42 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Demirezen, M., & ÿzönder, ÿzgül. (2016). “Turkish English Teachers Professional Teacher Self as One of the Possible Selves”. ProcediaSocial and Behavioral Sciences. 14-17 . tersedia di: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S18770428163129 40 Desriani, (2015). “Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Supervisi oleh Pengawas SMK Negeri di Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam”. Jurnal Administrasi Pendidikan. 3(1), 111-115. Tersedia di: http://ejournal.unp.ac.id/index.php/bahana/article/view/5198 Efendi, J., & Murniati, A.R.B. (2016). “Supervisi Akademik Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Profesional Guru di SMA Negeri 1 Blang Pidie”. Jurnal MUDARRISUNA, 6 (1), 175-184. Tersedia di : https://jurnal.arraniry.ac.id/index.php/mudarrisuna/article/view/904 Gunawan, G. (2012). Persepsi Guru terhadap Supervisi Pengawas dalam Meningkatkan Kompetensi Profesionalnya di SMA Negeri Se-Pokja 3 Kabupaten Sleman. Tersedia di: https://eprints.uny.ac.id/9491/ Irmawati, I. 2010. “Persepsi Guru terhadap Supervisi oleh Kepala Sekolah dan Keterkaitannya dengan Kinerja Guru SMPN 99 Jakarta”. Jurnal Manajemen Pendidikan. 38-46. Tersedia di: https://doi.org/10.21009/jmp.01105 Ivanova, I., & Skara-MincĿne, R. (2016). “Development of Professional Identity During Teacher’s Practice”. Procedia- Social and Behavioral Sciences. 530-536. Kusmei, Abdulah. G, haryati. T (2021). “Pengaruh Supervisi Akademik Kepala Sekolah Terhadap Kompetensi Profesional Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Comal Kabupaten Pemalang”. Jurnal Manajemen Pendidikan (JMP). 10 (2), 291-318. Tersedia di: https://doi.org/10.26877/jmp.v10i2.9439 Maemunah. N, Sauri. S, Hanafiah. N (2021). “Academic Supervision Management Head of School in Improving Teacher Personal Competence Kindergarten”. Edukasi: The Journal of Educational Research. 1 (3), 124-144. Tersedia di : https://journal.medpro.my.id/index.php/edukasi/article/download/1 06/33 Marhawati. B, (2020). “Pelaksanaan Supervisi Akademik Kepala Sekolah Dasar Studi Kualitatif”. JMSP (Jurnal Manajemen dan Supervisi Pendidikan). 4 (2), 71-76. Tersedia di : http://journal2.um.ac.id/index.php/jmsp/ Mardhhiyah. R.H.,dkk. (2021). “Pentingnya Keterampilan Belajar di Abad 21 sebagai Tuntutan dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia”. Lectura: Jurnal Pendidikan. 12 (1), 29-40. Tersedia di: https://journal.unilak.ac.id/index.php/lectura/article/view/5813 Marfinda.E, (2022). “ Manajemen Supervisi Akademik Kepala Sekolah dan Peran Komite Sekolah Terhadap Kinerja Guru”. ACADEMIA : Jurnal Inovasi Riset Akademik. 2(3), 238-248. Mette, I., Range, B., Anderson, J., Hvidston, D., & Nieuwenhuizen, L. (2015). “Teachers’ Perception of Teacher Supervision and Evaluation”: A
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |43 Reflection of School Improvement Practices in the Age of Reform. Education Leadership Review. 16(1), 16-30. Tersedia di: https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1105545.pdf Moradi, K., Sepehrifar, S., & Khadiv, T. P. (2014). “Exploring Iranian EFL Teachers' Perceptions on Supervision”. Procedia- Social and Behavioral Sciences.8 (4), 506-516.. tersedia di: https://www.researchgate.net/publication/275542848_Exploring_Iranian _EFL_Teachers'_Perceptions_on_Supervision Muslim. (2017). “Peran Supervisi Pengawas Madrasah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan: Studi Pada Madrasah Aliyah Negeri 3 Kabupaten Tasikmalaya”. Indonesian Journal of Education Management and Administration Review. 1(1), 55–62.. Tersedia di : https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/ijemar/article/view/936/831 Mustafida, Warisno. A, Hidayah,N. (2021). “Pengaruh Supervisi Akademik Terhadap Kompetensi Profesional Guru di MA Hidayatul Muptadiin DesaSidoharjo Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan Tahun Pelasjaran 2020/2021”. Jurnal An-Nur: Kajian Pendidikan dan Ilmu Keislaman. 7 (2), 16-26. Prasojo dan Sudiyono. (2011). Supervisi Pendidikan .Yogyakarta: Jawa Media. Puspitasari, M. (2022). “Supervisi Akademik Dalam meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru SMP Negeri 3 Pante Bidari Aceh Timur”. ACADEMIA : Jurnal Inovasi Riset Akademik . 2 (3), 149-159. Tersedia di: https://jurnalp4i.com/index.php/academia/article/view/1473/1436 Rahabav, P. (2016). “The Effectiveness of academic supervision for teachers”. Journal of Education and Practice. 7(9), 99-107. Tersedia di: https://doi.org/10.35877/454RI.eduline805 Ratlin. (2015). “Persepsi Guru Sains terhadap Kualitas Layanan Supervisi Akademik Pengawas SMA”. Journal of Educational Science and Technology (EST). 1(3)., 39-46. Tersedia di: https://doi.org/10.26858/est.v1i3.1803 Seriyanti, Nela, Ahmad. S, and Destiniar. (2020). “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Peran Komite Sekolah Terhadap Keberhasilan Manajemen Berbasis Sekolah”. JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, Dan Supervisi Pendidikan). 6(1), 215-218. Tersedia di: https://doi.org/10.31851/jmksp.v6i1.3922. Shita, S. (2019). “Academic Supervision of Principals, School Culture and Teacher Teaching Performance”. Advances in Social Science, Education and Humanities Research. 387,129-132. tersedia di: https://dx.doi.org/10.2991/icei-19.2019.32 Syahputra, E. (2018). “Pembelajaran abad 21 dan penerapannya di Indonesia”. E-Journal. In Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi Humaniora dan Pendidikan. Vo.1, 1276-1283. Yani, H.E. (2022). “Supervisi Akademik Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru”. Journal of Innovation in Teaching and Instructional Media.2 (3), 158-162.
44 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Zulfikar. Dkk (2017). “Supervisi Akademik Oleh Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru SD Negeri 2 calang Kabupaten Aceh Jaya”. Jurnal Magister Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Syiah Kuala. 5 (3), 192-217. Kemendiknas. 2010. Supervisi Akademik Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |45 TANTANGAN PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN BERBASIS ICT DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Ella Dewi Latifah STAI Al-Falah Cicalengka, [email protected] Abstrak Perkembangan zaman yang sangat pesat mendorong perubahan dalam segala bidang, tidak terkecuali bidang pendidikan. Di era revolusi industri 4.0 yang dibarengi dengan covid-19 semakin pemanfaatan ICT dalam pembelajaran menjadi kemestian. Namun tentunya menimbulkan permasalahan tentang bagaimana pendidikan dan tantangan pembelajaran berbasis ict di era revolusi industri. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur yang merupakan cara untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menafsirkan penelitian yang telah tersedia dan relevan dengan bidang yang diteliti. Dalam metode ini dibagi menjadi 3 tahap utama yaitu perencanaan, melakukan review dan pelaporan. Pemanfaatan teknologi digital dan komputasi pendidikan pada masa revolusi industri 4.0 diharapkan bisa meningkatkan pendidikan di Indonesia menjadi lebih maju. Adapun upaya yang bisa dilakukan diantaranya, 1) harus bisa menyesuaikan penggunaan ICT ke dalam kurikulum pendidikan 2) mempersiapkan SDM yang unggul, meningkatkan kemampuan peserta didik, 3) serta mempersiapkan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Kata Kunci: Tantangan Pendidikan, Revolusi Industri 4.0, Pembelacaran ICT Abstract The rapid development of the times has prompted changes in all fields, including the field of education. In the era of the industrial revolution 4.0, which was accompanied by Covid-19, the use of ICT in learning has become a necessity. But of course it raises problems about how ICT-based education and learning challenges in the era of the industrial revolution. This study uses the literature review method which is a way to identify, evaluate, and interpret research that is available and relevant to the field under study. This method is divided into 3 main stages, namely planning, reviewing and reporting. The use of digital technology and educational computing during the industrial revolution 4.0 is expected to improve education in Indonesia to become more advanced. The efforts that can be made include, 1) being able to adjust the use of ICT into the education curriculum 2) preparing superior human resources, increasing the abilities of students, 3) as well as preparing adequate educational facilities and infrastructure. Keywords: Educational Challenges, Industrial Revolution 4.0, ICT Learning PENDAHULUAN Pendidikan merupakan masalah yang sangat krusial dan selalu menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dibahas. Karena salah satu faktor penunjang kemajuan suatu negara adalah apabila sistem pendidikannya juga sudah maju dan berkembang secara signifikan serta dapat menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman. Pada era yang serba canggih ini, pendidikan telah menjadi kebutuhan pokok bagi setiap individu. Menurut
46 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 ahli pedagogik dari Belanda, Langeveld, mengemukakan bahwa pengertian pendidikan merupakan suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai tujuan, yaitu kedewasaan Mendidik dan pendidikan adalah dua hal yang memiliki keterkaitan. Pengertian pendidikan sendiri bermakna melakukan suatu tindakan berupa memberikan pendidikan kepada pihak lain. Menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak supaya mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Menurut GBHN 1973, pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan peserta didik di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan juga tidak hanya dianggap sebagai usaha pemberian informasi dan pembentukan keterampilan, melainkan secara lebih luas mencakup suatu usaha untuk mewujudkan akan adanya keinginan, kebutuhan maupun kemampuan individu sehingga bisa mencapai pola hidup pribadi dan sosial yang memuaskan. Oleh karena itu, di abad 21 ini pendidikan menuntut siswa dan guru agar dapat membentuk pembelajaran yang dapat meningkatkan 4c yaitu collaboration, communication, critical thingking dan creative. Tuntutan pembelajaran abad 21 ini menjadi tanggung jawab semua mata pelajaran. Manurut (Sukartono, n.d.), pendidikan setidaknya harus mampu menyiapkan anak didiknya menghadapi tiga hal: a) menyiapkan anak untuk bisa bekerja yang pekerjaannya saat ini belum ada; b) menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan masalah yang masalahnya saat ini belum muncul, dan c) menyiapkan anak untuk bisa menggunakan teknologi yang sekarang teknologinya belum ditemukan. Hal ini merupakan sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi dunia pendidikan. Untuk bisa menghadapi tantangan tersebut, syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas. Apalagi ketika kita berbicara mengenai pendidikan di era revolusi industri 4.0, yang mana seperti kita ketahui bersama bahwa di era revolusi industri 4.0 ini semua aspek sudah berbasis digital tidak terkecuali aspek pendidikan. Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek yang diprakarsai oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur. Pendidikan mengalami fenomena perubahan yang sangat hebat sekali. Dimana peran guru yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, sedikit demi sedikit mulai bergeser digantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, pada masa sekarang ini peran dan kehadiran guru di kelas akan semakin menantang dan membutuhkan kreativitas yang sangat tinggi. Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan berat bagi guru di Indonesia. Seperti yang dikemukakan oleh Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, pendidikan adalah tantangan besar abad ini. Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, maka 30 tahun yang akan datang kita akan mengalami kesulitan yang sangat besar. Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan pengetahuan
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |47 mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini terimplementasi, akan menghasilkan peserta didik yang tidak mampu berkompetisi dengan mesin. Dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran harus diubah agar kelak anak-anak muda Indonesia mampu mengungguli kecerdasan mesin sekaligus mampu bersikap bijak dalam menggunakan mesin agar lebih bermanfaat. Berdasarkan latar belakang di atas, maka tulisan ini mengkaji permasalahan tentang bagaimana pendidikan dan tantangan pembelajaran berbasis ict di era revolusi industri. METODE Literature review merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis sumber-sumber yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Dalam konteks tantangan pendidikan dan pembelajaran berbasis ICT di era Revolusi Industri 4.0, literature review digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang teknologi ICT yang digunakan dalam pendidikan, perkembangan pembelajaran berbasis ICT, dan tantangan yang dihadapi dalam implementasi ICT dalam pendidikan. Hasil dari literature review ini dapat digunakan untuk memberikan panduan bagi pengembangan pendidikan dan pembelajaran berbasis ICT yang efektif dan sesuai dengan tantangan era Revolusi Industri 4.0 PEMBAHASAN Pengertian Pendidikan Pendidikan adalah sebuah proses yang mana di dalamnya mencakup tiga aspek yaitu individu, masyarakat, dan seluruh kandungan realitas, baik berupa material maupun spiritual yang mempunyai peran dalam membentuk sifat, nasib, serta bentuk manusia maupun masyarakat. Pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paidagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Istilah lain berasal dari kata paedos yang berarti membimbing atau memimpin. Dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 3, dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara” (Kristiawan dkk, 2017). Menurut Mulyana dalam (Syamsuar & Reflianto, 2018) menyebutkan bahwa pendidikan umum memberikan landasan kuat kepada peserta didik untuk menjadi sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya berbicara tentang agama, melainkan berfikir, berperasaan, berkesadaran, bertindak, berperilaku dan beramal sesuai dengan agama yang dianut masing-masing. Pendidikan umum bertujuan memanusiakan manusia atau peserta didik. Dari beberpa pengertian yang dikemukakan di atas dapat kita simpulkan bahwa pengertian pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli pada dasamya tidak terdapat perbedaan yang mendasar, hal ini terlihat dari
48 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 beberapa definisi tersebut yang mana para ahli selalu mengungkapkan mengenai unsur kemandirian. Oleh karena itu menurut (Suriansyah, 2011) jika dianalisis dari semua pendapat tentang batasan pendidikan tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan penekanan dari pengertian pendidikan yaitu; pertama, pendidikan merupakan usaha yang dilakukan secara sadar. Usaha sadar berarti bahwa kegiatan kependidikan yang dilakukan harus didahului oleh suatu kegiatan perencanaan yang matang, sistimatis dan terarah dengan menggunakan prosedur serta mekanisme dan alat tertentu untuk menunjang kelancaran prosedur pelaksanaan yang dilakukan. Kedua, usaha proses pendidikan tersebut dilahirkan oleh orang yang mempunyai dan atau merasa bertanggung jawab untuk membangun masa depatr peserta didik. Ketiga, adanya suatu tujuan yang ingin dicapai melalui proses pendidikan yaitu kedewasaan atau kemandirian. Revolusi Industri 4.0 Jauh sebelum terjadinya revolusi industri kita mengenal istilah pra revolusi, di mana seluruh kegiatan dilakukan secara manual dengan tangan manusia tanpa bantuan mesin. Baru sekitar abad ke 17 sampai awal abad ke 18 revolusi industri dimulai dengan kemunculan Revolusi Industry 1.0 (mulai hadirnya pabrik-pabrik dan penemuan tenaga uap oleh ilmuwan). Kemudian Revolusi Industri 2.0 pada sekitar pertengahan abad 18 (adanya pemanfaatan tenaga listrik, hadirnya produksi mobil) dan Revolusi Industri 3.0 sejak tahun 1960 (ledakan informasi digital, komputer, dan smartphone). Revolusi industri pertama terjadi pada abad 18, ketika mesin-mesin bertenaga uap ditemukan, yang membuat manusia beralih dari mengandalkan tenaga hewan ke mesin-mesin produksi mekanis. Revolusi industri kedua berlangsung di sekitar 1870 ketika perindustrian dunia beralih ke tenaga listrik yang mampu menciptakan produksi massal. Revolusi industri ketiga terjadi di era 1960-an saat perangkat elektronik mampu menghadirkan otomatisasi produksi. Kini, perindustrian dan manufaktur dunia bersiap menghadapi revolusi industri 4.0 atau yang dikenal dengan Industri 4.0. Secara umum, revolusi industri adalah ketika kemajuan teknologi yang besar disertai dengan perubahan sosial ekonomi dan budaya yang signifikan. Terminologi Revolusi Industri 4.0 pertama kali dikenal di Jerman pada 2011. Pada Industri 4.0 ditandai dengan integrasi yang kuat yang terjadi antara dunia digital dengan produksi industri. Revolusi industri 4.0 merupakan era digital ketika semua mesin terhubung melalui sistem internet atau cyber system, yang membawa dampak perubahan besar di masyarakat. Revolusi Industri 4.0 merupakan salah satu pelaksanaan proyeksi teknologi modern Jerman 2020 yang diimplementasikan melalui peningkatan teknologi manufaktur, penciptaan kerangka kebijakan srategis, dan lain sebagainya. Ditandai dengan kehadiran robot, artificial intelligence, machine learning, biotechnology, blockchain, internet of things (IoT), serta driverless vehicle. Bidang pendidikan sangat berkaitan dengan Revolusi Industri 4.0 yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pola belajar dan
