100 seperti pertemuan kemarin, dan yah benar awal pembelajaran ferdi tidak mau duduk berdekatan dengan kena dan dia mendorong meja dan kursinya sampai diujung yang bersebrangan dengan teman-teman yang lain. Bersyukurnya anak kelas 1 tidak memakai papan sehingga mereka duduk dibawah menggunakan karpet. Aku yang sedikit kesusahan mengajar ferdi yang sama sekali menutup mulutya ketika aku mulai mengajar sedangkan teman-temannya yang lain sangat bersemangat tidak mungkin kan aku hanya fokus kepada 5 siswa sedangkan 1 siswa tidak mau belajar dengan alasan jika kena masih di kelas dia sama sekali tidak mau belajar aku yang hampir menangis kemabali melihat Fiona yang mau membantuku menghandel kelas meskipun dia sakit karena tidak ada nayla. Akhirnya aku mulai menata niatku kembali dan aku berhasil mengajar mereka sampai istirahat dan setelah bel istirahat selesai aku mulai menjalankan agenda berukutnya yaitu “ dolanan bareg” dan yups mereka suka dengan agenda yang aku buat meskipun kulitku sudah menghitam dan keringat yang bercucuran aku merasa puas akhirnya aku dapat menyelesaikan pertemuan ke3 ini dengan lancar dan ferdi sudah baikan dengan kena sungguh aku bangga pada diriku sendiri.
101 Seperti biasa setelah makan siang dan evaluasi kami memutuskan untuk pulang meskipun menerjang hujan yang penting aku bisa segera rebahan dengan tenang di kasur asrama ku sambil berbincang dengan aura teman sekamarku. Namun ditengah perjalana aku terjatuh dari speda motor aku berusaha berdiri karena aku sangat malu. Aku dibantu mas-mas untuk melihat keadaan sepeda motorku dan sepeda motorku tidak lecet tapi aku yang lecet dengan keadaan gerimis aku berusaha untuk bisa kembali dengan selamat sampai asrama meskipun diperjalanan aku menangis karena sepertinya kakiku kesleo. Hari kamis kakiku asih sedikit nyeri dan Sabtu depan adalah Sabtu terakhir aku pengabdian. Aku tidak bisa jika minggu ke 4 ini aku tidak hadir karena minggu ini adalah minggu terakhir yang berarti hari dimana aku berpamitan dengan anak-anak. meskipun merek sangat membuatku sedikit pusing dan lelah namun aku sangat menyaangi mereka, berkat mereka juga aku bisa membuat RPP dengan mudah dan membuat media pembelajaran sederhana namun bisa dimanfaatkan dengan baik. aku ingin melihat mereka dan berpamitan secara baik-baik. Pada hari Sabtu aku sudah siap dengan segala resiko jika dijalan aku jatuh lagi namun tidak menghalangi ku untuk ingin bertemu dengan mereka. Sesampainya di SD lagi-lagi aku
102 melihat ferdi dan kena dengan wajah tertekuk hatiku mencelos “ jangan lagi ini sudah hari terakhir” dengan lesu aku masuk kekelas aku harus tersenyum dan semangat karena jika aku murung mereka juga akan murung. Namun ketika melihat nayla aku tenang dan aku merasa aku tidak akan sendiri kan aku sekarang bersama Nayla dan Fiona yang selalu mebantu kami jika kami butuh orang tambahan untuk mengatur anakanak. setelah pembelajar selesai aku dan nayla berpamitan namun anehnya mereka terlihat sedih terutama kena yang sedari tadi menempel padaku aku jadi sedih dan ingin menangis. akhirnya diujung waktu pembelajaran selesai kami membagikan hadiah perpisahan dan berfoto-foto aku melihat ferdi yang sepertinya ada yang ingin dia sampaikan namun aku tidak mendekat karena aku tau dia sangat gengsi dan cuek aku terus memperhatikan dia dengan lengan kananku yang terus dipegang oleh kena. Aku sangat berterimakasih kepada mereka berkat mereka aku tau bagaimana menjaga mood agar stabil diantara mereka yang sudah tidak dapat dikendalikan dan bagaimana aku harus sabar dan mencari cara agar mereka mau untuk belajar. Aku sangat senang karena aku bisa bergabung dengan mereka para laskar yang hebat sambil tersenyum aku keluar dari pagar SD menuju tempat makan untuk melakukan
103 evaluasi. Terimakasih SD Harapan Bangsa 3 sudah mengajarkanku banyak hal baru. Biodata Penulis : Nama : Silvi Yuniawardhani, NIM : 210151601859, Fakultas : Fakultas ilmu Pendidikan, Departeman : KSDP, Prodi : PGSD, TTL : Pasuruan, 4 Juni 2002, ALAMAT : Desa Puspo, Pasuruan
104 “ Perempuan Penunggu Oleh : Alyssa Prameswari Angin pagi yang dingin menerpa wajahku. Sabtu pagi, tapi aku sudah harus di jalan menuju kampus. Pengabdian Akbar 2 harusnya menyenangkan, tapi pagi itu hatiku sedang tidak senang. Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, ada sesuatu yang mengalihkan pikiranku pagi ini. Perasaan yang aneh dan tidak nyaman menyelimuti pikiranku. Ku coba untuk menghiraukannya, karena semakin dipikirkan bisa saja sesuatu yang buruk terjadi. Sesampainya di kampus kulihat semua teman-temanku berkumpul. Masing-masing dari mereka sibuk menyiapkan media mereka, membicarakan materi mereka hingga membicarakan perjalanan kami nanti. Hilang semua rasa aneh yang menyelimuti hatiku setelah melihat mereka yang terlihat sangat bersemangat saat itu. Perjalanan menuju tempat pengabdian kami berjalan lancar. Kami disambut dengan pemandangan yang menarik dan indah. Udara yang segar menemani kami sepanjang perjalanan. Semua orang sangat bersemangat dengan kegiatan itu tak terkecuali aku. Satu
105 setengah jam kemudian kami tiba di SDN 03 Dadapan. Dari semua hal yang terdapat disana hanya satu yang menarik perhatianku. Perempuan berambut panjang yang mengguakan baju kurung ala melayu berwarna putih sedang menanti kehadiran kami di gerbang sekolah. Menurutku ia seperti berumur 20an tahun. Tidak ada yang aneh dari dirinya, tapi tentu saja ia bukan manusia, bagaimana bisa ia manusia karena kita semua berkendara tepat melewati tubuhnya. Ia tersenyum saat kami melewatinya. Setelah kami memarkirkan kendaraan kami. Kami bersama-sama menuju ruang kepala sekolah untuk menyapa guru-guru disana. Sekilas aku meliat perempuan itu bersamasama mengikuti kami ke ruang kepala sekolah. akan tetapi ia berhenti tepat di samping pintu, kurasa ia tak ingin mengganggu kami. Jadi ku hiraukan saja dia. Aku pun memulai pembelajaran yang telah kusiapkan selama seminggu. Semua berjalan lancar walaupun sangat menguras tenaga. Karena selain mengajar aku juga terus-terus mengamati perempuan itu mondar-mandir di depan kelas. Ia terus-terusan mengintip kami semua. Mungkin ia hanya penasaran. Ketika jam istirahat tiba aku melihat ia berdiri di area parkiran motor kami. Mengamati kami semua dari kejauhan, ia tak tersenyum tak nampak muram tak nampak sedih. Ia terlihat biasa saja. Sejujurnya aku
