Bunga Rampai Peluang & Tantangan MANAJEMEN PENDIDIKAN Di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0
Bunga Rampai Peluang & Tantangan MANAJEMEN PENDIDIKAN Di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Penyunting Muhammad Habaib Editor Ika Kartika Abbas Fauzi Agus Mulyanto Muhammad Habaib Romdah Romansyah Iwan Asmadi
Bunga Rampai Peluang & Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Oleh: Muhammad Habaib, dkk Penyunting: Muhammad Habaib Penulis: Muhammad Habaib | Romdah Romansyah | Iwan Asmadi Arman Tirtajaya | Aa Aman Abdur Rahman M Ilyas Mahmud Farid | Revita Yanuarsari| Ella Dewi Latifah Lisnawati | Arum Maslachah | Sobari | Sari Rahayu Cucu Suwandana | Ike Kurniati | Deden | Yuliana Editor: Ikka Kartika Abbas Fauzi Agus Mulyanto Muhammad Habaib Romdah Romansyah Iwan Asmadi Desain Sampul: Muhammad Habaib ISBN : xxx-xxx-xxx Cetakan Pertama, 2023 ....+....hlm, 15x24 cm Diterbitkan Oleh Values Institute Komp. Vijayakusuma Blok C2/13 Cipadung, Cibiru, Bandung, Jawa Barat 40614 Hak cipta dilindungi undang-undang All right reserved
| v Kata Pengantar
vi | Daftar Isi Kata Pengantar ................................................................................................................v Daftar Isi ........................................................................................................................ vi Manajemen Strategik Yayasan Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Tantangan Era Revolusi 4.0 ..............................................................................................................1 Muhammad Habaib Strategi Implementasi Learning Organization Sebagai Bagian Dari Transformasi Pendidikan Di Era Revolusi Industri 4.0..................................................................... 11 Mahmud Farid Manajemen Supervisi Akademik Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Abad 21 ................................................................................................................30 Cucu Suwandana Tantangan Pendidikan Dan Pembelajaran Berbasis Ict Di Era Revolusi Industri 4.0.................................................................................................... 45 Ella Dewi Latifah Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Ict Di Era Revolusi Industri 4.0 Dan Society 5.0............................................................................................................. 56 Iwan Asmadi Strategi Pembelajaran Multiple Intellgences Siswa Paud Di Era Revolusi Industri 4.0 Dan Society 5.0......................................................................... 67 Lisnawati Pengembangan Kompetensi Guru Paud Di Ere Revolusi Indistri 4.0 Dan Society 5.0..............................................................................................................77 Revita Yanuarsari Implementasi Nilai-Nilai Aswaja Di Sekolah Dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0....................................................................................................86 Arum Maslachah Manajemen Pembelajaran Blanded Learning Guna Meningkatkan Mutu Pembelajaran................................................................................................................ 99 Ermawati Pola Asuh Jarak Jauh Dalam Meningkatkan Mutu Lulusan .................................... 114 Ike Kurniati Manajemen Pendidikan Dalam Menghadapi Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 Dan Society 5.0........................................................................125 Yuliana Manajemen Mutu Pendidikan Tinggi Era 4.0 .......................................................... 140
| vii Romdah Romansyah Meningkatkan Mutu Lulusan Sekolah Era Revolusi 4.0 Dan Society 5.0 ................151 Aa Aman Abdur Rahman M Ilyas Media E-Learning Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Di Perguruan Tinggi Pada Era Industri 4.0...................................................................................... 163 Sobari Manajemen Mutu Pendidikan Di Era Revolusi Industri 4.0 Dan Society 5.0......... 175 Sari Rahayu Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Pada Pembelajaran Abad 21 ...............186 Deden Revolusi Industri 4.0 Dan Society 5.0 Serta Relevansinya Terhadap Pendidikan .199 Arman Tirtajaya
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |1 MANAJEMEN STRATEGIK YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ERA REVOLUSI 4.0 Muhammad Habaib Yayasan Pendidikan Islam An-Nur Malangbong Garut [email protected] Abstrak Manajemen strategik yayasan pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0 merupakan permasalahan penting yang harus diatasi. Revolusi 4.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi digital dan internet telah mengubah cara kita bekerja, belajar, dan berkomunikasi. Oleh karena itu, yayasan pendidikan Islam harus memiliki strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan ini. Identifikasi masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana manajemen strategik yayasan pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literatur review yang dilakukan dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan artikel yang berkaitan dengan manajemen strategik yayasan pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa manajemen strategik yayasan pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0 harus memperhatikan beberapa hal seperti pengembangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan era revolusi 4.0, pengembangan sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang teknologi, dan pengembangan sistem informasi yang efektif. Kata kunci: Manajemen Strategik, Yayasan Pendidikan Islam, Tantangan Era Revolusi 4.0. Abstract The strategic management of Islamic education foundations in facing the challenges of the 4.0 revolution era is an important issue that must be overcome. The 4.0 revolution marked by the development of digital technology and the internet has changed the way we work, learn and communicate. Therefore, Islamic education foundations must have the right strategy to face this challenge. Identification of the problem that will be examined in this study is how the strategic management of Islamic education foundations is in facing the challenges of the 4.0 revolution era. The method used in this study is a literature review which is carried out by collecting data from various sources such as books, journals, and articles related to the strategic management of Islamic education foundations in facing the challenges of the 4.0 revolution era. From the results of the research, it can be concluded that the strategic management of Islamic education foundations in facing the challenges of the 4.0 revolution era must pay attention to several things such as developing a curriculum that fits the needs of the 4.0 revolutionary era, developing competent human resources in the field of technology, and developing effective information systems. Keywords: Strategic Management, Islamic Education Foundation, Challenges of the Revolutionary Era 4.0.
2 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 PENDAHULUAN Era revolusi 4.0 yang kini sedang berlangsung membawa perubahan yang cepat dan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Tantangan yang dihadapi oleh yayasan pendidikan Islam dalam menghadapi revolusi 4.0 sangat besar, mulai dari perubahan pola pikir dan perilaku siswa, serta perubahan dalam cara menyampaikan materi pendidikan. Manajemen strategik yang baik dapat membantu yayasan pendidikan Islam dalam mengatasi tantangan tersebut dan menjadi lebih siap dalam menghadapi perubahan di era revolusi 4.0. Seiring perkembangan zaman dan perubahan, perilaku pun berubah. Orang berubah dari waktu ke waktu. Ini juga mengubah perkembangan sistem Pendidikan di dunia, khususnya di Indonesia. Pendidikan merupakan alat terpenting untuk mencapai tujuan nasional dan global. Pendidikan adalah proses untuk meningkatkan, memperbaiki, mengubah pengetahuan, keterampilan dan sikap serta hambatan serius yang dihadapi manusia melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan penelitian Proses pendidikan menekankan adanya kegiatan dalam bentuk percakapan aktif melalui kesenangan apa pun interaksi yang dilakukan untuk kepentingan mencapai hasil yang diinginkan. Karena pendidikan senantiasa aktif dan praktis, maka pendidikan merupakan semacam bujukan atau tindakan yang dilakukan secara khidmat untuk mewujudkan perubahan hukum dan masyarakat yang diharapkan, yaitu munculnya insan yang cerdas, terampil, mandiri, berdisplin, dan berakhlak mulia umat manusia. Sebagaiman Firman Allh SWT. Yang telah mengajarkan kita bagaimana kualitas manusia ditingkatkan secara utuh pada Q. S. Al-Alaq ayat 1-5 yang artinya; (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!; (2) Dia menciptakan manusia dari segumpal darah; (3) Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia; (4) yang mengajar (manusia) dengan pena; (5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ayat di atas menunjukkan bahwa pendidikan menyiratkan semua aspek ciptaan ini, bukan hanya manusia, dan bahwa Allah adalah Pendidik Tertinggi. Diperkirakan bahwa kekuatan gabungan pengaruh alam dan dampak pendidikan akan mengarah pada pengembangan kepribadian yang ideal. Oleh karena itu, pendidikan yang sesungguhnya menumbuhkan perkembangan kepribadian yang utuh dan utuh bukan hanya pembelajaran yang menitikberatkan pada logika. Upaya ini dilakukan berbagai pihak terus melakukan upaya untuk mengangkat kualitas pendidikan melalui berbagai strategi. Mujamil Qomar menggarisbawahi bahwa tujuan pendidikan Islam lebih rumit daripada pendidikan reguler. Lembaga pendidikan Islam dituntut untuk memenuhi setidaknya dua misi: misi akademik dan tujuan keagamaan (Mujamil Qomar, 2013:74). Setiap lembaga pendidikan Islam harus mencapai dua tujuan tersebut. jika Anda ingin institusi Anda menjadi yang terbaik. Berdasarkan dua tujuan tersebut di atas, salah satu pilihan untuk mewujudkan kepribadian yang utuh dan terpadu yang memenuhi syariat Islam adalah dengan mendirikan lembaga pendidikan yang berbasis Islam. harus menciptakan lembaga Islam yang selalu berkembang dan permanen,
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |3 memenuhi peran tertentu, dan memiliki struktur organisasi yang dapat membawa orang-orang di bawah perlindungannya agar lembaga tersebut menjadi kuat. Revolusi Industri memiliki tantangan pendidikan yang signifikan karena masalah seperti ketidaksetaraan infrastruktur. Reformasi pemikiran pejabat saat ini sangat penting untuk mengubah pola pikir di kalangan masyarakat. perubahan menuntut regulator untuk juga beradaptasi. Strategi disruption digunakan untuk menciptakan lapangan kerja baru di era perubahan yang konstan ini. Cara-cara baru untuk bersaing perlu dikembangkan. Itu sebabnya ikut dengan kami dengan tekad untuk kemajuan pendidikan lebih lanjut dan persaingan yang sehat menghadapi era ini. Perekonomian negara juga dianggap sebagai bagian dari identitasnya. Perubahan dalam komunikasi publik dan interaksi sosial dapat dikaitkan dengan revolusi industri ketiga. Pada revolusi industri ketiga, komunikasi dan struktur sosial berubah secara dramatis. Perubahan besar pada sektor industri terjadi selama paruh kedua revolusi industri keempat. mengamati keadaan saat ini di mana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya. momen singkat berlalu dalam rentang hidup setiap manusia. Sejak itu, hampir semua model bisnis datang dan pergi. Perubahan signifikan terjadi dari atas ke bawah. Hal di atas tersebut tidak terkecuali Pendidikan termasuk lembaga swasta Yayasan Pendidikan Islam. Perkembangan ini menjadikan sebuah tantangan yang tidak dapat dipungkiri dan akan menambah beban berfikir lembaga Pendidikan di bawah naungan Yayasan tersebut. Langkah-langkah strategis juga harus dilakukan untuk keberlangsungan baik itu Yayasan maupun lembaga Pendidikan yang dinaunginya. Manajemen strategik Yayasan Pendidikan Islam dalam mengahdapi tantangan di Era Revolusi Industri 4.0 harus bergulir cepat sehingga mampu menghadapi perubahan zaman yang sangat cepat. Apakah Manajemen strategik Yayasan pendidikan islam kita sudah siap menghadapi tantangan ini.? Oleh karena itu dalam pembahasan ini kita akan menganalisis Manajemen strategik Yayasan pendidikan Islam di Era Revolusi Industri 4.0 dan tantangannya. METODE Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research). Penelitian penelitian pustaka perpustakaan memanfaatkan menggunakan sumber rujukan atau teori untuk mendapatkan data kajian. Penelitian perpustakaan membatasi aktivitinya hanya pada bahan koleksi Perpustakaan dan tidak memerlukan kajian Lapangan. PEMBAHASAN Manajemen Strategik Yayasan Pendidikan Islam Manajemen strategik merupakan suatu proses yang digunakan oleh organisasi dalam menentukan arah dan tujuan jangka panjang serta mengelola sumber daya yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini, manajemen strategik yayasan pendidikan Islam memiliki
4 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 peran yang sangat penting dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0. Tantangan yang dihadapi oleh yayasan pendidikan Islam dalam menghadapi era revolusi 4.0 antara lain: perubahan pola pikir dan perilaku siswa, perubahan cara menyampaikan materi pendidikan, serta perubahan dalam teknologi yang digunakan dalam pendidikan. Manajemen strategik yang baik dapat membantu yayasan pendidikan Islam dalam mengatasi tantangan tersebut dengan cara: pertama, Menentukan arah dan tujuan jangka panjang yayasan pendidikan Islam dalam menghadapi era revolusi 4.0. Misalnya, yayasan pendidikan Islam dapat menentukan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan siswa di era revolusi 4.0. kedua, Mengelola sumber daya yang tersedia dengan baik. Misalnya, yayasan pendidikan Islam dapat mengalokasikan sumber daya untuk pengembangan teknologi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan siswa di era revolusi 4.0. ketiga, Melakukan pengembangan kompetensi guru dan tenaga pendidik lainnya dalam menyampaikan materi pendidikan yang sesuai dengan perubahan pola pikir dan perilaku siswa di era revolusi 4.0. keempat, membuat strategi pemasaran yang baik untuk menarik minat siswa dan orang tua dalam memilih yayasan pendidikan Islam sebagai tempat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan siswa di era revolusi 4.0. Secara keseluruhan, manajemen strategik yang baik dapat membantu yayasan pendidikan Islam dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan menjadi lebih siap dalam menghadapi perubahan di era revolusi 4.0. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diajukan, yayasan pendidikan Islam dapat menentukan strategi yang tepat untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dan membuat keputusan yang tepat dalam mengelola sumber daya yang tersedia. Perencanaan strategis adalah strategi dan metode utama yang dirancang secara sistematis dalam pelaksanaan fungsi manajemen yang berorientasi pada tujuan strategis organisasi. Perencanaan strategis adalah bagian penting dari manajemen strategis. Perencanaan strategis merupakan aspek penting dari manajemen strategis dan dapat dianggap sebagai pilar utama manajemen strategis. Manajemen strategis adalah proses perumusan dan pelaksanaan rencana dan kegiatan yang berkaitan dengan berbagai isu penting, meresap dan berkelanjutan di seluruh organisasi. Tidak terkecuali strategi pengelolaan yayasan pendidikan, pendidikan Islam dikelola dengan cara demikian, yaitu ketika yayasan pendidikan melaksanakan proyek, ia melakukan perencanaan strategis bagi operasional yayasan pendidikan, sekaligus memperkuat kemampuan. untuk menghindari masalah, dan dapat mencapai tujuan memenuhi persyaratan kualitas, Oki Darmawan mengutip Sagala menjelaskan Manajemen strategik ialah suatu pendekatan sistematis guna meningkatkan tanggungjawab manajemen, mengkondisikan organisasi pada situasi yang tepat dalam mencapai tujuan dengan cara yang meyakinkan keberhasilan dan terus menerus serta menjadikan sekolah menjadi surprise (Dermawan, n.d., p. 76). Proses perencanaan strategik menjadi beberapa langkah, yang mengarah kepada tindakan, hasil, dan evaluasi, yaitu: (1) memprakarsai dan
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |5 menyetujui suatu proses perencanaan strategis, (2) memperjelas mandat organisasi, (3) memperjelas misi dan beberapa nilai organisasi, (4) menilai lingkungan eksternal, (5) menilai lingkungan internal, (6) mengidentifikasi isu strategis yang ditemui organisasi, (7) merumuskan strategi untuk mengelola isu-isu, (8) menyusun visi organisasi yang efektif untuk masa depan, (9) mengembangkan proses implementasi, (10) menilai kembali strategi dan proses perencanaan strategis (Bryson, 1998, hal. 23). Perencanaan strategis Yayasan Pendidikan Islam dilakukan menurut beberapa skema yang dianggap lebih menguntungkan, yang disepakati bersama oleh kepala sekolah dan timnya dengan melengkapi berbagai elemen yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Menetapkan visi dan misi yang jelas, ringkas dan konsisten dengan perubahan kebijakan pemerintah. Perencanaan strategis dilakukan melalui beberapa kegiatan, yaitu: Pembentukan kelompok penyusun visi dan misi untuk memusatkan dan mengoptimalkan perencanaan. Yayasan Pendidikan Islam memanfaatkan forum rapat kerja untuk menyusun strategi terbaik. Visi dan misi adalah konsep perencanaan yang disertai dengan tindakan yang konsisten dengan rencana yang dikembangkan untuk mencapai tujuan. Perumusan visi dan misi oleh kelompok penyusun dilakukan dengan memadukan antara visi dan misi yang ada dengan situasi atau perkembangan zaman. Hal ini dilakukan untuk terus memperbarui visi dan misi yang telah dirumuskan. Hasil dari penilaian lingkungan adalah banyak peluang yang harus dieksploitasi oleh organisasi dan ancaman yang harus dicegah atau dihindari. Analisis peluang dan ancaman juga dilakukan secara tidak langsung untuk sekolah. Secara konseptual, terdapat sejumlah indikator yang mesti dipenuhi untuk merealisasikan tujuan visi tersebut. Unggul secara lembaga, artinya secara umum unggul dalam programprogram pendidikan tentunya harus dibuktikan dengan diraihnya prestasi akademik dan non akademik oleh sekolah dibawah naungan Yayasan Pendidikan Islam lebih baik dari rata-rata sekolah-sekolah lainnya. Apabila ditelaah secara garis besar berlandaskan temuan data prestasi sekolah dan kedisiplinan pendidikan, Yayasan Pendidikan Islam sudah memenuhi indikator disiplin dan unggul. Hal ini dibuktikan dengan sederet prestasi pada berbagai tingkat terlebih tingkat nasional bahkan internasional. Manajemen Strategik Yayasan Pendidikan Islam setidaknya meliputi (1) perencanaan strategis ditandai dengan pembentukan struktur organisai dan deskripsi tugas oleh kepala sekolah, (2) program pendidikan karakter diformulasikan dalam Buku Panduan Akademik atau Buku Pedoman Pembelajaran (3) pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan dengan mempresentasikan nilai-nilai karakter dalam semangat doa, persaudaraan, dan pelayanan, (4) evaluasi dilaksanakan secara berkala, sedangkan monitoring dilakukan pada seluruh proses pendidikan karakter (Dasrimin et al., 2019). Persaingan di dunia pendidikan sebenarnya hampir sama dengan persaingan bisnis. Dari sisi Yayasan Pendidikan Islam, isu utama dalam kompetisi adalah bagaimana menciptakan pasar dan memperoleh banyak calon siswa untuk sekolahnya dan santri untuk Pondok pesantrennya.
