The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Antologi Cerpen Pengabdian Akbar 1 merupakan kumpulan catatan perjalanan para Laskar Dewantara Batch X GEMAPEDIA 2022/2023 yang merepresentasikan berbagai pengalaman, perasaan, dan pembelajaran yang diperoleh selama mengikuti rangkaian kegiatan Pengabdian Akbar 1.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Resta Naura, 2023-04-13 20:30:10

ANTOLOGI CERPEN PENGABDIAN AKBAR 1 GEMAPEDIA

Antologi Cerpen Pengabdian Akbar 1 merupakan kumpulan catatan perjalanan para Laskar Dewantara Batch X GEMAPEDIA 2022/2023 yang merepresentasikan berbagai pengalaman, perasaan, dan pembelajaran yang diperoleh selama mengikuti rangkaian kegiatan Pengabdian Akbar 1.

Keywords: Antologi,Pengabdian Akbar,GEMAPEDIA,Cerpen

50 “ Sabtu yang Baru Oleh : Koko Santoso Dari luar jendela asrama yang masih redup, gerimis syahdu meminang hawa dingin Kota Malang pagi ini. Kuraih ponsel pintar tak jauh dari kasur tempat tubuhku merebah, 03.57, tiga menit sebelum alarm ponselku ini berbunyi. Sekali lagi, aku bangun lebih cepat bahkan sebelum dibangunkan paksa oleh alarmku sendiri. Tak pernah aku memulai Sabtu dengan begitu semangat seperti di beberapa Sabtu terakhir. Sekalipun pagi ini disambut gerimis dan hawa dingin yang melebihi pagi-pagi biasanya, tekadku tak kendur untuk tetap pergi mandi, lalu menyetrika seragam baru kebangaanku dan sarapan sisa katering semalam. Sengaja ku sisakan untuk pagi ini, tetap enak bagiku lagipula siapa yang mau keluar membeli sarapan di pagi buta seperti ini. Rutinitas baruku di hari Sabtu, tapi tak baru lagi jika setiap Sabtu pagi aku selalu bangun sendiri. Di asrama, kami dibagi per-kamar dua hingga tiga orang sedang diriku istimewa mendapat cukup satu teman kamar dan istimewanya lagi teman kamarku seperti saudara sendiri. Buruknya, dia selalu jauh lebih hebat dariku selalu


51 disibukkan dengan kegiatan-kegiatan keren-nya dan karenanya aku juga ingin se-keren dirinya. Ku-putuskan bergabung dalam organisasi keren dalam kampus dengan kegiatan luarbiasa-nya di setiap hari Sabtu dengan begitu Sabtuku tak akan lagi semu. Hari ini Sabtu kedua, Sabtu kemarin adalah yang pertama. Aku tak pernah menyangka perjalanan minggu kemarin bisa semenakjubkan itu, mengendarai motor membelah riuhnya jalanan perkotaan, menyusuri bukit, menembus kabut dan hawa dingin pegunungan Malang Raya. Sungguh, kemana saja satu tahun terakhir aku di kota ini, sehingga ku lewatkan begitu saja pengalaman mengesankan ini. Lebihnya lagi, Sabtu ini istimewa, hujan mengiringi perjalanan hari ini. Janji berkumpulnya kami pukul 5 di gerbang utama kampus. “Hufft… tapi ini Indonesia, keadaan aman, damai, sentosa saja orang-orang enggan berangkat tepat waktu apalagi hujan dingin seperti ini,” aku bergumam sambil membaca hujan yang menderu. Ejanya, ini tidak akan reda sampai beberapa jam kedepan. Tak lama masing-masing dari kami mulai berdatangan saling selang beberapa menit, lengkap bermantel mengendarai motor masing-masing. Tak terlihat kendur-nya semangat mereka meskipun diterka hujan.


52 … Semangat juang, satukan kami Berbakti untuk negeri Bangga mendidik, mengabdi, dan menginspirasi Bersama kami GEMAPEDIA, Cerdaskan anak bangsa … Begitu kira-kira penggalan syair-nya. “GEMAPEDIA” begitu kami menyebutnya, Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan pergi berbakti untuk negeri, mengabdi dengan pamrih berbagi ilmu, indah menginspirasi. Begitu pula-lah orang-orang mengenal kami dan hari ini Sabtu ke dua bagiku bersama GEMAPEDIA dalam program Pengabdian Akbar Satu. Setelah saling menanti yang cukup lama, dua jam dari perjanjian awal, drama hujan dan kedinginan ta cukup membelah semangat kami yang akhirnya full tim dan siap berangkat mengabdi. SDN 2 Ngadas tujuan Timku, Sekolah Dasar terpencil di sisi lain pegunungan menuju Bromo. Hampir dua jam perjalanan kami tempuh dari kampus menerjang hujan


53 dan hawa dingin ternyata tidak seburuk itu demi menjumpai tawa anak-anak desa yang dengan semangatnya menunggu dan mencari ilmu. Jauh kami mengendara, sejuk udara pegunungan semakin menggigit tapi semakin ke puncak cuaca semakin bersahabat hujan mereda. Karena turunnya hujan pagi ini kabut-pun terusir olehnya. Semakin ke puncak desa mata semakin bermanja dengan pemidangan alam memesona, tak seperti minggu lalu yang berselimut kabut pagi ini justru nampak sempurna. Lembah, hutan, sisi pegunungan yang lain, sampai gedung-gedung kota nampak indah rapi dari sini. Sempurnanya lagi, sambutan lembut anak-anak dusun setibanya kami di halaman sekolah. Mereka sudah berbaris rapi nampak selesai bersenam. Pukul sembilan kami tiba, terlambat satu jam, namun pihak sekolah mentoleran karena kendala cuaca. Para guru justru menyambut kami dengan teh hangat dan kentang goreng hasil kebunan depan sekolah. Sejenak kami menghangatkan diri dengan teh hangat bergegas pula untuk segera memulai kelas. Aku dan rekanku Sheren kami mendapat plotingan untuk mengajar di kelas lima. Usia yang cukup bagiku tak begitu anak-anak pikirku jadi akan lebih mudah dikondisikan untuk seorang diriku yang kadang pemarah. Namun, tak terbendung peringai anak-anak teplah anak-anak. banyak tingkah, menyebalkan, sulit di atur. Tapi itu sangat


54 menyenangkan, kami belajar bersama tentang ekosistem, teks non-fiksi, belajar fakta dan mengelola paragraf, simbiosis. Yang menakjubkan adalah mereka anak-anak dusun terpencil jauh dari kota namun kemampuan belajar mereka, semangat belajar mereka cukuplah tinggi. “Kak, main tebak-tebakan kak” salah satu anak dari 5 anak dalam kelas kecil itu berteriak sambil mengangkat tangan, nadanya sederhana namun menantang. “Biasanya kalau sebelum pulang kami main tebak-tebakan, yang jawabnya tercepat boleh pulang duluan” tambahnya menjelaskan. Aku tertegun mendengarnya, mereka justru yang menantang diberi tebakan bahkan tanpa kami tanyai. Biasanya mendengar bel pulang saja anak-anak ingin segera berlari meninggalkan kelas. Namun, disini lain sekali lagi semangat mereka belajar sangatlah tinggi pun mereka semua anak-anak yang cerdas. “Mau tebakan apa?” tanya Sheren kepada anak-anak “Perkalian kak” tantang anak lainnya.


55 Aku dan Sheren saling tatap dan tersenyum, kami bergantian menyebutkan soal perklian dan anak-anak antusias berebut mencoba menjawab sekali duakali salah, mereka lebih fokus akhirnya satu per satu benar dan pulang satu per satu dengan damai. Pengalaman ini, Panggilan jiwa ini. Aku sempat ragu karena usikan orang-orang, “Mau jadi apa ambil jurusan pendidikan, guru tidak menjamin hidup layak.” Tapi dari sini panggilan jiwa itu nyata, tawa anak-anak itu, transfer ilmu itu, kebahagiaan belajar itu aku bahagia karena itu semua. Ini menakjubkan, aku tidak pernah merasa sebermanfaat ini selama menjadi manusia dan seterusnya aku ingin untuk terus seperti ini. “Hidup akan terasa jauh lebih hidup ketika engkau mampu untuk lebih menghidupkan hidup orang lain, bukankah begitu, sheren?” tanyaku dengan senyum sempurna kepada sheren yang hanya dibalas dengan senyum pula kemudian.