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |49 pola berpikir serta mengembangkan inovasi kreatif dan inovatif dari peserta didik, guna mencetak generasi penerus bangsa yang unggul dan mampu bersaing. Menurut (Mahfud Junaedi, 2017), istilah Revolusi Industri 4.0 berasal pada Hanover Fair di Jerman pada tahun 2011. Istilah ini dimaksudkan sebagai strategi untuk memitigasi persaingan yang semakin meningkat dengan luar negeri dan untuk membedakan industri-industri di Jerman dan Uni Eropa dengan pasar internasional lainnya. Sebagai proses sejarah kemajuan teknologi manusia, 4.0 pada dasarnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari revolusi-revolusi industri sebelumnya. Angela Merker dalam (Nabillah Purba, Mhd Yahya, 2011) berpendapat bahwa industri 4.0 adalah transformasi komprenhensip dari keseluruh aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. Hal yang hampir serupa dikemukakan oleh Menurut Herman dkk dalam (Nabillah Purba, Mhd Yahya, 2011) yang mengatakan bahwa revolusi industri 4.0 adalah sebuah era industri digital dimana seluruh bagian yang ada didalamnya saling berkolaborasi dan berkomunikasi secara real time dimana saja dan kapan saja dengan pemanfaatan IT (teknologi informasi) berupa internet dan CPS, IoT, dan IoS guna menghasilkan inovasi baru atau optimasi lainnya yang lebih efektif dan efisien. Nulngafan & Khoiri dalam (Jesika Dwi Putriani, 2021) menambahkan, ada empat desain prinsip industri 4.0. Pertama, interkoneksi (sambungan) yaitu kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan orang untuk terhubung dan berkomunikasi satu sama lain melalui Internet of Things (IoT) atau Internet of People (IoP). Prinsip ini membutuhkan kolaborasi, keamanan, dan standar. Kedua, transparansi informasi merupakan kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan virtual dunia fisik dengan memperkaya model digital dengan data sensor termasuk analisis data dan penyediaan informasi. Ketiga, bantuan teknis yang meliputi; (a) kemampuan sistem bantuan untuk mendukung manusia dengan menggabungkan dan mengevaluasi informasi secara sadar untuk membuat keputusan yang tepat dan memecahkan masalah mendesak dalam waktu singkat; (b) kemampuan sistem untuk mendukung manusia dengan melakukan berbagai tugas yang tidak menyenangkan, terlalu melelahkan, atau tidak aman; (c) meliputi bantuan visual dan fisik. Keempat, keputusan terdesentralisasi yang merupakan kemampuan sistem fisik maya untuk membuat keputusan sendiri dan menjalankan tugas seefektif mungkin. Dapat disimpulkan bahwa dalam mewujudkan konsep industri 4.0. secara keseluruhan semua negara di dunia memiliki tujuan yang sama yaitu ingin meningkatkan daya saing tiap negara dalam menghadapi pasar global yang sangat dinamis. Kondisi ini dikaitkan dengan maraknya laju perkembangan teknologi digital di berbagai bidang. Pendidikan dan Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0 Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 adalah fenomena yang merespons kebutuhan revolusi industri dengan penyesuaian kurikulum baru
50 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 sesuai situasi saat ini. Kurikulum tersebut mampu membuka jendela dunia melalui genggaman contohnya memanfaatkan internet of things (IOT). Di sisi lain pengajar juga memperoleh lebih banyak referensi dan metode pengajaran. Akan tetapi hal ini tidak luput dari tantangan bagi para pengajar untuk mengimplementasikannya. Dikutip dari Kompasiana (2019) setidaknya ada 4 kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh pengajar. Pertama keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Merupakan kemampuan memahami suatu masalah, mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya sehingga dapat dielaborasi dan memunculkan berbagai perspektif untuk menyelesaikan masalah. Pengajar diharapkan mampu meramu pembelajaran dan mengekspor kompetensi ini kepada peserta didik. Kedua Keterampilan komunikasi dan kolaborasi. Keterampilan ini tidak luput dari kemampuan berbasis teknologi informasi, sehingga pengajar dapat menerapkan kolaborasi dalam proses pengajaran. Ketiga, kemampuan berpikir kreatif dan inovatif. Diharapkan ide-ide baru dapat diterapkan pengajar dalam proses pembelajaran sehingga memacu siswa untuk beripikir kreatif dan inovatif. Misalnya dalam mengerjakan tugas dengan memanfaatkan teknologi dan informasi. Keempat, literasi teknologi dan informasi. Pengajar diharapkan mampu memperoleh banyak referensi dalam pemanfaatan teknologi dan informasi guna menunjang proses belajar mengajar. Bagi perguruan tinggi, Revolusi Industri 4.0 diharapkan mampu mewujudkan pendidikan cerdas melalui peningkatan dan pemerataan kualitas pendidikan, perluasan akses dan relevansi dalam mewujudkan kelas dunia. Untuk mewujudkan hal tersebut interaksi pembelajaran dilakukan melalui blended learning (melalui kolaborasi), project based-learning (melalui publikasi), flipped classroom (melalui interaksi publik dan interaksi digital). Sistem pembelajaran pada masa revolusi 4.0 mempertahankan penerapan kreativitas, berpikir kritis, kerjasama, keterampilan komunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter. Sistem pembelajaran pun menuntut para peserta didik untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran dan meningkatkan inovasi serta keterampilan hidup yang bisa meningkatkan karirnya. Trisna dalam (Jesika Dwi Putriani, 2021) mengungkapkan bahwa paradigma pembelajaran di era revolusi industri 4.0 menerapkan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Pendidikan dan Pembelajaran Berbasis ICT Pada era globalisasi seperti sekarang ini, pembelajaran berbasis ICT menjadi sebuah keharusan yang membuat pembelajaran konvensional dirasakan sudah tidak efektif lagi. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Drent and Meelissen dalam (Clement, 2012), yang menyatakan bahwa “during the last two decades, the implementation of ICT in education has become an important topic in research on educational
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |51 reform.” Yang artinya bahwa implementasi ICT dalam dunia pendidikan telah menjadi topik yang sangat penting, dimana hal ini dianggap sebagai sebuah reformasi dalam bidang pendidikan. Namun penggunaan media ICT untuk mendukung pembelajaran juga tidak lepas dari beberapa kendala yang muncul. Menurut (Salehi, Hadi, 2012), “the process of using ICT in everyday education is very complicated. The opportunities provided by ICT to support teaching and learning are not problem-free.” Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa proses menggunakan ICT dalam pendidikan sehari-hari sangat rumit, dan tidak terlepas dari kendala dalam menggunakannya. Oleh karena itu, para pendidik diharuskan memiliki keterampilan dalam mengaplikasikan ICT dalam kegiatan belajar mengajar agar kualitas pendidikan semakin meningkat. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and Communication Technology (ICT) di dunia pendidikan, membuat dunia seakan semakin sempit, bahkan seolah-olah mengakibatkan meleburnya dimensi ruang dan waktu yang selama ini menjadi faktor penentu kecepatan dan keberhasilan penguasaan ilmu dan teknologi oleh umat manusia. Berbagai upaya dalam meningkatkan mutu pendidikanpun terus dilakukan. Menurut pendapat (Suryani, 2015), pembelajaran berbasis ICT adalah komponen sumber belajar yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang berbentuk teknologi informasi dan komunikasi. Jadi dapat kita simpulkan bahwa ICT adalah alat atau media yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi. Dalam sistem ini interaksi antara pengajar (guru) dan peserta didik (murid) ajar tidak harus saling bertatap muka (bertemu) secara fisik seperti halnya dalam sistem pendidikan konvensional, mereka bertemu dalam ruang teknologi informasi (internet) dengan memanfaatkan suatu media yang disebut komputer. Apalagi pasca terjadinya penyebaran covid 19 yang melanda dunia sejak tahun 2019 mengakibatkan perubahan yang sangat besar dalam dunia pendidikan karena proses pembelajaran diharuskan dilakukan secara online. Yang mana kemudian para ahli teknologi berupaya membuat berbagai macam aplikasi yang bisa membantu pelaksanaan pembelajaran berbasis ICT secara online tersebut agar bisa berjalan dengan maksimal. Adapun perangkat ICT yang dapat digolongkan sebagai media pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh (Alfansyur & Mariyani, 2019) ialah 1) tekhnologi komputer atau dikenal dengan media pembelajaran berbasis komuter (computer assisted instructional); 2) teknlogi multimedia yang merupakan gabungan dari berbagai media audio, visual, grafis dll; dan 3) teknologi jaringan komputer yang memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak. Tantangan Pendidikan dan Pembelajaran Berbasis ICT Di Era Revolusi Industri 4.0
52 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Revolusi Industri 4.0 mempunyai potensi untuk menaikkan tingkat pendapatan global dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dunia. Dimana di era industri 4.0 ini terjadi situasi dan kondisi perubahan yang sangat fundamental terutama dalam perkembangan teknologi. Hal ini ditandai dengan otomatisasi atau digitalisasi di dalam semua proses aktivitas, misalnya pemanfaatan teknologi internet yang dapat menghubungan beragam proses pekerjaan, interaksi sosial, transaksi perdagangan, transportasi, dan yang lainnya. Di era 4.0 ini apapun dapat dilakukan dengan mudah karena kita terbiasa dalam memanfaatkan pengetahuan dan produk teknologi. Seseorang yang menguasai teknologi informasi akan mempunyai kemampuan untuk bersaing, berkompetisi, bernegosiasi, serta mengembangkan usaha atau memprodulsi barang hanya dengan belajar dari internet yang nantinya diikuti dengan kemampuan untuk mempromosikan barang secara luas. Melihat kenyataan ini, lapangan usaha semakin terbuka luas bagi mereka yang mau belajar di bidang usaha berbasis digital. Menurut (Suwardana, 2018), secara obyektif tidak dapat dipungkiri bahwa revolusi industri terkini menyimpan beragam keuntungan dan tantangan besar yang harus dihadapi bagi setiap entitas diri yang terlibat didalamnya. Hal tersebut juga mempengaruhi berbagai macam perubahan, keuntungan serta tantangan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan. Oleh karena itu, perkembangan teknologi di era revolusi industri disambut baik di bidang pendidikan. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, maka hal tersebut sangat membantu dalam mencapai tujuan pendidikan, yaitu membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, tujuan pendidikan untuk mengembangkan potensi pserta didik dapat segera tercapai. Perkembangan teknologi informasi menjadikan semua orang di berbagai tempat dapat mengakses informasi yang bermanfaat bagi kehidupannya. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Iswatiningsih, 2021) yang menyatakan bahwa perkembangan teknologi informasi sangat membantu pendidikan dan proses pembelajaran yang diselenggarakan sekolah. Namun hal ini harus didukung oleh lembaga pendidikan yang memiliki perspektif “ke depan” (futuris) dalam mengembangkan kecerdesan, kemandirian dan kreativitas anak. Darmawan dalam (Karnegi & Iswahyudi, 2019) menyatakan bahwa di Era pendidikan 4.0 guru akan menghadapi suatu tantangan yang sangat berat. Menghadapi tantangan yang besar tersebut maka menuntut dunia pendidikan untuk mengikuti perubahan. Hal ini tidak terkecuali terjadi di dunia pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan 4.0 harus bisa memfasilitasi pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan sistem siber (cyber system). Yang mana sistem siber ini mampu membuat proses pembelajaran dapat berlangsung secara kontinu tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Freud Pervical dan Henry Ellington sebagaimana yang dikutip oleh (Karnegi & Iswahyudi, 2019) menyatakan bahwa inovasi pembelajaran yang dilakukan di masa berkembangnya teknologi informasi digital adalah
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |53 memanfaatkan sarana teknologi informasi yang berkembang pesat di era revolusi industri 4.0 ini untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Oleh sebab itu di era revolusi industri 4.0 ini, para pendidik dituntut untuk bisa beradaptasi dengan zaman, dituntut menguasai lebih dulu teknologi agar dapat menyesuaikan dengan peserta didik, jangan sampai peserta didik sudah berada pada revolusi industry 3.0 sementara pendidik masih seputar revolusi industry 2.0, peserta didik sudah memasuki era digital 4.0 sedangkan guru masih bergelut pada era 3.0 kalau sudah situasi demikian yang terjadi maka dipastikan pincang sehingga titik temu antara guru dengan peserta didik tidak akan ada. Meskipun perkembangan Pendidikan belum bisa secara optimal mengikuti kecepatan akibat revolusi industri tersebut, akan tetapi salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 ini adalah melalui peningkatan kualitas guru agar mampu mengajarkan materi dengan pendekatan penerapan penggunaan ICT dalam proses belajar mengajar kalau tidak maka akan semakin jauh ketinggalan oleh zaman dan ini berefek pada mutu lulusan. Seorang pendidik harus bisa memanfaatkan ICT untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar pada setiap jenjang pendidikan. Upaya ini dilakukan agar dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dengan kompetensi global dan mampu beradaptasi pada era yang ada, meskipun ICT berkembang demikian cepat dan sumber-sumber belajar begitu mudah diperoleh, peran guru sebagai pendidik tidak dapat tergantikan oleh kemajuan teknologi tersebut ketika mampu beradaptasi. Tantangan seorang pendidik tidak berhenti pada kemampuan menerapkan ICT pada proses belajar mengajar akan tetapi ada 6 kompetensi yang diharapkan dimiliki guru 4.0 yaitu : Pertama, Critical Thinking and Problem solving (keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah). Yaitu kemampuan untuk memahami sebuah masalah yang rumit, mengkoneksikan informasi satu dengan informasi lain, sehingga akhirnya muncul berbagai perspektif, dan menemukan solusi dari suatu permasalahan. Kompetensi ini dimaknai kemampuan menalar, memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara sistem, menyusun, mengungkapkan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah. ini sangat penting dimiliki peserta didik dalam pembelajaran abad ke 21. Guru era 4.0 harus mampu meramu pembelajaran sehingga dapat mengekspor kompetensi ini kepada peserta didik. Kedua, Communication and collaborative skill (keterampilan komunikasi dan kolaborasi). kemampuan berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang harus diterapkan guru dalam pembelajaran guna mengkonstruksi kompetensi komunikasi dan kolaborasi. Ketiga, Creativity and innovative skill (keterampilan berpikir kreatif dan inovasi). Revolusi mengkehendaki peserta didik untuk selalu berpikir kreatif dan inovatif, ini perlu agar mampu bersaing dan menciptakan lapangan kerja berbasisi revolusi industry 4.0. Tentu seorang guru harus terlebih dahulu dapat kreatif dan inovasi agar bisa menularkan kepada peserta didiknya.