6 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Dengan demikian, setiap Yayasan Pendidikan islam harus mencapai peringkat teratas dalam kompetisi tersebut. Manajemen Strategik Yayasan Pendidikan Islam dan Tantangan Era Revolusi 4.0 Era globalisasi saat ini juga mempengaruhi segala bidang Kehidupan manusia, termasuk pendidikan, kualitas dan dampaknya Manajemen Pendidikan pada Pendidikan Umum dan Lembaga Pendidikan Islam Khususnya sebagai dasar nilai ilmiah dan intelektual translasi. Beberapa komponen tidak perlu disedot dalam satu wadah (ruang dan waktu), tetapi perlu diperbarui sesuai dengan persyaratan globalisasi. Yayasan Pendidikan Islam merupakan perkumpulan dengan kekuatan hukum dan disahkan dengan SK Kemenkumham memiliki tujuan kegiatan sesuai anggaran dasar yang dicatat di dalamnya baik kegiatan Sosial, Pendidikan, keagamaan dan sebagainya. Yayasan dengan fokus pada Sosial, Keagamaan dan Pendidikan di dalamnya akan mendirikan lembaga Pendidikan baik formal maupun informal, seperti Pondok Pesantren juga Madrasah/sekolah hingga perguruan tinggi. Lembaga tersebut perlu mengikuti perkembangan zaman seiring dengan perkembangan revolusi isndustri 4.0.(Sakarina et al., 2022). Manajemen strategik merupakan suatu proses yang digunakan oleh organisasi dalam menentukan arah dan tujuan jangka panjang serta mengelola sumber daya yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini, manajemen strategik yayasan pendidikan Islam memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0. Menurut (Munir, 2020) dalam bukunya yang berjudul "Manajemen Pendidikan Islam dalam Era Revolusi 4.0" menyatakan bahwa "era revolusi 4.0 menuntut perubahan pola pikir dan perilaku siswa, serta perubahan dalam cara menyampaikan materi pendidikan. Hal ini mengharuskan yayasan pendidikan Islam untuk mengadaptasi diri dengan menggunakan teknologi yang tepat dan strategi manajemen yang baik". Guru memberikan peranan penting dalam pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0. Ada tiga hal penting yang harus dilakukan guru (Sukartono, 2018), yaitu menyiapkan siswa untuk mampu menciptakan pekerjaan yang saat ini belum ada, menyiapkan siswa untuk menyelesaikan masalah yang belum ada, dan menyiapkan anak untuk mampu menggunakan teknologi. Untuk mempersiapkan siswa menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 bukanlah hal yang mudah. Guru memerlukan strategi pembelajaran yang mampu memfasilitasi siswa untuk berkembang. Strategi pembelajaran berpengarauh terhadap pola pikir dan apa yang akan dihasilkan siswa kelak nanti. Pemilihan strategi pembelajaran mempunyai peranan penting dalam menyiapkan siswa menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Adapun lima strategi yang bisa digunakan guru dalam pembelajaran (Guru Produktif, 2019), yaitu: Membantu siswa dalam belajar Proses pembelajaran yang terjadi adalah teacher center. Guru sebagai sumber informasi satu-satunya di dalam kelas. Guru menjelaskan pembelajaran, siswa diberikan waktu untuk menyalin catatan di papan tulis, siswa mengerjakan latihan soal,
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |7 pembahasan, dan dilanjutkan dengan penilaian. Untuk anak yang memperoleh nilai yang baik, mendapatkan apresiasi dari guru. Namun untuk siswa yang belum mendapat nilai baik, belum ada tindakan khusus/ remedial dari guru. Adanya kesempatan untuk berkembang dan berprestasi Ukuran keberhasilan siswa biasa hanya dipandang dari angka yang diperoleh. Peringkat di kelas menandakan prestasi yang didapatkan siswa. Tanpa disadari, manusia diciptakan Tuhan memiliki kecerdasan yang berbeda. Howard Garner (Tobeli, 2009) mengungkapkan ada sembilan kecerdasan majemuk, meliputi kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis, kecerdasan ruang, kecerdasan kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial. Guru bisa mengembangkan kecerdasan majemuk yang dimiliki siswa saat pembelajaran di kelas. Pemberian stimulus dan pengarahan guru mampu merangsang kecerdasan siswa akan meningkat sehingga siswa diberikan kesempatan uktuk berkembang dan berprestasi sesuai kecerdasan yang dimilikinya. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Pendidikan karakter harus dikembangkan sedini mungkin. Penanaman karakter tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan kelanjutan dan revitalisasi dari pendidikan karakter dari tahun 2010. PPK dinilai penting dikembangkan di dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan, bahwa PPK memiliki peranan penting seperti ancaman keutuhan dan masa depan bangsa, menghadapi tantangan global, dan membentuk etika pada siswa (Kemendikbud, 2017). Kunci penerapan PPK terletak pada pembiasaan (habit) di sekolah. Guru memiliki peranan besar dalam penanaman pendidikan karakter. Melek teknologi Era Revolusi Industri 4.0 menuntut sebagian besar orang memahami akan arti pentingnya teknologi. Teknologi yang ada memberikan banyak pengaruh yang baik dalam kehidupan. Pemanfaatan teknologi yang tepat dalam pembelajaran memberikan tambahan pengetahuan yang baik kepada guru untuk ditransfer ke siswa. Sebaiknya guru mampu memanfaatkan fasilitas teknologi seperti dengan pencarian bahan ajar yang lebih menarik sehingga siswa bersemangat mengikuti pembelajaran. Selain untuk pencarian bahan ajar, guru bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mendukung pembelajaran dengan cara menjadi blogger. Hal ini akan membantu siswa dalam memahami pelajaran yang diberikan. Selain itu, siswa mampu mengulang materi yang diberikan guru dimana saja siswa berada dan kapanpun siswa mau. Tentunya didukung dengan fasilitas yang memadai. Guru harus memberikan pengertian kepada siswa untuk menggunakan teknologi untuk hal yang baik. Menjadi guru efektif Guru efektif adalah guru yang selalu berpikir bagaimana cara menjadi lebih baik (Henson & Eller dalam Fatimaningrum, 2011). Guru efektif bukan hanya mengetahui pelajaran, namun bagaimana guru mampu menyampaikan kepada siswa dengan baik. Dengan cara pikir guru mau menjadi lebih baik, guru akan mencari solusi apabila dalam pembelajaran, ilmu yang ditransfer ke siswa belum sepenuhnya dipahami.
8 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Adapun karakteristik guru efektif (Dzulkifli & Sari, 2015) yaitu (1) memiliki rasa simpati yang tinggi, melayani, dan menganggap bahwa siswa merupakan anak sendiri, (2) ikhlas dalam memberikan ilmu dan tidak meminta balasan dalam bentuk apapun, (3) memberikan tanggung jawab kepada siswa (tugas) berdasarkan porsi setiap siswa, (4) memberikan nasehat apabila siswa melakukan pelanggaran, (5) semua ilmu memiliki kedudukan yang sama, (6) tidak memaksakan siswa untuk mencapai target yang telah ditentukan, (7) pemberian bahan ajar yang lebih sederhana untuk anak yang belum bisa memahami pelajaran dengan baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan yayasan pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0 adalah dengan menerapkan inovasi dalam pembelajaran. Inovasi dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswa. Contohnya, dengan menggunakan teknologi seperti e-learning atau pembelajaran jarak jauh dapat membantu yayasan pendidikan Islam dalam mengatasi perubahan cara menyampaikan materi pendidikan yang terjadi di era revolusi 4.0. Selain itu, yayasan pendidikan Islam juga dapat menerapkan manajemen strategik dengan cara melakukan pengembangan kompetensi guru dan tenaga pendidik lainnya. Dengan meningkatkan kompetensi guru dan tenaga pendidik, yayasan pendidikan Islam dapat memastikan bahwa guru dan tenaga pendidik dapat menyampaikan materi pendidikan yang sesuai dengan perubahan pola pikir dan perilaku siswa di era revolusi 4.0. Kemudian yayasan juga dapat melakukan strategi pemasaran yang baik untuk menarik minat siswa dan orang tua dalam memilih yayasan pendidikan Islam sebagai tempat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan siswa di era revolusi 4.0. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang jelas dan transparan mengenai kualitas pendidikan yang ditawarkan oleh yayasan pendidikan Islam dan bagaimana yayasan tersebut dapat membantu siswa dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0 PENUTUP Institusi dapat meningkatkan kualitas pendidikan dengan menerapkan manajemen strategis. Mereka juga dapat bersaing dengan mendorong ide-ide baru dengan manajemen strategis. Ketua Yayasan Pendidikan Islam dipaksa untuk mengabaikan masalah jarak dekat dan jarak jauh berkat posisi manajemen pendidikan mereka. Program Pendidikakn fokus pada lingkungan eksternal langsung seperti situasi persaingan, kondisi pelanggan pendidikan dan pengguna lulusan. Ini adalah fokus operasi Yayasan dan sering mempengaruhi pengembangan ide-ide baru. Jelas, lingkungan eksternal yang jauh menyangkut keamanan nasional, politik, kondisi sosial-ekonomi, dan kemajuan teknologi. Revolusi Industri fase 4 perkembangan ilmu pengetahuan terus berlanjut. Perkembangan teknologi bergerak cepat. Teknologi digital memberi orang banyak ide dan penemuan baru untuk dipilih. Layanan terhubung dan memberikan layanan yang lebih efisien setiap hari. membuat
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |9 proses lebih murah dan lebih nyaman. Namun penerapan sistem ini secara online menimbulkan banyak masalah. Pelaksanaan rencana ini melemahkan pentingnya manusia. pengangguran terus meningkat berkat mesin otomatis yang digunakan. Menambah kekhawatiran negara dan lokal semakin memperumit masalah. Revolusi Industri 4.0 menghadirkan peluang sekaligus tantangan untuk meresponsnya. Keprihatinan dan isu-isu ini diwakili oleh berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam peristiwa bersejarah ini. Untuk menggunakan terminal dengan benar, pemegang kepentingan harus memiliki literasi data dan teknologi serta kecerdasan manusia yang relevan. Manajemen strategik yang diterapkan oleh yayasan pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0 sangat penting untuk diterapkan agar yayasan dapat mengatasi tantangan yang dihadapi dan menjadi lebih siap dalam menghadapi perubahan di era revolusi 4.0. Manajemen strategik dapat membantu yayasan pendidikan Islam dalam menentukan arah dan tujuan jangka panjang, mengelola sumber daya yang tersedia dengan baik, melakukan pengembangan kompetensi guru dan tenaga pendidik, serta membuat strategi pemasaran yang baik. Oleh karena itu, yayasan pendidikan Islam harus menerapkan manajemen strategik yang baik untuk dapat menghadapi tantangan era revolusi 4.0 dengan baik. DAFTAR PUSTAKA Bryson, J. M. (1998). Strategic planning for public and nonprofit organization. San Francisco: Jossey-bass. Dasrimin, H., Imron, A., & Supriyanto, A. (2019). Spirituality-Based Character Education Strategic Management. In Jurnal Pendidikan Humaniora (Vol. 7, Issue 2). http://journal.um.ac.id/index.php/jphISSN:2338-8110 Dermawan, O. (n.d.). Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Metro Lampung Strategic Management In Improving The Quality Of Education In The State Senior High School 1 Metro Lampung. In JIEM (Journal of Islamic Education Manajemen (Vol. 4, Issue 1). Sakarina, S., Pratiwi, R., Surahman, S., & Adi Cakranegara, P. (2022). Strategic Management of Islamic Education: Revealing The Challenges of Professionalism. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 06(03). https://doi.org/10.33650/al-tanzim.v6i2.3626 Aldianto, L., Mirzanti, I. R., Sushandoyo, D., & Dewi, E. F. (2018). Pengembangan Science Dan Technopark Dalam Menghadapi Era Industri 4.0 - Sebuah Studi Pustaka. Manajemen Indonesia, 18(1), 68– 76. Dzulkifli, & Sari, I. P. (2015). Karakteristik Guru Ideal. 89–93. Fatimaningrum, A. S. (2011). Karakteristik Guru Dan Sekolah Yang Efektif Dalam Pembelajaran. Majalah Ilmiah Pembelajaran, 7(2). Kemendikbud. (2017). penguatan pendidikan karakter (L. Muliastuti, ed.). Jakarta: Kemendikbud.
