The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fanantya, 2022-10-10 04:49:43

CERPEN DIVERSITY JILID 3

cerpen

1 Bulan kemudian

Sudah banyak pengalaman mulai dari senang hingga sedih.
Membuat kelas menjadi tenang itu memang sudah tanggung
jawabku. Fiona sudah menjadi anggota osis. Dina pun menjadi
seketaris osis saat voting. Dan ketuanya itu Rio, wakilnya itu Andi,
behandaranya itu Sasha. Aku harap mereka bisa menjadi lebih baik.

Dan saat ini, aku sedang berjalan menuju kantin. Tapi saat di
tengah jalan, aku melihat seorang lelaki menjatuhkan uangnya. Tapi
dia tak sadar dan lari. Aku pun mengambil uang itu. Niatnya aku
mau mengembaikan uang ini, tapi aku tak tau siapa dia. Sementara
aku simpan dulu uang ini. Akan kuserahkan kepada guru. Siapa tau
bisa menanyakan yang lain. Kebetulan ada Bu Yuni lewat. “Bu Yuni.”
Sapaku. Lalu Bu Yuni menoleh kepadaku. “Bu, saya menemukan
uang orang terjatuh tadi.” Lalu aku menyerahkan uang 20.000,00
kepada Bu Yuni.

“Terima kasih Nak. Nanti ibu tanya yang lain ya…” Ucap Bu
Yuni lalu pergi. Aku pun lanjut ke kantin. Tiba-tiba saja aku tak
sengaja tertabrak dengan seseorang. “Air minumku!!” Teriak orang
itu karena air minumnya jatuh dan tumpah. “Ah..aku minta maaf ya.”
Ucapku. Dan yang kutabrak itu Nana, adik kelas 5 SDI Al-Kadih. Aku
kenal dia karena dia pemenang lomba cerpen nasional. “Air
minumku… tumpah…” Ucap Nana lesu. “Aku traktir kau minum aja
ya? Sebagai permintaan maaf.” Ucapku. “Apakah boleh?” Tanya
Nana ragu. Aku mengangguk dan tersenyum. “Yey…terima kasih
kak.” Ucap Nana. Aku sudah memaklumkan itu. Anak-anak suka
ditraktir minuman dan makanan. Tapi aku mentraktirnya ikhlas
kok. Aku dan Nana pun menuju ke kantin bersama. Aku membelikan
Nana susu kotak. Nana terlihat riang. Dia memang anak kecil yang
cerdas dan jahil.

Beberapa menit kemudian, Nana sudah kembali ke kelasnya.
Aku pun dipanggil Bu Yuni untuk ke ruang guru putri. Aku pun
menuju ke ruang guru putri. Aku pun mengetuk pintu dan masuk.
“Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Terlihat Bu Yuni duduk

124 Nyalanesia

dengan lelaki yang uangnya jatuh. Lalu Bu Yuni menjelaskan kalau
ini yang uangnya tadi jatuh. Bernama Bang Vino. “Terima kasih
Hana sudah menemukan uangku. Lagipula ini untuk kusumbangkan
ke panti asuhan.” Ucap Bang Vino sambil memasukkan uang ke
kotak amal. “Alhamdilillah.”

“Tidak apa apa kok bang. Itu memang sudah menjadi tanggung
jawab Hana.” Ucapku. Lalu bel pun berbunyi. “Ha..sudah bel. Silahkan
kembali ke kelas masing-masing.” Ucap Bu Yuni. Aku dan Bang Vino
salam Bu Yuni lalu kembali ke kelas. Aku pun masuk ke kelas. Tapi
aku melihat Felly menangis. Aku pun menghampiri Felly. Aku
menanya Nia kenapa dia menangis. “Tadi Felly dan Farsha kelahi
karena berebutan ingin sekelompok dengan Naila untuk latihan
menari.” Jelas Nia. Saat pelajaran Seni memang disuruh 2 orang 1
kelompok untuk menari. Aku juga tau kalau Naila itu memang
teman favorit kelas. Tapi kenapa sampai nangis begini.

“Tadi Farsha membentak ke Felly. Itu yang membuat Felly
nangis.” Lanjut Nia. Aku kaget. Semarah itukah Farsha sampai
membentak Felly. “Di mana Farsha?” Tanyaku. “Di luar.” Ucap Sinta.
Aku pun keluar dan melihat Farsha yang hanya melihat
pemandangan, tapi ekspresinya cemberut. Aku menghampirinya.
“Farsha.” Ku panggil dia, tapi dia tak menoleh. Aku pun memegang
pundaknya, tapi dia menepis tanganku. “Ah…Hana.” Dia kelihatan
ragu.

“Kau menganggap Felly itu apa?” Ucapku. Alhasil dia kaget dan
tidak mau memandangku. “Kalau kau bersahabat dengan Felly,
sudah pasti kau akan berkelompok dengannya.” Ucapku tanpa ragu.
Dia tetap diam. “Dulu…aku tidak punya teman..tidak ada yang mau
berteman denganku…” Ucap Farsha. Aku bingung dan tetap
mendengarkan. “Banyak…hiks..yang bilang aku…hiks aku
terlalu…hiks…mementingkan diri sendiri..hiks,” ucap Farsha. Tentu
saja aku kaget melihat dia menangis. Aku harus menyelesaikan
masalah ini, karena aku ketua kelas. Lagipula guru belum datang.
“Farsha, setiap manusia ada kesalahan. Tapi.. setiap kesalahan dapat

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 125

diperbaiki bagaimanapun caranya. Kita kalau merasa ada yang salah
dalam diri kita, kita harus memperbaiki itu. Masalah akan lebih
cepat selesai kalau minta maaf.” Ucapku sambil menenanginya.
Farsha terdiam dan menatapku. “Mungkin mereka benar, aku terlalu
egois. Aku terlalu mementingkan diri sendiri. Aku akan minta maaf
ke Fally. Ini memang sudah menjadi tanggung jawabku.” Ucap
Farsha Lalu dia masuk ke kelas. Farsha pun menghampiri Felly dan
meminta maaf. Felly pun memaafkan Farsha. “Lebih enak damai
daripada kelahi terus.” Ucap Fiona. Aku dan yang lain pun setuju.
Lalu Bu Weni datang ke kelas. Semuanya pun kembali ke tempat
duduk masing masing.

Setiap perbuatan kita yang salah, kita harus tanggung jawab.
Ada banyak tanggung jawab yang harus kita tanggung. Mulai dari
tanggung jawab terhadap Tuhan, tanggung jawab terhadap orang
lain, tanggung jawab terhadap diri sendiri, dan lain-lain. Seperti aku
yang menjadi ketua kelas, harus tanggung jawab agar kelas tidak
ribut dan nyaman. Lalu ada tanggung jawab kita semua di sekolah,
yaitu menjaga kebersihan lingkungan dengan cara tidak membuang
sampah sembarangan. Dan ada tanggung jawab orang lain, seperti
tidak sengaja menjatuhkan dan merusak barang orang lain. Maka kita
harus minta maaf dan tanggung jawab.

Contoh tanggung jawab di sekolah yaitu jika kita menemukan
uang yang bukan milik kita, maka kita harus mengembalikkan
kepadanya atau titip dengan guru. Di kehidupan harus ada tanggung
jawab. Entah dimanapun dan kapanpun. Tanggung jawab itu sangat
penting dalam kehidupan jika ada masalah. Aku sebagai ketua kelas
bertanggung jawab untuk membuat kelas tetap nyaman dan aman,
begitu juga dengan wakil. Dan Osis harus bertanggung jawab untuk
menjaga sekolah dari perbuatan buruk. Jika kita melakukan
tanggung jawab, semuanya akan selesai.

Tanggung jawab adalah sebuah perbuatan yang dilakukan oleh
setiap individu yang bedasarkan atas kewajiban maupun panggilan
hati seseorang, yaitu sikap yang menunjukan bahwa seseorang

126 Nyalanesia

tersebut memiliki sifat kepedulian dan kejujuran yang sangat tinggi.
Timbulnya tanggung jawab itu karena bermasyarakat dengan yang
lainnya dan hidup bersama di lingkungan alam.

Inilah cerita tentang Sekolahku Tanggung Jawabku. Semoga
bermanfaat dan dapat dimengerti. Artikel ini bercerita supaya lebih
gampang dipahami contoh dari tanggung jawab di sekolah. Mohon
maaf sebesarnya jika ada kesalahan.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 127

BERTOBAT

Resi Dwi Wulandari

“Pitri! Kamu sudah salat Nak?” Tanya ibu Hana memanggil Pitri
dari balik pintu kamarnya.

