1
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87 SMPN 1 Majalengka
2
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87 SMPN 1 Majalengka
3
Kisah Kasih
Putih Biru:
Persembahan Alumni ‘87
Dr. Niknik M. Kuntarto (Ed.)
Yayasan Kampung Bahasa Bloombank
2022
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87 SMPN 1 Majalengka
4
Judul : Kisah Kasih Putih Biru, Persembahan Alumni ‘87
ISBN :
Penulis : Dr. Niknik M. Kuntarto, M.Hum.
Asisten Penulis : Annisa Dyah, Rega Almuhtada, Yvonne Callista
Editor : Dr. Niknik M. Kuntarto, M.Hum.
Desain Cover& Isi : Randi Ramliyana, M.Pd.
Layouter : Tashya Ballerina
Hak cipta dilindungi undang-undang
Diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Kampung Bahasa BloomBank
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh buku ini dalam bentuk apa pun (seperti cetakan,
fotokopi, microfilm, VCD, CD-Room, dan rekaman suara) tanpa izin penulis dan penerbit.
Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(1) atau Pasal 49 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan
dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7(tujuh)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu
ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah).
Diterbitkan oleh
Yayasan Kampung Bahasa Bloombank
Jl. Jaya Makmur RT03 RW 07
Kelapa Dua Wetan, Ciracas
Jakarta Timur – 13739
Telp 081310303040
Email: [email protected]
Kuntarto, Niknik M.
Kisah Kasih Putih Biru
Persembahan Alumni ‘87
xii + 300 hlm; 17,6 cm x 24 cm
Cetakan pertama: September 2022
ISBN:
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87 SMPN 1 Majalengka
5
SEKAPUR SIRIH DARI KEPALA SMPN1 MAJALENGKA
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87 SMPN 1 Majalengka
6
KATA PENGANTAR
DARI KETUA REUNI AKBAR SMPN 1 MAJALENGKA
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87 SMPN 1 Majalengka
7
KATA PENGANTAR DARI KETUA REUNI ANGKATAN ‘87
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87 SMPN 1 Majalengka
DAFTAR ISI 8
PROLOG Halaman
Persembahan Puisi dari Angkatan ’87 1
Niknik M. Kuntarto & Agus Arya Baskara
5
Kisah Kasih Putih Biru 1: 13
Sang Pemimpi(n) 19
Ade Djadja Subagdja 23
29
Kisah Kasih Putih Biru 2: 33
Sontak, Sejenak, Serentak 39
Ade Sri
SMPN 1 Majalengka
Kisah Kasih Putih Biru 3:
Dualitas Dua Nama
Agus Darmawan
Kisah Kasih Putih Biru 4:
Kisah Kasih Nada Sendu Bersamamu
Andri Irawan
Kisah Kasih Putih Biru 5
Go Break Dancer!
Asep Saefudin
Kisah Kasih Putih Biru 6:
Belajar Bahagia di Kota Majalengka
Betty Widiawati
Kisah Kasih Putih Biru 7:
Masa Terindah
Budhi Yogawardhana
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87
Kisah Kasih Putih Biru 8: 9
Langkah Kaki Laki-Laki 43
47
Dede Satria 53
Kisah Kasih Putih Biru 9: 59
65
Di Bawah Pohon Mangga 69
Denny Yulian Hendratmo 73
79
Kisah Kasih Putih Biru 10: 83
Bongkahan Emas Pengalaman
Djafar Dwi Risyanda SMPN 1 Majalengka
Kisah Kasih Putih Biru 11:
Ekskul dan Eksis
Ella Nurlaela
Kisah Kasih Putih Biru 12:
Bunga yang Mekar di Daratan Majalengka
Eni Sukaeni
Kisah Kasih Putih Biru 13:
Golongan Manusia Pertama
Fachri Fajar Muharom
Kisah Kasih Putih Biru 14:
Bekerja dan Bermain dengan Keras
Hendra Indra Gunawan
Kisah Kasih Putih Biru 15:
Berjuang dalam Diam
Muhammad Hilman D. F.
Kisah Kasih Putih Biru 16:
Setiap Hari Bersama Hari
Hari Nurdin
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87
Kisah Kasih Putih Biru 17: 10
Anak yang Diam-Diam 87
91
Ikin Sodikin 95
99
Kisah Kasih Putih Biru 18: 103
Pembangun Nusantara 107
Kusuma Jaya 111
117
Kisah Kasih Putih Biru 19: 123
SMPN 1 Majalengka
Perihal Berkelana dan Pulang Rumah
Laily Qodriyah
Kisah Kasih Putih Biru 20:
Artis Tenarnya SMP 1 Majalengka
Lili Lidia
Kisah Kasih Putih Biru 21: Ludi
Maksud Baik dari Ludi Maksudi
Ludi Maksudi
Kisah Kasih Putih Biru 22:
Tafsir Mandiri
Lukmanulhakim Almamalik
Kisah Kasih Putih Biru 23:
Masih Tafsir Mandiri
Lukmanulhakim Almamalik
Kisah Kasih Putih Biru 24:
Perundungan Membawa Berkah
Lusyana Rasmadi
Kisah Kasih Putih Biru 25:
Keindahan dalam Kesederhanaan
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87
Melly Mustika 11
Kisah Kasih Putih Biru 26: 127
Tarik Ulur Layangan 131
Nanang Koswara 135
141
Kisah Kasih Putih Biru 27: 147
Keranjang Kenangan Neng Guguy 151
Neneng Guguy Teguh R. 157
163
Kisah Kasih Putih Biru 28: 167
Apa Artinya untuk Melepaskan dan Melupakan SMPN 1 Majalengka
Nenny Rosdiani
Kisah Kasih Putih Biru 29:
Gadis Centil Pencari Identitas Diri
Niknik M. Kuntarto
Kisah Kasih Putih Biru 30:
Pengabdian Diri dan Peribadahan Hati
R. Neni Kusumadewi
Kisah Kasih Putih Biru 31:
Mak Comblang Gaul
Shanti Sri Mutiarsyah
Kisah Kasih Putih Biru 32:
Sri, Takdir Baik Tuhan Selalu Menghampiri
Sri Herliana
Kisah Kasih Putih Biru 33: Persembahan Angkatan ‘87
Selera Susi
Susi Kurnia
Kisah Kasih Putih Biru 34:
urat hanya untukmu
Kisah Kasih Putih Biru
Suwita Sari 12
Kisah Kasih Putih Biru 35: 177
Sosok Sony Tanpa Nama Sony 183
189
Taufik Suroso Wibowo 195
203
Kisah Kasih Putih Biru 36: 209
Ucup si Pengawas 215
Ucup Sediana 219
225
Kisah Kasih Putih Biru 37: SMPN 1 Majalengka
Kepala Sekolah Introvert
Uri Sahuri
Kisah Kasih Putih Biru 38:
Amuntaiyani di Majalengka
Wahyudiah Amuntaiyani
Kisah Kasih Putih Biru 39:
Amuntaiyani jadi Urang Majalengka
Wahyudiah Amuntaiyani
Kisah Kasih Putih Biru 40:
“Orang Pintar” Majalengka
Wawan Hernawan
Kisah Kasih Putih Biru 41:
Kenakalan Yan Yan
Yanyan Iryanto
Kisah Kasih Putih Biru 42:
Katanya, Sekolah Borjuis
Yayah Siti Sofiah
Kisah Kasih Putih Biru 43:
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87
Yayan, Suku Indian, dan Kepercayaan 13
Yayan Nuryana
231
Kisah Kasih Putih Biru 44: 239
Dari Surat Cinta sampai Kepala Desa 245
Yaya Nuryadi 251
255
Kisah Kasih Putih Biru 45: 261
Pekerjaan Sambilan Yati 267
Yati Nur Hayati
273
Kisah Kasih Putih Biru 46: 279
Si Paling Kasep, Ceunah
Josef Septiadi
Kisah Kasih Putih Biru 47: Yuli Emelia
Kisah Kasih Putih Biru 48:
Darmaji di Kantin Mang Sedit
Niknik M. Kuntarto
Kisah Kasih Putih Biru 49:
Guruku Cantik Sekali
Niknik M. Kuntarto
Kisah Kasih Putih Biru 50:
Di Balik Kisah Kasih Putih Biru
Niknik M. Kuntarto
EPILOG
Persembahan Puisi dari Editor
Tentang Editor
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87 SMPN 1 Majalengka
14
Terima kasih kepada
Semua Penulis 50 Kisah Kasih Putih Biru
Alumni SMPN 1 Majalengka
Kisah Kasih Putih Biru 1) Ade Djadja Subagdja SMPN 1 Majalengka
2) Ade Sri
3) Agus Darmawan
4) Andri Irawan
5) Asep Saefudin
6) Betty Widiawati
7) Budhi Yogawardhana
8) Dede Satria
9) Denny Yulian Hendratmo
10) Djafar Dwi Risyanda Z.A.
