu Papi akan bertem u dengan-
ku lagi. Di m asa depan.

”Aku hanya ingin m engatakan sem oga hubunganm u
dengan Diana berhasil,” kata Marissa.

”Terim a kasih,” kata Papi tulus, ”atas sem uanya.”
Marissa tidak bisa menahan diri lagi, ia berjalan me-
m eluk Papi erat-erat. ”Aku senang bisa m em bantum u.”
Mulanya Papi terkejut, lalu ia tersenyum . ”Surat cinta
buatanm u itu benar-benar bagus. Kalau tidak ada kau,
aku tidak punya keberanian m enelepon Diana. Om ong-
omong, selama ini aku belum tahu namamu.”
Marissa m elepaskan pelukannya, baru akan m em beri-
tahukan nam anya saat seseorang berteriak di belakang
mereka.
”Teganya kau, Ferry!!” teriak Diana. ”Aku kira kau ber-
beda. Ternyata sem ua pria sam a saja.”
Marissa terkejut m elihat Mam i m enatapnya dengan
pandangan m enuduh sam bil berteriak m arah. ”Tunggu!”
kata Marissa. ”Kau salah paham .”

132

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Diam !” teriak Mam i kepada Marissa. ”Aku tidak m au
berbicara kepadamu.”

”Diana!” seru Papi perlahan. ”Kau benar-benar salah
paham . Aku dan dia hanya bertem an.”

”Aku m elihatm u berpelukan dengannya,” kata Mam i,
sambil berusaha menahan air matanya. ”Kau mengatakan
surat cinta itu bukan buatanm u? Kau sudah berbohong
kepadaku, Ferry. Aku tidak m au bertem u lagi dengan-
m u .”

Mami melangkah pergi, namun Papi menyentuh lengan
Mam i dan m enghentikannya. ”Tunggu, Diana. Aku bisa
m enjelaskan sem uanya.”

Mami melepaskan tangannya dari genggaman Papi, lalu
m enatapnya dingin. ”Mulai hari ini kau m asuk dalam
daftar Persona Non-Grata-ku. Aku rasa kau tahu apa
m aksudnya.”

Mami berlari ke luar kelas. Papi terlalu shock, sehingga
hanya bisa terduduk terdiam . Marissa m enyusul Mam i.
Ia harus m enjelaskan sem uanya.

”Tunggu, Diana!” teriak Marissa. ”Dengarkan aku dulu!”
Mami tetap berlari, dan Marissa mengikuti di bela-
kangnya. Setelah berlari selama lima belas menit, Mami
berhenti dan menoleh ke belakang. ”Berhenti mengikuti-
ku !”
”Aku ingin menjelaskan semuanya,” kata Marissa. ”Kau
sudah salah paham . Aku dan Ferry hanya bertem an.”
Marissa melangkah mendekat, namun Mami menghenti-
kannya. ”J awab saja pertanyaanku. Apakah surat cinta
yang Ferry berikan kepadaku itu buatanm u?”
Dengan berat hati Marissa mengangguk.

133

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Hanya itu saja yang ingin kuketahui,” kata Mam i te-
gas.

Marissa menggeleng. ”Tunggu!! Ferry sungguh-sungguh
m encintaim u. Aku sudah m elihat kalian tertawa bersam a
dan nonton bersama. Perasaan kalian tidak bisa bohong.”

”Ya, am pun! Kau m em ata-m ataiku?!” teriak Mam i ke-
sal.

”Tidak. Tidak. Bukan seperti itu,” jelas Marissa, sambil
m enyesali kebodohannya karena telah m em buat Mam i
curiga. ”Mungkin kalian belum tahu, suatu saat kalian
berdua benar-benar akan menjadi orang yang sangat ber-
arti bagiku. Tolong, berilah Ferry kesempatan! Dia telah
mencintaimu selama lebih dari sepuluh tahun.”

Mami terdiam sebentar. Ia menarik napas, lalu berkata,
”Kau bukan dia. Bagaim ana kau tahu perasaan dia yang
sesu n ggu h n ya ?”

Aku tahu karena aku anakny a, dan aku anakm u juga.
Aku sudah m elihat bukti cinta kalian selam a delapan
belas tahun. Ingin rasanya Marissa berteriak seperti itu.
Tapi ia tahu, Mam i tidak akan m em ercayainya.