Pitri sama sekali tidak memperdulikan ucapan sang ibu dan
memilih asik bermain dengan ponselnya. Dirasa sudah cukup lama
sang anak tidak menanggapi ucapannya, ibu Hana lantas mengetok
pintu kamar sang anak sematawayangnya lalu masuk ke dalam.

“Pitri, kamu sudah salat asar sayang? Sudah waktunya loh ini.”
Ibu Pitri menunjuk jam dinding yang berada tepat sebelah kirinya.

“Malas ah, sudahlah ibu lebih baik masak saja sana. Jangan
ganggu Pitri.” Ucap Pitri menggerutu seraya mendorong ibunya
untuk keluar dari kamarnya.

“Astagfirullahal’adzim… Ya Allah nak…nak...” Ucap ibu Hana
sambil mengelus dada. Entah apa yang membuat anaknya berubah
drastis seperti itu.

Sudah hampir sebulan Pitri berubah menjadi anak yang tidak
bisa di atur dan tidak mau mendengar nasihat dari ibu dan ayahnya.
Sejak berteman dengan Neta siswa pindahan dari salah satu sekolah
favorit di kotanya.

Setelah ibunya pergi, Pitri langsung membalas pesan dari
temannya yang mengajaknya pergi ke salah satu club ternama yang
berada di jantung ibukota. Pitri segera bangun dari tempat tidurnya
dan berjalan menuju lemari untuk memilih baju yang akan ia
kenakan sebentar malam.

Malam pun tiba, setelah melihat ibu dan bapaknya masuk ke
dalam kamar sehabis menonton TV. Pitri diam-diam membuka
kamarnya lalu berjalan keluar rumah. Pakaian yang ia kenakan

128 Nyalanesia

sama sekali tidak menerapkan ajaran Rasulullah yang mewajibkan
untuk setiap wanita muslim untuk menutup auratnya dengan
memakai jilbab juga memakai pakaian yang sopan.

Pitri memakai pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk
tubuhnya dan juga mengurai rambutnya. Sangat berbanding
terbalik dengan sang ibu yang memakai jilbab panjang juga
bapaknya yang merupakan ustaz di kompleks mereka.

Beberapa menit kemudian, teman Pitri sampai di depan
rumahnya dan Pitri langsung masuk ke dalam mobil temannya itu.
Mereka pun berangkat menuju club yang telah disepakati bersama
sore tadi.

Saat memasuki club, suasana yang ramai dan temaram, aroma
parfum dan rokok memenuhi ruang napas. Mereka langsung
disambut dengan aroma minuman keras dan beberapa orang yang
berjoget dalam keadaan mabuk. Hentakan musik terdengar keras.
Pitri sama sekali tidak terganggu, karena ini bukanlah kali pertama
dirinya memasuki club. Ia sudah sering pergi diam-diam bersama
temannya, tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya.

Pitri dan teman-temannya asik menikmati minuman dan
suasana di club, hingga lupa akan waktu. Pitri tidak minum terlalu
banyak agar tetap bisa was-was dari orang tuanya saat pulang ke
rumah.

“Pit, joget yuk.” Ajak salah satu temannya yang bernama Neta.

Pitri menganggukkan kepalanya, mengiyakan ajakan temannya
itu. Dia bergabung dengan yang lainnya untuk berjoget mengikuti
alunan musik yang sedang diputar.

Setelah puas menikmati waktu di club, mereka pun segera
pulang dengan mengantar Pitri ke rumahnya terlebih dahulu.

“Bye, lanjut besok lagi yaa.” Ucap Pitri yang diancungkan
jempol oleh temannya sebagai tanda mengiyakan ucapannya.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 129

Begitu mobil temannya telah menghilang, Pitri sangat hati-hati
memasuki rumahnya karena takut membangunkan ibu dan
bapaknya. Tapi siapa sangka, sang ibu ternyata sudah menunggunya
di ruang tamu. Beliau terlihat masih sangat mengantuk, tetapi
seketika berubah ketika melihat pakaian anaknya dan juga aroma
alkohol yang tercium.

“Astaghfirullahaladzim Pitri, kamu darimana saja dengan
pakaian seperti ini dan mana jilbab kamu?” Tanya ibu Pitri yang
mendekati anaknya menatapnya dari ujung kaki hingga ujung
kepala.

“Ibu dan bapak kamu tidak pergi mengajarimu seperti ini.
Semua ini salah dan Allah SWT sudah menjelaskan dalam Al-Qur’an
tentang larangan meminum alkohol.” Mata ibu Pitri berkaca-kaca
menjelaskannya kepada sang anak.

“Udah deh, ibu jangan ceramahi aku mulu. Aku itu udah gede,
jadi terserah aku dong.” Marah Pitri yang langsung berjalan ke
kamarnya, meninggalkan sang ibu yang tercengang melihat
kelakuannya.

“Astagfirullah, semoga kamu cepat sadar Nak.” Ucap ibu Pitri
dalam hatinya.

Keesokan harinya

Tidak kapok telah dinasihati sang ibu semalam, Pitri kembali nekat
pergi lagi bersama temannya. Seperti biasa dia memakai pakaian
yang tidak sopan dan juga ikut merokok bersama temannya.
Padahal biasanya dia tidak pernah menyentuh benda itu.

“Loh tumben, habis ketahuan nyokap lo semalam?” Tanya Neta.

“Iya, ribet banget pakai ceramahi segala. Dia pikir gue masih
kecil gitu.” Kesal Pitri.

“Nih minum, lupain aja. Angin lalu itu mah, lebih baik kita
senang-senang aja di sini.” Ucap Neta menyodorkan sebotol alkohol
kepada Pitri dan dia langsung meminumnya begitu banyak.

130 Nyalanesia

Pitri dan teman-temannya sudah sangat mabuk berat, mereka
memutuskan mengemudi dengan keadaan mabuk semua begitu pun
dengan Pitri. Sepanjang jalan mereka mengemudi dengan kecepatan
tinggi karena sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi. Alhasil, dari
arah berlawanan terdapat sebuah truk yang melintas dan temannya
banting stir ke kiri hingga menabrak pohon dengan sangat keras.
Hal ini, membuat mereka semua tidak sadarkan diri.

Warga yang berada di sekitar sana segera menyelamatkan
mereka dan menelpon ambulan untuk membawa mereka semua ke
rumah sakit, agar luka-luka mereka segera ditangani oleh dokter.

Pitri membuka matanya dan melihat sekelilingnya gelap gulita,
lantas dia berteriak minta tolong. Tapi tiada satu pun yang
menolongnya. Lalu dia merasakan panas yang amat sangat hingga
terasa membakar tubuhnya.

“Akhhh, tolongggg bapak, ibuuu. Tolong akuuu.” Erangnya
kesakitan di seluruh tubuhnya.

“Kemana saja kamu selama ini saat ibu dan bapakmu
menasihatimu untuk kebaikan. Kenapa baru saat ini, kamu mencari
mereka.” Suara yang begitu keras terdengar, entah asalnya
darimana.

“Siapa kamu, kenapa menyiksaku seperti ini?” Tanya Pitri.

“Ini adalah gambaran dari siksaan yang akan kamu dapatkan
dihari akhir kelak, karena melalaikan kewajibanmu sebagai seorang
muslim.” Pitri semakin merasa kulitnya seperti terkelupas karena
panas yang membakar tubuhnya.

“Aku berjanji akan bertobat, tolong jangan hukum aku.” Ucap
Pitri memohon dengan mata berkaca-kaca.

“Buktikanlah kalau begitu, jangan pernah membantah kata
orang tuamu lagi dan tinggalkan semua kelakuan burukmu selama
ini.”

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 131

Setelah itu, Pitri merasakan dirinya tidak terbakar lagi dan
sekitarnya menjadi terang sekali, Dia pun akhirnya sadar diri dari
komanya seminggu penuh dan melihat ibu juga bapaknya berada
tepat di sebelahnya.

“Bapak, ibu. Maafkan Pitri.” Ucapnya yang langsung memeluk
kedua orang tuanya.

“Iya Nak, kamu harus banyak-banyak beribadah kepada Allah
SWT untuk memohon ampunan kepadanya.” Nasihat bapaknya.

Sejak saat itu, Pitri pun menjadi anak yang lebih baik lagi dan
tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim.

