150 Tibalah minggu ke tiga Pengabdian Akbar 2 kali ini. Minggu kali ini serasa sedih karena sudah mendekati minggu terakhir. Minggu ketiga kali ini terasa mereka sangat dekat denganku. Sampai-sampai belum masuk kelas pun mereka sudah menyuruhku untuk segera masuk. Bertepatan dengan pelaksanaan hari guru pada minggu itu, aku membantu mereka merancang hadiah untuk wali kelas mereka. Kondisi pada minggu ketiga kali ini sedikit kondusif daripada minggu lalu. Mereka mulai akrab denganku dan juga teman-teman lainnya yang ikut mendampingi. Mereka bilang bahwa jangan pergi tetap mengajar di sini, hal itu membuatku sedih sekali waktu itu karena minggu terakhir akan segera tiba. Tapi, aku meyakinkan mereka meskipun kakak-kakak lainnya sudah tidak mengajar lagi mereka harus tetap semangat dan berperilaku baik. Minggu terakhir pun tiba, rasanya sangat bersemangat dan juga sedih. Perasan yang campur aduk tidak sabar segera bertemu dengan mereka. Hebat satu kata untuk mereka. Sampai minggu ke empat mereka selalu menemaniku, mengajariku, membagi waktu, dan tenaga mereka untuk bertemu kembali di pertemuan terakhir ini. Pertemuan ini paling berkesan dalam pengabdian ini. Begitu sedih rasanya sampai perpisahan tiba di lapangan. Semua berkumpul mulai dari kelas 1 dan kelas 6
151 karena ingin menyampaikan pesan, kesan, dan juga hadiah. Tak di sangka-sangka ternyata adek-adek dan juga sekolah menyiapkan hadiah perpisahan untuk kita semua. Tak terbendung air mata ini rasanya, melihat mereka dan juga guruguru di sana yang menerima kita dengan baik. Akhir, sesi fotofoto pun masih terasa sedihnya. Ternyata Dina menangis tersendu-sendu sampai tak bisa berkata-kata, begitu pun dengan Zeny yang menangis tak rela kami semua pergi, dan Mario yang terlihat biasa saja tetapi memasang raut muka masamnya. Hahaha sedih dan lucu juga kalau di bayangkan lagi, tapi berkat mereka aku sadar bahwa hanya bertemu selama empat kali tidak menyurutkan ikatan dan kedekatan antara kita. Senang bisa bertemu dengan mereka semua dan banyak kenangan yang tak terlupa. Bionarasi : Nama : Radhiyyah Nida Zhafirah NIM : 210151601909 Fakultas : FIP Departemen : KSDP Prodi : PGSD Tempat, tanggal lahir : Malang, 29 Mei 2002
152 Alamat : Perum Istana Kanjuruhan No.14 Gondanglegi Narahubung : [email protected] “Mungkin empat pertemuan itu memang singkat tapi bagiku itu adalah hal yang berkesan dalam hidupku. Cerita ini bermula saat aku pertama kali ikut kegiatan pengabdian yang selalu dilakukan untuk anak yang baru gabung mengikuti GEMAPEDIA. Aku akan bercerita sedikit tentang pengalamanku selama mengabdi di salah satu sekolah dasar di SDN 3 Pajaran. Hal yang membuatku belajar banyak hal dan menambah pengalaman yang sangat menyenangkan”.
153 “ Abdiaksa Renjana Oleh : Ana Karismallah Nur Fadilah Lelah.. mungkin itu yang aku rasakan hingga aku terlelap dalam tidurku. Gaya gravitasi kasur terlalu besar sehingga tidak mampu membangkitkanku dari kasur ternyaman ini. Hingga cahaya sang mentari mulai menusuk kamarku, kucoba tuk bangunkan tubuhku ini. Aku langsung bergegas mandi dan pergi ke kampus untuk bertemu temanteman karena hari ini adalah hari Sabtu, hari dimana aku biasa melakukan kegiatan pengabdian. Pasti kalian bertanya memangnya pengabdian seperti apa yang aku lakukan? Hmm baiklah akan aku ceritakan sedikit tentang pengalaman berharga ini. Hai semuanya, aku Karamel Elsherana. Temantemanku biasa memanggilku dengan sebutan Kara, namun orang terdekat seperti orang tua dan sahabatku lebih sering memanggilku Rana. Kalian bisa memanggilku dengan apa saja. Aku adalah mahasiswi di salah satu Universitas ternama di Indonesia. Walaupun aku masih menempuh semester tiga, tapi aku berusaha menyibukkan diri dengan mengikuti organisasi
154 yang berhubungan dengan pendidikan. Mengapa pendidikan? Karena aku ingin menjadi seorang pendidik yang jasa-jasa berharganya tidak akan pernah lekang oleh waktu. Sedikit kuceritakan, organisasi yang aku ikuti bernama GEMAPEDIA. GEMAPEDIA adalah singkatan dari Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan. Organisasi ini bisa diikuti oleh seluruh mahasiswa di kampusku tanpa mengenal dia berasal dari fakultas pendidikan atau tidak. Dengan mengikuti organisasi ini aku harus mengikuti serangkaian kegiatan Pengabdian Akbar, Pengabdian Akbar ini dilakukan di salah satu sekolah yang mungkin bisa dikatakan sebagai sekolah yang memerlukan perhatian khusus untuk kualitas Sumber Daya Manusianya. Yapp seperti yang sudah aku katakan di awal bahwa di hari Sabtu ini aku akan melaksanakan pengabdian. Pengabdian di hari Sabtu ini adalah pengabdian terakhir dari program kerja organisasiku. Jadi aku ingin memberikan yang terbaik di hari ini. Aku dan teman-teman sampai di sekolah sedikit terlambat karena hari ini hujan deras. Sepanjang jalanan yang licin kita semua hanya bisa berdoa agar diberi keselamatan hingga sampai tujuan. Semua kelelahan kita seakan-akan terbayar ketika sampai di gerbang sekolah. Anak-anak yang semula bermain-main di lapangan tiba-tiba bergegas menghampiri aku
155 dan teman-teman hanya untuk salim atau berjabat tangan. Mereka benar-benar anak yang luar biasa, perlakuan kecil yang mereka perbuat selalu bisa menghanyutkan perasaanku. Sekolah tempat pengabdianku ini hanya memiliki total tiga puluh lima siswa dan lima guru, jumlah yang bisa dibilang kecil daripada sekolah lainnya. Setiap kelas memiliki jumlah siswa yang berbeda-beda, dan aku kebetulan di tempatkan untuk mengajar di kelas 4 dengan jumlah siswa 8 anak. Namun, aku tidak sendirian, setiap kelas ada dua pengajar di dalamnya. Aku dipasangkan dengan rekanku yang bernama Lia. Minggu pertama pengabdian bisa dibilang sebagai penyesuaian bagi Aku dan Lia terhadap anak-anak yang bisa dibilang sangat aktif. Mereka benar-benar tidak bisa dinasehati secara lisan ataupun teguran. Mereka juga sering berkata kotor dan tidak menghiraukanku dan Lia ketika kami menjelaskan. Mungkin itu memang sudah bawaan dari lingkungan sekitar mereka. Aku dan Lia tentunya hanya bisa meminimalisir anak-anak untuk tidak berbuat yang kurang sopan, karena kami tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kebiasaan buruk mereka. Seperti yang sudah aku katakan bahwa di kelasku terdapat delapan anak yaitu enam laki-laki dan dua perempuan, mereka bernama Slamet, Alfi, Ahmad, Angga, Fajar, Dian, Fika, dan Sila. Anak-anak ini tentunya memiliki karakter yang