Melihat Marissa terpaku, Mam i berjalan m enjauhinya.
Marissa jatuh terduduk di lantai. Ia mengacaukan semua-
nya. Ia sedih sekali, sam pai-sam pai tak kuasa m enahan
t a n gisn ya .

***

Perjalanan pulang ke rumah Wiliam dilalui Marissa de-
ngan langkah gontai. Pikirannya tidak bisa lepas dari

134

http://facebook.com/indonesiapustaka perselisihan Papi dan Mami. Marissa membuka pintu dan
masuk ke dalam rumah.

Wiliam sudah m enunggunya.
”Kakak sudah pulang?” katanya gembira. ”Ayo, kita per-
gi!” Suara Wiliam terhenti melihat tampang Marissa yang
pucat.
”Ada apa?” tanyanya bingung
Marissa m enangis lagi. ”Aku m engacaukan sem uanya,
Wiliam. Mereka tidak bisa bersatu karena aku. Tadi aku
menemui Papi, aku tidak bisa menahan perasaanku dan
m emeluknya. Mami melihat hal itu dan langsung marah.
Bagaim ana bisa Mam i curiga kepadaku? Aku kan anak-
n ya .”
”Ibum u tidak tahu hal itu,” ungkap Wiliam .
”Aku gagal!” teriak Marissa putus asa. ”Aku sudah ber-
usaha m enjelaskannya, nam un Mam i tidak m au m en-
dengarku. Bisakah kaubayangkan? Mami cemburu kepada-
ku. Anaknya sendiri. Aku benar-benar m engacaukan
sem uanya.”
”Kakak,” panggil Wiliam , bingung apa yang harus ia
lakukan untuk m enghibur Marissa. ”Kakak jangan ber-
sedih. Kakak bisa m encoba m enjelaskan lagi. Kita pergi
ke rumah ibumu, lalu kakak bisa menjelaskan semua-
n ya .”
Marissa m enggeleng. ”Mam i tidak m au bertem u atau-
pun berbicara denganku lagi. Aku benar-benar payah.
Aku tidak bisa m enyelam atkan hubungan orangtuaku.
Sekarang aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.
Menurutmu, kalau orangtuaku tidak bersatu, apakah aku
akan menghilang?”

135

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Aku tidak tahu,” Wiliam m enjawab jujur.
”Mengapa aku harus m engacaukan segalanya?!” teriak
Marissa putus asa. ”Seminggu yang lalu, aku hanya ingin
kembali ke rumahku, dan tiba-tiba aku ada di masa yang
asing. Mengapa aku harus berbicara pada lukisan konyol
itu? Aku m enghancurkan sem uanya! Sem uanya!!”
Wiliam menggenggam tangan Marissa untuk pertama
kalinya. ”Kakak tidak mengacaukan semuanya. Kakak me-
nyelam atkanku, ingat? Malam itu Kakak dengan berani
m enyelam atkanku dari kecelakaan m obil.”
”Aku tahu,” kata Marissa. ”Orang lain pun akan melaku-
kan hal yang sam a untukm u.”
Wiliam menggeleng. ”Kakak tidak mengerti. Malam itu
aku tidak ingin diselamatkan.”
Perhatian Marissa kini beralih kepada Wiliam . ”Apa
maksudmu?”
”Aku m em ang sengaja ada di tengah jalan. Aku ingin
mobil itu menabrakku,” kata Wiliam.
”Mengapa kau m elakukan itu?” tanya Marissa bingung.
”Kakak pikir hanya hidup Kakak yang hancur?” teriak
Wiliam . ”Aku juga telah m enghancurkan hidup ayah dan
ibuku.”
”Apa m aksudm u?” Marissa sem akin bingung. ”Bukan-
kah kaukatakan kedua orangtuamu sudah meninggal?”
”Ya. Kecelakaan m obil,” kata Wiliam perlahan. ”Kakak
ingin tahu mengapa mereka meninggal? Semua karena
aku. Aku m em inta m ereka m em belikan robot Voltus di
kam arku itu. Aku tahu m ereka sudah lelah, nam un aku
merengek-rengek ingin robot itu. Semua temanku me-

136

http://facebook.com/indonesiapustaka m ilikinya, dan aku juga m enginginkannya. Akhirnya,
Mama dan Papa pergi untuk membelikan robot itu untuk-
ku. Itu adalah terakhir kalinya aku m elihat m ereka. Me-
reka tidak pernah pulang, padahal besoknya kami bertiga
akan pergi ke pantai. Aku m em bunuh m ereka. Kau tahu
apa yang m enyedihkan dari sem ua itu? Mobil ayahku
benar-benar rusak, nam un m ainan robot di dalam nya
sama sekali tidak hancur.”