132 Nyalanesia

MEMBERIKAN YANG TERBAIK

Aura Aisyania Ramli

Pukul 05.00 pagi, tanpa suara weker ataupun alarm aku sudah
terbangun. Itu sudah menjadi rutinitasku mungkin karena aku
sering dibangunkan oleh orang tuaku setiap pukul lima sejak aku
masih SD. Yah …ini salah satu kebiasaan baik yang harus aku
syukuri.

Aku bangun dari tempat tidurku dan bersiap untuk mandi lalu
memakai pakaian sekolah untuk berangkat ke sekolah.

“Ma, Pa. Keysha ama liya berangkat sekolah dulu ya.” Ucapku
sembari menyalakan mesin mobil.

Yup benar bahwa aku yang yang mengendarai mobil tersebut
untuk mengantar dan menjemput adikku. Aku diberi wewenang itu
karena kantor Papa aku ada di Jakarta dan sering tugas keluar kota.
Awalnya kakak sepupuku lah yang diberi tugas akan tetapi
sepupuku tersebut tak dapat dipercaya.

“Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa telpon aja Papa.” Ucap
Papaku yang sedang memasukkan laptopnya ke dalam tas.

“Iya Pa…” Balasku.

Ku lajukan mobilku melintasi jalan yang mulai ramai oleh
orang-orang yang bersegera berangkat ke tempat kerja masing
masing dan para pelajar yang berkejaran khawatir terlambat tiba di
sekolah. Nampak gerbang sekolah adikku masih terbuka. Ku
parkirkan di bahu jalan tidak jauh dari halte depan sekolahnya.

“Aku duluan ya kak…dah…” Kata Liya adikku sambil
melambaikan tangannya. Aku membalasnya dengan senyuman dan
segera memacu kembali mobilku menuju sekolahku.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 133

“Alhamdulillah dah tiba…nyaris saja ku terlambat,” gumamku
sambil memarkirkan mobilku di tempat biasa.

Segera ku berlari menuju kelasku. Sesampainya di kelas, aku
langsung duduk dan mengambil buku kemudian melanjutkan
bacaan buku yang kemarin telah aku baca.

“Halaman 189.” Ucapku dengan suara kecil sambil membuka
halaman buku yang sedang ku pegang tersebut. Buku tersebut berisi
semua materi mengenai anatomi dan fisiologi pada manusia. Aku
memilih membaca buku dari pada bergabung dalam perbincangan
mereka karena aku sebenarnya anak yang introvert, tak suka
bergaul maupun banyak berbicara. Dan untuk alasan terakhir yaitu
untuk mempersiapkan ujian masuk universitas nanti.

Kudengar suara langkah yang sedang menuju kepadaku, lalu
bola mataku langsung melirik ke arahnya.

“Wish Keysha rajinnya...” Ucap seseorang entah memuji atau
mengejek. Yah dia adalah Aksan tipikal cowok yang blak-blakan dan
lucu. Terkadang aku kesal dengan sifat blak-blakannya itu.

“Aksan mending lu pergi aja deh...” Ucapku dengan nada jutek
dan kesal.

Lihat Keysha… rajin belajar, kalian apa ini sudah kelas 12 tapi
kalian masih santai-santai. Contoh tuh Keysha.

Itulah kata-kata yang kadang dikatakan oleh anak-anak emas
wali kelasku. Entah mengapa aku merasa itu adalah sindiran halus
atau mungkin ejekan yang membuatku tidak nyaman.

“Lu gak seru ah Keysha.” Ucap Aksan dengan nada terkesan
mengejek.

“Yaudah kalau gak seru mending pergi aja. Jangan ganggu.”
Ketusku lalu melanjutkan membaca buku.

“Iya-iya, galak amat sih.” Kata Aksan sembari berjalan
menjauhiku dan menuju pintu kelas.

134 Nyalanesia

‘Huh akhirnya hidupku bisa tenang lahir dan batin terhindar
dari si pengusik itu.’ Ku menghela napas panjang dan melanjutkan
membaca buku.

Aku membuka halaman buku satu persatu dan pada akhirnya
berhenti disalah satu halaman bergambar. Manik mataku tertuju
pada gambar tubuh manusia yang begitu luar biasa dengan segala
keteraturannya yang menjadikan manusia mahluk terbaik. Sang
Pencipta Yang Maha Besar…tak terasa bulir bening mengalir dalam
kekaguman

Saatnya jam pelajaran pertama dimulai…

Bel berbunyi membuat Keysha tersadar, ia menutup buku yang
dibacanya. Selang beberapa saat kemudian terlihat guru memasuki
ruangan kelas sembari membawa tas dan buku paket.

“Baik anak-anak, ini pertemuan ke 2 kita di kelas dan ibu guru
sebelumnya sudah membahas sedikit mengenai materi
‘PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN’ jadi anak-anakku sekalian
bu guru harap kalian dapat melakukan penelitian mengenai materi
ini dengan kelompok kalian nantinya.”

Selagi guru menentukan anggota kelompok, beliau
memberikan tugas kepada siswa untuk melakukan literasi
mengenai materi yang akan didiskusikan. Suasana kelas terasa
hening, bergelayut dalam alam pikir masing-masing.

Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku, “Menurutmu
nanti kita 1 kelompok apa tidak, Key?” Tanya orang tersebut yang
ternyata teman sebangku ku.

“Entahlah, Cia. Tapi mungkin kayaknya nggak akan deh.” Jawab
Keysha.

“Yahh, tapi aku harap bisa satu kelompok dengan anak-anak
pintar seperti Sasa, Vira, Adit, Rian biar aku gak terlalu terbebani
ditambah nilaiku bagus,” senyum Cia sumringah.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 135

“Etdah, enak aja lu gak mau disibukin. Saran aja nih, siapapun
nanti teman kelompok lu, lu bantuin mereka. Kalau disuruh nyari
sesuatu jangan asal langsung dicopas. Masa iya sedikit-sedikit copas
mulu.” Ucap Keysha.

“Insya Allah.”

Saat waktu jam pelajaran Biologi hampir selesai. Ibu guru
memberi tahukan nama-nama anggota kelompok. Saat giliran
kelompok Keysha yang disebutkan anggotanya, tampak raut wajah
Keysha cukup puas karena terdapat satu anggota yang masih dapat
ia andalkan.

Setelah menjelaskan tugas yang harus diselesaikan, ibu guru
membereskan barang-barangnya yang ada di meja dan lalu berjalan
menuju pintu kelas.

Saat waktu istirahat tiba, Keysha mengumpulkan semua teman
kelompoknya untuk berdiskusi mengenai kapan di lakukan kerja
kelompok tersebut. “Jadi kapan kita kerja kelompok? Sabtu?” Tanya
Keysha membuka sesi diskusi.

“Hari Sabtu, aku gak bisa.” Jawab salah seorang anggota
kelompok yaitu Arin.

“Jadi ada yang mau usulkan kapan dan di mana?” Tanya Keysha
kembali.

“Di rumahku saja, sekalian kalian jalan-jalan.” Usul salah satu
anggota yang bernama Nurul.

“Hari Selasa saja.” Usul satu-satunya anggota cowok di
kelompok Keysha yang tidak lain adalah Aksan. Mendengar usulan
tersebut raut wajah Keysha seketika tidak suka.

Ia tidak suka bukan karena dia mengusulkan, tapi karena
pelajaran biologi ada dihari Rabu. Yah jelas lah siapa yang mau
ngerjain tugas satu hari sebelum deadline. Bahkan gak cukup sehari.
Keysha sempat berpikir apa si Aksan ini gak pake otaknya buat

136 Nyalanesia

mikir atau dia gak mikirin konsekuensi dari kerja tugas sehari
sebelum deadline.

“Aksan yang ganteng, ngapain ngusulin kerja kelompok sehari
sebelum deadline? Lu pikir bakal selesai apa dalam sehari gitu?”
Tampak Keysha yang sedang menahan rasa kesalnya terhadap
Aksan yang gak berpikir dulu sebelum bertindak.

“Kan Cuma ngusulin doang, salah yah?” Tanya Aksan dengan
wajah polosnya. Yang membuat semua anggota kelompok tertawa
melihat tingkahnya yang konyol.

“Hahahaha lawak lu.” Tawa Nurul terhadap tingkah Aksan.

“Ya ampun ini anak terlalu banyak di rumah dan main hp jadi
otaknya gak berfungsi normal.” Keysha menggelenggelengkan
kepalanya melihat Aksan yang seperti itu.

