The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Keindahan, keseruan, dan keharuan saat masa bersekolah di SMPN 1 Majalengka

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by niknik, 2022-09-05 04:48:52

Kisah Kasih Putih Biru

Keindahan, keseruan, dan keharuan saat masa bersekolah di SMPN 1 Majalengka

Keywords: Buku Reuni

235

“S-suratnya sudah kuterima,” ucapku yang berusaha sekuat mungkin untuk
terlihat gagah.

Dia terdiam. “Surat naon?” tanyanya.

“S-surat yang kemarin aku kirimkan. 'Kan suratnya geus kamu bales.” Aku
mengernyitkan dahi. Perlahan, keringat mengucur.

“Surat naon? Enak wae!” campaknya sambil berlalu dariku.

"PFFT. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!” Tawa menggelegar tumpah dari
mulut si jahil Dudi Hartono. Ternyata, dia adalah dalang dari surat balasan palsu itu!
Ingin rasanya kuhentikan tawanya dengan pemukul degung. Aku merengut selama
beberapa waktu.

Yah, kejadian tersebut takkan terlupakan dari kisah kasih putih-biruku.
Walaupun menyebalkan, Dudi merupakan temanku sejak kecil. Selain Dudi, aku juga
senang berteman dengan Lukman. Dia adalah orang yang cerdas, tetapi tidak egois.
Diajak bobodoran, hayuk. Dimintai sontekan ketika ulangan juga hayuk. Kemudian, ada
Hilman. Ah, aku pernah bertengkar dengannya.

Lulus SMP, aku melanjutkan pendidikan di SMAN 1 PGRI Majalengka. Karena
dinas bapak ke Sumedang, Hari Damiryansah, orang Timor Timor, berbaik hati berbagi
kamarnya denganku selama masa putih-abu berlangsung. Beliau adalah sosok teman
yang menyenangkan.

Tahun demi tahun berjalan. Aku tumbuh dewasa, lalu memasuki dunia politik
pada 1998. Aku menjadi Ketua Ranting di Desa Leuwikidang. Kemudian, naik menjadi
Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC). Begitu ada musyawarah daerah (musda), aku
diamanahkan menjadi Wakil Ketua DPD PAN Majalengka. Musda selanjutnya, aku
mengemban tugas sebagai bendahara di Majalengka.

Pada 2006, aku merintis usaha distributor paralon yang telah berkembang hingga
saat ini. Masa-masa pemilihan umum tiba. Pada 2009 dan 2014 aku mencalonkan diri
sebagai anggota dewan, tetapi Tuhan menakdirkan lain. Lima tahun berikutnya, aku

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

236

yang beristirahat dari dunia politik diminta oleh seorang tokoh masyarakat untuk
menjadi kepala Desa Leuwikidang, Kecamatan Kasokandel. Aku ragu. Dua kali
percobaan menjadi anggota dewan saja kalah, apalagi menjadi kepala desa. Namun,
beliau mendesakku. Beliau melihat rekam jejakku dalam dunia politik.

Akhirnya, aku mengikuti pemilihan Kepala Desa Leuwikidang pada November
2019. Tuhan memberikanku jawaban di sini. Pelantikanku berlangsung pada 12
Desember 2019. Aku mempelajari tata kelola pemerintahan desa. Tiga bulan setelahnya,
pandemi Covid-19 menghadang.

Sekitar 80% anggaran desa kukerahkan untuk bantuan sosial kepada masyarakat.
Dengan memikul amanah ini, aku menjalankan tugas sebaik-baiknya sesuai aturan dari
Kemendes. Aku tahu, berbicara tentang anggaran adalah sesuatu yang sensitif. Namun,
tak pernah sama sekali terpikirkan olehku untuk mengambil BLT-BLT tersebut.
Semuanya murni kucurahkan kepada masyarakat Desa Leuwikidang.

Sebagai kepala desa yang telah menjabat sekitar 27 bulan, aku menghabiskan
waktu untuk berbaur dengan masyarakat. Aku berusaha sebaik mungkin menjadi
panutan di desa. Apa pun kegiatannya, kepala desa harus mengikutinya. Jangan heran
kalau masyarakat Desa Leuwikidang dapat menemukanku di acara keagamaan,
kepemudaan, bahkan hiburan.

Bagiku, kemajuan desa tidak hanya terukur dari fisiknya saja, tetapi juga sumber
daya manusia yang membangun desa tersebut. Tugas–tak terlihat–memajukan akhlak
dan budi pekerti masyarakat merupakan amanah berharga buatku. Alhamdulillah, Desa
Leuwikidang pernah memenangkan juara satu PKK di Kecamatan Kasokandel.
Kemudian, berlanjut menjadi juara enam se-Kabupaten Majalengka. Tak hanya itu,
masjid desaku menjadi masjid terbaik di Kabupaten Majalengka. Kami tata masjid
tersebut seindah mungkin, juga jemaah di dalamnya.

Impianku menjadi seorang anggota legislatif tidak berhenti sampai di situ.
Seorang tokoh dari suatu partai pernah berkata padaku, “Jangan putus asa, Yaya. Saya

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

237

yakin, suatu hari nanti, entah jadi apa, tetapi yang namanya belajar politik, pasti selalu
ada untungnya.”

Sebetulnya, sebelum menjadi kepala desa, orang tuaku pernah berujar tanpa
sengaja, “Yaya bisa nantilah menjadi seorang kepala desa.” Siapa sangka jika takdir Allah
memberikan jawabannya sebagai kepala Desa Leuwikidang terlebih dahulu. Tanggung
jawab ini menjadi penghias rekam jejakku dalam dunia politik. Bersyukur suatu hari
nanti namaku bisa terpampang sebagai salah satu anggota dewan.

Takdir Tuhan terkadang lucu. Yaya atau Kuwu yang dulu asyik bermain kini
menjadi seorang kepala desa. Dulu, Yaya memegang pemukul degung dan surat cinta.
Sekarang, Yaya merangkul kemajuan masyarakat Desa Leuwikidang. Seandainya dulu
rajin belajar dan keluar dari lingkungan pergaulan yang buruk, Yaya pasti akan tumbuh
lebih keren lagi. Namun, perjalanan tetaplah perjalanan. Kini, anakku bersekolah di
SMPN 1 Majalengka. Tuhan menjawabku lewat kecerdasan anakku. Peringkat satu atau
dua telah dia dapatkan.

SMPN 1 Majalengka tetaplah sekolah yang favorit, baik masa lalu maupun masa
kini. Peran alumni yang sukses dalam beragam karier mampu mengharumkan nama
sekolah. Jejeran kisah kasih alumni yang telah berkelana jauh dari SMPN 1 Majalengka
pun mampu memotivasi generasi-generasi selanjutnya. Kemudian, membuktikan bahwa
SMPN 1 Majalengka adalah SMP terbaik sepanjang masa.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

238

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

239

Kisah Kasih Putih Biru 45:

Pekerjaan Sambilan Yati

Yati Nur Hayati

“Masyaallah, meuni kasep pisan jelema teh,” gumamku kala seorang senior kelas tiga

melewati diriku yang sedang membeli bala-bala di kantin.

Menjadi bagian dari sekolah favorit membuatku bertemu dengan banyak orang
favorit juga, baik guru maupun teman. Di awal tahun pertama ini, aku mengidolakan

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

240

kakak kelas yang keren gaya nan pintar otaknya. Setiap mataku menangkap kehadiran
sosoknya, perasaan bahagia menyeruak dalam diri. Akan tetapi, perasaan ini sekadar
naksir, tidak lebih. Toh, sebentar lagi dia akan lulus. Mungkin kami tidak akan bertemu
lagi nanti. Jadi, biarkan aku menikmati senyumannya tanpa diketahui.

Selama menempuh pendidikan di SMPN 1 Majalengka, hidupku mengalir di kelas
1D, 2C, dan 3F. Berbagai pengalaman berharga kudapatkan di sini.

