The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Keindahan, keseruan, dan keharuan saat masa bersekolah di SMPN 1 Majalengka

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by niknik, 2022-09-05 04:48:52

Kisah Kasih Putih Biru

Keindahan, keseruan, dan keharuan saat masa bersekolah di SMPN 1 Majalengka

Keywords: Buku Reuni

35

situlah aku temukan sebuah kepuasan yang tak akan pernah bisa diperoleh melalui
kekayaan duniawi.

Sebagai seseorang yang berhobi masak, perasaan yang aku rasakan ketika melihat
banyak orang menyukai masakanku tak bisa tertandingi oleh perasaan apa pun.
Senyuman ceria, tawa canda, manik-manik mata yang berpelita — semuanya menyatu
dan memadu menjadi sebuah alunan sore hari yang bermekaran dengan semringah di
dalam hati. Sambutan seperti “Betty! Menu katering hari ini enak banget!” dan “Betty,
jangan sampai usaha kateringnya tutup ya. Nanti aku kangen, lho!” mampu
membangkitkan perasaan euforia dan bangga dalam diriku. Mungkin usaha katering
tidak dapat memberiku berbagai macam penghargaan yang prestisius. Namun,
pemandangan raut-raut wajah yang dengan berbahagia menyantap makanan buatanku
merupakan sebuah pencapaian yang jauh melampaui kenikmatan duniawi yang bersifat
materiel apapun.

Seiring berjalannya waktu, pikiran seperti “Ini kalau usahanya sampai bangkrut
harus bagaimana ya?” yang dilanda dengan keraguan dan kecemasan perlahan-lahan
lenyap. Meskipun tentunya benak para pemula yang sedang mencoba sesuatu yang baru
tak akan pernah lekang dari pikiran cemas yang berlebihan, kepuasan dan kebahagiaan
yang aku dapatkan setelah menjalani usaha tersebut berhasil memudarkan segala macam
keraguan yang sempat aku rasakan. Perihal seputar kemajuan dan kesuksesan duniawi
yang lebih mewah serta megah akan aku serahkan ke tangan anak-anakku sebagai
anggota dari generasi selanjutnya.

Harapanku hanya satu, pikirku dengan khusyuk sambil memandang sosok si
rembulan yang senantiasa berusaha untuk mengabadikan sinar mentari demi menemani
gemintang yang bertaburan di sekitarnya. Usaha apapun yang anak-anakku akan pilih kelak,
semoga mereka bisa merasakan kepuasan dan kebahagiaan batin seperti yang kini telah kurasakan
sendiri.

Daratan Majalengka tidak hanya menyandang buku catatan yang mengisahkan
perjalananku dalam mencari dan menemukan kebahagiaan batin, tetapi juga telah

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

36

menjadi saksi buta dari setiap kenangan masa mudaku yang berharga. Betty Widiawati,
itulah salah satu nama yang pastinya bisa ditemukan pada daftar absen kelas 1H, 2B, dan
3F di SMP 1 Majalengka pada masa itu. Sedari awal, sekolah menengah pertama (SMP)
yang sudah terkenal dengan julukannya sebagai SMP favorit di daerah Majalengka
tersebut telah menjadi targetku untuk melanjutkan pendidikan setelah menuntaskan
sekolah dasar (SD). Di situ, aku berhasil membuka sebuah bab baru yang kaya akan
berbagai macam harapan, kenangan, dan jalinan pertemanan.

Deru angin pagi merangkai sebuah simfoni dengan hembusan jingga milik
matahari fajar.
Merah bunga, jingga mentari, kuning lampu kota, hijau pepohonan, biru langit, dan
kelabu aspal; semuanya berpadu menjadi suatu kesatuan yang harmonis. Mengendarai
kendaraan umum dari Kadipaten ke Majalengka bersama dengan ketiga teman masa
kecilku sudah menjadi sebuah rutinitas yang konsisten. Raungan kendaraan umum yang
bersanding dengan senandung belu-belai dari gerombolan penumpang lainnya sudah
menjadi santapan sehari-hari. Tawa canda, wajah semringah, dan obrolan heboh selalu
mengisi perjalananku menuju sekolah.

Selama menempuh pendidikan di bawah naungan SMP 1 Majalengka, aku tidak
memperoleh suatu penghargaan yang spesifik ataupun spesial. Meskipun begitu, setiap
teman dan kenangan yang aku peroleh dalam kurun waktu aku menimba ilmu di sana
telah menjadi salah satu momen paling berkesan dalam hidupku. Masa itu
menghadiahkanku dengan kesempatan untuk mengenal berbagai macam individu yang
luar biasa, baik teman-teman sebaya maupun guru-guru pembimbing. Pengalaman
berharga yang hanya bisa terjadi ketika masih muda, seperti romansa muda antara teman
kelas, surat cinta yang diam-diam bersemayam di kolong bawah meja seseorang yang
berinisial B, dan mengizinkan diri ke toilet agar bisa menyelinap sebentar ke kantin,
semuanya aku kenang dengan perasaan haru sekaligus rindu.

Tidak hanya kenakalan masa muda, tetapi periode SMP juga mengingatkanku
terhadap sosok-sosok pendidik yang selalu mengayomi impian para muridnya dan
menginspirasi kami untuk terus berkarya. Dari Pak Ook yang menyandang sebuah
perpustakaan ilmu penuh dengan wawasan dalam benaknya, sampai Bu Tatat yang

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

37

selalu hadir untuk menjadi pendengar sekaligus tabungan keluh-kesah yang paling setia
bagi murid-muridnya; mereka adalah dua sosok yang akan selalu aku ingat dengan
penuh kehangatan. Pahlawan-pahlawan bangsa yang berkiprah dalam bidang termulia.

Tanpa kehadiran dari mereka semua, aku tak akan bisa mempunyai suatu masa
muda yang patut untuk dikenang sepanjang masa. Rasa rindu, kasih, dan syukur;
semuanya bercampur aduk menjadi satu. Terima kasih banyak, semoga alam semesta selalu
memperlakukan kalian semua dengan lembut.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

38

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

39

Kisah Kasih Putih Biru 7:

Masa Terindah

Budhi Yogawardhana

Huft, huft, huft.

Lautan hijau menyapa indra penglihatanku. Aku merasakan jantung yang
bersemayam di balik dekapan tulang rusukku berdetak dengan kencang. Kicauan
lantang milik sekelompok burung mengguncang kesunyian yang menyelimuti hutan.
Sekujur tubuhku dilanda dengan rasa pegal yang menghanyutkan. Di tengah rimba yang

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

40

luas nan rindang, aku hanya bisa mendengar suara gemerisik dari sepatu botku yang
bergesekan dengan helai-helai dedaunan yang menghiasi permukaan tanah. Keringat
melapisi kulitku dengan lekat layaknya benang kepompong yang mendekap ulat kecil
demi menghasilkan seekor kupu-kupu yang menawan; suatu fenomena alamiah yang
tak terhindarkan, tetapi tetap saja mengundang rasa tidak nyaman.

Pada siang hari ini, langit Kalimantan terlukis biru, lengkap dengan matahari
yang bersinar terik dan gerombolan awan yang bertaburan seperti manik-manik cantik.
Sisa-sisa embun pagi menambahkan unsur kelengasan terhadap udara panas yang
sedang melapisi seluruh penjuru hutan dengan mesra. Dari kejauhan, deru air sungai
bisa terdengar dengan samar, sebuah senandung alami yang berhasil menyuntikkan
warna di tengah atmosfer hutan yang tenang. Berat dari tas ransel berisi perlengkapan
kemah yang bertengger di atas pundakku merupakan beban yang terasa familier.

Sebagai seseorang yang memegang gelar sarjana kehutanan dan telah bekerja
menjadi konsultan di bidang kehutanan selama bertahun-tahun, mengobservasi dan
menjelajahi hutan sudah menjadi bagian dari tanggung jawabku. Namun, pekerjaan ini
bukanlah pekerjaan yang menandakan awal dari perjalanan karierku. Setelah
menyelesaikan pendidikanku di Bogor, aku langsung menikah dan kemudian bekerja
sebagai pedagang selama 4 tahun. Ketika merasa bahwa pekerjaan tersebut tidak
membuahkan hasil apapun, aku akhirnya menerima tawaran dari salah satu dosenku
untuk bergelut sebagai seorang konsultan yang bergerak di bidang kehutanan. Karena
bekerja di bidang sistem informasi geografis (SIG) dan berperan sebagai tenaga ahli
dalam proses pembuatan peta dan citra satelit, aku harus mengetahui kondisi sekaligus
letak geografis dari tiap-tiap hutan. Maka dari itu, baik hutan di Sumatera, Kalimantan,
maupun Papua, sudah ada banyak yang pernah kupijak.

Ah, gawat! seruku dalam hati. Sepertinya toleransi tubuhku terhadap perjalanan
berjarak jauh telah menurun secara drastis.

Sewaktu muda, jalan kaki menelusuri trek hutan yang berliku-liku dan tidak rata
bukanlah suatu hal yang sangat menguras tenaga. Tak terasa, kualitas tulang, stamina,
dan raga yang pada saat itu masih dalam kondisi bugar telah berangsur-angsur
memburuk di bawah naungan waktu. Kini, jumlah tenaga yang terkuras dari satu

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

41

langkah bisa dua kali lipat jika dibandingkan dengan dulu. Perjalanan menggunakan
kaki yang lebih panjang dari 100 meter sudah cukup melelahkan bagiku untuk
merasakan bagaimana keletihan telah memengaruhi kinerja ligamenku.

“Bud, ngapain bengong di situ? Ayo, lanjut jalan!” ucap salah satu rekan kerjaku
dengan lantang. Di sela hembusan napas yang cukup terengah-engah, aku hanya bisa
memberi sebuah anggukan kepala sebagai jawaban.

Lelah, tetapi harus tetap mencoba. Itulah realita dari kehidupan yang harus aku
pelajari. Menempuh perjalanan yang panjang di hutan Kalimantan sambil mencoba
untuk menaklukkan berbagai macam rintangan alamiah yang hadir mengingatkanku
terhadap masa-masa muda yang kini hanya merupakan kenangan indah. Ketika
menduduki bangku kelas 6 di SD 9 Majalengka, aku berangan-angan untuk melanjutkan
pendidikan SMP di SMP 1 Majalengka yang pada saat itu memegang titel “SMP favorit”.
Berbagai macam materi, rumus, dan soal aku pelajari demi mendapatkan bangku di salah
satu kelas SMP favorit tersebut. Mengingat ayahku yang bekerja sebagai guru olahraga
di SMP 1 Majalengka, aku semakin terdorong untuk terus belajar dengan rajin dan
membuktikan bahwa aku mampu.