Marissa tertegun mendengar penjelasan Wiliam.
”Wiliam , kau tidak tahu. Itu bukan salahm u.”

”Kalau saja waktu itu aku tidak m em aksa m ereka
membeli mainan, Mama dan Papa pasti masih hidup
sampai sekarang,” kata Wiliam, air mata membasahi
p ip in ya .

Marissa langsung memeluk Wiliam erat-erat. Dielusnya
ram but Wiliam dengan lem but. ”Sem uanya bukan ke-
salahanmu, Wiliam. Orangtuamu tidak akan menyalahkan-
mu karena itu memang bukan salahmu. Sama sekali
bukan salahmu. Kematian orangtuamu adalah kecelakaan.
Bukan salahm u. Kecelakaan itu dapat terjadi kapan saja,
Wilia m .”

Rupanya selam a ini Wiliam telah m em endam perasaan
yang sangat m enyakitkan. Itulah sebabnya m engapa
Wiliam terlihat lebih dewasa dari umurnya. Dia telah ber-
henti m enjadi seorang anak kecil saat orangtuanya m e-
n in gga l.

”Kenapa aku tidak mati saja bersama mereka? Hari itu,
aku marah sekali karena Kakak telah menyelamatkanku,”
kata Wiliam, sambil menangis terisak-isak di pelukan
Marissa.

137

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Stttt… Wiliam … jangan berkata seperti itu!” kata
Marissa menenangkannya. ”Orangtuamu pasti mengingin-
kanm u hidup. J angan pernah m elakukan hal konyol
seperti itu lagi. Kau tidak boleh menyia-nyiakan hidupmu.
Kau m asih punya banyak hal untuk dilakukan.”

Keduanya berpelukan entah sam pai berapa lam a. Ke-
duanya m enangis.

Rasa dingin yang m enjalar di sekujur tubuh Marissa
m em buatnya m elepaskan pelukannya. ”Wiliam , apakah
kau merasa kedinginan?”

Wiliam m enggeleng. ”Tidak.”
”Aneh,” seru Marissa perlahan. ”Aku m erasa kedingin-
a n .”
Wiliam m em bantu Marissa berdiri. ”Kalau begitu,
Kakak istirahat saja di kam ar.”
Marissa m engangguk. Rasanya ia m em ang harus isti-
rahat. Badannya lem as sem ua.
Marissa berbaring di kamarnya. Wiliam ada di samping-
nya sam bil m em bantu m enyelim utinya. ”Kakak ingin
m inum air hangat?” tanyanya khawatir.
Marissa m enggeleng. ”Aku… lelah sekali… dingin… di-
ngin sekali….” Marissa gem etar.
”Kakak!” teriak Wiliam lagi. ”Apa yang Kakak rasa-
kan?”
Marissa berusaha m em buka m atanya, dan m enatap
m ata Wiliam yang khawatir. ”Dingin. Dingin sekali.”
”Aku akan bawa selimutku kemari biar hangat. Tunggu
ya, Kak.” Wiliam berlari ke kam arnya dan m em bawa
selim utnya, lalu m enaruhnya di atas tubuh Marissa.