“Miris lihatnya.” Gumam Keysha.

“Gak salah kok, yang salahnya ada di otak lu. Otak lu gak bisa
mikir apa kalau dikerjanya sehari sebelum deadline yah mana kelar
lah. Ada saran lain? Saran harinya setidaknya 2 hari sebelum
deadline.”

“Oh iya iya betul juga.” Kata Aksan.

“Hari Minggu aja, gimana?” Usul Arin.

“Ah boleh tuh, kalian setuju tidak?” Keysha setuju dengan
pernyatan Arin dan tinggal menunggu jawaban anggota lain.

“Iya, boleh tuh.” Ucap anggota-anggota lainnya.

“Udah selesai, kalian boleh bubar.”

Sesi diskusi di kelompok 5 pun berakhir dengan keputusan
untuk melakukan kerja kelompok pada hari Minggu di rumah Nurul.

Pada hari Minggu, tepatnya hari mereka kerja kelompok.
Keysha sedang bersiap-siap untuk menjemput Arin. Arin meminta
bantuan Keysha untuk mengantarkannya ke rumah Nurul. Mereka
berangkat dari pukul 2 siang dan sampai pada pukul 3 sore. Mereka

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 137

lama sampai di rumah Nurul dikarenakan mereka sempat tersesat
saat di perjalanan. Disana Keysha melihat 2 orang temannya yang
sedang duduk di sofa. Hanya tersisa Aksan yang belum sampai
disana. Namun, tak lama setelah Keysha dan Arin datang, Aksan
sampai di rumah Nurul. Dan anggota kelompok mereka sudah
lengkap.

Keysha mulai membuka tas laptop yang ia bawa sebelumnya
dan menyalakannya. Ia menyuruh mereka mendiskusikan faktor
apa yang mereka akan gunakan nantinya. Sedangkan Keysha akan
langsung mengetik bagian latar belakang dari proposal.

Setelah tidak tahu apa lagi yang harus diketik, Keysha
membagikan tugas kepada Arin, Aksan, dan Mey. Arin akan mencari
Rumusan Masalah, dan tujuan. Aksan mencari Variabel penelitian.
Dan Mey mencari manfaat dari penelitian. Untuk 2 anggota lainnya,
Keysha tidak memberikan tugas karena ia tahu bahwa tugas yang
diberikan pasti akan dicopas, walau mereka ubah sedikit tetap tidak
akan membuat perubahan besar. Jadi, dia saja yang akan melakukan
bagian-bagian lainnya.

“Aku harap kalian bisa cari tugas tersebut sekaligus tetap
diskusikan faktor eksternal apa yang akan pakai. Oh iya usahakan
jangan copas tugasnya, berusahalah untuk berpendapat sendiri dan
dituangkan ke dalam proposal.” Ucap Keysha yang tidak terlalu
berharap pada mereka.

Setelah berdiskusi lama dan tidak membuat keputusan yang
tetap, akhirnya Keyshalah yang menentukan sendiri bahwa faktor
yang akan mereka ambil adalah faktor eksternal jenis air.

“Kalian belum buat keputusan bulat? Haduh kalau gitu biar
saya saja yang tentukan faktornya.” Ucap Keysha dengan perasaan
kecewa. Walau sedari awal ia tahu bahwa mereka tidak akan
membantu sama sekali, tapi ia tetap berharap sedikit. Namun
demikian, harapan itupun sirna.

138 Nyalanesia

“Key, untuk rumusan masalah dan tujuan penelitian sudah
selesai.” Seketika wajah yang kecewa tersebut berubah menjadi
senang.

Setelah memeriksa tugas yang dikumpul Arin, Keysha lalu
membacanya dan ia benar-benar merasa bahwa bebannya merasa
berkurang berkat Arin. Ia membaca tugas tersebut dan merasa puas
dengan hasilnya, akhirnya dia mengetiknya dengan beberapa
sedikit perubahan agar nyambung dengan topik yang dibahas.

Beberapa saat kemudian Aksan dan Mey juga sudah selesai,
Keysha memeriksa pekerjaan mereka. Namun tidak disangka tugas
mereka tidak sesuai dengan harapan.

“Aksan, lu copas kan? Ini semua salah. Ini tugas sudah sangat
mudah dan kau bahkan gak bisa jawab. Kenapa gak baca dulu
pengertian dari variable dan jenis-jenisnya atau bahkan contohnya
di proposal-proposal lain?” Kesal Keysha walaupun nada bicaranya
tidak keras tapi anggota lain dapat mengetahuinya dari raut
wajahnya.

“Ah sudahlah gak ada yang beres dengan pekerjaan mereka
kecuali Arin, mending pulang aja biar bisa selesai lebih cepat. Huh
beban betul.”

“Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu.” Pamit Keysha

“Kita juga izin pamit yah, Nurul.” Ucap Sinta, dan disusul oleh
Aksan.

Akhirnya mereka pulang dengan sedikit hasil yang
terselesaikan. Dan proposal tersebut akan diselesaikan oleh Keysha
seorang.

Keysha mengerjakan proposal tersebut selama berhari-hari
hingga 1 hari sebelum presentasi ia mengirimkan proposal tersebut
kepada Nurul dan Sinta untuk dijadikan PPT. Keysha berpesan
kepada mereka berdua untuk bekerja sama dan tak lupa untuk
menghias PPT tersebut.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 139

Pada malam harinya, Nurul mengirimkan PPT yang sudah ia
kerjakan dan saat Keysha melihatnya, dia merasa kecewa sekali lagi.
Mereka tidak mendengarkan bahkan tidak mencoba untuk
menghias PPT tersebut. Tapi meskipun begitu, ia tetap berterima
kasih karena telah mengurangi bebannya walaupun PPT tersebut
tak sesuai harapannya.

140 Nyalanesia

INDAHNYA PERBEDAAN

Nabilah Mahesa Ayu

Allahu akbar Allahu akbar…. Azan subuh sudah berkumandang,
Roni pun mulai mengambil langkah menuju kamar mandi untuk
berwudu dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Roni adalah seorang anak yang sangat taat dan patuh kepada Allah
SWT. Meskipun dia berada di lingkungan agama yang beragam.

Udara segar di pagi hari membuat Roni semakin bersemangat
memulai olahraga pagi, untuk memanfaatkan waktu liburnya.
Suasana kota saat ini sangat sepi dan terasa dingin. Sudah beberapa
menit dia berjalan, namun belum melihat orang sedikitpun.

“Apakah karena masih pagi? Jadi belum ada orang,” itu yang
ada di benak Roni saat ini.

Selesai olahraga, Roni langsung bergegas pulang ke rumah. Di
perjalanan Roni heran, karena yang biasanya dia melihat para
tetangganya yang sibuk membersikan halaman rumah, kini sunyi
tak ada seorang pun, kecuali ayah Roni yang sibuk memotong
rumput.

“Sudah sampai? Bagaimana olahraganya?” Ucap ayah Roni.
“Lumayan, tadi aku berhasil lari sejauh 1 km dengan waktu 15
menit, hebat kan ayah!” Jawab Roni dengan bersemangat.

“Bagus, kau harus meningkatkan latihan olahragamu, karena
waktu perlombaan sudah semakin dekat.” Balas ayah Roni. Setelah
itu, ibu Roni datang mambawakan secangkir teh untuk ayah Roni
dan langsung menyuruh Roni mandi dan makan siang.

Roni terlahir di lingkungan yang taat beribadah. Ayahnya
adalah seorang guru Agama Islam, sedangkan ibunya adalah istri
yang salihah. Sejak kecil, Roni diajarkan untuk taat kepada agama,

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 141

orang tua, dan orang-orang di sekitarnya. Roni juga diajarkan untuk
dapat bertoleransi kepada orang-orang yang berbeda dengannya.

Selain Roni memiliki sifat yang taat pada norma agama, Roni
juga merupakan siswa yang berprestasi. Tidak jarang dia
memenangkan lomba terutama di bidang olahraga.

Trrrr trrrttt…. alarm Roni berbunyi. Pagi ini dia harus bangun
lebih awal karena libur telah usai. Artinya dia harus bergegas ke
sekolah. Sesampainya di sekolah, Roni dikejutkan dengan
kerumunan orang yang berada di depan kelasnya.

“Hei kawan, ada apa? Kenapa kalian berkerumun di sini?”
Tanya Roni dengan penuh kebingungan kepada salah satu
temannya.

