The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Hidup Harmonis Di Lereng Merapi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ruswan.bks, 2021-07-22 03:48:38

Merapi Menyapa Kehidupan

Hidup Harmonis Di Lereng Merapi

Keywords: Bersahabat dengan merapi,Memahami merapi dan mengenal penduduknya

MERAPI

menyapa kehidupan

“ HIDUP HARMONIS
DI LERENG MERAPI ”

DR. Syamsul Maarif, M.Si.



MERAPI

Menyapa Kehidupan

Hidup Harmonis di Lereng Merapi

Catatan, Kenangan, dan Pembelajaran
Peristiwa Erupsi Merapi 2010

DR. Syamsul Maarif, M.Si.

Merapi Menyapa Kehidupan

Hidup Harmonis di Lereng Merapi
Oleh DR. Syamsul Maarif, M.Si.
Cetakan Kedua, 2013
Diterbitkan oleh

Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Jl. Ir. H. Juanda No. 36 Jakarta

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

ISBN: 978-602-7700-05-5

Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan
Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat
1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta
rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran
hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

ii MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

KATA PENGANTAR

Berbagai kejadian bencana dalam skala cukup besar melanda tanah
air sejak tsunami Aceh dan Nias tahun 2004. Kejadian bencana
setelah itu antara lain gempabumi di DIY dan Jawa Tengah tahun
2006, gempabumi di Sumatra Barat tahun 2009, serta bencana
beruntun pada 2010 yaitu banjir bandang di Wasior, Papua Barat,
gempabumi dan tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, dan
terakhir meletusnya Gunung Merapi pada Oktober dan November
2010. Berbagai kejadian bencana tersebut telah mengajarkan satu
filosofi baru yaitu bahwa manusia adalah bagian dari alam. Dengan
demikian hidup harmoni dan selaras dengan alam adalah sebuah
conditio sine a qua non - sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar.
Kehidupan harmoni dan merasa menjadi bagian dari alam akan
menyadarkan manusia bahwa bencana maupun nikmat dari alam
adalah dua sisi dari satu keping mata uang yang harus disikapi sama.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah sebuah
negeri yang rawan bencana. Hal ini karena negara kita terletak pada
pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu Lempeng Indo-
Australia di bagian selatan, Lempeng Euro-Asia di bagian utara, dan
Lempeng Pasifik di bagian Timur. Ketiga lempeng tersebut selalu
bergerak sehingga berpotensi menimbulkan jalur gempabumi dan
rangkaian gunungapi aktif sepanjang Pulau Sumatra, Jawa, Bali dan
Nusa Tenggara, belok ke utara ke Maluku dan Sulawesi Utara, sejajar
dengan jalur penunjaman kedua lempeng. Tercatat sebanyak 127
gunungapi aktif, 80 di antaranya berbahaya.
Selain itu, kerusakan lingkungan dan perubahan iklim telah
menyebabkan berbagai bencana banjir, tanah longsor, kekeringan,
maupun berbagai jenis bencana lainnya. BNPB mencatat ada 14
jenis ancaman (hazard) terjadinya bencana (Rencana Nasional
Penanggulangan Bencana 2010–2014, BNPB), yaitu gempabumi,
tsunami, letusan gunungapi, gerakan tanah, banjir, kekeringan,
kebakaran hutan dan lahan, erosi, kebakaran gedung dan
permukiman, gelombang ekstrem dan abrasi, cuaca ekstrem,
kegagalan teknologi, epidemi dan wabah penyakit, serta konflik
sosial. Dampak kejadian bencana tersebut secara keseluruhan
mengakibatkan kerugian harta benda dan korban jiwa yang tidak
sedikit. Daerah rawan bencana terdapat pada hampir seluruh
provinsi di Indonesia.

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI iii

Kejadian bencana dari tahun ke tahun tidak menunjukkan
penurunan. Bahkan berbagai data menunjukkan terjadinya
eskalasi frekuensi dan magnitude kejadian bencana tersebut yang
memerlukan perhatian semua pihak. Salah satu isu yang dihadapi
dalam penanggulangan bencana adalah tingkat kerentanan
(vulnerability) masyarakat dalam menghadapi bencana. Kerentanan
tersebut akibat berbagai faktor antara lain kemiskinan, tingkat
pendidikan, pengetahuan, kesadaran dan infrastruktur penunjang,
dan ketersediaan informasi yang mudah diakses, dan sebagainya.
Secara umum dapat dikatakan bahwa Pemerintah, masyarakat, dan
para pemangku kepentingan terkait di Indonesia belum sepenuhnya
siap dalam menghadapi bencana. Hal itu mengakibatkan tingginya
korban jiwa maupun kerugian material yang ditimbulkan oleh
bencana. Upaya pengurangan risiko bencana dikembangkan
melalui usaha-usaha peningkatan ketahanan masyarakat dalam
menghadapi ancaman bencana.
Ketangguhan dalam menghadapi bencana tersebut merupakan
inti dari visi BNPB yakni ketangguhan bangsa dalam menghadapi
bencana. Ketangguhan merupakan kesadaran yang terinternalisasi
dalam sebuah komunitas sehingga menghasilkan kesiapsiagaan dan
kapasitas yang tinggi dalam menghadapi bencana. Ketangguhan
dalam menghadapi bencana menurut UNISDR (2005) didefinisikan
sebagai kapasitas suatu sistem, komunitas atau masyarakat dalam
menghadapi ancaman. Kapasitas ini ditentukan oleh tingkat
kemampuan sistem sosial dalam mengorganisasi dirinya melalui
pembelajaran dari bencana di masa lalu untuk meningkatkan
kemampuan dalam pengurangan risiko akibat bencana.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa
risiko bencana berkaitan dengan dua faktor penting. Pertama,
berkaitan dengan tingkat kerentanan (vulnerability) suatu
komunitas atau daerah dalam mengantisipasi, mempersiapkan
diri, memberikan tanggapan dan memulihkan diri. Faktor kedua
berkaitan dengan ancaman (hazards) risiko bencana yang terjadi di
daerah tersebut.
Faktor lain yang tidak kalah penting dalam mengurangi risiko
bencana, berdasarkan pengalaman lapangan adalah kepemimpinan
(leadership). Kepemimpinan memiliki korelasi langsung terhadap
besar kecilnya korban. Kepemimpinan dapat diterjemahkan
sebagai kepemimpinan formal dan struktural, serta kepemimpinan
informal dan kultural. Pengalaman bencana meletusnya Gunung
iv MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

Merapi menunjukkan bahwa kepemimpinan Mbah Marijan sebagai
pemimpin informal dan pemimpin budaya masyarakat merupakan
faktor yang lepas dari perhatian kita saat itu. Pola hubungan antara
gubernur dan para bupati di wilayah sekitar Gunung Merapi yang
merupakan pemimpin formal dan struktural sebagai front terdepan
dalam upaya penanganan bencana di tingkat lokal sering kali justru
merupakan faktor penting bagi kelancaran dan kesuksesan upaya
penanganan bencana di daerah.

Dibutuhkan keberanian dalam pengambilan keputusan bertindak
yang cepat dan tepat dalam menghadapi bencana yang sedang
terjadi, kearifan dalam memutuskan kebijakan yang diambil,
serta peka dalam menyikapi situasi yang terjadi tanpa harus
terbebani prosedural yang mengikat. Diperlukan kecepatan dalam
mengoordinasikan berbagai instansi, lembaga, dan organisasi
kemasyarakatan yang terlibat untuk mendapatkan sasaran
penindakan yang tepat. Dibutuhkan keberanian dalam pengambilan
keputusan bertindak yang cepat

Proses penulisan buku Merapi Menyapa Kehidupan ini melibatkan
sejumlah pihak yang membantu saya mewujudkan buku ini.
Penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang telah berkenan memberi
kepercayaan kepada kami memimpin proses penanganan Merapi
2010. Atas pengalaman tersebut maka buku ini bisa hadir di tangan
pembaca. Kepada tim pengumpulan materi yang dipimpin oleh
saudara Daniel Dhakidae, saya menyampaikan penghargaan yang
tulus. Tim ini terdiri atas anak-anak muda wartawan dari berbagai
media. Secara khusus saya ingin menyebut mereka satu per satu:

Ahmad Arif, Asnil Bambani Amri, Mustakim dan Pito Agustin. Kepada
merekalah saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas
materi yang terkumpul, baik melalui pengamatan dan wawancara
langsung maupun melalui riset pustaka.

Terima kasih kepada rekan-rekan di jajaran BNPB, baik dari unsur
pelaksana dan pengarah, serta unsur-unsur terkait baik di jajaran
Pemerintah Daerah, Kementerian dan lembaga non Kementerian,
para akademisi di perguruan tinggi, para relawan, rekan-rekan
media massa, dan juga pekerja kemanusiaan yang juga telah
menjadi narasumber yang hands on karena telah bersama-sama
kami selama masa tanggap darurat dan tahap pemulihan awal.
Juga kepada para pengungsi dan relawan yang telah membagikan

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI v

kepada kami berbagai pengalaman dan telah memberikan inspirasi
yang berharga tentang pengelolaan bencana secara arif dan bijak.
Akhirnya kami menyampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang tidak dapat disebutkan di sini, yang telah membantu
terwujudnya buku ini.
Jakarta, Desember 2012
DR. Syamsul Maarif, M.Si.

vi MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

DAFTAR ISI

Kata Pengantar | iii
Daftar Isi | vii
PROLOG
BERSAHABAT DENGAN MERAPI | x
1. Bersahabat dengan Alam sebagai Sebuah
Keniscayaan | x
2. Kita Hidup di Wilayah Rawan Bencana | xiii
3. Maksud Penulisan Buku | xvi
BAB 01
MEMAHAMI MERAPI MENGENAL
PENDUDUKNYA | 1
1. Merapi dan Penduduknya | 2
2. Riwayat Letusan | 6
3. Kearifan Lokal yang Mulai Hilang | 11
4. Mematikan sekaligus Menghidupi | 14
5. Mitigasi Merapi | 20
BAB 02
MERAPI TAK PERNAH INGKAR JANJI | 27
1. Dari Siaga ke Awas | 28
2. Letusan Pertama | 29
3. Letusan Kedua Lebih Dahsyat | 30
4. Aktivitas Berkepanjangan | 31
BAB 03
KEHIDUPAN DAN PENGHIDUPAN YANG
TERENGGUT | 39
1. Korban Berjatuhan | 40
2. Bertahan meski Kehilangan | 41
3. Penghidupan Masyarakat yang Tercabut | 43
4. Kehidupan di Pengungsian | 44
5. Mereka yang Masih di Barak Pengungsian | 46
6. Evakuasi dan Pengamanan Zona Bahaya | 50
7. Ternak dan Penghidupan Masyarakat | 52