Fajar menyingsing, menyapa wilayah Kertabasuki. Tatkala teman-teman masih
asyik menyantap sarapannya, aku sudah berjalan menuju sekolah. Aku mampir ke
rumah Pak Andi, guru olahraga, yang juga tetanggaku. Misi menitipkan rantang berisi
gorengan hangat yang dibuat oleh istri Pak Andi kepada petugas kantin siap
kuselesaikan.

“Nitip gorengan, yah. Hatur nuhun, Yati.” Seperti biasa, istri Pak Andi tersenyum
ramah sembari memberikan rantang.

Hihi. Tak terasa, kebiasaan pagi ini terus berulang sampai tiga tahun di SMPN 1
Majalengka. Istri Pak Andi memercayaiku untuk membawakan rantang gorengan. Aku
menjalaninya dengan riang walau harus bangun tidur lebih awal. Tak ada rasa malu atau
gengsi yang kurasakan walau harus membawa rantang dan plastik berisi gorengan.

Seandainya ada seseorang yang bertanya, “Kamu teh gak malu bawa rantang
gorengan ke sekolah?”

Aku akan menjawab, “Eleuh, ngapain malu? Saya ‘kan gak mencuri. Saya cuma
membawa gorengan, trus simpen di kantin. Toh, saya juga mendapat uang jajan
tambahan.”

Enaknya dari pekerjaan ini adalah aku mendapatkan upah dari Bu Andi sebesar
Rp50 setiap selesai membawakan rantang kosong pulang sekolah. Aku senang sekali!
Selain itu, Bu Kantin yang sudah mengenalku sebagai si pembawa gorengan juga
terkadang memberikanku makanan gratis. Aduhai! Enak pisan!

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

241

Pagi-pagi menitipkan gorengan, siang-siang menjadi seksi olahraga. Gini-gini, aku
aktif di kelas. Diajak menjadi seksi ini-itu, hayuk gaskeun! Ditunjuk menjadi seksi olahraga
oleh Pak Eming, h-hayuk aja walau sieun. Sebagai seksi olahraga, aku bertugas
menghubungi Pak Eming dan mempersiapkan teman-teman sebelum pelajaran dimulai.
Berbeda dengan Pak Andi, Pak Eming adalah guru olahraga yang cukup ditakuti di
sekolah. Beliau terkenal akan ketegasannya.

“Saha nu gak olahraga?” tanya Pak Eming. Kumisnya bergerak naik turun.

“Si A, Pak,” jawabku.

“Kenapa gak olahraga?” tanya Pak Eming dengan nada bicara tinggi.

“Lagi haid, Pak.”

“Mana buktinya?”

Tuhkan, abdi sieun. :(

Lepas dari pelajaran olahraga, selain mengidolakan seorang kakak kelas, aku juga
mengidolakan Bu Eno Yohana, guru IPS, yang penampilannya berkelas. Aku menyukai
cara mengajar beliau yang santai, tetapi materinya mampu diserap otak. Sementara itu,
Bu Eno Yohana juga memiliki paras cantik nan sikap enerjik.

Kemudian, mata pelajaran favoritku adalah Bahasa Indonesia yang diajar oleh Bu
Tatat ketika kelas tiga. Aku juga memiliki tempat favorit di sekolah, yakni kantin, teras
kelas, dan sesekali mengunjungi perpustakaan.

Selain menyambi sebagai pengagum rahasia, pengantar gorengan, dan seksi
olahraga, aku juga bertugas sebagai kurir surat cinta. Lihat, wajahnya tampak tersipu
malu ketika memberikan sebuah buku yang telah disisipi surat cinta di dalamnya.

“Yati, pang anterkeun ke dia, ya!” serunya.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

242

Aku hanya terkekeh melihat tabiatnya yang malu-malu. Aku menerima buku
tersebut, lalu mengantarkannya kepada seseorang di kelas lain. Beruntung, dari surat
tersebut, hubungan mereka berjalan baik. Keduanya saling menyukai. Namun, kudengar
kabar terakhir kalau mereka ternyata tidak berjodoh. Tidak apa.

Kehidupan putih-biruku tak lepas dari hiasan kenangan oleh teman-teman. Di
SMPN 1 Majalengka, aku bertemu Meli Mustika, Ida, Heni Kusuma, Lia Alwaliya,
Lukmanul Hakim, Kusuma Jaya, Laili, dan teman-teman berharga lainnya. Begitu lulus
sekolah, sempat lost contact, tetapi Tuhan menyambungkan kembali tali silaturahmi
kami. Grup besar alumni angkatan '87 SMPN 1 Majalengka pun dibuat.

Sepasang di antara daftar anggota grup adalah teman yang dulu kubantu
hubungan asmaranya dengan sepucuk surat cinta. Psst, tebak saja orangnya! Hihi.

Lulus dari SMPN 1 Majalengka, aku melanjutkan pendidikan di SMA Maja atau
kelas jauh dari SMAN 1 Majalengka. Saking banyaknya peserta didik baru, SMA Maja
membuat empat kelas sebagai kelas jauh. Guru-gurunya pun berasal dari SMAN 1
Majalengka.

Lulus dari SMAN 1 Majalengka, aku meneruskan pendidikan jurusan Bahasa
Indonesia di STKIP Galuh, Ciamis. Selama kuliah, kebiasaanku di SMP kembali
dilakukan. Aku mencari uang tambahan lewat berjualan agar-agar yang diberi gula
merah cair. Aku menitipkannya ke penjual bakso atau warung-warung kecil.

Pada 1995-1997, aku mengikuti tiga kali tes CPNS di Serang, Banten. Bersyukur,
Tuhan menjawab doaku setahun setelahnya. Pada 1998, aku resmi mengajar sebagai
PNS. Aku berulang kali pindah dari SMP dan SMA. Aku merangkap jabatan, yakni
sebagai guru dan bendahara.

Karena keseringan berada dalam lingkaran keuangan, aku ditunjuk sebagai
struktural di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) pada 2019. Pendidikan Bahasa
Indonesia kugunakan lewat laporan, MC, surat-menyurat, dan tugas lainnya. Kini, aku

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

243

menjadi bendahara dalam penerimaan uang masuk di Kota Serang, termasuk pajak
daerah. Aku turut mengetahui fluktuasi Kota Serang.

Sembari bekerja, aku sedang menjalani program magister Administrasi di STIAMI
Mandala.

Mungkin salah satu alasanku menjadi bendahara adalah karena sejak kecil sudah
bergelut dengan uang. Kalau kata orang mah, kecil-kecil pinter cari uang. Seandainya
bertemu Yati berseragam putih-biru, aku yang kini berseragam cokelat (khaki) dengan
pin-pin resmi akan menepuk pundaknya seraya berkata, “Terima kasih banyak, Yati.
Terima kasih untuk tetap percaya diri dan tidak gengsi membawa rantang-rantang itu.
Siapa sangka bahwa Tuhan menggiring kehidupan baik Yati sampai saat ini. Dari Rp. 50,
sampai amanah nominal yang tak terhitung lagi.”

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

244

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

245

Kisah Kasih Putih Biru 46:

Si Paling Kasep, Ceunah

Josef Septiadi

Lampu khusus menyoroti diriku yang sedang bersimpuh layaknya berada dalam

panggung teater. Aku memasang wajah memohon pada kedua orang tuaku dan seorang
wanita paruh baya berseragam PNS di sebelahnya. Alunan permainan biola bernada
sedih mengiringi tingkahku. Tidak peduli robekan-robekan bekas jatuh muncul di

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

246

seragam putih-merahku, aku tetap menunjukkan wajah kasep yang meminta bantuan
agar bisa melanjutkan sekolah di SMPN 1 Majalengka, sekolah favorit di daerahku. Bisa-
bisa, aku tidak kasep jika tidak berada di SMPN 1 Majalengka.

“Heh, Yosep. Kunaon sorangan, teh? Iya-iya, nanti Bu Mumuh bantu masuk ti
SMPN 1 Majalengka. Jangan bangor, tapi!” Jawaban Bu Mumuh, saudara ibu yang
menjadi guru di SMPN 1 Majalengka, membuat lampu sorot dan alunan biola
menghilang.

“Yang bener, Bi?” pekikku sambil berdiri.

