The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Keindahan, keseruan, dan keharuan saat masa bersekolah di SMPN 1 Majalengka

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by niknik, 2022-09-05 04:48:52

Kisah Kasih Putih Biru

Keindahan, keseruan, dan keharuan saat masa bersekolah di SMPN 1 Majalengka

Keywords: Buku Reuni

135

Kisah Kasih Putih Biru 28:

Apa Artinya untuk
Melepaskan dan Melupakan

Nenny Rosdiani

ilustrasi tiga ibu muda yang sedang ziarah ke makam Evi dan Yeyet

Fajar tiba dalam berbagai rangkaian cahaya, warna, dan suara. Keheningan yang

menyelimuti waktu subuh perlahan-lahan memudar, tergantikan dengan hembusan
hidup milik makhluk-makhluk alam semesta yang sudah mulai bangkit dari tidurnya
yang pulas. Insan-insan duniawi berangsur-angsur terlihat berhasil lepas dari
cengkeraman alam mimpi, mengerahkan banyak perjuangan untuk memisahkan diri

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

136

mereka dari dekapan selimut yang hangat demi bisa segera memulai sebuah lembaran
hari yang baru. Manik-manik gemintang dan bentangan langit gelapnya seketika lenyap
di bawah sosok mentari yang kian detik kian terik.

Melalui jendela dapur yang terbuka luas, nuansa gemilang mentari pagi
mencurah masuk untuk bersilaturahmi dengan setiap anggota dalam rumah tanggaku.
Sambil mengangkat penutup panci dengan hati-hati, aku perlahan-lahan memasukkan
potongan ayam yang telah direbus lembut ke dalam panci yang telah terisi dengan
berbagai macam bahan yang melengkapi masakan soto ayam. Mulai dari kentang,
lontong, tomat, taoge, bihun, sampai telur, sebuah menu keluarga padat dengan beragam
nutrisi sudah hampir siap untuk disantap.

Hm, gumamku sambil mengamati isi kulkas. Mengapa seperti ada yang kurang ya?

Pada saat itu juga, mataku tertuju pada satu kantong plastik transparan yang terisi
penuh dengan wortel. Di sampingnya juga terdapat kol dan mengingat ada lumayan
banyak taoge yang tersisa dari proses pembuatan soto ayam. Melihat bahan-bahan
tersebut, sebuah ide untuk membuat bala-bala tiba-tiba muncul di benakku. Karena
teksturnya yang renyah dan rasanya yang asin, aku rasa akan menjadi hidangan
sampingan yang pas untuk menemani masakan soto ayam yang gurih dan mengandung
sedikit rasa asam.

Selama mencuci dan mengiris bahan-bahan yang diperlukan, pikiranku melayang
ke masa-masa SMP ketika aku pergi ke dapur kantin Mang Sedit bersama dengan teman-
temanku demi mencomot bala-bala secara langsung. Ada banyak kenangan masa
mudaku, baik yang masih lekat dalam ingatanku maupun yang sudah pudar dari
memori, yang terjadi ketika aku sedang menimba ilmu di SMP 1 Majalengka. Sejak
pertama kali menginjak kawasan sekolah, aku dilanda dengan perasaan bangga karena
telah berhasil memasuki SMP favorit di wilayah Majalengka. Rasa senang, bangga,
sekaligus grogi bercampur aduk menjadi satu.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

137

Di SMP 1 Majalengka, aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang
hebat. Mulai dari teman-teman sebaya dengan berbagai macam latar belakang dan
perspektif, sampai sosok-sosok pendidik yang senantiasa menuntun para pelajar untuk
menggapai cita-cita kami. Salah satu guru yang kehadirannya paling membekas di
hatiku adalah Pak Eming, seorang pria paruh baya yang seringkali mendapatkan julukan
sebagai “guru killer” karena personanya yang tegas dan tidak bertele-tele. Mungkin
karena mengajar pelajaran olahraga yang biasanya sering dianggap sepele oleh banyak
pelajar, Pak Eming selalu memastikan untuk menunjukkan sikap yang tegas sekaligus
disiplin agar setiap anak menganggap aktivitas berolahraga sebagai sesuatu hal yang
penting. Aku belajar banyak dari cara mengajarnya yang selalu yakin bahwa setiap
muridnya harus bisa.

Ketika menduduki bangku SMP 2 dan menjadi salah satu murid yang namanya
tertera dalam daftar absen di kelas 2F, terdapat Niknik, Lisna, dan juga Yeyet yang
tempat duduknya terletak di sekitarku. Perjalananku melewati SMP 2 dipenuhi dengan
memori mencamil bakwan di dapur Mang Sedit, mendengar curhatan teman-teman
perempuanku seputar ketertarikan mereka terhadap yang berlawanan jenis, dan juga
tugas kelompok untuk pelajaran Bahasa Indonesia yang bertemakan “keluarga”. Karena
ditugaskan harus bersandiwara layaknya sebuah keluarga, aku akhirnya memegang
peran sebagai anak dengan Niknik sebagai sosok ibu dan Ade Djaja sebagai karakter
ayah. Hahahahaha …. kupikir kelak kedua sahabatku ini bisa menjadi sepasang suami
istri yang sesungguhnya, ternyata takdir berkata lain. Kini, mereka sudah berbahagia
bersama dengan keluarga masing-masing. Saat itu, rasa canggung dan malu yang aku
rasakan masih sangat pekat walaupun sudah menjelma menjadi sebuah kenangan yang
lucu.

Momen-momen paling berkesan di masa SMP 3 kebanyakan berhubungan
dengan kesibukanku yang pada saat itu sedang aktif berpartisipasi dalam kegiatan
Patroli Keamanan Sekolah (PKS) dan bermain basket bersama Susi yang hingga kini

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

138

masih menjalin hubungan persahabatan yang baik denganku. Karena kegemaranku
dengan bermain basket, aku juga sempat berpartisipasi dalam sebuah pertandingan yang
dilaksanakan di SMA PGRI.

Selama mengenyam pendidikan di SMP 1 Majalengka, aku juga kerap
mengunjungi tempat kediaman salah satu temanku yang bernama Evi karena letak
rumahnya yang kebetulan dekat dengan rumahku. Evi, sosok pria yang super gokil.
Kenangan dari waktu yang aku habiskan di rumah Evi dipenuhi dengan senyuman yang
semringah dan suara tawa canda yang riang, kedua tangan mungil kami terkotori
dengan taburan tepung setelah sibuk membuat adonan untuk berbagai macam kudapan,
seperti donat dan bakpao. Sosok Evi yang baik hati, lembut, dan perhatian membuatku
kesusahan untuk menahan rasa rindu yang berat.

Tak terasa, masa mudaku berlalu dengan begitu cepat di bawah naungan waktu.
Perlahan-lahan, apa yang dahulu aku anggap sebagai realita, kini telah menjelma
menjadi sekadar kenangan yang indah. Aku telah memperoleh berbagai macam
pengalaman, pelajaran, dan perubahan sejak masa sederhana yang kini hanyalah
merupakan sebuah memori yang berkesan. Kini, aku tak lagi bisa berlari-larian dan
bermain basket tanpa ditemani dengan rasa nyeri yang seketika akan menyerang
beberapa anggota tubuhku. Kini, jika sedang mengidamkan renyah dan asin gurihnya
bala-bala, aku tidak bisa lagi dengan jail mencomotnya dari kantin Mang Sedit bersama
teman-teman sebayaku. Bahkan, kini aku harus selalu mengingatkan diriku bahwa sosok
Evi yang baik dan Yeyet yang asik sudah berpulang ke sisi Allah.

Di kehidupan manusia yang singkat dan fana ini, ada terlalu banyak hal yang
terselimuti dengan ketidakpastian dan sepenuhnya berada di luar kendali kita. Seperti
adonan bala-bala yang sekarang sedang kugoreng dengan wajan di dapur rumahku, aku
hanya bisa bernostalgia melalui suara desis dan aroma lezat yang menyambut inderaku
dengan kehadiran yang familier. Namun, aku telah belajar bahwa mengingat momen

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

139
sekaligus sosok yang telah berlalu secara berlebihan dan berkepanjangan akhirnya hanya
akan mengundang banyak hantu masa lalu untuk menjamur dalam jiwaku.

Toh, benar kata ibu, renungku sambil mencomot salah satu bala-bala yang sudah
matang. melepaskan bukan berarti melupakan.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

140

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

141

Kisah Kasih Putih Biru 29:

Gadis Centil Pencari Identitas Diri

Niknik M. Kuntarto

“Nik …!”

“Niknik!”
“De …!”
“De Niknik, bangun!”
“Sadar, Dew!”

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

142

“Kindeng, ayo hirup minyak kayu putihnya!”

“Buka mata, buka mulut, minum teh manis dulu!” Kudengar samar-samar
beberapa orang memanggilku. Entah berasal dari suara siapa. Suara dengan nada
kekhawatiran tingkat tinggi. Suara yang memotivasi agar aku bangun dan sadar kembali.
Waktu pun terasa cepat berputar. Kutinggalkan suara deru seru drumband SMPN 1
majalengka yang dipimpin oleh mayoret Yuli, gadis cantik multitalenta itu.

Niknik namaku. Niknik Mediyawati nama lengkapku. De Niknik orang
memanggilku. Bukan karena aku anak bungsu sehingga dipanggil De. Aku masih
mempunyai adik dan kupanggil De Lies. Aku pun mempunyai kayak yang dipanggil De
Reny oleh kakak-kakakku. Tentu itu bukan panggilan dariku. Tetap sebagai kakak,
kupanggil Teh Reny. Hanya satu kakakku yang tak memanggilku De, Teh Chichi lebih
nyaman memanggilku Kindeng yang berarti berkulit gelap. Ya, saat kecil aku sering
menggunakan kaus “you can see” alias “kelek katembong atau lekbong” dan bermain
sepeda di tengah teriknya matahari langit Majalengka. Ini yang menyebabkan kulitku
gosong terbakar matahari. Teman kecilku sejak SD, Ati, tahu tentang hal ini dan ikut-
ikutan memanggilku Kindew, plesetan dari Kindeng.