156 berbeda-beda satu sama lain, namun ada juga kesamaan yang mereka miliki yaitu mereka sama-sama aktif ketika di kelas. Sehingga terkadang Aku dan Lia agak kewalahan dalam menghadapi mereka. Slamet adalah pentolan kelas, dia benarbenar ditakuti oleh teman-temannya, dia juga suka menyuruh teman-temannya untuk melakukan apa saja yang dikatakannya. Sedangkan teman sebangkunya yaitu Alfi, dia anak yang mudah bosan dan suka membuat kegaduhan di kelas sehingga menyulut perhatian teman-temannya untuk ikut ramai juga di kelas. Ahmad dan Angga adalah anak yang dibilang lebih memiliki perilaku yang sedikit baik daripada yang lain, mereka berdua aktif tapi masih bisa diberi tahu. Sedangkan Fajar dan Dian adalah anak yang lumayan pendiam, Dian sendiri sering tidak masuk sekolah. Kata si Slamet, Dian memang sering tidak masuk karena malas. Fika dan Sila adalah murid perempuan yang juga aktif dan terkadang suka membuat Aku dan Lia kewalahan juga dalam menghadapinya. Di hari Sabtu pada minggu pertama dan kedua Aku dan Lia mengajar, mereka sangat aktif dan kadang tidak mau mendengarkan apa kataku dan Lia. Mereka asyik dengan dunia mereka sendiri seolah-olah tidak menganggap keberadaanku dan Lia. Tetapi, untungnya di setiap pembelajaran, Aku dan Lia sudah menyiapkan media pembelajaran yang menarik sehingga
157 perhatian mereka bisa terpusatkan kembali. Media pembelajarannya berbentuk papan yang indah dan memiliki banyak kuis yang dapat mereka jawab, bagi yang benar akan diberikan hadiah. Hal ini tentunya membuat mereka bersemangat dan bisa memperhatikan Aku dan Lia. Pada minggu ketiga, mereka sudah lumayan penurut dan lebih pendiam daripada biasanya. Mereka juga sudah pintar-pintar dan semangat jika disuruh berlomba-lomba menjawab kuis di media pembelajaran. Mungkin karena Aku dan Lia mengatakan bahwa waktu kita di sini kurang seminggu lagi, tepatnya pada hari ini. Kegiatan hari ini dibuka dengan upacara dan senam kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran di kelas. Karena ini minggu terakhir, Aku dan Lia beserta semua rekan GEMAPEDIA yang mengajar di kelas satu sampai enam, sudah mempersiapkan kenang-kenangan untuk para siswa dan guru di sekolah ini. Pembelajaran di kelas terasa begitu menyenangkan, aku juga merasa bahwa media pembelajaran yang aku buat di minggu terakhir ini adalah media terbaik dari pertemuan awal hingga sekarang. Medianya bernama Monopoli Pintar, anakanak terlihat begitu senang dan bersemangat. Namun sayang ada satu anak yang tidak masuk yaitu Ahmad, dia sedang sakit ujar si Slamet. Puncak acara pada pengabdian ini pun akhirnya
158 tiba, Aku dan rekan-rekan GEMAPEDIA bersama siswa dan murid melaksanakan acara upacara penutup dan pemberian kenang-kenangan. Acaranya berjalan penuh dengan haru dan tangisan. Pihak sekolah dan siswa benar-benar menganggap kami seperti keluarga. Banyak pelajaran yang bisa kami petik dari kegiatan pengabdian ini. Sebagai seorang calon pengajar, tentunya kegiatan ini memberikan pengalaman berharga di hidupku yang kelak juga akan menjadi motivasiku untuk mengajar anak-anak hebat di luar sana. Sekian sedikit kisah yang bisa aku bagikan kepada kalian, semoga kisah ini dapat memotivasi pembaca. Bionarasi : Hai namaku Ana Karismallah Nur Fadilah, dengan NIM 210151601659 dari FIP dan Prodi PGSD. Aku lahir di Sidoarjo, 30 Agustus 2003, namun sekarang aku menetap di Sawojajar, Kota Malang. Berikut adalah narahubungku [email protected]. Kesanku saat menulis cerita ini aku menjadi bangga dan terharu karena telah melakukan serta menyelesaikan pengabdian di SDN 03 Pajaran. Aku juga bangga menjadi bagian dari GEMAPEDIA.
159 “ Segelintir Upaya Meraih Asa Oleh : Aprilia Devina Anantya Penantian minggu di mana pertama kali menjadi relawan itu tiba. Beraksi nyata dalam bidang pendidikan, mencoba menggali ilmu dan asa yang belum pernah ada dalam diri ini. Awalnya, saya menganggap bahwa mengajar ini hanya suatu perkara kecil dan mampu diatasi banyak orang. Namun ternyata, mengajar bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan, jika kita merasa bimbang dalam memberi ilmu kepada anak anak. Percaya diri, konsisten, dan kerjasama adalah kunci utama dalam pengabdian ini. Ya, ini adalah cerita singkat seputar pengabdianku selama di salah satu sekolah terpencil yang lumayan jauh dari perkotaan. Sekolah Dasar Negeri Pajaran 3 ini mempunyai cerita singkat yang penuh dengan kenangan, kebahagiaan, dan terakhir adalah kesedihan. Di mulai dari minggu pertama, berangkat di pagi hari bersama dengan kawan yang tak setingkat bahkan kebanyakan kakak tingkat. Berangkat disambut dengan cahaya matahari yang bersinar memberi pantulan. Terlihat senyuman indah dan manis yang dirasakan oleh kawan kawan saya, mereka tidak
160 sabar menjumpai anak-anaknya. Sepanjang jalan, dialihkan dengan pemandangan yang tak kalah menarik. Tampak sebelah kanan dan kiri yang sudah memasuki pedesaan. Tak terasa, setelah melihat pemandangan yang sudah terasa asing di kota, kami sampai pada tempat pengabdian. Minggu pertama ini sudah disuguhkan dengan anak anak yang lucu, kecil , imut tapi punya tata krama. Mereka bergegas menyambut kami, dan meminta berjabat tangan dengan kami tanpa diutus oleh gurunya. Sungguh indah ya perjalanan kami hari ini. Tak hanya berhenti di situ saja, kami langsung bergegas mempersiapkan upacara pembukaan. Melihat anakanak yang masih dirapikan barisannya, serta didampingi dengan bapak ibu guru yang ada di sekolah. Cukup menarik dari sekolah ini, sekolah dengan bangunan sederhana dan jumlah murid keseluruhan yang hanya 35 siswa dan siswi. Ternyata, dari sinilah sadar sadar bahwa pendidikan di desa bahkan banyak perbedaan dengan pendidikan di pusat kota. Entah dari segi bangunan, jumlah guru, jumlah murid, dan fasilitas yang ada di sekolah ini. Tak terasa setelah rangkaian upacara, hari sudah siang. Bel sengaja dibunyikan oleh ibu guru untuk anak anak agar beranjak masuk ke kelas masing masing. Saya dan rekanku mengikuti jejak anak anak masuk ke ruangan kelas empat. Kebetulan kami mengajar di kelas empat dengan menggunakan kurikulum terbaru, yaitu kurikulum
161 merdeka. Ketika masuk kelas, terlihat anak-anak sudah duduk dibangku kayunya masing-masing. Muridku hanya berjumlah delapan, dengan dua perempuan dan enam laki-laki. Rangkaian demi rangkaian yang telah aku jalani bersama rekanku mulai dari pembukaan, menyanyi, belajar sambil bermain, dan membuat karya cerita tentang materi yang kita pelajari pada minggu itu. Kami berusaha supaya anak-anak tidak merasa bosan, melakukan apresiasi berupa tepuk tangan, ice breaking bersama, hingga tebak-tebakan. Karena di sana tidak ada LCD, kami menggunakan media pembelajaran supaya anak anak kelas empat merasa tertarik dengan materi yang disampaikan. Kami berusaha untuk tetap bisa sabar karena anak anak di kelas yang sangat hiperaktif. Tidak mudah untuk dibayangkan, tapi ternyata seiring berjalannya waktu juga mudah untuk dijalani. Oiya, kami juga sebelumnya mendapat pesan dari salah satu ibu guru yang ada di sekolah ini. Beliau berkata, “Kami segenap guru mungkin tidak terlalu capek dengan aktivitas yang dilakukan di sekolah ini, tapi kami lebih fokus terhadap perilaku mereka untuk bisa dinasehati. Ya, meskipun juga anaknya sekali diberitahu tetap besoknya diulangi lagi, yang terpenting kita sudah melakukan pendidikan informal kepada anak anak. Mungkin di rumah yang kurang perhatian dengan orang tuanya, dengan penggunaan bahasa yang jauh sekali jika dibandingkan dengan sekolah kota. Kami tidak bisa merubah
