The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rakyan saeful anwar, 2023-01-20 03:18:16

Dummy Buku Bunga Rampai

Dummy Buku Bunga Rampai

142 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 kemandirian dan keterkaitan (Khushbakht Hina dan Muhammad Ajmal, 2016). Pengertian mutu dalam berbagai literatur akademis, memiliki makna yang cukup beragam. menurut Ishikawa (1985) mutu dipandangnya sebagai “Something that contains a meaning of degree from superiority of the product, as well as goods or services. Pengertian mutu dalam pendidikan tinggi bukan sesuatu yang statis, akan tetapi merupakan suatu konsep yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan hasil pendidikan dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi yang menunjukan pengembangan pada kualitas sumber daya manusia. METODE Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan literatur review. Metode literatur review adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang ada dalam literatur yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Tinjauan tersebut akan mencakup topik seperti penggunaan analisis data dan alat digital untuk meningkatkan hasil pendidikan, integrasi prinsip Industry 4.0 dalam kurikulum pendidikan tinggi, dan tantangan dan peluang yang ditawarkan oleh era digital untuk manajemen mutu pendidikan tinggi.Metode ini digunakan untuk mendapatkan gambaran umum tentang suatu isu atau permasalahan dan mengevaluasi kualitas dan validitas sumber-sumber yang digunakan. Secara rinci, metode literatur review meliputi beberapa tahap, yaitu: pengumpulan data, reduksi, display, pembahasan dan kesimpulan. PEMBAHASAN Mutu Pendidikan tinggi era industri 4.0 Era industri 4.0 yang diprakarsai oleh pemerintah Jerman bermula dari sebuah proyek untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur. Revolusi Industri 4.0 terjadi sekitar tahun 2010-an melalui rekayasa intelegensia dan internet of thing sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin (Shwab, 2016). Lee et al(2013) menjelaskan, industri 4.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor: 1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas; 2) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis; 3) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; dan 4) perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik. Revolusi industri 4.0 ditandai dengan perkembangan teknologi yang canggih dan inovatif, seperti kecerdasan buatan mesin. Perubahan ini akan memberikan dampak besar pada berbagai sektor, seperti ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan. Menurut Savitri (2019), revolusi industri pertama ditandai dengan munculnya peralatan yang mendukung seperti mesin uap, yang disebut dengan era 1.0. Kemudian perubahan kembali terjadi dengan munculnya pabrik-pabrik yang berbasis energi listrik, yang disebut dengan era 2.0. Pada era 3.0, pabrik-pabrik mulai menggunakan teknologi dalam proses produksi. Menurut Yuliati dan Saputra (2019),


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |143 revolusi industri 4.0 merupakan era yang sangat kompetitif, karena hidup setiap orang sangat terkait dengan teknologi informasi. Pada era ini, teknologi memungkinkan perubahan yang signifikan pada pola hidup setiap individu, membuat aktivitas lebih mudah, cepat, dan praktis. Namun, teknologi juga dapat memberikan dampak negatif, seperti peningkatan kejahatan dan masalah sumber daya manusia. Dalam konteks Pendidikan, disebut “Era Pendidikan 4.0”, ini merupakan tantangan berat yang harus dihadapi oleh tenaga pendidik dan lembaga pendidikan Era Pendidikan 4.0, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud Anwar Nadiem Makarim) menyampaikan dalam sambutannya bahwa Guru Penggerak Indonesia Maju, wujudkan Sumber Daya Manusia yang Unggul (Hut ke-74 PGRI 2019). Tantangan Pendidikan Indonesia di revolusi industri 4.0, yaitu 1). Pemerintah mempersiapkan diri dalam menghadapi Pendidikan 4.0, 2). Kesiapan Pendidikan untuk berubah, 3). revolusi industry 4.0 mempengaruhi dunia pendidikan, 4). cyber system dalam dunia pendidikan, 5). Pembelajaran sepanjang waktu, 6). Pemerintah jangan terlambat dalam merespon revolusi industry 4.0 (Ni Nyoman Lisna Handayani, Ni Ketut Erna Muliastrini, 2020) serta Tantangan-tantangan pada Kuantitas, Ekuitas, dan Kualitas (Khushbakht Hina dan Muhammad Ajmal, 2016). Penjaminan mutu menjadi isu sentral didalam pendidikan tinggi dan menjadi perhatian pemerintah secara seksama secara global ini menjadi tren di banyak lembaga pendidikan tinggi (Rachel Wai-Yi Cheung, 2020). Penjaminan mutu bermul dari bisnis lalu dipakai di sektor pendidikan tinggi pada 1980-an (Elassy, 2015; El Khawas, 2013) . Penjaminain mutu pendidikan tinggi merupakan proses pembentukan input, proses dan hasil yang dilakukan oleh pimpinan (Harvey (2011). Pendidikan yang bermutu dan dapat diandalkan di era gelobalisasi atau era 4.0 dan persaingan dewasa ini dan masa depan, sehingga perlu adanya kesadaran serta kemauan dalam mengelola lembaga pendidikan secara otonom, fleksibel, dan professional melalui manajemen mutu. Aplikasi manajemen mutu di perusahaan atau industri jasa menjadi kebutuhan pokok sebab kualitas jasa dapat berkontribusi kepada kepuasan palanggan. Greising (dalam Sabihaini, 2004) menyebutkan bahwa hubungan antara kualitas jasa dengan profitabilitas bersifat tidak langsung yaitu melalui loyalitas pelanggan dengan merasa puas atas kualitas jasa yang diterima. Kotler (2008) menyatakan bahwa kualitas harus dimulai dan berakhir pada pelanggan. Peningkatan kualitas mengatur dan meningkatkan sistem perkembangan yang ada sesuai standar yang telah ditetapkan (Hina & Ajmal, 2016). Dimensi produk perguruan tinggi secara substansi mengacu pada prestasi yang dicapai oleh perguruan tinggi pada kurun waktu tertentu baik prestasi akademik maupun non akademik. Dimensi mutu pelayanan perguruan tinggi sebagaimana dikemukakan oleh Parasuraman et all (1985) dalam Mishra (2007) adalah: 1). Tangibles (bukti fisik), yaitu penampilan sarana dan fasilitas fisik, perlengkapan dan peralatan, penampilan personil dan media komunikasi. 2). Reliability (keandalan), yaitu kemampuan untuk


144 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 memberikan jasa yang dijanjikan dengan segera, akurat, terpercaya, dan memuaskan. 4). Responsiveness (ketanggapan), yaitu kemampuan dan keinginan dari karyawan untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan cepat dan tepat.5). Assurance (jaminan), yaitu pengetahuan dan kemampuan karyawan dalam memberikan pelayanan sehingga dapat menimbulkan kepercayaan dan tidak menimbulkan karaguan pelanggan terhadap pelayanan.6). Empathy (empati), yaitu adanya perhatian yang lebih bersifat pribadi kepada pelanggan, melakukan kontak, hubungan, dan komunikasi dengan pelanggan serta adanya upaya untuk memahami kebutuhan dan keinginan para pelanggan. Penerapan manajemen mutu pada pendidikan tinggi, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) telah mengeluarkan sebuah pedoman, yaitu Pedoman Penjaminan Mutu (Quality Assurance) Pendidikan Tinggi, yang secara tegas mensyaratkan bahwa proses penjaminan mutu di pendidikan tinggi merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Mekanisme penjaminan mutu (QA) menunjukan mutu pendidikan tinggi melalui kebijakan, prosedur, praktik serta pendekatan internal dan eksternal (Verma, 2016; Williams, 2016). penjaminan mutu internal dan eksternal saling melengkapi (Paor, 2016) dan sifat QA yang beragam yang telah mendorong perguruan tinggi agar melaksakan akreditasi. Akreditasi adalah proses peer review pihak ketiga (Theobald, Gardner, & Long, 2017). akreditasi berubah dari tradisional sistem pemantauan mandiri dengan memperhatikan kebutuhan nasional. Perubahan ini sangat mempengaruhi sektor pendidikan tinggi (Liu, Tan, & Meng, 2015). Prigkou dan Draganids (2005) mengemukakan bahwa tujuan utama dari sistem jaminan kualitas pendidikan di perguruan tinggi adalah untuk menciptakan dasar dalam visibilitas ke dalam proses yang mendukung program studi dan dalam pengukuran belajar serta hasil belajar, kemampuan dan kompetensi. Menurut Dirjen Dikti (2011) yang dimaksud dengan penjaminan mutu adalah “Proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga konsumen, produsen, dan pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan. Dirjen Dikti (2011) Pendidikan tinggi di perguruan tinggi dinyatakan bermutu atau berkualitas, apabila: 1). Perguruan tinggi tersebut mampu menetapkan dan mewujudkan visinya melalui pelaksanaan misinya (aspek deduktif).2). Perguruan tinggi tersebut mampu memenuhi kebutuhan stakeholders (aspek induktif) berupa: a) Kebutuhan kemasyarakatan (societal needs), b) Kebutuhan dunia kerja (industrial needs), c) Kebutuhan professional (professional needs). Penjaminan mutu pendidikan menjadi penting untuk memantau dan memastikan setiap program/jurusan yang diselenggarakan sesuai standar mutu pendidikan. Tujuan kegiatan penjaminan mutu bermanfaat, baik bagi pihak internal maupun eksternal organisasi. Menurut Yorke (2010), tujuan penjaminan (assurance) terhadap kualitas tersebut antara lain sebagai berikut: 1). Membantu perbaikan dan peningkatan secara terus menerus dan berkesinambungan melalui praktek yang terbaik dan mau mengadakan inovasi. 2). Memudahkan mendapatkan bantuan baik pinjaman uang atau fasilitas atau bantuan lain dari lembaga yang kuat dan dapat dipercaya. 3).


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |145 Menyediakan informasi pada masyarakat sesuai sasaran dan waktu secara konsisten, dan bila mungkin, membandingkan standar yang telah dicapai dengan standar pesaing. 4). Menjamin tidak akan adanya hal-hal yang tidak dikehendaki. Penjaminan mutu dalam sistem pendidikan tinggi terdiri dari sistem penjaminan mutu internal dan eksternal. Perguruan tinggi dapat melakukan dan mengelola penjaminan mutunya baik dengan mekanisme internal maupun eksternal yang diselenggarakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT) atau lembaga lain. Mekanisme Penjaminan Mutu Lembaga pendidikan yang telah menerapkan program mutu pendidikan harus berpegang pada prinsip mutu. Sebagian ahli berbeda pendapat tentang prinsip-prinsip mutu. Menurut Nana dkk, sebagai berikut: 1. Fokus pada kostumer Kunci keberhasilan budaya mutu terpadu adanya suatu hubungan efektif, baik secara internal maupun secara eksternal, antara pelanggan dengan supplier. Semua jaringan dan komunikasi vertikal maupun horizontal perlu dioptimalkan untuk membentuk iklim kondusif terciptanya budaya komunikasi dengan memanfaatkan semua media secara multi arah secara harmonis setiap saat diperlukan untuk mengimplementasikan manajemen terpadu dalam bidang pendidikan. Kepuasan pelanggan merupakan faktor penting dalam manajemen terpadu. Setiap orang di sekolah harus memahami bahwa pendidikan memiliki pengguna. Adapun pengguna pertama pendidikan adalah keluarga, peserta didik. Lembaga pendidikan dalam hal ini adalah pemasok (supplier). Pengguna ada dua macam, yaitu pengguna internal, seperti orang tua, siswa, dan guru, dan pengguna eksternal, seperti masyarakat, perusahaan, dan lembaga pemerintah. 2. Peningkatan proses (Process Improvement) Peningkatan kualitas pada proses menunjuk pada peningkatan terus menerus (kontinyu) yang dibangun atas dasar pekerjaan yang akan menghasilkan serangkaian tahapan interelasi dan aktivitas yang pada akhirnya akan menghasilkan output (keluaran). Suatu proses dapat didefinisikan sebagai integrasi yang berurutan pada orang, benda, metode dan mesin dalam suatu lingkungan untuk menghasilkan nilai output tambahan untuk pelanggan. 3. Keterlibatan menyeluruh Semua orang di lembaga pendidikan harus terlibat secara menyeluruh dalam transformasi mutu. Manajemen harus komitmen dan memperhatikan mutu. Transformasi mutu harus dimulai dengan mengadopsi paradigma baru pendidikan, yaitu bahwa kualitas pendidikan bergantung pada banyaknya orang yang tersedia. Pelibatan semua komponen pendidikan dimulai pemimpin yang aktif dari pemimpin sampai para guru dan tenaga kependidikan. Mereka harus dilibatkan untuk mencapai keuntungan kompetitif di lingkungan pengguna yang luas.


146 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 4. Pengukuran Pandangan lama memahami bahwa mutu pendidikan harus diukur dari skor prestasi belajar. Dalam pendekatan baru tenaga professional pendidikan harus belajar mengukur mutu pendidikan dan kemampuan kinerja lulusan berdasarkan tuntutan pengguna. Para professional harus memiliki kemampuan teknik-teknik pengumpulan dan teknik analisis data, bukan saja data kemampuan lulusan, melainkan juga semua data yang terkait dengan kegiatan-kegiatan penunjang pelaksanaan pendidikan 5. Pendidikan sebagai sistem Hendaknya peningkatan mutu pendidikan berdasarkan konsep dan pemahaman pendidikan sebagai sistem. Pendidikan sebagai sistem memiliki sejumlah komponen, seperti siswa, guru, kurikulum, saranaprasarana, media, sumber belajar, orang tua, dan lingkungan. Semua komponen tersebut terjalin hubungan yang berkesinambungan dan terpadu dalam pelaksanaan sistem 6. Perbaikan berkelanjutan Filsafat lama dikenal prinsip “Jika sudah rusak, baru diperbaiki”. Sedangkan dalam filsafat mutu menganut prinsip bahwa tiap proses perlu diperbaiki dan tidak ada proses yang sempurna perlu selalu diperbaiki dan disempurnakan. Sistem Penjaminan Mutu internal Perguruan Tinggi (SPMI) adalah kegiatan sistemik penjaminan mutu pendidikan tinggi di PT oleh PT, untuk mengawasi penyelenggaraan pendidikan tinggi oleh PT secara berkelanjutan. Struktur Pengawasan Pendidikan Tinggi Berdasarkan U U No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas (UU Sisdiknas Baru). Alinea keenam Penjelasan Umum UU Sisdiknas : Strategi pembaharuan sistem pendidikan, antara lain pelaksanaan pengawasan sistem pendidikan nasional. Pasal 8 UU Sisdiknas: Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan , dan evaluasi program pendidikan Pasal 66 Bab XIX UU Sisdiknas: (1) Pemerintah, pemerintah daerah, dewan pendidikan, dan komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangan masing-masing . (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan prinsip transparansi dan kuntabilitas public Otonomi perguruan tinggi mengamanatkan bahwa perguruan tinggi harus mengelola secara mandiri pengawasan atas pendidikan tinggi yang diselenggarakannya. Pengelolaan secara mandiri pengawasan penyelenggaraan pendidikan tinggi dilakukan melalui kegiatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) perguruan tinggi, sebagai sub sistem dari Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi (SPMPT). Tahap Pelaksanaan/Implementasi SPMI Berikut ini adalah tahapan dalam pembuatan dokumen atau buku SPMI terdiri dari: a. Kebijakan SPMI, yang antara lain berisi definisi, konsep, tujuan, strategi, berbagai standar dan/atau standar turunan, prioritas. b. Manual SPMI, yang antara lain berisi panduan untuk menetapkan, memenuhi, mengendalikan dan mengembangkan/meningkatkan


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |147 standar; pedoman atau petunjuk/instruksi kerja bagi stakeholders internal yang harus menjalankan mekanisme tersebut; c. Standar SPMI, yang berisi antara lain minimum 8 (delapan) standar. Bagi pendidikan tinggi sebagaimana diatur dalam PP. No.19 tahun 2005 tentang SNP dan/atau standar turunan dari kedelapan standar tersebut. Penambahan jumlah standar selain kedelapan SNP sangat dianjurkan sesuai dengan visi, misi, dan kemampuan masing-masing perguruan tinggi; d. Formulir SPMI, yang antara lain berisi berbagai formulir yang berfungsi sebagai instrumen untuk merencanakan, menerapkan, mengendalikan, dan mengembangkan standar. Formulir yang telah diisi disebut sebagai rekaman mutu, dan berfungsi sebagai bukti pelaksanaan kegiatan. Salah satu rnodel manajemen mutu yang mencakup proses pembelajaran yang telah melibatkan pihak ekternal antara lain yang dikembangkan pada gambaran di bauiah ini. Keterlibatan ekternal antara lain nampak dalam bentuk keterlibatan /intervensi dalam penilaian kelayakan perguruar tinggi melalui tindakan akreditasi Dalam model manajemen mutu perguruan tinggi ini secara ideal menegaskan bahwa pelaksana akreditasi adalah pihak yang otonom serta bulran dari lingkungan perguruan tinggi bersangkutan. Ketersediaan berbagai pilihan standar mutu telah menempatkan lembaga pendidikan tinggi untuk melakukan pilihan sesuai dengan kondisi internal maupun misi dan visi yang diembannya. Berbagai persepsi yang berkembang pada pengelola institusi mempunyai andil besar terhadap pemaknaan manajemen mutu baik atas kerangka kerja misi yang dikembangkan maupun status kelembagaan yang dibangun. Ini semua akhirnya menyebabkan model kerja manajemen mutu yang diselenggarakan berbeda satu dengan lainnya. Menurut konsep manajemen mutu Dikti, pedoman penjaminan mutu (quality assurance) perguruan tinggi sesuai SPMI meliputi: 1. Proses pembelajaran 2. Kurikulum program studi 3. Sumber daya manusia 4. Mahasiswa 5. Prasarana dan sarana 6. Suasana akademik 7. Keuangan 8. Penelitian dan publikasi 9. Pengabdian masyarakat 10. Tata Kelola (Dikti, 2012). Model manajemen mutu ini terkait erat dengan prinsip ajaran Total Quality Management sehingga model ini manajemen mutu mampu menghasilkan professional bagi penyelenggara. Kesulitan yang muncul untuk menuju pembentukan profesional perguruan tinggi adalah mengubah profesionalisme yang semula muncul karena tekanan publik menjadi muncul karena tekanan internal (diri penyelenggara sendiri). Menurut Elton, Lewis (1995) prinsip-prinsip Total Quality Management memang pada tahapan awal sangat diperlukan profesionalisme kelembagaan sebab dalam pelaksanaan manajemen mutu diharuskan adanya evaluasi diri. Sangat sulit untuk melakukan evaluasi diri secara obyektif apabila tidak ada sikap kejujuran yang datang dari sikap profesionalisme. Proses yang ditempuh dalam menyusun model manajemen mutu secara umum adalah sebagai berikut :


