Mereka pergi ke tempat yang tidak terlalu ramai yaitu taman
baca. Risa bertanya kepada Fani “Fani kamu kenapa, kalau aku ada
salah kita bicarain aja baik-baik Fan.” Kata Fani “Nggak kok Risa
nggak papa.” Risa berusaha agar Fani mau cerita.
Kata Fani “Yaudah deh aku mau bilang aja, sepertinya tanpa
aku sadari aku ada rasa ke kamu Risa dan aku mulai nyaman dengan
kamu, tapi aku tidak tau kamu bisa menerimanya apa tidak.”
Risa menjawab “Seriuss Fanii?”
Kata Fani “Iya aku serius, tapi aku tidak bisa melanjutkan
perasaan aku ini karna aku tau dalam agamaku ini sudah salah
mungkin aku terlihat tomboy dan jarang mempunyai teman cowo
jadi membuatku seperti ini, tetapi aku tidak mau mengikuti
perasaan aku ini. Maaf ya Risa aku udah menyatakan perasaan aku
tapi tidak bisa melanjutkannya dan aku tidak mau menghakimi
kalau kamu bisa bisexual.”
Risa menjawab “Ya udah Fani kalau perasaan kamu ke aku
seperti itu aku terima, tapi kalau kamu gak bisa ya udah jangan
karna di agama kamu itu dilarang jadi jangan lakukan.”
Dan datanglah lala memanggil Fani “Fani ayah kamu udah
datang tuh, kamu udah ditungguin di depan.”
Kata Fani, “Iya tunggu la.” Dan Fani berbicara kepada Risa
“Risa maaf ya aku balik duluan.” Kata Risa, “Iya gapapa.”
Sesampainya di rumah Fani menangis di kamarnya. Ia
menangis sangat kencang sehingga ibunya mendengar tangisannya
dari luar.
Ibu Fani masuk ke kamar Fani dan bertanya kepada Fani
“Kamu kenapa menangis Fani?” Fani bercerita semua kepada ibunya
bahwa ia sempat menyukai sesama cewe. Ibu Fani langsung kaget
dan menangis. Ibu Fani berkata “Fani coba kamu ceritakan semua
dari awal biar ibu bisa mengerti kamu Nak.”
74 Nyalanesia
“Jadi Bu aku kenal teman aku ini awalnya dari sosmed dan
ternyata ia satu sekolah aku dan aku mulai berkenalan dan cerita
sama dia. Aku pun mulai nyaman sama dia tanpa aku sadari Bu.”
Kata Fani.
Ibu Fani berkata, “Teman kamu yang mana Nak?” Kata Fani,
“Ituloh Bu yang aku pernah cerita teman baru aku yang namanya
Risa, trus dia itu pernah cerita kalau dia bisexual tapi aku tidak mau
menghakimi dia karna kepercayaan kita berbeda dengan dia Bu.”
Ibu Fani, “Yaudah Nak kamu salat magrib dulu dan minta
petunjuk kepada Allah SWT. Biar dibukakan hatinya untuk kejalan
yang benar, mungkin kamu sempat khilaf tapi kamu harus
memohon ampun kepada Allah SWT. Setelah apa yang terjadi.
“Iya Bu aku salat dan mau meminta ampun atas ke khilafan aku
selama ini,” kata Fani.
Fani langsung ambil wudu dan salat dan meminta mohon atas
apa yang terjadi selama ini.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 75
SI PIKIRAN KRITIS
Elzalisya Azzahrah
Kehidupan di perantauan memang melelahkan demi merajut satu
impian demi cita-cita untuk menjadi orang sukses nantinya. Pagi
hingga malam kegiatan selalu saja ada, mulai dari hal yang sudah
biasa aku lakukan yakni ke kampus bareng, ngerjain tugas, cuci baju
sendiri, cuci piring sendiri, makan sendiri (kadang bareng temen
sekamar), tidur bareng, dan mandi sendiri (ga mungkin barengan).
Ya! Baiklah. Memang tidak semuanya dilakukan sendiri.
Di kampus yang aku masuki, aku bertemu banyak teman SMA
nya ada Alika, Mira, dan Syifa mereka lah yang harus menanggung
beban untuk selalu berhadapan dengan Inggit. Baiklah, ini agak
berlebihan. Sebenarnya Inggit anak yang baik, bisa diandalkan,
namun juga sedikit menyebalkan. Dan agak pemalas.
“Inggit!! Nggit! Bangun! Hei! Bangun Inggit!! Udah jam setengah
tujuh! Emang kamu gada kelas hari ini?!” Tanya Alika dengan tegas.
Sudah sejak sepuluh menit yang lalu ia berusaha membangunkan
Inggit, namun tak ada reaksi.
“Inggit.…!!!” Akhirnya Alika meneriaki Inggit. di telinganya agar
si anak pemalas itu bangun dari tidurnya.
“Aahmm!! Iya, iya. aku udah bangun, kok.” Ujar Inggit. sambil
mengangkat tangannya ke atas, matanya masih terpejam saat ia
berbicara.
“Kamu ga ada kelas ya hari ini?! Tidurnya puas banget!” Tanya
Alika lagi pada Inggit., “Emang hari ini hari apasih?!” Tanya Inggit.
balik. “Hari Rabu Inggit Anto Muthmainnisa,” jawab Alika sambil
teriak, Inggit. pun kaget, bukan karena teriakan Alika tetapi karena
76 Nyalanesia
ia lupa bahwa ia ada kelas pagi di kelas Dokter Tamrin (dosen
killer).
Inggit. bergegas menuju kamar mandi. Ia membawa alat mandi
miliknya dan juga handuk pink hellokitty, tetapi sesampainya di
kamar mandi, ia langsung mandi lalu kembali ke kamar.
“Loh, kokk mandinya cepet banget?!!” Tanya Zahra ke Inggit
dengan ekspresi kaget.
“Kamu gak mandi yaa?!” Tanya syifa sambil menginterogasi
Inggit.
“Hehhh, enak aja ngomong sembarangan, aku udah mandi, nih
ciumm.” Ujar Inggit sambil menyodorkan tangannya ke temannya
agar menjadi bukti bahwa ia sudah mandi.
“Alhamdulillah!!” Ketiganya berkata hampir serempak.
“Kenapa?” Tanya Inggit sambil mengganti baju mandinya
dengan santai dan mengambil dengan baju yang sudah ia siapkan di
atas tempat tidurnya yang akan ia pakai ke kampus. Ya…blus pink
kesukaannya dipadukan dengan bawahan biru navi dan tentu saja
kerudung pink.
“Kamu kan jarang banget mandi, Nggit!” Mira mengenyeritkan
dahinya. Mira sangat terkenal dengan kepribadiannya yang bersih.
“Kok kalian gitu, sih? Kan ini udah mandi. emang ke kampus
gaboleh mandi?” Tanya Inggit sambil membalikkan badannya ke
arah Mira. Selalu saja ada alasan untuk apa yang dilakukannya.
Setelah menggunakan seluruh pakaiannya, Inggit
menyemprotkan parfum ke seluruh bajunya, “Ihh Inggit cewe tuh
gaboleh make parfum tauu kalau mau bepergian,” ujar Alika “Yaelah
kan ke kampus doang,” jawab Inggit.
“Sama ajaa tauuu,” balas Alika.
“Yaelah, pasti pada lupa ya? Pelajaran Fiqih–Hukum memakai
parfum yang diajarkan Ustadzah Hasna waktu kelas X? Kamu pasti
udah belajar kan, Fa?” Tanya Inggit pada Syifa.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 77
“Iya, kenapa?” Tanya Syifa.
“Nah, itu kamu tahu. Kata ustadzah parfum diwajibkan ketika
ingin melaksanakan salat Jum’at, selain daripada itu gaboleh kan
udah pernah disebutkan dalam hadits, nanti deh kamu baca ulang
buku Fiqihnya biar paham.” Jelas Inggit panjang lebar.
Terjadi keheningan panjang di antara mereka. Ketiganya
sedang merenungkan jawaban Inggit barusan. Ada benarnya,
memang. Tetapi, pasti ada penjelasan lain yang tidak hanya masuk
akal saja tetapi juga benar.
Inggit baru akan sarapan ketika ketiga anggota kamarnya akan
berangkat ke kampus. Ini terjadi setiap hari.
Dan kejadian di kelas masih aman-aman saja. Tak ada kejadian
yang menghebohkan. Hanya saja, Inggit akan selalu
mempertahankan eksistensinya sebagai mahasiswa yang “kritis”.
Banyak pertanyaan yang ia lontarkan hari ini. Seperti: mengapa bayi
dalam perut kecil sedangkan jika ia sudah lahir makin membesar?
Mengapa bekas gigitan nyamuk menjadi bengkak? Mengapa
flashdisk tidak boleh dicabut langsung dari komputer? Apa yang
menyebabkan jeruk lemon dapat mengeluarkan listrik? Jika ada
tabrakan antara mobil dengan ayam, bagaimana cara menghitung
momentum dan impulsnya? Sedangkan ayam pasti langsung tergilas
ditabrak mobil. Begitulah Inggit, ia merasa bahwa hidup ini harus
selalu berpikir dan bertanya.
Kelas pun usai. Seluruh mahasiswa ada yang menuju kantin,
ada yang balik ke rumah masing-masing. Inggit kembali ke kos-
kosan miliknya bersama teman-temannya ketika memasuki
kamarnya, Inggit melihat Alika yang tampaknya sedang memikirkan
sesuatu. “Lagi mikirin apa?” Tanya Inggit yang langsung menyambar
Alika dan duduk di sebelahnya.
“Waalaikumussalam.” Alika menoleh padanya dan mendelik.
“Eh, iya. Lupa. Assalamualaikum Alika cantik, lagi mikirin apa
sih?” Yang namanya Inggit itu pantang sekali dibuat penasaran.
78 Nyalanesia
“Hmm…” Alika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tadi, Mira dan Zahra cerita tentang tadi pagi. Kamu makai
parfum setubuh, terus kamu bilang makai parfum itu wajib. Iya,
kan?” Tanya Alika dengan ekspresi terbaiknya.
“Oh, yang itu. Jadi kakak mikirin itu? Kenapa dipikirin sih?
Segitunya banget.” Tanya Inggit, bingung dan kaget. Apa dia
bercanda? Memangnya siapa yang membuat Alika jadi berpikir
tentang itu? “I…Iya. soalnya, apa yang kamu bilang itu ada benarnya.
Tapi kakak merasa ada yang mengganjal.” Alika berpikir keras.
“Assalamualaikum,” ucap Syifa, baru pulang sekolah.
“Waalaikumussalam…” Jawab Alika dan Inggit.
“Kakak-kakak lagi bicarain apa? Wajahnya serius banget.”
Tanya Syifa sambil meletakkan tasnya di atas lemari yang tingginya
kira-kira sebahu Syifa.
“Mau tahu aja. Anak kecil gak boleh ikut campur!” Ledek Inggit.
“Assalamualaikum…” Kali ini ada Mira dan Zahra.
“Waalaikumussalam…” Jawab Alika dan Syifa. Inggit tidak
menjawabnya.
“Huh, bisa gak sih, kita jawab aja salam itu sekali sehari? Kalau
tiap detik ada yang mengucap salam, masa harus dijawab terus? Kan
cape.” Pikiran itu keluar dari otaknya Inggit.
“Ih, kamu ini. Masa gak mau mendoakan keselamatan orang
lain. Egois, maunya diucapkan salam. Tapi gak mau jawab salam.”
Ucap Alika sedikit kesal.
“Iya deh, iya deh. Waalaikumussalam,” dia tahu, Alika memang
agak emosi kalau memang berhadapan dengannya. Namun, dia juga
tahu, Alika adalah kakak kelas yang baik.
“Nah, ini dia nih. Makhluk ciptaan Allah yang bikin pusing tujuh
keliling.” Kata Zahra memasang raut wajah pura-pura kesal sambil
menunjuk Inggit.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 79
“Apa lagi? Kamu mau bilang masalah aku make parfum itu ya?”
Kata Inggit… Ia pasrah karena dipikirkan banyak orang.
“Hmm…Begitulah. Jadi gimana nih, Kak Lika? Kalau dia gini
terus kan kamar kita jadi bau mistis.” Kata Mira yang langsung
duduk di ranjangnya yang berhadapan dengan ranjang Alika.
