The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Keindahan, keseruan, dan keharuan saat masa bersekolah di SMPN 1 Majalengka

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by niknik, 2022-09-05 04:48:52

Kisah Kasih Putih Biru

Keindahan, keseruan, dan keharuan saat masa bersekolah di SMPN 1 Majalengka

Keywords: Buku Reuni

85

“Eh salat dulu!” ajak Ludi yang meskipun kami suka bermain, dia selalu
ingat pada kewajiban bagi umat Islam.

“Yuk, ke tajug dekat rumahku,” ajakku memberikan pilihan tempat salat.
“Bawa sarung dulu ya!” pinta Ludi sambil berlari-lari kecil.
“Iya-iya, ayo ayo!” suruhku sambil tertawa melihat dia berlari-lari bak
dikejar si Gingle.

Becekan cokelat di jalanan terciprat ke wajahku ketika kendaraan melaju.
Walaupun kotor, rasa air yang dingin menyejukkan wajahku yang masih mengantuk
karena kemarin, aku bermain bersama teman-teman hingga larut malam. Keasyikan ini
membuatku lupa untuk belajar. Penglihatanku pun masih buram akan dunia di depanku.
Ah, malas sekali untuk sekolah hari ini. Pegal dan linu merayap ke ragaku. Otot-otot
terasa agak nyeri karena main sepeda dan lari-larian. Mulutku pun menguap lebar dari
bawah ke atas. Kukucek mataku yang kelilipan. Sementara itu, lalat kecil berkerumun di
dekat rambutku.

Lalu, bunyi bel berdering hanya terdengar seperti bisikan yang menggumam.
Kelas pertama pada hari itu adalah kelas Bahasa Sunda. Kompleksitas akan mata
pelajaran pada hari biasa saja membuat kepalaku kliyengan dan melayang. Awalnya,
mataku masih menatap papan di depan, sedangkan telingaku terbuka lebar agar bisa
menyerap informasi dari Ibu Lili. Lagi pula, Bahasa Sunda adalah mata pelajaran yang
tak penting bagiku. Tiba-tiba, kuletakkan kepalaku ke tangan yang dalam bentuk
genggaman. Kupejamkan mataku agar bisa meredakan rasa pusingku. Seiring Bu Lili
menjelaskan materi di kelas, aku kabur dari realita ke pulau kapuk yang nyaman dan
aman. Ingus, keringat, dan saliva menetes ke permukaan meja. Sontak, teman sebangku
mencubit pahaku dengan keras supaya aku bangun. Bukan hanya dia, melainkan Bu Lili
yang tampaknya sudah marah.

“Hary, bangun Hary!” Suara Bu Lili mengagetkanku.
“Maaf Bu, aku ngantuk!” jawabku sambil ngucek-ngucek mata.
“Ayo, perhatikan pelajarannya! Coba, kamu bisa jawab pertanyaan ini gak?” tanya
Bu Lili sambil menunjuk ke arah papan tulis.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

86

“Maaf Bu, aku ndak ngerti …!” jawabku malu.
“Makanya, kamu jangan tidur!!” Kali ini suara Bu Lili meninggi. Kutahu beliau
kecewa padaku sebagai muridnya yang sedikit bandel.
Kendati sering ketiduran di kelas, Ibu Lili adalah guru favoritku. Omelan dari dia selalu
kupandang sebagai motivator ketimbang sekadar teguran. Telingaku pun sudah hafal
akan suara marahnya Bu Lili. Alhasil, aku pun tak menjadi pemuda pemalas selama aku
belajar di SMP 1 Majalengka. Bahkan, nanti di masa depan yang menanti. Ketegasan ini
pun seakan-akan tertransfer ke dalam eksistensiku karena kedisiplinan diriku semakin
kuat. Apalagi tetiba hadir dalam hidupku seorang wanita yang bernama Lia Awalia
Turohmah. Gadis cantik yang berasal dari daerah Maja. Kulitnya sungguh putih dan
mulus. Dia pun sering mengikuti ajang perlombaan yang berhubungan dengan
kecantikan. Dialah semangatku hingga akhirnya mampu mengubahku dari si pemalas
menjadi si rajin. Dialah yang mampu mengubah sudut pandangku pada dunia di masa
depanku. Ya, … meskipun pada akhirnya, begitu lulus dari SMPN 1 Majalengka, kisah
itu berakhir juga.
Aku tidak hanya berusaha keras dalam mata pelajaran, tetapi juga
ekstrakurikuler. Untungnya, SMP 1 Majalengka tidak hanya menyediakan kegiatan yang
monolitik, tetapi variatif. Aktivitas perkayuan adalah yang paling kompleks dari semua
yang kupilih. Pemanasan otot-otot adalah keniscayaan saat melakukannya. Serpihan
kayu terkadang menyusup ke kulit jari-jariku. Jemariku yang lincah dan gesit pun
terkadang terluka di kegiatan menjahit. Bekas goresan dari jarum di permukaan jariku
adalah simbol akan niat dan keaktifanku.
Walaupun kebanyakan anggota di penjahitan adalah perempuan, jariku yang
gesit mampu menganyam bahan-bahan. Dengan posisi duduk bersila, aku sering
ngobrol bersama gadis-gadis di situ sambil menjahit. Aku pun sempat menjadi drummer
di band sekolah. Kupukul drum dan kakiku menghentak ubin untuk mengikuti ritme
yang ada. Dari setiap ekstrakurikuler, aku mampu mengeksplorasi versi diriku yang
berbeda. Semua berkat SMP 1 Majalengka yang kegiatannya lebih banyak dari warna
spidol di kalender penuhku.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

87

Kisah Kasih Putih Biru 17:

Anak yang Diam-Diam

Ikin Sodikin

Gersang dan bisingnya perkotaan menyelimuti ragaku. Jariku terasa lengket karena

baru saja memakai gel rambut di toilet biar tampak keren dan muda. Kuelap jendela
dunia, kacamata, dengan halus agar bisa menelisik. Tas yang isinya gawai berat seperti
laptop beserta hard drive-nya melemahkan lengan dan bahu. Namun, tenagaku adalah

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

88

satu dari seribu. Tenaga kuli? Bukan. Tenaga medis? Bukan. Tenaga apa kah? Tenaga
Admin. Sebetulnya, aku kadang merindukan helaan napas Ibu Pertiwi yang sejuk saat
masih sekolah di SMP 1 Majalengka. Decitan tikus terkadang kudengar malam-malam
sebelum tidur, bukan teriakan karyawan marah-marah.

Bahkan, saat pergi ke sekolah, aku bertemu dengan warga sekitar yang murah
senyum. Sementara itu, sekarang, wajah segenap orang di sekitar selalu terlihat
cemberut. Kerut dahi menonjol. Aroma alam yang pekat sekarang adalah sekadar sensasi
lampau. Tas yang dulunya terisi oleh lembaran kertas dan pulpen, sekarang penuh akan
materialisme dunia modern yang serba canggih ini. Setelah lulus dari SMP 1 Majalengka,
aku memang bergelayut di dunia teknologi, yakni komputer.

Aku merintis usaha komputer bersama sejumlah kawan yang ingin mengais
nafkah segera. Sebelum penggunaan program yang kompleks seperti Excel menjadi
perihal yang normal, akulah salah satu orang terpilih di bumi yang sudah memahami
cara menggunakannya. Hehehe, kalah kalian semua kan! Ini tentunya dulu adalah
kebanggaan sendiri.

Memajukan perusahaan, rekan-rekan, dan tentunya diri sendiri adalah moto
yang terukir di hati setiap aku menuntaskan pekerjaan. Bangku menopang belakangku
setiap hari. Ini adalah pengingat akan diriku saat di sekolah. Kendati bangku yang
kududuki di tempat kerja itu lebih empuk karena ada lapisan bantal, aku tetap ingat
bangku kecil kayu yang selalu kududuki saat mendengar guru favoritku, Pak Mustari,
mengajar dengan penuh semangat. Kepercayaan diriku pada saat itu memang belum
tumbuh sama sekali.

Di dunia perkantoran, senyuman manis adalah pemandangan yang kian mahal.
Untuk Pak Oma, guru Bahasa Indonesia di SMP 1 Majalengka, ini adalah sesuatu yang
murah. Bahkan, diskon hehehe! Atmosfer sekolah langsung berubah menjadi apa yang
anak zaman sekarang sebut sebagai positive vibe. Bahkan, aku dulu senantiasa membantu
beliau untuk merapikan berkas-berkas ulangan. Sejujurnya, kuanalisis, eh bukan, aku
sontek jawaban dari teman kelasku yang pintar agar lulus ulangan harian. Maaf ya
semua hehee. Meskipun demikian, tetap saja, aku hanya memperoleh peringkat 27.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

89

Walaupun tidak terlalu ambisius, aku memegang niat belajar yang erat dan guru-guru
tak pernah mengguyurku dengan tekanan, khususnya Pak Oma. Perbincangan antara
aku dan beliau tak pernah ada tekanan tektonik.

“Kin, sini Kin, kalau kamu gak sibuk, bantu Bapak ngurusin berkas ulangan,” ajak
Pak Oma sambil menggendong berkas-berkas berat.

“Oh, iya, saya gak sibuk, apa yang harus saya lakukan, Pak?” tanyaku bingung.
“Sini, ikut Bapak ke kantor, sebentar saja kok!” pinta guru yang dikenal cara
mengajarnya dengan sersan alias serius tapi santai.

Aku adalah satu dari delapan bersaudara. Kakak kedua dan keempat adalah
alumni SMP 1 Majalengka. Sewaktu aku masih SD, hampir setiap hari kudengar cerita
tentang betapa kerennya SMP 1 Majalengka. Seandainya, aku bisa menelusuri zaman itu,
mungkin aku akan menampar dan menyemangati diriku agar bisa lebih percaya diri.
Dulu, aku adalah anak yang diam-diam saja. Kalau ada yang berguyon di kelas, aku
sekadar merespons dengan tawaku. Bila guru bertanya, ragaku melilit bagaikan luing.
Walaupun diam, aku tidak pasif dalam dunia sosial. Ligamenku masih bergerak setiap
harinya untuk bermain futsal bersama sahabatku, Agus Teja.

“Kin, oper bolanya kin!” seru Agus sambil melambaikan tangannya.
“Tendang, saja Kin!” Agus selalu memberi semangat padaku.
“Cakep Kin!” puji Agus.
“Golll!!!!” seru Agus dan para penonton.

Sesungguhnya, pesona kami berdua bagaikan Yin dan Yang. Energi kami
bagaikan api dan es batu. Agus Teja memang suka main bola. Obsesiku dengan olahraga
tak setingginya, tetapi aku masih menikmatinya. Walaupun matahari terik membakar
badan dan keringat membuat seragam kami basah kuyup, euforia yang kurasakan tak
pernah padam. Lagi pula, Mang Sedit senantiasa mengisi perut kami yang keroncongan.
Suaranya serupa akan gunung meletus ketika kami lapar. Karena dehidrasi, air minum
dingin selalu setia menunggu. Keluargaku adalah keluarga yang sederhana. Selembar
kertas uang saja, aku sudah bersyukur.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

90

“Mang Sedit, bakwan sama sambelnya donk!” pintaku pada penjaga kantin yang
baik hati itu.

