Editor
Windoro Adi
0811 1880 403
0896 5136 7655
[email protected]
Tim Penulis
Asep Ananjaya
Mohammad Yan Yusuf
Theo Yonathan Laturiuw
Foto
Asep Ananjaya
Mohammad Yan Yusuf
Theo Yonathan Laturiuw
Penata Letak
Kuntoro
arsip metro
Tri Brata
1. Berbakti kepada
nusa dan bangsa
dengan penuh
ketakwaan terhadap
Tuhan yang Maha
Esa.
2. Menjunjung tinggi
kebenaran, keadilan
dan kemanusiaan
dalam menegakkan
hukum negara
kesatuan Republik
Indonesia yang
berdasarkan
pancasila dan
undang-undang
dasar 1945.
3. Senantiasa
melindungi,
mengayomi
dan melayani
masyarakat dengan
keikhlasan untuk
mewujudkan
keamanan dan
ketertiban.
i
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
Editor
Windoro Adi
Tim Penulis
Asep Ananjaya
Theo Yonathan Laturiuw
Mohammad Yan Yusuf
Penata Letak
Kuntoro
Diterbitkan pertamakali oleh:
ARSIP METRO
Cetakan Pertama: November 2017
ISBN: 978-602-74069-3-3
Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang keras mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
Lingkup Hak Cipta
Pasal 2 :
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta ata Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang
timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan Perundang-undangan yang
berlaku.
Ketentuan Pidana
Pasal 72 :
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1)
dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00
(satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil
pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta).
ii
iii
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
iv
sambutan
Kapolda Sumatera utara
Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw
Salam Sejahtera Bagi Kita Semua
Puji dan syukur Kehadirat Tuhan yang Maha Kuasa, pencipta alam semesta, dan
segala isinya. Saya menyambut baik penyusunan buku ini, serta memberikan apresiasi
dan penghargaan yang tinggi atas gagasan Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty
Panjaitan, S.I.K, M.H; sehingga dapat diterbitkan buku “POLRES SIMALUNGUN MENUJU
PERUBAHAN”.
Buku ini menggambarkan beberapa hal tentang kondisi satuan Polres Simalungun
dan Polsek jajaran beserta kegiatan kepolisian dalam rangka peningkatan kinerja.
Secara garis besar buku ini menggambarkan: (1) situasi dan kondisi Polres Simalungun
dan jajaran; (2) kegiatan-kegiatan yang dilakukan Polres Simalungun seperti bhakti
sosial, penyelesaian konflik sosial, mengatasi kondisi tertentu masyarakat, ikut aktif
dalam kegiatan kemasyarakatan, menjaga kerukunan umat beragama, melaksanakan
silaturahmi kepada masyarakat, penanganan kejahatan menyangkut perlindungan anak,
membangun akses jalan, membangun dunia pariwisata; (3) penanggulangan peredaran
dan penyalahgunaan Narkoba; serta (4) penanganan konflik sosial di Dolok Silau dengan
pelibatan Bhabinkamtibmas dan peningkatan pelayanan kepolisian kepada masyarakat.
Salam hormat dari Polda Sumut dan Jajaran, selamat membaca dan menyimak
buku “POLRES SIMALUNGUN MENUJU PERUBAHAN”, semoga dapat meningkatkan
pengetahuan dan inspirasi bahwa kepolisian dewasa ini memiliki tugas dan tanggung
jawab sosial yang lebih besar daripada penegakan hukum, namun dalam rangka
mengimplementasikan Nawa Cita Presiden Republik Indonesia cita pertama, yaitu
“menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan
rasa aman kepada seluruh warga negara”. Hal ini sebagai landasan dari program
prioritas Kapolri kedelapan: “pembangunan kesadaran dan partisipasi masyarakat
terhadap kamtibmas untuk mewujudkan Polri yang Promoter (profesional, modern,
dan terpercaya)”, serta kebijakan dan strategi Kapolda Sumatera Utara, yakni “bekerja
dengan hati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam rangka meningkatkan
kepercayaan masyarakat Sumatera Utara melalui peningkatan kinerja, pembenahan
kultur, dan peningkatan kemampuan mengelola media agar terwujudnya Polri yang
Promoter”.
Medan, Februari 2018
Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara
Drs. Paulus Waterpauw
Inspektur Jenderal Polisi
v
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
vi
pengantar
Kapolres Simalungun
AKBP Marudut Liberty Panjaitan, S.IK, MH
Salam Sejahtera Bagi Kita Semua
Pembaca yang budiman,
Bukan hal mudah bagi kami mewujudkan keinginan menjadi agen perubahan.
Perlu kerja keras, membuka diri dan berbagi, menyatukan langkah, mau memerhatikan
keluh kesah dan masukan orang lain, dan tentu saja, terampil memanfaatkan teknologi
informasi.
Tantangan terbesar kami adalah luas wilayah hukum Polres Simalungun yang
mencapai 4.386,6 kilometer persegi. Meski dengan rasio polisi yang relatif memadai,
yaitu satu polisi untuk 416 penduduk, tetapi tingkat pendidikan sebagian penduduk
Simalungun, relatif masih rendah.
Hal ini membuat konflik sosial mudah terjadi. Dengan cepat masyarakat mengamini
kabar burung, dan tebaran kebencian. Hidup menjadi kontra produktif karena dihantui
konflik dan kekhawatiran. Di sisi lain, rendahnya keterampilan sebagian masyarakat
Simalungun juga membuat mereka sulit terserap lapangan kerja yang membutuhkan
sejumlah syarat keterampilan.