54 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Keempat, Information and communication technology literacy (Literasi teknologi informasi dan komunikasi). Literasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi kewajiban guru 4.0, ini harus dilakukan agar tidak ketinggalan dengan peserta didik. Literasi Teknologi infomasi dan komunikasi merupakan dasar yang harus dikuasai agar mampu menghasilkan peserta didik yang siap bersaing dalam menghadapi revolusi industry 4.0. Kelima, Contextual learning skill. Pembelajaran ini yang sangat sesuai diterapkan guru 4.0 ketika sudah menguasai TIK, maka pembelajaran kontekstual lebih mudah diterapkan. Saat ini TIK salah satu konsep kontekstual yang harus diketahui oleh guru, materi pembelajaran berbasis TIK sehingga guru sangat tidak siap jika tidak memiliki literasi TIK. Materi yang bersifat abstrak mampu disajikan lebih riil dan kontekstual menggunakan TIK. Keenam, Information and media literacy (literasi informasi dan media). Banyak media informasi bersifat sosial yang digeluti peserta didik. Media sosial seolah menjadi media komunikasi yang ampuh digunakan peserta didik dan salah satu media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan guru 4.0. Kehadiran kelas digital bersifat media sosial dapat dimanfaatkan guru, agar pembelajaran berlangsung tanpa batas ruang dan tanpa waktu. PENUTUP Pendidikan dan pembelajaran berbasis ICT menjadi sebuah tantangan tersendiri di era revolusi industri 4.0. Di mana harus ada kesiapan untuk menghadapi tantangan pendidikan era revolusi industri 4.0 dari semua pihak agar dapat meningkatkan kemampuan serta keterampilan sumber daya manusia. Hal ini bisa dilakukan salah satunya yaitu dengan memberikan pelatihan kepada para pendidik agar melahirkan tenaga pengajar yang terampil dan juga handal di bidang pendidikan berbasis ICT untuk menjawab tantangan di masa revolusi Industri 4.0 yang sangat cepat. Pemanfaatan teknologi digital dan komputasi pendidikan pada masa revolusi industry 4.0 diharapkan bisa meningkatkan pendidikan di Indonesia menjadi lebih maju. Adapun berbagai macam upaya yang bisa dilakukan diantaranya, 1) harus bisa menyesuaikan penggunaan ICT ke dalam kurikulum pendidikan 2) mempersiapkan SDM yang unggul, meningkatkan kemampuan peserta didik, 3) serta mempersiapkan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. DAFTAR PUSTAKA Alfansyur, A., & Mariyani. (2019). Pemanfaatan Media Berbasis ICT “Kahoot” dalam Pembelajaran PPKN untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Bhineka Tunggal Ika: Kajian Teori Dan Praktik PKn, Volume 6, 208–216. Clement, M. S. H. K. H. K. (2012). Barriers To The Introduction of ICT Into Education in Develoving Countries: The Example of Bangladesh. International Journal of Instruction, Volume 5, 61–80. Iswatiningsih, D. (2021). Guru dan Literasi Digital: Tantangan Pembelajaran Di Era Industri 4.0. Prosiding Transformasi Pembelajaran Nasional.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |55 Jesika Dwi Putriani, H. (2021). Penerapan Pendidikan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, Volume 3, 831–838. Karnegi, D., & Iswahyudi. (2019). Tantangan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Era Revolusi Industri 4.0 Di SMA Negeri 5 Prabumulih. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang. Nabillah Purba, Mhd Yahya, N. (2011). Revolusi Industri 4.0 : Peran Teknologi dalam Eksistensi Penguasaan Bisnis dan Implementasinya. JPSB, Volume 9, 91–98. Salehi, Hadi, Z. S. (2012). Challenges for Using ICT in Education: Teachers ’ Insights. International Journal of E-Education, e-Business, eManagement and e-Learning, Vol. 2, No, 40–43. Sukartono. (n.d.). Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya terhadap Pendidikan di Indonesia. FIP PGSD Universitas Muhammadiyah Surakarta. SuriansYah, A. (2011). Landasan Pendidikan. Comdes. Suryani, N. (2015). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis IT. Prosiding WORKSHOP Nasional. Suwardana, H. (2018). Revolusi Industri 4.0 Berbasis Revolusi Mental. Jurnal Jati Unik, Volume 1, 109–118. Syamsuar, & Reflianto. (2018). Pendidikan dan Tantangan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi di Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan, Volume 6,.
56 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ICT DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN SOCIETY 5.0 Iwan Asmadi Universitas Bina Sarana Informatika, [email protected] Abstrak Di era industri 4.0 dan society 5.0 ini internet dan intranet merupakan kebutuhan bagi siapa saja. Ke duanya memegang peranan yang dominan dalam pembelajaran. Pelajar dapat merasakan banyak manfaat dari penggunaan Information Communication Technology (ICT). Hal tersebut harus segera diimplementasikan di dunia pendidikan, sebab pendidikan harus mengikuti perkembangan zaman, untuk itulah diperlukan pengembangan pembelajaran dengan memanfaatkan media berbasis ICT. Metode dalam riset ini yaitu literatur review, yaitu dengan cara mengumpulkan dan menganalisis berbagai hasil riset dari berbagai jurnal. Metode ini digunakan untuk mendapatkan gambaran umum tentang topik yang diteliti dan untuk menemukan celah atau kesenjangan dalam pengetahuan yang dapat diisi melalui penelitian lebih lanjut. Era revolusi industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya internet of things yang merambah diberbagai bidang kehidupan masyarakat saat ini. Salah satu nya yaitu dibidang pendidikan. Oleh sebab itu ada beberapa upaya yang perlu dilakukan 1) revitasisasi kurikulum, 2) pemanfaatan teknologi informasi yang tepat. Seiring dengan berkembangnya teknologi, cara belajar mengajar di era revolusi industri 4.0 juga mengalami perubahan. Internet dan komputer menjadi sarana yang akan memudahkan proses belajar mengajar Kata Kunci : Media Pembelajaran, ICT, Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Abstract In the industrial era 4.0 and society 5.0, the internet and intranet are a necessity for anyone. Both play a dominant role in learning. Students can experience many benefits from using Information Communication Technology (ICT). This must be immediately implemented in the world of education, because education must keep up with the times, for this reason it is necessary to develop learning by utilizing ICTbased media. The method in this research is literature review, namely by collecting and analyzing various research results from various journals. This method is used to get an overview of the topic under study and to find gaps or gaps in knowledge that can be filled through further research. The era of the industrial revolution 4.0 was marked by the development of the internet of things which penetrated various areas of people's lives today. One of them is in the field of education. Therefore there are several efforts that need to be done 1) revitalizing the curriculum, 2) using the right information technology. Along with the development of technology, the way of teaching and learning in the era of the industrial revolution 4.0 has also changed. The internet and computers are tools that will facilitate the teaching and learning process Keywords: Learning Media, ICT, Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |57 PENDAHULUAN Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau sering dikenal dengan istilah Information Communication Technology (ICT) merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dikuasai dalam era globalisasi saat ini. Komputer merupakan salah satu media yang digunakan dalam TIK, karena komputer memiliki beberapa fungsi seperti: untuk mengolah data, mencari materi, menyajikan informasi secara kelompok atau individu dan aktivitas lainnya. Di era industri 4.0 ini internet dan intranet merupakan kebutuhan bagi siapa saja. Ke duanya memegang peranan yang dominan umumnya dalam kehidupan pelajar. Pelajar dapat merasakan banyak manfaat dari penggunaan TIK. (Paryanti, 2014). Komputer dan internet adalah sebagai alat pendukung yang berpotensi kuat untuk perubahan dan reformasi Pendidikan. Ketika digunakan dengan tepat, bisa dikatakan membantu memperluas akses ke pendidikan, memperkuat relevansi pendidikan dengan tempat kerja yang semakin digital, dan meningkatkan kualitas pendidikan dengan, antara lain, membantu membuat pengajaran dan pembelajaran menjadi proses aktif yang menarik yang terhubung ke kehidupan nyata. Era industry 4.0 dapat dicirikan sebagai periode percepatan kemajuan teknologi yang berkelanjutan. Pendidikan dasar di bidang TIK adalah salah satu persyaratan utama yang harus dimiliki setiap orang untuk berhasil. Sarana komunikasi modern telah menjadi bagian integral dari kehidupan setiap orang (Pavel Vacek, 2015). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi membantu proses Pendidikan untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global. Melihat dampak yang ditimbulkan maka pendidikan harus dirancang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan sehingga dapat memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi diri yang dimilikinya secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan dan tanggung jawab (Triwoelandari et al., 2018) Pemerintah memberikan kebebasan kepada setiap sekolah untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa dengan memberikan pedoman yang harus dijadikan dasar dalam mengembangkan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, menjelaskan bahwa sebagian besar kewenangan Pemerintah Pusat dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah. Salah satu kewenangan yang dilimpahkan ialah kewenangan pendidikan. Pelimpahan ini dilandasi oleh perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan dari sentralistik menjadi desentralistik. Perubahanparadigma ini bermuara pada peningkatan mutu pendidikan di Indonesia sehingga memerlukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan dari sentralistik menuju ke desentralistik. Sekolah harus mengembangkan pembelajaran sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa dengan berpedoman pada peraturan pusat. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat telah membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini tentunya menuntut
58 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 masyarakat untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Saat ini banyak lapangan pekerjaan yang hilang dan digantikan dengan jenis pekerjaan baru yang banyak berkaitan dengan penggunaan teknologi. Sejarah revolusi industri di Inggris pada awal abad 18 telah merubah paradigma dunia dan menyadarkan dunia bahwa lambat laun tenaga manusia itu bisa tergantikan oleh mesin. Oleh karenanya dunia perlu mencetak sumber daya manusia yang kompeten, kompetitif dan unggul sesuai dengan kebutuhan zaman. Hal itu bisa dilakukan salah satunya melalui sektor pendidikan, karena pendidikan merupakan investasi di masa yang akan datang yang memberikan banyak manfaat dan perubahan baik kepada diri sendiri, orang lain maupun bagi bangsa dan negara. (Yanuarsari et al., 2021). Untuk itulah diperlukan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan media berbasis ICT. Inovasi yang terjadi saat ini adalah globalisasi dan tekhnologi. (Richardson et al., 2017). Guru dan tenaga pendidik harus bisa mmemanfaatkan computer dan internet untuk mengembangkan pola pembelajaran dan mencari dan menggalai lebih dalam mengenai materi-materi pembelajaran. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) selalu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Pekerjaan, waktu luang, komunikasi, pengetahuan- di semua bidang ini dan di banyak lagi, orang mengandalkan teknologi untuk mendukung kegiatan mereka. Lingkungan pendidikan tidakterkecuali. Teknologi menjadi bagian integral dari masa kini lingkungan belajar dari hari ke hari, dan baik peneliti maupun pendidik yang berpraktik terus mengeksplorasi cara-cara baru di mana teknologi dapat membantu memfasilitasi pembelajaran, serta berkontribusi pada kualitas pendidikan yang lebih tinggi dan tingkat kepuasan siswa yang lebih tinggi. Pertemuan pembelajaran dan TIK sering distilahkan dengan "e-learning", yang telah didefinisikan secara berbeda oleh penulis yang berbeda. Turban memberikan definisi yang luas dan komprehensif tentang istilah tersebut, yang menyatakan bahwa e-learning adalah "penyampaian informasi secara online untuk tujuan pendidikan, pelatihan, atau manajemen pengetahuan, dan berbeda dari pendidikan formal, yang terjadi di luar kampus, dan biasanya, tetapi tidak selalu, melalui sumber daya online (pembelajaran jarak jauh)". (E. Turban, David King, 2006). E-learning 1.0 mewakili pembelajaran yang terutama mengintegrasikan teknologi (terutama sistem manajemen pembelajaran) untuk memfasilitasi transfer informasi dari instruktur ke peserta didik, ini menyiratkan komunikasi yang bersifat searah. e-learning 2.0 membawa pergeseran dari transfer pengetahuan tunggal ke pendidikan sebagai kegiatan kreatif, yang diwakili oleh lonjakan popularitas podcast, wiki, dan blog. Diskusi di kelas tidak terbatas dalam hal topik atau peserta: siswa dapat mendiskusikan berbagai topik dengan rekan-rekan di luar universitas mereka dan bahkan di seluruh dunia, semuanya dengan cara yang jauh lebih formal. E-learning 3.0 ditandai dengan munculnya agen dalam infrastruktur pembelajaran yang dapat mengeksplorasi berbagai format informasi (teks, gambar, audio) dan memberikan umpan balik otomatis dan merekomendasikan konten pendidikan yang disesuaikan dengan preferensi
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |59 atau pengalaman pengguna (dengan menerapkan pembelajaran mesin) . Elearning 4.0 menggabungkan banyak teknologi ke dalam infrastruktur pembelajaran. (Diana Kozlova, 2021) METODE Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam pengembangan media pembelajaran berbasis ICT di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka sistematis untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan beberapa hasil penelitian tentang model kepemimpinan. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah literature review dan tujuan dari artikel ini adalah untuk menilai, meringkas dan mengkomunikasikan hasil dan implikasi dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Literature review umumnya bertujuan untuk mendeskripsikan tujuan tinjauan; memberikan saran tentang cara mengevaluasi artikel tersebut dan mengidentifikasi kesalahan umum yang terdapat dalam artikel tersebut. PEMBAHASAN Pembelajaran di Era Industri 4.0 dan Society 5.0 Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat dan membawa banyak dampak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Perubahan dunia terjadi begitu cepat ditandai dengan terjadinya revolusi industry 4.0 dimana segala sesuatunya dikerjakan dengan otomatisasi dan digitalisasi, kecerdasan buatan (artificial intelligence), super komputer, rekayasa genetika, teknologi nano, mobil otomatis,dan inovasi. Manusia selalu melakukan inovasi dan perubahan-perubahan agar hidupnya lebih praktis dan efektif. Hal ini dapat dilihat pada semua aktifitas manusia tidak terkecuali bagi organisasi yang dilakukan secara digitalisasi dan otomatisasi tidak terkecuali pada organisasi Pendidikan. (Asmadi et al., 2022) Era revolusi industri 4.0 merupakan era dimana teknologi informasi berkembang pesat dan mewarnai setiap kehidupan manusia. Era revolusi industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya internet of things yang merambah diberbagai bidang kehidupan masyarakat saat ini. Salah satu nya yaitu dibidang pendidikan. Oleh sebab itu ada beberapa upaya yang perlu dilakukan 1) revitasisasi kurikulum, 2) pemanfaatan teknologi informasi yang tepat. Menurut Muhadjir Effendy (Mendikbud) bahwa merambahnya revousi industri 4.0 masuk ke dalam dunia pendidikan maka diperlukan perbaikan kurikulum dengan peningkatan kompetensi peserta didik, antara lain (Yusnaini, 2019): 1) Critical thinking, 2) Creativity and innovation, 3) Interpersonal skill and communication, 4) Teamword and collaboration, 5) Confident. Seiring dengan berkembangnya teknologi, cara belajar mengajar di era revolusi industri 4.0 juga mengalami perubahan. Internet dan komputer menjadi sarana yang akan memudahkan proses belajar mengajar. Proses pembelajaran yang dulunya harus dilakukan dengan tatap muka secara langsung antara guru dan siswa, kini pada era revolusi industri 4.0 pembelajaran dapat dilakukan dengan kelas online melalui media sosial atau
60 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 media lainnya yang mendukung proses pembelajaran online. penggunaan TIK dalam pendidikan dapat menciptakan lingkungan pendidikan baru, menyediakan metode pengajaran baru, mengubah hubungan guru-siswa tradisional dan akhirnya meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, TIK dapat dianggap sebagai "alat potensial untuk perubahan dan inovasi dalam pendidikan"(Liua et al., 2014). Society 5.0 merupakan sebuah konsep yang mendefinisikan bahwa teknologi dan manusia akan hidup berdampingan dalam rangka meningkatkan kualitas taraf hidup manusia secara berkelanjutan. Kita sekarang berada di era baru, di mana globalisasi dan pesat evolusi teknologi digital seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT) dan robotika membawa signifikan perubahan pada warga negara. Lingkungan dan nilai-nilai warga negara menjadi semakin beragam dan kompleks. Pada era society 5.0, sekolah dan tenaga pengajar tentu akan memiliki peran yang sangat penting. Dimana pada era ini kegiatan pembelajaran tidak hanya fokus pada satu sumber saja yaitu buku. Akan tetapi, tenaga pengajar harus siap dan terbuka untuk menerima informasi dari berbagai sumber lainnya. Perlu adanya perubahan paradigma pendidikan dalam menyambut era society 5.0 dalam dunia pendidikan. Tenaga pengajar atau guru nantinya akan meminimalkan perannya sebagai learning material provider. Guru kemudian akan menjadi penginspirasi dalam proses tumbuhnya kreativitas peserta didik. Dalam hal ini guru berperan sebagai tutor, fasilitator, penginspirasi dan pembelajar sehingga akan tercipta “Merdeka Belajar”. Merdeka Belajar ini akan menciptakan pendidikan berkualitas untuk semua masyarakat Indonesia. Caranya tidak hanya dengan meningkatkan layanan pendidikan saja tetapi juga memenuhi atau memperbaiki infrastruktur dan juga platform teknologi di sekolah. Infrastruktur dan teknologi yang sudah memadai akan lebih memudahkan sekolah dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas. Pengertian, Fungsi Dan Manfaat Media Pembelajaran Perkembangan teknologi yang semakin pesat maka akan berdampak pula kepada media pembelajaran yang semakin canggih. Media pembelajaran tidak hanya berbentuk teks tetapi sudah berbentuk digital. Media pembelajaran sebagai alata bantu berupa fisik maupun nonfisik yang sengaja digunakan sebagai perantara antara peserta didik dan guru dalam memahami materi pembelajaran agar menjadi efektif dan efisien atau media pembelajaran dapat diatikan sebagai alat bantu yang digunakan guru dengan desain yang disesuaikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara umum, media merupakan alat untuk menyampaikan informasi atau pesan dari suatu tempat ke tempat lain. Media digunakan dalam proses komunikasi, termasuk kegiatan belajar mengajar. (Santyasa, 2007). proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, yakni guru (komunikator), bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa (komunikan), dan tujuan pembelajaran. Jadi, media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |61 pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Media pembelajaran merupakan komponen integral dari sistem pembelajaran. Artinya, media pembelajaran tidak dapat dipisakan dari proses pembelajaran. Tanpa media pembelajaran, proses belajar mengajar tidak dapat terjadi. Setiap proses belajar mengajar memerlukan pemilihan dan penggunaan paling tidak satu medium untuk menyampaikan pembelajaran. Oleh karena media pembelajaran memuat informasi yang dapat berupa pengetahuan maupun menjadi sarana bagi pebelajar untuk melakukan aktivitas belajar (membaca, mengamati, mencoba, mengerjakan soal, menjawab pertanyaan, dan lain-lain), maka media pembelajaran erat kaitannya dengan sumber belajar. Sumber belajar merupakan segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh pebelajar untuk memudahkan proses belajarnya sehingga mencapai tujuan belajarnya secara efektif dan efisien. Menurut Smaldino, Lowther dan Russell mengungkapkan bahwa ada enam kategori dasar media adalah teks, audio, visual, video, perekayasa (manipulative) atau bendabenda dan orang-orang (guru, siswa, atau ahli bidang studi).(Smaldino, S.E., Lowther, D.L dan Russell, 2011). Menurut Sanaky (2009: 6) bahwa media pembelajaran berfungsi untuk merangsang pembelajaran dengan cara menghadirkan obyek sebenarnya dan obyek yang langka; membuat aplikasi dari obyek yang sebenarnya; membuat konsep abstrak ke konsep konkret; memberikan kesamaan persepsi; mengatasi hambatan waktu, tempat, jumlah, dan jarak; menyajikan ulang informasi secara konsisten; dan memberi suasana belajar yang tidak tertekan, santai, dan menarik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran. Media sebagai suatu komponen system pembelajaran mempunyai fungsi yang sangat vital bagi kelangsungan pembelajaran. Oleh karena itu media memiliki posisi yang sangat strategis sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari yang namanya pembelajaran. Tanpa media, maka pembelajaran tidak akan pernah terjadi atau dalam arti lain bahwa pembelajaran tidak akan mencapai tujuannya(Sudatha, I, G, W dan Tegeh, I, 2015). Media berfungsi untuk meningkatkan interaksi pembelajaran antara pendidik dan peserta didik dan untuk pemberian umpan balik terhadap hasil belajarnya atau informasi tentang hasil belajar yang perlu diperbaiki (Munir, 2012) Daryanto, (2013) mengungkapkan bahwa secara umum media pembelajaran memiliki beberapa kegunaan atau manfaat yakni: 1) memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalitas; 2) mengatasi keterbatasan ruang, waktutenaga dan daya indera; menimbulkan gairah belaja, interaksi lebih langsung antara peserta didik dengan sumber belajar; memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya; 4) memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama; 5) media pembelajar dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan peserta didik dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Sedangkan menurut Smaldino, Lowther dan Russell (2011: 7) bahwa tujuan dari media adalah adalah untuk memudahkan komunikasi dan belajar.