“Kalau nakal, nanti langsung ibu pindahin sakolana,” ancam ibu.

Aku mengangguk-angguk kencang. Perasaan senang membuncah dalam diri.
Aku mengepalkan tangan ke udara. Yess! Kehidupanku di SMPN 1 Majalengka akan
dimulai. Aku yang pendek tapi kasep ini akan bermain basket di SMP biar tambah keren.

Setelah urusan pemberkasan selesai, aku memulai hari pertama di SMPN 1
Majalengka dengan berjalan kaki karena jarak yang dekat. Rumahku di Jalan Pertanian.
Beruntung, wali kelas di 1D adalah Bu Mumuh. Aku cekikikan sendiri di tempat duduk.
Setelah perkenalan tiap-tiap anak, mata pelajaran pertama dimulai.

Aku mengedipkan sebelah mata. Kenanganku di SMPN 1 Majalengka penuh
kekonyolan. Aku singgah di kelas 1D, 2E, dan 3H. Ada-ada saja tingkah diriku yang kasep
dan pemalu ini–memalukan sebenarnya. Aku diberkati teman-teman yang sama
konyolnya, juga guru-guru favorit yang menginspirasi, salah satunya adalah Pak Eming.
Sebetulnya, dia guru yang lucu dan sedikit aneh. Mungkin, karakter guru olahraga
memang seperti itu, ya. Penuh humor tetapi tegas.

Pak Eming merupakan guru yang amat disiplin.

“Ey, ey, Yosep. Kamari. Kasih lihat kuku kamu.” Wajah Pak Eming tampak
beringas. Tangannya sudah menggenggam sebatang penggaris besi. Sebelum memulai
kelas olahraga, beliau selalu memastikan kuku-kuku kami bersih.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

247

“Kuku kaki, Pak?” tanyaku ngebanyol.

“Ey, kuku hayam kamu,” jawab Pak Eming. “Kuku tangan kamu, lah.” Kumisnya
bergerak naik turun. Telapak tangan kanannya terbuka.

Aku tenang-tenang saja menghadapi pemeriksaan Pak Eming karena sudah
potong kuku kemarin malam. Kalau tidak, bisa-bisa punggung tanganku merah semua
akibat tebasan cinta Pak Eming. Setelah lolos dari pemeriksaan, aku mendengar beberapa
tebasan kencang dari Pak Eming kepada teman-teman yang kuku tangannya kotor,
hitam-hitam pula. Ada yang habis mencari sesuatu di sawah atau menggali emas di
hidung–dan tertinggal.

Di luar pemeriksaan kuku tangan itu, Pak Eming kembali menjadi pribadi yang
menyenangkan. Beliau paling suka mengingatkan kami untuk berkeramas.

“Kalian teh abis olahraga jangan langsung mandi. Jangan langsung dahar nasi jeung
bubur, percuma keringat kalian keluar-luar nanti, terutama buat neng geulis nu lagi diet.
Nah, nanti keramas pas mandi. Jangan jebar-jebur wae. Ieu daki masi nempel di kuping.”
Pak Eming memegang telinganya. Aku dan teman-teman sekelas cekikikan
mendengarnya.

“Kalau keramas juga pake sabun biar wangi!” seru Pak Eming yang kemudian
menutup kelas dengan tatapan heran para muridnya. Pak Eming memang guru yang
asyik, galak, sekaligus membingungkan.

Karena memiliki badan yang tidak terlalu tinggi, aku diajari oleh beberapa teman
untuk bermain basket. Bersama Deden Miftah dan Dani Emed, aku bermain basket di
lapangan sepulang sekolah. Kami berganti baju terlebih dahulu, kemudian bermandikan
keringat sepanjang sore.

“Hadeh, ring basket meuni tinggi amat kayak harapan aing,” gumamku sambil
mengatur napas yang sangat tidak beraturan. Aku bisa merasakan asin keringat saking
banyaknya keluar dari wajahku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

248

“Yeu, ya kali ring basket pendek. Mending maneh bikin ulinan basket sendiri yang
sesuai sama tinggi badan maneh,” jawab Emed.

“Cangkem sia,” jawabku kesal. Aku kembali semangat memasukkan bola basket ke
ring.

“Sep, Neng Yuli, Sep! Neng Yuli, aya Yosep here, eeyyy!” seru Miftah dari pinggir
lapangan. Teriakannya membuatku dan Yuli langsung menoleh. Teman-teman di
lapangan juga menoleh. Sabar, Ya Gusti, batinku. Aku bertekad untuk memaki-maki
Miftah setelah Yuli pergi.

Karena teriakan Miftah, Yuli pasti akan menjauhiku. Namun, usai mendengar
teriakan Miftah, Yuli malah berlari menghampiriku. Aku menangkap kedua matanya
yang bersinar kala melihatku. Jantungku berdebar kencang. Yuli tersenyum manis.
Begitu tiba di hadapanku, Yuli mengeluarkan secarik surat dari tasnya. Dengan wajah
tersipu malu, dia memberikan surat tersebut padaku.

“Wah, wah.” Deden dan Emed menghentikan permainan basketnya untuk
memperhatikan kami.

“Buatku, Yul?” tanyaku gugup.

“I-iya, Yosep,” jawab Yuli sama gugupnya.

“Nanti abdi maca di imah, yak. Di sini malu, banyak orang teuing, Yul.” Aku
menerima surat tersebut dengan rasa percaya diri yang tinggi.

“Eh? Jangan dibuka atuh, Sep.” Ucapan Yuli membingungkanku. “Surat itu teh
buat Aa kamu, A Dudi. Yuli teh resep sama A Dudi.” Yuli salah tingkah. Sontak, ledakan
tawa muncul dari teman-temanku yang dari tadi memperhatikan. Wajahku pasti
memerah seperti kepiting rebus. Tanpa menyatakan perasaan, cinta monyetku sudah
kandas karena surat untuk A Dudi. Walaupun Yuli sudah pergi dari lapangan, teman-
temanku masih tertawa terbahak-bahak. Aku kehilangan gairah untuk kembali bermain
basket. Sebaliknya, aku ingin me-nakol satu per satu temanku itu.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

249

Meskipun tampak nakal dan konyol, kemampuan bahasa Inggrisku dapat diadu.
Didukung Bu Eno, guru Bahasa Inggris, aku memenangkan kompetisi bahasa Inggris.
Kemudian, aku juga menyukai pelajaran biologi yang diajarkan oleh Pak Ono. Teman-
temanku justru meledek karena aku dianggap bersemangat dalam materi organ
reproduksi. Namun, alasanku menyukai pelajaran biologi adalah cita-cita menjadi dokter
di masa depan.

Melangkah ke jenjang SMA, aku memilih jurusan IPA dengan fokus pada biologi.
Di kelas satu, aku sekelas dengan Miftah, Emed, Dede Satria, dan Tuti Budiatni.
Sementara itu, di kelas dua, aku harus dipindahkan oleh orang tua ke Bandung karena
dianggap terlalu nakal. Semasa putih-abu, aku pernah kabur dari rumah karena tidak
dibelikan motor. Aku bermalam sementara di rumah Budi Aji, temanku. Di kelas tiga
SMA, hidayah-hidayah muncul untuk memperbaiki diriku. Terlebih, kelas tiga adalah
fase yang menegangkan karena diberikan pilihan hidup untuk bekerja atau bersekolah
kembali. Aku memilih untuk melanjutkan pendidikan ke Institut Pertanian Bogor (IPB).

Cita-citaku untuk menjadi dokter tidak tersampaikan, tetapi terealisasikan oleh
karier anak pertamaku, Safira. Selain itu, anak keduaku Amirah sedang menempuh
pendidikan Hubungan Masyarakat di Universitas Padjajaran.

Kini, aku yang dulu dikenal kasep tapi bangor jeung konyol, sekarang menjadi
seorang auditor dan konsultan di lembaga sertifikasi hutan dan kelapa sawit. Aku juga
pernah mengaudit sebuah SD dan SMP yang telah memiliki kelas IT sebagai penunjang
kegiatan siswa. Aku pikir, kelas tersebut dapat diaplikasikan pada kegiatan belajar dan
mengajar di SMPN 1 Majalengka.