Filsuf-filsuf terkemuka tak berdusta ketika mereka menyatakan bahwa kerja keras
akan selalu membuahkan hasil. Berkat kegigihanku dalam menggapai NEM yang
memadai, aku dinyatakan menjadi salah satu dari 7 murid SD 9 Majalengka yang berhasil
mengamankan sebuah tempat duduk di SMP 1 Majalengka. Budhi Yogawardhana dari
kelas 1H, 2F, dan 3E yang cukup diam dan tidak banyak bergaul. Itulah persepsi yang
dimiliki oleh mayoritas populasi SMP 1 Majalengka pada masa itu terhadapku.

Pada masa SMP, aku ingat bagaimana hatiku selalu dilanda dengan perasaan
minder dan tidak percaya diri. Kurangnya kepercayaanku terhadap diriku sendiri
seringkali membuatku memilih untuk menyendiri dan tidak berpartisipasi dalam
berbagai macam kegiatan organisasi. Akan tetapi, satu hal yang selalu melimpahkan
diriku dengan rasa syukur adalah bagaimana aku telah dipertemukan dengan beberapa
individu di kelas 1H yang mampu memberiku motivasi untuk memupuk ketertarikanku
dalam berinteraksi, bergaul, dan berintegrasi dengan teman-teman SMP 1 Majalengka.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

42

Selama menduduki bangku SMP, aku tetap mendapatkan nilai di atas KKM yang
telah ditentukan oleh pihak sekolah pada setiap pelajaran walaupun tidak memegang
prestasi akademik apapun. Meskipun begitu, aku tetap menganggap SMP sebagai salah
satu masa terindah dalam kehidupanku. Dari sosok Pak Ming yang selalu
mendukungku, warung Mang Sedit yang senantiasa menemani hari-hari sekolah yang
seringkali memunculkan rasa penat, sampai diam-diam membeli kaset yang
menyandang lagu milik artis-artis Barat dengan teman sekelas, semuanya merupakan
bagian penting dari momen masa mudaku yang akan selalu kukenang sepanjang masa.

Aku juga harus berterima kasih pada SMPN 1 Majalengka karena saat itulah masa
puberku dimulai. Aku menyukai seseorang yang sangat menarik bagiku. Matanya bulat,
kulit putih, dan rambut ikal yang selalu menggoda pikiranku. Namun, apa daya, aku
memang selalu minder dan tak cukup keberanian untuk mengungkapkannya. Entah apa
maksud Tuhan telah menempatkan kursi belajarku di tempat yang sama dengan gadis
jelita itu. Alhasil, karena aku memiliki jadwal sekolah masuk pagi dan dia masuk siang,
kuselipkanlah surat cintaku untuknya di kolong meja dengan harapan dia akan
membacanya saat duduk di bangku tersebut. Aih, berdebarnya hatiku!

Ah, pikirku sambil menikmati semilir hutan Kalimantan yang lembut. momen-
momen yang terkesan biasa-biasa saja memang akan selalu menjadi serangkai kenangan yang luar
biasa berharganya.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

43

Kisah Kasih Putih Biru 8:

Langkah Kaki Laki-Laki

Dede Satria

ilustrasi seorang siswa menyingkap rok siswi sambil teriak dan marah

Teng, teng, teng …!

Bel masuk kelas berbunyi kencang. Seluruh murid SMPN 1 Majalengka menghambur
menuju kelasnya masing-masing, tak terkecuali aku. Beberapa teman menyapaku.
Seorang anak kolong mengajakku untuk nonton bareng (nobar) sepulang sekolah.
Kurasakan keramahan mereka. Melanjutkan pendidikan menengah di SMPN 1
Majalengka merupakan pilihan yang baik buatku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

44

Aku masih ingat perasaan ketika pertama kali menjejakkan kaki di SMPN 1
Majalengka. Rasa bangga menyeruak dalam diri. Kedua kaki berjalan dengan kepala
tegak, menyusuri area sekolah dengan percaya diri. Aku masuk dalam rangkaian tiga
belas dari ratusan siswa yang mendambakan belajar di sekolah terfavorit ini. Tak minder,
tak juga menonjol, bersekolah di SMPN 1 Majalengka menjadi bagian dari perjalananku.
Rangkaian langkah kaki-kaki kecil ini mempertemukanku pada banyak pembelajaran
hidup.

Seperti hari ini, begitu aku memasuki ruang kelas, seorang siswi yang tampak
manis kala tersenyum justru memicingkan matanya kepadaku. Bibirnya cemberut.
Tatapannya melemparkan panah kebencian kepadaku. Padahal, sebelumnya dia sedang
asyik berbincang dengan temannya. Begitu aku datang, dia berhenti bicara. Matanya
melirik tajam, lalu membuang muka.

Aku kecil mana mengerti tentang perbuatanku. Apa pun yang dirasa
menyenangkan, akan kulakukan, sekali pun belum tentu orang lain menyukainya.
Kecunihinan yang selalu teringat jelas dalam kepala adalah ketika iseng menyingkap rok
seorang gadis di sekolah. Aku ingat sekali dengan wajahnya yang langsung merah
padam. Perasaan malu bercampur marah meluap jelas dalam dirinya. Kala itu, aku hanya
tertawa-tawa, kemudian menghiraukan dirinya yang lambat laun menghindariku. Tak
hanya aku, peristiwa (traumatis) tersebut akan selalu terekam dalam pikirannya

Setiap kami berpapasan, gadis itu selalu membuang muka. Mungkin untuk
selamanya dia akan seperti itu.

Yah, kenangan tinggallah kenangan. Setelah lulus dari SMPN 1 Majalengka,
hidupku berjalan amat mulus. Aku meneruskan pendidikan di sebuah SMA favorit.
Kemudian, diterima di perguruan tinggi yang cukup besar dan prestisius. Tak berhenti
sampai di situ, aku menjadi seorang PNS, pekerjaan yang banyak diimpikan oleh orang-
orang. Aku memiliki karier yang mulus, menikah dengan pujaan hati yang amat dicintai,
dan dikaruniai oleh anak-anak yang hebat. Pencapaian-pencapaian tersebut
menyunggiku bak di surga. Tiada yang lebih bahagia daripada menjalani kehidupanku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

45

Semuanya serba berkecukupan. Semuanya serba ada. Semua rezeki dikucurkan Tuhan
bak Air Terjun Niagara, deras tiada henti, hingga kelalaian menghampiri.

Kemudian, BUUUUMMM!

Ibarat ledakan bom, semuanya hancur lebur dalam sekejap. Terdapat suatu titik
yang membuyarkan segalanya. Titik ketika aku lupa kepada Sang Maha Pencipta.
Lebatnya curah rezeki membuat pikiranku dipenuhi oleh kenikmatan duniawi. Aku
sudah dewasa. Aku bukan Dede Satria yang dulu iseng meyingkap rok teman. Aku
justru tenggelam dengan banyak kesalahan yang berujung pada diambilnya segala
titipan Tuhan. Tuhan mencicipku.

Pada titik itu, perjalanan hidupku terjun bebas, menukik tajam sampai jauh di
bawah titik nol. Dengan sisa-sisa kesombongan, (bodohnya) aku tetap sombong di
hadapan Sang Penegur. Demi bertahan hidup, aku mengecewakan banyak orang.

Banyak di antara mereka yang kukhianati.

Banyak di antara mereka yang kubohongi.

Mulai dari keluarga, sanak saudara, sahabat, dan teman-teman lainnya. Saking
banyaknya orang yang kukecewakan, diri ini sudah tidak sanggup lagi untuk
mengingatnya. Kalau dulu hanya seorang gadis yang menghindariku, pada titik
terendah itu, seluruh orang seolah menghindariku. Begitu mendengar namaku, mereka
bergidik ngeri. Kala itu, untuk bernapas saja rasanya berat sekali. Semuanya terlalu sakit
dan nelangsa untuk dipikirkan kembali.

Setelah sekian lama perjalanan yang melelahkan, dengan memikul berkarung-
karung rasa malu, aku memberanikan diri untuk bertobat. Walaupun merasa tidak
pantas, aku menguatkan batin untuk memohon kepada-Nya. Sulit sekali untuk berusaha
bangkit dari keterpurukan dan membuka lembaran baru. Sampai sekarang, luka masa
lalu masih menganga lebar. Rasa minder dan malu senantiasa mengikutiku ke segala
penjuru. Akan tetapi, perlahan-lahan aku bersyukur atas apa pun yang diberikan oleh

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

46

Tuhan. Aku berjalan melepaskan diri dari jerat titik terendah pun sudah menjadi salah
satu karunia besar dari-Nya. Langkah kaki-kaki besar ini terus berjalan walau amukan
badai pernah menggoyahkan keseimbangan. Dengan bersyukur dan menanam kebaikan
(sesederhana apa pun itu), ternyata Tuhan berbaik hati mendatangkan orang-orang yang
mau merangkulku, menggandeng tanganku, dan menuntunku menuju jalan-Mu,
termasuk gadis bermata sipit bak tokoh Oshin di drama yang diproduksi oleh NHK
Jepang pada 1983 yang merupakan tontonan wajib televisi di era 80-an itu, gadis yang
sempat kusingkap roknya itu pun sudah memaafkanku. Maafkan, aku, Nde!