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI vii

BAB 04
TANTANGAN SANG JURUMUDI BENCANA | 55
1. Tantangan Sang Jurumudi Bencana | 56
2. Pratandang | 61
3. Mulai melangkah | 65
4. Sosialisasi | 66
5. Penanganan Ternak | 68
6. Penentuan Radius Bencana | 71
7. Alam Pikiran Pedesaan | 74
8. Jejak BNPB di Merapi | 77
BAB 05
MENGATUR LANGKAH BERSAMA
ANTAR-PELAKU | 83
1. Koordinasi Siaga di Selingkar Merapi | 84
2. Peran Pemerintah Kabupaten | 85
3. Peran Pemerintah Provinsi | 94
4. Peran BNPB | 100
5. Peran TNI dan POLRI | 106
6. Peran Kementerian dan Lembaga Pusat | 110
7. Peran PMI | 119
8. Peran Jejaring Sosial dan Relawan | 122
9. Peran Perguruan Tinggi | 125
10.Peran Media Massa | 126
BAB 06
KOORDINASI ANTAR ORGANISASI | 129
1. Konsep Jejaring Sosial | 130
2. Struktur Jejaring Koordinasi
Tanggap Darurat Erupsi Merapi 2010 | 131
3. Aktor Kunci | 134
BAB 07
UPAYA PENANGANAN | 139
1. Pengendalian Gunung dan Penduduk | 140
2. Pengamanan Areal | 144
3. Evakuasi dan SAR | 147
4. Kesiapsiagaan | 151
5. Penanganan Darurat Pengungsi | 155
6. Terus Memimpin Saat Genting | 159
7. Upaya Rehabilitasi dan Rekonstruksi Awal | 161

viii MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

BAB 08
MENATA KEMBALI KEHIDUPAN | 165
1. Modal Sosial Warga | 166
2. Gotongroyong di Pengungsian | 169
3. Kajian Kebutuhan Pemulihan Pasca Bencana | 170
4. Strategi Rehabilitasi dan Rekonstruksi | 173
5. Rehabilitasi dan Rekonstruksi | 177
6. Siaga untuk Ancaman Bencana Berikutnya | 180
7. Anak Muda di Tengah Bencana | 183
7. Tata Ruang yang Peka Bencana | 188
BAB 09
MEMETIK PELAJARAN DARI MERAPI | 191
1. Masalah-Masalah Kultural Pemandu ke Depan | 193
2. Kesiapan Masyarakat Sipil, Civil Society | 194
3. Politik Pengambilan Keputusan | 198
4. Kesiapan Birokrasi Pemerintahan dan
Koordinasinya | 199
5. Masalah-Masalah Teknis | 199

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI ix

PROLOG

BERSAHABAT DENGAN MERAPI

Bersahabat dengan Alam sebagai Sebuah Keniscayaan
Sebuah kejadian, betapa pun tidak kita kehendaki, selalu
memberikan pelajaran dan hikmah apabila kita memberi ruang
untuk merenungkan kejadian tersebut dalam perspektif yang jernih.
Bencana meletusnya Gunung Merapi merupakan sebuah bencana
nasional yang magnitude-nya cukup besar karena menyebabkan
hampir setengah juta penduduk di 4 kabupaten dan 1 kota di
sekitarnya harus mengungsi dari tempat tinggalnya. Ditilik dari
jumlah korban meninggal yang tidak lebih dari 400 jiwa, bencana
Merapi memang tidak sedahsyat bencana tsunami di Aceh dan Nias
pada 2004 yang menelan hampir 200 ribu korban jiwa. Namun,
bencana Merapi telah menyebabkan hampir setengah juta penduduk
di sekitarnya harus tercabut dari akar sosial dan penghidupannya
dan hidup dalam keterbatasan di lokasi pengungsian, yang tentu
saja tidak memadai untuk memenuhi tuntutan kenyamanan dan
ketenangan hidup yang selama ini mereka rasakan.
Besarnya jumlah pengungsi itulah yang membuat penanganan
bencana Merapi menjadi sebuah hajatan yang luar biasa berskala
nasional. Negara dan berbagai elemen pekerja kemanusiaan harus
mengakomodasi dan mengelola hampir setengah juta pengungsi di
lebih dari 600 titik pengungsian. Sebuah pekerjaan besar sekaligus
merupakan pengalaman yang luar biasa untuk dicatat dan diambil
pelajaran dan hikmahnya.
x MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

Sesungguhnya bencana Merapi bukan sebuah kejadian yang terpisah
dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat di sekelilingnya.
Bencana tersebut adalah bagian dari berbagai berkah dan nikmat
alam yang selama ini dirasakan masyarakat Merapi. Akibatnya ketika
bencana itu datang, bencana tersebut tidak memisahkan keterikatan
dan keterkaitan masyarakat dengan alamnya. Masyarakat Merapi
menyadari betul “suratan takdir” yang telah ditetapkan alam, bahwa
pada saat-saat tertentu sebuah gunung berapi akan meletus, dan
pada saat tertentu akan muncul wedhus gembel, yaitu guguran lava
berupa awan panas yang siap menerjang dan meluluhlantakkan
desa dan kehidupan yang dilewatinya.
Meletusnya gunung berapi tidak akan menjadi bencana apabila
masyarakat mampu menjauh dan menghindari ancaman bencana
tersebut. Pengalaman dan kearifan lokal seharusnya mengajarkan
kita semua kapan harus menghindar dan menjauh dari zona
ancaman bahaya. Kemampuan dalam mengatasi ancaman bencana
inilah yang harus senantiasa dikembangkan masyarakat itu sendiri
karena bencana sebenarnya berawal dan berakhir pada manusia.
Manusialah yang harus merancang nasibnya karena manusia pula
yang akan menjadi korban ketika ancaman bencana itu terjadi.
Dalam menyikapi sebuah bencana, ada 4 filosofi yang dapat kita
anut, yaitu: pertama menjauhkan masyarakat dari ancaman bencana
(hazard), kedua menjauhkan bencana dari masyarakat, ketiga
hidup harmoni dan bersahabat dengan bencana, dan keempat
menumbuhkembangkan kearifan lokal.
Filosofi kedua adalah menjauhkan bencana dari masyarakat melalui
upaya pengurangan risiko bencana, yaitu dengan memanfaatkan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh misalnya,
pembangunan tanggul untuk sungai yang berpotensi banjir,
pembangunan sabo dam di lereng gunung berapi untuk mengurangi
dampak aliran lahar maupun lahar dingin, penanaman pohon di
sekitar daerah rawan longsor, dan sebagainya.
Filosofi ketiga adalah harmoni bersama bahaya atau ancaman (living
harmony with risk). Dalam kondisi ini masyarakat harus mengenal
karakter dan sifat-sifat alam. Mengenali sifat-sifat alam ini dimulai
dengan memahami proses dinamikanya, waktu kejadiannya dan
dampak yang ditimbulkan. Manusia diberi akal dan pikiran untuk
bisa mengatasi dan mengadaptasi kondisi alam di sekitarnya.

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI xi

Filosofi keempat lebih mendorong kearifan lokal dan berbagai
upaya kombinasi dua filosofi sebelumnya, yaitu bagaimana
masyarakat bisa hidup selaras dan bersahabat dengan ancaman
bencana. Dengan demikian apabila bencana itu terjadi, masyarakat
sudah tahu dan paham benar apa yang mesti dilakukan untuk
menghindari risiko bencana tersebut. Pengalaman di berbagai
negara seperti Jepang (yang hampir setiap saat terjadi gempabumi)
dan Vietnam (yang setiap tahun terkena banjir besar dari Sungai
Mekong) misalnya, masyarakat di wilayah bencana dapat menerima
dan mengatasi risiko bencana tanpa menimbulkan korban yang
besar.
Contoh yang menarik di dalam negeri adalah bagaimana
masyarakat di Pulau Simeulue yang berada kurang lebih 150 km
dari lepas pantai barat Aceh terhindar dari bencana Tsunami yang
melanda Provinsi Nangroe Aceh Darussalam pada 2004. Gugusan
Kepulauan Simeulue yang terdiri atas beberapa pulau besar dan
kecil (± 40 buah) berada tepat di atas persimpangan tiga palung
laut terbesar dunia, yakni pada pertemuan lempeng Asia dengan
lempeng Australia dan lempeng Samudera Hindia. Akibatnya saat
terjadi gempabumi dan tsunami pada 24 Desember 2004 yang ber-
episentrum di ujung barat Pulau Simeulue, pulau ini mengalami
kerusakan sarana prasarana sangat parah. Namun, jumlah korban
jiwa akibat peristiwa tersebut relatif minim. Hal ini disebabkan

“Besarnya jumlah pengungsi itulah yang membuat
penanganan bencana Merapi menjadi sebuah hajatan yang luar biasa

berskala nasional. Bagaimana negara dan berbagai elemen pekerja
kemanusiaan harus mengakomodasi dan mengelola hampir
setengah juta pengungsi di lebih dari 600 titik pengungsian.”

xxiiii MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

masyarakat setempat sudah mengenal secara turun-temurun
peristiwa yang disebut sebagai smong, karena peristiwa serupa
yakni tsunami pernah terjadi pada 1907. Dan, apabila terjadi gempa
besar diikuti oleh surutnya air laut dari bibir pantai secara drastis
dan mendadak, otomatis tanpa disuruh seluruh penduduk, tua muda,
besar kecil, laki-laki dan perempuan beranjak meninggalkan lokasi
menuju tempat-tempat ketinggian atau perbukitan guna menghindari
terjangan smong atau tsunami tersebut.

Kearifan lokal seperti inilah yang membuat penduduk di Kepulauan
Simeulue dapat terhindar menjadi korban ketika terjadi badai tsunami.
Kearifan lokal seperti inilah yang mestinya harus berkembang menjadi
suatu budaya baru bagi masyarakat di wilayah rawan bencana. Inilah
makna dan maksud penulisan buku Merapi Menyapa Kehidupan ini,
yaitu agar masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana dapat
bersahabat dengan alamnya, mengembangkan budaya dan kearifan
lokal yang ada untuk menghindar dari ancaman bencana. Dengan
demikian ketika bencana itu datang, ia tidak merenggut kehidupan dan
penghidupan masyarakatnya. Ketika bencana itu datang, masyarakat
menyambut dengan kearifan dan kesigapan untuk menyapa sang alam
dengan penuh keyakinan bahwa bencana itu memang harus dihadapi
dan disikapi dengan benar.