148 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 a. Perguruan tinggi menetapkan visi dan misi perguruan tinggi yang bersangkutan b. Berdasarkan visi dan misi perguruan tinggi tersebut setiap program studi menetapkan visi dan misi program studinya. c. Visi setiap program studi terangkum menjadi serangkaian standar mutu pada setiap butir mutu. d. Standar mutu dirumuskan dan ditetapkan dengan meramu visi perguruan tinggi (secara deduktif) dan kebutuhan stakeholders (secara induktif). Sebagai standar yang dijadikan acuan maka rumusannya harus jelas. e. Perguruan tinggi menetapkan organisasi dan mekanisme kerja manajemen mutu f. Perguruan tinggi melaksanakan manajemen mutu dengan menerapkan manajemen kendali mutu. g. Perguruan tinggi mengevaluasi dan merevisi standar mutu melalui benchmarking secara berkelanjutan. Indikator kinerja merupakan elemen penting dalam upaya melihat keberhasilan perguruan tinggi. Pada hakikatnya indikator merupakan ukuran kuantitatif dan kualitatif yang melukiskan pencapaian sasaran yang telah dirumuskan. Di Indonesia, secara nasional, penilaian mutu perguruan tinggi secara luas menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh BANPT dengan membatasi atas lima indikator kunci yaitu : Penyelenggaraan program pendidikan tinggi seperti sistem dan mekanisme kerja, insfrastruktur seperti tanah, gedung, peralatan dan fasilitas lainnya. PENUTUP Manajemen mutu perguruan tinggi dalam menghadapi 4.0 sangat perlu dibutuhkan dan ditingkatkan dalam memberikan identitas atau kelas dimana pergutuan tinggi itu berada, sehingga mempunyai daya saing global.Dokumen yang diperlukan dalam Sistem Manajemen Mutu Perguruan tinggi adalah ; Kebijakan, Manual, Standar dan Formulr SPMI. Mutu Pendidikan bisa dilihat salah satunya dari hasil evaluasi ekternal yaitu dengan akreditasi. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Jenderal PendidikanTinggi. Pedoman Manajemen Mutu. Ditjen Dikti, (2011). Garis Besar Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi, tersedia pada http://spmpt.dikti.depdiknas.go.id// (akses 20 september 2022) Elassy, N. (2015). The concepts of quality, quality assurance and quality enhancement. Quality Assurance in Education, 5(7), 67-80. El-Khawas, E. (2013). Quality assurance as a policy instrument: What’s ahead. Quality in Higher Education, 19(2), 248-257. Elton, Lewis. (1995). University Teaching : A Professiona l Model forquality. Buckingham: Openuniversity Press


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |149 Harvey, L. (2011). Analytic quality glossary, quality research international. Quality International Journal, 6(8), 34-60 Hasibuan, M.S.P. (2001). Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah. Jakarta: Bumi Aksara. Hersey, P. dan Blanchard, K.H. (1988). Management Of Organizational Behavior. New Jersey: Englewood Cliffs. Hina, K., Ajmal, M. (2016). Quality Assurance and Enhancement Mechanism in Tertiary Education of Pakistan: Recent Status, Issues and Expectations. Pakistan Journal of Education, 33(1). Retrieved from http://pje.aiou.edu.pk/ journal/ index. php/PJE/ article/view/13 Ikhfan, Haris (2013). Assessment On The Implementation Of Internal Quality Assurance At Higher Education (An Indonesian Report), Journal Of Educational And Instructional Studies In The World November 2013, Volume: 3 Issue: 4 Article: 06 ISSN: 2146-7463 Ishikawa, K. (1985). What is total quality manajement. New Jersey; Prentice Hall. Khushbakht Hina dan Muhammad Ajmal, (2016) Quality Assurance and Enhancement Mechanism in Tertiary Education of Pakistan Kottler, Philips, (2008). Marketing management millenium edition. New Jersy: Prentice Hall.Inc Liu, S.-Y., Tan, M., & Meng, Z.-R. (2015). Impact of Quality Assurance on Higher Education Institutions: A Literature Review. Higher Education Evaluation and Development, 9(2), 17–34. Maysitoh, Agung, D. F., & Afdal. 2018. Pendidikan Kejuruan di Era Industri 4.0 : Tantangan dan Peluang Karier. Indonesian Journal Of School Counseling, Vol 3 No 3 Hal 89-96. Minarti, S. 2017. Manajemen Sekolah: Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri. Yogyakarta: AR-RUZZ Media Mishra, Sanjaya, (2007). Quality assurance in higher education, Bangalor, India:NAAC. Ni Nyoman Lisna Handayani, Ni Ketut Erna Muliastrini, (2020) Pembelajaran Era Disruptif Menuju Era Society 5.0 (Telaah Perspektif Pendidikan Dasar) SBN: 978-623-90547-6-2, Prosiding Webinar Nasional IAHN-TP Palangka Raya. Paor, C. De. (2016). The contribution of professional accreditation to quality assurance in higher education. Quality in Higher Education, 22(3), Rachel Wai-Yi Cheung, (2020) Quality assurance in vocational higher education: A case of Macau, Journal of Advances in Humanities and Social Sciences, JAHSS, 2020, 6(3): 89-99 Sabihaini, (2004). Analisis konsekuensi keprilakuan kualitas layanan suatu penelitian empiris, Journal Manajemen Usahawan. No.02 Februari 2004 Shwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution. New York: Crown Business. Terry, George R. (2002). Principle of Management. 6th Edi tion; Georgetown: Richard D. Irwing Inc.


150 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Theobald, J., Gardner, F., & Long, N. (2017). Teaching Critical Reflection in Social Work Field Education. Journal of Social Work Education, 53(2), 300–311. Verma, A. (2016). A review of quality assurance in higher education institutions. International Journal of Research in Humanities, Arts and Literature (IMPACT: IJRHAL), 44(5), 55–66. Williams, J. (2016). Quality assurance and quality enhancement: is there a relationship Quality in Higher Education, 22(2), 97–102. https://doi.org/10.1080/13538322. 2016.1227207. Yorke, M. (2010). Developing a quality culture in higher education. tertiary education and management, 6 (1), 19-36.


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |151 MENINGKATKAN MUTU LULUSAN SEKOLAH ERA REVOLUSI 4.0 DAN SOCIETY 5.0 Aa Aman Abdur Rahman M Ilyas Yayasan Pendidikan Islam An-Nur Malangbong Garut, [email protected] Abstrak Meningkatkan Mutu Lulusan Sekolah Era Revolusi 4.0 dan Society 5.0 merupakan studi yang mengeksplorasi masalah yang dihadapi oleh sekolah. Penelitian ini mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh sekolah dalam meningkatkan mutu lulusan, yaitu kurangnya kompetensi soft skill, kurangnya kompetensi teknologi, dan kurangnya kompetensi entrepreneurship. Metode penelitian yang digunakan adalah literatur review untuk mengumpulkan data dan informasi yang relevan tentang masalah yang diidentifikasi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sekolah perlu meningkatkan kompetensi soft skill, kompetensi teknologi, dan entrepreneurship dari lulusannya agar dapat menghadapi tuntutan era Revolusi 4.0 dan Society 5.0. Ini dapat dilakukan melalui implementasi pembelajaran yang inovatif dan kolaboratif, serta meningkatkan kerja sama dengan dunia usaha dan industri. Revolusi Industri 4.0 sangat fokus pada penerapan teknologi, yang berarti setiap lembaga pendidikan harus menempatkan dan menerapkan teknologi sebagai dasar. Jika tidak, lembaga pendidikan tersebut akan terancam oleh persaingan yang ada. Perkembangan pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0 tidak bisa dihindari. Kata kunci: Mutu Lulusan, Revolusi 4.0, Society 5.0, Manajemen Mutu. Abstract Improving the Quality of School Graduates in the Revolution 4.0 Era and Society 5.0 is a study that explores the problems faced by schools. This study identified the problems faced by schools in improving the quality of graduates, namely a lack of soft skills competence, a lack of technological competence, and a lack of entrepreneurship competence. The research method used is literature review to collect relevant data and information about the problems identified. The conclusion of this research is that schools need to improve the soft skill competencies, technological competencies, and entrepreneurship of their graduates so they can face the demands of the Revolution 4.0 era and Society 5.0. This can be done through the implementation of innovative and collaborative learning, as well as increasing cooperation with the business world and industry. The Industrial Revolution 4.0 is very focused on the application of technology, which means that every educational institution must place and apply technology as a basis. If not, the educational institution will be threatened by existing competition. The development of education in the era of the Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0 cannot be avoided. Keywords: Quality of Graduates, Revolution 4.0, Society 5.0, Quality Management. PENDAHULUAN Revolusi Industri 4.0 sangat berorientasi pada penerapan teknologi, artinya setiap lembaga pendidikan harus memusatkan dan menerapkan


152 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 teknologi sebagai basisnya, sehingga apabila ada lembaga pendidikan yang tidak segera menerapkannya dapat segera tergusur bahkan tergerus oleh persaingan yang ada. Konsep Revolusi Industri 4.0 yang dikembangkan berpotensi menurunkan peran manusia. Dengan kondisi tersebut lahirlah konsep society 5.0 yang merupakan pengembangan dari konsep revolusi industri 4.0, mentransfer big data yang terkumpul melalui internet di segala bidang kehidupan, khususnya dunia pendidikan untuk meningkatkan kualitas guru. Perkembangan pendidikan di era revolusi industri 4.0dan masyarakat 5.0 tidak bisa dihindari. Dengan berkembangnya teknologi ini, menuntut kita semua untuk siap menghadapi disrupsi inovasi yang ada disegala lini, termasuk pendidikan di era globalisasi, dimana era penuh dengan persaingan mutu atau mutu dalam dunia pendidikan. Institusi pendidikan di era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 harus berbasis kualitas dalam memberikan layanan pendidikan kepada pelanggan dan pengembangan sumber daya manusia. Institusi sekolah tidak boleh cepat puas dan harus terus berinovasi untuk menciptakan keunggulan agarmampu bersaing dengan kompetitor. Pendidikan di abad 21 akan menghadapi tantangan yang lebih berat dibandingkan abad sebelumnya. Kemajuan teknologi di era revolusi industri 4.0 berkembang begitu pesat memasuki ruang kelas tanpa harus melalui kontrol sosial politik, kontrol moral. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah peradaban dunia, sebagaimana telah melahirkan sejarah ketika banyak energi manusia dan hewan tergantikan dengan tenaga mekanik, ditandai dengan munculnya komputer super, kendaraan tak berawak dan beberapa tanpa kemudi, serta robot super pintar. Era revolusi industri 4.0 belum sepenuhnya dikuasai oleh pendidik dan peserta didik dalam pelaksanaannya untuk meningkatkan kualitas hasil belajar atau kualitas lulusan, tetapi sudah memasuki era masyarakat atau masyarakat, untuk itu lembaga pendidikan harus mampu mempersiapkan diri. kualitas lulusan untuk beradaptasi dengan arus kemajuan pendidikan secara global, karena peran manusia tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh robot atau kecerdasan buatan. Masyarakat di era society 5.0 merupakan masyarakat yang mampu menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasiyang lahir di era revolusi industri 4.0 seperti internet of things, big data, robot, dan berbagai mesin canggih, dalam memanusiakan manusia. sehingga kemajuan teknologi seharusnya lebih memudahkan pekerjaan manusia, karena berbagai kemampuan dan keahlian yang dimiliki masyarakat di era society 5.0 disebut juga sebagai 'smart society' atau masyarakat cerdas. Era society 5.0 merupakankeniscayaan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan untuk menghasilkan mutu atau kualitas yang mampu bersaing. Lahirnya era society 5.0 merupakan jawaban yang muncul akibat era revolusi industri 4.0 yang dibarengi dengandisrupsi yang ditandai dengan dunia yang penuh gejolak, ketidakpastian, kompleksitas dan ambiguitas. Masa depan pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0 sekarang ini, banyak lembaga pendidikan di Indonesia yang menggalakkan semangat digitalisasi di


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |153 berbagai bidang. Jika digitalisasi ini dapat ditangani dengan baik dan dapat terintegrasi dengan baik dengan masyarakat Indonesia masyarakat, pendidikan di Indonesia akan mampu bertransformasimenjadi masyarakat 5.0. Untuk meningkatkan mutu lulusan sekolah di era Revolusi 4.0 dan Society 5.0, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah: 1) Memperkenalkan teknologi dan inovasi dalam proses pembelajaran, seperti pembelajaran daring dan menggunakan perangkat lunak pendidikan. 2) Mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam era digital, seperti keterampilan programming, data analysis, dan keterampilan digital lainnya. 3) Menumbuhkan kemampuan kreatif, inovatif, dan berpikir kritis pada siswa. 4) Meningkatkan kerjasama antara sekolah dan industri untuk memastikan bahwa lulusan sekolah memiliki keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. 5) Memperkuat sistem pendidikan karakter dan budaya melalui pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan etika. METODE Penulisan Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta teknik pengumpulan data menggunakan kajian literatur (literature review) yang diutamakan dari jurnal-jurnal ilmiah yang berskala nasional dan internasional. Kajian literatur ialah sebuah studi yang berciri-ciri bahwa penelitian dengan acuan utama dari berbagai Pustaka, namun dalam hal ini sumber utamanya berasal dari jurnal. PEMBAHASAN Konsep Mutu Pendidikan Manajemen Pendidikan memiliki relevansi dengan perubahan budaya organisasi. Kualitas organisasi dapat dicapai, disempurnakan, dan dikembangkan dengan penerapan sistem manajemen. Bidang pendidikan berkaitan dengan kurikulum, kompetensi guru, penataan sarana dan prasarana pembelajaran, sehingga sistem pengelolaannyamenitik beratkan pada aspek-aspek tersebut. Perubahan yang signifikan akan terjadi jika disertai dengan perbaikan pola pengelolaan dan budaya yang mendukung perubahan tersebut. Menurut Sonhadji (2015) manajemen dapat didefinisikan sebagai proses pemanfaatan sumber daya dan mengkoordinasikan dan mengintegrasikan kegiatan secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi dengan atau melalui orang lain. Kualitas sistem pendidikan suatu negara merupakanpenentu utama kualitas angkatan kerja. Menurut Goetsech (2000) semakin tinggi kualitas tenaga kerja (laborpool), semakin tinggi pula kualitas rekrutmen tenaga kerja (entry level employee). Semakin tinggi kualitas penerimaan tenaga kerja, semakin cepat mereka menjadi tenaga kerja yang produktif dan berkontribusi dalam persaingan dalam pekerjaan. Konsekuensinya, sistem pendidikan berkualitas tinggi merupakan komponen penting untuk daya saing. Menurut Isjoni (2009) indikator kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh sumber daya manusia negara tersebut. Di atas menyiratkan bahwa salah satu kriteria untuk lulusan lembaga pendidikan yang


154 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 berkualitas adalah cepat terserapnya mereka di lapangan kerja dan diterimanya mereka dilembaga pendidikan lanjutan. Menurut Goetsech (2000) kualitas terletak pada penilaian orang yang mengamatinya (beholder). Dalam pendekatan kualitas terpadu (total quality) pelanggan (customer) merupakan penentu kualitas secara mutlak. Sebagai gambaran misalnya, pelanggan menilai kualitas suatu restoran dari segi pelayanan, penyajian makanan, suasana lingkungan, harga, pilihan menu, dan penyajiancepat. Meskipun tidak ada definisi kualitas secara umum yang dapat diterima oleh semua pihak, setidaknya dalam kualitas terdapat komponen umum yaitu: (1) pemenuhan harapan pelanggan; (2) berfokus pada produk, layanan, orang, proses dan lingkungan, dan (3) keadaan yang selalu berubah. Dari ketiga komponen tersebut Goetsch dan Davis mendefinisikan kualitas sebagai kondisi dinamisyang melibatkan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan untuk memenuhi harapan. Secara absolut, kualitas diartikan sebagai sesuatu yangtidak lagi dapat ditawar atau mutlak. Mutlak dalam konteks kualitas juga dapat dikatakan sebagai syarat yang ditentukan secara sepihak, yaitu oleh produsen. Secara mutlak,kualitas diartikan sebagai ukuran terbaik menurut pertimbangan. produsen dalam memproduksi barang atau jasa. Selanjutnya, konsep kualitas relatif didefinisikan sebagai kualitas dalam persepsi (kualitasdalam persepsi). Sesuatu disebut berkualitas jika memuaskan dan melebihi keinginan dan kebutuhan pelanggan. Kualitas ini bisa disebut kualitas yang hanya ada di mata orang yang melihatnya. Ini adalah definisi yang sangat penting. Sebab, ada satu risiko yang sering diabaikan dari definisi tersebut, yaitu kenyataan bahwa pelanggan adalah mereka yang mengambil keputusan tentang kualitas. Pelanggan melakukan penilaian tersebut dengan mengacu pada produk terbaik yang mampu bertahan dalam persaingan. Menurut Sallis (2010) definisi relatif kualitas memiliki dua aspek. Pertama, adalah menyesuaikan dengan spesifikasi. Kedua, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Cara pertama, menyesuaikan dengan spesifikasi, sering disimpulkan sesuai dengan tujuan dan manfaatnya. Kadang-kadang definisi ini sering disebut dengan definisi pabrikan tentang kualitas. Selama suatu produk sesuai dengan spesifikasi dan standar pabrik, maka produk tersebut merupakan produk yang berkualitas. Pendapat tentang kualitas yangdemikian sering disebut dengan kualitas aktual (quality in fact). Konsep Standar Mutu Pendidikan Konsep mutu memerlukan standar sebagai ukuran pasti yang ingin dicapai dalam proses kegiatan manajemen. Beberapa pendapat mengatakan bahwa standar kualitas ditentukan oleh pihak eksternal. Pendapat lain mengatakan bahwa standar kualitas ditentukan oleh pihak internal. Dari keragaman inilah lahir teori-teori terhadap banyak standar kualitas yang ditawarkan, misalnya Total Quality Management (TQM), Balanced Scorecard, Malcolm Baldridge Award, ISO 9000 series dan sebagainya. Khusus di Indonesia, untuk satuan pendidikan dasar dan