Memang sungguh hebat terguran-Mu, Ya Tuhan. Memang sudah menjadi bagian
dari perjalananku untuk melakoni cerita ini. Kudengar-dengar, sosok gadis yang dulu
kusingkap roknya dan anak kolong yang dulu sering mengajakku nobar, mereka menjadi
orang sukses sekarang. Aku turut bahagia dengan pencapaian mereka. Mungkin kisahku
berbeda dari yang lainnya. Setidaknya, Tuhan pernah menempatkanku dalam posisi
yang kudambakan. Hingga akhirnya, kini, kuberjalan dalam rute yang kuciptakan
kembali dari awal. Rute yang berisi pembelajaran dari rentetan masa lalu dan papan-
papan penanda untuk selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak sendirian
lagi, kedua kaki ini melangkah bersama keluarga, sanak saudara, dan teman-teman yang
hangat mengulurkan tangan.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

47

Kisah Kasih Putih Biru 9:

Di Bawah Pohon Mangga

Denny Yulian Hendratmo

Segumpal butiran air menempel di mulut keran. Perlahan-lahan, gravitasi menariknya

ke bawah bak air mandi yang penuh sehingga menjadi tetesan air yang berisik.
Tik tik tik
Kalau tidak ada yang ingin berinisiatif untuk mematikan kerannya, aku

memutuskan untuk melakukannya sendiri. Sewaktu aku masuk ke kamar mandi, ada

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

48

kecoak melarikan diri ke ujung bawah bak mandi bulatku. Padahal, saat aku masih kecil,
serangga tampak sungguh menggelikan. Ya, aku ‘kan sudah anak SMP, masa masih takut
akan serangga? Bahkan, aku sekarang punya satu jerawat kecil. Apakah ada perempuan
yang sedang singgah di hatiku? Rahasia ah! Lalu, seketika aku keluar, ketukan pisau
tajam ke atas talenan menggetarkan meja kayu yang ibu sudah punya semenjak aku TK.

Tok tok tok
Kini, aku akan pergi ke SMP 1 Majalengka, sekolahku tercinta, dengan dasi yang
sudah kucuci sendiri. Hehehe, aku sudah mulai independen. Ingat! Bukan sendiri,
melainkan independen. Hahahah … jadi ingat temanku yang satu itu, selalu mengaku
independen! Postingannya cukup menghibur, meski kadang sedikit aneh.
Pagi itu, aku tertampar hembusan Ibu Pertiwi yang kencang sehingga mataku
kelilipan dari debu-debu dan kerikil kecil. Maklum, Majalengka adalah Kota Angin. Ada
banyak jenis angin: angin berhembus, angin kencang, angin kering, angin panas, bahkan
angin jahil dan nakal, suka menaikkan rok teman-teman perempuanku! Meskipun
demikian, kicauan nada merdunya burung-burung senantiasa menemaniku. Eh, tiba-
tiba, dari belakang, gerombolan kawan-kawanku menarik kerah seragam putihku
sehingga leherku agak tercekik sedetik.
“Ayo Denny, main bola dulu gak bareng kami sebelum kelas? Ayo ayo ayo!” ucap
mereka sambil lompat-lompatan dengan semangat anak muda.
“Ndak dulu deh, malas keringetan, nanti aku tonton kalian di bawah pohon
mangga depan kelas. Aku janji kok!” Kujawab dengan senyuman ramah.
Sebetulnya, janji itu aku ingkari. Mungkin tidak secara total, tetapi saat aku
menonton teman-temanku bermain sepak bola, kedua mataku justru menjelajah dan
terpesona akan figur seorang gadis cantik dengan rambut hitam yang panjangnya
bagaikan puteri kerajaan. Bahkan, saat ia lewat, aroma parfum melatinya menciptakan
rasa kangen. Hatiku berdebar makin kencang ketika ia melambaikan tangannya. Hah,
apakah ia juga suka denganku? Atau ia hanya sedang ramah? Rasa limbung ini
terngiang-ngiang dalam benak pikiranku sejak kubangun. Tanpa pemikiran apa pun,
aku mengeluarkan surat cintaku yang kutulis semalaman. Kendati tulisanku agak
terlihat celemotan, pesannya adalah sesuatu yang mudah untuk dibaca.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

49

“Eh, ini…surat…mohon dibaca ya…,” kataku dengan rasa malu.
“Nanti, aku baca ya, terima kasih!” jawabnya sambil memegang rambut
panjangnya.
Saking terpesonanya diriku, aku tak sadar bahwa daun-daun dari pohon mangga
terjun ke mukaku yang mungkin sedang merah jambu. Bukan karena matahari pagi yang
hangat, melainkan karena wajah cantik gadis itu yang dapat menghipnotis seorang laki-
laki yang lemah hatinya sepertiku. Aku ingin menjelma sebagai pangeran gagah dan
berani agar bisa menggaet perhatian sang puteri. Namun, untuk sekarang, suara bising
bel sekolah yang akan menggaet perhatian kami semua di SMP 1 Majalengka. Bahkan,
pohon mangga yang tinggi dan sehat tak mampu menyelubungi siapa pun dari tanggung
jawabku untuk menuju ke kelas Bahasa Inggris.

Yang manis di sekolah bukan hanya buah mangga di depan kelas, melainkan guru
cantik Bahasa Inggris kami, Bu Nina. Pertama kali, aku melirik ke arahnya saat mengajar
dengan kapur putih di tangannya. Sementara itu, tanganku merasa bosan sehingga
jemariku justru memutarkan pensil hitam yang sudah kuraut malam lalu. Pandangan ini
tidak lepas dari terpesona menatap beliau. Padahal, pancaindra beliau selalu peka akan
level konsentrasinya tiap-tiap murid di kelas. Cuaca yang gersang dan gerah pun tak
akan mengalihkan mata tajam seumpama elang.

“Coba, yang sedang main-mainin pensil hitam, jawab pertanyaan ibu!” seru Bu
Nina.

Hah? Pensil hitam? Apakah Bu Nina sedang mereferensikan diriku? Namun, tetap
saja, aku tidak merespons kata-kata Bu Nina sama sekali. Kebutaanku sehitam tinta
pulpen di tangan sebelum akhirnya teman semejaku mencubit pahaku dan
mengingatkanku bahwa Bu Nina sedang bertanya kepadaku.

“Denny, how are you? Can you answer this question on the board?” tanya Bu Nina
kepadaku dengan senyum hangatnya.

Postur badan langsung tertegun. Jantung seakan-akan mau copot dari dadaku
yang nyesak rasanya. Bukan karena takut tak bisa jawab, melainkan karena menawannya
wajah guruku yang cantik sekali.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

50

“Sorry, miss, I don’t get it, hehehe. Bisa diulang lagi gak Bu pertanyaanya?” jawabku
dengan sigap dan semangat. Bahkan, kata kawan-kawan di kelas, volume suaraku
teramplifikasikan seperti menggunakan mikrofon.

Dari momen itu, Bu Nina mengompori rasa semangat belajarku. Sejak hari itu, aku
pun bisa membayangkan pesonanya yang kuat itu yang sekarang menjabat sebagai
Kepala Sekolah di SMP 1 Majalengka.

Selain Bu Nina, adapun Pak Oo, guru IPA kami yang kian telaten dalam
memberikan materi, informasi, dan demonstrasi. Paras wajahnya selalu terlihat
semangat untuk mengajar meskipun belum tentu tiap-tiap murid punya niat belajar yang
gigih. Setidaknya, seluk beluk ruang kelas kerap sekali menjadi memori yang tak
terlupakan. Mengisi relung-relung di pikiran dan perasaanku. Tanpa batas dapat
kukunjungi kapan pun menembus ruang dan waktu. Imajinasiku berkelana.

Ketika waktu makan siang tiba, aku lomba lari bersama teman-temanku ke kantin.
Jajanan di kantin selalu panas. Kadang, kulit jariku melepuh saat sedang menyantapnya.
Makanan andalanku adalah pisang goreng. Berbeda dengan yang lain, aku mencocol
pisang goreng manisku ke sambal oncom. Garing dan bikin perut yang keroncongan
menjadi kenyang. Kendati kantin adalah sentra nongkrongnya aku dan teman-temanku,
kesejukan di bawah pohon mangga tetap melekat di hatiku. Lagi pula, di situlah, aku
bisa mengagumi gadis yang aku cintai dari jauh, terselubung dari bayang-bayang daun
pohon mangga. Waktu beku, tetapi hati hangat saat melihatnya. Wah, apakah ini yang
mereka sebut ‘cinta’?

Saat mataku terkantuk-kantuk karena angin sepoi-sepoi, si Gadis tiba-tiba datang
dan menaungi badanku. Cahaya matahari menjadi latar belakang si Gadis sehingga
dirinya terlihat seperti bidadari. Kukira yang aku lihat ini adalah mimpi. Ternyata oh
ternyata, detik itu akan menjadi mimpi buruk.

“Terima kasih untuk suratnya Denny, ini jawabanku tertera di dalam surat ini”
kata si Gadis Cantik.

Ragaku diam bagaikan patung. Lalu, genggamanku akan surat yang ia beri agak
tremor. Jantung berdebar seiring suara bel tiba-tiba meraung. Dahi, dagu, dan dengkulku

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

51

pun basah akan keringat dingin. Padahal, suhu luar itu sungguh panas. Telapak
tanganku lebih berminyak dari pisang goreng yang sebelumnya kusantap. Perutku
terasa mules. Akhirnya, kutelan ludah ke dalam rongga-rongga tenggorokan yang kian
kering. Karena masih takut, aku pejamkan mataku setengah agar tulisan yang tertera
tidak langsung terbaca olehku. Penglihatanku masih samar-samar bagaikan kabut tebal
sedang menyelimutiku. Namun, saat kubuka mataku secara perlahan-lahan, di surat itu
tertulis,

“Kita berteman saja yah.”
Singkat, padat, dan jelas.

Sejujurnya, pada saat itu, hatiku hancur berkeping-keping. Air mata yang deras
harus tertahan di belakang retina mata. Perutku yang sebelumnya terasa mules, sekarang
terasa tersembelit. Rasa ingin muntah pun bergelayut di tubuh dan pikiranku. Tanganku
mulai menjadi aktif lagi dan aku mulai memainkan rambutku sebagai distraksi.

Walaupun ditolak sejak hari itu, rambut selalu aku sisir. Parfum pun aku pakai
setiap harinya. Ini semua kulakukan agar dia tahu bahwa dia telah salah menolak diriku.
Padahal, ada sejumlah gadis yang menyukai diriku. Meskipun demikian, hatiku
dibutakan oleh cinta yang tak dibalas. Ini adalah penyesalan dan semua caraku untuk
menculik hati si Gadis Cantik itu sia-sia. Setidaknya, pengalamanku di SMP 1
Majalengka tidak tergolong sia sia.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

52

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

53

Kisah Kasih Putih Biru 10:

Bongkahan Emas Pengalaman

Djafar Dwi Risyanda

Prit, prit. Suara peluit terdengar amat nyaring.

Seorang polisi berpakaian lengkap menghampiri kami dengan tergesa-gesa.

