200 “ Kini Kutemukan Makna dari Kalimat Itu Oleh : Rosa Istighfariananda “HEEII!! Sendirian aja Ros!” Rista mengagetkan Rosa yang sedang meneguk susu putih hangat dari gelas biru bergambar bis sekolah, yang tak lain adalah gelas kesayangannya. “Uhuuk uhuuk,” Rosa pun tersedak. Rista spontan berkata, “Astagaa muncrat, Ros. Kena wajahku nih huhuu.” Rosa menjawab, “Salah sendiri orang minum dikagetin, kebiasaan banget, heran!” Satu detik berlalu. Mereka berdua duduk di kursi bambu yang baru disediakan di lantai 4 kost mereka, tempat untuk jemuran yang mereka menyebutnya sebagai rooftop minimalis. Yaa, tempat itu adalah tempat healing low budget versi mereka. Rosa terus menatap ke arah deretan gunung dan awan yang ada di depannya, merasakan dinginnya udara pagi itu dan sesekali meneguk susu. Dia melamun sendiri, Rista membiarkannya sambil memakan sosis goreng yang dia beli 3 hari yang lalu, entah sudah jadi seperti apa rasanya. Rosa kemudian berkata,
201 “Kenapa ya Ris, hari Sabtu ini rasanya nggak semangat banget, kaya ada yang kurang. Biasanya bangun pagi langsung siapsiap mengajar, menempuh perjalanan yang cukup jauh, pagi waktu berangkat dingin banget bahkan pernah kehujanan, siang waktu pulang panas banget, tapi waktu di sekolah seru bisa interaksi sama anak-anak yang beragam karakteristiknya, belum lagi guru-guru disana bener-bener welcome dan seperhatian itu sama kita. Tapi sekarang masa-masa itu sudah usai dan jadi kenangan, rasanya pingin banget mengajar lagi.” Rista melihat ke arah Rosa, dia berkata, “Eh iya mangkanya tumben kamu hari Sabtu ada di kost, biasanya udah nggak kelihatan batang hidungnya dari pagi. By the way kamu ngajar dimana sih, Ros? Itu kegiatan pengabdian akbar I GEMAPEDIA ya?” “Iyaa Ris, aku ngajar di SD Negeri 3 Pajaran kelas 1. Lokasinya sekitar 45 menit dari UM kampus 1. Banyak banget ilmu, pengalaman, kebahagiaan, dan rasa kekeluargaan yang aku dapat dan aku rasakan waktu aku gabung GEMAPEDIA,” Rosa menjawab. Rista balik bertanya, “Waah pasti seru banget yaa. Kamu inget nggak Ros, dosen kita pernah bilang menjadi guru itu seni. Kamu kan udah ada pengalaman mengajar nih, simulasi
202 menjadi guru, jelasin atau ceritain pengalamanmu dong Ros kenapa menjadi guru itu seni, apakah sesusah itu menjadi seorang guru?” Rosa mulai bercerita, “Menjadi guru menurutku tidak semudah membalikkan telapak tangan dan selama aku mengajar pada akhirnya aku bisa menemukan makna dari kalimat menjadi guru itu seni yang sering disampaikan oleh dosen kita. Aku cerita dari awal yaa, Ris. Sebelum mengajar, seperti biasa kita harus menyusun RPP dulu. Kita kan udah sering nih dapet tugas bikin RPP, tapi kali ini itu beda, aku sama rekan tim ku harus bener-bener memperhatikan RPP yang dibuat dan disesuaikan dengan siswa kelas 1. Disini aku menemukan seni mengelola kata dalam mengajar, kita harus tau karakteristik mereka seperti apa dan bagaimana cara kita dalam menyampaikan materi pembelajaran, apakah mereka mampu memahami kata-kata dan kegiatan yang kita susun atau tidak.” “Terus-terus Ros waktu ngajar gimana?” tanya Rista. “Nah selama ngajar, aku semakin paham akan makna menjadi guru itu seni. Awalnya aku kaget karena siswa kelas 1 super aktif dan karakteristiknya beda-beda. Darisini aku belajar seni mengelola kelas, seni mengelola perbedaan, dan seni mengelola konflik. Pertama kali masuk kelas, banyak siswa
203 yang usil alhasil bertengkar hingga nangis. Jujur aku yang nggak punya pengalaman ngajar sama sekali pada saat itu, tetapi rekan dan LO ku bener-bener membantu banget buat aku belajar mengendalikan kondisi kelas saat itu. Hari ketiga pengabdian, aku sudah mengetahui karakteristik siswa kelas 1, dan mencoba untuk mencari alternatif bagaimana agar kondisi kelas bisa lebih kondusif. Hari terakhir pengabdian, siswa kelas 1 sudah mulai bisa dikendalikan, tetapi sedih karena itu merupakan hari terakhir aku dan rekanku mengajar kelas 1. Sempat terdiam ketika salah satu siswa bertanya ‘kak kenapa kakak nggak ngajar terus disini’, terharu bingung mau menjawab gimana. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, sdn 3 pajaran telah menyiapkan moment pertemuan dan perpisahan yang sangat special dan tidak akan pernah aku lupakan. GEMAPEDIA telah memberiku kesempatan untuk belajar dan mencari pengalaman langsung mengulik bagaimana menjadi seorang guru dan sekarang aku paham bahwa memang menjadi guru itu adalah sebuah seni, teaching is an art,” Rosa bercerita sambil mengenang moment-moment indah ketika pengabdian di SD Negeri 3 Pajaran. Rista tertegun mendengar cerita Rosa, dia diam sejenak lalu berkata, “Speechless aku, Ros. Pengalaman yang amat sangat
204 berharga. Semoga next time aku bisa punya kesempatan mengajar seperti kamu.” Terkadang masih banyak dari kita yang menyepelekan profesi guru, bahkan kita sebagai siswa atau mahasiswa seringkali tidak belajar dengan benar ketika di kelas. Namun, di balik dari itu semua, seorang guru telah menyiapkan segalanya dengan baik agar siswanya bisa belajar, itu bukanlah hal yang mudah, butuh kesabaran dan seni-seni mengajar yang harus benarbenar mereka perhatikan. Bionarasi : Cerpen ini ditulis oleh Rosa Istighfariananda. Seorang mahasiswi departemen S1 Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, angkatan tahun 2021 dengan NIM 210121600444. Lahir di Lumajang, 31 Mei 2003. Alamat rumah di RT 02/RW 01, Dusun Krajan Barat, Desa Rowokangkung, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Alamat email penulis yaitu [email protected]. Ini adalah kali pertama penulis menulis cerpen lagi, setelah cukup lama tidak pernah menuangkan cerita ke dalam tulisan.