Tantangan inilah yang membuat kami terpacu meningkatkan kompetensi, dan
menjalin kerjasama dengan para pemangku kepentingan lainnya. Polisi tak bisa
lagi hanya memerankan fungsinya sebagai “pemadam kebakaran” dengan tindakan
represif, tetapi juga harus berperan sebagai agen perubahan bersama para pemangku
kepentingan lainnya.
Agar mampu menjadi agen perubahan yang diharapkan, kami pun berbenah diri,
setahap demi setahap. Ke dalam, kami meningkatkan kualitas sumber daya manusia
jajaran kami, memperbaiki sistem dan fasilitas kerja dengan dukungan teknologi
informasi, serta meningkatkan kesejahteraan anggota. Ke luar, kami meningkatkan
pelayanan dan komunikasi masyarakat dengan dukungan para pemangku kepentingan
lainnnya.
Lewat buku ini, kami ingin berbagi pengalaman dan usaha kami menjadi agen
perubahan Polres Simalungun harus berani berubah. Belum banyak yang bisa kami
lakukan untuk mewujudkan cita-cita ini. Meski demikian, kami masih terus berusaha
maksimal. Semoga buku ini bisa menginspirasi pembaca. Salam
vii
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
Pemandangan pantai Danau Toba. Mulai 2006, sepanjang empat kilometer kawasan pantai ini ramai
pengunjung. Penginapan dan restoran mendominasi di tepian pantai. Masyarakat Simalungun, khususnya kawula
muda biasa menghabiskan malam akhir pekan untuk berwisata, berkumpul, mendirikan tenda berkemah dan
mandi di tepian pantai sambil menyantap ikan bakar.
Foto diambil pertengahan Juni 2017.
viii
Polres Simalungun MENJADI AGEN PERUBAHAN
ix
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
x
Polres Simalungun MENJADI AGEN PERUBAHAN
Pemandangan pantai Danau Toba. Di sisi kanan, Pulau
Samosir terlihat dari kejauhan. Di balik bukit nan jauh Kota
Parapat yang berjarak 1 jam perjalanan melintasi kebun teh
kawasan Sidamanik sampai ke Sibaganding.
xi
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
xii
Polres Simalungun MENJADI AGEN PERUBAHAN
Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Distrik V
Sumatera Utara di Jalan Bukit Barisan No.17, Kecamatan
Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera
Utara. Gereja terbesar dan termegah di Parapat ini bergaya
Eropa klasik karya Ir. Sahala Simanjuntak.
xiii
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
xiv
Polres Simalungun MENJADI AGEN PERUBAHAN
Perempuan Batak berpakaian adat tradisional Simalungun.
Foto diambil akhir Mei 2017 di Nagori Batu Dua Puluh,
Panei Tongah, Simalungun, Sumatera Utara.
xv
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
xvi
Polres Simalungun MENJADI AGEN PERUBAHAN
Rumah Bolon Nagori Pematang
Panombeian, Kecamatan Panombeian
Panei, Kabupaten Simalungun, Sumatera
Utara. Pematang artinya pusat kerajaan.
Biasanya, terdapat Rumah Bolon di
tempat itu. Seperti rumah panggung
yang sekarang ini ada di tengah kampung
Pematang Panombeian itu dulunya
kediaman Tuan Panombeian, keturunan
Raja Panei bermarga Purba. Bangunan
kayu seluas 8 x 15 meter itu berdiri di
tanah 4 rante, atau 1.600 meter persegi.
Sampai kini, rumah itu masih sering
digunakan untuk pertemuan adat dan
pernikahan. “Aku yang merawat rumah
ini. Aku cucu laki-laki dari keturunan ke
lima,” kata Chandra Purba (40).
