192 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 f. Literasi informasi Literasi informasi menghendaki peserta didik dapat melampaui informasi yang diberikan; penggunaan dan kontribusi informasi untuk mengonstruksi pengetahuan, mengidentifikasi dan memperluas ide untuk memajukan sumber daya pengetahuan dan informasi (Suto, 2013). Literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Menurut buku "The New Education: How to Revolutionize the University to Prepare Students for a World in Flux" karya Cathy N. Davidson dan David Theo Goldberg, KMB merupakan suatu pendekatan yang sangat penting dalam mempersiapkan siswa agar mampu menghadapi tantangan di era modern. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa: "Kurikulum merdeka belajar (KMB) merupakan suatu pendekatan yang menekankan pada kebebasan siswa untuk memilih dan mengembangkan minat mereka sendiri. KMB menekankan pada pengalaman langsung dan belajar dengan cara menemukan sendiri, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk sukses di masa depan." (Davidson & Goldberg, 2018) Dengan pendekatan ini, siswa diberikan kebebasan untuk menentukan apa yang ingin dipelajari dan bagaimana cara terbaik untuk mempelajarinya, sehingga mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka sendiri. Selain itu, KMB juga menekankan pada pengalaman langsung dan belajar dengan cara menemukan sendiri, sehingga siswa dapat belajar dengan cara yang lebih efektif dan menyenangkan. KMB juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk sukses di masa depan, seperti kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Dengan demikian, KMB merupakan suatu pendekatan yang sangat penting dalam mempersiapkan siswa agar mampu menghadapi tantangan di era modern. Selain itu, KMB juga dianggap mampu meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Menurut studi yang dilakukan oleh Smith dan MacGregor (2017), siswa yang belajar dengan pendekatan KMB cenderung lebih terlibat dan memiliki motivasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan pendekatan kurikulum tradisional. Hal ini terjadi karena siswa merasa lebih terlibat dalam proses pembelajaran dan merasa memiliki kebebasan untuk memilih topik yang sesuai dengan minat mereka. Implementasi kurikulum merdeka belajar (KMB) dapat dilakukan dengan cara memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih dan mengembangkan minat mereka sendiri, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |193 diperlukan untuk sukses di masa depan. Pendekatan KMB merupakan suatu proses yang menekankan pada kebebasan siswa untuk memilih dan mengembangkan minat mereka sendiri, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk sukses di masa depan." (Davidson & Goldberg, 2018) Implementasi KMB harus dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan dan minat siswa, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk sukses di masa depan (Coleman & Money, 2020). Untuk mengimplementasikan KMB secara efektif, diperlukan suatu sistem yang memungkinkan siswa untuk memilih dan mengembangkan minat mereka sendiri, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk sukses di masa depan (Luke et al., 2021). Implementasi KMB harus dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan dan minat siswa, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk sukses di masa depan. Selain itu, guru juga harus memberikan dukungan dan bimbingan kepada siswa agar dapat mengembangkan minat dan kemampuan yang dimilikinya secara optimal. (Agustini, Wahyuni, Mertayasa, Wedhanti, & Sukrawarpala, 2021). Implementasi KMB harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang fleksibel, sehingga siswa dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka sendiri. Selain itu, guru juga harus memfasilitasi proses pembelajaran dengan memberikan dukungan dan bimbingan kepada siswa agar dapat mengembangkan minat dan kemampuan yang dimilikinya secara optimal." (Johnson et al., 2014) Implementasi kurikulum merdeka belajar (KMB) pada pembelajaran abad 21 dapat dilakukan dengan cara memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih dan mengembangkan minat mereka sendiri, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuankemampuan yang diperlukan untuk sukses di masa depan. Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan dalam implementasi KMB pada pembelajaran abad 21: 1. Memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih topik yang sesuai dengan minat mereka. Dalam hal ini, guru dapat memberikan beberapa pilihan topik yang dapat dipelajari oleh siswa, atau mengajukan ide-ide topik yang dapat dikembangkan oleh siswa. Selain itu, guru juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan topik yang sesuai dengan minat mereka sendiri. 2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk sukses di masa depan, seperti kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Dalam hal ini, guru dapat memberikan tugas-tugas yang menantang dan mengajak siswa untuk berpikir secara kritis dan kreatif. Selain itu, guru juga dapat mengajak siswa untuk bekerja secara kolaboratif dengan teman-teman sekelasnya dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut.
