BAB 2
Merapi
Tak Pernah
Ingkar Janji
Dari Siaga ke Awas
Pagi 25 Oktober 2010 sejumlah orang tampak berkumpul di Posko
Utama Penanggulangan Bencana Merapi, Pakem, Sleman. Mereka
tampak tegang dan serius menatap layar LCD dan mendengarkan
penjelasan Bupati Sleman, Sri Purnomo. Bupati yang juga Ketua
Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Sleman itu sedang
menjelaskan titik-titik jalur evakuasi, serta penutupan sejumlah
ruas jalan yang menuju ke Gunung Merapi. Pagi itu status Gunung
Merapi dinyatakan Awas sehingga semua warga yang berada di
Kawasan Rawan Bencana III atau sekitar 10 kilometer dari puncak
Merapi harus dievakuasi.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Dari Siaga ke Awas
Geologi, Dr. Surono, sempat membantah saat pagi itu ditanya soal
kenaikan status Merapi dari Siaga ke Awas. Namun akhirnya dia
mengakui Merapi sudah dinaikan statusnya menjadi Awas pada
pukul 06.00. Namun, peningkatan status Merapi dari Siaga ke Awas
secara resmi baru diumumkan sekitar pukul 09.30 di Balai Penelitian
dan Penyelidikan Teknologi Kegunungapian (BPPTK).
Kepala PVMBG Surono menjelaskan, sebenarnya kenaikan status
Merapi dari Siaga ke Awas sudah dilakukan sehari sebelumnya atau
pada 24 Oktober 2010 malam. Bahkan, menurut dia jika cuaca cerah
Merapi sudah naik statusnya sejak sore harinya. Namun, karena
28 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
berbagai alasan dan pertimbangan, status Awas secara resmi baru
dirilis Senin pagi, 25 Oktober 2010. Surono menjelaskan, aktivitas
Gunung Merapi meningkat secara tajam dan signifikan. Dari data
seismograf tercatat pada 24 Oktober terjadi 588 kali gempa
multifase. Sementara, proses penggembungan tubuh gunung
atau deformasi mencapai 42 cm per hari. Pengamatan visual
juga menunjukkan peningkatan aktivitas Merapi berupa guguran
kubah lava yang dominan mengarah ke selatan (Kali Gendol) dan
barat daya (Kali Krasak). Suara guguran tersebut terdengar hingga
pos pengamatan Merapi di Kaliurang Yogyakarta dan Babadan
Magelang. Kondisi itu membuat PVMBG menaikkan status gunung
berapi paling aktif di dunia tersebut dari Siaga menjadi Awas.
Letusan Pertama
Sore sekitar pukul 17.00 salah seorang wartawan yang sedang
berada di Pos Pengamatan Gunung Merapi Kaliurang, Yogyakarta,
mengabarkan Merapi genting. Padahal saat itu beberapa wartawan
baru turun dari PGM sekitar pukul 16.00. Ternyata tidak lama
kemudian pada hari Selasa 26 Oktober 2010, sekitar pukul 17.02,
Merapi meletus. Badan
Geologi mencatat pada
pukul 17.02 mulai
terjadi awan panas
selama 9 menit. Pukul
17.18 terjadi awan
panas selama 4 menit.
Pukul 17.23 terjadi
awan panas selama
5 menit. Pukul 17.30
terjadi awan panas
selama 2 menit. Pukul
17.37 terjadi awan
panas selama 2 menit.
Pukul 17.42 terjadi awan
panas besar selama
33 menit. Pukul 18.00
sampai 18.45 terdengar
suara gemuruh dari Pos
Pengamatan Merapi di
Jrakah dan Selo. Pukul
18.10, pukul 18.15, dan
pukul 18.25 terdengar
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 29
suara dentuman. Pukul 18.16 terjadi awan panas selama 5 menit.
Pukul 18.21 terjadi awan panas besar selama 33 menit. Dari Pos
Pengamatan Gunung Merapi Selo terlihat nyala api bersama kolom
asap membubung ke atas setinggi 1,5 km dari puncak Gunung
Merapi. Pukul 18.54 aktivitasawan panas mulai mereda. Luncuran
awan panas mengarah ke sektor Barat-Barat Daya dan sektor
Selatan-Tenggara.
Banyak kalangan menilai letusan Merapi tersebut tak terduga.
Namun, Kepala PVMBG Surono mengatakan, letusan tersebut
sudah bisa diprediksi. Alasannya, catatan seismograf menunjukkan
peningkatan yang tajam dari hari ke hari. Surono juga berkali-kali
mengatakan energi Merapi tiga kali lebih besar dari sebelumnya.
Hal itu bisa dilihat dari data kegempaan yang dicatat seismograf.
Peningkatan deformasi atau penggembungan tubuh Merapi juga
menunjukkan saat ini Merapi berbeda dengan sebelumnya. Untuk
itu tidak perlu menunggu terbentuknya kubah lava atau titik api
diam guna meningkatkan status Merapi dari Siaga ke Awas. Prediksi
Surono tidak meleset. Saat banyak kalangan menganggap Merapi
masih butuh waktu lama untuk meletus, gunung tersebut sudah
meletus duluan secara eksplosif pada Selasa petang, 26 Oktober
2010. Dan, tragedi kemanusiaan pun dimulai.
Letusan Kedua Lebih Dahsyat
Sejak meletus pada 26 Oktober 2010, Merapi terus menyemburkan
awan panas. Beberapa kali gunung berapi paling aktif di dunia
tersebut meletus secara eksplosif. Bahkan, karena aktivitasnya yang
terus meningkat pada 3 November jarak zona berbahaya Merapi
diperluas menjadi 15 kilometer dari puncak Merapi.
Jumat (5/11/2010) dini hari cuaca dingin berselimutkan kabur
bercampur debu vulkanik dari Gunung Merapi menyelimuti kota
Yogyakarta. Mbah Rono, sapaan akrab Surono oleh warga Merapi,
Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)
Yogyakarta terlihat resah. Aktivitas Gunung Merapi semakin tak
menentu dan cenderung meningkat.
Aktivitas gunung Merapi meningkat, sejak dari gempa tremor,
guguran vulkanik hingga awan panas berentetan keluar dari puncak
Merapi. Erupsi tersebut menjadi catatan sejarah sebagai erupsi
terbesar sejak 100 tahun terakhir.
30 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
Dalam laporan singkat
dan padat itulah Surono
memutuskan wilayah
berbahaya diperluas
dari radius awal 15 km
menjadi 20 km dari
puncak Gunung Merapi.
Saat satuan pelaksana
penanggulangan
bencana Kabupaten
Sleman sedang sibuk
menyiapkan titik-titik
pengungsian baru,
Merapi kembali meletus secara eksplosif dengan jarak luncur
awan panas lebih dari 10 km dari puncak Merapi. Dan, korban pun
berjatuhan.
Letusan yang terjadi pada 5 November 2010 dinihari tersebut
membawa korban yang tidak sedikit. Awan panas atau wedhus
gembel yang meluncur melalui Kali Gendol menerjang permukiman
warga yang belum sempat mengungsi. Akibatnya puluhan warga di
sepanjang Kali Gendol menjadi korban.
“Ketika diambil, keputusan itu memiliki risiko, kawasan berbahaya
radius 20 km itu padat penduduk,” kata Dr. Sutopo Purwo Nugroho,
Direktur Penanggulangan Risiko Bencana, Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kekhawatiran Sutopo cukup beralasan karena di lokasi yang
dinyatakan berbahaya itu termasuk pemukiman yang padat
penduduk. “Konsekuensinya, ada ratusan ribu warga yang akan
mengungsi. Ini yang menjadi kekhawatiran kami,” jelas Sutopo.
Berbekal laporan Surono serta hasil analisis kondisi penanganan
bencana itulah, BNPB melaporkannya kepada Presiden. BNPB
menilai, penanganan bencana oleh Pemerintah kabupaten dan
provinsi harus mendapat dukungan lebih dari Pemerintah Pusat.
Aktivitas Berkepanjangan
Sejak meletus pada Selasa petang, 26 Oktober 2010, Gunung
Merapi terus-menerus menyemburkan awan panas atau wedhus
gembel. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 31
PVMBG Surono mengatakan, sejak awal dia sudah menduga
bahwa aktivitas Merapi akan berjalan lama atau maraton. Hal itu
terjadi karena Merapi menyimpan material yang jauh lebih banyak
dari sebelumnya. Selain itu energi yang besar membuat Merapi
punya tenaga untuk terus memuntahkan material yang berada di
dalamnya.
Balai Penyelidikan dan Penelitian Teknologi Kegunungapian
(BPPTK) mencatat aktivitas Merapi terus-menerus terjadi secara
fluktuatif. Aktivitas yang terus-menerus tersebut membuat Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi belum menurunkan
status Merapi dari Awas ke Siaga. PVMBG hanya memperpendek
zona rawan bahaya Merapi di sejumlah titik. Kabupaten Magelang
yang semula 20 kilometer menjadi 15 kilometer. Kabupaten Klaten
yang semula 15 menjadi 10 kilometer. Sementara Daerah Istimewa
Yogyakarta, khususnya Kabupaten Sleman, zona bahaya Merapi
masih tetap 20 kilometer dari puncak Merapi. Sleman
tetap dipertahankan karena awan panas atau wedhus
gembel sering mengarah ke selatan.
Sebulan lebih Merapi terus-menerus menyemburkan
awan panas berupa letusan maupun guguran. Kepala
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Surono memperkirakan material yang dikeluarkan
Merapi mencapai sekitar 150 juta meter kubik,
melebihi letusan Merapi pada 1872 yang hanya
sekitar 100 juta meter kubik.