xvii
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
xviii
daftar isi
Daftar Isi
Sambutan Kapolda Sumatera utara v
Irjen. Pol. Drs. Paulus Waterpauw vii
Pengantar Kapolres Simalungun
AKBP Marudut Liberty Panjaitan, S.IK, MH
BAB I Membangun Kohesi Sosial 1
Ketika Puting Beliung Datang 6
Pertengkaran di Kebun Sawit 16
Berdamai dengan Pengidap Gangguan Jiwa 22
Hari Menanam Jagung 25
Nasionalisme dari Kota Yatsrib 32
Silahturahmi 44
Para Pencuri di Kebun Sawit 59
Membelah Hutan Eukaliptus 71
Menyoal Penginapan Instansi Pemerintah 108
BAB II Meretas Narkoba 113
Pramusaji Kafe 118
Guru Honorer SMK 123
Cerita tentang Selinting Ganja 127
Ganja di Tanah Tak Bertuan 129
Ratusan Kilogram Ganja di Karangbangun 137
Desa Perlanan 149
BAB III Konflik Sosial 157
Malam Paska Mencekam 162
Menggalakkan Bhabinkamtibmas 197
Membenahi Personel 213
Melayani Publik 232
xix
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
Pisah sambut Kapolres Simalungun Ajun Komisaris Besar Yofie Girianto kepada Ajun Komisaris Besar Marudut
Liberty Panjaitan. Turut hadir dalam malam pisah sambut, Bupati Simalungun JR Saragih dan Wakil Bupati
Simalungun Amran Sinaga, serta Dandim 0207 Simalungun Letkol (Inf) Oni Kristiono Goendong. (mudanews.com)
xx
Polres Simalungun MENJADI AGEN PERUBAHAN
xxi
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
xxii
BAB I
Membangun
Kohesi Sosial
1
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
KAHEAN PERDAGA
SILAU SERBELAWAN
KAHEAN
RAYA
DOLOK POLRES BANGUN
SILAU HUTA
SARIBU PEMATANG RAYA BAYU RAJA
DOLOK PANEI
TONGAH
PURBA
SIDAMAD.NPIAKRDAMEAN TANAH
D. PANRIBBUAALNATA JAWA
PARAPAT
2
GEOGRAFIS
LUAS WILAYAH : 4.386,6 KM2
BATAS DAERAH :
U : KAB. DELI SERDANG
S : KAB. TOBASA
T : KAB. BATUBARA DAN KAB. ASAHAN
B : KAB. RES T. KARO
DEMOGRAFI :
JUMLAH PENDUDUK : 1.000.777 JIWA
LAKI-LAKI : 508.274 JIWA
PEREMPUAN : 492. 503 JIWA
ANGAN AGAMA : : 52,47%
BOSAR ISLAM : 36,60%
MALIGAS PROTESTAN : 5,94%
KATHOLIK : 1,67%
BUDHA : 0,32%
HINDU : 3,00%
LAIN-LAIN
PEMERINTAHAN : : 31
KECAMATAN : 17
POLSEK : 413
NAGORI/DESA
SUMBER DAYA ALAM :
PERTANIAN : PADI, KACANG, UBI, JERUK, SAYURAN, DSB
PERKEBUNAN : SAWIT, KARET, KOPI, COKLAT, KEMIRI, AREN, PINANG
PERIKANAN : IKAN MAS, IKAN NILA, IKAN MUJAHIR
17 POLSEK
1. PARAPAT : 1 KEC
2. DOLOK PANRIBUAN : 1 KEC
3. BALATA : 1 KEC
4. TANAH JAWA : 4 KEC, 3 POSPOL
5. BANGUN : 3 KEC, 1 POSPOL
6. PERDAGANGAN : 4 KEC, 6 POSPOL
7. BOSAR MALIGAS : 2 KEC, 1 POSPOL
8. SERBELAWAN : 2 KEC, 1 POSPOL
9. RAYA KAHEAN : 1 KEC
SATUAN SAMPING/TNI 10. SILAU KAHEAN : 1 KEC
KOREM 022/ PT : 451 11. PEMATANG RAYA : 1 KEC
RINDAM I/ BB : 638
KODIM 0207/SIM : 459 12. PANEI TONGAH : 2 KEC
YONIF 122/ TS : 642
DEN POM I/3 PS : 62 13. PURBA : 2 KEC, 1 POSPOL
BRIMOB KASUBDEN 2 B / PS 158 PERS 14. SARIBU DOLOK : 2 KEC
15. DOLOK SILAU : 1 KEC
16. DOLOK PARDAMEAN : 1 KEC
17. SIDAMANIK : 2 KEC
3
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
4
Membangun Kohesi Sosial
Pertengahan Mei 2017, petugas polisi bergotong royong
bersama warga, anggota TNI, Pangulu Desa dan Kecamatan
membangun kembali rumah korban bencana angin puting
beliung. Petugas polisi menyusun batu pondasi rumah,
menghimpun materil bangunan, menikmati kebersamaan
masyarakat Simalungun di Huta IV Tanjungan II nagori
Parbutaran, Kecamatan, Bosar Maligas, Kabupaten
Simalungun, Sumatera utara. Jajaran Polres Simalungun
berasal dari tiga penjuru; Polsek Tanah Jawa, Bosar Maligas,
dan Perdagangan.
5
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
Ketika Puting
Beliung
Datang
Pertengahan Mei 2017. Langit
gelap, angin bergemuruh, hujan
mengguyur perkebunan sawit
Huta IV Tanjungan II Nagori Parbutaran,
Kecamatan, Bosar Maligas Kabupaten
Simalungun, Sumatera Utara. Sore itu
Legiman terbangun dari kesehariannya
bermalas-malasan di dalam rumah. “Tak
ada kerjaan, hari ini hanya tidur-tiduran
saja,” katanya.
Saat itu pukul 16. 30. Legiman tak
ingin rasa laparnya terbawa sampai hari
gelap. Pria berusia 65 tahun itu beranjak
menuju tungku kayu bakar di dapur gubuk
tempatnya tinggal seorang diri. Di rumah
kecil beralas tanah itu, Legiman menanak
nasi.
Di luar, angin terus berhembus,
menampari dinding rumah reyot Legiman.
Angin membesar jadi puting beliung. Satu-
dua lembar atap seng mulai berterbangan.
Termasuk seng dari rumah Bejo (60),
tetangganya yang berjarak 50 meter ikut
melayang.
6
Membangun Kohesi Sosial
Jajaran Polres Simalungun dari tiga penjuru; Polsek Tanah
Jawa, Bosar Maligas, dan Perdagangan membangun kembali
rumah korban bencana angin puting beliung di Huta IV
Tanjungan II Nagori Parbutaran, Kecamatan, Bosar Maligas
Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pertengahan Mei
2017, petugas polisi bergotong royong bersama warga,
anggota TNI, Pangulu Desa dan Kecamatan.