106 berusaha sebisa mungkin untuk tidak menampakkan bahwa aku bisa melihat dirinya. Karena terkadang beberapa makhluk kurang suka dilihat makhluk lain. Aku bercengkrama dengan teman-teman yang lain berusaha keras untuk tidak memperhatikannya. Karena sebenarnya aku sedikit khawatir ia akan melakukan sesuatu kepada kendaraan-kendaraan kami. Bel berbunyi dan kami pun kembali ke dalam kelas melanjutkan pembelajaran kami. Pada sisa jam terakhir perempuan itu menghilang aku tak melihatnya mondar-mandir di Lorong maupun di belakang kelas. Sepertinya ia bosan memperhatikan kami. Dan kami juga tidak melakukan hal- hal aneh apapun jadi mungkin ia tidak peduli lagi. Aku dan temanteman yang lain melanjutkan pembelajaran hingga bel berbunyi. Setelah itu kami bersiap untuk pergi dari SD tersebut. Ketika keluar aku tidak lagi melihat perempuan itu dimana pun. Aku hanya merasa entah mengapa energiku sangat-sangat terkuras, bahkan sebenernya aku terlalu lelah untuk mengikuti evaluasi pada hari itu. Tapi aku kuat-kuatkan saja tubuh ini. Selama perjalanan tidak ada hal yang mencurigakan dan aneh. Aku sedikit merasa bahwa ban motorku goyang sedikit, tetapi aku tidak terlalu memperhatikan karena kukira hanya jalanan saja yang tidak rata. Lalu kami berhenti untuk makan dan evaluasi kegiatan kami hari ini. Semua berjalan dan setelah
107 diisi oleh makanan tubuhku mulai mendapatkan kembali energinya, walau masih merasa lelah. Sepertinya aku lapar. Setelah kami menyelesaikan kegiatan kami di rumah makan tersebut kami melanjutkan perjalan ke suatu masjid yang tidak jauh dari tempat kami singgah makan siang. Selama menunggu aku bercerita dengan teman-temanku tentang kegiatan hari ini yang begitu melelahkan tetapi mengasyikkan. Setelah semuanya selesai sholat dan beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalan pulang kami. Tak disangkasangka ban belakang motorku kempes total. Kempes hingga tak terbentuk, untungnya ketua LO dan dewantara mau menunggui ku isi angin ban belakang motorku. Menurutku ini kejadian yang sangat tidak wajar karena ban motorku baru saja diisi angin sekitar hari kamis atau dua hari yang lalu dan hari ini sudah kempes lagi, bahkan kempesnya bener-bener parah. Setelah diisi dan kami kembali melanjutkan perjalanan pulang. Esoknya aku buru-buru membawa motorku ke bengkel terdekat untuk diperiksa apakah mungkin banku terkena paku hingga bocor, setelah di cek berulang kali ternyata tidak ada yang bocor semua baik-baik saja. Aneh sekali bukan ban yang baikbaik saja bisa kempes sangat parah pada hari itu. Tak lama setelah kejadian itu aku jatuh sakit dan mengalami demam tinggi. Suhu tubuhku naik-turun dan aku
108 tidak henti-hentinya mengingat perempuan itu. Aku sakit hampir seminggu lamanya. Karena merasa aneh akupun menghubungin nenekku di kediri. Setelah aku menceritakan semua kronologinya. Nenekku berkata bahwa mungkin perempuan itu tahu bahwa aku bisa melihat dirinya dan ia tersinggung karena aku mengacuhkannya. Sehingga ia berusaha mencelakanku, tidak berat melainkan kecelakaan ringan saja, sehingga setidaknya aku mau menerima bahwa aku bisa melihatnya. Karena aku sakit dan sangat lemas pada minggu ke-2 pengabdian aku tidak bisa datang dan menyapanya, Namun, pada minggu ke-3 aku datang ia sudah kembali menunggu kita di gerbang sekolah, kali ini aku tidak lagi berpura-pura tidak melihatnya dan semuanya berjalan lancar. Bionarasi : Nama saya Alyssa Prameswari mahasiswa FMIPA prodi Pendidikan Matematika UM Angkatan 2021 dengan NIM 210311624834. Saya lahir di Balikpapan, 08 Desember 2002. Saya tinggal di perumahan wika Kutai Hills KH 15 No 11 Balikpapan, Kalimatan Timur. Kalian bisa menghubungi saya melalui IG saya @alyssaprms. Saya pernah mengikuti lomba cerpen dan menulis cerpen untuk majalah anak-anak
109 “ Pengalaman Pertama sebagai Guru Oleh : Alamsyah Pradwika Dafio 12 November 2022, hari dimana aku memulai hariku sebagai guru untuk pertama kalinya dalam formal atau mengajar di sekolah. Aku ditugaskan untuk mengajar di sekolah SDN 3 Dadapan kelas 3 bersama partnerku yang bernama Alyssa. Pada hari itu adalah pertemuan pertama dalam Pengabdian Akbar 2 yang diadakan oleh GEMAPEDIA. Aku dan Alyssa memasuki kelas 3 yang dimana kelas tersebut juga gabung bersama kelas 6. Murid kelas 3 ada di bagian sisi kanan dan murid kelas 6 ada di bagian sisi kiri. Di saat aku dan Alyssa memasuki kelas, kami melihat tiga anak yang duduk di kursi yang siap untuk belajar bareng kami. Kami mulai perkenalkan diri masing-masing sebelum memulai pembelajaran. Setelah itu, aku menanyakan salah satu muridku untuk memperkenalkan dirinya sendiri. Awalnya, mereka bertiga sangatlah malu untuk memperkenalkan diri. Namun, ada seorang murid yang akhirnya mau memperkenalkan dirinya sendiri. Dia adalah Della.
110 Della adalah muridku yang sangat antusias dalam belajar. Della selalu menjawab pertanyaanku dan juga dari Alyssa saat menanyakan materi yang akan dipelajari. Della pernah bercerita bahwa suatu saat Della ingin menjadi seorang dokter yang ingin merawat orang-orang sakit, terutama ibunya sendiri. Setelah Della memperkenalkan dirinya, aku pun menunjuk murid sebelah Della. Murid tersebut lalu memperkenalkan diri dan nama dia adalah Ain. Ain memiliki sifat yang pemalu sekali dalam belajar. Setiap aku dan Alyssa menanyakan suatu pertanyaan ke Ain, dia tidak mau menjawab karena dia merasa malu untuk menjawab pertanyaannya tersebut. Tapi di samping itu, Ain adalah anak yang sangat suka bermain dan mengerjakan hal-hal yang kreatif seperti membuat origami dan kerajinan. Di antara 3 murid tersebut, tersisa satu orang yang belum memperkenalkan dirinya sendiri. Aku dan Alyssa pun menanyakan nama murid terakhir yang belum memperkenalkan dirinya tersebut. Murid tersebut bernama Putri. Putri memiliki sifat yang hampir sama dengan Ain. Putri adalah anak yang pemalu ketika diminta untuk menjawab pertanyaan. Bahkan sangat disayangkan, Putri selalu pesimis dan tidak percaya diri terhadap dirinya sendiri. Setiap diminta untuk menjawab atau membaca, Putri selalu bilang kalimat “Tidak Bisa” yang menyebabkan dirinya benar-benar tidak bisa. Meskipun, aku dan Alyssa terkejut apa yang kami ketahui
111 tentang Putri. Setelah kami ketahui, ternyata Putri masih belum bisa membaca dengan lancar. Seketika, aku dan Alyssa sangat terkejut atas apa yang Putri alami karena untuk anak yang berada di kelas 3 sudah bisa membaca dengan lancar. Akhirnya, Aku dan Alyssa memutuskan untuk memisahkan diri dan Alyssa berinisiatif untuk mengajari membaca kepada Putri secara intensif. Sementara itu, aku fokus untuk mengajari Della dan Ain tentang mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada dalam pembelajaran, aku dan Alyssa diminta untuk mengajar tentang kalimat saran. Di saat Alyssa fokus dalam mengajari Putri dalam membaca, aku menjelaskan materi kalimat saran kepada Della dan Ain. Aku mengajari mulai dari pengertian kalimat saran, ciri-ciri kalimat saran, serta contoh kalimat saran dalam kehidupan sehari-hari. Aku berupaya untuk mengajak murid-muridku untuk bercerita tentang kehidupan sehari-harinya. Ain bercerita kepada aku bahwa dia mempunyai kucing yang lucu di rumahnya. Kucing tersebut ia namai “Pussy”. Di saat Ain bercerita tentang kucingnya, aku menyelipkan contoh kalimat saran terhadap cerita Ain tersebut. Aku menanyakan kepada Ain beberapa saran yang harus kita lakukan dalam merawat kucing. Ain pun sontak dengan semangat menjawab pertanyaan aku dan menyarankan beberapa hal yang penting dalam merawat