162 sikapnya anak-anak, tapi kita berusaha untuk bisa meredam sikap dari anak-anak”. Kemudian, lanjut pada pengalaman pengabdian minggu kedua. Kali ini saya tidak berkesempatan mengajar karena satu dan lain hal. Sedih rasanya ketika baru saja minggu kemarin mengikuti, minggu kedua berhalangan hadir. Minggu kedua ini kawan-kawan berangkat disambut dengan hujan deras. Hujan yang mulai dini hari sampai siang tak berhenti turun. Tapi, saya salut dengan kawan kawan, hujan tetap akan diterjang demi bisa bertemu dengan anak-anak lagi. Ini adalah segelintir perjuangan kecil yang dilakukan oleh kami. Lanjut bercerita di minggu ketiga, kami selalu berangkat bersama di pagi hari. Sampai di tempat tujuan, kami tetap disuguhkan dengan anak-anak yang meminta berjabat tangan. Hari ini, kami mempersiapkan untuk senam bersama. Ini adalah kegiatan satu sekolah yang sangat menarik. Melihat anak-anak yang ikut tertawa, senyum malu dengan kami ketika mengikuti senam. Kegiatan kali ini mungkin sedikit berbeda dengan dua minggu yang lalu. Kami diutus untuk mengajak anak-anak bermain bersama satu kelas. Saya dan rekan saya membuat ide untuk mengutus anak-anak bermain bersama dengan melingkar di bawah. Bola diarahkan bergiliran memutar diiringi dengan menyanyi bersama. Kami juga
163 mengikuti permainan ini loh!. Sangat asyik bukan bisa akrab dengan murid murid tercinta ini. Ini adalah cerita akhir perpisahan dan mengajar di minggu keempat. Minggu di mana telah usai kami mengabdi kepada sekolah ini. Minggu ini, saya dan rekan saya mengajak anak-anak untuk membuat kreasi dari beras. Cukup menarik sekali melihat anak-anak dengan sangat antusias menempel beras warna warni pada kertas yang telah kami sediakan. Kami juga mencoba membuat kreasi sendiri sebagai bentuk contoh kepada anak-anak supaya mereka semangat. Tak hanya itu saja, ketika kami telah usai bersenda gurau dan mengajar kepada anak-anak, kami melaksanakan upacara penutupan sebagai tanda terimakasih kepada sekolah. “Tak ada kata perpisan yang mudah, perpisahan mengajarkan kita betapa berharganya seseorang setelah dia tiada”. Tiba saatnya kami tidak terpaksa meninggalkan sekolah ini. Sekolah dengan banyak kenangan kecil yang mungkin tidak bisa diganti dengan hari lain. Kenangan tak hanya sampai di situ saja, kami memberi kenangan berupa barang dan sedikit materi kepada anak-anak. Namun ternyata, sekolah juga memberi kami kenangan. Moment haru ini mungkin yang sangat tidak akan pernah kami lupakan. Beragam cerita, pengalaman, orang orang baik yang ada di sekolah ini terasa begitu membekas dalam memori. Ada cerita menarik dari sini, salah satu anak kami dari kelas empat
164 yang pada saat itu tidak masuk sekolah. Dia memutuskan untuk bergegas ke sekolah setelah teman-temannya sudah pulang. Dia berusaha menemui saya dan kawan saya untuk bisa bertemu terakhir kali di sekolah ini. Tangis terisak, wajah merah, dan sekali sesenggukan dengan nada bicara yang tak kuat dipendam olehya. Anak laki-laki ini sangat baik. Mengharukan sekali peristiwa ini, mencoba membujuk supaya perlahan dia mengusap air matanya. Kami izin pamit terlebih dahulu dari pengabdian akbar yang kesatu ini. Terimakasih kepada semua orang yang telah terlibat dan bekerjasama demi suksesnya pengabdian ini. Pengabdian ini mengajarkan saya untuk “jadilah orang berguna bagi orang lain”. Mungkin ini adalah langkah kecil yang sedikit saya tempuh demi memajukan pendidikan yang belum cukup merata di negara ini. Bionarasi : Penulis ini bernama Aprilia Devina Anantya. Seorang mahasiswa angkatan 2022 atau bisa disebut mahasiswa baru yang lahir pada tanggal 10 April 2004. Menempuh pendidikan S1 Departemen Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan dengan kepemilikan NIM 220141604352. Penulis ini berasal dari Kota Malang yang beralamatkan di Jl.MT.Haryono X/nomor 1053-B. Oiya tak lupa juga
165 narahubung bisa di nomor whatsapp +6289525012863 atau melalui email [email protected].
166 “ CAPER Oleh : Dewa Putra Cisnaulin Disaat yang lain bisa istirahat dengan tenang di hari Sabtu, aku memulai usahaku untuk CAPER. CAPER??? Iya CAPER.. Cari Perhatian. Oh iya kenalin aku Dewa Putra Cisnaulin, mahasiswa semester 5 dari Universitas Negeri Malang. Kalo temen-temenku bilang si.. Semester 5 itu masuknya kita ke fase awal jadi mahasiswa semester akhir, dimana disemester itu kita di gempur dengan latian bikin proposal untuk persiapan semester kedepannya, eh maap back to de topic.. 14 September 2022 aku memulai usaha CAPERku dengan ikut organisasi bernama GEMAPEDIA, Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan. GEMAPEDIA merupakan sebuah organisasi yang bergerak di bidang kepedulian pada pendidikan terutama untuk anak sekolah dasar yang membutuhkan bantuan dalam pembelajaran, entah itu dalam tenaga pembelajaran atau cara pembelajaran yang digunakan. Tekadku sudah bulat untuk usaha CAPER lewat GEMAPEDIA semenjak tau apa itu GEMAPEDIA di semester
167 3, aku coba cari tahu di semester 4 eh ternyata open recruitment cuman di buka di semester ganjil doang, yah sudah lah.. Ada beberapa tahap buat masuk GEMAPEDIA, Pertama administrasi, Kedua Focus Discussion Group, Ketiga Microteaching, dan yang terakhir wawancara. Aku ngga ambil pusing buat masuk ke GEMAPEDIA, toh “Dia” pasti tau tujuanku pengen masuk GEMAPEDIA, ya buat ngerayu Dia, buat CAPER sama Dia, dan kalo Dia emang mau ya pasti aku di kasih jalan. Di tahap pertama, administrasi. Aku isi segala macem formulir dan lain sebagainya H- beberapa jam sebelum pendaftaran ditutup. Bukan disengaja atau ngeremehin, ku pikir hala palingan tinggal isi semacem formulir Gform atau angket tinggal teken0teken doang selesai. EEHH.. formulirnya seabrekk. Mulai dari Formulirnya ampe berlembar lembar, surat izin ortu, surat pernyataan, bikin essay, foto KTM, bikin twibbon, follow IG, Sub Youtube, itu semua belum aku lakuin dan udah jam 8 malem dengan deadline jam 12 :v. Yah emang si ngeremehin, namanya juga baru ikut organisasi. Ya ngga baru juga si pernah ikut Karang Taruna sama Al-Quran Study Club, Tapi ngga seribet ini pliss. Yaudah lah ya “Demi CAPER ke Dia” ribet ribet dikit gapapa.