Namanya juga orang tua dulu. KB belum begitu digalakkan. Maksud hati cukup
mempunyai anak 6 saja, ternyata tanpa terencana hamil lagi dan lahirlah aku sebagai
anak bungsu. Otomatis aku dipanggil De atau nDe. Ups, rupanya salah perhitungan lagi.
Tak dapat ditolak, Mama pun hamil lagi dan lahirlah adikku, yang kupanggil De Lies, si
bungsu. Akhirnya, kami menjadi delapan bersaudara dan tiga di antara dipanggil De
atau nDe: De Reny, De Niknik, dan De Lies. Panggilan Nde Enik atau De Niknik adalah
sejarah bagiku. Orang yang memanggil namaku seperti itu pasti bagian dari masa laluku.
Bagian dari hidupku di masa kecil. Keluargaku. Saudaraku. Tetanggaku. Teman kecilku.
Atau … para mantanku! Hahahaha!

Bicara tentang mantan sungguh mengasyikan. Aku termasuk gadis kecil yang
agak centil. Sudah kenal pria ganteng. Bayangkan! Kelas 6 SD saja sudah ada yang naksir.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

143

Pertama, seorang pria yang tinggi besar dan juga ganteng. Namanya Ade Djadja
Subagdja. Oh ya, dia pun masih bersekolah dan sama-sama kelas 6 SD. Dia rajin apel ke
rumah di malam Minggu.

Anehnya, dia selalu membawa pengawal. Ada 2 atau 3 orang temannya selalu
mengawalnya. Entah mengapa. Sempat muncul pertanyaan di dalam hati, mungkin dia
kurang percaya diri bila datang sendiri. Namun, semua itu, kupandang sebagai sesuatu
yang sangat positif. Konon kata Nenek, jika berduaan dengan lawan jenis, ada sosok
ketiga, yakni jin atau iblis yang akan menggoda kita untuk melakukan sesuatu yang
dilarang agama. Bersyukurlah dengan adanya pengawal-pengawalnya, hubunganku
dengan Ade Djadja sangatlah aman dan nyaman. Hubungan seperti apa sih? Tenang,
kami hanya menyalurkan hasrat cinta monyet.

Sungguh bahagia, tatkala masuk ke SMPN 1 Majalengka, ternyata aku dan Ade
Djaja bertemu di sekolah yang sama, tetapi beda kelas. Aku senang dan cukup bahagia.
Namun, tetiba aku merasa minder dengan diriku sendiri. Ada banyak organisasi dan
kegiatan sekolah, tetapi aku tak mampu berada pada posisi itu. Kulihat Ade Djadja aktif
sebagai pemimpin upacara setiap hari Senin. Suaranya sungguh lantang dan tegas.
Sementara aku, selama bersekolah di SMPN 1 Majalengka, aku tak pernah menjadi
petugas upacara. Mungkin karena tinggi badanku hanya 158cm, tak cukup untuk
menjadi pasukan pengibar bendera. Sesekali pernah aku menjadi anggota paduan suara.
Itu pun karena giliran per kelas. Jadi, saat upacara bendera setiap hari Senin, boleh
dikatakan aku hanya menjadi peserta upacara.

Ade Djadja juga mempunyai suara yang indah. Pun bermain gitar. Aku ingin
seperti Lili, vokalis bersuara emas, tapi aku tak mampu. Tidak mempunyai kemampuan
di bidang itu. Saat kelas 2 SMP, kebetulan aku satu kelas dengan Ade Djadja, tetiba dia
mengajakku ke dalam vocal group kelas. Wah, ini kesempatan yang baik, pikirku. Tanpa
banyak alasan, kuterima tawarannya, aku pun menjadi salah satu vokalis dalam grup
tersebut. Suara sumbangku bisa terbiaskan oleh suara bagus teman-temanku. Hahahaha
… yang penting pernah tampil dan juara ke-2 Lomba Vocal Group pada Porseni SMPN
1 Majalengka. Ada satu hal yang membanggakan, akulah sang koreografer vocal group

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

144

kelas kami. Akulah yang mengatur setiap gerakan tari saat kami bernyanyi. Hmm…
mungkinkah bakatku menari?

Bagiku, menari adalah ekspresi diri. Setiap gerakan sungguh telah
membuatku mampu berekspresi. Menari dapat mengasah kepercayaan diri. Apalagi
ketika penari harus mampu tampil di depan umum. “Senyum, senyum, dan senyum!
Ceria, ceria, dan ceria!” begitulah Bu Eno memberikan saran agar kami, siswa
didikannya, mampu tampil maksimal.

Saat acara lomba usai, otomatis aku tak punya lagi kegiatan. Ada grup band dan
Lili sebagai penyanyinya ditambah Yuli, gadis cantik se-SMPN Majalengka. Apalagi dia
seorang mayoret karena selain cantik, juga didukung oleh postur tubuh yang tinggi.
Namun, kadang rasa percaya diriku muncul tiba-tiba tanpa landasan kuat, saat ganti baju
olah raga di pojok kelas, aku berkata pada Yuli,

“Yul, nanti aku ikut latihan band ya, aku juga mau menjadi penyanyinya!”

“Apa? Penyanyi?” tatapan Yuli sungguh mencurigaiku. Emang Niknik bisa
nyanyi? Mungkin itu yang ada di pikirannya. Aku pun tersadar bahwa tidak ada
kemampuan di bidang suara.

Akhirnya, aku mulai mengenal diriku sendiri. Mengenal bakat yang kumiliki:
menari. Tak ragu lagi, aku pun langsung daftar menjadi anggota ekstrakurikuler menari
asuhan Ibu Eno. Alhamdulillah. Bakatku tersalurkan. Di setiap acara sekolah, baik acara
pentas seni saat kenaikan kelas atau pentas seni Porseni, aku dan beberapa penari lainnya
seperti Ika Mardiana yang kebetulan anak Ibu Eno, juga ada Sri Halimatussadiah, gadis
cantik anak baru yang bikin semua cowok ngelirik! Alhamdulillah kami tampil
memukau. Semua karena kerja sama yang baik antara anggota penari yang satu dengan
lainnya. Senyum! Jangan judes kalau sedang menari! Itu kunci kesuksesan sang penari,
begitu Ibu Eno sering memotivasi kami agar tampil maksimal.

Pernah suatu hari, aku yang dianggap lebih banyak centilnya daripada
kemampuannya, mencoba untuk ikut lomba-lomba kecantikan di sekolahku. Putri

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

145

Kartini! Aku merasa cukup cantik dan menarik saat berkebaya ala Kartini. Namun, nasib
memang kurang baik. Selalu yang menjadi juara adalah Ika Mardiana, putri cantik guru
menariku, Bu Eno. Hmm… ya, wajar saja, pikirku sedikit cemburu.

Pada akhirnya, aku selalu mencoba mengikuti lomba lainnya di luar sekolahku.
Aku merasa kemampuanku di dalam sekolah kurang menonjol dan nasib baik selalu
tidak berada di dekatku. Akhirnya, aku mencoba peruntunganku di luar sekolah. Dan
ternyata berhasil. Aku pernah menjadi finalis dan menjuarai lomba-lomba kecantikan
seperti Putri Majalengka, Putri Citra, Model Rambut Remaja, Model Pengantin, dan
lomba lainnya. Wajah centilku pun pada akhirnya menghiasi beberapa koran daerah di
Majalengka dan Jawa Barat. Hmmm … bangga dong!

Pada akhirnya, aku lebih sering tampil di luar sekolah dan lama-kelamaan aku
dinilai lebih dewasa meskipun belum waktunya. Aku sering berdandan layaknya orang
dewasa dan ternyata itu yang membuat aku lupa pada beberapa pria yang mendekatiku,
termasuk Ade Djadja yang mundur karena daya tarikku, kelucuanku, kecentilanku
mulai pudar, kitu ceunah. Hahahaha … Pacarku pun bukan dari kalangan siswa di
SMPN 1 Majalengka, melainkan seorang siswa STM dan mahasiswa Jurusan Peternakan,
Universitas Diponegoro. Waduh! Masih SMP saja, pacarnya mahasiswa! Dua lagi!

Aku sebenarnya ingin tampil sebagai siswa berprestasi di sekolah, tetapi
kesempatan itu belum datang juga. Pernah aku mencoba ikut drumband di SMPN 1
Majalengka, tempat Yuli menjadi mayoretnya. Ternyata, setelah melewati beberapa kali
latihan memegang alat musik, aku hanya ditempatkan sebagai penari di bagian depan,
hanya memegang pita merah, tanpa alat musik. Mungkin pembimbing drumband saat
itu, Pak Tata, tidak melihat kemampuan di bidang musik. Karena wajahku centil, aku
ditempatkan sebagai penari saja.

Hari perayaan ulang tahun Majalengka tiba. Drumband sekolahku akan tampil di
Alun-Alun Majalengka. Bahagia sekali. Itu tandanya aku akan tampil sebagai seorang
penari di garda terdepan. Pagi-pagi, Mamaku ikut menyiapkan baju dan aksesoris pita
merah yang akan menjadi propertiku menari. Mama juga sibuk menyiapkan sarapan

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

146

pagi, nasi goreng asal dan bakwan Mak Lurah, warung makan di Jalan Kehutanan yang
cukup terkenal dengan dagangannya yang selalu mengundang selera. Namun, sayang,
aku terlalu sibuk berdandan hingga lupa menyantap sarapan yang sudah disediakan
Mama.

Kini, aku sudah berada di barisan terdepan pasukan drumband sekolahku.
Rasanya, ada yang kurang lengkap di dalam tubuhku. Ada sesuatu yang meminta
haknya untuk makan. O, ow. Aku baru sadar belum sarapan. Sebagai pengganti, segera
kurogoh saku bajuku, dan ternyata ada beberapa keping permen karet. Alhamdulillah,
pikirku, lumayan kandungan gulanya mengandung kalori tinggi yang sanggup
memasok energi yang cukup menguatkan fisikku.

“Kini, saatnya penampilan dari drum band SMPN 1 Majalengka. Mari kita berikan
tepuk tangan yang meriah …“ kudengar pembawa acara mengumumkan saatnya
drumband sekolahku tampil. Segera kubuang permen karet yang di mulutku. Aku
khawatir akan mengganggu penampilanku.

