“Menyesal? Untuk apa? Lagian Allah nggak pernah peduli sama
aku, dia udah bikin hidup aku menderita selama ini.” Balas Helga
tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Ini cobaan Allah kepada kita Nak, itu artinya Allah masih
sayang kepada kita. Ayah mohon sama kamu Nak, tolong kembali ke
jalan Allah, ayah merasa gagal melihat kamu melakukan semua ini.”
Mohon ayah Helga kepada anaknya.
“Ayah ini kenapa sih? Udah lah nggak usah nangis-nangis, aku
bisa urus diriku sendiri jadi ayah jangan ikut campur,” setelah
mengatakan hal tersebut Helga langsung mengambil dengan cepat
barang-barang haram di hadapan ayahnya, akan tetapi sang ayah
menahannya alhasil Helga mendorong ayahnya sampai terjatuh dan
berlari memasuki kamar setelah membanting pintu terlebih dahulu.
Ayah Helga yang memang sudah sakit-sakitan hanya bisa
menangis sambil menahan sakit yang menyerang di dadanya. Ya
Allah, ampuni lah dosa-dosa anakku, batin ayah Helga.
Malam pun tiba, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya,
Helga sedang bersiap-siap untuk ke club malam dengan baju ketat
dan terbuka yang membungkus badannya.
Setelah memastikan ayahnya sudah memasuki kamar, Helga
berjalan secara perlahan keluar kamar menuju bagian depan rumah.
“Helga?” Menghembuskan napas jengah, Helga membalikan
badannya dan memutar bola mata malas melihat sang ayah ada di
hadapannya.
“Astagfirullah Nak, kenapa baju kamu seperti ini? Masuk kamar
dan ganti baju kamu.” Ayah Helga memperhatikan pakaian Helga
yang sangat tidak pantas untuk diperlihatkan.
Helga yang sudah menduga dengan hal ini semakin jengah,
“Ayah apaan sih? Ini emang begini modelnya, ayah aja yang nggak
ngerti model orang ini baju mahal.” Bantah Helga.
24 Nyalanesia
Setelah mengatakan hal tersebut, Helga segera berlari keluar
rumah tanpa memperdulikan teriakan ayahnya yang memanggil
dirinya terus menerus.
Setelah sampai di club malam, Helga langsung saja menemui
temannya. “Guys malam ini gue yang traktir kalian, gue habis ambil
uang ayah gue tadi.” Helga berseru senang kepada teman-temannya.
“Wah serius nih? Kita bisa pesan apa aja di sini?” Tanya salah
satu teman Helga.
“Iya, gue lagi banyak uang malam ini.” Jawab Helga.
Teman-teman Helga berseru senang, mereka pun berfoya-foya
tanpa memikirkan dosa yang telah mereka lakukan.
Setelah menghabiskan waktu di club malam, Helga pulang pada
subuh hari dalam keadaan hampir tidak sadar akibat mabuk-
mabukan. Tanpa memerhatikan kondisi rumahnya, Helga berjalan
dengan sempoyongan menuju kamarnya.
Saat memasuki kamar, Helga pun melepaskan sepatu hak tinggi
yang digunakannya kemudian langsung membanting dirinya di
kasur dan terlelap.
Keesokan harinya
Helga terbangun akibat suara ribut yang mengganggunya, membuka
mata secara perlahan Helga semakin terusik dengan suara-suara
orang yang terasa seperti di dalam rumahnya.
Melihat jam dinding di kamarnya, Helga semakin dibuat
kebingungan ketika melihat jam menunjukkan pukul 6 pagi tetapi
sudah ada kebisingan seperti itu.
Setelah berganti baju menjadi lebih baik, Helga pun keluar dari
kamar dengan dilanda penasaran. Helga semakin kaget saat
menemukan banyak orang yang masuk ke rumahnya sambil
menggotong keranda.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 25
“Ada apa ini?” Tanyanya dengan perasaan yang mulai tidak
baik.
Semua yang ada di sana menoleh kepada Helga dan tangisan
orang-orang pun semakin terdengar. “Maaf harus mengatakan ini,
almarhum bapak ini meninggal tadi subuh setelah kecelakaan yang
menimpanya tadi malam.” Ucap salah satu petugas rumah sakit
yang bertugas mengurus jenazah.
“Nak Helga, tadi malam saya melihat almarhum ayahmu
mengikuti kamu saat keluar dari rumah. Sepertinya ayahmu
kecelakaan dalam perjalanan.” Tambah tetangga Helga.
Mendengar hal tersebut Helga sangat kaget, dengan pandangan
kosong ia menatap jenazah sang ayah yang tertutupi kain putih.
Dengan badan bergetar, Helga berusaha mendekati sang ayah
dengan tak percaya.
“I-ini nggak mungkin…” Setelah itu Helga merasakan
pandangannya menggelap dan tak lama setelahnya ia kehilangan
kesadaran diri.
Setelah beberapa saat, Helga terbangun dari pingsan lalu
melihat bahwa dia tidak berada di rumahnya. Sekitarnya terdapat
banyak bunga dan pohon serta terdapat banyak kupu-kupu yang
berterbangan, sangat indah.
Tidak lama kemudian, Helga mendengar suara langkah kaki di
belakangnya. Saat berbalik, dia berlihat sang ayah berdiri tepat di
depannya sambil tersenyum.
“A-ayah?” Helga senang, ternyata ayahnya yang meninggal itu
hanya mimpi.
“Helga…” Ucap ayah Helga dengan lirih.
“Iya ayah.” Helga menangis, mulai meragukan apa yang terjadi
sekarang.
“Nak ingat pesan ayah, setelah ini tolong kembali ke jalan Allah.
Percayalah Nak kita semua akan kembali kepada Allah entah itu
26 Nyalanesia
dengan cara meninggal atau di hari akhir nanti, kembali lah ke jalan
Allah dan ikuti semua perintahnya serta jauhi lah larangan-Nya.”
Ucap ayah Helga sambil senyum.
Tangisan Helga pecah, ia tidak sanggup dengan semua ini, dia
tidak rela ditinggalkan oleh ayah yang selama ini selalu
menemaninya, ia benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan
kebaikan ayahnya.
Tidak lama wujud sang ayah menghilang secara perlahan,
Helga yang melihat itu semakin histeris memanggil ayahnya.
“AYAH JANGAN PERGI!!!” Helga terbangun dari mimpinya
dalam keadaan menangis, napasnya memburu serta keringat yang
mengalir di wajahnya.
“Ayah mana?!” Histerisnya sambil menatap sekitar. Saat
melihat sang ayah yang terbujur kaku di sebelahnya, Helga menjerit
menangis dan mendatangi ayahnya.
“Ikhlaskan ayahmu Nak, dia sudah tenang di surganya Allah.”
Ucap tetangga Helga menenangkan. Ibu-ibu sekitar rumah Helga
pun merangkulnya sambil menenangkan.
Setelah ayah Helga di makamkan, Helga pun berusaha
mengiklashkan ayahnya. Ia pun menebus rasa penyesalannya
dengan selalu mendoakan almarhum ayahnya kepada Allah.
Sejak saat itu, Helga bertaubat kepada Allah SWT, ia selalu
mengingat Allah dalam keadaan apapun serta mendekati perintah-
Nya dan menajuhi larangan-Nya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 27
BUAH KEJUJURAN
Nur Ainun Awaluddin
Amar merupakan seorang manajer keuangan di sebuah perusahaan
percetakaan, ia berumur 28 tahun. Amar adalah seorang anak
tunggal tetapi dia sangat mandiri dan tidak suka menyusahkan
kedua orang tuanya. Amar mempunyai sifat rajin dalam bekerja, dan
juga bertanggung jawab, Amar mendapatkan posisi manajer karena
dia mendapatkan kepercayaan dari bosnya, dan juga di kalangan
karyawan lain ia terkenal dengan sosoknya yang ramah dan jujur.
Di pagi hari Senin yang cerah dan jam telah menunjukkan
pukul 07:00 menandakan aktivitas akan segera dimula. Amar mulai
bersiap-siap dengan pakaiannya yang rapi untuk pergi ke
kantornya.
Sesampainya di kantor Amar mulai menyapa teman-teman
kantornya dengan ramah. Saat ia hendak duduk di tempat kerjanya
seorang dengan perawakan kurus, tinggi, memiliki kulit yang
kecoklatan menepuk bahunya dan menyapanya.
“Hai pagi Mar…” Sapa Rehan yang merupakan teman dekat
Amar sejak mereka SMA. Rehan merupakan salah satu pegawai dari
perusahaan tempat mereka bekerja.
“Eh Rehan … pagi juga,” balas Amar.
Mereka lalu larut dalam kesibukan masing-masing. Suara
printer menambah ramai suasana pagi di kantor Amar. Beberapa
karyawan terlihat membawa tumpukan map berisi laporan untuk
disampaikan ke ruang manajer.
Waktu terus berputar, hari semakin siang. Pantulan sinar
matahari siang menerpa kaca-kaca kantor yang menyilaukan mata
para karyawan. Jam dinding telah menunjukan pukul 12:00 siang,
28 Nyalanesia
jam tersebut merupakan jam untuk para pegawai beristirahat.
Kemudian Rehan menghampiri Amar yang masih sibuk dengan
komputernya.
“Mar… sudah waktunya istirahat, ayo kita pergi makan di kafe
depan,” ucap Rehan.
“Oh sudah jam 12 ya? (sambil melihat ke arah jam dinding) ya
sudah, ayo kita pergi,” kata Amar sembari menutup laptopnya.
Saat mereka sudah sampai di kafe mereka mengambil tempat
duduk dan memesan makanan. Ketika sedang menunggu pesanan
tiba-tiba hp Amar berbunyi, dengan cepat Amar pun
mengangkatnya.
“Assalamualikum Amar!!!” Ucap seseorang di seberang sana
dengan nada suara yang panik.
“Waalaikumsalam ibu, ada apa ibu? Kenapa ibu terdengar
sangat panik?” Kata Amar cemas.
“Ayahmu di Rumah Sakit Mutiara sekarang Nak, dia mengalami
kecelakaan dan sedang berada di ruang UGD,” kata ibu Amar dengan
nada terisak.
“APA!!! Tunggu ibu saya segera ke sana sekarang?” Kata Amar.
“Rehan…aku pergi dulu ya soalnya ayahku kecelakaan dan
berada di rumah sakit sekarang,” kata Amar dan kemudian beranjak
pergi dari kafe tersebut.
Setelah itu Amar segera pergi dan melajukan mobilnya dengan
kecepatan tinggi ke rumah sakit, selama di perjalanan Amar merasa
sangat khawatir dan gelisah. Ia sangat khawatir kepada ayahnya.
Dan sesampainya Amar di rumah sakit dia melihat dan langsung
menghampiri ibunya yang sedang cemas di depan ruangan.
“Ibu bagaimana keadaan ayah sekarang?” Ucap Amar sambil
memeluk ibunya.
“Kata dokter ayahmu harus menjalani operasi dan biayanya
cukup mahal Amar sekitar 50 juta.” Kata ibu Amar dengan sedih.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 29
“Tenang ya Bu, Amar akan cari berapa pun biayanya,” kata
Amar.