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |155 menengah menggunakan standar Badan Akreditasi Sekolah Nasional. Untuk perguruan tinggi, standar BAN-PT merupakan tambahan dari standar internasional tersebut di atas. Konsep mutu dalam bidang pendidikan berbeda dengan industri. Perbedaannya terletak pada unsur manusia yang diolah sebagai hasilnya. Oleh karena itu, akhir penilaian mutu adalah mutu lulusan. Kualitas lulusan sangat beragam dan kompleks satu sama lain dalam satu kelompok lulusan yang sama. Penilaian sederhananya adalah jika lulusan dapat diterima bekerja sesuai dengan bidang keilmuannya dan/atau diterima di perguruan tinggi terkemuka bagi yang melanjutkan studi, maka lembaga pendidikan tersebut dianggap berkualitas. Mu'ti (2015:14) mutu pendidikan pada satuan pendidikanmemiliki arti menghasilkan dan memberikan hanya yang terbaik.Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 pasal 91 disebutkan bahwa, setiap satuan pendidikan wajib menyelenggarakan penjaminan mutu pendidikan. Penjaminanmutu pendidikan bertujuan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan (SNP). Penjaminan mutu pendidikan dilakukan secara bertahap, sistematis, dan terencana. Feigenbaum adalah pakar manajemen mutu yangmemperkenalkan konsep pengendalian mutu total. Sedangkan Ishikawa adalah pakar manajemen mutu dari Jepang yang mengemukakan konsep lingkaran kendali mutu, kendali mutu seluruh perusahaan, dan diagram sebab akibat Ishikawa. Secara garis besar, perubahan gerakan mutu mengikuti empat pengertian utama, yaitu: (1) inspeksi dan pengendalian mutu, (2) penjaminan mutu, (3) total manajemenmutu, dan 4) manajemen mutu global (Darwin 2012). Menurut Sukmadinta (2006) mutu pendidikan atau mutusekolah difokuskan pada mutu lulusan. Tidak mungkin, pendidikan atau sekolah menghasilkan lulusan yang berkualitas jika tidak melalui proses pendidikan yang berkualitas. Tidak mungkin juga, proses pendidikan yang berkualitas terjadi jika tidak didukung oleh faktor pendukung proses pendidikan yang berkualitas. Proses pendidikan yang bermutu harus didukung oleh tenaga-tenaga, seperti tenaga administrasi, guru pembimbing, dan administrasi yang bermutu dan professional. Hal ini juga didukung dengan sarana, prasarana, media, dansumber belajar yang memadai. Prinsip dan Komponen Manajemen Mutu dalam Pendidikan Menurut Hensler dan Brunnell dalam Nasution (2001) secara garis besar prinsip manajemen mutu terpadu (TQM) yaitu: mengubah pandangan bahwa lembaga pendidikan bukan sekedar industri yang mengolah dan mencetaktetapi berusaha untuk fokus pada keinginan dan kebutuhan pelanggan saat ini dan yang akan datang, peningkatan kualitas yang terencana dan terus menerus, perencanaan untuk mencapai kualitas yang diharapkan/strategi langkah, fokus pada peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia, keterikatan pada hasil kerja yang terus meningkat.


156 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Selanjutnya fokus penjaminan mutu atau mutu di sekolah adalah: (1) fokus peserta didik, karena setiap anak dengan karakter dan keunikan masing-masing yang perlu dilayani untuk mengembangkan bakat dan kecerdasannya, (2) fokus pada prestasi atau Hasilnya, sekolah selalu menetapkantarget pencapaian yang tinggi terhadap hasil belajar siswa, sehingga memberikan kepuasan kepada pemangku kepentingan.Kualitas hasil belajar siswa ditentukan oleh seberapa besar target yang dicapai. Lembaga sekolah hendaknya terus melakukan perbaikan-perbaikan untuk peningkatan mutu yang diharapkan, (3) fokus pada branding, segala daya dan upaya yang dilakukan untuk terus membangun kreativitas daninovasi serta kegiatan pembelajaran di sekolah. Membangun brandingdilakukan dengan menyusun benchmark. Benchmarking dalam program penjaminan mutu yang memiliki target dalam menghadapi persaingan yang sangat kompetitif di dunia pendidikan. Langkah ilmiah terus diupayakan secara sistematis dan terencana untuk menjamin mutu lulusan, (4) fokus komitmen jangka panjang, pendidikan tidak hanya menjawab tantangan hari ini, tetapi lebih jauh lagi bagaimana pendidikan mampu mempersiapkan peserta didik pada masanya. Mutu tidak mudahdicapai dalam sekejap, untuk mendapatkan mutu yang diinginkan diperlukan kerja keras dari seluruh pemangku kepentingan di sekolah. Kondisi aman, nyaman yang kondusif menjamin pelaksanaan penjaminan mutu berjalan dengan baik, (5) fokus kerja tim, dilaksanakan dalam upaya mewujudkan cita-cita bersama. Kesuksesan membutuhkan kerja keras dari semua elemen di lingkungan sekolah. Kepala sekolah, dewan pendidikan, tenagaadministrasi pendidikan, dan peserta didik harus terlibat penuh dalam pelaksanaan pembelajaran, (6) inovasi fokus, sekolah terus melakukan upaya perbaikan dan mencari terobosan baru dalam menghadapi perkembangan dunia dan ilmu pengetahuan.Sekolah terus berinovasi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing, (7) fokus menciptakan kreatifitas dalam pembelajaran, siswa sebagai mata pelajaran di sekolah juga diberikan ruang untuk berkreasi sebagai pematangan diri dan emosional namun tetap dalam bimbingan guru. Dengan harapan dapat menumbuhkan jiwa mandiri dan bertanggung jawab serta rasa memiliki untuk mewujudkan tujuan bersama dalam pendidikan, (8) fokus pada cita-cita bersama, lembaga pendidikan selalu menerapkan kerjasama yang baik antar semua komponen mulai dari satpam sampai yang paling tertinggal (tenaga kebersihan), lembaga pendidikan harus memiliki satu tujuan dalam menata seluruh potensi yang dimilikinya. Sulaiman (2016) menyatakan cita-citanya, harapan mutu lulusan perlu adanya sistem penjaminan mutu agar mutu lulusan dapat terus ditingkatkan. Sedangkan Sukmadinata (2006) menyatakan mutu sekolah dapat diukur dari seberapa banyak lulusan yang dihasilkan terserap pada jenjang sekolah selanjutnya dan diterima di dunia kerja. Sallis (2010) mengungkapkan bahwa produk dikatakan berkualitas atau berkualitas jika memenuhi dua unsur yaitu dapat memenuhi keinginan dan harapan pelanggan serta menetapkan spesifikasi yang tinggi.


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |157 Langkah-Langkah Manajemen Mutu Pendidikan Lahmuddin Lubis (2014) menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan upaya pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan, terdapat empat perspektif dalam pembangunan sektor pendidikan. Pertama, perspektif pemerataan pendidikan (equality of education opportunity). Perspektif ini muncul pada awal tahun 1960-an dengan memandang pendidikan sebagai sarana untuk meningkatkan pemerataan kesejahteraan rakyat; dengan catatan bahwa kesempatan pendidikan yang semakin merata merupakan faktor yang dapat mewujudkan kesejahteraanyang lebih merata. Kedua, perspektif pendidikan dan pencapaian kedudukan seseorang (education and status attainment). Perspektif ini mulai muncul pada akhir tahun 1960-an dan telah melakukan kajian pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan status dan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam perspektif ini adalah pendidikan dan ketenagakerjaan (manpower requirement approach) yang mengarahkan analisisnya pada keseimbangan antara penawaran dan kebutuhan tenaga kerja terdidik di berbagai sektor ekonomi. Ketiga, perspektif modal manusia. Perspektif ini menekankan fungsi pendidikan dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan penguasaan keterampilan,keahlian, profesi, dan penguasaan keilmuan yang dapat menjadikan tenaga kerja lebih produktif. Salah satu model studi dalam perspektif ini mencakup tingkat pengembalian pendidikan yang mengarahkan perhatian pada produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi. Keempat, perspektif pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Perspektif ini muncul sejak isu keajaiban ekonomi di sejumlah negara di kawasan Asia Timur muncul akibat tumbuhnya ekonomi industri dan profesionalisasi. Dalam kaitan ini, gagasan tentang kualitas sumber daya manusia dalam kaitannya dengan produktivitas industri dalam konteks persaingan dunia telah berkembang sejak kesepakatan WTO (organisasi perdagangan dunia) dan isu persaingan global dan pasar bebas yang muncul baik secara regional maupun internasional. Dari keempat perspektif di atas, para narasumber menyimpulkan bahwa konsep manajemen mutu yang filosofis dan terpadu (total quality management) merupakan implikasi dari perspektif pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Oleh karena itu, keterkaitan mutu, pendidikan dan pengembangansumber daya manusia di era saat ini menjadi suatu keniscayaan. Selanjutnya manajemen mutu pendidikan di sekolah menurut UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pasal 51 ayat (1) menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan pelayanan minimal. dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Penegasan UUSPN ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 pasal 49 ayat (1) yang menyatakan bahwa penyelenggaraan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan


158 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, danakuntabilitas. Kedua, kepala sekolah dan guru memiliki kesamaanprofesi yaitu latar belakang guru. Sistem koordinasi antara kepala sekolah dan guru. Sistem koordinasi antara kepala sekolah dan guru terkadang menjadi saling bergesekan bukan sebagai atasan dan bawahan sepertidi perusahaan. Ketiga, manajemen sekolah menghadapi masalah yang bersifat fragmentatif, sehingga pengambilan keputusan sekolah banyak dipengaruhi oleh pihak eksternal, seperti wali murid, pemerintah, dan ketenagakerjaan. Unsurunsur tersebut beradadi luar dan sangat beragam kepentingannya, bukan dalam pengelolaan sekolah, sehingga minat sulit dihindari. Keempat, kepala sekolah memiliki tugas mengajar yangseringkali menjadi padat, sehingga memiliki waktu yang sedikit untuk melaksanakan manajemen mutu sekolah. Tugas rangkapsering mengakibatkan tugas tidak optimal, karena tugas satu sama lain tidak dapat didefinisikan dengan jelas. Menjadi guru harus profesional, begitu juga dengan menjadi sekolah harus profesional. Profesional di dua bidang sekaligus seringkali menjadi kendala. Kelima, siswa di satu sisi sebagai pelanggan harus diberikan layanan pendidikan dan pembelajaran yang terbaik, namun di sisi lain sebagai manusia mereka dapat menentukan sendiri pilihan terbaiknya. Formasi manusia tidak sama dengan membentuk barang yang mudah direkayasamenjadi bentuk baru. Meningkatkan Mutu Lulusan di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Revitalisasi sistem pembelajaran meliputi: (1) kurikulum dan pendidikan karakter, (2) materi pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, (3) kewirausahaan, (4)keselarasan, dan (5) evaluasi. Unit pendidikan meliputi: (1) unit sekolah baru dan ruang kelasbaru, (2) ruang belajar lainnya, (3) rehabilitasi ruang kelas, (4) asrama siswa dan guru, (5) perlengkapan, dan 6) manajemen dan budaya sekolah. Unsur mahasiswa meliputi: (1) pemberian beasiswa dan (2) pengembangan bakat minat. Unsur pendidik dan tenaga kependidikan meliputi: (1) bekal, (2) penyaluran, (3) kualifikasi, (4) sertifikasi, (5) pelatihan, (6) karir dan kesejahteraan, dan (7) penghargaan dan perlindungan. Penguatan keempat unsur dalam sistem pendidikan memerlukan gerakan baru untuk menjawab era industri 4.0. Salah satu gerakan yang dicanangkanpemerintah adalah gerakan literasi baru sebagai penguat bahkan menggeser gerakan literasi lama. Gerakan literasi baru dimaksudkan untuk fokus pada tiga literasi utama yaitu: (1) literasi digital, (2) literasi teknologi, dan (3) literasi manusia (Aoun, 2017). Ketiga keterampilan tersebut diprediksi menjadi keterampilan yang dibutuhkan di masa depan atau di era industri 4.0. Literasi digital ditujukan untuk meningkatkan kemampuan membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi di dunia digital (Big Data), literasi teknologi bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang cara kerja mesin dan penerapan teknologi,dan literasi manusia diarahkan untuk meningkatkan communication skills and mastery of design knowledge Aoun (2017) Literasi baru yang diberikan diharapkan mampu menciptakan lulusan


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |159 yang berdaya saing dengan menyempurnakan gerakan literasi lama yang hanya berfokus pada peningkatan kemampuan membaca, menulis dan matematika. Adaptasi gerakan literasi baru dapat diintegrasikan dengan menyesuaikan kurikulum dan sistem pembelajaran dalam merespon era industri 4.0. Menurut Trillling dan Fadel (2009), pembelajaran abad 21 berorientasi pada gaya hidup digital, alat berpikir, penelitian pembelajarandan bagaimana pengetahuan bekerja (lihat gambar 3). Tiga dari empat orientasi pembelajaran abad 21 sangat dekat dengan pendidikan kejuruan, yaitu cara kerja pengetahuan, penguatan alat berpikir, dan gaya hidup digital. Cara kerja pengetahuan adalah kemampuan untuk berkolaborasi dalam tim dengan lokasi yang berbeda dan dengan alat yang berbeda, penguatan alat berpikir adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi, alat digital, dan layanan, dan gaya hidup digital adalah kemampuan untuk menggunakan dan beradaptasi dengan era digital. Trilling & Fadel, 2009). Peluncuran forum ekonomi dunia, struktur keterampilan abad ke-21 akan mengalami perubahan. Pada tahun 2015, struktur keterampilan adalah sebagai berikut; (1) pemecahan masalah yang kompleks; (2) kerja sama dengan orang lain; (3) pengelolaan orang; (4) berpikir kritis; (5) negosiasi; (6) kontrol kualitas; (7) orientasi pelayanan; (8) penilaian dan pengambilan keputusan; (9) mendengarkan secara aktif; dan (10) kreativitas. Pada tahun 2020 struktur kerja berubah menjadi: (1) penyelesaian masalah yang kompleks; (2) berpikir kritis; (3) kreativitas; (4) pengelolaan orang; (5) kerjasama dengan pihak lain); (6) kecerdasan emosional; (7) penilaian dan pengambilan keputusan; (8) orientasi pelayanan; (9) negosiasi; dan (10) fleksibilitas kognitif (Irianto, 2017). Segala bentuk keterampilan dan keterampilan di abad 21 dan era industri 4.0 yang dibutuhkan harus terintegrasi ke dalam unsur pendidikan vokasi. Mulai dari sistem pembelajaran, satuan pendidikan, pesertadidik, hingga pendidik dan tenaga kependidikan. lebih cepat, dan lebih efektif dalam mencari informasi dan pengetahuan.Oleh karena itu guru harus mau mengubah metode pengajaran tradisional menjadi pembelajaran multistimulan agar pembelajaran lebihmenyenangkan dan menarik. Peran guru di era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 harus diubah yang semula peran guru sebagai orang yang paling tahu dan pemberi ilmu menjadi; pembimbing, fasilitator, motivator, inspirasi dan juga pengembang imajinasi setelah kreativitas, kemudian guru menjadi penanam nilai-nilai karakter dan membangun kerja tim dan empati sosial. Menghadapi revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 akan ada perubahandan kunci perubahan adalah pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia. Revolusi industri 4.0 membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Industri 4.0 secara mendasar telah mengubah cara orang beraktivitas dan berpengaruh besar terhadap dunia kerja. Pengaruh positif industri 4.0 berupa efektivitas dan efisiensi sumber daya dan biaya produksi meskipun berdampak pada pengurangan lapangan kerja.


