92 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Setara Institute, (2015) telah melalukan survei terhadap peserta didik di SMA umum di Jakarta dan Bandung pada tahun 2015, Hasil dari surveinya 8,5 persen peserta didik setuju menggantikan dasar negara Indonesia di ganti dengan dasar agama, dan 7,2 persen mendeklarasikan bahwa ISIS merupakan pejuang-pejuang yang akan mendirikan Negara Islam. Survei ini juga datang dari Wahid Foundation pada tahun 2016, menyatakan bahwa dari 150 juta muslim yang berada di Indonesia yakni sekitar 7,7 persen atau 11,5 juta orang berpontesi bertindak radikal, sedangkan 0,4 persen atau 600 ribu orang pernah terlibat (Mustari, 2020). Berbagai temuan terhadap gerakan dan pemikiran paham radikal tersebut juga terselip menjadi sebuah konten dalam buku pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berpotensi menumbuhkan dan mengembangkan paham yang radikal. Berdasarkan hasil dari penelitian tesis Hasniati yang menyatakan bahwa buku teks terbitan dari pemerintah mengandung stigma negatif terhadap kelompok agama yang berbeda, seperti membid’ahkan pandangan yang berbeda dan mengklaim dirinya yang paling benar, mengusung khilafah Islamiyah, menolak demokrasi, dan memiliki stigma negatif terhadap Barat. Adapun terkait persoalan membid’ahkan serta mengklaim dirinya yang paling benar inilah merupakan salah satu pintu masuk bagi munculnya sikap permusuhan terhadap sesama, sikap inilah yang menjadi salah satu tumbuh dan berkembangnya paham radikal di kalangan umat Islam di Indonesia. METODE Metode yang digunakan dalam kajian penelitian ini adalah kajian pustaka atau library research. Penelitian pustaka merupakan penelitian yang menggunakan jurnal, buku-buku serta majalah yang berhubungan dengan kajian penelitian yang diangkat sebagai data primer untuk dijadikan sebagai sumber referensi. Penelitian ini disajikan dalam bentuk deskriptif yang memiliki fokus penelitian pada buku serta kajian pustaka yang tidak membutuhkan penelitian lapangan. Kemudian jenis penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah jenis penelitian kualitatif sehingga dapat menghasilkan informasi dan juga catatan serta data deskriptif yang berasal dari teks yang diteliti. Dalam penelitian kualitatif dibutuhkan analisis deskriptif sehingga dapat memberikan penjelasan dan juga gambaran secara jelas, sistematis, objektif dan juga kritis tentang moderasi beragama dalam bingkai toleransi. Kemudian sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu sumber data primer berupa buku-buku yang secara khusus membahas tentang implementasi nilai-nilai aswaja dalam membina kehidupan beragama di Sekolah Menengah Atas. PEMBAHASAN Ahlu Sunnah Waljama’ah (Aswaja) terdiri dari tiga suku kalimat, yaitu Ahlun, al-Sunnah, dan al-Jama’ah. Ahlun dapat berarti family, kerabat, keluarga, penduduk, sebagaimana dalam ungkapan Ahlul Qoryah, dan dapat pula diartikan sebagai pemeluk atau pengikut. Dalam al-Qur’an biasanya tema sunnah muncul dalam dua konteks: 1) Sunnah Al-Awwalin, yang
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |93 berarti kebiasaan orang-orang terdahulu. Sunnah Allah (ketentuan Allah) yang menurut istilah syara’ dan juga para ahli hadits, sunnah berarti segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, karakter, akhlak atau perilaku baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi Rasul (Fahmi, 2013). Pada hakikatnya, Aswaja merupakan ajaran Islam yang murni sebagaimana diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Ketika Rasulullah menerangkan bahwa umatnya akan terpecah dan tergolong menjadi 73 golongan, beliau menegaskan bahwa yang benar dan selamat dari sekian banyak golongan itu hanyalah Ahlus Sunnah Waljama’ah. Dalam praktik keagamaan, ajaran suatu agama yang muncul ke permukaan umumnya memiliki wajah ganda di mana aspek das sollen (ide moral) seringkali berseberangan dengan fakta sosial keagamaan yang ada di lapangan (das sein). Dalam konteks ini, sikap intoleran yang diperagakan oleh kelompok Muslim garis keras pada dasarnya telah mencederai citra Islam yang telah dikenal baik sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta alam. Sikap keras dan intoleran tentu akan mengubur tujuan utama ajaran Islam dalam memelihara jiwa, agama, harta, keturunan, dan akal. Padahal, jejak rekam perilaku nabi Muhammad yang tercatat dalam berbagai literatur hadis menunjukkan potret yang berbeda. Nabi Muhammad, sebagaimana misi utamanya diutus oleh Tuhan, mempunyai peran untuk menyempurnakan akhlak atau kebaikan. Dalam posisi ideal inilah, merujuk kepada Nabi untuk melihat aspek moderasi Islam (wasatîyah) menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Untuk memahami dan mengimplementasikan konsep ini, perlu untuk melihat hadis-hadis Nabi secara lebih komprehensif. Dengan hal tersebut, keteladanan Nabi akan mampu diterjemahkan ke dalam konsep-konsep dan nilai-nilai luhur yang bersifat universal, untuk selanjutnya bisa menjadi pedoman masyarakat Muslim dalam menjalankan ritual dan sosial keagamaannya (Nurdin, 2021). Dalam konteksi ini, narasi pentingnya jalan tengah (the middle path) dalam beragama seperti yang ditulis Fathorrahman Ghufron, Mengarusutamakan Islam Moderat, sesungguhnya memiliki nilai urgensinya untuk terus-menerus digaungkan oleh tokoh agama, akademisi kampus yang memiliki otoritas, dan melalui saluran berbagai media. Penggaungan narasi semacam itu khususnya untuk memberikan pendidikan kepada publik bahwa bersikap ekstrem dalam beragama, pada sisi manapun, akan selalu menimbulkan benturan (Sutrisno, 2019). Pendidikan Agama Islam Aswaja adalah pendidikan yang falsafah dasar dan tujuan serta teori-teori yang dibangun untuk melaksanakan praktek pendidikan berdasarkan nilai-nilai dasar yang sesuai dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jama‟ah ala. Nilai-nilai pendidikan agama Islam Aswaja yang dimaksud adalah nilai-nilai ajaran pendidikan Islam Aswaja yang diaplikasikan dalam masyarakat oleh Nahdlatul Ulama. Pendidikan adalah kegiatan memperoleh dan menyampaikan pengetahuan, sehingga memungkinkan transmisi kebudayaan kita dari generasi yang satu kepada generasi berikutnya). Pendidikan hakikatnya merupakan usaha manusia untuk dapat membantu, melatih, dan mengarahkan anak melalui transmisi
94 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 pengetahuan, pengalaman, intelektual dan keberagaman orang tua (pendidik) dalam kandungan sesuai dengan fitrah manusia supaya dapat berkembang sampai pada tujuan yang dicita-citakan yaitu kehidupan yang sempurna dengan terbentuknya kepribadian yang utama. Pendidikan Agama Islam merupakan upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani, bertakwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci alQur‟an dan al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan dan pembelajaran. Pendidikan Islam Aswaja adalah pendidikan Islam yang sesuai dengan empat ciri Ahlusunnah Wal Jama‟ah yang diajarkan oleh Rasulullah dan para Sahabatnya sebagai berikut: 1. Tawassuth Tawassuth adalah suatu langkah pengambilan jalan tengah bagi dua kutub pemikiran yang ekstrem (tatharruf), misalnya antara Qadariyyah dan Jabariyyah, antara skiptualisme ortodoks dengan rasionalisme Mu‟tazilah dan antara Sufisme salafi dan Sufisme falsafi. Dalam pengambilan jalan tengah ini juga disertai dengan sikap al-Iqtishad (moderat) yang tetap memberikan ruang dialog bagi para pemikir yang berbeda-beda (Kharismatunisa, 2021). Kata tawassuth bersumber dari kata al-wasth (dengan huruf sin yang di-sukûn-kan) dan al-wasath (dengan huruf sin yang di-fathah-kan) keduanya merupakan isim mashdâr dari kata kerja wasatha. Secara sederhana, pengertian tawassuth secara terminologis bersumber dari makna-makna secara etimologis yang artinya suatu karakteristik terpuji yang menjaga seseorang dari kecendrungan bersikap ekstrim (Abror, 2020). Orang yang memiliki sifat adil akan senantiasa menjaga keseimbangan dan selalu berada di tengah dalam menangani ataupun menghadapi dua permalasalahan atau keadaan. Kata wasath dalam bahasa arab menunjukkan bagian tengah dari kedua ujung sesuatu. Kata ini memiliki makna baik, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis, “Sebaik-sebaik urusan adalah awsathuhâ (yang pertengahan)”9, dikarenakan yang berada di posisi tengah akan senantiasa terlindungi dari cacat atau aib yang biasanya mengenai bagian ujung atau pinggir. Pada dasarnya sifat-sifat baik merupakan akomodasi dan juga pertengahan dari dua sifat buruk, misalnya sifat gemar berbagi yang menengahi antara sifat boros dan kikir, kemudian sifat berani yang menengahi sifat sembrono dan takut. Ulama besar Syekh Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan, wasathiyyah yang disebut juga dengan at-tawâzun, yaitu upaya menjaga keseimbangan antara dua sisi/ujung/pinggir yang berlawanan atau bertolak-belakang, agar jangan sampai yang satu mendominasi dan menegaskan yang lain. Sebagai contoh dua sisi yang bertolak belakang; spiritualisme dan materialisme, individualisme, dan sosialisme, paham yang realistik dan yang idealis, dan lain sebagainya. Bersikap seimbang dalam menyikapinya yaitu dengan memberi porsi yang adil dan proporsional kepada masing-masing sisi/pihak tanpa berlebihan, baik karena terlalu banyak maupun terlalu sedikit (Abror, 2020).
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |95 Agama Islam telah mengajarkan bahwa diantara manusia pasti ada perbedaan, baik dari sisi budaya, etnis, suku maupun perbedaan keyakinan, semua itu merupakan fitrah dan sunnatullah atau sudah menjadi ketetapan Tuhan, maksud dan tujuan utamanya ialah agar diantara mereka saling mengenal dan berinteraksi. Adanya keberagaman merupakan kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tak dapat dipungkiri, khususnya di negara Indonesia yang memiliki dasar Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika: Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Dari pengertian dasar Tawassuth dalam kamus-kamus bahasa Arab ini, dapat di tarik kesimpulan bahwa konsep wasathiyyah secara etimologi memiliki dua pengertian besar yaitu: pertama, sebagai kata benda (ism) dengan pola zharf yang lebih bersifat kongkrit (hissî), yaitu sebagai perantara atau penghubung (interface/al-bainiyyah) antara dua hal atau dua kondisi atau antara dua sisi berseberangan. Kedua, lebih bersifat abstrak (theoretical) yang berarti adil, pilihan, utama dan terbaik (superiority/alkhiyâr). 2. Tawazun Tawazun yaitu menjaga keseimbangan dan keselarasan, sehingga terpelihara secara seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat, antara kepentingan pribadi dan masyarakat, dan antara kepentingan masa kini dan masa datang. Keseimbangan di sini adalah bentuk hubungan yang tidak berat sebelah, atau menguntungkan pihak tertentu dan merugikan pihak yang lain. Tetapi, masingmasing pihak mampu menempatkan diri sesuai dengan fungsinya, tanpa mengganggu fungsi dari pihak yang lain. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya kedinamisan dalam hidup. Keseimbangan menjadikan manusia bersikap luwes, tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu, akan tetapi melalui kajian yang matang dan seimbang. Dengan demikian, yang diharapkan adalah tindakan yang paling tepat, sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya. 3. Tasamuh Tasamuh yaitu bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan, terutama dalam hal-hal yang bersifat furu’iyah, sehingga tidak terjadi perasaan saling terganggu dan saling memusuhi; justru sebaliknya, akan tercipta persaudaraan yang Islami (ukhuwwah Islamiyyah) dengan mentoleransi perbedaan yang ada, bahkan pada keyakinan sekalipun. Dalam konteks ini, tidak dibenarkan kita memaksakan keyakinan, apalagi hanya sekedar pendapat kita, kepada orang lain; atau yang dianjurkan hanya sebatas penyampaian saja, tetapi yang memutuskan akhirnya diserahkan pada otoritas individu dan hidayah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam diskursus sosial-budaya, ASWAJA banyak melakukan toleransi terhadap tradisi-tradisi yang telah berkembang di masyarakat, tanpa melibatkan diri dalam substansinya, bahkan tetap berusaha untuk mengarahkannya. Formalisme dalam aspek-aspek kebudayaan, dalam pandangan ASWAJA, tidaklah memiliki signifikansi yang kuat. Karena itu, tidak mengherankan jika dalam tradisi kaum Sunni terkesan hadirnya wajah kultur dari Syi’ah, atau bahkan Hinduisme. Hal ini pula yang membuatnya menarik banyak kaum Muslimin di berbagai wilayah dunia. Pluralistiknya pikiran dan sikap
96 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 hidup masyarakat adalah keniscayaan; dan ini akan mengantarkannya kepada visi kehidupan dunia yang rahmat di bawah prinsip ketuhanan. 4. I’tidal I’tidal yaitu adil, tegak lurus, atau menempatkan sesuatu pada tempatnya. Menempatkan sesuatu pada tempatnya adalah salah satu tujuan dari syari’at Islam. Dalam bidang hukum, misalnya, suatu tindakan yang salah harus dikatakan salah, sedangkan hal yang benar harus dikatakan benar, kemudian diberikan konsekuensi hukuman yang tepat, sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Dalam kehidupan sosial, rakyat sebagai komponen yang paling penting dalam negara demokrasi harus mendapatkan keadilan dari pemerintah, sesuai dengan hak-haknya dengan terimplementasikan undang-undang sebagaimana mestinya, tanpa diskriminasi. Perjuangan menuju keadilan sosial harus terus dikawal, sesuai dengan pesan luhur dalam nilai-nilai Pancasila. Apabila keempat nilai di atas diperhatikan secara seksama, maka dapat dilihat bahwa ciri dan inti ajaran Aswaja adalah pembawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Sikap moderasi yang tercermin dalam empat nilai di atas harus dijadikan pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak dalam segalahal, yang menyangkut agama dan segala aspek sosial yang lainnya. Apabila nilai-nilai itu diimplementasikan dalam proses pendidikan, tentu akan mampu menangkal faham yang dapat mengancam disintegrasi bangsa serta ikut menumbuhkan persatuan dan kesatuan dalam entitas NKRI atau Negara Kesatuan Rapublik Indonesi. Implementasi nilai-nilai Aswaja (Ahlu al-Sunnah wal-Jama’ah), baik di tingkat dasar maupun menengah, bertujuan untuk memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai faham Aswaja tersebut secara keseluruhan kepada peserta didik, sehingga nantinya akan menjadi muslim yang terus berkembang dalam hal keyakinan, ketakwaan kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan individu dan kolektif, sesuai dengan tuntunan ajaran Islam yang dicontohkan oleh para jama’ah, mulai dari sahabat Nabi, tabi’in, tabi’it, dan para ulama dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, sarana yang digunakan untuk mewujudkan tujuan tersebut terbatas pada perubahan tradisi pada umumnya dan pembinaan para pendukung dakwah agar komitmen dengan ajaran-ajaran Islam, sehingga mereka menjadi teladan bagi orang lain dalam berpegang teguh kepada tali Allah SWT, serta memelihara dan tunduk kepada hukum-hukum dan pertunjuk-Nya. PENUTUP Persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia perlu dijaga. Untuk itu, masyarakat perlu bersatu untuk mewujudkannya. Mengantisiasi faham-faham yang berkembang dan dapat mengancam disintegrasi bangsa, seperti faham radikal, diperlukan revitalisasi nilai-nilai luhur yang diyakini oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Nilai-nilai luhur yang perlu direvitalisasi dan diimplementasikan kembali, diantaranya, adalah nilai-nilai Aswaja (Ahlu al-Sunnah wal-Jama’ah). Nilai-nilai Aswaja itu adalah: tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |97 (adil), yang bisa dijadikan pedoman dalam bertindak di segala aspek kehidupan, termasuk dalam mempertahankan entitas NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Nilai-nilai Aswaja yang akan diimplementasikan, seperti nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal, dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam lembaga pendidikan, baik formal, informal, maupun non-formal. Tentu saja, perlu strategi dan metode untuk dapat benar-benar mengimplementasikan nilainilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Cara yang tepat dalam proses pembinaan kehidupan beragama di sekolah adalah strategi melalui: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Metode pembinaan kehidupan beragama bisa juga dilakukan melalui cara, yaitu: sedikit memberi pengajaran atau teori; perbanyak memberi contoh dan peneladanan; perkuat pembiasaan atau praktek; banyak diberi motivasi; serta pengawasan dan penegakan aturan yang konsisten. DAFTAR PUSTAKA Abror. (2020). Moderasi Beragama dalam Bingkai Toleransi: Kajian Islam dan Keberagaman. Rusydiah: Jurnal Pemikiran Islam, 1(2), 143–155. Ali, M. (2006). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Moderen. Pustaka Amani. Bangun, B. H. (2019). Perbandingan Sistem Dan Mekanisme HAM NegaraNegara Anggota Asean: Tinjauan Konstitusi Dan Kelembagaan. Jurnal HAM, 10(1), 99–114. Belasheva, I. V. dan P. E. F. (2016). Psychological Stability of a Personality and Capability of Tolerant Interaction as Diverse Manifestations of Tolerance. International Journal of Environmental & Science Education, 11(10), 3367–3384. Fahmi, M. (2013). Pendidikan Aswaja NU dalam Konteks Pluralisme. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(1), 165–179. Fahri, M., & Zainuri, A. (2019). Moderasi Beragama di Indonesia. Intizar, 25(2), 95–100. Kharismatunisa, I. (2021). Nahdlatul Ulama dan Perannya dalam Menyebarkan Nilai-Nilai Pendidikan Aswaja An-Nahdliyah pada Masyarakat Plural. Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam, 14(2), 141– 163. Kurniawan, A. (2020). Manajemen Penanaman Nilai-Nilai Toleransi di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Kuningan. Holistik :Journal For Islamic Social Sciences, 4(1), 11–22. Muharam, R. S. (2020). Membangun Toleransi Umat Beragama di Indonesia Berdasarkan Konsep Deklarasi Kairo ( Creating Religion Tolerance in Indonesia Based on the Declaration of Cairo Concept ). Jurnal HAM, 6(2), 6–8. Mustari, I. T. (2020). Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Ahlussunnah WalJama’ah An-Nahdliyyah Melalui Progam Kegiatan Keagamaan di SMA Islam Nusantara Malang. Program Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Nikmah, F. (2018). Implementasi Konsep At Tawasuth Ahlus-Sunnah Wal