Pada keesokan harinya di jam istirahat kantor, Amar dan
Rehan sedang menikmati makanan siang mereka sambil bercakap-
cakap.
“Amar jadi bagaimana keadaan ayahmu sekarang? Maaf saya
tidak sempat mengunjunginya di rumah sakit,” kata Rehan.
“Sekarang ayahku masih di rumah sakit dan membutuhkan
biaya untuk operasinya sekitar 50 JT,” kata Amar dengan raut wajah
yang murung.
“Saya turut sedih mendengar kabar tentang ayahmu. Lalu
bagaimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu?” Ucap Rehan.
Mendengar masalah Amar, Rehan mulai memberikan ide
dengan menyarankan mengambil uang perusahaan karena
berhubung Amar yang mengelola data keuangan perusahaaan.
“Bagaimana jika kamu mengambil uang yang masuk ke
perusahaan, berhubung kamu yang mengurus data masuk keuangan
perusahaan. Bukankah data keuangan sudah mencapai lebih 100
juta. Jadi aku yakin kamu tidak akan ketahuan jika kamu mengambil
hanya 50 juta,” kata Rehan memberi saran kepada Amar. Amar
terkejut dengan saran Rehan karena menurutnya saran temannya
itu sangatlah buruk.
“Gila kamu Rehan…!!! Saya tidak mau melakukannya!! Itu sama
saja saya melakukan korupsi uang perusahaan. Dengan saya
melakukan perbuatan itu akan merugikan orang lain.”
“Tetapi kamu perlu dana secepatnya untuk biaya operasi
ayahmu. Di mana lagi kamu akan mendapatkan uang sebanyak itu,”
kata Rehan.
“Mungkin saya akan meminjam uang ke beberapa kerabat saya.
Saya tidak akan pernah mengambil uang perusahaan, karena
perbuatan itu dapat membuat kita terjerat hukum dan uang
30 Nyalanesia
tersebut juga merupakan uang haram karena mengambil hak orang
lain. Selain itu juga, walaupun kita sedang masa sulit sekali kita
tidak boleh melakukan perbuatan itu.” Kata Amar sembari
menasihati Rehan.
“Baiklah Amar jika itu keputuanmu, aku hanya memberimu
saran. Jika kamu tidak mau melalukannya tidak perlu,” ucap Rehan.
“Dan aku harap kamu tidak akan melakukan perbuatan itu
walaupun dalam keadaaan terdesak,” kata Amar.
Setelah mereka selesai makan siang Amar dan Rehan kembali
ke kantor. Sesampainya di kantor Amar mulai menelpon beberapa
kerabatnya untuk dimintai bantuan dana untuk operasi ayahnya.
“Halo, Paman Alif maaf mengganggu. Ini saya Amar,” ucap
Amar.
“Oh iya Amar ada apa?” Balas Paman Alif.
“Maaf paman, ayah saya kecelakaan dan sekarang butuh biaya
operasi secepatnya, apakah paman bisa meminjamkan uang
berapapun?” Kata Amar.
“Memangnya kamu butuh berapa Amar?” Balas Paman Alif.
“Sekarang lagi kurang 30 juta paman,” Kata Amar.
“Kalau 30 juta paman tidak punya. Paman hanya bisa bantu
kasih pinjaman kamu uang 10 juta,” balas Paman Alif.
“Oh iya, paman tidak apa-apa. Terima kasih banyak atas
bantuan paman,” kata Amar.
“Iya Amar sama-sama. Semoga ayah kamu lekas sembuh. Kalau
begitu, sudah dulu ya Amar,” kata Paman Alif sambil menutup
telponnya.
Setelah mendapat telpon dari Paman Alif. Amar menelpon
tantenya yaitu Bibi Rani dan Bibi Dinah terkumpul lah dana
pinjaman 25 juta, lalu Amar pergi ke rumah sakit untuk menemui
ibu dan ayahnya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 31
Di Rumah Sakit Mutiara,
“Ibu ini uang 45 juta yang sudah Amar kumpulkan untuk biaya
operasi ayah. Masih kurang 5 juta lagi Amar akan usahakan cari,”
kata Amar sambil memberikan uang kepada ibunya.
“Iya Nak, maaf ibu tidak bisa bantu banyak,” kata ibu dan
menerima uang pemberian Amar.
“Tidak usah pikirkan itu Bu. Ibu jaga saja ayah di sini, biar
Amar yang cari sisa uangnya,” kata Amar.
Keesokan paginya Amar pergi ke kantornya dan setibanya di
sana Siska yang merupakan sekretaris bos perusahan tempat Amar
bekerja menyuruh Amar untuk menyerahkan laporan data
keuangan kepada bos perusahaan.
Mendengar perintah itu Amar segera mengambil dokumen di
atas meja yang sudah ia siapkan sejak semalam. Ruang GM tidak
jauh dari mejanya, hanya melangkah sepuluh langkah saja Amar
telah sampai di depan pintu bosnya.
Tok...tok…tok…
Amar mengetok pintu sambil membuka pintu yang tertutup
rapat sedikit lebih lebar.
“Permisi, Pak.”
“Iya, silahkan masuk.” Jawab Pak Haris bos Amar.
Pak Haris nampak tersenyum dan mempersilahkan Amar
duduk di hadapannya.
“Ini laporan keuangan untuk bulan ini Pak,” kata Amar sambil
menyerahkan laporan ke Pak Haris. Pak Haris mengambil dan
memeriksanya dengan seksama. Ruangan menjadi hening, Amar
menatap serius ke arah Pak Haris sambil memperhatikan ekspresi
beliau.
32 Nyalanesia
“Bagus…” Ujar Pak Haris singkat sambil tersenyum
memandang ke Amar. Dari ekspresi wajahnya nampak kalau Pak
Haris sangat puas dengan hasil kerja Amar.
“Wahh, Amar ternyata perusahan kita sudah mulai
berkembang. Kamu sangat pintar dalam mengolah dana keuangan,
saya menyukai hasil kerjamu ini. Karena dana perusahaan sudah
semakin meningkat saya akan memberikan kamu bonus,” kata Pak
Haris sembari memberikan sebuah amplop.
“Semoga dapat membantu biaya operasi ayahmu,” kata Pak
Haris. Amar terkejut karena tidak menyangka Pak Haris mengetahui
persoalan yang tengah dihadapinya.
“Kemarin Rehan menceritakannya ke saya.” Senyum Pak Haris.
“Terima kasih banyak Pak. Semoga saya bisa bekerja lebih giat
lagi,” kata Amar dengan tersenyum.
“Iya. Kamu boleh kembali bekerja sekarang dan jangan lupa
segera ke rumah sakit untuk menyelesaikan urusan operasi
ayahmu,” kata bosnya.
“Sekali lagi terima kasih banyak Pak, saya permisi.” Amar
beranjak dari kursinya dan segera kembali ke ruangan kerjanya.
Tidak lupa ia singgah di meja Rehan dan menepuk bahu sahabatnya
itu.
“Terima kasih kawan,” kata Amar sambil tertawa ringan dan
menuju ke mejanya. Rehan pun tersenyum dan kembali
melanjutkan pekerjaannya.
Setelah itu amar kembali ke meja kantornya dan mengecek
amplop yang diberikan oleh bosnya tadi. Begitu kagetnya dia,
ternyata dalam amplop tersebut terdapat uang sebesar 20 juta. Dan
dia pun sangat senang karena dengan uang itu biaya operasi untuk
ayahnya sudah terkumpul.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 33
GELOMBANG MAUT
A. Julya Tri Bangsawan
Pada suatu hari di sebuah kota hidup sebuah keluarga yang
berjumlahkan 4 orang seorang ayah, seorang istri dan 2 orang
anaknya yaitu Abyan dan Lyly. Mereka merupakan keluarga yang
saling menyayangi satu sama lain.
Saat hari libur tiba Lyly mengajak ayah, ibu dan kakaknya
bermain ke pantai.
“Ayah hari ini aku dan Kak Aby libur sekolah, bolehkah kita
bermain ke pantai?” Ucap Lyly dengan muka yang penuh harap.
“Tentu Nak kenapa tidak,” balas ayahnya sambil mengusap
kepala anak perempuanya itu.
“Hey adik kecil tumben sekali kau ingin bermain ke pantai,”
ucap kakaknya.
“Aku ingin menikmati sejuknya suasana pantai Kak,” sahut
Lyly.
“Kalau begitu ayoo bersiap dan kita akan ke pantai,” ucap ibu
Lyly.
“Yeyyyyy terima kasih ayah ibu,” ucap Lyly dengan wajah
kegembiraan.
Mereka semua pun berkemas untuk ke pantai, di perjalanan
Lyly sangat bahagia sesekali dia bercanda bersama ayah, ibu dan
kakaknya.
Setibanya di pantai Lyly langsung berlari menuju ketepi laut
sambil bermain kejar kejaran dengan ombak, kakaknya pun
menyusulnya. Hemparan pasir putih berpadu dengan deburan
ombak membisikkan desiran merdu. Lambaian nyiur kelapa di
34 Nyalanesia
tepian pantai bagai siluet yang menari nari menambah indahnya
suasan pantai saat itu.
“Hati-hati Lyly kecil nanti kamu terjatuh,” ucap kakaknya yang
khawatir.
“Tak apa kak aku baik-baik saja,” sahut Lyly sambil tersenyum
ke kakaknya.
“Anak-anak main dengan hati-hati Kakak Abyan jaga adikmu
dengan baik,” teriak ayah mereka dari tepi pantai.
“Baik ayah,“ teriak Abyan.
Abyan dan Lylypun bermain dengan gembira dan sesekali
mereka bermain kejar-kejaran dengan ombak.
Beberapa saat kemudian ayah mereka menghampiri mereka
sambil membawa papan selancar.
“Ayah benda apa itu?” Tanya Lyly yang benda asing di tangan
ayahnya.
“Ini adalah papan selancur Nak,” jawab ayahnya.
“Ayah aku ingin ikut bermain,” izin Abyan.
“Tentu Nak sewa lah di tempat penyewaan papan selancur,“
ucap ayahnya.
“Ayah...ayah…aku juga ingin ikut bermain papan selancur itu,”
ucap Lyly.
“Saat kamu sudah sebesar Kak Abyan kamu boleh ikut bermain
sayang,” ucap ayahnya.
“Yahh berarti aku belum bisa bermain itu ayah?” Ucap Lyly
dengan memasang muka sedih.
“Nanti yah adik kecil kau harus tumbuh dewasa dulu
permainan ini sedikit berbahaya,” ucap kakaknya sambil mencubit
pipi adiknya itu.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 35
“Baiklah aku akan bermain membuat istana pasir saja,” ucap
Lyly.
“Sini ibu temani,” ucap ibunya sambil menghampiri mereka
bertiga.
Ayah dan Abyanpun bergegas menuju ke tengah laut mencari
ombak untuk bermain selancar. Hari ini cuaca sangat baik, ombak
bergulung membawa salju putih yang pecah di tepi pantai. Ayah dan
Abyan tidak menyianyiakan kesempatan itu.
Mereka berdua bermain dengan penuh kegembiraan begitu
juga dengan Lyly dan ibu.