205 “ Menjelang Masuk Sekolah Oleh : Ramadhana Rizki Dwi Pamungkas Hari Minggu adalah hari terakhir masa liburan sekolah. Besok adalah hari senin dan keempat sahabat ini sudah harus masuk sekolah lagi. Untuk menikmati hari terakhir sekolah, mereka memilih untuk bermain di taman sekolah mereka. Keempat sahabat itu berasal dari sekolah yang sama, yaitu SDN 3 Bambang, Kabupaten Ngalam. Mereka memutuskan untuk pergi ke taman sekolah karena sudah bosan bermain di lapangan dekat Rumah Nia. Mereka menuju sekolah dengan berjalan kaki menyisiri jalan sambil bersendau gurau. Ketika tiba di depan sekolah, mereka terkejut! (Hmmm, kenapa ya?) Nia : “OH TIDAKKK!!! Kenapa sekolah kita kotor sekalii!” Alam : “Iya, bahkan kelas kita seperti tidak terawat. Janganjangan. banyak hantunya lagii! AAAAAAAAAAA.” Selvi : “K-kenapa s-sih? A-kuu enggak p-paham.” (dengan nada gagap)
206 Nia : “Giniloh Selvi, sekolah kita kotor banget. Mungkin selama ini enggak dibersihin sama penjaga sekolah.” Selvi : “O-owalah, g-gitu tooh.” Alam : “Kenapa kelas kita kotor seperti itu yah? Jangan-jangan petugas kebersihan kita, Pak Yanto, makan gaji buta lagi. Percuma aja kita bayar biaya gedung mahal-mahal kalau sekolah kita sekotor ini! Huft.” Selvi : “H-heh Alam! J-jangan begitu. K-kita tidak b-boleh mengatakan h-hal buruk seperti itu. A-alangkah baiknya k-kita bersihkan s-saja. Yuk.” Nia : “Hmm, ide bagus sih. Coba kita ke Rumah Pak Yanto dulu, mumpung rumahnya ada di belakang sekolah. Alam : “Gaskeuun aing teh.” Mereka tidak butuh waktu lama untuk pergi Rumah Pak Yanto. Sesampainya di sana, mereka melihat Pak Yanto terbaring lemas di tempat tidur. Ternyata, Pak Yanto sedang mengalami musibah, yaitu kakinya cidera. Pak Yanto mengatakan bahwa ia mengalami cidera karena jatuh dari tangga ketika membersihkan atap ruang kepala sekolah seminggu yang lalu. Kala itu, ketika ia terjatuh, tidak ada
207 seorangpun yang melihatnya sehinggga ia bersusah payah untuk bisa pulang ke rumahnya meskipun dalam keadaan sakit cidera. Laluuuu. Pak Yanto : “Lo. Bagaimana kalian bisa ke sini? Bukankah hari ini masih libur sekolah?” Rafel : “Kami merasa bosen Pak, cuma main di taman dekat rumah Nia. Makanya kami datang ke sekolah untuk bermain di taman sembari mengecek kadaan sekolah kita, Pak.” Selvi : “I-iya Pak. K-kelas kami m-masih kotor. K-kami datang bermaksud untuk memberi t-tahu bapak.” Pak Yanto : “Sebelum kecelakaan, Bapak sudah membersihkan sekolah hingga bersih. Namun karena cidera, bapak tidak bisa membersihkan lagi sekolah kalian. Sekarang, keadaan sekolah kalian bagaimana?” Rafel : “Sekolah kami kotor banget Pak. Penuh rumput liar dan dedaunan kering. Bahkan kelas kami juga sangat berdebu.” Pak Yanto : “Yaa sudah, nanti bapak bersihkan ya. Jangan khawatir.” Nia, Selvi, Rafel, dan Alam saling memandang satu sama lain daa berpikir bagaimana bisa Pak Yanto mampu membersihkan
208 sekolahan sementara kakinya sedang mengalami cidera. Kemudian, mereka menawarkan diri untuk membantu membersihkan sekolah. Rafel : “Pak Yanto istirahat saja, biar kami saja yang membersihkan sekolah” Alam : “Betul Pak, biar kami saja yang membersihkan sekolahnya Pak.” Selvi : “I-iya Pak, biarkan kami saja. B-bapak banyak-banyak i-istirahat yaa.” Pak Yanto : “Benarkah? Kalau mau kalian seperti itu, bersihkan ruang kelas kalian saja ya. Sisanya biar bapak yang urus.” Rafel : “Terima kasih Pak Yanto. Akan kami bersihkan dengan senang hati. Yakan teman- teman?” Teman Rafel : “Iya Rafel.” Nia : “Oh iya, ayo kita mengambil perlengkapan kebersihannya ke ruang orkes, terus kita bagi-bagi tugas ya kawan-kawanku yang baik dan tydak sombong~” Alam : “Hahahahaha. Kamu bisa aja, Nia.”
209 Rafel : “Hmm, gimana kalau aku sama Alam saja yang ngambil alatnya, kaliian berdua (Nia dan Selvi) langsung ke depan kelas untuk mengecek kelas ya.” Nia : “Kalau aku sih gapapa yah, asalkan ada temannya.” (sembari tertawa) Alam, Rafel, Nia, dan Selvi saling membagi tugas agar pekerjaan membersihkan kelas cepat selesai. Alam dan Rafel pergi ke ruang orkes untuk mengambil alat kebersihan, sedangkan Nia dan Selvi pergi mengecek kelas. Sesampainya Alam dan Rafel ke ruang orkes, mereka mengambil kemoceng, sapu, pel-pelan, dan ember. Tak lupa, mereka berdua juga mengambil cairan untuk pel-pelan. Kemudian, mereka bergegas menuju kelas. Rafel : “Alam, kamu nanti ngepel sama aku ya. Nia dapat tuags menyapu dan Selvi biar membersihkan debu dengan kemoceng” Alam : “Siap ndan, laksanakan!” Rafel : “Nia, kamu bagian menyapu ya. Kamu sapu semua kelas sampai bersih. Kalau gak bersih, kata orang-orang, suami kamu brewokan lohh! HAHHAHA.”
210 Nia : “Loh iya kahh, beneran kaya gituu? Oke deh, akan aku sapu sampai bersih banget.” Rafel : “Oh iya, Selvi, kamu membersihkan debu di kelas pakai kemoceng ya. Debu yang ada di meja, kursi, laci, lemari, dan meja guru.” Selvi : “O-oke Rafel.” Rafel : “Yukkk kita mulai pekerjaan iniiiii!” Semua : “Siapp ndan, Laksanakan!” Keempat sahabat itu sangat semangat untuk membersihkan kelasnya. Mereka membagi tugas agar cepat selesai. Nia menyapu, Selvi membersihkan debu, serta Alam dan Rafel mengepel. Tak terasa karena terlalu asyik, mereka sudah membersihkan kelas selama dua jam. Hasil kerja keras mereka sangat memuaskan. Kelas menjadi terlihat bersih dan tanpa debu, jauh berbeda dengan keadaan sebelum dibersihkan, Mereka sangat bahagia sekali. Alam : “Wahh, gak kerasa yahh kelas kita jadi bersih. Pasti besok jadi semangat lagi buat belajar di semester 2. Selvi : “I-Iya nih, A-aku juga b-bakalan semangat b-buat mengambut s-semester b-baru.”
211 Nia : “Oh iya gesss, jangan lupa ngembaliin alat kebrsihannya yaa. Ntar kasian Pak Yanto kalau ngembaliin peralatan kita. Jadi ngerepoti.” Rafel : “Siap Nia. Yuk beri tepuk tangan untuk kita semua karena sudah mau bekerja sama dan bergotong-royong untuk membersihkan lingkungan kelas hingga bersih. Siapa yang mau aku beliin jus buah?” Semua : “Prok.. prok.. prok.. Mauu.” (Tepuk tangan sembari mengucap kata Mau secara bersama-sama). Bionarasi : Hai semua! Namaku Ramadhana Rizki Dwi Pamungkas dengan NIM: 220751604360. Saat ini, aku berkuliah di Prodi S1 Pendidikan Sosiologi, Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial. Aku dilahirkan di Ponorogo pada 20 November 2003. Rumahku di Jalan Raden Saleh. Nomor WAku: 087850256230. Bacalah cerpenku dengan judul “Menjelang Masuk Sekolah” hingga habis, ya!
212 “ Singkat Oleh : Nuril Fadila Fajar belum menunjukkan dirinya namun gadis ini tengah bersiap dengan sepeda motor di depan kediamannya sudah siap untuk bergegas pergi. Gadis ini berangkat dari kediamaan menuju ke tempat dimana ia tinggal untuk sementara sekarang. Perjalanan membutuhkan waktu satu jam setengah untuk sampai. Singkat cerita (05.00) gadis ini mulai memacu sepeda motor miliknya. (06.30) ia sudah sampai di tempat tinggal sementaranya untuk menaruh beberapa barang. Namun sayang gerbang tempat ia tinggal masih tertutup rapat dan tak ada seorangpun yang datang untuk membuka gerbang tersebut. Gerbang tersebut memang tidak bisa dibuka dari dalam, hanya bisa dibuka dari luar. “Sepertinya mereka sedang tidur, hmmm” dengan nafas berat gadis ini mau tidak mau membawa barangbarang miliknya. Hari ini adalah hari pertama ia untuk melakukan kegiatan barunya. Ia segera bergegas berkumpul pada titik yang telah ditentukan.