7
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
(52) yang tinggal berhimpitan. “Macam
mimpi, kejadiannya begitu cepat,” ucap
Legiman yang mendapat tiga jahitan di
kepala.
Legiman (65), korban bencana angin puting beliung di Huta Tiga Penjuru Polsek
IV Tanjungan II Nagori Parbutaran, Kecamatan, Bosar Bencana puting beliung ini membuat
Maligas Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Rumahnya saya mengerahkan puluhan anggota dari
hancur, Legiman terluka di kepala, pertengahan Mei 2017. tiga Kepolisian Sektor (Polsek) terdekat.
Sekitar pukul 18.00, anggota Polsek Tanah
Legiman cemas, angin puting beliung Jawa, Bosar Maligas, dan Perdagangan,
menerpa rumahnya. Putarannya kian kuat. sudah berada di lokasi. Hingga tengah
Sampai akhirnya,...Bruuk...! dinding bilik malam, polisi, TNI, pemerintah daerah,
bambu ambruk menimpa Legiman. Petani Pangulu (kepala desa), serta masyarakat
sawit itu jatuh tersungkur. Atap seng dan setempat membantu korban bencana ini.
kayu-kayu penyanggah rumah menimpa
badannya. Legiman sesaat pingsan. Saat Tidak mudah menuju desa
siuman, ia memanggil adiknya Wagiran berpenduduk 150 kepala keluarga itu.
Di tengah hujan deras, jajaran saya
membelah perkebunan sawit Gunung
Bayu dan Mayang milik PT. Perkebunan
Nusantara (PTPN). Kendaraan menyusur
jalanan becek bertanah pasir di sepanjang
Nagori Parbutaran, Nagori Tanah Jawa,
dan Nagori Marihat Butar. Udara di
perkebunan lembab dan sangat dingin.
Waktu tempuh terdekat, satu jam
perjalanan. Sementara, anggota Polres
Simalungun di belahan wilayah Pematang
Raya, tiga jam baru sampai ke lokasi.
Saat tiba di lokasi, petugas merapikan
gubuk Legiman yang sudah rata dengan
tanah. Rumah seluas 30 meter persegi
itu hanya tinggal timbunan kayu usang.
Legiman mendapat pertolongan. Demikian
pula Bejo dan keluarganya. Batuan dan
ranting pohon yang porak-poranda
tersapu angin, ditata ulang. Materil tak
terpakai yang membahayakan aktivitas
warga, dibawa ke pembuangan.
Tak berhenti sampai di situ, saya
ingin rumah Legiman berdiri kembali.
8
Membangun Kohesi Sosial
Satu kesatuan setingkat kompi dari tiga Petugas polisi mendatangi lokasi bencana angin puting
penjuru Polsek saya kerahkan atur barisan. beliung di Huta IV Tanjungan II Nagori Parbutaran,
“Malam ini juga, materil harus sudah Kecamatan, Bosar Maligas Kabupaten Simalungun,
siap. Perbaikan dilakukan esok hari,” kata Sumatera Utara. Pertengahan Mei 2017, satu jam setelah
saya pada Kapolsek Bosar Maligas, Ajun bencana itu terjadi petugas mengevakuasi warga ke lokasi
Komisaris Polisi Kesmart Purba yang yang aman.
kemudian mengambil alih komando.
rumah-rumah tak berpagar. Halamannya
Dana dari donatur saya serahkan bersih dan asri ditumbuhi pepohonan
anggota untuk membeli materil kayu, seng, buah.
semen, pasir, batu bata, paku, cat, dan
batu kali sebagai pondasi. Kepada anggota Siang hari seperti biasanya, tidak ada
saya selalu menekankan sikap tanggap yang mereka kerjakan. Paenah mengejek,
dan cepat menghadapi situasi darurat. “Biasanya kami saling cabut uban. Tapi
Demikian pula keterampilan mereka lihat Mbah Par, rambutnya sudah beruban
dalam mengembangkan jaringan teknologi semua, bisa habis kalau dicabut.”
informasi.
Para perempuan itu tertawa. Mbah
Urban Jawa Par memperhatikan Legiman yang terlihat
Di pekarangan rumah, tiga perempuan seperti orang bingung. “Lihat si Legiman
tua bercengkrama. Sutiyem (50), Paenah itu, senang sekali hari ini dapat rumah
(62), dan Mbah Par (82), menikmati angin baru,” ucap si Mbah sambil menunjuk
segar di bawah pohon jambu air. Legiman dengan memonyongkan bibirnya.
Di pemukiman Desa Tanjungan II, Sutiyem berdarah Jawa, dia dari
Kroya. Begitu juga Paenah dari Purworejo,
sementara Mbah Par dari Probolinggo.
9
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
Kampung Lantosan, Huta Bayu, Bosar Maligas, Simalungun,
Sumatera Utara. Kata orang tua dan opung-opung Arimah Boru
Sinaga (92), kalau Kampung Lantosan lebih dulu ada. Kawasan
ini dulunya hutan belukar, masih banyak gajah dan harimau.
Hanya tujuh keluarga yang bermukim, marga Damanik, Sinaga
dan Saragih. Mereka hidup bertani padi dan jagung, tidak
mengenal berternak. Pemegang wilayah ini disebut Raja atau
Tuan. Termasuk opungnya Arimah, bernama Tuan Lantosan.
Foto diambil pertengahan Mei 2017.