194 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 3. Memberikan dukungan dan bimbingan kepada siswa agar dapat mengembangkan minat dan kemampuan yang dimilikinya secara optimal. Dalam hal ini, guru dapat memberikan saran dan arahan kepada siswa untuk mengembangkan minat dan kemampuan yang dimilikinya. Selain itu, guru juga dapat memberikan umpan balik yang konstruktif bagi siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. 4. Menggunakan pendekatan yang fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa. Dalam hal ini, guru dapat menyesuaikan metode pembelajaran yang digunakan dengan kebutuhan dan minat siswa. 5. Memfasilitasi proses pembelajaran dengan menggunakan berbagai media dan teknologi pembelajaran yang tersedia. Dalam hal ini, guru dapat menggunakan media-media pembelajaran seperti buku, video, atau internet sebagai sumber belajar bagi siswa. Selain itu, guru juga dapat menggunakan teknologi pembelajaran seperti aplikasi pembelajaran, game edukasi, atau simulasi untuk memfasilitasi proses pembelajaran. 6. Mengaplikasikan prinsip-prinsip pembelajaran abad 21, seperti pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran terstruktur, dan pembelajaran kolaboratif. Dalam hal ini, guru dapat memfokuskan pembelajaran pada penyelesaian masalah-masalah nyata yang dihadapi siswa, atau menggunakan metode pembelajaran terstruktur yang membantu siswa untuk memahami materi dengan lebih baik. Selain itu, guru juga dapat mengajak siswa untuk bekerja secara kolaboratif dengan teman-teman sekelasnya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. 7. Menyediakan sumber-sumber belajar yang variatif dan menarik bagi siswa, seperti buku, video, dan lainnya. Dalam hal ini, guru dapat menyediakan beberapa pilihan sumber belajar yang dapat dipelajari oleh siswa, seperti buku teks, buku referensi, jurnal, atau video tutorial. Selain itu, guru juga dapat menyediakan akses ke internet sebagai sumber belajar yang kaya akan informasi dan terupdate. 8. Menyediakan ruang belajar yang nyaman dan kondusif bagi siswa, seperti ruang kelas yang luas, tersedia fasilitas pembelajaran yang lengkap, dan lainnya. Dalam hal ini, guru dapat memperhatikan faktor-faktor seperti iluminasi, ventilasi, dan suhu ruang kelas agar siswa merasa nyaman saat belajar. Selain itu, guru juga dapat menyediakan fasilitas pembelajaran seperti komputer, proyektor, dan lainnya agar siswa dapat belajar dengan lebih interaktif dan menyenangkan. 9. Menyediakan waktu yang cukup bagi siswa untuk mengembangkan minat dan kemampuan yang dimilikinya. Dalam hal ini, guru dapat menyediakan waktu yang cukup bagi siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |195 10. Menyediakan sistem evaluasi yang transparan dan adil bagi siswa, sehingga siswa dapat mengetahui progres yang telah mereka capai dan memperbaiki kekurangan yang ada. Dalam hal ini, guru dapat menyusun sistem evaluasi yang jelas dan terukur, serta memberikan umpan balik yang konstruktif bagi siswa dalam mengevaluasi prestasi belajar mereka Selain tindakan-tindakan tersebut, dalam implementasi KMB pada pembelajaran abad 21, guru juga dapat melakukan beberapa hal berikut ini mengutip (Brookhart, 2012): 1. Mengajak siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, guru dapat mengajak siswa untuk mengajukan pertanyaan, berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya, atau mengemukakan pendapat mereka sendiri. 2. Memfasilitasi siswa untuk belajar secara mandiri. Dalam hal ini, guru dapat memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar secara mandiri dengan menyediakan sumber-sumber belajar yang cukup dan memberikan bimbingan yang tepat. 3. Mengembangkan keterampilan siswa dalam mencari, mengolah, dan menyajikan informasi. Dalam hal ini, guru dapat memberikan tugastugas yang menantang siswa untuk mencari, mengolah, dan menyajikan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber. 4. Mengembangkan kemampuan siswa dalam bekerja sama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru dapat mengajak siswa untuk bekerja sama dengan teman-teman sekelasnya dalam menyelesaikan tugastugas yang diberikan, serta memberikan dukungan dan bimbingan yang tepat agar siswa dapat belajar cara bekerja sama dengan orang lain secara efektif. 5. Mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan kreatif. Dalam hal ini, guru dapat memberikan tugas-tugas yang menantang siswa untuk berpikir kritis dan kreatif, serta memberikan umpan balik yang konstruktif bagi siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir tersebut. 6. Menggunakan metode pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan bagi siswa. Dalam hal ini, guru dapat menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan seperti pembelajaran berbasis game, pembelajaran terstruktur, atau pembelajaran berbasis proyek. Selain itu, guru juga dapat mencoba menggunakan teknologi pembelajaran seperti aplikasi pembelajaran, game edukasi, atau simulasi untuk memfasilitasi proses pembelajaran. Metode pembelajaran yang menyenangkan akan membantu siswa untuk lebih terlibat dan terdorong untuk belajar. Selain itu, metode pembelajaran yang inovatif juga dapat membantu siswa untuk lebih memahami materi yang diajarkan dengan lebih baik." (David W. Johnson & Johnson, 2009). 7. Menyediakan akses ke sumber-sumber belajar yang terupdate dan terpercaya. Dalam hal ini, guru dapat menyediakan akses ke internet sebagai sumber belajar yang kaya akan informasi dan terupdate.
