The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Keindahan, keseruan, dan keharuan saat masa bersekolah di SMPN 1 Majalengka

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by niknik, 2022-09-05 04:48:52

Kisah Kasih Putih Biru

Keindahan, keseruan, dan keharuan saat masa bersekolah di SMPN 1 Majalengka

Keywords: Buku Reuni

185

membela Umi. Aku membela bahwa fisik bukanlah topik candaan. Sejak saat itu,
hubungan kami tambah dekat.

Bulan demi bulan berlalu. Ketegangan ujian masuk SMPN 1 Majalengka telah
berlalu. Sekolah favorit di Majalengka itu memang amat selektif tentang peserta didik
baru. Tingginya nilai rapot dan banyaknya prestasi menjadi dua kunci utama dalam
penilaian ujian masuk. Bersyukur aku berhasil melalui hal tersebut dan menjadi siswa di
kelas 1E, 2G, dan 3C. Perpustakaan adalah tempat favoritku di sekolah. Berada di sana
membuatku bertemu dengan seseorang berbedak wangi.

“Cup, pang ambilkeun buku eta!” seru siswi di sampingku. Dia berpenampilan rapi
seperti biasa. Wajah manis yang dirias dengan bedak natural yang wangi. Aku tidak bisa
mengabaikan dirinya, termasuk wangi bedaknya. Aku heran. Selalu ada rasa senang kala
mencium aroma bedaknya. Walaupun di rumahku juga ada bedak, tetapi aromanya
berbeda dengan yang digunakan oleh siswi itu. Aku sama sekali tidak tahu mereknya.

“Hehe, Cup. Boleh minta tolong lagi, teu?” tanya siswi itu. “Pang bawakeun eta
buku, Cup. Abdi mau pinjem buku-buku tea.” Aku melihat setumpuk buku berbagai jenis
yang telah dipilih olehnya.

“H-hooh,” jawabku gugup. Ternyata, dia punya minat literasi yang tinggi.

Perjumpaanku dengannya tidak hanya terjadi di perpustakaan, tetapi juga di
kelas. Karena aroma bedaknya yang menarik, aku sering duduk di depan atau di
belakangnya. Mungkin ini agak menyeramkan, tetapi aku menyukai aroma bedaknya.
Aku yang minder ini menyukainya. Cara dia tersenyum. Cara dia tertawa. Ekspresinya
kala membaca buku. Namun, aku merasa tetap bahagia walau tidak menyampaikan
perasaan padanya. Dengan berada di dekatnya, itu sudah lebih menyenangkan.

Kisah kasih lainnya adalah saat aku diminta temanku mengirimkan surat cinta
kepada seseorang yang ditaksirnya. Seperti biasa aku menjadi mak comblangnya. Saat
itu, dengan bangga aku menjalankan misiku sebagai pengantar surat. Tiba di rumahnya.
Hari mulai gelap. Rumah tujuan sangatlah besar. Pintu gerbangnya saja setinggi satu

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

186

setengah meter. Bagaimana bisa surat cinta itu kuletakkan begitu saja di depan pintu
gerbang rumahnya? Memang demikian pesannya. Jangan sampai gadis itu tahu bahwa
ada seseorang yang datang berkirim surat. Jadi, aku harus berusaha agar surat itu sampai
di rumahnya tanpa diketahui pemiliknya. Bagaikan adegan di film serial Macgyver,
segera ideku muncul. Aku akan meletakkannya di lampu taman saja, siapa tahu saat
keluar rumah, dia melihat surat itu. Yess! Semoga misiku berhasil!

Keesokan harinya, dengan bangga, kulaporkan kepada sang tuan bahwa surat
sudah berhasil diletakkan di lampu taman rumah gadis incarannya. Tak lama kemudian,
aku pun bertemu dengan gadis itu dan dengan penuh keyakinan, kutanya jugalah ia.
Sungguh di luar dugaan. Gadis manis itu menjawab bahwa dia tidak tahu ada surat
karena semalaman hujan turun amatlah deras. Hancuuur, Mina!

Ah, alangkah baiknya jika aku mengarsip kenangan manis, pahit, dan lucu
tersebut karena ada banyak hal lain yang perlu diperjuangkan. Setiap aku mengingat
wajah ibu yang kian menua, semangat belajarku menggelora. Ibu adalah sosok wanita
hebat yang telah membesarkan kelima anaknya. Ibu selalu mengajarkanku untuk tidak
bermalas-malasan dan tidak menyerah untuk terus sekolah. Meskipun jenjang
pendidikanku hanya sampai SMA, aku tidak pernah menyesalinya.

Kini, aku fokus pada karier, sama seperti Pak Warman yang selalu fokus mengajar
walau diolok-olok oleh beberapa muridnya. Tahun demi tahun berlalu, Yusuf Sudiana
yang katanya punya indra keenam untuk mengawasi atau memprediksi sesuatu ini
menjadi pengawas pemilu kecamatan pada 2009 dan 2014. Sebelumnya, aku juga pernah
bekerja di PT Asuransi Jiwasraya sebagai marketer selama empat tahun sejak 2004.
Kemudian, pada 2009 aku bergabung dengan koperasi di Jalan Raya Padjajaran, Bogor.
Bekal ilmu di PT Asuransi Jiwasraya kumanfaatkan untuk mencari orang-orang yang
hendak bergabung dengan koperasi.

Sejumlah pengalaman bekerja di perusahaan asuransi dan koperasi membuatku
berjuang untuk menjadi seorang manajer yang sukses dan menyukseskan orang lain.
Akan tetapi, pandemi sempat menghentikan langkahku. Seorang manajer memerlukan

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

187

segudang target yang harus dicapai. Manajer juga harus aktif memutar otak untuk
menyelesaikan masalah sebelum terdengar oleh atasan. Seorang pengawas pemilu juga
bukan pekerjaan yang mudah. Modal pengalaman mengikuti organisasi seperti karang
taruna, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan Gerakan Nasional Anti Narkoba
(Granat) membuat sisi optimis dalam diri muncul. Kendati demikian, ada sejumlah kader
dari beberapa organisasi, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Berkat pengalaman, percaya diri, dan bakat mengawas, aku menjadi pengawas
pemilu pada 2009 dan 2014. Aku memiliki tanggung jawab besar untuk mengawas
kegiatan pemilu yang luber jurdil, yakni singkatan dari asas langsung, umum, bebas,
rahasia, jujur, dan adil. Aku ingin rakyat Indonesia memilih pemimpin sesuai
independensi mereka. Untuk pemilu selanjutnya, yakni 2024, aku pernah ditawari untuk
mengawas di Kecamatan Sukahaji, Majalengka. Namun, aku yang hanya lulusan SMA
enggan menyaingi pemuda penuh ambisi untuk mengubah nasib negeri. Aku juga
pernah ditawari sebagai ketua pengawas pemilu. Aku hanya ingin giat belajar dan giat
berbagi kebaikan dengan orang lain. Kenapa dulu tidak berani mengungkapkan apa-apa?
Kenapa dulu tidak banyak belajar?

Kadang aku menemui sejumlah pertanyaan ketika dialog intrapersonal terjadi.
Ah, semua sudah berlalu, Cup. Kamu bukan Ucup yang minder lagi sekarang. Kamu
sudah menjadi Ucup yang mengawasi pilihan rakyat guna ketertiban bangsa.Kenangan
di SMPN 1 Majalengka merupakan sejumput kisah dari kehidupanku yang penuh warna.
Label favorit bisa tetap melekat pada SMPN 1 Majalengka jika kualitas pengajar dan
kuantitas prestasi ditingkatkan. Zaman sudah semakin maju, pikiran manusia semakin
kreatif. Sudah menjadi tanggung jawab sekolah sebagai rumah kedua untuk
meningkatkan sumber daya manusia dengan pola berpikir kreatif dan komunikatif.
Menyenangkan bisa bertemu banyak teman dan guru di SMPN 1 Majalengka.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

188

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

189

Kisah Kasih Putih Biru 37:

Kepala Sekolah Introvert

Uri Sahuri

“Lakukan apa pun yang kalian suka. Masa kalian adalah masa pertumbuhan dan

perkembangan yang penting. Mau ikut sepak bola? Sok. Mau ikut tari tradisional? Sok.
Akan tetapi, jangan lupa belajar. Karena di tangan kalian, masa depan Indonesia

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

190

digenggam. Merdeka!” seruku dalam kalimat terakhir dari sambutan sebagai pembina
upacara.

Kemudian, pemimpin upacara memerintahkan seluruh peserta upacara untuk
kembali melakukan sikap tegak. Upacara dilanjutkan dengan khidmat hingga akhir. Dari
posisi pembina upacara, aku bisa melihat banyak peserta didik berseragam putih-merah.
Ada yang sedikit menutup mata karena pancaran sinar matahari. Ada yang sesekali
mengusap hidungnya yang berair. Ada juga yang tengah melihat kuku-kuku hitamnya.
Mungkin kemarin habis mencari sesuatu di sawah.

Memberikan sambutan dalam upacara sudah kulakukan beberapa kali dalam dua
tahun terakhir. Semua berjalan lancar. Walaupun kadang kepergok ada yang berbisik-
bisik, akan kukencangkan suaraku melalui mikrofon. Aku mengabdikan diri sebagai
guru dan kepala sekolah. Aku memiliki harapan tinggi untuk menjadikan sekolah ini
sebagai sekolah favorit, sama seperti SMP-ku dulu. SMP yang dipimpin oleh Pak
Suhanda yang hebat. Kepala sekolah yang membuat SMPN 1 Majalengka menjadi SMP
favorit.

“Keren sambutannya, Pak Uri,” puji wakilku. “Pasti sewaktu remaja juga jago
public speaking, ya? Atau punya banyak teman karena bapak komunikatif?” tanyanya
penasaran.

Aku hanya tersenyum kikuk.

Tidak seperti itu, Pak.

Lintas waktu ke 1986, kala aku menjadi murid di SMPN 1 Majalengka. Berbeda
dengan ekspektasi wakil kepala sekolah, aku menghabiskan masa putih-biru dengan
semangat belajar. Saking semangatnya, aku jarang bersosialisasi dengan teman-teman di
sekolah. Aku cenderung menjadi anak yang pendiam dan memilih untuk fokus belajar.
Aku ingin memanfaatkan kesempatan belajar dengan maksimal di SMPN 1 Majalengka,
sekolah favorit di daerahku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

191

“Nah, kalau chordofon teh alat musik yang sumberna dari dawai atau senar. Saha nu
bisa sebutkeun alat musik chordofon?” tanya Bu Eno, guru seni musik idola sejumlah siswa,
terutama siswa laki-laki.