62 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Pengembangan media pembelajaran berbasis ICT (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam dunia pendidikan. Revolusi Industri 4.0 menyebabkan perubahan besar dalam dunia kerja, sehingga perlu ada pembelajaran yang sesuai dengan perubahan tersebut. Society 5.0 adalah perkembangan teknologi yang memungkinkan adanya kolaborasi antara manusia dan mesin, sehingga perlu ada pembelajaran yang dapat menyiapkan siswa untuk hidup dan bekerja dalam lingkungan yang seperti itu. Pengembangan media pembelajaran berbasis ICT dapat dilakukan dengan cara menggunakan teknologi yang tersedia, seperti internet, komputer, tablet, dan smartphone. Media pembelajaran dapat berupa video, audio, animasi, atau game interaktif yang dapat membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan efektif. Selain itu, pengembangan media pembelajaran berbasis ICT juga dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kompetensi guru dalam menggunakan teknologi. Guru harus dilatih untuk dapat menggunakan teknologi secara efektif dalam proses pembelajaran. Pengembangan media pembelajaran berbasis ICT juga dapat dilakukan dengan cara meningkatkan akses siswa terhadap teknologi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan infrastruktur teknologi di sekolah, seperti jaringan internet dan perangkat keras yang dapat digunakan oleh siswa. Pengembangan media pembelajaran berbasis ICT di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 memerlukan dukungan dari pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan anggaran untuk teknologi pendidikan, memberikan latihan kepada guru, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya teknologi dalam pendidikan ICT sebagai Media Pembelajaran Dari segi kemunculannya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni sumber belajar yang sengaja dirancang atau dibuat secara khusus untuk pembelajaran (learning resources by design) dan sumber belajar yang tidak dirancang atau dibuat secara khusus untuk pembelajaran namun dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran (learning resources by utilization). Contoh sumber belajar jenis pertama antara lain: buku, ensilkopedi, kamus, materi-materi pembelajaran dalam bentuk multimedia (film, video, animasi, slide, software pembelajaran berbantuan komputer), dan situs-situs e-learning. Contoh sumber belajar jenis kedua antara lain: alam sekitar, lingkungan fisik, lingkungan sosial, kehidupan manusia, situssitus Web. Oleh karena kaitan yang erat antara media dan sumber belajar, maka keduanya terkadang sulit dibedakan atau keduanya saling dipertukarkan maknanya. Meskipun demikian, keduanya dapat dibedakan secara jelas bahwa media adalah "sarana fisik" yang dapat digunakan untuk menyampaikan "materi pembelajaran". Media yang dapat dimanfaatkan untuk oleh pebelajar untuk melakukan aktivitas belajar disebut sumber belajar. Sebaga ilustrasi, sebuah keping CD (compact disk) merupakan media
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |63 pembelajaran, namun apabila di dalam CD tersebut berisi kumpulan artikel atau software pembelajaran yang dapat digunakan oleh sisiwa untuk belajar, maka CD tersebut merupakan sumber belajar. Beberapa contoh media pembelajaran termasuk media tradisional (papan tulis, buku teks, handout, modul, lembar peraga, LKS, objek-objek nyata, slide OHP, pita video atau film, guru, dll.), media massa (koran, majalah, radio, televisi, bisokop, dll.), dan media pembelajaran baru berbasis ICT (komputer, CD, DVD, video interaktif, Internet, sistem multimedia, konferensi video, dll.). Dilihat dari bentuknya, media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi: a. Media Visual: media yang mampu menampilkan informasi dalam bentuk yang hanya dapat dilihat atau dibaca, misalnya gambar, foto, grafik, diagram, bagan, poster, kartun, komik, buku, dll. b. Media Audial: media yang mampu menyajikan informasi dalam bentuk yang hanya dapat didengar, misalnya radio, tape recorder, laboratorium bahasa, player MP3, dll. c. Projected still media: media yang memerlukan proyektor untuk menampilkan informasi dalam bentuk gambar/tulisan yang tidak bergerak, misalnya transparansi slide, slide Power Point, micro film, dll. d. Projected motion media: media yang memerlukan proyektor untuk menampilkan informasi dalam bentuk gambar/tulisan yang dapat bergerak, misalnya film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya Chai dan Chain (2016) dalam penelitian mereka menemukan bahwa beberapa negara di Asia, seperti Hongkong, Singapura, dan Taiwan, sudah mempersiapkan tenaga pendidik yang professional yang mampu menggunakan e-learning. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan pendidik dalam menggunakan teknologi ICT adalah salah satu cara untuk menyiapkan generasi milineal yang kompeten. Hal ini sesuai dengan pendapat Menristedikti tentang persiapan sumber daya manusia yang responsif, adaptif, dan handal untuk menghadapi revolusi industri. Namun di Indonesia, faktanya tidak semua pendidik mampu menggunakan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,15% guru jarang menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pembelajaran, dan 34,95% guru kurang menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan pendidik, faktor usia, dan masih terikat dengan media konvensional. Pemahaman pendidik tentang pentingnya menggunakan teknologi dalam pembelajaran juga masih rendah. Hal ini bertentangan dengan harapan untuk menghadapi era industri 4. Jika dilihat dari permasalahan pendidikan di Indonesia yang memiliki daerahdaerah terpencil dan terisolir, maka kurangnya keterampilan pendidik dalam menggunakan ICT justru akan menambah masalah. ICT atau TIK mencakup semua teknologi yang dapat digunakan untuk menyimpan, mengolah, menampilkan, dan menyampaikan informasi dalam proses komunikasi. Yang termasuk teknologi ini adalah:
64 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 a. Teknologi komputer, baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) pendukungnya. Di dalamnya termasuk prosesor (pengolah data), media penyimpan data/informasi (hard disk, CD, DVD, flash disk, memori, kartu memori, dll.), alat perekam (CD Writer, DVD Writer), alat input (keyboard, mouse, scanner, kamera, dll.), dan alat output (layar monitor, printer, proyektor LCD, speaker, dll.). b. Teknologi multimedia, seperti kamera digital, kamera video, player suara, player video,dll. c. Teknologi telekomunikasi, telepon, telepon seluler, faksimail. d. Teknologi jaringan komputer, baik perangkat keras (LAN, Internet, WiFI, dll.), maupun perangkat lunak pendukungnya (aplikasi jaringan) seperti Web, e-mail, HTML, Java, PHP, aplikasi basis data, dll. Berbagai upaya telah dilakukan oleh dunia pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan ICT. Selain fungsinya sebagai alat bantu pemecahan masalah manusia, ICT juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran yang dipercaya dapat: a. meningkatkan kualitas pembelajaran b. memperluas akses terhadap pendidikan dan pembelajaran c. mengurangi biaya pendidikan d. menjawab keharusan berpartisipasi dalam ICT, dan e. mengembangkan keterampilan ICT (ICT skills) yang diperlukan siswa ketika bekerja dan dalam kehidupannya nanti. Media pembelajaran merupakan salah satu hal yang penting untuk dikembangkan terutama di era pembelajaran abad 21. Digitalisasi yang semakin berkembang membuat beberapa perubahaan pada penggunaan media dari yang manual kepada yang digital. Hal ini dikarenakan kita sudah berada di era revolusi industry 4.0 dan society 5.0 sehingga Pendidikan juga harus mengikuti perkembangnya. Sehingga dapat menciptakan output berupa Sumber Daya Manusi (SDM) yang berkualitas yang memiliki keterampilan yang memadai. PENUTUP Information Communication Technology (ICT) merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dikuasai dalam era globalisasi saat ini. Komputer merupakan salah satu media yang digunakan dalam TIK, karena komputer memiliki beberapa fungsi seperti: untuk mengolah data, mencari materi, menyajikan informasi secara kelompok atau individu dan aktivitas lainnya. Di era industri 4.0 dan society 5.0 ini internet dan intranet merupakan kebutuhan bagi siapa saja. Ke duanya memegang peranan yang dominan umumnya dalam kehidupan pelajar. Saat ini banyak lapangan pekerjaan yang hilang dan digantikan dengan jenis pekerjaan baru yang banyak berkaitan dengan penggunaan teknologi. Sejarah revolusi industri di Inggris pada awal abad 18 telah merubah paradigma dunia dan menyadarkan dunia bahwa lambat laun tenaga manusia itu bisa tergantikan oleh mesin. Oleh karenanya
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |65 dunia perlu mencetak sumber daya manusia yang kompeten, kompetitif dan unggul sesuai dengan kebutuhan zaman. sehingga Pendidikan juga harus mengikuti perkembangnya. Sehingga dapat menciptakan output berupa Sumber Daya Manusi (SDM) yang berkualitas yang memiliki keterampilan yang memadai. DAFTAR PUSTAKA Asmadi, I., Abdur, A., Ilyas, R. M., Tirtajaya, A., & Muctar, H. S. (2022). Kepemimpinan Pendidikan di Tengah Kompleksitas Perubahan. 4(4), 6050–6056. Daryanto. (2013). Media Pembelajaran: Peranannya Sangat Penting dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran. Gava Media. Diana Kozlova, M. P. (2021). The Use of ICT in Higher Education from the Perspective of the University Students. Prcocedia Computer Science, 192, 2309–2317. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.procs.2021.08.221 E. Turban, David King, J. K. L. (2006). Electronic Commerce 2006: A Managerial Perspective. Pearson Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ,. Liua, X., Tokib, E. I., & Pangea, J. (2014). The Use of ICT in Preschool Education in Greece and China: A Comparative Study. Procedia- Social and Behavioral Sciences, 112, 1167-1176. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.01.1281 Munir. (2012). Multimedia: Konsep dan Aplikasi dalam Pendidikan. Alfabeta. Paryanti, A. B. (2014). Makalah Penggunaan ICT Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran. Jurnal Sistem Informasi Universitas Suryadarma, 1(1). https://doi.org/10.35968/jsi.v1i1.38 Pavel Vacek, K. R. (2015). Research of interest in ICT education among seniorsNo Title. Procedia- Social and Behavioral Sciences, 171(16 Januari 2015), 1038-1045. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.01.276 Richardson, M. D., Jenkins, W., & Lemoine, P. A. (2017). Planning for Innovation and Disruption in a Global Environment. Educational Planning, 24(3), 11–24. Santyasa, I. W. (2007). Landasan Konseptual Media Pembelajara. Disajikan Dalam Workshop Media Pembelajaran Bagi Guru-Guru SMA Negeri Banjar Angkan. Smaldino, S.E., Lowther, D.L dan Russell, J. D. (Terjemahan A. R. (2011). Instructional Technology dan Media for Learning: Teknologi Pembelajaran dan Media untuk Belajar. Kencana. Sudatha, I, G, W dan Tegeh, I, M. (2015). Desain Multimedia Pembelajaran. Media Akademika. Triwoelandari, R., Fahri, M., Journal, A., Elementary, O., & Giarti, S. (2018). Manajemen Kurikulum Dan Pembelajaran Sd Solihuddin School Thailand Noerlitasari, Retno Triwoelandari, Muhammad Fahri. Satya Widya, 32(2), 117.