56 Bionarasi : Koko Santoso, lahir di Ponorogo 26 September 2003. Sedang menempuh Pendidikan Seemester empat di Program Studi S1 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang dengan NIM 210311624921. Sekarang bertempat tinggal di Asrama Putra Mahasiswa Lili UM. Menjalani kesibukan dengan berkuliah dan berorganisasi. Senang dengan dunia sastra kepenulisan puisi dan cerpen meski buruk. Motto Hidup: Suara Dalam Diriku Tidak Akan Bisa Diam Ketika Aku Menyerah. WA: 082131955195; IG: @ko_santo4.


57 “ Memori Negeri di Atas Awan Oleh : Lilis Ardillah Perkenalkan namaku Lilis Ardillah biasa dipanggil Dilla, seorang mahasiswi Universitas Negeri Malang yang aktif dalam organisasi GEMAPEDIA. GEMAPEDIA merupakan suatu gerakan mahasiswa peduli pendidikan yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang sebagai bentuk kepedulian nya terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Dimana GEMAPEDIA ini melakukan kegiatan pengabdian di daerah pelosok Malang, dan salah satunya adalah mengajar di SD yang memiliki sarana dan prasarana yang masih minim. Hal ini lah yang menjadi tantangan sekaligus hal yang membuat saya tertarik untuk mengikuti organisasi ini. Baru satu bulan bersama GEMAPEDIA memberikan saya banyak pengalaman, kesabaran, dan arti bersyukur yang sesungguhnya. Sedikit cerita tentang GEMAPEDIA yang membuat saya jatuh hati padanya. Awalnya saya tidak tahu apa itu GEMAPEDIA, semua itu berawal dari teman saya satu kelas yang lebih dulu mengikuti GEMAPEDIA, yang memperkenalkan organisasi


58 dan kegiatan GEMAPEDIA yang menurut saya mengasyikan dan sesuai hobi saya. Kemudian untuk tau lebih dalam mengenai GEMAPEDIA teman saya memberikan info berbagai akun Ig, web, dan you tube GEMAPEDIA. Dari situ saya mencoba membuka akun sosial media GEMAPEDIA. Sedikit demi sedikit saya mulai mengerti apa itu GEMAPEDIA, dan aneka macam kegiatan GEMAPEDIA. Dari situlah saya mulai yakin untuk join GEMAPEDIA bersama 7 rekan sejawat saya. Sempat merasa ragu karena h-3 penutupan pendaftaran GEMAPEDIA saya baru mengisi dan melengkapi persyaratan. Dan ditambah lagi harus tes microteaching di depan kakak GEMAPEDIA yang tentunya memberikan pengalaman berbeda dan rasa canggung, karena yang biasanya yang jadi praktik mengajar adalah anak anak SD. Namun semua rasa ragu tersebut berhasil saya tepis,dengan tampil percaya diri, enjoy dan ceria saya membawakan materi microteaching meski di pembukaan awal rasa nervous masih membuat pipi memanas. Tahap demi tahap telah dilewati dan sampailah dirangkaian akhir GEMAPEDIA yakni pengumuman seleksi, dan alhamdulillah saya dan ketujuh rekan saya dinyatakan lolos seleksi dan di terima semua di GEMAPEDIA.


59 Pengabdian pertama saya di tempatkan di SDN 2 Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang sebuah desa dengan suku khas asli Tengger Semeru. Negeri diatas awan adalah sebutan yang cocok disematkan untuk SDN 2 Ngadas ini, karena letaknya yang berada di kaki gunung dan ketika hari mulai siang awan dan kabut mulai turun menutupi daerah ini. Hal itulah yang menjadikan seolah olah SDN 2 Ngadas ini seperti berada di lautan awan. Experience yang mengesankan bagi saya, karena sedari lama saya memiliki keinginan mengikuti volunteer mengajar di daerah pelosok, dan lewat GEMAPEDIA mimpi saya terealisasikan. Kali ini saya mengajar di kelas 3 bersama rekan saya Wina dan kakak LO dari GEMAPEDIA yakni Kak Dinda yang selalu setia mendampingi dan membimbing kami selama mengajar di Ngadas. Pertama kali rombongan GEMAPEDIA datang dan memasuki pagar sekolah antusiasme dan senyum malu tersirat di raut wajah mereka. Rasa excited dan nervous sangat terasa, karena untuk pertama kalinya mengajar di kelas bertatap muka dan berinteraksi langsung dengan anak-anak, Pertamakali memasuki ruang kelas 3 ada hal yang sedikit membuat saya termenung karena ruang kelas 3 ini disekat dan harus berbagi ruangan dengan kelas 2. Meskipun demikian, wajah wajah


60 yang penuh semangat dan antusias tersirat dari mereka. Pertemuan pertama saya,Wina dan Kak Dinda memperkenal diri kepada adik-adik di kelas 3 dengan rasa malu malu dan masih irit bicara mereka memperkenalkan diri mereka. Yang ketika kita sudah mengenal mereka kita akan tahu karakteristik satu-persatu adik adik adik di kelas 3. Ada alif yang hiperaktif , si usil dan sulit konsentrasi dengan arahan kakak LD. Riyan si paling jail hampir mirip jailnya dengan alif, namun sangat cerdas di bidang akademik. Karim si perut gemoy yang ceriwis, Reza si paling pendiam,penurut dari 3 teman cowok lainnya tetapi termasuk siswa yang pandai dibalik sifatnya yang pendiam, Aqila si aktif dan ceria, dan Matul gadis bermata coklat khas miliknya dengan senyum manisnya. Pertemuan pertama mengajar saya dan Wina membawa media pembelajaran dengan berbagai gambar yang menarik, hal itulah yang membuat anak-anak sangat excited dalam mengikuti pembelajaran, ketika kelas mulai terasa tegang kami menhidupkan suasana kelas kembali dengan lagu belajar dan ice breaking yang asik. Anak-anak sangat merasa senang karena untuk pertama kalinya mereka merasakan nuansa belajar yang berbeda dari biasanya.. Pada pertemuan ke 2 selama perjalan ke Ngadas hujan tak henti-hentinya mengiringi langkah kami, medan jalan yang longsor dan licin


61 tak menyurutkan niat kami untuk menagajar, dengan suhu 17 derajat kami tiba di SD, tak banyak anak yang masuk sekolah karena cuaca hujan dan rumah mereka yang jaraknya jauh dari sekolah, Namun hal tersebut bukan menjadi penhalang untuk saya dan Wina menyampaikan materi pelajaran dengan totalitas. Karena antusias mereka dipertemuan awal yang menggebu, pada pertemuan 2 kami membawa media pembelajaran yang berbeda lagi dengan nama “Buku Ajaib”. Untuk nuansa yang berbeda dari pertemuan pertama kami mengajak anak-anak untuk melakukan kegiatan literasi dialog bersambung yang mengasikkan. Di pertemuan ke 3 kami membawa media pembelajaran yang berbeda lagi namun dengan dolanan bareng, yang ternyata mendapat respon positif dan antusias dari anak-anak, mereka sangat senang bisa bermain di luar kelas, terlihat senyum bahagia mereka ketika permainan Squid Game dan tebak gambar. Dan di pertemuan ke 4 pertemuan terakhir diadakan pemberian soal tes pemahaman materi siapa sangka siswa yang mendapat nilai tertinggi di kelas adalah Reza dan Riyan yang masih memiliki keterbatasan dalam membaca yang tidak selancar teman-teman pada umumnya, karena mereka masih mengeja, Namun dengan semangat belajar dan memperhatikan penjelasan materi selama pelajaran