“Iye, Kin!” jawabnya sambil memamerkan jari jempolnya.
“Makasih Mang Sedit, sehat Mang?” tanyaku dengan tulus.
“Sehat, sehat!” Mang Sedit menjawab sambil tetap melayani murid-murid yang
lain.

Sekarang, sebagai lelaki dewasa, aku harus cerdas dalam mengatur keuangan
demi keluarga. Saat sedang jajan, tak mungkin bisa darmaji seperti dulu bersama Mang
Sedit. Dulu, kusantap gorengan-gorengan kecil dan perut langsung kenyang dan
kembung. Bila makan porsi yang sama seperti dulu, aku ragu itu akan mengisi perutku.
Padahal, usai jam makan siang, aku hanya ingin tidur siang di kelas. Untungnya, setiap
aku masuk ke kelas, ada cewek-cewek yang manis dan rupawan. Semangat langsung
tersulut saat melihat wajah-wajah cantik yang duduk di depan kelas 3E.

Ada Niknik, Yuli, Ela, dan masih banyak lagi. Kelas 3E adalah kelas yang
terfavorit dan terkeren. Namun, dari semua cewek di kelas, ada satu yang mencuri
hatiku, yakni gadis yang rambutnya hitam, panjang sebahu, agak keriting. Hmm …
siapakah dia? Biarlah ini menjadi sebuah misteri bagiku. Walaupun jika dibanding
dengan seantero insan di kelas 3E, aku mungkin bukan yang paling menonjol. Walaupun
aku adalah anak yang diam-diam, pancaindraku tak pernah diam dan selalu merasa suka
dukanya kehidupan dari SMP 1 Majalengka hingga detik ini.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

91

Kisah Kasih Putih Biru 18:

Pembangun Nusantara

Kusuma Jaya

ilustrasi seorang arsitektur sedang memandang gedung bertingkat hasil kerja kerasnya
di ibu kota

Arsitekturnya Ibu Pertiwi adalah keajaiban. Tuhan Sang Pencipta menciptakan rumah

yang sempurna bagi kita semua. Tanah liat berlumut, pohon yang kayunya rapuh, dan
awan putih adalah elemen bumi. Derik air tergesa, angin menyisir rambut, dan gunung

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

92

berapi menggemuruh. Namun, aku tak mungkin meniru Tuhan Yang Maha Kuasa.
Seraya membaca buku, kubayangkan diriku berada di tepi gedung langit ketimbang
gunung atas. Kabut mengaburkan penglihatanku, tetapi tidak akan visiku ke masa
depan. Aku selalu berkata kepada diriku sendiri,

“Anak harus lebih unggul dari orang tuanya.” Ini adalah filosofi agar bebannya
hidup penuh akan kekecewaan bisa diringankan.

Masa kanak-kanak kuhabiskan di kompleks STMN Majalengka tempat ayahku
bekerja dan mengabdi di sekolah yang berada di depan Alun-Alun Majalengka, tepatnya
menjadi Kepala Sekolah. Keluarga kami mendapatkan fasilitas rumah dinas yang
bergabung dengan sekolah. Pemandangan hilir mudik siswa-siswa STM sudah menjadi
hal yang biasa. Rata-rata siswanya adalah laki-laki. Kalaupun ada perempuan, biasanya
siswi tersebut berpenampilan tomboy.

Pemandangan mesin gambar di hampir setiap kelas pun biasa kulihat. Bahkan, di
rumah pun ayahku memiliki meja gambar dan ayahku berharap agar aku kuliah dengan
mengambil jurusan teknik sipil meskipun pada akhirnya jurusan arsitek yang kuambil.

Sesungguhnya, keluargaku adalah kalangan guru sejak zaman purba. Tidak juga
sih, tetapi aku tak akan terkejut jika itu benar. Meskipun demikian, ayahku malah berkata
“Jangan jadi guru atau PNS!”

SMP 1 Majalengka adalah sekolah yang penuh keajaiban. Dari ekstrakurikuler
hingga guru-guru yang bermutu. Gedung sekolah besar, aku suka naik ke lantai atas
genting dan melihat seantero SMP 1 Majalengka. Lagi pula, di bawah, keramaian
mendesak bagaikan semut-semut yang sedang gotong royong. Di atas, suntikan
kesunyian berlarut dengan kentalnya angin sejuk.

Aku tentunya bukan orang yang selalu ingin sendiri. Kegiatan pramuka adalah
asupan setiap hari agar tak terlepas dari koneksi dengan Ibu Pertiwi. Walaupun tegas
dan ganas, Pak Oo adalah guru favoritku dan pelatih Pramuka yang tak kenal istirahat.
Berbeda denganku, yang selalu ingin memeluk guling dan mencium bantal empuk di
rumah. Rumahku tak begitu jauh dari SMP 1 Majalengka, tetapi juga tidak terlalu dekat
sehingga aku harus bangun pagi sekali.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

93

Seperti cuaca, awan di hidupku tak selalu terang, tetapi justru kelabu dan kusam.
Sewaktu masa dewasa mengetuk pintu kehidupanku, zona nyamanku roboh. Perut
terkadang hanya menampung air putih. Dinding di dalamnya pun terasa dicabik-cabik
oleh pisau. Kepala terasa puyeng berputar-putar. Keseimbangan betis tergopoh-gopoh
sampai lutut jatuh ke lantai. Pancaindra pun semakin tajam. Aroma nasi goreng yang
aku tak mampu beli sungguh menggoda. Akhirnya, aku sudah tidak punya uang sepeser
pun sampai meminta makan pun ke ibu mertua selama tiga bulan. Yaa, namanya juga
hidup, seperti roda berputar. Kadang di bawah kadang di atas.

Sebagai kepala rumah tangga, tentunya ini mengiris lapisan hatiku. Terkadang,
aku pun overthinking.

Aku tak hanya bergantung pada mertuaku tentunya. Sepatu adalah sahabatku
pada masa kelam. Padahal, saat masa SMP, sepatuku merupakan sekadar formalitas
akan keseragaman. Dulu, kupikir “Kenapa kita harus memakai seragam?” Pada masa
kelam tersebut, sepatu adalah sumber uangku.

Bismillah adalah rapalan doaku. Sahabatku pada masa kelam adalah Allah. Curhat
kepadanya adalah terapiku. Kupercaya atas kasih sayangnya yang akan membawaku
jauh dari bencana. Walaupun uang hanya sedikit, tanganku tak pernah terlilit saat
memberi kepada orang-orang yang tak mampu. Setiap kubasuh wajahku dengan air
wudhu, kulihat paras mukaku lebih cerah dan ceria.

“Ya Allah, mohon berikan hambamu rezeki yang lancar demi keluargaku,
sehatkan keluargaku, tabahkan hati ini, amin!”

Pengabulan doa ini pun terkemuka dengan kian cepat. Itulah kehendak Tuhan.
Setiap hidup diterpa oleh badai, pasti selalu ada pelangi terselubung di balik awan
kelabu. Sekarang, aku pun menjadi arsitek dan sudah mengerjakan berbagai macam
proyek; Bandara Internasional Lombok, Golf Pondok Indah, dan Centenial Tower. Aku
sekarang membangun gedung tinggi dan jauh lebih raksasa dari tubuh mungilku.
Teringat pada masa di SMP 1 Majalengka seketika aku memandang dunia yang jauh di
atas genting.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

94

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

95

Kisah Kasih Putih Biru 19:

Perihal Berkelana dan Pulang Rumah

Laily Qodriyah

ilustrasi seorang ibu muda sedang melihat sambil bernostalgia sekolah di pagar
sekolah SMPN 1 Majalengka

Panas.

Bayanganku yang kian detik kian tak terlihat menunjukkan bahwa matahari akan segera
mencapai titik puncaknya. Sinarnya yang merona membelalak dengan terik,
menyelimuti para insan duniawi yang bersemayam di bawah naungannya dengan

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

96

sebuah kehangatan yang membara. Sekujur tubuhku dilapisi dengan cucuran keringat,
menimbulkan rasa ketidaknyamanan antara pakaian yang membalut badanku dan
deraian peluh pada kulitku yang kini terpaksa harus menyatu.

Beberapa ekor kucing berkelana di sekitar wilayah SMP 1 Majalengka. Suara
raungan mereka yang lembut bersanding dengan deru semilir angin yang
menghanyutkan, perlahan-lahan merangkai suatu simfoni yang mampu meredam
amarah terhebat sekalipun. Sesekali, jalan yang terbentang di hadapan gedung sekolah
dilewati oleh beberapa kendaraan, decitan roda dan hembusan mesinnya mengisi
rongga-rongga indraku dengan suatu kehadiran yang familier.

Jalanan yang biasanya kian sore kian rame masih dilanda dengan ketenangan
sehingga memudahkanku untuk menyusun bahan-bahan jualanku. Dengan luwes, aku
menata berbagai macam makanan dan minuman secara sistematis agar memberi kesan
yang lebih mengundang dan menggiurkan, memastikan bahwa setiap produk jualan
dapat terlihat jelas oleh para pelintas jalan. Tibanya tengah hari menandakan bahwa ada
sisa beberapa jam lagi sebelum penampakan gerbang SMP 1 Majalengka dipenuhi
dengan gerombolan pelajar yang sudah tidak sabar ingin menikmati waktu luang setelah
jam sekolah berakhir. Saat itulah yang biasanya ditunggu-tunggu oleh para pedagang
yang berjualan di depan wilayah sekolah, termasuk aku.

“Wooooo!!!”
Suara sorakan yang lantang dan heboh secara mendadak memecah suasana
hening yang telah menyelimuti daerah di sekitar sekolah SMP 1 Majalengka. Setelah
menengok kepalaku ke bagian dalam sekolah yang terbentang di balik gerbang yang
cukup tinggi, aku melihat gerombolan siswa sedang berolahraga di lapangan basket
sekolah. Berdasarkan pengamatan sekilasku, seruan tersebut disebabkan oleh salah satu
siswa yang berhasil menskor beberapa poin untuk timnya dengan teknik basket yang
cukup fasih. Tanpa sadar, sebuah senyuman yang semringah telah bermekaran di atas
bibirku.
Ah, pikirku sambil memandang para siswa dan siswi bermain dengan nuansa hati
yang dipenuhi akan perasaan rindu dan nostalgia. Aku jadi kangen main basket.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

97

Gemuruh sorakan para siswa yang sedang menontonku memonopoli bola basket
di atas lapangan menggema ke seluruh penjuru aula. Pada saat itu, timku sedang
merepresentasikan SMP 1 Majalengka pada pertandingan basket yang berlangsung di
SMA PGRI. Peluh merangkul permukaan tubuhku dengan mesra, perlahan-lahan
linangannya mendarat pada lantai lapangan dan menghiasi udara dengan aroma
keringat yang seringkali tercium ketika sedang berolahraga. Detak jantung yang
berdegup tak karuan, seolah-olah ingin melompat dari naungan tulang rusukku. Napas
yang terengah-engah membombardir rongga-rongga dadaku tanpa rasa ampun. Rasa
nyeri yang familier melekat pada bagian kakiku dengan erat. Merona milik matahari
senja terlukis di atas telapak tanganku.