10 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Kuncoro, A. (2019). Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Indonesia Nino. Harian Kompas, p. 6. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004 Sudarminto, P. (n.d.). Guru di Era Revolusi Industri 4.0: Tantangan dan Strategi dalam Memajukan Pendidikan Indonesia. Sukartono. (2018). Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya terhadap Pendidikan di Indonesia. 1–22. Suwardana, H. (2018). Revolusi Industri 4. 0 Berbasis Revolusi Mental. JATI UNIK : Jurnal Ilmiah Teknik Dan Manajemen Industri, 1(1), 102–110. https://doi.org/10.30737/jatiunik.v1i2.117 Tjandrawinata, R. R. (2016). Industri 4.0 Revolusi Industri 4.0 Revolusi Industri Abad Ini Dan Pengaruhnya Pada Bidang Kesehatan Dan Bioteknologi. Medicinus, 29(1), 31–39. Tobeli, E. (2009). Model Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Majemuk Dan Penerapannya Dalam Proses Pembelajaran Anak Usia Dini. Tritularsih, Y., & Sutopo, W. (2017). Peran Keilmuan Teknik Industri Dalam Perkembangan Rantai Pasokan Menuju Era Industri 4 . 0. Seminar Dan Konferensi Nasional IDEC, 507–517.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |11 STRATEGI IMPLEMENTASI LEARNING ORGANIZATION SEBAGAI BAGIAN DARI TRANSFORMASI PENDIDIKAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Mahmud Farid ITB Riyadlul Ulum, [email protected] Abstrak Artikel ini berfokus pada implementasi lima disiplin learning organization dari Peter Senge. Artikel review ini bertujuan untuk memberikan masukan atas praktik learning organization sehingga sekolah dapat menjadi unggul dan mampu bersaing di era revolusi industry 4.0. sebagai dukungan kepada kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan berkaitan dengan transformasi pendidikan pasca pandemi covid19. Artikel ini didasarkan pada tinjauan berbagai literatur (literatur review) mengenai learning organization. Berdasarkan literatur review keberhasilan praktik learning organization dapat dicapai melalui penguatan kepemimpinan kepala sekolah, menerapkan langkah-langkah pembelajaran, membangun kompetensi digital dalam rangka penguatan personal mastery, dan mengembangkan budaya digital. Artikel ini memberikan wawasan tentang implementasi learning organization, meskipun memanfaatkan teknologi canggih tetap saja fokus utama adalah manusia (kepala sekolah dan guru). Kemampuan pemimpin dan kemauan pendidik untuk belajar menjadi factor utama suksesi praktik learning organization di era kemajuan teknologi digital. Kata Kunci: Organisasi Pembelajaran, Transformasi Pendidikan, Lima Disiplin Abstract This article focuses on the implementation of Peter Senge's five learning organization disciplines in the midst of the onslaught of changes and advances in digital technology. This review article aims to provide input on the practice of learning organization so that schools can become superior and able to compete in the era of the industrial revolution 4.0. as support for government policies in the field of education related to post-covid-19 pandemic educational transformation. This article is based on a literature review on learning organizations. Based on the literature review, the success of learning organization practices can be achieved through strengthening the leadership of the school principal, implementing learning steps, building digital competence in order to strengthen personal mastery, and developing a digital culture. This article provides insight into the implementation of learning organizations, even though it utilizes sophisticated technology, the main focus is still on humans (principals and teachers). The ability of leaders and the willingness of educators to learn are the main factors in the succession of learning organization practices in the era of advances in digital technology. Keyword: Learning Organization, Educational Transformation, Five Disciplines PENDAHULUAN Kualitas sistem pendidikan di Negara Indonesia menurut data PISA tahun 2022 menempati urutan ke 75 dari 81 negara. Padahal porsi pendanaan untuk bidang pendidikan menurut undang-undang adalah 20% dari total
12 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 keseluruhan APBN. Sistem pendidikan nasional di Indonesia berpedoman utama pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Undang-undang ini menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan wajib memegang beberapa prinsip, yakni pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa dengan satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multi-makna. Selain itu, penyelenggaraan juga harus dalam suatu pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses belajar melalui mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat, memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pendidikan. Mutu pendidikan dapat diketahui pada kualitas keluarannya. Hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar dan manajerial yang bermutu. Realitas pelaksanaan pendidikan di lapangan akan banyak ditentukan oleh para pelaksana yaitu guru, kepala sekolah dan tenaga-tenaga kependidikan lainnya. Maka, untuk meningkatkan kualitas pendidikan perlu adanya transformasi pendidikan. Menteri Pendidikan Indonesia-Nadiem Makarim dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Transforming Education yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Pada KTT tersebut Indonesia berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu memimpin transformasi bidang Pendidikan melalui berbagai macam terobosan teknologi terutama pasca pandemic covid-19. Kemudian melalui agenda EdWG G20, Indonesia mengajak dan memperkuat semangat gotong royong untuk pemulihan bersama dengan empat agendanya Pendidikan berkualitas untuk semua, teknologi digital dalam Pendidikan, solidaritas dan kemitraan, serta masas depan dunia kerja pasca Covid-19. Di era kemajuan teknologi, pada skala nasional Kemendikbudristek berkomitmen meningkatkan kualitas Pendidikan melalui terobosanterobosan Merdeka Belajar. Kita sebagai para akademisi ditingkat satuan pendidikan tentu harus menyikapi perubahan dan kebijakan pendidikan dengan sangat antusias. Para pengelola tingkat satuan pendidikan harus mulai merubah paradigma sesuai dengan perubahan teknologi. Menjadikan sekolah sebagai suatu system yang tidak terpisahkan dari teknologi, menggiring para pendidik untuk belajar meningkatkan kompetensinya supaya sekolah dapat memenangkan persaingan dan survive ditengah situasi yang massif melalui pembangunan learning organization di sekolah. Teori learning organization pertama kali diciptakan oleh Peter Senge sekitar 30 tahun yang lalu. Teori ini lahir pada zaman dimana teknologi belum berkembang saat itu. Namun, pada perayaan 30 tahun teori learning organization-Peter Senge nyatanya ada beberapa penulis yang merefleksikan perjalanan teori ini. Salah satu topik yang menarik penulis untuk mengkaji lebih jauh melalui sebuah kajian pustaka dan memiliki relevansi dengan isu transformasi pendidikan adalah mengenai penerapan lima disiplin learning
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |13 organization sebagai akibat dari adanya pemanfaatan teknologi. Kemudian, sebagai para praktisi pendidikan tentu perlu mengetahui strategi terbaik untuk menerapkan learning organization di tengah kemajuan teknologi. Sehingga berangkat dari uraian tersebut, maka penulis membuat sebuah kajian Pustaka mengangkat topik tentang “strategi implementasi learning organization sebagai transformasi manajemen pendidikan di era revolusi industry 4.0”. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan data dengan menggunakan kajian literatur (literature review) yang diutamakan dari jurnal-jurnal ilmiah yang berskala nasional maupun internasional. Menurut Thorne literature review merupakan sebuah karya orisinil yang merangkum dan mensistesis penelitian sebelumnya tentang sebuah topik tertentu (Prayoga & Yuhertiana, 2021, p. 70). Menurut Massaro, O’Connor dan Yuhertiana penelitian literature review berisi ulasan, rangkuman, serta pemikiran penulis dengan melakukan peninjauan berbagai dokumen baik internasional maupun nasional, seperti publikasi akademis, publikasi pemerintah, undang-undang dan peraturan, jurnal, buku, berita media, dan bentuk catatan lain yang relevan dengan topik yang dibahas Prayoga & Yuhertiana, (2021, p. 70) bahwa sumber utamanya adalah berasal dari jurnal. Adapaun analisis data dengan menggunakan pendekatan tematik. PEMBAHASAN Learning Organization Konsep learning organization sudah ada sejak 30 tahun yang lalu. Teori ini dipopulerkan oleh Peter Senge melalui bukunya yang berjudul “The Fith Discipline” yang menyatakan bahwa organisasi pembelajar adalah “whose have attracted the wides attention, see them as organizations where people “learning organizational continuelly expand their capacity to create the result they trully desire, where new and axpensive patterns of thinking are nurtured, where people are continually learning how to learn together” (Yulianti, Arwani, Wijaksana, Hanafiah, & Tejawawti, 2022, p. 75); (Afqarina & Dihan, 2019, p. 74); (HM, Masyhuri, & Hafid, 2019, p. 255); (Astuti, Hidayat, & Wulandari, 2021, p. 75); (Maria & Tiar, 2022, p. 4955); (Chai & Dirani, 2018, p. 322). Menurut Senge organisasi pembelajar merupakan organisasi yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk terus meningkatkan kapasitas individu dan belajar adar dapat terus mengalami peningkatan (Tafesse, 2021, p. 57). Organisasi pembelajar dikatakan sebagai suatu organisasi yang terus menerus berupaya mengembangkan kemampuan dan kapabilitas pada lingkungan yang berubah (Robbins, 2008, p. 8) . Menurut Hendri (2020, p. 2) mendefinisikan learning organization sebagai upaya pengembangan yang dilakukan oleh organisasi kepada para anggotanya untuk melakukan perubahan dengan terus menerus belajar serta bereksperimen demi terwujudnya tujuan organisasi. Peter Senge dan Marquad menggambarkan
14 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 organisasi pembelajar yang sejati tidak hanya membangun kapabilitas yang baru tapi juga perubahan pola fikir dan orientasi yang sifatnya mendasar untuk mampu berkompetisi dan survive ditengah perubahan (Soeharno & Anco, 2019, pp. 205-206); (Tafesse, 2021, p. 64). Learning organization dikatakan sebagai sebuah proses aktif dan kreatif yang bersifat responsive sehingga berimplikasi pada kesiapan organisasi dalam beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika didalamnya (Yusuf & Husni, 2019, p. 64). Proses pembelajaran dalam organisasi dapat dianggap sebagai salah satu sarana yang efektif dalam mengubah perilaku individu maupun organisasi melalui proses kolaboratif menciptakan, berbagi dan menerapkan pengetahuan yang baru guna meningkatkan kinerja. Ini menunjukan learning organization memiliki ciri khas yaitu struktur horizontal, lingkungan yang senantiasa berubah, fleksibel, inovatif, pengambilan keputusan yang terdesentralisasi serta tim work sangat diandalkan karena dalam belajar memerlukan pertukaran pengetahuan, pengalaman, jaringan serta akses kepada pengetahuan, sumber daya, pasar dan teknologi. Disiplin yang ada pada learning organization merujuk pada perspektif struktural mampu mengakomodir tidak hanya pada tingkat individual saja tetapi juga antar individu dan tim untuk mengubah nilai serta budaya organisasi yang lebih baik (Reese, Taking the Learning Organization Mainstream and Beyond the Organizational Level: an interview with Peter Senge, 2020, p. 8). Menjadi menarik ketika mengetahui pembelajaran organisasi tidak hanya berkaitan dengan individu tetapi juga struktur atau tim yang nantinya akan berpengaruh terhadap kinerja. Boak berpendapat bahwa pertukaran informasi antar anggota tim merupakan aktivitas kunci dalam learning organization (Rebelo, Lourenco, & Dimas, 2020, p. 46). Menurut Simon Reese (2020, p. 79) berdasarkan hasil wawancara langsung bersama Peter Senge, beliau mencoba menyatakan bahwa struktur organisasi yang baik sama dengan pembelajaran yang baik dan pembelajaran yang baik sama dengan kinerja yang lebih baik. Di era perkembangan teknologi yang semakin pesat serta kondisi yang penuh dengan perubahan, tentu teori learning organization ini harusnya menjadi strategi jitu untuk memenangkan persaingan bukan hanya dalam dunia bisnis tetapi juga pendidikan yang notabene merupakan wadah dalam rangka memanusiakan manusia. Sudah saatnya para akademisi maupun praktisi pendidikan merubah paradigma lama mengenai manusia sebagai human resources tetapi lebih kepada human capital, manusia dianggap sebagai modal dasar jika suatu bangsa ingin maju dan menaklukan tantangan perubahan. Teori Dimensi Learning Organization 1. Lima Disiplin Peter Senge Senge dalam bukunya The Fifth Discipline menyimpulkan bahwa organisasi pembelajar adalah organisasi yang terus menerus memperbesar kemampuannya untuk menciptakan masa depannya. Terdapat lima disiplin dalam learning organization yaitu penguasaan pribadi (personal master), model mental (mental model), visi bersama (shared vision), pembelajaran