10
Membangun Kohesi Sosial
11
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
Sejarah kaum urban Jawa ini seiring
dengan sejarah perkembangan perkebunan
sawit di Simalungun.
Di Kampung Lantosan, Arimah Boru
Sinaga berkisah. Perempuan tua ini tinggal
tak jauh dari Gunung Bayu, Bosar Maligas.
Usianya 92 tahun. “Seingat aku, saat aku
berusia tujuh tahun, di Lantosan ini sudah
ada kebun sawit. Kebun ini milik Belanda
(pemerintah Hindia Belanda),” tuturnya
saat ditemui pertengahan Mei 2017.
Di Perdagangan saat itu sudah banyak
kedai kopi. Arimah sudah berupah 2
ketip 5 sen rupiah dari kerja menggaruk
sawit. Uang senilai setalen di tahun 1939
itu dia habiskan untuk sebulan. Upah
kerja istimewa untuk selembar kain batik
seharga seketip, ikan kering, dan satu goni
beras seberat 40 kilo. “Semua karyawan
tuan Belanda sejahtera. Setelah gajian,
aku selalu ke Perdagangan. Di sana bisa
belanja apa saja,” tuturnya.
Sekarang ini, seorang petani kontrak
diupah Rp25 ribu per hari. Mulai kerja
pukul 07.00 pagi, pulang pukul 12.00
siang. Satu rombongan kerja terdiri dari
25 orang petani kontrak, diawasi oleh
seorang mandor. Kata Sutiyem, sedikitnya
lima rombongan mengerjakan ribuan
hektare kebun sawit setiap hari. Mereka
ada yang ngopah (menggaruk piringan),
Arimah Boru Sinaga. Perempuan tua ini tinggal di Kampung Lantosan, tak jauh dari Gunung Bayu,
Bosar Maligas, Simalungun, Sumatera Utara. Usianya 92 tahun, Arimah cucu Tuan Lantosan yang
dipercaya sebagai penguasa awal Kampung Lantosan dan Tanah Jawa sekitar dua abad silam. Di
tahun 1801, Tuan Lantosan menyewakan ribuan hektare tanah garapan mereka ke Tuan Belanda
(pemerintah Hindia Belanda) yang membawa orang-orang Jawa ke Simalungun sebagai pekerja
kontrak perkebunan sawit (Jakon=Jawa Kontrak). Mereka diwerek, dan diberi pondokan sampai
beranak pinak. Foto diambil pertengahan Mei 2017 di rumah Arimah, saat dikunjungi perempuan tua
itu masih sehat.
12
Membangun Kohesi Sosial
dongkel (cangkul), atau ngarit. “Bayangkan atau nagori di Gunung Bayu, Mayang,
saja, upah segitu mana cukup buat beli Belok, Tanjungan, Marihat Butar, dan
beras, dan biaya sekolah anak,” katanya Tarung Saragih. Di Pasar Baru juga ada
gusar. Pondok Potong, Deling Ampat, Deling
Anam, Deling Sepuluh, Deling Tujuh, dan
Menurut Arimah, kalau soal banyak lagi.
mencukupi biaya hidup, enak di era
pemerintahan kolonial Belanda. Sebulan Di masa itu, orang-orang Jawa
dua kali, tiap pekerja kontrak mendapat 20 berikrar, “Mereka yang membawa
kilo beras. Anak-anak mereka mendapat segenggam tanah dari Pulau Jawa,
tanggungan masing-masing tiga kilo kemudian menanamnya dan menyebut ini
beras. Setiap tiga bulan, seluruh pekerja tanahku. Maka, jadilah tempat itu Tanah
mendapat selembar kain batik, pakaian, Jawa,” tutur Arimah. Orang-orang Jawa
ikan asin, dan minyak sawit. “Semenjak ini sekarang sudah tua, tapi belum pernah
Indonesia merdeka, tanggungan itu hilang,” pulang kampung. Kenal asal kampung
ucap Arimah. halamannya pun seingatnya. “Malu hati
rasanya,” ucap Sutiyem.
Cerita orang tua dan opung-opung
mereka menuturkan, kalau kampung
Lantosan lebih dulu ada. Kawasan ini
dulunya hutan belukar, masih banyak gajah
dan harimau. Hanya tujuh keluarga yang
bermukim, marga Damanik, Sinaga dan
Saragih. Mereka hidup bertani padi dan
jagung. Pemegang wilayah ini disebut Raja
atau Tuan. Termasuk opungnya Arimah,
bernama Tuan Lantosan.
Setelah hutan belukar habis ditebangi,
datanglah Tuan Belanda. Tahun 1801,
tuan-tuan itu meminjam tanah untuk
berkebun sawit. Masyarakat Lantosan
mendapat uang. Sesuai perjanjian, tanah
itu dikembalikan setiap lahir anak-cucu
Tuan Lantosan. Sejak saat itu, pekerja dari
Pulau Jawa berdatangan.
Mereka di-werek (bahasa Belanda,
werk, yang dipekerjakan) dan mendapat
penginapan gratis. Begitu pun masyarakat
Tuan Lantosan. Pondokan dan pekerja
kontrak orang-orang Jawa terus mengalir
mengikuti wilayah perkebunan sawit.