“Juara dua, SMP 1 Majalengka!!!”
“Wooooooooooo!!!”

Meskipun ada banyak sensasi tidak nyaman yang harus kurasakan di kala itu,
semuanya terasa sangat familier. Terasa seperti pulang rumah setelah sekian lama
berkelana. Terasa seperti detik-detik ketika kita diserbu dengan berbagai macam aroma,
pemandangan, dan benda yang mengingatkan kita akan ‘rumah’. Adrenalin berdegup
mengikuti aliran pembuluh darahku dengan antusias, menyuntikkan perasaan euforia
yang membuatku merasa seakan-akan aku sedang berdiri di puncak tertinggi dunia.

“Permisi, Bu. Apakah ada keperluan di sekolah?”
Sesi bernostalgiaku secara tiba-tiba terhenti oleh sapaan dari salah satu satpam
yang bertugas untuk menjaga wilayah sekolah. Tersentak, aku seketika melepaskan
genggamanku dari jeruji gerbang sekolah. Ah, aku barusan sudah keasyikan mengenang masa
lalu sepertinya…
“Ah, tidak ada, Pak.” jawab saya dengan sungkan. “Maaf, saya tadi dengar ada
suara sorakan soalnya. Kirain ada apa, ternyata anak-anak lagi pada main basket. Hehe.”
Bergegas pergi dari gerbang menuju tempat jualanku, aku menyempatkan diri
untuk menengok ke belakang dan memandang penampakan gedung sekolah yang masih
berdiri dengan kokoh walaupun berada di bawah kekangan waktu. Dari kantin milik
Mang Sedit, bel sekolah yang terdengar familier, sampai lapangan basket yang dulu aku

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

98

anggap sebagai ruang aman – semuanya perlahan-lahan memudar dalam dekapan
waktu, bayangan-bayangannya hanya bisa kukenang dan kuabadikan melalui memori
yang kian hari kian samar.

Meskipun menjalani hidup seringkali merupakan perihal yang sulit, kenangan-
kenangan indah seperti inilah yang akan berperan sebagai pelipur lara sekaligus
pengingat bagiku agar tidak lupa untuk menghargai semua hal yang aku miliki dalam
kehidupanku. Ketika aku harus keliling kawasan Majalengka untuk berjualan kacamata
dan bertahan di bawah teriknya matahari demi mencari penghasilan dengan berjualan
makanan serta minuman di depan gedung SMP 1 Majalengka yang menyandang sangat
banyak memori masa lalu, aku berusaha untuk selalu merasa bersyukur dan terus
menyimpan harapan dalam hati.

Sejauh apapun aku ingin berkelana, aku akan selalu ingat jalan pulang rumah.
***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

99

Kisah Kasih Putih Biru 20:

Artis Tenarnya SMP 1 Majalengka

Lili Lidia

Langit hitam sedang murka dan teriak ke Ibu Pertiwi. Sebaliknya, awan sedang

menangis tersedu-sedu dan meneteskan butiran air ke Tanah Air. Aduh, hujan gerimis
aje. Cicak-cicak di dinding kamarku, diam-diam merayap. Genteng kamarku bocor yang
dekat pintu. Usai salat magrib, daun pintu terkuak dan ibu memanggil kami enam

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

100

bersaudara untuk makan malam. Aku menyanyi melodi do re mi dan mengikuti irama
rintik hujan. Tak seperti keluarga lain, kami duduk dan makan bersama di bawah lantai
licin. Cipratan air hujan terkadang masuk melalui sela-sela jendela kaca kami.

Tempe, tahu, dan sambal terasi hangat siap untuk disantap. Asap panas dari nasi
pun terlihat dengan mata telanjang. Potongan timun dan kangkung adalah satu-satunya
sayuran yang kami punya. Bapak pun belum pulang. Adik-adikku mendapatkan
privilese kemanjaan dari ibuku yang masih mengambil nasi untuk mereka, sedangkan
aku harus mandiri dan mengambilnya sendiri. Tidak apa-apa, aku gadis yang
independen. Karena nasinya tidak terlalu banyak, aku mengalah dengan saudaraku agar
semua dapat jatah.

“Jangan lupa doa makan!” ujar ibuku sambil mengaduk-aduk dengan centong
nasi.

“Mama, kok, gaada ayam goreng, ‘kan aku maunya ayam goreng!”
“Makan apa yang ada, kita harus mensyukuri apa yang ada!”
Mama aku adalah seorang guru SD yang tegun dan tekun serta harus menafkahi
enam anak tercintanya. Dengan perjalanan kehidupan kami yang berliku-liku, ialah
sosok malaikat yang selalu mendorong kami untuk meraih yang impossible! Dukungan,
didikan, dan perjuangan dari ibu adalah sesuatu yang melekat dalam hidupku. Maka
dari itu, masuk ke SMP 1 Majalengka adalah salah satu prestasi yang kudedikasikan dari
perjuangan ibuku. Ibu selalu mengatakan “Selama kita bertekad, selama ada kemauan,
pasti kita bisa menggapai apa pun.” Ucapan ini selalu terngiang dalam benak pikiranku.
Oleh karena itu, aku ingin menjadi bintang yang paling bersinar di SMP 1 Majalengka
dengan segala keterbatasan yang dunia lempar kepadaku.
SMP 1 Majalengka adalah rumahku untuk mengeksplorasi bakat dan mengais
kepercayaan diri yang terpendam. Maka dari itu, aku bergabung band sekolah sebagai
vokalis. Sangking berisiknya ruangan band, aku terkadang merasa telinga akan tuli.
Getaran drum menggema di kuping orang-orang di luar. Awalnya, aku selalu bersyukur
saat suara instrumental menutupi suaraku agar siswa ataupun guru tidak mendengar.
Bagaimana kalau aku diejek dari belakang oleh seantero SMP 1 Majalengka? Apa suaraku
seperti kodok? Aduh, malu!

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

101

Namun, hari demi hari, minggu per minggu, setiap bulan berganti, aku mencocok
tanam rasa kepercayaan diriku. Aku berani untuk mengajak temanku melihatku tampil
saat latihan. Volume nyanyianku pun menjadi lebih lantang dan jernih. Pfft, aku bahkan
tidak membutuhkan mikrofon untuk mengamplifikasikan nada merduku. Aku juga
mencoba variasi tipe lagu dari ballad hingga pop. Tanganku yang penasaran ini mencoba
untuk bermain petikan gitar dan memencet tombol monokromnya piano. Sayangnya,
aku tidak mampu melakukannya.

Aku memang pakai baju cewek. Aku memang pakai rok. Aku memang adalah
seorang gadis. Namun, aku adalah gadis tomboy. Kalau nongkrong, pasti bersama
kawan-kawan jantanku seperti Andri, Ade Djadja, Dani Ule, dan Maman. Namun,
semakin aku tumbuh dewasa, jantung makin dag dig dug ketika melihat cowok tampan
di sekolah atau di luar sekolah. Bahkan, jika lewat rumah lelaki yang ditaksir, aku merasa
lebih malu dari kembang malu. Seketika melihat refleksi wajah di rumah, aku pun
merasa jelek. Namun, itulah namanya cinta monyet, hanya menimbulkan rasa yang
tidak karuan. Lebih campur aduk daripada ketoprak!

Guru yang paling menginspirasi adalah Pak Oma. Pak Oma adalah guru yang
galak, guru killer, guru serial killer! Kalau datang ke sekolah, ia mengendarai Vespa
mungilnya bagaikan kuda odong-odong. Kontras antara badannya yang besar dan
kendaraannya yang kecil adalah penampakan yang sangat lucu. Ia pernah memberi PR
kepada kelas untuk membaca satu halaman dan menghafal informasi yang tertulis di
dalamnya. Tentunya, aku sebagai anak muda yang malas, tak mungkin menghafalnya
dalam sehari. Alasan sesungguhnya aku tidak bisa menghafal karena aku tidak memiliki
buku teks tersebut. Bahkan, aku tidak meminjam dari orang lain karena hanya sepeser
orang di kelas yang membelinya. Keesokan harinya, tiap-tiap orang ke depan satu per
satu. Aduh, takut! Lalu, namaku dipanggil olehnya dengan lantang. Aku berdiri dan
tersenyum. Padahal, jantung sudah berdebar kencang hingga kurasakan di perutku.

“Maaf Pak, saya belum hafal… maaf ya!” jawabku sambil membungkukkan
tubuhku.

“Kenapa belum hafal? Berdiri di depan kelas, jewer kupingnya, dan angkat kaki
kananmu sampai saya bilang berhenti!” bentak guru berkumis itu.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

102

“Iya Pak…,” jawabku lirih.
Walaupun ketegasannya adalah sesuatu yang mengerikan, kejadian tersebut
menginspirasiku agar bisa menghafal. Minggu depannya, aku siap membuktikan
kepadanya bahwa aku adalah siswa yang mampu.
“Jadi koma kepentingan dari golongan tersebut tidak bisa dimungkiri titik,” kubaca
dengan penuh energi.
“Kenapa kamu juga membaca titik dan komanya? Kamu itu mengejek saya ya?
Nyungkun kamu ya teh? Baik, berdiri lagi seperti minggu kemarin di depan kelas. Cepat!”
teriak Pak Oma dan kemudian melengos.
“Siap Pak…,” jawabku makin lirih.
Walaupun sudah hafal, hasilnya tetap sama: dimarahin, dimaluin, dan disetrap.
Perlakuan seperti ini memang kejam, tetapi tanpanya aku tidak termotivasi untuk belajar
lebih tekun lagi. Paras wajah marahnya Pak Oma masih terekam dengan jelas di otakku.
Tersemai dengan sendirinya bersama rasa pegal yang kurasakan di kedua kakiku. Setiap
mata pelajarannya, aku mengatup bibirku agar tidak terjerumus konsekuensi dari Pak
Oma yang galak, tetapi tetap inspiratif itu.
Hari-hariku kuisi dengan sesuatu penuh usaha. Usaha belajar giat berkat Pak
Oma, juga belajar keras demi ibuku. Sambil terus meningkatkan prestasi belajarku, aku
juga berusaha berprestasi di bidang bakat dan musik. Di setiap kesempatan acara apa
pun, aku berusaha menjadi menghibur penonton dengan suaraku. Bahkan, di luar
sekolah pun, aku dan group band SMP berhasil tampil dari panggung ke panggung.
Bagi orang lain, ini adalah prestasi kecil. Namun, bagiku, kemenanganku di
kompetisi Pop Singer pada 1987 sebagai juara pertama se-Kabupaten adalah prestasi
terbesarku. Alhasil, aku selalu berharap anak-anak muda di Majalengka yang gemar
dengan seni atau musik bisa menggapai cita-citanya. Seperti kisahku, mungkin cita-cita
itu bisa mulai dari SMP 1 Majalengka.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

103

Kisah Kasih Putih Biru 21:

Maksud Baik dari Ludi Maksudi

Ludi Maksudi

ilustrasi di antara barisan upacara bendera ada satu siswa yang nakal dan
dijewer guru

Sejak SD, aku selalu ingin masuk ke SMP 1 Majalengka. Bukan hanya karena dijuluki

oleh ibu-ibu sebagai SMP terfavorit di Majalengka, melainkan juga centra
keanekaragaman akan ekstrakurikuler. Jadi, semua orang, termasuk aku yang tak

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

104

memiliki bakat atau keterampilan unik, bisa masuk ke dunia rumah edukasi itu adalah
cita-cita pertama yang kugapai.