138

http://facebook.com/indonesiapustaka ”Kakak sudah m erasa lebih hangat?” tanyanya lagi.
Marissa tidak menjawab. Sekujur tubuhnya gemetaran.
”Dingin sekali,” katanya.
Wiliam bingung setengah mati. Ruangan kamar sangat
panas. Kenapa Marissa m alah kedinginan?
”Mam i… Papi,” kata Marissa m engigau. ”Aku m inta
m aaf.”
Ucapan Marissa itu membuat Wiliam berpikir. Orang-
tua Marissa. Kalau m ereka tidak bersatu m aka Marissa
tidak akan dilahirkan. Tidak! Tidak! Ini tidak boleh
terjadi! Marissa tidak boleh m eninggal!
”Kakak,” katanya lagi, sam bil m engguncang-guncang
bahu Marissa. ”Bangun! Kakak harus bangun!!”
Marissa m em buka m atanya kem bali perlahan-lahan.
Tatapan m ata khawatir Wiliam adalah hal terakhir yang
ia lihat sebelum sem uanya m enjadi gelap.
”Kakak… Kakak!!” teriak Wiliam .
Marissa tidak terbangun mendengar teriakan Wiliam.
Wajah Marissa pucat pasi. Sekujur tubuhnya sedingin es.
Napasnya terengah-engah. Wiliam m enangis. ”Kakak, ja-
ngan pergi!”

***

Ferry menunggu seharian di depan rumah Diana. Dia
tahu Diana ada di rumah. Dia juga tahu Diana tidak mau
m enem uinya. Ferry m enarik napas panjang. Aku harus
m enjelaskan sem uany a, tekadnya.

”Diana!” teriaknya lagi. ”Bisakah kau m enem uiku?”

139

http://facebook.com/indonesiapustaka Tetap tidak ada jawaban dari kamar Diana.
Suara pintu dibuka membangkitkan harapan di hati
Ferry. Papa Diana keluar m enem uinya.
”O0 m,” kata Ferry, ”saya ingin menjelaskan semuanya.
Sem uanya hanya salah paham . Saya benar-benar m e-
nyayangi anak O0 m . Izinkan saya bertem u dengannya.”
Papa Diana berkata, ”Aku tahu kau anak baik, Ferry.
Saat ini Diana sedang m engurung diri di kam ar. Lebih
baik kau kembali lain waktu.”
”Tetapi, O0 m ,” protes Ferry.
”Anak O0 m keras kepala, Ferry,” kata papa Diana lagi.
”Sebaiknya kauberi dia waktu untuk m enenangkan diri
terlebih dahulu.”
”Bisakah Oom sam paikan kepada Diana bahwa saya
benar-benar m enyukainya?” tanya Ferry.
Papa Diana tersenyum tipis. ”Lebih baik kausampaikan
sendiri hal itu kepada Diana. Sekarang, pulanglah! Kau
sudah menunggu cukup lama. Diana tidak akan turun.
Tidak ada gunanya m enunggunya lagi. Nanti kalau dia
sudah tenang, kau bisa kembali lagi.”
Ferry m engangguk. ”Baiklah. Saya pulang dulu, Oom .
Per m isi.”
Diana m em andang Ferry dari balik jendela kam arnya.
Ia m elihat m otornya sem akin m enjauh. Diana m enangis
sedih sesudahnya.

***

Sem alam an Wiliam m enjaga Marissa. Tubuhnya tetap se-
dingin es, walaupun Wiliam sudah m engom presnya de-

140

http://facebook.com/indonesiapustaka ngan air hangat. Dia sudah kehabisan ide. J am sudah me-
nunjukkan tengah m alam . Tidak ada dokter yang m au
datang jam-jam seperti ini. Wiliam membawa selimut dari
kam ar kedua orangtuanya. Sebelum pergi ia m em andang
foto m am a dan papanya. ”Mam a… Papa,” katanya m e-
m ohon. ”Aku tidak keberatan kalau nanti dia pergi
m eninggalkanku untuk kem bali ke m asanya. Tapi aku
ingin dia sehat lagi. Kalau dia sem buh, aku berjanji akan
jadi anak yang baik.”

Wiliam menatap foto kedua orangtuanya dan menangis
tersedu-sedu.

Setelah tangisnya m ereda, dia kem bali ke kam ar
Marissa dan m enem aninya.

***

Sarah m engem udikan m obilnya sam bil m engantuk. Dia
tidak tahu sudah berapa lama dia mengemudi. J am di mo-
bil m enunjukkan pukul lim a pagi. Efek alkohol dari m i-
num an yang diteguknya m ulai terasa. Kepalanya terasa
m elayang-layang. Sesaat dia bahkan sem pat m enutup
m atanya.