Pluh … Tetiba meloncatlah permen karet yang tak lagi manis itu ke hadapanku
tanpa berpikir akibatnya yang bisa terinjak sepatu orang. Namun, tetiba, mengapa
banyak kunang-kunang di pelupuk mataku? Mengapa tetiba hari yang cerah menjadi
gelap? Dan akhirnya, aku pun terjatuh dan tak sadarkan diri. Pingsan di tengah
kemeriahan acara ulang tahun Majalengka di Alun-Alun Kabupaten Majalengka.

“Niknik!”

“De Nik!”

“Kindeng”

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

147

Kisah Kasih Putih Biru 30:

Pengabdian Diri dan Peribadahan Hati

R. Neni Kusumadewi

“Selamat pagi, Pak. Apakah saya boleh berbicara sebentar dengan Bapak?”

Setelah mendengar sautan “Ya, masuk saja!” yang terdengar ramah di telinga, aku
segera mendorong pintu kayu yang berdiri di hadapanku. Pemandangan ruangan yang
bersemayam di balik pintu tersebut menyambut indra penglihatanku. Jajaran beberapa

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

148

rak buku yang menghiasi dinding-dinding ruangan tersebut menyerupai benteng
kesatria yang kaya akan ilmu, kehadirannya berhasil menciptakan suatu aroma
kekayuan khas yang menyapa setiap individu yang memasuki ruangan tersebut dengan
nuansa hangat.

“Oh, Neni!” sapa pria paruh baya tersebut yang juga merupakan pemegang titel
ketua di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA), sebuah institusi yang sekarang telah
berkembang menjadi Fakultas Ilmu Ekonomi di Universitas Majalengka (UNMA). “Apa
kabar?”

“Baik, Pak.” jawabku dengan sebuah senyuman yang agak canggung.
“Ngapain kamu berdiri di situ? Sini, sini, duduk.” ucap beliau sambil memberi
isyarat kepadaku untuk menempati tempat duduk yang ada di hadapannya.
Hening. Sebagai seorang karyawan magang pada saat itu, aku hanya bisa
menunggu beliau membuka percakapan terlebih dahulu sambil menahan kecanggungan
yang kini sedang melanda atmosfer tanpa kenal ampun.
“Mengapa kamu ingin bertemu dengan saya hari ini, Neni?”
Secara diam-diam, aku menghembuskan napas lega. Akhirnya, percakapannya
dibuka oleh beliau.
“Masa magang 3 bulan saya sudah selesai, Pak.” jawabku dengan perlahan-lahan.
“Saya ingin bertemu dengan Bapak untuk memamitkan diri.”
Namun, di luar dugaan, reaksi yang aku dapatkan dari pria yang menggenggam
gelar sebagai ketua dari STIA tersebut bertolak belakang dengan ekspektasiku.
“Eh, jangan!” serunya dengan suara yang sedikit keras. Berdasarkan raut
wajahnya yang seketika menunjukkan ekspresi kaget, bisa kutebak bahwa respons
tersebut merupakan respons yang keluar secara instingtif.
“Kalau saya boleh bertanya, mengapa jangan ya, Pak?”
“Ah, maaf. Saya tidak bermaksud untuk memaksa kamu. Sebentar lagi, kami akan
mendirikan sekolah tinggi ilmu ekonomi dan saya berencana untuk merekrut kamu
sebagai karyawan pertama kami. Apakah kamu bersedia?”

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

149

1999 telah menjadi tahun ketika aku mulai menjalani perjalanan hidupku sebagai
pendidik pertama yang mengajar di Fakultas Ilmu Ekonomi, Universitas Majalengka
(UNMA). Sebenarnya, pertemuanku dengan gerbang milik dunia pendidikan
merupakan sebuah kebetulan. Sebagai anak dari seorang ibu yang berprofesi guru, aku
dibesarkan di suatu keluarga yang sangat memprioritaskan tahta pendidikan dalam
kehidupan. Dengan anjuran ibuku yang pada saat itu memegang titel guru bahasa
Inggris di SMP 1 Majalengka, akhirnya aku melanjutkan pendidikan SMP di SMP yang
dianggap favorit tersebut.

Meskipun di lingkup sekolah ibuku berperan sebagai guru bahasa Inggrisku,
beliau tidak pernah sekalipun memanjakanku, baik dalam segi pendidikan maupun
kehidupan sehari-hari. Didikannya selalu menuntutku untuk menggapai segala macam
prestasi dan validasi secara mandiri. Ketika menduduki bangku SMP, keinginanku
untuk berkiprah di ranah pendidikan sebenarnya hampir tidak ada. Justru, aku dulu
malah sangat tertarik untuk bekerja di dunia perbankan. Oleh karena itu, setelah lulus
SMA dari SMA PGRI, aku akhirnya memutuskan untuk berkuliah di STIE YPKP, yang
kini telah berada di bawah naungan Universitas Sangga Buana YPKP.

Ketika gelar sarjana sudah berada dalam genggamanku, aku menyibukkan diri
terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikan S-2. Mulai dari bekerja di salah satu
perusahaan besar sebagai seorang pramuniaga, mengikuti pelatihan yang dilaksanakan
oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) khusus untuk para lulusan sarjana, sampai akhirnya
aku menjadi bagian dari program magang yang pada saat itu kebetulan juga sedang
dilaksanakan oleh pihak Disnaker. Melalui program magang tersebutlah aku akhirnya
bisa mulai berkiprah di dunia pendidikan.

Berkat setiap kenangan, pengalaman, dan ilmu yang sudah mulai kupupuk sejak
menduduki salah satu bangku kayu SMP 1 Majalengka, aku dapat menemukan jati diriku
dalam sebuah profesi yang amat mulia dan pelita. Tiap-tiap hari kuhabiskan di hadapan
para mahasiswa hebat, rasa bangga dan syukur dengan setia mendampingiku selama
aku mengabdikan diri demi memajukan bangsa dan menjalankan ibadah melalui
profesiku yang mulia sebagai seorang dosen.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

150

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

151

Kisah Kasih Putih Biru 31

Mak Comblang Gaul

Shanti Sri Mutiarsyah

Dalam angkatan 87, siapa yang tidak mengenalku?

Aku yang ramah, baik, peduli, dan rusuh ini pasti memiliki tempat khusus dalam
benak teman-temanku. Aku dikenal sebagai tempat curhat realistis dan mak comblang

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

152

sukses atau orang yang berhasil menjodohkan-jodohkan dua sejoli. Gaul adalah kata
yang (mungkin) identik denganku. Aku tidak tahu mengapa bisa demikian. Berteman
dan bergaul adalah kesukaanku.

“Aing teh nyaman kalo sama Ati. Ati teh bisa jadi pendengar yang baik. Ati juga
sering ngasi Ita pendapat. Ita teh kurang ngarti, tapi Ati bisa wae ngeliat masalah secara
lurus. Tau aja si Ati mah. Ieu masalahna tentang naon, penyelesaiana kumaha,” ucap Ita,
sahabatku, suatu hari.

Kemudian, ditambahkan oleh Niknik, sahabatku juga. “Ati teh kalau ngasi
pendapat teu mikirin kita tersinggung atau enggak. Langsung jleb wae kitu, kadang nusuk
ka hati saking benerna. Tega gak tega, Ati tetep ungkapin itu.”

“Mending kitu kan, yak. Daripada ngomong baik ti hareup, tapi ngomongkeun ti
belakang,” jawabku menanggapi pendapat mereka.

Testimoni dan tanggapanku keren, ya? Oya jelas, Ati gitu, loh.

Baik perempuan maupun laki-laki, semuanya kutemani. Aku akrab dengan Hari
Nurdin, Estu, dan Yayan.

Aku meninggalkan jejak di kelas 1G, 2G, dan 3E. Menurutku, suasana kelas satu
itu masih penuh dengan perkenalan dan adaptasi lingkungan. Kemudian, kelas dua
mulai mengenal teman satu sama lain, tetapi karena rolling kelas, perlu membangun
kemistri dari awal lagi. Terakhir, kelas tiga, kelas yang mulai menunjukkan keakraban
dan kekompakan dari teman-teman. Di 3E, terdapat banyak siswi yang keren, seperti
Niknik, Ela, dan Ita.

Karena kakak-kakakku bersekolah di SMPN 1 Majalengka, aku mendapatkan
tuntutan implisit untuk meneruskan pendidikan di sana. Aku tidak menyesalinya. Di
SMPN 1 Majalengka, aku mengenal banyak teman dan guru yang baik. Ada Bu Eli, guru
cantik, pintar, dan ramah, yang tidak pernah pilih-pilih dalam mengajar. Semua murid
dirangkul lembut olehnya. Lalu, ada guru IPA yang suka kukesali karena ulangan. Guru
tersebut bertubuh tinggi, kecil, memiliki jambang, dan berambut tipis. Aku tidak belajar

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

153

untuk menyiapkan ulangannya. Aku hanya memperhatikan gerak tangannya ketika
menjawab soal di kertas. 100% kuserahkan pada keberuntungan.

Hm. Sepertinya, tangannya menulis huruf C. Oke sip.

Memang pada dasarnya anak yang beruntung, aku selalu mendapatkan nilai
delapan atau sembilan dalam ulangan IPA.

Selain Bu Eli dan guru IPA, telah mengendap di pikiranku tentang hadirnya sosok
Pak Eming, guru olahraga. Pernah ketika mata pelajaran olahraga berlangsung di kelas
dua, aku merasa suhu badanku meningkat. Kala itu, materi tentang basket sedang
diajarkan oleh Pak Eming. Karena melihat wajahku yang pucat, Pak Eming menyuruhku
untuk tidur di pinggir lapangan. Konyolnya, aku betulan tidur di pinggir lapangan
sambil mendengarkan materi Pak Eming dan obrolan teman-teman.

Selain kejadian tidur di pinggir lapangan, aku juga pernah menutup-nutupi
kegiatanku memotong kuku ketika Pak Eming sedang mengajar.

Ctak ctuk ctak ctuk.