98 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Jama’ah Dalam Membangun karakter Anak di Tingkat Sekolah Dasar. Jurnal Tarbawi, 15(1), 80–92. Nugroho A. B, L. P. dan W. (2012). Pola Komunikasi Antarbudaya Batak dan Jawa di Yogyakarta. Jurnal Komunikasi, 1(5). Nurdin, F. (2021). Moderasi Beragama Menurut Al- Qur ’ an dan Hadist. JURNAL ILMIAH AL MU’ASHIRAH: Media Kajian Al-Qur’an Dan AlHadits Multi Perspektif, 18(1), 59–70. Powell, R. dan S. C. (2002). “Religion, Tolerance and Intolerance: Views from Across the Disciplines”. Diunduh dari. Http://Www.Philosophy.Ox.Ac.Uk/__data/Assets/Pdf_file/0013/135 04/Tolerance5 _background_reading.Pdf,. Sahlan, A. (2010). Mewujudkan Budaya Religius Di Sekolah. UIN-Maliki Press. Setara Institute. (2015). Kehidupan Keagamaan di Indonesia. Setara Institut. Suharyanto, A. (2013). Peranan Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Membina Sikap Toleransi Antar Siswa. Jurnal Umma, 1(2). Sutrisno, E. (2019). Aktualisasi Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan. Jurnal Bimas Islam, 12(1), 323–348. Svanberg, L. (2014). Tolerance of Diversity and the Influence of Happiness. Bachelor Thesis in Economics. Karlstad Business School. Sztejnberg. A and Jasinnski. T. L. (2016). Measurement of the tolerance general level in the higher education students. International Journal of Latest Research in Humanities and Social Science (IJLRHSS), 1(4). Umam, M. U. F. & M. S. (2018). Internalisasi Nilai-Nilai Aswaja dalam Pendidikan Islam Sebagai Upaya Deradikalisasi Menuju Good Citizen,. Seminar Nasional Islam Moderat, ISSN: 2622-9994, UNWAHA Jombang, 119. Walzer, M. (1997). On Toleration Castle Lectures in Ethics, Politics, and Economics. Yale University Press.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |99 MANAJEMEN PEMBELAJARAN BLANDED LEARNING GUNA MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN Ermawati Universitas Islam Nusantara, [email protected] Abstrak Dunia Pendidikan mengalami inovasi sesuai dengan perkembangan teknologi informasi, kemajuan teknologi mengakibatkan model pembelajaran dalam dunia Pendidikan mengalami perkembangan. Beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang Blended Learning adalah bagaimana kebijakan pemerintah terkait model pembelajaran blended learning, manajemen pembelajaran blended learning guna meningkatkan mutu pembelajaran, implementasi blended learning di tingkat Pendidikan, efektivitas manajemen pembelajaran blended learning, model pembelajaran hybrid learning sebagai strategi optimalisasi system pembelajaran, upaya penerapan model blended learning dan dampak penerapan model pembelajaran blended learning. Metode dalam riset ini menggunakan studi literature. Blended learning ini terbukti sangat efektif dan efisien. Bisa dikatakan bahwa model pembelajaran ini menghemat sumber daya, waktu bahkan biaya yang dikeluarkan. Peserta didik bisa mengakses pembelajaran dimana saja dan kapan pun. Metode pembelajaran ini juga bisa dikembangkan secara fleksibel. Peserta didik bisa mengakses modul pembelajaran yang mudah karena dilakukan dengan cara online. Fasilitator maupun guru bisa menyampaikan materi dengan berbagai macam metode. Misalnya video konferensi, video tutorial, sharing modul pembelajaran dan sebagainya Kata Kunci : Blended Learning, inovasi, model pembelajaran, Teknologi Informasi Abstract The world of education is experiencing innovation in accordance with the development of information technology, technological advances have resulted in learning models in the world of education experiencing developments. Some things we need to know about Blended Learning are how government policies regarding blended learning learning models, blended learning learning management to improve learning quality, implementation of blended learning at the Education level, the effectiveness of blended learning management, hybrid learning learning models as a strategy for optimizing the learning system efforts to apply the blended learning model and the impact of applying the blended learning model. The method in this research uses literature study. Blended learning has proven to be very effective and efficient. It can be said that this learning model saves resources, time and even costs incurred. Students can access learning anywhere and anytime. This learning method can also be developed flexibly. Students can access easy learning modules because they are done online. Facilitators and teachers can deliver material using a variety of methods. For example video conferencing, video tutorials, sharing learning modules and so on Keywords: Blended Learning, innovation, learning models, Information Technology
100 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 PENDAHULUAN Dunia pendidikan mengalami perubahan drastis dalam beberapa tahun terakhir, baik karena pandemi atau juga karena perkembangan teknologi. Salah satu model pembelajaran yang berkembang adalah model blended learning. Saat ini program e-learning atau Blended Learning sedang menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan, seiring bertambah canggihnya teknologi akan mempengaruhi model dan metode pembelajaran dimasa depan. Regulasi untuk e-learning atau Blended Learning saat ini juga sedang digodok oleh pemerintah, seperti yang diungkapkan oleh Mentri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan “regulasi penyelenggaraan e-learning atau kuliah secara daring dalam waktu dekat akan diterbitkan pemerintah”, untuk beralih dari model pembelajaran tatap muka atau bertemu secara langsung, lalu berubah menjadi daring (online) itu sangat membutuhkan effort dan biaya yang tidak sedikit. Namun ini bisa dimulai dengan model Blended Learning. Blended learning adalah salah satu metode pembelajaran inovasi untuk masa kini dan masa depan oleh karena itu kita perlu menggali lebih dalam bagaimana metode ini dapat diimplementasikan didalam dunia Pendidikan guna menghasilkan mutu Pendidikan yang sesuai dengan standar Pendidikan nasional. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta teknik pengumpulan data menggunakan kajian literatur (literature review) yang diutamakan dari jurnal-jurnal ilmiah yang berskala nasional dan internasional. Kajian literatur ialah sebuah studi yang berciriciri bahwa penelitian dengan acuan utama dari berbagai Pustaka, namun dalam hal ini sumber utamanya berasal dari jurnal. PEMBAHASAN Thorne(2013) Mengatakan bahwa blended learning ini adalah sistem campuran yang menggabungkan dua komponen atau metode sekaligus. Campurannya adalah teknologi e-learning dan multimedia. Bahan pembelajaran yang digunakan streaming video, kelas virtual, teks animasi online yang mana dikombinasikan dengan bentuk pembelajaran tradisional yang ada di kelas. Berikut ini adalah manfaat dan tujuan blended learning yang menarik untuk ketahui: 1. Belajar menjadi Lebih Fleksibel Dengan pembelajaran campuran murid bisa belajar lebih fleksibel daripada pembelajaran secara konvensional dimana murid diharapkan bisa lebih santai ketika belajar. 2. Interaksi dan Keterlibatan Siswa Meningkat Saat ini siswa sudah akrab dengan teknologi dan menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan teknologi saat belajar akan membuat siswa bisa lebih terlibat di dalam kegiatan pembelajaran. 3. Meningkatkan Hasil dan Minat Belajar Dibandingkan dengan metode pembelajaran yang hanya satu macam, blended learning mampu
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |101 meningkatkan hasil dan minat belajar siswa. Hal itu karena metode belajar yang digunakan jauh lebih menarik dan menggunakan media pembelajaran yang menarik pula. Berdasarkan penelitian dari Wiley, anak-anak SD yang menggunakan blended learning untuk pembelajaran bahasa Inggris terdapat peningkatan membaca sampai dengan 20 poin. 4. Partisipasi Siswa Meningkat Di pembelajaran konvensional, siswa akan cenderung berperan pasif dalam pembelajaran karena sistem pembelajaran tradisional ini pusatnya hanya pada pengajar. Hal itu tidak akan didapatkan pada blended learning, alasannya karena metode pembelajarannya meningkatkan akses materi maupun aktivitas pembelajaran sehingga mendorong siswa menjadi lebih aktif. 5. Kepuasan Belajar Meningkat Blended learning ini bisa meningkatkan kepuasan siswa dalam pembelajaran dan hasil belajar. Dari awal siswa mengetahui alur pembelajaran sejak awal. Dari awal siswa akan tahu alur pembelajarannya. Selain itu siswa juga tahu apa yang diharapkan darinya sampai syarat mencapai tujuan sampai nilai akhir. Blended learning dapat menjadi salah satu metode pembelajaran terbaik yang bisa dipilih. Saat pandemi Covid-19 ini wajah pendidikan berubah dari yang tatap muka setiap hari berubah menjadi daring atau online. Tak menutup kemungkinan metode ini juga akan terus terpakai tidak hanya selama pandemi berlangsung, namun bisa menjadi metode pembelajaran inovatif untuk masa depan. Berbicara blended learning adalah sesuatu yang menarik, sehingga ada beberapa orang yang tertarik untuk meneliti lebih jauh metode pembelajaran tersebut. Inu dkk (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “Manajemen Pendidikan Dalam Pembelajaran Blended Learning di Masa Pandemi” menjelaskan Penulisan ini bertujuan untuk memberi gambaran mengenai manajemen Pendidikan dalam pembelajaran blended learning di masa pandemi. Metode penelitian yang digunakan ialah metode studi literatur yang berdasarkan pengumpulan data dari para ahli atau penelitian terdahulu serta mengumpulkan informasi dari beberapa jurnal. Metode ini dilakukan denganmembacadari berbagai sumber data dan dihubungkan dengan topik yang penulis bahas kemudian disampaikan kembali dalam bentuk deskripsidengan menambahkan beberapa variabel lain. Pendidikan tidak terlepas dari sebuah manajemen karena manajemen diperlukan untuk mengatur dan mencapai sasaran pendidikan. Dalam Pendidikan pun tidak terlepas dari pembelajaran karena inti dari Pendidikan adalah proses belajar. Dengan adanya pandemic covid-19 ini maka terjadi perubahan dalam proses pembelajaran, saat ini pembelajaran yang dilakukan adalah dengan blended learning. Pembelajaran blended learning merupakan kombinasi antara belajar tatap muka (offline) dengan belajar tatap maya (online). M. Makhin (2022) dalam jurnalnya yang berjudul: “Hybrid learning: Model Pembelajaran Pada Masa Pandemi di SD Negeri Bungurasih Waru Sidoarjo” menjelaskan Efek Covid-19 yang memiliki dampak luar biasa bagi seluruh sektor kehidupan, sehingga semua kebijakan pemerintah diarahkan
102 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 pada pembatasan kegiatan yang harus diikuti oleh seluruh kementerian tak terkecuali pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yakni pembatasan kegiatan tatap muka di lembaga pendidikan dengan melakukan proses belajar dari rumah (BDR). Pembelajaran daring yang telah dilaksanakan dengan waktu yang relatif lama ini mulai dikhawatirkan berpengaruh negatif bagi psikososial peserta didik, sehingga perlu alternatif solusi untuk meminimalisir pengaruh negatif tersebut. Inovasi yang dilakukan guru yakni menerapkan Hybrid Learning demi memaksimalkan pembelajaran yang dilakukan selama pandemi Covid-19 ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan tujuan mendeskripsikan Hybrid Learning yang diimplementasikan di SD Negeri Bungurasih Waru Sidoarjo dan problematika yang dialami serta solusinya. Hasil penelitian ini, terdapat beberapa tahapan yang dilakukan guru dalam implementasi Hybrid Learning antara lain: pertama, tahap perencanaan. Pada tahap ini dilakukan beberapa hal yakni: sosialisasi pembelajaran jarak jauh kepada wali murid, pembentukan paguyuban setiap paralel kelas, pembagian kelompok kecil siswa, pembuatan perangkat pembelajaran; kedua, tahap implementasi. Pada tahapan ini Hybrid Learning dilakukan dengan kombinasi pembelajaran dalam jaringan (daring) dan pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan secara berkelompok di rumah peserta didik; ketiga, tahapan evaluasi atau penilaian dilakukan dengan pemberian soal tes dan non tes. Problem pada pembelajaran Hybrid antara lain: kemampuan literasi teknologi yang belum maksimal; terbatasnya waktu, kurang adanya kesadaran dari peserta didik dan sebagian wali murid untuk memaksimalkan pendampingan belajarnya. Solusi yang diberikan yakni dengan memberikan pendampingan yang lebih maksimal terkait literasi digital sehingga pembelajaran yang dilaksanakan kedepannya lebih maksimal. Gultom (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “Pembelajaran Hybrid learning Model Sebagai Strategi Optimalisasi Sistem Pembelajaran di Era Pandemi Covid-19 Pada Perguruan Tinggi Di Jakarta ” menjelaskan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem pembelajaran yang efektif dan sesuai di era pandemi saat ini serta pasca pandemi. Penelitian dilakukan melalui analisis deskriptif kuantitatif dengan metode survei yang dilakukan kepada 140 Mahasiswa dari beberapa Perguruan Tinggi di Jakarta melalui kuesioner untuk mengukur efektivitas pelaksanaan pembelajaran melalui online, offline dan hybrid learning atau campuran. Hasil penelitian ini dapat membantu kegiatan pembelajaran yang lebih baik dan dapat memberikan informasi strategi mana yang paling tepat dalam melakukan optimalisasi pembelajaran yang efektif dengan mengetahui keterbatasan dan keunggulan dari sistim-sistem pembelajaran yang ada, berdasarkan kendala-kendala yang dihadapi lalu hasilnya dievaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi efektivitas sistim pembelajaran saat pandemi dengan analisis fishbone diketahui masalah utama sistim pembelajaran online saat ini terletak pada 3 hal yakni man (manusia), machine(mesin/perangkat), dan method (metode pembelajaran). Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran efektif pasca pandemi covid 19 adalah pembelajaran hybrid learning (46,4%), hybrid
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |103 learning dipilih sebagai pembelajaran yang paling sesuai karena dapat menutupi kekurangan dari pembelajaran online dan offline. Pembelajaran hybrid learning membutuhkan metode khusus yang berkaitan dengan penyampaian pembelajaran campuran/hybrid untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta peran perguruan Tinggi dalam pelaksanaan dan penyampaian materi, sehingga dengan metode pembelajaran campuran materi yang disampaikan dapat dipahami secara menyeluruh oleh mahasiswa. Adri dkk (2022) dalam jurnalnya yang berjudul: “Manajemen Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19 Berbasis Blended Learning” menjelaskan Pada masa Pandemi covid 19, seluruh aktifitas lembaga kependidikan madrasah/ sekolah harus melaksanakan proses pembelajaran dalam jaringan (daring). Salah satu inovasi pembelajaran yang bisa dilakukan oleh madrasah/ sekolah yaitu dengan menerapkan pembelajaran berbasis Blended Learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Manajemen, perencanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran berbasis Blended Learning di MTsN 3 Pasaman. Jumlah responden pada penelitian ini terdiri dari 10 guru bidang studi dan 30. Penelitian menggunakan teknik analisis data kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap perencanaan, sekolah merumuskan kurikulum khusus yang disesuaikan dengan model pembelajaran Blended Learning di masa Pandemi Covid-19 dan didukung sarana dan prasana belajar yang memadai. Pada tahap implementasi, ada perbedaan sedikit antara teori dan data riil dari segi waktu pembelajaran luring dan daring. Sekolah MTsN 3 Pasaman menerapkan sistem shift, seminggu pembelajaran luring dan di minggu yang lain pembelajaran daring, sedangkan, pembelajaran online/daring disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing guru. Pada tahap evaluasi sekolah melaksanakan evaluasi secara tatap muka/luring dan online/daring berbasis website. Erviani dkk (2021) dalam jurnalnya yang berjudul : “Manajemen Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 ” menjelaskan Penelitian ini mengkaji tentang manajemen pembelajaran di masa pandemi COVID-19 akibat dari dampak wabah yang melanda di seluruh belahan bumi sejak dua tahun terakhir ini. Penelitian bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kesigapan sekolah dalam menghadapi pembelajaran di masa pandemi COVID-19, (2) mendeskripsikan implementasi pembelajaran di masa pandemi COVID-19, (3) mendeskripsikan dampak pola pembelajaran di masa pandemi COVID-19 di SMA Negeri I Ampana Kota dan SMK Informatika Komputer Ampana Kota. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi-kasus. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, studi dokumentasi, dan observasi. Proses analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan simpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kesigapan sekolah dalam menghadapi pembelajaran di masa pandemi Covid-19 pada prinsipnya sudah terlihat siap, dari segi kurikulum dengan memilah dan memilih materi esensial untuk diajarkan kepada peserta didik. Dari segi sarana prasarana