“Keadaan darurat! Untuk lebih jelasnya kau lihat saja sendiri di
dalam.” Balas temannya itu. Roni pun dengan penuh kebingungan
memasuki ruangan kelas. Terdengar suara kekacauan, ternyata
Desak dan Sinta sedang bertengkar, bersamaan dengan datangnya
Roni, guru pun mulai berdatangan.

“Keributan apa ini? Kenapa kalian berdua membuat kekacauan
di pagi buta begini?” Tanya salah satu guru dengan tatapan tajam
mengarah kepada Desak dan Sinta. “Sinta Bu, dia mengatakan
agamanya lebih bagus dibandingkan agama saya Bu!” Jawab Desak
dengan penuh amarah.

“Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya bertanya saja
tentang Hari Raya Nyepi yang kemarin kamu rayakan.” Balas Sinta.

“Sepertinya ada kesalahpahaman di antara kalian, ayo
selesaikan masalah ini baik-baik.” Ucap Bu Guru Wati.

Setelah melewati banyak percakapan, akhirnya Dewi dan Sinta
pun berdamai. Ternyata hanya kesalahpahaman. Desak mengira,
Sinta menganggap hari Raya Nyepi merupakan upacara sakral yang
menyiksa dan tidak ada manfaatnya. Setelah mendengar penjelasan
guru, akhirnya Sinta sudah mulai paham tentang Hari Raya Nyepi,

142 Nyalanesia

lalu mereka berdua saling memaafkan dan menjadi teman baik
kembali. Walaupun di antara mereka ada perbedaan yaitu
perbedaan agama. Setelah itu Bu Wati menyuruh semua siswa
untuk kembali ke tempatnya dan mulai belajar kembali.

“Anak-anak bu guru tidak mau lagi kejadian seperti ini
terulang. Kalian tahu bahwa negara kita merupakan negara yang
mempunyai banyak perbedaan. Mulai dari perbedan ras, suku,
agama atau pun bahasa. Oleh karena itu, kita tidak boleh
menjadikan perbedaan yang ada menjadi konflik yang dapat
menjadi penghalang untuk kita menciptakan hidup yang rukun.
Seperti yang baru saja terjadi, hanya karena kesalahpahaman bisa
menjadi konflik yang memicu pertengkaran. Kita dipenuhi dengan
perbedaan, sudah seharusnya kita menanamkan sikap saling
menghormati dan bertoleransi. Kebetulan kemarin juga merupakan
Hari Raya Nyepi bagi penganut agama Hindu, pasti ada dari kalian
yang merayakannya, kan?” Ucap Bu Wati.

“Iya bu guru, saya kemarin melaksanakan Catur Brata
Penyepian,” jawab Desak.

“Bu saya ingin bertanya, apa itu Hari Raya Nyepi?” Tanya Roni
dengan spontan. Bu Wati tersenyum mendengar pertanyaan itu
kemudian menjawab “Pertanyaan yang bagus Roni, mungkin belum
semua dari kalian yang tahu tentang Hari Raya Nyepi, jadi Hari Raya
Nyepi merupakan salah satu Hari Suci bagi umat Hindu yang
dirayakan pada penanggal apisan sasih kadasa sebagai bentuk
penyambutan tahun baru Saka. Pada hari itu umat Hindu
melaksanakan Catur Brata Penyepian yaitu empat pantangan yang
wajib dilaksanakan dan dipatuhi seperti tidak boleh melakukan
kegiatan dan bekerja, tidak boleh menyalakan lampu dan api, juga
tidak boleh bepergian dan mengadakan hura-hura.” Jawab Bu Wati.

“Wah pantas saja kemarin keadaan kota terlihat sunyi, ternyata
karena Hari Raya Nyepi.” Balas Roni. “Memang pada saat Hari Raya
Nyepi, kota terlihat sepi karena mereka harus melaksanakan ibadah
mereka,” ucap Bu Wati. “Bu kenapa d iantara kita harus ada

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 143

perbedaan seperti perbedaan agama yang sedang ibu bahas?” Tanya
salah satu siswa di kelas itu. Dengan penuh senyuman Bu Wati
kembali menjawab “Tuhan menciptakan makhluknya pasti
mempunyai tujuan, walaupun dengan banyak perbedaan di antara
mahkluk itu. Seperti halnya manusia, banyak sekali terdapat
perbedaan di antara kita, namun hal itu pasti diciptakan dengan
tujuan agar kita saling menghargai dan bisa bertoleransi dengan
perbedaan tersebut.”

Bel berbunyi tanda selesainya jam pembelajaran, para siswa
kemudian berbondong-bondong ke kantin mengisi perut mereka
yang keroncongan. Di perjalanan menuju kantin, Roni berpikir,
ternyata perbedaan itu indah yah, seharusnya kita sebagai warga
Negara Indonesia bangga dengan perbedaan yang ada, dan bukan
menjadikan perbedaan itu sebagai konflik yang dapat memicu
pertengkaran seperti yang terjadi antara Desak dan Sinta tadi. Tapi
syukurlah, mereka sudah mengerti dan berdamai kembali.

144 Nyalanesia

HOAX

Thalita Kalsum

Pagi itu, suasana terasa tenang, damai, dan tentram. Akan tetapi,
suasana yang tadinya sangat menenangkan tersebut seketika rusak
oleh suara cempreng dari anak bungsu keluarga Winata.

“BUNDA!” Teriak Cantika yang mengagetkan sang ibunda.

“Hush Cantika, gak boleh teriak-teriak begitu,” tegur Bunda
sambil berjalan mendekat ke arah Cantika yang sedang duduk di
sofa ruang keluarga. “Kenapa kamu teriak begitu?” Lanjut Bunda
setelah duduk di samping Cantika.

“Ini Bun, ada obat untuk virus Covid 19,” kata Cantika sembari
mengangkat handphone yang berada di tangannya.

“Yang benar kamu? Sini, coba Bunda lihat.” Bunda yang
penasaran akan hal tersebut menjulurkan tangannya- berniat
meminjam handphone anak bungsunya tersebut.

“Ini Bun,” ujar Cantika sembari menyerahkan ponsel keluaran
terbaru dari Iphone yang berada di tangannya tersebut.

Di saat yang bersamaan, si sulung dari keluarga Winarta datang
sembari mengomeli adiknya yang berteriak tadi, “aduh Tika, kamu
ini kenapa sih, masih pagi begini sudah teriak tidak jelas, ganggu
tau.”

“Apaan sih bang? Ini sudah siang tau,” balas Cantika dengan
kesal. Cakra yang mendengarnya hanya bergumam untuk membalas
gerutuan adik satu-satunya itu.

“Oh ya, tadi kamu kenapa teriak? Lihat tas baru lagi? Mau minta
dibelikan lagi?” Tanya Cakra yang disertai dengan tuduhan.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 145

“Enggak ih, abang ini asal main tuduh saja, aku itu teriak
karena-“

Belum sempat Cantika menyelesaikan kalimatnya, Bunda
memanggil ayah dengan teriakan yang tak kalah membahana.

“Kenapa Bun?” Ayah yang tadinya sedang membersihkan
halaman rumah seketika berlari masuk dan menuju ke arah Bunda
sambil bertanya dengan nada panik.

“Ini Yah, Bunda tadi habis baca pesan yang didapat Cantika dari
grup WhatsApp kelasnya. Isi pesan yang dikirim itu tentang ramuan
pencegah Covid 19. Nah sekarang, Bunda mau coba buat ramuan ini
untuk keluarga kita. Jadi Ayah sama Cakra pergi ke pasar ya?
Belikan bahan-bahan ini untuk Bunda,” ujar Bunda panjang lebar,
menjelaskan alasan mengapa dia memanggil sang suami yang juga
secara tersirat menjelaskan alasan Cantika berteriak pada hari itu.

Cakra yang sedari tadi hanya diam memerhatikan pembicaraan
kedua orang tuanya pun mengangkat suara.

“Bun, jangan cepat percaya dengan pesan-pesan yang seperti
itu deh. Sekarang itu, banyak hoax yang bertebaran di medsos,
terutama lewat pesan WhatsApp seperti yang Cantika perlihatkan ke
Bunda.”

“Ih, jadi maksud abang, aku sebar hoax begitu?” Cantika berujar
dengan kesal karena telah dituduh yang tidak-tidak oleh si sulung.

“Iya.” Cakra menjawab dengan singkat dan padat.

