Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014
Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987
Perubahan atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982
Perubahan atas Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara
Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f,
dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e,
dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang
dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah). Pasal 114 Setiap Orang yang
mengelola tempat perdagangan dalam segala bentuknya yang dengan sengaja
dan mengetahui membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang hasil
pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di tempat perdagangan yang
dikelolanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, dipidana dengan pidana
denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Pasal 115 Setiap
Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya
melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman,
Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan Secara
Komersial baik dalam media elektonik maupun non elektronik, dipidana dengan
pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
DIVERSITY
JILID 3
Sarah Amelia, dkk.
SMA NEGERI 4 KENDARI
Penerbit CV Kekata Group, Surakarta 2021
DIVERSITY
Copyright © 2021 Sarah Amelia, dkk.
Penulis: Sarah Amelia, dkk.
Penyelia Naskah: Chairunnisa, S. Ag, M. Pd. dan Adelia Kusuma
Penata Letak: Yoga Ade S.
Penata Sampul: Syntia
Ilustrasi Isi: Agung Muhammad
Cetakan Pertama, September 2021
xxvi + 160 hal; 14,8×21 cm
ISBN: -
Diterbitkan oleh CV Kekata Group
Jl. Kartika No. 60 Kel. Jebres, Kec. Jebres,
Surakarta – Indonesia
Kontak: (0271) 2937711
Katalog Dalam Terbitan
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
Desain sampul menggunakan sumber daya dari internet/freepik
KATA PENGANTAR
Ahmad Erani Yustika - Deputi Ekonomi Sekretariat Wakil Presiden;
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
TIAP anak adalah benih peradaban. Namun, masing-masing anak
juga (kelak) akan menjadi sejarah keadaban. Peradaban disusun
oleh pikiran dan tindakan. Ibarat batu bata yang disusun satu demi
satu sehingga menjadi rumah yang dihuni oleh keluarga. Rumah dan
keluarga adalah peradaban "kecil" yang tercipta karena pikiran dan
perbuatan. Jadi, bila anak-anak yang hari ini memproduksi tulisan
(buku) –seperti yang kita baca ini– sesungguhnya mereka sedang
menyusun batu bata peradaban bagi keadaban masa depan.
Demikian pula, pikiran yang terangkum dalam buku akan
menjalar menjadi pedoman hidup, sekurangnya pengetahuan bagi
para pembaca. Pikiran itu menjadi tapak sebagai simbol dari jejak
yang pernah menghuni semesta. Jejak akan terus mengular karena
hari demi hari pengetahuan menyebar, apalagi dalam era teknologi
informasi yang demikian cepat mengular. Pada saat itulah sejarah
telah dibuat secara sadar. Para siswa ini akan menjalani kehidupan
di medan yang luas sampai kontrak hayat habis menggenang. Raga
mereka kelak akan melayang, namun sejarah pikiran dan perbuatan
akan terus dikenang.
Terlepas dari soal peradaban dan sejarah, buku ini layak
dicetak dengan "tinta emas" karena lahir pada saat kita merasa
pesimis dalam urusan literasi. Daya baca dan tulis bangsa tidak
v
mengalami peningkatan yang menyenangkan, bahkan dalam
perkara tertentu justru dianggap turun mencemaskan. Akademisi
sekalipun telah kehilangan elan intelektualitas sebab tak mampu
memproduksi gagasan lewat tulisan. Mereka kian terbiasa menjadi
penyalur berita dari satu grup percakapan ke grup percakapan
(misalnya WhatsApp). Defisit literasi sedang menyergap kehidupan.
Buku ini seperti hendak berkata: masa kegelapan bisa
dihadang. Karya para siswa ini membangunkan asa bahwa anak
bangsa masih terus memancarkan cahaya. Mereka berteriak
terhadap narasi pesimisme yang berembus dengan kencang. Pada
usia yang masih muda, juga dari wilayah yang bukan pusat kota,
mereka melambungkan harapan besar bagi kemajuan bangsa.
Tulisan mereka melambangkan spirit terhadap masa depan,
sekaligus menyiratkan pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran.
Mereka memilih mencintai negara dengan jalan mengusung
gagasan, bukan mengembangkan pertikaian.
Kualitas manusia yang terpenting adalah penguatan kapasitas
berdasarkan keluasan pendidikan dan kedalaman kesehatan.
Pendidikan dan kesehatan merupakan alas paling dasar untuk
ekspansi kapabilitas warga. Guru yang mengajak dan mendorong
siswa untuk mengenalkan tradisi membaca dan menulis harus
dimuliakan sebagai pahlawan literasi. Pada proses ini akan terus
lahir batu bata peradaban yang makin maju dan tanpa putus.
Penulisan buku ini jelas menerbitkan bara yang terang bagi masa
depan Indonesia. Kita bersiul karena melihat tunas bangsa telah
lahir sehingga bangsa akan terus tegak melahirkan generasi yang
tak gagap menghadapi perubahan.
Selamat atas terbitnya buku dari siswa-siswa yang matang. Kita
layak merayakan munculnya generasi yang gemilang. Indonesia
wajib dipimpin oleh gagasan, hari ini maupun yang akan datang.
vi
MENJADI PAHLAWAN
Lenang Manggala - Founder Nyalanesia
APA yang Anda pikirkan tentang menjadi pahlawan?
Perang? Kekuatan super tak terkalahkan? Atau mungkin,
sebuah kostum yang mampu membawa kita terbang?
Mari kita berjalan ke beberapa tahun ke belakang.
Pagi itu, terasa begitu kelabu. Di tas sekolah saya, terdapat
sepucuk surat berisi peringatan dan pemanggilan orang tua. Itu
adalah surat yang ketiga selama saya kelas X dan XI di SMA. Dan
imbas kenakalan saya, yang ke entah berapa puluh atau ratus
kalinya.
Saya tak takut jika dihukum berdiri 3 jam di bawah bendera.
Tetapi melibatkan orang tua atas kesalahan-kesalahan saya, itu
sungguh meremukkan dada.
Nanti pukul 09.00, saya harus ke ruang BK. Bersama kedua
orang tua saya, untuk membahas kelanjutan sekolah saya. Tapi
tentu, saya tak mengabari Bapak-Ibu. Saya akan menghadapinya
sendiri seperti dua panggilan yang lalu-lalu. Saya harus
menyelesaikannya. Apa pun caranya.
Meski saya tahu saya tidak punya masa depan yang cerah. Tapi
saya tidak boleh dikeluarkan sekolah. Saya tidak mau orang tua saya
bersedih dan marah.
vii
Bel sekolah sebentar lagi berdentang. Sebentar lagi pukul
09.00. Tubuh saya berkeringat dingin, membayangkan segala
kemungkinan buruk yang saya tak ingin. Tiba-tiba seorang guru
dengan sepucuk surat di tangannya datang. Meminta saya keluar
kelas sebentar karena ada hal penting yang mau disampaikan. Ah,
kiamat ternyata lebih cepat datang.
Sebelum sempat saya mengucapkan kata, beliau sigap
memegang pundak saya.
“Kamu, adalah anak yang punya potensi. Ayo ikut Bapak untuk
lomba mading mewakili sekolah. Kamu bisa menulis kan? Ayo
langsung ke sanggar sekarang. Bapak udah bawa surat izin untuk
guru-gurumu.”
Maka, begitulah awal mulanya. Sekolah kami menang. Saya
terus menulis puisi dan cerita, dan Pak Abikusna terus percaya
kepada saya. Lalu, belasan lomba menulis tingkat nasional saya
menangkan. Membangun Nyalanesia, dan meraih berbagai
penghargaan berkatnya.
Saya memang nakal. Tapi saya bukan anak nakal. Saya adalah
anak yang punya potensi. Seperti kata Pak Abi. Seperti semua anak-
anak Indonesia di seluruh penjuru negeri.
Yang saya butuhkan adalah kepercayaan diri. Yang lahir karena
dipercayai dan difasilitasi. Seperti yang dilakukan oleh Pak Abi.
Seperti ribuan guru yang telah menjadi keluarga besar Nyalanesia
selama 5 tahun ini.
Kini, saya dan jutaan anak lainnya punya keyakinan pada masa
depan. Karena Pak Abi, telah percaya dan berjuang. Persis seperti,
yang Bapak/Ibu Guru lakukan. Mendorong dan memfasilitasi kami
untuk berkarya. Mendampingi kami untuk menggali jati diri kami
yang sesungguhnya. Pak Abi adalah pahlawan saya. Dan Bapak/Ibu
Guru sekalian yang telah memutuskan untuk mendorong dan
viii
memfasilitasi anak-anak untuk berkarya, adalah pahlawan bagi kita
semua.
Itulah pengalaman nyata semasa sekolah saya, dan menjadi
akar yang kuat bagi saya untuk menumbuhkan Nyalanesia.
Nyalanesia adalah sebuah platform integratif yang
memfasilitasi Pelajar, Pengajar, dan Pengkarya untuk menerbitkan
buku, meningkatkan kompetensi, prestasi, serta kesejahteraan
hidupnya, melalui program-program literasi yang dikembangkan
secara berkelanjutan.