Sedikit demi sedikit aktivitas Merapi terus menurun.
Energi gunung yang terletak di antara 4 kabupaten
tersebut juga mulai melemah. Hingga akhirnya pada
3 Desember PVMBG menurunkan status Merapi
dari Awas ke Siaga. Penurunan status ini diikuti
dengan penciutan radius bahaya Merapi menjadi 2,5
kilometer dari puncak.
Meski demikian warga tetap diminta waspada. Sebab
meski statusnya diturunkan dari Awas menjadi Siaga,
Gunung Merapi masih berpotensi menyemburkan
awan panas baik letusan maupun guguran. Untuk
itu PVMBG tetap menghimbau agar daerah di
pinggir sungai yang berhulu di Merapi dikosongkan
32 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
dengan radius sekitar 300 meter. Informasi yang bersumber dari
berbagai kalangan sering membuat panik masyarakat. Selama masa
tanggap darurat, informasi sebaiknya hanya berasal dari BNPB yang
bersumber pada PVMPG.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi juga mengingatkan
agar warga mewaspadai bahaya banjir lahar dingin. Sebab ada
150 juta meter kubik material Merapi yang bisa terbawa air hujan.
Peringatan PVMBG bukan isapan jempol. Banjir lahar dingin pun
terus-menerus menerjang bantaran sungai yang berhulu di Merapi.
Di Kecamatan Muntilan, material Merapi meluap ke jalan raya
setinggi hampir 1 meter. Sejumlah jembatan dan jalur irigasi juga
dikabarkan rusak akibat terjangan banjir lahar dingin Merapi.
Menurut Surono, banjir lahar dingin bisa terjadi hingga 2 sampai 3
bulan ke depan selama masa musim penghujan.
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 33
Peristiwa erupsi Merapi menyisakan banyak kisah menarik
yang dialami warga yang secara langsung terdampak
saat erupsi terjadi mulai dari letusan pertama pada 26 Oktober
maupun letusan kedua pada 5 November 2010 yang lalu.
Salah satunya adalah yang dialami oleh Desa Kepuharjo,
salah satu desa di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman
yang luluh lantak tersapu awan panas. Desa ini terletak antara
5–10 km dari puncak Merapi dan berada sekitar 150 meter
di sepanjang Kali Gendhol yang dilalui awan panas yang dahsyat
saat letusan kedua pada 5 November 2010. Dari 8 dusun, hanya
satu dusun yang selamat tidak tersapu lahar dan wedhus gembel.
34 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
“Meskipun desa kami hancur dan luluh
lantak habis tersapu awan panas,
tetapi selama erupsi mulai dari letusan
pertama 26 Oktober dan letusan kedua 5
November, korban meninggal hanya satu
orang,” demikian tutur Pak Sriyanto (45
tahun) atau yang biasa dipanggil sebagai
Pak Thiwul mengawali perbincangan pada
hari Kamis pagi, 10 Maret 2011 di lokasi
hunian sementara (huntara) Gondang 1
yang dibiayai oleh bantuan pemirsa salah
satu televisi swasta.
“Mengapa banyak warga yang selamat,
meskipun desanya luluh lantak?”
Hal ini karena sejak peristiwa
erupsi 2006, warga Desa Kepuharjo
merupakan desa yang sangat aktif dalam
mengembangkan kesiapsiagaan melalui
berbagai pelatihan dan sosialisasi
kepada warganya. Pak Thiwul merupakan
salah satu penggiat yang sangat aktif
dalam mengembangkan kesiapsiagaan
warga desanya dan secara umum di
tingkat Kecamatan Cangkringan. Lulusan
SD yang sehari-hari sebelum erupsi 2010
bekerja sebagai buruh di toko bahan
bangunan ini termasuk salah seorang
instruktur yang memberikan pelatihan
kepada warga di desanya. “Saya
belajar sendiri untuk membuat bahan
presentasi dengan power point,” katanya.
Ternyata melek IT telah mentransformasi
seorang warga desa lulusan SD seperti
Pak Thiwul menjadi bagian dari warga
dunia yang terhubung dengan internet.
Menurutnya, semakin banyak warga desa
yang paham tentang ancaman bencana
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 35
dan cara menghadapinya,
semakin sedikit korban
apabila letusan terjadi.
Bersama dengan organisasi
masyarakat di desanya,
SKSB (Saluran Komunikasi
Sosial Bersama), Pak Thiwul,
selain menggunakan jejaring
radio HT sebagai sarana
komunikasi antar-warga,
juga aktif mengadakan
pelatihan dan sosialisasi
bencana Merapi kepada
masyarakat di seluruh
Kecamatan Cangkringan.
Saat letusan pertama
26 Oktober 2010 yang
lalu, seluruh warga Desa
Kepuharjo sudah berada di
barak pengungsian Pager
Jurang. Hingga saat ini masih
ada sekitar 1.800 jiwa masih
berada di beberapa titik
pengungsian karena hunian
sementara yang belum
semuanya siap. “Yang kami
tunggu adalah kepastian
dari pemerintah mengenai lokasi tempat tinggal kami nanti.
Karena yang kami dengar desa kami masuk wilayah KRB 3. Apakah
kami boleh kembali ke desa atau ke mana jika harus direlokasi?”
tegas Pak Thiwul. “Harapan kami dengan pengalaman erupsi 2010
ini, pemerintah segera membangun infrastruktur terutama jalan
dan jembatan yang dapat memperlancar proses evakuasi penduduk
sekiranya bencana kembali datang.” Demikian antara lain yang
disampaikan Pak Thiwul ketika ditanya harapannya saat ini.
“Selain itu masyarakat di Kawasan Rawan Bencana juga sering diberi
pelatihan, sosialisasi, dan penyuluhan untuk mengenali ancaman
dan bagaimana menyikapinya, kemudian menentukan kapan dan
arah evakuasi, sekiranya muncul tanda-tanda ancaman,” katanya
mengakhiri perbincangan sebelum mengantar kami mengunjungi
desanya yang telah menjadi padang pasir dan bebatuan.
36 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 37
BAB 3
Kehidupan
dan
Penghidupan
yang Terenggut
Korban Berjatuhan
Bunyi sirene dari berbagai kendaraan terus-menerus meraung
sepanjang malam. Selasa 26 Oktober, Jalan Kaliurang menjadi saksi
proses evakuasi korban letusan pertama Gunung Merapi. Puluhan
bahkan mungkin ratusan kendaraan hilir mudik mengevakuasi
pengungsi dan korban. Malam semakin mencekam saat diketahui
dusun Kinahrejo tempat juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, luluh
lantak diterjang awan panas atau wedhus gembel. Sejumlah orang
dikabarkan meninggal dan mengalami luka bakar. Sementara, tim
SAR dan TNI belum bisa melakukan evakuasi karena terhalang
pepohonan yang tumbang serta hawa panas wedhus gembel yang
belum hilang.
Posko utama penanggulangan bencana yang menjadi kantor
pengendalian penanganan bencana Merapi terus memantau
perkembangan jumlah korban. Korban terus berdatangan ke Rumah
Sakit Panti Nugroho yang berada di Kecamatan Pakem. Selain itu
korban juga dirujuk ke berbagai rumah sakit termasuk Rumah Sakit
Umum Pusat Dokter Sarjito. Detik demi detik jumlah korban terus
merangkak naik. Data resmi (BNPB) mencatat hanya ada satu korban
meninggal dan puluhan luka-luka. Namun, dari data sejumlah rumah
sakit, jumlah korban meninggal puluhan lebih. Proses evakuasi
yang terus berjalan dan informasi yang simpang siur membuat
pemerolehan data resmi jumlah korban meninggal dan luka malam
itu sulit sekali. Namun, yang pasti ribuan orang dievakuasi paksa
malam itu.
Proses evakuasi terus dilanjutkan. Rabu, 27 Oktober 2010, BNPB
mencatat 27 warga meninggal akibat letusan Gunung Merapi. Dua
puluh enam orang korban berasal dari Sleman, Yogyakarta, dan
satu orang dari Kabupaten Magelang. Sementara, korban yang
mengalami luka mencapai 58 orang. Sehari setelah letusan jumlah
pengungsi mencapai 45.271.
Sejak letusan pertama, aktivitas Gunung Merapi terus meningkat.
Bunyi gemuruh disertai letusan terus terjadi. Pada 5 November
2010 dini hari Merapi kembali menunjukkan keperkasaannya
dan kembali meletus hebat. Korban kembali berjatuhan. Pada 6
November BNPB mencatat 114 orang meninggal akibat terjangan
awan panas Gunung Merapi. Sementara 218 mengalami luka bakar
dan 198.488 warga mengungsi. Sebagian besar korban merupakan
warga yang tinggal di Kecamatan Cangkringan dan tinggal di pinggir
40 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
Kali Gendol, salah satu sungai yang menjadi jalur luncuran wedhus
gembel atau awan panas Merapi. Jumlah korban meninggal dan
luka-luka terus merangkak naik seiring berjalannya waktu. Hingga
masa tanggap darurat dinyatakan selesai, pada 9 Desember 2010,
total jumlah korban mencapai 354 jiwa.
Bertahan meski Kehilangan
Namanya Ngatiyem. Perempuan berusia sekitar 50 tahun ini
merupakan salah satu korban letusan Gunung Merapi. Ngatiyem
merupakan satu dari ratusan orang yang kehilangan anggota
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 41
keluarganya karena bencana Merapi. Suaminya yang bernama
Sajiman menjadi korban saat letusan pertama Merapi terjadi.