11) Ela Nurlaela
12) Eni Sukaeni
13) Fachri Fajar Muharom Moediarta
14) Hendra Indra Gunawan
15) Moh Hilman D.F.
16) Hary Nurdin
17) Ikin Sodikin
18) Ita Suwitasari Permana
19) Kusuma Jaya
20) Laily Qodriyah
21) Lili Lidya
22) Sri Herliana
23) Ludi Maksudi
24) Lukmanulhakim Almamalik
25) Lusyana Rasmadi
26) Melly Mustika
27) Nanang Koswara
28) Neneng Guguy Teguh R
29) R. Neni Kusumadewi
30) Niknik Mediyawati
31) Shanty Sri Mutiarsyah
32) Susi Kurnia
Persembahan Angkatan ‘87
15
33) Taufik S. Wibowo( Sony )
34) Yusup Sediana
35) Uri Sahuri
36) Wahyudiah Amuntaiyani
37) Wawan Hernawan
38) Yanyan Iryanto
39) Yayah Siti Sofiah
40) Yayan Suryana
41) Yaya Nuryadi
42) Yati Nurhayati
43) Josef Septiardi
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87 SMPN 1 Majalengka
16
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Angkatan ‘87 SMPN 1 Majalengka
1
PROLOG
Kisah Kasih Putih Biru
Niknik M. Kuntarto & Agus Arya Baskara
Kawan,
Masih ingatkah kala itu Kota Angin berembun,
seiring sedu sedan cerita masa lalu yang berkesan
Dari kisah rindu pada guru di ruang kelas
Kisah bahagia tentang prestasi sekolah
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
2
Kisah bangga tentang sekolah yang selalu menjadi favorit
Kawan, kita juga tak lupa berkisah
Kisah sendu teman teman yang berpulang saat muda
Kisah seru di belakang kantin sekolah,
Kisah misteri di toilet sekolah
sampai lelucon “hidup segan, mati tak mau”
Saat itu, kita terbahak menertawai diri,
Kawan, masih ingatkah saat embun tak sempat menetes pada tanah
Terkaget-kaget melihat kita bersenda gurau
Kita berkumpul
tak tampak keangkuhan dari mereka yang berkumpul,
mungkin karena waktu begitu lama memisahkan kita... jauh sekali
Hingga rindu datang menjemput dan kita mampu lepaskan semua yang terikat
ya,
kita seperti beramai ramai kumpul di sekolah
meniatkan lempar tas melalui jendela saat jam istirahat
dan merencanakan kabur sebelum jam pulang
Kawan,
mungkin dulu kita bermusuhan tapi menjadi kelakar hari ini
mungkin juga dulu kita bersahabat dan menjadi canda tak terhindari
Kawan,
Siapa bilang matahari panas
kalau silaturahmi menjadi payungnya
orang boleh bilang air pegunungan itu dingin
jika rindu menjadi selimut
semua sangat hangat terasa
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
3
Kawan,
Kisah putih biru dari sebuah perjalanan kecil ini
menjadi rangkaian hidup yang bermakna pada tiap-tiap makhluk
yang bisa menikmati keseruannya
Kawan, mari kita bermain di atas pasir sambil berbisik-bisikkan
bisikan bahagia di telinga alam pagi ini dan membiarkan embun menetes bahagia
dan mari kita teriakan bersama persahabatan ini sampai kapan pun dan
buku Kisah Kasih Putih Biru ini merupakan wujud kebersamaan kita.
***
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
4
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
5
Kisah Kasih Putih Biru 1:
Sang Pemimpi(n)
Ade Djadja Subagdja
Rintik hujan gerimis mengetuk kaca jendela dengan halus agar kubangun dari mimpi
indahku. Titik embun di jendela mengaburkan memori dari mimpiku. Lalu, kusiapkan
sarapan bersama ibu yang cukup sederhana: roti oma, teh hangat manis, dan kue cubit.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
6
Setelah sarapan, kugosok gigiku agar putih dan kuat. Dari kelopak matanya yang mulai
keriput, ibu terlihat lelah dari pekerjaannya setiap hari. Padahal, ibu punya delapan anak
lainnya yang harus ia uruskan. Akan tetapi, aku sebagai salah satu anak bungsu menjadi
prioritasnya pada pagi hari yang sejuk itu. Kemudian, kupamit kepada Ibu,
“Bu, Ade berangkat pagi-pagi ya, seperti biasa Ade harus menjadi pemimpin
pasukan upacara bendera. Ini hari Senin!” pamitku pada Ibu.
“Wah, anak Ibu memang hebat! Semoga kelak kamu menjadi seorang
pemimpin!”puji Ibu sambil tersenyum bangga, “mau Ibu anterin saja nggak?” tanya Ibu
kepadaku sambil melipat baju jemuran yang belum diangkat kemarin.
“Nggak usah, Bu, Ade sudah berani sendiri” jawabku sambil mengikat tali sepatu
di luar.
Karena aku adalah anak yang lumayan ceroboh, ibuku yang protektif ini biasanya
mengawasiku, kecuali untuk hari ini. Aku berjalan kaki mengejar angkot 1C menuju
sekolah sambil memandang sibuknya warga sekitar dengan kehidupan masing-masing.
Saat keluar dari rumah, suara klakson dari kendaraan umum pun menjadi musik pagi.
“Eh A Ade, gak mau beli jajan dulu nih!” seru tukang warung yang aku lewati
setiap pagi kepadaku.
“Oh iya! Aku lupa ngambil uang jajan!” jawab aku.
Karena waktuku tinggal sebentar, aku pun memutuskan untuk tetap melanjutkan
perjalananku ke sekolah. Tetiba, seseorang telah berdiri di tepi jalan seolah-olah
menantiku.
“Kamu?” tanyaku kaget. Beberapa hari ini, gadis cantik itu selalu menantiku di
pinggir jalan. Entah karena memang kebetulan akan berangkat ke sekolah yang sama
atau … ah, aku gak berani berpikir jauh. Cukup satu kali saja aku jatuh cinta pada
pandangan pertama yang ternyata kandas di tengah jalan. De Enik namanya. Gadis kelas
6 SD itu sempat singgah di hatiku. Aiiih, mungkin itu cinta monyet namanya. Setiap
malam Minggu, aku dengan beberapa teman kecilku sering apel ke rumahnya di Jalan
Kehutanan.
“Wah, A Ade kalau main ke rumah De Enik pasti dikawal ajudan-ajudannya,”
begitu komentar Mama Dodo. Aku hanya tersenyum malu.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
7
“Iya, Ma …, ini teman Ade,” jawabku dengan lirih.
“Oh ya, kalian masih kecil, masih kelas 6 SD, fokus ke EBTA dan EBTANAS, ya.
Jangan dulu pacaran. Boleh pacaran kalau A Ade jadi insinyur dulu …,” saran Mama
Dodo sambil memberikan kami suguhan opak dan rengginang. Aamiiin yra, dalam
hatiku, sambil berpikir, kelak aku akan menjadi apa ya? Insinyur, dokter, atau polisi?
Memang sudah menjadi kebiasaanku bilaa pergi ke mana pun selalu bersama dengan
teman-temanku yang selalu setia menemaniku ke mana pun aku pergi. Sungguh tak
kusangka bahwa kebiasaan ini kubawa hingga saat ini. Perbedaannya adalah dulu
mereka yang menemaniku teman kecilku. Sekarang yang menemaniku adalah mereka
yang memang memiliki tugas dan kewajiban berada di sampingku. Tugas dan kewajiban
sebagai abdi negara. Mama, maafkan Ade, kini Ade menjadi seorang polisi, bukan insinyur
sesuai harapan Mama, batinku.
Gadis kecil berseragam merah putih yang kutaksir itu ternyata tumbuh sangat
cepat. Dia bukan gadis kecil lucu dan lugu lagi. Dia sudah tumbuh menjadi gadis remaja
yang kunilai dewasa sebelum waktunya. Bahagia sekali ketika kutahu bahwa aku dan
gadis pujaanku itu bersekolah yang sama di SMPN 1 Majalengka. Bahkan pada saat kelas
dua, kami sekelas. Namun, hasrat hati sudah berubah karena aku merasa dia makin hari
makin berubah dan sulit kugapai. Aku lebih memilih mundur pelan-pelan dan fokus
pada tugasku sebagai seorang pelajar.