“Loh, kok bau mistis?” Tanya Syifa, ia juga mencari tempat
duduk di ranjang Mira, karena ranjangnya terletak di atas. “Yaa…
jadi banyak jinnya, dong Nggit,” kata Zahra, ia bingung mau duduk
di mana. Akhirnya ia menyelip di antara Mira dan Syifa. Untung saja
badannya kecil.
“Hmm...” Alika masih berpikir.
“Aha! Kakak tahu!” Seakan Alika baru saja mendapatkan rumus
fisika baru yang belum pernah ditemukan ilmuwan mana pun.
“Tahu apa Kak?” Tanya Inggit.
“Begini, kita tak bisa berlandaskan pada satu pelajaran saja
atau satu ayat dan hadits saja. Rasulullah kan pernah bersabda:
‘Bagi siapa yang ingin melaksankan salat Jum’at hendaknya ia
mensucikan diri, bersiwak, memotong kuku dan memakai wangi-
wangian (parfum)’ jadi, salah satu sunnah salat Jum’at adalah
dengan memakai wangi-wangian. dan yang salat Jum’at itukan
diwajibkan untuk para lelaki sedangkan perempuan kayak kita
inikan gak wajib, berarti memakai wewangian disunnahkan hanya
bagi kaum laki-laki.” Jelas Alika dengan mata berbinar
“Oohh…” Kata Mira, Zahra, dan Syifa manggut-manggut. “Hehe...
Iya Kak, sebenarnya tadi pagi itu cuma buat alasan aja kan ga ada
cewe salat Jum’at. Biar enggak dikira jorok aja. Lagian, tadi kan
Inggit telat bangun. Hehe...” Kata Inggit dengan polosnya.
“Lah iya yaaa, kokk ga kepikiran sih? Kamu tahu betapa
pusingnya kami mikirin argumen kamu itu? Dan kamu bilang cuma
alasan? Ya Allah, Inggiiiittt.!!! Kamu itu nyebelin banget ya!!” Mira
80 Nyalanesia
melempar batalnya ke Nazwa. Diikuti Zahra, Syifa dan Alika yang
juga melempar bantal ke arah Inggit.
“Aww! Udah dong!! Aww! Sakit tahu!”
Dialah Inggit… Inggit. Anto Muthmainnisa, putri dari Pak Haji
dan Bu Haji Anto. Yang selalu berpikir dan bertanya, sekaligus
membuat orang lain berpikir dan bertanya-tanya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 81
BERPIKIR SEBELUM
BERTINDAK
Dian Permata Putri
Pada suatu hari tepatnya di Desa Siriwangi, hiduplah seorang gadis
bernama Rima. Rima adalah seorang anak yatim piatu. Ayah dan
ibunya meninggal pada saat Rima berumur 13 tahun akibat
kecelakaan tunggal yang dialami kedua orang tuanya. Rima hidup
bersama kakek dan neneknya di rumah yang bisa dibilang kurang
layak untuk ditempati. Sekarang Rima duduk di kelas 3 SMA. Rima
adalah anak yang rajin dan taat akan agama. Di desanya ia selalu
pergi mengaji bersama teman-temannya di masjid, Rima juga sudah
menghafal 10 juz al-Qur’an. Selain itu, Rima juga menjadi salah satu
murid terbaik di sekolahnya. Dari SD sampai SMA Rima selalu
mendapat juara 1 di kelasnya. Kakek dan nenek Rima bekerja di
sawah milik tetangga mereka.
Dahulu kakek dan nenek Rima mempunyai banyak sawah, akan
tetapi sebelum meninggal dunia ayah dan ibu Rima memiliki banyak
utang. Sehingga kakek dan nenek Rima mau tidak mau harus
menjual sawah mereka untuk membayar utang ayah dan ibu Rima,
rumah yang ditempati Rima dan kedua orang tuanya pun harus
dijual untuk membayar utang. Ya, memang utang kedua orang tua
Rima sangat banyak, sehingga kakek dan nenek rela menjual semua
sawah mereka. Umur kakek dan nenek Rima memang tidak terlalu
tua juga. Tapi memang muka mereka terlihat tua karena mereka
bekerja di sawah dan di bawah panas terik sinar matahari. Itulah
mungkin yang menyebabkan mereka terlihat sangat tua.
Kakek dan nenek Rima sangat sayang kepada Rima sampai
apapun yang diinginkan Rima mereka akan mengabulkannya.
82 Nyalanesia
Untung saja, Rima tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan,
yaaa mungkin karena mereka hidupnya di desa jadi Rima tidak
terlalu meminta sesuatu. Selain bekerja di sawah, Kakek Rima juga
kerja serabutan, apapun yang bisa dikerjakan olehnya akan ia
kerjakan.
Bagi kakek dan nenek Rima mereka sudah sangat bersyukur
dengan kehidupan yang mereka jalani saat ini. Mereka berpikir
masih untung mereka mempunyai tempat tinggal untuk berteduh
daripada mereka tidur di jalanan. Walaupun kondisi mereka begitu
tetapi mereka tidak akan pernah mengemis atau meminta minta
kepada orang lain. Mereka berpikir bahwa selagi mereka masih
mempunyai kekuatan untuk bekerja kenapa mereka tidak
melakukannya untuk bekerja dan menghasilkan uang melalui
tenaga dan keringat mereka sendiri.
Singkat cerita, sebelum orang tua Rima meninggal dunia,
rumah mereka sangat bagus, Rima juga mempunyai pakaian yang
bagus bagus. Pekerjaaan ayah Rima dahulu yaitu seorang pengusaha
beras di desanya, usahanya dikenal cukup besar. Kedua orang tua
Rima dahulu dikenal sebagai orang yang sombong. Mereka juga
sering meminjamkan uang kepada orang orang di desanya dengan
bunga yang cukup tinggi. Sungguh hal tersebut adalah perbuatan
riba bukan. Mereka menjual beras yang kualitasnya sudah tidak
bagus kepada orang-orang dengan harga yang cukup mahal. Hingga
pada akhirnya warga setempat sudah tidak mau lagi membeli beras
kepada mereka dan memilih membeli beras di tempat lain.
Akibat dari kejadian tersebut tidak ada lagi warga yang mau
membeli beras di toko mereka dan dengan terpaksa mereka
akhirnya menutup toko beras dan akhirnya bangkrut. Karena gaya
hidup ibu Rima sangat tinggi dan tidak mau terlihat jatuh miskin
begitu saja, ibu Rima pun berniat meminjam uang direntenir.
Awalnya ibu Rima berniat meminjam ke rentenir sekali saja. Tetapi,
ibu Rima melihat ayah Rima tak kunjung mendapat pekerjaan dan
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 83
uang mereka sudah tidak ada. Maka, ibu Rima terus menerus
meminjam kepada rentenir.
Sampai akhirnya, suatu hari rentenir tersebut datang ke rumah
Rima untuk menagih utang. Ibu Rima kaget karena ia belum
mempunyai uang untuk membayar utang, ditambah bunganya yang
semakin membesar. Ibu dan ayah Rima mulai pusing sehingga,
mereka berdua pun melarikan diri dari para rentenir tersebut
dengan membawa motor. Para rentenir pun segera mengejar ayah
dan ibu Rima, hingga akhirnya ayah dan ibu Rima menabrak
jembatan dan mengakibatkan pendarahan parah di bagian kepala.
Akibat kecelakaan tersebut ayah dan ibu Rima meninggal dunia.
Kejadian tersebut membuat hati Rima sangat terpukul. Apalagi,
Rima merupakan anak tunggal. Untung saja Rima masih memiliki
kakek dan nenek. Sungguh kehidupan Rima berubah 360 derajat
akibat dari kejadian tersebut. Selama hidupnya Rima tidak pernah
menuntut sesuatu kepada kakek dan neneknya mengingat susahnya
mereka untuk memenuhi kebutuhan akan makan mereka saja sudah
sangat sulit apalagi mau meminta sesuatu.
“Rima Nak jika kamu membutuhkan sesuatu kamu tinggal
bilang saja ya kakek dan nenek, insyaAllah nenek dan kakek akan
berusah memenuhi keinginan Rima,” ujar nenek Rima.
“Tidak usah nek Rima, diberi tempat tinggal di sini saja Rima
sudah sangat bersyukur dan berterima kasih nek,” ujar Rima kepada
neneknya.
Saat ujian kelulusan di sekolah Rima semakin dekat. Rima
menjadi semakin rajin untuk belajar. Ujian ini merupakan bagian
terakhir untuk menyelesaikan pendidikannya di SMA. Rima juga
sering belajar bersama teman-teman sekelasnya untuk persiapan
ujian kelulusan ini. Teman-teman Rima sering meminta bantuan
kepada Rima untuk mengajarkan hal yang belum mereka ketahui
atau kurang paham. Jadi, tak heran Rima memiliki banyak teman
karena ia sering membantu teman-temannya mengerjakan tugas
84 Nyalanesia
yang mereka kurang paham. Selain itu, Rima juga sering berdoa
kepada Allah agar selalu diberikan kemudahan di setiap jalannya,
termasuk dalam ujian kelulusan nanti.
Sejak semalam Rima sudah menyiapkan pakaiannya untuk
berangkat ke sekolah besok. Ketika keesokan harinya Rima tidak
lagi repot menyiapkan baju seragamnya. Pada malam hari Rima
melalukan salat tahajud untuk berdoa agar diberi kelancaran dalam
ujiannya. Rima selalu meminta kepada Allah SWT setiap apa yang
akan dia lakukan diberi kemudahan.
Hari ujian pun tiba…
Sebelum berangkat ke sekolah Rima selalu sarapan terlebih dahulu,
karena Rima memiliki penyakit maag atau asam lambung jika Rima
telat makan. Selepas salat subuh Rima selalu memasak makanan
untuknya dan kakek neneknya, agar paginya sebelum Rima
berangkat ke sekolah dan kakek neneknya berangkat ke sawah
mereka makan bersama terlebih dahulu. Setelah sarapan, Rima pun
langsung bergegas untuk ke sekolah. Sebelum ke sekolah Rima
meminta izin kepada kakek dan neneknya, “Kek nek Rima berangkat
kesekolah dulu ya, doakan semoga ujian hari ini lancar ya nek dan
mendapat hasil yang memuaskan,” ujar Rima, “Iyaa Rima nenek dan
kakek akan selalu mendoakan Rima tanpa Rima minta,” ujar kakek
dan nenek Rima. Rima berangkat dari rumahnya pukul 6:30 pagi
karena jarak rumah dan sekolahnya bisa dibilang cukup dekat lah,
jadi kalau berangkat jam segitu masih keburu dan nggak telat.
Sebelum ujian dimulai para siswa terlebih dahulu apel pagi
bersama dan diberikan arahan kepada kepala sekolah. Salah
satunya yaitu informasi yang sangat membuat Rima semangat
untuk mendapatkan nilai yang bagus di ujian ini. “Ujian ini
merupakan salah satu bagian terakhir dari perjalanan kalian di
pendidikan SMA ini, selain itu bapak punya kabar baik untuk semua
siswa, siapapun yang berhasil mendapatkan nilai paling tinggi
dalam ujian ini maka kami akan memberikan kesempatan atau
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 85
beasiswa untuk menempuh jalur perguruan tinggi di kota,” ujar
kepala sekolah. Mendengar perkataan tersebut memuat Rima
terpacu untuk medapatkan nilai tertinggi di sekolahnya, “Hmm
untung saja aku sudah mempersiapkan ujian ini dari jauh-jauh hari,
semoga usahaku ini tidak menghianati hasil,” ujar Rima (di dalam
hatinya).
Rima memiliki cita-cita untuk bisa bersekolah di kota. Mungkin
dulu ketika orang tua Rima masih ada yaahh boleh boleh saja.
Tetapi sekarang, apa boleh buat orang tua Rima sudah dipanggil
oleh Sang Pencipta, ditambah lagi hutang orang tua Rima sangat
banyak jadi, harapan Rima sudah pupus. Mendengar informasi
tersebut seketika ini pertolongan dari Allah SWT.yang dikirimkan
kepadanya, maka Rima pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan
emas tersebut.
Ujian ini berlangsung selama 6 hari tepatnya dari hari Senin
sampai hari Sabtu. Setiap harinya Rima selalu berusaha untuk
menjawab soal dengan tepat dan benar. Hingga pada akhirnya, Rima
menyelesaikan semua ujiannya dengan baik. Sebelum pengumuman
Rima selalu berdoa agar dia mendapatkan kesempatan tersebut.