Sambil menyeka air matanya, ibu dua anak ini bercerita. Dia dan
seluruh warga desa sudah diminta mengungsi pada 25 Oktober.
Satu demi satu warga desa dievakuasi setelah Pusat Vulkanologi
dan Mitigasi Bencana Geologi meningkatkan status Merapi dari
Siaga ke Awas. Semua warga desa mengungsi termasuk dia dan
kedua anaknya. Namun, suaminya menolak mengungsi dengan
alasan menjaga rumah dan ternaknya. Akhirnya dengan berat hati
Ngatiyem mengungsi bersama kedua anaknya meski tanpa suami.
Sehari setelah di barak pengungsian, Merapi meletus. Ngatiyem
mulai resah sebab sang suami tidak kunjung turun ke lokasi
pengungsian. Dia mencoba bertanya kepada relawan dan sesama
warga terkait nasib suaminya. Namun, jawaban mereka sama;
mengaku tidak tahu sambil menggelengkan kepala.
Hingga pada suatu pagi Ngatiyem menguping pembicaraan
tetangganya yang menyatakan suaminya telah menjadi korban.
Belakangan diketahui tetangganya sengaja merahasiakan nasib
Sajiman dari sang istri karena khawatir Ngatiyem akan terpukul
jika mengetahui nasib suaminya. Usai mendengar kabar tersebut
Ngatiyem langsung menuju Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sarjito
untuk mencari jenazah sang suami.
Saat ini Ngatiyem hidup bersama kedua anaknya di hunian
sementara di wilayah Dusun Gondang, Kepuhharjo, Cangkringan,
42 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
tanpa suami yang selalu menghidupinya, juga tanpa rumah, serta
harta bendanya. Dia hanya bisa menggantungkan harapan pada
Pemerintah agar segera mengganti empat sapi perahnya yang mati
terpapar erupsi Merapi. Ngatiyem juga berharap Pemerintah bisa
membantunya dengan memberi modal usaha agar bisa bertahan
hidup bersama kedua anaknya. Di akhir cerita, Ngatiyem hanya
berpesan agar warga lereng Merapi tidak meniru sikap suaminya
yang menolak mengungsi saat bahaya mengancam. Sebab
menurutnya, kehilangan anggota keluarga, apalagi suami yang
menopang kehidupannya, tidaklah menyenangkan.
Penghidupan Masyarakat yang Tercabut
Masyarakat lereng Merapi merupakan petani dan peternak.
Kehidupan mereka bersumber dari lahan pertanian dan ternak yang
mereka miliki. Saat letusan pertama terjadi sebagian besar warga
belum mengungsi. Proses evakuasi hanya dilakukan terhadap
kelompok rentan seperti orang tua, ibu hamil, dan anak-anak.
Sementara, warga yang lain tetap beraktivitas sambil menunggu
perkembangan Merapi. Akibatnya saat Merapi meletus pada 26
Oktober 2010, warga tidak bisa menyelamatkan harta benda juga
ternak, dan mereka harus menjadi pengungsi.
Meski Pemerintah belum selesai menghitung jumlah kerugian
material dan ekonomi akibat letusan Gunung Merapi, bisa
dipastikan letusan Merapi membuat warga kehilangan pekerjaan
juga penghasilan. Petani tak bisa lagi memanen hasil dan peternak
tak bisa memeras susu dari sapi mereka. Aktivitas ekonomi terhenti
dan harta benda yang dimiliki hanya pakaian yang melekat di badan.
Ribuan warga tercabut dari kehidupan keseharian. Mereka harus
tinggal di barak-barak pengungsian, sekolah, tempat ibadah, gedung
olahraga, bahkan rumah warga. Mereka harus menunggu bantuan
untuk bisa makan. Sementara, rumah dan ternak yang menjadi
sumber kehidupan tak terurus, sebagian di antaranya hancur dan
mati tersambar ganasnya wedhus gembel yang terus meluncur dari
puncak Merapi. Selain harus hidup di pengungsian, ratusan bahkan
mungkin ribuan orang terpisah dari sanak saudara dan keluarganya.
Kondisi panik dan keharusan menyelamatkan diri membuat mereka
tercerai-berai dan terpisah dari keluarganya. Banyaknya laporan
warga yang mencari anggota keluarganya di titik-titik pengungsian
menjadi bukti.
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 43
Hingga masa tanggap darurat dinyatakan selesai
pada 9 Desember 2010,
total jumlah korban mencapai 386 jiwa.
Kehidupan di Pengungsian
Namanya Farel Hendri Saputra. Bayi berusia dua bulan itu terus-
menerus menangis. Udara panas dan pengap di barak pengungsian
membuat Farel terus menangis. Sementara, Anggit, ibu anak ini,
bingung dan panik berusaha mendiamkan anak semata wayangnya.
Bersama puluhan balita lain Farel harus berdesak-desakan di lokasi
pengungsian Desa Wukir Sari, Cangkringan, Sleman. Farel tidak
sendiri. Ratusan bahkan ribuan balita lain juga mengalami hal yang
sama, berjejal dan berdesak-desakan di lokasi pengungsian.
Keterbatasan barak dan lokasi pengungsian menjadi salah satu
penyebabnya. Lain lagi yang dialami Waginem. Pengungsi asal Desa
Umbulharjo ini mengeluhkan minimnya kamar kecil atau MCK di
lokasi pengungsian, keluhan yang disampaikan oleh sebagian besar
pengungsi. Jumlah pengungsi yang terus membengkak membuat
Pemerintah Daerah dan BNPB kerepotan menyediakan MCK bagi
pengungsi. Karena keterbatasan MCK di lokasi pengungsian, BNPB
44 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
melalui Kementerian Pekerjaan Umum akhirnya menyalurkan MCK
portable di sejumlah titik. Meski diakui tak mencukupi, MCK portable
setidaknya sedikit membantu pengungsi.
Tidak semua warga korban Merapi mengungsi di titik-titik
pengungsian yang telah ditetapkan Pemerintah. Karena terbatasnya
lokasi pengungsian, ribuan warga lereng Merapi mengungsi di
rumah-rumah warga. Jika Anggit dan Waginem mengeluhkan
sempitnya barak pengungsian dan minimnya MCK, lain lagi
yang dialami Wagini. Pengungsi yang juga guru SMP ini terpaksa
mengungsi di rumah warga. Alasannya, lokasi pengungsian yang
ada sudah penuh dan melebihi kapasitas.
Akibatnya, Wagini dan puluhan warga lain yang mengungsi
bersamanya nyaris kelaparan karena tidak tersentuh bantuan.
Hampir 2 hari mereka tidak mendapat bantuan baik dari Pemerintah
maupun lembaga donor dan masyarakat. Untuk makan, mereka
berharap pada kebaikan hati tuan rumah yang menampung
mereka. Namun, karena keterbatasan kemampuan, tuan rumah pun
menyerah hingga Wagini dan pengungsi yang lain mendatangi posko
utama pengungsi di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Namun, bukan
bantuan yang didapat, Wagini malah dimintai berbagai persyaratan
administrasi. Akhirnya Wagini menyerah dan meminta bantuan
kepada posko pengungsian yang ada di Balai Desa Wedomartani,
Sleman. Usaha Wagini tidak sia-sia, posko mau membantu meski
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 45
hanya sekadar nasi bungkus dua kali dalam sehari. Sementara
untuk sarapan, Wagini dan puluhan warga yang lain harus berusaha
sendiri.
Pasca perluasan zona bahaya Merapi menjadi 20 kilometer,
para pengungsi di Kabupaten Sleman dipusatkan di Stadion
Maguwoharjo. Lebih dari 30 ribu pengungsi memadati gedung
olahraga tersebut. Ribuan warga terpaksa harus tidur di ruang
terbuka karena keterbatasan ruang. Mereka tampak berjejal
memenuhi ruang-ruang yang masih tersisa. Saat berkunjung ke
Stadion Maguwoharjo, Ketua Umum Palang Merah Indonesia
Muhamad Jusuf Kalla menyatakan posko pengungsian tersebut
melebihi kapasitas atau over load.
Banyaknya jumlah pengungsi membuat distribusi bantuan agak
mengalami hambatan. Ribuan nasi bungkus basi karena terlambat
dibagikan. Sementara bantuan lain harus dibagikan secara acak
melalui antrean panjang pengungsi.
Sejumlah pengungsi bahkan mengambil sendiri bantuan yang
menumpuk di lokasi seperti mi instan dan bahan makanan lain.
Sementara pakaian pantas pakai sumbangan masyarakat tak
menarik perhatian. Dibanding lokasi pengungsian lain, Stadion
Maguwoharjo merupakan titik pengungsian yang banyak mendapat
bantuan. Bantuan dari berbagai organisasi, lembaga, dan masyarakat
terus mengalir ke lokasi ini.
Tidak semua lokasi pengungsian kekurangan makanan dan air
bersih. Juga tidak semua anak dan balita tak terurus dengan baik.
Seminari Kentungan yang menjadi salah satu lokasi pengungsian
memberi pelayanan dan pasokan bantuan yang baik bagi warga
yang mengungsi di sana. Lokasi pengungsian yang memanfaatkan
asrama mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Teologi Sanata Dharma
memberi ruang yang cukup bagi pengungsi untuk tidur dan
beristirahat. Sementara bahan makanan atau logistik untuk
pengungsi tidak pernah kekurangan. MCK dan air bersih yang
menjadi keluhan sebagian besar pengungsi juga tidak terjadi di
sini. Bahkan anak- anak dan siswa tetap bisa bermain dan belajar
meski dengan fasilitas ala kadarnya.