“Hai, De!’
“De …
“Ade …”
“Ayo, kita bareng berangkat ke sekolah,” ajaknya mengagetkanku. Rupanya
lamunanku terlalu jauh hingga tak sadar ada gadis lain yang menantiku. Tentu, aku tak
menolak ajakan gadis Batak yang cantik itu. Akhirnya, kami berangkat bersama. Sempat
bingung mau ngobrol apa.
Rasa rindu dan euforia bangkit dari alam kuburnya di hati saat telah tiba di SMP
1 Majalengka. Padahal, dua hari libur, yakni Sabtu dan Minggu adalah durasi yang bisa
dihitung dalam satu tangan. Namun, suara tertawanya anak-anak, pemandangan para
guru yang menyambut muridnya, dan aroma pagi akan pohon-pohon adalah segala hal
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
8
yang sederhana. SMP 1 Majalengka ini adalah sarangnya orang-orang cerdas. Maka dari
itu, ini adalah cita-cita awalku untuk masuk ke SMP 1 Majalengka. Aku selalu bangga
bisa duduk di bangku sekolah favorit ini bersama kawan-kawanku yang hebat di kelas
2F.
“Eh, De, yuk, mau jajan dulu gak di kantin?” tanya sahabatku, Asep, sambil
memegang kedua pundakku dari belakang.
“Aku lupa duit jajan tertinggal di meja” jawabku sambil kumainkan gitar sekolah.
“Ih, kebiasaan kamu,” ujar kawanku dengan paras wajah yang kecewa. “Udah
ikut aja dengan aku! Makan sepuasnya. Mang Sedit gak bakalan tahu! Hahahaha …!”
ajak Asep si kecil mungil yang pandai menari breakdance.
“Wah, parah kamu, Sep! Gimana mau jadi pemimpin kalau sejak kecil sudah
berani gak jujur?” protesku.
“Ih, kamu mah, udah dibilangin saya mah heureuy!” sanggah Asep sambil tetap
ngeloyor ke arah kantin sekolah.
Kring kring. Bel sekolah akhirnya berbunyi. Gelombang dan gerombolan anak-
anak mulai mendesak jalan yang menuju ke kelas masing-masing. Suara hentakan kaki
dan curhatan anak perempuan yang jalan di sebelah aku menggema. Aku mampu
mendengar suara indahmu, De Enik! Suara yang sejak lama kuikhlaskan pergi dari
hatiku.
Aku anaknya memang bukan yang paling pintar di kelas, melainkan yang
setidaknya berusaha keras sepenuh hati. Mata tajamku selalu melihat ke depan agar bisa
mencerna ilmu yang dituang oleh para guru. Ketulusan untuk mengerjakan sesuatu
semaksimal mungkin adalah identitasku. Bahkan, aku pun adalah Wakil Ketua OSIS di
SMP 1 Majalengka. Padahal, secara nilai sekolah, nilaiku itu adalah sesuatu yang tidak
terlalu luar biasa. Namun, determinasi adalah sesuatu yang mengalir kental dalam
darah. Guruku, Pak Mustari, adalah guru favoritku di SMP 1 Majalengka karena ialah
yang mengasah dan mengukir kepribadian serta kedisiplinan hingga setajam mungkin.
Tentunya, bukan hanya guruku yang menginspirasiku menjadi individu yang berbudi
pekerti luhur, melainkan bapakku. Bapak pernah berkata kepadaku “Saya tidak akan
pernah menguliahkan kamu.” Kata-kata ini terngiang-ngiang di benak pikiranku.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
9
Alhasil, aku selalu membangun batu balok independensi yang kuat sebagai bekal
kesuksesanku di masa depan, baik itu nanti di kuliah maupun kursus khusus
keterampilan lainnya.
Saat jam makan siang, aku sering sekali melihat pasangan mesra di sekolah yang
sedang duduk dan makan bersama. Ada pasangan Lia Awalia dan Hary Nurdin. Ada
juga pasangan Ella dan Memen. Kuhiraukan pemandangan romantis tersebut karena
aku melihat pacaran pada masa SMP itu hanyalah sekadar cinta monyet dan tidak
esensial demi kesuksesanku di masa depan. Jujur, aku pun belum merasa tertarik oleh
siapa pun dan kupercaya belum ada juga yang tertarik oleh diriku yang kurus dan tinggi
ini. Eh, mungkin ada satu. Satu gadis di kelompok vokal grup yang tatapan matanya
terkadang melintas ke arahku. Kepekaan aku juga teramplifikasikan saat melihatnya
seakan-akan memandang wajahku di angkot IC saat berangkat dan pulang sekolah.
Sembari menyebut kantin, tempat favoritku di SMP 1 Majalengka sebenarnya
adalah kantin yang penuh akan keanekaragaman makanan. Jajanan yang lezat dan
murah. Namun, makanannya hanya satu dari banyak alasan aku sering main di situ.
Kantin pun adalah tempatku berguyon dengan kawan-kawan saat sedang jenuh setelah
kelas. Biasanya, penjaga kantin di situ juga ngobrol bersama kami. Aku dan kawan-kawan
lainnya bahkan sering ke sini sejenak saat izin untuk ke toilet. Kenakalan zaman muda
adalah kenangan indah. Saos sambal saat menyantap telur gulung pun kerap tumpah ke
kerah seragamku yang putih. Aduh, ibu pasti akan marah ketika ia melihat ini. Dengan
demikian, aku terkadang mengelapnya dengan tisu yang dibasahi tanpa peka akan
konsekuensinya, yakni noda membandel yang makin melebar. Kendati demikian, tetap
saja aku merasa rileks dan riang.
Aula adalah tempat yang paling berkesan bagiku karena keserbagunaannya:
besar, bergema, dan bersih. Keaktifan diriku dalam ekstrakurikuler seperti grup vokal
termanifestasikan di sini setiap harinya. Kemerduan harmonisasi suara yang
menggelegar menggema dan bahkan bocor sampai keluar. Murid lainnya pun terkadang
berhenti sejenak di depan pintu aula untuk melihat gabungan talenta SMP 1 Majalengka.
Satu pun pernah hampir tertidur karena saking lamanya latihan kami. Sebaliknya,
sejumlah murid biasanya berjoget bersama di depan sebagai simbol kesenangan mereka.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
10
Walaupun hanya bernyanyi, jidatku kerap meneteskan air keringat ke lantai. Untungnya,
semilir angin sepoi-sepoi masuk melalui sela-sela jendela yang terbuka sebagai penyejuk.
Ketekunan ini adalah katalis akan kepribadianku sekarang.
“Manuk manuk dadali, manuk panggagahna pangkakoncarana,” nyanyiku dengan
penuh semangat memberi tahu vokal grup perempuan. Sesekali kucuri-curi pandang ke
arah De Enik yang juga menjadi anggota vokal grup. Gadis yang sempat hadir di
pelupuk mataku itu makin jauh meskipun selalu dekat denganku saat berlatih menyanyi.
Pandanganku sering kali terhenti dan tersadarkan oleh gadis Batak cantik itu seolah-olah
ia berkata, sudah tidak ada gunanya berharap besar padanya. Beralihlah pandangan
matamu padaku yang siap menerimamu apa adanya. Hhmm…!
“Manuk dadali, manuk panggagahna …,” kini suara vocal grup lelaki menjawab.
“Yuk, kita latihan di rumah kamu nanti sore De!” saran kawan-kawanku.
“Tenang, De Enik nanti kusuruh datang e rumahmu juga. Kuajak dia deh!” Asep
menenangkanku. Asep, teman baikku selalu berpikir bahwa aku dan De Enik memiliki
hubungan spesial. Padahal, rasa itu sudah kutinggalkan saat dia menjauh. Mungkin
tida hanya Asep yang berprasangka demikian. Teman-teman SMP lainnya pun
memiliki penilaian yang sama. Aku dan De Enik memiliki hubungan. Sungguh mereka
telah keliru menilaiku.
Terkadang, untuk latihan ekstra, rumahku menjadi tempat kami berteduh dan
latihan. Walaupun rumahku hanyalah kediaman yang sederhana dan kami hanya
memanfaatkan garasi mobil yang lama tak berpenghuni sejak orang tuaku tak menjabat
lagi, suara perut keroncongan takkan pernah ada karena ibu selalu menyiapkan jajanan,
baik minuman dingin maupun batagor, untuk teman-temanku. Kami pun minum air
putih serentak agar rongga-rongga tenggorokan tidak serak dan seret. Kendati
menganggap latihan ini sungguh serius, kami tetap menciptakan atmosfer yang rileks
dengan canda tawa. Kerap sekali, ibu duduk di luar dan menghirup udara segar sambil
mendengar secuil lelucon kami dari jauh.