Ayah dan Abyan sangat menikmati alunan ombak yang
membawa papan selanjar mereka meliuk liuk di atas ombak. Namun
tiba-tiba ombak yang semula sangat bersahabat berubah menjadi
ombak besar yang sangat menakutkan gulungan ombak raksasa
datang menghampiri mereka dan menenggelamkan mereka berdua.
Orang-orang yang berada di laut segera berlarian dengan paniknya,
Lyly dan ibupun terkejut dan panik
“Ayah…. Kakaaaak.” Teriak lyly yang melihat mereka berdua
lenyap ditelan oleh ombak besar itu. Dari kejauhan nampak sebuah
papan selancar yang sama persis yang digunakan oleh Abyan
namun tak terlihat Abyan di atas papan selancar itu…Lyly dan ibu
berlari sambil menangis mencari pertolongan.
Ayah dan Abyan dihanyutkan oleh ombak kurang lebih selama
30 detik. Tiba-tiba terlihat sesosok tubuh yang tak bergerak berada
di pundak seseorang di bibir pantai. Petugas pantai dengan sigap
segera meraih 2 sosok tubuh tersebut. Ibu dan Lyly berdiri cemas
melihat apa yang terjadi dan berharap semoga itu adalah ayah dan
Abyan. Mulut ibu tak henti berdoa demi keselamatan mereka
berdua. Nampak ayah berenang ke tepi pantai sambil menggendong
Abyan yang sudah tidak sadarkan diri karena terlalu lama menahan
napas dan menelan air laut. Mereka pun segera mendapat
pertolongan dari petugas pantai.
36 Nyalanesia
“Abyan…Abyann bangun Nak,” ucap ibunya yang khawatir
“Kakak….kakak kau dengar aku?” Ucap Lyly yang sudah
menangis melihat kakanya tak sadarkan diri.
Tiba-tiba Abyan terbangun dan batuk mengeluarkan air laut.
“Uhuk uhuk uhukk ayahhh,“ ucap Abyan dengan suara lemas.
“Iyaa Nak kamu tidak apa-apa kita sudah di tepi pantai,” ucap
ayahnya dengan penuh kesyukuran.
Mereka berdua lalu berbaring di tandu dan beristirahat. Masih
terlihat wajah pucat dan ketakutan tergurat di wajah ayah dan
Abyan. Ibu dan Lily tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas
selamatnya 2 orang yang mereka sayangi.
“Ahhh rasanya aku seperti terkena kiamat,” ucap Abyan
menerawang membayangkan kejadian yang baru saja ia alami. Tiba-
tiba bulu kuduknya serasa bergidik mengingat peristiwa itu. Dia
tidak membayangkan kalau dia masih bisa menghirup udara lagi.
“Ya...alangkah tak berdayanya kita,“ sahut ayah.
“HAA? Kiamat?? Bukankah itu hari akhirr?” Kaget Lyly.
“Iyaa Ly kiamat itu hari akhir namun maksud kakak, kakak
seperti terkena kiamat kecil,” jelas Abyan.
“Ayah ada berapa kiamat di dunia? Bukankah hanya satu?
Kiamat yang meruntuhkan semua isi dunia?” Tanya Lyly.
“Kiamat terbagi menjadi dua sayangku yaitu kiamat kecil dan
kiamat besar dan kiamat kecial kiamat kecil sering juga disebut
dengan kiamat sugra contohnya seperti berakhirnya kehidupan
seseorang di muka bumi ini atau sering Lyly dengar dengan sebutan
meninggal, terjadinya bencana alam itu juga termasuk kiamat kecil
sayang, sedangkan kiamat besar atau kiamat kubra terjadi dengan
dimulainya tiupan terompet sangkakala malaikat Israfil, serta
diiringi dengan kehancuran semesta beserta isinya,” jelas ayah.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 37
“Ohh seperti itu ayah Lyly jadi takut kiamat akan terjadi,” ucap
Lyly.
“Kita di dunia ini hanya sementara sayang oleh karena itu kita
harus perbanyak amal untuk bekal kita kembali menghadap Sang
Khalik hanya amal baik kita yang bisa menyelamatkan kita di
jembatan sirotol mustaqim.”
“Jembatan apa itu ayah?” Tanya Lyly.
“Jembatan sirotol mustaqim adalah jembatan yang panjang,
tipis, dan tajam saat umat Islam menuju surga setelah selesai
melalui proses rangkaian peristiwa akhirat jembatan ini hanya bisa
dilewati orang-orang yang memiliki amal baik yang banyak Nak,”
jawab ibunya.
“Jika tidak kita akan terjatuh ke dalam api neraka,” ucap Abyan.
“A aaa Lyly takut kakak,” ucap Lyly dengan suara ketakutan.
“Oleh karena itu, jika Lyly tidak ingin masuk ke dalam api
neraka Lyly harus banyak berbuat amal salih dan menjauhi semua
larangan Allah SWT,” ucap ayah.
“Baik ayah,” sahut Lyly.
Hari ini banyak pengalaman berharga yang mereka dapatkan.
Pelajaran tentang arti kehidupan bahwa kehidupan hanyalah
sementara. Jika Allah telah berkehendak maka tak satu pun
kekuatan yang akan mampu menghalanginya.
Hari sudah mulai siang merekapun bersiap-siap untuk
bergegas pulang di perjalanan pulang adzanpun berkumandang
mereka mampir ke suatu masjid terdekat untuk mendirikan salat
zuhur berjamaah. Semoga kejadian hari ini menjadi momen untuk
menjadi hamba yang lebih baik lagi kedepannya.
38 Nyalanesia
PRASANGKA
Cyndhi Widya Sari Ruswandi
Pagi ini suasana kelas XII OLIM 2 tidak seriuh biasanya. Beberapa
siswa terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sinta sang
ketua kelas yang biasanya heboh pun terlihat lesu dan hanya duduk
dengan kepala tertunduk di atas meja. Galih yang biasanya sering
membuat humor di kelas pun hanya asik bermain game di
ponselnya. Dan beberapa siswa lain hanya terlihat sedang membaca
buku dan sebagian asik berbincang pelan.
Kring...kring...kring…
Bel pelajaran pertama dimulai tapi tak ada satupun yang mau
bergerak untuk mempersiapkan pembelajaran. Mogok belajar
katanya. Ya, saat ini mereka sedang mogok belajar. Hal ini
dikarenakan kemarin wali kelas kesayangan mereka Bu Tiwi telah
pindah tempat mengajar ke sekolah lain. Dan mereka tidak ingin
mendapatkan wali kelas yang baru.
Tok...tok…tok...
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Tak ada sahutan sama sekali dari penghuni kelas.
Sosok kurus dengan kulit gelap masuk ke kelas mereka. Sosok
itu adalah wali kelas baru untuk XII OLIM 2. Sosok itu hanya
tersenyum saat mengetahui salamnya tak dijawab sama sekali.
“Memberi dan menjawab salam adalah saling mendoakan.”
Sehabis mengatakan kalimat tersebut, Citra si anak cupu kelas
ini langsung menjawab salam guru tersebut.
“Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Bu.”
Dan akhirnya diikuti seisi kelas.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 39
Guru tersebut akhirnya menambah senyumannya yang tadi
hanya 2 cm sekarang menjadi 5 cm, bahkan giginya yang sudah
tercoreng lipstick di bagian depan pun tetap ia tampakkan. Di
taruhnya tas ransel polonya yang agak usang di atas meja dan
duduklah ia pada kursi yang mulai berderit ketika di duduki.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari si guru dan siswa di
kelas ini. Si guru hanya menatap siswanya satu persatu hingga…
Kring...kring...kring…
Bel yang menandakan pelajaran telah usai berbunyi. Satu per
satu murid meninggalkan ruang kelas. Tersisa Citra si murid culun
tadi yang terakhir keluar. Dengan gaya khasnya yang berjalan
sambal menunduk dan menaikkan kacamatanya yang melorot
setiap ia tunduk. Perlahan ia berjalan ke arah sang guru. Dengan
keberanian yang ia kumpulkan ia pun bertanya.
“Bu guru kenapa tidak perkenalan diri?”
Guru itu hanya tersenyum lagi dan lagi tanpa mengeluarkan
sepatah kata pun. Ia hanya mengelus rambut Citra dan
menyuruhnya pulang secepatnya dan berhati-hati.
Keesokan harinya.
Seperti biasanya murid mulai memenuhi ruang kelas dan
menunggu guru yang datang.
Saat itu, Rendi si pembuat onar dan Lesti si biang gosip
berbincang dengan suara yang agak dibesarkan.
“Eh, si guru baru itu ternyata asalnya dari Papua woi.”
“Masa sih, Les?”
“Iya nih kemarin aku sempat ngecek sosmednya. Tau-taunya
dia asal Papua.”
“Emang bisa orang kayak dia ngajarin kita yang kelas unggulan
gini?”
40 Nyalanesia
Mulai terdengar riuh-riuh siswa yang sepertinya mengujarkan
komentar negatif tentang si guru.
Dan ternyata tanpa disadari si guru sudah duduk di kursinya.
Citra yang melihat hal itu langsung berdehem, agar yang lain
juga menyadari yang dibicarakan sedang mendengarkan mereka.
Seketika kelas pun tenang kembali. Si guru mulai menulis di
papan.
“HAPPINESS IS FOUND IF WE CAN HAVE RELATIONSHIP”
Ditulisnya kalimat tersebut dengan besar hingga hampir
memenuhi papan tulis.
“Heh, jangan sok Inggris deh Bu. Ibu itu hanya orang yang
berasal dari pedalaman hutan belantara.” Teriak Rendi sambal
menggebrak meja.
“Iya nih...sok ngajarin motivasi pakai bahasa Inggris lagi.
mending keluarin tuh bahasa monyet hahaha,” hujat Lesti.
Seketika satu kelas terkecuali Citra langsung melempar kertas
ke guru itu. Hingga guru itu meninggalkan kelas.
Citra pun langsung mengejar guru itu.
“Ibu tidak marahkan dengan kami?”
“Untuk apa ibu marah? Memang jika kita belum saling
mengenal terkadang ada situasi yang membuat orang salah paham
Nak.”
“Maafkan kelas kami, Bu.”
“Pasti Nak...ibu kan orang tua kalian juga. Kalau boleh tau,
mengapa wali kelas kalian dipindahkan ke sekolah lain?”
“Sebenarnya beliau dipindahkan sebab saat pemilu wakil
rakyat kemarin, beliau tak memilih salah satu calon. Dan saat
pasangan itu terpilih semua yang tak memilihnya bakal dipindahkan
ke sekolah terpencil Bu.”
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 41
Setelah mendengar cerita dari Citra guru itupun mengangguk
paham.
Keesokan harinya.
Si Citra menghampiri Rendi dan Lesti.
“Ren...Les…kalian ngerasa gak perlu minta maaf ke guru kita?
Dia baik loh bahkan dia nggak marah dan memaafkan kita kemarin.”
“Wah gais…liat teman cupu kalian ini masa kita disuruh minta
maaf ke guru Papua itu.” Teriak Rendi ke teman kelasnya.
“Iya nih, dia kali yang minta maaf siapa suruh ngajar di kelas
kita.” Timpal Lesti sinis.
Dan pada akhirnya tak ada satupun yang mengikuti saran Citra.