Bertahun-tahun telah berlalu, zaman sudah berubah. Adaptasi merupakan
kemampuan penting dalam menghadapi perubahan zaman. Kemampuan tersebut juga
perlu dimaksimalkan dalam dunia pendidikan. Seiring kemajuan zaman, penggunaan
teknologi pada anaklah yang perlu diarahkan. Tak hanya tanggung jawab orang tua,
tetapi juga guru-guru di sekolah. Selain itu, ruangan atau metode pembelajaran khusus
yang futuristis juga dapat diaplikasikan supaya siswa dapat belajar secara merdeka.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

250

Tidak melulu berkutat pada hafalan, tetapi berpikir kritis dan komunikatif. Dengan
demikian, alumni dapat membantu keuangan sekolah demi meningkatkan fasilitas
sekolah, seperti penyediaan laptop atau LCD.

Kisah kasih di SMPN 1 Majalengka akan tetap terajut dalam hati Yosep yang kasep
ini.

Ey, Yosep. Mantap betul maneh masuk ka SMPN 1 Majalengka. Maneh teh kudu rajin
belajar, jangan nyontek, dan jangan lewat orang dalem wae. Maneh teh juga kudu jadi jelema
yang baik jeung penuh manfaat. Walau geus berumur, maneh harus tetep kasep. Kasep
wajahna jeung hatina supaya bisa ngasi kebaikan ka orang-orang di sekitar Yosep.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

251

Kisah Kasih Putih Buru: 47

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

252

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

253

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

254

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

255

Kisah Kasih Putih Buru: 48

Darmaji di Kantin Mang Sedit

Niknik M. Kuntarto

Penjaga kantin yang baik hati. ia tahu pembelinya darmaji (dahar lima ngaku lima), tapi
tetap ikhlas.

Cuit cuit cuit.

Kicau burung mengiringi langkah kaki. Semerbak harum khas di pagi hari mengelilingi
perjalananku. Aku menghirup udara segar ini sebanyak-banyaknya sampai memenuhi
rongga dada, lalu menghembuskannya perlahan. Aku melirik ke langit yang redup,
mentari masih malu untuk menyembulkan sinarnya.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

256

Aku kembali meneruskan langkah menembus hiruk pikuk Kota Majalengka yang
belum terlalu kentara. Seperti biasa, aku berjalan santai sembari membawa rantang berisi
gorengan. Rutinitas harianku adalah menjaga kantin di sekolah putih-biru, yakni SMPN
1 Majalengka. SMP favorit orang-orang di sini. Menjadi bagian dari keluarga besar SMPN
1 Majalengka, walau hanya penjaga kantin, tentu membuatku senang. Apalagi bertemu
beragam kalangan guru dan anak-anak dari berbagai daerah. Murid-murid rantauan pun
datang ke sekolah ini. Memang betul, SMPN 1 Majalengka merupakan salah satu pilihan
sekolah terbaik untuk putra-putri Anda. Gorengan, bala-bala Mang Sedit siap disantap
untuk mengisi perut ketika jam istirahat tiba.

Eh, kok tiba-tiba promosi?

“Berangkat, Mang Sedit?” sapa seorang wanita paruh baya di perjalanan.

“Iya! Punten, Bu.” Aku menundukkan kepala. Senyum hangat tak lupa
kusunggingkan.

“Mangga, mangga,” jawab ibu tersebut tak kalah ramah.

Sesampainya di sekolah, aku bergegas menuju kantin. Lapak dagangan kusibak.
Nampan-nampan berlapiskan koran kutata untuk meletakkan gorengan-gorengan yang
masih hangat. Tak lupa, bumbu suuk (sambal kacang) cair ditempatkan di sebelah
nampan. Perpaduan antara gorengan dan suuk memang sangat mengesankan. Bisa
dibilang, daganganku tidak pernah sepi pengunjung.

Mungkin pagi ini memang masih sepi, tetapi ketika jam istirahat tiba, biasanya
gorengan-gorengan ludes oleh para pasukan berseragam putih-biru. Usai dagangan
disiapkan, aku tinggal menunggu bel istirahat berbunyi. Aku meregangkan badan
sejenak. Beberapa rekan sesama penjaga kantin sudah bersiap dengan dagangannya.

Aku menghirup kembali udara Kota Majalengka. Masih sejuk dan damai. Aku
menyunggingkan senyum, berterima kasih kepada semesta atas suasana yang tenteram

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

257

ini meskipun hanya sesaat. Saat bel istirahat berbunyi, gerombolan anak-anak ganas
menyerbu daganganku.

“Mang Sedit, gorengan hiji!”

“Mang Sedit, suukna ditambahin, atuh!”

“Maaaangg, bala-balana tilu!”

“Aku duluan mesen, Mang Sedit! Kok disela orang!”

“Mang Sedit, buruan, aing laper, hayang dahar!”

“Mang Sedit!”

“Maaangggggg!”

Sejumlah anak-anak berpakaian putih-biru ini tidak berhenti menutup mulut jika
gorengannya belum didapatkan. Yang tadinya mendengar kedamaian kicau burung di
pagi hari, kini telingaku ramai dengan ciutan anak-anak yang kelaparan. Kedua
tanganku aktif seperti telingaku. Dengan sigap, aku mengambil plastik dan kertas koran
untuk membungkus pesanan gorengan. Uang-uang yang kuterima pun segera
kukumpulkan dalam suatu kotak. Aku buru-buru menerima uang dari tangan-tangan
mungil itu. Kemudian, buru-buru juga memberikan kembaliannya. Mataku terfokus
kepada anak-anak yang di depan dan yang terus berseru tentang pesanannya. Sepercik
lautan anak SMPN 1 Majalengka seolah beralih ke lapak daganganku. Tidak heran jika
dalam satu waktu istirahat, gorengan-gorenganku ludes terjual–walau harus bergelut
dengan keramaian.

“Hatur nuhun, Mang Sedit!” seru seorang siswa berbadan kurus sambil berjalan
menuju kelasnya. Gigi depannya bolong. Kedua tangannya dipenuhi oleh bala-bala dan
suuk.

“Sami-sami!” balasku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

258

Nampan yang tadinya penuh oleh gorengan pun tinggal tersisa kertas koran yang
berantakan. Aku duduk di salah satu sudut kantin. Sembari meluruskan kaki, aku
menghitung hasil penjualan hari ini. Ada uang yang masih bagus. Ada juga yang sudah
terlipat-lipat, robek, atau ada tulisan nomor teleponnya. Aku menghitung dengan
saksama, lalu merasakan kejanggalan usainya.

“Sebentar. Kok uangna cuma segini, ya? Perasaan tadi Mang Sedit mawa banyak
gorengan?” ujarku. Aku kembali menghitung penghasilan. Jumlah gorengan yang kujual
hari ini juga telah kucatat. Akan tetapi, kok uangnya kurang?

Aku berusaha mengingat-ingat hari ini. Namun, nihil. Anak-anak yang membeli
gorenganku sangat banyak. Tangan-tangan yang mengambil gorengan juga sangat cepat.
Aku terlalu fokus kepada para murid yang mengucapkan pesanannya. Melihat wajah-
wajah lelah mereka, aku memakluminya. Mungkin pelajaran hari ini cukup berat.
Mungkin ujian kali ini membingungkan. Mungkin rasa lapar menggerogoti perut mereka
sehingga mengaburkan fokus pikiran. Di kantin lah, mereka mengisi bahan bakar untuk
kembali belajar dan meniti jalan menuju kemajuan bangsa.

Aku mengedikkan bahu. Aku mendongak sembari memejamkan mata. Kuhirup
dalam-dalam udara Majalengka siang hari. Selintas pikiran tiba-tiba lewat dalam benak.
Seorang siswa kurus yang bergigi bolong. Usai dari lapakku, dia membawa banyak
gorengan, ada lima buah kurasa. Aku membiarkan pikiran ini mengingat kejadian
tentang anak itu.