Aku memotong kuku dengan asal sebab pandanganku harus fokus pada materi
Pak Eming. Aku dihadapkan oleh dua kemungkinan menyeramkan. Jika tidak
memotong kuku dan tidak memperhatikan Pak Eming, punggung tanganku pasti akan
dipukul dengan menggunakan penggaris. Masalahnya, kuku-kukuku sedang panjang
dan kotor saat ini. Alhasil, aku wajib memotongnya sebelum terciduk oleh Pak Eming.
Ugh, aku pikir, aku memotongnya terlalu dalam hingga terlihat sekilas ada bekas merah
yang hadir di sekitar kuku.

Kisahku berlanjut pada jasa mak comblang yang terakreditasi tinggi. Sejumlah
teman memintaku untuk menjodohkan mereka dengan orang yang disukai. Atas takdir
Tuhan, banyak yang berhasil berjodoh karenaku. Pernah kujodohkan Ika dan Deni, Ita
dan Gaang, dan Hari Nurdin dan Lia. Meskipun demikian, aku sendiri tidak kepikiran
untuk menyukai seseorang. Suatu hari, aku pernah diberikan secarik surat cinta oleh
seorang kakak kelas. Aku merasa geuleuh, lantas mengabaikannya. Pikiranku hanya

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

154

berisi pertemanan saja. Menurutku, menjalin banyak hubungan pertemanan adalah hal
yang asyik dan bermanfaat.

“Ati, maneh teh terlalu baik jadi jelema. Saking baiknya, dimanfaatin, ‘kan,” ucap
sejumlah teman padaku.

Aku hanya tertawa miris mendengarnya. “Y-ya, kalau berteman ‘kan harus baik
sama siapa aja.”

“Masa mau dimanfaatin terus, euy. Ati blegug.” Rasanya, pendapat tersebut
menohok langsung ke hatiku.

Aku selalu berpikir bahwa ketika seseorang baik denganku, aku harus lebih baik
padanya. Aku tak pernah sekalipun berpikir untuk memanfaatkan dan dimanfaatkan.
Aku hanya ingin bergaul bersama teman. Ketika aku sudah dewasa nanti, mungkin akan
berpikir demikian. “Ati, Ati. Maneh teh meuni naif, pisan. Mau aja dimanfaatin sama
orang-orang. Maneh wajib baik ke semua orang. Akan tetapi, maneh juga wajib bijaksana
sama diri sendiri biar teu dimanfaatkeun.”

Pelajaran dari relasi pertemanan dan pelajaran tata boga membawaku ke dunia
kuliner di masa dewasa. Bakat memasak juga telah kuturunkan pada anakku. Dia
berwirausaha membuat bisnis kue. Aku mengajarinya untuk membuat kue yang benar-
benar handmade, bahkan mengimbaunya untuk tidak menggunakan mikser ketika
membuat adonan. Sebagai pembuat kue, kami tidak bisa terus-menerus mengandalkan
teknologi untuk mengantisipasi mati listrik dan sebagainya.

Secara moral, aku selalu mengingatkan anakku untuk mampu mencari uang
sendiri, terlebih ketika orang tua sudah berumur. Anak perlu dididik untuk memiliki
tabungan sendiri guna mengamankan finansial kelak. Walaupun optimis anakku
memiliki karier bagus dalam dunia kuliner, aku tidak pernah memaksanya. Aku ingin
dia mementingkan pendidikan terlebih dahulu. Ketika anakku merasa lelah, aku
menyuruhnya untuk istirahat memasak terlebih dahulu. Kendati perlu berwirausaha,

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

155

aku selalu menekankan batas agar tidak berlebihan. Masih ada kesehatan yang perlu
dijaga, terlebih di usia muda yang penuh semangat.

Suamiku bekerja memperbaiki drydock kapal yang berhenti di pelabuhan. Karena
sering memperbaiki drydock di sejumlah lokasi pelabuhan lokal dan internasional,
suamiku sering disebut sebagai pelaut–padahal, bukan.

Aku membantu suami dengan membuka usaha kuliner. Aku pernah
mendapatkan orderan untuk sebuah acara Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang
Yudhoyono, di kediamannya, Cikeas. Aku membuat banyak puding berwarna biru yang
terbuat dari pewarna makanan dan susu sapi murni. Alasan warna tersebut digunakan
adalah untuk mendukung partai naungan SBY, yakni Partai Demokrat. Selain itu, sedap
malam buatanku menjadi jajanan favorit Ani Yudhoyono, istri SBY. Bu Ani tahu saja jika
diameternya sedap malam tidak sesuai dengan keinginannya. Oleh karena itu, aku harus
teliti dalam membuat sedap malam berdiameter sebesar 9 x 12 cm.

Mereka yang telah kusebutkan di awal, teman-temanku di SMPN 1 Majalengka
juga masih sering berkomunikasi denganku hingga saat ini. Aku mendengar kabar
bahwa keterkenalan SMP tersebut mulai meredup karena banyak sekolah saingan di
sekitar. Menurutku, hal tersebut dapat diatasi sebaik-baiknya. Kupikir, sekolah perlu
memberikan apresiasi tinggi pada siswa yang telah mencetak prestasi di SMPN 1
Majalengka. Tak hanya dukungan semangat dan motivasi, tetapi juga uang atau SPP
gratis sebagai bentuk nyata apresiasi siswa. Dengan demikian, julukan sekolah favorit
harus tetap melekat pada SMPN 1 Majalengka. Karena dari sana, hulu kenangan manis
mengalir.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

156

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

157

Kisah Kasih Putih Biru 32:

Sri, Takdir Baik Tuhan
Selalu Menghampiri

Sri Herliana

Tiga dekade silam, SMPN 1 Majalengka terkenal sebagai sekolah favorit di Kabupaten

Majalengka. Setiap lulusan sekolah dasar berbondong-bondong mengikuti ujian masuk
ke sana. Kemudian, berbangga diri ketika pengumuman baik tiba. Wuih, abdi geus jadi
murid SMPN 1 Majalengka, euy! Beberapa wajah familiar dari SD 2 Majalengka juga

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

158

kulihat kembali di sini. Ada Cucu, Fahri, dan Epi. Kisahku dimulai pada kelas 1 (aku
lupa rombelnya), lalu 2B dan 3H.

Matahari pagi tersenyum sumringah. Angin sejuk Majalengka mengiringi langkah.
Perkenalkan, namaku Sri Herliana. Biasa dipanggil Sri atau Lina. Sebagai seorang gadis
yang cukup pemalu, kehidupan putih biruku berjalan lancar. Aku diayomi oleh guru-
guru keren dan dirangkul oleh teman-teman bageur.

“Aya Bu Eli, aya Bu Eli!” seru salah satu teman di bibir pintu kelas. Dia langsung
berlari menuju tempat duduknya.

Tak lama, bunyi langkah kaki terdengar jelas. Seorang guru modis berjalan
memasuki kelas dengan buku-buku matematika yang dirangkulnya. Seperti biasa,
penampilan Bu Eli selalu menarik setiap pasang mata, tak terkecuali diriku.

“Wilujeng Enjing, Sadayana!” sapa Bu Eli memulai pelajaran. Senyumnya seolah
mampu membangkitkan suasana menyenangkan walaupun sebentar lagi harus bergelut
dengan angka-angka.

Hari ini, Bu Eli mengenakan setelan pakaian dengan bawahan rok yang dirempel.
Penampilan beliau tampak rapi dan segar. Senyum dan ramah-tamahnya melengkapi
pribadi Bu Eli sebagai guru inspirasiku. Aku sebagai seorang perempuan saja
menyukainya, bagaimana dengan laki-laki?

Meuni geulis pisan Bu Eli, euy. Itu kalau ada laleur di mukanya langsung tisoledat
meureun, batinku sambil memperhatikan materi yang disampaikan oleh Bu Eli di papan
tulis. Aku tergelak sendiri.

Pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Indonesia yang diajar oleh Bu Mumun. Beliau
membuka kelas dengan membagikan nilai ulangan. Tanpa belajar, angka sembilan
berhasil kudapatkan. Percaya tidak percaya, nilai ulangan Bahasa Indonesiaku pasti
selalu bagus! Begitu kulihat buku Bahasa Indonesia milik kakak kelas, pasti setiap

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

159

pertanyaan ulangan yang dibuat oleh Bu Mumun sama persis dari tahun ke tahun. Hihi!
Ini rahasia kita, ya.

Selain Bu Eli, guru matematika, dan Bu Mumun, guru Bahasa Indonesia, aku juga
menyukai Pak Memet, guru Bahasa Inggris.

Jam istirahat tiba, aku dan teman-teman berhamburan menuju kantin. Mang Sedit
sudah mejeng di sana. Beragam makanan dan minuman siap dijajakan. Mataku tertuju
pada bala-bala bumbu suuk (kacang).

Di kantin, aku juga bertemu dengan Tuti, Teh Ati, Teh Meli, Ludi, Lili si hobi
menyanyi, dan Teh Ani. Ketika kelas satu, Teh Ani menganggapku sebagai adiknya
(adik-adikan). Mereka merupakan teman-temanku yang menyenangkan.

Orang-orang bilang kalau masa remaja tak lepas dari jatuh cinta. Sepertinya, masa
putih biruku tampak jauh dari jatuh cinta. Sempat terlintas dalam pikiran, aku ingin
seperti orang lain yang memiliki kekasih untuk berbagi cerita. Mungkin karena aku
(kelewat) pemalu, maka tidak ada laki-laki yang mendekat. Selain itu, aku juga bukan
tipe perempuan yang aktif mendekati lawan jenis.

Kemudian, kisah berlanjut ke jenjang SMA. Mulai muncul perasaan suka-disukai
kala itu. Memasuki dunia kuliah, sejumlah teman laki-laki mulai berani mendekatiku.
Namun, semua itu kutolak. Meskipun demikian, ada seseorang yang kuladeni proses
pendekatannya.