***
Hari Senin pun tiba.
Tiba-tiba…
“Bu Tiwi!!!” Seru Sinta girang.
Seketika satu kelas balik ke arah pintu kelas.
“Loh kok ibu bisa kembali?”
“Ini semua berkat Ibu Yohana guru kalian kemarin. Dia yang
membantu ibu untuk kembali mengajar kalian. Kebetulan dia
memiliki keluarga di dinas pendidikan.”
Seketika satu kelas merasa bersalah.
“Lalu, Ibu Yohana di mana sekarang Bu?”
“Beliau telah kembali ke sekolah asalnya di Papua. Tapi dia
memiliki surat untuk kalian. Sini ibu bacakan.”
Isi surat:
Anak-anakku, terima kasih atas waktu kalian yang
singkat. Pertemuan kita memang berawal dan berakhir
tak baik namun, ini bukanlah pertemuan akhir kita sebab
jika takdir mempertemukan kita maka kita dapat bertemu
42 Nyalanesia
kembali. Maaf kemarin ibu belum sempat
memperkenalkan diri ibu. Sebab, ibu ingin perkenalan itu
harus dalam situasi yang baik karena perkenalan bukan
hanya sekedar untuk identitas belaka tapi sebagai
kenangan kita seumur hidup. Ibu mungkin terlihat
berbeda dari kalian. Kulit ibu gelap kalian terang. Tapi, tak
ada perbedaan jika kita bisa bersatu dan mengenal lebih
akrab lagi.
Salam Sayang,
Ibu Yohana
Suasana hening seketika merayap di sela hati kami semua
mendengarkan surat yang dibacakan oleh Bu Tiwi. Sebuah
penyesalan membuncah dalam benak kami. Rendi dan Lesti hanya
bisa termangu tanpa dapat bersuara lagi. Tergiang kembali kata-
kata yang mereka lontarkan kepada Ibu Yohana yang namanya pun
belum sempat mereka dengar dari lisan Ibu Yohana tetapi dengan
mudahnya mereka merendahkan dan tidak menghargainya.
Bulir bening nampak mengalir di ujung netra Lesti. Sementara
di sudut berbeda nampak Rendi menundukkan kepala sambil
meremas ujung tas di atas mejanya. Seandainya saja Ibu Yohana
masih berada di sekolah mereka, dia akan segera berlari
mencarinya dan memeluk beliau untuk meminta maaf.
Ibu Tiwi memegang pundak Lesti. Seperti itulah penyesalan
datang di akhir sebuah kisah yang belum sempat terucapkan oleh
Bu Yohana kecuali hanya sebuah senyuman yang selalu menjadi
kenangan terindah mereka. Kelak jika waktunya tiba, entah kapan
dan dimana, mereka telah bertekad untuk suatu saat nanti bertemu
dengan Ibu Yohana dengan keberhasilan yang telah mereka raih
masing-masing untuk dihadiahkan kepada Ibu Yohana.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 43
Ibu Yohana…terima kasih atas pelajaran berharga yang kau
berikan kepada kami sekalipun engkau belum mengajari kami
secara langsung, tetapi surat yang engkau tuliskan telah
memberikan kami pelajaran yang berharga. Semoga ibu selalu sehat
dan sukses dalam mengemban tugas di pulau ujung Indonesia.
Doakan kami agar dapat menjadi generasi yang dapat engkau
banggakan.
Krriiingggg….
Bel pulang pun berbunyi mengiringi ucapan maaf dan tekad
untuk memperbaiki diri.
44 Nyalanesia
OPSI
Tri Ajeng Puji Rahayu
“Tok...tok...tok...”
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar memecahkan
keheningan malam yang sedari tadi menemaniku, tapi aku hanya
menghiraukannya saja.
“Tok ...tok...tok…”
Suara ketukan itu kembali terdengar namun aku tetap diam di
tempatku dan tak ada keinginan untuk merusak suasana yang
tenang ini.
“Tok...tok...tok...”
Sekarang aku benar-benar kesal dengan suara ketukan pintu
itu yang terus-menerus terdengar.
“Siapa sih yang malam-malam begini mengetuk pintu
rumahku,” gumamku.
Aku mulai beranjak dari sofaku yang empuk bagaikan kapas
yang hendak menahanku agar tidak berdiri meninggalkannya,
namun nihil ketukan pintu membuatku harus bangkit dari sofaku
yang empuk ini. Aku berjalan menghampiri pintu rumahku
mengecek siapakah yang mengganggu ketenangan malamku saat
ini.
“Kretakk,” suara pintu.
Terlihatlah seorang laki-laki berpeci hitam serta memegang
map yang berwarna biru sambil tersenyum melihatku.
“Oalah Pak Dimas to,” celetukku.
Pak Dimas kembali tersenyum ramah kepadaku membuat
kumis tipis yang menjadi ciri khasnya pun bergoyang.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 45
“Pak lurah gimana?” Kata lelaki yang berada di hadapanku tak
lain dan tak bukan adalah Pak Dimas.
“Nanti Pak yaa,” jawabku singkat dengan membalas
senyumannya.
Pak Dimas dengan senyuman yang diperlihatkan untuk
membalas senyumku kemudian melangkah pergi meninggalkanku.
Haah lupakan sajalah… kutarik badanku kembali memasuki
rumah dan menuju sofa yang yang telah kutinggalkan, lalu kembali
membaringkan badanku.
“Siapa tadi Pak?” Ujar anak semata wayangku yang ternyata
sedari tadi telah mematai-matai aku dari balik pintu kamarnya.
“Astaga Nak, kirain siapa bikin kaget bapak saja,” ucapku
sambil mengelus-ngelus dadaku.
"Bukan siapa-siapa Nak,” sambungku lalu menyesuaikan
punggungku dengan sofa yang nyaman ini.
“Jangan bohong Pak, aku tahu semua apa yang bapak bicarakan
dengan lelaki tadi bahkan apa yang menjadi pikiran bapak aku pun
tahu," raut wajahnya yang menampakan ketidakterimaan dengan
apa yang aku katakan.
“Hari sudah malam sebaiknya kamu tidur dulu Nak,” aku
mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya.
“Aku ini anak bapak umurku sudah cukup pantas untuk
mengerti hal-hal semacam ini.” Sambungnya yang terus
mencercaku.
Memang anakku sudah mencukupi umur untuk mengetahui
masalah yang aku alami apalagi dia sekarang sudah mahasiswa di
salah satu universitas di Surabaya.
"Pak...."
"Bapak..."
46 Nyalanesia
Tak kuhiraukan ocehan anakku. Aku mencoba untuk menutup
mataku agar anakku tidak terus menanyaiku tentang masalah yang
aku alami.
“Pak... bapak... ayolah Pak, musyawarah lah denganku.”
Mendengar perkataannya membuat hatiku sedikit tersentuh,
aku pun bangkit dari tidurku dan mendudukan diriku di sofa yang
empuk ini lalu menepuk sofa di sampingku untuk menyuruh anakku
duduk.
“Duduk lah di sini Nak.” Panggilku kepadanya yang sedari tadi
berdiri. Dia memandangiku mungkin dia geram dengan sikapku
yang tak memperbolehkannya ikut campur dengan urusan ini.
Ia kemudian berjalan perlahan menghampiriku dan
mendudukan dirinya di sampingku.
“Jika kamu ingin memberi bapak solusi, maka bapak akan
memberitahu apa yang bapak alami,” ucapku sambil memegangi
pundaknya. Dan anakku hanya mengangguk dan menunggu aku
untuk berbicara.
“Nak, kamu ingat kakekmu adalah mantan gubernur daerah ini,
seorang pemimpin yang dermawan pada zaman itu,” ucapku serius
mengingat wajah ayahku.
Anakku kembali menganggukkan kepalanya mungkin ia sedang
mengingat wajah kakeknya.
“Ayah ingat kakekmu pernah berkata ke ayah jika saat kita
besar nanti kita akan menjadi pemimpin di manapun kita berada."
"Baik itu pemimpin untuk dirinya sendiri maupun pemimpin
untuk orang lain.” Lanjutku.
“Sekarang pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan
pemimpin untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain?”
Tanyaku pada anak lelakiku.
Dia diam menatapku dan menggeleng saja kepalanya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 47
“Pemimpin untuk dirinya sendiri adalah setiap orang yang
mampu mengendalikan hawa nafsunya, sebelumnya dia memimpin
untuk orang lain dia harus bisa memimpin dirinya sendiri dari hawa
nafsunya sendiri itu yang paling penting sebelum kita memimpin
orang lain.“
"Lalu, memimpin untuk orang lain merupakan sikap kita
bagaimana mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik. Apalagi
dalam posisi seperti bapakmu ini Nak, sebagai seorang Lurah. Bapak
harus memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat di kampung
kita ini Nak, itu yang dinamakan pemimpin untuk orang lain.”
“Maksud bapak kita harus menjadi seorang pemimpin yang
bertanggung jawab untuk diri sendiri dan juga bertanggungjawab
untuk orang lain Pak?” Sela anakku.
"Benar anakku, selain itu pemimpin harus bersikap adil. Tidak
boleh berat sebelah. Selain itu, apabila ada suatu masalah harus
mengkaji masalah tersebut apa yang menjadi penyebab dan
bagaimana solusinya. Baru jika semua itu dilakukan kita akan jadi
pemimpin yang dapat memakmurkan dan mensejahterakan
masyarakat kita Nak.”
“Lalu apa hubungannya obrolan kita dengan orang yang datang
tadi Pak,” tanya anakku.
“Sekang dengar lah Nak, bapakmu akan meminta saran padamu
setelah menjelaskan hubungannya,” ucapku tersenyum dan dibalas
anggukan oleh anakku.
“Orang yang datang tadi adalah Pak Dimas Nak, ia adalah
sekretaris lurah di sini. Tadi datang menanti tanggapan bapak
mengenai pencalonan lurah,” jelasku.
“Lantas permasalahannya apa Pak? Bukan kah bapak juga
pernah menjadi lurah,” potong anakku.
Aku menghela napas dan tersenyum.
48 Nyalanesia
“Bapak belum memutuskan tentang pertanyaan Pak Dimas
Nak.”
“Lah kok gitu Pak?” Terlihat wajah anakku yang bingung
dengan sikapku.
“Begini Nak, bapakmu ini sudah tua, bapak pikir biarlah para
pemudah yang bertanggung jawab mulai saat ini Nak.”
“Tapi Pak, umur tidak menjadi batasan untuk menjadi seorang
pemimpin.”
“Betul Nak, hanya bapak merasa tidak pantas saja menjadi
lurah lagi di daerah ini,” jelasku membuat anakku semakin bingung.
“Kenapa Pak? Padahal kinerja bapak bagus, masyarakat cukup
puas dengan kepemimpinan bapak selama ini, apa yang salah
dengan itu Pak?”
“Memang benar Nak, tidak hanya Pak Dimas yang ingin bapak
kembali menjabat tapi semua masyarakat juga menginginkan
bapakmu ini menjadi lurah lagi namun…”
“Namun kenapa Pak.”
“Kamu tau sendiri kan, pamanmu itu juga mencalonkan diri
sebagai pemimpin daerah ini.”
Anakku mengangguk.