196 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Selain itu, guru juga dapat memperhatikan sumber-sumber belajar yang digunakan, agar siswa dapat belajar dengan menggunakan informasi yang terpercaya. Sumber belajar yang terupdate dan terpercaya sangat penting bagi siswa, karena akan membantu siswa untuk memperoleh informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, sumber belajar yang terupdate juga dapat membantu siswa untuk belajar dengan menggunakan informasi yang terkini dan terbaru." (Dillenbourg, 1999). Mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Dalam hal ini, guru dapat memberikan pelatihan kepada siswa tentang cara menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, seperti menggunakan internet, menggunakan aplikasi pembelajaran, atau menggunakan software-software komputer. Selain itu, guru juga dapat memberikan tugas-tugas yang menantang siswa untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi merupakan kemampuan yang sangat penting bagi siswa dalam era digital seperti sekarang ini. Dengan kemampuan tersebut, siswa dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memperluas wawasan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya." (D.W. Johnson, Johnson, & Smith, 2014) PENUTUP Tren pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mengandung unsur karakteristik abad 21, mengandung pendekatan yang relevan digunakan pada era sekarang, pembelajaran yang mempersiapkan generasi abad 21 dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sangat pesat mempunyai pengaruh terhadap beragam aspek kehidupan, termasuk proses belajar mengajar. Pembelajaran yang materi ajar dapat disampaikan dengan strategi, metode, dan model yang tepat dengan mempertimbangkan karakteristik materi itu sendiri dan peserta didik yang akan menerima materi. Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar (KMB) pada pembelajaran abad 21 merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Dengan mengimplementasikan KMB, guru dapat memfasilitasi proses pembelajaran yang lebih interaktif, menyenangkan, dan efektif bagi siswa. Selain itu, KMB juga dapat membantu siswa untuk belajar secara mandiri, bekerja sama dengan orang lain, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Namun, untuk dapat mengimplementasikan KMB dengan baik, guru perlu memperhatikan beberapa hal seperti menyediakan sumber-sumber belajar yang variatif dan menarik, menyediakan ruang belajar yang nyaman dan kondusif, serta menyediakan sistem evaluasi yang transparan dan adil.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |197 DAFTAR PUSTAKA 21st century skills: learning for life in our times. (2010). Choice Reviews Online, 47(10). Abidin, Y. (2018). Pembelajaran Multi Literasi: Sebuah Jawaban Atas Tantangan Pendidikan Abad Ke-21 Dalam Konteks Ke-Indonesiaan. Bandung: Refika Aditama. Agustini, K., Wahyuni, D. S., Mertayasa, I. N. E., Wedhanti, N. K., & Sukrawarpala, W. (2021). Student-centered learning models and learning outcomes: Meta-analysis and effect sizes on the students’ thesis. Journal of Physics: Conference Series, 1810(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/1810/1/012049 Ankiewicz, P. (2016). The relevance of indigenous technology knowledge systems (ITKS) for the 21 st century classroom. PATT 32 Conference Proceedings, (August). Brookhart, S. M. (2012). How to Give Effective Feedback to Your Students, Second Edition. In How to Give Effective Feedback to Your Students, Second Edition. Coleman, T. E., & Money, A. G. (2020). Student-centred digital game–based learning: a conceptual framework and survey of the state of the art. Higher Education, Vol. 79. https://doi.org/10.1007/s10734-019-00417- 0 DiCerbo, K. (2014). Assessment and teaching of 21st century skills. Assessment in Education: Principles, Policy & Practice, 21(4). https://doi.org/10.1080/0969594x.2014.931836 Evans, C. (2020). Measuring student success skills: A review of the literature on self-directed learning. Center For Assessment. Flavell, J. (1976). Metacognitive aspects of problem solving. In The Nature of Intelligence. Fullan, M. (2013). Great to Excellent: Launching the Next Stage of Ontario’s Education Agenda. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9). Handayani, R., & Wulandari, D. (2021). Modern Assessment dalam Menyongsong Pembelajaran Abad 21 dan Hambatan di Negara Berkembang. Jurnal Pendidikan Edutama, 8(1). https://doi.org/10.30734/jpe.v8i1.1363 Johnson, D.W., Johnson, R. T., & Smith, K. A. (2014). Cooperative Learning: Improving University Instruction by Basing Practice on Validated Theory. Journal of Excellence in College Teaching, 25. Johnson, David W., & Johnson, R. T. (2009). An educational psychology success story: Social interdependence theory and cooperative learning. Educational Researcher, 38(5). https://doi.org/10.3102/0013189X09339057 Kaliská, L. (2015). Three types of intelligences and their relationship to students’ school performance. New Educational Review, 41(3). https://doi.org/10.15804/tner.2015.41.3.22 Kim, S., Raza, M., & Seidman, E. (2019). Improving 21st-century teaching skills: The key to effective 21st-century learners. Research in