213 Sesampainya di titik perkumpulan ia duduk agak jauh dari anak lain yang telah berkumpul ia terus memandangi handphone miliknya. Entahlah apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Terus berkutat dengan handphonenya hingga ada suara yang masuk di telinga. “Hai… ayo kumpul sama mereka” ujar gadis lain yang datang dengan menepuk pundak gadis yang berkutat dengan handphonenya. Gadis itu mengajak dia untuk bergabung. Dengan langkah sedikit gontai ia menuruti dan berkumpul dengan mereka. Beberapa waktu kemudian anak-anak lain telah berkumpul dan briefing dan doa pun dimulai sesuai dengan tim yang telah ditentukan. Setelah doa dan briefing selesai waktunya mereka untuk berangkat menuju tempat kegiatan mereka. Perjalan ini menempuh jarak yang cukup jauh, dengan keadaan jalan yang kurang bagus dan naik turun. Dia berboncengan dengan gadis yang menepuknya tadi, selama perjalanan gadis itu terus mengajak berbicara namun dia hanya menjawab dengan jawaban singkat dan sedikit candaan. Sesampainya di tempat kegiatan ia dan timnya langsung bergegas untuk melaksanakan acara pembukaan dan masuk pada setiap ruangan sesuai dengan pembagian. Acara
214 pembukaan berjalan dengan lancar. Ketika memasuki ruangan ia dan rekannya mempersiapkan apa saja yang harus dipersiapkan untuk membantu mereka selama kegiatan berlangsung. Dalam ruangan itu terdapat sekitar 10 anak kecil sedang menunggu mereka. Kegiatan pun berjalan ia mulai menikmati apa yang sedang dikerjakan meskipun pada awalnya ia ragu dan kaget dengan kondisi saat itu. “ahhh rasanya ga bisa berkata apa apa lagi aku. Adanya yang seperti ini. Baru kali aku merasakannya. Hmmm kalau dipikirpikir ini cukup seru dan menantang” pikirnya dalam hati. Kegiatan pun berjalan dengan lancar anak-anak kecil itu juga terlihat menikmati kegiatan walaupun ini adalah hari pertama kita bertemu secara langsung. (09.00) istirahat pun dimulai anak-anak kecil itu langsung berlarian keluar. Mereka sangat suka dengan istirahat jika dipikir ulang sepertinya selama ini kegiatan mereka banyak istirahatnya. Ahh sudahlah ini adalah waktu kita untuk memberikan kontribusi dan bantuan untuk mereka. Dia dan rekannya juga beristirahat dengan mengawasi, sekali-kali ikut bermain dengan mereka. Tempat kegiatan ini jauh dari perkotaan. Tempat disini asri, udaranya juga segar. Sambil menelisik sekeliling dengan pemandangan gunung yang terlihat sangat jelas tak terasa waktu yang telah ditentukan
215 untuk beristirahat pun sudah habis. Waktunya untuk segera bergegas masuk kembali kedalam ruangan. Namun itu tak semuda memerintahkan mereka untuk masuk. Menunggu mereka masuk pun akan percuma. Anak-anak kecil itu tak mau untuk masuk ruangan mereka masih asyik dengan permainan mereka. Anak-anak itu berlari kesana kemari dan bersembunyi di semak semak. Ia dan rekannya berbagi tugas. Rekannya menjaga di kelas dan ia mencari anak-anak itu. Berlarian kesana Kemari naik turun hingga berjalan menyusuri rerumputan untuk mencari anak-anak itu. Mereka sama sekali tidak mau mengikuti kegiatan lagi mereka hanya ingin bermain dan mereka merasa istirahat kali ini lebih pendek dari biasanya. Singkat cerita anak-anak itu sudah masuk di ruangan dan kegiatan pun berlanjut hingga pulang. Ini waktunya untuk berpisah dengan anak-anak itu di pertemuan pertama kegiatan ini. Setelah semua pulang ia mengisi lembar evaluasi dengan rekannya. Tim mereka pun berkumpul untuk pulang. Dalam kegiatan ini tim kita selalu mengadakan makan bersama untuk evaluasi dan pemberian masukan untuk kegiatan kedepannya. Kegiatan eval berjalan dengan lancar diselingi dengan canda tawa dari tim. Mereka saling bercengkrama dan saling berkenalan satu sama lain karena jujur sebenarnya dari tim ini
216 belum mengenal satu sama lain, ini adalah kali pertama mereka bertemu secara lengkap dengan tatap muka langsung. Kegiatan ini sudah berakhir “ternyata gini ya rasanya, seru juga. Ini tantangan baru untuk diriku. Gak nyesel aku pilih ikut gabung” pikirnya sambil mengulas senyum kecil menuju perjalan pulang. Oh iya Dia adalah Nia anak kuliahan semester 3 yang sedang mengikuti kegiatan volunteer pengabdian mengajar anak di desa pelosok. Ini adalah hari pertama ia melakukan kegiatan pengabdian ini. Pengabdian ini dilakukan setiap hari Sabtu akhir pekan. Bionarasi : Nuril Fadila adalah namaku kalian bisa memangilku Dila. aku tengah berkuliah di salah satu universitas Jawa Timur yaitu Universitas Negeri Malang. Jurusan yang aku ambil adalah Pendidikan Luar Sekolah yang masuk pada Fakultas Ilmu Pendidikan. Aku lahir di Kediri dan besar di Pasuruan, aku juga sempat tinggal di Surabaya.
217 “ Belajar dari Pengalaman Oleh : Yurin Tri Fandiah Pada pagi hari yang cerah ada seorang gadis yang dapat disebut kecil karena postur tubuhnya yang menggambarkan ia sangat mungil. Ia bernama Rina, duduk di bangku kuliah semester 3. Rina berkuliah di Universitas Negeri Malang. ia lahir di Sidoarjo pada tanggal 31 Desember 2002. Rina memiliki cita-cita yang kuat yaitu menjadi seorang tenaga pendidik atau biasa disebut dengan guru. Disaat ia duduk di bangku kuliah semester 1 Rina memutuskan untuk mengikuti salah satu organisasi yang ada di kampusnya. Organisasi tersebut merupakan Gerakan mahasiswa yang peduli pada pendidikan di desa yang tertinggal, terpencil dan terdepan. Rina tertarik dengan organisasi ini karena bergerak dalam bidang pendidikan yaa mengingat cita-citanya ingin menjadi guru jadi ia sangat bertekad untuk mendaftarkan dirinya. Oh iyaa biasanya anakanak UM menyebut organisasi ini yaitu GEMAPEDIA. Tidak lama GEMAPEDIA ini open recruitment dan Rina langsung gercep untuk mendaftarkan diri nya, ada beberapa
218 tahapan yang harus dilakukan agar dapat lolos mulai dari tahap administrasi, forum group discution,wawancara dan TOT ( Training of Trainers). Hari demi hari sudah rina ikuti rangkaian tahapan open recruitment organisasi GEMAPEDIA. Namun sayangnya Rina tidak lolos, ia sangat kecewa karena melihat teman-temannya pada lolos semua. Akan tetapi ia tidak berputus asa untuk mencoba nya lagi di tahun depan. Karena Rina memiliki pedoman tidak ada kata untuk menyerah. Hari demi hari sudah berjalan, ia sudah duduk di semester 3 dan organisasi tersebut open recruitment lagi, Rina mengikutinya lagi tahapan-tahapan yang sudah ditentukan oleh panitia GEMAPEDIA dan akhirnya ia dinyatakan lolos, ia berhasil untuk menjadi anggota GEMAPEDIA.. Organisasi GEMAPEDIA (Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan) dimana organisasi ini ada beberapa pengabdian yaitu Pengabdian Akbar 2 yang dilakukan di sekolah dasar, pengabdian 2 di lapas dan pengabdian 3 di panti asuhan. Sebelum pengabdian 1 para anggota GEMAPEDIA melakukan pembekalan untuk pengabdian. Pengabdian 1 telah tiba para anggota GEMAPEDIA dibagi menjadi beberapa kelompok dan melakukan pengabdian di 4 sekolah satu kelompok berisi 11 orang. Dan kebetulan saya kebagian mengabdi di SDN Bambang 03 yang terletak di Desa Bambang Kabupaten