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |15 tim (team learning), dan berfikir sistem (system thinking) (HM, Masyhuri, & Hafid, 2019, pp. 225-226); (Sunarta, 2021, p. 64); (Hoe, 2020, p. 56). Penguasaan pribadi merupakan kegiatan belajar untuk meningkatkan kapasitas pribadi menuju penciptaan hasil yang diinginkan dan penciptaan lingkungan organisasi yang mendorong semua anggotanya mengembangkan diri kearah sasaran dan tujuan (HM, Masyhuri, & Hafid, 2019, p. 225). Penguasaan pribadi mengacu pada peningkatan kompetensi seseorang (Hoe, 2020, p. 56) dapat dikatakan sebagai penguasaan pribadi atau kemampuan individu untuk senantiasa mengklarifikasi dan mendalami visi pribadi, memfokuskan energi, mengembangkan kapasitas diri untuk menciptakan hasil yang paling kita inginkan dan menciptakan suatu lingkungan organisasi yang mendorong semua anggotanya mengembangkan diri mereka sendiri kearah sasaran dan tujuan yang mereka pilih (Yulianti, Arwani, Wijaksana, Hanafiah, & Tejawawti, 2022, p. 79). Dalam learning organization, individu dan pekerjaannya dipandang sebagai factor yang penting untuk meningkatkan efektivitas dan kinerja lembaga sehingga setiap individu dituntut untuk belajar terus menerus. Pengembangan personal mastery ini dapat dilakukan melalui penyusunan program pengembangan karir. Model mental adalah konsep diri tentang mengapa dan bagaimana melakukan tindakan dalam berorganisasi dan melakukan pendekatan terhadap masalah yang dihadapi untuk mengambil keputusan terbaik (HM, Masyhuri, & Hafid, 2019, p. 225). Model mental ini merupakan disiplin yang mendasar sebab seluruh individu yang ada didalamnya dibolehkan untuk berfikir dan merefleksikan baik struktur maupun perintah dalam dan luar organisasi. Dengan kata lain, model mental berkaitan dengan aktivitas merenung untuk memperbaiki dan mengambil keputusan terbaik. Seseorang yang memiliki model mental akan memiliki pandangan dan bertindak sesuai dengan pemaknaan serta generalisasi dari apa yang dilihatnya, respon dan perilaku dipengaruhi asumsi yang ada dalam pikiran kita sehingga mental tidak boleh terbatas, harus dapat mengendalikan pemikiran yang negative (Yulianti, Arwani, Wijaksana, Hanafiah, & Tejawawti, 2022, p. 80). Penguatan model mental ini dapat dilakukan dengan memberikan kebebasan berfikir dan bertindak untuk menyelesaikan masalahnya tanpa keluar dari code of conduct yang sudah ditetapkan organisasi (Hoe, 2020, p. 56). Visi bersama dalam organisasi ditujukan untuk membangun komitmen kelompok untuk mencapai masa depan (HM, Masyhuri, & Hafid, 2019, p. 225). Organisasi pembelajar tidak akan terjadi tanpa adanya pembelajaran individu dan organisasi belajar hanya melalui individu yang terus belajar. Pada disiplin ini, semangat tim dan motivasi individu memberi mereka kekuatan dan sense of belonging terhadap lembaga mereka sendiri sehingga tujuan bersama akan melampaui kepentingan pribadi (Hansen, Jensen, & Nguyen, 2020, p. 71). Visi organisasi dapat membangun komitmen dalam suatu kelompok, memberikan gambaran tentang masa depan organisasi yang ingin diwujudkan serta prinsip-prinsip yang dapat menjadi penuntun bagi seluruh individu. Visi ini bukan sekedar rumusan keinginan organisasi melainkan keinginan bersama dan menjadi komitmen bersama. Visi ini sangat berdampak pada perilaku dalam organisasi jika dibagikan dan
16 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 dipahami bersama. Visi bersama akan menghasilkan komitmen yang kokoh dari individu ketimbang visi yang hanya datang dari pimpinan. Setiap individu selalu dituntut untuk mampu mengaplikasikan visi organisasi pad tiap kinerjanya supaya dapat memberikan hasil yang optimal (Yulianti, Arwani, Wijaksana, Hanafiah, & Tejawawti, 2022, p. 81). Belajar Tim adalah keahlian berpikir kolektif, sehingga setiap anggota kelompok dapat mengembangkan kecerdasan dan kemampuan yang lebih besar (Yulianti, Arwani, Wijaksana, Hanafiah, & Tejawawti, 2022, p. 81). Public learning mendorong individu-individu untuk belajar secara terbuka dan menggali apa yang tidak mereka ketahui (HM, Masyhuri, & Hafid, 2019, p. 266). Istilah tim organisasi bermacam-macam ada bagian, departemen, unit, panitia dan lain-lain. Setiap individu dalam organisasi harus mampu menempatkan dirinya dalam tim- dia harus mampu berdialog, berdiskusi, saling mengkoreksi dan berkolaborasi. Antara satu individu dengan individu lain sebagai suatu unit tidak terpisahkan. Bukan rahasia lagi ketika kita belajar secara tim dapat menampilkan hasil yang jauh lebih baik daripada individu. Dalam belajar tim biasanya diawali dengan dialog yang memungkinkan setiap orang memahami peran masing-masing anggota. Team learning dapat dikembangkan melalui pembentukan panitia kegiatan sehingga anggota dilatih untuk bekerja sama dengan sesama anggota baik dalam satu bagian maupun antar bagian. Berpikir sistem adalah suatu kerangka kerja konseptual dalam menganalisis dan mengintegrasikan disiplin-disiplin organisasi pembelajar kedalam tindakan (kegiatan) organsasi yang lebih luas (Yulianti, Arwani, Wijaksana, Hanafiah, & Tejawawti, 2022, p. 226). Sedangkan menurut Yanti Yulianti (2022, p. 82) berpikir system merupakan suatu kerangka kerja konseptual yaitu satu cara dalam menganalisis dan berpikir tentang suatu kesatuan dan keseluruhan prinsip-prinsip organisasi pembelajar. Disiplin ini membantu setiap orang melihat bagaimana kita mengubah system secara lebih efektif dan berperilaku sesuai dengan perkembangan dunia luar, serta melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang antar bagian tidak terpisahkan dan saling bergantung satu sama lain (Hoe, 2020, p. 56). 2. Tujuh Disiplin Watkins dan Marsick Watkins dan Marsick turut memberikan kontribusi pemikiran dalam teori learning organization, dengan mengusulkan tujun dimensi dan mengembangkan instrument bernama Dimension of Learning Organization Questionaire (DLOQ) (Chai & Dirani, 2018, p. 3); (Tafesse, 2021, p. 65). Tujuh dimensi yang merupakan Tindakan imperative untuk menjadi learning organization yaitu (1) Creating continuous learning opportunities, (2) Promoting inquiry and dialogue, (3) Encouraging collaboration and team learning, (4) Establishing systems to capture and share learning, (5) Empowering people toward a collective vision, (6) Connecting the organization to its environment, and (7) Using leaders who model and support learning at the individual, team, and organizational levels. Dimensi pertama adalah dimensi continuous learning yang merupakan upaya organisasi dalam menciptakan kesempatan untuk belajar bagi semua
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |17 orang. Inquiry and dialog mengacu pada bagaimana menciptakan budaya yang mendukung pertanyaan dan menawarkan umpan balik kepada tiap karyawan. Team learning mencerminkan bentuk upaya organisasi dalam menumbuhkan semangat kerjasama dan membantu anggota tim menjadi suatu kebiasaan dengan cara berpikir yang berbeda. Empowerment proses melibatkan karyawan dalam menciptakan dan memberdayakan potensi yang dimiliki. Embedded system memungkinkan karyawan untuk memperoleh dan berbagi informasi dan memberikan kesempatan untuk saling belajar di tempat kerja. System connection mencerminkan tindakan untuk menghubungkan organisasi dengan lingkungan internal dan eksternalnya. Strategic leadership, menunjukkan sejauhmana para pemimpin membentuk, meningkatkan, dan mendukung pembelajaran untuk mencapai hasil yang lebih baik (Sunarta, 2021, pp. 68-69). 3. Lima Dimensi Marquardt Secara sistematis, Marquardt dalam bukunya (1996, p. 19) terdapat berbagai dimensi learning organization mengungkapkan terdapat lima subsistem yang saling berhubungan, dan saling menunjang. Kelima subsystem tersebut adalah learning subsystem, organization subsystem, people subsystem knowledge subsystem, dan technology subsystem (Tafesse, 2021, p. 65). Dimensi pertama yaitu learning subsystem merupakan tingkatan dalam dari belajar, tipe dari belajar yang kritikal bagi pembelajaran organisasi dan keterampilan yang kritikal bagi organisasi (Marquadt, 1996, p. 22). Pada dimensi ini, motivasi dan emosi setiap individu perlu diperhatikan dengan baik serta beri kesempatan setiap orang untuk merefleksikannya. Dimensi kedua yakni organization subsystem yang diartikan sebagai wadah dan kondisi dimana pembelajaran muncul. Terdapat empat pokok yang menjadi focus utama dalam dimensi ini yaitu visi, strategi, struktur dan kultur (Marquadt, 1996, p. 24). Perlu adanya penyamaan tujuan dalam membangun learning organization seperti apa bayangan hasil yang diinginkan sehingga semua orang akan menjadi fokur dalam proses pembelajaran. Dimensi ketiga yaitu people subsystem pada subsistem ini meliputi anggota, manajer/pimpinan, pelanggan, user dan para stakholder itu sendiri (Marquadt, 1996, p. 25). Dalam membangun organisasi pembelajar perlu mengikutsertakan masyarakat baik secara sosial, ekonomi dan pendidikan. Knowledge Subsystem mengacu pada manajemen dari pengetahuan baik yang di dapat ataupun yang dihasilkan dari organisasi tersebut (Marquadt, 1996, p. 29). Technology subsystem merupakan jaringan teknologi yang terintegrasi dengan perangkat yang mendukung terjadinya pertukaran informasi dan pembelajaran tersebut (Marquadt, 1996, p. 29). Fondasi dalam learning organization dapat dikatakan perpaduan dari kelima subsistem tersebut dan yang menjadi pusat dalam learning organization adalah learning, belajar baik pada level organisasi, level group dan level personal individu. Kemudian komunikasi dalam proses learning
18 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 organization sangat penting untuk mengoptimalkan kemampuan learning organization. Strategi Membangun Learning Organization di Era Revolusi Industri 4.0 Dalam dunia yang penuh tekanan dan perubahan, teknologi memberi tekanan yang luar biasa pada cara organisasi beroperasi termasuk dunia pendidikan. Kemudian bagaimana sekolah dapat bertahan atau dapat meningkatkan kualitasnya di tengah perubahan teknologi? Berbagai penelitian menyebutkan praktik learning organization dapat menjadi solusi untuk memenangkan persaingan ditengah kemajuan teknologi. Pada praktiknya, learning organization berfokus pada manusia dan proses. Simon Reese menyarankan tiga pendekatan dalam praktik learning organzation yaitu belajar sebagai wacana kritis yang tidak terbatas pada batasan manajerial atau organisasi, belajar bebas dari metrik kinerja dan bebas untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk praktik baru. Ketiga pendekatan ini lebih memiliki kontribusi bagi suatu organisasi untuk dapat berkembang melalui organiasi pembelajar (Reese, 2020, p. 79). Menurut temuan Grace praktik organisasi pembelajar di era globalisasi seperti ini sebuah universitas diminta focus pada tiga elemen diantaranya yaitu “Organisational Characteristics, Organisational Thrusts, dan the Organisational Learning Process” (LimLagura, 2019, p. 163). Karakteristik organisasi meliputi tipe universitas, kepemimpinan, struktur, sumber pendanaan dan populasi serta ukuran organisasi. Nilai-nilai organisasi yang terangkum dalam visi misi, serta proses pembelajaran organisasi yang mempertimbangan akreditasi universitas, penelitian dan kualitas fakultas. Dalam dunia pendidikan tentunya meliputi kepala sekolah, guru dan system yang berkaitan dengan manajemen sekolah. Strategi apa yang harus mereka terapkan untuk mempraktikan learning organization ditengah kemajuan teknologi? Berangkat dari kajian literatur, penulis memaparkan beberapa strategi dalam implementasi learning organization meliputi kepemimpinan kepala sekolah, penerapan langkah-langkah pembelajaran, membangun kompetensi digital pendidik, serta membangun budaya digital. 1. Penguatan Kepemimpinan Kepala Sekolah Membangun learning organization ternyata tidak melulu terfokus pada lima disiplin Peter senge, tidak sedikit yang berpendapat bahwa konsep learning organization memiliki kekurangan pada alat pengukur yang praktis dan valid (Chai & Dirani, 2018, p. 321). Sehingga Kim Watkins dan Marsick mengembangkan sebuah alat ukur yang dianggap efektif untuk menguji learning organization. Alat ukur ini dinamakan “the Dimensions of the Learning Organization Questionnaire (DLOQ©)” (Ellinger & Ellinger, 2020, p. 338). Kim Watkins dan Marsick mengusulkan model learning organization dengan tujuh dimensi dan mengembangkan sebuah instrument yang terdiri dari 43 item. Instrument ini disusun berdasarkan pengalaman mereka selama bertahun-tahun bekerja dengan organisasi untuk
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |19 meningkatkan kapasitas belajar dan berubah (Chai & Dirani, 2018, p. 321); (Ellinger & Ellinger, 2020, p. 340). Berdasarkan temuan Kim dan Watkins salah satu item dalam kuesioner DLOQ dan yang paling berkorelasi dengan kinerja adalah “leaders mentor and coach those they lead” (Ellinger & Ellinger, 2020, pp. 340-345). Seperti yang dikutip oleh Andrea D Ellinger dari temuannya Kim Watkins dan Marsick bahwa “recognized the facilitator role of a leader in a learning organization” (Ellinger & Ellinger, 2020, p. 337). Hasil penelitiannya membawa pembaruan mengenai variable yang lebih mengintervensi secara halus dan diklaim akan menciptakan learning organization, variable yang dimaksud adalah kepemimpinan strategis dari seorang manajer. Dalam penelitian lain membuktikan “that cost leadership strategy positively moderates the relationship between learning organization and performance” (Habtoor, Arshad, & Hassan, 2019, p. 1), terdapat hubungan organisasi pembelajaran dengan kinerja organisasi dimoderatori oleh strategi kepemimpinan biaya. Hal ini menyiratkan bahwa praktik organisasi pembelajaran harus sejalan dengan strategi kompetitif sebagai kepemimpinan biaya, yang mereka adopsi untuk mendapatkan dan mempertahankan keunggulan kompetitif dan untuk dapat mengungguli pesaing mereka. Pemimpin dalam learning organization menurut Senge menyatakan “that leaders in LOs are designers, teachers, and stewards as well as ‘coaches, guides, or facilitators” (Ellinger & Ellinger, 2020, p. 338). Pemimpin berperan sebagai fasilitator dan pembimbing dalam membangun learning organization. Ambarwati mengatakan bahwa peran pemimpin adalah kunci dalam membantu mengembangkan budaya pembelajar (Soeharno & Anco, 2019, p. 211). Paul L. Tobing bahkan secara tegas mengatakan bahwa membudayakan learning organization merupakan keniscayaan bagi seorang pemimpin, pemimpin menjadi aktor utama organisasi terlihat ketika pemimpin harus memberikan solusi yang solutif dalam mengatasi problem yang menghambat laju organisasi dalam belajar dan membelajarkan (Yusuf & Husni, 2019, p. 65). Pemimpin dituntut untuk melakukan transformasi organisasi menuju keahlian system yang fleksibel dan dapat beradaptasi serta sharing informasi supaya dapat belajar secara terus menerus. Mereka berperan sebagai predictor kinerja para pegawai, kemudian perilaku pemimpin tertentu dapat memengaruhi kinerja pegawai. Perilaku pemimpin yang memberi dukungan, coaching serta memfasilitasi setiap individu untuk meningkatkan keterampilan, kompetensi serta kinerja individu yang nantinya tentu akan berdampak pada terbangunnya budaya learning organization dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kinerja lembaga. Mengutip pendapat Achua, C.F & Lussier terdapat pedoman bagi seorang pemimpin untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk learning organization, yaitu mendorong pemikiran kreatif, menciptakan iklim mendorong eksperimentasi, memberikan insentif bagi pembelajaran dan inovasi, membangun kepercayaan dalam kapasitas pengikut untuk belajar dan beradaptasi, mendorong pemikiran system, menciptakan budaya yang