Rumah sederhana berdinding kayu
mengiringi pertumbuhan penduduk desa
13
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
Suasana pondokan di Nagori
Panombeian, Kecamatan
Panombeian Panei, Simalungun,
Sumatera Utara. Kaum urban Jawa
yang umumnya pekerja kontrak
perkebunan sawit menghabiskan
waktu di teras pondok. Sore hari,
setelah lelah bekerja meneruskan
pekerjaan rumah, menjemur padi,
jagung dan kacang-kacangan sambil
bersenda gurau, Mei 2017.
14
Membangun Kohesi Sosial
15
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
Pertengkaran
di Kebun Sawit
Malam hari di perkebunan Pengusaha sawit, Suli Harman Sitorus (43)
sawit, tiga remaja di Gunung Bayu, Bosar Maligas, Simalungun,
mengendap-endap di Sumatera Utara. Suli tadinya hanya petani
jalan lintas menuju Nagori Parbutaran, kecil. Dua tahun belakangan ini, usahanya
Bosar Maligas. Motor yang mereka memborong tandan sawit masak kian
tumpangi disandarkan ke tepi jalan gelap. berkembang. Hasil mengepul tandan sawit
Jalan lembab bertanah pasir itu tanpa dari perkebunan perseorangan Suli pasok
penerangan. ke pabrik-pabrik di Huta Bayu, Mayang, Sei
Mangke dan sekitarnya. Dari bisnis mengepul
Saat itu akhir Desember 2016 Mereka tandan sawit segar itu, Suli bisa membangun
menuju pohon sawit yang siap panen. penginapan sederhana dan hektaran ladang
Warna buahnya hitam mengkilat, sebagian umbi-umbian. Suli ini cucunya Arimah Boru
bijinya kemerahan. Sejumlah pengawas Sinaga, cicitnya Tuan Lantosan.
kebun memergoki dan mengusir mereka.
Tetapi hal itu tidak membuat ketiganya
pergi. Karena bersikeras, para pengawas
memukul mereka.
Keributan itu mengundang kemarahan
puluhan warga Nagori Parbutaran.
Malam itu juga, massa menyambangi
pengawas kebun. Mereka tidak terima,
anaknya dipukuli. Emosi warga mulai
memanas. Mereka ingin merusak
kendaraan pengelola perkebunan. “Bahkan,
ada yang melapor ke saya sempat ada
16
Membangun Kohesi Sosial
letusan tembakan,” kata Pangulu Nagori bersifat spontan. Keributan-keributan kecil
Parbutaran, Ibin Hardini Purba. rumah tangga biasa terjadi. Tidak pernah
ada keributan antar desa yang terencana.
Camat Nagori Bosar, Amon Charles “Masalah malam itu juga sudah selesai
Sitorus akhirnya berhasil mendamaikan lewat musyawarah,” jelas Kesmart.
pihak yang bertikai. “Insiden itu tidak
sampai ke ranah hukum. Pertikaian juga Charles seringkali menyampaikan ke
langsung diselesaikan oleh kepolisian,” masyarakat soal batasan wilayah kebun.
ucap Charles. Masyarakat dan pengelola sudah sepakat,
jalan lintas itu terbuka bagi umum. Tapi,
Menurut Kapolsek Bosar Maligas, Ajun hanya untuk akses melintas menuju desa.
Komisaris Polisi, Kesmart Purba, kejahatan Masyarakat tidak boleh masuk ke areal
yang terjadi di daerah ini umumnya
17
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
Perkebunan sawit Gunung Bayu milik PTPN III di Nagori Parbutaran, Bosar Maligas, Simalungun, Sumatera
utara. Jalan lembab bertanah pasir membelah perkebunan sawit sampai ke pemukiman penduduk. Jalan setapak
di perkebunan sawit terbuka bagi masyarakat, dikelilingi rerumputan rendah dan pohon kacang-kacangan tanpa
penerangan. Suasana gelap gulita di malam hari yang sepi seringkali dimanfaatkan pencuri tandan buah sawit.
Mulai pagi hingga pukul 05.00 sore, seantero rerumputan perkebunan sawit menjadi area gembala sapi, domba
dan kambing. Foto diambil pertengahan Mei 2017.
18
Membangun Kohesi Sosial
perkebunan. Juga sewajarnya, setiap Holat. Makanan ini, dulunya hanya disantap raja-raja Batak
malam hari perusahaan perkebunan di Simalungun. Holat berbahan dasar irisan daging kerbau
negara ini mengerahkan aparat keamanan bakar, santan, cabe, jahe, bawang merah dan bawang putih.
untuk menjaga tandan buah sawit dari Rasa bumbu dapurnya kuat karena irisannya besar. Cabe
pencurian. rawitnya pun gelondongan, tidak diiris. (kompas.com)
Riak-riak kesenjangan sosial itu hanya sampai 100 hektare.
samar muncul di kawasan perkebunan Bersama kepolisian, petugas
sawit, kata Charles. Dia menghargai
keberadaan orang-orang Jawa di kecamatan rutin menggelar pertemuan
pondokan. Selain, mayoritas orang Batak bulanan dengan 16 Pangulu Desa di sini.
yang berasal dari berbagai marga, kawin Selain pertemuan Pangulu Harungguan,
silang antara beragam suku menjadikan rapat koordinasi itu juga bagian dari
masyarakat Simalungun ini ber-bhineka. sambang desa yang mencakup kegiatan
Pembinaan Keluarga Harapan (PKH).