Kita Hidup di Wilayah Rawan Bencana
Sudah menjadi kodrat Indonesia dilanda bencana. Bayangkan saja,
ada 127 gunungapi aktif di seluruh Indonesia dan setiap tahun
beberapa gunungapi itu meletus hampir bersamaan.

Indonesia juga berada di tiga lempeng tektonik dunia, yakni
Lempeng Eurasia, Lempeng India-Australia, dan Lempeng Pasifik
yang sangat berpotensi menimbulkan gempabumi setiap saat.
Gempabumi ini berpotensi disertai tsunami karena beberapa
daerah rawan gempa tersebut berada di sekitar pantai. Selain itu
dalam proses pergerakan lempeng bumi yang telah berlangsung
jutaan tahun, ketiga lempeng bumi tersebut membentuk daerah
penunjaman (zona subduksi) yang memunculkan sejumlah hotspot
(titik api) yang kemudian mengeluarkan magma ke permukaan bumi,
dan terbentuklah gunungapi. Alur sepanjang pertemuan Lempeng
Indo-Australia dan Lempeng Eurasia tersebut merupakan jalur
gempabumi sekaligus rangkaian gunungapi, mulai dari sepanjang
pantai barat Pulau Sumatra, pantai selatan Pulau Jawa, Bali, dan
Nusa Tenggara. Di Indonesia Timur jalur ini berbelok ke Maluku dan
Sulawesi Utara. Sebagian jalur patahan juga muncul di Papua.

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI xiii

Indonesia juga berada di tiga lempeng tektonik dunia, yakni Lempeng
Eurasia, Lempeng India-Australia, dan Lempeng Pasifik yang sangat

berpotensi menimbulkan gempabumi setiap saat.

Dengan posisi geografis dan geologis seperti itulah kita hidup
dan menjalani kehidupan sebagai bangsa. Kita harus sepenuhnya
menyadari bahwa bangsa kita, selain hidup di alam yang penuh
berkah kesuburan dan keindahan, juga hidup dalam ancaman
bencana setiap saat. Konstitusi kita seharusnya memuat kondisi ini
sehingga bangsa kita harus lebih waspada dan melakukan upaya
yang serius untuk mengurangi risiko bencana dan hidup harmoni
dengan alamnya.
Berbagai bencana besar yang pernah terjadi di dunia sebagian
terjadi di negara kita. Pada 1815 Gunung Tambora di Kabupaten
Bima Nusa Tenggara Barat meletus dengan korban jiwa sekitar
92.000 orang, membuat udara di atas Pulau Madura gelap selama
tiga hari. Pada 1883 letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda
mendinginkan atmosfer selama seminggu. Kekuatan ledakannya
setara 200 megaton TNT (trinitrotrigliseride) yang menjadi bahan
dinamit - atau setara dengan 13.000 kali kekuatan ledakan bom
atom yang menghancurkan Hiroshima pada Perang Dunia II. Kita
tidak bisa membayangkan betapa besar ledakan gunungapi ribuan
tahun lalu yang membentuk Danau Toba di Sumatra Utara. Inilah
yang harus kita sadari dan tidak bisa kita anggap remeh. Berbagai
xiv MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

kejadian bencana di tanah air sejak 2004 sampai sekarang telah
memberi kita pelajaran yang berharga, agar kita meningkatkan
ketahanan dalam menghadapi bencana.
Harian Kompas dalam Laporan Akhir Tahun edisi 20 Desember 2010
menulis secara khusus mengenai berbagai aspek bencana, dalam
berbagai artikel sebanyak hampir 16 halaman. Hal ini menunjukkan
bahwa media massa telah menganggap bencana sebagai hal yang
serius yang harus dimengerti dan ditangani dengan tepat, tidak
hanya oleh Pemerintah, tetapi oleh seluruh komponen anak bangsa.
Masalah bencana tidak bisa menjadi urusan Pemerintah semata,
tetapi menjadi urusan kita semua. Disaster is everyone’s business.
Dalam salah satu artikel di Harian Kompas tersebut ditulis bahwa
Indonesia sangat rawan bencana dan merupakan salah satu pusat
lokasi megabencana. Sayang ingatan manusia Indonesia tentang
sejarah bencana itu hanya “sejengkal”. Gempabumi, letusan
gunung berapi, dan tsunami merupakan bencana kebumian yang
terjadi semata-mata faktor alam. Berbeda dengan perubahan
iklim yang dipicu oleh intensitas gas rumah kaca ataupun banjir
dan tanah longsor akibat penggundulan hutan dan kerusakan
lingkungan. Bencana kebumian mempunyai karakter antara lain
besarannya masif, terjadinya mendadak, dan tidak bisa diprediksi
dalam jangka waktu yang relatif panjang. Bahaya gunungapi bisa
hitungan tahun hingga bulan, sampai dengan hitungan minggu
menjelang meletus. Berbagai ilmu dan teknologi yang ada saat ini
tidak pernah bisa meramal kapan terjadinya bencana. Kepala Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Direktorat
Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono yang
lebih dari sebulan menunggui Merapi berulang kali mengatakan
bahwa letusan gunungapi tidak bisa dipastikan kapan walaupun
ada tanda-tanda pendahuluan. Bahkan, ahli seismologi lainnya juga
berkali-kali mengungkapkan bahwa yang bisa diketahui hanyalah
potensi gempa. Namun, kapan gunung berapi akan melepaskan
energinya, manusia tidak pernah tahu. Bisa bulan depan, bisa juga
tahun depan, atau lebih lama lagi. Hal yang bisa kita lakukan adalah
meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan serta melakukan
berbagai upaya untuk mengurangi risiko bencana. Kita tidak boleh
pasrah dan menyerah karena sudah suratan takdir bahwa negeri kita
berada tepat di atas wilayah rawan bencana. Hal yang kita perlukan
adalah ikhtiar kita untuk terus-menerus melakukan berbagai upaya
dalam mengakrabi dan hidup selaras dengan bencana. Untuk

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI xv

itulah buku ini disusun. Selain untuk
memberikan pemahaman tentang
ancaman bencana, buku ini sekaligus
sebagai sebuah pembelajaran dari
sebuah pengalaman menghadapi
dan menangani bencana.
Maksud Penulisan Buku
Buku ini diawali dengan Bab 1
yang berjudul Memahami Merapi
Mengenali Penduduknya yang
menggambarkan berbagai aspek
yang perlu kita ketahui tentang
Gunung Merapi baik sejarah,
riwayat letusan, penduduk dan akar
sosial budayanya, berbagai upaya
mitigasi yang selama ini dilakukan,
serta sedikit membahas tentang
karakter gunung berapi. Melalui
bab ini kita dapat mempelajari latar
belakang budaya dan bagaimana
masyarakat sekitar lereng Merapi
berinteraksi dengan alamnya. Inilah
yang dapat menjadi fondasi utama
berkembangnya kearifan lokal dalam
menyikapi dan menghadapi kejadian
bencana meletusnya Merapi.
Menariknya, sehari sebelum meletus
pada 26 November 2010, berbagai
elemen yang tergabung dalam
Forum Merapi bersama masyarakat
di dalam radius 5 kilometer dari
puncak Merapi telah melakukan
sosialisasi dan gladi bencana, yang meliputi proses evakuasi, jalur-
jalur evakuasi, dan tempat pengungsian. Namun, karena ternyata
yang terjadi adalah letusan yang magnitude-nya hampir 10 kali
lipat letusan pada 2006, maka seakan-akan rencana kontijensi dan
gladi yang dilakukan saat itu tidak banyak berarti.
Bab 2 yang berjudul Merapi Tak Pernah Ingkar Janji menggambarkan
peristiwa letusan yang dimulai pada 26 November 2010 yang
merenggut 26 jiwa termasuk Juru Kunci Merapi yang fenomenal,

xvi MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

Mbah Marijan. Kemudian letusan berlanjut pada 5 November,
beruntun, dan status awasnya berkepanjangan hingga letusan yang
paling dahsyat pada 5 Desember 2010 dini hari. Bencana Merapi
ini merenggut nyawa hampir 400 jiwa dan menyebabkan sekitar
400 ribu jiwa mengungsi dari tempat tinggalnya.
Dampak letusan dan guguran lava yang berkepanjangan
tersebut dijelaskan dalam Bab 3 yang berjudul Kehidupan dan
Penghidupan yang Terenggut, yang mencoba menggambarkan
bagaimana bencana Merapi telah menimbulkan korban baik yang
meninggal, luka dan mengungsi. Bagaimana masyarakat tercabut
dari penghidupannya sehari-hari, bagaimana mereka kehilangan
rumah, harta benda, ternak, dan kebunnya. Bagaimana masyarakat
harus hidup di lokasi pengungsian yang serba darurat, bagaimana
para petugas harus mengamankan zona bahaya dan melakukan
evakuasi korban. Semua ini semoga menjadi bahan perenungan
bagi kita semua bahwa bencana dapat menimbulkan kesengsaraan
dan penderitaan bagi yang mengalaminya. Melalui bab ini semoga
timbul empati kita sehingga dapat mendorong solidaritas sosial di
antara bangsa Indonesia apabila sebagian saudara kita mengalami
bencana.
Ketika magnitude bencana Merapi kala itu sudah melebihi
kapasitas Pemerintah Daerah untuk mengatasinya, maka pada
5 November 2010 Presiden memerintahkan Kepala BNPB untuk
memegang komando pengendalian penanganan bencana Merapi.
Hal ini diuraikan dalam Bab 4 yang berjudul Tantangan si Jurumudi
Bencana yang mencoba menggambarkan lima instruksi Presiden
dalam rangka penanganan bencana Merapi, yaitu satu komando
penanganan di bawah Kepala BNPB, peranan Pemerintah Pusat
dalam hal ini Menkokesra dalam menggerakkan berbagai potensi
dan sumber daya nasional, peranan TNI, peranan Polri, dan
penanganan ternak milik penduduk terdampak.
Selanjutnya Bab 5 yang berjudul Mengatur Langkah Bersama
menggambarkan upaya-upaya yang di lakukan Kepala BNPB
untuk membangun koordinasi antar pelaku, baik dari Kementerian
dan lembaga Pemerintah, swasta, dan komponen masyarakat
lainnya. Bab ini secara rinci juga menguraikan tugas dan peranan
masing-masing lembaga, mulai dari Pemerintah kabupaten/kota,
Pemerintah provinsi, BNPB dan berbagai Kementerian/lembaga,
TNI, Polri, PMI, Basarnas, jejaring sosial, dan relawan, perguruan