104 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 sekolah memiliki fasilitas penunjang pembelajaran dan fasilitas sanitasi yang cukup memadai dan layak bagi warga sekolah. Pendidik dalam hal ini guru sudah siap dengan menerapkan pembelajaran model daring, luring maupun kombinasi, begitu pula peserta didik sebagian besar dapat dikatakan dalam kategori siap karena teknologi bukan hal asing lagi bagi mereka; (2) implementasi pembelajaran di masa pandemi dapat berjalan dengan baik meskipun belum sepenuhnya optimal, diakibatkan masih terdapat kendala baik teknis maupun nonteknis. Pembelajaran di masa depan dapat menerapkan model pembelajaran blended/hybrid learning; (3) dampak pola pembelajaran baik daring dan luring dari segi mutu pendidikan dan capaian hasil belajar peserta didik pada masa pandemi mengalami penurunan secara signifikan karena banyaknya kendala teknis dan nonteknis, serta belum adanya habituasi dengan sistem pembelajaran jarak jauh ini. Pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi ini dapat berjalan dengan optimal dan efektif jika sinergitas antara pemangku kepentingan pendidikan, pihak sekolah, dan masyarakat dalam hal ini orang tua dapat terjalin dengan baik. Mahmudi dkk (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “Efektivitas Manajemen Pembelajaran Dengan Metode Blended Learning Melalui Jejaring Moodle Dan Google Class Room Pasca Covid 19 ” menjelaskan Penelitian ini merupakan penelitian literatur tentang efektivitas manajemen pembelajaran dengan metode blended learning melalui jejaring Google Classroom dan Moodle pasca covid 19. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data berupa dokumentasi sumber-sumber dokumen literatur. Penelitian ini membandingkan efektivitas manajemen pembelajaran menggunakan metode blended learning yang merupakan model pembelajaran yang memadukan pembelajaran daring (online) dan model pembelajaran luring (offline) dalam rangka mencapai capaian pembelajaran lulusan yang lebih efektif. Tujuan utama dari pembelajaran dengan metode blended learning melalui jejaring Google Classroom dan Moodle pasca covid 19 yaitu memadukan sistem pembelajaran daring yang dilaksanakan selama pandemi covid yang terbukti efektif dalam sistem manajemen pembelajaran dan sistem pembelajaran tatap muka. Penerapan Sistem pembelajaran tatap muka dengan menggunakan sistem manajemen pembelajaran mampu meningkatkan manajemen pembelajaran, strategi pembelajaran, capaian dan tagihan pembelajaran. Prabowo dan Muslimin (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “Manajemen Blended Learning Berbasis Whatsapp pada Masa Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Di SMAN 1 Manggelewa) ” menjelaskan Pendidikan Indonesia berbenah diri menyesuaikan dengan segala keterbatasan yang terjadi pada masa Pandemi Covid-19. Blended Learning menjadi salah satu solusi untuk melaksanakan pembelajaran di tengah pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebijakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada pembelajaran jenjang SMA, mengetahui model manajemen Blended Learning Berbasis WhatsApp di SMAN 1 Manggelewa, mengetahui keunggulan dan kelemahan model Blended Learning Berbasis WhatsApp di SMAN 1 Manggelewa dan mengetahui bagaimanakah model Blended
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |105 Learning yang efektif untuk jenjang SMA pada masa yang akan datang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data primer diperoleh dari SMAN 1 Manggelewa sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melanjutkan regulasi pemerintah pusat yaitu membatasi pembelajaran tatap muka. SMAN 1 Manggelewa telah menerapkan Blended Learning berbasis WhatsApp melalui grup yang dikelola oleh guru mata pelajaran. Pelaksanaan Blended Learning di SMAN 1 Manggelewa berjalan dengan baik meski ditemukan beberapa kendala. Proyeksi ke depan, Blebded Learning bisa lebih dikolaborasikan dengan teknologi dalam bentuk LMS (Learning Management System) melalui Moodle. Dewi dan Windayani (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “Pembelajaran Hybrid Learning Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pembelajaran di Sekolan Dasar Pada Masa Pandemi ” menjelaskan Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dilakukan secara daring dari awal pandemi hingga saat ini, dikhawatirkan berdampak negatif bagi masyarakat aspek psikososial siswa, sehingga perlu adanya perubahan terkait pembelajaran daring teknik yang sebelumnya murni di jaringan sehingga menjadi kombinasi offline pembelajaran dilakukan (di luar jaringan). atau offline (tatap muka). Kombinasi ini ditemukan dalam model Hybrid Learning. Hybrid learning sendiri menggabungkan pembelajaran tatap muka kegiatan dengan pembelajaran berbasis teknologi komputer dan internet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi pembelajaran hybrid di sekolah dasar. Pengumpulan data teknik dalam penelitian ini dilakukan dengan mewawancarai 10 orang guru sekolah dasar di kota atau desa di Bali dan 3 siswa SD di Bali. Hasilnya menunjukkan bahwa baik guru maupun siswa sangat senang dengan pembelajaran hybrid karena selain membuat mempermudah guru dalam mengajar, juga memberikan semangat belajar bagi siswa karena siswa memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung baik dengan guru maupun dengan teman-temannya. Ayep Rosidi (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “Manajemen Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19 Berbasis Blanded Learning Di MAN Demak ” menjelaskan Pada masa pandemi Covid-19 atau yang sering disebut dengan “new normal”, memaksa pendidikan harus meninggalkan konsep pembelajaran lama yang masih mengandalkan 100% tatap muka antara guru dan siswa berpindah ke pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Pembelajaran dengan blended learningpun menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan agar siswa tetap bisa mendapatkan haknya dalam pendidikan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara rinci bagaimana manajemen pembelajaran pada masa pandemi covid-19 berbasis blended learning di MAN Demak. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap perencanaan, madrasah merumuskan kurikulum khusus yang disesuaikan dengan model pembelajaran blended learning di masa Pandemi Covid-19, penyusunan RPP oleh masing-masing guru dan
106 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 didukung oleh sarana dan prasana belajar yang memadai. Pada tahap pelaksanaan, MAN Demak menerapkan sistem shift, siswa yang nomor presensi ganjil masuk dan belajar secara luring di tanggal ganjil sementara siswa yang nomor presensi genap mengikuti pembelajaran daring. Sebaliknya siswa dengan nomor presensi genap masuk dan belajar luring di tanggal genap, dan siswa ganjil mengikuti pembelajaran daring. Pada tahap evaluasi, Madrasah melaksanakan evaluasi secara tatap muka/luring dan online/daring melalui e-learning dan google form. Galus dkk (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “Kesiapan Sekolah Dalam Pengelolaan Model Pembelajaran Hybrid Learning Di SMA Kota Gorontalo ” menjelaskan tentang kesiapan sekolah dalam pengelolaan model pembelajaran hybrid learning di SMA Kota Gorontalo yang bertujuan untuk mengetahui: (1) Kesiapan kurikulum dalam pengelolaan model pembelajaran hybrid learning, (2) Kesiapan sarana dan prasarana sekolah dalam pengelolaan model pembelajaran hybrid learning, (3) Kesiapan pendidik dan tenaga kependidikan dalam pengelolaan model pembelajaran hybrid learning, dan (4) Kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran hybrid learning. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian yaitu deskriptif eksplanatori. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik kuesioner (angket), wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan menggunakan formulasi persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kesiapan kurikulum dalam pengelolaan model pembelajaran hybrid learning berada pada kategori sangat siap, (2) Kesiapan sarana dan prasarana sekolah dalam pengelolaan model pembelajaran hybrid learning berada pada kategori siap, (3) Kesiapan pendidik dan tenaga kependidikan dalam pengelolaan model pembelajaran hybrid learning berada pada kategori siap, dan (4) Kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran hybrid learning berada pada kategori siap. Untuk itu disarankan: (1) Kepala sekolah diharapkan dapat meningkatkan kesiapan sarana dan prasarana, kesiapan pendidik dan tenaga kependidikan, dan kesiapan siswa agar lebih siap dalam pembelajaran hybrid learning dan juga dapat mempertahankan kesiapan kurikulum, (2) Tenaga pendidik dan tenaga kependidikan diharapkan kreatif dan inovatif dalam mengembangkan pembelajaran dengan mengintegrasikan teknologi sehingga lebih siap dalam pelaksanaan pembelajaran hybrid learning, (3) Siswa diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya di bidang teknologi, informasi dan komunikasi sehingga lebih siap mengikuti pembelajaran hybrid learning, dan (4) Peneliti lainnya diharapkan dapat memperdalam kembali penelitian ini khususnya pada aspek-aspek yang belum dikaji oleh peneliti. Abd dkk (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “The Effectiveness of Blended Learning During the Covid-19 Pandemic at the High School Level ” menjelaskan The purpose of this study was to determine the effectiveness of the application of blended learning on student motivation, student characteristics, and student interaction. The method used in this study is comparative quantitative by comparing the final grades of students before and during the covid-19 pandemic as supporting data. The population in this
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |107 study were all students of classes XI and XII with a total sample of 218 students with a sample of 160 students taken using purposive sampling. Furthermore, the data collection technique was carried out by distributing questionnaires using google form media. And analyzed using content analysis. The results showed that there was a significant difference in students' final grades as evidence of the effectiveness of applying blended learning compared to face-to-face classes for mathematics, English, and Indonesian subjects; There is no significance between student characteristics and the effectiveness of blended learning; No significance between student interaction and the effectiveness of blended learning; There is a significance between learning motivation and the effectiveness of blended learning. Sitompul dkk (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “The Effectiveness of Using Learning Management System (LMS) in Blended Learning Model in The Learning System of 4.0 Era ” menjelaskan This study aims to determine differences in student motivation and learning achievement in KKPI subjects between students who use the face-to-face learning model and students who use blended learning models, increased motivation and student achievement in KKPI subjects due to the application of the blended model learning, and the interaction of the influence of the application of learning models and motivation on KKPI student learning achievement at SMK 1 Kamal Bangkalan. This quasi-experimental study uses two groups, namely the experimental group using the blended learning model and the control group using the face-to-face learning model. The study population was students of class XI SMKN 1 Kamal Bangkalan. The research sample consisted of 57 students divided into 30 students in the control group and 27 students in the experimental group. Data collection using questionnaires and multiple choice test questions. The results showed that there were significant differences between motivation and student achievement using the blended learning model and students using the faceto-face learning model, there was a significant increase in student motivation and learning achievement due to the application of the blended learning model, and there was no interaction of influence the application of learning models and motivation to student learning achievement. Isti’anah (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “ The Effect Of Blended Learning To The Students’ Achievement In Grammar Class” menjelaskan Blended learning dipercaya mampu meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami bahasa asing. Penggunaan aktifitas offline dan online diharapkan mampu memberi luaran yang lebih baik dibandingkan aktifitas tatap muka secara tradisional. Artikel ini menyajikan bagaimana blended learning diterapkan dalam kelas English grammar dan mengungkapkan apakah blended learning memberikan perbedaan berarti dalam pencapaian mahasiswa sebelum dan setelah perlakuan. Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester dua dari Program Studi Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma. 26 partisipan dilibatkan dalam penelitian ini. Penelitian pra-eksperimen diterapkan dengan membandingkan rata-rata nilai dari
108 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 peserta dalam pre-tes dan pos-tes. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan rata-rata dari kedua tes, yang ditunjukkan dengan analisis pasangan t-tes. Nilai p menunjukkan 0.00 dan lebih kecil dari alpha 0.05. Penelitian ini menyimpulkan bahwa blended learning efektif untuk mendampingi mahasiswa belajar English grammar. Untuk memperkuat penemuan tersebut, penelitian ini juga melibatkan prekuesioner dan pos-kuesioner. Pada akhir semester, sebagian besar mahasiswa menemukan bahwa aktifitas online membantu mereka memahami dan melatih materi yang mereka pelajari. Jurnal reflektif mahasiswa juga menunjukkan bahwa blended learning mampu meningkatkan kemampuan mereka belajar English Grammar. Zainuddin dan Keumala(2018) dalam jurnalnya yang berjudul : “Blended Learning Method Within Indonesian Higher Education Institutions ” menjelaskan konsep pembelajaran Blended learning dari segi teori dan praktik berdasarkan literatur dari beberapa jurnal internasional bereputasi. Lahirnya metode ini bertujuan untuk menyempurnakan kekurangan dari metode pembelajaran konvensional face-to-face yang tidak menggunakan media teknologi dalam pembelajaran, serta kekurangan pada metode pembelajaran e-learning yang mengesampingkan pembelajaran tatap muka. Dalam metode ini siswa akan belajar secara tatap muka di kelas yang didukung oleh berbagai media pembelajaran seperti website, video, dan Learning Management System (LMS). Dalam praktiknya, penggunaan media teknologi sebenarnya lebih banyak digunakan untuk proses pembelajaran di luar kelas terutama untuk diskusi online dan mengumpulkan tugas. Metode ini menekankan bahwa pembelajaran bukan hanya terjadi di kelas saja secara tatap muka, tetapi juga di luar kelas melalui media online. Yustina dkk (2020). dalam jurnalnya yang berjudul : “ The Effects Of Blended Learning And Project-Based Learning On Pre-Service Biology Teachers’ Creative Thinking Through Online Learning In The Covid-19 Pandemic ” menjelaskan The purpose of this study was to analyze the effect of Blended Learning (BL) and Project-Based Learning (Pj-BL) on the preservice teachers’ creative thinking in learning biology. This type of research is a quasi-experimental study with 76 biology education students as research subjects. In its implementation, the experimental class was taught using the BL and Pj-BL approach, the control class is conventional class. The parameters are creative thinking with 4 indicators. Data was collected using pretest and posttest assessments. Data is presented and analyzed descriptively. The results of the study were overall the average score of creative thinking of pre-service teachers in the experimental class was 91 with an N-gain index of 0.62, higher than in the control class (76) with an N-gain index of 0.51. From the results, it could be concluded that Blended Learning and Project-Based Learning are quite influential in increasing the creative thinking ability of pre-service biology teachers, and BL and Pj-BL is quite more effective than conventional in increasing the preservice teachers’ creative thinking in biology learning.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |109 Handayani dkk (2022). dalam jurnalnya yang berjudul : “ Blended Learning Implementation and Impact in Vocational Schools” menjelaskan The purpose of this study is to systematically review empirical evidence about how necessary blended learning for vocational education, the blended learning implementation in vocational schools, and the blended learning impact in vocational schools. It analyzed 32 studies concerning blended learning implementation and impact in vocational schools, published in the last five years. Employing the meta-analysis review method, the data were extracted and analyzed by descriptive analysis and concluded in the form of a percentage. This study’s results stated that blended learning could be used as a vocational education system solution by adjusting technological advances. The highest implementation was in the design and management dimensions of blended learning at 39%; It was considered the most important in adopting blended learning in vocational schools. Besides, the study of the highest impact was the increase in students' abilities and knowledge in the form of test scores, which was 42% higher than behavior and motivation’s impact. Therefore, it is necessary for future research to develop blended learning in vocational schools by paying attention to the students’ behavior and motivation impact. Resmiaty dkk (2021). dalam jurnalnya yang berjudul : “The implementation of blended learning in the new normal era at vocational school of health ” menjelaskan The purpose of this study is to systematically review empirical evidence about how necessary blended learning for vocational education, the blended learning implementation in vocational schools, and the blended learning impact in vocational schools. It analyzed 32 studies concerning blended learning implementation and impact in vocational schools, published in the last five years. Employing the metaanalysis review method, the data were extracted and analyzed by descriptive analysis and concluded in the form of a percentage. This study’s results stated that blended learning could be used as a vocational education system solution by adjusting technological advances. The highest implementation was in the design and management dimensions of blended learning at 39%; It was considered the most important in adopting blended learning in vocational schools. Besides, the study of the highest impact was the increase in students' abilities and knowledge in the form of test scores, which was 42% higher than behavior and motivation’s impact. Therefore, it is necessary for future research to develop blended learning in vocational schools by paying attention to the students’ behavior and motivation impact. Susilawati dkk (2020). dalam jurnalnya yang berjudul : “Encouraging Learning Quality Through Blended Learning Model ” menjelaskan The purpose of this study is to systematically review empirical evidence about how necessary blended learning for vocational education, the blended learning implementation in vocational schools, and the blended learning impact in vocational schools. It analyzed 32 studies concerning blended learning implementation and impact in vocational schools, published in the last five years. Employing the meta-analysis review method, the data were extracted and analyzed by descriptive analysis and concluded in the form of