Eno Yohana atau sering dipanggil Bu Nok merupakan sosok guru yang berparas
cantik. Tak hanya itu, Bu Nok memiliki cara mengajar yang komunikatif. Beliau akan
menyisihkan banyak waktu untuk bertanya pada para muridnya. Secara implisit, Bu Nok
mengedepankan keleluasan active communication meskipun dengan bahasa informal–
tetapi tetap sopan.

“Betul, Barudak. Gitar, biola, jeung naon deui teh, kacapi, eta termasukna alat musik
chordofon.” Bu Nok mencatat jawaban benar dari para murid.

“Simpan di lidah, tutup di mulut supaya ingat selalu, yak!” seru Bu Nok yang
memberikan wejangan melekatnya.

Selain seni musik, aku juga menyukai matematika. Untuk orang yang pendiam
sepertiku, matematika yang menguras otak (tanpa harus bersosialisasi) adalah mata
pelajaran menarik. Kendati demikian, Pak Andil sebagai guru matematika selalu
memintaku untuk membantu teman-teman yang belum mengerti tentang materi
matematika. Baiklah.

Panutan yang paling membuatku takjub adalah Pak Suhanda, kepala sekolah
SMPN 1 Majalengka. Begitu upacara SMP untuk pertama kali diselenggarakan,
perhatianku sudah tertuju pada Pak Suhanda dengan wejangan-wejangannya. Dengan
kepemimpinannya, Pak Suhanda telah membuat SMPN 1 Majalengka menjadi sekolah
favorit di daerah sekitar. Beliau memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Tegas nan
lembut. Aku mengingat setiap amanat yang diberikan beliau ketika menjadi pembina
upacara. Mungkin hanya aku yang merasa bahwa walaupun amanat beliau cukup
panjang dan memakan durasi, aku menikmatinya dan tidak merasa bosan sama sekali.

Pak Suhanda selalu menjadi inspirasiku. Mungkin suatu saat nanti, aku akan
meneruskan jejak beliau sebagai kepala sekolah.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

192

Hm, entahlah. Aku hanya berkhayal ringan sambil membaca buku di
perpustakaan.

“Ey, bolanya lempar ka aing!” seru seorang pemain basket. Bunyi tak tuk tak tuk
dari basket yang terpantul mengiringinya.

Barusan aku berkhayal menjadi kepala sekolah komunikatif seperti Pak Suhanda.
Namun, aku tetap membaca buku. Penjaga perpustakaan selalu ingat denganku. Aku
pasti akan menghabiskan bekal makan siang di kelas, lalu menenggelamkan diri pada
buku-buku di perpustakaan. Di SMP, begitulah keseharianku selama tiga tahun–dari
kelas 1F, 2(aku lupa), hingga 3D. Alasan lain mengapa aku sering membawa bekal dan
jarang membeli jajanan di kantin adalah karena kondisi keluargaku meminta untuk
berhemat sebaik mungkin. Aku mengerti itu. Aku tidak ingin merepotkan orang tuaku.

“Ey, Uri Sahuri! Nanti jangan lupa latihan pramuka!” seru seorang teman satu
pramuka yang kepalanya tiba-tiba muncul di jendela perpustakaan.

“Shht!” balas penjaga perpustakaan yang suasana keheningannya dirusak.

Aku menurunkan buku yang menutupi wajahku. “Oke.” Aku memberikan jempol
padanya.

Sebetulnya, aku juga aktif dalam pramuka. Aku menjalaninya dengan baik. Lagi-
lagi, aku berkhayal bisa meneruskan dunia kepramukaan ini hingga dewasa nanti. Siapa
tahu.

Di sekolah, aku mengenal baik dengan sejumlah teman, di antaranya Rita Safitri,
Lisnawati, Ena Sukmana, Hari Setiawan, dan Siti Nurul Hapsari. Namun, Deni
merupakan teman dekatku sejak kelas satu. Karena sekolah dimulai pada siang hari, aku
sering pergi ke rumah Deni terlebih dahulu karena rute yang searah. Aku yang tinggal
di Curug harus pergi ke Babakan Jawa, kemudian Alun-Alun Majalengka, dan
menghampiri Deni di Perumahan Kantor Pos. Orang tuanya sering mempersilahkan
diriku untuk makan di sana. Tentu merupakan karunia bagiku yang jarang jajan untuk
menghemat pengeluaran.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

193

Mengenai masa SMP-ku, jangan tanyakan tentang cinta monyet. Berbeda dengan
sinetron-sinetron yang menampilkan tokoh pendiam (keren) yang dikelilingi oleh
banyak teman dan disukai oleh seorang perempuan, aku adalah kebalikannya. Karena
tidak supel bergaul, mungkin aku tidak terlihat menarik di mata teman-teman
perempuan. Pernahnya, aku bertepuk sebelah tangan. Wajar sih, aku kurang expert dalam
dunia itu. Aku memilih untuk memaksimalkan potensi diri yang dapat kukembangkan.
Siapa yang menyangka bahwa sejumlah jejak di SMPN 1 Majalengka menjadi petunjuk
di masa depan. Khayalanku terwujud.

“Ahaha, siapa bilang, Pak? Saya dulu justru sering menarik diri dari orang-orang.
Saya fokus belajar aja waktu sekolah. Baru lah ketika di dunia kerja, saya menyadari
bahwa kemampuan komunikasi itu sangat penting,” jawabku senang.

Wakilku hanya mengangguk-angguk paham. Sepertinya, dia agak kecewa dengan
jawabanku. Akan tetapi, memang benar adanya seperti itu.

Dewasa ini, aku menjadi kepala sekolah sekaligus wakil ketua dalam Kwartir
Ranting. Aku juga pernah menjadi guru berprestasi tingkat kecamatan. Hasil kerja
kerasku membuahkan kebaikan. Menjadi kepala sekolah merupakan pemimpin yang
penuh tanggung jawab, terutama dalam menciptakan atmosfer pembelajaran yang
menyenangkan di sekolah. Kepala sekolah panutanku tetap Pak Suhanda.

Menurutku, SMPN 1 Majalengka akan tetap menjadi sekolah favorit melalui
keterbukaan terhadap sistem pembelajaran yang inovatif dan kreatif sesuai
perkembangan zaman. Sebagai alumni, diperlukan keberpihakan pada almamater untuk
memberikan dukungan, seperti membantu memberikan informasi-informasi baik
tentang SMPN 1 Majalengka. Bagaimanapun, SMPN 1 Majalengka merupakan bagian
dari perjalananku dan perjalanan teman-teman alumni.

Seandainya bertemu dengan Uri yang duduk sendirian di perpustakaan, aku akan
berkata, “Terima kasih sudah membaca sejauh ini, Uri. Terima kasih sudah membantu
keuangan keluargamu. Terima kasih sudah meningkatkan derajat keluargamu dengan
dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan. Walaupun di dunia ini ada banyak guru dan

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

194

kepala sekolah, kamu akan selalu menjadi pendidik yang baik, giat, nan teladan bagi
orang-orang di sekitar. Kamu sudah belajar dengan giat. Kamu sudah bertemu dengan
banyak orang. Tak perlu minder lagi. Kamu bisa belajar lebih giat lagi, Uri.”

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

195

Kisah Kasih Putih Biru 38:

Amuntaiyani di Majalengka

Wahyudiah Amuntaiyani

Majalengka, 1986

Untuk kesekian kalinya, aku menginjakkan kaki di kota yang berbeda. Untuk
kesekian kalinya pula, aku meninggalkan sejumlah kenangan di Kota Amuntai, sebuah

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

196

kota kecil di Kalimantan Selatan. Kota dengan itik alabio sebagai salah satu ikon terkenal.
Hasil produksi ternak itik alabio yang tinggi di Kalimantan Selatan membuat masyarakat
Kota Amuntai membangun dua buah patung itik alabio besar berwarna putih dengan
sayap berwarna cokelat. Monumen Itik Alabio merupakan ikon Amuntai yang tidak
dapat dilepaskan.

“Wahyu, tolong bantu Bapak untuk mengeluarkan tas dari bagasi, ya!” seru Ibu
yang membuyarkan lamunanku. Ibu sudah berjalan memasuki lobi hotel.

Aku mengangguk, lalu melaksanakan perintah Ibu.

Sembari mengeluarkan tas dari bagasi, aku kembali memikirkan Amuntai.
Kemudian, aku berdesah. Mungkin orang tuaku meletakkan “Amuntaiyani” di akhir namaku
sebagai penawar rindu jika sewaktu-waktu merindukan kota asalku. Bapak hanya
mengedipkan mata. Beliau heran melihatku yang membawa tas dengan tatapan kosong.

Namun, berbeda dengan kota-kota sebelumnya, aku langsung jatuh cinta pada
pandangan pertama dengan kota yang kini kujejaki, Kota Majalengka. Berbeda dengan
Amuntai yang dekat dengan garis khatulistiwa, kota yang berada di Jawa Barat ini
menyapaku dengan udaranya yang sejuk. Angin Majalengka membelai lembut
wajahkuku. Kedua mataku menangkap suasana kota yang tenang dan nyaman.
Meskipun banyak dialog yang terdengar asing, aku melihat keramahan dari bahasa
tubuh orang-orang. Aku jatuh cinta, tekadku bulat. Majalengka akan menjadi kota yang
menyenangkan sekaligus merindukan bagiku, selain Amuntai.

Tinggal beberapa langkah memasuki lobi hotel, aku melihat antrean panjang
sebuah gedung di samping hotel. Banyak orang berbagai usia yang berada di sana. Ah,
itu adalah Istana Bintang, sebuah bioskop terkenal di Majalengka. Aku dengar-dengar,
masyarakat Majalengka harus pergi jauh ke Cirebon atau Bandung untuk sekadar
menonton film layar lebar di bioskop. Aku tersenyum samar. Aku ingin menonton
sebuah film di Istana Bintang bersama teman-teman baruku nanti.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

197

Setelah menemukan tempat yang tepat untuk pulang, Bapak mendaftarkanku ke
SMPN 1 Majalengka. Sekolahku terletak di Majalengka Wetan. Aku merapikan seragam
putih-biru, lalu memantapkan langkah menuju kantor guru. Kemudian, seorang guru
mengantarkanku menuju kelas. Sepanjang perjalanan, aku mendengar bisikan beberapa
siswa dengan bahasa yang tidak kumengerti.