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI xvii

tinggi, dan media massa. Memang tidak mungkin merekam seluruh
pihak dan pekerja kemanusiaan yang terlibat selama bencana
Merapi, tetapi setidaknya buku ini mencoba menggambarkan
partisipasi dan kerelaan seluruh pekerja kemanusiaan baik yang
berasal dari Pemerintah maupun masyarakat sipil (civil society),
termasuk solidaritas warga di sekitar Merapi, terhadap para korban
dan pengungsi.
Guna menerjemahkan Instruksi Presiden tersebut, saya selaku
Kepala BNPB telah membentuk Satuan Tugas Nasional Penanganan
Bencana Merapi yang disingkat Satgas Merapi. Satgas ini terbagi
atas dua bagian utama, yaitu pengendalian gunung (hazard
aspect) dan penanganan pengungsi (vulnerability aspect). Berbagai
upaya dan strategi yang dijalankan diuraikan dalam Bab 6 yang
berjudul Upaya Penanganan. Bab ini berisi upaya pengendalian
gunung dan pengendalian penduduk, pengamanan areal atau
zona bahaya yang sering kali masih dilanggar oleh penduduk yang
ingin menyelamatkan asetnya, khususnya ternak sapi. Ada temuan
menarik bahwa upaya evakuasi penduduk terdampak bencana
gunung berapi juga harus mengutamakan evakuasi ternak. Karena
jikalau ternak terselamatkan, otomatis pemiliknya akan mengikuti.
Namun, kalau ternak masih tertinggal, justru pemilik akan kembali
ke zona bahaya untuk menyelamatkan ternaknya.
Ketika semuanya berakhir, ketika periode tanggap darurat selesai,
dimulailah babak baru menata kembali kehidupan masyarakat
yang menjadi korban bencana Merapi. Tidak hanya kehidupan yang
direnggut Merapi, tetapi lebih dari setengah juta jiwa tercabut
dari penghidupan yang selama ini memberi mereka rezeki, entah
itu ternak sapi, sawah, kebun sayur, dan buah-buahan. Inilah
yang menjadi tantangan bagi kita semua, bagaimana penduduk
yang menjadi korban bencana Merapi dapat kembali memulai
kehidupannya pascabencana.
Bab 7 yang berjudul Menata Kembali Kehidupan mencoba
mengupas berbagai aspek yang diperlukan untuk membangun
kembali kehidupan di sekitar lereng Merapi. Prinsip membangun
kembali wilayah pascabencana adalah build back better, yaitu
prinsip membangun kembali dengan baik, memperhatikan
semua aspek pengurangan risiko bencana. Bagaimana kita bisa
memaksimalkan modal sosial yang dimiliki penduduk sekitar
Merapi serta peranan berbagai pihak dalam upaya rehabilitasi dan

xviii MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

rekonstruksi permukiman dan kehidupan masyarakat di sekitar
Merapi. Salah satu aspek yang penting adalah penataan ruang yang
memperhatikan peta risiko bencana sehingga di masa depan tidak
perlu terjadi korban yang lebih besar.
Akhirnya Bab 8 yang berjudul Memetik Pelajaran dari Merapi
mencoba menarik benang merah pelajaran apa yang dapat kita petik
dari peristiwa bencana Merapi dan penanganannya. Memang tidak
mudah untuk menuliskan pelajaran dan hikmah sebuah peristiwa
bencana, seperti yang terjadi di Merapi yang telah menyebabkan
hampir setengah juta penduduk di 4 kabupaten mengungsi dan
melibatkan seluruh sumber daya nasional dan Kementerian/
lembaga pusat, serta berbagai elemen pekerja dan lembaga
kemanusiaan. Namun, pelajaran dan hikmah tersebut harus ditulis
dan direkam agar setidaknya menjadi catatan dan pengalaman
untuk menghadapi bencana sejenis dan bencana-bencana di masa
mendatang.

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI xix

Meskipun saya menyadari bahwa apa yang ditulis dalam buku ini
tidak mampu menggambarkan secara lengkap berbagai pengalaman
dan kejadian yang terjadi selama masa tanggap darurat Merapi,
tetapi setidaknya buku ini dapat dijadikan acuan dan titik tolak bagi
kita semua untuk menyadari pentingnya kesadaran akan ancaman
bencana yang menyatu dalam kehidupan kita sebagai bangsa
yang hidup di atas wilayah rawan bencana. Kesadaran yang timbul
pada gilirannya akan membuat kita berikhtiar untuk meningkatkan
kapasitas dan kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko ancaman
bencana. Seperti yang sering kita dengar selama ini bahwa Tuhan
tidak akan pernah mengubah nasib suatu bangsa kecuali bangsa itu
mau mengubah nasibnya sendiri.

Yogyakarta, Desember 2010
DR. Syamsul Maarif, M.Si.
Kepala Badan Nasional

Penanggulangan Bencana – BNPB

MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

Kita tidak boleh pasrah dan menyerah,
karena sudah suratan takdir bahwa negeri kita
berada tepat di atas wilayah rawan bencana.

Hal yang kita perlukan adalah
ikhtiar kita untuk terus-menerus melakukan

berbagai upaya dalam mengakrabi

“dan hidup selaras dengan bencana.

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI



BAB 1

Memahami Merapi
Mengenal Penduduknya

Merapi dan Penduduknya
Bencana hampir melanda, tetapi Udi, petani berusia 60 tahun dari
Desa Kinahrejo di Pulau Jawa, Indonesia, tak mau beranjak. Padahal,
Kinahrejo dan puncak Gunung Merapi yang membara itu hanya
terpisah jarak empat setengah kilometer. Padahal, kepulan gas
beracun dan gurat gemetar sinyal seismograf menandakan ledakan
sudah di ambang pintu. Padahal, Pemerintah telah memerintahkan
evakuasi berskala penuh. “Saya merasa aman di sini,” katanya.
“Kalau Juru Kunci tidak pindah, saya juga tidak.”
Demikian ditulis Andrew Marshall di majalah National Geographic
edisi Maret 2008. Tulisan itu berlatar belakang letusan Merapi
tahun 2006. Letusan tahun itu tak begitu kuat. Wedhus gembel,
jelmaan dari awan panas yang mematikan dari Merapi, tak sampai
merengkuh Kinahrejo. Mbah Maridjan, sang juru kunci, dan para
pengikutnya yang menolak pergi dari rumah mereka di Kinahrejo
seperti mendapatkan pembenaran. Mereka selamat, sekalipun tak
beranjak dari rumah.
Namun, berbeda dengan bencana empat tahun sebelumnya,
letusan pada Oktober dan November 2010 ini tergolong besar.
Bahkan, terbesar dalam 100 tahun terakhir. Kepala Badan
Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral R.
Sukhyar, sebagaimana dikutip harian Kompas, Jumat (5/11/2010)
mengatakan, letusan Merapi 2010 ini adalah yang terbesar, dan
terburuk. “Terbesar setelah Galunggung 1982, penduduk Merapi
tidak pernah merasakan letusan semacam ini dalam jangka waktu
100 tahun terakhir,” kata Sukhyar.
Merapi mencatatkan rekornya dalam meluncurkan awan dari
Puncak Merapi hingga Cangkringan yang berjarak 15 kilometer
dari Puncak Merapi. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi Kementerian Sumber Daya Mineral, Surono mencatat jarak
luncuran awan panas pada luncuran awan panas letusan Gunung
Merapi terbesar yang pernah tercatat selama ini. Bencana Merapi
pada tahun ini juga mencekam hingga ke pusat Kota Yogyakarta.
Sekolah-sekolah di Yogyakarta diliburkan, Bandar Udara Adi Sucipto
ditutup, penerbangan dari dan menuju Yogyakarta dialihkan ke Solo
dan Semarang.
Kita semua keliru dalam membaca fenomena Mbah Maridjan dan
para pengikutnya. Dengan segala kepolosannya, Mbah Maridjan

2 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

adalah abdi dalem yang setia. Dia merasa mendapat mandat untuk
menjaga Merapi dan tak akan meninggalkan gunung itu, hidup atau
mati. Inilah sebabnya dalam kaitan dengan situasi kritis Merapi, Mbah
Maridjan terang-terangan menolak disebut panutan. Dia berharap
setiap orang mampu menentukan sikap untuk keselamatannya
sendiri dan tak ingin siapa pun hanya mengekor tindakannya. Hal
ini karena setiap orang bertanggung jawab terhadap keselamatan
dirinya sendiri. Sebagaimana dikutip Kompas, 28 Oktober 2010,
yang mewawancarainya sesaat sebelum letusan terjadi, Mbah
Maridjan mengatakan, “Kalau sudah merasa harus mengungsi,
mengungsi saja. Jangan mengikuti orang bodoh yang tak pernah
sekolah seperti saya ini.” Baginya, Merapi adalah rumah yang harus
diterima, dalam kondisi baik ataupun buruk. “Kalau turun, nanti
diomongin banyak orang. Hanya senang enaknya, tapi tak mau

terima buruknya. Bagus atau
buruk, ya ini rumah sendiri,”
katanya.
Namun, banyak pihak yang salah
mengira dengan hal ini, termasuk
sebagian warga sekitar, yang
memosisikan Mbah Maridjan
seolah sebagai alarm bahaya.
Mereka mengira bahwa Mbah
Maridjan akan membunyikan
bel tanda bahaya jika Merapi
sudah waktunya meletus dan
mengancam nyawa mereka.
Padahal, sekalipun tahu dengan
pasti kapan Merapi akan meletus,
Mbah Maridjan sepertinya tetap
tak akan pergi. Mbah Maridjan
tak akan pernah membunyikan
sirine bahaya karena dia siap
mati di sana. Dan, itulah yang
kemudian terjadi. Awan panas
disongsongnya dengan posisi
sujud— jenazah Mbah Maridjan
ditemukan dalam posisi sujud, seperti seseorang abdi yang
bertemu junjungannya. Namun, bagaimana dengan puluhan orang
lain yang turut tewas bersama Mbah Maridjan? Adakah mereka juga
siap menjemput awan panas yang melumatkan itu?

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 3

Mbah Maridjan, dan sedikitnya 32 warga Kinahrejo, yang tetap
bertahan di desanya ditemukan tewas setelah erupsi pertama
pada Selasa, 26 Oktober 2010, pukul 18.10, 18.15, dan 18.25.