110 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 a percentage. This study’s results stated that blended learning could be used as a vocational education system solution by adjusting technological advances. The highest implementation was in the design and management dimensions of blended learning at 39%; It was considered the most important in adopting blended learning in vocational schools. Besides, the study of the highest impact was the increase in students' abilities and knowledge in the form of test scores, which was 42% higher than behavior and motivation’s impact. Therefore, it is necessary for future research to develop blended learning in vocational schools by paying attention to the students’ behavior and motivation impact. Dziuban (2018). dalam jurnalnya yang berjudul : “Blended learning: the new normal and emerging technologies ” menjelaskan This study addressed several outcomes, implications, and possible future directions for blended learning (BL) in higher education in a world where information communication technologies (ICTs) increasingly communicate with each other. In considering effectiveness, the authors contend that BL coalesces around access, success, and students’ perception of their learning environments. Success and withdrawal rates for face-to-face and online courses are compared to those for BL as they interact with minority status. Investigation of student perception about course excellence revealed the existence of robust if-then decision rules for determining how students evaluate their educational experiences. Those rules were independent of course modality, perceived content relevance, and expected grade. The authors conclude that although blended learning preceded modern instructional technologies, its evolution will be inextricably bound to contemporary information communication technologies that are approximating some aspects of human thought processes. Rahman dkk (2020) dalam jurnalnya yang berjudul : “The Implementation of Blended Learning Model on Motivation and Students’ Learning Achievement ” menjelaskan This study aims to determine differences in student motivation and learning achievement in KKPI subjects between students who use the face-to-face learning model and students who use blended learning models, increased motivation and student achievement in KKPI subjects due to the application of the blended model learning, and the interaction of the influence of the application of learning models and motivation on KKPI student learning achievement at SMK 1 Kamal Bangkalan. This quasi-experimental study uses two groups, namely the experimental group using the blended learning model and the control group using the face-to-face learning model. The study population was students of class XI SMKN 1 Kamal Bangkalan. The research sample consisted of 57 students divided into 30 students in the control group and 27 students in the experimental group. Data collection using questionnaires and multiple choice test questions. The results showed that there were significant differences between motivation and student achievement using the blended learning model and students using the face-to-face learning model, there was a significant increase in student motivation and learning achievement due to the application of the blended learning model, and there was no
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |111 interaction of influence the application of learning models and motivation to student learning achievement PENUTUP Blended learning ini terbukti sangat efektif dan efisien. Bisa dikatakan bahwa model pembelajaran ini menghemat sumber daya, waktu bahkan biaya yang dikeluarkan. Peserta didik bisa mengakses pembelajaran dimana saja dan kapan pun. Metode pembelajaran ini juga bisa dikembangkan secara fleksibel. Peserta didik bisa mengakses modul pembelajaran yang mudah karena dilakukan dengan cara online. Fasilitator maupun guru bisa menyampaikan materi dengan berbagai macam metode. Misalnya video konferensi, video tutorial, sharing modul pembelajaran dan sebagainya DAFTAR PUSTAKA Inu dkk (2022).”Manajemen Pendidikan Dalam Pembelajaran Blended Learning di Masa Pandemi”. VOL. 6 NO. 2 (2022): Naturalistic: Jurnal Kajian Penelitian Dan Pendidikan Dan Pembelajaran. sumber : https://journal.umtas.ac.id/index.php/naturalistic/issue/view/99. M. Makhin (2022).“Hybrid learning: Model Pembelajaran Pada Masa Pandemi di SD Negeri Bungurasih Waru Sidoarjo”. vol 3 (2021): july : mudir: jurnal manajemen pendidikan. sumber : https://ejournal.insud.ac.id/index.php/MPI/article/view/312. Gultom (2022). “Pembelajaran Hybrid learning Model Sebagai Strategi Optimalisasi Sistem Pembelajaran di Era Pandemi Covid-19 Pada Perguruan Tinggi Di Jakarta ”. Vol 28 No 1 (2022): Mediastima. Sumber: https://ejournal-ibik57.ac.id/index.php/mediastima/article/view/385. Adri (2022). “Manajemen Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19 Berbasis Blended Learning”. Vol. 6, No. 1, 2021, pp. 110-118 : Riset Tindakan Indonesia. Sumber : https://jurnal.iicet.org/index.php/jrti/article/view/875. Erviani dkk (2021) dalam jurnalnya yang berjudul : “Manajemen Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19 ”. Vol.9, Nomor 3 September 2021, hlm. 480-502 : Manajemen Pendidikan. Sumber : https://ejurnal.pps.ung.ac.id/index.php/JN/article/view/1132/0. Mahmudi dkk (2022) “Efektivitas Manajemen Pembelajaran Dengan Metode Blended Learning Melalui Jejaring Moodle Dan Google Class Room Pasca Covid 19 ”. Vol. 2 No. 2 Mei 2022, e-ISSN : 2797-0140 | p-ISSN : 2797-0590. Jurnal Inovasi Pendidikan Berbantuan Teknologi. Sumber: https://jurnalp4i.com/index.php/edutech/article/view/1208. Dewi dan Windayani (2022). “Pembelajaran Hybrid Learning Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Pembelajaran di Sekolan Dasar Pada Masa Pandemi ”. VOLUME 5, No.1, MARET 2022 : Pendidikan. Sumber : https://stahnmpukuturan.ac.id/jurnal/index.php/bhuwana/article/vie w/1962. Ayep Rosidi (2022. “Manajemen Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid19 Berbasis Blanded Learning Di MAN Demak ”. Vol. 1. No. 2 Maret
112 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 2022: Pendidikan dan Ilmu Sosial. Sumber: https://jurnal.jomparnd.com/index.php/jp/article/view/39. Galus dkk (2022). “Kesiapan Sekolah Dalam Pengelolaan Model Pembelajaran Hybrid Learning Di SMA Kota Gorontalo ”. Volume 1 Nomor 1, Juni 2021. Hal. 41-56 Abd dkk (2022). “The Effectiveness of Blended Learning During the Covid-19 Pandemic at the High School Level ”. Vol.14, 2 (June, 2022), pp. 2605- 2614 : Jurnal Pendidikan. Sumber : https://journal.staihubbulwathan.id/index.php/alishlah/article/view/1 201. Sitompul dkk (2022). “The Effectiveness of Using Learning Management System (LMS) in Blended Learning Model in The Learning System of 4.0 Era ”. Vol. 6 , No. 1, May 2022, pp. 417-422 : Jurnal Mantik. Sumber : https://ojs.unimal.ac.id/ijevs/article/view/2694 Arina Isti’anah (2022) dalam jurnalnya yang berjudul : “ The Effect Of Blended Learning To The Students’ Achievement In Grammar Class”. IJEE (Indonesian Journal of English Education), 4 (1), 2017, 16-30 : Indonesian Journal of English Education. Sumber : https://journal.uinjkt.ac.id/index.php/ijee/article/view/5697. Zainuddin dan Keumala(2018). “Blended Learning Method Within Indonesian Higher Education Institutions ”. Volume 6, Number 2, June 2018, pp. 69–77 : Jurnal Pendidikan Humaniora. Sumber : http://journal.um.ac.id/index.php/jph/article/view/10604. Yustina dkk (2020). “ The Effects Of Blended Learning And Project-Based Learning On Pre-Service Biology Teachers’ Creative Thinking Through Online Learning In The Covid-19 Pandemic ”. JPII 9 (3) (2020) 408-420 : Jurnal Pendidikan IPA Indonesia. Sumber : https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jpii/article/view/24706 Handayani dkk (2022).: “ Blended Learning Implementation and Impact in Vocational Schools”. Volume 18 No. 02 September 2020 : Pendidikan. Sumber : https://jurnal.uns.ac.id/teknodika/article/view/42032. Resmiaty dkk (2021). “The implementation of blended learning in the new normal era at vocational school of health ”. Volume 11, No. 2, 2021 (182- 191) : Jurnal Pendidikan Vokasi. Sumber : https://journal.uny.ac.id/index.php/jpv/article/view/42495. Susilawati dkk (2020). “Encouraging Learning Quality Through Blended Learning Model ”. Vol. 24, Issue 06, 2020 ISSN: 1475-7192 : International Journal of Psychosocial Rehabilitation. Sumber : https://journal.uny.ac.id/index.php/jpv/article/view/42495. Dziuban dkk (2018).“Blended learning: the new normal and emerging technologies ”. Dziuban et al. International Journal of Educational Technology in Higher Education (2018) 15:3 DOI 10.1186/s41239-017- 0087- : International Journal of Educational Technology in Higher Education. Sumber : https://educationaltechnologyjournal.springeropen.com/articles/10.11 86/s41239-017-0087-5
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |113 Rahman dkk (2020) dalam jurnalnya yang berjudul : “The Implementation of Blended Learning Model on Motivation and Students’ Learning Achievement ”. Volume 2, Number 9, September 2020 ISSN 2684-6950 : Educational and Vocational Studies. Sumber : https://ojs.unimal.ac.id/ijevs/article/view/2694.
114 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 POLA ASUH JARAK JAUH DALAM MENINGKATKAN MUTU LULUSAN Ike Kurniati Yayasan Anak Cerdas Mandiri, [email protected] Abstrak Pola asuh jarak jauh mengharapkan keluarga sebagai tempat pendidikan pertama, perlu mengembangkan pola asuh atau pola interaksi yang edukatif dan efektif. Sebagai pendidik pertama dan utama, orang tua perlu melakukan introspeksi diri dengan terus berupaya mempersiapkan anak menghadapi era digital saat ini. Pola asuh anak dalam keluarga terdiri dari empat (4) kategori, yaitu pola asuh otoriter, pola asuh permisif, pola asuh yang kurang memiliki tuntutan terhadap anak dan kurang responsif terhadap kebutuhan anak (orang uninvolved), pola asuh demokratis atau authoritative. Orang tua yang hebat harus terlibat dalam mendidik anak dengan pola asuh yang demokratis, positif, efektif, konstruktif dan transformatif. Orang tua harus mendidik anak bukan dengan kekerasan atau paksaan, tetapi memberi kebebasan dengan suatu kontrol yang ketat supaya anak bertumbuh dan berkembang secara positif dan baik. Pola asuh yang dibutuhkan pada era digital adalah pola asuh yang demokratis atau authoritative untuk meningkatkan mutu lulusan dalam pembelajarannya. Kata Kunci: Keluarga, Orang Tua, Pola Asuh, Jarak Jauh, Authoritative, Demokratis Abstract Long-distance parenting expects the family to be the first place of education, it is necessary to develop an educative and effective parenting or interaction pattern. As first and foremost educators, parents need to do self-introspection by continuing to strive to prepare their children for today's digital era. Parenting styles in families consist of four (4) categories, namely authoritarian parenting styles, permissive parenting styles, parenting styles that have less demands on children and are less responsive to children's needs (uninvolved people), democratic or authoritative parenting styles. Great parents must be involved in educating children with democratic, positive, effective, constructive and transformative parenting styles. Parents must educate their children not by violence or coercion, but by giving freedom under strict control so that children grow and develop positively and well. The parenting style needed in the digital era is democratic or authoritative parenting to improve the quality of graduates in their learning. Keywords: Family, Parents, Parenting, Remote, Authoritative, Democratic
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |115 PENDAHULUAN Pengalaman orang tua dan interaksi antara orang tua dan staf, misalnya, dilihat sebagai bagian dari kualitas pendidikan anak usia dini (Urban et al ) Kolaborasi rumah dan prasekolah: konteks Swedia Dalam kurikulum prasekolah nasional Swedia (Badan Pendidikan Nasional Swedia) 2016), kolaborasi orang tua ditujukan dalam hal hubungan, pengaruh, tanggung jawab, dan dukungan. Prasekolah harus melengkapi rumah, dan orang tua harus memiliki kesempatan untuk mempengaruhi praktik dalam kerangka tujuan nasional. Saat ini, sistem prasekolah menghadapi beberapa tantangan, termasuk 'kekurangan yang mengkhawatirkan' (Badan Pendidikan Nasional Swedia 2015, 14) guru prasekolah yang berkualitas pada saat yang sama karena jumlah anak yang terdaftar dalam kegiatan prasekolah telah meningkat selama dekade terakhir. Pada tahun 2012, Badan Pendidikan Nasional Swedia (2013) melakukan survei di antara orang tua dan menemukan bahwa kegiatan dan perawatan prasekolah sebagian besar sesuai dengan keinginan dan kebutuhan orang tua. Tujuan dan pertanyaan penelitian Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengeksplorasi perspektif orang tua, dan pengalaman, berkolaborasi dengan praktisi di prasekolah anak-anak mereka.Kemajuan di bidang teknologi dan informasi pada generasi milenial saat ini hampir sulit dibendung. Generasi milenial termasuk generasi kreatif, salah satu bukti yang menunjukkan adalah tumbuhnya industri startup dan industri kreatif lain yang dimotori anak muda. Berdasarkan karakteristik sikap, perilaku anakanak dalam era milenial yang ditandai dengan semakin kuatnya penggunaan media digital, maka bagaimana orang tua mengembangkan pola asuh supaya menciptakan generasi yang tidak mendapat pengaruh negatif dari era digital, tetapi menggunakan semua media itu dengan bijak dan untuk kepentingan yang positif. Orang tua melakukan peran tersebut dengan pola tindakan atau pola asuh yang positif dan efektif. Pola Asuh yang Efektif Untuk Mendidik Anak di Era Digital, di mana orang tua mempengaruhi anak, tetapi pengasuhan merupakan interaksi yang terus menerus antara orang tua dan anak yang mencakup berbagai ragam aktivitas yang tujuannya agar anak bias berkembang secara optimal (Rahmat, 2018). Era digital ditandai dengan arus teknologi yang semakin meningkat di kehidupan masyarakat. Positif dan negatif secara bersamaan dan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan remaja. Hal ini diperlukan peran serta orangtua dalam mengarahkan remaja untuk bersikap bijak dalam menghadapi arus teknologi yang sangat pesat. Pada masa periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal, yaitu : a) minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek, b) ego remaja mencari kesempatan untuk bersama dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru, c) terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi, d) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian kepada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain, f) Tumbuh "dinding" yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan D masyarakat umum (the public) (Dwi Fitriani dan Sri Muliati Abdullah, 2013).