219 Malang. Disana para siswa nya masyaallah sangat beragam, di tiap kelas di sekolah terdiri dari 2-10 siswa saja. Kebetulan juga saya kebagian di kelas 1 dengan jumlah siswa yang sangat minim yaitu hanya 3 orang aja. Namun di kelas 1 ini siswanya sangat unik sekali, jika temannya salah satu tidak masuk maka yang satu gaikut masuk sekolah juga. Dan pada saat itu siswanya hanya 2 orang saja yang masuk, salah satu dari 2 orang tersebut ada yang belum lancar membaca ia bernama syaipul. Syaipul ini seorang siswa yang lucu dan memiliki semangat yang tinggi untuk belajar meskipun teman-temannya tidak masuk akan tetapi ia semangat banget untuk masuk sekolah sendirian. Pada saat itu mereka belajar tentang tema 3 bab keluargaku masyaAllah sangat pintarpintar dan semangat semuanyaa. Oh yaa satu murid teman syaipul tadi bernama rafenza. Ia merupakan seorang siswa yang sangat pandai sekali. Pengabdian 1 berjalan selama 4 minggu dan tiba saatnya pengabdian 1 ini selesai. Para siswa di SDN Bambang sangat sedih dan pada nangis yaa bagaimana waktu pengabdian 1 pun sudah habis, dan saya ( Rina) harus melanjutkan pengabdian selanjutnya. Itulah cerita singkat dari saya, perjuangan saya untuk mengikuti organisasi pada bidang pendidikan yang mengingat
220 cita-cita saya ingin menjadi seorang guru. Kenapa alasan saya ingin menjadi seorang guru karena “ seorang guru itu pahlawan tanpa mengenal tanda jasa” dibayar seperserpun atau tidak pun tidak papa dan tidak masalah, dengan kita menyalurkan ilmu secara ikhlas maka pahala yang akan kita dapatkan akan mengalir secara terus menerus dan ada yang berkata menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang sangat mulia sekali. Maka dapat disimpulkan dari saya mengikuti organisasi GEMAPEDIA ini saya mendapatkan ilmu yang sangat banyak, mulai dari bagaimana cara menghdapi siswa-siswi yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Cara menyampaikan metode pembelajaran yang cocok pada tingkatan kelas tersebut. Yaaa… saya saat ini sangat senang sekali telah menjadi bagian dari organisasi GEMAPEDIA ini selain mendapatkan ilmu yang banyak saya juga mendapatkan teman banyak juga dari berbagai fakultas yang ada di UM. Mereka sangat baik dan juga bisa berbagi cerita pengalaman yang sudah mereka lakukan. Emm mungkin itu aja sii sedikit cerita pengabdian saya selama mengikuti Pengabdian Akbar 2 GEMAPEDIA sangat seruu sekali. Semoga pada pengabdian akbar 2 selanjutnya akan dilakukan yang menyenangkan.. byee itu aja sii see you di pengabdian akbar 2.
221 Biodata Penulis: Nama Lengkap : Yurin Tri Fandiah NIM : 210141601306 Fakultas : Fakultas Ilmu Pendidikan Departemen : Pendidikan Luar Sekolah Prodi : S1 Pendidikan Luar Sekolah Tempat . Tgl Lahir : Sidoarjo, 31 Desember 2002 Narahubung : 088214169459 Alamat : Ds Sepande RT 14 RW 04 Candi, Kab.Sidoarjo
222 “ Guru Pejuang Pendidikan Oleh : Amalia Putri Wahyuni Pada suatu hari yang dingin dengan terselimut kabut di daerah pelosok sekitar hutan yang bermukim, terdapat seorang guru yang bernama Pak Anas, beliau merupakan kepala sekolah di SDN 3 Bambang, hari ini minggu ke tiga beliau pindah di desa pelosok tersebut, Pak Anas sebenarnya berasal dari daerah kota tua di Surabaya, sosok Pak Anas yang masih pendatang baru di desa pelosok yang dikenal dengan nama desa Bambang tersebut, setiap hari ia habiskan untuk mengajar di sekolah dan lalu pulang ke rumah, seiring berjalannya waktu beliau kini mulai berdaptasi dengan lingkungan pelosok yang dekat dengan hutan dan sekitarnya, segalanya masih asing bagi Pak Anas mulai dari rumah yang berjauhan dengan para tetangga, udara yang dingin menusuk di kulit setiap pagi dan malam hari serta adat istidat yang berbeda. Hal ini membuat Pak Anas terus belajar mengenai kebiasaan masyarakat sekitar. Setiap harinya Pak Anas akan pergi kesekolah pada pukul 6 pagi, melewati jalan yang berkabut hingga menganggu pandangan karena terhalang kabut, melewati barisan
223 pepohonan rindang dan suara hewan yang nampaknya asing di telingga. Desa pelosok ini masih tergolong desa yang terjaga dan sudah terjangkau bantuan dari pemerintah seperti pembangunan jalan dan pemberian sumber daya listrik. Beberapa warganya pun sudah tergolong masyarakat modern yang memanfaatkan handphone, listrik, tenaga listrik lainnya. Tetapi sebagian besar warga yang mendiami desa tersebut masih kurang dalam pendidikan dan juga belum sadar akan pentingnya pendidikan. Untuk itu, Pak Anas mencoba menyadarkan pentingnya pendidikan melalui generasi muda yang ada di sekolah tersebut. SDN 3 Bambang tergolong dalam sekolah yang tertinggal baik fasilitas, tenaga pendidik, dan sarana prasarana pendukung pembelajaran. Pada hari pertama Pak Anas mengajar, seluruh guru datang terlambat ke sekolah dan banyak siswa yang tidak hadir ke sekolah tanpa alasan, tidak ada kabar ataupun surat izin. Kondisi sekolah yang memprihatinkan dan siswa yang tidak taat aturan membuat Pak Anas bertanya – batanya heran. Segera aPak Anas bertanya kepada guru disana, “Apakah ini biasa terjadi? Kenapa murid kok banyak yang tidak masuk?”, tanya Pak Anas sambil heran
224 Pak agus salah satu guru yang ada di sana menjawab, “Iya pak, disini sudah biasa jika banyak siswa yang tidak masuk tanpa alasan” “Lalu kepala sekolah yang dulu apakah tidak berupaya untuk mencari tahu kenapa banyak anak yang tidak masuk?” tanya pak Bambang “Kita dulu telah melakukan upaya tetapi hal ini tetap saja terjadi pak” jawab pak agus Setelah mengetahui banyak anak yang tidak masuk Pak Anas segera mengadakan rapat evaluasi dengan seluruh guru yang ada di SDN 3 Bambang, Pak Anas mencoba mengetahui kondisi siswa per kelas untuk menemukan penyelesaian dari permasalahan yang ada. Setelah rapat selesai Pak Anas menyadari bahwa yang perlu diperbaiki adalah tenaga pendidik terlebih dahulu karena tenaga pendidik yang sering menglendor dan tidak taat dengan aturan, hal ini yang membuat peserta didik juga malas untuk mematuhi aturan dan mereka akan bertindak seenaknya saja. Untuk itu Pak Anas membuat aturan baru untuk guru yang ada di SDN 3 Bambang. Setelah pulang sekolah, Pak Anas bergegas membuat peraturan untuk para guru dan diumumkan di pagi hari, “Baik, bapak dan ibu guru sebagai bentuk upaya kita untuk meningkatkan mutu dan kualitas sekolah ini, izinkan saya