198 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Comparative and International Education, 14(1). https://doi.org/10.1177/1745499919829214 Luke, A. M., Mathew, S., Kuriadom, S. T., George, J. M., Karobari, M. I., Marya, A., & Pawar, A. M. (2021). Effectiveness of Problem-Based Learning versus Traditional Teaching Methods in Improving Acquisition of Radiographic Interpretation Skills among Dental Students- A Systematic Review and Meta-Analysis. BioMed Research International, Vol. 2021. https://doi.org/10.1155/2021/9630285 Mu’Minah, I. H., & Aripin, I. (2019). Implementasi Stem Dalam Pembelajaran Abad 21. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, 1(2012), 1496. Retrieved from https://prosiding.unma.ac.id/index.php/semnasfkip/article/view/219 Muhali. (2018). Arah Pengembangan Pendidikan Masa Kini Menurut Perspektif Revolusi Industri 4.0. Prosiding Seminar Nasional Lembaga Penelitian Dan Pendidikan (LPP) Mandala, (September). Mukhadis, A. (2013). Sosok Manusia Indonesia Unggul Dan Berkarakter Dalam Bidang Teknologi Sebagai Tuntutan Hidup Di Era Globalisasi. Jurnal Pendidikan Karakter, 4(2). https://doi.org/10.21831/jpk.v2i2.1434 Nanzhao, Z. (2004). Competencies in Curriculum Development. Ibe.Unesco.Org. Nuryani, P., Abidin, Y., & Herlambang, Y. T. (2019). Model Pedagogik Multiliterasi Dalam Mengembangkan Keterampilan Berpikir Abad Ke21. EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru, 11(2), 117–126. Priyanti, R. (2019). Pembelajaran inovatif abad 21. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pendidikan Pascasarjana UNIMED, 482–505. Retrieved from http://digilib.unimed.ac.id/38906/3/ATP 58.pdf Rosnaeni, R. (2021). Karakteristik dan Asesmen Pembelajaran Abad 21. Jurnal Basicedu, 5(5). https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i5.1548 Sugiyono. (2016). Metode Penelitian pendidikan. Bandung: Alfabeta. Suto, I. (2013). 21 st Century skills : Ancient , ubiquitous , enigmatic ? Research Matters: A Cambridge Assessment Publication. Syaripudin, T. (2019). Multiliteration and Higher Order Thinking Skills Implications to Education. International Journal of Science and Applied Science: Conference Series, 3(1), 131. https://doi.org/10.20961/ijsascs.v3i1.32534 Wijaya, E. Y., Sudjimat, D. A., & Nyoto, A. (2016). Transformasi Pendidikan Abad 21 sebagai Tuntutan Pengembangan Sumber Daya Manusia di Era Global. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika, 1.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |199 REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN SOCIETY 5.0 SERTA RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN Arman Tirtajaya Sekolah Pascasarjana Uninus Abstrak Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menuntut perubahan dalam cara pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Internet sebagai teknologi yang mutakhir, diharapkan dapat membantu dalam pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Namun, masih terdapat kendala dalam implementasi manajemen pembelajaran berbasis internet. Penelitian ini menggunakan metode literatur review untuk mengidentifikasi kendala dalam implementasi manajemen pembelajaran berbasis internet dan solusi yang ditawarkan dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Data diperoleh dari berbagai jurnal ilmiah yang berkaitan dengan manajemen pembelajaran berbasis internet. Hasil dari literatur review menunjukkan bahwa kehadiran revolusi industri 4.0 dan society 5.0 mempunyai relevansi terhadap pendidikan di Indonesia. Karena baik industri 4.0 maupun Society 5.0 menekankan pada kesiapan untuk mengembangkan kreativitas dan berpikir kritis, hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, penulis menyimpulkan bahwa perlu dan penting bagi masyarakat untuk siap menyongsong dan melaksanakan pendidikan revolusi Industri 4.0 dan society 5.0. Cara berpikir yang harus dipahami dan digunakan adalah analitis, kritis dan kreatif untuk tetap dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Kata kunci: Pendidikan, Revolusi Industri 4.0, Society 5.0 Abstract The Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0 demand changes in a more effective and efficient way of learning. The internet as the latest technology is expected to assist in more effective and efficient learning. However, there are still obstacles in the implementation of internet-based learning management. This study uses the literature review method to identify obstacles in the implementation of internet-based learning management and the solutions offered in dealing with the industrial revolution 4.0 and society 5.0. Data were obtained from various scientific journals related to internet-based learning management. The results of the literature review show that the presence of the industrial revolution 4.0 and society 5.0 has relevance to education in Indonesia. Because both Industry 4.0 and Society 5.0 emphasize readiness to develop creativity and critical thinking, this is in line with the goals of education in Indonesia. Based on this, the authors conclude that it is necessary and important for the community to be ready to welcome and implement Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0 education. The way of thinking that must be understood and used is analytical, critical and creative in order to be able to adapt to the times.
200 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Keywords: Education, Industrial Revolution 4.0, Society 5.0 PENDAHULUAN Industri 4.0 telah menjadi sebuah revolusi besar dalam perkembangan kehidupan manusia. Teknologi digital telah mempengaruhi manusia dalam berbagai hal dari ekonomi, sosial, politik dan bahkan dalam kehidupan pribadi manusia itu sendiri. Industri 4.0 tidak berkembang dengan sendirinya melainkan dengan adanya masyarakat yang terus belajar dan berkembang, oleh karena hubungan industri 4.0 dan masyarakat adalah hubungan timbal balik yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Jepang sebagai negara maju yang dikenal menemukan berbagai teknologi canggih telah memperkenalkan konsep Society5.0 dimana masyarakat telah berkembang sampai dititik mampu memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kesejahteraannya.Konsep Society 5.0 adalah konsep masyarakat masa depan yang dicita-citakan oleh pemerintah Jepang (Mayumi Fukuyama dalam Umar al Faruqi. 