116 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Perkembangan teknologi digital memberikan dampak positif dan negatif dalam penggunaan gadget terhadap perkembangan anak. Generasi yang lahir setelah tahun 1980 hingga 1990 dikenal sebagai generasi Y. Pada generasi ini perkembangan teknologi seperti internet dan gawai/gadget muncul sehingga generasi ini lebih inovatif dan berpikiran terbuka dibandingkan dengan generasi X. Setelah generasi Y, dikenal generasi Z. Generasi ini lahir pada akhir tahun 1990-an ketika terjadi ledakan inovasi teknologi di berbagai bidang dengan akses yang makin mudah dan murah. Generasi Z ini dikenal dengan istilah Digital Native (Kemendikbud, 2019). Digital native adalah gambaran bagi seseorang (terutama anak hingga remaja) yang sejak kelahirannya telah dikenalkan akan perkembangan teknologi, seperti komputer, internet, animasi, dan teknologi yang sejenisnya. Perbedaan pola pikir inilah yang membuat orang sebelumnya kesulitan memahami digital native sehingga diperlukan digital native education bagi generasi sebelumnya agar bisa mengikuti perkembangan zaman dengan baik. Digital native adalah gambaran bagi seseorang (terutama anak hingga remaja) yang sejak kelahirannya telah dikenalkan akan perkembangan teknologi, seperti komputer, internet, animasi, dan teknologi yang sejenisnya. Hal itulah yang digital native cenderung berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka cenderung memiliki wawasan, pengetahuan, serta pikiran yang sangat terbuka terhadap perkembangan teknologi, cepat menangkap informasi, dan dapat beradaptasi dalam situasi apa pun. Dari banyak hal positif yang didapat dari penggunaan teknologi digital ini, ternyata membawa dampak yang negatif juga jika penggunaan media digital tidak digunakan secara bijak (Uning Lestari, Siti Saudah, 2021). Oleh karena itu peran orang tua sangat penting dalam memberikan pengarahan dan membimbing anak-anaknya dalam penggunaan media digital terutama gadget/smartphone. Program pengabdian masyarakat ini yang dilaksanakan dengan metode sosialisasi dengan materi pola asuh anak di era digital menjadi sangat penting bag warga Ibu-Ibu PKK dusun Siten Bantul, karena mereka menjadi paham tentang perkembangan teknologi digital dan dampak positif dan negatif penggunaan gadget terhadap perkembangan anak.Oleh karena itu, yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah membantu mereka menyiapkan diri agar kuat menghadapi kecepatan perkembangan teknologi dan tidak terbawa arus negatif perkembangan teknologi sebab teknologi internet tidak semuanya mengandung konten negatif. Sebagaimana survei online bahwa An online survey was conducted via an ad hoc questionnaire in which participants completed questions about their sociodemographic data and assessed how much their family routines, their co-parenting relationships, their emotional experiences, and the support available within the family network varied. The results show differences in daily routines, co-parenting, emotional experiences, and support networks according to parents' employment status. Comparisons between groups showed that at-home parents who provided government-
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |117 assisted childcare generally expressed more positive changes in parenting behavior, while working-from-home parents reported more difficulty in parent-child activities and co-parenting (Ana P. Antunes, Silvana Martins, 2021). Sebuah survei online dilakukan melalui kuesioner ad hoc dimana peserta mengisi pertanyaan tentang data sosiodemografi mereka dan menilai seberapa banyak rutinitas keluarga, hubungan co-parenting, pengalaman emosional, dan dukungan yang tersedia dalam jaringan keluarga berbeda. Hasilnya menunjukkan perbedaan rutinitas sehari-hari, co-parenting, pengalaman emosional, dan jaringan dukungan sesuai dengan status pekerjaan orang tua. Perbandingan antar kelompok menunjukkan bahwa orang tua yang bekerja di rumah yang memberikan perawatan anak berbasis bantuan pemerintah umumnya menyatakan perubahan positif dalam perilaku orang tua, sementara orang tua yang bekerja dari rumah melaporkan kesulitan dalam kegiatan orang tua-anak dan co-parenting. Setelah anak memperoleh pendidikan dalam lingkungan keluarga, maka dilanjutkan lagi dengan pendidikan selanjutnya yakni pendidikan formal yang didapatkan dalam lingkungan sekolah. Kehidupan anak di zaman era digital, tidak terlepas dari telepon pintar dengan berbagai macam permainan di aplikasi game, sehingga keseharian anak dihabiskan dengan barang-barang teknologi Selanjutnya, dalam penelitian Nasrun Faisal lebih menekankan pada interaksi dari kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis, seperti rasa aman, kasih sayang, serta sosialisasi dalam kehidupan masyarakat.Sehingga keluarga merupakan awal dasar dalam pendidikan, dalam mendidik, mengasuh, serta mengenalkan segala hal yang positif pada anak agar dapat bersosialisasi dengan baik pada masyarakat sebagai mahluk sosial dengan memberikan kontribusi positif. Sesuai dengan Nathania Putri, bahwa Hal ini menguatkan kembali peran orangtua sebagai pendidik utama anak, yang diterapkan dengan pola pengasuhan yang berbeda-beda (Putri, 2022). Penelitian yang dilaksanakan oleh Fernando Ferry menyatakan bahwa Parents' Perspectives on Family Resilience in Remote Schools During the Years of the COVID-19 Outbreak School closures due to the COVID-19 pandemic are a challenge for families and teachers in supporting remote school children. This study investigates parents' perspectives on their accommodation to the rapid change to distance schooling from a continuing education perspective. Individual needs of families must be recognized and met on an ongoing basis to support children's learning in changing situations, including remote schools. Penelitian ini berkontribusi pada diskusi dengan menanyakan bagaimana keluarga mengatasi pandemi dan pembelajaran jarak jauh dengan anak-anak mereka di Finlandia, Pandemi dan sekolah jarak jauh merupakan ujian stres bagi sistem, dan mereka mengungkapkan beberapa kelemahan. Sementara sistem sekolah Finlandia bertujuan untuk pemerataan, ada beberapa masalah dengan sekolah jarak jauh dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang meningkatkan ketimpangan dan mungkin
118 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 mengurangi kualitas pendidikan teknologi yang disediakan oleh rumah dan sekolah, akses internet, dan kompetensi TIK guru, pergeseran dari kehadiran sekolah normal ke pembelajaran jarak jauh tidak hanya memengaruhi pembelajaran siswa, tetapi juga menjauhkan mereka dari layanan kesejahteraan sekolah. Konsep kesejahteraan Nordik pada dasarnya normatif, mencontohkan nilai-nilai etika yang tinggi seperti kesetaraan, keadilan sosial, dan jaminan sosial. Gagasan inklusi sosial dan pengurangan eksklusi sosial merupakan elemen mendasar dari kebijakan dan praktik sekolah dan kesejahteraan anak di Finlandia. Dalam konteks sekolah, inklusi, bukan pemisahan, menunjukkan kebijakan dan praktik untuk mendukung pembelajaran anakanak dalam kelompok umum dalam berbagai cara. sekolah, pada kenyataannya, sangat terlibat dengan semua lembaga pendidikan dan kesejahteraan sosial lainnya dalam memenuhi misi kesejahteraan anak mereka sesuai dengan konsep kebijakan kesejahteraan anak yang luas. Konsep ini mendefinisikan kepedulian sekolah terhadap misi kesejahteraan anak sebagai bagian integral dari sistem hak hukum anak, mewajibkan semua profesional yang bekerja dengan anak dan keluarga. Ini bertentangan dengan konsep dasar kebijakan sekolah Finlandia, yang menyatakan bahwa semua sekolah harus menawarkan kualitas yang identik (Fernando Ferri, 2020). Ketika anak dibesarkan dengan curahan kasih sayang dan penerimaan tanpa syarat, diberikan kebebasan untuk mencoba berbagai hal dengan pengawasan yang baik, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan baik. Berbeda dengan anak yang dibesarkan dalam pola asuh yang mengekang tanpa memberikan keleluasaan untuk mencoba hal baru dan tidak diberikan kepercayaan, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki kepercayaan diri (Rachmaniar, 2021). Hasil penelitian Pavel Smutny menyatakan bahwa remote parenting by ensuring that their child can actually be trusted and supervised at preschool. Parents struggle for continuity when seeking a deeper connection with practitioners in preschool. They share the desire with practitioners to facilitate the child's overall well-being and growth. Pengasuhan jarak jauh dengan memastikan bahwa anak mereka benar-benar dapat dipercaya dan diawasi di prasekolah. Orang tua berjuang untuk kesinambungan saat mencari hubungan yang lebih dalam dengan praktisi di prasekolah. Mereka berbagi keinginan dengan praktisi untuk memfasilitasi kesejahteraan dan pertumbuhan anak secara keseluruhan (Smutny, 2022). METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta teknik pengumpulan data menggunakan kajian literatur (literature review) yang diutamakan dari jurnal-jurnal ilmiah yang berskala nasional dan internasional. Kajian literatur ialah sebuah studi yang berciriciri bahwa penelitian dengan acuan utama dari berbagai Pustaka, namun dalam hal ini sumber utamanya berasal dari jurnal.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |119 PEMBAHASAN Konsep Dasar Pola Asuh Orang Tua Casmini (Palupi, 2007:3) menyebutkan bahwa pola asuh memiliki definisi cara orang tua dalam memperlakukan anak, mendidik, membimbing, mendisiplinkan, serta melindungi anak dalam mencapai proses kedewasaan, hingga kepada terbentuknya norma yang diharapkan oleh masyarakat. pola asuh merupakan pola interaksi antara anak dengan dengan orang tua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis, serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat yang berkaitan erat dengan tanggung jawab dan kewajiban orang tua terhadap anak (Rachmaniar, 2021). Pola asuh orangtua yang pada awalnya mengalami perbedaan dari orangtua lainnya, yang hanya menerapkan tipe pola asuh otoriter, permisif, demokrasi, sudah mengalami keberhasilan dalam mendidik anak, tetapi di zaman era digital, maka ketiga pola asuh tersebut tidak akan berhasil, jika tidak melakukan sinkronisasi sesuai waktu situasi dan kondisi dalam hal mengasuh anak (Aslan, 2019). Situasi saat ini yang cenderung menggunakan pola pengasuhan jarak jauh, agar anak-anak dapat mengenyam pendidikan lebih luas lagi sehingga mutu pendidikan meningkat. Pola asuh jarak jauh memerlukan jaringan yang dapat digunakan dan perangkat IT yakni laptop, komputer maupun gaget. Orangtua harus memahami bahwasannya perangkat lunak dan media digital tidak dapat lepas sepenuhnya pada era sekarang ini, sehingga orangtua sebaiknya mengawasi anak dengan sebaik mungkin gara anak tidak salah menggunakan perangkat dan media digital tersebut. Awal kesalahan pertama apabila orangtua menyerahkan keputusan menggunakan perangkat dan media digital sepenuhnya kepada anak, sehingga diperlukannya perilaku berkomunikasi internal keluarga untuk melindungi anak dari penggunaan perangkat digital dan paparan media digital. Setelah diberikannya penyuluhan orangtua dapat mengetahui pengaruh gadget pada perkembangan anak, faktor-faktor anak dapat mengalami kecanduan gadget dan pemilihan pola asuh yang efektif dalam era digital. Dari aspek perkembangan fisik dan motorik anak, penggunaan gadget memiliki dampak yang negative terhadap perkembangannya. Dalam aspek perkembangan sosial dan emosional memberikan dampak negative dimana anak-anak terlalu lama menghabiskan waktu di depan layar gadget membuat interaksi sosial dengan lingkungan sekitar anak juga terganggu, kemampuan sosialisasi yang kurang karena disibukkan dengan dunia gadgetnya sendiri tanpa mau memperdulikan orang lain. Dalam aspek perkembangan bahasa anak akan sulit mengembangkan bahasa karena sibuk dengan dunianya sendiri mereka cenderung hanya diam sambil menikmati mainan dalam gadget Dampak dan pengaruh yang ditimbulkan gadget dapat berupa positif maupun negative terhadap perkembangan seorang anak (Hairani Lubis dkk, 2019). Pengaruh positifnya, gaget dapat digunakan pada pembelajaran jarak jauh bagi orangtua yang menerapkan pola asuh jarak jauh. Aslan mengemukakan, bahwa: The benefits and opportunities of using virtual reality (VR) education have been the subject of research for decades.
120 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Descriptions of individual VR applications can be found in the literature, but there is no structured analysis of these applications on the market. Another aim is to analyze user ratings of VR educational apps and compile an overview, to see which apps users like the most. The results show that more than half of the sample apps are available for free, most use English as the language of communication and users' top-rated apps come from areas connected to nature, space, medicine, art, and history. Educational applications Introduction Virtual reality, or VR, is a technology that creates artificial digital environments, interactive computer-generated experiences for the purpose of creating simulated environments. These technologies can create environments that are akin to the real world, or they can be fantastical worlds, creating experiences that are impossible in conventional physical reality. The Sensorama simulator provides the illusion of reality using 3D motion pictures to stimulate the four senses: sight, hearing, smell and touch (Heiling, 1962). Commercial reuse, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited, and not altered, altered, or constructed in any way (Aslan, 2019). Walaupun pendidikan merupakan hal yang sangat penting, tetapi masih banyak sekali warga di Indonesia ini yang tidak mengenyam bangku pendidikan sebagaimana mestinya. Adanya anak yang putus sekolah atau bahkan tidak bersekolah diduga erat kaitannya dengan pemahaman orang tua tentang pendidikan, termasuk pola pendidikan yang diterapkan (Adawiah, 2017). Ahlan Mohammed dkk dalam penelitiannya menyatakan bahwa: Arental Involvement in Distance K-12 Learning and the Effect of Technostress: Sustaining Post-Pandemic Distance Education in Saudi Arabia. This article is an open access article distributed under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license (https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/). sustainability Article Parental Involvement in Distance K-12 Learning and the Effect of Technostress: Sustaining Post-Pandemic Distance Education in Saudi Arabia Ahlam Mohammed Al-Abdullatif * and Hibah Khalid Aladsani Department of Curriculum and Instruction, King Faisal University, 400, AlHasa 31982, Saudi Arabia * Correspondence: [email protected] Abstract: This study explored the effect of parental involvement in K-12 distance learning activities on their perceived technostress and behaviours of support toward their children's learning in Saudi Arabia. The five factors were parental involvement, parents' technostress, parents' self-efficacy, school support and behaviours of support. Analysis of 651 parent responses showed an insignificant relationship between parental involvement in distance learning activities and parents' technostress. However, there was a significant and positive relationship between parental involvement and parents' behaviours of support toward their children's learning. The level of technostress among parents in this study was found to reduce with an increase in both parents' self-efficacy levels and the level of school support provided by administration and teachers to parents in distance learning environments.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |121 Distance learning activities refer to all learning activities that take place through distance learning platforms, including holding and attending virtual classes, synchronous and asynchronous interaction, and performing online tests and assessments. Parents' self-efficacy and school support are two important factors that are emphasised in the literature of parental involvement and parents' support. Parents participating in distance education are forced to use digital technologies with their children in several learning activities, including the use of educational platforms to attend virtual classes or attain learning materials, the use of different software and applications to perform quizzes and learning tasks, and the use of social networks to communicate and interact synchronously and asynchronously with teachers and peers. The transition to distance learning caused great technostress (stress from using technology) for many parents and caregivers in terms of adaptation to a new digital learning environment (particularly for parents with low-level or no experience), intensive use of different technological tools and applications and the complications this brings, as well as the additional workloads that were thrown at them. Given the technostress caused by parents' involvement in distance learning activities and its influence on their behaviours of support toward their children's learning, the current study is significant. This study intends to add to the expanding literature of distance learning by examining the effects of parental involvement in distance learning activities on parents' possible (Ahlam Mohammed dkk, 2022) Melalui pola asuh jarak jauh dalam pembelajaran, Knopik dkk menyatakan bahwa: Polish educational authorities (through appropriate regulations) recognize that online teaching must fully implement the content of the core curriculum, which must be verified through adequate didactic measurements. The scope of parental involvement depends in large part on how teachers implement distance learning. This problem is also pointed out by the Program for International Student Assessment (PISA) study (PISA, 2018): 54% of students in countries associated with the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) and 35% of students in Poland have access to learning platforms online at school. The research presented in this article focuses on parents' perceptions of distance learning, specifically regarding the perceived barriers and benefits of distance learning. Communication between teachers and students occurs through the media. Resources that are developed in an ad hoc manner do not consider individual student needs (e.g., sensory-motor deficits, learning difficulties, learning styles), which reduces the effectiveness of distance learning (Brindley, 2013) and forces more involvement of parents or guardians (Knopik a.t.all, 2021). Selanjutnya dalam jurnal hasil penelitian Tuula mengenai pola asuh menjaga hubungan jarak jauh, dikemukakan bahwa Qualitative interviews with eleven parents, this study explores the extent to which Jamaican parents communicate with their adolescents abroad using ICT. Despite distance barriers, parents can maintain strong emotional bonds with their young ones abroad, and use cell phones and voice over Internet protocols to
122 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 enforce virtual co-presence with their children, as well as maintain existing ones, and create new ones. new. . family rituals. This study examines the role that information and communication technologies, hereinafter referred to as ICTs, play in enabling parents in Jamaica to maintain their caregiving functions, and their adolescents studying in North America to maintain their connectedness with families, across spatial and national boundaries. This study focuses on a small segment of Jamaica's immigrant population: Jamaican students in North American colleges and universities, and how they maintain contact with their families in Jamaica. This research examines the role of mobile communication devices such as cell phones and voice over Internet protocols (VoIP) such as Skype in helping maintain these family relationships over time and remotely. To date, there has been little research on the Internet, ICT, and mobile communications use in the Caribbean itself, or the Caribbean immigrant diaspora in North America. Voice-over-Internet protocols and cell phones facilitate synchronous dyadic communication. This paper explores the reasons why mobile ICT is so popular, and with this Jamaican family. Literature Review Two strands of the literature are examined in turn: first, the use and effects of ICTs in family communication—especially mobile phones and the Internet—and second, family communication networks in the transnational social field. Global Mobile Penetration The ICT literature has concentrated on computer mediated communications, and more recently mobile communications via the Internet and cell phones. The mobile phone has now become the dominant ICT device. Prepaid cell phones have overcome the constraints of inadequate land infrastructure in many developing countries, as well as the chaotic economic conditions of many underemployed or casual workers and thus ineligible for cell phone contracts. Rare literature on cell phones and Internet use in the Caribbean or in the Caribbean Diaspora. These authors observe that most Trinidadians live in international families, even those defined as nuclear families, and the Internet allows them to engage in active parenting across national borders (Vuorinen, 2018). Kemudian dalam penelitian yang dilaksanakan oleh Fernando Ferry dkk bahwa opportunities and challenges of emergency remote teaching based on experiences of the COVID-19 emergency. The results reveal several technological, pedagogical and social challenges. Pedagogical challenges are primarily related to the lack of teacher and student digital skills, the lack of structured content versus the abundance of online resources, the lack of student interactivity and motivation, and the teacher's lack of social and cognitive presence (the ability to construct meaning through continuous communication within communities of inquiry) . Social challenges are mainly related to the lack of human interaction between teachers and students and lastly, the lack of physical space at home to receive lessons and the lack of support from parents who often work remotely in schools. same room. Based on the lessons learned from these worldwide emergencies, challenges and proposed actions to deal with these same challenges, which should and sometimes have been implemented, are presented. online learning; emergency remote teaching; technological
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |123 challenges; pedagogical challenges; social challenges 1. Introduction Corona virus (COVID-19) was declared a global pandemic on 12 March 2020 and social distancing was adopted in many places to overcome the problem. Ministries of education in various countries have recommended or required the implementation of online learning at all levels of schools in various countries. Online learning is thus becoming increasingly important to education during times of worldwide health emergencies, offering opportunities to keep in touch, even if remote, with classmates and teachers and to keep up with lessons. However, many challenges have been observed in different countries. The next section introduces previous studies on online learning in emergency situations. For this reason, new challenges and opportunities at the social and technological level may emerge. There is some research on online learning during emergencies. Indeed, departing from previous works, and enriched with online discussion forums and data from secondary sources about Italy, we extract challenges and proposals for action to deal with the same challenges, different actors (policy makers, professors, etc.) .) must be implemented to deal with ongoing and emerging challenges. This pandemic can be an opportunity and exercise for emergency remote teaching to evaluate challenges that arise during an emergency and develop a coherent online education strategy for other potential future emergencies or other natural disasters (Fernando Ferri, 2020). PENUTUP Pola asuh jarak jauh dengan memastikan bahwa anak mereka benarbenar dapat dipercaya dan diawasi di prasekolah. Orang tua berjuang untuk kesinambungan saat mencari hubungan yang lebih dalam dengan praktisi di prasekolah. Dengan berbagi keinginan dengan praktisi untuk memfasilitasi kesejahteraan dan pertumbuhan anak secara maksimal untuk meningkatkan kutu pembelajaran di sekolah. Orang tua yang hebat harus terlibat dalam mendidik anak dengan pola asuh yang demokratis, positif, efektif, konstruktif dan transformatif. Orang tua harus mendidik anak bukan dengan kekerasan atau paksaan, tetapi memberi kebebasan dengan suatu kontrol yang ketat supaya anak bertumbuh dan berkembang secara positif dan baik. Pola asuh yang dibutuhkan pada era digital adalah pola asuh yang demokratis atau authoritative untuk meningkatkan mutu lulusan dalam pembelajarannya. DAFTTAR PUSTAKA Adawiah, R. (2017). Pola Asuh Orang Tua Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan:, 7(1), 33–48. Ahlam Mohammed Al-Abdullatif and Hibah Khalid Aladsani. (2022). Parental Involvement.in Distance K-12 Learning and the Effect of Technostress: Sustaining Post-Pandemic Distance Education in Saudi Arabia. Sustainability. Ana P. Antunes, Silvana Martins, L. M. and A. T. A. (2021). Parenting during the COVID-19 Lockdown in Portugal: Changes in Daily Routines, Co-
124 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Parenting Relationships, Emotional Experiences, and Support Networks. Children 08-01124 v4.Pdf Nitro Pro 10. Ananda Rachmaniar. (2021). ROLA ASUH ORANG TUA DI ERA DIGITAL. Journal of Education and Counseling, 2(1), 148–158. Aslan. (2019). Peran Pola Asuh Orangtua di Era Digital. Studia Insania, 7(1), 20–34. Dwi Fitriani dan Sri Muliati Abdullah. (2013). Peran orangtua dalam mendukung kesejahteraan psikologis remaja di era digital. Prosiding seminar nasional 2021 fakultas psikologi umby, 1–16. Fernando Ferri, P. G. and T. G. (2020). Online Learning and Emergency Remote Teaching: Opportunities and Challenges in. Societies. https://doi.org/doi:10.3390/soc10040086 Hairani Lubis dkk. (2019). Pola Asuh Efektif di Era Digital. PLAKAT, 1(2). Kemendikbud. (2019). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2019 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Dan Sekolah Menengah Kejuruan. Putri, N. I. dan P. H. (2022). Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Persepsi Pencapaian Perkembangan Kognitif Anak SD di Masa Pembelajaran Jarak Jauh. Jumal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5(1), 121–129. Rahmat, S. T. (2018). pola asuh yang efektif untuk mendidik anak di era digital. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan Missio, 10(2), 137–273. Smutny, P. (2022). Learning with virtual reality: a market analysis of educational and training applications. Interactive Learning Environment. https://doi.org/https://doi.org/10.1080/10494820.2022.2028856 Uning Lestari, Siti Saudah, P. H. (2021). Edukasi Pola Asuh Anak Di Era Digital Bagi Ibu Pkk Dusun Siten Bantul. Jurnal Dharma Bakti-LPPM IST AKPRIND Vol.4 No.2, 4(2). Vuorinen, T. (2018). Remote parenting’: parents’ perspectives on, and experiences of, home and preschool collaboration. European Early Childhood Education Research Journal, 26(2).