66 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Yanuarsari, R., Asmadi, I., Muchtar, H. S., & Sulastini, R. (2021). Peran Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dalam Meningkatkan Kemandirian Desa. Jurnal Basicedu, 5(6), 6307–6317. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i6.1828 Yusnaini, S. (2019). Era Revolusi Industri 4.0: Tantangan Dan Peluang Dalam Upaya Meningkatkan Literasi PendidikanNo Title. 1073–1085.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |67 STRATEGI PEMBELAJARAN MULTIPLE INTELLGENCES SISWA PAUD DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN SOCIETY 5.0 Lisnawati Universitas Sebelas April Sumedang, [email protected] Abstrak Menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks harus dibarengi dengan peningkatan mutu kehidupan, dengan terwujudnya peningkatan mutu pendidikan sebagai sarana membentuk manusia yang baik dan cerdas. Selama ini pendidikan hanya menilai kecerdasan pada satu dimensi kecerdasan, upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui manajemen pembelajaran berbasis multiple intelligence yang mengarah pada pengembangan potensi kecerdasan anak sehingga mampu meningkatkan kualitas siswa sebagai produk yang bermutu dan mampu bersaing di era global. Hal ini menuntut dunia pendidikan untuk memperbaiki sistem mutu secara dinamis. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai muara awal era Revolusi Industri 4.0, harus mempersiapkan diri dengan strategi-strategi baru. Artikel ini bertujuan untuk menelaah lebih lanjut tentang PAUD di era Reformasi Industri 4.0. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terjadi sangat cepat dan dapat membawa perubahan dalam masyarakat. Kata Kunci: Pembelajaran Multiple Intelligence PAUD, Revolusi Industri 4.0, Society 5.0 Abstract Facing an increasingly complex era, it must be accompanied by improving the quality of life, with the realization of improving the quality of education as a means of forming good and intelligent human beings. So far, education only assesses intelligence in one dimension of intelligence, efforts to improve the quality of education through multiple intelligence-based learning management that leads to the development of children's intelligence potential so as to improve the quality of students as quality products and able to compete in the global era. This requires the world of education to improve the quality system dynamically. Early Childhood Education (PAUD) as the beginning of the Industrial Revolution 4.0 era, must prepare itself with new strategies. This article aims to examine more about PAUD in the Industrial Reform era 4.0. The development of information and communication technology occurs very quickly and can bring changes in society. Keywords: Learning Multiple Intelligence PAUD, Industrial Revolution 4.0, Society 5.0 PENDAHULUAN Salah satu lembaga pendidikan yang menjadi bahan perhatian di dunia pendidikan adalah semakin banyaknya lembaga pendidikan anak usia dini. Para ahli pendidikan anak memandang usia dini merupakan masa emas (the golden ages) yang hanya ada sekali dan tidak dapat diulang kembali. Pada masa itu anak berada pada periode sensitif yang dimana di masa inilah anak secara khusus mudah menerima berbagai dampak dan pelajaran dari
68 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 lingkungan anak-anak tersebut. Anak pada usia 0 hingga 6 tahun adalah usia yang sangat penting karena pada masa-masa tersebutlah adalah masa dimana perkembangan otak mereka dapat berlangsung dengan optimal dan itu sangatlah berpengaruh terhadap kehidupan seorang anak nantinya. Strategi pembelajaran merupakan suatu pengaturan proses belajar mengajar agar terciptanya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, dapat terciptanya proses belajar mengajar yang efektif dan efesien suatu lembaga harus memiliki guru yang memenuhi standar-standar yang sesuai dengan kualifikasi akademik dan berkompeten dibidangnya agar terciptanya kinerja guru yang bermutu. (Bafadal, 2006; Barnawi & M. Arifin, 2012). Mengingat para guru PAUD akan berhadapan langsung dengan peserta didik yang masih usia dini maka dituntut untuk memiliki kompetensi-kompetensi tersebut diantaranya kompetensi profesional, kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Guru juga harus menggunakan. Berkaitan dengan pendidikan anak usia dini, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14 menegaskan bahwa: “Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang telah dijelaskan pada Pasal 28 UU RI nomor 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak mulai sejak lahir hingga usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani sehingga anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan lanjut. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non-formal dan informal (Umi Nur Qomariyah 2018). Strategi pembelajaran yang baik di lingkungan sekolah dalam kegiatankegiatan peserta didik sangat dibutuhkan untuk menghasilkan lulusanlulusan yang berkualitas. Kegiatan- kegiatan peserta didik tersebut untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, dibutuhkan tata kelola yang baik mulai dari kegiatan penerimaan peserta didik, pengorganisasian peserta didik, kegiatan pembelajaran, kegiatan pengembangan peserta didik, sampai pada kegiatan evaluasi pembelajaran. Menghadapi perkembangan zaman sekarang ini, siswa sebagai produk pembelajaran harus mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat sehingga tatkala siswa sudah selesai menjalani pendidikan dapat dilepas sebagai insan manusia yang mampu mengaplikasikan IPTEK pada kehidupan sehari-hari, dengan demikian siswa tersebut dapat menujukkan eksistensi diri dalam persaingan di era global. Era globalisasi merupakan perubahan global yang berdampak pada seluruh dunia. Dampak yang ditimbulkan terhadap berbagai aspek kehidupan manusia pada semua lapisan masyarakat sangat besar. Ekonomi, sosial, politik, teknis, lingkungan, budaya, dll, globalisasi telah menyebarkan
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |69 pengaruh ilmu pengetahuan dan budaya di setiap sudut dunia ke setiap bagian dunia lainnya, dan batas-batas negara yang jelas tidak lagi jelas. Pendidikan di era globalisasi berkaitan dengan pemahaman pendekatan sistem yang digunakan dalam menjelaskan pendidikan, karena pada era global sekarang ini dunia pendidikan telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi kegiatan. Pendidikan di abad 21 yang telah memasuki era disrupsi dan era revolusi industri 4.0 dituntut untuk terus berinovasi. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar, harus bersiap untuk menjawab tantangan perkembangan zaman METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan data dengan menggunakan kajian literatur (literature review) yang diutamakan dari jurnal-jurnal ilmiah yang berskala nasional maupun internasional. Menurut Thorne literature review merupakan sebuah karya orisinil yang merangkum dan mensistesis penelitian sebelumnya tentang sebuah topik tertentu. Menurut Massaro, O’Connor dan Yuhertiana penelitian literature review berisi ulasan, rangkuman, serta pemikiran penulis dengan melakukan peninjauan berbagai dokumen baik internasional maupun nasional, seperti publikasi akademis, publikasi pemerintah, undangundang dan peraturan, jurnal, buku, berita media, dan bentuk catatan lain yang relevan dengan topik yang dibahas Prayoga & Yuhertiana, (2021) bahwa sumber utamanya adalah berasal dari jurnal. Adapaun analisis data dengan menggunakan pendekatan tematik. PEMBAHASAN Pembelajaran Multiple Intelligences Di Era Industri 4.0 dan Society 5.0 Menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks harus dibarengi dengan meningkatan mutu kehidupan.Salah satu indikator meningkatnya mutu kehidupan adalah terwujudnya peningkatan mutu pendidikan sebagai sarana membentuk manusia yang baik dan cerdas.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meingkatkan mutu pendidikan adalah melalui penerapan strategi pembelajaran berbasis multiple intelligence.yang mengarah pada pengembangan potensi kecerdasan anak baik dalam aspek lingusitik, logis matematik, music, interpersonal, intrapersonal, spasial dan kinestetik ragawi, sehingga mampu meningkatkan kualitas siswa sebagai produk yang bermutu dan mampu bersaing di era global.Salah satu bentuk strategi pembelajaran yang diterapkan berkaitan dengan pengembangan potensi kecerdasan anak adalah pembelajaran berbasis multiple intelligence. Adapun penerapan strategi terpadu berbasis multiple intelligence tentu berdasar pada kondisi nyata bahwa anak sebagai pembelajar mempunyai kondisi dan tingkat kecerdasan yang berbeda, di samping itu juga, menghadapi perkembangan zaman yang begitu kompleks, seseorang harus mempunyai berbagai kecerdasan sebagai bekal dan dasar serta keunggulan dalam berkompetisi di masa depan. Yuliana (2017)
70 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 berpendapat bahwa Strategi pembelajaran yang berbasis multiple intelligences dapat diterapkan dalam beberapa lembaga PAUD. Konsep multiple intelligences adalah kemampuan individu dalam memecahkan masalah yang memberi pengaruh dalam kehidupan sehari-hari, adanya ide atau pemikiran baru dalam penyelesaian masalah. Strategi pembelajaran multiple intelligences pada jenjang pendidikan anak usia dini dilakukan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembelajaran. Melalui strategi pembelajran multiple intelligences di era revolusi industri 4.0) sejak pendidikan anak usia dini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang kreatif, berkarakter, kompeten dan inovatif yang hanya dapat dilakukan melalui penciptaan lingkungan yang kondusif. kondisi belajar yang didukung oleh manajemen pembelajaran. Berdasarkan kompetensi yang ada di era revolusi industri 4.0, terdapat inovasi dan sejumlah terobosan yang dihasilkan guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berupa pengembangan kurikulum dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam melaksanakan beberapa pendekatan dan strategi pembelajaran. Salah satu terobosan yang telah dilakukan adalah video learning untuk anak usia dini. Semua proses inovasi dan terobosan dalam proses pembelajaran didukung oleh kemampuan guru dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang baik. Melaksanakan Pembelajaran di Era Revolusi 4.0 dan Society 5.0 Melaksanakan pembelajaran di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 memerlukan perubahan dalam pendekatan pembelajaran dan pengembangan kompetensi siswa. Revolusi Industri 4.0 yang didominasi oleh teknologi dan automatisasi, menuntut siswa untuk memiliki kompetensi teknologi dan kompetensi soft skill yang baik. Society 5.0 yang menuntut kolaborasi antara manusia dan mesin, menuntut siswa untuk dapat bekerja sama dengan teknologi. Menurut "Melaksanakan pembelajaran di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 memerlukan pendekatan yang berbeda dari sebelumnya. Kita tidak hanya harus menyiapkan siswa dengan kompetensi teknologi, tetapi juga kompetensi soft skill yang dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini" Untuk melaksanakan pembelajaran di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, perlu dilakukan pengembangan kurikulum yang mencakup kompetensi teknologi dan soft skill. Selain itu, perlu dilakukan pengembangan media pembelajaran yang menggunakan teknologi, serta pengembangan kompetensi guru dalam menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Banyak perubahan dan tantangan yang dihadapi di Era Revolusi dan Society 5.0. Dalam menghadapi perubahan ini, ada beberapa sikap yang harus dimiliki oleh pendidik maupun siswa. Salah satu hal yang harus dilakukan adalah dengan mampu beradaptasi. Yang dimaksud beradaptasi adalah dengan mengetahui perkembangan teknologi dan generasi, mulai dari generasi x sampai dengan generasi ⍺ dimana terjadi transformasi peradaban manusia. Pembelajaran abad 21 merupakan era pembelajaran yang dicirikan dengan berkembangnya informasi secara digital. Sehingga untuk
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |71 menghadapi tantangan dari Society 5.0 dalam dunia pendidikan, diperlukan kecakapan yang lebih dikenal dengan istilah 4C yang meliputi: a. Creativity, yaitu kemampuan kemampuan yang dimiliki individu untuk berpikir kreatif, secara luas, dan bahkan di luar kebiasaan sehingga individu tersebut dapat menghadapi permasalahan yang ada dan juga dapat menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Hal ini dikarenakan orang yang kreatif cenderung tidak terpaku pada satu sudut pandang saja, melainkan mereka mencoba melihat sudut pandang yang lain untuk menghasilkan suatu hal yang baru dan bahkan unik. Seperti contohnya seorang guru dapat menggunakan teknologi yang semakin maju dalam melakukan pembelajaran di kelas agar siswanya semakin tertarik dan memperhatikan. Hal ini dikarenakan tidak dapat dipungkiri bahwa anak muda jaman sekarang sangat tertarik dengan perkembangan teknologi, sehingga guru dapat memanfaatkan minat mereka untuk mengembangkan teknik pembelajaran yang sudah ada. b. Critical thinking, yaitu kemampuan untuk berpikir lebih jernih dan rasional dalam menghadapi persoalan maupun terhadap apa yang harus dilakukan. Hal ini menyebabkan seseorang cenderung tidak menerima suatu informasi secara mentah-mentah, karena mereka cenderung menganalisis dan mengevaluasi kebenaran dari informasi tersebut terlebih dahulu dengan melihat beberapa sudut pandang yang berbeda. c. Communication, yaitu keterampilan komunikasi agar individu dapat membangun hubungan dengan siapa saja dan di mana saja, baik di lingkungan keluarga, usaha, kantor, dan lainnya. Komunikasi sangat dibutuhkan dalam suatu pembelajaran, apalagi dalam perkembangan teknologi yang semakin maju dimana ada beberapa informasi yang dibutuhkan kebenarannya. Sehingga, dibutuhkan komunikasi antara pengajar dan siswa dalam rangka terciptanya proses pembelajaran. d. Collaboration, yaitu kemampuan untuk dapat bekerja sama antara satu individu dengan individu yang lain. Hal ini dibutuhkan dalam menyelesaikan beberapa permasalahan yang dibutuhkan pemikiran ataupun tindakan dari beberapa orang guna menghindari kegagalan yang mungkin saja terjadi. Contohnya dalam penerapan Society 5.0 pada pembelajaran adalah berkolaborasi dengan seseorang yang lebih paham mengenai teknologi, agar teknologi tersebut dapat digunakan secara maksimal. Mempersiapkan siswa Paud di era Revolusi 4.0 dan Society 5.0 Adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat ini harus diantisipasi dengan baik melalui sistem Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sebab anak didik dalam PAUD umumnya merupakan anak-anak yang sudah diperkenalkan orang tuanya dan bahkan menjadi sangat familiar dengan teknologi sejak dini. Pengelolaan pembelajaran merupakan kebutuhan yang memberi pengaruh pada pembelajaran, terutama pembelajaran di pendidikan anak usia dini (PAUD). Pelaksanaan dalam mengelola suatu
72 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 lembaga terdapat kaitannya pada managemen dalam penyelenggaraan pendidikan. Managemen yang baik akan memberi pengaruh yang besar dalam terlaksananya kurikulum yang baik bagi PAUD sendiri. Anak didik di era revolusi ini perlu menyiapkan skill dan mental dalam memiliki suatu keunggulan dalam persaingan dengan mempersiapkan semua melalui pendidikan. Anak didik dapat mengembangkan dan menumbuhkan kompetensi diri yang berupa tantangan bagi guru dalam membantu anak didik dalam mengembangkan kemampuan anak didiknya. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain. Untuk mengasah dan menghasilkan kreativitas anak harus dimulai sejak dini. Kreativitas ini dibutuhkan manusia untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Latief (2020) menyatakan bahwa pendidikan bagi anak usia dini merupakan pondasi dasar pembentukan karakter di era revolusi industri 4.0. Pembelajaran ditujukan untuk mengembangkan kemampuan potensial yang dibawa sejak lahir, menumbuhkan nilai-nilai kebaikan sebagai pijakan dalam beraktivitas, berinteraksi, dan menghadapi tantangan teknologi, informasi dan perubahan yang yang bergerak dengan sangat cepat. Sejalan dengan pendapat Ganovia et. Al. (2022) menyatakan bahwa teknologi penting agar memiliki pengaruh terhadap masyarakat dalam menjalankan kehidupan di era revolusi industri 4.0. (van Thao dkk., 2021). Era revolusi industri 4.0. menciptakan persaingan di segala bidang khususnya bidang pendidikan sehingga diperlukan upaya yang dapat menciptakan inovasi dan kreativitas yang disesuaikan dengan kebutuhan (Maria & Sediyono, 2017). Inovasi pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi di era revolusi 4.0 dan menggunakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada siswa yaitu Student Centered Learning/SCL (Ramadhani, 2017). Inovasi pembelajaran dapat terlaksana secara efisien, efektif dan optimal jika didukung oleh manajemen pembelajaran (Widyanto Slamet & Prihatin, 2018), karena tanpa manajemen pembelajaran, pembelajaran tidak dapat dilaksanakan secara efisien, efektif dan optimal (Rukayah & Ismanto, 2016). Menurut Suryanto (Suryanto 2005) tujuan pendidikan pada anak usia dini adalah membimbing serta mengembangkan potensi anak yang berkembang secara optimal sesuai karakteristik kepribadiannya. Sedangkan menurut Hasibuan S. Rahman, (Rahman 2000) tujuan pendidikan pada anak usia dini adalah melakukan fasilitasi pertumbuhan dan pekembangan anak secara optimal dan komprehensif sesuai dengan norma dan nilai kehidupan. Guru yang profesional memiliki kemampuan untuk memetakan tumbuh kembang anak dan cara untuk terus mendorong pertumbuhannya, baik pengetahuan, kemampuan, kompetensi dan karakter. Anak yang memiliki kemampuan akademik istimewa perlu diuji untuk memberikan kesempatan bagi yang bersangkutan dalam membangun ketahanan dirinya. Ketahanan ini adalah kunci yang amat diperlukan dalam Revolusi Industri 4.0. Manfaat pembelajaran multiple intelligences Di di era Revolusi 4.0 dan Society 5.0