Sejak dinaikkan statusnya dari Siaga menjadi Awas pada Senin, 25
Oktober 2010, para relawan fokus pada upaya membujuk Mbah
Maridjan untuk turun. Dan, mereka sedikit abai dengan warga lain
di Kinahrejo. Mereka mengira masih bisa membujuk Mbah Maridjan
untuk mengungsi pada waktunya dan dengan begitu warga
lainnya akan mengikutinya. Namun, Mbah Maridjan tak pernah
mau beranjak. Begitu pula para pengikutnya, yang mengira bahwa
Gunung Merapi kali ini juga tak berbahaya, karena sang juru kunci
masih juga tinggal. Mereka mengira, keberuntungan sebagaimana
tahun 2006 akan terjadi kembali. Namun, mereka keliru. Para
relawan juga Pemerintah keliru.
Seharusnya fokus bukanlah pada Mbah Maridjan, tetapi warga di
sekitarnya. Kita keliru memahami fenomena budaya ini. Merapi
bukan sekadar gunung berapi yang berbahaya karena tingkat
keaktifannya. Memahami merapi, tidak cukup dengan menelisik
wujud fisiknya, menghitung tremor dan gempa yang diakibatkan,
mewaspadai wedhus gembel dan aliran lahar dinginnya saja. Akan
tetapi, tak kalah penting adalah memahami masyarakat yang hidup
dan tinggal di sekitar Merapi.
4 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

Merapi memang bukan sekadar fenomena alam. Ada kebudayaan dan
kepercayaan yang tumbuh berhimpit di sana. Menurut kepercayaan
setempat, sebagaimana dituturkan budayawan Sindhunata di
Kompas edisi Jumat, 19 November 2010, di puncak Merapi ada
sebuah keraton, yang mirip Keraton Mataram. Hanya semua
serdadunya berpakaian putih-putih. Keraton Merapi ini mempunyai
hubungan yang erat dengan Keraton Laut Selatan. Mereka sering
mengadakan hajatan bersama dan saling mengunjungi. Dan, jalan
yang mereka lalui adalah Kali Opak. Sungai ini juga mempunyai
riwayat sendiri. Di sinilah berjalan Ki Ontoboga, seekor naga, yang
mencari ayahnya. Dia merayapi Kali Opak dan sepanjang jalan
menangis sambil berteriak, “O Pak, O Pak, O Pak.” Karena itulah
jalan yang dilaluinya tadi diberi nama Kali Opak. Sesampainya di
atas, ternyata Ki Wanabaya, ayahnya, baru mau mengakui Ontoboga
sebagai anak jika ia dapat melingkari Gunung Merapi dalam semalam.
Matahari hampir terbit, ketika kurang sejari saja jarak antara kepala
dan ekornya. Untuk menyentuh ekornya, Ontoboga lalu menjulurkan
lidahnya. Namun, tiba-tiba lidah itu dipotong oleh ayahnya. Dan,
jadilah dari lidah itu pusaka keraton Kiai Baru Klinthing. Ontoboga
lalu diberi tugas menjaga keseimbangan Gunung Merapi. Merapi
bisa sewaktu-waktu goyah karena belum seluruh tubuh Ki Ontoboga
melingkarinya. Jadi bagi penduduk, Kali Opak itu penuh sejarah dan
makna. Karena itu, Kali Opak haruslah tinggal seperti aslinya. Kalau
Kali Opak diganggu-ganggu, Mbah Merapi akan marah karena Kali
Opak inilah jalan bagi anak-anaknya untuk berhubungan dengan
Laut Selatan. Keraton Mataram berkepentingan untuk membela
keaslian Kali Opak. Maklum, kekuatan Mataram bergantung pada
Segara Kidul dan Gunung Merapi. Dan, keduanya berhubungan
karena Kali Opak. Dalam kosmologi itu, Merapi merupakan ujung
atau puncak perjalanan manusia mencapai eksistensi tertinggi
(swarga pangrantunan), di mana Jagad Ageng (makrokosmos)
dan Jagad Alit (mikrokosmos) menyatu dalam diri. Kosmologi itu
termanifestasi dalam tata ruang kerajaan (kota) Yogyakarta, yang
membujurkan sumbu di garis Parangkusuma (Laut Kidul)-Panggung
Krapyak- Keraton-Tugu Pal Putih hingga Merapi, di mana singgasana
Sultan menjadi pusatnya.

Karena itu, masih menurut Sindhunata, ketika Merapi meletus,
penduduk di lereng Merapi biasanya akan mengatakan: Mbah
Merapi lagi duwe gawe. Duwe gawe apa? Duwe gawe reresik awake
lan menungsane (Mbah Merapi sedang punya hajatan. Hajatan
apa? Hajatan membersihkan dirinya sendiri dan manusianya).

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 5

Dan, kata mereka lagi: Merapi ora njeblug ning ngamuk. Merga apa?
Merga kelakuane menungsa (Merapi bukannya meletus, tapi marah.
Marah karena apa? Karena kelakuan manusia). Kejadian di Merapi
dilihat secara relasional terhadap hidup dan kelakuan manusia.
Dalam pemahaman orang-orang sederhana itu, alam tak pernah
berdiri sendiri: alam dan manusia berada dalam relasi yang erat
dan mendalam. Karena itu, peristiwa alam, seperti erupsi Merapi
ini, juga bisa ditangkap sebagai purifikasi atau teguran terhadap
manusia dan kelakuannya. Mbah Maridjan hidup penuh dalam
kosmologi ini. Gunung (Merapi) baginya adalah makhluk hidup, yang
dapat bernapas, berpikir, dan berperasaan. Ada roh yang berdiam
di baliknya, yang juga membaca (pikiran dan perilaku) manusia
di sekitarnya. Dengan alasan itu, sang Juru Kunci beranggapan
sebutan-sebutan seperti mbledhos, njeblug, dan wedhus gembel,
“menyakitkan hati” Merapi, dan karena itu, ia pantang menggunakan
istilah tersebut.
Dan, Maridjan bertanggung jawab melakukan selamatan yang
dirancang untuk menenangkan “Mbah Merapi” ini. Dia mendapat
gelar Mas Penewu Surakso Hargo atau Sang Penjaga Gunung.
Maridjan mewarisi pekerjaan dari ayahnya, digaji Rp 10 ribu sebulan.
Dia ditunjuk oleh Sultan Hamengku Buwono (HB) IX, yang sudah
meninggal hampir 20 tahun silam. Maridjan jelas-jelas menolak
perintah Sultan HB X yang memintanya turun mengungsi sejak
letusan tahun 2006. Maridjan hanya mau mengungsi jika diperintah
oleh HB IX. “Saya pengikut Sultan Kesembilan,” katanya suatu
ketika. “Dialah pemimpin di keraton terakhir kali saya berkunjung.”

Riwayat Letusan
Merapi memang telah mendapatkan namanya yang sesuai, yaitu
gunung yang selalu berapi. Gunung berapi yang berada di Jawa
Tengah dan Yogyakarta ini seperti tak pernah padam dan selalu
aktif mengeluarkan api. Periode letusan yang berkisar 1–7 tahunan
memang tergolong pendek untuk gunung berapi. Masa tidak aktif
paling lama tercatat 12 tahun, terjadi pada tahun 1849–1861
(Bemmelen, 1949). Karena keaktifan letusannya ini, gunung ini
ditahbiskan sebagai salah satu yang teraktif di Indonesia, bahkan
juga di dunia.
Setiap meletus, Gunung Merapi biasa menghasilkan awan panas
dengan jarak luncuran mencapai 4–5 km. Sejak 1900, indeks
letusan berkisar antara 1–3, dengan indeks maksimum terjadi pada
tahun 1930 dan 1961. Dua letusan ini menghasilkan awan panas
6 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

dengan jarak luncuran hingga
12 km ke arah barat daya
(Andreastuti, 2006). Letusan
tahun 1930 menewaskan
1.367 orang. Sejak itu, erupsi
Merapi cenderung bersifat
efusif dengan karakteristik
aliran lava dan awan panas
piroklastik, atau yang populer
disebut wedhus gembel, yang
mengarah ke satu arah saja.
Misalnya, tahun 1994 erupsi
Merapi menelan korban tewas
65 orang di wilayah Turgo,
Sleman. Dan erupsi tahun
2006, menewaskan dua orang
yang terperangkap di bungker
perlindungan Kaliadem,
Sleman.

Letusan Merapi tahun 1930 Sedangkan letusan terakhir
Letusan Merapi tahun 1961 yang berlangsung pada
Letusan Merapi tahun 1984 26 Oktober 2010, 3 dan 4
November 2010 tergolong
cukup besar yang pernah
tercatat, walaupun barangkali
tidak yang terbesar.
Namun, letusan terakhir ini
mengejutkan banyak orang
karena pola erupsi Merapi
selama ini dikenal tidak
meledak-ledak, dengan
pembentukan kubah lava
yang longsor menjadi guguran
ataupun luncuran awan panas
skala kecil hingga menengah.
Letusan pertama Merapi
pada 26 Oktober diikuti tiga
dentuman hebat disertai
gelombang luncuran awan
panas bersuhu 600 derajat
Celcius berdurasi maksimal
33 menit sejauh 8 kilometer,

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 7

mengejutkan banyak orang. Kemudian ternyata rangkaian letusan
lain susul-menyusul terjadi, dan memuncak pada erupsi tiada henti
sejak 3 November hingga 7 November. Guguran material dan awan
panas terjadi tiada putus diselingi gemuruh yang terdengar hingga
radius 30 kilometer. Hujan pasir menjangkau radius 15 kilometer
dan hujan abu merembet hingga Jawa Barat. Letusan pada 4
November bahkan menciptakan kolom asap setinggi 8 kilometer
dari puncak. Rangkaian letusan menciptakan kawah berdiameter
400 meter di sisi selatan.

Jarak luncur awan panas terjauh
selama periode lima hari
erupsi itu tercatat sejauh 14
kilometer di Dusun Bronggang,
Argomulyo, Cangkringan,
Sleman, D.I. Yogyakarta. Korban
jiwa melonjak dari 36 orang
pada letusan 26 Oktober
menjadi 151 orang hingga
Selasa (Kompas, 9 November Letusan Merapi tahun 1994
2010). Pada rangkaian erupsi Letusan Merapi tahun 2006
itu, Pusat Vulkanologi dan Letusan Merapi tahun 2010
Mitigasi Bencana Geologi
Badan Geologi Kementerian
Energi dan Sumber Daya
Mineral dua kali menaikkan
radius bahaya primer dari
semula 10 km menjadi 15 km
(3 November) pukul 15.55 dan
dari 15 km menjadi 20 km pada
pukul 01.00 (5 November).
Badan Geologi memperkirakan,
volume material vulkanik yang
dimuntahkan Merapi selama
26 Oktober–9 November
mencapai 140 juta meter
kubik. Jumlah itu 10 kali lebih
besar dari volume erupsi 2006.
Benarkah Merapi meninggalkan
kelaziman erupsi efusif yang
dikenal warga?