Banyak orang bilang bahwa aku adalah anak yang pecicilan bagaikan ulat habis
ditabur garam. Bandel, berisik, dan berisi adalah individualitas sejak masuk ke SMP 1
Majalengka. Tak pernah betah untuk hanya berdiri di rumah tanpa melakukan apa pun.
Jadi, aku adalah petualang kecil ke rimba-rimba jalan tikus. Kendati demikian,
kenakalanku masih beradab. Aku pun masih sigap.

Walaupun setiap pulang ke rumah bajuku sudah berlumuran, tak pernah kunjung
waktu aku melawan orang tua kesayanganku. Mereka adalah inspirasiku. Guru SD
pernah bilang “Surga ada di telapak kaki ibu.” Namun, bagiku, surga itu tidak hanya di
telapak kaki ibu, tetapi juga di seluruh raganya. Termasuk suara ibuku yang lemah dan
lembut bagaikan kapas yang baru saja dipanen. Sementara itu, ayahku adalah peran
hidup pertamaku. Seolah-olah aku ingin menjiplak diriku sepertinya. Maka dari itu, apa
pun perintah dari mereka, aku selalu turuti dan mengangguk-ngangguk kepala dengan
kencang. Namun, volume dan nada suaraku tak pernah kencang.

“Pulang jam 10 malam ya!” pinta ibu sambil mengelus punggungku. Hangat dan
nyaman rasanya.

“Iya, Ma!!” jawabku sambil berbalik arah dan mencuri mencium pipi ibuku yang
merah merona.

“Jangan jauh-jauh!” pintanya lagi sambil tersenyum penuh doa dan harapan.

Tentunya, orang tua bukan satu-satunya. Sewaktu aku menjalani sekolah di SMP
1 Majalengka, aku suka ke guru, yakni dua orang guru yang sangat luar biasa bagi aku.
Jujur, aku sebenarnya punya semacam penaksiran kepada mereka karena keanggunan
dan intelektual mereka. Tumbuh dewasa sekarang pun, aku ada jerawat besar di jidat
sebagai remnant dari penaksiran lampau tersebut. Tak pernah kukira bahwa bidadari di
SMP 1 Majalengka adalah ibu guru matematika. Ibu Matematika, cantik sekali dan baik,
dalam hal belajar. Walaupun tidak pintar, nilai yang kuperoleh dari Bu Guruku cantik

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

105

sekali ini adalah sesuatu yang sangat memuaskan. Aku selalu senang, semangat, sebatas
hanya memandang guru cantik.

Namun, tunggu dulu, aku juga menyukai satu guru ini yang sekarang menjadi
Kepala Sekolah SMP 1 Majalengka, yakni Ibu Nina. Ia adalah sosok yang pintar.
Wajahnya pun semanis madu. Eksistensinya adalah inspirasiku untuk menjadi anak
yang bijak dan berwibawa. Meskipun demikian, kehadiran mereka yang berwibawa
menyuntik rasa takut kepada diriku. Kehormatan kepada mereka tumbuh secara
sporadis.

“Hello Ludi, how are you today?” sapa Bu Nina dengan ramah.
“I … am…g-ood,” jawabku grogi karena berbicara dengan orang secantik Bu Nina.
“What are you doing tomorrow?’ tanyanya lagi.
“I don’t … k-now,” jawabku sambil mengangkat bahu.
Setelah bercakap dengan Ibu Nina, kawan di sebelahku menyenggolku. Lalu, aku
menoleh ke arahnya
“Cakep, ya Bu guru kita,” tanya Hari Nurdin sambil melirik kepadaku.
“Cantik banget, itu mah!” pujiku dengan tulus.
“Ihhh jangan dilihat aja atuh!” protes Tedy si jangkung.
“Apaan sih, aku hanya mengagumi ciptaan Tuhan!” belaku sambil tersenyum
manis. Aih, manis, cunihin meureun!
“Permisi, kalian sedang bisik-bisik apa di belakang?” tanya Bu Nina sambil
menulis di papan tulis dengan kapur putihnya.

Matahari mengintip di balik awan, seantero murid berdiri tegak dan mata patung
menghadap ke depan. Paskibra cantik-cantik tentunya adalah sarapan bagi mataku yang
suka kecantikan. Bendera merah putih berkibar dengan adanya semilir angin dari tiupan
Ibu Pertiwi. Suara merdu dari paduan suara yang menyanyikan lagu Indonesia Raya
dengan penuh kebanggaan. Namun, karena tangan dan kakiku petakilan, banyak murid
sekitarku tertawa dari hasil guyonanku.

“Ih, Ludi, ngapain teh kamu? Hahahaha!” ucap Hari Nurdin mengingatkanku
agar diam.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

106

“Ludi diem nanti kamu disetrap!” ancam Tedy, murid paling tinggi di sekolahku,
yang berdiri di belakangku.

“Saha eta yang gerak-gerak?” tanya Pak Eming menghampiriku.

Tiba-tiba, ada jari telunjuk yang menghampiri diriku dari belakang. Bulu kuduk
merinding. Kupingku dijewer saat upacara dengan sangat kencang. Kulit kupingku
menjadi merah mawar. Kukunya yang tajam menancap. Bintik darah pun terlihat.
Baretan dari kuku pun membekas. Sejumlah mata melirik ke arah fiasco itu terjadi. Hidup
anak bandel adalah hidup yang sulit.

“Aduh, Pak, sakit sakit, maaf maaf!” ucapku hampir berteriak karena kesakitan.
“Diam!” bentak guruku yang galak itu sambil menunjukkan mata melotot.
“Maaf, Pak!” pintaku sambil mengangkat kedua tanganku seolah menyembah
dan minta ampunannya.

Kendati omelan kerap menusuk telinga setiap hari dari guru-guru, aku dan juga
yang lainnya tetap hormat dan bangga kepada mereka karena kami yakin niat guru-guru
sangatlah baik. Ingin hidup kami di masa depan menjadi lebih cemerlang. Apalagi
kawan-kawanku selalu mendampingiku supaya tetap semangat dan senang. Ada Dani
Ule, Dodi, Riny, Tedi, Hari Nurdin tentunya juga salah satunya adalah Nde Niknik. Ia
adalah teman yang tidak pernah munafik dan murah senyum. Walaupun terlihat
lumayan tomboy, aku memprediksi nanti Niknik akan menjadi wanita yang anggun dan
elegan. Hari Nurdin juga selalu berdampingan dengan diriku tanpa kecuali. Makan
bareng, main bareng, dan malas-malasan bareng dari hari kami bertemu hingga kami
lulus di SMP yang memulai semuanya, yakni SMP 1 Majalengka.

Kisah Kasih Putih Biru *** SMPN 1 Majalengka

Persembahan Alumni ‘87

107

Kisah Kasih Putih Biru 22:

Tafsir Mandiri Lukman

Lukmanulhakim Almamalik

ilustrasi seorang siswa yang kutu buku dan selalu menjadi juara kelas

“Mitra nu mulia …. urang lajengkeun deui hanca dongeng anu katunda kamari ” Suara

Mang Jaya dari sebuah radio kecil terdengar nyaring.

Di bawah temaram lampu, ditemani buku-buku, saya mendengarkan dongeng
Mang Jaya. Orkestra malam berupa nyanyian dari hewan-hewan nokturnal turut

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

108

menghiasi cerita dongeng. Saya memejamkan mata tatkala semilir angin sejuk membelai
rambutku. Ketika ada kesempatan, saya pasti mendengarkan dongeng Mang Jaya lewat
radio pemberian Bapak. Radio kecil 2 band (AM dan FM) seukuran smartphone selalu
saya bawa kemana-mana. Kisah-kisah yang dituturkan selalu menarik untuk disimak.
Tak hanya lewat buku, radio juga menjadi medium belajar dan istirahatku.

Sembari mendengarkan dongeng Mang Jaya, saya menatap setumpuk buku
sejarah pemberian ibuku karena kebetulan ibuku dulu mengambil jurusan bahasa di
SMAN 1 Bandung dan kuliah sastra Indonesia di Unpad Bandung. Dulu, sebelum masuk
ke zona bahasa, ibu menekuni dunia kimia (kuliah di jurusan ilmu kimia) terlebih
dahulu. Namun akhirnya ibu pun memutuskan memilih menjadi guru bahasa di Sekolah
Pendidikan Guru di Majalengka. Bapak juga sama merupakan seorang guru bahasa
Indonesia di SMEA Negeri Kadipaten.

Kedua orang tuaku fokus dalam bidang sastra dan bahasa Indonesia, sementara
saya cenderung menyenangi bidang teknik dan matematika. Walaupun demikian, hobi
membaca mengalir deras dari orang tua. Sewaktu SMP, rasanya buku sejarah dunia dan
sejarah Indonesia milikku lebih lengkap daripada siapa pun bahkan ketika saya cari buku
tersebut di perpustakaan SMPN 1 saat itu tidak ada. Buku-buku itu sering saya bawa ke
sekolah untuk dibaca ketika ada kesempatan.

Ketika saya lahir, Bapak memberi saya sebuah nama yang diambil dari bahasa
Arab, sedangkan ibuku juga memberi saya sebuah nama yang diambil dari bahasa Jawa.
Jadi saya punya dua nama. Pencarian nama saya terbilang unik karena pada saat saya
lahir bapak mencari nama untuk saya dengan membuka beberapa kitab berbahasa Arab
yang dia miliki padahal ketika itu Bapak sedang sakit mata. Akhirnya, disepakati nama
yang diberikan dan dicantumkan dalam akta kelahiran adalah Lukmanulhakim
Almamalik, nama pemberian Bapak.

Saya orang Majalengka asli yang menjalani kisah kasih putih-biru di SMPN 1
Majalengka. Selain menggandeng label favorit, jarak rumah yang tidak terpaut jauh dari

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

109

sekolah menjadi alasanku untuk mengikuti ujian masuk ke SMPN 1 Majalengka. Selama
tiga tahun, aku mengenyam bangku 1D, 2C, dan 3G.

“Suku sejenis adalah ketika suatu variabel bertemu variabel yang sama, maka
koefisiennya tinggal dihitung. Sebagai contoh, 2x+3x hasilnya 5x. Nah, kalau 5y+8y,
hasilnya berapa, Anak-anak?” tanya Pak Suwarman, guru matematika. Kapurnya cetak-
cetek memenuhi papan tulis dengan angka-angka.