Siang itu, kantin tengah ramai. Tanganku sibuk melakukan berbagai kegiatan
guna melayani anak-anak yang kelaparan. Tanpa kusadari, seorang anak bertubuh kurus
mengambil lima buah bala-bala secara diam-diam. Kemudian, anak tersebut meletakkan
uang di nampan. Uang yang dibayarkan hanya cukup untuk sebuah gorengan, bukan
lima. Begitu anak itu pergi, dia mengacungkan gorengannya kepadaku dan berkata,
“Hatur nuhun, Mang Sedit!”

Aku refleks menoleh kepadanya, “Sami-sami!”

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

259

Waduh, dagangan urang kena darmaji! Dahar lima ngaku hiji. Aku berkacak pinggang.
Lalu, menghela napas panjang. Pantes.

Sebetulnya, praktik darmaji ini sudah sering dilakukan oleh anak-anak. Minimnya
pengawasan membuatku lalai. Uang yang kudapatkan pun tak jarang suka kurang.
Walaupun demikian, wajah-wajah bahagia mereka usai memperoleh gorengan dalam
genggaman selalu terngiang di kepala. Kudengar-dengar, banyak dari mereka yang
memilih kantin, lebih tepatnya lapak gorengan Mang Sedit, sebagai tempat favorit.
Hiraukan tentang darmaji, bercengkerama dengan anak-anak turut andil dalam
mendamaikan pikiranku. Layaknya udara segar Majalengka. Layaknya SMPN 1
Majalengka yang mengizinkanku untuk berjualan gorengan. Sesederhana gorengan
dengan bumbu suuk, kuharap menjadi bagian indah dalam kisah kasih putih-biru anak-
anak.

Hari pun terus berlanjut.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

260

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

261

Kisah Kasih Putih Biru 49:

Guruku Cantik Sekali

Niknik M. Kuntarto

“So, if the subject ‘she’ or ‘he’ encounters a root verb, add the letter S to the verb,” jelas guru

Bahasa Inggris pengganti Pak Memed sambil memandang siswa kelas 3E.

“Can you give an example, Ma’am?” tanya Ati dengan percaya dirinya berbahasa
Inggris. Maklum saja, temanku yang satu ini memang memiliki hobi berkenalan dengan
teman-teman dari berbagai negara.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

262

“Of course, thank you. Good question! What is your name?” tanya guru cantik itu
kepada teman sebangkuku.

“My name is Ati, Ma’am! Shanti Sri Mutiarsyah,” jawab Ati

“Ok I will provide answers to your questions. As an example: She wants, he speaks, etc. Do
you understand?”

“Thank you, Ma’am. Yes, I understand.”

Sungguh tak kupedulikan mereka bicara atau berdiskusi tentang apa. Aku hanya
fokus pada sosok guru baru pengganti Pak Memed, guru bahasa Inggris kelas kami.
Sungguh sangat cantik! Kupikir sosok wanita di depanku ini lebih cocok menjadi bintang
film. Aku jadi ingat sebuah judul film, “Guruku Cantik Sekali”.

Tetiba aku mengkhayal bahwa suatu hari aku ingin seperti guru cantik tersebut!
Ibu Nina namanya. Beliau guru baru di SMPN 1 Majalengka. Awas ya, suatu hari nanti
aku akan menjadi guru sepertimu, Bu Nina! Aku membatin.

Sejak saat itu, aku sering mengamati cara mengajar guru-guruku di SMPN 1
Majalengka. Aku sangat terkesan dengan guru-guru SMPN 1 Majalengka yang tidak
hanya memberikan pembelajaran kepada siswa-siswanya, tetapi juga mampu
memberikan simpul kenangan yang tak akan terlupakan meskipun zaman telah berubah.

Pak Oma, guru Bahasa Indonesia, mengajarkan pelajar dengan cara sersan, serius,
tetapi santai. Ini membuat siswa merasa nyaman belajar. Tanpa ketegangan. Sering kali
kami belajar sambil bermain. Bermain tebak-tebakan, bermain cepat-cepatan menjawab,
dan permainan yang berhubungan dengan bahasa lainnya. Oh ya, Pak Oma, saya mohon
maaf, saat ulangan Bahasa Indonesia, Bapak mendiktekan soal pilihan ganda, tetapi
setelah itu, Bapak menuliskan jawabannya di kertas yang Bapak pegang, sehingga saya
dan juga teman-teman yang lainnya, menjawab soal berdasarkan gerakan Bapak yang
menunjukkan jawabannya itu A, B, C, atau D. Kami tanpa belajar, tanpa mendengarkan

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

263

soal, sudah tahu jawabannya berkat gerakan tangan Bapak yang mudah ditebak. Alhasil,
nilai Bahasa Indonesia di kelas kami pasti bagus-bagus!

Bu Eno selalu mengajarkan mata pelajaran seni dengan metode cebur atau
immersion. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmunya kepada siswa, tetapi beliau juga
menjadi contoh guru yang melakukan ilmunya. Beliau mengajar menari dan juga
mengajari dirinya sendiri sebagai seorang penari. Ketika menjelaskan, beliau selalu
peduli pada kemampuan siswa dalam menyimak dan menyerap pelajaran sehingga
secara bertahap setelah menjelaskan satu definisi, beliau meminta kami seperti ini,
“Ucapkan definisi tersebut, simpan di atas lidah, dan tutup rapat bibir kalian. Biarlah
lambung, usus, sel darah, dan otak bekerja. Sebentar lagi, Ibu akan bertanya tentang hal
itu kepada kalian dan bicaralah. Keluarkan ilmu yang tadi disimpan di lidah!” Sungguh
cara pengajaran yang unik. Mengasosiasikan ilmu dengan makanan yang kita makan dan
kunyah di mulut dan dicerna di lambung, diserap di usus, dialirkan sari makanan
melalui pembuluh darah lalu siap dikirimkan ke otak untuk disebarkan ke organ tubuh
lainnya.

Pak Memed, mengajar bahasa Inggris dengan metode menggairahkan. “Siapa
yang sanggup menjawab, boleh pulang duluan!” Adrenalin tetiba meninggi karena ingin
menjadi siswa yang bisa menjawab dengan benar dan boleh pulang lebih awal. Reward
dan punishment berlaku ketat di pelajaran Bahasa Inggris. Dan aku selalu berusaha
menjadi siswa yang mendapatkan hadiah: pulang lebih awal.

Pak Oo, mengajar IPA dengan sangat mudah karena selalu mengajak siswa belajar
sambil praktik di laboratorium. Siswa merasakan langsung bagaimana membedah cicak,
katak, dan ikan. Mempelajari semua materi dengan sangat menyenangkan. Penggemar
Vina Panduwinata itu juga sesekali menyisipkan guyonan di sela-sela mengajar.
“Mengapa anak kodok suka loncat-loncat?” tanyanya di suatu siang yang terik. Mata
mulai berat. Ngantuk menyerang. Semua diam, saling pandang. “Ya, namanya juga

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

264

anak-anak. Suka iseng loncat-loncat!” Hmmm …. Hahahahaha … kami pun tak jadi
ngantuk!

Pak Ujang yang juga merupakan pamanku adalah guru yang sangat detail. Beliau
mengajar Pendidikan Moral Pancasila atau PMP. Setiap siswa harus hafal setiap butir-
butir penghayatan dan pengamalan Pancasila. Pak Ujang mengajarkannya dengan cara
bermain. Setiap dua siswa saling berhadap-hadapan dan bertanya isi butir-butir
Pancasila. “Bergotong-royong itu termasuk butir Pancasila yang ke berapa?” tanya siswa
A kepada Siswa B yang berada di hadapannya. “ Jika bisa menjawab, siswa berhak
mendapatkan nilai. Siswa yang tidak bisa menjawab harus tetap berdiri di depan kelas.
Dengan demikian, siswa berusaha keras menghafal setiap butir penghayatan dan
pengamalan Pancasila.

Pak Eming, guru olahraga super killer. Bagi sebagian siswa, mata pelajaran
olahraga adalah hal yang paling menyenangkan karena itu berarti siswa boleh belajar di
luar. Acara ganti baju seragam ke baju olahraga pun menjadi kesempatan yang baik
untuk rehat sebentar dari aktivitas belajar mengajar. Namun, itu tidak berlaku jika sang
guru itu bernama Eming.