“Saha eta barudak?”

“Murid anyar, yak?”

“Bengeutna bukan urang Sunda, euy!”

Jantungku berdebar-debar. Menjadi seorang murid pindahan adalah tantangan
tersendiri bagiku. Aku harus beradaptasi dengan lingkungan, budaya, dan bahasa baru.
Sembari berjalan, aku turut berdoa pada Allah supaya diberi kemudahan beraktivitas di
sekolah baru. Kemudian, aku tiba di sebuah kelas dengan plang kecil bertuliskan 2A.

Seperti yang kuduga, semua tatapan di kelas tertuju padaku yang berdiri di depan
papan tulis. Aku menggenggam kedua tanganku yang dingin. Aku mencoba untuk
tersenyum ramah dan menekan aksen Kalimantanku.

“A-Assalamualaikum. Perkenalkan, namaku Wahyudiah Amuntaiyani. A-aku
berasal dari Kota Amuntai, Kalimantan Selatan.” Aku mengedarkan pandangan ke
seluruh sudut kelas.

Bersyukur, teman-teman di kelasku menyunggingkan senyum ramah atas
kedatanganku.

“Wahyu, kamu duduk di sana, yak!” tunjuk guru pada sebuah bangku kosong di
barisan kedua.

Aku mengangguk, lalu berjalan pelan diikuti oleh tatapan teman-teman yang
penasaran. Rasanya, aku seperti seorang turis asing di sini. Hanya saja, wajahku asli
pribumi.

Setelah itu, pelajaran pertama dimulai.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

198

Jam istirahat tiba. Aku dan teman sebangkuku membuka bekal kami di kelas.
Beberapa teman mulai menarik bangkunya agar dekat dengan mejaku. Beberapa jajanan
unik seperti bala-bala, cireng, dan cimol dibawa oleh teman-temanku. Aku berniat untuk
mencobanya nanti sepulang sekolah. Namun, untuk saat ini, mereka mulai meluapkan
rasa penasaran padaku sebagai anak baru. Mereka mengajukan sejumlah pertanyaan
yang tersendat sehabis perkenalan karena jam pelajaran pertama harus dimulai. Aku
berusaha menanggapi mereka dengan baik. Kami saling bercerita, bertukar budaya, dan
bercanda tawa. Aku pikir, rasa penasaran adalah salah satu cara untuk menjalin
pertemanan.

“Ey, blegug!” seru salah satu temanku ketika bekal pepes jeroannya hampir
dijatuhkan oleh teman sebangkuku secara tidak sengaja.

“B-blegug?” tanyaku bingung.

“Blegug itu hartina cantik,” jawab temanku yang punya bekal pepes jeroan tadi.
Dia menjawab pertanyaanku dengan cengengesan, disusul oleh teman-teman yang lain.

“H-hooh, blegug teh hartina cantik, Yu!” temanku yang lain ikut mendukung.
Wajahnya dibuat serius semaksimal mungkin, walau kutahu sudut bibirnya tengah
menahan tawa.

“Jadi teh, ya, Wahyu blegug hartina Wahyu cantik, kitu.” Temanku yang lain ikut
menimpali dan memberikan contoh penggunaan kata dalam kalimat.

“O-oh, berarti kalau kamu blegug artinya ya.. kamu cantik,” ucapku pada teman
sebangkuku sambil tersenyum polos.

Wajahnya justru memerah.

Eh, dia malu, batinku senang karena telah memujinya.

Dia menghela napas panjang lalu menepuk dahinya. “Gini, Wahyu,” dia
menatapku intens, “blegug itu artinya bodoh. Kalau di Kalimantan, nyebutnya apa?”
tanyanya.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

199

“Bungul,” jawabku pelan.

“NAH. SAMA! Artinya bukan cantik!” seru teman sebangkuku yang gemas
padaku yang mudah dibohongi. Namun, dia memakluminya, apalagi masih hari
pertama adaptasi di sekolah baru. “Kalian teh jangan kasih Wahyu kata-kata yang kasar,
ih.” Dia memperingati teman-temannya yang sedang tertawa menikmati keusilannya.

“B-baik.” Aku hanya menggaruk kepala sambil tersenyum kikuk. Meskipun
diusili menggunakan kata kasar, aku merasa senang. Bagiku, itu merupakan proses
penerimaan dari teman-teman sekaligus kesempatan bagus agar bisa lebih mengerti dan
memahami bahasa Sunda. ‘Kan belum tentu semua teman akan berlaku demikian pada
anak baru, dari pulau yang berbeda pula.

Sejak hari itu, aku mulai mengakrabkan diri dengan kelas. Bersyukur, teman-
temanku yang lain juga amat terbuka denganku sehingga hari-hari di SMPN 1
Majalengka terasa menyenangkan. Aku berdaptasi dengan bahasa dan candaan teman-
teman. Aku belajar bahasa Sunda langsung dengan native, yakni teman-teman di sekolah
sedikit demi sedikit. Namun, tetap saja aku menggunakan bahasa Indonesia kaku
sebagai bahasa nasional. Hingga suatu saat, guruku memberikan tugas kelompok berupa
drama pendek bahasa Sunda.

Kali ini, aku murni menyerahkan pembagian tugas pada temanku. Aku pasrah
dengan dialog drama yang dihafalkan nanti. Kuharap, tidak panjang dan sulit.
Walaupun telah beradaptasi dengan lingkungan baru, lidahku masih kelu jika
mengucapkan bahasa Sunda. Yang penting aku mendapat nilai untuk tugas kali ini–
berapa pun angkanya.

“Sip, ieu naskahna. Wahyu, nanti kamu apalkeun hiji dialog, ya.” Ketua kelompokku
membagikan naskah drama yang akan dipentaskan dalam pertemuan pelajaran
selanjutnya. “Hirup mah heureuy jeung deudeuh, lamun teu heureuy nya deudeuh,” lanjutnya.

Aku menjerit dalam hati. Apa artinya?!

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

200

“Hidup itu aya bahagia jeung sedihna, kalau teu bahagia ya sedih.” Ketua
kelompokku seolah paham dengan jeritan hatiku.

Aku hanya membulatkan mulut. “Bacanya gimana, tadi?” tanyaku.

“Hi-rup-mah heu-reuy je-ung deu-deuh, la-mun teu heu-reuy nya deu-deuh,” eja ketua
kelompokku.

Walaupun dialognya hanya sedikit, aku merasakan asap panas keluar dari
kepalaku.

Baik, aku masih punya beberapa hari untuk latihan sendiri dan bersama teman.
Aku tidak akan mengacaukan pertunjukkan dramanya. Aku tidak akan melupakan
dialognya. Aku akan membuat kedua orang tuaku bangga dengan pencapaian
menggunakan bahasa Sunda di depan kelas walau hanya sepintas.

Namun, tekad dan latihanku selama ini perlahan luruh ketika berada di depan
kelas. Aku tahu aku tidak sendiri. Drama adalah pertunjukan yang membutuhkan kerja
sama kelompok. Akan tetapi, ketika berbicara, drama memberikan panggungnya
untukku dan semua orang akan terpaku padaku, termasuk guru bahasa Sunda yang siap
dengan pulpen dan buku nilainya. Oh, kegugupan ini mengusikku.

Tiba giliranku, aku benar-benar lupa. Para penonton menunggu dialogku sebagai
penyambung adegan lain. Keringat mulai membasahi keningku. Aku tersenyum kikuk
sambil berusaha keras untuk mengingat kembali dialog singkatku. Denting jam dinding
bergerak konstan, berbeda dengan jantungnya yang berdebar amat kencang. Kemudian,
aku mendengar bisikan-bisikan kecil dari ketua kelompokku di belakang panggung.

“Psst ... psst, Wahyu. Hirup, hirupmah, hirupmah heureuy!” seru ketua kelompokku
dengan pelan supaya hanya terdengar olehku.

“Hi-hi ...,” ucapku lupa.

“Hirup mah heureuy jeung deudeuh,” bisik ketua kelompokku sekali lagi.

Oh, dasar lidah bukan Sunda. Aku malah merutuki diri sendiri.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

201

Baiklah, mari kita selesaikan.

“Sirup mah huhuy jung duduh, timun huhuy nya duduh!” seruku yang sontak
mengundang gelak tawa sekelas. Aku menangkap satu teman yang tertawa terbahak-
bahak.

Wajahku merah padam. Ini adalah kejadian yang paling memalukan!

“Sudah, sudah, gak apa-apa, Wahyu. Namina oge belajar. Sudah bagus karena
sudah berani tampil di depan teman-teman,” puji guruku yang mengembalikan suasana
kondusif kelas. “Ayo, lanjut lagi!” perintah beliau.

Semenit dalam drama terasa seperti seharian. Aku berjalan menyingkir dari area
pementasan dengan langkah lunglai. Aku malu sekali hari ini. Meskipun demikian, aku
lega karena teman-teman sekelompokku turut menyemangati dan mengajakku untuk
belajar bahasa Sunda lebih baik lagi. Bagaimanapun, aku mengarsipkan kejadian
memalukan itu dalam pikiran. Kupikir, kejadian memalukan memang akan selalu
menyertai seiring berjalannya waktu. Bila mengingatnya, pasti muncul perasaan malu
sekaligus lucu. Akan tetapi, lumayan berguna sebagai penawar deudeuh dalam hidup
nantinya.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

202

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

203

Kisah Kasih Putih Biru 39:

Amuntaiyani jadi Urang Majalengka

Wahyudiah Amuntaiyani

Majalengka, 1987

Setelah kejadian “heureuy dan deudeuh” itu, aku mulai memperbaiki citra di sekolah. Aku
tidak ingin mendapati kejadian memalukan lagi. Maka dari itu, aku kembali giat belajar

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

204

dan giat berteman. Seperti biasa, tidak hanya mempelajari sejumlah mata pelajaran, aku
juga mempelajari sejumlah tata krama di sini. Aku mulai terbiasa menggunakan kata
“sampurasun,” “punten,” dan “hatur nuhun.” Yang mengajariku juga bukan satu-dua
teman, melainkan beberapa teman, termasuk seorang teman laki-laki yang cukup
perhatian denganku.