160 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Industri 4.0 membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan dalam literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia.Pendidikan harus mampu membekali lulusan dengan ketiga literasi tersebut melalui revitalisasi sistem chrono yang meliputi sistem pembelajaran, satuan pendidikan, peserta didik, serta pendidik dan tenaga kependidikan. Untuk mewujudkan masyarakat 5.0 di Indonesia ada tiga hal yang harus dilakukan agar konsep revolusi Industri 4.0 dapat mewujudkan masyarakat 5.0, yaitu: (1) Harus mampu mengubah mental pemimpin dan masyarakat untuk dapat berpikir positif tentang teknologi. pengembangan, (2) Harus mengedepankan budaya inovasi digital bagi generasi milenial, (3) harus memberikan kesadaran kepada masyarakat, bahwa kita tidak bisa selamanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi harus memperkuatSumber Daya Manusia dan Pengetahuan karena perang masa depan adalah perang pemikiran. Sumber Daya Manusia untuk Meningkatkan Mutu Pendidikandi Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Sebagai konsep yang sangat baru di tengah masyarakat dunia pendidikan khususnya, masyarakat akan mengubah konsep revolusi industri 4.0 yang berpotensi menurunkan peran manusia. Untuk itu, seluruh dunia diingatkan oleh negara Jepang akan pentingnya unsur sumber daya manusia sebagai tulang punggung setiap lembaga pendidikan. Era society 5.0 juga mengingatkan semua pihak untuk dapat menerapkan konsep society 5.0 dengan berpijak pada kearifan tertentu pada unsur manusia, sehinggahidup kita menjadi lebih bermakna. Hal penting yang harus dilakukan oleh pendidik khususnya dalam pembelajaran adalah mampu mengubah cara berpikir dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, karena era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan handal sesuai dengan kebutuhan. dunia usaha dan dunia industri. Dengan sumber daya manusia yang unggul di masa depan akan mampu menciptakan lulusan yang mampu bersaing di era Revolusi Industri 4.0. Di era perkembangan teknologi yang pesat yang telah mempengaruhi dunia pendidikan, guru sulit bersaing dengan mesin atau robot yang hadir jauh lebih pintar, lebih cepat, dan lebih efektif dalam mencari informasi dan pengetahuan. Oleh karena itu guru harus mau mengubah metode pengajaran tradisional menjadi pembelajaran multistimulan agar pembelajaran lebihmenyenangkan dan menarik. Peran guru di era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 harus diubah yang semula peran guru sebagai orang yang paling tahu dan pemberi ilmu menjadi; pembimbing, fasilitator, motivator, inspirasi dan juga pengembang imajinasi setelah kreativitas, kemudian guru menjadi penanam nilai-nilai karakter dan membangun kerja tim dan empati sosial. Menghadapi revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 akan ada perubahandan kunci perubahan adalah pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia. Revolusi industri 4.0 membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Industri 4.0 secara mendasar telah mengubah cara


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |161 orang beraktivitas dan berpengaruh besar terhadap dunia kerja. Pengaruh positif industri 4.0 berupa efektivitas dan efisiensi sumber daya dan biaya produksi meskipun berdampak pada pengurangan lapangan kerja. Industri 4.0 membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan dalam literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia.Pendidikan harus mampu membekali lulusan dengan ketiga literasi tersebut melalui revitalisasi sistem chrono yang meliputi sistem pembelajaran, satuan pendidikan, peserta didik, serta pendidik dan tenaga kependidikan. Untuk mewujudkan masyarakat 5.0 di Indonesia ada tiga hal yang harus dilakukan agar konsep revolusi Industri 4.0 dapat mewujudkan masyarakat 5.0, yaitu: (1) Harus mampu mengubah mental pemimpin dan masyarakat untuk dapat berpikir positif tentang teknologi. pengembangan, (2) Harus mengedepankan budaya inovasi digital bagi generasi milenial, (3) harus memberikan kesadaran kepada masyarakat, bahwa kita tidak bisa selamanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi harus memperkuatSumber Daya Manusia dan Pengetahuan karena perang masa depan adalah perang pemikiran Sumber Daya Manusia untuk Meningkatkan Mutu Pendidikandi Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Sebagai konsep yang sangat baru di tengah masyarakat dunia pendidikan khususnya, masyarakat akan mengubah konsep revolusi industri 4.0 yang berpotensi menurunkan peran manusia. Untuk itu, seluruh dunia diingatkan oleh negara Jepang akan pentingnya unsur sumber daya manusia sebagai tulang punggung setiap lembaga pendidikan. Era society 5.0 juga mengingatkan semua pihak untuk dapat menerapkan konsep society 5.0 dengan berpijak pada kearifan tertentu pada unsur manusia, sehinggahidup kita menjadi lebih bermakna. Hal penting yang harus dilakukan oleh pendidik khususnya dalam pembelajaran adalah mampu mengubah cara berpikir dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, karena era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan handal sesuai dengan kebutuhan. dunia usaha dan dunia industri. Dengan sumber daya manusia yang unggul di masa depan akan mampu menciptakan lulusan yang mampu bersaing di era Revolusi Industri 4.0. Di era perkembangan teknologi yang pesat yang telah mempengaruhi dunia pendidikan, guru sulit bersaing dengan mesin atau robot yang hadir jauh lebih pintar. PENUTUP Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 sangat mengubah paradigma umat manusia untuk tidak hanya menjadi obyek yang dieksploitasi oleh arus globalisasi. Perkembangan era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 juga membawa dampak positif dan negatif. Revolusi Industri 4.0 sangat fokus pada penerapan teknologi, yang berarti setiap lembaga pendidikan harus menempatkan dan menerapkan teknologi sebagai dasar. Jika tidak, lembaga pendidikan tersebut akan terancam oleh persaingan yang ada.


162 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Perkembangan pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0 tidak bisa dihindari. DAFTAR PUSTAKA Bush, T. & Marine C. (2012). Manajemen Mutu Kepemimpinan Pendidikan: Panduan Lengkap Kurikulum Dunia Pendidikan Modern. Yogyakarta: IRCISoD. Darwin, I. (2012). Penjamin Mutu Pendidikan dan PengawasanMedan, Unimed Press. Goettech DL & Stanley BD (2000). Manajemen Kualitas: Pengantar Manajemen Kualitas Total untuk produksi, dan Layanan. New Jersey: Prentice-Hall, Edisi III Irianto, D. (2017). Industri 4.0: Tantangan Masa Depan. Seminar Nasional Teknik Industri, Batu Malang. Isjoni. (2009). Menuju Masyarakat Belajar: Pendidikan dalam Arus Perubahan Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kompas.com. 2019. 4 Kompetensi Lulusan Jadi Kunci Masyarakat 5.0. diakses 23 Juli 2019, dari http://edukasi.kompas.com/ read/2019/03/20/213991851. Lubis L. (2014). Dalam penjelasan matakuliah Perencanaan Strategi Pendidikan. Januari Mu'ti. A.(2015). Pedoman Akreditasi Sekolah: Akreditasi Bermutu Untuk Pendidkan Bermutu. Jakarta: Badan Akreditasi Nasional Sekolah. Nasution, MN (2001). Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Jakarta: Ghalia Indonesia [12] Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Aoun, JE (2017). Robot-proof: Pendidikan Tinggi Di Era Kecerdasan Buatan. AS: MITPress [2] Bungin, B. (2008). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya.Jakarta: Kencana Sonhadji, A & Muhammad HAY (2015). Asesmen kebutuhan, Pengambilan keputusan, dan perencanaan: Mata rantai dalam Manajemen Pendidikan. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press). Sugiono.(2005). Memahami Penelitian Kualitatif.Bandung: Alfabet. Sukmadinata N, Ayi N, Jami'at, A. (2006). Pengendalian MutuSekolah Menengah: Konsep, Prinsip, dan Instrumen. Bandung: Refika Aditama. Sulaiman, A., & Wibowo, UB Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal, Sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Di Universitas Gadjah Mada. Jurnal Akuntabilitas Manajemen Pendidikan. Vol 4, No 1, April 2016 (17-32). Trilling, B & Fadel, C. 2009. Keahlian Abad ke-21: Belajar Untuk Kehidupan Di Zaman Kita. AS: Jossey-Bass A WileyImprint. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional.


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |163 MEDIA E-LEARNING DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN DI PERGURUAN TINGGI PADA ERA INDUSTRI 4.0 Sobari Universitas Islam Nusantara, [email protected] Abstrak E-Learning sebagai perkembangan teknologi informasi dalam dunia pendidikan, akan membawa perubahan besar, baik secara materi yang disampaikan, maupun sistem pembelajarannnya dan hambatan-hambatan yang akan dihadapi, baik oleh tenaga pengajar (dosen) maupun peserta didik (mahasiswa). Namun, masih banyak perguruan tinggi yang belum mampu meningkatkan mutu pembelajaran dengan baik. Pertanyaannya bagaimana pemanfaatan e-learning dalam meningkatkan mutu pembelajaran di perguruan tinggi dalam era industri 4.0. Metode penelitian adalah menggunakan Literatur review dari berbagai jurnal tentang e-learning dan peningkatan mutu pembelajaran. Pemanfaatan e-learning dapat meningkatkan mutu pembelajaran di perguruan tinggi era industri 4.0 dengan cara memfasilitasi proses belajar mengajar secara fleksibel, efisien, dan efektif. E-learning juga dapat meningkatkan interaksi antara dosen dan mahasiswa, serta memberikan akses yang lebih luas bagi mahasiswa dalam mengakses materi pembelajaran. Media e-learning dan peningkatan mutu pembelajaran di perguruan tinggi menunjukkan bahwa elearning dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran di perguruan tinggi. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa e-learning dapat meningkatkan interaksi antara dosen dan mahasiswa, serta memberikan akses yang lebih luas bagi mahasiswa dalam mengakses materi pembelajaran. Kata Kunci: E-Learning, Mutu Pembelajaran, Era Industri 4.0 Abstract E-Learning as the development of information technology in the world of education, will bring about major changes, both in terms of the material presented, as well as the learning system and the obstacles that will be faced, both by teaching staff (lecturers) and students (students). However, there are still many tertiary institutions that have not been able to improve the quality of learning properly. The question is how to use e-learning in improving the quality of learning in higher education in the industrial era 4.0. The research method is to use literature reviews from various journals regarding e-learning and improving the quality of learning. The use of e-learning can improve the quality of learning in universities in the industrial era 4.0 by facilitating the teaching and learning process in a flexible, efficient and effective manner. E-learning can also increase interaction between lecturers and students, as well as provide wider access for students in accessing learning materials. E-learning media and improving the quality of learning in tertiary institutions show that e-learning can increase the effectiveness and efficiency of learning in tertiary institutions. Research conducted shows that elearning can increase interaction between lecturers and students, as well as provide wider access for students in accessing learning materials. Keywords: E-Learning, Learning Quality, Industrial Age 4.0


164 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 PENDAHULUAN e-Learning atau electronic learning kini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda-beda dengan e-Learning, namun pada prinsipnya eLearning adalah pembelajaran yang menggunakan jasa elektronika sebagai alat bantunya. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, konsep dan mekanisme belajar mengajar menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari untuk memanfaatkan perkembangan teknologi informasi tersebut. Penggunaan teknologi informasi dalam dunia pendidikan untuk mekanisme pembelajaran, populer dengan istilah e-Learning , yaitu pembelajaran virtual classroom, yang tidak berbasis tatap muka antara pengajar dan peserta didik. e-Learning merupakan inovasi pembelajaran dalam penyampaian materi pembelajaran yang menarik. Melalui pembelajaran e-Learning, pengajar tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga dapat berinteraksi secara virtual dengan peserta didik layaknya pembelajaran tatap muka di kelas. Materi pembelajaran pun dapat divirtualisasikan dalam berbagai format, sehingga lebih menarik dan dinamis, serta dapat memacu motivasi peserta didik untuk lebih jauh berkembang. Strategi implementasi Media e-Learning dalam perguruan tinggi membutuhkan kesiapan infrastruktur dan strategi pengembangan yang harus disesuaikan dengan perguruan tinggi tersebut. Pembangunan eLearning sebuah perguruan tinggi, selain membutuhkan jaringan teknologi informasi yang sesuai kebutuhan, juga dapat mengintegrasikan bagianbagian pada perguruan tinggi tersebut. Setelah semua konsep dan strategi pembangunan e-Learning disinkronisasi dan terintegrasi, barulah eLearning dapat dikembangkan. Strategi implementasi e-Learning dapat digunakan dalam beberapa bentuk, yaitu asynchronous, synchronous atau pun campuran dari keduanya. Asynchronous merupakan bentuk e-Learning yang kapan saja bisa diakses, sedangkan synchronous yaitu terjadi interaksi secara langsung antara pengajar dan peserta didik, karena proses pembelajaran dilakukan secara langsung (live). Menurut Andrizal dan Arif (2017), pemanfaatan e-Learning dalam kegiatan pembelajaran dapat dibedakan sebagai sumber belajar, penyampaian materi, pemberian tugas, dan ujian. e-Learning dapat dijadikan sebagai sumber belajar yang aktual bagi dosen maupun mahasiswa, mahasiswa dapat mencari berbagai informasi dari berbagai sumber melalui e-Learning yang terhubung dengan internet. Hal tersebut dapat membuka wawasan mahasiswa menjadi luas dan kompleks melalui proses yang menarik dan menyenangkan. Dosen dapat menyampaikan materi melalui eLearning sepanjang waktu tanpa dibatasi waktu dan tempat. Mahasiswa dapat mempelajari materi yang disajikan pada waktu yang mereka inginkan. Begitu juga dengan pemberian tugas yang dapat diakses oleh mahasiswa pada


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |165 tempat dan waktu yang mereka inginkan pada semester yang sedang berjalan. E-Learning sebagai perkembangan teknologi informasi dalam dunia pendidikan, akan membawa perubahan besar, baik secara materi yang disampaikan, maupun sistem pembelajarannnya dan hambatan-hambatan yang akan dihadapi, baik oleh tenaga pengajar (dosen) maupun peserta didik (mahasiswa). Pemanfaatan e-Learning untuk dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu yang dimiliki oleh civitas akademika. Dengan adanya eLearning diharapkan memunculkan sikap mandiri dan kreativitas dari mahasiswa. Kasali (2013; dalam Sari, 2016: 133) menyatakan bahwa terdapat lima tantangan pendidikan di perguruan tinggi, yaitu: a. model-model pendidikan baru yang membawa kompetisi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari model-model yang tradisional; b. banyak penerbitan dan penelitian baru yang belum dipahami dengan baik oleh pengambil keputusanl c. media digital diharapkan dapat menjadi literasi dalam pendidikan untuk profesional akademik; d. eksperimen dengan aplikasi teknologi yang inovatif sering dianggap sebagai peran luar dari seorang peneliti; e. di dalam dunia Open Source, perpustakaan berada di bawah tekanan untuk mengembangkan cara-cara baru untuk mendukung siswa. Penggunaan sarana e-Learning semakin menjadi kebutuhan dalam dunia pendidikan terutama pada pendidikan tinggi. Kualitas dan keberlangsungan penggunaan e-Learning harus selalu dijaga dan ditingkatkan sehingga tujuan pendidikan tetap tercapai. Penelitian tentang pengembangan e-Learning menjadi penting untuk selalu dilakukan, salah satunya adalah bagaimana supaya e-Learning tetap diminati dan menjadi sarana utama yang selalu dikunjungi oleh penggunanya selama mengenyam pendidikan. Persaingan perguruan tinggi saat ini sangat ketat, karena semakin tumbuh dan berkembangnya perguruan tinggi baru, tidak hanya di perkotaan tapi juga di pinggiran kota. Dengan semakin maraknya perguruan tinggi ditambah percepatan teknologi era globalisasi saat ini, maka mutu lulusan menjadi daya tarik bagi masyarakat. Pemanfaatan e-Learning di perguruan tinggi dalam proses pembelajaran merupakan suatu keniscayaan di masa sekarang, karena berkembangnya teknologi informasi yang kian pesat. Penggunaan e-Learning diharapkan menjadi alat untuk pemerataan pendidikan masyarakat. Tetapi pemanfaatan e-Learning juga tetap harus mengacu pada standar mutu pembelajaran yang telah ditetapkan oleh pemerintah, sehingga hasil belajarnya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Salah satu altenatif pembelajaran yang bisa digunakan dalam era digital sekarang ini adalah menggunakan e-Learning, dengan memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Penggunaan e-Learning saat ini, masih sebagai pelengkap dalam pembelajaran, dimana e-Learning digunakan untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan dalam pembelajaran konvensional.