Aku mengangkat tangan, “13x, Pak!”

“Bener, Lukman!” Pak Suwarman memberikan jempol kepadaku. Kemudian,
beliau menuliskan jawabanku di papan tulis. Sudah kubilang, saya menyukai
matematika selain sejarah. Apalagi, di SMPN 1 Majalengka ini saya bertemu dua guru
matematika favoritku, yakni Pak Suwarman dan Bu Eli. Sewaktu kelas 2C, terus terang
saya tidak pernah mengerjakan PR yang diberikan Ibu Eli di buku latihan. Entah Ibu Eli
tahu atau tidak bahwa saya tidak pernah mengerjakan PR waktu itu karena buku saya
tidak pernah diperiksa. Namun setiap mengawali pelajaran, Ibu Eli selalu meminta siswa
untuk mengerjakan PR yang diberikan sebelumnya di papan tulis dan saya selalu maju
duluan ke depan mengerjakan beberapa PR tersebut di papan tulis. Sebagai bentuk
refreshing kala belajar, saya biasa jajan di kantin seperti teman-teman pada umumnya.
Terkadang, saya juga menghabiskan waktu dengan membaca buku di perpustakaan.

Psst. Mungkin karena terlalu banyak membaca, saya seolah mendapatkan ilmu
sihir dari sana! Kemampuan ini mampu kugunakan ketika ujian tiba untuk mata
pelajaran bukan matematika (soal matematika harus dihitung). Begitu melihat soal di
kertas, saya segera membayangkan jawabannya. Saya menyusuri perpustakaan yang
kubangun dalam pikiran. Hei! Saya mengetahui jawabannya, lengkap dengan sumber
dan tata letak kalimatnya pada sebuah buku. Aha! Jawaban nomor dua ada dalam buku
paket halaman 167 pada paragraf ketiga dengan gambar kira-kira berukuran 4x6 di pojok
kanan atas. Saya langsung menuliskannya. Nilai sempurna pun kudapatkan.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

110

Di SMPN 1 Majalengka, saya turut menyeimbangkan pendidikan dengan kegiatan
di luar sekolah. Saya pernah mengikuti Jambore Nasional di Cibubur. Lalu, dongeng
Mang Jaya membawaku untuk menekuni bidang kesenian. Bersama Yaya Rohayadi,
Asep Dian, dan Asep Saepudin, saya mengikuti lomba bobodoran Sunda di sekolah.
Selain itu, saya juga menyenangi seni calung, reog, dan gamelan serta pencak silat.
Walaupun terkesan seperti seorang kutu buku, nyatanya saya adalah anak yang gemar
bermain. Sepulang sekolah, saya sering buru-buru makan dan berganti baju, lalu pergi
ke halaman belakang rumah. Terbentang megah bak permadani alam, sawah yang dialiri
langsung dari sungai di dekatnya. Sewaktu SMP, sosok Lukman yang banyak bermain
di sawah dan sungai Cijurey teringat lekat dalam benak. Bersama Oom Saumarina,
teman SMP Negeri 1 yang menjadi Polisi dan sekarang sudah almarhum, kemudian Adil
dan beberapa teman anak tetangga lainnya seumuran, saya sering menghabiskan waktu
sore di sana. Selain itu, saya juga sering bermain dengan Yayan, Dede Rachman, Budi,
Dana, Wawan, Papay, Yadi, Soni, dan teman-teman berharga SMP lainnya.

Beranjak dewasa, Bapak selalu menekankan pada saya untuk mandiri. Beliau
memberikan kebebasan pada saya untuk belajar dan bersikap. Saya mencoba
menerjemahkan sendiri maksud “mandiri” tersebut. Saya pun memilih jurusan sendiri,
yakni pendidikan yang kusenangi, bidang teknik yang di dalamnya banyak ilmu fisika
dan matematika. Sejak kecil saya memiliki cita-cita sebagai seorang engineer.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

111

Kisah Kasih Putih Biru 23:

Masih Tafsir Mandiri

Lukmanulhakim Almamalik

ilustrasi seorang siswa yang kutu buku dan selalu menjadi juara kelas

Saya memulai pendidikan di SDN 7 Majalengka, lalu SMPN 1 Majalengka, dan SMAN

1 Majalengka, kemudian Institut Teknologi Bandung (ITB). Saya mendaftar UMPTN
Teknik Fisika di ITB dan akhirnya berhasil lulus menjadi seorang tukang insinyur.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

112

Menjadi bagian dari keluarga besar ITB sepertinya sudah tertanam sejak kecil di alam
bawah sadar. Kakek dari ibuku tinggal di Bandung dekat dengan kampus ITB dan
Unpad. Cerita tentang ITB sering kali saya dapatkan dari ibuku dan kakekku dan suatu
waktu bapakku pernah mengajakku dan murid-muridnya ke Pusat Komputer ITB.
Waktu itu, kami bertemu dengan seorang dosen ITB yang menjadi kepala Pusat
Komputer ITB. Beliau berkata padaku, “Kalau kamu kuliah, di sini aja!” Begitu saya
kuliah, ternyata beliau adalah Profesorku di Teknik Fisika yang pernah riset di
Laboratorium NASA, Amerika Serikat.

Selepas lulus, saya sebenarnya pernah ditawari pembimbing saya, seorang doktor
lulusan Perancis untuk menjadi asisten dosen dan sempat apply sekolah lanjut ke Perancis
dan Arab Saudi (belajar engineering). Namun, adanya tawaran duluan untuk bekerja
sebagai programmer analyst di perusahaan konsultan IT yang menangani salah satu Bank
BUMN akhirnya saya putuskan memilih untuk bekerja.

Kemudian, saya pindah bekerja menjadi instrument and control engineer di
perusahaan petrokimia sebelum akhirnya saya kena PHK karena krisis ekonomi yang
terjadi tahun 1998 saat itu. Sebelum di-PHK, saya sempat dipertahankan bersama empat
puluh engineer awal. Kala itu, kami sedang membangun pabrik petrokimia seluas 350 Ha.
Kini, pabrik tersebut sudah dioperasikan walaupun tidak sesuai dengan rencana awal.
Saya memutuskan untuk bersekolah kembali untuk menambah pengetahuanku di
bidang engineering dan manajemen di ITB. Sebelum lulus, dosen pembimbing saya,
profesor, menawariku untuk mau menjadi PNS di salah satu kementerian yang saat itu
sedang membutuhkan pegawai baru. Namun saya lebih memilih untuk bisa mandiri dan
membangun kerja bersama teman-teman kuliah dulu yang sedang kami rintis saat itu.

Lulus magister, saya ke sana-sini bergabung dengan teman-teman sesama alumni.
Saya memperoleh kesempatan untuk menangani dua Pemerintah Daerah di Jawa Barat.
Kala itu, kedua bupatinya dijebloskan ke penjara karena kasus korupsi. Bersama dua
rekan, saya membangun kembali sistem informasi keuangan daerah yang sempat hilang
semua, entah diambil atau disembunyikan, selama kurang lebih tiga tahun. Lama-

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

113

kelamaan, saya merasa tidak betah bekerja di sana. Unsur politiknya amat dominan,
sampai pada akhirnya saya memilih keluar dan menerima tawaran kerja bersama dengan
teman-teman lama lainnya di Jakarta menjadi seorang konsultan manajemen industri
untuk membantu di satu unit bisnis suatu BUMN sampai saat ini.

Tak lekang dari pendidikan, saya memiliki sejumlah pengalaman mengajar untuk
bisa menularkan ilmu praktis yang didapatkan di dunia industri bukan hanya teoritis di
dunia akademik. Pada 2006, saya juga menjadi dosen tetap di sebuah perguruan tinggi
swasta di Bandung. Selain itu, saya juga menjadi dosen tidak tetap beberapa perguruan
tinggi lainnya seperti Politeknik STIA LAN Bandung, IPDN Jatinangor dan Jakarta, dan
kampus lainnya. Keahlianku salah satunya adalah terletak pada bidang pemodelan
simulasi sistem dan kebijakan dengan alat bantu komputer.

Untuk kedua kalinya saya pernah ditawari kembali untuk bisa mengabdi menjadi
seorang PNS oleh seorang profesor yang menjadi ketua sebuah lembaga negara yang
menjadi mitra kerja pada kesempatan lain. Namun, saya tetap lebih memilih mandiri dan
berpegang teguh pada wejangan Bapak. Saya harus mandiri, berbeda dengan kehidupan
seorang PNS yang segalanya serba terukur. Telah tertanam dalam lubuk hati bahwa jiwa
ini ingin menjadi lebih mandiri dan bebas. Mandiri secara waktu dan finansial. Mandiri
untuk bisa menjadi hamba yang beribadah kepada Tuhan Yang (juga) Maha Mandiri.
Selain meresapi wejangan Bapak, saya turut mengingat Kakek. Orang-orang di sekitar
menyebut beliau sebagai Kiai. Beliau mempunyai murid banyak pada zamannya dan
mengajar ilmu agama. Namun, beliau juga berdagang dan bertani sebagai sumber
penghasilan. Banyak murid yang telah dibiayai oleh Kakek saya. Saya tertegun. Dari
beliau saya mempelajari profesi guru bukan mencari uang, melainkan mengabdi penuh
untuk anak didiknya. Selayaknya para Imam Mazhab dan banyak guru tokoh agama
jaman dulu yang justru banyak membiayai murid-muridnya untuk bisa belajar.

Kini, selain mempunyai mahasiswa bimbingan di tempat saya mengajar, saya juga
sering kali kedatangan mahasiswa dari perguruan tinggi lain, seperti UI, STIA LAN, dan
Undip untuk bisa belajar mengenai satu bidang yang selama ini saya tekuni. Karena

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

114

membaca buku dan jurnal-jurnal yang saya publikasikan, mereka menghubungiku
untuk belajar bidang tersebut. Saya menerimanya dengan senang hati. Kuajak mereka
belajar langsung ke kantor tempat saya beraktivitas saat ini. Tiga buku mengenai bidang
systems thinking dan modeling sudah saya tulis dan saya buat bagi mereka yang ingin
belajar mengenai bidang ini. Kutanamkan dalam diri untuk belajar dari mana saja. Saat
ini, selain tetap berusaha mempelajari ilmu agama untuk bekal kelak, saya juga sedang
mempelajari ilmu lain seperti data sains, industri 4.0 agar tidak ketinggalan dan bisa
beradaptasi dengan masa depan. Konten-konten YouTube yang relevan pun kulahap.
Tidak ada istilahnya takut belajar karena umur sudah kepalang lanjut dan memang
menurut agama Islam yang saya anut bahwa kita dituntut harus tetap belajar sejak dari
buaian sampai liang lahat.