Aku dan teman-teman langsung kabur menghindari kejaran polisi. Padahal,
semenit yang lalu kami sedang melambaikan kedua tangan sambil meloncat-loncat
dengan semangat. Kami tertawa terbahak-bahak melihat tatapan sinis para pengemudi

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

54

kendaraan beroda dua atau tiga yang melalui Alun-Alun Majalengka. Sejak siang tadi,
kami memasang standee ala kadarnya di tengah alun-alun sehingga membuat perjalanan
tersendat. Sembari berlari, aku menghitung dengan jari. Ah, tindakan ini adalah
kenakalanku yang kesekian kalinya.

Namaku Djafar Dwi Rusiana atau kerap dipanggil Papay. Namaku memang imut,
tetapi kelakuanku tidak. Sejak kecil, aku adalah anak yang sangat aktif (hyperactive). Aku
memiliki jutaan ide liar yang sering berkeliaran dalam pikiran. Aku kurang merasakan
suasana belajar di taman kanak-kanak karena sering kabur. Ya, kabur. Sepertinya, bibit-
bibit kenakalan sudah tumbuh sejak usia dini. Kemudian, aku pernah disidang ketika
akhir sekolah dasar.

“Pilihan pertama kamu jadinya di mana, Papay? Kamu geus nulis SMPN 1
Majalengka jadi pilihan pertama. Namun, kamu bilang, pilihan pertamana SMPN 2
Majalengka. Yang bener yang mana, Pay?” tanya kepala sekolah dengan tatapan dingin.

Akibat sidang tersebut, aku mengalami ketegangan luar biasa hingga merasakan
sakit perut. Kala itu, aku hanya pelanga-pelongo melihat kepala sekolah. Kendati
demikian, takdir keberuntunganku mengarah pada SMPN 1 Majalengka. Entah takdir
baik apa yang hadir, aku yang nakal ini bisa menjadi bagian dari keluarga besar SMPN
1 Majalengka. Seperti yang sudah kalian tebak, aku meneruskan kenakalan di SMP.
Memasang standee di tengah Alun-Alun Majalengka adalah salah satunya. Itu baru
permulaan karena terjadi di kelas satu.

Berseragam putih-biru, aku menjadi siswa di kelas 1C, 2G, dan 3A. Aku memiliki
banyak teman dari berbagai kelas yang sehobi, sepermainan, dan sepemikiran. Oleh
karena itu, ide-ide gilaku bisa terealisasikan bersama-sama. Walaupun otakku penuh
dengan ide-ide gila, aku juga aktif menyampaikan pendapat-pendapat. Pada dasarnya,
aku memang nakal, tetapi aku pintar. Hayuukkk.

Eits. Jangan salah, aku sering berbeda pendapat dengan Aang. Meskipun
demikian, hubungan kami tetap terjalin erat.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

55

Di sekolah, aku mengikuti pramuka. Aku suka berlari dan bersepeda, juga
berpetualang. Cocok sekali dengan diriku yang penuh adrenalin tinggi. Bersama teman-
teman, aku aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pramuka. Sebentar lagi, Jambore
Nasional akan diselenggarakan. Semua anggota pramuka tiba-tiba menjadi aktif supaya
dipilih sebagai peserta Jambore Nasional oleh pembina.

“Nu ikut Jambore Nasional nanti adalah ... Papay!”

HAH? Aku bisa melihat tatapan teman-teman se-pramuka yang kaget, kemudian
berganti sinis. Aku hanya tertawa dalam hati. Kalau aku menunjukkan kegembiraan,
teman-teman akan sebal denganku. Akhirnya, balas dendamku tercapai. Sejak SD, aku
jarang diajak untuk mengikuti lomba oleh guru-guru. Sementara itu, di SMP aku menjadi
peserta istimewa dari SMPN 1 Majalengka untuk mengikuti Jambore Nasional. Oh, lihat.
Ari, Aang, Ndang, dan Deni Yulian marah padaku. Ketika kutanya tentang pramuka
atau Jambore Nasional, mereka langsung merengut.

Rangkaian perjalananku menuju Jambore Nasional dibantu oleh Pak Umu dan
Pak Osar.

Kebanggaanku tidak hanya berhenti sejak hari itu, tetapi berlanjut hingga dewasa.
Namun, masa mudaku memang penuh marabahaya. Lebih tepatnya, mengganggu
kedamaian orang lain, termasuk beberapa guruku.

Setiap guru di SMPN 1 Majalengka punya karakternya masing-masing. Sejumlah
kesan dan inspirasi kudapatkan dari semua guru. Guru Pendidikan Sejarah Perjuangan
Bangsa (PSBB) yang menjelaskan dengan rinci mengenai Indonesia. Beliau suka bilang,
“Semua yang ada dalam kehidupan ini akan kembali lagi seperti roda yang berputar.”
Kemudian, Pak Umu, guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Pak Syukur, guru Bahasa
Indonesia. Pak Osar, guru fisika. Bu Lili, guru Bahasa Sunda. Pak Eming, guru olahraga,
yang sering men-cepret kakiku. Guru praktik SPG yang sering menjewerku karena
menjahili Yayuk di kelas. Selalu aku yang kena jewerannya. Sementara itu, guru yang
suka membuatku tertawa setiap mengingatnya adalah Pak Odi.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

56

“Ini akan menjadi penemuan nu terbaik sadunia!” seruku. “Raray Pak Odi mesti
kaget nanti.” Aku bersemangat.

Bersama Hendra, Aang, Dudi, dan Ndang, kami sering menjahili Pak Odi.
Namun, kali ini berbeda. Kami telah membuat sebuah kotak–semacam radio–yang diisi
oleh amplifier rusak. Ketika Pak Odi menyetel radio tersebut, BOOM! ledakan terjadi.
Kami tertawa tidak karuan. Pak Odi hanya memandang ledakan ringan dari radio
tersebut. Beliau pasti menekan emosinya pada kami.

“PAPAY!” seru beliau.

Tentu saja, kami kabur.

Selain aktif dalam pramuka, aku juga aktif di kantin. Surga jajanan itu selalu
menjadi tempat favoritku di sekolah. Kemudian, tempat parkiran. Entah alasannya apa,
aku semangat mendorong-dorong mobil kepala sekolah Pak Suhanda. Kehidupanku di
SMPN 1 Majalengka memang penuh kesenangan, termasuk agenda touring.

Sebagai laki-laki pencinta alam yang suka perjalanan, aku pernah dibonceng oleh
Iwan Gunawan dengan sepeda tipe BMX. Dengan penuh kenekatan, kami pergi ke
Bioskop Galaksi.

“Hayang nonton film, Pay?” tanya Iwan.

“Mbung, ah,” jawabku sambil meregangkan badan. Bokongku terasa kebas setelah
menempuh perjalanan panjang dari Majalengka.

“Ya udah, meuli es campur wae, ya.” Iwan sudah berjalan meninggalkanku
beberapa langkah.

Setelah menempuh puluhan kilometer dari Majalengka, kami memutuskan untuk
menikmati es campur dalam hiruk pikuk Cirebon. Mungkin bagi sebagian orang,
perjalanan kami sia-sia. Namun, kami menyukai prosesnya. Kami menyukai setiap tawa
dan lelah yang mengiringi tiap gowesan sepeda. Perjalanan tersebut memberikanku
inspirasi untuk mengajak teman-teman yang lain.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

57

Kelas tiga, aku mengadakan touring Pangandarang – Bandung – Majalengka
bersama sejumlah teman, di antaranya Sony, Aang, Ndang, dan Sudiana. Kemudian,
karena keempat teman tersebut masih sering berkumpul sampai SMA, kami kembali
mengadakan touring dengan rute Majalengka – Bali. Terlihat keras sepertinya untuk
remaja. Akan tetapi, perjalanan tersebut memberikan banyak pengalaman bagiku, di
antaranya belajar memahami sifat orang melalui organisasi. Siapa sangka kalau
pengalaman tersebut menjadi langkah belia untuk menjejaki dunia politik nanti.

Kendati dikenal sebagai anak nakal, aku juga dikenal sebagai anak untung,
bahkan anak sakti. Kata orang, aku bisa mengikuti kegiatan atau keanggotaan yang
dianggap sukar seleksinya. Ketika remaja, aku beruntung menjadi siswa SMPN 1
Majalengka dan peserta Jambore Nasional. Ketika dewasa, aku beruntung menjadi ketua
Partai Bulan Bintang. Pencapaianku sebagai ketua tidak pernah terlepas dari apa yang
kutabung sejak dini. Karena aktif berpikir dan bergerak, aku mengikuti sejumlah
organisasi. Aku turut mendirikan Forum Pencinta Alam Majalengka yang diikuti oleh
berbagai anggota dari tiap-tiap kecamatan asal Majalengka, Cirebon, dan Kuningan.

Namun, karierku sebagai pelaku organisasi sempat terhenti selama lima tahun
karena sakit. Sebisa mungkin, aku menghindari pikiran yang terlalu berat, seperti
perhitungan. Aku harus istirahat total.

Seiring bertambahnya usia, pemahamanku tentang kehidupan perlahan berubah,
terutama karena Bapak sering mendatangkan tokoh agama untuk memberikanku
kultum–kuliah tujuh puluh menit. Berkat Bapak, aku mengenal Islam lebih dalam dari
beberapa tokoh agama, di antaranya Kyai Wanta, Ustaz Maskum, dan Kyai Onto. Ide-
ide liar dalam benakku tidak berhenti, tetapi lebih terkendali karena ada pertimbangan
ilmu dan agama yang harus dipikirkan supaya menjadi aksi nyata yang bermanfaat bagi
diri sendiri dan orang lain.

Kenangan-kenangan manis di SMPN 1 Majalengka tak akan pernah terlupakan.
Aku punya banyak teman yang memiliki solidaritas tinggi. Beberapa teman juga awet
bersamaku di SD, SMP, dan SMA, yakni Iwan Gunawan dan Nur Febrianti. Aku

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

58

bersahabat dengan Hendra, Endang, Dudi, Deni Yulian, Aang, dan masih banyak lagi.
Tak lengkap rasanya jika tidak menyebut musuhku, yaitu Wawan Hernawan. Meskipun
demikian, seluruh pengalaman di SMPN 1 Majalengka merupakan bekal kehidupanku.
Aku tidak menyesal telah berlaku jahil atau dendam. Namun, aku mohon maaf karena
telah menyakiti korban-korban kenakalanku, termasuk guru-guru di sekolah. Aku yakin,
SMPN 1 Majalengka mampu mempertahankan kredibilitas sebagai sekolah terfavorit.