166 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 METODE Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan literatur review. Metode literatur review adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang ada dalam literatur yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Metode ini digunakan untuk mendapatkan gambaran umum tentang suatu isu atau permasalahan dan mengevaluasi kualitas dan validitas sumber-sumber yang digunakan. Secara rinci, metode literatur review meliputi beberapa tahap, yaitu: pengumpulan data, reduksi, display, pembahasan dan kesimpulan. PEMBAHASAN Perencanaan Pembelajaran Berbasis eLearning Dalam rangka pembelajaran berbasis eLearning perguruan tinggi harus melakukan serangkaian analisis terlebih dahulu. Salah satu analisis yang dilakukan ialah mempertimbangkan kelayakan dan kebutuhan eLearning. Analisis kelayakan dan kebutuhan memang tidak secara resmi dilakukan, di mana tim pengembang melakukan uji coba kepada mahasiswa baik dalam skala kecil maupun besar. Hasil analisis yang diperoleh dari uji coba tersebut bahwa Lembaga sudah sesuai aspek teknisnya namun ada beberapa catatan yang harus diperhatikan yaitu budaya belajar dalam perkuliahan secara elektronik dan budaya kemandirian belajar mahasiswa yang masih rendah. Secara umum perencanaan pembelajaran daring mencakup kegiatan pengambilan keputusan. Lebih lanjut, Sauri, et al (2021) menyatakan bahwa untuk merencanakan pembelajaran daring diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola tindakan untuk masa mendatang. Perencanaan adalah awal dari semua proses yang rasional dan mengandung sifat optimisme yang didasarkan atas kepercayaan bahwa akan dapat mengatasi berbagai macam permasalahan. Perencanaan pembelajaran daring menurut Sauri, et al (2021), meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), penyiapan media dan sumber belajar, perencanaan penilaian pembelajaran, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, skenario pembelajaran, dan penyiapan media dan sumber belajar serta perangkat penilaian pembelajaran. Dan yang terpenting dalam tahap perencanaan ini adalah menyiapkan aplikasi sistem pembelajaran yang dapat mengakomodir kegiatan belajar mengajar. Perencanaan pembalajaran di perguruan tinggi sudah menjadi ciri khas dan telah dilakukan serta akan dilakukan secara terus menerus mengingat bahwa setip perencanaan selalu dievaluasi. Perencanaan yang dilakukan oleh dosen sebelum pembelajaran juga sudah terlaksana, meliputi; pertama, penggunaan kurikulum yang telah dikembangkan oleh pondok secara mandiri yaitu berupa kitab-kitab klasik yang disusun berdasarkan pola tingkatan; kedua, membuat batasan-batasan yang akan diajarkan selama satu tahun yang dibagi kedalam dua semester dengan alokasi waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran, tanpa dikembangkan ke dalam


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |167 bentuk RPP; ketiga, memahami bahan yang akan diajarkan; dan keempat, penyediaan bahan ajar. Tujuan pengelolaan pembelajaran berbasis eLearning sangat jelas memberikan pandangan apabila media berbasis teknologi informasi dan komunikasi diterapkan dalam proses pembelajaran secara efektif dan efisien, maka kualitas pembelajaran akan berjalan dengan efektif dan efisien juga, sehingga proses dan tujuan akhir pembelajaran akan tercapai. Karena, pada intinya kualitas kegiatan pembelajaran tergantung pada perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan oleh dosen. Perencanaan pembelajaran yang disusun oleh pendidik dituangkan dalam perangkat pembelajaran, yaitu silabi dan rencana pembelajaran. Silabi adalah garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau garis-garis besar program pembelajaran. Rencana pembelajaran yaitu perencanaan pembelajaran yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi. Perencanaan pembelajaran pada dasarnya tidak hanya dengan pemahaman bahan ajar atau penguasan materi yang akan diajarkan, tetapi lebih dari itu perencanaan pembelajaran adalah berupaya menjadikan pembelajaran bisa berjalan efektif dan efisien. Perencanaan program semester yang dibuat oleh dosen memiliki manfaat yang sangat banyak baik bagi dosen maupun mahasiswa. Dosen dapat mempersiapkan diri secara terencana sehingga dapat menyelesaikan program pengajaran yang akan disampaikan dengan tepat waktu. Dosen dapat mengontrol dan medeteksi penyelesaian seluruh program bahan pengajaran yang harus diajarkan dalam semester yang bersangkutan. Dengan demikian perencanaan pembalajaran perguruan tinggi sudah menjadi ciri khas dan telah dilakukan serta akan dilakukan secara terus menerus mengingat bahwa setip perencanaan selalu dievaluasi. Sekalipun dalam perjalannya pasti menemui kendala, disamping pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan, pola kehidupan serta kebutuhan pendidikan itu sendiri. Kemudian hasil dari evaluasi itu senantiasa menjadi dasar pemikiran untuk perbaikan penyusunan perencanaan pembelajaran di masa yang akan datang Standar Mutu Pembelajaran Berbasis eLearning Penjaminan Mutu eLearning adalah upaya maksimal oleh institusi penyelenggara pendidikan yang mekanismenya ditujukan untuk mempertahankan dan sekaligus meningkatkan mutu eLearning yang meliput perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Untuk menjamin mutu penyelenggaraan model pembelajaran eLearning diperlukan instrument lain sebagai pengganti absensi kehadiran dosen, karena eLearning dapat dilakukan di luar kampus. Instrumen tersebut dapat berupa data mahasiswa yang mengunjungi situs di blog dosen, miling list sebagai sarana mengirim tanggapan atau pengumpulan tugas mahasiswa melalui email. Untuk itu materi yang disajikan dilengkapi dengan tugas atau tanggapan mahasiswa sehingga dapat dikontrol bahwa mahasiswa benar benar dapat dipastikan telah membaca materi di blog yang ditentukan. Beberapa perguruan tinggi telah menentukan standar mutu pembelajaran berbasis eLearning. Berkaitan dengan standar mutu yang


168 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 ingin dicapai oleh Perguruan tinggi dalam pembelajaran berbasis eLearning “Targetnya disesuaikan dengan RPS yang telah dibuat oleh dosen, kemudian harus sesuai dengan capaian pembelajaran yang telah ditentukan”. Rencana Pembelajaran Semester (RPS) merupakan kewajiban bagi setiap dosen dalam wal semester untuk disampaikan ke ketua prodi. Isi RPS perwujudan dari standar mutu yang hendak dicapai dan sesuai dengan profil lulusan. Berdasarkan uraian di atas, perguruan tinggi sudah memiliki standar mutu dan indikator pelaksanaan pembelajaran berbasis eLearning. Standar mutu yang ingin dicapai sesuai dengan yang tertulis pada RPS, yang merupakan turunan dari silabus. Silabus merupakan turunan dari profil lulusan dan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. Standar penyelenggaraan eLearning tersebut tercantum dalam Surat Keputusan Pimpinan tentang Penyelenggaraan eLearning. Strategi Implementasi Pembelajaran Berbasis eLearning Penentuan strategi pembelajaran melalui eLearning dilakukan secara kombinasi dari tatap muka dan online atau dikenal dengan blended learning. Di sisi lain, karakteristik tujuan dan materi pembelajaran yang menuntut penguasaan keterampilan yang harus ditunjukkan sebagai dasar dirancangnya strategi pembelajaran secara tatap muka. Tolak ukur strategi pembelajaran ialah dengan mempertimbangkan karakteristik materi, tujuan dan topik yang akan dipelajari oleh mahasiswa, serta kemandirian dan penguatan materi yang tidak dapat dilakukan dengan eLearning saja. Penentuan rancangan strategi perkuliahan secara online perlu mempertimbangkan karakteristik tujuan dan materi pembelajaran yang menuntut penguasaan domain pengetahuan dan pastinya tidak menuntut klarifikasi atau diskusi mendalam dengan bimbingan dosen. Penentuan strategi penyampaian materi juga melihat karakteristik dari kemampuan (tujuan) yang harus dikuasai mahasiswa pada materi yang akan dipelajari. Jika tujuan/materi bersifat konseptual, faktual, materi untuk memberikan pengetahuan baru dilakukan secara online, sedangkan materi yang memerlukan pendalaman, diskusi, praktik dilakukan secara tatap muka. Strategi pembelajaran yang digunakan dalam eLearning adalah strategi pembelajaran campuran (blended strategies). Pembelajaran campuran (blended learning) merupakan proses pembelajaran yang memanfaatkan berbagai macam pendekatan. Pendekatan yang dilakukan dapat memanfaatkan berbagai macam media dan teknologi. Dengan blended learning, proses pembelajaran dapat menggabungkan berbagai sumber secara fisik dan maya (virtual). Strategi blended learning dapat diterapkan sesuai kondisi yang telah disepakati. Strategi penggunaan eLearning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar, diharapkan dapat meningkatkan daya serap dari siswa atas materi yang diajarkan; meningkatkan partisipasi aktif dari siswa; meningkatkan kemampuan belajar mandiri siswa; meningkatkan kualitas materi pendidikan dan pelatihan, meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dengan perangkat biasa


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |169 sulit untuk dilakukan; memperluas daya jangkau proses belajar-mengajar dengan menggunakan jaringan komputer, tidak terbatas pada ruang dan waktu. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas, dalam pengembangan dan pemanfaatan suatu aplikasi eLearning perlu diperhatikan bahwa materi yang ditampilkan harus menunjang penyampaian informasi ‘yang benar, tidak hanya mengutamakan sisi keindahan saja; memperhatikan dengan seksama teknik belajar-mengajar yang digunakan; memperhatikan teknik evaluasi kemajuan mahasiswa dan penyimpanan data kemajuan mahasiswa. Materi dari pembelajaran dapat diambil dari sumber-sumber yang valid dan dengan teknologi eLearning, materi bahkan dapat diproduksi berdasarkan sumber dari tenaga-tenaga ahli (experts). Misalnya, tampilan video digital yang menampilkan seorang ahli mekanik menunjukkan bagaimana caranya memperbaiki suatu bagian dari mesin mobil. Dengan animasi 3 dimensi dapat ditunjukkan bagaimana cara kerja dari mesin otomotif dua langkah. Selain menyediakan sumber-sumber belajar (resources), eLearning juga memungkinkan untuk mengadakan aktivitas pembelajaran (activities). Evaluasi Implementasi Pembelajaran eLearning Evaluasi dilakukan oleh dosen dan mahasiswa, ditindaklanjuti oleh pengelola dengan perbaikan mutu terhadap penyelenggaraan eLearning. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat pemetaan permasalahan dan kekurangan, serta keunggulan dalam implementasi eLearning. Dengan demikian, akan dapat terdeteksi hal-hal yang perlu diperbaiki, dipertahankan, dan ditingkatkan mutunya. Evaluasi kualitas pembelajaran daring menurut Sauri, et al. (2021) perlu dilakukan sekurangnya dalam dua tahap, yakni: pertama, ketika konten direncanakan dan ditata atau diimplementasikan dalam learning management system (LMS); dan kedua, segera setelah pembelajaran selesai diselenggarakan. Di antara kedua waktu itu dapat disisipkan evaluasi formatif untuk memberikan evaluasi atas pelaksanaan eLearning yang sedang berlangsung. Lebih lanjut, Sauri, et al. (2021) menyatakan bahwa sebuah aplikasi pembelajaran daring, konten beserta penataannya dalam LMS sebaiknya telah selesai dilakukan sebelum aktivitas pembelajaran dimulai. Konten dalam pembelajaran daring, yang lazim disebut objek pembelajaran, dapat dievaluasi terpisah untuk mendapatkan gambaran mengenai kualitas intrinsik objek pembelajaran, yakni ketika objek pembelajaran itu dinilai “pada dirinya sendiri” di luar konteks pemanfataannya, dan kualitas kontekstual, yakni ketika objek pembelajaran tersebut dinilai dalam kaitannya dengan keseluruhan tahapan dan aktivitas pembelajaran secara utuh. Dalam hal ini, objek pembelajaran dan penataannya dalam LMS dievaluasi terkait dengan kesesuaiannya dengan capaian atau tujuan pembelajaran (learning outcome) dan pertimbangan pedagogis dalam pemilihan, pengembangan dan penataannya. Salah satu instrumen untuk mengevaluasi kualitas objek pembelajaran adalah LORI (Learning Object Review Instrument) yang


170 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 dikembangkan oleh Nesbit, Belfer, & Leacock (2004). LORI dirancang sebagai instrumen untuk menilai kualitas objek pembelajaran multimedia. Terkait bentuk dan konten sistem aplikasi pembelajaran, dapat dilakukan evaluasi atas kualitas objek pembelajaran yang ada dalam aplikasi sistem tersebut. Meskipun dalam evaluasinya mengaitkan pula dengan tujuan pembelajaran, LORI pada umumnya digunakan sebagai alat evaluasi objek pembelajaran, bukan alat evaluasi keseluruhan program di mana objek pembelajaran ini dimanfaatkan. Pada sisi pembelajaran, evaluasi dilakukan secara terpadu dengan proses pembelajaran, sehingga disebut penilaian berbasis kelas dengan pengumpulan kerja mahasiswa (portofolio), hasil karya (product), penugasan (project), kinerja (performance), tindakan (action) dan tes tertulis (subjektif, objektif, dan projektif). Dosen menilai kompetensi dan hasil belajar mahasiswa berdasarkan level pencapaian prestasi. Peranan dosen sangat penting dalam menentukan ketetapan jenis penilaian untuk menilai keberhasilan dan kegagalan. Jenis penilaian yang dibuat memenuhi standar validasi dan reliabilitas, agar proses dan hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan. Teori yang paling sederhana tentang pengukuran atau evaluasi eLearning adalah menggunakan ukuran yang sama dengan yang digunakan untuk mengukur pelatihan di kelas. Selain itu, untuk mengevaluasi pembelajaran berbasis web termasuk didalamnya eLearning, maka perlu digunakan model ADDIE. Jossey Bass dalam bukunya, Web Based Training mengemukakan empat macam evaluasi eLearning dengan menggunakan model ADDIE, antara lain: Subject Matter Expert Evaluation; Rapid Prototype Evaluation; Alpha Class Evaluation, dan Piloting Evaluation. Implementasi dan evaluasi yang ditunjukkan dalam model ADDIE sebagai dua tahap yang terpisah dan sifatnya linier. Terdapat banyak alat/instrumen yang rinci untuk melakukan evaluasi eLearning. Pada umumnya dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama, ada instrumen on-line untuk menilai karakteristik-karakteristik pengguna dari perangkat lunak. Kedua, ada alat-alat untuk merekam dan meneliti pemakaian dengan jangka waktu dan frekuensi, baik melalui catatan dalam, halaman-halaman pengakses, profil pengguna dan lain-lain. ada dua bagian yang perlu diketahui dalam melakukan evaluasi WBT termasuk eLearning. Satu hal yang paling mendominasi evaluasi eLearning adalah menguraikan daftar perangkat lunak pendidikan tertentu tentang spesifikasi yang ada dalam perangkat tersebut. Kebanyakan daftar ini diterbitkan oleh pengembang-pengembang perangkat lunak. Sebenarnya, hal ini bukan untuk maksud menanyakan kegunaan daftar/laporantersebut atau meragukan kebenaran yang ada didalamnya, melainkan hanya sebuah evaluasi “yang bukan kontekstual” yang bisa diterima akan produk yang dihasilkan. Pengembangan Implementasi Pembelajaran Berbasis eLearning dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |171 Untuk menghasilkan eLearning yang berkualitas, Newby, et al. (2000) mengatakan bahwa eLearning harus mempertimbangkan tiga hal, yaitu: a. method, yaitu tehnik dan prosedur yang digunakan dalam pembelajaran (kerjasama, game, presentasi, atau diskusi); b. media, yaitu media yang digunakan dalam pembelajaran untuk menarik minat siswa (video, teks, gambar, dan animasi), dan c. material, yaitu isi pembelajaran yang meliputi: motivasi, orientasi, informasi, aplikasi, dan evaluasi. Sejalan dengan itu, Walker & Hess (dalam Arsyad, 2009), mengatakan bahwa eLearning yang berkualitas harus memenuhi kriteria yakni: a. kualitas isi dan tujuan, yang meliputi: ketepatan, kepentingan, kelengkapan, keseimbangan, daya tarik, kewajaran, dan kesesuaian dengan situasi siswa, b. kualitas instruksional yang meliputi: memberikan kesempatan belajar, memberikan bantuan untuk belajar, kualitas memotivasi, fleksibilitas instruksionalnya, hubungan dengan program pengajaran lainnya, kualitas tes dan penilaiannya, dapat memberikan dampak bagi siswa, dapat memberikan dampak bagi guru dan pembelajarannya, dan c. kualitas teknis, yang meliputi: keterbacaan, kemudahan menggunakan, kualitas tampilan/tayangan, kualitas penanganan respon siswa, kualitas pengelolaan programnya, dan kualitas pendokumentasianya. Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan nilai yang baru. Proses pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh siswa meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang akademisnya, latar belakang ekonominya, dan lain sebagainya.kesiapan guru untuk mengenal karakteristik siswa dalam pembelajaran merupakan modal utama penyampaian bahan belajar dan menjadi indikator suksesnya pelaksanaan pembelajaran (Mashudi, Toha dkk, 2007 : 3). Sumber belajar yang digunakan di perguruan tinggi telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: pertama sumber tersebut didesain terlebih dahulu atau dipilih sesuai dengan tujuan belajar yang ingin dicapai dan memenuhi persyaratan sesuai dengan kendali belajar yang telah ditentukan sebelumnya. Kedua, sumber-sumber telah digunakan sesuai dengan desain dan pilihan yang telah ditentukan. Artinya bahwa sumber-sumber tersebut harus digunakan untuk keperluan belajar yang tujuannya telah ditentukan, dan digunakan sedemikian rupa sehingga kontrol atas tingkah laku belajar dapat diwujudkan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengelola eLearning dalam memperbaiki mutu pembelajaran. Setidak-tidaknya ada tiga hal yang dilakukan oleh yaitu: a. Mahasiswa dan dosen telah memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, dan lembaga pendidikan; b. tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi mahasiswa dan dosen, dan