Seketika azan magrib berkumandang, kami semua berhenti menyanyikan lagu-
lagu dan mulai siap-siap untuk salat. Justru, dengan suara merdu kami, salawat dan
doalah berbunyi. Setelah itu, teman-temanku sudah siap untuk pulang.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
11
“Kami pulang dulu ya De, besok main lagi kalau nggak capek!” ujar kawanku.
“Ketemu lagi besok ya! Jangan lupa hafalkan lirik lagu Manuk Dadali!” jawabku
dengan ceria.
Sungguh saat itu merupakan saat-saat yang paling indah. Rasa tenang karena ada
De Enik juga rasa nyaman karena kehadiran seseorang yang penuh perhatian kepadaku.
Namun, sayang, aku belum berani memberikan harapan lebih kepada gadis bermata
bulat itu karena aku sadar, aku bukan siapa-siapa. Aku harus fokus belajar dan mengejar
cita-cita. Maafkanku, gadis Batakku, kutahu perasaanmu. Namun, izinkanku untuk
memilih mempersiapkan masa depanku. Aku berharap jika Tuhan berkehendak,
insyaallah kita akan berjalan bersama seperti halnya kebiasaan kita selalu berangkat dan
pulang bersama saat sekolah. Namun, harapan itu ternyata tak berasa. Semua sirna
karena jarak yang jauh dan komunikasi yang tersendat memisahkanku dengannya.
Ketika memasuki dunia yang lebih dewasa pada masa SMA, memori yang ceria
dan indah pada masa SMP pun menjadi nostalgia yang larut dalam campuran
penderitaan. Kondisi kedua orang tuaku tidak sebaik saat menjabat. Aku akhirnya ikut
bersama kakakku. Aku merantau jauh ke Bandung untuk menimbah ilmu di SMA 20
Bandung. Kendati ini adalah cita-citaku, realitanya jauh berbeda dari ekspektasi. Saat
pagi hari, tak ada ibu yang membantu untuk menyiapkan sarapan. Aroma hangat seperti
dulu adalah ilusi lampau. Bahkan, aku pun harus ngamen sebelum masuk SMA karena
kurangnya duit untuk menempuh satu hari sekolah. Apa pun tantangan hidup yang
dilempar oleh dunia, aku terima dengan busung lapang dada.
Sekarang, setelah melewati masa suram, kusam, dan kelam, aku lulus AKABRI
sehingga membuatku menjadi seorang komandan di Papua selama 17 tahun ini dan kini
alhamdulillah aku sebagai AKBP dipercaya sebagai salah satu pejabat di Human Polri.
Kini, hobi bernyanyi telah kusalurkan dengan menjadi polisi selebritas. Beberapa
kali tampil di berbagai acara kantor juga terabadikan di kanal Youtube. Bahkan,
beberapa bulan yang lalu aku dipercaya menjadi sutradara film yang mengangkat
kearifan lokal Papua: Si Tikam Polisi Noken dan aku sempat membuat soundtrack lagu
untuk film perdanaku yang dirilis pada Mei 2022 lalu.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
12
Kini, setiap bisa kembali ke Majalengka, kota kelahiranku juga penuh kenangan,
sambil membuang asap rokok, selalu tergambar kisah kasih putih biru. Kini, kembali
aku membakar ujung rokok, bukan hanya batang rokok itu saja yang terbakar, melainkan
juga semangat api untuk tetap berkarya dan sukses selalu. Semangat api yang sudah
dinyalakan oleh SMP 1 Majalengka.
***
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
13
Kisah Kasih Putih Biru 2:
Sontak, Sejenak, Serentak
Ade Sri
Setelah sekian lamanya menunggu kehadiran guru, aku akhirnya terbangun dari
lamunanku saat ketua kelas 1D datang dan mengumumkan bahwa guru kita sedang
sakit.
“Guru kita lagi sakit. Jadi, kita nggak ada kelas pagi hari ini,” ucap ketua kelas
kepada kami semua.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
14
“Wooohoo yayyy!”
Yang sebelumnya dibalut oleh kesunyian hening, langsung berisik bagaikan pasar
di pagi hari. Sebagai gadis yang lincah, tentunya aku langsung bangun dari kursi kayuku
yang sudah agak rapuh. Kolong mejaku adalah tempat sampah yang terselubung: kertas,
kotoran rautan, dan plastik jajanan. Namun, penampilanku selalu bersih. Pipiku selalu
terlihat mengkilap. Sontak anak-anak kelas sedang berguyon, bibirku kerap sekali
menyungging dari ujung kiri sampai kanan. Padahal, aku terkadang tidak mengerti
lelucon yang disampaikan oleh mereka.
Bibir, lidah, dan rongga-rongga tenggorokanku selalu kerja rodi karena selalu
bergerak per detiknya. Bagiku, hidup itu tidak seru tanpa berseru. Justru, lelaki suka
gadis yang berani berpendapat. Gadis cerewet sepertiku cenderung dapat menggaet
perhatian seantero murid di sekolah. Bukan hanya betapa frekuen aku bicara, volume
suaraku pun sungguh gede. Bahkan, murid di kelas sebelah palingan bisa mendengar
diriku. Untungnya, SMP 1 Majalengka adalah sekolah papan atas sehingga orang-
orangnya pun ramah. Bahkan, guru-gurunya selalu melekat dalam hati.
“Eh, kecilkan suara kamu De, hahaha, berisik amat,” ujar sahabatku sejak SD, Ipa
Manasa, dengan nada berguyon.
“Apaan sih, sebelumnya aku juga diam kok! Hahaha,” tawa aku.
Ruang kelas adalah tempatku bersinggah saat jam makan siang ketimbang kantin
seperti murid-murid yang lain. Ruang kelas adalah tempat yang sempurna untuk
memfasilitasi kecerewetanku; tidak terlalu ramai hingga susah untuk ngobrol, tetapi juga
tidak terlalu sepi untuk aku mengulur waktu hanya dengan kesibukan diri sendiri.
Tentunya, aku tidak akan berbincang dengan diri sendiri saja, kegiatan itu hanya
kegiatan khusus di rumah.
Tentunya, di balik kecerewetan ini, aku juga adalah gadis yang anggun dan
feminin. Aku gemar memasak bersama ibu di rumah. Ibu adalah sosok pengajar yang
luar biasa bagiku karena ia bukan hanya memerintah, melainkan juga mendemonstrasi
cara menyuguhkan makanan yang sehat serta lezat. Dari cara memotong bawang hingga
mengulek cabai, semuanya ini adalah titipan ilmu dari ibu ke aku. Ibu juga adalah
seorang pedagang makanan. Tangannya pun terlihat penuh bekas ditusuk oleh pisau
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
15
tajam. Cipratan minyak goreng yang panas adalah perihal umum bagi ibu-ibu di dapur.
Ibuku sering berkata “Hati-hati, jangan sampai minyaknya kena mata.”
Setelah aku pulang sekolah, aku biasanya membantu ibu mempersiapkan
dagangannya. Meskipun jasaku itu sejagung, setidaknya aku bisa meringankan beban
ibuku dalam berumah tangga. Ibu juga sering memberikan nasehat bahwa jika aku nanti
ingin berdagang catering juga, aku harus sudah siap menelan pembicaraan orang lain
sebusuk-busuknya. Bukan hanya stamina dan fisik yang kuat, melainkan juga mental
dan kesabaran yang tebal bagaikan batu. Rasa bintik melankolis terkadang tumbuh saat
melihat dagangan ibu sedang kurang laris.
“Oh iya, kamu sudah siapin ‘kan, semua barang-barang yang akan kamu bawa
untuk kemah atau masih ada yang belum lengkap?” tanya ibuku dengan paras wajah
yang lumayan khawatir.
“Tinggal softex saja sih Bu karena aku lagi dapet, nanti beli saja di warung saat
lewat,” jawabku kepadanya.
Keesokan harinya, aku dan kawan-kawan sigap dan siap pergi ke Argapura untuk
kemah bersama. Jantungku sudah berdebar sejak malam karena rasa tak sabar
membanjiri hatiku. Pagi-paginya butiran air dari daun-daun pohon jatuh ke rambutku
karena kemarin malam, hujan deras dan dingin mengguyur Majalengka. Seketika masuk
ke bis, rasa euforia mengisi satu ruang penuh bis tersebut. Orang-orang pun memakai
pakaian yang rapi dan warna-warni.