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |125 MANAJEMEN PENDIDIKAN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN SOCIETY 5.0 Yuliana Program Doktoral Uninus Abstrak Manajemen pendidikan dapat diartikan segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Manajemen pendidikan dalam menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0 dan society 5.0, dengan meliputi bagaimana manajemen pendidikannya, bagaimana pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 dan 5.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Manajemen pendidikan dalam menghadapi era 4.0 dan 5.0 sangat perlu dibutuhkan dan ditingkatkan. Karena pendidikan 5.0 menngambarkan beragam metode dalam menggabungkan kecanggihan teknologi baik secara fisik ataupun tidak kedalam pembelajaran. era 5.0 merupakan loncatan dari era 4.0 yang meliputi pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, menggunakan digital dan mobile berbasis web, termasuk aplikasi, perangkat keras dan lunak. Pendidikan 5.0 merupakan fenomena yang timbul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 5.0, di mana manusia dan mesin diselaraskan untuk memperoleh solusi, memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, serta menemukan berbagai kemungkinan inovasi baru yang dapat dimanfaatkan bagi perbaikan kehidupan manusia yang modern. Kata kunci ; Manajemen, Pendidikan, Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Abstract Education management can be interpreted as everything related to the management of the educational process to achieve predetermined goals, both short term, medium term and long term goals. The purpose of this research is to find out about education management in facing the challenges of the industrial revolution era 4.0 and society 5.0, by covering how the management of education, how the education of the Industrial Revolution Era 4.0 and 5.0. The results of the study show that educational management in the face of the 4.0 and 5.0 eras really needs to be needed and improved. Because education 5.0 describes various methods of incorporating technological sophistication, both physically and not into learning. Era 5.0 is a jump from Era 4.0 which includes a meeting of neuroscience, cognitive psychology, and educational technology, using web-based digital and mobile, including applications, hardware and software. Education 5.0 is a phenomenon that arises as a response to the needs of the industrial revolution 5.0, in which humans and machines are aligned to find solutions, solve various problems they face, and discover new possibilities for innovation that can be utilized to improve modern human life. Keywords: Management, Education, Industrial Revolution Era 4.0 and Society 5.0
126 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 PENDAHULUAN Manajemen berasal dari kata to mange yang berarti mengelola. Pengelolaan dilakukan untuk mendayagunakan sumber daya yang dimiliki secara terintegrasi dan terkoordinasi untuk mencapai tujuan sekolah/ organisasi (Fitrah, 2017). Pengelolaan dilakuan kepala sekolah dengan kewenangannya sebagai manager sekolah melalui komando atau keputusan yang telah ditetapkan dengan mengarahkan sumber daya untuk mencapai tujuan. Rohiat (2010:14) menyatakan "manajemen merupakan alat untuk mengelola sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efesien untuk mencapai tujuan harus benar-benar dipahami oleh kepala sekolah". Sepak terjang manajer dalam mengelola sumber daya di dalam sekolah akan sangat tergantung pada kompetensi (skill) kepala sekolah itu sendiri (Sormin, 2017). Manajemen pendidikan merupakan proses manajemen dalam pelaksanaan tugas pendidikan dengan mendayagunakan segala sumber secara efesien untuk mencapai tujuan secara efektif. Manajemen sekolahmengandung arti optimalisasi sumber daya atau pengelolaan dan pengendalian. Optimalisasi sumber daya berkenaan dengan pemberdayaan sekolah merupakan alternatif yang paling tepat untuk mewujudkan suatu sekolah yang mandiri dan memiliki keunggulan tinggi (Muhammad & Rahman, 2017). Dalam menghadapi era society 5.0, dunia pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas SDM. Selain pendidikan beberapa elemen dan pemangku kepentingan seperti pemerintah, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan seluruh masyarakat juga turut andil dalam menyambut era society 5.0 mendatang.Untuk menjawab tantangan Revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 dalam dunia pendidikan diperlukan kecakapan hidup abad 21 atau lebih dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical Thingking, Communication, Collaboration). Sementara itu di abad 21 kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh pelajar adalah memiliki kemampuan 6 Literasi Dasar (literasi numerasi, literasi sains, literasi informasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewarganegaraan). Tidak hanya literasi dasar namun juga memiliki kompetensi lainnya yaitu mampu berpikir kritis, bernalar, kretatif, berkomunikasi, kolaborasi serta memiliki kemampuan problem solving. Dan yang terpenting memiliki perilaku (karakter) yang mencerminkan profil pelajar pancasila seperti rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, mudah beradaptasi memiliki jiwa kepemimpinan, memiliki kepedulian sosial dan budaya. Society 5.0 adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 seperti Internet on Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Society 5.0 juga dapat diartikan sebagai sebuah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi. Terjadi perubahan pendidikan di abad 20 dan 21. Pada 20th Century Education pendidikan fokus pada anak informasi yang bersumber dari buku. Serta cenderung
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |127 berfokus pada wilayah lokal dan nasional. Sementara era 21th Century Education, fokus pada segala usia, setiap anak merupakan di komunitas pembelajar, pembelajaran diperoleh dari berbagai macam sumber bukan hanya dari buku saja, tetapi bias dari internet, berbagai macam platform teknologi & informasi serta perkembangan kurikulum secara global, Di indonesia dimaknai dengan merdeka belajar. Sehingga berangkat dari uraian tersebut, maka penulis membuat sebuah kajian Pustaka mengangkat topik tentang “Manajemen Pendidikan dalam Menghadapi Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 dan Society Era Revolusi Industri 5.0”. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan data dengan menggunakan kajian literatur (literature review) yang diutamakan dari jurnal-jurnal ilmiah yang berskala nasional maupun internasional. Menurut Thorne literature review merupakan sebuah karya orisinil yang merangkum dan mensistesis penelitian sebelumnya tentang sebuah topik tertentu (Prayoga & Yuhertina, 2021, p. 70). Menurut Massaro, O’Connor dan Yuhertiana penelitian literature review berisi ulasan, rangkuman, serta pemikiran penulis dengan melakukan peninjauan berbagai dokumen baik internasional maupun nasional, seperti publikasi akademis, publikasi pemerintah, undang-undang dan peraturan, jurnal, buku, berita media, dan bentuk catatan lain yang relevan dengan topik yang dibahas (Prayoga & Yuhertina, 2021, p. 70). PEMBAHASAN Manajemen Pendidikan Kata “Manajemen” jika kita lacak akar bahasanya ternyata berasal dari kata bahasa latin, yaitu dari kata manun yang berarti tangga, dan ‘agree’ yang bererti melakukan yang berarti melakukan. Kata-kata sebagaimana elah diuraikan, jika digabung menjadi kata kerja “manager “yang artinya menangani. Kata manager ini jika diterjemahkan ke dalam Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Akhirnya management diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan. Secara etimologis manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, mengemudikan, mengendalikan, menangani, mengelola, menyelenggarakan, menjalankan, melaksanakan. Sedangkan management berasal dari kata mano yang berubah menjadi manus berarti bekerja berkali-kali dengan menggunakan tanggan, ditambah imbuhan agree yang berarti melakukan sesuatu berkali-kali dengan menggunakan tanggantanggan (Didin Kurniadin dan Imam Machalin, 2012). Dalam dunia pendidikan juga tidak lepas dari konsep-konsep ”manajemen pendidikan”. Kemudian apalagi kita ingin mendefinisikan secara sederhana manajemen pendidikan dapat diartikan sebuah konsep manajemen yang diterapkan dalam dunia pendidikan dengan spesifikasi dan
128 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 ciri khas tertentu sesuai dengan apa yang ada dalam pendidikan. Manajemen pendidikan bukanlah objek bahasa dalam praktik pendidikan namun pada dasarnya efektif dan efisien. Sehingga dapat produktivitas lembaga pendidikan Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat, dan profesi. Dikatakan sebagai ilmu oleh Luther Gulick karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Dikatakan sebagai kiat oleh Follet karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasai oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para professional dituntun oleh suatu kode etik. (Nanang Fattah, 2009) Pendidikan Era Revolusi Industri 4.0 Dunia telah menetapkan diri untuk melangkah lebih jauh di dalam hampir semua aspek dengan berlandaskan pada teknologi. Namun, apakah sistem pendidikan Indonesia telah siap dengan semua perubahan ini. Jawabannya sedikit rancu, karena Indonesia bisa dikatakan siap dan juga tidak siap. Hal ini dibuktikan dengan metode pembelajaran yang dilakukan secara jarak jauh secara daring di hampir seluruh sekolah dan universitas. Secara penguasaan teknologi, anak-anak Indonesia bisa dikatakan sudah cukup siap. Namun, secara sistem dan kultur pendidikan, sama sekali tidak memberikan hasil yang cukup memuaskan. Banyak siswa dan guru yang mengeluhkan sulitnya memakai platform atau media pembelajaran dengan sistem daring. Bahkan tidak sedikit yang gagal dalam ujian karena koneksi internet tidak stabil.Infrastruktur pendidikan, itulah kata kunci dan akar masalah yang timbul dalam pembelajaran digital. Hampir seluruh sekolah di Indonesia belum memiliki sistem dan platform teknologi pendidikan yang memadai (https://pintek.id/blog/pendidikan-4-0-2/, 2021). Sistem pembelajaran pada era revolusi 4.0 yang menerapkan kreativitas, berpikir kritis, kerjasama, keterampilan komunikasi, kemasyarakatan dan keterampilan karakter, dengan beberapa aspek dan komponen pembelajaran pendidikan 4.0 Sehingga untuk menghadapi pembelajaran di revolusi industri 4.0, setiap orang harus memiliki keterampilan berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (Jesika Dwi Putriani dan Hudaidah Hudaida, 2021). Era revolusi industri 4.0 mengakibatkan perubahan diberbagai bidang termasuk Pendidikan (Metha Lubis, 2011). Era Pendidikan 4.0 menekankan pada ekonomi digital, intelegensi artifisial, robot dan data .(Metha Lubis, 2019). Sehingga dunia pendidikan dan pembelajaran mengala perubahan. Tuntutan di era pendidikan 4.0 ini, guru mendapatkan tantangan untuk mengubah cara pandang dan metode dalam pembelajaran. Perubahan-perubahan sejalan dengan revolusi industri sangatlah cepat. Saat ini berada pada revolusi generasi keempat yang mengedepankan perubahan robotisasi. Tugas manusia sudah banyak yang digantikan dengan robot. Keadaan tersebut menimbulkan beberapa tantangan terutama
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |129 dibidang pendidikan yang menjadi dasar dari setiap pemikiran. Guru dalam menghadapi tantangan tersebut juga harus memiliki kompetensi yang mumpuni, karena dalam hal ini guru mempunyai peran yang sangat strategis dalam perkembangan pergerakan nasional. Berbeda dengan sistem pendidikan zaman dahulu yang hanya berfokus untuk melahirkan pekerja terdidik dengan gaji rendah. Pendidikan zaman sekarang lebih berfokus dalam melahirkan generasi yang mampu menciptakan perubahan, bukan generasi yang menunggu perubahan. (Yus Mochamad Cholily Dkk, 2019). Presiden Joko Widodo meluncurkan gerakan “Making Indonesia 4.0” yang merupakan komitmen pemerintah memasuki era revolusi industri 4.0 ini. Beberapa pihak mengungkapkan bahwa dunia pendidikan di Indonesia perlu juga mempersiapkan diri memasuki revolusi 4.0 ini dengan melakukan beberapa perubahan dalam menerapkan metode pembelajaran di sekolah, pertama yang fundamental adalah merubah sifat dan pola pikir anak didik, kedua bisa mengasah dan mengembangkan bakat anak dan yang ketiga lembaga pendidikan harus mampu mengubah model belajar disesuaikan dengan kebutuhan jaman. Menurut mantan Mendikbud Muhadjir Effendy, bidang pendidikan perlu merevisi kurikulum dengan menambahkan lima kompetensi peserta didik dalam memasuki era revolusi 4.0 ini yaitu : 1) memiliki kemampuan berpikir kritis; 2) memiliki kreatifitas dan kemampuan yang inovatif; 3) memiliki kemampuan dan keterampilan berkomunikasi; 4) bisa bekerjasama dan berkolaborasi; 5) memiliki kepercayaan diri. Selain itu agar lulusan pendidikan nantinya bisa kompetitif maka kurikulum memerlukan orientasi baru tidak hanya cukup memahami literasi lama (membaca, menulis dan matematika) tetapi perlu memahami literasi era revolusi industri 4.0 yaitu literasi data dengan kemampuan untuk membaca , menanalisis dan menggunakan informasi di dunia digital. Kedua literasi teknologi dengan cara memahami cara kerja mesin dan aplikasi teknologi dan yang ketiga literasi manusia dimana harus sanggup memahami aspek humanities, komunikasi dan desain (https://disdikkbb.org/news/revolusi-industri-4-0, 2021). Pada abad ini, sangat diperlukan paradigma dalam belajar dengan melakukan perubahan atau reformasi dalam pembelajaran guna mencari cara-cara baru yang lebih efektif dalam pembelajaran. Disinilah tuntutan peran kreativitas guru untuk menemukan serta melaksanakan kinerja yang inovatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Ini adalah tantangan yang dapat dibilang tidak hanya berfokus pada yang diajarkan, tetapi juga cara pengajarannya yang mana pendidikan tersebut sendiri didasarkan pada kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan yang ada di masa depan. Dunia pendidikan sebagai suatu sub sistem kehidupan masyarakat perlu menyikapi dengan terbuka berbagai inovasi yang ada dalam dunia pendidikan, maupun yang terjadi dalam bidang kehidupan lainnya sebagai upaya untuk mengintegrasikannya agar dapat dicapai suatu kondisi pendidikan yang tidak tertinggal dengan perubahan yang terjadi di masyarakat sebagai akibat akumulasi inovasi. Mengacu pada permasalahan yang telah dikemukakan diatas, kajian pembelajaran inovasi memasuki era
