ii
Rr. P. K. K Wardhani, dkk
Rr. P. K. K Wardhani --Derin Septiani – Brytje Geradus
Hana Rizuka – Agnes Tri Maryunani – Shanti Izzaku
Iffada_Ally – Muslimah – Lamipinang – Fayra Dzikra
Ani_Ibon – Nana Modest – Chacha Asmad – Rania Putri
Hariyah Alkhanza – Wardhaniasih
Purwati Idamaningsih – Lisna Fajarwati
Romi Widartono – Nizma Tyara – Endang Fatmawati
Imas Nurhayati – Wiwik Adzkia – Sri Rahayu
Sedayu Peni A
Dd Publishing
iii
Mereka Ada
Penulis: Rr. P. K. K Wardhani, dkk
Copyright © Rr. P. K. K Wardhani, 2021
Editor: Yunita Iraviyanti
Tata Letak: Lia Susanto
Desain Sampul: _______
Ilustrasi: Canva, Pixabay
ISBN
_______________
Cetakan Pertama: Februari 2021
14 x 20 cm, viii + 215 halaman
Diterbitkan Oleh:
Dd Publishing
Siak Sri Indrapura, Riau
[email protected]
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak
buku ini sebagian atau seluruhnya, dalam bentuk dan dengan
cara apa pun juga, baik secara mekanis maupun elektronis,
termasuk fotokopi, rekaman, dan lain-lain tanpa izin tertulis dari
penerbit
iv
Daftar Isi
Perawan Sunti ----- 1
Kelebat Bayangan Hitam ------ 8
Pocong Jatisari ------ 16
Adikku Meninggal ‘Dimakan’ Ponggo ------27
Tanah Keramat ------36
Odo’ Bulawan ----- 44
Gadis Bunga Melati ------ 55
Buku Hantu ------ 63
Merias Pengantin Genderuwo ------ 70
Sa Pu Tete Suanggi*1 ------ 80
Gadis Tiket Bioskop ------ 88
Menembus Batas Dunia Lain ------ 96
Mala Pati Pulung Gantung ------ 103
Dam Ipeut ------109
Teror Kuyang ------ 116
Sumur Bandung ------ 123
Misteri di Lorong Asam Pelangi ------132
Lampor, Keranda Terbang ------ 140
Jalan Genting Apit ------ 148
Tersesat di Hutan Larangan ------ 156
Misteri Genderang Malam ------ 164
v
Masuk Dimensi Ruang Nyi Roro Kidul ------ 173
Rumah Nomor Empat Belas ------ 181
Buku Hantu ------ 189
Umbul Geneng ------ 196
Profil Penulis ------ 205
vi
Kata Pengantar
Alhamdulillah. Puji Tuhan.
Setelah melalui proses panjang, mulai dari pembukaan
even, pengumpulan naskah, editing, tata letak, hingga
cetak, akhirnya buku ini bisa selesai. Kami mengucapkan
terima kasih kepada Dd Publishing, yang telah bersedia
mencetak buku ini. Tak lupa pula ucapan terima kasih
kepada para penulis yang terlibat.
Makhluk Urban selalu membawa cerita yang
menarik. Buku ini berisi kisah-kisah seputar keberadaan
mereka.
Di setiap tempat selalu terdapat riwayat. Di setiap
wilayah selalu ada sejarah. Mereka bisa ada dan tiada.
Bukan hanya sekedar frasa, tetapi benar adanya. Ya,
mereka yang tak kasat mata dapat muncul di mana saja
tanpa diduga. Percaya atau tidak, makhluk itu benar-benar
dekat, meski kita bukan seorang perasa yang peka.
Saat kejadian di luar logika terjadi, masihkah kita
menganggapnya tak ada dan hanya halusinasi semata?
Akhir kata, kami mengucapkan, selamat menikmati
kisah-kisah kami.
Rr. P. K. K. Wardhani, dkk
vii
Rr. P. K. K. Wardhani
ak akan pernah ada seorang pun yang mau hidupnya
hampa. Tanpa merasakan nikmatnya cinta. Namun,
jika ini takdir-Nya, tak ada yang bisa menolak. Bukan
gunjingan yang diharapkan, tetapi doalah yang dibutuhkan
bagi orang-orang yang mendapat nikmat ujian yang sedang
ditimpa.
Sama seperti kisahku. Cibiran dari tetangga bagaikan
makanan pokok sehari-hari. Bagaimana, tidak? Sedari pagi
saat mau berangkat menuju tempat kerja hingga sore
menjelang, yang kudengar hanyalah bisikan kurang
mengenakan.
“Eh, itu Si Shareen udah tua masih betah aja
melajang. Apa dia enggak laku kali, ya,” cibir Bu Denok
yang terkenal biang gosip di kampung ini.
"Iya, ya ... padahal anak seumuran dengan dia itu
kebanyakan udah punya anak dua bahkan mungkin lebih.
Iya, ga, Bu-Ibu?" timpal Ceu Warti tukang sayur langganan
para ibu.
1
Seolah mereka tak menyadari bahwa aku ada di sana
dan mendengar obrolan itu.
“Permisi, lagi belanja, ya? Monggo saya pamit dulu,
ya, kerjaan di kantor sudah menunggu,” sapaku sopan pada
mereka.
Wajah Ceu Warti dan Bu Denok mendadak
memerah. Sedangkan yang lain saling sikut dan
melontarkan senyum yang seakan dibuat-buat.
Dalam perjalanan, pikiran melayang.
Apakah kesendirianku ini adalah sebuah aib, atau
kesalahan besar? tanyaku dalam hati. Sehingga jadi bahan
obrolan sekampung.
Fokus terpecah, sampai sesuatu terjadi. Motor matik
yang aku kendarai oleng, kecelakaan pun tak terelakkan
lagi. Kuda besi itu menabrak pembatas jalan. Banyak orang
berkerumun lalu gelap.
***
“Shareen, kamu di mana, sih? Aku nunggu kamu,”
ucap seseorang yang sudah tidak asing di telinga.
Aku coba menapaki jalanan yang dipenuhi hamparan
bunga lili putih. Ada seberkas cahaya yang berpendar di
kejauhan. Rasanya ingin sekali pergi ke sana. Namun, suara
itu kembali memanggil.
“Kemarilah, Shareen! Shareen, kembalilah!”
Entah sudah berapa lama suara itu memanggil. Aku
berusaha mencari asalnya, tetapi tak ketemu. Aku melihat
2
dua orang wanita cantik yang sibuk bercengkrama,
bercanda dengan riang gembira di sebuah taman. Tak lama
kemudian, mereka beranjak meninggalkan tempat itu.
Cukup lama aku mengikuti ke mana dua wanita itu
pergi. Namun, tiba-tiba menghilang. Sepertinya mereka
tahu sedang diikuti.
Aku terus melangkah menyusuri jalanan asing itu.
Kanan kirinya penuh dengan tanaman merambat. Bunga
kecil aneka warna membuatnya tampak indah. Aroma
wangi menguar seiring embusan angin sepoi-sepoi.
Sebuah pendopo terlihat di ujung jalan itu. Dengan
langkah perlahan aku memasuki pekarangan dan
mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Ada patung
wanita yang sudah usang tertutup lumut berdiri tepat di sisi
kanan air mancur.
Jiwa keinginantahuanku mendadak bergelora,
penasaran dengan wajah yang tersembunyi di balik lumut
tebal itu.
“Jangan sentuh!” seru seseorang, saat tanganku
hendak membersihkan patung itu. “Biarkan dia seperti itu.
Jangan coba-coba melakukan sesuatu tanpa perintah, jika
kau ingin hidup bahagia.”
Aku menoleh ke segala arah mencari pemilik suara
itu. Namun, tak ada seorang pun di sekitar pendopo. Aku
kembali melanjutkan niat untuk membersihkan patung itu.