172 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 c. dosen memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu mahasiswa agar mencapai standar akademik. Berbagai pandangan dan fenomena yang terjadi di perguruan tinggi telah mengubah peran dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran. Peran dosen telah berubah sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, ahli materi, dan sumber segala jawaban, menjadi sebagai fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra belajar. Kemudian mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap mahasiswa dalam proses pembelajaran. PENUTUP Berdasarkan temuan, interpretasi dan pembahasan, maka simpulan umum tentang pembelajaran berbasis e-learning dalam meningkatkan mutu pembelajaran di perguruan tinggi telah dilaksanakan, namun belum dikelola secara optimal. Hal ini terlihat dari masih belum terlihatnya mutu pembelajaran yang ditimbulkan dari program tersebut, baik dilihat dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Pembelajaran berbasis elearning dalam meningkatkan mutu pembelajaran di perguruan tinggi masih terkendala dari internal maupun eksternal. Kendala internal adalah masih rendahnya, pemahaman, keterampilan dan motivasi dari pihak-pihak yang terlibat dalam melakukan perubahan dari pembelajaran dengan konsep konvensional ke pembelajaran yang berbasis online. perguruan tinggi sudah memiliki standar mutu dan indikator pelaksanaan pembelajaran berbasis elearning. Pelaksanaan peningkatan mutu dosen di Jawa Barat sudah dilakukan melalui beberapa program, baik secara mandiri oleh dosen maupun difasilitasi oleh perguruan tinggi. Strategi implementasi pembelajaran berbasis e-learning untuk meningkatkan mutu pembelajaran dilakukan melalui blended learning. Dengan blended learning, proses pembelajaran dapat menggabungkan berbagai sumber secara fisik dan maya (virtual). Strategi blended learning diterapkan sesuai kondisi yang telah disepakati antara dosen dan mahasiswa. Evaluasi dilakukan untuk pemetaan permasalahan dan kekurangan, serta keunggulan dalam implementasi e-learning, agar terdeteksi hal-hal yang perlu diperbaiki, dipertahankan, dan ditingkatkan mutunya. Upaya pengembangan ke depan dalam implementasi pembelajaran berbasis e-learning dilakukan dengan mempertimbangkan umpan balik dari pengguna yaitu dosen dan mahasiswa. Umpan balik dari pengguna selalu ditindaklanjuti dengan memodifikasi strategi e-learning untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dosen dan mahasiswa. DAFTAR PUSTAKA Abdul Rahman Saleh, (2013), Faktor Personel yang Mempengaruhi Kinerja Dosen, Disertasi, Program Doktor, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |173 Abdul Razak Yusuf, 2016, Pengaruh Pengembangan Sumber Daya Dosen terhadap Pengetahuan, Keterampilan, Sikap dan Kinerja Dosen Bidang Pendidikan dan Pengajaran di Lingkungan Universitas Haluoleo Kendari Sulawesi Tenggara, Tesis, Universitas Airlangga. Andrizal, Arif, Ahmad (2017), Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif pada Sistem E-Learning Universitas Negeri Padang, Jurnal INVOTEK, Vol. 17, No. 2, pp. 1-9. Bambang Widagdo, 2008, Pengaruh Faktor Karakteristik Individu Dan Kepemimpinan Terhadap Budaya Organisasi, Manfaat Kehidupan Kerja Dan Kepuasan Serta Kinerja Dosen Pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah Di Jawa Timur. Fattah, N. (2008). Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT. RemajaRosdakarya. Rivai. V. dan Murni. S. (2009). Education Management: Analisis Teori dan Praktek, Jakarta: Raja Grafindo Persada. Richey, R. G., Daugherty, P. J., Genchev, S. E., and Autry, C. W., 2004. “ReverseLogistics: The Impact of Timing and Resources.” Journal of Business Logistics, Vol. 25, No. 2, pp. 229-250. Sauri S, R Tanjung, D Hadiansah, UC Barlian. (2021). Inovasi Pembelajaran Daring Melalui Penggunaan Aplikasi Media Sosial (Social Networking): (Studi Kasus pada SMP Islam Terpadu Mentari Ilmu Karawang). Biormatika: Jurnal ilmiah fakultas keguruan dan ilmu pendidikan 7 (1), 92-99 Sauri S, A Sudrajat, T Rahmawati, S Trisnamansyah. (2018). Manajemen Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Untuk Meningkatkan Mutu Hasil Belajar Peserta Didik. Kajian ManajemenPendidikan 1 (1), 39-54 Sedarmayanti. (2001). Sumber Daya Manusia Dan Produktivitas Kerja. MandarMaju. Bandung Siagian, S.P. (1994). Fungsi-Fungsi Manajerial, Jakarta: Bumi Aksara. Siagian, S. P. (2004). Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi, Jakarta: Gunung Agung, Jakarta: Bumi Aksara. Simamora, H. (2001). Manajemen Sumber Daya Manusia. STIE YKPN. Yogyakarta. Smith, Susan, K & Thomas D. Kuczmarski, (1982), Value Based Leadership, NewJersey: Prentice Hill. Stolovitch, H.D., and Keeps, E.J., (1992), Handbook of Human PerformanceTechnology A Comprehensive Guide for Analysis and Solving Performance Problem in Organizations. San Francisco: Jersey-Bass Publisher. Surya. M. (2003). Teori-Teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Syam, N,(2014),Petunjuk Teknis Penelitian Diktis, Jakarta:Diktis-Kemenag. Syaodih, N. Sy, (2005), Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT Rosda Karya.


174 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Syaodih, N.Sy, (2007), Metode Penelitian Pendidikan, Remaja Rosdakarya, Bandung. Tafsir, A, (1994), Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cet. 2 Trisnaningsih. (2011). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Dosen Akuntansi. Jurnal Akuntansi dan Auditing. Volume 8 No 1. hlm 83- 94. Ulrich, D. (1998). A new mandate for human resources (Analysis of the functionsof the human resources department increasing productivity and profits). Harvard Business Review, 76(1), 124-135. Zuhairi,et. al., (1993), Metode Khusus Pendidikan Agama, Surabaya: Usaha Nasional.


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |175 MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN SOCIETY 5.0 Sari Rahayu STAIMA Cirebon, [email protected] Abstrak Manajemen mutu pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 merupakan permasalahan yang sangat penting dan perlu diperhatikan. Identifikasi masalah yang dihadapi dalam manajemen mutu pendidikan di era tersebut adalah perubahan pola pikir masyarakat yang menuntut adanya perubahan dalam sistem pendidikan, perubahan teknologi yang semakin canggih, serta perubahan dalam pola kerja yang membutuhkan sumber daya manusia yang handal. Metode literatur review digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa manajemen mutu pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 harus diarahkan pada pengembangan kompetensi serta penguasaan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya perubahan dalam sistem pendidikan yang mengarah pada pengembangan kompetensi serta penguasaan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Kata kunci: Manajemen mutu pendidikan, Revolusi Industri 4.0, kompetensi, teknologi. Kata Kunci: Manajemen Mutu, Revolusi Industri 4.0, Society 5.0 Abstract Management of the quality of education in the era of the Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0 is a very important issue and needs attention. Identification of the problems encountered in education quality management in that era were changes in people's mindsets that demanded changes in the education system, changes in increasingly sophisticated technology, and changes in work patterns that required reliable human resources. The literature review method was used to collect data and information needed in this study. From the results of the research, it can be concluded that education quality management in the era of the Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0 must be directed at developing competencies and mastering technology in accordance with the needs of the world of work. The implication of this research is the importance of changes in the education system that lead to competency development and mastery of technology in accordance with the needs of the world of work. Keywords: Education quality management, Industrial Revolution 4.0, Society 5.0, competency, technology. Keywords: Quality Management, Industrial Revolution 4.0, Society 5.0


176 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 PENDAHULUAN Saat ini, dunia telah memasuki era industri generasi keempat yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi, dan pengembangan sistem digital, dan virtual. kecerdasan Dengan buatan, semakin konvergennya batas-batas antara manusia, mesin, dan informasi, serta sumber daya lainnya, teknologi komunikasi tentu berdampak pada berbagai sektor. Salah satunya berdampak pada sistem pendidikan. Perubahan tersebut tidak dapat dihindari oleh siapa pun, sehingga diperlukan penyiapan sumber daya manusia yang memadai agar siap beradaptasi dan mampu bersaing dalam skala global. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengimbangi perkembangan Revolusi industri 4.0. Keberhasilan suatu negara dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, juga ditentukan oleh kualitas tenaga pendidik seperti guru. Guru dituntut untuk memiliki keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Dalam situasi ini, setiap lembaga pendidikan harus menyiapkan bidang pendidikan. informasi Literasi dan literasi baru di lama yang bertumpu pada membaca, menulis, dan matematika, harus diperkuat dengan menyiapkan literasi baru: literasi data, teknologi, dan sumber daya manusia. Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi dari data di dunia digital. Kemudian, literasi teknologi adalah kemampuan memahami sistem mekanika dan teknologi di dunia kerja, sedangkan literasi sumber daya manusia adalah kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter (Aoun, 2018), (Sudlow, 2018). Diperlukan pendidikan yang dapat membentuk generasi yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing. Salah satunya bisa tercapai dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu pendidikan yang diharapkan dapat menghasilkan output yang dapat beradaptasi dan mengubah zaman menjadi lebih baik. Tak terkecuali, Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas lulusan sesuai dunia kerja dan tuntutan teknologi digital. Pendidikan 4.0 merupakan respon terhadap kebutuhan Revolusi Industri 4.0, dimana manusia dan teknologi bertemu untuk menciptakan peluang baru secara kreatif dan inovatif. Fisk (2017) menjelaskan “bahwa visi pembelajaran yang baru mendorong peserta didik untuk belajar tidak hanya keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan tetapi juga untuk mengidentifikasi sumber untuk mempelajari keterampilan dan pengetahuan tersebut.” Menurut Fisk (2017), sebagaimana dikutip Aziz Hussin (2018), ada sembilan tren terkait Pendidikan 4.0. Pertama, belajar dapat dilakukan kapan saja, di mana saja. Alat E-Learning menawarkan peluang besar untuk pembelajaran mandiri dan jarak jauh. Kedua, pembelajaran akan dipersonalisasikan kepada individu siswa. Ketiga, siswa memiliki pilihan dalam menentukan bagaimana mereka ingin belajar. Keempat, siswa akan dihadapkan pada pembelajaran berbasis proyek. Kelima, siswa akan dihadapkan pada pembelajaran langsung melalui pengalaman lapangan


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |177 seperti magang, proyek pendampingan, dan proyek kolaborasi. Keenam, siswa akan dihadapkan pada interpretasi data di mana mereka diminta untuk menerapkan pengetahuan teoretis mereka pada angka dan menggunakan keterampilan penalaran mereka untuk membuat kesimpulan berdasarkan logika dan tren dari kumpulan data yang diberikan. Ketujuh, siswa akan dinilai secara berbeda, dan platform konvensional untuk menilai siswa mungkin menjadi tidak relevan atau tidak memadai. Kedelapan, pendapat mahasiswa akan dipertimbangkan dalam mendesain dan memperbaharui kurikulum. Terakhir, siswa akan menjadi lebih mandiri dalam belajarnya, sehingga memaksa guru mengambil peran baru sebagai fasilitator yang akan membimbing siswa melalui proses belajarnya. Sembilan pergeseran tren Pendidikan. 4.0 di atas adalah tanggung jawab utama guru kepada siswa. Pendidik harus memainkan peran untuk mendukung transisi dan tidak menganggapnya sebagai ancaman terhadap pengajaran tradisional. Adaptasi terhadap tren pendidikan ini menjamin individu dan masyarakat untuk mengembangkan berbagai kompetensi, keterampilan, dan pengetahuan yang lengkap dan mengeluarkan seluruh potensi kreatifnya. Berdasarkan uraian di atas, revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan disrupsi teknologi memiliki implikasi yang signifikan terhadap sistem pendidikan. Masalahnya, komponen pendidikan apa saja yang terpengaruh, dan bagaimana menyikapi implikasi tersebut? Tulisan ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan perubahan dan penyesuaian yang perlu dilakukan dalam sistem pendidikan guna menjawab spektrum revolusi digital agar keluaran pendidikan dapat bersaing dan berkontribusi secara global. METODE Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan literatur review. Metode literatur review adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang ada dalam literatur yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Tinjauan tersebut akan mencakup topik seperti penggunaan analisis data dan alat digital dalam manajemen mutu pendidikan di era industri 4.0. Metode ini digunakan untuk mendapatkan gambaran umum tentang suatu isu atau permasalahan dan mengevaluasi kualitas dan validitas sumber-sumber yang digunakan. Secara rinci, metode literatur review meliputi beberapa tahap, yaitu: pengumpulan data, reduksi, display, pembahasan dan kesimpulan. PEMBAHASAN Revolusi Industri 4.0 Revolusi industri 4.0 merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab. Dia adalah ekonom terkenal Jerman dan penggagas World Economic Forum (WEF), yang melalui bukunya, The Fourth Industrial Revolution, menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 secara fundamental dapat mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain (Schwab , 2016).


178 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Richard Mengko, yang mengutip dari AT Kearney dalam Stevani H., (Medium, 2018), menjelaskan empat tahap evolusi industri. Pertama, revolusi industri pertama terjadi pada akhir abad ke-18. 3 Hasil (Pembahasan) Hal ini ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada tahun 1784. Revolusi Industri 4.0 Kedua, Revolusi Industri 2.0 terjadi pada awal abad ke-20. Saat itu, ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Ketiga, awal tahun 1970 diduga sebagai awal munculnya revolusi industri 3.0 yang dimulai dengan penggunaan elektronika dan teknologi informasi untuk mengotomatisasi produksi. Terakhir, tahun 2018 hingga saat ini adalah era revolusi industri 4.0. Industri 4.0 merupakan industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Ini adalah tren otomatisasi data dan pertukaran dalam teknologi manufaktur. Di era ini, industri mulai menyentuh dunia maya, berupa konektivitas manusia, mesin, dan data, semuanya ada di mana-mana atau dikenal dengan Internet of Things (IoT). Industri 4.0 kemudian menggantikan industri 3.0 yang bercirikan cyber physical dan kolaborasi manufaktur (Hermann Lee, et Lapira, al., 2016; Bagheri, (2013) Irianto, menjelaskan, & 2017). Kao industri 4.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor: 1) peningkatan volume data, daya komputasi, dan konektivitas; 2) munculnya analisis, kapabilitas, dan business intelligence; 3) terjadinya bentuk-bentuk baru interaksi antara manusia dan mesin; dan 4) peningkatan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan pencetakan 3D. Prinsip dasar industri 4.0 adalah penggabungan mesin, alur kerja, dan sistem, dengan menerapkan jaringan cerdas di sepanjang rantai dan proses produksi untuk saling mengontrol secara mandiri (Liffler & Tschiesner, 2013). Salah satu keunikan dari industri 4.0 adalah penerapan kecerdasan buatan (Tjandrawinata, 2017).


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |179 Pendidikan 4.0 Pendidikan 4.0 adalah istilah umum yang digunakan oleh para ahli teori pendidikan untuk menggambarkan berbagai cara mengintegrasikan teknologi siber baik secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran. Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0. Pendidikan 3.0 mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan teknologi pendidikan, menggunakan digital dan berbasis web seluler, termasuk aplikasi, perangkat keras, dan perangkat lunak (Hussain, 2013). 4.0 Pendidikan merupakan fenomena yang muncul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0, dimana manusia dan mesin. diselaraskan untuk mendapatkan solusi, memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, dan menemukan berbagai kemungkinan inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup manusia modern. Dunwill (2016) mengatakan bahwa akan ada banyak perubahan di masa depan dan memperkirakan bagaimana ruang kelas akan terlihat dalam 5-7 tahun ke depan. (a) perubahan signifikan dalam tata ruang kelas, (b) virtual dan augmented reality akan mengubah lanskap pendidikan, (c) Penugasan fleksibel yang mengakomodasi banyak gaya belajar, dan (d) MOOC dan opsi pembelajaran online lainnya akan berdampak pada pendidikan menengah. Abad ke-21 adalah abad globalisasi. program, kurikulum harus menyesuaikan dengan iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif. Siswa dipersiapkan dengan kurikulum yang telah dibuat-buat Oleh karena itu, konten pembelajaran diharapkan mampu mencapai keterampilan abad 21. Pertama, keterampilan belajar dan inovasi meliputi penguasaan beragam pengetahuan dan keterampilan, pembelajaran dan inovasi, berpikir kritis dan pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi, serta kreativitas dan inovasi. Kedua, keterampilan literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi TIK. Ketiga, kecakapan karir dan hidup meliputi fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi, inisiatif, interaksi sosial dan budaya, produktivitas kepemimpinan dan akuntabilitas, danserta tanggung jawab (Trilling & Fadel, 2009). Saat ini, individu berusia 18 dan 23 tahun yang dikenal sebagai Generasi Z (Gen Z) telah berubah karena kemajuan Generasi teknologi. ini memiliki preferensi belajar yang terlibat penuh dalam proses pembelajaran. Mereka menyambut tantangan dan menikmati diskusi kelompok dan lingkungan belajar yang sangat interaktif. Bagi mereka, belajar tidak terbatas; mereka dapat belajar di mana saja dan kapan saja serta memiliki akses tak terbatas ke informasi baru. Mereka memperhatikan belajar kolaborasi aktif dengan tim dan belajar di tempat selain kelas. Selain itu, penggunaan alt digital dan forum online menjadi lebih disukai; mereka lebih memilih untuk diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran mereka. Karena siswa Gen Z menyukai alat digital, mereka berharap alat tersebut tersedia kapan pun mereka membutuhkannya dengan hambatan akses yang rendah. Para siswa Gen Z ini perlu dipersiapkan untuk berkembang dalam Revolusi Industri 4.0 (Kozinski, 2017). konten cerdas (Pan, 2016), internet of things (IoT), dapat dipakai (augmented reality dan virtual reality), robotika canggih, dan pencetakan 3D. Singkatnya, kurikulum