62 menutupi kekuruangan mereka, dan pada pertemuan ini aku harus mengakhiri pengabdian ku di Ngadas, aku dan Wina memberikan nasihat kepada adik-adik untuk mencapai cita-cita yang mereka tuliskan mereka dalam selembar kertas, dan siapa sangka sungguh mulia cita-cita mereka ada yang ingin menjadi guru, polwan, tantara, hingga presiden. Hal itulah yang membuat saya merasa salut dan menjadi pembelajaran bagi saya bahwa kondisi dan fasilitas sekolah yang minim bukan penghalang untuk bermimpi dan semangat mengejar cita, penting nya rasa bersyukur tentang hidup, kekurangan pada diri kita ternyata bukanlah penghalang untuk melakukan hal hebat dan kesederhanaan merupakan salah satu pencipta rasa bahagia. Bionarasi : Perkenalkan namaku Lilis Ardillah, biasa dipanggil Dilla, Lahir dan besar di Kota Gresik pada tanggal 10 Maret 2002. Mahasiswa Universitas Negeri Malang Prodi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar , FIP , Angkatan 2021. Alamat Rumah Jl.Raya Karangandong, RT 01 RW 01, Kec.Driyorejo, Kab Gresik. Pengalaman kedua membuat cerpen setalah membuat tugas akhir mata kuliah kajian dan keterampilan sastra SD,


63 saking serunya buat cerpen bagi saya membuat cerpen dengan 1000 kata saja tidak cukup melukiskan indahnya Ngadas seperti lagu puisi alam milik Fourtwnty .


64 “ Sekolah di Atas Awan Oleh : Khoiruni Ni’maturrizqiah Matahari mulai mengintip di celah gunung, ayam pun mulai berkokok menandakan pagi telah tiba. Aku sudah sibuk menyiapkan keperluan yang nantinya akan digunakan sebagai media belajar, sesekali melihat kawan-kawanku bersiap meskipun rasa kantuk masih menyapaku. Aku berkaca melihat penampilan rapiku mengenakan PDH yang bertuliskan GEMAPEDIA dengan rasa bangga untuk memulai petualangan baru yang menyenangkan, oh iya sebelumnya perkenalkan nama saya Kiki. “ Keysa, apakah sudah siap dan tidak ada yang tertinggal ?.” Tanyaku pada salah satu kawan yang sudah duduk manis di satu ruangan. “ Aman,sudah aku cek semua dan tidak ada yang tertinggal Ki.” Ujar Keysa. Aku bersama teman lainnya berangkat dan tidak lupa menggunakan baju hangat karena suhu udaranya sangat dingin. Sepanjang perjalanan aku melihat pemandangan yang sangat


65 indah membuatku terpanah, selain pemandangan yang indah suara penghuni alam terdengar ramai. Burung berkicau menyambut kedatanganku serta semua temanku, tidak lupa suara serangga garengpung yang menjadi ciri khas hutan dan bau pepohonan alam menenangkan di sepanjang perjalanan kami. Aku melewati jalan yang cukup curam dan sangat menakutkan, berasama 18 orang lainnya pergi kesekolah yang sangat indah di atas kaki gunung. SDN 2 Ngadas di sanalah aku akan menjalankan pengabdian pertamaku sebagai guru di sekolah dasar yang hampir setiap menjelang siang sekolahnya akan tertutup oleh kabut putih, itulah mengapa SD ini mendapat julukan sekolah di atas awan. Bisa di bilang ini adalah pengalaman pertamaku yang sangat berharga menjadi guru dan bertemu dengan adik-adik yang sangat menggemaskan. Aku menuju sekolah yang sederhana namun indah, di sambut oleh beberapa adik-adik yang telah menunggu kami di depan pagar yang nampak usang dengan senyuman menawan mereka dan semangat untuk memulai pagi dengan pembelajaran yang menyenangkan. Kami juga di sambut oleh kepala sekolah serta guru-guru yang sangat ramah. “ Kakak-kakak sudah datang, terimakasih jauh-jauh mau pergi ke sekolah kami dan mengabdi dengan medan yang tidak


66 mudah, belum lagi kalau hujan.” Ujar kepala sekolah SDN 2 Ngadas. “ Kami yang berterimakasih pak karena sudah diterima untuk mengabdi di SDN 2 Ngadas, sekalian refresing pak.” Ujar rekan ku. “ Baik, silahkan melakukan pembelajaran saya serahkan sepenuhnya kepada kakak-kakak.” Jawab kepala sekolah. Lalu kami bergegas masuk ke kelas masing-masing untuk memulai pembelajaran, terdapat empat kelas yang sederhana dan dua kelas lainnya di beri pembatas untuk memisahkan antara ruang kelas II,III serta IV,V meskipun mereka harus berbagi kelas tidak menjadi masalah untuk mereka melaksanakan pembelajaran dengan baik dan ceria. Aku berkesempatan menjadi guru di kelas VI belajar bersama 8 adik manis yang memiliki beragam karakter. Pertama ada Rama anak yang sangat aktif dan cerdas, kedua ada Rio anak yang ceria, ketiga ada Budi anak pemalu, keempat ada Azzam anak pendiam, kelima ada Farhan anak yang lucu dan menghibur, keenam ada Farah anak yang tertutup dan cuek, ketuju ada Sabrina anak yang pendiam, dan yang kedelapan ada Kirana seorang siswa yang perlu bimbingan dalam mengeja setiap huruf tetapi mempunyai semangat tinggi untuk belajar.


67 Aku tidak sendiri, aku memiliki partner yang sangat hebat bernama citra dan juga LO yang sangat baik dalam membimbing aku dan citra namanya kak Watim. Citra memulai pembelajaran dengan menuliskan materi yang akan kita pelajari bersama di papan tulis dan aku bertugas memantau adik-adik untuk mencatat tulisan yang ada di papan tersebut, tidak lupa aku membantu mengejakan tulisan di papan tulis untuk memudahkan Kirana dalam menulis. Sesekali di saat kelas mulai tidak kondusif aku memberikan ice breaking supaya mereka kembali fokus. “ Kak apakah masih banyak yang harus di catat? Aku capek, tidak suka menulis.” Ujar Kirana. “ Tidak banyak kok, sedikit lagi selesai ayo semangat supaya kamu cepat lancar menulis.” Jawabku dengan lembut. Kirana pun melanjutkan mencatat sampai selesai, setelah mencatat maka aku akan menjelaskan materi yang akan kita pelajari lalu aku memberikan tugas ringan kepada mereka dan di lanjutkan pembelajaran yang di kemas dalam bentuk permainan agar adik-adik lebih semangat dalam memahami materi pembelajaran. Terkadang aku dan Citra sedikit kesulitan dalam menghendel kelas dan beberapa kali kak Watim membantu menenangkan adik-adik agar kelas kembali


68 kondusif, dalam hal ini aku belajar bersabar dan berupaya agar bisa mengelolah kelas dengan baik. Adik-adik di kelas VI sangat senang dengan pembelajaran yang berbentuk game kompetitif dimana setiap kelompok akan bersaing dan mendapatkan point di setiap mereka berhasil menjawab pertanyaan yang di berikan, lalu untuk kelompok yang mendapatkan point terendah akan mendapatkan hukuman yang telah di sepakati bersama. “ Total point kelompok 1 berjumlah 10, point kelompok 2 berjumlah 6, dan point kelompok 3 berjumlah 5. Jadi kira-kira kelompok 3 akan di berikan hukuman apa?.” Ujar ku kepada adik-adik. “ Bernyanyi kak, nyanyi balon ku ada lima di depan kelas.” Jawab adik-adik dengan kompak. Sesuai kesepakatan maka kelompok 3 bernyanyi di depan kelas dengan malu-malu, dan semuanya bergembira dalam mengikuti pembelajaran. Setelah itu hal yang dinantinati telah tiba, waktu telah menunjukan jam istirahat maka semua adik-adik akan bermain, makan dan melakukan aktivitas lainnya di luar kelas. Jam istirahatpun berakhir lalu kita melanjutkan membahas bersama terkait dengan materi pembelajaran yang telah di pelajari. Lonceng sekolah pun