Pengumuman tersebut akan dilaksanakan bersamaan dengan hari
kelulusan mereka.
Hari pengumuman pun tiba…
Rima merasa sangat deg degan semoga saja namanya yang akan
disebut oleh kepala sekolah. Disaat kepala sekolah memberikan
kata pengantar, di dalam hati Rima tak henti hentinya berdoa
kepada Allah SWT. “Ya Allah semoga hari ini Engkau memberikanku
kesempatan ini. Ya Allah saya sudah berusaha yang terbaik ya Allah
permudahkanlah jalanku ini ya Allah amin amin YRA,” ujar Rima.
Akhirnya, inilah waktunya untuk mengetahui siapa orang yang
akan mendapatkan beasiswa tersebut. “Siswa terbaik yang akan
mendapatkan beasiswa tersebut dan termasuk siswa terbaik di
sekolah ini yaitu Rima, selamat kepada Rima yang menjadi murid
86 Nyalanesia
terbaik di sekolah ini dan mendapatkan beasiswa ke perguruan
tinggi yang ada di kota,” ujar kepala sekolah. Seketika Rima pun
langsung meneteskan air mata dan sujud syukur atas apa yang telah
Allah berikan kepadanya. “Terima kasih Ya Allah Engkau masih
memberikanku nikmat yang begitu luar biasa,” ujar Rima.
Rima pun langsung memberi tahu kakek dan neneknya.
Mendengar kabar tersebut kakek dan nenek Rima merasa sangat
senang. Akhirnya, cita-cita yang selama ini Rima impi-impikan
untuk belajar ke kota tercapai. Sekarang tinggal Rima memberikan
yang terbaik dan tidak mengecewakan sekolahnya.
Beberapa bulan kemudian, hari yang sangat sedih bagi kakek
dan nenek Rima, mereka harus melepas Rima untuk pergi ke kota.
Mereka pun mengantar Rima hingga ke stasiun. Cucu satu satunya
yang mereka sayangi harus pergi meninggalkan mereka untuk
menempuh ilmu ke kota yang jauh dari kakek dan nenek.
Setibanya di kota Rima langsung mencari kos untuk tempat
tinggalnya nanti. Rima mendapatkan kos dengan biaya yang
lumayan murah. Rima pun akhirnya kuliah di Universitas Juanda. Di
sana Rima memiliki banyak teman. Rata-rata teman teman Rima
memiliki ekonomi yang bagus. Teman-teman Rima sering
berpakaian yang mahal mahal, sementara Rima bisa dibilang
berpakaian sangat sederhana saja, sangat jauh dari teman-
temannya.
Kehidupan hiruk piruk di kota harus Rima terima, karena ini
sudah jadi konsekuensinya. Suatu hari, Rima diajak oleh teman-
temannya untuk pergi ke salah satu club malam yang ada di kota
tersebut. Dengan polosnya, Rima langsung menyetujui perkataan
temannya tersebut. Sesampainya di club malam tersebut Rima
begitu terkejut dengan apa yang dilakukan di sana. Tapi, yaaa
namanya club malam bisalah dibayangkan bagaimana isi di
dalamnya dan apa yang mereka lakukan. Teman-teman Rima pun
tak segan segan untuk meminum minuman beralkohol, dan mereka
pun menawarkan ke Rima. Rima dengan sifat polos dan lugunya itu
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 87
langsung meminum minuman tersebut. Bukan sekali saja, tetapi
Rima ketagihan dan membuatnya minum terus hingga ia mabuk.
Keesokan harinya salah satu teman Rima meminta tolong
kepada Rima untuk menemaninya berbelanja baju di salah satu mall
di kota tersebut. Rima pun menemani temannya tersebut. Sembari
temannya memilih milih baju, Rima pun mencoba salah satu baju di
toko tersebut. “Kelihatannya baju ini cocok deh sama aku,” ujar
Rima, setelah melihat harga baju itu Rima pun langsung
mengurungkan niatnya untuk membeli baju tersebut. Tiba-tiba
Rima mengingat perkataan neneknya jika Rima meminta sesuatu
nenek Rima akan memberikannya. Rima pun segera menelefon
neneknya untuk mengirimkannya uang untuk membeli baju
tersebut. Tetapi, nenek Rima tidak bisa langsung mengirimkannya
karena uang tersebut karena jumlah yang diminta Rima sangat
banyak dan nenek tidak mempunyai uang tersebut untuk sekarang.
Rima pun sangat marah kepada kakek dan neneknya, hingga ia
berkata:
“Kalo nenek ngga kirimin uang itu sekarang juga aku ngga mau
lagi anggap nenek,” ujar Rima kepada nenek melalu telefon.
Mendengar perkataan Rima tersebut hati nenek sangat sakit. Ia
mengira Rima tidak akan terpengaruh dengan kehidupan di kota.
Tetapi, apa boleh buat Rima sudah terlanjut masuk ke dalam
pergaulan yang salah yang kakek dan nenek lakukan hanya berdoa
agar Rima dikembalikan ke jalan yang lurus. Saat bergaul bersama
teman-temannya Rima sudah jarang salat dan mengaji, yang ia
lakukan hanya ke club bersama teman-temannya. Entah mengapa
kelakuan Rima berubah begitu saja. Sampai sampai salah seorang
teman Rima dari Desa Siriwangi yang satu perguruan dengannya
juga sangat heran. Biasanya Rima selalu menegur teman-temannya
dan selalu tersenyum. Sekarang, untuk tersenyum lagi kepadanya
Rima sudah tidak mau lagi. Padahal Rima dulu bukan orang yang
seperti itu.
88 Nyalanesia
Hingga akhirnya ia melihat Rima di jalan ketika ia hendak pergi
ke masjid untuk mengikuti kajian, kebetulan kos mereka
berdekatan. Ia melihat Rima hendak menunggu jemputan dari
teman-temannya untuk pergi ke club, dengan baju yang sangat seksi
dan terbuka teman Rima sampai geleng-geleng kepala. Apalagi ia
tahu bahwa Rima sudah tidak mau menganggap kakek dan
neneknya di kampung. Ia pun langsung menarik tangan Rima
“Kenapa sih lo jadi seperti ini, lo ngga ingat kakek nenek lo di
kampung, lo itu udah diberi kesempatan dari sekolah biar bisa
ngelanjutin pendidikan lo ke kota, jadi lo jangan sia-siain
kesempatan ini, lo itu beruntung diberi kesempatan ini, banyak
orang yang mau jadi seperti lo tapi ketika lo dikasi kesempatan
seperti ini lo malah sia-siain kesempatan ini,” ujar teman Rima.
Mendengar perkataan tersebut hati Rima tiba-tiba tersentuh dan
mengingat apa yang sudah diperbuat selama ini sudah salah besar.
Ia juga merasa bersalah kepada kakek dan neneknya karena
memperlakukan mereka begitu. Terlebih lagi jika pihak sekolah
tahu apa yang telah Rima perbuat, sekolah ngga akan segan segan
buat mencabut beasiswa yang diberikan kepadanya.
Rima pun langsung duduk dan menangis tersendu-sedu
menyesali apa yang telah ia perbuat selama ini. Ia pun langsung
menelefon kakek dan neneknya di kampung dan meminta maaf.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 89
NAMAKU RACHEL
Fania
Di suatu desa kecil, ada seorang anak perempuan yang setiap hari
berkeliling untuk menjual kue buatan ibunya. Walaupun matahari
terik ataupun hujan ia tetap dengan semangat kesana kemari
menawarkan kue jualannya, Nama anak tersebut adalah Rachel.
Rachel adalah seorang anak dari keluarga sederhana, ibunya
seorang asisten rumah tangga sedangkan ayahnya sudah meninggal
dunia sejak ia masih berumur 5 tahun, Rachel juga memiliki satu
adik perempuan yang masih kecil.
Dengan kondisinya yang serba pas-pasan Rachel yang masih
duduk di bangku SMA terpaksa membantu ibunya untuk mencari
uang demi menyambung hidup mereka. Akan tetapi kondisinya
tersebut tidak membuat Rachel sedih dan berputus asa, ia senang
bisa membantu meringankan beban ibunya. Rachel juga tak pernah
merasa malu dengan kondisinya justru ia bersyukur karena masih
banyak di luar sana yang jauh lebih buruk dari pada dirinya. Hanya
terkadang ia merasa sedih di saat teman sebayanya kebanyakan
bermain dan belajar ia malah harus menggunakan waktunya untuk
berjualan kue. Setiap memikirkan hal tersebut ia segera beristighfar
dan menepis pikirannya tersebut, ia meyakinkan diri bahwa yang
dengan membantu ibunya mencari uang adalah salah satu bentuk
baktinya kepada ibu.
“Allahu akbar Allahu akbar ….”
Di tengah siang yang terik saat Rachel sedang berkeliling untuk
menjual kuenya tak terasa azan zuhur telah berkumandang, Rachel
bergegas menuju masjid terdekat untuk melaksanakan salat zuhur.
Sesampainya di masjid Rachel meletakkan keranjang kue dan
tasnya yang berisi buku pelajarannya di depan pintu masjid dan
90 Nyalanesia
langsung berwudu lalu melaksanakan salat zuhur berjamaah. Saat
selesai melakasanakan salat zuhur, Rachel beristirahat di teras
masjid sambil membaca buku pelajaran yang selalu ia bawa.
Walaupun Rachel sibuk untuk menjual kue setiap harinya ia selalu
menyempatkan waktunya untuk membaca buku saat beristirahat, ia
senang membaca buku apapun itu terutama buku pelajaran.
Menurutnya, membaca itu menyenangkan dan dengan membaca
buku pengetahuannya akan semakin bertambah.
Setelah membaca beberapa lembar buku, Rachel bergegas
untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Rachel langsung
melepas pakaian dan maskernya untuk dicuci dan segera mandi. Di
tengah pandemi ini Rachel sangat memperhatikan kebersihannya
sebagai bentuk ikhtiar agar terhindar dari Covid-19, saat keluar
rumah pun Rachel selalu menjaga jarak dan membawa hand
sanitizer.
“Rachel…bagaimana jualan hari ini Nak?” Tanya ibu Rachel
sambil membawakan Rachel makanan di kamar Rachel.
“Alhamdulillah Bu, tapi kuenya masih ada setengah keranjang
Bu.” Jawab Rachel dengan raut wajah sedih.
“Nggak apa apa Nak, nggak boleh sedih itukan rezeki dari Allah
kita harus bersyukur,” sambil dibelainya rambut putri
kesayangannya itu.
“Alhamdulillah tadi ibu dapat rezeki lebih dari tetangga sebelah
karena bantu-bantu buat acara aqikah anaknya besok, ini buat beli
kuota dan jajan ya.” Ucap ibu Rachel sembari memberi Rachel uang.
“Nggak usah Bu, uangnya buat keperluan ibu atau untuk susu
adik saja, kan Rachel bisa numpang sekolah online di rumah Pak
RT.” Jawab Rachel sambil menolak uang dari ibunya.
“Tapi kan rumah Pak RT jauh, nanti pas sampai disana kamu
keburu capek duluan sebelum belajar.” Ucap ibu Rachel.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 91
“Nggak apa-apa kok Bu, Rachel kan kuat tiap hari keliling desa
buat jualan kue apalagi untuk belajar Rachel bisa kok Bu.” Ucap
Rachel dengan semangat sambil memeluk ibunya.
“Ambil aja ya Rachel buat jajan. Jangan lupa makanannya di
habiskan ya sayang.” Ujar ibu beranjak dari kursi belajar Rachel dan
menyelipkan uang ke buku Rachel di atas meja.
“Baik Bu.” Jawab Rachel lalu memakan makanan yang
dibawakan oleh ibunya.
Keesokan harinya setelah salat subuh, Rachel membantu
ibunya melakukan pekerjaan rumah dan bersiap-siap untuk pergi
ke rumah Pak RT untuk numpang sekolah online. Menurutnya
menumpang wifi di rumah Pak RT memberi sejumlah keuntungan
untuk dirinya. Selain dapat menghemat uang, jaringannya yang
bagus, Rachel juga bisa sekalian berkeliling untuk berjualan kue. Di
sepanjang jalan menuju rumah Pak RT ada beberapa ibu-ibu yang
membeli dagangan Rachel, Rachel sangat senang karena masih pagi
jualan kuenya sudah setengah keranjang.