Mereka yang Masih di Barak Pengungsian
Kamis pagi itu tanggal 10 Maret 2011. Seperti hari-hari sebelumnya,
46 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
sejumlah ibu-ibu sibuk memasak di tenda posko di lokasi
pengungsian SD di Desa Wukirsari. Dapur umum yang dikelola oleh
ibu-ibu PKK Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan setiap hari
harus menyediakan nasi bungkus untuk sarapan, makan siang dan
malam bagi 1.822 warga Desa Kepuharjo yang masih berada di barak
pengungsian yang tersebar di 8 titik di Kecamatan Cangkringan. Ibu
Jarmi adalah salah satu dari 5 koordinator dapur umum yang secara
bergantian mengatur ibu-ibu PKK (10–20 orang setiap hari) dibantu
TNI AD dan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan yang sedang
Kuliah Kerja di desa tersebut.
“Kami mendapat bantuan dana sekitar 5 juta per hari dari Dinas
Tenaga Kerja dan Sosial Kabupaten Sleman,” tutur Ibu Jarmi. “Jatah
per orang adalah Rp 3.000 untuk lauk pauk setiap harinya. Setiap
hari kami berbelanja dan kemudian memasak di dapur umum ini,”
lanjutnya. Dapat dibayangkan betapa sibuk dan repotnya ibu-ibu
ini. Satu sisi harus mengurus keluarga yang masih tinggal di barak
pengungsian dengan fasilitas seadanya, selain itu harus mengurusi
makanan bagi tetangga-tetangga desanya yang senasib. Meskipun
demikian tidak ada keluhan atau tanda-tanda kelelahan di wajah
para ibu tersebut. Mereka mengerjakan semua dengan ikhlas dan
penuh rasa syukur.
“Kalau dulu saat tanggap darurat bantuan yang datang seakan-
akan berlebih, tetapi setelah semua pergi, kami seperti ditinggal
terlantar begitu saja. Dulu masih bisa ada buah-buahan dan
makanan tambahan. Sekarang bahkan uang sepertinya mepet
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 47
untuk digunakan berbelanja di pasar,” kata Ibu Jarmi mewakili
perasaan dan harapan teman-teman sedesanya yang sekarang
masih berada di barak pengungsian entah sampai kapan. Bahkan,
untuk memikirkan mau apa dan akan ke mana setelah ini, mereka
tidak sanggup. Hidup dijalani hari demi hari dengan ikhlas dan
penuh syukur.
Grafik Perkembangan Jumlah Pengungsi
per Kabupaten Tanggal 26 Oktober – 9 Desember 2010
Grafik Perkembangan Jumlah Total Pengungsi
Tanggal 26 Oktober – 9 Desember 2010
48 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
Ribuan warga tercabut dari kehidupan keseharian.
Mereka harus tinggal di barak-barak pengungsian, sekolah,
tempat ibadah, gedung olahraga bahkan rumah warga.
Mereka harus menunggu bantuan untuk bisa makan.
Sementara rumah dan ternak yang menjadi sumber kehidupan tak terurus
sebagian di antaranya hancur dan mati tersambar ganasnya wedhus
gembel yang terus meluncur dari puncak Merapi.
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 49
Evakuasi dan Pengamanan Zona Bahaya
Pasca terjadinya letusan pertama, Pemerintah Daerah dan BNPB
terus melakukan evakuasi. TNI, Polri, dan Tim SAR bahu-membahu
mengevakuasi warga yang belum mengungsi. Selain itu mereka
juga terus mengevakuasi korban luka dan meninggal akibat
letusan Gunung Merapi. Berbagai kendaraan berat diturunkan
untuk mempermudah dan mempercepat proses evakuasi. Namun,
medan yang sulit serta material Merapi yang masih panas sering
kali menghambat proses evakuasi. Saat itu Kepala BNPB sudah
membentuk Satuan Tugas (Satgas) Gunung untuk melakukan kerja-
kerja evakuasi. Selain menyelamatkan orang, Satgas Gunung juga
bertugas mengevakuasi hewan ternak yang mati. Hal itu dilakukan
agar ternak yang mati tidak menimbulkan penyakit menular.
Evakuasi sudah dilakukan sejak Merapi meletus pertama kali pada
26 Oktober. Saat itu evakuasi dilakukan terhadap warga yang belum
mengungsi. Selain itu evakuasi juga dilakukan untuk membawa
warga yang menjadi korban letusan Merapi baik yang meninggal
maupun yang mengalami luka bakar. Pasca menurunnya aktivitas
Merapi, evakuasi lebih ditekankan pada hewan ternak yang mati.
Untuk menghindari penyakit yang ditimbulkan dari bangkai ternak,
Satgas Gunung membakar ternak-ternak mati tersebut. Satgas
mengaku kesulitan karena sebagian ternak tersebut tertimbun
material Merapi.
50 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
Selain mengevakuasi orang dan ternak, Satgas Gunung yang
dibentuk BNPB juga melakukan pengamanan area yang menuju
Gunung Merapi. Satgas yang terdiri atas prajurit TNI dan Polri
membuat pagar betis semacam garis polisi atau police line untuk
mengantisipasi jatuhnya korban lanjutan. Mereka membuat pos-pos
penjagaan dan berpatroli. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi
masuknya warga yang hendak kembali ke rumahnya. Selain itu
penjagaan dan patroli juga dilakukan untuk menjaga harta benda
warga yang ditinggal mengungsi. Semua orang yang hendak menuju
ke zona berbahaya Merapi tanpa kecuali harus mengantongi izin
dari BNPB atau pemda setempat.
Sekitar 2.500 personel TNI dan polri dilibatkan dalam Satgas Gunung.
Mereka bahu-membahu dan bergantian melakukan evakuasi dan
mengamankan zona bahaya Merapi. Pengamanan zona bahaya Merapi
terbukti mampu menekan warga yang hendak kembali ke rumah, serta
angka pencurian dan penjarahan.
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 51
Ternak dan Penghidupan Masyarakat
Mayoritas penduduk lereng Merapi adalah petani dan peternak.
Sapi merupakan aset utama warga yang tinggal di sekitar Merapi.
Rata-rata penduduk memiliki sapi dengan jumlah yang bervariasi.
Selain milik sendiri, sebagian penduduk juga memelihara sapi orang
lain dengan sistem bagi hasil jika sapi tersebut beranak. Sementara
sebagian yang lain mengelola sapi perah yang susunya menjadi
tumpuan ekonomi mereka.
Selain beternak, penduduk juga memanfaatkan lahan untuk
ditanami salak pondoh. Ribuan hektar lahan di lereng Merapi yang
terkenal subur ditanami salak pondoh oleh penduduk. Saat status
Gunung Merapi dinaikan dari Siaga ke Awas pada 25 Oktober 2010,
ribuan penduduk masih enggan mengungsi karena merasa berat
meninggalkan hewan ternak mereka. Bahkan sehari menjelang
Merapi meletus, masih banyak ditemukan warga yang mencari
rumput untuk ternak mereka. Padahal, mereka berada di kawasan
rawan bahaya, sekitar 5 kilometer dari puncak Merapi. Ketiadaan
barak khusus pengungsian ternak juga menjadi alasan mengapa
warga yang memiliki ternak enggan turun mengungsi. Ternak bagi
mereka tidak hanya harta, tetapi juga sumber kehidupan sehingga
harus dirawat dan dijaga dalam kondisi apa pun.
Bupati Sleman yang juga satuan pelaksana penanggulangan
bencana, Sri Purnomo berjanji akan mengganti ternak pengungsi
yang mati karena letusan Merapi. Komandan posko utama
penanggulangan bencana Merapi, Widi Sutikno juga berulang kali
menyatakan Pemerintah akan mengganti ternak pengungsi. Hal
itu dilakukan agar penduduk mau meninggalkan ternak mereka
untuk mengungsi. Hal yang sama juga disampaikan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta agar penduduk segera
mengungsi dan tidak perlu mengkhawatirkan ternak mereka.
Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Menteri Pertanian Suswono
yang menyatakan Pemerintah akan membeli ternak pengungsi dan
mengganti ternak yang mati.
Saat letusan demi letusan terjadi, ribuan penduduk harus
mengungsi tanpa bisa membawa ternak mereka. Sejumlah
pengungsi masih sembunyi-sembuyi pulang untuk melihat dan
memberi makan ternak mereka. Namun, saat penjagaan diperketat,
para pengungsi tak lagi punya pilihan selain membiarkan ternak
mereka berkeliaran atau mengevakuasi secara mandiri. Sejumlah
52 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
pengungsi terpaksa mengevakuasi ternak mereka sendiri karena
pemerintah tak kunjung menepati janji untuk membantu evakuasi.
Pengungsi juga merasa kesulitan mencari pakan bagi ternak
mereka yang berada di pengungsian. Banyaknya ternak pengungsi
serta minimnya pasokan pakan di wilayah pengungsian menjadi
penyebabnya. Bantuan pasokan pakan ternak dari Pemerintah
hanya sedikit membantu kesulitan pengungsi yang memiliki ternak.
Kondisi tersebut membuat para pengungsi terpaksa menjual sapi
mereka kepada pedagang dengan harga jauh di bawah harga pasar.