69 berbunyi menandakan waktu kita telah habis dan mereka akan pulang ke rumah masing-masing, aku dan Citra mengakhiri kelas dan bersalaman dengan semua adik-adik, kami pun berpisah. Begitulah kurang lebih keseruanku bersama 8 adikadik manis selama kurun waktu 4 minggu disetiap hari Sabtu. Hal yang membuatku belajar arti dari kesederhanaan bisa membuat kita bahagia jika dilakukan dengan orang yang tepat dan belajar mengelolah emosi dengan kelembutan serta sabar menghadapi adik-adik, ini adalah pengalaman paling menyenangkan dalam hidupku bisa mengenal mereka dan bermain bersama. Sekolah dengan akses jalan yang sulit dan juga fasilitas sekolah yang bisa dikatakan belum cukup memadai tidak menghalangi langkah adik-adik untuk menuntut Ilmu dan menggapai cita-citanya, dari mereka aku juga belajar arti dari kata bersyukur. Hal yang paling membuatku sedih adalah ketika kita telah menyelesaikan tugas pengabdian dan berpisah dengan mereka tanpa tau kapan kita akan bertemu lagi. Pesanku tetaplah belajar untuk menggapai cita-cita kalian dan jika memang keadaan memaksa kalian untuk berhenti sekolah maka kalian jangan pernah berhenti untuk belajar, karena belajar bisa dimana saja tanpa mengenal usia. Terima


70 kasih atas pembelajaran dan memori indah yang sangat membekas. Bionarasi : Halo, perkenalkan nama aku Khoiruni Ni’maturrizqiah NIM. 210151601661. Aku biasa dipanggil Kiki mahasiswa semester 3 dari FIP,Departemen PGSD. Aku lahir di kota yang damai yaitu di Lumajang pada tanggal 8 September 2002. Aku merupakan anak semata wayang, ini pertamakalinya aku membuat cerpen semoga bisa dinikmati oleh pembacanya.


71 “ Arah Langkah Oleh : Citra Arifia Novi Ananta Syla meremas dan membuang sticky notes-nya dengan amarah yang meluap-luap. Ia sudah hilang kesabaran. Segala sesuatu tidak berjalan sesuai kehendaknya. Ia mengambil vas bunga yang terletak di jendela kamar nya, namun sebelum Syla berhasil melemparnya, Ari datang. “Syla!” teriak Ari dari pintu kamar itu dan berlari menuju Syla yang memegang vas tepat di atas kepalanya. “Kamu ngapain sih? Marah lagi? Sini!” Ucap Ari dengan merampas vas bunga tersebut dari tangan Syla. Syla menceritakan apa yang ia rasakan pada Ari, teman kelasnya di bangku kuliah. Ari yang mendengar masalah Syla, langsung mengajaknya untuk berjalan-jalan sejenak ke luar rumah. Sekedar menghirup udara segar dan menjernihkan pikiran. Tak lama kemudian, datang seorang anak kecil pada mereka.


72 “Halo kak, mau beli daganganku? Ini aku jualan donat satuannya cuma dua ribu kok” ucap anak kecil itu. “Aku beli sepuluh ya dek, ini kembaliannya ambil aja” Syla menyodorkan uangnya pada anak kecil tersebut dan mengusap kepalanya sembari berkata, “Semangat sekolahnya” Setelah anak kecil tersebut pergi meninggalkan mereka berdua, Ari langsung berkata, “Tau darimana kalau adik itu masih sekolah?” “Loh itu, dia pakai seragam sekolah. Nggak lihat ya kamu?” jawab Syla seraya menunjuk pada punggung anak kecil yang berjalan menjauhi mereka. “Eh Syl, aku baru inget. Kamu mau nggak ikut aku pengabdian? Kamu pasti bakal suka, karena banyak anak kecil di sana” “Nggak dulu deh, paling ya gitu-gitu aja. Membosankan.” Ucap Syla malas “Yeuuu, belum tau aja kamu. Ayo ikut dong, daripada di rumah terus pasti suntuk.” Syla tak mengindahkan perkataan Ari dan pergi begitu saja sambil memakan donat-donat yang telah ia beli barusan.


73 *** “Nama kamu udah aku daftarin untuk ikut pengabdian” ucap Ari sesaat sebelum mengambil kursi untuk duduk. “HAH?! Kok nggak ngasih tau aku dulu sih Ri? Kan aku udah bilang kalau..” belum sempat Syla melanjutkan pembicaraannya, Ari langsung menyela dan berkata, “Kalau kamu itu suka anak kecil, kamu itu nggak tegaan. Kalau ketemu mereka, amarah mu langsung reda. Ayolah Syl, aku tau ini satu langkah yang baik kok. Coba aja dulu.” Syla terdiam sejenak. Ternyata Ari memerhatikannya selama ini. Ia menatap Ari lama kemudian menganggukkan kepalanya, tanda ia setuju dengan penawaran tersebut. Ari yang melihat respon tersebut langsung tersenyum lebar dan menepuk punggung Syla tanda menyemangati. *** Syla mengikuti beberapa rangkaian seleksi untuk mengikuti pengabdian, diantaranya seleksi administrasi, FGD (Focus Grup Discussion), microteaching, dan terakhir wawancara. Ia melewati seleksi tersebut setelah 4 minggu lamanya. Hingga tiba lah waktu pengumuman melalui media sosial penyelenggara pengabdian tersebut.


74 “Syla!” Ari berteriak dan berlari ke Syla yang berada di parkiran fakultas sastra. “hati-hati Ri!” balas Syla berteriak pada Ari, melihat kondisi parkiran yang ramai mahasiswa keluar masuk dengan motornya. “Kam, kamu, hah…” ucap Ari sambil ngos-ngosan. “Kamu, oh enggak-enggak. Ki-kita, kita lolos pengabdian GEMAPEDIA Syla!” katanya sambil menepuk pundak Syla dengan semangat. “Oiya? Lalu sekarang apa?” jawab Syla biasa saja. “Ih dasar! Bersyukur dulu dong!” ucap Ari emosi. *** Kriiing…kriing…kringgg… “Hoaammmm…. Subuh yang cerah dengan adzan yang merdu” ucap Syla bangun dari tidurnya kemudian mengecek telepon genggamnya. Terlihat sebuha pesan masuk dari Ari yang menanyakan keadaannya, apakah sudah bangun atau belum. Ia tak membalas pesan pemuda itu, ia lebih memilih langsung ke kamar kecil untuk mandi dan menyegerakan solat subuh.


75 “RPP sudah, media pembelajaran sudah, alat tulis sudah, jas hujan juga sudah! Aku sudah siap!” ucap gadis itu semangat. Hari ini merupakan hari terakhir pengabdiannya di SDN 2 Ngadas. Sebuah sekolah dasar yang terletak di kaki gunung bromo, dijuluki sekolah di atas awan dengan suhu 19°C. bertemu dengan anak-anak dari desa yang berada di pegunungan itu membuat gadis tersebut semangat sekaligus semangat menjalani hari-harinya. Tinnn…tinnn.. Suara klakson motor berbunyi, tanda Ari sudah berada di depan kosnya. Mereka berdua pun berangkat bersama ke kampus untuk kumpul anggota sebelum ke sekolah pengabdian. Pukul 06.00 WIB, mereka beramai-ramai ke sekolah pengabdian. Jarak temouh dari kampus menuju SDN 2 Ngadas sekitar satu jam empat puluh lima menit. Melalui berbagai rintangan menuju sekolah pengabduan seperti jalan yang berkelok-kelok, jalan menanjak, curam, bahkan jalan yang terkena lumpur sisa longsor pun mereka lalui bersama. Demi mencerdaskan anak bangsa.