168 Alhamdulillah lolos administrasi. Lanjut ke tahap berikutnya ke Focus Discussion Group. Ya Allahh ternyata yang lolos administrasi, yang seangkatan sama aku cuman 1 temenku se Prodi, itupun cewek :’. Pas diskusi dipanggilin “kak..” “Ini gimana menurut kak Dewa..” “gimana kak..” . Dalem ati ngomong “Kek tua banget perasaan di panggilin kak mulu..”, “yaudah lah gapapa demi Dia..”. Lanjut ke Microteaching. Disitu ngga ada persiapan sama sekalii, baru ngeprint dokumen sama bahan ajar pagi pagi jam 6 cari atk buka, cuman buat print gambar hewan 6 lembar. Peserta – peserta lain pada niat banget sampe bikin papan permainan, bikin box kata-kata dan lain segala macem, sedangkan aku cuman modal gambar hewan 6 lembar :). Dalem ati cuman bekel kata- kata “kalo Dia emang mau ya pasti aku di kasih jalan..”. Eh ngga taunya banyak dapet pujian sama cara ngajar yang aku pake, belajar huruf kapital, pake gambar hewan sekaligus aku ajak nyanyi suara – suara hewan”. Disisi lain ada peserta yang bikin media bagus banget tapi kurang maksimal dan dapet banyak saran dari kakak panitia. Dan yang terakhir tahap wawancara. Ada beberapa pertanyaan pas wawancara ini dan aku sampein juga bahwa tujuanku mau ikut GEMAPEDIA, ya buat CAPER sama Dia.
169 Selang hampir 1 bulan, tepatnya pada tanggal 12 Oktober 2022 keluarlah pengumuman lolos Laskar Dewantara Batch X. Alhamdulillah aku lolos, dari 114 peserta hanya ada 48 peserta yang lolos. Agak sedih si karena ngga ada temennya, temenku seprodi ngga lolos. Padahal kalo mau dibandingin cara penyampaian, cara ngajarku sama dia, beh kalah jauh. Dia udah biasa Mc acara acara, sering menang lomba pidato. Yah apa boleh buat, “Perjuangan buat CAPER masih berlanjut kawan..” ucapku dalam hati. 14 November perjuangan CAPER sesungguhnya dimulai.. eh lebih tepatnya tanggal 13 November si.. Tanggal 13 November aku harus buat RPP, Media pembelajaran, name tag, print – print bahan ajar dan lain sebagainya “SENDIRI”. Agak kecewa si sebenernya karena harus ngelakuin itu semua sendirian disaat semua ada pasangannya bantuin. Tapi gapapa masih dengan alasan yang sama “Demi CAPER sama Dia..”. Di hari itu aku siapin itu semua sampe jam 2 PAGI padahal aku harus berangkat jam 5 PAGI, karena harus kumpul dulu di kampus sedangkan aku harus PP dari rumahku di Kota Batu ke Universias Negeri Malang sekitar 30 menitan baru lanjut ke lokasi sekolat sekitar 45 menit – 1 jam ke daerah Poncokusomo, karena memang
170 sasaran organisasi ini mencari sekolah yang 3T, Terpencil, Tertinggal dan Terpelosok. Tepatnya di SDN 3 PAJARAN. Beh rasanya kek mau terbang aja, tidur cuman beberapa menit, terus paginya harus perjalanan jauh, langsung disuruh ngajar. Tapi anehnya.. pas aku ketemu sama anak- anak disitu, dengan seketika rasa ngantuk itu ilang aja. Mereka dengan suka cita menyambut di depan gerbang sekolah dan berebut buat salim. Di hati bilang “Masya’allahhh..”. Pas masuk sekolah rada heran,”Ini emang muridnya pada ngga masuk atau gimana..” “Guru juga cuman empat orang..”, yang buat prihatin lagi ada beberapa kelas yang digabung. Misalnya kelas 2 digabung sama kelas 3, Kelas 5 digabung sama kelas 6. “Ini gimana cara ngajarnya..” “satu kelas ada dua jenjang kelas..” “Satu ngajar ini, satu ngajar itu..”. Lebih anehnya lagi ada kelas yang didalemnya ada prosotan, iya prosotan anak- anak di taman bermain itu. Ternyata selain beberapa kelas digabung, SD ini juga jadi satu sama TK. Disini aku kebagian ngajar kelas 3 yang muridnya cuman 3.. Iya bener- bener 3 siswa doang. Ternyata disini memang hanya ada sekitar 35 an murid dalam satu keloah ini dan hanya 4/5 guru yang mengajar, itupun guru tersebut juga
171 harus membagi waktu untuk mengajar di sekolah lain. Sedikit struggle memang karena diatara 3 siswa hanya 1 siswa yang lancar membaca, sedangkan aku harus berusaha mengantarkan 3 siswa itu memenuhi tujuan pembelajaran yaitu untuk belajar kalimat saran. Perjuangan itu berlanjut selama 4 pertemuan. Btw aku dan temen- temen GEMAPEDIA ngajarnya setiap hari Sabtu, jadi kurang lebih selama satu bulan pada pengabdian pertama. Di minggu akhir pengabdian Kepala sekolah menyampaikan jika.. “anak-anak sangat senang kaka- kakak semua ada disini..” “ada anak yang ngga mau sekolah jika ngga diajar sama kakaknya” “ada yang pengen diajar kakaknya aja setiap hari” Bahkan pada hari itu siswa yang tidak masuk dikarenakan sakit, bela-belain ke sekolah cuman pengen ketemu sama kakak- kakak GEMAPEDIA, dan ya.. air mata ngga bisa dibendung lagi. Disini aku berkata pada diriku sendiri “Mungkin usaha CAPERku sedikit banyak bisa di notice olehNya..” “Setidaknya Dia tahu aku pernah berjuang buat cari perhatian sama Dia”. “Dia” disini yang aku maksut adalah kekasihku, kekasih kita semua Nabi Muhammad SAW. Beliau pernah
172 bersabda “Sesungguhnya di surga ada satu rumah yang bernama Rumah Kegembiraan. Tiada yang memasukinya kecuali orang yang menggembirakan anak-anak kecil.”. Aku berharap melalui secuil usahaku ini Beliau bisa mengabarkan pada kekasihnya, Tuhan kita Allah SWT, bahwa salah satu hambanya pernah berjuang membuat senyum kecil pada anakanak walaupun hanya sedikit. Bionarasi : Dewa Putra Cisnaulin (200721639665) Fakultas Ilmu Sosial, Geografi, S1 Pendidikan Geografi, Batu, 1 Juli 2002, Jl Aji Mustofa No. 63 RT 1 RW 2 Dusun Klerek, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu, 081459177975, Pernah upload 2 cerpen di blog pribadi ulincerpen.blogspot.com
173 “ Hangatnya Suaka Pendidikan Oleh : Dini Putri Hayuning Pramesti Hawa dingin menyergap tubuh yang berbalut selimut, dengan diiringi suara adzan berkumandang dengan keras, menandakan aku harus bangkit dari nyamannya pulau busa yang membuatku bisa untuk melewati dinginnya malam. Aku Dini, seorang perempuan pendek dengan rambut hitam legam sebahu dan mempunyai warna kulit yang tidak bisa dibilang putih ataupun hitam tetapi lebih ke warna kuning langsat seperti perempuan Jawa pada umumnya. Dengan semangat karena hari ini merupakan hari Sabtu yang mana pada hari itu aku akan melakukan pengabdian dari salah satu organisasi kampusku yaitu GEMAPEDIA dan bertemu dengan muridmuridku yang mempunyai banyak tingkah lucunya, aku bersiap-siap dengan diawali memeriksa barang bawaan yang akan dibawa pada hari itu untuk melakukan pembelajaran yang menyenangkan di dalam kelas sehingga murid yang kuajari akan tertarik untuk mengikuti pembelajaran di dalam kelas.