Kami bernyanyi bersama. Kami bersorak ria. Kami menyerukan nama ‘SMP 1
Majalengka’ dengan sangat lantang dan penuh kebangaan. Bagiku, sebagai murid SMP
1 Majalengka adalah suatu kebanggaan karena sekolah ini adalah sekolah favorit.
Lembah hijau terbentang luas bagaikan samudra saat berada di bis. Awan-awan
putih bergerak seakan-akan mengikuti kami. Segenap insan di bis pun menghabiskan
waktu mereka dengan cara mereka masing-masing. Ada yang pergi ke pulau kapuk
hingga ngiler, ada yang membaca buku, dan ada juga yang hanya sekadar ngobrol. Suara
nyanyian merdu dari seseorang yang duduk di depan sempat membuatku tertidur.
Sontak, hampir menjelang sore, kami pun akhirnya tiba di destinasi kemah. Kupandang
wilayahnya yang penuh pohon raksasa dan daun-daun kering berserakan di bawahnya.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
16
Walaupun hanya duduk, tulang punggung dan sendi-sendi badan terasa pegal
linu. Aku pun merasa malas untuk mengangkut barang bawaan beratku. Untungnya,
pacarku, lelaki sejati dengan hati yang tulus, senantiasa untuk menggendong tasku ke
lokasi kemah. Padahal, jaraknya agak jauh jika harus membawa tas yang sangat berat.
Gravitasi pun akan kalah. Kekuatan cinta pacarku tetap melebihi paksaan alami dari
gravitasi.
Pacarku memang sangat baik sekali. Ia pun rela mencari dan memberi softex
kepadaku. Cinta bersemi di api unggun. Seantero murid. Bahkan, cerahnya api unggun
tak bisa dibandingkan oleh membaranya cinta mereka. Kedipan bintang-bintang di
langit yang terang menciptakan atmosfer yang mesra. Semilir angin malam yang
biasanya menembus kulit hingga masuk angin adalah sekadar alasan agar dipeluk oleh
sayang. Cahaya api yang membara tentunya juga menjadi sumber kehangatan.
“Halo, semuanya, bagaimana perasaan kalian malam ini? Seru kan? Nah, sebentar
lagi kami menghimbau untuk ikut menari tarian Susana pada malam hari ini yang tak
akan terlupakan,” seru salah satu kakak kelas kepada kami semua.
Awalnya, aku tidak mau ikutan karena rasa malu dan cemas sungguh menggelitik
perut hingga mulas. Awalnya, aku mengira kemulasa ini manifestasi dari menstruasiku.
Awalnya, aku kira jantungku akan copot dari dadaku karena saking gugupnya diriku.
“Cepat, kamu ikut juga! Pasti bisa, beranilah!” seru pacarku dengan matanya yang
terlihat berkaca-kaca. Alhasil, aku pun senantiasa menari tanpa mengkhawatirkan apa
pun. Ligamen dan jemari kami tetap berdansa di atas tanah Ibu Pertiwi. Hentakan kaki
yang serentak mengguncangkan bumi dan ritme tariannya makin dinamis. Ia
memandangku sambil tersenyum lebar. Kulihat pacarku sedang menatap mataku,
seolah-olah aku adalah bintang tamu. Atau bahkan mungkin, bintang dari bintang di
langit jatuh ke sini. Rasa katarsis yang ikut menari dalam jiwa mudaku membuat
wajahku merah merona.
Momen-momen inilah di hidup yang aku pegang erat-erat, meskipun hanya
setahun bersama SMP 1 Majalengka. Setidaknya, serpihan dari masa laluku masih
mengalir dalam darah dagingku yakni, memasak. Kegiatanku sekarang merupakan
usaha kecil dalam bidang kuliner seperti kedai nasi dan jualan ayam geprek. Kendati
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
17
kadang menyita waktu sehingga susah untuk kumpul bersama teman-teman, usaha ini
adalah caraku menabung untuk masa depan anak-anakku tercinta. Talenta memasak ini
adalah warisan dari ibuku yang selalu kukenang sepanjang hayat.
*
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
18
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
19
Kisah Kasih Putih Biru 3:
Dualitas Dua Nama
Agus Darmawan
ilustrasi penyiar radio
Hidup di lingkungan yang asri dan hijau adalah pengalaman mudaku. Tak pernah,
bahkan tak berani untuk bermimpi merajut hidup di kota, apalagi di kota metropolitan
seperti kota Jakarta dan lalu Bekasi. Raungan knalpot motor dan mobil menggeram di
jalan. Padahal, kawan pertamaku adalah layangan kecil dan benang kuning tajam.
Sekarang, sahabatku adalah radio dan mikrofon. Malam gelap pada masa muda adalah
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
20
orkestranya jangkrik dan bel sepeda, sedangkan pada masa tua adalah klakson mobil
tanpa henti.
Kakiku sering tersangkut oleh nadi-nadi kabel panjang di lantai. Dulu, bintang
kejora mendampingi malamku. Sekarang, kedipan lampu buatan manusia adalah cahaya
terangku pada malam yang dingin. Di tempat kerja, kerah kemeja selalu terlihat lancip
ke atas. Padahal, dulu, seragamku selalu terlihat lecek saat aku masih menimbah ilmu di
SMP 1 Majalengka.
Orang-orang yang pintar belajar selalu berkumpul di SMP 1 Majalengka. Seperti
namanya, anak-anak di situ adalah anak-anak nomor satu di Majalengka. Jika bisa
memilih nomor satu, aku tak ada alasan untuk berteduh di nomor dua. Mungkin, aku
adalah anak terkecuali. Secara kepintaran akademis, levelku tak sebanding kawan-
kawanku di kelas 1A. Namun, kepercayaan diriku selalu menembus kecanggungan anak
SMP yang baru masuk ke dunia remaja.
“Aduh, aku bingung teh pertanyaan matematikanya!” ucapku sambil menggaruk
kepalaku hingga salju putih jatuh ke atas meja.
“Ih gampang ini mah, baru pertanyaan nomor satu!”
“Pusing aahhhh!”
Namun, individu tersebut masih bernama Agus Darmawan. Sekarang, aku adalah
seorang Arya Baskara. Kendati namaku sudah berbeda, jati diriku tetap sama.
Kesehatanku yang sungguh tidak stabil adalah katalis akan perubahan nama. Maka dari
itu, nama Arya Baskara tercipta. Namun, ternyata oh ternyata, aku justru semakin tidak
sehat hehehe. Padahal, orang tuaku sudah merapal doa-doa demi kesehatanku. Akan
tetapi, apa boleh buat jika diriku memang terlahir seperti ini. Nami tiasa digentos, tulang
rusuk akan esensi diri selalu menyatu dengan jiwa.
Kalau makan di SMP 1 Majalengka, menu mewah seperti salad sayur-sayuran
adalah ilusi. Kebanyakan menu di kantin tentunya adalah gorengan gurih yang bisa
bikin kita semua punya jerawat dalam sekejap mata. Kantin pun adalah sarang dosa bagi
kita semua. Sebagai anak dari keluarga yang sederhana, aku tentunya pernah ‘darmaji’.
Bahkan, aku punya taktik efektif sendiri agar bisa colong lebih banyak makanan, hehehe.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
21
Biasanya, aku selalu mengajak Mang Sedit ngobrol sambil kuambil gorengannya, satu
demi satu, tanpa ia sadari.
Zaman remaja, khususnya di SMP, adalah masa yang cabul. Dulu, ada kakak kelas
bernama Dian. Matanya kerap sekali menjelajahi zona terlarang. Tangannya pun usil dan
sering masuk ke rok cewek. Suatu hari, salah satu guru favoritku, Ibu Titin, sedang
menghukum Dian karena pelecehan yang ia kerap lakukan kepada para cewek di SMP 1
Majalengka.
“Gus, liat tuh, Gus!” tanya temanku, Bondan.
“Ada apa? Ada apa?” tanyaku balik, penasaran.
“Itu Kak Dian lagi diomelin!” jawab temanku yang berpostur tinggi besar.
Kemudian, Ibu Titin menggebrak meja dengan kekuatan singa. Teriakan dari
rongga-rongga tenggorokannya menggetarkan lapisan kaca jendela kelas.
“Kamu berani ya pegang-pegang wanita ya! Dasar anak cabul!” kemarahan Bu
Titin mulai memuncak.