“Semua akan mendapatkan kesempatan yang sama. Harus antre! Bergiliran sesuai
dengan nama di daftar hadir. Harus sadar diri kapan mendapatkan gilirannya! Paham?”
suaranya menggelegar di setiap sudut jiwa siswa saat menjelaskan cara bermain kasti di
lapangan Warung Jambu.

Namaku Niknik. Aku berusaha mengingat-ingat urutan namaku setelah Nenny.
Tiba giliran Nenny yang seharusnya maju, tetapi dia diam saja. Tanpa sadar, aku
berteriak, “Nenny, giliranmu!” Tetiba,

Buuuuuugggg! Bola kasti mendarat di punggungku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

265

“Nikniiiiiik! Diam kamu! Saya sudah bilang, setiap siswa harus sadar diri kapan
mendapatkan giliran, tanpa diberi tahu oleh pemain yang lain! Ayo, keliling lapangan
sepak bola 2 kali!” Hmmm …. kena deh! Aku pun bergabung dengan teman- teman yang
senasib denganku. Salah bicara meskipun niat baik!

Pak Eming memang galak, tetapi kegalakannya telah melahirkan orang hebat di
bidangnya. Dalam setiap perlombaan antarsekolah, beberapa cabang olahraga selalu
dimenangkan oleh SMPN 1 Majalengka. Ade Djadja adalah pemain tenis meja yang
hebat. Aku pun yang memiliki hobi bermain tenis meja beberapa kali memenangkan
pertandingan antarkelas dan juga antarsekolah. Ada juga beberapa pemain basket yang
menjadi pemain favorit dan kebanggaan sekolah: Ati, Ella, Yosef, Deden Miftah, Ndang,
dll. Terima kasih, Pak Eming!

Ada guru yang istimewa. Ada guru yang menggugahkan. Ada guru yang
menggairahkan. Ada guru yang baik selalu memberikan contoh. Ada guru yang biasa-
biasa saja, cukup menjelaskan. Semua bagaikan panggung pembelajaran yang biasa
kuambil contoh baiknya demi masa depanku sebagai seorang guru.

Pada akhirnya, saat kelulusan sekolah, ketika teman-teman yang lain sibuk
mencari SMAN yang terbaik di Majalengka, pilihanku hanya satu: Sekolah Pendidikan
Guru Negeri atau SPGN Majalengka. Sekolah khusus pencetak insan cendekia yang
unggul dan kreatif. Aku ingin menjadi Guru TK atau SD. Aku ingin seperti guru Bahasa
Inggris yang cantik: Ibu Nina. Terima kasih, Bu Nina, engkau inspirasiku dalam
menemukan jati diriku sebagai seorang guru.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

266

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

267

Kisah Kasih Putih Biru 50:

Di Balik Kisah Kasih Putih Biru

Niknik M. Kuntarto

Berita Reuni Akbar yang akan diselenggarakan pada September 2022 oleh seluruh

alumni SMPN 1 Majalengka telah terdengar dan menyebar ke seantero bumi Indonesia,

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

268

tempat alumni tinggal, bahkan sampai juga kepada alumni yang berada di luar negeri.
Semua dilakukan atas inisiatif dari Latif Harnoko, seorang alumni yang sukses dan ingin
melakukan sesuatu yang signifikan hasilnya bagi sekolah tercinta yang konon katanya
tidak seterindah dahulu. Tidak seterfavorit dahulu. Tidak seterkenal lagi seperti dahulu.

Latif Harnoko atau yang dikenal dengan panggilan Kang Noko ingin melakukan
Reuni Akbar yang akan diisi dengan berbagai acara inti reuni dan hiburan yang akan
diramaikan oleh artis-artis terkenal Indonesia. Bahkan, Kang Noko ingin membuat
panggung besar dan diletakkan di sepanjang jalan di depan SMPN 1 Majalengka. Semua
jalan akan ditutup untuk sementara demi berlangsungnya acara hebat tersebut.

Tersebar pula bahwa panitia inti telah terbentuk dan semua merupakan
perwakilan dari setiap angkatan. Setiap angkatan diwajibkan menyelenggarakan reuni
per angkatan di tahun 2022 dan menyiapkan diri menuju Reuni Akbar 2022. Salah satu
persiapan yang dilakukan adalah merancang program kegiatan yang bermanfaat bagi
alumni, bagi sekolah, dan bagi masyarakat Majalengka.

Alumni Angkatan 1987 pun yang diketuai oleh Hendra turut serta ambil bagian
dalam memeriahkan acara yang diadakan secara massal ini. Dibentuklah tim panitia
persiapan reuni. Diundanglah beberapa alumni yang dinilai sukses dan berkompeten di
bidangnya. Tentu nama Ade Djadja menjadi perhatian utama karena beliau dinilai
paling sukses sebagai seorang Kombes Polisi di Kepolisian Republik Indonesia. Beberapa
nama juga mencuat seperti Sony sebagai Kepala Kantor BPN Jakarta Utara, Endang
sebagai Kapten Pilot senior di Batik Air. Dany sebagai pejabat publik di Jakarta Pusat.
Nanang sebagai direktur perusahaan kesehatan, juga Yosef dengan jabatan yang sama di
bidang kelapa sawit. Nama-nama lain juga mencuat karena mereka sukses sebagai
pimpinan di bank, pimpinan perusahaan, dan berbagai profesi lainnya yang tentu
membanggakan. Ada juga beberapa teman sebagai istri yang suaminya sukses sehingga
secara materi dapat membantu terselenggaranya acara besar ini.

“Teh Niknik, nanti malam kita rapat melalui Zoom Meeting ya, “ ajak Hendra
kepadaku melalui Whatsapp.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

269

“Waduh, saya diundang sebagai apa? Aku mah da hanya seorang guru,” jawabku
merendah dan memang jika dibandingkan teman-teman lain yang sudah berhasil, aku
bukanlah siapa-siapa. Terbayang, saat aku sekolah di SMPN 1 Majalengka, aku hanyalah
butiran debu yang tak berarti. Pergaulanku pun tidaklah luas. Terkadang aku minder
berada di antara anak-anak pejabat di lingkungan Majalengka.

Aku hanya anak yatim yang ditinggal Apa sejak kelas 5 SD. Aku hanyalah anak
seorang janda dengan 8 anak yang harus dicukupi kebutuhannya, baik itu kebutuhan
sehari-harinya maupun sekolahnya, tentu dengan biaya yang tidak sedikit. Aku paham
benar posisiku di antara teman-teman yang lain. Beberapa kali, Mama atau A Heri, kakak
pertamaku, diundang ke sekolah karena menunggak uang SPP. Atau beberapa kali aku
tak bisa mengambil rapot karena terganjal tunggakan.

Di saat teman-teman lain sibuk ikut bimbel, bahkan bimbel hingga ke Yogyakarta,
Mamaku hanya mampu memfasilitasi dengan les gratis dari tetanggaku, sarjana hukum,
Unpad, yang terkadang karena terlalu pintar, pikirannya mengawang-ngawang entah ke
mana. Kesehatan mentalnya terganggu. Meski demikian, aku berterima kasih kepada
beliau yang pada akhirnya sanggup membuatku juara kelas ke-3 saat aku duduk di
bangku SMP kelas 3. Bahkan, saat aku menjelang lulus SPG, beliaulah pula yang
mengajariku cara menjawab soal hingga akhirnya aku diterima UMPTN sebagai
mahasiswa IKIP Yogyakarta.

“Ah, Teh Niknik mah suka gitu! Pokoknya diantos ntar malam. Kami menanti ide
atau gagasan untuk acara reuni kita dan persembahan karya kita untuk reuni akbar,”
ucap Hendra meyakinkanku. Pada akhirnya, kujawab,

“Baiklah, saya bersedia bila diperlukan.”