Sembari belajar engineering, saya mengisi waktu dengan bercerita. Mungkin
karena dulu sering mendengarkan Mang Jaya, saya suka menulis cerita singkat. Saya
sempat aktif berselancar di Facebook. Dalam beberapa waktu, saya menyikapi fenomena
negeri melalui dunia pewayangan. Seperti yang kita tahu bahwa dunia pewayangan
memiliki sejumlah tokoh dengan karakternya masing-masing. Sebagai contoh, ketika
terjadi suatu peristiwa dalam sekop pemerintahan, saya menggunakan tokoh wayang A
untuk menggambarkannya. Sayang, akun Facebook tersebut kini telah terhapus.

Beragam dukungan dari orang-orang sekitar telah membawaku menjadi Lukman
hari ini. Lukman yang dulu disebut-sebut sering juara (ini kebetulan karena mungkin
saya mempunyai kebiasaan lebih sering mengulang dan membaca pelajaran sekolah dari
teman-teman yang lain). Lukman yang dulu mengerjakan PR secepat kilat. Lukman yang
diayomi dalam rangkulan keluarga. Lukman yang menemukan tafsir “kemandirian”
melalui rangkaian perjalanan hidup.

Saya pernah berkeliling pesantren bersama beberapa teman kuliah di Jawa Barat
selama hampir setahun pada tahun 2000-an. Dalam resume, kujabarkan bahwa jika suatu
sekolah/pesantren ingin memiliki pendidikan yang maju, pembelajaran tentang
akuntansi (pengelolaan uang), kewirausahaan, sains teknologi, dan matematika perlu

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

115

ditingkatkan. Walaupun tersirat dikotomi, manusia juga perlu belajar “ilmu dunia”
selain ilmu agama. Dikotomi “ilmu dunia dan ilmu agama” dalam dunia pesantren ini
muncul dan punya sejarah yang panjang, tetapi tidak bisa saya ceritakan di sini.

Dalam sebuah joke saya kepada teman-teman, ketika saat ini IAIN berubah
menjadi UIN, UIN sudah beradaptasi membuka fakultas dan program studi di bidang
kedokteran, teknik dan sains. Seharusnya perguruan tinggi seperti ITB, ITS, dan
universitas lainnya juga beradaptasi membuka fakultas dan program studi ilmu-ilmu
keagamaan seperti yang ada di UIN. Dengan demikian dikotomi “ilmu dunia dan ilmu
agama” yang dipahami sebagian pemeluk agama di Indonesia saat ini akan tidak ada
lagi. Berkaca dari sejarah dulu di masa keemasannya bahwa seorang ahli ilmu agama
ternyata mumpuni juga di bidang ilmu pengetahuan begitu sebaliknya, seperti Ibn Sina
dan Ibn Khwarizmi, Al Gazhali. Berkaca dari resume tersebut, label favorit SMPN 1
Majalengka pun sebenarnya dapat dimekarkan kembali. Tak hanya itu, program
Merdeka Belajar membuat peserta didik bebas menentukan keahlian yang tidak terpaku
pada kurikulum. Singkatnya, tidak menjadi robot bernyawa. Pendidikan karakter turut
mengimbanginya.

Saya selalu menanamkan sel-sel kemandirian kepada anak-anak. Sebagai orang
tua, sudah semestinya kita memfasilitasi kemampuan anak sesuai kompetensinya. Saya
turut menginformasikan kepada mereka tentang kemungkinan kondisi masa depan yang
kompleks dan dinamis yang akan berbeda dengan kondisi sebelumnya. Adaptasi adalah
cara untuk bertahan hidup dalam situasi yang tidak dapat diprediksi. Maka dari itu,
komunikasi anak dan orang tua perlu terjalin dengan baik.

Jika kita membebaskan pandangan, tidak ada istilahnya telat belajar dan berhenti
belajar. Belajar untuk meninggalkan masa lalu buruk, belajar untuk mempelajari hal-hal
baru, dan belajar untuk mempelajari hal-hal lama yang baik. Belajar yang tidak perlu
menunggu suasana hati untuk membaik. Belajar mandiri dalam situasi dan kondisi apa
pun. Belajar yang tidak hanya fokus bergelut pada medium pembelajaran, tetapi juga

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

116

membagi porsi untuk tetap bisa membantu orang tua kita. Kebaikan sederhana yang
jangan sampai dihilangkan oleh generasi muda saat ini.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

117

Kisah Kasih Putih Biru 24:

Perundungan Membawa Berkah

Lusyana Rasmadi

Bel berbunyi.

Tanda istirahat dimulai.
Kuambil majalah Kartini milik mama dari tasku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

118

Tetiba ….
Mataku terbelalak.
Tak pernah kedua bola ini berputar seperti saat ini.
Dari ujung kepala sampai ujung kaki kuperhatikan sosok yang satu ini.
Rambutnya ikal berwarna pirang sampai sedada.

Wajahnya bagaikan bulan, bersinar sangatlah terang. Matanya itu… oh sangat
berbinar. Hidungnya mancung. Kulitnya putih bersih layaknya kain yang tanpa noda.

“Betapa indahnya,” gumamku dalam batin. Senyumannya itu, sungguh-sungguh
guratan terbaik yang pernah aku tatap. Giginya berbaris rapi dari kiri ke kanan, tanpa
satu pun hal kutemukan menempel di antara selanya. Anting-anting berlian dan
perhiasan cemerlang melengkapi penampilannya.

Gaun dari butik ternama yang jauh dari negeri seribu cinta itu menjuntai. Lekuk-lekuk
badannya yang indah itu terlihat di hadapanku. Pinggulnya yang hanya beberapa senti
saja bisa membuatku tak berhenti-hentinya menatap. Sekali lagi gumamku, “Betapa
indah dirinya itu.”

Sore itu aku terbelalak melihat sosok model wanita pada majalah mode dan
busana.

“Duh, andai aku seperti dia,” ucapku seraya memejamkan mata. Aku
membayangkan. Aku berandai-andai.

“Andai aku seperti dia,” ucap bibir kecil ini sekali lagi.
Memang, model wanita itu terkenal sekali. Beribu majalah ingin dia yang tersenyum di
halaman paling depan. Berjuta artikel ingin fotonya yang sedang duduk manis
menyeruput teh bagai sore hari di Cafe Paris. Oh, indahnya. Oh, betapa luar biasa
kehidupannya.

“Andai….,” sebelum kata-kata itu berlanjut, seseorang menepuk pundakku
teramat keras. Aku sampai berhenti sejenak.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

119

“Eh, itu Sisy?” tanya sosok yang ingin sekali aku pukul balik, sungguh tepukan
itu menyakitkan. Jantungku berdebar kencang.

“Bukan… bukan Sisy,” jawabku pelan. Bibir ini terpaksa menanggapi omongan
konyol dari teman yang tepat saat ini sudah tak kukenal lagi.

“Tentu… tentulah bukan Sisy. Mana ada model yang badannya seperti Sisy?”
ucapnya seraya tertawa terbahak-bahak. Ia menunjuk terus ke bagian buah dadaku dan
memperlihatkan perbedaannya dengan miliki model itu.

Apa sih, maksudnya?
Bukannya buah yang wanita banggakan?
Seharusnya aku bangga, bukan?
Seribu tanda tanya menghantui pikiranku sepanjang waktu. “Seharusnya aku
bangga, bukan? Buah dada ini pemberian Allah. Pemberian yang Maha Pencipta untuk
aku, ya, hanya aku. Model itu bahkan tidak memilikinya,” ucapku dalam hati. Aku
bergumam.
Bertanya-tanya. Apa maksudnya, ya? Aku, kok, tidak paham. Aku tidak mengerti.
Mengapa sosok yang disebut teman itu justru merendahkan aku? Mengapa? Tanyaku
terus-menerus.
“Sisy, sudahlah…,” kata Dian yang menyadarkan diriku setelah bergumam.
“Makan, yuk, Sisy… Kudengar Mang Sedit punya menu baru,” ajak Dian sambil
menggandeng tanganku ke luar kelas melewati lapangan basket menyeberang menuju
kantin. Syukurlah, aku tak harus berlama-lama hanyut dalam tanda tanya.
Bakwan, asmun, dan sambal oncom yang membuat nafsuku naik langsung aku
lahap. Hap. Hap. Hap. Sensasi daun kemanginya yang harum mewangi langsung
kuambil dan simpan dalam mulut. Hap. Hap. Hap. Nikmatnya masakan Mang Sedit
Di dalam hati kecilku selalu bertanya. Ya, waktu itu, aku hanya bertanya-tanya.
Tanda tanya akan buah dada yang menggantung ini. Aku jadi ingat kisah putih biru saat
masa sekolah di SMPN 1 Majalengka.
Saat kaki kulangkahkan ke dalam ruang kelas, tetiba semua mata tertuju padaku
sembari mengajakku agar menoleh ke papan tulis. Kulihat gambar kartun dengan
payudara yang besar.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

120

“Hahahahahaha …!” Serempak seluruh murid di kelas itu tertawa terbahak-
bahak. Apa yang salah dariku?

“Hei, suge!” teriak seseorang dari lorong kelas. Dari jauh, aku bisa mendengar
dengan jelas sekali orang itu menunjuk pada aku. Oh, bukan. Bukan. Ternyata, dia
menunjuk pada buah dadaku ini.

“Iya, kamu. Kamu Sisy?” tanyanya yang berlari ke arahku pada siang hari itu di
ruang kelas.

“Kamu Sisy, pemilik suge, ‘kan? Susu gede!” ucapnya.
Aku bingung.
Pemilik apa?
Suge?
Susu gede?
Maksud dia itu apa?

Aku yang sangat tidak tahu apa maksudnya, tetapi tetap kujawab,
“Aku Sisy. Aku enggak punya susu yang kamu maksud, mungkin kamu bisa beli
di tempat lain?” Ia tertawa. Matanya berputar. Tawanya bahkan membekas dan
meninggalkan jejak seraya ia berlari ke luar kelas menuju lorong sekolah.
Teman lain menghampiriku.
“Sisy, susumu itu suge!” umpatnya. Aku terkejut. Tiba-tiba ada yang mengumpat
padaku dengan nada tinggi.
“Maksud kamu, payudaraku? Itu susu?” tanyaku.
“Iya, Sisy, masa kamu enggak tahu? Bohong! Susumu itu gede. Gede banget. Aku
jadi enggak fokus kalau belajar,” katanya bernada keras. Teman-teman yang lain pun
ikut tertawa-tawa seolah-olah aku badut yang layak menerima perlakuan itu.

Itu, itu namanya body shaming. Ini perundungan. Dia mempermalukanku karena
bentuk tubuhku ini. Terlebih ukuran buah dadaku yang besar. Dia, dia pelaku body
shaming terhadapku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

121

Sejak hari itu, kehidupanku berubah. Aku tidak seperti Sisy yang biasanya teman-
temanku kenal. Tahun pertama aku mampu menjadi murid yang berprestasi. Namun,
tidak lagi di tahun-tahun berikutnya. Hidup tidaklah mudah. Mau berangkat ke sekolah
saja berat. Berat sekali. Ada beban di batinku. Aku ingin berontak dan berteriak,
mengapa aku dilahirkan dengan payudara yang besar? Salahkah? Aku menjadi murid
pendiam dan tak percaya diri. Fokus belajar pun mulai sirna.