112 kucing. Berkat jawaban tersebut, aku sebagai pengajar sangat bangga atas apa yang dilakukan oleh Ain karena Ain dapat mengerti apa yang dia pelajari tentang kalimat saran. Tidak hanya Ain, tapi aku juga mengajak Della untuk bercerita tentang kehidupannya. Della pernah bercerita kalau di saat hari libur dia selalu membantu ibunya. Mulai dari mencuci piring, mencuci baju, menyapu rumah, dan kegiatan lainnya. Setelah apa yang Della ceritakan hal tersebut, aku dengan sigap langsung memberikan apresiasi berupa mengatakan kata “pintar” dan mengajak dia untuk toss juga. Aku pun juga senang atas apa yang dilakukan oleh Della terhadap ibunya. Perilaku yang Della lakukan patut untuk dicontoh ke semua orang karena membantu ibu akan meringankan pekerjaan ibu yang beliau lakukan selama sehari-hari dan Tuhan pun akan memberikan pahala kepada anak yang mau membantu ibunya dalam menyelesaikan pekerjaan ibunya tersebut. Tak lupa juga, aku memasukkan beberapa kalimat saran kepada Della supaya Della pun dapat mengerti dan menerapkan kalimat saran tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Pertemuan demi pertemuan berlalu, tanggal 12, 19, 26 November 2022, selama tiga pertemuan tersebut ketiga muridku sangat senang terhadap keberadaan aku dan Alyssa sebagai guru mereka. Setelah belajar, aku dan Alyssa
113 mengadakan dolanan bareng supaya murid-murid tersebut tidak jenuh terhadap pembelajaran, tapi juga diajarkan untuk bermain dan melupakan sejenak pembelajaran tersebut. Tanggal 03 Desember 2022, hari dimana pertemuan terakhir aku dan Alyssa sebagai guru dalam mengajar kelas 3 di SDN 3 Dadapan. Pada pertemuan terakhir tersebut, aku dan Alyssa dikejutkan dengan satu hal. Hal tersebut adalah ada satu muridku lagi yang akhirnya datang pada hari Sabtu, yang tiga pertemuan terakhir tidak hadir saat pembelajaran. Dia itu adalah Indra. Pertama kali aku dan Alyssa menemui Indra, Indra sangatlah pemalu. Di kelas, ketika Ain, Della, dan Putri semangat dalam belajar, Indra justru hanya berdiam diri seorang. Pada saat itu, aku memutuskan untuk mengajari Indra tentang materi yang kita ajarkan sebelumnya. Sementara itu, Alyssa lebih fokus untuk memberikan latihan kepada Ain, Della, dan Putri tentang kalimat penyelesaian masalah. Akhirnya setelah beberapa waktu yang dibutuhkan, aku mampu mengajari Indra tentang kalimat saran dan kalimat penyelesaian masalah. Indra dapat mengetahui contoh kalimat saran dan kalimat penyelesaian masalah. Tapi yang aku bangga terhadap Indra adalah sifat keberanian dia setelah aku membimbingi dia dalam melakukan sesuatu. Indra mampu
114 menunjukkan ekspresi dia dan senang dalam berada di kelas bersama aku dan Alyssa. Setelah 4 pertemuan yang kami lalui, kami mengucapkan salam perpisahan kepada Ain, Della, Putri dan Indra karena kami tidak lagi berkunjung dan mengajar di SDN 3 Dadapan. Aku berharap murid-muridku dapat belajar dengan rajin dan selalu percaya diri terhadap apaun. Tidak lupa selalu menjadi orang yang optimis dan jauhi dari kata “Tidak Bisa” tersebut. Bionarasi : Alamsyah Pradwika Dafio, lahir di Bukittinggi pada 05 Juli 2002 dan sekarang menetap di Malang. Sekarang tengah menempuh pendidikannya di Universitas Negeri Malang, Fakultas Sastra, Departemen Sastra Inggris, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dengan NIM 210221604454. Ini adalah pengalaman pertama dalam menulis cerpen dan menemukan banyak kesulitan dalam memikirkan ide cerita yang akan disampaikan melalui cerpen ini.
115 “ Pengabdian Pertamaku Oleh : Iin Sarlitaningtias Kisah ini menceritakan tentang pengalaman pengabdian pertamaku yang baru saja ku jalani. Aku adalah seorang mahasiswi jurusan kesehatan yang berkesempatan ikut serta dalam kegiatan pengabdian untuk mengajar di salah satu sekolah dasar di daerah pinggiran. Sekolah tempatku mengabdi ini merupakan sekolah yang paling sedikit siswa di satu kecamatan, maklum saja karena letaknya di pinggir kabupaten yang menurutku termasuk daerah pelosok, disamping itu terdapat madrasah pula yang banyak menjadi pilihan anak-anak untuk sekolah di sama daripada di sekolah tempatku mengajar. Dalam kesempatan itu aku mengajar di kelas empat bersama rekanku yang bernama Ida, yang biasa kupanggil Mbak Ida. Sebelum mulai pengabdian kami menyiapkan segala kebutuhan mengajar mulai dari rancangan pembelajaran, media, latihan soal, hingga kegiatan untuk mengembalikan konsentrasi siswa. Akhirnya hari pertama pengabdianku tiba. Karena pertama kali mengajar aku sangat nerfes dan takut. Di perjalanan aku berbincang dengan Mbk Ida.
116 “Mbak Ida kok aku takut ya, mana deg-degan banget pertama kali ngajar, takut ngga bisa ngajar dengan maksimal Mbak” ucapku penuh cemas. “Udah ngga apa-apa, tenang, bismillah insyaallah lancar” jawab Mbak Ida menenangkanku di perjalanan. Tibalah aku beserta rombongan di sekolah tempat kami mengajar. Setelah itu aku dan Mbak Ida masuk ke ruang kelas empat. Kelas empat merupakan kelas dengan jumlah siswa terbanyak di sekolah tersebut sejumlah sebelas siswa, dengan dua siswa laki-laki dan sembilan perempuan. Di kelas, ku tatap satu persatu siswa siswi yang akan aku ajak belajar bersama selama sebulan kedepan. Tatapan mereka cukup asing, mungkin karena baru pertama kali bertemu. Dalam hati aku berdoa agar bisa mengajar dengan maksimal dan apa yang telah kami persiapkan bisa berjalan dengan lancar. “Assalammu’alaikum wr. wb.” salam dari Mbak Ida membuka kelas kami di pagi hari itu. “Wa’alaikumussalam wr. wb.” jawab anak-anak dengan kompak dan semangat.
117 Kami pun memperkenalkan diri sembari membagikan mahkota bertuliskan nama mereka agar kita saling kenal dan mudah untuk memanggil karena belum hafal nama mereka semua. Mereka sangat antusias karena mahkota buatan Mbak Ida memang bagus. Setelah itu kami mengajak adik-adik untuk berdoa sebelum memulai pembelajaran, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. “Kalau kakak bilang hai kalian jawab hallo ya, begitu pula sebaliknya, kakak coba ya” ajakku untuk mencairkan suasana dan membuat lebih dekat dengan mereka. “Hallo” “Haii” jawab peserta didik dengan kompak. Kami puji mereka karena antusias dan penuh semangat. “Ada yang tau ini tidak ya?” sambil kutunjukkan media pembelajar yang telah kami buat. “Tidak tau kak, itu apa kak?” tanya Siska salah satu siswi. “Ini adalah papan MIPO atau papan untuk menentukan ide pokok dan ide pendukung. Jadi hari ini kita akan belajar tentang materi ide pokok dan ide pendukung. Semua siap untuk belajar hari ini?”