Nyalanesia hadir dengan napas socioeduprenur yang
mendorong terciptanya ekosistem literasi dan pendidikan di
Indonesia yang lebih bermakna dan berkemerdekaan.
Saya percaya bahwa setiap anak, berhak, untuk mendapatkan
kesempatan berkarya. Ini bukan semata soal: setidaknya sekali
seumur hidup. Tetapi ini, adalah tentang sekali, untuk mengawali,
segala karya dan kontribusi yang akan mereka ciptakan seumur
hidupnya nanti. Anak-anak meski belum bekerja dan belum
memikirkan kebutuhan keluarga, bukan berarti ia tidak masuk
dalam hitungan kita. Setiap gagasan dan ceritanya, layak untuk
didengar dan diperdengarkan kepada dunia.
Progam Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional adalah
program yang mendorong, melatih, dan memfasilitasi para siswa
dan guru-guru di Indonesia, untuk berbagi cerita dalam buku
terbitan antologi bersama. Program ini tidak dirancang untuk
sekadar melahirkan para penulis dengan karya yang melegenda.
Tapi program ini, dibuat dengan sepenuh hati, sebagai serangkaian
upaya nyata: untuk menyediakan ruang berekspresi dan
menemukan jati diri bagi mereka.
Melalui program ini, seluruh sekolah yang berpartisipasi,
otomatis telah memfasilitasi anak-anak didiknya untuk berkarya
dan menerbitkan buku ber-ISBN bersama. Mulai dari karya pantun,
ix
puisi ataupun cerita. Bapak/Ibu guru juga bisa terlibat, menjadi
guru koordinator atau penulis artikel yang hebat.
Tentu, tidak hanya itu. Kami selalu berpikir bagaimana agar
bisa membantu semua siswa dan guru bergerak maju. Bagi seluruh
sekolah yang menjadi mitra, Nyalanesia juga memberikan berbagai
macam fasilitas seperti 12 kelas literasi dan peningkatan
kompetensi bersertifikasi, sertifikat dan piagam penghargaan bagi
semua yang terlibat, pengembangan website literasi sekolah dan
program Duta Literasi Sekolah, serta total hadiah ratusan juta
rupiah untuk siswa, guru, dan kepala sekolah terbaik di tingkat
nasional.
Tak hanya program GSMB Nasional yang telah diikuti dan
disukai oleh ribuan sekolah tersebut, Nyalanesia kini juga telah
berhasil mengembangkan 4 platform yang mendukung kemudahan
dan kesejahteraan para pelajar, pengajar dan pengkarya Indonesia.
Revolusi ini dimulai dari pengembangan Dipsy. Melalui
platform Dipsy, menerbitkan buku menjadi semudah menjentikkan
jari. Dipsy adalah Digital Publishing System yang dirancang
Nyalanesia, untuk membantu siswa, guru, ataupun penulis untuk
mengirim, menerbitkan, berkonsultasi, mengecek progres, hingga
memesan cetak buku dengan hanya berbekal usapan jari. Semuanya
ada dalam satu platform yang terintegrasi.
Lalu, bagaimana seorang penulis dapat memasarkan bukunya
secara nasional? Yap, itu yang juga menjadi concern kami. Oleh
karenanya, kami mengembangkan platform Nyalagaleri. Sebuah
marketplace, yang berfokus melayani kebutuhan para siswa dan
guru di sekolah. Mulai dari buku, alat tulis, seragam, hingga
berbagai macam alat peraga pendidikan dan sarpras sekolah. Di
Nyalagaleri, siapa pun bisa menemukan dan memasarkan produk-
produk yang dibutuhkan oleh sekolah.
Beralih ke dunia pelatihan. Nyalaakademi hadir sebagai
platform pelatihan bersertifikat yang dapat diakses kapan pun,
x
siapapun dan dimanapun. Nyalaakademi menyajikan kelas-kelas
literasi, peningkatan kompetensi guru, hingga kelas-kelas populer
perihal leadership, entrepreneurship, dan skill-skill yang dibutuhkan
oleh industri. Melalui platform ini, siapa pun juga dapat membuat
dan menjual kelas-kelasnya sendiri untuk diikuti ratusan ribu
komunitas kami. Karena dengan Nyalaakademi, kami memimpikan
para pendidik Indonesia dapat lebih berdaya dan sejahtera.
Namun, jika Anda memiliki keahlian khusus seperti desain
grafis, menulis, videografi, menjadi pembicara, pelatih olimpiade
ataupun juri, kami mengundang Anda untuk bergabung di
Nyalatalenta. Melalui platform ini, kami mempertemukan orang-
orang yang membutuhkan dengan orang-orang yang mempunyai
kemampuan atas berbagai macam jasa. Ini adalah ruang bagi kita
untuk menyalurkan bakat dan menjadi bermanfaat.
Nyalanesia masih memiliki berbagai macam platform dan
program-program lainnya. Seperti Sekarya, Kampus Karya, Duta
Literasi Sekolah, Penggerak Literasi Daerah, dan belasan lainnya.
Tetapi semua program-program tersebut pada akhirnya punya satu
tujuan sama: membantu para pelajar, pengajar dan pengkarya
Indonesia, untuk dapat lebih berdaya dan menjadi pahlawan dengan
masing-masing versi terbaiknya. Menjadikan siapa pun, sebagai
seorang Penyala.
Maka, apa yang Anda pikirkan tentang menjadi pahlawan?
Perang? Kekuatan super tak terkalahkan? Sebuah kostum yang
mampu membawa kita terbang? Atau mungkin, memberikan arti
dalam kehidupan seseorang?
Mari kita berjalan ke Nyala Masadepan!
xi
xii
KATA PENGANTAR SEKOLAH
Liyu, S.Pd., M.Pd. – Kepala SMA Negeri 4 Kendari
PUJI syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Berkat limpahan
karuniaNya buku antologi cerpen dengan judul “Diversity” dapat
terselesaikan. Antologi cerpen ini adalah program Gerakan Sekolah
Menulis Buku (GSMB), dimana sekolah SMA Negeri 4 Kendari
bekerja sama dengan Nyalanesia untuk mewujudkan program
literasi sekolah.
Buku ini diharapkan dapat memberi warna bagi pembacanya
tentang makna keberagaman. Diversity, satu kata yang sarat makna.
Persatuan dan perdamaian adalah suatu hal yang perlu
dikumandangkan untuk melahirkan spirit kebhinekaan yang kokoh
bagi generasi unggul. Riak pertikaian diharapkan mampu
diminimalisir dengan membaca buku ini.
Keberagaman menunjukkan kemajemukkan bangsa Indonesia.
Perbedaan suku budaya bukanlah hambatan dalam mewujudkan
persatuan. Perbedaan merupakan potensi lahirnya suatu
keragaman budaya yang menunjukkan kemajuan suatu peradaban.
Bhineka Tunggal Ika, pesan yang sering digaungkan. Lahirnya
pertikaian bukan karena gaung kebhinekaan telah luntur, akan
tetapi kita perlu memperbarui tujuan hidup dan kerangka berpikir
kita dalam bingkai kebhinekaan. Kesenjangan dalam bermasyarakat
akan terus ada bila nilai-nilai kebhinekaan telah sirna dari bumi
pertiwi.
xiii
Sungguh suatu anugerah yang patut disyukuri tatkala siswa
mampu menerjemahkan makna diversity melalui cerpen. Ilustrasi
cerita yang disajikan mampu membuat pembaca akan terhanyut
dalam sudut pandang penulis (baca siswa). Mereka menuangkan
ide-idenya tentang kesenjangan dan perundungan yang kian marak
terjadi di tengah kehidupan.
Cerpen ini diharapkan mampu menjembatani kita untuk
memahami makna keberagaman secara hakiki. Persatuan dan
perdamaian bukanlah suatu mimpi yang hanya dimiliki oleh
segelintir manusia. Ia merupakan mimpi anak bangsa yang perlu
diperjuangkan dalam bingkai NKRI sebagai wujud cinta dan
nasionalisme.
Kendari, 17 Agustus 2021
xiv
xv
JAM KLASIK YANG RITMIS
Sapta Arif Nur Wahyudin
Penulis Nasional; Pemenang Sayembara Sastra Bunga Tunjung Biru 2018
Jarum panjang jam di dapur belum sampai menunjuk angka dua
belas. Sedangkan jarum pendek, rekannya, masih berjalan malas
menuju angka tujuh. Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Si merah—jarum
detik—berjalan cepat berupaya membangunkan kesadaran Wage
yang masih melayang-layang. Di dapur, sambil mencuci botol bayi,
lelaki ini berusaha menahan matanya. Kemudian, ia mengambil
panci berukuran sedang dan mengisinya setengah. Wage berjalan ke
arah kompor dengan langkah berat, kemudian menyalakannya dan
meletakkan panci itu di atas kompor. Tik, tok, tik, tok, tik, tok.