Teringat jelas. Ini adalah masa-masa yang sangat sulit bagiku. Aku tidak
mengenal lagi arti kata “mudah” dalam kamus bahasa hidup ini. Berat. Sungguh berat
langkah yang aku jalani ini. Teramat sulit dan membelit nilai-nilai terbaikku. Semua
prestasi yang kumiliki hancur seketika. Tak pernah aku dapatkan hasil yang begitu
rendah dari kerja keras belajar. Sampai detik ini saja aku belum memiliki saran untuk
mengatasi masalah yang kualami. Perundungan, itulah akarnya. Itulah yang terjadi
padaku. Luka yang tidak berdarah itu masih membekas dalam kepala. Aku masih terus
mengingat momen mengerikan itu.

Walau suasana putih biru itu sudah berlalu, pilu itu masih kurasa. Saat ini, aku
adalah orang tua tunggal. Ya, aku hidup mandiri. Kekasih hatiku meninggalkan diriku
karena memang Sang Pencipta sangat menyayanginya dan memanggilnya untuk pulang
dalam keabadian. Aku percaya, dia masih hidup dalam hatiku. Oh, tentu. Tentu. Dua
buah hatiku pun menemani hidupku ini. Tentu, kekasihku dekat dengan buah hatiku. Ia
tak meninggalkanku dari dunia, ia selalu bersemayam dalam lubuk hatiku yang paling
dalam. Aku berjanji akan selalu mengajari anak-anakku untuk menghargai orang lain,
termasuk tubuh seseorang yang dianggap tak normal.Tak ‘kan kubiarkan para
perundung melakukan serangan dengan kata-kata yang menyakitkan itu. Cukup aku
saja yang mengalami peristiwa buruk itu. Tidak dengan anakku.

Tak ada lagi yang bisa kuucapkan selain segala memori dan kenangan yang aku
alami meski lara.Tak ada lagi yang bisa kuhaturkan. Hanya ucapan terima kasih untuk
segala hal yang terjadi.

Kini aku dapat berdiri sendiri.
Kini aku berbeda.
Aku harus mencintai dan menghargai diriku sendiri.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

122

Semoga perundungan itu tak ada lagi karena itu menyakitkan dan mampu
menghancurkan masa depan yang telah dirancang dengan baik.

“Seharusnya aku bangga!” teriakku dalam degup jantung yang cepat ini. Ya,
seharusnya. Seharusnya aku bangga. Ini tubuh indah yang Allah berikan padaku. Inilah
tempat-Nya bersemayam dalam hatiku.

Aku tak perlu malu.
Aku tak perlu takut lagi.
Aku ini punya badan yang indah.
Aku ini punya diriku.
Seharusnya aku bangga.
Terima kasih masa-masa kelam yang kulalui. Berkat kegelapan, kutemukan
terangnya harapan. Walau kelam, tetapi akan selalu kuingat kilaunya sinar masa depan.
Aku bisa lihat sendiri, aku mampu hadapi hidup ini. Lalui tiga tahun di Majalengka,
inilah cerita “Sisy Suge” yang harusnya kubanggakan.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

123

Kisah Kasih Putih Biru 25:

Keindahan dalam Kesederhanaan

Melly Mustika

ilustrasi seorang siswi dengan tumpukan surat cinta yang tak pernah dibaca

“Eh, eh, tau gak sih?”

“Eta, si anu!”
“Iya, dia lagi kesemsem tuh sama murid baru yang anak Maja, itu ‘kan?”

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

124

Riuh. Meskipun jarum jam masih menunjukkan pukul 06.30 pagi, dinding kelabu
sekolah SMP 1 Majalengka sudah bergema dengan berbagai macam kegaduhan.
Kendaraan umum berlalu-lalang tanpa henti, menciptakan kebisingan penuh dengan
decitan roda dan raungan mesin. Ade Djadja berperan sebagai Polisi Sekolah berusaha
mengatur lalu lintas mobil dengan murid-murid yang akan menyeberang jalan menuju
pintu gerbang sekolah. Berbagai nuansa biru dan ungu melukis cakrawala pagi, ditemani
dengan sedikit warna jingga dan merah milik matahari fajar yang mengintip dari sela
sejumlah awan.

Gerbang sekolah terbuka dengan lebar. Di samping sekolah, lebih tepatnya di
Jalan Kesehatan, sudah ada banyak pedagang kaki lima yang bersinggah sejak pagi buta,
bekerja keras mencari penghasilan dengan memikat perhatian para pelajar melalui
beragam makanan ringan yang bersifat adiktif untuk dicomot sebelum sesi pembelajaran
dimulai. Menilai berdasarkan pepohonan rimbun yang berdiri di sekitar wilayah sekolah
dengan tenang, terik matahari hari ini akan menaklukkan keteduhan yang ditawarkan
oleh awan-awan kelabu dan semilir angin yang seringkali tiba bersamanya.

Berbagai macam stereotip dan tipe pelajar terlihat bertebaran di segala penjuru
kawasan sekolah SMP 1 Majalengka. Ada yang berjalan melewati gerbang dengan sikap
yang santai dan acuh tak acuh, ada yang terbirit-birit menyeret barang bawaannya
sambil berlari menyebrangi lapangan yang terbentang di antara gerbang masuk dan
gedung sekolah, serta ada juga yang sibuk mengobrol dengan sekelompok temannya
sambil menikmati makanan ringan yang tergenggam dalam cengkeramannya.

Ketika tiba di ruang kelas, aku dibombardir dengan berbagai macam belu-belai
milik teman-teman sekelasku yang sedang berbincang secara heboh. Setelah selesai
mencentang kolom kosong yang terletak di sebelah kolom yang menerakan nama “Melly
Mustika”, aku melihat bagaimana salah satu teman kelas yang menyadari akan
kedatanganku memberi isyarat kepadaku untuk mendatanginya.

“Mel, Mel, sini deh!” serunya dengan antusias sambil menunjukkan sepasang
mata yang berbinar.

“Heem, kenapa?”
“Mel, kamu tau gak?”

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

125

Pertanyaan tersebut dilontarkan dengan ambigu.
“Enggak. Memang ada apa, sih? Kenapa semua orang heboh?” tanyaku dengan
terheran-heran. Aku yakin raut wajahku sedang menampilkan ekspresi penasaran yang
bercampur aduk dengan perasaan bingung.
Ternyata, salah satu siswi di kelas kami ketahuan sedang melakukan PDKT
dengan siswa dari kelas lain. Seperti murid-murid SMP yang baru memasuki masa puber
pada umumnya, informasi yang mengandung gosip-gosip berunsur romansa tentunya
akan seketika menjadi obrolan hangat dan mampu memercik kehebohan di kalangan
siswa SMP 1 Majalengka.
Akan tetapi, bagi diriku pada saat itu, hal tersebut bersifat membosankan. Bahkan,
beberapa surat cinta yang kuterima dari seseorang yang berinisial H saja masih
kusimpan tas rajutku yang kugantung di kapstok di kamarku. Berbulan-bulan. Bahkan
hingga tiga tahun selama aku menjadi murid SMPN 1 Majalengka. Ada yang diberikan
langsung oleh si H ini. Ada juga surat yang diberikan oleh temannya. Panglayar!
Ada juga yang dikirim ke rumahku. Dan ada juga surat yang tiba-tiba sudah ada
di selipan bukuku bergabung dengan koleksi bulu angsa dan bulu ayam yang sengaja
dicat dengan warna-warni nan indah. Satu hal yang tidak kulakukan pada surat-surat
tersebut adalah … TIDAK PERNAH KUBACA! Maaf yaaaa….! Memang di dalam kamus
kehidupanku, belum mau mengenal yang namanya jatuh cinta! Tugasku hanya ada tiga:
pertama belajar, kedua belajar, daan ketiga juga belajar!

Ah, romansa lagi, romansa lagi, keluhku secara diam-diam sambil mendengarkan
teman-teman sekelasku bergosip dengan semangat.

Meskipun masa SMP terkenal dengan julukannya sebagai tahap ketika insan-
insan duniawi mulai mengenal perasaan suka dan ketertarikan terhadap lawan jenis, aku
sebenarnya tidak pernah memahami sentimen tersebut. Ketika dinyatakan lolos masuk
SMP 1 Majalengka, aku dilanda dengan rasa bangga dan gembira karena telah berhasil
mengeklaim sebuah bangku di suatu SMP yang pada saat itu memegang titel “SMP
favorit”.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

126

Pikiran-pikiran yang muncul di benakku di kala tersebut hanya merupakan
perihal seputar tanggung jawabku sebagai seorang pelajar dan kenikmatan bermain
dengan teman-teman sebayaku. Kalau bukan belajar, belajar, belajar, kepalaku pasti
dipenuhi dengan pikiran bermain, bermain, bermain. Sampai-sampai, aku seringkali
bertanya kepada diriku sendiri, “Mengapa orang-orang sangat tergesa-gesa untuk segera
berpacaran? Padahal, bukankah jalan-jalan dan merangkai kenangan bersama dengan
sekelompok teman akrab lebih menyenangkan?”

Menghabiskan waktu bersama sahabat sambil mengobrol santai seputar hal-hal
kecil dalam kehidupan sehari-hari. Menikmati kehadiran sesama, berbincang dan
berdiskusi mengenai berbagai macam topik tanpa beban dan tekanan. Menjelajah
beragam tempat makan dan lokasi hiburan yang ada di Majalengka. Merangkul setiap
kesempatan dan kebahagiaan yang hanya hadir di masa-masa muda ketika semua hal
tentang hidup terkesan lebih indah dan leluasa. Menemukan kebahagiaan yang
tersimpan dalam kesendirian, merangkul kebisingan yang tersirat dalam keheningan,
serta mempelajari keindahan dalam kesederhanaan.

Terima kasih atas semua kenangan dan pelajarannya, SMP 1 Majalengka.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

127

Kisah Kasih Putih Biru 26:

Tarik Ulur Layangan

Nanang Koswara
ilustrasi anak berseragam SMP dan ayah berbaju loreng, angkatan darat.

“Belajarna yang rajin, Nanang!” Bapak menepuk pundakku. Pakaian berloreng dengan

emblem-emblem yang dikenakan bapak kontras dengan seragam putih-biruku. Langkah
kaki bapak terdengar gagah dengan sepasang sepatu dinasnya.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

128

“Nanang ke sekolah dulu, Bu,” ucapku sambil mencium tangan ibu. Aku
menyusul bapak yang sudah berjalan duluan. Bapakku adalah seorang tentara. Beliau
selalu siap membela negara.

Berpisah jalan dengan bapak, aku bergegas menuju sekolah. Semangat
patriotismenya menjalar kepadaku. Walaupun tidak berjibaku dengan senjata, aku tetap
memiliki kewajiban sebagai seorang pelajar untuk membela negara. Di SMPN 1
Majalengka, aku belajar dengan giat supaya dapat memajukan Indonesia. Di sisi lain,
menjadi murid SMPN 1 Majalengka yang merupakan sekolah favorit itu sae keren kitu,
weh. Walaupun terdapat beragam sekolah, SMPN 1 Majalengka tampak lebih keren.