174 Setelahnya aku mempersiapkan diri untuk mandi dan sarapan agar selama pembelajaran aku tetap semangat. Teman sekostku menyapa “gimana? sudah siap?” tanyanya sambil membuka pintu kamar kostku dan melihatku yang sedang mencoretkan pewarna hitam dengan hati-hati di alisku dengan pensil alis. “sebentar lagi” jawabku dengan tetap fokus menggambarkan alis agar tidak berbeda sebelah dengan alis satunya. Dia doa, perempuan mungil sepertiku dengan mata yang belo dan mempunyai bulu mata panjang yang membuat matanya selalu terlihat bersemangat ia juga merupakan salah satu anggota dari organisasi GEMAPEDIA yang mana akan melakukan pengabdian yang sama seperti aku. Setelah selesai untuk mempersiapkan diri dan mengecek kembali barang bawaan yang akan dibawa pada hari itu kita berdua berangkat ke titik kumpul yang telah di sepakati sebelumnya untuk berangkat bersama-sama ke sekolah yang nantinya kita tuju. Aku bergabung dengan dengan kelompok yang nantinya akan mengadakan pengabdian di sekolah dasar negeri 3 pajaran yang mana berbeda dengan teman sekostku yaitu Doa dia akan melakukan pengabdian di sekolah negeri dadapan. Sebelum berangkat teman-teman kelompokku mengingatkan barang-barang yang sekiranya dibutuhkan di sana seperti media
175 pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran ataupun barang lain yang dibutuhkan, sembari menunggu teman-teman yang belum datang aku berkenalan dengan beberapa teman sekelompokku yang mana mereka akan melakukan pengabdian di sekolah yang sama sepertiku yaitu sekolah dasar negeri 3 pajaran, aku memperkenalkan diri dengan menyebutkan namaku dan jurusan yang sedang kutempuh pada saat itu yaitu pendidikan luar biasa serta menyebutkan asal daerah ku dikarenakan banyak yang sudah menebak kalau aku bukanlah seseorang yang berasal dari Jawa Timur, provinsi yang mana GEMAPEDIA tempati dikarenakan aku tidak bisa sama sekali berbahasa jawa. Setelah semua berkumpul dan berangkat ke sekolah tujuan yang aka ditempuh, kita mengawali dengan doa untuk meminta keselamatan untuk mencapai tujuan kepada yang maha kuasa kemudian dilanjutkan dengan meneriakan jargon kebanggan GEMAPEDIA yaitu “GEMAPEDIA Bangga Mendidik, Mengabdi, dan Menginspirasi Anak Bangsa” dengan meneriakan jargon tersebut bersama-sama rasa semangat yang ada di dalam diri setiap mahasiswa yang nantinya akan melakukan pengabdian akan keluar dan membuat setiap orang tidak sabar untuk meluapkan rasa
176 semangat pendidikan yang akan disalurkan pada siswa-siswa di sekolah yang akan di tuju. Sesampainya di sekolah yang di tuju yaitu sekolah dasar negeri 3 pajaran dengan menempuh waktu kurang lebih tiga puluh menit perjalanan dari kota malang, kita semua langsung disambut dengan hangat oleh para siswa yang telah menunggu di depan pagar sekolahan dengan tidak sabar mereka meminta untuk salim pada masing-masing mahasiswa yang nantinya akan mengajar di skeolahan tersebut bahkan tanpa menunggu kita semua untuk turun terlebih dahulu dari kendaraan yang kita tumpangi saking semangatnya dan senangnya mereka semua menyambut kita, sungguh hangat penyambutan oleh siswa-siswa di sekolah negeri 3 pajaran, setelah kita memarkirkan motor kita dan merapihkan diri, kemudian datanglah kepala sekolah dan para guru yang mengajar untuk menyambut kita dengan hangat dan sangat terbuka akan kedatangan kita. Perkenalan pun dilakukan, baik dari pihak GEMAPEDIA ataupun pihak sekolah dengan dilakukannya acara penyambutan yang diikuti oleh semua warga sekolah dan warga GEMAPEDIA, setelahnya kita dipersilahkan untuk memasuki masing-masing ruang kelas yang sudah ada dan bertemu dengan siswa yang telah menunggu di masing-masing
177 kursi dengan mata yang menunjukkan semangat karena bertemu dengan orang baru dan melakukan pembelajaran, dia siswaku, slamet siswa yang sekarang berada di kelas 5 dan siap untuk memulai pembelajaran pada hari itu, ya di kelasku hanyalah mempunyai satu siswa dan dia hanyalah slamet, selama pembelajaran slamet mengikuti pembelajaran dengan baik yaitu merangkai kata yang mana nantinya akan membentuk nama dirinya yaitu slamet, aku yaitu Dini. Setelah dilakukannya pembelajaran dengan rasa semangat dan perasaan yang senang, pembelajaran pada hari itu berjalan dengan lancer dan diakhiri dengan membaca doa pulang dan salim kepada aku yang mana sebagai pendidik pada hari dan kelas itu. Setelah melakukan pembelajaran setiap mahasiswa yang telah melakukan pembelajaran kemudian di panggil oleh kepala sekolah tersebut dan meminta kita untuk memasuki ruang kelas yang mana didalamnya terdapat berbagai sajian makanan untuk kita sebagai rasa terima kasih karena telah melakukan pengabdian dan pembelajaran bagi para murid-murid di sekolah tersebut.
178 Bionarasi : Aku Dini Putri Hayuning Pramesti. Aku adalah mahasiswi Universitas Negeri Malang. Fakultas Ilmu Pendidikan dengan program studi Pendidikan Luar Biasa dengan NIM 200154604113. Umurku 20 tahun, dan lahir di Bekasi.