“Nah, kalau ada orang nu liwat di hareup Wahyu trus bilang ‘punten,’ nanti Wahyu
jawabnya ‘mangga,’ kitu,” jelas teman laki-lakiku itu. Menurutku, dia anak yang ceria.
Lihat saja senyumnya yang amat lebar hingga aku bisa melihat barisan gigi-giginya.

“M-mangga? Buah?” tanyaku kikuk. Sewaktu check in di lobi hotel dekat Istana
Bintang, aku mendengar beberapa pegawai mengucapkan nama buah itu ketika keluarga
kami melewati mereka.

Teman laki-lakiku menggelengkan kepalanya. “Lain eta mah. Mangga di sini hartina
silakan.”

Aku membulatkan mulut. “Ooh. Kalau gitu, bahasa Sundanya buah mangga
apa?” tanyaku penasaran.

“Mangga itu buah atau manggah. Sama aja, sih.” Teman laki-lakiku menggaruk
kepalanya yang tidak gatal. Dia pusing sendiri, apalagi aku. “Hm, Wahyu. PR
matematika kamu sudah selesai?” tanyanya mengganti topik.

“Belum.” Jawaban singkatku memberikan kedua matanya secercah sinar.

“Kerjain sareng abdi, yuk!” serunya.

“Muhun,” jawabku senang.

Ah, anak laki-laki ini memang menarik perhatianku. Sebetulnya, dia yang
mendekatiku terlebih dahulu, baik menanyakan tugas atau sekadar menjelaskan tata
krama orang-orang Sunda. Hoho, aku pikir dia tertarik padaku. Maksudku, dia adalah
seorang laki-laki yang perhatian, ramah, dan sering melontarkan kekagumannya
padaku. Mungkin karena aku adalah seorang perantauan yang getol beradaptasi, dia

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

205

sering melontarkan sejumlah pertanyaan tentang pulau luar. Lagipula, dia adalah
seorang teman yang baik. Kami sering mengerjakan tugas bersama, salah satunya tugas
Pak Endang, guru bahasa Sunda.

Biasanya, kalau mendengar kalimat-kalimat Sunda, kepalaku seolah
mengeluarkan asap (lama-lama erupsi, ups lebai). Akan tetapi, tidak berlaku demikian
kala mengikuti kelas Pak Endang. Menurutku, beliau itu unik. Beliau memiliki dedikasi
yang luar biasa terhadap bahasa dan budaya Sunda. Pak Endang selalu mengingatkan
kami untuk mengutamakan bahasa Indonesia, mempelajari bahasa asing, dan
melestarikan bahasa daerah. Berkat Pak Endang, aku mengenal tarian Sunda. Aku juga
suka cara mengajar Pak Endang yang tegas, tetapi diselipi humor.

“Urang Sunda teh mengenal erat sama pandangan hirupna, nyaeta silih asah saling
mencerdaskan, silih asuh saling membimbing, dan silih asih saling menyayangi. Urang
Sunda juga dikenal ramah, bageur. Tiap aya orang yang liwat di depan, pasti ngomong
‘mangga.’ Padahal, teu jual mangga.” Pak Endang menunjuk catatan di papan tulis
dengan kapur.

Pak Endang berjalan pelan di depan kelas. Beliau mulai bercerita. “Pernah Bapak
ketemu kawan lama. Dia teh nyambut baik Bapak. Katanya, 'Ey, Endang. Ini anak kamu?
Kok teu mirip pisan sama bapaknya?’ Saya jawab, ‘Lha, kalau mirip, nanti keluarga saya
lalaki semua.’”

Seketika, kelas penuh dengan gelak tawa. Pak Endang berhasil membuat kami
lebih mengerti dengan materi bahasa Sunda.

“Ets, tapi jangan samakan ramah dengan basa-basi, ya.” Kumis Pak Endang
bergerak naik-turun.

Aku mengangguk paham.

Bulan demi bulan berlalu, dengan gaya yang sama sejak merantau, aku berjalan
memasuki kelas 3C. Masa-masa yang kata orang akan jauh mengasyikkan dan
menegangkan. Tenang saja, aku selalu menikmati hari-hari yang berlalu. Kata orang

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

206

juga, masa putih-biru itu menandakan transisi dari anak-anak menuju remaja, pasti ada
hormon pubertas yang berkembang. Mungkin, jatuh cinta?

“Ish, pikasebeleun. Aing mau meuli cireng, udah abis.” Sahabat baruku di kelas 3C
melipat kedua tangannya. Terdapat guratan kecil pada dahinya.

“Mangkanya, besok teh kamu harus istirahat lebih awal,” ucapku yang memaksa
diri untuk menggunakan logat Sunda. Pasti aneh.

“Mustahil, Wahyu, mustahil. Itu guru pasti ngomongna banyaakk banget. Bel
istirahat bunyi masih aja ngomong,” dia masih mendengus sebal.

Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Kasihan.

Bisa dibilang, kemajuan adaptasiku di Majalengka cukup bagus. Walaupun
sempat terkendala bahasa, guru-guru dan teman-teman di kelas sedia membantu. Begitu
pun dengan mamang-mamang dan bibi-bibi penjual jajanan kantin. Mereka
mengenalkanku pada beberapa makanan asing, tapi rasanya enak. Ada omcom di jero
atau comro yang terkenal. Kemudian, bala-bala atau bakwan (ah, sinonim) yang enak
dipadukan dengan sambal kacang atau cabe mentah. Lalu, ada aci digoreng atau cireng,
jajanan kenyal yang mulanya menggelikan di mulut. Jajanan-jajanan unik tersebut
sengaja aku coba satu per satu. Selain budaya, mengeksplorasi jajanan Sunda tidak kalah
pentingnya.

Di kelas 3C, aku memiliki tiga sahabat perempuan yang tidak terpisahkan. Kami
selalu pergi. Misalnya, ke kantin atau ke perpustakaan. Kalau ke kamar mandi, guru
hanya mengizinkan satu orang untuk menemani. Kalau kami bertiga ikut ke kamar
mandi, nanti disangka hendak bolos atau jajan. Mereka adalah tempat cerita bahagia dan
sedih dibagikan. Tiap-tiap dari kami selalu punya cerita untuk dituturkan. Kemudian,
tertawa atau murung bersama hingga sejumlah pasang mata di kelas kami menatap
heran.

Ah, hubungan persahabatanku juga menyebar ke kursi laki-laki. Aku juga punya
dua orang sahabat laki-laki. Tak hanya bercengkrama di kelas, mereka sering bermain di

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

207

rumahku. Aku bisa berbaur dengan obrolan perempuan dan laki-laki. Tempat yang kami
senangi adalah di depan kelas, di bawah pohon mangga yang rindang.

Tadi aku bilang apa? Oh, ya. Kata orang, persahabatan antara laki-laki dan
perempuan yang tidak memunculkan rasa adalah sebuah mitos. Ya, kupikir benar. Rasa
itu perlahan muncul. Aku menyukai salah satu sahabatku dan terus memendamnya
hingga kelulusan berlalu.

Aku anak yang pemalu dan kurang percaya diri. Aku meyakinkan diri bahwa jika
kupendam rasa ini, hubungan kami akan baik-baik saja. Aku tidak ingin mengambil
risiko dengan menyatakan perasaan padanya. Bagiku, jalinan persahabatan ini
merupakan benang emas yang berharga. Tidak seperti teman-teman perempuan lain,
aku merasa tidak ada apa-apanya. Dia laki-laki yang baik, pasti akan menemukan
perempuan yang baik nan hebat juga.

Kemudian, hari kelulusan tiba. Aku tetap memendamnya. Anehnya, perasaan itu
justru singgah lama dalam hati, bahkan berbulan-bulan setelah kelulusan. Terkadang,
terbesit wajahnya dalam pikiran. Aku hanya menggelengkan kepala kala mengingatnya.
Akan tetapi, hubungan kami masih terjalin dengan baik. Kami sering bertukar kabar.
Bahkan ketika aku harus pindah kota karena tugas orang tua, kami masih saling
mengirim surat. Tiap surat yang datang selalu menyenangkan sekaligus mendebarkan.

Walaupun tidak mengutarakannya, aku sama sekali tidak menyesal menjadi
urang Majalengka. Kisah manis tersebut akan tetap hidup dalam sanubari,
berdampingan dengan arsip-arsip kenangan di SMPN 1 Majalengka.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

208

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

209

Kisah Kasih Putih Biru 40:

“Orang Pintar” Majalengka

Wawan Hernawan

Ramai. Seperti biasa, suasana kantor hari ini sibuk. Berbagai macam kebisingan

mendekap indra pendengaranku dengan sambutan yang cukup lantang. Suara obrolan
basa-basi milik para penghuni kantor menyuntikkan warna ke dalam ruangan kerja yang
sebelumnya dilanda dinding-dinding sunyi. Bunyi dentuman jam dinding bergelayutan

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

210

di udara, kehadirannya yang konsisten bersanding dengan decak mesin pencetak yang
tak kenal henti. Semerbak dari berbagai macam merek parfum meruak ke seluruh
penjuru ruangan, menyebabkan udara ruangan yang cukup dingin tersebut dihantui
dengan sebuah campuran aroma yang unik. Bunyi dari beragam lembaran kertas yang
dibolak-balik sudah menjadi elemen permanen dari keseharian di tempat kerja. Deru
penyejuk udara terdengar secara samar-samar, menghiasi nuansa ruangan dengan
senandung semu yang lembut.

“Eh, Wan!” panggil salah satu kolegaku dengan suara yang cukup lantang.
“Dokumen yang kemarin udah kelar belum?”
“Udah kelar. Lu sekarang lagi sibuk gak?”
“Kenapa emangnya?” Lucu juga. Ditanya bukannya jawab, malah dia yang tanya
balik.
“Ya kalau gitu, kita sekarang langsung ajuin aja dokumennya ke atasan.” usulku
sambil mengecek kembali kelengkapan dari berkas dokumen yang kini sedang berada
dalam genggamanku.
“Yaudah, yuk.” Setelah memastikan bahwa setiap berkas sudah terisi lengkap
dengan semua lampiran yang dibutuhkan, kami bergegas menuju pintu keluar ruangan.
Pemandangan lorong yang terlukis dengan nuansa kelabu menyambut indra
penglihatanku. Sinar terik matahari pagi mewarnai berbagai macam gedung pencakar
langit melalui jajaran jendela full body yang menghiasi seluruh penjuru gedung tersebut,
menciptakan atmosfer yang hidup dan hangat bagi para pekerja yang sedang bergelut di
bidangnya masing-masing.
“Eh, Kang Wawan, Masih janten Ketua OSIS?”Ketika sedang berjalan menuju
kantor atasan, aku kebetulan berpapasan dengan salah satu adik kelasku di SMP 1
Majalengka.
“Hahaha … bisa aja! Wah, kumaha damang? Udah lama gak ketemu!” seruku dengan
semangat. Akhirnya, aku bisa bertemu dengan seseorang dari kampung halamanku.
Setelah menyelesaikan pendidikan SMP di SMP 1 Majalengka dan melanjutkan
SMA di SMA 1 Majalengka, aku memutuskan untuk menembus ke jenjang perguruan
tinggi dengan mengikuti berbagai macam tes MBTN. Meskipun mayoritas menerakan

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

211

hasil yang menyatakan bahwa aku tidak lolos, terdapat salah satu tes MBTN yang
kembali ke dekapanku sambil membawa suatu hasil yang memuaskan. Akhirnya, aku
dinyatakan lolos di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran,
Jurusan Ilmu Pemerintahan.