“Maaf Bu!” jawab Dian tertunduk malu.
“Kalau berani pegang punya Ibu!” tantang Bu Titin, guru cantik itu.
Perutku langsung terasa geli. Air kuning terasa hampir keluar dari celanaku.
Untungnya, aku tahan sekuat tenaga. Lalu, Bu Titin melihat kami yang sedang
menguping.
“Eh, ngapain kalian?” teriak Bu Titin mengagetkan kami.
“Aduh, kabur kabur!!!” ajakku pada Bondan yang berbadan berat.
“Eh, sini kalian!” perintah Bu Titin makin galak.
Seketika badanku lari dari situ, kakiku keselengkat karena tali sepatuku yang
terurai. Hidungku akhirnya jatuh ke genangan air kotor sepekat kopi yang dari hujan
deras kemarin. Seragam putihku pun ternodai. Namun, tidak ternodai seperti mataku
yang menyaksikan kejadian yang kian humoris. Sangking terbahak-bahaknya ketawaku,
aku pun merasa tersedak dan hidungku melumerkan ingus. Peristiwa itu lumayan
memalukan karena banyak siswa lain yang melihat kami sebagai anak kebakaran
jenggot.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
22
Jiwa memang muda. Namun, aku masih memiliki rasa takut kepada orang tua.
Padahal, Mami adalah orang yang diam-diam saja. Mulutnya bagaikan lubang yang
diselotip dengan kuat. Lebih tepatnya, ia diam hanya kepada diriku, tetapi kerap sekali
berantem dengan mertuanya. Ironisnya, karena aku sering pulang telat, Mami akhirnya
terpaksa untuk menjalin hubungan baik dengan mertuanya. Bahkan, mereka pun
menjadi sahabat! Meskipun demikian, agar Mami gak sedih, aku berusaha pulang lebih
cepat.
Secara spiritual, aku belajar sendiri dengan alam semesta. Belajar dari hembusan
angin, baik sejuk maupun panas, ketika sedang duduk di luar. Belajar dari aroma manis
jahe pada pagi hari. Belajar dari lengketnya tanah becek yang menggerogoti kaki
telanjangku. Belajar dari rasa pahitnya kopi hitam. Aku belajar bahwa dunia itu lebih
indah ketika kita berpikir secara independen dan terbuka. Biarkan setiap partikel debu
menempel ke tubuh. Biarkan lagu dangdut mencium telinga. Biarkanlah pelukan dari
kawan-kawan itu menjadi sesuatu yang normal.
Dengan demikian, mata pelajaran favoritku adalah Bahasa Indonesia karena
melalui bahasalah, aku bisa menginterpretasi alam semesta sesuai dengan khayalanku.
Aku memanifestasikan cinta kepada alam semesta melalui puisi. Bahkan, aku pernah
menang lomba puisi juara satu. Makanya, Socrates pernah berkata “Kalau kita putus
cinta, bersiap-siaplah menjadi pujangga.” Sejak itu, bahasa Indonesia tidak hanya aku
wujudkan dalam bentuk tulisan, tetapi juga siaran radio. Dari penulis puisi hingga
penyiar radio. Bahkan, kini usahaku merambah ke dunia lain, baik di bidang seni,
pertunjukan, perekonomian, bahkan perbankan. Dari remaja desa hingga anak kota. Dari
Agus Darmawan hingga Arya Baskara.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
23
Kisah Kasih Putih Biru 4:
Kisah Kasih Nada Sendu Bersamamu
Andri Irawan
Sinar matahari masuk dari sela-sela jendela. Di depan sebuah lemari kaca tua, aku
memasang kancing kemeja putih paling bawah. Hidungku kembang kempis. Senyum
lebar tersungging. Aku merapikan rambut yang mulai memanjang. Kalau dirapikan ke
bawah, terlihat culun. Kalau diacak-acak ke atas, terlihat nakal. Ah, mungkin aku akan
meminta ibu untuk menggundulinya. Eh, kalau gundul, tidak keren. Aku ‘kan anak band.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
24
Seolah ada musik rock yang mengiringi, aku segera mengambil tas dan
memasukkan beberapa buku tulis dengan asal. Tanpa tempat pensil, aku mengambil
pulpen yang terletak di bawah kasur. Kalau pulpennya mati, aku bisa meminjam punya
Maman. Maman si tinggi atau Maman Jangkung, sebutannya. Kata orang-orang, kami
seperti biji. Biji .., yang tidak terpisahkan.
“Pak, Bu. Andri berangkat ka sekolah dulu, yak!” Aku mencium tangan kedua
orang tuaku. Kemudian, mengambil kotak bekal yang telah disiapkan ibu di meja makan.
“Hati-hati!” seru Bapak.
Ketika memasang sepatu, aku teringat sesuatu. Aku buru-buru melepas sepatu,
lalu berlari ke arah ibu yang sedang mencuci piring.
“Bu, nanti tolong pangcarikeun kaos kaki bola Andri, ya. Andri lupa naronya. Hari
ini teh ada pertandingan, hehe….” Aku memeluk ibu dari belakang. Strategi ini biasanya
manjur untuk meluluhkan hati ibu.
“Iya, iya. Sudah, berangkat sana. Nanti telat,” ucap ibu sambil menjawil telingaku.
Aku membalasnya dengan senyum lebar.
Masih seolah ada musik rock yang mengiringi, aku melesat pergi ke sekolah
secepat kilat. Bangunan tua Pabrik Gula Kadipaten menjadi saksi bisu perjalananku. Kata
orang-orang, di sana terdapat sejumlah kisah angker. Namun, pabrik tersebut menjadi
bangunan bersejarah sejak zaman Belanda yang harus dilestarikan.
Api semangat dalam diriku tengah membara. Tak hanya pertandingan sepak bola
sore ini, aku juga memiliki latihan khusus dengan anak band karena sebentar lagi ada
perlombaan di daerah Cirebon. Meskipun perlombaan tersebut diselenggarakan sehari
sebelum ulangan akhir, aku tidak peduli. Aku bisa belajar tengah malam. Yang penting,
sebagai pemain keyboard, band kami harus memenangkan perlombaan itu. Lagipula, guru
musik Pak Odi akan menyelamatkanku. Strategi apa pun akan kulakukan supaya Pak
Odi menjadi pion terdepan dalam mengatasi nilai-nilai ujianku. Ets, jangan salah. Gini-
gini, aku bisa mengerjakan ulangan hanya dalam waktu lima sampai sepuluh menit.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
25
Sambil menutup mata pun bisa. Namun, itu hanya berlaku di mata pelajaran seni.
Sementara yang lainnya, aku hanya bisa menebar senyum pada teman-teman sekelas,
terutama Maman untuk meminta jawaban.
Aku berdiri di depan gerbang SMPN 1 Majalengka yang megah. Backsound lagu
rock berganti dengan indie. Angin sepoi-sepoi menyapa lembut rambutku. Beberapa daun
berguguran mengenai wajahku. Aku menggosok hidungku dengan jari telunjuk.
Kebanggaanku pada SMPN 1 Majalengka kian membesar, terlebih karena dikenal
sebagai SMP favorit. Kebanyakan orang tua di Kadipaten mengharapkan anaknya
bersekolah di SMPN 1 Majalengka dan menjadi salah satu anak yang memenuhi harapan
tersebut. Hoho. Aku memang tidak pandai-pandai amat dalam bidang akademik. Akan
tetapi, sejumlah kegiatan nonakademik, aku trabas semua.
“Ey, Andri. Kadieu! Ngapain maneh ngeliatin gerbang sekolah, emangnya mau ada
UFO yang lewat?” tanya Maman yang menepuk pundakku dari belakang. “Jangan lupa
pulang sekolah latihan, yak.” Dia berjalan mendahuluiku.
Aku mengekor di belakang Maman.
Ketika hendak pergi ke kelas, Andri simpangan dengan Nova. Ugh. Aku enggan
berurusan dengannya lagi. Aku lupa permasalahannya apa. Akan tetapi, ketika masih
kelas satu, Nova pernah membanting tubuhku. Kala itu, aku harus mempertahankan
kejantananku. Aku mencoba melawan, tetapi Nova lebih keras. Akhirnya, aku yang
menyingkir. Ck, cukup memalukan.
Aku tiba di kelas bersama Maman. Kami duduk sebangku.