Cantika yang mendengar hal tersebut semakin dibuat kesal.
Cantika berniat untuk membalas ucapan sang kakak, tapi ucapan
ayah segera menghentikan niatannya tersebut.

“Benar yang dikatakan Cakra, sekarang banyak hoax yang
bertebaran di media sosial. Kita sebagai masyarakat dituntut untuk
bersikap dan berpikir secara kritis. Salah satunya dengan mencari
kebenaran terkait berita atau informasi yang beredar. Jangan

146 Nyalanesia

langsung menelan mentah-mentah informasi yang ada,” ujar ayah
yang membenarkan perkataan Cakra.

Cantika yang masih belum menerima hal tersebut kembali
bersuara, “tapi Yah, yang kirim ini guru aku loh. Masa guru aku
sebar informasi yang tidak benar”

Belum sempat Cantika menyelesaikan kalimatnya, Cakra
memotong dengan tidak sabar sehingga menimbulkan perdebatan.

“Ini anak, sudah dibilangin kalau itu hoax, masih tidak mau
terima juga.”

“Abang tau dari mana kalau itu hoax?”

“Ya tahulah,” ujar Cakra kebingungan karena ditanya seperti
itu.

“Tuh kan, tidak bisa jawab.” Cantika berujar dengan penuh
kepuasan karena telah berhasil membungkam saudaranya.

“Cantika, tidak boleh begitu sama Cakra,” tegur Reni yang
sedari tadi diam menyaksikan perdebatan keluarganya.

“Habisnya Abang tuduh aku sebar hoax Bun,” adu Cantika
kepada Bunda.

“Aku tidak tuduh kamu sembarang Tika. Berdasarkan
penelitian Abang, yang paling sering sebar hoax itu, para orang tua.
Mereka selalu menelan informasi yang beredar secara metah-
mentah. Mereka tidak memastikan terlebih dahulu mengenai
keaslian dan kebenaran dari informasi tersebut. Seperti Bunda yang
langsung menelan informasi tanpa mau memastikan kebenaran
informasi yang didapat,” Ujar Cakra yang berusaha membela diri.

“Halah penelitian ngawur itu.” Ujar Cantika.

Melihat hal itu, ayah tersenyum seraya berkata, “nah,
bagaimana kalau kita cek saja kebenarannya di Google?”

Di antara mereka berempat, yang paling semangat mencari
kebenarannya adalah Cantika. Ia masih percaya kalau yang

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 147

disampaikan oleh gurunya bukan hoax semata, melainkan
kebenaran.

“Cepat Ayah, aku gak sabar lihat,” ujar Cantika dengan
semangat yang membara.

“Tunggu dulu, lagi loading ini.”

“Oke, sekarang Ayah sudah dapat ini. Artikelnya asli dari situs
Kementrian Kesehatan,” kata ayah.

“Jadi, bagaimana Yah? Hoax atau bukan?” Bunda bertanya
dengan penasaran.

“Iya Bun, pesan yang didapat Cantika mengenai ramuan Covid
19 itu palsu. Sampai saat ini, belum ada satu pun ramuan yang bisa
mengatasi virus ini.” Ayah berkata dengan tenang.

“NAH KAN, APA AKU BILANG,” Cakra berkata dengan suara
keras dan lantangnya.

“Jadi, bagaimana Adik Cantika? Sudah puas dengan apa yang
disampaikan Ayahanda?” Goda Cakra kepada Cantika sambil
memainkan alisnya.

Melihat hal itu, membuat Cantika merasa sangat kesal. Saking
kesalnya, Ia sampai menangis dan membuat keluarganya panik.

“Astaga Cakra, kamu tidak boleh begitu. Lihat, Cantika jadi
menangis.” Bunda berkata sambil menenangkan Cantika.

“Cakra, lain kali jangan begitu. Wajar kalau Cantika memercayai
informasi itu. Kan itu dari gurunya,” lanjut Bunda

“Sudah, tidak usah dipermsalahkan lagi. Cantika, lain kali
jangan langsung percaya informasi yang beredar sembarangan.
Terutama dari sosial media. Jangan lupa pastikan dulu
kebenarannya. Setelah tahu kalau itu bukan hoax baru kamu boleh
beritahu pada yang lain. Ingat di zaman ini kita dituntut berpikir
kritis. Cakra juga, kamu tidak boleh seperti itu. Kamu harus belajar
menghargai pendapat orang lain. Jangan juga suka menyela ucapan
orang. Itu tindakan yang tidak bijak. Terlebih kamu seorang lelaki

148 Nyalanesia

yang nantinya akan menjadi kepala keluarga. Kamu harus menjadi
orang yang demokratis. Dan hal itu dimulai dari mendengarkan
pendapat yang lain serta tidak menyela pendapat orang,” ujar ayah
menengahi dengan bijaksana.

“Mengerti?”

“Mengerti, Ayah.” Cantika dan Cakra menjawab dengan
kompak.

“Kalau begitu kalian saling maaf dulu,” ucap Bunda seraya
bangkit dari duduknya. “Bunda mau ke dapur ambil cemilan,”
lanjutnya.

“Oke, Ibunda Ratu,” ujar ayah, Cakra, dan Cantika kompak
menggoda Reni.

“Kalian ini,” sahut Bunda dengan senyum sembari berlalu.

Dan begitulah pagi menjelang siang itu terlewati.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 149

CINTA YANG TERHALANG

PAGAR TUHAN

Muhammad Fadhil Reski

Sekarang, malam semakin larut ditambah lagu melodi mendayu
yang terdengar. Ditemani secangkir kopi mocca favorit Fidya dan
seorang sahabat yang menemaninya, mereka pun mulai
membicarakan tentang masa lalu. Chelsy yang penasaran tentang
hal-hal yang dialami Fidya bersama seorang pria Tionghoa pun
memintanya untuk menceritakan kisahnya. Pukul 22.00 tepat Fidya
masih memikirkan seorang pria yang merupakan teman lamanya.
“Ia adalah pria yang baik dan kami lumayan akrab. Keakrabanku
bersama Kenny dimulai pada hari itu.” Ungkap Fidya.

Hari itu, seorang gadis Melayu terbangun dari tidurnya
bersamaan munculnya matahari pagi. Ia berjalan menjauh dari
kamarnya menuju keran air untuk mengambil wudu. Hari itu
bukanlah hari spesial baginya dan melakukan kegiatannya seperti
biasa.

Usai bersiap-siap, ia pun berangkat dari rumah menuju warung
kopi milik usaha ayahnya untuk membantunya. Setelah sampai,
seorang gadis lain pergi menghampirinya dan menyapanya.
“Pagii…Fidya?” Sapa gadis tersebut.

“Pagi Chelsy,” balas Fidya.
Fidya dan Chelsy adalah seorang sahabat yang berbeda
keyakinan, meskipun begitu tidak membuat keduanya saling
memaksakan keyakinan mereka satu sama lain dan telah berteman
akrab sejak kecil. “untukmu agamamu dan untukku agamaku”
Begitu kitab suci Alquran Q.S. al-Kafirun menjelaskannya.

150 Nyalanesia

Usai beristirahat sejenak, mereka pun melanjutkan kegiatan
untuk sebuah penggalangan dana korban bencana alam. Namun,
mereka melakukan hal tersebut dengan cara yang berbeda, yaitu
dengan menjual beberapa aksesoris yang hasil penjualannya akan
disumbangkan ke korban bencana alam.

Pada saat mereka berdua sedang menjual beberapa aksesoris
kepada para pengendara yang berhenti di lampu merah, di saat
yang sama datang seorang pria menghampiri Fidya dengan kaos
putih polos yang ditutupi oleh kemeja motif kotak-kotak dengan
kancing terbuka.

Fidya yang awalnya menawarkan beberapa aksesoris kepada
Kenny dan menjelaskan kepadanya tujuan mereka melakukan hal
tersebut dibuat sedikit kesal olehnya, pasalnya Kenny terus-
menerus menggodanya.

Karena sudah merasa terganggu Fidya pun pergi meninggalkan
Kenny dan menuju ke arah Chelsy. “Chelsy, maaf ya…gua mau izin
salat asar dulu ya?” Kata Fidya sambil sedikit membungkuk dengan
memasang wajah bersalah. “Oh gak papa kok Fidya, itu kan
kewajiban elo sebagai muslim, lu duluan aja ntar klo ini dah terjual
semua, gua tungguin di depan masjid,” kata Chelsy sambil
menggenggam tangan Fidya.