Sebagian besar luas wilayah Bosar
Maligas dikelilingi perkebunan sawit Dalam kegiatan PKH, masyarakat
negara yang dikelola PTPN III dan IV. mendapat pelatihan menjahit, pengelolaan
Antara lain, perkebunan Bukit Lima, pakan ternak, dan berladang. Juga sosialisi
Mayang, Gunung Bayu, Padang Matinggi, pelayanan bantuan perbaikan rumah
dan Sei Mangke. Luas minimal satu kebun tidak layak huni, kegiatan bersama tiga
5.000 hektare. Sedangkan perkebunan pilar Polri, kecamatan dan TNI. “Jadi, mau
milik swasta dikelola oleh PT. Murida dan dari suku Jawa atau Batak, pengayoman
PT. Flora Surya Lestari. Selebihnya, milik masyarakat ini tidak dibedakan,” ucap
perorangan yang luasnya mulai 1 hektare Kesmart.
19
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
Namanya Naniura. Ikan mas fillet tanpa tulang dengan Sajian Holat siap disantap di bawah
perasan asam jeruk nipis yang membuat ikannya masak. tenda biru. Gelas-gelas kopi, kue-kue,
Rendam ikannya, diamkan setengah jam. (travel.detik.com) dan gorengan sekejap saja tersingkir dari
pemandangan di meja panjang. Makanan
Jamuan Holat khas Batak dalam bungkusan kertas coklat
Kisah pertikaian di kebun sawit itu digilir. Nasi, dan kuah sop kuning
berlalu, tetapi perbaikan rumah Legiman di bungkusan terpisah. Semuanya yang
yang hancur karena terpaan angin puting berkerumun bersuara lantang, “Mari
beliung masih berlanjut. Hingga tengah makan!”
hari, petugas gabungan kepolisian dari
tiga penjuru sektor -Bosar Maligas, Tanah “Nah,...ini namanya Holat,” kata
Jawa, Perdagangan-, bersama TNI, Satpol Charles. Makanan ini dulunya hanya
PP dan masyarakat, masih berlangsung. disantap raja-raja Batak di Simalungun.
Satu per satu, pondasi batuan kali Holat berbahan dasar irisan daging kerbau
tersusun. Semen dan pasir diaduk. Kayu, bakar, santan, cabe, jahe, bawang merah
seng, dan batu bata siap terpasang. dan bawang putih. Rasa bumbu dapurnya
kuat karena irisannya besar. Cabe rawitnya
Tak ada bagian empat pilar yang pun gelondongan, tidak diiris.
menonton. Begitu pun saat makan siang.
Santan kelapa juga tidak diperas halus,
20
Membangun Kohesi Sosial
agak cair dan menjadi kuah. Holat ini agak Naitombur. Ikan dibakar, diberi bumbu kemiri, bawang, cabe
mirip dengan Serapege. Hanya saja daging kemudian digongseng. Bumbu-bumbu dapur itu digiling
Serapege dibiarkan mentah, tidak dibakar. dengan andaliman, rempah asli tanah Batak yang membuat
“Rendaman perasan jeruk nipis yang rasa masakan ini getir.
membuat dagingnya lunak, karena asam,”
jelas Charles. (dapur bunda inong - blogger)
Obrolan ringan itu semakin hangat, dipanggang itu disiram dengan darah
“Ada lagi yang lebih khas,” sahut Kesmart. segar ayam, dipadukan dengan asam jeruk
Namanya Naniura. Ikan mas fillet tanpa nipis. “Seperti Sang Sang, hanya saja darah
tulang dengan perasan asam jeruk nipis. segar tidak direbus, tapi disiram begitu
Perasan jeruk nipis itu yang membuat saja,” ucap Charles.
ikannya masak. Rendam ikannya, diamkan
setengah jam. “Macam sushie, makanan Lain lagi Naitombur. Ikan dibakar,
khas orang-orang Jepang itu, ikannya diberi bumbu kemiri, bawang, cabe
disajikan mentah-mentah,” ujar Kesmart kemudian digongseng. Bumbu-bumbu
bersemangat. dapur itu digiling dengan andaliman,
rempah asli tanah Batak yang membuat
Kapolsek Bosar Maligas itu juga rasa masakan ini getir. Bikin lidah
tahu menu ekstrim khas Batak seperti bergetar. “Pandai juga aku kalau bicara
Nadipadar. Padahal, masakan itu sudah memasak,” kata Kesmart. Di hadapannya,
jarang disajikan. Bumbu dapurnya sama Charles tersenyum lebar sambil lahap.
dengan Holat, hanya saja ayam yang sudah Semua yang ada di situ, tertawa lepas.
21
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
Berdamai wajah opungnya disundut rokok. Orang-
dengan orang berhamburan ke luar rumah.
Pengidap
Gangguan Jiwa “Keluar kau dari kamar, minum
obatmu. Kalau tidak, ku hajar kau,” maki
Belum sempat melemaskan seorang pria dari dalam rumah kecil
otot perut yang tegang karena bercat putih. Dari dalam kamar yang
banyak tertawa, laporan warga terkunci, orang yang terganggu jiwanya,
masuk ke telepon genggam Kepala Unit terus meracau tidak jelas, sambil duduk
Intel Polsek Bosar Maligas, Ajun Inspektur bersila merokok kretek. Pamannya yang
Satu James Simanjuntak. Kondisi genting, dipanggil tulang, berkonsultasi dengan
ada orang yang terganggu jiwanya, anggota polisi di pekarangan rumah.
mengamuk. Polisi bertubuh jangkung itu Warga mulai berkerumun.
pun bergegas menarik gas motor trailnya
yang bersandar di batang pohon pisang. “Anak ini sudah terganggu jiwanya.