Mengikuti jejak diriku di masa SMP dan SMA yang selalu aktif berperan sebagai
ketua OSIS, aku tidak hanya mengutamakan nilai akademik ketika memasuki perguruan
tinggi, tetapi juga mendorong diri untuk berpartisipasi dalam berbagai macam
organisasi. Melalui pengalaman berorganisasi, aku dapat mempelajari banyak hal
seputar kepemimpinan, psikologi massa, metode berbicara dengan jelas dan
komprehensif di hadapan beragam jenis orang, bernegosiasi agar mendapatkan sebuah
kesepakatan yang menguntungkan setiap pihak yang bersangkutan, serta cara beropini
dan menyumbang kritik tanpa menyinggung perasaan pihak manapun.

Akan tetapi, saat memasuki dunia kerja, aku malah tersangkut di industri
ekspedisi muatan. Berkecimpung khusus di bidang ekspor dan impor, aku menetap di
Bandung sampai 2015. Pada saat itu, karena keadaan perusahaan yang sedang sangat
tidak stabil, aku terpaksa untuk tiga kali pindah tempat kerja.

Meskipun masih bergerak di bidang yang sama, dari pengalaman tersebut aku
terekspos terhadap berbagai macam perspektif mengenai industri ekspedisi muatan
sehingga dapat belajar lebih banyak mengenai kenyataan bidang ekspor dan impor
ketika berlangsung di lapangan. Mulai dari cara berkomunikasi dengan pihak bea cukai,
menjadi jembatan antara pihak Kapal City Line dengan para manufaktur lainnya dan
juga berperan sebagai penghubung mereka terhadap para pembeli, sampai
mempersiapkan semua dokumen untuk memasukkan barang impor dan masalah
pengeluaran barang ekspor; semua hal tersebut dapat aku pelajari lagi secara lebih
mendalam dan menyeluruh.

Pada 2016, aku akhirnya mendapatkan tawaran yang besar di Solo, Jawa Tengah.
Setelah bernegosiasi mengenai detail dari kontrak kerja dan mendapatkan hasil
kompromi yang memuaskan dari diskusi tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk
menerima pekerjaan itu. Sampai sekarang, aku menetap di Kabupaten Wonogiri, Jawa
Tengah dan belum pernah mendapatkan kesempatan lagi untuk mengunjungi

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

212

Majalengka kembali. Maka dari itu, aku hanya bisa mengandalkan perkembangan
teknologi yang kini sedang melaju dengan pesat untuk mengontak dan tetap menjalin
hubungan yang baik dengan setiap teman dan sanak saudara yang masih bersemayam
di Majalengka.

“Alhamdulillah sae, Kang! Gak nyangka bakal ketemu Kang Wawan di sini.”
jawab adik kelasku dengan intonasi yang tak kalah semangat. Sepertinya dia juga rindu
kampung halamannya. Murid SMP dengan modal muka yang polos dan sepasang manik
mata yang cerah tak disangka sudah bertumbuh menjadi seseorang yang berparas bijak
dan dewasa.

“Hahaha, aku juga kaget. Gak nyangka kalau kamu ternyata bergelut di bidang
ekspor impor juga!”

“Iya nih, Kang, hehe.” ucapnya sambil melirik ke kolegaku yang sedang berdiri di
sampingku. “Eh, temannya Kang Wawan, ya?”

“Iya, Pak, teman kerja. Kalian kenal dari mana?” tanya kolegaku dengan
penasaran.

“Dulu satu SMP, dia adik kelas gue.”
“Oalah…” tanggapnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Iya, Bu. Ini Kang Wawan waktu dulu di SMP tuh orang pintar, lho!” Sambil
mengangkat salah satu alisnya sebagai pemerkaya ekspresi, kolegaku melirik ke arahku
dengan tatapan tidak percaya.
“Masa, sih?” tanyanya dengan kaget.
“Kayaknya Wawan biasa-biasa aja, ah. Gak ada aura supernatural-nya sama sekali.”
Aku yang tadinya ingin mengungkapkan keluhan kepada kolegaku yang seakan-
akan sangat tidak bersedia untuk memercayai bahwa aku merupakan murid cukup
pintar selama bersekolah akhirnya hanya bisa ketawa terbahak-bahak. Astaga, siapa
sangka ada seseorang yang secara insting mengartikan frasa ‘orang pintar’ sebagai ‘orang yang
bisa melihat makhluk astral’?
“Bu…,” jawab adik kelasku dengan suara yang bergetar akibat menahan tawa.
“Maksud saya Kang Wawan waktu di SMP juara terus, bukan ‘orang pintar’ yang itu.”
Kolegaku hanya bisa menepuk dahinya dengan wajah yang memerah. Jadi kangen masa

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

213

SMP, pikirku sambil lanjut mendengar celoteh adik kelasku yang sedang menceritakan
kolegaku mengenai segala pencapaian akademik dan organisasi yang pernah kuraih
selama menimba ilmu di SMP 1 Majalengka. Kami akhirnya sedikit telat dalam
mengumpulkan berkas dokumen tersebut.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

214

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

215

Kisah Kasih Putih Biru 41:

Kenakalan Yan Yan

Yanyan Iryanto

“Tidak ada obat untuk diabetes,” kata dokter kepadaku sambil menulis preskripsi

insulin bagiku.
Hampir setiap bulan, dosis insulin mengalir dalam ragaku supaya aku menjadi

lelaki yang sehat. Kendati demikian, beberapa bulan kemudian, aku terbaring di kasur

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

216

rumah sakit dalam kondisi koma selama tiga belas hari. Tenagaku terasa lemah dan
lumpuh bagaikan boneka tanpa nyawa. Kondisi kaki pun niscaya akan semakin parah
bila obat yang manjur tidak ditemukan. Ternyata oh ternyata, bukan bahan kimia yang
kubutuhkan agar tetap bugar, melainkan bahan alami. Untungnya, ramuan obat
temanku adalah minuman yang kucari selama ini. Ia menganjurkan ramuan alami yang
berisi daun ceri, daun salam, dan sawo mentah dengan dua liter air yang direbus panas.

Kandungan dari daun ceri bisa menstabilkan kadar gula darah sehingga tujuh
daun ceri adalah jumlah yang optimal supaya obat ini ampuh. Selain itu, aku harus
melakukan semacam olahraga setelah meminum ramuan tersebut. Kalau tidak bisa
olahraga, setidaknya berjemur di luar pada pagi hari karena yang krusialnya itu adalah
pengeluaran keringat dari tubuh agar kalori terbakar. Bukan obat dari apotek dan dokter
yang menjadi penyelamatku, melainkan ramuan alami dari Ibu Pertiwi. Alhamdulillah,
kakiku tak akan menderita dari diabetes akut.

Padahal, ironisnya, saat aku SMP, ligamen kakiku selincah kancil nakal yang
berpetualangan setiap harinya. Keringat, kotoran, dan kelilipan adalah asupan setiap
hari sebagai anak yang aktif di lapangan. Tiada hari tanpa aku menjemur di luar pada
siang hari. Eh, bukan hanya menjemur justru, bergelayut di hawa kepanasan. Kulitku
menjadi familiar dengan sengatan panas matahari dan semilir angin gersang. Telapak
kakiku yang sering telanjang terekspos oleh debu dan pasir tanah. Kulitku pun sering
kesusupan kerikil dan tergores oleh ranting pohon. Tak hanya itu, kalau sedang hujan
mengguyur dunia, aku pun tak pikir dua kali untuk menapak kaki ke lapangan luar dan
menginjak beceknya tanah yang lengket. Lagi pula, main bola bersama kawan-kawan
adalah hobiku sejak SD sehingga kakiku adalah kaki yang kuat.

“Jangan bandel ya pasti keluar,” ucap ibuku sambil menjemur baju yang ia cuci.
Bahkan, ada celana dalamku yang ia sedang pegang. Hehehe, malu aku.

Aku mengestimasi jarak rumahku dengan SMP 1 Majalengka itu adalah lima
puluh meter. Kalau pulang sekolah, aku juga sering jalan kaki bersama teman sambil

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

217

menendang bola. Terkadang, aku usil menendangnya jauh agar temanku panik dan
segera lari sampai lelah untuk mengambilnya kembali. Hehehe!

“Kamu mah kenapa ditendang bolanya jauh,” tanya kawanku Asep yang paras
wajahnya terlihat agak kesal.

“Biar kamu olahraga hahahaha!” tawaku.

Sore tiba, aku masih belum pulang karena ingin latihan untuk pertandingan sepak
bola besok. Tim kami mencapai babak semifinal. Keren ‘kan? Karena tidak mau kalah,
aku ingin latihan hingga kakiku lumpuh dan tak sanggup untuk berdiri, apalagi
menendang bola. Walaupun nanti saat pertandingan besok sepatu harus dipakai, aku
lebih suka melepasnya agar kakiku tumbuh kuat dari hantaman dahsyat bola yang amat
kencang. Aku pun percaya bermain sepak bola tanpa sepatu atau alas kaki yang lain bisa
membuat kakiku lebih gesit, meskipun konsekuensinya adalah kulit kaki kapalan.
Pokoknya, aku tidak ingin kalah besok!

“Yan, capek, udahan yuk!” ujar kawan-kawanku sambil menyirami botol air
minum ke rambut mereka masing-masing.

“Belum, ayo, latihan lebih keras lagi, masa kelas 2B kalah!” teriakku dengan penuh
semangat.

“Ih, anak gila!”