Kenny yang masih merenung merasa bersalah karena sudah
membuat Fidya merasa tidak nyaman pun akhirnya memutuskan
pergi menemui Fidya untuk meminta maaf. Ketika ia menoleh,
Kenny sudah melihat Fidya menaiki angkutan umum. Lantas Kenny
pun langsung buru-buru menyalakan motornya dan mengejar Fidya
yang membawanya ke sebuah masjid.

Kenny pun terus mengikuti Fidya sampai ke dalam masjid.
Bahkan ia menunggu sampai Fidya selesai salat. Dengan diam-diam
mengikutinya Kenny pun dibawa kembali oleh Fidya di tempat
penggalangan dana sebelumnya. “Hai Chelsy, maaf ya udah
ngerepotin,” kata Fidya sambil berlari kecil menghampiri Chelsy.

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 151

“Gak apa-apa kok, santai aja... hahaha,” balas Chelsy sambil tertawa
kecil.

Selang beberapa saat Kenny pun datang menghampiri mereka
berdua dengan napas terengah-engah. “Kamu, maafin aku ya,
soalnya udah ngebuat kamu ngak nyaman,” kata Kenny sambil
menghadap ke arah Fidya. “Iya-iya aku maafin,” balas Fidya, “Fidya,
siapa dia?” Tanya Chelsy dengan penasaran, “Oh ngak kok bukan
siapa-siapa, hahaha.” Karena masih merasa bersalah, Kenny pun
langsung memasukkan tangannya di kantung celananya dan
mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribu dan
membeli semua gelang tersebut. “Eh, lu mau ngapain,” kata Chelsy
bersamaan dengan raut wajah bingung Fidya. “Ini sebagai
permintaan maafku, liatin aja ya,” jawab Kenny. Kenny pun langsung
membagi-bagikan semua aksesoris yang ia beli kepada semua orang
termasuk Chelsy dan Fidya, “special buat kamu,” kata Kenny sambil
memberikan gelang pada Fidya. “Makasi ya bang!” Balas Fidya
sembil menahan senyumannya. Selang beberapa saat berbincang
dengan Kenny mereka pun mengetahui fakta bahwa Kenny adalah
seorang nonmuslim dan beragama Konghucu, beberapa saat
kemudian Chelsy pun teringat sesuatu dan lekas menarik tangan
Fidya sambil mengatakan “Ya… ampun, lu dah lupa kita ketemuan
hari ini bukan buat bagi-bagi aksesoris tapi buat jalan-jalan,” kata
Chelsy sambil berlari memegang tangan Fidya sambil meninggalkan
Kenny.

Keesokan harinya terlihat Kenny sedang menunggu di halaman
masjid sambil menunggu kepulangan Fidya dari ibadah salat
zuhurnya. Karena merasa bingung kenapa pria kemarin
mengikutinya terus, Fidya pun pergi menghampiri Kenny dan
bertanya, “Untuk apa kau ada di sini?” Kenny menjawab sambil
tersenyum, “untuk dekat denganmu.” “Abang, taukan kalau aku ini
Islam,” jawab Fidya dengan raut wajah serius. Sambil tertawa kecil
Kenny pun menghela napasnya dan menjawab, “Kalau begitu
kenapa kau tidak coba membuatku jatuh cinta pada Islam, sama

152 Nyalanesia

seperti kau membuatku jatuh cinta padamu,” balas Kenny dengan
semangat sambil menatap mata Fidya. Usai mendengar perkataan
Kenny, Fidya diam mematung beberapa saat, lalu mengajak Kenny
ke suatu tempat.

Mendengar niat tulus Kenny untuk belajar agama Islam, Fidya
mencoba mendekatkan Kenny kepada Islam dengan membawanya
ke toko-toko penjual buku dan sembari memperkenalkan dan
membelikannya buku-buku sejarah Islam dan juga buku Iqro untuk
ia pelajari dan pahami. Usai sampai di rumah, Kenny langsuk masuk
ke kamarnya dan membaca buku-buku pemberian Fidya, dan
nampaknya Kenny sangat bersungguh-sungguh untuk mempelajari
agama Islam lewat buku-buku sejarah islam yang dibacanya di
sepertiga malam.

Beberapa hari kemudian, keluarga Kenny mengadakan acara
pertungangan antara Kenny dan Natalia. Natalia merupakan putri
dari seorang pengusaha asal Tionghoa yang telah dijodokan dengan
Kenny oleh kedua orang tua mereka. Usai acara, ayah Natalia
berbicara berdua dengan Kenny dan meminta agar mempercepat
acara pernikahan mereka. “Maaf paman, saya menolak karena saya
tidak mencintai anak paman,” jawab Kenny yang membuat ayah
Natalia sedikit kesal. Ayah Natalia pun bertanya, “Kenapa kamu
tidak mencintai Natalia, kamu harus menikah dengan Natalia.” Ayah
Natalia mencoba meyakinkan Kenny dengan menawarkan sebuah
bantuan yaitu untuk membereskan para preman-preman yang
selalu menagih utang padanya. Usai mendengar perkataan tersebut,
Kenny langsung pergi meninggalkan ayah Natalia.

Esok harinya, Kenny, Fidya, dan Chelsy sedang berjalan-jalan
bersama dan Kenny pun mengucapkan terima kasih kepada Fidya
karena dia sudah bersedia sepenuh hati untuk mengajarinya agama
Islam. Chelsy senyum-senyum sendiri karena melihat mereka
berdua sedang sibuk sendiri dan memutuskan pergi meninggalkan
Fidya. “Halo mah? Oh iya iya gak masalah, tokonya dekat dari sini
kok,” ucap Chelsy yang selesai mengangkat panggilan palsu di

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 153

teleponnya, “umm Fidya kalian jalan berdua aja ya, soalnya mamaku
lagi nitip bahan-bahan dan kebetulan tokonya ada di sana, ufufu,”
kata Chelsy dengan menahan senyumnya, “Oh? eh, iya iya kamu
pergi aja, dahh,” jawab Fidya yang masih belum memahami situasi
sambil melambaikan tangannya kepada Chelsy.

Setelah berbincang cukup lama berdua dan memutuskan untuk
berpisah, dalam perjalanan pulang Kenny pun menyadari bahwa
Islam mengajarinya untuk melakukan segala perbuatan baik dan
menjauhi segala perbuatan buruk. Ia memutuskan untuk berhenti
menggeluti bisnis gelapnya yang selama ini menjadi mata
pencahariannya.

Usai sampai di rumah, Kenny mendapat amarah dari ayahnya,
dimana ia menemukan di kamarnya buku-buku sejarah Islam.
Sontak ayah Kenny secara tegas memperingati Kenny untuk tidak
lagi membaca buku-buku tersebut dan menyuruh Kenny untuk
menyingkirkan buku-buku tersebut.

Pagi harinya, secara kebetulan Kenny dan Fidya menaiki
angkutan umum yang sama. Mereka saling mengobrol tapi dengan
mengirim pesan menggunakan telepon genggam masing masing.
Setelah Fidya sudah sampai ke tujuannya, ia pun hendak turun dari
angkutan umum tersebut, tetapi Kenny mengikutinya dan
menawarkan untuk menemani Fidya sampai ke depan rumahnya.
Fidya pun menerima tawaran Kenny, tapi dengan syarat mereka
harus jaga jarak normal pasangan yang bukan mahramnya.

Setibanya di depan rumah Fidya, Kenny dikejutkan dengan
adanya seseorang yang duduk di teras rumah Fidya dan sedang
menunggu kedatangannya. Pria tersebut bernama Ilham yang sudah
lama menyimpan rasa kepada Fidya yang baru saja pulang ke
Indonesia dari Arab untuk menuntut ilmu agama. Dengan adanya
Ilham di sana membuat Kenny merasa terasingkan dan
memutuskan untuk pergi.