179 “ Menjadi Relawan Untuk Sebuah Pengabdian Oleh : Filyar Nadia Salsabila Sejenak aku terdiam dan menghentikan aktivitas menggulir beranda instagramku. Aku melihat sebuah unggahan dari salah satu akun instagram yang sudah kuikuti sejak satu tahun yang lalu. Akun Instagram itu adalah GEMAPEDIA. Sebuah unggahan pemberitahuan bahwa telah dibuka pendaftaran untuk bergabung menjadi relawan yang akan mengabdi di beberapa tempat. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mencoba mengumpulkan informasi apa saja yang dibutuhkan untuk mendaftar, karena tidak mau lagi ketinggalan seperti di tahun sebelumnya. Aku sangat ingin mendaftar GEMAPEDIA sejak tahun lalu, merasakan dunia relawan, belajar lebih mengenal dan berbaur dengan lingkungan sekitar, dan sedikit memberikan ilmu yang kupunya. Seluruh rangkaian kegiatan pendaftaran GEMAPEDIA aku ikuti dengan baik, dan resmi dilantik sebagai anggota Laskar Dewantara. Senang sekali mengenal banyak teman baru yang tentunya memiliki tujuan dan keinginan yang sama, yaitu untuk mengabdi, mendidik dan
180 menginspirasi anak bangsa, begitulah slogan yang dimiliki GEMAPEDIA. Arahan demi arahan telah diberikan oleh kakak pembimbing dan tibalah saatnya untuk pengabdian pertama, yaitu mengabdi di sekolah dasar pada daerah yang terpencil. Ada 4 kelompok yang akan mengabdi di 4 sekolah yang berbeda, aku berada di kelompok SDN 3 Pajaran. Tidak kusangka sama sekali ternyata aku terpilih menjadi ketua kelompok untuk sekolah ini. Pengabdian pertama dimulai, dan ini membuatku sangat bersemangat. Pengabdian pertama ini akan dilaksanakan empat kali setiap hari Sabtu. Keberangkatanku di hari pertama sangat lancar, jalanan kota masih belum macet disekitaran jam 6 pagi. Aku yang sudah memakai pakaian dinas harian yang baru saja diberikan dengan bangga sambil merasakan udara pagi yang masih sejuk belum bercampur asap kendaraan. Jalanan kota perlahan berganti menjadi jalanan pedesaan, rasa semangatku semakin membara tidak sabar bertemu dengan anak-anak disana. Perjalanan kurang lebih selama 30 menit dan akhirnya sampai di SDN 3 Pajaran tempatku mengabdi. Memasuki gerbang sekolah telah mendapat sambutan hangat dari siswasiswi disana juga bapak ibu guru pengajar di sekolah itu. Minggu pertama ini diawali dengan apel pagi yang
181 dilaksanakan di lapangan sekolah itu. Semua peserta didik mengikuti dengan khidmat, dan untuk pertama kalinya aku memberikan sambutan pada sebuah apel. Apel berjalan lancar, dan siswa-siswi mulai memasuki kelas masing-masing. Aku memasuki kelas dan menyapa anak-anak di dalam kelas. “Assalamualaikum, Selamat pagi anak-anak,” ucapku sembari mengawali kelas dengan berdoa, dan menyanyikan lagu nasional. Minggu pertama pengabdian, aku mengajar sendirian. Teman yang seharusnya mengajar bersamaku sedang sakit. Hal ini menjadi tantangan yang tidak mudah ternyata buatku. Aku mengajar kelas 1 dan ternyata anak-anaknya lumayan susah diatur karena masih suka bermain dan sering kali bertengkar di dalam kelas. Menjadi tantangan tersendiri mengajari anak-anak yang memiliki kemampuan berbeda-beda terutama pada kemampuan baca tulis. Beberapa anak masih perlu bimbingan yang mendalam dalam membaca dan menulis, dan beberapa anak juga sudah sangat mahir. Membimbing anak yang kurang bisa, menyebabkan anak yang sudah bisa menjadi tidak sabaran untuk segera lanjut ke materi berikutnya.
182 “Kak, kenapa lama sekali belajarnya? Aku ingin bermain saja,” ujar salah seorang anak. Sebaliknya, jika terlalu cepat dalam penyampaian materi, beberapa anak yang kurang mampu bekerja cepat dan masih perlu bimbingan mendalam menjadi semakin kesusahan. “Kak, aku belum bisa menulis yang tadi, jangan cepatcepat,” Hal inilah yang menjadikan tantangan utuk bisa mengendalikan kelas dengan berbagai kemampuan yang berbeda ini. Mengajar membuatku tersadar, banyak sekali perbedaan sikap dan kepribadian setiap anak. Ada yang suka belajar tapi banyak bergerak kesana kemari. Ada yang tidak ingin belajar tetapi sangat menyukai menggambar. “Aku mau menggambar saja, tidak mau belajar yang lain,” Ada juga yang sangat pendiam tetapi menyelesaikan semua tugas yang diberikan. “Kak, saya sudah selesai semua tugas-tugasnya,” Berbagai karakter anak ini membuatku memahami bahwa menjadi seorang guru tidaklah mudah. Tidak hanya mengamalkan ilmu yang telah dimiliki, tetapi juga strategi
183 pengajaran yang tepat dengan bagaimana cara agar pembelajaran di kelas menarik. Pembelejaran yang menarik tentunya membuat anak-anak nyaman berada di kelas. Minggu pertama pengabdian aku banyak mengenal dengan baik karakter anak-anak disana. Sangat tidak sabar untuk mengajar mereka di minggu kedua. Minggu kedua diawali dengan hujan yang tak kunjung berhenti sejak malam. Perjalanan semakin sulit ketika menggunakan jas hujan dan jalanan licin oleh lumpur. Melalui jalanan pedesaan yang banyak berlubang dan melewati hutan juga persawahan. Bukanlah sebuah usaha yang sia-sia, karena sampai disekolah tetap disambut hangat oleh anak-anak yang ada disana. Hal menyenangkan yang sangat kunantikan. Minggu ketiga dan keempat berjalan semakin lancar, anak-anak mulai kondusif dan nyaman diajari oleh kami. Pengabdian ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan sepanjang hidupku, akan selalu ingin kulakukan lagi. Senyuman yang kudapatkan dari anak-anak disana ikut membahagiakanku. Pengabdian pertama berjalan dengan lancar. Harapanku di pengabdian berikutnya, yaitu pengabdian kedua dan ketiga semoga juga akan berjalan lancar juga. Sungguh aku sudah tidak sabar dan sangat menantikannya. Sampai jumpa di ceritaku berikutnya!
184 Bionarasi : Cerpen ini ditulis oleh Filyar Nadia Salsabila, seorang Mahasiswi Universitas Negeri Malang Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Prodi Pendidikan Matematika. Lahir di Malang, 2 Februari 2003 dan bertempat tinggal di Jl. Pelabuhan Ketapang 1 No. 30. Alamat email penulis [email protected]. Menulis cerpen adalah hal yang menarik tetapi sudah lama sekali tidak dilakukan. Melalui karya ini, sangat berharap jika kedepannya akan lebih mengembangkan dan mengasah lagi di kepenulisan.
185 “ Hari Pertama Mengajarku Oleh : Maula Diana Santi Namaku Rina, hobiku membaca dan memasak. Hal yang paling aku sukai adalah langit. Apapun cuacanya tetap menjadi favoritku. Terlebih lagi jika itu senja. Tapi aku tak ingin seperti senja, indah hanya sesaat, hanya mampir dalam sekejap. Aku juga tak ingin seperti matahari terbit, karna perlahan panasnya menyengat. Aku suka berbincang pada malam, meskipun gelap tapi dia menghadiahkan ketenangan. Meski akhir-akhir ini bintang dan bulan tak ikut menemani, awan masih selalu ada menyelimuti. Terkadang aku terbuai oleh malam hingga aku terjaga sampai hari berganti. Hingga suatu pada tepatnya hari Sabtu adalah hari pertama dimana aku akan menjalani aktivitasku sebagai volunteer. Belum hilang rasa kantukku, masih terasa lelahku di kemarin malam. Tapi sangat antusias untuk bertemu dengan adik-adik muridku. Pukul 03.00 dini hari aku sudah terbangun, masih petang segera kukemasi barang bawaan. Semua keperluan kumasukkan pada tas mungilku. Ku berjalan menuju dapur,
186 kubuka lemari kulkas kuambil 2 buah nugget dan kumasukkan pada minyak panas. Setelah kusiapkan sarapan, aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Kuketuk pintu kamar anas, ia adalah teman kostku yang ikut dalam kegiatan volunteer juga, “Anas, apa kamu sudah bangun?” Tanyaku dengan suara tinggi. “Sudah,” jawabnya dengan suara berat khas bangun tidur. Segera kukerjakan sholat shubuh dan mulai merias wajahku. "Tan, bangun jangan lupa media pembelajarannya ya," sapaku pada atan di chat. Waktu menunjukkan pukul 4.30 WIB. Pesanku belum juga dibalas, khawatir atan belum bangun. "Aduh, bagaimana ini kalau dia ga bisa bangun, apa aku telpon saja ya?" gumamku dalam hati. Tak lama kemudian kupencet tombol telpon pada layar ponselku. Tapi tak ada balasan juga. Ku hubungi berkali-kali tapi tetap tak ada jawaban dari Atan. "Rani, aku ikut sarapan di sini ya," suara Anas dibalik pintu kamar.