Karena kegigihan dari diriku, semuanya memutuskan untuk tetap berlatih.
Meskipun sudah terengah-engah, suara hatiku menyoraki agar tetap semangat. Saat
oper-operan, terkadang mukaku tertampar oleh bola. Pipiku pun menjadi merah
merona. Jerawat di dahiku pecah dan kotoran kuning bercampur putih itu lumer. Mata
kakiku pun mulai menjadi lecet. Ritme napasku terasa pelan.

Allahu Akbar Allahu Akbar
Azan maghrib berkumandang. Walaupun semangat masih membara untuk
latihan, aku tak akan meninggalkan kewajibanku untuk menunaikan ibadah salat.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

218

Bahkan, ini adalah kesempatanku untuk salah berjamaah bersama kawan-kawan
mumpung sedang kumpul. Bilah-bilah kipas di masjid menyejukkan badan kami yang
sebelumnya terasa gersang. Aroma wangi masjid pun menyamarkan bau keringat dan
apak kami. Untungnya, masjid menyediakan sarung untuk dipinjam agar anak-anak
seperti kami bisa salat. Air wudhu dari keran yang mengalir menyiram segala kotoran
bandel yang menempel. Doa-doa mulai dirapalkan. Tentunya, aku berdoa untuk
kemenangan yang telak esok hari.

Sebetulnya, sepak bola bukan hanya kegiatan yang aku lakukan di SMP 1
Majalengka. Aku pun pernah ikut serta dalam ajang pertunjukan breakdance bersama
kawanku Asep Saefudin. Walaupun aku tidak sejago dirinya, breakdance adalah kegiatan
berbasis seni yang aku setidaknya gemari. Jungkir balik, lompat tinggi, dan moonwalkin
adalah tarian-tarian yang fundamental dalam breakdance. Musik hip-hop dari barat
sebagai suplemen akan pertunjukan bakat terpendamku.

“Kalau nari kayak orang kesurupan Yan! Hahahahah!” tawa kawan-kawanku
ketika menonton diriku sedang latihan.

“Coba sini, pada bisa gak?” tanyaku dengan sinis.
Namun, hari ini bukanlah hari untuk breakdance. Hari ini adalah hari yang jauh
lebih penting setidaknya bagiku. Walaupun hanya pertandingan sepak bola dalam SMP
1 Majalengka, aku ingin tetap menampilkan yang terbaik. Kalau kalah, nanti malu saat
ditonton oleh gadis-gadis cantik, terutama De Niknik yang diam-diam kutaksir hehehe.
Jadi, aku harus berikan yang terbaik! Aku tidak mau hanya menunjukkan kenakalan Yan
Yan, tetap juga kekuatan Yan Yan! Kami merangsek maju untuk mengincar bola. Aku
pun sempat tergopoh, terjerambal dan terpeleset.
“Oper sini Yan!” pinta si Asep dengan semangatnya.
“Sini sini!!” pinta yang lain. Akhirnya, ….
“Gollllll!!!”

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

219

Kisah Kasih Putih Biru 42:

Katanya, Sekolah Borjuis

Yayah Siti Sofiah

“Yayah rek ka mana nanti sakolana?” tanya ibu tiba-tiba.

Aku dan kakakku sedang makan bakso bersama. Ibu sudah kenyang, katanya. Ibu
sedang menyetrika seragam putih-merahku yang sudah lusuh jarang diganti. Ada

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

220

beberapa robekan dan noda kuning yang menghiasi. Toh, sebentar lagi aku akan masuk
SMP. Masih ada dua bulan lagi sebelum musim penerimaan siswa baru tiba.

Sesekali aku mengelap keringat dan minum air putih. Makan bakso panas nan
pedas sepulang sekolah memang terbaik. Ini adalah baksoku yang keempat di minggu
ini. Sering ibu memarahiku untuk setidaknya memakan nasi dan lauk pauk terlebih
dahulu. Sering pula aku mengabaikan wejangannya. Aku sehat bugar. Sejauh ini, aman-
aman saja.

“Yah, mau sekolah ka mana?” tanya ibu sekali lagi. Kalau beliau bertanya untuk
ketiga kalinya, sudah pasti setrika panas melayang ke arahku.

“E-eh?” tanyaku sambil mengelap hidung yang basah. “Henteu, Bu.” Aku kembali
melanjutkan baksoku. Sudah tiba pada bakso besar terakhir–sengaja kusisakan yang
paling enak.

Berbicara tentang SMP, aku pernah mendengar sebuah desas-desus. Sebelumnya,
kakakku merupakan siswa di SMPN 2 Majalengka. Padahal, ada SMP yang lebih favorit
daripadanya. Beberapa tetangga bilang kalau SMPN 1 Majalengka diisi oleh siswa-siswa
yang memiliki nilai tinggi, juga uang tinggi. Dengan demikian, SMPN 1 Majalengka
kerap disebut sebagai sekolah orang kaya atau borjuis. Untuk seseorang yang tinggal di
Tonjong, rasanya cukup berat. Namun, ada separuh diriku yang memaksa untuk masuk
ke SMPN 1 Majalengka.

“Masuk SMPN 2 Majalengka aja, Yah. Nanti bareng teteh sekolahna,” ucap kakak
memberikan usulan. Aku hanya mengedikkan bahu. Belum minat saja menjawabnya.
Tak lama, kedua porsi bakso telah tandas. Seragam putih-merah untuk besok telah siap.

“Abdi mau ka SMP 1.”

“SMP 2 aja!”

“SMP 1 leuwih paporit timbang SMP 2.”

“Kamu teh teu bakal masuk SMP 1. SMP 2 aja!”

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

221

“Ih, kamu teu paham ya perjuangan abdi masuk SMP 1.”

Pemandangan pagiku sudah disuguhkan oleh kedua teman yang berdebat
memilih sekolah lepas SD. Aku hanya menyimak sambil memeriksa PR matematika.
Kata guru matematika, nilaiku bagus. Beliau menyarankanku untuk mengikuti ujian
masuk SMPN 1 Majalengka. Mungkin bisa dicoba nanti. Aku enggan seperti temanku
yang ngotot dengan pilihan SMP-nya. Bagiku, lebih baik berjalan sesuai alur terbaik saja.
Maka dari itu, terbesit dalam pikiran bahwa alur terbaik adalah mengikuti ujian masuk
SMPN 1 Majalengka.

“Kalau Yayah mau sakola ka mana?” tanya salah seorang temanku. Mereka
tampak sudah letih menghabiskan energi di pagi hari.

“SMPN 1, mungkin?” tanyaku.

Temanku menjulurkan lidah pada temanku yang satunya. “Sip, Yayah. Kita
belajar sarengan, yak. Biar dia ngarti perjuangan kita masuk ka SMPN 1 Majalengka!”
Sepertinya, aku tampak mendukung satu pihak. Ah, PR matematika ini meragukanku.

Hari demi hari berlalu hingga tiba waktunya ujian masuk SMPN 1 Majalengka.
Ditemani ibu dan kakak, aku melangkah masuk bersama ratusan teman sebaya dari
berbagai daerah. Kakak membuat perjanjian denganku. Jika aku tidak lolos dalam ujian
ini, aku langsung didaftarkan di SMPN 2 Majalengka. Tanpa protes, aku menyetujui
perjanjiannya. Lagipula, aku tidak punya pilihan lain.

Kicau burung mengiringi derap langkah sejumlah siswa yang masuk ke kelas
ujiannya masing-masing, termasuk aku. Dengan membawa alat tulis dan papan jalan,
aku siap dengan ujian. Aku tak berharap besar, juga tak berharap kecil. Aku
mengedarkan pandangan di kelas ujian. Ada beberapa teman yang aku tidak tahu
namanya, tetapi tahu wajahnya. Mereka tampak familiar di SD-ku.

Waktu ujian pun berjalan. Di saat teman-teman yang lain tegang dan berkeringat,
aku berusaha tetap tenang. Rasanya, keringatku seperti hanya keluar ketika melakukan
olahraga dan memakan bakso. Aku mengerjakan soal-soal dengan teliti. Isi ujiannya

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

222

seperti ujian akhir sekolah. Dengan tipe soal yang sama dan rumus jawaban yang sama.
Aku memeriksa jawaban beberapa kali sebelum waktu berakhir.

Dua jam berlalu. Panitia ujian mulai menarik satu per satu kertas ujian. Kami
diminta untuk menunggu karena pengumuman peserta yang lolos akan disampaikan
sore ini.

Keluar dari kelas ujian, aku melihat teman-teman seperjuangan yang memeluk
anggota keluarga yang menemaninya. Raut wajah mereka tampak cemas. Kemudian,
menyadarkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Tuhan pasti akan memberikan
hasil yang terbaik, begitulah sejumlah ucapan yang kudengar.

“Sudah, Yayah. Kamu mah jangan sedih. Nanti langsung aja ke SMPN 2 aja, yak!”
seru kakak sambil menepuk-nepuk pundakku. Dia malah mendahului pengumuman
peserta.

Ah, yang kupikirkan hanya makan siang sekarang. Masih ada beberapa jam
sebelum pengumuman disampaikan. Aku pun mengajak ibu dan kakak untuk pergi ke
kantin di SMPN 1 Majalengka.

Sore harinya, jantungku berdebar tidak karuan.

PENGUMUMAN PENERIMAAN SISWA BARU
SMPN 1 MAJALENGKA

7. Yayah Siti Sofia

Dari sejumlah teman yang mengikuti ujian masuk, aku merupakan salah satu
peserta yang lolos. Hanya aku yang masuk ke SMPN 1 Majalengka berdasarkan nilai
ujian di antara teman-teman satu SD. Sahabatku yang sempat debat kusir karena ngotot

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

223

ingin masuk SMPN 1 Majalengka tidak diterima. Kami sempat bertemu di gerbang SMP.
Dia mengucapkan selamat, kemudian meninggalkanku bersama bapaknya. Aku
menangkap bekas jejak air mata di wajahnya.

Selanjutnya, ibuku menyiapkan segala pemberkasan. Kakakku membanggakan
diriku yang berhasil masuk ke sekolah “borjuis.” Bapakku memberikanku sejumlah
wejangan untuk giat belajar.

“Perkenalkan, nami abdi Yayah Siti Sofia dari Tonjong.” Begitulah perkenalan
pertamaku di kelas 1C. Kemudian, 2C. Terakhir, 3F.