Di sekolah, lagi-lagi aku bertemu dengan Deni Yulian. Kami sudah bersama sejak
kecil di SDN Neglasari. Tahun pertama, aku berada di kelas 1C bersama Maman. Lalu,
bertemu dengan guru favoritku, Pak Tedi dan Pak Tata. Kegiatan sekolah juga tidak
lengkap tanpa ekstrakurikuler. Aku aktif di pramuka dan basket. Salah satu kegiatan
pramuka yang sangat berkenang adalah Jambore Nasional bersama Lukman, Wawan,
Ela, dan teman-teman lainnya. Selain Deni Yulian, sahabatku yang paling berkesan di
SMPN 1 Majalengka adalah Dani Erawan. Dia suka menungguku dan mengantarku
sepulang sekolah.

“Psst, Nanang. Dia lewat, tuh. Maneh teu nyapa?” tanya seorang teman ketika siswi
pujaanku lewat.

“Sshh, cicing!” seruku. Wajahku memerah.

Aku sedang jatuh cinta dengan teman sebaya. Dia adalah gadis yang manis dan
ceria. Kalau kusebut namanya, pasti semua temanku mengetahuinya. Akan tetapi, yang
paling mengetahui tentang hubunganku adalah Lia. Bisa disebut bahwa Lia adalah
panglayar atau mak comblang kami. Saat kuyakin perasaan ini kian tumbuh, aku mulai
menabung.

Iya, menabung. Cinta butuh pengorbanan, ‘kan? Salah satu pengorbanannya
adalah uang. Sebagai lelaki, aku ingin tampil gagah dengannya. Walau tidak

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

129

menggunakan seragam tentara, aku ingin seperti bapak yang gentleman. Alhasil, aku
berencana untuk memberikannya surat cinta.

Satu, dua, tiga. Aku menghitung uang yang telah kutabung seminggu ini.
Tabungan ini benar-benar kusisihkan dari uang jajan setiap hari. Begitu cukup, aku
bergegas menuju suatu toko yang terkenal di sini.

“Nyonya Bulu!” seruku. “Nanang bade meuli kertas surat!” lanjutku.

Yang dipanggil pun tiba. Nyonya Bulu datang membawa selembar kertas surat
yang sangat wangi. Cocok sekali jika dituliskan untaian kata-kata cinta. Dia pasti akan
senang dengan hal ini.

Hai, … ini Nanang …

Lulus dari SMPN 1 Majalengka, aku dan Deni Yulian kembali bersama di SMAN
1 Majalengka. Kemudian, melanjutkan pendidikan dalam jurusan Ekonomi Manajemen
di Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta. Setelahnya, aku pergi ke Jakarta dan
bekerja dalam suatu brand alat kesehatan. Ketika perusahaan sedang berada di titik
bagusnya, kerusuhan luar biasa terjadi pada 1998. Kantorku hancur total. Bosku yang
asal Australia, kembali lagi ke kampung halamannya. Usai peristiwa krisis moneter
tersebut, aku sempat diminta bergabung kembali, tetapi posisi perusahaannya di
Australia. Aku senang bekerja dengan orang luar negeri. Risikonya adalah aku akan jauh
dari orang tua dan ketika ada masalah, aku ngeri terjadi kembali seperti tempo lalu.

Aku memutuskan untuk pindah ke perusahaan lain yang sama-sama di industri
peralatan kesehatan. Aku bergabung dengan Randox. Kemudian, pindah lagi ke PT Dian
Jaya Baru. Ibarat sebuah mobil, perusahaan kami menyediakan suku cadang, bahan
bakar, dan sebagainya. Dengan posisiku sebagai Sales and Marketing Director se-
Indonesia, aku berkeliling dari Sabang sampai Merauke.

Langkahku sampai saat ini tidak terlepas dukungan orang-orang di sekitar, tak
terkecuali keluargaku. Walau sudah kepala delapan, bapak masih sehat. Ibu pun sama.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

130

Aku selalu mengatakan bahwa bapak dan ibu itu berhasil. Sepasang orang tua yang
berhasil membesarkan tiga anaknya menjadi orang yang berkecukupan. Ketiganya
kuliah. Tentu bukan hal yang mudah untuk orang tuaku. Sebagai anak laki-laki satu-
satunya, aku pernah berpikir untuk putus kuliah. Akan tetapi, bapak menolaknya.

“Kamu hebat Nanang dewasa, Nanang tua, Nanang sekarang yang selalu
membahagiakan orang tua. Anak-anakku masih kecil, masih mencari jalannya. Yang
berhasil ya orang tua Nanang.” Omongan tersebut kupatri dalam diri.

Kalau bertemu Nanang kecil, betapa hebatnya perjuangan Nanang kecil hingga
hari ini. Nanang bisa survive, bekerja keras, dan berusaha untuk tidak merepotkan orang
lain. Dulu, aku ingat sekali karena sering minder dengan hidup yang serba kekurangan.
Kini, aku bisa membesarkan anak-anakku dengan kondisi yang jauh lebih layak daripada
yang kualami dulu. Cukup aku yang merasakan kesulitan tersebut, anak-anak jangan.
Sebagai orang tua, tentu aku ingin memberikan yang terbaik kepada keempat anakku.
Pada zaman yang serba modern ini, tentu cara mendidik anak juga berbeda. Aku
melakukan tarik ulur bak bermain layangan. Ada hal-hal yang perlu dibebaskan, ada
juga yang perlu aku tarik rem untuk kebaikan anak-anakku. Bagiku, bentuk kekayaan
tidak hanya dari materi, tetapi juga kualitas putra-putrinya.

Nanang kecil juga tidak terlepas dari perjalanan di SMPN 1 Majalengka. Begitu
hidup di Yogyakarta, aku kurang mengikuti informasi tentang Majalengka. Akan tetapi,
melalui Meli Mustika, aku mengetahuinya. Dia merupakan pusat informasi tentang
SMPN 1 Majalengka, seperti prestasi, perubahan, atau informasi lain. Begitu melihat
teman-teman yang reuni dengan menggendong banyak cerita kehidupannya, aku
menyimak dengan sukacita. Bukannya luruh predikat, aku melihat SMPN 1 Majalengka
tetap eksis dan memegang label favorit meskipun tanpa promosi. Sejak dulu, SMP-ku
sudah hebat. Kebanyakan alumni sukses juga berasal dari SMPN 1 Majalengka. Akan
tetapi, kualitasnya lebih ditingkatkan lagi saja.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

131

Kisah Kasih Putih Biru 27:

Keranjang Kenangan Neng Guguy

Neng Guguy Teguh R.

Singkatnya setengah semester tidak menampik keranjang kenangan di SMPN 1

Majalengka. Karena mengikuti pekerjaan orang tua, keluargaku berlalu lalang
Sumedang-Majalengka-Cirebon untuk kesekian kali. Dari alumni SMPN 1 Sumedang,

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

132

kemudian singgah sejenak di penghujung kelas tiga bersama teman-teman dari SMPN 1
Majalengka. Aku dengar-dengar, sekolah itu merupakan yang terfavorit!

Begitu pindah ke Majalengka, Bapak segera mendaftarkanku ke SMPN 1. Bapak
berbincang banyak dengan Pak Suhanda, kepala sekolah. Aku hanya menyimak obrolan
mereka dengan menyimpan setitik kagum kepada Pak Suhanda.

“Apa pun cita-cita dan masa depannya, sekarang tetap belajar yang rajin, ya,”
ucap Pak Suhanda di penghujung obrolan. Kedua mata lembutnya memancarkan
inspirasi.

Lantas, ceritaku di SMPN 1 Majalengka dimulai. Guru-guru membimbing dan
memberikan banyak pelajaran kepadaku. Kemudian, teman-teman juga menyambut
baik kedatanganku, terutama Yayah Siti Sofiah, Intan, Meli, dan Dini (alm.) Ke mana pun
aku pergi, pasti selalu bersama mereka. Destinasi utama kami adalah kantin sekolah.

Masa putih biru pun tidak lepas dari cinta monyet. Sebetulnya, lebih ke cinta
monyet yang berujung simpanse, maksudnya lebih serius dan dewasa. Tak hanya
bertemu teman yang tetap menjalin silaturahmi hingga saat ini, aku juga bertemu jodoh
di SMPN 1 Majalengka. Sebagai manusia, kita tidak bisa memprediksi masa depan. Siapa
sangka jika teman laki-laki yang dulunya acuh tak acuh dan saling memendam rasa,
ternyata sekarang menjadi nakhoda bahtera rumah tangga.

Sebelum klop sama si L ini, aku sempat dekat dengan kakak kelas angkatan 1983
dari sekolah PG. Ketika aku pindah ke Sumedang setelah lulus SMP, dia sering mampir
ke rumah. Namun, ketika mulai bersekolah di SMA 1 Majalengka, dia justru menjauh.
Berbeda dengan kakak kelas tersebut, L terkadang mampir ke rumah, tetapi tidak berani
dengan orang tuaku. Dia juga pernah mendua sehingga memutuskanku untuk mundur.
Entah takdir baik apa yang diberikan oleh Tuhan, L menjadi suamiku hingga kini.

Selaras dengan pesan Pak Suhanda, masa-masa SMP perlu diisi dengan giat
belajar. Masa indah putih biru tersebut merupakan peralihan siswa sebelum memasuki
jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Terkadang, muncul angan-angan untuk
kembali ke SMP lagi.

Jangan main-main wae, Guguy!

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

133

Sewaktu di Majalengka, aku sempat mengikuti sanggar seni. Kecintaan pada
dunia seni telah memberikanku peluang untuk melanjutkan pendidikan di Akademi Seni
Tari Indonesia (ASTI) Bandung. ASTI Bandung berubah menjadi Sekolah Tinggi Seni
Indonesia (STSI), lalu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI). Namun, aku memilih jurusan
Ekonomi di Universitas Siliwangi.

Dalam diri kubertanya, ke mana arahnya?
Lintasan masa depan tampak berliku. Tak terasa, tiga belas tahun telah kujalani
pekerjaan berupa penjualan rumah. Mungkin memang ini jalan yang Tuhan berikan
padaku. Jatuh bangun usaha dan cita-cita telah kulalui dengan tegar hingga membentuk
Neng Guguy sampai saat ini. Neng Guguy yang sama cerianya seperti di SMP 1
Majalengka dulu.

Kuharap, SMP 1 Majalengka tumbuh menjadi sekolah yang lebih maju lagi
dengan cap favorit yang terus melekat di lingkungan sekitar. Kualitas pendidik lebih
ditingkatkan sebagai garda terdepan bagi para siswa. Sebagai alumni pun turut
mempromosikan SMP 1 Majalengka. Insya Allah, sebentar lagi akan kudaftarkan si buah
hati ke SMP 1 Majalengka. Jejak-jejak pengalaman masih bersemayam, keranjang
kenangan perlu diisi ulang.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

134

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka


Click to View FlipBook Version