Kala itu, aku senang dengan dunia menulis. Dia mengirimiku banyak surat. Aku
menerimanya dengan senang hati. Sebagai seorang penulis, tentu aku ingin tulisanku
ditanggapi dengan baik. Kami jarang bertemu, tetapi surat-menyurat terus berlalu.
Kurasa sudah cukup. Aku memutuskan hubungan pertemanan secara sepihak. Aku sudah
cukup senang tulisanku dibaca dan dibalas olehnya. Toh, perasaanku hanya sekadar
“teman menulis”. Mungkin seperti ini cara Tuhan mencegahku dari perbuatan zina.

Aku kembali fokus pada karier.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

160

Bu Aam, ibuku, adalah seorang guru di SDN 4 Majalengka. Di sana, beliau turut
mengajar temanku, Niknik. Aku lahir dalam keluarga yang sebagian besar berprofesi
sebagai guru. Setelah lulus SMP, keluarga mendorongku untuk ke Sekolah Pendidikan
Guru (SPG). Bukan maksud menganggap remeh, melainkan aku ingin sebuah variasi
dari keturunan keluarga. Alhasil, aku melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Majalengka.

Lepas SMA, aku mengikuti PMDK ke Institut Pertanian Bogor (IPB). Hasilnya
merah. Dengan pedenya, aku mendaftar di Institut Teknologi Bandung (ITB). Hasilnya
merah juga. Qadarallah. Aku melihat ke belakang sejenak. Keuangan keluargaku dibagi-
bagi untuk melanjutkan kuliah, baik bapak, ibu, maupun kakak.

“Kamu kuliah di Universitas Winaya Mukti (Unwim) saja ya, Nak,” ucap Bapak.

Aku menurutinya. Ujian masuk Unwim pun kian dekat. Aku belajar, tetapi lebih
banyak berdoa. Tong lulus, Ya Gusti. Tong lulus! Takdir baik Tuhan menghampiri. Aku
resmi menjadi mahasiswa agribisnis di Unwim.

Semasa kuliah sarjana, aku menghabiskan waktu dengan banyak belajar dan aktif
menekuni bidang keagamaan. Ternyata dengan kuliah di UNWIM lah saya banyak
mendapatkan ilmu, pengalaman dan arti sebuah kepasrahan serta makna hidup yang
sebenarnya. Alhamdulillah ya Alloh…

“Hey, Sri. IPK kamu 4 semua, euy!” seru teman-temanku. Setiap akhir semester,
mereka justru semangat mengakumulasi nilai-nilaiku. Aku hanya tersenyum
menanggapinya. Aku hanya senang belajar, kok. Setelah menyelesaikan perkuliahan,
aku akhirnya harus menandatangani skripsi kepada Pak Dekan. Tiba-tiba Pak Dekan
bertanya IPK,

“Berapa IPK-mu?” Aku pun menyebut IPK-ku. Pak Dekan terdiam sejenak

“Kamu gak boleh ke mana-mana, ” pinta Pak Dekan tiba-tiba. Kaget ! jantungku
berdetak kencang, ada apakah ini?

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

161

“Kamu harus jadi dosen di sini! “ tegasnya. Belum sempat aku menjawab beliau
berkata lagi, “tapi ada syaratny , kamu harus sekolah lagi,” lanjutnya dengan lebih tegas.

Alhamdulillah, akhirnya, selepas kuliah, aku bisa meneruskan mengabdi
dikKampus tercinta sebagai dosen. Akupun mendapat kesempatan beasiswa untuk
melanjutkan Program Magister pada Prodi Ilmu Ekonomi Pertanian di IPB. “Maka,
nikmat Tuhan mana lagi yang Engkau dustakan?”

Sekarang, aku menjadi dosen di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB.
Awalnya aku gelisah karena sebagai dosen SBM ITB harus mempunyai standar
internasional. Namun, aku tetap memberanikan diri untuk terus berusaha . Qadarullah.
Takdir baik Tuhan selalu menghampiri. Aku sampai sekarang dengan senang hati
sebagai bagian dari civitas akademika di SBM ITB dengan terus mendedikasikan sebagai
pengajar, peneliti, dan pengabdi masyarakat.

Suatu ketika, aku dipanggil ke ruang dosen. Kala itu, jantungku berdebar amat
kencang. Kupikir, aku harus menandatangani surat tanggung jawab mengenakan
kerudung. Dulu, hanya aku seorang yang mengenakannya.

“Kamu gak boleh ke mana-mana. Kamu jadi dosen aja,” ucap dosen tiba-tiba. Di
mejanya terdapat daftar nilaiku selama kuliah. “Kamu harus sekolah lagi,” lanjutnya
dengan tegas.

Pilihanku adalah meneruskan program magister di agribisnis IPB. Sekarang, aku
menjadi dosen di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB. Awalnya aku gelisah karena
peserta yang lolos SBM ITB memiliki rekam jejak internasional. Namun, aku tetap
memberanikan diri untuk mencoba. Qadarullah. Takdir baik Tuhan selalu menghampiri.

Aku bekerja sama dengan banyak rekan dalam kegiatan penelitian. Akan tetapi,
untuk bertahan di sana, aku harus mencicipi pendidikan di luar negeri, minimal ke
Singapura atau Malaysia.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

162

Ketua KK, Wawan Dhewanto, memintaku untuk menemuinya. “Secara pribadi,
saya baik dengan Ibu. Namun, Ibu tidak mau ke luar negeri sebagai syarat kedinasan.”

Dengan lapang hati, kujawab, “Saya belum siap berpisah dengan anak-anak, Pak.
Saya tidak mau ketinggalan melihat perkembangan mereka. Akan saya lakukan apa pun
untuk itu. Mudah-mudahan saya kuat. ”Alhamdulillah, alasanku diterima dengan baik.
Aku dan Pak Wawan justru sering melakukan kerja sama. Di sisi lain, Dekan SBM,
Sudarso Kaderi Wiryono, juga memaklumiku.

Kini, aku sedang menjalani Program Doktor di IPB. Tinggal menunggu sidang
tertutup dan promosi doktor. Lagi-lagi, qadarullah, takdir baik Tuhan selalu
menghampiri.

Aku memutar memori. Berjalan mundur menuju masa lalu. Kutemukan diri
dengan balutan putih-biru. SMPN 1 Majalengka masih hadir hingga saat ini. Kuharap,
peningkatan setiap SDM terus berkembang. Tak lupa, pola pembelajaran, tenaga
pengajar, dan seleksi masuk juga harus ditingkatkan. Segala bentuk persaingan dunia
menuntut kreativitas para guru, terutama hadirnya media daring. Setiap perkembangan
baik sekolah perlu diekspos melalui media-media.

“Terima kasih ya, Sri. Terima kasih untuk selalu rajin belajar dan mengeksplorasi
potensi dalam diri. SMP adalah masa yang cemerlang, Lina. Sekarang perbedaannya
sangat terasa. Capek sedikit, terasa seluruh badan. Geus jompo, euy. Sukses terus, keluar
dari zona nyaman. Menjadi nahkoda yang ulung dari gelombang dan badai,”
pungkasku.

Kisah Kasih Putih Biru *** SMPN 1 Majalengka
Persembahan Alumni ‘87

163

Kisah Kasih Putih Biru 33:

Selera Susi

Susi Kurnia

Majalengka, 1984.

Semua orang tahu kalau SMPN 1 Majalengka adalah sekolah favorit. Semua orang
berlomba-lomba mengikuti ujian masuk peserta didik baru, termasuk diriku. Dengan
bekal nilai rapot dan sejumput prestasi, aku yang katanya pendiam ini menjadi bagian
dari keluarga besar SMPN 1 Majalengka. Langkahku membekas pada kelas 1G, 2E, dan
3C.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

164

“Halo, Susi. Hayuk, masuk ke kelas!” seru Pak Oma, guru Bahasa Indonesia yang
selalu ramah menyapaku dan teman-teman tiap bertemu.Senyum lembut selalu
ditunjukkan oleh Pak Oma. Kebalikan dengan Pak Eming, guru olahraga yang galak.
Kernyitan dahi selalu ditunjukkan oleh beliau. Kami, murid-muridnya, sungkan
menyapa duluan.

“Ey, Susi. Seragamna kudu dimasukin. Kuku-kukunya juga enggeus dipotong,
belom?” tanya Pak Eming dengan nada tinggi.Akan tetapi, yang paling asyik adalah
guru yang tidak mencurigaiku ketika bilangnya izin ke kamar mandi, sebetulnya jajan
bala-bala di kantin. Selain itu, kantin juga menjadi tempatku untuk bertukar pandang
dengan beberapa gebetan. Aku tertawa saja memikirkan jumlah gebetanku di sekolah.
Di kelas satu ada dan di kelas dua juga ada. Semuanya berbeda. Sudah pasti aku hanya
menjadi pengagum rahasia mereka.

Katanya, Susi Kurnia Susmasari adalah siswa yang pendiam. Padahal mah, diriku
hanya memendam saja. Aku membutuhkan seseorang yang menyemangati dan
memotivasi bakatku. Di kelas, Neni adalah teman sebangkuku dan Niknik adalah
temanku dari sekolah dasar. Ingat betul aku kalau dulu pernah memanjat pohon jambu
bersama Niknik. Ah, buah yang ranum memang sangat menggoda. Aku juga senang
berteman dengan Ati, sang wartawan sekolah. Dia merupakan pusat informasi bagi siapa
pun. Rasanya tidak ada seorang pun yang tidak pernah ngobrol dengannya. Sungguh
supel!

Selain itu, aku juga aktif dalam permainan basket. Akan tetapi, aku menyesali
diriku yang sering memendam sesuatu, baik pemikiran maupun perasaan. Aku tidak
menyesal ketika ada orang-orang yang meledek. Karena aku yakin, mereka akan
merasakan karmanya. Namun, aku sungguh menyesal ketika ada orang-orang yang
melakukan adu domba di hadapanku. Mereka bilang keburukan A ke B, lalu bilang
keburukan B ke A. Aku menyesal karena hanya bergeming, tak ada perlawanan sama
sekali. Sejumput hikmah yang aku dapatkan adalah kita akan semakin kuat ketika
menghadapi banyak tempaan kehidupan. Ya, aku percaya itu.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

165

Tahun demi tahun berlalu. Aku yang memiliki bakat berdagang mulai berjualan.
Bakat tersebut diturunkan dari nenek, kemudian diasah melalui beragam pengalaman.
Tahun pertama berjualan adalah 2008. Aku melakukan hijrah dari Bandung, kemudian
kembali singgah di Majalengka hingga saat ini. Usahaku membuka kios bakso.