“Duh, mas, anakmu..,” terdengar suara istrinya dari ruang
tengah. Wage melempar matanya ke jam dinding klasik di tembok
dapur. “Ah, sepagi ini?” gumamnya.
“Mas, aku ada kelas online!” teriaknya lagi.
“Oke baiklah!” ia berjalan dengan malas, seolah-olah ada
bandul berat ratusan kilogram di kakinya. Apalagi matanya, tak
kalah berat. Ia berjalan terhuyung-huyung seperti orang mabuk.
Hari ini seharusnya genap satu bulan istrinya kerja di rumah.
Namun meskipun begitu, keberadaaan istrinya justru sama sekali
tidak membantu. Mereka berdua sepakat untuk mengurus rumah
sendiri setelah Yu Nah—asisten rumah tangga—mohon izin untuk
berhenti. Ia harus mengurus keluarga di kampung, sepeninggal
suaminya. Suami Yu Nah meninggal dalam tragedi kecelakaan kerja
pembangunan bangsal rumah sakit. Mirisnya, kompensasi yang
didapat Yu Nah tidaklah seberapa, bahkan Yu Nah harus membayar
xvi
biaya pemakaman sendiri. Maka, dengan modal satu kali gaji dan
pesangon dari Astri—istri Wage, Yu Nah pulang ke kampungnya.
Astri duduk di ruang tamu menghadap laptop. Sedangkan di
kamar Rafa menangis. Tangisan bayi tujuh bulan ini sungguh
memekakkan telinga. Apalagi ia dalam keadaan buang air besar dan
belum diganti popoknya.
“Mas, kok wifi kita mati ya?” teriak Astri lagi.
Tidak ada jawabannya yang diinginkan, Astri berdiri dan
berjalan ke kamar.
“Mas!” Astri tidak menemukan suaminya di kamar. Ia baru
sadar, suara tangis anaknya telah menjauh. Kemudian ia berjalan ke
belakang rumah, melewati pintu dapur. Suaminya sedang
menggendong Rafa di kebun belakang rumah.
“Mas, wifi kita trouble lagi?” dengan suara lumayan keras Astri
berkata.
“Sssstttsss….” Wage membalas sambil menatap tajam. Ia
sedang menimang-nimang Rafa yang sebenarnya hampir tidur.
Namun tentu saja suara keras istrinya membuat bayi mungil itu
kembali bangun. Kemudian menangis lagi.
“Duh… Mas, aku harus ke kampus sekarang, kalau begini terus
aku bisa telat kelas.”
Wage hanya diam, kemudian mengempaskan napas panjang.
“Mas?” Astri kembali berkata dengan nada bertanya yang berat.
“Iya! Berangkat saja!”
Kemudian Astri berbalik dan berjalan tergesa-gesa. Belum
sampai ia di ruang tamu, perempuan ini kembali berjalan ke arah
kebun belakang. “Mas! Air panasmu!”
September ini, seharusnya usia pernikahan mereka sudah
genap tiga tahun. Usia pernikahan yang masih muda biasanya masih
xvii
memelihara kehangatan romantika. Namun tidak bagi Wage dan
Astri. Tuntutan pekerjaan membuat mereka jarang di rumah. Wage
adalah seorang editor sastra dan budaya di salah satu koran lokal di
Solo. Hempasan pandemi membuatnya harus memohon untuk kerja
di rumah. Ia hanya datang ke kantor paling banyak seminggu dua
kali, itu pun hanya untuk rapat mingguan dan evaluasi program.
Seluruh pekerjaannya bisa ia lakukan dengan online. Hal ini berbeda
dengan Astri. Meski ia sudah menjadi dosen di salah satu kampus
swasta di Solo, namun bulan-bulan ini ia harus mengejar ujian
desertasi. Dan mirisnya, meski sudah ketok palu pembelajaran
online, perempuan ini harus berkali-kali ke kampus. Selain untuk
mengurus administrasi ini itu yang tiada habisnya, promotor Astri
adalah dua professor yang dikenal ribet dan super perfeksionis.
Beberapa kali ia diminta menggantikan mengajar di kampus lain.
Katanya untuk menguji kepantasan materi disertasinya.
Seperti hari-hari sebelumnya, setelah membuatkan susu Rafa,
Wage harus mengajak anaknya berjemur. Setelah itu mandi. Ia akan
beruntung jika anak pertamanya ini tidak rewel, maka ia bisa
mencuci dan menyetrika baju. Wage baru bisa membuka pekerjaan
kantor setelah selesai memasak makan siang. Namun seringkali
Rafa begitu aktif dari pagi hingga sore, maka jangan heran,
jangankan untuk memegang pekerjaan kantor, sekedar untuk
masak makan siang saja Wage akan sangat kesulitan.
Ketika Rafa rewel dan Astri mengeluhkan hal itu, Wage hanya
bisa menjawab: Rafa itu anak yang peka dan ekspresif, jadi jangan
heran kalau ia minta perhatian saban waktu. Mendengar jawaban
itu, Astri hanya bisa melengos. Sejak bulan kedua Rafa sudah tidak
mendapatkan asi eksklusif. Merawat anak di rumah, mencuci popok,
hingga memasak bagi Astri hanya bisa dilakukan secara rutin oleh
ibu rumah tangga. Ia menganggap, dirinya berbeda. Ia memiliki
karir panjang dan bisa jadi sesuatu yang cemerlang menantinya di
masa depan.
xviii
Hari ini Wage beruntung, lantaran selepas mandi dan makan
bubur bayi, Rafa tertidur pulas. Itu artinya ia bisa pergi belanja.
Tentu Rafa akan ia bawa menggunakan stoller biru kesayangannya.
Sepulang belanja, lelaki ini memasak. Dapur adalah tempat yang
menyenangkan baginya. Bukan karena ia senang memasak, baginya
dapur adalah tempat kontemplasi paling nyaman. Ditemani jam
dinding yang terbuat kayu jati berwarna cokelat tua, ia seringkali
menghabiskan waktu lama ketika di sini. Sejak bekerja di rumah,
Wage memindahkan jam klasik ini dari ruang tengah ke dapur. Ini
adalah jam favorit Wage. Meski Astri sering protes keberadaan jam
itu di dapur lantaran tidak cocok dan tidak enak dipandang,
katanya. Namun Wage tidak peduli. Bagi lelaki ini, jam klasik
kesayangannya itu memiliki suara tik-tok yang ritmis. Suara yang
membuatnya tenang dari hiruk pikuk dunia yang tak karuan.
“Mas, aku harus lembur di perpustakaan, maksimal jam tujuh
aku pasti sudah pulang.” Wage membalas pesan what’s apps dari
istrinya dengan singkat: “Oke!”
“Rafa ngga rewel kan mas?”
“Aman!”
Wage begitu mencintai Astri. Atas dasar rasa cinta itulah,
segala keinginan Astri selalu dikabulkan. Termasuk ketika pandemi
menyerang, ia rela memohon pada bosnya agar bisa kerja di rumah
dan hanya ke kantor dua kali dalam seminggu saja. Wage adalah
orang ulet dan selalu mendapat predikat A di evaluasi pegawai
dalam lima tahun terakhir. Hal ini menjadi faktor kuat
permintaannya dikabulkan. Ia paham betul, betapa repotnya
mengajar di kampus swasta berbarengan dengan mengejar ujian
disertasi.
Malam ini Astri pulang telat, itu artinya, Wage juga harus
menunda memasak. Ia berharap menu yang disajikan untuk istrinya
masih hangat. Toh memasak sawi dengan irisan daging tidak
membutuhkan waktu yang lama.
xix
Jam dinding telah menunjukkan pukul 19.35, namun belum ada
kabar dari Astri. Sementara sejak jam enam tadi, perutnya sudah
demo minta asupan. Wage memilih memanaskan air untuk
membuat kopi, mengambil sebatang rokok, dan menyulutnya. Tik,
tok, tik, tok, tik, tok. Ia duduk bersila bersandar tembok dapur.
Kepalanya menghadap ke atas. Pussss. Sapuan asap rokok
memenuhi dapur. Ada hal asing yang mengganjal di dadanya hari
ini. Tidak lama ia menikmati kesendirian, suara mobil Astri
terdengar masuk ke dalam rumah. Wage berdiri dan mematikan
rokoknya.
“Maaf ya! Aku telat, hari ini benar-benar deadline.” Wage
membalas dengan senyum, kemudian ia berjalan ke arah istrinya.
Lelaki ini berniat memeluk dan memberikan ciuman hangat pada
perempuan yang dicintainya ini.
“No! Aku bersih-bersih dulu!” ucap Astri singkat.
Wage pun kembali ke dapur, ia harus segera memasak. Namun
belum sampai ia meraih potongan sawi dan daging, Astri berdiri
tepat di belakangnya.
“Mas? Hari ini, kamu belanja?”
“Iya sayang. Kan sudah waktunya.” jawab Wage tanpa menoleh.
“Mas?” ucap Astri dengan nada tanya yang berat.
Wage menghentikan kegiatannya, ia berbalik menatap istrinya
yang memegang tisu toilet. Mereka diam beberapa saat. Wage
berupaya menerjemahkan wajah istrinya yang sudah tak karuan.