Pagi ini diawali dengan mata pelajaran Pak Yahya, guru agama. Pak Yahya
mengajarkan tentang toleransi antaragama. Untaian kata memenuhi papan tulis. Srat sret
srat sret kapur putih terdengar nyaring di telinga. Awalnya tidak ada masalah, aku
menulis catatan dengan penuh kedamaian. Hingga tiba giliran Dani Ule, teman di
belakangku, mengajak bicara. Dia ingin melihat latihan band kami hari ini. Aku
menyetujuinya. Ule merupakan suporter yang baik. Namun, berkat bisikan Ule barusan,
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
26
sebuah kapur putih melayang dari papan tulis mengenai mejaku. Sontak, seluruh
pandangan mata mengarah kepadaku.
“Andri Irawan!” seru Pak Yahya marah.
Kedua mataku membelalak kaget. Maman menahan tawa di sebelahku.
“U-Ule duluan, Pak,” jawabku ciut.
Kesal, Ule malah menggelengkan kepala.
Beruntung, masalah tidak diperpanjang karena muncul seorang bidadari,
maksudku, salah satu anggota OSIS perempuan. Seorang teman laki-laki sesama OSIS
mengekor di belakang. Mereka memperkenalkan diri, yang satu namanya Vini, yang
satu lagi tidak penting. Dengan suara lantang, Vini mengumumkan bahwa setelah ujian
akhir ada acara class meeting atau perlombaan antarkelas berupa cerdas cermat. Vini
meminta tiga orang delegasi tiap kelas. Vini juga meminta band dari kelasku (band-ku
maksudnya) untuk menjadi penampil sebelum dan sesudah perlombaan tersebut.
Oh, berarti band-ku terkenal, ya. Aku mesam-mesem. Vini pamit dari kelas, tetapi
bayangannya masih singgah di pikiranku. Pak Yahya kembali menulis. Aku
mengabaikan peringatan lemparan kapur beliau. Kucolek pundak Ela, siswi yang duduk
di depanku.
“La, Vini teh dari kelas baraha?” tanyaku.
Bukannya menjawab, Ela malah tersenyum licik. Dasar perempuan, cepat sekali
mengertinya!
Aku hanya mengacak-acak rambut. Tersirat keinginan dalam diri untuk bertemu
Vini berulang kali.
Dengan demikian, bersama Ade Djadja sebagai drummer, Maman Jangkung
sebagai gitaris, aku sebagai keyboardist, dan Lili atau Hani atau Yuli sebagai vokalis, kami
latihan band sebagai peserta lomba sekaligus penampil acara.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
27
Hari demi hari kulalui dengan penuh semangat. Ya, kalau tidak semangat, rusak
hasilnya. Menginjakkan kaki di SMP favorit memotivasiku untuk aktif dalam
berkegiatan, apa pun itu, terutama dalam bidang seni dan olahraga. Saking
semangatnya, setiap hari pasti ada saja kegiatan nonakademik yang dilakukan, baik di
dalam maupun di luar sekolah. Selain band, aku juga mempelajari calung, dogdog, dan
angklung. Kemudian, menjadi pemain dalam sepak bola, softball, dan voli. Jiwa
kepemimpinanku turut diasah dengan kegiatan pramuka.
Bersyukur, orang tua mendukung penuh kegiatanku. Hanya saja, ibu sering bawel
ketika aku telat makan atau tidak bebersih terlebih dahulu sebelum tidur. Walaupun
letih, aku senang menjalaninya. Seperti hari ini, lomba band di Cirebon dan ujian akhir
sekolah telah selesai. Aku dan personil-personil band-ku merapikan peralatan. Cerdas
cermat berjalan lancar meskipun kelasku tidak menang. Mataku menangkap Vini yang
sedang mengoordinasi teman-teman OSIS untuk membereskan aula sekolah usai
kegiatan cerdas cermat. Rencananya, aku hendak menemuinya kala Vini sudah selesai
dengan tanggung jawabnya. Vini pun pergi dari pandanganku.
“Ekhem…!” Ela dengan cireng panasnya mengagetkanku. Tanpa bilang sepatah
kata pun, Ela langsung menarik kerah baju belakangku. Aku diajak pergi ke suatu
tempat, yakni kelas Vini. Hanya ada Vini seorang di sana. Dia sedang merapikan tempat
duduknya.
“Cepet bilang!” Ela mendorong tubuhku untuk masuk ke kelas.
“Gimana?” tanyaku gusar.
“Ya, gak tau. Maneh ngerasain apa sekarang?” tanya Ela.
“Ngaderegdeg,” jawabku singkat.
“Vini, Andri mau ketemu maneh!” seru Ela.
Wajahku langsung memerah. Sementara Ela menungguku di luar, aku berjalan
kikuk di hadapan Vini.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
28
“V-Vini,” ucapku.
“Iya, Andri. Aya naon?” tanya Vini lembut. Wajahnya tampak lelah.
“A-ndri teh ... s-s-su ...,” aku mau meledak, “suka sama Vini.”
Kedua mata Vini terbuka lebar. Dia tidak percaya.
Melihat reaksinya, aku hanya cengengesan sambil mengacak-acak rambut.
Vini hanya menganggukkan kepala, tidak menerima atau menolak pernyataanku.
Karena bingung (dan menyerah), aku bergegas keluar kelas.
“Gimana laporanna?” tanya Ela layaknya bos.
“Dia cuma ngangguk doang.” Aku memaksakan untuk tersenyum. Yah, aku tidak
mengerti jawaban Vini. Akan tetapi, untuk beberapa hari terakhir, dia menjadi
penyemangatku dalam kegiatan band. Aku suka dirinya yang tegas, wibawa, dan dapat
diandalkan. Cerita manis tersebut akan menjadi arsip baik untuk dewasa nanti.
Namun, kisah indah itu hanya hadir sesaat di kehidupanku. Hanya sesaat. Sekejap
saja. Nama Vini hanya akan menjadi kenangan. Kenangan indah. Juga sendu. Ya, pada
akhirnya, Vini pergi meninggalkanku juga meninggalkan teman-teman SMPN 1
Majalengka untuk selamanya. Duka yang amat sangat. Viny sayang, kuantarkan engkau
dengan doa dan lagu terindahku.
Waktu pun berputar. Ketika dewasa, aku kembali berkecimpung dengan dunia
band. Tidak, tidak. Aku tidak bermain keyboard. Aku bekerja di perusahaan distributor
alat musik. Selain itu, perusahaan tersebut juga melakukan distributor produk untuk
videografi, live streaming, recording, podcast, sound system, dan microphone. Business
development adalah pekerjaan khususku. Rupanya, musik selalu menjadi bagian dari
hidupku. Aku tak pernah menyesal menjadi bagian dari SMPN 1 Majalengka karena ada
kisah indah di dalamnya. Tentu bersamamu, Viny!
***
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
29
Kisah Kasih Putih Biru 5:
Go Break Dancer!
Asep Saefudin
Aku memang bukan juara di banyak lomba, melainkan aktif berpartisipasi dalam
aneka kegiatan. Namun, aku menjadi siswa SMP 1 Majalengka adalah salah satu
kebanggaanku hingga sekarang. Sejak SD, rasa penasaran merayap ke jiwaku karena
banyak sekali omongan baik tentang SMP tersebut. Bahkan, untuk masuk ke SMP 1
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
30
Majalengka, segenap calon siswanya harus melewati tahap testing yang ketat dan
kompleks.
“SMP 1 Majalengka teh sekolah paporit, bagus juga gedungnya,” ucap ibu-ibu yang
sedang ngerumpi.
“Ekstrakurikulernya juga banyak, ada seni, ada olahraga, ada band, ada upacara
adat, banyak deh”
Dengan demikian, SMP 1 Majalengka tentunya bukan sembarang SMP yang
semua orang boleh masuk sesuka hati. Jemariku terasa kram karena sangking bosennya
memegang pulpen dan pensil untuk belajar. Kecemasan pun menjamur. Pagi-paginya
aku pun mulas dan sempat harus dipijat oleh ibu agar semangat serta rileks. Namun,
pikiranku masih berkelebat ke tes tersebut. Tes yang mungkin akan mengukir jalan
kehidupan remajaku.
Insya Allah, aku bisa masuk ke SMP 1 Majalengka. Namun, saat waktu tes telah
tiba, badanku seakan-akan kesemutan karena mati rasa. Keheningan di dalam ruangan
menggema. Suara detikan jam di dinding yang biasanya tak terdengar pun menjadi
sangat bising. Keringat meleleh, melumer, dan menetes ke permukaan kertas tes.
Tanganku gemetar saat aku tak bisa menjawab pertanyaan terakhir.
“Waktu tinggal lima menit lagi ya!”