20 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 kondusif untuk pembelajaran tim dan individual, melembagakan mekanisme untuk menyalurkan dan memelihara ide-ide kreatif untuk inovasi, menciptakan visi bersama untuk pembelajaran, memperluas kerangka acuan karyawan, dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan orang-orang dapat belajar dari kesalahan (Soeharno & Anco, 2019, p. 212). Senada dengan pendapat Kim Watkins dalam tulisannya terdapat enam item perilaku yang terkait dimensi kepemimpinan untuk learning organization yaitu memberikan kepemimpinan strategis untuk pembelajaran seperti memberikan dukungan permintaan untuk kesempatan belajar dan pelatihan, berbagi informasi terkini dengan para bawahan mengenai pesaing, tren industri dan visi organisasi, kemudian pemimpin memberdayakan orang lain untuk membantu melaksanakan visi organisasi, membimbing dan melatih orang-orang yang mereka pimpin, pemimpin harus mencari kesempatan untuk belajar dan memastikan bahwa perilaku organisasi konsisten dengan nilai-nilai organisasi (Ellinger & Ellinger, 2020, p. 341) Ellinger, Beattie dan Amy menyediakan table perilaku pembinaan manajerial dalam rangka membangun learning organization yaitu: Ellinger, Ellinger and Bostrom, Ellinger, Beattie and Hamlin (2020, p. 343) Empowering cluster of behaviors: • Question framing to encourage employees to think through issues • Being a resource-removing obstacles • Transferring ownership to employees • Holding back-not providing the answers Facilitating cluster of behaviors: • Providing feedback to employees • Soliciting feedback from employees • Working it out together-talking it through • Creating and promoting a learning environment • Setting and communicating expectations • Stepping into other to shift perspectives • Broadening employees’ perspectivesgetting them to see differently • Using analogies, scenarios and examples • Engaging others to facilitate learning Beattie, Ellinger, Beattie and Hamlin (2020, p. 343) Facilitating cluster of behaviors: • Thinking-reflective or prospective thinking • Informing-sharing knowledge
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |21 • Empowering-delegation, trust • Assessing-feedback and recognition, identifying developmental needs • Advising-instruction, coaching, guidance, counselling • Being professional-role model, standard setting, planning and • preparation • Caring-support, encouragement, approachable reassurance, • commitment/involvement, empathy • Developing others • Challenging employees to stretch themselves Amy dalam Ellinger (2020, p. 343) Behavior clusters: Facilitating: • Asking questions of followers • Clarifying to establish mutual understanding • Delegating learning projects to followers • Teaching through overt instruction and sharing information • Upholding existing standards and maintain accountability Problem solving and decision-making: • Advising through suggestions and constructive confrontation • Consulting relevant stakeholders before making decisions • Empowering followers to make autonomous decisions • Experimenting through brainstorming and exploring alternatives Communicating and relating: • Customizing learning episodes to address individual needs • Emoting to connect with followers • Motivating by sharing recognition and providing incentives • Perceiving followers’ needs by reading them accurately Developing: • Advancing systems and technology
22 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 • Balancing individual and organizational concerns • Cultivating subject matter experts • Documenting best practices • Documenting processes and procedures • Involving upper management Ineffective Behaviors: • Failing to respond to followers thereby neglecting learning • Relating to followers in an authoritarian manner • Responding to followers in a defensive manner Sumber: Andrea D. Ellinger dan Alexander (2020, p. 343) Melihat item dalam table diatas, pembinaan perilaku manajerial menurut penulis merupakan aspek penting dalam kepemimpinan strategis dalam membangun learning organization namun penelitian tentang pembinaan manajerial belum cukup terhubung dengan dimensi “menyediakan kepemimpinan strategis untuk pembelajaran” dari instrument DLOQ. Sehingga perlu adanya penelitian lagi terkait pembinaan manajerial tersebut (Ellinger & Ellinger, 2020, p. 344). Di era transformasi teknologi yang sarat akan perubahan dan kompetensi, kelangsungan hidup suatu organisasi termasuk lembaga pendidikan sangat tergantung pada kemampuan pemimpin dan efektivitas kepemimpinan untuk belajar bagaimana meningkatkan kinerja para pegawainya (Simryah, 2021, p. 19). Kualitas sumber daya manusia tentu tidak terlepas dari Pendidikan. Kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan transformasional mendorong kinerja guru dengan menciptakan budaya organisasi pembelajar, kinerja guru yang meningkat akan membentuk organizational citizenship behaviour (OCB) dan bermuara pada peningkatan kinerja Lembaga (Astuti, Hidayat, & Wulandari, 2021, p. 74). Peran seorang pemimpin menjadi sentral untuk meningkatkan perilaku yang diarahkan pada tujuan organisasi. (Hermanto, Agusdin, & Rinuastuti, 2022, p. 177). 2. Menerapkan Langkah-langkah Pembelajaran Menurut Greenberg dan Baron ada empat langkah pembelajaran yang perlu dilalui untuk menjadi learning organization, yaitu knowledge acquisition (penguasaan pengetahuan), information distribution (distribusi informasi), information interpretation (interpretasi informasi), dan organization memorization (pengingatan organisasi) (Yulianti, Arwani, Wijaksana, Hanafiah, & Tejawawti, 2022, p. 77). Knowledge acquisition (penguasaan pengetahuan) adalah suatu proses yang dilakukan organisasi dengan cara menghimpun dan mengembangkan pengetahuan dari berbagai sumber.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |23 Organisasi dapat melakukan inovasi berangkat dari identifikasi pengetahuan dari eksternal dan data internal organisasi. Sekolah dapat memanfaatkan penyimpanan data di Dapodik dengan menganalisis data dapodik didasari perkembangan dunia pendidikan dan menjadikan hasil identifikasi sebagai inovasi program baru sekolah. Bagi lembaga pendidikan, knowledge acquisition ini dapat menjadi strategi sekolah untuk membangun budaya learning organization sebagai sarana menciptakan distingsi dan inovasi sekolah meningkatkan kepercayaan masyarakat luas serta kualitas sekolah. Distribusi informasi juga bisa dipergunakan sebagai basis untuk perubahan, harus didistribusikan kepada dan dipahami oleh mereka yang memerlukan. Dalam hal ini, lembaga pendidikan melakukan berbagai terobosan dalam menciptakan alat untuk mendistribusikan informasi kepada semua pihak yang terkait. Misalnya membuat website, media social maupun jaringan komunikasi. Interpretasi informasi sangat penting karena pembelajaran membawa perubahan secara efektif, jadi pengetahuan tidak hanya dikumpulkan, tetapi secara akurat juga harus dipresentasikan. Dalam hal ini, Lembaga pendidikan dapat melakukan terobosan-terobosan di dalam menyampaikan informasi kepada semua pihak yang terkait. Pengingatan organisasi mencerminkan perlunya wadah di mana pengetahuan dan sejarah organisasi disimpan sehingga dapat ditarik pelajaran apabila diperlukan. Dalam hal ini, Lembaga pendidikan dapat membuat catatan digital berkaitan dengan perjalanan sekolahnya. Lembaga pendidikan di era perkembangan digital 4.0, segala macam transaksi dan kegiatan pun berubah. Kecerdasan buatan muncul mendominasi lingkungan menciptakan dampak yang begitu besar baik untuk dunia industry, pemerintah, pendidikan, dan masyarakat. Ini menciptakan peluang sekaligus tantangan luar biasa. Banyak organisasi berusaha mengatasi tantangan ini dengan mencoba masuk ke transformasi digital. Organisasi pembelajaran dikembangkan pada saat pembelajaran adalah ide manajemen yang modis dan popular. Organisasi pembelajar memberikan jawaban atas apa yang dibutuhkan saat itu dan menjadi landasan kuat untuk melakukan inovasi. 3. Membangun Kompetensi Digital Implementasi learning organization di era kemajuan teknologi mau tidak mau memaksa semua orang untuk melek teknologi. Digitalisasi melibatkan lebih dari sekedar konversi dokumen dari kertas ke format elektronik. Kemajuan teknologi perlu pola pikir yang lebih luas mencakup data dan teknologi yang berpusat pada manusia. Namun tidak semua orang memiliki keterampilan dalam teknologi sehingga seorang pemimpin perlu untuk melatih para stakeholder untuk mulai menggunakan teknologi. Penggunaan teknologi secara bertahap diterapkan supaya menjadi budaya baru yang melekat pada setiap orang. Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin perlu mendorong para guru untuk meningkatkan keterampilan teknis dan melibatkan semua orang untuk membiasakan penggunaan teknologi.
24 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Bagi guru atau pegawai yang lahir sebagai generasi milenial tentu hadirnya teknologi tidak akan menjadi hambatan namun tidak demikian bagi mereka generasi kolonial, tentu teknologi dan digitalisasi sangat berpengaruh bahkan dapat dikatakan terdapat kesenjangan antara keterampilan terkait teknologi apalagi dalam pembelajaran, siswa sudah berada pada 4.0 sementara guru masih berbicara 3.0. tantangan guru akan semakin berat karena kompetensi digital saat ini sangat berperan dalam menciptakan kualitas pendidik yang akan berimbas pula pada kompetensi siswa. Maka dari itu, kepala sekolah perlu melatih kompetensi digital yang diperlukan. Kompetensi digital yang harus dimiliki pendidik menurut Tetyana Blyznyuk mencakup beberapa bentuk diantaranya kemampuan literasi atau informasi, kemampuan berinteraksi melalui teknologi dan media digital (komunikasi), kemampuan menciptakan konten atau media pembelajaran secara digital, kemampuan memberikan perlindungan terhadap dampak konten atau media pembelajaran (keamanan), dan kemampuan mengatasi masalah terkait pembelajaran berbasis teknologi (pemecahan masalah) (Tetyana, 2018, p. 42); (Prayogi & Estetika, 2019, p. 147). Seorang pendidik harus memiliki kemampuan literasi mencakup mencari, memilih, mengevaluasi dan mengelola informasi yang sesuai dengan pembelajaran. Tidak hanya itu pendidik harus didorong untuk terampil berkomunikasi secara interaktif dan kerjasama melalui teknologi. Menciptakan konten pembelajaran dan media pembelajaran yang menyenangkan serta responsive dalam memecahkan masalah teknologi digital dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran. Didunia pendidikan, personal mastery meliputi potensi sumber daya yang terdiri dari siswa, guru dan sarana prasarana. Sekolah hanya akan berkembang jika proses belajar mengajar dapat berkembang dengan sangat baik. Siswa belajar dengan nyaman dan tenang, sementara kepala sekolah dan para guru juga harus mau belajar secara terus menerus untuk meningkatkan kompetensinya. Perlu adanya kesadaran diri dari berbagai pihak dan juga dukungan sumber daya misalnya internet. Dengan menggunakan internet, memungkinkan para guru berselancar didunia maya memperluas wawasan serta referensi mengajar. Untuk mendukung kompetensi digital pendidik, kepala sekolah harus mendorong para pendidik untuk menguasai desain pembelajaran abad 21. Desain pembelajaran abad 21 ini meliputi project based learning, problem based learning dan cooperative learning. Project based learning merupakan pengajaran yang mengaitkan antara teknologi dengan masalah kehidupan sehari-hari yang akbrab dengan siswa. Problem based learning merupakan pembelajaran yang mempersiapkan siswa untuk selalu berpikir kritis dan analitis untuk mencari serta menggunakan sumber belajar yang sesuai. Cooperative learning merupakan suatu pembelajaran dengan system kelompok kecil (Prayogi & Estetika, 2019, p. 148). 4. Mengembangkan Budaya Digital Dalam learning organization setiap bagian yang ada dalam organisasi memiliki budaya belajar. Kondisi seperti ini dapat menjadi pendukung bagi
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |25 penerapan empat prinsip lain dalam rangka memenuhi tujuan organisasi. Empat dimensi meliputi penguasaan pribadi, model mental, visi Bersama, dan pembelajaran tim berguna dalam pengembangan budaya organisasi yang mendukung digitalisasi sebab dapat diterapkan dalam tingkat individu, kelompok maupun organisasi untuk menanamkan kebiasaan baru terkait pemanfaatan teknologi. Brian Quinn mengemukakan bahwa teknologi adalah alat yang paling penting untuk mengelola pengetahuan organisasi (Marquadt, 1996). Dalam mengadopsi teknologi, setiap organisasi sudah dapat dipastikan harus melibatkan dan membimbing setiap individu untuk beradaptasi dengan teknologi. Prinsip dalam learning organization dapat menjadi fondasi utama di era perkembangan teknologi digital. Membangun budaya learning organization di era perkembangan teknologi dapat didukung dengan kecanggihan teknologi (Hoe, 2020). Marquardt mengungkapkan komponen-komponen penting yang harus ada dalam organisasi pembelajar, yaitu: belajar (learning), organisasi (organization), orang (people), pengetahuan (knowledge), dan teknologi (technology) (Cahyadi, 2021, p. 382). Adanya megatrend digitalisasi, organisasi tetap menjadi yang terdepan dalam persaingan dengan mengembangkan ekosistem digital dan memelihara budaya digital. Kepala sekolah harus memahami strategi pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kapasitas belajar meningkatkan keunggulan kompetitif. Tidak cukup dengan hanya pemanfaatan teknologi, manusia di organisasi harus didorong melek teknologi. Maka akan terjadi harmonisasi antara manusia, budaya learning organization dan teknologi. Artinya adaptasi dan pembelajaran tergantung pada orang-orang didalamnya. Personal mastery, model mental, share vision, dan team learning dapat menjadi prinsip utama yang diterapkan untuk menanamkan nilai dan perilaku yang diinginkan di era perkembangan digital. Terdapat dua dimensi yang menjadi dasar mengapa teknologi dapat membantu sebuah organisasi untuk menjadi organisasi pembelajar yaitu teknologi digunakan untuk memanaje pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas pembelajaran. Pasca pandemi covid19 sebetulnya pengelolaan Pendidikan sudah mengalami transformasi sehingga semua serba berbasis teknologi. Pengelola pengetahuan mencakup teknologi berbasis computer untuk mengumpulkan data guru, siswa dan sekolah, kemudian teknologi untuk pembelajaran misalnya penggunaan multimedia untuk pembelajaran dikelas, penggunaan online meeting untuk kelas jarak jauh dan sebagainya. Walaupun memang saat ini data dan informasi sekolah sudah tersimpan dalam data Pokok Pendidikan (Dapodik), namun seluruh data dan informasi juga dapat disimpan dalam sebuah data base misalnya website. Selain menjadi sarana untuk promosi serta menunjukkan eksistensi sekolah kepada masyarakat luas, juga dapat dimanfaatkan para pemimpin pendidikan untuk mendorong para pengelola belajar mengembangkan dan mengeksplorasi penyelesaian masalah dari berbagai perspektif.