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |73 Multiple intelligences dapat tercapai dengan baik apabila pendekatan berbasis multiple intelligences dilakukan secara terencana, terstruktur dan sistematis. Pembelajaran multiple intelegences ini penerapannya dapat dilakukan dengan cara atau sistem pendampingan, dengan begitu aktivitas pembelajaran dapat dikembangkan secara bersama oleh guru dan peserta didik, juga penerapan aktivitas pembelajaran multiple intelegences ini terbukti dapat meningkatkan kinerja guru. Pembelajaran dengan pendekatan multiple intellegences, guru bekerja lebih kreatif dan professional, dan membentuk guru yang antusias, tulus dalam memberikan ilmu. Model pembelajaran multiple intelegences pada PAUD menjadi wadah khusus untuk membina anak usia dini. Sebagaimana Lensun (2018) menjelaskan bahwa dengan cara menerapkan model pembelajaran multiple intelegences yang merupakan memberikan stimulus. mengenai pendidikan guna menumbuh kembangkan jasmani serta rohani sang anak supaya mendapatkan bekal kesiapan pada saat memasuki tingkat sekolah dasar. Manfaat multiple intelligences untuk siswa yakni siswa akan bisa memecahkan masalah dari perspektif yang berbeda, dapat menjadikan hobi sebagai pekerjaan, mendukung pekerjaan yang menuntut kreativitas dan membuat seseorang mengembangkan diri dan menghagai bakatnya. Pendekatan Pembelajaran Multiple Intelligences yang digunakan adalah student centered. Student Centered merupakan salah satu pembelajaran yang bebasis pada aktivitas siswa dan menerapkan prinsip learning by doing. (Antika, 2014) menyatakan bahwa murid bukanlah objek pembelajaran dimana guru memberikan informasi, tetapi murid adalah subjek yang memiliki potensi. Potensi inilah yang harus distimulasi dan dikembangkan untuk mencapai kemampuan yang optimal. Adapun metode yang bisa digunakan untuk mengembangkan kecerdasan yakni menggunakan metode ceramah atau bercerita. Dimana pelaksaan Teknik dan Taktik Pembelajaran Multiple Intelligences yaitu : (a.) Spesifik Spesifik maksudnya yakni bersifat khusus. Pembelajaran multiple intelligences dimaksudkan untuk memfasilitasi kecerdasan khusus yang dimiliki seseorang. (b) Individual Pembelajaran multiple intelligences ini fokus pada pengembangan individu. Maka dari itu, tidak ada penekanan siswa untuk menguasai semua bidang. (c). Unik Pembelajaran multiple intelligences bersifat unik karena mengapresiasi setiap kecerdasan siswa. Maka dari itu, tidak akan ada lagi guru yang menganggap siswa kurang cerdas jika tidak bisa pelajaran matematika. Penerapan teori Howard Gardner mengenai kecerdasan jamak yang memberikan manfaat untuk siswa sehingga memiliki kompetensi yang akan berguna untuk menghadapi era society 5.0. PENUTUP Sejumlah terobosan dan inovasi diperlukan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran, termasuk pengembangan kurikulum dan kompetensi guru dan siswa. Semua proses inovasi dan terobosan dalam pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung oleh kemampuan guru untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen
74 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 pembelajaran dengan melakukan beberapa pendekatan pembelajaran dengan menerapkan pemanfaatan teknologi informasi sebagai sarana atau media pembelajaran. Konsep Edukasi 4.0 juga mulai diperkenalkan untuk merespon perubahan dan tantangan tersebut. Di era Generasi Alfa, PAUD perlu dipersiapkan agar dapat merespon revolusi tersebut sekaligus mengangkat kualitas pendidikan nasional di dunia global. Model pembelajaran multiple intelligence ini hadir sebagai implementasi dari penerapan teori Howard Gardner mengenai kecerdasan jamak yang memberikan manfaat untuk siswa sehingga memiliki kompetensi yang akan berguna untuk menghadapi era society 5.0. Setidaknya ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu mampu melakukan penelitian secara komprehensif, memiliki kompetensi abad 21, mampu menyajikan modul sesuai passion peserta didik, dan mampu melakukan autentik learning yang inovatif. DAFTAR PUSTAKA Ardiana Renni,(2022).Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Majemuk dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Widya Gama Mahakan Samarinda. MURHUM : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini e-ISSN: 2723- 390, hal. 1-12 Vol. 3, No. 1, Juli 2022 DOI: 10.37985/murhum.v3i1.65. Abdullah, Agus Nu'man, Zamroni, Dwi Irma Wahyuni, Arbaiyah.(2022). Multicultural Based Learning Management in Early Childhood Education. Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 06 No. 01 (2022) : 305-316 DOI: http://doi.org/10.33650/altanzim.v6i1.3337. Ahmad Qurtubi.(2021). Educational Management Using E-Learning to Maximize Learning Efficiency and Speed Up the Industrial Revolution 4.0. Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, December 2021, vol 13 (3), ISSN: 2087-9490. DOI:10.35445/alishlah.v13i3.856 Alisa Alfina, Sofia Nur Afifah.(2018). Case Study Of The Implementation Of Classroom Management In Paud Cendekia Kids School Madiun. The 1st PGSD UST International Conference on Education Volume 1 (2018) ISSN 26550687 Agustin, Mubiar; Puspita, Ryan Dwi; Inten, Dinar Nur; Setiyadi, Ruli.(2021). Early Detection and Stimulation of Multiple Intelligences in Kindergarten. International Journal of Instruction. Vol.14, No.4. e-ISSN: 1308-1470. p-ISSN: 1694-609X. Desy Amalia, Elisabeth Fransisca Saragi Sitio, Wahyuni Christiany Martono.(2021). Implementasi Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Majemuk Pada Guru Tk Di Gugus X Bungan Melati Kota Palangka Raya. Jurnal Pendidikan Dan Psikologi Pintar Harati Vol. 17 No. 1, Juni 2021. Eriani, Ahmad Soleh Rambe.(2020). Manajemen Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences Di Paud Terpadu ‘Aisyiyah Nur’aini Yogyakarta. Tarbiyatul Bukhary, Jurnal Pendidikan, gama dan
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |75 Sains. Vol. IV Edisi 2Juli-Desember 2020. ISSN 2599-2945 E-ISSN 2715-0151. Fitria, Leni Marlina,(2020).Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences Anak usia Dini Menurut Howard Gardner Dalam Perspektif Pendidikan Islam. Al Fitrah Journal Of Early Childhood Islamic Education ISSN :2599-2287 E-ISSN : 2622-335X.Vol.3 No.2 Januari 2020. Fuji Zakiyatul Fikriyah, Jamil Abdul Aziz.2018. Penerapan konsep Multiple intelligences pada pembelajaran PAI. IQ (Ilmu Al-qur’an):.Jurnal Pendidikan Islam | Volume 1 No.02 2018. SSN: 2338-4131 (Print) 2715-4793 (Online). Juwati, Pardimin.(2022). Pengelolaan Pembelajaran STEAM untuk Mengoptimalkan Perkembangan Anak Usia Dini.Journal Media Manajemen Pendidikan. Volume 5 No. 1 Juni 2022 p-ISSN: 2622- 772X e-ISSN: 2622-3694. Muridian Wijiati, Khairiah.(2022).Model Pembelajaran Multiple Intelegences Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Paud. Al Fitrah Journal Of Early Childhood Islamic Education ISSN : 2599-2287 EISSN:2622-335X.Vol.6. Nini Aryani.(2019).Developing PAUD Learning Management Based on Child Development.Journal Atlantis Press. ISBN 978-94-6252-773-7. ISSN 2352-5398. Volume Title Proceedings of the Padang International Conference on Educational Management And Administration (PICEMA 2018)DOI :https://doi.org/10.2991/picema-18.2019.32. Publication Date August 2019. Sri Watini, Hady Efendy.(2018). The Playing Method "ASYIK" Based on Multiple Intelligence in Learning Science Process at The Early Childhood Education Program (PAUD) Age 5-6 Years. Journal of Studies in Education ISSN 2162-6952 2018, Vol. 8, No. 1. doi:10.5296/jse.v8i1.12108 URL: https://doi.org/10.5296/jse.v8i1.12108. Siti Sanisah, Abdul Kadir, Lukman, Edi.(2021). Teaching Learning Network Untuk Meningkatkan Profesionalisme Guru Paud Era 4.0. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri). Vol. 5, No. 6, Desember 2021, eISSN2614-5758 | p-ISSN 2598-8158 :https://doi.org/10.31764/jmm.v5i6.5972 Sellvina Wahyu Budiasih, Wiwik Wijayanti. (2019). Strategies in Improving Teacher Quality in the Industrial Revolution 4.0: A Literature Review. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, volume 511. The Authors. Published by Atlantis Press SARL. Sri Supiah Cahyati, Tukiyo, Nanda Saputra, Julyanthry, Herman.(2022). How to Improve the Quality of Learning for Early Childhood? An Implementation of Education Management in the Industrial Revolution Era 4.0Volume 6 Issue 5 (2022) Pages 5437-5446
76 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini ISSN: 2549- 8959. DOI: 0.31004/obsesi.v6i5.2979 Shoofi Dwi Arini, Mudjito, Nunuk Hariyati.(2021) Curriculum Integration: Optimizing Multiple Intelligence of Children. JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan) Volume 6 Issue 2 (2021) Page 259-277 ISSN 2614-8021. Tatik Widaningsih, Pungki Nahyu Widyawati, Ahmad Shodiq Achmad Zayadi,(2019). Revolusi Industri 4.0 Dan Pendidikan Anak Usia Dini Untuk Generasi Alfa: Sebuah Telaah. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Vol. 2, No.1, 2019, hal. 315-323. p-ISSN 2620-9047, e-ISS 2620- 9071. Windi Hastuti, Ahmad Fahri Yahya Ainur, Sofa Muthohar.(2021). Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Masyarakat Di Era Revolusi Industri 4.0. PIAUD UIN Walisongo Semarang Journal of Early Childhood and Character Education. Vol 1, No : 2, 2021. Yuliana Habibi,Srifariyati,Hafiedh Hasan, Muhamad Rifa’i Subh,(2017). Strategi Pembelajaran AUD berbasis Multiple Intelligence. Jurnal Madaniyah, Volume 7 Nomor 2 Edisi Agustus 2017. ISSN (printed) : 2086-3462.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |77 PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU PAUD DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN SOCIETY 5.0 Revita Yanuarsari Universitas Islam Nusantara, [email protected] Abstrak Saat ini dunia sedang dihadapkan pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 yang menekankan pada digital economy, artificial intelligence, big data, dan robotic. Guru tidak terkecuali guru PAUD dituntut untuk mengubah cara pandang pendidikan baik metode pembelajaran maupun konsep pendidikan sesuai dengan tuntutan era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. bagaimana pengembangan kompetensi guru PAUD dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dan society 5.0. metode dalam penelitian ini yaitu menggunakan literatur review. Guru harus mempunyai keterampilan dalam berpikir sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Maka dari itu peningkatan kompetensi guru sangat penting dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Melalui peningkatan kompetensi tersebut, seorang guru akan menjadi lebih profesional dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah. Sehingga pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan mampu menciptakan generasi penerus bangsa yang mampu bersaing dan beradaptasi dengan teknologi maupun dengan lingkungannya. Kata kunci: Kompetensi Guru PAUD, Revolusi Industri 4.0, Society 5.0 Abstract Currently the world is facing the era of the Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0 which emphasizes the digital economy, artificial intelligence, big data and robotics. Teachers are no exception PAUD teachers are required to change the perspective of education both learning methods and educational concepts in accordance with the demands of the Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0 era. how to develop the competence of PAUD teachers in facing the industrial revolution 4.0 and society 5.0. The method in this study is to use a literature review. Teachers must have skills in thinking so as to be able to create creative and innovative learning. Therefore increasing teacher competence is very important in facing the era of the industrial revolution 4.0 and society 5.0. Through increasing these competencies, a teacher will become more professional and innovative in carrying out learning at school. So that the education and learning that is carried out is able to create the next generation of the nation that is able to compete and adapt to technology and to its environment. Keywords: PAUD Teacher Competence, Industrial Revolution 4.0, Society 5.0 PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia. Indonesia diyakini merupakan negara yang pada tahun 2010-2045 diprediksi akan mengalami bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14
78 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 tahun dan diatas 65 tahun). Jika bonus demografi ini tidak dimanfaatkan dengan baik akan membawa dampak buruk terutama masalah sosial seperti kemiskinan, kesehatan yang rendah, pengangguran, dan tingkat kriminalitas yang tinggi (Falikhah, 2017). Melihat dari fakta yang akan dihadapi Indonesia tersebut bonus demografi memang tidak bisa dihindari. Melalui bonus demografi ini, Indonesia ingin mewujudkan generasi emas sebagai kado 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Sehingga dalam rangka mewujudkan generasi emas pada tahun 2045 mendatang, pemerintah mulai memberikan perhatian terhadap jenjang pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini. Generasi Emas Indonesia 2045 merupakan anak-anak yang saat ini berada pada usia sekolah di jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan menengah (Darman, 2017). Mereka diharapkan menjadi generasi unggul yang mampu menguasai dan memanfaatkan perkembangan sains dan teknologi untuk melejitkan daya saing bangsa di berbagai bidang, bahkan mampu berkreasi dan berinovasi untuk memajukan bangsa Indonesia. Selain memiliki kompetensi abad ke-21, generasi ini harus memiliki karakter keindonesiaan dan komitmen yang kuat terhadap ideologi Pancasila dan nilai-nilai moderasi beragama karena dengan menyadari jati dirinya sebagai manusia Indonesia yang berwawasan Pancasila, maka diharapkan mentalitas sumber daya manusia Indonesia akan bangkit dan bergerak demi mewujudkan visi Indonesia 2045. Masa usia dini merupakan titik sentral yang menentukan kualitas masa depan seorang individu (Lasaiba, 2018). Masa usia dini disebut juga golden age atau periode emas adalah tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang paling penting pada masa awal kehidupan anak. Golden age meliputi 1000 hari pertama kehidupan anak yang dihitung dari masa dalam kandungan sampai dengan usia anak mencapai dua tahun (Pakpahan, 2019). Oleh karena itu dalam masa ini diperlukan peran besar orang tua dan pendidik dalam mendampingi dan memberi stimulus tepat untuk memaksimalkan tahapan tumbuh kembang yang dialami anak. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 Butir 14 dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Yanuarsari dan Sintiawati, 2021). Sejalan dengan itu Yulianti (2016) menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan ruang ekspresi yang dapat membantu proses perkembangan anak lebih optimal. Tujuannya adalah untuk membentuk anak yang berkualitas sebelum memasuki pendidikan dasar, serta mengarungi kehidupan setelah dewasa kelak. PAUD tidak hanya memberikan kesempatan pada anak untuk mengenal sekolah, kegiatankegiatan di PAUD juga menanamkan kejujuran, kedisiplinan, dan berbagai hal positif lain yang bagus untuk pertumbuhan anak. Anak yang sebelumnya mendapatkan pendidikan di PAUD seringkali memiliki kemampuan untuk komunikasi lebih baik saat sekolah. Hal ini dikarenakan ia sudah terbiasa
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |79 untuk bermain, belajar, hingga makan bersama dengan teman yang memiliki usia sebaya. Lembaga PAUD memiliki peran yang strategis dalam membantu orang tua mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak. Untuk itu lembaga PAUD seyogyanya harus menyediakan pelayanan terbaik bagi anak usia dini dalam wujud PAUD berkualitas. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan yang dimaksud PAUD berkualitas adalah satuan PAUD yang memiliki lingkungan belajar yang aman, nyaman dan mampu memfasilitasi anak agar berkembang dengan utuh (Fatimah et al, 2021). Untuk mewujudkan layanan PAUD yang berkualitas maka dibutuhkan komitmen yang kuat dari semua unsur yang terkait. PAUD yang bermutu terdiri dari komponen kualitas proses pembelajaran dan pemenuhan kebutuhan esensial anak melalui PAUD holistik integratif. Namun pada kenyataannya masih banyak permasalahan dalam pengelolaan PAUD yang salah satunya disebabkan oleh tingkat kompetensi gurunya yang masih kurang. Guru dan pendidik di PAUD memiliki peran sentral dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak. Seorang guru harus mampu merancang, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh aspek perkembangan anak dalam interaksi edukatif yang dilakukannya (Shofa, 2020). Interaksi ini berhubungan erat dengan peran guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dan peran anak sebagai pembelajar aktif yang dipengaruhi lingkungan-lingkungan sekitarnya. Di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 sebagaimana dikemukakan oleh Arifin (2019) guru PAUD dituntut untuk memahami standar-standar pengetahuan terhadap pendidikan anak usia dini khususnya kurikulum agar meningkatkan kualitas pembelajaran. Sesuai dengan basis pengetahuan tersebut maka kemampuan guru yang sesuai dengan pendidikan 4.0 harus ditingkatkan berdasarkan kompetensi era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 yang artinya untuk mencapai tercapainya kompetensi tersebut maka perlu adanya perubahan metode belajar dan mengajar cara baru serta guru PAUD dituntut memiliki kemampuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kreatif inovatif, serta kemampuan literasi, kebahasaan dalam mendukung dan membangun jaringan serta memaknai setiap event yang terjadi secara aktual. METODE Metode dalam penulisan artikel ini adalah Literature review merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis sumber-sumber yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Metode literature review yang digunakan dalam penelitian tentang pengembangan kompetensi guru PAUD di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Dalam metode ini, peneliti akan mengumpulkan dan menganalisis sumber-sumber yang berkaitan dengan topik yang diteliti, yaitu pengembangan kompetensi guru PAUD di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Peneliti mengumpulkan data dari, jurnal, artikel, yang berkaitan dengan topik ini dan mengumpulkan data dari sumber-sumber tersebut.