76 Sesampainya mereka di sekolah pengabdian, segera mereka mengatur peserta didik disana dan memulai proses belajar mengajar. Seperti yang dilakukan sejak pengabdian minggu pertama, proses belajar mengajar dimulai dengan menanyakan kabar peserta didik dilanjurkan dengan membaca doa sebelum belajar. Setelah itu, mereka memberi motivasi untuk membangkitkan semnagat peserta didik dalam belajar, silanjutkan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran. Selama proses pembelejaran berlangsung, Syla dan temantemannya tidak hanya memberi materi yang monoton. Mereka menyelipkan games, ice breaking, dan membuat media pembelajaran yang sangat dinanti oleh para peserta didik setiap minggunnya. Sampailah mereka pada akhir pembelajaran. Sebelum mengakhiri kelas, Syla dan partner mengajarnya menyampaikan bahwa hari ini merupakan hari terakhir mereka mengajar. Respon yang diberikan anak-anak pun ternyata di luar dugaan. Yang biasanya anak-anak sering memberontak saat proses belajar berlangsung, ingin segera menyudahi, selalu usil pada yang mengajari, kini dari raut muka mereka terlihat kecewa. Terlihat sedih yang mendalam dari wajah mereka, seakan tidak ingin menyudahi pertemuan ini dan tak ingin berpisah secepat ini.


77 “Kenapa sebentar sekali kak? Bolehkan kakak tinggal lebih lama lagi? Setidaknya sekali pertemuan lagi saja” pinta seorang gadis kecil yang paling semangat di kelas, Franda namanya. “Iya nih kak. Kok bentar banget? Padahal meskipun bandel, kami lebih senang diajarin kakak-kakak” sambung anak cowo yang sering menyeletuki Syla saat mengajar, Reza namanya. Meskipun agak bandel, anak laki-laki ini sangat cerdas dan mampu menangkap materi pembelajaran dengan cepat. Sebelum pertemuan benar-benar berakhir, Syla dan temannya membagikan kertas origami pada anak-anak, meminta mereka untuk menuliskan kesan dan pesan selama belajar bersama. Selagi menulis kesan dan pesan, Syla bergantian duduk dari bangku satu ke bangku yang lain sekedar untuk bertanya pada anak-anak mengenai arah lanjut sekolah mereka setelah lulus. Sampailah ia pada gadis terakhir yang duduk di ujung kelas, Sandra namanya. “Sandra, kamu seneng nggak belajar sama kakak-kakak di sini?” tanya Syla pada gadis kecil tersebut. “Seneng kak”jawab Sandra singkat sambil menulis di kertas origami kuning miliknya.


78 “Sandra mau lanjut ke mana setelah lulus nanti?” tanya Syla lagi. “Aku nggak lanjut kak. Orang tua ku tinggal ibu saja, ayah sudah nggak ada kak. Ibu Cuma bisa ngebiayain aku sampai SD aja. Setelah lulus, aku harus bantu ibu cari uang” jelasnya. Mendengar hal tersebut, Syla tak kuasa menahan sedih. Ingin menangis, namun masih ada anak-anak dihadapannya. Sebelum pulang, mereka pun memberikan kenang-kenangan untuk seluruh peserta didik. Di perjalanan pulang, Syla menangis sejadi-jadinya. Ternyata, pengabdian tak sekedar pengabdian yang mengajar lalu pulang, juga tak sekedar transfer ilmu pengetahuan. Ada banyak pelajaran yang Syla bisa ambil dari pengabdian ini. Belajar untuk banyak bersabar dengan tingkah laku anak-anak, belajar melatih kreativitas melalui media pembelajaran, belajar menguasai lawan bicara, dan yang paling ia petik dari pengabdian ini adalah belajar bersyukur. Hal yang sering ia keluhkan merupakan hal yang ingin dirasakan oleh orang lain. Mengenai susahnya belajar, namun di sisi lain ada orang yang ingin merasakan duduk di bangku sekolah dan melanjutkan studi hingga kuliah. Bisa jadi ia tak menyenangi suatu hal,


79 namun bagi orang lain itu merupakan suatu karunia yang ingin dirasakan. “Terima kasih pengabdian akbar” ucap Syla diperjalanan. Bionarasi : Citra Arifia Novi Ananta merupakan mahasiswa baru Universitas Negeri Malang. Ia lahir di Kediri pada 27 November 2003. Perempuan yang dibesarkan di pulau Kalimantan ini baru memulai kiprahnya dalam menulis ketika duduk di bangku kuliah setelah sebelumnya selalu berkiprah di organisasi pramuka. Esai dengan judul “MyCareer : Aplikasi Rekomendasi Program Studi berbasis Internet of Things guna Mencegah Salah Memilih Jurusan demi Mewujudkan SDG’s 2030” merupakan esai pertamanya dan nekat diikutkan lomba dan berhasil menjadi top 5 esai pios maba. Pribadinya yang selalu penasaran membuatnya selalu ingin mencoba banyak hal baru dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya.


80 “ Sang Pendidik Oleh : Anas Santika Kring-kring……. itulah bunyi jam beker yang selalu setia membangunkan seorang gadis yang sedang sibuk merajut mimpi dalam tidurnya. Seandainya bisa bicara pasti jam tersebut akan mengomel untuk memarahiku karena susah dibangunkan. Dalam rangkaian kata ini, akan kuceritakan mengenai kisah seorang gadis yang belajar untuk menjadi seorang pendidik. Perkenalkan aku adalah seorang mahasiswi yang sedang berproses menjalani kehidupan perkuliahan, disalah satu universitas negeri dengan jurusan dibidang pendidikan. Selayaknya mahasiswi pada umumnya aku menjalani kehidupan perkuliahan dengan tinggal di kost putri bersama teman seperkuliahan. “Dinda… apakah kamu ada dikamar?” suara teman satu kost yang sedang memanggil namaku. Adinda Rahmandya itulah namaku, teman-temanku biasa memanggilku dengan nama Dinda. “Iya aku dikamar, ada apa?” sahutku menjawab pertanyaan Ratih yang sedang mengetuk pintu kamarku. Ratih adalah teman satu kostku yang kerap berkunjung kekamarku dengan membawa berbagai


81 informasi, baik informasi tentang perkuliahan maupun dunia perkpopannya. Dalam ceritanya dia membahas mengenai suatu organisasi yang yang bernama GEMAPEDIA, sebuah organisasi yang bergerak dibidang pendidikan seperti singkatan namanya yaitu gerakan mahasiswa penduli pendidikan di Indonesia. “Apakah kamu tidak berminat untuk ikut dinda?” ujar Ratih mengajakku untuk mengikuti organisasi tersebut. Mendengar tawaran Ratih aku tidak begitu saja mengatakan kata “Iya”. Memerlukan waktu semalaman aku berfikir dan mempertimbangkan hal tersebut. Dalam dinginnya malam aku termenung dan bertanya pada diriku sendiri, apakah aku bisa mengikuti organisasi ini, apakah aku siap dan sanggup mengikuti organisasi ini?... Muncul banyak pertanyaan dalam benakku apakah aku bisa atau tidak mengikuti organisasi tersebut. Sebagai calon pendidik aku memutuskan untuk menantang diriku sendiri untuk menjadi pribadi yang keluar dari zona nyamannya. Mahasiswa kupu-kupu, mungkin sebutan itu cocok denganku yang tidak pernah aktif dalam organisasi apapun dan selalu pulang ketika jam perkuliahan berakhir. Dipagi hari yang cerah aku bersama Ratih berangkat menuju kampus dan mengisi formulir pendaftaraan untuk mengikuti organisasi tersebut. Membuat essay, tes wawancara,