“Kamu beli tisu toilet?”
“Iya sayang,”
“Kan kita masih mempunyai stok di lemari. Lagi pula kenapa
beda merk-nya dengan yang biasa kubeli?”
“Aduh, sayang, cuma tisu lho.”
xx
“Bukan begitu mas, kita harus berhemat. Kita tidak akan
pernah tahu sampai kapan pandemi ini berakhir. Lagi pula kenapa
juga beli merk yang berbeda. Kita kan sudah cocok dengan yang itu.”
Wage mengernyitkan dahi. Sedangkan Astri berbalik badan
berjalan ke arah meja makan. Ia duduk melipat tangan di atas meja,
membiarkan tisu toilet dari kamar mandi teronggok di atas meja
pula. Kemudian dahinya ia tempelkan di atas tangan. Wajahnya
tertutup sempurna. Melihat hal itu, Wage hanya menghela napas
panjang. Lelaki ini kemudian melanjutkan memasak. Ia
memasukkan bawang merah, bawang putih, bawang bombay, dan
cabai yang sudah dipotong kecil-kecil ke minyak yang panas.
Sreeeeng! Asap mengepul.
“Mas!” Astri mengangkat kepala dan berteriak. Wage pun
menoleh sambil mengernyitkan dahinya.
“Kamu mencampurkan cabai dengan bawang?”
“Iya, sayang…” Wage melanjutkan memasak, kemudian
memasukkan daging, dan menyiramnya dengan air.
“Mas!” Wage menoleh, kemudian mengempaskan napasnya.
“Ada apa sayang?”
“Kamu tahukan, aku tidak suka bau cabai digoreng. Apalagi
dipotong-potong dicampur dengan bawang! Dan sejak kapan aku
suka daging ditumis begitu?”
Wage berdiri mematung menatap istrinya. Lelaki ini diam
seketika, bibirnya melongo sambil mengernyitkan dahi.
“Ini….”
“Ini hanya daging? Ini hanya cabai? Ini hanya apa lagi?” Astri
memotong, kemudian berbicara panjang seperti kereta api.
“Sayang…” Wage memanggil halus melihat istrinya kembali
menundukkan kepalanya ke meja. Sepertinya menangis. Wage
xxi
kembali mendengus lumayan kencang. Tiba-tiba ia mendengar Rafa
terbangun menangis. Wage sejenak memandang istrinya yang masih
menunduk. Dengan perasaan gemas, Wage membuang seluruh isi
wajan ke tempat sampah.
“Kenapa dibuang mas?” tanya Astri sambil kembali
mengangkat kepalanya. Matanya terlihat sembab. Wage diam
sejenak. Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Samar-samar, suara tangisan Rafa
terdengar dari ruang tengah. Ia masih menatap Astri yang kembali
menundukkan kepalanya, napasnya tersengal. Kemudian Wage
mengambil ponsel di sakunya. Membuka kalender. Setelah itu, ia
mengeluarkan rokok, menyulutnya perlahan, dan mengambil
cangkir kopi yang dibuatnya tadi. Tik, tok, tik, tok, tik, tok. Suara jam
klasik kesayangannya yang ritmis dan menenangkan. Ia duduk
bersila sambil menyandarkan badan ke tembok, tatapannya ke atas.
Pusss. Asap rokoknya memenuhi ruangan.
***
Ponorogo, 3 Agustus 2020
*) Cerita pendek ini pernah dimuat harian Suara Merdeka,
Edisi 30 Agustus 2020
xxii
xxiii
xxiv
DAFTAR ISI Hal
PILIHAN YANG TAK TERPILIH 2
Esty Nurul Juniar 9
15
TO BE BETTER 22
Sinar Rahmadani 28
34
KELAPANGAN HATI 39
Miftah Khairunnisa 45
53
PENYESALAN 62
Fitri Awalia 68
76
BUAH KEJUJURAN 82
Nur Ainun Awaluddin
GELOMBANG MAUT
A. Julya Tri Bangsawan
PRASANGKA
Cyndhi Widya Sari Ruswandi
OPSI
Tri Ajeng Puji Rahayu
PULANG
St. Suraidah. AD. Datu
HADIAH UNTUK IBU
Airin Aprilia Rauf
KASIH TERLARANG
Sania Aisyah Maharani
SI PIKIRAN KRITIS
Elzalisya Azzahrah
BERPIKIR SEBELUM BERTINDAK
Dian Permata Putri
xxv
NAMAKU RACHEL 90
Fania 95
102
PERSAHABATAN VS COVID-19 107
Isra Idayanti 112
117
ILMU YANG DIAMALKAN 128
Artika Ramadhani 133
141
MOTIVATOR TERBAIK 145
Zaskiah Amran Yusuf 150
159
MENJADI LEBIH BAIK
Sekar Ningrum
SEKOLAHKU
Sitti Aisyah Risky Safiyyah
BERTOBAT
Resi Dwi Wulandari
MEMBERIKAN YANG TERBAIK
Aura Aisyania Ramli
INDAHNYA PERBEDAAN
Nabilah Mahesa Ayu
HOAX
Thalita Kalsum
CINTA YANG TERHALANG PAGAR TUHAN
Muhammad Fadhil Reski
TENTANG PENULIS
xxvi
ANTOLOGI CERPEN
SMA NEGERI 4 KENDARI
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 1
PILIHAN YANG TAK TERPILIH
Esty Nurul Juniar
Pada siang hari di sebuah gubuk tengah pematang sawah yang
dikelilingi padi-padi yang telah menguning nampak melambai elok,
seolah mengajak untuk segera di anai, aneka satwa bersembunyi di
balik juntaian hijau daun daun padi hinggap di bulir kuning berbaris
baris menikmati jelang musim panen tiba. Hembusan angin lembut
menerpa padi-padi disana, Adul yang sabar memandangi hamparan
sawah yang ada di depannya dan sesekali bersiul mengarang
sebuah nada, tapi tidak pernah selesai karena tak kuat napas yang ia
hembuskan.
Di tengah aktivitasnya ia melihat seseorang yang tidak asing
baginya, namun ia enggan menyapa terlalu dini karena ia sudah
tahu pasti orang tersebut apa tujuannya untuk menemuinya. Tidak
disangka saat itu yang mendatanginya adalah saudaranya sendiri
yaitu si Idul. Awalnya Adul tidak menaruh curiga terhadap
kakaknya. Namun kecurigaan pun muncul takala saat Idul
menghampirinya dengan membawa sesuatu yang dibungkus
kantong kresek yang niatnya untuk diberikan kepada Adul.
“Eh Dul, gimana kabarmu? Sehat kan?” Kata Idul sembari
duduk di depan Adul.
“Alhamdulilah saya sehat. Tumben datang ke sini, dengan bawa
bungkusan lagi, kamu habis gajian ya?” Balas Adul.
“Kamu itu Dul bisa saja. Apa salahnya sekali-sekali mampir ke
sini, dan maksud kedatanganku ke sini juga ingin membicarakan
sesuatu Dul dengan kamu,” Kata Idul dengan suara yang agak
bergetar karena belum yakin Adul tertarik dengan sarannya dan
permintaanya ini.
2 Nyalanesia
“Mau membicarakan tentang apa?” Kata Adul sembari
mengerutkan dahinya.
Idul mulai berbicara panjang lebar kepada Adul, bahwa
kedatangannya di sini ingin meminta Adul memilih Pak Haris dan
akan diberikan uang apabila Adul memilih Pak Haris sebagai kepala
desa. Oleh karena itu, mulai terjadilah perdebatan di antara mereka
berdua terkait masalah pemilihan kepala desa mendatang, sebab
Adul sangat mempertimbangkan penawaran Idul itu. Bagi Adul
pemilihan kepala desa mendatang sangat menentukan nasib karier
bekerjanya mendatang. Karena bagaimanapun juga ia harus
mencukupi kebutuhan keluarganya meski sekarang perkerjaannya
adalah menjadi suruhan Pak Haris. Adul seperti tidak ada beban
dalam menghadapai pemilihan kepala desa mendatang. Seperti
kebanyakan orang pada umumnya.
Idul masih berusaha membujuk Adul memilih Pak Haris
sebagai kepala desa, Karena menurut cerita-cerita yang beredar di
masyarakat di sana, suara Adul sangat mujarab bagi orang yang ia
pilih. Karena saat Adul memilih, orang tersebut akan selalu terpilih.
Makanya sejak dahulu dukun-dukun yang membantu para kepala
desa di wilayah desa tersebut selalu menyarankan “Jika ingin
terpilih. Ya harus minta izin kepada Adul dulu,” katanya. Hal itu
sangat dipercayai oleh para calon-calon yang ingin menjadi
lurah/kepala desa itu. Salah satu calon kepala desa yang bakal maju
mendatang adalah Pak Haris yang sudah dua kali mencoba menjadi
lurah/kepala desa namun selalu gagal. Nah karena sekarang Pak
Haris sangat begitu kepinginnya menjadi seorang kepala desa maka
cara terakhirnya adalah menjadikan Adul sebagai kacungnya agar ia
dapat terpilih.