8 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

Ingatan manusia terhadap periode pertumbuhan gunung berapi
seperti Merapi memang sangat pendek. Jika kita membuka
berbagai referensi, sejak pertama muncul sebagai gunung pada
sekitar 60.000 tahun lalu, Merapi sebenarnya tidak memiliki satu
pola letusan sama. Ia berubah-ubah sepanjang periode sejarah,
dari model ekstrusi lava secara efusif hingga erupsi eksplosif. Mulai
abad ke-19, tren eksplosif semakin besar. Mulai abad ke-20, Merapi
memasuki interval aktivitas rendah.

Para peneliti vulkanologi jauh-jauh hari telah memperkirakan
rangkaian letusan efusif (luncuran) yang seolah menjadi ciri
khas Merapi sejak 1900-an hanyalah kondisi sementara. Letusan
Merapi yang eksplosif akan terjadi lagi. Hal itu menjadi kesimpulan
penelitian para vulkanolog dalam dan luar negeri yang terangkum
dalam Journal of Volcanology and Geothermal Research edisi 100
terbitan tahun 2000 dengan laporan utama berjudul 10.000 Years
of Explosive Eruptions Merapi Volcano, Central Java: Archaelogical
and Modern Implications.

Letusan terbesar Gunung Merapi yang terdokumentasikan adalah
pada tahun 1872. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar
menyamakan letusan tahun 2010 dengan letusan tahun 1872 ini
dari sisi lama terjadinya letusan (Kompas, Jumat, 12 November
2010). Puncak erupsi tahun 1872 berlangsung tiada henti selama
lima hari (15–20 April). Suara letusan yang dikatakan terjadi tiba-
tiba itu terdengar hingga Karawang (Jawa Barat) dan Pulau Madura
(Jawa Timur). Volume muntahan material mencapai 100 juta meter
kubik, dengan lontaran kolom asap setinggi 9 km. Letusan tersebut
menciptakan kawah berdimensi 480 x 600 x 500 meter. Awan

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 9

panas letusan menghancurkan seluruh desa di ketinggian di atas
1.000 meter dari permukaan laut. Tidak tercatat berapa jumlah
korban jiwa saat itu.
Sebuah letusan lain yang masih menjadi kontroversi diperkirakan
terjadi pada 1006. Tersebutlah letusan dahsyat Gunung Merapi
pada waktu itu mengubur peradaban manusia yang tengah berada
di masa kejayaan Mataram Kuno. Sisa-sisa Kerajaan Hindu itu pun
menyingkir ke wilayah lain yang jauh dari amukan Sang Merapi,
yaitu ke Jawa Timur. Teori ini dikemukakan Reinout Willem van
Bemmelen, seorang ahli geologi Belanda, dalam bukunya berjudul
The Geology of Indonesia (1949).
Van Bemmelen bahkan berani mengatakan bahwa letusan dahsyat
pada tahun 1006 itulah yang juga mengubur Candi Borobudur, yang
berjarak sekitar 30 kilometer arah barat Merapi. Teori Bemmelen ini
bersinggungan dengan mitos Roro Jonggrang—sosok sentral dalam
Candi Prambanan—yang juga menceritakan kedahsyatan letusan
Merapi. Peperangan antara Bandung Bondowoso dan Prabu Boko
(ayah Roro Jonggrang yang menolak pinangan Bandung Bondowoso)
berlangsung seru dan berhari-hari. Begitu dahsyatnya peperangan,
sampai membuat Merapi meletus dan letusannya menyebar luas ke
mana-mana.

MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

Beberapa penulis yang memercayai letusan ini biasanya mengaitkan
“pralaya” yang menyebabkan perpindahan Kerajaan Mataram
Hindu dari Jawa Tengah dan Yogyakarta ke Jawa Timur pada tahun
928 Saka (1006) sebagai akibat vulkanik dari Gunung Merapi.
Guru Besar Geologi Universitas Pembangunan Nasional (UPN)
“Veteran” Yogyakarta, Sari Bahagiarti Kusumayudha membenarkan
teori letusan ini. Seperti disampaikan ke Kompas edisi 30 Oktober
2010, dia mengatakan, “Dari penggalian-penggalian candi yang
ditemukan di sekitar DIY dan Jateng ditemukan jejak piroklastik
(abu vulkanik), lahar, dan tanah aluvial,” kata dia.
Namun, penelitian dari Andreastuti dkk (“Menelusuri Kebenaran
Letusan Merapi 1006”, Jurnal Geologi Indonesia, 2006)
menyebutkan, letusan 1006 tidak pernah terjadi. Dari penemuan
endapan Selo terfra dan berdasarkan fakta sejarah bahwa Mpu
Sindok telah memerintah pada 928 atau 929 sampai 948 di Jawa
Timur, maka kemungkinan letusan Merapi cukup besar waktu itu
(VEI 3–4) terjadi pada tahun 765–911, bukan 1006. Letusan pada
periode inilah yang mendorong penduduk Kerajaan Mataram kuno
pindah ke Jawa Timur. Penelitian Boechari (1976) juga menguatkan
perpindahan Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur terjadi sejak
928, dengan mengacu pada Prasasti Anjukladang yang dibuat Mpu
Sindok tahun 937.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi
Kegunungapian Badan Geologi, Subandriyo juga menolak teori
letusan besar tahun 1006 itu. Menurut dia, candi-candi di seputaran
Yogyakarta dan Jawa Tengah terkubur lahar dingin dan debu Merapi
melalui proses panjang, bukan dari satu letusan saja. Dan, dari
proses yang sama jugalah, yang awalnya menciptakan peradaban
manusia di sekitar Merapi.
Kearifan Lokal yang Mulai Hilang
Merapi tidak pernah ingkar janji. Kalimat itu bagaikan sebuah
penegasan akan kearifan lokal yang diajarkan oleh orangtuanya
mengenai perilaku Gunung Merapi. Bagi Cahyo Nugroho (40 tahun)
memahami Merapi memerlukan kesadaran tentang hubungan
antara manusia dengan alamnya. Menurut nasihat orangtuanya,
Merapi selalu memberikan pratanda dan peringatan sebelum
meletus. Sebelum letusan 1996, Cahyo Nugroho mengenang
bahwa penduduk sangat akrab dengan berbagai pratanda dari
Gunung Merapi. Masyarakat mampu membaca tanda-tanda seperti

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 11

munculnya wedhus gembel atau awan panas, guguran lava, suara
gemuruh, tremor atau getaran, maupun asap yang keluar dari puncak
Merapi. Namun, seiring dengan semakin terbukanya informasi dan
arus berita yang begitu deras dari berbagai media massa, masyarakat
kehilangan kemampuannya untuk membaca berbagai pratanda dari
Merapi. Akibatnya, jika informasi tidak diterima dengan cepat dan
bahkan simpang siur, ini justru membuat masyarakat kehilangan
orientasi terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh letusan Merapi.
Dilahirkan pada 27 November 1970 di Dusun Gambertan Desa Umbul
Harjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman, Cahyo Nugroho
sempat menjadi TKI di Jepang dan Korea dari 1987 sampai 2003.
Setelah itu dia mengembangkan usaha budidaya jamur yang cukup
sukses di desanya. Selain itu sejak
2006, dia aktif sebagai pendamping
masyarakat dalam upaya mitigasi
bencana dan pemberdayaan
masyarakat melalui program
pemulihan wilayah pasca bencana
gempabumi 2006, REKOMPAK—JRF
(Java Recovery Fund) yang dikelola
oleh World Bank. Pada 2010 pasca
letusan Merapi yang kedua tanggal
5 November 2010 yang lalu, Cahyo
justru melewatkan hari kelahirannya
dalam keadaan darurat di dusunnya
yang kosong ditinggalkan oleh
penduduknya untuk mengungsi
di Stadion Maguwoharjo Sleman.
Ia beserta istri dan dua anaknya
yang masih kecil (umur 7 dan 1
tahun) telah kembali ke rumahnya
seminggu setelah letusan dahsyat
kedua tersebut. Justru ketika orang
lain belum beranjak, Cahyo Nugroho
dan keluarganya telah mengungsi
satu minggu sebelum letusan pada
5 November. Seminggu setelah
itu dia malah mengajak istri dan
anak- anaknya kembali ke kampung.
Meskipun untuk itu dia harus
menghindari penjagaan satuan TNI

12 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

dan Polri lewat jalan setapak yang tidak semua orang tahu. “Saya
harus mengurus penghidupan saya,” katanya. Bertani jamur sudah
dijalaninya sejak 2003. Setiap hari usaha budidaya jamurnya dapat
menghasilkan sekitar 1.000 kantong dan dijual ke pasar di desanya.
Hal itulah antara lain yang mendorong dia kembali secepatnya ke
kampung meskipun wilayah dusunnya masuk KRB II dan kondisi
Merapi masih ditetapkan “Awas”. Karena dia yakin dengan berbagai
tanda, Merapi sudah menunjukkan kecenderungan menurun.
Dalam upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana perlu
dikembangkan berbagai kearifan lokal seperti yang diajarkan
oleh orangtua Cahyo. Berbagai pratanda seperti lampor atau
yang dikenal dengan banjir lahar dingin yaitu banjir besar yang

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 13

membawa material vulkanik, dimaknai bahwa Merapi dan Laut Kidul
sedang punya hajatan. Lampor merupakan konsekuensi logis jika
Merapi meletus pada musim hujan. Kearifan lokal yang lain adalah
bagaimana masyarakat bisa memperkirakan arah wedhus gembel
dengan memperhatikan letak titik api diam di puncak Merapi yang
pasti akan terlihat jelas sekitar pukul 3 dini hari. Kata orangtua dulu,
titik api diam tersebut dikenal oleh masyarakat sebagai banaspati,
yaitu sejenis makhluk gaib raksasa yang perutnya besar dan
menyala. Kehadiran banaspati mengisyaratkan terjadinya sebuah
bencana. Lokasi titik api diam ditambah frekuensi dan besaran suara
gemuruh dapat memberi tanda ke mana dan seberapa jauh aliran
wedhus gembel menerjang dan meluluhlantakkan kehidupan yang
dilaluinya. Namun, seperti orangtua Cahyo yang meyakini bahwa
setiap kejadian, Merapi tidak pernah ingkar janji untuk memberi
pratanda dan peringatan sebelumnya. Manusia hanya perlu
mengakrabi dan mengembangkan kemampuan untuk membaca
berbagai tanda tersebut.
Mematikan sekaligus Menghidupi
Gunung berapi memiliki siklus hidup sebagaimana binatang dan
planet. Dia lahir, tumbuh, tidur, dan mati—tidak sungguh- sungguh
mati. Pada suatu pagi 20 Februari 1943, seorang petani Meksiko
bernama Dionisio Pulido dikejutkan dengan munculnya gunung
berapi di ladang jagungnya, sekitar 320 km barat Kota Meksiko.
Asap belerang membumbung dan suara gemuruh terdengar dari
gundukan tanah yang baru saja muncul. Pagi berikutnya, Pulido
menemukan gundukan tanah itu membesar dengan ketinggian
hingga 10 meter. Dan dalam seminggu, gunung berapi yang
kemudian dinamakan Paricutin, telah mencapai ketinggian 170
meter, dan setahun kemudian mencapai 370 meter. Dalam kurun
sembilan tahun, Paricutin telah mengeluarkan lava panas yang
merusak sejumlah kota dan tumbuh hingga mencapai 2.272 meter.
Lalu, gunung berapi itu kembali tidur (Volcanoes in Human History,
Jelle Zeilinga de Boer dan Donald Theodore Sanders, 2002. Hal
6–7) Dan, Indonesia adalah rumah bagi gunung berapi. Sebanyak
129 gunung berapi terjalin melingkari Nusantara, mulai dari Aceh
di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku. Dari
jumlah itu, 30 di antaranya ada di Pulau Jawa. Itu artinya, ada sekitar
120 juta orang yang kini hidup dalam bayang-bayang letusan
gunung berapi di pulau Indonesia yang berpenduduk paling banyak
ini. Kedekatan warga dan lokasi gunung berapi telah terbukti fatal,
karena lebih dari 140.000 jiwa tewas akibat letusan gunung berapi
14 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