Meskipun dikenal sebagai makanan asal Tiongkok, konon mi yamin adalah
makanan khas asal Cirebon karena sudah dijajakan di sana sejak 1950-an. Aku
melakukan banyak riset yang terinspirasi oleh bakso yamin di Bandung dan terdobrak
oleh selera orang-orang Majalengka yang cenderung menikmati bakso Solo. Akhirnya,
diciptakanlah sebuah resep bakso yamin yang beroutlet di Majalengka dengan nama
SELERA.

Bahagia sekali rasanya melihat kios baksoku dikunjungi banyak pembeli.
Kepuasan pelanggan merupakan kepuasanku juga sebagai penyedia makanan yang
disukai semua golongan. Aku dan para karyawanku selalu ingin memberikan yang
terbaik kepada mereka. Puncak kebanggaanku adalah ketika ternyata ada beberapa
pelanggan yang memesan bakso atau mi yamin dalam jumlah banyak untuk sebuah
acara atau pesta. Aih, aku jadi ingat Mang Asnaf, penjual bakso terkenal di Majalengka!

Tiap-tiap orang memang memiliki seleranya tersendiri. Sama sepertiku yang
memiliki selera gebetan, jajanan, mata pelajaran, dan sekolahan. Aku memilih SMPN 1
Majalengka juga karena selera favorit masyarakat yang terakreditasi tinggi supaya
mampu meningkatkan kualitas diri.

Sebagai alumni, besar harapanku pada SMPN 1 Majalengka untuk mencetak lebih
banyak prestasi akademis dan nonakademis dari siswa-siswanya. Tak hanya itu, mutu
pengajar dan penunjang kegiatan siswa turut dipentingkan. Dengan demikian, SMPN 1
Majalengka dapat meraih kembali kebanggaan besarnya sebagai sekolah favorit.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

166

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

167

Kisah Kasih Putih Biru 34:

Surat Hanya untukmu

Suwita Sari

Pertama kali ku jatuh hati

Pertama kali ku mengenal cinta
Hanya padamu hanya untukmu
Kan ku serahkan seluruh hatiku
Semanis senyummu

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

168

Alunan lagu berjudul “Hanya Untukmu” yang dipopulerkan oleh Rafika Duri
mengalun lembut, tak terganggu oleh bunyi mikser mengaduk cepat adonan. Untuk
sebuah alasan, aku sering memutar lagu tersebut sebagai pembangkit mood. Lagu yang
dirilis sejak 1878 itu selalu mengingatkanku pada masa remaja di SMPN 1 Majalengka.
Dulu, pandanganku selalu berkutat pada aneka makanan ringan dan makanan Sunda.
Kini, aku membawa resep-resep khas tersebut ke pulau terbesar kedua di Indonesia,
yakni Kalimantan, lebih tepatnya di Banjarmasin.

Buah hatiku sedang menonton televisi di ruang tamu. Dia sesekali membantu,
tetapi cenderung menjadi pencicip makananku. Sejumlah figura foto terpajang di lemari
kaca sekitar televisi. Ada foto anakku ketika masih bayi, foto suamiku bersama diriku,
dan foto keluarga. Ada juga fotoku semasa sekolah dan foto-fotoku bersama customer
katering Dapur Sweeta. Walaupun sudah berumur, tangan ini masih sanggup mengolah
banyak bahan makanan dan meningkatkan finansial keluarga.

Dapur Sweeta pernah mendapatkan orderan kue dari acara milad pemuda
Muhammadyah se-Indonesia di Banjarmasin. Karena permintaannya mencapai tiga ribu
pak, aku mengambil setengahnya. Tiga ribu merupakan angka yang sangat banyak
bagiku dan dua pekerjaku. Kendati demikian, aku pernah mendapatkan cibiran-cibiran
dari orang sekitar.

“Bukannya suaminya bekerja? Apa sih yang dicari?”

“Pekerjaan ibu itu apa, sih?”

Persetan dengan hal itu. Aku memilih fokus dengan keluarga dan teman-teman
yang mendukung. Dengan menu yang condong pada kue kering dan masakan Sunda,
aku optimis menjadi katering yang berbeda daripada yang lain. Supaya tambah
semangat, aku kembali mengingat sosok yang mengorder kue basah sebanyak 28
kilogram di awal-awal Dapur Sweeta berdiri. Tak hanya itu, nama “Sweeta” selalu
ampuh memantik semangatku untuk memasak lebih banyak dan lebih baik lagi. Nama
“Sweeta” diberikan eksklusif oleh para sahabat ceriwisku di SMPN 1 Majalengka.
Sahabat yang tak akan pernah aku lupakan, yakni Heni, Niknik, Ela, dan Ati.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

169

Niknik: Swita Sari Permana. Swit ... Swit .... Sweet .... Sweeta ... iya, Sweeta!

Begitulah sejarah singkat nama usahaku. Sahabatku memberikan sejumlah
pilihan kata melalui group chat di Whatsapp. Kemudian, berhenti pada usulan Niknik.
Ah, bisa saja.

“Bu,” panggil anakku yang membuyarkan lamunan. “Kenapa ibu selalu nyetel
lagu jadul itu, sih?” tanyanya penasaran. Mungkin, tontonannya terganggu oleh lagu
Rafika Duri yang loop.

Aku tertawa kecil sambil mematikan lagunya. “Lagu ini teh selalu ngingetin ibu
sama seseorang di SMP.”

“Hah?” Aku menangkap kedua alis anakku yang mengernyit.

Namanya orang tua, pasti akan merasa excited jika anaknya bertanya. Tanpa
diminta, aku langsung menceritakan kenangan manis itu pada anakku. Hitung-hitung
sambil nostalgia biar tidak fokus melulu pada makanan. Ah, aku juga akan nostalgia
dengan satu kenangan terburuk.

Kala itu, 1986, aku sedang menikmati makanan favoritku, yakni gehu dan alpukat
kocok. Gehu atau tahu jeletot adalah tahu yang diisi oleh berbagai sayuran yang telah
dibumbui pedas. Walaupun kadang sakit perut, gehu selalu menjadi jajanan
langgananku ketika jam istirahat. Bersama sahabat, aku mejeng di depan kelas 1C karena
dekat mamang-mamang dan bibi-bibi yang sedang berjualan, juga dekat dengan
lapangan basket. Aku bisa cuci mata di sana.

Akan tetapi, tidak ada yang bisa mengalahkan pemandangan jatuhnya mangga
ranum dari pohon di pinggir lapangan. Dimakan mentah atau dicocol sambal rujak,
mangga selalu menjadi buah yang menawan. Mataku tajam. Di saat tak ada orang yang
menyadari, aku melesat bak kilat menuju pohon mangga tersebut. Nahas, aku justru
tersandung batu hingga terjerembab kasar. Lututku menyentuh tanah batuan. Sekujur
tubuhku membeku. Darah mengalir deras dari lutut. Bukannya mendapatkan mangga,

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

170

aku justru mendapati orang-orang mulai menatapku. Aku langsung dibawa ke UKS.
Luka ini membuatku tidak masuk sekolah selama tiga minggu karena demam tinggi.

Ketika aku masuk sekolah sekian lamanya, Heni menceritakan bahwa ketua kelas
mencariku. Dia menanyai Heni, kapan aku masuk sekolah. Oh, benarkah? Kalau benar,
itu akan menyenangkan. Maksudku, i-iya, aku sudah dewasa–sudah remaja–wajar kan
kalau ada rasa seperti ini.

“Enjing, Ita,” sapa ketua kelasku. Ah, dia tampak biasa-biasa saja.

“Enjing, *****.” Psst, aku sengaja menyamarkannya biar kalian bisa menebaknya
sendiri.

Kami duduk di bangku masing-masing. Kemudian, jam pelajaran pertama
dimulai. Bu Eli masuk kelas dengan santai. Seperti biasa, beliau tampak cantik. Cara
mengajarnya pun asik. Beliau suka memberikan pemahaman materi dengan
menggunakan ilustrasi dari makanan, contohnya bakwan dan kerupuk.

“Dalam pecahan, dikenal pembilang dan penyebut. Bilangan yang berada di atas
garis pemisah namanya pembilang, sementara yang di bawah namanya penyebut.
Misalnya, bakwan di atas, berarti namanya?” tanya Bu Eli.

“Pembilang, Bu!” seru siswa di kelas serempak.

“Kalau kerupuk di bawah?”

“Penyebut, Bu!”

“Nah, nanti akan jadi seperti ini. Bacanya adalah ‘bakwan per kerupuk.’ Paham
anak-anak?”

“Paham, Bu!”

Ah, aku memahami betul pelajaran Bu Eli. Beliau memiliki segudang cara kreatif
dalam mengajar. Beliau tak hanya cantik, tetapi baik dan cerdas. Ketika sedang fokus
menyimak pelajaran, aku sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang
memperhatikanku diam-diam.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

171

Pulang sekolah, ketua kelas memberikan sebuah surat padaku.
“Naon ieu, *****?” tanyaku.
“Bacana kalau geus sepi, Ta.” Aku melihat wajahnya yang memerah.
Aku mengedikkan bahu. Lalu, menunggu teman-teman di kelas pergi. Tak
berselang lama, hanya ada aku dan ketua kelas. Dia tampak menunggu tindakanku. Hm.
Kenapa dia tidak mengutarakannya langsung?

Untuk Ita
Pertama lirikanmu
Kedua bisikanmu
Menggoda hatiku setiap waktu
Wajahmu nan rupawan
Senyummu nan menawan
Membuat hatiku berdebar sendu
Pertama kali ku jatuh hati
Pertama kali ku mengenal cinta
Hanya padamu hanya untukmu
Kan kuserahkan seluruh hatiku
Semanis senyummu
Terbayang senyumanmu
Membuat deritaku
Semoga kau terima getar hatiku

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

172

HAH? SURAT CINTA?