Tanpa pantang menyerah Idul mulai mencoba meyakinkan
Adul dengan memberikan janji-janji yang diusulkan Pak Haris.
“Dul, kamu tidak berniat apa besarkan peternakan ayammu ini.
Jika nanti Pak Haris terpilih nanti dia akan berikan kamu modal
buat besarkan usaha kamu ini. Kamu jadi tidak perlu keliling pake
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 3
gerobak lagi nanti kamu bisa buka warung sup ayammu sendiri,”
Kata Idul.
“Em, bagaimana kalau aku pikirkan dahulu?”
“Lho, bagaimana kamu itu? Apa kamu itu tidak tertarik dengan
penawaranku tadi. Gimana sih Dul masa cuma memilih kepala desa
saja kamu berpikir seperti memilih pemimpin-pemimpin bangsa
kita sekarang ini. Apa kurang penawaran-penawaran yang
diberikan Pak Haris tadi, ayammu ini nanti akan bertambah banyak.
Bisa juga kamu bekerja dengan Pak Haris seperti saya ini. Gajinya
lebih baik dari pekerjaanmu ini.”
“Ya, siapa yang tidak tertarik dengan penawaranmu ini, tapi
masa tidak diberi kesempatan saya berpikir terlebih dahulu?
Katanya negara ini sudah demokrasi? Tapi orang berpikir kok
dilarang. Jangan-jangan sekarang tertawa juga dilarang? Apa kelas
kita harus sedemikian rupa? Dari jaman dahulu selalu tertindas.”
Idul mengernyitkan dahinya “Kamu ini ngomong apa sih Dul?
Ini itu mumpung ada kesempatan. Kalau ada kesempatan jangan
disia-siakan. Mubazir.”
“Ya sudahlah, kamu pikirkan dahulu, nanti aku datang lagi jika
kamu sudah mengambil keputusan. Semoga kamu dapat mengambil
keputusan dengan cepat. Pemilihan tinggal 2 minggu lagi dan Pak
Tua itu sudah mulai rewel karena saingannya juga diam-diam juga
sedang mencari orang yang memilihnya.” Kata Idul dengan wajah
lesu dan beranjak pergi dari tempat Adul.
***
Setelah Idul pergi, tak lama datanglah istri Adul Bu Ina pulang dari
acara hajatan.
“Assalamualaikum Pak,” kata ibu sambil mencium tangan Pak
Adul.
“Waalaikumsalam,” balas Pak Adul.
4 Nyalanesia
“Tadi si Idul datang ke sini ya Pak, saya lihat tadi pulang dari
arah sini,” tanya Bu Ina.
“Ha-ha-ha. Iya dia datang ke sini. Hari ini aku seperti orang
penting saja ya Bu. Masih sama seperti waktu yang lalu. Bagaimana
tidak? Sejak dahulu kok seperti ini. Entah disuruh pilih Presiden,
Parpol, Bupati, Lurah bahkan Dukun sekalipun sudah saya pilih.
Apalagi pemilihan RT kemarin. Tapi kok heran ya Bu, saya masih
dicap golput ama orang orang, disangka tidak memihak partai ini,
tidak memihak calon ini, calon itu. Padahal aku ini cuma masyarakat
seperti kebanyakan. Profesiku hanya sebagai penjual soto ayam.
Bisa-bisanya orang-orang itu seperti mengharap suaraku untuk
memilih mereka dan mereka juga percaya bahwa yang saya pilih
pasti akan terpilih. Padahal itu hanya suatu keberuntungan saja.”
Kata Adul bercerita pada istrinya itu.
“Saranmu bagaimana Bu? Orang-orang sekarang seperti
wayang. Apa-apa yang dingomongin dalang harus nurut. kalo
dalangnya ngomong demokrasi, wayang-wayang yang digerakan
juga harus teriak demokrasi. Lha piye...aku demokrasi yang
dimaksudkan juga gak paham. Saya nih ya membebaskan ayam saya
untuk mencari makan di sawah ini, terus saya buatkan kandang
sebagai tempatnya tidur. Niatnya hanya supaya ayam ini bertelur di
kandang. Tapi saya tidak mempersoalkan ayam ini mau bertelur
banyak atau tidak. Saya juga tidak mempersoalkan jika ayam ini
tidak mau bertelur. Karena hasil dari telur itu sebagian aku jual
untuk membeli kebutuhan kita juga makanan ayam ini, dan
sebagian lagi telur ayam ini sebulan sekali kubagikan ke pemilik
sawah ini.” Kata Adul lagi.
“Ya, bapak sudah benar. Tapi apalah daya orang kecil seperti
kita ini yang sering mendapat perlakuan tidak adil sebab, kadang
demokrasi di dunia itu hanya untuk kaum berduit tebal. Namun, jika
kamu disuruh memilih antara Pak Haris atau Pak Joko lebih baik
ikuti kata hatimu Pak. Yang mana yang terbaik dan mana yang bisa
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 5
bertanggung jawab atas tugasnya nanti,” kata Bu Ina sambil
mengusap punggung suaminya itu.
Beberapa saat kemudian Adul terkaget-kaget. Bagaimana tidak,
lagi enak-enaknya berdiskusi dengan istrinya tiba-tiba di
hadapannya muncul si Idul, Dengan wajah yang semakin pucat lesu.
“Sudah ada keputusan Dul? Aku sangat berharap sekali dengan
suaramu memilih Pak Haris menjadi kepala desa di sini.” Kata Idul.
“Sudah. Dipemilihan nanti saya akan memilih Pak Haris sebagai
kepala desa. Tentang janji-janji itu. Saya tidak butuh. Saya ikhlas
mencoblos. Dan ini juga, tolong bawa kembali saja sembako ini, di
rumah masih ada. Saya ingin berlaku jujur untuk mencoblos bukan
karena suapan darimu,” kata Adul.
“Gak gitu juga sih Dul, ini hanya pemberian kok, tapi terima
kasih Dul karena sudah memilih Pak Haris, aku akan melaporkan
pesanmu ke Pak Haris. Tapi sembako ini untukmu Dul, Pak Haris
ikhlas memberi sembako ini.” Kata Idul.
“Ya sudah aku terima sembako ini.” Kata Adul sambil
meletakkan sembako itu di sampingnya. Idul tersenyum lega
“Akhirnya ia mau menerimanya,” gumam hati Idul. Belum hilang
senyuman Idul tiba tiba Adul mengambil sembako yang masih
tersimpan di sampingnya dan menyerahkannya kembali ke Idul.
“Tapi saya berikan kepadamu, jangan menolak. Saya tidak lagi
membutuhkan ini dan sampaikan salamku pada keluargamu
semua.”
“Iya, Dul, terima kasih banyak.”
Sambil berlalu dengan wajah yang berbinar-binar, Idul pun
beranjak pergi dari sana. Jerih payahnya merayu Adul tidak sia-sia,
dan juga sembako yang tadinya dia beli untuk Adul dari kantong
sakunya bukan dari kantong Pak Haris menambah kegembiraan
Idul.
***
6 Nyalanesia
Hari pemilihan tiba. Gegap gempita suasana TPS. Entahlah apakah
mereka yang hadir sekedar memilih atau paham akan sosok yang
dipilihnya kelak akan mensejahterakan desanya. Tak terkecuali si
Adul. Dengan wajah yang percaya diri dan langkah kakinya yang
dibuat-buat seperti langkah kaki orang-orang yang akan menyoblos
kebanyakan, namun yang membuat orang memperhatikan dia
adalah pakaian yang dikenakan Adul yaitu pakaian yang
kebanyakan tidak mau dipakai orang-orang di hajatan sekelas
nyoblos di TPS dia pun pakai. Bagaimana tidak? Adul memakai
sarung usang dan baju batik yang ketiaknya robek dan bahkan
kancing bajunya pun tinggal 3. Bukan masalah sopan atau tidak.
Persoalnya, baju yang tersisa di lemari Pak Adul ya…tinggal itu, baju
yang lainnya hanya baju kaos oblong dan 3 celana yang sering
dipakainya sehari-hari.
Di saat Adul mulai berjalan melangkah ke kotak pemilihan
suara. Segelintir orang mengamati segala gerak gerik Adul dengan
harap-harap cemas terutama dua sosok yang akan saling bertarung
dalam pemilihan siapa lagi kalo bukan dua orang calon kepala desa
yaitu Pak Haris dan Pak Joko. Namun yang sangat mengharapkan
suara Adul adalah saudaranya Idul. Bagaimana tidak? Sebab
reputasinya, bahkan pekerjaannya akan hancur jika Adul tidak
memilih Pak Haris menjadi kepala desa.
Setelah Adul mencoblos, ia pun berlalu meninggalkan TPS dan
beranjak menjual sup ayamnya lagi. Yang kemudian dihampiri oleh
si Idul untuk memastikan bahwa ia memilih Pak Haris.
“Dul, gimana tadi? Sip to?” Tanya Idul sambil mengacungkan
jempolnya namun ditanggapi dengan kebingungan oleh Pak Adul.