Kulihat anak-anak di sebelahku, semuanya terlihat sudah selesai. Anak di sebelah
kiriku pun sempat untuk mengupil dan menggaruk-garuk bokongnya. Jujur, aku tidak
merasa jawabanku adalah yang paling optimal. Aku pun overthinking sewaktu aku keluar
dari ruangan kelas tersebut.
Alhamdulillah, saat daftar nama anak-anak yang lolos seleksi ditampilkan, aku
melihat namaku di bagian bawah. Tanpa basa-basi, es kecemasan di hatiku menjadi cair
dan menetes melalui mataku dengan sangat deras. Untungnya, ada kawan-kawanku
yang lain memelukku dan memberi kata-kata semangat. Ibuku pun ikut menangis
tersedu-sedu. Walaupun tidak genius, aku menanamkan bibit inspirasi dalam hatiku
agar buktikan ambisiku dengan hal yang positifku, baik melalui pergaulan maupun
aktivitas di sekolah.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
31
Aku adalah orang yang banyak tingkah. Jadi, aku harus buktikan dengan hal yang
positif, terutama prestasi. Aku mencoba olahraga yang tak ada di SD yakni, tenis meja.
Bagiku, tenis meja adalah olahraga yang keren karena jarang sekali ada yang
memainkannya. Karena pernah main bulutangkis, aku kira tenis meja semestinya serupa.
Namuun, teknik tenis meja jauh lebih kompleks. Bola kecilnya kerap keluar dari meja.
Bahkan, tenagaku terlalu kencang saat menampol bolanya. Belajar tenis meja
membuatku lebih sabar dan tenang laksana telaga. Namun, aku bukan juaranya meja
tenis.
Kendati badan tidak tinggi, aku juga suka main bola basket bersama teman-
temanku. Namun, teknik melompat dan dribbling-ku adalah teknik yang matang. Aku
untungnya pandai memformulasikan strategi di lapangan sehingga aku diikutsertakan
ke dalam tim basket saat kelas 3. Sekali lagi, aku bukan juara. Lagi pula, awal mulanya
aku main basket bukan karena passion terpendam, melainkan seorang cewek cantik yang
sering main di dekat lapangan basket. Gadis itu adalah Tuti Herawati. Ia adalah seorang
cewek yang sangat energik. Mataku kian nanap memperhatikan dirinya saat dekat
lapangan. Maka dari itu, saat aku latihan teknik long shoot dan masuk, aku gembira saat
ia menyorak namaku.
“Waaah!! Keren Sep!!” pujinya.
Tak hanya olahraga, keturunanku memiliki darah seni. Justru, dari segala
kegiatan yang kulakukan, break dance adalah aktivitas favoritku. Rusukku bergerak.
Ototku berdansa. Musik berputar. Aku teh senang saat berseni, orang mengenalku dari
penampilan break dance. Kendati demikian, aku bukan penari break dance yang terbaik.
Akan tetapi, ini adalah passion nomor satu. Sebenarnya, aku juga ingin aktif di organisasi
dan ingin sekali menjadi salah satu anggota OSIS. Sayangnya, karena memang bukan
rezeki, aku tidak pernah mencicipi pengalaman yang kumimpikan tersebut.
Setidaknya, aku aktif dalam pramuka dan saat camping. Beberapa tahun yang lalu,
aku memegang peran penting untuk camping pada malam nanti yakni, untuk memegang
obor saat memulai acaranya. Yang kocak sebenarnya adalah kepikunan diriku untuk
membawa obor itu ke hari camping hahahahahah!
“Lah, obornya mana?” tanya Lukman kepadaku sambil mengikat tali sepatunya.
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
32
“Hehehe, gaada Luk!”
“Lah, gimana sih kamu teh, ya Allah,”
Untungnya, kawasan kemah kami tertutupi dengan banyak kayu bambu yang
panjang. Alhasil, sore itu, aku langsung merakit obor yang baru. Aku potong bambunya
dengan pisau masak yang anak-anak cewek bawa dari rumah. Telapak tanganku pun
menjadi penuh baretan. Lalu, sebagai pentolan di atas bambunya, aku menggunakan
obat nyamuk berbentuk spiral dan berwarna hijau yang dikasih oleh Lukman dan kuikat
erat-erat dengan tali.
“Sudah pake itu saja,” kata Lukman sambil menyerahkan obat nyamuk tersebut.
Bulan purnama menyambut kami semua. Malam beringsut larut. Angin berdesir-
desir. Bayangan kelelawar terbang terkadang terlihat dari jauh. Ratusan nyamuk
menghinggapi kulit orang-orang dan menyedot darah mereka yang manis. Yang kurang
pada hari itu adalah sekumpulan serigala buas yang melolong di atas tebing tinggi.
Akhirnya, waktu telah tiba untuk aku keluar dengan obor olimpiade yang kurangkit
dengan tanganku sendiri. Namun, saat aku keluar dan jalan ke pertengahan lingkaran
orang-orang, aku tidak disambut oleh tepuk tangan yang meriah, melainkan suara
segenap orang tertawa terbahak-bahak.
“Lah kok, obornya pake obat nyamuk, hahahahah!” komentar teman satu
kelompokku.
“Sep, itu maksudnya biar nyamuknya hilang ye, hahahahah!” komentar yang
lain.
“Aduh kebelet pipis jadinya hahahah!”
Semua orang terus menceracau tak karuan. Tentunya, itu semua adalah kenangan
indah yang tak akan pernah pupus. Sekarang, aku adalah pegawai negeri di Pemda.
Padahal, ini bukanlah cita-citaku dari kecil. Akan tetapi, aku masih dengan bangga
memakai seragam hitam dan kuning yang dengan jelas menunjukkan namaku “Asep
Saefudin.” Namun, ada lebih banyak kenangan yang indah menempel di seragam putih
biruku.
***
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
33
Kisah Kasih Putih Biru 6:
Belajar Bahagia di Kota Majalengka
Betty Widiawati
Korea. Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka
Jepang.
Hongkong.
Bangkok.
Dubai.
China.
Australia.
Kisah Kasih Putih Biru
34
Singapura.
Malaysia.
Sungguh tak pernah menyangka bahwa aku yang dulunya seorang gadis dari
Babakan Jawa, Majalengka, sanggup berkeliling dunia ke beberapa negara. Menghirup
udara sejuknya. Memandang dengan takjub semua keindahan alamnya. Menonton
pertunjukan keluhuran budayanya. Menikmati berbagai makanan uniknya. Mensyukuri
semua kenikmatan hidup yang telah diberikan oleh Gusti Allah melalui kegiatan
usahaku sebagai manajer di PT Tupperware Indonesia.
Sekilas tentang bisnis Tupperware ternyata mampu menyejahterakan atau
memajukan perekonomian kaum ibu. Selain itu, usaha ini pun menambah persaudaraan.
Sebagai seorang manajer di Tupperware, kebahagiaan dan kepuasanku adalah bila
sudah berhasil membantu ibu-ibu naik ke jenjang karier untuk maju dan meraih predikat
yang lebih tinggi.
Memori seputar bisingnya kehidupan kota perlahan-lahan tergantikan dengan
suara kicauan burung yang senantiasa melantun setiap pagi untuk menyambut
kedatangan dari sang matahari fajar. Ikan-ikan pun seolah-olah menyambut embun pagi
dengan riangnya. Mereka tampak bahagia jika suamiku datang menjenguknya. Mereka
berusaha menyapa mentari yang mulai hangat membakar kulit. Sebelum bersemayam
di Majalengka, aku tinggal di kawasan Kota Cilegon yang terkenal dengan perannya
sebagai kota penghasil baja terbesar di seluruh Asia Tenggara. Di tengah hiruk pikuk
kota industri tersebut, aku mencari penghasilan dengan berjualan Tupperware. Baik
mendapatkan bonus untuk mengunjungi beberapa daerah di Indonesia maupun
memperoleh kesempatan emas untuk pergi umrah, semua hal tersebut telah aku terima
selama menjalankan bisnis di bawah naungan Tupperware.
Akan tetapi, karena demand dari produk Tupperware di Majalengka masih teramat
rendah pada saat itu, aku beralih ke ranah kuliner dengan membuka jasa katering. Tentu,
bisnis katering ini tidak dapat memberikan berbagai macam bonus yang bisa aku rangkai
menjadi sebuah kenangan indah. Jangankan memiliki uang lebih untuk bertamasya, hasil
yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah cukup terbatas. Namun, di
Kisah Kasih Putih Biru Persembahan Alumni ‘87 SMPN 1 Majalengka