“Assalamu’alaikum Pak RT.” Ucap Rachel sambil mengetuk
pintu rumah Pak RT.
“Iya wa’alaikumussalaam Nak, pasti mau sekolah online kan?
Silahkan masuk Nak Rachel.” Jawab Pak RT sambil membukakan
Rachel pintu.
“Makasih Pak RT, Raninya ada?” Tanya Rachel.
“Iya ada di dalam dia sudah tunggu kamu katanya mau belajar
sama-sama.” Jawab Pak RT.
“Baik Pak RT.” Jawab Rachel.
Rachel pun mengikuti kelas online bersama Rani dengan fokus
dan tenang. Seusai mengikuti kelas online Rachel langsung
mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya agar bisa fokus
untuk berjualan kue. Rachel juga membantu Rani mengerjakan
tugasnya, Rani senang bisa belajar dengan Rachel karena Rachel
92 Nyalanesia
adalah siswi yang berprestasi di sekolahnya ia juga senang
membantu orang lain untuk mengerjakan tugas ataupun
menjelaskan kembali materi yang diberikan oleh guru. Setelah
mengerjakan tugas, Rachel pamit untuk pergi berjualan kue.
Hari ini Rachel sangat bersyukur karena dagangan kuenya sisa
sedikit, seperti biasa Rachel pergi ke masjid terdekat untuk
melaksanakan salat zuhur, ia menyimpan keranjang kue dan tasnya
di depan pintu masjid. Setelah melaksanakan salat zuhur, Rachel
pergi ke depan untuk mengambil barang-barangnya.
Alangkah terkejutnya Rachel saat melihat tasnya tidak ada di
tempat. Yang tersisa hanyalah keranjang kuenya padahal di tasnya
tersebut terdapat buku pelajaran dan uang hasil berjualan kuenya.
Setelah mengelilingi seluruh bagian masjid untuk mencari tasnya
akhirnya Rachel terduduk pasrah di teras masjid, ia takut ibunya
akan kecewa kepada dirinya karena tidak bisa menjaga barang
dengan baik.
Dengan wajah yang tertunduk pasrah, tiba-tiba ada seorang
wanita paruh baya yang menepuk bahu Rachel ia bertanya kepada
Rachel kenapa Rachel terlihat bingung dan sedih, Rachel pun
menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Wanita tersebut pun
merasa iba mendengar cerita Rachel. Wanita tersebut kemudian
mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya untuk diberikan
kepada Rachel akan tetapi Rachel bersikeras tidak mau menerima
uang tersebut. Rachel mengatakan kepada wanita tersebut bahwa ia
berprinsip hanya akan menerima uang dari hasil kerja kerasnya
saja, ia tidak ingin menerima uang dengan percuma dan menjadi
pengemis selagi ia masih bisa bergerak untuk bekerja maka ia akan
bekerja terlebih lagi Rachel merasa anggota tubuhnya masih
lengkap serta sehat walafiat jadi tak ada alasan untuk tidak bekerja,
ia akan senang apabila ia mendapatkan uang dari hasil usaha dan
kerja kerasnya karena Rachel bekerja bukan hanya untuk mencari
uang tetapi juga untuk mendapatkan berkah dari Allah SWT.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 93
Wanita tersebut tersenyum mendengar perkataan Rachel, ia
kagum dengan pemikiran Rachel karena di zaman sekarang sangat
jarang ia jumpai anak yang mau bekerja keras apalagi sekarang
mencari uang di tengah pandemi sangatlah sulit hingga membuat
banyak oknum melakukan apapun bahkal hal-hal yang tidak halal
untuk mendapatkan uang. Akhirnya wanita tersebut memutuskan
untuk membeli semua dagangan kue Rachel yang tersisa. Setelah
itu, Rachel pun pulang ke rumah dengan perasaan yang senang ia
pun menceritakan kejadian yang ia alami kepada ibunya. Ibu Rachel
sangat bangga kepada Rachel, ia memeluk Rachel dengan erat dan
berharap kelak Rachel dapat menjadi anak yang sukses bukan
hanya di dunia tetapi juga di akhirat.
94 Nyalanesia
PERSAHABATAN VS COVID-19
Isra Idayanti
Di salah satu SMA favorit di Kota Kendari. Tepatnya di sebuah kelas
X-MIPA terlihat sekelompok pelajar yang berisi 4 orang sedang
melakukan percakapan kecil sambil menikmati bekal mereka
masing-masing. Mereka adalah Lia yang memiliki ciri-ciri kulit sawo
matang dan mata yang sedikit sipit. Lia adalah siswa pindahan dari
Pulau Jawa karena mengikut orang tuanya yang memiliki
perkerjaan. Selanjutnya adalah Adinda, dia adalah sepupu Lia dari
ibu dan memiliki ciri-ciri yang hampir sama dengan Lia yang
membedakan adalah matanya tidak sipit. Setelahnya Dito dan Dio
mereka berdua kembar dan asli dari Sulawesi. Mereka berempat
selalu bersama karena mereka tinggal di satu komplek perumahan
(BTN) yang sama.
"Tumben kamu bawa bekal, Lia." Ucap Dito dan diangguki yang
lain. Mereka tau kesibukan orang tua Lia karena itulah biasanya Lia
membeli makan di kantin ketika istirahat.
"Oh, bunda kebetulan gak ada pasien pagi. Jadi, dia buatin Aku
bekal." Jawab Lia dengan wajah sumringan.
"Seneng pasti tuh, iya' kan?" Goda Adinda dengan menaik
turunkan alisnya.
"Jelaslah. Ini tuh momen langka. Semoga aja bunda lebih sering
ada waktu kaya gini walaupun cuma bebas dipagi saja. Udah syukur
banget." Balas Lia. Dan sebagai sahabat yang baik yang lain
mengamini doa Lia.
"Hay semuanya." Sapa seorang siswa mendekati keempat
sehabat itu.
"Ah! Halo Satria." Sapa balik mereka berempat.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 95
Siswa itu adalah Satria, dia adalah ketua kelas ini.
"Bukankah kamu sedang ada urusan dengan Bu Guru Ghiska?"
Tanya Dito.
"Ya, benar. Itu sudah selesai hanya membantu mengecek
ulangan harian saja." Jawab Satria.
"Apa kamu sudah makan, Satria?" Tanya Lia ingin menawarkan
snack yang dia bawa.
"Sudah. tapi, terima kasih sudah bertanya." Jawab Satria
dengan senyum khasnya.
Setelah akhirnya mereka selesai makan dan mencuci tangan
serta kembali memakai masker mereka. Dio membuka
pembicaraan.
"Eh! Kalian udah tau kita bakal PSBB?" Tanya Dio.
"Udah. Di sini juga' kan?" Jawab Adinda sekaligus bertanya.
"Iya. Dengar-dengar nih kita bakal sekolah online." Ucap Dio.
"Beneran?!" Teriak Lia karena terkejut.
"Astaga, Lia. Kita tau kamu kaget tapi, jangan teriak juga. Suara
kamu itu merdu. Merdu yang bikin pecah telinga!" Kesal Dito sambil
mengusap telinganya. Sedangkan sang pelaku hanya cengengesan
tak jelas.
"Memangnya kenapa sih kalau sekolah online? Kok kaget gitu?"
Tanya Dito setelah meredam kekesalannya.
"Kayaknya aku tau. Ini pasti karena Sarah kan?" Ucap Adinda.
"Sarah?" Beo si kembar dan Satria.
"Sarah itu temen Lia waktu di Jawa. Aku juga kenal dia karena
Sarah itu termasuk teman masa kecil Lia." Jelas Adinda dan
diangguki Lia.
"Bener. Beda sama kita yang masih belajar offline kaya biasa.
Dia udah mulai belajar online dari awal masuk SMA. Dan dia sering
96 Nyalanesia
ngeluh kalau tidak ada pelajaran yang masuk ke otak dia. Kalian tau'
kan kalau belajar di rumah itu banyak banget godaannya." Tambah
Lia. Si kembar dan Satria hanya ngangguk ngerti.
"Takut juga dengernya." Ucap seseorang yang nimbrung ke
dalam percakapan mereka.
"Raja!?" Kaget mereka.
"Kamu ngagetin tau gak? Tiba-tiba muncul udah kaya hantu."
Kesal Lia yang memang posisi Raja muncul tepat dibelakangnya.
"Hehehe, maaf." Ucap Raja dengan tawa bodohnya.
"Kembali ke topik. Aku takut juga dengernya. Gimana kalau
nanti belajar online aku ngerasain yang dirasain temen kamu itu Lia.
Terus nilai Aku tambah anjlok. Otw dihapus dari kartu keluarga ini."
Keluh Raja mengingat nilainya yang saat ini udah pas-passan.
Kelimanya pun saling lirik dan tawa pecah.
"Hahaha gila. Geli aku liat muka melas kamu, Raja." Tawa Dio.
"Betul tuh. Bukannya imut malah mirip marmut." Timpal Dito.
Sedangkan Lia dan Adinda sedang berusaha menghentikan
tawa mereka namun, tak bisa karena geli melihat wajah Raja yang
kini sedang cemberut. Dan Satria dia sudah berhasil menghentikan
tawanya.
"Kalian jahat banget sama, Dede. Apa salah Dede padamu."
Ucap Raja dengan mendramatisir ucapannya dengan gerakan.
Itu kembali mengundang tawa. Tapi, bukan hanya kelima siswa
tadi saja tapi, sekelas menertawakan tingkah Raja. Mereka terus
tertawa hingga sebuah suara menghentikan mereka.
"Woi!!! Cika kena Covid-19!!!"
Keheningan mendatangi kelas mereka. Dan secara serempak
menoleh pada si pemilik suara itu.
"Serius Kamu, Dani?!" Ucap Raja yang pertama keluar dari
keterjutannya. Disusul yang lain.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 97
"2 rius malah." Jawab Dani dengan yakin.
"Jangan bohong, Dank (dengan dialek Butonnya). Ini tentang
Cika loh." Ucap Lia berdiri mendekati Dani disusul ketiga
sahabatnya dan Raja.
"Aku gak bohong. Aku denger dari Nadin kelas X- IPS. Kalian
tau' kan? Yang sering tungguinn Cika pulang itu." Ucap Dani dan
diangguki mereka.
"Dia denger dari orang tuanya kalau Cika positif Covid-19.
Bahkan keluarga dia lagi isolasi mandiri di rumah mereka.
Sedangkan Cika dia isolasi di RS." Jelas Dani dengan sungguh-
sungguh.
Seketika keheningan kembali terjadi ditambah bisik-bisik dari
siswa kelas itu. Mereka menampilkan banyak ekspresi yang
didominasi dengan ekspresi ketakutan.
"Kalau bener yang dibilang, Dani. Berarti ada kemungkinan kita
juga kena? Terutama kamu Dani, kamu' kan yang paling dekat
dengan Cika." Ucap salah satu siswa.
"Bener yang dibilang, Alfan. Ingat saja Cika itu orangnya patuh
banget dengan protokol kesehatan 5M saja bisa terjangkit." Timpal
salah satu siswi.
Keempat sahabat yang tidak terlalu berpengaruh hanya bisa
menghela napas. Siswa dan siswi tadi, adalah Alfan dan Nur. Alfan
memang terkenal karena selalu perpikiran negatif. Sedangkan Nur
dia selalu berusaha menyaingi Cika di setiap pelajaran.
Mendengar ucapan keduanya siswa lain langsung tambah
ketakutan dan panik.
"Hahaha." Tawa Satria yang masih duduk di bangkunya.
Alhasil dia menarik perhatian seluruh kelas untuk menatapnya.
"Kamu tidak gila' kan Satria." Ucap Raja dengan hati-hati.
"Kalian kekanak-kanakan." Balas Satria.
98 Nyalanesia
"Apa maksud kamu?!" Tanya Alfan merasa tersinggung.
"Kalian semua itu hanya orang-orang bodoh yang takut Covid
19. Sebenarnya apa yang kalian takutkan? Kematian? Semua orang
juga akan mati dan kembali kepada-Nya. Dijauhi? Itu juga demi
keamanan sekitar dan tidak seharusnya kita menjauhi para
penderita karena mereka butuh dorongan untuk melawan virus ini.