Seketika, bunga-bunga harum seolah bermekaran di dalam kelas. Jantung
berdebar. Wajah memerah. Waktu seolah terhenti karena dua insan saling terpaku. Kalau
dalam sinetron, lagu Rafika Duri – Hanya Untukmu pasti sudah diputar untuk
mengiringi kenangan ini. Aku menatapnya, dia pun sama. Aku tidak menyangka ketua
kelas menyukaiku dan mengutarakan perasaannya padaku dengan potongan lagu
romantis.

“I-iya. A-aku ...,” aku melihat ketua kelas dari ujung kaki sampai ujung rambut,
“aku pikir, a-ada syaratnya,” ucapku gugup.

Aku melihat penampilan ketua kelas yang tampak ... hey, dia ‘kan ketua kelas.
Kenapa rambutnya berantakan dan bagian bawah bajunya tidak dimasukkan ke celana?
Tidak pakai dasi pula. Dia menjadi ketua kelas jalur mana, hah? Kalau mau kuterima,
dia harus memperbaiki penampilannya. Aku suka laki-laki yang rapi!

“Hm, *****. Aku menerima surat ini. Akan tetapi, sorangan teh kudu ngubah
penampilan. Terutama rambut jeung seragam sorangan.” Aku menunjuk dirinya.

“Biar lebih rapi, kitu?” tanyanya.

Aku mengangguk, lalu berjalan keluar kelas. Wajahku pura-pura tegas, tetapi
dalam hati menekan kegembiraan yang menggebu-gebu. Aku mengabaikan tindakanku
yang ingin mengubah penampilannya. Toh, peraturan sekolah memang mewajibkan
siswanya untuk berpenampilan rapi.

Sepanjang perjalanan, aku menggenggam erat surat dari ketua kelas, bahkan
sampai hendak tidur.

“Ey, budak geulis habis dapat apa, nih? Cengar-cengir wae,” sindir ibuku yang
memeriksaku ketika malam hari–apakah aku sudah tidur atau belum?

Esok harinya.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

173

“Pfft.” Heni tertawa di sampingku. Dia melihat perubahan penampilan ketua
kelas yang berubah drastis. Ketua kelas benar-benar serius dengan ucapanku kemarin.

“Pfft, hahahahaha!” Aku juga tertawa terbahak-bahak.

Ketua kelas datang dengan tas dan sepatu yang mengilap, setelan seragam putih-
biru yang baru saja disetrika, dasi dan sabuk yang menghias rapi. Tak lupa, rambutnya
tampak disisir. Untuk sekilas, terbesit pikiran kalau dia adalah laki-laki yang manis.
Namun, langsung kutepis dengan ledakan tawa. Tak hanya aku dan Heni, satu kelas
menertawakannya. Beberapa teman laki-laki meledeknya.

“Ey, *****. Maneh abis kesambet jurig?”

“Hooh. Jurig kantoran. Rapi, soalnya.”

“Aya-aya wae gaya maneh.”

Ketua kelas menatapku yang sedang menahan tawa. Wajahnya memerah. Dia
langsung mengacak-acak rambutnya, lalu mengeluarkan bawah seragam dari celana.
Tepat sekali. Penampilan ketua kelas kembali seperti dulu kala, berantakan. Aku
mengacungkan jempol padanya, mengisyaratkan untuk lakukan apa saja yang dia mau.
Begitu melihatku, dia ikut tertawa.

Aneh sekali dia.

“Wilujeng enjing, sadayana. Ieu kenapa, ketua kelas? Rame pisan pagi-pagi,” tanya
guru mata pelajaran pertama.

Seluruh siswa langsung berjalan cepat menuju tempat duduknya.

“Eh, ketua kelas. Rapihin rambut sama baju kamu, ya. Dimasukkin ke celana.
Kamu teh kudu jadi panutan di kelas ini,” ucap guru sambil meletakkan tasnya di meja.

Ketua kelas menoleh padaku terlebih dahulu. Aku membalas tatapannya dengan
menjulurkan lidah. Wle! Ketua kelas justru memberikan senyum manisnya. Dia tampak
kikuk di depan guru. Walaupun terdengar tawa-tawa kecil di bangku belakang, ketua
kelas menuruti perintah guru. Kemudian, pelajaran pertama dimulai.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

174

Ah, kupikir kenanganku bersamanya hanya sampai hari itu saja. Ternyata tidak.
Ketika lomba tumpeng antarkelas berlangsung, aku menginap di rumah seorang teman.
Aku mengasah skill memasak di sana bersama beberapa teman, termasuk ketua kelas.
Usai bekerja keras dengan tumpeng, rasa lelahku berkurang karena ketua kelas. Dia
mengajakku untuk pulang bersama dengan motornya. Untuk pertama kalinya, aku
dibonceng, menatap punggung seseorang yang menyukaiku selama beberapa menit
sampai akhirnya tujuan menyelesaikan perjalanan itu.

“Bu, kue di oven sudah matang dari tadi.” Anakku membuyarkan lamunan.
Berkatnya, aku buru-buru mematikan oven dan membuka loyang berisi pasukan nastar.

“Yah, begitulah cerita ibu, Nak.” Aku meregangkan tubuh hingga menimbulkan
bunyi tulang di pinggang.

“Hoo.” Anakku tampak tidak minat mendengarnya. Kedua matanya justru
mengilap kala melihat nastar baru matang. Kaki kecilnya menghampiriku.

“Mending habis ini kamu bantuin Ibu masukkin nastar ke toples.” Aku mengacak-
acak rambut anakku.

“Okay!” seru anakku yang mulai mengambil nastar ketiga.

“Nak, kamu tahu? Apa pesan nenek pada ibu?” tanyaku iseng. Rasanya, aku perlu
menyampaikan wejangan ini padanya.

Anakku menggeleng.

“Dulu, nenek selalu berpesan pada ibu. Walaupun suami bekerja, jangan terlalu
mengandalkan. Perempuan itu harus mandiri dan kerja keras. Mangkanya, ibu
membuka Dapur Sweeta ini. Biar ibu bisa membantu ayah kamu, mempunyai tabungan
sendiri, dan membiayai kegiatan kamu, di sekolah atau luar sekolah. Asal baik
tujuannya,” jelasku sambil mencolek hidung mungil anakku dengan sedikit adonan kue.

“Bu!” pekik anakku kaget. Aku hanya tertawa. Bukannya dibersihkan, dia malah
menjulurkan lidahnya supaya menyentuh adonan tersebut di hidung.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

175

“Heh, kotor!” seruku sambil mengambil tisu.
Rasanya, aku akan mendaftarkan anakku di SMPN 1 Majalengka. Dia akan
meneruskan segala kenanganku di sana. Kenangan semasa remaja yang masih terarsip
rapi hingga kini. Sembari menyiapkan orderan katering ke wilayah Bekasi, aku
merenung sejenak. Tanpa memedulikan hasilnya, kakiku tetap berjalan sesuai yang aku
suka dan yang aku inginkan. Didikan disiplin, mandiri, dan kerja keras sudah tertanam
dalam diri. Untuk Swita Sari Permana kecil, terima kasih sudah berjuang selama ini.
Perlahan, tumpukan keinginanmu pasti dirapikan oleh Tuhan.
Alunan Rafika Duri – Hanya Untukmu mengulang beberapa kali, tak ada
bosannya.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

176

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

177

Kisah Kasih Putih Biru 35:

Sosok Sony Tanpa Nama Sony

Taufik Suroso Wibowo

Seisi kelas hening. Ujian matematika berlangsung penuh ketegangan. Pak Jupri berdiri di

depan kelas sambil sesekali mengedarkan pandangan. Lalu, langkah besarnya menghampiri satu
per satu dari kami. Dahiku penuh keringat. Pak Jupri masih berada di sisi lain kelas. Aku
membuka pelan-pelan kertas contekan matematika yang kubuat semalam. Kutatap jeli tulisan-

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

178

tulisan mini itu. Sebisa mungkin aku mengoordinasikan pergerakan mata. Satu waspada, satu
teliti.

Hari itu, aku melakukan sebuah kesalahan besar. Kesalahan yang kusesali dan tidak akan
pernah kuulangi lagi. Sungguh bodoh, matematika kok menyontek?

“SONY!” seru Pak Jupri sambil menjewer telingaku keras-keras.

Bak seorang kriminal yang tertangkap basah, aku memohon ampun dalam hati. Aku khilaf,
aku khilaf. Jeweran Pak Jupri seolah terasa sampai dewasa nanti. Memang. Pak Jupri ini berbeda
betul dengan guru favoritku, Pak Oma. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia yang kukagumi.
Pak Oma memiliki gaya mengajar yang santai, tetapi masuk kepala. Pasti nilaiku akan bagus
dalam ujian Bahasa Indonesia nanti.

Nilai Bahasa Indonesiaku adalah enam. Tega nian, Pak Oma. Padahal, aku sangat ngefan
dengan beliau. Namun, beliau tidak tahu itu.

Selain Pak Jupri dan Pak Oma, terdapat sejumlah teman yang mengisi hari-hariku di
SMPN 1 Majalengka. Teman-teman yang selalu memanggilku Sony, tetapi sebetulnya tak ada
“Sony” dalam nama lengkapku. Rapor sekolah menuliskan nama terang “Taufik S. Wibowo”. S-
nya bukan Sony, Sukasep, apalagi Seokjin, melainkan Suroso. Aneh memang. Namun, aku lebih
suka dipanggil Sony. Mungkin karena panggilan sejak kecil. Lagipula, nama Taufik terlalu
Islami.

Aku menjadi bagian dari SMPN 1 Majalengka karena warisan keluarga. Kebanyakan
kakakku bersekolah di sana. Alhasil, aku mengekori mereka. Aku singgah di kelas 1G, 2B, dan
3H. Bu Tatat adalah wali kelas pertamaku.

Kalau ditanya tentang kisah asmara putih-biru, sepertinya aku akan balik bertanya.
Memangnya aku laku? Aku ‘kan gak laku? Kendati demikian, aku pernah menaksir Iis Jagal. Lalu,
berpacaran dengan Armelia di kelas dua. Selebihnya, kisah pertemanan di SMPN 1 Majalengka
sangat mengasyikkan.