Oleh karena itu, dibutuhkan fasilitas mumpuni yang menunjang seluruh kegiatan
siswa. Promosi yang digencarkan oleh sekolah dan alumni turut membantu
meningkatkan keterkenalan SMPN 1 Majalengka. Menurutku, banyak orang tua yang
memmercayakan buah hatinya pada sekolah berbasis agama. Alangkah baiknya jika nilai
keagamaan dan karakter anak diterapkan di SMPN 1 Majalengka dengan mode Islam
Terpadu yang lebih maju. Dengan demikian, anak tidak hanya dibekali oleh beragam
ilmu pengetahuan, tetapi juga ilmu agama.

Selain SMPN 1 Majalengka, aku juga percaya bahwa Majalengka sudah
menunjukkan kemajuan yang signifikan. Majalengka tidak akan pernah menjadi kota
yang pensiun. Majalengka perlu bertahan dari ancaman penjajahan modern, yakni
pengembangan Majalengka yang dilakukan oleh tangan-tangan luar, bukan dari rakyat
Majalengka sendiri. Tentunya, sebagai orang Majalengka asli, kota sejuta kenangan ini
wajib dipertahankan.

Walaupun memiliki bongkahan emas pengalaman yang tidak ternilai harganya
sejak kecil, aku ingin meneruskan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dengan berbuat
baik pada alam sekitar beserta isinya sebagai wujud syukur atas kebesaran Allah SWT.
“Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kalau misalnya ada, tentu bukan saya. Akan tetapi, Allah
Yang Maha Esa.”

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

59

Kisah Kasih Putih Biru 11:

Ekskul dan Eksis

Ella Nurlaela

ilustrasi sepasang kekasih naik motor dengan rintik hujan

SMP 1 Majalengka adalah pabrik para siswa sukses. Salah satu produknya adalah aku.

Laris pisan malah! Keluargaku tak ragu untuk mendaftarkan aku ke sekolah negeri
ternama itu. Namun, dengan keaktifanku yang tinggi, aku mengutamakan butiran
pengalaman hidup sebagai prestasi di SMP 1 Majalengka. Ibu dan ayah selalu menyorak
semangat yang membara ke dalam nadiku. Saking panasnya, aku pun tak punya pilihan
untuk menjadi anak yang aktif di SMP 1 Majalengka. “Kamu pasti bisa, kamu luar biasa!”

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

60

Kata-kata itu menyembul dari hatiku. Sekilas, gedung SMP 1 Majalengka tidak
terlihat seperti sekolah mewah yang ada di Jakarta atau di luar negeri. Namun, bagiku,
pada zamannya, fasilitas dari SMP 1 Majalengka itu lebih dari mewah. Fasilitasnya
adalah sesuatu yang ajaib. Adapun berbagai macam ekstrakurikuler memenuhi harinya
tiap-tiap siswa. Kelas 1B adalah tempatku mengais ilmu dan bertemu dengan kawan-
kawan baru. Hanya beberapa wajah terlihat familier bagiku.

Awalnya, rasa gugup cenat-cenut hanya menjamur di benak kepala dan perut.
Setiap aku ingin mengucapkan kata “Hallo!”, lidahku tiba-tiba menjadi sembelit seperti
ulat. Bibir pun menjadi pecah-pecah. Terkadang, ada rasa cemburu timbul ketika aku
mendengar kelompok orang sedang bercanda bersama.

“Aku teh jatuh dari tangga dan lalu ketabrak Pak Ming, hahahahah!” kata Yuli
dengan nada kesakitan.

“Sakitan Pak Ming atau tangganya?” tanya Eka sambil makan cilok

“Pak Ming lah!!” jawab Yuli sambil tertawa ngakak.

“Tangan Pak Ming mah lebih sakit dari kaki kelindas ban motor!” komentar Eka

“Hahahahahahah!” Mereka pun tertawa bersama. Bahagia sekali. Tanpa beban.

Saling memukul pundak sebagai simbol pertemanan. Semenjak pemandangan
katarsis tersebut, aku pun gigih untuk menjalin pertemanan melalui ekstrakurikuler.

Aku rampas semua ekstrakurikuler: Pramuka, PMR, dan PKS. Sebagai anak
perempuan, kegiatan yang elegan biasanya dilihat lebih patut oleh segenap masyarakat.
Sayangnya, aku bukan anak perempuan pada umumnya. Aku tidak melihat diriku
sebagai gadis tomboy, tetapi juga bukan seorang cewek lemah dan lembut bagaikan
bidadari. Aku suka berlari, bergerak, dan beraksi setiap harinya. Lagi pula, siapa yang
ingin berenang di kehidupan yang serba sunyi? Tentunya, bukan aku! Aku ingin terbang
seperti Garuda.

Sebagai anggota Pramuka Garuda, ini adalah kesempatanku untuk berbeda dari
murid lainnya. Bersama kawan-kawan baikku seperti Yuli dan Eka, kulit kami selalu
basah. Manifestasi dari menjemur di bawah sinar matahari ataupun di samping percikan
api unggun. Bulu-bulu tali putih terurai saat merangkit tombak kami. Muka kusam
berminyak. Ingus hidung terkadang menetes ke tanah karena kami harus berdiri tegak

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

61

bagaikan patung. Kalau bergerak, kami akan menerima konsekuensi yang fatal. Tekanan
seperti inilah membuatku semangat di SMP 1 Majalengka.

“Sudah capek!!” tanya Pak Tata, pembina Pramuka.

“Belum, Pak!” jawabku tegas.

“Sudah siap tidak!!” tanya pria berkumis rata itu.

“Siap Pak!” jawabku lebih keras lagi.

“Siaaaaaaaapppp Grakkkk!!”

Pramuka Garuda SMP 1 Majalengka bukan hanya sekadar tim inti untuk keseruan
para anggotanya, melainkan juga tim mewakili kabupaten di Jamnas Cibubur. Kendati
tidak menang setiap penghargaannya, kami tetap menjalani kegiatan lomba dengan
sepenuh jiwa.

“SMP apa yang terbaik?????!” tanya Pak Suhanda, Kepala Sekolah SMPN 1
Majalengka yang tampak selalu berwibawa.

“SMP 1 Majalengka!!!” jawab semua murid serentak.

“Kurang kenceng suaranya!!! pinta pria tampan itu.

“SMP 1 Majalengka!!!!! jawab semua siswa dengan volume suara level tertinggi.

Walaupun sebagai anggota pramuka inti yang berani, ada satu guru yang paling
menakutkan, menyeramkan, dan menyebalkan. Aku tak punya guru favorit, tetapi aku
ingat guru yang paling tidak favorit, yakni Pak Ming di Kelas 2D. Nada suara Pak Ming
selalu mengejutkan para muridnya. Jantung terasa sudah mau copot ketika ia masuk ke
kelas. Setiap beliau mengajar, ludahnya muncrat dan cipratannya terlihat dengan jernih.
Karena lelah dari latihan pramuka, mataku terkadang memiliki kecanduan untuk
tertutup. Namun, sangking takutnya diriku, mataku selalu melotot ke depan agar tetap
terbuka.

“Ella, jangan tidur!!” bentak Pak Ming mengagetkanku.

“I-ya Pak!” jawabku tegar.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

62

“Tidur wae kerjaanna!” tuduh pria galak itu.

“Kemarin latihan Pramuka Pak, jadi agak capek akunya teh!” belaku pada diriku
sendiri.

“Banyak alesan!” Guru tinggi besar itu pun berlalu dari bangkuku. Legaaaa!

Selain ucapannya yang nyelekit, Pak Ming adalah guru yang menyeramkan
karena beliau main fisik. Kuping kawanku pun pernah dijewer hingga melar. Meja guru
pun memar badannya karena sering sekali dihantam oleh Pak Ming dengan sangat kuat.
Kakinya pun sering bergetar sama seperti hati kami saat diajar oleh beliau.

“Kalau saya sedang menjelaskan, kalian dengerin!!” pinta Pak Ming sambil
pegang penggaris kayu.

“Siap Pak!!” jawab semua murid sambil ketakutan.

“Jangan siap-siap wae! Lakukan!” pintanya lagi.

Apapun yang terjadi dengan semua itu, meskipun terkenal galak, kami tetap
menghormati, menghargai, dan mengagumi beliau sebagai sosok guru yang tegas dan
selalu membuat kami disiplin. Kami sadar niat beliau pasti baik, ingin melihat kami
menjadi generasi penerus yang tidak cengeng.

Namun, tidak semua pengalaman di SMP 1 Majalengka adalah pengalaman yang
mencengkramkan. Hidup pada masa SMP adalah pengalaman yang penuh pertemanan,
permusuhan, dan tentunya percintaan. Rasa cinta ke lawan jenis tercipta pada masa SMP.
Bersama teman-teman, aku sering jajan di Warung Jambu setelah sekolah.

Naik motor bersama lawan jenis saat sedang hujan deras. Atmosfer pun menjadi
mesra. Walaupun kawan cewekku yang lain menyebutku sebagai jiwa preman,
kehadiran cowok ganteng akan mampu meluluhkan hatiku yang agak kuat bagaikan besi
dan baja. Bahkan, meskipun ada banyak nama Ela di sekolahku, hanya satu Ela yang
membedakan dengan Ela lainnya: namaku sangat dikenal dengan Ela Memen.

“Kamu teh kebasahan, sini pakai jaketku!” ucap A Memen sambil menatap
khawatir kepadaku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

63

“Makasih ya A, hehehe…!” aku tersipu malu sekaligus bangga pada
perhatiannya.

“Sama-sama!” jawabnya sambil kedua tangannya menghapus lembut titik-tik air
hujan yang membasahi mataku.

Aiiih, rasanya ingin aku kembali ke masa-masa itu. Masa yang indah, kisah kasih
putih biru di SMPN 1 Majalengka.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

64

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

65

Kisah Kasih Putih Biru 12:

Bunga yang Mekar
di Daratan Majalengka

Eni Sukaeni

ilustrasi Kepala Sekolah di TK Fajar Indah sedang berada di antara murid-muridnya

Shh… shh …

Pepohonan yang rindang sedang mempertunjukkan suatu tarian alam yang
menawan. Gemersik milik manik-manik hijaunya merangkai sebuah surat kasih
yang bergelayutan dengan manja di dekapan udara siang hari. Suara obrolan

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

66

milik segerombolan siswa yang sedang berolahraga mengalun secara samar-
samar, menemani deru semilir angin hangat yang berhulu hilir mengitari wilayah
perpustakaan yang dipenuhi dengan beragam kekayaan alam. Berbagai macam
jenis flora dan fauna hidup berdampingan dengan harmonis, menciptakan sebuah
simfoni yang merdu untuk diamati.