Di balik keganasannya, kawasan lereng Gunung Merapi merupakan
salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Sleman.

di seluruh Nusantara dalam kurun 500 tahun terakhir (National
Geographic, 2006).
Beberapa gunung berapi yang tercatat memiliki letusan terdahsyat
dalam riwayat bumi ini pernah ada di negeri ini. Misalnya, Gunung
Krakatau yang letusannya pada 1883 tercatat berada pada skala
6 dari 8 pada volcanic explosivity index (VOE). Letusan Gunung
Tambora di Sumba pada 1815 berkekuatan 7 VOE. Dan letusan
Toba di Sumatra Utara pada 74.000 tahun sebelum Masehi, berada
pada skala tertinggi yang pernah terjadi di bumi ini, yaitu 8 VOE.
Namun, di antara cincin gunung berapi yang memagari Nusantara,
Merapi adalah yang teraktif. Letusannya memang tak sedahsyat
Krakatau atau Tambora, tetapi dia menjadi fenomena sendiri karena
keaktifannya, selain juga karena padatnya penduduk yang hidup
berdampingan dengan zona bahaya Gunung Merapi. Merapi adalah
gunung berapi bertipe strato-volcano dengan petrologi magma
andesit-basaltik. Gunung bertinggi sekitar 2.978 meter ini memiliki
diameter 28 km dan luas sekitar 300–400 km2 dengan volume 150

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 15

km3. Secara geografis gunung ini terletak di latitude 7o 32’ 5’‘ S
dan longitude 110o 26’5’‘ E. Sedangkan secara administratif berada
di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, terbagi
di empat Kabupaten yaitu Sleman, Magelang, Klaten, Boyolali.
Penduduk yang paling terancam letusan Merapi berada di Kawasan
Rawan Bencana III berkisar 40.000 jiwa.
Ancaman mematikan dari letusan magma Gunung Merapi terutama
berwujud wedhus gembel atau awan panas, selain berupa guguran
lava yang bersuhu hingga lebih dari 1.000 derajat Celcius. Guguran
lava yang menghasilkan awan panas umumnya terjadi setelah
pertumbuhan kubah lava. Tipe erupsi khas Merapi adalah efusif,
yaitu pembentukan kubah yang tidak stabil karena terdesak
magma hingga akhirnya runtuh berupa guguran lava pijar dan awan
panas. Dalam volume yang besar, material yang gugur itu berubah

16 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

menjadi rock avalanche atau lebih dikenal dengan sebutan wedhus
gembel. Dinamakan wedhus gembel karena bagi masyarakat sekitar,
bentuknya bergulung-gulung menyerupai bulu wedhus (bahasa
Jawa) atau kambing yang awut-awutan (gembel). Awan panas ini
merupakan campuran material berukuran debu hingga blok bersuhu
lebih dari 700 derajat Celcius yang meluncur dengan kecepatan
bisa di atas 100 kilometer per jam. Sebagian besar korban tewas
akibat letusan Gunung Merapi karena terpanggang wedhus gembel
ini.
Selain wedhus gembel, yang menjadi ancaman berikutnya adalah
lahar, yaitu material vulkanik lepas yang terendapkan di puncak
dan lereng gunung yang kemudian terbawa oleh air hujan. Bahaya
lahar bisa terjadi segera setelah letusan dan material terendapkan
yang masih panas terangkut oleh air hujan, atau dari material lama
dan telah mendingin hasil letusan sebelumnya. Bahaya lahar dingin
dipengaruhi beberapa hal, di antaranya kelerengan tempat material
diendapkan, tingkat kekompakan batu, hingga besarnya curah
hujan. Dalam letusan Merapi terakhir pada 2010 ini, ancaman lahar
dingin menjadi mengerikan. Karena di samping volume material
Merapi yang dikeluarkan selama letusan, yang diperkirakan
mencapai 140 juta kubik, juga karena letusan kali ini terjadi pada
musim hujan. Banjir lahar terbukti telah merendam ratusan rumah
warga di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari Merapi, seperti
Kali Code yang merendam Desa Jumoyo Kabupaten Magelang.
Sejumlah jembatan juga telah terputus. Ancaman lain, walaupun
tak begitu mematikan, jika dibandingkan awan panas, adalah abu.
Tebaran debu vulkanik juga bisa menyebabkan iritasi dan infeksi
pada saluran pernapasan dan mata.
Namun, Gunung Merapi bukan melulu menimbulkan bencana.
Merapi bukan hanya kenyataan hidup yang diterima warga
sekitarnya, melainkan kehidupan itu sendiri. Pasca kehancuran
yang diakibatkan karena letusannya, Gunung Merapi membawa
berkah kehidupan. Saat “tidur” ini, Merapi sejatinya memegang
peran vital bagi roda ekonomi DIY dan tiga kabupaten lain di
Jateng yang melingkarinya, yakni Magelang, Klaten, dan Boyolali.
Ia menjadi sandaran hidup bagi jutaan penduduk yang menjual
pesona keindahannya dan keasrian alamnya, minum dari mata
airnya, memanen dari kesuburan tanahnya, menggembala ternak,
hingga mengeruk pasir dan batu-batunya.

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 17

Dengan luas wilayah hanya 134,92 km2 atau 23 persen dari total
luas wilayah Sleman, lereng Merapi rata-rata dikunjungi lebih dari
900.000 orang setiap tahunnya atau 41 persen dari total 2,4 juta
wisatawan di Sleman. Keindahan alam pegunungan menjadi daya
tarik kuat bagi wisatawan, terutama warga kota dan wisatawan
mancanegara. Sebagian besar wisatawan menjadikan Kaliurang
sebagai daerah tujuan wisata utama. Sepanjang 2004–2005,
wisatawan Kaliurang rata-rata lebih dari 800.000 orang. Mereka
mengunjungi sejumlah lokasi seperti Taman Wisata Kaliurang
(29.402 orang), hutan wisata (129.330 orang), dan kolam renang
Tlogo Putri (4.781 orang). Pada waktu-waktu tertentu— seperti
malam pergantian tahun 2005 yang lalu— pengunjung Kaliurang
bisa mencapai 8.000 orang hanya dalam semalam. Selain objek
wisata itu, di lereng Merapi terdapat tempat rekreasi lainnya yaitu
desa wisata. Desa-desa yang tersebar sedikitnya di tujuh dusun itu
dikunjungi sekitar 6.600 orang atau 21 persen dari total 31.664
pengunjung desa wisata di Kabupaten Sleman.
Abu Merapi adalah pupuk organik yang sangat baik bagi produksi
sayur mayur hingga padi. Petani di sekitar Merapi, dan kebanyakan
di Pulau Jawa yang menjadi rumah dari banyak gunung berapi,
bisa memanen padi tiga kali setahun. Petani di pulau tetangga
Kalimantan, yang hanya memiliki satu gunung berapi (Bombalai,
di Sabah Malaysia), tak bisa memanen padi sebanyak itu. Rumput-
rumput untuk pakan ternak juga tumbuh sepanjang tahun di
lereng Merapi yang permai, menjadi sumber hidup bagi ternak sapi

18 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

perah dan menjadikan Boyolali (Jateng) dan Cangkringan (Sleman)
dijuluki sebagai gudang emas putih karena produksi susunya.
Sedangkan emas hitam, yang gampang sekali diambil dari Merapi
pasca letusan adalah pasir. Material pasir yang terkandung dalam
material vulkanik yang dimuntahkan gunungapi, termasuk Gunung
Merapi, merupakan pasir kualitas terbaik untuk bahan bangunan.
Ujung pasir (silika) letusan gunung berapi yang runcing membentuk
partikel yang memiliki banyak sudut. Pola partikel bersudut itulah
yang membuat ikatan pasir gunungapi dengan semen menjadi lebih
kuat. Pasir biasa memiliki ujung bulat sehingga kekuatan ikatannya
dengan bahan pembuat beton lainnya lebih lemah. Kandungan
silika (SiO2) yang tinggi membuat kualitasnya menjadi sangat baik.
Selain silika, pasir gunungapi juga memiliki kandungan besi (Fe2O3).
Dan, pasir gunungapi baik digunakan untuk penjernih air. Pola silika
yang berujung runcing membuat kemampuan pasir menyerap
partikel tidak diinginkan jauh lebih baik ketimbang pasir biasa.
Meski demikian, penggunaan pasir gunungapi sebagai penjernih
air tetap membutuhkan bahan lain, seperti zeolit dan arang kayu.
Karena tingginya nilai ekonomi dan proses penambangannya
yang relatif mudah, ketika letusan Merapi tahun ini belum tuntas,
beberapa penambang sudah mulai mengeruk pasir yang berserak
di 12 sungai yang berhulu di Merapi.

Rabu, 10 November 2010, Kompas melaporkan, puluhan warga
bantaran Kali Code mulai memetik berkah Merapi berupa pasir
yang menumpuk di dasar kali. Dari kedalaman normal Code lebih
kurang 3 meter, endapan material vulkanik, termasuk pasir, sudah
mencapai ketebalan 1,5 meter hingga 2 meter. Dahsyatnya erupsi
Merapi tahun ini membawa berkah pasir jauh ke hilir. Sebelumnya,
berkah hanya dirasakan warga di hulu sungai Merapi radius 10
kilometer. Kini, warga tengah kota yang berjarak lebih dari 30 km
dari Merapi turut mencicipinya. Nilai total pasir Merapi sebanyak
140 juta kubik diperkirakan mencapai lebih dari Rp 7 triliun, dan
tak akan habis hingga 20 tahun ke depan dengan asumsi pola
penambangan yang sama dengan saat sebelum letusan 2010.