Tiba-tiba sebuah cahaya lampu mobil yang menyilaukan
diiringi suara klakson yang keras m em bangunkan Sarah
dari rasa kantuknya. Ia m elihat ada m obil di depannya,
yang pasti akan m enabraknya jika dia tidak m enghindar.

Tangannya langsung m encengkeram kem udi dan de-
ngan releks membelokkan mobilnya ke pinggir jalan.
Kakinya m enginjak rem kuat-kuat. Mobil terhenti tak

141

http://facebook.com/indonesiapustaka lama kemudian. Wajah Sarah terbenam pada kemudi mo-
bil. Ia tidak bergerak selama beberapa waktu. J antungnya
berpacu tidak keruan. Perlahan-lahan, Sarah mulai mem-
buka m atanya. Tangannya m eraba bekas benturan di ke-
n in gn ya .

”Auww!” teriaknya, saat m enyadari keningnya terluka.
Ia beristirahat sejenak, lalu m engam bil tasnya. Saat
hendak mengambil saputangan untuk mengusap lukanya,
sehelai foto terjatuh ke kursi penum pang. Sarah m eng-
am bil foto itu. Foto kakaknya bersam a dirinya di m asa
kecil.
Sarah menangis keras-keras sesaat setelah melihat foto
itu. Kini dirinya benar-benar sadar sepenuhnya. Nyawa-
nya ham pir saja m elayang tadi. Bukan itu saja, setelah
dua kecelakaan yang m erenggut nyawa keluarganya,
Sarah tidak m au m enjadi kecelakaan yang ketiga. Ia
belum mau mati.
”Kakak,” katanya perlahan, ”kau datang untuk m e-
nyadarkanku, ya?”
Senyum kakaknya di foto seakan-akan telah menjawab
pertanyaan yang diajukan Sarah.
”Maafkan aku,” katanya lagi. ”Aku telah m engabaikan
hidupku. Setelah kehilanganmu, aku jadi tidak punya tuju-
an hidup. Kau selalu m enjagaku. Aku baru sadar, Kakak
pasti tidak ingin aku m enyia-nyiakan hidupku, kan?
Karen a aku m asih pun ya tan ggun g jawab terhadap
Wilia m .”
J emarinya mengelus foto itu dengan penuh kelembutan.
”Maafkan aku, Kak. Dulu kakak selalu m enjagaku, dan
kini giliranku m enjaga Wiliam , anak Kakak. Bukankah

142

http://facebook.com/indonesiapustaka begitu yang Kakak inginkan? Aku sudah sadar sekarang.
Aku berjanji kepada Kakak. Aku akan m enjaga Wiliam
apa pun yang terjadi.”

Sarah m enghapus air m atanya, dan tersenyum . Ia m e-
lihat keadaan di sekitarnya. Terus terang, ia tidak tahu di
mana ia berada saat ini. Ia langsung menghidupkan mobil-
nya dan bergegas m engendarainya pulang.

”Tunggu saja, Wiliam,” katanya dengan semangat baru,
”Tante pasti pulang dan m enem uim u hari ini.”

143

http://facebook.com/indonesiapustaka Sembilan

6 Ju li 19 8 8
Se lam at Tin ggal, W iliam

Pagi sudah datang. Wiliam meraba kening Marissa. Ma-

sih dingin. Semalaman Marissa sama sekali tidak bangun.
Wiliam menatap Marissa lagi. Dia tahu Marissa tidak
akan bertahan lebih lama lagi.

Wiliam bangkit berdiri. ”Aku berjanji padam u… kau
akan pulang hari ini.” Ia lalu meninggalkan sebuah pesan
untuk Marissa, berlari ke luar rumah, mengambil sepeda
yang diparkir di halam an dan pergi. Wiliam m engayuh
sekuat tenaga. Setibanya di depan rum ah papa Marissa,
dia turun dari sepeda dan menggedor pintu rumah itu
berkali-kali.

Ferry keluar untuk m elihat siapa yang ada di luar
rum ahnya. ”Ya?” tanyanya bingung. Ia heran m elihat
ad a an ak kecil ber d ir i d i d epan r u m ah n ya. ”Ad a
apa?”