82 dan banyak persyaratan lainnya yang harus kujalani untuk bisa masuk diorganisasi tersebut. selang 2 hari setelah pendaftaran, pengumuman penerimaanpun telah muncul, “Dinda…. Pengumuman GEMAPEDIA sudah muncul”ujar Ratih sambil berjalan menuju kamarku. Kami berdua membuka pengumuman secara perlahan, mata kami bertuju tajam pada daftar nama mahasiswa yang diterima. Adinda Rahmandya dan Ratih dwisaputri. Aku dan Ratih tersontak kaget dan berteriak secara bersamaan ketika nama kita berdua ada didaftar mahasiswa yang diterima. Namun yang disayangkan aku dan Ratih harus terpisah, kami berdua mendapatkan sekolah dasar yang berbeda. Walaupun sangat disayangkan aku dan Ratih tetap menjalani kegiatan yang ada diorganisasi tersebut dengan baik. Setelah melalui banyak persiapan tibalah waktunya aku datang ke Sekolah Dasar yang sesuai dengan kelompokku. Jarak yang ditempuhpun tidak dekat, butuh waktu yang cukup lama untuk tiba di sekolah tersebut, setibanya disana aku melihat senyum lebar dari anak-anak di sekolah tersebut, aku memasuki salah satu kelas bersama satu rekanku yang ditugaskan bersama didiriku, ia bernama Tifa. Aku mencoba memperkenalkan diri kepada mereka berdua, ya…mereka berdua adalah murid kelas 1 yang sedang menatapku dengan malu. Dalam hatiku sempat berkata kenapa murid disini sangat


83 sedikit, kenapa ada sekolah seperti ini, ruang kelas yang tergabung dengan kelas 1 dan 2 menjadi satu, dan berbagai fasilitas yang dipakai secara bergantian. Banyak pertanyaan yang muncul dalam pikiranku, ketika pertama kalinya aku melihat sekolah tersebut. “Nama saya Ayu” ujar seorang murid dengan wajah yang malu. “Kalo nama saya Siska bu” ujar murid yang cukup berani untuk menjabat tanganku dengan senyumnya yang lebar. Setelah melakukan perkenalan, kami berempat melakukan pembelajaran dikelas selayaknya guru dengan murid. Selama pembelajaran aku terpaku kepada Ayu yang diam dan tidak mau meresponku sama sekali. Berbeda dengan Siska yang mudah untuk diajak berinteraksi selama pembelajaran. Beberapa lama kemudian bel pulangpun berbunyi. Aku dan teman-teman lainnya bersiap pulang dan berpamitan kepada pihak sekolah. Setelah sesampainya di kost aku bercerita kepada Ratih mengenai murid yang diam dan tidak mau diajak bicara, kami saling bertukar cerita tentang pengalaman yang telah kami dapat, bertemu dengan murid seperti itu bagiku adalah hal yang baru dan untuk pertama kalinya aku juga merasa bingung dan bertanya-tanya apakah aku bisa melanjutkan untuk mengajar di sekolah tersebut. “Tenang ini masih hari pertama, kita masih


84 ada tiga hari lagi untuk berkenalan dengan mereka lebih dekat” kata Ratih yang mencoba memberiku semangat. Keesokan harinya aku kembali bertemu dengan Ayu, banyak cara yang aku lakukan agar dapat mencairkan suasana pembelajaran yang terkesan kaku antara aku dan Ayu, sesekali senda gurau kuselipkan selama pembelajaran berlangsung dan tidak kusangka Ayu mulai berani untuk berbicara dan bertanya ketika pembelajaran berlangsung. Hari-hari kujalani dan tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, tibalah hari ini, hari terakhir aku berkesempatan mengajar dan bertemu dengan Ayu, kami berdua melaksanakan pembelajaran seperti biasanya dan tidak terasa waktu pembelajaranpun berakhir, disitulah aku mendekati Ayu dan menyampaikan kalimat perpisahan untuk terakhir kalinya. “Ayu … seperti yang kakak katakan tadi, ini hari terakhir kakak disini, kakak minta maaf ya kalo ada kesalahan yang pernah kakak buat” ujarku menahan tangis dihadapan Ayu. Tangan mungilnya menjabat tanganku dan berkata “Iya kak, terima kasih udah mau datang kesekolahku nanti kalo ada waktu kakak main kesini ya” ujar Ayu dengan penuh harap. Mendengar Ayu berkata seperti itu aku hanya bisa menanggukkan kepala dan tersenyum membalas perkataan Ayu.


85 Setelah selesai berpamitan aku dan teman-temanpun pulang. Itulah kisahku seorang gadis yang belajar untuk menjadi seorang pendidik, dari sini aku belajar bahwa menjadi seorang pendidik bukanlah tentang hal memberi materi dan tugas semata, tapi yang terpenting adalah memberikan pendidikan yang berkesan dan bermakna bagi murid selama pembelajaran. Bionarasi : Nama Anas Santika, lahir di Kota Malang, tanggal 27 Juli 2003. Menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang, berasal dari Fakultas Ilmu Pendidikan, departemen KSDP, program studi S-1 PGSD dengan NIM 210151601742. Tempat tinggal, Jl. Ki Ageng Gribig No 22 Kedung Kandang, Malang, Jawa Timur. Penulis memiliki pengalaman dalam menulis cerpen sewaktu SMA sebagai projek akhir semester yang diberikan kepada pihak guru kemudian diserahkan kepada pihak perpustakaan di Sekolah.


86 “ Minim Siswa Bukan Penghalang Kebahagiaan Oleh : Nur Hatifah Aku adalah seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Negeri Malang, Jawa Timur. Sebagai seorang mahasiswi aku merasa memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan ilmu yang aku punya, hingga suatu saat aku dikenalkan oleh temanku sebuah Gerakan Pendidikan yang ada di Kampusku, GEMAPEDIA (Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan Indonesia). Awalnya aku juga ada sedikit keraguan untuk mengikuti Gerakan ini karena takut aktivitas perkuliahanku terganggu, namun ternyata setelah mengetahui lebih banyak tentang GEMAPEDIA, aku semakin yakin dan ingin sekali bergabung disini, sebab antara perkuliahan dan kegiatan di luar kampus itu hanyalah soal manajemen waktu yang baik, ketika kita bisa mengendalikan itu, maka kita akan bisa melakukannya beriringan tanpa ada satupun yang terabaikan. Kemudian akupun mendaftarkan diri untuk mengikuti Gerakan ini, ternyata ada banyak sekali mahasiswa yang mendaftar dengan latar prodi yang berbeda-beda dan harus


87 melalui beberapa proses tahapan seleksi agar keterima. Dalam waktu kurang lebih sebulan mengikuti alur pendaftaran, tibalah saat pengumuman dan namaku tertera disana, aku merasa senang dan tidak sabar untuk mengikuti kegiatan-kegiatan diGEMAPEDIA ini. Aku mengetahui bahwa akan ada banyak manfaat disini, seperti jargonnya yaitu “Bangga Mendidik, Mengabdi dan Menginspirasi Anak Bangsa”. Maka kegiatankegiatan kami diisi dengan beberapa pengabdian besar, yang pertama adalah pengabdian di Sekolah-sekolah pelosok yang membutuhkan perhatian lebih. Aku akan berbagi pengalamanku selama mengajar di sebuah Sekolah pada tulisan ini. Bersamaan dengan pengesahanku sebagai anggota dari GEMAPEDIA, di saat itu pula pemberitahuan penempatan sekolah pengabdian. Total ada empat sekolah tempat kami akan mengabdi. Aku mendapat sebuah sekolah di kabupaten Malang tepatnya di kecamatan Wajak, bernama SD Negeri 03 Dadapan. Lalu satu minggu menuju pengabdian aku bersama temantemanku tim SDN Dadapan melakukan survey lokasi. Kami menempuh perjalanan kurang lebih sejauh 26 km, mengengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang cenderung lambat sehingga memerlukan waktu kurang lebih satu jam setengah untuk sampai ke lokasi. Sesampainya di