26 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Data sekolah saat ini tersimpan dalam situs resmi dari pemerintah PMP (Penjaminan Mutu Pendidikan) Dikdasmen. Dalam situs tersebut sekolah diminta mengisi berbagai pertanyaan terkait pemenuhan standar nasional Pendidikan. Output pengisian pada PMP nantinya akan menghasilkan sebuah Raport mutu dengan nilai rinci pemenuhan setiap standar Pendidikan. Ketika ada salah satu standar yang belum terpenuhi, seharusnya pihak sekolah menjadikan hal tersebut sebagai pemicu peningkatan mutu sekolahnya. Disinilah penggunaan dimensi system thinking perlu digunakan. System thinking digunakan untuk mempelajari bagaimana masalah tersebut dapat terjadi serta bagaimana solusi yang solutif untuk memperbaiki indicator mutu tersebut. tidak hanya itu, system thinking memungkinkan stakeholder yang ada didalam sekolah untuk memahami bagian-bagian dari struktur dan bagaimana antar bagian tersebut disinergikan supaya dapat memecahkan permasalahan secara kolektif dan gotong royong. Untuk mengartikulasi transformasi digital dalam suatu organisasi dalam menerapkan empat disiplin (personal mastery, model mental, visi bersama dan pembelajaran tim Siu Loon Hoe (2020, pp. 58-59) mengusulkan empat cara yaitu menganalisis kesenjangan kompetensi digital pada tingkat individu (personal mastery), merubah paradigma dan mindset dalam memecahkan masalah terkait digital, membangun visi bersama menuju masa depan digital, serta membentuk tim learning yang dapat merespon perubahan kondisi eksternal. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa seorang kepala sekolah perlu mendorong para pendidik untuk meningkatkan kompetensi mereka apalagi banyak guru yang lahir bukan sebagai generai milenial, perlu peningkatan kompetensi yang dapat mengimbangi kompetensi mereka sebagai pendidik dengan perkembangan zaman. Kompetensi dan keterampilan ini meliputi keterampilan teknis maupun non-teknis. Hal ini dapat dicapai melalui pelatihan terstruktur untuk membekali para pendidik dengan pengetahuan, keterampilan dan pola pikir digital. Mereka nantinya diharapkan dapat menguasai media dan sumber belajar elektronik, menerapkan metode mengajar yang lebih menyenangkan, menggunakan dukungan flatform untuk administrasi pembelajaran dan sebagainya. Sedangkan untuk tenaga administrasi sendiri, dapat memfasilitasi mereka untuk mengubah data dari hard file menjadi soft file serta membiasakan untuk menyimpan seluruh data pada sebuah system misalnya penyimpangan data kehadiran siswa, kehadiran guru, keuangan sekolah, sarana prasarana, penerimaan siswa baru dan sebagainya. Model mental perlu ditingkatkan untuk memungkin para pendidik mengidentifikasi masalah serta menciptakan solusi digital. Model mental perlu diperbaiki sehingga membantu seseorang untuk memikirkan kembali dan mendesign ulang strategi digital. Sebagai contoh konkrit adalah ketika jumlah siswa baru menurun dari tahun sebelumnya, maka jika dikaitkan dengan teknologi seharusnya para pengelola sekolah dan pendidik mengatur strategi khusus untuk mempromosikan sekolah melalui media sosial dan website khusus sekolah. Melalui dua media tersebut seluruh lapisan masyarakat dapat mencari informasi sekolah tanpa harus kita berkeliling
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |27 door to door melakukan promosi. Pemanfaatan digital dapat menjadi sarana peningkatan model mental supaya solusi yang diambil dari setiap permasalahan menjadi lebih efektif dan efisien serta sesuai dengan perkembangan zaman sekarang. Dalam dunia digital yang penuh dengan peluang dan tantangan, kemampuan untuk menyeleraskan berbagai kepentingan dan komitmen untuk mencapai tujuan bersama yang sudah ditetapkan sebelumnya. Visi ini akan menggiring seluruh stakeholder untuk focus pada peningkatan kemampuan diri dan berperilaku menuju pencapaian tujuan besar tersebut. Manajemen harus memperjuangkan dan menginspirasi seluruh stakeholder sekolah untuk menjadikan penggunaan teknologi digital ini sebagai suatu budaya. Bagaimanapun canggihnya teknologi dan penerapan disiplin system thinking tetap saja perlu dilengkapi oleh disiplin team learning untuk menciptakan solusi yang muncul sebagai dampak adanya digitalisasi. Perlu dialog interaktif antar pendidik dan kepala sekolah mengeksplorasi permasalahan yang terjadi di sekolah maupun di luar sekolah. Team learning ini dapat dibangun dengan membuat forum-forum diskusi, rapat pimpinan atau bahkan membuat sebuah tim yang ditugaskan secara khusus mengkaji permasalahan-permasalahan dalam pencapaian mutu pendidikan sekolah misalnya dengan membentuk tim SPMI. Ini bisa menjadi alternatif solusi terbaik sebab memang inti dari lima disiplin dalam learning organization yang ingin ditonjolkan oleh Peter Senge sendiri adalah kolaboratif dan kolektivitas berpusat pada orang-orang yang ada didalam organisasi itu sendiri. PENUTUP Teori learning organization yang lahir pada 30 Tahun lalu itu ternyata masih relevan diimplementasikan pada era revolusi industry seperti sekarang. Implementasi yang tepat dapat membantu sebuah institusi pendidikan survive, meningkatkan mutu serta memenangkan persaingan. Teori ini berfokus pada manusia, tentu kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus memiliki jiwa inovatif dengan memberikan kesempatan kepada seluruh pendidik untuk belajar dan memanfaatkan kemajuan teknologi dalam meningkatkan kapasitas diri (personal mastery) sehingga pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kualitas sekolah. Meningkatkan personal mastery para guru di era digitalisasi ini melalui penguasaan kompetensi digital bagi guru meliputi literasi, komunikasi, mampu menciptakan media pembelajaran digital, keamanan dan problem solving. Membangun budaya digital melalui disiplin team learning, mental model serta system thinking juga tidak kalah penting dalam rangka menciptakan suasana kolaboratif diantara para pendidik sehingga melihat segala sesuatu secara holistic, sharing pengetahuan, ide, gagasan dalam memecahkan masalah, mencari solusi yang inovatif sesuai dengan perkembangan teknologi. Dengan strategi ini, diharapkan sekolah dapat lebih meningkatkan kualitas Pendidikan, mencerdaskan generasi bangsa
28 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 serta mampu meningkatkan kualitas Pendidikan bangsa menuju peringkat yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA Afqarina, R., & Dihan, F. N. (2019). Pengaruh Knowledge Management dan Organizational Learning Terhadap Kinerja Organisasi Melalui Inovasi sebagai Variabel Intervening. Jurnal Kajian Bisnis, 27(1), 73-91. Ardianto, H., Sunaryo, W., & Sumardi. (2020). Peningkatan Learning Organization Melalui Kepemimpinan Transformasional dan Efikassi Diri Guru SMP Swasata Buddhis Se-Provinsi Banten. Jurnal Manajemen Pendidikan, 08(1), 01-06. Astuti, Y. E., Hidayat, R., & Wulandari, F. (2021). Peningkatan Organizational Citizenship Behaviour (OCB) dengan Penguatan Learning Organization (LO) dan Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah. Jurnal Manajemen Pendidikan, 09(02), 74-80. Cahyadi, L. (2021). Memahami Learning Organization. Jurnal Forum Ilmiah, 18(3), 381-390. Chai, D., & Dirani, K. (2018). The Dimensions of The Learning Organization Questionnaire (DLOQ): A Validation Study in The Lebanese. The Learning Organization, 25(5), 320-330. Ellinger, A. D., & Ellinger, A. X. (2020). Providing Strategic Leadership for Learning: Optimizing Managerial Coaching to Bulid Learning Organizations. The Learning Organization, 28(4), 337-351. Habtoor, A. S., Arshad, D., & Hassan, H. (2019). Do Competitive Strategies Moderate The Relationship Between Learning Organization and Performance of Higher Education Institutions? Academy od Strategic Management Journal, 18(2), 1-11. Hansen, J. O., Jensen, A., & Nguyen, N. (2020). The Responsible Learning Organization Can Senge (1990) Teach Organizations How To Become Responsible Innovators? The Learning Organization, 27(1), 65-74. Hermanto, Agusdin, & Rinuastuti, B. H. (2022). Pengembangan Model Knowledge Sharing pada Organisasi Pembelajar (Learning Organization: Kajian pada Perguruan Tinggi Negeri & Swasta di Pulau Lombok). Jurnal Magister Manajemen, 11(2), 169-178. HM, S. H., Masyhuri, M., & Hafid, N. (2019). Learning Organization, Mewujudkan Sekolah Unggul oleh Manusia Pembelajar di Lingkungan Pembelajar. Bidayatuna, 02(02), 222-249. Hoe, S. L. (2020). Digitalization in Practice: The Fifth Discipline Advantage. The Learning Organization, 27(1), 54-64. Lim-Lagura, G. A. (2019). Dimensions of Learning Organizations and the Predictors to Organisational Performance Among Universities in Zamboanga City. International Journal of Innovation, Creativity and Change, 8(7), 163-191. Maria, V., & Tiar, A. (2022). Pengaruh Pengawasan Atasan Melekat Terhadap Kinerja Guru PAUD dengan Mediasi Pembelajaran Organisasi (Studi Empiris pada Guru Pendidikan Anak Usia Dini di Kabupaten Serang). Jurnal Inovasi Penelitian, 3(2), 4951-4966.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |29 Marquadt. (1996). Building the Learning Organization: A System Approach to Quantum Improvement and Global Success. Michigan University: McGraw-Hill. Prayoga, F., & Yuhertina, I. (2021). Studi Literatur Faktor yang Mempengaruhi Implementasi E-Budgeting dalam Sektor Publik. Journal of Publick Sector Innovations, 68-79. Prayogi, R., & Estetika, R. (2019). Kecakapan Abad 21: Kompetensi Digital Pendidik Masa Depan. Jurnal Manajemen Pendidikan, 14(2), 144- 151. Rebelo, T., Lourenco, P. R., & Dimas, I. D. (2020). The Journey of Team Learning Since The Fifth Discipline. The Learning Organization, 27(1), 42-53. Reese, S. (2020). Implications for Practitioners Reflecting on Impact of Peter Senge's Fifth Discipline on Learning Organizations. The Learning Organization, 27(1), 75-80. Reese, S. (2020). Taking the Learning Organization Mainstream and Beyond the Organizational Level: an interview with Peter Senge. The Learning Organization, 27(1), 6-16. Robbins, P. S. (2008). Perilaku Organisasi. Jakarta: Prenhallindo. Simryah, N. H. (2021). Kepemimpinan Berbasis Sekolah Unggul dalam Organisasi Pembelajar. Jurnal Manajemen Pendidikan Al-Hadi, 01(01), 14-21. Soeharno, & Anco. (2019). Organisasi Pembelajar dan Manajemen Pengetahuan. Shautut Tarbiyah, 25(2), 202-220. Sunarta. (2021). Membangun Organisasi Pembelajar. Jurnal Ilmu Manajemen, 18(2), 67-76. Tafesse, M. (2021). Organizational Learning Practices in Public Higher Education Instituion of Ethiopia. Technium Education and Humanities, 1(1), 55-78. Tetyana, B. (2018). Formation of Teachers Digital Competence: Challenges and Foreign Experience. Journal of Vasyl Stefanyk Precarpathian National University, 5(1), 40-46. Yulianti, Y., Arwani, Wijaksana, T., Hanafiah, & Tejawawti, I. (2022). Peningkatan Kualitas Manajemen Sumber Daya Manusia Melalui Learning Organization System (Studi di Telkom Coporate University Bandung). Eduvis Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 71-83. Yusuf, M., & Husni, A. N. (2019). Knowledge Management Sebagai Upaya Learning Organization di Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta. Al-Idaroh, 3(2), 53-71.
30 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 MANAJEMEN SUPERVISI AKADEMIK DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU ABAD 21 Cucu Suwandana SMPN 2 Talegong Garut, [email protected] Abstrak Supervisi akademik merupakan aktivitas nyata yang dilakukan oleh seorang supervisor secara sistematis, obyektif, dan disiplin serta konsisten dalam membina. Tujuan dari supervisi akademik adalah untuk membimbing dan memberikan layanan berupa bantuan kepada guru untuk memecahkan hambatan yang sedang dihadapi dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta kemampuan profesionalisme guru. Tujuan dari penulisan artikel ilmiah ini adalah untuk menjelaskan manajemen supervisi akademik dalam meningkatkan profesionalisme guru abad 21. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan literatur. Tahapan penelitian yaitu; pengumpulan data, reduksi, display, pembahasan dan kesimpulan. Hasil literatur menunjukkan bahwa manajemen supervisi akademik dibagi ke dalam lima tahap yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi dan analisis, serta tindak lanjut guna meningkatkan profesionalisme guru abad 21. Keempat tahap manajemen supervisi akademik ini harus dijalankan sesuai dengan konsep dasar supervisi akademik. Sehingga upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru abad 21 melalui supervisi akademik dapat berjalan sesuai dengan tujuan dan sasaran supervisi akademik. Kata Kunci: Manajemen, Supervisi akademik, Professional, Guru abad 21 Abstract Academic supervision is a real activity carried out by a supervisor in a systematic, objective and disciplined manner and is consistent in fostering. The purpose of academic supervision is to guide and provide services in the form of assistance to teachers to solve the obstacles they are facing and improve the quality of learning and the professionalism of teachers. The purpose of writing this scientific article is to explain the management of academic supervision in increasing the professionalism of 21st century teachers. This research method uses qualitative methods through a literature approach. The research stages are; data collection, reduction, display, discussion and conclusion. The results of the literature show that academic supervision management is divided into five stages, namely planning, organizing, implementing, evaluating and analyzing, and following up to improve 21st century teacher professionalism. The four stages of academic supervision management must be carried out in accordance with the basic concept of academic supervision. So that efforts to improve the professionalism of 21st century teachers through academic supervision can run in accordance with the goals and objectives of academic supervision. Keyword: Management, Academic supervision, Profesional, 21 st century teacher PENDAHULUAN Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas sumber dayanya, dalam hal ini adalah kepala sekolah dan guru. Profesionalisme kepala sekolah dalam melakukan manajemen penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas,