Kalian takut mati? Setiap manusia punya ajal mereka masing-
masing. Kalau kontrak masa hidup kalian habis ya tidak ada pilihan
lain selain mati. Seharusnya kalian itu takut pada Tuhan bukan virus
ini. Ini itu hanya cobaan tidak ada di dunia ini yang abadi semua
juga akan menghilang cuma butuh menunggu beberapa waktu saja."
Ucap Satria.
Keheningan kembali terjadi mereka terdiam mendengarkan
perkataan Ketua kelas mereka.
"Seharusnya kalian itu ikut membantu dengan melakukan
pencegahan penularan Covid 19. Apa kalian pernah berpikir tentang
para perawat dan dokter yang menangani virus ini sedang berusaha
mengobati pasien yang tertular? Mereka tidak takut jika akhirnya
mereka tertular dan mati. Mereka tetap berusaha mengobati dan
mencari vaksin untuk menghilangkan virus ini. Hingga saat ini
mereka berhasil menciptakan vaksin sebagai pencegahan." Lanjut
Satria sambil menghela napas.
"Lucunya ini seperti perang. Para perawat, dokter dan pasien
berusaha sekuat tenaga melawan Covid 19 seperti para pejuang dan
prajurit di medan perang. Sedangkan kita seperti rakyat jelata yang
dilindungi hanya merasa takut akan kekalahan. Kita juga harusnya
ikut perperang walaupun tak secara langsung. Kita bisa membuat
diri kita tidak tertular virus agar korban pasien tidak meningkat.
Bukan hanya ketakutan dan bersembunyi saja." Ucap Satria
menatap Alfan dan Nur. "Kemana masker kalian? Apa kalian
terpengaruh oleh perkataan mereka yang tidak mematuhi protokol
kesehatan?" Tambah Satria.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 99
"Yang dibilang, Satria benar. Kalian semua lupa siapa yang
bantu kita sebelum Ulangan Harian Matematika Minggu lalu?"
Tanya Adinda.
"Cika yang bantu kita. Dia bela-belain ngajar kita semua.
Bahkan kita tau Cika itu cukup sibuk sama kegiatannya sendiri.
Tapi, dia tetap membantu kita. Dan sekarang sudah jelas kita adalah
alasan kenapa Cika sakit dan malah terjangkit Virus Covid-19."
Imbuh Dito dengan terdengar nada amarah dari kalimatnya.
"Tenang, Dito." Ucap Lia berusaha membantu Dio meredakan
amarah Dito.
Mereka yang mendengar perkataan ketiganya terdiam dan
merenung. Terlihat di wajah mereka jika mereka merasa bersalah.
"Jangan buat ini merusak pertemanan kita." Ucap Dio menatap
mereka.
Satria beranjak dari bangkunya dan berdiri di depan kelas.
"Kalian baru merasa bersalah' kan? Kita mungkin tidak bisa
menjenguk Cika. Karena pasien isolasi dilarang untuk dijenguk.
Tapi, Aku punya usul yang mungkin Aku bisa jamin bisa menghapus
rasa bersalah kalian." Ucap Satria mengambil perhatian seluruh
siswa-siswi kelasnya.
"Apa?!" Tanya mereka serempak.
Melihatnya Satria tertawa geli sejenak.
"Kita buat video buat nyampain rasa terima kasih dan
belasungkawa kita pada keluarga Cika dan Cika sendiri. Nanti kita
kirim ke orang tua Cika." Jelas Satria.
"Tapi, bagaimana kita dapat nomor orang tuanya?" Tanya Lia
dan diangguki yang lain.
"Tenang. Udah Aku pikirin. Dani! Kamu pergi ke Bu Zahra, dia'
kan wali kelas kita dia pasti punya nomor orang tua siswa." Jelas
dan perintah Satria.
100 Nyalanesia
Tanpa disuruh dua kali, Dani segera bergegas ke ruang guru.
"Nanti setelah pulang sekolah dan selesai siswa yang piket
selesai. Kita buat videonya sama-sama oke." Ucap Satria.
"Oke!!!"
Setelah pulang sekolah dan siswa yang piket selesai
membersihkan. Mereka mulai menyusun posisi mereka. Bahkan Bu
Zahra wali kelas mereka ikut setelah mendengar alasan Dani
meminta nomor orang tua salah satu siswa nya.
"Makasih loh Bu. Udah bolehin kita buat video ini plus
bergabung juga." Ucap Raja.
"Bukan masalah, Raja. Malahan Ibu bangga sekali dengan
kalian." Balas Ibu Zahra dengan senyum khasnya.
Mereka mulai membuat video itu. Yang diawali dengan mereka
mengucapkan 'Terima Kasih' atas kebaikan Cika pada teman-teman
kelas mereka. Lalu ditambah dengan Bu Zahra yang mengucapkan
'Terima Kasih' atas jasa-jasa Cika pada sekolah mereka ini. Dan
diakhiri ucapan permintaan maaf atas kesalahan dan ucapan
belasungkawa atas kejadian yang menimpa keluarga mereka.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 101
ILMU YANG DIAMALKAN
Artika Ramadhani
Pada suatu sore, Beni dan Ahmad hendak pergi ke gor untuk latihan
futsal.
Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang
mahasiswi yang terjatuh dari sepeda yang ditumpanginya. Dengan
rasa empatinya Ahmad menyuruh Beni untuk turun dari motor dan
menolong mahasiswi tersebut. Sedangkan di tempat lain Beni
menghentakkan kakinya pegal ke jalanan aspal tempat dia
diturunkan oleh Ahmad. Di pinggir jalan persawahan yang menjadi
tempat dilewatinya mahasiswa mahasiswi menuju kampus, Beni
terus memperhatikan Ahmad yang masih saja berbincang dengan
mahasiswi tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
“Aduh si Ahmad lama banget sih. Dia tuh sebenarnya mau
nolongin apa mau ngerayu?” Beni ngedumel merasa kesal, belum
lagi ditambah ponselnya yang tidak berhenti bergetar karena notif
grup futsalnya.
“Duh ini lagi, punya temen gak ada sabarnya.” Beni membuka
ponselnya dan melihat sudah lebih dari 50 notif masuk dari grup
futsalnya. Dia tidak menghiraukan pesan dari grup itu dan hendak
memasukkan ponselnya kesaku celananya, tetapi tiba-tiba ada
panggilan masuk dari temannya yakni Ferdi.
“Halo Fer kenapa?” Ucapnya kepada Ferdi. Dengan kesal Ferdi
mengatakan “Kenapa kamu tanya, ini sudah jam berapa Beni, Pak
Joko sudah marah-marah tuh dari tadi nungguin kamu sama Ahmad
gak datang-datang, kamu sebenarnya dimana sih?”
102 Nyalanesia
Sementara di seberang sana Beni berdecak kesal “Iya tunggu
bentar, ini aku sama Ahmad lagi bantuin orang yang jatuh dari
sepeda,” jelasnya.
Ferdi yang mendengarnya pun sontak kaget “Apa? Kalian
nabrak orang?” Tanyanya dengan suara yang keras. Beni semakin
kesal karena suara Ferdi yang begitu keras sehingga dia harus
menjauhkan ponselnya dari telinganya.
“Makanya dengerin dulu, kita bukan nabrak orang tapi dia yang
jatuh sendiri.” Jelas Beni.
“Ohhh jadi gitu, syukur deh aku kira kalian nabrak orang. Ya
udah cepetan yah kesini nanti aku sampein dulu ke Pak Joko,” kata
Ferdi yang suaranya kembali normal setelah mendengarkan
penjelasan dari Beni.
“Okeyy, makasih yah Fer.” “Sama-sama,” kemudian Beni
menutup teleponnya dan berjalan menghampiri Ahmad.
***
Sedangkan di lain tempat kakak Ahmad sedang menyampaikan
sebuah ceramah di tempat pengajian.
Tedengar suara Andi dari dalam microfon bergema ke seluruh
masjid, bahkan sampai ke daerah sekitaran masjid.
“Bapak, ibu sekalian.... jadi saya dapat mengambil kesimpulan
dari pengajian hari ini yakni setiap kehidupan yang terjadi pada tiap
seseorang, tidak akan pernah kekal. Ada saatnya dimana kita akan
menghadapi fase kehilangan orang terdekat kita, harta dan jabatan
yang kita punya, anak dan cucu kita yang kita banggakan itu hilang
dari muka bumi ini. Semuanya akan kembali kepada Allah SWT.
Termasuk juga kita semua badan kita ini bukan milik kita melainkan
hanya milik Allah SWT. Kita hanya dipinjamkan dan menjaganya
setelah itu semuanya akan kembali lagi kepada Allah SWT,” jelas
Andi.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 103
“Sampai di sini apakah ada pertanyaan dari bapak ibu
sekalian?” Tanya Andi.
Salah seorang ibu bertanya “Termasuk apakah kita ini? Apakah
seseorang yang menginginkan kematian ataukah menginginkan
kehidupan?”
“Jadi seperti ini, sebenarnya tujuan kita hidup ini adalah mati,
dimana hidup adalah sebuah proses yang kita jalani dengan sebaik
mungkin, untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT. Agar kita
dapat menghadapi dan menerima kematian yang begitu indah,”
jawab Andi dengan jelas.
***
Di tempat Ahmad dan Beni berada.
Ahmad berniat untuk menolong Khadijah dengan
mengantarnya pulang menggunakan motor miliknya. Ahmad terus
meyakinkan Khadijah bahwa dia sungguh hanya ingin
membantunya tidak ada maksud lain di benaknya.
“Jadi bagaimana mba? Saya tidak ada niatan untuk berbuat
jahat ke mbanya, saya hanya ingin menolong mba,” jelas Ahmad.
“Nanti sepeda mba biar teman saya yang membawakannya,
tapi sepedanya dia bawa ke bengkel dulu,” Ahmad masih saja
meyakinkan Khadijah.
Khadijah masih ragu untuk mengiyakan ajakan Ahmad karena
dia belum pernah dibonceng oleh laki-laki yang tidak dia kenali.
Tiba-tiba Beni datang dan berteriak “Mad, ayo cepetan kita
udah ditungguin sama temen-temen yang lain Pak Joko juga udah
marah-marah nungguin kita lama banget.”
“Bagaimana mba, mau saya antar pulang atau tidak? Soalnya
saya ada keperluan lain,” tanya Ahmad. Khadijah yang mendengar
itupun tersentak kaget, pasalnya dia juga bingung untuk
mengiyakan tawaran dari Ahmad. Dia terus berpikir jika dia
menolak ajakan Ahmad bagaimana dia akan pulang sedangkan hari
104 Nyalanesia
semakin sore dan awan mendung seperti sebentar lagi akan turun
hujan.
Karena Ahmad melihat raut wajah bingung Khadijah maka dia
mengatakan sebuah hadist riwayat Bukhari tentang pentingnya
saling tolong menolong “Bahwasannya Abdullah bin Umar r.a.
mengabarkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, muslim yang satu
adalah saudara bagi muslim yang lain, oleh karena itu ia tidak boleh
menganiaya dan mendiamkannya. Barangsiapa memperhatikan
kepentingan saudaranya, maka Allah akan membantu kesulitannya
nanti dihari kiamat. Dan barang siapa menutupi (aib) seorang
muslim, maka Allah akan menutupi (aib) nya pada hari kiamat.”
Ahmad menjelaskan itu semua berdasarkan dari apa yang dia
pelajari dari ayahnya yang seorang ustaz. Khadijah yang mendengar
penjelasan Ahmad pun diam mencerna perkataan Ahmad dan
berusaha memikirkan apa yang barusan Ahmad katakan.
“Jadi bagaimana mba? Masih tidak mau saya tolong? Saya
hanya bermaksud untuk menolong mba karena mba perempuan
dan hari sudah semakin sore dan juga sepertinya kaki mbanya sakit
deh habis jatuh tadi takutnya kalau dipaksakan untuk jalan akan
semakin sakit kakinya.”
Dengan penuh keyakinan akhirnya Khadijah mengiyakan
tawaran dari Ahmad “Iya mas, kalau begitu saya mau deh diantar
pulang sama mas.”