225 untuk menetapkan peraturan baru terkait pemeblajaran yang ada di sekolah ini, berikut aturan yang saya tetapkan: 1. Guru wajib memakai seragam sesuai dengan ketentuan dinas. 2. Guru wajib datang tepat waktu di sekolah yaitu pukul 07.00. 3. Guru wajib untuk menyelesaikan seluruh rangkaian pemebelajaran sesuai dengan aturannya. 4. Guru wajib mengecek kelengkapan belajar siswa. 5. Guru wajib memberikan pembelajaran tambahan kepada siswa, apabila terdapat siswa yang belum bisa membaca. “Demikian, aturan baru dari saya, apakah ada masukan atau saran dari bapak ibu guru lainnya.” ucap Pak Anas Bapak ibu guru menyahut, “Tidak ada pak, saya setuju dengan peraturan yang ada.” Hari demi hari pun berjalan sampai akhirnya pada satu minggu pembelajaran dilakukan, semua sudah ada kemajuan tetapi masih ada beberapa siswa yang tidak mengikuti pembelajaran. Pak Anas mencoba berkonsultasi dengan wali kelas yang mengajar dan ternyata terdapat beberapa anak yang sudah tidak mengikuti pembelajaran selama 1 minggu dengan alasan di rumahnya ada hajatan, terdapat anak 2 minggu yang tidak masuk kesekolah karena sedang sakit. Bahkan sampai parahnya terdapat anak yang tidak masuk selama 2 bulan
226 karena ibunya meninggal dan juga terdapat anak yang sudah 2 bulan tidak masuk tanpa alasan. Mendengar hal itu, Pak Anas segera mendatangi rumah masing – masing anak yang tidak mengikuti pembelajaran tadi. Pak Anas mendatangi satu persatu dan mencoba berdiskusi dengan orang tua dari anak agar mendukung anaknya sekolah. Beberapa orang tua siswa sudah menyadari bahwa pentingnya pendidikan untuk anaknya, tetapi tenyata terdapat orang tua yang menolak untuk anaknya masuk ke sekolah dengan alasan ingin anaknya membantu bekerja diladang, anak ini bernama Rifky “Assalamuallaikum mohon maaf pak, saya mengganggu watu istirahat bapak” salam Pak Anas di depan pintu rumah orang tua Rifky “Saya ingin bertanya mengenai Ananda Rifky, kenapa kok sudah 2 bulan tidak pergi ke sekolah dan tidak mengikuti pembelajaran?”tanya Pak Anas Orang tua dari Rifky pun menjawab, “ Iya pak, Rifky memang sudah bukan tidak pergi ke sekolah karena saya suruh membantu di ladang” Pak Anas pun terbelalak mendengar ucapan dari orang tua Rifky, setelah mendengar hal tersebut Pak Anas berusaha menyadarkan kepada orang tua Rifky mengenai pentingnya
227 pendidikan. Melalui penjelasan dari Pak Anas akhirnya pada keesokan harinya rifky diperbolehkan untuk pergi ke sekolah untuk menerima pembeljaran. Hal ini juga dilakukan oleh Pak Anas kepada orang tua dari wali murid lainnya, Pak Anas terus berusaha untuk membangkitkan semangat siswa dan juga menyadarkan kepada orang tua peserta didik mengenai pentingnya pendidikan anak. Demi kemajuan sekolah Pak Anas juga membuat beberapa program pembelajaran seperti membaca dan menghafal asmaul husna, pendirian masjid untuk sarana belajar agama peserta didik dan juga kegiatan kepramukaan untuk melatih karakter peserta didik. Semua hal dilakukan Pak Anas untuk memaksimalkan pemeblajran di SDN 3 Bambang. Bionarasi : Hai, namaku Amalia Putri Wahyuni, akrab disapa dengan sebutan Amal. Aku adalah mahasiswa dari Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Sosial dengan Jurusan Pendidikan Sosiologi, dengan NIM 210751609621. Aku lahir dan dibesarkan di Blitar tepatnya di Desa Sumbersari.
228 “ Setegar Hatimu Oleh : Evi Triani Puspitasari Mentari telah menyambutku dengan senyuman hangatnya sebagai isyarat bahwa inilah waktuku untuk membangun mimpi. Namaku Vivi dan aku adalah seorang mahaiswi pendidikan di Kota Malang yang memiliki mimpi ingin turut serta dalam membangun peradapan dunia. Mimpi ini tercipta dari rotasi lingkungan desaku dimana pendidikan dianggap tidak berharga dan tidak penting. Aku telah berusaha menyusun batu-batu mimpiku sejak aku menginjak remaja, di bangku SMA. Mulai dari membangun bimbingan belajar gratis di desaku, hingga saat ini aku diberikan kesempatan untuk meneruskan membangun mimpiku di bangku kuliah dengan mengikuti program GEMAPEDIA. GEMAPEDIA adalah salah satu UKM di luar kampus yang salah satu programnya menggerakkan pengabdian di sekolah-sekolah terpencil.Pengabdian akbar ini dilaksanakan dari bulan November hingga Desember selama empat pekan berturut-turut di hari Sabtu.
229 Tiba waktunya pengabdian akbar pekan pertamaku. Takdir Tuhan menuntunku untuk mengabdi di salah satu sekolah yang jauh dari huruhara kota, SDN 3 Bambang namanya. Tuhan pula mengirimkan sesosok bernama Kak Asyam dan Kak Adin untuk melengkapi coretan takdir perjalanan hidupku ini. Kak Asyam sebagai rekan mengajar ku dan Kak Adin adalah pengawas kami. Burung dara bertebangan di angkasa, buah kelapa yang jatuh dari pohonnya, dua sapi yang membajak sawah ,hektaran lumut yang sengaja ditanam, dan buah alpukat yang bergelantung di pinggir jalan tertanam kuat di ingatanku. Rasanya perjalanan saat itu sangat jauh dan melelahkan. Akan tetapi bak buah pare menjadi semangka, semua itu tidak terasa ketika melihat siswa-siswi SDN 3 Bambang menyambut kedatangan Tim GEMAPEDIA dengan senyuman dan pelukan hangat mereka. Sesampainya datang kami langsung mengikuti upacara pembukaan pengabdian akbar dan memasuki kelas. Aku yang saat itu mendapatkan tugas di kelas 6, merasa takjub dengan sambutan semangat beberapa siswa yang hadir. Saat itu ada 7 dari 12 siswa yang hadir di kelas. Lima siswa yang lain tidak hadir karena diantaranya ada yang sudah tidak masuk selama dua
230 bulan, ikut rewang orang tuanya , selalu sakit di hari Sabtu, dan alasan-alasan lainnya. Sempat kutanyakan kepada siswa yang masuk, “apakah mereka tidak pernah kalian ajak sekolah?” Dan mereka menjawab bahwa di desa mereka terdapat tradisi ketika ada tetangga mereka memiliki hajat, maka siswa akan ikut orang tuanya selama tradisi itu berlangsung. Mereka pula memeberikan contoh jika berlangsung tradisi tujuh harian orang yang meninggal maka mereka akan tidak masuk kelas selama tujuh hari itu. Hal ini tentu sangat membuatku lebih semangat karena masih ada tujuh siswa yang bersemangat mengikuti pembelajaran saat pertemuan pertama itu. Titik fokusku tertuju pada salah satu siswa bernama Tegar. Dia adalah siswaku yang spesial dan unik. Seluruh rambut di sekujur tubuhnya berwarna merah. Dia belum bisa membaca dan menulis tapi semangatnya ingin bisa sangat besar kala itu. Aku tau karena ia selalu bertanya , “huruf apa kak?, aku ingin menulisnya” Tak sesekali ada kejadian siswa yang keluar masuk kelas tanpa izin dengan dalih ingin pergi ke kamar mandi. Tapi,