“Tadi? Pemilihan tadi? Sip!” Tanya lagi Idul.
“Pak Haris kan Dul?” Kata Idul.
“Iya, saya sudah pilih Pak Haris.” Semakin menyeruak senyum
dari si Idul. Namun tiba-tiba terkaget sesaat.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 7
“Tapi tadi saya, menyoblos keduanya Pak haris dan Pak Joko,”
kata Adul dengan wajah tenang.
“Tapi Dul? Kenapa nyoblos Pak Joko juga?”
“Lha, Pak Joko meminta juga. Bahkan Pak Joko lebih baik dari
pada Pak Haris. Pak Joko malah datang sendiri. Meminta aku
mencoblosnya. Namun juga janji-janji yang hampir mirip dengan
janji-janji yang diberikan Pak Haris. Jadi siapapun yang nantinya
terpilih Pak Haris atau Pak Joko itu rezekinya. Jangan terlalu
percaya bahwa suara saya itu selalu terpilih. Bisa saja nanti tidak.
Masa iya nanti karena saya memilih Pak haris dan Pak Joko, jadi
dua-duanya yang terpilih.”
8 Nyalanesia
TO BE BETTER
Sinar Rahmadani
Sebut saja namanya Galang, ia adalah anak yatim piatu dan memiliki
saudara perempuan yang bernama Aliza yaitu kakak perempuan
satu-satunya yang membiayai Galang sejak kepergian orang tua
mereka karena kecelakaan bus kota 10 tahun yang lalu.
"Galangggg!! Bangunnn udah jam berapa ini nanti kamu
kesiangan salat subuhnya dan sekolahnya.” Teriak Aliza mengetuk
pintu kamar Galang yang berulang kali tidak dihiraukan oleh Galang
yang masih tertidur pulas karena ia setiap malamnya selalu
nongkrong bersama teman-temannya dan pulang larut malam.
Sekitar 20 menit kemudian, Galang pun keluar dari kamarnya
sambil menggaruk kepalanya dan kebingungan mencari keberadaan
kakaknya yang telah berangkat kerja terlebih dulu. Galang melihat
ke arah jam dinding yang menandakan sudah jam 6.30, yang artinya
sedikit lagi dia akan terlambat ia tidak mau dihukum seperti
biasanya. Ia langsung mandi dan bersiap-siap dengan seragam
sekolahnya dan tidak lupa memakan sarapan yang telah dibuat oleh
Aliza. Galang sedikit kesal karena kakaknya tidak meninggalkan
uang jajan untuknya.
"Aduhhh gawat gua telat lagi, gerbang udah ditutup sama Pak
Tono. Apa bolos aja kali yak?" Ucap Galang yang tidak jauh dari
gerbang.
Tidak berpikir lama Galang langsung memutar balik arah
motornya dan menuju ke arah tongkrongan tempat ia bolos
bersama teman-temannya.
"Hey bro." Ucap temannya sambil memberikan salam kepada
Galang dan memegang rokok di tangan sebelahnya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 9
"Hey." Balas Gilang yang turun dari motor dan melepas
helmnya.
"Bagi rokok dong, bro," ucap Galang dan mengambil sebatang
rokok di atas meja.
"Lu gak punya duit?"
"Kakak gua gak bagi duit, males gua. Pinjam duit lo dong."
"Buat apaan? Yang kemaren aja lu belum ganti, enak aja main
pinjam-pinjam. Sono minta duit sama kakak lu kan dia udah kerja
tuh."
"Yaelah pelit banget sih, kalau gua ada duit gua bakal ganti.
kakak gue mana ada duit." Ucap Galang sambil menghembuskan
asap rokoknya ke udara.
Matahari panas semakin terik menunjukan waktu sudah siang
dan waktu pulang sekolah. Galang dan teman-teman bolosnya masih
di tempat yang sama.
"Ada mangsa nih, palakin gih." Ucap temannya yang sambil
melirik ke arah Galang.
"Hehhh bocah tengil sini lo!" Teriak Galang kepada adik
kelasnya yang memakai kacamata dan baju yang dimasukkan ke
dalam celananya itu.
"S-ssaya Kak?" Ucapnya dengan gagap dan gemetar.
"Iya elu! Siapa lagi yang tengil selain lo di sini." Ucap Galang
yang mengundang gelak tawa teman-temannya.
Adik kelas itu pun jalan sambil menunduk dan gemetar ke arah
Galang.
"Bagi sini dompet dan tas lo."
"Saya gak punya duit Kak."
"Alahhh bohong lu."
10 Nyalanesia
Galang langsung mengambil dompet di saku celana adik
tersebut dan merampas tas lalu memeriksanya dengan paksa.
"Wihhhh uang merah nihh." Ucap Galang yang mendapati uang
dari dompet anak tersebut.
"Jangan Kak, itu uang buat saya beli kue ultah mama
saya."
Adik itu berusaha keras merebut kembali uang itu tapi tidak
berhasil karena berhasil dihalang oleh teman-teman Galang.
"Lah ada apa itu di sana ribut-ribut? Bukannya itu anak sekolah
di sini yah, seragamnya terlihat sama. Wahh bahaya ini."
Pak Tono yaitu satpam sekolah mereka, yang tidak sengaja
lewat kemudian melihat kericuhan yang tidak jauh dari arahnya
berdiri langsung segera menghampiri mereka.
"HEH! PADA APAAN INI KALIAN SEMUA?!"
Galang dan teman-temannya sontak kaget melihat ke arah Pak
Tono. Galang langsung melepas tangannya yang memegang kera
baju adik kelas itu dan memperbaikinya kembali.
"Hehehe, nggak Pak ini kita cuman bercanda doang kok sama
anak ini, iyakan Dek?" Tanya Galang memegang pundak adik yang
bernama Aris itu dengan agak keras.
Adik kelas itu hanya menunduk dan mengambil uang yang
telah direbut oleh Galang darinya.
"KALIAN SEMUA IKUT SAYA KE BK SEKARANG!"
Sesampainya di ruang BK.
"Jangan dong Buuu, kita jangan diskors janji Bu gak akan bolos
da ganggu adik kelas lagi."
"Iya Buu hukum aja kita Bu asal jangan diskors." Ucap Galang
dan teman-teman lainnya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 11
"Sudah kalian semua diam! Sekarang kalian telpon orang tua
kalian dan suruh datang ke sekolah sekarang, ibu mau ketemu sama
mereka dan bicara tentang kenakalan kalian. Ini bukan yang
pertama kalinya kalian berbuat seperti ini, saya muak dengan kalian
yang tidak pernah kapok! Apa kalian tidak memikirkan masa depan
kalian bagaimana nantinya? Kalian tidak memikirkan berapa biaya
yang dikeluarkan orang tua kalian untuk kalian bisa sekolah?!"
Galang sekejap termenung memikirkan akan menyuruh
kakaknya datang apa tidak. Ia tidak mau kakaknya marah sekaligus
kecewa terhadapnya. Galang melihat teman-temannya yang lain
sudah menelpon orang tua mereka, akhirnya Galang dengan
terpaksa menelpon kakaknya Aliza.
Setelah penyelesaian masalah telah selesai, Aliza da Galang
sudah sampai di rumah. Suasana tampak sunyi.
"Lang, mendingan sekarang kamu ambil air wudu lalu bergegas
salat Jum'at di masjid. Kakak sudah lelah dengan sikap kamu yang
begitu nakal setidaknya ibadah kamu harus tetap dijaga. Sekarang
diusia kamu yang sudah SMA setidaknya kamu harus sadar sedikit
kamu itu sudah beranjak dewasa." Ucap Aliza yang duduk di sofa
sambil memberi nasihat kepada Galang.
"Kakak gak usah so alim deh! Gak usah urus-urus aku salat
Jum'at. Kakak kalau mau salat yah salat sana gak usah suruh-suruh
aku!" Ucap Galang membentak kepada kakaknya.
"Galang, memang kakak bukan wali yang baik dan kakak yang
baik untuk kamu, tapi setidaknya kamu harus ingat, kita sudah
berada diakhir zaman, Lang. Mempersiapkan amal dan ibadah
untuk bekal nanti di akhirat sangat penting untuk sekarang. Tanda-
tanda hari akhir sudah berada di mana-mana. Kakak gak mau kamu
rugi dan menyesal dikemudian hari. Kakak harap kamu mau
merubah sikap dan memperbaiki amal ibadahmu. Kakak sayang
sama kamu, Lang." Ucap Aliza yang penuh penghayatan lalu
beranjak pergi dari sofa.
12 Nyalanesia
Ucapan Aliza membuat Galang terdiam dan memikirkan
perbuatannya selama ini. Banyak dosa yang telah Galang lakukan. Ia
takut akan menyesal dikemudian hari dan tidak mempersiapkan
dirinya untuk hari akhir nanti.
Galang bergegas mengambil air wudu dan pergi salat Jum'at di
masjid menggunakan motornya.