2019). Pemerintah Jepang mengemukakan bahwa era Industry 4.0 lebih berfokus pada proses produksi, sedangkan Society 5.0 lebih menekankan pada upaya menempatkan manusia sebagai pusat inovasi (human centered) adapun kemajuan teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup, tanggung jawab sosial dan berkembang keberlanjutan. Menyikapi perkembangan pesat di era Revolusi Industri 4.0, negaranegara mulai melakukan berbagai langkah. Sebagai negara maju di bidang teknologi, Jepang memimpin dalam pengusulan konsep Society 5.0. Konsep ini diharapkan dapat memperkuat United Nations Sustainable Development Goals, yaitu mengentaskan kemiskinan, melindungi planet ini, dan menjamin kemakmuran bagi semua (Shiroishi, Y., Uchiyama, K., Suzuki, 2018). Konsep Social 5.0 sebenarnya merupakan konsep yang sangat panjang. Konsep ini muncul dalam " Basic Economic and Fiscal Policy ". Salgues (2018) memberikan definisi terhadap society 5.0 yaitu sebagai sebuah masyarakat cerdas yang mengintegrasikan lingkungan nyata (fisik) dan lingkungan virtual (jaringan). Selain itu Kepa, J K., Unamuno, G., Urkia, E., Serna, (2019) juga berpendapat yang menyebutkan bahwa teknologi merupakan pelaku utama dalam keberlangsungan revolusi Industri 4.0 di mana ICT (teknologi informasi dan komunikasi) terintegrasi penuh pada sist em produksi. Sedangkan society 5.0 pusatnya adalah manusia, seperti yang disampaikan Alhefeiti, (2018), society 5.0 berupaya untuk menjadi teknologi yang berpusat pada manusia (human-centric society) yang terintegrasi penuh antara dunia maya dan nyata. Disisi lain Raharja (2019) menunjukkan bahwa society 5.0 masih erat kaitannya Konsep society 5.0 menjadikan manusia sebagai sumber inovasi, dimana tidak hanya terbatas untuk faktor manufaktur/industri tetapi juga memecahkan masalah sosial dengan bantuan integrasi ruang fisik dan virtual (Nastiti & Abdu, 2020). Menurut Nusantara, T. (2020), salah satu ide dasar dari konsep ini yaitu diharapkan produk kecerdasan buatan akan mentransformasi big data dari produk transaksi internet pada segala bidang
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |201 kehidupan menjadi suatu kearifan yang baru yaitu menciptakan harapan untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam membuka peluangpeluang baru bagi kemanusiaan. Society5.0muncul sebagai pengembangan dari revolusi industri 4.0 yang dinilai berpotensi mendegradasi peranan manusia itu sendiri. Dalam society 5.0, manusia akan menjadi pusatnya (human centered) dengan tetap berbasis teknologi (technology based). Munculnya society 5.0dibutuhkan terobosan-terobosan yang paten dalam upaya menghadapi tantangan yang akan ditimbulkan society 5.0 (Umro, 2020). Kompetensi kreatif, kritis, fleksibel, terbuka, inovatif, tangkas, kompetitif, peka terhadap masalah, menguasai informasi, mampu bekerja dalam “team work” lintas bidang, dan mampu beradaptasi terhadap perubahan dapat dijadikan modal untuk menghadapi kondisi kemasyarakatan atau Society 5.0Era society 5.0 ditandai peningkatan program digitalisasi yang didukung oleh empat faktor: 1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas; 2) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis; 3) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; dan 4) instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing. Kondisi kehidupan masyarakat era society 5.0 sangat berpengaruh terhadap segala bidang kehidupan manusia termasuk pada bidang pendidikan. Implikasi konsep society 5.0terhadap pendidikan diantaranya adalah tuntuan pembaharuan kompetensi yang dibelajarkan kepada peserta didik untuk disesuaikan dengan kebutuhan hidup masyarakat era society 5.0d an termasuk juga model pembelajaranya di sekolah. Society 5.0 merupakan era yang merepresentasikan keadaan masyarakat saat ini karena hadir di Industri 4.0, artinya teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di satu sisi, sulit untuk mengatakan bahwa Jepang cukup kompetitif dalam teknologi kecerdasan buatan. Perkembangan dunia teknologi saat ini mengharuskan semua lembaga termasuk pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi haruslah turut menjawabnya. Sejarah mencatat hanya orang-orang yang cerdas yang mampu membaca sprit zaman (zeitgeist) yang mampu bertahan dan dikenang setiap zamannya sesuai dengan perkembangan dan dinamika yang mengiringinya (Farid Ahmadi,H.I 2020) Pendidikan memainkan peran yang sangat penting dalam perbaikan kualitas sumber daya dalam standar kehidupan sosial yang terus berkembang di dunia/masyarakat global. Sistem pendidikan yang tepat membawa kemajuan bagi suatu negara. Eksistensi suatu bangsa dapat eksis melalui kontribusinya terhadap peradaban dunia. Sehingga Pendidikan terus menyesuaikan serta menyelaraskan dengan kemajuan teknologi (Fahrezi, 2021). Society 5.0 berpusat pada tiga nilai inti yang saling berhubungan: berpusat pada manusia, keberlanjutan, dan ketahanan. Pendekatan yang berpusat pada manusia menempatkan kebutuhan dan kepentingan inti manusia di jantung proses produksi, bergeser dari kemajuan yang didorong oleh teknologi ke pendekatan yang sepenuhnya berpusat pada manusia dan berpusat pada masyarakat (Xu et al., 2021). Akibatnya, pekerja industri akan