88 sana, kami disambut hangat oleh Kepala Sekolah dan guruguru SD Negeri 03 Dadapan. Kami bersama kakak-kakak pembimbing menyampaikan maksud dan tujuan, lalu Bapak Kepala Sekolah memberikan feedback dengan informasi bahwa SD Negeri 03 Dadapan ini merupakan SD yang memiliki paling sedikit peserta didiknya di Kecamatan tersebut. Kemudian kami melanjutkan survey ke kelas-kelas disana. Aku bersama temanku, Anas mendapatkan tugas untuk mengajar di kelas 1, yang peserta didik hanya berjumlah 2 orang. Tibalah masa pengabdian dimulai, pada minggu pertama tentunya kami memulainya dengan perkenalan agar bisa lebih dekat dengan peserta didik, ketika sudah dekat maka peserta didik pun jadi lebih nyaman dan bersemangat untuk belajar. Saat itu hanya satu siswa yang hadir untuk kami ajari, sejujurnya aku memiliki perasaan sedih karena aku dan teman mengajarku telah membuat media pembelajaran yang sangat bagus untuk digunakan, namun tentu kami tetap bersemangat untuk mengajar. Peserta didiknya bernama Ayu, anaknya sangat pemalu dan cenderung tidak aktif di dalam kelas sehingga pada minggu pertama ini aku masih mengalami kesulitan untuk membuatnya nyaman, berani berbicara dan semangat belajarnya, untungnya dia tetap mengikuti intruksi


89 dalam pembelajaran dengan baik, kami menggunakan papan huruf dengan materi binatang yang berawal huruf l, lalu hurufhuruf disusunnya secara teratur dan ternyata ada juga beberapa binatang yang baru diketahuinya saat itu, jadi kami mengenalkannya, sehingga materi pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik. Tak lupa diakhir pembelajaran aku berpesan kepadanya agar mengajak temannya untuk ikut pembelajaran minggu selanjutnya agar dia tidak sendirian. Lalu pada minggu pengabdian kedua, saat itu cuaca sedang hujan dengan instensitas yang lumayan tinggi, sehingga perjalanan kami ke Kabupaten sedikit terhambat dan lebih lama dari biasanya. Sesampainya di Sekolah, ternyata kedatangan kami sangat dinanti-nantikan oleh peserta didik, ada rasa bahagia, senang dan bersemangat untuk mengajar. Dengan kedatangan yang terlambat ini tentunya waktu pembelajaran jadi lebih singkat dari biasanya. Saat itu pun hanya satu peserta didik yang hadir dengan orang yang berbeda, namanya Rotul, dia anak yang periang, mudah tersenyum dan tertawa. Aku mulai membiasakan diri untuk mengajar peserta didik dengan jumlah yang sedikit ini. Saat itu kami kembali mengenalkan diri terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran dengan media roda putar yang membuat Rotul senang untuk belajar, dia menyukai media pembelajarannya, saat menjawab


90 pertanyaan pun dia sangat bersemangat. Setelah mengajar, seperti biasa kami melakukan evaluasi dan makan bersama, saat perjalanan pulangpun kami terhambat karena adanya akses jalan yang ditutup, kami harus melewati jalan pintas yang kondisinya jalanan berlumpur dan becek. Kali ini perjuangan dalam pengabdian sungguh sangat terasa sekali. Pada minggu ketiga, peserta didik yang kami ajar, hadir semua dengan jumlah dua orang, aku senang karna akhirnya bisa mengajar keduanya bersamaan. Saat melakukan pembelajaran di minggu ketiga ini, kondisinya kami sudah berhasil membuat peserta didik merasa nyaman, pembelajaran berjalan dengan lancar, dan mereka bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, lalu dilanjutkan dengan dolanan bareng yang saat itu kami memilih bermain sambil belajar “Tebak aku!” dengan tema binatang, selain itu juga kami bermain kotak pos dan saling mengejar satu sama lain, mereka terlihat sangat senang sekali, akupun terharu dan ikut bahagia menyaksikan ekspresi peserta didikku saat itu. Saat minggu keempat yang merupakan minggu terakhir masa pengabdian, aku bersama teman mengajarku melakukan review ulang terlebih dahulu dan ternyata apa yang kami ajarkan sebelumnya masih diingat, merekapun hafal dengan lagu pembelajaran. Aku sangat senang sekali, seketika rasa


91 cape saat perjalanan tempuh yang jauh itu hilang berganti dengan rasa kebahagiaan. Aku bersyukur bisa bergabung GEMAPEDIA dan merasakan pengalaman-pengalaman seru seperti ini. Bionarasi : Namaku Nur Hatifah, akrabnya dipanggil Tifah, lahir pada tanggal 13 September 2001 di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Saat ini saya merupakan mahasiswi prodi Pendidikan Bahasa Arab dengan NIM 200231609253, Fakultas Sastra di Universitas Negeri Malang. Pengalamanku dalam menulis cerpen sangat minim sekali, aku menulis cerpen hanya ketika ada tugas dari guru saat masa bersekolah, aku termasuk orang yang sulit mengekspresikan diri melalui tulisan, jadi aku memohon maaf atas kekurangan yang ada pada tulisanku, kamu bisa memberikan pesan, kritik, saran atau diskusi dengan mengunjungi email ku di [email protected]. Terima kasih


92 “ Sang Laskar Oleh : Silvi Yuniawardhani Cerita ini terinspirasi oleh pengalaman pribadi saat mengikuti kegiatan pengabdian yang diadakan oleh GEMAPEDIA di SD Dadapan 3 Wajak, Malang. Pagi buta aku terbangun dengan menyibak selimutku, aku terduduk terdiam melihat teman sekamarku masih tertidur lelap dikasurnya. Aku bangkit dari kasur dan selimut yang hangat dan menuju kamar mandi dengan hawa yang dingin menusuk ke tulang. Hari Sabtu ini dan 3 Sabtu yang akan datang akan menjadi hari yang paling sibuk di 1 bulan ini karena setalah mendapat kabar bahwa aku diterima di organisasi kampusku yang merupakan Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan Indonesia. Aku awalnya ragu untuk mengikuti organisasi ini dan tak yakin aku akan menjadi salah satu dari bagian dari mereka. Namun ternyata aku diterima melalui proses yang sangat panjang dengan melawan lebih dari 100 orang pendaftar.


93 Tepat adzan subuh berkumandang aku telah berganti baju dan menyegerakan sholat subuh, “semoga hari ini akan lancar dan membahagiakan” doa ku lirih, setelahnya aku mulai bersiap dengan merebus air di ceret yang dicolok di listrik entah apa namanya aku lupa. Menunggu air mendidih kuputuskan membangunkan temanku untuk menyegerakan sholat shubuh. Hari ini aku memutuskan untuk makan mie instan yang hanya diberi air panas karena aku pengidap magh akut aku harus mengisi perutku karena ini hari pertamaku tidak mungkin kan kalo akan kacau karena maghku kambuh. Lalu terdengan bunyi Ceret listrik “cetak” menandakan air sudah matang. Tepat pukul 4.45 dini hari aku telah siap dengan segala keperluan dan syarat yang harus aku bawa tak lupa obat mghku dan body lotion yang tak pernah aku lupa sudah masuk di tas ransel coklat kado dari sahabatku yang diberikan 2 bulan setalah ulang tahunku. benda pipih berbunyi menunjukkan notifikasi panggilan dari kawan kelasku yang tempat kosnya tak jauh dari asrama tempatku berada saat ini. “yuni kita udah kumpul nih kamu kapan kesini” tepat aku mengangkat panggilan halis langsung memarahiku karena kita memang ingin beranngkat pukul 5 tepat tapi sekarang pukul 4.55 yah dan aku terlambat karena masih membutuhkan 5 menit untuk


94 menuju ke lokasi teman-temanku. Dengan terburu-buru aku langsung berangkat dan bertemu mereka kau terlambat 2 menit. Setelah kedatanganku, kami langsung pergi menuju lokasi titik kumpul, hal pertama yang aku lihat adalah indahnya matahari yang malu-malu terbit menyebabkan semburan indah cahaya di atas monumen logo kampus wah indah sekali. Tak lama kedatangan kami para kakak-kakak senior memanggil kami untuk berkumpul sesama SD ya kami memang dibagi menjadi 4 SD aku terpisah dengan teman-temanku dan itu bukan masalah besar malah justru aku sangat senang karena aku akan merasa tertantang bagaimana jadinya di okasi baru dengan teman-teman seperjuangan baru yang mungkin belum aku kenal membayangkan saja aku sangat berdetak. setalah berkumpul kami mulai diabsen dan kami berdoa lalu mengumandangan jargon organisasi kami. Kebrangkatan dimulai tepat pukul 6 pagi tepat. Sesampainya disana kami disambut meriah oleh adikadik SD Harapan Bangsa 3 aku sangat antusias dan berdebar “bisa tidak ya aku mengajari mereka ?” batinku dengan cemas saat melihat anak-anak mulai berkumpul menuju tengah lapang untuk upacara pembukaan. Nayla teman yang akan mengajar dikelas yang sama denganku memegang pundakku “ gk usah