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |31 efektif dan efesien sebagai syarat utama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Demikian pula dengan guru, keberhasilan siswa sangat ditentukan oleh kinerja guru yang professional dalam menjalankan tugas, fungsi dan peranannya sebagai pendidik. Profesionalisme merupakan proses usaha menuju ke arah terpenuhinya persyaratan suatu jenis model pekerjaan ideal yang memiliki skill dan keahlian, memiliki kode etik profesionalisasi, mendapat perlindungan. Sedangkan profesi pada hakekatnya adalah informend responsiveness (sikap bijaksana), yaitu suatu pelayanan dan pengabdian yang dilakukan oleh individu dilandasi oleh kemampuan, keahlian, teknik dan prosedur yang diiringi sikap kepribadian (Sagala 2000, dalam Yani, H.E : 2022). Oleh karena itu, dalam melakukan suatu pekerjaan dibutuhkan suatu penguasaan agar pekerjaan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai hasil yang maksimal. Yani, H.E (2022) mengungkapkan bahwa ada tiga kreteria suatu pekerjaan dikatakan professional; 1) Pengabdian, yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan beberapa pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, 2) Idealisme, yaitu tercakup pengetian pengabdian pada suatu yang luhur dan idealis, 3) Pengembangan, yaitu, menyempurnakan prosedur kerja yang mendasari pengabdiannya yang dilakuakn secara terus-menerus. Profesionalisme guru merupakan bagian yang penting dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Karena dalam menjalankan tugasnya, guru tidak hanya sekadar mengajar dan memberikan materi kepada peserta didik, akan tetapi seorang guru harus memahami tentang suatu pengetahuan yang mendasar dalam melaksanakan pembelajaran guna meningkatkan kompetensi peserta didik. Guru profesional harus mampu mendorong peserta didik agar mampu mengoptimalkan potensinya guna mencapai prestasi yang maksimal. Sesuai dengan Undang-Undang No. 14 tahun 2005 Pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sebagai tenaga profesional, guru sangat berperan pada keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran. Keberhasilan peserta didik ditentukan pula pada saat mengikuti pembelajaran. Dengan begitu, diperlukannya guru profesional guna menunjang peningkatan kualitas dari pendidikan itu sendiri, melalui proses pembelajaran yang tidak terfokus pada sekadar penyampaian materi, melainkan juga berdampak pada perubahan perilaku dan pengetahuan peserta didik. Dengan begitu, guru yang profesional harus memiliki kinerja yang baik dan sesuai dengan standar pendidikan. Guru profesional harus memiliki kemampuan dan kecakapan yang dilandasi suatu pengetahuan, perilaku, dan skill motivation untuk mencapai tujuan pendidikan secara maksimal. Kita sadari bahwa sistem pembelajaran di abad 21 ini sebenarnya bukan lagi berpusat pada pendidik (teacher-centered learning), melainkan berpusat
32 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 kepada peserta didik (student-centered learning). Hal ini bertujuan untuk memberikan peserta didik keterampilan dalam kecakapan berpikir dan belajar di abad 21 ini, atau yang dikenal dengan istilah “The 4C Skills” yang dirumuskan oleh Framework Partnership of 21st Century Skills, meliputi: (1) Communication/Komunikasi; (2) Collaboration/Kolaborasi; (3) Critical Thinking and Problem Solving/Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah; dan (4) Creative and Innovative/Daya Cipta dan Inovasi (Nabilah, Nana, 2020, dalam Mardiyah. Dkk, 2021:31). Untuk mempersiapkan peserta didik yang memiliki keterampilan abad 21, pembelajaran harus dilakukan guru dengan berorientasi pada pembelajaran abad 21, yaitu pembelajaran yang memiliki karakteristik atau prinsip-prinsip diantaranya: 1). Pendekatan pembelajaran berpusat pada peserta didik; 2) peserta didik dibelajarkan untuk mampu berkolaborasi; 3) materi pembelajaran dikaitkan dengan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, pembelajaran harus memungkinkan peserta didik terhubung dengan kehidupan sehari-hari mereka dan 4) dalam upaya menyiapkan peserta didik menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah sudah seharusnya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Devi 2018 ( dalam Iim Halimah, 2021:584) Pada pembelajaran abad 21, maka guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan inspirator. Oleh karena itu, guru harus bisa menjadi fasilitator dan motivator bagi peserta didiknya untuk mencari dan memanfaatkan sumber belajar melalui kemajuan digital. Hal ini juga sekaligus sebagai inspirator untuk peserta didiknya agar lebih giat belajar dan menemukan sumber informasi melalui teknologi yang berkembang saat ini (Syahputra, 2018: 1281) Kenyataan dilapangan, menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru belum sesuai dengan harapan. Hal ini di tunjukkan dengan hasil UKG dari tahun 2017 s.d 2019, dengan hasil nilai uji kompetensi guru Kabupaten Pemalang jenjang SD tahun 2017 nilai kompetensi profesionalnya 62,22; tahun 2018 nilai kompetensi profesionalnya 64,51; tahun 2019 nilai kompetensi profesionalnya 65,34. Harapannya bahwa nilai standar kompetensi profesional yang harus dicapai minimal 75,00. Maka masalah yang muncul ketika nilai standar kompetensi profesional yang belum tercapai yaitu rendahnya kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan ditangan guru, kualitas guru yang kompeten pada kemampuannya dalam mengajarkan materi pelajaran secara menarik, kreatif dan inovatif mampu memotivasi siswa untuk aktif dalam pembelajan dan kedisiplinan guru dalam tugasnya dapat diketahui dari hasil supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah. Hasil supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah terhadap guru yang kurang kompeten, hasilnya rendah dan belum bisa menjadikan supervisi sebagai langkah menolong guru dalam pembelajaran ketika seorang guru mengalami kesulitan (Kusmei. I, dkk. :2021). Penelitian selanjutnya tentang kenyataan di lapangan adalah hasil penelitian Nurbaiti (2019), yang mengungkapkan bahwa Permasalahan yang lain terkait profesionalisme guru ialah hasil UKG guru tahun 2020
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |33 menunjukkan bahwa “kompetensi professional guru di Provinsi Jawa Barat sebesar 60,95% sedangkan hasil rata-rata UKG guru ialah 58,97%. Hal ini menunjukan kompetensi guru di provinsi Jawa Barat belumlah sesuai dengan standar yang ditetapkan”. (Kemendikbud, 2021) “Kompetensi profesional yang biasanya sering belum terpenuhi, di antaranya: guru tidak menggunakan media atau sumber belajar dalam mengajar, atau minimnya kemampuan guru mengelola interaksi belajar mengajar, padahal guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya peningkatan kompetensi guru, salah satunya dengan mengoptimalkan supervsi akademik yang bertujuan untuk membantu guru dalam peningkatan kompetensi. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah pada dimensi kompetensi supervisi meliputi: perencanaan program supervisi akademik guna meningkatkan profesionalisme guru; supervisi akademik dilaksanakan bagi guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik yang tepat; dan menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru. Menurut Glickman 2007 (dalam Zulfikar, 2017:195) supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk membantu guru dalam mengembangkan kemampuannya untuk mengelola proses pembelajaran guna mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Menurut Prasojo dan Sudiyono 2015 (dalam Zulfikar, 2017:195) supervisi dilakukan melalui prosedur pra-observasi, observasi kelas, dan post-obesrvasi. Pra observasi yaitu pertemuan yang dilakukan guru dan supervisor sebelum dulakukannya supervisi di kelas, obsersvasi kelas merupakan proses pelaksanaan supervisi, dan post-observasi merupakan kegiatan yang dilakukan setelah observasi kelas. Dalam prosedur ini supervisor memberikan tindak lanjut bagi guru. Supervisi harus dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip supervisi akademik, menurut Dodd Kemendiknas 2010 (dalam Zulfikar, 2017:195) prinsip-prinsip supervisi terdiri dari: praktis, sistematis, objektif, realistis, antisipatif, konstruktif, kooperatif, demokratif, humanis, berkelanjutan, dan komprehensif. Supervisi akademik memiliki tujuan, menurut Sergiovanni Kemendikbud 2018 (dalam Marhawati:2020: 72) menyatakan terdapat tiga tujuan supervisi akademik, yaitu: (1) supervisi akademik dilakukan untuk membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalnya dalam memahami akademik, kehidupan kelas, mengembangkan keterampilan mengajarnya dan menggunakan kemampuannya melalui teknik-teknik tertentu; (2) supervisi akademik dilakukan untuk memonitor kegiatan proses belajar mengajar di sekolah, kegiatan memonitor ini bisa dilakukan melalui kunjungan kepala sekolah ke kelas-kelas di saat guru sedang mengajar, percakapan pribadi dengan guru, teman sejawatnya, maupun dengan sebagian peserta didik; dan (3) supervisi akademik dilakukan untuk mendorong guru menerapkan kemampuannya dalam melaksanakan tugastugas mengajar, mendorong guru mengembangkan kemampuannya sendiri,
34 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 serta mendorong guru agar ia memiliki perhatian yang sungguh-sungguh terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Dengan begitu supervisi akademik diharapkan mampu memberikan bantuan profesional untuk meningkatkan profesional guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. METODE Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan literatur review. Metode literatur review adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang ada dalam literatur yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Metode ini digunakan untuk mendapatkan gambaran umum tentang suatu isu atau permasalahan dan mengevaluasi kualitas dan validitas sumber-sumber yang digunakan. Secara rinci, metode literatur review meliputi beberapa tahap, yaitu: pengumpulan data, reduksi, display, pembahasan dan kesimpulan. PEMBAHASAN Manajemen Supervisi Akademik Manajemen adalah ilmu dan seni dalam upaya mencapai tujuan dengan berkolaborasi dan mengoptimalkan sumber daya manusia, dana, saranaprasarana serta sumber lainnya melalui aktifitas terstruktur seperti perencanaan, pengarahan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengawasan (Marfinda.E, 2022:241). Manajemen lembaga yang berfungsi untuk mengukur mutu pendidikan salah satunya adalah manajemen supervisi akademik. Supervisi akademik merupakan supervisi yang konsentrasinya menitik beratkan pada pengamatan masalah akademik. Upaya peningkatan professional guru melalui supervisi akademik secara esensial merupakan upaya seorang supervisor dalam membantu guru meningkatkan profesionalnya dalam pengelolaan pembelajaran di kelas. Berdasarkan kajian literatur dari beberapa jurnal yang telah dianalisis, manajemen supervisi akademik dalam meningkatkan profesionalisme guru abad 21. Terdapat beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pelaksanaan supervisi akademik dalam meningkatkan profesionalisme guru abad 21 belum berjalan maksimal dari sisi perencanaan, pelaksanaan, evaliasi, dan dan tindak lanjut. Penelitian pertama dilakukan oleh Moradi (2014) yang menunjukkan bahwa sebagian guru menganggap bahwa supervisi akademik sebagai pengalaman yang negatif dari sebuah birokrasi. Yang kedua oleh Desriani (2015) yang menunjukkan bahwa dalam tahapan supervisi akademik mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut belum dilaksanakan dengan baik dengan perolehan nilai rata-rata (3,4). Ditambah lagi dengan hasil penelitian Ashlan (2017) yang menyatakan bahwa: (1) pelaksanaan supervisi tidak berjalan maksimal karena kepala sekolah sibuk dengan urusan di luar sekolah, (2) factor-faktor peluang penerapan supervisi kepala sekolah yaitu : (a) kepemimpinan sekolah dalam
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |35 memotivasi guru, (b) kerja sama dengan guru dalam pelaksanaan pembelajaran, (c) kesadaran guru untuk meningkatkan motivasi dalam mengajar. (3) terdapat hambatan dalam pelaksanaan supervisi yaitu pada ketersediaan untuk melkaukan supervisi itu sendiri, serta tidak adanya demonstrasi teknik pengajaran yang terbarukan. Di sisi lain berdasarkan kajian literatur dari beberapa jurnal yang telah dianalisis, beberapa penelitian menunjukkan bahwa supervisi akademik dapat meningkatkan profesionalisme guru. Berikut ini adalah hasil beberapa penelitiannya yaitu: Penelitian oleh Kusmei (2021) menyarakan bahwa kepala sekolah mamahami kompetensinya sebagai Supervisor sehingga mampu mengembangkan kompetensi profesional guru melalui supervisi akademik dan supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah agar dapat membantu guru dalam mengembangkan kemampuannya dalam belajar mengajar. Penelitian oleh Mustafida (2021) menunjukkan bahwa supervisi akademik memiliki dampak yang cukup besar dan bermanfaat terhadap profesionalisme guru dengan kekuatan 0,992. Hal ini menunjukkan bahwa semakin sukses supervise akademik kepala sekolah semakin professional pengajarnya. Penelitian oleh Ekowati (2012) menunjukkan bahwa persepsi guru terhadap supervisi kepala sekolah di SMK RSBI pada Bidang Keahlian Teknik Elektro di DIY dikategorikan baik, dan terdapat hubungan antara persepsi guru tentang supervisi kepala sekolahs erta kinerja mengajar guru SMK RSBI Bidang Keahlian Teknik Elektro di DIY. Dengan persamaan regresi ialah Y= 83,426 + 0,755 (X1), dengan koefisien determinasi sebesar 20,5%. Penelitian oleh Irmawati (2010), mengungkapkan bahwa semakin tinggi tingkat supervisi, maka akan semakin baik pula kinerja guru. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tingkat supervisi, maka akan semakin rendah pula kinerja guru. Penelitian oleh Rahabav (2016) menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan supervisi akademik belum berjalan efektif yaitu, terkendala waktu oleh supervisor, supervisi belum terprogram dengan baik, kurangnya pemahaman supervisor terkait konsep dasar supervisi akademik, rendahnya komitmen guru, dan rendahnya tingkat motivasi guru dalam mengajar. karena keduanya menunjukkan tentang beberapa hal yang mendukung efektifitas supervisi akademik dan faktor yang mempengaruhinya. Penelitian yang dilakukan oleh Demirezen dan Ÿzönder (2016) menunjukkan bahwa tingkat profesional bergantung pada latar belakang pendidikan, dan profesional tidak berbeda secara signifikan dalam kaitannya pada pengalaman mengajar. Dalam hal ini, supervisi akademik berperan dalam membantu guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian oleh Mette et al (2015) menunjukkan bahwa efektivitas supervisi akademik dipengaruhi oleh keterlibatan siswa sebesar 64% dan peran pengawas dalam memotivasi guru untuk merefleksikan dirinya pada proses pembelajaran sebesar 65%. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan supervisi akademik peran supervisor akan
36 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 berpengaruh bagi guru dalam menjalankan proses pembelajaran yang lebih baik. Penelitian oleh Bawono (2015) menunjukkan nilai sebesar 57,36% termasuk dalam kategori baik. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan supervisi sudah berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan dan ketentuan supervisi akademik. Dan penelitian oleh Bahri (2014) menunjukkan bahwa supervisi akademik digunakan untuk membantu guru mengembangkan kemampuan profeionalismenya, bukan dijadikan sebagai penilaian kinerja guru dalam proses pembelajaran. Implementasi supervisi akademik harus diperhatikan agar tujuan dari supervisi dapat tercapai, yaitu untuk meningkatkan profesionalisme guru. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian dari Ratlin (2015) menjelaskan bahwa terdapat tiga kategori supervisi akademik dan masing-masing memiliki persentase yang berbeda-beda pula, yang terdiri dari dimensi perencanaan supervisi akademik dengan persentase 66,10% nilai tersebut tergolong sangat baik, dimensi pelaksanaan supervisi dengan persentase 45,76% nilai tersebut tergolong baik, dan pada dimensi tindak lanjut supervisi dengan persentase 55,93% nilai tersebut tergolong baik. Penelitian lain ditunjukkan oleh Desriani (2015) menyatakan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap persiapan belum dipersiapkan dengan baik dengan nilai (3,4), dalam tahap pelaksanaan belum dilaksanakan dengan baik dengan nilai (3,4), dan pada tahap tindak lanjut belum dilaksanakan dengan baik pula dengan nilai (3,4). Hal senada juga diungkapkan oleh Efendi et al (2016) menunjukkan bahwa supervisi akademik berjalan maksimal, dilaksanakan berdasarkan teknik supervisi, dan dilakukan tindak lanjut dari pelaksanaan supervisi untuk memberikan solusi atas apa yang telah dilakukan pada saat pembelajaran di kelas. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan apabila supervisi dijalankan sesuai dengan konep dasar supervisi, maka supervisi dapat berjalan secara maksimal. Dan terakhir penelitian dari Burhanudin (2017) menunjukkan bahwa supervisi akademik dijalankan melalui prosedur mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Dari beberapa hasil penelitian tadi dapat ditarik kesimpulan bahwa apabila implementasi supervisi akademik dijalankan sesuai dengan konsep dasar supervisi akademik, maka tujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru abad 21 dapat tercapai dengan maksimal. Tahap-tahap pelaksanaan Supervisi Akademik Perencanaan Supervisi Akademik Perencanaan pada dasarnya adalah menentukan kegiatan yang hendak dilaksanakan pada masa yang akan datang. Kegiataan perencanaan dimaksudkan untuk mengatur berbagai sumber daya agar hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan (Fattah, 2001:49). Oleh karena itu perencanaan merupakan bagian penting dalam manajemen supervisi akademik kepala sekolah karena akan menentukan arah tujuan pelaksanaan supervisi akademik dan akan menentukan tindakan-tindakan yang harus diambil oleh kepala sekolah dalam membantu guru mengatasi permasalahan