Gar … gar … gar ….
3
Gemuruh diiringi kilat muncul sesaat setelah aku
selesai membersihkan patung.
“Kamu telah melanggar perintahku dan harus
menerima akibatnya. Kutukan Perawan Sunti akan
menempel di tubuhmu hingga tua.”
***
“Tidaaak!” teriakku sekencangnya.
“Shareen kamu sudah sadar?” tanya seseorang.
“Tunggu aku panggil dokternya dulu, ya.”
Aku mengerjap, berusaha menyesuaikan jumlah
cahaya yang masuk ke retina. Kutolehkan pandangan ke
sekeliling. Semuanya berwarna putih. Aroma desinfektan
langsung menusuk indera penciuman.
“Alhamdulillah, semua organ vitalnya normal,” ujar
dokter setelah memeriksa seluruh tubuhku.
“Istirahat dulu. Jangan terlalu banyak bergerak,”
pesan dokter itu sebelum meninggalkan ruangan.
“Kamu mau minum?” tanya gadis yang memanggil
dokter tadi. Dia adalah Shireen—kembaranku.
Dengan sigap Shireen mengambilkan segelas air dan
membantuku menegaknya.
“Sabar, Sis. Pelan-pelan. Nanti keselek,” kata
Shireen. Matanya bersinar dan tersenyum.
“Kok bisa sampai ke sini?” tanyaku setelah
sepunuhnya tersadar.
4
Shireen menceritakan keseluruhan cerita. Rupanya
setelah kecelakaan itu aku tak sadarkan diri selama satu
minggu. Untung saja tidak ada yang parah, hanya ada
memar di beberapa bagian tubuh.
“Kamu kayak orang tidur saat pingsan. Aku takut
juga, kalau kamu gak bangun lagi,” ujar Shireen.
Bibir mengerucut mendengar pernyataannya. Aku
pun menceritakan kejadian yang seolah nyata.
“Perawan Sunti itu aslinya gak ada, ‘kan?” Aku
memastikan.
Shireen segera meraih gawainya dan mencoba
mencari tahu melalui internet.
“Jadi ….” Shireen mulai menjelaskan apa yang
tertulis di salah satu situs internet.
Perawan Sunti adalah sebutan bagi perempuan yang
tidak menikah sampai meninggal. Dari mitos yang beredar
dia adalah perempuan cantik yang sombong dan pemilih.
Ada juga yang beranggapan bahwa Perawan Sunti
adalah serang gadis yang hamil atas kehendak Sang Kuasa.
Dalam Al-Qur’an dan Injil dilukiskan seperti Siti Maryam
atau Bunda Maria yang mengandung dan melahirkan Nabi
Isa a.s. atau Yesus Kristus.
Sebagian masyarakat Cirebon juga percaya Perawan
Sunti adalah perwujudan dari Ong Tieng yang menjadi
korban sayembara yang diadakan oleh ayahnya—Oh Hong
Jin—untuk menantang Sunan Gunung Jati. Dalam cerita
5
itu dikisahkan, Kaisar Tartar meminta Sunan untuk
menebak apakah anaknya hamil atau tidak dan semua itu
sudah direkayasa. Ong Tieng mengenakan baskom dari
kuningan.
Sunan Gunung Jati menjawab bahwa anak Kaisar
hamil. Atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa, ucapan Sunan
menjadi kenyataan. Ong Tieng benar-benar hamil.
“Memangnya kenapa kamu tanya-tanya itu?” tanya
Shireen. “Bukannya kamu juga sudah tahu kalo itu semua
cuma mitos?”
“Aku mimpi terkena kutukan Perawan Sunti,”
jawabku lirih. “Aku takut jika itu menjadi kenyataan.”
Shireen langsung memeluk dan mendekap erat.
Samar-samar aku mendegar isakan.
“Insyaallah, kamu akan segera bertemu dengan
jodohmu,” kata Shireen sambil mengusap matanya. “Aku
yakin, Allah telah menyiapkan pasangan istimewa
untukmu.”
“Ingat, sebagai orang yang beragama dan beriman,
kita tidak boleh percaya mitos. Haya Allah yang berhak
mengatur takdir manusia. So, percayakan semua kepada-
Nya. Gunjingan akan terus ada untuk ujian hidup kita.
Maka, hadapi itu dengan keyakinan bahwa Allah punya
rencana yang paling baik untuk kita.”
Kata-kata Shiren sedikit menghibur. Semoga apa
yang diucapakan benar adanya. Aku percaya sepenuhnya
kepada Allah.
6
***
Semenjak kejadian itu, aku mencoba untuk ikhlas
melewati jalan takdir dengan senyuman. Berusaha terus
sabar menyandang predikat sebagai Perawan Sunti.
Iya, mungkin aku Perawan Sunti. Hingga usia
menginjak lima puluh tahun, masih juga belum bertemu
belahan jiwa.
Kini, tinggal bagaimana caranya agar surga Allah
menjadi tempat pulang ke alam keabadian. Tak perlu malu
jadi perawan Sunti. Bersyukurlah karena dari lahir hingga
mati tetap saja suci tak terjamah lelaki. Walau sebaik-
baiknya makhluk itu berpasangan agar melanjutkan
keturunan.
Patung perawan Sunti memang tak ada yang berani
menyentuhnya karena mitos yang beredar terlalu kuat.
Siapa yang menyetuhnya akan menjadi jomlo abadi hingga
akhir hayat.
Area Gua Sunyaragi memang kental sekali aura
mistisnya, apalagi dahulu kala di situlah para wali
bersemedi. Patung asli perawan Sunti yang diperkirakan
dibuat tahun 1602 itu terletak di museum Sunyaragi.
Sedangkan, patung yang ada di dekat air mancur
sebenarnya hanya patung biasa.
Para pengunjung takut jodohnya pegat di jalan atau
bisa saja tak punya jodoh jika memegang patung tersebut,
WAllahu a'lam bishowab. [tamat]
Cirebon, pertengahan Agustus 2020.
7
Bu Nik
S elesai salat Isya, aku langsung menyibukkan diri di
depan laptop. Deadline tugas menulis cerita horor
tinggal menghitung hari. Ditemani secangkir kopi yang
sudah dingin dan keripik singkong.
Kilau bintang semakin terang, saat aku melihat ke
langit melalui jendela kamar. Artinya malam sudah larut.
Kulirik deretan angka digital di sudut bawah laptop sudah
menunjukkan pukul 23.45, hampir tengah malam.
“Pantesan mata capek dan badan pegel semua,”
gumamku sambil meregangkan otot-otot yang mulai terasa
kaku.
Setelah mematikan laptop, kubuka jendela guna
merasakan aroma laut. Embusan udara laut malam sangat
menenangkan. Ditambah pemandangan dermaga,
menyisakan beberapa kapal nelayan yang menari santai
mengikuti gerakan ombak, selalu membawa kedamaian di
jiwa.
8
Tiba-tiba aroma air asin berubah menjadi wangi
kembang, saat aku menarik napas dalam. Bulu kuduk
langsung menegang dan detak jantung pun semakin
memburu. Sudut mata menangkap sosok yang sedang
berdiri. Cepat-cepat kututup jendela dan segera menjauh.
Malam berikutnya, aku kembali sibuk di depan
laptop, menyelesaikan tulisan yang tertunda. Jemari tangan
lancar menekan tombol huruf-huruf. Kata demi kata mulai
terangkai menjadi kalimat dan paragraf.
Jendela kamar kubiarkan terbuka karena malam itu
udara cukup membut gerah. Selain itu, aroma laut bisa
membangkitkan inspirasi.
Bau semalam,batinku begitu saraf hidung mencium
aroma yang berbeda.