Namun, eksploitasi pasir besar-besaran, khususnya di Magelang
dan Klaten, selama ini juga menimbulkan masalah lingkungan yang
parah. Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) pada akhir 2009
mencatat, dari luas total 6.410 hektar, sekitar 250 hektar wilayah di
TNGM rusak akibat eksploitasi pasir sejak 1990-an. Hutan rakyat di
luar TNGM pun rusak. Selain dilakukan secara manual, penambangan
juga menggunakan alat berat sehingga laju dan tingkat kerusakan

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 19

tinggi. Jalan aspal hancur, pekarangan dan sungai hancur, sebagian
sawah ladang hancur. Aktivitas itu menyisakan cerukan raksasa di
berbagai kawasan. Di pihak lain, hasil retribusi Pemerintah Daerah
atas penambangan pasir ternyata sangat kurang. Penelitian Institute
of Development and Economic Analysis Yogyakarta memberikan
contoh penelitian di Kemalang, Klaten. Pendapatan asli daerah (PAD)
dari portal retribusi di Kecamatan Kemalang hanya Rp 497 juta per
tahun. Padahal, PAD pasir yang keluar dari Kemalang seharusnya
minimal sekitar Rp 43 miliar per tahun.

Sedahsyat apa pun dampak letusan Merapi, masyarakat tetap
akan kembali menghuni lerengnya. Ada ikatan sosial, budaya, dan
ekonomi yang tidak bisa lepas. Masyarakat Merapi menyikapi alam
dengan mencoba memahami gejalanya. Dalam posisi inilah, ilmu
pengetahuan menghadapi tantangan berkembang dalam upaya
menjelaskan berbagai gejala alam.

Mitigasi Merapi
Bahaya Gunung Merapi telah disadari sejak lama. Itu pula yang
membuat pemerintah kolonial Belanda membuat pemantauan
secara modern. Titik pemantauan yang pertama kali dibangun
adalah Pos Maron, dibangun pada 1925 di lereng barat daya Gunung
Merapi. Pemantauan semakin intensif dilakukan sejak dibangunnya
Pos Babadan pada 1931,
yang berjarak hanya
sekitar 4 km dari puncak,
sebagai pengganti Pos
Maron. Sampai dengan
tahun 1960-an, peranan
pemantauan visual
masih sangat menonjol,
walaupun waktu itu sudah
ada seismograf mekanik.
Pengenalan seismograf
elektromagnetik
dan terutama sistem
telemetri dilakukan
pada dekade 1980-an,
semakin meningkatkan
kemampuan pemantauan
terhadap aktivitas Merapi.
Dan pada 1990-an,

20 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

berbagai parameter pemantauan fisis lain diterapkan di Merapi,
seperti tiltmeter dan magnetik, sehingga menjadikan gunung ini
menjadi yang paling banyak memiliki alat pemantauan dibandingkan
gunung-gunung berapi lain di Indonesia (Ratdomopurbo, A., dkk,
Prekursor Erupsi Gunung Merapi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi, 2006).
Walaupun tingkat keaktifan Gunung Merapi tak juga berkurang,
jumlah korban keganasan gunung itu beberapa dekade terakhir bisa
terbilang rendah. Kondisi itu di antaranya disumbang manajemen
bencana yang telah mapan. Selain lewat peralatan, pemantauan
fisik Merapi juga dilakukan melalui lima pos pengamatan Gunung
Merapi yang tersebar di wilayah Sleman, Magelang, Klaten, dan
Boyolali. Pos-pos bergardu tinggi itu dilengkapi sirene bahaya.
Sejak 1970, pengamanan juga ditambah dengan sekitar 200 dam
sabo penahan laju lahar, terbanyak di Indonesia. Belasan barak
pengungsian juga telah disiapkan di empat kabupaten tersebut,
walaupun infrastruktur pendukungnya masih minim.
Kewajiban melakukan mitigasi disebut dalam Undang-Undang
Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Nasional.
Undang-undang tersebut berfungsi sebagai pedoman dasar yang
mengatur wewenang, hak, kewajiban dan sanksi bagi segenap

penyelenggara dan pemangku kepentingan di bidang
penanggulangan bencana. Menurut undang-undang
tersebut, penyelenggaraan penanggulangan bencana
dalam situasi berpotensi terjadi bencana meliputi
kesiapsiagaan, peringatan dini, dan mitigasi bencana.
Kesiapsiagaan dilakukan untuk memastikan upaya yang
cepat dan tepat dalam menghadapi bencana. Sedangkan
peringatan dini dilakukan untuk pengambilan tindakan
cepat dan tepat dalam rangka mengurangi risiko terkena
bencana serta mempersiapkan tindakan tanggap darurat.
Mitigasi dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi
masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana.
Mitigasi bencana Gunung Merapi bisa diartikan sebagai
segala usaha dan tindakan untuk mengurangi dampak
bencana yang disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi.
Mengingat begitu padatnya penduduk yang bermukim di
sekitarnya, bencana erupsi Merapi dapat terjadi sewaktu-
waktu.

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 21

Berdasarkan tugas dan fungsinya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi (PVMBG) termasuk BPPTK (Balai Penyelidikan
dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian) sebagai salah satu
unitnya, turut berperan dalam manajemen krisis bencana erupsi.
Pada fase prakejadian, peranannya dapat meliputi langkah-langkah
penilaian risiko bencana, pemetaan daerah rawan bencana,
pembuatan peta risiko, dan pembuatan simulasi skenario bencana.
Tindakan lain yang perlu dilakukan adalah pemantauan gunungapi
dan menyusun rencana keadaan darurat. Adapun pada fase kritis,
badan ini sudah harus melakukan tindakan operasional berupa
pemberian peringatan dini, meningkatkan komunikasi dan prosedur
pemberian informasi, menyusun rencana tanggap darurat yang
berupa penerapan dari tindakan rencana keadaan darurat, dan
sesegera mungkin mendefinisikan perkiraan akhir dari fase kritis.

Sedangkan sistem peringatan dini Gunung
Merapi berfungsi untuk menyampaikan
informasi terkini status aktivitas Merapi
dan tindakan- tindakan yang harus
diambil oleh berbagai pihak dan terutama
oleh masyarakat yang terancam bahaya.
Ada berbagai bentuk peringatan yang
dapat disampaikan. Peta Kawasan Rawan
Bencana sebagai contoh adalah bentuk
peringatan dini yang bersifat lunak. Peta ini
memuat zonasi level kerawanan sehingga
masyarakat diingatkan akan bahaya dalam
lingkup ruang dan waktu yang dapat
menimpa mereka di dalam kawasan Merapi.
Informasi yang disampaikan dalam sistem
peringatan dini terutama adalah tingkat
ancaman bahaya atau status kegiatan
vulkanik Merapi serta langkah-langkah
yang harus diambil. Bentuk peringatan
dini bergantung pada sifat ancaman serta
kecepatan ancaman Merapi. Apabila gejala
ancaman terdeteksi dengan baik, peringatan
dini dapat disampaikan secara bertahap,
sesuai tingkat aktivitasnya. Namun, apabila
ancaman bahaya berkembang secara cepat,
peringatan dini langsung menggunakan
perangkat keras berupa sirine sebagai
perintah pengungsian.
22 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

Ada empat tingkat peringatan dini untuk mitigasi bencana letusan
Merapi berdasarkan tingkat bahayanya, yaitu Aktif Normal,
Waspada, Siaga, dan Awas.
Aktif Normal (level I) didasarkan data pengamatan instrumental
dan visual yang tidak menunjukkan adanya gejala yang menuju
pada kejadian letusan.
Waspada (level II) berdasarkan data pengamatan instrumental dan
visual, menunjukkan peningkatan kegiatan di atas aktif normal.
Pada tingkat waspada, peningkatan aktivitas tidak selalu diikuti
aktivitas lanjut yang mengarah pada letusan (erupsi), tetapi bisa
kembali ke keadaan normal. Pada tingkat Waspada mulai dilakukan
penyuluhan di desa-desa yang berada di kawasan rawan bencana
Merapi.

Siaga (level III)

ditandai dengan

peningkatan

aktivitas Merapi

yang terlihat

semakin jelas,

baik secara

instrumental

maupun visual,

sehingga

berdasarkan

evaluasi dapat

disimpulkan

bahwa aktivitas

dapat diikuti oleh

letusan. Dalam

kondisi Siaga,

penyuluhan

dilakukan secara

lebih intensif.

Sasarannya adalah

penduduk yang

tinggal di kawasan

rawan bencana,

aparat Pemerintah

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 23

di kawasan rawan becana, LSM, serta para relawan. Di samping itu
masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana sudah siap jika
diungsikan sewaktu-waktu.
Awas didasarkan pada hasil analisis dan evaluasi data, secara
instrumental dan atau visual cenderung menunjukkan bahwa
kegiatan Merapi menuju pada atau sedang memasuki fase letusan
utama. Pada kondisi Awas, masyarakat yang tinggal di kawasan
rawan bencana atau diperkirakan akan terlanda awan panas yang
akan terjadi sudah diungsikan menjauh dari daerah ancaman
bahaya primer awan panas.
Secara prosedural, undang-undang dengan jelas memberi amanat
untuk meminimalkan korban. Pemerintah juga telah memasang
seperangkat alat pemantauan untuk mendeteksi dini bencana.
Namun, pengalaman letusan Gunung Merapi pada 2010 ini memberi
pelajaran berharga guna memenuhi target “tanpa korban” dalam
menghadapi bencana gunung meletus. Dengan kompleksitas sosial
budaya yang berimpit dengan keaktifan letusannya, Gunung Merapi
memang menuntut cara pandang yang berbeda. Pendekatan yang
bertumpu pada segi rasionalitas semata, ternyata tidak sepenuhnya
berhasil menyadarkan puluhan warga lereng Gunung Merapi untuk
mengungsi, walaupun statusnya sudah dinaikkan menjadi Awas atau
level tertinggi dalam status gunung berapi. Ini menjadi tantangan ke
depan untuk mendudukkan fenomena sosial budaya setara dengan
pendekatan ilmiah dalam memitigasi bencana Gunung Merapi, dan
barangkali gunung-gunung berapi lainnya di negeri ini.

24 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN

HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI


Click to View FlipBook Version