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |37 yang dihadapinya dalam proses pembelajaran (Maemunah. N, Sauri. S, Hanafiah. N, 2021: 130). Perencanaan supervisi akademik adalah program kegiatan atau rencana yang akan dilakukan dalam melaksanakan kegiatan supervisi akademik menyangkut dua aspek pokok yang harus ada dalam perencanaan supervisi akademik yaitu penjadualan, kapan supervisi dilakukan dan target apa yang akan dicapai. Menurut Prasojo dan Sudiyono (2015:95) hal-hal yang terkait dalam perencanaan supervisi akademik meliputi penyusunan program supervisi dan persiapan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan supervisi. Penyusunan program supervisi merupakan program tahunan atau semester yang diadakan oleh supervisor untuk melakukan supervisi kepada guru. Penyusunan program supervisi akademik haruslah terjadwal, agar dalam pelaksanaannya tidak ditemukan kendala waktu dan sumber daya manusia yang ada. Dan dalam tahap persiapan meliputi instrumen supervisi yang telah disepakati antara guru dengan supervisor, materi, dan catatan bagi supervisor. Sesuai dengan Kemendiknas (2010) menjelaskan bahwa perencanaan supervisi akademik merupakan proses penyusunan dokumen sebelum dilaksanakannya supervisi, bentuk usaha dalam membantu guru dalam meningkatkan kemampuan mengelola kegiatan belajar mengajar agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Dengan begitu, perencanaan supervisi akademik perlu dilakukan sebagai langkah awal dalam melaksanakan supervisi akademik, agar supervisi akademik dapat berjalan secara efektif dan efisien serta mencapai tujuan yang diinginkan. Perencanaan program supervisi akademik adalah penyusunan dokumen perencanaan pemantauan, serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya, mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Keefektifan supervisi memerlukan satu program yang memuat berbagai aktivitas atau kegiatan yang akan dikerjakan oleh supervisor. Program dibutuhkan untuk menggambarkan apa yang akan dilakukan, cara melakukan, waktu pelaksanaan dan cara mengukur keberhasilan pelaksanaannya (Prasojo & Sudiyono, 2015). Dengan demikian penyusunan rencana supervisi akademik merupakan hal penting, yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi guru dalam mengelola proses pembelajaran demi tercapainya tujuan pembelajaran (Zulfikar dkk., 2017). Perencanaan supervisi akademik meliputi sejumlah hal yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, yaitu terkait dengan pelaksanaan kurikulum, persiapan pelaksanaan dan penilaian pembelajaran oleh guru, pencapaian standar kompetensi kelulusan, standar proses, standar isi, dan peraturan pelaksanaannya, serta peningkatan mutu pembelajaran (Anissyahmai dkk., 2017). Pengorganisasian Supervisi Akademik Fungsi pengorganisasian merupakan proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan
38 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 didesain dalam sebuah organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan organisasi yang kondusif, dan dapatmemastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar, sehingga dapat mewujudkan tujuan belajar dengan cara yang lebih efektif, efisien, dan ekonomis dalam pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (Krisdiyanto. dkk, 2019:210). Dalam pengorganisasian supervisi akademik, kepala sekolah dapat membentuk tim pembantu ssupervisi akadedmik yang terdiri dari guru senior dan para wakil kepala sekolah. Tim pembantu supervisi akademik ini di buat dalam surat keputusan kepala sekolah. yang mempunyai tugas menjamin keterlaksanaan supervisi akademik mulai dari pembuatan program sampai pelaksanaan tindak lanjut. Hal ini sejalan dengan Mulyasa (dalam Zulfikar, 2017:197), yang menyatakan bahwa pada prinsipnya guru harus disupervisi secara periodik dalam melaksanakan pembelajaran. Jika jumlah guru cukup banyak, kepala sekolah dapat meminta bantuan wakil kepala sekolah atau guru senior untuk membantu untuk melaksanakan program supervise akademik. Pelaksanaan Supervisi Akademik Pelaksanaan merupakan kegiatan atau aktifitas yang dilaksanakan untuk melaksanakan rencana dan kebijakan yang telah ditentukan dan dirumuskan sebelumnya. Dalam pelaksanaan supervisi akademik menurut Prasojo dan Sudiyono (2015:97) menyatakan bahwa dalam melaksanakan kegiatan supervisi, supervisor harus mempersiapkan hal-hal sebagai berikut, instrumen yang sesuai, tujuan, dan sasaran supervisi, prinsip, teknik, dan pendekatan yang akan digunakan untuk mensupervisi. Sasaran dari pelaksanaan supervisi akademik ialah kemampuan guru dalam merencanakan, mengolah, dan mengevaluasi hasil pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan mamnfaatkan media pembelajaran, menciptkanan pembelajaran kreatif, dan mengedepankan keaktifan siswa. Seorang kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi akademik akan lebih berkualitas jika berlandaskan pada prinsip-pinsip supervisi akademik. Prasojo & Sudiyono (2015:87), mengungkapkan bahwa prinsip-prinsip sipervisi yang harus menjadi pegangan seorang supervisor adalah praktis, aktif, humanis, berkelanjutan, terpadu, dan komprehensif. Dengan diterapkannya prinip-prinsip supervisi akademik oleh supervisor maka supervisi akan berjalan sesuai dengan tujuan supervisi dan tidak membebankan guru, karena di dalam prinsip-prinsip supervisi akademik bersifat membangun guru. Supervisor juga harus memahami teknikal pelaksanaan supervisi karena dalam kegiatan supervisi akademik guru-guru tidak dianggap sebagai subyek pasif, melainkan diperlakukan sebagai partner bekerja yang memiliki ide-ide, pendapat-pendapat, dan pengalaman-pengalaman yang perlu didengar dan dihargai serta diikutsertakan di dalam usaha-usaha perbaikan pendidikan, terutama perbaikan proses pembelajaran di sekolah (Subaidi, 2019).
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |39 Pemilihan teknik supervisi harus disesuaikan dengan masalah yang dihadapi pendidik pada tiap-tiap sekolah, agar ditemukannya solusi terbaik pada peningkatan mutu pembelajaran. Prasojo dan Sudiyono (2015:101-108) mengungkapkan terdapat dua teknik supervisi yaitu supervisi individual dan teknik supervisi kelompok. Teknik supervisi individual dilaksanakan secara perseorangan oleh supervisor terhadap guru yang akan disupervisi. Sedangkan teknik supervisi kelompok dilaksanakan pada dua orang atau lebih. Teknik ini dilakukan apabila terdapat beberapa guru yang mengalami permasalahan yang serupa dan analisis kebutuhan yang serupa sehingga dikelompokkan menjadi satu. Menurut Sahertian 2020 (dalam Krisdianti, G & Isikomah, 2019: 214), mengungkapkan bahwa pendekatan supervisi secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: “(1) Pendekatan langsung (direktif), (2) Pendekatan tidak langsung (non-direktif) (3) Pendekatan Kolaboratif”. Dalam pendekatan direktif seorang supervisor bertanggungjawab dan diharapkan mampu memberikan arahan secara jelas kepada guru agar dapat memberikan perubahan pengajaran ke arah yang lebih baik. dalam pendekatan kolaboratif seorang supervisor diharapkan mampu memotivasi guru untuk mengaktualisasikan dirinya untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Pada pendekatan ini kerjasama guru dan supervisor lebih ditekankan. Sedangkan pada pendekatan nondirektif supervisor hanya mendengarkan dan mendorong guru untuk meningkatkan kesadaran dirinya. Pada pendekatan ini tanggungjawab yang lebih banyak ditekankan pada guru dibandingkan supervisor. Oleh sebab itu supervisor harus memahami betul dalam memilih pendekatan yang akan digunakan untuk pelaksanaan supervisi akademik agar dapat mencapai tujuan supervisi akademik. Tanggung jawab pelaksanaan supervisi akademik tidak hanya tertumpu pada supervisor saja, tetapi komitmenguru juga untuk mendukung dan mempersiapkan diri dalam menghadapi pelaksanaan supervise akademik. Hal ini sejalan dengan Shita (2019) menujukkan bahwa indikator pelaksanaan supervisi didasarkan pada penguasaan mengajar, mengelola pembelajaran, dan komitmen untuk melaksanakan tugas. Evaluasi dan Analisis Hasil Supervisi Akademik Tahap evaluasi merupakan dasar pemberian masukan/umpan balik dalam merencanakan tindak lanjut untuk peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran. Kegiatan evaluasi ditujukan untuk dapat mengetahui sejauh mana kesuksesan pelaksanaan program penyelenggaraan sekolah dan atau sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai dalam kurun waktu tertentu. Evaluasi adalah suatu proses kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui bagaimanakah perkembangan pelaksanaan suatu program, apakah sudah sesuai dengan rencana, prosedur/standar yang telah ditetapkan dan menilai sejauh mana tingkat ketercapaian dan keefektifan program yang telah dilaksanakan (Puspitasari. M, 2021:155-156). Dalam Kemendikbud (2014:20) diungkapkan bahwa tujuan evaluasi utamanya adalah untuk (a) dapat mengetahui tingkat keterlaksanaan
40 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 program, (b) dapat mengetahui keberhasilan program, (c) dapat mendapatkan bahan/masukan dalam perencanaan tahun berikutnya, dan (d) memberikan penilaian (judgement) ini terhadap sekolah. Analisis hasil supervisi dilakukan untuk menemukan kelebihan dan kelemahan guru, termasuk masalah dan faktor-faktor penyebabnya sehingga ditemukan prioritas perbaikan yang diperlukan. Upaya kepala sekolah dalam melakukan perbaikan berdasarkan hasil analisis akan membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran. Tindak Lanjut Supervisi Akademik Agar hasil supervisi akademik memberikan dampak yang nyata pada peningkatan profesionalisme guru maka hasil supervisi akademik harus ditindaklanjuti. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Prasojo dan Sudiyono (2015:123) yang menyatakan bahwa supervisi akademik harus ditindak lanjuti agar memberikan pengaruh yang nyata bagi guru untuk meningkatkan kompetensi profesionalnya. Sebagaimana dengan tujuan supervisi akademik, hasil tindak lanjut bukan digunakan untuk menilai proses pembelajaran yang sudah dilakukan oleh guru melainkan sebagai umpan balik yang diberikan supervisor bagi guru. Ada empat substansi dari kegiatan tindak lanjut supervisi akademi, seperti yang diungkapkan oleh Puspitasari. M (2022:193), substansi yang ditindaklanjuti dari hasil supervisi akademik adalah: 1) Sasaran utama supervisi akademik adalah pelaksanaan kegiatan pembelajaran. 2) Hasil analisis, catatan kepala sekolah sebagai supervisor, dapat dimanfaatkan untuk perkembangan keterampilan mengajar guru atau meningkatkan profesionalisme guru, setidak-tidaknya dapat mengurangi kendala-kendala yang muncul atau yang mungkin akan muncul. 3) Umpan balik akan memberi pertolongan bagi supervisor dalam melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi. 4) Suasana komunikasi yang tercipta selama umpan balik akan mendorong guru memperbaiki penampilan dan kinerjanya. Oleh karena itu dalam pemberian umpan balik, kepala sekolah harus menghadirkan suasana komunikasi yang harmonis, tidak menimbulkan ketegangan ataupun menonjolkan otoritas yang ia miliki namun memberi kesempatan dan mendorong guru memperbaiki kinerja. Tindak lanjut dari supervisi akademik difokuskan pada saat proses pembelajaran guru. Hasil catatan supervisor pada saat proses pembelajaran berlangsung dianalisis guna mengetahui kelebihan dan kekurangan guru pada saat mengajar. Dengan mengetahui hal tersebut maka supervisor dapat memanfaatkannya untuk mengembangkan keterampilan mengajar guru dan meningkatkan kompetensi profesionalismenya. Guru juga dapat mengungkapkan kendala maupun kesulitan yang dialami selama kegiatan belajar mengajar. Diskusi antara supervisor dan guru sangat diperlukan dalam hal ini, sehingga supervisor dapat memberikan bantuan bagi guru atas kendala yang dialami. Komunikasi yang baik juga harus terjalan pada proses tindak lanjut. Komunikasi antara supervisor dan guru harus dibangun dengan suasana yang baik agar tidak menimbulkan ketegangan dan saling menonjolkan otoritas masing-masing, supervisor juga
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |41 harus memberikan motivasi bagi guru untuk memberbaiki kompetensinya. Tindak lanjut supervisi akademik perlu dilakukan agar berdampak pada peningkatan profesionalisme guru. Tindak lanjut supervisi akademik meliputi penghargaan, penguatan, dan pembinaan. Selain itu, terdapat cara dalam menindaklanjuti supervisi akademik, agar supervisi akademik dapat berjalan sesuai dengan tujuan dan sasaran supervisi. PENUTUP Kajian yang diperoleh dari beberapa jurnal dengan studi literatur upaya yang dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru abad 21 melalui manajemen supervisi akademik ialah, dengan menjalankan prosedur supervisi akademik mulai dari perencanaan supervisi akademik, pelaksanaan supervisi akademik, Evaluasi dan analisis hasil supervise, dan tindak lanjut sesuai dengan konsep dasar supervisi akademik. Mulai dari perencanaan haruslah dipersiapkan dengan matang dan direncanakan secara sistematis. Pelakanaan supervisi yang dijalankan dengan memperhatikan teknik, prinsip, dan model supervisi. Dan tindak lanjut yang harus dijalankan guna memberikan dampak yang nyata pada perubahan profesionalisme guru sehingga guru memiliki kemampuan melakukan pembelajaran yang mengedepankan kecakapan abad 21. Dalam hal tersebut seorang supervisor sangat berpengaruh dalam memberikan pembinaan dan pengembangan profesionalisme guru abad 21. Karena di abad 21 pekerjaan guru merupakan pekerjaan yang kompleks dan tidak mudah seiring dengan perubahan besar dan cepat pada lingkungan sekolah yang didorong oleh kemajuan ilmu dan teknologi, perubahan demograsi, globalisasi dan lingkungan. Guru profesional tidak lagi sekedar guru yang mampu mengajar dengan baik melainkan guru yang mampu menjadi pembelajar dan agen perubahan sekolah, dan juga mampu menjalin dan mengembangkan hubungan untuk peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya. DAFTAR PUSTAKA Ashlan, S. (2017). “Implementing the Teaching Supervision by Principals in Improving the Performance of Teachers in Aceh Besar”. Jurnal Ilmiah Peuradeun. 5(1), 25-36. Bakar, R. (2018). “The influence of professional teachers on Padang vocational school students’ achievement”. Kasetsart Journal of Social Sciences. 39, 67-72. Bawono, L. (2015). “Persepsi Guru tentang Supervisi Akademik Kepala Sekolah di SMPN 2 Sedayu, SMPN 4 Pandak, SMPN 1 Kretek, SMPN 1 Pundong, dan SMPN 2 Pundong”. Universitas Negeri Yogyakarta. Tersedia di : http://eprints.uny.ac.id/13939/ Burhanudin, M. (2017). “The Roles of Principals in Increasing Education Quality by Developing Teacher Profesionalism”. Didaktika Religia. 5(1), 143-174. Tersedia di : http://jurnalpascasarjana.iainkediri.ac.id/index.php/didaktika/article /view/856