187 "Iya masuk aja, nas." jawabku dengan membuka pintu. Kita berdua sarapan pagi dengan mengutarakan perasaan pertama kali akan mengajar pada pengabdian ini. Setelah sarapan, kami berangkat menuju basecamp, yaitu kost ana. “Iya Ran, sudah kusiapkan semua.” Notif jawaban dari Atan. “Gimana, gais berangkat sekarang ta?” Tanya Halisa. “Bentar, Silvi belum datang ini,” Saut Ana. “Hei, maaf ya gais aku lupa tadi belum setrika, jadi setrika dulu.” Ucap Silvi yang baru datang. “Iya santai aja, ya udah ayo langsung kita berangkat keburu telat,” ajakku pada teman-teman. Jam menunjukkan pukul 05.00 kami segera melaju menyusuri jalanan yang masih sepi kendaraan, menuju kampus. Perjalanan yang kami tempuh membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai tujuan. Banyak orang berlalu lalang untuk melakukan aktivitas pada hari libur, yaitu lari. Sesampainya di kampus kami bergabung di tempat kumpul. Kami mengantri ambil baju PDH dan juga name tag. Bangga sekali rasanya memakai baju PDH ini, sudah lama aku menantikannya.
188 Setelah semua sudah siap dengan pdhnya masing-masing. Kami semua segera bersiap untuk menuju lokasi. Berkumpul sesuai sekolah masing-masing. Aku berkumpul kelompok rohana kudus yang akan mengabdi di SDN 3 Pajaran. Kami berkumpul membentuk lingkaran untuk absen siapa saja yang belum datang. Dan berdoa bersama berharap hari pertama diberikan kelancaran dan disambut baik oleh warga sekolah Pajaran. Satu persatu kelompok mulai berangkat menuju lokasi sekolah. Begitupun juga dengan kelompokku. Baru saja kami memasuki halaman sekolah, semua siswa sudah menyambut kami dengan senyuman yang lebar dan sambutan hangat dari tangan mereka. Bukan hanya siswa, tetapi Bapak dan Ibu guru juga telah menyambut kedatangan kami dengan penuh harapan dan dukungan positif. “Wah, semuanya menyambut dengan baik ya Tan.” Ucapku pada atan yang sedang bersalaman dengan adik-adik. “Iya La, mereka sangat antusias rupanya dengan kedatangan kita. Jadi makin ga sabar masuk kelas ketemu dengan siswa kelas 2.” Balas Atan dengan senyuman yang lebar kepada adikadik.
189 Sebelum, kami masuk ke kelas masing-masing kami melaksanakan apel pembukaan telebih dahulu, tanpa banyak kata ibu guru membantu kami untuk menertibkan siswa. Setelah semua memberikan sambutan hangat untuk apel pembukaan. Semua siswa masuk ke dalam kelasnya masingmasing. “Assalamualaikum, selamat pagi adik-adik, bagaimana kabarnya nih.” Sapaku dan Atan kepada adik-adik kelas 2. “Waalaikumussalam,” jawab adik-adik dengan serentak dan heboh. Rupanya mereka tidak sabar untuk menerima materi pelajaran dari kami. Kelas 2 berjumlah 8 siswa, ada Qolbi, Reza, Dirga, Elma, Gebril, Viva, Usna, dan Fira. Tetapi Usna dan Fira belum dapat hadir untuk bertatap muka denganku dan Atan karna sakit. Tak terduga ternyata aku dapat mengajar tanpa rasa tegang, bahasaku lancar dan mudah dipahami siswa kelas 2. Ice Breaking yang kuberikan juga dapat menarik perhatian mereka untuk lebih giat belajar. Namun, pada saat mulai materi menulis Dirga dan Qolbi belum lancar menulis. Masih perlu bimbingan yang extra dan pendekatan yang khusus.
190 “Tan, kamu ke Qolbi ya, aku ke Dirga.” Pintaku pada Atan yang sedang berdiri di samping Reza. “Oke Rin.” Jawab Atan yang langsung menghampiri tempat duduk Qolbi. Tak terasa jam pelajaran akan usai, waktu menunjukkan pukul 10.15 WIB. Segera Aku dan Atan menutup pelajaran dengan menyimpulkan pelajaran hari ini dan melakukan refleksi. Tak lupa kami memberikan motivasi kepada siswa kelas 2 agar mereka terus belajar menulis dan membaca setiap hari. Dengan pemberian motivasi mereka merasa memiliki tanggung jawab di rumah untuk belajar. Sehingga petemuan berikutnya kelancaran menulis dan membaca mereka meningkat. Bapak dan Ibu Guru ternyata telah menyiapkan makan untuk kami. Tentu kami merasa tidak enak, tetapi kami sangat bersyukur karna sambutan yang diberikan sangat hangat. Setelah kami membersihkan peralatan makan yang telah digunakan, kami berpamitan kepada Bapak dan Ibu Guru dan melanjutkan perjalanan kami ke kampus untuk melaksanakan evaluasi dan setelahnya kami berpamitan pulang ke kost masing-masing untuk beristirahat.
191 Bionarasi : Namaku Maula Diana Santi. Aku adalah mahasiswi Universitas Negeri Malang. Fakultas Ilmu Pendidikan Departemen KSDP prodi PGSD dengan NIM 210151601906. Umurku 19 tahun, lahir di Mojokerto, 29 Juni 2003. Ini adalah kali pertamaku menulis cerpen setelah sekian lama tak menulis karena memang tak jago untuk merangkai bahasa yang indah dan menarik.