Aku bangkit dan melihat ke segala arah melalui
jendela. Tidak ada siapa-siapa. Namun, aroma bunga itu
semakin menusuk dan perlahan berubah menjadi bau
busuk yang sangat menyengat.
Tiba-tiba tengkuk terasa dingin, seperti ada yang
meniup. Aku yakin tidak ada suara pintu terbuka. Detak
jantung memburu dan keringat dingin mulai membasahi
punggung. Aku merasa ada yang mengawasi dari sudut
kamar.
Aku ingin membalikkan badan. Namun, embusan
angin kembali terasa di tengkuk. Mulut tak henti
melafazkan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang terbesit di
pikiran.
9
Keberanian mulai muncul. Perlahan aku menoleh
dan samar-samar terlihat sesuatu. Begitu membalikkan
badan, wussh … sesuatu menghilang menyisakan asap
hitam dan bau busuk.
***
“Suntuk banget wajah kamu, Sin?” tanya Gina—
teman satu kos-kosan. “Ngetik lagi sampai malam?”
Aku menjawab dengan desahan dan senyuman ala
kadarnya. Mungkin Gina ada benarnya. Beberapa artikel,
cerpen dan kerjaan kantor belum selesai. Namun, bukan
itu yang membuatku sulit terlelap. Kemunculan bayangan
hitam selama dua hari berturut-turut meningkatkan
adrenalin.
Sebagai penghuni baru, aku tak ingin menimbulkan
masalah. Selain itu teman satu kos-kosan sangat ramah dan
baik hati. Baru satu bulan berada di antara mereka, rasanya
sudah bertahun-tahun. Bik Lila—pembantu kos-kosan—
pun sangat ramah dan tak pernah mengeluh, meski kami
sering merepotkan. Sudah pasti aku tak ingin pindah.
***
Sudah satu minggu aku menghindari terjaga hingga
tengah malam. Setelah salat Isya, sebelum jam sembilan
harus sudah terlelap. Alhasil, tak ada bayangan hitam dan
bau busuk yang mengganggu.
Menginjak minggu kedua dengan kebiasaan baru,
gangguan kembali muncul. Tiba-tiba ada yang menarik
10
selimut dengan sangat kuat. Keterkejutan membuat mata
langsung terbuka.
Sesuatu yang sangat besar dan hitam muncul tepat
di atasku. Makhluk itu menyerupai manusia, tetapi tembus
pandang. Sekujur tubuhnya dikelilingi asap, mirip bendera
yang berkibar. Cahaya merah—menyerupai mata—
menatap tajam. Bau busuk menguar dan terkunci di saraf
hidung.
Mulut hanya bisa menganga. Jangankan berteriak,
mengeluarkan suara ‘ah’ saja tidak bisa. Mata pun dipaksa
untuk melihat kengerian itu. Napas semakin sesak.
Ya Allah, apakah hidupku akan berakhir di tangan
makhluk ini? tanyaku dalam hati.
“Allahu Akbar … Allahu Akbar ….” Makhluk itu
langsung menghilang begitu kumandang azan Subuh
bergema melalui pengeras suara masjid.
Napas terengah-engah. Jantung masih berdetak
cepat dan baju basah oleh keringat. Tak ada sisa tenaga
untuk bangkit dari tempat tidur. Aku hanya bisa menangis.
“Mbak … Mbak Sinta ….” Suara Bik Lila dari balik
pintu. Mungkin dia mendengar isakanku.
“Mbak Sinta enggap apa-apa ‘kan?” tanya Bik Lila.
“Emang Sinta kenapa, Bik?” Giliran suara Gina
yang terdengar.
Tok … tok … tok ….
11
“Sin … Sinta … buka pintunya, dong!” ujar Gina
setengah berteriak.
Tenaga masih belum pulih, tetapi aku harus
bangkit dan berjalan menuju pintu. Jika tidak, gedoran
pintu akan semakin keras dan membangunkan seisi kos-
kosan.
“Badan kamu dingin banget. Baju basah pula.”
Gina memegang kening dan punggungku. Dia memapahku
kembali ke tempat tidur.
Aku kembali terisak. Bik Lila tergopoh-gopoh
membawakan segelas air mineral. Jantung mulai berdetak
normal.
“Kamu mimp buruk?” tanya Gina setelah
melihatku mulai tenang.
Aku menggelang. Rasanya bibir masih terasa berat
untuk menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.
Bayangan makhluk itu masih menempel jelas di benak,
seolah enggan untuk menghilang.
“Salat dulu, deh. Semoga bisa lebih tenang lagi.”
Gina mengusap punggungku. “Jangan lupa ganti baju,
nanti masuk angin.”
Bismillah, semoga …, batinku seraya melihat gadis
tomboi itu keluar kamar.
***
Sial, kenapa harus diserahkan besok, sih, umpatku
dalam hati.
12
Besok ada pertemuan mendadak dengan klien, jadi
desain yang menjadi tugas timku harus selesai. Sudah dapat
dipastikan harus begadang untuk membereskan semua itu.
Jantung pun perlahan berdetak semakin cepat,
membayangkan pertemuan dengan makhluk menye-
ramkan itu.
“Jangan takut dengan makhluk-makhluk tak kasat
mata. Justru mereka yang takut dengan kita.” Nasehat
Ayah terngiang di telinga.
Meskipun sudah membesarkan hati dengan
mengingat perkataan beliau, tetap saja bulu kuduk
menegang dan jantung berdetak lebih cepat. Terlebih
ketika merasakan ada yang memperhatikan dari sudut
dekat kamar mandi. Aku berusaha tidak menoleh untuk
memastikan kehadiran makhluk itu dan tetap fokus pada
tugas kantor.
“Siiin … taaa ….” Desahan suara dari belakang
membuat tubuh bergetar hebat.
Dada terasa sesak karena sulit bernapas. Tiba-tiba
ada yang menyentuh pundak dan memaksaku untuk
berbalik.
“Astagfirullahalazim!” Aku setengah berteriak.
Wujud makhluk itu semakin jelas. Sekujur
tubuhnya hitam. Ada cahaya merah di bagian mata. Taring
panjang keluar dari bibir dan lidah merah menjulur keluar.
Sambil menyeringai, tangan berkuku tajam mengarah ke
leherku.
13
“Tidaaak ….” Aku berteriak sekuat tenaga.
Namun, tak ada suara yang terdengar. Hanya desahan
napas makhluk itu yang tertangkap oleh gendang telinga.
“Allahulaillahaillahuawalkhaiyulqoiyum ….” Dengan
tekad kuat aku berhasil membaca Ayat Kursi—ayat yang
bisa mengusir gangguan jin dan makhluk sejenis.
Berkali-kali mulut membaca ayat tersebut. Namun,
makhluk itu justru semakin mendekat. Cahaya merah di
bagian mata semakin terang dan menyala. Aku tidak
berputus asa dan menambah surat tiga kul—An-Naas, Al-
Falaq, Al-Ikhlas.
Sepertinya usahaku berhasil. Makhluk itu perlahan
berubah menjadi tembus pandang dan membentuk
bayangan, kemudian menghilang.
Keringat dingin kembali membasahi punggung dan
kaos. Badan gemetar, detak jantung masih sangat cepat.
Buku-buku jari memutih, akibat menggenggam terlalu
rapat.
***
“Selamat datang di kos-kosan Armineka,” ujar
Gina dengan mata yang bercahaya.
Aku bingung melihat reaksinya. Sebenarnya, dia
teman atau bukan? Seolah tidak ada simpatinya ketika aku
menceritakan semua yang terjadi.
14
“Makhluk itu bernama Bono. Dia sengaja dipasang
oleh Bu Ratna untuk menjaga kos-kosan ini. Sebelum ada
Bono sering sekali terjadi perampokan di sini,” cerita Gina.