80 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Kemudian, peneliti akan menganalisis data yang diperoleh dan mencari pola atau tema yang muncul dari data tersebut. PEMBAHASAN Guru Di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Zambon et al (2019) menyatakan revolusi industri merupakan perubahan cara hidup dan proses kerja manusia secara fundamental, dimana dengan kemajuan teknologi informasi dapat mengintegrasikan dalam dunia kehidupan dengan digital yang dapat memberikan dampak bagi seluruh disiplin ilmu. Sedangkan society 5.0 menurut Deguchi et al (2020) adalah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi. Pada era ini, masyarakat diharapkan mampu menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era revolusi industri 4.0 untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Dalam menghadapi era society 5.0, pendidikan berperan penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Peserta didik menurut Zubaidah (2018) diharapkan dapat memiliki kecakapan hidup abad 21 yang dikenal dengan istilah 4C, yakni creativity, critical thinking, communication, dan collaboration. Oleh karena itu ada tiga hal yang harus dimanfaatkan pendidik di era society 5.0 dalam dunia pendidikan yaitu internet of things, virtual/augmented dan artificial intelligence (AI) untuk mengetahui serta mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan oleh peserta didik. Hermann (2015) menjelaskan bahwa ada 4 prinsip dasar dalam implementasi menghadapi revolusi industri 4.0, prinsip tersebut yakni: (1) interoperability, yakni kemampuan mesin, alat, dan manusia untuk saling terhubung dan berkomunikasi dalam suatu sistem; (2) informational transparency, yaitu kemampuan sistem informasi untuk menunjukkan data nyata dari keadaan dunia dengan mengkoneksikan pada database; (3) technical support, adalah dukungan sistem yang menunjukkan banyaknya data benar yang dapat membantu ketidaknyamanan pekerjaan manusia atau bahkan cenderung menuju berbahaya; serta (4) decentralized decision making, yakni kemampuan sistem untuk membuat keputusan dan melaksanakan pekerjaannya dengan cepat. Menghadapi tantangan besar era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 ini guru PAUD dituntut untuk berubah. Pertama, guru harus menjadi penggerak perubahan, karena pendidikan tidak akan berubah bila gurunya tidak berubah. Menghadapi perubahan era industri tersebut, guru tentunya dituntut untuk bisa mengembangkan kompetensinya terutama kompetensi teknologinya agar dapat terus bisa menyesuaikan strategi dan metode pembelajaran dengan keadaan apapun sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dimanapun dan kapanpun peserta didik berada. Kedua, guru sebagai teladan siswa harus berkarakter, untuk membentuk siswa berkarakter sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM), gurunya juga harus berkarakter karena Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada lingkungan pendidikan dilakukan dengan penggunaan prinsip keteladanan Onde et al (2020). Ketiga, guru harus kreatif, guru yang kreatif mengajar siswa dengan cara menyenangkan, selalu berpikir inovatif, selalu
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |81 ingin berkembang mengikuti perkembangan zaman, pandai memanfaatkan fasilitas yang tersedia, peka terhadap bakat dan kemampuan siswa. Guru kreatif akan menginspirasi dan melahirkan generasi kreatif dan generasi yang kreatiflah yang mampu menghadapi tantangan perubahan pada era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 ini. Keterampilan Utama Di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 World Economic Forum yang dikutip oleh Sutama et al (2021) telah merilis laporan yang mengungkap 10 keterampilan teratas yang dibutuhkan pada tahun 2020. Keterampilan tersebut adalah: a. Complex Problem Solving, merupakan kemampuan penyelesaian masalah kompleks dengan dimulai dari melakukan identifikasi, menentukan elemen utama masalah, melihat berbagai kemungkinan sebagai solusi, melakukan aksi/tindakan untuk menyelesaikan masalah, serta mencari pelajaran untuk dipelajari dalam rangka penyelesaian masalah. b. Critical Thinking, merupakan kemampuan untuk berpikir masuk akal, kognitif dan membentuk strategi yang akan meningkatkan kemungkinan hasil yang diharapkan. Berpikir kritis juga bisa disebut berpikir dengan tujuan yang jelas, beralasan, dan berorientasi pada sasaran. c. Creativity and Innovative, merupakan kemampuan dan kemauan untuk terus berinovasi, menemukan sesuatu yang unik serta bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Kreativitas disini dapat juga diartikan mengembangkan sesuatu hal yang sudah ada sehingga dapat menjadi lebih baik. d. People Management and Leadership, merupakan kemampuan untuk mengatur, memimpin dan memanfaatkan sumber daya manusia secara tepat sasaran dan efektif. Pemimpin yang cerdas adalah mereka yang dapat memaksimalkan jam kerja dengan belajar untuk mendelegasikan, memprioritaskan dan juga berusaha untuk menyederhanakan masalah. e. Coordinating with Others or Teamwork, merupakan kemampuan untuk kerjasama tim ataupun bekerja dengan orang lain yang berasal dari luar tim. Tujuan dibentuknya tim untuk menangani suatu masalah bukan hanya agar masalah tersebut cepat tuntas, namun berkolaborasi dalam tim juga membuat suatu korporasi menjadi lebih tangguh dan kesuksesan mudah tergapai. f. Emotional Intelligence, merupakan kemampuan seseorang untuk mengatur, menilai, menerima, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. g. Judgement and Decision Making, merupakan kemampuan untuk menarik kesimpulan atas situasi yang dihadapi serta kemampuan untuk mengambil keputusan dalam kondisi apapun, termasuk saat sedang berada di bawah tekanan. h. Service Orientation, merupakan keinginan untuk membantu dan melayani orang lain sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan
82 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 mereka. Dengan memiliki service orientation, kita akan selalu berusaha memberikan yang terbaik pada pelanggan tanpa mengharapkan penghargaan semata. i. Negotiation and Presentation, merupakan kemampuan berbicara, bernegosiasi, dan meyakinkan orang dalam aspek pekerjaan untuk mengadakan kesepakatan yang berbuah hasil yang diharapkan. Kemampuan dalam menyampaikan ide-ide brilian dan masukan ketika presentasi juga sangat penting. j. Cognitive Flexibility, merupakan fleksibilitas kognitif adalah kemampuan untuk menyusun secara spontan suatu pengetahuan, dalam banyak cara, dalam memberi respon penyesuaian diri untuk secara radikal merubah tuntutan situasional. Kompetensi Guru PAUD Di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen dan Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru telah dijelaskan bahwa guru minimal harus memiliki 4 kompetensi yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Memasuki era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 guru tentunya dituntut untuk mempunyai kompetensi dan kecakapan tambahan yang dapat membantu untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Menurut Sonia (2019) kecakapan tambahan yang harus dimiliki guru PAUD adalah: a. Kecakapan akuntabilitas, guru dapat dijadikan keteladanan sehingga baik tingkah laku maupun ucapannya dapat dipercaya oleh siswa maupun untuk orang lain. Guru harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berkomunikasi dengan orang lain, disamping guru mampu menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. dan yang terpenting adalah guru harus memaklumi segala kekurangan yang terjadi dikalangan siswa atau peserta didik. b. Kecakapan berkomunikasi, kemampuan guru yang terpenting harus dimiliki adalah kemampuan berkomunikasi dengan orang lain dengan baik, karena tanpa kemampuan berkomunikasi, baik memahami, mengelola maupun menciptakan komunikasi yang efektif dengan baik maka proses mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa tidak akan dapat berhasil dengan baik. c. Kreativitas, didalam proses pembelajaran guru tidak lagi menyampaikan pembelajaran secara monoton dengan modal ilmu kependidikan yang dimiliki selama ini. Tetapi kreativitas ini mencakup bagaimana mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan konsep-konsep atau gagasan-gagasan yang baru kepada orang lain. d. Berpikir kritis dalam sistem. Kecakapan berpikir kritis merupakan proses berpikir dan bertindak berdasarkan fakta dan data-data yang terupdate, yang dimulai dengan menganalisis kemungkinan-
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |83 kemungkinan yang terjadi dari sebuah perbuatan yang dilakukan secara rasional dan terkoneksi dengan sistem. Kecakapan terhadap informasi dan media, pengajaran yang menarik dan menantang di era globalisasi ini, guru harus mampu menganalisa, mengakses, mengelola, mengintegrasi, mengevaluasi, dan menciptakan informasi dalam berbagai bentuk dan media. e. Kecakapan hubungan antar pribadi dan kerjasama. Sebagaimana kehidupan mahluk sosial pada umumnya yang membutuhkan interaksi antara pribadi dan golongan atau kelompok, begitu juga guru di abad ini harus mampu menjaga interkasi antara pribadi atau golongan atau kelompok dan bekerja dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara bertanggung jawab. Kemampuan mengidentifikasi masalah, penyebaran dan solusi. Sekecil apa pun masalah tersebut harus berhati-hati didalam menanggapinya, guru memiliki kemampuan didalam menyusun, mengungkap, menganalisis, dan menyelesaikan masalah dengan baik. Masyarakat di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 menurut pendapat Amilia (2019) ditandai dengan lima karakteristik. Empat diantaranya adalah teknologi bertindak sebagai pembawa informasi, teknologi mempunyai efek yang meresap, sistem teknologi terhubungan dalam jaringan tanpa batas, dan teknologi itu sangat fleksibel. Atas dasar kondisi ini, teknologi harus menjadi bagian dalam kegiatan pembelajaran. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kompetensi bliterasi teknologi merupakan kompetensi wajib guru. Guru PAUD di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 disamping harus meningkatkan kompetensi dengan cara mengikuti forum-forum seperti MGMP, forum ilmiah, pelatihan (diklat), dan juga kegiatan lain seperti lomba karya ilmiah yang dapat mengasah keterampilan, guru PAUD juga harus memiliki kemampuan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang baik. Ciri dari melek ICT tersebut adalah melek teknologi dan media, mampu berkomunikasi efektif, berpikir kritis, mampu memecahkan masalah, dan mampu berkolaborasi. Guru PAUD juga harus memiliki dua kompetensi yaitu kompetensi literasi yaitu guru harus mampu mengaplikasikan strategi pemahaman terhadap suatu media berdasarkan tujuan tiap-tiap ilmu. Kedua, guru harus mampu mengembangkan kompetensi representasional multimodal. Berdasarkan dua kompetensi tersebut, guru PAUD akan sangat berperan dalam mempersiapkan generasi emas Indonesia, akan lahir siswa yang cerdas, inovatif, dan berkarakter di masa yang akan datang karena guru PAUD telah memiliki kompetensi dan kecakapan yang dapat membantu untuk mewujudkan visi generasi emas melalui pembelajaran PAUD berkualitas. PENUTUP Indonesia mempunyai visi menciptakan generasi emas pada tahun 2045, oleh karena itu pemerintah mulai memberikan perhatian terhadap jenjang pendidikan khususnya pendidikan anak usia dini. Peningkatan kompetensi guru PAUD sangatlah penting dalam menghadapi era era
84 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Sebab di era era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 ini guru PAUD dihadapkan dengan teknologi yang semakin canggih sehingga mereka dituntut untuk dapat menguasai teknologi tersebut. Dengan demikian peran guru akan tetap ada dan tidak hilang karena teknologi. Guru harus mempunyai keterampilan dalam berpikir sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Maka dari itu peningkatan kompetensi guru sangat penting dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Melalui peningkatan kompetensi tersebut, seorang guru akan menjadi lebih profesional dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah. Sehingga pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan mampu menciptakan generasi penerus bangsa yang mampu bersaing dan beradaptasi dengan teknologi maupun dengan lingkungannya. DAFTAR PUSTAKA Amilia, Fitri. "Kompetensi Literasi Infomasi Guru Paud Di Era 4.0: Antara Tuntutan Dan Realitas." Jurnal Pengabdian Masyarakat IPTEKS 5.2 (2019): 124-129. Arifin, Imron. "Kepemimpinan Religio-Humanistik Bidang Pendidikan pada Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0." (2019). Darman, Regina Ade. "Mempersiapkan generasi emas indonesia tahun 2045 Melalui Pendidikan Berkualitas." Jurnal Edik Informatika Penelitian Bidang Komputer Sains Dan Pendidikan Informatika 3.2 (2017): 73- 87. Deguchi, Atsushi, et al. "What is society 5.0." Society 5 (2020): 1-23. Falikhah, Nur. "Bonus Demografi Peluang dan Tantangan Bagi Indonesia." Alhadharah: Jurnal Ilmu Dakwah 16.32 (2017). Fatimah, Siti, Azizah Amal, and Alia Nilawati. "Merdeka Bermain dengan Ingkung Bebek pada Kelompok B3 di TK Al Hikmah Bontang." Jurnal Profesi Kependidikan 2.1 Apr (2021). Firmansyah, Mochamad Bayu. "Kompetensi Literasi Multimodal Mahasiswa: Studi Pustaka Terhadap Teks Multimodal Bermuatan Kearifan Lokal Serta Implementasinya Dalam Pembelajaran." (2018). Hermann, Mario, Tobias Pentek, and Boris Otto. "Design principles for Industrie 4.0 scenarios: a literature review." Technische Universität Dortmund, Dortmund 45 (2015). La Ode Onde, Mitrakasih, et al. "Integrasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) ERA 4.0 Pada Pembelajaran Berbasis Tematik Integratif Di Sekolah Dasar." Jurnal Basicedu 4.2 (2020): 268-279. Lasaiba, Djamila. "Pola Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini Di Lingkar Kampus Iain Ambon." FIKRATUNA: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 8.2 (2018). Pakpahan, Sulastry. "Penyuluhan dan Pelatihan Stimulasi Periode Emas Anak 1000 HPK di Wilayah Puskesmas Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2019." Jurnal Nasional Pengabdian Masyarakat 1.1 (2020): 125-131.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |85 Santoso, Firman Budi. "Pengembangan Kompetensi Guru di Era Revolusi Industri 4.0." Revitalisasi Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Era Revolusi Industri 4.0 (2019). Shofa, Mila Faila. "Inovasi pembelajaran pada pendidikan anak usia dini di masa pandemi Covid 19." BUANA GENDER: Jurnal Studi Gender Dan Anak 5.2 (2020): 86-96. Sonia, Tiarmayanti Novita. "Menjadi Guru Abad 21: Jawaban Tantangan Pembelajaran Revolusi Industri 4.0." (2019): 191-199. Yanuarsari, Revita, and Nani Sintiawati. "URGENSI AKUNTABILITAS PENGELOLAAN LEMBAGA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)." Tunas Siliwangi: Jurnal Program Studi Pendidikan Guru PAUD STKIP Siliwangi Bandung 7.1 (2021): 24-31. Yulianti, Ratna. "Pembelajaran tari kreatif untuk meningkatkan pemahaman cinta lingkungan pada anak usia dini." JPKS (Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni) 1.1 (2016). Zambon, Ilaria, et al. "Revolution 4.0: Industry vs. agriculture in a future development for SMEs." Processes 7.1 (2019): 36. Zubaidah, Siti. "Mengenal 4C: Learning and innovation skills untuk menghadapi era revolusi industri 4.0." 2nd Science Education National Conference. Vol. 13. 2018.