”Kau harus pergi m enem uinya!” teriak Wiliam .
”Apa?” tanya Ferry bingung. ”Kau siapa?”
Wiliam menggeleng. ”Itu tidak penting. Kau harus me-

144

http://facebook.com/indonesiapustaka nem ui Diana. Sekarang! Kau harus m enem uinya supaya
kau bisa m enyelam atkan Marissa. Ia sedang sekarat!”

Ferry sem akin bingung, ”Aku tidak m engerti apa yang
kaukatakan. Siapa kau? Bagaimana kau bisa tahu tentang
Dia n a ?”

Wiliam menarik tangan Ferry ke arah motor bebeknya.
”Tem ui Diana sekarang! Pergilah!”

”Tetapi…!” seru Ferry m asih bingung.
”Kau m encintai Diana, bukan? Kau harus m engatakan
perasaanm u kepadanya. Apa pun yang terjadi!” teriak
Wilia m .
Ferry m endesah. ”Diana tidak m au m enem uiku.”
”J adi, kau akan m enyerah begitu saja?” tanya Wiliam
kesal. ”Hanya sam pai sebegitukah rasa cintam u kepada-
n ya ?”
”Hei,” protes Ferry, ”aku benar-benar m encintainya.”
”Kalau begitu, pergi dan katakan kepadanya!” desak
Wilia m .
”Oke. Oke. Aku pergi!” kata Ferry, sambil menaiki mo-
t or n ya .
Wiliam merasa lega.
Sebelum pergi, Ferry berbalik menatap Wiliam lagi,
”Kau sebenarnya siapa? Apakah aku m engenalm u?”
Wiliam m enggeleng. ”Kau tidak m engenalku. Aku m e-
n gen a lm u .”
Ferry m engernyit, ia kebingungan.
”Sudahlah,” kata Wiliam. ”Tidak ada waktu untuk men-
jela ska n .”
Tak berapa lama kemudian, Ferry pergi dengan motor
bebeknya. Wiliam m engendarai sepedanya, ia ingin se-

145

http://facebook.com/indonesiapustaka cepatnya menemui Marissa. Kakak bertahanlah! katanya
dalam hati.

Ketika Wiliam memasuki jalan rumahnya, segerombolan
anak m enghalangi jalannya. Wiliam turun dari sepeda-
n ya .

”Halo, Wiliam ,” sapa anak yang paling besar. ”Sudah
lam a kita tidak bertem u. Kau m asih ingat aku, kan?”

Wiliam panik. Sial! keluhnya. Aku tidak baw a uang
hari ini.

”Di m ana penjagam u hari ini, hah?” tanya anak yang
lain. ”Dia sudah pergi, ya? Kau tidak bisa m enghindari
kam i selam anya.”

Mereka berkerumun mendekati Wiliam. Tiga orang di
antara mereka menendang sepeda Wiliam sampai rusak.
Wiliam menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ber-
siap-siap menerima pukulan.

***

Sementara itu, di kamarnya Diana duduk di meja belajar
dengan kesal. Matanya m em andang seuntai kalung.
Diangkatnya kalung pem berian Ferry dua hari yang lalu.

”Aku benci kam u!” katanya, dengan nada kesal pada
kalung itu.

Mengapa? Mengapa kau m engkhianati aku?! teriaknya
dalam hati. Mengapa hatiku bisa sesakit ini? Saat aku
putus dengan Jim m y , aku hany a m erasa kesal, tidak
sakit hati. Kini, saat m elihat kau m em eluk perem puan
lain, hatiku terasa sakit.

146

http://facebook.com/indonesiapustaka Diana m em buka laci m ejanya dan m enaruh kalung itu
di sana. Seakan-akan tindakan itu bisa mengubur kenang-
annya bersam a Ferry. Saat hendak m enaruh kalung itu,
Diana melihat sebuah buku. Ia mengambilnya dan mem -
b u ka n ya .

Ternyata buku kenangan saat dia di SD dulu. Aku
sudah lam a tidak pernah m em bukany a, katanya dalam
hati. Di dalam buku itu terdapat biodata semua teman
SD. Nam a, um ur, hobi, cita-cita, dan yang lainnya.

Ia melihat halaman pertama. Di situ tertulis biodata
dirinya. Melihat hal itu Sarah sedikit terhibur. Banyak
kenangan manis yang ia lalui sewaktu SD. Halaman demi
halam an dibukanya buku kenangan itu, raut wajah
tem an-tem an SD-nya kem bali berm unculan.