231 sebenarnya mereka pergi ke kantin dan membawa jajan ke kelas sehingga menimbulkan kegaduhan saat pembelajaran berlangsung. Sehingga saat pertemuan ke dua, aku dan Kak Asyam membuat peraturan untuk membuat suasana kelas lebih kondusif. Aturan tersebut adalah kesempatan ke kamar mandi hanya satu kali dan ketika ditemukan siswa makan di dalam kelas maka makanan akan disita . Kali ini jumlah sisiwa kelas 6 sama dengan minggu lalu dan peraturan yang kami buat menjadikan kelas lebih kondusif karena tidak banyak ditemukan siswa yang keluar masuk kelas tanpa izin dan makan di dalam kelas. Akan tetapi ada kejadian yang sangat jelas terukir menjadi pengalaman berhargaku saat pengabdian pekan ke dua ini . Yaitu ketika Tegar loncat dari jendela karena sudah tidak bisa membendung hasratnya untuk membeli jajan. Saat itu masih dalam proses menulis materi yang Aku dan Kak Asyam ajarkan. Sehingga aku membagi tugas, Kak Asyam meneruskan pembelajaran dan aku yang keluar mencari Tegar. Saat aku keluar, ku temukan Tegar sedang bersama Kak Shof. Kak Shof adalah ketua GEMAPEDIA saat ini. Aku mendengar Kak Shof bertanya kepada Tegar apakah aku dan Kak Asyam jahat saat mengajar. Dan kupingku menghisap sauran Tegar. Dia menjawab “ Tidak kak, Aku sendiri yang ingin keluar beli jajan”. Setelah
232 mendengar itu, langsung kutemui Tegar dan kuajak untuk masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran lagi. Untuk pertemuan ketiga, aku menyusun rencana agar menciptakan suasana kelas yang mengasikkan karena kami sadari bahwa tidak ada siswa yang tidak suka belajar jika penyampaian kita tepat. Mesipun setiap pertemuan kami selalu membuat media pembelajaran yang menyenangkan. Saat itu kami wali dengan senam bersama anggota kelas yang lain di halaman sekolah. Setelah itu saat siswa kelas 6 masuk ke dalam kelas kami menjelaskan materi dan bermain bersama dengan tebak-tebakan gambar hewan. Saat itu apa yang kami rencanakan berhasil. Siswa paham materi, pembelajaran mengasikan, dan mereka tidak keluar kelas. Dan akhirnya kuajak siswa-siswaku untuk berfoto bersama. Dan akhirnya tibalah pekan akhir pengabdian akbar ini. Saat Aku masuk kelas, aku sudah melihat wajah sedih mereka yang tidak bersemangat. Dan akupun menemukan satu siswa yang setiap hari Sabtu tidak masuk sekolah karena sakit kini dia masuk. Senyumku yang lebar sebenarnya sedang menutupi hatiku yang menangis dengan air yang mengalir deras. Kali itu aku dan Kak Asyam mengajak mereka semua siswa kelas enam membuat figura dari steak es krim dan menempel foto hasil jebretan minggu lalu. Kali itu aku terfokus pada satu siswa
233 yang menuliskan DEA di figuranya. Dan siswa itu menjelaskan bahwa DEA itu kepanjangan dari aDin Evi dan Asyam. Setelah itu tim GEMAPEDIA berpamitan. Semua kelas enam menangis dan memelukku. Disitulah aku paham bahwa semua akan berakhir indah jika kita awali dengan niat yang ikhlas, hati yang tulus, dan proses sabar yang luar biasa. Bionarasi : Namaku Evi Triani Puspitasari (220311600770), rotasi memanggilku dengan kasih sayang Evi. Kali ini tuhan mengizinkanku duduk di bangku kuliah semester satu di Universitas Negeri Malang. Departemen Matematika Prodi Pendidikan Matematika menjadi alur kisah hidup yang sengaja kupilih untuk melengkapi perjalananku. Kalian bisa mengintip ceritaku di [email protected] .
234 “ Kegiatan Mulia Oleh : Intan Kurniawati Kertas-kertas berserakan di atas meja. Alat tulis seperti pensil, spidol, gunting, dan lem seolah menjadi pelengkap menemani dua orang mahasiswa yang sedang sibuk mencari ide untuk membuat media pembelajaran. Mereka adalah Risa dan Dina, dua orang mahasiswa berbeda fakultas yang menjadi partner dalam kegiatan pengabdian di SDN 3 Bangsa. “Jadi minggu ini kita mau buat media apa Ris?.” tanya Dina kepada risa yang juga terlihat bingung “Ehmm gimana kalau kita buat pop up book aja?.” jawab Risa yang masih ragu dengan idenya tersebut “Waah boleh tuh, pasti adik-adiknya suka.” Dina menyetujui ide Risa. Akhirnya mereka bekerja sama saling menyumbangkan ide untuk menyelesaikan media pembelajaran itu. Sudah sejak tiga minggu yang lalu Risa dan Dina mengikuti kegiatan pengabdian yang dilakukan setiap hari Sabtu. Meninggalkan sejenak setumpuk tugas dari dosen. “Kamu nggak capek Din?.” tiba-tiba Risa bertanya ditengah kegiatan mengguntingnya “Enggak, cuma gunting gini ngapain
235 capek?.” jawab Dina yang juga sedang menggunting “Bukan itu, maksudnya kamu nggak capek apa setiap hari Senin sampai Jum’at kuliah, hari Sabtu ikut pengabdian itu pun kita masih ada rapat di hari Kamis, kita cuma punya hari minggu untuk istirahat dan ngerjain tugas?.” tanya Risa “Ya pasti capek lah Ris, tapi ini semua kan pilihan kita buat ikut pengabdian jadi kita harus bertanggungjawab untuk menjalani ini” tutur Dina “Iya Din kamu bener, emang capek sih tapi waktu main sama adik-adiknya itu capeknya jadi hilang.” “Semangat Ris, minggu ini terakhir kita pengabdian” ucap Dina menyemangati Risa. Risa mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan dari Dina. Selain menyiapkan media pembelajaran mereka juga menyiapkan hadiah untuk murid-murid di SDN 3 Bangsa. Hari Sabtu pun tiba, Risa sangat antusias untuk mengikuti pengabdian pada hari ini karena ini merupakan pengabdian terakhir. Hari ini.Risa bangun pukul 03.00, dan pada saat itu terdengar rintikan suara hujan “Semoga nanti kalau mau berangkat hujannya udah reda” lirih Risa. Ketika hendak berangkat dari kos menuju titik kumpul hujan belum reda juga, hingga akhirnya Risa memaksakan untuk berangkat jalan kaki menggunakan jaz hujan menuju titik kumpul karena memang Risa tidak memiliki motor. Sesampainya di titik kumpul ternyata semua anggota sudah lengkap dan hanya
236 menunggu Risa “Selamat pagi semuanya” sapa Risa kepada semua anggota “Selamat pagi Risa…” jawab para anggota yang lain “Maaf ya semua aku terlambat” Risa meminta maaf atas keterlambatannya “Iya nggakpapa Risa, banyak yang baru dating juga kok.” ucap Dina “Dina kamu nggak lupa bawa media pembelajaranya kan?” tanya Risa memastikan bahwa Dina membawa media pembelajaran yang telah mereka buat sebelumnya “Amaaan” jawab Dina. Jam sudah menunjukkan pukul 06.50 namun mereka masih menunggu hujan sedikit reda. Langit semakin mendung dan hujan semakin deras seolah melarang mereka untuk berangkat. Namun hal tersebut tidak membuat para mahasiswa mengurungkan niatnya untuk melakukan kegiatan pengabdian pada hari itu. “Teman-teman karena hujannya nggak reda juga kita berangkat sekarang yak karena kita udah terlambat.” ucap Bunga, salah satu anggota yang bertugas mengkoordinasi teman-temanya. “Iyaa setuju” ucap yang lainnya “Kalian semua bawa jas hujan kan? Jangan lupa dipakai ya!” tambah Bunga memastikan semua anggota menggunakan jas hujan “Iya Bunga” jawab para anggota “Sebelum berangkat kita berdoa terlebih dahulu semoga aman di perjalanan dan selamat sampai tujuan” ucap Bunga kepada para anggota. Mereka pun berangkat bersamasama menerpa derasnya hujan untuk melakukan tugas mulia. Mereka berangkat dengan hati-hati dan selalu memperhatikan teman-