Kehidupan baruku berjalan dengan lancar. Aku mengikuti pelajaran dan
ekstrakulikuler di sekolah. Bersyukur, aku memiliki banyak teman di SMP, dua di antara
mereka adalah Neng Guguy dan Intan. Kami selalu istirahat bersama, lalu saling
membagikan cerita.

Walaupun SMP merupakan masa remaja yang tak lengkap tanpa cinta monyet,
aku hanya menyukai seseorang sekadarnya. Aku justru mendapatkan peran sebagai
pengantar teman yang hendak berpacaran! Yah, aku cenderung mengedepankan
wejangan keluargaku untuk giat belajar. Motivasi tersebut membuahkan hasil baik. Kini,
aku tinggal di Cigasong, Majalengka, bersama suami dan tiga anak. Aku tetap giat belajar
walaupun semakin berumur. Karierku menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten
Majalengka berjalan lancar meskipun harus mengikuti sejumlah aturan baku yang ketat.
Kendati demikian, aku selalu berterima kasih pada diriku yang dulu, diri yang selalu
berani mengambil keputusan hingga saat ini. Ah, aku juga menyesal karena sering
mengabaikan peringatan ibu tentang pentingnya makan. Aku merasakan efek negatif
bertahun-tahun setelah beranjak dewasa.

Maka dari itu, tetap memperbaiki diri ya, Yahya!

Tunggu, apakah aku termasuk orang borjuis sekarang?

Kisah Kasih Putih Biru *** SMPN 1 Majalengka
Persembahan Alumni ‘87

224

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

225

Kisah Kasih Putih Biru 43:

Yayan, Suku Indian, dan Kepercayaan

Yayan Nuryana

Suku Indian adalah penduduk pribumi atau pemukim pertama di Benua Amerika yang

diperkirakan datang dari Asia sekitar 15.000 tahun lalu. Istilah “Indian” muncul ketika pelaut
Eropa yang dipimpin oleh Christopher Columbus datang. Para pelaut tersebut mengira telah tiba

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

226

di India (Asia). Suku Indian memiliki ritual dan bahasa yang berbeda-beda di setiap subsuku,
seperti Suku Apache, Sioux, Creek, Cherokee, Navajo, Kiowa, Iroquois, Comanche, Lakota, Pueblo,
Aztec, Inca, Maya, Red Skin, Tarahumara, dan Mandan.

Buku sejarah selalu menarik untuk dibaca. Cerita-cerita dan tradisi unik seolah
disebar Tuhan ke seluruh penjuru dunia, termasuk Suku Indian. Jariku menunjuk tiap-
tiap foto tentang suku Indian di buku yang sedang kubaca. Ada rumah adat berbentuk
kerucut, penutup kepala khas dari bulu burung, kuda-kuda, dan anak panah. Lalu, aku
menepuk mulut beberapa kali sambil berseru,

“Ulululululu …,” kutirukan cara penduduk suku Indian berkomunikasi.

Sejak SD, aku suka membaca buku sejarah, salah satunya tentang sejarah Amerika.
Sebagai benua terbesar kedua di dunia, Amerika memiliki banyak kisah menarik yang
tak luput untuk diketahui. Mungkin suatu saat Yayan ke sana. Mungkin. Pikirku.

Beranjak remaja, aku meneruskan pendidikan ke SMPN 1 Majalengka. Kala itu,
siapa yang tidak mengenal SMPN 1 Majalengka sebagai sekolah favorit? Melihat banyak
teman yang mengikuti ujian masuk ke sana, aku turut mencobanya. Bersyukur, lolos.
Aku menghabiskan tiga tahun pendidikan putih-biru di kelas 1H, 2D, dan 3A. Teman-
teman baru pun berasal dari berbagai kalangan. Diberkati badan yang mungil, aku cukup
minder sebagai seorang laki-laki.

“Ey, Yayan. Ini uang hari ini, yak. Nuhun, Yan. Yang rajin sakolana!” seru pemilik
rumah tempat kubekerja sambilan. Beliau memberikan sepeser uang, lalu menepuk
pundakku. Aku berjuang setiap hari untuk membayar kebutuhan sekolah sendiri. Sudah
tertanam dalam diri untuk meringankan keuangan keluarga. Alhasil, sembari sekolah,
aku bekerja serabutan di rumah orang. Upah menyapu dan mengepel kugunakan untuk
membayar SPP. Tidak banyak orang yang tahu tentang hal ini. Aku memang sengaja
menutupinya karena merasa malu dengan teman-teman lainnya. Peluh keringat menjadi
sahabat sehari-hari. Sedari kecil, aku sudah merasakan senangnya menerima uang hasil
kerja keras sendiri.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

227

Kendati demikian, aku bertemu dengan banyak guru dan teman yang baik. Aku
menyukai Pak Tata sebagai guru favorit. Menurutku, beliau merupakan salah satu guru
yang betul-betul mencurahkan segala hal kepada muridnya. Beliau meniatkan kebaikan
supaya anak-anaknya maju dalam pendidikan. Kemudian, ada Bu Nina, guru Bahasa
Inggris. Karena menyukai sejarah Amerika, aku ingin mempelajari bahasanya. Siapa tahu
nanti ke sana, pikirku saat itu.

Di SMPN 1 Majalengka, aku juga senang bermain dengan Asep Rahman, Edi
Supriyadi, Ending, Budi, Ati, Lukman, dan teman-teman berharga lainnya. Area
pedagang jajanan di sepanjang Jalan Kesehatan merupakan tempat favoritku.

Lepas SMP, aku pergi ke SMA PGRI 1 Majalengka. Lulus dari sana, aku bekerja di
PT Beton Cilegon Agung. Kubanggakan segala pekerjaan. Kuyakini bahwa setiap
langkah akan memberikan manfaat esok hari. Akan tetapi, lingkungan pabrik yang amat
panas membuatku tidak betah. Aku kembali ke Majalengka, lalu bekerja untuk sebuah
yayasan TVRI. Setelah itu, aku memasuki dunia perhotelan karena tawaran saudara yang
bekerja di hotel daerah Jakarta. Singgah dalam dunia baru membuatku harus belajar
banyak. Aku menelan beragam buku tentang perhotelan. Tak lupa, sejumlah relasi
dengan rekan dan agensi kujaga baik-baik. Dalam lubuk hati, aku memiliki niat untuk
bekerja di luar negeri atau di kapal pesiar. Karena keterbatasan biaya, aku
mengurungkan niat tersebut. Aku memilih untuk membantu rekan-rekan hotel yang
hendak ke luar negeri. Pagi ketemu pagi, aku bekerja dengan tulus hati. Intinya, ikhlas
membantu teman supaya sukses, batinku. Aku tidak pernah meminta imbalan apa pun dari
teman-teman. Cukup melihat mereka sukses saja, aku sudah senang. Apa lagi yang harus
kubanggakan selain itu?

Suatu ketika, agensi menawarkan program ke Amerika. Mungkin terbesit rasa
peduli dari teman-teman karena aku tidak pernah mengikuti apa-apa (tidak muluk-
muluk untuk ke luar negeri). Program tersebut mengharuskanku untuk menjalani
beberapa tes dari pihak Amerika dan Filipina. Bersyukur, lolos. Aku wajib membayar
uang sebesar Rp40 juta.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

228

Untuk kesekian kalinya, terbesit pikiran untuk mundur. Namun, teman-temanku
menyangkalnya. Mereka yang mengetahui kabar baikku segera membantu.

“Yayan butuh berapa?”

Tak berselang lama, kebaikan mereka tersalurkan. Aku berangkat ke Amerika,
negara cita-cita yang sejarahnya telah kubaca sejak belia. Ululululu.

Aku bekerja selama enam bulan di President View Resort, Keystone. Lokasinya
dekat Mount Rushmore, gunung ikonik yang memiliki pahatan empat Presiden Amerika
Serikat, yakni George Washington, Thomas Jefferson, Theodore Roosevelt and Abraham
Lincoln. Tak hanya mengagumi proyek pahatan dari Gutzon Borglum & Lincoln
Borglum itu, aku juga bertemu langsung dengan pribumi-pribumi dari suku Altex dan
Sioux!

Wah, buku-buku sejarah itu mempertemukanku dengan mereka!

Seminggu setelah insiden 911 terjadi, aku terjun ke dunia chef di New York.
Kemudian, aku pergi ke Washington DC untuk memperdalam ilmu tentang masakan.
Setelah itu, aku beralih ke Custer State Park, South Dakota. Di sana, aku membangun
kokoh bentuk kepercayaan.

Kucamkan dalam diri, “Yayan, kamu mewakili Majalengka, Jakarta, dan
Indonesia. Kamu harus menjaga kepercayaan-kepercayaan yang tak terhitung itu.”

Aku dipercaya di berbagai tempat. Meskipun tidak memiliki pendidikan, aku
menjadi koki eksekutif dalam kurun waktu dua tahun. Berbeda dengan orang lain yang
harus menempuh waktu sekitar 10-15 tahun. Sainganku orang Eropa, Afrika, Asia, India,
Filipina, Malaysia, dan negara bergengsi lainnya. Sekilas muncul tanda tanya, “Mengapa
mereka memilih saya?”

Tuhan menjawabnya lewat kepercayaan. Sepuluh tahun aku berkecimpung dalam
Custer State Park. Resor yang tadinya kurang maju tersebut mulai berkembang secara
signifikan dari tahun ke tahun. Aku amat bersyukur mendapatkan peran sebagai sosok

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

229

yang memajukan tempat tersebut. Aku meraih penghargaan berupa pin emas dari Mike
Rounds, gubernur South Dakota. Kini, Custer State Park ramai dikunjungi turis, baik
lokal maupun mancanegara.

Segala pencapaian ini tak akan pernah terlepas dari dukungan orang-orang di
sekitar. Sebagai inspirasi, aku mengidolakan Daniel Boulud, koki terkenal asal Prancis
yang membawa banyak perubahan dalam dunia masak.

Pada 2021, Boulud dinobatkan sebagai koki terbaik di dunia oleh Les Grandes
Tables du Monde berkat restorannya, Daniel. Selain restoran yang mengantongi dua
bintang Michelin itu, Boulud memiliki restoran lain di Amerika Serikat, Kanada, Dubai,
Singapura, dan Bahama. Menu restoran Boulud merupakan perwujudan dari gastronomi
Amerika Utara, Prancis, bahkan dunia. Tak terasa, sebelas tahun kuhabiskan di Negeri
Paman Sam. Setiap tiga tahun sekali, aku pulang ke Jakarta. Lima tahun aku membujang,
lalu bertemu jodoh di ibu kota ketika liburan tiba.