130 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 pendidikan 4.0 merupakan tuntutan dalam dunia pendidikan yang merupakan suatu keharusan untuk selalu mencermati perubahanperubahan yang terjadi untuk menghadapi industri 4.0. (https://lpmplampung.kemdikbud.go.id/detailpost/2011). Sintesis terhadap pandangan-pandangan tentang karakteristik Pendidikan 4.0 mengarah pada ke beberapa fitur pembelajaran berikut: a. Pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centered), memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar sebagaimana minat dan kecepatan belajarnya masing-masing. b. Pembelajaran mengembangkan kemampuan peserta didik menggali sendiri pengetahuan dari sumber-sumber informasi dengan menggunakan internet, sebagai wahana bagi mereka untuk belajar sepanjang hayat (life-long learning). c. Pemanfaatan infrastruktur ICT dan perangkat pembelajaran virtual untuk memberikan fleksibilitas bagi peserta didik untuk menemukan sumber- sumber belajar yang berkualitas, merekam data, menganalisis data, dan menyusun laporan dan melakukan presentasi. d. Menekankan belajar hands-on melalui metode pembelajaran yang dinamakan “flipped classroom”, yang dengan metode ini peserta didik belajar aspek- aspek teoritik pengetahuan di rumah dan melakukan praktik di kelas. Metode ini mengembangkan kebiasaan dan kemampuan belajar mandiri (self-learning) seraya menyediakan waktu belajar lebih longgar bagi pembelajaran di sekolah untuk pengembangan kompetensi. e. Mengembangkan soft-skills berpikir kritis, kreativitas, dan pembecahan masalah, khususnya pemecahan masalah otentik dan non-rutin; f. Kolaborasi dan dalam interaksi sosial sebagai pendekatan utama yang digunakan dalam pengembangan kompetensi, untuk memperkenalkan budaya kerja di dunia industry dan dunia kerja di Abad ke-21. g. Memberikan fleksibilitas untuk proses pembelajaran dalam bentuk blended learning , yang memungkinkan peserta didik berinteraksi, berkolaborasi dan saling belajar satu sama lain dalam setting kelas maupun secara jarak jauh (distance) melalui internet (Tuti Marjan Fuadi, 2019). Pendidikan 4.0 hanya dapat diimplementasikan dengan merujuk pada paradigma baru pendidikan yang bercirikan peserta didik sebagai konektor, creator, dan konstruktivis dalam rangka produksi dan aplikasi pengetahuan serta inovasi Guru di era revolusi industri 4.0 perannya tak akan tergantikan oleh teknologi. Peran guru tak tergantikan karena guru adalah pembentuk karakter anak didik melalui pendidikan budi pekerti, toleransi, dan nilai kebaikan. Namun demikian, guru perlu mengubah cara mengajar agar lebih menyenangkan dan menarik. Demikian juga peran guru berubah dari sebagai penyampai pengetahuan kepada peserta didik, menjadi fasilitator, motivator, inspirator, mentor, pengembang imajinasi, kreativitas nilai-nilai karakter, serta team work, dan empati sosial karena jika tidak maka peran guru dapat digantikan oleh teknologi.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |131 Guru di era Revolusi Industri 4.0 perlu emiliki lima kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu: 1) Educational Competence 2) Competence for technological commercialization, 3) Competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid dan keunggulan memecahkan masalah (problem solver competence) 4) Competence in future strategies, dunia mudah berubah dan berjalan cepat sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan berikut strateginya. 5) Coun selor competence. Era Revolusi Industri 4.0 tidak hanya tentang penyediaan fasilitas pendukung, namun penekannannya lebih kepada mempersiapkan pendidikan Indonesia sehingga lebih maju, mengejar ketertinggalan dengan negara-negara maju, dan mampu beradaptasi dengan Era Revolusi Industri 4.0. Perbaikan pola pikir, mentalitas, dan nilai-nilai merupakan hal mendasar yang perlu dipersiapkan. Dibutuhkan kurikulum yang mampu mengembangkan logika, bahasa, dan kreativitas. Keberhasilan suatu negara dalam menghadapi revolusi Industri 4.0, turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti guru. Para guru dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Dalam situasi ini, setiap lembaga pendidikan harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan (Delipiter Lase,2019). Firman dalam lunkum mengemukakan karakteristik pendidikan 4.0 dalam proses pembelajaran sebagai berikut: a. Pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar sebagaimana minat dan kecepatan belajarnya masing-masing (student center); b. Pembelajaran mengembangkan kemampuan peserta didik menggali sendiri pengetahuan dari sumber- sumber informasi dengan menggunakan internet, sebagai wahana bagi mereka untuk belajar sepanjang hayat (life- long learning); c. Pemanfaatan infrastruktur ICT dan perangkat pembelajaran virtual untuk memberikan fleksibilitas bagi peserta didik untuk menemukan sumber- sumber belajar yang berkualitas, merekam data, menganalisis data, dan menyusun laporan dan melakukan presentasi; d. Menekankan belajar hands-on melalui metode pembelajaran yang dinamakan “flipped classroom”, yang dengan metode ini peserta didik belajar aspek- aspek teoretik pengetahuan di rumah dan melakukan praktik di kelas. Metode ini mengembangkan kebiasaan dan kemampuan belajar mandiri (self-learning), seraya menyediakan waktu belajar lebih longgar bagi pembelajaran di sekolah untuk pengembangan kompetensi; e. Mengembangkan soft-skills berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah, khususnya pemecahan masalah otentik dan non-rutin; f. Kolaborasi dan dalam interaksi sosial sebagai pendekatan utama yang digunakan dalam pengembangan kompetensi, untuk memperkenalkan budaya kerja di dunia industri dan dunia kerja di abad ke-21. g. Memberikan fleksibilitas untuk proses pembelajaran dalam bentuk blended learning, yang memungkinkan peserta didik berinteraksi,
132 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 berkolaborasi dan saling belajar satu sama lain dalam setting kelas (tatap-muka) maupun secara jarak jauh (distance) secara daring (Astin Lukum, 2019). Tantangan dalam era ini semakin kompleks ditambah lagi kuantitas dan kualitas guru belum optimal, oleh karena itu semua pihak baik pemerintah, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidian bersama dengan masyarakat harus berperan aktif untuk memformulasikan dan melaksanakan kurikulum yang mendukung pendidikan di era millenial, sehngga menghasilkan generasi Z yang kreatif, inovatif dan berkarakter. Di Indonesia kesiapan menghadapi tantangan pendidikan era revolusi industry 4.0 adalah segera meningkatkan kemampuan dan keterampilan sumberdaya manusia Indonesia melalu pendidikan dengan melahirkan operator dan analis handal bidang manajemen pendidikan sebagai pendorong kemajuan pendidikan berbasis teknologi informasi di Indonesia menjawab tantangan Industri 4.0 yang terus melaju pesat. Kebijakan manajemen pendidikan di Indonesia saat ini mendorong seluruh level pendidikan, terutama pendidikan tinggi untuk memanfaatkan kemajuan teknologi digital dan komputasi pendidikan era revolusi industry keempat. Beberapa solusi yang bisa dilakukan antara lain, 1) kesesuaian kurikulum dan kebijakan dalam pendidikan, 2) kesiapan SDM dalam memanfaatkan ICT, mengoptimalkan kemampuan peserta didik, dan mengembangkan nilai-nilai (karakter) peserta didik, serta 3) kesiapan sarana dan prasarana pendidikan (Syamsuar dan Reflianto,2021). Akan tetapi era revolusi industri 4.0 tidak selamanya dapat secara total untuk melakukan perubahan paradigma global dengan menggunakan kecanggihan teknologi khususnya dibidang pendidikan karna ada peran lain yang belum tentu dapat dirubah secara total dengan kecanggihan teknologi. Menurut Darmalaksana dalam Akmal dan Santaria melaporkan bahwa siswa memiliki sikap positif yang berdampak terhadap pembelajaran daring dibanding dengan interaksi langsung dalam ruangan. Sejalan dengan itu Sun etal, dalam Akmal dan Santaria juga menyatakan hasil penelitian bahwa fleksibilitas waktu, lokasi/tempat, serta metode pembelajaran online memiliki pengaruh besar pada kepuasan siswa terhadap pembelajaran. Namun argumen ini berbeda dengan Husamah dalam Akmal dan Santaria yang lebih setuju dengan pembelajaran tatap muka ia menegaskan bahwa secara umum pembelajaran tatap muka memiliki berbagai kelebihan terhadap peserta didik maupun pendidik ketimbang pembelajaran secara daring diantara kelebihannya yaitu kedisiplinan formal dan mental yang dapat di terapkan secara langsung (Miftahul Jannah Akmal dan Rustan Santaria, 2020). Peran guru dalam pendidikan dan pembelajaran akan menjadi teladan bagi siswa. Guru perlu melakanakan pembelajaran dengan menyenangkan, menarik, kreatif, bersahabat, dan fleksibel. Selain itu, guru juga menjadi fasilitator, inspirator, motivator, imajinasi, kreativitas dan tim kerja serta pengembang nilai-nilai karakter. Dan juga guru merupakan empati sosial untuk siswa. Hal tersebut diatas merupakan peran guru yang tidak akan dapat digantikan oleh teknologi. Peran guru dalam pendidikan dan
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |133 pembelajaran akan menjadi teladan bagi siswa. Guru perlu melakanakan pembelajaran dengan menyenangkan, menarik, kreatif, bersahabat, dan fleksibel. Selain itu, guru juga menjadi fasilitator, inspirator, motivator, imajinasi, kreativitas dan tim kerja serta pengembang nilai–nilai karakter. Dan juga guru merupakan empati sosial untuk siswa. Hal tersebut diatas merupakan peran guru yang tidak akan dapat digantikan oleh teknologi. Pendidikan Era Society 5.0 Banyak tantangan dan perubahan yang harus dilakukan di era society 5.0 ini. Termasuk yang harus dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai gerbang utama dalam mempersiapkan SDM unggul. Era super smart society (society 5.0) sendiri diperkenalkan oleh Pemerintah Jepang pada tahun 2019, yang dibuat sebagai antisipasi dari gejolak disrupsi akibat revolusi industri 4.0, yang menyebabkan ketidakpastian yang kompleks dan ambigu (VUCA). Dikhawatirkan invansi tersebut dapat menggerus nilai-nilai karakter kemanusiaan yang dipertahankan selama ini. Dalam menghadapi era society 5.0, dunia pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas SDM. Selain pendidikan beberapa elemen dan pemangku kepentingan seperti pemerintah, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan seluruh masyarakat juga turut andil dalam menyambut era society 5.0 mendatang. “Untuk menghadapi era society 5.0 ini satuan pendidikan pun dibutuhkan adanya perubahan paradigma pendidikan. Diantaranya pendidik meminimalkan peran sebagai learning material provider, pendidik menjadi penginspirasi bagi tumbuhnya kreativitas peserta didik. Pendidik berperan sebagai fasilitator, tutor, penginspirasi dan pembelajar sejati yang memotivasi peserta didik untuk “Merdeka Belajar (http://ditpsd.kemdikbud.go.id/artikel/detail, 2021). Society 5.0 adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 seperti Internet on Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Society 5.0 juga dapat diartikan sebagai sebuah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi. Menghadapi era society 5.0 ini dibutuhkan kemampuan 6 literasi dasar seperti literasi data yaitu kemampuan untuk membaca, analisis, dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital. Kemudian literasi teknologi, memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi (coding, artificial intelligence, machine learning, engineering principles, biotech). Dan terakhir adalah literasi manusia yaitu humanities, komunikasi, & desain, Sebagai Pendidik di era society 5.0, para guru harus memiliki keterampilan dibidang digital dan berpikir kreatif. Menurut Zulfikar Alimuddin, Director of Hafecs (Highly Functioning Education Consulting Services) menilai di era masyarakat 5.0 (society5.0) guru dituntut untuk lebih inovatif dan dinamis dalam mengajar di kelas (Alimuddin, 2019). Oleh karena itu ada tiga hal yang harus dimanfaatkan pendidik di era society 5.0. diantaranya Internet of things pada dunia Pendidikan (IoT),
134 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Virtual/Augmented reality dalam dunia pendidikan, Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan untuk mengetahui serta mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan oleh pelajar. Pendidik juga harus memiliki kecakapan hidup abad 21 yaitu memiliki kemampuan leadership, digital literacy, communication, emotional intelligence, entrepreneurship, global citizenship, team working dan problem solving. Fokus keahlian bidang pendidikan abad 21 saat ini dikenal dengan 4C yang meliputi creativity, critical thinking, communication dan collaboration,” tambahnya.Tenaga pendidik di abad society 5.0 ini harus menjadi guru penggerak yang mengutamakan murid dibandingkan dirinya, inisiatif untuk melakukan perubahan pada muridnya, mengambil tindakan tanpa disuruh, terus berinovasi serta keberpihakan kepada murid. Akan tetapi dengan adanya perubahan ini banyak yang mempertanyakan apakah peran guru dapat tergantikan oleh teknologi? Namun ada peran guru yang tidak ada di teknologi diantaranya interaksi secara langsung di kelas, ikatan emosional guru dan siswa, penanaman karakter dan modeling/ teladan guru ((Alimuddin, 2019). Menurut Arifin dalam Marisa Optimalisasi kebergunaan pendidikan merupakan salah satu dari sebuah pencapaian kebahagiaan serta kesehjateraan bagi masyarakat. Pendidikan dengan kualitas yang tinggi mencerminkan adanya sekumpulan individu yang maju, damai serta terarah ke dalam sifat-sifat yang konstruktif. Pendidikan juga dijadikan sebagai roda penggerak kebudayaan dan kebiasaan didalam makna Undang-Undang Dasar 1945 yang terkandung pada bagian alinea keempat dengan makna bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bentuk beban yang kuat dalam menggapai kebajikan bagi pemerintah Indonesia. Menurut sifia dalam Rahayu Dinamika transformasi pendidikan telah berkembang secara pesat, seiring dengan teknologi yang semakin berkembang. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan adanya sistem dan metode pembelajaran yang didukung oleh teknologi dunia digital (Mira Marisa,2016). Perkembangan tersebutditandai dengan determinasi era globalisasi . Indramawan dan Hafidhoh, dalam Rahayu Determinasi globalisasi ini ditandai dalam era industri 5.0. Era revolusi industri 5.0 terjadi karena adanya dampak dari revolusi 4.0 Masyarakat 5.0 dapat dimaknai sebagai masyarakat yang di mana setiap kebutuhan harus disesuaikan dengan standar gaya hidup (life stlye) setiap masyarakat serta pelayanan produk yang sudah berkualitas tinggi dan memberi rasa nyaman terhadap semua orang. Sundari dalam Dewadi mengungkapkan bahwa Indonesia sudah menapaki era serba digitalisasi dan otomasi. Namun, belum semua elemen masyarakat menyadari dampak dari perubahan-perubahan yang ditimbulkannya. Bahkan, fakta-fakta perubahan itu masih sering diperdebatkan (Fathan Mubina Dewadi,2008). Era society 5.0 merupakan penyelesaian dari keresahan masyarakat terhadap era revolusi industri 4.0 mengenai teknologi yang semakin akan menggantikan tenaga manusia yang mengakibatkan mengurangi lapangan pekerjaan, Era society 5.0 ini sangat diharapkan untuk dapat mengurangi kesenjangan yang terjadi antara masyarakat dengan masalah ekonomi di 10 tahun kedepan atau bahkan lebih.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |135 Pendidik juga harus memiliki kecakapan hidup abad 21 yaitu memiliki kemampuan leadership, digital literacy, communication, emotional intelligence, entrepreneurship, global citizenship, team working dan problem solving. Fokus keahlian bidang pendidikan abad 21 saat ini dikenal dengan 4C yang meliputi creativity, critical thinking, communication dan collaboration. Tenaga pendidik di abad society 5.0 ini harus menjadi guru penggerak yang mengutamakan murid dibandingkan dirinya, inisiatif untuk melakukan perubahan pada muridnya, mengambil tindakan tanpa disuruh, terus berinovasi serta keberpihakan kepada murid.“Akan tetapi dengan adanya perubahan ini banyak yang mempertanyakan apakah peran guru dapat tergantikan oleh teknologi? Namun ada peran guru yang tidak ada di teknologi diantaranya interaksi secara langsung di kelas, ikatan emosional guru dan siswa, penanaman karakter dan modeling/ teladan guru (Vania Sasikirana dan Yusuf Tri Herlambang, 2008). Keberhasilan suatu Negara dalam menghadapi revolusi industri 5.0, turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti guru. Para guru dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Dalam situasi ini, setiap lembaga pendidikan harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan. Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru yaitu literasi data, teknologi dan sumber daya manusia. Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari data dalam dunia digital. Kemudian, literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika dan teknologi dalam dunia kerja. Sedangkan literasi sumber daya manusia yakni kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter. Untuk menghadapi era revolusi industri 5.0, diperlukan pendidikan yang dapat membentuk generasi kreatif, inovatif, serta kompetitif. Hal tersebut dapat dicapai salah satunya dengan cara mengoptimalisasi penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan yang diharapkan mampu menghasilkan output yang dapat mengikuti atau mengubah zaman menjadi lebih baik. Tanpa terkecuali, Indonesia pun perlu meningkatkan kualitas lulusan sesuai dunia kerja dan tuntutan teknologi digital. Pendidikan 5.0 adalah respons terhadap kebutuhan revolusi industri 5.0 di mana manusia dan teknologi diselaraskan untuk menciptakan peluang-peluang baru dengan kreatif dan inovatif. Fisk dalam Arjunaita, menjelaskan “that the new vision of learning promotes learners to learn not only skills and knowledge that are needed but also to identify the source to learn these skills and knowledge.” Masih menurut Fisk dalam Arjunaita, ada sembilan tren atau kecenderungan terkait dengan pendidikan 5.0, yakni sebagai berikut: Pertama, belajar pada waktu dan tempat yang berbeda. Siswa akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar pada waktu dan tempat yang berbeda. E-learning memfasilitasi kesempatan untuk pembelajaran jarak jauh dan mandiri. Kedua, pembelajaran individual. Siswa akan belajar