118 ‘Siap kaakk” jawab mereka dengan penuh semangat. Setelah itu aku dan Mbak Ida menjelaskan tentang materi hari ini. Kami tuliskan pula di papan tulis agar mereka bisa mencatat. Aku pun berkeliling untuk melihat tulisan mereka. Ternyata ada anak yang tidak menulis. “Hallo Adiba, kenapa tidak menulis?” tanyaku pada salah satu siswa yang tidak menulis. “Hai kak, ngga mau kak capek” jawabnya dengan polos. “Loh, kan kita baru mulai belajarnya, kok sudah capek? Ayo ditulis dulu ya, nanti untuk belajar di rumah” bujukku pada Adiba agar mau menulis. “Emoh (tidak mau) kak, capek, pengennya main kak, ngga mau belajar.” “Iya nanti kita main bareng ya, tapi belajar dulu, biar jadi anak yang cerdas oke?” “Ngga mau kak” jawab Adiba dengan kepala yang diletakkan di meja. Sontak aku dan Mbak Ida bingung, anak ini kenapa. Setelah Mbak Ida melakukan pendekatan ternyata selain Adiba
119 ada satu anak lagi yang tidak menulis, setelah ditanya ternyata dia tidak bisa menulis, namanya Alisa. Pembelajaran pun tetap kami lanjutkan dengan bagi tugas antara aku dan Mbak Ida. Aku mengajar kelas, Mbak Ida mengajar Adiba dan Alisa yang ternyata belum hafal huruf sehingga belum bisa membaca. Adik-adik nampak antusias dalam mengikuti pembelajaran, meskipun disela-sela pembelajaran konsentrasi mereka terkadang pecah, kami pun memberikan permainan sederhana untuk mengembalikan konsentrasi mereka. Meskipun Adiba dan Alisa belum bisa membaca, namun ketika belajar membaca bersama Mbak Ida kedua siswi itu tampak semangat. Pertemuan pertama kala itu banyak memberi pelajaran, bahwa meskipun adik-adik tinggal di daerah pinggiran namun semangat mereka dalam menuntut ilmu tidak kalah dengan anak-anak kota. Disamping itu sebagai pengajar, kami juga harus belajar sabar untuk menghadapi tingkah laku peserta didik. Ketika pengajar bersemangat hal itu juga akan menular pada peserta didik, yang menjadikan pembelajaran lebih hidup dan menyenangkan. Begitulah sedikit kisahku tentang hari pertama pengabdianku.
120 Bionarasi : Namaku Iin Sarlitaningtias dengan NIM 210612608870 Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan. Aku lahir di Sragen tanggal 10 Mei 2002. Alamat kosku di Malang di Jalan Terusan Ambarawa No.13G, Sumbersari, Lowokwaru. Penulisan cerpen ini aku selesaikan pada H-1 pengumpulan, semoga sedikit cerita ini dapat bermanfaat untuk pembaca.
121 “ Singa Kecil Oleh : Gaby Kharissa Vianti Hai, namaku Via. Aku salah satu pengajar muda yang ditugaskan untuk mengajar di salah satu desa di kota kelahiranku. Perjalanan menuju desa tersebut memakan waktu selama 1 jam bahkan lebih. Jika cuaca sedang cerah mungkin kurang lebih bisa 1 jam. Namun, jika sedang hujan maka akan memakan waktu lebih lama lagi. Menurutku hal tersebut adalah hal yang wajar karena kendaraan pasti akan mengurangi kecepatannya supaya tidak tergelincir. Jalanan menuju lokasi pun bervariasi. Ada jalan yang masih bagus, ada juga jalan yang sudah berlubang. Hal ini tentu saja membahayakan pengendara jika tidak berhati-hati. “Kak Viaaa” Itu adalah panggilan baru yang akhir-akhir ini menjadi panggilan favoritku. Oh iya, selama beberapa waktu kedepan aku ditugaskan untuk mengajar di kelas 5. Selama mengajar disini, adik-adik akan memanggilku dengan panggilan seperti itu. Coba tebak berapa jumlah murid di kelas ini? 30? 25?.
122 Bukan. Hanya 9 murid, yang terdiri dari 6 murid laki-laki dan 3 murid perempuan. Memang terlihat jauh lebih sedikit daripada jumlah murid Sekolah Dasar di kota, namun bagiku jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk melatih kesabaranku setiap harinya. Setiap hari, aku ditugaskan untuk mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia saja. Di hari pertama ini tentunya aku sudah menyiapkan bahan ajar serta materi pembelajaran untuk kelas 5, maka kukira pembelajaran akan berjalan dengan lancar. Namun kenyataannya tak sesuai dengan apa yang kuharapkan. Beberapa murid berlarian di dalam kelas hingga salah satu dari mereka ada yang tersandung dan akhirnya terjatuh dihadapanku dan teman-teman sekelasnya. Sontak saja suara gelak tawa memenuhi ruangan. Kubantu anak itu untuk berdiri dan kembali duduk di kursinya. Dia memang tertawa saat melihat teman-temannya tertawa, namun aku tahu bahwa dia sedang menahan sakit dan malu. Sejak saat itu, anak laki-laki bernama Arga yang pernah berlarian hingga terjatuh itu berhasil mencuri perhatianku. Semua muridku sebisa mungkin akan selalu kuperhatikan, namun aku merasa bahwa aku harus memperhatikan Arga lebih dari yang lain.
123 Pelajaran berjalan dengan cukup tertib meskipun ada kalanya adik-adik sulit dibujuk supaya mau memperhatikanku. Ketika waktunya membaca secara bergantian atau mempresentasikan hasil tugas di depan kelas, adik-adik cukup antusias karena aku mengatakan akan bahwa bagi siapapun yang berani maju ke depan dengan percaya diri maka akan mendapat hadiah bintang. Hadiah ini nantinya akan diakumulasikan dan siapa yang paling banyak mendapatkan bintang maka akan mendapatkan hadiah khusus di akhir pertemuan nanti. Setelah pelajaran keterampilan membaca itu, aku baru mengetahui bahwa firasatku benar. Arga, adalah satu-satunya murid di kelas 5 yang masih belum lancar membaca. Sejak saat itu kuputuskan untuk memberikan bimbingan tambahan untuknya. Namun ternyata tidak segampang yang kuperkirakan. Arga selalu menolak ketika aku mengajak untuk berlatih membaca bersamaku. Di pertemuan minggu pertama ia tidak mau. Begitupun di pertemuan minggu kedua. Aku sampai hampir putus asa ketika membujuknya. Sampailah di pertemuan minggu ketiga. Saat bel istirahat berbunyi, tidak seperti biasanya, hari ini Arga hanya duduk di bangkunya sambil menggambar di bagian halaman belakang buku tulisnya. Ia tidak keluar kelas dan bermain bersama
124 teman-teman seperti hari-hari sebelumnya. Aku penasaran sehingga aku berinisiatif untuk menghampiri anak itu. “Arga nggak main?” tanyaku. Arga menggeleng. “Kenapa?” tanyaku lagi. “Aku nggak bawa uang” jawabnya dengan pelan. Ternyata itu alasan mengapa ia tidak keluar kelas saat istirahat. Tiba-tiba aku ingat dengan misiku sebelumnya, mengajari Arga untuk belajar membaca secara privat. Akupun akhirnya kembali menawarkan kegiatan tersebut pada Arga. Bisa kalian tebak apa jawabannya? Arga bersedia. Mendengar ia mengiyakan ajakanku cukup membuatku merasa sangat senang. Akhirnya setelah beberapa kali pertemuan barulah ia mau. Kusediakan 1 paragraf bacaan teks nonfiksi untuk dipakai berlatih membaca oleh Arga. Untuk membaca 1 kalimat saja Arga membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk berfikir. Jika tidak kubantu, ia akan sangat sulit untuk mengatakan kata apa yang sedang ia baca saat itu.