Rak demi rak memperlihatkan deretan buku dengan beragam genre. Tiap-
tiap lembaran buku dilapisi dengan aroma kekayuan yang khas, kehadirannya
berangsur-angsur meruak ke seluruh penjuru ruangan dan mewarnai udara siang
hari dengan nuansa yang lembut. Dengan halus kuelus buku yang kini sedang
berada di dalam cengkeramanku, perlahan-lahan menyapu setiap kata yang
tertera pada tiap halaman buku tersebut dengan kedua mataku. Aku
menggunakan salah satu tangan untuk menopang daguku sambil mengayun-
ayunkan kedua kakiku yang tersembunyi di bawah meja kayu perpustakaan,
membaca dan memproses isi buku di hadapanku dengan serius.

“Heh, kamu teh Eni? Eni Sukaeni?” seru seseorang dari pintu masuk
perpustakaan dengan cukup keras.

Ketenangan yang tadinya mendekap atmosfer perpustakaan dengan
lembut seketika lenyap begitu saja.

Bug…!
Teriakan yang menyambut indra pendengaranku secara mendadak
tersebut memecah keheningan perpustakaan dengan kedatangan yang cukup
brutal. Aku yang sudah lumayan lama larut dalam kesunyian perpustakaan
secara insting dilanda dengan rasa kaget sehingga tidak sengaja membentur
lututku ke bagian bawah meja.
“Stt… Aduh!” ringisku dengan pelan sambil mengusap bagian kaki yang
baru saja terbentur meja. Ketika rasa sakit telah kunjung mereda, aku menengok
ke arah pintu masuk perpustakaan dan melihat sosok seorang murid perempuan
dengan raut wajah yang masam.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

67

“Hooh, aku teh Eni. Ari kamu saha?” tanyaku dengan ekspresi bingung.
Seingatku, orang tersebut merupakan murid kelas sebelah yang tidak pernah
berinteraksi denganku sebelumnya. Oleh karena itu, tidak heran jika aku merasa
sangat bingung atas panggilannya yang mengekspresikan rasa kesal.

“Eh, ceunah kamu teh nempokeun bae, sae kitu?”
“Ha?”
“Iya, ceunah kamu mindeng nempokeun teman-teman geulis di kelas! Sae
kitu?”
Jleb.
Saat mendengar ucapan tersebut, aku serasa ditampar oleh realita dan
dikhianati oleh dunia. Selama menempuh pendidikan SMP di SMP 1 Majalengka,
aku memang tipikal pelajar yang pendiam dan tidak banyak bergaul. Kondisi
keluargaku yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata ‘harmonis’ membuatku
selalu didampingi dengan perasaan malu dan minder sehingga aku seringkali
terdorong untuk menghindari berbagai macam interaksi sosial, termasuk berbaur
dengan teman-teman sekelasku.
Waktu istirahat yang seharusnya penuh dengan canda tawa biasanya aku
habiskan sendiri. Karena harus membantu orang tua membuat dagangan
raginang yang akan dijual esok hari dari tengah malam hingga subuh, aku juga
seringkali ditemukan sedang tidak sengaja memenuhi kebutuhan tidurku selama
kelas berlangsung. Mulai dari mencetak dagangan raginang, mencuci berbagai
macam peralatan yang telah menjadi kotor setelah pemakaian, sampai mengisi
bak dari sumur dengan kedalaman mencapai 17 meter; semuanya telah menjadi
rutinitas keseharianku.
Maka dari itu, aku menjadi terbiasa memilih untuk mengobservasi dan
mengamati hal-hal yang hadir di sekitarku, termasuk para siswa SMP 1
Majalengka. Diriku yang terbiasa mengamati penampilan orang lain secara diam-
diam membuatku memiliki kecenderungan untuk membandingkan kemampuan
diri sendiri dengan orang lain. Terkadang, saking terobsesinya dengan
penampilan orang lain, aku tidak sadar bahwa aku telah membuat subjek yang

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

68

kupandang merasa risih. Mengingat usiaku yang masih sangat muda pada saat
itu, ucapan yang berlimpah dengan ketajaman realita tersebut memiliki efek yang
sangat kuat.

Kini, aku sudah memegang peran sebagai Kepala Sekolah di TK Fajar
Indah. Meskipun selama masa SMP situasi tidak memungkinkanku untuk
memperoleh prestasi akademik apapun, aku akhirnya mampu meraih NEM yang
cukup untuk masuk ke SPG PGRI (Sekolah Pendidikan Guru Persatuan Guru
Republik Indonesia) dan memulai perjalanan panjang yang akan merealisasikan
cita-citaku menjadi seorang guru. Setelah melakukan bakti selama 17 tahun di
beberapa sekolah, aku diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Selama bekerja sebagai guru non-PNS, aku sering mengikuti berbagai
macam lomba, seperti lomba bercerita, menggambar, dan cerita gambar berseri
sehingga akhirnya berhasil meraih banyak sekali prestasi. Baik di tingkat
kabupaten maupun provinsi, aku sering diutuskan oleh kecamatan untuk
berpartisipasi dalam lomba-lomba tersebut. Pada 2005, aku berhasil menempati
peringkat pertama di tingkat kabupaten dalam lomba bercerita sehingga
memberiku kesempatan untuk lanjut ke tahap selanjutnya. Akhirnya, di tingkat
provinsi, aku mendapatkan juara harapan 1.

Waktu yang kuhabiskan berkiprah di dunia pendidikan telah
mengajarkanku bahwa semua hal akan indah pada waktunya. Seperti bibit-bibit
yang tertanam di sebuah lahan yang gersang, perlahan-lahan lahan tersebut akan
menjelma menjadi sebuah lautan hijau yang terhias dengan berbagai macam
bunga yang bermekaran. Terus bersabar, bersyukur, dan bekerja keraslah untuk
mengembangkan potensi diri dan menjadi seseorang dengan berbagai macam
kemampuan yang patut untuk dibanggakan.

Eni kecil, apakah kau tahu? Kau akan menjadi seseorang yang hebat.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

69

Kisah Kasih Putih Biru 13:

Golongan Manusia Pertama

Fachri Fajar Muharom

Kepala yang kliyengan mengaburkan pikiranku saat sedang belajar di malam hari.

Tiba-tiba, ibu datang untuk menyajikan teh hangat manis yang pekat warnanya, terlihat
dari gelas yang transparan. Kuletakkan secangkir teh itu di sebelah buku PPKN. Bisikan
suara radio malam terdengar dari teras depan. Mungkin, ayahku sedang mendengar
radio sambil minum kopi hitam pahit karena itulah rutinitasnya. Larut dalam

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

70

lamunanku, aku mulai menguap dan mulut terbuka lebar hingga menyerupai huruf ‘o.’
Bulan purnama mengintip dari jendela kaca kamarku yang penuh debu. Lampuku mulai
memancarkan warna yang remang-remang dan membiusku tidur dalam sekejap mata.

Tok tok, tok tok.
“Nak, bangun Nak, waktunya sekolah,” seru ibuku sambil mengocok telur untuk
membuat telur dadar goreng, yakni sarapan rutinku pada pagi hari.
“Iya, Bu, tunggu, dikit lagi aku keluar,” jawabku kepada Ibu.
Tiba-tiba, terlintas dalam pikiranku, aku lupa untuk menunaikan ibadah salat
subuh, sangking lelahnya tubuhku tadi malam. Namun, waktu tak bisa diajak untuk
mundur. Dengan sigap, langsung kuguyur badanku dengan air dan pakai sabun batang
berwarna merah muda agar wangi. Tanganku bergetar saat memasang kancing dan
rambutku berantakan. Tak hanya itu, ujung seragam dasiku nyemplung ke dalam teh
hangat yang dibuat oleh ibu.
“Nak, sini kamu, berantakan banget rambut kamu sini!” ajak ibuku.
“Ih, bu, aku tuh udah gede, aku bisa nyisir sendiri,” jawabku kepada ibu dengan
nada yang galak.
“Eh, Ri, dengerin Ibu kamu!” ujar ayahku dengan volume yang lebih besar sambil
membaca korannya di teras rumah.
Ayahku adalah sosok yang tegas, tangguh, dan taat pada prinsipnya. Ia sangat
jujur sehingga kata-katanya terkadang memang bisa setajam silet. Namun, karena
hatinya murni, aku pun selalu mematuhi setiap perintah darinya tanpa pengecualian.
Ikatan kami ini adalah manifestasi dari kehormatanku kepadanya. Beberapa kepribadian
yang ayah adopsi ingin aku terapkan juga di ranah sekolahku.
Aku mengambil tasku yang berat dan langsung bergegas ke sekolah tercintaku,
yakni SMP 1 Majalengka. Tempatku berteduh, bersosialisasi, dan belajar. Biasanya, aku
ke bagian paling belakang untuk melihat pemandangan di luar seperti burung-burung
terbang milik tetangga. Kebetulan sekolahku berbatasan dengan rumah-rumah tetangga.
Wah…aku merasa lega dan bebas. Angin pagi juga mengecup wajahku sambil aku
mendengar suara teman-temanku yang sedang mengajakku untuk ke kelas. Namun, aku
sudah merasa nyaman dan jujur, lumayan malas untuk masuk ke kelas.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

71

Kring kring. Bel yang berdering menandakan bahwa sekolah sudah mulai.
Untungnya, mata pelajaran pertamaku itu adalah mata pelajaran bersama Pak Tata
Sasmita.

Pak Tata Sasmita adalah guru yang paling berkesan bagiku karena semangatnya
yang tak pernah padam. Apalagi, pada pagi hari, aku biasanya masih sangat mengantuk
sehingga guru yang penuh energi seperti Pak Sasmita bagaikan suplemen energiku di
pagi hari. Mataku seakan-akan sedang melotot ke papan tulis saat beliau mengajar.
Bukan hanya sebagai guru, melainkan juga sebagai pelatih pramuka di lapangan.
Matahari terik tentunya menembus kulit dan keringat bercucuran dari kepala hingga
dagu. Rambutku yang sudah aku keramasi pada pagi hari pun menjadi minyakan dan
lengket. Kendati demikian, karena semangatnya Pak Sasmita, aku dan teman-teman
kerap hiraukan perihal lainnya. Debu-debu yang masuk ke dalam retina mata pun tak
akan menurunkan semangat kami.