Ternyata, makhluk itu semacam radar pendeteksi
kejahatan. Siapa yang langsung pindah setelah bertemu
dengan Bono pasti mempunyai niat jahat. Entah sengaja
tidak membayar uang bulanan atau berbuat tidak senonoh
di kos-kosan.
Memang kos-kosan itu terkenal aman dan murah
dengan fasilitas yang cukup lumayan. Semua kamar
memiliki kamar mandi dan AC. Tak heran banyak yang
ingin menyewa kamar. Namun, mereka harus menghadapi
ujian yang sangat mengerikan.
Sejak mendengar penjelasan Gina, aku sama sekali
tidak terganggu dengan kehadiran Bono—Si Bayangan
Hitam. Kadang dia menjadi penjaga dan sekaligus teman
saat harus begadang. [tamat]
15
Shanti Izzaku
T resno, ada yang mau ngojeg ke Jatisari, minta dua
motor. Mau gak sama aku?” ajak Kang Amin untuk
ngojeg bareng.
Kutengok jam yang terpasang di pangkalan, sudah
pukul empat sore. Pasti nanti sampai malam. Daerah itu
melewati jalan panjang yang sepi. Kanan kiri ladang tanpa
penerangan, tidak ada rumah penduduk sama sekali.
Terakhir kali ke sana, suasananya sedikit membuat bulu
kuduk menegang.
“Gimana, ya, Kang?” Aku ragu menerima tawaran
itu.
Namun, tak enak juga menolak tawaran senior.
Selain itu, seharian ini nyaris tak ada orang yang duduk di
jok belakang motorku.
“Halaaah, gak pa pa. Kan kita barengan. Lumayan,
ongkosnya spesial,” jawab Kang Amin berusaha
menyakinkan.
16
Setengah jam kemudian, dua motor beriringan
menuju arah matahari yang mulai beranjak tenggelam di
balik gunung. Di belakangku duduk Pakde Marmo. Tiga
meter di depan, melaju motor Kang Amin berboncengan
dengan istri Pakde Marmo, siap menuju Jatisari.
“Agak cepat ya, aku tidak suka di jalan kalau sudah
malam.” ujar Pakde Marmo. “Aku tidak suka lewat makam
di ujung jalan itu. Perasaanku tidak nyaman.”
Aku hanya diam. Ada rasa sesal, kenapa juga harus
menerima tawaran Kang Amin. Pasti pulangnya harus
lewat makam itu dalam keadaan gelap. Tubuh bergidik
membayangkan.
Tin … tin … tiiin.
Spontan kubunyikan klakson. Kata orang sebagai
hormat bagi yang ada di makam.
“Kamu ini, malah kayak manggil hantu saja. Lewat
kuburan kok caper,” kata Pakde Marmo terkekeh sambil
menepuk pundakku.
Aku tersenyum kecut. Semoga tidak ada yang
mendengar candaan itu. Jantung berdetak lebih cepat.
Jemari menggenggam erat setang motor dan ingin
memacunya.
Aku mendesah lega ketika melihat gerbang desa.
Rumah-rumah penduduk mulai terlihat. Jarak antar rumah
yang tidak rapat ditambah penerangan di jalan utama desa
yang minim, membuat suasana menjadi sedikit suram.
17
Ini kali kedua aku ke Jatisari. Penduduknya tidak
banyak. Sebagian besar orang tua, karena anak mudanya
lebih memilih merantau ke kota.
“Terima kasih, ya, Le, sudah mengantar kami,” ujar
istri Pakde Marmo ketika motorku menyusul masuk
pekarangan rumahnya.
Rumah tua dengan pondasi batu kali dan dinding
kayu jati hitam legam. Atapnya tertutup tanaman yang
merambat. Kuedarkan pandangan, banguan sekitar hampir
serupa. Seolah melihat rumah di tengah hutan.
“Apa nginep sini saja, Le. Sebentar lagi malam.
Jalanan gelap,” kata Pakde Marmo
Tawaran lelaki berumur itu, membangkitkan
penyesalan karena telah melakukan perjalanan ini. Sudah
dapat dipastikan jika menginap, aku tidak akan bisa tidur
pulas. Namun, perjalanan pulang pun tak kalah
menyeramkan. Apalagi harus melewati makan di tikungan
desa. Aku bergidik ketika teringat makam di tikungan tadi.
Mungkin ada sosok yang menjawab suara klakson tadi.
“Gimana, Kang?” Aku meminta persetujuan Kang
Amin
Tak ada raut kekhawatiran yang terpancar dari wajah
lelaki patuh baya itu. Seberkas cahaya terpancar dari
matanya ketika mengibaskan selembar uang bergambar
Proklamator. Senyuman terkembang di bibir yang nyaris
hitam akibat mengisap rokok.
18
“Kita salat di surau dulu, lalu pulang,” jawab Kang
Amin
Keputusannya membuatku mengatupkan bibir
rapat-rapat. Padahal masih tersisa lima belas menit menuju
magrib. Aku ingin melewati makam itu sebelum gelap.
“Sholat dulu, untuk menghindari kecelakaan yang
lebih panjang,” lanjutnya sambil menepuk pundakku dan
mengarahkan motornya ke surau kampung.
“Kecelakaan di dunia, ada rumah sakit. Masih hidup,
alhamdulillah. Kalau mati? Dan kita belum sholat di
waktunya? Itu kecelakaan panjang. Kasep mati ra iso urip
meneh.1”
Kata-kata Kang Amin persis ustaz yang sering
khotbah jumat di masjid. Aku mengekor, memajukan
motor ke surau. Berkali-kali menengadahkan kepala,
melihat senja yang mulai menghilang.
***
“Assalamu‘alaikum warohmatullahi wabaarokaa-
tuh.”
Imam mengakhiri sholat, melanjutkan dzikir dan
doa. Kulirik Kang Amin menengadahkan tangannya.
Semoga ada doa untuk kami, agar terbebas dari gangguan
makhluk halus.
“Mbah Karman, kita lanjut Yasin dan tahlil?” tanya
seseorang yang membuatku menoleh.
19
“Iyo, iki kan malam Jum’at, apik nambah doa.2 Apalagi
sekarang malam Jumat Kliwon.” jawab lelaki tua yang
masih bersimpuh di bilik imam.
Sebagian besar jemaaah mualai membentuk formasi
melingkar dan bersandar di dinding surau. Al’Quran pun
mulai dibagikan.
Udara dingin mulai terasa membangkitkan rambu-
rambut halus di sekujur tubuh. Berkali-kali tangan
mengusap tengkuk. Dalam angan melintas beberapa jenis
makhluk astral. Maklum, malam Jumat Kliwon identik
dengan kemunculan makhluk-makhluk tak kasat mata.
“Malam Jumat itu sakral. Apalagi malam Jumat
Kliwon.” Perkataan Mak Sol—tetangga sebelah rumah—
terngiang. “Kekuatan makhluk halus berada di titik puncak
begitu malam datang.
“Jangan keluar kalau gak penting-penting banget.”
Petuah Mak Sol membuatku semakin menyesali
ajakan Kang Amin. Jantung tak pernah berhenti berdetak.
Keringat dingin mulai membasahi tubuh.
“Kang, kita nginep aja di sini,” bisikku dengan nada
gemetar. “Gerimis pula.”
Mak Sol juga pernah bilang bahwa makhluk-
makhluk beda dunia itu lebih sering menampakkan diri.
Mungkin karena udara dingin membuat mereka lebih
bersemangat untuk bergentayangan.
20
Kami berpamitan kepada jemaah surau, sesaat
sebelum mereka mulai membaca Yasin. Wajah Kang Amin
terlihat santai, tetapi detak jantungku semakin kencang.
“Kita jalan pelan-pelan aja. Hati-hati, agak licin,”
kata Kang Amin.