125 Maka dapat kuakui, kemampuan membaca yang dimiliki Arga masih dibawah rata-rata. Hal tersebut membuatku ingin menangis. Bagaimana bisa anak seusia Arga yang sudah duduk di kelas 5, yang seharusnya sudah mulai berlatih untuk melaksanakan Ujian Nasional malah belum lancar membaca. Sebelum melanjutkan membaca, kusuruh Arga untuk menuliskan huruf A sampai Z, baik itu huruf capital atau huruf kecil. Bagaimana? Apakah Arga bisa? Jawabannya, Arga bisa. Ia bisa menuliskannya meskipun terkadang ada huruf yang terselip, namun ketika ia mengingat-ingat kembali ternyata ia bisa. Arga bisa menulis meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama daripada teman-temannya yang lain. Namun mengapa selama ini ia sulit sekali untuk membaca. Ternyata jawabannya adalah karena ia suka lupa terhadap nama huruf. Dengan perlahan, aku membimbingnya untuk menuliskan huruf serta membaca kata dan kalimat dengan benar. Meskipun lama, akhirnya Arga dapat membaca 1 paragraf bacaan yang kuberikan tadi. Kebetulan aku memiliki susu coklat yang kubawa dari rumah. Karena Arga berhasil membaca 1 paragraf, maka aku berikan minuman tersebut untuk Arga.
126 “Belajarnya sudah selesai, sekarang waktunya main” kataku. Arga tersenyum. Waktu istirahat masih lama, jadi aku memutuskan untuk duduk-duduk di kursi depan kelas 5. Tak kusangka ternyata Arga menghampiriku kemudian ia mengatakan “Kak Via, terima kasih”. Kalimatnya singkat tapi cukup membuatku ingin menangis. Untung saja masih bisa kutahan. “Iya, sama-sama” jawabku. “Kakak mengajar disini sampai kapan?” tanya Arga tibatiba. “Sampai minggu depan. Nanti setelah minggu depan, kakak sudah nggak disini lagi” jelasku. “Oh iya, walaupun kakak udah nggak disini, Arga nggak boleh males belajar membaca ya. Arga mau masuk SMP kan?” tanyaku. “Mau kak” “Pinter, belajar yang rajin yaa” “Iya Kak”
127 Arga, si gembul dari kelas 5 berhasil membuatku untuk lebih bersyukur dan lebih sabar dalam menghadapi apapun. Adik-adik di kelas 5 tidak nakal, mereka mudah mengekspresikan diri. Semangat belajarnya juga tinggi. Terbukti ketika awal aku mengajar disini, mereka semua antusias ketika ditanya akan melanjutkan sekolah di SMP mana. Aku bersyukur karena di kelas 5 tidak ada perundungan. Meskipun memiliki teman seperti Arga, anak-anak yang lain tidak pernah saling mengejek. Mereka malah sering membantu satu sama lain supaya dapat belajar bersama-sama. Jujur, aku menyayangi mereka dan ingin mengajar disini lebih lama lagi. Semoga adik-adik di desa ini semakin pandai, tidak sombong, dan tetap suka menolong hingga kelak akan menjadi orang yang sukses. Bionarasi : Namaku Gaby Kharissa Vianti, biasa dipanggil Gaby. Aku lahir di Malang pada tanggal 17 Maret 2001. Aku sedang menempuh perkuliahan di Fakultas Ilmu Pendidikan, Departemen Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan NIM 210151601700. Aku bertempat tinggal di Lawang, salah satu
128 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. Pengalaman dalam kepenulisan cerpenku belum banyak. Aku belum pernah mengikuti lomba menulis cerpen, namu aku pernah beberapa kali menulis cerita-cerita singkat di aplikasi Wattpad dan ketika ada tugas untuk membuat cerita saja. Jika ada saran tentang kepenulisanku, bisa menghubungi di nomor 0813366642945. Terima kasih.
129 “ Semangat Membara, Aksi Tercipta Oleh : Rezaldi Hafidz Fadillah Semua bermula saat kabar pelaksanaan pengabdian mulai terdengar, segala bentuk kebutuhan dipersiapkan dengan matang. Bermodalkan rasa semangat yang membara dan dengan sedikit pengetahuan mengajar yang dimilikinya, ia berharap banyak yang bisa dilakukannya dalam menciptakan pengalaman yang berharga bagi yang diajarnya maupun yang mengajarnya juga. Ia adalah seorang anak muda yang memiliki harapan untuk ikut andil sebagai penggerak membawa perubahan. Ia bertekad pula untuk ikut serta dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional dalam pemerataan pendidikan baik dari akses pendidikan maupun keilmuan antara pendidikan yang berada di kota maupun desa. Beranjak dari niat di dalam hati kecil yang kemudian ia aplikasikan menjadi aksi nyata yang memuat begitu banyak pengetahuan di dalamnya. Slogan semua guru adalah murid dan semua murid belum tentu menjadi guru sangat begitu relevan. Tidak pernah terbayang sebelumnya dibenaknya untuk menjadikan guru
130 sebagai pilihan akan profesinya nanti. Mendedikasikan diri menjadi insan yang nantinya di gugu dan juga ditiru merupakan impian besarnya saat ini. Memberikan pengajaran kepada setiap insan merupakan seperti menumbuhkan benih kehidupan. A. Pergejolakan Batin Siapa bilang fasilitator tidak akan merasakan nervous? Bagi semua orang nervous merupakan kendala yang tidak nyaman, kehilangan rasa percaya diri ditengah – tengah kita harus memberikan pengajaran kepada peserta didik merupakan hal yang cukup buruk, mengingat komunikasi antara guru dengan peserta didik merupakan kunci suatu pembelajaran yang baik. Lalu bagaimana jika nervous muncul ditengah – tengah kita harus berkomunikasi dan memberikan pengajaran kepada para peserta didik? Ada beberapa tips untuk dapat menaklukan rasa nervous. 1. Mengingat kembali tujuan / niat awal Ini berfungsi untuk mengetahui alasan kalian memulainya. Ketika kita kembali memahami alasan kita memulai hal tersebut karena apa, maka rasa nervous akan dapat di kendalikan.
131 2. Mempersiapkan dengan matang Ini berfungsi untuk meminimalisir rasa tidak percaya diri. Seperti ketika kita nervous karena harus berada di depan siswa untuk menyampaikan materi yang akan dipelajari hari ini. Maka mempersiakan segala sesuatunya dengan matang adalah kunci utamanya. Seperti menyiapkan bahan ajar, media belajar, hingga ice breaking agar ketika fokus siswa sudah mulai pudar dapat konsentrasi kembali. 3. Yakinkan diri, bahwa kamu itu bisa Ini merupakan hal dasar dalam menghadapi rasa nervous, kerap kali kita merasa tidak yakin denganhal yang sedang kita lakukan. Justru itu salah, dalam kondisi apapun kita perlu yakin bahwa diri kita bisa dan lakukan semuanya dengan keseriusan dan totalitas agar bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Hal ketiga diatas sangat efektif dalam menghadapi rasa nervous, kerap kali perasaan itu muncul ketika sedang mempersiapkan semuanya untuk Pengabdian Akbar 2 ini, mulai dari persiapan media belajar, gaya belajar, hingga ice breaking. Dari hal tersebut kami belajar untuk saling menguatkan agar dapat menghadapi rasa tidak percaya diri tersebut.