Bicara soal inspirasi, Pak Umu Mu’minullah adalah guru yang paling
menginspirasi. Beliau tidak hanya menjadi pendidik di sekolah, tetapi juga di masyarakat
menjadi tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati. Pak Umu adalah figur yang
sungguh kompeten dan cerdas. Cara ia berbincang pun penuh dengan kebijaksanaan. Ia
memiliki aura yang mampu menggaet perhatian segenap muridnya. Banyak guru bisa
mengajar muridnya dengan intelektual sebesar galaksi. Akan tetap, hanya beberapa guru
bisa menyentuh lubuk hati para muridnya. Ini pun sungguh bermanfaat bagi murid yang
terkadang harus didorong secara mental.

Maka dari itu, dalam kehidupan ini yang singkat, aku pernah mendapat sebuah
keterangan bahwa manusia ini di masyarakat dibagi menjadi tiga golongan. Golongan
manusia yang pertama adalah insan yang berusaha menjadi bermanfaat bagi
masyarakat. Yang kedua adalah golongan manusia yang tidak berusaha, tetapi juga tidak
merusak masyarakatnya. Yang ketiga manusia yang merusak masyarakat dan alam
sekitarnya. Dalam hal ini aku memilih berjuang untuk menjadi golongan yang pertama,
yaitu sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi masyarakatnya.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

72

Alhasil, aku berkecimpung dalam dunia organisasi di SMP 1 Majalengka agar bisa
mengultivasi kepribadian yang bermanfaat demi, baik komunitas SMP maupun
masyarakat sekitar. Oleh karena itu, aku menjadi salah satu pengurus OSIS di SMP 1
Majalengka. Saya banyak belajar dari kegiatan berorganisasi, banyak bergaul dengan
teman-teman Pengurus OSIS yang lain. Ruangan OSIS pun merupakan tempat favoritku.
Tempat para pelajar handal berkumpul. Sebuah sentra yang mengolaborasikan variasi
ide dari orang-orang yang berbeda. Sebuah rumah kedua bagiku untuk mencurahkan
suara hati kepada kawan-kawanku saat jam sekolah usai.

Namun, aku kurang berani untuk keluar dari zona nyaman. Pesimisme akan
melakukan kegiatan yang lebih ekstrim sungguh melekat dalam benak pikiranku.
Kegiatan ekstrakurikuler lainnya seperti pramuka, olah raga atau kesenian adalah
sesuatu yang kupandang sebagai kegiatan yang menantang. Tulang-tulang punggungku
pun tak terlatih untuk beraktivitas secara gesit jika hanya melakukan kegiatan OSIS. OSIS
condong hanya sekadar mengurus, mengurus, dan mengurus.

Alhasil, tidak terkejut pula bahwa aku pun sekarang menjadi pemilik atau
pengusaha warung kelontongan di kampung halamanku, Majalengka. Aku pun sudah
dikenal sebagai pemilik warung kelontongan dan bahkan sudah memiliki pelanggan
tetap setiap harinya. Saat ini aku juga mulai menekuni usaha jasa layanan pengiriman
Paket dan Dokumen SMLogistic, sebuah anak perusahaan sebuah organisasi
kemasyarakatan. Tak hanya itu, buku PPKN yang aku tiduri adalah ramalan bahwa aku
akan berkecimpung di dunia politik karena aku pun dipercaya menjadi sekretaris di
sebuah organisasi kemasyarakatan, dan menjadi Ketua RT. Duniaku memang tidak
megah seperti rakyat kelas pertama, tetapi pengabdianku kepada masyarakat
membuatku manusia golongan pertama.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

73

Kisah Kasih Putih Biru 14:

Bekerja dan Bermain dengan Keras

Hendra Indra Gunawan

Cittttt…

Bunyi decit yang timbul akibat tergeseknya roda kendaraan dengan jalanan aspal di
bawahnya mendekap indra pendengaranku. Mobil mewah yang terparkir di depan pos
pengisian bensin yang kujaga bergeming sejenak. Tak lama, seorang wanita paruh baya

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

74

mengeluarkan dirinya dari jok pengemudi. Busana formal yang sedang dikenakan
olehnya menunjukkan dengan jelas bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang setelah
seharian bergelut di tempat kerjanya.

“Selamat sore, Bu,” sapaku dengan ramah. “Mau isi berapa?”
“Mau isi 300 dong, Mas. Pakai debit bisa ‘kan?” jawabnya sambil memberikan
senyum sosial yang tersisa hari itu.
“Baik, Bu. Iya, pakai debit bisa kok, Bu,” jawabku sambil membalas senyumnya.
Kali ini yang kuberikan bukan lagi senyum sosial, melainkan senyum tulus dariku
sebagai wujud rasa terima kasih dan syukur kepada pelanggan.
Setelah menerima kartu debit yang dijulurkan ke arahku, dengan luwes pegawai
lain menjalankan prosedur pengisian bensin. Mulai dari memosisikan selang yang
terhubung dengan dispenser Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) ke dalam
tangki kendaraan, menginput jumlah biaya yang telah dibayar oleh pelanggan ke dalam
mesin, sampai mengembalikan selang ke tempat semulanya dan menutup tangki mobil
hingga bunyi krek ketika proses pengisian bensin sudah selesai.
“Pengisiannya sudah selesai, Bu,” ucapku kepada wanita paruh baya tersebut
ketika proses pengisian bensin telah berakhir.
“Oh, iya. Makasih ya, Mas.” jawabnya sambil tersenyum tipis.
“Mari, Bu. Terima kasih kembali.”

Nuansa jingga milik matahari menjelang senja melukis awan-awan di sekitarnya
dengan kelembutan yang merona. Gempar-gempita yang tepercik oleh kehadiran
mentari fajar berangsur-angsur memudar, cakrawala yang bersilih ganti dengan gigih
mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan malam hari. Ada sebuah keletihan
familier yang melekat pada ragaku. Menjadi bagian dari Tenaga Kerja Jasa Penunjang
(TKJP) yang dipekerjakan di Pertamina cabang region 7, aset Jatibarang, area Cemara
bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Dengan terteranya label nama “Hendra Indra
Gunawan” di sisi kiri dada seragam kerjaku, keseharian yang dipenuhi dengan aktivitas
melayani pelanggan dari berbagai macam kalangan dirasakan olehku yang pada saat itu

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

75

baru menyelesaikan perguruan tinggi Politeknik jurusan teknik mesin di Universitas
Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kini, meskipun masih berkecimpung di industri minyak bumi dan gas (migas),
aku sudah bekerja sebagai bagian dari tim produksi. Satu tahun sempat aku lalui menjadi
operator sumur, tetapi akhirnya pihak kantor mengarahkanku untuk mempelajari
perihal seputar anggaran, baik anggaran biaya investasi maupun operasi, arsiparis, dan
aset sehingga sekarang aku akhirnya menjadi bagian dari divisi akuntansi migas.
Berdasarkan pengalaman, aku perlahan-lahan belajar bahwa ilmu sekaligus praktik
industri migas yang dibutuhkan di lapangan sangatlah berbeda dengan apa yang terurai
secara teori dalam buku-buku edukasi. Fenomena tersebut akhirnya mendorongku
untuk menulis sebuah esai yang menjelaskan mengenai bagaimana protecting fluid atau
fenomena kavitasi sangat merugikan dalam proses transportasi migas sebagai wujud
kontribusiku dalam lomba sumbang saran (SS) yang pada saat itu sedang diadakan oleh
perusahaanku.

Selain seputar industri migas dan teknologi mesin, aku juga sering membaca buku
lainnya untuk memperluas wawasanku. Karena sedari dulu sosok Ir. Soekarno sudah
menjadi sumber inspirasiku, aku akhirnya bertekad untuk mulai membaca buku dan
mengamati karya yang memaparkan perjalanan hidup sekaligus pemikiran beliau ketika
menduduki bangku SMA kelas 2. Mulai dari membaca buku berjudul Di Bawah Bendera
Revolusi, sampai mengedukasi diri terhadap berbagai macam karya seni yang
mengabadikan riwayat hidup Ir. Soekarno secara lebih mendalam. Terlebih dari itu,
karena ketertarikanku terhadap ilmu psikologi, aku juga banyak membaca karya-karya
Dr. Zakiah Daradjat, terutama buku yang berjudul Ilmu Jiwa Agama.

Sebenarnya, selama menduduki bangku sekolah, aku tidak begitu memedulikan
perihal akademis dan jauh lebih tertarik dengan kehidupan bermasyarakat, seperti
berkiprah di berbagai macam organisasi dan berpartisipasi dalam kegiatan pramuka.
Terlebih dari itu, aku juga merupakan murid yang cukup nakal dan pernah beberapa kali
masuk ruangan bimbingan konseling (BK). Akan tetapi, sekarang aku telah menyadari
bahwa pada hakikatnya, prestasi akademis akan berperan sebagai tiket premiumku

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

76

untuk masuk ke dalam berbagai macam komunitas yang hadir di kalangan masyarakat.
Meskipun memang pengalaman yang didapatkan selama berorganisasi akan jauh lebih
bermanfaat di dunia kerja, aku akan tetap menjadikan perkembangan dari nilai
akademisku sebagai prioritas utama jika aku diberi kesempatan untuk kembali ke masa
itu.

“Hendra Indra Gunawan, 5!”
Aku masih mengingat betul bagaimana guru Matematikaku mengumumkan nilai
ujian tengah semesterku secara lantang kepada seluruh insan di kelas 1G. Pada saat itu,
aku baru saja menyelesaikan UTS pertamaku selama mengenyam pendidikan di SMP 1
Majalengka yang di kala tersebut terkenal karena julukannya sebagai SMP favorit.
Karena tidak memandang prestasi akademik sebagai sesuatu yang krusial, aku
menerima hasil tersebut dengan sikap yang acuh tak acuh. Namun, di luar dugaan,
ternyata pemikiranku yang seperti itu memengaruhi orang-orang di sekitarku.

“Oi, ulin yu ah!” ucapku dengan lantang sambil berdiri di depan gerbang rumah
milik temanku.