Sejak letusan pertama, roda ekonomi penduduk yang berada di
lereng Merapi nyaris terhenti. Aktivitas pertanian dan peternakan
berhenti karena penduduk harus mengungsi. Sapi perah yang
sudah memasuki masa laktasi juga tidak bisa diperah karena
pengungsi tidak tahu ke mana mereka harus menjual susu hasil
perahan. Selama ini mereka menjual susu hasil perahan ke koperasi
yang ada di desa. Sementara, pasca- letusan Merapi semua tatanan
kehidupan di desa termasuk koperasi berantakan. Akibatnya,
penduduk lereng Merapi nyaris tak ada pekerjaan juga pendapatan.
Mereka hidup dari bantuan Pemerintah dan uluran tangan lembaga
atau masyarakat.
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 53
BAB 4
Tantangan
Sang Jurumudi
Bencana
Tantangan Sang Jurumudi Bencana
Letusan Merapi 26 November 2010 itu merontokkan ratusan rumah,
bangunan, dan infrastruktur lain. Namun ada bangunan non-fisik
yang juga terguncang, pengetahuan tradisional tentang Merapi.
Selama berbilang windu sejak letusan Merapi tahun 1870, warga
sekitar Merapi selalu faham ‘sapaan’ Merapi, dan karena itu tahu
apa yang harus diperbuat ketika gunung itu mengatakan sesuatu.
Kefahaman itulah yang merupakan benteng keselamatan warga
sekitar Merapi selama ini.
Tidak seperti biasanya, Juru Kunci Merapi Mbah Marijan tak
menyampaikan apa pun sebelum dan menjelang letusan dahsyat
itu. Ada yang tak terbaca?
Padahal, selalu, Merapi menyapa kala hendak ‘bertugas’, yakni
memuntahkan abu vulkanik, menggelontorkan lahar panas dan
dingin, serta melontar bebatuan ke udara.
Sejak letusan pertama tahun 1006 (Data Dasar Gunungapi
Indonesia, 1979), sampai letusan Februari 2001, Merapi sudah
tercatat 82 kali meletus. Ia berulah dalam siklus pendek, rata-rata
setiap 2 – 5 tahun, sedangkan siklus menengah setiap 5 – 7 tahun.
Siklus terpanjang setelah mengalami istirahat selama 30 tahun,
adalah pada masa awal setelah. Memasuki abad 16, catatan kegiatan
56 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
Merapi mulai stabil. Siklus terpanjang pernah dicapai selama 71
tahun -- antara tahun 1587 dan 1658.
Sebelum sampai kepada ledakan utama, selalu terjadi proses
panjang pembentukan kubah, guguran lava pijar dan awan panas.
Menurut para ahli vulkanologi, proses ini adalah awal letusan tipe
efusif.
Sejarah letusan gunung Merapi mulai ditulis tahun 1768. Namun
pemantauan gunungapi baru mulai awal abad 20.
Dari pencatatan itu diketahui bahwa interval (kekerapan) letusan
Merapi secara rata-rata lima tahun sekali. Letusan tahun 1872, yang
dianggap sebagai letusan terakhir dan terbesar pada abad 19 dan
20, telah menghasilkan Kawah Mesjidan lama dengan diameter
antara 480-600m.
Letusan berlangsung selama lima hari dan digolongkan dalam kelas
D. Suara letusan terdengar sampai Karawang, Madura dan Bawean.
Awan panas mengalir melalui hampir semua hulu sungai yang ada
di puncak Merapi yaitu Apu, Trising, Senowo, Blongkeng, Batang,
Woro, dan Gendol.
Sekedar mengilas ulang, berikut ini tabel waktu dan lama letusan
yang dihitung sejak masa awal proses erupsi hingga letusan puncak
secara menyeluruh.
Tahun Lamanya Masa Istirahat Waktu
Kegiatan Kegiatan Lama Istirahat Letusan Puncak
(tahun)
1871-1872 (*) (tahun) 15 April 1872
1878-1879 1 1872-1878/6 Dalam tahun 1879
1882-1885 1 1878-1881/3
1886-1888 3 1885-1886/1 Januari 1883
1890-1891 3 1888-1890/2 Dalam tahun 1885
1892-1894 1 1891-1892/1
1898-1899 2 1894-1898/4 Agustus 1891
1 1899-1900/1 Oktober 1894
Dalam tahun 1898
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 57
1900-1907 7 1907-1908/1 Terjadi tiap tahun
1908-1913 5 1913-1914/1 Dalam tahun 1909
1914-1915 1 1915-1917/2 Maret-Mei 1915
1917-1918 1 1918-1920/2
1920-1924 (*) 4 1924-1930/6 Februari, April 1922
1930-1935 (*) 5 1935-1939/4 18 Des ’30, 27 Apr’34
1939-1940 1 1940-1942/2 23 Des.’39, 24 Jan’40
1942-1943 1 1943-1948/5 Juni 1942
1948-1949 1 1949-1953/4 29 September 1948
1953-1954 (*) 1 1954-1956/2 18 Januari 1954
1956-1957 1 1957-1960/3 3 Januari 1953
1960-1962 2 1962-1967/5 8 Mei 1961
1967-1969 (*) 2 1969-1972/3 8 Januari 1969
1972-1974 2 1974-1975/1 13 Desember 1972
1975-1985 10 1985-1986/7 15 Juni 1984
1986-1987 1 1986-1987/1 10 Oktober 1986
1992-1993 1 1987-1992/5 2 Februari 1992
1993-1994 1 1993/5 bln 22 November 1994
1996-1997 1 1994-1996/2 14,17 Januari 1997
1998 1 bln 1997-1998/1 11,19 Juli 1998
2000-2001 1 1998-2000/2 10 Februari 2001
Catatan panjang ini terekam pula dalam ingatan penduduk sekitar
Merapi, tentu dengan ‘format’ yang berbeda.
Sejak lama, masyarakat di lereng Merapi faham gelagat gunung
itu bila dia hendak meletus. Gelagat itu antara lain harimau turun,
58 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
kemudian burung, lalu monyet dan kijang. Namun karena satwa-
satwa tersebut nyaris tidak ada lagi, bahasa Merapi yang ini pun
sudah mulai sirna, dan itu berarti khazanah penting pengetahuan
tradisional tentang Merapi pupus.
Perilaku binatang yang tidak seperti biasanya, seperti monyet
dan kijang berlarian turun gunung, anjing menggonggong terus
menerus, burung kedasih berkicau pada malam hari, hingga cacing-
cacing keluar dari tanah, menandakan timbulnya hawa panas di
sekitar mereka.
Pengetahuan ini bisa diterjemahkan ke dalam bahasa ilmu
pengetahuan modern – salah satu bentuk rasionalisasi. Pengetahuan
lokal sangat relevan dengan hal praktis kehidupan sehari-hari warga
di daerah rawan bencana.
Bahkan, Merapi pun berbicara lewat lewat peristiwa-peristiwa di
sekitarnya.
Tanggal 20 Oktober 2010, Korem setempat melakukan gladi
evakuasi. Mungkin kegiatan ini tak menarik perhatian siapa pun.
Tapi kenapa aparat Korem terpikir untuk melakukan gladi itu? Bagi
yang akrab dengan Merapi, ini pun satu isyarat, suatu pertanda.
Bagi Saya, ini ‘sapaan’
Ketika Merapi benar-benar meletus, nyaris semua warga Merapi
tergagap. Mereka tidak siap menghadapi tingkah Merapi kali ini.
Kepanikan merebak. Cerita simpang siur. Kebingungan menyebar.
Selain bahasa isyarat Merapi, penglihatan pengetahuan ilmiah pun
menguatkan anggapan bahwa Merapi ketika itu memang sedang
mewartakan apa yang akan dilakukannya. Balai Penyelidikan dan
Pengembangan Teknologi Kegunungapian [BPPTK], yang sejak
lama memasang sabuk di sekeliling perut Merapi, belakangan
menemukan bahwa perut Merapi kian membesar.
Manakala sabuk makin kencang, itu pertanda bahwa isinya sudah
berakumulasi dan akan segera menyembur keluar.
Berdasarkan kekencangan sabuk itu, Kepala BPPTK, Subandriyo,
meminta Pemerintah Kabupaten Sleman, Boyolali, Magelang dan
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 59
Klaten untuk mempersiapkan mitigasi bencana karena Merapi bisa
meletus dalam waktu dekat.
Memang, sejak statusnya ditingkatkan menjadi waspada tanggap
20 September 2010, aktifitas vulkanik Merapi terus menunjukkan
peningkatan.
Sehari setelah gladi evakuasi Korem, 21 Oktober 2010, pukul 18:00
WIB, status Waspada dinaikkan ke status Siaga, karena aktivistas
vulkanik Merapi terus meningkat. Semua metoda pemantauan –
seismik, deformas, kimia gas -- menunjukkan hal itu.
BPPTK lantas meminta masyarakat
untuk tidak melakukan kegiatan di
badan sungai-sungai yang berhulu
di G. Merapi. Penambang pasir tidak
melakukan kegiatan penambangan
dalam radius 8 km yang masuk dalam
KRB [Kawasan Rawan Bencana] III
G. Merapi, dan tidak naik ke puncak
Merapi.
Pembesaran perut Merapi secara
perlahan tapi pasti itu diikuti dengan
pemantauan seismograf yang makin
tidak stabil. Frekuensi denyut Merapi
terlihat semakin sering menghentak-
hentak.
Merapi pun meletus, tanggal 26
Oktober 2010, pukul 17:02 WIB,
dengan mengeluarkan awan panas
yang mencapai ketinggian 1,5 km.