Ahmad berbicara kepada Beni untuk membawakan sepeda
Khadijah pulang tetapi sebelumnya dia bawa dulu ke bengkel untuk
diganti rantainya. Ahmad mengeluarkan sejumlah uang dari
dompetnya dan memberikannya kepada Beni “Ben, maaf yah
bukannya bermaksud untuk tidak mau latihan futsal dan
menyuruhmu untuk pulang sendiri tapi ini keadaannya berbeda,
aku harus mengantarkan mba ini pulang karena jika
membiarkannya pulang sendiri kasihan,” sambil menyodorkan
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 105
uangnya ke Beni dia berkata lagi “Uang ini untuk ongkos ojek kamu
sama biaya ganti rantai sepeda mba ini yah.”
“Aku duluan ya Ben, Assalamualaikum,” ucap Ahmad.
“Iya, Waalaikumsalam hati-hati di jalan Mad.”
Sepulang mengantarkan Khadijah pulang ke rumahnya Ahmad
segera membersihkan badannya dan memilih untuk mendengarkan
kajian dari ponselnya.
Keesokan harinya Ahmad dan Beni pergi ke gor untuk latihan
futsal. Di perjalanan Beni terus berbicara tentang kejadian kemarin.
“Mad kemarin tuh hari apes kita kali yah? Mau nolongin orang
eh orangnya malah susah banget ngomong iya ke kamu,” gerutu
Beni di atas motor.
“Hus kamu jangan ngomong kayak gitu, kita itu kan niatnya
mau nolong orang jadi kan harus ikhlas. Lagian kan kasihan kalau
misalnya kita gak nolongin dia mana udah sore mau ujan lagi coba
kamu posisikan diri kamu kalau jadi dia gimana? Terus ada orang
yang lewat tapi gak mau nolongin kamu gimana?” Tanya Ahmad.
“Yaa aku kesal lah masa dia udah tau liat aku lagi kesusahan
tapi malah gak ditolongin kan aku jadi jengkel sama orang itu,”
jawab Beni.
“Jadi ya gitu kita harus saling tolong menolong kan dalam Islam
juga kita diajarkan untuk saling tolong menolong antar sesama umat
manusia, eh bukan cuma manusia hewan juga harus kita tolong, beri
makan dan minum, begitu juga dengan tumbuhan kita harus
merawatnya agar dia bisa tumbuh dengan baik.”
Mereka berdua saling tersenyum.
106 Nyalanesia
MOTIVATOR TERBAIK
Zaskiah Amran Yusuf
Namaku Nadia Auliya, aku duduk di bangku kelas 12 di salah satu
sekolah negeri yang lumayan bergengsi di Kota Bandung berkat
beasiswa yang kudapatkan.
Meski saat ini masih semester 1 tapi tiada hari dimana untuk
bersenang-senang membuang waktu, semua waktu kugunakan
untuk membuka dan membaca buku untuk belajar guna menambah
ilmu dan untuk mempersiapkan diri tes masuk keperguruan tinggi
yang kuinginkan.
Dan memang ujian kelulusan mungkin masih tinggal lebih dari
setengah tahun lagi namun, bersantai seperti teman-temanku yang
lain ditahun ketiga kami di SMA ini bukanlah pilihan yang tepat di
mataku. Bagiku waktu bersantai sudah lewat masanya dan sekarang
adalah saatnya untuk lebih serius menghadapi masa depanku.
Hari ini panas matahari bersinar dengan terang dan lumayan
terik, debu terbawa angin menerpa wajah wajah berpeluh. Bel
pulang telah berbunyi beberapa waktu lalu. Nampak para pelajar
menunggu jemputan dan beberapa yang lain antri menunggu
angkutan umum. Akupun berdiri menunggu angkutan umum di
depan sekolah untuk pulang ke rumah bersama sahabat sahabatku
Mira dan Erin, yang kebetulan kami bertetangga.
Mereka adalah sahabat-sahabatku sejak SMP, kami selalu
belajar bersama setiap hari libur untuk mengisi kekosongan, dan
tentunya mereka juga memiliki rasa dan jiwa ambisi sepertiku
untuk masuk keperguruan tinggi yang kami inginkan.
Akhirnya angkutan umum yang kami tunggu sekitar 15 menit
pun datang. Kami bergegas naik untuk segera pulang. Di pejalanan
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 107
kami bersenda gurau dan bercerita tentang rangkaian mimpi-mimpi
yang terjalin untuk diraih oleh tangan kami. Mengukir cita-cita
untuk masa depan yang lebih baik dan membanggakan kedua orang
tua.
Kami sering membayangkan saat kami memakai almamater
dan berdiri di depan gedung universitas, perguruan tinggi yang
kami idam idamkan sejak dulu.
Membayangkannya saja membuat kami berdebar dengan
perasaan yang senang dan tentunya optimis yang terlihat jelas dari
senyuman manis yang terpancar di masing-masing wajah kami.
Akhirnya kami pun sampai, kami segera turun dari angkutan
umum dan membayar. Aku dan teman-temanku pulang ke rumah
masing-masing.
Hari ini cukup melelahkan aku berjalan gontai masuk ke dalam
rumahku yang sederhana.
“Assalamualaikum,” ucapku ketika membuka pintu.
“Waalaikumsalam,” balas ibu dan adik-adikku.
Aku segera mencium tangan ibuku begitupun adik-adikku yang
tengah menonton kartun favorit mereka di TV pun bergegas untuk
menyalamiku. Ayahku sedang bekerja jadi ia tidak berada di rumah.
“Gimana sekolahnya hari ini kak,” tanya ibuku.
“Alhamdulillah seperti biasa baik dan lancar Bu.”
“Ya sudah kamu ganti baju sama bersih bersih dulu, ibu udah
nyiapin makanan kesukaan kamu dan adik-adikmu.”
“Asikk makasih ibuku yang paling cantic,” godaku.
“Ah kamu ini bisa aja,” balasnya dengan kekehan kecil.
Aku masuk ke dalam kamarku untuk mandi dan mengganti
pakaian. Setelah aktivitasku selesai terlebih dahulu aku menyiapkan
buku untuk kubaca setelah makan siang nanti.
108 Nyalanesia
Aku segera keluar dari kamarku untuk makan bersama sama
adikku. Mereka sudah menungguku sedari tadi. Kami makan siang
dan tentunya masakan ibuku tidak pernah gagal dan selalu enak.
Setelah selesai aku masuk ke dalam kamarku, aku cukup lelah jadi
ku urungkan niatku untuk belajar dan tidur siang terlebih dahulu.
Aku terbangun dari tidurku karena suara azan yang lumayan
cukup keras dikarenakan masjid yang tidak jauh dari rumahku. Aku
bangun dan bersiap untuk segera salat asar.
Setelah itu aku duduk di meja belajarku dan mengambil buku
latihan soal-soal yang kusiapkan siang tadi. Ku buka dan membaca
buku beserta tanganku dengan lihai mencorat-coret jawaban yang
menurutku benar di atas buku latihan soalku, buku dengan halaman
yang berlembar lembar itu seolah sudah menjadi makanan setiap
hari.
Waktu berlalu begitu cepat, sekarang sudah semester terakhir
aku duduk di bangku SMA yang penuh dengan banyak kenangan
kenangan yang indah dan tentunya tidak akan pernah kurasakan
lagi.
Hari pengumuman kelulusan pun tiba. Aku, Mira dan Erin lulus
dengan nilai yang lumayan memuaskan. Kami sangat bersyukur dan
kini adalah awal dari semuanya. Kami sudah mendaftar di
perguruan tinggi yang kami inginkan masing- masing.
Dan saat hari pengumuman yang menegangkan pun tiba,
dengan percaya diri bercampur rasa khawatir, takut dan gelisah aku
membaca pengumuman yang ada di layar laptopku.
Bahuku yang sebelumnya tegak kini menurun perlahan beserta
helaan napasku, ternyata usahaku untuk masuk kejurusan yang
kuinginkan di universitas yang ku impikan masih kurang.
Aku bersedih selama beberapa minggu, aku berpikir dan
merenung, kalau terlalu berlarut dalam kesedihan tidak akan
membuahkan hasil, aku pun menjadikan kegagalan ini menjadi
motivasi dan semangatku untuk lebih bersungguh-sungguh lagi. Aku
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 109
tidak akan menyerah semudah itu masih ada peluang untukku
mendaftar di jalur SBMPTN.
Oh ya ngomong-ngomong Mira dan Erin sahabat- sahabatku itu
mereka lulus di universitas dan jurusan yang sangat mereka
inginkan dari dulu, aku turut bersenang hati atas kerja keras
mereka saat ini sangat membanggakan.
Tentunya ayah ibu dan keluargaku yang lain selalu
menyemangatiku dan merekalah kekuatanku untuk bangkit dari
kegagalan, aku selalu mengingat kata-kata ayahku.
“Jika salah, perbaiki. Jika gagal, coba lagi. Tapi jika kamu
menyerah, semuanya selesai.”
Hari-hari aku lewatkan dengan belajar lebih giat dan berdoa
pada Allah SWT, meski dengan usaha yang menurutku sudah cukup
maksimal lagi-lagi aku merasakan ke gagalan yang kedua kalinya di
jalur SBMPTN, hari itu aku sangat marah dan kecewa. Aku mengadu
dan berserah diri kepada Tuhanku.
“Ya Allah aku tidak tau apa yang salah dariku ya Allah tapi
bolehkah aku kecewa dengan diriku, ya Allah peluk lah aku hingga
hatiku bisa merasa tenang dan damai… Hapuskanlah air mataku
hingga aku bisa merasa sabar dan ikhlas, hanya kepadamu aku
berserah diri ya Allah tunjukan lah jalanmu.” Adu ku kepada Sang
Maha Pencipta.
Aku memutuskan untuk gap year dengan begitu aku bisa lebih
memaksimalkan dan memantapkan diri untuk belajar. Selama
setahun itu aku banyak mengunjungi toko buku untuk mencari
buku-buku soal SBMPTN selain itu juga aku kursus di mana-mana.
Dan di samping itu semua aku juga bekerja disalah satu toko
roti milik teman ibuku guna membantu biaya kursus ku demi
mengurangi pengeluaran biaya keluargaku.
Sebenarnya aku kesulitan dalam membagi waktuku, tetapi aku
tidak boleh mengeluh dan menyerah karena aku tidak mau
110 Nyalanesia
merasakan kegagalan itu yang ketiga kalinya, setiap mengingat
kegagalanku dulu tidak membuatku pesimis dan menyerah malahan
membuatku bertambah semangat untuk belajar dan terus belajar.
Hingga hari yang ku tunggu-tunggu pun telah tiba, hanya
tinggal satu klik saja aku sudah bisa melihat apakah kali ini aku
gagal lagi atau tidak, tapi rasa gelisah dan khawatir lebih memuncak
dibandingkan dulu melihat aku yang tegang di dalam pelukan ibuku
ia mengelus pundakku berusaha menenangkan, setelah berdoa dan
memantapkan hatiku masih dengan jantung yang berdebar kencang.
Aku mengklik tulisan itu, mataku langsung melotot beserta air
mataku yang tak terbendung lagi, mulutku terbuka lebar
membentuk huruf O lalu menatap ibuku yang tersenyum
menatapku dengan perasaan turut berbahagia sembari berderai air
mata, aku memeluk ibuku se-erat mungkin, kali ini aku berhasil.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 111
MENJADI LEBIH BAIK
Sekar Ningrum
Kring...kring...kring...
Waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi. Aku terbangun untuk
mematikan alarmku, aku merasa mengantuk karena tidur larut
malam. Aku pun melanjutkan tidurku dan tidak melaksanakan salat
subuh.
Ketika waktu menunjukkan pukul 07.30, aku baru terbangun
dan ternyata kelasku sedang melaksanakan kegiatan belajar daring.
Aku terlambat masuk sehingga guru pelajaran menegurku disaat
sedang belajar dan banyak teman-teman yang menyaksikan. Aku
sangat malu kenapa aku bisa ceroboh begini. Setelah kegiatan
belajar selesai aku pun melanjutkan tidurku dan tidak
melaksanakan salat zuhur.
“Nak, bangun Nak, kamu harus salat zuhur dulu,” terdengar
suara ibuku menyuruhku untuk salat.
Tetapi karena aku merasa sangat mengantuk jadi aku tidak
mendengarkan perkataan ibuku.
Waktu sudah menjelang sore, aku pun terbangun. Aku
membalas chat dari seorang yang sudah ku anggap seperti pacar,
Dia: “Main game yuk?”