Tibalah saatnya rapat. Kucari tautan zoom di WA yang dikirimkan Melly yang
juga menjadi panitia inti. Lalu, bismillah, kutekan tautan tersebut dan ternyata beberapa
teman seperti Wawan, Sony, Melly, Hendra, Endang, Ucup, dan yang lainnya sudah
hadir terlebih dahulu. Kusapa dan kusampaikan salam kepada teman-temanku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

270

“Nah, Teh Niknik sudah datang nih!” sambut Melly sambil tersenyum.

“Iya, nih Neng Dosen, kami memerlukan sumbangsih pemikiran dari Neng Dosen
tentang rencana program kegiatan reuni 2022,” imbuh Hendra, Ketua Panitia.

Aku terdiam sesaat. Hanya sunggingan senyum sumringah kuhadirkan untuk
teman-teman kecilku.

“Iya, insyaallah …,” jawabku pelan sambil tetap tersenyum.

“Ok, kita akan lanjutkan rapat ini dengan penyampaian gagasan dari beberapa
teman kita. Silakan, siapa dulu?” tanya Hendra membuka ruang diskusi.

Ada yang mengusulkan pembagian sembako, ada yang mengusulkan pemberian
laptop atau komputer ke sekolah, ada juga yang mengusulkan memberikan santunan
anak yatim. Lalu, Pak Ketua bertanya kepadaku,

“Bagaimana Neng Doktor? Ada usulan?” Aku pun berbicara.

“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas undangan ini. Ini merupakan
apresiasi yang baik. Sungguh tersanjung saya dimintai pendapat tentang acara reuni kita
dan juga persembahan untuk acara Reuni Akbar. Saya terbiasa melakukan sesuatu yang
saya sukai dan kuasai sesuai dengan bidang saya. Selama ini dunia saya dunia bahasa
Indonesia. Dunia kepenulisan. Bahkan saya mempunyai kebiasaan memberikan hadiah
ulang tahun kepada diri saya sendiri berupa karya yakni tulisan hasil karya saya sendiri
berupa buku. Semua ini saya lakukan karena saya ingin menjadi seorang guru atau dosen
yang produktif sehingga setelah saya berhasil memberikan karya buku pertama saya di
tahun 2007, otomatis saya akan berpikir untuk menulis buku lagi dan buku tersebut akan
saya berikan kepada saya sebagai hadiah ulang tahun di 2008, dan seterusnya. Sejak saat
itulah, saya terbiasa menulis dan berjanji bahwa jumlah buku hasil karya saya harus
sama dengan jumlah usia saya. Bahkan, saya berjanji akan memberikan hadiah ulang
tahun yang ke-50 dengan buku saya yang ke-50 juga.”

“Waw, Bu Doktor keren banget,” puji Wawan, sang Ketua OSIS.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

271

“Apakah cita-cita itu terkabul?” tanya Melly lagi.

“Terima kasih, A Wawan dan Melly, alhamdulillah pada Mei 2021 lalu, saat saya
berulang tahun yang ke-50, saya memberikan hadiah ulang tahun buku yang ke-50 juga,”
jawabku kalem.

“Alhamdulillah …. Ikut senang mendengarnya, Niknik,” puji Sony, “lalu, apa
rencana ke depan untuk acara Reuni Akbar?”

“Nah, itu dia, berhubungan dengan hal tersebut, saya mengusulkan agar kita
membuat buku. Buku apa? Buku tentang kisah sukses teman-teman kita sehingga
menjadi kisah inspirasi bagi alumni, bagi siswa, dan bagi guru SMPN 1 Majalengka, juga
akan bermanfaat bagi masyarakat Majalengka dan daerah lain di Indonesia,” jawabku
dengan jantung berdebar karena usulanku mengusung tanya, sanggupkah aku menjadi
penulis bagi puluhan atau bahkan ratusan alumni Angkatan 87 di sela-sela kesibukanku
sebagai guru, dosen, ahli bahasa, peneliti U-Tapis, dan juga pembicara di berbagai
seminar dan webinar?

“Neng Doktor, boleh kasih masukan?” tanya Hendra sambil mengangkat
telunjuknya

“Tentu, silakan,” jawabku sambil menggerakkan kedua telapak tanganku tanda
setuju.

“Kalau Neng Doktor hanya mengangkat kisah sukses, itu berarti membatasi
narasumber karena tidak semua alumni bisa dikatakan sukses semua. Ada beberapa
teman yang bernasib kurang baik. Oleh karena itu, saran saya, agar lebih fleksibel, tidak
usah dibatasi kisah sukses, kisah kasih saja. Jadi, tanpa ada batasan, semua bisa bercerita
tentang kisah kasihnya selama bersekolah di SMPN 1 Majalengka. Setuju gak nih, Neng
Doktor?”

“Wah, ini masukan yang luar biasa. Terima kasih banyak,” ujarku pada Hendra.

Alhamdulillah, teman-teman menyambut baik dan turut mendukung ideku. Tiga
bulan kemudian, aku dibantu Melly, Ati, Ita, dan lainnya mulai bekerja, merancang judul

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

272

buku, merancang cover buku, merancang isi buku, meminta beberapa foto kenangan dan
juga video reuni sebelumnya. Aku pun mulai menghubungi narasumber, alumni SMPN
1 Majalengka, mewawancarai, mentranskrip menjadi sebuah naskah, lalu menulisnya
sebagai sebuah kisah kasih putih biru. Aku juga meminta mahasiswaku untuk menjadi
asisten penulis dan layouter: Annisa, Callista, Tasyha, dan Rega. Juga minta tolong Tim
Kreatif di Kampung Bahasa Bloombank dalam membuat cover dan ilustrasi kisah ini,
Mas Randi Ramliyana.

Dalam hati kecilku, aku akan menulis kisah kasihku tentang cinta pertamaku yang
kandas di tengah jalan, juga kisah inspirasiku menjadi seorang guru berkat motivasi
menjadi siswa dari seorang guru cantik dan pintar, Ibu Nina, yang saat itu menjadi
Kepala Sekolah SMPN 1 Majalengka. Akan kutulis kisah inspirasi itu dan berharap Ibu
Nina akan membacanya dengan bangga dan bahagia. Sayang sekali, Ibu tak sempat
membacanya. Kabar duka itu datang tiba-tiba beberapa bulan sebelum buku ini jadi. Ibu
tak sempat tahu bahwa Ibu adalah sumber inspirasiku hingga akhirnya kuputuskan aku
menjadi seorang guru.

Ibu Nina adalah seorang guru yang mampu mengamalkan ilmunya sepanjang
hidup, bahkan tanpa Ibu sadari bahwa Ibu telah menginspirasi saya, mungkin juga siswa
lainnya dalam merancang masa depan yang lebih baik. Semoga Ibu tenang di sisi Gusti
Allah, Pencipta Ibu. Semoga ilmu yang telah Ibu berikan kepada kami, siswa-siswi di
SMPN 1 Majalengka, menjadi ladang pahala bagi Ibu. Menjadi jalan penerang Ibu dalam
melangkah ke dunia nan abadi. Membawa ilmu yang berguna bagi umat manusia di
dunia. Insyaallah surga menjadi tempat Ibu bersemayam. Amin yra. Selamat jalan, Ibu!

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

273

EPILOG

Persembahan Puisi dari Editor

Kisah Kasih Putih Biru

Oleh: Niknik M. Kuntarto

Kawan, masih ingatkah kita pernah bermain pasir?

Bukan di pantai, melainkan di gunungan pasir
Di depan rumah orang yang akan membangun sebuah rumah masa depan.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

274

Kawan, masih ingatkah kita pernah bermain pasir?
Bertelanjang kaki, berlari-larian, dan saling berkejaran.
Menaiki dan menuruni gundukan pasir!

Kawan, masih ingatkah kita pernah bermain pasir?
Membangun terowongan seolah-olah kita telah menjadi seorang insinyur.
Membangun jembatan di atasnya dengan ornamen gaya Eropa
seolah-olah kita telah menjadi seorang arsitektur

Kawan, masih ingatkah kita pernah bermain pasir?

Bersenda gurau bersama luapkan kegembiraan

Meski tak jarang muncul gurau yang berakhir kacau

Salah satu teman kita atau kamu sendiri pernah kelilipan karena pasir.