86 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 IMPLEMENTASI NILAI-NILAI ASWAJA DI SEKOLAH DALAM MENGHADAPI TANTANGAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Arum Maslachah Sekolah Pascasarjana Uninus, Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai implementasi nilai-nilai Aswaja di Sekolah dalam menghadapi tantangan revolusi industry 4.0. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka atau studi kepustakaan yang mengandung makna sebagai penelitian yang berisi teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah dalam penelitian yang diambil peneliti. Kajian pustaka atau studi pustaka merupakan kegiatan yang diwajibkan dalam suatu penelitian, khususnya penelitian akademik yang tujuan utamanya yaitu mengembangkan aspek teoritis maupun aspek manfaat praktis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Aswaja itu adalah: tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil), yang bisa dijadikan pedoman dalam bertindak di segala aspek kehidupan. Cara yang tepat dalam proses pembinaan kehidupan beragama di sekolah adalah strategi melalui: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Metode pembinaan kehidupan beragama bisa juga dilakukan melalui cara, yaitu: sedikit memberi pengajaran atau teori; perbanyak memberi contoh dan peneladanan; perkuat pembiasaan atau praktek; banyak diberi motivasi; serta pengawasan dan penegakan aturan yang konsisten. Kata Kunci: Nilai Aswaja, Implementasi Pembelajaran, Revolusi Industri 4.0 Abstract This study aims to describe the implementation of Aswaja values in fostering the religious life of students in senior high schools (SMA). The method used in this research is a literature review or literature study which implies research that contains theories relevant to the problems in the research taken by the researcher. Literature review or literature study is an activity that is required in a research, especially academic research whose main goal is to develop theoretical as well as practical aspects. The results of the study show that Aswaja's values are: tawassuth (moderate), tawazun (balanced), tasamuh (tolerant), and i'tidal (fair), which can be used as guidelines in acting in all aspects of life. The right way in the process of fostering religious life in schools is a strategy through: learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together. Methods of fostering religious life can also be done in a number of ways, namely: giving a little teaching or theory; multiply giving examples and exemplary; strengthen habituation or practice; motivated a lot; and consistent oversight and enforcement of rules. Keywords: Aswaja Value, Learning Implementation, Industrial Revolution 4.0
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |87 PENDAHULUAN Indonesia tentunya sebagai negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah meratifikasi Undang-Undang yang mengatur tentang Hak Asasi Manusia yakni Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yang terdiri dari 11 bab dan 106 pasal ini memberikan penegasan pengakuan negara Republik Indonesia kepada HAM sebagai hak kodrati yang harus dilindungi, dihormati dan ditegakkan (Bangun, 2019). Tak hanya itu, dalam konstitusi atau Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 Ayat 1 dan 2 memperjelas bahwa negara Indonesia sangat serius memberikan hak kebebasan beragama untuk setiap warga negara. Instrumen-instrumen penegakan HAM di Indonesia sudah dianggap cukup memadai. Sehingga perlu adanya penerapan yang serius dalam menjalankan pelaksanaan HAM sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Namun, persoalan tentang kebebasan beragama dan intoleransi masih belum terselesaikan, sehingga perlu ada tawaran untuk dapat menggunakan konsep Deklarasi Kairo khususnya Pasal 10 untuk dapat meberikan solusi menyelesaikan kasus-kasus intoleransi umat beragama di Indonesia. Indonesia yang mayoritas beragama Islam tentu saja dapat menerapkan konsep Deklarasi Kairo khususnya Pasal 10 memuat tentang Hak Asasi Manusia Kebebasan Memilih Agama (Muharam, 2020). Indonesia merupakan salah satu negara yang multikultural dengan berbagai macam agama, budaya, suku, etnis, ras dan bahasa yang beragam atau disebut juga dengan “mega cultural diversity”. Menjadikan Indonesia salah satu negara yang sangat rentan dengan berbagai konflik. Salah satu konflik yang sering terjadi di negara Indonesia yakni konflik antar umat beragama. Konflik antar umat beragama ini dapat berupa konflik antar agama maupun konflik antar aliran tertentu dalam satu agama. Membangun toleransi umat beragama di Indonesia tentu saja memiliki berbagai tantangan untuk dapat mewujudkannya. Apalagi dengan berbagai kasus yang ada, seolah pemerintah menutup mata dan lambat dalam mengambil keputusan untuk menyikapi sikap intoleransi beragama yang semakin marak di Indonesia. Tak hanya itu semakin kencang sikap intoleransi agama yang berkaitan erat dengan politik membuat masyarakat Indonesia hampir terpecah belah. Perlu adanya kesadaran dalam masyarakat bahwa sikap toleransi perlu dipupuk dan dijaga untuk membangun rasa persatuan dan kesatuan bangsa agar tidak terjadi bentrokan massa. Tentunya tidak mudah bagi bangsa Indonesia untuk merawat kebhinekaan di mana salah satu yang menjadi masalah krusial yakni tentang isu toleransi umat beragama yang berada di Indonesia yang memiliki enam agama resmi atau diakui oleh pemerintah yakni Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan Konghucu menjadikan Indonesia salah satu negara yang memiliki berbagai macam agama. Selain itu kehidupan beragama di Indonesia pun terdapat berbagai agama lokal atau keyakinan tertentu. Setidaknya dalam sejarah kelam bangsa Indonesia pernah mengalami beberapa kasus konflik agama yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia seperti beberapa kasus yakni konflik agama di Poso pada tahun 1992, konflik Sunni dan Syiah di Jawa Timur yang muncul sekitar tahun 2006, konflik
88 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 agama di Bogor terkait Pembangunan GKI Yasmin sejak tahun 2000 dan mengalami masalah pada tahun 2008. Keberagamaan tidak hanya ditemukan di masyarakat saja, akan tetapi dapat ditemui di lingkungan sekolah. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang menerima siswa dengan latar belakang agama, ras, budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Siswa diajarkan bagaimana supaya bisa menghargai perbedaan dengan menanamkan sikap toleransi. Begitu juga dengan keberagaman agama yang ditemui di sekolah, siswa di ajarkan bagaimana sikap toleransi beragama yang harus terjalin dengan baik. Sikap toleransi beragama di sekolah sangat perlu ditanamkan mengingat ada siswa yang mayoritas agama Budha dan ada minoritas agama lain. Bentuk sikap toleransi beragama dijalankan dengan baik karena siswa diajarkan untuk saling menghargai dan mengasihi antar sesama. Konflik agama bisa muncul disebabkan perbedaan konsep maupun praktik yang dilakukan oleh pemeluk agama yang menyimpang dari berbagai ketentuan yang sudah ditetapkan oleh syariat agama. Lahirnya stereotype satu golongan terhadap golongan lain yang berbeda agama umumnya menjadi pemicu konflik antar kaum beragama yang diiringi oleh tindakan saling membunuh, saling serang, membakar tempat-tempat bernilai bagi masing-masing pemeluk agama dan rumah-rumah ibadah. Di akhir-akhir ini, banyak umat non muslim menyematkan label kepada umat Islam sebagai umat yang radikal, intoleran, dan sangat subjektif dalam menilai kebenaran agama lain. Sebaliknya orang-orang non muslim terutama umat Kristiani dinilai sebagai umat yang ambisius dan agresif, bertendensi menguasai berbagai sisi kehidupan dan bersikeras menyebarkan pesan Yesus (Kurniawan, 2020). Apabila pertumbuhan dan perkembangan kelompok gerakan Islam radikal ini tidak disikapi secara serius dan ditangkal sedini mungkin, bukan tidak mungkin akan muncul serta merebaknya generasi muda Islam yang berpaham pemikiran keagamaan yang radikal. Jika sudah seperti ini, bukan hanya mayoritas absolut umat Islam moderat yang dirugikan dan keharmonisan kemajemukan umat-umat beragama yang ada di Indonesia, melainkan juga keteraturan negara menjadi terancam akibat dari gerakangerakan atau propaganda negera Islam yang telah lama mereka perjuangkan selama ini. Kondisi krisis dan dekadensi moral ini menandakan bahwa seluruh pengetahuan agama dan moral yang didapatkannya dibangku sekolah ternyata tidak berdampak terhadap perubahan perilaku manusia Indonesia. Mereka lupa bahwa kecerdasan yang tinggi tidak akan berguna tanpa ada karakter yang baik. Peran karakter bagi diri seorang manusia adalah ibarat kemudi bagi sebuah kapal. Karakter adalah kemudi hidup yang akan menentukan arah yang benar dalam mengarungi bahtera kehidupan seorang manusia (Nikmah, 2018). Menurut Komlev sebagaimana dikutip oleh Belasheva, (2016) bahwa toleransi berasal dari bahasa latin yaitu “tolerentia” yang berarti untuk mengatasi, untuk menanggung, untuk bertahan. Toleransi merupakan kelapangan dada kepada siapapun, membiarkan orang berpendapat atau
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |89 berpendirian lain serta tidak mau mengganggu kebebasan berfikir dan berkeyakinan lain (Ali, 2006). Toleransi juga dapat diartikan sebagai sikap positif dalam menghargai orang lain dengan menggunakan kebebasan hak asasi sebagai manusia dan makhluk sosial. Dengan sikap saling menghargai dan menghormati maka akan tercipta suasana yang aman dan tentram serta meminimalisir perpecahan diantara minoritas dan mayoritas. Sikap toleransi merupakan harmoni dalam perbedaan (Svanberg, 2014). Powell, (2002) menyatakan bahwa “....an attitude of tolerance is only possible when some action or practice is objectionable to us, but we have overriding reasons to allow that action or practice to take place ...” . Dalam pernyataan tersebut, tersirat bahwa toleransi adalah pengecualian (exception) atas hal-hal yang sebenarnya tidak disukai, tapi tetap dibiarkan dilakukan. Unesco mengartikan toleransi sebagai sikap saling menghormati, saling menerima, saling menghargai di tengah keragaman budaya, kebebasan berekspresi dan karakter manusia (Walzer, 1997). Dalam teori toleransi, terdapat beberapa dimensi antara lain: toleransi antaretnis, toleransi sosial dan toleransi dalam kepribadian (Sztejnberg. A dan Jasinnski., 2016). Dimensi antaretnis meliputi sikap terhadap perbedaan mencangkup kedalam kaum mayoritas dan minoritas baik ras maupun etnis, contohnya adalah saling memahami perbedaan baik dalam perbedaan warna kulit ataupun letak geografis. Dalam bermasyarakat tidak jarang perbedaan gaya bahasa menjadi salah satu faktor yang disalah artikan (Nugroho, 2012). Selanjutnya ada dimensi toleransi sosial meliputi kontak sosial yang terjadi ditengah masyarakat akan sebuah perbedaan melalui pola keterbukaan kontak sosial sehingga menciptakan sebuah komunikasi antaretnis yang baik. Dan dimensi toleransi dalam kepribadian meliputi penggambaran mengenai realitas lingkungan yang berada pada sebuah kebudayaan yang multikultural, contohnya adalah sebuah perlakuan diantara kedua etnis yang saling menghakimi satu sama lain. Bersikap toleran merupakan salah satu yang harus ditempuh oleh semua umat beragama dalam usahanya mewujudkan kerukunan hidup umat beragama. Menjadi toleran dalam beragama adalah membiarkan atau membolehkan orang lain menjadi diri sendiri, menghargai orang lain dengan menghargai asal usul dan latar belakang keyakinan yang mereka anut. Hakikat toleransi pada intinya adalah usaha kebaikan, khususnya pada kemajemukan agama yang memiliki tujuan luhur yaitu tercapainya kerukunan intern agama maupun antar agama. Perbedaan-perbedaan agama tidak hanya ditemukan di lingkungan masyarakat saja, akan tetapi dalam lembaga pendidikan juga ditemui perbedaan agama khususnya pada lembaga pendidikan formal yaitu sekolah. Secara doktrinal, toleransi sepenuhnya diharuskan oleh Islam. Kata Islam secara definisi diartikan sebagai “selamat” dan “damai” serta “menyerahkan diri”. Pengertian Islam yang demikian sering diformulasikan dengan istilah “Islam agama rahmatal lil‟ālamîn” (agama yang yang menjadi rahmat untuk seluruh alam). Ini menjelaskan bahwa kedatangan agama Islam bukanlah untuk menghapus agama-agama yang telah ada, akan tetapi Agama Islam menawarkan diskusi, dialog dan toleransi dalam bingkai saling
90 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 menghormati. Secara gamblang Islam telah menyadari bahwa keanekaragaman umat manusia dalam keyakinan dan agama merupakan kehendak Allah, oleh karena itu tak mungkin disamakan ataupun disatukan (Abror, 2020). Islam dan umat Islam saat ini paling tidak menghadapi dua tantangan; Pertama, kecenderungan sebagian kalangan umat Islam untuk bersikap ekstrem dan ketat dalam memahami teks-teks keagamaan dan mencoba memaksakan cara tersebut di tengah masyarakat muslim, bahkan dalam beberapa hal menggunakankekerasan; Kedua, kecenderungan lain yang juga ekstrem dengan bersikap longgar dalam beragama dan tunduk pada perilaku serta pemikiran negatif yang berasal dari budaya dan peradaban lain. Dalam upayanya itu mereka mengutip teks-teks keagamaan (Al-Qur’an dan Hadis) dan karya-karya ulama klasik (turats) sebagai landasan dan kerangka pemikiran, tetapi dengan memahaminya secara tekstual dan terlepas dari konteks kesejarahan. Sehingga tak ayal mereka seperti generasi yang terlambat lahir, sebab hidup di tegah masyarakat modern dengan cara berfikir generasi terdahulu (Fahri & Zainuri, 2019). Pada level sekolah yang merupakan suatu lembaga atau organisasi yang diberi wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Sekolah adalah suatu lembaga atau tempat untuk belajar seperti membaca, menulis dan belajar untuk berperilaku yang baik. Perilaku yang baik itu dapat diaktualisasikan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari seperti pada aspek ekonomi, sosial, budaya, nilai-nilai, hukum, kesenian, moral, pengetahuan, adat istiadat, agama maupun pendidikan. Dari beberapa aspek tersebut, dalam hal ini dikhususkan pada aspek agama dan pendidikan. Aspek agama berkaitan dengan toleransi antar warga yang berbeda agama dan aspek pendidikan berkaitan dengan perilaku yang baik, terutama yang terjadi di lingkungan formal. Kedua aspek ini diaktualisasikan di lingkungan sekolah, yang mengkaji tentang penerapan sikap toleransi dalam pendidikan multikulturalisme di kalangan siswa SMA. Sikap dan perilaku toleransi sangat penting untuk diterapkan di sekolah, karena di sekolah terdapat warga sekolah yang berasal dari daerah yang berbeda yang memiliki ras, suku dan agama yang berbeda. Sehingga toleransi sangat penting untuk diterapkan di sekolah untuk menjalin hubungan kerja sama yang baik dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Poerwadarminta sebagaimana dikutip oleh Suharyanto, (2013) mengartikan toleransi sebagai “sifat atau sikap menenggang, (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya yang lain atau bertentangan dengan pendiriannya sendiri, misalnya agama (ideologi, ras dan sebagainya)”. Secara umum pendidikan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia, sebab manusia dikaruniai oleh Tuhan berupa akal pikiran, sehingga dapat mengetahui segala hakikat permasalahan dan sekaligus dapat membedakan antara yang baik dan buruk (Sahlan, 2010). Pendidikan juga dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan penting dalam membentuk generasi mendatang yang diharapkan nantinya dapat menghasilkan manusia yang berkualitas dan bertanggung jawab serta
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |91 mampu mengantisipasi permasalahan hidupnya di masa akan datang. Maka hal ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan salah satu sektor yang dapat membangun peradaban manusia dan dapat memajukan kehidupan dimasyarakat. Menyadari akan pentingnya pendidikan di lembaga formal guna menangkal dan mengatasi agar paham-paham radikal ini tidak merenggut generasi muda khususnya peserta didik yang nantinya akan terjerumus paham radikal serta mengancam keharmonisasian terhadap umat beragama, maka dengan ini guru di sekolah harus memberikan pembelajaran mengenai nilai-nilai aswaja. Dalam aswaja mengajarkan pendidikan teologi yang moderat. Ajaran dari pendidikan aswaja sebagai sarana guna membangun generasi Islam yang bersifat toleran, inklusif, dan moderat. Selain itu, pendidikan aswaja yang nantinya tertanam sebagai pengetahuan, pemahaman dan sikap di kalangan para generasi muda khususnya peserta didik ini merupakan sebuah modal yang penting dalam bersikap dan berfikir kritis dalam menghadapi dinamika-dinamika sosial keagamaan yang kian kompleks ini (Umam, 2018). Aswaja (Ahlussunnah Wal jama‟ah) sendiri memiliki karakter sebagai berikut: Pertama, tawasuth atau sikap moderat dalam seluruh aspek kehidupan. Kedua, al-i‟tidal atau bersikap tegak lurus dan selalu condong pada kebenaran keadilan. Ketiga, al-tawazun atau sikap keseimbangan dan penuh pertimbangan. Keempat, rahmatan lil‟alamin, yaitu mensejahterakan seluruh alam semesta. Karakter tersebut berfungsi untuk menghindari tatharruf atau sikap ekstrim dalam segala aspek kehidupan. Dengan kata lain, harus ada pertengahan dan keseimbangan dalam berbagai hal. Dalam akidah, misalnya, harus ada keseimbangan atau (pertengahan) antara penggunaan dalil naqliy dan ‟aqliy, antara ekstrim Jabariyah dan Qadariyah. Dalam bidang syari‟ah dan fikih, ada pertengahan antara ijtihad ”sembrono” dengan taqlid buta dengan jalan bermazhab. Tegas dalam halhal qath‟iyyat dan toleran pada hal-hal dzanniyyat. Dalam akhlak, ada keseimbangan dan pertengahan antara sikap berani (syaja‟ah) dan sikap penakut serta ”ngawur”. Sikap tawadlu‟ (rendah hati) merupakan pertengahan antara takabbur (sombong) dan tadzallul (rendah diri). Kota Bandung adalah kota heterogen, beragam suku, ras, budaya, dan agama terdapat di Kota Bandung. Selain itu, dalam kedudukannya sebagai pusat pemerintahan di Jawa Barat, juga kota pendidikan, dan kota wisata, kehadiran para pendatang, baik dari daerah-daerah lain di Indonesia maupun dari luar negeri, tidak dapat dihindari. Tidak sedikit dari kalangan pendatang tersebut yang kemudian menjadi penduduk Kota Bandung. Kota Bandung juga memiliki beragam komunitas, sehingga tak sedikit, dalam sebuah kawasan terdapat beragam kelompok, suku, hingga rumah beribadatan yang berbeda. Daya tarik utama kota Bandung sebagai pusat perdagangan, pendidikan dan pariwisata membuat banyak pendatang yang menjadikan komposisi Kota Bandung semakin beragam. Hal tersebut selain berdampak positif, juga berdampak negative, yaitu memicu tumbuhnya konflik dan pertentangan, salah satunya yang berasal dari identitas agama.