“Aku tau Pak, tapi jika bapak mencalonkan diri kembali aku
yakin bapak pasti menang.”
“Bukan masalah menang atau tidaknya Nak, bapak cuma takut
jika bapak mencalonkan kembali nanti ada perpecahan di dalam
keluarga kita Nak. Itu yang bapak tidak mau, lebih baik bapak yang
mengalah tidak mencalonkan diri sebagai lurah untuk kepentingan
keluarga kita, agar tidak ada perpecahan di dalamnya. Karena
keluarga lebih penting dari apapun entah itu harta maupun
jabatan.”
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 49
“Seperti yang bapak katakan tadi, kita harus menjadi pemimpin
untuk diri kita sendiri. Baru kita menjadi pemimpin untuk orang
lain, bukan harta atau jabatan yang bapak inginkan namun bapak
ingin kesejahteraan dalam hidup terutama dalam keluarga itu yang
lebih penting.”
“Sekarang bapak sudah menceritakan permasalahannya ke
kamu Nak, apa saran yang akan kamu katakan untuk bapak?”
Lanjutku.
Anakku menatapku lalu beralih kearah lantai untuk berpikir
tentang saran apa yang akan ia berikan kepadaku.
“Menurutku Pak, dari pernyataan bapak. lebih baik bapak tidak
mengikuti pencalonan ini, karena bapak tidak mau bersaing dengan
paman, apalagi bersaing dengan keluarga itu tidak menyenangkan.”
“Betul sekali Nak, terima kasih atas saranmu Nak, bapak sedikit
lebih lega karena anak bapak mendukung keputusan bapak,”
ucapku dengan lembut.
“Iya terima kasih kembali Pak, karena bapak telah memberi
tahu aku tentang pentingnya menjadi pemimpin untuk diri sendiri
dan penting berbagi pendapat kepada orang lain. Semoga dengan
keputusan ini bisa membuat hati bapak lebih tentram Pak,” jelas
anakku langsung segera memelukku.
Aku membalas pelukannya sambil menepuk-nepuk pundaknya,
sungguh sekarang anak laki-lakiku sudah dewasa tidak hanya
fisiknya saja mental dan pikirannya pun sudah dewasa.
“Ini sudah larut malam, pergilah tidur Nak,” ucapku.
“Iya Pak,” jawab singkat anakku, dia mulai beranjak berjalan
perlahan menuju kamarnya. Langkah kakinya terdengar sedikit
demi sedikit menghilang dan sunyi kembali di sekitarku pada
malam ini.
Sedangkan aku masih tetap duduk di sofaku yang empuk ini,
memikirkan bagaimana aku menjawab pada masyarakat tentang
50 Nyalanesia
persoalan aku yang tidak ingin mencalonkan diri lagi sebagai lurah
meski banyak masyarakat yang menilai kinerjaku bagus selama ini.
Saat aku hendak membaringkan tubuhku, getaran handphone
mencegahnya.
“Dringggg...dring…” Siapakah yang menelpon pada larut malam
seperti ini, gumamku.
“Halo pak lurah,” suara tak asing terdengar dari seberang
telpon.
“Iya halo,” jawabku.
“Ini Pak Dimas Pak, maaf mengganggu Pak,” sudah kuduga
pantas saja suaranya tak asing terdengar.
“Oh iya Pak, ada apa yah?” Tanyaku.
“Gini Pak lurah, saya mau mempertegas pertanyaan saya tadi
Pak, bagaimana sikap bapak tentang pencalonan diri bapak kembali
sebagai lurah.” Tanya Pak Dimas dengan bahasa yang begitu sopan.
“Sebelumnya mohon maaf Pak saya tidak sanggup untuk
masalah itu sebab saya merasa kurang pantas dan sudah tua juga
Pak jadi keputusan saya, saya tidak bisa Pak.” Jawabku dengan
sopan pula.
Seketika hening, kami berdua tak mengatakan apa-apa dalam
beberapa detik.
“Kalau memang keputusan bapak seperti itu saya menerima
dengan lapang dada Pak, mohon maaf telah mengganggu bapak di
malam-malam seperti ini Pak.”
Terlihat dari nada bicara Pak Dimas yang terdengar sedikit
kecewa dengan keputusan yang telah aku katakan.
"Iya Pak Dimas, tidak apa-apa kok, saya juga minta maaf
apabila jawaban saya tidak seperti yang bapak harapkan ya Pak.”
"Ya Pak lurah, tidak apa-apa kok, assalamualaikum.”
"Waalaikumsalam.”
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 51
Haaaaa...., akhirnya semuanya sudah selesai, rasa sesak yang
sedari tadi ku pendam dan ku pikirkan dengan keras akhirnya
sudah terselesaikan. Alhamdulillah semua berkat Tuhan Yang Maha
Esa yang mengizinkanku bermusyawarah dengan anakku dan juga
bisa lepas dari jabatan yang tidak ingin ku miliki.
Aku pun menyimpan handphone ku di atas nakas samping sofa
dan kembali membaringkan tubuhku secara perlahan membuat
sofaku sedikit berbunyi. Secara perlahan aku menutup mataku yang
sudah lelah karena sekarang sudah menunjukkan pukul 23.40 yang
menjadi waktu istirahat. Secara perlahan aku mulai menuju alam
mimpiku.
52 Nyalanesia
PULANG
St. Suraidah. AD. Datu
Hughhh…helaan napas panjang berharap kegalauan dapat segera
terhempaskan bersama dengan helaan napas. Ku tatap kaca bus
yang membawaku mengelilingi kota dari satu halte ke halte
berikutnya. Memandang keluar jendela namun tak tau
pemandangan apa yang ada di balik jendela itu.
“Kamu lulus di mana Nad?” Tanya Rafa yang entah kapan sudah
berada di sampingku.
“Ah kalo Nadin gak usah ditanya deh diakan pintar, pastilah
lulus di PTN pilihannya.” Jawab Vita.
Aku hanya terdiam mendengarkan perbincangan kedua
sahabatku itu.
Ahhh…entahlah aku akan menjawab apa kepada mereka,
lidahku serasa kelu tuk berucap. Bibirku terkatup rapat enggan
untuk membuka sekalipun hanya mengeluarkan sepotong kata yang
terpendek dan pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua yang
hanya bisa saling memandang satu sama lain.
“Maafkan aku Rafa, Vita…” Gumam hatiku.
Ku pejamkan mata setelah lelah memandangi jajaran pohon
yang saling berkejaran di pinggir trotoar jalan, berharap dapat
terlelap tuk melupakan sejenak kegundahan hatiku. Namun harapan
itu tak kunjung tiba hingga seseorang menyentuh pundakku.
“Dek…dek…mo turun di mana? Ini sudah halte terakhir.”
Ku terkaget dan menoleh ke samping kiriku, ternyata si abang
kernek dengan rompi birunya masih menatapku.
“Oh gitu ya bang…iya aku turun di sini saja,” jawabku sambil
segera beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu bus.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 53
“Makasih ya bang…” Sapaku sambil meloncat turun dari bus
yang sudah berjalan pelan menuju ke parkiran halte.
Ku langkahkan kaki menyusuri terminal yang dipenuhi para
penumpang yang berpencaran menuju ke tujuan mereka masing-
masing. Langkah kakiku membawaku ke pintu keluar terminal.
Panas mulai memancarkan teriknya tepat di atas kepalaku, peluh
telah membasahi lipatan kerudung yang melingkari wajah kuning
langsatku yang sedikit memerah karena terkena terik matahari.
Sayup-sayup terdengar lantunan azan tidak jauh dari terminal
tempatku tadi. Segera kupercepat langkah menuju sumber suara itu.
Segera mencari tempat wudu wanita, ku lepaskan kerudungku dan
mengambil air wudu. Basuhan air wudu ke wajahku memberikan
kesegaran yang mampu menghapus sedikit kegelisahan dan
kegundahan hatiku.
Selesai salat zuhur ku masih terduduk memandangi sejadah
tempat sujudku. Ku tengadahkan kedua tanganku untuk berdoa
kepada Al Khalik Yang Maha Mengatur Segala Sesuatu termasuk
urusanku saat ini. Ya Allah…hari ini aku telah gagal…bulir air bening
mulai membasahi pipi, mengalir tanpa henti. Aku sudah berusaha
sebaik mungkin, namun hasil yang kudapatkan adalah kegagalan.
Apakah aku sanggup memikulnya? Apa yang harus aku lakukan…?
Kukeluarkan seluruh rasa yang berkecamuk di dada hingga beban
yang menghimpit sedikit demi sedikit mulai meredakan sesak di
dada. Tuk beberapa saat ku coba menenangkan diri.
“Sudahlah Nadin…kamu harus kuat…masih banyak kesempatan
yang bisa kamu raih asal kamu kuat.” Bisik hatiku berusaha untuk
kuat. “Baiklah…aku pasti bisa.” Segera ku bangkit mengaktifkan
kembali HP dan memesan taksi online untuk segera pulang ke
rumah.
Jelang sore aku tiba di rumah. Suasana rumah nampak sepi,
bergegas ku menuju taman belakang tempat favorit ayahku duduk
sambil menikmati bunga bunga peliharaannya yang sangat dijaga
54 Nyalanesia
dan diurusi dengan penuh kasih sayang sekalipun ayahku tak dapat
memandangi keindahannya.
Belum sempat aku menghampiri ayahku, langkah kakiku
terhenti di balik jendela.
“Ayah terlalu sayang dengan Nadin, semua yang dilakukan
Nadin pasti ayah akan membelanya sedangkan aku, ayah tak pernah
membelaku, ayah pilih kasih…” Arya berucap dengan sedikit
menaikkan nada suara di depan ayahku.
“Kamu salah paham Arya, ayah tidak pernah bermaksud seperti
itu,” jawab ayah sambil berusaha mencari cari tubuh Arya untuk di
pegang. Tetapi Arya tak menggubrisnya dan berlalu begitu saja.
Aku segera berlari kekamar tanpa diketahui oleh Arya dan
ayah. Ya Arya adalah kakakku satu-satunya entah apa yang
membuat dia berpikiran bahwa ayahku telah pilih kasih dan lebih
menyanyangi aku dari pada dia. Entahlah…
Kubaringkan tubuhku yang terasa pegal dan jiwaku yang lelah.
Hari ini menjadi hari yang paling melelahkan lahir dan batin.
Teringat kembali ketika pagi tadi Pak Dimas wakasek kurikulum di
sekolahku mengumumkan nama-nama siswa yang lolos untuk
masuk di perguruan tinggi dengan jalur bebas tes. Namun dari 127
nama siswa itu tidak terselip nama Nadin Putri Aulia, siswa
berprestasi yang selama ini sering mewakili sekolah di berbagai
lomba debat bahasa Inggris dari tingkat provinsi hingga tingkat
nasional. Itulah Faktanya, aku tak lolos di perguruan tinggi yang ku
idam idamkan…uuhhhh.
Notifikasi WA ku berbunyi, kubuka pesan chat yang masuk dari
Vita:
Nad…kamu baik-baik saja bukan? Aku sudah tau apa yang
membuat kamu tidak menghiraukan kami tadi di sekolah.
Gapapa kok...kami mengerti.