Aku menyeimbangkan kecepatan dengan laju
motor Kang Amin. Sebenarnya tak nyaman berada di
belakang. takut, jika tiba-tiba ada yang ikut membonceng
dan menepuk pundak. Namun, berada di depan pun tidak
lebih baik, karena harus menyibak kegelapan malam. Tiba-
tiba muncul sosok tanpa wajah, bisa-bisa terjerembab ke
ladang. Hiii ….
Malam semakin pekat, padahal belum jam delapan
malam. Suara binatang malam mengiringi perjalanan kami.
Jaket tebal rasanya tidak cukup menghalau embusan udara
dingin.
Pohon besar di belokan semakin jelas terlihat,
artinya sebentar lagi kami akan melewati makan Jatisari.
Aku berusaha untuk fokus ke depan dan menyesuaikan
kecepatan dengan motor Kang Amin. Tiba-tiba kelebat
putih tertangkap sudut mata. Jantung berdetak semakin
kencang. Bulu kuduk yang sudah berdiri dari tadi, semakin
menegang.
Apa itu tadi? tanyaku dalam hati.
Aku mulai berspekulasi tentang hal-hal aneh,
sehingga jarak dengan motor Kang Amin agak jauh. Aku
segera memacu kecepatan mengejarnya.
21
“Astagfirullahalazim,” teriakku ketika lampu
menyorot ke bagian belakang motor Kang Amin. Aku
nyaris kehilangan keseimbangan.
Ada sesuatu yang duduk di boncengan motor yang
melaju tak terlalu kencang itu. Sosok itu berbalut kain putih
yang penuh noda tanah dengan ikatan di bagian kepala dan
kakinya. Sudah dapat dipastikan itu adalah pocong.
Entah kenapa aku tak bisa memalingkan
pandangan dari makhluk itu. Seolah ada sesuatu yang
memaksa mata untuk terus saja memandang ke arahnya.
Apa dia makhluk yang merespon kaksonku tadi sore?
Aku kembali bertanya dalam hati.
Aku berusaha membunyikan klakson, memberi
isyarat kepada Kang Amin untuk berhenti. Namun, tidak
ada suara yang keluar. Entah klakson motor yang rusak
atau jempolku yang mendadak kaku.
Tiba-tiba makhluk itu menoleh ke belakang.
Wajahnya tidak berbalut kulit dan daging. Hanya tengkorak
yang terlihat. Cahaya merah keluar dari matanya. Dia
menyeringai ke arahku, seperti mengejek.
Dada terasa sesak akibat detak jantung yang tak
beraturan. Punggung sudah basah oleh keringat yang tak
kunjung hilang, padahal udara dingin.
“Kang Amiiin …!” Aku berteriak sekuat tenaga,
tetapi Kang Amin tidak menoleh. Justru makhluk itu yang
menoleh dan kembali menyeringai.
22
Aku berusaha sekuat tenaga mengusir rasa takut
dan memacu motor untuk menyalip Kang Amin. Namun,
laju motor hitam itu semakin cepat, seperti tak ingin
didahului.
Pocong itu seolah menggoda. Dia menggerakkan
badan maju mundur sambil terus menatapku. Semakin
lama gerakan itu semakin cepat. Anehnya motor Kang
Amin tidak kehilangan keseimbangan.
Segala usaha sudah kulakukan untuk tidak melihat
makhluk itu dan menyalip motor Kang Amin. Namun,
tidak ada yang berhasil. Aku mendesah pasrah dan terus
berusaha mengendalikan laju motor.
Ya Allah, tolong lindungi perjalanan kami hingga ke
rumah. Aku berdoa dalam hati.
***
Belokan jalan keluar Jatisari tersisa beberapa meter
lagi. Namun, seolah masih terasa ratusan kilometer.
Terlebih ketika pocong itu masih bertengger di jok
belakang motor Kang Amin.
Entah sudah berapa kali aku nyaris kehilangan
keseimbangan mengendalikan si kuda besi. Apalagi ketika
pocong itu menoleh ke arahku. Pikiran bekerja ekstra keras
mengatur konsetrasi antara mata yang harus fokus melihat
jalan dan jantung yang berdetak kencang akibat makhluk
astral itu.
Aku tersadar, ternyata kami sudah berada di jalan
raya dan sudah jauh dari Jatisari. Mata terbelalak ketika
23
melihat bagian belakang motor Kang Amin kosong.
Pocong itu tidak ada lagi.
Namun, aku semakin ketakutan. Jantung berdetak
lebih kencang dari sebelumnya. Keringat dingin terasa
semakin deras membasahi tubuh. Perlahan aku menoleh
kebelakang, takut jika pocong itu pindah.
“Alhamduillah.” Aku mendesah lega. Makhluk
berbalut kain putih itu benar-benar hilang dan tidak
mengikuti kami.
Dengan sisa-sisa tenaga aku memacu motor. Terikan
Kang Amin tak kuhiraukan. Dalam benak hanya ingin
cepat sampai di pangkalan ojek. Selan itu, ada rasa takut
kalau pocong itu bertengger lagi di jok belakang.
Brruukk ….
Badan langsung lemas begitu sampai di pangkalan.
Kaki dan tangan seolah kehilangan kekuatan. Napas masih
memburu. Rasanya tak ada kuasa melanjutkan perjalanan
sampai ke rumah. Untung saja ada Kang Jarwo dan Kang
Rinto yang sigap menahan tubuh dan motorku.
“Tres … Tresno. Kenapa ini, Kang Amin?” tanya
Kang Jarwo sambil menepuk pipiku.
Pikiran setengah melayang dengan mata yang
terbelalak. Jika memejamkan mata. sorot merah dan
seringai pocong itu langsung muncul.
24
“Tres, kamu gak pa pa, ‘kan?” tanya Kang Rinto,
perlahan mengguncangkan tubuhku. “Minum, tolong
ambilkan minum.”
Entah berapa tegukan air yang masuk ke
tenggorokan. Rasa sesak di dada perlahan menghilang.
Jantung pun mulai berdetak normal.
“Aku lihat pocong, Kang,” ucapku setelah bisa
duduk tegak. Baju basah karena keringat.
Kang Jarwo, Kang Rinto, Kang Amin saling
pandang. Wajah mereka mengisyaratkan ketidakpercayaan.
Mungkin mereka berpikir aku kelelahan, karena jarak
Jatisari dengan pangkalan cukup jauh.
“Beneran, Kang.” Aku meyakinkan mereka.
Aku menceritakan semuanya secara detail. Mulai dari
rumah Pakde Marmo, suasana Makam Jatisari, pocong
yang tiba-tiba muncul di bagian belakang motor Kang
Amin, hingga hilangnya makhluk astral itu. Tak lupa pula
kuselipkan ketika pocong itu menatap dengan sorot mata
merah dan menyeringai.
“Pantesan, tadi begitu lewat makam, motor kerasa
berat,” ujar Kang Amin. “Kayak mbonceng orang. Hiii
….”
“Tapi aku lihat di spion ga ada siapa-siapa,”
lanjutnya.
“Lagian, kamu bukannya nglakson atau teriak. Kan
suasana sepi.”
25
Aku mendengkus dan memajukan bibir.
“Sudah. Tapi gak bisa. Aku juga berusaha nyusul,
tapi susah,” gerutuku kesal.
Semuanya terdiam. Suasana menjadi hening. Tanpa
terasa posisi duduk kami berdempetan.
“Kayaknya pocong itu suka sama kamu, Tres,”
seloroh Kang Jarwo, memecah kesunyian.
“Gak lucu, Kang.” Aku memasang ekspresi masam,
“La buktinya, cuma kamu yang ditakuti. Amin
enggak.”
Hiii … aku bergidik. Ada benarnya juga ucapan
Kang Jarwo. Mungkin makhluk itu merespons suara
klakson yang kubunyikan saat mengantar Pakde Marmo.