132 B. Kekuatan Diri Setiap manusia memiliki potensinya masing – masing itulah yang juga diyakinin oleh nya. Meluangkan waktu untuk persiapan Pengabdian Akbar 2 bukanlah hal yang mudah, ia perlu belajar lebih banyak dari yang lainnya dalam memanajemen waktu agar semua dapat terlaksana. Membagi prioritas antara tugas kuliah, kegiatan asarama yang tiada hentinya dilaksanakan agar para warga asrama terus dapat mempererat tali persaudaraan juga menambah bugar dalam aktifitas yang produktif. Ini merupakan suatu tantangan yang perlu disikapi dengan serius mengingat memberikan pengajaran merupakan suatu keutamaan juga. Lalu bagaimana cara membagi / meluangkan waktu agar dapat kondusif? 1. Menentukan skala prioritas Hal tersebut merupakan hal yang sangat penting berguna membantu kita dalam memanajemen waktu yang akan digunakan agar semua hal tetap terstruktur dengan sangat baik. Kita bisa mengerjakan mulai dari yang prioritasnya tinggi, namun bukan berarti mengabaikan yanng lain, namun lebih mengoptimalkan hal tersebut lebih dulu entah karena
133 lebih penting untuk dikerjakan atau waktu pengumpulannya lebih dulu, dan hal ini cukup sangat membantu kita dalam mengerjakan semua tugas ketika sudah mengetahui skala prioritasnya. 2. Membuat schedule pengerjaan Hal tersebut membantu kita agar tidak melebihi batas pengerjaan, dan tidak terburu – buru dengan deadline. Memberikan jeda istirahat dalam setiap proses pengerjaan memang lah penting tapi menghindari ponsel dalam proses pengerjaan tugas itu jauh lebih penting. Kadang kita terlena dengan ucapan “bentar dehh, cuman 5 menit doang” yang nyatanya kadang kita menghabiskan waktu lebih dari satu jam hanya untuk membuka ponsel dan tidak jarang kita melihat hal – hal yang kurang mengenakan, entah itu pencapaian orang lain ataupun hal – hal yang membuat kita tidak semangat. Alhasil kita tidak jadi produktif. Terkadang kita gak akan terlepas dari pergejolakan batin dan juga kekuatan diri yang ada pada diri kita sendiri. Begitu banyak pengetahuan dan pengalaman yang dapat diperoleh dari pengabdian akbar. Mulai dari membagi waktu, menentukan skala prioritas, hingga berfikir kreatif untuk memberikan kesan
134 pembelajaran yang interaktif, menyenangkan dan juga ramah terhadap anak. Satu hal yang benar – benar membuat jatuh cinta terhadap pengabdian akbar adalah yaa benar … momen – momen falling in love yang ditunggu – tungguu. Selain itu pengalaman bekerja sama dengan partner menjadi bagian yang paling penting dalam perjalanan Pengabdian Akbar 2 ini, kita belajar bukan lagi tentang siapa yang berperan, tapi bagaimana kita untuk saling melengkapi satu sama lain. Bergerak untuk dapat membantu satu sama lain, mencoba menekan ego serendah – rendahnya agar kerjasama tim dapat terbentuk dalam menciptakan suasana kelas yang baik. Sungguh Dadapan memberikan begitu banyak pengalaman juga kenangan baik di dalamnya, mulai dari perjalanannya yang tiada obat. Sepanjang jalan kami disuguhkan dengan pemandangan yang tidak kalah baik untuk kesehatan mata. Pengalaman menenangkan siswa yang lebih ingin bermain menjadi bumbu dari sempurnanya pembelajaran yang kami berikan. Harapan ku semoga semua benih baik yang telah kita tabur dapat kita petik kembali sebagai sebuah harapan yang tak pernah mati. Cintaku masih saja kelabu, tanda tanya dan tak tahu arah. Tapi semoga kita semua selalu diberikan kesehatan agar terus dapat mencetak, menumbuhkan, dan menciptakan
135 generasi peduli pendidikan yang senantiasa menebar kembali benih baik tersebut. Bionarasi : Salam hangat dari Rezaldi Hafidz Fadillah, seorang anak lelaki yang lahir di Bogor pada tanggal 27 Mei 2003 dari Departemen Pendidikan Luar Sekolah angkatan 2022 Universitas Negeri Malang dengan NIM 220141603877 yang memiliki cita – cita menjadi pak mentri, melanjutkan jejak Bapak Nadiem Makarim sebagai Mentri Pendidikan Republik Indonesia. Narahubung : 08990335095 ( Rezaldi Hafidz Fadillah – Future Education Minister)
136 “ Cerita di Suatu Sabtu Oleh : Shofi Nur Jannah Seorang dosen perrnah berkata, “Jika ingin belajar, maka mengajarlah.” Pada awalnya aku sedikit bingung mengenai hal itu. Namun setelah mengalaminya sendiri, menyadari dan mulai paham apa yang beliau sampaikan kala itu. Aku memang belum bisa merasakan makna seutuhnya dari statement tersebut, tapi setidaknya aku sudah mulai bisa memahami dan percaya. Memang benar bahwa dengan mengajar kita bisa mendapatkan banyak hal, termasuk hal hal baru yang belum didapatkan sebelumnya. SDN Dadapan 03, begitulah pada gapura tertulis. Tempat dimana aku berkesempatan mengajar sekaligus belajar. Tempat dimana aku bertemu dan mencoba banyak hal baru. Percayalah, hal itu benar-benar baru bagiku. Bagaimana tidak, aku merasa tempat ini begitu berbeda hingga menyita perhatianku. Aku merasa tertarik untuk lebih mengenal tempat tersebut sekaligus warga belajar didalamnya. Menjadi salah satu orang yang diamanahi dalam keikutsertaan untuk mendidik dan menginspirasi anak bangsa merupakan hal yang
137 luar biasa bagiku. Sungguh menyenangkan menjadi bagian dari perjalanan ini. Perjalanan ini di mulai pada suatu Sabtu di bulan November, tepatnya pada 12 November 2022. Perjalanan ini akan memakan waktu selama satu bulan kedepan. Pengabdian mengajar ini dilaksanakan setiap hari Sabtu. Tentunya aku tak seorang diri disini. Aku mendapat best partner yang sangat membantuku dalam kegiatan mengajar disini. Tak hanya itu disini juga ada teman-teman yang juga mengajar di kelas yang berbeda. Seperti yang ku paparkan sebelumnya, kita berpartner dalam mengajar. Dalam satu kelas ada dua pengajar, dan total pengajar yang mengabdi di SDN 03 Dadapan ini ada 12 orang dengan LO masing-masing kelas berjumlah satu orang. Tidak hanya itu kegiatan ini juga dibantu oleh salah satu anggota divisi mulkom yang bertugas mengabadikan moment selama pengabdian berlangsung. Disini, aku dan partnerku mendapat amanah mengajar kelas enam. Di kelas enam ini, jumlah muridnya ada dua orang. Kalian tidak salah membaca, memang benar jumlah murid kelas enam di sekolah ini berjumlah dua orang. Inilah salah satu yang kusebut unik. Di kelas enam ini menurutku special, dengan dua orang siswa yang memiliki kepribadian yang berbeda. Satu murid aktif dan yang satunya pemalu. Dengan
138 perbedaan kepribadian antara murid tersebut, membuatku dan partnerku harus memutar otak agar kegiatan belajar mengajar bisa berjalan dengan lancar, juga materi bisa diterima dengan baik oleh mereka berdua tanpa ada yang tertinggal ataupun terlalu cepat diantara keduanya. Beberapa cara yang kita lakukan diantaranya dengan membuat media pembelajaran yang semenarik mungkin, dan tentunya juga sesuai dengan materi yang akan kami sampaikan. Seringkali juga kami selipkan ice breaking di sela sela pembelajran agar siswa kelas enam tidak merasa bosan atau jenuh. Selain itu, kamipun menyiapkan lagu pembelajaran guna menunjang pemahaman materi. Materi yang kami ajarkan ini sesuai dengan RPP yang sudah disusun sebelumnya. Pada semester ini, pembelajaran kelas enam berfokus pada tema 5 (Kewirausahaan) yang berisikan materi terkait dengan formulir. Selain materi tema, disini kami juga mengajarkan tentang pengembangan literasi, dolanan bareng, dan keterampilan. Kegiatan menarik lainnya berupa upacara dan senam yang dilaksanakan sebelum materi dimulai. Berbeda dengan pembelajaran di dalam kelas, upacara dan senam dilakukan bersama-sama oleh seluruh siswa SDN Dadapan 03 di halaman sekolah.