Aku: “Sebentar ya, aku salat asar dulu.”
Dia: “Oh jadi sekarang ada yang lebih penting nih?”
Aku: “Ya sudah, ayuk main game.”
Mereka pun bermain game sampai lupa waktu salat.
Waktu memasuki magrib, aku sedang membuka salah satu
sosial media, dan mendapat video salah satu ustadzah yang
112 Nyalanesia
menjelaskan tentang apa itu zina dan menjelaskan apa yang akan
diperoleh ketika tidak taat kepada Allah SWT.
Aku mendapatkan kedua kutipan ayat AL-Qur’an ini:
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu
adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.”
"Barang siapa yang sengaja meninggalkan salat, berarti ia
telah kafir secara terang-terangan."
Lalu aku langsung tersadar mengenai perbuatanku selama ini,
aku merenungkan perbuatanku, dan disaat itulah aku berpikir
bahwa aku harus berubah mulai dari sekarang tanpa menunda-
nunda, terbesit dalam diriku untuk berubah menjadi lebih baik
secara pelan-pelan. Karena aku sadar bahwa perbuatanku selama
ini sudah berlebihan, dan aku sudah jauh dari Allah. Aku selalu tidak
nyaman, selalu kecewa, dan selalu memiliki sifat yang tidak baik,
ternyata itu semua berasal dari diriku sendiri.
Aku segera menunaikan salat magrib dan berdoa untuk
memohon petunjuk kepada Allah SWT.
“Ya Allah, berikanlah hamba petunjuk-Mu menuju jalan
kebenaran, berikanlah hamba hidayah-Mu Ya Allah, hamba malu Ya
Allah, hamba malu dengan perbuatan hamba.” Kataku dalam
berdoa.
Aku mencari-cari informasi mengenai agama dan
memperdalam ilmu agama. Beberapa hari kemudian orang yang aku
anggap pacar chat.
Dia: “Tumben kamu tidak chat aku?”
Aku pun takut harus menjawab apa, tetapi aku berusaha untuk
menjelaskan apa yang sebaiknya kita lakukan, karena perbuatan
kita selama ini sia-sia dan bernilai dosa.
Aku: “Maaf, untuk sekarang jangan dekati aku lagi ya,
perbuatan kita selama ini sudah termasuk perbuatan dosa, sekarang
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 113
kita fokus memperbaiki diri, kita harus taat kepada aturan-aturan
agama, meskipun pelan-pelan tapi pasti kita bisa.”
Dia: “Aku tidak mau.”
Aku: “Ini harus kita lakukan meskipun terasa sangat berat,
kamu harus yakin kalau kita bisa untuk tidak begini lagi, sekarang
kamu salat dan mohon lah ampunan kepada Allah.”
Dia: “Oh iya terima kasih atas sarannya.”
Aku: “Aku mau berubah, aku gamau jauh dari Tuhanku sendiri,
dan aku sadar bahwa hubungan kita selama ini tidak ridho.”
Dia: “Ya sudah kalau itu mau kamu.“
Semenjak hari itu, aku tidak lagi chat dengan dia dan saya
berusaha untuk menjauhi laki-laki jika saya tidak berkepentingan.
Aku berusaha untuk bisa menjadi lebih baik dari sikap aku yang
sebelumnya.
Keesokan harinya, ketika aku sedang lari pagi di lapangan, aku
bertemu dengan temanku.
Sarah: “Haii, kok tumben kamu bangun pagi dan olahraga?
Biasanya kan kamu bangunnya siang akibat tidur larut malam hanya
untuk main game dan chat sama pacar kamu.”
Aku langsung berhenti lari, dengan perasaan yang tidak bisa
dijelaskan.
Aku: “Haii Sarah, aku sedang berusaha untuk menjadi lebih
baik, karena aku sadar selama ini perbuatanku salah dan aku juga
sudah jauh dari agama. Maafkan aku yah kalau pernah berbuat hal
yang seharusnya tidak aku lakukan padamu.”
Sarah: “Hahaha, pasti sifat kamu itu hanya sebentar saja, kamu
kan tidak bisa seperti itu.”
Aku: “Iya aku tahu itu, tapi aku sedang berusaha, aku yakin
kalau aku pasti bisa melewati semua ini, aku tahu aku sudah salah
jalan dulu.”
114 Nyalanesia
Sarah: “Tapi pasti kamu masih pacaran kan?”
Aku: “Aku sudah memutuskan untuk tidak berpacaran lagi
karena hal itu merupakan perbuatan dosa Sarah, aku mau kamu
juga sadar akan hal itu.”
Sarah: “Aku juga ingin menjadi lebih baik tapi aku susah untuk
meninggalkan kebiasaan burukku.”
Aku: “Aku menghargai keinginan kamu untuk menjadi lebih
baik, kamu harus yakin bahwa kamu bisa berubah Sarah.”
Sarah: “Terima kasih sarannya Sekar.”
Aku: “Iya sama-sama.”
Hari demi hari pun kulalui, hidupku berasa lebih baik dari
kemarin-kemarin. Hari ini aku akan menemui teman-teman kelasku
di sekolah, pada saat kami duduk makan di kantin, teman laki-lakiku
menembak Sarah, perdebatan pun terjadi.
Aldo: “Aku ingin kita pacaran.”
Sarah: “Aku tidak mau Aldo, pacaran itu perbuatan yang sia-sia,
kita hanya menghabiskan waktu untuk berbuat dosa.”
Aldo: “Kamu ketularan Sekar ya? Perasaan kamu dulu tidak
begitu, Sekar itu luarnya saja yang begitu tetapi dalamnya munafik.”
Ketika itu aku pun tertegun, dan langsung menunduk tidak
menatap mereka lagi.
Sarah: “Kamu bilang apa? Jaga mulut kamu ya, Sekar itu tidak
begitu, dia benar-benar sudah berubah!!”
Aldo: “Hallah dia itu busuk.”
Aku sudah sakit karena mendengar perkataan Aldo, aku pun
bangkit dari tempat dudukku dengan menahan emosiku dan
berkata baik-baik.
Aku: “Maaf ya sebelumnya Aldo, aku lagi berusaha untuk
menjadi lebih baik, aku bukan lah yang dulu, aku sadar bahwa dulu
aku sudah kelewatan. Tapi sekarang aku tahu mana yang baik dan
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 115
mana yang buruk, semua orang pasti punya kesalahan, tapi apakah
salah ketika kita ingin berubah?”
Aldo pun terdiam.
Aku: “Aku mau ingatkan kepada kamu, sebaiknya kalian jangan
berpacaran, jangan mendekati zina, kamu tahu kan itu hal yang
tidak diperbolehkan di dalam agama? Itu merupakan perbuatan
yang keji. Kamu fokus untuk memperbaiki agamamu dulu Aldo.”
Akhirnya Aldo dengan penuh kesadaran meminta maaf kepada
Sekar.
Aldo: “Maaf ya Sekar, kalau perkataan aku tadi membuat kamu
tersinggung, dan Sarah aku menarik permintaanku tadi.”
Sekar: “Iya tidak apa-apa.”
Sarah: “Semoga kamu jadi lebih baik ya.”
Aldo: “Terima kasih saran dan doanya.”
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Aku: “Ternyata ketika kita mencoba menjadi lebih baik banyak
ujian yang harus kita lewati dan tentunya tidak mudah, tapi aku
harus percaya bahwa Allah selalu bersamaku.
116 Nyalanesia
SEKOLAHKU
Sitti Aisyah Risky Safiyyah
Tak terasa aku memasuki SMP. Aku mendapatkan beasiswa saat
kelas 6 SD. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT yang
menolongku dapat masuk ke sekolah favoritku. Akhirnya usahaku
tak sia sia selama belajar 6 tahun di sekolah dasar. Aku berterima
kasih kepada guru, orang tua dan teman-temanku yang sudah
mendukungku selama ini. Aku sekolah di SMP Islam Al-Kadih.
Aku ke sekolah memakai baju seragam merah putih dan
kerudung putih. Tinggiku sekitar 155 cm, mataku dibilang agak
besar oleh teman-temanku dulu. Hobiku biasanya mewarnai,
menulis, dan menyanyi. Sudah banyak penghargaanku saat dulu,
berkat Allah dan keluargaku yang sudah menolongku mendapat
prestasi.
Namaku Hana Syafira Putri, dipanggil Hana. Aku berumur 12
tahun. Aku memiliki 1 adik laki-laki, namanya Rudi. Aku tinggal
dengan orang tuaku. Orang tuaku senang saat aku mendapatkan
beasiswa masuk ke sekolah yang bagus. Saat hari pertama aku
masuk ke sekolah, rasanya canggung. Lalu ada yang menyapaku saat
aku sendirian. “Assalamualaikum. Hai, namaku Fiona. Maukah kau
menjadi temanku? Aku belum punya teman.” Ucap seorang gadis
riang dan menawan. Aku tersenyum lebar. “Ya…namaku Hana. Aku
mau jadi temanmu.” Ucapku. Hari pertama sudah mendapatkan
teman baru. Terlihat Fiona tersenyum. Kami pun saling
menceritakan diri kami, sampai guru datang ke kelas. Aku masuk
kelas 7C yang dibimbing oleh Bu Yuni.
Bu Yuni terlihat baik dan ramah. Bu Yuni mengatakan kalau dia
itu guru bahasa Indonesia. Aku dan Fiona duduk bersebelahan di
pojok kiri. Lalu kami semua pun berkenalan masing-masing. Lalu
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 117
kami mengadakan voting ketua dan wakil kelas serta yang lain.
“Siapa yang mau jadi calon ketua kelas?” Tanya Bu Yuni. Aku pun
mengangkat tangan, beberapa ada yang begitu. “Silahkan maju ke
depan.” Aku pun maju ke depan dengan yang lain. Bu Yuni
mengatakan, kalau mau jadi ketua kelas, harus memiliki jiwa
kepimpinan, dapat mengatur kelas, dan baik dalam kegiatan aktif
maupun pasif.
Aku dan yang lain pun menjelaskan kenapa ingin menjadi ketua
kelas. Yang lain harus menulis nama calon ketua kelas di kertas kecil
dan beri ke Bu Yuni. Voting pun selesai, semua anak (kecuali calon
ketua) sudah memberi ke Bu Yuni. Tak lama kemudian, rupanya aku
yang paling banyak dipilih sebagai ketua kelas setelah dihitung-
hitung. Dan wakil kelas itu bernama Rino. Bu Yuni pun menyuruh
kami kembali duduk ketempat masing-masing. Aku pun duduk di
bangku milikku. Fiona pun menghampiriku sambil tersenyum lebar.
“Selamat Hana! Kau menjadi ketua kelas ini. Semoga kau semakin
bisa mengatur kelas dan menjadi lebih baik.” Ucap Fiona memujiku.
Aku hanya tersenyum malu. “Amin. Terima kasih Fiona.”
Jam pelajaran pun selesai. Aku dan Fiona ingin ke kantin. Tapi
saat mau ke kantin, tiba-tiba saja ada yang memanggilku. “Hanaaa!
Tunggu sebentar!” Ucap lelaki berbadan tinggi, ia lari kepadaku. Aku
pun tersentak dan menoleh kepadanya. Rupanya itu Rino, wakil
ketua kelas. Dia pun berhenti di depanku sambil mengatur napas.
“Rino kenapa?” Tanyaku kepadanya. Dia pun mengangkat kepalanya
yang tadinya menunduk. “Boleh kenalan? Karena kita ketua dan
wakil ketua kelas, kita harus bisa kerja sama.” Ucap Rino. Aku
tersenyum lalu mengangguk. Fiona yang darita dia diam, ia pun
bersuara. “Rino…kau mau ke kantin dengan kami?” Tanya Fiona.
Rino mengangguk dan ikut ke kantin.
Saat sampai di kantin, terliat dua lelaki sedang kelahi. Aku,
Fiona dan Rino pun melihat kejadian mereka kelahi. Aku pun
bertanya kepada yang lain. “Kenapa mereka kelahi?” Tanyaku.
“Karena Faiz mengejek Diro, Diro pun marah, lalu Diro membalas
118 Nyalanesia
Faiz dengan ejekan. Alhasil mereka menjadi kelahi.” Ucap gadis itu.