"Ehh ehh kenapa nih ko berhenti sih." Kesal Galang karena tiba-
tiba saja motornya terhenti berjalan di tengah perjalanan.
"Aduhhh harus banget yah berhenti di sini, mana gak ada yang
jualan bensin di sekitar sini lagi sialll."
"Kenapa bang motornya? Habis bensin ya?"
Galang yang sedang jongkok langsung berdiri dan menoleh ke
belakang dan ternyata itu adalah adik kelas yang tadi siang ia palak.
"Ehh kamu."
"Tunggu ya kak di sini, saya beliin bensin dulu di sana."
Belum sempat Galang berbicara adik kelas itu langsung
bergegas pergi menaiki motornya.
"Itu adek baik banget, jadi gak enakkan gue. Aduhh merasa
bersalah banget sama dia gara-gara tadi." Ucap Galang dalam
benaknya.
Mereka bersama-sama berangkat untuk salat Jum'at dan
mendengarkan khutbah tentang beriman kepada hari akhir. Yang
bisa dicermati Galang dari khutbah tersebut intinya kita harus
selalu harus berbuat baik kepada semua orang dan mempersiapkan
diri dan bekal yaitu salat, berbuat baik, dan bersedekah.
"Aris gua mau minta maaf dan berterima kasih sama lo buat
hari ini, gue harap lo mau maafin gue." Ucap Galang yang berjalan
keluar pintu masjib bersama Aris.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 13
"Iya kak gua maafin. Kakak harus tobat mulai sekarang
perbaikin diri jadi lebih baik." Ucap Aris memberhentikan
langkahnya.
"Yaudah gue balik duluan ya Ris, lo kalau ada yang gangguin
ngomong ama gue ya."
"Haha iya bang, hati-hati di jalan." Ucap Aris yang kemudian
bergegas pulang juga.
Selama masa skors ini, Galang berusaha memperbaiki dirinya
menjadi pribadi yang baik, menjaga salatnya dan tidak membantah
kepada Aliza. Aliza tampak senang dengan adiknya yang sudah
sadar dan mau berubah dan menyikapi hari akhir dengan sebaik-
baiknya.
14 Nyalanesia
KELAPANGAN HATI
Miftah Khairunnisa
Pada suatu hari, di Senin pagi yang damai semua siswa-siswi
Sekolah Menengah Atas Negeri 10 Bandung tepatnya kelas XII IPA
Unggul sedang menunggu guru mereka untuk mengajar di kelas.
Suasana panas dan letih selepas upacara membuat mereka agak
lelah untuk mengikuti kegiatan belajar tapi karena guru mata
pelajaran pertamanya asik, merekapun semangat menjalani hari.
Tak lama kemudian guru itupun datang dengan menggunakan tas
ransel kesayangan miliknya dan juga buku cetak fisika yang selalu ia
pegang di tangan kanannya.
“Assalamualaikum anak-anak,” ucap Pak Ridwan sembari
melepas tasnya dan berjalan menuju meja guru.
“Wa’alaikumussalam pak guru,” serentak siswa-siswi
membalas salam yang diucapkan oleh Pak Ridwan.
“Apa kabar anak-anakku sehat? Bagaimana upacaranya tadi?”
Tanya Pak Ridwan dan duduk dengan rapi di kursinya.
“Sehat Pak!!” Jawab seluruh siswa.
“Panas Pak dan juga ada beberapa siswa yang saya lihat jatuh
pingsan,” jawabannya dilanjutkan oleh Rizki sang ketua kelas.
“Loh, kok bisa pingsan? Apa mereka tidak sarapan ya?” Kata
Pak Ridwan.
“Sepertinya begitu Pak.”
“Waduh bahaya kalau tidak sarapan. Nanti kita bisa sakit dan
juga terganggu jam pelajarannya loh. Kalau begitu sekarang bapak
tanya kalian…ada yang tidak sarapan ya pagi ini?” Tanya Pak
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 15
Ridwan dan mulai membuka buku cetak fisika yang sedari tadi ia
pegang.
“Sarapan semua Pak,” jawab mantap seluruh siswa-siswi.
“Nah bagus semuanya, kalau begitu sebelum kita mulai belajar
ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu. Rizki tolong dipimpin ya,”
ucap Pak Ridwan.
“Siap iya Pak.”
Setelah doa, pak guru pun memulai pelajaran. Ia menuliskan
beberapa rumus dan penjelasan yang membuat beberapa murid
pusing. Dia juga memberikan tugas rumah yang harus dikumpul
minggu depan saat pertemuan pembelajaran fisika.
Sekitar satu setengah jam, pelajaran fisika pun selesai dan pak
guru mengakhiri pertemuan kali ini.
“Sekian dari pak guru semoga pelajaran kali ini dapat dipahami
dengan baik. Terima kasih anak-anak, bapak pamit.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,” ucap Pak Ridwan
dan berjalan keluar kelas.
“Wa’alaikumussalam iya Pak.”
Selang beberapa waktu Pak Ridwan meninggalkan kelas, Bu
Hana dengan tiba-tiba masuk ke dalam kelas.
“Anak-anak untuk pelajaran ibu yaitu biologi, berhubung
bukunya masih dipesan kalian bisa mengumpul uang seharga
30.000. Bendaharanya siapa?” Tanya Bu Hana.
“Saya Bu, Rara,” ucap Rara sambil mengangkat tangannya.
“Oke Rara uangnya dikumpul sama kamu ya. Jangan lupa untuk
catat nama-nama teman kamu yang ambil bukunya. Kalau sudah
terkumpul semuanya, besok kamu bisa bawa ke meja bu guru.”
“Iya bu guru.” Ucap Rara.
Bu Hana meninggalkan kelas, disusul Bu Mira yang memasuki
kelas untuk melanjutkan pembelajaran yaitu PKN.
16 Nyalanesia
KRINGGG …………
Waktu istirahat pun tiba, semua siswa-siswa SMAN 10
Bandung mulai berlarian dan berkerumun di sekitaran kantin. Lain
halnya dengan kelas XII IPA Unggul yang bendaharanya sedang
sibuk mengumpulkan uang buku.
“Ayo teman-teman yang mau bayar uang buku boleh hari ini
dan boleh juga besok.” Ucap Rara seraya mencatat nama siswa-siswi
yang telah mengumpul uang kepadanya.
“Aku besok ya Ra,” kata Dinda.
“Aku juga besok ya Ra,” sahut Bastian.
“Boleh boleh boleh,” jawab Rara untuk keduanya.
“Teman-teman aku mau nanya.” Ucap Silvia tiba-tiba membuat
suasana yang tadinya ricuh kini menjadi hening.
“Iya Vi?” Respon Rara.
“Kalau aku tidak ambil buku boleh? Soalnya ada yang harus
dibayar juga, takutnya uangnya tidak cukup.” Jawab Silvia.
“Kalau soal itu, sepertinya aku dan Rizki bisa bicarain dengan
Bu Hana deh. Kebetulan setelah ini aku mau ke kantin dan arah
kantin kan sejalan dengan ruang guru, jadi kira-kira aku bisa
mampir ke ruang guru untuk bahas ini sama Bu Hana,” ucap Rara
penuh keyakinan.
“Makasih banyak ya Ra.” Kata Silvia dengan mimik wajah yang
sangat senang.
“Iya Vi sama-sama.”
Keesokan harinya, suasana di kelas penuh dengan aura
semangat. Waktu mata pelajaran olahraga telah tiba, ini adalah saat
untuk bermain di luar kelas selain pada saat jam istirahat.
“Teman-teman aku izin ya tidak ikut pelajaran olahraga
soalnya aku sedang tidak enak badan,” ucap Fikri di sela-sela murid
yang lain sedang mengganti sepatu.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 17
“Iya Fikri, aku bakal izinkan kamu ke Pak Bambang,” sahut
Rizki sang ketua kelas.
“Makasih ya Ki.”
“Iya Fik.”
Di sekitaran jam 09.20, beberapa murid lainnya sedang
melakukan praktek pengambilan nilai sedangkan Silvia, Ningsih,
Ahmad, Tania, Dennis, Karina, Lucas, dan Gisel telah selesai
melakukan pengambilan nilai harian mata pelajaran olahraga. Di
sela-sela itu, Silvia izin kepada Pak Bambang untuk kembali ke kelas
mengambil minuman botol di tasnya.
Dalam perjalanannya ke kelas, tepatnya di depan pintu ia
mendengar ada suara barang jatuh, dia pun mencoba mengintip dan
melihat ada Fikri yang sedang menggeledah tas milik Rara. Melihat
hal tersebut, Silvia pun masuk ke kelas dan bertanya ke Fikri.
“FIKRI!” Ucap Silvia dengan suara yang lantang.
“Ka…kamu ngapain di sini?” Tanya Fikri dengan keadaan kaget
dan panik.
“Aku mau ambil botol minuman dan tiba-tiba melihatmu
berada di meja milik Rara dengan menggeledah tasnya. Lalu apa ini
Fikri?” Kata Silvia sembari menunjuk dompet Rara yang jatuh di
lantai.