Saat itu, cakrawala senja terlukis dengan berbagai macam nuansa merah dan
jingga. Semilir angin sore hari merangkul raga para insan-insan duniawi dengan lembut,
menghasilkan suara gemersik dedaunan untuk meramaikan suasana menjelang magrib.
Setelah beberapa menit, gerbang yang memisahkan wilayah rumah temanku dengan
jalanan di depannya akhirnya terbuka sedikit, memperlihatkan paras milik kakak
temanku yang seketika memasam ketika melihat kehadiranku.

“Oh, ternyata kamu, toh!” serunya.
“Iyo, Kang. sudah kenal abdi??”
Pertanyaanku tersebut sukses membuat kakak temanku menampilkan raut wajah
kesal. Di sela menunggu jawaban kakak temanku, aku mencoba mengira-ngira alasan di
balik kekesalannya tersebut, tetapi tetap tidak menemukan jawabannya.
“Maneh tong ngedeketin adik aing, adik aing jadi rusak.”

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

77

Ketika mendengar pernyataan tersebut, aku seketika merasa seakan-akan
terdapat sesuatu yang sedang mencekik tenggorokanku. Berbagai macam pertanyaan
‘kenapa?’ dengan simpang siur mengisi benakku. Ternyata, karena sikapku yang selalu
mengabaikan nilai akademis, temanku ikut terpengaruh dan akhirnya juga mendapatkan
nilai 5 di pelajaran Matematika. Ucapan yang tajam tersebut bagaikan sebuah tamparan
yang berhasil membangunkanku dari sebuah lamunan yang berkepanjangan. Sejak itu,
aku mulai mengedepankan nilai akademisku. Meskipun tetap bermain, aku selalu
berusaha untuk merevisi segala materi yang telah diajarkan sepulang dari sekolah.
Berkat konsistensi dan kegigihanku dalam mengganti pola belajar dan bermain, nilai
matematika yang tadinya 5 meningkat menjadi 8. Alhamdulillaah.

Sering main boleh, asal belajarnya juga jalan, pikirku setiap kali mengenang momen-
momen berharga di masa lalu.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

78

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

79

Kisah Kasih Putih Biru 15:

Berjuang dalam Diam

Muhammad Hilman D. F.

ilustrasi seorang siswa memegang piala juara kelas

Sindrom hari Senin berhasil menaklukkan ragaku.

Rasa malas menghinggapi rongga-rongga tulang rusukku tanpa kenal ampun,
mempercepat pertumbuhan parasit keletihan pada setiap kantong udara yang hadir
dalam paru-paruku. Kedua bahuku memikul beban yang seakan-akan terasa lebih berat
dari hari sebelumnya, menyelimuti benakku dengan kabut hampa yang berhasil
mengaburkan makna dari segala macam pikiran yang terlintas. Air mata kantuk melapisi

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

80

kedua mataku dengan gigih, membuyarkan sosok dari setiap hal yang jatuh di hadapan
kedua indra penglihatanku.

Cuaca pagi hari yang mendung merangkul insan-insan duniawi dengan sebuah
dekapan yang menghanyutkan, perlahan-lahan menutup setiap kelopak mata yang
berusaha keras untuk tetap berada dalam kondisi terbuka. Semilir angin berhembus
dengan sikap yang jail, seolah-olah mengejek para penghuni Bumi mengenai bagaimana
alam semesta juga mendukung misi tersebut. Awan-awan bergulir seperti permen kapas
yang terlukis dengan berbagai macam nuansa kelabu, memicu keinginan setiap orang
untuk berdiam diri di dalam rumahnya masing-masing dan memuaskan rasa kantuk di
bawah naungan selimut yang lembut nan hangat.

Sepertinya setiap pelajar tak lagi asing dengan yang namanya sindrom hari Senin.
Banyak murid SMP 1 Majalengka dari berbagai macam kalangan juga terlihat murung,
hiruk-pikuk yang biasanya menggema ke seluruh penjuru gedung sekolah dengan
lantang terkesan lebih lemah lembut.

“Den, Deden!” panggil teman dekatku, Estu, dengan semangat.
Ketika memijak satu langkah dalam ruang kelas 2A, aku seketika disambut
dengan panggilan teman dekatku yang semangat. Sikapnya tersebut membuatku
terheran-heran, sampai-sampai aku coba mengingat-ingat dengan keras mengenai suatu
hal menyenangkan yang biasanya terjadi di hari Senin.
“Kesambet apa kamu? Kok semangat banget?” tanyaku dengan wajah yang pura-
pura khawatir.
Estu hanya memutar bola matanya sambil mendengus kesal.
“Masa kamu gak ingat, sih? Bentar lagi ‘kan peringkat akademik bakal diumumin
di lapangan. Mau pergi sekarang gak?”
Rasa gelisah, penasaran, dan antusiasme bercampur aduk menjadi satu,
menyuntikkan gairah ke dalam tubuhku yang tadinya dilanda dengan rasa kantuk dan
lelah. Sebagai seseorang dengan kepribadian yang pendiam dan tertutup, aku merasa
bahwa menyukai seseorang hanya bisa kulakukan dalam diam. Aku tidak memiliki
keberanian untuk menyatakan perasaanku dengan terus terang sehingga harus memilih
metode lain, seperti membuktikan kualitas diriku melalui pencapaian akademik. Setelah

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

81

mengetahui subjek rasa sukaku sedang melakukan pendekatan dengan siswa yang pada
saat itu memegang peringkat pertama di kelas, aku bertekad merebut peringkat tersebut
demi menarik perhatiannya. Aku jadikan sosoknya sebagai motivasi untuk belajar lebih
gigih dan dorongan untuk terus memperbaiki diri.

Setiba di lapangan, indra pendengaranku disambut dengan riuh perbincangan
yang hangat. Sinar matahari hanya bisa mengintip dari belakang tirai awan kelabu yang
cukup tebal. Meskipun lapangan dipenuhi dengan gempita siswa-siswi yang tak sabar
untuk mengetahui peringkat akademik mereka masing-masing, satu-satunya hal yang
terdengar olehku adalah suara degup jantungku yang kian detik kian kencang. Kedua
telapak tangan kukepal dengan erat, berdiri di tempatku dengan postur yang tegap dan
pundak yang tegang.

Juara 1, Muhammad Hilman dari kelas 2A. Juara 1, Muhammad Hilman dari kelas 2A.
Juara 1, Muhammad Hilman dari kelas 2A. Frasa tersebut berulang-ulang kuucap di
benakku bak sebuah mantra.

“Juara 1, Muhammad Hilman dari kelas 2A!”
Ketika pernyataan tersebut menggema ke seluruh penjuru lapangan dan akhirnya
memasuki ranah indra pendengaranku, aku hanya bisa mematung di tempat. Segala
pikiran yang ada dalam pikiranku seketika lenyap. Untungnya, berkat beberapa pukulan
semangat yang dilontar oleh Estu pada bagian pundakku, aku tersadar dari kekagetanku
dan segera bergegas menuju bagian depan lapangan. Berdiri di hadapan seluruh sekolah
mengisi diriku dengan perasaan bangga karena bagaimanapun juga, hasil ini mampu
kuraih berkat kerja keras dan kegigihanku. Akan tetapi, meskipun berhasil meraih
peringkat pertama, subjek dari rasa sukaku tetap tidak menggubris eksistensiku.
Dari situ, aku mempelajari bahwa setiap perjuangan bisu harus ditemani dengan
sebuah hati yang ikhlas dan terlepas dari segala ekspektasi untuk mendapatkan suatu
timbal balik. Dari situ, aku mempelajari bahwa berjuang dalam diam ternyata juga
merupakan salah satu wujud dari keberanian itu sendiri.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

82

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

83

Kisah Kasih Putih Biru 16:

Setiap Hari Bersama Hari

Hari Nurdin

Aku menjadi kepribadian yang serbabisa karena sekolah di SMP 1 Majalengka.

Kemarin, aku menjahit. Hari ini, drum band. Esok, latihan upacara adat. Sejam nanti, aku
harus menjahit. Belum pekerjaan rumah yang harus kutuntaskan demi keluarga tercinta.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

84

Kalender yang tertancap ke tembok kamarku adalah asisten kerjaku. Penuh dengan
coretan spidol merah dan hitam, tiada hari tanpa kegiatan. Setiap hari bersama Hari pasti
penuh warna, bahkan lebih dari warna spidol yang mencoret kanvas sebuah kalender
kecil.

Keluargaku sejak zaman dahulu kala kerap sekali memilih SMP 1 Majalengka
sebagai rumah edukasi mereka. Rumah untuk menimba ilmu. Rumah untuk prestasi dari
SMP 1 Majalengka adalah penggaet. Bukan karena kurikulum dan guru-gurunya yang
luar biasa, melainkan juga karena variasi ekstrakurikuler yang disediakan per tahunnya.
Eh, tapi aku boleh jujur tidak? Aku sih sebenarnya memilih SMP 1 Majalengka karena
wanitanya cantik-cantik hehehe. Manisnya wanita di SMP 1 Majalengka itu seumpama
gula merah.

Bola lampu di kamarku warnanya jingga terang. Aku mengerjakan tugas-tugasku
di bawah lantai. Kepala menunduk dan pinggang bengkok. Lumeran tinta hitam yang
lengket mewarnai jariku. Suara kucing liar yang berantem adalah musikku. Suara
kresekan tempat sampah bergema. Beberapa menit kemudian, suara yang tak asing pun
masuk ke sela-sela jendela.

“Hari, main yuk, naik sepeda!” ajak Ludi, temanku sejak kecil.
“Iyaa! Tunggu, aku selesaikan tugasku lah …,” jawabku sambil bersegera
menyelesaikan PR.
“Ya sudah, kita ‘kan juga ada kerja kelompok, kerjain itu juga, yuk!” ajaknya
sambil memberi kode ajakan melalui tangannya yang kekar.
Sewaktu aku keluar bulan purnama menyambutku. Sandal jepit basah karena
rintik hujan tadi sore. Kaos hitam yang sedang kupakai ada bolongnya di bagian perut.
Setiap aku mengambil langkah, suara recehan koin berkeroncong di dalam kantong
celana pendekku. Meskipun sedikit, uang yang kupegang ini adalah rezeki yang lebih
dari cukup. Azan isya berkumandang.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka


Click to View FlipBook Version