Dalam hati bertekad, tidak akan ke Jatisari lagi,
walaupun siang hari. Siapa tahu pocong itu menungguku.
[tamat]
26
Nizma Tyara
P onggo adalah sebutan untuk hantu kuyang atau biasa
disebut kuntilanak, bagi masyarakat di kota yang
sempat aku tinggali saat masih kecil, Gorontalo. Aku punya
kisah sedih tentang kota itu. Kisah yang tidak bisa
kulupakan hingga saat ini.
***
Sudah beberapa hari ini, Dwi—adikku yang paling
kecil, sakit. Berulang kali ke dokter, tetapi diagnosanya
tidak menemukan ada penyakit serius yang diidap si adik.
Sementara suhu badannya setiap malam selalu naik,
bahkan disertai kejang-kejang. Menurut cerita Ibuku, Dwi
kena tetanus bawaan. Akan tetapi, aku merasa ada hal yang
beliau sembunyikan mengenai penyakit adikku ini. Aku
yakin, hal tersebut ada hubungannya dengan tetangga
sebelah rumahku. Seorang nenek yang di kenal memiliki
ilmu hitam.
Aku bukan hanya mendengar cerita dari orang, tetapi
pernah melihat sendiri. Dalam salah satu kamar di rumah
tetanggaku ini, ada sebuah meja. Di atasnya terdapat
27
beberapa barang yang sering dipakai untuk ritual. Ada
berbagai jenis kemenyan yang diletakkan dalam piring-
piring kecil. Baik yang berbentuk serbuk kayu atau batu
dihaluskan, maupun dalam bentuk utuh. Di samping itu
juga, kumelihat ada podudupa1, kain putih berbentuk
pocong, dan barang-barang lain yang entah aku sendiri
kurang paham apa sebutannya. Meja itu ditutupi semacam
kain kelambu, seperti ranjang pengantin yang sering kulihat
di TV. Setiap kali masuk ke kamar itu, aku bisa merasakan
aura mistis.
Setiap kali? Ya. Aku sering ke rumah itu karena
Nunung—cucu dari si nenek, adalah teman mainku.
Kadang kami main di rumahku juga. Saat ada di rumahnya,
aku selalu mengintip ke dalam ‘kamar ritual’ neneknya,
saking penasaran semenjak pertama kali kesana.
Pernah di suatu malam, aku mendengar suara
teriakan burung gagak hitam dari pohon yang ada di
belakang rumahku. Lebih tepatnya, aku, papa, mama, dan
kedua adikku. Kami yang pada malam itu sedang makan
malam, langsung menghentikan suapan dan memusatkan
perhatian pada suara burung tersebut. Tidak lama,
terdengar bunyi ‘pok ... pok ... pok ...’ dari kejauhan. Aku
melihat wajah kedua orang tuaku langsung menegang.
“Papa, itu suara apa?” tanyaku ingin tahu.
1 Podudupa = alat yang dipakai untuk membakar dupa atau kemenyan
28
Mama yang saat itu sedang duduk di sampingku,
langsung meletakkan telunjuk di depan bibirnya. Isyarat
agar aku diam. Aku berpura-pura mengerti, walaupun
sebenarnya dalam hatiku penuh tanda tanya. Pelan-pelan
mama mulai beranjak berdiri dari kursinya dan menarik
lenganku. Papa juga melakukan hal yang sama, beliau
langsung menggendong adik ketigaku, lalu menggamit
lengan adik keduaku. Kami lantas berpindah dari dapur
menuju ke kamar. Di sana ada Dwi yang sedang terlelap di
atas kasur kecil untuk bayi. Kulihat mama langsung
mengubah posisi adik kecilku ini, dari telentang berubah
miring ke kiri. Papa menyuruh kami untuk diam dalam
kamar, sementara beliau keluar. Mama bergegas menyusul
Papa keluar dan menutup pintu kamar. Didorong rasa
penasaran, diam-diam aku membuka pintu kamar secara
perlahan dan melihat mereka berdua seperti sedang
mendebatkan sesuatu.
“Papa, tidak usah kase jatong lagi itu orang, bekeng repot
mo suru-suru antar pulang (Papa, tidak perlu dibikin jatuh
orang itu, bikin repot kalo dia minta diantar pulang).” Suara
mama yang setengah berbisik, tetapi masih bisa aku dengar.
Ada raut kecemasan bercampur kesal.
“Tida apa-apa, daripada orang laen yang kase jato,
dorang so niat mo bunuh kata (Tidak apa-apa, dari pada
orang lain yang bikin dia jatuh, katanya mereka sudah
berniat untuk membunuhnya),” elak Papa dengan suara
tertahan, menolak permintaan Mama.
29
Tidak lama, aku melihat Papa menuju ke dapur.
Sesuai pengalamanku sebelumnya, beliau pasti akan
mengambil tiga batang sapu lidi, kemudian memukul-
mukulkannya ke lantai. Menurut kepercayaan orang di
kampung itu, memukulkan tiga batang lidi ke lantai, akan
membuat si Ponggo yang sedang terbang, jatuh ke tanah.
Benar memang, aku pernah mengintip Papa dari balik
pintu dapur, sedang memapah seseorang ditengah
gelapnya malam. Seseorang yang aku kenal betul ciri-
cirinya, siapa lagi kalau bukan nenek di sebelah rumah?
Oleh karena melihat mama sedang menuju ke arah
kamar, aku langsung berlari dan naik ke tempat tidur,
bergabung bersama adik-adikku. Tidak lama berselang,
Mama pun masuk. Beliau menyuruh kami untuk berbaring,
tetapi jangan terlentang, melainkan miring ke kiri atau ke
kanan. Kata Papaku dulu, tidur dengan cara miring, bisa
mencegah si Ponggo ‘menyerang’ kita. Hal tersebut
terbawa hingga aku dewasa, menjadi kebiasaanku saat
tidur, harus miring kiri atau kanan.
Sayup kudengar suara mama sedang melantunkan
ayat suci. Mengusir ketakutan yang menyelimuti kami saat
itu. Sekaligus mengantarkan kami ke dalam tidur lelap.
***
Sakit adikku tidak kunjung sembuh, setiap malam
aku harus terjaga karena mendengar tangisannya.
Pengobatan dokter hingga alternative sudah dilakukan.
Namun, semuanya tidak ada yang berhasil. Tidak jarang
30
aku mendengar pertengkaran kecil orang tuaku dan
menyebut nama nenek itu.
Sampai dengan satu malam. Di mana itu adalah
malam kematian adik kecilku. Aku terjaga dari tidur dan
mendengar tangisan Dwi yang tidak seperti biasanya. Suara
tangisnya begitu kencang, seperti sedang menahan sakit
yang luar biasa. Aku beringsut dari tempat tidur dan keluar
dari kamar. Di ruang tengah, kulihat Papa sedang
menggendong si adik, sambil berusaha menenangkannya.
Ada Mama juga di sana, duduk di kursi sambil terisak.
Tiba-tiba aku mendengar suara burung gagak hitam
itu lagi, disusul bunyi pok-pok-pok yang sepertinya sangat
jauh dari rumah. Menurut cerita Mama, suara itu adalah
bunyi rambut si Ponggo yang diputar-putar. Jika suaranya
terdengar jauh, artinya sang Ponggo sangat dekat jaraknya
dengan tempat kita, begitupun sebaliknya.
Anehnya, tangisan adikku tiba-tiba berhenti. Papa
dan Mama saling berpandangan. Cepat-cepat Papa
menyuruh kami masuk ke kamar, lalu beliau keluar lagi.