Lalu, kita minta tolong kepada teman untuk meniup mata sehingga terhindar dari pandangan
buram

Kawan, masih ingat kita pernah bermain pasir?
Menggali lubang
Bukan untuk membuat sumur, melainkan jebakan
Kita menutup bagian atas lubang dengan ranting-ranting dan dedauan
yang di atasnya ditaburi pasir
sehingga permukaan rata
dan orang yang melewatinya tidak tahu
bahwa ketika menginjaknya, ia terancam terperosok ke dalam lubang jebakan itu!
Dan saat sang korban datang,
kita menunggu dengan cemas
hingga akhirnya saat ia betul-betul menginjak dan terperosok,
dia akan terkejut,
tetapi setelah itu kita akan tertawa bersama

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

275

karena yakin ini adalah sebuah permainan.
Kita akan tertawa bersama sambil menggenggam pasir dengan kuat
meskipun tetap saja beberapa butir lainnya
terlepas sedikit demi sedikit.

Kawan, cerita tentang pasir adalah cerita kamu, aku, dan dia.
Cerita tentang kita.
Ya, kisah kita berawal dari pasir.
Semakin kuat kita menggenggam,
maka terlepaslah sedikit demi sedikit apa yang kita genggam.
Persahabatan kita saat sekolah dulu seolah-olah tak akan terpisahkan.
Kita berjanji untuk selalu saling menggenggam hubungan kita
agar tidak bercerai berai.
Kita berjanji untuk saling setia,
solid menjaga hubungan baik kita.
Berjanji tidak akan saling meninggalkan satu sama lainnya.
Namun, layaknya pasir yang kita genggam, Kawan
pada akhirnya sedikit demi sedikit akan terlepas.
Begitu pula dengan persahabatan kita,
karena kita memiliki jalan hidup masing-masing.
Terpisah karena rutinitas kerja.
Terpisah karena jarak, ruang, dan waktu.

Angin pun menghempaskan pasir-pasir yang ada di genggaman kita.
Begitu pula dengan persahatan kita.
Terkadang terhempas begitu saja.

Kasih, ada kalanya kita kita tak tahan menahan rindu
Rindu bermain di atas pasir

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

276

Rindu tertawa bersama
Rindu menggenggam pasir
Rindu yang membuncah akan segala kisah kita
Kisah kasih putih biru
Kisah kasih seru
Juga kisah kasih haru

Kawan, ada kalanya kita tak tahan dengan semua warta
Warta tentang kamu
Warta tentang aku
Warta tentang dia
Warta tentang mereka.
Warta tentang kita.

Hai Kawan, lihatlah
Di hadapan kita, ada pasir yag menggunduk
Di hadapan kita, ada pasir yang menggunung
Ada asa bersua
Ada harapan berjumpa
Untuk saling menggenggam pasir
Untuk saling mengenang.

Kawan, lihatlah genggaman pasir yang dahulu sedikit demi sedikit terlepas
Genggaman pasir yang dulu tiba-tiba terhempas
hari ini,
detik ini,
dipertemukan kembali

Mari kita jumputi butir demi butirnya

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

277

Mari kita punguti serakan demi serakan
Mari kita genggam lebih erat lagi

Kawan, segenggam pasir berkumpul
mampu menyatu menjadi wadah dengan bantuan perekat
Ya, perekatnya adalah rasa kasih sayang untuk sebuah silaturahmi
yang mampu memantulkan masa depan yang cerah
penuh harap sehingga menjadi hidup yang lebih baik lagi

Kawan, mari kita saling bertukar warta,
Mari kita berkisah kasih
Mari kita bercerita cinta
Mari kita. Mengungkap suka
Dan menghapus suka,

Kawan, hari itu adalah hari ini
Milik kita bersama

Kawan,
mumpung pasir itu masih dalam genggaman kita
Mumpung pasir itu belum terlepas dari genggaman kita
Mumpung pasir itu belum terhempas dari genggaman kita
Selagi cercah cahaya biru dari dinding belum tiba
Selagi perlahan kisah kita kan dihapus waktu
Selagi perlahan waktu menghentikan kita sehingga tak kunjung tertemu
Sebelum ajal belum termakan angka
Sebelum semua itu dipatahkan dengan suatu hari
Sebelum pergi ke tempat semua butiran pasir menanti

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

278

Mumpung kita masih diberi kesempatan
Mumpung kita masih diberi kehidupan
Mumpung kita masih diberi kesehatan
Mumpung kita masih diberi umur panjang
Kawan, tataplah pupil mata kita
Tataplah sorot mata kebahagian kita
Balaslah senyuman kita
Sebagai tanda kita bahagia.

Kawan,
Maknailah setiap gerakan kedua bibir ini
mari kita buka telinga untuk saling berkisah
Mari kita bergandeng tangan menyatukan semangat hidup
Mari kita melangkah dan bersinergi bersama menyatukan asa untuk hidup lebih baik lagi.

Kawan, tataplah pupil mata kami
Sebelum kelak khawatir tak dapat melihatmu lagi
Sebelum kelak kita pun menjadi yang tersisa dari ceritamu
hingga menunggu di perbatasan usia

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

279

Tentang Editor

Niknik M. Kuntarto

Niknik M. Kuntarto lahir di Majalengka pada 10 Mei. Menekuni bidang bahasa

Indonesia sejak kuliah S-1(UNY), S-2 (UI), dan S-3 (UNJ). Mengajar Bahasa Indonesia,
Bahasa Indonesia for Communication, Creative Writing, Academic Writing di Fakultas

Ilmu Komunikasi, Universitas Multimedia Nusantara,juga mengajar BIPA di Kampung

Bahasa Bloombank juga sebagai pendiri bersama Tim BIPA Dahsyat.
Pernah menjadi dosen tamu di beberapa sekolah dan kampus di luar negeri

seperti Melbourne University Australia, Damascus College Ballarat, Australia, Flinders

University Adelaide, Australia, Silla University, Hankuk University for Foreign Studies,
Korea, dan Keio University, Jepang. Sejak 2015, penulis novel Saatirah ini dipercaya

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

280

sebagai Ahli Bahasa Bareskrim dan Polda Metro Jaya untuk kasus-kasus regional dan
nasional.

Ketekunannya pada satu bidang ilmu bahasa telah membawa penulis bahan ajar
BIPA BIPA Dahsyat Ini beberapa kali mendapatkan penghargaan seperti Penerima
Insentif Buku Ajar 2011 pada Desember 2011 atas buku karyanya yang berjudul Cermat
dalam Berbahasa, Teliti dalam Berpikir, dari DP2M, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia, Penerima Hibah Penelitian Disertasi Doktor pada
2018, Penerima Penghargaan sebagai Pembicara Kharismatik pada ajang Forum Ultima
dengan tema “The Art of Writing” Forum Ultima, Universitas Multimedia Nusantara,
dan Penerima Dana Hibah Program Kedaireka 2022 untuk penelitian U-Tapis, Penapis
Kesalahan Ejaan Otomatis

Penghargaan sebagai 10 Tokoh Inspirasi Majalengka Universitas Majalengka dan
Pemda Kabupaten Majalengka pada 2015 pun disandangnya, 10 Wanita Inspirasi dalam
merayakan ulang tahun dengan cara yang unik, yakni memberikan karya tulis sendiri
kepada dirinya setiap hari ulang tahun sehingga jumlah karya buku sama dengan
jumlah usianya, pilihan majalah Good Housekeeping pada 2015,dan penulis buku
autobiografi Nuzul Rachdy: Tetirah Sang Pencerah.

Terakhir, wanita yang terpilih dalam buku 30 Top Perempuan Indonesia pada
2020 ini selain mendapatkan kepercayaan sebagai editor buku Kisah Kasih Putih Biru,
juga mendapatkan kepercayaan dari Ibu Anita Ratnasari Tanjung untuk menulis buku
yang dieditori oleh editor Ariani Selviana dan Randi Ramliyana tentang pengusaha
Indonesia yang mendunia: Chairul Tanjung, yang berjudul Celoteh Teman: 60 Tahun
CT.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

281

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka


Click to View FlipBook Version