Akibat semburan awan panas ini, hujan
debu kemudian mengguyur kawasan
lereng-lereng Merapi. Bahkan debu
di kawasan Kaliurang, Sleman, DI
Yogyakarta, tampak sangat pekat dan
semakin lama semakin tebal.
Sejak awan hitam dan wedhus gembel
60 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
keluar dari puncak Merapi, alarm peringatan dini [Early Warning
System] sontak berbunyi. Mendengar bunyi alarm itu, warga mulai
panik dan berlari menuju angkutan-angkutan evakuasi. Petugas
SAR yang telah siaga di Kaliurang kemudian membagikan masker,
karena debu makin pekat dan bau belerang makin menyengat.
Semburan material Merapi mencapai sekitar 6 km dari pusat letusan
dan mengarah ke selatan, tepatnya ke arah Kaliurang, Sleman,
Yogyakarta. Letusan membawa material pasir panas bersuhu 500
derajat Celcius. Debu vulkanik ini merambah hutan dan desa di
sekitar lereng gunung. Akibatnya, kawasan hutan yang semula hijau
menjadi tampak memutih.
Banyak warga yang mengungsi terkulai lemas
dan pingsan akibat menghirup asap dan abu
vulkanik. Alhasil, sedikitnya tiga kecamatan di
sekitar Kaliurang harus dikosongkan. Ketiga
kecamatan tersebut adalah Cangkringan,
Kecamatan Turi, dan Pakem.
Pratandang
Dalam suasana seperti inilah BNPB masuk
ke wilayah Merapi. Tapi peran apa yang akan
dimainkan, masih menjadi pertanyaan sejumlah
kalangan di Yogyakarta dan sekitarnya. Instansi-
instansi yang terkait dengan penanganan
bencana di Pemda DI Yogyakarta sudah
mengerahkan semua sumber daya untuk
menangani pengungsi dan mencegah kerusakan
lebih jauh.
LSM-LSM sudah pula sibuk di lapangan.
Perusahaan-perusahaan dan partai politik
pun unjuk kepedulian. Bertruk-truk makanan,
selimut, tenda, berdatangan ke tempat-tempat
pengungsian.
Mungkin karena keadaan di lapangan sudah
sangat sibuk dan kurang terkendali, beberapa
politisi lokal malah menganggap kehadiran
BNPB tak diperlukan.
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 61
Tentu tak bertanggungjawab kalau BNPB tak terlibat di Merapi,
karena badan ini mendapat amanat konstitusional untuk menangani
bencana. Apalagi dampak letusan Merapi sudah dikategorikan
sebagai bencana nasional.
Karena itu, BNPB ketika itu ditantang untuk menyelesaikan sejumlah
persoalan yang menelikung dirinya sebelum ia berperan secara
utuh dalam penanganan bencana letusan Merapi.
Di sekitar Merapi, semangat dan kepedulian yang sedemikian besar.
Tapi tanpa pengaturan dan kerjasama yang baik, kerja keroyokan
itu banyak menimbulkan kemubadziran dana, tenaga dan pikiran.
Nyaris setiap organisasi dan lembaga, apakah itu LSM, Ormas,
TNI, Polri dan perwakilan Perguruan Tinggi mendirikan posko
masing-masing, tanpa koordinasi. Kami mencatat ada 177 pelaku
penanganan bencana Merapi ketika itu.
Keadaan centang perenang ini mengundang kekhawatiran Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono [SBY].
Presiden SBY lantas memutuskan untuk memusatkan
penanggulangan bencana letusan Gunung Merapi di bawah
komando Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana [BNPB],
yang berarti pemberian tugas dan tanggungjawab kepada saya.
Keputusan itu disampaikan dalam konferensi pers di Kantor
Kepresidenan, Jakarta, 5 November 2010. Presiden pun meminta
Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
(DIY), Pangdam IV Diponegoro, Polda Jawa Tengah dan Polda DIY
untuk membantu BNPB.
Pelibatan BNPB dalam penanggulangan bencana letusan Merapi
didasarkan pada situasi nyata bahwa Pemda, masyarakat dan
organisasi-organisasi setempat tak mungkin mengatasi bencana itu
sendiri, tanpa bantuan dari Pemerintah Pusat.
Lebih dari itu adalah amanat konstitusional BNPB, yakni
memimpin penanggulangan bencana berskala nasional. Skala dan
keberlanjutan bencana itu memang membutuhkan penyatuan
komando untuk mempercepat penanganan.
Presiden juga mengutus Menko Kesejahteraan Rakyat untuk
membantu Pemerintah dan masyarakat setempat, sekaligus
62 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
memastikan bahwa bantuan pusat ke daerah tersalur dan sampai
kepada para korban dengan cepat dan tepat.
Berbarengan dengan itu Presiden pun tak luput memerintahkan
Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri terjun ke garis depan
penanggulangan bencana – sampai masa pemulihan.
Namun sebelum berperan secara utuh dalam penanganan bencana
letusan Merapi sesuai mandat, BNPB lebih dulu ditantang sejumlah
persoalan yang menelikung dirinya.
Masalah pertama yang dihadapi adalah keterbatasan personil.
Maklum, lembaga baru. Dibanding Kementerian-Kementerian lain,
usia BNPB ketika itu masih balita. Ia didirikan tahun 2008.
Baru dua tahun. Tentu jumlah personilnya juga masih sangat tidak
seimbang dengan tugasnya yang begitu berat, kebencanaan.
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 63
Karena itu, untuk melakukan evakuasi, BNPB mengerahkan ribuan
personil TNI dan polisi.
Panglima TNI menerjunkan 3.460 orang untuk penyelamatan,
pencarian serta evakuasi. TNI pun membuka tujuh unit dapur
umum.Bersama TNI, Polri pun menyebarkan 4.195 anggotanya ke
121 tempat pengungsian. Basarnas , sementara itu, mengerahkan
sedikitnya ada 400 orang dengan overcraft, perahu karet, kendaraan
pengangkut korban dan distribusi bantuan.
Ketika itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah [BPBD] DI
Yogyakarta belum pula terbentuk. Memang banyak pihak yang
terlibat dalam penanganan dampak bencana Merapi, tapi nyaris
tidak ada badan atau lembaga khusus yang menangani kebencanaan.
BNPB, tentu saja, pemeran utama dalam penanganan bencana. Tapi
masyarakat belum begitu mengenalnya, dan beberapa yang telah
mengenalnya pun belum merasa nyaman dengan kehadirannya.
Lonjakan jumlah pengungsi membuat kewalahan, terutama karena
peralatan BNPB untuk menangani pengungsi masih sangat terbatas.
Dalam sehari, seperti terjadi pada tangal 19, Januari 2011, jumlah
pengungsi melonjak dari 19 ribu menjadi 43 ribu orang.
Peralatan yang terasa paling terbatas adalah MCK bergerak. MCK
bergerak dari Kementerian Pekerjaan Umum memang lumayan
banyak, tapi penempatannya yang tidak terpantau.
Memang, banyak pihak yang terlibat, tapi semua bekerja masing-
masing, dengan rencana dan agenda masing-masing, tanpa
kerjasama dan koordinasi satu sama lain. Bahkan Pemerintah
Kabupaten, Polres dan Dandim setempat bekerja sendiri-sendiri.
Bantuan mengalir dari Kementerian-Kementerian lain. Kementerian
Pekerjaan Umum menyediakan tangki air, truk, 50 hidran, dan MCK,
Kementerian Kesehatan mengirimkan bantuan 50 ribu masker, 4
ton obat-obatan dan 13 orang tenaga medis.
Sementara itu, Basarnas mengirimkan tiga tim dengan kekuatan 64
orang untuk membantu evakuasi di Kecamatan Turi dan Cangkringan.
Begitu juga dengan Kementerian Koperasi dan UKM, BPKP dan
perusahaan BUMN. Namun demikian, hingga 5 November 2010
64 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
pagi, BNPB hanya masih sebagai pengarah dalam penanganan
bencana Merapi.
Mulai melangkah
Dengan bekal kewenangan dari Keputusan Presiden itu, BNPB
punya pijakan kokoh di tengah kedaruratan penanganan bencana
Merapi.
Yang pertama dilakukan adalah pendataan. Dan hasilnya cukup
memiriskan hati. Jumlah korban mencapai 232 orang -- tersebar
di lima kabupaten. Jumlah itu terdiri dari 116 orang di Yogyakarta,
104 di Sleman, dua orang di Klaten, tiga orang di Boyolali dan tujuh
orang di Magelang.
Di sejumlah rumah sakit di wilayah DIY, yang terbaring di ruang-
ruang gawat darurat dan perawatan luka berjumlah 723 orang.
6.474 lainnya menjalani rawat jalan.
Dalam pendataan yang berlangsung begitu cepat, BNPB juga
mencatat jumlah pengungsi sebanyak 561.328 jiwa, tersebar di
tempat-tempat pengungsian. Para pendata melihat para pengungsi
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 65
sangat membutuhkan minyak tanah, pakaian, tikar, alas tidur dan
bantal, selimut, makanan dan obat-obatan, dan alat komunikasi.
Di wilayah Sleman sudah sebanyak 300 rumah rata dengan tanah.
Keputusan Presiden itu sekaligus perintah operasi. Saya mulai
melakukan pembagian tugas.
Tanggal 12 November. Di bawah koordinasi BNPB, Satuan Tugas
Brigade Khusus TNI Penanggulangan Bencana Merapi (Satgas BKTPB
Merapi) mengerahkan prajuritnya untuk melakukan pengerukan
Sungai Code. Pengerukan ini bertujuan menghindari banjir di
pemukiman di sekitar aliran sungai.