Kalau diingat kembali, awal-awal aku menapakkan kaki di Negeri Paman Sam
juga sangat kampungan. Aku belum mahir bahasa Inggris sama sekali. Abdi teh asalna dari
Majalengka, jadinya teh ya Majaenglish. Lambat laun, aku memiliki kekasih asal Amerika.
Sekitar tiga setengah tahun menjalani hubungan tersebut, akhirnya fasih berbahasa
Inggris juga.

Sebagai orang kampung yang dulu hanya bisa merasakan musim hujan dan
kemarau (kadang musim buah atau musim kawin), aku diberikan kesempatan oleh
Tuhan untuk merasakan empat musim di Amerika. Aku menyaksikan sendiri transisi
dari musim panas ke musim gugur yang sangat indah. Kemudian, salju-salju dan rona
bunga yang mekar kala musim dingin dan musim semi tiba. Ya Allah, Ya Gusti, sungguh
indah ciptaan-Mu. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa.
Di sini, kasih sayang juga timbul tak sebatas kepada sesama manusia, tetapi juga kepada
makhluk hidup lainnya. Segala binatang disayang dan dilindungi layaknya keluarga
sendiri. Sungguh, tiada yang mampu mengalahkan kuasa Tuhan dengan semesta dan segala
isinya.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

230

Saat ini aku berada di Indonesia sejenak sembari istirahat menunggu
keberangkatan lain. Aku menghabiskan waktu sebagai konsultan kepada rekan-rekan
yang hendak membuka restoran. Bersama istri, aku diberkati dua putra. Si sulung besar
di Amerika Serikat, semetara si bungsu besar di Indonesia.

Kembali lagi ke masa putih-biru, si kecil Yayan yang dulu disisipi rasa minder kini
telah berlalang buana di Amerika. Bertemu tokoh-tokoh berpengaruh, lalu menjadi tokoh
berpengaruh juga, paling tidak di keluargaku heheheh … punten sanes niat somse!
Seandainya bertemu dengan Yayan SMP, mungkin hanya sebaris kalimat yang akan
kuucapkan, “Ey, Yayan, tong minder, atuh!”

Dulu, manusia menggali emas di tambang. Sekarang, manusia mampu menggali
emas dalam dirinya sendiri. Yayan tetap percaya diri, bekerja sana-sini, berbuat baik tak
hanya untuk diri sendiri.

Untuk SMPN 1 Majalengka, label favorit perlu tetap hadir beriringan dengan
kualitas yang mumpuni. Pendidikan sudah menjadi budaya dalam masyarakat. Sungguh
berat jika “mafia pendidikan” tetap hadir dalam sela-sela proses pembelajaran. Maka
dari itu, dibutuhkan keikutsertaan pemerintah dalam pemerataan pendidikan dari
Sabang sampai Merauke, terutama pendidikan dasar berupa SD, SMP, dan SMA.
Kesamaan hak pengajar juga dibutuhkan supaya mampu membangun Indonesia yang
maju. Visi instansi pendidikan yang mengedepankan kebutuhan anak didik agar
menghasilkan “orang” bukan sekadar “uang”. Seiring perkembangan zaman, dengan
adaptasi zaman dan uluran tangan para alumni, bukan tidak mungkin jika label
kebanggaan SMPN 1 Majalengka bersinar kembali.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

231

Kisah Kasih Putih Biru 44:

Dari Surat Cinta sampai Kepala Desa

Yaya Nuryadi

ilustrasi seorang Kepala Desa Leuwikidang

Seperti biasa, sinar mentari pagi menyapa. Hari ini terasa lebih hangat. Sepanjang jalan,

tampak jejeran kelopak bunga bermekaran. Beberapa pasang burung pun asyik bersenda
gurau.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

232

“Hai, Kuwu!” sapa seorang gadis dengan riang di bibir pintu kelas. Senyum
ramahnya selalu ajaib memikatku. Langkahnya mendahuluiku.

“Kuwu!” seru Catur, teman sebangku gadis itu. Aku turut memanggil namanya,
lalu duduk di kursiku.

Dari jauh, aku memperhatikan gadis itu. Gadis asal keluarga PG yang sekelas
denganku di 1F. Tak kusadari sejak kapan benih-benih rasa ini muncul. Yang pasti,
kedatangannya selalu membuatku gembira. Sama gembiranya tatkala keterima ujian
masuk ke SMPN 1 Majalengka, sekolah favorit di daerahku. Siapa yang tidak ingin
masuk ke sana? Menjadi bagian dari keluarga besar SMPN 1 Majalengka merupakan hal
istimewa bagiku, terlebih pertemuan dengan gadis itu.

Tak lama, pelajaran dimulai. Pak Suwarman mengajarkan matematika dengan
penuh kesabaran. Aku menyimak penjelasannya dengan khidmat. Walaupun tidak
banyak bicara, beliau memiliki cara mengajar yang baik nan teliti. Sebagian besar murid
di kelas, termasuk aku, mengerti dengan penjelasannya–walau angka-angka tampak
berbelit dengan huruf-huruf.

“Jangan melihat matematika teh sebagai pelajaran yang paling sulit! Matematika
teh ibaratna kayak kita dahar, bikin kenyang, bikin fokus. Matematika teh mudah asal
kita pelajari rumusnya satu-satu,” jelas Pak Suwarman di akhir kelas, dilanjut oleh
pengumuman ulangan harian minggu depan.

Akan tetapi, aku tidak takut lagi. Awalnya, nilaiku berkutat pada tiga atau empat.
Begitu nyaman dengan metode pembelajaran Pak Suwarman, nilaiku berangsur-angsur
meningkat menjadi tujuh atau delapan (kalau sepuluh biasanya diambil oleh Lukman).
Tak jauh beda dengan Pak Suwarman, deretan nilai sejarahku terbilang bagus ketika
diajar oleh Bu Mai.

Saya teh gak pinter, tapi pede. Muehehe.

Bisa dibilang, Pak Suwarman dan Bu Mai adalah guru yang menginspirasiku
dengan kebaikannya. Sementara itu, sosok yang berkesan buatku adalah Pak Oma, guru

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

233

Bahasa Indonesia. Nilai-nilaiku selalu aman dengannya. Begitu syaratnya kupenuhi,
nilai bagus kudapati.

“Assalamualaikum, Pak Oma!” seruku di depan rumahnya. Tak lama, beliau
mempersilakanku masuk.

Aku berbincang-bincang dengan Pak Oma sebagai sesama lelaki. Cangkir-cangkir
kopi dan batang-batang rokok menghiasi. Merek rokok yang kuberikan untuk Pak Oma
merupakan sogokan syarat untuk mendapatkan nilai bagus tanpa bersusah payah
belajar.

Aku berharap Djarum Cokelat, bernilai tujuh. Dji Sam Soe, bernilai delapan. Tiga
bungkus Djarum Super, bernilai sembilan. Psst. Jangan ditiru, ya! Lagipula, rokok-rokok
tersebut kudapatkan hasil diam-diam mengambil punya ayah. Peace!

Namun, Pak Oma tetaplah guru yang baik, yang mampu memisahkan antara
teman dan murid. Di luar, aku berteman baik dengannya. Namun, di sekolah, aku tetap
muridnya yang harus mengikuti pelajaran sesuai aturan yang seharusnya, termasuk
nilai. Tentu harus sesuai dengan capaianku.

Naik kelas, aku berada di 2B bersama teman-teman baru, tetapi berpisah dengan
gadis itu. Aku menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan beragam aktivitas
kesenian. Dalam gamelan Sunda, aku berlatih bersama Lukman, Asep Dian, Ahmad, dan
teman-teman lainnya. Kemudian, kami mendapatkan kesempatan untuk tampil di
perpisahan kelas tiga. Kala itu, aku menjadi seorang lengser!

Tak hanya itu, aku juga pernah menjadi seorang bodor (pelawak) dan sempat
manggung beberapa kali di berbagai tempat. Senangnya, ketika Porseni tiba, aku mampu
mengalahkan bobodoran Ade Djaja! Modalku hanya pede. Pede juga ketika melawan
Lukman, si jawara intelektual angkatan '87 SMPN 1 Majalengka, dalam suatu cerdas
cermat.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

234

Bak sebuah kanvas, masa putih-biruku dilukis penuh warna. Beragam keseruan
pun kualami bersama teman-teman. Namun, yang tidak kalah seru adalah keputusanku
untuk menyatakan perasaan kepada si pujaan hati!

Dari 2B, aku singgah di 3G. Setelah sekian lama berpikir, aku memutuskan untuk
menulis surat cinta kepada gadis yang kusukai sejak kelas satu. Surat tersebut kubalut
rapi dan wangi dalam sebuah amplop. Karena tidak berani, aku menitipkannya kepada
seorang teman.

Kemudian, surat balasan tiba.

Hai, Kuwu! Aku juga sayang sama kamu dari dulu :)

Aku tertegun. Batinku bergejolak. Aku, Yaya dari orang biasa bisa disukai balik
oleh anak PG. Ya Gusti. Ini kepala abdi geus keluar kembang-kembang jeung lope.
Rasanya, aku ingin memainkan banyak tembang asmara melalui gamelan Sunda.

Aku senang bukan main. Jantungku berdegup sangat cepat. Aku bersiap-siap
untuk menemuinya ketika jam istirahat tiba. Setelah putih-biru ini telah kurapikan. Tak
lupa, sepatu yang mengkilap dan rambut yang maskulin.

Teng, teng, teng! Aku menghambur ke kantin. Lupakan sejenak tentang gorengan
darmaji (dahar lima ngaku hiji) di tempat Mang Sedit. Aku buru-buru menghampiri si
gadis yang terlihat berada di antara desakan teman-teman yang sedang jajan. Kala itu,
jalanan kantin terasa amat indah.

Mentari menurunkan sinarnya laksana lampu tembak yang menyorot tokoh
utama wanita. Sepanjang jalan, jejeran kelopak bunga mawar bermekaran. Beberapa
pasang burung pun asyik bersenda gurau. Kicau mereka mengiringi langkahku
menemui si gadis.

Aku mengatur napas yang terengah-engah. Mataku tertuju padanya. Secarik surat
balasan diremas erat.

Begitu dia keluar dari kerumunan kantin, aku memanggilnya. Dia menoleh.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka


Click to View FlipBook Version