139 Namun ada beberapa kelas yang pelaksanaannya harus bersamaan, seperti diantaranya kelas satu dan kelas dua, kemudian ada kelas tiga dan kelas enam yang kebetulan itu kelas yang kuajar. Disini kami harus bisa mengondisikan kelas, dan sering berkoordinasi dengan pengajar kelas tiga. Hal ini perlu dilakukan karena ini sangat mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Bagaimana tidak, seringkali kelas kami terdistrack dengan kelas tiga, pun sebaliknya. Untuk itulah kami harus memutar otak lagi agar pembelajaran tetap berjalan dengan semestinya. Pernah juga kita collabs bareng kelas tiga. Ya, kegiatannya kita gabung, antara kelas enam dan kelas tiga. Kegiatan yang kita gabung dan kami laksanakan bersama yaitu ketika pelaksanaan dolanan bareng, dimana kami melakukan permainan tradisional (kotak pos dan engklek) bersama. Walaupun kita dari kelas yang berbeda, tetapi kegiatan ini berjalan dengan lancar dan sangat seru. Overall, kegiatan pengabdian disini menurutku sangat seru dan begitu berkesan. Disini kami menutup perjalanan pengabdian ini dengan upacara dan pembagian bingkisan, sekaligus berpamitan. Yang membuatku sedikit tersentuh disini, tak disangka aku mendapatkan gift dari murid juga partnerku. Begitu banyak hal baik yang kudapat disini, semoga hal baik dariku juga bisa mereka rasakan. Than, yang perlu di
140 highlight disini mengajar tak semudah itu, pun tak sesulit itu. Terlebih mengajar murid seunik kelas enam ini, perlu adanya pendekatan dan prosesnya. Walaupun hanya dua murid, menurutku disini malah lebih bisa terfokus. Bionarasi : Shofi Nur Jannah, lahir di Tulungagung pada 26 Juli 2002. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari Bapak Waras Supriyanto dan Ibu Siti Rodiyah. Beralamat di Dusun Jatirejo, Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Sekarang ini penulis sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Pendidikan, Departemen Pendidikan Luar Sekolah. Penulis juga tergabung dalam UKM Penulis. Selain itu penulis pernah menulis sebuah buku (Influunt) dan buku antalogi cerpen bersama (Sebrang Rasa dalam Kaleidoskop).
141 “ MATA Oleh : Diva Wido Haningtyas Lihat, kita sudah sampai! Ku pandang bangunan biru bertuliskan SD 3 Dadapan. “Bangun pagi ku tak sia sia ternyata” ucapku dalam hati, terbayarkan perjalanan mengusik pagi di hari libur itu. Perasaan senang karena adik-adik menyambut kami di depan kelas. Ah, penasaran tsekali bagaiaman hari ini akan berjalan. Upacara pembukaan dimulai, kami semua berkumpul di lapangan. Ku terka mana muridku nanti, apakah ia senang melihatku ataukah sebaliknya. Setelah selesai melakukan upacara, Dewantara bilang bahwa kelas kami (kelas 6) akan digabung dengan kelas 3. Setelah menerima pemberitahuan tersebut, aku dan partner ku menuju kelas, melihat seorang siswi melihat ke arah kami. Bertemu dengan siswa itu, ku panggil ia Ananda karena itu yang tertera di bajunya. Senang berkenalan denganmu, kita akan bertemu 4 kali dalam bulan ini tolong ingat namaku ya! kuharap ia mengingat namaku. Ia memandang ku dengan mata yang aku sendiri tak paham apa yang ia pikirkan, ia jawab "iya kak Diva".
142 Pembelajaran pun dimulai kami sedikit terkejut karena yang hadir hanyalah Ananda. Pertanyaan pun timbul, dimanakah siswa yang lain? karena memang dalam 1 kelas hanya berisi 2 orang sehingga terlihat sekali kalau salah satu dari mereka tak hadir, "lagi menghadiri kelas B Ana kak" ujar Ananda sambil melihat ku. kami terkejut karena hanya mengajar satu anak, yah memang mau diapakan lagi. Kami memfokuskan kepada Ananda, ia memandang kami yang menyiapkan media pembelajaran, ia bergerak juga untuk mengeluarkan buku tulis dan kotak pensil yang ia bawa. Kami mulai dengan mengajukan pertanyaan tentang materi hari itu, “ sebelum kita mulai pembelajaran hari ini, ada yang tau apa itu formulir?” ujarku. Aku melihat matanya, terlihat bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Memang sejak kecil aku terbiasa ketika berbicara melihat mata dari lawan bicaraku. Dari mata dapat kubaca tulisan dirinya. Mata Ananda terlihat sudah menyerah untuk menjawab pertanyaanku, ku beri tanda pada partnerku untung langsung saja menjelaskan. Ananda pandai dalam hal mendengarkan karena ia melihat tepat di mata kami seolah-olah ia mempimpin kami untuk menjelaskan rinci dan tepat dihadapannnya, namun ketika kami meminta ia mengulanginya, namun sekali lagi mata yang sedang tak tahu pun terpancar.
143 Ah, begini rasanya menjadi guru ucapku dalam hati. Sabar memang mungkin kunci penting, tapi kunci utamannya adalah teknik mengajarnya agar siswa bisa paham yang kita ajar. Kami ulang kembali materi tersebut, tak lupa meminta Ananda untuk menulisnya di buku tulis yang ia siapkan sebelumnya. Untungnya ditengah pembelajaran murid yang mengikuti kelas B Ana telah hadir di kelas, jadi tak tertinggal jauh dari materi. Ia bernama Nusa, mata yang ia miliki sangat berbeda jauh dengan Ananda. Aku seolah dapat mengetahui kalau ia memiliki ambisi. Kami membagi tugas untuk mendampingi per anak. Aku mendampingi Nusa dan partnerku mendampingi Ananda. Karena yang paling dekat denganku bukanlah Ananda, melainkan Nusa. Mungkin Ananda tak cocok denganku atau sebaliknya, namun aku masih memantau dia. Nusa adalah pelajar cepat yang pernah kutemui selama ku mengajar, ia paham dasar-dasarnya. Bahkan aku sendiri sampai bingung mengatur waktu yang seharusnya habis dalam 1 jam, ia hanya butuh setengahnya untuk mempelajarinya. “ Hoaaam.. “ suara Nusa yang matanya ikut mengeluarkan air. Hm pasti ia sudah mengantuk, aku mewajarinya karena memang waktu seumurnya pembelajaran Bahasa Indonesia memang mengantukkan. Kuajak Nusa dan Ananda untuk melakukan ice breaking, kami tertawa terbahak-bahak karena mereka tak pernah bermain permainan yang kupilih untuk ice breaking ini.