Di Magelang dan Sleman, Saya menugaskan TNI dan Polri untuk
mencegah masyarakat menambang pasir. Tentu saja, larangan itu
bukan bermaksud menutup mata pencaharian warga setempat,
melainkan untuk menyelamatkan warga dari luncuran material
merapi yang masih tertahan di puncak.
Selain itu BNPB juga menurunkan bantuan kepada Pemerintah
Provinsi DIY dan Jawa Tengah berupa tenda peleton termasuk
makanan siap saji, bantuan paket untuk anak sekolah, beras, masker,
dan juga paket alat tulis.
Pada saat BNPB mulai menapak [tune in] di Merapi, Mentawai
diterjang tsunami dan Wasior disapu banjir. Saya memanfaatkan
tenaga dan sumber daya yang tersisa untuk menangani Mentawai
dan Wasior. Alhasil, praktis Saya mengendalikan penanganan semua
bencana dari Yogyakarta.
Sosialisasi
Saya pun mulai melakukan koordinasi dengan berbagai pihak
melalui rapat-rapat keliling. Hal pertama dan utama yang saya
sampaikan kepada berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan
bencana Merapi adalah tugas dan fungsi BNPB.
Semua pihak perlu mengetahui ini. Saya dan staf BNPB berkeliling
untuk membangun pemahaman tentang peran lembaga yang saya
pimpin ini. Kami menjalin komunikasi dengan radio-radio komunitas.
Langkah ini terbukti efektif dalam membangun pemahaman peran
BNPB di kalangan warga Merapi.
66 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
Setelah itu, BNPB mencoba membangun landasan bersama
pengelolaan dan pertanggungjawaban bantuan bencana merapi.
Untuk itu kami menggelar Rapat Koordinasi Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Bantuan Bencana Merapi 2010, Rabu malam
tanggal 24 – 26 November, di Hotel Grand Quality.
Kami mengundang para pengelola bantuan bencana Merapi,
yakni Pemprov DIY, BPBD Provinsi Jawa Tengah, Pemkab Sleman,
Pemkab Klaten, Pemkab Boyolali, Pemkab Magelang serta Satgas
Pendampingan/Pembinaan Pengelolaan Bantuan Tanggap Darurat
Merapi dari Perwakilan BPKP Provinsi D.I. Yogyakarta dan Perwakilan
BPKP Provinsi Jawa Tengah untuk duduk bersama mendiskusikan
mekanisme pengelolaan, pertanggungjawaban serta pelaporan
dana penanggulangan bencana Merapi.
Selain itu, pada minggu kedua sejak kami melibatkan diri dalam
penanganan bencana Merapi, kami juga menyelenggarakan rapat
koordinasi dan evaluasi penanggulangan bencana Merapi di Posko
AJU BNPB. Rapat itu menyepakati, antara lain:
• Mempersiapkan pengelolaan dan pembangunan huntara,
• Pendataan jembatan-jembatan yang dilalui lahar dingin,
• Penyediaan probiotik untuk sterilisasi hewan ternak mati,
• Memperhatikan penanganan hewan ternak.
Kegiatan sosialiasi dan komunkasi ini terasa mulai menurunkan
resistensi yang sebelumnya sangat kuat.
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 67
Kedatangan Komisi VIII DPR RI ke lokasi lebih jauh melunakkan
sikap penolakan terhadap BNPB itu.
Komisi VIII DPR RI menurunkan tiga tim ke pusat pengungsian
Merapi, masing-masing terdiri dari 7 orang. Mereka diterjunkan ke
Yogyakarta, Magelang, dan Klaten.
Setelah mendirikan posko, para pengungsi dipersilahkan
menyampaikan masalah-masalah yang dihadapi selama
pengungsian. Komisi VIII mendengarkan secara langsung keluhan-
keluhan para pengungsi.
Seiring dengan langkah-langkah BNPB, kekompakan lembaga-
lembaga Pemerintah yang dikoordinasikan Menko Kesra semakin
pula terlihat. BNPB, Menko Kesra, TNI, Polri dan Pemda DIY mulai
menari dalam irama yang sama.
Penanganan Ternak
Usai letusan pertama Merapi pada 12 Oktober 2010, Pemerintah
memperingatkan warga agar menghindari kawasan merah, tetapi
tak sedikit yang mengabaikan peringatan itu.
Para korban yang memiliki ternak memang sangat terbebani
oleh hewan peliharaan mereka. Meski sudah berada puluhan
kilometer dari tempat tinggal, selalu ada keinginan untuk kembali
menyelamatkan ternak mereka dan membawanya ke tempat
pengungsian.
68 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
Setelah beberapa saat letusan berlalu, beberapa warga nekat
kembali ke kampung untuk mencari ternak-ternak mereka. Bahkan
mereka menembus garis penjagaan polisi. Ikatan emosional
dengan ternak ternyata tak putus oleh semburan abu vulkanik dan
awan panas. Janji Pemerintah untuk membeli ternak mereka seperti
tak terdengar. Pemerintah Daerah maupun Kepolisian kewalahan
menangani warga yang nekat kembali ke zona berbahaya itu.
Keadaan seperti itu mendorong Kementerian Pertanian dan
Pemprov DIY meyakinkan warga Merapi bahwa Pemerintah akan
membeli ternak mereka dengan harga yang pantas.
Ada yang perlu dijadikan bahan pertimbangan dalam penanganan
ternak ini. Pertama, ternak bagi orang Jawa pada umumnya lebih
dari sekedar sumber protein, tapi anggota keluarga. Karena itulah
orang Jawa menamai semua ternaknya. Ada sapi bernama si Siti,
adiknya si Suti, dan kakaknya si Sita.
Kedua, terkait dengan yang pertama, ternak tak selalu dikurung di
kandang atau diikat. Ia lebih banyak dilepas di padang dan ladang.
Apalagi di lereng Merapi, ketika terjadi letusan, ternak yang diikat
malah tak bisa menyelamatkan diri dan mati.
Tentu saja, ternak-ternak itu dianggap keluarga karena juga menjadi
sumber penghidupan.
Atas dasar itu, kita berkoordinasi untuk mengupayakan agar
evakuasi selalu menyertakan ternak. Bahkan akan tercipta rasa
tenang kalau seorang korban mengetahui bahwa ternaknya sudah
lebih dulu tiba di tempat pengungsian.
Ini pun jadi catatan bagi para relawan, petugas dan pengambil
keputusan agar membangun huntara atau tempat pengungsian
berdekatan dengan kandang ternak.
Setelah menyelesaikan pedoman teknis untuk penggantian
kerugian ternak, Kementerian Pertanian menganggarkan Rp 100
miliar untuk membeli ternak warga. Selain itu dianggarkan juga
sebanyak Rp 600 juta untuk pakan (hijauan dan konsentrat),
operasional penanganan tanggap darurat, serta untuk operasional
di Posko Induk penampung ternak.
Pedoman teknis yang disepakati antara Kementerian Koordinator
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 69
Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Pertanian, dan juga Pemprov
DIY dan Jateng itu adalah, ternak yang dibeli adalah ternak yang
tidak produktif (sakit, luka, kemungkinan tidak sembuh). Sementara
bagi ternak yang tidak produktif akan dibeli jika si peternak menjual
dengan harga yang selaras dengan standar yang telah ditetapkan.
Sedangkan ternak yang mati juga akan diganti, tetapi mesti ada
inventarisasi lebih lanjut.
Kesepakatan dalam tim teknis itu juga memberikan kesempatan
kepada pihak swasta untuk ikut membeli ternak warga. Sementara
ternak yang selamat dirawat oleh tim medis veteriner gabungan
dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Persatuan Dokter Hewan
Indonesia (PDHI), dan juga Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI).
Tim Kesehatan Hewan juga turun ke lapangan untuk melakukan
pemeriksaan dan pengobatan pada ternak korban erupsi Merapi.
Kondisi sapi di tempat penampungan saat ini bermacam-macam.
Mayoritas mengalami stres, sakit berat sampai ringan. Paling banyak
sapi terkena infeksi saluran pernapasan serta radang (pada sapi
perah). Beberapa sapi juga mengalami luka bakar.
Sampai 16 November, jumlah ternak yang terancam di Kabupaten
Sleman tercatat sebanyak 20.774 ekor, Kabupaten Klaten 10.756
ekor, Kabupaten Magelang 24.756 ekor,
dan Kabupaten Boyolali 28.405 ekor.
Hal tersulit bagi tim adalah penelusuran
ternak yang mati dan mengidentifikasi
pemiliknya. Semua tim evakuasi dari TNI,
PMI, Tagana, Basarnas, maupun relawan
lainnya dikerahkan untuk melakukan
identifikasi. Namun, hasil rapat evaluasi
di BNPB, ternyata banyak warga enggan
menjual ternaknya.
Pemerintah menetapkan harga sapi
jantan Rp 5 juta, sapi dara Rp 7 juta, sapi
dara bunting Rp 9 juta, dan Rp 10 juta
untuk sapi laktasi (perah). Untuk sapi
potong harga ditentukan sesuai dengan
beratnya dengan harga per kg Rp 22
ribu rupiah (sapi potong jantan) dan Rp
20 ribu untuk sapi betina yang tidak lagi
produktif.
70 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
Penentuan Radius Bencana
Kami pun mulai menentukan radius bencana. Berapa kilometer
jarak aman dari pusat letusan Merapi.