202 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 mengembangkan peran baru sebagai pergeseran nilai dari menganggap pekerja sebagai “biaya” menjadi “investasi”. Teknologi adalah untuk melayani manusia dan masyarakat, artinya teknologi yang digunakan dalam manufaktur adaptif dengan kebutuhan dan keragaman pekerja industri (Lu et al., 2021). Lingkungan kerja yang aman dan inklusif harus diciptakan untuk memprioritaskan kesehatan fisik, kesehatan mental dan kesejahteraan, dan pada akhirnya melindungi hak-hak dasar pekerja, yaitu otonomi, martabat manusia, dan privasi. Unsur-unsur pemikiran dan peradaban sosial yang maju merupakan salah satu keniscayaan peradaban bangsa yang besar. Perbedaan nilai dalam adat, budaya, bahasa, dan sistem kepercayaan tidak menjadi masalah, karena nilai dasar yang dijadikan pedoman setiap negara biasanya berdampak positif bagi manusia (Falaq, 2020). Nilai-nilai dasar tersebut adalah nilai-nilai kemanusiaan, yaitu nilai-nilai universal (Pahlevi, 2016). Oleh karena itu penelitian ini berusaha untuk menelusuri implementasi industry 4.0 dan society 5.0 terhadap pendidikan di Indonesia. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studyliterature. Metode ini mengumpulkan informasi atau data melalui buku, jurnal atau artikel yang relevan dengan isu yang sedang dikaji. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan informasi atau data yang berhubungan dengan pendekatan pembelajaran di era society 5.0. PEMBAHASAN Peradaban Masyarakat Industri 4.0 dan Society 5.0 Society 5.0 menggambarkan bentuk ke-5 dari perkembangan kemasyarakatan dalam sejarah manusia, secara kronologis dimulai masyarakat perburuan (Society 1.0), masyarakat pertanian (Society 2.0), masyarakat industri (Society3.0), dan masyarakat informasi (Society 4.0). Revolusi industri keempat menciptakan layanan nilai-nilai baru yang mengantarkan manusia pada hidup yang lebih baik. Society 5.0 menggapai derajat yang lebih tinggi dalam konvergensi cyberspace (ruang virtual)dan physical space (ruang nyata). Di masyarakat informasi (Society 4.0), orangorang mengakses sebuah cloud service dalam ruang virtual melalui internet dan kemudian mencari, memperoleh, dan menganalisa informasi atau data. Dalam Society 5.0, sejumlah besar informasi dari sensor-sensor dalam ruang nyata diakumulasi dalam ruang virtual. Dalam ruang virtual, data yang besar ini dianalisa oleh Artificial Intelligence (AI), dan hasil analisis akan diberikan kembali kepada manusia di ruang nyata dalam berbagai bentuk. Dalam masyarakat informasi, praktek umumnya adalah dengan mengumpulkan informasi melalui jaringan dan informasi tersebut dianalisa oleh manusia. Namun, dalam Society 5.0, masyarakat, benda-benda, dan sistemsistem semuanya dihubungkan dalam ruang virtual dam hasil-hasil yang optimal diperoleh oleh AI, yang mampu melampaui kemampuan manusia, dan akan diberikan kembali ke ruang nyata akan memberikan nilai baru kepada industri dan masyarakat dalam berbagai cara yang sebelumnya
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |203 mustahil untuk dilakukan. Peradaban di era society 5.0 akan ditandai dengan fenomena-fenomena baru yaitu Drone Delivery, alat-alat rumah tangga berbasis Artificial Intelligence (AI), Medical Care, dan Smart Work. Drone Delivery, pada masa yang akan datang drone akan digunakan untuk mengantar dan mengirimkan barang-barang properti dan mendukung kegiatan pertolongan bencana di sekitar dunia kita. Alat-alat rumah tangga berbasis Artificial Intelligence. Peralatan rumah tangga yang menggunakan teknologi intelijensia buatan sedang dikembangkan dan dijual di seluruh dunia. Kenyamanan akan dilancarkan ketika peralatan-peralatan rumah tangga kita terhubung satu sama lain. Contoh peralatan tersebut adalah kulkas dengan AI dan pengeras suara dengan AI. Medical Care, para pembantu yang tak kenal lelah akan segera membantu layanan pengasuhan dan penerima perawatan. Masyarakat kita yang mengalami penuaan membutuhkan kemampuan kita untuk menyediakan layanan pengobatan dan perawatan. Robot-robot dan bentuk-bentuk lain dari teknologi canggih memberi kita petunjuk dalam hal solusi. Pendidikan dengan seluruh aspek aktivitasnya, dilaksanakan dalam rangka penyiapan sumber daya manusia masa depan yang mampu adaptif dengan zamannya (Suswandari, 2017). Dalam berbagai kajian sosial ditegaskan bahwa Society 5.0 penggunaan teknologi, data danautomation menjadi nafas yang tidak terelakkan (Bhagwati, Jagdish, 2004). Dunia semakin dekat tanpa sekat karena dihubungkan pada kecanggihan teknologi. Perubahan besar dari ekonomi berbasis sumber daya alam /manusia ke arah ekonomi berbasis pengetahuan, dengan implikasinya berupa tuntutan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, lapangan kerja (Furqon, 2015). Selain itu, tentang abad 21 dalam Society 5.0, menurut Patrick Griffin, Barry McGaw dan Esther Care (2012) menegaskan bahwa skill sumber daya manusia yang dibutuhkan dengan ciri sebagai berikut : 1). ways of thinking : mencakup creativity and innovation, critical thinking, problem solving, decision making, learning to learn, metacognition, 2). Ways of workingmencakup : communication, collaboration,3), tools for working meliputi : information literacy, ICT literacy, 4). Living in the world meliputi : citizenship, life and career, personal and social responsibility-including cultural awareness and competence. Relevansi Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Terhadap Pendidikan Sebagai penggerak Revolusi Industri 4.0, teknologi informasi dan komunikasi akan terus bergulir dan mengalami perkembangan yang sangat cepat. Di era industri 4.0 dan society 5.0 teknologi informasi berkembang pesat, menambah warna kehidupan setiap orang. Era revolusi industri 4.0 diawali dengan berkembangnya Internet of Things, dan kini telah merambah ke segala bidang kehidupan masyarakat. Sedangkan society 5.0 mengubah konsep teknologi big data yang dikumpulkan oleh Internet of Things (IoT) dari Artificial Intelligence (AI) menjadi sesuatu yang dapat membantu orang meningkatkan kehidupan manusia (Xu et al., 2021).