237 temanya satu sama lain takut ada yang tertinggal. Jalur yang ditempuh untuk sampai di lokasi pengabdian jauh dari kata mudah. Jalanan berlubang yang sempit dan berliku, melewati sawah bahkan hutan telah mereka tempuh setiap akhir minggu di bulan ini. Air hujan yang turun membuat perjalanan hari ini semakin sulit, penglihatan menjadi terganggu, jalanan menjadi licin dan berlumpur. “Din pelan-pelan aja” ucap Risa yang dibonceng oleh Dina. Risa merasa sedikit khawatir dan takut ketika melewati jalanan berlubang “Iya Ris, kamu baca doa yaa semoga kita aman” jawab Dina yang sebenarnya juga merasa takut “Iya Din” jawab Risa yang kemudian dilanjutkan dengan membaca doa, entah doa apa itu yang dipikirkan Risa saat ini adalah sampai di lokasi pengabdian dengan selamat. Setelah kurang lebih dua jam mereka sampai di lokasi pengabdian, SDN 3 Bangsa. Sesampainya di sana mereka disambut oleh wajah ceria murid-murid disana “Waaaah kakakkakaknya dataaaang” teriak salah satu siswa yang membuat siswa lainnya keluar kelas “Horeeee ada kak Risa.” ucap siswa yang lain “Iya ada kak Dina juga.” tambah siswa lain yang kegirangan. Risa dan teman-temannya tersenyum melihat hal itu, kemudian mereka langsung menuju ke kantor guru untuk memberikan salam kepada guru yang ada di sana. “Selamat pagi pak, mohon maaf hari ini sedikit terlambat
238 karena hujan.” ucap Bunga mewakili teman-temanya “Iya mbak tidakpapa, saya memaklumi.” tutur Pak Surya selaku kepala sekolah di SDN 3 Bangsa. Setelah memberikan salam kepada para guru mereka menuju kelas masing-masing untuk mengajar murid-murid di sana. Kegiatan pembelajaran pun berlangsung, rasa lelah di perjalanan terbayarkan dengan melihat antusias murid-murid disana yang semangat belajar dan bahagia melihat kehadiran Bunga, Risa, Dina, dan temantemannya. Dina dan Risa memasuki ruang kelas 2 seperti biasa, tanpa diketahui murid-murid kelas 2 telah menyiapkan kejutan untuk mereka berdua “Ini buat kak Risa sama kak Dina.” ucap Ari, salah satu siswa kelas 2 sambil mengulurkan tangannya yang memegang buket bunga “Hah, i..ini beneran buat kakak?” Dina seakan tak percaya “Iya kak” ucap siswa lainnya “Terima kasih banyak ya adik-adik.” ucap risa terharu. Risa dan Dina terkejut bercampur haru mendapatkan bunga dari murid-murid yang telah diajarnya. Mereka tidak menyangka mendapatkan rasa sayang sebesar ini dari murid-murid kelas 2 yang diajarnya. Setelah momen haru tersebut proses pembelajaran pun dimulai. Para siswa kelas 2 tampak senang dengan media pembelajaran yang dibuat oleh Risa dan Dina. “Seneng banget ya Din melihat semangat belajar mereka.” Bisik Risa kepada
239 Dina “Iya Ris, meskipun sekolah mereka tertinggal dari sekolah lain tapi semangat mereka luar biasa.” jawab Dina. Para siswa kelas 2 terlihat memahami materi yang telah diajarkan. Siswa yang sebelumnya kurang lancar membaca ada sedikit kemajuan dalam membacanya. Setelah kegiatan pembelajaran berakhir selanjutnya dilakukan upacara penutupan kegiatan pengabdian dan dilanjutkan penyerahan sedikit hadiah yang telah disiapkan kepada sekolah dan para siswa disana, tidak lupa juga mereka berfoto bersama. Setelah itu mereka berpamitan untuk pulang. Bionarasi : Hallo kenalin aku Intan Kurniawati, biasa dipanggil Intan dengan NIM 210321606878. Aku tinggal di Nganjuk. Aku lahir pada 13 Januari 2003. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang, departemen Fisika, program studi S1 Pendidikan Fisika. Ini adalah pengalaman pertamaku menulis cerpen. Jangan lupa follow akun instagramku @_its.intankrn.
240 “ Berkesan Oleh : Moch. Ardiansyah Putra Namaku Haikal Saputra, biasa dipanggil Haikal. Aku berumur 19 tahun yang saat ini menenmpuh pendidikan di Universitras Negeri Malang tepatnya prodi pendidikan guru sekolah dasar. Saat ini aku merupakan mahasiswa semester 3 yang mengikuti berbagai macam organisasi di kampus. Salah satunya yaitu gerakan mahasiswa peduli pendidikan yang biasa disebut GEMAPEDIA. Aku mengikuti GEMAPEDIA dikarenakan ingin mendapatlkan pengalaman tentang peduli terhadap pendidikan yang ada di Indonesia. Hari ini adalah hari Sabtu, hari pertama pengabdianku di SDN 3 Bambang. Sebagai orang asli Malang, seharusnya tahu bahwa di Malang ada SD yang namanya SDN 3 Bambang, tetapi aku belum pernah mendengar ada SD namanya SDN 3 Bambang. Jadi aku tidak sabar untuk segera sampai di sana dan ingin segera mengetahui SDN 3 Bambang itu seperti apa. Perjalanan ke SDN 3 Bambang ternyata sangat jauh dan membutuhkan waktu yang lumayan lama, melewati perkampungan, sawah, jurang bahkan hutan-hutan. Sepanjang
241 perjalanan rasanya mengantuk, karena suasananya yang sepi dan dingin. Ternyata SDN 3 Bambang letaknya sangat jauh dari kota bahkan bisa dibilang letaknya ada dipucuk tepatnuya ada di desa Bambang yang merupakan desa terakhir di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Sesampainya di SDN 3 Bambang, aku dan temanteman disambut dengan baik oleh para siswa dan guru-gurunya. Siswa-siswanya sangat sopan, mereka langsung menjabat tangan dan mengucapkan salam kepadaku dan teman-teman. Sebelum memasuki kelas, dilaksanakan apel pagi terlebih dahulu, sebagai tanda perkenalan sekaligus dibukanya acara Pengabdian Akbar 2 GEMAPEDIA. Setelah apel, aku langsung menuju ke ruang kelas yang akan aku bimbing. Aku tidak sendiri, aku ditemani oleh Ratna sebagai partner mengajarku, dan Kak Putri sebagai LO ku. Jujur pada saat masuk ke kelas, aku sangat terkejut karena jumlah siswanya hanya 8 anak yang masuk. “Assalamualaikum Wr.Wb, selamat pagi adik-adik. Bagaimana kabarnya hari ini?’ ucapku dan Ratna secara bersamaan. “waalaikumsalam Wr.Wb, selamat pagi juga kak, Alhamdulillah baik” jawab seluruh siswa kelas 6.
242 Setelah salam, aku lanjutkan dengan berdoa, perkenalan dan kemudian aku lanjutkan ke materi. Pada saat penyampaian materi, aku bergantian dengan Ratna yaitu aku yang menjelaskan, Ratna yang keliling untuk mengawasi para siswa, begitupun sebaliknya. Aku tertuju pada 1 anak, namanya Pandu dia terlihat bermain sendiri dan tidak memperhatikan materi yang dijelaskan. Aku mencoba mendekatinya dan menegurnya “Halo Pandu, gaboleh bermain pada saat pelajaran yaa!! Ayo diperhatikan dulu!!” seruku pada Pandu “Aku malas, pingin beli jajan” jawab Pandu. “Enggak boleh malas, inikan masih pagi, nanti jajannya waktu istirahat. Ayo alat tulisnya dikeluarkan” tuturku “Aku malas kak, aku bosan” jawabnya sambil mengeluarkan alat tulis dari tas nya “Pandu tidak bisa menulis sama membaca kak!!” kata teman Pandu yang namanya Zulfa Mendengar hal tersebut, aku sangat terkejut karena sudah kelas 6 tetapi belum bisa membaca dan menulis.