Seperti yang sudah aku hafal, Papa pasti akan ke dapur dan
mengambil tiga batang lidi. Kali ini, apa yang dicarinya
tidak ketemu. Tersirat kepanikan di wajahnya begitu
memasuki kamar tempat kami sedang berkumpul. Papa
meminta Mama untuk membaca Al-Quran, sementara
beliau meminta aku untuk ikut dengannya. Setelah
menutup rapat pintu rumah dari luar, kami pun berjalan
membelah malam dengan ditemani cahaya senter kecil
yang dipegang Papa. Ternyata aku mau diajak kerumah
31
seorang biang kampung2 yang dulu pernah merawat adik
kecilku ketika baru lahir.
Sewaktu dalam perjalanan ke rumah biang, aku
melihat sebuah sinar kuning terang berbentuk bola api,
melayang-layang di atas pohon, tidak jauh dari tempatku
dan Papa berdiri. Perlahan turun dan mendekati kami.
Seketika bola api tersebut berubah menjadi sosok makhluk
yang sangat aneh bentuk dan rupanya. Di saat yang sama,
Papa menyorotkan cahaya senter ke arahnya. Matanya
bulat merah, rambut kusut gimbal menjuntai ke tanah, dan
lidahnya terjulur di sela-sela tetesan liur berwarna merah
darah. Makhluk itu tidak memiliki tubuh, hanya kepala dan
dari leher hingga kebawah, seperti sekumpulan organ
tubuh manusia bagian dalam. Itulah pertama kali aku
melihat sosok Ponggo dengan mata sendiri. Seperti di
hentak, makhluk itu kemudian terbang dan menuju
rumahku dengan cekikikan panjang yang membuat bulu
kudukku berdiri.
Papa menarik tanganku dan dengan setengah berlari,
sampailah kami di rumah si biang. Papa mengetuk pintu
rumahnya dengan irama kepanikan, berharap agar si
empunya rumah segera membukakan pintu. Benarlah,
terdengar bunyi kunci diputar, disusul dengan terbukanya
2 Biang kampung = Dukun Beranak, di percaya memiliki kekuatan untuk melindungi
bayi atau anak-anak kecil dari gangguan makhluk jahat.
32
pintu dan menampilkan sosok perempuan tua setengah
renta yang sedang berdiri kebingungan.
“Weh, bo ti papa liyo, harapu’u tita,” ujar sang nenek
biang dengan bahasa khas daerah Gorontalo. Ketika
menyadari siapa yang mengetuk-ngetuk pintunya di tengah
malam.
“Longola?” lanjutnya.
“Te Uti, Nene ... te Uti ...,” jawab Papa dengan nada
bergetar.
“Te Uti? Longola tiyo?” tanya nenek biang lagi.
“Nde mola bilohe pomayi,” jawab Papa masih
dengan nada bergetar penuh kecemasan.
“Nde latipo, donggo mohama dudelo wa’u,” ujar
nenek biang seolah paham dengan apa yang Papa
maksudka. Sembari berlalu masuk ke dalam dan keluar lagi
membawa satu buntalan kain. Kami pun segera menuju
kembali ke rumah. Kali ini, aku dan Papa berjalan agak
lambat karena ada nenek biang yang sedang kami tuntun.
Ketika sudah mendekati rumah, kami mendengar
tangisan Dwi ditimpali isakan Mama dari dalam rumah.
Suara lolongan anjing seolah menambah cekamnya suasana
malam. Di atas sana, aku melihat sekelebat bayangan hitam
melayang di atap rumahku. Ternyata bukan hanya aku saja
yang melihat, nenek biang pun ikut melihatnya. Tiba-tiba
beliau berhenti dan menutup rapat matanya. Mulutnya
komat kamit, sambil menggumamkan sesuatu. Makhluk
yang berada di atap rumahku, mengeluarkan suara
33
cekikikan tajam. Angin malam mulai berembus kencang.
Satu sentuhan di bahu mengejutkan aku, ternyata Papa
sedang berdiri di belakangku. Merengkuh bahuku erat,
seolah berusaha untuk menenangkan.
Secara tiba-tiba, nenek biang berteriak nyaring,
tatapannya tajam tertuju pada si makhluk. Dari mulutnya
keluar kata-kata yang aku tahu itu adalah sumpah serapah.
Makhluk di atas sana terus melayang berputar-putar,
dengan suara cekikikannya yang justru makin terdengar
menyeramkan. Sosok itu kemudian terbang menjauh.
Tangisan adikku tidak terdengar lagi, tetapi tangisan Mama
makin kencang. Kami pun bergegas masuk ke dalam
rumah dan langsung menuju ke kamar utama.
Di sana, di atas tempat tidur. Tubuh adik kecilku
sedang terbujur kaku, dengan perut yang bengkak dan
membiru. Ada darah yang keluar dari anusnya. Papa tidak
bisa menahan tangisnya, aku pun demikian. Dwi telah pergi
untuk selama-lamanya. [tamat]
Weh = yah bo = cuma
ti = si papa lio = bapaknya
harapu’u = aku piker tita = siapa
longola = kenapa Te Uti, Nene... te Uti
Te = kata sapaan yang biasanya diikuti nama untuk anak/seorang laki2,
lawannya ‘Ti’ = untuk perempuan, *contoh : Ti Hannah = Si Hannah
Nene = Nenek Longola tiyo
Tiyo = dia Nde mola bilohe pomayi
34
Nde = Coba Mola = Tolong
Bilohe Pomayi = di lihatin Nde latipo, donggo mohama dudelo wa’u
Nde latipo = Coba tunggu sebentar
Donggo = masih Mohama = mengambil
Dudelo = bekal Wa’u = aku, kata yang sering di pakai
orang yang lebih tua ke yang muda.
35
Hana Rizuka
R umah besar di pinggir jalan itu masih berdiri kokoh.
Catnya yang sudah memudar, dengan spanduk
bertuliskan “RUMAH DISEWAKAN/DIJUAL”.
Bangunan dengan sejarah yang menyeramkan. Untuk
menceritakannya, aku harus kembali pada lima belas tahun
yang lalu.
Sebelum menjadi seperti sekarang, rumah yang ada
di pinggir jalan raya itu pada mulanya hanyalah tanah
lapang. Rumahku terletak sekitar seratus meter dari sana.
Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang datang
bertamu. Saat itu, aku masih duduk di bangku SMA.
“Selamat pagi, ada perlu apa ya, Mas?” tanya Bapak
pada laki-laki itu.
“Permisi, apa benar ini rumah Bapak Roni?”
“Iya, saya sendiri. Silakan masuk dulu.”
Laki-laki itu bernama Danu dan berniat membeli
tanah lapang. Aku terkejut dan langsung melihat ke arah
36
Ibu dan Bapak dari balik tirai. Mereka saling pandang
dengan wajah pucat.
“Yakin Mas mau membelinya?” tanya Bapak.
“Yakin, Pak. Apalagi harganya sesuai bujet saya.”
Laki-laki itu menjawab mantap.
“Begini, Mas. Memang tanah itu ….”
Tanah itu memag milik kerabat jauh kami. Sudah
bertahun-tahun dipasang tanda bahwa tanah itu dijual.
Tidak sedikit orang yang berniat untuk membelinya.
Namun, selalu batal setelah melihat ke lokasi. Kabar yang
beredar dari orang-orang iu dan beberapa warga, tanah itu
angker dan sering terlihat penampakan sosoj tak kasat
mata.
“Ah, tidak masalah, Pak. Saya tidak terlalu percaya
dengan hal-hal semacam itu. Jadi, apa benar harganya yang
tertera di sana, Pak, Bu?”
“Anda yakin, Mas?” tanya Bapak dan Ibu bersamaan,
seolah tidak percaya mendengar apa yang dikatakan laki-
laki paruh baya itu.
“Iya, Bu. Besok saya akan transfer uangnya. Boleh
minta nomor rekeningnya, Pak, Bu?”