204 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Internet of things (IoT) yang merambah pada semua aspek kehidupan mengubah cara pandang masyarakat Indonesia, termasuk bidang pendidikan. Pendidikan 4.0 adalah konsep yang diciptakan oleh para ahli teori pendidikan yang mewakili berbagai pendekatan untuk mengintegrasikan teknologi jaringan ke dalam kelas. Perkembangan globalisasi di Indonesia masih dalam era 4.0 (Lu et al., 2021). Era 4.0 yang telah berjalan di Indonesia sejak tahun 2011 sedikit banyak telah mengubah peran guru. Menurut Muhadjir Effendy (Mendikbud) yang dikutip oleh Yusnaini, (2019) bahwa menembus era 4.0 dalam dunia pendidikan dibutuhkan perbaikan kurikulum dengan meningkatkan kompetensi siswa, meliputi 1) Berpikir kritis; 2) Kreativitas dan inovasi; 3) Keterampilan interpersonal dan komunikasi; 4) Teamwork dan kolaborasi; 5) Percaya diri (Falaq, 2020). Di era revolusi industri 4.0 lembaga pendidikan berada pada posisi yang ideal untuk membantu menumbuhkan tenaga kerja yang ideal dan unggul. Siswa dapat mengakses informasi yang tersedia tanpa batas, menjadikannya pilihan untuk pembelajaran virtual dan terhubung dengan mudah karena terintegrasi ke berbagai platform. Selain itu pembelajaran di era revolusi 4.0 dapat menerapkan blended learning dan case-based learning. Pendidikan 4.0 merupakan rencana perluasan akses dan relevansi untuk mendukung terwujudnya smart education melalui peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan serta pemanfaatan teknologi untuk mewujudkan pendidikan kelas dunia guna menumbuh-kembangkan peserta didik yang memiliki keterampilan abad ke-21 yang mengacu pada standar kompetensi global yang mempersiapkan generasi muda untuk memasuki dunia kerja dan realitas kehidupan di abad ke-21. Pendidikan tidak lagi berpusat pada hubungan timbal balik atau dua arah antara siswa dan guru, tetapi pada jaringan sebagai pusatnya, secara langsung menghubungi siswa lain dengan sumber informasi yang berbeda; tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Hal ini mendorong pengembangan metode dan konsep pembelajaran yang lebih individual, kemandirian siswa dan metode perolehan pengetahuan pribadi akan terlaksana dengan baik. Inilah yang disebut dengan era pendidikan 4.0 (Shiroishi, Y., Uchiyama, K., Suzuki, 2018). Bahkan pada masa pendidikan society 5.0 memungkinkan siswa akan belajar berdampingan bersama robot sebagai pengganti guru. Dalam menghadapi tantangan era society 5.0, pendidikan memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk menjawab tantangan era sosial tersebut, lembaga pendidikan harus mengubah paradigmanya, antara lain pendidik memperhatikan fungsi sumber belajar dan membiarkan guru fokus memberikan inspirasi kepada siswa. Pendidikan 5.0 merupakan terobosan baru dari society 5.0 yaitu dengan cara mengintegrasikan antara manusia dan teknologi untuk dapat memanfaatkan peluang melalui cara-cara yang kreatif dan inovatif (Arjunaita, 2020). Pada perspektif pendidikan era society 5.0 ditinjau dari sudut pandang ontologi lebih menekankan pada pendidikan karakter, moral, dan keteladanan. Dikarenakan pengetahuan seseorang dapat dengan mudah dinilai dengan
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |205 menggunakan teknologi, namun soft dan hard skill seseorang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Dalam hal ini diperlukan pendidikan yang berbasis pada kemampuan memahami dan menerapkan Internet of Things (IoT), virtual atau augmented reality, serta penggunaan dan penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence) (Ristekdikti, 2018). Dalam hal pendidikan, society 5.0 menuntut siswa untuk memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah yang kompleks, berpikir kritis, dan kreativitas. Kemampuan tersebut diperlukan dalam rangka mengadopsi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak hanya sebagai “taker” tetapi juga sebagai “maker” melalui prinsip-prinsip pendidikan . Kompetensi society 5.0 menjadi 6 indikator kompetensi akan diterapkan pada konsep pendidikan. Fleksibilitas kognitif dan indikator verifikasi informasi akan menghasilkan kompetensi keterampilan berpikir kritis; indikator penilaian dan pengambilan keputusan akan menghasilkan kompetensi keterampilan pemecahan masalah dan keterampilan observasional; indikator kecerdasan emosional akan menghasilkan kompetensi kreativitas dan inovasi; koordinasi dengan indikator lain akan menghasilkan kompetensi keterampilan pemecahan masalah dan keterampilan komunikasi; dan indikator manajemen orang akan menghasilkan kompetensi keterampilan kolaboratif. Prinsip dasar era society 5.0 adalah sebagai