243 Akhirnya aku coba merayu Pandu agar dia mau aku ajari menulis dan membaca. “Ayo Pandu, kakak yang bacain kamu yang menulis ya!!” seruku kepada Pandu “Oke deh kak” jawab Pandu “Formulir, huruf pertama F, huruf kedua O, dan seterusnya” kataku sambil mengejanya bersama Pandu Sebenarnya Pandu bisa menulis, hanya saja dia sering tertukar huruf, misalnya huruf “M” tertukar dengan huruf “N”. Pada saat dipertengahan menulis pandu tiba-tiba meminta izin untuk pergi ke kamar mandi. “Kak aku izin ke kamar mandi ya” izin Pandu kepadaku “Iya boleh, tapi habis ke kamar mandi langsung balik yaa” pintaku kepada Pandu Aku tungguin Pandu kok gak balik-balik ke kelas, aku coba samperin ke kamar mandi tetapi tidak ada. Ternyata Pandu ada di kantin sedang membeli snack, langsung aku menyuruhnya untuk masuk ke kelas
244 “Pandu ayo masuk ke kelas, jajannya nanti waktu istirahat!!” sontakku memanggil Pandu Pandu tidak memperdulikan panggilanku, dia malah meneruskan untuk tetap membeli snack. Akhirnya aku samperin dia dan dia mau masuk ke kelas, tetapi dia tidak mau mengikuti pelajaran bahkan tidak mau duduk. Dia berkeliling kelas, aku mengejarnya menyuruh dia untuk duduk. Akan tetapi dia malah lari dengan cepat dan menghindar dariku bahkan melompat dari jendela menuju ke luar kelas. Semakin cepat dia lari, tidak terasa aku sudah mengejarnya mengelilingi halaman sekolah. Aku menyerah dan memilih untuk masuk ke kelas, kubiarkan Pandu tetap di luar karena aku berpikir dia nanti kalo sudah lelah pasti akan masuk ke kelas. “Yaudah aku masuk aja ke kelas, nanti kalo dia lelah juga bakal balik ke kelas” batinku dalam hati sambil berjalan menuju ke kelas. Tidak lama kemudian, Pandu masuk ke kelas sambil membawa snack yang dia beli di kantin. Aku langsung menyuruhnya untuk meletakkan snacknya di kolong meja nya, kemudian aku menuntun dia untuk melanjutkan menulis materi. Aku menuntun Pandu menulis dengan berdiri di
245 sampingnya, tiba-tiba Pandu juga berdiri, berjalan ke belakang mengambil kursi dan memberikannya ke aku. “Ini kak kursinya, sambil duduk aja jangan berdiri” kata Pandu sambil memberikan kursinya ke aku. Hatiku tersentuh, dia ternyata sopan sekali bahkan aku tidak menyangka kalau dia akan mengambilkan kursi untukku. “Terima kasih Pandu” ucapku sambil mataku berkaca-kaca Selang beberapa menit, waktu menunjukkan jam 09.00 yang artinya sudah menunjukkan waktu istirahat. Pandu makan snacknya di dalam kelas sambil cerita-cerita denganku. “Pandu kamu cita-citanya apa?” tanyaku ke Pandu “Aku ingin jadi belantik mas” jawab Pandu “Oh kamu ingin punya sapi banyak yaa, kalau udah lulus SDkamu ingin lanjut ke SMP mana?” tanyaku lagi ke Pandu “Aku tidak ingin melanjutkan ke SMP, aku tidak bisa membaca dan menulis jadi aku ingin bekerja membantu orang tua saja” jawab Pandu Aku terdiam, sedih mendengar jawabannya dan terharu karena dia masih kecil tapi sudah kepikiran untuk membantu
246 orang tuanya mencari uang. Kemudian aku mengalihkan pembicaraan, karena aku takut Pandu tersinggung dengan jawabanku. Singkat cerita, hari ini sudah memasuki pertemuan ke 4 mengajarku di SDN 3 Bambang yang artinya ini adalah pertemuan terakhirku. Terlihat berbeda, tidak seperti biasanya seluruh siswa kelas 6 patuh terhadap perintahku. Bahkan, Pandu sudah tidak pernah keluar masuk kelas dan juga tidak makan pada saat pelajaran. Aku sangat senang, karena selama 4 pertemuan ternyata ada perubahan. Dari yang mereka rame, bermain sendiri, bahkan keluar kelas saat pelajaran di pertemuan terakhir ini mereka menunjukkan bahwa mereka benar-benar berubah. Di akhir pelajaran, setelah aku tutup tibatiba mereka satu kelas menangis dan memelukku. Aku terkejut, hanya dengan 4 pertemuan mereka sudah sesayang itu sama kita. Terlihat singkat, tetapi sangat berkesan bagiku dan juga mereka. “Sudah jangan menangis, nanti kita kapan-kapan bisa bertemu lagi” kataku sambil menenangkan mereka. “Jangan pergi kak di sini saja, nanti yang mengajariku membaca dan menulis lagi siapa” kata Pandu sambil meneteskan air matanya
247 “Sudah Pandu jangan menangis, nanti kita bertemu lagi ya!! Kalau kamu butuh bantuan, bisa WA ke kakak kok. Ini kakak kasih no WA kakak” jawabku sambil memberikan sobekan kertas yang berisi no WA ku. Setelah semua sudah tenang, aku bersama partnerku dan juga kakak LO ku langsung berpamitan ke mereka, kemudian kita memberikan kenang-kenangan ke mereka. Tidak hanya itu, kita juga berfoto bersama-sama, karena hanya dengan foto itulah mereka akan selalu mengenang kita begitu juga sebaliknya. Aku menyadari bahwa di dalam petemuan pasti akan ada perpisahan, aku juga sadar dengan kesabaran dan keikhlasan yang kita tanam dari awal, akan menunjukkan hasilnya di akhir. Semoga esok akan lebih indah dan semoga kita bisa bertemu kembali di lain waktu. Bionarasi : Namaku Moch. Ardiansyah Putra, dengan NIM 210151601752, Fakultas Ilmu Pendidikan, Prodi PGSD. Aku lahir di Malang, 16 Maret 2003. Rumahku di Jln. Randuagung Krajan Barat Rt 04 Rw 03, Singosari, Malang. No WA ku 089689320000. Ini merupakan cerpen ke 3 ku, cerpen
248 pertamaku telah diterbitkan dalam novel kumpulan cerpen yang berjudul “Terompah Persahabatan”.
249 “ Kisah Relawan Muda Oleh : Salisia Nur Rahma Pagi menjelang disetiap hari Sabtu bulan November seorang mahasiswi Universitas Negeri Malang yang biasa dipanggil Salis mulai mempersiapkan diri untuk kegiatannya. Salis, ialah aku sendiri, seorang mahasiswi yang terpilih menjadi relawan mengajar dalam kegiatan Pengabdian Akbar 2 yang diselenggarakan oleh GEMAPEDIA. Aku menjadi relawan di SDN 3 Bambang yang berada di pelosok Kabupaten Malang yang jauh dari kota. SD itu sangatlah asri karena berada di pegunungan bahkan dari SD itu gunung Semeru terlihat jelas nan indah. Dimulai pada hari pertama, hari rabu tanggal 12 November 2022, aku dan rekan - rekan seperjuanganku memulai Pengabdian ini. Pada hari itu juga bertepatan dengan hari lahirku yang membuat rasa senang yang mendalam pada diriku. Subuh menjelang aku sudah bersiap - siap menyiapkan segala hal yang akan aku bawa saat pengabdian hari itu. Matahari mulai muncul dari ufuk timur aku sudah berangkat ke kampus untuk berkumpul dengan rekanku lainnya. Pada hari