Ternyata Pak Danu ada seorang mantri dari luar
pulau yang pindah tugas ke desaku. Dia berniat
membangun rumah tinggal sekaligus klinik untuk tempat
prakteknya. Selama pengerjaannya, banyak sekali gangguan
yang dialami oleh para tukang. Mulai dari barang bangunan
37
hilang atau jatuh dengan sendirinya, suara-suara aneh,
hingga tukang yang tiba-tiba sakit tanpa sebab. Namun,
Pak Danu acuh dengan hal itu.
Awalnya, warga ragu untuk berobat. Bukan karena
meragukan keahliannya, melainkan karena tanah itu.
Namun, seiring berjalannya waktu, akhirnya banyak yang
berobat ke klinik. Pak Danu memang mantri yang sangat
ramah dan baik hati.
Meskipun berbeda keyakinan dengan warga sekitar,
ia tetap menghargai agama mayoritas warga desa. Misalnya,
mengizinkan Mbak Surti, pembantunya, untuk tetap
melaksanakan salat, puasa dan ibadah lainnya. Tak jarang
juga beliau menghentikan prakteknya Ketika kumandang
azan dan mengingatkan para pasiennya untuk salat terlebih
dahulu.
Suatu hari, Mbak Sri—kerabatku—sakit dan
terpaksa harus menginap di klinik Pak Danu. Hal itu
terpaksa dilakukan agar pengobatan lebih mudah dan
mencegah penularan. Saat itu, warga percaya kalau tanah
itu sudah tidak angker, karena tidak pernah lagi ada
penampakan sosok astral.
Suami Mbak Sri bekerja di luar negeri dan belum
memiliki anak jadilah kami sekeluarga yang mengurus
selama berada di klinik Pak Danu.
Pagi hingga sore, klinik ramai pasien. Sepanjang
waktu Pak Danu akan terus berada di sini. Mbak Surti juga
sering datang untuk membersihkan ruangan atau sekedar
38
bercakap. Jadi, Mbak Sri tidak terlalu kesepian dan ada
yang mengawasi.
Saat Malam, biasanya Bapak atau Mas Bayu—
kakaku—yang menemani MbakSri. Namun, karena ini
malam minggu, Mas Bayu ada janji dengan teman-
temannya dan tidak pulang hingga esok hari. Sedangkan
Bapak ada keperluan di luar kota.
“Kenapa, Mbak?” tanyaku heran melihat wajah
Mbak Sri yang tiba-tiba pucat. “Ada yang sakit?”
“Ga pa pa. Cuma pengen cepet pulang aja. Kasian
kamu dan Bayu ‘kan harus belajar juga,” jawab Mbak Sri.
“Tenang aja, Mbak. Ga masalah, kok.”
Aku berusaha menangkan. Namun, ada nada aneh
yang terdengar Mbak Sri. Seolah sedang menyembunyikan
sesuatu.
***
Malam semakin larut, entah kenapa mata sulit sekali
untuk terpejam. Mbak Sri tampak sudah pulas. Lamat-
lamat, terdengar suara gemercik air di sekitar kamar mandi
yang tak jauh dari kamar rawat inap.
Mas Bayu datang, batinku dengan penuh keyakinan,
karena memang tidak ada pasien selain Mbak Sri.
“Lama banget di kamar mandi,” gumamku saat Mas
Bayu tak kunjung memasuki kamar.
Tiba-tiba suara air berubah menjadi tangisan yang
menyayat hati.
39
Ada pasien baru masuk. Aku membatin dan berusaha
berpikiran positif untuk menangkan pikiran.
Namun, suara itu tak kunjung berhenti malah
semakin kencang. Rasa penasaran membuatku beranjak
menuju sumber suara. Saat langkah semakin mendekat,
tangisan itu berubah menjadi tawa berat dan besar. Lampu
ruangan menyala kemudian mati dan menyala lagi. Begitu
hingga entah berapa kali.
Detak jantung semakin tak terkendali. Keringat
dingin mulai membasahi punggung. Bulu-bulu halus
menegang. Bayangan putih tertangkap oleh sudut mata.
Aku berusaha bertahan dengan merapal semua doa yang
muncul di benak.
Tiba-tiba sesuatu menggelinding dan berhenti tak
jauh dari kaki. Sebenarnya, hati menolak untuk melihat
benda itu, tetapi mata tak mau diajak bekerja sama. Aku
langsung menjerit begitu melihat kepala dengan wajah
penuh darah dan menyeringai.
Brak …!
Pintu kamar mandi terbuka dengan sendirinya.
Dengan gerakan refleks aku menoleh ke arah ruangan itu.
Ada tubuh besar tanpa kepala yang berdiri tegak. Berbaju
putih yang tak lagi bersih karena noda tanah bercampur
darah.
Tak cukup sampai di situ. Mata seolah dipaksa untuk
menyaksikan sosok lain berambut sangat panjang melintas
40
dari luar menuju dapur. Ada cahaya merah di sekitar
wajahnya.
Tengkuk terasa dingin, seperti ada yang meniup.
Penasaran kembali mengusik. Aku langsung menoleh.
Seringai mengerikan langsung tertangkap mata. Gigi
kuning dan taring yang sangat panjang menambah
kengerian di wajah itu. Ada tetesan darah di sudut bibirnya.
Mulut tak bisa lagi merapa doa, hanya teriakan yang
terdengar oleh telingaku sendiri. Napas semakin tercekat
dan pandangan semakin gelap.
***
“Na … Rina …. Bangun, Dek.”
Lamat-lamat terdengar suara yang cukup familiar.
Berkali-kali pipi ditepuk. Perlahan aku membuka mata.
Ternyata sudah berada di rumah.
“Mas Bayu ….” Langsung kubenamkan wajah ke
dada bidang itu dan menangis.
“Kenapa?” tanya Mas Bayu.
Aku menceritakan semua yang terjadi di rumah itu.
Bapak, Ibu, dan Mas Bayu saling pandang. Mulut terkunci
rapat. Wajah mereka pun terlihat pucat.
Ternyata bukan hanya aku yang melihat makhluk
astral di klinik Pak Danu. Sejak menginap di hari pertama
Mbak Sri dihantui sosok mirip suster yang duduk diam di
samping ranjang. Mata merah dengan ligkaran hitam terus
41
menatap ke arahnya. Tangan berkuku panjang membelai
kepala Mbak Sri.
Sejak saat itu, rumor keangkeran di lokasi klinik Pak
Danu kembali beredar. Tidak sedikit warga yang kembali
melihat makhluk-makhluk tak kasat mata ketika sedang
berobat atau kala melintas di sekitarnya. Klinik pun sepi.
Jarang ada orang yang berobat, terlebih ketika sore
menjelang malam.
Beberapa bulan setelahnya, Pak Danu meninggal
karena kecelakaan. Motornya tiba-tiba menabrak tiang
listrik yang berdiri tegak di depan rumahnya. Suasana di
sekitarnya semakin mencekam.
Tak berselang lama istri almarhum Pak Danu
menyusul. Beliau ditemukan meninggal secara tidak wajar
di kamar. Mata terbelalak dan lidahnya menjulur keluar.
Mbak Surti dan kedua anak Pak Danu dibawa oleh
keluarga besarnya ke luar pulau. Sebenarnya, asisten rumah
tangga itu sering mengalami kejadian menyeramkan sejak
bekerja di rumah itu. Namun, dia dilarang oleh majikannya
karena akan mengurangi pasien yang datang.
Sepeninggalan keluarga itu, spanduk besar
bertuliskan RUMAH INI DISEWAKAN/DIJUAL
terpampang. Sampai saat ini, entah sudah berapa kali
spanduk itu berganti, masih juga belum ada yang mengisi.
Banyak agen properti yang tidak juga berhasil mencari
klien.
42