144 “Sudah ya, yuk belajar lagi” ucapku. Aku melihat mata mereka sangat tak ingin, aku hanya bisa tertawa kecil melihat mereka. Pembelajaran dimulai kembali, sempat beberapa waktu Nusa melihat Ananda dengan perasaan capek, karena harus menunggu ia selesai agar bisa lanjut. Terkadang juga Nusa tidak merasa nyaman ketika belajar bersama Ananda semua itu terlihat dari matanya. tatkala ia juga sering menghela nafas saat belajar dengan Ananda. kami memberikan ia pengertian bahwa rasa toleransi harus dimiliki untuk menghargai perbedaan yang dimiliki setiap orang. Mungkin dengan perbedaan tersebut Nusa mendapatkan sesuatu dari hal tersebut. Ananda memang membutuhkan waktu untuk memahaminya, terkadang ia tak fokus dan malah melihat kelas 3 yang seruangan dengan kami. Berulang kali mencoba untuk mengembalikan fokus Ananda namun hal tersebut perlu kesabaran, aku tak bisa melakukannnya. Bersyukur berpartner dengan temanku yang sangat sabar, mungkin ia sudah terbiasa. Entahlah, aku pun tak tahu. Hanya saja yang kidapatkan dari pengabdian tak hanya kesabaran saja, namun perbedaan yang ada di depan mata, mengatur waktu yang tepat, bahkan mata yang memancarkan tulisan diri pun terkadang tak terlihat.
145 Bionarasi : Lahir di kota terkecil di Indonesia “Mojokerto” lahir pada Jumat dini hari tanggal 18 Juli 2003, dengan nama Diva Wido Haningtyas. Menempu pendidikan di Universitas Negeri Malang, berasal dari Fakultas Ilmu Pendidikan berasal dari departemen Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini atau yang disingkat dengan PG-PAUD dengan NIM 210153602103. Domisili yang saat ini ditinggali adalah Jl. Ki Ageng Gribig No. 50 Gang II Kedungkandang, Malang, namun mempunyai alamat asli di Jl. Joko Tole No. 11 Magersari, Mojokerto. Penulis memiliki pengalaman dalam menulis cerita cerpen saat mengikuti club penulisan sewaktu SMA, pada saat ajang class meeting penulis diberikan tugas untuk menulis cerpen yang akan dipentaskan oleh beberapa kelas, termasuk kelas penulis. Bersyukur kelas penulis mendapatkan juara 1 untuk drama yang mengusung cerita cerpen yang telah dibut oleh penulis.
146 “ Empat Waktu Oleh : Radhiyyah Nida Zhafirah Halo kenalin aku Nida anak semester 3 yang ada di Universitas Negeri Malang. Di sini aku akan bercerita sedikit tentang pengalamanku selama mengabdi di salah satu sekolah dasar. Mungkin tidak banyak yang aku ceritakan tapi aku yakin akan bermanfaat bagi pembaca cerita ini. Cerita singkat ini adalah perjalananku selama mengajar di sana, bertemu dengan manusia-manusia hebat dan tentunya sangat berkesan di dalam hidupku. Cerita ini bermula saat aku pertama kali ikut kegiatan pengabdian yang selalu di lakukan untuk anak yang baru gabung mengikuti GEMAPEDIA. Organisasi ini adalah organisasi yang ingin aku ikuti dari semester 1, dan Alhamdulillah aku lolos sampai tahap terakhir. Pengabdian pertamaku di SDN 3 Pajaran, tepatnya di daerah Poncokusomo Kabupaten Malang. Saat survei pertama kali mereka menyambut dengan gembira dan menghampiri kami yang datang ke sana. Pertama kali ke sana terlihat beberapa anak yang sedang bernyanyi bersama-sama dengan bimbingan guru.
147 Aku sempat terkejut karena dalam sekolah tersebut hanya berisi kurang lebih 36 anak mulai dari kelas 1 sampai 6. Mereka sangat lucu-lucu dan ceria. Guru yang ada di sana juga menyambut dengan baik dan bercerita banyak hal terutama bercerita tentang karakter anak-anak di sana. Sebut saja Bu Gina, beliau bercerita dan menasihati kita agar lebih menekankan kepada pendidikan karakter untuk anak-anak karena anak-anak di sana perilakunya kurang lebih karena pengaruh lingkungan di sekitarnya yang kurang baik. Selesai berbincang-bincang kita melanjutkan kegiatan dengan mengajak anak-anak untuk bermain bersama. Pertama kali membimbing mereka ternyata membutuhkan tenaga dan suara yang cukup banyak hehehe. Meskipun melelahkan karena harus bisa mengontrol mereka yang berlari-lari dan berteriakteriak tetapi itu sangat menyenangkan rasanya bisa melihat mereka tertawa. Setelah melakukan survei, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba yaitu hari Sabtu di mana pada hari tersebut adalah hari pertama aku akan memasuki kelas dan bertemu dengan mereka kembali. Kebetulan aku mengajar di kelas 6 dengan jumlah 3 siswa. Yah betul 3 siswa, memang kelihatannya sedikit tetapi setelah memasukki kelas yang digabung degan kelas 5 yang berjumlah 1 siswa itu, suasana kelas tidak terlihat sepi. Mereka
148 justru sangat ceria dan banyak tingkah meskipun hal tersebut harus segera di atasi tetapi itu yang membuatnya seru. Pertama kali datang ke sana senang sekali bisa bertemu dengan mereka. Sebut saja mereka dengan sebutan Dina, Mario, dan Zeny. Berbagai persiapan dan ilmu yang tidak seberapa ini aku berikan dengan harapan mereka dapat menangkap apa yang aku sampaikan. Memang tidak mudah mengajar mereka dengan berbagai karakteristik yang berbeda-beda. Pertama kali bertemu dengan Dina satu-satunya anak perempuan di kelas 6, ia sedikit pendiam dan malu-malu harus di dekati dan ditanya secara pribadi dia mau menjawab. Kalau Mario salah satu anak yang aktif dan banyak gerak tetapi juga sedikit pemalu saat pertama kali bertemu. Kalau Zeny anak yang aktif juga tetapi agak penurut. Di hari pertama ini banyak pelajaran yang aku dapat mulai dari harus bisa membawa pembelajaran jauh lebih menyenangkan, tidak membosankan, dan tentunya harus lebih mendekatkan diri kepada mereka. Setelah minggu pertamaku selesai, akhirnya tibalah minggu kedua aku kembali ke sana. Sebelum keberangkatan menuju kampus tepatnya pukul 05.00 WIB hujan turun dengan begitu deras. Para anggota dan teman-teman lainnya kebingungan karena hujan tidak segera berhenti. Di saat kondisi seperti ini aku juga sempat kebingungan mengingat
149 keselamatan dan juga kondisi pada saat itu yang menguji sebelum berangkat ke pengabdian. Teman-teman pun hanya bisa berdoa agar hujan segera reda mengingat jalanan menuju sekolah yang cukup jauh dan cukup berbahaya pada saat itu. Menata niat dan meluruskan tekat, jam 06.00 WIB aku memutuskan untuk berangkat dan mempersiapkan segala kebutuhan terutama menjaga agar media pembelajaran tidak terkena hujan. Alhamdulillah sampai juga di kampus dan bertemu teman-teman yang masih menggunakan jas hujan di tubuh mereka. Bergegaslah kami menuju sekolah kami masingmasing dengan niat untuk mengabdi. Sesampainya di sana, adek-adek langsung berdatangan dan menyambut kami dengan senang. Pertemuan kali ini benar-benar menguji kesabaranku karena mulai tidak kondusif dan mulai terlihat karakter aslinya. Mario yang sulit di atur karena suka berkata kasar, mulai bosan, dan sering mengejek Dina saat pelajaran. Zeny yang mulai aktif dengan berlari-larian, bermain bola di kelas, dan kadang berkata kasar. Hanya Dina yang cukup tenang dan tidak ramai karena memang Dina cenderung pendiam daripada yang lain. Kondisi seperti ini banyak mengajarku untuk tetap sabar, belajar mengontrol emosi, belajar menciptakan suasa yang menyenangkan, dan mulai memahami karakter masing-masing anak.