Segera ku balas chat sahabatku itu.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 55
Vit...Makasih ya atas pengertian kalian. Maaf kalo tadi aku gak
negur kalian…
Pesan terkirim dan langsung dibalas oleh Vita.
It’s OK…Oia Nad…aku ama Tria rencana mo ke Makassar, mo
ikut bimbingan untuk tes nanti. Gimana...kamu mau ikut gak?
Rencana mo berangkat besok ikut ama ayahnya Tria.
Aku pikir pikir dulu ya Vit…nti aku infokan kepastiannya. Aku off
dulu ya…dahh.
Aku terlelap sekejap sampai terbangunkan oleh suara rebut-
ribut di luar kamarku. Segera ku membuka pintu kamar untuk
mengetahui apa gerangan yang terjadi dan tiba-tiba…
“Tuh anak ayah yang tersayang ternyata gak lolos bebas tes ha
ha ha ha haaa…” Tawa Kak Arya sambil menunjuk ke arahku dengan
tatapan mengejek.
“Arya…kamu tidak boleh ngomong begitu ke adikmu,” bentak
papaku ke Arya.
“Apa?? Kamu gak lolos Nad…bukannya kamu siswa
berprestasi? Kenapa bisa tidak lolos? Kamu punya kesalahan
mungkin?” Tanya mama dengan nada kecewa.
Aku hanya terpaku memandangi mereka, kesedihan dan
kekecewaanku yang sempat terlupakan akhirnya kembali menguak.
“Sudahlah, papa yakin Nadin sudah berusaha yang terbaik,”
bela papaku.
“Tuh kan...papa selalu begitu. Kalo Nadin… tetap dibela,” jawab
Arya masih dengan nada tinggi.
Papa berjalan dengan meraba-raba mencari sosok tubuhku.
Aku pun didekap papa untuk menenangkanku. Ya papaku adalah
papa yang terbaik yang selalu menjadi pembela dan penghiburku
sekalipun keterbatasan yang dimilikinya tidak menjadi
penghalangku untuk tidak mencintai dan menyanyangi beliau.
56 Nyalanesia
“Papa gimana sih…masa pasrah gitu. Coba cek ke sekolahnya.
kamu juga Nadin malu-maluin saja, mamah sudah bangga
banggakan kamu ke teman-teman kantor mama kalo kamu akan
kuliah ke Jawa,” ujar mama ketus.
Dadaku Kembali bergemuruh, dekapan papa mampu menahan
sedikit amarahku namun tidak dapat menahan pikiranku untuk
mengambil sikap atas perlakuan kakak dan mama. Kulepaskan
dekapan papa sambil tetap memegang tangannya.
“Baiklah … kalo Kak Arya dan mama tidak bisa menerima
kegagalanku ini, lebih baik Nadin pergi saja dari rumah ini biar Kak
Arya dan mama tenang…” Jawabku sambil terisak berlari menuju
kamar. Ku keluarkan pakaian dari lemari, ku masukkan ke dalam
koper. Papaku sudah berada di sampingku, mengusap kepalaku dan
mengambil tanganku.
“Nadin sayang… tidak usah hiraukan perkataan kakak dan
mamahmu. Tolong Nak, pikirkan lagi rencanamu itu.” Pinta papa. Ku
lihat matanya berkaca-kaca semakin membuat hatiku sedih. Namun
aku sudah membuat keputusan.
“Tidak pa…Nadin tetap akan pergi. Ini untuk kebaikan
bersama.” Ku pegang tangan papa, menciumnya.
“Nadin sayang papa. Papa tidak usah khawatir ya...Nadin bisa
jaga diri kok.” Ku peluk tubuh papaku, ada perasaan tak tega untuk
meninggalkannya.
“Pa…Nadin besok akan pergi bersama Vita dan Tria. Papa Tria
yang akan mengantar kami. Di Makassar nanti kami juga akan
tinggal di rumah Tria yang kosong. Jadi papa tidak usah khawatir.”
Hiburku.
“Tapi tolong…papa jangan memberitahu ke siapapun dimana
tempat tinggal Nadin ya pa...cukup papa saja yang tahu. Nanti Nadin
akan telp. Papa,” ujarku dengan sedikit berbisik ke telinga papa.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 57
“Baiklah Nak...kalo memang itu keputusanmu. Hati-hati di sana,
jangan tinggalkan salat ya.” Pesan papa sambil memelukku.
Di luar kamar Kak Arya dan mama terlihat bingung. Mereka
tidak menyangka jika Nadin akan mengambil keputusan seperti itu.
Mereka lalu masuk ke kamar masing-masing.
Ku ambil HP dan segera chat ke Vita dan Tria jika aku akan ikut
bersama mereka. Tentu saja mereka sangat gembira mendengarnya.
Esok pun tiba. Aku pamit ke papa dan juga ke Kak Arya dan
terutama ke mama karena bagaimanapun aku adalah adik dan anak.
Aku tidak ingin dikatakan sebagai anak durhaka, toh aku pergi juga
untuk kebaikan semua, menurutku.
Perjalanan dari Kendari ke Makassar via udara tidak terlalu
lama. sepanjang perjalanan kami berbincang dan bersenda gurau
melupakan kesedihan sejenak. Berbagai harapan kami untai untuk
dapat diraih ketika tiba di Makassar nanti. Sampailah kami di rumah
Tria yang cukup besar dengan 5 kamar tidur lengkap dengan toilet
di dalamnya. Kami pun beristirahat dan membereskan barang-
barang kami di kamar masing-masing. Hingga akhirnya kami semua
terlelap.
Tidak terasa sudah sebulan aku berada di Kota Makassar,
berbagai aktivitas aku jalani untuk mengisi hari-hariku. Bimbel,
belajar kelompok, dan juga aktif dikegiatan pemuda di lingkungan
rumah.
“Hai lagi ngapain?” Tiba-tiba Vita udah masuk di kamarku.
“Duh Vit…kamu bikin kaget saja…ketok pintu dulu kek...biar tau
kalo ada makhluk yang mo masuk.” Ucapku sambil melemparinya
dengan bantal.
“Hi hi hi…maaf ya lupa,” jawab Vita sambil mengambil kembali
bantal yang sudah sempat mendarat di wajahnya.
“Vit…kamu masih punya duit gak? Tabunganku dah habis nih.”
Sambil memperbaiki posisiku duduk di atas tempat tidur.
58 Nyalanesia
“Iya nih…aku juga dah sekarat…hi hi hi,” tawa Vita
memperlihatkan lesung pipinya yang manis.
“Jadi gimana? Apa kita harus minta dikirimin ama ortu ya?”
“Yah…mo gimana lagi...nasib anak kos memang begitu,” kata
Vita cengegesan.
Begitulah kehidupan kami yang baru pertama merasakan
tinggal terpisah dari orang tua. Berbagai pengalaman suka duka
kami lalui bersama dan saling membantu.
Aku pun meminta tolong ke saudara sepupuku Nisa untuk
menyampaikan pesan ke papa kalau aku baik-baik saja termasuk
mendapatkan informasi tentang kabar papaku dan yang paling
penting meminta transfer duit. He he he.
1 tahun berlalu.
Nisa selalu memberikan kabar tentang papaku yang kesepian sejak
aku pergi ke Makassar, dia selalu menyendiri karena selama ini aku
lah yang selalu menemani hari-harinya dengan bercerita tentang
semua hal yang aku alami. Tentang sikap Kak Arya dan mama yang
belum bisa menerima kondisi papa dan juga kondisiku yang
disayang oleh papa. Nisa juga selalu menjadi informan untuk
seseorang yang spesial di hatiku. Hingga suatu hari Nisa
menyampaikan kabar yang tidak terduga kalua Kak Ifan akan segera
menikah dengan Tiara yang tidak lain adalah temanku sendiri. Aku
hanya terdiam mendengarnya sampai memutuskan telpon tanpa
memberi salam ke Nisa.
Keesokan hari suasana pagi yang sangat cerah, matahari
menampakkan dirinya dengan lembut. Awan tipis berjejer di
hamparan langit biru. Angin lembut menyentuh dedaunan yang
menari gemulai. Namun tidak secerah suasana hatiku.
“Hey neng…kok melamun pagi pagi,” teriakan Tria
membuyarkan lamunanku pagi itu.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 59
“Nih ada surat untukmu…baru saja kuambil dari kotak surat di
depan,” sambil menyerahkan sebuah amplop putih tanpa alamat
pengirim. Karena penasaran aku segera membukanya.
Nadin anak papa …
Sehat selalu ya sayang…papa kangen ama Nadin.
Pulanglah…papa tidak punya teman untuk berbagi cerita.
Papa tidak ingin waktu papa berlalu dalam kesepian.
Pulanglah Nak…papa kangen.
Tanganku bergetar, air mata menetes membasahi lembaran
kertas yang tertulis tulisan tangan papahku, Sebagian kata saling
menumpuk, jarak baris yang tak beraturan, tulisan yang tidak lurus
rapi melainkan menanjak ke atas dan Sebagian menurun kebawah
kertas…
Papa…surat ini adalah surat pertama yang engkau tulis setelah
kejadian itu…ya…kejadian yang membuat papa tidak dapat lagi
melihat warna warni indah bunga peliharaannya, tak dapat lagi
melihat wajah Nadin dengan balutan kerudung yang menambah
cantik putri kesayangannya ini.
Papa yang buta setelah kecelakaan 15 tahun lalu yang
membuat papa harus berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja
sebagai manajer. Yang membuat mama dan Kak Arya berubah sikap
kepada papa.
Papa yang selalu sabar dan menerima takdir yang telah
ditetapkan Sang Kuasa dan tidak pernah sedikitpun menyesalinya.
Papa yang selalu memberikan banyak pengalaman berharga
kepadaku untuk tetap menjalani hidup ini dengan penuh rasa
syukur.
Papa… maafkan Nadin yang hanya memikirkan diri sendiri.
Nadin akan segera pulang menemani papa. Belajar ikhlas untuk
menerima segala ketetapan Sang Kuasa dan tidak mudah berputus
asa.
60 Nyalanesia
Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan
nomor penerbangan GA328 tujuan Kendari dipersilahkan naik ke
pesawat udara melalui pintu A12
Suara pengumuman keberangkatan menyadarkanku untuk
segera naik ke pesawat. Kulangkahkan kakiku dengan ayunan riang
menapaki tangga pesawat yang akan membawaku kembali ke
kampung halaman dengan sejuta rasa dan optimisme.
Sebelum HP kumatikan, nampak notifikasi WA dari Nisa
mengabarkan kalau mama dan Kak Arya sangat menantikan
kedatanganku. Mereka menyadari kesalahannya selama ini dan
memperbaiki sikap ke papa. Ku tersenyum bahagia membacanya.
Lalu kumatikan HP ku karena pesawat segera lepas landas.
Kupandangi awan putih bergumpal bagaikan kapas di luar
sana. Tampak wajah mama, Kak Arya, dan papa tersenyum. Dan di
awan yang lain nampak Kak Ifan dan Tiara tersenyum melambaikan
tangan ke arahku….
Aku pulang papaku sayang.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 61
HADIAH UNTUK IBU
Airin Aprilia Rauf
“Uhuk...uhuk...uhuk…”
“Ibu ini air minum Bu, diminum dulu ya Bu.” Kata Yusuf sambil
memegang segelas air hangat untuk diminumkan kepada sang
bunda.