“Emm tidak usah ikut campur kamu Vi! Ini aku disuruh Rara
ambil dompetnya,” ucap Fikri melakukan pembelaan.
“Tapi Rara kan dari tadi sama aku dan teman-teman yang
lainnya. Dia tidak ke kelas dari tadi.”
“Udah kamu tidak usah ikut campur, pokoknya kamu harus
diam atas kejadian ini. Awas jangan sampai kamu bicara tentang hal
ini,” ucap Fikri dengan nada mengancam sambil mengacungkan
kepalan tangannya ke wajah Silvia. Dengan bergegas Fikri
meninggalkan Silvia yang masih berdiri mematung karena
mendapat ancaman dari Fikri.
18 Nyalanesia
Beberapa saat kemudian, seluruh siswa-siswi kelas XII IPA
Unggulan pun kembali ke kelas. Beberapa lainnya keluar kembali
untuk mengganti baju seragam mereka dan beberapa lainnya juga
sedang mengganti sepatu di dalam kelas. Tiba-tiba Rara pun
berteriak dan panik. Anak-anak kelas pun bingung dan mulai
bertanya kepada Rara.
“Ada apa Ra?” Tanya Ningsih sembari menepuk pundak Rara.
“Iniloh uang buku yang aku simpan di dalam dompet hilang,”
ucap Rara panik.
“HAHHH?” Seisi kelaspun ikut panic.
“Memangnya kamu simpan di mana dompet kamu Ra?” Tanya
Rizki memastikan.
“Di dalam tas Ki, tapi pas aku balik tasku udah berantakan.”
“Siapa sih yang tadi ada di kelas sebelum aku balik?” Tanya
Rara.
“Setahu aku sih, Silvia Ra,” jawab Ahmad.
“Kan udah aku duga sih, kamu kan Vi? Aku tahu kamu gabisa
bayar uang buku karena kamu miskin tapi bukan berarti kamu bisa
ngambil uangnya. Tahu diri dong Vi,” ucap Rara marah ke Silvia.
“Ta-tapi bukan aku Ra,” kata Silvia dengan air mata yang mulai
berlinang.
“Halah kamu kok.”
“Udah-udah Ra. Untuk sekarang kita coba lihat tas Silvia dulu
kalau memang bukan dia, kita pikirkan lagi siapa yang terakhir ada
di kelas,” ucap Rizki melerai.
Silvia pun digeledah mulai dari tas dan bawah mejanya. Tiba
tiba…Rizki mengeluarkan sebuah dompet yang terselip di antara
sela buku yang tergeletak di samping tas Silvia.
“Ra…apa ini dompet kamu?” Tanya Rizki sambil menyerahkan
dompet berwarna pink ke Rara.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 19
“Ia benar… ini dompetku.” Sahut Rara mengambil dompet dari
tangan Rizki dan memeriksa isi dompetnya.
“Tapi duitnya dah gak ada nih….” Sambil membuka buka
dompet memeriksa isinya yang sudah raib.
“Hey…kamu umpetin di mana duitnya…dasar orang miskin!”
Teriak Rara sambil mendorong tubuh Silvia yang hanya bisa
menangis.
“Sumpah Ra…bukan aku yang mengambilnya.” Isak Silvia
sambil menyandarkan tubuhnya di tembok kelas dekat meja.
“Terus kenapa bisa dompetnya ada di samping tasmu hah?”
Bentak Dinda dan Bastian hampir bersamaan.
“Sudah...sudah...kita coba bicara baik-baik dule ke Silvianya.
Gak boleh langsung nuduh gitu.” Lerai Rizki untuk menenangkan
kondisi kelas yang mulai gaduh.
“Vi sekarang aku nanya, kamu tadi disini kan? Kamu lihat
tasnya Rara sudah terbuka apa gimana? Atau kamu lihat orang yang
mengambil uangnya?” Tanya Rizki memastikan.
“Maaf ya teman-teman, maaf juga Fikri. Tapi Rizki dan Ra, yang
ngambil uangnya bukan aku tapi Fikri,” ucap Silvia dengan
menundukkan kepala sambil menunjuk ke arah Fikri yang sudah
bersiap mengambil kaki seribu. Semua pandangan mengarah ke
Fikri. Fikri tak dapat mengelak kecuali hanya tertunduk malu.
“Kamu Kri? Kok tega sih. Katanya kamu sakit tahu-tahunya
kamu gini yaa Fikri?!” Ucap Rara kesal kepada Fikri.
“Maaf ya teman-teman aku ngga dikasih uang jajan dan juga
uang buku cetak makanya aku gini. Maaf juga ya Sil…karena tadi aku
ngancam.” Kata Fikri dengan nada memohon.
“Kalau gitu gakpapa, asal kamu jangan ngulangin hal yang sama
ya Fikri. Kalau kamu ada masalah, cerita saja siapa tau kita bisa
bantu. Dan aku juga minta maaf kepada Silvia karena asal nuduh
20 Nyalanesia
kamu yang ambil uang buku dan juga perkataan aku yang sudah
sakitin kamu.” Kata Rara.
“Iya Ra iya Kri, Rara lain kali kamu jangan asal nuduh ya kalau
belum ada bukti yang kuat,” ucap Silvia tersenyum.
“Yaudah sekarang gapapakan? Gimana kalau Fikri dan Silvia
kita bantu bayar uang bukunya dengan cara kita kumpul uang untuk
mereka?” Sahut Rizki.
“Ide bagus,” sahut teman-teman lainnya.
Akhirnya mereka pun membantu Silvia dan Fikri dan mereka
semua berbaikan.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 21
PENYESALAN
Fitri Awalia
Helga baru saja pulang dari club malam dalam keadaan setengah
sadar akibat minuman alkohol yang dikonsumsinya di sana. Gadis
yang memakai pakaian terbuka itu berjalan secara perlahan
memasuki rumahnya yang gelap gulita.
“Darimana kamu?” Mendengar suara tersebut Helga
menghentikan langkahnya. Menengok ke asal suara, Helga
menemukan sang ayah yang sudah tua renta sedang menatap ke
arahnya.
“Bukan urusan ayah!” Jawab Helga dengan ketus.
Saat melihat sang ayah yang akan menasihatinya, Helga
bergegas memasuki kamar tanpa mau mendengar lagi perkataan
ayahnya.
Ayah Helga yang melihat kelakuan anaknya mengelus dada lalu
berdoa dalam hati agar Allah memberi hidayah kepada anaknya,
karena hal tersebut bukan sekali dua kali Helga melakukannya.
Menegur dan memarahi pun sudah sering, tapi yang didapatinya
hanyalah bentakan dan juga perilaku kasar dari Helga.
Di dalam kamar, Helga melempar asal tasnya dan berjalan
menuju nakas yang berada di dekat kasurnya. Mendudukan diri di
kasur, Helga membuka laci nakas lalu mengambil serbuk putih yang
kita kenal dengan narkoba, Helga pun mengonsumsi benda tersebut
tanpa berpikir dua kali akan dosa yang telah diperbuatnya.
Mulai merasakan efek dari benda tersebut, Helga memilih
untuk tidur dan melupakan sejenak pikiran tentang ibunya yang
meninggalkan dirinya serta ayahnya.
22 Nyalanesia
Kebesokan harinya
Helga terbangun pada siang menjelang sore hari. Menuju kamar
mandi untuk cuci muka lalu melangkah keluar kamar, Helga
mendapati rumahnya yang sudah kosong karena ayahnya sedang
bekerja.
Merasakan lapar, Helga menuju ke dapur dan tidak
mendapatkan satupun makanan akhirnya ia menuju ke kamar
ayahnya untuk mengambil uang, karena uang yang diberikan
ayahnya telah ia habiskan untuk membeli minuman alkohol dan
juga barang haram yang dia konsumsi semalam. Setelah
mendapatkan apa yang dia cari, Helga pun keluar untuk membeli
makanan.
Saat pulang usai membeli makan, Helga melihat ayahnya
sedang terduduk di meja makan dengan menatap nanar rokok,
minuman keras, dan juga narkoba yang dikonsumsi Helga selama
ini. Helga pun kaget saat melihat sang ayah mendapatkan benda
yang dia sembunyikan selama ini.
Mendapati anaknya sudah pulang, Ayah Helga menoleh kepada
putrinya. “Apa ini Nak? Ayah tidak pernah mengajarkan kamu
melakukan ini.” Mata ayah Helga berkaca-kaca, hatinya hancur
mengetahui putri satu-satunya melakukan hal yang sudah sangat
tidak dibenarkan.
“Emangnya kenapa? Suka-suka aku dong, ayah nggak berhak
atur hidup aku. Urus saja hidup ayah sendiri!” Bantah Helga kepada
ayahnya.
“Ayah ini ayah kamu Helga! Nggak seharusnya kamu ngomong
gitu sama ayah, tolong Nak dengar kata ayah, kamu harus menjauhi
semua barang haram ini. Kamu istigfar Nak, ingatlah kepada Allah
sebelum semuanya terlambat dan kamu menyesal.” Ucap sang ayah
sambil menangis.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 23