Aku pun menghampiri mereka. “H-Hana..” Ucap Fiona. Aku pun
memisahkan mereka berdua.
“Kalian tidak boleh kelahi satu sama lain. Siapa yang namanya
Faiz?” Ucapku lantang. Lelaki bernama Faiz pun menangkat tangan.
Aku pun menoleh kepadanya. “Tidak boleh mengejek orang lain.
Kau mengejek orang lain seenaknya, tapi kalau kau diejek, kau
malah marah.” Ucapku. Dia hanya diam di tempat. Lalu aku menoleh
ke Diro. “Dan kau. Kalau kau diejek, seharusnya kau sabar dan tidak
membalas itu. Kau seharusnya lapor ke guru.” Ucapku lagi, tapi kali
ini ke Diro. Diro hanya menunduk dan meminta maaf. “Minta maaf
ke Faiz.” Ucapku. Diro pun minta maaf ke Faiz. “Cih..seharusnya aku
yang minta maaf duluan.” Ucap Faiz lalu tersenyum. Diro pun ikut
tersenyum. Aku pun lega.
Orang-orang pun bertepuk tangan kepadaku. Rasanya jadi
malu. Guru olahraga yang bernama Pak Ridho pun datang.
“Kudengar ada yang kelahi di sini.” Ucap Pak Ridho. “Alhamdulillah,
perkelahian sudah selesai Pak. Berkat Hana, membuat Faiz dan Diro
baikan lagi.” Ucap Rino. “Ah..begitu. Maafkan bapak karena sudah
telat tadi. Untung ada Hana. Terima kasih ya Nak.” Ucap Pak Ridho
kepadaku. Aku tersenyum. “Iya Pak.” Keadaan pun membaik.
Semuanya sudah bubar dan melanjutkan kerjaan masing-masing.
Aku dan kedua temanku membeli pentol kuah. Rasanya enak.
Setelah kami jajan, kami pun kembali ke kelas. Saatnya
pelajaran IPA. Guru ini bernama Pak Budi. Seperti biasa, kami
mengenal setiap guru yang masuk ke dalam kelas. Di luar maupun
dalam kelas. Aku pun disuruh buat kelompok, anggotanya 4 orang.
Untunglah jumlah siswa disitu 24. 12 laki-laki dan 12 perempuan.
Aku pun sekelompok dengan Fiona, Dina dan Nia. Kami juga sudah
kenalan. Pak Budi menyuruh kami untuk menulis semua tumbuhan
di sekitar sekolah. Aku dan yang lain menuju ke luar kelas dan ke
taman kecil. Terlihat dedaunan hijau dan asri.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 119
Setelah kami catat semua tumbuhan sekitar, aku melihat
banyak dedaunan pohon yang layu jatuh sehingga tak enak
dipandang. Untnglah sudah jam istirahat. Aku pun meminta izin
kepada Pak Budi untuk membersihkan lingkungan. Aku pun
memanggil semua temanku. “Lihat. Banyak dedaunan kering yang
jatuh dari pohon tua itu. Itu dapat membuat sekolah kita kotor.”
Ucapku.”Bagaimana kita bersihkan tempat ini?” Tanya Nia. Aku
mengangguk. “Baiklah. Yang lain ambil sapu, sekop, dan kantong
plastik besar. Semuanya pun mengangguk dan mengambil benda
benda tersebut.
Setelah semuanya sudah mengabil alat-alat itu, kita semua pun
bersih bersih. Pak Budi juga ikut bersih-bersih. Anak-anak serta
guru lain pun ikut bersih bersih. “Bagus! Semakin ramai maka
semakin cepat kerjaannya.” Ucap Dina riang. Alhasil warga warga
sekolah bersih-bersih lingkungan sekolah supaya bersih. Aku pun
sempat berpikir. Bagaimana kalau kita hias sekolah kita? Supaya
semain enak dipandang dan semakin banyak yang akan ke sekolah.
“Fiona, Dina, Rino..tolong ambilkan beberapa hiasan sekolah di
gudang.” Mereka pun langsung mengambil hiasan itu. Aku pun
memberitahu yang lain untuk menghias.
Tak lama kemudian, mereka bertiga membawa kotak yang
berisi hiasan. “Mari kita mengdekorasikan sekolah!” Ucapku dengan
riang. Semuanya pun mengdekorasi. “Hana, bolehkah aku menempel
lukisan ini di dinding luar kelas?” Tanya gadis itu yang sekelas
denganku, Reni. Kulihat lukisan itu. Menggambarkan orang-orang
yang sedang bergotong royong. “Wah apakah kau yang
menggambarnya?” Tanyaku. Karena gambaran itu sangatlah indah.
Dia mengangguk. “Aku yang menggambarnya, sedangkan Lina yang
melukisnya.” Ucap Reni. Aku juga dengar dari yang lain kalau Lina
itu sering menjuarai lomba mewarnai dan melukis. Dia sangatlah
berbakat dari TK.
Kami semua menyapu, mengdekorasi, dan bersih bersih.
Rasanya menyenangkan. Setelah semua kerjaan sudah selesai, bibi
120 Nyalanesia
kantin membawakan kami air minum. “Ah bibi….apakah tak
merepotkan?” Tanyaku khawatir. Bibi kantin hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa. Kalian juga pasti kelelahan setelah bersih-bersih.”
Ucap bibi itu. Semuanya pun mengambil air minum yang tersedia.
Lalu kakak kantin (adiknya bibi kantin) membawa kue serta
makanan. Semuanya pun lega dan tidak kelaparan. “Terima kasih
bibi dan kakak kantin…” Ucap semua orang.
KRIIIINGGG!!
Bel pun berbunyi. Kami semua sudah makan dan minum. Lalu
semuanya bubar dan kembali ke kelas masing-masing. Aku dan
Fiona pun masuk ke kelas. Pak Budi masih di kelas. “Ok, sebelum
kita mengakhiri pelajaran ini, mohon tugasnya dikumpulkan di
ruang guru. Kalau begitu, mari kita mengucapkan Hamdalah.”Ucap
Pak Budi. “Alhamdulillahirabilalamin.” Pak Budi pun keluar kelas.
Saatnya salat. Tapi bagaimana kami mau salat kalau baju kami
keringatan? Aku berpikir sejenak. Bukannya setiap siswa di Al-Kadih
harus membawa baju cadangan. Aku pun bilang yang lain. “Teman
teman, mohon ganti baju dulu ya. Kan kita keringatan, bagaimana
mau salat? Nanti salatnya nggak sah lho.” Ucapku sambil
mengingatkan mereka. Mereka pun mengambil baju cadangan dan
mengganti baju itu. Kalau begini, salatnya akan sah karena tidak bau
dan kotor. Setelah mengganti baju, aku dan Fiona menuju ke Masjid
di samping sekolah. Saat kami sampai di masjid, terlihat ada anak-
anak yang berlari-lari di dalam masjid. Aku pun memperingati
mereka, tapi mereka tetap tak mau berhenti.
Anak-anak itu bukan anak dari sekolah kita. Mereka nakal dan
tak mau diam. Aku berusaha menghentikan mereka, tapi mereka
terlalu lincah. Lama-lama pun mereka berhenti karena kelelahan. Aku
tak mau mengejar dan meneriaki mereka. Karena itu perilaku yang
tidak sopan di masjid. Untunglah belum azan dan masjid masih sepi.
Aku pun menghampiri sekerumpulan anak-anak itu dengan Fiona.
Mereka terlihat sedang lelah. Anak-anak itu berjumlah 5 orang. 2
laki laki dan 3 perempuan.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 121
“Emm..anak anak.” Panggilku. Semuanya pun menoleh
kepadaku. Aku pun ikut duduk di samping mereka. “Lain kali, kalian
tidak boleh lari-lari di masjid. Itu perilaku yang tidak baik dalam
adab sopan santun.” Ucapku. Mereka hanya diam. “Kalian tidak boleh
lari-lari, karena dapat mengganggu orang lain dan Allah akan
marah.” Ucap Fiona. “J-Jadi..Allah akan marah kepada kami?” Ucap
gadis kecil berkerudung, tapi poni rambutnya kelihatan. “Allah tidak
akan marah kalau kalian tidak begitu lagi.” Ucapku sambil
membetulkan poninya yang kelihatan.
Mereka pun terdiam lagi. Aku menatap Fiona dengan tatapan
bingung. Begitu juga Fiona. “Baiklah. Lain kali kami tidak akan lari-
lari dan berbuat nakal lagi.” Ucap laki-laki berkaca mata dan memakai
kopiah kecil. Aku tersenyum. “Oh ya. Kalian sekolah di mana? Dan
kalian kelas berapa?” Tanyaku. “Kami sekolah di SD 23 Melati. Kami
kelas 3.” Ucap gadis berkerudung tapi kali ini kerudungnya miring.
Fiona pun membetulkan kerudung itu. Kami semua pun berkenalan
dan saling cerita sampai waktunya azan.
ALLAHUAKBAR! ALLAHUAKBAR!
Sudah waktunya azan. Aku dan Fiona berpamitan ke anak-
anak. Kami pun wudu di tempat yang telah tersedia untuk wudu.
Kita pun memakai mukenah lalu salat zuhur berjama’ah. Setelah
salat, kita dzikir dan berdoa kepada Allah SWT. Setelah dzikir dan
doa, kami merapikan mukenah dan kembali ke kelas. Saatnya
pelajaran Matematika. Dan yang mengajar itu Bu Ina. Kami
berkenalan dan mempelajari materi baru. Aku senang dan
bersyukur bisa sekolah di sini. Sekolah ini memang dikenal sekolah
yang baik untuk keagamaan muslim. Fasilitasnya lengkap,
lingkungan sekitar juga bersi, dan banyak lagi.
3 Minggu kemudian
Sudah banyak yang kulewati saat kelas 7. Sampai tak terasa sudah 3
minggu sekolah di sini. Saat kelasku sedang belajar, tiba-tiba saja
ada yang mengetuk pintu.
122 Nyalanesia
TOK TOK TOK
“Assalamualaikum, maaf sudah mengganggu. Boleh minta
waktunya sebentar?” Ucap seseorang dan sepertinya itu kakak
kelas. Bu Mika (guru IPS) pun memperbolehkan. “Ok,
Assalamualikum semuanya. Kami di sini mau bertanya. Siapa yang
ingin ikut osis?” Tanya kakak kelas. Separuh dari kelasku ingin ikut
osis. “Oh ya, siapa ketua kelas di sini?” Tanya kakak kelas itu. Aku
pun mengangkat tangan. “Kalau ketua kelas, harus menjadi anggota
MPS.” Lanjut kakak kelas itu. Dari yang kulihat namanya dibaju itu
Kak Freya.
“Silahkan daftar nanti dengan kakak. Nanti kalian akan di tes
siapa yang menjadi ketua, wakil, behandara, dan seketaris. Ok,
Assalamualaikum.” Ucap Kak Freya lalu pergi. “Waalaikumsalam.”
Fiona terlihat senang. “Apakah kau ikut osis, Fiona?” Tanyaku.
Dia pun mengangguk. “Aku juga ikut osis.” Ucap Dina yang
duduknya di depan Fiona. Sepertinya mereka sangat senang.
Beberapa hari kemudian
Hari dimana penentuan siapa yang lulus osis. Kalau tes osis sudah
kemarin. Dan akan diumumkan pada hari Rabu. Ini sudah hari Rabu.
Kita hanya tunggu hasilnya. Dan aku lihat kerumunan disitu.
Sepertinya itu info osis. Aku pun memanggil Fiona dan yang lain.
Dan saat dilihat, yang lulus itu….Dina, Sasha, Rio dan Andi. Rupanya
Fiona tak lulus. Mukanya Fiona yang tadi riang sekarang menjadi
murung. Fiona kembali masuk ke kelas. Aku pun coba
menghiburnya.”Tidak apa-apa. Ini ujian dari Allah untuk bersabar.
Walaupun kau tak bisa, kau bia menjadi anggota osis kok.” Ucapku.
Lalu Fiona kembali riang. “Ya…walaupun aku tak bisa. Aku bisa
menjadi anggota. Terima kasih Hana.” Ucap Fiona. Aku tersenyum
saat dia kembali riang. Karena ini memang tanggung jawabku
sebagai temannya. Aku dan Fiona pun mengucap selamat kepada
Dina. Dina pun senang dan bersyukur.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 123