solusi atas permasalahan yang tercipta pada era revolusi industri 4.0, antara lain permasalahan berkurangnya sosialisasi antar masyarakat, ketenagakerjaan, dan dampak internalisasi lainnya (Faruqi, 2019). Society 5.0 diharapkan mampu mensejahterakan kehidupan seluruh umat manusia. Dalam bidang pendidikan misalnya siswa mungkin dalam proses pembelajaran berhadapan langsung dengan robot-robot yang dirancang khusus atau dikendalikan oleh dosen dari jarak jauh. Proses belajar mengajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, baik ada guru maupun tidak. Society 5.0 bertujuan untuk menciptakan konsep masyarakat yang peduli pada kemanusiaan, melalui pertumbuhan ekonomi dan penyelesaian masyarakat, semua tantangan diharapkan dapat diatasi, sehingga setiap fase masyarakat dapat menikmati kualitas hidup yang aktif dan nyaman (Sajidan et al., 2021). PENUTUP Revolusi Industri 4.0 telah melahirkan kehidupan baru masyarakat dunia dengan seluruh layanannya. Perubahan dalam segala lini kehidupan tidak terelakkan. Orientasi hidup manusia mengalami pergeseran begitu tajam, yang pada ujungnya menimbulkan banyak kekhawatiran pada aspek keberlanjutan. Society 5.0 yang disuarakan oleh pemerintah Jepang pada awal tahun 2019 mengajak kepada seluruh umat manusia di duniauntuk dapat berfikir kritis dalam menyikapi perkembangan teknologi. Aspek keberlanjutan menjadi kunci utama dan harapan adanya sikap positif terhadap era Society 5.0. Kehadiran revolusi industri 4.0 dan society 5.0 mempunyai relevansi terhadap pendidikan di Indonesia. Karena baik industri 4.0 maupun Society 5.0 menekankan pada kesiapan untuk
206 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 mengembangkan kreativitas dan berpikir kritis, hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, penulis menyimpulkan bahwa perlu dan penting bagi masyarakat untuk siap menyongsong dan melaksanakan pendidikan revolusi Industri 4.0 dan society 5.0. Cara berpikir yang harus dipahami dan digunakan adalah analitis, kritis dan kreatif untuk tetap dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. DAFTAR PUSTAKA Bhagwati, Jagdish. (2004). In Defense of Globalization. Oxford University Press-New York. Blaschke Lisa Marie. (2012).Heutagogy and lifelong learning: A review ofheutagogical practice and self determined learning. International Review of Research in Open and Distance Learning, 13 (1), 56–71. Chimpololo, A. (2020). An Analysis of Heutagogical Practices through Mobile Device Usage in a Teacher Training Programme in Malawi. Journal of Learning for Development, 7 (2), 190–203. Furqon. (2015). Etnopedagogi : Pendekatan Pendidikan Berbudaya dan Membudayakan. Makalah Seminar Internasional. FPIPS Universitas Lambung Mangkurat. Griffin, Patrick, Barry McGraw, Esther Care (ed). (2012). Assessment and Teaching of 21 St Century Skills. Esther Care Melbourne. Xu, X., Lu, Y., Vogel-Heuser, B., & Wang, L. (2021). Industry 4.0 and Industry 5.0— Inception, conception and perception. Journal of Manufacturing Systems, 61(October), 530–535. https://doi.org/10.1016/j.jmsy.2021.10.006 Yusnaini, Y. (2019). Era Revolusi Industri 4.0: Tantangan Dan Peluang Dalam Upaya Meningkatkan Literasi Pendidikan. Prosiding Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas Pgri Palembang. Zuehlke, D. (2010). SmartFactory-Towards a factory-of-things. Annual Reviews in Control, 34(1), 129–138. https://doi.org/10.1016/j.arcontrol.2010.02.008 Pahlevi, F. S. (2016). Revitalisasi Pancasila Dalam Penegakan Hukum yang Berkeadilan di Indonesia. Justicia Islamica, 13(2). Raharja, H. (2019). Relevansi Pancasila Era Industry 4.0 dan Society 5.0 di Pendidikan Tinggi Vokasi. Journal of Digital Education, Communication, and Arts, 2(1), 11–20. https://doi.org/DOI: 10.30871/deca.v2i1.1311 Ristekdikti. (2018). Era Revolusi Industri 4.0 Saatnya Generasi Millenial Menjadi Dosen Masa Depan. Sumber Daya IPTEK Dan DIKTI. Sajidan, Atmojo, I. R. W., Febriansari, D., & Suranto. (2021). A Framework of Science Based Entrepreneurship through Innovative Learning Model Toward Indonesia in Society 5.0. Journal of Physics: Conference Series, 1842(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/1842/1/012039 Salgues, B. (2018). Society 5.0 : Industry of the Future, Technologies, Methods and Tools. ISTE and John Wiley & Sons. Shiroishi, Y., Uchiyama, K., Suzuki, N. (2018). Society 5.0 : For Human Security and Well-being. Computer Edisi 51, VII, 91-95.
Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |207 Sumarno. (2019). Pembelajaran Kompetensi Abad 21 Menghadapi Era Society 5.0. Penguatan Pendidikan & Kebudayaan Untuk Menyongsong Society 5.0, 272–287.