Yusuf adalah seorang remaja yang baru saja lulus SMA, tidak
seperti anak-anak diusianya yang setelah lulus SMA lanjut ke
pendidikan yang lebih tinggi, dia terpaksa tidak melanjutkan masa
sekolahnya karena tidak memiliki uang untuk biaya sekolah. Selain
itu ibunya sedang terbaring lemah di rumahnya karena ibunya
sedang sakit parah. Yusuf sangat ingin membawa ibunya ke rumah
sakit agar mendapat pelayanan yang lebih baik, tetapi dia tidak
memiliki uang.
Dia hanya bekerja di ladang yang gajinya hanya cukup untuk
biaya makan sehari-hari dan membelikan obat ibunya. Di pagi hari
Yusuf sedang pergi membelikan obat untuk ibunya, di perjalanan
dia melihat seseorang yang sedang kesusahan membawa motornya
yang sedang mogok. Ia akhirnya menghampiri orang tersebut,
“Om, ini motornya mogok? Mau saya bantu dorong kebetulan
saya tau bengkel deket sini om,” kata Yusuf yang melihat om
tersebut yang wajahnya sudah berkeringat
“Oh iya Nak boleh boleh, ini motornya udah tua jadi suka
mogok, tapi ini motor kesayangan saya,” balas om tersebut dengan
tersenyum sambil terengah-engah.
“Ohh gitu ya om, ya udah om mari sini saya bantu.”
62 Nyalanesia
Setelah sampai di bengkel motor yang tidak terlalu jauh, Yusuf
memutuskan untuk pergi dari bengkel itu.
“Om kalau gitu saya permisi ya om,” kata Yusuf yang sebelum
dia pergi dari bengkel tangannya ditahan oleh om tersebut.
“Tunggu Nak, karna kamu sudah membantu saya, panas-
panasan juga tadi, ini saya ada sedikit uang untuk kamu Nak.” Kata
om itu sambil mengeluarkan uang yang berwarna merah dua
lembar.
“Om tidak usah om saya ikhlas kok membantu om.” Kata Yusuf
yang berusaha menolak.
“Tidak apa-apa Nak ambil saja.” Kata om tersebut dengan
setengah memaksa.
Dengan berat hati Yusuf mengambil uang tersebut dan
berterima kasih.
Dia pun pergi membelikan obat untuk ibunya dengan uang
yang diberikan dari om tadi.
“Assalamualaikum Bu…” Salam Yusuf.
“Waalaikumsalam Nak…” Jawab ibu Yusuf dengan suara yang
lemah dan terbata-bata.
“Bu ini obatnya Bu…” Sambil menahan pundak ibunya untuk
membantu mendudukkannya. Diambilkannya gelas berisi air yang
sudah ia letakkan di atas meja di samping tempat tidur ibunya.
“Oh iya Bu Yusuf mo cerita, tadi pas perjalanan ke apotek Yusuf
ngeliat seorang om motornya lagi mogok ya udah Yusuf bantu deh,
eh pas udah sampe di bengkel om itu ngasih uang ke Yusuf 200 ribu
Bu, Yusuf udah nolak tapi bapaknya bilang ambil aja,” kata Yusuf
menjelaskan kepada ibunya.
“Alhamdulillah kalau gitu nak uhuk...uhuk...uhuk,” jawab ibunya
sambil terbatuk-batuk. Yusuf mengelus pundak ibunya dan pergi
megambilkan makanan dan juga air putih untuk ibunya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 63
Hari-hari berjalan begitu saja, Yusuf belum bisa membawa
ibunya ke rumah Sakit, dia hanya bisa terus berdo’a agar cepat
sembuh dan diberikan rejeki yang banyak. Pagi harinya Yusuf pergi
lagi ke apotek karena obat ibunya sudah habis, setelah membeli
obat di apotek di perjalanan pulang dia melihat seorang ibu-ibu
yang membawa banyak belanjaan dan salah satu kantong kresek
yang berisi buah-buahan terjatuh dan buah-buahan tersebut jatuh
berserakan di jalan. Dia pun bergegas membantu ibu tersebut, dia
memungut buah-buahan yang jatuh, dia juga membantu
membawakan barang belanjaan ibu tersebut.
“Nak terima kasih banyak ya...ini ada uang buat kamu karna
udah ngebantu ibu,” kata ibu tersebut sambil mengeluarkan uang
bewarna merah satu lembar.
“Gausah Bu saya bantu nya ikhlas Bu gak usah Bu,” jawab Yusuf
sambil menolak uang tersebut, sedangkan di dalam mobil,
“Ada apa ya itu ribut-ribut di luar,” karna penasaran dia pun
keluar dari mobil dan menghampiri istrinya,
“Ada apa ini mah?” Kata lelaki tersebut.
“Ini Pak anak ini udah ngebantuin mama mungutin buah yang
jatuh di jalanan tadi dia juga nge…” Belum sempat menceritakan
semuanya omongan ibu tersebut terpotong.
“Loh … kamu kan yang membantu saya waktu itu?” Seorang
lelaki separuh baya turun dari mobilnya sambil memandangi Yusuf.
Ternyata lelaki tersebut adalah Pak Surya yang tidak lain adalah om
yang pernah dibantu oleh Yusuf ketika motor Pak Surya mogok.
“Ah iya om…” Jawab Yusuf sambil menundukkan badannya
“Waah papa kenal juga ternyata, gimana untuk ucapan terima kasih
kita, kamu ikut kita sarapan pagi ya,” kata ibu tersebut.
“Maaf Bu tapi saya harus ngebawa obat ibu saya dia lagi sakit,”
jawab Yusuf.
64 Nyalanesia
“Kalau gitu kamu kami antar ya gak ada penolakan kaya tadi
lagi lhoo,” kata om tersebut yang diangguki oleh Yusuf.
“Baik lah om, tante kalau tidak merepotkan,” jawab Yusuf yang
tidak bisa menolak lagi.
Mobil melaju menyusuri jalan dan berhenti di sebuah gang
yang tidak dapat dilewati oleh mobil. Mereka lalu bersama sama
turun dari mobil dan menyusuri gang. Yusuf berjalan di bagian
depan untuk menunjukkan jalan menuju rumahnya. Mereka pun
tiba di rumah Yusuf yang begitu sederhana.
“Ini rumah kamu Yusuf?” Tanya bapak itu yang bertanya ke
Yusuf.
“Iya Pak ini rumah saya,” jawab Yusuf.
“Nak apakah saya boleh masuk di rumah kamu?” Tanya Pak
Surya.
“Boleh Pak tapi maaf kalau rumah saya begitu sederhana.”
Jawab Yusuf. “Nggak apa-apa kok Yusuf,” jawab Pak Surya sambil
tersenyum.
Pak Surya dan istri beliau bersama Yusuf pun masuk ke rumah.
“Assalamualaikum Bu,” ucap Yusuf.
“Wa’ailaikumsalam Nak,” jawab ibunya lirih sambil melihat
kedua orang yang bersama Yusuf.
“Bu ini ada tamu yang beberapa hari yang lalu Yusuf bantuin,”
kata Yusuf kepada ibunya.
“Lhoo kok kamu sama mereka Nak,” jawab ibunya ke Yusuf
”Tadi Yusuf membantu seorang ibu yang buah-buahannya terjatuh
di jalan dan ternyata ibu ini istri Pak Surya yang Yusuf bantu
beberapa hari yang lalu. Mereka mau anterin Yusuf ke rumah,”
jawab Yusuf.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 65
“Makasih banyak Pak karna sudah mengantar anak saya ke
rumah ini. Maaf merepotkan bapak,” kata ibu Yusuf dan
berterimakasih kepada Pak Surya dan istrinya.
“Iya sama-sama Bu, seharusnya saya yang berterima kasih
karna anak ibu sudah membantu saya dan istri saya,” kata Pak Surya
ke ibu Yusuf.
“Saya bangga lhoo sama anak ibu. Dia membantu saya dan istri
saya tanpa pamrih dia juga beberapa kali menolak bantuan saya,”
puji Pak Surya seraya memandangi Yusuf yang duduk di samping
ibunya.
“Bu kalau boleh tau kenapa anak ibu tidak sekolah seperti anak
anak yang lain?” Tanya Pak Surya kepada ibunda Yusuf, Yusuf pun
menjawab pertanyaan Pak Surya karna ibunya tidak bisa banyak
bicara.
“Saya tidak bisa melanjutkan sekolah karna keuangan kelurga
saya tidak cukup Pak, ditambah ibu saya yang sedang sakit.” Jawab
Yusuf sambil memijat punggung ibunya.
“Ohh begitu Nak, sayang yaa kalau diusia kamu yang sekarang
seharusnya kamu bersekolah,” jawab Bapak Surya ke Yusuf.
“Nggak papa kok Pak saya tidak bersekolah. Lagi pula saya mau
mengurus ibu saya yang sedang sakit Pak,” jawab Yusuf.
“Wahhh Yusuf bapak bangga sama kamu karna jarang anak
yang semangat kayak kamu buat penyembuhan ibu kamu dan tidak
memikirkan sekolah,” kata Pak Surya kepada Yusuf yang
mendengarkan ceritanya.
“Iya Pak. Terima kasih,” jawab Yusuf.
Selesai mendengar cerita dari Yusuf, Pak Surya menawarkan ke
Yusuf untuk lanjut sekolah lagi, dan membiayai kuliah dia termasuk
memberikan dia pekerjaan buat pengobatan ibunya dan Pak Surya
meminta Yusuf untuk tidak menolak pemberiannya.
66 Nyalanesia
Yusuf dan ibunya yang mendengar itu pun kaget karna
bagaimana bisa ada orang sebaik Pak Surya yang mau membiayai
kuliah Yusuf dan memberikan pekerjaan untuk penyembuhan
ibunya, Yusuf tak sanggup untuk menolak kebaikan Pak Surya dia
hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan
kemurahan hati Pak Surya sekeluarga.
“Saya berterima kasih banyak kepada bapak yang sudah
membantu saya dan anak saya, berterima kasih pun tidak cukup
untuk membalas kebaikan bapak,” jawab ibu Yusuf kepada Pak
Surya dan istrinya.
“Iya Bu sama-sama, kami juga senang kok membantu ibu dan
Yusuf,” jawab Ibu Surya itu ke Yusuf dan ibunya.
Akhirnya Yusuf dapat melanjutkan sekolahnya lagi dan kembali
merajut asa menggapai cita-cita untuk masa depannya dan
membahagiakan ibunya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 67
KASIH TERLARANG
Sania Aisyah Maharani
Sore itu Fani sedang berbaring di kamarnya yang asyik bermain hp,
ia sedang membuka aplikasi yang bisa menemukan pasangan lewat
media sosial. Saat main app tersebut ia menemukan teman
sekolahnya yang sedang bermain aplikasi itu juga lalu mereka saling
berkenalan dan chattingan, Ia adalah Risa yang merupakan teman
sekolah Fani namun ia tidak terlalu dekat dengannya, setelah lama
berbincang malam pun tiba. Fani bergegas untuk mandi dan
menyiapkan makan malam untuk ibu dan ayahnya yang baru saja
pulang dari kantor.