180 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 link and match wajib antara sekolah dan bisnis dan (2016) memperkirakan sepuluh keterampilan terbaik untuk masa depan. Kreativitas akan menjadi salah satunya Dalam sambutannya, Mendikbud RI Muhadjir Effendy pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2018 di Universitas Yogyakarta menyampaikan bahwa hadirnya revolusi industri 4.0 membuat dunia mengalami perubahan yang semakin cepat dan kompetitif. ke 5 Ia menilai perlu merevisi kurikulum dengan menambah lima kompetensi. Pertama, siswa dapat berpikir kritis. Kedua, siswa diharapkan memiliki kreativitas dan kemampuan inovatif. Ketiga, keterampilan dan kompetensi komunikasi. Keempat, keterampilan bekerja sama dan berkolaborasi, dan terakhir, siswa memiliki kepercayaan diri (Hafil, 2018). industri. Selain program pendidikan vokasi, kurikulum harus menyesuaikan dengan iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif. Siswa dipersiapkan dengan kurikulum yang telah dibuat-buat. Qusthalani dalam Rumah Belajar, sebagaimana dikutip Dinar Wahyuni, menyebutkan lima kompetensi yang harus disiapkan guru untuk memasuki era Revolusi Industri 4.0. Pertama, pendidikan kedua, kompetensi, untuk komersialisasi kompetensi teknologi, ketiga, kompetensi dalam globalisasi. Keempat, kompetensi dalam strategi masa depan, dan kelima, kompetensi konselor (Wahyuni, 2018). Qusthalani dalam Rumah Belajar, sebagaimana dikutip Dinar Wahyuni, menyebutkan lima kompetensi yang harus disiapkan guru untuk memasuki era Revolusi Industri 4.0. Pertama, pendidikan kedua, kompetensi, untuk komersialisasi kompetensi teknologi, ketiga, kompetensi dalam Sebuah survei yang dilakukan oleh Dunia Mendengarkan aktif, yang dianggap sebagai keterampilan inti hari ini, akan hilang seluruhnya dari 10 besar. Kecerdasan emosional, yang tidak termasuk dalam 10 besar hari ini, akan menjadi salah satu keterampilan teratas yang dibutuhkan oleh semua (Alex Gray, 2016). (Maarop & Embi, 2016). Definisi menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis blended learning merupakan perpaduan antara literasi lama dan literasi baru (literasi manusia, teknologi, dan literasi data). Sementara itu, Latip (2018) berpendapat bahwa setidaknya ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru dalam revolusi industri 4.0. Pertama, guru harus mampu melakukan penilaian secara komprehensif; kedua, guru harus memiliki kompetensi abad 21: karakter, moral, dan literasi; ketiga, guru harus mampu menyajikan modul sesuai minat siswa; dan keempat, guru harus mampu melakukan pembelajaran yang inovatif dan otentik. Pembelajaran dan best practice juga harus disesuaikan, salah satunya melalui pembelajaran terpadu atau blended learning (Graham & Dziuban, 2008). Blended learning adalah cara mengintegrasikan penggunaan teknologi dalam pembelajaran yang memungkinkan pembelajaran yang sesuai untuk setiap siswa di kelas, dan memungkinkan refleksi pembelajaran” (Wibawa, 2018). Blended learning merupakan salah satu solusi pembelajaran di era revolusi. dari 4.0. Menurut para ahli, blended learning merupakan perpaduan antara pembelajaran berbasis online dengan pembelajaran tatap muka di kelas (Fitzpatrick, 2012; Wilson, 2019). Merupakan perpaduan antara pembelajaran nyata (fisik) di kelas dengan lingkungan maya (Maarop


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |181 & Embi, 2016). Definisi menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis blended learning merupakan perpaduan antara literasi lama dan literasi baru (literasi manusia, teknologi, dan literasi data). Kurikulum Pendidikan 4.0 Revolusi industri 4.0 yang sarat dengan teknologi cepat telah membawa perubahan yang signifikan, salah satunya sistem pendidikan. Perubahan sistem pendidikan tentunya akan berdampak pada konstruksi kurikulum, peran guru sebagai pendidik, dan pengembangan teknologi pendidikan berbasis TIK. Ada tantangan baru untuk merevitalisasi pendidikan kita memperoleh manusia yang kompeten, kreatif, dan inovatif yang mampu bersaing secara global. Banyak kajian mengungkapkan bahwa implementasi kurikulum di lapangan mengalami degradasi yang keluar dari konteks dan tidak lagi berorientasi pada pencapaian kemampuan pemahaman siswa dalam konteks kompetensi kecakapan sehari-hari dan kecakapan hidup, tetapi hanya berkisar pada target pencapaian nilai-nilai akademik. Penyelarasan pembelajaran pada tataran praktik yang disesuaikan dengan konstruk kurikulum menjadi fokus utama penyelesaian pekerjaan rumah di bidang pendidikan. Kebijakan kurikulum harus mengelaborasi kemampuan peserta didik dalam dimensi pedagogik, kecakapan hidup, kemampuan hidup bersama (kolaborasi), dan berpikir kritis dan kreatif. Ini mempromosikan keterampilan lunak dan keterampilan transversal, keterampilan hidup, dan keterampilan yang tidak terlihat, tidak terkait dengan bidang teknis dan akademik tertentu. Namun, ini sangat berguna dalam banyak situasi kerja seperti kritis dan keterampilan berpikir inovatif, keterampilan interpersonal, warga negara yang berpikiran global, dan literasi media dan informasi yang tersedia. Untuk menghadapi pembelajaran di abad 21 , setiap orang harus memiliki kemampuan berpikir kritis, pengetahuan, dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media, dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (Frydenberg & Andone, 2011), termasuk pendidik (guru/dosen). Pemanfaatan berbagai kegiatan pembelajaran yang mendukung Industri 4.0 dan disrupsi inovasi teknologi menjadi keharusan dengan sumber daya berbagi model dengan siapa pun dan di mana pun, kelas dan lab yang ditambah dengan materi virtual, pembelajaran interaktif, menantang, dan kaya konten. Pergeseran paradigma dan tindakan dalam berbagai konteks dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran merupakan keniscayaan. Konsekuensi logis dari inovasi teknologi yang terus berkembang ini menuntut adanya modifikasi konsep pengelolaan kelas dan metode pembelajaran agar sesuai dengan harapan, gaya belajar, dan minat siswa. Saat ini, blended learning telah menjadi strategi pembelajaran yang disukai untuk semua tingkatan kelas. Apalagi, semakin populer karena secara efektif menggabungkan manfaat pembelajaran konvensional dengan e-learning. Baru-baru ini sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jennifer Rogers (Associate Professor) dari University of Iowa (USA) menemukan bahwa


182 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 proses pembelajaran yang menerapkan blended learning lebih efektif dibandingkan dengan perkuliahan (tatap muka) di kelas atau e learning saja. Roger menjelaskan bahwa lebih dari 95% siswa terdaftar di bagian kursus campuran menerima nilai C- atau lebih dibandingkan dengan 82% di bagian kelas kuliah dan 81% hanya terdaftar secara online (Jarman, 2019). Selain itu, blended learning menciptakan kemandirian belajar dan tanggung jawab akademik mahasiswa; mempersiapkan siswa untuk menghadapi dunia yang berpusat pada teknologi, menghemat biaya pembelajaran online, meningkatkan keterampilan kolaboratif, menarik dan menyenangkan dan memicu keterlibatan penuh (fisik dan sosial emosional) siswa dalam proses pembelajaran. Berbagai penelitian telah menunjukkan hal itu menghafal bukanlah strategi pembelajaran yang efektif. Juga, pembelajaran yang berpusat pada guru bukanlah pendekatan yang paling efisien untuk keterlibatan siswa. Namun, selain belajar tentang keterampilan yang dibutuhkan siswa untuk sukses di abad ke- 21 , sekolah dan guru perlu mencari tahu peran apa yang dibutuhkan di abad ke-21. Peran pendidikan adalah mempersiapkan siswa menjadi anggota masyarakat yang aktif, sukses, dan berkontribusi. Namun, ada perubahan yang perlu diperhatikan; masyarakat telah berubah. Tanggung jawab sekolah dan pendidik adalah mempersiapkan peserta didik agar mampu bersaing dan memainkan perannya di tengah masyarakat global. Sekolah dan guru dapat mempertimbangkan memicu keterlibatan penuh (fisik dan sosial emosional) siswa dalam proses pembelajaran. aspekaspek berikut untuk menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran. Berbagai penelitian telah menunjukkan hal itu 1. Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa Pembelajaran yang berpusat pada siswa berarti bahwa guru tidak lagi menjadi satusatunya sumber pengetahuan utama di dalam kelas. Agar mampu bersaing dan berkontribusi pada masyarakat global di masa depan, mahasiswa harus mampu memperoleh informasi baru ketika muncul masalah (learning how to learn). Kemudian, mereka perlu menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki dan menerapkannya untuk memecahkan masalah yang ada. Dalam model kelas ini, guru akan berperan sebagai fasilitator bagi siswa, siswa akan mengumpulkan pengetahuannya, sendiri informasi di bawah dan bimbingan guru. Guru harus mengakomodir gaya belajar siswa karena hal ini dapat meningkatkan motivasi belajar dan siswa tanggung jawab akademik. Mereka terlibat dalam berbagai jenis kegiatan langsung dan menunjukkan pembelajaran dengan berbagai cara. Belajar adalah tentang penemuan, bukan menghafal fakta. Untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah perlu mendidik siswa untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Melalui kegiatan komunitas sekolah, siswa didorong untuk mengambil bagian dalam kegiatan atau proyek tersebut, dan sesekali membantu masyarakat di sekitarnya dengan kegiatan sosial yang beragam. Guru dapat membuat poin penting untuk membantu siswa memahami bagaimana keterampilan yang mereka bangun dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Siswa akan lebih


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |183 termotivasi untuk mempelajari sesuatu yang bermanfaat dan berharga bagi dirinya. Guru perlu mengajar dan melatih keterampilan siswa yang berguna dalam situasi apa pun. Pertama, Pembelajaran Kolaboratif Siswa perlu didorong untuk bekerja sama mencari informasi, mengumpulkan, dan membangun makna. Setiap siswa memiliki kekuatan dan bakat yang berbeda, dan bagaimana mengenali kekuatan dan bakat berbeda yang dibawa setiap orang ke dalam proyek, dan perubahan peran terutama bergantung pada sejauh mana sekolah, guru, dan siswa mengembangkan pembelajaran kolaboratif. Sudah saatnya berkolaborasi menjadi tradisi dalam berbagai kegiatan pembelajaran. berkolaborasi dengan lembaga pendidikan lain di seluruh dunia untuk berbagi Mendorong siswa untuk belajar kolaboratif dengan orang-orang di seluruh dunia dapat memberi mereka masa depan untuk bekerja dengan orang-orang dari budaya lain, dengan nilai-nilai yang berbeda dari informasi dan belajar tentang berbagai tidak ada artinya jika tidak mempengaruhi kehidupan siswa di luar sekolah. praktik atau metode yang telah dikembangkan. Mereka harus bersedia untuk mengubah metode pengajaran mereka mengingat kemajuan baru. Kedua, pembelajaran yang bermakna, pembelajaran yang berpusat pada siswa bukan berarti guru melepaskan semua kendali atas kelas. Sementara siswa didorong untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka, guru tetap membimbing keterampilan yang perlu diperoleh. Guru dapat membuat poin penting untuk membantu siswa memahami bagaimana keterampilan yang mereka bangun dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Siswa akan lebih termotivasi untuk mempelajari sesuatu yang bermanfaat dan berharga bagi dirinya. Guru perlu mengajar dan melatih keterampilan siswa yang berguna dalam situasi. Ketiga, terintegrasi dengan masyarakat, salah satunya dengan adanya kegiatan pembelajaran pada waktu dan tempat yang berbeda Fisk (2017), didukung dengan pembelajaran online, beberapa cara sederhana berikut dapat diintegrasikan ke dalam blending learning antara lain: 1. Flipped Classroom Flipped Classroom merupakan model pembelajaran yang membalikkan tradisi Dengan adanya internet, mahasiswa saat ini dapat melakukan banyak hal. Komunitas sekolah tidak lagi hanya mencakup wilayah yang berada di sekolah lingkungan, tetapi menjangkau seluruh dan mencakup dunia. Pendidikan perlu membantu siswa untuk dapat berkontribusi pada komunitas global dan menemukan cara untuk memberikan dampak besar pada lingkungan mereka. Artinya, selain belajar tentang nilai-nilai membantu orang lain di sekitar mereka dan menjaga lingkungan terdekat mereka, tetapi mereka juga harus belajar tentang bagaimana mereka dapat membantu dan melindungi dunia yang jauh dari mereka. Untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah perlu mendidik siswa untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Melalui kegiatan komunitas sekolah, siswa didorong untuk mengambil bagian dalam kegiatan atau proyek tersebut, dan sesekali membantu masyarakat di sekitarnya dengan kegiatan sosial yang beragam.


184 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 Salah satunya dengan adanya kegiatan pembelajaran pada waktu dan tempat yang berbeda Fisk (2017), didukung dengan pembelajaran online, beberapa cara sederhana berikut dapat diintegrasikan ke dalam blending learning antara lain: 1. Flipped Classroom Flipped Classroom merupakan model pembelajaran yang membalikkan tradisi metode. Konsep Flipped Classroom mencakup pembelajaran aktif, keterlibatan siswa, dan podcasting. lingkungan, tetapi menjangkau seluruh dan mencakup dunia. Pendidikan perlu Pada flipped classroom, materi pelajaran diberikan melalui video pembelajaran yang harus ditonton siswa di rumah masing-masing. Sebagai gantinya, sesi pembelajaran kelas digunakan untuk diskusi kelompok dan mengerjakan tugas. Di sini, guru berperan sebagai pelatih atau penasehat (Lowell Bishop & Verleger, 2013). PENUTUP Revolusi Industri 4.0 mengubah cara berpikir tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan bukan sekedar cara mengajar, tetapi yang jauh lebih diperlukan adalah perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Akan ada pengaruh adaptasi dan pembaharuan pada hampir semua komponen pendidikan seperti penyusunan kurikulum, peningkatan kompetensi dan keterampilan guru, serta pelibatan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum saat ini dan yang akan datang harus mengelaborasi kemampuan peserta didik dalam dimensi pedagogik, kecakapan hidup, dan kemampuan hidup bersama serta berpikir kritis dan kreatif. kursus ini, dan setelah selesai, siswa dapat memperoleh kredit kursus Untuk memastikan kurikulum yang disesuaikan dilaksanakan secara optimal, maka kompetensi yang harus dimiliki oleh guru sekaligus untuk masuk Mempromosikan soft skill dan keterampilan transversal, keterampilan hidup, dan keterampilan tak terlihat, tidak terkait dengan bidang teknis dan akademik tertentu. manajemen mutu pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 harus diarahkan pada pengembangan kompetensi serta penguasaan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya perubahan dalam sistem pendidikan yang mengarah pada pengembangan kompetensi serta penguasaan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Kata kunci: Manajemen mutu pendidikan, Revolusi Industri 4.0, kompetensi, teknologi. DAFTAR PUSTAKA Alex Grey. (2016). 10 keterampilan yang Anda butuhkan Pembelajaran untuk Keterampilan Abad 21. Dalam Konferensi Internasional Masyarakat Informasi (i-Society). Tantangan Masa Depan. Seminar berkembang dalam Revolusi Dunwill, E. (2016). 4 perubahan yang akan membentuk kelas masa depan: Menjadikan pendidikan sepenuhnya berteknologi. Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Tindakan Kelas. Prinsip desain untuk skenario industri 4.0. Dalam Prosiding Konferensi Internasional Tahunan Hawaii tentang Ilmu Sistem. https://doi.org/10.1109/ HICSS.2016.4 88 Diambil dari https://elearningindustry.com/4- changes-will-shape-


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |185 classroom-of-thefuture-making-education-fully technology Education, S. (2009). Sains, Teknologi, Fisk, P. (2017). Pendidikan 4.0 … masa depan pembelajaran akan sangat berbeda, di sekolah dan sepanjang hidup. Diambil dari http://www.thegeniusworks.com/ 2017/ 01/future-education-youngeveryone teaching-together/ Fitzpatrick, J. (2012). Panduan Perencanaan untuk Membuat Model Baru untuk Keberhasilan Siswa Online dan Blended Learning. Diambil dari https://michiganvirtual.org/wp content/uploads/2017/03/PlanningGui de-2012.pdf Frydenberg, M., & Andone, D. (2011). Pembelajaran untuk Keterampilan Abad 21. Dalam Konferensi Internasional Masyarakat Informasi (iSociety). Graham, CR, & Dziuban, CD (2008). Lingkungan Pembelajaran Campuran. Handbook Penelitian Komunikasi dan Teknologi Pendidikan. https://doi.org/ 10.1080/026520307018 83203 Hermann, M., Pentek, T., & Otto, B. (2016). Hussain, F. (2013). E-Learning 3.0 = ELearning 2.0 + Web 3.0? IOSR Journal of Research & Method in Education (IOSRJRME). https://doi.org/ 10.9790/7388-0333947 Irawan, VT, Sutadji, E., & Widiyanti. (2017). Blended learning berbasis schoology: Upaya peningkatan hasil belajar dan kesempatan praktikum di SMK Pendidikan yang meyakinkan. https://doi.org/ 10.1080/2331186X.201 7.1282031 Irianto. Rachel Wai-Yi Cheung, (2020) Quality assurance in vocational higher education: A case of Macau, Journal of Advances in Humanities and Social Sciences, JAHSS, 2020, 6(3): 89-99 Sabihaini, (2004). Analisis konsekuensi keprilakuan kualitas layanan suatu penelitian empiris, Journal Manajemen Usahawan. No.02 Pebruari 2004 Shwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution. New York: Crown Business. Terry, George R. (2002). Principle of Management. 6th Edi tion; Georgetown: Richard D. Irwing Inc. Theobald, J., Gardner, F., & Long, N. (2017). Teaching Critical Reflection in Social Work Field Education. Journal of Social Work Education, 53(2), 300–311. Verma, A. (2016). A review of quality assurance in higher education institutions. International Journal of Research in Humanities, Arts and Literature (Impact: Ijrhal), 44(5), 55–66.