192 “ Usahaku Oleh : Muhammad Tristan “Ayo Dirga..!” Kak Tristan memanggil salah satu siswa di dalam riuhnya suasana di kelas. “Dirga” nama itu dipanggil lagi dengan berulang dengan nada sedikit keras. “ Dirga, dipanggil itu lo..” bisik Kak Maula sambal menatap Dirga Dirga menoleh sambal menatap mata Kak Tristan sambil mengangkat jarinya. Lamunnya buyar seketika. “Ayo fokus.. jangan ngelamun masih pagi..!” , kata Kak Tristan kemudian melanjutkan memanggil siswa lain yang tidak fokus di kelas. Sementara Dirga masih melamun. Dalam hati Dirga bingung Ketika ditanya oleh Kak Maula mengenai bagaimana cara menjaga lingkungan yang sehat dan bersih di tempat bermain. Dia sebenarnya mengetahui apa saja cara untuk menjaga lingkungan yang bersih dan sehat ditempat bermain,tetapi ia malu dan tidak percaya diri untuk dapat menuliskannya dan membacanya dengan keras. Setelah diberi arahan dan materi oleh Kak Maula mengenai materi cara
193 menjaga lingkungan bersih dan sehat di tempat bermain sekali lagi dan Kak Maula meminta kepada seluruh siswa yang ada di dalam kelas untuk dapat menuliskannya dan membacanya setelah mereka selesai menulis. Setelah berjalan sekitar 20 menit, Kak Tristan Kembali mengecek dengan melihat setiap tuulisan siswa secara bergantian. Pada saat melihat kertas yang ada di atas meja Dirga ternyata ia belum sama sekali menulis apapun dan ia tampak bingung dan tidak tahu harus menulis apa. “Dirga, kok kamu belum menulis apapun.. kenapa?” tanya Kak Tristan sambil menghampiri Dirga. Dirga hanya diam sambil menatap Kak Tristan dengan wajah bingung dan pikiran kosong. “ Ayo ditulis..! nanti ketinggalan loh sama teman-temannya..” seru Kak Tristan sambil merangkul Pundak Dirga. Dengan perlahan Dirga mengambil pensil dan ia akan menulis pada lembar kertas yang sudah disiapkannya. Setelah ia menulis beberapa kata, lalu Kak Tristan menghampirinya lagi dan ternyata hasil tulisannya masih kurang benar dan terdapat kata-kata yang tidak baku.
194 “Dirga masih belum tahu ya acara menjaga lingkungan yang bersih dan sehat di tempat bermain?” tanya Kak Tristan kepada Dirga Dirga hanya mengangguk sambil menatap kertas yang ada di depannya. “Yasudah ayo Kak Tristan bantu ya.. sekarang tulis dulu judulnya yaitu Cara Menjaga Lingkungan Bersih dan Sehat di Tempat Bermain ya..!” seru Kak Tristan sambil menuntun Dirga saat menulis Perlahan Dirga menulis dengan arahan yang diucapkan oleh Kak Tristan “ Dirga tadi sudah sarapan belum..?” tanya Kak Tristan kepada Dirga yang sedang menulis. “Sudah.. tapi hanya pakai telur” jawab Dirga dengan suara yang pelan dan lirih. “Sarapan pakai apa?” tanya Kak Tristan sekali lagi “Pakai Telur” jawab dirge dengan suara yang lumayan keras dan lantang. “Yasudah dilanjutkan lagi ya nulisnya.. Kak Tristan mengecek yang lainnya dulu” seru Kak Tristan kepada Dirga yang sedang berfikir dan menulis
195 “Iya..” jawab Dirga dengan lirih Selanjutnya Kak Tristan Kembali berjalan mengelilingi setiap baris meja lalu ia melihat seorang siswi bernama Syafira yang juga masih bingung mengenai hal apa saja yang perlu ditulis mengenai cara menjaga lingkungan yang bersih dan sehat di tempat bermain. “Kamu namanya siapa…?” tanya Kak Tristan kepada siswi tersebut. “Syafira..” jawab siswi tersebut dengan pelan dan malu-malu “Oh Syafira.. ayo Syafira kok belum selesai? Tinggal satu lagi nih cara menjaga lingkungan yang sehat dan bersih di tempat bermain. Syafira bingung atau lupa hayo…?” tanya Kak Tristan kepada Syafira yang malu-malu dan senyum tipisnya. “Lupa kak..” jawab Syafira dengan suara pelan dan wajah yang menunduk Lalu Kak Tristan mengambil pensilnya yang tergeletak di atas meja dan memberikannya kepada Syafira. “Ayo tulis Kak Tristan bantu ya.. kurang satu lagi nih..!” seru Kak Tristan kepada Syafira yang sedang menatap mata Kak Tristan.
196 Setelah arahan yang diberikan oleh Kak Tristan akhirnya Syafira yang kurang satu lagi tugas menulisnya akhirnya ia pun selesai mengerjakannya “Sudah kak..” sambil menatap Kak Tristan sambil senyum tipis dan wajah senang karena sudah selesai. “Wahh iya… tunggu teman yang lainnya dulu ya” seru Kak Tristan sambil menatap hasil tulisan Syafira dengan senyum. Setelah Kak Tristan selesai membantu Syafira, Kak Tristan Kembali mengecek ke bangku Dirga yang ternyata anaknya tidak ada di bangkunya. Dan ternyata Dirga duduk diam di bawah mejanya sambil memainkan kertas yang ada di dalam loker meja nya “ Dirga kamu ngapain? Ayo kerjain dulu sudah belum..?!” tanya Kak Tristan dengan sedikit nada yang lantang Lalu Dirga Kembali duduk di kursinya dan Kembali berusah untuk menulis tugas yang belum diselesaikannya “Lo ini sudah hampir selesai.. ayo diselesaikan agar bisa cepat istirahat dan bermain” seru Kak Tristan Akhirnya Dirga Kembali menulis, tetapi tangan dan pensilnya hanya diam di atas kertasnya tanpa menulis apapun.
197 “ Kenapa Dirga, masih bingung ya..?” tanya Kak Tristan dengan senyuman dan suara yang lirih Dirga hanya mengangguk sambil memainkan pensil yang ada di tangannya. Setelah itu Kak Tristan membantu mengejakan salah satu cara menjaga lingkungan yang sehat dan bersih di tempat bermain lalu Dirga menulis sesuai denga napa yang dikatakan oleh Kak Tristan. “ Sudah semua kan Dirga tugasnya..?” tanya Kak Tristan klepada Dirga yang berhenti menulis “ Sudah kak” jawab Dirga dengan suara lirih dan senyuman malunya. Akhirnya semua siswa sudah selesai dengan tugasnya. Dirga dan Syafira yang merupakan siswa dan siswi yang masih sedikit kesulitan dengan cara menulis dan bingung mengenai materi akhirnya juga sudah selesai dengan arahan dan pendekatan yang diberikan oleh Kak Tristan. Bionarasi : Nama : Muhammad Tristan NIM : 210612608947
198 Fakultas : Ilmu Keolahragaan Departemen : Ilmu Kesehatan Masyarakat Prodi : S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Tempat, tanggal lahir : Hargomulyo, 01 Agustus 2002 Alamat : Jl.Gading Kasri No.11B Klojen, Kota Malang Narahubung : [email protected] Menulis cerpen merupakan sesuatu yang menjadikan saya untuk dapat lebih mempunyai ide kreatif yang lebih maksimal. Sejak saya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) saya senang memikirkan ide ide yang menarik yang ada di pikiran saya. Tetapi hal itu tidak terpikirkan di benak saya bahwa pikiran dan ide itu dapat dijadikan sebuah karya cerpen yang mungkin dapat dilirik oleh orang di luar sana. Seiring berjalannya waktu, tiba lah saya menuju tingkat Pendidikan yang tinggi yaitu di bangku perkuliahan. Di sini, saya lebih banyak sekali mempunyai ide dan gagasan dalam pikiran saya yang ingin saya kembangkan lebih jauh lagi dalam sebuah karya tetapi masih bimbang karya apakah yang dapat saya kembangkan. Sampai akhirnya saya mengikuti sebuah organisasi yang Bernama “GEMAPEDIA” dalam organisasi tersebut saya banyak sekali pengalaman yang
199 berharga yang ingin saya kembangkan dalam bentuk sebuah karya. Dan pada akhirnya setelah Pengabdian Akbar 2 selesai ada tugas untuk membuat cerpen dari pengalaman tersebut, dari situlah saya membuat cerita mengenai pengalaman pribadi saya Ketika Pengabdian Akbar 2.