95 panik kan kita berdua kamu gk sendiri “ tutur nayla yang membuatku mulai tenang, dia tau sekali klo aku panik. Setelah upacara pembukaan selesai kami para laskar atau sebuah julukan untuk orang yang baru bergabung di organisasi ini memasuki kelas masing-masing. Aku, nayla, arin, izza memasuki 1 ruangan sama karena kelas 1 dan kelas digabung menjadi 1 ruangan. Hal pertama yang aku lihat dari ruangan ini yaitu polos. Tidak seperti pada kelas -kelas yang aku temui ketika observasi yang dimana kelas rendah sangat rai dengan gambar-gambar dan juga penuh dengan buku-buku dipojok baca kelas ini bahkan hanya memiliki 1 meja dengan 2 kursi di pojok kiri untuk kela 1 dan 5 meja dengan 10 kursi di sebelah kanan untuk anak kelas 2. aku menetralkan detak jantungku dan mulai menyapa mereka dengan salam dilanjut berdoa setelah itu aku dan nayla mulai membagikan kalung nametag kepada setiap siswa kelas 2 yang hanya berjumlah 6 orang. “ adik-adik kalin tulis nama kalian masing-masing ya nanti kalian boleh mengambar nametag itu okeey” tuturku kepada mereka yang hanya dibales kesunyian, yatuhan aku gugup. Setelah itu kami mulai melakukan kegiatan sesuai RPP yang telah kami buat jauh hari sebelum kami pergi


96 pengambdian. Ditengah pembelajran ketika siswa menulis dipapan yang dibimbing oleh diriku dengan perasaan campur aduk aku kaget bagaimana anak kelas 2 tidak tau huruf “R” dan bahkan mereka tidak bisa membedakan huruf besar dan kecil. Aku mulai berfikir tujuanku ikut organisasi ini sangat tepat aku benar-benar merasa menjadi manusia yang bermanfaat, yatuhan selama 20 tahun aku hidup kali ini aku bangga pada diriku sendiri. Setelah kegiatan hari pertama selesai aku dan kawankawanku pergi menuju tempat makan. Percayalah aku sangat lapar padahal tadi aku sudah makan mie instan sebelum berangkat. Sambil menunggu pesanan kami datang aku meminum obat promagh karena aku sudah mulai merasa sedikit nyeri di ulu hati seperti aku terlalu gugup sampai maghku kambuh. “ yuni kita belum mengisi lembar evaluasi” teriak nayla dan aku segera menuju ke tempat nayla berada kami mengisi lembar evaluasi tak berlangsung lama setelahnya pesanan kami dantang aku dan nayla segera menyelesaikan lembar evaluasi dan bergegas menuju meja kami untuk makan. Setelah makan kami mulai melakukan evaluasi untuk mengajar hari ini dan mengatakan apa saja yang telah terjadi dan nantinya fiona sebagai lo dari kelasku memberi saran dan masukan


97 mengenai evaluasi pengabdian hari ini setelah itu kami pulang kerumah masing-masing. Pengabdian bukan hal yang mudah meskipun kami hanya mengajar di SD banyak tantangan yang harus dilewati seperti pagi ini sekitar jam 4.30 hujan masih awet sekali, aku yang sudah siap dengan seragam PDH yang kukenakan duduk lesu melihat media pembelajaran yang susah payah aku buat untuk pengabdian hari ke2 namun kalo hujan bisa rusak mediaku. Tak berselang lama tiba-tiba ada chat dari grub organisasi bahwa jam kumpul diundur menjadi 6.30 yang artiya pasti kita akan terlambat datang ke sekola. Akhirnya aku dan tema-temaku berangkat pukul 6 tepat karena kami membutuhkan waktu yang lumayan menuju titik lokasi berkumpul. Sesampainya disana masih dengan menggunakan jas hujan aku kaget ternyata semua orang juga sama menggunakan jas hujan dan bahkan meski pun sudah berteduh mereka tetap menggunakan jas hujan aku sungguh ingin tertawa melihat mereka oh bukan maksudku kita yang megggukanakan jashujan rame-rame mengrubungi halte. Lalu kita melakukan pra keberangkatan seperti biasanya dan benar tebakanku kita sampai di SD dengan menggunakan mantel yang tidak terlepas sedari awal pukul 8 lebih dan kami memutuskan untk langsung memasuki kelas masing-masing.


98 Sesampainya disana pembelajaran dilakukan secara normal namun tiba-tiba 2 anak laki-laki yang ada dikelasku yang bernama ferdi dan kena mendadak bosan dan ngambek mereka malah berlari dan tidak mau mengikuti pembelajarn aku dan nayla bingung karena hari pertama mereka baik-baik saja kenapa hari kedua mereka seperti ini. Aku berusaha merayu mereka dengan mengajak mereka bermain yang lalu aku sisipkan dengan pembelajaran dan awalnya mereka mau namun entah kurangnya kita memberi mereka ice breaking mereka kumat lagi tidak mau belajar dan dan malah keluar. Aku berusaha merayu dan membimbing mereka agara mau kembali kedalam kelas namun mereka mengatakan “TIDAK MAU” aku sempet syok dan kaget akhirnya aku rayu dengan “ bagaimana kalo kita mai ular naga lagi ?” dan mereka dengan enaknya bilang “ TIDAK MAU” aku sedikit kesal karena media yang aku buat sama sekali tidak mereka pakai aku melihat 2 siswa yang lain sudah bosan dan tidak semangat aku terlalu fokus dengan 2 nak laki-laki itu hingga melupakan nayla yang masih mengontro 2 siswa perempuan. Dengan susah payah aku sudah berusaha mengajak mereka untuk belajar namun tetap tidak ada yang bisa diharapkan karena mereka tetap kukuh tidak mau belajar. Hingga pada saat pulang pun mereka tidak mau bersalaman dengan ku dan nayla juga Fiona pun mereka juga tidak mau berpamitan. Setelah kepulangan


99 mereka aku membereskan bekas kegiatan pembekajaran yang gagal tadi dan keluar kelas aku sangat sedih karena RPP dan media yang kami buat susah payah sia-sia dan tidak terpakai aku yang mentalnya lemah menangis “aku kuliah PGSD tapi aku gk bisa but mereka belajar” tuturku pada nayla dan dia lagi dan lagi menyemangatiku aku yang sudah lemah mulai menjalankan motorku menuju tempat makan yang akan menjadi tempat untuk evaluasi kegiatan hari ini. Pada minggu ketiganya aku mendapat kabar bahwa nayla tidak dapat hadir di pertemuan ke 3 aku sangat takut jika aku lagi-lagi tidak dapat mengendalikan mereka dan agenda hari ini selain belajar adalah dolanan bareng. Untuk mempersiapkan diri aku mencara referensi icebreaking dan permainan tradisional yang cocok untuk anak kelas 2 yang ku ajar karena mereka tipikal siswa yang mudah bosan jika hanya menggunakan 1 metode untuk belajar akhirnya aku telah menemukan 7 permainan yang aku yakin akan bisa dimanfaatkan. Sesampainya di SD aku melihat ferdi sudah ngembek dan dia ternyata sedang bertengkar dengan kena. “ mampus” dalam hati aku mengeluh dan menertawai diriku sendiri aku tetap berusaha biasa saja padahal aku kepikiran setengah mati jika mereka berdua marahan bisa jadi kelasku tidak kondusif


Click to View FlipBook Version