186 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR PADA PEMBELAJARAN ABAD 21 Deden MAN 2 Bogor, [email protected] Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kompetensi pembelajaran abad 21. Kompetensi Pembelajaran abad 21 berorientasi pada literasi berpikir, keterampilan kerja kecakapan hidup dan kemampuan menguasai alat untuk bekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu mendeskripsikan dan menguraikan tentang kompetensi pendidikan abad 21. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (Library Research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar (KMB) pada pembelajaran abad 21 merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Dengan mengimplementasikan KMB, guru dapat memfasilitasi proses pembelajaran yang lebih interaktif, menyenangkan, dan efektif bagi siswa. Selain itu, KMB juga dapat membantu siswa untuk belajar secara mandiri, bekerja sama dengan orang lain, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Namun, untuk dapat mengimplementasikan KMB dengan baik, guru perlu memperhatikan beberapa hal seperti menyediakan sumber-sumber belajar yang variatif dan menarik, menyediakan ruang belajar yang nyaman dan kondusif, serta menyediakan sistem evaluasi yang transparan dan adil. Kata Kunci: Pembelajaran Abad 21, Kompetensi, Kurikumum Merdeka Belajar Abstract This study aims to find out how the 21st century learning competencies are. 21st century learning competencies are oriented towards literacy thinking, work skills life skills and the ability to master tools for work. This study uses a qualitative approach, namely to describe and elaborate on the 21st century educational competencies. The data collection technique used in this research is library research. The results of the study show that the Implementation of the Free Learning Curriculum (KMB) in 21st century learning is one of the solutions to improve the quality of learning in schools. By implementing the KMB, teachers can facilitate a more interactive, fun and effective learning process for students. In addition, KMB can also help students learn independently, work together with others, and develop critical and creative thinking skills. However, to be able to implement the KMB properly, teachers need to pay attention to several things such as providing varied and interesting learning resources, providing comfortable and conducive learning spaces, and providing a transparent and fair evaluation system. Keywords: 21st Century Learning, Competence, Free Learning Curriculum PENDAHULUAN Pendidikan abadike-21 merupakan pendidikan yang diharapkan mampu menciptakan para manusia unggul yang menitikberatkan pada upaya menghasilkan generasi maju yang bisa mengikuti arus teknologi dan informasi. Hal tersebut berimbas pada terbentuknya suatu tatanan kehidupan yang kompetitif, inovatif dan berdaya saing, sehingga


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |187 pengembangan mutu sumber daya manusia menjadi suatu kemestian. Peningkatan sumber daya manusia perlu diorientasikan pada upaya untuk membangun kesadaran kritis tentang kehidupan yang perlu disandarkan pada nilai-nilai kebudayaan (partikular maupun universal). Upaya pemenuhan kebutuhan bidang pendidikan berbasis pengetahuan (knowledge based education), pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economic), pengembangan dan pemberdayaan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based social empowering), dan pengembangan dalam bidang industri pun berbasis pengetahuan (knowledge based industry) (Mukhadis, 2013). Oleh karena perubahan ekonomi dan sosial yang cepat, sekolah harus mempersiapkan peserta didik terhadap pekerjaan yang belum diciptakan, teknologi yang belum ditemukan dan masalah yang belum diketahui yang memiliki kemungkinan untuk muncul di masa yang akan datang (Wijaya, Sudjimat, & Nyoto, 2016). Pembelajaran abad 21 memungkinkan pembelajaran berbasis teknologi yang kini semakin berkembang pesat. Perkembangan teknologi tersebut mendorong adanya berbagai pengembangan, inovasi yang mengikuti tantangan zaman termasuk penilaian. Jika sebelumnya penilaian konvensional masih menggunakan kertas, namun kini penilaian modern dapat memanfaatkan adanya teknologi. Pembelajaran abad 21 sendiri memiliki ciri dan keunikannya sendiri, dimana pembelajaran yang dilakukan di lembaga pendidikan harus berfokus pada keterampilan abad 21 (Rosnaeni, 2021). Menurut Abidin (2018) jika hendak menggapai tujuan dalam peningkatan mutu SDM yang unggul dan kompeten, maka harus memiliki empat kompetensi utama yaitu: Pertama, literasi berpikir, pendidikan abad 21 bertujuan untuk mengembangkan lulusan yang memiliki kemampuan memecahkan masalah, berpikir metakognisi, dan berpikir kreatif. Kedua, keterampilan kerja yang mencakup keterampilan komunikasi, dan kolaborasi. Ketiga, kecakapan hidup, yaitu memiliki jiwa kewarganegaraan yang kokoh, karakter agama yang matang, dan karakter sosial yang berkualitas. Keempat, kemampuan menguasai alat untuk bekerja meliputi kemampuan menguasai informasi dan teknologi informasi dan komunikasi. Dari keempat kompetensi tersebut, untuk meningkatkan sumber daya manusia perlu dipandu oleh upaya membangun kesadaran kritis dalam hidup, yang harus dilandasi nilai-nilai budaya (khususnya dan universal). Hal tersebut sebagaimana pendapat Freire dalam (Nuryani, Abidin, & Herlambang, 2019) yang mengungkapkan bahwa “suatu zaman selalu ditandai dengan kompleksitas persoalan, gagasan, konsep, harapan, dan tantangan dalam interaksi dialektis untuk merumuskan penyelesaiannya”. Pembelajaran pada masa ini harus didasarkan pada keempat keterampilan tersebut agar karakteristik dalam pembelajaran abad 21 bisa tercapai. Oleh sebab itu, guru harus menyusun sebuah desain pembelajaran yang sesuai dengan keterampilan pada pembelajaran abad 21. Pengembangan model pembelajaran yang disesuaikan dengan pembelajaran abad 21 sangat penting untuk memberikan pengalaman belajar kepada


188 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 peserta didik. Model yang digunakan juga harus meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran (Handayani & Wulandari, 2021) Sebab, pada abad ini pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, namun berpusat pada peserta didik sebagaimana yang diberlakukan dalam kurikulum merdeka belajar. Menyikapi perkembangan abad 21 ini, guru harus memaksimalkan penerapan pola pembelajaran di kelas. Guru harus memiliki keterampilan dan keahlian mengajar dalam abad 21. Merdeka belajar merupakan bagian dari kebijakan baru yang ditetapkan oleh Kementerian Pendiikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI). Menurut Nadiem, bahwa kebijakan kurikulum terkait merdeka belajar harus dilakukan penerobosan awal terlebih dahulu kepada para pendidik sebelum hal tersebut disampaikan atau diterapkan kepada peserta didik. Selain itu, Nadiem juga mengatakan terkait kompetensi guru yang levelnya berada di level apapun itu, tanpa adanya proses penerjemahan dari kompetensi dasar yang ada serta erat kaitannya dengan kurikulum maka pembelajaran tidak akan terjadi. Konsep dari “Merdeka Belajar” bahwa sejatinya hal ini belum menentukan sebuah arah dari tujuan pendidikan di negara kita. Akan tetapi, konsep dari merdeka belajar membawa arah untuk mampu berkontribusi dengan baik dalam menuntut peningkatan ekonomi bagi peserta didik sehingga dapat belajar secara bebas. Sekali lagi, bahwa pendidikan di negara kita tidak menuntut untuk apa, melainkan terbagi dalam beberapa bagian yang mengakibatkan masalah sosial di Indonesia belum dapat selesai dengan seutuhnya. Hal ini dikarenakan pendidikan dipersiapkan untuk mampu mengantisipasi berbagai macam masalah sosial yang tengah berada dalam masyarakat. Artikel ini mempersoalkan bagaimana kompetensi pembelajaran abad 21dan bagaimana implementasi pembelajaran kurikulum merdeka belajar. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu mendeskripsikan dan menguraikan tentang kompetensi pendidikan abad 21 pada Kurikulum Merdeka Belajar (KMB). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review yang merupakan kegiatan mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan penelitian yang berasal dari jurnal-jurnal ilmiah yang layak dijadikan sumber untuk penelitian yang akan di teliti penulis, dengan cara mendeskripsikan dan menguraikan data tersebut adalah melalui beberapa pendapat para ahli. PEMBAHASAN Kompetensi Pembelajaran Abad 21 Kompetensi Pembelajaran Abad 21 adalah kumpulan keterampilan yang dianggap penting bagi siswa untuk mempersiapkan mereka untuk sukses di dunia yang terus berubah di abad 21. Ini termasuk keterampilan seperti kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, kerjasama, kemampuan mengelola informasi, dan kemampuan belajar secara mandiri. Tuntutan dunia terhadap sistem pendidikan dalam menyiapkan peserta didik


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |189 pada kompetensi abad 21 agar dapat menghadapi tantangan yang lebih kompleks saat ini dan di masa yang akan datang. Yang dimaksud Kompetensi Abad 21 adalah pengetahuan, keterampilan, dan atribut lainnya yang dapat membantu peserta didik untuk mencapai potensi secara utuh (Mu’Minah & Aripin, 2019). Kompetensi Pembelajaran Abad 21 adalah kumpulan keterampilan yang dianggap penting bagi siswa untuk mempersiapkan mereka untuk sukses di dunia yang terus berubah di abad 21. Ini termasuk kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, kerjasama, kemampuan mengelola informasi, dan kemampuan belajar secara mandiri (Kim, Raza, & Seidman, 2019). Kompetensi Pembelajaran Abad 21 adalah keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk menjadi anggota yang efektif dari masyarakat yang terus berubah di abad 21. Ini termasuk kemampuan untuk berpikir kritis, berkomunikasi dengan efektif, bekerjasama dengan orang lain, dan belajar secara mandiri (“21st Century Skills: Learning for Life in Our Times,” 2010) Kompetensi Pembelajaran Abad 21 merupakan seperangkat keterampilan yang dianggap penting bagi siswa untuk mempersiapkan mereka untuk sukses di dunia yang terus berubah di abad 21. Ini termasuk kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, kerjasama, kemampuan mengelola informasi, dan kemampuan belajar secara mandiri (Syaripudin, 2019). Seiring dengan perjalanan waktu menyebabkan perubahan kompetensi yang telah ada sepanjang sejarah, seperti kolaborasi dan komunikasi. Kemampuan kolaborasi di abad 21 lebih dituntut untuk semakin berkembang (Rosnaeni, 2021) seperti yang dijelaskan (Priyanti, 2019) bahwa selain kolaborasi face to face dengan teman sejawat, juga dengan personal yang lebih luas yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Hal ini menjadikan bahwa kolaborasi layak dimasukkan sebagai kompetensi abad 21 karena pentingnya kemampuan kooperatif interpersonal yang lebih baik dari pada di era sebelumnya. Alasan penting untuk lebih memfokuskan peserta didik pada keterampilan abad 21 menurut Abidin (2018) dalam sistem pendidikan adalah agar mampu mengikuti perubahan zaman, yang sering dikaitkan dengan hal-hal sebagai berikut: (1) perubahan tenaga kerja dari model industri produksi menjadi industri berbasis teknologi, dan saling terhubung dengan pertumbuhan ekonomi global, sehingga membutuhkan kompetensi yang cocok untuk pembangunan ekonomi dan sosial yang dinamis dan tidak dapat diprediksi, (2) bukti yang muncul tentang cara mengoptimalkan pembelajaran, termasuk penggunaan inovasi teknologi untuk memperdalam dan mengubah pembelajaran, (3) perubahan harapan dalam diri peserta didik yang menuntut sistem pendidikan yang lebih kompleks dengan teknologi dan relevan dengan kehidupan sehari-harinya. Kompetensi utama dapat diidentifikasi atas dasar bahwa kompetensi tersebut dapat diukur kontribusinya dalam pencapaian pendidikan, relasi, pekerjaan, dan dapat dilakukan untuk semua individu (Nanzhao, 2004). Kompetensi abad 21 yang paling menonjol ditemukan dalam kerangka kerja


190 | Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 internasional yang telah terbukti memberikan manfaat terukur di berbagai bidang kehidupan terkait dengan pemikiran kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas dan inovasi. Salah satu usaha penelitian terbesar saat ini adalah assessment and teaching of 21st century skills (ATC21S). Tujuan kolaborasi internasional tersebut antara akademisi, pemerintah dan tiga perusahaan teknologi besar adalah memberdayakan peserta didik dengan keterampilan yang tepat untuk berhasil di 21 tempat kerja (ATC21S, 2013). Tujuan awal proyek ATC21S adalah untuk mengembangkan definisi operasional keterampilan abad 21 yang jelas. Penulis mulai dengan melakukan apa yang mungkin merupakan tinjauan literatur terbaru di bidang ini, dengan menganalisis definisi yang dikembangkan dan digunakan oleh sebelas organisasi besar, Partnership for 21st Century Skills (2013) di Amerika Serikat dan Lisbon Council (2007) dari Uni Eropa. Para peneliti ATC21S menyimpulkan bahwa keterampilan Abad 21 dapat dikelompokkan menjadi empat kategori luas: (1) cara berpikir, (2) cara bekerja, (3) alat untuk bekerja, dan (4) keterampilan untuk hidup di dunia (Ankiewicz, 2016). Perspektif lain, banyak keterampilan abad 21 termasuk kreativitas, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, komunikasi, kolaborasi, kewarganegaraan, dan tanggung jawab pribadi dan sosial, terkait erat dengan karakteristik kepribadian yang disebut sebagai kecerdasan emosional (EI). EI sebagai konstelasi disposisi perilaku dan persepsi diri mengenai kemampuan seseorang untuk mengenali, memproses, dan memanfaatkan informasi yang sarat emosi (Kaliská, 2015). EI dikonseptualisasikan sebagai aspek kepribadian seseorang yang mudah ditempa dan masih berkembang dengan baik sampai usia dua puluhan, dan tidak terkait dengan kemampuan penalaran non-verbal (Suto, 2013) Ketrampilan abad 21 tersebut adalah: a. Kreativitas dan inovasi Banyak penelitian menunjukkan pentingnya kreativitas untuk pengembangan kemampuan sosial untuk bersaing dalam dunia kerja, dan kemampuan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi. Hasil PISA 2012 (OECD, 2014b) mencatat hubungan antara prestasi akademik yang tinggi, dengan pemecahan masalah dan kreativitas. Kreativitas sering digambarkan sebagai pengejaran ide-ide baru, konsep, atau produk yang memenuhi kebutuhan dunia. Inovasi mengandung unsur kreativitas dan sering digambarkan sebagai realisasi ide baru dalam rangka memberikan kontribusi yang bermanfaat pada bidang tertentu. Kreativitas mencakup konsep “sosial dan ekonomi kewirausahaan dan kepemimpinan untuk bertindak” (Fullan, 2013) b. Berpikir kritis, pemecahan masalah, dan membuat keputusan Berpikir kritis di abad 21 digambarkan sebagai kemampuan untuk merancang dan mengelola proyek, memecahkan masalah, dan membuat keputusan yang efektif menggunakan berbagai alat dan sumber daya (Evans, 2020) menyoroti tantangan pengalaman dalam merancang pembelajaran yang membahas masalah lokal dan masalah dunia nyata yang belum diperoleh jawabannya secara jelas.


Peluang dan Tantangan Manajemen Pendidikan di Era Revolusi Industry 4.0 & Society 5.0 |191 Berpikir kritis mengarahkan siswa untuk memperoleh, memproses, menafsirkan, merasionalisasi, dan menganalisis secara kritis sejumlah informasi yang sering bertentangan sehingga dapat membuat keputusan dan mengambil tindakan tepat waktu (C21, 2012). Alat dan sumber daya digital dapat mendukung proses berpikir kritis terutama ketika digunakan untuk membuat pengalaman belajar otentik dan relevan yang memungkinkan siswa untuk menemukan, membuat, dan menggunakan pengetahuan baru (Fullan, 2013). c. Metakognisi (learning to learn) Metakognisi dipahami sebagai (pengetahuan) satu set instruksi diri untuk mengatur kinerja dalam penyelesaian tugas, sedangkan kognisi adalah prasyarat untuk dapat menginstruksi diri (Muhali, 2018). Metakognisi menurut para ahli merupakan kemampuan berpikir tentang berpikir (Evans, 2020; Flavell, 1976; Fullan, 2013) Definisi metakognisi tidak hanya terbatas pada berpikir tentang berpikir, tetapi mengikuti gagasan pengetahuan dari pengetahuan seseorang, proses, dan keadaan kognitif dan afektif; dan kemampuan untuk secara sadar dan sengaja memonitor dan mengatur pengetahuan seseorang, proses, dan keadaan kognitif dan afektifnya. d. Komunikasi Komunikasi dalam konteks abad 21 merujuk tidak hanya untuk kemampuan berkomunikasi secara efektif, secara lisan dan tulisan, dan dengan berbagai alat digital, tetapi juga keterampilan mendengarkan (Fullan, 2013). Banyak kerangka kerja memasukkan literasi informasi dan digital dalam konsep komunikasi. Kerangka kerja lainnya seperti pada P21 (2011) yaitu memiliki keterampilan informasi, media, dan teknologi yang berbeda. Beberapa wilayah hukum (mis., Inggris, Norwegia) mencakup keterampilan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan melek huruf dan berhitung sebagai kurikulum dasar. e. Kolaborasi Kolaborasi dalam konteks abad ke 21 membutuhkan kemampuan untukbekerja dalam tim, belajar dari dan berkontribusi pada pembelajaran yang lain, menggunakan keterampilan jejaring sosial, dan menunjukkan empati dalam bekerja dengan orang lain yang beragam (Fullan, 2013). Kolaborasi juga mengharuskan peserta didik untuk mengembangkan kecerdasan kolektif dan membangun bersama, artinya menjadi pembuat konten serta konsumen. Keahlian dan pengetahuan baru diperlukan untuk memungkinkan anggota tim berkolaborasi secara digital dan berkontribusi pada basis pengetahuan kolektif, apakah bekerja dari jarak jauh atau dalam satu ruang bersama. Kolaborasi sebagai kecerdasan kolektif atau bersama yang muncul dari kolaborasi dan kompetisi banyak individu dan bertujuan untuk meningkatkan kumpulan pengetahuan yang ada (DiCerbo, 2014; Rosnaeni, 2021)


Click to View FlipBook Version