Bersama Papay, Hendra, Endang, dan Dani, aku melakukan balap sepeda. Tak hanya
keren, geng kami ini borjuis. Endang sering menjuarai pertandingan balap sepeda tingkat
Majalengka.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

179

Tak hanya itu, aku menempatkan kolam renang Sang Raja sebagai tempat favoritku
bersama teman-teman. Biasanya, kami bermain di kolam renang pertama di Majalengka itu,
tempat pemandian antik para raja terdahulu yang disebut-sebut sudah berusia ratusan tahun di
Kelurahan Cigasong, Majalengka.

Selain Sang Raja, aku dan Azis pernah mengunjungi Pasir Cina. Kala itu, rasa penasaran
remaja yang baru pubertas amat menggebu-gebu. Kami ingin melihat sosok kuntilanak di sana.
Sesuatu yang berbau klenik memang selalu menarik perhatian. Dengan segenap keberanian,
kami pergi ke Pasir Cina.

Hasilnya, hanya aroma melati yang memenuhi rongga hidung.

Aku, Papay, dan Endang mengikuti ekskul karate sejak kelas satu. Aku melanjutkannya
hingga saat ini. Sabuk hitam telah kudapatkan ketika kelas dua SMA. Melalui karate, karakter
disiplin terbentuk. Karate juga mengajari tentang perjuangan diri sendiri sebagai kunci
keberhasilan. Berbagai hala rintangan dihadapi dengan ketangguhan fisik dan mental, layaknya
samurai dengan semangat Bushido-nya.

Sama seperti pekerjaan lainnya, samurai juga memiliki kode etik atau jalan terhormat
yang harus ditempuh dalam pengabdian. Kedelapan prinsip semangat Bushido tersebut adalah
kebenaran, keberanian, kebajikan, rasa hormat, ketulusan, menghormati, loyalitas, dan kontrol
diri.

Tak lupa untuk melengkapinya dengan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lepas SMP, aku melanjutkan pendidikan di SMA 1 Majalengka. Selanjutnya, aku merasa
menjadi orang gagal karena tidak lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).

Aku seperti orang bodoh.

Aku memutuskan untuk “bertapa” di Bandung dengan mengikuti bimbingan belajar di
TEKNOS Genius (Teknologi dan Sains), lembaga kursus dan pelatihan nonformal dengan tingkat
kompetensi yang tinggi. Di sana, aku bertemu Asep, teman asal Hulur. Darinya, saya menyadari
bahwa Indonesia membutuhkan orang-orang surveyor tanah. Karena pertanahan memiliki ilmu
antarbidang, aku melanjutkan pendidikan D-1 Geodesi di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

180

Ternyata, masih bergelut dengan matematika. Sekilas, kupingku terasa sakit. Aku tertawa
kecil.

Lulus D-1, aku bekerja di PT Sumalindo Lestari Jaya, Kalimantan Timur. Walaupun
dikenal sebagai perusahaan kayu terbesar di Kalimantan Timur, aku memutuskan untuk resign.
Pekerjaannya berbeda dengan hati nuraniku. Begitu memasuki hutan rindang, aku seolah
melihat surga yang amat megah nan sejuk. Namun, tanggung jawabku di sana berkaitan dengan
penebangan. Lubuk hati ini tidak menerimanya.

Keluar dari PT Sumalindo Lestari Jaya, aku bekerja sebagai surveyor di Menhankam.
Kemudian, bekerja sebagai tenaga honor di sebuah kantor pertanahan Madiun selama 3-4 bulan.
Omku menjabat sebagai kepala kantor di sana. Lalu, aku mengikuti tes CPNS di Badan
Pertanahan Nasional. Pada 1993, aku resmi diangkat sebagai PNS. Karena berasal dari lulusan
Geodesi, aku menjadi petugas ukur.

Satu setengah tahun kemudian, aku mengikuti tugas belajar. Setelah itu, meneruskan
pendidikan di Sekolah Tinggi Pertanahan, Jogjakarta. Lulus D4 pada 1999. Golongan PNS-ku
berubah. Dari 2B menjadi 3A. Dari sersan menjadi perwira.Aku menyelami diri, mencoba
menemukan sosok Tuhan. Kemudian berkata, ternyata kehidupan yang gagal tetap bisa
diperjuangkan, ya.

Sebagai seorang profesional dalam bidang pertanahan, aku pernah mendapatkan tugas
pengukuran dari Badan Pertanahan Nasional di Sidoarjo, Jawa Timur. Sebagai seorang pejabat
tanah, kurun waktu 2006-2012 merupakan waktu yang lama. Aku merugi karena tidak bisa cepat
berkarier. Namun, waktu bekerja tersebut kuisi dengan meneruskan pendidikan magister
hukum di Universitas Bhayangkara, Surabaya. Pekerjaan pertanahan ini menuntutku untuk
menguasai ilmu hukum. Sebab di atas tanah, segala ilmu antarbidang tersedia, baik geologi,
hukum, politik, maupun sosial. Periode magister usai pada 2009.

Menyapa kepala tiga, aku meminta Dewi, adikku, untuk dicarikan seorang istri. Kala itu,
aku adalah seorang karyawan biasa di Mojokerto, Jawa Timur. Aku juga sosok pria yang tidak
pandai memadu kasih.

“Dew, kira-kira siapa yang mau menjadi istriku?” tanyaku.

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

181

Kemudian, Dewi memberiku sebuah foto bersama beberapa sahabat. Aku memilih satu
gadis yang duduk di tengah. Tak lama, alamat dan nomor teleponnya kudapatkan. Begitu main
ke rumahnya, dia langsung jatuh hati duluan. Gayung bersambut. Kini, bahtera rumah tangga
kami diramaikan oleh dua putra. Si sulung sudah kuliah semester empat sementara si bungsu
masih kelas dua SMA.

Setiap langkah di SMPN 1 Majalengka dulu menyokongku untuk tumbuh lebih kuat lagi
hingga saat ini. Untuk Sony kecil, lakukan hidup dengan happy, tetapi jangan melupakan Tuhan
dan orang tua. Sudah semestinya manusia hidup untuk berusaha. Kalau sedang belajar, ya
belajar. Jangan main terus, Sony!

SMPN 1 Majalengka adalah warisan untuk generasi muda kelak. Sebagai alumni,
membuat tulisan atau gambaran mengenai masa kejayaan sekolah adalah salah satu cara untuk
mempromosikan calon siswa baru. Adaptasi dengan perkembangan zaman juga perlu
dipertimbangkan untuk menekankan pendidikan yang menggugah dan menggairahkan.

Walaupun sudah berusia lanjut, belajar tetap menjadi bagian dari hidupku. Aku berusaha
sebaik mungkin untuk tidak pernah putus belajar. Sembari belajar, aku mencontohkan kepada
anak-anak. Kini, sambil mengemban tugas sebagai Kepala Kantor BPN Jakarta Utara, aku
menempuh program doktor Ilmu Lingkungan di Universitas Brawijaya, Malang. Aku tidak mau
kalah dari istri yang telah magister.

Bak omongan manis Dilan, aku menyampaikan hal serupa kepada istri. “Jangan S-3, biar
aku saja.”

Jatuh bangun telah kualami. Realita kehidupan telah kuhadapi. Walaupun bukan seorang
samurai, semangat Bushido tetap membara dalam diri. Setiap hembusan napas mengiringi
langkah kaki. Setiap perjuangan membentuk sosok Sony tanpa nama Sony hari ini.

***

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

182

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

183

Kisah Kasih Putih Biru 36:

Wangi Bedak Amami

Ucup Sediana

Hm…. Target bergerak ke arah kelas. Tangannya membawa selembar koran berisi beragam

jajanan gorengan. Ada beberapa cireng, comro, dan bala-bala. Dia berhati-hati, bahkan

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka

184

bersembunyi ketika hendak menuju kelas. Matanya awas. Dia harus menjaga “dokumen penting”-
nya. Jika tidak ...

“Ey, bagi gorengan, dong. Hiji!” seru seorang teman yang mencegat target di
depan kelas.

Prediksi akurat.

Seseorang menepuk pundakku. Pak Syukur, guru Bahasa Indonesia,
mengingatkanku untuk segera masuk ke kelas karena pelajaran segera dimulai. Aku
buru-buru melangkah menuju kelas dan meninggalkan “latihan indra keenam.”
Rasanya, aku memiliki kemampuan untuk mengawasi atau memprediksi sesuatu.
Namun, aku memilih untuk menyembunyikannya. Aku terlalu minder untuk
menceritakan atau mengungkapkan sesuatu. Akibatnya, aku menanggung semua
penyesalan yang terjadi di kemudian hari.

Meskipun demikian, Pak Syukur selalu menyemangatiku untuk selalu percaya
diri. Beliau adalah guru yang berkesan bagiku. Karena selain menjadi guru, beliau
menjadi tempat curhatku. Beliau tahu saja apa yang kurasakan dan kukhawatirkan.
Semua jawaban terpusat pada dukungan untuk membuatku lebih percaya diri. Aku
memahami hal itu. Percaya diri merupakan cara manusia untuk menunjukkan dirinya.
Hanya saja, apa yang bisa dibanggakan dari diriku?

“Psst, Ucup. Pulang sakola ka imah aing, yak! Indung geus masak banyak keur tamu-
tamu bapak,” bisik Dany Firmansyah, anak pejabat yang duduk di sebelahku. Aku
mengacungkan jempol padanya. Walaupun berstatus sebagai anak pejabat, Dany tidak
pernah memilih-milih dalam berteman, termasuk denganku. Berteman dengan Dany
selalu dapat meningkatkan pemikiran positif dari benakku. Dia sering memberikan
dukungan padaku. Selain Dany, turut hadir Umi Hujaemah dan Ahmad Mauludin.
Mereka berdua adalah langganan anggota kerja kelompok bersamaku. Aku beruntung
memiliki teman yang baik padaku. Dengan demikian, aku pun harus baik pada orang-
orang di sekitarku. Pernah suatu ketika, Umi yang berbadan tinggi mendapatkan ejekan
dari teman-teman. Sebagai temannya, tentu saja aku tidak terima. Aku yang pendek

Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka


Click to View FlipBook Version