Saat sedang makan malam Fani dimarahi oleh ayahnya karena
Fani makan sambil asyik bermain hp.
“Fani kamu itu sedang chat sama siapa sih, bisa dimatiin dulu
nggak hpnya. Kita lagi makan kamu malah asyik main hp nanti kamu
keselek tuh kalau matanya cuma liat hp doing.” Suara berat ayah
terdengar tanpa mengangkat wajah.
Fani hanya terdiam dan segera mematikan kotak bercahaya di
genggamannya.
Setelah makan Fani membersihkan meja makan dan mencuci
piring, lalu ia kembali ke kamarnya untuk tidur.
Fajar mulai menampakkan jingganya, gesekan suara selimut
oleh mata mata yang terbuka, mengiringi irama pagi membawa Fani
harus meninggalkan peraduannya dan beraktivitas seperti biasa.
“Fan…dah siap belum ntar terlambat lho.” Terdengar panggilan
ayah yang membuat Fani bergerak dengan sedikit berlari.
“Siap boss…” Sambil mengangkat telapak tangan kanan di atas
pelipisnya.
68 Nyalanesia
Di gerbang sekolah nampak Lala dan Raihan telah lebih dulu
tiba. Mereka melambaikan tangan ke arah Fani. Dengan wajah ceria
mereka berjalan menuju ke kelas bersama-sama.
Ya Lala dan Raihan adalah sahabat Fani sejak kecil. Mereka
berdualah yang paling mengenal Fani. Dia tidak memiliki teman lain
selain mereka berdua hingga semalam ia bertemu dengan Risa.
“Heyy...kalian kenal Risa nggak?” Tanya Fani kepada kedua
sahabatnya.
“Risa siapa ya?” Lala menoleh ke Fani dengan wajah lugunya.
“Itu lho…anak kelas 10 IPA 1 yang imut itu,” ujar Fani dengan
wajah yang sumringah.
“Ohh dia…iya aku tau anak itu,” timpal Raihan yang sejak tadi
sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
“Memang kenapa dengan dia?” Raihan memandang Fani
sambal memperbaiki gagang kaca matanya.
“Semalam gak sengaja aku chattingan ama dia, anaknya asyik
lho…sampe-sampe gak nyadar klo dah 2 jam chatingannya
wkwkwk…” Ujar Fani sambal tertawa lucu membayangkan ngobrol
mereka semalam.
Lala dan Farhan saling berpandangan melihat tingkah Fani
yang tidak seperti biasanya.
“Ssttt...udah ngobrolnya…Pak Agus dah masuk tuh…” Ujar Lala
sambal memperbaiki posisi duduknya.
Pelajaran pun dimulai, anak-anak serius mendengarkan
penjelasan dari Pak Agus. Sambil sesekali tertawa ketika Pak Agus
menyelipkan guyonan di tengah penjelasannya. Namun tidak
dengan Fani, ia merasa pelajaran hari ini terasa lama berakhir, ntah
sudah berapa kali ia melihat jam tangan putih yang melingkar indah
di tangan kirinya hingga akhirnya bel istirahat pun berbunyi.
Krriiiinngggg…
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 69
“Baik anak-anak…pelajaran hari ini kita cukupkan sampai
disini. Jangan lupa tugas yang bapak berikan segera dikerjakan ok.”
Kata Pak Agus menutup pelajarannya.
“Iya Pak…Terima kasih Pak,” sahut anak-anak serentak.
Pak Agus segera meninggalkan kelas. Tanpa perlu komando
lagi anak-anak pada berhamburan seperti kelereng yang tumpah
dari boxnya…saling berlomba bahkan saling bertabrakan satu sama
lain namun diiringi tawa bahagia.
Fani segera menarik tangan Lala untuk segera keluar dari kelas
menuju kantin. Mereka mencari sosok Raihan yang sudah lenyap
dari pandangan mereka. Akhirnya mereka keluar kelas berjalan
menuju ke kantin.
“Fan...inikan kelas Risa…yuk kita samperin dia,” Lala balik
menarik tangan Fani menuju kelas X IPA 1.
“Hayy Risa…ke kantin yuk…” Ajak Fani yang kebetulan mereka
berpapasan di depan kelas Risa.
“Yukk...kebetulan aku juga lagi mo ke kantin,” balas Risa sambil
tersenyum. Nampak dua lesung pipi yang menambah manis wajah
imutnya. Fani memandangnya dengan dalam entah ada perasaan
aneh yang tiba-tiba bergelayut dalam benaknya astagfirullah, segera
dia mengalihkan pandangannya ke Lala.
“Yuukk…mau pesan bakso ya biar aku yang pesanin,” Fani
segera memesan bakso untuk mereka bertiga.
Tidak menunggu lama bakso pesanan mereka sudah tiba.
Aroma yang begitu menggiurkan, Lala tidak sabar lagi
mengayunkan sendok dengan sebiji bakso di atasnya dan langsung
menggelinding masuk ke dalam mulutnya.
“Wuuhhh…vanass... vanas…” Jerit Lala sambal mengibas
ngibaskan tangan ke mulutnya yang nampak monyong.
Pada saat yang sama datang Raihan sambil menepuk bahu Lala.
70 Nyalanesia
“Itulah kalo makan gak ajak-ajak…huh...” Timpal Raihan sambil
duduk di samping Lala dan langsung menarik mangkok bakso milik
Lala dan melahapnya tanpa dosa.
“Ha…ha...ha…Lala lala…makanya klo mo makan berdoa dulu,
liat dulu makanannya panas at tidak,” tawa Fani dan Risa. Lala
hanya cemberut melihat Fani dan Risa menertawainya ditambah
baksonya telah ludes dimakan Raihan.
“Raihaaannn…” Teriak Lala sambil melemparkan gelas bekas
air mineral ke arah Raihan.
Tak lama kemudian bel pun berbunyi dan mereka kembali ke
kelas masing-masing dan melanjutkan pelajaran.
Tentang Fani, ia merupakan anak cewek yang tomboy dan ia
sangat jarang untuk mengobrol dengan orang lain. Ia hanya
memiliki 1 teman cowok yaitu Raihan dan 1 lagi teman cewek yaitu
Lala yang ia sudah kenal sejak TK.
Setelah selesai pelajaran waktunya pulang, sebelum pulang
Fani ke kelas Risa untuk mengajaknya pulang bersama, tetapi Risa
tidak bisa ikut dengan Fani karna Risa dijemput oleh ibunya, jadi
Fani pulang bersama Lala dan Raihan.
Sesampainya di rumah Fani mengganti pakaiannya dan
berbaring di kasurnya dan dia sangat senang karna ia habis
menemui Risa.
Dan tiba-tiba Risa chat Fani, “Fani kamu lagi ngapain?”
“Lagi baring baring aja, kenapa Risa?” Fani membalas chat Risa.
“Gak kok Fan cuman mau nanya kabar aja hehe.” Balas Risa.
“Oh gitu, emangnya kamu lagi ngapain Ris?”
“Ini lagi nonton drakor,” balas Risa.
Tiba-tiba.
Tok...tok…tok…
“Fan…sedang apa Nak?” Terdengar suara ibu dari balik pintu
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 71
“Lagi main HP Bu.” Jawab Fani tampa beranjak dari tempat
tidurnya.
“Udah main HP nya…istirahat dulu,” kata ibu mengingatkan
Fani.
“Iya Bu…5 menit lagi,” jawab Fani masih sambil memainkan
jari-jari di handphonenya.
“Sorry ya Ris…sy off dulu. Mo istirahat,” tulis Fani di pesan yang
dikirimkan ke Risa.
Fani lalu meletakkan HP di nakas. Berusaha untuk
memejamkan mata namun entahlah mengapa sangat sulit untuk
menghilangkan bayangan Risa yang seolah berada di hadapannya
sambil tersenyum.
Waktu berlalu tanpa terasa sudah 2 bulan Fani dan Risa
menjalin pertemanan. Di sekolah mereka sering terlihat bersama
sekalipun berbeda kelas. Lala dan Raihan merasa tersisihkan.
Mereka mulai merasa ada yang berubah dengan diri Fani selama
berteman dengan Risa.
Hingga suatu ketika di hari Minggu, Fani mengajak Risa untuk
nonton film di bioskop dan Risa menerima ajakan Fani tersebut.
Fani menjemput Risa jam 15.00,
Fani berada di depan rumah nisa dan mengetok rumah Risa.
Lalu ibu Risa keluar dan menyuruh Fani masuk, setelah 5 menit
Risa pun keluar dari kamarnya, “Maaf ya Fani buat kamu nunggu,”
ucap Risa. “Iya ga papa, yuk kita berangkat.” Mereka berpamitan
kepada ibu Risa dan bergegas pergi.
Saat di perjalanan Risa bercerita ke Fani bahwa ia merupakan
bisexual yaitu dia bisa menyukai perempuan maupun laki-laki. Risa
bertanya ke Fani apakah dia terganggu akan hal itu. dan Fani
lumayan terkejut akan hal itu.
“Gapapa kok Risa, aku tidak mau menjudge atau hakimi
seseorang.”
72 Nyalanesia
Dan sampailah mereka di bioskop dan masuk ke studio lalu
mencari kursi mereka.
Mereka menikmati film yang sedang mereka nonton. Kisah
detektif yang merupakan kesukaan Fani. Selesai menonton mereka
menuju ke restoran yang lumayan dekat.
Saat sampai di rumah Fani bergegas mandi dan membereskan
kamar tidurnya.
Fani ke ruang nonton dan di situ ada ibunya, Fani bercerita
kepada ibunya apa aja yang ia lakukan seharian itu dan bercerita
kalau dia bertemu temannya yang bernama Risa. Dan ibu Fani
bertanya kepada Fani siapakah itu Risa lalu Fani jawab “Teman Fani
Bu... dari kelas lain tapi aku mulai akrab dengannya.” Lalu ibu Fani
menjawab “Ooh gitu, yaudah kamu naik ke kamar kamu tidur besok
mau sekolah lagi.”
Pagi pun tiba Fani bergegas ke sekolah, sebelum ke sekolah
Fani sarapan bersama ayah dan ibunya. Dan Fani diantar oleh
ayahnya ke sekolah.
Sampainya Fani di sekolah, Fani melihat Risa yang sedang jalan
bergandengan tangan sama teman cowo Risa. Dan dalam hati Fani ia
merasa cemburu tanpa ia sadari ia sudah mulai punya perasaan
kepada Risa. Fani lewat begitu saja depan Risa tanpa menegur Risa.
Saat jam istirahat pertama, Risa datang menemui Fani dan
bertanya kepada Fani apakah dia baik-baik saja. kata Fani “Gak papa
kok Risa kamu pergi saja sama teman cowok kamu itu.” Risa
kebingungan kenapa Fani marah kepada dia dan Risa kembali ke
kelasnya karena guru mapel Fani udah masuk.
Pukul 16.00 adalah jam waktu pulang sekolah mereka, Risa
melihat Fani sedang berdiri di pagar sekolah bersama temannya
yaitu Lala dan Raihan, Risa memanggil Fani untuk bicara
dengannya.
Gerakan Sekolah Menulis Buku 2021 73