154 Nyalanesia

Keesokan harinya Kenny pergi menemui Fidya di sebuah
masjid yang sering ia gunakan dan berbincang bersama di tangga
masjid tersebut sambil menjaga jarak pasangan yang bukan
mahramnya. Di sana Fidya bertanya, “Kenapa abang sebegitu
maunya dekat dengan saya? Dan segitu maunya belajar agama
Islam. “Jika kau pikir aku mau belajar agama Islam karena aku ingin
selalu dekat denganmu, maka kamu salah,” ujar Kenny dengan nada
serius, “terus?” Tanya Fidya kembali. Dulu sewaktu Kenny masih
kecil dia selalu pergi ke masjid untuk singgah mendengarkan suara
azan yang membuat hatinya selalu nyaman dan tentram, maka dari
itulah Kenny tertarik belajar agama Islam melalui Fidya yang
membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Di sisi lain ayah Fidya telah mengetahui bahwa Fidya sedang
dekat dengan seorang pria bernama Kenny yang merupakan pria
nonmuslim. Ayahnya pun memintanya untuk jaga jarak dengan
Kenny dan meminta agar membuka hatinya untuk Ilham. Namun
Fidya mengatakan bahwa Kenny merupakan pria yang baik dan ia
sungguh-sungguh ingin belajar agama Islam. Mendegar perkataan
Fidya, ayahnya menyuruh Fidya untuk memanggil Kenny datang
menemuinya. Lantas Fidya segera menghubungi Kenny dan
mengatakan bahwa ia diundang datang ke rumahnya untuk
bertemu dengan ayahnya esok hari dan Kenny langsung
mengiyakan ajakan Fidya.

Keesokan harinya, ketika dalam perjalanan Kenny merasa
seperti diikuti dan ternyata meraka adalah anggota kepolisian yang
akan menangkap Kenny dengan kasus bisnis ilegalnya yang selama
ini ia geluti. Kenny langsung bergegas pergi ke markasnya dan
memberitahukan kedua rekannya bahwa polisi akan datang ke sini
untuk menagkap mereka.

Namun, sayangnya rekan kerja Kenny yang berbadan gemuk
bernama Aris berjalan terlalu lambat yang membuat mereka semua
tertangkap oleh polisi. Di sisi lain Fidya yang sedang menunggu

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 155

kedatangan Kenny dibuat kecewa karena dari pagi sampai malam
tak kunjung datang ke rumahnya.

Setelah beberapa hari di penjara, Kenny akhirnya bebas tak
bersyarat. Hal tersebut merupakan ulah ayah Natalia yang membuat
Kenny kembali berutang budi padanya. Usai bebas dari penjara,
Kenny langsung bergegas datang ke rumah Fidya untuk membayar
janjinya yang sempat tertunda kemarin. Tidak lama kemudian
terjadi sedikit perselisihan antara ayah Fidya dan Kenny yang
berujung pada lontaran kata-kata Kenny yang sama seperti
sebelumnya yang ia ucapkan pada Fidya.

“Mengapa Bapak tidak berusaha membuat saya jatuh cinta
pada agama Bapak, sama seperti anak Bapak membuat saya jatuh
cinta padanya?” Ujar Kenny serius.

Setelah hari itu, Kenny lebih giat belajar agama Islam yang
dipandu oleh Ilham. Selain seseorang yang berpendidikan dan
paham agama, ternyata Ilham merupakan orang yang suka
menolong sesama. Hal ini dibuktikan dari Ilham yang sangat
bahagia mengajari Kenny tentang agama Islam walaupun mereka
berdua adalah rival untuk mendapatkan cinta dari Fidya.

Pada akhirnya ayah Kenny mengetahui bahwa Kenny sedang
dekat dengan seorang wanita muslim bernama Fidya. Sontak ayah
Kenny sangat marah padanya dan memintanya untuk menjauhi
Fidya dan kemudian melangsungkan pernikahan dengan Natalia.

Akan tetapi Kenny menolak mentah-mentah perintah ayahnya
tersebut dengan alasan bahwa ia tidak mencintai Natalia dan lebih
memilih Fidya untuk dicintainya. Ayah Kenny yang sudah dibuat
geram akhirnya menamparnya. Dan mengancam Kenny untuk
mengusirnya dari rumah jika ia tidak menuruti perintahnya.

Keesokan harinya, Kenny datang ke warung kopi milik ayah
Fidya karena sedang mencari Fidya.

“Fidya lagi di dapur,” jawab ayah Fidya cuek.

156 Nyalanesia

Kenny langsung pergi ke dapur untuk berbicara dengan Fidya
dan mengatakan.

“Bagaimana perasaanmu kepadaku?” Tanya Kenny serius.

“Apaan sih bang, tiba-tiba,” balas Fidya yang sedang mencuci
piring. Awalnya Fidya tidak menjawab pertanyaan Kenny tersebut
karena menurutnya itu tidaklah penting selagi Kenny belum
menjadi muallaf.

“Minggu depan aku akan menikah,” kata Kenny tegas. Setelah
mengatakan hal tersebut, Fidya seketika terdiam.

“Aku…sama sekali…tidak mencintai kamu,” jawab Fidya
terbata-bata sambil menahan air matanya.

Mendengar perkataan pedis tersebut, Kenny langsung pergi
dari sana. Kenny pergi dari hadapan Fidya, iya pun langsung
mencurahkan segala air mata kesedihannya yang sempat ia tahan
tadi.

Tibalah hari di mana Kenny akan melangsungkan pernikahan
dengan Natalia. Di sisi lain, Fidya mencoba melupakan Kenny dan
memberi Ilham kesempatan untuk lebih dekat dengannya. Sebelum
acara resepsi dimulai, karena sudah tidak tahan lagi Kenny
memutuskan untuk membatalkan acara pernikahan antara dirinya
dan Natalia. Hal ini membuat ayah Kenny sangat murka dan secara
keras membentak Kenny sembari berkata, “Kau bukan anakku lagi!”
Dengan lancang.

Selain ayah Kenny yang murka akibat keputusan Kenny, hal itu
pun membuat ayah Natalia terkuak amarahnya dan ia berencana
membalaskan dendam rasa patah hati anaknya itu dan mengirim
beberapa anak buahnya untuk mencelakai Fidya dan ayahnya yang
baru pulang dari pasar.

Di saat anak buah ayah Natalia tersebut hendak menculik
Fidya, saat itulah datang Kenny untuk menolong mereka berdua.
Namun naas, salah satu anak buah ayah Chelsy langsung

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 157

mengeluarkan senjata tajam dan berhasil menusuk Kenny di bagian
perutnya.

Di saat yang bersamaan datang para warga yang melihat
kejadian tersebut dan hendak menolong mereka dan membuat para
anak buah ayah Natalia melarikan diri. Kenny yang sudah mulai
hilang kesadarannya, sebelum menghembuskan napas terakhirnya
ia memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat yang
dipandu oleh ayah Fidya.

"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna
muhammadar rasuulullah." Ucap Kenny terbata-bata dan diakhiri
oleh tangisan Fidya.

Fidya yang sangat terpukul oleh kepergian Kenny, lambat laun
mulai melupakan perasaan tersebut. Namun ia selalu mengenang
hari-hari indahnya bersama Kenny tak terkecuali malam ini.
Sembari ditemani oleh secangkir mocca favoritnya bersama Chelsy
sahabatnya.

158 Nyalanesia

TENTANG PENULIS

PILIHAN YANG TAK SI PIKIRAN KRITIS
TERPILIH Elzalisya Azzahrah
Esty Nurul Juniar BERPIKIR SEBELUM
TO BE BETTER BERTINDAK
Sinar Rahmadani Dian Permata Putri
KELAPANGAN HATI NAMAKU RACHEL
Miftah Khairunnisa Fania
PENYESALAN PERSAHABATAN
Fitri Awalia VS COVID-19
BUAH KEJUJURAN Isra Idayanti
Nur Ainun Awaluddin ILMU YANG DIAMALKAN
GELOMBANG MAUT Artika Ramadhani
A. Julya Tri Bangsawan MOTIVATOR TERBAIK
PRASANGKA Zaskiah Amran Yusuf
Cyndhi Widya Sari Ruswandi MENJADI LEBIH BAIK
OPSI Sekar Ningrum
Tri Ajeng Puji Rahayu SEKOLAHKU
PULANG Sitti Aisyah Risky Safiyyah
St. Suraidah. AD. Datu BERTOBAT
HADIAH UNTUK IBU Resi Dwi Wulandari
Airin Aprilia Rauf MEMBERIKAN
KASIH TERLARANG YANG TERBAIK
Sania Aisyah Maharani Aura Aisyania Ramli
INDAHNYA PERBEDAAN
Nabilah Mahesa Ayu

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 159

HOAX CINTA YANG TERHALANG
Thalita Kalsum PAGAR TUHAN
Muhammad Fadhil Reski

160 Nyalanesia

Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 161

162 Nyalanesia


Click to View FlipBook Version