Semua orang rumah tidak sanggup lagi
James memacu sepeda motornya ke menghadapinya. Mau kami bawa saja
Nagori Marihat Butar. Inspektur Satu ke rumah sakit jiwa,” kata pria yang tadi
Jarisman Sitinjak, Kepala Unit Reserse memaki.
Kriminal Polsek Bosar Maligas mengikuti.
Motor trail mereka sama gesit, sama Tulangnya yakin, keponakannya itu
cepat. Jalan aspal kasar dan berdebu kerasukan ruh opungnya yang belum lama
digilas habis. Jarak tempuh Nagori ini meninggal dunia. Tak sedikit warga
Parbutaran menuju Nagori Marihat yang ketakutan. Sekarang, pria paruh
Butar hampir setengah jam. Tiga anggota baya itu menolak diberi obat penenang.
Bhabinkamtibmas polisi dan seorang Dia sudah tahu bakal dibawa ke rumah
TNI yang sedang menikmati Holat, sakit. “Tapi, kami takut. Kalau dia sadar
menyusul. Kabarnya, amukan orang yang bisa mengamuk di dalam mobil. Sebab itu,
terganggu jiwanya ini meresahkan warga. kami ingin beri dosis dua kali lipat,” kata
Keluarganya sendiri diamuk. Rambut dan tulangnya.
Seorang polisi bernama Tarigan turun
tangan setelah teralis besi jendela kamar
pria yang terganggu jiwanya itu dibongkar
paksa. Langkah itu dia lakukan dengan
hati-hati. Sebab, di dinding kayu dalam
kamar terselip sebilah pisau.
Tarigan ini pria jenaka. Hanya ucapan
dia yang mau didengar. “Orang ini mau ke
22
Membangun Kohesi Sosial
luar kamar asalkan tulangnya itu diborgol. Masyarakat berkerumun di Nagori Marihat Butar,
Dia takut, makanya kami perdaya saja. Kecamatan Bosar Maligas. Mereka penasaran dengan ulah
Kita pura-pura amankan tulangnya,” kata seorang pria paruh baya yang mengamuk di dalam rumah.
Tarigan. Kericuhan yang sempat menimbulkan kepanikan sore
itu mereda setelah aparat Polsek Bosar Maligas dan TNI
Kunci slot kamar terbuka, petugas bersama Pangulu Desa membujuk pria yang yang diduga
mengaitnya dengan bambu panjang. mengidap gangguan jiwa itu berobat ke rumah sakit. Insiden
Setelah diajak bicara baik-baik, pria itu terjadi pertengahan Mei 2017.
beranak satu yang terganggu jiwanya itu
pun digiring petugas. Tapi, tetap saja dia Sore itu juga pamannya melanjutkan
tidak mau minum obat. rencana awal ke rumah sakit jiwa di
daerah Barus, Balige. Butuh waktu lima
Permohonan keluarga menahan pria jam perjalanan ke sana.
yang terganggu jiwanya di sel Polsek tidak
dikabulkan polisi. Setelah lewat negosiasi
panjang, pamannya pun merelakan
keponakannya diikat. Tak ada tambang,
untaian kain pun jadi. Pria yang terganggu
jiwanya ini kemudian dibawa masuk ke
mobil.
23
Polres Simalungun MENUJU PERUBAHAN
Hari menanam jagung, akhir Mei 2017. Kapolres Simalungun, Ajun Komisaris Besar Marudut Liberty Panjaitan
bersama Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Mulyono membuka Karya Bhakti TNI 2017 di tanah lapang
Batu Dua Puluh, Nagori Sigodang, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Turut hadir Wakil
Gubernur Sumatera Utara Brigjen TNI (Purn) Nurhajizah Marpaung, Bupati Simalungun JR Saragih, Pangdam
I/BB Cucu Somantri, Danrem 022/Pantai Timur Kolonel Inf Gabriel Lema, serta Dandim 0207 Simalungun
Letkol (Inf) Oni Kristiono Goendong. Melalui Karya Bhakti TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-98 ini,
masyarakat menanami lahan tidur yang tadinya tidak produktif.
24
Membangun Kohesi Sosial
Hari Menanam
Jagung
Akhir Mei 2017, orang-orang
berduyun meyambangi tanah
lapang Batu Dua Puluh,
Nagori Sigodang, Kecamatan Panei,
Kabupaten Simalungun. Mereka bercaping,
berpakaian lusuh, berseragam sekolah,
berseragam dinas, berpakaian adat Batak,
campur-baur.
Satu peleton Brigadir Mobil (Brimob)
Polres Simalungun berjaga, berdampingan
dengan barisan anggota TNI berseragam
loreng. Saya memegang tongkat komando
di jajaran bangku tamu. Saya berbaur,
bercengkrama dengan warga, para
Pangulu, pejabat daerah, personel tentara,
dan awak media massa.
Pagi ini, pasukan siap menyambut
kedatangan Kepala Staf Angkatan
Darat, Jenderal TNI Mulyono yang
hendak membuka Karya Bhakti TNI
2017 di Kabupaten Simalungun di
lingkup pertahanan Komando Daerah
Militer I Bukit Barisan (Kodam I/BB).
Jika ingin maju menjadi daerah yang
25
Polres Simalungun MMEENUJU PERUBAHAN
26