Sungguh tak mudah menentukan radius aman. Perhitungan ilmiah
dan kepentingan hidup nyata para warga Merapi saling beradu di
sini. Tapi kepentingan utama kami adalah keselamatan bersama.
Bagi sejumlah warga yang biasa hidup di lereng Merapi, dan sedang
berada relatif jauh dari tempat tinggalnya, hidup jauh dari rumah,
kebun dan ternaknya justru tidak aman.
Radius aman yang pertama ditetapkan Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi [PVMBG] adalah 10 kilometer dari Gunung
Merapi. Pada tanggal 5 November 2010, setelah letusan hebat yang
menewaskan 88 orang di zona aman, radius bencana itu diperluas
jadi 20 kilometer.
Namun warga umumnya tidak tahu persis radius 20 km itu sejauh
apa, tepatnya di daerah mana. Perkiraan tentang tempat-tempat
mana yang menjadi batas radius itu lantas segera menyebar di
jejaring sosial. Tempat-tempat yang banyak disebut, antara lain,
Kampus UGM yang berjarak 26 km dari puncak Merapi, kemudian
ke Malioboro 30 km,
Klaten 25 km, Boyolali
17 km, dan Magelang
26 km.
Sejalan dengan
sifat letusan Merapi
yang tak tertaksir
[unpredictable],
sebenarnya tidak ada
hitungan pasti jarak
aman, karena meskipun
diketahui siklus 5
tahunan, namun tidak
ada yang tau skala
letusannya. Skala
letusan terkait dengan
radius aman.
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 71
Karena itulah, tidak ada jarak aman yang
permanen sepanjang Merapi masih berulah.
Yang bisa dilakukan adalah menjauhkan
masyarakat dari zona berbahaya. Keputusan
memutlakkan zona aman menunjukkan bahwa
si pembuat keputusan mengetahui persis skala
setiap letusan. Ini tentu tak bisa dipercaya.
Setelah masa tanggap darurat berakhir, dan usai
berdiskusi dengan sejumlah pakar vulkanologi,
dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi [PVMBG], tanggal 6 Desember saya
menetapkan lokasi aman untuk tempat tinggal
tetap, termasuk hunian sementara (huntara),
adalah di luar batas Kawasan Rawan Bencana
(KRB) 3, yaitu di luar radius 2,5 km dari Gunung
Merapi.
Penetapan radius bencana ini penting untuk
menciptakan rasa aman para pengungsi yang
tinggal di hunian-hunian sementara [huntara],
sekaligus menjadi rujukan bersama bagi pihak
mana pun yang bermaksud membangun
huntara.
BNPB tidak terlalu berkepentingan dengan ‘di
mana’-nya, tapi dengan jaraknya dari Merapi. Warga dan Pemda
setempat dipersilahkan menentukan tempatnya, tapi harus berjarak
minimal 2,5 kilometer dari Merapi.
Huntara diprioritaskan untuk korban letusan Merapi yang rumahnya
rusak berat. Sudah barang tentu para korban dilibatkan dalam
pembangunannya. Garis kami sangat jelas, membantu Pemda dan
Dinas PU Provinsi DIY, bukan mengambil alih tugas dan tanggung
jawab mereka.
Tindakan lain mengamankan warga dari ulah Merapi adalah
merehabilitasi Sabo yang berjumlah 114. Infrastruktur ini telah
terbukti mampu menahan limpahan lahar dingin Merapi. Namun,
ini pun masih juga menimbulkan ‘ikhtilaf’ [perdebatan].
Ada yang beranggapan bahwa justru sabo-sabo inilah yang
72 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
mengalirlah lahar dingin ke pemukiman warga. Nyatanya, seperti
disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, sabo-
sabo itu menahan lahir dingin dalam keadaan darurat, dan dalam
keadaan normal memudahkan warga mengeruk pasir.
Walau terus dihantam tumpahan pasir dan batu, dam sabo tetap
berdiri, meski mengalami sejumlah kerusakan. Gagasan-gagasan
tentang dam sabo pun berkembang, dari memperbaiki, menambah
dam sabo, meninggikan, juga mengonsep-ulang dam sabo untuk
kali-kali yang berhulu di Merapi.
Dam sabo merupakan bangunan pengendali pasir atau material
vulkanik. Dam sabo mulai dibangun tahun 1970, melalui kerja sama
Indonesia-Jepang .
Saat ini terdapat 114 dam sabo di Provinsi DIY yang tersebar di
empat sungai, yakni Kali Gendol (20 dam), Kali Boyong (43 dam),
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 73
Kali Kuning (15 dam), Kali Krasak (25 dam), dan Kali Bebeng (11
dam). Di kali-kali lereng Merapi terdapat 200 dam sabo. (PRA)
Beberapa akademisi memang sempat mempersoalkan keberadaan
sabo, tapi perhatian mereka lebih ke teknologinya – bukan
substansinya. Agus Maryono, pemerhati Banjir dari Fakultas
Teknik Universitas Gadjah Mada, misalnya, menyampaikan bawa
sabo model sekarang dibangun berkelok. Model ini lebih baik
karena mengalirkan air dan material dengan kekuatan lebih kecil.
Sedangkan yang dibangun di lereng Merapi semuanya lurus.
BNPB membantu Pemkab Sleman memperbaiki dam sabo.
Kepentingan kami, tentu saja, adalah melaksanakan strategi
‘Menjauhkan bencana dari masyarakat’. Sebanyak 13 dam sabo yang
tersebar di Kali Gendol, Kali Kuning, Kali Boyong dan Kali Krasak
kini sudah pulih, berfungsi seperti sediakala. Sisanya diperbaiki
secara bertahap.
Dam sabo model sekarang, berkembang dibangun berkelok (zig-
zag). Dam sabo zig-zag lebih baik. Air dan material tetap bisa
mengalir dengan kekuatan jauh lebih kecil, karena sebagian telah
tertahan di dam sabo berkali-kali.
Alam Pikiran Pedesaan
Dalam alam pikiran masyarakat agraris seperti di Merapi, manusia
bukan subjek, tapi subjek sekaligus objek. Dalam berhadapan
dengan alam, manusia tidak sepenuhnya dalam posisi penentu,
ia juga pihak yang ditentukan. Antara manusia dan alam terjalin
proses dialektis yang setara.
Manusia, dalam perspektif ini, bukan sekedar tidak terpisah dari
alam. Ia adalah bagian dari alam. Orang desa bekerja di ladang,
berternak atau berniaga, tidak semata-mata untuk memenuhi
kebutuhan, tapi mengabdi kepada alam sekeliling, memenuhi
kebajikan hidup bersama, menunaikan tugas sepi ing pamrih rame
ing gawe.
Manusia dengan manusia lain pun terpadukan oleh kebutuhan
bersama dan tuntutan alam. Di desa, satu rumah dengan rumah lain
selalu terhubung oleh jalur kebun dan ladang. Dan yang tak kurang
penting, satu rumah dengan rumah terdekat lain umumnya saling
berhadapan.
74 MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN
Satu rumah dengan rumah lain menyatu dalam sistem keluarga
besar. Satu anggota masyarakat mendapatkan sesuatu, maka
sesuatu itu untuk semua.
Rencana pemberian bantuan tunai untuk para korban yang
kehilangan rumahnya, memang mengatasi persoalan sejumlah
korban, tapi berpotensi merusak solidaritas dan soliditas masyarakat
secara keseluruhan.
Sebab utama, sudah barang tentu, karena tidak semua mendapat
bantuan uang tunai. Bagi masyarakat desa, kerusakan harta benda
tidak terlalu dilihat secara perorangan. Kerusakan yang dialami
seseorang menjadi kepedulian semua, yang sering diwujudkan
dalam kerja saling membantu secara gotongroyong.
Oleh karena itu, pemberian bantuan tunai ‘hanya’ kepada
sekelompok warga yang dipandang mengalami kehilangan dan
kerusakan lebih besar, terasa menggerus nilai dan alam kesadaran
bersama ini.
Selain itu, pemberian bantuan tunai pun berpotensi menciptakan
sikap konsumtif di kalangan masyarakat. Maka, Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah pun urung memberikan apa yang disebut ‘uang
jaminan hidup’ kepada para korban letusan Merapi.
HIDUP HARMONIS DI LERENG MERAPI 75
Sebagai gantinya, Pemprov Jateng memanfaatkan dana itu untuk
membangun hunian tetap dan infrastruktur yang pengerjaannya
melibatkan para korban. Masyarakat mendapat uang sebagai
hasil kerja. Ini mengembangkan sikap mental yang sehat, sebagai
individu maupun kelompok masyarakat.
Cara seperti itu pun dapat mebangkitkan kehidupan ekonomi
masyarakat setelah mandek selama Merapi bertingkah.
Tantangan lain bagi BNPB setelah ini adalah, masyarakat tak
mengenal ‘hunian sementara’. Masyarakat mengenal dan bisa hidup
beberapa saat di tempat pengungsian. Itu mereka anggap sebagai
tempat singgah. Tapi hunian sementara?
Dari namanya saja sudah menimbulkan rasa tidak aman. Tak
tercegah timbul pikiran umum bahwa besok lusa mereka harus
angkut-angkut barang lagi ke hunian tetap. Tapi di mana hunian
tetap? Yang mereka tahu persis tentu saja rumah mereka di lereng
Merapi, di dalam radius bencana, di mana kebun, sawah, ternak dan
barang-barang mereka tinggal.
Bisa dimengerti ketika diminta tidak kembali ke rumah asal, mereka
menuntut hunian tetap. Bukan itu saja, mereka pun meminta agar
MERAPI MENYAPA KEHIDUPAN