136 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 dengan peralatan belajar yang adaptif dengan kemampuannya. Ini menunjukkan bahwa siswa pada level yang lebih tinggi ditantang dengan tugas dan pertanyaan yang lebih sulit ketika setelah melewati derajat kompetensi tertentu. Siswa yang mengalami kesulitan dengan mata pelajaran akan mendapatkan kesempatan untuk berlatih lebih banyak sampai mereka mencapai tingkat yang diperlukan. Siswa akan diperkuat secara positif selama proses belajar individu mereka. Ketiga, siswa memiliki pilihan dalam menentukan bagaimana mereka belajar. Meskipun setiap mata pelajaran yang diajarkan bertujuan untuk tujuan yang sama, cara menuju tujuan itu dapat bervariasi bagi setiap siswa. keempat, pembelajaran berbasis proyek. Siswa saat ini harus sudah dapat beradaptasi dengan pembelajaran berbasis proyek, demikian juga dalam hal bekerja. Kelima, pengalaman lapangan. Kemajuan teknologi memungkinkan pembelajaran domain tertentu secara efektif, sehingga memberi lebih banyak ruang untuk memperoleh keterampilan yang melibatkan pengetahuan siswa dan interaksi tatap muka. Keenam, interpretasi data. Perkembangan teknologi komputer pada akhirnya mengambil alih tugas-tugas analisis yang dilakukan secara manual (matematik), dan segera menangani setiap analisis statistik, mendeskripsikan dan menganalisis data serta memprediksi tren masa depan. Ketujuh, penilaian beragam. Mengukur kemampuan siswa melalui teknik penilaian konvensional seperti tanya jawab akan menjadi tidak relevan lagi atau tidak cukup. Penilaian harus berubah, pengetahuan faktual siswa dapat dinilai selama proses pembelajaran, dan penerapan pengetahuan dapat diuji saat siswa mengerjakan proyek mereka di lapangan. Kedelapan, keterlibatan siswa. Keterlibatan siswa dalam menentukan materi pembelajaran atau kurikulum menjadi sangat penting. Kesembilan, mentoring Pendampingan atau pemberian bimbingan kepada peserta didik menjadi sangat penting untuk membangun kemandiran belajar siswa (Arjunaita,2020). Menurut Rakhmawati, dalam Kurniawan Pada dua tahun terakhir pendidikan di indonesia telah mengalami dinamika baru, yaitu pergantian era semula revolusi industri 4.0 menjadi era society 5.0. Perkembangan teknologi informasi saat kini dianggap menjadi pembuka gerbang peradaban era society 5.0.). Situasi yang terjadi di era society 5.0 dapat di tinjau dari terjadinya perubahan fungsi sosial menuju fungsi teknologi infomasi dalam setiap aktivitas kehidupan di berbagai aspek, termasuk pendidikan. Penggunaan media belajar dan pembelajaran berbasis online menjadi salah satu ciri khas yang tampak pada pendidikan era society 5.0 dan mampu menjaga fungsi pendidikan saat kini. Pendidikan menjadi salah satu fungsi sosial yang berjalan seiring dengan peradaban termasuk peradaban di era society 5.0. pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan segenap potensi yang dimiliki oleh peserta didik secara utuh meliputi aspek fisik psikis, jasmani rohani dan sosial (UU RI, 2003). Peserta didik memiliki keunikan tersendiri dalam tiap satuan pendidikan. Pemerintah melalui Menteri Pendidikan berupaya memfasilitasi pengembangan dan pembimbingan bagi keunikan peserta didik agar agar
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |137 memiliki nilai unggul dalam memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. (Kurniawan, 2021). Society 5.0 sebagai sebuah gagasan kepeloporan harapannya mampu menyelesaikan isu ini. Namun, masih perlu banyak perkembangan terutama dari sisi teknologi untuk “menjemput” era kemasyarakatan kelima ini. Untuk melakukan sebuah revolusi besar-besaran, perlu adanya modal yang cukup kuat. Dalam hal ini, kualitas sumber daya manusia menjadi hal yang cukup krusial dalam membentuk sistem terintegrasi yang sesuai dengan kebutuhan. Jika semua sumber daya mencukupi, sewajarnya mimpi untuk mengubah dunia menjadi Society 5.0 bukan lagi merupakan kemustahilan. Justru hal ini sangat mungking, meninjau berbagai perkembangan teknologi di seluruh belahan dunia yang sangat cepat, ditandai dengan penemuan- penemuan baru di bidang teknologi yang dapat mempermudah pekerjaan dan kehidupan manusia. PENUTUP Manajemen pendidikan dalam menghadapi era 4.0 dan 5.0 sangat perlu dibutuhkan dan ditingkatkan. Karena pendidikan 5.0 menngambarkan beragam metode dalam menggabungkan kecanggihan teknologi baik secara fisik ataupun tidak kedalam pembelajaran. era 5.0 merupakan loncatan dari era 4.0 yang meliputi pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, menggunakan digital dan mobile berbasis web, termasuk aplikasi, perangkat keras dan lunak. Pendidikan 5.0 merupakan fenomena yang timbul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 5.0, di mana manusia dan mesin diselaraskan untuk memperoleh solusi, memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, serta menemukan berbagai kemungkinan inovasi baru yang dapat dimanfaatkan bagi perbaikan kehidupan manusia yang modern. DAFTAR PUSTAKA Akmal, Miftahul Jannah dan Santaria, Rustan. Mutu Pendidikan Era Revolusi 4.0 di Tengah Covid-19, Journal of teaching and learning research, Vol. 2, No. 2, pp. 1-12, 2020 e-ISSN: 2656-9086, 1-12. Arjunaita. Pendidikan Di Era Revolusi Industri 5.0, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Pgri Palembang 10 Januari 2020. Astutia, S. B. Waluyab, dan M. Asikina. Strategi Pembelajaran dalam Menghadapi Tantangan Era Revolusi Industri 4.0, Seminar Nasional Pascasarjana 2019 ISSN: 2686-6404. Cholily, Yus Mochamad Dkk. Pembelajaran Di Era Revolusi Industri 4.0, Seminar Nasional Penelitian Pendidikan Matematika (Snp2m) 2019 UMT, 1-6. Dewadi, Fathan Mubina. Sistem Homeschooling dalam Inovasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 5.0, Jurnal Informatika dan Teknologi Pendidikan Vol. 1, No. 1-June 2021, Hal. 1-8 DOI: 10.25008/jitp.v1i1.5. Fuadi, Tuti Marjan. Era Indrustri 4.0: Peran Guru Dan Pendidikan, Semdi Unaya-2019, 979-988 Desember 2019.
138 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Fitrah, M. (2017). Peran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Jurnal Penjaminan Mutu, 3(1), 31. https://doi.org/10.25078/jpm.v3i1.9 Ghani, Erlane K. and Kamaruzzaman. Industry 4.0: Employers’ Expectations of Accounting Graduates and its Implications on Teaching and Learning Practices. International Journal of Education and Practice, Vol. 7, no. 1, pp. 19- 29, Kurniawan, Nanda Alfan. Paradigma Pendidikan Inklusi Era Society 5.0, Prosiding Seminar dan Diskusi Nasional Pendidikan Dasar 2020 JPD: Jurnal Pendidikan Dasar, E-ISSN 2549-5801. Lase, Delipiter. Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0, Education in the Fourth Industrial Revolustion Age, JURNAL SUNDERMANN pISSN : 1979- 3588 Leen, C.C, Hong, K.F.F.H, and Ying, T.W. 2014. Creative and Critical Thinking in Singapore Schools. Singapore: Nanyang Technological University. Lubis, Metha. Peran Guru Pada Era Pendidikan 4.0, EDUKA: Jurnal Pendidikan, Hukum, dan Bisnis Vol. 4 No. 2 Tahun 2019 . Lukum, Astin. Pendidikan 4.0 Di Era Generasi Z: Tantangan Dan Solusinya, Pros. Semnas KPK Vol. 2 Tahun 2019. Muhammad, S., & Rahman, M. (2017). Implementasi Manajemen Berbasis ekolah Untuk Meningkatkan Mutu Sekolah Dasar Islam Insan Kamil Bacan Kabupaten Halmahera Selatan. Edukasi, 15(1), 610–620. https://doi.org/10.33387/j.edu.v15i1.27 Marisa, Mira. Inovasi Kurikulum “Merdeka Belajar” Di Era Society 5.0, Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora Vol. 5, No.1 April 2021. Putriani, Jesika Dwi dan Hudaida. Penerapan Pendidikan Indonesia Di Era Revolusi Industri 4.0, Jurnal Edukatif, Jurnal Ilmu pendidikan. Vol. Nomor 3 tahun 2021. Rabiah, S. (2019). Manajemen Pendidikan Tinggi Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Sinar Manajemen, 6(1), 58–67. Sabria, Indar. Peran Pendidikan Seni Di Era Society 5.0 untuk Revolusi Industri 4.0, Seminar Nasional Pascasarjana 2019. Sasikirana, Vania dan Herlambang, Yusuf Tri. Urgensi Merdeka Belajar Di Era Revolusi Industri 4.0 Dan Tantangan Society 5.0, E.Tech, Volume 08 Number 02 2020. Setiawan, Dimas dan Mei Lenawati. Peran Dan Strategi Perguruan Tinggi Dalam Menghadapi Era Society 5.0 Research : Journal of Computer, Information System, & Technology Management. Vol. 3, No. 1 April 2020, Pages 1-7. Sri Rahayu, Komang Novita. Sinergi Pendidikan Menyongsong Masa Depan Indonesia Di Era Society 5.0, EdukasI: Jurnal Pendidikan Dasar ISSN 2721-3935 Vol. 2, No. 1, Maret 2021, pp. 87-100. Syamsuar dan Reflianto. Pendidikan Dan Tantangan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Di Era Revolusi Industri 4.0 Universitas Negeri Padang.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |139 Sormin, D. (2017). Manajemen Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Di SMP Muhammadiyah 29 Padangsidimpuan. AlMuaddib: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial & Keislaman, 2(1), 129–146. https://doi.org/10.31604/muaddib.v2i1.159
140 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN TINGGI ERA 4.0 Romdah Romansyah Universitas Galuh, [email protected] Abstrak Mutu pendidikan menjadikan isu yang penting dalam berbagai hal, termasuk dunia pendidikan. Mutu menjadi identitas dari sebuah produk. Termasuk dalam dunia pendidikan di era 4.0. manajemen mutu merupakan kegiatan dalam mencapai tujuan dengan serangkaian tahapannya yaitu proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan dengan melengkapai dokumen mutu yaitu kebijakan, manual, standar dan formulir SPMI. Dengan pemenuhan hal tersebut diharapkan mutu pendidikan era 4.0 bisa terwujud. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan literatur review. Manajemen mutu perguruan tinggi dalam menghadapi 4.0 sangat perlu dibutuhkan dan ditingkatkan dalam memberikan identitas atau kelas dimana pergutuan tinggi itu berada, sehingga mempunyai daya saing global.Dokumen yang diperlukan dalam Sistem Manajemen Mutu Perguruan tinggi adalah: Kebijakan, Manual, Standar dan Formulr SPMI. Mutu Pendidikan bisa dilihat salah satunya dari hasil evaluasi ekternal yaitu dengan akreditasi. Kata kunsi : Manajemen, Mutu pendidikan, 4.0. Abstract The quality of education is an important issue in various ways, including the world of education. Quality is the identity of a product. Included in the world of education in the 4.0 era. quality management is an activity in achieving goals with a series of stages, namely the process of establishing and fulfilling management quality standards consistently and continuously by completing quality documents, namely policies, manuals, standards and SPMI forms. By fulfilling this, it is hoped that the quality of education in the 4.0 era can be realized. This research method uses a literature review approach. Higher education quality management in facing 4.0 really needs to be needed and improved in providing an identity or class where the higher education is located, so that it has global competitiveness. The documents needed in the Higher Education Quality Management System are: Policies, Manuals, Standards and SPMI Forms. The quality of education can be seen from the results of external evaluations, namely by accreditation. Keywords: Management, Quality of education, 4.0. PENDAHULUAN Era teknologi saat ini telah membuat dunia pendidikan berbeda dari era sebelumnya. Seluruh aspek kehidupan telah terpengaruh oleh teknologi, yang ditandai dengan meningkatnya interaksi, hubungan antar sesama, dan perkembangan sistem digital. Hal ini menyebabkan semakin meleburnya batas antara manusia dan mesin dan juga mempengaruhi sistem pendidikan di Indonesia. Menurut Maysitoh, Agung, dan Afdal (2018), pendidikan saat ini telah mengalami perubahan dalam proses belajar mengajar dengan
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |141 munculnya teknologi sebagai media yang digunakan untuk mempermudah manusia dalam bekerja. Pada era yang telah berubah, kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan agar dapat bersaing di dunia luar. Menurut Yuliati dan Saputra (2019), perkembangan teknologi saat ini menuntut peserta didik untuk memiliki keahlian yang lebih dan kemampuan dalam memecahkan masalah seperti berpikir kritis, kreatif, inovatif, dapat bekerjasama, berkolaborasi, dan tingkat percaya diri, serta memiliki kemampuan dalam berkomunikasi. Salah satu cara untuk mencapai ini adalah dengan mengoptimalkan penggunaan media sebagai pendukung dunia pendidikan dan menghasilkan lulusan berkualitas yang mampu mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan tuntutan teknologi. Namun, dalam proses menyiapkan sumber daya manusia, pendidikan dasar dan menengah harus berjalan sesuai tujuan. Menurut Heri (2019), pendidikan harus dapat mencetak generasi calon yang memiliki ketangguhan dan daya saing tinggi. Manajemen adalah suatu proses kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan secara efisien. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh George R. Terry (2002) bahwa manajemen merupakan suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau mengarahkan kepada suatu kelompok orang-orang kearah tujuan organisasi (Hersey dan Blanchard, 19883) agar mencapai maksud yang nyata. Manajemen memfasilitasi terwujudnya fleksibilitas atau keluwesan dan merupakan tanggung jawab semua warga dan masyarakat (orang tua, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha) agar terdorong untuk memberikan partisipasi. Meningkatkan kualitas mutu sebuah lembaga pendidikan harus merujuk pada sebuah kebijakan pendidikan pada tingkat nasional dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencapaian kualitas pendidikan dan memberikan layanan yang memuaskan pelanggan bukanlah suatu tugas yang mudah akan tetapi membutuhkan tahapan dan proses yang berkesinambungan. Pada lembaga pendidikan tinggi mampu memenuhi atau melampaui harapan baik tingkat fakultas, staf, mahasiswa, dan orang tua, alumni, penyandang dana, pemerintah, atau pihak lain, seperti tempat kerja, jika hal ini mampu dilaksanakan maka akan memberikan layanan yang memenuhi atau melebihi harapan pihak-pihak tersebut. Menurut Hasibuan (2001) menyatakan bahwa lembaga pendidikan yang mampu menjaga eksistensinya dalam skala dunia pendidikan dieraglobalisasi ini jika dapat mengaplikasikan manajemen pendidikan secara tepat dan optimal Untuk itu penjaminan mutu, dibutuhkan oleh institusi untuk menyelenggarakan administrasi agar dapat dengan fokus pada kualitas serta memberikan hasil yang memuaskan, maka pada akhirnya kualitas pendidikan harus dikelola secara metodis dan berkesinambungan. Penjaminan mutu pada pendidikan tinggi merupakan salah satu perhatian serius pemerintah (Ikhfan Haris, 2013). Kualitas harus memiliki lima landasan yaitu meningkatkan kualitas hasil pembelajaran, keterlibatan semua pemangku kepentingan, kesadaran akan perspektif internasional,