Saat hendak menutup buku kenangan itu, Diana me-
lihat halam an terakhirnya. Ia tidak pernah m elihat hala-
man terakhir buku kenangan ini sebelumnya karena buku
itu hanya terisi separonya.

Siapa y ang m engisi pada halam an terakhir bukuku?
tanyanya penasaran.

Ia m elihatnya, dan seketika itu juga tercengang.
Tatapan m atanya tertuju pada bagian cita-cita. Diana
m enutup m ukanya dan m enangis.

Buku kenangan itu tetap terbuka pada halam an ter-
akhir.

Nam a : Ferry
Um ur : 12 tahun
Hobi : Baca buku
Cita-cita: Ingin m em buat Diana bahagia

147

http://facebook.com/indonesiapustaka ***

Satu jam kemudian…
Ferry bergegas turun dari motor sesampainya di rumah

Diana. Dia berhenti di depan pintu pagar dan menarik
napas. ”Diana!” teriaknya. ”Aku tidak akan pergi sebelum
berbicara kepadam u! Aku m ohon, turunlah!”

Dari atas dan jendela kam arnya, Diana m elihat Ferry
m em andangnya dengan putus asa.

Melihat Diana di jendela kam arnya, Ferry tersenyum .
”Diana!” teriaknya lagi.

Diana kesal, ia m enutup gorden jendelanya.
Di bawah, Ferry m endesah putus asa. ”Diana, ayolah!
Tem ui aku!”
Seseorang mengetuk pintu kamar Diana. Diana mem-
buka pintu kam arnya dan m elihat ayahnya berdiri di
sana. ”Boleh Papa m asuk?” tanyanya.
Diana m em persilakan papanya m asuk, lalu m enutup
pintu kam arnya.
”Kau tidak bisa m em biarkannya di luar terus, Diana,”
kata papanya. ”Kau harus m enem uinya cepat atau lam -
bat.”
”Aku benci kepadanya, Pa,” kata Diana kesal. ”Dia su-
dah berbohong kepadaku.”
Papa Diana mengangguk. ”Apakah dia sudah menjelas-
kan mengapa dia berbuat demikian?”
Diana m enggeleng. ”Aku tidak m em berinya kesem pat-
a n .”
”Hmmm,” seru papanya lagi. ”Lebih baik kautemui dia
dulu. Suruh dia m enjelaskan. Kalau saat itu kau m asih

148

http://facebook.com/indonesiapustaka tidak bisa m enerim anya, barulah kauputuskan untuk ti-
dak m enem uinya lagi. Pria itu sepertinya sungguh-
sungguh m enyukaim u. Setidaknya beri dia satu ke-
sem patan. Bagaim ana?”

Diana m enghela napas panjang. ”Ya, Papa benar. Aku
akan m enem uinya.”

Papa Diana m em eluk anaknya. ”Aku tahu kau tidak
akan m enyesalinya.”

”Papa selalu tahu apa yang terbaik untukku,” kata
Diana, sambil tertawa.

Papanya m elepaskan pelukannya. ”Tentu saja. Selain
itu, sebenarnya… ehmm… Papa malu kepada tetangga ka-
rena ada orang yang teriak-teriak di depan rumah sepagi
in i.”

Diana tertawa terbahak-bahak. ”Dasar Papa.”
Akhirnya, Diana keluar dan m enem ui Ferry.
”J elaskan,” katanya, tanpa basa-basi.
”Terim a kasih karena kau m au m enem uiku,” kata
Ferry. ”Diana, aku benar-benar m enyukaim u, tidak per-
nah ada orang lain lagi. Aku baru mengenal gadis itu be-
berapa hari yang lalu. Aku bahkan tidak tahu siapa nama-
nya. Dia selalu m uncul tiba-tiba di hadapanku. Dia
mengatakan akan membantuku mengenalmu karena aku
telah menyelamatkannya waktu itu… entahlah, aku sendiri
tidak tahu m engapa dia m au m elakukannya.”
”Surat cinta itu,” sela Diana. ”Dia yang buat?”
”Ya,” jawab Ferry jujur.
”Tidakkah kau sadar kau telah membohongiku?” tanya
Diana kesal.

149


Click to View FlipBook Version